Anak pendeta saifudin ibrahim

anak pendeta saifudin ibrahim

• 9 Mei 2022 • Pencarian • • Networks • Beritaradar.com • Radar Cirebon Televisi • Rakyat Cirebon • Radar Indramayu • Radar Kuningan • Radar Majalengka • RC Caruban Nagari • RC Timur • RC Metropolis • RC Politik • RC Berita Utama • RC Puserbumi • RC Kota Wali • RC Kota Kuda • RC Kota Angin • RC Kota Mangga • RC Panturaxfile • RC Joglosemar • RC Selebritis • RC Piknik Yuk • RC Zetizen • RC Sportainment • RC Bola • RC Anak pendeta saifudin ibrahim Gowes • RC Insiden 24 Jam • • RSS Radarcirebon.com, PUTRA kedua Pendeta Saifuddin Ibrahim, Saddam Husein, bercerita moment saat dirinya pertama kali melihat ayahnya pindah agama menjadi murtad.

Saat itu tahun 2006 dan Saddam Husein masih duduk di kelas 6 SD. Sebuah video yang dirilis oleh Dawa Video pada 8 Januari 2015 pada Youtube, mendokumentasikan perasaan Saddam Husein ketika tahu ayahnya keluar dari Islam.

anak pendeta saifudin ibrahim

Padahal, Saddam Husein juga tahu bahwa sebelum murtad ayahnya pernah menjadi seorag ustadz. Ayahnya merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta, lalu menjadi pengurus Pondok Pesantren Al-Zaytun di Indramayu.

Dalam video tersebut, Saddam Husein, putera kedua dari Saifuddin juga menceritakan bahwa kemurtadan ayahnya tidak secara langsung diketahui kedua saudaranya dan ibunya. Saddam Husein merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, hasil pernikahan Saifuddin Ibrahim denga Nurhayati.

anak pendeta saifudin ibrahim

Saddam Husen bercerita, ayahnya merasakan kekecewaan berat terhadap Pondok Pesantren Al-Zaytun. Keluarganya kemudian diboyong keluar dari Al-Zaytun Indramayu, meski tak langsung tinggal serumah dengan semua keluarganya.

anak pendeta saifudin ibrahim

Pada masa itulah, Saddam satu-satunya anak yang dibawa anak pendeta saifudin ibrahim Jakarta oleh Saifuddin Ibrahim dan kemudian mengetahui kemurtadan ayahnya. Kata Saddam Husein, ayahnya mengunjungi beberapa “teman” Saifuddin, yang belakangan diketahui di antaranya pemimpin Ziokindo (Zionis Kristen Indonesia) yakni Edi Sapto. Di saat kunjungan tersebut, didapati oleh Saddam Husein bahwa Saifuddin telah berdoa layaknya seorang Kristiani, begitu khusyuk, dan mengimani Yesus sebagai juru selamat. Merasa terpukul dengan kemurtadan Saifuddin, Saddam yang masih kelas 6 SD ketika itu (2006) tak dapat menghentikan air matanya.

Saddam Husein tak habis pikir, ayahnya yang seorang ustadz dapat begitu mudah menjadi kafir. Setibanya di rumah, Saddam tak mampu mengutarakan langsung apa yang ia ketahui tentang ayahnya kepada Ibu dan kedua saudaranya, karena tinggal di tempat yang berbeda. Namun, tak lama kemudian Saifuddin memboyong semua keluarganya ke Jakarta dan mulai mendakwahkan Injil kepada dua saudaranya yang lain, yakni Reza Fikri (anak pertama) dan Muammar Khadafi (anak ketiga).

Muammar yang masih polos ketika itu menganggap ayahnya masih seorang ustadz yang sedang mengajarkan tentang apa itu agama Kristen, maka tidak ada yang curiga, termasuk isteri Saifuddin, Nurhayati.

Mereka diberikan masing-masing sebuah Al-kitab dan diawali dengan memahamkan tugas orang tua dalam Amsal, kemudian disusul dengan Mathius. Mulanya semua berjalan seperti sebuah ta’lim biasa.

anak pendeta saifudin ibrahim

Namun Saddam Husen tak dapat menahan perasaannya melihat upaya pemurtadan terjadi di rumahnya. Saddam Husein akhirnya membongkar kemurtadan Saefuddin kepada ibu dan kedua saudaranya. Seketika itu mereka menjadi sedih, terutama sang istri Nurhayati. Bahkan, dengan memanfaatkan posisinya sebagai imam rumahtangga, Saefuddin membaptis isterinya. Istrinya tak mampu melawan, walaupun di dalam hati Nurhayati menolak sejadi-jadinya.

Seiring semakin kerasnya upaya Saifuddin dalam mengkristenkan keluarganya, Nurhayati berupaya menyelamatkan putra-putranya. Nurhayati kabur membawa ketiga putranya ke Jepara, menghindari pemurtadan yang dilakukan suaminya sendiri. Nurhayati kembali kepada Allah SWT.

Dan ketiga anak dari Saifuddin Ibrahim kini masih menjadi Muslim, dan mereka meminta ayahnya untuk kembali ke Islam. (ing) Moslemcommunity.net - Semoga Allah SWT. menjaga putra2 dari bpk saifudin ini, walaupun ayahnya murtad tetapi anak2nya menunjukkan keimanannya yg teguh dan diberikan kecerdasan oleh Allah swt. Tak ada anak sholih yang ridho orang tuanya murtad, begitupula yang dirasakan tiga putra sholih dari Pendeta Saifudin Ibrahim yang dahulu seorang ustadz besar di Pondok Pesantren Al-Zaytun, Indramayu.

Maka dengan dimediasi oleh Ustadz Insan L.S. Mokoginta, seorang kristolog, ketiganya menggugat ayah mereka untuk kembali kepada Islam, sebagaimana didokumentasikan pada video yang dirilis oleh Anak pendeta saifudin ibrahim Video pada 8 Januari 2015 pada Youtube.

Saifuddin Ibrahim adalah seorang murtadin alias seseorang yang keluar dari Islam. Sebelum murtad dia pernah menjadi seorag ustadz. Dahulu dia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta, lalu menjadi pengurus Pondok Pesantren Al-Zaytun di Indramayu. Setelah murtad dia menjadi seorang pendeta. Di berbagai kesempatan Saifuddin Ibrahim tak bosan-bosan menghina Islam dan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.

Salah satu pernyataan buruk dari Saefuddin adalah mengatakan bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam memimpin 27 peperangan untuk menyebarkan Islam, sementara Yesus tidak menggenggam sebilah belati pun untuk mengajarkan kristen kepada murid-muridnya. Hal tersebut terus diluruskan oleh Ustadz Insan L.S. Mokoginta dalam berbagai kesempatan dengan ayat Qur’an dan membandingkannya dengan Injil (lihat video di bawah). Dalam video tersebut, Saddam Husein, putera kedua dari Saifuddin juga menceritakan bahwa kemurtadan ayahnya tidak secara langsung diketahui kedua saudaranya dan ibunya.

Namun, pasca Saifuddin merasakan kekecewaan berat terhadap Pondok Pesantren Al-Zaytun, mereka kemudian diboyong keluar dari sana, meski tak langsung serumah. Pada masa itulah Saddam, satu-satunya anak yang dibawa ke Jakarta oleh Saifuddin mengetahui kemurtadan ayahnya dalam sebuah perjalanan ketika ia dan ayahnya mengunjungi beberapa “teman” Saifuddin, yang ternyata di antaranya merupakan pemimpin Ziokindo (Zionis Kristen Indonesia) yakni Edi Sapto.

Di saat kunjungan tersebut, didapati oleh Saddam bahwa Saifuddin telah berdoa layaknya seorang kristiani dengan mengimani Yesus sebagai juru selamat dengan begitu khusyuk. Merasa terpukul dengan kemurtadan Saifuddin, Saddam yang masih kelas 6 SD ketika itu (2006) tak dapat menghentikan air matanya. Ia tak habis pikir, ayahnya yang seorang ustadz dapat begitu mudah menjadi kafir.

Setibanya di rumah, Saddam tak mampu mengutarakan langsung apa yang ia ketahui tentang ayahnya kepada Ibu dan kedua saudaranya yang nun jauh disana. Namun, ternyata tak lama kemudian Saifuddin memboyong keluarganya ke Jakarta dan mulai mendakwahkan injil anak pendeta saifudin ibrahim dua saudaranya yang lain, yakni Reza Fikri (anak pertama) dan Muammar Khadafi (anak ketiga).

Muammar yang masih polos ketika itu menganggap ayahnya yang dianggapnya masih ustadz sedang mengajarkan tentang apa itu agama kristen, maka tidak ada yang curiga, termasuk isteri Saifuddin, Nurhayati. Mereka diberikan masing-masing sebuah al-kitab dan diawali dengan memahamkan tugas orang tua dalam Amsal, kemudian disusul dengan Mathius. Semua berjalan seperti sebuah ta’lim biasa. Tak dapat menahan perasaannya melihat upaya pemurtadan terjadi di rumahnya, Saddam membongkar kemurtadan Saefuddin kepada ibu dan kedua saudaranya.

anak pendeta saifudin ibrahim

Seketika mereka menjadi sedih, terutama Nurhayati. Sayang sekali, dengan memanfaatkan posisinya sebagai imam rumahtangga, Saefuddin membaptis isterinya. Sementara, di dalam hati Nurhayati menolak sejadi-jadinya. Seiring semakin kerasnya upaya Saifuddin dalam mengkristenkan keluarganya, Nurhayati berupaya menyelamatkan putra-putranya.

Ia kabur membawa ketiga putranya ke Jepara, menghindari pemurtadan yang dilakukan suaminya sendiri. Qodarullah, dalam keadaan iman dan Islam, Nurhayati kembali kepada Allah subhanahu wata’ala. Subhanallah, akhirnya ketiga anak dari Saifuddin Ibrahim kini masih menjadi Muslim, dan mereka meminta ayahnya untuk kembali ke Islam.

Satu yang istimewa dari ketiga putra sholih ini adalah, mereka ingin menyelamatkan ayahnya dari siksa api neraka yang mengancam murtadin, sebagaimana yang ibu mereka amanahkan sebelum wafat.

Maasyaa Allah, semoga iman dan Islam terus menyertai kalian hingga berkumpul kembali bersama ibu Nurhayati di Jannah. Berikut videonya: (adibahasan/arrahmah.com) [http://news.moslemcommunity.net]
Maka dengan dimediasi oleh Ustadz Insan L.S. Mokoginta, seorang kristolog, ketiganya menggugat ayah mereka untuk kembali kepada Islam, sebagaimana didokumentasikan pada video yang dirilis oleh Dawa Video pada 8 Januari 2015 pada Youtube. Saifuddin Ibrahim adalah seorang murtadin alias seseorang yang keluar dari Islam.

Hal tersebut terus diluruskan oleh Ustadz Insan L.S. Mokoginta dalam berbagai kesempatan dengan ayat Qur’an dan membandingkannya dengan Injil. Dalam video tersebut, Saddam Husein, putera kedua dari Saifuddin juga menceritakan bahwa kemurtadan ayahnya tidak secara langsung diketahui kedua saudaranya dan ibunya. Namun, pasca Saifuddin merasakan kekecewaan berat terhadap Pondok Pesantren Al-Zaytun, mereka kemudian diboyong keluar dari sana, meski tak langsung serumah.

Pada masa itulah Saddam, satu-satunya anak yang dibawa ke Jakarta oleh Saifuddin mengetahui kemurtadan anak pendeta saifudin ibrahim dalam sebuah perjalanan ketika ia dan ayahnya mengunjungi beberapa “teman” Saifuddin, yang ternyata di antaranya merupakan pemimpin Ziokindo (Zionis Kristen Indonesia) yakni Edi Sapto.

Setibanya di rumah, Saddam tak mampu mengutarakan langsung apa yang ia ketahui tentang ayahnya kepada Ibu dan kedua saudaranya yang nun jauh disana. Namun, ternyata tak lama kemudian Saifuddin memboyong keluarganya ke Jakarta dan mulai mendakwahkan Injil kepada dua saudaranya yang lain, yakni Reza Fikri (anak pertama) dan Muammar Khadafi (anak ketiga). Mereka diberikan masing-masing sebuah al-kitab dan diawali dengan memahamkan tugas orang tua dalam Amsal, kemudian disusul dengan Mathius. Semua berjalan seperti sebuah ta’lim biasa.

Tak dapat menahan perasaannya melihat upaya pemurtadan terjadi di rumahnya, Saddam membongkar kemurtadan Saefuddin kepada ibu dan kedua saudaranya. • Minta Hapus 300 Ayat Alqur'an, Saifuddin Ibrahim ditetapkan Tersangka Penistaan Agama • Saifuddin Ibrahim, Pendeta Mantan Ustaz Ini Sudah Murtadkan 150 Muslim Setiap Bulan, Begini Caranya Satu yang anak pendeta saifudin ibrahim dari ketiga putra sholih ini adalah, mereka ingin menyelamatkan ayahnya dari siksa api neraka yang mengancam murtadin, sebagaimana yang ibu mereka amanahkan sebelum wafat.

[VIDEO] Anak Pendeta Saifuddin Ibrahim: Abi, Bertaubatlah Sebelum Terlambat JAKARTA (voa-islam.com)—Pada 5 Desember 2017 lalu, Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menangkap Abraham Ben Moses alias Ibrahim Saifuddin (52).

Pendeta Ibrahim Saifuddin adalah murtadin yang melakukan serangkaian ujaran kebencian kepada Islam melalui media sosial. Ia juga kerap melakukan pemurtadan kepada umat Islam. Lalu, apa tanggapan pihak keluarga? Sadam Husein, anak kedua Saifuddin Ibrahim mengaku kecewa dengan sepak terjang yang dilakukan ayahnya.

Apalagi sang ayah tak hanya murtad, tapi juga melakukan pemurtadan kepada umat Islam. “Kemurtadan beliau memang sangat disayangkan. Tapi kembali lagi, itu adalah pilihan beliau.

Ketika beliau sudah mengambil konsekuensi ini, maka ini urusan dia. Tetapi kalau kemudian beliau masuk ke urusan kita (umat Islam), maka itu yang jadi persoalan. Kita sudah lihat bukti-bukti nyata di video yang bersebaran menghina Rasulullah. Tulisan juga bersebaran di dunia nya ataupun melalui lisan beliau,” ungkap Sadam ketika ditemui Voa Islam baru-baru ini di Jakarta. Sadam memaparkan bahwa alasan ayahnya murtad karena tidak mampu menjalankan Islam secara kaaffah. Padahal dalam perintahnya setiap muslim harus menjalankan Islam secara kaaffah.

“Alasan murtad pada tahun 2006 karena beliau tidak bisa menjalankan Islam secara kaaffah, menjalankan Islam secara menyeluruh.

Beliau bilang, tidak ada muslim yang bisa menjalankan Islam secara kaaffah. Padadal perintahnya demikian,” jelas Sadam. Padahal, jelas Sadam, penganut Kristen juga banyak melakukan pelanggaran dari apa yang diperintahkan Bibel. (Baca: [VIDEO] Kerap Lakukan Pemurtadan, Murtadin Saifuddin Ibrahim Ditantang Debat Kristolog Masyhud SM) “Ketika menganut sebagai Kristiani, maka ada konsekuensi-konsekuensi menjalankan aturan agamanya.

Tetapi dilihat begitu banyak pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan penganut agama tersebut,” papar Sadam.

anak pendeta saifudin ibrahim

Misalnya dalam Bibel, umat Kristen diperintahkan untuk melakukan sunat atau khitan. Juga diharamkan memakan babi. Bahkan diperintahkan untuk menggunakan hijab.

anak pendeta saifudin ibrahim

“Mengajarkan untuk sunat, mengajarkan untuk tidak memakan babi. Mengajarkan untuk berhijab. Itu ada konsekuensi ketika tidak berhijab akan dicukur rambutnya. Ternyata yang semua disampaikan dalam Bibel itu dilakukan oleh umat Muslim. Pertanyaannya, ketika harus menyampaikan kekaaffahan sebuah ajaran, maka silakan Abi melihat sosok umat Muslim harusnya.

Dan berkaca pada diri sendiri,” kata Sadam. Meski sang ayah telah murtad, namun Sadam beserta keluarga masih sangat berharap sang ayah kembali kepada Islam. “Harapan kami, Abi marilah bukakan hati.

anak pendeta saifudin ibrahim

Bukakan pikiran. Karena wallahu ‘alam, umur tidak ada yang tahu. Maka ketika ada jalan untuk hijrah, jalan untuk bertaubat, maka ambilah,” ujar Sadam. Simak video lengkapnya di Voa Islam TV: *[Syaf/voa-islam.com] Christology lainnya: • [VIDEO] Kerap Lakukan Pemurtadan, Murtadin Saifuddin Ibrahim Ditantang Debat Kristolog Masyhud SM • Kekristenan dan Komunisme di Indonesia (Bagian 2 - Habis) • Kekristenan dan Komunisme di Indonesia (Bagian 1) • Murtadin Penista Islam Fadil Mulya yang Gagal Move On (Bagian 2) • Murtadin Penista Islam Fadil Mulya yang Gagal Move On (Bagian 1) • (Video) Suara Hati Mualaf Merry Sinaga, Rela Tinggalkan Keluarga Demi Pertahankan Iman • [VIDEO] KISAH MUALAF 1: 4 Remaja Perempuan ini Bahagia Setelah Masuk Islam • Mualaf Michael Cummings: Kemenangan Trump adalah Jalanku Menemukan Islam 6 Hari Atasi sakit Fisik, Psikis dan Sihir bersama Abi Khadijah Senin, 09 May 2022 09:35 Jemaah Antusias Hadiri Open House Ustaz Bachtiar Nasir Senin, 09 May 2022 09:25 Sains membuktikan Kita bisa Install Otak Agar Ketagihan Baca Al Quran Senin, 09 May 2022 09:15 11 Tentara Mesir Tewas 5 Terluka Dalam Serangan Pejuang Islamic State Di Semenanjung Sinai Ahad, 08 May 2022 16:00 Anies: Arus Perbaikan vs Arus Penghancuran Ahad, 08 May 2022 06:58 Koalisi Arab Bebaskan 163 Tahanan Syi'ah Houtsi Karena Alasan Kemanusiaan Sabtu, 07 May 2022 21:00 Taliban Perintahkan Wanita Afghanistan Kenakan Burqo Di Depan Umum Sabtu, 07 May 2022 20:45 Mantan Jenderal Militer Israel Serukan Israel Lenyapkan Pemimpin Hamas Yahya Sinwar Sabtu, 07 May 2022 20:15 Ratusan Kasus HIV/AIDS di Bekasi, Buah Busuk Sekulerisme Sabtu, 07 May 2022 10:06 Politisi PKS Desak Kemendikbud Ristek, Tindak Tegas Rektor ITK Budi Santosa Sabtu, 07 May 2022 06:26 Apa Kira-kira Penyebab Rektor ITK Menjadi Anti-Islam?

Jum'at, 06 May 2022 21:23 Musim Umroh Bagi Jemaah Asing Akan Berakhir Pada 31 Mei Jum'at, 06 May 2022 21:15 Intelijen Inggris: Rusia Ingin Rebut Kota Pelabuhan Mariupol Ukraina Sebelum Hari Kemenangan Jum'at, 06 May 2022 21:00 Rusia Klaim Tidak Akan Gunakan Senjata Nuklir Di Ukraina Jum'at, 06 May 2022 20:30 Laporan: Raksasa Media Sosial Gagal Menindak 89 Persen Postingan Kebencian Anti-Muslim Jum'at, 06 May 2022 19:59 Khutbah Jumat: Tanda Sukses Ramadhan Kita Jum'at, 06 May 2022 08:41 Soal Pria Injak Quran, Politisi PKS Sukabumi: Perlu Didalami Motif Perbuatannya Jum'at, 06 May 2022 08:38 Inilah 5 Cara Islam Menjaga Perempuan dari Kejahatan Seksual Jum'at, 06 May 2022 02:55 Kekerasan Seksual Marak, Islam Punya Solusi!

Jum'at, 06 May 2022 02:39 Home - Redaksi - Advertisement - Kirim Naskah - Pedoman Pemberitaan Media Siber Seluruh materi situs voa-islam boleh dicopy, diperbanyak dan disebarluaskan untuk dakwah, dengan syarat mencantumkan sumbernya (voa-islam) KONTAK REDAKSI: redaksi@voa-islam.com Kami menerima dakwah bil qalam, naskah berita, artikel dan opini yang sesuai dengan misi dan visi voa-islam.com akan dipublikasikan non komersial, semoga menjadi amal shalih. Jum'at, 06/05/2022 20:30 Rusia Klaim Tidak Akan Gunakan Senjata Nuklir Di Ukraina • Politisi PKS Desak Kemendikbud Ristek, Tindak Tegas Rektor ITK Budi Santosa • Anies: Arus Perbaikan vs Arus Penghancuran • Ratusan Kasus HIV/AIDS di Bekasi, Buah Busuk Sekulerisme • 11 Tentara Mesir Tewas 5 Terluka Dalam Serangan Pejuang Islamic Anak pendeta saifudin ibrahim Di Semenanjung Sinai
• • Mitra Terkini • Ceperan • Adpoin Pro • NETWORK • Aceh Tamiang • Ambon • Bali • Balikpapan • Bandaaceh • Bandar Lampung • Bandung • Bangka • Banjar • Banjar Baru • Banjarmasin • Banjarnegara • Banyumas • Barru • Batam • Bekasi • Bogor • Bondowoso • Bone • Bontang • Bulukumba • Cilacap • Cirebon • Deli Serdang • Depok • Garut • Gowa • Indramayu • Jakarta • Jayapura • Jember • Jeneponto • Jombang • Kebumen • Kediri • Kendari • Kota Jambi • Kota Tual • Kudus • Kupang • Lampung Barat • Madiun • Magelang • Makassar • Malang • Malili • Mamuju • Manado • Manggarai • Maros • Masamba • Medan • Minahasa Utara • Muna • Nganjuk • Ngawi • Nunukan • Padang • Palangka Raya • Palu • Pamekasan • Pangkep • Parepare • Pekalongan • Pekanbaru • Pinrang • Ponorogo • Pontianak • Rajaampat • Rejang Lebong • Anak pendeta saifudin ibrahim • Samosir • Semarang • Serang • Siantar • Sidoarjo • Sidrap • Simalungun • Singkawang • Sinjai • Solo • Soppeng • Sorong • Sragen • Sukabumi • Sumedang • Surabaya • Takalar • Tangerang • Tangsel • Tarakan • Tasikmalaya • Toba • Toraja Terkini.id, Jakarta – Putra dari Pendeta Saifuddin Ibrahim, Anak pendeta saifudin ibrahim Husain turut memberikan pendapatnya terkait viralnya pernyataan kontroversial yang dikatakan oleh ayahnya.

Saddam Husain mengungkapkan bahwa sikap ayahnya terkesan bodo amat ketika diberitahukan anak pendeta saifudin ibrahim masyarakat Indonesia heboh dengan kalimat-kalimat kontroversialnya. “Beliau kami sampaikan berita-berita heboh di Indonesia, beliau terkesan bodo amat gitu” Ujar Saddam Husain di kanal YouTube tvOneNews, dilihat pada Jumat 25 Maret 2022.

Baca Juga: Sebut Hakim di Indonesia Bodoh, Pendeta Saifuddin: Saya Bukan Warga. Selain mengungkapkan sikap ayahnya yang terkesan bodo amat, Saddam Husain juga menjelaskan bagaimana sebenarnya latar belakang ayahnya.

Saddam menjelaskan bahwa latar belakang ayahnya adalah seorang ustadz di Pesantren Al-Zaitun. Baca Juga: Berulah lagi, Pendeta Saifuddin Ibrahim: Nabi Muhammad Nikah Dengan Cara.

“Jadi Abi memang benar-benar saya konfirmasi bahwasannya dia seorang ustadz, seperti itu di Pesantren di Al-Zaitun dan kebetulan saya kita bertiga saya anak kedua kita semua studi di sana madrasah Ibtidaiyah di Al-Zaitun” Ujar Saddam Husain melanjutkan. “Artinya di sana yah memang beliau adalah ustadznya” Ungap Saddam Husain melanjutkan. Putra kedua dari Pendeta Saifudin Ibrahim ini juga menceritakan asal mula saat ayahnya berpindah agama.

Menurut Saddam, pada tahun 2006 ayahnya resmi berpindah agama dari Islam menjadi Kristen.

anak pendeta saifudin ibrahim

Baca Juga: Berulah lagi, Pendeta Saifuddin Ibrahim: Nabi Muhammad Nikah Dengan Cara. “Di tahun 2006 saat itu Saddam berusia 10 tahun di kelas 6, beliau memutuskan untuk berpindah agama jadi kristen” Ungkap Anak pendeta saifudin ibrahim Husain. Bagi Saddam Husain, dari pihak keluarga merasa terluka dan terpukul atas keputusan ayahnya untuk berpindah agama. “Kami dari keluarga merasa terluka yang pertama, karena memang orang yang dicintai, orang yang dekat, orang yang merawat.

Semoga ucapan saya objektif yah, itu memang apa namanya kami dari keluarga terpukul” Ungkap Saddam Husain melanjutkan. Menurut Saddam Husain, pilihan ayahnya untuk pindah agama adalah hak pribadi ayahnya, tetapi ayahnya tidak punya hak jika mencampuri urusan agama Islam.

“Itu benar-benar keputusan abi, secara hukum di Indonesia itu haknya abi seperti itu. Tetapi ada yang tidak menjadi haknya abi, ketika mencampuri urusan agama yang sebelumnya dipeluk, yaitu agama Islam” Tegas Saddam Husain melanjutkan. Seperti diketahui, Pendeta Saifuddin Ibrahim mendadak viral karena pernyataan kontroversialnya yang meminta Menteri Agama Yaqut Cholil untuk menghapus 300 ayat yang ada di dalam Al-Quran.

anak pendeta saifudin ibrahim

Pendeta Saifuddin Ibrahim menginginkan 300 ayat Al-Quran dihapuskan karena merasa bahwa hal itulah menjadi sumber perilaku radikal dan intoleran dalam kehidupan beragama.
Solopos.com, JAKARTA — Pendeta Saifuddin Ibrahim menjadi perbincangan ramai di dunia maya setelah mengunggah video yang berisi permintaan kepada Menteri Agama untuk menghapus 300 ayat di dalam Alquran karena dinilai menjadi sumber kekerasan.

Siapakah Saifuddin Ibrahim? Berdasarkan penelusuran Solopos.com, Kamis (17/3/2022), Saifuddin Ibrahim adalah seorang muslim yang berpindah keyakinan menjadi pemeluk agama Kristen pada tahun 2006 dan menjadi pendeta. Promosi Pengisi Hutan Lindung Soloraya, Kayu Sonokeling Sasaran Pembalak Liar Sebelum berpindah keyakinan, Pendeta Saifuddin mengaku pernah anak pendeta saifudin ibrahim di Pondok Pesantren Az Zaytun di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Pesantren ini merupakan usaha dari Yayasan Pesantren Indonesia (YPI), yang memulai pembangunannya pada 13 Agustus 1996. Baca Juga: Menag Dipastikan Tak Kenal Saifuddin Peminta 300 Ayat Al-Quran Dihapus Dalam videonya yang viral itu, Saifuddin menyebut pesantren Az Zaytun berpaham terorisme dan banyak pelaku aksi terorisme yang berasal dari pondok pesantren tersebut.

Meskipun menjadi pemeluk Kristen, keluarga Saifuddin tetap memeluk agama Islam. Bahkan sejak 2016 Saifuddin perang terbuka dengan salah satu anaknya, Saddam Husein.

Saddam Husein, anak pendeta Saifuddin Ibrahim (Youtube) “Dan beliau melakukan hal yang tidak terpuji, yaitu adalah menghina agama sebelumnya yaitu adalah Islam. Setelah masuk Kristen di tahun 2006, beliau pindah agama. Tetapi setelah pindah agama, beliau tidak hanya pindah agama saja tetapi mulai menjadi pendeta,” kata Saddam Husein, seperti dikutip Solopos.com dari kanal YouTube Sanihu Munir, Kamis. Saddam Husein pernah menerbitkan sebuah buku yang berjudul Wahai Ayahku Bertaubatlah.

Buku itu dibuatnya sebagai balasan dari buku karangan Saifuddin Ibrahim yang diterbitkan sebelumnya dengan judul Wahai Anakku Bertaubatlah. Baca Juga: Ini Kata Ustaz Yusuf Mansur Soal Pendeta Minta 300 Ayat Alquran Dihapus Menurut Saddam Husein, buku yang ditulis ayahnya itu berisi hasutan yang sangat berbahaya. “Ini buku beliau di halaman 30 isinya semuanya hancur semua. Betapa buku ini melakukan pelecehan yang luar biasa terhadap Islam dan judul buku ini lebih kontroversi,” tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, nama Saifuddin Ibrahim mendadak menjadi perbincangan publik setelah pernyataan kontroversialnya viral di media sosial. Baca Juga: Polisi Tangani Video Viral Pendeta Minta 300 Ayat Alquran DihapusAbraham Ben Moses (lahir 26 Oktober 1965) adalah seorang pendeta asal Indonesia. Ia lahir dari sebuah keluarga Muslim asal Bima dengan nama Saifuddin Ibrahim, ayahnya adalah guru anak pendeta saifudin ibrahim Islam, pamannya adalah pendiri Muhammadiyah di Bima, dan mertuanya tokoh Islam di Jepara.

Lulus dari SMA di Bima, Nusa Tenggara Barat, ia kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta Fakultas Ushuluddin jurusan Perbandingan Agama. Kemudian, ia mengajar di Pesantren Darul Arqom Sawangan, Depok, Jawa Barat. Pada 1999, ia mulai mengajar di Al-Zaytun yang berlokasi Haurgeulis Indramayu, salah satu pesantren besar di Indonesia pimpinan Syaykh AS Panji Gumilang, dan memiliki masjid yang bisa menampung 150.000 jemaah.

[1] Ia masuk ke agama Kristen pada tahun 2006 dan menikahi putri tokoh Jepara serta memiliki tiga [2] atau empat [3] anak. Dua anaknya kuliah di Universitas Muhammadiyah dan satunya lagi di Jakarta. [2] Pada 5 Desember 2017, ia ditangkap atas dakwaan ujaran kebencian [4] dan divonis 4 tahun penjara. [5] Referensi • ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-04-03. Diakses tanggal 2019-04-03.

• ^ a b https://pojoksatu.id/lipsus/2017/12/04/artis-pindah-agama-saifuddin-ibrahim-murtadkan-ribuan-umat-islam/ • ^ https://www.jawaban.com/read/article/id/2018/03/14/91/180314100934/terjerat_kasus_penistaan_agamaini_5_fakta_soal_pendeta_saifuddin_ibrahim • ^ http://www.radarbogor.id/2017/12/08/sempat-gabung-nii-lalu-murtad-dari-ajaran-islam/ • ^ https://metro.tempo.co/read/1086601/pendeta-penghina-nabi-muhammad-saw-divonis-4-tahun-penjara • Halaman ini terakhir diubah pada 18 April 2022, pukul 03.58.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.

anak pendeta saifudin ibrahim

• Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
“Anak Saifuddin dari pernikahan pertama yang bernama Saddam Hessein sempat mengirim pesan kepada ayahnya agar bertaubat,” ujar Rudi kepada GenPI.co, Kamis (24/3). Dia mengatakan, pesan tersebut cukup kuat sebagaimana memperlihatkan pribadi Saifuddin Ibrahim.

Sebab, Saifuddin Ibrahim sempat divonis empat tahun karena kasus penistaan agama. “Jadi, ulah Saifuddin ini sudah kali kedua. Pesan dari anaknya juga menguatkan Saifudin untuk menjadi pendeta yang benar,” katanya. Selain itu, Saifuddin merasa umat Islam pasti akan tersinggung terkait permintaan atau ucapan tersebut.

anak pendeta saifudin ibrahim

Videonya Viral, Ini Sosok Pendeta Saifuddin yang Meminta Menag Hapus 300 Ayat di Al Quran Menurutnya, ucapan Saifuddin jelas akan membuat gaduh masyarakat, terutama umat Islam. “Kegaduhan bisa terjadi karena ucapan Saifudin umat Islam dan Kristen bersitegang.

Namun, umat Anak pendeta saifudin ibrahim yang dibikin gerah terkait polemik tersebut,” ucapnya.(wartaekonomi/fajar/ttg) Surat kabar harian terbesar di Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap & Kebumen) termasuk bagian dari grup Jawa Pos, berkantor pusat di Kota Purwokerto. Harian Radar Banyumas pertama kali terbit tahun 1998. Mulai Anak pendeta saifudin ibrahim 2016 Mulai merambah media online dan menjadi media terbesar dan terpercaya di area Barlingmascakeb.
SuaraSurakarta.id - Pendeta Saifuddin Ibrahim belakangan ini memang kerap membuat gaduh masyarakat Indonesia lewat pernyataan kontroversinya.

Pernyataan-pernyataan kontroversi Saifuddin Ibrahim diantaranya meminta Menteri Agama menghapus 300 ayat Al-Quran, menyebut mantan Presiden Gus Dur sudah tidak salah lagi pasca lengser dan masih banyak lainnya. Atas sederet kontroversinya itu, anak pertama Saifuddin Ibrahim, Murteza Muhammad Fikri buka suara. Melalui sebuah unggahan video di akun TikTok @hamba_tuhan_2_, ia meminta ayahnya untuk segera bertaubat.

"Untuk ayahku yang ada di Amerika, lebih baik papah berhentilah. Cepat atau lambat papah harus menyerah dan mempertanggungjawaban perbuatan papah pada seluruh umat muslim yang ada di dunia," kata Murteza. Baca Juga: Kronologi Saifuddin Ibrahim Jadi Tersangka Penistaan Agama "Janganlah bikin onar lagi, karena kalau papah bikin onar terus. Kemungkinan itu hanya akan mempersingkat hidup papah aja," sambungnya.

Lebih lanjut, Murteza pun tak sungkan mengingatkan ayahnya soal kehidupan akhirat nanti. Makanya, ia terus-menerus memohon ayahnya untuk segera sadar. "Papah harus mempertimbangkan kehidupan kita di dunia hanya sementara. Sedangkan di akhirat itu abadi, kita bisa milih kehidupan kita di akhirat mau di surga atau neraka," "Jadi saya mohon pah, cepet-cepet bertaubat dan kembali ke Indonesia untuk mempertanggungjawabkan semua yang telah papa lakukan selama ini," pungkas Murteza.

Buntut pernyataan-pernyataan kontroversi yang berkaitan dengan agama. Saifuddin Ibrahim pun kini telah resmi ditetapkan sebagai tersangka. Dia ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan kasus penistaan agama.

ANAK-ANAK PENDETA SAIFUDDIN IBRAHIM MENGGUGAT BAPAKNYA SENDIRI!!! (PART 1)




2022 www.videocon.com