Ayah maulana malik ibrahim bernama

ayah maulana malik ibrahim bernama

Para ahli sejarah mungkin akan menolak pernyataan ini, karena dalam sejarah tidak pernah terjadi sebuah Kerajaan Islam di Acheh menaklukkan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit yang terkenal kemegahan dan kebesarannya itu. Bahkan dalam sejarah, sebagaimana disebutkan ”Kronika Pasai”, bahwa Kerajaan Majapahitlah, dibawah Mahapatih Gadjah Mada yang telah menaklukkan Kerajaan Pasai.

Namun jika kita lebih teliti dan jeli, maka akan terungkap sebuah sejarah yang selama ini ditutupi dengan rapi oleh para penjajah dan antek-anteknya untuk mengecilkan peran Kerajaan-Kerajaan Islam di Acheh dalam proses Islamisasi di Nusantara. Fakta yang akan mengungkap bahwa Kerajaan Islam Pasai-Acheh telah berhasil menaklukkan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit adalah dengan meneliti dan mengungkap dari mana asal sebenarnya ”Puteri Champa” yang menjadi istri Raden Prabu Barawijaya V, Raja terakhir Kerajaan Hindu Majapahit, yang telah melahirkan Raden Fatah, Sultan pertama Kerajaan Islam Demak, Kerajaan Islam pertama yang mengakhiri riwayat Kerajaan-Kerajaan Hindu di Jawa.

Banyak ahli sejarah Islam Nusantara yang masih konfius dengan keberadaan Kerajaan ”Champa”, negeri asal ”Puteri Penakluk Kerajaan Jawa-Hindu” yang dianggap memiliki peran penting dan sentral dalam proses Islamisasi Nusantara pada tahap awal, terutama antara kurun abad 13 sampai 15 Masehi.

Sehubungan dengan keberadaan ”Champa”, ada dua ayah maulana malik ibrahim bernama yang beredar. Pertama teori yang didukung oleh para peneliti Belanda, seperti Snouck dan lain-lainnya yang beranggapan bahwa Champa berada di sekitar wilayah Kambodia-Vietnam sekarang. Dengan teorinya ini kemudian mereka menyatakan bahwa Wali Songo yang berperan dalam proses Islamisasi Jawa, menjadikan daerah ini sebagai basis perjuangan Islamisasi Nusantara dengan mengenyampingkan sama sekali peranan Perlak, Pasai dan beberapa Kerajaan di sekitar Acheh dalam Islamisasi Nusantara.

Tentu karena mereka beranggapan bahwa Champa Kambodia-Vietnam adalah wilayah Muslim dan pusat Islam yang jauh lebih maju dan berperadaban dibandingkan dengan beberapa wilayah di Acheh tersebut. Dan anehnya, teori inilah yang sangat populer dan menjadi rujukan para cendekiawan Muslim tanpa mengkritisinya lebih jauh. Namun ada teori lain tentang Champa ini. Teori yang akan dikemukakan ini, utamanya ayah maulana malik ibrahim bernama teori dari Gubernur Jendral Hindia Belanda dari Kerajaan Inggris yang juga seorang peneliti sosial, Sir TS.

Raffles dalam bukunya The History of Java. Teori Raffles menyebutkan bahwa Champa yang terkenal di Nusantara, bukan terletak di Kambodia sekarang sebagaimana dinyatakan ayah maulana malik ibrahim bernama para peneliti Belanda.

Tapi Champa adalah nama daerah di sebuah wilayah di Acheh, yang terkenal dengan nama ”Jeumpa”. Champa adalah ucapan atau logat Jeumpa dengan dialek ”Jawa”, karena penyebutannya inilah banyak ahli yang keliru dan mengasosiasikannya dengan Kerajaan Champa di wilayah Kambodia dan Vietnam sekarang.

Jeumpa yang dinyatakan Raffles sekarang berada di sekitar daerah Kabupaten Bireuen Acheh. [60] ”Putri Champa” biasanya dihubungkan dengan istri Prabu Brawijaya V yang dalam Babad Tanah Jawi, disebutkan bernama Anarawati (Dwarawati) yang beragama Islam. Puteri inilah yang melahirkan Raden Fatah, yang kemudian menyerahkan pendididikan putranya kepada seorang keponakannya yang dikenal dengan Sunan Ampel (Raden Rahmat) di Ampeldenta Surabaya.

Sejarah mencatat, Raden Fatah menjadi Sultan pertama dari Kerajaan Islam Demak, Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa yang mengakhiri sejarah kegemilangan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit.[61] ”Sang Putri Penakluk” ini adalah wanita ayah maulana malik ibrahim bernama biasa. Dia adalah seorang ibu yang tabah, besar hati, penyayang namun mewarisi semangat perjuangan yang tidak kalah dengan Laksamana Malahayati, Tjut Nya’ Dhien, Tjut Mutia dan para wanita pejuang agung Acheh lainnya.

Bagaimana tidak, dia harus berpisah jauh dari lingkungannya ke tanah Jawa yang asing baginya, tiada handai tolan, hidup dilingkungan masyarakat Jawa-Hindu yang berbeda budaya dan tradisi dengan negeri asalnya, bahkan ada yang menyatakan suaminyapun masih beragama Hindu dalam tradisi Kerajaan Majapahit yang feodalis. Namun karena para Ulama-Pejuang sekelas Maulana Malik Ibrahim atas dukungan para Sultan Muslim menugaskannya berdakwah dengan caranya, wanita agung inipun ikhlas melakoni peran perjuangannya.

Dengan takdir Allah, beliau melahirkan seorang anak laki-laki yang kelak dikenal dengan Raden Fatah. Demi kelanjutan agamanya, dia rela meninggalkan kegemerlapan istana Majapahit sebagai permaisuri agung untuk memastikan putranya dapat pendidikan terbaik agar menjadi seorang pemimpin Islam di Jawa. Raden Fatah kecil mendapat kasih sayang serta bimbingan ibundanya bersama para Ayah maulana malik ibrahim bernama yang dipimpin sepupunya Raden Rahmat (Sunan Ampel) yang juga dilahirkan di Kerajaan asal ibunya…….

Dari negeri manakah gerangan ”Sang Puteri Penakluk” yang telah sukses gemilang menjalankan tugas agamanya, sebagai seorang ibu pendidik agung (madrasat al-kubra), pejuang suci (mujahidah fi sabilillah), pendakwah Islam (da’i) sekaligus sebagai penyebab (asbab) keruntuhan sebuah dinasti Hindu terbesar yang menjadi lambang keagungan dan kebesaran bangsa Jawa, dengan Mahapatih sadis Gadjah Mada itu.

Tradisi dan peradaban masyarakat model apakah yang telah menjadikannya sebagai seorang wanita pejuang yang rela mengorbankan diri, perasaan dan kemerdekaannya demi kejayaan Islam agamanya. Pendidikan apakah yang diterimanya sehingga berani menerjang medan laga menghadapi benteng super power Majapahit. Dari sisi manapun kita nilai, wanita ini adalah wanita besar, namun terhijab peran agungnya oleh wanita selir Jawa sekelas RA. Kartini, seorang selir Bupati Rembang yang dijadikan tokoh wanita hanya karena bisa bahasa penjajah Belanda dan dekat dengan penjajah kaphe.

Siapa Kartini jika disandingkan dengan Ratu Tajul Alam Syafiatuddin, Sultanah Acheh yang memimpin masyarakat kosmopilit Acheh masa itu dan memiliki kekuasaan seluruh Sumatra dan Semenjang Melayu? Untuk memastikan dimanakah negeri Champa yang telah ditinggali Maulana Malik Ibrahim dan asal saudara iparnya ”Putri Champa Penakluk Majapahit”, maka perlu diselidiki bagaimanakah keadaan Champa waktu itu, baik yang berada di Acheh maupun Kambodia.

Para ahli sejarah memperkirakan Maulana Malik Ibrahim berada Champa sekitar 13 tahun, antara tahun 1379 sampai dengan 1392.[62] Champa di Kambodia masa itu sedang di perintah oleh Chế Bồng Nga antara tahun 1360-1390 Masehi, dikenal dengan The Red King (Raja Merah) seorang Raja terkuat dan terakhir Champa.

Tidak diketahui apakah Raja ini Muslim, atau memang Budha sebagaimana mayoritas penduduk Kambodia sampai sekarang dengan banyak peninggalan kuil-kuilnya namun tidak ada masjid. Beliau berhasil menyatukan dan mengkordinasikan seluruh kekuatan Champa pada kekuasaannya, dan pada tahun 1372 menyerang Vietnam melalui jalur laut. Champa berhasil memasuki kota besar Hanoi pada 1372 dan 1377. Pada penyerangan terakhir tahun 1388, dia dikalahkan oleh Jenderal Vietnam Ho Quy Ly, pendiri Dinasti Ho.

Che Bong Nga meninggal dua tahun kemudian pada 1390. Tidak banyak catatan hubungan Penguasa Champa ini dengan Islam, apalagi tidak didapat bekas-bekas kegemilangan Islam, sebagaimana yang ditinggalkan para pendakwah di Perlak, Pasai ataupun Malaka.[63] Sementara catatan sejarah menyatakan lain, yang terkenal dengan Sultan Cam atau Champa adalah Wan Abdullah atau Sultan Umdatuddin atau Wan Abu atau Wan Bo Teri Teri atau Wan Bo saja, memerintah pada ayah maulana malik ibrahim bernama 1471 M – 1478 M.

Menurut silsilah Kerajaan Kelantan Malaysia, silsilah beliau adalah : Sultan Abu Abdullah (Wan Bo) ibni Ali Alam (Ali Nurul Alam) ibni Jamaluddin Al-Husain (Sayyid Hussein Jamadil Kubra) ibni Ahmad Syah Jalal ibni Abdullah ibni Abdul Malik ibni Alawi Amal Al-Faqih ibni Muhammas Syahib Mirbath ibni ‘Ali Khali’ Qasam ibni Alawi ibni Muhammad ibni Alawi ibni Al-Syeikh Ubaidillah ibni Ahmad Muhajirullah ibni ‘Isa Al-Rumi ibni Muhammad Naqib ibni ‘Ali Al-Uraidhi ibni Jaafar As-Sadiq ibni Muhammad Al-Baqir ibni ‘Ali Zainal Abidin ibni Al-Hussein ibni Sayyidatina Fatimah binti Ayah maulana malik ibrahim bernama SAW.

Jadi Raja Cham ini adalah anak saudara dari Maulana Malik Ibrahim, yaitu anak dari adik beliau bernama Ali Nurul Alam, dari ibu keturunan Patani-Senggora di Thailand sekarang. Wan Bo atau Wan Abdullah ini juga adalah bapak kepada Syarief Hidayatullah, pengasas Sultan Banten sebagaimana silsilah yang dikeluarkan Kesultanan Banten Jawa Barat: Syarif Hidayatullah ibni Abdullah (Umdatuddin) ibni Ali Alam (Ali Nurul Alam) ibni Jamaluddin Al-Hussein (Sayyid Hussein Jamadil Kubra) ibni Ahmad Syah Jalal dan seterusnya seperti di atas.[64] Dimana sebenarnya Kerajaan Champa yang dipimpin oleh Raja Champa yang menjadi mertua Maulana Malik Ibrahim, yang menjadi ayah kandung ”Puteri Champa”.

Padahal jika dikaitkan dengan fakta di atas, mustahil mertua Maulana Malik atau ayah ”Puteri Champa” itu adalah Wan Bo (Wan Abdullah) karena menurut silsilah dan tahun kelahirannya, beliau adalah pantaran anak saudara Maulana Malik yang keduanya terpaut usia 50 tahun lebih. Raden Rahmat (Sunan Ampel) sendiri lahir pada tahun 1401 di ”Champa” yang masih misterius itu.

Boleh jadi yang dimaksud dengan Kerajaan Champa tersebut bukan Kerajaan Champa yang dikuasai Dinasti Ho Vietnam, tapi sebuah perkampungan kecil yang berdekatan dengan Kelantan?.

Inipun masih menimbulkan tanda tanya, dimanakah peninggalannya?. Bahkan ada pula yang mengatakan Champa berdekatan dengan daerah Fatani, Selatan Thailand berdekatan dengan Songkla, yang merujuk daerah Senggora zaman dahulu.[65] Martin Van Bruinessen telah memetik tulisan Saiyid ‘Al-wi Thahir al-Haddad, dalam bukunya Kitab Kuning, Pesantren .“Putra Syah Ahmad, Jamaluddin dan saudara-saudaranya konon telah mengembara ke Asia Tenggara….

Jamaluddin sendiri pertamanya menjejakkan kakinya ke Kemboja dan Acheh, kemudian belayar ke Semarang dan menghabiskan waktu bertahun-tahun di Jawa, hingga akhirnya melanjutkan pengembaraannya ke Pulau Bugis, di mana dia meninggal.” (al-Haddad 1403 :8-11). Diriwayatkan pula beliau menyebarkan Islam ke Indonesia bersama rombongan kaum kerabatnya.

Anaknya, Saiyid Ibrahim (Maulana Malik Ibrahim) ditinggalkan di Acheh untuk mendidik masyarakat dalam ilmu keislaman. Kemudian, Saiyid Jamaluddin ke Majapahit, selanjutnya ke negeri Bugis, lalu meninggal dunia di Wajok (Sulawesi Selatan). Tahun kedatangannya di Sulawesi adalah 1452M dan tahun wafatnya 1453M”.

Jadi tidak diragukan bahwa yang ke Kamboja itu adalah ayah Maulana Malik Ibrahim, Saiyid Jamaluddin yang menikah di sana dan menurunkan Ali Nurul Alam. Sedangkan mayoritas ahli sejarah menyatakan Maulana Malik Ibrahim lahir di Samarkand atau Persia, sehingga di gelar Syekh Maghribi. Beliau sendiri dibesarkan di Acheh dan tentu menikah dengan puteri Acheh yang dikenal sebagai ”Puteri Raja Champa”, yang melahirkan Raden Rahmat (Sunan Ampel). Lagi pula keadaan Champa Kambodia sezaman Maulana Malik Ibrahim sedang huru hara dan terjadi pembantaian terhadap kaum Muslim yang dilakukan oleh Dinasti Ho yang membalas dendam atas kekalahannya pada pasukan Khulubay Khan, Raja Mongol yang Muslim sebagaimana disebutkan terdahulu.

Keadaan ini sangat jauh berbeda dengan keadaan Jeumpa yang menjadi mitra Kerajaan Pasai pada waktu itu yang menjadi jalur laluan dan peristirahatan menuju kota besar seperti Barus, Fansur dan Lamuri dari Pasai ataupun Perlak. Kerajaan Pasai adalah pusat pengembangan dan dakwah Islam yang memiliki banyak ulama dan maulana dari seluruh penjuru dunia.

Sementara para sultan adalah diantara yang sangat gemar berbahas tentang masalah-masalah agama, di istananya berkumpul sejumlah ulama besar dari Persia, India, Arab dan lain-lain, sementara mereka mendapat penghormatan mulia dan tinggi.[66] Dan Sejarah Melayu menyebutkan bahwa ”segala orang Samudra (Pasai) pada zaman itu semuanya tahu bahasa Arab.[67] Populeritas Jeumpa (Acheh) di Nusantara, yang dihubungkan dengan puteri-puterinya yang cerdas dan cantik jelita, buah persilangan antara Arab-Parsi-India dan Melayu, yang di Acheh sendiri sampai saat ini terkenal dengan Buengong Jeumpa, gadis cantik putih kemerah-merahan, tidak lain menunjukkan keistimewaan Jeumpa di Acheh yang masih menyisakan kecantikan puteri-puterinya di sekitar Bireuen.

Pada masa kegemilangan Pasai, istilah puteri Jeumpa (lidah Jawa menyebut ”Champa”) sangat populer, mengingat sebelumnya ada beberapa Puteri Jeumpa yang sudah terkenal kecantikan dan kecerdasannya, seperti Puteri Manyang Seuludong, Permaisuri Raja Jeumpa Salman al-Parisi, Ibunda kepada Syahri Nuwi pendiri kota Perlak.

Puteri Jeumpa lainnya, Puteri Makhdum Tansyuri (Puteri Pengeran Salman-Manyang Seuludong/Adik Syahri Nuwi) yang menikah dengan kepala rombongan Khalifah yang dibawa Nakhoda, Maulana Ali bin Muhammad din Ja’far Shadik, yang melahirkan Maulana Abdul Aziz Syah, Raja pertama Kerajaan Islam Perlak.

Mereka seterusnya menurunkan Raja dan bangsawan Perlak, Pasai sampai Acheh Darussalam. Demikian pula keturunan Syahri Nuwi dari Sultan Perlak bergelar Makhdum juga disebut sebagai Putri Jeumpa, karena beliau lahir di Jeumpa. Kecantikan dan kecerdasan puteri-puteri Jeumpa sudah menjadi legenda di antara pembesar-pembesar istana Perlak, Pasai, Malaka, bahkan sampai ke Jawa. Itulah sebabnya kenapa Maharaja Majapahit, Barawijaya V sangat mengidam-idamkan seorang permaisuri dari Jeumpa.

Bahkan dalam Babat Tanah Jawi, disebutkan bagaimana mabok kepayangnya sang Prabu ketika bertemu dengan Puteri Jeumpa yang datang bersama dengan rombongan Maulana Malik Ibrahim dan para petinggi Pasai. Secara umum, wajah orang Champa Kambodia lebih mirip dengan Cina, kecil-kecil dan memiliki kulit seperti orang Kelantan sekarang, sementara bahasanya susah dimengerti karena dialeknya berbeda dengan rumpun bahasa Melayu yang menjadi bahasa pertuturan dan pengantar Nusantara saat itu.

Muka-muka Arab, seperti wajah Maulana Malik Ibrahim, Raden Rahmat ataupun gelar mereka, Sayyid, Maulana, dan lainnya jarang adanya dan tidak seperti rata-rata orang Perlak, Pasai, Jeumpa ataupun umumnya orang Acheh yang lebih mirip ayah maulana malik ibrahim bernama wajah Arab, India atau Parsia.

Sebagaimana diketahui, Maulana Malik Ibrahim dan Raden Rahmat memberikan pelajaran agama kepada orang Jawa menggunakan bahasa Melayu Sumatera yang banyak digunakan di sekitar Perlak, Pasai, Lamuri, Barus, Malaka, Riau-Lingga dan sekitarnya, sebagaimana dalam manuskrip agama yang dikarang para Ulama terkemudian seperti terjemahan karya Abu Ishaq, kitab-kitab Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin al-Raniri, Raja Ali Haji dan lainnya.

Dari segi geografis dan taktik-strategi perjuangan, kelihatannya mustahil para pendakwah, khususnya gerakan Para Wali yang akan menaklukkan pulau Jawa bermarkas di sebuah perkampungan Muslim minoritas dekat Vietnam. Apalagi pada masa itu Champa sepeninggal Raja terakhirnya, Che Bong Nga (w.1390), sepenuhnya dikuasai Dinasti Ho yang Budha dan anti Islam berpusat di Hanoi.

ayah maulana malik ibrahim bernama

Maulana Malik Ibrahim adalah Grand Master para Wali Songo, jika sasaran dakwahnya adalah pulau Jawa, sebagai basis kerajaan Hindu-Budha yang tersisa, terlalu naif memilih Champa sebagai markas pusat pergerakan baik menyangkut dukungan logistik, politik maupun ketentaraan. Sebagaimana dicatat sejarah, pada masa itu para Sultan dan Ulama, baik yang ada di Arab, Persia, India termasuk Cina yang sudah dipegang penguasa Islam memfokuskan penaklukkan kerajaan besar Majapahit sebagai patron terbesar Hindu-Budha Nusantara.

Kaisar Cina yang sudah Muslimpun mengirim Panglima Besar dan tangan kanan dan kepercayaannya, Laksamana Cheng-Ho untuk membantu gerakan Islamisasi Jawa. Sementara hubungan dakwah via laut pada saat itu sudah terjalin jelas menunjukkan hubungan antara Jawa-Pasai-Gujarat-Persia-Muscat-Aden sampai Mesir, yang diistilahkan Azra sebagai Jaringan Ulama Nusantara.

Yang artinya, wilayah Acheh Jeumpa lebih mungkin berada di sekitar pusat gerakan dan lintasan jaringan tersebut daripada Champa Kambodia. Adalah hal yang mustahil, seorang Wali sekelas Maulana Malik Ibrahim, bapak dan pemimpin para Wali di Jawa, yang telah berhasil membangun jaringan di Nusantara, setelah 13 tahun di Champa tidak dapat membangun sebuah kerajaan Islam atau meninggalkan jejak-jejak kegemilangan peradaban Islam, atau hanya sebuah prarasti seperti pesantren, maqam atau sejenisnya yang akan menjadi jejaknya.

Bahkan Raffles menyebutnya sebagai orang besar, sementara sejarawan G.W.J. Drewes menegaskan, Maulana Malik Ibrahim adalah tokoh yang pertama-tama dipandang sebagai wali di antara para wali. ”Ia seorang mubalig paling awal,” tulis Drewes dalam bukunya, New Light on the Coming of Islam in Indonesia. Gelar Syekh dan Maulana, yang melekat di depan nama Malik Ibrahim, menurut sejarawan Hoessein Djajadiningrat, membuktikan bahwa ia ulama besar. Gelar tersebut hanya diperuntukkan bagi tokoh muslim yang punya derajat tinggi.

Maulana Malik Ibrahim memiliki seorang saudara yang terkenal sebagai ulama besar di Pasai, bernama Maulana Saiyid Ishaq, sekaligus ayah dari Raden Paku atau Sunan Giri. Menurut cacatan sejarah, beliau adalah salah seorang ulama yang dihormati di kalangan istana Pasai dan menjadi penasihat Sultan Pasai di zaman Sultan Zainal Abidin dan Sultan Salahuddin. Sebelum bertolak ke tanah Jawa, ayahanda beliau, Jamaluddin Akbar al-Husain (Maulana Akbar), yang juga datang dari Persia atau Samarqan, tinggal dan menetap juga di Pasai.

Jadi menurut analisis, beliau bertiga datang dari Persia atau Samarqan ke Kerajaan Pasai ayah maulana malik ibrahim bernama pusat penyebaran dakwah Islam di Nusantara, pada sekitar abad ke 13 Masehi, bersamaan dengan kejayaan Kerajaan Pasai di bawah para Sultan keturunan Malik al-Salih, yang juga keturunan Ahlul Bayt. Sementara Sunan Ampel atau Raden Rahmat yang dikatakan lahir di Champa, kemudian hijrah pada tahun 1443 M ke Jawa dan mendirikan Pesantren di Ampeldenta Surabaya, adalah seorang ulama besar, yang tentunya mendapatkan pendidikan yang memadai dalam lingkungan Islami pula.

Adalah mustahil bagi Sang Raden untuk mendapatkan pendidikannya di Champa Kambodia pada tahun-tahun itu, karena sejak tahun 1390 M atau sepuluh tahun sebelum kelahiran beliau, sampai dengan abad ke 16, Kambodia dibawah kekuasaan Dinasti Ho yang Budha dan anti Islam sebagaimana dijelaskan terdahulu. Apalagi sampai saat ini belum di dapat jejak lembaga pendidikan para ulama di Champa.

Namun keadaannya berbeda dengan Jeumpa Acheh, yang dikelilingi oleh Bandar-Bandar besar tempat pesinggahan para Ulam dunia pada zaman itu.

Perlu digarisbawahi, kegemilangan Islam di sekitar Pasai, Malaka, Lamuri, Fatani dan sekitarnya adalah antara abad 13 sampai abad 14 M. Kawasan ini menjadi pusat pendidikan dan pengembangan pengetahuan Islam sebagaimana digambarkan terdahulu. Dengan demikian, maka jelaslah bahwa ”Champa” yang dimaksud dalam sejarah pengembangan Islam Nusantara selama ini, yang menjadi tempat persinggahan dan perjuangan awal Maulana Malik Ibrahim, asal ”Puteri Champa” atau asal kelahiran Raden Rahmat (Sunan Ampel), bukanlah Champa yang ada di Kambodia-Vietnam saat ini.

Tapi tidak diragukan, sebagaimana dinyatakan Raffles, ”Champa” berada di Jeumpa Acheh dengan kota perdagangan Bireuen, yang menjadi bandar pelabuhan persinggahan dan laluan kota-kota metropolis zaman itu seperti Fansur, Barus dan Lamuri di ujung barat pulau Sumatra dengan wilayah Samudra Pasai ataupun Perlak di daerah sebelah timur yang tumbuh makmur dan maju.

Jika Jeumpa Acheh menjadi asal dari Puteri yang menjadi Permaisuri Maha Prabu Brawijaya V, yang telah melahirkan Raden Fatah, Sultan pertama Kerajaan Islam Demak, kerajaan Islam pertama di tanah Jawa.

Jika Jeumpa Acheh adalah tempat dilahirkan dan dibesarkannya Raden Rahmat (Sunan Ampel) yang telah mendidik para pejuang dan pendakwah Islam di Tanah Jawa yang berhasil meruntuhkan dominasi kerajaan-kerajaan Hindu. Jika Jeumpa Acheh adalah tempat persinggahan dan kediaman Maulana Malik Ibrahim, sang Grand Master gerakan Wali Songo yang berperan dalam pengembangan Islam dan melahirkan para Ulama di tanah Jawa.

Jika Jeumpa Acheh adalah daerah yang menjadi bagian dari Kerajaan Pasai yang telah melahirkan banyak Ulama dan pendakwah di Nusantara. Maka tidak diragukan, secara tersirat bahwa Jeumpa dan tentunya Pasai ayah maulana malik ibrahim bernama peran besar proses penaklukan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit. Dan Kerajaan Pasai, sebagai pusat Islamisasi Nusantara, sangat berkepentingan untuk menaklukkan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit, karena ia adalah satu-satunya penghalang utama untuk pengislaman tanah Jawa.

Maka para Sultan dan para Ulama serta cerdik pandai Kerajaan Pasai telah menyusun strategi terus menerus dengan segala jaringannya untuk menaklukkan Kerajaan Jawa-Hindu ini.

Bahkan Kekaisaran Cinapun yang telah dikuasai Muslim ikut andil dalam Islamisasi ini, terbukti dengan mengirimkan Penglima Besar dan kepercayaan Kaisar yang bernama Laksamana Cheng Ho.

Jalan peperangan tidak mungkin ditempuh, mengingat jauhnya jarak antara Pasai dengan Jawa Timur sebagai pusat Kerajaan Majapahit. Maka ditempuhlan jalan diplomasi dan dakwah para duta dari Kerajaan Pasai. Rupanya para Grand Master terutama Maulana Malik Ibrahim sebagai utusan senior para pendakwah, menemukan sebuah cara yang dianggap bijak, yaitu melalui jalur perkawinan. Maka dikawinkanlah iparnya yang bernama Dwarawati atau Puteri Jeumpa yang cantik jelita dan cerdas tentunya, dengan Prabu Brawijaya V, yang konon masih memeluk Hindu.

Kenapa Sang Bapak Para Wali Songo ini berani mengambil kebijakan itu. Tentu hanya Allah dan beliau yang tahu. Dan akhirnya sejarah kemudian mencatat, anak perkawinan Puteri Jeumpa Dwarawati dengan Prabu Brawijaya V, bernama Raden Fatah adalah Sultan Kerajaan Islam Demak pertama yang telah mengakhiri dominasi Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit dan Kerajaan-Kerajaan Hindu lainnya. Mungkin pertimbangan Maulana Malik Ibrahim menikahkan iparnya Puteri Jeumpa berdasarkan ijtihad beliau setelah mengadakan penelitian panjang terhadap tradisi dan budaya orang Jawa yang sangat menghormati dan patuh bongkokan kepada Raja atau Pangeran yang selama ini dianggap sebagai titisan para Dewata, sebagaimana cerita-cerita pewayangan di Jawa.

Jika ada seorang Raja atau Pangeran yang masuk Islam, maka akan mudah bagi perkembangan Islam. Karena Jawa adalah salah satu daerah yang sangat sulit diislamkan sampai saat itu, mengingat kuatnya dominasi Kerajaan Hindu Majapahit. Itulah sebabnya, ketika Puteri Jeumpa telah hamil, dia ditarik dari istana Majapahit, dihijrahkan ke wilayah Islam lainnya, kabarnya ke Kerajaan Melayu Palembang. Setelah lahir anaknya, Raden Fatah, Puteri Jeumpa kembali ke Jawa Timur, tapi bukan ke istana Majapahit, tapi ke Ampeldenta Surabaya, ke tempat anak saudaranya Raden Rahmat (Sunan Ampel) untuk mendidik Raden Fatah agar menjadi pemimpin Islam.

Setelah dewasa, karena masih Raden Pangeran Majapahit, maka Raden Fatah berhak mendapat jabatan, dan beliau diangkat sebagai seorang Bupati di sekitar Demak. Saat itulah para Wali Songo yang sudah mapan mendeklarasikan sebuah Kerajaan Islam Demak, di Bintaro Demak, sebagai Kerajaan Islam pertama di Jawa. Karena Raden Fatah adalah titisan Raja Majapahit, maka orang-orang Jawapun dengan cepat mengikuti agamanya dan membela perjuangannya sebagaimana dicatat sejarah dalam buku Babat Tanah Jawi.

Jadi prestasi terbesar Kerajaan Pasai adalah keberhasilannya mengembangkan Kerajaannya sebagai pusat Islamisasi Nusantara, terutama keberhasilannya mengislamisasikan pulau Jawa yang telah coba dilakukan berabad-abad oleh para pendakwah dan pejuang Islam. Namun sayang fakta sejarah ini selalu ditutup-tutupi oleh para penjajah Belanda dan antek-anteknya di Jawa. Bahkan sebagian orang-orang Jawa tidak pernah menganggap bahwa para Wali Songo adalah alumni perguruan tinggi Islam yang sudah berkembang pesat di Acheh, baik di sekitar Pasai, Perlak, Jeumpa, Ayah maulana malik ibrahim bernama, Fansur dan lain-lainnya yang selanjutnya akan dibuktikan dengan tampilnya ulama-ulama besar dan berpengaruh di Nusantara asal Acheh seperti Hamzah Fansuri, Samsuddin al-Sumatrani, Maulana Syiah Kuala, Nuruddin al-Raniri dan lain-lainnya Kisah Syekh Maulana Malik Ibrahim Lengkap – Kisah islami kali ini mengulas mengenai kisah wali songo, yaitu Kisah Syekh Maulana Malik Ibrahim sang penyebar agama islam di tanah jawa dengan budi pekerti yang baik.

Adalah pemimpin wali sango. Mengapa beliau dapat disebut sebagai pemimpin wali sango? Karena beliau adalah wali yang paling pertama dan wali tertua dari anggota wali sango lainnya dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami.

Untuk lebih detailnya silahkan simak ulasan Pengetahuanislam.com dibawah ini. Dalam melakukan dakwahnya, syekh maulana malik ibrahim sangat berhati-hati. Sebab, pada saat itu kebanyakan masyarakat jawa masih memeluk agama budha dan hindu.

Tidak sedikit juga yang masih menyembah pohon atau benda-benda lainnya, mengeramatkan tempat tertentu dan suka melakukan sesajen. Sehingga, jika tidak berhati-hati dalam berdakwah, kemudian menyinggung perasaan mereka, tentu masyarakat jawa pada saat itu akan sulit menerima ajaran agama islam yang mulai dikenalkan olehnya.

Perbuatan menyekutukan Allah SWT dengan sesembahan lain disebut syirik. Melakukan sesajen, menyembah pohon dan batu, serta mengeramatkan tempat tertentu termasuk perbuatan syirik, perbuatan yang sangat terkutuk. Dosa pelakukanya tidak akan diampuni oleh Allah SWT. Meskipun telah melihat adat istiadat di masyarakat jawa seperti itu, syekh maulana malik ibrahim tidak menentang adat istiadat dan agama mereka.

(Saat itu sebagian dari mereka sudah ada yang mengenal islam, namun hanya sebatas tahu saja, dan memeluk dan menjalankan ajaran islam). syekh maulana malik ibrahim menghadapi orang beragama hindu, budha, dan orang yang senang berbuat syirik dengan arif dan bijaksana. Biografi Syekh Maulana Malik Ibrahim Syekh maulana malik ibrahim adalah salah satu anggota wali songo yang menyebarkan islam pertama kali di pulau jawa, khususnya daerah gresik dan sekitarnya. Beliau sendiri bukan asli dari jawa, melainkan berasal dari Turki, dan dikenal dengan nama Syekh Maghribi.

Mengenai asal usul dari maulana malik ibrahimsyekh maulana malik ibrahim ada yang mengatakan dari Gujarat, india, ada juga yang mengatakan beliau datang dari Iran, Cina, bahkan ada juga yang mengatkan beliau berasal dari Arab. Maulana Malik Ibrahim penyebar ayah maulana malik ibrahim bernama di jawa Syekh maulana malik ibrahim juga memiliki panggilan kakek bantal.

Beliau disebut kakek bantal karena sering meletakkan ayah maulana malik ibrahim bernama di atas bantal saat mengajarkan ilmunya melalui pengajian kepada santrinya. disamping itu, ia tidak hanya dikenal pandai dalam bidang ilmu agama, namun juga pandai dan ahli dalam bidang tata negara, bercocok tanam, serta memiliki kemampuan di bidang pengobatan yang tidak diragukan lagi.

Menurut buku kisah teladan wali songo, syekh maulana malik ibrahim datang ke Indonesia pada tahun 1379 masehi, dan mulai menyiarkan agama islam di pulau jawa, kemudian ia menetap di gresik sampai meninggal dunia. Beliau meninggal dunia pada hari senian tanggal 12 rabiul awal tahun 822 hijriah atau jika dalam tahun masehii adalah 8 April 1491.

Beliau dimakamkan di Gresik, jawa timur. Wilayah dakwah syekh maulana malik ibrahim Daerah yang menjadi tempat tinggal syekh maulana malik ibrahim yaitu Gresik, jawa timur, saat itu masih di bawah kekuasaan kerajaan majapahit (Terletak di Mojokerjo, dengan ibu kota di Trowulan).

Majapahit dikenal sebagai kerajaan hindu, maka tidak heran apabila penduduk yang berada di wilayah kekuasaan kerajaan tersebut memeluk agama hindu. Dalam agama hindu, penduduk mengenal sistem kasta. Sistem kasta merupakan pengelompokan atau penggolongan manusia dalam tingkat pekerjaan tertentu. Masyarakat yang beragama hindu, kasta terbagi menjadi empat kelompok atau golongan. Kasta pertama yaitu Kasta brahmana, terdiri atas para pekerja di bidang spiritual, seperti pendekata dan ruhaniawan.

Kasta kedua, kasta kesatria, terdiri dari para kepala dan anggota lembaga pemerintahan. Kastaga ketiga, kasta waisya, terdiri atas para pekera di bidang ekonomi, seperti perdagang, kasta keempat, atau kasta paling bawah, yaitu kasta sudra, terdiri dari para pekerja yang mempunyai tugas untuk melayani dan membantu ketiga kastas di atasnya.

Dari keempat kelompok kasta tadi, kasta sudra atau kasta paling bawah merupakan kasta yang paling banyak dijumpai di wilayah gresik. Golongan sudra adalah golongan orang miskin, rakyat jelata, orang tertindas dan orang bodoh, pada umumnya mereka bekerja sebagai petani, nelayan, buruh tani, dan pekerja kasar lainnya. masyarakat kasta sudra tidak boleh bergaul dengan orang dari kasta yang lain, bahkan mereka juga tidak diizinkan menikah dengan orang yang berlainan kasta.

Kisah syekh maulana malik ibrahim Meskipun agama hindu dan budha telah menyebar di daerah jawa, namun ada sebagian orang yang enggan memeluknya.

Mereka lebih senang menyembah alam semesta karena mereka memiliki pengetahuan yang kurang untuk mencari tahun dengan caranya sendiri. Mereka masih meyakini bahwa suatu benda, pohon, bintang atau tempat tertentu memiliki kekuatan yang dapat menentukan nasib mereka. Jadi bisa dimaklumi apabila mereka memuja benda mati atau tumbuhan. Karena itu syekh maulana malik ibrahim tidak hanya berhadapan dengan pemeluk agama hindu, dan buda namun juga berhadapan dengan para pemuja berhala.

Syekh maulana malik ibrahim dalam melakukan dahwah islam kepada para penduduk tidak bersikap kaku. Dapat diibaratkan, beliau dapat mengambil ikan dari air tanpa membuat airnya menjadi keruh. beliau mengenalkan islam dengan cara yang lembut dan tidak sekedar teori semata. Beliau dapat memberikan contoh langsung kepada masyarakat, seperti dengan tutur kata yang sopan, lembah lembut, menyantuni fakir miskin, menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.

Pada mulanya, syekh maulana malik ibrahim atau syekh bantal mendakwahi orang-orang yang merasa tersisih dan terpinggirkan karena mereka berada dalam golongan kasta sudra selama ini.

Dalam setiap kesempatan, ia memperkenalkan islam melalui perilakunya sendiri maupun informasi yang diberikan kepada mereka, sehingga sering terjadi percakapan panjang dan mengasyikan.

– Kisah syekh maulana malik ibrahim Pada suatu ketika, syekh maulana malik ibrahim berada dalam kerumunan orang.

ayah maulana malik ibrahim bernama

Mereka adalah orang yang berprofesi sebagai nelayan. Mereka yang sedang istirahat karena lelah setelah melaut. Ia mengatakan dengan lembut kepada para nelayan. “Saya ini seorang pendatang, tentu saya memiliki banyak perbedaan dengan kalian. Misalnya, adat-istiadat, tingkah laku, maupun agama. Mungking tingkah laku saya kurang berkenan. Sudilah kiranya, saudara sekalian memaafkan semua kesalahan saya. Bahkan, saya sangat senang jika seluruh kesalahan saya itu diluruskan.” Mereka pun merespon perkatan syekh maulana malik ibrahim dengan jawaban yang baik: “Ah, tidak, perilaku dan budi pekerti kakek bantal justru membuat kami kagum.

kakek bantal selalu tersenyum kepada siapapun, baik itu orang yang sudah dikenal atau belum. Kakek tidak suka membeda-bedakan derajat manusia. Kakek juga tidak membedakan kasta. padahal, kakek termasuk golongan waisya, sedangkan kami golongan sudra. Tetapi, kakek suka bergaul dengan kami,” Syekh bantal atau syekh maulana malik ibrahim pun serasa mendapatkan angin segar.

Kemudian syekh maulana malik ibrahim mengatakan “Saya memang biasa seperti itu, di negeri saya, kebanyakan mereka pun berbuat demikian.

Dan, itulah ajaran agama yang saya anut. Agama yang saya anut itu melarang untuk merendahkan orang lain, menghina, menyombongkan diri, ayah maulana malik ibrahim bernama, dan iri.

Agama saya mengajarkan untuk hidup damai dan rukun kepada siapa pun.” Mereka bertanya, “Apakah agama kakek tidak ada kasta seperti di sini?” “Oh tidak, dalam agama islam yang saya anut, tidak mengenal istilah kasta. jadi, antara raja dan pejabat, pejabat dan saudagar, petani dan saudagar, serta petani dan nelayan, semuanya dipandang sama. kami tidak pernah menjaga jarak, seorang pendeta pun tidak merasa malu jika duduk bersama dengan rakyat biasa.” Mereka pun bertanya lagi, “Kalau begitu, islam tidak mengenal perbedaan.

Lalu, dimana letak tata krama antara raja dan rakyatnya?” Syekh bantal menjawab “Meskipun tidak mengenal kasta, tetapi islam mengajarkan tata krama. Dan, tata krama itu tidak sebatas antar raja dengan rakyat, tetapi ayah maulana malik ibrahim bernama manusia. Ajaran agama kami menjelaskan bahwa yang membedakan kita dengan orang lain hanyalah budi pekertinya bukan kastanya,” Mereka pun mulai paham.

Mereka menjawab, “Ya, kek, kami mulai mengerti” Dengan perlahan-lahan, mereka semakin menyukai sykeh bantal atau syekh maulana malik ibrahim dan menjadikannya sebagai tempat bertanya setiap permasalahan. Pada akhirnya, mereka pun berbondong-bondong masuk islam. Semoga kisah syekh maulana malik ibrahim dalam menyebarkan agama islam di jawa dengan sopan santun di atas dapat menambah pengetahuan kamu.

Demikianlah telah dijelaskan tentang Kisah Syekh Maulana Malik Ibrahim Lengkap semoga dapat bemanfaat sehingga menambah wawasan dan pengetahuan kalian. • • • • • Posted in Kisah Islam Tagged ayah maulana malik ibrahim bernama, berapa lama sunan maulana malik ibrahim berdakwah di daerah gresik, keturunan sunan gresik, kisah lengkap maulana malik ibrahim, Kisah Syekh Maulana Malik Ibrahim Lengkap, makam sunan maulana malik ibrahim terdapat di, maulana malik ibrahim adalah, maulana malik ibrahim berasal dari, maulana malik ibrahim datang ke indonesia pada tahun, maulana malik ibrahim datang ke indonesia pada tahun sunan maulana malik ibrahim hijrah ke pulau jawa pada tahun 1392 di desa, sunan maulana malik ibrahim hijrah ke pulau jawa pada tahun 1392 didesa, sunan maulana malik ibrahim ketika datang ke pulau jawa berprofesi sebagai, sunan maulana malik ibrahim lahir pada tahun, sunan maulana malik ibrahim memulai dakwahnya di masyarakat dengan Recent Posts • Pengertian Puasa Syawal, Dalil, Niat & Keutamaan Lengkap • Pengertian Pendidikan Agama Islam Tujuan dan Ruang Lingkup • Fiqih : Dam (Denda) dalam Ihram Haji dan Umroh • Kisah Nabi Harun As Lengkap Dari Lahir Sampai Wafat • Pengertian Qalqalah Huruf Contoh Bacaan Dalam Alquran • Sifat Wajib Rasul Jaiz Mustahil Arti Beserta Penjelasannya • Anggota Sujud Yang Wajib Menempel Pada Lantai serta Dalil • Pengertian Ibadah Tujuan Hakikat Hikmah dan Penjelasannya • Bacaan Lafal Ijab Kabul Dalam Akad Nikah Lengkap • Surat Ar Rahman Bacaan Arab Latin dan Keutamaannya
Surau.co – Maulana Malik Ibrahim (w.

1419 M) adalah tokoh pertama yang memperkenalkan Islam di Jawa. Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy lahir di Samarkand, Asia Tengah. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi. Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku).

Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw. Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, ayah maulana malik ibrahim bernama Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Ayah maulana malik ibrahim bernama adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri.

Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.

Daftar Isi • Perjalanan Hidup Maulana Malik Ibrahim • Strategi Dakwah Syekh Maghribi • Kunjungan ke Daerah Trowulan Perjalanan Hidup Maulana Malik Ibrahim Sunan Gresik atau yang lebih dikenal dengan Maulana Malik Ibrahim adalah salah satu dari sembilan wali (Walisongo).

Menurut para sejarawan, beliau dianggap sebagai wali pertama yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Beliau dimakamkan di Desa Gapurosukolilo, Gresik, Jawa Timur. Tidak terdapat bukti sejarah yang meyakinkan mengenai asal keturunan Maulana Malik Ibrahim, meskipun pada umumnya disepakati bahwa ia bukanlah orang Jawa asli.

Sebutan Syekh Maghribi yang diberikan masyarakat kepadanya, kemungkinan menisbatkan asal keturunannya dari wilayah Arab Maghrib di Afrika Utara. Babad Tanah Jawi versi J.J. Meinsma menyebutnya dengan nama Makhdum Ibrahim as-Samarqandy, yang mengikuti pengucapan lidah Jawa menjadi Syekh Ibrahim Asmarakandi.

Ia memperkirakan bahwa Maulana Malik Ibrahim lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Dalam buku The History of Java, mengenai asal mula dan perkembangan kota Gresik, Raffles menyatakan bahwa menurut penuturan para penulis lokal, Syekh Maghribi merupakan seorang Pandita terkenal berasal dari Arabia, keturunan dari Jenal Abidin, dan sepupu raja Chermen (sebuah negara Sabrang), yang menetap bersama para Mahomedans lainnya di Desa Leran di Jang’gala.

Namun, kemungkinan pendapat yang terkuat adalah berdasarkan pembacaan J.P. Moquette atas baris kelima tulisan pada prasasti makamnya di Desa Gapura Wetan, Gresik; yang mengindikasikan bahwa beliau berasal dari Kashan, suatu tempat di Persia (sekarang Iran). Strategi Dakwah Syekh Maghribi Adapun dalam berdakwah, para sejarawan menyatakan bahwa Syekh Magribi atau Sunan Gresik dianggap sebagai wali pertama yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Beliau datang ke Nusantara (Jawa) tidak sendirian, disertai beberapa orang. Dan, daerah yang pertama kali disinggahinya ialah Desa Sembalo yang terletak di daerah Leran, Kecamatan Manyar, sembilan kilometer dari Kota Gresik. Beliau menyebarkan agama Islam dimulai dari Jawa bagian timur, dengan mendirikan masjid pertama di Desa Pasucinan, Manyar.

Dalam berdakwah, pertama-tama yang dilakukan Maulana Malik Ibrahim atau Syekh Maghribi adalah mendekati masyarakat melalui pergaulan.

Budi bahasa yang ramah dan santun diperlihatkannya di dalam pergaulan sehari-hari. Ia tidak menentang secara tajam agama dan kepercayaan hidup dari penduduk pribumi, melainkan hanya memperlihatkan keindahan dan kebaikan yang dibawa oleh agama Islam.

Berkat keramah-tamahannya serta sifatnya yang lembut tersebut membuat masyarakat tertarik untuk memeluk agama Islam. Setelah berhasil memikat hati masyarakat sekitar, aktivitas selanjutnya yang dilakukan Maulana Malik Ibrahim ialah berdagang. Ia berdagang di tempat pelabuhan terbuka (sekarang dinamakan desa Roomo, Manyar). Akivitas berdagang ini membuat beliau dapat berinteraksi dan ayah maulana malik ibrahim bernama dekat dengan masyarakat luas, khususnya dengan orang-orang dari kerajaan dan para bangsawan yang ikut serta dalam kegiatan perdagangan baik sebagai pelaku jual-beli, pemilik kapal, maupun pemodal.

Kunjungan ke Daerah Trowulan Setelah dakwahnya (diterima) oleh masyarakat, Syekh Magribi atau Sunan Gresik kemudian melakukan kunjungan ke daerah Trowulan, ibukota Majapahit. Meskipun raja Majapahit tidak masuk Islam, namun kehadiran Maulana Malik Ibrahim disambut dengan baik, bahkan ayah maulana malik ibrahim bernama diberikan sebidang tanah di pinggiran Kota Gresik.

Wilayah itulah yang sekarang dikenal dengan nama desa Gapura. Selanjutnya, dalam rangka mempersiapkan kader untuk melanjutkan perjuangan menegakkan ajaran-ajaran Islam, Maulana Malik Ibrahim membuka pesantren-pesantren yang merupakan tempat mendidik pemuka agama Islam pada masa selanjutnya. Setelah selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, Syeh Maulana Malik Ibrahim wafat tahun 1419.

Makamnya kini terdapat di desa Gapura, Gresik, Jawa Timur. Baca juga: Sunan Bonang, Profil Singkat Walisongo Makdum Ibrahim Maulana Malik Ibrahim Sunan Gresik Syekh Maghribi Walisongo • • • • • • © 2022 surau.co.

All Right Reserved. • Home • Kategori • Review • Artikel • Sosok • Kisah • Advertising • Money • News • Berita • Olahraga • Tech • Viral • Money • Partner • Argopuro Online • Kilat News • Dawuh Guru • Beritabaru.co • Pewarta Nusantara • Policy • About • Contact • Pedoman Media Siber • Kode Etik • Privacy Policy • Term of Service • Terms and Conditions Kisah Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Muridnya – Pada kisah islami kali ini mengisahkan syekh maulana malik ibrahim atau syekh bantal bersama muridnya yang membantu warga desa dari gerombolan para perampok dengan pembahasan lengkap dan mudah dipahami.

Untuk lebih detailnya silahkan simak ulasan Pengetahuanislam.com dibawah ini. Dengan berkembangnya agama islam yang dibawa oleh Syekh maulana malik ibrahim sehingga membuat beliau dan para muridnya untuk lebih memperluas dalam dakwah mereka ke segala penjuru nusantara. Beliau mengenalkan islam dengan cara yang lembut dan tidak sekedar teori semata. Beliau dapat memberikan contoh langsung kepada masyarakat, seperti dengan tutur kata yang sopan, lemah lembut, menyantuni fakir miskin, menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.

Perjalanan Syekh Maulana Malik Ibrahim Pada suatu malam, ketika penduduk desa sedang berbincang santai di beranda rumah masing-masing dengan duduk lesehan di atas tikar pandan.

Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh yang semakin lama semakin riuh. Sejurus kemudian, gerombolan pasukan berkuda yang berjumlah sekitar dua puluh orang terlihat dan balik pepohonan di perbatasan desa.

“Serahkan harta kalian” kata Penjalin. “Kalau menolak, aku akan membakar desa ini.” Lanjutnya Tak satu pun penduduk yang sanggup menghadapi kawanan tersebut. Lalu, mereka memilih menyelamatkan diri dari pada dibekuk oleh Penjalin. Maka, kawanan itu siap menghanguskan desa Tanggulangin karena merasa tak digubris.

Ketika sejumlah obor hendak dilemparkan ke atap rumah penduduk, mendadak niat itu terhenti.

ayah maulana malik ibrahim bernama

Sekelompok manusia berpakaian putih,tiba-tiba muncul dari arah tidak terduga. Rombongan itu dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Syekh Bantal, seorang ulama wali songo yang mulai meluaskan pengaruhnya di wilayah Gresik dan sekitarnya.

Murid Menaklukkan Perampok Ghafur, salah seorang murid Syekh Bantal, maju ke depan. Dengan sopan, ia mengingatkan kelakuan tidak terpuji Penjalin. Namun, Penjalin tentu saja tidak terima sehingga Ia sangat marah. Apalagi, orang yang mengingatkannya sama sekali tidak dikenal di rimba persilatan di Gresik. Dalam waktu singkat, terjadilah pertarungan seru. Penduduk Tanggulangin yang ingin melihat pertempuran beramai-ramai keluar dan mereka sebisa mungkin membantu Ghafur. Akhirnya, Penjalin dan pasukannya kocar-kacir.

Ghafur bersama warga berhasil mengalahkan perampok itu. tetapi Ia tidak mau menuruti perintah Ghafur agar membubarkan anak buahnya. Maka, Ghafur tidak mempunyai pilihan lain, sehingga ia harus membunuhnya. Sebelum membunuh Penjalin, tiba-tiba wajah Ghafur diludahi olehnya, Ghafur pun marah sekali. Aneh, ia malah melangkahkan kakinya untuk menjauhi Penjalin di puncak kemarahannya. Penjalin pun terperangah. “Mengapa kamu tidak jadi membunuhku?” tanyanya.

Ghafur menjawab, “Karena kamu telah membuatku marah dan aku tak boleh menghukum orang dalám keadaan marah” Begitu bijaksananya murid dari Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Syekh Bantal itu karena ia tidak mau membunuh seseorang dalam keadaan marah, sehingga membuat sang lawan merasa takjub akan akhlaknya. Sebuah akhlak yang patut ditiru oleh setiap orang yang ingin mencapai tingkat ketakwaan yang lebih tinggi kepada Allah Swt. Semoga kita dapat mencontoh akhlak mulia yang dimilik oleh Ghafur yang merupakan salah satu murid dari Kisah Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Muridnya.

• • • • • Posted in Kisah Islam Tagged ayah maulana malik ibrahim bernama, berapa lama sunan maulana malik ibrahim berdakwah di daerah gresik, keturunan sunan gresik, Kisah Syekh Maulana Malik Ibrahim, Kisah Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Muridnya, makam sunan maulana malik ibrahim terdapat di, Maulana Malik Ibrahim, maulana malik ibrahim berasal dari, maulana malik ibrahim datang ke indonesia pada tahun, maulana malik ibrahim datang ke indonesia pada tahun sunan maulana malik ibrahim hijrah ke pulau jawa pada tahun 1392 di desa, sunan maulana malik ibrahim hijrah ke pulau jawa pada tahun 1392 didesa, sunan maulana malik ibrahim ketika datang ke pulau jawa berprofesi sebagai, sunan maulana malik ibrahim lahir pada tahun, sunan maulana malik ibrahim memulai dakwahnya di masyarakat dengan Recent Posts • Pengertian Puasa Syawal, Dalil, Niat & Keutamaan Lengkap • Pengertian Pendidikan Agama Islam Tujuan dan Ruang Lingkup • Fiqih : Dam (Denda) dalam Ihram Haji dan Umroh • Kisah Nabi Harun As Lengkap Dari Lahir Sampai Wafat • Pengertian Qalqalah Huruf Contoh Bacaan Dalam Alquran • Sifat Wajib Rasul Jaiz Mustahil Arti Beserta Penjelasannya • Ayah maulana malik ibrahim bernama Sujud Yang Wajib Menempel Pada Lantai serta Dalil • Pengertian Ibadah Tujuan Hakikat Hikmah dan Penjelasannya • Ayah maulana malik ibrahim bernama Lafal Ijab Kabul Dalam Akad Nikah Lengkap • Surat Ar Rahman Bacaan Arab Latin dan Keutamaannya
Nama Tokoh : Maulana Malik Ibrahim Lahir : Paruh awal abad ke 14 Nama Ayah : Jamaluddin Akbar al-Husaini Nama Ibu : – Meninggal : 1419 Masehi Latar Belakang Sunan Gresik Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim adalah seorang Walisongo yang dianggap pertama kali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa meskipun bukan orang Jawa asli.

ayah maulana malik ibrahim bernama

Sunan Gresik diketahui berasal dari Khasan, Iran. Kisah Perjuangan Sunan Gresik Tujuan Sunan Gresik ke tanah Jawa adalah untuk menyiarkan agama Islam yang belum terlalu banyak dipeluk masyarakat Jawa. Tempat pertama kali yang dituju adalah desa Sembalo.

Namun, sekarang Sembalo berubah nama menjadi daerah Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Setelah sampai di Manyar, Sunan Gresik segera membangun sebuah masjid.

ayah maulana malik ibrahim bernama

Cara yang dilakukan pertama kali oleh Sunan Gresik adalah mendekati masyarakat melalui pergaulan. Tata bahasa yang ramah senantiasa diperlihatkannya dalam pergaula.

Sunan Gresik t idak langsung menentang agama dan kepercayaan penduduk asli, melainkan hanya memperlihatkan keindahan dan kabaikan yang ada dalam agama Islam. Berkat keramahannya, banyak masyarakat yang tertarik masuk ke agama Islam. Selain berdakwah, Sunan Gresik juga berdagang. Shingga membuatnya dapat berinteraksi dengan ayah maulana malik ibrahim bernama banyak dan mudah.

Selain itu, raja dan para bangsawan juga ikut serta dalam kegiatan jual beli. Setelah mapan di dalam masyarakat, Sunan Gresik kemudian berkunjungan ke ibukota Majapahit di Trowulan. Meskipun Raja Majapahit tidak masuk Islam, dia tetap menerima Sunan Gresik dengan baik. Bahkan memberikannya sebidang tanah di tepian kota Gresik. Wilayah itulah yang sekarang dikenal dengan desa Gapura.

Dalam mencari kader-kader penyiar agama Islam, Sunan Gresik membuka pesantren yang menjadi tempat mendidik pemuka agama Islam di masa selanjutnya.

Hingga saat ini makam Sunan Gresik masih diz iarahi orang-orang yang menghargai usahanya menyebarkan agama Islam berabad-abad yang silam. Setiap malam Jumat Legi, masyarakat setempat sealu berkunjung untuk berziarah. Ritual Haul (Ziarah tahunan) juga diadakan setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Yang disesuaikan tanggal wafat pada prasasti makam Sunan Gresik. Pada acara haul biasa dilakukan khataman Al-Quran, pembacaan riwayat Nabi Muhammad, dan menghidangkan makanan ayah maulana malik ibrahim bernama Gresik yaitu bubur harisah.

Artikel Terbaru • Doa untuk Mengangkat Derajat dan Kejayaan Keluarga dan Orang Lain • Rahasia Orang yang Selalu Dikejar Rezeki, Lakukan 5 Hal Sederhana Ini! • Doa untuk Menundukan dan Membungkam Orang Zalim • Hati-Hati dalam Berdoa! Jangan Sampai Ucapkan Doa yang Dilarang Allah Ini • Doa Agar Disukai Banyak Orang dan Mudah Mendapatkan Teman
Menurut berbagai catatan sejarah, Sunan Gresik merupakan tokoh pertama yang menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa secara terkonsep.

Hal tersebut yang kemudian membuatnya dijadikan orang pertama yang mendapatkan gelar Walisongo. Walisongo sendiri memiliki arti sembilan orang yang tergolong mulia. Salah satunya yaitu Sunan Gresik atau Syekh Maulana Malik Ibrahim yang pada tahun 1404 beliau mendirikan sebuah majelis dakwah.

Majelis dakwah tersebut dibuatnya untuk melakukan perubahan dari masa itu ke arah yang lebih baik. Untuk lebih jelasnya lagi, silahkan simak ulasan lengkap dari Sudut Nusantara di bawah ini. Ayah maulana malik ibrahim bernama Sunan Gresik Nama asli Maulana Malik Ibrahim Nama panggilan lainnya Kakek bantal, Makhdum Ibrahim As-Samarqandani, Syekh Magrhibi, dan Syekh Ibrahim Asmarakandi Nama ayah Maulana Ahmad Jumadil Kubro Nama saudara Maulana Ishak Nama anak Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan Sayid Ali Murtadha Tanggal wafat Senin, 12 Rabi’ul Awal 882 H / 7 April 1419 M Tempat dakwah Gresik, Jawa Timur Makam Gresik, Jawa Timur Sunan Gresik adalah orang pertama yang menyebarkan agama Islam di pulau Jawa.

Sunan Gresik yang memiliki nama asli Maulana Malik Ibrahim mendapatkan gelar Walisongo pertama, atau bisa dikatakan wali senior diantara Walisongo lainnya.

Maulana Malik Ibrahim juga memiliki panggilan lain seperti Syekh Maghribi, Kakek Bantal, Makhdum Ibrahim As-Samarqandani, dan Syekh Ibrahim Asmarakandi. Sunan Gresik merupakan keturunan atau anak dari seorang ulama Persia. Ulama tersebut yaitu Maulana Jumadil Kubro yang menetap di daerah Samarkand. Sebagian besar masyarakat dan ulama yakin bahwa Maulana Jumadil Kubro merupakan turunan kesepuluh dari Syaidina Husein, cucu Nabi Muhammad SAW. Maulana Malik Ibrahim merupakan saudara dari Maulana Ishak, yang mana Maulana Ishak juga merupakan seorang ulama terkenal di daerah Samudera Pasai.

Beliau juga merupakan ayah dari Sunan Giri atau Raden Paku. Namun hingga saat ini masih belum ditemukan siapa ibu dari Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik. Yuk, baca juga apa itu Teks Biografi untuk memperluasan pengetahuan dan wawasan kalian! Asal Usul Sunan Gresik Terdapat beberapa persepsi yang berbeda mengenai asal-usul Sunan Gresik, berikut beberapa versi diantaranya. 1. Menurut Nama Asli Sunan Pertama yaitu menurut nama asli Sunan Gresik sendiri, masyarakat beranggapan bahwa Maulana Malik Ibrahim bukan keturunan asli Jawa.

Persepsi tersebut diperkuat dengan sebutan atau nama lain dari Sunan Gresik yaitu Syeikh Maghribi. Mereka beranggapan bahwa Sunan berasal dari daerah Arab Maghrib atau yang saat ini yaitu daerah Afrika Barat, terdapat sebagian lain yang memiliki anggapan bahwa beliau berasal dari Maroko.

2. Menurut Keturunan Rasullah SAW Sedangkan ada juga yang beranggapan bahwa Maulana Malik Ibrahim merupakan keturunanan dari Nabi Muhammad SAW. Nasabnya yaitu dari cucu Nabi Husain bin Ali, Muhammad Al Baqir, Ali Al Uraidhi, Muhammad Al Naqib, lalu sampai ke ayah Sunan Gresik yaitu Maulana Ahmad Jumadil Kubro.

Alhasil bisa disimpulkan bawha Sunan Gresik berasal dari orang Hadrami. 3. Menurut Prasasti Gapura Wetan Masyarakat juga memiliki persepsi bahwa Maulana Malik Ibrahim berasal dari daerah Kashan atau yang saat ini bernama Iran.

Persepsi ini diperkuat dengan Prasasti Gapura Wetan yang berhasil dibaca oleh J.P Moquette, ia membaca tulisan yang terdapat di baris kelima pada prasasti tersebut. Dari hasil pembacaan tersebut kemudian muncul persepsi masyarakat yang menganggap bahwa Maulana Malik Ibrahim berasal dari Kashan.

Sejarah Sunan Gresik Sunan Gresik dahulu pernah tinggal di daerah Campa, atau yang kini lebih dikenal dengan Kamboja dari tahun 1379. Di sana, belia menikah dengan seorang putri raja dan dikaruniai dua orang Putra, yaitu Raden Rahmat atau Sunan Ampel dan Sayid Ali Murtadha. Di Campa, beliau menjalankan dakwah hingga tahun 1392, setelah itu beliau hijrah ke Pulau Jawa untuk melanjutkan misi dakwahnya. Pada beberapa versi cerita menyebutkan bahwa Maulana Malik Ibrahim datang dengan beberapa orang.

Daerah yang pertama kali didatangi beliau adalah desa Sembalo yang berada di kerajaan Majapahit. Saat ini, desa Sembalo lebih dikenal dengan daerah Leran, Kecamatan Manyar, sekitar 9 km di utara Kota Gresik. Setibanya di daerah tersebut, hal pertama yang dilakukan beliau adalah berdagang. Maulana Malik Ibrahim membuka sebuah warung dagangan yang menjual berbagai macam kebutuhan pokok dengan harga yang cukup murah.

ayah maulana malik ibrahim bernama

Selain itu beliau juga secara khusus menawarkan diri untuk mengobati masyarakat daerah tersebut secara gratis. Menurut cerita saat beliau masih berada di Campa, beliau bahkan pernah diundang secara khusus oleh pihak kerajaan untuk mengobati istri raja.

Baca Juga : Sunan Muria : Biografi, Metode Dakwah, Karomah, Makam, Peninggalan, dan Kisahnya Selain berdagang dan mengobati masyarakat, beliau juga dikenal masyarakat karena banyak mengajarkan cara-cara untuk bercocok tanam. Beliau juga sangat merangkul ayah maulana malik ibrahim bernama kalangan atau kasta rendah yang disisihkan di dalam kerjaan Hindu.

Dengan begitu, beliau bisa dengan mudah mengambil hati rakyat yang pada saat itu sedang mengalami perang saudara dan krisis ekonomi. Baca juga apa itu Teks Cerita Sejarah Kisah Sunan Gresik Setelah melakukan kegiatan dakwah dan berdagang selama dua tahun, akhirnya nama Sunan Gresik didengan hingga ke kelangan bangsawan Kerajaan Majapahit. Dengan begitu, beliau kemudian menyampaikan niatnya untuk bertemu dengan Raja Majapahit yakni Prabu Brawijaya. Setelah Prabu Brawijaya menyetujui kedatangan Syekh Maulana Malik Ibrahim, beliau kemudian bersiap untuk pergi ke pusat Kerajaan Majapahit.

Disana beliau kemudian menyampaikan ajaran agama Islam, sang raja sangat terkesan dengan sopan santun dan budi pekerti yang dimiliki Sunan Gresik. Namun pada saat itu, Raja Majapahit belum bisa menerima dan memeluk agama Islam. Namun beliau tidak putus asa, ia kemudian meminta izin kepada raja untuk melakukan dakwah di kerajaan Majapahit. Perjuangan Dakwah Sunan Gresik Perjuangan dakwah Sunan Gresik sangatlah hebat, selain menghadapi masyarakat yang mayoritas beragama Hindu, beliau juga harus berhadapan dan berdakwah ayah maulana malik ibrahim bernama orang yang tidak memiliki agama atau bahkan mengikuti ajaran sesat.

Beliau selalu berusaha dan bersabar untuk meluruskan pemahaman dan pemikiran orang-orang Islam yang masih melakukan kegiatan musyrik. Cara beliau untuk menghadapi orang-orang tersebut tidaklah dengan secara langsung menegur atau menentang kepercayaan dan juga kegiatan yang mereka lakukan selama ini.

Maulana Malik Ibrahim lebih memilih untuk melakukan pendekatan dengan cara yang halus agar bisa diterima oleh masyarakat. Beliau lebih memilih untuk mencontohkan keindahan akhlak Islami yang diajarkan oleh Nabi. Selain berdakwah dengan cara menyampaikan ajaran dan nilai-nilai Islam, beliau juga menunjukkan akhlak yang mulia seperti suka menolong fakir miskin atau kasta rendah dari kerajaan. Beliau juga membagi ilmunya di bidang pertanian. Hal tersebut dibuktikan sejak beliau tinggal di daerah Gresik, hasil pertanian masyarakat meningkat pesat.

Selain itu beliau juga dengan senang hati mengobati orang yang sakit secara gratis. Cara Dakwah Sunan Gresik Saat berdakwah dan menyampaikan ajaran agama Islam, Sunan Gresik memiliki strategi atau cara dakwah sendiri. Diantaranya yaitu sebagai berikut: 1. Halus Sejak ayah maulana malik ibrahim bernama kali berdakwah, Sunan Gresik tidak pernah menentang kepercayaan orang-orang pada saat itu, ia juga tidak pernah memaksa orang untuk masuk dan memeluk agama Islam.

Beliau lebih memilih berdakwah dengan cara yang halus. Beliau selalu menunjukkan perilaku dan tutur kata yang lembut dan bersikap baik ke semua orang. Maulana Malik Ibrahim menerapkan sikap yang halus dan lembut sesuai dengan ajaran Al-Quran dan mencontoh Nabi Muhammad.

Selain karena memang kepribadiannya yang halus, cara tersebut juga beliau lakukan untuk menunjukkan bahwa ajaran agama Islam merupakan agama yang indah, halus, damai, toleransi, dan mencintai sesama. Dengan begitu beliau mudah berbaur dan diterima oleh masyarakat. 2. Berbaur dengan Segala Kalangan Sunan Gresik juga sangat mudah berbaur dengan semua golongan, mulai dari pedangan, petani, fakir miskin, masyarakat kasta rendah, hingga bangsawan kerajaan.

Ia tidak pernah memilih dan memilah teman berdasarkan kasta. Dengan begitu Sunan Gresik lebih mudah untuk berdakwah dan mengajarkan agama Islam kepada siapapun. 3.

Berdagang Cara lain yang dilakukan oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim untuk menyebarkan ajaran Islam adalah dengan berdagang. Beliau membuka sebuah warung sederhana untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, hingga melakukan perjalanan ke berbagai pelabuhan. Selama kegiatan perjalanan dagangnya tersebut, beliau bertemu dengan lebih banyak orang dari berabgai kalangan dan golongan.

Dengan sifatnya yang baik, membuat banyak orang dari berbagai kalangan bersedia berteman dengan beliau bahkan tidak sedikit juga yang tertarik untuk memeluk agama Islam.

4. Menyembuhkan Orang Sakit Selain dengan berdagang, beliau juga berdakwah dengan cara mengobati orang-orang yang terkena penyakit. Saat sedang mengobati beliau juga selalu berdakwah dengan menyampaikan ajaran-ajaran dan nilai-nilai Islam. Dengan begitu banyak orang yang datang berobat ke beliau yang kemudian ayah maulana malik ibrahim bernama untuk mempelajari ajaran Islam dan memeluk agama Islam.

5. Bercocok Tanam Sunan Gresik juga mengajarkan masyarakat khususnya petani untuk bercocok tanam yang benar. Beliau kemudian membuat irigasi agar lahan-lahan pertanian mendapatkan air yang cukup, tanah yang menjadi lebih subur, dan tentu saja menghasilkan hasil panen yang baik dan banyak.

Baca Juga : Teks Negosiasi: Pengertian, Ciri-ciri, Struktur, Tujuan, dan Contoh Sejak saat itu, hasil panen masyarakat terus meningkat dan ekonomi masyarakat juga semakin membaik. 6. Tidak Memandang Kasta Sunan Gresik merupakan seseorang yang sangat terkenal di semua kalangan masyarakat pada ayah maulana malik ibrahim bernama itu, termasuk juga kalangan masyarakat dengan kasta rendah.

Dalam agama Hindu yang mayoritas saat itu masyarakat memeluk agama tersebut, terdapat pembagian kalangan masyarakat. Yaitu kasta brahmana (pemuka agama atau guru), ksatria (raja, bangsawan, dan prajurit perang), waisya (pedagang, pengusaha), dan yang paling rendah yaitu sudra (buruh, petani, pembantu, dan kuli).

Beliau tidak pernah memandang orang berdasarkan kastanya, bahkan beliau juga sering mendekati orang-orang dari kasta terendah. Dimana beliau menjelaskan kepada mereka bahwa di dalam agama Islam semua orang memiliki drajat yang sama dan tidak ada pembagian kasta. Dengan begitu banyak orang dari kasta sudra dan waisya yang tertarik dengan penjelasan beliau.

Sunan Gresik kemudian menjelaskan bahwa orang dari kasta sudra juga bisa bergaul dengan kasta di atasnya. Beliau juga selalu menjelaskan bahwa dihadapan Allah SWT, semua manusia itu sama. Yang membedakan mereka di mata Allah adalah ketakwaan dan keimanan, bukan berdasarkan kasta apalagi kekayaan. Manusia bisa hidup dengan bahagia di dunia dan di akhirat dengan taqwa. Beliau selalu menjelaskan dengan cara yang halus bahwa orang sudra yang memiliki ketakwaan terhadap Allah bisa menjadi lebih mulia dibanding orang yang berasal dari kasta tinggi namun tidak memiliki ketakwaan.

Mendengarkan dakwah dari beliau, banyak orang dari kasta rendah yang merasa senang. Pada akhirnya, banyak dari mereka yang berbondong-bondong untuk masuk dan memeluk agama Islam tanpa adanya paksaan. Menyebarkan Agama Islam Hingga ke Pelosok Setelah beliau memiliki pengikut yang cukup banyak, kemudian beliau mendirikan sebuah Masjid. Masjid tersebut dipergunakan untuk melakukan kegiatan ibadah, seperti Sholat dan mengaji. Tidak cukup sampai disitu, beliau memiliki cita-cita untuk bisa mempersiapkan generasi umat yang bisa melanjutkan perjuangan dakwah beliau dalam menyebarkan agama Islam bahkan sampai ke pelosok negri ini.

Beliau kemudian mendirikan sebuah pesantren yang digunakan sebagai tempat untuk belajar para santri dan menyiapkan mereka menjadi seorang mubaligh dan penerus dakwah. Pendirian pesantren tersebut berawal dari pemikiran dan pengamatan beliau tentang kebiasaan masyarakat Hindu yang mendidik para Biksu di mandala.

Pada akhirnya hal tersebut menjadi salah satu strategi yang terbukti cukup bagus. Beliau mendirikan sebuah pesantren dengan bangunakan yang serupa seperti mandala Hindu.

Pesantren tersebut dipergunakan untuk menjaring lebih banyak umat untuk mempelajari agama Islam dengan baik. Pesantren tersebut ternyata berhasil menghasilkan banyak mubaligh yang selanjutnya menyebar ke berbagai penjuru Nusantara untuk mendakwahkan ajaran agama Islam.

Dengan begitu, Sunan Gresik berhasil untuk menggapai cita-citanya menyebarkan agama Islam hingga ke pelosok Nusantara.

Hingga saat ini, tradisi pesantren masih terus eksis dan banyak digunakan para ulama untuk mengajarkan ilmu agama Islam dan mendidik para calon mubaligh.

Karomah Sunan Gresik Sebagai wali, Sunan Gresik diberkahi dengan beberapa Karomah dari Allah SWT. Diantaranya yaitu sebagai berikut: 1. Menurunkan Hujan dengan Sholat Istisqa Suatu ketika, Sunan Gresik pernah menghadapi sebuah daerah yang akan mengorbankan seorang gadis untuk dijadikan sebagai tumbal kepada dewa agar diturunkan hujan pada daerah tersebut. Melihat hal itu, Sunan Gresik kemudian bernegosiasi dengan kepala adat setempat agar mengurungkan niat mereka itu.

Kepala adat tersebut kemudian menyetujuinya asalkan Sunan Gresik bisa menurunkan hujan, jika tidak maka mereka tetap akan menjadikan gadis tersebut sebagai tumbal. Sunan Gresik kemudian berdoa kepada Allah untuk menurunkan hujan di desa tersebut. Beliau bersama murid-muridnya kemudian mengerjakan sholat istisqa untuk meminta hujan kepada Allah. Akhirnya saat itu juga hujan turun di wilayah tersebut. Melihat kejadian tersebut maka masyarakat sangat bersimpati kepada Sunan Gresik dan ajaran agama Islam, banyak dari mereka yang kemudian tertarik untuk belajar agama Islam.

Mengerjakan sholat istisqa untuk meminta turun hujan juga pernah dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Ia juga menhadapi masyarakat yang akan melakukan penumbalan untuk meminta hujan kepada dewa. 2. Mengubah Beras Menjadi Pasir Maulana Malik Ibrahim juga pernah mengubah beras menjadi pasir. Hal tersebut terjadi saat ada seorang pengemis yang meminta-minta beras kepada orang kaya yang kikir. Namun orang kaya tersebut tidak mau memberinya beras, bahkan ia mengatakan bahwa dia tidak memiliki beras, dimana yang ada di dalam karung-karung miliknya itu adalah pasir.

Pengemis tersebut kemudian pergi meninggalkan orang kaya yang kikir itu. Baca Juga : Contoh Surat Pribadi : Guru, Kakak, Orang Tua, Teman, Sahabat, dan Covid Melihat hal tersebut, Sunan Gresik kemudian ayah maulana malik ibrahim bernama kepada Allah agar karung yang berisi beras tersebut benar-benar berubah menjadi pasir.

Tidak lama setelah itu, terdengar jeritan dari pembantu orang kaya yang kikir itu karena ia kaget saat melihat bahwa karung-karung yang berisi beras tersebut berubah menjadi berisi pasir semua. Orang kaya tersebut kemudian terkejut luar biasa karena beras dalam karung-karung tersebut berubah menjadi pasir. Kemudian orang kaya tersebut bersimpuh di hadapan Sunan Gresik sembari meminta maaf dan meminta untuk mengubah pasir tersebut menjadi beras lagi.

Akhirnya Sunan Gresik memaafkan perbuatan rang kaya yang kikir tersebut dan kembali berdoa kepada Allah untuk mengubah pasir menjadi beras kembali. Setelah itu, orang kaya tersebut kemudian berterima kasih kepada Sunan Gresik dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Selain itu, melihat kejadian tersebut juga membuat orang kaya itu menjadi tertarik untuk belajar agama Islam. 3. Mengobati Orang Sakit dan Mengajar Bidang Pertanian Sunan Gresik juga diberi kelebihan menjadi seorang yang ahli dalam bidang pengobatan dan pertanian.

Semenjak beliau berdakwah di Gresik, hasil pertanian warga Gresik terus meningkat dan ekonomi warga juga semakin membaik. Sunan Gresik membuat saluran irigasi agar lahan pertanian di wilayah Gresik mendapatkan air yang cukup agar tanaman yang ada subur dan menghasilkan hasil panen yang melimpah. Selain mengajarkan bidang pertanian dan membuat ayah maulana malik ibrahim bernama, Sunan Gresik juga membuka praktik pengobatan untuk warga sekitar secara gratis.

Ia membuka sebuah tempat praktik pengobatan di sebalah warung miliknya. Ia juga menjadikan tempat pengobatan tersebut sebagai media dan tempatnya untuk berdakwah dan mengajarkan Islam kepada setiap orang sakit yang mengunjunginya. Selama praktik pengobatan tersebut, banyak warga sakit yang berhasil sembuh setelah berobat ke Sunan Gresik. Hal tersebut membuat banyak warga yang menjadi tertarik dengan ajaran agama Islam. Makam Sunan Gresik Sunan Gresik meninggal pada tahun 1419.

Beliau kemudian dimakamkan di lokasi tempat pesantrennya didirikan. Yaitu di Desa Gapurosukololp, Kota Gresik, Jawa Timur. Dari alun-alun Kota Gresik, komplek makam tersebut berjarak sekitar 800 meter, atau 3 menit berkendara. Area makamnya tersebut tidak teralalu luas, dan hanya berupa sebuah pendopo sederhana dengan pagar. Komplek makam tersebut dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu makam Syekh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) yang berbentuk pendopo, dan beberapa makam para ulama lainnya.

Pada makam Sunan Gresik, terdapat tulisan Arab pada bagian batu nisannya, yaitu: • Mafkharul Umara (Guru kebanggaan bagi para pangeran) • Umdatus Salathin Wal Wuzara (Penasihat Raja dan Menteri) • Wa Ghaisul Masakain Wal Fuqura (Santun dan dermawan kepada kaum miskin dan dhuafa) • As As Id Asy Syahid Thirazu Habaid Dawlah Waddin (Berbagahagia karena syahid) Dengan adanya tulisan pada batu nisan Sunan Gresik menjadi bukti bahwa Maulana Malik Ibrahim adalah salah satu tokoh yang sangat santun, dermawan, dan menjadi kebanggaan dari setiap manusia pada saat itu.

Peninggalan Sunan Gresik Setelah Sunan Gresik wafat, beliau meninggalkan beberapa peninggalan yang hingga saat ini masih ada dan terawat dengan baik. Bahkan peninggalan tersebut juga masih banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah. Berikut peninggalan bersejarah dari Maulana Malik Ibrahim. 1. Masjid Pasucian Peninggalan pertama dari Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah Masjid Pasucian. Masjid ini merupakan masjid tertua yang ada di Desa Leran, Kota Gresik.

Masjid ini didirikan oleh Sunan Gresik pada saat kekuasaan Kerajaan Majapahit. Nama masjid tersebut diambil untuk membuat masyarakat yang pada awalnya beragama Hindu dan Buddha menjadi memeluk agama Islam. Di sekitar masjid tersebut juga banyak peninggalan-peninggalan berupa batu arsenik.

2. Air Sumur Peninggalan selanjutnya adalah air sumur. Dimana banyak orang menganggap dan meyakini bahwa air sumur tersebut bukanlah air biasa, karena menurut cerita dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Ukuran dari sumur tersebut juga cukup besar dan memiliki rasa yang tawar, berbeda dengan sumur lain di daerah tersebut yang memiliki rasa asin dan berukuran kecil.

Terdapat sebuah cerita mengenai air sumur yang ada di Masjid Pasucian ini, dimana suatu ketika pernah ada sesorang yang menderita sakit keras. Kemudian ia pergi mengunjungi seorang pakar spiritual untuk meminta obat yang bisa menyembuhkan penyakitnya itu. Kemudian pakar spiritual tersebut menyarankan untuk mengambil air dari sumur tersebut. Setelah mendapatkan air sumur tersebut, penyakit yang dialami menjadi sembuh total.

Dengan adanya cerita tersebut, banyak orang yang percaya bahwa air sumur Masjid Pasucian bukanlah air biasa. Demikian ulasan lengkap mengenai Sunan Gresik atau Syekh Maulana Malik Ibrahim, semoga bisa menambah wawasan dan menambah keimanan kalian terhadap Allah SWT. Originally posted 2021-11-06 17:47:56.Biografi Sunan Ampel – Sunan Ampel adalah salah satu anggota dari Sembilan Wali atau sering disebut Walisongo.

Beliau sangat berjasa dalam perkembangan dan penyebaran agam Islam di Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Beliau juga mendapat gelar sebagai bapak dari para wali, karena dengan jasanya maka banyak terlahir pendakwah untuk menyebarkan agama Islam kelas satu yang ada di Pulau Jawa.

Nama asli beliau yaitu Raden Rahmad, kemudian mendapat gelar dengan sebutan sunan karena mandatnya menjadi seorang wali. Sedangkan nama Ampel Denta atau Ampel yaitu berasal dari nama tempat tinggalnya yang letaknya dekat dengan kota Surabaya. Daftar Isi • Biografi Sunan Ampel • Nama Asli Sunan Ampel • Perjalanan Dakwah di Pulau Jawa • Makam Sunan Ampel • Masjid Ampel Merupakan Tertua Urutan Ketiga Di Indonesia • Ajaran Sunan Ampel yang Paling Fenomenal • Sunan Ampel Merupakan Sesepuh Para Wali • Murid- Murid Sunan Ampel • Perbandingan Dakwah Antara Sunan Kalijaga dan Sunan Ampel • Jasa dan Keteladanan Sunan Ampel • Fakta-Fakta Sunan Ampel Biografi Sunan Ampel Raden Rahmat dilahirkan tepatnya di Champa, pada tahun 1401 Masehi.

Menurut para ahli dari beberapa sejarah merasa kesulitan bagaimana menentukan Champa. Hal itu disebabkan, karena memang sampai saat ini belum ada pernyataan secara tertulis ataupun prasati yang menyatakan bahwa Champa tersebut berada di kerajaan Jawa atau Malaka. Raden Rahmat merupakan salah satu putra dari Maulana Magribi atau Maulana Malik Ibrahim, kemudian mendapat sebutan Sunan Ampel yang lebih dikenal oleh masyarakat luas. Sedangkan ibunya bernama Dewi Chandra Wulan, yaitu salah satu saudara kandung Putri Dwarawati Murdiningrum, ibu dari Raden Fatah atau seorang istri raja Majapahit Parbu Wijaya V.

Sunan Ampel Sendiri memiliki dua istri, istri pertama Dewi Karimah dan yang kedua bernama Dewi Chandrawati. Pernikahan antara Sunan Ampel dan istri pertamanya yaitu Dewi Karimah, dikaruniai 2 anak diantaranya, Dewi Murtasih seorang istri Raden Fatah dan merupakan sultan yang pertama kali di kerjaan Islam Demak Bintoro.

Sedangkan anak keduanya yaitu Dewi Murtasimah (seorang istri dari Raden Paku atau sering dikenal dengan sebutan Sunan Giri). Pernikahan kedua dengan istri yang bernama Dewi Chandrawati yaitu dikarunia 5 orang anak, diantaranya Siti Syare’at, Siti Sofiah, Siti Mutmainah, Raden Maulana Makdum, Sunan Bonang atau Ibrahim dan Raden Kosim (Syarifuddin) atau dikenal dengan Sunan Drajad. Baca Juga: Biografi Sunan Giri Nama Asli Sunan Ampel Menurut sejarah, bahwa beliau lahir di Champa sekitar tahun 1401 Masehi.

Ketika beliau masih kecil, memiliki nama panggilan Sayyid Muhammad’ Ali Rahmatullah. Namun setelah dewasa dan pindah ke Jawa Timur maka beliau harus berbaur dengan masyarakat. Di tempat baru tersebut, beliau mendapat panggilan baru pula yakni Raden Rahmat.

Setelah beliau mulai menyebarkan ajaran agama Islam, maka beliau masuk ke dalam golongan wali dan dipanggil dengan nama Sunan Ampel. Nama tersebut yang hingga kini melekat di pikiran masyarakat umum, terutamamereka yang memeluk agama Islam. Jika dilihat dari tempat kelahirannya, dapat dikatakan bahwa beliau merupakan salah satu wali yang berasal dari luar Nusantara.

Meskipun mengalami perbedaan daerah dan juga tradisi yang dianut. Hal itu tidak menyulitkan Raden Rahmat dalam berbaur dengan warga Jawa tersebut, terutama dalam menyebarkan syariat Islam. Bahkan beliau di aggap sebagai salah satu sesepuh dari anggota Walisongo. Akan tetapi ada sebuah teori yang menyampaikan bahwa Champa merupakan salah satu daerah yang berada di Provinsi Aceh. Pendapat tersebut dikemukakan oleh Raffles.

Beliau menyampaikan bahwa Champa dahulu yaitu Jeumpa yang ada di Aceh. Namun pendapat tersebut juga tidak terlalu kuat dan masih perlu untuk digali lagi agar memperoleh dukungan yang lebih kuat dan objektif mengenai asal usul tersebut. Perjalanan Dakwah di Pulau Jawa Raden Rahmat atau Sunan Ampel merupakan ulama besar yang pernah ada di Nusantara.

Beliau menjadi salah satu pendakwah ajaran agama Islam yang paling masyhur di Pulau Jawa. Beliau sangat berjasa dalam perkembangan Islam, sehingga Islam dapat dikenal secara luas dan di terapkan hingga saat ini. Ketika perjalanan Menuju Trowulan, saat itu merupakan ibukota dari Majapahit, beliau harus singgah terlebih dahulu di Tuban dan juga Palembang.

Persinggahan yang dilakukan oleh Raden Rahmat tersebut tidak terkecuali untuk menyebarkan ajaran agama Islam di kalangan masyarakat. Setibanya beliau di Majapahit, hal yang dilakukan beliau yaitu berdakwah. Di dalam catatan sejarah, peristiwa tersebut merupakan titik balik kepercayaan masyarakat di Majapahit. Kehadiran Raden Rahmat banyak merubah kepercayaan masyarakat, yang tadinya beragama Hindu, kemudian berpindah ke agama Islam. Dalam mengenalkan ajaran Islam di dalam masyarakat umum, para wali memiliki cara dan metode yang berbeda.

Sunan Ampel memiliki metode yang cukup unik dalam menyebarkan ajaran Islam. Dengan metode yang diterapkan, maka agama Islam dapat diterima oleh semua kalangan dan berkembang pesat di Indonesia, terutama di tanah Jawa. Makam Sunan Ampel Makam yang memiliki nama asli Raden Muhammad Ali Rahmatullah yaitu berada di bagian barat masjid.

Untuk menuju ke makam, maka Anda harus melewati 9 gapura. Gapuro yang berjumlah sembilan yaitu sesuai dengan jumlah arah mata angina, yang melambangkan mengenai sembilan wali atau Ayah maulana malik ibrahim bernama. Dari kesembilan jumlah gapura, ada tiga ayah maulana malik ibrahim bernama yang masih memiliki bangunan asli dari peninggalan beliau.

Makam tersebut juga bersebelahan dengan makam istri pertamanya yaitu Nyai Candrawati. Beliau merupakan salah satu keturunan dari Raja Brawijaya V pada pemerintahan Kerajaan Majapahit. Metode Dakwah yang Diterapkan untuk menyebarkan ajaran agama Islam Perbedaan antara keberagamaan dan sosiologis masyarakat tentu menjadi faktor tantangan tersendiri dalam berdakwah bagi Raden Rahmat.

Namun, karena kecerdasannya yang dimiliki maka beliau mampu menemukan metode dakwah yang tepat. Metode yang digunakan Sunan Ampel dalam berdakwah berbeda dengan metode yang digunakan wali-wali yang lain. Salah satunya yaitu menggunakan pendekatan dengan menerapkan pembaharuan dalam menghadapi masyarakat di kelas menengah ke bawah. Namun, beliau akan menggunakan metode pendekatan penalaran logis dan intelektual ketika menghadapi masyarakat yang lebih melek dan mengutamakan pendidikan atau kaum cendekia.

Metode kedua yang digunakan Raden Rahmat dalam berdakwah yaitu menggunakan metode seni dan budaya. Metode inilah yang menjadi keunggulan dari Raden Rahmat dalam menyebarkan agama Islam. Meskipun para wali yang lain pun juga mengaplikasikan seni dan budaya dalam menyebarkan Islam, namun pada masa Raden Rahmat masyarakat masih sangat buta terhadap ajaran agama Islam. Beliau cenderung lebih banyak menggunakan pendekatan secara intelektual. Metode yang beliau terapkan yaitu dengan memberikan wacana secara intelektual dan diskusi cerdas, kritis dan mampu diterima akal manusia.

Hal itu yang membuat dakwah yang diberikan oleh Raden Rahmat lebih berkesan dan mudah untuk diikuti. Jika dilihat dari sisi lain, maka dari segi budaya merupakan salah satu ayah maulana malik ibrahim bernama fakta dan alternatif yang tidak bisa dibantah secara serampangan. Dapat dilihat secara jelas, bahwa Sunan Kalijaga merupakan salah satu wali yang menyebarkan agama Islam dengan menggunakan pendekatan senin.

Dengan begitu masyarakat lebih tertarik dan mudah menerapkan pembelajaran yang diterima. Dengan metode seni, ayah maulana malik ibrahim bernama masyarakat awam menjadi lebih tertarik dengan agama Islam. Meskipun mereka belum mengetahui secara luas mengenai ajaran agama, namun dengan seni tersebut mereka lebih mudah untuk menerima Islam dan lebih terbuka untuk menerima hukum-hukum Islam yang ada. Akan tetapi pendekatan seperti ini lebih tepat diterapkan pada pada masyarakat menengah ke bawah.

Berbeda jika objek dakwahnya yaitu masyarakat kalangan menengah ke atas atau kalangan intelektual, maka metode yang tepat untuk diterapkan yaitu dengan menerapkan metode yang ditempuh oleh Sunan Ampel.

Berdakwah dengan menggunakan jalur intelektual, maka dapat membuka pemikiran masyarakat untuk bisa menerima ajaran Islam sebagai agama yang mampu diterima nalar manusia. Selain itu, yang membuat Sunan Ampel sangat disegani oleh masyarakat yaitu karena beliau sangat konsisten dan cukup independent di dalam posisinya sebagai seorang ulama besar.

Beliau tidak memiliki ikatan dengan siapapunbaik penguasa atau kerajaan setempat, jadi niat dakwah beliau hanya semata-mata untuk mendapatkan Rindho Allah SWT.

Masjid Ampel Merupakan Tertua Urutan Ketiga Di Indonesia Raden Rahmat pada tahun 1481 di Kota Demak. Beliau dimakamkan tepat di sebalah barat masjid. Masjid Ampel didirikan sekiar tahun 1421 di wilayah Kerajaan Majapahit.

Jika dilihat dari bentuk bangunannya, maka arsitekturnya mengikuti Jawa kuno dan dirancang dengan nuansa Arab yang cukup kental. Masjid Ampel ayah maulana malik ibrahim bernama masjid Terbesar kedua di Kota Surabaya hingga tahun 1905. Menurut sejarah, bahwa masjid Ampel merupakan salah satu tempat untuk berkumpul para ulama besar dan para wali Allah.

Dalam perkumpulan tersebut selalu ada pembahasan mengenai penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Saat ini masjid Ampel selain digunakan sebagai tempat dakwah dan beribadah, juga merupakan salah satu tujuan tempat wisata realigi dan Ziarah yang ada di Kota Surabaya. Bahkan dapat dipastikan, jika setiap hari masjid Ampel selalu ramai dengan pengunjung. Struktur bangunan masjid dirancang menggunakan tiang-tiang penyangga dengan ukuran yang tinggi dan besar.

Selain itu, di bagian langit-langit masjid menggambarkan suatu keterkaitan kemampuan di dalam melintasi suatu zaman. Masjid Ampel telah tiga kali mengalami renovasi untuk perluasan yaitu ketika tahun 1926, 1954 dan 1972. Dengan semakin luas bangunan masjid, tentunya dapat menampung jamaah lebih banyak. Luas bangun masjid mencapai 1.20 meter persegi dengan panjang dan lebar, 120 meter dan 11 meter.

Baca Juga: Biografi Sunan Kalijaga Ajaran Sunan Ampel yang Paling Fenomenal Raden Rahmat berusaha untuk memperbaiki kerusakan akhlak masyarakat yang terjadi pada masa itu. Sehingga beliau membuat suatu langkah dimana tujuannya untuk memberikan pengajaran yang tepat pada masyarakat. Ajaran Raden Rahmat yang cukup terkenal dan masih diterapkan hingga kini yaitu Moh Limo atau Mohmo.

Kata tersebut memiliki arti, dimana masyarakat tidak akan melakukan 5 hal buruk yang menjadi larangan agama Islam. Lima hal tersebut diantaranya adalah moh mabok, moh madon, ayah maulana malik ibrahim bernama main, moh maling dan moh madat.

Ajaran ini menjadi pedoman penting dalam dakwah yang diajarkan oleh Raden Rahmat. Karena secara bertahap beliau mampu menyadarkan dan memperbaiki akhlak masyarakat. Moh mabok artinya tidak ingin meminum minuman keras. Moh main artinya tidak ingin melakukan berbagai jenis judi seperti togel, sabung ayam dan lainnya. Moh madon artinya tidak ingin melakkan perbuatan zina.

Moh madat artinya tidak ingin mengkonsumsi atau menggunakan obat-obatan terlarang, apapaun jenisnya. Sedangkan moh maling artinya tidak ingin mencuri barang milik orang lain. Dengan ajaran agama yang diterapkan oleh sunan Ampel, maka akhlak masyarakat mampu dirpebaiki.

Hal itu yang membuat para petinggi menjadi kagum pada masa itu. Salah satunya yaitu Prabu Wijaya atau petinggi kerajaan cukup simpati dengan ajaran agama Islam yang diterapkan Raden Rahmat.

Beliau sangat senang dan bangga atas hasil ajaran dari Raden Rahmat. Prabu Wijaya beranggapan bahwa dari ajaran yang diterapkan oleh Raden Rahmat, maka tersiarlah ajaran agama Islam yang mengandung budi pekerti mulia. Prabu pun tidak akan merasa terancam dengan apa yang diterapkan oleh Raden Rahmat. Namun sayangnya, Prabu tidak bersedia masuk Islam dengan alasan ingin menjadi Raja Budha Majapahit yang terakhir. Karena akhlak Raden Rahmat yang sangat halus, maka beliau diizinkan untuk menyebarkan ajaran Islam di wilayah Surabaya bahkan di wilayah kerajaan Majapahit pada masa itu.

Dalam hal itu, tidak ada suatu pemaksaan untuk mengikuti ajaran Raden Rahmat. Beliau juga menjelaskan bahwa di dalam agama Islam tidak ada suatu pemaksaan dalam beragama. Sunan Ampel Merupakan Sesepuh Para Wali Raden Rahmat bukan penduduk asli Jawa. Namun, sesudah ayahnya wafat kemudian beliau diangkat menjadi salah satu sesepuh Walisongo.

Dalam hal ini, maka beberapa murid beliau termasuk salah satu putranya yaitu menjadi pilar di dalam penyebaran agama Islam dan diangkat menjadi wali. Diangkatnya Raden Rahmat menjadi sesepuhmaka menjadikannya sosok yang sangat di hargai dan dihormati. Apapun yang disampaikan oleh Raden Rahmat akan ditaati oleh masyarakat dan wali-wali lainnya. Hal itu termasuk pada saat beliau mengeluarkan fatwa perang dengan Kerajaan Majapahit. Selain itu, pada masa tersebut muncul sebuah berita dari orang yang membenci agama Islam.

Dengan memutar balikkan suatu sejarah. Mereka berpendapat bahwa Kerajaan Majapahit diserang Kerajaan Demak, yang kemudian Raden Fatah dan Raja Majapahit dianggap menjadi anak durhaka.

ayah maulana malik ibrahim bernama

Padahal faktanya tidak seperti itu, namun seandainya waktu tersebut Demak tidak menyerang Kerajaan Majapahit maka sudah pasti Portugis akan menyerang dan sudah pasti akan menjadi salah satu penguasa di Pulau Jawa.

Setelah Kerajaan Majapahit mengalami kekalahan, maka pusaka kerajaan kemudian di bawa ke Demak. Dalam hal itu termasuk dibawanya Raden Patah dan kemudian beliau diangkat menjadi salah satu Raja Demak I.

Murid- Murid Sunan Ampel Dalam perjalanan dakwahnya, Raden Rahmat memiliki banyak murid. Beberapa murid dari Raden Rahmat bahkan menjadi wali di generasi selanjutnya. Namun, ayah maulana malik ibrahim bernama satu murid Raden Rahmat yang paling terkenal adalah Mbah Sholeh.

Beliau adalah murid yang paling disayangi. Beberapa catatan mengatakan bahwa Mbah Sholeh merupakan murid dari Raden Rahmat yang memiliki karomah dan keistimewaan yang luar biasa. Dalam satu kesempatan, Sunan Ampel mengatakan bahwa Mbah Sholeh hidup selama 9 kali. Entah apa maksudnya, namun beberapa orang waktu itu dikatakan melihat Mbah Sholeh hidup lagi setelah kematiannya. Akan tetapi, cerita tersebut tidak bisa diyakini secara utuh keyakinannya dan barangkali tidak bisa dijadikan standar kesalehan seseorang.

Hal ini diperkuat dengan Islam yang tidak mengenal adanya hal-hal yang berbau mistis dan terkesan takhayul. Baca Juga: Biografi Sunan Giri Perbandingan Dakwah Antara Sunan Kalijaga dan Sunan Ampel Raden Rahmat merupakan salah satu wali Allah dari sekian wali yang menghabiskan waktu hidupnya dijalan-Nya melalui berdakwah.

Metodologi dakwahnya berbeda dengan yang diterapkan oleh Sunan Muria, Sunan Kalijaga atau sunan yang lainnya yang menggunakan metode seni-budaya dalam menyebarkan ajaran Islam. Raden Rahmat lebih menggunakan metode intelektual dengan memberikan suatu pemahaman mengenai agama Islam. Beliau menerapkan metode tersebut melalui pendekatan intelektual dengan diskusi cerdas, kritis dan mampu dinalar oleh akal manusia.

Cerita tersebut menjadi salah satu bukti sejarah yang dilakukan oleh Sunan Ampel. Dialog antara Raden Rahmat dan biksu telah mengingatkan kita pada jawaban Nabi Ibrahim yang disampaikan kepada Raja Namrud. Pada saat beliau dituduh untuk menghancurkan tuhan-tuhan yang mereka sembah.

Nabi Ibrahim pun menyampaikan bahwa,Tuhan paling besarlah yang melakukan perbuatan itu semua. Perbedaanya, bahwa Raja Namrud tidak pernah bisa menerima atas kebenarnnya, meskipun sudah mengetahuinya. Pertanyaannya, mungkinkah seseorang dengan sekelas biksu mampu ditaklukan hanya melalui suatu pendekatan budaya? Jawabanya adalah bisa jadi, namun kemungkinan ayah maulana malik ibrahim bernama. Urgensitas sebuah budaya dapat dijadikan sebagai alternatif media dakwah yang memang tidak bisa disangkal.

Sejarah pun telah membuktikan bahwa suatu pendekatan-pendekatan kultur-budaya yang diterapkan oleh Sunan Kalijaga membuahkan hasil yang cukup gemilang. Namun sejatinya, pendekatan kultur-budaya hanya saja relevan jika diterapkan untuk melakukan komunikasi terhadap masyarakat kelas bawah hingga menengah. Sedangkan untuk berdakwah dengan obyek kelas menengah ke atas, maka sangat cocok jika menggunakan metodologi yang ditempuh oleh Sunan Ampel.

Dari dua metodologi yang diterapkan oleh Raden Rahmat mampu menciptakan kehidupan yang harmoni bagi ulama dan umara, antara kalangan pemerintahan dengan akar rumput. Meskipun masih ada sekat-sekat yang membatasi antara masyarakat kelas atas dan kelas bawah. Namun, hal itu dapat tercapai semua tujuannya karena beliau adalah seorang pendakwah yang mempertaruhkan hidupnya hanya untuk berdakwah dan mengayomi seluruh umat Islam.

Beliau selalu konsisten dan independen pada posisinya sebagai seorang ulama. Beliau juga tidak pernah menyukai cara dengan memanfaatkan kekuasaan sebagai kendaraan dalam kegiatan dakwahnya.

Maka tidak berlebihan jika beliau mendapatkan prototype yaitu sebagai seorang wali sejati. Kata wali sendiri memiliki pengertian “kekasih Allah” di dunia. Beliau bukan seorang wali sebagai penguasa daerah setempat.

Sebagaimana mispersepsi dari sebagian pemerhati sejarah yang kemungkinan tidak mengakui dengan adanya wali Allah yang lainnya. Karena jika kita mau menurut sejarah, maka bisa menghasilkan suatu hepotesa seperti yang di atas. Namun terbukti, bahwa beliau sama sekali tidak ingin menggunakan sebuah kendaraan kekuasaan sebagai piranti dalam memuluskan dalam proses dakwahnya.

Jasa dan Keteladanan Sunan Ampel Sunan Ampel yang memiliki nama asli Raden rahmat merupakan putra dari Sunan Gresik dari istri bernama Dewi Candrawulan. Raden Rahmat yaitu salah satu wali yang cukup populer dan sebagai penerus cita-cita sebagai perencana kerajaan Islam di Pulau Jawa.

Beliau memulai dakwahnya dengan mendirikan sebuah pesantren Ampel Denta yang letaknya dekat dengan Kota Surabaya. Oleh sebab itu, beliau dikenal sebagai seorang Pembina pondok pesantren yang pertama kali di Provinsi Jawa Timur.

Di pesantren tersebut, Raden Rahmat mendidik pemuda Islam untuk dijadikan tenaga dai yang nantinya akan disebarkan ke seluruh bagian Pulau Jawa. Selain itu, Sunan Ampel juga tercatat menjadi seorang perancang kerajaan Islam yang pertama tepatnya berada di Pulau Jawa, yang pada saat itu ibu kotanya di Bintaro. Fakta-Fakta Sunan Ampel 1. Raden Rahmat bukan asli orang Indonesia Seperti yang telah disinggung di atas, bahwa Raden Rahmat lahir di Champa dan termasuk salah satu cucu dari raja Champa.

Dari situlah dapat digaris bawahi, bahwa beliau bukan Orang asli Indonesia. Namun demikian, beliau sangat konsisten dalam menyiarkan agama Islam di tanah Jawa dan sekitarnya. 2. Kawasan Kampung Arab Hal yang sangat menarik di wilayah Ampel yaitu adanya Kampung Arab. Dimana pada kampung tersebut terdapat sebagian orang besar yang berkewarganegaraan Arab Yaman. Selain itu juga terdapat keturunan Cina yang sudah ratusan tahun berdagang pada wilayah tersebut.

Suasana di kampung tersebut seperti keadaan di pasar Mekkah, Arab Saudi. Sejarah itu tidak diketahui mengapa bisa demikian, kemungkinan karena terdapat suatu pengaruh semacam suatu penghormatan terhadap Raden Rahmat yang memiliki darah dan juga adat Timur Tengah.

3. Filosofi Moh Limo Sunan Ampel juga meninggalkan suatu ilmu yang sangat berharga bagi umat Islam di negeri ini yaitu yang dikenal dengan Moh Limo.

Jika diartikan dalam bahasa Indonesia yaitu tidak ingin melakukan 5 hal buruk yang dilarang oleh agama Islam. Untuk masing-masing penjelasannya sudah di bahas sebelumnya Seperti yang telah kita ketahui, bahwa banyak pengunjung yang melakukan ziarah di makan Sunan Ampel.

Jumlah peziarah akan semakin meningkat ketika malam “Lailatul Qodar”, bahkan peziarah mencapai hingga 20 ribu orang. Dengan begitu, maka sudah pasti akan memberikan dampak ayah maulana malik ibrahim bernama bagi seluruh kalangan warga di sekitarnya. Baca Juga: Biografi Walisongo 4. Salah Satu Pangeran Kerajaan Champa Sunan Ampel jika dilihat dari keturunannya merupakan keturunan ningrat, darah biru atau seorang pangeran.

Tidak hanya itu saja, namun beliau juga merupakan ponakan dari Raja Brawijaya Majapahit. Meskipun statusnya demikian, maka tidak pernah membuatnya terlena atau takabur. Belaiu justru lebih giat lagi dalam menyiarkan ajaran agama Islam. Bahkan hal itu yang menjadi dorongan kuat dalam menuntut ilmu yang lebih tinggi mengenai ajaran Islam. Hal tersebut sudah terbukti, bahwa beliau lebih banyak untuk memberikan dorongan dan pengaruh besar pada kalangan Kerajaan Majapahit pada masa itu. Konon di wilayah desa Ampel Denta, dimana terdapat sebuah bangunan masjid yang merupakan salah satu tanah hadiah dari Raja majapahit.

Tentunya tidak lepas karena jasa Sunan Ampel terhadap keluarganya untuk mendidik akhlak keluarga kerajaan sehingga lebih baik, beragama dan memilii ahlak yang mulia. Sunan Ampel juga memiliki seorang kakak kandung laki-laki bernama Ali Murtadho, dimana beliau berasama sang ayah Maulana Malik Ibrahim atau sering dikenal dengan Sunan Gresik selalu menemani berdakwah jika mengharuskan keluar Pulau Jawa.

5. Sumur bersejarah berada di sekitar komplek masjid Ayah maulana malik ibrahim bernama Di sekitar komplek masjid Ampel ternyata terdapat sumur bersejarah.

Namun sumur tersebut saat ini sudah ditutup dengan besi. Banyak orang di sekitar percaya, bahwa sumur tersebut memiliki kelebihan yaitu airnya seperti air zamzam di Mekkah. Maka tidak heran jika para pengunjung yang datang selalu membawa air tersebut untuk dibawa pulang ke rumah. Di masjid Ampel tersebut disediakan banyak gentong dan berisi air yang dapat di maanfaatkan para pengunjung untuk diminum.

Selain itu, pengunjung diperkenankan untuk mengambil air pulang ke rumah dengan menggunakan botol air minum. Dari beberapa penjelasan yang disampaikan di atas, semoga dapat diambil hikmahnya. Bahwa seseorang yang selalu berkiprah di Jalan Allah akan selalu mendapatkan kemuliaan.

Tidak hanya terjadi di dunia, namun hingga di akherat, bahkan ketika orang tersebut sudah meninggal. Hal itu dibuktikan oleh Sunan Ampel yang merupakan salah satu wali penyiar ajaran Islam di tanah Jawa.

setelah anda mengetahui Sunan Ampel meninggal dimana? Siapa ayah dari Sunan Ampel? Sunan Ampel nama aslinya siapa dimakamkan di mana? anda di harapkan mengetahui sejarah penyebaran agama islam di indonesia ini.
• Maulana Moqfaroh • Syarifah Sarah • Abdullah • Ibrahim • Abdul Ghofur • Ahmad • Abbas • Yusuf Agama Islam Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim (w. 1419 M/882 H) adalah nama salah seorang Walisongo, yang dianggap yang pertama kali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Ia dimakamkan di desa Gapurosukolilo, Gresik. Daftar isi • 1 Nasab dan keturunannya • 2 Riwayat Dakwah • 3 Filsafat • 4 Wafat • 5 Lihat pula • 6 Referensi Nasab dan keturunannya [ sunting - sunting sumber ] Nasab Maulana Malik Ibrahim bersumber dari catatan dari As-Sayyid Bahruddin Ba’alawi Al-Husaini yang kumpulan catatannya kemudian dibukukan dalam Ensiklopedi Nasab Ahlul Bait yang terdiri dari beberapa volume.

Dalam catatan itu tertulis: - As-Sayyid Maulana Malik Ibrahim bin - As-Sayyid Barakat Zainal Alam bin - As-Sayyid Husain Jamaluddin bin - As-Sayyid Ahmad Jalaluddin bin - As-Sayyid Abdullah bin - As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin - As-Sayyid Alwi Ammil Faqih bin - As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin - As-Sayyid Ali Khali’ Qasam bin - As-Sayyid Alwi bin - As-Sayyid Muhammad bin - As-Sayyid Alwi bin - As-Sayyid Ubaidillah bin - Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin - Al-Imam Isa Ar-Rumi bin - Al-Imam Muhammad An-Naqib bin - Al-Imam Ali Al-Uraidhi bin - Al-Imam Ja’far Shadiq bin - Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin - Al-Imam Ali Zainal Abidin bin - Al-Imam Al-Husain bin - Sayyidah Fathimah Az-Zahra/ Ali bin Abi Thalib, binti - Nabi Muhammad Rasulullah SAW.

Syekh Maulana Malik Ibrahim memiliki 3 isteri bernama: 1. Siti Fathimah binti Ali Nurul Alam Maulana Israil (Raja Champa Dinasti Azmatkhan 1), memiliki 2 anak, bernama: Maulana Moqfaroh dan Syarifah Sarah. 2. Siti Maryam binti Syaikh Subakir, memiliki 4 anak, yaitu: Abdullah, Ibrahim, Abdul Ghafur, dan Ahmad.

3. Wan Jamilah binti Ibrahim Zainuddin Al-Akbar Asmaraqandi, memiliki 2 anak yaitu: Abbas dan Yusuf. Selanjutnya Sharifah Sarah binti Maulana Malik Ibrahim dinikahkan dengan Sayyid Fadhal Ali Murtadha [Sunan Santri/ Raden Santri] dan melahirkan dua putera yaitu Haji Utsman (Sunan Manyuran) dan Utsman Haji ( Sunan Ngudung).

Selanjutnya Sayyid Utsman Haji (Sunan Ngudung) berputera Sayyid Ja’far Shadiq [ Sunan Kudus]. Riwayat Dakwah [ sunting - sunting sumber ] Maulana Malik Ibrahim dianggap termasuk salah seorang yang pertama-tama menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, dan merupakan wali senior di antara para Walisongo lainnya. [2] Beberapa versi babad menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang.

Daerah yang ditujunya pertama kali ialah desa Sembalo, sekarang adalah daerah Leran, Kecamatan Manyar, yaitu 9 kilometer ke arah utara kota Gresik. Ia lalu mulai menyiarkan agama Islam di tanah Jawa bagian timur, dengan mendirikan mesjid pertama di desa Pasucinan, Manyar.

Makam Maulana Malik Ibrahim di sekitar tahun 1900 Pertama-tama yang dilakukannya ialah mendekati masyarakat melalui pergaulan. Budi bahasa yang ramah-tamah senantiasa diperlihatkannya di dalam pergaulan sehari-hari. Ia tidak menentang secara tajam agama dan kepercayaan hidup dari penduduk asli, ayah maulana malik ibrahim bernama hanya memperlihatkan keindahan dan kebaikan yang dibawa oleh agama Islam.

Berkat keramah-tamahannya, banyak masyarakat yang tertarik masuk ke dalam agama Islam. [3] Setelah berhasil memikat hati masyarakat sekitar, aktivitas selanjutnya yang dilakukan Maulana Malik Ibrahim ialah berdagang. Ia berdagang di tempat pelabuhan terbuka, yang sekarang dinamakan desa Roomo, Manyar.

ayah maulana malik ibrahim bernama

{INSERTKEYS} [4] Perdagangan membuatnya dapat berinteraksi dengan masyarakat banyak, selain itu raja dan para bangsawan dapat pula turut serta dalam kegiatan perdagangan tersebut sebagai pelaku jual-beli, pemilik kapal atau pemodal. [5] Setelah cukup mapan di masyarakat, Maulana Malik Ibrahim kemudian melakukan kunjungan ke ibu kota Majapahit di Trowulan.

Raja Majapahit meskipun tidak masuk Islam tetapi menerimanya dengan baik, bahkan memberikannya sebidang tanah di pinggiran kota Gresik. Wilayah itulah yang sekarang dikenal dengan nama desa Gapura.

Cerita rakyat tersebut diduga mengandung unsur-unsur kebenaran; mengingat menurut Groeneveldt pada saat Maulana Malik Ibrahim hidup, di ibu kota Majapahit telah banyak orang asing termasuk dari Asia Barat. [6] Demikianlah, dalam rangka mempersiapkan kader untuk melanjutkan perjuangan menegakkan ajaran-ajaran Islam, Maulana Malik Ibrahim membuka pesantren-pesantren yang merupakan tempat mendidik pemuka agama Islam pada masa selanjutnya. Hingga saat ini makamnya masih diziarahi orang-orang yang menghargai usahanya menyebarkan agama Islam berabad-abad yang silam.

Setiap malam Jumat Legi, masyarakat setempat ramai berkunjung untuk berziarah. Ritual ziarah tahunan atau haul juga diadakan setiap tanggal 12 Rabi'ul Awwal, sesuai tanggal wafat pada prasasti makamnya. Pada acara haul biasa dilakukan khataman Al-Quran, mauludan (pembacaan riwayat Nabi Muhammad), dan dihidangkan makanan khas bubur harisah. [7] Filsafat [ sunting - sunting sumber ] Mengenai filsafat ketuhanannya, disebutkan bahwa Maulana Malik Ibrahim pernah menyatakan mengenai apa yang dinamakan Allah.

Ia berkata: "Yang dinamakan Allah ialah sesungguhnya yang diperlukan ada-Nya." Meskipun hal ini tidak ada bukti yang dapat menunjukkan keberanan filsafat tersebut, karena di berbagai sumber, menyebutkan bahwa dia adalah seorang Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Wafat [ sunting - sunting sumber ] Setelah selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, Syeh Maulana Malik Ibrahim wafat tahun 1419.

Makamnya kini terdapat di desa Gapura, Gresik, Jawa Timur. Inskripsi dalam bahasa Arab yang tertulis pada makamnya adalah sebagai berikut: “ Ini adalah makam almarhum seorang yang dapat diharapkan mendapat pengampunan Allah dan yang mengharapkan kepada rahmat Tuhannya Yang Maha Luhur, guru para pangeran dan sebagai tongkat sekalian para sultan dan wazir, siraman bagi kaum fakir dan miskin.

Yang berbahagia dan syahid penguasa dan urusan agama: Malik Ibrahim yang terkenal dengan kebaikannya. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya dan semoga menempatkannya di surga. Ia wafat pada hari Senin 12 Rabi'ul Awwal 822 Hijriah. {/INSERTKEYS}

ayah maulana malik ibrahim bernama

” Saat ini, jalan yang menuju ke makam tersebut diberi nama Jalan Malik Ibrahim. [7] Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Arab-Indonesia • Champa • Sunan Ampel • Sunan Giri • Walisongo Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ Hadi, Abdul. "Sejarah & Profil Sunan Gresik: Wali Penyebar Islam Pertama di Jawa".

tirto.id .

ayah maulana malik ibrahim bernama

Diakses tanggal 2022-03-28. • ^ Drewes, G. W. J. 1968. New Light on the Coming of Islam to Indonesia?, Bijdragen tot de Taal- Land- en Volkenkunde. • ^ Salam, Solichin, 1960. Sekitar Walisanga, hlm 24-25, Penerbit "Menara Kudus", Kudus. • ^ Munif, Drs. Moh. Hasyim, 1995. Pioner & Pendekar Syiar Islam Tanah Jawa, hlm 5-6, Yayasan Abdi Putra Al-Munthasimi, Gresik. • ^ Tjandrasasmita, Uka (Ed.), 1984. Sejarah Nasional Indonesia III, hlm 26-27, PN Balai Pustaka, Jakarta.

• ^ Groeneveldt, W.P., 1960. Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources. Bhratara, Jakarta. • ^ a b Jejak Para Wali dan Ziarah Spiritual, Penerbit Buku Kompas, Desember 2006. • Halaman ini terakhir diubah pada 28 Maret 2022, pukul 07.52. • Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku.

Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
( 104) Biografiku.com - Profil dan Biografi Sunan Gresik.

(Maulana Malik Ibrahim). Nama aslinya adalah Maulana Malik Ibrahim yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Gresik. Beliau dikenal sebagai salah satu ulama yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa yang kemudian dikenal dengan nama wali songo.

Bagaimana kisahnya? Daftar Isi • Biografi Sunan Gresik • Kelahiran Sunan Gresik • Menyebarkan Agama Islam • Menjadi Pedagang • Legenda Rakyat Biografi Sunan Ayah maulana malik ibrahim bernama Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim adalah sosok ulama pertama yang diberi gelar sebagai Wali Songo. Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim (w.

ayah maulana malik ibrahim bernama

1419 M/882 H) adalah nama salah seorang Walisongo, yang dianggap yang pertama kali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Ia dimakamkan di desa Gapura, kota Gresik, Jawa Timur. Tidak terdapat bukti sejarah yang meyakinkan mengenai asal keturunan Maulana Malik Ibrahim, meskipun pada umumnya disepakati bahwa ia bukanlah orang Jawa asli. Sebutan Syekh Maghribi yang diberikan masyarakat kepadanya, kemungkinan menisbatkan asal keturunannya dari Maghrib, atau Maroko di Afrika Utara.

Kelahiran Sunan Gresik Dalam biografi Sunan Gresik disebutkan dalam Babad Tanah Jawi versi J.J. Meinsma menyebutnya dengan nama Makhdum Ibrahim as-Samarqandy, yang mengikuti pengucapan lidah Jawa menjadi Syekh Ibrahim Asmarakandi. Ia memperkirakan bahwa Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14.

ayah maulana malik ibrahim bernama

Dalam biografi Sunan Gresik diketahui bahwa dalam keterangannya pada buku The History of Java mengenai asal mula dan perkembangan kota Gresik, Raffles menyatakan bahwa menurut penuturan para penulis lokal, “Mulana Ayah maulana malik ibrahim bernama, seorang Pandita terkenal berasal dari Arabia.

Ia merupakan keturunan dari Jenal Abidin, dan sepupu Raja Chermen (sebuah negara Sabrang), telah menetap bersama para Mahomedans lainnya di Desa Leran di Jang’gala”. BACA JUGA : Biografi Titiek Puspa - Artis Senior Indonesia Namun demikian, kemungkinan pendapat yang terkuat adalah berdasarkan pembacaan J.P.

Moquette atas baris kelima tulisan pada prasasti makamnya di desa Gapura Wetan, Gresik; yang mengindikasikan bahwa ia berasal dari Kashan, suatu tempat di Iran sekarang. Terdapat beberapa versi mengenai silsilah Maulana Malik Ibrahim. Ia pada umumnya dianggap merupakan keturunan Rasulullah SAW; melalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rumi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali’ Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal, Jamaluddin Akbar al-Husain (Maulana Akbar), dan Maulana Malik Ibrahim.

Menyebarkan Agama Islam Maulana Malik Ibrahim dianggap termasuk salah seorang yang pertama-tama menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, dan merupakan wali senior diantara para Walisongo lainnya. Beberapa versi babad menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali ialah desa Sembalo, sekarang adalah daerah Leran, Kecamatan Manyar, yaitu 9 kilometer ke arah utara kota Gresik.

Ia lalu mulai menyiarkan agama Islam di tanah Jawa bagian timur, dengan mendirikan mesjid pertama di desa Pasucinan, Manyar. Dalam biografi Sunan Gresik disebutkan bahwa Pertama-tama yang dilakukannya ialah mendekati masyarakat melalui pergaulan. Budi bahasa yang ramah-tamah senantiasa diperlihatkannya di dalam pergaulan sehari-hari.

Ia tidak menentang secara tajam agama dan kepercayaan hidup dari penduduk asli, melainkan hanya memperlihatkan keindahan dan kabaikan yang dibawa oleh agama Islam.

Berkat keramah-tamahannya, banyak masyarakat yang tertarik ayah maulana malik ibrahim bernama ke dalam agama Islam. Menjadi Pedagang Sebagaimana yang dilakukan para wali awal lainnya, aktivitas pertama yang dilakukan Maulana Malik Ibrahim ialah berdagang. Ia berdagang di tempat pelabuhan terbuka, yang sekarang dinamakan desa Roomo, Manyar.

BACA JUGA : Biografi Nelson Tansu - Profesor Termuda Asal Indonesia di Amerika Serikat Perdagangan membuatnya dapat berinteraksi dengan masyarakat banyak, selain itu raja dan para bangsawan dapat pula turut serta dalam kegiatan perdagangan tersebut sebagai pelaku jual-beli, pemilik kapal atau pemodal.

Setelah cukup mapan di masyarakat, Maulana Malik Ibrahim kemudian melakukan kunjungan ke ibukota Majapahit di Trowulan. Raja Majapahit meskipun tidak masuk Islam tetapi menerimanya dengan baik, bahkan memberikannya sebidang tanah di pinggiran kota Gresik. Wilayah itulah yang sekarang dikenal dengan nama desa Gapura. Cerita rakyat tersebut diduga mengandung unsur-unsur kebenaran; mengingat menurut Groeneveldt ayah maulana malik ibrahim bernama saat Maulana Malik Ibrahim hidup, di ibukota Majapahit telah banyak orang asing termasuk dari Asia Barat.

Demikianlah, dalam rangka mempersiapkan kader untuk melanjutkan perjuangan menegakkan ajaran-ajaran Islam, Maulana Malik Ibrahim membuka pesantren-pesantren yang merupakan tempat mendidik pemuka agama Islam di masa selanjutnya. Hingga saat ini makamnya masih diziarahi orang-orang yang menghargai usahanya menyebarkan agama Islam berabad-abad yang silam. Setiap malam Jumat Legi, masyarakat setempat ramai berkunjung untuk berziarah.

Ritual ziarah tahunan atau haul juga diadakan setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal, sesuai tanggal wafat pada prasasi makamnya. Pada acara haul biasa dilakukan khataman Al-Quran, mauludan (pembacaan riwayat Nabi Muhammad), dan dihidangkan makanan khas bubur harisah.

Legenda Rakyat Menurut legenda rakyat, dikatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim berasal dari Persia. Maulana Malik Ibrahim Ibrahim dan Maulana Ishaq disebutkan sebagai anak dari Maulana Jumadil Kubro, atau Syekh Jumadil Qubro. Maulana Ishaq disebutkan menjadi ulama terkenal di Samudera Pasai, sekaligus ayah dari Raden Paku atau Sunan Giri. Syekh Jumadil Qubro dan kedua anaknya bersama-sama datang ke pulau Jawa.

Setelah itu mereka berpisah; Syekh Jumadil Qubro tetap di pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, Vietnam Selatan; dan adiknya Maulana Ishak mengislamkan Samudera Pasai. BACA JUGA : Biografi Sultan Hasanuddin, Kisah Pahlawan Sang 'Ayam Jantan Dari Timur' Maulana Malik Ibrahim disebutkan bermukim di Champa (dalam legenda disebut sebagai negeri Chermain atau Cermin) selama tiga belas tahun.

Ia menikahi putri raja yang memberinya dua putra; yaitu Raden Rahmat atau Sunan Ampel dan Sayid Ali Murtadha atau Raden Santri.

Setelah cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, ia hijrah ke pulau Jawa dan meninggalkan keluarganya. Setelah dewasa, kedua anaknya mengikuti jejaknya menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Maulana Malik Ibrahim dalam cerita rakyat terkadang juga disebut dengan nama Kakek Bantal. Ia mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah, dan berhasil dalam misinya mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara.

Selain itu, ia juga sering mengobati masyarakat sekitar tanpa biaya. Sebagai tabib, diceritakan bahwa ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Champa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.

Setelah selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur. Saat ini, jalan yang menuju ke makam tersebut diberi nama Jalan Malik Ibrahim. Biografiku.com

BIOGRAFI DAN KISAH WALI SONGO - (Syeh Maulana Malik Ibrahim - Sunan Gresik)




2022 www.videocon.com