Sepeda tua pada zaman belanda

sepeda tua pada zaman belanda

MENU • Home • Jawa • Banten • DKI Jakarta • Jawa Barat • Jawa Tengah • Jawa Timur • Yogyakarta • Kalimantan • Kalimantan Barat • Kalimantan Selatan • Kalimantan Timur • Sumatera • Bengkulu • Riau • Lampung • Sumatera Utara • Sumatera Selatan • Sumatera Barat • Bali • Papua • Pasang Iklan • Disclaimer • Lowongan 1 Artikel upto Rp.50.000 • Tutup Menu Daftar isi • Harga Tiket Masuk • Sejarah Singkat • Aktifitas Menarik • 1.

Museum Bank Indonesia • 2. Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahilah • 3. Museum Wayang • 4. Museum Seni Rupa dan Keramik • 5. Museum Bahari • 6. Petak Sembilan Pecinan • 7. Menara Syahbandar • 8. Pelabuhan Sunda Kelapa • 9. Toko Merah • 10. Stasiun Kereta Api Kota • Rute Menuju Lokasi Harga Tiket Masuk • HTM: Gratis Seolah tidak pernah bosan, setiap kali liburan warga Jakarta pasti banyak yang menghabiskan waktunya di Kota Tua Jkt.

Sehingga destinasi wisata di Jakarta Barat ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Belum lagi mereka yang datang dari luar kota. Apalagi pada saat libur tahun baru, Natal dan Lebaran, pengunjung Kota Tua bisa mencapai ribuan. Banyak alasan untuk selalu berkunjung ke sini, namun sebagian besar disebabkan karena di Kotu mereka bisa berlibur sekaligus menambah wawasan tentang sejarah Kota Jakarta.

Alasan lainnya adalah karena biaya yang harus dikeluarkan relatif murah. Berbeda dengan berkunjung ke tempat-tempat rekreasi lainnya, terlebih jika berlibur di kawasan mall. Dikatakan murah karena berbagai macam hiburan yang ada di kawasan Kota Tua cukup ramah di kantong. Dan dikatakan dapat menambah wawasan tentang sejarah kota Jkt, karena area di sekelilingnya masih ditempati bangunan tua yang abad ke-17 atau pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Tidak hanya itu, Kota Tua juga memiliki sejumlah museum untuk menambah wawasan serta pengetahuan, yaitu Museum Fatahillah, Wayang, Seni Rupa dan Keramik, Museum Bank Indonesia serta Museum Bahari. Bangunan-bangunan tua dengan bentuk yang artistik dan eksotis juga menjadi objek menarik bagi penggemar fotografi.

Tidak heran jika tempat ini sering dijadikan sebagai tempat berkumpul sekaligus hunting komunitas photography serta dijadikan objek pemotretan pre-wedding.

Selain gedungnya mempesona, suasana di Kota Tua Jakarta sepeda tua pada zaman belanda menghadirkan kesan unik dan menarik. Seperti adanya persewaan sepeda onthel atau sepeda kumbang yang dicat dengan warna-warna ngejreng seperti merah muda, hijau, biru laut, kuning serta lain.

Foto By @dg.romadhoni99_ Ditambah seniman “manusia patung” yang menarik untuk diajak berfoto, karena mengenakan kostum unik seperti kostum Jenderal Sudirman, Si Pitung, kostum pejuang dan sebagainya. Bahkan restoran serta cafe yang ada di sinipun menghadirkan suasana Jkt tempo dulu dengan menawarkan berbagai macam makanan dan minuman. Sejarah Singkat Kota Tua juga kerap disebut Old Batavia atau Batavia Lama. Sesuai Pergub No.36 Tahun 2014, kawasan ini memiliki luas sekitar 334 hektar yang membentang di sepanjang wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Barat.

Dengan masih banyaknya bangunan-bangunan tua yang didirikan sekitar abad ke-17, Kota Tua bisa dijadikan sebagai representasi untuk menggambarkan kondisi Jkt pada masa lampau. Sebagaimana tertulis dalam catatan sejarah, sekitar abad ke-16 para pelayar dari Eropa memberi sebutan untuk Jakarta Lama dengan julukan “Ratu dari Timur” dan “Permata Asia”. Hal ini disebabkan karena lokasi wilayah ini sangat strategis sebagai pusat perdagangan di Benua Asia serta memiliki sumber daya yang melimpah.

Sejak dahulu Kota Tua Jkt dipandang sebagai simbol kejayaan bagi siapapun yang dapat menguasainya. Foto By @ikhsanbarkers Itu sebabnya kota ini selalu diperebutkan dan dijadikan sebagai pusat pemerintahan sejak zaman Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Pajajaran, Kesultanan Banten, zaman VOC, masa pemerintahan Jepang hingga pemerintahan Republik Indonesia. Pada tahun 1526, saat Sunda Kelapa masih dikuasai Kerajaan Hindu Pajajaran, Kesultanan Demak mengirim Fatahillah untuk menyerang kota pelabuhan ini dan berhasil ditaklukkan serta diganti nama menjadi Jayakarta.

Tahun 1619 kota dengan luas 15 hektar tersebut dihancurkan oleh VOC yang dipimpin Jan Pieterszoon Coen. Setahun kemudian VOC membangun kota baru yang diberi nama Batavia yang diambil dari kata Batavieren, yaitu leluhur bangsa Belanda. Sementara penduduk Batavia yang terdiri dari berbagai etnis disebut “Batavianen” sebelum akhirnya dikenal sebagai suku “Betawi”.

Pada tahun 1635 wilayah Batavia mengalami perluasan hingga mencapai tepi Barat Sungai Ciliwung atau di bekas reruntuhan kota Jayakarta.

Batavia dirancang dengan tata kota bergaya Eropa yang dilengkapi kanal, dinding kota dan benteng atau Kasteel Batavia. Pembangunan Kota Batavia selesai sekitar tahun 1650 dan dijadikan sebagai kantor pusat VOC di wilayah Hindia Timur. Pada tahun 1942, kota ini direbut oleh Jepang dari tangan Belanda dan namanya diganti dari Batavia menjadi Jakarta. Nama tersebut masih tetap dipertahankan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, bahkan dijadikan sebagai pusat pemerintahan hingga sekarang.

Dalam kurun waktu berabad-abad dan beberapa kali berganti pemerintahan, sebagian dari bangunan-bangunan kuno tersebut masih kokoh berdiri, meski beberapa diantaranya juga ada yang dihancurkan karena alasan tertentu. Beberapa bangunan penting di Kota Tua yang kini hanya tinggal namanya saja adalah Benteng Batavia.

Benteng Batavia yang dihancurkan pada masa pemerintahan Daendels sekitar tahun 1890-910 karena materialnya digunakan untuk membangun istana yang ditempati Gubernur Jenderal Hindia Belanda tersebut. Gerbang Amsterdam yang dirobohkan pada tahun 1950 untuk tujuan pelebaran jalan, serta Jalur Trem Batavia yang kini telah tertutup aspal karena Presiden Soekarno pada saat itu menganggap trem sebagai sumber kemacetan. Kota Tua mulai ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya pada masa pemerintahan Ali Sadikin di tahun 1972.

Ketika itu Gubernur DKI ini sebenarnya juga mengeluarkan dekret untuk melakukan revitalisasi terhadap Kota Tua. Namun karena berbagai alasan dan sebab, upaya revitalisasi tersebut tidak kunjung terlaksana. Foto By @pinktravelogue Pada tahun 2013, disaat Gubernur Jkt dijabat Joko Widodo, dibentuk konsorsium untuk memetakan kawasan Kota Tua sebelum akhirnya dikeluarkan Pergub No.34 tahun 2014 yang menyebutkan bahwa Kota Tua memiliki luas sekitar 334 hektar.

Setelah itu dilakukan upaya revitalisasi terhadap 12 gedung yang dikerjakan oleh PT Pembangunan Kota Tua Jakarta – Konsorsium. Namun, upaya revitalisasi yang masih terus berjalan hingga kini, tidak dapat berjalan semulus yang diharapkan. Karena dari sekian banyak gedung tua yang ada di kawasan ini, yang menjadi milik Pemprov DKI Jkt hanya sebanyak 6 gedung atau 2 persen dari total bangunan lama yang ada.

Selebihnya sebanyak 50 persen menjadi milik individu atau swasta dan sebanyak 48 persen menjadi milik BUMN. Meski demikian Pemprof DKI optimis pada tahun 2022 atau sebelum pelaksanaan Asean Games nanti, revitalisasi Kota Tua akan dapat dirampungkan.

Aktifitas Menarik Menjelajah Kota Tua yang memiliki luas sekitar 334 hektar, akan sangat mengasyikkan jika dilakukan dengan sepeda kumbang atau sepeda onthel yang dapat disewa seharga Rp.20.000 per 30 menit. Sepeda kumbang dengan warna-warna yang cerah tersebut juga dapat dijadikan sebagai properti menarik untuk pengambilan foto berlatar belakang gedung tua.

Kurang puas dengan hanya berproperti sepeda tua pada zaman belanda kumbang? Lakukan sesion pemotretan bersama “manusia patung” yang dapat ditemui di sepanjang jalan di Kota Tua. Manusia-manusia patung ini dipastikan akan menjadi teman berfoto yang menarik karena kostum yang mereka kenakan terbilang unik.

Diantaranya ada seperti kostum pejuang, opsir Belanda, Jenderal Soedirman, Bung Karno, Bung Hatta, Noni Belanda, Nyi Roro Kidul sampai dengan kostum Vampire. Untuk dapat berfoto bersama manusia patung ini tidak ada tarif khusus alias sukarela. Berada di lokasi yang dipenuhi bangunan-bangunan kuna yang artistik sekaligus eksotis, aktifitas lain yang tidak boleh dilewatkan adalah berburu spot-spot cantik untuk diabadikan dengan menggunakan kamera.

Jika memang tidak memiliki hobby fotografi, bangunan-bangunan kuno tersebut setidaknya bisa dijadikan sebagai latar belakang foto yang pasti akan menarik jika diunggah di sosial media. Foto By @lukasluckynugroho Jangan lupa untuk menambah pengetahuan dan wawasan dengan mengunjungi 5 museum yang lokasinya saling berdekatan di kawasan Kota Tua. Museum-museum tersebut buka setiap hari kecuali hari Senin yakni pada jam 09.00-15.00 Sepeda tua pada zaman belanda.

Semua museum memberlakukan harga tiket masuk yang sama yaitu Rp.5.000 untuk dewasa dan Rp.2.000 untuk anak-anak, kecuali Museum Bank Indonesia yang dapat dikunjungi dengan gratis. Selain museum, masih banyak lagi tempat-tempat lain di Kota Tua yang menarik untuk dikunjungi. Berikut beberapa tempat yang wajib dikunjungi di Kota Tua: 1.

Museum Bank Indonesia Museum yang dapat dikunjungi dengan gratis ini dibuka untuk umum sejak 15 Desember 2006. Bangunan yang ditempati museum ini adalah warisan dari De Javasche Bank yang berdiri sejak tahun 1828.

Pengunjung yang datang kesini akan diajak untuk belajar tentang sejarah perekonomian Nusantara, sejarah alat-alat transaksi, sistem perdagangan dan berbagai kegiatan ekonomi masyarakat Indonesia sejak zaman pemerintahan kerajaan.

Menariknya, pengetahuan tersebut disajikan secara digital dalam bentuk display elektronik dengan memanfaatkan televisi plasma, panel static dan diorama sehingga mudah untuk dicerna. Koleksi yang paling menyita para pengunjung adalah uang numismatik atau uang yang berasal pada masa sebelum Bank Indonesia terbentuk, seperti uang pada zaman kerajaan dan masa penjajahan. Selain itu pengunjung juga dapat melihat berbagai macam mata uang yang berasal dari berbagai negara di dunia.

2. Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahilah Sepeda tua pada zaman belanda Sejarah Jakarta yang lebih dikenal dengan nama Museum Fatahilah ini menempati lahan seluas 1.300 meter 2 dan mulai beroperasi sejak 30 Maret 1974 setelah sebelumnya sempat difungsikan sebagai kantor Gubernur.

Gedung yang ditempati museum ini dibangun sekitar tahun 1707 – 1710 dan dulu digunakan sebagai Balai Kota Batavia VOC. Foto By @muhammad_adib08 Desain gedung ini menyerupai Istana Dam di Amsterdam yang terdiri atas 2 bangunan utama dan 2 sayap di sebelah Timur dan Barat ditambah bangunan sanding yang pada zaman dahulu difungsikan untuk kantor, ruang pengadilan.

Museum Sejarah Jakarta menyimpan berbagai macam benda arkeologi dari hasil penggalian di wilayah Jkt, meubel antik abad ke-17 hingga abad ke-19, serta benda-benda bersejarah lainnya yang berhubungan dengan Jakarta. Karena bangunan museum ini dahulu digunakan sebagai penjara bawah tanah dan telah memakan banyak korban jiwa, hingga kini Museum Fatahillah dikenal sebagai tempat yang angker.

3. Museum Wayang Lokasi Museum Wayang berada di JL. Pintu Besar Utara No.27 yang diapit oleh dua buah bangunan. Museum unik yang mulai beroperasi sejak 13 Agustus 1975 ini menempati gedung yang dahulu difungsikan sebagai gereja bernama De Oude Hollandsche Kerk dan dibangun sekitar tahun 1640. Sesuai dengan namanya, di dalam museum tersimpan koleksi wayang dengan berbagai bahan, seperti wayang dari kayu, kulit, rumput dan bahan-bahan sepeda tua pada zaman belanda lain.

Sejumlah 4.000 lebih wayang yang menjadi koleksi berasal dari seluruh penjuru Nusantara, seperti Wayang Kulit, Wayang Beber, Wayang Janur, Wayang Rumput, Wayang Kardus, Wayang Golek dan jenis lainnya. Terdapat pula beberapa jenis wayang yang berasal dari luar negeri, seperti wayang dari China, Thailand, Kamboja, Suriname, Kolombia dan wayang dari Eropa. Museum ini secara rutin pada minggu ke-2 dan ke-3 setiap bulannya menggelar pagelaran wayang.

4. Museum Seni Rupa dan Keramik Berlokasi di JL. Pos Kota No.2, bangunan Museum Seni Rupa dan Keramik dahulu merupakan Kantor Dewan Kehakiman yang menjadi bagian dari Benteng Batavia.

Pada tanggal 20 Agustus 1976 tempat ini difungsikan sebagai Gedung Balai Seni Sepeda tua pada zaman belanda menyusul pada 10 Juni 1977 fungsinya bertambah sebagai Museum Keramik. Bagi pecinta seni rupa, museum ini akan memberikan kepuasan tersendiri karena koleksi yang dipamerkan merupakan hasil karya pelukis-pelukis ternama di Indonesia sejak kurun waktu 1.800an sampai dengan sekarang.

Beberapa nama pelukis yang karyanya dapat dinikmati di tempat ini diantaranya adalah karya Raden Saleh, Basuki Abdullah, Dullah hingga Antonio Blanco, pelukis dari Spanyol yang menetap di Bali. Sedang untuk koleksi keramik berasal dari berbagai tempat dan dari masa ke masa, termasuk keramik yang didapat dari kapal-kapal yang karam di kawasan perairan Indonesia. 5. Museum Bahari Bangunan yang ditempati Museum Bahari pada zaman VOC digunakan sebagai tempat penyortiran dan pengepakan rempah-rempah dan hasil bumi lainnya yang akan dibawa oleh kapal-kapal VOC.

Foto By @nanda_puspa Saat ini tempat tersebut digunakan untuk menyimpan dan memamerkan berbagai jenis perahu, mulai dari perahu tradisional sampai dengan kapal-kapal yang digunakan pada zaman VOC. Disini juga dapat dilihat koleksi berbagai sepeda tua pada zaman belanda biota laut, data-data sebaran berbagai jenis ikan di seluruh perairan Nusantara, berbagai macam perlengkapan nelayan Indonesia serta hal-hal yang berkaitan dengan dunia bahari.

6. Petak Sembilan Pecinan Kawasan Pecinan modern tentu sudah tidak asing lagi, karena banyak kota di Indonesia dan di seluruh penjuru dunia memiliki Cina Town. Namun jika ingin melihat bangunan-bangunan berarsitektur China yang berusia ratusan tahun, Anda dapat berkunjung ke salah satu sudut kota tua yang berlokasi di Jalan Kemenangan III13 Glodok.

Sama halnya dengan China Town pada umumnya, warna merah yang melambangkan keberuntungan dan kesejahteraan sangat dominan menghiasi tempat ini. Wisatawan juga dapat menemukan vihara tua dan deretan bangunan petak yang menjual berbagai macam peralatan beribadah bagi pemeluk agama Buddha dan Konghucu serta menjual obat-obat tradisional China.

7. Menara Syahbandar Menara yang dibangun pada tahun 1839 ini dahulu merupakan menara pemantau yang digunakan untuk mengawasi kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan Sunda Kelapa. Dan juga sekaligus sebagai kantor Pabean untuk mengumpulkan pajak dan tempat bongkar muat barang. Di bawah menara ini dulu terdapat terowongan bawah tanah yang terhubung dengan Benteng Frederik Hendrik yang kini telah berubah menjadi Masjid Istiqlal. Seiring dengan bertambahnya usia, menara yang sudah berdiri selama 178 tahun tersebut kondisinya sudah sedikit miring, sehingga banyak yang menyebutnya menara miring.

Namun begitu pengunjung masih bisa naik ke puncak menara berketinggian 12 meter ini dan melihat kapal-kapal yang hilir mudik di kawasan pelabuhan. 8. Pelabuhan Sunda Kelapa Pada abad ke-12 Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan pelabuhan terpenting bagi kerajaan Pajajaran sekaligus merupakan cikal sepeda tua pada zaman belanda Kota Jakarta yang memiliki sejarah panjang bagi masyarakat Indonesia dan dunia. Meski umurnya sudah sangat tua, pelabuhan ini masih berfungsi sampai sekarang. Sehingga pengunjung yang menginjakkan kaki di tempat ini akan disuguhi deretan kapal nelayan yang sangat menarik untuk diabadikan dengan lensa kamera.

9. Toko Merah Dinamakan Toko Merah karena seluruh dindingnya berbalut warna merah sehingga membuatnya berbeda dari bangunan-bangunan lain yang ada di sekitarnya.

Foto By @rishaprndta Meski bernama “Toko” namun bangunan yang didirikan Gustaf Willem Baron van Imhoff pada tahun 1730 ini bukan tempat untuk jual beli melainkan function hall untuk menggelar pameran dan konferensi. Toko Merah yang berlokasi di tepi Barat Kali Besar ini tercatat sebagai bangunan tertua yang ada di Kota Tua Jkt. 10. Stasiun Kereta Api Kota Stasiun kereta api terbesar di Indonesia ini dibangun sekitar tahun 1929 dan diresmikan oleh A.C.D.

de Graeff yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal pada masa itu. Kesan tua dan antik tersebut bisa langsung dinikmati oleh para penumpang yang ingin berkunjung ke Kota Tua dengan memanfaatkan jasa kereta api sebagai sarana transportasi dan turun di Stasiun Kereta Api Kota. Kesan antik tersebut masih terlihat menonjol karena stasiun ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya sehingga tidak boleh dilakukan pemugaran maupun penambahan ruang untuk kebutuhan komersial.

Itulah beberapa bangunan penting dan menarik yang wajib dikunjungi saat berlibur ke Kota Tua Jkt. Selain kesepuluh bangunan tesebut masih ada sejumlah bangunan antik dan menarik lainnya, seperti Nieuws van de Dag, Jembatan Tarik Kota Intan, Masjid Luar Batang, Replika Sumur Batavia. Bukan hanya itu, ada juga Hotel Former, Kali Besar, Tugu Jam, Vihara Jin de Yuan, Gedung Chandranaya, VG Pub Kota dan masih banyak lagi bangunan-bangunan antik lainnya.

Sepeda tua pada zaman belanda pula kelezatan makanan dan minuman disejumlah restoran dan cafe yang didesain dengan suasana Jakarta Tempo Dulu yang ada di kawasan lapangan Fatahillah.

Beberapa cafe dengan kesan kuna tersebut diantaranya adalah Cafe Historia, Cafe Batavia, Cafe Bang Kopi dan Cafe Djakarte. Jika ingin menikmati Kota Tua dalam suasana yang berbeda, lakukan kunjungan pada malam hari. Setelah matahari terbenam, suasana di Kota Tua akan terasa berbeda, terasa lebih eksotis dan lebih kental nuansa kuna yang ditebarkannya. Lebih dari itu pada beberapa tempat menebarkan nuansa mistis, karena beberapa gedung tua peninggalan zaman Belanda tersebut konon berhantu.

Pada malam hari, pengunjung yang mengisi sudut-sudut Kota Tua pada umumnya anak-anak muda, para pedagang asongan serta penjual jajanan. Nuansa berbeda yang disuguhkan Kota Tua pada malam hari itulah yang membuat komunitas Historia menawarkan Tour Malam Hari Kota Tua yang bisa dibooking minimal untuk 10 orang peserta. Foto By @rivandisyah_ipan Tur yang dimulai sejak pukul 19.00 tersebut akan mengajak wisatawan berjalan kaki dimulai dari Alun-alun Fatahillah menuju ke Groote Kanaal.

Lalu berlanjut ke Jembatan Kota Intan dan Terminal Kota Tua, diteruskan ke Gedung Cipta Niaga dan ke beberapa tempat lainnya sebelum akhirnya kembali lagi ke Taman Fatahillah sekitar pukul 23.00. Tur berbiaya Rp.225.000/orang ini dipandu seorang guide dengan menggunakan bahasa Indonesia yang menjelaskan keberadaan setiap gedung lengkap dengan peristiwa unik yang pernah terjadi di gedung tersebut.

Selain didampingi pemandu wisata, setiap peserta yang mengikuti tour malam tersebut juga akan mendapatkan handout, pin serta kaos. Rute Menuju Lokasi Secara administratif sebagaimana tertera pada peta maupun google map, Kota Tua Jakarta berada di Kelurahan Pinagsia, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat, Provinsi DKI Jkt dengan titik koordinat: 6 o 8’ 5”S, 106 o 48’ 47”E.

Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Kota Tua dengan menggunakan kendaraan pribadi, terdapat beberapa rute yang bisa dilalui, tergantung dari asal pemberangkatan. Untuk mereka yang berangkat dari Bandara Soekarno Hatta dapat melewati Tol bandara menuju ke Simpang Susun Pluit, Tol Wiyoto Wiyono.

Kemudian keluar di Gedong Panjang terus menuju ke Kopi, Roa Malaka Utara hingga Tiang Bendera, diteruskan ke Kali Besar Barat dan Kunir sebelum akhirnya tiba di tempat tujuan. Wisatawan yang berangkat dari Bandung dapat melewati Tol Purbaleunyi hingga sampai Simpang Susun Dawuan.

sepeda tua pada zaman belanda

Lalu berlanjut ke Tol Jakarta – Cikampek, Simpang Susun Cawang dan masuk lagi ke Tol Wiyoto Wiyono sampai keluar ke Gedong Panjang. Lanjutkan perjalanan menuju ke Kopi, Roa Malaka Utara dan Tiang Bendera. Setelah melewati Kali Besar Barat dan Kunir akan tiba di Kota Tua. Perjalanan dari arah Cawang dapat melewati JL. Mayjend D.I. Panjaitan berlanjut ke GT Kebun Nanas dan masuk ke Tol Wiyoto Wiyono.

Rute selanjutnya sama dengan kedua rute di atas. Begitu juga untuk yang berangkat dari Tanjung Priok, setelah melewati Enggano, JL. Laks Yos Sudarso, GT Tanjung Priok dan masuk Tol Wiyoto Wiyono, rute selanjutnya juga sama dengan ketiga rute sebelumnya. Sedang untuk yang berangkat dari Tomang, setelah melintasi JL.

Tomang Raya menuju Kyai Caringin, Balikpapan dan Suryo Pranoto, lanjut ke ke Gajah Mada, Pintu Besar Selatan kemudian Pintu Besar Utara sebelum akhirnya tiba di Kota Tua. Untuk wisatawan dari luar Jkt yang menggunakan transportasi pesawat, setelah keluar dari bandara dapat menggunakan Damri dengan memilih jurusan Mangga Dua Square dan turun di Kota Tua. Sedang untuk yang mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma, begitu keluar dari bandara bisa naik angkot biru muda Trans Halim yang menuju ke Perempatan Cawang Uki.

Turun dari busway Cawang Uki, lanjutkan perjalanan dengan menggunakan transjakarta jurusan Stasiun Kota.

Keluar dari busway Stasiun Kota sepeda tua pada zaman belanda berjalan kaki sejauh 50 meter. Bagi wisatawan yang memanfaatkan jasa transportasi kereta api, rute yang dilewati tergantung dari stasiun tempat mereka turun.

Untuk yang turun di Stasiun Kota, hanya tinggal berjalan kaki. Wisatawan yang turun di Stasiun Gambir dapat naik Transjakarta jurusan Harmoni / Kalideres. Setelah turun di halte Harmony lanjutkan perjalanan dengan menggunakan Sepeda tua pada zaman belanda menuju Stasiun Kota. Tiba di halte busway, hanya tinggal berjalan kaki sejauh 50 meter. Foto By @radhaselvia10 Perjalanan dari Stasiun Jatinegara dapat menggunakan KRL jurusan Kota dan turun di Stasiun Kota.

Wisatawan yang berangkat dari stasiun / terminal Pasar Minggu dapat naik KRL jurusan Stasiun Kota. Untuk wisatawan dari luar kota yang menggunakan angkutan bus juga terdapat beberapa rute sesuai dengan terminal tempat pemberhentian. Tidak sulit untuk mendapatkan sarana sepeda tua pada zaman belanda, karena semua terminal di Jakarta menyediakan angkutan umum sepeda tua pada zaman belanda menuju ke Kota Tua. Baik itu mulai dari Terminal Pasar Senin, Grogol, Kalideres, Kampung Melayu, Kampung Rambutan, Lebak Bulus, Manggarai, Pinang Ranti, Pulo Gadung, Pulo Gebang, Ragunan sampai dengan Rawamangun.

Punya rekomendasi lain?? Komen dibawah ya gaes! Catatan: Semua data di atas adalah data terakhir pada saat artikel ini dibuat. Jika ada perubahan terbaru yang Kamu ketahui, silakan informasikan kepada kami untuk segera diperbaiki.

Bagi Anda pemilik Bisnis dan ingin masuk dalam artikel diatas, silahkan mengisi kolom komentar. Lengkap dengan informasi: Alamat, Nomer Telepon, WhatsApp dan informasi pendukung lainnya. Posting pada Jakarta Barat Navigasi pos MALANG, KOMPAS.com - Bernostalgia sekaligus mengambil foto dengan latar zaman dahulu dapat dilakukan di Kampoeng Heritage Kajoetangan di Kota Malang, Jawa Timur.

Kampung tematik yang terdiri dari gabungan tiga RW ini dipenuhi rumah era Belanda yang berjajar di gang sempit, serta dilengkapi sejumlah mural dinding dan sepeda tua pada zaman belanda foto ala retro. Selain menemukan bangunan ratusan tahun, pengunjung dapat berfoto dengan berbagai barang antik bernilai sejarah. Baca juga: 5 Kampung Tematik di Kota Malang, Pas Dikunjungi Saat Libur Lebaran Saat mengunjungi Kampoeng Heritage Kajoetangan, Jumat (06/05/2022), Kompas.com menemukan cukup banyak spot foto dan properti lawas yang Instagramable dan menarik untuk diabadikan.

Berikut beberapa rekomendasinya: 1. Mural dinding bergambar mobil antik KOMPAS.com/Faqihah Muharroroh Itsnaini Spot foto di Kampoeng Heritage Kajoetangan di Malang Jika kamu masuk dari pintu Jalan Jenderal Basuki Rahmad Gang 6, berjalan sedikit sudah bisa menemukan spot foto yang apik. Tepat di tengah pertigaan, terdapat murah dinding bergambar mobil lawas dan bangunan khas zaman dahulu.

Selain itu, terdapat hiasan lampu warna hitam di sepanjang dinding, dan jalan yang dihias sehingga mendukung suasana berfoto. Baca juga: Keliling Kota Malang Gratis Naik Bus Macito, Ini Jadwalnya 2.

Rumah kuning dan hijau KOMPAS.com/Faqihah Muharroroh Itsnaini Spot foto di Kampoeng Heritage Kajoetangan di Malang Masih di area yang sama, terdapat rumah bergaya retro dengan warna cerah yakni kuning dan hijau. Kamu bisa memanfaatkan sudut foto di antara kedua rumah, maupun berfoto di masing-masing rumah secara terpisah.

Kamu juga bisa duduk berpose di kursi yang disediakan di depan rumah hijau. Meski kedua rumah tersebut dihuni, pengunjung diperbolehkan untuk mengambil foto. Namun, sebaiknya bisa izin terlebih dahulu jika memang sang pemilik rumah terlihat sedang berada di sana.

Baca juga: 30 Wisata Hits di Malang 2021, Banyak Spot Foto Kekinian 3. Rumah 1870 KOMPAS.com/Faqihah Muharroroh Itsnaini Spot foto di Kampoeng Heritage Kajoetangan di Malang Melanjutkan perjalanan, terdapat Rumah 1870 yang dapat menjadi spot foto selanjutnya.

Dari papan keterangan, diketahui bahwa bangunan berukuran 8 meter x 11 meter ini dibangun sejak tahun 1870 oleh generasi pertama keluarga Bapak Nur Wasil. Menjadi rumah tertua di wilayah Kayutangan, rumah ini terdiri dari ruang bawah dan loteng beratap perisai, serta mempunyai listplang ornamen Betawi yang masih original hingga saat ini.

Tepat di depan Rumah 1870, kamu juga bisa menemukan mading bergambar denah lokasi Kampoeng Heritage Kajoetangan. Baca juga: Itinerary Wisata Malang 2 Hari 1 Malam, Menikmati Sunset dan Kuliner 4. Jendela dan pintu lawas KOMPAS.com/Faqihah Muharroroh Itsnaini Spot foto di Kampoeng Heritage Kajoetangan di Malang Melewati kali kecil, terdapat spot foto di sebelah kiri jalan, berupa kumpulan pintu dan jendela tua.

Meski sudut ini tidak terlalu luas dan dipisah oleh kali, kamu dapat menuju tempatnya dengan melewati pendopo kayu. Baca juga: 13 Wisata Pantai di Malang, Ada yang Mirip Bali dan Raja Ampat 5. Sepeda ontel KOMPAS.com/Faqihah Muharroroh Itsnaini Spot foto di Kampoeng Heritage Kajoetangan di Malang Tidak jauh dari spot pintu dan jendela tua tadi, terdapat area properti sepeda ontel dan kursi zaman dahulu.

Kamu bisa berpose di atas sepeda ontel dengan latar belakang pintu rumah tua, ataupun duduk di kursi kayu di sebelahnya. Di kursi kayu, ada properti berupa kendi, satu set alat minum, dan beberapa foto bangunan rumah tua yang digantung. Baca juga: 10 Wisata Alam Malang, Surga Tersembunyi di Jawa Timur 6. Mural De Javasche Bank KOMPAS.com/Faqihah Muharroroh Itsnaini Spot foto di Kampoeng Heritage Kajoetangan di Malang Menuju area sungai atau Kali Sukun, terdapat jembatan yang menyambungkan dua wilayah yang terpisah oleh sungai.

Pada area ini, jalan dan pagarnya sudah ditata dengan apik, sehingga hampir semua sudut bisa dijadikan tempat berfoto. Salah satunya dinding mural bergambar mobil antik dan bangunan bertuliskan De Javasche Bank. Kamu bisa berfoto di depan mural jarak dekat, ataupun bersender di pagar hitam dengan latar belakang mural tersebut. Baca juga: Flora Wisata San Terra Malang, Cocok untuk Berburu Foto Instagramable 7.

Mural ala negeri dongeng KOMPAS.com/Faqihah Muharroroh Itsnaini Spot foto di Kampoeng Heritage Kajoetangan di Malang Tepat di depan mural mobil antik dan bangunan bank tadi, kamu bisa melihat mural apik yang bergambar suasana ala negeri dongeng. Mural tersebut menggambarkan kastel, kolam, kuda, tanaman, serta hewan-hewan kecil seperti tikus.

Di sampingnya, terdapat balon kata-kata bertuliskan bahasa Jawa " Ning, aku tresno awakmu," yang juga bisa dijadikan spot berfoto unik. Baca juga: 13 Tempat Wisata di Malang untuk Liburan Seru Bersama Keluarga 8. Kafe Yowis KOMPAS.com/Faqihah Muharroroh Itsnaini Spot foto di Kampoeng Heritage Kajoetangan di Malang Spot foto berikutnya yang tidak kalah menarik adalah sebuah kafe bertema retro.

Sesuai dengan namanya, kafe ini pernah dijadikan tempat syuting film Yowis Ben 3 dan Yowis Ben Finale pada tahun 2020 lalu. Selain penataan kursi, meja, dan ornamen-ornamen dinding yang antik, kamu bisa melihat beberapa foto dokumentasi saat syuting film Yowis Ben di sana.

Menurut pemilik kafe bernama Epic, yang telah tinggal puluhan tahun di rumah tersebut, Kafe Yowis sering dijadikan tempat nongkrong sambil kulineran maupun untuk berburu foto estetik. Persis di area rumah sekaligus kafe, kamu dapat memanfaatkan properti antik seperti radio, televisi, telpon, mesin ketik, hingga timbangan lawas yang juga dijual untuk umum.

Baca juga: 5 Penginapan Malang Raya yang Unik, Ada yang Punya Onsen ala Jepang 9. Tulisan Kampoeng Kajoetangan KOMPAS.com/Faqihah Muharroroh Itsnaini Spot foto di Kampoeng Heritage Kajoetangan di Malang Berjalan lurus dari Kafe Yowis, menuju pintu masuk utama Jalan AR Hakim 2, terdapat lorong yang dihiasi beberapa properti foto. Mulai dari yang pertama adalah tulisan Kampoeng Kajoetangan Heritage berwarna hitam, yang kontras tergambar pada dinding bata berwarna putih.

Baca juga: Bella-Vista, Rumah Peninggalan Belanda di Malang yang Kini Tak Terawat 10. Sepeda cantik KOMPAS.com/Faqihah Muharroroh Itsnaini Spot foto di Kampoeng Heritage Kajoetangan di Malang Masih di area yang sama, terdapat properti sepeda berwarna putih yang bisa dinaiki oleh pengunjung jika ingin berfoto.

Sepeda itu disenderkan pada pajangan hitam yang dipenuhi tanaman menjalar, sehingga terlihat ciamik sebagai spot foto. Ada juga hiasan jendela berwarna hijau yang bisa dimanfaatkansebagai latar foto. 11. Rumah Foto dan Galeri Antik KOMPAS.com/Faqihah Muharroroh Itsnaini Spot foto di Kampoeng Heritage Kajoetangan di Malang Berjalan lurus, kamu akan melihat area spot foto yang cukup panjang dan dilengkapi berbagai properti.

Sesuai namanya, yakni Rumah Foto dan Galeri Antik, rumah sepeda tua pada zaman belanda area ini memang menjadi salah satu tempat berfoto utama, yang juga menawarkan jual-beli barang tua. Kamu bisa berfoto dengan barang-barang retro seperti teko, lampu, stoples, sangkar burung, topeng, foto, pajangan dinding, radio, telpon, dan lain-lain di sini.

12. Spot Foto Selfie KOMPAS.com/Faqihah Muharroroh Itsnaini Spot foto di Kampoeng Heritage Kajoetangan di Malang Seperti tertera pada peta, spot foto selfie merupakan tempat pertama yang ditemui pengunjung jika masuk melalui pintu Jalan AR Hakim 2.

Sepanjang spot foto selfie ini, terdapat aneka properti menarik bergaya retro. Di antaranya pintu dan jendela kayu, lemari berisi barang antik, dan hiasan jendela berwarna-warni. KOMPAS.com/Faqihah Muharroroh Itsnaini Spot foto di Kampoeng Heritage Kajoetangan di Malang Sebagai informasi, Kampoeng Heritage Kajoetangan memiliki kurang lebih 30 spot foto yang tertera pada denah.

Oleh karena itu, kamu bisa mencoba menyusuri satu per satu bangunan maupun spot yang terlihat menarik, meski tidak semua bangunan berisi keterangan atau informasi khusus.

Baca juga: 8 Wisata Malam di Malang dan Batu yang Populer dan Instagramable Adapun pengunjung tidak akan dikenakan biaya tambahan saat berfoto, kecuali tiket masuk sebesar Rp 10.000. Namun, kamu bisa memberikan insentif secara sukarela di beberapa tempat yang menyediakan kotak tip. Wisata bangunan kuno ini dapat dikunjungi di Jalan Arif Rahman Hakim gg II, Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jawa Timur, pukul 08.00 - 18.00 WIB setiap hari. Berita Terkait 7 Wisata Pantai di Malang Selatan, Ada Pantai Balekambang 25 Wisata Hits dan Kekinian di Malang, Banyak Spot Foto Instagramable 30 Wisata Hits di Malang 2021, Banyak Spot Foto Kekinian 10 Wisata Alam Malang, Surga Tersembunyi di Jawa Timur 13 Wisata Pantai di Malang, Ada yang Mirip Bali dan Raja Ampat Berita Terkait 7 Wisata Pantai di Malang Selatan, Ada Pantai Balekambang 25 Wisata Hits dan Kekinian di Malang, Banyak Spot Foto Instagramable 30 Wisata Hits di Malang 2021, Banyak Spot Foto Kekinian 10 Wisata Alam Malang, Surga Tersembunyi di Jawa Timur 13 Wisata Pantai di Malang, Ada yang Mirip Bali dan Raja Ampat Panduan Wisata ke Florawisata D’Castello Ciater, buat Liburan Keluarga https://travel.kompas.com/read/2022/05/08/140200427/panduan-wisata-ke-florawisata-d-castello-ciater-buat-liburan-keluarga https://asset.kompas.com/crops/7uE4OrXq_YqhsLRnEtOu7jhSZ_E=/0x48:1080x768/195x98/data/photo/2022/02/05/61fe1290af85d.jpg
AKURAT.CO Selain delman dan becak, pada tahun 1950-an, sepeda merupakan alat transportasi yang menjadi pilihan banyak orang Jakarta.

Era itu, naik sepeda masih aman karena jalan-jalan Ibu Kota relatif lengang. Abdul Chaer dalam buku berjudul Tenabang Tempo Doeloe menulis, pada tahun 1950-an, sepeda dioperasikan sebagai ojek di Pelabuhan Tanjung Priok dan Kota Tua Jakarta. Di sekitar Kota Tua, sekarang sebagian penarik ojek masih bertahan. Tapi jumlahnya sudah menyusut dibandingkan pada zaman keemasannya. Pada masa kini, kawasan tersebut didominasi sepeda tua pada zaman belanda onthel yang disewakan untuk wisatawan.

baca juga: • Interview Ridwan Saidi: Transportasi Jakarta dari Zaman Perahu • Cerita Delman, Becak, Ojek Sepeda sampai MRT Di Jalan Pintu Besar Utara, Jakarta Utara, 20 Maret 2019 lalu, saya bertemu salah seorang penarik ojek sepeda bernama Heri.

Dia aslinya dari Gresik, Jawa Timur. Saya kemudian menggunakan jasa ojek Heri untuk keliling kawasan. Dia menggenjot sepeda menyusuri jalanan sekitar Kota Tua. Heri, tukang ojek sepeda onthel, yang mangkal. AKURAT.CO/Yudi Permana Heri ini dulu merantau ke Jakarta dengan niatan menjadi kuli bangunan. Tapi dalam perjalanannya, dia berubah haluan menjadi penarik ojek sejak 1995. Sepanjang perjalanan, Heri bercerita bak pemandu wisata. Sebenarnya, orang-orang seperti Heri inilah yang ikut andil besar mempromosikan destinasi wisata di Jakarta, khususnya Batavia Lama.

Cerita dari mulut ke mulut yang sampai ke Heri, ojek sepeda sudah muncul sejak zaman Belanda menjajah. Referensi sejarah yang dimiliki Heri sedikit sehingga tak banyak kisah masa lalu yang dapat diceritakan secara lebih lengkap. Di tengah perjalanan, hujan turun. Heri menawarkan payung kepada saya.

Payung itu kalau sedang tidak terpakai selalu diikatkan pada batang besi sepeda. Tapi karena waktu itu hanya hujan rintik-rintik, saya memutuskan untuk tidak menerima tawaran Heri.

Selain cerita tentang Kota Tua, dia juga cerita pengalaman sendiri. Pada awal-awal Heri masuk Jakarta, ojek sepeda masih menjadi salah satu kendaraan yang banyak melintas di sekitar Kota Tua – meski tak sebanyak tahun 1950-an. Ojek sepeda sudah menjadi ciri khas wilayah itu. Bentuk sepeda yang dipakai para penarik ojek berukuran besar, bodinya kekar, bahannya terbuat dari besi, dan memiliki lampu.

Heri, tukang ojek sepeda onthel yang mangkal. AKURAT.CO/Yudi Permana Di Jalan Kopi dulu banyak ojek sepeda onthel yang mangkal. Di jembatan jalan ini pada waktu dulu banyak, sekarang udah gak ada. Terus di Terminal Jakarta Kota dulu masih ramai penumpang, dan banyak ojek sepeda. Nah di pasar ikan pada waktu masih banyak rumah, ojek sepeda masih banyak. Sekarang rumahnya dibongkarin, jadi sepi dan gak ada lagi ojek sepeda," kata Heri. Ketika itu, ojek masih dimanfaatkan banyak anggota masyarakat untuk alat transportasi berangkat dan pulang kerja.

Dia teringat dulu sebagian pegawai kantoran, seperti kantor museum Bank Indonesia di Jalan Pintu Besar Utara, nomor 3, Jakarta Barat, menjadi pelanggan ojek sepeda. "Kalau dulu orang-orang yang kerja di perkantoran suka naik ojek sepeda," katanya. Tahun 1990-an, setiap pagi hingga sore, roda sepeda Heri hampir tidak pernah berhenti berputar. Meninggalkan pangkalan membawa penumpang, kembali lagi ke pangkalan pasti membawa penumpang juga. Rute ojek sepeda bebas-bebas saja, berbeda dengan angkutan umum zaman sekarang.

Heri pun tidak membatasi layanan, jauh diambil, dekat pun diambil. Dulu, dia sering mengantarkan penumpang sampai ke kawasan perkantoran di Jalan M. H. Thamrin (Jakarta Pusat), Jalan Sudirman (Jakarta Selatan). “Karena waktu itu tidak ada larangan bagi ojek sepeda untuk melintasi jalan protokol,” kata dia.

"Dulu (operasi) sampai jembatan besi, Pasar Pagi. Paling jauh ke Muara Baru, Pluit, Ancol, Pelabuhan Sunda kelapa, dan Tanjung Priok. Terus ke Thamrin - Sarinah juga pernah, karena orang itu pengin naik sepeda," katanya. Sampai 2007, kata dia, ojek sepeda berseliweran di jalan raya. Heri ingat jalan raya masa itu belum dipenuhi angkutan umum berbahan bakar minyak seperti sekarang. Heri sebagai tukang ojek sepeda onthel yang mangkal.

sepeda tua pada zaman belanda

AKURAT.CO/Yudi Permana "Sampai 2007 masih ramai ojek onthel. Masih lumayan penghasilan setiap hari," kata dia. Heri ingat setiap kali musim hujan dan terjadi banjir. Biasanya bulan-bulan seperti itu pendapatannya meningkat berlipat-lipat.

Banyak orang memilih naik ojek sepeda ketimbang membawa kendaraan pribadi. "Tahun 2000 banjir gede di Jakarta, lumayan banyak yang naik ojek sepeda. Karena kan motor gak bisa, mesinnya rusak dan mogok." "Banjir sekarang sebentar, karena air surut lagi.

Kalau dulu banjir di Jakarta lama surutnya. Orang-orang banyak yang naik ojek sepeda.” Salah satu alasan Sepeda tua pada zaman belanda tetap bertahan menjadi penarik ojek sepeda karena jenis pekerjaan ini sama sekali tidak terikat oleh waktu maupun aturan perusahaan.

Berbeda dengan pekerjaan sebagai kuli bangunan yang sangat melelahkan dan terikat dengan mandor. "Pilih ngojek sepeda karena lebih bebas. Tidak terikat. Kalau kerjasama orang kan gak bebas. Tahu sendiri menjadi kuli bangunan lebih capek dan sepeda tua pada zaman belanda, dan penghasilan terbatas.” Puncak masa keemasan ojek sepeda di Jakarta, menurut Heri, terjadi pada 1998. Setelah itu, secara bertahap terjadi penurunan jumlah pelanggan dan berimbas pada pendapatan.

Ojek sepeda benar-benar sepi konsumen mulai sekitar 2015. Heri merasakan perubahan demi perubahan fungsi sepeda dari kendaraan umum menuju hiburan. Disebut hiburan karena belakangan, ojek sepeda lebih banyak disewa untuk kepentingan wisata atau hiburan di kawasan Kota Tua yang oleh pelayar Eropa dulu disebut sebagai Permata Asia dan Ratu dari Timur (abad 16). Suatu hari, Heri beruntung pernah ikut merasakan main sinetron. Perannya tentu saja tetap sebagai penarik ojek. Ceritanya, dia mendapat penumpang seorang aktris.

Dia lupa judul dan tahunnya. Seingat dia dalam adegan, tangan aktris itu selalu memegang kipas. Ketua Komunitas Onthel Wisata Kota Tua, Sanan. AKURAT.CO/Yudi Permana Bagi dia, peristiwa itu merupakan pengalaman tak terlupakan, apalagi tetangganya di kampung halaman pernah nonton dia di layar kaca.

"Artis juga dulu ada yang pernah naik (ojek sepeda). Ada artis naik ojek sepeda untuk keliling kawasan Kota Tua." Pengalaman menarik lainnya yang jadi hiburan Heri adalah ketika mendapat penumpang seorang bule. Heri tentu saja kikuk bukan main karena dia tidak bisa berbahasa Inggris.

sepeda tua pada zaman belanda

Bule itu sampai menuliskan keinginannya lewat secarik kertas. "Kemudian bule naik ojek sepeda. Kasih tulisan untuk tujuan tempat. Cara membayarnya cukup keluarin duit, dan tidak ada perbincangan. Saya gak bisa ngomong bahasa Inggris." Heri sepeda tua pada zaman belanda sekarang ini para penarik ojek sepeda seperti sepeda tua pada zaman belanda benar-benar diuji keadaan.

"Sekarang mah jarang dapat penumpang. Jadi nariknya sekarang udah mulai males karena sepi pelanggannya," katanya. Tetapi dia tetap berusaha bertahan, kecuali ojek sepeda dilarang pemerintah. Meski pendapatan sekarang sedikit, dia tetap bersyukur masih sehat dan bisa menggenjot sepeda keliling Kota Tua dan Pelabuhan Sunda Kelapa.

"Di pelabuhan malah laku karena gak ada kendaraan yang masuk ke dalam." Perjalanan pun berhenti di Jalan Pinangsia atau selatan Stasiun Jakarta Kota. Siang itu, di kawasan tersebut banyak ojek sepeda mangkal. *** Hadi sedang duduk di dekat sepeda berbodi kekar siang itu. Hadi merupakan salah satu penarik ojek sepeda yang sedang menunggu penumpang. Tak butuh waktu lama untuk akrab dengan Hadi. Hadi menggeluti dunia ojek sepeda sejak 1998.

Dampak krisis moneter membawa Hadi menjadi penarik ojek sepeda. Pada waktu itu, tarifnya Rp350 hingga Rp500 perak, tergantung tawar menawar. "Aku pertamakali datang ke sini (Jakarta Utara) hasil mengojek sepeda cuma buat makan aja, gak bisa mengirim ke orang tua. Setelah tiga bulan (menjadi tukang ojek sepeda) sudah mending rezekinya," kata Hadi, Rabu, 20 Maret 2019. Masa itu, ketika perekonomian sedang tidak menentu, jasa ojek menjadi pilihan untuk pergi ke tempat belanja atau berangkat ke tempat kerja.

Contohnya, karyawan atau pengunjung Pasar Glodok, sebagian dari mereka memilih naik ojek sepeda karena lebih praktis ketimbang membawa kendaraan pribadi. Hadi, tukang ojek sepeda onthel yang mengetem di Ja. AKURAT.CO/Yudi Permana "Orang parkir di sini, belanja ke Glodok naik sepeda bolak-balik. Daripada parkir di sana susah, dan dihitungnya (bayar parkir) perjam." Pada 1990 akhir, khususnya di Jakarta Utara, ojek sepeda hampir tak tersaingi mobil angkutan kota dan bajaj.

"Kalau misal orang kerja, takut telat, gak bisa naik angkot, jadi harus pakai ojek sepeda. Dulu di dalam Glodok mangkalnya," katanya. Penghasilan dari ojek sepeda sangat menjanjikan. Itu sebabnya, seingat Hadi, banyak tukang ojek sepeda rela tidur di emperan Pasar Pagi agar tidak terlambat narik penumpang mulai pukul 04.00 WIB. Pada jam-jam itu, biasanya banyak sekali orang yang butuh kendaraan sepeda. "Dulu dari Tangerang banyak yang jadi pengemudi ojek sepeda, sampai tidurnya di emperan Pasar pagi.

Sekarang mah udah gak ada," katanya. Sampai pada 2004, jumlah pelanggan ojek sepeda masih lumayan banyak. "Kalau dulu ngojek sepeda sampai Tanjung Priok, Pasar Ikan, Pasar Pagi.

Terus ke Jakarta Barat, banyak orang yang naik sepeda," katanya. Sekarang ini, ojek sepeda tak lagi jadi primadona masyarakat. Meski demikian, bagi Hadi, penghasilan dari sana masih terbilang lumayan.

"Kalau sore banyak juga ojek sepeda di Muara Angke. Orang turun dari angkutan umum, naik ojek sepeda karena ke dalamnya kan jauh. Terus di Muara Baru juga ada. Kemudian di pelabuhan Sunda Kelapa ada juga yang ngetem di pintu masuk." Menurut dia penurunan jumlah pelanggan terjadi akibat pengaruh ekonomi.

Dia yakin kalau seandainya ekonomi tumbuh baik, banyak orang kembali naik ojek sepeda, apalagi sekarang penggunaan sepeda sedang dipromosikan. Hadi, tukang ojek sepeda onthel. AKURAT.CO/Yudi Permana "Masalah ekonomi yang mempengaruhi penumpang ojek sepeda.

Yang penting perekonomian di sini maju, ya udah (ojek sepeda) ikut maju, karena orang pulang-pergi naik ojek sepeda onthel. Dan Ojek online gak begitu mempengaruhi," kata lelaki tua asal Bandung, Jawa Barat.

Dia menyontohkan bagaimana ekonomi mempengaruhi usaha ojek sepeda. Dulu, ketika masih banyak orang berjualan kaset, CD, atau VCD bajakan di sekitar Kota Tua dan Glodok, banyak sekali orang yang datang ke sana dengan naik ojek sepeda untuk belanja. "Kalau sekarang sudah gak ada lagi di Glodok.

Semenjak itu ojek sepeda mulai sepi," katanya. "Semenjak bisa nonton film di HP, jadi gak banyak beli CD bajakan di Glodok. Sekarang orang banyak nonton film di HP." *** Ketua Komunitas Onthel Wisata Sanan bercerita sepeda onthel pada masa lalu hanya dipakai oleh orang berada karena alat transportasi itu hanya mampu dibeli oleh orang-orang berduit.

Pada awalnya, sepeda onthel dipakai sebagai kendaraan pribadi, untuk berangkat kerja atau jalan-jalan. "Dulu sebenarnya asal sepeda onthel sekitar tahun 1920 dan 1940 sudah ada.

Awalnya yang mempunyai sepeda ini kebanyakan orang-orang elite dan kaya," kata Sanan sambil menunjuk koleksi sepeda tua miliknya. Sepeda itu kini disewakan kepada wisatawan yang datang ke Kota Tua. "Pada waktu zaman revolusi, sepeda ini dijadikan kendaraan pribadi, untuk dipakai jalan-jalan, dan buat kerja.

Karena dulu belum banyak kendaraan." Pada perkembangannya, sepeda onthel digunakan untuk ojek karena pada waktu itu belum banyak kendaraan umum yang bisa ditumpangi. Ojek sepeda, kata Sanan, mulai muncul sekitar sepeda tua pada zaman belanda atau era Presiden Soekarno. Jumlahnya belum banyak karena memang yang punya sepeda baru segelintir orang.

Ketua Komunitas Ontel Wisata Kota Tua, Sanan. AKURAT.CO/Yudi Permana "Kalau emang mau menelusuri sejarah ojek sepeda, tahun 60 dan 70 sudah mulai ada ojek onthel di Jakarta Utara," kata Sanan ketika saya temui didepan Museum Fatahillah, Jakarta Utara, Rabu, 20 Maret 2019.

sepeda tua pada zaman belanda

Jumlah ojek sepeda mulai banyak, terutama di Jakarta Utara, sejak 1980. "Pada tahun 80-an baru serentak banyaknya ojek sepeda," kata dia. Pada 1980 hingga 1990 masyarakat di Jakarta telah banyak menggunakan sepeda, terutama untuk keperluan pribadi.

Waktu itu, sepeda dikenal dengan nama pit. Ojek sepeda menjamur sepeda tua pada zaman belanda waktu itu. "Ojek onthel dari tahun 80 sudah terkenal jadi angkutan umum. Kalau mau kemana, misalkan ke pasar ikan, dianterin. Pada tahun 80 sampai 90 itu masih lumayan dan menjadi primadona." Umumnya penarik ojek sepeda merupakan pendatang dari desa.

Ojek ini menjadi pillihan pekerjaan karena memberikan kesejahteraan. "Kalau ojek sepeda awalnya dari kampung mereka urban untuk mencari kerja kan susah di Jakarta. Jadi mereka ngojek sepeda tahun 1980 dan 1990," ujarnya.

Modernisasi angkutan umum memberikan pengaruh terhadap keberadaan ojek sepeda. Kalau dulu ojek sepeda berseliweran di berbagai tempat, belakangan hanya ada di zona-zona tertentu, seperti kawasan wisata Kota Tua. "Ojek sepeda keliling Kota Tua. Dan sekitar Jakarta Utara aja, di dekat pusat kota," katanya. "Perkembangan ojek ya begitu saja, setiap tahun. Dia nasibnya begitu, gak ada perkembangan yang signifikan apa-apa.

Apa sih peningkatannya selama puluhan tahun," ujarnya. "Ketika itu sebagian ada yang senang mencintai sejarah, dan juga ada yang nggak.

sepeda tua pada zaman belanda

Nah yang berminat dan tertarik dengan sejarah, jadilah sepeda onthel wisata dengan dibekali pengetahuan sejarah-sejarah tentang bangunan-bangunan disekeliling Kota Tua." Ketua Komunitas Onthel Wisata Kota Tua, Sanan.

AKURAT.CO/Yudi Permana Belakangan penarik ojek sepeda bersatu mendirikan onthel wisata. Pengelola kawasan Kota Tua merespon positif inisiatif tersebut. "Direspon oleh unit pengelola kawasan, dikasih brosur tentang sejarah," katanya. Komunitas onthel wisata kemudian bergabung dengan program Destination Management Organization yang berada dibawah Kementerian Pariwisata. Mereka langsung mendapat pelatihan tentang kepariwisataan. "Pada 2012 kita masuk gabung dengan program Kementerian Pariwisata, mengikuti Expo Destination Management Organization.

Kita mulai dibimbing secara teknis tentang praktik pariwisata," kata dia. "Ada asuransi kecelakaannya. Jadi setiap pengguna sepeda ontel kita cover oleh asuransi Jasa Raharja perusahaan." Onthel wisata tak hanya disewakan untuk jalan-jalan para turis lokal maupun asing, tetapi juga untuk prewedding. Ojek di Jakarta, kata Sanan, tidak pernah hilang. Jumlahnya masih banyak. "Kata siapa hilang, saya juga bingung kalau dibilang hilang.

Masih banyak kok. Kemungkinan sepi (penumpang) iya, karena pengaruh sama transportasi online. Tapi masih banyak, bukanya gak ada," katanya. "Sampeyan mau butuh berapa sepeda onthel. Sebanyak 100, 200 atau 1.000, bisa kita siapkan secara serentak.

1.000 orang tukang ojek sepeda plus sama onthelnya, karena masih banyak." "Dari dulu kalau terpinggirkan, kita kan orang pinggiran. Terus kita percaya diri, dan kita membantu, bersaing dengan cara kita." [] Baca juga: Tulisan 1: Sisa-sisa Kejayaan Delman Ibu Kota Tulisan 2: Delman Ibu Kota, Siap Dibina, Tak Siap Dibinasakan Tulisan 3: Dulu, Becak Pernah Dipakai Selundupkan Senjata ke Pasukan Indonesia Tulisan 5: Cerita Delman, Becak, Sepeda tua pada zaman belanda Sepeda sampai MRT Tulisan 6: Interview Ridwan Saidi: Transportasi Jakarta dari Zaman Perahu Sistem kami menemukan 25 jawaban utk pertanyaan TTS sepatu tua pada zaman belanda.

Kami mengumpulkan soal dan jawaban dari TTS (Teka Teki Silang) populer yang biasa muncul di koran Sepeda tua pada zaman belanda, Jawa Pos, koran Tempo, dll. Kami memiliki database lebih dari 122 ribu.

Masukkan juga jumlah kata dan atau huruf yang sudah diketahui untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Gunakan tanda tanya ? untuk huruf yang tidak diketahui. Contoh J?W?B
Meskipun terletak di panas dan ramainya kota Metropolitan, tempat ini selalu ramai pengunjung karena bangunan-bangunanya yang unik dan atraksi-atraksi yang ada di sana. Tak hanya warga lokal, banyak wisatawan Kota Tua berasal dari mancanegara. Saya pun memutuskan untuk pergi ke sana dengan keluarga saya. Kami pergi saat matahari sedang naik-naiknya, membuat kawasan itu terlihat lebih terik namun terbayarkan karena pemandangan bangunan-bangunan yang nampak “mahal” tersebut.

Tempat yang awalnya dikenal dengan nama Batavia ini, merupakan pusat perdagangan Asia pada zaman Belanda. Saat saya sampai di Kota tua, hal pertama yang menarik perhatian saya adalah tentunya bangunan-bangunan megah khas Belanda yang sudah berdiri selama sepeda tua pada zaman belanda tahun tersebut.

Kota tua yang kental dan identik dengan sejarah ini, menjadi salah satu destinasi wisatawan saat mengunjungi kota Jakarta. Kawasan Kota Tua mencakup sebagian wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Pada sekitar tahun 1579 Masehi, terdapat kerajaan sunda dan sekitar abad ke 14 kerajaan itu pun mempunyai ibukota di Pakuan Pajajaran yang memiliki dua kawasan yaitu Banten dan Kalapa. Pada tahun 1526, Raden Fatahillah dikirim oleh Kesultanan Demak untuk menyerang pelabuhan Sunda Kalapa.

Setelah berubah namanya menjadi Jayakarta pada tahun 1619, VOC mengahancurkan kota tersebut dan setahun kemudian mereka memutuskan untuk membangun kota baru bernama Batavia.

Pada tahun 1635, kota yang dibuat dengan gaya Belanda Eropa ini meluas ke daerah lain dan selesai dibangun pada tahun 1950 dan kala itu sempat berfungsi menjadi Kantor pusat VOC di Hindia Timur. Kota ini pun meluas lagi ke daerah Selatan. Kemudian pada masa kedudukan Jepang pada tahun 1942, kota ini berubah nama menjadi Jakarta sekaligus menjadi ibu kota Indonesia. Nah, pada tahun 1972, Kota Tua resmi menjadi tempat warisan untuk melindungi arsitektur yang memiliki nilai bersejarah tinggi.

Tempat wisata ini sering dijadikan tempat kunjugan murid-murid sekolah, seperti murid-murid SMA yang saya temui pada saaat berkunjung disana. Banyak juga warga-warga yang duduk sore disana sambil menikmati makanan di Restoran Batavia. Tempat ini sangat unik karena merupakan salah satu tempat di mana bangunan peninggalan jaman Belanda berada.

Tempat ini juga mengandung unsur sejarah yang kuat, membuat turis-turis tertarik untuk mengunjungi tempat ini. Harga yang dijual di daerah ini dapat dibilang tidak terlalu mahal dan terjangkau bagi pengunjung. Bagi kalian yang ingin mengunjungi kota tua pada hari Senin, museum-museum sayangnya tidak dibuka. Saya sendiri pergi ke kota tua pada hari Senin tanpa mengetahui bahwa museum-museum yang terletak di daerah itu tutup.

Sebagai gantinya, saya hanya berfoto-foto dengan orang-orang yang berdandan seperti prajurit dan berfoto didepan bangunan bangunan yang menawan tersebut. S elain museum dan bangunan-bangunan tua, wisata Kota Tua juga dipenuhi dengan berbagai macam hiburan. Ada sepeda-sepeda ontel yang disewakan selama 15 menit untuk 30 ribu rupiah saja. Saya mengendari salah satu sepeda berwarna putih sambil membonceng adik saya. Penyewaan sepeda ini sudah termasuk menyewa topi ala noni Belanda lho.

Berkeliling daerah di depan Museum Fatahillah ditemani oleh matahari yang mulai besenyembunyi rasanya sangat refreshing, Ada juga orang-orang yang berdandan layaknya tentara Belanda dan beberapa pahlawan lainya. Kita bisa berfoto dengan mereka, namun jangan lupa memberi uang tip ya!

Jika kalian penasaran dengan mata uang zaman dulu, kalian bisa mengunjugi Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia. Kalau kalian letih, istirahat saja di taman dalam.

Terletak di dekat Museum Fatahilah, tempat ini didominasi oleh pohon-pohon rindang dan juga penjual-penjual makanan ringan dan pastinya kerak telor!

Tiket masuk Museum Fatahillah hanya dikenakan harga sebesar 2.000 rupiah untuk masuk. Museum ini buka pada hari Selasa hingga Minggu dari mulai jam 9.00 hingga jam 15.00. MBI bisa kalian kunjungi tanpa dikenakan biaya apapun pada 08.30 hingga 14.30 saat hari Selasa hingga Jumat.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya
Sistem kami menemukan 25 jawaban utk pertanyaan TTS sepeda tua pada zaman belanda. Kami mengumpulkan soal dan jawaban dari TTS (Teka Teki Silang) populer yang biasa muncul di koran Kompas, Jawa Pos, koran Tempo, dll. Kami memiliki database lebih dari 122 ribu. Masukkan juga jumlah kata dan atau huruf yang sudah diketahui untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.

sepeda tua pada zaman belanda

Gunakan tanda tanya ? untuk huruf yang tidak diketahui. Contoh J?W?BSejarah munculnya pasukan keamanan (politie) diawali oleh pembentukan pasukan-pasukan jaga yang diambil dari orang-orang pribumi guna menjaga aset dan kekayaan orang-orang Eropa di Hindia Belanda pada waktu itu.

Pada tahun 1867 sejumlah warga Eropa di Semarang, merekrut 78 orang pribumi untuk menjaga keamanan mereka. Dalam perkembanganya kepolisian modern Hindia Belanda dibentuk antara tahun 1897-1920 adalah merupakan cikal bakal dari terbentuknya Kepolisian Negara Republik Indonesia saat ini. Wewenang operasional kepolisian ada pada residen yang dibantu asisten residen (rechts politie) yang bertanggungjawab pada procureur generaal (jaksa agung).

Pada masa Hindia Belanda terdapat bermacam-macam bentuk kepolisian, seperti veld politie (polisi lapangan)stands politie (polisi kota), cultur politie (polisi pertanian), bestuurs politie (polisi pamong praja), dan lain-lain.

Setelah adanya penggunaan sepeda oleh polisi, ada beberapa kesataun polisi bersepeda yang dibentuk. Kesatuan polisi bersepeda ini tugasnya adalah melakukan patroli dibeberapa kawasan yang dianggap rawan tindakan kriminal. Ada beberapa merek sepeda yang digunakan polisi Hindia Belanda untuk berpatroli, dan salah satunya sepeda Simplek. Nah, foto Foto lama koleksi kitlv ini merupakan bukti bila sepeda Simplex digunakan oleh detasemen polisi lapangan (detachement veld politie).

Polisi bersepeda ini sedang melakukan patroli di kawasan Sawah Lunto, Sumatra Barat pada 1932. Bila foto ini diperbesar, ternyata ada beberapa sepeda yang digunakan oleh kesatuan polisi jaman Belanda ini adalah Simplex. Sepeda tua pada zaman belanda banyak merek sepeda yang digunakan oleh kesatuan-kesatuan bersenjata jaman Belanda. Sebut saja sepeda Brennabor buatan Jerman, juga Fongers dan Burgers buatan Belanda.

Selain itu, juga ada sepeda merek Hima yang digunakan oleh polisi yang sering dikenal sebagai Hima Polisi. (Oldbike in Histrory, foto sepeda tua pada zaman belanda : kitlv) Sumber : FB Oldbike in Histrory Guna mempertahankan wilayah kekuasaannya kerajaan Belanda membangun kekuatan tentara di Hindia Belanda. Setelah perang jawa (Java Oorlog) selesai, pada 4 Desember 1830, Gubernur Jenderal Van den Bosch mengeluarkan keputusan yang dinamakan “Algemeene Orders voor het Nederlandsch-Oost-Indische leger”.

Keputusan ini menetapkan pembentukan suatu organisasi ketentaraan yang baru untuk Sepeda tua pada zaman belanda Belanda, yaitu Oost-Indische Leger (Tentara India Timur). Di tahun 1836 atas saran dari Raja Willem I, tentara ini mendapat predikat “Koninklijk“. Ketika Hendrik Colijn yang pernah bertugas sebagai perwira di Oost-Indische Leger, menjadi Perdana Menteri, secara resmi tentara di India-Belanda dinamakan Koninklijk Nederlands-Indisch Leger, disingkat KNIL.

Istilah KNIL sebenarnya singkatan dari bahasa Belanda yaitu het Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger, atau secara harafiah: Tentara Kerajaan Hindia-Belanda. Meskipun KNIL melayani pemerintahan Hindia-Belanda, banyak di antara anggota-anggotanya yang adalah penduduk bumiputra di Hindia-Belanda dan orang-orang Indo-Belanda, bukan orang-orang Belanda. Setelah adanya penggunaan sepeda oleh kalangan militer, tentara KNIL di Hindia Belanda pun dilengkapi sepeda untuk keperluan pasukan.

Seperti kita ketahui, kerajaan Belanda menggunakan tiga merek sepeda bagi tentaranya yaitu Fongers, Burgers, dan Simplex. Sepeda untuk militer Belanda ini dikenal dengan istilah WF (Wielrijders Fietsen). Nah, apakah ketiga merek sepeda Belanda ini juga digunakan oleh tentara KNIL Hindia Belanda? Ternyata tidak. Berikut penjelasanya. Koran De Sumatra Post terbitan 1907 mengulas tentang kelangkaan atau kurangnya pasokan sepeda untuk pasukan Belanda.

Pasukan-pasukan bersepeda KNIL ini beroperasi di beberapa wilayah nusantara (archipel) seperti pulau Sumatra terutama daerah Medan, Aceh, dan Sumatra Barat. Selain itu, juga pulau Jawa. Tentunya dibutuhkan sepeda yang berkualitas baik dan sesuai dengan kondisi tanah atau medan di Hindia Belanda. Namun pemerintah Belanda kebingungan dan terjadi perdebatan para petinggi Belanda mengenai sepeda merek apa yang tepat digunakan sepeda tua pada zaman belanda tentaranya di Hindia Belanda.

Saking alotnya perdebatan para petinggi Belanda ini berakibat pasokan sepeda untuk militernya terhambat. Awalnya pemerintahan Hindia Belanda menunjuk sepeda bermerek Brennabor buatan Germany untuk digunakan oleh tentara Hindia Belanda. Koran Het Nieuws Van Den Dag Voor Nederlandsch Indie terbitan 1909 menulis tentang sepeda Brennabor (Brennabor Rijwielen) yang digunakan oleh tentara Hindia Belanda.

Berikut tulisan berita yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia Sepeda Brennabor Sebagai tanda terima kasih kami terima dari Brennabor sebenarnya untuk Brandenburg a / d Sepeda tua pada zaman belanda giel di dermaga sekitar 1907 daftar harga produk yang diproduksi oleh sepedanya. Seperti diketahui, sepeda Brennabor digunakan di weilrijdersbrigade dari tentara India Belanda (Het Nieuws Van Den Dag Voor Nederlandsch Indie, 1907).

Setelah melalui perdebatan sengit dan pemeriksaan sepeda yang tepat, akhirnya pada 1909, secara resmi pemerintah kerajaan Belanda menunjuk produsen sepeda Fongers untuk membuat sepeda untuk digunakan tentara Hindia Belanda (Indische Leger).

Koran De Sumatra Post terbitan 1909 menulis berita tentang sepeda Fongers untuk tentara Hindia Belanda : Sepeda Untuk Tentara Hindia Belanda Fongers sepeda untuk militer India Belanda. Setelah berbagai keberatan dan diperiksa di Belanda (De Sumatra Post 1910).

Dipilihnya Fongers untuk militer di Hindia Belanda, menurut koran De Sumatra Post tersebut karena sepeda Fongers sesuai dengan kondisi jalan dan tanah, sehingga dibutuhkan sepeda yang mampu memenuhi tuntutan tinggi pasukan. Selain itu, sepeda Fongers telah memiliki reputasi bagus di kalangan orang-orang Hindia Belanda.

Ada beberapa tipe sepeda Fongers untuk militer ini sebut saja CCG, HZ yang dipakai waktu Perang Dunia 1 pada 1914. Fongers HZ militer ini bercirikan : rem depan sudah memakai tromol namun menggunakan tromol sebelah kanan, sedang rem belakang menggunakan torpedo.

Ada juga tipe HF yang digunakan dekade 1930-an. (Oldbike In History, sumber : dari beragam sumber. Foto koleksi : fongers.net, pada foto adalah poster iklan sepeda Fongers tentara Hindia Belanda (Nederlandsch Indische leger) Sumber : FB Oldbike in History Perusahaan Sunbeam didirikan oleh John Marston, di Ludlow, Inggris. Sejarah Sunbeam berawal ketika pada 1851, John Marston datang di Wolverhampton, Inggris. Ia magang kerja di perusahaan pengecoran timah milik Edward Perry, dan perusahan Jepang bernama Jeddo Works.

Setelah magang kerjanya berakhir pada 1859, John membeli perusahaan Jepang di Bilston dari seseorang bernama Daniel Lester.

Setelah perusahaan yang dibelinya itu dikelola dengan baik, akhirnya berkembang pesat dan meraih sukses yang besar. Ketika Edward Perry meninggal dunia di tahun 1871, John membeli perusahaan Jeddo Works, dan kembali berbisnis di Wolverhampton. Semua jenis produk dalam negeri yang diproduksi oleh perusahaan ini menjadi salah satu dari dua pembuat enamel hitam (black enamelled ware) terbesar sepeda tua pada zaman belanda Inggris John merupakan seorang pengendara sepeda yang handal, ia tertarik untuk mencoba memperbaiki mesin.

Di tahun 1887, John membuat sebuah sepeda yang tampilannya agak kasar dan berat yang dilengkapi ban padat. Pada saat itu, William Newill, seorang mandor perusahaan Jeddo Works, membuat sebuah mesin yang jauh lebih baik untuk John, dengan bingkai (frame) yang rendah karena John Marston memiliki kaki yang pendek.

Sepeda (cycle) telah selesai dengan warna khas Jepang yaitu hitam dan emas. Produk sepeda ini memiliki kualitas tinggi seperti yang John inginkan. Dikisahkan pula istri John, yang bernama Ellen suatu ketika melihat sinar matahari yang mengkilap di sebuah cermin. Akhirnya, John pun memutuskan memberi nama sepeda buatannya menjadi Sunbeam yang artinya sinar matahari yang mengkilap. Nama Sunbeam terdaftar pada 1888, John pun sangat senang dengan sepeda ini.

Alhasil, John pun memutuskan untuk memproduksi sepeda Sunbeam ini, dan menggandeng William Newill sebagai mitra usahanya. Sepeda Sunbeam pertama kali dipamerkan di Stanley Show, London selama Februari 1889.

Sebanyak 13 sepeda dan sepeda roda tiga (tricycles) yang dipajang di stand perusahaan, termasuk sepeda roda tiga untuk wanita dan sepeda keselamatan (safety bicycle). Sepeda tua pada zaman belanda itu, juga dipatenkan oleh Sunbeam, yaitu sebuah engkol braket (crank bracket) eksentrik untuk disesuaikan dengan rantai sepeda.

Pada pameran lain yang akan segera menjadi fitur yang menonjol dari semua mesin Sunbeam adalah ketika seorang bernama J. Harrison Carter menemukan minyak pelumas untuk rantai yang tertutup ketat sebagai penutup gigi. Casing penutup ini berguna untuk meneteskan minyak pelumas rantai untuk mengurangi keausan, tetap bersih dan perbaikan transmisi listrik.

Hal ini diadopsi oleh Sunbeam di tahun 1897, selanjutnya menjadi dikenal keseluruh dunia sebagai ‘The Little Oil Bath’. Pada Mei 1889, perusahaan Sunbeam membuka showroom di London, dan depot di 38 Viaduct Holborn.

Kemudian Sunbeam pindah ke tempat yang lebih besar yaitu di 51 Holborn Viaduct. Sunbeam merekrut seorang pembalap sepeda terkenal bernama William Travers, sebagai Agen Sunbeam di London. Disamping itu, pembalap sepeda terkenal ini ditunjuk sebagai konsultan dalam desain sepeda Sunbeam dimasa depan.

Seorang pembalap sepeda lain dengan nama A. Gilbert, ditunjuk menjadi mandor toko untuk menyelesaikan toko sepeda Sunbeam. Berikut ini adalah deskripsi singkat dari “Sepeda & Sepeda Roda Tiga di Tahun 1889″ oleh Harry Hewitt Griffin : “The Sunbeam Dwarf Safety Roadster.

John Marston, Paul Street Works, Wolverhampton. John Marston mematenkan penyesuaian rantai eksentrik Sunbeam yang merupakan fitur terkemuka dari kelompok mesin Sunbeam. Fitur ini mengambil bentuk braket poros, batang atas yang dipatri ke kaki pilar pengaman. Sunbeam memperkenalkan sepeda Sunbeam Dwarf Safety Semi-Racer. Garis kerangka Sunbeam Safety semi-racer ini sangat mirip dengan sepeda Demon Racer.

Harga sepeda ini £ 18.10s. Sunbeam pun memperkenalkan sepeda roda tiga untuk wanita. Sebuah sepeda yang ringan dan cantik dengan harga £ 24. Ada juga Sunbeam roda tiga yang kuat dengan harga yang sama untuk pria. Di tahun 1890, Sunbeam memamerkan beberapa sepeda model baru yang menarik di Stanley Show. Sepeda balap ringan beratnya hanya £ 16, dan Light Roadster seberat £ 29.

Pada 1893, Sunbeam meluncurkan gear Sunbeam-Carter setelah memperoleh lisensi manufaktur dari Harrison Carter. Di tahun 1895, bisnis didirikan berdasarkan Companies Act sebagai John Marston Limited. Pada tahun berikutnya ada tiga depot dibuka.

Satu di 157 Sloane Street, London, yang kedua di 168 Deansgate, Manchester, dan yang ketiga di 37 George Street, Edinburgh. Pada 1896 merupakan era untuk melihat dan pengenalan berbagai model baru sepeda. Satu-satunya yang selamat dari tahun sebelumnya adalah sepeda Sunbeam VR831 Ladies, yang sekarang disebut 853. Di tahun 1896, The Royal Sunbeam diperkenalkan dengan beberapa warna yaitu hitam, zaitun hijau, ceri gelap atau gelap biru tua.

Katalog Sunbeam 1896 ada empat model sepeda wanita, yaitu 853, 854, 856 dan sepeda wanita Touring Sunbeam. Di tahun 1896, John Marston mematenkan metode pengisian dan pengosongan gear tanpa menumpahkan minyak.

Depot kedua, di Sloane Street, dibuka pada tahun 1897, dan tube turun pada sepeda 853 & 854 digantikan oleh tube melengkung yang dikenal sebagai frame sepeda loop, yang tetap populer selama bertahun-tahun.

Kursi pilar baru dipasang ke Royal Sunbeam yang memungkinkan pengendara lebih nyaman. Selama tahun 1897, gear sepeda Sunbeam diiklankan sebagai ‘The Little Oil Bath’ dan label paten Carter ditempatkan pada bagian dalam case gear ini.

Penjualan Sunbeam meroket pada 1898, sehingga ada kebutuhan mendesak untuk melakukan ekspansi, khususnya dalam pembuatan komponen seperti pedal. The Scorching Sunbeam muncul pada 1899. Sepeda ini tanpa rem, mudguards, atau gear khusus. Pengenalan penting di tahun 1900 adalah jenis freewheel dengan bantalan (bearings) yang terus dilumasi oleh minyak menetes dari case gear dan percikan naik dari rantai.

Pengenalan freewheel ini berarti bahwa pengereman lebih efektif diperlukan, jadi dua rem diperkenalkan, batang dioperasikan rim depan dan pedal dioperasikan (mengayuh balik). Di tahun 1901 diperlihatkan tampilan Trailer Sepeda yang dipatenkan Oleh J. Marston & J. Herbert. Pada 1902 “Featherwieght, Ladies Sunbeam” (desain HRH) adalah sepeda pertama Sunbeam yang dilengkapi dengan roman rims sebagai standar sepeda.

Standar ini ditemukan oleh Dr. R.I. Roman dari perusahaan Cycle Roman & Co, Lombard Street, London pada 1897, dan bersama veleg terbuat dari paduan aluminium yang disebut romanium. Penjualan sepeda Sunbeam terus meningkat pada 1903, lebih dari 1000 unit sepeda Royal Sunbeam terjual. Salah satu pembelinya adalah orang bernama Sir Edward Elgar yang membeli dua sepeda Royal Sunbeam dengan frame setinggi 28 inch. Di tahun yang sama diperkenalkan dua kecepatan gigi epicyclic, yang dipasang dalam rantai roda depan dan sepenuhnya tertutup dan dilumasi dalam gear khusus.

Piranti ini dioperasikan oleh tuas jempol untuk memberikan 25 persen peningkatan di atas kecepatan normal, kemudian meningkat menjadi 30 persen. Ini menjadi gigi epicyclic terbaik untuk diproduksi dan jauh lebih baik ketimbang gigi setara yang dipasang oleh pesaing Sunbeam.

Satu-satunya kelemahan yang disebabkan oleh fitting ‘The Little Oil Bath ‘ adalah kesulitan mengeluarkan inner tube di roda belakang. Tusukan bisa sering terjadi.

Untuk mengatasi masalah ini, Sunbeam memperoleh hak eksklusif untuk menggunakan sistem removal ban dari profesor Sharps. Sistem baru ini digunakan pada sepeda Sunbeam buatan 1905. Harga sepeda Sunbeam beberapa kali lebih mahal daripada beberapa sepeda kompetitornya.

sepeda tua pada zaman belanda

Guna penjualan yang aman, di tahun 1907 Sunbeam meluncurkan model Golden Sunbeam seharga £ 17 dan £ 25. Golden Sunbeam ini terkenal karena terdapat lapisan emas asli.

sepeda tua pada zaman belanda

Pun, selama 1907 Sunbeam memperoleh paten untuk sistem retensi minyak yang lebih baik untuk ‘Little Oil Bath’ dan tiga hub kecepatan yang diperkenalkan oleh William Newill. Pada 1908 melihat peluncuran kampanye penjualan yang ditujukan untuk dealer.

Sebuah buklet halaman 72 dikeluarkan untuk semua agen, yang disebut “Bantuan untuk menjual Siklus Sunbeam”. Ditekankan bahwa Sunbeams merupakan sepeda yang top di akhir pasar. Di tahun yang sama, sepeda model murah yaitu Special Sunbeam diperkenalkan.

Sepeda ini tak dilengkapi case gear, tapi menggunakan d Villiers dengan dua kecepatan gigi hub. Pada 1909, peleg aluminium roman dipasang untuk semua model Sunbeam dan All Black Sunbeam yang diperkenalkan pada musim gugur. Tahun berikutnya, semua model sepeda Sunbeam dilengkapi dengan case gear tanpa offside rantai tetap, yang diganti dengan replaced yang disolder ke bagian dalam case gear.

Di tahun yang sama sepeda model Special Sunbeam dihentikan produksinya. Ketika pecah perang dunia pertama, Sunbeam dan produsen sepeda lainnya diperintah oleh pemerintah kerajaan Inggris untuk membuat sepeda khusus militer. Sunbeam pun membuat sepeda Sunbeam Militer dalam jumlah besar yang dijual sepeda tua pada zaman belanda pemerintah Perancis.

Namun dijual dalam jumlah yang lebih kecil di Inggris. Sunbeam standar militer tidak memiliki minyak pelumas rantai, warna cat sepeda hijau dan dilengkapi dengan bagasi pembawa yang ada di depan. Ekstra senapan laras panjang. Setelah kematian John Marston di tahun 1918, perusahaan Sunbeam ini diakuisisi oleh produsen senjata yang bergabung menjadi Nobel Industries Ltd.

Produksi Sepeda dilanjutkan sebanyak produk sebelumnya dengan model sama dan standar yang tinggi. Di tahun 1921 Golden Sunbeam dijual seharga £ 23 dan Royal Sunbeam dijual dengan harga £ 21. Sepeda Special Sunbeam Light Roadster diperkenalkan pada 1923 yang dijual dengan harga £ 19.18s. Juga versi stang tetap dengan ibu jari tuas rem yang tersedia untuk £ 17.17s dan versi setir gratis dengan dua rim rem, biaya £ 18.18s. Selama beberapa tahun ke depan ada penurunan harga terlihat pada 1926 sepeda New Low – built Sunbeam diperkenalkan dengan roda 26 inci dan braket 11 inch.

Pada tahun yang sama melihat pengenalan kopling turun dari Sunbeam. Banyak perubahan terjadi pada akhir 1927 ketika Nobel Industries bergabung dengan beberapa perusahaan kimia lainnya untuk membentuk Imperial Chemical Industries.

Produksi sepeda dilanjutkan di Wolverhampton tetapi mengalami kesulitan untuk menjual sepeda-sepeda berkualitas mahal dalam menghadapi persaingan ketat dari produsen sepeda lainnya.

Tahun 1928 ada banyak klub bersepeda antusias terhadap sepeda Sunbeam. Produsen Sunbeam pun memperkenalkan sepeda model RR Sporting Sunbeam. Pada 1930 Royal Sunbeam dijual seharga 12 guinea dan Golden Sunbeam dijual seharga 16 guinea. Penurunan harga pada tahun berikutnya membawa harga Royal Sunbeam turun ke 10 guinea.

Di tahun 1935 ICI memutuskan untuk menutup produksi sepeda dan fokus pada bisnis sepeda motor. Pada 1937, sepeda dan bisnis sepeda motor Sunbeam dibeli oleh Associated motorcycles dan memindahkan pabriknya di Plumstead, London Utara. Beruntung bagi tenaga kerja ICI yang tetap dipertahankan bekerja dan berkonsentrasi pada produksi radiator mobil.

Demikianlah sejarah sepeda Sunbeam yang fenomenal itu. Harganya yang terbilang mahal membuat Sunbeam kalah bersaing dengan sepeda merek lainnya. Namun sejarah mencatat bila sepeda Sunbeam adalah The Special One dari Inggris.

(OLdbike In History, Sumber : historywebsite.co.uk. Foto koleksi : oldbike.eu, pada foto tampak sepeda model The New Low – Built Golden Sunbeam buatan 1926) Sumber : FB Oldbike in History Di tahun 1950, presiden Soekarno mendapat undangan dari presiden India Rajendra Prasad untuk berkunjung ke India guna merayakan perayaan kemerdekaan bangsa India dari penjajahan Sepeda tua pada zaman belanda.

Turut serta dalam rombongan presiden republik Indonesia itu adalah Ibu Negara, Fatmawati. Rombongan ini bertolak dari Indonesia pada 23 Januari 1950.

Setiba di India rombongan disambut Presiden Rajendra Prasad yang ketika itu berusia 70 tahun. Setelah beberapa hari tinggal dan dijamu di istana kepresidenan, Bung Karno dan rombongan diundang perdana menteri India yang bernama Jawaharlal Nehru, dan diminta bermalam di rumahnya yang begitu besar dan indah.

Fatma sangat mengagumi rumah Nehru yang berkonsep tradisional swadesi. Semua perabot dan perlatan rumah sang perdana menteri yang asli buatan bangsa India sendiri.

Dalam waktu singkat, Fatma sudah sangat akrab dengan Nehru. Ketika itu, usia Fatma baru 28 tahun. Nehru menyayangi Fatma bagaikan anaknya sendiri. Setiap jalan beriringan, Nehru selalu menggandeng tangan Fatma. Nah, tibalah acara rekreasi.

Salah satu objek yang wajib dikunjungi ketika kita ke India tentunya Taj Mahal. Sebuah musoleum yang begitu megah nan indah. Bangunan kuno ini terletak di Agra, Uttar Pradesh. Bangunan berarsitektur Islam India itu dibuat oleh Raja Mongol Shah Jehan pada 1627 – 1666, sebagai hadiah untuk permaisuri sang raja yang cantik jelita. Permaisuri yang ayu ini meninggal dunia pada 1631.

Iring-iringan mobil rombongan petinggi negara ini pun beranjak menuju Agra. Namun ketika dalam perjalanan ban mobil yang dinaiki Bung Karno dan Bu Fatma kempes. Alhasil, mobil yang digunakan presiden Indonesia pertama ini pun berhenti. Bung Karno pun mengajak Bu Fatma keluar dari mobil. Selagi sopir, pengawal, ajudan sibuk mengganti roda ban mobil, Bung Karno sepeda tua pada zaman belanda seorang warga India yang bersama masyarakat lain menyaksikannya di pinggir jalan.

Entah apa yang disampaikan Bung Karno, yang pasti sebentar kemudian warga India itu menyerahkan stang sepeda kepada Bung Karno. “Ayo Fat,” ajak Bung Karno. Bu Fatma kaget diajak sang suami naik sepeda.

Sambil melangkah ragu mendekati Bung Karno, Bu Fatma berkata “Apakah kita akan melanjutkan perjalanan dengan sepeda. Masih jauhkah untuk sampai di Taj Mahal. Apa reaksi para petugas protokol kenegaraan India nantinya.Tamu negara kok boncengan sepeda,” Belum semua pertanyaan itu terjawab, ketika Bu Fatma menempelkan pantatnya diboncengan sepeda.

“Sudah siap, ayo kita bersepeda,” kata Bung Karno sambil mulai mengayuh sepeda, memboncengkan Fatmawati, menyusuri jalan menuju Taj Mahal di Uttar Pradesh. Penasaran apa yang terjadi selanjutnya? Yaaa tentu saja selesai petugas mengganti roda, mobil segera menyusul Bung Karno, dan memohon agar presiden Indonesia itu naik mobil kenegaraan kembali.

Bagaimana sepedanya? Yaa langsung dikembalikan ke tangan pemiliknya dengan satu catatan sejarah, “Sepeda ini pernah dinaiki Presiden Republik Indonesia, Sukarno dan istrinya, Fatmawati ” (Oldbike In History, Sumber : wisbenbae. Foto koleksi kitlv, pada foto Bung Karno dan Bu Fatmawati berboncengan naik sepeda di Agra, Uttar Pradesh, India 1950) Sumber : FB Oldbike In History Tampilan sepeda Fongers BB 60 Crossframe ini memang apik namun apakah sepeda ini asli atau palsu.

Nah, seorang pakar sepeda tua asal Belanda bernama Andre Koopmans mengatakan bahwa sepeda Fongers Crossframe (kruisframe) BB 60 ini sangat aneh. Andre mengatakan bahwa ketika Fongers BB 60 Crossframe ini dibuat, pabrik Fongers tidak lagi memproduksi sepeda Crossframe. Frame BB 60 ini memang frame Fongers namun ditambah atau dijadikan rangka silang yang lebih baru.

Selain itu, frame silangnya berbeda dengan gambar Fongers crossframe yang ada di katalog Fongers tua. Andre pun mengatakan frame sepeda silang ini tampak bukan seperti buatan sendiri.

“Saya tidak tahu apa ini, sangat aneh”, jelas Andre. Menurut Andre, sepeda Fongers Crossframe terakhir diproduksi di tahun 1906 atau 1907. Pada katalog Fongers tua 1908, frame silang ini sudah hilang.

Begitu juga pada katalog Fongers berikutnya, rangka silang ini sudah tak muncul lagi. Yang tersisa adalah sepeda-sepeda Fongers jenis transport untuk membawa barang. “ Jadi sepeda Fongers Crossframe BB 60 ini adalah buatan sendiri yang dilakukan oleh orang profesional, sehingga tidak terlihat seperti buatan disebuah gudang atau bengkel belakang rumah.

Sepeda crossframe ini misterius”, jelas Andre. Bingung juga nih pakar sepeda asal Belanda ini. Tapi bila kita mau menengok sejarah pemalsuan sepeda di Indonesia semestinya tak perlu bingung lagi. Pasalnya pemalsuan sepeda tua sudah ada sejak dari dulu hingga sekarang. Pelakunya pun orang-orang yang profesional dan tahu tentang sepeda onthel dari spesifikasi hingga model desainnya. Hati-hatilah bila membeli sepeda tua yang bentuknya aneh, apalagi dengan merek terkenal, sedang negara asal sepeda itu tak memproduksinya.(Oldbike In History, Foto koleksi : flickr.com) Sumber : FB Oldbike Sepeda tua pada zaman belanda History Sepeda onthel aspal (asli tapi palsu) tak hanya beredar saat ini saja.

Apalagi ketika sepeda tua kian diburu oleh banyak orang yang membuat sepeda tua semakin langka. Tentunya sepeda onthel aspal ini didominasi oleh merek-merek sepeda terkenal semacam Gazelle, Fongers, Simplex, Raleigh dan lainnya. Nah, karena saking langkanya sepeda tua ini, membuat segelintir orang memanfaatkan situasi kelangkaan sepeda tua itu dengan membuat sepeda onthel palsu untuk dipasarkan.

Sedari frame hingga suku cadang sepeda pun tak lepas dari pemalsuan ini. Pemalsuan sepeda onthel ini ternyata sudah ada sejak jaman kolonial Belanda.

Ketika itu sepeda onthel yang sering dipalsukan biasanya merek-merek terkenal. Maklum, sepeda onthel merek terkenal hanya mampu dibeli oleh kalangan atas yang berduit. Namun bagi kalangan masyarakat biasa sepeda onthel merek terkenal merupakan barang mewah yang tak terjangkau harganya. Melihat hal ini, membuat segelintir orang untuk membuat sepeda palsu dengan merek terkenal yang harganya terjangkau.

Berikut beberapa berita tentang pemalsuan merek sepeda onthel yang dimuat koran jaman dahulu. Koran bernama Bataviaasch Nieuwsblac terbitan 1926 memuat berita tentang menyitaan sepeda merek Fongers palsu. “Menurut Aneta di Malang sebanyak 57 sepeda merek Fongers yang dipalsukan telah disita oleh polisi. Pemilik sepeda Fongers palsu itu adalah orang Cina namun dia mengklaim bahwa sepeda Fongers ini berasal dari saudaranya yang ada di Surabaya”.

Foto berita tentang merek sepeda palsu berbahasa Belanda di bawah ini dimuat oleh koran bernama Het Nieuwsblad Voor Sumatra terbitan 1953 bila diterjemahkan bunyinya sebagai berikut “Kamis pagi polisi telah menyita sebanyak 32 sepeda palsu di toko yang menyediakan sepeda di Pasar Turi Surabaya. Sepeda palsu itu bermerek Raleigh, Fongers, Simplex, dan Gazelle,” Tak hanya marak dengan pemalsuan sepeda, pencurian sepeda merek terkenal sering terjadi.

Sepeda yang paling diincar saat itu adalah Raleigh, Fongers, Humber, Gazelle, Simplex dan merek terkenal lainnya.

Tak hanya sepeda merek terkenal, sepeda tanpa merek pun amblas disikat maling. “Baroe-baroe ini telah hilang sepeda kepoenjaan toen Tong Hik Bao di rumahnja. Ada dua sepeda jang digondol maling satoe mereknja Raleigh dan satoenja lagi tak ada merek,” Demikian tulisan berita di koran Pelita Rakjat terbitan 1943.

Bahkan ada koran berbahasa Belanda yang menyebutkan bahwa bangsa Hindia Belanda adalah “Bangsa Maling” Bedanya dengan sekarang adalah sepeda aspal ini bisa dipasarkan dengan leluasa ke masyarakat dan penjualnya mampu meraup untung sebesar-besarnya. Sedang jaman dahulu sepeda palsu ini bisa disita polisi dan pelakunya bisa masuk bui.(Oldbike In History) Sumber : FB Oldbike In History Pada masa yang lampau Bandoeng Laoetan Onthel itu sebenarnya ada dan bukan cerita bohong.

Pada dekade 1920-an hingga 1940-an, jalan-jalan di kota Bandung masih didominasi sepeda onthel. Foto lama (Old Photograph) di bawah ini jadi buktinya. Foto suasana Jalan Braga (Bogerijen) ini dibuat sekitar tahun 1940. Tampak masyarakat kota Bandung banyak menggunakan sepeda onthel sebagai alat transportasi. Menurut catatan sejarah, awalnya Jalan Braga merupakan jalan kecil di depan pemukiman yang cukup sunyi sehingga dinamakan Jalan Culik karena cukup rawan, juga dikenal sebagai Jalan Pedati (Pedatiweg) pada tahun 1900-an.

Jalan Braga menjadi ramai karena banyak usahawan-usahawan terutama berkebangsaan Belanda mendirikan toko-toko, bar dan tempat hiburan di kawasan itu seperti toko Onderling Belang. Kemudian pada dasawarsa 1920-1930-an, muncul toko-toko dan butik (boutique) pakaian yang mengambil model kota Paris, yang saat itu merupakan kiblat model pakaian di dunia. Selain itu, juga dibangunnya gedung Societeit Concordia yang digunakan untuk pertemuan para warga Bandung khususnya kalangan tuan-tuan hartawan baik dari kaum elit Eropa maupun elit pribumi.

Tak hanya itu, dibangun pula hotel Savoy Homann, gedung perkantoran dan lainnya di beberapa blok sekitar jalan Braga, sehingga meningkatkan kemasyhuran dan keramaian jalan tersebut.

Menurut koran Tjahaja terbitan Bandung 1942, di kota Bandung telah terdapat 40.000 lebih sepeda onthel. Bisa dibayangkan, sepeda tua pada zaman belanda di kota Bandung yang kala itu masih sepi kendraan bermotor dipadati puluhan ribu sepeda bagaikan Bandoeng Laoetan Onthel. Sangking banyaknya sepeda onthel yang berseliweran di jalan-jalan sehingga pemerintah mengadakan pendaftaran sepeda onthel untuk didata siapa saja pemiliknya.

Pendataan sepeda onthel ini dilakukan untuk mengantisipasi pencurian sepeda onthel yang marak terjadi di kota Bandung. Berikut cuplikan tentang pendaftaran sepeda : PENDAFTARAN SEPEDA Tentang pendaftaran sepeda diterima, chabar bahwa sampai sekarang banjaknja sepeda Diini kota soedah sejoemlah 40.000 lebih.

(Tjahaja 15 September 1942). Demikianlah secuil sejarah sepeda onthel di kota Bandoeng tempo doeloe. Guna mengenang kembali Bandung sebagai kota sepeda, oleh komunitas sepeda onthel diadakan acara Bandoeng Laoetan Onthel.

Acara ini bertujuan untuk menggalakan kembali sepeda sebagai sarana transportasi yang ramah lingkungan dan menyehatkan serta memperkuat silaturahmi para pencinta onthel di seluruh Indonesia, mengingat sepeda onthel merupakan warisan sejarah yang patut dilestarikan. Pertanyaannya? apakah tujuan acara Bandoeng Laoetan Onthel itu benar-benar dipahami dan diresapi sepeda tua pada zaman belanda para pecinta sepeda tua atau hanya sekedar ajang pamer sepeda tua.

Biar waktu yang menjawabnya. (Oldbike in History, Foto koleksi : Prentenkabinet Universitet Leiden, Belanda) Sumber : FB Oldbike in History Inggris sebagai salah satu anggota sekutu ketika perang dunia ke dua (WW 2) memang biangnya menciptakan kendaraan tempur yang jempolan.

Banyak ragam jenis kendaraan tempur buatan Inggris ini, salah satunya adalah sepeda. Selain Jerman, Inggris juga negara yang paling jago menggunakan sepeda sebagai piranti pasukan tempurnya. Sebenarnya banyak merek sepeda Inggris yang digunakan oleh militer Inggris, seperti Raleigh, Philips, Royal Enfield, Sunbeam, dan BSA (Birmingham Small Arms). Namun, sepeda BSA inilah yang terbilang fenomenal khususnya sepeda yang disebut BSA Airborne. Konon berkat sepeda BSA Airborne ini pasukan para komando Inggris berhasil menembus jantung pertahanan pasukan Nazi di front Eropa Barat pada perang dunia kedua tahun 1944-1945.

Pasukan para komando Inggris ini berhasil membuat kocar kacir pasukan Nazi di Normadia, Prancis, Belgia, dan Belanda. Alhasil, sepeda tempur ini pun menjadi simbol kebanggaan rakyat Inggris yang merayakan kemenangan pasukan sekutu atas pasukan Nazi. Keistimewaan sepeda BSA Airbone ini terletak pada bobotnya yang hanya 15 kilogram.

Selain itu, rangka sepeda yang bisa dilipat (Folding Paratroopers Bicycle), sehingga dapat diterjunkan langsung bersama personil para komando RAF Inggris yang sepeda tua pada zaman belanda digunakan sebagai alat mobilisasi pasukan Inggris ke target-target penyerbuan. Salah satu pertempuran yang bersejarah ketika pasukan Inggris dengan BSA Airbone ini berhasil merebut kota Arnhem, Belanda dari tangan pasukan Nazi, Jerman.

Sepeda tempur ini disebut BSA Airborne karena sepeda ini sering diangkut dengan pesawat Dakota. Selanjutnya sepeda ini diterjunkan bersama penerjun payung dengan posisi penempatannya terlipat didepan tubuh penerjun payung ( para troops ).

Sepeda tempur andalan Inggris ini banyak ditempatkan di semua penjuru medan perang, baik di daratan Eropa guna melawan Jerman dan Italia, Timur Tengahdan Asia untuk melawan Jepang. Sepeda tempur ini terbilang efektif dalam pergerakannya.

Pasalnya, pasukan sepeda ini dapat bergerak cepat baik siang maupun malam di segala cuaca. Tak hanya itu, pasukan bersepeda ini mampu bergerak tanpa dideteksi radar darat karena ketinggianya kurang dari 3 meter. Kecepatan pergerakan pasukan bersepeda ini, dalam satu jam bisa mencapai 5 hingga 10 kilometer.

Pergerakannya pun tanpa mengeluarkan suara maupun getaran. Hebatnya lagi, pasukan sepeda ini tidak terdeteksi oleh pesawat musuh bila bergerak secara konvoi dimalam hari.

Selain itu, pasukan sepeda asal Inggris ini banyak dilibatkan dalam memotong kompas atau menghadang pergerakan musuh. Tampilan sepeda dengan ban 26 inchi ini memiliki desain yang terbilang futuristik dizamanya.

Karena rangka sepeda pada masa itu umumnya memiliki ciri lurus dan kaku, sehingga BSA Airborne tampak menjadi sangat modern penampilannya. Bobot sepeda tempur ini tergolong ringan, namun terbukti mampu menopang beban pengendara sampai 100 kg tanpa menyebabkan kerusakan rangka.

Bahan metal yang digunakan pada sepeda BSA Airborne ini memiliki mutu metalurgi yang luarbiasa kuatnya. Sepeda tempur dengan warna hijau army pasukan Inggris ini layak disebut sebagai salahsatu mahakarya yang tercipta saat perang dunia kedua terjadi. Sepeda jenis ini jarang ditemui di Indonesia, karena ketika sekutu menghadapi pasukan Jepang (Dai Nippon) di Indonesia, sepeda tempur ini tidak pernah ditempatkan di pulau Jawa. Pasalnya, kondisi jalan-jalan di Jawa tergolong bagus dan Sekutu telah memperkirakan bahwa perang dunia dua (WW2) segera usai karena Jepang telah di bom atom.

Selain itu, yang kendaraan tempur yang dibutuhkan di pulau Jawa adalah tankpanzer dan truk. Sedang pasukan sepeda Inggris ini hanya diterjunkan di wilayah Sumatera Utara dan sekitarnya. Itu pun hanya untuk berjaga-jaga saja, terutama di wilayah perbatasan Malaysia dan Indonesia. Kini sepeda tempur BSA Airborne menjadi buruan para pengemar maupun kolektor peralatan dan kendaraan sisa perang dunia ke dua. Soalnya, sepeda tempur ini dibuat sekitar 70 ribu unit saja dan konon sepeda tempur ini hanya tinggal 100 unit diseluruh dunia karena banyak diburu kolekstor sepeda tua.

(Oldbike In History, Diolah dari berbagai sumber. Foto koleksi : bsamuseum, pada foto tampak sepeda BSA Airborne 1942-1945) Sumber : FB Oldbike in History Januari 1925 di Amsterdam, Belanda sedang diadakan pameran peluncuran sepeda Batavus terbaru. Masyarakat Belanda pun sangat antusias menyambut peluncuran sepeda Batavus itu.

Demikian pula halnya Van Moellen, seorang onthelis asal Amsterdam. Moe, biasa ia disapa ketika itu masih muda sangat bersemangat melihat pameran stan sepeda Batavus tersebut.

Ketika melihat jejeran sepeda Batavus keluaran teranyar terpampang di stand pameran, Moel pun berdecak kagum. Dalam hati ia berkata “Waah elegan dan gagah benar sepeda Batavus ini, pasti kelak sepeda ini akan menjadi salah satu legenda sepeda Belanda”. Setelah tanya tentang kelebihan sepeda Batavus pada penjaga stand, akhirnya Moel pun membeli satu unit sepeda Batavus tipe heren ukuran 24 inch. “Semoga sepeda Batavus ini mampu saya gunakan secara maksimal dan tak mudah rusak”, kata Moe.

Kini Moell telah berusia senja sekitar 84 tahun, namun sepeda Batavus yang ia beli di tahun 1925 itu tetap tampil kokoh menawan. Menurut Moel meskipun di bawah bayang-bayang nama besar Gazelle, sepeda Batavus banyak digemari oleh masyarakat Belanda maupun masyarakat dunia lainnya.

Pasalnya, produsen sepeda ini sangat memperhatikan pembuatan konstruksi dan kinerja sepeda sehingga nyaman saat digunakan. Tak hanya itu, desainnya yang tampil sederhana namun nampak elegan dan tampil lebih bergaya alias modis.

“Bahan framenya pun terkenal kuat dan tahan lama serta mudah perawatannya, harganya pun lebih murah ketimbang sepeda merek Gazelle. Hal ini tentunya menjadi pertimbangan orang untuk membelinya”, jelas Moe. Menurut catatan sejarah, pabrik Batavus didirikan oleh Andries Gaastra yang berlokasi di di Friesland Heerenveen, Belanda 1909. Awalnya Gaastra memulai usahanya sebagai pedagang jam tangan dan mesin jahit untuk perang dan sepatu.

Setelah melihat perkembangan industry sepeda di Belanda maju pesatia mencoba menjual sepeda Batavus. Semangat usahanya yang begitu tinggi, Gaastra dan sepeda tua pada zaman belanda yang bernama Dientje, membentuk sebuah perusahaan swasta di pusat kota Heerenveen.

Mulanya mereka mulai berdagang barang Impor seperti sepeda dari Jerman. Setelah bisnisnya berkembang, ia pun mulai merakit sepeda sendiri. Taka da catatan di mana dan tahun berapa sepeda pertama bermerk Batavus dan bernama Batafus pertama dirakit. Di tahun 1909, nama merek Batafus pun terdaftar secara hukum di Belanda.

Dalam perjalanannya nama merk Batafus ini mulai beken dan dikenal pada tahun 1911. Namun, di bawah merk dagang ini, Gaastra masih menjual mesin jahit dan bagian-bagian sepeda (misalnya lampu karbid).

Di tahun 1916 usaha perdagangan dan perakitan sepeda berjalan dengan baikalhasil, Gaastra pun dianggkat sebagai pemimpin oleh perusahaan. Agar usaha sepeda menjadi lebih besar, Gaastra memutuskan untuk lebih fokus pada produksi sepeda di tahun 1917. Awalnya mulai merakit dan membeli sepeda berbahan nikel dari Phoenix di Heerenveen, yang sudah ada sejak 1895. Di tahun 1924 barulah sepeda merk Batavus digunakan. Singkat cerita Batavus telah sudah seratus tahun lebih bertahan dalam kondisi yang baik dan menjadi salah satu merek terkemuka di Belanda serta menjadi bagian dari produsen sepeda terkemuka di Eropa bahkan Dunia.

Di Indonesia, sepeda onthel Batavus tua terbilang banyak penggemarnya. Tampilan sepeda onthel Batavus yang klasik itu sangat digemari pecinta sepeda tua di Indonesia. Apalagi Batavus selalu membuat desain yang sama hampir selama satu abad. “Namun kini pecinta sepeda tua di Belanda tak menyukai sepeda Batavus. Soalnya, sepeda Batavus ini tak memiliki ciri khas desain sepeda Belanda pada umumnya.

Tak hanya itu, sepeda Batavus tua tampilannya nampak kusam dan lusuh,” ungkap Moel. Namun hal itu tak berlaku di Indonesia, beberapa kawasan terutama Jawa Tengah dan Jogjakarta sepeda onthel Batavus lebih digemari ketimbang onthel Humber maupun Raleigh sekalipun.

Hal ini tergantung kondisi sosial masyarakat dan geografis daerahnya. Bahkan sepeda onthel Batavus tak kalah mahal dengan sepeda Raleigh dengan kondisi sama-sama orisinil. Sebenarnya banyak tipe sepeda Batavus tua yang diproduksi. Salah satunya sepeda Batavus opsi rem tromol. Sepeda Batavus opsi rem tromol ini konstruksi kedua tuas remnya menempel pada stang dihubungkan oleh plat persegi berbentuk U yang terhubung dengan tromol lubang tiga enam.

Sementara blok tromol depan menempel di sisi kanan roda. Selain itu, kayuhan sepeda ini terbilang sangat ringan karena ada kesesuaian antara jumlah gigi gir depan dan belakang. Apalagi dilengkapi dengan stang otomatis yang menghubungkan rem depan dengan rem belakang tentunya membuat aman saat dikendarai. Penampilan sepeda onthel Batavus yang simpel dari sepeda-sepeda tua lainnya bukan karena sepeda tua pada zaman belanda adanya konsep.

Namun sebaliknya, justru banyak pelajaran yang harus digali dari konsep yang mendasari desain sepeda tua, seperti sepeda Batavus ini. Kata orang sih sepeda onthel Batavus punya cerita legenda, yaitu warnanya yang hitam kelam bila catnya menipis akan memunculkan warna meni merah kecoklatan mirip sayap kumbang. Istilah sepeda kumbang mungkin berawal dari kemiripan warna merah kecoklatan ini, sehingga ada orang yang menyebut sepeda onthel dengan istilah sepeda kumbang.

Sepeda Batavus paling cocok untuk daerah yang relatif datar. Konon menurut pengguna sepeda batavus di Belanda, untuk perjalanan jarak jauh, soal kenyamanan dan ketangguhan sepeda Batavus tak ada yang bisa menandinginya walau itu sepeda sekelas Gazelle.

Katanya sih, mengendari sepeda Batavus seperti menggunakan mobil sedan Volvo. Soal nyamannya si Batavus ini berkat rancangan desain keseluruhan yang memang sudah diperhitungkan.

sepeda tua pada zaman belanda

Salah satunya adalah posisi kemiringan frame yang bertujuan untuk meredam goncangan. Hebatnya lagi, si pengguna tak perlu berkeringat meskipun Batavusnya dikayuh sampai jarak jauh. Tak percaya! Silahkan buktikan sendiri. (Oldbike in History. Diolah dari beragam sumber. Foto koleksi : Nederland Infomuseum, pada foto tampak sepeda tua pada zaman belanda pameran sepeda Batavus terbaru di Amsterdam, Belanda 1925) Sumber : FB Oldbike in History Awal sejarah sepeda Gazelle ketika di tahun 1892 seorang bernama Willem Kolling mengundurkan diri sebagai karyawan agen kantor pos yang berada di daerah Dieren, Belanda.

Kemudian ia mulai berbisnis sepeda yang dipesannya dari Inggris. Usaha penjualan sepeda ini kian berkembang pesat saat Willem Kolling bekerjasama dengan sahabatnya yang bernama Rudolf Arentzen. Rudolf Arentzen merupakan seorang pengecer perangkat dari besi dan kompor yang masih satu kampung dengan Willem Kolling. Karena keinginanya yang begitu besar di bisnis sepeda, kedua sahabat itu di tahun 1902 membangun pabrik sepeda yang berlokasi di Dieren. Saat itulah sepeda Gazelle mulai dipasarkan di Belanda, dan selanjutnya di jual ke negara Eropa lainnya.

Meskipun bisnis sepedanya berkembang pesat, namun di tahun 1905, Rudolf Arentzen memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan yang didirikannya. Lalu posisinya diganti oleh saudara Willem Kolling yang bernama Hedrik Kolling. Pada 1915, keluarga Kolling dan sepupunya bernama Jan Breuking mengganti nama perusahaan menjadi N.V. Gazelle Rijwiefabriek v/h Arentzen en Koling. Saat itulah permintaan sepeda Gazelle dari luar negeri berkembang pesat, termasuk dari Hindia Belanda (Indonesia) yang waktu itu menjadi wilayah jajahan Belanda.

Konon di wilayah Hindia Belanda, Gazelle melakukan strategi marketing yang terbilang serius guna memperkenalkan sepeda Gazelle pada masyarakat di tanah jajahan Belanda itu. Beragam cara dijalankan, sedari memasang iklan diberbagai koran. membuat brosur, komik, hingga berkolaborasi dengan produsen radio di Belanda. Nah, nyatanya strategi ini sangat berhasil membuat citra sepeda Gazelle di Hindia Belanda menjadi bagus dan berharga tinggi.

Pada 1930-1931, Gazelle memperkenalkan model kerangka silang 9X dan 8V. Berbagai variasi merek Invicta termasuk merek Gelria diperkenalan dalam katalog Gazelle. Namun dalam perkembangannya pada masa Perang Dunia II (WW 2), pabrik Gazelle mengalami kerusakan hebat karena dihancurkan oleh tentara Nazi Jerman. Pasca Perang Dunia II, tepatnya pada Agustus 1946, Gazelle kembali berproduksi. Di tahun 1954, perusahaan gazelle yang merupakan perusahaan pribadi berubah menjadi in-corporation dan pada saat itu Gazelle telah memproduksi satu juta unit sepeda.

Pada 1963, Gazelle melakukan merger dengan produsen sepeda Batavus dari Heerenveen, Belanda. Namun karena tidak ada kecocokan di antara dua produsen sepeda ini akhirnya kerja sama tersebut tidak bertahan lama.

Alhasil, dua tahun kemudian kedua perusahaan itu berpisah. Pada 1964, Gazelle merupakan perusahaan Belanda yang pertama memperkenalkan sepeda lipat (folding bike) yang dinamai kwiksteep. Sepeda tua pada zaman belanda ini dilipat pada sumbu horisontal di bawah siku-siku bawah (bootom bracket), tidak pada sumbu vertikal.

Selang dua tahun kemudian tepat di tahun 1966, Gazelle memperkenalkan sepeda model tandem moderen yang ringan sebanyak dua juta unit. Dua tahun kemudian, Gazelle mengambil alih merek Juncker, Simplex dan Locomotive serta merek moped terkenal Berini. Selain itu, Gazelle mulai memproduksi hub poros depan dengan rem tromol (drum-brake front hub) bermerek Gazelle sampai sekarang.

Pada tahun 1971, Gazelle diambil alih oleh Tube Investment (TI) dan namanya sekarang telah berubah menjadi Gazelle Rijwielfabriek B.V. sebuah perseroan terbatas (private limited company). Baru pada tahun 1987, TI menjual divisi sepeda miliknya kepada Derby Cycles Corp, perusahaan multinasional yang berkantor pusat di New York yang juga memiliki pabrik sepeda bermerek Raleigh, Sturney-Archer dan merek-merek Jerman yang terkenal, seperti Kalkhoff, Rixe, Winora dan Staiger.

Hingga kini, Gazelle merupakan salah satu dari sedikit perusahaan besar pembuat sepeda yang masih memproduksi sepeda sendiri sebagian besar rangka sepeda. Sampai kini Gazelle masih menjadi pemimpin industri sepeda di Belanda. Sepeda Gazelle dapat dilacak tahun pembuatannya dari daftar rangka yang disimpan di arsip Gazelle khususnya untuk periode pembuatan tahun 1916 – 1950.

Sesudahnya, Gazelle menggunakan nomor langsung yang tertera di setiap sepeda sampai tahun 1974. Angka pertama mengacu angka terakhir tahun pembuatan. Semenjak tahun 1981, Gazelle menggunakan nomor rangka dengan tujuh angka. (Oldbike In History, diolah dari berbagai sumber Foto Koleksi : Gahetna, pada foto tampak show room sepeda Gazelle di Amsterdam, Belanda 1931).

Sumber : FB Oldbike in History Bicara soal sepeda Simplex seolah tidak pernah ada habisnya. Pasalnya sepeda tua pada zaman belanda sepeda pabrikan Amsterdam, Belanda ini memiliki varian-varian dengan desain yang unik dan excellent.

Sedari Simplex Cycloide, Zweefiets, Kruisframe, Neo dan model lainnya. Nah, dari sekian model Simplex itu yang menjadi favorit adalah Simplex Cycloide. Menurut pecinta sepeda tua, Simplex Cycloide merupakan salah satu produk sepeda terkenal yang relatif langka. Orang biasanya akan langsung mengira ciri khas Simplex Cycloide ini hanya dari bentuk stang yang memiliki konstruksi unik, yaitu tuas remnya tidak diklem dan dibautkan ke pipa stang, melainkan masuk ke dalamnya.

Padahal sebenarnya ciri khas Simplex Cycloid itu tidak berdasar dari model stang yang unik itu. Namun dapat dilihat dari bentuk As tengah yang memakai laker (Cycloide Wielnaaf ) berdiameter 55 mm.

Model leker ini sama persis dengan sistem As tengah piringan pedal yang juga menggunakan laker. Nah, hal Inilah yang menjadi Ciri Khas sepeda Simplex Cycloide. Pabrikan Simplex membuat tiga ukuran tinggi Simplex Cycloide ini. Untuk sepeda heren yakni: 580 mm, 620 mm dan 680 mm.

Sedang untuk sepeda dames, yaitu: 520 mm, 560 mm dan 600 mm. Sistem rem Simplex Cycloide di tahun 1920-an masih menggunakan rem karet. Ketika itu hanya ada dua sistem teknologi rem yang digunakan. Yaitu, rem karet yang saat digunakan mencengkeram peleg depan maupun belakang, dan rem tusuk pada ban depan. Perbedaan sistem rem yang dipakai itu ternyata berpengaruh pada bentuk desain setang yang digunakan. Sepeda dengan rem karet didesain menggunakan setang deluxe yaitu setang dengan tuas rem berada di dalam setang yang selama ini dikenal sebagai setang cycloide elite.

Sedangkan sepeda dengan rem tusuk memakai setang polos sebagaimana setang torpedo dengan tuas rem tusuk depan.

sepeda tua pada zaman belanda

Kedua tipe setang tersebut menjadi perlengkapan standar untuk Simplex Cyloide. Selain itu, ciri lainnya adalah sepeda dengan rem karet menggunakan peleg vernikkel, sedangkan sepeda rem tusuk memakai velg hitam dihiasi lis kuning emas.

Dalam perkembanganya sistem rem Simplex Cycloide menggunakan sistem sepeda tua pada zaman belanda tromol di tahun 1930. Model Tromol pada Simplex Cycloide buatan 1930 terbilang istimewa. Pasalnya, tutup tromol terbuat dari besi cor sehingga lebih kuat dan awet. Beda dengan tromol Simplex Cycloide keluaran 1938 ke atas yang tutupnya memakai model plaat besi yang dipress.

Selain itu, Ciri khas tromol model tahun 1930 ini bentuk handel rem menyerupai clurit atau sering disebut rem tromol model bokong Semar.

Gir tengah sepeda Simplex Cycloide ini mengadopsi desain palang tiga yang di Indonesia dikenal dengan gir mercy. Dinamakan gir mercy karena seperti simbol merek mobil mewah asal Jerman yaitu Mercy. Gir serupa ternyata tidak spesial hanya untuk tipe Cycloide, tetapi juga diterapkan pada varian Simplex lainnya. Selain gir mercy ada pula Simplex Cycloide yang menggunakan model Williams model K dengan model lima paku keling.

Akhirnya perlu diketahui bahwa setang deluxe dengan model tuas rem masuk di dalam setang sesungguhnya adalah komponen sepeda yang bersifat universal pada semua varian sepeda Simplex. Jadi bukan hanya eksklusif untuk varian Simplex Cycloide saja. Namun di tahun 1930-an, model setang jlimet itu memang hanya diterapkan pada Simplex Cycloide Elite dan Simplex Priesterrijwiel. Sementara varian sepeda lainnya di tahun 1930-an, seperti Simplex Cycloide Kruisframe hanya menggunakan setang model biasa yang kita kenal sebagai setang Simplex Neo.

Menurut catatan sejarah, awalnya pabrik Simplek didirikan di Utrecht Stationdwasstraat, Belanda di tahun 1887 dengan nama Simplex Automatic Machine Company. Pendirinya orang Inggris bernama Charles Bingham. Di tahun 1890, Simplex mulai memproduksi sepedan secara lengkap dan utuh. Produksi sepeda Simplex di tahun 1896 mencapai 5000 unit sepeda setelah pabriknya pindah tempat di Overtoom, Amsterdam Belanda. Pada tahun inilah produsen Simplex mendapatkan status sebagai pabrik sepeda terbesar di Amsterdam.

Semoga menambah wawasan dan pengetahuan mengenai sepeda Simplex yang memang ngerock dan fenomenal ini. (Oldbike in History, diolah dari beragam sumber. Foto koleksi : flicker.com, pada foto tampak Simplex Cycloide buatan 1921). Sumber : FB Oldbike in History Produsen sepeda Burgers didirikan oleh orang Belanda bernama Henricus Burgers (1843-1903), di kota Deventer, Belanda.

Ia membuat sepeda pertamanya di tahun 1868, dan Burgers dikenal sebagai perintis pabrik sepeda pertama (pioneer) di negeri kincir angin itu. Tulisan Burgers selalu dilengkapi dengan huruf ENR, singkatan dari Eerste Nederlandsche Rijwielfabriek. Artinya Burgers adalah pabrik sepeda pertama yang didirikan di Belanda. Menurut catatan sejarah, awalnya Henricus Burgers berprofesi sebagai pandai besi di kota kecil bernama Deventer.

Karena keinginanya berbisnis sepeda, ia pun mendirikan pabrik sepeda Burgers di sepeda tua pada zaman belanda 1875. Burgers pun menyatakan bahwa pabriknya merupakan industri sepeda pertama yang ada di Belanda. Dalam perkembangannya, perusahaan Burgers kian maju, sehingga di tahun 1892 Burgers pun harus memperluas pabrik sepedanya.

Alhasil, di tahun 1896 Burgers menjadi perusahaan sepeda yang tergolong besar di kota Deventer. Bermodal awal sekitar f 400.000,- Burgers membuat pabrik barunya yang memproduksi sebanyak 5000 hingga 6000 unit sepeda pertahun.

Sebenarnya pada 1892 Burgers hanya mampu membuat sebanyak 2000 sampai 3000 unit sepeda. Semakin pesatnya produksi sepeda, akhirnya Burgers pun berubah menjadi perseroan terbatas. Burgers ketika itu bersama Simplex merupakan produsen sepeda terbesar di negeri Belanda.

Selanjutnya Burgers mempatenkan gear (crank) yang disebut “Burgers Excentric Gear” crankshaft. Di tahun 1900, Burgers memproduksi sepeda motor yang pertama, bahkan membuat mobil pertama kali.

Pada 1897, Burgers Acatène adalah sepeda motor universal pertama diperkenalkan ke pasar. Burgers membuat sebagian besar onderdilnya sendiri, termasuk ban, pelek, jari-jari dan sadel. Di tahun 1900, Burgers memperoleh pedali perak sepeda tua pada zaman belanda pameran sepeda dunia di Paris, Perancis.

Di pameran itu, Burgers memperkenalkan sepeda lipat pertama kali yang dibuat di Belanda. Sepeda lipat untuk militer ini dirancang dan dibangun oleh Letnan Van Wagtendonk. Pada 1900, Burgers membuat crankshaft keyless. Sebuah inovasi baru dalam hal komponen, Burgers pun membuat sendiri konstruksi Ballhead, sebuah fender yang diperpanjang dan rem permanen dipasang (stande) pada garpu belakang.

Burgers juga merupakan pabrik sepeda pertama yang sepeda tua pada zaman belanda semua sepeda menggunakan rantai. Pada 1 Januari 1903, Henricus Burgers meninggal dunia tepat pada hari ulang tahunnya yang ke 60. Sebagai pengganti direktur perusahaan diangkatlah A. Beers hingga 1909. Kemudian A. Beers diganti oleh Gerad W.J. Kilsdonk yang menjalankan fungsinya sebagai direktur perusahaan selama 36 tahun.

Kilsdonk, dikenal sebagai pengusaha yang dinamis bahkan ia dicap sebagai orang yang sangat otoriter dalam memimpin perusahaan Burgers. Di tahun 1928, Burgers memperluas dan membangun pabrik sepeda yang kedua, dan didaerah Roermond pabrik Burgers dibuka. Pada 1931, Burgers membuat sepeda bertenaga mesin (hulpmotor) pertama kali.

Selain itu, perusahaan Burgers pun menjual sepeda di bawah merek Padvinder, Riche dan New Elswick. Adanya krisis ekonomi yang melanda Eropa termasuk Belanda pada dekade 1930-an yang meyebabkan persaingan industri sepeda sangat ketat, Burgers pun berusaha menjadi produsen sepeda dengan posisi terkemuka diantara produsen sepeda Belanda. Burgers berusaha tampil dengan memiliki kelebihan pada bagian-bagian sepedanya ketimbang sepeda perusahaan lain di masa kejayaannya sekitar tahun 1900.

Tapi Burgers memainkan peranan itu sampai awal perang dunia pertama. Berakhirnya perang dunia kedua merupakan awal dimulainya kemunduran secara bertahap perusahaan Burgers. Direktur Kilsdonk mengundurkan diri sebagai direktur pada April 1945, dan dia tidak akan kembali ke perusahaan Burgers. Perusahaan Burgers kemudian dikelola oleh pemerintah yang memperkenalkan sepeda mesin (moped) dan sepeda model olahraga modern. Pada akhir 1949, Albert de Geus ditunjuk sebagai direktur teknis Burgers.

Dia sangat antusias dalam karyanya, namun sayang karya sang direktur teknis ini tidak berhasil. Contohnya pada 1952, ia memperkenalkan sepeda Whisper, sepeda bermesin khusus yang rendah noisenya, namun karena terkendala masalah teknis setelah beberapa bulan sepeda moped ini ditarik dari pasaran.

Pada periode selanjutnya di dalam kepemimpinan perusahaan Burgers terjadi perpecahan. Direktur De Geus percaya bahwa perusahaan Burgers tetap akan berjalan karena Burgers memiliki reputasi besar.

Sedang para komisaris perusahaan percaya bahwa kepentingan para pemegang saham lebih baik bila Burgers digabung atau dilikuidasi. Pada 1961, kondisi perusahaan sepeda Burgers kian memburuk. Perusahaan ini hanya memproduksi sekitar 15.000 sepeda pertahun.

Selain itu, finansial perusahaan Burgers pada dekade 1950-an semakin menyusust. Alhasil, tanpa sepengetahuan sang direktur, Dewan komisaris merekomendasikan perusahaan Burgers untuk dijual ke Pabrik Sepeda PON dari Amersfoort. Para pemegang saham Burgers setuju, akhirnya di tahun 1961, Burgers di jual dan De Geus pun diberhentikan sebagai direktur Burgers. PON merupakan merek sepeda yang tergolong sepeda tua pada zaman belanda, tetapi tidak memiliki nama besar di pasar sepeda Belanda.

Namun dalam perjalanannya PON pun melikuidasi perusahaan dan menjualnya ke pabrik Juncker yang merupakan bagian dari Apeldoorn. Burgers ketika diera kejayaannya merupakan salah satu pabrik sepeda terbesar di Belanda. Burgers memiliki nama besar untuk sepeda berkualitas tinggi. Bahkan Burgers tergolong perusahaan yang progresif dan inovatif sampai akhirnya pada tahun 1950-an, Burgers menjadi merek sepeda tanpa aura. Ciri Sepeda Tua Burgers Sepeda tua pada zaman belanda Ciri yang akan segera terlihat dari sepeda Burgers adalah spatboardnya yang khas dengan lekukan membelah persis di tengahnya, sementara ujung depan maupun belakang agak mencuat menyerupai jambul.Stang Burgers berbentuk elang terbang leka dengan bentangan sayap terangkat tinggi (dhongklok), di tengahnya tertulis merek Burgers dalam huruf latin.

Bentuk tuas rem pada stang Burgers ikut melengkung mengikuti bentuk stangnya. Stang Burgers seri lama biasanya terdapat cap lambang Burgers dibagian pipa bawah stang yang menghadap belakang. Selain itu, stang Burgers lama tuas rem bentuknya bulat seperti miliknya Gazelle, hanya ujungnya cembung tidak seperti Gazelle yang datar.

Model stang juga cukup mendongak keatas, seperti bentuk stang sepeda tua lainnya. Kom stangnya berbentuk lengkung serupa cincin, menggenggam tangkai lampu yang jika pada sepeda lain biasanya terdapat inisial merek, tetapi pada sepeda Burgers justru rata, tidak berlubang. Bahu fork bagian atasnya melandai. Karet rem depan maupun belakang menempel pada tuas berbentuk lengkung yang lebar, sementara klem kawat remnya menggunakan engsel seperti pada sepeda Batavus.

Seperti sepeda Batavus, Burgers tipe heren memakai gir depan berbentuk Y dengan rotel atau tangkai kayuhan yang bersegi (pingul). Ketengkasnya yang mungil tidak membungkus rantai secara penuh, tetapi hanya separo, yaitu hanya melindungi rantai dari sisi luar saja sehingga rantai tetap terlihat dari sisi kiri sepeda. Biasanya bawaan as roda sepeda Burgers ini menggunakan merek Atom.

Burgers pun tampilannya sederhana, kuat, dan ringan dikayuh sehingga membuat sepeda ini cukup nyaman untuk perjalanan jauh. Nomor Frame Burgers Tidak ada data lengkap dari nomor frame Burgers. Namun demikian, Burgers selama tahun 1930 – 1961 sampai saat ini bisa dikenali secara langsung.

Kebanyakan nomor frame dari periode ini, dikenali dengan Huruf di depan angka, kecuali dengan nomor (lima digit) yang dijelaskan sebagai berikut : Periode tahun – Frame 1. 1930-1936 C 2. 1937-1949 E 3. 1950-54 H 4. 1955-56 K 5. 1956-61 S 6. 1940 R Sering juga penomoran Burgers ini tumpang tindih dan tidak tertib karena periodenya tidak tentu, kadang dalam empat hingga enam tahun.

Contoh nomor seri C85372 bila diurutkan dalam jumlah produksi per 100.000 unit maka nomor frame C85372 itu sekitar tahun 1935-1936. Setelah Burgers bergabung dengan PON (Amersfoort) sepeda tua pada zaman belanda frame number mengikuti sistem penomoran produksi PON.

(Oldbike in History, diolah dari beragam sumber. Foto koleksi : onthelpotorono, pada foto tampak model Burgers tipe heren) Sumber : FB Oldbike in History Ini cerita tentang kesukaan anak moeda kepada sepeda onthel bernama Humber di zaman revolusi Indonesia 1947-1949.

Konon kala itu sepeda onthel merupakan sarana transportasi andalan masyarakat Indonesia. Beragam merek sepeda onthel ada di jalan-jalan baik di perkotaan maupun di desa-desa. Namun ada satu merek sepeda onthel yang paling disoeka kalangan kaoem moeda adalah sepeda onthel merek Humber buatan Inggris (England). Koran Pelita Rakjat terbitan 1947 pernah menulis tentang sepeda paling disoeka kaoem moeda yaitu Humber.

Biasanya Humber yang disuka adalah sepeda dengan cat berwarna hitam maupun hijau. Selain itu, sepeda Humber ini dilengkapi dengan pengatur kecepatan perseneleng sturmy Acher baik untuk jenis heren maupun dames.

Namun yang paling disuka kawula moeda kala itu adalah Humber berwarna hijau. Koran Pelita Rakjat pun menulis tentang tingginya pencurian sepeda onthel, dan Humber merupakan sepeda yang paling diincar para pencuri. Tak hanya itu, sepeda Humber di Indonesia kala itu biasanya dipunyai oleh orang Indo Eropa, Tiongkok, dan priyayi pribumi.

Bila ditelusuri sejarah keberadaan sepeda Humber di Indonesia memang benar bila sepeda Humber banyak dimiliki oleh kaum elit pribumi. Umumnya sepeda onthel Humber dimiliki para pegawai pemerintahan semacam Wedana, Mantri Polisi, Mantri Guru, dan Mandor Pabrik.

Mereka menganggap dengan memiliki onthel Humber sebagai lambang keningratan. Hal ini tak lepas dari asal sepeda Humber. Di Inggris sejak lama sepeda onthel Humber digemari oleh kalangan keluarga kerajaan Inggris (The Royal Kingdom). Sebut saja King Edward VII memakai sepeda Humber, begitu pula King George V, Prince from Connaught, Princes Louise, Prince Cornwall and York, The Duchess of Fife, Princes Maud dan Victoria Wales.

Keluarga kerajaan Inggris ini selalu kompak untuk mengendarai sepeda yang terkenal di dunia itu. Ciri khusus sepeda Humber ini dapat dilihat dari tampilan garpu yang disebut Duplex.

Bentuk garpu ini tampil berani beda, di mana pipa garpu masing-masing terdiri dari dua tabung terpisah. Sementara gir depannya bercorak atau berbentuk lima orang yang bergandengan tangan.

Alhasil, sang desainer sepeda tua pada zaman belanda ini yaitu Thomas Humber memberikan julukan sepeda Humber sebagai sepeda kaum ningrat (The Aristocrat of Bicycles). Sepeda yang diproduksi sejak 1880 ini memiliki banyak tipe atau seri. Sebut saja seri BZ yang paling banyak digemari orang dulu khususnya sepeda jenis dames. Seri lain yang juga disukai orang adalah seri FA.

Seri ini merupakan produk lebih muda yang rata-rata kondisinya hingga kini tampil lebih mulus. Pada seri-seri tua, seperti seri AD dan AF (tourist) banyak diburu orang karena desainnya yang spesial, antara lain ada tuas (gondel) untuk mengunci stang agar tidak berbelok. Sepeda Humber ini memang sangat nyaman dikendarai.

Pada gigi normal, selain ringan dikayuh, bawaannya juga mantap dan stabil. Apalagi pada posisi gigi (belakang) besar, kayuhan menjadi sangat ringan sehingga memungkinkan untuk dikayuh pada jalan tanjakan.

Sedangkan gigi kecilnya akan membuat sepeda ini mampu melesat sangat cepat di jalan datar dan menurun. Semua itu dimungkinkan oleh adanya persneling Sturmey Archer buatan England yang ikut mencirikan sepeda buatan Raleigh industry sebagai salah satu sepeda mewah yang terus dikenang hingga sekarang.

Memiliki sepeda prestisius yang bila dionthel berbunyi cik, cik, cik… merupakan salah satu impian orang Indonesia kala itu. (Oldbike in History, diolah dari berbagai sumber, foto koleksi : Dienst voor. pada foto tampak anak moeda sedang mejeng dengan sepeda Humber 1947 ) Sumber : FB Oldbike in History Inggris memang selalu memunculkan sepeda-sepeda kelas sepeda tua pada zaman belanda. Sepeda buatan Inggris selalu menjadi panutan bagi produsen sepeda di seluruh jagat raya.

Selama ini kita mengenal sepeda merek Raleigh sebagai sepeda terbesar di Inggris. Namun ada salah satu merek sepeda yang terbilang top di Inggris yaitu sepeda merek Phillips. Bahkan Phillips merupakan sepeda terbesar di Inggris setelah Raleigh. Sejarah sepeda Phillips berawal ketika seorang bernama Walter Phillips membuat sepeda sekitar tahun 1880 di Birmingham, Inggris.

Perusahaan sepedanya bernama Phillips Cycles Ltd yang merupakan produsen sepeda Inggris berbasis di Smethwick dekat Birmingham. Sebenarnya sejarah sepeda Philips dimulai pada awal abad ke 20, kemudian Phillips diambil alih oleh Raleigh Industries sehingga masuk dalam British Cycle Coorporation (BCC) yang menangani beberapa merek sepeda seperti Raleigh, BSA, Phillips, Hercules, Sun, dan lainnya. Sebelum diambil alih oleh Raleigh, selama beberapa tahun Phillips merupakan produsen sepeda terbesar kedua setelah Raleigh.

Moto perusahaan Phillips adalah “Terkenal Di Dunia”. Selain itu, Phillips adalah merek sepeda yang digunakan di seluruh dunia, terutama di Cina dan Timur Jauh setelah dilisensi oleh Raleigh Industries.

Perusahaan ini menghasilkan jutaan sepeda yang banyak diekspor keberbagai negara. Phillips pun memproduksi beberapa sepeda bermesin (moped) seperti model Panda dan Gadabout. Phillips adalah salah satu eksportir sepeda paling top dan sukses di Inggris. Industri sepeda Phillips dinasionalisasi selama perang dunia, dan Phillips membuat sepeda militer untuk kepentingan tentara Inggris.

Setelah perang dunia ke dua (WW2) selesai dalam sebuah gerakan nasional guna membayar hutang perang ke Amerika Serikat, industri sepeda Inggris memiliki peran penting dalam membantu pemerintah Inggris untuk melunasi hutang dan membangun perekonomian Inggris setelah perang.

Di Indonesia sepeda Phillips terbilang banyak yang menyukainya. Pasalnya, sepeda ini harganya relatif lebih murah ketimbang merek sepeda lainnya.

Konon, Phillips banyak dipunyai oleh kalangan guru, petani, pegawai negeri sipil, dan sebagainya. Ingat sepeda kumbangnya Umar Bakri, Phillips itu merek sepedanya. (Oldbike In History, diolah dari berbagai sumber. Foto koleksi: cyclingnsht, foto iklan sepeda Phillips 1935) Sumber : FB Oldbike in History Raleigh merupakan salah satu produsen sepeda tertua di dunia yang berbasis di Nottingham, Inggris. Produsen sepeda ini terbilang unggul, baik dari teknologi maupun ekonomi.

Dari segi teknologi, sepeda Raleigh lebih maju dibanding sepeda pesaingnya. Raleigh awalnya memperkenalkan slogan The All Steel Bicycle yang artinya semua logam yang digunakan pada sepeda Raleigh memakai baja. Bahan baja ini untuk membedakan sepeda Raleigh dengan pesaingnya yang biasanya menggunakan cor besi pada bagian penting. Cor besi ini adalah teknologi rendah yang hasilnya lebih kasar. Dari sisi strategi marketing maupun ekonomi tergolong mumpuni dengan mengambil alih beberapa produsen sepeda.

Alhasil, Raleigh pun menjelma menjadi raksasa industri sepeda kelas dunia. Sejarah Raleigh berawal pada 1887, di Raleigh Street, Nottingham.

Perusahaan ini didirikan oleh Frank Bowden. Awalnya ia membeli sepeda yang dibuat oleh tiga orang yaitu Woodhead, Angois dan Ellis. Di tahun 1888, Bowden mendirikan The Raleigh Cycle Corp. Dalam perjalanannya, perusahaan sepeda ini tumbuh pesat, namun oleh Frank Bowden, perusahaan Raleigh dijual dengan mendapatkan keuntungan berkisar antara £ 100.000 (setara dengan sekitar 5 juta poundsterling).

Di tahun 1902, roda gigi merk Sturmey Archer ditambahkan pada sepeda produk Raleigh. Pada 1908 perusahaan ini dibeli kembali oleh Bowden, ia pun menangani perusahaan Raleigh dengan serius. Alhasil, diawal 1920-an, Raleigh menjelma menjadi produsen sepeda terbesar di dunia. Raleigh mampu menghasilkan 100.000 sepeda onthel, 250.000 15.000 hub roda gigi sepeda motor dan 50.000 sepeda motor gearbox. Ketika terjadi krisis ekonomi di Eropa pada dekade 1930-an, Raleigh mampu selamat dari tekanan yang hebat.

Hal ini disebabkan oleh adanya siklus Humber pada tahun 1932 dan tahun berikutnya mulai memproduksi sebuah mobil beroda tiga. Di tahun 1934, Raleigh kembali menjadi perusahaan publik dengan nama Raleigh Cycle Holdings Ltd, yang menerbitkan saham lebih dari £ 2 juta (= sekitar £ 65 hari). Di tahun 1938, produksi sepeda Raleigh menjadi hampir 500.000 unit pertahun. Raleigh pun menghentikan produk sepeda motor dan mobil.

Selama Perang Dunia Kedua pada 1939 hingga 1945, Raleigh berkonsentrasi pada pabriknya. Dalam rentang itu, diluncurkan pula sepeda Robin Hood. Tak hanya itu, Raleigh juga mengakuisisi Rudge Whitworth. Setelah perang usai, meskipun kekurangan bahan baku berupa baja, siklus produksi Raleigh tetap meningkat pesat. Ini dibuktikan dengan produksi sepedanya di tahun 1949 telah mencapai sekitar 750.000 unit sepeda yang sebagian besar untuk diekspor ke berbagai negara.

Pada tahun 1958, Raleigh Industries memproduksi sepeda bermesin (moped), pun kemudian meluncurkan skuter. Hebatnya lagi selama periode ini, Raleigh Industries mengakuisisi dua perusahaan yang menjadi saingan utamanya yaitu Triumph dan Three Spires pada tahun 1954.

Di tahun 1957, Raleigh pun mengambil alih BSA (termasuk New Hudson dan Sunbeam). Dalam perkembangan selanjutnya, Raleigh Industries kemudian diambil alih oleh Tube Investments (TI), yang dimiliki British Cycle Corporation (BCC) yang menangani perusahaan Phillips, Hercules, Norman dan Sun. Dampak dari merger ini adalah penjualan sepeda Raleigh semakin berkurang pada tahun 1950.

Pada bulan Oktober 1960, perjanjian lisensi disusun sehingga Raleigh memungkinkan untuk membuat produk baru antara lain roda-kecil, unisex dan dual-suspensi sepeda Moulton.

sepeda tua pada zaman belanda

Di bulan Maret 1964, Raleigh memperkenalkan prototype Moulton bicycle RSW16: sebuah sepeda roda kecil unsprung yang baik, lebih kuat dan lebih murah. Sepeda ini dijual sepeda tua pada zaman belanda dealer-dealer resmi Raleigh. Pada tahun 1968, Raleigh memperkenalkan sepeda H-frame beroda kecil yang menjadi produk dengan penjualan terbesar dan tetap akan diproduksi sampai 16 tahun kemudian. Ragam Model Sepeda Raleigh Berdasar katalog Raleigh keluaran 1911 ada sekitar 400,000 unit sepeda Raleigh yang diekspor keberbagai negara yang diikuti dengan daftar negara pengimport, sepeda tua pada zaman belanda dari daftar itu ada West Indies dan Java, selain itu ada beberapa negara yaitu Holland, France, China, India dan lain sebagainya.

Sepeda Raleigh yang diproduksi di tahun 1911 memiliki 10 model yaitu : 1. Model Superbe Raleigh 2. Special Raleigh 3. The Raleigh Tandem 4. First Grade Raleigh 5. Standar 3-Speed Raleigh 6. All-Weather Raleigh 7.

Raleigh Racer 8. Featherweight Raleigh 9. Popular Raleigh 10. Boys dan Girls Raleigh Raleigh Tua Model Tourist Sepeda Raleigh tua model tourist yang diproduksi sebelum tahun 1940 – andapat dilihat dari ciri sistem rem karet yang berbeda dengan sistem rem karet pada Raleigh Touris yang lebih muda. Raleigh Tourist tua bentuk U untuk pegangan karet rem berbeda, selain itu, keni yang lurus tanpa koekantak ada tonjolan untuk tempat pompa.

Tak hanya itu, perbedaannya pun terdapat pada garpu depan bagian dalam, ada dua tonjolan yang dikiri kanan bagian atas garpu sebelah dalam serta model holder sepatu karet rem yg agak memanjang berbeda dengan holder sepatu rem karet pada Raleigh Tourist yang dibuat setelah tahun 1940- an. Operan perseneling yang dipasang pada Raleigh model Tourist tua era 1920 – anbahan tutup pasangan tromol perseneling tidak terbuat dari plat besi tapi berbahan dural atau alluminium yang dicampur timah hitam.

Sedang tulisan Sturmey Archer terpahat didalamnya. Disamping itu, spakbord belakang Raleigh Tourist tua pada bagian tengahnya tidak di baut ke bagian koneksi penahan sapit urang belakang seperti umumnya sepeda raleigh yg keluar belakangannamun sistemnya memakai jepitan dari plat tipis berbentuk U yg sifatnya seperti pegas.

Bila akan melepas spakbord belakang harus menekan plat tipis berbentuk U tersebut agak kedalam dan mengeluarkan nog- nya dari pipa penahan garpu belakang. Pun, stang Raleigh Tourist tua bentuknya berbeda dengan Raleigh Tourist yang lebih muda.

Bentuk holder handel stang Raleigh Tourist tua menyatu dengan body stang dan tidak di baut seperti stang model Raleigh Tourist yang berikutnya. Istimewanya lagi, Raleigh Tourist tua memiliki tuas kecil (gondel) di sebelah kanan untuk mengunci stang agar posisinya terkunci mati sehingga tidak bisa belok ke kiri atau kanan saat di kendarai, atau juga bisa lepas tangan, saat tangan digunakan untuk keperluan lain seperti membidik senapan saat mengejar penjahat atau untuk hal-hal lainnya.

Fungsi gondel lainnya adalah untuk memarkir sepeda agar posisinya lurus. Gondel atau tuas kecil ini menghilang setelah Raleigh model Tourist yang lebih muda muncul.

(Oldbike In History, diolah dari beragam sumber. Foto koleksi : mbzponton.org, pada foto tampak sepeda Raleigh Tourist buatan 1950) Sumber : FB Oldbike in History Setelah digunakannya rantai dan gir pada sepeda membuat kereta angin ini menjadi alat transportasi umum yang banyak digunakan masyarakat zaman dahulu. Gir dan rantai sepeda ini diperkenalkan pertama kalinya oleh orang Inggris bernama J.K. Starley pada 1885, sehingga sepeda menjadi alat transportasi wajib.

Pasalnya, selain mudah dan praktis, sepeda tak memerlukan bahan bakar. Sejak saat itu banyak bermunculan pembuatan model atau desain sepeda baru. Hal ini tentunya memicu lahirnya kompetisi lomba balap sepeda. Namun saat itu, kompetisi balap sepeda hanya ada di Inggris, Belanda, Prancis, dan negara-negara industri Eropa lainya yang notabene adalah negara cikal-bakalnya sepeda. Kolonialisasi yang dijalankan bangsa Eropa ke berbagai penjuru dunia (termasuk Indonesia) turut menyebarkan tren sepeda ke seluruh dunia.

Sepeda kemudian menjadi sangat terkenal diberbagai bangsa, khususnya bangsa jajahan Eropa yang belum terlalu mengenal sepeda.

Biasanya masyarakat terjajah ini menggunakan gerobak atau kereta kuda sebagai sarana transportasinya. Salah satu negara jajahan yang mempunyai tren bersepeda yang cukup tinggi adalah Hindia Belanda (Indonesia). Hal ini dipengaruhi oleh penjajahan Inggris dan Belanda yang cukup lama. Awalnya komunitas atau klus sepeda didominasi oleh orang-orang Belanda atau orang Eropa lainnya.

Dalam catatan sejarah ada club sepeda bernama De fietsclub van G.S. Vrijburg asal Bandung yang anggotanya sebagaian besar anak-anak muda keluarga Belanda. Barulah setelah Indonesia merdeka, sepeda mulai bisa dimiliki oleh orang biasa karena adanya eksport sepeda besar-besaran dari Inggris dan Belanda.

Hal ini kemudian memacu munculnya komunitas-komunitas sepeda dan kompetisi balap sepeda di kalangan pribumi. Balap sepeda kemudian menjadi tren yang mumpuni di kalangan rakyat Indonesia.

Saat itu, Semarang dan Bandung menjadi pusat tren komunitas atau club sepeda di Indonesia. Ada dua orang arsitek asal Belanda bernama Ooiman dan Van Leuwen membuat velodrom atau tempat khusus untuk balap sepeda di Semarang. Perkembangan balap sepeda di Indoensia makin maju setelah banyak perusahaan-perusahaan Asing dan semi Indo yang mau membiayai even-even balap sepeda.

Bahkan saat itu sudah lazim pembalap sepeda tua pada zaman belanda dibiayai oleh perusahaan-perusahaan seperti Tropical, Triumph, Hima, Mansonia, dan perusahaan-perusahaan ekspatriat lainya. Walaupun saat masa penjajahan Jepang kegiatan yang berhubungan dengan sepeda sempat terhenti, namun pasca kemerdekaan, Sepeda ngetren kembali.

Bahkan tahun 1948, sudah ada klub sepeda asal bandung bernama Super Jet yang kemudian berubah nama menjadi sangkuriang. Hal ini kemudian banyak menginspirasi daerah-daerah lain untuk mendirikan klub sepeda, diantaranya Solo, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Medan, Jakarta, dan kota lainnya. Harian Pelita Rakjat terbitan 1948 menulis tentang balapan sepeda di daerah Gresik, Jawa Timur dan hebatnya lagi sepeda untuk lomba balap itu bukan sepeda balap (race fietsen), tapi sepeda onthel.

Balapan sepeda onthel ini menempuh jarak 15 kilometer jalan yang ada di kota Gresik. Perkembangan balap sepeda ini kemudian makin sepeda tua pada zaman belanda setelah bandung berhasil membuat even balap sepeda bertaraf Internasional, yaitu Tour de Java 1 pada tahun 1958, Asal tahu saja, even ini adalah even lomba balap sepeda pertama di Asia, jadi bisa dibilang, Indonesia adalah pelopor lomba balap sepeda di Asia.

Dalam lomba itu, menempuh rute bandung-Surabaya-Bandung dengan total jarak tempuh hampir 2000 km dan terbagi dalam 18 etape. Sejak saat itu, balap sepeda di Indonesia makin dikenal. Namun sayang, prestasi Indonesia di ajang balap sepeda masih tumpul, meskipun Indonesia merupakan pelopor balap sepeda di kawasan Asia.

(Oldbike In History, diolah dariberbagai sumber. Foto koleksi : kitlv, pada foto tampak klub sepeda G.S. Vrijburg asal Bandung 1917). Sumberr : FB Oldbike in History Seorang sejarawan asal Belanda bernama Corresp A di tahun 1934 menulis tentang kepindahan pabrik sepeda Hima (Hima Rijwielfabriek) dari Amsterdam ke Bandung, Hindia Belanda. Dalam sebuah wawancara dengan Mr Von Meyenfeldt, Direktur perusahaan SL Manson & Co, produsen sepeda Hima Bandung, menjelaskan bahwa kepindahan pabrik sepeda Hima ke Hindia Belanda adalah akibat dari semakin memburuknya kondisi pabrik Hima yang menuju kearah kebangkrutan.

Hal ini terjadi karena semakin ketatnya persaingan industri sepeda di Belanda yang sebagian dipegang oleh raksasa industri sepeda semacam Gazelle, Batavus, Fongers, Burgers dan lainnya.

Apalagi industri sepeda di Belanda juga diramaikan oleh pasaran sepeda dari bangsa Eropa lainnya. Selain itu, biaya operasional pabrik sepeda Hima yang kian membengkak akibat adanya biaya tinggi yang menindas industri kecil.

“Sulit bagi kami untuk mempertahankan pabrik Hima tetap beroperasi di Belanda akibat persaingan yang sangat keras dan biaya tinggi termasuk upah buruh yang tinggi sehingga kami memutuskan untuk beroperasi di Hindia Belanda,” jelas Mr Von Meyenfeldt. Konon, pada 1930-an upah buruh di negeri Belanda sangatlah tinggi.

Tingginya upah buruh ini banyak berpengaruh bagi industri-industri di Belanda, terlebih lagi di kalangan industri kecil. Hima pun terkena imbas upah buruh yang melonjak tinggi ini.

“ Dalam keadaan tersebut Hima harus memproduksi sepeda yang cukup banyak untuk diekspor ke Hindia Belanda. Hima pun harus memberi upah para pekerja dengan biaya yang cukup banyak sehingga sangat menguras keuangan perusahaan Hima. Bagaimana Hima harus membuat sepeda sementara upah buruh dua kali lebih besar ketimbang bahan baku sepeda,” imbuh Mr Von Meyenfeldt. Koran terbitan Belanda bernama Middelburgsche Courant, menulis tentang kepindahan pabrik Hima terjadi di tahun 1934 dan para direksi pabrik Hima memilih Bandung sebagai tempat untuk mendirikan pabrik Hima yang baru.

Diharapkan dengan kepindahan pabrik Hima ini akan lebih berkembang, mengingat pada dekade 1930-an industi metal (metalurgi) di Hindia Belanda sangat berkembang dengan semakin banyaknya produk metal yang diekspor ke beberapa negara Eropa dan Amerika.

Hima (De Hollandsche Sepeda tua pada zaman belanda Maatscapai) di Bandung mempunyai tugas agar biaya operasional pabrik Hima lebih murah dibanding di Amsterdam, Belanda. Di wilayah Hindia Belanda ini tenaga-tenaga buruh masih jauh lebih murah sehingga biaya produksi pun akan jadi lebih hemat.

Dalam melakukan bisnis sepeda di Hindia Belanda, Hima pun menggandeng sekolah-sekolah teknik di Bandung. Para lulusan teknik ini direkrut oleh Hima untuk menjadi buruh pabrik sepeda asal Belanda itu dengan upah yang rendah.

Mr Von Meyenfeldt, mengatakan bahwa di Hindia Belanda banyak sekali tenaga kerja yang mau membantu atau bersedia menjadi karyawan pabrik Hima meskipun dengan upah yang terbilang rendah. Meskipun para karyawan ini mendapat upah rendah, mereka merasa terbantu untuk meningkatkan penghasilan maupun kemampuan belajar teknik setelah mereka lulus dari sepeda tua pada zaman belanda.

“Mereka menyambut baik dengan berdirinya pabrik sepeda Hima di Bandung ini, sehingga para lulusan teknik dapat berpraktek menerapkan ilmunya di Hima,” imbuh Mr Von Meyenfeldt. Pendirian pabrik Hima di Bandung itu mendapat perhatian dari pemerintah Hindia Belanda yang cukup besar. Pemerintah Hindia Belanda telah banyak bersimpati dan berkomitmen mendukung industri sepeda Hima ini.

Alhasil, Hima pun memberikan kesempatan bagi siswa sekolah-sekolah teknik atau industri untuk bekerja di pabrik Hima, sehingga akhirnya Hima memiliki tenaga-tenaga profesional dari orang-orang pribumi selain teknisi dari orang-orang Sepeda tua pada zaman belanda sendiri yang biasanya menempati posisi sebagai pengawas atau manager teknik pabrik Hima.

Dalam perkembanganya industri sepeda Hima di Bandung mengalami kemajuan pesat. Guna merambah pangsa pasar yang lebih luas dan bisnis yang lebih besar akhirnya perusahaan SL Manson & Co memindahkan pabrik sepeda Hima ini ke Surabaya.

Lokasi pabrik Hima di Surabaya ini tepatnya ada di kawasan Rungkut. Konon, SL Manson & Co ini juga mendirikan pabrik sepeda merek Janco di Bandung dan merek Marten di Malang. Setelah cukup lama beroperasi di Sepeda tua pada zaman belanda, akhirnya pada 1975 Hima menutup pabrik sepedanya di Surabaya.

(Oldbike in History, diolah dari beragam sumber. Pada foto sepeda merek HIMA). Sumber FB : Oldbike in History Fongers, Katanya Bukan Sepeda Biasa Fongers merupakan salah satu sepeda asal Belanda yang banyak diburu orang Indonesia saat ini.

Maklum sepeda asal Groningen, Belanda ini sudah masuk kategori barang langka bernilai mahal. Menurut seorang pakar sepeda, Fongers konon tak hanya sekedar sepeda, namun sepeda ini merupakan lambang status dan sistem. Disebutkan dalam iklan sepeda Fongers, bila sepeda buatan Belanda ini bukan sekedar Fiets, namun lebih ke Rijwiel. Sebenarnya kata Fiets maupun Rijwiel dalam bahasa Belanda itu identik sepeda tua pada zaman belanda sepeda.

Namun dalam penggunaannya, Fiets dan Rijweil berkaitan dengan konsep yang dibedakan. Kata Fiets lebih condong ke situasional sehari-hari, sedangkan Rijwiel adalah sesuatu yang dikaitkan dengan persepsi khusus yaitu istimewa, kelas tersendiri, aristokrat dan mewah.

Tak sampai disitu, Fongers adalah sepeda kelas tersendiri yang berbeda dengan merek lain. Pun, Fongers adalah sepeda yang jelas asal-usulnya. Pasalnya, sepeda ini tak sekedar diproduksi, tapi juga dicatat dan didata dengan baik dan terstruktur dengan rapi. Fongers di negeri asalnya, tak hanya sekedar barang yang berwujud sepeda, namun Fongers sudah merupakan pribadi dan sistem yang membuat sepeda menjadi produk yang berwibawa.

Bila orang-orang Indonesia dulunya menggemari sepeda Fongers ini memang tak lepas dari persepsi orang Indonesia kala itu. Yang memandang sesuatu tak hanya memiliki nilai fungsi saja, biasanya juga dikaitkan dengan nilai gengsi. Apalagi di zaman kolonial Belanda, masyarakat dibagi dalam beberapa strata(kelas), yaitu kelas satu yang punya hak istimewa, terdiri dari orang-orang Eropa.

Lalu ada bangsa timur seperti Cina dan Arab. Baru kelas paling bawah yaitu orang pribumi (inlander). Jenis sepeda Fongers yang diproduksi beragam. Ada tipe BB, BD, CCG, BDG, HF, HZ, H, dan lainnya. Namun yang menjadi buruan orang Indonesia adalah tipe Fongers BB. Terlebih lagi Fongers BB yang diproduksi sebelum perang dunia kedua (WW 2) meletus.

Ciri khas sepeda Fongers ini dapat dilihat dari bentuk spatbord dengan lekukan menonjol ke atas. Ciri inilah membuat sepeda ini gampang untuk dikenali. Tak hanya itu, gir depan yang tampilan seperti obat nyamuk dan sistem rem klasik model kawat atau botol yang unik juga menjadi identitas tersendiri.

Pun, desain setang yang unik dengan klem (ballhoff) pada batang setang dan adanya sistem pengunci setang yang membuat sepeda ini tampil beda. Pada awalnya pabrikan Fongers dalam memproduksi sepeda membaginya dalam kategori kualitas yang dikenal dengan istilah SOORT ( sortiran ) ABC, Ddan E.

Hal ini tentunya berkaitan dengan harga jual sepeda yang ditawarkan ke konsumen. Tipe sepeda Fongers dengan harga termahal adalah Fongers kategori soort A yaitu tipe BB untuk heren (sepeda pria)dan BD bagi dames (sepeda perempuan), serta seterusnya berdasar urutan abjad yang ada.

Pembagian kategori ini terus digunakan oleh pabrikan Fongers hingga tahun 1940-an. Kalau bicara sepeda Fongerstentunya tak lepas dari pabrik sepeda Fongers itu sendiri. Pabrik Fongers didirikan oleh Albert Fongers pada tahun 1880. Awalnya Fongers merupakan industri rumahan yang membuat sepeda yang sebelumnya disebut dengan A. Fongers. Setelah dirasa akan berkembang akhirnya dijadikan sebuah produksi skala massal melalui pembentukan badan usaha formal pada tanggal 1 September 1896, yang disebut ‘NV De Groninger Rijwielenfabriek A.

Fongers’.Di tahun 1920, Fongers sepeda tua pada zaman belanda menjelma menjadi pemimpin pasar sepeda di negeri Belanda, bahkan menggunguli pesaing beratnya seperti Gazelle, Burgers, Simplexdan Batavus. Merek-merek sepeda ini merupakan pesaing yang berat dalam merebut pangsa pasar yang tidak seberapa besar.

Belum lagi bersaing dengan sepeda-sepeda buatan Inggris, Jerman, Perancis, dan Amerika Serikat. Fongers dikenal sangat memperhatikan segi kualitas sepeda yang bagus.

Pangsa pasar yang dibidik Fongers pun golongan menengah atas. Alhasil, meskipun sepeda Fongers keluaran tahun tua masih saja tampak bagus. Karena memang Fongers fokus pada kualitas sepeda dan terbaik dalam segala hal. Di Indonesia waktu dahulu, hanya segelintir orang kaya yang bisa membeli Fongers tipe BB ini.

Ada juga Fongers BB ini dibagikan kepada kalangan tertentu oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai hadiah. Biasanya kalangan elit pribumi yang dianggap berjasa pada Belanda. Jadi tepatlah jika sepeda Fongers itu bukan sepeda biasa. (Oldbike in History, diolah dari berbagai sumber.

Foto koleksi : koleksi filckr.com, tampak sepeda Fongers BB 65 buatan 1934). Sumber : FB Oldbike in History • ► 2016 (1) • ► September (1) • ► 2014 (4) • ► September (1) • ► January (3) • ▼ 2013 (24) • ► November (4) • ► October (1) • ► September (3) • ▼ August (15) • Jalan Jalan ke Desa Tegaldlimo • RILEX IN RAMA KOMPUTER • JALAN JALAN KE DESA WRINGINPUTIH • BMX RedlineNglamak • Mr Nur Oblo Pose • Video Pesta Kembang Api di Dam Telu • Jalan-Jalan di Malam Takbiran • Sepeda Onthel Rosok DIJUAL • Bengkel Resmi Sepeda Rosok BWI Sumberberas Muncar • Sejarah Sepeda Gazelle (1892 – 2010) • NOMER RANGKA SEPEDA ONTHEL • Sejarah Onthel di Indonesia • The Gun's Pose Gaya Slange'an • Batavus Warisan Kompeni • The Gun's Pose • ► July (1)
Sistem kami menemukan 25 jawaban utk pertanyaan TTS sepeda tua pada jaman belanda.

Kami mengumpulkan soal dan jawaban dari TTS (Teka Teki Silang) populer yang biasa muncul di koran Kompas, Jawa Pos, koran Tempo, dll.

Kami memiliki database lebih dari 122 ribu. Masukkan juga jumlah kata dan atau huruf yang sudah diketahui untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Gunakan tanda tanya ? untuk huruf yang tidak diketahui. Contoh J?W?B
Sepeda onta atau sepeda onthel atau biasa disebut sepeda pancal, merupakan sepeda lawas yang dibawa oleh belanda ke Indonesia. Pada jaman dahulu sepeda onthel merupakan sepeda bangsawan dan hanya sedikt yang mempunyainya.

Sejarah Sepeda Onthel Sepeda dengan frame unik dan juga bahan sepeda yang kuat, kekuatan bahan ini bisa dilihat dari masih adanya sepeda onthel yang bagus dan sedikit berkarat. Sepeda onthel tertua yang ada di Indonesia berasal dari tahun 1895. Ternyata saat ini masih banyak juga yang memiliki sepeda onthel ini, terbukti dari banyaknya komunitas sepeda onthel didaerah. Sepeda onthel tidak hanya unik tapi sangat nyaman dipakai, saat anda memakainya kalian akan merasakan sensasi seperti terbang, itu karena sistem rantai dan gearnya yang sesuai sehingga pada saat dikayuh sangat ringan.

Pada jaman dahulu bangsawan di Indonesia dianggap mempunyai derajat tinggi apabila dirumahnya sudah ada sepeda ini. Semakin tinggi status social orang saat itu maka semakin mahal pula model sepeda onthel yang sepeda tua pada zaman belanda punyai.

Perkembangan sepeda onthel ini dimulai pada waktu hindia belanda datang ke Indonesia,sampai pada akhirnya sepeda ini sampai ke wilayah perkotaan, sayangnya dengan datangnya sepeda motor membuat penggunaan sepeda ini menjadi berkurang dan hanya penduduk desa saja yang menggunakanya, sampai saat ini kita sudah jarang sekali melihat orang memakai sepeda ini untuk bekerja tapi berbeda bila kita dating ke Jogjakarta, disana masih banyak terdapat orang yang memakai sepeda onthel ini untuk pergi bekerja.

Harga Sepeda Onthel Saat ini harga untuk satu sepeda onthel bisa mencapai jutaan rupiah bahkan ada yang mencapai puluhan juta. Mahalnya sepeda ini dikarenakan semakin sedikit jumlahnya dan semakin tua sepedanya maka harganya pun akan melambung tinggi. Ada dikalangan masyarakat percaya bila di beberapa merk sepeda onthel tersembunyi emas dari belanda yang disembunyikan didalam frame sepeda ini. Tapi untuk membuktikannya belum aad yang bisa, karena memang belum adanya bukti adanya harta karun di sepeda tua yang satu ini.

Sepeda FONGERS MILITER • Film Dokumenter Tahun 1914




2022 www.videocon.com