Paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena

paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena

Nurcholish Madjid Society (NCMS) bersama Lembaga Pendidikan Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif Nahdlatul Ulama (NU) menggelar kajian titik temu dengan tema ‘Menggali Akar Radikalisme dan Intoleransi di Indonesia,’ pada Kamis (25/10/2018) di Surabaya. Diskusi ini ingin menggali akar persoalan radikalisme dan intoleransi di Indonesia, serta upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah radikalisme dan intoleransi menyebar di masyarakat.

SURABAYA, JAWA TIMUR (VOA) — Munculnya fenomena radikalisme berbasis agama tidak hanya dipengaruhi oleh faktor tunggal, melainkan ada faktor lain yang berperan membentuk seseorang atau masyarakat menjadi radikal, demikian pernyataan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Prof.

Masdar Hilmy dalam diskusi di Surabaya, Kamis lalu (25/10). Fenomena radikalisme agama ini kata Prof. Masdar Hilmy, harus diakui muncul dalam ayat-ayat di dalam kitab suci, yang diterapkan tanpa adanya pertimbangan relevansi konteks yang menyertainya.

“Kita harus rendah hati mengatakan bahwa memang di dalam teks suci kita ini ada banyak ayat-ayat yang menyuruh kita ini untuk berperang dan membunuh. Nah, persoalannya adalah apakah ayat-ayat tadi itu harus kita terapkan apa adanya tanpa mempertimbangkan relevansi konteksnya,” ujar Masdar.

paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena

BACA JUGA: Survei: Tingkat Opini Intoleransi dan Radikalisme Guru Muslim di Indonesia Sangat Tinggi Sementara, Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Ishomuddin menilai akar munculnya radikalisme dipengaruhi oleh pemahaman ilmu agama yang dangkal, terkait maksud diturunkannya agama yang sesungguhnya menarik orang pada kebaikan dan menghindarkan dari keburukan. Selain pengetahuan agama yang rendah, radikalisme juga dipengaruhi oleh wawasan yang kurang luas dalam hal kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya berkaitan dengan kebhinnekaan di Indonesia.

“Mereka tidak memiliki ilmu agama yang mendalam, akhlak yang mulia, lebih mengedepankan hawa nafsu daripada ilmu. Selain tentu ada faktor-faktor yang lain, yang membentuknya, seperti merasa tertindas, merasa kalah dalam persaingan di bidang ekonomi, kalah persaingan di bidang politik, tidak menemukan jalan keluar sehingga segala sesuatu mau diselesaikan dengan jalan kekerasan dan pengingkaran terhadap perbedaan-perbedaan.

Padahal itu bukan merupakan jalan keluar untuk mencapai suatu titik temu, tetapi justru menimbulkan kegaduhan, menimbulkan korban bahkan terhadap orang-orang yang berbeda,” tukas Ahmad. Peserta diskusi Menggali Akar Radikalisme dan Intoleransi di Indonesia dari berbagai elemen masyarakat lintas agama. (Foto: Petrus Riski/VOA) Membaca situasi saat ini, Ketua Dewan Pembina Nurcholish Madjid Society (NCMS), Omi Komaria Madjid mengatakan, radikalisme dan intoleransi dapat diatasi dengan mengajak semua elemen bangsa untuk bersikap rendah hati dalam beragama.

paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena

Menurut Omi, berbagai keanekaragaman yang dimiliki Indonesia merupakan anugerah Tuhan yang harus diterima dan disyukuri, sebagai bentuk pengakuan dan kepatuhan manusia pada kehendak Tuhan. “Kebhinnekaan itu secara positif terima bahwa itu sebagai anugerah dari Tuhan.

Nah karena augerah dari Tuhan, itu kita jangan mengingkari dan apalagi melawan, karena kalau mengingkari atau melawan, berarti mengingkari atau melawan kehendak Tuhan itu. Maka dari itu, kita secara aktif mewujudkan itu, memelihara pemberian Tuhan itu,” ujar Omi. Ahmad Ishomuddin menambahkan, masyarakat pemeluk agama di Indonesia harus kembali pada ajaran agamanya masing-masing, yang mengajarkan kebaikan dan cinta kasih dalam hidup di dunia. Umat beragama kata Ishomuddin, harus mau belajar agama secara benar, dengan tuntunan pemuka agama atau ulama yang terpercaya keilmuannya.

“Khusus bagi Nahdliyin, ikutilah para Kyai NU yang ilmunya terpercaya, mendalam di bidang agama, dan mereka orang-orang yang cinta tanah air. Orang yang betul-betul mendalami ilmunya dan cinta tanah air, tidak akan membuat kerusakan di tanah airnya sendiri.

Dia tidak akan berbuat dzolim kepada orang lain,” tukasnya. Menanggapi hal itu, Fauzan, warga Surabaya menilai upaya deradikalisasi yang dilakukan pemerintah sudah cukup baik, meski tidak cukup hanya ditujukan pada mantan napi terorisme.

Fauzan mengatakan, perlu sosialisasi menyeluruh kepada masyarakat mengenai bahaya intoleransi dan radikalisme bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Materi kontra radikalisme harus diberikan kepada sekolah-sekolah yang selama ini menjadi lahan subur persemaian benih kebencian, bila tidak ingin gerakan anti intoleransi dan radikalisme hanya sebagai retorika belaka.

[pr/em] "Ateis tidak dapat diterima di indonesia dan ini bukan hanya tentang ateis tapi juga tentang menghina agama secara langsung maupun tidak langsung. Seandainya yang ateis diam saja, ya tidak masalah tapi kenyataannya mereka dengan sengaja ingin menunjukkan diri dengan menghina agama dengan membabi buta. Poinnya adalah ketika masyarakat merasa agamanya dihina maka tentu akan menjadi masalah bagi si ateis." Kalkausar, Aceh.

"Bila hal ini dianggap sebagai tindak pidana maka perlu ditinjau kembali karena hal yang terkait kepercayaan, keyakinan, iman tidak untuk diadili oleh sesama manusia. Keyakinan berhubungan dengan hati, rasa, dan jiwa. Terkait hal ini mungkin lebih tepat jika tidak diproses secara pidana tapi melalui pendekatan personal psikologis untuk didalami atau diluruskan karena memang tak terelakkan bahwa sesuai undang-undang negara Indonesia berdasarkan pada Paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena Yang Maha Esa." Sukoco, Surakarta.

"Terlepas dari Pasal 156 KUHP ataupun ideologi Pancasila, saya kira kebebasan beragama adalah hak asasi setiap manusia, entah dia mau beragama Islam, Katolik, maupun Budha atau bahkan tidak percaya adanya Tuhan.

Itu adalah hak manusia yang paling dasar. Kita harus saling menghargai perbedaan keyakinan, entah mau beragama atau tidak. Dengan beragama tidak berarti kita bisa menjadi Tuhan dan menghakimi orang lain yang tidak percaya adanya Tuhan. Negara melalui KUHP sudah terlalu mencampuri dan bahkan mengusik kebebasan berkeyakinan warga negara Indonesia.

Bukankah lebih baik negara berfokus pada pengentasan kemiskinan dan memberantas korupsi daripada sibuk mengusik warga negara dengan keyakinan mereka.

Saya beragama Islam dan saya tidak pernah diajarkan oleh orang tua dan guru agama saya untuk menganggu orang lain yang tidak bertuhan atau bahkan melakukan tindakan kriminal kepada mereka. Saya yakin dengan dukungan negara terhadap para pelaku kriminal yang mengganggu orang yang tidak bertuhan, tentu pada lain kesempatan akan banyak terjadi lagi kasus-kasus yang sama di masa mendatang." Andika, Yogyakarta.

"Saya setuju untuk menghukum tesangka, kalau bisa harus lebih berat karena jika cepat bebas dan kembali lagi mengatakan pahamnya di depan orang banyak, maka saya takut banyak masyarakat yang mengikuti jejaknya. Beragamapun sudah kaya hukum rimba, apalagi kalau ateis.

Mau kayak apa nantinya Indonesia?" Mail, Ciamis. "Kemajuan teknologi memang berdampak pada perubahan cara pandang seseorang tentang ketuhanan, bisa jadi manusia mengalami transformasi dari irasionalitas ke rasionalitas, sehingga hal-hal yang berbau magis atau gaib tidak dapat diterima lagi. Menurut saya di sisi lain bisa dikatakan juga kata-kata "Tuhan Tidak Ada" jika dikonotasikan sebagai sebuah kiasan karena manusia sudah tidak lagi merasa takut akan hukum Tuhan.

Manusia mulai bertuhan pada teknologi." Nur Alifah Septiani. "Kita hidup di Indonesia yang mempunyai rule of life yang jelas yaitu Pancasila yang di dalamnya menyatakan kita adalah masyarakat yang berketuhanan. Untuk itu apabila ada seseorang yang tidak berketuhanan lebih baik jangan tinggal di Indonesia. Soal bahwa saat ini banyak yang berperilaku sebagai orang yg tidak bertuhan maka perilaku orang/masyarakat tersebut yang perlu kita bantu agar mereka kembali bertuhan.

Semoga masyarakat kita kembali ke fitrahnya sebagai masyarakat yang berjalan sesuai tuntunan Gusti Allah." Sandy, Bekasi. "Masih belum yakin adanya Tuhan? Alam yang tertata dengan rapi berpasang-pasangan terjadi dengan sendirinya?

paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena

Masih mengandalkan rasio? Jangan-jangan bayi terlahir tanpa ayah dirasionalkan, laut terbelah dengan tongkat dirasionalkan, perjalanan Isro' Mi'roj juga dirasionalkan. Semoga dia segera mendapat petunjuk ampunan." M. Mathori Munawar, Pekalongan. "Menurut saya, orang ateis itu pembohong besar. Mereka tidak mau mengakui bahwa Tuhan itu ada tapi apa mereka tidak pernah berpikir bagaimana alam semesta ini ada?

Bagaimana mungkin alam dapat berjalan tanpa ada yang mengatur? Jangan sampai masyarakat indonesia teracuni pemikiran sampah seperti ateis." Eyyas, Solo. "Hukum tidak dapat memasuki ruang hati seseorang.

Indonesia negara hukum yang berdasarkan Pancasila yang mengandung arti negara berdasarkan Ketuhanan karena Pancasila merupakan dasar negara. Bukan dasar bagi pribadi atau individu yang tidak berkenaan dengan individu lain, namun ketika menjadi konsumsi umum kemudian timbul tafsir yang berbeda.

Padahal hukum berlaku bagi perbuatan yang tampak bukan menghukumi isi hati manusia yang bersifat sangat subyektif dan sulit untuk dibahasakan lewat kata." Asep, Jakarta. "Agar bisa teratur dan aman, semua hal harus diatur.

Orang beragama terikat aturan agamanya. Warga negara terikat aturan negaranya. Bila kita masih jadi warga negara, ya ikuti saja aturannya. Kalau aturan dianggap tak sesuai, misal melanggar HAM, ubah dulu aturan itu. Baru boleh kita 'tidak' melaksanakannya." Mujiantoro, Temanggung. "Menurut saya, pasal itu sudah benar. Indonesia sejak dulu menganut Pancasila. Dalam pelajaran kewarganegaraan di SMA dan SMP juga sudah berkali-kali ditulis bahwa undang-undang harus sesuai dengan dasar negara sebagai identitas bangsa.

Kalau ada orang Indonesia menjadi ateis, dia memang sudah seharusnya terjerat dengan pasal tersebut. Jangan samakan budaya Timur Indonesia dengan budaya Barat yang berkembang di Eropa. Kita tidak sama, dan lebih 'beradab." Fatimah, Depok. "Kepercayaan individu kok diadili? Apa itu bisa mengubah individunya untuk percaya agama? Terkadang kita membuat diri kita sendiri menjadi kerdil. Entah apa yang terjadi nanti kepada anak dan cucu kita. Lihat tetangga berbeda kepercayaan bisa main tikam. Amerika walau tidak mengenal Pancasila namun bisa menghargai dan melindungi warganya dari intimidasi kaum mayoritas.

Negara kita justru kebalikannya." FioZilla Tampz, Komunitas BBC Indonesia di Facebook. "Lagi kena sial saja. Sudah diserang orang-orang, bukan dapat perlindungan malah sekarang jadi terdakwa. Alangkah santun jika dia bilang 'skeptis' bukan 'tidak ada.' Banyak juga masyarakat Indonesia yang berperilaku layaknya orang skeptis. Hanya saja ungkapan sebagai orang yang skeptis tidak pernah dimunculkan secara jelas melalui pernyataan." Budi S.S Sutrisno, Jakarta.

"Memang Indonesia adalah negara yang berketuhanan. Namun menanggapi kasus itu sebaiknya tidak usah dibawa ke meja hijau, lebih baik dibina secara pribadi. Aturan memang ada, namun jangan terlalu kaku, harus dilihat bahwa tidak setiap yang melanggar aturan harus diperkarakan di pengadilan. Seperti tatib di sekolah, ada standar poin dengan jumlah tertentu yang menjadi dasar dan setiap jenis pelanggaran diberi poin. Jika akumulasi poin pelanggaran sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan maka siswa bisa diproses untuk diperkarakan.

Itu juga baik untuk diterapkan dalam hukum." B Sunarto, Tangerang Selatan. "Ketuhanan yang Maha Esa itu konsekuensinya ya harus menerima adanya eksistensi Tuhan. Bahkan pasal di UUD 45 Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Kalau ada yang menyatakan tidak bertuhan berarti menolak Republik. Dalam pembukaan dituliskan : Atas berkat rahmat Allah.

Jadi patut dipertanyakan pernyataannya terlepas dari apa yang terjadi dalam kenyataan bahwa para penguasa seperti tidak mengenal Tuhan." Mawan, Depok "Memang Indonesia adalah negara Pancasila yang berasaskan Ketuhanan. Namun saya rasa mustahil jika semua rakyat dalam negara ini harus memiliki satu pilihan tertentu dari agama-agama yang ada.

Mengimani adanya Tuhan kan tidak bisa dipaksakan, apalagi dengan menghukum mereka yang terang-terangan tidak percaya. Oke secara hukum Indonesia, dia salah namun jika berkaitan dengan hati seseorang, tak ada yang bisa memaksakan, juga tidak hukum. Beragama tak menjamin seseorang lebih baik, karena saat ini makin banyak orang yang beragama hanya karena 'status' dan 'KTP' saja'. Dalamnya laut dapat diukur, hati manusia siapa yang tahu?" Andreia Eirene, Palembang.
Merdeka.com - Menjadi ateis di Indonesia tentu tidak mudah.

Sebab itu, banyak dari mereka menyembunyikan identitas sebagai kaum penolak Tuhan. Berbeda dengan Karl Karnadi. Dia cuek saja nama lengkapnya disebut dan fotonya dipublikasi. Dia hanya ingin masyarakat Indonesia menerima kenyataan sekaligus perbedaan. Meski sebagai negara berketuhanan, ada sebagian kecil dari warga Indonesia menolak mengakui Tuhan itu ada. Mulanya, dia sedikit tertutup lantaran belum ada media berbahasa Indonesia mewawancarai dia sebagai pendiri komunitas Indonesian Atheists.

Berikut wawancara Faisal Assegaf dari merdeka.com dengan Karl Karnadi melalui surat elektronik, Selasa (19/3). Gagasan siapa mendirikan Komunitas Ateis Indonesia?

BACA JUGA: Penelitian: Agama Membuat Orang Lebih Sehat dan Perokok Cenderung Ateis Menteri Malaysia ingin ajak kaum ateis kembali ke jalan yang benar Pada Oktober 2008, saya mendirikan komunitas Facebook bernama Indonesian Atheists, paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena IA (catatan: namanya persis seperti itu dgn istilah Inggris, berbeda dgn paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena indonesia atau komunitas atheis indonesia).

Sebelum itu, sebenarnya sudah ada beberapa komunitas ateis di forum-forum atau milis meski belum ada yang dikembangkan serius. Ide dari saya awalnya sederhana saja.

paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena

Saya ingin tempat berdiskusi dengan teman-teman saya dari Indonesia yang juga ketemu bertemu di Internet dan sama-sama ateis atau agnostik.

Awalnya jumlahnya kecil sekali, kurang dari sepuluh orang. Sekarang tentu ini berkembang jauh dari sekadar online di mana kami bisa berkumpul juga di dunia nyata, saling dukung satu sama lain pada saat ada yang terkena diskriminasi. Pada 2011, teman saya (salah satunya akan anda wawancara), mendirikan laman Facebook bernama Anda Bertanya Ateis Menjawab, disingkat ABAM beralamatkan di http://FB.ateismenjawab.com dan ini sedang kami kembangkan.

Gagasan ini berasal dari teman saya tadi, tapi saya dan beberapa teman lain sangat mendukung dan ikut mengembangkan. Grup IA di atas diperuntukkan untuk sesama ateis dan agnostik, sementara ABAM untuk semua orang, baik beragama atau tidak. Kami mengharuskan format interaksi di ABAM dalam bentuk tanya jawab sehingga paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena debat kusir atau interaksi tidak sehat.

Apa tujuan pendirian komunitas ini? BACA JUGA: Pemerintah Malaysia selidiki warga muslim kumpul dengan kaum ateis Pindah keyakinan jadi ateis, pria Saudi dihukum mati Tujuannya ada dua, ke dalam dan keluar. Ke dalam, kami ingin mendukung dan menghibur teman-teman ateis terdiskriminasi dalam dunia nyata, dan ada banyak sekali yang seperti ini.

Ada banyak orang masih menyembunyikan identitas sebagai ateis, pelajar harus berpura-pura beragama di hadapan keluarganya, suami atau istri harus berpura-pura di hadapan anak dan pasangannya. Sama sekali tidak mudah. Bayangkan bila teman-teman beragama dipaksa harus berpura-pura beragama lain, kira-kira rasanya sama. Tidak setuju tetapi tidak bisa bersuara, tidak bisa menampilkan jati diri tanpa jadi korban kebencian dan diskriminasi.

Komunitas online sangat berperan sebagai kelompok pendukung dan memberikan dukungan bagi mereka yang terdiskriminasi. Keluar, kami ingin mengenalkan ada ateis juga di Indonesia dan kami ingin dipandang bukan sebagai musuh, tapi sebagai sesama manusia, sesama warga Indonesia. Sumber dari permusuhan adalah prasangka negatif sering salah tetapi tersebar luas. Prasangka-prasangka negatif ini ingin kami luruskan. Ateis adalah orang-orang normal dan bermoral, warga yang membayar pajak dan mengikuti hukum, sama seperti orang-orang lain beragama.

Bedanya, kami tidak percaya keberadaan Tuhan agama apapun. Perbedaan kadang menimbulkan ketersinggungan. Ini lumrah, tetapi tidak harus disikapi dengan permusuhan dan kebencian. Sebagai sesama manusia, sebenarnya kita memiliki lebih banyak persamaan ketimbang perbedaan, hanya kita sering lupakan itu dan fokus pada perbedaannya saja.

BACA JUGA: Paus Fransiskus: Lebih baik jadi ateis daripada munafik Khofifah sebut paham ateis meningkat di sejumlah negara Islam Tujuan pertama kami capai dengan grup IA dan tujuan kedua dengan laman ABAM. Kapan komunitas itu dibentuk? Siapa saja pendirinya dan di mana didirikan? Ini kebetulan sudah saya sebutkan di atas. Kami adalah satu komunitas dan menyediakan berbagai macam media interaksi, dua di antaranya melalui IA (Indonesian Atheists) ke sesama ateis dan ABAM (Anda Bertanya Ateis Menjawab) kepada orang lain.

Sampai kini sudah berapa jumlah anggota komunitas? dari mana saja, berapa lelaki dan perempuan? Asal agama mana saja?

paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena

BACA JUGA: Ngaku ateis di Twitter, pria ini dibui 10 tahun & dicambuk 2000 kali Tokoh ateis sebut Alquran buku penting yang harus dibaca semua orang Pencatatan lumayan akurat bisa dilihat di http://atheistcensus.com/. Di situ bisa terlihat jumlah dari komunitas ateis dari Indonesia sekitar 600-an orang. Tentu yang aktif dan bertemu reguler tidak sebanyak itu. Urutan eks agama apa saja sesuai dengan demografis Indonesia, jadi terbesar dari muslim, kemudian Kristen, dan seterusnya.

Kami tidak mencatat atau mendata anggota-anggota kami baik yang aktif atau tidak aktif.

paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena

Banyak dari mereka masih tertutup di kehidupan nyata dan mungkin tidak akan merasa nyaman bila didata seperti itu, jadi maaf kalau tidak mendetail. Tapi data-data dari atheistcensus saya rasa cukup bagus.

Apakah komunitas ini memiliki kantor dan ada pertemuan rutin? Kalau ada, apa saja yang dibahas? Tidak, kantor kami di Facebook dan media sosial lainnya. Seperti saya sebut di atas, ada pertemuan-pertemuan di beberapa kota besar meski tidak rutin. Nonton bioskop atau film DVD bersama-sama, datang ke acara tertentu bareng, menyanyi karaokean, dan makan malam rame-rame.

Tentu ada beraneka ragam topik dibahas, di antaranya juga curhat pada saat ada kesulitan atau frustrasi terhadap kondisi kehidupan penuh diskriminasi.

paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena

Tetapi yang terutama adalah bersenang-senang bersama-sama. Bagaimana reaksi saat komunitas ini dibentuk? BACA JUGA: China larang muslim ibadah, harus patuh pada ateisme Marxis China wajibkan umat beragama hormati ateisme Pemberitaan dimulai pada saat AFP (salah satu media internasional) mewawancarai saya dan memberitakan pada Januari 2009 tentang komunitas ateis di Indonesia. Kemudian tidak lama, komunitas kami berkembang pesat, baik dari jumlah atau pemberitaan di media.

Jadi saya rasa sejauh ini cukup positif. Banyak pengunjung laman ABAM dari orang-orang beragama mulai menerima keberadaan kami meski di saat yang sama tidak setuju dengan ateis. Saya harap pembaca artikel ini akan memiliki kesan sama. Apa alasan Anda menjadi atheis?

Sejak kapan Anda menjadi atheis? Bagaimana reaksi keluarga Anda? Tiga pertanyaan ini saya jawab sekaligus.

paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena

Saya menjadi ateis baru sekitar akhir 2007, tetapi sudah melalui sekitar dua tahun penuh pergumulan. Saya belajar banyak hal sebelumnya tentang sains dan agama.

Jawaban dari masing-masing agama berdasar kitab atau tokoh tertentu mereka sucikan tidak memuaskan saya. Keluarga saya beragama dan taat. Mereka tentunya kecewa dengan jalan saya tempuh tetapi saya cukup beruntung mereka tetap menerima saya sebagai anak. Banyak teman-teman ateis lain mengalami nasib jauh lebih buruk dengan adanya pengusiran dari rumah dan pengucilan. Saya juga beruntung karena saya berangkat untuk studi di Jerman sehingga relatif sedikit tekanan psikologis dan diskriminasi saya terima.

Saya salut kepada teman-teman ateis lain tinggal di Indonesia dan harus mengalami diskriminasi setiap hari. Pastinya tidak mudah. Apakah Anda yakin orang bisa benar-benar tidak percaya Tuhan?

paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena

Seorang muslim tidak percaya agama Kristen, Hindu, dan agama lain selain Islam. Seorang Kristen tidak percaya semua agama kecuali Kristen.

Kami mirip seperti itu, bedanya adalah kami tidak percaya semua agama. Ini sesuatu mungkin asing bagi masyarakat Indonesia belum pernah mendengar, tetapi kami benar-benar tidak percaya Tuhan. Kami menjalani hidup seperti biasa, dengan mimpi-mimpi dan ambisi, dengan keberhasilan dan kegagalan, sama seperti orang lain. Hanya saja kami tidak menggantungkan pada Tuhan melainkan pada harapan, pembelajaran, introspeksi diri, pada berbagai hal manusiawi kami bisa pelajari.

Atau ateis itu sekadar tidak percaya Tuhan versi agama dan keyakinan selama ini? Jadinya ateis itu punya Tuhan dalam wujud lain? Tidak ada, ateis benar-benar tidak percaya Tuhan apapun yang berwujud. Ateis bukan selalu didasarkan pada kekecewaan atas agama tertentu. Ada yang didasarkan pada pembelajaran pribadi, bahkan ada yang dari kecil memang tidak menerima pelajaran agama. Saya termasuk yang melalui pembelajaran dan pergumulan pribadi cukup panjang.

Anda yakin tidak pernah ingat Tuhan atau menyebut nama Tuhan sejak menjadi ateis? Tidak, saya rasa sikap bergantung pada Tuhan ini terutama adalah kebiasaan. Banyak dari kita sejak kecil terdidik secara agama tentu terbiasa dengan hal itu. Tetapi kebiasaan juga bisa berubah, begitu pula kepercayaan. Pernahkah Anda hampir mati? Kalau belum, kepada siapa minta tolong waktu hampir mati?

Saya belum pernah mengalami pengalaman hampir mati, tetapi saya pernah mengalami kecelakaan dan saat-saat di mana saya merasa terancam secara fisik (kecelakaan lalu lintas pada saat saya ada di Indonesia, tidak ada kaitan dgn ateisme saya). Saya hanya terpikir meminta tolong pada orang bisa dimintai tolong dan pada saat ada orang lain bermurah hati menolong saya berterima kasih atau bersyukur pada orang itu. Saya paham ini sesuatu yang asing atau terlihat aneh bagi banyak orang, tetapi memang akan selalu terasa asing pada hal-hal orang belum pernah kenal.

Tak kenal maka tak sayang. Kami berusaha sebaik-baiknya mengenalkan diri kami sebenarnya dan berharap mendapat sayang dari masyarakat Indonesia meski kami berbeda. Biodata Nama: Karl Karnadi Umur: 29 tahun Pendidikan: Kuliah S2 ilmu komputer Pekerjaan: Periset paruh waktu Pendiri Indonesian Atheists Administratur Anda Bertanya Ateis Menjawab. Tempat Paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena Jerman sejak 2006 [fas] 1 Kisah Kehidupan Seks Tentara Belanda di Indonesia 2 6 Potret Terbaru Aisyahrani Hamil Anak Ketiga, Penampilannya Mencuri Perhatian 3 Tak Terima Rekayasa Lalu Lintas, Pengguna Mobil Mewah Ini Berkata Kasar Kepada Polisi 4 6 Gaya Lucu Rayyanza Anak Raffi Ahmad & Nagita Liburan di Bali, Bikin Gemas 5 Misteri Penembak Arief Rahman Hakim: Pengawal Presiden atau Polisi Militer Jakarta?

Selengkapnya Ulasan Lengkap 1. Menurut buku “ Ensiklopedi Umum” yang ditulis mantan Dekan Fakultas Hukum Universitas Airlangga Prof. Abdul Gafar Pringgodigdo (hlm. 102), Ateisme atau biasa disebut juga Atheisme berasal dari bahasa Yunani. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa A berarti tidak ada, dan theos berarti Tuhan. Ateisme ini diartikan sebagai ajaran yang meyakini bahwa tidak ada wujud gaib ( supernatural). Sehingga, seorang ateis tidak mengakui adanya Tuhan.

Di Indonesia, Pancasila sebagai landasan ideologis negara pada sila pertama telah menentukan bahwa Negara Indonesia adalah berlandaskan pada Ketuhanan Yang Maha Esa. Selanjutnya, dalam b utir pertama sila pertama Pancasila dinyatakan: Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena

Artinya, memang secara ideologi, setiap warga negara Indonesia percaya dan takwa kepada Tuhan YME dan memeluk suatu agama. Namun, pada praktiknya memang ditemui adanya warga negara Indonesia yang tidak mempercayai atau memeluk suatu agama tertentu (ateis). Dan memang belum ada satu peraturan perundang-undangan yang secara tegas melarang dan menentukan sanksi bagi seseorang yang menganut ateisme. Akan tetapi, dengan seseorang menganut ateisme, akan memberikan dampak pada hak-hak orang tersebut di mata hukum.

Misalnya, kesulitan dalam pengurusan dokumen-dokumen kependudukan seperti Kartu Tanda Penduduk ataupun Kartu Keluarga yang mengharuskan adanya pencantuman agama (lihat Pasal 61 dan 64 UU No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan). Meskipun ada juga seorang ateis yang kemudian tetap mencantumkan agama tertentu dalam dokumen kependudukannya, hanya untuk memenuhi persyaratan administratif.

Juga ketika seseorang hendak melangsungkan perkawinan, perkawinan hanya sah bila dilakukan menurut hukum dari masing-masing agama yang dianutnya (lihat Pasal 2 UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinandan penjelasannya). Lebih jauh simak artikel Bagaimana Menikah Jika Calon Suami Tak Punya Agama? Jadi, secara hukum, tidak ada peraturan perundang-undangan yang secara tegas melarang seseorang menganut paham ateisme. Di sisi lain, konsekuensi hukum dari paham ateisme yang dianutnya, orang yang bersangkutan boleh jadi tidak dapat menikmati hak-hak yang pada umumnya bisa dinikmati mereka yang menganut agama tertentu di Indonesia.

2. Seorang ateis dilarang menyebarkan ateisme di Indonesia. Penyebar ajaran ateisme dapat dikenai sanksi pidana Pasal 156a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”) yang menyebutkan: “ Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia; b.

dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa .” Salah satu kasus dugaan penyebaran paham ateisme yang tercatat adalah seperti yang dilakukan seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Dharmasraya, Alexander Aan (30). sebagaimana kami kutip dari laman resmi Komnas HAM, Alexander ditahan atas tuduhan penistaan agama ( Pasal 156 KUHP).

Sebelumnya, Alexander mengaku sebagai ateis dalam sebuah akun Facebook yang diberi nama “Atheis Minang”, dan akun tersebut ternyata meresahkan masyarakat. Kapolres Dharmasraya, Komisaris Besar Polisi Chairul Aziz mengatakan bahwa setelah menginterogasi Alexander, dia tidak melakukan pelanggaran apapun dengan Alexander menjadi ateis. 3. Menurut Ensiklopedi Umum (hlm. 22), “ agnostisisme merupakan bentuk skeptisisme yang berpendapat bahwa akal budi tidak dapat melebihi pengalaman dan bahwa karena itu ilmu metafisika tidak mempunyai bukti yang nyata.

Kant, seorang agnostisisme berpendapat, bahwa kepercayaan akan ke-Tuhanan hanya berdasarkan kepercayaan. Istilah itu kerap kali dipakai berkenaan dengan keragu-raguan tentang adanya Tuhan dan adanya kemungkinan hal yang kekal.

Sikap aliran agnostisisme menentang definisi yang mewujudkan pengetahuan tanpa bukti.” Jadi, penganut agnostisisme pada dasarnya meragukan adanya Tuhan. Berbeda halnya dengan ateis yang benar-benar tidak mempercayai keberadaan Tuhan. Namun terhadap keduanya, baik penganut ateisme maupun penganut agnostisisme, pada akhirnya untuk dapat menikmati semua haknya sebagai warga negara harus menundukkan diri pada suatu agama atau kepercayaan yang diakui di Indonesia. Meskipun, pada praktiknya penundukkan diri tersebut hanyalah sebagai penyelundupan hukum yaitu para penganut ateisme atau agnostisisme tidak benar-benar menganut agama atau kepercayaan yang dicantumkan dalam identitas kewarganegaraannya (Kartu Tanda Penduduk, Kartu Keluarga, dll.).

Sekian jawaban dari kami, semoga membantu. Dasar hukum: 1. Undang-Undang Dasar Tahun 1945; 2. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ( Wetboek Van Strafrecht, Staatsblad 1915 No. 732); 3.

paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena

Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan; 4. Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan .
• Albanian Shqip • Amharic አማርኛ • Arabic العربية • Bengali বাংলা • Bosnian B/H/S • Bulgarian Български • Chinese (Simplified) 简 • Chinese (Traditional) 繁 • Croatian Hrvatski • Dari دری • English English • French Français • German Deutsch • Greek Ελληνικά • Hausa Hausa • Hindi हिन्दी • Indonesian Indonesia • Kiswahili Kiswahili • Macedonian Македонски • Pashto پښتو • Persian فارسی • Polish Polski • Portuguese Português para África • Portuguese Português do Brasil • Romanian Română • Russian Русский • Serbian Српски/Srpski • Spanish Español • Turkish Türkçe • Ukrainian Українська • Urdu اردو Di Indonesia menjadi ateis tampaknya belum bisa menjadi pilihan hidup yang dinyatakan secara terbuka karena masyarakat yang sangat agamis.

Apalagi jika RUU KUHP yang mempidanakan agnostik dan ateisme diberlakukan. Padahal memilih untuk tidak beragama sejatinya adalah hak asasi manusia. Beragama karena warisan keluarga adalah tipikal orang Indonesia yang dikenal sebagai masyarakat yang sangat religius. Seluruh kehidupan sebagai seorang warga negara di Indonesia tak jauh dari urusan agama. Ritual agama melingkupi kehidupan masyarakat di Indonesia mulai dari melek bangun tidur hingga merem mau tidur lagi.

Bahkan novel jadul Atheis karya Achdiat Karta Mihardja yang dinilai sebagai salah satu karya sastra penting dan penulisnya mendapat Hadiah Tahunan Pemerintah Republik Indonesia tahun 1969 di ujung kisah mengangkat penyesalan seorang ateis yang meninggalkan agama. Seiring dengan makin luasnya wawasan seseorang, memeluk agama bukan berarti menerima apa adanya atau percaya begitu saja.

Peristiwa tertentu, pengalaman hidup atau pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban bisa menjadi pemicu bangkitnya kesadaran yang mempertanyakan eksistensi Tuhan. Paling tidak, itulah yang terjadi pada Stefen Jhon. "Tahun 1999 ketika Ambon dilanda konflik horizontal yang berkepanjangan, saya mulai mempertanyakan tentang Tuhan.

Ketika itu saya begitu khusyuk berdoa Novena agar kampung dan rumah saya dijauhi perusuh sampai akhirnya diserang oleh pihak lawan. Kami terpukul mundur, di situlah saya berpikir, apa Tuhan punya maksud lain? Apa gunanya kami berperang membela agama?

Selemah inikah Tuhan yang saya sembah? Saya jadi skeptis, sangat skeptis. Saya mulai mencari literatur dan saya tahu semua tentang Tuhan dan gereja namun saya membunuh satu persatu keimanan saya terhadap Tuhan.” Setelah pergumulan batin selama enam tahun, tahun 2005 Stefen Jhon memilih menjadi ateis.

Keributan tak dapat dihindari di rumah karena ia menolak ke gereja. Namun ia tidak mengajarkan anak-anak untuk menjadi ateis seperti dirinya. Justru ia senang melihat keluarganya kelihatan bahagia menjalankan ritual agama. Penulis: Monique Rijkers Ada Wadah Komunitas Ateis Di Indonesia, Stefen Jhon tidak sendiri.

Mereka yang menggugat keimanan bergabung dalam komunitas-komunitas free-thinker, agnostik (tidak mempercayai agama) dan ateis (tidak mempercayai Tuhan) yang berada di media sosial atau grup-grup WhatsApp. Di dunia maya ada saja orang yang mulai mempertanyakan kebenaran agama dan kepercayaan yang mereka anut.

Makin banyak yang kritis pada konsep tentang Tuhan dan merasa agama tidak memberikan informasi yang memadai untuk diterima secara intelektual. Karl Karnadi, pendiri dan moderator komunitas ateis di Indonesia dengan nama Indonesian Atheists sejak tahun 2008 ketika ditanya data ateis terakhir mengaku ada 1500-an anggota. "Tujuan utama bukan untuk mengumpulkan ateis di Indonesia tetapi memberikan tempat yang aman dan nyaman bagi ateis dan kaum minoritas di Indonesia yang didiskriminasi dan jarang bisa terbuka di lingkungan nyata.

Karena itu paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena diterima menjadi anggota Indonesian Atheists adalah mereka yang bertujuan sama.

Selain komunitas Indonesian Atheists, ada pula grup Facebook dengan nama "Anda Bertanya Ateis Menjawab” dengan jumlah anggota 60 ribu orang yang menampung beragam pertanyaan seputar ateis dan menjadi wadah untuk mengenal para ateis yang sama seperti manusia biasa seperti warga negara Indonesia lainnya. Menjadi Ateis Tidak Bisa Dihukum Tetapi bisa dibilang mereka yang benar-benar ateis dan keluar dari agama sepenuhnya serta berani mengakui di dunia nyata, terbuka di depan keluarga, rekan kerja dan pergaulan sosial belum banyak.

Sejumlah ateis yang saya kontak untuk mencari tahu testimoni merekaterkait agama dan Tuhan enggan memberikan foto dan menolak publikasi. Alasan yang diberikan bermacam-macam, "Orangtua saya dan anak-anak saya bisa dikecam”, "Saya punya pekerjaan” atau alasan diplomatis seperti "Saya belum tepat sebagai narasumber” dan "Ini ranah pribadi”. Beberapa orang mengaku masih melakukan ritual agama sebagai kegiatan sosial bukan spiritual karena memang tidak lagi percaya adanya Tuhan.

Keengganan para ateis di Indonesia mengungkap identitas diri mereka, sangat saya maklumi karena dipengaruhi kondisi di Indonesia yang kerap emosional atau bahasa gaul masa kini baper (bawa perasaan) dalam urusan agama dan memandang tidak beragama sebagai bentuk penodaan agama sehingga meminggirkan kebebasan berbicara dan berpendapat yang sejatinya merupakan hak setiap orang.

Pengalaman buruk pernah dialami Alexander Aan seorang pegawai negeri sipil di Sumatera Barat pada tahun 2012 yang dipenjara 2,5 tahun karena menulis status "Tuhan itu tidak ada” di Facebook pribadinya. Ateis-nya tidak dihukum tetapi karena menyebarkan pendapat di media elektronik maka Alexander Aan dijerat pasal penodaan agama dalam Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Ateis dianggap menodai agama alih-alih menjadi sebuah pilihan bebas semua orang, hak asasi manusia yang universal dan berlaku termasuk untuk warga negara Indonesia. Padahal Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD pada tahun 2012 menyatakan tidak ada yang bisa menghukum individu ateis atau komunis jika mereka mengakui apa yang dianutnya secara pribadi.

Negara-negara Tak Bertuhan #1. Cina Tradisi Cina tidak mengenal istilah agama dalam prinsipnya yang mengatur hubungan antara manusia dan Tuhan, melainkan ajaran nenek moyang yang terwujud dalam bentuk Taoisme atau Khonghucu.

Sebab itu tidak heran jika dalam jajak pendapat lembaga penelitian Gallup, sekitar 61% penduduk Cina mengaku tidak bertuhan. Sementara 29% mengaku tidak taat beragama. • Negara-negara Tak Bertuhan #2. Hong Kong Sebagian besar penduduk Hongkong menganut kepercayaan tradisional Tionghoa. Sementara lainnya memeluk agama Kristen, Protestan, Taoisme atau Buddha. Namun menurut jajak pendapat Gallup, sekitar 34% penduduk bekas jajahan Inggris itu mengaku tidak percaya kepada Tuhan.

• Negara-negara Tak Bertuhan #3. Jepang Serupa Cina, sebagian besar penduduk Jepang menganut kepercayaan etnis Shinto alias agama para dewa. Dalam hakekatnya Shintoisme tidak mengenal prinsip ketuhanan seperti agama samawi. Sebab itu pula banyak penganut Shinto yang mengaku tidak bertuhan. Gallup menemukan sekitar paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena penduduk Jepang mengklaim dirinya sebagai Atheis.

• Negara-negara Tak Bertuhan #4. Republik Ceko Sekitar 30% penduduk Republik Ceko mengaku tidak bertuhan.

paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena

Sementara jumlah terbesar memilih tidak menjawab perihal agama yang dianut. Faktanya, agama sulit berjejak di negeri di jantung Eropa tersebut. Penganut Katholik dan Protestan misalnya cuma berkisar 12 persen dari total populasi. • Negara-negara Tak Bertuhan #5. Spanyol Katholik mewakili porsi terbesar dari penduduk Spanyol yang beragama. Sementara sisanya tersebar antara Protestan atau Islam.

Uniknya kendati beragama, sebagian besar penduduk Spanyol mengaku tidak taat menjalani ritual keagamaan. Sementara 20% mengaku atheis atau agnostik. Penulis: rzn/yf (gallup, eurobarometer, dll) Melindungi Pilihan Hidup Individu Dalam aturan hukum di Indonesia tidak ada yang spesifik melarang seseorang menjadi ateis tetapi karena dalam Pancasila sebagai dasar negara dimuat "Ketuhanan yang Maha Esa” sebagai sila pertama maka diasumsikan semua warga negara Indonesia akan memilih salah satu agama yang paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena di Indonesia.

Jika sila pertama menjadi rujukan seseorang beragama, idealnya rujukan sila kedua "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” menjadi dasar memperlakukan manusia lain termasuk para ateis yakni secara adil dan beradab. Selain menerapkan sila pertama Pancasila sebagai standar beragama di Indonesia, berbagai aturan administrasi kependudukan tidak jauh-jauh dari identitas agama.

Kewajiban mencatatkan pernikahan yang dilakukan berdasarkan hukum suatu agama mengacu pada Undang-undang Pernikahan No.1 Tahun 1974 sehingga seorang ateis harus memilih salah satu agama untuk menikah dengan orang Indonesia atau meresmikan pernikahannya di Indonesia.

Aturan administrasi kependudukan seperti Kartu Tanda Penduduk (e-KTP) dan Kartu Keluarga masih memberlakukan pengisian kolom agama. Sejak tahun 2016 untuk penganut kepercayaan di luar enam agama yang diakui pemerintah pada kolom agama dapat ditulis "Penghayat Kepercayaan” atau dikosongkan. Pilihan bagi pemeluk kepercayaan lokal ini logikanya bisa menjadi pilihan bagi para ateis di Indonesia guna menyiasati kewajiban memilih salah satu agama yakni dengan cara mengosongkan kolom agama. Namun opsi ini tidak banyak dipilih para ateis guna menghindari keruwetan prosedur administrasi kependudukan yang dampaknya menyasar urusan pendidikan dan pekerjaan walau secara hukum Mahkamah Konstitusi menyakini kata "agama” dalam Pasal 61 dan 64 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan tidak memiliki ketentuan hukum mengikat secara bersyarat.

Meski tidak dilarang menjadi ateis di Indonesia namun seorang ateis dilarang menyebarkan ajaran ateis di Indonesia. Sejauh ini tidak ada yang menyebarkan ateisme dan agnostik melalui organisasi secara resmi. Kecemasan terbesar saya adalah hilangnya kebebasan bersuara para ateis dan agnostik jika Rancangan Undang-Undang KUHP yang memuat pasal tindak pidana terhadap agama ditetapkan sebagai undang-undang sebab orang yang mengajak tidak menganut agama (agnostik) bisa dipidana dengan pidana penjara.

Idealnya KUHP melindungi pengakuan secara terbuka seorang ateis dan agnostik dan tidak membuat seseorang dipenjara karena tidak mengakui adanya Tuhan dan/atau tidak beragama karena itulah pilihan hidup seseorang yang merupakan hak asasi manusia yang dimiliki setiap orang.

Bahkan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pasal 18 menyatakan setiap orang berhak berganti agama atau kepercayaan. Saya mengasumsikan pasal itu mencakup melindungi mereka yang berganti agama menjadi tidak beragama.

@monique_rijkers adalah wartawan independen, IVLP Alumni, pendiri Hadassah of Indonesia, inisiator Tolerance Film Festival dan inisiator #IAMBRAVEINDONESIA. *Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis *Bagi komentar Anda dalam kolom di bawah ini. • BERANDA • Indonesia • Jerman • Dunia • Iptek • Sosbud • DWNESIA • ECOFRONTLINES • • Topik dari A sampai Z • MEDIA CENTER • Live TV • Semua konten media • ABOUT DW • DW AKADEMIE • BAHASA JERMAN • Kursus B.

Jerman • Deutsch XXL • Community D • Deutsch unterrichten • EXPLORE DW • Mobile • RSS © 2022 Deutsche Welle - Kebijakan Privasi - Pernyataan Aksesibilitas - Imprint - Kontak - Versi Mobile
Merdeka.com - Perdebatan mengenai agama dan ketuhanan seolah tak ada habisnya. Berdampingan dengan ragam agama yang ada di dunia terdapat paham yang disebut dengan agnostik dan ateis.

Saat sedang membaca atau berbincang dan mendapati kata "agnostik" atau "ateisme", Anda mungkin bertanya-tanya dalam hati tentang apa pengertian dan perbedaan dari kedua kata tersebut. Istilah-istilah ini sering salah digabungkan atau diperlakukan sebagai sinonim. Faktanya, kedua hal ini sebenarnya menunjukkan pandangan dunia atau sistem pemahaman yang berbeda, dan tidak boleh disalahartikan.

Bahkan, bagi orang yang tidak religius atau tidak mengikuti kepercayaan tradisional, mereka masih suka memberi label pada diri mereka sendiri. Hal itu adalah bagian dari sifat manusia. Manusia senang melabeli dirinya untuk segala sesuatu, seperti contoh, "saya vegan", "saya orang blasteran", dan lain sebagainya. Terdapat dua label yang sering digunakan orang secara bergantian untuk menggambarkan apa yang mereka yakini atau tidak yakini, yaitu "ateisme" dan "agnostisisme".

Namun, menggunakannya secara bergantian adalah salah. Jika Anda tidak mengikuti agama tradisional, atau jika Anda kesulitan mengidentifikasi apa yang sedang Anda yakini, akan lebih baik dan bijaksana untuk mempelajari dulu arti sebenarnya dari masing-masing istilah ini.

Setelah itu, barulah pilih salah satunya untuk disematkan pada diri. BACA JUGA: Lahir di Keluarga Multi Agama, 4 Seleb Ini Mengenal Toleransi Sejak Kecil Buang Sikap Saling Memusuhi Dapat Merusak Perdamaian Bangsa Dalam artikel berikut, perbedaan-perbedaan ini akan dibahas lebih rinci, berfungsi untuk mendidik pembaca dan memperjelas konsep mengenai pengertian dan perbedaan agnostik serta ateis. Mengenal Apa Itu Agnostik Melansir dari Stanford Encyclopedia of Philosophy, istilah "agnostik" dan "agnostisisme" diciptakan pada akhir abad kesembilan belas oleh ahli biologi Inggris, T.H.

Huxley. Huxley mengatakan bahwa dia menemukan kata "Agnostik" untuk menunjukkan orang-orang yang, seperti [dirinya], mengaku sangat tidak peduli tentang berbagai hal, yang di dalamnya para ahli metafisika dan teolog, baik ortodoks maupun heterodoks, melakukan dogmatisasi dengan sangat yakin termasuk tentang keberadaan Tuhan. Namun, Huxley tidak mendefinisikan "agnostisisme" hanya sebagai keadaan agnostik.

Sebaliknya, dia sering menggunakan istilah itu untuk merujuk pada prinsip epistemologis normatif, sesuatu yang mirip dengan apa yang sekarang disebut sebagai "pembuktian". Secara kasar, prinsip Huxley mengatakan bahwa adalah hal yang salah untuk mengatakan bahwa seseorang mengetahui atau percaya bahwa suatu proposisi adalah benar tanpa bukti yang memuaskan secara logis (Huxley 1884 dan 1889).

BACA JUGA: Aksi Jemaat Gereja GPIB Effatha Bagi-Bagi Takjil Gratis ke Pengendara Berani Berubah: Merangkul Warga dalam Buka Puasa Bersama di Wihara Tetapi, penerapan prinsip ini oleh Huxley pada kepercayaan teistik dan ateistik-lah yang pada akhirnya memiliki pengaruh terbesar pada arti istilah tersebut.

Dia berargumen bahwa, karena tidak satu pun dari kepercayaan tersebut yang cukup didukung oleh bukti, manusia harus menangguhkan penilaian tentang masalah apakah Tuhan itu ada atau tidak.

Secara terminologi agnostik adalah orang yang memiliki pandangan bahwa ada atau tidaknya Tuhan adalah hal yang tidak dapat diketahui. Agnostisisme tidak menyangkal keberadaan Tuhan secara mutlak.

Mereka beranggapan bahwa keberadaan Tuhan adalah sesuatu yang tidak mungkin dapat dinalar oleh akal manusia, dan konsekuensinya adalah keberadaan Tuhan tidak dapat diketahui dengan cara apapun. Mengenal Apa Itu Ateis Ateisme biasanya didefinisikan dalam istilah "teisme". Teisme paling baik dipahami sebagai proposisi atau sesuatu yang benar atau salah. Istilah ini sering didefinisikan sebagai keyakinan bahwa Tuhan itu ada, di mana "keyakinan" yang dimaksud di sini berarti "sesuatu yang dipercaya".

Hal ini mengacu pada isi proposisional dari keyakinan, bukan pada sikap atau keadaan psikologis dari percaya. Namun, jika "ateisme" didefinisikan dalam istilah teisme dan teisme adalah paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena bahwa Tuhan itu ada dan bukan kondisi psikologis untuk percaya bahwa ada Tuhan, maka ateisme bukanlah ketiadaan kondisi psikologis untuk percaya bahwa Tuhan itu ada.

BACA JUGA: Perkuat Toleransi Antar-Umat buat Putus Mata Rantai Kebencian Sholat Tarawih Terlama di RI Ada di Tempat ini, Mulai Jam 7 Malam Selesai Jam 3 Pagi "A-" dalam "ateisme" harus dipahami sebagai negasi, bukan ketiadaan, sebagai "tidak", bukan "tanpa".

Oleh karena itu, setidaknya dalam paham atheis yang mengingkari adanya tuhan tidak boleh ada di indonesia karena, ateisme harus ditafsirkan sebagai proposisi bahwa Tuhan tidak ada (atau, lebih luas lagi, proposisi bahwa tidak ada tuhan).

Definisi ini memiliki tambahan keutamaan yaitu menjadikan ateisme sebagai jawaban langsung untuk salah satu pertanyaan metafisik terpenting dalam filsafat agama, yaitu, "Adakah Tuhan?". Hanya ada dua kemungkinan jawaban langsung untuk pertanyaan ini, yaitu "ya", yang merupakan teisme, dan "tidak", yang merupakan ateisme.

Jawaban seperti "Saya tidak tahu", "tidak ada yang tahu", "Saya tidak peduli", "jawaban afirmatif tidak pernah dibuat", atau "pertanyaan ini tidak ada artinya" bukanlah jawaban langsung untuk pertanyaan ini. Atheisme mendefinisikan secara luas bahwasanya kepercayaan adanya tuhan maupun dewa adalah tidak nyata.

Ateis dan teis lebih berimplikasi pada sikap dan tindakan. Atheisme adalah paham yang menyangkal sama sekali keberadaan Tuhan karena tidak dapt dibuktikan secara empiris ataupun logis akan keberadaan-Nya. Perbedaan Agnostik dan Ateis Setelah mengetahui definisi dari masing-masing istilah, kini saatnya membuat kesimpulan mengenai perbedaan agnostik dan ateis.

Disebutkan sebelumnya bahwa agnostik adalah pandangan atau kepercayaan mengenai ketidaktahuan akan keberadaan Tuhan. Ada atau tidaknya Tuhan merupakan sesuatu yang tidak bisa diketahui.

Kaum agnostik lebih percaya bahwa ada kekuatan lain yang lebih besar dari Tuhan dan dapat dibuktikan secara ilmiah, yaitu alam semesta. Sementara itu, ateis lebih mengacu kepada tindakan dari pandangan yang dilontarkan oleh agnostisisme. Kaum ateis sendiri terbagi atas dua, yakni ateis gnostik dan ateis agnostik. Ateis gnostik tidak memercayai Tuhan dan bisa membuktikan pandangan ini.

Ateis agnostik, di satu sisi, adalah golongan orang yang tidak percaya akan adanya uhan namun tidak dapat membuktikannya. Untuk itu, jelaslah sudah apa perbedaan dari kedua istilah ini. Secara singkat, agnostik adalah pandangan yang percaya akan adanya Tuhan jika mereka dapat membuktikannya secara ilmiah, sedangkan ateis adalah pandangan yang tidak percaya akan adanya Tuhan dan menolak keberadaan Tuhan.

Karena bagi kaum ateis, keberadaan manusia dan alam semesta adalah suatu proses alamiah yang terjadi dalam waktu yang sangat panjang. 1 Kisah Kehidupan Seks Tentara Belanda di Indonesia 2 6 Gaya Lucu Rayyanza Anak Raffi Ahmad & Nagita Liburan di Bali, Bikin Gemas 3 Viral Video Kuda Penarik Delman Terjatuh di Tengah Jalan, Warganet Meradang 4 Ultah ke-43, Ini 5 Potret Terbaru Sara Wijayanto Disebut Awet Muda Bak Gadis 5 Potret Cantik Alyssa Soebandono Makin Kurus, Netizen Sebut Bak Anak SMA Selengkapnya

Ngaji Filsafat 78 : Argumen Logis Adanya Tuhan




2022 www.videocon.com