Kata drama pada mulanya berasal dari bahasa

kata drama pada mulanya berasal dari bahasa

Jenis-Jenis Drama Berdasarkan Wujud Pementasannya – Siapa yang tak mengenal drama? Salah satu seni ini sudah menjadi tontonan sejak zaman dahulu. Bahkan ada bukti tertulis bahwa pada abad ke-5 SM sudah ada pementasan drama. Drama sering juga disebut sebagai seni teater. Drama juga dapat diartikan sebagai sebuah pementasan dari sebuah cerita yang diperagakan oleh beberapa tokoh di atas panggung berdasarkan atas suatu naskah dan memuat amanat bagi para penikmatnya.

Terdapat beberapa jenis-jenis drama yang dikenal dalam seni drama. Pada kesempatan kali ini akan dipaparkan penjelasan mengenai jenis-jenis drama berdasarkan wujud pementasannya. Selamat menyimak. • Tema, merupakan ide pokok dalam cerita yang akan dipentaskan melalui drama • Alur, merupakan jalan cerita drama mulai dari awal mula, klimaks, hingga ke bagian akhir • Tokoh drama, terdiri atas tokoh utama dan tokoh pembantu/figuran • Watak, merupakan perilaku atau sifat dari para pemain.

Watak dibagi menjadi dua yaitu watak protagonis (berwatak baik) dan watak antagonis (berwatak jahat) • Latar atau setting, merupakan gambaran tempat, waktu, dan situasi dalam cerita drama • Amanat, merupakan pesan yang ingin disampaikan melalui cerita drama. Jenis-Jenis Drama 1. Tragedi Jenis drama berdasarkan wujud pementasannya yang pertama adalah tragedi.

Tragedi biasanya memuat cerita yang menyedihkan. Kisah menyedihkan dalam sebuah drama tragedi biasanya diceritakan terjadi pada tokoh dengan watak baik namun memiliki nasib yang buruk. Drama tragedi aslinya berasal dari Yunani Kuno dengan penulisnya yang terkenal yaitu Aiskhilos, Sofokles, dan juga Euripides. Contoh drama tragedi yang terkenal yaitu cerita tentang Romeo and Juliet. 2. Komedi Berbeda dengan drama tragedi yang berisi cerita menyedihkan, drama komedi berisi cerita yang mengandung kelucuan.

Terdapat beberapa jenis drama komedi, yaitu: • Komedi situasi, merupakan drama komedi yang terinspirasi dari situasi yang direncanakan. Contohnya Bajaj bajuri. • Komedi slapstic, merupakan drama komedi yang ditimbulkan dari korban kejahilan. Contohnya Warkop. • Komedi Satire, merupakan drama komedi yang mengandung sindiran dan hikmah di dalamnya.

Contohnya Mrs. Doubtfire. 3. Tragekomedi Jenis drama yang ketiga adalag gabungan antara drama tragedi dan drama komedi. Drama tragekomedi ini memadukan ciri khas drama tragedi dan drama komedi. Jenis drama ini sebenarnya ingin mengungkapkan sebuah peristiwa yang menyedihkan, akan tetapi ditampilkan dalam gaya yang lucu.

Jenis drama ini sudah muncul sejak zaman Romawi Kuno. Biasanya drama tragekomedi berakhir dengan kebahagiaan walaupun di awalnya terjadi banyak bencana atau kesusahan. 4.

Opera Opera merupakan drama dengan menggabungkan pentasan musik di dalamnya. dalam opera juga biasanya menyajikan pemandangan, pakaian, dan akting. Ciri khas pementasan opera adalah kata-kata dalam naskah tidak diucapkan melainkan dinyanyikan dengan suara tinggi. Opera adalah seni teater asli Italia, dan sebenarnya lebih contdong ke arah seni musik. Berdasarkan temanya, opera dibedakan menjadi opera seria, opera buffa, dan opera comic.

Opera seria adalah opera yang serius dan populer di Eropa sekitar tahun 1720 – 1770, opera buffa adalah opera yang berisi cerita komedi, dan opera comic adalah opera dengan cerita dramatis yang berakhir bahagia. 5. Melodrama Melodrama tidak jauh berbeda dengan opera. Dalam melodrama, percakapan terjadi dengan iringan musik atau melodi.

Ciri khas dari melodrama adalah ceritanya yang sangat dramatis namun berakhir bahagia. Situasi yang ditampilkan dalam melodrama sangat sensasional dan alur ceritanya pun dirancang untuk mempermainkan perasaan pemirsa. Tokoh yang ditekankan dalam melodrama biasanya berwatak tunggal. Tokoh yang berwatak jahat digambarkan sebagai orang yang selalu berbuat kejahatan, sedangkan tokoh baik digambarkan sebagai orang yang sempurna tanpa kesalahan.

Salah satu melodrama terkenal adalah Pygmalion karya Rousseau. 6. Farce Farce dikenal juga dengan nama banyolan. Seni peran ini bertemakan lawakan yang menyindir.

Akan tetapi masih ada unsur dramatis di dalamnya. Cerita yang disajikan dalam drama farce pun cukup ringan. Istilah farce untuk jenis drama ini pertama kali digunakan pada abad ke-14 yang berasal dari kata “farsir” (bahasa Prancis) dan kata “farcire” (bahasa Latin). 7. Tablo Drama tablo adalah drama yang mengutamakan gerak dalam pementasannya.

Dialog drama dipentaskan melalui gerakan tanpa percakapan. Tablo dikenal juga dengan istilah “tableau vivant” (dalam bahasa Prancis) yang berarti gambar hidup. Istilah ini sesuai dengan pementasannya dimana aktor berperan dengan melakukan pose tertentu. Adegan dalam tablo pada mulanya dipakai untuk memerankan adegan oleh para model lukis. Para pelukis atau pematung membuat karya seni mereka sesuai dengan pose para modelnya yang dituntut untuk lebih ekspresif. Drama tablo sendiri identik dengan peringatan Natal.

Selama Natal, biasanya akan dipentaskan drama tablo yang menceritakan kisah kelahiran Yesus. 8. Sendratari Jenis drama berdasarkan wujud pementasan yang selanjutnya adalah sendratari.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, sendratari berarti drama atau cerita yang disajikan dalam bentuk tarian tanpa adanya dialog dan diiringi oleh musik berupa gamelan. Sendratari merupakan gabungan antara seni tari dan seni drama. Walaupun dialog disajikan dalam bentuk tarian, akan tetapi biasanya tetap diselipkan narasi pendek untuk mencegah kebingungan para penonton. Para pemain sendratari bukan hanya mereka yang jago bermain peran, akan kata drama pada mulanya berasal dari bahasa berbakat dalam hal menari.

Salah satu contoh sendratari yang terkenal yaitu sendratari Ramayana. Sendratari Ramayana adalah sebuah drama atau pertunjukan yang mengangkat cerita/kisah Ramayana. Kisah Ramayana menceritakan perjuangan Rama dalam menyelamatkan Sinta yang diculik oleh Rahwana.

Pementasan sendratari Ramayana rutin dilakukan di panggung terbuka Candi Prambanan, Yogyakarta. Berbeda dengan pementasan sendratari di Yogyakarta, sendratari di Bali biasanya menggelar pertunjukan yang bersifat kolosal. Cerita yang diangkat dalam pertunjukan sendratari di Bali biasanya merupakan sejarah para raja, budaya, atau cerita rakyat yang terkenal di Bali.

• perbedaan puisi dan sajak • jenis jenis sajak • kalimat nomina dan kalimat verba • contoh kalimat imperatif • kalimat imperatif deklaratif dan interogatif • ciri ciri kalimat pasif • penggunaan tanda titik • penggunaan tanda kurung dan tanda kurung siku • macam macam imbuhan konfiks • jenis jenis imbuhan • majas simile • majas paradoks • tata cara penulisan gelar • paragraf argumentasi • tata cara penulisan catatan kaki • paragraf narasi Sekian pembahasan mengenai jenis-jenis drama berdasarkan wujud pementasannya.

Semoga artikel kali ini dapat dapat menambah wawasan Anda mengenai drama. Terima kasih. PENGERTIAN Drama berasal dari bahasa Yunani draomai, yang berarti ‘berbuat’‘bertindak’, atau ‘beraksi’. Drama merupakan tiruan kehidupan yang manusia yang diproyeksikan di atas pentas. Drama disebut juga sandiwara. Kata ini berasal dari bahasa Jawa, yaitu ‘sandi’ yang berarti ‘tersembunyi’ dan ‘warah’ yang berarti ‘ajaran’. Dengan demikian, sandiwara berarti ajaran yang tersembunyi dalam tingkah laku kata drama pada mulanya berasal dari bahasa percakapan.

Drama dalam arti luas adalah suatu bentuk kesenian yang mempertunjukkan sifat atau budi pekerti manusia dengan gerak dan percakapan di atas pentas atau panggung. Drama merupakan bentuk seni yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan menyampaikan pertikaian dan emosi melalui lakuan dan dialog.

Dengan melihat drama, penonton seolah-olah melihat kehidupan dan kejadian dalam masyarakat. Hal ini karena drama merupakan potret kehidupan manusia. Drama mencakup 2 bidang seni, yaitu seni sastra (untuk naskah drama) dan seni peran/pentas (pementasan). Sebuah naskah drama akan menjadi lengkap/ utuh ketika dipentaskan. UNSUR-UNSUR DRAMA Drama memiliki unsur-unsur sebagai berikut.

1. tokoh dan penokohan Tokoh memiliki posisi yang sangat penting karena bertugas mengaktualisasikan cerita/ naskah drama di atas pentas. Dalam cerita drama tokoh merupakan unsur yang paling aktif yang menjadi penggerak cerita.oleh karena itu seorang tokoh haruslah memiliki karakter, agar dapat berfungsi sebagai penggerak cerita yang baik. Di samping itu dalam naskah akan ditentukan dimensi-dimensi sang tokoh.

Biasanya ada 3 dimensi yang ditentukan yaitu: Dimensi fisiologi (ciri-ciri badani) antara lain usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, cirri-ciri muka,dll. Dimensi sosiologi (latar belakang) kemasyarakatan misalnya status sosial, pendidikan, pekerjaan, peranan dalam masyarakat, kehidupan pribadi, pandangan hidup, agama, hobby, dan sebagainya. Dimensi psikologis (latar belakang kejiwaan) misalnya temperamen, mentalitas, sifat, sikap dan kelakuan, tingkat kecerdasan, keahlian dalam bidang tertentu, kecakapan, dan lain sebagainya.

Apabila kita mengabaikan salah satu saja dari ketiga dimensi diatas, maka tokoh yang akan kita perankan akan menjadi tokoh yang kaku, timpang, bahkan cenderung menjadi tokoh yang mati. Berdasarkan perannya, tokoh terbagai atas tokoh utama dan tokoh pembantu. Tokoh utama adalah tokoh yang menjadi sentral cerita dalam pementasan drama sedangkan tokoh pembantu adalah tokoh yang dilibatkan atau dimunculkan untuk mendukung jalan cerita dan memiliki kata drama pada mulanya berasal dari bahasa dengan tokoh utama.

kata drama pada mulanya berasal dari bahasa

Dari perkembangan sifat/perwatakannya, tokoh dan perannya dalam pementasan drama terdiri 4 jenis, yaitu tokoh berkembang, tokoh pembantu, tokoh statis dan tokoh serba bisa.

Tokoh berkembang adalah tokoh yang mengalami perkembangan selama pertunjukan. Misalnya, tokoh yang awalnya seorang yang baik, namun pada akhirnya menjadi seorang yang jahat.

Tokoh pembantu adalah tokoh yang diperbantukan untuk menjelaskan tokoh lain. Tokoh pembantu merupakan minor character yang berfungsi sebagai pembantu saja atau tokoh yang memerankan suatu bagian penting kata drama pada mulanya berasal dari bahasa drama, namun fungsi utamanya tetap sebagai tokoh pembantu.

Tokoh statis adalah tokoh yang tidak mengalami perubahan karakter dari awal hingga akhir dalam dalam suatu drama. Misalnya, seorang tokoh yang berkarakter jahat dari awal drama akan tetap bersifat jahat di akhir drama. Tokoh serba bisa adalah tokoh yang dapat berperan sebagai tokoh lain (all round). Misalnya, tokoh yang berperan sebagai seorang raja, namun ia juga berperan sebagai seorang pengemis untuk mengetahui kehidupan rakyatnya.

2. alur (plot) Alur adalah jalinan cerita. Secara garis besar, plot drama dapat dibagi menjadi beberapa bagian yaitu: Pemaparan (eksposisi) Bagian pertama dari suatu pementasan drama adalah pemaparan atau eksposisi.

Pada bagian ini diceritakan mengenai tempat, waktu dan segala situasi dari para pelakunya. Kepada penonton disajikan sketsa cerita sehingga penonton dapat meraba dari mana cerita ini dimulai. Jadi eksposisi berfungsi sebagai pengantar cerita. Pada umumnya bagian ini disajikan dalam bentuk sinopsis. Komplikasi awal atau konflik awal Kalau pada bagian pertama tadi situasi cerita masih dalam keadaan seimbang maka pada bagian ini mulai timbul suatu perselisihan atau komplikasi.

Konflik merupakan kekuatan penggerak drama. Klimaks dan krisis Klimaks dibangun melewati krisis demi krisis. Krisis adalah puncak plot dalam adegan. Konflik adalah satu komplikasi yang bergerak dalam suatu klimaks. Peleraian Pada tahap ini mulai muncul peristiwa yang dapat memecahkan persoalan yang dihadapi. Penyelesaian (denouement) Drama terdiri dari sekian adegan yang di dalamnya terdapat krisis-krisis yang memunculkan beberapa klimaks.

Satu klimaks terbesar di bagian akhir selanjutnya diikuti adegan penyelesaian. Alur cerita akan hidup jika terdapat konflik.

Konflik merupakan unsur yang memungkinkan para tokoh saling berinteraksi. Konflik tidak selalu berupa pertengkaran, kericuhan, atau permusuhan di antara para tokoh. Ketegangan batin antartokoh, perbedaan pandangan, dan sikap antartokoh sudah merupakan konflik.

Konflik dapat membuat penonton tertarik untuk terus mengikuti atau menyaksikan pementasan drama. Bentuk konflik terdiri dari dua, yaitu konflik eksternal dan konflik internal. Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi antara seorang tokoh dengan lingkungan alamnya ( konflik fisik) atau dengan lingkungan manusia ( konflik sosial).

Konflik fisik disebabkan oleh perbenturan antara tokoh dengan lingkungan alam. Misalnya,seorang tokoh mengalami permasalahan ketika banjir melanda desanya. Konflik sosial disebabkan oleh hubungan atau masalah social antarmanusia.

Misalnya, konflik terjadi antara buruh dan pengusaha di suatu pabrik yang mengakibatkan demonstarasi buruh. Konflik Internal adalah konflik yang terjadi dalam diri atau jiwa tokoh. Konflik ini merupakan perbenturan atau permasalahan yang dialami seorang tokoh dengan dirinya sendiri, misalnya masalah cita-cita, keinginan yang terpendam, keputusan, kesepian, dan keyakinan. Kedua jenis konflik diatas dapat diwujudkan dengan bermacam peristiwa yang terjadi dalam suatu pementasan drama.

Konflik-konflik tersebut ada yang merupakan konflik utama dan konflik-konflik pendukung. Konflik Utama (bias konflik eksternal, konflik internal, atau kedua-duannya) merupakan sentral alur dari drama yang dipentaskan, sedangkan konflik-konflik pendukung berfungsi utnuk mempertegas keberadaan konflik utama. 3. dialog Dialog berisikan kata-kata.

Dalam drama para tokoh harus berbicara dan apa yang diutarakan mesti sesuai dengan perannya, dengan tingkat kecerdasannya, pendidikannya, dsb. Dialog berfungsi untuk mengemukakan persoalan, menjelaskan perihal tokoh, menggerakkan plot maju, dan membukakan fakta.

Jalan cerita drama diwujudkan melalui dialog (dan gerak) yang dilakukan pemain. Dialog-dialog kata drama pada mulanya berasal dari bahasa dilakukan harus mendukung karakter tokoh yang diperankan dan dapat menunjukkan alur lakon drama. Melalui dialog-dialog antarpemain inilah penonton dapat mengikuti cerita drama yang disaksikan. Bahkan bukan hanya itu, melalui dialog itu penonton dapat menangkap hal-hal yang tersirat di balik dialog para pemain.

Oleh karena itu, dialog harus benar-benar dijiwai oleh pemain sehingga sanggup menggambarkan suasana. Dialog juga harus berkembang mengikuti suasana konflik dalam tahap-tahap alur lakon drama. Dalam percakapan atau dialog haruslah memenuhi dua tuntutan • dialog harus menunjang gerak laku tokohnya.

Dialog haruslah dipergunakan untuk mencerminkan apa yang telah terjadi sebelum cerita itu, apa yang sedang terjadi di luar panggung selama cerita itu berlangsung; dan harus pula dapat mengungkapkan pikiran-pikiran serta perasaan-perasaan para tokoh yang turut berperan di atas pentas. • Dialog yang diucapkan di atas pentas lebih tajam dan tertib daripada ujaran sehari-hari. Tidak ada kata yang harus terbuang begitu saja; para tokoh harus berbicara jelas dan tepat sasaran.

Dialog itu disampaikan secara wajar dan alamiah. 4. latar latar atau setting adalah penempatan ruang dan waktu, serta suasana cerita. Penataan latar akan menghidupkan suasana. Penataan latar akan menghidupkan suasana, menguatkan karakter tokoh, serta menjadikan pementasan drama semakin menarik. Oleh karena itu, ketetapan pemilihan latar akan ikut menentukan kualitas pementasan drama secara keseluruhan.

5. tema Tema drama adalah gagasan atau ide pokok yang melandasi suatu lakon drama. Tema drama merujuk pada sesuatu yang menjadi pokok persoalan yang ingin diungkapkan oleh penulis naskah. Tema itu bersifat umum dan terkait dengan aspek-aspek kehidupan di sekitar kita. Tema Utama adalah tema secara keseluruhan yang menjadi landasan dari lakon drama, sedangkan tema tambahan merupakan tema-tema lain yang terdapat dalam drama yang mendukung tema utama.

Bagaimana menemukan tema dalam drama? Tema drama tidak disampaikan secara implisit. Setelah menyaksikan seluruh adegan dan dialog antarpelaku dalam pementasan drama, kamu akan dapat menemukan tema drama itu. Kamu harus menyimpulkannya dari keseluruhan adegan dan dialog yang ditampilkan.

Maksudnya tema yang ditemukan tidak berdasarkan pada bagian-bagian tertentu cerita. Walaupun tema dalam drama itu cendrung ”abstrak”, kita dapat menunjukkan tema dengan menunjukkan bukti atau alasan yang terdapat dalam cerita. Bukti-bukti itu dapat ditemukan dalam narasi pengarang, dialog antarpelaku, atau adegan atau rangkaian adegan yang saling terkait, yang semuannya didukung oleh unsur-unsur drama yang lain, seperti latar, alur, dan pusat pengisahan.

6. pesan/amanat Setiap karya sastra selalu disisipi pesan atau amanat oleh penulisnya. Dengan demikian pula dengan drama. Hanya saja, amanat dalam karya sastra tidak ditulis secara eksplisit, tetapi secara implisit.

Penonton menafsirkan pesan moral yang terkandung dalam naskah yang dibaca atau drama yang ditontonnya. 7. interpretasi kehidupan Maksudnya adalah pementasan drama itu seolah-olah terjadi dengan sesungguhnya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari meskipun hanya merupakan tiruan kehidupan.

Drama adalah bagian dari suatu kehidupan yang digambarkan dalam bentuk pentas Pementasan drama memilki unsur-unsur sebagai kata drama pada mulanya berasal dari bahasa. 1. cerita Cerita dalam drama seringkali mengusung masalah/persoalan kehidupan. Cerita dalam drama disusun dalam bentuk dialog, yang disebut naskah drama atau skenario. 2. pelaku Pelaku drama (pemain drama, aktor, atau aktris) adalah pembawa cerita. Merekalah yang membawakan/menyampaikan cerita kepada penonton.

Dalam menyampaikan cerita kepada penonton, pelaku memliki dua alat, yaitu dialog (ucapan) dan gerak (perbuatan) 3. sutradara Sutradara bertugas menerjemahkan dan mewujudkan isi cerita kepada penonton melalui ucapan dan perbuatan (akting) para pelaku di panggung. 4. panggung Panggung merupakan tempat pementasan atau tempat para pelaku mengekspresikan watak tokoh sesuai dengan isi cerita. 5. penonton Penonton merupakan penikmat drama. Penonton berfungsi untuk mendukung kelangsungan hidup drama.

• Tamu • 4.202.312 hits • Arsip Arsip • Kategori • kebahasaan (19) • kesastraan (22) • paragraf (8) • surat (1) • Uncategorized (8) • • Blogroll • WordPress Blog • referensi • bahasa kita • bekti patria • e-dukasi.net • Horison Online • Kompas • kumpulan cerpen kompas • menulis kreatif • pojok sastra • polisi EyD • Pusat Bahasa • wikipedia • tulisan terbaru • Teks Eksplanasi • Teks Prosedur • Materi Novel • Hikayat • Teks Eksposisi • Tag • aliterasi • alur • amanat • analogi • asonansi • bahasa indonesia • buku • campuran • cerita • citraan • deduksi • deduktif • definisi • deskripsi • deskriptif • diksi • diri • drama • editorial • eksposisi • ekspositoris • fiksi • gaya bahasa • generalisasi • ilustrasi • induksi • induktif • intrinsik • karangan • karya sastra • kata • kata ulang • kelas X SMA • klasifikasi • latar • majas • menulis • narasi • naratif • niaga • novel • objektif • orang lain • parafrase • parafrase bebas • parafrase terikat • paragraf • penalaran • penawaran • penokohan • perbandingan • perkenalan • permintaan • persajakan • prosa • proses • puisi • resensi • rima • rima akhir • rima datar • sastra indonesia • sebab akibat • silogisme • spasial • subjektif • sudut pandang • sugestif • surat • surat kabar • tajuk rencana • tema • ulang • unsur intrinsik • unsur puisi
INIRUMAHPINTAR - Jelaskan Pengertian, Ciri, Unsur, Struktur, Kaidah Kebahasaan Drama?

Kali ini saya akan berbagi materi tentang drama dan segala macam sistematika-sistematika yang terkandung di dalamnya. Materi ini termasuk materi dalam pelajaran bahasa Indonesia baik di tingkat SMP maupun di tingkat SMA K13. Silahkan dibaca dengan seksama dan semoga mudah dipahami. Pengertian (Definisi) Drama Teks drama adalah suatu teks yang menggambarkan kehidupan dan watak manusia melalui tingkah laku (akting) yang dipentaskan. Pengertian lain menyebutkan bahwa drama adalah karya seni berupa dialog yang dipentaskan.

Drama sering digolongkan dalam ranah kesusastraan karena menggunakan bahasa sebagai media penyampai pesan.

Drama dalam sebutan lain disebut sebagai teater atau seni pertunjukan. Dalam arti singkat, drama juga diartikan sebagai karya seni yang dipentaskan. Istilah drama sudah dikenal oleh masyarakat Indonesia sejak dahulu. Hal itu terbukti dengan istilah-istilah yang sudah biasa kita gunakan, yang pengertiannya hampir sama dengan pengertian drama.

Berikut istilah-istilah yang merujuk pada pengertian drama tradisional masyarakat. a. Sandiwara Istilah sandiwara diciptakan oleh Mangkunegara VII, berasal dari kata bahasa Jawa sandhi yang berarti "rahasia" dan warah yang berarti "pengajaran". Oleh Ki Hajar Dewantara, istilah sandiwara sebagai pengajaran yang dilakukan dengan perlambang, secara tidak langsung.

b. Lakon Istilah ini memiliki beberapa kemungkinan arti, yaitu (1) cerita yang dimainkan dalam drama, wayang, atau film (2) karangan yang berupa cerita sandiwara, dan (3) perbuatan, kejadian, peristiwa. c. Tonil Istilah tonil berasal dari bahasa Belanda "roned", yang artinya "pertunjukan". Istilah ini populer pada masa penjajahan Belanda. d. Sendratari Sendratari kepanjangan dan seni drama dan tail. Sendratari berarti pertunjukan serangkaian tari-tarian yang dilakukan oleh sekelompok orang penari dan kata drama pada mulanya berasal dari bahasa suatu cerita dengan tanpa menggunakan percakapan.

e. Tablo Tablo merupakan drama yang menampilkan kisah dengan sikap dan posisi pemain, dibantu oleh pencerita. Pemain-pemain tablo tidak berdialog.

Ciri Umum (Karakteristik) Drama Ciri umum drama adalah sebagai berikut. • Berupa cerita. • Berbentuk dialog. • Bertujuan untuk dipentaskan. Unsur-Unsur Drama Hampir serupa dengan jenis-jenis teks lainnya yang berbentuk cerita, drama juga terdiri dari unsur-unsur pembentuk seperti : alur,penokohan, latar, dan unsur-unsur lainnya. Berikut penjelasannya! a. Alur Alur adalah rangkaian peristiwa dan konflik yang menggerakkan jalan cerita.

Alur drama mencakup bagian-bagian 1) Pengenalan cerita; 2) konflik awal; 3) perkembangan konflik; dan 4) penyelesaian. b. Penokohan Penokohan merupakan cara pengarang di dalam menggambarkan karakter tokoh. Dalam pementasan drama, drama rnempunyai posisi yang penting. Tokohlah yang mengaktualisasikan naskah drama di atas pentas. Tokoh yang didukung oleh latar Peristiwa dan aspek-aspek lainnya akan menampilkan cerita dan pesan-pesan yang ingin disampaikan. Berdasarkan perannya, tokoh terbagi atas tokoh utama dan tokoh pembantu.

kata drama pada mulanya berasal dari bahasa Tokoh utama adalah tokoh yang menjadi sentral cerita dalam pementasan drama. • Tokoh pembantu adalah tokoh yang dilibatkan atau dimunculkan untuk mendukung jalan cerita dan memiliki kaitan dengan tokoh utamna. Tokoh utama setidaknya ditandai oleh empat hal, yaitu (1) paling sering muncul dalam setiap adegan; (2) menjadi sentral atau pusat perhatian tokoh-tokoh yang lain: (3) kejadian-kejadian yang melibatkan tokoh lain selalu dapat dihubungkan dengan peran tokoh utama; dan (4) dialog-dialog yang dilibatkan tokoh-tokoh lain selalu berkaitan dengan peran tokoh utama.

Dari segi perwatakannya, tokoh dan perannya dalam Pementasan drama terdiri empat macam, yaitu tokoh berkembang, tokoh pembantu, tokoh statis, dan tokoh serbabisa. 1) Tokoh berkembang adalah tokoh yang mengalami perkembangan nasib atau watak selama pertunjukan. Misalnva, tokoh yang awalnya seorang yang baik, pada akhirnya menjadi seorang yang jahat.

2) Tokoh pembantu adalah tokoh yang diperbantukan untuk menyertai, melayani, atau mendukung kehadiran tokoh utama. Tokoh pembantu memerankan suatu bagian penting dalam drama, tetapi fungsinya tetap sebagai tokoh pembantu.

3) Tokoh statis adalah tokoh yang tidak mengalami perubahan karakter dari awal hingga akhir dalam dalam suatu drama. Misalnya, seorang tokoh yang berkarakter jahat dari awal drama akan tetap bersifat jahat di akhir drama. 4) Tokoh serbabisa adalah tokoh yang dapat berperan sebagai tokoh lain.

Misalnya, tokoh yang berperan sebagai seorang raja, tetapi ia juga berperan sebagai seorang pengemis untuk mengetahui kehidupan rakyatnya. c. Dialog Dalam sebuah dialog itu sendiri, ada kata drama pada mulanya berasal dari bahasa elemen yang tidak boleh dilupakan. Ketiga elemen tersebut adalah tokoh, wawancang, dan kramagung. 1) Tokoh adalah pelaku yang mempunyai peran yang lebih dibandingkan pelaku-pelaku lain, sifatnya bisa protagonis atau antagonis.

2) wawancang adalah dialog atau Percakapan yang harus diucapkan oleh tokoh cerita, 3) Kramagurg adalah petunjuk perilaku, tindakan, atau perbuatan yang harus dilakukan oleh tokoh.

kata drama pada mulanya berasal dari bahasa

Dalam naskah drama, kramagung dituliskan dalam tanda kurung (biasanya dicetak miring). d. Latar Latar adalah keterangan mengenai ruang dan waktu. Penjelasan latar dalam drama dinyatakan dalarn petunjuk Pementasan. Bagian itu disebut dengan kramagung. Latar juga dapat dinyatakan melalui percakapan para tokohnya. Dalam Pementasannya, latar dapat dinyatakan dalam tata panggung ataupun tata cahaya. e. Bahasa Bahasa merupakan media komunikasi antartokoh. Bahasa juga bisa menggambarkan watak tokoh, latar, ataupun peristiwa yang sedang terjadi.

Apabila disajikan dalam bentuk pementasan, drama memiliki unsur lainnya, yakni sarana pementasan, seperti Panggung, kostum, Pencahayaan, dan tata suara.

Struktur Teks Drama Struktur drama yang berbentuk alur pada umumnya tersusun sebagai berikut. a. Prolog Prolog merupakan pembukaan atau peristiwa pendahuluan dalam sebuah kata drama pada mulanya berasal dari bahasa atau sandiwara.

Bagian ini biasanya disampaikan oleh tukang cerita (dalang) untuk menjelaskan gambaran para pemain, gambaran latar, dan sebagainya. b. Dialog Dialog merupakan media kiasan yang melibatkan tokoh-tokoh drama yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak manusia, problematika yang dihadapi, dan cara manusia dapat menyelesaikan Persoalan hidupnya.

Di dalam dialog tersaji urutan peristiwa rang dimulai dengan, orientasi, komplikasi, sampai dengan resolusi. • Orientasi, adalah bagian awal cerita yang menggambarkan situasi yang sedang sudah atau sedang terjadi. • Komplikasi, berisi rentang konflik-konflik dan Pengembangannya: gangguan-gangguan, halangan-halangan dalam mencapai tujuan, atau kekeliruan yang dialami tokoh utamanya. Pada bagian ini pula dagat diketahui watak tokoh utama (yang menyangkut protagonis dan antagonisnya).

• Resolusi, adalah bagian klimaks (turning point) dari drama, berupa babak akhir cerita yang menggambarkan penyelesaian atas konflik-konflik yang dialami para tokohnya. Resolusi haruslah berlangsung secara logis dan memiliki kaitan yang wajar dengan kejadian sebelumnva. c. Epilog Epilog adalah bagian terakhir dan sebuah drama yang berfungsi untuk menyampaikan intisari cerita atau menafsirkan maksud cerita oleh salah seorang aktor atau dalang pada akhir cerita.

Struktur alur Drama 1. Prolog: pengenalan, tokoh, latar, latar belakang cerita 2. Dialog: orientasi, konflikasi, resolusi 3. Epilog: penutup, intisari, dan cerita Kaidah Kebahasaan Drama Sebagaimana yang tampak pada contoh drama tersebut kalimat-kalimat yang tersaji di dalam teks drama hampir semuanya berupa dialog atau tuturan langsung para tokohnya. Kalimat langsung dalam drama lazimnya diapit oleh dua tanda petik ( "." ).

Teks drama menggunakan kata ganti orang ketiga pada bagian Prolog atau epilognya. Karena melibatkan banyak pelaku (tokoh), kata ganti yang lazim digunakan adalah mereka.

Lain halnya dengan bagian dialognya, yang kata gantinya adalah kata orang pertama dan kedua. Mungkin juga digunakan kata-kata sagaan. Seperti yang tampak pada contoh teks drama tersebut bahwa kata-kata ganti yang dimaksud adalah aku, saya, kami, kita, kamu. Adapun kata sapaan, misalnya, anak-anak, ibu. Sebagaimana halnya percakapan sehari-hari, kata drama pada mulanya berasal dari bahasa dalam teks drama juga tidak lepas dari munculnya kata-kata tidak baku dan kosakata percakapan, seperti: kok, sih, dong, oh.

Di dalamnya juga banyak ditemukan kalimat seru, suruhan, pertanyaan. Perhatikan contoh berikut! 1. Selamat pagi, Anak-anak! 2. Selamat pagi, Buuuuuu! 3, Wah. .jangan marah dong, aku kan cuma bercanda! 4, Agil, kenapa sih kamu selalu usil! 5. Kenapa kamu selalu mengejek aku!

6. Memangnya kamu suka kalau diejek? 7. Aduh. .maaf deh! Kamu marah ya, bro? Selain itu, teks drama memiliki ciri-ciri kebahasaan sebagai berikut. • Banyak menggunakan kata yang menyatakan urutan waktu (konjungsi temporal), seperti: sebelum, sekarang setelah itu, mula-mula, kemudian. • Banyak menggunakan kata kerja yang menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi, seperti menyuruh, menobatkan, menyingkirkan, beristirahat, menghadap, mengatakan, dsb.

• Banyak menggunakan kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh, seperti: merasakan, menginginkan, mengharapkan, mendambakan, mengalami. • Menggunakan kata-kata sifat untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau suasana. Kata-kata yang dimaksud, misalnya, sepi, ramai, bersih, kotor, baik, kuat, gagah, santun, dsb. Langkah-Langkah Menulis Drama Naskah drama dapat dibuat berdasarkan karya yang sudah ada, misalnya dari dongeng, cerpen, novel, biografi, dan sumber-sumber lain.

Akan lebih baik, apabila naskah itu dibuat sendiri, berdasarkan iniajinasi dan pengalaman sendiri, sehingga hasilnya lebih orisinal.

Langkah-langkah penulisannya tidak jauh berbeda dengan ketika menulis cerpen, puisi, ataupun karya-karya fiksi lain. Langkah pertama adalah menentukan topik, yakni berupa suatu peristiwa yang menarik dan memiliki konflik yang kuat. Kedua, menentukan tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya serta karakternva.

Ketiga, membuat kerangka alur, yang menarik dan tidak mudah ditebak (penuh kejutan). Keempat, mengembangkan kerangka itu ke dalam dialog-dialog dengan memperhatikan struktur dan kaidah kebahasaannya yang tepat. a. Struktur drama meliputi prolog, dialog, dan epilognya. Dalam dialog ada bagian orientasi, komplikasi, dan resolusi. b. Kaidah kebahasaan ditandai oleh kalimat-kalimat langsung dengan pilihan kata yang menggambarkan karakter tokoh dan situasi percakapannya. Langkah-Langkah Pementasan Drama Belum sempurna tentunya kalau naskah yang telah kamu buat itu tidak dipentaskan.

kata drama pada mulanya berasal dari bahasa

Oleh karena itu, perhatikan langkah-langkah pementasan drama berikut: a. Melakukan pembedahan secara bersama-sama terhadap isi naskah yang akan dipentaskan.

Tujuannya agar semua calon pemain memahami isi naskah yang akan dimainkan. b. Reading. Calon pemain membaca keseluruhan naskah sehingga dapat mengenal masing-masing peran.

kata drama pada mulanya berasal dari bahasa

c. Casting. Melakukan pemilihan peran. Tujuannya agar Peran yang akan dimainkan sesuai dengan kemanipuan akting pemain. d. Mendalami peran yang akan dimainkan. Pendalaman peran dilakukan dengan mengadakan survei langsung di lapangan. Misalnya, peran itu sebagai seorang tukang jamu, lakukanlah pengamatan atau survei langsung terhadap kebiasaan dan cara kehidupan para tukang jamu.

e. Blocking. Sutradara me manage teknis pentas, yakni dengan cara mengatur dan mengarahkan pemain. Misalnya, dari mana seorang pemain harus muncul dan dari mana mereka mesti berada ketika dialog dimainkan di dalam pentas. f. Running. Pemain menjalani latihan secara lengkap, mulai dari dialog sampai pengaturan pentas g. Gladi resik atau latihan terakhir sebelum pementasan berlangsung. Semua bermain dari awal hingga akhir melakukan latihan akhir; tanpa ada satu pun kesalahan lagi.

h. Pementasan. Semua pemain telah siap dengan kostumnya. Dekorasi panggung pun telah lengkap. Demikianlah penjelasan lengkap tentang Pengertian, Ciri, Unsur, Struktur, Kaidah Kebahasaan Drama. Semoga bermanfaat!☺️ Terimakasih atas kepatuhannya melakukan komentar yang sopan, tidak menyinggung S4R4 dan p0rnografi, serta tidak mengandung link aktif, sp4m, iklan n4rk0ba, senj4t4 ap1, promosi produk, dan hal-hal lainnya yang tidak terkait dengan postingan.

Jika ada pelanggaran, maaf jika kami melakukan penghapusan sepihak. Terimakasih dan Salam blogger! • ► 2022 (59) • ► April (39) • ► March (1) • ► February (1) • ► January (18) • ► 2021 (66) • ► December (33) • ► November (6) • ► October (6) • ► September (3) • ► August (7) • ► March (7) • ► February (4) • ► 2020 (43) • ► November (2) • ► August (5) • ► July (15) • ► June (5) • ► May (2) • ► March (13) • ► January (1) • ► 2019 (17) • ► December (2) • ► November (5) • ► October (2) • ► July (3) • ► April (3) • ► January (2) • ▼ 2018 (58) • ► December (1) • ► November (6) • ► August (1) • ► July (5) • ► June (1) • ▼ May (7) • Perbedaan, Unsur, Fungsi, Contoh - Iklan, Slogan.

. • Pengertian, Ciri, Unsur, Struktur, Kaidah Kebahasa. • Cara Melakukan Teknik Pukulan, Elakan, dan Tangkis. • Pengertian, Ciri, Unsur, Struktur, Kaidah Kebahasa. • Pengertian, Jenis, Macam, Contoh Tanda Tempo-Dinamik • Jelaskan Proses Pembentukan Urine di Ginjal • Inilah Alat-Alat yang Digunakan dalam Senam Ritmik • ► April (6) • ► March (10) • ► February (12) • ► January (9) • ► 2017 (168) • ► December (4) • ► November (29) • ► October (7) • ► September (11) • ► August (22) • ► July (1) • ► June (17) • ► May (33) • ► April (18) • ► March (12) • ► February (8) • ► January (6) • ► 2016 (195) • ► December (19) • ► November (22) • ► October (75) • ► September (34) • ► August (45) 2020 (2) 2021 (29) 2022 (2) adsense (1) Akhir Tahun 2017 (3) Akuntansi (4) Anak-anak (1) Artikel (144) Bahasa (102) Bahasa Indonesia (87) Bahasa Inggris (23) Belajar Daring (1) berita (1) Biologi (20) blogger (3) Bola (6) Brainly (1) Budaya (4) Bugis (4) corona (6) CPNS (2) Dangdut (2) Dunia (1) Ekonomi (4) Energi (1) English (2) esports (3) Film Anak-Anak (1) Finansial (1) Fisika (11) Forum (1) Free Fire (10) Gadget (1) Game (11) Gaya Hidup (22) Geografi (16) Guru (5) Hiburan (23) HUKUM (1) Ice Breaking (1) Info (47) Internet (15) IPA (36) iPhone (1) IPS (73) Islam (18) Jawaban (1) Jual Beli Online (1) Kata Mutiara (1) Kehidupan (11) Kelas Online (1) kemerdekaan (1) Kesehatan (8) Keuangan (1) Kimia (8) kisah (1) komoditi (3) korupsi (2) kuliah (26) Lirik Lagu (1) manfaat (1) matematika (1) Mobil (1) Motivasi (14) PAI (1) Pemerintahan (2) Pemilu 2019 (2) Pendidikan (32) Penjaskes (7) Pertemanan (1) PJOK (1) Politik (6) PPKn (11) Profesi (1) prosa (1) puisi (23) Ragam (69) Sains (1) Sastra (43) Satwa (2) Sekolah (231) Seni (10) Siswa (1) Smartphone (1) soal (1) Software (1) Solusi (1) Sosiologi (3) STAN (1) Teknologi (12) Tes (2) TI (16) TIK (1) Tips (16) Trending (4) turnamen (1) Uber (6) ulas berita (1) Umum (36) Viral (6) Virus (5) youtube (1) MENU • Home • SMP • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • IPS • IPA • SMA • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • IPA • Biologi • Fisika • Kimia • IPS • Ekonomi • Sejarah • Geografi • Sosiologi • SMK • S1 • PSIT • PPB • PTI • E-Bisnis • UKPL kata drama pada mulanya berasal dari bahasa Basis Data • Manajemen • Riset Operasi • Sistem Operasi • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • Agama • Bahasa Indonesia • Matematika • S2 • Umum • (About Me) Pengertian Drama Menurut Para Ahli, Bentuk, Unsur, Ciri Dan Contohnya – Drama adalah genre (jenis) sastra yang menggambarkan gerak kehidupan manusia.

Drama menggambarkan realitas kehidupan, karakter dan perilaku manusia melalui partisipasi dan dialog yang dipentaskan. Cerita dan kisah-kisah dalam drama konflik dan beban emosional yang secara khusus ditujukan untuk teater. Memainkan dibuat dengan cara yang akan dipentaskan untuk dinikmati oleh penonton. Drama membutuhkan kualitas komunikasi, situasi dan tindakan.

Kualitas dapat dilihat dari bagaimana konflik atau masalah dapat disajikan secara keseluruhan dan dalam drama pemenasan. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Contoh Kata Sapaan : Pengertian, Kalimat, Jenis, Ciri [ LENGKAP ] Pengertian Drama 4.3. Sebarkan ini: Drama adalah genre (jenis) sastra yang menggambarkan gerak kehidupan manusia. Istilah untuk drama di masa penjajahan Belanda di Indonesia disebut tonil itu.

Tonil kemudian diganti dengan istilah-play yang dikembangkan oleh PKG Mangku VII. Drama berasal dari kode dalam bahasa Jawa dan wara. Sandi berarti rahasia, sementara wara (warah) berarti mengajar. Maka istilah menyiratkan ajaran teater yang dilakukan oleh simbol. Pengertian Drama Menurut Para Ahli • Moulton,Drama adalah kisah hidup digambarkan dalam bentuk gerak (disajikan langsung dalam tindakan).

• Balthazar Vallhagen,Drama adalah seni yang menggambarkan alam dan sifat manusia dalam gerakan. • Ferdinand Brunetierre, Menurut drama harus melahirkan keinginan oleh aksi atau gerakan.

• Budianta dkk (2002), Drama adalah genre sastra yang menunjukkan penampilan fisik secara lisan setiap percakapan atau dialog antara pemimpin di sana. • Tim Matrix Media Literata, Drama adalah bentuk narasi yang menggambarkan kehidupan dan alam manusia melalui perilaku (akting) yang dipentaskan.

• Seni Handayani, Drama adalah bentuk komposisi berdasarkan dua cabang seni, seni sastra dan seni pertunjukan sehingga drama dibagi menjadi dua, yaitu drama dalam bentuk teks tertulis dan drama dipentaskan. • Wildan, Drama adalah komposisi berdasarkan beberapa cabang seni, sehingga drama dibagi menjadi dua, yaitu drama dalam bentuk teks tertulis dan drama dipentaskan.

• Anne Civardi, Drama adalah sebuah kisah yang diceritakan melalui kata-kata dan gerakan. • Menurut KBBI : drama memiliki beberapa pengertian. Pertama, drama diartikan sebagai komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan.

Kedua, cerita atau kisah terutama yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus disusun untuk pertunjukan teater. Ketiga, kejadian yan menyedihkan. BENTUK-BENTUK DRAMA • Berdasarkan bentuk sastra cakapannya, drama dibedakan menjadi dua • • Drama puisi, yaitu drama yang sebagian besar cakapannya disusun dalam bentuk puisi atau menggunakan unsur-unsur puisi.

• Drama prosa, yaitu drama yang kata drama pada mulanya berasal dari bahasa disusun dalam bentuk prosa. • Berdasarkan sajian isinya • • Tragedi (drama duka), yaitu drama yang menampilkan tokoh yang sedih atau muram, yang terlibat dalam situasi gawat karena sesuatu yang tidak menguntungkan.

Keadaan tersebut mengantarkan tokoh pada keputusasaan dan kehancuran. Dapat juga berarti drama serius yang melukiskan tikaian di antara tokoh utama dan kekuatan yang luar biasa, yang berakhir dengan malapetaka atau kesedihan.

kata drama pada mulanya berasal dari bahasa

• Komedi (drama ria), yaitu drama ringan yang bersifat menghibur, walaupun selorohan di dalamnya dapat bersifat menyindir, dan yang berakhir dengan bahagia.

• Tragikomedi (drama dukaria), yaitu drama yang sebenarnya menggunakan alur dukacita tetapi berakhir dengan kebahagiaan. • Berdasarkan kuantitas cakapannya • • Pantomim, yaitu drama tanpa kata-kata • Minikata, yaitu drama yang menggunakan sedikit sekali kata-kata. • Doalogmonolog, yaitu drama yang menggunakan banyak kata-kata. • Berdasarkan besarnya pengaruh unsur seni lainnya • • Opera/operet, yaitu drama yang menonjolkan seni suara atau musik. • Sendratari, yaitu drama yang menonjolkan seni eksposisi.

• Tablo, yaitu drama yang menonjolkan seni eksposisi. • Bentuk-bentuk lain • • Drama absurd, yaitu drama yang sengaja mengabaikan atau melanggar konversi alur, penokohan, tematik. • Drama baca, naska drama yang hanya cocok untuk dibaca, bukan dipentaskan.

• Drama borjuis, drama yang bertema tentang kehidupan kam bangsawan (muncul abad ke-18). • Drama domestik, drama yang menceritakan kehidupan rakyat biasa. • Drama duka, yaitu drama yang khusus menggambarkan kejathan atau keruntuhan tokoh utama • Drama liturgis, yaitu drama yang pementasannya digabungkan dengan upacara kebaktian gereja (di Abad Pertengahan).

• Drama satu babak, yaitu lakon yang terdiri dari satu babak, berpusat pada satu tema dengan sejumlah kecil pemeran gaya, latar, serta pengaluran yang ringkas. • Drama rakyat, yaitu drama yang timbul dan berkembang sesuai dengan festival rakyat yang ada (terutama di pedesaan). Hakikat Drama Drama sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu draomai yang berarti berbuat, bertindak, dan sebagainya. Kata drama dapat diartikan sebagai suatu perbuatan atau tindakan.

Secara umum, pengertian drama merupakan suatu karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog dan dengan maksud dipertunjukkan oleh aktor. Pementasan naskah drama dapat dikenal dengan istilah teater. Drama juga dapat dikatakan sebagai cerita yang diperagakan di panggung dan berdasarkan sebuah naskah. Pada umumnya, drama memiliki 2 arti, yaitu drama dalam arti luas serta drama dalam arti sempit. Pengertian drama dalam arti luas adalah semua bentuk tontonan atau pertunjukkan yang mengandung cerita yang ditontonkan atau dipertunjukkan di depan khalayak umum.

Sedangkan pengertian drama dalam arti sempit ialah sebuah kisah hidup manusia dalam masyarakat yang diproyeksikan di atas panggung.

Ciri ciri Drama • 1.Drama merupakan prosa modern yang dihasilkan sebagai naskah untuk dibaca dan di pentaskan.

• 2.Naskah drama boleh berbentuk prosa atau puisi. • 3.Drama terdiri dari pada diaolog yang disusun oleh pengarang dengan watak yang diwujudkan. • 4.Pemikiran dan gagasan pengarang disampaikan melalui dialog-dialog watak-wataknya. • 5.Konflik ialah unsur-unsur penting dalam drama. Konflik digerakan oleh watak-watak dalam plot,elemen penting dalam skrip drama.

• 6.Sebuah skrip yang tidak didasari oleh konflik tidak dianggap sebagai drama yang baik. • 7.Gaya Bahasa dalam sebuah drama juga penting karena menunjukkan latar masa dan masyarakat yang di wakilinya,sekaligus drama ini mencerminkan sosiobudaya masyarakat yang digambarkan oleh pengarang. Contoh Naskah Drama Anak Pemeran: 1.Katrin Yustina 2.Nurjanah 3.Puri 4.Nisya 5.Linda (pembaca prolog). Prolog Seorang murid baru (Nisya) pindahan dari Jakarta sedang memasuki gerbang sekolah,tiba-tiba datanglah Katrin.

Katrin : hai kamu anak baru ya? Nama kamu siapa? Nisya : ya,….namaku Nisya. Fury : (Sambil mengulurkan tangan) namaku Fury! Emang kamu pindahan dari mana dan masuk kelas apa.????

Nisya : aku dari Jakarta …………disini Aku tonggal di Jalan Surapati. Kata kepala Sekolah aku masuk kelas V1-D.Kalau kamu siapa ?

(Nisya mengulurkan tangan kepada Katrin). Katrin : aku Katrin…. wah kebetulan kita juga murid kelas V1-D. Tak lama tampak Nurjanah datang mendekat sambil menyapa ketiganya.

Nurjanah: siapa ini Fur.??? Fury : Oh ini namanya Nisya.!! Katrin : Kenalan sendiri dong. (sambil menggangkat tangan Nisya ke tangan Nurjanah).

Nurjanah menyodorkan tangannya ke arah Nisya mereka berdua bersalaman. Nurjanah : eh Nisya…….Entar di kelas kamu duduk disebelahku aja gimana???

Soalanya bangku disebelahku kosong. Nisya : Oh iya deh… Fury : Iya sekalian aja gabung sama kita. Katrin : Ya kan kalau belajar kelompok hanya 3 orang kalau sama kamu kan jadi pas Empat orang.!!!!! Nisya : Aku sih asyik aja,….aku malah seneng punya temen baru yang baik dan Asyik seperti kalian.

Mereka berempat tertawa menuju kelas. Perbedaan Drama dengan Teater Teater dan drama, memiliki arti yang sama, tapi berbeda uangkapannya.Teater berasal dari kata yunanikuno “theatron” yang secara harfiah berarti gedung/tempat pertunjukan. Dengan demikian maka kata teater selalu mengandung arti pertunjukan/tontonan. Drama juga dari kata yunanai ‘dran’ yang berarti berbuat, berlaku atau beracting. Drama cenderung memiliki pengertian ke seni sastra. Didalam seni sastra, drama setaraf denagn jenis puisi, prosa/esai.

Drama juga berarti suatu kejadian atau peristiwa tentang manusia. Apalagi peristiwa atau cerita tentang manusia kemudian diangkat kesuatu pentas sebagai suatau bentuk pertunjukan maka menjadi suatu peristiwa Teater. Kesimpulan teater tercipta karena adanya drama. Struktur Drama • Tema, tema merupakan gagasan sentral yang menjadi dasar disusunya atau dibuatnya drama; • Plot atau alur, merupakan jalinan cerita dari awal sampai akhir cerita.

Jalinan cerita ini berupa jalannya cerita dalam drama yang berupa permasalahan, konflik, klimaks cerita atau permasalahan, dan akhir atau penyelesaian permasalahan; • Penokohan dan perwatakan, kata drama pada mulanya berasal dari bahasa atau perwatakan merupakan jati diri seorang tokoh. Apakan seoarang tokoh itu baik, jahat, buruk, pendengki atau memiliki watak lainya.

Perwatakan atau penokohan dalam pementasan drama dapat dilihat secara langsung oleh penonton pementasan tersebut dari sikap, ucapan, tingkah laku, suara serta tingkah laku lainya. Namun secara teori, drama sendiri mengungkapkan penokohan atau kata drama pada mulanya berasal dari bahasa yang dimiliki seorang tokoh yang dilakukan secara eksplisit dan implisit. Eksplisit dari pendapat atau komentar tokoh lain dalam cerita, dan implisit dari tingkah polah tokoh itu sendiri; • Dialog, dialog atau percakapan merupakan unsure utama yang membedakan drama dengan cerita lain.

Dialog dalam drama merupakan dialog yang digunaknan dalam kehidupan sehari-hari sesuai hakikat drama yang merupkan tiruan kehidupan masyarakat. Dialog merupakan hal yang sangat vital bagi sukses tidaknya sebuah drama yang dipentaskan, apabila pemeran tokoh dapat menyampaikan dialog dengan penuh penghayatan niscaya keindahan dan tujuan pementasan dapat tercapai; • Setting, setting merupakan latar terjadinya cerita.

Setting meliputi setting waktu, setting waktu tempat, dan setting ruang; • Amanat, merupakan pesan yang hendak disampaikan pengarang lewar drama yang diciptakan. Amanat sebuah drama dapat kita ketahui setelah kita mengapresiasi drama tersebut; • Petunjuk teknis, petunjuk teknis merupakan petunjuk mementaskan atau mengaudiovisualkan naskah drama. Petunjuk teknis juga biasa disebut teks samping; • Drama sebagai interpretasi kehidupan, unsur ini bukan merupakan unsure fisik melainkan lebih pada unsure idea atau pandangan dasar dalam menyusun drama yang merupakan tiruan kehidupan manusia atau miniature kehidupan manusia yang dipentaskan.

UNSUR UNSUR PEMENTASAN DRAMA • Dalam pentas drama sekurang-kurangnya ada 6 unsur yang perlu dikenal, yaitu (1) naskah drama, (2) sutradara, (3) pemeran, (4) panggung, (5) perlengkapan panggung : cahaya, rias, bunyi, pakaian, dan (6) penonton. • Naskah drama. Adalah bahan pokok pementasan. Secara garis besar naskah drama dapat berbentuk tragedi (tentang kesedihan dan kemalangan), dan komedi (tentang lelucon dan tingka laku konyol), serta disajikan secara realis (mendekati kenyataan yang sebenarnya dalam pementasan, baik dalam bahasa, pakaian, dan tata panggungnya, serta secara simbolik (dalam pementasannnya tidak perlu mirip apa yang sebenarnya terjadi dalam realita, biasanya dibuat puitis, dibumdui musik-koor-tarian, dan panggung kosong tanpa hiasan yang melukiskan suatu realitas, misalnya drama karya Putu Wijaya.

kata drama pada mulanya berasal dari bahasa

Naskah yang telah dipilih harus dicerna atau diolah, bahkan mungkin diubah, ditambah kata drama pada mulanya berasal dari bahasa dikurangi disinkronkan dengan tujuan pementasan tafsiran sutradara, situasi pentas, kerabat kerja, peralatan, dan penonton yang dibayangkannya.

• Setelah naskah, faktor sutradara memegang peranan yang penting. Sutradara inilah yang bertugas mengkoordinasikan lalu lintas pementasan agar pementasannya berhasil. Ia bertugas membuat/mencari naskah drama, mencari pemeran, kerabat kerja, penyandang dana (produsen), dan dapat mensikapi calon penonton.

• Pemeran inilah yang harus menafsirkan perwatakan tokoh yang diperankannya. Memang sutradaralah yang menentukannya, tetapi tanpa kepiawaian dalam mewujudkan pemeranannya, konsep peran yang telah digariskan sutradara berdasarkan naskah, hasilnya akan sia-sia belaka. • Secara garis besar variasi panggung dapat dibedakan menjadi dua kategori.

Pertama, panggung yang dipergunakan sebagai pertunjukan sepenuhnya, sehingga semua penonton dapat mengamati pementasan secara keseluruhan dari luar panggung.

Kedua, panggung berbentuk arena, sehingga memungkinkan pemain berada di sekitar penonton. • Cahaya (lighting) diperlukan untuk memperjelas penglihatan penonton terhadap mimim pemeran, sehingga tercapai atau dapa mendukung penciptaan suasana sedih, murung, atau gembira, dan juga dapat mendukung keratistikan set yang dibangun di panggung. • Bunyi (sound effect).

Bunyi ini memegang peran penting. Bunyi kata drama pada mulanya berasal dari bahasa diusahakan secara langsung (orkestra, band, kata drama pada mulanya berasal dari bahasa, dsb), tetapi juga dapat lewat perekaman yang jauh hari sudah disiapkan oleh awak pentas yang bertanggung jawab mengurusnya. • Sering disebut kostm (costume), adalah pakaian yang dikenakan para pemain untuk membantu pemeran dalam menampilkan perwatakan tokoh yang diperankannya.

Dengan melihat kostum yang dikenakannya para penonton secara langsung dapat menerka profesi tokoh yang ditampilkan di panggung (dokter, perawat, tentara, petani, dsb), kedudukannya (rakyat jelata, punggawa, atau raja), dan sifat sang tokoh trendi, ceroboh, atau cermat).

• Berkat rias yang baik, seorang gadis berumur 18 tahun dapat berubah wajah seakan-akan menjadi seorang nenek-nenek. Dapat juga wajah tampan dapat dipermak menjadi tokoh yang tampak kejam dan jelek. Semua itu diusahakan untuk lebih membantu para pemeran untuk membawakan perwatakan tokoh sesuai dengan yang diinginkan naskah dan tafsiran sutradara.

• Penonton. Dalam setiap pementasan faktor penonton perlu dipikirkan juga. Jika drama yang dipentaskan untuk para siswa sekolah sendiri, faktor mpenonton tidak begitu merisaukan. Apabila terjadi kekeliruan, mereka akan memaafkan, memaklumi, dan jika pun mengkritik nadanya akan lebih bersahabat. Akan tetapi, dalam pementasan untuk umum, hal seperti tersebut di atas tidak akan terjadi.

Oleh karena itu, jauh sebelum pementasan sutradara harus mengadakan survei perihal calon penonton. Jika penontonnya ”ganas” awak pentas harus diberi tahu, agar lebih siap, dan tidak mengecewakan para penonton. PEMBAGIAN TUGAS DALAM PEMENTASAN DRAMA • Sebelum sampai pada penggarapan naskah untuk pementasan, terlebih dahulu perlu kita kenal beberapa fungsi atau peran dalam pementasan.

Pada dasarnya kerja pementasan adalah kerja kelompok atau tim. Tim terbagi menjadi dua, yaitu tim penyelenggara dan tim pementasan.

Yang dimaksud tim penyelenggara pementasan adalah orang-orang yang bekerja untuk melaksanakaan “acara” pementasan. Tim penyelenggara meliputi ketua panitia (pimpinan produksi), sekretasis, bendahara, sie dana, sie publikasi, sie perlengkapan, sie dokumentasi, si konsumsi, dam masih banyak lagi. Tim ini berperan dalam “menjual” karya seni (drama). Sukses tidaknya acara pementasan (dengan indikasi jumlah penonton yang banyak, keuntungan finansial minimal balik modal, apresiasi penonton, soundsistem, lighting yang bagus) bergantung pada tim ini.

• Tim kedua adalah tim pementasan. Yang dimaksud tim pementasan adalah sekelompok orang yang bertugas menyajikan karya seni (drama) untuk ditonton. Tim pementasan terdiri dari sutradara, penulis naskah, tim artistik, tim tata rias, tim kostum, tim lighting, dan aktor.

Sebenarnya tim pementasan ini terbagi menjadi dua kelompok yaitu tim on stage (di atas panggung) atau aktor, dan tim behind stage (belakang panggung).

Kedua tim ini memiliki peran yang sama dalam mensukseskan pertunjukan/pementasan. • Pertama-tama kita bahas dulu tim pementasan beserta tugas dan kewenangannya. • Seperti kita ketahui bersama, sutradara adalah pimpinan pementasan. Ia bertugas melakukan casting (memilih pemain sesuai peran dalam naskah), mengatur akting para aktor, dan mengatur kru lain dalam mendukung pementasan.

Pada dasarnya seorang sutradara berkuasa mutlak sekaligus bertanggung jawab mutlak atas pementasan. • Penulis Naskah. Sebenarnya ketika sebuah naskah dipilih untuk dipentaskan, penulis naskah sudah “mati”.

Artinya, ia tidak memiliki hak lagi untuk mengatur visualisasi atas naskahnya. Tanggung jawab visualisasi ada pada sutradara.

Biasanya, dalam perencanaan akting, seorang penulis naskah hanya diminta sebagai komentator. • Penata Panggung. Tugas utama penata panggung adalah mewujudkan latar (setting panggung) seperti yang diinginkan oleh sutradara. Biasanya sutradara akan berdiskusi dengan penata panggung untuk mewujudkan setting panggung yang mendukung cerita.

• Penata Cahaya. Tugas utama penata cahaya adalah merencanakan sekaligus memainkan pencahayaan pada saat pementasan sehingga pencahayaan mendukung penciptaan latar suasana panggung. Jelas bahwa penata caha perlu berkoordinasi dengan penata panggung. Seorang penata cahaya harus memiliki pengetahuan memadai dalam hal mixer cahaya. • Penata Rias dan Busana. Tugas utama penata rias dan busana adalah mewujudkan rias dan kostum para aktor sesuai dengan karakter tokoh yang dituntut oleh sutradara.

Biasanya, penata rias dan busana berkoordinasi erat dengan sutradara. • Penata Suara. Tugas utama penata suara adalah mewujudkan sound effect yang mendukung pementasan. Bersama dengan penata busana, penata panggung, dan penata cahaya, penata suara menciptakan latar yang mendukung pementasan.

Jelas bahwa prasyarat untuk menjadi penata kata drama pada mulanya berasal dari bahasa adalah memiliki kemampuan mengelola soundsistem dan soundeffect. • Tugas utama aktor adalah memerankan tokoh yang ditugaskan kepadanya oleh sutradara. • Tim penyelenggara dan kewenangannya adalah sebagai berikut. • Ketua Panitia • Sekretaris • Bendahara • Sie Acara • Sie Dana • Sie Dokumentasi • Sie Perlengkapan • Sie Konsumsi • Sie Tempat Demikian Penjelasan Tentang Pengertian Drama Menurut Para Ahli Berserta Unsurnya Semoga Bermanfaat Untuk Semua Pembaca GuruPendidikan.Com 😀 Sebarkan ini: • • • • • Posting pada S1, SMA, SMK Ditag 15 pengertian drama menurut para ahli, 15 pengertian seni teater menurut para ahli, aspek kajian drama, ciri ciri drama, Contoh Drama, definisi drama, drama adalah, Drama Komedi, drama modern adalah, Drama sekolah, fungsi drama, fungsi seni drama, jelaskan pengertian drama baru, jurnal pengertian drama menurut para ahli, kaidah kebahasaan drama, karakteristik drama, Nakah drama, pengertian bermain drama menurut para ahli, Pengertian Drama, pengertian drama menurut kbbi, pengertian teater menurut para ahli indonesia, sebutkan kriteria menentukan tokoh utama, sebutkan struktur drama, sebutkan unsur unsur pementasan drama, struktur cerita drama, Struktur drama, teori tentang drama, tuliskan tujuan drama, Unsur-unsur drama Navigasi pos Pos-pos Terbaru • Pengertian Mahasiswa Menurut Para Ahli Beserta Peran Dan Fungsinya • “Masa Demokrasi Terpimpin” Sejarah Dan ( Latar Belakang – Pelaksanaan kata drama pada mulanya berasal dari bahasa • Pengertian Sistem Regulasi Pada Manusia Beserta Macam-Macamnya • Rangkuman Materi Jamur ( Fungi ) Beserta Penjelasannya • Pengertian Saraf Parasimpatik – Fungsi, Simpatik, Perbedaan, Persamaan, Jalur, Cara Kerja, Contoh • Higgs domino apk versi 1.80 Terbaru 2022 • Pengertian Gizi – Sejarah, Perkembangan, Pengelompokan, Makro, Mikro, Ruang Lingkup, Cabang Ilmu, Para Ahli • Proses Pembentukan Urine – Faktor, Filtrasi, Reabsorbsi, Augmentasi, Nefron, zat Sisa • Peranan Tumbuhan – Pengertian, Manfaat, Obat, Membersihkan, Melindungi, Bahan Baku, Pemanasan Global • Diksi ( Pilihan Kata ) Pengertian Dan ( Fungsi – Syarat – Contoh ) • Contoh Soal Psikotes • Contoh CV Lamaran Kerja • Rukun Shalat • Kunci Jawaban Brain Out • Teks Eksplanasi • Teks Eksposisi • Teks Deskripsi • Teks Prosedur • Contoh Gurindam • Contoh Kata Pengantar • Contoh Teks Negosiasi • Alat Musik Ritmis • Tabel Periodik • Niat Mandi Wajib • Teks Laporan Hasil Observasi • Contoh Makalah • Alight Motion Pro • Alat Musik Melodis • 21 Contoh Paragraf Deduktif, Induktif, Campuran • 69 Contoh Teks Anekdot • Proposal • Gb WhatsApp • Contoh Daftar Riwayat Hidup • Naskah Drama • Memphisthemusical.Com
Sejarah Teater Kata tater atau drama berasal dari bahasa Yunani ”theatrom” yang berarti seeing Place (Inggris).

Tontonan drama memang menonjolkan percakapan (dialog) dan gerak-gerik para pemain (aktif) di panggung. Percakapan dan gerak-gerik itu memperagakan cerita yang tertulis dalam naskah. Dengan demikian, penonton dapat langsung mengikuti dan menikmati cerita tanpa harus membayangkan.

Teater sebagai tontotan sudah ada sejak zaman dahulu. Bukti tertulis pengungkapan bahwa teater sudah ada sejak abad kelima SM. Hal ini didasarkan temuan naskah teater kuno di Yunani. Penulisnya Aeschylus yang hidup antara tahun 525-456 SM. Isi lakonnya berupa persembahan untuk memohon kepada dewa-dewa. Lahirnya adalah bermula dari upacara keagamaan yang dilakukan para pemuka agama, lambat laun upacara keagamaan ini berkembang, bukan hanya berupa nyanyian, puji-pujian, melainkan juga doa dan cerita yang diucapkan dengan lantang, selanjutnya upacara keagamaan lebih menonjolkan penceritaan.

Sebenarnya istilah teater merujuk pada gedung pertunjukan, sedangkan istilah drama merujuk pada pertunjukannya, namun kini kecenderungan orang untuk menyebut pertunjukan drama dengan istilah teater. 1. Mengapresiasikan Karya Seni Teater Kegiatan berteater dalam kehidupan masyarakat dan budaya Indonesia bukan merupakan sesuatu yang asing bahkan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan, kegiatan teater dapat kita lihat dalam peristiwa-peristiwa Ritual keagamaan, tingkat-tingkat hidup, siklus hidup (kelahiran, pertumbuhan dan kematian) juga hiburan.

Setiap daerah mempunyai keunikan dan kekhasan dalam tata cara penyampaiannya. Untuk dapat mengapresiasi dengan baik mengenai seni teater terutama teater yang ada di Indonesia sebelumnya kita harus memahami apa seni teater itu ? bagaimana ciri khas teater yang berkembang di wilayah negara kita.

2. Pengertian Teater  arti luas teater adalah segala tontonon yang dipertunjukan didepan orang banyak, misalnya wayang golek, lenong, akrobat, debus, sulap, reog, band dan sebagainya.

 arti sempit adalah kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan diatas pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media : percakapan,gerak dan laku dengan atau tanpa dekor, didasarkan pada naskah tertulis denga diiringi musik, nyanyian dan tarian. Teater adalah salah satu bentuk kegiatan manusia yang secara sadar menggunakan tubuhnya sebagai unsur utama untuk menyatakan dirinya yang diwujudkan dalam suatu karya (seni pertunjukan) yang ditunjang dengan unsur gerak, suara, bunyi dan rupa yang dijalin dalam cerita pergulatan tentang kehidupan manusia.

Unsur-unsur teater menurut urutannya : • Tubuh manusia sebagai unsur utama (Pemeran/ pelaku/ pemain/actor) • Gerak sebagai unsur penunjang (gerak tubuh,gerak suara,gerak bunyi dan gerak rupa) • Suara sebagai unsur penunjang (kata, dialog, ucapan pemeran) • Bunyi sebagai efek Penunjang (bunyi benda, efek dan musik) • Rupa sebagai unsur penunjang (cahaya, dekorasi, rias dan kostum) • Lakon sebagai unsur penjalin (cerita, non cerita, fiksi dan narasi) Teater sebagai hasil karya (seni) merupakan satu kesatuan yang utuh antara manusia kata drama pada mulanya berasal dari bahasa unsur utamanya dengan unsur -unsur penunjang dan penjalinnya.

Dan dapat dikatakan bahwa teater merupakan perpaduan segala macam pernyataan seni. 3. Bentuk Teater Indonesia berdasarkan pendukungnya : a. Teater rakyat yaitu teater yang didukung oleh masyarakat kalangan pedesaanbentuk teater ini punya karakter bebas tidak terikat oleh kaidah-kaidah pertunjukan yang kaku, sifat nya spontan,improvisasi. Contoh : lenong, ludruk, ketoprak dll. b. Teater Keraton yaitu Teater yang lahir dan berkembang dilingkungan keraton dan kaum bangsawan.

Pertunjukan dilaksanakan hanya untuk lingkungan terbatas dengan tingkat artistik sangat tinggi,cerita berkisar pada kehidupan kaum bangsawan yang dekat dengan dewadewa. Contoh : teater Wayang c. Teater Urban atau kota-kota. Teater ini Masih membawa idiom bentuk rakyat dan keraton. teater jenis ini lahir dari kebutuhan yang timbul dengan tumbuhnya kelompok-kelompok baru dalam masyarakat dan sebagai produk dari kebutuhan barusebagai fenomena modern dalam seni pertunjukan di Indonesia.

d. Teater kontemporer,yaitu teater yang menampilkan peranan manusia bukan sebagai tipe melainkan sebagai individu. dalam dirinya terkandung potensi yang besar untuk tumbuh dengan kreatifitas yang tanpa batas. Pendukung teater ini masih sedikit yaitu orang-orang yang menggeluti teater secara serius mengabdikan hidupnya pada teater dengan melakukan pencarian, eksperimen berbagai bentuk teater untuk mewujudkan teater Indonesia masa kini.

Sebagian besar daerah di Indonesia mempunyai kegiatan berteater yang tumbuh dan berkembang secara turun menurun. Kegiatan ini masih bertahan sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang erat hubungannya dengan budaya agraris (bertani) yang tidak lepas dari unsur-unsur ritual kesuburan, siklus kehidupan maupun hiburan. Misalnya : untuk memulai menanam padi harus diadakan upacara khusus untuk meminta bantuan leluhur agar padi yang ditanam subur, berkah dan terjaga dari berbagai gangguan.

Juga ketika panen, sebagai ucapan terima kasih maka dilaksanakan upacara panen. Juga peringatan tingkat-tingkat hidup seseorang (kelahiran, khitanan, naik pangkat/ kata drama pada mulanya berasal dari bahasa dan kematian dll) selalu ditandai dengan peristiwa-peristiwa teater dengan penampilan berupa tarian,nyanyian maupun cerita, dengan acara, tata cara yang unik dan menarik.

Teater rakyat adalah teater yang hidup dan berkembang dikalangan masyarat untuk memenuhi kebutuhan ritual dan hiburan rakyat. Berikut ini adalah sejarah perkembangan teater di Indonesia 1. Teater Tradisional Kasim Achmad dalam bukunya Mengenal Teater Tradisional di Indonesia (2006) mengatakan, sejarah teater tradisional di Indonesia dimulai sejak sebelum Zaman Hindu. Pada zaman itu, ada tanda-tanda bahwa unsur-unsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara ritual.

Teater tradisional merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita. Pada saat itu, yang disebut “teater”, sebenarnya baru merupakan unsur-unsur teater, dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan teater yang utuh. Setelah melepaskan diri dari kaitan upacara, unsur-unsur teater tersebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat lingkungannya. Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya.

Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbedabeda, tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat, sumber dan tata-cara di mana teater kata drama pada mulanya berasal dari bahasa lahir.

Macammacam teater tradisional Indonesia adalah :wayang kulit, wayang wong, ludruklenong, randai, drama gong, arja, ubrug, ketoprak, dan sebagainya. 2. Teater Transisi (Modern) Teater transisi adalah penamaan atas kelompok teater pada periode saat teater tradisional mulai mengalami perubahan karena pengaruh budaya lain.

Kelompok teater yang masih tergolong kelompok teater tradisional dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat, dinamakan teater bangsawan. Perubahan tersebut terletak pada cerita yang sudah mulai ditulis, meskipun masih dalam wujud cerita ringkas atau outline story (garis besar cerita per adegan). Cara penyajian cerita dengan menggunakan panggung dan dekorasi. Mulai memperhitungkan teknik yang mendukung pertunjukan.

Pada periode transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi. Selain pengaruh dari teater bangsawan, teater tradisional berkenalan juga dengan teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun 1805 yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan mengawali berdirinya gedung Schouwburg pada tahun 1821 (Sekarang Gedung Kesenian Jakarta).

Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu mendirikan Komedie Stamboel di Surabaya pada tahun 1891, yang pementasannya secara teknik telah banyak mengikuti budaya dan teater Barat (Eropa), yang pada saat itu masih belum menggunakan naskah drama/lakon.

Dilihat dari segi sastra, mulai mengenal sastra lakon dengan diperkenalkannya lakon yang pertama yang ditulis oleh orang Belanda F.Wiggers yang berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno, pada tahun 1901. Kemudian disusul oleh Lauw Giok Lan lewat Karina Adinda, Lelakon Komedia Hindia Timoer (1913), dan lain-lainnya, yang menggunakan bahasa Melayu Rendah.

Setelah Komedie Stamboel didirikan muncul kelompok sandiwara seperti Sandiwara Dardanella (The Malay Opera Dardanella) yang didirikan Willy Klimanoff alias A. Pedro pada tanggal 21 Juni 1926. Kemudian lahirlah kelompok sandiwara lain, seperti Opera Stambul, Komidi Bangsawan, Indra Bangsawan, Sandiwara Orion, Opera Abdoel Moeloek, Sandiwara Tjahaja Timoer, dan lain sebagainya.

Pada masa teater transisi belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara. Karenanya rombongan teater pada masa itu menggunakan nama sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan.

3. Seni teater Tradisional Indonesia 1. Wayang Wayang dikenal sejak zaman prasejarah yaitu sekitar 1500 tahun sebelum Masehi. Masyarakat Indonesia memeluk kepercayaan animisme berupa pemujaan roh nenek moyang yang disebut hyang atau dahyang, yang diwujudkan dalam bentuk arca atau gambar. Wayang merupakan seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).

G.A.J. Hazeu mengatakan bahwa wayang dalam bahasa/kata Jawa berarti: bayangandalam bahasa melayu artinya: bayang-bayang, yang artinya bayangan, samar-samar, menerawang.

Bahasa Bikol menurut keterangan Profesor Kern, bayang, barang atau menerawang. Semua itu berasal dari akar kata "yang" yang berganti-ganti suara yung, yong, seperti dalam kata: laying (nglayang)=yang, dhoyong=yong, reyong=yong, reyong-reyong, atau reyang-reyong yang berarti selalu berpindah tempat sambil membawa sesuatu, poyang-payingen, ruwet dari kata asal: poyang, akar kata yang.

Menurut hasil perbandingan dari arti kata yang akar katanya berasal dari yang dan sebagainya tadi, maka jelas bahwa arti dari akar kata: yang, yung, yong ialah bergerak berkali-kali, tidak tetap, melayang. 2. Makyong Makyong adalah seni teater tradisional masyarakat Melayu yang sampai sekarang masih digemari dan sering dipertunjukkan sebagai dramatari dalam forum internasional. Makyong dipengaruhi oleh budaya Hindu-Buddha Thai dan Hindu-Jawa. Nama makyong berasal dari mak hyang, nama lain untuk dewi sri, dewi padi.

Makyong adalah teater tradisional yang berasal dari Pulau Bintan, Riau. Makyong berasal dari kesenian istana sekitar abad ke-19 sampai tahun 1930-an. Makyong dilakukan pada siang hari atau malam hari. Lama pementasan ± tiga jam 3.

Drama Gong Drama Gong adalah sebuah bentuk seni pertunjukan Bali yang masih relatif muda usianya yang diciptakan dengan jalan memadukan unsur-unsur drama modern (non tradisional Bali) dengan unsur-unsur kesenian tradisional Bali. Dalam banyak hal Drama Gong merupakan pencampuran dari unsur-unsur teater modern (Barat) dengan teater tradisional (Bali).

Karena dominasi dan pengaruh kesenian klasik atau tradisional Bali masih begitu kuat, maka semula Drama Gong disebut "drama klasik". Nama Drama Gong diberikan kepada kesenian ini oleh karena dalam pementasannya setiap gerak pemain serta peralihan suasana dramatik diiringi oleh gamelan Gong (Gong Kebyar).

Drama Gong diciptakan sekitar tahun 1966 oleh Anak Agung Gede Raka Payadnya dari desa Abianbase (Gianyar). Drama Gong mulai berkembang di Bali sekitar tahun 1967 dan puncak kejayaannya adalah tahun1970. Namun semenjak pertengahan tahun 1980 kesenian ini mulai menurun popularitasnya, sekarang ini ada sekitar 6 buah sekaa Drama Gong yang masih aktif.

4.

kata drama pada mulanya berasal dari bahasa

Randai Randai adalah kesenian (teater) khas masyarakat Minangkabau, Sumatra Barat yang dimainkan oleh beberapa orang (berkelompok atau beregu). Randai dapat diartikan sebagai kata drama pada mulanya berasal dari bahasa sambil membentuk lingkaran” karena memang pemainnya berdiri dalam sebuah lingkaran besar bergaris tengah yang panjangnya lima sampai delapan meter. Cerita dalam randai, selalu mengangkat cerita rakyat Minangkabau, seperti cerita Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, dan cerita rakyat lainnya.

Konon kabarnya, randai pertama kali dimainkan oleh masyarakat Pariangan, Padang Panjang, ketika mereka berhasil menangkaprusa yang keluar dari laut. Kesenian randai sudah dipentaskan di beberapa tempat di Indonesia dan bahkan dunia. Bahkan randai dalam versi bahasa Inggris sudah pernah dipentaskan oleh sekelompok mahasiswa di University of Hawaii, Amerika Serikat.

Kesenian randai yang kaya dengan nilai etika dan estetika adat Minangkabau ini, merupakan hasil penggabungan dari beberapa macam seni, seperti: drama (teater), seni musik, tari dan pencak silat.

5. Mamanda Mamanda adalah seni teater atau pementasan tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan. Dibanding dengan seni pementasan yang lain, Mamanda lebih mirip dengan Lenong dari segi hubungan yang terjalin antara pemain dengan penonton. Interaksi ini membuat penonton menjadi aktif menyampaikan komentar-komentar lucu yang disinyalir dapat membuat suasana jadi lebih hidup. Bedanya, Kesenian lenong kini lebih mengikuti zaman ketimbang Mamanda yang monoton pada alur cerita kerajaan. Sebab pada kesenian Mamanda tokoh-tokoh yang dimainkan adalah tokoh baku seperti Raja, Perdana Menteri, Mangkubumi, Wazir, Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan kedua, Khadam (Badut/ajudan), Permaisuri dan Sandut (Putri).

Disinyalir istilah Mamanda digunakan karena di dalam lakonnya, para pemain seperti Wazir, Menteri, dan Mangkubumi dipanggil dengan sebutan pamanda atau mamanda oleh Sang Raja. Mamanda secara etimologis terdiri dari kata "mama" (mamarina) yang berarti paman dalam bahasa Banjar dan “nda” yang berarti terhormat. Jadi mamanda berarti paman yang terhormat. Yaitu “sapaan” kepada paman yang dihormati dalam sistem kekerabatan atau kekeluargaan. Asal muasal Mamanda adalah kesenian Badamuluk yang dibawa rombongan Abdoel Moeloek dari Malaka tahun 1897.

Dulunya di Kalimantan Selatan bernama Komedi Indra Bangsawan. Persinggungan kesenian lokal di Banjar dengan Komedi Indra Bangsawan melahirkan bentuk kesenian baru yang disebut sebagai Ba Abdoel Moeloek atau lebih tenar dengan Badamuluk. Kesenian ini hingga saat ini lebih dikenal dengan sebutan mamanda. Bermula dari kedatangan rombongan bangsawan Malaka (1897 M) yang dipimpin oleh Encik Ibrahim dan isterinya Cik Hawa di Tanah Banjar, kesenian ini dipopulerkan dan disambut hangat oleh masyarakat Banjar.

Setelah beradaptasi, teater ini melahirkan sebuah teater baru bernama "Mamanda". Seni drama tradisional Mamanda ini sangat populer di kalangan masyarakat kalimantan pada umumnya 6. Longser Longser merupakan salah satu bentuk teater tradisional masyarakat sunda, Jawa barat. Longser berasal dari akronim kata melong (melihat dengan kekaguman) dan saredet (tergugah) yang artinya barang siapa yang melihat pertunjukan longser, maka hatinya akan tergugah.

Longser yang penekanannya pada tarian disebut ogel atau doger. Sebelum longser lahir dan berkembang, terdapat bentuk teater tradisional yang disebut lengger. Busana yang dipakai untuk kesenian ini sederhana tapi mencolok dari segi warnanya terutama busana yang dipakai oleh ronggeng. Biasanya seorang ronggeng memakai kebaya dan kain samping batik.

Sementara, untuk lelaki memakai baju kampret dengan celana sontog dan ikat kepala. 7. Ketoprak Ketoprak merupakan teater rakyat yang paling populer, terutama di daerah Yogyakarta dan daerah Jawa Tengah. Namun di Jawa Timur pun dapat ditemukan ketoprak. Di daerah-daerah tersebut ketoprak merupakan kesenian rakyat yang menyatu dalam kehidupan mereka dan mengalahkan kesenian rakyat lainnya seperti srandul dan emprak.

Kata ‘kethoprak’ berasal dari nama alat yaitu Tiprak. Kata Tiprak ini bermula dari prak. Karena bunyi tiprak adalah prak, prak, prak. Serat Pustaka Raja Purwa jilid II tulisan pujangga R. Ng. Rangga Warsita dalam bukunya Kolfbunning tahun 1923 menyatakan “… Tetabuhan ingkang nama kethoprak tegesipun kothekan” ini berarti kethoprak berasal dari bunyi prak, walaupun awalnya bermula dari alat bernama tiprak.

Kethoprak juga berasal dari kothekan atau gejogan. Alat bunyi-bunyian yang berupa lesung oleh pencipta kethoprak ditambah kendang dan seruling. Ketoprak merupakan salah satu bentuk teater rakyat yang sangat memperhatikan bahasa yang digunakan. Bahasa sangat memperoleh perhatian, meskipun yang digunakan bahasa Jawa, namun harus diperhitungkan masalah unggahungguh bahasa. Dalam bahasa Jawa terdapat tingkat-tingkat bahasa yang digunakan, yaitu: - Bahasa Jawa biasa (sehari-hari) - Bahasa Jawa kromo (untuk yang lebih tinggi) - Bahasa Jawa kromo inggil (yaitu untuk tingkat yang tertinggi) Menggunakan bahasa dalam ketoprak, yang diperhatikan bukan saja penggunaan tingkat-tingkat bahasa, tetapi juga kehalusan bahasa.

Karena itu muncul yang disebut bahasa ketoprak, bahasa Jawa dengan bahasa yang halus dan spesifik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Kethoprak adalah seni pertunjukan teater atau drama yang sederhana yang meliputi unsur tradisi jawa, baik struktur lakon, dialog, busana rias, maupun bunyi-bunyian musik tradisional yang dipertunjukan oleh rakyat. 8. Ludruk Ludruk merupakan kata drama pada mulanya berasal dari bahasa satu kesenian Jawa Timuran yang cukup terkenal, yakni seni panggung yang umumnya seluruh pemainnya adalah laki-laki.

Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari (cerita wong cilik), cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik.

Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa, menggunakan bahasa khas Surabaya, meski kadang-kadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang, Malang, Madura, Madiun dengan logat yang berbeda.

Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk, membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek (tukang becak, peronda, sopir angkutan umum, dll). 9. Lenong "Lenong" adalah seni pertunjukan teater tradisional masyarakat Betawi, Jakarta. Lenong berasal dari nama salah seorang Saudagar China yang bernama Lien Ong. Konon, dahulu Lien Ong lah yang sering memanggil dan menggelar pertunjukan teater yang kini disebut Lenong untuk menghibur masyarakat dan khususnya dirinya beserta keluarganya.

Pada zaman dahulu (zaman penjajahan), lenong biasa dimainkan oleh masyarakat sebagai bentuk apresiasi penentangan terhadap tirani penjajah. Kesenian teatrikal tersebut mungkin merupakan adaptasi oleh masyarakat Betawi atas kesenian serupa seperti "komedi bangsawan" dan "teater stambul" yang sudah ada saat itu.

Selain itu, Firman Muntaco, seniman Betawi, menyebutkan bahwa lenong berkembang dari proses teaterisasi musik gambang kromong dan sebagai tontonan sudah dikenal sejak tahun 1920-an.

Pada mulanya kesenian ini dipertunjukkan dengan mengamen dari kampung ke kampung. Pertunjukan diadakan di udara terbuka tanpa panggung. Ketika pertunjukan berlangsung, salah seorang aktor atau aktris mengitari penonton sambil meminta sumbangan secara sukarela Terdapat dua jenis lenong yaitu lenong denes dan lenong preman.

Dalam lenong denes (dari kata denes dalam dialek Betawi yang berarti “dinas” atau “resmi”), aktor dan aktrisnya umumnya mengenakan busana formal dan kisahnya ber-seting kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan, sedangkan dalam lenong preman busana yang dikenakan tidak ditentukan oleh sutradara dan umumnya berkisah tentang kehidupan sehari-hari. Selain itu, kedua jenis lenong ini juga dibedakan dari bahasa yang digunakan; lenong denes umumnya menggunakan bahasa yang halus (bahasa Melayu tinggi), sedangkan lenong preman menggunakan bahasa percakapan sehari-hari.

10. Ubrug "Ubrug" di Pandeglang dikenal sebagai kesenian tradisional rakyat yang semakin hari semakin dilupakan oleh penggemarnya. Istilah ‘ubrug’ berasal dari bahasa Sunda ‘sagebrugan’ yang berarti campur aduk dalam satu lokasi.

Kesenian ubrug termasuk teater rakyat yang memadukan unsur lakon, musik, tari, dan pencak silat. Semua unsur itu dipentaskan secara komedi. Bahasa yang digunakan dalam pementasan, terkadang penggabungan dari bahasa Sunda, Jawa, dan Melayu (Betawi). Alat musik yang biasa dimainkan dalam pemenetasan adalah gendang, kulanter, kempul, gong angkeb, rebab, kenong, kecrek, dan ketuk. Selain berkembang di provinsi Banten, kesenian Ubrug pun berkembang sampai ke Lampung dan Sumatera Selatan yang tentunya dipentaskan menggunakan bahasa daerah masing-masing.

Teater Ubrug pada awalnya dipentaskan di halaman yang cukup luas dengan tenda daun kelapa atau rubia. Untuk penerangan digunakan lampu blancong, yaitu lampu minyak tanah yang bersumbu dua buah dan cukup besar yang diletakkan di tengah arena. Lampu blancong ini sama dengan oncor dalam ketuk tilu, sama dengan lampu gembrong atau lampu petromak.

Sekitar tahun 1955, ubrug mulai memakai panggung atau ruangan, baik yang tertutup ataupun terbuka di mana para penonton dapat menyaksikannya dari segala arah.
Pengertian Drama – Grameds, apa Kamu pernah menyaksikan pementasan drama atau teater di salah satu televisi favoritmu? Atau, apa Kamu pernah menonton secara langsung pementasan drama atau teater? Namun, dalam pementasan drama atau teater tersebut, peran teks drama sangat penting untuk melancarkan acara.

Nah, artikel ini akan menjelaskan tentang seluk beluk drama secara mendalam, mulai dari pengertian, ciri, unsur, struktur, kaidah kebahasaan, jenis, dan tentunya contoh naskah drama. Materi tentang drama sebenarnya sudah pernah dibahas dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 11. Yuk, simak artikel berikut ini untuk memahami lebih dalam tentang pengertian drama, dan lainnya.

Daftar Isi • A. Pengertian Teks Drama • B. Ciri-Ciri Teks Drama • Anda Mungkin Juga Menyukai • C. Unsur-Unsur Teks Drama • 1. Unsur Intrinsik • a. Tokoh dan Penokohan • b. Latar (Setting) • c. Alur • d. Tema • e. Amanat • 2. Unsur Ekstrinsik • C. Struktur Teks Drama • 1. Prolog • 2. Dialog • 3. Epilog • E. Kaidah Kebahasaan Drama • F. Jenis-Jenis Teks Drama • 1. Berdasarkan Ada Tidaknya Naskah • 2. Berdasarkan Bentuk Sastra Percakapannya • 3.

Berdasarkan Sajian Isinya • 4. Berdasarkan Kuantitas Percakapannya • 5. Berdasarkan Besarnya Pengaruh Unsur Seni Lainnya • 6. Berdasarkan Bentuk-Bentuk Lainnya • 7. Berdasarkan Sarana Penyajiannya • G. Contoh Naskah Drama • Rekomendasi Buku & Artikel • • Kategori Ilmu Bahasa Indonesia • Materi Terkait A. Pengertian Teks Drama Menurut etimologi, istilah drama berangkat dari bahasa Yunani yaitu “draomai”, yang mana memiliki arti sebagai yang berbuat, berlaku, bertindak, dan kata drama pada mulanya berasal dari bahasa.

Berdasarkan sejarah kata tersebut, teks drama dapat dipahami sebagai suatu perbuatan atau tindakan yang ditulis dan selanjutnya digunakan dalam pementasan di sebuah panggung. Seiring perkembangan zaman, drama tidak hanya terbatas dipentaskan antar panggung. Sekarang ini, drama dapat didefinisikan sebagai suatu cerita yang dipentaskan di atas panggung atau tidak dipentaskan di atas panggung, misalnya seperti film, televisi, drama radio, dan lain sebagainya.

Dalam arti yang luas, teks drama pada dasarnya merupakan bagian dari bentuk karya sastra berisi cerita tentang kehidupan yang dipamerkan atau ditunjukkan dalam bentuk tindakan atau perbuatan. Sementara itu, drama sendiri biasanya diperankan oleh seseorang yang disebut aktor atau aktris.

Dalam melakukan pementasan drama, aktor dan aktris ini akan membuat gerakan dan dialog sesuai dengan teks drama untuk dipertontonkan kepada banyak orang. B. Ciri-Ciri Teks Drama Setelah mengetahui pengertian tentang teks, selanjutnya akan dijelaskan mengenai ciri-ciri teks drama.

Ciri-ciri pada teks drama dapat digunakan untuk menandai atau membedakan teks ini dengan teks lainnya. Selain itu, ciri-ciri drama juga menjadi tanda khusu pembeda dengan karya sastra lainnya. Berikut ini adalah ciri-ciri dari teks drama yang perlu diperhatikan, diantaranya yaitu: 1. Teks drama memiliki cerita yang berbentuk dialog, baik yang dituturkan oleh narator maupun tokoh.

Rp 210.000 4. Teks drama terletak di atas dialog atau di samping kiri dialog. 5. Teks drama memuat banyak konflik dan aksi.

6. Teks drama harus dilakonkan atau dipentaskan. 7. Teks drama biasanya dapat dipentaskan dengan durasi kurang dari tiga jam. 8. Teks drama tidak dapat diulang dalam satu masa tertentu. C. Unsur-Unsur Teks Drama Setelah mengetahui pengertian dan ciri dari teks drama, selanjutnya akan dijelaskan tentang unsur-unsur dari teks drama.

Unsur dalam teks drama hampir sama dengan genre sastra yang lain. Dalam teks drama, ada dua jenis unsur yaitu, unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.

1. Unsur Intrinsik Unsur intrinsik, berarti unsur yang berada di dalam sebuah teks drama. Unsur-unsur intrinsik ini adalah sebagai berikut: a. Tokoh dan Penokohan Tokoh dalam teks drama memiliki arti sebagai karakter rekaan yang ada dalam sebuah cerita drama. Sementara itu, penokohan atau karakterisasi dalam teks drama merupakan sebuah gambaran yang menceritakan karakter tokoh tersebut. b. Latar (Setting) Latar atau setting dalam teks drama yaitu sebuah kata drama pada mulanya berasal dari bahasa ruang atau tempat, waktu, hingga suasana terjadinya peristiwa dalam sebuah teks drama.

c. Alur Alur dalam teks drama adalah sebuah rangkaian peristiwa yang terjalin pada sebuah teks sastra, dengan berlandaskan hukum sebab dan akibat. Alur sendiri dapat dipahami sebagai pola dan keterkaitan peristiwa untuk menggerakkan cerita ke arah pertikaian dan penyelesaian cerita tersebut.

d. Tema Tema dalam teks drama adalah suatu gagasan pokok yang didukung oleh jalinan unsur lainnya, misalnya seperti tokoh, alur, dan latar cerita dengan wujud sebuah dialog. e. Amanat Amanat dalam teks drama yaitu suatu pesan yang disampaikan oleh pengarang kepada pembaca teks drama atau penonton pementasan drama.

2. Unsur Ekstrinsik Selanjutnya, unsur ekstrinsik teks drama dapat diartikan semua unsur yang berada di luar teks drama, tetapi memiliki peran dalam keberadaan teks drama tersebut. Unsur-unsur ekstrinsik ini adalah sebagai berikut: a. Biografi atau riwayat hidup pengarang teks drama b. Falsafah hidup pengarang teks drama c. Unsur sosial budaya masyarakat yang menjadi inspirasi dalam pembuatan naskah atau teks drama C. Struktur Kata drama pada mulanya berasal dari bahasa Drama Setelah mengetahui pengertian, ciri, dan unsur dari teks drama, selanjutnya akan dipaparkan penjelasan tentang struktur teks drama.

Sebagai bagian yang menjadi kerangka dari sebuah teks, struktur teks drama terdiri dari tiga bagian, meliputi prolog, dialog, dan epilog. Berikut ini adalah penjelasannya: 1. Prolog Bagian pertama dari struktur teks drama adalah prolog. Prolog dapat dipahami sebagai kata pendahuluan atau kata-kata pembuka yang memiliki peran sebagai pengantar. Prolog sendiri biasanya berisi penjelasan gambaran umum tentang tokoh, konflik, latar belakang cerita, atau berbagai hal yang terjadi dalam drama. Dalam pementasan drama, prolog sering kali disampaikan oleh narator atau bisa disebut juga dengan dalang, terkadang juga prolog secara khusus disampaikan oleh tokoh tertentu dalam drama.

2. Dialog Bagian kedua dari struktur teks drama yaitu dialog. Dialog dapat didefinisikan sebagai sebuah percakapan atau pembicaraan antara dua orang atau lebih. Dalam struktur teks drama, dialog menjadi unsur yang memiliki peran yang sangat penting.

Hal itu dikarenakan sebuah pementasan drama dibangun dengan menggunakan setiap dialog antar tokohnya. Dalam teks drama, dialog juga dapat menyampaikan gambaran tentang perasaan dari para tokoh. Hal ini yang menjadikan pementasan drama perlu diperankan oleh aktor atau aktris yang dapat menjiwai karakter dan perasaan dari tokoh yang diperankan.

Selain itu, aktor dan aktris juga harus mampu mengucapkan dialog dari tokoh yang diperankan, misalnya dengan menggunakan suara yang sesuai dengan perasaan dan watak dari karakternya.

3. Epilog Bagian ketiga dari struktur teks drama yaitu epilog. Epilog pada dasarnya adalah kata penutup dalam sebuah teks drama, yang mana fungsi dari epilog untuk mengakhiri sebuah pementasan drama. Dalam pementasan drama, epilog biasanya kata drama pada mulanya berasal dari bahasa simpulan atau amanat atau isi pokok dari teks drama. Sama seperti prolog, epilog umumnya disampaikan oleh narator atau dalang. Namun, bisa jadi karena kebutuhan pementasan epilog disampaikan oleh tokoh dalam drama tersebut.

Selain penjelasan tentang bagian di atas, pada bagian dialog dari struktur teks drama sendiri memiliki tiga bagian, meliputi orientasi, komplikasi, dan resolusi (denouement). Tiga bagian dialog tersebut kemudian dibagi lagi dalam beberapa babak dan adegan tertentu. Satu babak dalam sebuah teks drama biasanya mengandung cerita tentang sebuah peristiwa besar dalam dialog.

Hal itu dapat dilihat dengan munculnya beberapa perubahan atau perkembangan dari peristiwa yang dialami oleh tokoh utama. Sedangkan, adegan dalam sebuah teks drama hanya mencakup satu pilihan-pilihan dialog dari setiap tokoh. E. Kaidah Kebahasaan Drama 1. Teks drama berisi dialog. 2. Banyak menggunakan tanda petik pada dialog 3. Pada bagian prolog dan epilog, teks drama banyak menggunakan kata ganti orang ketiga, yaitu seperti dia, beliau, ia, -nya, dan lain sebagainya. 4. Pada bagian dialog, teks drama banyak menggunakan kata ganti orang pertama dan kedua, misalnya yaitu aku, saya, kami, kita, dan kamu.

5. Teks drama banyak memakai konjungsi temporal atau keterangan waktu, misalnya yaitu sebelum, sekarang, setelah itu, mula-mula, kemudian, dan lain sebagainya. 6. Teks drama banyak memakai kata kerja yang menggambarkan suatu peristiwa, misalnya seperti menyuruh, menobatkan, menyingkirkan, menghadap, beristirahat, dan lain sebagainya.

7. Teks drama banyak menggunakan kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh, misalnya seperti merasakan, menginginkan, mengharapkan, mendambakan, mengalami, dan lain sebagainya. 8. Teks drama banyak menggunakan kata-kata sifat untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau suasana, misalnya yaitu ramai, bersih, baik, gagah, kuat, dan lain sebagainya. F.

Jenis-Jenis Teks Drama Nah, setelah Kamu mengetahui pengertian, ciri, unsur, struktur, hingga kaidah kebahasaan, berikut ini adalah penjelasan tentang berbagai jenis teks drama. Jenis teks drama sendiri dibagi menjadi tujuh, diantaranya yaitu: 1. Berdasarkan Ada Tidaknya Naskah a. Drama tradisional, adalah jenis drama yang sering kali tidak memakai teks atau naskah drama. b.

Drama modern, adalah jenis drama yang banyak memakai teks atau naskah drama.

kata drama pada mulanya berasal dari bahasa

2. Berdasarkan Bentuk Sastra Percakapannya a. Drama puisi, adalah jenis drama yang percakapannya dibuat berupa puisi atau mengandung banyak unsur dari puisi. b. Drama prosa, adalah jenis drama yang percakapannya dibuat berupa prosa. 3. Berdasarkan Sajian Isinya a.

Drama tragedi, adalah jenis drama yang menyajikan tokohnya dalam keadaan sedih atau muram. Drama ini biasanya terjadi karena tokoh tersebut sedang berada suatu situasi yang gawat. Dalam situasi yang merugikan tersebut, bisa jadi dapat mengantarkan tokoh ke dalam keputusasaan dan kehancuran. Drama tragedi sering juga disebut dengan drama serius. Drama serius biasa dipahami sebagai drama yang menggambarkan pertikaian antar tokoh dan kekuatan yang luar biasa.

Akhir dari drama serius umumnya akan terjadi malapetaka atau kesedihan yang ditimpa tokoh utama. b. Drama komedi, adalah jenis drama ringan yang menghibur. Meskipun penuh dengan lelucon atau humor, drama ini sering kali memuat tentang sindiran.

Berbeda dengan drama tragedi, drama komedi biasanya memiliki akhir yang bahagia. c. Drama tragedi komedi, adalah jenis drama yang menggunakan alur sedih atau duka cita, akan tetapi akhir dari drama ini memberikan kebahagiaan kepada tokoh utamanya. 4. Berdasarkan Kuantitas Percakapannya a.

Drama pantomim, adalah jenis drama yang dipentaskan dengan tidak kata drama pada mulanya berasal dari bahasa memakai kata-kata. Drama ini lebih memaksimal penggunaan gerakan tubuh dari para tokohnya. b. Drama mini kata, adalah jenis drama yang dipentaskan hanya dengan menggunakan sedikit kata-kata. Drama ini biasanya memaksimal penggunaan gerakan tubuh dari para tokoh dan banyak bunyi dari mulut para tokoh, tetapi bunyi yang dihasilkan tidak berupa kata-kata.

c. Drama monolog, adalah jenis drama yang menampilkan drama dengan hanya satu tokoh utama yang bermonolog atau berbincang sendiri sepanjang pementasan. d. Drama dialog, adalah jenis drama yang mementaskan para tokohnya untuk berdialog dengan menggunakan kata-kata.

5. Berdasarkan Besarnya Pengaruh Unsur Seni Lainnya a. Drama opera, adalah jenis pementasan drama yang mengutamakan seni suara dan musik. b. Drama sendratari, adalah jenis pementasan drama yang mengutamakan seni tari. c. Drama tablo, adalah jenis pementasan drama yang tidak banyak tindakan atau dialog. 6. Berdasarkan Bentuk-Bentuk Lainnya a.

Drama absurd, adalah jenis pementasan drama yang secara sadar mengabaikan atau melanggar konvensi alur, penokohan, dan tematik. b. Drama baca, adalah jenis teks drama yang hanya cocok untuk dibaca dan tidak cocok untuk dipentaskan.

c. Drama borjuis, adalah jenis pementasan drama yang kata drama pada mulanya berasal dari bahasa tema tentang kehidupan kaum bangsawan. d. Drama domestik, adalah jenis pementasan drama yang memiliki tema tentang kehidupan rakyat biasa. e. Drama liturgis, adalah jenis teks drama yang dipentaskan bersamaan dengan upacara kebaktian gereja. f. Drama satu babak, adalah jenis pementasan drama yang hanya memiliki satu babak dan satu tema dengan jumlah aktor atau aktris yang sedikit, dan memiliki alur yang ringkas.

g. Drama rakyat, adalah jenis pementasan drama yang muncul dan berkembang dalam festival rakyat. Drama ini biasanya banyak dipentaskan di wilayah pedesaan. 7. Berdasarkan Sarana Penyajiannya a. Drama panggung, adalah jenis drama yang diperankan oleh aktor dan aktris di atas panggung.

b. Drama radio, adalah jenis drama yang disiarkan di radio. Drama ini hanya bisa didengarkan oleh para pendengarnya. c. Drama televisi, adalah jenis drama yang hampir sama dengan drama panggung.

Namun, drama ini ditampilkan melalui media televisi. d. Drama film, adalah jenis drama yang ditampilkan pada sebuah layar lebar seperti bioskop.

e. Drama wayang, adalah jenis drama yang diiringi pagelaran wayang. f.

kata drama pada mulanya berasal dari bahasa

Drama boneka, adalah jenis drama yang memakai boneka dalam pementasannya. G. Contoh Naskah Drama Mengejar Cita-Cita Ada dua anak yang bersahabat sejak kecil yang bernama Adi dan Anjas. Mereka selalu bersama, tetapi semenjak ayah Adi harus pindah kerja mereka berdua pun berpisah.

Pada suatu ketika tanpa disengaja mereka bertemu kembali tanpa disadari. Ketika mereka bertemu, mereka berdua berbincang-bincang. Karena mereka berdua telah kelas 12, mereka pun membicarakan akan kuliah kemanakah mereka setelah lulus SMA nanti.

Anjas : ngomong-ngomong, kamu mau kuliah dimana? Adi : aku mau kuliah di PIP. Anjas : emangnya kamu ngambil jurusan apa ? Adi : pelayaran. Mau jadi Kapten Kapal dong hehehe. hmmm tapi… Anjas : tapi kamu kenapa? Adi : tapi aku lemah di pelajaran fisika. Anjas : duh jangan sedih dong udah enggak apa-apa. Kalau kamu belajar lebih giat lagi pasti kamu bisa. Teruslah berusaha, Jangan menyerah. Kejar cita-cita kamu. Eits tapi jangan lupa kalau sudah usaha, kita juga harus tetep berdoa. Adi : iya, makasih ya atas masukannya pasti aku bakal belajar lebih giat lagi.

Anjas : nah gitu dong. Adi : kalau kamu ? mau kuliah dimana ? Anjas : aku belum tau nih. Kira-kira menurut kamu di mana ya? Terus jurusan apa? Adi : kalau menurut aku sih lebih baik kamu ikutin kata hati kamu aja. Pastinya yang sesuai sama bakat dan minat kamu juga.

Anjas : iya sih. Tapi masalahnya aku belum tau nih bakat aku di mana. Adi kata drama pada mulanya berasal dari bahasa ya kalau menurut aku sih bakat kamu sebaiknya minta pendapat ke orang lain tentang bakat kamu. Misalnya ke teman, ke guru, ke orang tua juga pasti.

Terus kalau kamu masih bingung juga, aku saranin kamu untuk minta petunjuk pada Yang Maha Esa. Ya dengan berdoa lah. Anjas : wah makasih juga ya, atas pendapat dan saran kamu. Aku akan coba ikutin saran kamu. Oh iya udah sore nih. Aku pulang ya. Makasih Adi. Adi : oh iya udah. Sama-sama. Makasih ya Anjas. Dan setelah perbincangan tadi, mereka berdua menjadi lebih giat belajar lagi. Dan akhirnya Anjas telah mengetahui bakat dan minatnya untuk melanjutkan sekolahnya.

Waktu terus berlalu. Tidak terasa mereka berdua telah lulus ujian dan mereka pun ingin melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi yang mereka inginkan. Karena mereka rajin belajar dan berdoa, mereka pun akhirnya diterima di perguruan tinggi yang mereka idam-idamkan.

Rekomendasi Buku & Artikel Kategori • Administrasi 5 • Agama Islam 126 • Akuntansi 37 • Bahasa Indonesia 95 • Bahasa Inggris 59 • Bahasa Jawa 1 • Kata drama pada mulanya berasal dari bahasa 31 • Biologi 101 • Blog 23 • Business 20 • CPNS 8 • Desain 14 • Design / Branding 2 • Ekonomi 152 • Environment 10 • Event 15 • Feature 12 • Fisika 30 • Food 3 • Geografi kata drama pada mulanya berasal dari bahasa • Hubungan Internasional 9 • Hukum 20 • IPA 82 • Kesehatan 18 • Kesenian 10 • Kewirausahaan 9 • Kimia 19 • Komunikasi 5 • Kuliah 21 • Lifestyle 9 • Manajemen 29 • Marketing 17 • Matematika 20 • Music 9 • Opini 3 • Pendidikan 35 • Pendidikan Jasmani 32 • Penelitian 5 • Pkn 69 • Politik Ekonomi 15 • Profesi 12 • Psikologi 31 • Sains dan Teknologi 30 • Sastra kata drama pada mulanya berasal dari bahasa • SBMPTN 1 • Sejarah 84 • Sosial Budaya 98 • Sosiologi 53 • Statistik 6 • Technology 26 • Teori 6 • Tips dan Trik 57 • Tokoh 59 • Uncategorized 31 • UTBK 1Drama sudah ada sejak zaman dahulu.

Diperkirakan drama sudah dimainkan sejak ribuan tahu yang lalu hal ini di didasarkan oleh sebuah penemuan naskah drama kuno di yunani yang ditulis oleh Aeschylus yang mana membuktikan bahwa drama sudah ada sejak abad ke 5 SM.

Lakon drama biasanya mengandung pesan atau ajaran moral bagi penontonnya. Menurut sejarahnya, drama lahir didalam maupun diluar negeri bermula dari peristiwa yang sama. Lakon drama dibuat untuk memberikan hiburan bagi para penonton nya tapi juga berisi pesan moral yang bisa dipetik didalamnya.

Dalam penulisan lakon drama ini berbeda dengan pembuatan cerita lainnya. Dalam pembuatan lakon drama dibutuhkan ketentuan-ketentuan yang harus dgunakan untuk menunjang keberhasilan dalam drama.

Tidak hanya pada naskah, setiap unsur yang berhubungan dengan drama juga harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang ada didalam drama mulai dari pemain, dialog yang dimainkan ataupun yang lainnya. Jadi didalam sebuah lakon drama itu memiliki banyak bagian-bagianya dan istilah-istilah yang digunakan dalam drama. Didalam makalah ini penulis akan memaparkan mengenai drama itu sendiri, bagaimana sejarah dari drama sejak zaman dahulu hingga ke zaman sekarang serta istilah-istilah dan unsur-unsur yang terdapat didalam drama juga akan diperkenalkan didalam makalah ini.

Berdasarkan etimologi,kata drama berasal dari bahasa Yunani drama yang berarti bergerak. Tontonan drama menimbulkan percakapan dialog dan gerak-gerik para pemain di panggung. Penonton dapat langsung melihat, menikmati, dan mengikuti tanpa harus membayangkan. Berbeda halnya dengan novel dan cerpen, sang pembaca harus berusaha untuk membayangkan alur cerita saat membaca novel dan cerpen.

Namun alam drama hal itu tidak mesti di lakukan karena sudah di peragakan secara langsung di panggung. Drama sering di sebut sandiwara atau teater.

Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa sandi yang berarti rahasia dan warah yang berarti ajaran. Sandiwara bebrarti ajaran yang di sampaikan secara rahasia atau secara sembunyi-sembunyi. Karena lakon drama sebenarnya mengandung pesan atau ajaran bagi penontonnya. Penonton akan menemukan makna tersirat dalam lakon drama. Misalnya, orang yang menebarkan kejahatan akan memperoleh kehancuran. Begitu pun sebaliknya, orang yang menebarkan kebaikan akan memperoleh kebaikan pula.

Sedangkan kata teater diambil dari bahasa inggris theather yang berarti gedung pertunjukan atau dunia sandiwara. Kata theter bahasa inggris itu berasal dari bahasa Yunani theatron yang artinya takjub melihat. Kebanyakan dari para penonton merasa takjub dan puas menyaksikan tontonan drama yang ada di panggung. Tetapi, teater mempunyai dua makna. Pertama teater yang berarti gedung pertunjukan, yaitu temat dimana di selenggarakannya suatu pertunjukan.

Di tempat ini penonton berkumpul bersama-sama menyaksikan dan menikmati pentas yang ada di panggung. Yang kedua adalah, yang berarti bentuk tontonan yang dipentaskan di depan orang banyak. Bentuk tontonan ini biasanya mempunyai nama untuk menandai grup satu dan grup lainnya. Misalnya, teater koma, teater kerikil, dan teater ada. Teater sebagai tontonan ada dua bentuk yaitu, teater tradisional dan teater modern. Jika teater tradisional tidak menggunakan naskah.

Sutrada hanya hanya menugasi pemain untuk memerankan tokoh tertent dari lakon yang di pentaskan. Pengarahan hanya seperlunya saja. Pemain tidak menghafalkan naskah baik dalam berbicara maupun bergerak, hal ini dilakukan secara spontanitas pemain saja.

Maka dari itu, resiko gagal tentu saja amat besar, apa lagi bagi pemain pemula dan amatir. Sebaliknya, teater modern menggunakan naskah.

Naskah ini di pegang teguh, diptuhi, dan dilaksanakn seluruhnya. Penataan panggung, music, lampu, dan lain-lain semuanya mengikuti naskah. Percakapan dan gerak-gerik pemain pun harus sama dengan naskah.

Karena itu para pemain menghafalkan naskahsecara berulang-ulang supaya percakapan dan gerak-gerik sesuai dengan apa yang ada di naskah tersebut. Jadi, pertunjukan yang di tampilkan di panggung benar-benar perwujudan dari naskah yang ada. Jadi drama dapat kita lihat dalam arti sempit dan luas. Drama dalam arti luas adalah smua bentuk tontonan yang mengandung cerita yang di pertunjukan di depan orang banyak.

Sedangkan dalam arti sempit adalah kisah hidup masyarakat yang digambarkan di atas panggung, di sajikan dalam bentuk dialog dan gerak berdasarkan kata drama pada mulanya berasal dari bahasa, didukung oleh tata panggung, tata lampu, tata musik, tata rias, dan tata busana. Dengan kata lain, drama dalam arti luas mencakup teater tradisional dan teater drama sedangkan drama dalam arti sempit mengacu pada teater modern saja. Para ahli menyampaikan rumusan yangberbeda-beda mengenai definisi seni drama.

Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan sudut pandang, pendapat, atau aliran yang berbeda-beda pula. Namun, dari keaneka ragaman rumusan itu, masih mempunyai intisari yang sama, yaitu kesenian kata drama pada mulanya berasal dari bahasa selalu dihubungkan dengan keindahan. Keindahan menimbulkan rasa senang bagi orang yang melihat dan mendengarnya.

Para seniman secar kreatif berusaha mewujudkan kesenian itu. Cara mwujudkannya bermacam-macam, tergantung bahan dasarnya. Seni drama sendiri diwujudkan dari berbagai bahan dasar karena dalam seni drama terkandung seni-seni lainnya. Seni drama sebagai tontonan merupakan perpaduan sejumlah cabang seni yaitu, seni sastra naskah (naskah cerita), seni lukis (tat arias dan tata panggung), seni music (music pengiring), seni tari (gerak-gerik pemain), dan seni peran (pemeranan tokoh).

Karena banyaknya cabang seni yang terlibatmaka tak mungkin suatu pementasan drama hasil karya seorang seniman. Gedung pementasan drama adalah tempat bertemunya para seniman, seperti sastrawan, actor, komponis, dan pelukis. Para seniman itu bekerja sama sesuai bidangnya masing-masing mewujudkan seni drama yang akan dinikmati keindahanya oleh penonton. Sejauh ini kami telah mengidentifikasi fitur yang berbeda milik fiksi dan puisi, dua genre yang mengandalkan kata-kata tertulis atau lisan sebagai sarana utama mereka berekspresi.

seni dramatis atau perfoming, howefer, menggabungkan lisan dengan sejumlah sarana visual lisan atau optik non, termasuk panggung, pemandangan, pergeseran adegan, ekspresi wajah, gerak tubuh, make-up, alat peraga, dan pencahayaan. Penekanan ini alsi tercermin dalam kata "drama itu sendiri", yang berasal dari bahasa Yunani "draien" (lakukan, untuk bertindak) sehingga reffering mengacu pada kinerja atau representasi oleh pelaku Drama sebagai tontonan sudah ada sejak zaman dahulu.

Nenek moyang kita sudah memainkan drama sejak ribuan tahun yang lalu. Bukti tertulis yang bisa dipertanggung jawabkan mengungkapkan bahwa drama sudah ada sejak abad ke 5 SM. Hal ini didasarkan temuan naskah drama kuno di yunani. Penulisnya Aeschylus yang hidup diantara tahun 525-456 SM. Isi lakonnya berupa persembahan untuk memohon kepada dewa-dewa. Menurut sejarah nya, lahirnya drama baik di dalam maupun di luar negri bermula dari peristiwa yang sama.

Sebagai “cikal bakalnya” adalah upacara keagamaan yang dilakukan para pemuka agama. Mereka menyembah dewa dengan mengumandangkan nyanyian puji-pujian. Lambat laun upacara keagamaan ini berkembang.

Bukan hanya berupa nyanyian nyanyian puji-pujian, melainkan juga doa dan cerita yang diucapkan dengan lantang. Satu jenis sastra yang mulai tampak di inggris dalam zaman pertengahan ialah drama.

drama mulanya tumbuh di dalam gereja sebagai media yang digunakan para rokhaniwan dalam khotbah nya, karena pada waktu itu khotbah diberikan dengan bahasa latin yang susah dipahami. Maka pada kesempatan tertentu para rokhaniwan mempertunjukkan lakon seperti hari kelahiran kristus, dan kebangkitan kembali. Bahasa latin yang digunakan dalam pertunjukkan berangsur diganti dengan bahasa inggris.

Cerita juga semakin berkembang dan memerlukan lebih banyak pelaku sehingga gereja tidak lagi dijadikan tempat pertunjukkan dan dipindahkan ke tanah lapangan. Kadang-kadang pertunjukkan diselenggarakan oleh serikat pengusaha (guilds). Drama yang ditunjukkan ada 2 macam, pertama”miracles” dan yang kedua “mysteries”.

Dari seluruh hasil sastra, dramalah yang mengalami kemajuan paling pesat dalam periode Elizabeth ini. Drama tidak lagi semata-mata digunakan untuk mengajarkan agama atau moral, tetapi bertujuan memperlihatkan hidup manusia. Pengaruh klasik telah memberikan penulis drama inggris suatu kesadaran tentang bentuk (“a sense of form”), walaupun tidak seluruh prinsip-prinsip drama klasik ditaati. Setiap drama berkisar sekitar suatu masalah atau konflik.

Dalam tragedi temanya muram dan serius, sedangkan dalam komedi temanya cerah dan gembira. Namun, struktur ke dua-duanya sama. Setiap drama dimulai dengan suatu “exposisi” guna menjelaskan situasi yang menjadi pangkal persoalan.

Kemudian diikuti oleh “komplikasi” di mana masalah menjadi semakin rumit, yang memuncak pada suatu “klimaks” atau “krisi” di mana terjadi penentuan kearah pemburukan situasi (dalam tragedi) atau perbaikan (dalam komedi). Selanjutkan terjadilah yang disebut dengan istilah perancis “denouement” yang membentangkan penguraian atau penyelesaian “komplikasi”. lalu tercapailah “pemecahan” dalam komedi atau “malapetaka” dalam tragedi. Tahap-tahap dalam drama ini biasanya diatur dalam “babak-babak” (acts) dan “adegan-adegan” (scenes).

Selain hal diatas terdapat dua macam drama, yaitu drama klasik dan drama romantik. Ciri utama drama klasik ialah adanya apa yang disebut “tiga kesatuan” (Three Unities) serta “chorus” yang dimaksud dengan “tiga kesatuan” ialah “kesatuan waktu”, “kesatuan tempat”, dan “kesatuan gerak”. Kesatuan waktu berarti bahwa jangka wantu yang diperlukan bagi berlangsungnya cerita di atas pentas harus sama atau hampir sama dengan jangka waktu cerita yang sesungguhnya. Jadi drama klasik tidak mungkin mempertunjukkan cerita hidup seseorang misalnya dari masa kanak-kanak sampai masa dewasa.

Kesatuan tempat berarti bahwa tempat dimana cerita berlamngsung tidak berubah-ubah. Kesatuan gerak berarti bahwa suatu drama itu harus hanya tragedi atau hanya komedi dan tidak boleh dicampur-campur. Juga alur cerita (plot) harus satu saja, tampa alur cerita tambahan (sub-plot). Kebanyakkan drama inggris dapat digolongkan drama romantik, kerena tidak menghiraukan “tiga kesatuan” dan hanya menaati apa yang menurut penciptanya baik bagi drama itu sendiri.

Namun sperti dinyatakan diatas, pengaruh klasik terasa pula dalam tumbuhnya kesadaran akan bentuk sehinnga drama inggris benar benar merupakan satu kesatuan dan bukannya hanya pertunjukkan serangkaian kejadian. Pun pengaruh ini terlihat pada pembagian dalam 5 babak yang lazim dalam zaman elizabeth itu. Komedi inggris pertama yang mencoba menerapkan prinsip-prinsip klasik ialah “Ralph Roister Doiser”.

Karya ini kemudian disusul oleh tragedi inggris pertama ialah “Gorboduc or Porrex” ciptaan Thomas Norton dan Thomas Sackville, yang dipertunjukkan untuk pertama kali dalam tahun 1562. Pengaruh klasik mulai terasa kuat dalam drama ini, namun “kesatuan waktu” dan “kesatuan tempat” tidak ditaati secara cermat. Maka sudah mulai tampak kecenderungan para para dramawan inggris untuk menyimpang dari model-model klasik dan menjurus kearah drama romantik.

John Lyly, yang terkenal sebagai penulis yang mengembangkan gaya bahasa yang disebut “euphism”, menulis juga beberapa komedi antara lain, “Endymion”, “the man in the moon” dan “Alexander and Campaspe”.

Cerita ceritanya diambil dari mitologi dan klasik. John Lyly adalah dramawan inggris pertama yang menulis “high comedy”, yaitu komedi yang melukiskan kehidupan dan perasaaan halus golongan-golongan “berbudaya”atau atasan. “Puritanisme” melingkupi ajaran-ajaran serta tindakan-tindakan yang dijiwai oleh keinginan untuk menjaga kesederhanaan dalam kebaktian keagamaan dan untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai moral keagamaan yag ketat.

Puritanisme ini timbul di inggris setelah reformasi protestan dari berdirinya gereja dalam abad ke-16 dan menjadi semakin kuat dalam abad ke-17. Gerakan puritan pada permulaan memang terutama merupakan gerakan keagamaan. Tetapi karena tekanan-tekanan dan tindakan-tindakan kurang bijaksana yang dilakukan terhadap kaum puritan oleh james I dan charles I, yang memang sudah tidak disukai oleh kebanyakan hamba-hambanya karena depostisme mereka, maka gerakan puritan menjadi gerakan politik yang hebat yang beroposisi terhadap raja.

kata drama pada mulanya berasal dari bahasa

Situasi konflik ini memuncak pada perang saudara di mana kaum puritan berhasil menumbangkan monarki yang despotis itu, menghukum mati charles I, dan mendirikan pemerintahan “commonwealth” atau republik di bawah pimpinan Oliver Cromwell.

Tetapi republik ini tidak berlangsung lama dan berakhir dengan pemulihan atau restorasi monark, dalam hal in charles II, Pada tahun 1660. tahun ini juga dianggap waktu berakhir periode puritan.

Selama periode puritan ini prose memainkan peran yang semakin penting dalam kehidupan masyarakat inggris. Kegairahan yang meluap-luap serta harapan-harapan yang tinggi yang terdapat di dalam zaman Elizabeth telah lampau. Tokoh-tokoh yang berkepala dingin seperti Francis Bacon (1561-1626) dan Thomas Hobbes ( 1588-1679) dalam karangan-karangan mereka mencoba menginsafkan para pembaca mereka bahwa kata drama pada mulanya berasal dari bahasa besar yang dihadapi masyarakat pada waktu itu harus dianalisis secara cermat dan rasional.

Pertentangan keagamaan antara kaum Anglikan dan kaum Puritan juga mengakibatkan bertambah besar jumlah karya prosa. Usaha Jamems I untuk mendamaikan dua pihak yang bersangketa itu mengalami kegagalan tetapi usaha ini telah menghasilkan suatu karya penting.

Ialah terjemahan baru Kitab Injil yang terkenal dengan sebutan “ Authorized Version” atau King James Bible”(1611). Pengaruh gaya bahasa terjemahan ini terlihat dalam karya-karya para ahli theologi pada masa itu, sperti Jeremy Taylor (1613-1667). Dan tidaklah berlebih-lebihan jika dikatakan bahwa kitab Injil ini bersama-sama dengan tulisan-tulisan Shakespeare merupakan karya-karya yang paling lus pengaruhnya terhadap pemakai-pemakai bahasa inggris.

Setelah masa masa perang saudara sampai tahun 1642, dan teater-teater ditutup sampai monarkhi kembali berkuasa pada tahun 1660. Selama periode Restorasi, yang mulai tahun 1660, banyak drama Renaissance muncul kembali dan banyak diminati, meski tampil dengan gaya yang baru. Pengaruh Pierre Corneille, penulis drama yang penting di Perancis pada tahun 1650-an membawa ke orientasi klasik tragedi yang puitis, yang disebut heroic tragedy. John Dryden, dramawan pertama masa Restorasi, menulis tragedi heroik yang berjudul The Conquest of Granada(1670), yang menyuguhkan nilai-nilai heroik seperti cinta yang ideal, kesetiaan dalam perang, dan ditampilkan dalam bait-bait yang bersajak.

Drama paling terkenal pada masa tersebut adalah serangkaian komedi yang brilian yang mempopulerkan pola komedi khas Inggris masa itu yaitu komedi tingkat tinggi ataucomedy of manners yang didasarkan pada percakapan yang witty dari tokoh-tokoh aristokrat.

Master pertama gaya baru ini adalah George Etherege, dengan dramanya The Man of Mode (1676), dan William Wycherley, dengan The Country Wife (1675). Restorasi juga menjadi saksi pemunculan dramawati profesional pertama dai Inggris yang dipimpin oleh Aphra Behn.

Komedi-komedinya yang populer juga menggunakan eleem-elemen dan ciri-ciri comedies of manners namun lebih menggantungkan efeknya pada plot-plot yang kompleks. Komedi-komedi jaman Restorasi mencapai ekspresinya yang paling sempurna dalam drama The Way of the World (1700) karya William Congreve, yang didominasi oleh pasangan yang brilian dan witty. Periode augustus merupakan periode gersang dalam bidang drama.

Dua penulis drama yang akan kita sebut disini ialah John Gay (1685-1732) dengan karyanya yang utama “The Beggar’s Opera” (1728), yaitu sebuah drama satire terhadap opera Italia; dan George Lilo (1693- 1739 ) yang dalam karyanya “The London Merchant or The History of George Bamwell” (1731) memulai suatu jenis drama baru, ialah “drama sosial” yang realistis.

Drama inggris dalam periode transisi ini diperkaya dengan sejumlah komedi yang cukup berhasil yang diciptakan oleh Gold Smith dan Brinsley Sheridan (1751- 1816). Goldsmith menulis dua komedi, ialah “The Good Natured Man” (1768) dan “She Stoops to Conquer” u(1773). Yang kedua adalah “komedi intrik” dan lebih berhasil daripada yang pertama. Hingga sekarang komedi ini masih populer, terutama di antara kelompok-kelompok drama amatir, karena adegan-adegannya yang kocak dan tokoh-tokoh ceritanya yang lucu dan jelas perwatakannya sehingga tidak begitu sukar dimainkan.

Sheridan menciptakan komedi-komedi “The Rivals” (1775), “ The School for Scandal” (1777), dan “The critic” (1779). Komedi ini penuh dengan dialog-dialog cemerlang seperti yang kita temukan dalam drama-drama periode Restorasi, namun tanpa nada kecabulan.

Tokoh-tokoh ceritanya jelas perwatakannya seperti dalam karya-karya Ben Jonson, hanya suasananya lebih cerah. Tetapi drama-drama Sheridan ini terasa dangkal, dan dalam hal ini ia lebih mirip Oscar Wilde, yaitu dramawan abad ke-19, daripada Ben Jonson.

Kalau puisi mengalami perkembangan yang mengagumkan, dan demikian pula prosa sampai pada tingkat tertentu, tidak demikian halnya dengan drama. Dalam periode romantisme ini tidak ada karya drama ciptaan baru yang benar-benar berhasil. Sebagian penyair-penyair romantik mencoba menulis drama, tetapi sebagai drama karya-karya itu tidak mencapai sukses. Salah satu sebab kemunduran drama ini mungkin ialah bahwa golongan menengah yang waktu itu menanjak dominasinya dalam masyarakat Inggris, tidak begitu menghargai drama sebagai seni, lebih-lebih profesi sebagai pemain drama tidak mendapat penghargaan sama sekali.

Bagi golongan menengah zaman itu rumah adalah pusat segala aspek kehidupan sosial, sehingga jenis karya sastra yang mendapat perhatian yang semakin besar ialah novel, yaitu karya yang dapat dinikmati drumah. Secara implisit telah kita jumpai dalam karya-karya sastrawan yang mempunyai kecenderungan-kecenderungan romantik seperti Gray, cowper, bums. Setelah sekian lama tidak menunjukkan kemajuan yang berarti, maka pada akhir abad ke-19 di Inggris mulai tampak kembali kehidupan dan kegairahan dalam penulisan drama.

Di antara para dramawan kata drama pada mulanya berasal dari bahasa hidup pada masa itu, George Bernand Shaw (1850 – 1950) adalah yang paling ternama. Pun kariernya sebagai dramawan adalah yang terpanjang dalam sejarah drama Inggris.

Ia berasal dari Irlandia, tetapi sejak usia muda sudah menetap di London. Ia mulai memasuki dunia drama sebagai seorang kritikus,pada waktu mana ia lebih memahami dan mengagumi karya-karya Henrik Ibsen seorang dramawan Kata drama pada mulanya berasal dari bahasa yang termahsyur. Kemudia ia menjadi penulis drama dan seperti Ibsen menggunakan seni untuk mengutarakan gagasan-gagasan sosial.

Shaw adalah anggota “Fabian Society”, suatu perkumpulan yang bertujuan mewujudkan sosialisme dengan cara-cara demokratis. Sebagai penganut paham itu, pastilah ia melihat banyak kepincangan serius dalam masyarakatnya. Namun drama-dramanya yang merupakan wahana bagi gagasannya itu tidak pernah bersuasana muram, tetapi selalu bernada kelakar, penuh permainan bahasa yang pandai dan jenaka, yang mengingatkan kita pada gaya Congreve dan Oscar Wilde, tetapi ada satu keistimewaan dalam kejenakaan Shaw jika dibandingkan dengan dua penulis komedi yang cemerlang itu, ialah apa yang kita sebut “paradox provokati” yang ia gunakan untuk menggoda dan mrnggugah pikiran serta perasaan para pembaca atau penontonnya, terutama mereka yang berpuas diri.

Paradox adalah suatu pendapat atau gagasan yang berlawanan dengan yang lazim, ataupun suatu pendapat yang mula-mula tampaknya aneh tetapi yang ternyuata mengandung kebenaran. Misalnya dalam “John Bull’s Other Island” (1904), ia membalikkan konsepsi yang lazim mengenai orang inggris dan orang Irlandia, dan melukiskan yang pertama sebagai seorang sentimentalis, sedangkan yang kedua sebagai orang praktis. Drama-drama Shaw meliputi segala macam pengalaman manusia, seperti seks, etika, agama, politik, dan sebagainya.

Misalny “arms and the man”(1894), adalah suatu satire mengenai kehebatan militer, “theman of destiny” (1897), suatu “mock-heroic” atau ejekan terhadap napoleon “you never can tell” suatu lelucon mengenai wanita baru, “man and superman” (1905), yaitu menggambarkan wanita sebagai perwujudan kehendak alam demi kelangsungan makhluk, “the doctor’s dillema”(1906), yang menyerang anggapan-anggapan di sekitar praktek kedokteran, “getting married”, suatu serangan terhadap sikap pura-pura yang menutup-nutupi hubungan antatr seks sebenaranya, “Androcles and the Lion” (1912), suatu satire terhadap sahid (martyr) kristen.

Ini hanya sebagian saja dari sekian banyak karya Shaw yang terus produktif hingga meninggalnya pada tahun 1950. Karyana yang terakhir ialah “Buoyant Billions” (1949). Semua drama Shaw ini merupakan komedi satiris dan menggunakan cara “paradox provokatif” seperti yang diterangkan di atas.

Semua drama Shaw itu juga merupakan “drama-drama diskusi” (discussion plays) dimana dibahas sebuah masalah, dan selalu didahului oleh sebuah kata pengantar yang membahas masalahnya secara lebih luas.

Salah satu drama Shaw yang terbaik, yaitu “pygmalion” (1912), dimana diceritakan bagaimana seorang anak perempuan kampung “disulap” oleh seorang profesor fonetik menjadi seorang “putri”telah dijadikan komedi musik (musical comedy) dalam tahun 50-an dan mencapai sukses luar biasa. Drama-drama John Galsworthy, yang sudah kita sebut sebagai penulis novel, juga mempersoalkan masalah-masalah sosial. Seperti dalam novel-novelnya, dalam karya-karya inipun ia menyajikan dua individu atau dua kelompok yang berlawanan sehingga pembaca atau penonton dapat mempertimbangkan tuntutan masing-masing.

Ia berusaha bersikap adil terhadap semua golongan, dan mengenai golongan-golongan yang kurang beruntung ia berpendapat bahwa merka adalah korban kepincangan dalam sistem masyarakat. Drama-drama Galsworthy antara lain ialah “The Silver Box” (1906), “strife” (1909), “ Justice” (1910), dan “Loyalties” (1922). Selain itu novel-novel “The Forstyle Saga” telah didramakan di depan radiodan kemudian di layar TV dengan memperoleh sukses besar.

Penggunaan drama untuk membahas masalah-masalah sosial atau soal-soal aktual lainnya ditentang oleh James Matthew Barrie (1860-1937). Drama-dramanya bergerak di alam fantasi dan bersifat sentimentil. Karya-karya Barrie antara lain “Peter Pan” (1904), yang merupakan dramatisasi impian anak-anak, “The Admirable Crichton” (1902), sebuah cerita suatu keluarga golongan atas yang terdampar disebuah pulau dan harus tunduk kepada pembantu rumah tangga mereka yang ternyata satu-satunya orang yang tidak kehilangan akal, dan “Dear Brutus” (1917), suatu dramatisasi lamunan seseorang tentang dirinya sendiri seandainya ia dapat mengulangi hidupnya.

Dari contoh-contoh diatas, tampak ciri khas drama-drama Barrie. Perlu selanjutnya diterangkan bahwa rasa simpatinya selalu tertuju kepada anak-anak dan orang-orang yang dalam kesusahan, namun menanggung penderitaan itu dengan tabah, diam-diam, dan melamun.

Misalnya pada akhir perang dunia I terbitlah karyanya “A Well Rememberred Voice” (1918), yang menunjukkan bagaimana seorang ayah berhubungan dengan roh anaknya yang mati dalam pertempuran. Pada tahun 1929 diterbitkan edisi lengkap drama-drama Barrie yang terbaik setelah berkali-kali diperiksanya, dan dibubuhi adegan-adegan tambahan serta catatan-catatan, sehingga terciptalah suatu tipe tulisan baru yang disebut “novel drama” Juga bagi dramawan Irlandia John Millingon Synge (1871-1909) drama bukan tempat untuk membahas gagasan-gagasan ataupun menganjurkan pemberontakan-pemberontakan.

Baginya drama adalah adegan yang kata drama pada mulanya berasal dari bahasa dari kehidupan oleh mereka yang mencari kebenaran. Oleh karenanya dalam drama-dramanya, baik tragedi maupun komedi, Synge selalu bersikap objektif, tanpa menonjolkan dirinya ataupun pendapatnya Suatu drama Synge yang khas misalnya tragedi satu babak “Riders to the Sea”, yang merupakan satu cukilan kehidupan rakyat nelayan, di mana seorang ibu tua harus mengakui kekuasaan takdir dan menyaksikan kematian anak lelakinya yang terakhir yang tertelan ombak.

Begitupun “The Playboy of the Western Word” (1907) merupakan suatu lukisan realistis rakyat pedesaan yang bersahaja yang mudah percaya pada apa yang mereka dengar dan sering terpedaya oleh bayangan-bayangan mereka sendiri, sehingga tak kata drama pada mulanya berasal dari bahasa menimbulkan situasi lucu.

Drama Synge yang satu ini penuh humor dari permulaan sampai akhir, walaupun sesungguhnya tidak ada satu tokoh cerita pun yang sengaja melucu. Humornya timbul dari situasi sendiri.

Drama-drama Synge lainnya ialah “The Shadow of the Glen” (1905), “The Well of the Saints” (1905), dan “Deirdre of the Sorrows” yang ditulis menjelang akhir hayatnya.

Setelah meninggalnya Synge, tempatnya sebagai dramawan Irlandia terkemuka diduduki oleh Sean O’Casey (1880-1964). Teater telah berubah selama ber -abad-abad. Gedung-gedung pertunjukan modern memiliki efek-efek khusus dan teknologi baru.

Orang datang ke gedung pertunjukan tidak hanya untuk menyaksikan teater melainkan juga untuk menikmati musik, hiburan, pendidikan, dan mempelajari hal-hal baru. Rancangan-rancangan panggung termasuk pengaturan panggung arena, atau yang kita sebut saat ini, Teater di Tengah-Tengah Gedung. Dewasa ini, beberapa cara untuk mengekspresikan karakter-karakter berbeda dalam pertunjukan-pertunjukan (disamping nada suara) dapat melalui musik, dekorasi, tata cahaya, dan efek elektronik. Gaya-gaya pertunjukan realistis dan eksperimental ditemukan dalam sebuah gaya teater yang ada di Amerika saat ini.

Seiring dengan perkembangan waktu. Kualitas pertunjukan Realis oleh beberapa seniman dianggap semakin menurun dan membosankan. Hal ini memdorong para pemikir teater untuk menemukan satu bentuk ekspresi baru yang lepas dari konvensi yang sudah ada.

Wilayah jelajah artisitk dibuka selebar-lebarnya untuk kemungkinan perkembangan bentuk pementasan seni teater. Dengan semangat melawan pesona Realisme, para seniman mencari bentuk pertunjukannya sendiri. Pada awal abad 20 inilah istilah teater Eksperimental berkembang. Banyak gaya baru yang lahir baik dari sudut pandang pengarang, sutradara, aktor ataupun penata artistik. Tidak jarang usaha mereka berhasil dan mampu memberikan pengaruh seperti gaya; Simbolisme, Surealisme, Epik, dan Absurd.

Tetapi tidak jarang pula usaha mereka berhenti pada produksi pertama. Lepas dari hal itu, usaha pencarian kaidah artistik yang dilakukan oleh seniman teater modern patut diacungi jempol karena usaha-usaha tersebut mengantarkan kita pada keberagaman bentuk ekspresi dan makna keindahan. Babak merupakan salah satu bagian yang ada di dalam lakon drama.

Dalam drama bisa saja terdiri dari beberapa babak tidak hanya satu babak. Didalam pementasanpemisahan antara babak satu dengan babak dua, babak dua dengan babak tiga ataupun batas dengan babak babak yang lainnya, biasanya menggunakan layar yang diturunkan ataupun lampu yang dimatikan. Setelah itu biasanya terjadi perubahan diatas pangggung guna menampilkan setting yang berbeda. Seperti kata drama pada mulanya berasal dari bahasa waktu, tempat ataupun suasana terjadinya suatu peristiwa.

Adegan juga termasuk kedalam istilah yang sering kita kata drama pada mulanya berasal dari bahasa berada di dalam sebuah lakon drama. Adegan merupakan bagian dari babak dan hanya menggambarkan satu suasana yang merupakan bagian dari rangkaian suasana-suasana dala babak.

Setiap kali terjadinya kata drama pada mulanya berasal dari bahasa adegan biasanya tidak selalu diikuti dengan pergantian setting. Prolog merupakan pendahuluan di dalam lakon drama. Prolog berfungsi untuk menyiapkan dan mengarahkan pikiran parapenonton agar dapat mengikuti alur cerita yang ada didalam lakon drama yang akan dipentaskan.

Prolog sendiri biasanya berisi tentang sinopsis dari cerita yang akan dipentaskan, tokoh-tokoh yang berperan didalma drama serta para pemainnya dan juga menggambarkan mengenai garis besar konflik yang akan terjadi diatas panggung.

Dialog merupakan percakapan diantara para pemeran. Dalam dialog, pengucapan dan pelafalannya haruslah jelas dan keras agar dialog yang dimainkan bisa didengar dengan benar oleh para penonton. Sekalipun seorang pemain dalam adegan berbisik, maka bisikannya itu diusahakan bisa didengar oleh penonton. Selain itu dialog antar para pemain juga harus disertai penjiwaan emosional yang baik. Hal ini bertujuan agar dialog yang dimainkan tidaklah terasa hambar. Dialog menjadi pengarah bagi sebuah lakon drama artinya penonton dapat mengikuti alur cerita dengan baik lewat dialok yang dimainkan oleh pemeran.

Monolog merupakan percakapan diri sendiri. Dengan kata lain merupakan percakapan yang dilakukan pemain dengan dirinya sendiri. Percakapan dalam monolog ini tidak ditujukan untuk orang lain, isi dari percakan dengan diri sendiri ini biasanya tentang ungkapan rasa, rencanasikap terhadapa suatu kejadian, dan lain-lain.

Mimik adalah ekspresi dari wajah yang berfungsi untuk menunjukkan emosi yang dialami oleh para pemeran. Ini bisa menunjukkan berbagai ekspresi berbeda dari setiap pemainnya, sehingga penonton dapat merasakan kondisi atau situasi apa yang sedang dihadapi oleh para pemeran. Contohnya ekspresi wajah pemain ketika sedih tentu saja berbeda dengan ekspresi wajah pemain jika sedang bahagia ataupun marah.

Seorang penulis drama harus memiliki banyak pengalaman dan banyak belajar. Karena, ia harus menyelidiki watak-watak manusia secara mendalam, sebab drama selalu mempertontonkan kehidupan manusia yang berbagai macam ragam watak dan tingkah lakunya (Wiyanto, :22-23). Mario Klarer dalam bukunya An Introduction To Literary Studies menjelaskan bahwa ada 3 tingkatan yang saling berkaitan dalam sebuah drama yaitu Text, Transformation dan Performance.

Banyaknya daerah tekstual drama seperti karakter, plot, pengaturan atau setting tumpang tindih dengan aspek fiksi yang telah dijelaskan, bagian berikut hanya akan berurusan dengan elemen-elemen khusus yang relevan dengan drama. Dalam dimensi tekstual drama, kata yang diucapkan berfungsi sebagai dasar untuk dialog (komunikasi verbal antara dua atau lebih karakter) dan monolog (solilokui).

Unsur-unsur dasar plot, termasuk eksposisi, komplikasi, klimaks, dan kesudahan, telah dijelaskan dalam konteks fiksi. Mereka memiliki asal dalam deskripsi klasik dari program ideal bermain dan hanya diadopsi untuk analisis genre lainnya.

Tiga kesatuan waktu, tempat, dan tindakan dan yang terpenting primer. Kesatuan ini menentukan bahwa rentang waktu tindakan harus sama dengan durasi bermain dan tempat di mana tindakan terungkap harus selalu tetap sama. Selain itu, tindakan harus konsisten dan memiliki plot linear. Tiga kesatuan, yang seharusnya untuk mengkarakterisasi struktur yang "baik" play, berasal dari Aristoteles.

Mereka lebih baik diidentifikasi untuk sebagian besar sebagai adaptasi dari puisi-Nya di abad XVI dan XVII. Aturan-aturan itu membuat kaku seiap presentasi waktu, pengaturan, dan plot yang dirancang untuk menghasilkan kemungkinan efek dramatis terbesar. Drama Shakespeare, selalu memegang posisi yang sangat menonjol dalam sastra Inggris, jarang sekali sesuai dengan aturan-aturan ini.

Inilah sebabnya mengapa tiga kesatuan tidak pernah dihormati di negara berbahasa Inggris sebanyak mereka di tempat lain di Eropa. Secara tidak langsung berhubungan dengan tiga kesatuan adalah pembagian bermain dalam ACTS dan SCENES.

Teater Elizabethan mengadopsi struktur dari zaman klasik, yang dibagi menjadi lima drama tindakan. Pada abad kesembilan belas, jumlah tindakan dalam bermain dikurangi menjadi empat, dan pada abad kedua puluh umumnya tiga. Dengan bantuan dari tindakan dan adegan perubahan, pengaturan, waktu, dan tindakan bermain dapat diubah, sehingga memungkinkan kesatuan tradisional tempat, waktu, dan tindakan yang harus dipertahankan dalam adegan atau tindakan.

Teater absurd, seperti rekan dalam fiksi, sama dengan struktur plot yang tradisional dan memimpin penonton ke dalam situasi rumit yang sering tampak tidak masuk akal atau tidak logis.

Komplikasi yang sering menyebabkan klimaks, resolusi, atau akhir yang logis. Dengan cara ini, teater absurd, seperti banyak novel modern atau film, upaya artistik untuk menggambarkan perasaan umum.

Samuel Beckett, yang bermain Gadot (1952) memberikan kontribusi terhadap ketenaran teater absurd, yang paling terkenal di dunia berbahasa Inggris. Membandingkan Beckett Godot dengan plot tradisional, ontaining eksposisi, komplikasi, klimaks, dan kesudahan, kita menemukan beberapa kesamaan. Judul bermain Beckett memberikan jauh situasi dua karakter utama, Vladimir dan Estragon; Godot tidak menerima karakterisasi lebih lanjut dalam perjalanan bermain.

Karakter lain secara singkat mengalihkan perhatian tetapi tidak benar-benar merubah situasi. Dua karakter utama tidak melewati tahap utama plot klasik dan tidak mengalami perkembangan apapun pada akhir drama.Beckett sadar melanggar harapan penonton akrab hanya dengan teater tradisional. Pada abad kedua puluh, dengan inovasi dari teater eksperimental dan teater absurd, aspek non-tekstual drama dibawa ke latar depan.

Fitur non-verbal, yang secara tradisional berfungsi menghubungkan perangkat antara teks dan kinerja, meninggalkan peran pendukung mereka dan mencapai status artistik sama dengan teks. Transformasi, merupakan bagian penting dari produksi drama dalam abad kedua puluh, mengacu pada fase yang menghubungkan antara teks dan kinerja. Ini terdiri dari semua langkah logistik dan konseptual yang mendahului kinerja dan biasanya diringkas untuk mengarahkan judul.

Transformasi ini tidak secara langsung dapat diakses oleh penonton. Namun demikian, hal itu mempengaruhi hampir semua elemen kinerja. Tugas direktur kontemporer termasuk memilih naskah atau teks, bekerja di luar konsep umum, casting, mengadaptasi panggung, memilih alat peraga, kostum, make-up, dan aktor melalui latihan.

Sutradara bertanggung jawab atas seluruh koordinasi artistik yang memandu teks ke dalam kinerja. Profesi sutradara mulai envolve di akhir abad kesembilan belas dan dengan demikian merupakan fenomena yang relatif baru dalam pengembangan drama.

Batas-batas yang memisahkan aktor, penulis, dan koordinator pertunjukan itu, hingga abad kesembilan belas, sangat samar-samar. Penulis sendiri akan memimpin produksi, atau aktor yang lebih berpengalaman akan mengambil tugas mengarahkan. Tidak sampai paruh kedua abad kesembilan belas perkembangan realisme, persyaratan produksi tumbuh lebih menuntut dan profesi kata drama pada mulanya berasal dari bahasa menempatkan dirinya sebagai mediator antara penulis dan aktor.

Di antara direksi carly Rusia konstantin Stanislavsky (1863-1938) yang paling terkenal. Sutradara CATASTROPHE Samuel Beckett (1982), sebuah drama pendek dengan jumlah yang relatif besar, diri refleksif subjek adalah produksi drama. Drama sangat bergaya berkisah sutradara, aktor, dan pembantu, yang semuanya Bergerak dalam produksi pertunjukan.

Dalam hal ini, CATASTROPHE adalah pekerjaan yang sangat post modernis; beberapa tingkat bermain, termasuk transformasi dari teks ke kinerja, sudah merupakan bagian integral dari kata drama pada mulanya berasal dari bahasa Backett, dengan demikian meletakkan prinsip-prinsip drama. Setiap langkah dalam transformasi dari text pilihan bermain, pemotongan script, aksentuasi bermain, casting, persyaratan alat peraga, desain panggung, dan memiliki audiens yang spesifik dalam pikiran. Yang penting adalah ide konseptual direktur.

Ini mirip dengan interpretasi skor dengan konduktor, yang menekankan aspek-aspek tertentu dari "text" untuk menyampaikan kesan individu. Produksi sukses seperti Ellis Rabb itu (1930-1998) interpretasi homoerotic (1970) dari shakespeare adalah pedagang Venesia (1596-1598), membutuhkan latar belakang budaya tertentu penonton. Produksi belum tentu selaras dengan tren yang jelas untuk sukses, sebagaimana dibuktikan oleh produksi dari Amerika Robert Wilson (1941), yang meminjam teknik dari arsitektur dan lukisan.

Adapun pendekatan sutradara perlu memutuskan jenis "alat" ia akan digunakan dalam produksi untuk audiens yang spesifik. Semua langkah transformasi cara verbal dan nonverbal dari expresion adalah termasuk dalam gagasan konseptual, yang berjalan seperti tema utama melalui seluruh produksi.

Salah satu aspek yang mendasari setiap produksi adalah dimensi ruang. Fiksi tradisional mengungkapkan ruang terutama melalui deskripsi, sedangkan drama, untuk tujuan ini, menggunakan dialog, monolog, bahasa tubuh, dan, di atas semua, desain panggung, pemandangan, alat peraga, dan pencahayaan.

Banyak elemen ruang di teater tunduk pada kondisi sejarah, tetapi direktur bebas beradaptasi fitur yang lebih tua untuk produksi modern. Susunan teater dalam lingkaran, misalnya adalah konsep lama datang kembali ke teater kuno dan sekarang sedang digunakan kembali dalam produksi modern untuk menciptakan interaksi antara penonton dan aktor.

Tahap terakhir adalah performance, yang berfokus pada aktor dalam menyampaikan maksud dari penulis dan sutradara. Sampai pada akhir abad ke 19 transformasi text itu hampir seluruhnya berada pada tangan aktor.

Karena, kualitas acting dalam sebuah drama itu sangat berbeda dengan performance individu. Metode harus ditemukan untuk menjamin hasil yang maksimal pelatihan pernafasan, gerak tubuh, bahasa tubuh, dan mekanisme fisikologi berpengaruh pada suasana hati dan sikaf tertentu di atas panggung. Ada 2 pendekatan teoritis dalam acting modern yaitu metode eksternal atau teknis dan metode internal atau realistis.dalam metode external, aktor seharusnya bisa meniru suasana hati yang diperlukan dalam bagian nya dengan mengunakan teknik tertentu, Agar benar merasa sedang berada dalam suasana hati ini.

Hal ini bergantung pada peniruan dan simulasi. Sedangkan metode internal, dibangun atas identifikasi individu aktor dengan bagianya. Pengalaman pribadi, internalisasi emosi dan situasi yang diperlukan dalam bagian mendasari dalam metode internal, hal ini merupakan identifikasi internal peran bukan peniruan seperti menjadi tujuan utama dan sekolah acting di amerika serikat dibawah direktur Rusia konstain stanislavsky teknik ini dikenal sebagai “Metode”.

Lebih menekankan “Menjadi” dari pada “ Menunjukan” metode ini telah menghasilkan sejumlah autor terkenal seperti Marlon Brando dan Paul Newman Namun selain harus memiliki kemampuan tersebut, seorang penulis drama juga harus mengetahui apa-apa saja yang menjadi unsur dalam sebuah lakon drama. Menurut Wiyanto dalam bukunya Terampil Bermain Drama, menyatakan bahwa setidaknya ada 8 unsur dalam lakon drama yaitu tema, amanat, plot, karakter, dialog, settingbahasa, dan interpretasi.

Amanat merupakan pesan moral yang ingin disampaikan penulis kepada pembaca naskah atau penonton drama. Pesan ini biasanya bersifat tersirat, tidak disampaikan secara langsung.

Biasanya amanat muncul pada naskah lakon drama yang ditulis oleh penulisnya. Dengan adanya amanat, ini menunjukkan bahwa sebenarnya kandungan yang terdapat didalam sebuah cerita drama itu tidak hanya berguna untuk memberikan hiburan bagi penonton tetapi mereka juga diajarakan dengan nilai-nilai moral yang terkandung di dalam drama ini.

Setiap lakon drama biasanya pasti selalu mengandung konflik. Sebab roh dalam drama adalah konflik. Konflik yang terjadi dalam sebuah drama biasanya konflik yang terjadi antara pemain dengan pemain lainnya, pemain dengan dirinya sendiri atau pun pemain dengn lingkungan. Konflik yang umum biasanya adalah pertentangan antara kebaikan dan kejahatan.

Sebelum adanya pertentangan atau konflik biasanya didahulukan dengan penyebab-penyebab yang membuat terjadinya konflik itu sehingga terbentuklah sebuah rangkaian peristiwa. Rangkaian peristiwa inilah yang membentuk plot drama ( jalan cerita drama). Plot dalam drama berkembang secara bertahap, mulai dari konflik yang sederhana, konflik yang kompleks dan penyelesaian konflik.

Dalam penyelesaian konflik biasanya dibuat dengan bermacam-macam. Secara rinci, Wiyanto menjelaskan bahwa perkembangan plot drama ada enam tahap, yaitu eksposisi, konflik, komplikasi, krisis, resolusi, dan keputusan.

Dalam tahap krisis, konflik sudah mencapai puncak nya (klimaks)biasanya tahap ini merupakan tahap puncak ketegangan jika dilihat dari segi penonton. Namun, bila dilihat kata drama pada mulanya berasal dari bahasa sudut konflik, klimax berati titik pertikaian paling ujung yang dicapai pemain biasanay antara tokoh antagonis dan protagonis. Karakter atau perwatakan merupakan keseluruhan ciri-ciri jiwa seorang tokoh dalam lakon drama.

Tokoh-tokoh ini bisa saja berwatak ramahsabarsuka menolong, suka marah, keji ataupun jahat. Karakter dibuat oleh penulis lakon drama. Karakter yang telah dibuat harus di mainkan dengan sangat baik oleh aktor yang memerankannya. Agar dapat melakukannya dengan baik aktor harus memahami betul karakter yang dikhendaki penulis lakon drama.

Dalam menunjang peran untuk menjadi tokoh yang sesuai denga kehendak penulis, biasanya pemain dibantu oleh penata rias, penata busana, dan akting. Misalnya Jika tokoh yang diperankan adalah toko orang miskin atau gelandangan, pemain biasanya dipakaikan pakaian yang lusuh, sobek-sobek atau pun sudah compang-camping. Jalan cerita lakon drama diwujudkan melalui dialog (dan gerak) yang dilakukan para pemain.

Dialog-dialog yang dilakukan harus mendukung karakter tokoh yang diperankan dan dapat menunjukan plot drama. Karena itu, dialog harus benar-benar dijiwai oleh para pemain sehingga sanggup menggambarkan suasana. Dialog juga harus berkembang mengikuti suasana konflik dalam tahap-tahap plot lakon drama.

Setting adalah tempat, waktu dan suasana terjadinya suatu adegan. Karena semua adegan dilaksanakkan di atas panggung, maka panggung harus menggambarkan setting yang dikhendaki.

Panggung harus bisa menggambarkan tempat adegan itu terjadi misalnya ruang tamu, rumah sakit, tepi sungai dan tempat lainnya. Penataan panggung juga harus sesuai dengan konteks naskah misalnya abad pertengan, zaman sekarangpagi harimalam hari dan seterusnya. Seorang penulis naskah drama harus mampu memilih kata-kata yang sesuai dengan makna dan pandan merangkai kata-kata yang akan disampaikan dalam dialog yang dimainkan oleh pemain. Bahasa sebagai baha dasar yang diolah untuk menghasilkan lakon drama.

Karena itu penulisan naskah drama harus memperhatikan hal-hal yang kata drama pada mulanya berasal dari bahasa dengan bahasa seperti ragam lisan, ragam tulis, ragam resmi dan ragam tak resmi. Dialog haru s ditulis dengan ragam bahasa yang tepat sesuai dengan siapa yang berbicara, apa yang dibicarakan dan pada siapa akan berbicara.
Kata “drama” berasal dari kata Yunani kuno draomai yang berarti bertindak atau berbuat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa drama adalah komposisi syair atau prosa, cerita atau kisah, terutama yang melibatkan konflik atau emosi yang menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog dipentaskan. Beberapa ahli juga dan sifat manusia dalam bentuk dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan gerak di hadapan pendengar maupun penonton.

Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa drama adalah salah satu jenis lakon serius dan berisi kisah kehidupan yang sengaja disusun untuk pertunjukan teater. Contoh lakon-lakon kata drama pada mulanya berasal dari bahasa adalah Hedda Gabler, Musuh Masyarakat, Brand, Boneka Mainan, Tiang-Tiang Masyarakat, Hantu-Hantu (Henrik Ibsen), Domba-Domba Revolusi ( B.Sularto), dan Titik-Titik Hitam ( Nasjah Djamin).

Naskah drama ditulis oleh penulis naskah dari bentuk cerita biasa menjadi naskah drama. Bentuk naskagh drama berbeda dengan bentuk naskah cerita biasa. Isi nashkah drama, biasanya teerdiri atas dua bagian, yaitu narasi dan dialog. Narasi, berupa kalimat berita, biasanya bherisikan keterangan. Fungsi narasi dalam drama adalah untuk memperjelas cerita sehingga mudah diperagakan.

Ada kalanya nskah drama sedikit sekali menggunakan narasi. Oleh karena itu, sudah menjadi tugas sutradara untuk mengembangkan naskah tersebut. Narasi berfungsi untuk memberikan keterangan sehingga bagian ini tidak dilisankan atau tidak dibaca bersuara.

Sedangkan dialog merupakan kalimat langsung yang harus diucapkan oleh pemain sebagai ucapannya sendiri. Dalam mengucapkan dialog, setiap pemain seakan-akan tidak membaca, melainkan berbicara.

Daripengertian-pengertian drama dan naskah diaatas dapat kita ketahui bahwa sebuah dramaa harus mengandung persoalan-persoalnan kehidupan yang dapat menentulkn bobot, nilai, dan makna dari cerita tersebut.

Keberadaan persoalan-persoalan kehidupan tersebutjuga sekaligus menunjukan kekuatan penulis dalam meramu permasalahan. Tiba-tiba sunyi itu dipecahkan oleh suara tertawa pendek geli dari si utai setengah pandir yang baru keluar dari pintu rumah mat kontan. Iaterus berlari dan bersembunyi didekat pojokan rumah soleman.

Tertawanya tertinggal disana. Tak lama sesudah itu keluar paijah istri mat kontan berteriak sambil mencari-cari. Creon sang raja memutuskan untuk memutuskan untuk memperlakukan kedua jenazah saudara kita berbeda. Jenazah Eteocles, ia makamkan dengan penghormatan yang lengkap, dengan upacara yang gemilanhg, ia antarkan sukamnya ke neraka.

Tetapi untuk jenazah Polyneicies yang malang, ia kenakan larangan untuk menguburnya. Harus dibiarkan terkapar tanpa diratapu, tanpa pemakamann, menjadi mangsa burung-burung padang belantara. Kamu dan aku tak berdaya apa-apa. Dan kini Creon sendiri tengah bersiap siap untuk memimpin sendiri pelaksanaan pengumumanya. Jangan kamu kira ia Cuma setengah setengah saja-hukumann untuk pelanggaran sudah tentu bukuman mati-dilempari bat sampai mati.

Nah, camkanlah. Ismene, saudariku. Kamu berdarah bangsawan! Kamu harus membuktikan keaslian bulumu nanti, bila ada harga dirimu. Pada contoh naskah tersebut, plot belum tercipta dan tidak dalam bentuk naskah drama.

Penulis tidak menyertakan plot dalam naskah drama tulisannya. Plot drama sepenuhnya terletak pada kemampuan actor mewujudkan hasil penafsiranya atas tokoh yang diperankanya. Hal ini tentu berbeda dengan naskah prosa yang sudah menyertakan plotnya.

Oleh karena itu, jika dibaca sepintas naskah drama mungkin membosankan karena ia baru berupa kerangka dan isinya hanya berupa percakapan. Percakapan dalam naskah drama disebut wawancang, Jika ada bagian yang bukan percakapan atau wawancang maka bagian itu disebut kramagung atau stage direction.

Biasanya, kramagung ditulis dalam bentuk kalimat yang dibatasi tanda kurung (….) atau ditulis kata drama pada mulanya berasal dari bahasa huruf capital semua atau dicetak miring. Wawancang merupakan bagian terpenting dari naskah drama. Dalam wawancang, terkandung semua perasaan baik marah, jengkel, bimbang, riang, sedih, takut, bangga, dan lainya.

Oleh karena itu, bagian inilah yang harus dihafal actor. Selain menghafal, actor juga menciptakan intonasi yang tepat, mengucapkan diksi dan atrikulasi secara terang. Dengan demikian, emosi atau parasaan yang terkandung dalam cerita ini dapat tersampaikan dengan tepat.

Berbeda dengan wawancang, kramagung atau teks samping pada dasarnya merupakan sebuah perintah kepada actor untuk bertindak atau melakukan sesuatu sesuai cerita. Kramagung tidak selalu ada dalam setiap naskah drama.

Sebagai contoh, pada karya satra A di atas tidak terdapat kramagung ini sementara pada karya sastra B, ada dan ditulis dengan huruf kapiats serta huruf miring. Drama merupakan darana bagi pembuatnya untk menyampaikan pesan moral atau pandanganya terhadat berbagai hal kepada penonto maupun masyarakat. Oleh karena menjadi sarana untuk menyampaikan pesan atau pandangan. Setiap isis drama memiliki temanya tersendiri.

Ada yang mungkin mengangkt tema kritik sosial, politik, keamanan, dan sebagainya. Tema dijadikan ide sentral dalam sebuah naskah drama. Ia merupakan sasaran, pesan atau pandangan yang ingin disampaikan oleh seorang penulis drama.

Agar dapat dierjemahkan dengan baik oleh para pemain atau aktor, tema suatu drama harus jelas. Tema dapat saja tertulis dsalam naskah tetapi juga hanya tersirat pada dialog-dialognya.

Tema dapat juga memiliki ide tunggal tetapi juga dapat lebih dari satu ide. Bagi penonton, tema sebuah drama dapat diketahui dari dua hal, yaitu sebagai berikut. Bentuk penyajian dialog dalam drama dapat kita bedakandari jenis bahasa yang digunakan, yaitu gaya atua susunan kalimatnya apakah terikat atau tidak pada kaidah-kaidah bahasa.

Dari jenis bahasa ini, ada tiga bentuk penyajia yang dapat dilihat, yaitu bentuk dialek, bentuk puisi, dan bentuk lirik musik.

Dalam bentuk ini, gaya bahasanya mirip dengan gaya bahasa puisi. Bedanya, lirik diikat oleh bar, yakni potongan birama dalam setiap baris atau dialognya berbentuk nyanyian. Pertunjukan yang menampilkan lirik sebagai dialog disebut opera atau operet. Di Jawa, sejak zaman kerajaan telah ada jenis pertunjukan seperti ini, yang disebut dengan Langendriyan (Mangkunegaraan Surakarta) dan Langenmandra Wanata (Yogyakarta) Dalam bentuk ini, gaya bahasa yang dipakai dalam penyajian drama berupa susunan puisi,baik yang terikat maupun tidak dengan rima.

Naskah drama Indonesia yang ditulis kisaran tahun 1940-1950 kebanyakan menggunakan bahasa puisi dalam gaya percakapannya. Naskah drama Yunani kuno yang terkenal, Oidipus, juga menggunakan barisan-barisan puisi didalam penyajiannya. 1. Klasisme, yaitu aliran drama yang memiliki aturan sangat ketat dibandingkan dengan drama yang lain dengan lakon lima babak. Teme-tem drama pada aliran ini umumnya bercerita sekitar kutukan yang akan jatuh kepada manusia yang laknat dan bebal.

Pengarang drama dari aliran klasisme antara lain Sophocles dan Aristophanes. 3. Romantisme merupakan aliran drama yang muncul sekitar abad ke-18. Bentuk drama yang lahir pada abad ini diwarnai oleh sikap dan pandangan bahwa manusia dapat menemukan apa saja berkat keampuhan analisis akalnya dan tindakan apa pun bentuknya dapat dituntun oleh sifat alamnya.

Pengarang dari aliran ini, atara lain James Sheridan Knowles, Friedrich von Schiller, dan Johann Wolfgang von goethe.

4. Realisme merupakan aliran drama yang muncul sekitar abad ke-19. Bentuk drama yang tumbuh pada abad ini sangat dipengaruhi oleh tata nilai yang dibangun berdasarkan pemikiran kaum positivisme, terutama karena pengaruh buku Charles Darwin ( The Origin of the Species).

Pemikiran kaum positivisme ini, antara lain meragukan eksistesi Tuhan. Pengarang drama dari aliran ini, antara lain Henrik Ibsen, George Bernard Shaw, Nikolai Gogol, dan Anton P. Chekhov. 5. Simbolisme atau neoromantisme dan impresionisme, yaitu aliran yang bermula dari gerakan kesadaran bahwa hakikat kebenaran hanya mungkin dipahami oleh intuisi.

Aliran ini menolak sifat-sifat yang umum tentang pengertian “kenyataan”. Oleh karena itu, kebenaran sebagai suatu kenytaan tidak dapat dirumuskan dengan bahasa logika sendiri. Ia hanya bisa diarahkan dengan simbol-simbol. Pengarang drama yang mahsyur dari aliran simbolisme ini adalah Maurice Maeterlinck. Selain itu ada juga dua teoritikus teater yang berpijak pada tradisi simbolisme ini, yakni Adolphe Appia dan Gordon Craig. 6. Ekspresionisme merupakan aliran dari abad ke-20 yang menantang keampuhan realisme.

Mula-mula aliran ini berkembang di seni rupa, yakni pada diri van Gogh dan Gauguin. Kemudian berkembang di seni musik pada diri Schonberg. Sementara di dunia drama atau teater, pelopor aliran ini adalah August Stindberg, Ernst Toller, dan Kata drama pada mulanya berasal dari bahasa Kaisar.

7. Epik teater merupakan bentuk drama dari sekitar Perang Dunia II ini dibenahi oleh Bertolt Brecht. Brecht menganggap teater tela terkulai dalam keadaan lelah dan perlu adanya tenaga yang sanggup mendenyutkannya lagi.

Brecht merumuskan teori tentang teater “harus jadi asing” kembali. Ia menggunakan rumus bahwa historifikasi adalah bagian terbesar dalam aliensasi. 8. Absurdisme merupakan aliran yang muncul sekitar tahun 1950-an. Bentuk drama dari tahun-tahun ini bersumber pada pandangan bahwa dunia ini netral. Kenyataan dan kejadian adalah tak berujud. Jika manusia mengatakan suatu peristiwa tak bersusila, hal itu tidaklah dianggap dengan sendirinya asusila. Pikirannya sendiri yang mengatakan itu asusila.

Tak ada kebenran kata drama pada mulanya berasal dari bahasa. Setiap insan harus menemukan sendiri nilai-nilai yang sanggup menghidupkannya.

Sejauh itu, ia pun harus mau menerima bahwa nilai-nilai yang ditemukannya itu sesungguhnya absurd. Pengarang-pengarang drama dari aliran ini di antaranya SamuelBrckett dan Eugene Lonesco Bentuk penyajian drama juga dapat dilihat berdasarkan jenis sajiannya.

Misalnya, bagaimana bentuk dramatik sebuah lakon atau apa yang terkandung dalam jalinan perasaan yang menunjang cerita. Dari komponen atau jawaban-jawaban atau pertanyaan ini kita akan mengetahui sifat-sifat dramatik sebuah naskah drama. Sifat-sifat dramatik lakon dalam drama inilah yang menjadi pedoman dalam mengklasifikasikan jenis sajian drama. Menurut Aristoteles, lakon tragedi adalah lakon yang meniru sebuah aksi yang sempurna dari seorang tokoh besar, seperti raja, putri raja, ksatria atau tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh dalam masyarakat.

Lakon ini menggunakan bahasa yang menyenangkan supaya para penonton merasa belas kasihan dan ngeri. Dalamhal ini, penonton mengalami pencucian jiwa atau mencapai katartis. Lakon-lakon tragedi dari masa Yunani Kuno, misalnya, mengajak manusia untuk merenungkan hakikat kehidupan dipandang dari sisi yang menyedihkan. Kehidupan pada prinsipnya akan selalu kalah dengan takdir Ilahi. Konsekunsi tidak bisa ditolak, namun mereka yakin bahwa kehidupan ini bisa ditaklukan meskipun pada akhirnya juga akan kalah dengan takdir.

Lakon tragedi seperti roman mengungkapkan pencarian manusia terhadap rahasia kehidupan abadi dan pertahanan terhadap kekuatan jahat untuk mendapatkan identitas sekaligus semangat hidup, meskipun untuk mendapatkannya melalui berbagai pengorbanan. Contoh lakon dengan gaya seperti adalah Oedipus karya sophocles.

2. Komedi berasal dari kata comoedia (bahasa latin), commedia (bahasa Italia) yang berarti lakon yang berakhir dengan kebahagiaan. Menurut Aristoteles, lakon komedi merupakan tiruan dari tingkah laku yang lebih merupakkan perwujudan keburukan manusia ketika menjalankan kehidupan sehingga menumbuhkan tertawaan dan cemoohan sampai terjadi katarsis penyucian jiwa. Lakon komedi adalah lakon yang mengungkapkan cacat dan kelemahan sifat manusia dengan cara yang lucu.

Dengan cara ini, para penonton diajak untuk bisa lebih menghayati kenyataan hidupnya. Jadi, lakon komedi bukan hanya sekedar lawakan kosong tetapi harus mampu membukakan mata penonton kepada kenyataan kehidupan sehari-hari yang lebih dalam. Tokoh dalam lakon komedi biasanya adalah orang-orang yang lemah, tertindas, bodoh, dan lugu sehingga identifikasi penonton terhadap tokoh tersebut adalah bisa ditertawakan atau dicemoohkan.

Peristiwa mentertawakan tokoh yang dilihat ini sebenarnya mentertawakan kelemahan dan kekurangan yang ada dalam dirinya. 3. Drama berasal dari kata Yunani Kuno, draomai yang berarti bertindak atau berbuat. Ada juga kata drame yang berasal dari kata bahasa Prancis. Kata ini biasa dipakai untuk menjelaskan lakon-lakon bangsa Prancis tentang kehidupan kelas menengah. Dalam istilah terbatas, drama berarti lakon serius yang menggarap satu masalah yang mempunyai arti penting tapi tidak bertujuan untuk mengagungkan tragika atau kematian.

4. Satire berasal dari kata satura (bahasa latin), satyros (bahasa yunani), dan satire (bahasa inggris) yang berarti sindiran. Lakon satir adalah lakon yang mengemas kebodohan, perlakuan kejam, kelemahan seseorang untuk mengecam, mengejek bahkan menertawakan suatu keadaan dengan maksud membawa sebuah perbaikan.

Tujuan drama satir tidak hanya semata-mata sebagai humor biasa, tetapi lebih sebagai kritik terhadap seseorang atau kelompok masyarakat dengan cara yang sangat cerdik. Lakon satir hampir sama dengan komedi tetapi ejekan dan sindiran dalam satir lebih agresif dan terselubung.

Sasaran sindiran dalam lakon satir bisa orang perorangan, kelompok, institusi atau lembaga, bahkan sebuah ide atau masalah sosial yang menyimpang. 5) Melodrama berasal dari kata melos yang diturungkan dari kata melody (Inggris) yang berarti lagu.

Pada mulanya, melodrama merupakan bagian dari sebuah babak dalam opera yang menggambarkan suasana sedih atau romantic yang diiringi alunan music. Kesan suasana sedih atau romantis inilah yang kemudian di kembangkan menjadi sebuah jenis drama tersendiri yang di sebut melodrama. Melodrama adalah sebuah lakon yang isinya mengupas suka duka kehidupan dengan cara yang menimbulkan rasa haru kepada penonton. Melodrama adalah lakon yang sangat sentimental, dengan tokoh dan cerita yang mendebarkan hati dan mengharukan perasaan penonton.

Tokoh-tokoh dalam melodrama adalah tokoh biasa dan tidak ternama serta bersifat steriotipe. Jadi, kalau tokoh tersebut karakter jahat maka seterusnya tokoh tersebut akan dinilai jahat dan tidak ada sisi baiknya, sedangkan kalau tokoh tersebut adalah tokoh pahlawan maka ia akan menjadi tokoh pujaan yang luput dari kekurangan, kesalahan maupun kejahatan.

Kerangka atau struktur drama (kadang diistilah dengan kerangka dramatic atau struktur dramatic) merupakan bagian dari plot sebuah drama. Di dalamnya terdapat satu kesatuan peristiwa yang terdiri dari bagian-bagian yang memuat unsur-unsur plot. Rangkaian ini membentuk sebuah struktur dan saling berkesinambungan dari awal cerita sampai akhir. Gustav Freytag (1863) menggambarkan struktur dramatic yang bergerak mengikuti elemen atau bagian yakni exposition, rising action, climax, falling action, dan denouement serta menempatkannya dalam adegan-adegan lakon sesuai laku dramatic yang kandungnya.

Struktur Freytag ini di kenal dengan sebutan piramida Freytag atau Freytag’s pyramid. Perhatikan gambar piramida Freytag berikut Eksposisi adalah saat materi-materi yang relevan dalam lakon tersebut dibeberkan atau dijelaskan kepada penonton. Materi-materi tersebut termasuk karakter-karakter yang akan dimainkan, peristiwa yang sedang dihadapi oleh karakter-karakter tersebut, dimana terjadinya, dan lain-lain. Hal ini dilakukan agar penonton mendapatkan gambaran selintas mengenai drama yang akan ditontonnya sehingga ia bisa terlibat dalam peristiwa cerita.

Bagian ini merupakan lanjutan dari insiden-insiden yang teridenifikasi tersebut. Di sini muncul persoalan baru dalam cerita atau disebut juga rising action. Hal ini membuat konflik yang terjadi antara karakter-karakter juga mengalami komplikasi yang rumit dan semakin menanjak.

Jalan keluar dari konflik tersebut pun terasa samar-samar dan tak menentu. Krisis adalah keadaan saat lakon berhenti pada satu titik yang sangat menegangkan atau menggelikan sehingga penonton pun seakan-akan tidak bisa berbuat apa-apa. Bagi Hudson, klimaks adalah tangga yang menunjukkan laku yang menanjak ketitik balik namun, bukan titik balik itu sendiri. Menurut Hudson, titik balik baru terjadi ketika sudah ada peristiwa yang menunjukkan peleraian di mana emosi lakon maupun emosi penonton sudah mulai menurun.
• Afrikaans • Alemannisch • العربية • مصرى • অসমীয়া • Asturianu • Azərbaycanca • Boarisch • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • বাংলা • Bosanski • Català • Čeština • Cymraeg • Dansk • Deutsch • Dolnoserbski • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • فارسی • Suomi • Français • Frysk • Gaeilge • 贛語 • Kriyòl gwiyannen • Gàidhlig • Galego • गोंयची कोंकणी / Gõychi Konknni • Gaelg • עברית • हिन्दी • Hrvatski • Magyar • Հայերեն • Արեւմտահայերէն • Ido • Italiano • 日本語 • Jawa • ქართული • 한국어 kata drama pada mulanya berasal dari bahasa Kurdî • Latina • Lietuvių • Latviešu • Македонски • മലയാളം • Bahasa Melayu • မြန်မာဘာသာ • नेपाली • नेपाल भाषा • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • ਪੰਜਾਬੀ • Polski • پنجابی • Português • Română • Русский • Русиньскый • kata drama pada mulanya berasal dari bahasa • Srpskohrvatski / српскохрватски • සිංහල • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • Shqip • Српски / srpski • Sunda • Svenska • தமிழ் • Тоҷикӣ • ไทย • Tagalog • Türkçe • Українська • اردو • Tiếng Việt • Winaray • 吴语 • მარგალური • ייִדיש • 中文 • Bân-lâm-gú • 粵語 [1] Drama merupakan genre (jenis) karya sastra yang menggambarkan kehidupan manusia dengan gerak.

[2] [3] [4] Drama menggambarkan realita kehidupan, watak, serta tingkah laku manusia melalui peran dan dialog yang dipentaskan. [2] Kisah dan cerita dalam drama memuat konflik dan emosi yang secara khusus ditujukan untuk pementasan teater. [2] Naskah drama dibuat sedemikian rupa sehingga nantinya dapat dipentaskan untuk dapat dinikmati oleh penonton. [5] Drama memerlukan kualitas komunikasi, situasi dan aksi. [6] Kualitas tersebut dapat dilihat dari bagaimana sebuah konflik atau masalah dapat disajikan secara utuh dan dalam pada sebuah pementasan drama.

[6] Daftar isi • 1 Pengertian • 2 Struktur • 3 Elemen • 4 Jenis • 4.1 Drama tragedi • 4.2 Drama komedi • 4.3 Melodrama • 5 Rujukan Pengertian [ sunting - sunting sumber ] Istilah untuk drama pada masa penjajahan Belanda di Indonesia disebut dengan istilah tonil. [6] Tonil kemudian berkembang diganti dengan istilah sandiwara oleh P.K.G Mangkunegara VII.

[6] Sandiwara berasal dari kata dalam bahasa Jawa sandi dan wara. [6] Sandi artinya rahasia, sedangkan wara (warah) artinya pengajaran. [6] Maka istilah sandiwara mengandung makna pengajaran yang dilakukan dengan perlambang. [6] Sementaran itu, pengertian drama modern dan tradisional harus dibedakan. Dalam drama modern, aktivitas drama menggunakan naskah dialog, sedangkan drama tradisional menggunakan improvisasi dalam dialognya.

[7] Struktur [ sunting - sunting sumber ] Drama merupakan sebuah karya yang memuat nilai artistik yang tinggi. [5] Sebuah drama mengikuti struktur alur yang kata drama pada mulanya berasal dari bahasa. [5] Struktur yang tertata akan membantu penonton menikmati sebuah drama yang dipentaskan.

Struktur drama memuat babak, adegan, dialog, prolog dan epilog. [5] Babak merupakan istilah lain dari episode. [5] Setiap babak memuat satu keutuhan kisah kecil yang menjadi keseluruhan drama. [5] Dengan kata lain, babak merupakan bagian dari naskah drama yang merangkum sebuah peristiwa yang terjadi di suatu tempat dengan urutan waktu tertentu.

[5] Adegan merupakan bagian dari drama yang menunjukkan perubahan peristiwa. [5] Perubahan peristiwa ini ditandai dengan pergantian tokoh atau setting tempat dan waktu. [5] Misalnya, dalam adegan pertama terdapat tokoh A sedang berbicara dengan tokoh B. [5] Kemudian mereka berjalan ke tempat lain lalu bertemu dengan tokoh C, maka terdapat perubahan adegan di dalamnya.

[5] Dialog merupakan bagian dari naskah kata drama pada mulanya berasal dari bahasa yang berupa percakapan antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. [5] Dialog adalah bagian yang paling dominan dalam drama. [5] Dialog adalah hal yang membedakan antara drama dengan jenis karya sastra yang lain. [5] Prolog dan epilog merupakan bingkai dari sebuah drama. [5] Prolog merupakan pengantar untuk masuk ke dalam sebuah drama. [5] Isinya adalah gambaran umum mengenai drama yang akan dimainkan.

[5] Sementara epilog adalah bagian terakhir dari pementasan drama. [5] Isinya merupakan kesimpulan dari drama yang dimainkan. Epilog biasanya memuat makna dan pesan dari drama yang dimainkan. [5] Elemen [ sunting - sunting sumber ] Ada tiga elemen penting dalam drama, diantaranya: • Tokoh, pelaku yang mempunyai peran yang lebih dibandingkan pelaku-pelaku lain, biasanya dikategorikan dalam sifat protagonis atau antagonis.

• Wawacang, dialog atau percakapan yang harus diucapkan oleh tokoh cerita. • Kramagung, petunjuk perilaku, tindakan, atau perbuatan yang harus dilakukan oelh tokoh. Dalam naskah drama, kramagung dituliskan dalam tanda kurung (biasanya dicetak miring). [8] Jenis [ sunting - sunting sumber ] Drama tragedi [ sunting - sunting sumber ] Drama tragedi merupakan drama yang menceritakan kisah-kisah sedih dari para tokoh mulia.

Kisah di dalam drama tragedi adalah perjuangan tokoh mulia yang menjadi pahlawan untuk menentang berbagai perlawanan terhadap dirinya. Penentangan ini bersifat tidak adil karena adanya perbedaan kekuatan. Cerita di dalam drama tragedi sangat serius sehingga menimbulkan rasa kasihan dan rasa takut. [9] Drama komedi [ sunting - sunting sumber ] Drama komedi merupakan drama yang menampilkan cerita-cerita yang tidak terlalu serius tetapi lucu. Cerita berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang kemungkinan terjadi di dalam drama.

Hal-hal lucu timbul dari kelakuan para tokoh dan tidak berkaitan dengan situasi cerita. Kelakuan yang lucu juga mengandung kebijaksanaan para tokoh. [9] Melodrama [ sunting - sunting sumber ] Melodrama memiliki kisah yang sangat serius. Dalam penceritaannya, muncul berbagai kejadian secara kebetulan. Cerita di dalam melodrama memunculkan rasa kasihan yang membuat penontonnya terbawa suasana.

[9] Rujukan [ sunting - sunting sumber ] • ^ "•́ ‿ ,•̀Reza乁༼☯‿☯✿༽ㄏ👑 di TikTok". TikTok. Diakses tanggal 2021-04-28. • ^ a b c Depdiknas (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Jakarta: Gramedia. hlm. 342-343. ISBN 978-979-22-3841-9. • ^ Rene Wellek dan Austin Warren (2013). Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. ISBN 978-602-03-0126-6. • ^ Tetti Melawati (2011). "Peningkatan Kemampuan Memahami Drama dan Menulis Teks Drama melalui Model Pembelajaran SAVI". UPI. • ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s Suwardi Endraswara (2011).

Metode Pembelajaran Drama. Yogyakarta: CAPS. hlm. 11-31. ISBN 978-602-9324-02-0. • ^ a b c d e f g Harymawan (1988). Dramaturgi. Bandung: Rosda.

• ^ "Mencari Kedudukan Drama Modern di Indonesia". www.sastra.xyz. Kata drama pada mulanya berasal dari bahasa dari versi asli tanggal 2018-07-28. Diakses tanggal 2018-07-28. • ^ Suherli, dkk. (2017). Bahasa Indonesia Kelas XI. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

ISBN 978-602-427-098-8. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b c Kosasih, E. (2008). Apresiasi Sastra Indonesia (PDF). Jakarta: Nobel Edumedia. hlm. 86. ISBN 978-602-8219-57-0. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Halaman ini terakhir diubah pada 25 April 2022, pukul 17.56.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •

Teaching Literature Through Drama




2022 www.videocon.com