Jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan

jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan

Menu • HOME • RAMADHAN • Kabar Ramadhan • Puasa Nabi • Tips Puasa • Kuliner • Fiqih Ramadhan • Hikmah Ramadhan • Video • Infografis • NEWS • Politik • Hukum • Pendidikan • Umum • News Analysis • UMM • UBSI • Telko Highlight • NUSANTARA • Jabodetabek • banten • Jawa Barat • Jawa Tengah & DIY • Jawa Timur • kalimantan • Sulawesi • Sumatra • Bali Nusa Tenggara • Papua Maluku • KHAZANAH • Indonesia • Dunia • Filantropi • Hikmah • Mualaf • Rumah Zakat • Sang Pencerah • Ihram • Alquran Digital • ISLAM DIGEST • Nabi Muhammad • Muslimah • Kisah • Fatwa • Mozaik • INTERNASIONAL • Timur tengah • Palestina • Eropa • Amerika • Asia • Afrika • Jejak Waktu • Australia Plus • DW • EKONOMI • Digital • Syariah • Bisnis • Finansial • Migas • pertanian • Global • Energi • REPUBLIKBOLA • Klasemen • Bola Nasional • Liga Inggris • Liga Spanyol • Liga Italia • Liga Dunia • Internasional • Free kick • Arena • Sea Games 2021 • SEAGAMES 2021 • Berita • Histori • Pernik • Profil • LEISURE • Gaya Hidup jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan travelling • kuliner • Parenting • Health • Senggang • Republikopi • tips • TEKNOLOGI • Internet • elektronika • gadget • aplikasi • fun science & math • review • sains • tips • KOLOM • Resonansi • Analisis • Fokus • Selarung • Sastra • konsultasi • Kalam • INFOGRAFIS • Breaking • sport • tips • komik • karikatur • agama • JURNAL-HAJI • video • haji-umrah • journey • halal • tips • ihrampedia • REPUBLIKA TV • ENGLISH • General • National • Economy • Speak Out • KONSULTASI • keuangan • fikih muamalah • agama islam • zakat • IN PICTURES • Nasional • Jabodetabek • Internasional • Olahraga • Rana • PILKADA 2020 • berita pilkada • foto pilkada • video pilkada • KPU Bawaslu • SASTRA • cerpen • syair • resensi-buku • RETIZEN • Info Warga • video warga • teh anget • INDEKS • LAINNYA • In pictures • infografis • Pilkada 2020 • Sastra • Retizen • indeks Dalam pidatonya, Sukarno menyebut Indonesia menghadapi tahun yang gawat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejarawan Rushdy Hoesein mengatakan banyak orang, termasuk para pejabat yang salah mengutip singkatan Jas Merah dari pidato Presiden pertama Indonesia Sukarno (Bung Karno). Banyak orang menyebut Jas Merah sebagai singkatan dari 'Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah'.

Baca Juga • Jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan Singkatan • Memori Kolektif Sukarno, Jokowi, dan Prabowo • Tiga Masjid Bersejarah di Eropa Rushdy kemudian mencontohkan dia memiliki kunci rumah. Setiap pergi meninggalkan rumahnya dia tidak akan pernah meninggalkan kunci rumahnya, meskipun mungkin suatu ketika lupa membawa. Rushdy mengatakan pidato Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah! yang disampaikan pada 17 Agustus 1966 merupakan pidato kepresidenan Bung Karno yang terakhir.

jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan

Pada 1967, Bung Karno bukan lagi presiden. "Dalam pidato tersebut, Bung Karno menyebut antara lain Indonesia menghadapi tahun yang gawat, konflik sesama anak bangsa, dan seterusnya," ujarnya. Menurut Rushdy, opini masyarakat setelah itu memang terkesan dan dikesankan seolah-olah terkait pada kondisi bangsa yang progresif revolusioner.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta Suyatno mengatakan pidato-pidato Bung Karno merupakan suatu rentetan dan memiliki benang merah.

"Pidato-pidato Bung Karno menggambarkan perjalanan revolusi Indonesia dari masa ke masa.

jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan

Revolusi Indonesia mengalami masa-masa krusial dan juga mengalami kemenangan," katanya. Penulis Roso Daras mengatakan perlu ada upaya menjembatani pemikiran-pemikiran Bung Karno dengan generasi muda.

"Harus ada penafsiran terhadap pidato-pidato dan karya-karya Bung Karno dalam konteks kekinian sehingga generasi muda bisa memahami Bung Karno," kata penulis Aktualisasi Pidato Terakhir Bung Karno, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah itu.

Dilansir dari Encyclopedia Britannica, jas merah artinya jangan sekali – sekali melupakan sejarah. Kemudian, saya sangat menyarankan anda untuk membaca pertanyaan selanjutnya yaitu Berikut merupakan keterkaitan antara waktu dengan peristiwa sejarah, kecuali?

beserta jawaban penjelasan dan pembahasan lengkap.
Bung Karno dalam pidato bersejarahnya di HUT 17 Agustus Tahun 1966 mengatakan: Abraham Lincoln, berkata: “one cannot escape history, orang tak dapat meninggalkan sejarah”, tetapi saya tambah : “Never leave history”.

inilah sejarah perjuangan, inilah sejarah historymu. Peganglah teguh sejarahmu itu, never leave your own history!

jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan

Peganglah yang telah kita miliki sekarang, yang adalah AKUMULASI dari pada hasil SEMUA perjuangan kita dimasa lampau. Jikalau engkau meninggalkan sejarah, engkau akan berdiri diatas vacuum, engkau akan berdiri di atas kekosongan dan lantas engkau menjadi bingung, dan akan berupa amuk, amuk belaka. Amuk, seperti kera kejepit di dalam gelap. Itulah kutipan isi pidato Bung Karno yang diberi nama oleh Kesatuan Aksi terhadap pidato Presiden: "Jasmerah".

Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah atau disingkat "Jasmerah" adalah semboyan yang terkenal yang diucapkan oleh Soekarno dalam pidatonya yang terakhir pada Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966.

Baca: Caleg Artis ke Museum Kebangkitan Nasional, Ini Alasannya Presiden memberikan bukan judul pidato itu dengan: Karno mempertahankan garis politiknya yang berlaku "Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah". "Jikalau engkau meninggalkan sejarah, engkau akan berdiri diatas vacuum, engkau akan berdiri di atas kekosongan dan lantas engkau menjadi bingung, dan akan berupa amuk, amuk belaka." Pengenalan akan sejarah Bangsa memang harus menjadi pondasi atau pijakan bagi arah masa depan negara tercinta Indonesia.

Hal itu sangat menentukan mau dibawa kemana-kah Bangsa dan Negara ini ke depannya ?

jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan

apakah generasi muda (milenial) sebagai penentu arah masa depan Bangsa betul-betul mengetahui sejarah Bangsanya? sehingga apapun langkah dan keputusan yang akan diambil dapat bercermin dari sejarah Bangsa dan sejarah perjuangan Bangsanya.

Khususnya, di era keterbukaan seperti sekarang ini, di tengah gempuran globalisasi dan digitalisasi yang telah menjadi sebuah keniscayaan. Lalu bagaimana kaum milenial dapat mengenal sejarah bangsanya ? tentunya hal itu merupakan tanggungjawab bersama setiap insan di negeri tercinta Indonesia ini.

Ditambah lagi, negara ini tengah menyonsong pesta demokrasi yaitu pemilihan caleg (pileg) dan kepala negara serta wakilnya (pilpre) pada Pemilu tahun 2019 mendatang. Perang darat laut udara antara para peserta dan kubu-kubu pasangan calon tentunya akan meramaikan dunia perpolitikan di Negeri ini selama hampir 7 bulan ke depan.

Namun hal itu pastinya jangan sampai memecah-belah persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Republik Indoensia (NKRI) hanya karena sesungguhnya tidak paham atau paham namun "cuek" sehingga meninggalkan dan tidak berupaya mengingat kembali sejarah perjuangan bangsanya. Sejarah pendirian Republik ini oleh para pendiri-pendiri bangsa di Republik ini (founding fathers).

Untuk itu, PDI Perjuangan sebagai partai terbesar dan penjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan sejarah Bangsa dan sejarah perjuangan Bangsa, tidak menutup mata bahkan amat peduli dengan pengenalan sejarah Bangsa dan Negara, khususnya bagi kaum milenial.

jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan

Untuk itulah, partai berlambang banteng moncong putih tersebut memulai dari internal partainya sendiri akan pengenalan sejarah Bangsa dan sejarah perjuangan Bangsa. Menjelang Pemilu 2019 mendatang. PDI Perjuangan mewujudnyatakan hal itu dengan memberi pelatihan para calon anggota legislatif (caleg)-nya secara konkrit. Baca: Kirana Ingatkan Pentingnya Pahami Sejarah Perjuangan Bangsa Kunjungan Caleg Artis ke Museum Pada, Selasa (25/9), PDI Perjuangan membawa para caleg yang berkecimpung di dunia hiburan (artis) untuk mengunjungi museum kebangkitan nasional di kawasan Senen Jakarta Pusat.

jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan

Wasekjen PDI Perjuangan, Ahmad Basarah, mengungkapkan kunjungan tersebut adalah bagian dari kurikulum pendidikan kebangsaan PDI Perjuangan untuk meningkatkan rasa nasionalisme kader. "Ini adalah rangkaian kurikulum pendidikan kebangsaan PDI Perjuangan yang memang khusus ditanamkan kepada segenap kader PDI Perjuangan dalam rangka membangun semangat nasionalisme dan patriotisme mereka," ujar Basarah.

Alasan dipilihnya museum kebangkitan nasional yang merupakan gedung bekas School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Dokter Bumiputera itu sebagai tempat pendidikan kebangsaan kader adalah karena signifikansi dengan historinya. Dari tempat itu, pada tanggal 20 Mei 1908, organisasi pergerakan modern pertama di Nusantara berdiri dan diberinama Boedi Oetomo.

Basarah menjelaskan pengalaman sejarah dari yang dipetik saat mengunjungi museum STOVIA adalah bahwa betapa para pelajar mahasiswa kedokteran yang sekolah di sekolah kedokteran yang didirikan Belanda itu justru memiliki kesadaran persatuan nasional. Gedung tersebut diidentikkan dengan Kebangkitan Nasional 20 mei 1908 yang dijadikan milestone bagi bangsa Indonesia sebagai tonggak sejarah lahirnya kebangkitan bangsa Indonesia.

Bercermin dari rasa persatuan dan kebangsaan yang dihendaki oleh mahasiswa Boedi Oetomo, Basarah meminta peserta acara meneladani hal tersebut. Khususnya dalam situasi saat ini dimana kehidupan politik Indonesia tengah dipecah-belah mirip seperti jaman pra-kemerdekaaan.

Gelorakan Milenial Kenali Sejarah Bangsa Calon Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Dapil DKI III, Iis Sugianto dalam kunjungan ke museum tersebut kepada Gesuri mengutarakan secara gamblang jika dirinya ingin menggelorakan generasi muda untuk mengenali sejarah bangsa dan negaranya. Hal itu, Iis menekankan amatlah penting untuk dijadikan pijakan bagi arah masa depan negara tercinta Indonesia.

"Saya ingin generasi muda itu supaya mengenal leluhurnya, sejarahnya, supaya dia bangga dan sangat mengenal negara mereka sendiri. Jadi tahu apa yang harus kita lakukan untuk negara ini," kata Iis saat mengikuti acara napak tilas sejarah ke Museum Kebangkitan Nasional yang diselenggarakan DPP PDI Perjuangan, di Senen, Jakarta Pusat, Selasa (25/9). Iis mengungkapkan dirinya belajar banyak hal selepas mengikuti kegiatan tersebut.

Menurutnya bangsa yang besar adalah yang mampu mengenal kebesaran sejarahnya. "Kita semua datang ke sini tentu ingin mempelajari sejarah bangsa ini, karena bangsa yang besar itu harus mengenal sejarahnya," kata Iis. Baca: Iis Sugianto Gelorakan Generasi Muda Kenali Sejarah Bangsa Ia menyebut arti penting kunjungannya ke Museum bekas Fakultas Kedokteran pertama di Indonesia, yang dulu bernama School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Dokter Bumiputera itu, adalah untuk meneladani persatuan yang menjadi tujuan organisasi yang juga didirikan oleh para pelajar di STOVIA, yaitu Boedi Oetomo.

"Maknanya nilai persatuan, dan Boedi Oetomo juga dilahirkan di sini," tutur Iis. Sementara itu, Calon Legislatif (Caleg) DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Kirana Larasati mengingatkan pentingnya seluruh rakyat Indonesia mengerti dan memahami sejarah perjuangan bangsanya.

Hal itu sesuai dengan apa yang digelorakan oleh Proklamator RI Bung Karno melalui pidatonya yang amat fenomenal, berjudul Jasmerah. "Kita sebagai bangsa yang baik, harus lebih tahu apa sih yang terjadi, apa sih yang diperjuangkan. Kenapa kita mempertahankan perjuangan, mengapa kita harus mempertahankan kemerdekaan ini.

Kenapa kita harus mempertahankan Indonesia ini, berikut keasliannya kita harus tahu," ungkap artis cantik itu kepada Gesuri saat kunjungan para Caleg Artis PDI Perjuangan ke Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (25/9).

Kirana Larasati mewakili daerah pemilihan (dapil) Jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan Barat 1 yang meliputi wilayah Kota Cimahi dan Bandung. Sebagai Caleg dari Fraksi PDI Perjuangan, Kirana mengungkapkan, sebagai partai nasionalis partainya sangat jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan dalam memperkenalkan serta mempertahankan sejarah Bangsa.

Utamanya, Ia menambahkan, partai berlambang Banteng moncong putih ini dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri yang merupakan putri dari Presiden RI pertama Soekarno.

jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan

Baca: Basarah: Jokowi-Ma'ruf Efektif Kampanye di Desember-Januari "PDI Perjuangan ini tidak hanya memberikan pendidikan formal bagi para Caleg, tapi juga memberikan salah satu kegiatan 'field trip' seperti ini untuk datang ke museum, untuk lebih melihat, dan mempelajari barang bersejarah, kejadian bersejarah," papar perempuan dengan nama lengkap Kirana Larasati Hanafiah itu. Di atas semua itu "Peganglah teguh sejarahmu itu, never leave your own history!

Peganglah yang telah kita miliki sekarang, yang adalah AKUMULASI dari pada hasil SEMUA perjuangan kita dimasa lampau." (Jasmerah, 1966) Pertanyaan Bung Karno berkata “Jas Merah, Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”.

jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan

Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya belajar sejarah. Keberhasilan belajar sejarah yang utama jika orang tersebut adalah . A. mampu menghafalkan peristiwa sejarah yang dipelajari B.

mampu mengkaitkan dengan peristiwa-peristiwa kekinian C. kemampuan untuk mengetahui para pelaku dan saksi sejarah D. mampu mengambil makna dan menerapkan dalam dunia nyata E. memperoleh nilai yang terbaik ketika mengikuti ulangan sejarah Halo Belva A Makna dari Jas Merah "jangan sekali-sekali melupakan sejarah" maknanya ialah janganlah ada satu pun warga negara Indonesia yang ahistoris dalam mengemukakan pandangan/gagasan atau ide-ide yang dikemukakan untuk mengkritik atau merongrong pemerintahan Demokrasi Terpimpin.

Oleh karena itu, jawaban yang benar adalah D. mampu mengambil makna dan menerapkan dalam dunia nyata Mapel : Sejarah Kelas: 11 IPS Topik: Situasi Politik pada Masa Demokrasi Terpimpin Semoga Membantu ya :) Pada masa awal kemerdekaan Belanda melakukan blokade ekonomi terhadap Indonesia tujuan belanda melakukan aksi tersebut adalah A. memberikan semua hasil produksi dan komunitas Indonesia B. menyatukan Indonesia melalui permasalahan ekonomi C.menguasai Indonesia kembali melalui kekuatan ekonomi D.

menjadikan Indonesia sebagai tempat untuk menanamkan modal yang E. menghalangi Indonesia agar tidak berhubungan dengan negara lain
Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah atau disingkat Jasmerah adalah semboyan yang terkenal yang diucapkan oleh Soekarno, dalam pidatonya yang terakhir pada Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966. Menurut A.

H. Nasution, Jasmerah adalah judul yang diberikan oleh Kesatuan Aksi terhadap pidato Presiden, bukan judul yang diberikan Bung Karno.

jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan

Presiden Soekarno memberi judul pidato itu untuk mempertahankan garis politiknya,yaitu "Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah". Dalam pidato itu Presiden menyebutkan antara lain bahwa kita menghadapi tahun yang gawat, perang saudara, dan seterusnya. Disebutkan pula bahwa MPRS belumlah berposisi sebagai MPR menurut UUD 1945. Posisi MPRS sebenarnya nanti setelah MPR hasil pemilu terbentuk.

jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta [1], Suyatno, menyebut pidato "Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah!" pada 17 Agustus 1966 merupakan pidato kepresidenan terakhir Bung Karno.

Dia mencatat, terdapat 89 kata revolusi dan 50 kata sejarah dalam pidato tersebut. Itu menunjukkan betapa penting revolusi dan sejarah bagi Bung Karno. [1] [2] Referensi [ sunting - sunting sumber ] Wikisource memiliki naskah asli yang berkaitan dengan artikel ini: • Halaman ini terakhir diubah pada 5 Februari 2022, pukul 14.11. • Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku.

Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan • •
Singkatan "Jas Merah" dari pidato Bung Karno, menurut sejarawan banyak yang salah mengartikannya. Selama ini istilah Jas Merah diartikan sebagai 'jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Namun, ternyata sejarawan Rushdy Hoesein mengatakan, singkatan "Jas Merah" untuk judul pidato "Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah!" bukan berasal dari Presiden Indonesia Pertama Sukarno atau Bung Karno. "Menurut AH Nasution, 'Jas Merah' adalah judul yang diberikan Kesatuan Aksi 66 terhadap pidato Presiden, bukan judul yang diberikan Bung Karno," kata Rushdy dalam bedah pidato Bung Karno di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Rabu (15/5/2019).

Rushdy mengatakan, Bung Karno sama sekali tidak menyinggung istilah "Jas Merah" saat menyampaikan pidato berjudul "Djangan Sekali-kali Meninggalkan Sedjarah!" pada 17 Agustus 1966.

• UPDATE REKAPITULASI KPU Jokowi Raih 56 Persen, BPN Klaim Prabowo Raih 54,24 Persen & Tolak Hasil KPU • Terkejut Dituduh Perekam Video Penggal Kepala Presiden, Jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan Ini Khawatir Jadi Sasaran Kemarahan • Fadli Zon Absen, Ketua DPR Sebut Fahri Hamzah Tak Ada di Ruangan Ini Jika Pemerintah Otoriter Bung Karno, menurut dia, memberikan judul tersebut pada pidatonya untuk mempertahankan garis politiknya yang berlaku.

Dalam pidato tersebut Bung Karno menyebutkan beberapa hal penting seperti tahun-tahun yang gawat, dan konflik sesama anak bangsa. Menurut Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta Suyatno, pidato tersebut merupakan pidato kepresidenan terakhir Bung Karno.

"Saya mencatat, terdapat 89 kata revolusi dan 50 kata sejarah dalam pidato tersebut. Itu menunjukkan betapa penting revolusi dan sejarah bagi Bung Karno," tuturnya. Pidato tersebut disampaikan pada peringatan 21 tahun kemerdekaan Indonesia.JawaPos.com – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Dr.

H. M. Hidayat Nur Wahid menjelaskan, para ulama termasuk habib ikut berperan memperjuangkan Indonesia Merdeka. Mereka juga ikut andil dalam merumuskan serta berkompromi, menyepakati dan menyelamatkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

Karena itu, sudah semestinya jika Pancasila yang dibuat dengan kompromi dari tokoh-tokoh umat Islam bersama tokoh-tokoh bangsa lainnya tidak dibuat dalam rangka memusuhi umat Islam.

jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan

Karenanya, menurut HNW, jika presiden pertama Ir. Soekarno memiliki slogan Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah alias Jas Merah, maka perlu ada slogan Jas Hijau, yakni Jangan Sekali-kali Melupakan Jasa Ulama. Peran ulama dalam perumusan Pancasila sebagai dasar negara, kata HNW, terjadi saat Panitia Sembilan menyepakai lima sila sebagai Dasar Negara Indonesia yang Merdeka.

Selain itu, ulama juga berjasa besar dalam menyelamatkan Pancasila dan proklamasi Indonesia Merdeka dengan mengakomodasi tuntutan masyarakat Indonesia Timur untuk mengubah sila pertama menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Keterlibatan ulama dibuktikan dengan banyaknya istilah bahasa Arab yang merujuk ke Al Quran dan Hadits di dalam sila-sila Pancasila.

“Maka wajar saja bila ada beberapa kata kunci dalam Pancasila, seperti adil (sila kedua dan kelima); beradab, hikmat, permusyawaratan, perwakilan, dan rakyat (sila keempat dan kelima) berasal dari bahasa Arab yang ada di Al Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW,” ujarnya. “Tidak wajar bila Pancasila dibuat untuk menjadi dalih memusuhi umat Islam (Islamophobia). Tapi juga tidak wajar bila umat Islam malah menolak Pancasila (Indonesiaphobia),” tegasnya.

Oleh karena, HNW mengimbau kepaada para pendekar dan guru silat di Tanah Abang untuk bersama-sama memahami dan mengamalkan dasar negara Pancasila jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan dalam kehidupan sehari-hari. Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS), itu mengingatkan peran ulama bukan hanya dilakukan pada saat pembahasan Pancasila, tetapi juga saat memperjuangkan dan mempertahankan Indonesia merdeka.

Salah satunya adalah Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang dikumandangkan oleh KH Hasyim Asyari. Resolusi itu mampu memperkuat semangat para santri, kiyai, guru silat, dan pendekar untuk membentuk Laskar Kiai, Laskar Santri, Laskar Hizbullah, berjuang bersama Rakyat dan TRI, melawan kembalinya penjajah Belanda.

“Sejarah mencatat suksesnya perjuangan Resolusi Jihadnya KH Hasyim Asy’ari, dan kedekatan KH Subchi Parakan dengan Jendral Sudirman, Bapaknya TNI,” tegasnya. HNW menuturkan bahwa para Habaib juga memiliki peran yang besar bagi bangsa ini. Misalnya Habib Husein Al Mutahhar yang menciptakan lagu-lagu seperti ‘Hari Merdeka’ dan ‘Syukur Umat’, tulus ikhlas dan tetap bersemangat mencintai dan membela Indonesia. Ada pula Habib Ali Kwitang yang melalui jaringan jemaah dan majlis taklimnya mensosialisasikan dan mendukung proklamasi Indonesia Merdeka.

“Yang tak kalah penting adalah, peran ulama sekaligus pimpinan Partai Islam Masyumi, M Natsir yang melalui mosi Integral 3 April 1950 berjasa besar, mengembalikan Republik Indonesia menjadi NKRI, setelah sebelumnya diubah oleh penjajah Belanda menjadi RIS,” tuturnya.

Apabila ada kelompok Komunis atau pihak lain, yang ingin membegal atau membelokkan perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara, keluar dari dari kompromi dan cita-cita Indonesia Merdeka, yang disepakati para Bapak dan Ibu Bangsa seperti di atas, maka wajar bila warga Indonesia menolaknya, dengan tetap mempertahankan NKRI dan Pancasila.

“Karena Indonesia dan Jakarta faktanya adalah warisan jihad/ijtihad/mujahadah/musyawarah/tadhiyyah dan hadiah para ulama dan habaib,” pungkasnya.
• Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga • Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel • Pulih Bersama • Pulih Bersama • Indonesia Hi-Tech • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT Jas Merah adalah jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan yang populer di negeri ini.

Semua kita pasti mengetahui makna singkatan nya yaitu Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah dan juga Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah. Istilah ini di populer kan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno. Indonesia sebagai bangsa yang besar perlu menghayati dan memahami sejarah perjuangan bangsa ketika para pejuang rela mengorbankan jiwa dan raga merebut kemerdekaan dari kaum penjajah.

Tanpa jasa mereka itu kita tidak akan menikmati suasana kemerdekaan saat ini. Jas Merah menjadi istilah yang memotivasi kita untuk mengisi kemerdekaan dengan membangun bangsa dan negara serta jangan melupakan dan meninggalkan hakikat dasar perjuangan yang sudah diletakkan dalam komitmen yang termaktub dalam filosofi Pancasila, UUD 1945 dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Jas Merah ini selalu mengingatkan bangsa kita akan komitmen nasional tetap memelihara semangat persatuan dan kesatuan bangsa.  Setiap upaya pihak tertentu untuk melakukan tindakan jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan belah bangsa akan selalu di tentang dan tidak boleh dikembangtumbuhkan dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat di negeri ini. Baca juga: Belajarlah dari Sejarah dan "Jas Merah" Harus diakui bahwa hingga kini bangsa kita diperhadapkan selalu dengan tantangan berat dari pihak pemecah belah  yang agaknya tidak ingin melihat bangsa kita maju.

Isu SARA masih menjadi alat pemecah belah persatuan dan kesatuan bangsa dalam membangun. Â Inilah yang menjadi kewaspadaan nasional yang harus tetap dijaga dan dipelihara oleh kita termasuk mengingat istilah Jas Merah. Kita patut mensyukuri sebagai bangsa yang besar kita diberikan pemimpin yang tetap setia pada komitmen nasional dalam membangun bangsa Indonesia. Presiden Joko Widodo dan wakil presiden Jusuf Kala dengan semangat persatuan dan kesatuan membangun dengan semboyan Kerja, Kerja dan Kerja, semangat juang yang tinggi mencapai visi dan misi memajukan Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat di mata dunia.

 Kedua tokoh pemimpin negeri ini dan jajaran nya tetap konsisten dalam menjalankan roda pemerintahan dengan mengedepankan semangat persatuan dan kesatuan di tengah-tengah tantangan berat pihak yang ingin memecah belah.

Tindakan yang perlu di apresiasi dan didukung sepenuhnya oleh seluruh elemen bangsa yang tetap konsisten dengan upaya membangun negeri dengan tetap merajut rasa persatuan dan kesatuan bangsa ini. Kedua tokoh pemimpin ini tetap berupaya "merobah nasib" bangsa dengan beragam pembangunan yang spektakuler namun tetap mengacu dari kepentingan masyarakat banyak.

Baca juga: Mas Menteri, Bung Karno Dulu Pesan Jas Merah Bukan Jas Hujan Keberanian mereka membangun jas merah artinya jangan sekali-kali melupakan yang awalnya ditentang keras namun akhirnya diakui bahwa itu program yang di inginkan rakyat.

Faktanya pembangunan jalan tol di negeri ini memperlancar arus transportasi darat yang di manfaatkan banyak orang dan mengurangi tingkat kemacetan saat mudik. Gebrakan saat ini dari pemerintah adalah pemindahan ibukota negara yang menuai pro dan kontra yang akhirnya di tetapkan oleh Presiden Joko Widodo baru baru ini di provinsi Kalimantan Timur.

Keputusan ini sudah melalui perencanaan dan kajian yang matang dan kesimpulan akhirnya ibukota negara harus di pindahkan.
Tentang kursus ini metode mengajar saya adalah dengan pendekatan kurikulum terbaru yaitu k 13, jadi saya disini hanya sebagai fasilitator bagi siswa saya, jika diperlukan saya akan mengajak siswa saya berkaryawisata untuk lebih efisienya pelajaran dalam hal ini pelajaran dalam bidang ilmu pengetahaun sosial Tentang Budi saya seorang sarjana pendidikan, khususnya pendidikan dalam bidang ilmu pengetahuan sosial sering sekali stigma bahwa ilmu pengetahuan sosial selalu kalah dengan ilmu pengetahuan alam, terutama jika anak-anak kita bersekolah pada tingkat menengah atas, tanpa kita sadari hal tersebut membuat ilmu pengetahuan sosial sering dipandang setengah mata, padahal kajian ilmu dalam ilmu pengetahuan sosial sangat luas, tidak hanya sebatas di dalam LAB.

LAB anak sosial adalah dunia

Amanat Presiden Sukarno, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah! (JasMerah)




2022 www.videocon.com