Perbedaan mendasar antara makanan fungsional dan suplemen atau obat adalah

perbedaan mendasar antara makanan fungsional dan suplemen atau obat adalah

posting Suplemen makanan mempunyai nilai gizi dan atau efek fisiologis dalam jumlah terkonsentrasi, sedangkan pangan fungsional tidak. Suplemen makanan dimaksudkan untuk melengkapi kebutuhan zat gizi sedangkan pangan fungsional diperuntukkan sebagai makanan.

Suplemen makanan berupa sediaan berbentuk pil, tablet, kapsul, serbuk, granul, setengah padat, dan cairan, sedangkan pangan fungsional berbentuk pangan olahan. sumber: http://ulpk.pom.go.id/ulpk/home.php?page=faq&faq=komplemen&id=397 • Search Cari untuk: • Recent Comments • Ahmad Rizky Mudzakir pada Teliti Kawasan Ekowisata Jatimulyo, Kelompok Muda Herpetofauna Menoreh Hasilkan Buku Panduan Amfibi dan Reptil • Ahmad Rizky Mudzakir pada Menyelamatkan Yang Sudah Sedikit, Menjaga Yang Masih Banyak • Ahmad Rizky Mudzakir pada Edukasi Konservasi Capung Endemik Jawa Genus Drepanosticta • mariofbryn pada Cekakak Sungai • Ananda Virgiana Prima Dewi pada Kupu-kupu Papilio memnon (jantan) Konsep p angan fungsional didefinisikan sebagai pangan yang mengandung komponen bioaktif secara fisiologis, dan digunakan untuk pencegahan atau penyembuhan sesuatu penyakit, atau untuk mencapai kesehatan tubuh yang optimal.

Selanjutnya istilah pangan fungsional digunakan secara luas untuk mengidentifikasi dan mendefinisikan makanan yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi proses fisiologis, sehingga meningkatkan potensi kesehatan dari makanan atau minuman tersebut (Head, 1995). Makanan dikatakan mempunyai sifat fungsional bila mengandung komponen (zat gizi atau non zat gizi) yang mempengaruhi satu atau sejumlah terbatas fungsi dalam tubuh tetapi yang bersifat positif, sehingga dapat memenuhi kriteria fungsional atau menyehatkan (Muchtadi, 1996).

Pangan fungsional adalah makanan atau minuman yang dikonsumsi sebagai bagian dari pangan sehari-hari dan memunyai fungsi tertentu, pada waktu dicerna atau memberikan peran tertentu selama proses metabolisme di dalam tubuh karena mengandung komponen bioaktif (Muchtadi, 2002).

Istilah pangan fungsional merupakan nama yang paling dapat diterima semua pihak untuk segolongan makanan dan atau minuman yang mengandung bahan-bahan yang diperkirakan dapart meningkatkan status kesehatan dan mencegah timbulnya penyakit-penyakit tertentu.

Istilah health food sebelumnya lebih menarik dan berarti bagi konsumen, tetapi hal ini tidak dapat digunakan lagi karena pada prinsipnya semua bahan pangan akan menyehatkan tubuh bila dikonsumsi secara baik dan benar.

Istilah yang pernah diusulkan sebelumnya untuk pangan yang menyehatkan adalah designer food, pharmafoods, vitafoods dan nutraceutical, tetapi semua istilah ini kurang tepat karena bentuknya disamakan dengan food supplement yang merupakan suplemen zat gizi dan non gizi yang berbentuk seperti obat (kapsul ataupun tablet).

Sedangkan pangan fungsional bentuknya merupakan makanan atau minuman tetapi mengandung komponen aktif yang menyehatkan. Tiga faktor yang ditekankan para ilmuwan Jepang yang harus dipenuhi oleh suatu produk agar dapat dikatagorikan sebagai pangan fungsional, yaitu : (1) produk tersebut haruslah suatu produk pangan (bukan kapsul, tablet atau serbuk) yang berasal dari bahan (ingredien) yang terdapat secara alami, (2) produk tersebut dapat dan selayaknya dikonsumsi sebagai bagian dari pangan sehari-hari, dan (3) produk tersebut mempunyai fungsi tertentu pada waktu dicerna, serta memberikan peran tertentu dalam proses metabolisme tubuh, misalnya : (a) memperkuat mekanisme pertahanan tubuh, (b) mencegah timbulnya penyakit tertentu (seperti penyakit kanker, kardivaskuler dan jantung koroner, pencernaan, osteoporosis, dan berbagai gangguan kesehatan akibat kekurangan atau kelebihan zat gizi tertentu), (c) membantu untuk mengembalikan kondisi tubuh setelah terserang penyakit tertentu, (d) menjaga kondisi fisik dan mental, dan (e) memperlambat proses penuaan.

Komponen aktif dalam bahan pangan yang memberikan efek fisiologis atau perbedaan mendasar antara makanan fungsional dan suplemen atau obat adalah adanya sifat fungsional telah mendapat perhatian yang cukup besar saat ini. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya laporan tentang manfaat suatu komponen yang dijumpai dalam suatu bahan pangan, baik yang berasal dari pangan nabati maupun hewani (Golberg, 1992; Bonio, 1992; Tomomatsu, 1994).

Komponen aktif yang termasuk dalam golongan zat gizi antara lain kalsium, asam folat, vitamin E, dan iodium.

perbedaan mendasar antara makanan fungsional dan suplemen atau obat adalah

Sedangkan komponen aktif non zat gizi diantaranya yaitu grup senyawa flavonoid, komponen sulfur, senyawa polifenol, senyawa terpenoid, senyawa isoflavon, serat makanan, mikroba dan komponen hasil metabolit lainnya, oligosakarida, hidrokoloid, dan lain sebagainya.

(For Healthy Food) Posted in Uncategorized - 2 Comments » • • 2 Responses to “Pangan Fungsional : Pangan atau Obat ?” March 19, 2010 at 9:58 pm Bu Tri, tertarik dengan artikel Ibu mengenai functional food.

Jadi, functional food termasuk group pangan atau food supplement? Apa yang membedakan functional food dengan food supplement? Apabila akan melakukan pendaftaran baru functional food berasal dari import, ketentuan BPOM (peraturan) yang mana yang harus saya penuhi? Sebelumnya saya ucapkan terima kasih. • March 21, 2010 at 10:56 pm Asrtri, functional food atau pangan fungsional termasuk golongan makanan bukan supplement. Beda nya : 1. makanan fungsional berbentuk makanan, suplemen dpt berbentuk kapsul, pil atau serbuk (seperti bentuk obat) 2.

makananan fungsional kandungan senyawa bioaktifnya lebih rendah karena berupa makanan sedangkan suplemen lebih tinggi karena merupakan ekstrak atau isolat 3. makanan fungsional dikonsumsi seperti makanan pada umumnya sedangkan suplemen berdasarkan dosisnya (seperti obat) Functional food import tentunya harus terdaftar untuk pangan fungsional karena berbentuk makanan aturannya masih mengikuti peraturan makanan sedangkan suplemen ada peraturan sendiri October 2009 M T W Perbedaan mendasar antara makanan fungsional dan suplemen atau obat adalah F S S « Sep Dec » 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 • Recent Comments • Ismael Sabedra on Tata Cara Pengajuan Permohonan SPP – IRT • gift on Jurnal Nutrition, Biology, Medicine n Health Free.alias Gratis.tis.

• helmi on TATA CARA PENDAFTARAN MAKANAN DAN MINUMAN DI BADAN POM REPUBLIK INDONESIA • henny on TATA CARA PENDAFTARAN MAKANAN DAN MINUMAN DI BADAN POM REPUBLIK INDONESIA • Andy on TATA CARA PENDAFTARAN MAKANAN DAN MINUMAN DI BADAN POM REPUBLIK INDONESIA • Pages • About • Archives • May 2012 • March 2012 • June 2011 • March 2011 • October 2010 • April 2010 • February 2010 • January 2010 • December 2009 • October 2009 • September 2009 • Blogroll • Netsains • Nur Hidayat • Nutrition and Food Web Archive • Terminal Curhat • WordPress.org • Meta • Register • Log in • Entries RSS • Comments RSS • WordPress.org
No Comments on Obat Herbal vs Suplemen Kesehatan, Apa Bedanya ??

Salah satu hal terpenting dalam hidup ini adalah kesehatan, baik kesehatan jasmani maupun rohani. Terlebih dalam kondisi pandemic virus corona ini kita harus menjaga tubuh kita agar tetap sehat, salah satunya dengan mengkonsumsi obat herbal maupun suplemen kesehatan.

Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia masih menyamakan antara obat herbal dan suplemen kesehatan, padahal dengan jelas Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan registrasi mengenai perbedaan antara obat herbal dengan suplemen kesehatan. Perbedaan obat herbal dan suplemen kesehatan dapat ditinjau dari pengertian, jenis produk, dan nomor registrasi. Berdasarkan UU No. 36 Tahun 2009, obat tradisional merupakan bahan atau ramuan bahan yang terbuat dari tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, serta dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Sedangkan suplemen kesehatan menurut BPOM No.30 Tahun 2017, merupakan produk yang dimaksudkan untuk melengkapi kebutuhan gizi, melengkapi, meningkatkan, dan/atau memperbaiki fungsi kesehatan, mempunyai nilai gizi dan/atau efek fisiologis, mengandung satu atau lebih bahan berupa vitamin, mineral, asam amino, dan/atau bahan lain bukan tumbuhan yang dapat dikombinasi dengan tumbuhan. Berdasarkan jenis produknya, obat herbal dibagi menjadi tiga, yaitu Jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan Fitofarmaka.

perbedaan mendasar antara makanan fungsional dan suplemen atau obat adalah

Jamu merupakan sediaan obat bahan alam, status keamanan dan khasiatnya dibuktikan secara empiris. Berbeda dengan jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT) adalah sediaan bahan yang telah distandardisasi bahan baku yang digunakan dalam produk jadi, harus memenuhi persyaratan aman dan mutu sesuai dengan persyaratan yang berlaku serta klaim khasiat dibuktikan secara ilmiah/praklinik.

Sedankan Fitofarmaka merupakan sediaan obat bahan alam yang telah distandardisasi, status keamanan dan khasiatnya telah dibuktikan secara ilmiah melalui uji klinik. Nomor registrasi untuk obat herbal dan suplemen kesehatan juga berbeda.

Pada obat herbal, nomor registrasinya adalah POM TR (Jamu), POM HT (Obat Herbal Terstandar), POM FF (Fitofarmaka), serta POM TI (jamu import). Sedangkan pada suplemen kesehatan adalah POM SD (Lokal) dan POM SI (Import). Pengecekan nomor registrasi atau NIE (Nomor Izin Perbedaan mendasar antara makanan fungsional dan suplemen atau obat adalah dapat dilakukan dengan membuka situs cek produk bpom ( https://cekbpom.pom.go.id/) maupun dengan aplikasi Cek BPOM berbasis android.

(Salma Auliya Fatimah) Sumber: Permenkes, 2016. Formularium Obat Herbal Asli Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia 2005.

Peraturan Kepala Badan POM No. HK.00.05.41.1381 tahun 2005 tentang Tata Laksana Pendaftaran Suplemen Makanan Recent Posts • FIK UNIDA GONTOR MENJALIN KERJASAMA DENGAN FF UAD March 17, 2022 • Audit Mutu Internal untuk Meningkatkan Kualitas Pengajaran dan Administrasi di Program Studi Farmasi UNIDA Gontor February 24, 2022 • Pengabdian Masyarakat Program Studi Farmasi Universitas Darussalam Gontor Kampus Putri Di Puskesmas Sambungmacan 1 February 8, 2022 • Tablet Tambah Darah (TTD) Solusi Anemia Pada Ibu Hamil February 3, 2022 • ANEPH Ke-6 Tahun 2022 Universitas Darussalam Gontor Kampus Putri Sambirejo- Mantingan- Ngawi- Jawa Timur- Indonesia January 31, 2022 MENU • Home • SMP • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • IPS • IPA • SMA • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • IPA • Biologi • Fisika • Kimia • IPS • Ekonomi • Sejarah • Geografi • Sosiologi • SMK • S1 • PSIT • PPB • PTI • E-Bisnis • UKPL • Basis Data • Manajemen • Riset Operasi • Sistem Operasi • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • Agama • Bahasa Indonesia • Matematika • S2 • Umum • (About Me) Pos-pos Terbaru • Rangkuman Materi Jamur ( Fungi ) Beserta Penjelasannya • Pengertian Saraf Parasimpatik – Fungsi, Simpatik, Perbedaan, Persamaan, Jalur, Cara Kerja, Contoh • Higgs domino apk versi 1.80 Terbaru 2022 • Pengertian Gizi – Sejarah, Perkembangan, Pengelompokan, Makro, Mikro, Ruang Lingkup, Cabang Ilmu, Para Ahli • Proses Pembentukan Urine – Faktor, Filtrasi, Reabsorbsi, Augmentasi, Nefron, zat Sisa • Peranan Tumbuhan – Pengertian, Manfaat, Obat, Membersihkan, Melindungi, Bahan Baku, Pemanasan Global • Diksi ( Pilihan Kata ) Pengertian Dan ( Fungsi – Syarat – Contoh ) • Penjelasan Sistem Ekskresi Pada Manusia Secara Lengkap • Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan • Penjelasan Proses Pernapasan Pada Manusia Lengkap • Contoh Soal Psikotes • Contoh CV Lamaran Kerja • Rukun Shalat • Kunci Jawaban Brain Out • Teks Eksplanasi • Teks Eksposisi • Teks Deskripsi • Teks Prosedur • Contoh Gurindam • Contoh Kata Pengantar • Contoh Teks Negosiasi • Alat Musik Ritmis • Tabel Periodik • Niat Mandi Wajib • Teks Laporan Hasil Observasi • Contoh Makalah • Alight Motion Pro • Alat Musik Melodis • 21 Contoh Paragraf Deduktif, Induktif, Campuran • 69 Contoh Teks Anekdot • Proposal • Gb WhatsApp • Contoh Daftar Riwayat Hidup • Naskah Drama • Memphisthemusical.Com
Konsep gizi tentang pangan telah berubah secara nyata dari yang menekankan tentang pemuasan rasa lapar dan pencegahan timbulnya pengaruh yang merugikan bagi tubuh, menjadi konsep yang menekankan tentang bagaimana hidup sehat dan mencegah timbulnya penyakit.

Dewasa ini konsumen cenderung mengkonsumsi pangan tidak hanya enak melainkan juga mempertimbangkan aspek nilai gizi dan pengaruh pangan tersebut terhadap kesehatan tubuh. Dengan demikian, pangan tidak hanya enak tetapi juga harus memiliki kandungan gizi lengkap dan bersifat fungsional. Suatu pangan dapat dikatakan fungsional apabila mengandung komponen yang dapat mempengaruhi satu atau sejumlah terbatas fungsi dalam tubuh tetapi juga bersifat positif sehingga dapat memenuhi kriteria fungsional atau menyehatkan (Muchtadi, 2004).

Pangan funsional adalah produk pangan yang selain memiliki fungsi dasarnya sebagai pangan juga mempunyai nilai tambah diluar fungsi dasarnya (fungsi nutrisi). Nilai tambah dari bahan pangan funngsional berhubungan dengan kesehatan dan funngsi organ tubuh, menurunkan resiko timbulnya penyakit dan mencegah timbulnya penyakit (Kusumawati, 2009).

Istilah pangan fungsional ( functional foods) merupakan nama yang paling tepat dan dapat diterima oleh semua pihak untuk segolongan pangan (makanan dan minuman) yang mengandung bahan yang telah terbukti dapat meningkatkan status kesehatan dan mencegah timbulnya penyakit tertentu. Untuk konsumen istilah health food mungkin lebih menarik dan lebih berarti, namun hal ini tidak dapat digunakan karena pada prinsipnya semua bahan pangan akan menyehatkan tubuh apabila dikonsumsi dengan baik dan benar.

Sampai dengan tahun 1995, diantara negara-negara di dunia, baru Jepang yang telah mempersiapkan peraturan tentang makanan fungsional. Peraturan baru yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Jepang telah diberlakukan sejak tanggal 1 Juni 1993 (Arai, 1997 dalam Astuti, 2007) untuk makanan fungsional dikatagorikan sebagai FOSHU. Untuk mendapat lisensi FOSHU, permintaan yang diajukan akan dievaluasi oleh tim ahli yang dibentuk oleh Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan dan harus mengikuti kriteria-kriteria yang telah ditetapkan.

Peraturan tersebut dipersiapkan terutama untuk melindungi konsumen dan agar para produsen tidak sembarang memberikan pernyataan dalam label tentang kehebatan produknya terutama yang terkat dengan kesehatan (Astuti, 2007).

perbedaan mendasar antara makanan fungsional dan suplemen atau obat adalah

Dalam peraturan pelabelan pangan di Jepang, dikelompokkan untuk (1) Special Nutritive Foods, termasuk makanan yang difortifikasi, (2) Food for Special Dietary Uses, termasuk Food for the Sick seperti makanan untuk penderita diabetes, dan (3) FOSHU untuk makanan fungsional (Kojima, 1995 dalam Astuti, 2007).

Dalam peraturan yang dikeluarkan, disebutkan yang dinaksud dengan FOSHU adalah suatu makanan yang mengandung komponen yang diharapkan memberikan manfaat kesehatan tertentu. Klaim kesehatan tersebut telah diijinkan untuk dipasang dalam label yang dapat menyatakan bahwa seseorang yang mengkonsumsi makanan tersebut akan memperoleh manfaat kesehatan yang dimaksudkan (Astuti, 2007).

Di Cina, masyarakatnya lebih mengenal istilah makanan kesehatan dibandingkan dengan makanan fungsional. Makanan kesehatan di Cina dikatagorikan menjadi 3 yaitu (1) Fortified foods; (2) Special Nutrition Foods dan (3) Foods for Special Health Use. Definisi makanan kesehatan tersebut belum ditetapkan, demikian pula peraturan yang khusus mengatur makanan kesehatan belum ditentukan. Meskipun demikian, dari beberapa aspek yang terkait dengan makanan kesehatan diatur dalam Provisional Laz on Food Hygiene (FHL) yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Cina (Astuti, 2007).

Bagi negara ASEAN, istilah makanan fungsional relatif masih baru meskipun masyarakatnya juga mengenal makanan yang dipercaya dapat menjaga kesehatan. Malaysia, Indonesia dan Thailand belum mempunyai peraturan tentang makanan fungsional. Di Indonesia makanan fungsional dikatagorikan sebagai makanan suplemen (Astuti, 2007). Suplemen adalah produk yang dimaksudkan untuk melengkapi kebutuhan zat gizi makanan, mengandung satu atau lebih bahan berupa vitamin, mineral, asam amino atau bahan lain (berasal dari tumbuhan atau bukan tumbuhan) yang mempunyai nilai gizi dan atau efek fisiologis dalam jumlah terkonsentrasi.

Suplemen makanan harus diproduksi dengan menggunakan bahna yang memenuhi standar mutu sesuai dengan Farmakope Indonesia, Meteria Medika Indonesia atau standar lain yang diakui (BPOM RI, 2005). Komponen suplemen makanan menyebutkan susunan kualitatif dan kuantitatif bahan utama, sedangkan dalam Peraturan Perundang-undangan Dibidang Suplemen Makanan dari BPOM RI (2005) tercantum daftar batas maksimum per hari untuk penggunaan vitamin, mineral, asam amino dan bahan lain serta bahan (tumbuhan, hewan, mineral) yang dilarang dalam suplemen makanan.

Yetley, E. 1995. Regulatory and Legal Policies : U.S. Food and Drug Perspective. A paper presented in the First International Conference on : East-West Perspective on Functional Foods.

Singapore, September 26-27 dalam Astuti, Mary. 2005. Makanan Fungsional, Konsep dan Peraturan. Agritech Vol. 17 No 4 halaman 29-32
Kesehatan adalah salah satu hal paling penting dalam hidup ini. Dengan jiwa dan raga yang sehat, manusia menjadi produktif, baik secara sosial maupun ekonomi.

perbedaan mendasar antara makanan fungsional dan suplemen atau obat adalah

Geng Sehat pasti sepakat jika berbicara tentang kesehatan, mencegah akan selalu lebih baik daripada mengobati. Dibandingkan harus masuk rumah sakit, lebih baik melakukan kegiatan yang dapat menjaga dan meningkatkan kesehatan. Misalnya berolahraga secara teratur dan mengonsumsi makanan yang sarat gizi.

perbedaan mendasar antara makanan fungsional dan suplemen atau obat adalah

Dewasa ini, salah satu cara untuk menjaga kesehatan adalah dengan mengonsumsi berbagai jenis suplemen. Berbicara mengenai suplemen, sebagai apoteker saya sering berjumpa dengan pasien yang menganggap bahwa suplemen itu sama dengan obat. Padahal, suplemen dan obat itu berbeda, lho! Suplemen tidak bertujuan untuk mencegah atau mengobati penyakit Nah, ini adalah hal paling fundamental yang membedakan antara suplemen dengan obat.

Obat adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan untuk memengaruhi sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan, dan kontrasepsi. Sementara itu, suplemen adalah produk yang dimaksudkan untuk melengkapi kebutuhan zat gizi makanan, mengandung satu atau lebih bahan berupa vitamin, mineral, asam amino, atau bahan lain, yang mempunyai nilai gizi dan atau efek fisiologis dalam jumlah terkonsentrasi.

Dari definisi tersebut, maka dapat dilihat bahwa suplemen tidaklah bertujuan untuk mencegah atau mengobati suatu penyakit! Selain itu, suplemen juga tidak berfungsi untuk menggantikan nutrisi yang didapat di dalam makanan, karena sifatnya hanyalah pelengkap.

Baca juga: Mums, Ini Pentingnya Suplemen Zat Besi bagi Balita! Oleh karena itu, jika Kamu menemukan adanya suplemen yang mengklaim dapat mencegah atau mengobati suatu penyakit tertentu, Kamu wajib waspada. Jangan-jangan suplemen tersebut tidak terdaftar secara resmi di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Registrasi suplemen berbeda dengan obat Suplemen kerap hadir dalam bentuk sediaan tablet, kapsul, atau sirup, sama seperti obat. Lalu, bagaimana cara membedakan suatu tablet adalah obat ataukah suplemen? Cara paling mudah adalah dengan memperhatikan nomor registrasi Badan POM yang tertera pada kemasannya. Untuk obat, nomor registrasinya terdiri dari 15 karakter. Karakter pertama adalah D untuk obat dengan nama dagang atau G untuk obat dengan nama generik. Sedangkan karakter kedua adalah K untuk obat keras, T untuk obat bebas terbatas, dan B untuk obat bebas.

Dan karakter ketiga adalah L untuk obat buatan dalam negeri dan I untuk obat impor.

perbedaan mendasar antara makanan fungsional dan suplemen atau obat adalah

Sebagai contoh, akan tertera nomor registrasi DKL1234567891A1. Nah, untuk suplemen, nomor registrasinya adalah POM SD123456789 untuk suplemen makanan produksi dalam negeri, POM SI123456789 untuk suplemen makanan impor, dan POM SL123456789 untuk suplemen makanan dengan lisensi.

Suplemen dilarang mengandung bahan yang tergolong obat Dalam peraturan tentang suplemen yang beredar di Indonesia, Badan POM menyatakan bahwa sebuah suplemen dilarang mengandung bahan yang tergolong obat, narkotika, atau psikotropika.

Jadi, Kamu tidak mungkin menjumpai suplemen berisi vitamin dan mineral, sekaligus obat untuk flu. Badan POM juga memberi batasan jumlah yang diperbolehkan untuk beberapa zat dalam suplemen.

Misalnya, batas maksimal vitamin C dalam suplemen adalah 1.000 mg per hari. Sedangkan untuk asam folat adalah 800 mikrogram per hari. Baca juga: Vitamin Ini Tidak Boleh Terlalu Banyak Dikonsumsi! Namun, asam folat dalam suplemen untuk ibu hamil diizinkan memiliki batas maksimal 1.000 mikrogram per hari. Selain itu, ada beberapa tumbuhan, hewan, dan mineral yang dilarang berada di dalam suplemen, misalnya mineral arsen dan fluor.

Poin penting dalam memilih suplemen yang baik Nah, sekarang setelah Kamu mengetahui perbedaan antara suplemen dan obat, Kamu juga harus tahu bagaimana caranya memilih suplemen yang baik.

perbedaan mendasar antara makanan fungsional dan suplemen atau obat adalah

Pertama, pastikan bahwa suplemen yang Kamu pilih memiliki nomor izin edar Badan POM sesuai dengan ketentuan yang telah disebutkan. Kedua, perhatikan tanggal kedaluwarsanya. Ingat, mengonsumsi sesuatu yang kedaluwarsa berisiko membahayakan tubuh.

perbedaan mendasar antara makanan fungsional dan suplemen atau obat adalah

Ketiga, pilihlah suplemen sesuai dengan kebutuhanmu. Sebaiknya, Kamu membaca secara saksama kandungan suplemen yang tertera pada brosur atau label kemasan. Suplemen memang dapat diperoleh tanpa resep dokter, tetapi jika Kamu menggunakan suatu suplemen secara terus-menerus dalam jangka waktu lama, sebaiknya konsultasikan kepada dokter. Setelah mantap memilih suplemen yang akan dikonsumsi, baca aturan pakai dan kondisi penyimpanan secara saksama.

Mengonsumsi suplemen di luar dosis yang dianjurkan justru dapat membahayakan, lho! Kondisi penyimpanan juga wajib Kamu perhatikan. Sebagian besar suplemen memang dapat disimpan di suhu ruangan biasa, asalkan sejuk dan terlindung dari cahaya. Baca juga: Amankah Mengonsumsi Multivitamin Setiap Hari? Namun sebagian suplemen, contohnya probiotik untuk kesehatan saluran pencernaan, memerlukan penyimpanan di suhu dingin alias di kulkas. Jangan sampai salah menyimpan ya, karena dapat menyebabkan kerusakan pada suplemen makananmu.

Gengs, itu dia hal-hal yang harus Kamu ketahui tentang suplemen. Suplemen bukanlah obat, karena tidak memiliki kemampuan untuk mencegah atau mengobati penyakit tertentu.

Suplemen juga tidak boleh mengandung bahan obat tertentu di dalam komposisinya. Suplemen sendiri ditujukan untuk melengkapi kebutuhan zat gizi makanan, tetapi tidak dapat menggantikan kandungan gizi yang ada di dalam makanan! Salam sehat!Pemenuhan nutrisi tubuh dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan dan suplemen. Namun, keduanya memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh dengan cara yang berbeda.

Makanan memenuhi kebutuhan nutrisi bersama dengan berbagai komponen lainnya, sedangkan suplemen menyajikan nutrisi spesifik bergantung dengan jenis suplemen. Dari segi nutrisi, perbedaan mendasar antara makanan dan suplemen adalah komposisi nutrisi yang terdapat dalam keduanya. Yang termasuk komposisi nutrisi adalah vitamin, mineral, bahan herbal, asam amino, dan komponen lainnya yang ditemukan dalam konsumsi pada umumnya seperti enzim.

Suplemen adalah suatu produk yang dikonsumsi lewat mulut yang memiliki satu atau lebih komposisi nutrisi. Namun, suplemen bukanlah untuk mengganti makanan atau bahan makanan.

Pada makanan kemasan terdapat label informasi nilai gizi, sedang suplemen memiliki label informasi komposisi suplemen. Plus minus suplemen vs makanan dalam memenuhi kebutuhan perbedaan mendasar antara makanan fungsional dan suplemen atau obat adalah Karena keduanya memiliki cara yang berbeda dalam memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Makanan Plus – Kandungan nutrisi makanan memiliki kombinasi yang lebih banyak dan memiliki fungsi yang lebih baik dibandingkan dengan suplemen.

Hal ini disebabkan karena makanan utuh mengandung berbagai campuran nutrisi, disertai dengan substansi lainnya yang membantu dalam menjaga kesehatan, seperti serat, antioksidan, dan zat kimia tumbuhan ( phytochemicals). Kandungan nutrisi yang diperoleh dari makanan utuh tidak hanya berfungsi dalam pertumbuhan, memperbaiki sel yang rusak, menyediakan energi, dan imunitas, tetapi juga berfungsi sebagai komponen yang mengurangi risiko penyakit.

Terlebih beberapa nutrisi seperti kalsium pada makanan utuh lebih mudah diserap tubuh dibandingkan yang bersumber dari suplemen. Minus – Kandungan nutrisi seimbang dari bermacam sumber pada makanan utuh tidak selalu dapat memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh.

Dalam beberapa kondisi tertentu, tubuh kita membutuhkan jumlah nutrisi spesifik yang lebih dari yang lainnya. Misalnya saat menjalani kehamilan atau mengalami perdarahan berlebih saat menstruasi, tubuh memerlukan asupan zat besi yang lebih banyak dibandingkan asupan yang diperoleh hanya bersumber dari makanan. Makanan utuh juga belum tentu dapat memenuhi jumlah nutrisi dengan batas kecukupan minimal seperti pada wanita hamil yang memerlukan 400 mikrogram folat dan vitamin B untuk memenuhi kebutuhan perkembangan bayi.

Terlebih lagi jika seseorang sedang menjalani diet dan menghindari jenis makanan tertentu, maka makanan yang ia konsumsi kemungkinan memiliki kekurangan nutrisi yang penting tubuh. Suplemen Plus – Kelebihan utama dari suplemen berkaitan dengan memenuhi asupan nutrisi yang tidak dapat dipenuhi oleh makanan utuh.

Suplemen juga dapat membantu dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi spesifik yang diperlukan oleh seseorang dengan kondisi kesehatan tertentu. Misalnya, suplementasi protein untuk meningkatkan berat badan dan membantu pertumbuhan tinggi badan pada anak dengan pertumbuhan terlambat.

Minus – Konsumsi suplemen dapat berbahaya jika seseorang tidak memiliki kebutuhan akan nutrisi tertentu sehingga dapat menyebabkan pola asupan nutrisi berlebih yang dapat menyebabkan efek toksik bagi kesehatan. Misalnya kelebihan vitamin D dapat merusak ginjal atau konsumsi minyak ikan berlebih dapat memicu penyakit stroke disertai dengan perdarahan.

perbedaan mendasar antara makanan fungsional dan suplemen atau obat adalah

Beberapa suplemen memiliki efek samping setelah pemakaian, terlebih lagi apabila dikonsumsi pada seseorang dengan kondisi status kesehatan tertentu atau dikonsumsi bersamaan dengan obat tertentu.

Selain itu, banyak dari efek samping asupan nutrisi dari suplemen terhadap ibu hamil dan anak-anak yang belum diketahui. Maka jika seseorang memerlukan suplemen nutrisi tertentu dengan dosis tinggi sebaiknya dikonsumsi dibawah pengawasan tenaga kesehatan profesional.

Konsumsi makanan terlebih dahulu, lalu konsumsi suplemen jika diperlukan Meskipun suplemen dapat memenuhi kebutuhan nutrisi yang kurang, namun suplemen tidak dapat menggantikan manfaat dari konsumsi makanan utuh. Kebutuhan nutrisi akan lebih baik dipenuhi dengan mengonsumsi makanan utuh, karena dalam makanan utuh terdapat banyak serat dan zat kimia tumbuhan lainnya yang dapat bersinergi dengan nutrisi makanan, sehingga dapat meningkatkan kualitas kesehatan seseorang.

Yang perlu dipertimbangkan sebelum mengonsumsi suplemen Sebelum Anda memutuskan untuk mengonsumsi suplemen, sebaiknya Anda mempertimbangkan hal berikut: • Jika Anda ingin memenuhi kebutuhan nutrisi, pertimbangkan makanan bergizi terlebih dahulu. Ikutilah pedoman gizi seimbang untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh Anda. • Perhatikan kelompok nutrisi apa yang mungkin Anda lewatkan dan pahami bagaimana cara pemenuhannya.

• Konsumsi multivitamin masih lebih baik dibandingkan konsumsi suplemen nutrisi spesifik. Pilihlah multivitamin yang memenuhi kebutuhan nutrisi harian. • Jika Anda merasa kebiasaan pola makan Anda tidak sehat atau tidak mencukupi nutrisi, konsumsi suplemen bukanlah jawabannya. Nutrisi tetap harus diperoleh dari makanan yang sehat. • Patuhilah aturan konsumsi suplemen, terutama batas asupan maksimal. Konsumsi nutrisi yang melebihi kebutuhan akan menyebabkan gejala keracunan dengan mudah.

BACA JUGA: Annigan, J., n.d. Nutrients From Food vs. Supplements. [Online] Available at: http://healthyeating.sfgate.com/nutrients-food-vs-supplements-6331.html [Accessed May 2016]. FDA, 2015. What is the difference between a dietary supplement and a conventional food? [Online] Available at: http://www.fda.gov/AboutFDA/Transparency/Basics/ucm194357.htm [Accessed May 2016]. NIH, 2013. Should You Take Dietary Supplements? [Online] Available at: https://newsinhealth.nih.gov/issue/aug2013/feature1 [Accessed May 2016].

Zelman, K., n.d. What Vitamin and Mineral Supplements Can and Can’t Do. [Online] Available at: http://www.webmd.com/vitamins-and-supplements/nutrition-vitamins-11/help-vitamin-supplement?page=2 [Accessed May 2016].

Makanan fungsional ‘D-O Carrot Cake’ - PKWU/SMAN Plus 17 Palembang




2022 www.videocon.com