Secara umum tatakrama basa dibagi jadi

secara umum tatakrama basa dibagi jadi

Tata Krama adalah Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering sekali dituntut untuk memiliki tata krama kepada siapapun. Tata krama harus diterapkan di dalam melakukan berbagai tindakan dalam keseharian, entah ketika makan dalam lingkungan keluarga, berbicara, dan berinteraksi kepada orang lain.

Sebenarnya arti dari tata krama itu apa? Lalu apa saja macam tata krama itu? Kemudian apa yang akan kita secara umum tatakrama basa dibagi jadi jika kita memiliki tata krama yang baik? dan contoh tata krama yang baik itu seperti apa?

Untuk menjawab berbagai pertanyaan tersebut, simak pembahasan berikut ini. Daftar Isi • Tata Krama • Pengertian Tata Krama • Pengertian Tata Krama Menurut Para Ahli • Macam Tata Krama • Tata Krama dalam Berbicara • Tata Krama saat Makan • Tata Krama dalam Bertamu • Tata Krama dalam Berpenampilan • Tata Krama dalam Bergaul • Tata Krama dalam Bekerja • Tata Krama menjadi Peserta Didik • Tata Krama sebagai Pendidik • Tata Krama terhadap Orang yang Lebih Tua • Manfaat Tata Krama • Contoh Tata Krama • Menjaga kebersihan • Sebarkan ini: • Posting terkait: Tata Krama Tata krama pada hakekatnya merupakan salah satu bagian dari jenis norma yang tidak tertulis di Indonesia.

Tata krama merupakan sebuah norma hukum yang tidak tertulis yang terdiri dari sikap sopan santun juga kata dan merupakan budaya yang sudah melekat di Indonesia bahwa semua masyarakat Indonesia harus memilikinya. Tata krama adalah suatu usaha pembiasaan dalam diri agar menjadi orang yang sopan santun. Pengertian Tata Krama Tata krama adalah sebuah norma yang tidak tertulis dan telah disepakati oleh lingkungan masyarakat yang terdiri dari sikap, tingkah laku, dan kata yang menunjukkan sopan santun dalam melakukan kegiatan apapun, baik secara individu atau dilakukan dalam kelompok sosial di masyarakat.

secara umum tatakrama basa dibagi jadi

Pengertian Tata Krama Menurut Para Ahli Adapun definisi tata krama menurut para ahli, antara lain: • Macmillan Dictionary, Pengertian tata krama dapat didefinisikan sebagai cara kita melakukan sesuatu, atau cara terjadinya sesuatu. • Oxford Leraner’s Dictionaries, Definisi tata krama adalah sebagai perilaku yang dianggap sopan dalam masyarakat atau budaya tertentu. • Taryati mengatakan bahwa tata krama adalah suatu bentuk oerliaku yang berkaitan dengan tata cara atau peraturan turun menurun dan berkembang di suatu budaya masyarakat.

Macam Tata Krama Berikut ini adalah ulasan tentang jenis tata krama; • Tata Krama dalam Berbicara Tata krama dalam berbicara yang dimaksud adalah sikap seseorang dalam bebicara harus bisa menempatkan kondisi dimana dan dengan siapa ia berbicara.

Jika ia berbicara dalam tempat yang formal, maka ia harus menggnakan bahasa yang sopan, formal, santun dan tidak banyak bercanda. Jika ia bicara di tempat yang non formal, tetap menggunakan bahasa yang sopan dan jika bercanda jangan sampai menyinggung lawan bicara.

secara umum tatakrama basa dibagi jadi

Kemudian jika ia bicara dengan orang yang lebih tua sebaiknya menggunakan bahasa yang sopan dan mudah dipahami. Kemudian dalam memilih topik pembicaraan di sesuaikan dengan pengetahuan tentang adanya tangkap lawan bicara, jangan sampai orang yang kita ajak bicara tidak memahami apa yang kita maksud sehingga tata cara berkata juga perlu dipahami oleh semua orang.

Contohnya jika mahasiswa membicarakan mengenai skripsi kepada orang awam, maka tidak akan nyambung. Sebaiknya komunikasi mahasiswa dengan masyarakat harusnya membahas mengenai hal yang diketahui oleh masyarakat.

• Tata Krama saat Makan Tata krama saat makan yang dimaksud adalah ketika makan hakekatnya kita harus tetap memiliki nilai sopan santun. Semua tentang kegiatan sehari-hari yaang dilakukan oleh orang sudah diatur termasuk dalam saat melakukan kegiatan makan. Contohnya makan dengan cuci tangan terlebih dahulu, makan dengan tangan kanan, tidak bersendawa sembarangan, jika makan bersama mendahulukan orang yang lebih tua untuk mengambil makanan terlebih dahulu, mengambil makanan secukupnya dan tidak berlebihan, tidak makan sambil berbicara, tidak makan dengan satu sendok suapan penuh dan masih banyak lagi.

Hal tersebut bertujuan agar acara makan tetap menjaga tata tertib dan kehidupan yang nyaman antar sesama secara umum tatakrama basa dibagi jadi lingkungan keluarga.

• Tata Krama dalam Bertamu Dalam bertamu, meskipun kata orang tamu adalah raja, kita tetap wajib untuk memiliki sopan santun dan menghormati tuan rumah. Cara bertingkah laku dalam menerima tamu juga perlu diterapkan pada lingkungan keluarga. Seperti misalnya mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum masuk, kemudian mengetuk pintu, duduk setelah dipersilahkan duduk, mamakan atau minum suguhan yang telah disediakan, jangan minta disuguh apabila tuan rumah tidak menyuguh, bertamu jangan lama-lama jika kepentingan sudah selesai segera pamit untuk pulang, dan berpamitan dengan baik jika hendak pulang serta jangan lupa ucapkan terimakasih karena telah diterima menjadi tamu.

• Tata Krama dalam Berpenampilan Maksud dari tata krama berpenampilan adalah seseorang harus bisa menyesuaikan pakaian yang ia pakai dengan acara yang ia datangi serta harus memilih pakaian yang santun, tidak terbuka dan tidak transparan, karena hal tersebut bisa mengundang kejahatan. Seperti contohnya pakaian yang digunakan untuk kuliah haruslah yang sopan seperti memakai kemeja, celana panjang, sedangkan untuk pegi main bisa menggunakan kaos, untuk pesta menggunakan baju pesta gaun yang sopan dan tidak terbuka atau kemeja atau jas, serta jika memakai make-up jangan terlalu menor dan mencolok.

Karena dengan baju dan penampilan yang dipakai seseorang, bisa di nilai ia menghormati orang lain atau tidak. • Tata Krama dalam Bergaul Tata Krama yang dimaksud adalah dalam bergaul kita harus menghormati dan menghargai orang-orang di sekeliling kita.

Akan terjadi perselisihan jika salah satu dari kita tidak memiliki rasa saling menghargai dan menghormati. Kita boleh saja bergau dengan siapapun asal kita juga dapat memilih mana hal yang bisa ditiru dan tidak untuk ditiru. Misalnya saja tetap bertegur sapa meskipun sifat rekan kerja tidak kita sukai dan tetap berlaku sopan ketika bertemu. • Tata Krama menjadi Peserta Didik Sebagai peserta didik harus memiliki tata karama terhadap siapapun, baik guru, pegawai di sekolah, teman-teman di sekolah dan semua warg di sekolah.

Peserta didik dalam lingkungan sekolah merupakan orang terpelajar yang harus memiliki sopan santun dalam bersikap. seperti contohnya berbicara yang sopan pada guru, tidak mengganggu kesenangan teman yang lain, menghormati pegawai-pegawai yang bekerja di sekolah dan lain sebagainya. • Tata Krama sebagai Pendidik Tak hanya peserta didik yang harus memiliki tata krama di lingkungan sekolah. Seorang pendidik dan warga sekolah dalam hal ini guru, ustadz maupun dosen harus memiliki tata krama kepada siapapun yang akan dihadapi baik kepada peserta didiknya.

Seperti contohnya guru harus memberikan sikap yang baik kepada siswanya melalui tingkah lakunya, ia tidak boleh menggurui dan merasa paling benar lalu meremehkan siswa. Kemudian dosen juga tidak boleh semena-mena kepada siswa, dosen harus menunjukkan sikap santun juga kepada mahasiswa dengan menunjukkan kewibawaan yang baik.

• Tata Krama terhadap Orang yang Lebih Tua Tata krama jenis ini sangat-sangat penting untuk dilakukan apalagi jika tinggal di Indonesia, dimana yang muda lebih menghormati yang tua begitu juga dengan yang tua harus bisa menghormati yang secara umum tatakrama basa dibagi jadi walaupun secara umur tua yang harus di hormati. Seperti contohnya dalam bertutur kata haruslah sopan, tidak memotong pembicaraan, mendahulukan yang tua dalam kegiatan.

Manfaat Tata Krama Adapun fungsi dan peran seseorang menjalankan tata krama dalam kehidupan, antara lain sebagai berikut; • Kehidupan yang damai akan di dapatkan, tak hanya untuk kita melainkan juga untuk orang disekitar kita. • Dapat memperkecil konflik yang ada di lingkungan masyarakat. Dengan adanya sikap yang yang santun, tentu banyak orang yang merasa dihargai dan tidak ada yang tersinggung. • Dapat hidup dengan nayaman, karena tidak ada orang yang tersakiti dan tersinggung.

• Memiliki banyak teman, saudara dan tidak memiliki musuh. Dengan kita memiliki tata krama yang baik, secara otomatis banyak orang yang akan nyaman dengan kita dan saudara dan teman kita akan bertambah.

• Bisa memperkuat jalinan kerukunan yang selama ini sudah dibentuk. Dengan bertingkah laku sopan, maka kerukunan akan semakin erat terjalin.

secara umum tatakrama basa dibagi jadi

• Mempermudah perangkat desa atau pemerintah untuk menegakkan peraturan dan norma yang berlaku. • Dengan memiliki tata krama berarti kita sebagai warga negara secara umum tatakrama basa dibagi jadi memiliki kesadaran untuk taat pada hukum, taat pada norma dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

• Mudah dalam bergaul dan di terima masyarakat di tempat manapun. Karena memiliki tata krama merupakan nilai plus yang dimiliki seseorang, sehingga masyarakat menilai orang tersebut merupakan orang baik.

• Dengan memiliki tata krama berarti seseorang telah menjadi warga negara yang baik (good citizen). Contoh Tata Krama Adapun untuk beberapa contoh tata krama yang ada di dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saja; • Menjaga kebersihan Dengan memberikan secara umum tatakrama basa dibagi jadi untuk mencuci tangan dengan benar sebelum membuka kotak yang kemudian makan siang, malam, ataupun pagi sejatinya menjadi bagian tata krama yang kerapkali diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Baik di masyarakat, keluarga, ataupun di sekolah. Hal ini karena dengan proses menjaga kebersihan tersebutlah akan memberikan buddaya yang positif bagi setiap individu. Demikianlah pembahasan pengertian tata krama menurut para ahli, macam, manfaat, dan contohnya di masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya. Semoga memberikan kebermanfaatan bagi semua kalangan dan jangan lupa untuk menjadi warga negara yang baik. Posting terkait: • 7 Fungsi Bank di Indonesia dan Contohnya • 12 Contoh Proses Sosial dalam Masyarakat • 20 Contoh Profesional dalam Berbagai Bidang Posting pada Contoh, Manfaat, Menurut Ahli Ditag bentuk tata krama, contoh tata krama, jenis tata krama, macam tata krama, manfaat tata krama, pengertian tata krama, tata krama, tata krama adalah, tata krama dalam keseharian, tata krama di Indonesia, tata krama di masyarakat Navigasi pos Kategori • Ciri • Contoh • Dampak • Faktor • Fungsi • Globalisasi • Hukum • Ilmu Sosial • Indonesia • Internasional • Kajian • Kelebihan • Kelemahan • Macam • Manfaat • Masyarakat • Menulis • Menurut Ahli • Negara • Pancasila • Pemerintah • Penelitian • Pengetahuan • Pers • Politik • PPKN • Sosial • Tujuan • UUD Tatakrama Definisi : Istilah tatakrama asalna tina basa Sansekerta (tata hartina aturan, norma + krama hartina sopan, hormat).

secara umum tatakrama basa dibagi jadi

Jadi tatakrama téh nya éta aturan tingkah laku adat kabiasaan di hiji lingkungan. Unsur-unsur tatakrama: 1) pengetahuan (pangaweruh), 2) basa, 3) intonasi (lentong nyarita), 4) sikap (rengkuh, pasemon/mimic) 5) tatacara gaul, 6) dangdanan jeung 7) itikad.

secara umum tatakrama basa dibagi jadi

Tatakrama Sunda dibagi 2 bagian: 1. Tatakrama tingkah laku Tatakrama tingkah laku ngabahas tatacara: a. dahar/nginum, b. sasalaman, c. gaul, d. dangdanan, e. diuk jeung leumpang 2. Tatakrama basa Tatakrama basa anu sok disebut undak usuk basa nya éta aturan sopan santun dina makéna basa.

Aya ragam basa hormat (lemes) anu dibagi dua: lemes keur sorangan jeung lemes keur ka batur, aya ragam basa loma/sedeng/wajar, jeung aya ragam basa kasar (cohag). Aplikasina, lamun ka sasama/babaturan gunakeun basa loma/wajar; lamun ka saluhureun/kolot gunakeun basa hormat/lemes; lamun ka sahandapeun gunakeun basa loma atawa basa kasar. Tujuan atawa prinsip ayana tatakrama téh nya éta sangkan ayana silih hargaan jeung silih hormat antara anggota masarakat.

Upamana: a.

secara umum tatakrama basa dibagi jadi

Mun bisa, kuring rek ka imah Bapa (teu hormat) b. Upami tiasa, abdi badé ka bumi Bapa (hormat) atawa a. Cing ulah ngaroko baé atuh! (teu hormat) b. Aya saéna upami rokona dipareuman (hormat)
Pembagian tingkat tutur dalam bahasa Sunda. Tatakrama bahasa Sunda ( bahasa Sunda: ᮒᮒᮊᮢᮙ ᮘᮞ ᮞᮥᮔ᮪ᮓ, translit. Tatakrama basa Sunda, pengucapan bahasa Sunda: [tatakrama basa sʊnda], dahulu dikenal sebagai ᮅᮔ᮪ᮓᮊ᮪ ᮅᮞᮥᮊ᮪ ᮘᮞ ᮞᮥᮔ᮪ᮓ Undak Usuk Basa Sunda [a]) adalah sebuah sistem aturan penggunaan ragam bahasa Sunda yang digunakan atau dipilih oleh seorang penutur berdasarkan keadaan sang penutur tersebut, yang diajak berbicara dan apa yang dibicarakannya.

Berdasarkan artinya, Tatakrama bahasa Sunda berarti tingkatan-tingkatan atau tahapan-tahapan bahasa Sunda. Penggunaan Tatakrama bahasa Sunda bertujuan untuk saling menghargai dan menghormati dalam berkomunikasi dengan orang lain dan dalam kehidupan bermasyarakat.

Penggunaan Tatakrama bahasa Sunda berhubungan atau disesuaikan dengan kondisi usia, kedudukan, keilmuan, serta situasi orang yang berbicara, yang diajak bicara, dan yang dibicarakan. [2] [3] Sistem tuturan honorifik semacam ini juga ditemukan dalam bahasa lainnya seperti bahasa Jepang dan bahasa Korea. Daftar isi • 1 Pembagian • 2 Hormat • 2.1 Hormat ka batur • 2.1.1 Pembentukan kata • 2.2 Hormat ka sorangan • 2.2.1 Pembentukan kata • 2.3 Pembentukan kata lainnya • 3 Loma • 4 Cohag • 5 Perbandingan kalimat • 6 Jenis-jenis kosakata yang digunakan • 6.1 Lemes pisan • 6.2 Lemes • 6.3 Lemes énténg • 6.4 Sedeng • 6.5 Lemes dusun • 6.6 Panengah • 6.7 Loma • 6.8 Cohag • 7 Lihat pula • 8 Catatan • 9 Rujukan • 9.1 Catatan kaki • 9.2 Daftar pustaka • 10 Bacaan lanjutan • 11 Pranala luar Pembagian [ sunting - sunting sumber ] Secara garis besar, Tatakrama bahasa Sunda dibagi menjadi dua jenis yaitu: basa hormat ( ᮘᮞ ᮠᮧᮁᮙᮒ᮪, bahasa penghormatan) dan basa loma ( ᮘᮞ ᮜᮧᮙ, bahasa akrab/netral).

Basa secara umum tatakrama basa dibagi jadi sendiri berdasarkan orientasinya kemudian dibagi lagi menjadi basa hormat ka batur ( ᮘᮞ ᮠᮧᮁᮙᮒ᮪ ᮊ ᮘᮒᮥᮁ, bahasa yang meninggikan lawan bicara/pihak ketiga) dan basa hormat ka sorangan ( ᮘᮞ ᮠᮧᮁᮙᮒ᮪ ᮊ ᮞᮧᮛᮍᮔ᮪, bahasa yang merendahkan subjek/diri sendiri). [4] [b] Ciri dari setiap jenis tuturan di atas bisa dijabarkan sebagai berikut: Pembagian Ciri Bahasa Basa Hormat Basa hormat ka batur Menggunakan kata-kata yang meninggikan keadaan, peristiwa, serta tindakan yang dilakukan oleh pihak ketiga atau lawan bicara.

Contohnya damang ( ᮓᮙᮀ) sumping ( ᮞᮥᮙ᮪ᮕᮤᮀ) dan candak ( ᮎᮔ᮪ᮓᮊ᮪). Basa hormat ka sorangan Menggunakan kata-kata yang merendahkan keadaan, peristiwa, serta tindakan yang dilakukan oleh diri sendiri. Contohnya pangésto ( ᮕᮍᮦᮞ᮪ᮒᮧ) dongkap ( ᮓᮤᮀᮊᮕ᮪) dan bantun ( ᮘᮔ᮪ᮒᮥᮔ᮪).

Basa Loma Tidak menggunakan bentuk penghormatan apapun secara keseluruhan. Contohnya cageur ( ᮎᮌᮩᮁ) datang ( ᮓᮒᮀ) dan bawa ( ᮘᮝ). Hormat [ sunting - sunting sumber ] Hormat atau Basa Hormat ( aksara Sunda baku: ᮘᮞ ᮠᮧᮁᮙᮒ᮪, pengucapan bahasa Sunda: [basa hormat], terkadang disebut dengan istilah basa lemes yang lebih dikenal oleh kebanyakan penutur bahasa Sunda, bahasa Indonesia: bahasa Hormat) adalah ragam bahasa Sunda yang digunakan ketika berbicara kepada ataupun membicarakan orang yang lebih tinggi baik secara umum tatakrama basa dibagi jadi, kedudukannya dan umurnya maupun terhadap siapa saja yang dihormati.

[5] Serta untuk membicarakan diri sendiri dengan tetap meninggikan lawan bicara. [4] Oleh karena itu ragam bahasa ini dibagi menjadi dua yaitu hormat ka batur dan hormat ka sorangan. Basa hormat dinyatakan dengan penggunaan kata-kata yang dikhususkan untuk dipakai dalam situasi sopan, kata-kata ini dibentuk dengan perubahan vokal, konsonan, atau bunyi dari sebuah kata loma, maupun tercipta dari perubahan kata secara menyeluruh.

[6] Hormat ka batur [ sunting - sunting sumber ] Basa Hormat ka batur ( aksara Sunda baku: ᮘᮞ ᮠᮧᮁᮙᮒ᮪ ᮊ ᮘᮒᮥᮁ, pengucapan bahasa Sunda: [basa hormat ka batʊɾ], bahasa Indonesia: bahasa hormat terhadap orang lain) adalah ragam bahasa hormat dalam bahasa Sunda yang tingkatannya paling tinggi diantara ragam bahasa yang lainnya.

Ragam bahasa ini digunakan ketika berbicara kepada ataupun membicarakan seseorang yang dihormati. [7] Kosakata yang digunakan dalam ragam bahasa ini adalah kata lemes, kata lemes pisan dan kata lemes enteng. [4] Pembentukan kata [ sunting - sunting sumber ] Perubahan bunyi akhir • Akhiran - jeng [8] • waluya ( ᮝᮜᮥᮚ) menjadi wilujeng [c] ( ᮝᮤᮜᮥᮏᮨᮀ), selamat/sehat • Akhiran -os: [8] • batin ( ᮘᮒᮤᮔ᮪) menjadi batos ( secara umum tatakrama basa dibagi jadi, batin • dangdan ( ᮓᮀᮓᮔ᮪) menjadi dangdos ( ᮓᮀᮓᮧᮞ᮪), dandan • carita ( ᮎᮛᮤᮒ) menjadi carios ( ᮎᮛᮤᮇᮞ᮪), cerita/tuturan • prihatin ( ᮕᮢᮤᮠᮒᮤᮔ᮪) menjadi prihatos ( ᮕᮢᮤᮠᮒᮧᮞ᮪), prihatin Perubahan vokal • perubahan a → i: [8] • warga ( ᮝᮁᮌ) menjadi wargi ( ᮝᮁᮌᮤ), kerabat • jaga ( ᮏᮌ) menjadi jagi ( ᮏᮌᮤ), jaga • perubahan é → a; é → u: [8] • déngé ( ᮓᮦᮍᮦ) menjadi dangu ( ᮓᮍᮥ), dengar • perubahan u → e, u → a (ah): [8] • lungguh ( ᮜᮥ᮪ᮌᮥᮂ) menjadi lenggah ( ᮜᮨᮀᮌᮂ), duduk Perubahan atau penghilangan huruf awal • perubahan huruf awal: [9] • bisa ( ᮘᮤᮞ) menjadi iasa ( ᮄᮃᮞ), bisa • bitis ( ᮘᮤᮒᮤᮞ᮪) menjadi wentis ( ᮝᮨᮔ᮪ᮒᮤᮞ᮪), betis • akang ( ᮃᮊᮀ) menjadi engkang ( ᮉᮀᮊᮀ), kakak laki-laki • balur ( ᮘᮜᮥᮁ) menjadi lulur ( ᮜᮥᮜᮥᮁ), lulur • penghilangan huruf awal: [9] • cangkéng ( ᮎᮀᮊᮦᮀ) menjadi angkéng ( ᮃᮀᮊᮦᮀ), pinggang • punduk ( ᮕᮥᮔ᮪ᮓᮥᮊ᮪) menjadi unduk ( ᮅᮔ᮪ᮓᮥᮊ᮪), punduk Penambahan artikula Pada istilah kekerabatan ( bahasa Sunda: pancakaki), ragam bahasa ini menambahkan kata tuang [d] yang ditempatkan di depan kata sebagai bentuk kata ganti kepemilikan orang ketiga, misalnya: tuang rama ( ᮒᮤᮃᮀ ᮛᮙ, ayah/paman anda), tuang ibu ( ᮒᮤᮃᮀ ᮄᮘᮥ, ibu/bibi anda), tuang rayi ( ᮒᮤᮃᮀ ᮛᮚᮤ, adik/istri anda), tuang raka ( ᮒᮤᮃᮀ ᮛᮊ, kakak/suami anda), tuang putra ( ᮒᮤᮃᮀ ᮕᮥᮒᮢ, anak anda), tuang putu ( ᮒᮤᮃᮀ ᮕᮥᮒᮥ, cucu anda), tuang éyang ( ᮒᮤᮃᮀ ᮆᮚᮀ, kakek/nenek anda).

[10] Perubahan kata secara keseluruhan • kata kerja: [8] • dahar ( ᮓᮠᮁ) menjadi tuang ( ᮒᮥᮃᮀ), makan • saré ( ᮞᮛᮦ) menjadi kulem ( ᮊᮥᮜᮨᮙ᮪), tidur • tempo ( ᮒᮨᮙ᮪ᮕᮧ) menjadi tingali ( ᮒᮤᮍᮜᮤ), lihat • boga ( ᮘᮧᮌ) menjadi kagungan ( ᮊᮌᮥᮍᮔ᮪), punya • kata benda: [8] • imah ( ᮄᮙᮂ) menjadi bumi ( ᮘᮥᮙᮤ), rumah Hormat ka sorangan [ sunting - sunting sumber ] Basa Hormat ka sorangan ( aksara Sunda baku: ᮘᮞ ᮠᮧᮁᮙᮒ᮪ ᮊ ᮘᮒᮥᮁ, pengucapan bahasa Sunda: [basa hormat secara umum tatakrama basa dibagi jadi soraŋan], bahasa Indonesia: bahasa hormat terhadap diri sendiri) adalah ragam bahasa hormat dalam bahasa Sunda yang tingkatannya berada di bawah bahasa hormat ka batur.

Ragam bahasa ini digunakan untuk membicarakan diri sendiri [3] dalam situasi yang sopan serta bersifat merendahkan diri sendiri dan meninggikan lawan bicara, selain itu ragam bahasa ini juga bisa dipakai untuk menghormati orang lain namun usia dan kedudukannya lebih rendah dari penutur.

Kosakata yang digunakan adalah kata sedeng, kata panengah dan kata lemes enteng. [4] [11] Pembentukan kata [ sunting - sunting sumber ] Perubahan bunyi akhir • Akhiran - ntun: [8] • bawa ( ᮘᮝ) menjadi bantun ( ᮘᮔ᮪ᮒᮥᮔ᮪), bawa • Akhiran - os: [8] • miang ( ᮙᮤᮃᮀ) menjadi mios ( ᮙᮤᮇᮞ᮪), pergi/berangkat • tanya ( ᮒᮑ) menjadi taros ( ᮒᮛᮧᮞ᮪), tanya Perubahan vokal perubahan a → i: [8] • muga ( ᮙᮥᮌ) menjadi mugi ( ᮙᮥᮌᮤ), semoga Perubahan huruf awal • kata kerja: [12] • bisa ( ᮘᮤᮞ) menjadi tiasa ( ᮒᮃᮞ), bisa Penambahan artikula Di dalam ragam bahasa ini, istilah kekerabatan ( bahasa Sunda: pancakaki) biasanya ditambahkan dengan kata pun yang ditempatkan di depan kata sebagai bentuk kata ganti kepemilikan orang pertama, misalnya: pun bapa ( ᮕᮥᮔ᮪ ᮘᮕ ayah saya), pun biang ( ᮕᮥᮔ᮪ ᮘᮤᮃᮀ ibu saya), pun paman ( ᮕᮥᮔ᮪ ᮕᮙᮔ᮪ paman saya), pun bibi ( ᮕᮥᮔ᮪ ᮘᮤᮘᮤ bibi saya), pun adi ( ᮕᮥᮔ᮪ ᮃᮓᮤ adik saya), pun lanceuk ( ᮕᮥᮔ᮪ ᮜᮔ᮪ᮎᮩᮊ᮪ kakak saya), pun anak ( ᮕᮥᮔ᮪ ᮃᮔᮊ᮪ anak saya), pun incu ( ᮕᮥᮔ᮪ ᮄᮔ᮪ᮎᮥ cucu saya), pun aki ( ᮕᮥᮔ᮪ ᮃᮊᮤ kakek saya), pun nini ( ᮕᮥᮔ᮪ ᮔᮤᮔᮤ nenek saya).

Perubahan kata secara keseluruhan • kata kerja: [8] • dahar ( ᮓᮠᮁ) menjadi neda ( ᮔᮨᮓ), makan • saré ( ᮞᮛᮦ) menjadi mondok ( ᮙᮧᮔ᮪ᮓᮧᮊ᮪), secara umum tatakrama basa dibagi jadi • tempo ( ᮒᮨᮙ᮪ᮕᮧ) menjadi tingal ( ᮒᮤᮍᮜ᮪), lihat • boga ( ᮘᮧᮌ) menjadi gaduh ( ᮌᮓᮥᮂ), punya • kata benda: [8] • imah ( ᮄᮙᮂ) menjadi rorompok ( ᮛᮧᮛᮧᮙ᮪ᮕᮧᮊ᮪), rumah Penggunaan kata loma Kata-kata berikut ini merupakan kata loma yang sering digunakan dalam ragam bahasa ini, kata-kata tersebut mempunyai padanan kata lemes, tetapi tidak mempunyai padanan kata sedeng.

• kata kerja: [12] • nginum ( ᮍᮤᮔᮥᮙ᮪), minum • hudang ( ᮠᮥᮓᮀ), bangun • mandi ( ᮙᮔ᮪ᮓᮤ), mandi • nangtung ( ᮔᮀᮒᮥᮀ), berdiri • leumpang ( ᮜᮩᮙ᮪ᮕᮀ), berjalan Pembentukan kata lainnya [ sunting - sunting sumber ] Selain itu terdapat pula kata-kata yang bisa digunakan secara bersamaan dalam kedua ragam bahasa di atas, baik itu hormat ka batur maupun hormat ka sorangan, kata-kata ini disebut sebagai kata lemes enteng dan merupakan bentuk hormat yang paling banyak dan tercipta sebagaimana cara yang telah dijelaskan sebelumnya, diantaranya yaitu: Perubahan bunyi akhir Teratur • Akhiran -nten: [8] • hampura ( ᮠᮙ᮪ᮕᮥᮛ) menjadi hampunten ( ᮠᮙ᮪ᮕᮥᮔ᮪ᮒᮨᮔ᮪)/ hapunten ( ᮠᮕᮥᮔ᮪ᮒᮨᮔ᮪), maaf • kira ( ᮊᮤᮛ) menjadi kinten ( ᮊᮤᮔ᮪ᮒᮨᮔ᮪), kira/duga • saniskara ( ᮞᮔᮤᮞ᮪ᮊᮛ) menjadi saniskanten ( ᮞᮔᮤᮞ᮪ᮊᮔ᮪ᮒᮨᮔ᮪), segala • percaya ( ᮕᮨᮁᮎᮚ) menjadi percanten ( ᮕᮨᮁᮎᮔ᮪ᮒᮨᮔ᮪), percaya • nyana ( ᮑᮔ) menjadi nyanten ( ᮑᮔ᮪ᮒᮨᮔ᮪), sangka • Akhiran - ntun: [8] • kari ( ᮊᮛᮤ) menjadi kantun ( ᮊᮔ᮪ᮛᮥᮔ᮪), silakan/tinggal • kirim ( ᮊᮤᮛᮤᮙ᮪) menjadi kintun ( ᮊᮤᮔ᮪ᮒᮥᮔ᮪), kirim • Akhiran - jeng: [8] • laju ( ᮜᮏᮥ) menjadi lajeng ( ᮜᮏᮨᮀ), lalu • paju ( ᮕᮏᮥ) menjadi pajeng ( ᮕᮏᮨᮀ), tempuh • mamayu ( ᮙᮙᮚᮥ) menjadi mamajeng ( ᮙᮙᮏᮨᮀ), sembuh • buru ( ᮘᮥᮛᮥ) menjadi bujeng ( ᮘᮥᮏᮨᮀ), kejar • arep ( ᮃᮛᮨᮕ᮪) menjadi ajeng ( ᮃᮏᮨᮀ), harap • Akhiran - wis: [8] • antara ( ᮃᮔ᮪ᮒᮛ) menjadi antawis ( ᮃᮔ᮪ᮒᮝᮤᮞ᮪), antara • perkara ( ᮕᮨᮁᮊᮛ) menjadi perkawis ( ᮕᮨᮁᮊᮝᮤᮞ᮪), perkara • watara ( ᮝᮒᮛ) menjadi watawis ( ᮝᮒᮝᮤᮞ᮪), beberapa • Akhiran - os: [8] • rasa ( ᮛᮞ) menjadi raos ( ᮛᮇᮞ᮪), rasa/enak • paribasa ( ᮕᮛᮤᮘᮞ) menjadi paripaos ( ᮕᮛᮤᮕᮇᮞ᮪), peribahasa • harti ( ᮠᮁᮒᮤ) menjadi hartos ( ᮠᮁᮒᮧᮞ᮪), arti • ganti ( ᮌᮔ᮪ᮒᮤ) menjadi gentos [e] ( ᮌᮨᮔ᮪ᮒᮧᮞ᮪), ganti • saperti ( ᮞᮕᮨᮁᮒᮤ) menjadi sapertos ( ᮞᮕᮨᮁᮒᮧᮞ᮪), seperti Tidak teratur • Akhiran: [13] • bakal ( ᮘᮊᮜ᮪) menjadi badé ( ᮘᮓᮦ), bakal/akan • gampang ( ᮌᮙ᮪ᮕᮀ) menjadi gampil ( ᮌᮙ᮪ᮕᮤᮜ᮪), gampang/mudah • impi ( ᮄᮙ᮪ᮕᮤ) menjadi impén ( ᮄᮙ᮪ᮕᮦᮔ᮪), mimpi • siduru ( ᮞᮤᮓᮥᮛᮥ) menjadi sidéang ( ᮞᮤᮓᮦᮃᮀ), berdiang • sanggup ( ᮞᮀᮌᮥᮕ᮪) menjadi sanggem ( ᮞᮀᮌᮨᮙ᮪), sanggup • singkir ( ᮞᮤᮀᮊᮤᮁ) menjadi singkah ( ᮞᮤᮀᮊᮂ), singkir Perubahan vokal • perubahan a → i: [8] • jaba ( ᮏᮘ) menjadi jabi ( ᮏᮘᮤ), luar/kecuali • utama ( ᮅᮒᮙ) menjadi utami ( ᮅᮒᮙᮤ), utama • rupa ( ᮛᮥᮕ) menjadi rupi ( ᮛᮥᮕᮤ), rupa • tampa ( ᮒᮙ᮪ᮕ) menjadi tampi ( ᮒᮙ᮪ᮕᮤ), terima • coba ( ᮎᮧᮘ) menjadi cobi ( ᮎᮧᮘᮤ), coba • perubahan u → a (ah): [8] • rempug ( ᮛᮨᮙ᮪ᮕᮥᮌ᮪) menjadi rempag ( ᮛᮨᮙ᮪ᮕᮥᮌ᮪), runding • sebut ( ᮞᮨᮘᮥᮒ᮪) menjadi sebat ( ᮞᮨᮘᮒ᮪), sebut • tepung ( ᮒᮨᮕᮥᮀ) menjadi tepang ( ᮒᮨᮕᮀ), temu • kudu ( ᮊᮥᮓᮥ) menjadi kedah ( ᮊᮨᮓᮂ), harus • perubahan u → e (pepet): [8] • susah ( ᮞᮥᮞᮂ) menjadi sesah ( ᮞᮨᮞᮂ), susah • perubahan u → i: [8] • kuat ( ᮊᮥᮃᮒ᮪) menjadi kiat ( ᮊᮤᮃᮒ᮪), kuat • kurang ( ᮊᮥᮛᮀ) menjadi kirang ( ᮊᮤᮛᮀ), kurang • perubahan i → é (e taling); u → a: [8] • itung ( ᮄᮒᮥᮀ) menjadi étang ( ᮆᮒᮀ), hitung Perubahan kata secara keseluruhan • kata kerja: [8] • béak ( ᮘᮦᮃᮊ᮪) → séép ( ᮞᮦᮆᮕ᮪), habis • gawé ( ᮌᮝᮦ) → damel ( ᮓᮙᮦᮜ᮪), bekerja • ngigel ( ᮍᮤᮌᮨᮜ᮪) → ngibing ( ᮍᮤᮘᮤᮀ), menari • kata sifat: [8] • kolot ( ᮊᮧᮜᮧᮒ᮪) → sepuh ( ᮞᮨᮕᮥᮂ), tua Penghilangan huruf awal • nomina: [9] • kakang ( ᮊᮊᮀ) menjadi akang ( ᮃᮊᮀ), kakak laki-laki • lanceuk ( ᮜᮔ᮪ᮎᮩᮊ᮪) menjadi aceuk ( ᮃᮎᮩᮊ᮪), kakak perempuan Loma [ sunting - sunting sumber ] Loma atau Basa Loma ( aksara Sunda baku: ᮘᮞ ᮜᮧᮙ, pengucapan bahasa Sunda: [basa loma], bahasa Indonesia: bahasa Loma) adalah bentuk umum serta merupakan dasar dalam bahasa Sunda yang dijadikan bahasa standar untuk digunakan dalam dalam kehidupan sehari-hari serta dipakai dalam majalah, surat kabar, buku dan literatur lain yang berbahasa Sunda.

Bahasa ini menggunakan kata loma dan kata panengah. Bahasa ini bersifat netral serta tidak mempedulikan hierarkis dan tanpa adanya pembagian-pembagian yang rumit. Meskipun begitu, dalam konteks informal, penggunaan ragam bahasa ini tetap dihindari untuk berbicara atau membicarakan orang yang dihormati dan digunakan untuk orang yang sudah akrab atau dekat dengan sang penutur.

[5] Cohag [ sunting - sunting sumber ] Selain Hormat dan Loma, sebenarnya dalam bahasa Sunda masih ada satu ragam bahasa lagi yakni Cohag atau basa Cohag ( aksara Sunda baku: ᮘᮞ ᮎᮧᮠᮌ᮪, pengucapan bahasa Sunda: [basa t͡ʃohag], dikenal juga sebagai basa kasar/ basa garihal, bahasa Indonesia: bahasa Cohag) basa cohag merupakan ragam bahasa yang digunakan ketika seseorang sedang marah atau kesal terhadap orang lain maupun bermaksud untuk merendahkan, namun sebenarnya ragam bahasa ini justru juga bisa digunakan untuk berbicara dengan orang yang sudah sangat akrab dengan penutur sebagai bentuk kehangatan.

[5] Ragam bahasa ini menggunakan kata cohag dan kata loma yang biasanya tidak utuh/disingkat. Tentunya, karena sifatnya lebih kasar, maka ragam bahasa ini tidak disertakan dalam tatakrama bahasa Sunda. Pembentukan kata cohag tidak memiliki aturan khusus, dan bentuknya berbeda jauh dengan kata loma. Di bawah ini adalah contoh kalimat yang menggunakan basa cohag.

[f] • Sia mun hayang molor mah kari mantog ka gogobrog jig! [g] • Ai sia nga banjut lebokeun teu? Aing can nyatu yeuh. [h] Perbandingan kalimat [ sunting - sunting sumber ] Contoh penerapan tatakrama bahasa Secara umum tatakrama basa dibagi jadi dalam percakapan sehari-hari [14] Di bawah ini disajikan perbandingan dua buah cerita yang sama dengan menggunakan ragam hormat dan ragam loma.

• Hormat Waktos énjing-énjing, abdi mios ka bumi pun Aki nga bantun ketu kanggo di pasihkeun ka anjeunna, kaleresan anjeunna nuju nyondong di bumi, sa parantos di tampi, éta kopéah [i] lajeng di anggo ku anjeunna dina mastakana, sakantenan abdi nyuhunkeun landong ka pun Aki kanggo nambaan padaharan abdi anu raheut, sa parantos di paparin tamba, [j] teras abdi wangsul ka rorompok.

• Loma Waktu keur isuk-isuk, kuring indit ka imah si Aki mawa kerepus pikeun dibérékeun ka manéhna, kabeneran manéhna keur aya di imah, sanggeus ditarima, éta kerepus tuluy dipaké ku manéhna dina sirahna, sakalian kuring ménta ubar ka si Aki pikeun ngubaran beuteung kuring anu raheut, sanggeus dibéré ubar, tuluy kuring balik ka imah.

Arti: Waktu pagi-pagi, saya pergi ke rumah kakek membawa peci untuk diberikan kepadanya, kebetulan dia sedang berada di rumah, sesudah diterima, peci tersebut lalu dipakai oleh dia di kepalanya, sekalian saya meminta obat kepada kakek untuk mengobati perut saya yang luka, sesudah diberikan obat, kemudian saya pulang ke rumah. Pada kalimat dalam ragam bahasa hormat, kata yang ditebali adalah kata-kata lemes yang dipergunakan untuk meninggikan pihak ketiga ( hormat ka batur), sedangkan kata yang ditebali dan digarisbawahi adalah kata-kata yang bisa digunakan untuk meninggikan lawan bicara dan merendahkan diri sendiri secara sekaligus ( kata lemes enteng), sedangkan kata yang hanya digarisbawahi adalah kata-kata sedeng yang dikhususkan hanya untuk merendahkan diri sendiri, dan kata yang tidak ditandai adalah kata-kata (termasuk imbuhan seperti awalan dan akhiran) tak bertingkat yang bisa digunakan dalam ragam basa hormat maupun basa loma.

Jenis-jenis kosakata yang digunakan [ sunting - sunting sumber ] Senarai kosakata yang digunakan dalam tatakrama bahasa Sunda [15] Dalam perkembangannya, tatakrama bahasa Sunda merupakan suatu hal yang sangat dinamis, terkadang dalam beberapa waktu aturan pemakaiannya bisa berubah, [16] dalam sejarahnya jenis kosakata serta ragam bahasa yang digunakan dalam tatakrama ini juga mengalami perubahan [k] dan juga terkadang beberapa buku rujukan menggolongkannya secara berbeda-beda.

Yang jelas, bila dilihat secara linguistik berdasarkan derajat formalitas, setidaknya kosakata yang digunakan dalam tatakrama bahasa Sunda ada sebanyak 8 jenis kosakata, diantaranya yaitu: Lemes pisan [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Kata cohag Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Bahasa Budak Catatan [ sunting - sunting sumber ] • ^ Kongres bahasa Sunda ke-5 yang diadakan di Cipayung, Bogor pada tahun 1986 menyimpulkan bahwa istilah undak-usuk basa diganti dengan tata krama basa [1] • ^ Konferensi Internasional Budaya Sunda I tahun 2001 di Bandung membagi tatakrama bahasa Sunda menjadi dua bagian, yakni (1) basa loma dan (2) basa hormat, sementara itu, Kongres Bahasa Sunda ke-7 pada tahun 2001 membagi tatakrama bahasa Sunda menjadi tiga bagian, yaitu (1) basa loma (2) basa hormat keur sorangan dan (3) basa hormat keur batur [1] • ^ Dengan pelemahan vokal a menjadi i • ^ Sebuah kata ganti kepunyaan yang berbeda dengan kata verba tuang yang bermakna "makan" • ^ Dengan pelemahan vokal a menjadi e (pepet) • ^ Kata cohag digarisbawahi • ^ mun adalah kependekan dari kata lamun • ^ ai adalah kependekan dari kata ari • ^ Pada saat "peci" yang dimaksud dalam kalimat ini masih dimiliki oleh sang penutur, maka dituliskan dalam bentuk sedeng yaitu ketu, sementara ketika sudah diterima oleh sang "kakek", maka kepemilikannya berubah dan dituliskan dalam kata lemes yaitu kopéah.

• ^ Pada saat "obat" yang dimaksud dalam kalimat ini masih dimiliki oleh sang "kakek", maka dituliskan dalam bentuk lemes yaitu landong, sementara ketika sudah diterima oleh sang penutur, maka kepemilikannya berubah dan dituliskan dalam kata sedeng yaitu tamba.

• ^ Perlu diingat bahwa terkadang penyebutan antara ragam bahasa dengan jenis kosakata sering terjadi tumpang tindih Rujukan [ sunting - sunting sumber ] Catatan kaki [ sunting - sunting sumber ] • ^ a b Iskandar & Sukmara 2014, hlm.

7. • ^ Adiwijaya 1951, hlm. 53. • ^ a b Iskandar & Sukmara 2014, hlm. 8. • ^ a b c d Ardiwinata 1984, hlm. 2. • ^ a b c Coolsma secara umum tatakrama basa dibagi jadi, hlm.

14. • ^ Adiwijaya 1951, hlm. 61. • ^ Iskandar & Sukmara 2014, hlm. 9. • ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x Kats 1982, hlm. 2-4. • ^ a b c Coolsma 1985, hlm. 26. • ^ Coolsma 1985, hlm. 191. • ^ Ardiwinata 1984, hlm.

secara umum tatakrama basa dibagi jadi

4. secara umum tatakrama basa dibagi jadi ^ a b Kats 1982, hlm. 7. • ^ Coolsma 1985, hlm. 21. • ^ Iskandar & Sukmara 2014, hlm. 39. • ^ Iskandar & Sukmara 2014, hlm. 13. • ^ Kats 1982, hlm. 5.

Daftar pustaka [ sunting - sunting sumber ] • Iskandar, Ishak; Sukmara, Mara (2014). Tata Krama Basa Sunda Sareng Conto Larapna Dina Kalimah. Ciamis: CV Tiga Putra. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Coolsma, S.

(1985) [1904]. Tata bahasa Sunda. Diterjemahkan oleh Wijayakusumah, Husein; Rusyana, Rus. Jakarta: Djambatan. OCLC 13986971. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Ardiwinata, D.K. (1984) [1916]. Tata Bahasa Sunda. Diterjemahkan oleh Ayatrohaedi. Jakarta: Balai Pustaka. OCLC 559541903. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Kats, J; Soeriadiraja, M (1982) [1921]. Tata Bahasa dan Ungkapan Bahasa Sunda.

Diterjemahkan oleh Ayatrohaedi. Jakarta: Djambatan. OCLC 69116948. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Adiwijaya, R.I. (1951). Adegan basa sunda. Jakarta: J.B. Wolters. OCLC 64694322. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Bacaan lanjutan [ sunting - sunting sumber ] • Yudibrata, Karna; Suriamiharja, Agus; Iskandarwassid (1989).

Bagbagan Makéna Basa Sunda. Bandung: Rahmat Cijulang. OCLC 29692716. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Satjadibrata, R (1956). Undak-usuk basa Sunda. Jakarta: Balai Pustaka. OCLC 14076263. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Wirakusumah, R; Momon, Djakawiguna; H.I., Buldan (1957). Kandaga Tatabasa. Bandung: Tarate. OCLC 248255932. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Kern, Rudolf Aernoud (1906).

" 't Lĕmĕs in 't Soendaasch". Bijdragen tot de Taal- Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië (dalam bahasa Belanda). 59 (3-4). doi: 10.2307/20769487. JSTOR 20769487. OCLC 655572587. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] Wikimedia Commons memiliki media mengenai Honorific speech in Sundanese.

• Pedoman Ejaan Bahasa Sunda Yang Disempurnakan • Kamus Sunda-Indonesia Repositori Kemdikbud • Kamus Bahasa Sunda-Inggris oleh F.S. Eringa • Konverter Aksara Latin-Aksara Sunda di kairaga.com • Tabel Karakter Unicode Aksara Sunda di unicode-table.com • Halaman ini terakhir diubah pada 3 April 2022, pukul 05.52.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; secara umum tatakrama basa dibagi jadi tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • • Di dalam bahasa Sunda seperti yang sudah kita tahu dikenal adanya istilah yang kita sebut dengan “undak-usuk basa Sunda”.

Maksud dari istilah tersebut adalah tatakrama yang ada hubungannya dengan penggunaan basa Sunda. Namun, saat ini istilah undak-usuk basa Sunda tersebut sudah diganti dengan istilah “ Tatakrama Basa Sunda”. Dalam artikel kali ini akan dibahas mengenai dari tatakrama bahasa dan tatakrama dalam aturan dalam menghormati atau aturan sopan santun yang dipegang oleh warga masyarakat sunda.

Berikut selengkapnya mengenai pengertian tata krama yang akan dibahas kedalam bahasa sunda. TATAKRAMA URANG SUNDA Urang tangtu waé pernah ngadéngé istilah dina tatakrama. Geuning sok aya nu ngomong kieu “Kudu boga tatakrama atuh ari hayang diajénan ku batur mah!.” Atawa, “Ih, si éta mah teu boga tatakrama, ngomong téh bari ti poporongos kitu.” Jadi naon nu dimaksud tatakrama téh?

Tatakrama asalna tina basa Sangsekerta, “TATA” hartina aturan atawa palanggeran, sedengkeun “KRAMA” hartina hormat. Jadi ari tatakrama téh mangrupakeun aturan kana ngahormat jeung nu lian atawa aturan dina sopan santun nu digunakeun ku warga atawa masarakat, keur silih ajenan sareng nu liana.

Di tiap-tiap daérah, bangsa, atawa suku tangtu secara umum tatakrama basa dibagi jadi tatakrama nu saluyu jeung tradisina séwang-séwangan sarta ajén moral anu dianutna. Contona waé urang sunda, tangtu waé miboga tatakrama sorangan, anu ngajadikeun cirina urang Sunda.

Nah, ari tatakrama téh ngawengku kana aturan dina anggah-ungguh atawa gerak dina anggota badan, sarta aturan dina omongan atawa basa anu digunakeuna. Tatakrama anu silih patalina jeung anggah-ungguh contona waé cara sasalaman, cara diuk (mun awéwé kudu diuk emok, jeng sajabana), awak kudu rengkuh lamun keur cumarita jeung jalma anu leuwih kolot, jeung sajaban. Sedengkeun tatakrama anu aya patalia sareng omongan atawa prak-prakan ngagunakeun basa, urang sunda tangtu miboga aturan nu husus, nyaéta aturan undak-usuk basa.

Tatakrama basa aya nu disebut basa lemes jeung basa kasar, dina tahapana atawa luhur-handapna ajén basa anu dilarapkeun kudu saluyu jeung jalma anu diajak cumarita.

Baca ogé: Kamus Tatakrama (Undak Usuk) Basa Sunda Lengkap! Sajarah Undak-Usuk (Tatakrama) Basa Sunda Para ahli basa sunda sapamadegan, yén lahirna undak-usuk basa sunda téh dipangaruhan ku basa Jawa sabada tanah sunda utamana Priangan kaeréh ku Mataram dina abad ka-17. Dina mangsa harita, para dalem jeung kaom menak sunda mindeng ngayakeun hubungan séba upeti jeung sajabana jeung kaom menak Jawa di Mataram.

Éta hubungan sosial téh nimbulkeun ayana kapangaruhan budaya Jawa kana budaya urang sunda. Lain undak-usuk basana wungkul tapi ogé dina widang kasenian, saperti tembang guguritan atawa pupuh. Foto: pinteres.com Saencan abad ka 17, sabenerna dina basa sunda téh henteu aya unda-usuk basa, éta dibuktikeun dina naskah-naskah buhun. Contona waé dina Carita Parahiyangan atawa Carita Ratu Pakuan nu diserat dina abad ka-16, didinya teu ngagunakeun undak-usuk basa sakumaha nu ku urang kapanggih ayeuna.

Sabada kapangaruhan ku Mataram mikin nyosok ka urang, undak-usuk basa téh beuki subur mangaruhan ka basa Sunda. Ceuk katerangan tina hasil panalungtikan Coolsma, nu ahli basa urang Walanda, aya 300 kecap lemes jeung 275 kecap kasar basa Sunda anu asalna tina basa Jawa, ngan cara makéna sok hijikeun.

Contona waé kecap abot, anom, bobot, impén, lali, pungkur, sasih, jeung sajabana. Éta lamun di urang mah asup kana basa Sunda lemes, tapi lamun dina basa Jawa mah éta téh basa kasar. Kitu deui aya kecap beja, bulan, datang, pindah, suku, tumpak, jeung sajabana. Lamun dina basa Sunda mah kasar, tapi dina basa Jawa mah lemes.

Undak-usuk basa sunda tuluy mekar saluyu jeung kamekaran jaman, anu tadina ngan dipaké keur ngahargaan ka kaom menak wungkul, ayeuna dipake ka saha waé anu sakuduna dihormat. Nah, ieu tatakrama basa téh mimiti di gunakeun sanggeus nagara urang merdéka, nyaéta dina taun 1945.

Tepi ka danget ieu undak-usuk basa terus diparaké urang Sunda, sabab geus gumulung jadi ajén-inajén tatakrama urang Sunda dina silih hormat jeung silih ngahargaan jeung nu lian. Jadi, minangka salah sahiji banda warisan budaya, undak-usuk basa ku urang kudu dipaké dina kahirupan sapopoé. CARA DIAJAR NGAGUNAKEUN TATAKRAMA BASA SUNDA Cara di ajar ngagunakeun undak-usuk basa sunda atawa cara ngagunakeun tatakrama basa Sunda tangtu waé bisa tina hasil urang diajar di sakola, atawa bisa di menangkeun ku cara-cara nyaéta diantarana: 1.

Kudu sering merhatikeun batur, anu basana luyu tur merenah (bener salahna). 2. Sering-sering maca buku nu susunan basana tos réngsé atawa beres. 3. Aya sikep kritis waktu maca atawa mun ngabandungan batur nu keur nyarita. 4. Biasakeun lamun nyarita ngagunakeun basa nu luyu tur merenah. 5. Keur latihanan, ulah rusuh teuing mun keur maca atawa keur carita, jadi aya kasempetan pikeun milih jeung nyusun kalimahna. Di masarakat kamampuh ngagunakeun Basa Sunda pangpangna ngagunakeun Tatakrama Basa secara umum tatakrama basa dibagi jadi kacida pentingna.

Kapan aya paribasa: “Hadé ku omong goréng ku omong” atawa “Basa mah leuwih seukeut, tibatan pedang”. Bener teu? Nah, hayu urang babarengan diajar kana tatakrama sunda ieu. Rupina sakitu waé pikeun pedaran singkat ngenaan kana tatakrama tina ngahormat. Mugia aya mangpaatna keur diri urang saréréa tina sikep katut ngagunakeun tatakrama basana, hatur nuhun.

secara umum tatakrama basa dibagi jadi

Cari untuk: KATEGORI • Adat Tradisi Sunda • Aksara Sunda • Artikel sunda • Autobiografi • Babad Sunda • Babasan Sunda • Bewara (Pengumuman) • Biodata biografi • Carita Pangalaman • Carita pantun • Cerpen carpon • Contoh Wawacan • Secara umum tatakrama basa dibagi jadi fabel • Dongeng kabayan • Dongeng mite • Dongeng sasakala • Gaya basa sunda • Guguritan • Humor sunda • Iklan sunda • Karangan basa sunda • Kata bijak sunda • Kata cinta sunda • Kata mutiara sunda • Kaulinan barudak • Kawih & Kakawihan • Lagu daerah • Laporan Kagiatan • Mamanis basa • Meme sunda • Nadom sunda • Naskah drama • Novel Bahasa Sunda • Paguneman Percakapan • Pakeman Basa • Pepeling sunda • Pidato Bahasa Sunda • Pribahasa sunda • Pupuh sunda • Remaja • Sajak Puisi Sunda • Sisindiran Pantun Sunda • Sunda lemes • Surat basa sunda • Tatarucingan • Warta sunda • Wawancara sunda • Wawaran
Tatakrama yang dikenal dalam Basa Sunda atau biasa disebut Undak Usuk Basa Sunda (UUBS) secara umum terbagi atas dua jenis, yaitu Basa Hormat/ Lemes (Bahasa Halus), dan Basa Loma (Bahasa Akrab/Kasar).

Dalam Pembahasan UUBS di Kongres Basa Sunda tahun 1986 di Cipayung, Bogor atau disebut TATAKRAMA BASA SUNDA menyebutkan delapan ragam penggunaan Basa Sunda. • Ragam Basa Hormat Sesuai dengan namanya, ragam bahasa ini digunakan untuk menunjukkan rasa hormat.

Bahasa halus yang dipilih bergantung pada subjek yang bersangkutan. Turunan dari ragam ini ada enam tingkatan, antara lain: • Ragam Basa Lemes Pisan/Luhur, jenis bahasa ini biasanya digunakan kepada orang dengan jabatan tinggi atau bangsawan; • Ragam Basa Lemes keur Batur, jenis bahasa ini digunakan pada orang yang dihormati, biasanya yang usianya lebih tua ; • Ragam secara umum tatakrama basa dibagi jadi Lemes keur Pribadi/Lemes Sedeng, merupakan kosakata halus yang khusus digunakan untuk diri sendiri ; • Ragam Basa Lemes Kagok/Panengah, jenis bahasa ini yang digunakan untuk teks-teks semacam surat kabar, dan lain-lain ; • Ragam Basa Lemes Kampung/Dusun, merupakan ragam bahasa yang dikenal halus dalam beberapa komunitas lokal Sunda, bisa jadi terdapat keragaman di beberapa wilayah pengguna Basa Sunda yang berlainan, namun biasanya tidak digunakan dalam situasi resmi ; • Ragam Basa Lemes Budak, merupakan bahasa halus yang digunakan untuk berkomunikasi dengan anak-anak.

• Ragam Basa Loma Basa Loma atau biasanya disebut juga bahasa kasar, sebetulnya tidak dimaknai kekasaran yang otomatis menghilangkan unsur penghormatan. Akan tetapi, ragam bahasa ini digunakan di dalam kalangan pergaulan kawan-kawan akrab. Terdapat dua jenis Basa Loma, yaitu; • Ragam Basa Loma (Akrab); Bahasa jenis ini digunakan dalam lingkup pergaulan kawan-kawan dekat. Misalnya kawan sepermainan. • Ragam Basa Garihal/Songong/cohag (Sangat Kasar ).

Ragam berbahasa ini digunakan pada objek hewan atau dalam kondisi marah besar/murka. Pada penyelenggaraan Konferensi Internasional Budaya Sunda I (KIBS I) di Bandung dan Kongres Basa Sunda VII di Garut, ditetapkan bahwa UUBS hanya terdiri atas dua ragam saja, yaitu: • Ragam Basa Hormat Dalam ragam bahasa ini terhimpun seluruh turunan Basa Hormat/Lemes.

Seseorang yang tertukar-tukar dalam menggunakan bahasa halus untuk diri sendiri, bahasa halus kampung/dusun, atau untuk anak-anak tidak dianggap salah. Seluruh kosa katanya dianggap memenuhi kaidah tatakrama Basa Sunda untuk ragam bahasa halus. • Ragam Basa Loma Tidak berbeda dengan yang telah disebutkan sebelumnya, ragam bahasa ini digunakan untuk berkomunikasi dalam lingkup pergaulan yang akrab.

Termasuk bercengkrama dengan tema sepermainan atau siapapun yang sudah akrab. Namun demikian, tentu saja dalam lingkup pergaulan yang sopan, kosakata yang tercakup dalam Ragam Basa Garihal/Songong tidak diperkenankan untuk dipakai. Demikianlah perjalanan pembagian ragam Basa Sunda resmi sejak tahun 1986. Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari hingga saat ini, masyarakat masih menggunakan dua tipe bahasa halus, secara umum tatakrama basa dibagi jadi bahasa halus untuk diri sendiri, dan bahasa halus untuk orang lain.

Bila ditambahkan dengan bahasa kasar ( Basa Loma), disimpulkan ada tiga jenis ragam yang digunakan dalam komunitas masyarakat Sunda saat ini. Dalam lanjutan tulisan berikut, sesuai dengan penggunaannya sehari-hari, akan digambarkan pola tatakrama Basa Sunda yang dibagi dalam tiga ragam, antara lain: · Ragam basa Loma/Akrab/Kasar (A) · Ragam basa Lemes keur Pribadi (B) · Ragam basa Lemes keur Batur (C) * Keterangan tanda: # tidak sama; = sama; == terjemahan dalam Bahasa Indonesia POLA I: A # B # C Jumlah kata yang menggunakan pola ini terhitung sedikit (sekitar 25 kata saja).

Berikut ini contohnya: – balik # wangsul # mulih ==pulang – bawa # bantun # candak==membawa – beuli # peser # galeuh==membeli – boga # gaduh # kagungan==mempunyai/memiliki – dahar # neda # tuang==makan – datang # dongkap # sumping==datang – denge # kuping # dangu==mendengar – era # isin# lingsem==malu – gering # udur # teu damang==sakit – imah# rorompok # bumi==rumah – indit # mios # angkat==pergi/berangkat – kasakit # paudur # kasawat==penyakit – menta # nyuhunkeun # mundut==meminta – nitah # ngajurung # miwarang==menyuruh/memerintah – ngomong # sasanggem#sasauran==berbicara – nyaho # terang # uninga==mengetahui – pamajikan # bojo # garwa/geureuha==istri – poho # hilap# lali==lupa – sare # mondok # kulem==tidur – tanya # taros # pariksa==bertanya – tenjo # tingal # tingali==melihat Contoh penggunaan dalam kalimat: • Ari maneh balik ka lembur teh arek iraha?

== “Kapan kamu akan pulang ke kampung?” –terjemahan lepas atau, “Kalau kamu, pulang ke kampung (mau/akan) kapan?” –terjemahan literal • Dupi abdi wangsul ka lembur teh bade enjing bae. ==(Kalau saya [sih] akan pulang ke kampung besok saja.) • Dupi akang bade mulih ka lembur teh bade iraha?

==(Kalau anda (laki2 yang dituakan, semacam kakak/abang/mas)kapan akan pulang ke kampung?) Bila kita perhatikan kalimat-kalimat di atas, predikatnya adalah “balik # WANGSUL # mulih”. A # B # C : A berbeda dengan B, B berbeda dengan C.

Terdapat penggunaan diksi yang berbeda, bergantung pada subjek dalam kalimatnya. Pada kalimat pertama, subjeknya adalah “maneh”. “Maneh”, terjemahnya dalam Bahasa Indonesia adalah “kamu” (kata ganti orang kedua). Termasuk ragam Basa Loma/Akrab. Biasanya ditujukan pada kawan sebaya, sejawat, teman akrab, dll. Karena itu predikat yang dipilih untuk menyatakan “pulang” adalah “balik” ( Ragam basa Loma/Akrab/Kasar (A)).

Sementara itu, kalimat kedua, subjeknya adalah “abdi” (saya). Jadi ragam bahasa yang digunakan adalah Basa Lemes keur Pribadi (B). Untuk kata pulang, digunakan “ wangsul”. Terakhir, merupakan contoh kalimat dengan subjek “akang” (kata panggilan untuk orang ketiga yang dihormati/dituakan), digunakanlah Ragam basa Lemes keur Batur (C), sehingga predikat “pulang” dalam konteks ini menjadi “mulih”.

POLA II: A = B # C Pola kedua mencakup kosakata yang tidak membedakan A dengan B, namun membedakan B dengan C. Jadi, untuk diri sendiri menggunakan kata-kata kasar. Contoh utamanya yang terkait dengan bagian tubuh seperti “sirah” (kepala), “suku” (kaki).

Untuk menyebutkan bagian tubuh kita sendiri seperti itu yang harus digunakan adalah bahasa kasar, sementara untuk orang lain, digunakan bahasa halus.

secara umum tatakrama basa dibagi jadi

Contohnya sebagai berikut: – huntu = huntu # waos==gigi – biwir = biwir # lambey==bibir – irung =irung # pangambung==hidung – baju = baju # raksukan==baju/pakaian – lalajo = lalajo # nongton==menonton – ngaji = ngaji# ngaos==mengaji – nginum = nginum# ngaleueut==minum – puasa = puasa # saum==berpuasa – samping =samping # sinjang==(kain) sarung – ulin = ulin # amengan==bermain POLA III: A # B = C Pola ketiga, kata yang digunakan untuk bahasa halus bagi diri sendiri sama dengan bahasa halus yang digunakan kepada orang lain.

Jumlahnya cukup banyak. Berikut ini di antaranya: – bungah # bingah = bingah==senang/bahagia – eleh # kawon= kawon==kalah – kajeun # sawios = sawios==biar – kungsi # kantos= kantos==pernah – tepung # tepang = tepang==bertemu/berjumpa POLA IV: A = B = C Untuk pola keempat tidak ada pembedaan pada ketiga ragam.

Termasuk dalam kategori ini antara lain kata tanya, kata tunjuk, bilangan, dll.

secara umum tatakrama basa dibagi jadi

– aya = aya = aya== ada – sabaraha = sabaraha = sabaraha== berapa – kumaha = kumaha= kumaha== bagaimana – naon = naon= naon==apa – itu = itu = itu==itu – ieu = ieu = ieu==ini – kahiji = kahiji= kahiji==pertama – kasapuluh = kasapuluh = kasapuluh== ke sepuluh Jsb (jeung sajabana)== dll/dan lain-lain Jika berbicara tata krama secara utuh tentunya bukan sekedar aspek kosakata.

Namun kita pun harus memperhatikan aspek-aspek lainnya. Yang penting juga untuk diperhatikan antara lain: lentongna nyarita ( gaya nyarita, intonasi); pasemon (mimik); rengkuh ( gerakna awak/gesture); juga tata busana. Referensi: http://bandung.blogspot.com/2009/06/tatakrama-basa-sunda.html http://su.wikipedia.org/wiki/Tatakrama_Basa_Sunda Secara umum tatakrama basa dibagi jadi Umum Basa Sunda
Kotak ieu: tempo • sawala • édit Tatakrama basa Sunda nyaéta ragam basa Sunda (diksi) anu dipaké atawa dipilihna dumasar kana kaayaan anu nyarita, anu diajak nyarita, jeung anu dicaritakeunana.

Istilah tatakrama basa Sunda numutkeun hasil Kongrés Basa Sunda taun 1988 di Cipayung, Bogor, dipaké pikeun ngagantikeun istilah undak-usuk basa Sunda. Alesanana nyaéta lantaran undak-usuk basa awalna dimaksudkeun salaku panta-panta basa pikeun ngabédakeun kaayaan sosial masarakatna. Sedengkeun tatakrama secara umum tatakrama basa dibagi jadi Sunda dimaksudkeun pikeun silihormat jeung silihajénan.

Eusi • 1 Basa hormat jeung basa loma • 2 Basa kasar • 3 Kecap-kecap utama • 3.1 Gaganti ngaran • 3.2 Pancakaki • 3.3 Babagian awak • 3.4 Pakéan • 3.5 Nu di imah • 3.6 Kaséhatan jeung nu karasa ku awak • 3.7 Nu karasa ku haté • 3.8 Kaluar tina awak • 3.9 Nuduhkeun tempat • 3.10 Waktu • 3.11 Pagawéan awak • 3.12 Lalampahan • 3.13 Atikan, gawé uteuk, jeung sasauran • 3.14 Méré jeung nyokot • 3.15 Agama / ibadah • 3.16 Laki rabi • 3.17 Kecap pagawéan lainna • 3.18 Ukuran jeung kumpulan • 3.19 Nuduhkeun kaayaan • 3.20 Kecap barang lainna • 3.21 Kecap panambah modalitas • 3.22 Kecap panyambung • 3.23 Kecap pancén Basa hormat jeung basa loma [ édit - édit sumber ] Sahanteuna aya dua ragam dina tatakrama basa Sunda, nyaéta basa hormat jeung basa loma.

Basa hormat umumna dipaké dina suasana resmi, nyarita jeung nu dipihormat, ogé nyarita jeung nu can wanoh. Sedengkeun basa loma umumna dipaké dina suasana loma atawa jeung batur nyarita nu geus loma. Basa kasar [ édit - édit sumber ] Sabenerna aya hiji deui ragam basa Sunda, nyaéta basa kasar atawa garihal.

Ragam basa ieu sok dipakéna sawaktu keur ngambék, nyarékan, paséa, ngécé, atawa ka sato. Tangtuna lantaran kasar, ragam basa ieu teu kaasup kana tatakrama.

Kecap-kecap utama [ édit - édit sumber ] Gaganti ngaran [ édit sumber ] loma hormat ka sorangan hormat ka batur akang akang engkang kuring / déwék / urang abdi / sim kuring . kuring saréréa abdi sadayana . manéh / hidep . anjeun manéhna . anjeunna pribadi pribados ku anjeun sorangan sorangan nyalira Pancakaki [ édit sumber ] loma hormat keur sorangan hormat keur batur adi pun adi tuang rai aki pun aki tuang éyang alo pun alo kapiputra anak pun anak tuang putra bapa pun bapa tuang rama baraya / dulur réréhan / wargi wargi bibi pun bibi tuang ibu budak budak murangkalih cikal anak cikal putra pangageungna deungeun- deungeun nu sanés / sanés wargi nu sanés / sanés wargi incu pun incu tuang putu indung pun biang tuang ibu kolot kolot sepuh lanceuk pun lanceuk tuang raka minantu minantu mantu mitoha mertua mertua nini pun nini tuang éyang pamajikan pun bojo tuang rai / tuang istri / geureuha paman pun paman tuang rama salaki pun lanceuk carogé / tuang raka téré téré kawalon Babagian awak [ édit sumber ] loma hormat ka sorangan hormat ka batur awak / badan awak / badan salira / sarira beuheung beuheung tenggek beungeut beungeut pameunteu / raray beuteung beuteung / padaharan patuangan / lambut birit / bujur birit / bujur imbit bitis bitis wentis biwir biwir lambey bujal bujal / puseur udel buuk buuk rambut cangkéng cangkéng angkéng ceuli ceuli cepil diri diri salira dubur dubur palawangan gado gado angkeut halis halis kening haté haté manah huntu huntu waos irung irung pangambung kasakit / kanyeri kasakit / kanyeri kasawat kélék kélék ingkab / déhé kuku kuku tanggay kumis kumis rumbah lého lého umbel létah létah ilat leungeun leungeun panangan panon panon soca pianakan pianakan wewetengan pingping pingping paha pipi pipi damis ramo ramo réma sirah sirah mastaka sirit larangan larangan sora sora soanten suku suku sampéan sungut sungut / cangkem baham susu awéwé susu awéwé pinareup taktak taktak taraju tarang tarang taar tonggong tonggong pungkur tuur tuur deku Pakéan [ édit sumber ] loma hormat keur sorangan hormat keur batur ali ali cingcin / lélépén baju baju raksukan bendo bendo udeng beubeur / sabuk beubeur / sabuk beulitan calana calana lancingan carécét / saputangan carécét / saputangan salempay gelung gelung sanggul geulang geulang pinggel iket iket / totopong totopong / udeng iteuk iteuk teteken karémbong karémbong / kekemben kekemben keris keris duhung kongkorong kongkorong / kangkalung kangkalung panitih panitih sangkétan payung payung pajeng sabuk / beubeur beubeur beulitan samping samping / sinjang sinjang sisir sisir / pamérés pamérés suweng suweng kurabu topi topi tudung wedak wedak pupur Nu di imah [ édit sumber ] loma hormat keur sorangan hormat keur batur anggel anggel / bantal bantal cacangkir / cangkir cacangkir / cangkir tangkepan ciling / pacilingan kakus jamban dapur dapur pawon enggon / kamar pamondokan pangkuleman gardéng / rérégan gardéng / rérégan lalangsé guguling guguling pepedek imah rorompok bumi kéjo / sangu sangu sangu pancuran / kamar mandi jamban jamban samak amparan amparan simbut simbut kampuh Kaséhatan jeung nu karasa ku awak [ édit sumber ] loma hormat keur sorangan hormat keur batur balur balur lulur batuk batuk gohgoy begang / kuru begang langsip / langsit bengék / mengi asma ampeg bisul bisul gambuh bolonan / kotoran / palangan / héd udur sasih / kareseban kareseban cageur pangésto / pangéstu damang cangkeul cangkeul pegel capé capé palay gering udur teu damang kalenger / kapaéhan / kapiuhan kapaéhan / kapiuhan kapidara kumbah / kukumbah kumbah / kukumbah wasuh / wawasuh lapar lapar / hoyong neda palay tuang mamayu mamayu mamajeng muriang muriang nyenyepan obat / ubar obat / ubar landong parna répot wales prihatin prihatin prihatos rieut rieut puyeng sakit / kasakit kasakit kasawat salésma salésma pileg seubeuh sesek / wareg wareg tunduh tunduh palay kulem Nu karasa ku haté [ édit sumber ] loma hormat keur sorangan hormat keur batur ambek ambek bendu / wera atoh / bungah bingah bingah bageur bageur saé manah bangga sesah sesah beuki beuki / seneng sedep bingung bingung éwed bungah / gumbira bingah bingah daék daék / purun kersa éra isin lingsem genah / geunah raos raos gimir gimir rentag manah hawatir / watir / karunya watir hawatos hélok héran hémeng inggis / risi inggis / risi rémpan ngeunah ngeunah raos rasa / rumasa / karasa raos / rumaos / karaos raos / rumaos / karaos resep / karesep karesep kalangenan ripuh ripuh secara umum tatakrama basa dibagi jadi répot répot sadia / sayaga sayagi sayagi salempang / hariwang salempang salempang / rejag manah sedih sedih sedih / sungkawa senang senang raos manah sono sono honeng wani wantun wantun Kaluar tina awak [ édit sumber ] loma hormat keur sorangan hormat keur batur ciduh ciduh ludah cikiih cikahampangan cikahampangan cipanon cipanon cisoca / ciséér késang késang / karinget karinget tai kokotor kokotor utah utah luga Nuduhkeun tempat [ édit sumber ] loma hormat keur sorangan hormat keur batur antara antara antawis beulah palih palih deukeut deukeut caket gigireun gigireun gédéngeun hareup payun payun jauh tebih tebih jero lebet lebet katuhu katuhu tengen kédé kénca kiwa lebah / palebah leresan leresan pandeuri ti pengker ti pengker tukang pengker / pungkur pengker / pungkur Waktu [ édit sumber ] loma hormat keur sorangan hormat keur batur baréto / baheula kapungkur / kapengker kapungkur beurang siang siang bulan sasih sasih burit sonten sonten gancang / téréh énggal énggal secara umum tatakrama basa dibagi jadi geuwat énggal heubeul / lawas heubeul / lami lami isuk / isukan énjing énjing isuk- isuk énjing- énjing énjing- énjing kakara / karék nembé nembé kalan- kalan / sakapeung sawaktos- waktos sawaktos- waktos lila lami lami malem / peuting wengi wengi mimiti / mimitina kawitna awitna / kawitna poé dinten dinten sakeudeung sakedap sakedap soré sonten sonten taun taun / warsih warsih témpo sarantos sarantos Pagawéan awak [ édit sumber ] loma hormat keur sorangan hormat keur batur ambeu / ngambeu ngambeu ngambung / ngangseu angir / diangir dikuramas dikujamas asa / rarasaan raraosan raraosan aso / ngaso ngaso leleson bireungeuh / mireungeuh mireungeuh ningali buang / bubuang / ngising miceun kabeuratan cabak / nyabak nyabak nyepeng caneut / nyaneut nyaneut ngaleueut carita / omong / nyarita / ngomong nyanggem nyarios cécéwok obéh / ombéh obéh / ombéh cekel / nyekel nyekel nyepeng ceurik ceurik nangis cium / nyium nyium ngambung cokot / nyokot ngabantun nyandak cukur / dicukur dicukur diparas dahar neda tuang dangdan dangdan dangdos déngé / ngadéngé nguping / mireng ngadangu diuk diuk calik / linggih éndong / ngéndong ngéndong ngawengi gégél gégél landep geuing / ngageuing ngageuing ngémutan heuay heuay angob hitut hitut kabobosan hudang hudang gugah igel / ngigel igel / ngigel ibing / ngibing ilik / ngilikan ningal / ningalian ningal / ningalian impi impén impén imut imut mésem inum inum leueut katara / kaciri katawis katawis kedeng / ngedeng ngedeng ébog kélék / ngélék ngélék ngadéhé kiih kahampangan kahampangan labuh labuh geubis lahun / ngalahun ngalahun mangkon lalajo nongton nongton létak / dilétak dilétak diilat malik malik mayun mandi mandi siram maot maot pupus / tilar dunya ngais ngais ngemban ngising kabeuratan kabeuratan nguluwut / nguyung nguluwut / nguyung ngangluh nyaring nyaring gugah / teu acan kulem paké / maké nganggo nganggo pangku / mangku mangku mangkon pencét / mencétan meuseulan meuseulan ranyéd / ngaranyéd ngaranyéd ngalambangsari reureuh reureuh ngaso roko / udud / ngaroko / ngudud roko / ngaroko sesepeun / nyesep sampak / nyampak nyampak nyondong / kasondong saré mondok kulem sasarap sasarap / neda ( énjing- énjing) tuang ( énjing- énjing) sebut sebat sebat seupah / nyeupah nyeupah ngalemar seuri seuri gumujeng sibanyo sibanyo wawasuh sisig / nyisig sisig / nyisig susur / nyusur teleg / teureuy teleg / teureuy telen tembang tembang mamaos ténjo tingal tingali teundeun / tunda simpen simpen tincak nincak dampal tunggu antos antos ulin ulin ameng Lalampahan [ édit sumber ] loma hormat keur sorangan hormat keur batur abus lebet lebet amit / amitan permios permios anteur / nganteur jajap / ngajajapkeun nyarengan arep / diarep- arep / ngarep- ngarep ajeng / diajeng- ajeng / ngajeng- ngajeng ajeng / diajeng- ajeng / ngajeng- ngajeng badarat badarat nyacat balik / mulang wangsul mulih cicing matuh calik / linggih cunduk / datang dongkap sumping / rawuh ilu / ngilu ngiring ngiring indit / miang mios angkat jugjug / ngajugjug bujeng / ngabujeng bujeng / ngabujeng kabur / minggat minggat lolos kari / tinggal kantun kantun leumpang leumpang angkat paju / maju majeng majeng patuh / matuh matuh linggih pegat / kapegat kapegat kaandeg permisi permios permios pindah pindah ngalih saba / nyaba nyanyabaan angkat- angkatan tumpak tumpak tunggang turun turun lungsur Atikan, gawé uteuk, jeung sasauran [ édit sumber ] loma hormat keur sorangan hormat keur batur baca aos aos badami badanten badanten béja / bébéja wawartos / popoyan wawartos / pupulih bilang / milang ngétang ngétang celuk / nyeluk / gero / ngageroan nyauran ngagentraan cenah / cénah cenah / cénah saurna didik / ngadidik ngatik miwuruk / mitutur / miwejang éling / inget émut émut harti harti hartos iber / kabar / béja / warta wartos wartos itung / ngitung itung / ngitung étang / ngetang jawab walon secara umum tatakrama basa dibagi jadi kira / sangka / ngira / nyangka nginten nginten kocap / kocapkeun / kacaritakeun kacarioskeun kacarioskeun maca maca maos magahan / mapagahan mapagahan ngawurukan / miwejang naséhat / papatah naséhat / papatah piwuruk / piwejang ngajar ngajar ngawulang / ngawurukan ngaku ngaku ngangken nyaho terang uninga nyana nginten nginten nyoba / mecakan nyobi nyobi paham paham / ngartos ngartos paliré / maliré maliré merhatoskeun parah / dipaparah dikinten- kinten dikinten- kinten paribasa paripaos paripaos pikir pikir manah poho hilap lali rujuk / rempug rempug rempag sadu / sasadu tamada tamada salin / secara umum tatakrama basa dibagi jadi disalin gentos tulis tulis serat Méré jeung nyokot [ édit sumber ] loma hormat keur sorangan hormat keur batur bawa bantun candak béré / méré maparin / masihan ngahaturanan / ngalélér beuli / meuli mésér ngagaleuh bikeun / mikeun maparinkeun / masihkeun ngahaturkeun / nyanggakeun cumpon / nyumponan / nohonan / nedunan nyumponan / nyaosan nyaosan dagang dagang icalan duit artos artos ganti ganti gentos harga harga pangaos hili / tukeur liron liron / gentos hutang hutang sambetan injeum / nginjeum tambut / nambut tambut / nambut jual ical ical nohonan nyaosan / nyumponan nyaosan pihapé / mihapé wiat ngaweweratan séléh / nyéléhkeun masrahkeun nyanggakeun / ngahaturkeun tarima tampi tampi Agama / ibadah [ édit sumber ] loma hormat keur sorangan hormat keur batur aji / ngaji ngaji ngaos buka ( puasa) buka bobor bulan puasa sasih siam sasih siam lebaran boboran siam boboran siam puasa puasa saum salat / solat sambéang netepan wulu / wudu wulu / wudu abdas Laki rabi [ édit sumber ] loma hormat keur sorangan hormat keur batur candung candung wayuh jima sapatemon sapatemon jinah jinah ngalambangsari juru / ngajuru ngalahirkeun babar kawin nikah / jatukrami jatukrami / réndéngan kuren / kurenan rimbitan rimbitan nyolowédor nyolowédor midua manah popotongan patilasan patilasan rarabi rarabi garwaan reuneuh kakandungan bobot / ngandeg séléwér / nyéléwér midua haté midua manah serah / nyerahkeun mirak mirak / ngésér Citakan:Tatakrama manusa masarakat Kecap pagawéan lainna [ édit sumber ] loma hormat keur sorangan hormat keur batur angkir / diangkir / diondang diondang / disaur diulem / disaur anjang / nganjang ngadeuheus natamu anti / nganti / dago / ngadagoan ngantosan ngantosan bagéa bagéa haturan bantu / babantu babantu babantos caram / nyarék / nyaram nyarék / nyaram ngawagel carék / nyarékan nyarékan nyeuseul / nyauran cici / nyician nyician mairan cik / cing / coba cobi cobi dago / dagoan antosan antosan éstu / ngéstukeun / nurut ngéstokeun ngéstokeun eusi / ngeusian ngalebetan ngalebetan gawé gawé damel gilir / bagilir bagilir bagentos gugu / ngagugu nurut tumut gusar / digusar digusar dipeper hadir / ngahadiran / nungkulan nungkulan ngaluuhan hampura / maap hapunten hapunten / haksama / haksami jaga jaga jagi kubur / dikubur kaluat / dikaluat dikaluat / dikurebkeun kumpul kempel kempel mupakat / rempug mupakat / rempug rempag ngadu ngadu ngaben ngurus ngalereskeun ngalereskeun ogan / ngogan ngondang ngulem omé / ngoméan / menerkeun ngalereskeun ngalereskeun palar / dipalar dipalar dipamrih / dipambrih pandé / mandéan mandéan mapadani / nyamian panggih / manggih mendak mendak parak / marak marak munday pariksa / mariksa mariksa marios piligenti piligentos piligentos pilih / kapilih kapilih kaselir / kapeto raksa raksa tangtayungan rampés mangga mangga sanding / kasanding kasanding kasumpingan siar / nyiar / néang milari milari tepung tepang tepang titah nitah ngajurung turut turut tumut Ukuran jeung kumpulan [ édit sumber ] loma hormat keur sorangan hormat keur batur béak séép séép beurat abot abot cukup / mahi cekap cekap emét / saemét / saeutik saeutik / sakedik saeutik / sakedik euweuh teu aya teu aya gedé gedé ageung kabéh / kabéhanana sadayana sadayana kurang kirang kirang leutik alit alit leuwih langkung langkung meujeuhna meujeuhna cekap montok montok ageung ngan mung mung paro / saparo sapalih sapalih réa / loba seueur seueur sabangun sabangun sapertos sagala sagala / saniskanten saniskanten sakur sakur sugri sarua sami sami Nuduhkeun kaayaan [ édit sumber ] loma hormat keur sorangan hormat keur batur alus / hadé saé saé anyar weuteuh weuteuh ati- ati / kadé ati- ati atos- atos babari / gampang gampil gampil béda bénten bénten bener / enya leres leres berekah pangésto / pangéstu / aya hibar damang / wilujeng buru bujeng bujeng duga / kaduga kaduga kiat éléh éléh kawon gandéng gandéng baribin getol getol kersaan goréng / joré goréng awon gura- giru gura- giru énggal- énggalan haben haben teras- terasan hayu secara umum tatakrama basa dibagi jadi mangga hésé / susah / pelik sesah sesah hina laip laip hirup hirup jumeneng kacida / nataku / pantég kalintang kalintang kapalang / kagok kapameng kapameng kolot kolot sepuh kop / pék mangga mangga kuat kiat kiat laku / payu / laris pajeng pajeng laun / laun- laun lami- lami lami- lami léngoh léngoh teu nyandak nanaon leungit leungit ical lulugu / utama utami utami mahal mahal awis malarat / miskin jalmi teu gaduh teu kagungan nanaon marhum marhum / jenatna marhum / suargi murah mirah mirah ngora ngora anom palangsiang / bisa jadi tiasa jadi tiasa jadi pantar / sapantar sapantar sayuswa parok / teu parok teu sami teu sami pati / teu pati teu patos teu patos percaya percanten percanten perlu perlu peryogi pirang- pirang pinten- pinten pinten- pinten rikip / ririkipan ririkipan rerencepan robah robah / robih robih rupa / warna rupi rupi rusuh / rurusuhan éngal- énggalan énggal- énggalan salah lepat lepat salamet salamet wilujeng saniskara saniskanten saniskanten saréréa sadayana sadayana sarua sarupi / sami sarupi / sami sésa / kari kantun kantun urut tilas tilas Kecap barang lainna [ édit sumber ] loma hormat keur sorangan hormat keur batur asal kawit kawit astana pasaréan pajaratan / makam bukti buktos buktos gogoda / cocoba cocoba cocobi hal / perkara perkawis perkawis idin widi widi kutu kutu puntang minyak lisah lisah récéh récéh artos alit sawah sawah sérang Kecap panambah modalitas [ édit sumber ] loma hormat keur sorangan hormat keur batur arang / langka awis- awis awis- awis arék badé / seja badé / seja beunang kénging kénging bisa tiasa iasa boa tiasa jadi tiasa jadi butuh perlu peryogi carang / langka awis / awis- awis awis / awis- awis embung alim / narah ( awéwé) teu kersa hayang hayang / hoyong palay kudu kedah kedah kungsi kantos kantos lain sanés sanés mangka / sing / muga mugi mugi meureun panginten panginten mindeng / remen sering sering muga mugi mugi pasti / tangtu tangtos tangtos pénta / ménta neda / nyuhunkeun mundut puguh / tangtu tangtos tangtos / kantenan purun purun kersa sanggup sanggem sanggem ulah / entong teu kénging teu kénging Kecap panyambung [ édit sumber ] loma hormat keur sorangan hormat keur batur ambéh / supaya / sangkan supados supados atawa atanapi atanapi bisi bilih bilih can / tacan teu acan teu acan duméh / lantaran jalaran ku margi eukeur / keur nuju nuju geus / enggeus réngsé / parantos parantos heug / seug mangga mangga iwal anging anging jaba / kajaba jaba / kajaba jabi / kajabi kajeun / keun baé sawios sawios kawantu kawantos kawantos kawas / saperti / jiga jiga / sapertos sapertos / sakarupi lamun / upama upami upami lantaran / sabab / alatan jalaran / sabab margi méméh / saméméh sateuacan sateuacan mending / leuwih hade langkung saé langkung saé minangka étang- étang étang- étang najan / parandéné / sanajan sanaos sanaos pangna / nu matak nu mawi nu mawi pédah ku margi / jalaran ku margi / réhing sabot / basa waktu / nalika / waktos nalika / waktos sanggeus / sabada saparantos saparantos sarta / jeung / bareng / reujeung bareng / sareng sareng semet / serek / nepi ka wangkid / dugi ka wangkid / dugi ka sugan / manawa manawi manawi tapi nanging nanging terus / tuluy teras / lajeng teras / lajeng yén wiréh / réh wiréh / réh Kecap pancén [ édit sumber ] loma hormat keur sorangan hormat keur batur ajang / keur / pikeun kanggo haturan / kahatur ari dupi / upami dupi / upami baé / keun baé sawios sawios bawarasa ku émutan / bawiraos ku émutan / bawiraos boga gaduh kagungan émboh / tambah tambih tambih endeng / saendeng- endeng salamina sapapaosna geura / pék / hég geura / mangga mangga komo / sumawonna komo / sumawonna sumawonten laju laju lajeng larung / liwat / kalarung secara umum tatakrama basa dibagi jadi kalangkung maksud maksad maksad mangkuk / teu mangkuk teu kantos teu kantos mungguh menggah menggah( ing) salah saurang salah sawios salah sawios séjén séjén / secara umum tatakrama basa dibagi jadi sanés tayohna rupina rupina tulus cios cios Édit tutumbu • Kaca ieu panungtungan diédit 22 Nopémber 2021, jam 12.10.

• Téks ditangtayungan ku Creative Commons Attribution-ShareAlike License; katangtuan tambahan lianna bisa dilarapkeun ogé. Baca Katangtuan Pamakéan pikeun leuwih lengkep. • Kawijakan privasi • Ngeunaan Wikipedia • Bantahan • Pidangan sélulér • Pamekar • Statistik • Pernyataan kuki • •Sumber Gambar: Swagger Institute Pengertian— Tata artinya aturan, Krama artinya sesuatu yang baik, sehingga Tata Krama adalah aturan istiadat yang baik untuk dilakukan sebagai pedoman hidup bermasyarakat.

Nah, kali ini saya akan membahas Tata Krama yang menjadi kebiasaan di kawasan Jogja Solo. Daerah Jogja Solo— Istilah kawasan ini, bukan hanya sebatas “Kota Jogja dan Kota Solo” saja, tetapi mencakup seluruh secara umum tatakrama basa dibagi jadi disekitarnya, yang mana meliputi wilayah Karaton Mataram Surakarta Hadiningrat dan Karaton Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat.

Kawasan ini meliputi 12 wilayah kota dan kabupaten, 7 Wilayah di Surakarta dan 5 Wilayah di Ngayogyakarta. 12 Wilayah Jogja Solo 7 Wilayah Surakarta ini biasa disingkat dengan Subosukawonosraten, yang menjadi wilayah eks-Karesidenan Surakarta, Plat AD yaitu: Kota Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Kla ten.

5 Wilayah Ngayogyakarta, yang sekarang menjadi bagian dari Provinsi DI.Yogyakarta, Plat AB: Kota Surakarta, Sleman, Bantul, Gunung Kidul, dan Kulon Progo. Sampai saat ini wilayah Jogja Solo terkenal dengan kearifan lokal budaya Jawa yang tetap teguh memegang tata krama. Meskipun kita tidak tinggal di kawasan ini juga, sebaiknya tata krama memang harus dipraktikkan dimanapun kita berada.

Mengapa harus menjunjung tinggi tata krama? Tata Krama ini membawa sesuatu kebaikan, menempatkan manusia pada posisi dan kedudukannya, keselerasan hidup bermasyarakat. Hamemayu Hayuning Manungsa. Memperindah hubungan antar sesama manusia. Jika dilakukan: Meskipun kita orang asing, kita akan lebih dihargai, disambut dengan baik dan ramah, kita akan mendapat privilege dari masyarakat sekitar meskipun kita adalah pendatang, dan mereka tidak canggung untuk membantu kita secara tulus.

Jika tidak dilakukan: Akan dipandang “durung njawani”, atau belum menjadi manusia dewasa yang sesungguhnya, masih terbawa ego, dan emosional.

Tata Krama meliputi: 1.

secara umum tatakrama basa dibagi jadi

Bahasa 2. Tingkah Laku Bahasa—- Secara umum Bahasa Jawa dibagi jadi dua: Ngoko dan Krama. Ngoko digunakan untuk sepantaran dan kepada orang yang sudah akrab.

Krama digunakan untuk orang yang lebih tua, jabatan lebih tinggi, dan orang asing. 1. Pastikan kita tahu bahasa mana yang akan digunakan, kapan harus menggunakan bahasa Ngoko dan kapan harus menggunakan bahasa Krama, jangan takut salah mengucapkan kata Krama, namanya juga belajar, kalau kita takut salah, malah jatuhnya malah gabisabisa, karena kunci belajar bahasa adalah dipraktikkan, kalau misalkan salah, jangan baper ya pasti kita akan dibenerin kok sama lawan bicara kita, tenang aja.

2. Jika tidak fasih menggunakan Bahasa Jawa baik krama maupun ngoko silakan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tapi adakalanya bagi masyarakat Jawa tetap berusaha melestarikan Bahasa Jawa baik Ngoko dan Krama. 3. Hindari berbicara dengan tempo yang sangat cepat, seolah-olah seperti berbicara kereta api berjalan alias “nrocos”, dalam tradisi Jawa berbicara seperti ini dianggap sangat tidak sopan.

Oleh karena itu banyak masyarakat umum menganggap orang Jawa bertutur kata sangat pelan-pelan, inilah salah satu alasannya. 4. Hindari berbicara dengan volume keras, kecuali Anda secara umum tatakrama basa dibagi jadi akrab sekali dengan lawan bicara Anda, karena berbicara dengan volume keras meskipun tidak berteriak, dianggap kurang menghargai lawan bicara, kecuali dalam forum yang menuntut kita berbicara lantang dan keras.

5. Hindari membicarakan fisik saat pertama kali berjumpa “Kok sakpunika njenengan cemeng nggih bu?” “Ibu kok sekarang Anda hitam ya?”, bisa-bisa kita langsung dijothak alias didiamkan. 6. Saat bersalaman, biasanya orang muda mencium tangan orang yang lebih tua sembari menunduk. Jika bersalaman dengan orang yang sepantaran jangan lupa menatap matanya dengan ramah, jangan malah mlengos alias nolah-noleh, lirak-lirik ga fokus.

secara umum tatakrama basa dibagi jadi

7. Jika sedang mengendarai motor, ketika bertanya alamat tempat kepada warga sekitar. Berhentilah sekitar 2 meter dari warga yang akan ditanyai tersebut, matikan mesin, cabut kunci, lepas helm, kemudian berjalan ke arah warga yang akan ditanya, awali dengan kata “Nyuwun sewu, badhe ndherek pirsa/numpang tanya….”, akhiri dengan kata terimakasih “matursuwun”.

8. Jika sedang mengendarai mobil, ketika bertanya alamat tempat kepada warga sekitar hentikan mobil berjarak beberapa meter dari orang yang akan ditanya, matikan lampu mobil, matikan mesin, keluar dari mobil, seperti tata cara saat naik motor tadi.

Setelah mobil akan kita jalankan kembali, jangan lupa kaca mobil dibuka sambil bilang “ Ngrumiyini nggih”, Duluan ya. 9. Mayoritas warga JogjaSolo sangat paham arah mata angin, barat, timur dan sebagainya, sekalipun mereka berpergian lumayan jauh keluar dari JogjaSolo. Sehingga ketika Anda kebetulan sedang bertanya arah jalan atau tempat di kawasan JogjaSolo, biasanya pertanyaan Anda akan dijawab dengan jawaban arah mata angin bukan jawaban petunjuk kanan kiri seperti yang biasa kita dengar di Jabodetabek, jawaban arah mata angin memang akan sedikit membingungkan kita sebagai orang asing hehe harap maklum ya.

Sumber Foto: Kompasiana.com Arah Mata Angin—- Mari kita pahami arah mata angin: Wetan=Timur, Kulon=Barat, Kidul=selatan, Lor=Utara, kalo disuruh ngetan berarti kearah timur, ngulon berarti ke arah barat, ngidul berarti ke arah selatan, dan ngalor berarti ke arah utara.

10. Petunjuk arah lainnya adalah tengen=kanan, kiwa= kiri, nengen=ke kanan, ngiwa= ke kiri. Kadang juga muncul kata: Mentog= Sampai ujung pertigaan atau belokan, Ngebuk=jembatan kali kecil, Sareyan=makam, mejid=masjid, grija=gereja.

Gambar Ngebuk=Jembatan Sumber Foto Medina Pos Pasareyan= Pemakaman 12. Jangan pernah sekalipun mengucapkan kata “anj*r”, “b*ng*at”, “ja*cuk”, beserta jajaran ungkapan lainnya didepan masyarakat Jawa, terutama di perdesaan, karena kata-kata ini sangat dianggap kasar. Pokoknya jangan. 13. Jangan pasang knalpot motor yang berisik memekakkan telinga, Ketika Anda lewat perkampungan biasanya Anda tidak akan disegani oleh warga sekitar.

14. Saat mengendarai mobil di perkampungan, saat ada warga dipinggir jalan, jangan lupa membuka kaca jendela mobil, sambil bilang “Nuwun sewu, ndherek langkung”. 15. Kalau naik motor jangan lupa buka kaca helm, termasuk ketika kita melewati warga yang berada dipinggir jalan, tundukkan kepala, sebagai bentuk penghormatan. Membuka kaca jendela Mobil 16. Sebaiknya jangan pernah membunyikan klakson diperkampungan warga, karena dianggap sangat kurang sopan.

17. Jangan ngebut diperkampungan. haha 18. Disalini— Jika diberi makanan oleh tetangga dalam wadah piring, saat itu juga segara pindahkan makanan itu secara umum tatakrama basa dibagi jadi piring milik kita, dan kembalikan piring tetangga saat itu juga.

19. Kalau berjalan di depan orang banyak dan yang lebih tua, jangan lupa membungkuk “ nuwun sewu, amit nggih”. 20. Biasakan mendahulukan orang yang lebih tua untuk makan dan minum terlebih dahulu.
Tatakrama Basa Sunda atau Sering disebut Undak Usuk Basa yaitu ragam Bahasa Sunda (diksi) yang digunakan atau dipilih berdasarkan keadaan Orang yang berbicara, lawan bicara atau yang diceritakan tatakrama ini biasa digunakan dalam percakapan atau lebih dikenal dengan paguneman, dengan sedikit belajar sunda pada blog ini, diharapkan para pembaca bisa mengenal tatakrama dina paguneman, tatakrama berbicara sehingga tatakrama basa sunda ini bisa secara umum tatakrama basa dibagi jadi bagi anda.
KOMPAS.com – Manusia sebagai makhluk sosial harus bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya untuk dapat menjalani kehidupan sebaik mungkin.

Tata krama merupakan salah satu aspek yang harus diperhatikan saat membangun hubungan sosial dengan orang lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tata krama adalah sopan santun atau basa-basi. Dilansir dari The British School of Ettiquette, tata krama atau sopan santun yaitu pedoman perilaku umum dalam hubungan antarmanusia seperti menghormati orang yang lebih tua dan tidak menyela ketika seseorang berbicara.

Soehardi dalam buku Humaniora (1997) menyebutkan definisi tata krama ialah perilaku normatif dalam pergaulan sosial (interaksi antar individu dalam masyarakat) yang mencita-citakan keteraturan dan ketertiban masyarakat.

Manfaat Tata Krama Manfaat tata krama dalam kehidupan sosial adalah menunjukkan kepribadian yang baik dan menghargai orang lain sehingga seseorang lebih mudah diterima dalam lingkungan sosial. Baca juga: Reintegrasi Sosial: Pengertian, Tujuan dan Contohnya Tata krama akan membuat seseorang dihargai, membuat orang lain segan untuk bertindak tidak sopan, membuat orang lain merasa nyaman, sehingga memudahkan terjalinnya hubungan baik dengan orang orang lain.

Tata krama membantu menciptakan ketertiban, keselarasan, kerukunan, keamanan, kedamaian, serta rasa tenteram dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan munculnya suasana tersebut, terjadinya konflik dalam masyarakat juga dapat diminimalisasi.

Tata krama juga mendorong kesuksesan seseorang. Studi Harvard dan Stanford menunjukkan bahwa keterampilan teknis hanya berkontribusi sekitar 15 persen dalam kesuksesan seseorang. Berdasarkan situs Beyond Etiquette, tata krama mendorong hubungan kerja yang positif sehingga menungkinkan seseorang menghadapi masalah di masa depan dengan kekuatan karakter dan integritas.

Baca juga: Ciri-Ciri dan Sumber Nilai Sosial

Undak usuk basa sunda? Tatakrama basa sunda? Gening eta




2022 www.videocon.com