Makrifat adalah

makrifat adalah

Kami mengawali dengan menyebut asma Allah yang Agung dan bersholawat kepada Sayyiduna Nabi Muhammad SAW. Sahabat-sahabat yang dirahmati Allah, Kita sebelumnya telah membahas definisi tasawwuf dalam tulisan Milenial Menjawab Tasawwuf. Pada tulisan ini, kita akan membahas apa itu syariat, thoriqah, hakikat, dan makrifat.

Izinkan kami menggunakan bahasa ala milenial. Pertama, supaya lebih mudah ngerti kita coba ilustrasikan dulu, Ya. Imam Nawawi Al-Bantani, seorang ulama asal Banten yang menjadi mahaguru ulama-ulama di Nusantara, memberikan analogi dalam Kitab Maraqi Al-Ubudiyyah bi Syarhi Bidayah Al-Hidayah sebagai berikut: “Sebagian ulama memberikan permisalan bahwa syariah itu ibarat perahu, thoriqah ibarat lautan, dan hakikat Ibarat mutiara.

Seseorang makrifat adalah akan mendapat mutiara kecuali dari lautan dan tidak bisa mengarungi lautan tanpa perahu”. “Sebagian ulama memberikan permisalan dari ketiganya ibarat kelapa. Syariat itu ibarat kulit luarnya. Thoriqah itu ibarat daging buah kelapa. Hakikat itu ibarat minyak yang ada dalam daging buah” Analogi tersebut juga ada dalam Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhaju Al-Ashfiya’ Karya Sayyid Makrifat adalah bin Muhammad Syatho Al-Dimyati.

Perahu itu sebagai sebab untuk mencapai tujuan, dan penyelamat dari tenggelam. Makrifat adalah itu tempat tujuan (mutiara) tersebut berada.

Sehingga, mutiara enggak akan bisa ditemukan kecuali di dasar lautan dan enggak akan bisa mengarungi lautan tanpa perahu. Gimana sudah faham analoginya? Oke, kita lanjut ke pengertian dan korelasi dari syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. Menurut Syeikh Ahmad bin Ajibah dalam Mi’raju At-Tasyawwuf Ila Haqaiq At-Tasawwuf, syariat adalah pembebanan pada aspek-aspek dzahir.

Tarekat adalah memperbaiki aspek-aspek batin untuk mempersiapkan terbitnya cahaya- cahaya hakikat. Hakikat adalah penyaksian (musyahadah) terhadap Al-Haq di dalam manifestasi (tajalli-tajalli) yang dzahir. Syariat itu untuk memperbaiki aspek dzahir. Tarekat itu untuk memperbaiki aspek batin.

makrifat adalah

Hakikat itu menghiasi ruh (sarair). Kayaknya tambah mumet aja, Nih. Ya sudah, kongkritnya begini, kalian beribadah melakukan yang wajib, dan sunnah, dan meninggalkan yang makruh dan haram. Itu semua adalah ranah syariat (pada aspek dzahir).

Lalu, kalian masuk thoriqah mengamalkan wirid dan suluk untuk penyucian jiwa (nafs) dengan bimbingan guru mursyid. Itu adalah thoriqah. Jika Allah memberikan anugrah maka kalian akan mendapat makrifat adalah hakikat, berupa penyingkapan (mukasyafah) dan penyaksian (musyahadah) Al-Haq. Gimana udah agak ngerti? Oke kita lanjut. Untuk ngebahas makrifat, mari kita simak penjelasan Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani dalam Kitab Sirru Al-Asrar.

Makrifat adalah ilmu batin. Makrifat dapat terwujud setelah hilangya segala sesuatu yang menghalangi cermin hati (qalbu) dan terus berupaya membersihkannya hingga dapat melihat indahnya sesuatu yang terpendam (kanzu al-makhfiyy) di dalam sir-lub-qolbu (Banyak istilah-istilah yang susah dimengerti ya? Jangan khawatir insyaAllah kita akan bahas di tulisan tersendiri untuk pembahasan qolbu, lub, dan sir).

Sebagai penutup, masih dalam Sirru Al-Asrar bahwa manusia itu terdiri dari dua bagian, jasmani (bagian umum) dan ruhani (bagian khusus). Jasmani makrifat adalah bisa kembali ke tempat asalnya jika ia mengamalkan ilmu syariat, thoriqah, dan ma’rifat. Ruhani bisa kembali ke tempat asalnya sebab mengamalkan ilmu hakikat. Semoga kita semua menjadi bagian hamba-hamba Allah yang mengamalkan ilmu syariat, thoriqah, hakikat, dan makrifat.

Wallahu a’lam bishshowab. Syaikh an-Naqsyabandî berguru ilmu tarekat kepada Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî kemudian kepada Sayyid ‘Amîr Kulâl.

makrifat adalah

Sedangkan Sayyid ‘Amir Kulal berguru kepada Syaikh Muhammad Baba as-Sammâsî. Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî berguru kepada ‘Ali ar-Râmîtanî yang lebih dikenal dengan nama Syaikh al-‘Azîzân. Syaikh al-Azîzân berguru kepada Syaikh Mahmud al-‘Anjîr Faghnawî. Syaikh Mahmud al-‘Anjîr Faghnawi berguru kepada Syaikh ‘Ârif ar-Rîwakirî yang berguru kepada Syaikh ‘Abdul Khalîq al-Ghuzduwânî yang berguru kepada Syaikh Abi Ya’qûb Yûsuf al-Hamadânî yang berguru kepada Syaikh Abi ‘Ali al-Fadhal bin Muhammad ath-Thusi al-Fâramadî yang berguru kepada Syaikh Abil Hasan ‘Ali bin Abi Ja’far al-Kharqânî.

Syaikh Abil Hasan ‘Ali berguru Kepada Abi Yazid Thaifur bin ‘Îsa al-Busthâmî yang berguru kepada Syaikh Imam Ja’far ash-Shâdiq yang berguru kepada kakeknya Sayyid al-Qâsim bin Muhammad bin Abi Bakar ash-Shiddiq yang dari Salmân al-Farîsî yang memperoleh dari Abi Bakar ash-Shiddîq yang memperoleh dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Syaikh an-Naqsyabandî juga berkata, “Di antara pertolongan Allah yang diberikan kepadaku adalah kopiah kakek guruku (Syaikh al-‘Azîzân) telah sampai kepadaku sehingga keadaanku semakin baik dan harapanku semakin kuat. Yang demikian itu membuatku dapat mengabdi kepada Sayyid ‘Amîr Kulâl dan memberi tahuku bahwa Syaikh as-Sammâsî mewasiatkan diriku kepadanya.” • Baca Juga: Sejarah Pendiri Tarekat Naqsyabandi (Part 1) Semakin hari Makrifat adalah ‘Amîr Kulâl semakin memperhatikan dan bersungguh-sungguh dalam membimbingnya.

Setelah bekal bimbingan yang diberikan dirasa sudah cukup, Sayyid ‘Amîr Kulâl berkata, “Wahai anakku, aku telah melaksanakan wasiat Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî untuk membimbingmu.” Seraya menunjuk ke arah susunya, Sayyid ‘Amîr Kulâl berkata, “Engkau telah menyusu pendidikan kepadaku.

Tingkat penyerapanmu terhadap apa yang aku ajarkan sangat tinggi dan keyakinanmu sangat kuat. Oleh karena itu, aku mengizinkan engkau mencari ilmu ke beberapa orang guru. Engkau dapat mengambil ilmu dari mereka sesuai dengan kemauanmu yang besar.” “Sejak saat itu, aku terus menerus mendatangi ulama untuk memetik ilmu syariat dan mencari ilmu Hadis serta akhlak Rasulullah dan para sahabat sebagaimana telah diperintahkan kepadaku,” papar Syaikh an-Naqsyabandî. Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh Kelahiran dan Silsilah keturunan Syaikh an-Naqsyabandî Syaikh an-Naqsyabandî lahir di desa Qasrul Arifân di dekat Bukhâra (Uzbekistan) pada bulan Muharram tahun 717 Hijriyah.

Sebelum dilahirkan, makrifat adalah Syaikh Muhammad Bâbâ as-Sammâsî, telah mengisyaratkan akan kelahirannya. Setiap kali Syaikh as-Sammâsî melewati desa Qasrul Arifân, selalu berkata kepada para muridnya, “Dari desa ini aku mencium bau seorang wali.” Setelah bayi yang dimaksud dilahirkan dan berusia tiga hari, Syaikh as-Sammasi melewati desa itu seperti biasa.

Lalu kembali berkata pada para muridnya, “Bau seorang Wali yang aku ceritakan, sekarang ini semakin semerbak.” Tak lama setelah itu, makrifat adalah bayi oleh kakeknya dibawa ke rumah Syaikh as-Sammasi.

Ketika melihat bayi tersebut, Syaikh as-Sammâsî spontan berteriak gembira makrifat adalah menoleh kepada muridnya, “ini ‘anakku’. Inilah wali yang selama ini aku cium baunya. Insya Allah tidak lama lagi ia akan menjadi panutan banyak orang.” • Baca Juga: Kehidupan Para Wali di Alam Barzakh Menurut Habib Luthfi bin Yahya Kemudian Syaikh as-Sammâsî menemui Sayyid ‘Amîr Kulâl untuk menyerahkan Pendidikan “anaknya” itu.

Ketika itu Syaikh as-Sammâsî berkata, “Ini ‘anakku’. Didiklah dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai engkau teledor dalam mendidiknya. Jika engkau teledor, aku tak akan rela untuk selama-lamanya.” Lalu Sayyid ‘Amâr kulîl berdiri dan berkata, “Aku akan melaksanakan perintahmu.

Insya Allah aku tidak akan teledor dalam mendidiknya.” Syaikh an-Naqsyabandî mengisahkan, “Kakekku mengirimku ke desa Sammâs dengan tujuan supaya aku mengabdi kepada Syaikh as-Sammâsî. Ketika aku berhasil menemuinya, sebelum waktu Maghrib tiba aku telah mendapatkan keberkahannya sehingga aku merasakan ketenangan pada diriku, ke-khusyu’an, tadharru’ serta kembali pada Allah.” Lebih lanjut Syaikh an-Naqsyabandî berkata, “Ketika Syaikh as-Sammâsî meninggal dunia, kakekku membawaku ke Samarqand.

Setiap kali mendengar ada orang saleh, ia membawaku kepadanya. Kepada orang yang saleh yang dikunjungi, ia memintakan doa untukku. Ternyata permintaan doa betul-betul terkabul. Aku mendapatkan keberkahan dari orang-orang saleh tersebut.” Tarekat yang pendiriannya dinisbatkan kepada wali quthub bernama Muhammad Bahâ’uddîn bin Muhammad bin Muhammad al-Syarîf al-Husaini al-Hasani al-Uwaissî al-Bukhârî.

Lebih dikenal dengan sebutan Syaikh an-Naqsyabandî. Sumber: Buku Menyimak Biografi Pendiri Thoriqoh Al-Mu’tabaroh Para wali tetap hidup di alam kubur (barzakh) seperti kehidupan mereka di dunia. Para wali yang ahli tahajud tetap tahajud di alam kuburnya. Yang ahli tadarus al-Quran tetap tadarus Quran. Yang ahli silaturahim tetap silaturahim, dan seterusnya. Hal ini sebagai kenikmatan yang mereka alami di alam kubur.

makrifat adalah

Jika ada para peziarah berdiri mengucapkan salam dan doa, maka si wali yang diziarahi juga ikut berdiri, menjawab salam dan mengamini doa-doanya. Jika para peziarah membaca Yasin, tahlil, maka si wali juga ikut membacanya. Jika para peziarah tawassul, maka beliau ikut mendoakan. Diantara wali ada yang ahli darok (menolong), sering keluar dari kuburnya ke alam dunia ini untuk menolong para pecintanya. Diantara wali yang ahli darok adalah Mbah Hasan Minhajul ‘Abidin, Gabutan, Solo.

Banyak cerita nyata dari para pecintanya yang membuktikan kewaliannya. Mereka merasa ada yang ditolong dari kecelakaan dan perampokan. Sebagian mereka makrifat adalah yang ingin sowan ke ndalem beliau sebagai rasa terima kasih dengan membawa oleh-oleh, layaknya orang yg akan sowan Kiai. Namun, mereka kaget setelah ditunjukkan oleh penduduk setempat, bahwa Mbah Hasan Minhaj itu sudah wafat.

Dalil tentang hal ini diantaranya adalah ayat yg menjelaskan bahwa para syuhada’ (orang mati syahid) tetap hidup di alam kubur, terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 154 : ﻭَﻻ ﺗَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﻟِﻤَﻦْ ﻳُﻘْﺘَﻞُ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻣْﻮﺍﺕٌ ﺑَﻞْ ﺃَﺣْﻴﺎﺀٌ ﻭَﻟﻜِﻦْ ﻻَّ ﺗَﺸْﻌُﺮُﻭﻥَ Artinya: “Jangan kalian katakan bagi orang yg dibunuh di jalan Allah, makrifat adalah itu orang-orang mati ! Namun, mereka adalah orang-orang yg hidup, tetapi kalian tidak menyadarinya”.

Jika para syuhada’ saja mendapat karunia tetap hidup di alam kuburnya, maka para makrifat adalah dan wali pasti mendapat karunia lebih besar, seperti diketahui bahwa derajat mereka lebih tinggi. Di Indonesia jumlah makam wali sangat banyak dengan berbagai tingkatannya. Jumlah makam wali ini terbanyak kedua setelah Hadhramaut, Yaman. Banyak kitab yg menulis biografi para wali di Timur Tengah, seperti kitab Jami’ Karomatil Auliya’, Thobaqotul Auliya’, dsb.

Padahal, di Indonesia zaman itu sudah terdapat banyak para wali, namun, tradisi tulis-menulis di tanah Indonesia belum masif, oleh karenanya kalam-kalam dan ajaran auliya tidak terbukukan. Tingkatan wali tertinggi disebut Al-Quthbul Ghouts, dan hanya ada satu orang dalam setiap masa. Beliau dijuluki Abdullah. Di bawahnya disebut Al-Imamani (dua imam) berjumlah dua orang, salah satunya akan menggantikan Al-Ghouts ketika wafat.

Kemudian di bawahnya ada Al-Autad, jumlahnya ada empat orang. Imam Syafi’i R.a, pada zamannya merupakan pemimpin wali Autad. Kemudian di bawahnya ada Al-Abdal, jumlahnya ada tujuh orang.

Keterangan tentang tingkatan para wali ini bisa dilihat di dalam kitab Jami’ Karomatil Auliya’. Wallahua’lam. Pewarta: Ust. Saefuddin Masykuri Editor: Warto’i Arsip • May 2022 (14) • April 2022 (67) • March 2022 (89) • Makrifat adalah 2022 (85) • January 2022 (89) • December 2021 (72) • November 2021 (36) • October 2021 (6) • September 2021 (15) • August 2021 (14) • July 2021 (15) • June 2021 (20) • May 2021 (15) • April 2021 (20) • March 2021 (15) • February 2021 (30) • January 2021 (62) • December 2020 (95) • November 2020 (101) • October 2020 (72) • September 2020 (41) Mengenal Allah SWT adalah suatu upaya untuk menyadari akan kekuasaan, penyaksian dan pengetahuan-Nya atas diri kita sebagai makhluk-Nya.

Ia makrifat adalah raja dari segala raja yang mampu mengawasai dan memelihara diri kita. Allah SWT yang selalu mengabulkan permohonan serta menerima tobat dari para hamba-Nya. Pengertian Makrifat juga termasuk mengetahui bahwa gerakan dan diamnya manusia bergantung pada Alla SWT. Jadi, seluruh nafas dan kehidupan yang kita miliki semata-mata terus berlangsung atas kehendak dari-Nya.

Makrifat juga bentuk dari kesadaran bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang, Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. Maka dari itu, agar makrifat dapat makrifat adalah, maka kita perlu mengetahui dan melaksanakan apapun yang diridhai dan apa yang dibenci oleh-Nya. Segala hal yang telah dijelaskan di atas tentu diketahui oleh orang yang memegang teguh makrifat. Semoga Allah memberi kita kesempatan dan kekuatan untuk senantiasa mengenal-Nya lebih dekat.
Oleh: A. Zaini Dahlan PENGANTAR Manusia adalah bagian dari alam yang dipandang sebagai satu kesatuan dari totalitas serta mempunyai kedudukan yang unik dan istimewa dalam alam ini, karena ia mempunyai akal yang dapat berfungsi melakukan interpretasi atau mengungkapkan arti simbol-simbol dalam proses kehidupan.

Dalam pandangan klasik dan rasional, fenomena ini masih tetap berlangsung sejak masa Yunani dan Romawi sampai zaman Renaissance.

Yang membedakan manusia dari makhluk lain adalah fakta bahwa manusia itu makhluk yang berakal. Bagi Aristoteles (384 – 322 SM) dan Plato (429 – 347 SM) akal berfungsi untuk mengarahkan budi pekerti, dan akal itu merdeka dan abadi dalam wataknya yang esensial, sementara bagi Aristoteles akal adalah kekuatan tertinggi dari jiwa yang membedakan dari watak manusia.

Eksistensi keduanya, akal dan watak manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dibicarakan dalam tasawuf. Dalam tasawuf Dzunnun al-Misry (W. 860 H), yang dianggap sebagai bapak paham Makrifat dijelaskan bahwa pengetahuan manusia tentang Tuhan ada tiga macam. Pertama, pengetahuan orang awam bahwa Tuhan itu satu yaitu dengan melalui ucapan syahadat, kedua, pengetahuan ulama bahwa Tuhan itu satu menurut logika akal, dan ketiga, pengetahuan sufi bahwa Tuhan itu satu dengan perantaraan hati sanubari.

Al-Ghazali (1058 –1111 M) adalah seorang tokoh yang berawal sebagai seorang ahli hukum Islam dengan karyanya al-Mustashfa (berisi tentang yurisprudensi hukum Islam), lalu sebagai teolog, kemudian sebagai filosof dan terakhir menjadi sufi.

Ia pernah belajar pada Imam al- Makrifat adalah al-Juwaini (W: 478 H) di Madrasah Nidhamiyah di Naisabur. Al-Juwaini adalah makrifat adalah besar di Madrasah Nidhamiyah yang paham ilmu Kalamnya beraliran Asy’ariyah ( Ahlus-sunnah). Ciri khas aliran ini adalah bahwa akal tidak begitu besar kekuatannya sehingga banyak bergantung kepada wahyu, kemudian memberi argumen-argumen rasional terhadap teks wahyu tersebut. Orang arif menurut para sufi adalah orang yang telah sampai pada tingkat makrifat wihdatul-wujud dengan daya rasa musyahadah.

Maksudnya orang arif adalah orang yang menyatakan bahwa Allah itu adalah alam semesta ini sendiri. Menurut mereka, apa yang kita rasakan, apa yang kita lihat, dan apa yang kita dengar maka semuanya itu adalah dzat Allah sendiri. Dari pengertian tentang makrifat ini, ternyata di kalangan para sufi sendiri masih kontroversial.

Ibnu Arabi menjelasakan bahwa orang arif adalah orang yang menyaksikan Allah dalam segala sesuatu, bahkan melihat Allah adalah sumber inti dari segala sesuatu. Melihat dari arti arif tersebut, Ibnu Arabi ternyata sudah melewati jauh dari definisi makrifat adalah al-Ghazali, bahkan sudah menempati paham Wihdatul-Wujud yang diajarkannya. Hal ini tampak lebih jelas dalam ungkapannya: Orang arif yang sempurna adalah orang yang melihat segala sesuatu yang disembah menjadi tempat terwujudnya Yang Maha Benar.

Oleh karena itu, mereka meyakini segala sesuatu yang disembah makrifat adalah Tuhan walaupun dengan nama-nama yang tertentu, seperti batu, pohon, hewan, manusia, bintang, atau malaikat. Paham makrifat Ibnu Arabi seperti ini tentu berbeda dengan paham makrifat al-Ghazali. Dan orang pertama yang mengingkari paham ini bahkan menetapkan kekafiran dan kebohongan Ibnu Arabi adalah Izzuddin Abd as-Salam (577-660 H).

Di samping Izzuddin Abd al-Salam, Ibnu Taimiyyah dan tokoh-tokoh Islam di Saudi Arabia, – pada umumnya mereka di bidang ilmu kalamnya beraliran Wahabiyah (dipelopori oleh Muhammad Ibn Abd al-Wahab) (1703-1787 M), – juga turut mengecam ajaran Ibnu ‘Arabi tersebut, seperti Syaikh Badran al-Khalili, Shaikh Abd al-Latif Ibn Abdillah as-Su’udi dan Syaikh Sayyid ‘Arif.

Komentar mereka, keyakinan yang mereka ( al Bustami, al Hallaj dan Ibnu Arabi ) temukan pertama kali adalah paham Ittihad, makrifat adalah dan hulul. Kemudian semakin tampaklah perbedaan dan penyimpangannya serta perlawanan mereka terhadap Islam seperti yang tercantum dalam buku fushus al-hikam. Sesungguhnya dalam buku itu telah terjadi penipuan dan penyebaran ajaran-ajaran iblis. Makrifat adalah satu ajaran dalam tasawuf yang untuk pertama kalinya dibangun oleh Dzunnun al-Misry.

Menurutnya, makrifat adalah cahaya yang dilontarkan Tuhan kedalam hati Sufi. Jadi orang yang tahu (‘Arif) tidak memiliki wujud tersendiri tetapi berwujud melalui Wujud Tuhan. Makrifat biasanya diiringi dengan mahabbah,maka muncul ucapan-ucapan ganjil dari Dzunnun al-Misry: “Di depan orang aku berkata: “Tuhanku”, tetapi ketika aku menyendiri aku berbisik: “Kekasihku”.

Dan yang dimaksud kekasihku di sini adalah Tuhan. Karena terdapat keengganan menerima tasawuf di kalangan ahli hadits dari Madzhab Maliki di Afrika Utara dan Mesir atas pada akhirnya ia dihukum mati oleh ahli hukum Madzhab Maliki Mesir, Abdullah bin Abdul Hakam.

Kajian terhadap kitab Ihyā’ ‘Ulum al-Dīn dan al – Munqidz dibandingkan dengan al-Futuhat al – Makkiyyah dan Fushush al-Hikam dimaksudkan untuk menjelaskan pengertian makrifat dan mengungkapkan ajaran tasawuf yang terkandung di dalamnya, terutama yang berkaitan dengan konsep makrifat. Karya yang membahas tentang makrifat secara perbandingan – seperti penelitian ini – sepengetahuan penulis makrifat adalah ada, akan tetapi karya yang membahas tentang wihdatul wujud menurut ibnu ’Arabi sudah ditulis oleh Kautsar Azari Nur dalam disertasinya pada tahun 1995.

Begitu pun konsep insan kamil Ibnu ‘Arabi oleh al-Jilli telah ditulis oleh Makrifat adalah Ali dalam disertasinya pada tahun 1997. Dengan demikian penelitian ini bersifat original.

• PEMBAHASAN Makrifat adalah ini merupakan penelitian budaya, sebab dalam penelitian ini makrifat adalah tanggapan pembaca atas hasil dari pembacaan suatu teks. Jadi realnya adalah meneliti ungkapan atau pendapat satu atau beberapa orang sebagai pembaca khusus yaitu peneliti yang menanggapi atau merespon atas hasil pembacaan suatu teks.

Dengan demikian, dalam penelitian ini akan dimanfaatkan teori resepsi. Berikut ini akan dikemukakan dasar-dasar teori resepsi dan metodenya. Teori resepsi berasal dari kata receive yang berarti menerima. Teori ini merupakan suatu disiplin yang memandang penting peran pembaca dalam memberikan makna suatu teks. (Jauss: 1983:20).

Berbicara tentang resepsi atau cara seorang pembaca menerima dan memahami suatu teks dapat merujuk teori Iser. Ia mengatakan bahwa sebuah teks dapat didefinisikan sebagai wilayah indeterminasi atau wilayah ketidakpastian ( indeterminacy areas) (Iser, 1987:24; Segers, 1978:40-41).

Wilayah ketidakpastian merupakan “bagian-bagian kosong” atau “tempat-tempat terbuka” ( leerstellen, open plek) yang “mengharuskan” pembaca untuk mengisinya.

Hal ini disebabkan oleh sifat karya yang mempunyai banyak tafsir ( poly-interpretability) (Pradopo, 1995:235). Tanggapan terhadap suatu karya sastra dari seorang pembaca ke pembaca yang lain dan dari satu periode ke periode yang lain selalu berbeda-beda disebabkan oleh horizon harapannya. (Jauss, 1983:141). Horizon harapan yang berbeda-beda antara satu pembaca dan pembaca yang lain, dalam satu periode ke periode yang lain ditentukan oleh tiga kriteria.

(Segers, 1978:41). Tiga kriteria tersebut adalah : 1) norma norma yang terpencar dari teks-teks yang telah dibaca oleh pembaca ; 2) pengalaman dan pengetahuan pembaca atas semua teks yang telah dibaca sebelumnya dan 3) pertentangan antara fiksi dengan kenyataan, yaitu kemampuan pembaca untuk memahami teks baru, baik dalam horizon yang sempit dari harapan-harapan sastra maupun dalam horizon luas yang bersumber pada pengetahuan pembaca tentang kehidupan ( Pradopo, 1955 : 234 ).

Setelah mempelajari teori dan metode sebagaimana telah dijelaskan di atas, maka hipotesis yang bisa dirumuskan adalah: ajaran makrifat yang untuk pertama kalinya dibawa oleh Dzunnun Al-Misry (w.

860 M.) dengan paham sebatas mengenal Tuhan melalui Tuhan-yaitu dengan memberi cara cahaya kepada sufi atau salik (pelaku ajaran tasawuf), sehingga ia mengenal-Nya- seperti ini kemudian diikuti oleh Al-Ghazali (1058-1111 M.) juga Ibnu Arabi (1165-1240 M.) pada awal mulanya. Akan tetapi, dengan telah munculnya paham makrifat oleh tokoh-tokoh sebelum mereka dalam bentuk yang lain, seperti Hulul-nya Al-Hallaj (858-922 M.) dan Ittihad-nya Al-Busthami (874-947 M.), maka paham makrifat Ibnu Arabi, berawal seperti paham makrifatnya Al-Ghazali dan berakhir dengan paham makrifat yang berbentuk W i hdat al-Wujudmirip seperti ajaran Ittihad dan Hulul.

Tanggapan suatu teks sastra dapat dilacak dengan 3(tiga) metode. Pertama, metode eksperimental, yaitu metode penyajian teks tertentu kepada pembaca tertentu, baik secara individual maupun secara berkelompok agar mereka memberi tanggapan. Kedua, metode kritik teks, yaitu metode yang merunut perkembangan tanggapan pembaca lewat ulasan, kritik, komentar, analisis maupun penelitian-penelitian yang berupa skripsi, tesis, atau disertasi.

Ketiga, metode intertekstual, yaitu metode yang melacak sambutan atas suatu teks melalui tekslain yang menyambut teksnya, misalnya dengan mengolah, memutarbalikkan, memberontaki, atau menulis kembali teksnya. Hal yang demikian dapat dilakukan lewat penyalinan, penyaduran, atau penerjemahan. Dari pembicaraan metode resepsi di atas, maka penelitian terhadap kitab monumental karya al-Ghazali, yaitu Ihya ‘Ulum al-Din dan al-Munqidz min al-Dhalal, dan dari karya Ibnu Arabi, yaitu kitab al-Futuhat al-Makkiyyah fi Ma’rifat al – Asrar al-Malikiyyat wa al-Mulkiyyat dan Fushush al-Hikamini dilakukan lewat metode intertekstual.

Untuk mengaplikasikan metode intertekstual tersebut maka uraiannya sebagai berikut : Ajaran makrifat ini berawal dari penafsiran atau resepsi dari pembacaan terhadap teks suci yaitu ayat 56 surat adz- dzariyat : “ Aku menciptakan jin dan manusia hanya agar mereka beribadat kepada Ku “, yang ditafsiri oleh Ibnu –Abbas, al-Jaelani dan Ibnu Arabi dengan makrifat.

Pendapat ini diperkuat dengan hadits makrifat adalah “ Aku pada mulanya adalah simpanan yang tersembunyikemudian Aku ingin dikenal, maka Kuciptakan makhluk lalu merekapun mengenal- Ku “. Dan hadits “…. dan hamba-Ku senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi (alat) pendengarannya yang ia mendengar, dengan alat itu menjadi (alat) penglihatannya yang ia makrifat adalah dengan alat itu, menjadi tangannya yang dengannya ia memukul, dan kakinya yang dengannya ia berjalan .” Dari dua teks suci tersebut kemudian muncullah berbagai penafsiran tentang arti makrifat seperti dikemukakan oleh al Bustami, al–Hallaj, al-Ghazali dan Ibnu Arabi.

Berbagai makrifat adalah tentang arti Makrifat tersebut dihasilkan melalui metode intertekstual. Sebagaimana konsep makrifat Al-Misri merupakan karya transformasinya berdasarkan atas hipogram hadist nabi :” Nabi ditanya dengan apa engkau mengenal ( makrifat ) Tuhanmu ya Rasul ?, jawab nabi : “ wah …….

( masya Allah ), Aku mengenal Tuhanku tidak melalui apa pun, tapi aku mengenal berbagai hal melalui Tuhanku “.( As- Sulami, 1999 : 30 ). Pengertian yang disimpulkan dari hadist ini, bahwa mengenal Tuhan tidak melalui apa pun. Arti “apa pun” di sini berarti mengecualikan Tuhan. Sebab ketika nabi mengenal berbagai hal – termasuk didalam berbagai hal tersebut adalah Tuhan – Nabi mengatakan “melalui Tuhan.” Karya transformatif Al Junaid (w : 297/910) ”Aku mengenal Tuhanku melalui Tuhankutanpa melalui Tuhanku aku tak akan bisa mengenal Tuhan.

( As-Sulami, 1999:31), adalah berdasarkan atas hipogram Al Misri. Karya transformatif Al Bustami berdasarkan hipogram ajaran Mahabbah yang dibangun oleh Rabiah Al- Adawiyah. Karya makrifat adalah Al- Hallaj berdasarkan hipogram hadist qudsi tentang kedekatan manusia dengan Tuhannya.

Karya transformatif Al Ghazali berdasarkan hipogram karya transformatif Al Junaid. Begitu juga karya transformatif Ibnu Arabi berdasarkan hipogram hadist Qudsi tentang Tuhan sebagai simpanan yang masih misteri. • Simpulan • Dengan menggunakan teori resepsi, dari teks dihasilkan beberapa paham atau ajaran dalam tasawuf, yaitu makrifat al kasyf (al Ghazali), ittihad(Abu Yazid al Busthami) hulul (al Hallaj) dan Wihdatul Wujud (Ibnu Arabi).

Teori resepsi adalah teori sastra yang dianggap kontemporer. Sebaliknya, bila menggunakan teori penafsiran klasik, maka lebih cenderung akan mempertahankan bahkan memperkuat tradisi heresiograpi yang berakibat buruk dan memicu timbulnya konflik teologis. • Pada masing-masing aliran atau komunitas suatu golongan ada persamaan-persamaan paham disamping ada perbedaan diantara mereka.

Pada tataran kesamaan paham dalam “nodes”, sebagai indikasi nilai universal, dijadikan basis untuk membangun kesatuan umat.

makrifat adalah

Sementara pada tataran “perbedaan”, dibangun paradigma teologis dan psikologis yaitu satu kesadaran bahwa kebenaran bersifat pluralis yang merefleksikan masing-masing aliran bersikap saling menghargai dan menghormati terhadap sesamanya.

• Melalui pendekatan tafsir klasik, ajaran makrifat dipahami sebagai terbukanya rahasi-rahasia keTuhanan dan tersingkapnya hukum-hukum Tuhan yang meliputi segala yang ada. Ajaran ini diungkap oleh para sufi aliran Sunni. Sementara melalui pendekatan tafsir kontemporer, ajaran makrifat dipahami sebagai al Ittihad, al Hulul dan Wihdatul Wujud. Dan paham ini didukung oleh para sufi aliran falsafi. • Alat untuk bermakrifat menurut al-Ghazali adalah qalb (hati), bukan indra dan juga bukan akal.

Hati, menurutnya, bukanlah organ tubuh yang berada dalam rongga dada sebelah kiri manusia, tetapi merupakan anugerah spiritual Tuhan. Memang terkadang ada hubungan antara hati fisik manusia dengan hati (anugerah spiritual Tuhan). Sementara menurut Ibnu Arabi makrifat tidak memerlukan alat karena merupakan “dzauq”, yaitu cahaya pengetahuan yang diberikan Makrifat adalah ke dalam hati para wali-Nya dengan cara penampakan diri-Nya sehingga bisa mengetahui hal-hal yang benar dan yang salah dengan tanpa mengambilnya dari buku atau lainnya.

Mirip seperti gnosis dalam filsafat. • Konsep ittihadyang dibangun oleh Abu Yazid al-Busthami sekali pun orientasinya adalah bersatunya Tuhan ( al-Khalik) dengan hamba ( al-Khalq) sebagaimana hulul, tetapi pada proses penerapannya merupakan kebalikan dari “hulul”. Kalau dalam hulul, Tuhan yang “turun level” untuk “bersatu” dalam manusia maka dalam ittihad manusia ( khalq) yang turun untuk berupaya “naik” untuk bersatu dengan Tuhan ( al-Khalik). Persamaan keduanya baik hulul maupaun ittihad dicapai dengan upaya riyadhah dan mujahadah.

Dalam makrifat adalah, mujahadah untuk menghilangkan unsur-unsur “nasut” yang kotor, maka dalam ittihad, mujahadah untuk menghilangkan unsur-unsur “Khalq” yang kotor. Keduanya berorientasi pada bersatunya hamba dengan Tuhan. Sementar pada konsep ajaran Wihdatul wujud terjadi pengembangan konsep – ittihad maupun hulul sehingga menyerupai teori filsafat emanasi yang dibangun oleh Plotinus. Kalau dalam hulul penjelmaan Tuhan terbatas pada diri manusia semata, maka dalam wahdatul wujud unsur Tuhan bisa meliputi dalam segala hal di alam semesta.

Dengan demikian menurut konsep wahdatul wujud segala sesuatu di alam semesta merupakan satu kesatuan tunggal yang merupakan manifestasi dari wujud(eksistensi Tuhan). Tuhan sebagi eksistensi utama dan alam semesta merupakan eksistensi bayangan atau pancaran dari eksistensi utama (Tuhan). Naskah lengkap dapat ditinjau langsung dari Buku kumpulan disertasi S3 Kajian Timur Tengah yang berjudul: Menggagas Formulasi Baru Tentang Bahasa, Sastra, da n Budaya Arab. CP: 085602000448 Recent Posts • Pendidikan Islam Al-Azhar Mesir di Aceh • Demokratisasi Era The Arab Spring di Negara-negara Arab • Kontribusi Masyarakat Arab Terhadap Perkembangan Kebudayaan Islam di Surabaya • Pengaruh Konflik Suriah Dan Israel Terhadap Pergolakan di Suriah makrifat adalah “Berzanjen” Tradition in the Society of Banyuwangi الشريعة – الطريقة – الحقيقة – المعرفة Syari’ah – Thariqah – Haqiqah – Ma’rifah Pendahuluan Empat istilah ini sangat populer di masyarakat tanah air.

Tentunya hal ini menunjukkan keutamaan pengetahuan akan istilah-istilah tersebut. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tema ini.

Semoga Allah Swt. memberikan kemudahan. Baik dalam menjelaskan maupun memahaminya dengan baik. 1. Syariat Secara bahasa, syariat artinya: jalan umum, jalan utama, jalan besar.

Secara istilah, syariat artinya: hukum Islam. Membicarakan masalah halal haram. Ada syariat ada fiqih. Keduanya biasa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan istilah yang sama, yaitu: hukum Islam.

Padahal keduanya berbeda. Syariat itu dalilnya harus bersifat qath’i. Baik qath’i tsubut maupun qath’i dalalah.

makrifat adalah

Sedangkan fiqih itu dalilnya tidak harus qath’i. Boleh zhanni. Baik zhanni tsubut maupun zhanni dalalah. Maka di sinilah fiqih itu menjadi lebih rumit daripada syariat. Lebih lanjut mengenai hal ini silakan baca pula: Bagaimana Kita Membedakan Syariat dan Fiqih *** 2. Thariqat Secara bahasa, thariqah itu artinya: jalan, metode, cara. Nama lainya adalah manhaj. Thariqah itu bentuk tunggal. Jamaknya adalah: thariqat. Thariqah ini mirip dengan syariat.

Hanya saja, thariqah itu bersifat khayali dan bathiniyah. Tidak terlihat secara kasat mata. Manhaj pun demikian. Sedangkan syariat lebih bermakna lahiriyah. Istilah thariqah ini biasa digunakan dalam dua makna. Pertama, biasa digunakan oleh kaum shufi. Thariqah diartikan sebagai jalan kebatinan yang akan mengantarkan pada suatu tujuan. Yaitu Allah Swt. Kedua, biasa digunakan oleh para akademisi di bidang pendidikan. Thariqah diartikan sebagai jalan untuk menyampaikan suatu ilmu. Dalam dunia tasawuf ada beberapa istilah utama, yaitu • thariqah • mursyid • salik • bai’at Thariqah adalah makrifat adalah yang hendak dilalui.

Mursyid adalah orang yang makrifat adalah penunjuk jalan itu. Salik adalah orang makrifat adalah sedang dituntun dalam jalan itu. Bai’at adalah akad yang disepakati oleh makrifat adalah dan salik. Di Indonesia berkembang banyak thariqah shufi. Dari yang besar sampai yang kecil. *** 3. Hakekat Secara bahasa, hakekat artinya: inti dari sesuatu. Secara istilah, hakekat artinya: tujuan utama dari ajaran agama Islam. Misalnya: – Shalat secara syariat merupakan gerakan dan bacaan tertentu sebagai rukun Islam yang kedua setelah syahadat.

Namun hakekatnya adalah mengingat Allah. – Zakat merupakan syariat juga. Hakekatnya adalah peduli kepada fakir-miskin. – Puasa adalah syariat pula. Hakekatnya adalah pengendalian diri. Bukan hanya dari yang haram dan makruh. Namun juga dari yang halal atau mubah.

– Haji adalah syariat dengan melaksanakannya di Mekkah. Rukun Islam yang kelima. Hakekatnya adalah muktamar internasional umat Islam.

*** 4. Makrifat Secara bahasa, makrifat artinya: ilmu dan pengetahuan. Secara istilah, makrifat artinya: memahami apa yang ada di balik yang zhahir. Mirip dengan hakekat. Hal ini berangkat dari adagium: من عرف نفسه فقد عرف ربه “Barangsiapa telah mengenal dirinya sendiri, maka sesungguhnya dia telah mengenal Tuhannya.” Artinya, barangsiapa ingin mengenal Allah dengan baik, hendaknya dia terlebih dahulu mengenali dirinya sendiri dengan baik.

Sebaliknya, bila manusia gagal mengenali dirinya sendiri, maka dia pun tidak akan pernah mampu mengenali Allah dengan baik. *** Hubungan antara Syariat, Hakekat, Thariqat dan Makrifat Keempat istilah ini memiliki hubungan yang sangat kuat.

makrifat adalah

Keempatnya merupakan satu kesatuan yang ada dalam diri seorang muslim yang benar. Hal ini sama dengan istilah muslim dan mukmin. Bila kedua istilah itu digunakan dalam waktu yang bersamaan, maka keduanya memiliki perbedaan.

Bila kedua istilah itu digunakan dalam waktu yang berbeda, maka keduanya memiliki makna yang sama.

makrifat adalah

Demikian pula halnya dengan keempat istilah ini. Bila keempat istilah itu disebutkan dalam waktu yang berbeda-beda, maka sesungguhnya keempatnya itu adalah sama.

Ibaratnya sebuah kelapa, maka: • Syariat adalah sabutnya. • Thariqat adalah batoknya. • Hakekat adalah dagingnya.

• Makrifat adalah airnya. Keempatnya merupakan satu kesatuan. Tidak ada satu pun buah kelapa yang tidak memiliki keempat unsur tersebut. Kecuali buah kelapa itu telah rusak, cacat, atau dimakan hama. Ibaratnya pohon, maka: • Syariat adalah batang, cabang dan rantingnya. • Thariqat adalah daunnya. • Hakekat adalah akarnya. • Makrifat adalah buahnya.

Keempatnya saling menyangga, menghidupi dan bersinergi. Tidak ada cerita: • akar mengkafir-kafirkan batang • daun membid’ah-bid’ahkan buah • batang memfasik-fasikkan akar • buah membodoh-bodohkan daun • dan seterusnya. Justru keempatnya akan tumbuh dengan sangat serasi dan menghasilkan manfaat yang luar biasa bagi semesta. Penutup Demikian sedikit ringkasan mengenai keempat istilah yang amat populer di makrifat adalah Indonesia. Semoga ada manfaatnya. Allahu a’lam.

_____________________ Bahan bacaan: Artikel: Syari’ah, Haqiqah, Thariqah. Oleh: Syeikh Abduh Hasan Rasyid al-Masyhadi.
Artikel ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak.

Tulisan tanpa sumber dapat dipertanyakan dan dihapus sewaktu-waktu. Cari sumber: "Makrifat" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR Makrifat adalah pengetahuan yang diperoleh melalui akal, sedangkan dalam tasawuf makrifat berarti mengetahui Allah Subhanahu wa Ta'ala dari dekat. Dengan Makrifat, seorang Sufi lewat hati sanubarinya dapat melihat Tuhan. Mengetahui hinanya diri sendiri dan menerima semua yang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT di dalam keduniaan fana ini.

Makrifat merupakan cahaya yang memancar kedalam hati, menguasai daya yang ada dalam diri manusia dengan sinarnya yang menyilaukan. Awal memulai makrifat: • Pikirannya Jalan • Semua pembelajaran diambil hikmah terhadap kejadian yang sudah berlangsung (Pengalaman Hidup) Puncak makrifat: timbul suatu kegoncangan dan kebingungan karena • Karena tidak tahu putusan Akhir • Khawatir mati tidak membawa Iman Menjadikan diri kita dekat dengan Allah dengan Mantap, Hikmah sholat seharusnya membuat kita dekat dengan Allah.

dengan timbul pertanyaan Apakah sholat kita diterima oleh Allah?. tidak ada yang tahu dan jngan mengaku kalau diterima. Disarankan untuk "Wiridan", yg di awali dengan "astaghfirullah.". dengan kiasan cucilah dulu hati setelah sholat. Karena di dalam sholat makrifat adalah seorang manusia saat sholat banyak penyakit seperti niat yang jahat terhadap orang, tidak fokus, punya dendam. Disarankan khusyu'. Referensi [ sunting - sunting sumber ] • Halaman ini terakhir diubah pada 17 Januari 2022, pukul 01.39.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
Marifat menurut istilah adalah sadar kepada Allah SWT, yakni : hati menyadari bahwa segala sesuatu, termasuk gerak-gerik dirinya lahir batin seperti : melihat, mendengar, merasa, menemukan, bergerak, berdiam, berangan-angan ,berfikir dan sebagainya semua adalah Alloh SWTyang menciptakan dan yang mengerakan.

Jadi semuanya dan segala sesuatu adalah Billah Makrifat, sebagai pengetahuan yang hakiki dan meyakinkan, menurut al-Gazali, tidak didapat lewat pengalaman inderawi, juga tidak dicapai lewat penalaran rasional, tetapi lewat kemurnian qalbu yang mendapat ilham atau limpahan n­ur dari Tuhan sebagai pengalaman sufistik.

Di sini, tersingkap segala realitas yang tidak dapat ditangkap oleh indera dan tidak terjangkau oleh akal (rasio). Teori pengetahuan kasyfiy atau ‘irfaniy yang tidak menekankan peran indera dan rasio dipandang telah ikut melemahkan semangat seseorang untuk bergelimang dalam ilmu pengetahuan dan filsafat.

Orang lari dari dunia nyata yang obyektif ke dunia gaib yang tidak dapat ditangkap oleh indera dan nalar. Orang lebih mementingkan kebahagiaan diri sendiri daripada kebahagiaan dan keselamatan umat makrifat adalah.

Karenanya, orang lebih tertarik pada sikap hidup isolatif daripada sikap hidup partisipatif. Sikap hidup seperti ini berakibat pada banyaknya persoalan kemanusiaan tidak terurus yang sebenarnya menjadi tugas manusia. Makrifat, menurut al-Gazali, ialah pengetahuan yang meyakinkan, yang hakiki, yang dibangun makrifat adalah atas dasar keyakinan yang sempurna (haqq al-yaqin). Ia tidak didapat lewat pengalaman inderawi, juga tidak lewat penalaran rasional, tetapi semata lewat kemurnian qalbu yang mendapat ilham atau limpahan nur dari Tuhan sebagai pengalaman kasyfiy atau ‘irfaniy.

Teori pengetahuan ala sufi ini dipandang telah ikut melemahkan semangat seseorang untuk aktif dalam kehidupan nyata makrifat adalah seimbang antara tuntutan pribadi dan sosial, antara jasmani dan ruhani.

Makrifat merupakan ilmu yang tidak menerima keraguan (العلم الذى لا يقبل الشك) yaitu ”pengetahuan” yang mantap dan mapan, yang tak tergoyahkan oleh siapapun dan apapun, karena ia adalah pengetahuan yang telah mencapai tingkat haqq al-yaqin. Inilah ilmu yang meyakinkan, yang diungkapkan oleh al-Gazali dengan rumusan sebagai berikut: Dari definisi di atas, dapat dikatakan bahwa obyek makrifat dalam ajaran tasawuf al-Gazali tidak hanya terbatas pada pengenalan tentang Tuhan, tetapi juga mencakup pengenalan tentang segala hukum-hukum-Nya yang terdapat pada semua makhluk.

Lebih jauh, dapat pula diartikan bahwa orang yang telah mencapai tingkat makrifat (al-‘arif) mampu mengenal hukum-hukum Allah atau sunnah-Nya makrifat adalah hanya tampak pada orang-orang tertentu--para ’arifin-. Karena itu, adanya peristiwa-peristiwa “luar biasa”, seperti karamah, kasyf dan lain-lain yang dialami oleh orang-orang sufi, sebenarnya, tidaklah keluar dari sunnah Allah dalam arti yang luas, karena mereka mampu menjangkau sunnah-Nya yang tak dapat dilihat atau dijangkau oleh orang-orang biasa.

Karena itu, dapat dikatakan, bahwa obyek makrifat dalam pandangan al-Gazali mencakup pengenalan terhadap hakikat dari segala realitas yang ada. Meskipun demikian, pada kenyataannya, al-Gazali lebih banyak membahas atau mengajarkan tentang cara seseorang memperoleh pengetahuan tentang Tuhan, yang memang tujuan utama dari setiap ajaran sufi. Dengan demikian, al-Gazali mendefinisikan makrifat dengan. (النظر الى وجه الله تعالى) (memandang kepada wajah Allah ta’ala).

Makrifat dalam arti yang sesungguhnya, menurut al-Gazali, tidak dapat dicapai lewat indera atau akal, melainkan lewat n­ur yang diilhamkan Allah ke dalam qalbu. Melalui pengalaman sufistik seperti inilah, didapat pengetahuan dalam bentuk kasyf. Dengan kata lain, makrifat bukanlah pengetahuan yang dihasilkan lewat membaca, meneliti, atau merenung, tetapi ia adalah apa yang disampaikan Tuhan kepada seseorang (sufi) dalam pengalaman sufistik langsung.

Makrifat sebagai ilmu mukasyafah, kata al-Gazali, tidak bisa dikomunikasikan kepada orang yang belum pernah mengalaminya, atau belum mencapai tingkat kualifikasi yang mampu mengerti pengalaman sufistik semacam itu. Setiap pengalaman pribadi antara seorang sufi dengan Tuhannya, jika diungkapkan dengan kata-kata, sudah dapat dipastikan salah paham dari pendengar yang tak mampu melepaskan ikatan duniawi.

Paling-paling seorang sufi hanya mencoba mengungkapkannya secara simbolik dan metaforik, karena tidak ada bahasa yang dapat menuturkan secara tepat, tidak ada ungkapan yang tidak mengandung penafsiran ganda. Selain itu Al-Gazali juga sangat menentang orang yang tidak peduli terhadap hukum-hukum syariah karena menganggap telah mencapai tingkat tertinggi (wali) dan telah memperoleh pengetahuan langsung dari sumbernya, yaitu Allah SWT.

berupa pengetahuan kasyfi, yang membawanya tidak terikat lagi pada hukum-hukum taklifiy. Kenyataan ini, menurut ‘Abd. al-¦alim Mahm­d, adalah tindakan bid’ah yang sangat menyesatkan, yang lahir dari orang-orang yang sama sekali tidak mengerti agama (Islam), terutama tentang hakikat tasawuf.

Jika ada orang berkata, demikian Ibnu Taimiyah, bahwa ia telah menerima pengetahuan berdasarkan kasyf, tetapi bertentangan dengan sunnah Rasul, maka kita wajib menolaknya. Menurut Ab­ al-A’la al-Maud­diy, antara syariah dan tasawuf terdapat hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Jika syariah (fiqh) mengatur aspek lahir, maka tasawuf berhubungan dengan aspek batin untuk kesempurnaan ibadah kepada Allah SWT. Salah satu perbedaan lain antara ma’rifat makrifat adalah jenis pengetahuan lain adalah cara memperolehnya.

Jenis pengetahuan biasa diperoleh melalui usaha keras; belajar keras; merenung keras; berpikir keras. Akan tetapi ma’rifat tidak bisa sepenuhnya diusahakan manusia. Pada tahap akhir semuanya bergantung pada kemurahan Allah Swt. Manusia hanya bisa melakukan persiapan (isti’dad) dengan cara membersihkan diri dari segala dosa dan penyakit-penyakit hati atau akhlak tercela lainnya.

Adapun Tanda-Tanda bagi adanya ma'rifat adalah hidupnya hati beserta Allah Ta'ala. Ditulis oleh al-Ghazali, bahwasanya pernah terjadi dialog antara Allah dan Nabi Daud A.S. dimana Daud ditanya oleh Allah, "Adakah Engkau tahu apakah ma'rifat kepadaku ?", Daud menjawab, "Tidak". Dijelakan oleh Allah, makrifat adalah itu adalah hidupnya hati dalam musyahadah (menyaksikan) kepadaku. Ma'rifat hakiki terdapat dalam maqam ru'yat wa al--musyahadah bi sirr al-qalb. Orang yang ma'rifat melihat sekedar hanya untuk mengetahui.

Karena ma'rifat yang hakiki ada di dalam (bathin) iradah Allah. Allah, ketika ini, hanya membuka sebagian hijab sehingga memungkinkan hambanya untuk mengenali--Nya.

Akan tetapi, Ia tidak membuka seluruh hijab, agar yang melihat-Nya tidak terbakar. Tanda adanya ma'rifat hakiki pada diri seseorang adalah jika di hatinya telah tidak dijumpai tempat untuk lain selain Allah. Ini erat kaitannya dengan apa yang dikatakan sebagian para Ulama tentang hakikat ma'rifat bahwa hakikatnya adalah menyaksikan (musyahadat) al-haqq dengan tanpa perantaraan, tidak bisa digambarkan, dan tanpa ada kesamaran. (37) Potret dan contoh figur yang telah sampai pada tingkatan ini, sebagaimana dicontohkan makrifat adalah al-Ghazali, misalnya Ali bin Abi Thalib, Ja'far Shadiq.

Ketika Ali ditanya oleh seseorang, "Wahai Amir al-Mu'minin, apakah engkau menyembah seseuatu yang engkau lihat atau sesuatu yang tidak engkau lihat ?", Ali menjawab, "Tidak, bahkan aku menyembah dzat yang aku lihat tidak dengan mata kepalaku, tetapi dengan mata hatiku". Demikian juga ketika Ja'far al-Shadiq R.A. ditanya "Apakah engkau melihat Allah ?", ia menjawab, "Apakah aku menyembah tuhan yang tidak bisa aku lihat".

Lalu ia ditanya lagi, "Bagaimana engkau dapat melihatnya pada-hal Ia (Tuhan) adalah sesuatu yang tidak terjangkau oleh peng-lihatan".

Ja'far Shadiq menegaskan, "Mata tidak bisa melihat Tuhan dengan penglihatannya, tetapi hati bisa melihat-Nya dengan hakikat iman. Ia tidak mungkin dapat diindera oleh pan-caindera dan dipersamakan dengan manusia.

(38) b. Akal; Sebagaimana pancaindera, akal juga adalah merupakan salah satu sumber ma'rifat dalam beberapa sumber. Tetapi sekali lagi, ditegaskan bahwa ia bukanlah segala-galanya. Menganggap dan memberikan cakupan yang luas bagi akal sebagai sumber ma'rifat dapat menyebabkan penyepelean terhadap al-Qur'an sebagai utama. “Apabila Tuhan membukakan jalan bagimu untuk Ma’rifat, maka jangan hiraukan amalmu yang masih sedikit itu, karena Allah tidak membuka jalan tadi melainkan Dia (sendiri yang) berkehendak memperkenalkan diri-Nya kepada kamu.

Tidakkah anda ketahui bahwa perkenalan itu adalah pemberian Allah pada anda. Sedangkan amal-amal (yang anda kerjakan) anda berikan amal-amal itu untuk Allah, dan dimanakah fungsi pemberian anda kepada Allah apabila dibandingkan pada apa yang didatangkan Allah atas anda ?” Salah satu pendidikan yang dapat ditemukan makrifat adalah laku lampah Dunia Ruhani bahwa setiap penempuh jalan ruhani dituntut agar melihat kecil apa yang datang dari hamba dan betapa besar apa yang dikurniakan oleh Allah.

Ruhani yang terdidik seperti ini akan membentuk sikap beramal tanpa melihat kepada amal itu sendiri, sebaliknya melihat amal itu sebagai kurnia Allah yang wajib disyukuri. Orang yang terdidik seperti ini tidak lagi membuat tuntutan kepada Allah tetapi membuka hati nuraninya untuk menerima hidayah dan taufik dari Allah.

Penemuan kepada hakikat (bahwa tidak ada jalan yang terluhur kepada gerbang makrifat) merupakan puncak yang dapat dicapai oleh ilmu. Ilmu tidak mampu berjalan lebih jauh dari itu.

Apabila seseorang mengetahui dan mengakui bahwa tidak ada jalan atau tangga yang dapat mencapai Allah, maka seseorang itu tidak lagi bersandar kepada ilmu dan amalnya, makrifat adalah lagi kepada ilmu dan amal orang lain.

Sampai disini seseorang tidak ada pilihan lagi melainkan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Ma’rifat menurut Drs Imron Rosadi MA, adalah pengetahuan, dan dalam arti umum ialah ilmu atau pengetahuan yang diperoleh melalui akal. Dalam kajian ilmu tasawuf “Ma’rifat adalah mengetahui Tuhan dari dekat, sehingga hati sanubari dapat melihat Tuhan”.

Inilah yang dikemukakan Harun Nasution dalam Falsafat & Mistisisme dalam Islam. Kondisi Ma’rifat dijelaskan dalam Makrifat adalah Islam (jilid tiga) bahwa Ma’rifat merupakan cermin. Jika seorang makrifat adalah melihat ke cermin, maka yang akan dilihatnya hanya Allah SWT. Artinya bahwa yang dilihat orang Arif sewaktu tidur maupun bangun hanya Allah SWT. Dengan ungkapan ini terlihat begitu dekatnya seorang sufi dengan Tuhannya, dan kondisi Ma’rifat ini mengisyaratkan bahwa Ma’rifat adalah anugerah dari Tuhan.

Tuhanlah yang berkenan memberikan pengetahuan langsung dengan mengenugerahkan kemampuan kepada orang yang dikehendaki makrifat adalah menerima Ma’rifat. Ma’rifat merupakan cahaya yang memancar ke dalam hati, menguasai yang ada dalam diri manusia dengan sinarnya yang menyilaukan. Sekiranya Ma’rifat mengambil bentuk materi, semua orang yang melihat akan mati karena tak tahan melihat kecantikan serta keindahannya, dan semua cahaya akan menjadi gelap di samping cahaya keindahannya yang gilang gemilang.

Sufi pertama yang menonjolkan konsep Ma’rifat dalam tasawufnya adalah ZUNNUN al-MISRI (Mesir, 180 H / 796 M – 246 H / 860 M). Ia disebut “Zunnun” yang artinya “Yang empunya ikan Nun”, karena pada suatu hari dalam pengembaraannya dari satu tempat ke tempat lain ia menumpang sebuah kapal saudagar kaya. Tiba-tiba saudagar itu kehilangan sebuah permata yang sangat berharga dan Zunnun dituduh sebagai pencurinya. Ia kemudian disiksa dan dianiaya makrifat adalah dipaksa untuk mengembalikan permata yang dicurinya.

Saat tersiksa dan teraniaya itu Zunnun makrifat adalah kepalanya ke langit sambil berseru: ”Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Tahu”. Pada waktu itu secara tiba-tiba muncullah ribuan ekor ikan Nun besar ke permukaan air mendekati kapal sambil membawa permata di mulut masing-masing.

Zunnun mengambil sebuah permata dan menyerahkannya kepada saudagar tersebut. Dalam pandangan umum Zunnun sering memperlihatkan sikap dan perilaku yang aneh-aneh dan sulit dipahami masyarakat umum.

Karena itulah ia pernah dituduh melakukan Bid’ah sehingga ditangkap dan dibawa ke Baghdad untuk diadili di hadapan Khalifah al-Mutawakkil (Khalifah Abbasiyah, memerintah tahun 232 H / 847 M – 247 H / 861 M). Zunnun dipenjara selama 40 hari. Selama di dalam penjara, saudara perempuan Zunnun setiap hari mengirimkan sepotong roti, namun setelah dibebaskan, di kamarnya masih didapati 40 potong roti yang masih utuh.

Menurut Abu Bakar al-Kalabazi (W. 380 H / 990 M) dalam al-Ta’aruf li Mazahib Ahl at Tasawwuf (Pengenalan terhadap mazhab-mazhab Ahli Tasawuf), Zunnun telah sampai pada tingkat Ma’rifat yaitu maqam tertinggi dalam Tasawwuf setelah menempuh jalan panjang melewati maqam-maqam: Taubat, Zuhud, Faqir, Sabar, Tawakal, Ridha dan cinta atau Mahabbah.

Kalau Ma’rifat adalah mengetahui Tuhan dengan hati sanubari, maka Zunnun telah mencapainya. Maka, ketika ditanya tentang bagaimana Ma’rifat itu diperoleh ia menjawab : “Araftu rabbi bi rabbi walau la rabbi lama araftu rabbi”. (Aku mengetahui Tuhanku karena Tuhanku, dan sekiranya tidak makrifat adalah Tuhanku, niscaya aku tidak akan mengetahui Tuhanku). Kata-kata Zunnun ini sangat populer dalam kajian ilmu Tasawwuf.

Zunnun mengetahui bahwa Ma’rifat yang dicapainya bukan semata-mata hasil usahanya sebagai sufi, melainkan lebih merupakan anugerah yang dilimpahkan Tuhan bagi dirinya.

Ma’rifah tidak dapat diperoleh melalui pemikiran dan penalaran akal, tetapi bergantung pada kehendak dan rahmat Tuhan. Ma’rifat adalah pemberian Tuhan kepada Sufi yang sanggup menerimanya. Namun demikian untuk mencapai tingkat ini tidaklah mudah meskipun selintas dapat dipahami bahwa Ma’rifat didapat dengan ikhlas beribadah dan sungguh-sungguh mencintai dan mengenal Tuhan, sehingga Allah SWT berkenan menyingkap tabir dari pandangan Sufi untuk menerima cahaya yang dipancarkan, yang pada akhirnya Sufi dapat melihat keindahan dan keesaan-Nya.

Jalan yang dilalui seorang Sufi tidaklah mulus dan mudah. Sulit sekali untuk pindah dari satu maqam ke maqam yang lain. Untuk itu seorang Sufi memang harus melakukan usaha yang berat dan waktu yang panjang, bahkan kadang-kadang ia masih harus tinggal bertahun-tahun di satu maqam. Dalam pada itu Ma’rifatpun harus dicapai melalui proses yang terus-menerus. Semakin banyak seorang Sufi mencapai Ma’rifat, semakin banyak yang diketahui tentang rahasia-rahasia Tuhan, meskipun demikian tidak mungkin Ma’rifatullah menjadi sempurna, karena manusia sungguh amat terbatas, sementara Tuhan tidak terbatas.

Karena itu al-Junaid makrifat adalah, seorang tokoh Sufi modern berkomentar tentang keterbatasan manusia dengan mengatakan “Cangkir teh takkan mungkin menampung semua air laut”. Paham Ma’rifat Zunnun dapat diterima al-Ghazali sehingga paham ini mendapat pengakuan Ahlussunah wal Jama’ah. Al-Ghazali sebagai figur yang berpengaruh di kalangan Ahlussunah wal Jama’ah diakui dapat makrifat adalah Tasawwuf diterima kaum syari’at. Sebelumnya para ulama memandang Tasawuf seperti yang diajarkan al-Bustami (W.

261 H / 874 M) dan al-Hallaj (244 - 309 H / 858 – 922 M) khususnya menyimpang dengan paham Hulul / Ittihad / penyatuan yang dalam pemahaman “Kejawen” dikenal dengan “Manunggaling Kawulo Gusti” Ma’rifat menurut al-Ghazali adalah maqam kedekatan (qurb) itu sendiri yakni maqam yang memiliki daya tarik dan yang memberi pengaruh pada kalbu, yang lantas berpengaruh pada seluruh aktivitas jasmani (jawarih). `Ilm (ilmu) tentang sesuatu adalah seperti “melihat api” sebagai contoh, sedangkan ma`rifat adalah “menghangatkan diri dengan api”.

Menurut bahasa, ma`rifat adalah pengetahuan yang tidak ada lagi keraguan di dalamnya. Adapun menurut istilah yang sering dipakai menunjukkan ilmu pengetahuan tentang apa saja (nakirah).

Menurut istilah Sufi, ma`rifat adalah pengetahuan yang tidak ada lagi keraguan, apabila yang berkaitan dengan objek pengetahuan itu adalah Dzat Allah swt.

dan Sifat-sifat-Nya. Jika ditanya, `Apa yang disebut ma`rifat Dzat dan apa pula ma’rifat Sifat?” Maka dijawab bahwa ma’rifat Dzat adalah mengetahui bahwa sesungguhnya Allah swt.

adalah Wujud Yang Esa, Tunggal, Dzat dan “sesuatu” Yang Mahaagung, Mandiri dengan Sendiri-Nya dan tidak satu pun makrifat adalah menyerupai-Nya.

Kalau ditanya, “Tahap atau maqam manakah yang dapat disahkan sebagai ma `rifat yang hakiki?” [Jawabnya] adalah tahap musyahadah (penyaksian) dan ru’yat (melihat) dengan sirr qalbu. Hamba melihat untuk mencapai ma’rifat. Karena ma’rifat yang hakiki ada makrifat adalah dimensi batin pada iradah, kemudian Allah swt.

menghilangkan sebagian tirai (hijab), lantas kepada mereka makrifat adalah nur Dzat-Nya dan Sifat-sifat-Nya dari balik hijab itu agar mereka sampai pada ma’rifat kepada Allah swt. Hijab itu tidak dibukakan seluruhnya, agar yang melihat-Nya tidak terbakar. Ketahuilah, bahwa manifestasi (tajalli) keagungan melahirkan rasa takut (khauf) dan keterpesonaan (haibah).

Sedangkan manifestasi keelokan (al-Hasan) dan Keindahan (al-Jamal) melahirkan keasyikan. Sementara manifestasi Sifat-sifat Allah melahirkan mahabbah. Dan manifestasi Dzat meniscayakan lahirnya penegasan keesaan (tauhid). Sebagian ahli ma’rifat berkata, “Demi Allah, tidak seorang pun yang mencari dunia, selain orang itu dibutakan kalbunya oleh Allah, dan dibatalkan amalnya.

Sesungguhnya Allah menciptakan dunia sebagai kegelapan, dan menjadikan matahari sebagai cahaya. Allah menjadikan kalbu juga gelap, lalu dijadikan ma’rifat sebagai cahayanya.

Apabila awan telah tiba, cahaya matahari akan terhalang. Begitupun ketika kecintaan dunia tiba, cahaya ma’rifat akan terhalang dari kalbu.” Sebagian Sufi berkata, “Matahari kalbu Sang `Arif lebih terang dan bercahaya dibandingkan matahari di siang hari. Karena matahari pada siang hari kemungkinan menjadi gelap karena gerhana, sedangkan matahari kalbu tiada pernah mengalami peristiwa gerhana (kusuf).

Matahari siang tenggelam ketika malam, namun tidak demikian pada matahari kalbu.” Mereka mendendangkan makrifat adalah Sebagian Sufi ada pula yang berkata, “Hakikat ma’rifat adalah musyahadah kepada Yang Haq tanpa perantara, tanpa bisa diungkapkan, tanpa ada keraguan (syubhah).” Seperti ketika Amirul-Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a. ditanya, “Wahai Amirul-Mukminin, apakah yang anda sembah itu yang dapat anda lihat atau tidak dapat anda lihat?” “Bukan begitu, bahkan aku menyembah Yang aku lihat, bukan dengan penglihatan mata, tetapi penglihatan kalbu,” jawab Ali.

Sebagian `arifin ditanya seputar hakikat ma’rifat. Mereka berkata, “Menyucikan sirr (rahasia) kalbu dari segala kehendak ‘ dan meninggalkan kebiasaan sehari-hari, tentramnya kalbu kepada Allah swt. tanpa ada ganjalan (`alaqah), berhenti dari sikap berpaling dari Allah swt. dan menuju selain Allah swt. Mustahil, ma’rifat kepada substansi Dzat-Nya dan Sifat-sifat-Nya, dan tidak akan diketahui siapa Dia, kecuali melalui Dia sendiri, Yang Mahaluhur, Mahatinggi, serta Kemuliaan hanya kepada Diri-Nya saja.” Bashirah, Mukasyafah, Musyahadah dan Mu`ayanah merupakan term-term yang sinonim.

Perbedaannya pada tataran makna penjelasannya yang utuh, bukan pada tataran makna asalnya. Kedudukan bashirah (mata batin) pada akal sama dengan kedudukan cahaya mata (batin) pada mata penglihatan (fisik). Kedudukan ma’rifat pada bashirah adalah seperti kedudukan bola matahari yang berpijar pada cahaya mata, sehingga dengan sinar itu, objek-objek yang jelas dan yang tidak tampak dapat dikenali.

Sedangkan al-yaqin -ketahuilah – keyakinan (al-i`tiqad) dan ilmu, apabila telah bersemayam dalam kalbu dan tidak ada yang menjadi penghalang (ma’aridh) bagi masing-masing, akan membuahkan ma`rifat dalam kalbu.

Dan ma’rifat tersebut dinamakan al-yaqin. Karena hakikat yakin adalah kejernihan ilmu yang didapatkan (acquired) melalui perolehan karunia (muktasab), sehingga menjadi seperti ilmu aksiomatik, dan kalbu menyaksikan keseluruhan, sebagaimana dikabarkan oleh syariat, baik dalarn persoalan dunia maupun akhirat.

Dikatakan, `Air menjadi jelas ketika bersih dari kekeruhannya.” Sementara firasat adalah pengetahuan akan perlambang dari Allah swt., antara Dia dan hamba-Nya, yang memberi petunjuk pada segi esoterik (sisi paling dalam) hukum-hukumNya. Firasat tidak akan hadir, kecuali pada derajat taqarrub. Tetapi dia berada di bawah ilham.

Karena ilham tidak makrifat adalah alamat-alamat. Namun firasat membutuhkan alamat atau tanda perlambang, baik bersifat umum maupun khusus Ahmad bin ‘Atha’ – rahimahullah – berkata, “Ma’rifat itu ada dua: Ma’rifat al-Haq dan ma’rifat hakikat. Adapun ma’rifat al-Haq adalah ma’rifat (mengetahui) Wahdaniyyah-Nya makrifat adalah Nama-nama dan Sifat-sifat yang ditampakkan pada makhluk-Nya.

Sedangkan ma’rifat hakikat, makrifat adalah ada jalan untuk menuju ke sana. Sebab tidak memungkinkannya Sifat Shamadiyyah (Keabadian dan Tempat ketergantungan makhluk)-Nya, dan makrifat adalah Rububiyyah (Ketuhanan)-Nya.

Karena Allah telah berfirman: Makna ucapan Ahmad bin’Atha’, “Tak ada jalan menuju ke sana,” yakni ma’rifat (mengetahui) secara hakiki.

Sebab Allah telah menampakkan Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya kepada makhluk-Nya, dimana Dia tahu bahwa itulah kadar kemampuan mereka.

Sebab untuk tahu makrifat adalah ma’rifat secara hakiki tidak akan mampu dilakukan oleh makhluk. Bahkan hanya sebesar atom pun dari ma’rifat-Nya tidak akan sanggup dicapai oleh makhluk. Sebab alam dengan apa yang ada di dalamnya akan lenyap ketika bagian terkecil dari awal apa yang muncul dari Kekuasaan Keagungan-Nya. Lalu siapa yang sanggup ma’rifat (mengetahui) Dzat Yang salah satu dari Sifat-sifat-Nya sebagaimana itu?

Ia melanjutkan, “Salah satu dari tanda ma’rifat adalah melihat dirinya berada dalam ‘Genggaman’ Dzat Yang Mahaagung, dan segala perlakuan Kekuasaan Allah berlangsung menguasai dirinya. Dan ciri lain dari ma’rifat adalah rasa cinta (al-Mahabbah). Sebab orang yang ma’rifat dengan-Nya tentu akan mencintai-Nya.” Abu Nazid Thaifur bin Isa al-Bisthami – rahimahullah – pernah ditanya tentang sifat orang arif, lalu ia menjawab, “Warna air itu sangat dipengaruhi oleh warna tempat (wadah) yang ditempatinya.

Jika air itu anda tuangkan ke dalam tempat yang berwarna putih maka anda akan menduganya berwarna putih. Jika Anda tuangkan ke dalam tempat yang berwarna hitam, maka Anda akan menduganya berwarna hitam.

Dan demikian pula jika Anda tuangkan ke dalam tempat yang berwarna kuning dan merah, ia akan selalu diubah oleh berbagai kondisi. Sementara itu yang mengendalikan berbagai kondisi spiritual adalah Dzat Yang memiliki dan menguasainya.” Syekh Abu Nashr as-Sarraj – rahimahullah – menjelaskannya: Artinya, – hanya Allah Yang Mahatahu – bahwa kadar kejernihan air itu akan sangat bergantung pada sifat dan warna tempat (wadah) yang ditempatinya. Akan tetapi warna benda yang ditempatinya tidak akan pernah berhasil mengubah kejernihan dan kondisi asli air itu.

Orang yang melihatnya mungkin mengira, bahwa air itu berwarna putih atau hitam, padahal air yang ada di dalam tempat tersebut tetap satu makna yang sesuai dengan aslinya. Demikian pula orang yang arif dan sifatnya ketika “bersama” Allah Azza wa jalla dalam segala hal yang diubah oleh berbagai kondisi spiritual, maka rahasia hati nuraninya “bersama” Allah adalah dalam satu makna. Muhammad bin al-Mufadhdhal as-Samarqandi – rahimahullah – berkata, “Akan tetapi mereka tidak membutuhkan apa-apa dan tidak ingin memilih apa pun.

Sebab tanpa membutuhkan dan memilih, mereka telah memperoleh apa yang semestinya mereka peroleh. Karena apa makrifat adalah bisa dilakukan orang-orang arif adalah berkat Dzat Yang mewujudkan mereka, kekal dan fananya juga berkat Dzat Yang mewujudkannya.” Ia menjawab, “Bagaimana sesuatu yang memiliki batas bisa memahami Dzat Yang tanpa batas, atau bagaimana sesuatu yang memiliki kekurangan bisa memahami Dzat Yang tidak memiliki kekurangan dan cacat sama sekali, atau bagaimana seorang bisa membayangkan kondisi bagaimana terhadap Dzat Yang membuat kemampuan imajinasi itu sendiri, atau bagaimana orang bisa menentukan ‘di mana’ terhadap Dzat Yang menentukan ruang dan tempat itu sendiri.

Demikian pula Yang menjadikan yang awal dan mengakhirkan yang terakhir, sehingga Dia disebut Yang Pertama dan Terakhir. Andaikan Dia tidak mengawalkan yang awal dan mengakhirkan yang terakhir makrifat adalah tidak bisa diketahui mana yang pertama dan mana yang terakhir.” Kemudian ia melanjutkannya, “Al-Azzaliyyah pada hakikatnya hanyalah al-Abadiyyah (Keabadian), di mana antara keduanya tidak ada pembatas apa pun.

Sebagaimana Awwaliyyah (awal) adalah juga Akhiriyyah (akhir) dan akhir adalah juga awal. Demikian pula lahir dan batin, hanya saja suatu saat Dia menghilangkan Anda dan suatu saat menghadirkan Anda dengan tujuan untuk memperbarui kelezatan dan melihat penghambaan (‘ubudiyyah).

Sebab orang yang mengetahui-Nya melalui penciptaan makhluk-Nya, ia tidak akan mengetahui-Nya secara langsung. Sebab penciptaan makhluk-Nya berada dalam makna firman-Nya, ‘Kun’ (wujudlah). Sementara mengetahui secara langsung adalah menampakkan kehormatan, dan sama sekali tidak ada kerendahan.” Syekh Abu Nashr as-Sarraj – rahimahullah – melanjutkan penjelasannya: Makna dari apa yang diisyaratkan tersebut – hanya Allah Yang Mahatahu – bahwa menentukan dengan waktu dan perubahan itu tidak layak bagi Allah swt.

Maka Dia terhadap apa yang telah terjadi sama seperti pada apa yang bakal terjadi. Pada apa yang telah Dia firmankan sama seperti pada apa yang bakal Dia firmankan. Sesuatu yang dekat menurut Dia sama seperti yang jauh, begitu sebaliknya, sesuatu yang jauh sama seperti yang dekat.

Sedangkan perbedaan hanya akan terjadi bagi makhluk dari sudut penciptaan dan corak dalam masalah dekat dan jauh, benci dan senang (ridha), yang semua itu adalah sifat makhluk, dan bukan salah satu dari Sifat-sifat al-Haq swt. – dan hanya Allah Yang Mahatahu. Ahmad bin Atha’ – rahimahullah – pernah mengemukakan sebuah ungkapan tentang ma’rifat.

Dimana hal ini konon juga diceritakan dari Abu Bakar al-Wasithi. Akan tetapi yang benar adalah ungkapan Ahmad bin ‘Atha’, “Segala sesuatu yang dianggap jelek itu akan menjadi jelek hanya karena tertutupi hijab-Nya (tidak ada nilai-nilai Ketuhanan).

Sedangkan segala Sesuatu yang dianggap baik itu menjadi baik hanya karena tersingkap (Tajalli)-Nya (terdapat nilai-nilai Ketuhanan). Makrifat adalah keduanya merupakan sifat yang selalu berlaku sepanjang masa, sebagaimana keduanya berlangsung sejak azali.

Dimana tampak dua ciri yang berbeda pada mereka yang diterima dan mereka yang ditolak. Mereka yang diterima, benar-benar tampak bukti-bukti Tajalli-Nya pada mereka dengan sinar terangnya, sebagaimana tampak jelas bukti bukti tertutup hijab-Nya pada mereka yang tertolak dengan kegelapannya. Maka setelah itu, tidak ada manfaatnya lagi warna-warna kuning, baju lengan pendek, pakaian serba lengkap maupun pakaian-pakaian bertambal (yang hanya merupakan simbolis semata, pent.).” Saya katakan, bahwa apa yang dikemukakan oleh Ahmad bin Atha’ maknanya mendekati dengan apa yang dikatakan oleh Abu Sulaiman Abdurrahman bin Ahmad makrifat adalah – rahimahullah – dimana ia berkata, “Bukanlah perbuatan-perbuatan (amal) seorang hamba itu yang menjadikan-Nya senang (ridha) atau benci.

Akan tetapi karena Dia ridha kepada sekelompok kaum, kemudian Dia jadikan mereka orang-orang yang berbuat dengan perbuatan (amal) orang-orang yang diridhai-Nya. Demikian pula, karena Dia benci pada sekelompok kaum, kemudian Dia jadikan mereka orang-orang yang berbuat dengan perbuatan orang-orang makrifat adalah dibenci-Nya.” Sedangkan makna ucapan Ahmad bin Atha’, “Segala sesuatu yang dianggap jelek itu akan menjadi jelek hanya karena tertutupi hijab-Nya.” Maksudnya adalah karena Dia berpaling dari kejelekan tersebut.

Sementara ucapannya yang menyatakan, “Segala sesuatu yang dianggap baik itu menjadi baik hanya karena tersingkap (Tajalli)-Nya.” Maksudnya adalah karena Dia menyambut dan menerimanya. Makna semua itu adalah sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah Hadis: Dimana Rasulullah saw. pernah keluar, sementara di tangan beliau ada dua buah Kitab: Satu kitab di tangan sebelah kanan, dan satu Kitab yang lain di tangan sebelah kiri. Kemudian beliau berkata, “Ini adalah Kitab catatan para penghuni surga lengkap dengan nama-nama mereka dan nama bapak-bapak mereka.

Sementara yang ini adalah Kitab catatan para penghuni neraka lengkap dengan nama-nama mereka beserta nama bapak-bapak makrifat adalah (H.r. Tirmidzi dari Abdullah bin Amr bin Ash.

Hadist ini Hasan Shahih Gharib. Juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani, dari Ibnu Umar). Ketika Abu Bakar al-Wasithi – rahimahullah – mengenalkan dirinya kepada kaum elite Sufi, maka ia berkata, “Diri (nafsu) mereka (kaum arif telah sirna, sehingga tidak menyaksikan kegelisahan dengan menyaksikan fenomena-fenomena alam yang menjadi saksi Wujud-Nya al-Haq, sekalipun yang tampak pada mereka hanya bukti-bukti kepentingan nafsu.” Demikian juga orang yang memberikan sebuah komentar tentang makna ini.

Artinya – dan hanya Allah Yang Mahatahu - “Sesungguhnya orang yang menyaksikan bukti-bukti awal pada apa yang telah ia ketahui, melalui apa yang dikenalkan Tuhan Yang disembahnya, ia tidak menyaksikan kegelisahan dengan hanya menyaksikan apa yang selain Allah (yakni fenomena alam), dan juga tidak merasa senang dengan mereka (makhluk).” About Blog ini kami persembahkan untuk saudara2ku sesama muhibbun pencari cinta dan makrifatullah,belajar dan mengikuti jalan tasawuf.

Meneladani dan mengikuti jalan para Awlia Allah. Semua Artikel dan foto didalam blog ini dibuat untuk pecinta ilmu dan penambah wawasan keislaman. sy perbolehkan untuk dicopy atau didownload makrifat adalah tetap mencantumkan sumber artikel.Merdeka.com - Dalam agama Islam, tentu umat muslim sudah memahami bahwa setan merupakan salah satu makhluk ciptaan Allah yang ada untuk mengganggu manusia. Di sini, setan dapat mempengaruhi pikiran manusia untuk melakukan suatu tindakan atau hal yang buruk.

Jika manusia tergoda dan mengikuti pikiran tersebut, maka setan berhasil membawa manusia pada hal yang dibenci Allah. Meskipun dalam ajaran sangat wajar terjadi, makrifat adalah manusia perlu meningkatkan iman makrifat adalah takwa kepada Allah agar senantiasa dilindungi dari segala godaan setan. Jika umat muslim dapat meneguhkan iman dan berani melawan segala pikiran buruk, tentu akan mendapatkan lebih banyak kebaikan dan kemudahan dari Allah.

makrifat adalah

Sifat demikian dalam agama Islam sering disebut dengan makrifat. Makrifat adalah sifat berani melawan syahwat, amarah, dan mampu meninggalkan berbagai hal buruk yang dilarang dalam agama. Tentu tidak semua orang mempunyai atau dapat dengan mudah mengamalkan sikap ini. Namun jika hal ini dapat diterapkan dengan baik dalam kehidupan sehari-hari, maka terdapat banyak manfaat yang bisa didapatkan.

BACA JUGA: Jadi Ikon Pariwisata Jogja, Begini Keramaian Pantai Parangtritis Selama Libur Lebaran Polres Semarang Ungkap Kasus 'Pembunuhan Sebelum Salat Ied', Ternyata Ini Motifnya Dengan begitu, setiap umat makrifat adalah perlu memahami apa yang dimaksud dengan makrifat dengan.

Memahami makrifat adalah suatu satu langkah awal yang bisa dilakukan agar dapat menerapkannya dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Dilansir dari situs NU Online, kami merangkum pengertian, tanda dan manfaat makrifat adalah sebagai berikut.

BACA JUGA: Berkunjung ke Makassar, Ini Momen Hangat Ganjar Pranowo Bertemu Raja Gowa Ruas Jalan Ajibarang-Bumiayu Macet, Petugas Lakukan Rekayasa Lalu Lintas Ini Makrifat adalah suatu pengalaman batin yang tidak tampak atau tidak terlihat. Sebab, hal ini berkaitan dengan pola pikir seseorang yang dapat menghindarkan diri sendiri dari berbagai perbuatan buruk dan maksiat. Dengan begitu, makrifat dipahami sebagai suatu sikap baik yang berusaha melawan berbagai makrifat adalah dan perilaku buruk yang dapat dilakukan.

Dengan melawan dan mencegah diri sendiri dari perbuatan maksiat, tentu akan disenangi Allah dan mendapat berkah kebaikan dan kemudahan dari-Nya. Ini juga menunjukkan bahwa seseorang beriman kepada Allah dan agamanya.

Dengan menjauhi setiap larangannya, orang tersebut insyaAllah akan selalu mendapat perlindungan dari Allah dalam keadaan makrifat adalah. Tanda Makrifat Setelah mengetahui pengertian umumnya, berikutnya terdapat beberapa tanda makrifat yang perlu diketahui. Dalam hal ini, seperti yang makrifat adalah sebelumnya bahwa makrifat merupakan suatu pengalaman yang tidak tampak dan terlihat secara jelas.

Meskipun begitu, orang-orang yang memiliki sifat ini biasanya mempunyai ciri umum yang menunjukkan bahwa dirinya termasuk orang makrifat.

BACA JUGA: Ratusan Penumpang Arus Balik Terlantar di Terminal Kudus, Ini Faktanya Kata-kata Kehilangan Seseorang yang Kita Sayangi Bahasa Inggris, Penuh Makna Bijak Pertama, tanda makrifat adalah dapat dilihat dari sejauh mana intensitas orang tersebut beribadah kepada Allah.

Semakin sering intensitas yang dilakukan, maka akan menunjukkan ketaatannya pada agama. Gerakan ketaatan ini merupakan salah satu tanda makrifat pada diri seseorang. Meskipun begitu, ketaatan yang dimaksud di sini bukan sebatas ketaatan dalam beribadah khusus saja seperti sholat, dzikir, membaca Al-Quran. Melainkan ketaatan yang juga diterapkan dalam kehidupan dan profesi keseharian.

Baik itu seorang pelajar, mahasiswa, pengrajin, pedagang, pemerintah, penyedia jasa, atau profesi lainnya. Dengan begitu, makrifat adalah sifat yang akan tampak ketika seseorang dapat melaksanakan ketaatan dalam beribadah dan kehidupan sehari-harinya.

Selain ibadah khusus yang terus ditegakkan, orang yang bertanggung jawab dalam melakukan pekerjaannya, berintegritas, profesional dan maksimal, juga merupakan salah satu ciri sifat makrifat yang ada pada diri seseorang. BACA JUGA: Resep Cireng Kerupuk Gurih, Cocok untuk Camilan Sehari-hari Manfaat Puasa Media Sosial bagi Kesehatan Mental, Efektif Meningkatkan Suasana Hati Setelah mengetahui pengertian umum dan tanda-tandanya, perlu diketahui bahwa makrifat adalah sifat kebaikan yang dapat mendatangkan berbagai macam manfaat dan berkah.

Dikatakan, kelebihan orang yang memiliki sifat makrifat adalah dibukanya seluruh kekuatan batinnya untuk melihat alam, ruh para malaikat, ruh para nabi dan sesuatu yang indah yang tidak ada di dunia. Makrifat adalah salah satu ulama, batin manusia makrifat dapat melihat alamul malakut. Hal ini karena kalbu manusia melahirkan kekuatan batin yang berasal dari alam malakut.

makrifat adalah

Selain makrifat adalah, orang yang memiliki sifat makrifat biasanya merupakan orang yang dipilih Allah. Tidak lain adalah orang yang tidak berakhlak buruk dan tidak memiliki amalan-amalan tercela. Salah satunya, ketika orang atau manusia berjuang untuk menundukkan syahwat dan amarah dalam dirinya sendiri. Selain itu, kelebihan orang yang memiliki sifat makrifat adalah berbicara dengan hati bukan mulutnya.

Dalam hal ini, ketika batin manusia sudah dibuka, seluruh makrifat adalah jasmani tidak berfungsi dan berakhir pada batin. Di mana orang-orang akan lebih mudah dan lebih banyak berbicara dengan hati daripada dengan mulut.

BACA JUGA: Dibuka Tiga Menteri Sekaligus, Begini Penerapan Sistem "One Way" di Tol Jateng Cegah Hepatitis Akut, Dirut RSI Banjarnegara Imbau Ini pada Masyarakat Perlu diketahui, bahwa indera jasmani dapat mengelabuhi manusia itu sendiri.

Sedangkan batin selalu mengarah pada sesuatu yang tepat dan tidak akan mengelabuhi manusia itu sendiri. Ini merupakan kelebihan yang akan didapatkan oleh orang-orang makrifat.

Meskipun tidak semua orang dan hanya orang-orang tertentu saja. Namun dengan berperilaku baik dan melawan setiap pikiran dan sikap buruk tentu perlu diterapkan oleh seluruh umat muslim.

Hal ini tidak lain sebagai upaya untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah dan agamanya. 1 Kisah Kehidupan Seks Tentara Belanda di Indonesia 2 6 Potret Terbaru Aisyahrani Hamil Anak Ketiga, Penampilannya Mencuri Perhatian 3 Barisan Prajurit Kopaska TNI Menangis di Hutan, Alasannya Bikin Haru 4 Misteri Penembak Arief Rahman Hakim: Pengawal Presiden atau Polisi Militer Jakarta?

5 Mantan Kasad ke Prabowo: Mas Bowo harus Jadi Presiden Selengkapnya
Kata makrifat artinya “mengetahui atau mengenal”. Makrifat berarti juga pengetahuan. Obyeknya adalah kebenaran ( al-Haqq), baik dalam arti makrifat adalah ataupun dalam arti praktis. Makrifat al-Haqq dalam arti teoritis berarti pengetahuan yang benar tentang realitas sesuatu menurut apa adanya, seperti bumi itu bulat dan beredar pada porosnya. Makrifat al-Haqq dalam arti praktis berarti memiliki pengetahuan yang benar tentang baik dan buruknya sesuatu perbuatan manusia.

Pengetahuan yang akhir ini bukan sekedar untuk pengetahuan, tapi untuk diamalkan demi tercapainya kehidupan yang ideal bagi setiap manusia.

Kaum sufi membagi makrifat adalah tentang Tuhan ke dalam tiga tingkatan. Tingkatan paling rendah adalah makrifat kaum awam. Tingkat kedua adalah makrifat para filosof dan teolog. Mereka mengetahui Makrifat adalah berdasarkan pertimbangan atas kenyataan dunia empiris, bukan berdasarkan penyaksian langsung terhadap-Nya.

Makrifat tingkat pertama dan kedua itu, menurut penilaian kaum sufi tidaklah memberikan keyakinan penuh pada hati manusia. Hanya makrifat ketiga, yakni makrifat hakiki yang dapat memberikan keyakinan penuh pada hati manusia. Itulah makrifat tentang Tuhan yang diperoleh setelah terbukanya hijab (tirai) yang menutup pandangan hati. Unsur makrifat paling penting adalah cinta dan hasil dari makrifat adalah pandangan.

Selama ada ketidaktahuan, tidak ada pandangan. Cinta juga tidak mungkin bila ketidaktahuan hilang, pengetahuan hadirnya Tuhan diperoleh. Penyelesaiannya adalah cinta dan orang yang beriman tidak dapat mencintai siapapun kecuali Tuhan. Ia percaya dan setia akan cintanya kepada Tuhan saja. Buah dari cinta adalah kebahagiaan, semakin banyak cinta ahli makrifat kepada Tuhan, semakin sempurna makrifat adalah terang pandangannya, dan semakin kuat cintanya semakin sempurna pula kebahagiaannya.

Sebagai halnya dengan cinta ( mahabbah), makrifat terkadang dipandang sebagai maqam dan terkadang sebagai hal. Dalam istilah Barat makrifat ialah gnosis. Bagi al-Junaid, makrifat merupakan hal dan dalam al-Risalah al-Qusyairiah makrifat disebut sebagai maqam. Dan juga berlainan urutan yang diberikan kepada makrifat dalam buku-buku tasawuf. Al-Ghazali dalam ihya memandang bahwa makrifat datang sebelum mahabbah tetapi al-Kalabadi dalam al-Ta ’arruf menyebut dan menjelaskan makrifat sesudah mahabbah.

Ada pula yang berpendapat bahwa mahabbah dan makrifat merupakan kembar dua yang selalu disebut bersama karena mahabbah senantiasa didampingi oleh makrifat. Keduanya menggambarkan hubungan rapat dan erat yang ada antara sufi dan Tuhan. Yang pertama menggambarkan rasa cinta dan yang kedua menggambarkan keadaan mengetahui Tuhan dengan hati sanubari.

Imam al-Qusyairi mengatakan; makrifatullah adalah sifat orang yang mengenal Allah dari bentuk dirinya sendiri, bertanya tentang dirinya sendiri dengan selalu menyegarkan amaliyah dari waktu ke waktu. Ia buktikan tingkah lakunya dalam amal saleh dan kemuliaan akhlaknya. Ia bermujahadah atas semua rintangan dan godaan setan.

Ia juga bermuhasabah untuk dirinya sendiri. Membersihkan semua kotoran makrifat adalah dan mengobati semua penyakit hati terus menerus tanpa henti. Seperti disebut dalam riwayat bahwa bermakrifat itu adalah mengenal Allah swt Sedangkan ketika sahabat Rasulullah, Abu Bakar as-Shiddiq ditanya mengenai makrifat yang ada pada dirinya, ia berkata, sangat mustahil makrifat datang bukan karena pertolongan Allah.

Ia mengatakan bahwa makrifat tidak akan ditemukan pada panca indera manusia, tidak ada ukuran. Makrifat itu dekat tetapi jauh, jauh tetapi dekat. Tidak dapat diucapkan dan dinyatakan. Di bawahnya ada sesuatu Dialah (Allah) Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, tiada sesuatu yang dapat menyamai-Nya.

Dialah Dzat yang makrifat adalah Allah Azza Wajalla. Lain halnya dengan Ibnu Atha’illah yang mengatakan bahwa makrifat itu artinya bisa diperluas menjadi cara mengetahui dan mengenal Allah melalui tanda kekuasaan-Nya yang berupa makhluk ciptaan-Nya. Sebab dengan hanya memperhatikan tanda-tanda kekuasaan-Nya kita bisa mengetahui akan keberadaan dan kekuasaan Allah swt.

Makrifat atau gnostic dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia diartikan sebagai suatu aliran keagamaan yang mengutamakan pengetahuan religius. Gnosis (bahasa Yunani) ini merupakan pengetahuan tentang dunia esoteris dan hanya dimiliki oleh beberapa orang saja, mengenai kehidupan rohani yang lebih tinggi dan mengenai kebenaran filosofis untuk dicapai oleh sekelompok elite yang memiliki pengetahuan dan iman yang dalam.

Jadi secara terminologi makrifatullah (mengenal atau mengetahui Allah) berarti penguraian tentang fase-fase pemikiran dalam filsafat ketuhanan yang dimulai dari pemikiran sederhana, hingga mencapai puncak ke dalam dan ketelitiannya.

Sama halnya pada setiap studi ilmiah yang ditempuh manusia, beranjak dari kemudahan lagi sederhana, kemudian berproses dalam ketelitian dan kecermatan makrifat adalah kadar pemikiran dan akalnya. Al-Ghazali, Minhajul Abidin, (terjemahan), makrifat adalah : Majlis Ta’lim Ihya’, 1400 H). Soekama Karya, Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1996).

Harun Nasution dkk, Ensiklopedi Islam Indonesia, (Jakarta: Percetakan Sapdodadi, 1992). Mir Valiudin, Tasawuf dalam Al Qur'an, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993). Reynold A Nicholson, Mistik Dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1998).

Harun Nasution, Filsafat dan Mitisisme Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973). Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid II, (Jakarta: UI-Press, 1986). Sayyid Abi Bakar Ibnu Muhammad Syatha, Misi Suci Para Sufi, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2003).

Inilah Ciri-ciri Ahli Makrifat




2022 www.videocon.com