Candi muara takus terletak di

candi muara takus terletak di

tirto.id - Candi Muara Takus terletak di dekat Sungai Kampar, tepatnya di Desa Muara Takus, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Asal-usul situs kuno bercorak Hindu-Buddha ini masih menjadi misteri karena belum dapat dipastikan merupakan peninggalan sejarah kerajaan apa. Situs Muara Takus berupa kompleks candi yang di dalamnya terdapat beberapa bangunan. Ada perbedaan pendapat terkait asal-usul nama dari bangunan ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa Muara Takus diambil dari nama sebuah anak sungai bernama Takus yang bermuara ke Sungai Kampar.

Pendapat lain mengungkapkan bahwa nama Takus berasal dari bahasa Cina, Ta Ku Se. Ta berarti "besar", Ku berarti "tua", dan Se berarti "candi" atau "kuil".

Takus disadur dari tiga kata tersebut memiliki arti candi tua yang besar. Sedangkan Muara mempunyai makna suatu tempat yang berguna sebagai akhir sebuah aliran sungai. Letak dan Misteri Sejarah Candi Muara Takus Seperti yang sudah dituliskan sebelumnya, Candi Muara Takus terletak di dekat Sungai Kampar, tepatnya di Desa Muara Takus, Kecamatan XII Koto, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Situs ini berjarak kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru. Meskipun belum diketahui secara pasti kapan didirikan, Candi Muara Takus diperkirakan dibangun pada masa perkembangan Hindu-Buddha di Nusantara, khususnya di Sumatera.

Ada pula pendapat yang menyebutkan bahwa candi ini sempat digunakan pada akhir masa Kerajaan Sriwijaya yang runtuh pada abad ke-11 Masehi. Baca juga: • Sejarah Kerajaan Pagaruyung: Raja Pendiri, Lokasi, Relasi Majapahit • Sejarah Kerajaan Sriwijaya, Lokasi, & Pusat Pengajaran Agama Buddha • Sejarah Candi Badut Peninggalan Kerajaan Kahuripan & Keunikannya Diperkirakan, Kawasan Cagar Budaya Kompleks Percandian Muara Takus adalah kompleks percandian tertua di Sumatera.

Kompleks percandian ini terdiri dari beberapa bangunan yang dibuat dari tanah liat, tanah pasir, dan batu bata. Kemendikbud merangkum beberapa sumber penelitian terkait umur Candi Muara Takus atau candi muara takus terletak di kompleks percandian ini dibangun.

candi muara takus terletak di

Schnitger (1936) menyebut kompleks percandian Muara Takus berasal dari abad ke-11 dan kemudian direkonstruksi kembali candi muara takus terletak di abad ke-12 M. Berbeda dengan Schnitger, J.L Moens memperkirakan Candi Muara Takus dibangun pada abad ke-7 M. Tim gabungan yang terdiri dari arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat, Dinas Kebudayaan Riau dan warga melakukan ekskavasi peninggalan kuno berupa susunan batu bata yang berjarak sekitar 1 kilometer dari Candi Muara Takus, Kabupaten Kampar, Riau, Jumat (27/4/2018).

ANTARA FOTO/FB Anggoro Apakah Candi Muara Takus Peninggalan Kerajaan Sriwijaya? Mengenai apakah Candi Muara Takus merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya sudah sedemikian lama menjadi perdebatan di antara para sejarawan. Secara teritori, tidak diragukan lagi Candi Muara Takus termasuk dalam bekas wilayah Kerajaan Sriwijaya yang eksis pada periode abad ke-7 hingga abad ke-12 M.

Berdasarkan Seminar Sejarah Riau yang diabadikan dalam buku Mencari Pusat Kerajaan Sriwijaya, Buya Hamka berpendapat pusat Kerajaan Sriwijaya Berada di Muara Takus. Namun, dari corak arsitekturnya, Candi Muara Takus diduga justru dibangun sebelum masa Sriwijaya. Pendapat Buya Hamka turut membenarkan teori yang dikemukakan oleh sejarawan Belanda, J.L.

Moens (1937). Moens menyebut pada abad ke-7 M, pusat pemerintahan Sriwijaya dipindahkan dari Kelatan ke Muara Takus. Moens menjadi orang pertama yang berspekulasi bahwa ibu kota Kerajaan Sriwijaya berkedudukan di Muara Takus.

Apa yang diungkapkan Moens menjadi bekal Setyawati Suleiman penelitian lanjut terkait situs ini. Namun, upaya-upaya untuk menentukan kejelasan Muara Takus dalam kerangka kekuasaan Sriwijaya belumlah menemui titik terang. Baca juga: • Asal-usul Lambang Garuda dalam Sejarah Kerajaan Raja Airlangga • Sejarah Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya & Silsilah Raja-Raja • Misteri Sejarah Candi Dieng, Asal-Usul, dan Siapa Pendirinya?

Arsitektur dan Bangunan Candi Muara Takus Kawasan Candi Muara Takus sedikitnya terdiri dari Candi Tua, Candi Bungsu, Candi Mahligai, Candi Palangka, pagar keliling, dan tanggul kuno.

Candi Tuo merupakan bangunan utama dari kompleks percandian Muara Takus. Candi ini adalah candi dengan bangunan terbesar di antara bangunan yang ada, berukuran 32,80 meter x 21,80 meter. Pada sisi sebelah timur dan barat Candi Tuo terdapat tangga. Menurut perkiraan, tangga tersebut dihiasi stupa, sedangkan di bagian bawah dihiasi patung singa dalam posisi duduk. Kini, bagian puncaknya telah rusak candi muara takus terletak di batu-batunya telah banyak yang hilang.

Bangunan kedua, yakni Candi Mahligai, berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 10,44 meter x 10,60 meter. Berdiri di atas pondamen segi delapan (astakoma) yang pada alasnya terdapat teratai berganda. Di tengahnya menjulang sebuah menara yang bentuknya mirip phallus (yoni), sampai ke puncak setinggi 14,30 meter.

candi muara takus terletak di

Baca juga: • Sejarah Kerajaan Dharmasraya: Letak, Peninggalan, & Silsilah Raja • Sejarah Kerajaan Tulang Bawang: Letak, Prasasti, & Faktor Sriwijaya • Sejarah Candi Borobudur: Pembangunan hingga Candi muara takus terletak di Warisan Dunia Bangunan ketiga disebut Candi Palangka. Candi Palangka merupakan candi yang terkecil dari kompleks ini dan terletak 3,85 meter di sebelah timur Candi Mahligai. Bangunan ini berbahan batu bata merah yang tidak dicetak.

Candi Palangka berukuran panjang 6,60 meter, lebar 5,85 meter, serta memiliki tinggi 1,45 meter. Bangunan keempat terletak di sebelah barat Candi Mahligai, yakni Candi Bungsu. Bangunannya terbuat dari dua jenis batu, yaitu batu pasir (tuff) yang terdapat pada bagian depan, dan pada bagian belakang berbahan batu bata.

Selain bangunan-bangunan tersebut, tepat di depan gerbang Candi Tuo terdapat onggokan tanah yang mempunyai dua lubang. Tempat ini diperkirakan sebagai tempat pembakaran jenazah. Tim gabungan yang terdiri dari arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat, Dinas Kebudayaan Riau dan warga melakukan ekskavasi peninggalan kuno berupa pecahan tembikar yang berjarak sekitar satu kilometer dari Candi Muara Takus, Kabupaten Kampar, Riau, Jumat (27/4/2018).

ANTARA FOTO/FB Anggoro Dilansir arsip Perpusnas, di atas bangunan yang terbuat dari batu pasir (tuff) terdapat sebuah stupa besar, sementara di atas bangunan yang terbuat dari bata merah terdapat 8 buah stupa kecil yang mengelilingi sebuah stupa besar. Candi ini memiliki stupa, yang merupakan lambang Buddha Gautama. Namun ada pendapat yang mengatakan bahwa candi ini merupakan campuran dari bentuk candi Buddha dan Syiwa (Hindu).

Pendapat tersebut didasarkan pada bentuk bentuk Candi Mahligai yang menyerupai bentuk lingga (kelamin laki-laki) dan yoni (kelamin perempuan). Agak berbeda dengan kebanyakan candi buddha yang ada di Indonesia, candi ini lebih mirip seperti arsitektur candi di Myanmar. Pada 2009, Candi Muara Takus dicalonkan untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO. Daftar isi • Apa itu Candi Muara Takus? • Ciri-ciri Candi Muara Takus • Bentuk Bangunan Candi Muara Takus • Ukuran Candi Muara Takus • Sejarah Candi Muara Takus • Fungsi Candi Muara Takus • Fakta Tentang Candi Muara Takus Kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia memang bukanlah hal yang biasa.

candi muara takus terletak di

Hal itu dikarenakan terdapat banyak sekali peninggalan-peninggalan sejarah yang hingga kini masih kita temui seperti candi. Tidak hanya di kawasan Pulau Jawa saja, ternyata di Pulau Sumatera terdapat pula sebuah candi yang cukup tua yakni Candi Muara Takus. Apa itu Candi Muara Takus? Candi Muara Takus adalah candi peninggalan Buddha yakni Kerajaan Sriwijaya. Candi ini terletak di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

Jika dari Kota Pekanbaru, candi ini berjarang kurang lebih 135 km. Nama Candi Muara Takus itu sendiri memiliki asal-usul yang berbeda. Ada yang berpendapat bahwa Candi Muara Takus itu diambil dari nama sebuah sungai kecil yang bermuara di Sungai Kampar. Sungai kecil tersebut bernama Sungai Takus. Sementara pendapat lainnya mengemukakan bahwa nama Muara Takus itu diambil dari dua kata yakni Muara yang memiliki arti tempat akhir dari aliran sungai atau daerah yang dapat berupa laut atau sungai dengan ukuran lebih besar.

Kemudian takus diambil dari bahasa China yang berarti besar, kuil, tua. Jadi, Candi Muara Takus berarti sebuah kuil atau candi tua yang memiliki ukuran besar dan ada di muara sungai. Ciri-ciri Candi Muara Takus Bentuk Bangunan Candi Muara Takus Bangunan Candi Muara Takus ini terbuat dari perpaduan batu bata dan batu sungai.

Batu bata tersebut berasal dari tanah liat yang letaknya cukup jauh dari lokasi pembangunan candi. Batu bata itu diambil dari Desa Ponkai yang jaraknya sekitar 6 km.

Di dalam kawasan Candi Muara Takus, terdapat sebuah gundukan yang dijadikan sebagai tempat untuk membakar tulang manusia. Selain itu, di luar kawasan candi juga terdapat beberapa bekas bangunan yang telah rusak. Nah, di sekitar candi juga ada beberapa candi lainnya seperti Candi Mahligai, Candi Tua, Candi Bungsu serta Candi Palangka.

• Candi Mahligai ini menghadap ke selatan dengan 28 sisi yang berada di sekitar bangunan utama candi. Bagunan Candi Mahligai terbagi menjadi tiga bagian yakni bagian atap, bagian badan dan bagian kaki.

Candi ini memiliki bentuk seperti Menara Yoni. • Candi Tua memiliki berbentuk lingkaran. Candi ini dibangun dengan berbahan dasar batu pasir dan batu bata cetakan. • Candi Bungsu ini terletak di sisi timur dari Candi Mahligai. Bangunan ini terbuat dari batu bata merah. Bentuknya mirip dengan Candi Sulung, akan tetapi di bagian atasnya berbentuk persegi. Di bagian timur candi terdapat beberapa stupa candi muara takus terletak di berukuran kecil. • Candi Palangka ini seluruhnya terbuat dari batu bata.

Candi ini menghadap ke arah utara yang dahulunya diperkirakan pernah digunakan sebagai Altar. Ukuran Candi Muara Takus Adapun beberapa ukuran bangunan Candi Muara Takus beserta bagian-bagiannya yaitu: • Kompleks candi dikelilingi oleh tembok yang memiliki ukuran 74 m x 74 m.

• Bangunan candi itu sendiri berukuran sekitar 7 m x 7 m. • Di luar area candi, terdapat tembok tanah yang mengelilingi kompleks candi hingga ke pinggir Sungai Kampar Kanan dengan ukuran 1,5 km x 1,5 km. • Candi Mahligai berukuran panjang 10,6 m dan lebar 10,44 m dengan tinggi keseluruhannya sekitar 14 m.

• Candi Tua yang memiliki dua bagian kaki yakni bagian pertama setinggi 2,37 m sementara bagian kedua setinggi 1,98 m dengan tangga yang berukuran 4 m.

candi Tua ini diperkirakan memiliki tinggi sekitar 2,5 m. • Candi Bungsu memiliki ukuran panjang 13,2 m dan lebar 16,20 m dengan tinggi 6,2 m. • Candi Palangka memiliki ukuran panjang 6,6 m dan lebar 5,85 m dengan tinggi sekitar 1,45 m. Sejarah Candi Muara Takus Terkait pendirian bangunan Candi Muara Takus masih belum dapat dipastikan.

Namun beberapa sejarawan mengemukakan bahwa candi ini sudah dibangun sejak abad ke-4, bahkan ada pula yang mengatakan dibangun pada abad ke-7, abad ke-9 dan abad ke-11.

Dari beberapa perbedaan pendapat tersebut, Candi Muara Takus diperkirakan sudah dibangun sejak masa pemerintahan Kerajaan Sriwijaya dan juga menjadi salah satu peninggalan sekaligus saksi kebesaran dari kerajaan tersebut yakni antara abad ke-4 sampai abad ke-11 Masehi. Dari segi arsitekturnya, banyak yang berpendapat bahwa candi ini merupakan bangunan dengan perpaduan antara Buddha dan Syiwa yang bentuknya menyerupai seperti bangunan candi yang ada di Myanmar.

Agama Hindu dan Buddha memiliki konsep yakni setiap bangunannnya berfungsi untuk tempat beribadah di mana harus mempunyai sumber air yang memang dianggap suci. Air tersebut biasanya digunakan sebagai media dalam upacara atau ritual dalam agamanya. Untuk menjaga kesucian dari air tersebut, pada bagian pusat bangunan atau yang disebut sebagai brahmasthana ini tentunya harus dijaga dan dipelihara dengan baik. Selain itu, keempat arah mata angin juga wajib dirawat dengan baik sebab di tempat itu dewa penjaga mata angin (Dewa Lokapala) akan menjaga dan melindungi daerah perpaduan antara alam nyata dan alam gaib atau dikenal dengan wastupurumasamandala.

Fungsi Candi Muara Takus Candi Muara Takus dibangun tentunya terdapat tujuan dan fungsinya tertentu. Adapun fungsi dari candi ini candi muara takus terletak di berikut: • Dulunya, masyarakat Riau meyakini bahwa candi peninggalan Sriwijaya ini sempat dijadikan sebagai pusat peradaban dan tempat untuk ritual keagamaan pada masa kerajaan tersebut.

• Candi Muara Takus diyakni diyakini sebagai asal atau pusat adat dari pemerintahan Andiko Nan 44. • Hingga kini, candi ini lebih difungsikan sebagai objek wisata sejarah.

Sedangkan fungsinya sebagai tempat ibadah tersbeut tidak lagi berlaku secara formal. Fakta Tentang Candi Muara Takus • Kompleks Candi Muara Takus sudah diakui sebagai salah satu warisan dunia pada tahun 2009 oleh UNESCO. Candi ini masuk kedalam kriteria “Masterpiece of Human Creative Genius”. • Salah satu candi yang di area kompleksnya terdapat candi lagi yakni Candi Tua, Candi Bungsu, Candi Mahligai dan Candi Palangka.

• Di hari perayaan Waisak, biasanya umat Buddha menggunakan candi ini sebagai tempat Puja Bhakti. • Arsitektur dari stupa yang ada di Candi Muara Takus sangat unik dengan ornamen roda dan kepala singa. Stupa-stupa tersebut ternyata memiliki kesamaan dengan Stupa Buddha yang ada di negara asing seperti Myanmar, Vietnam dan Srilanka.

Bahkan stupa kuno yang ada di India masa periode Asoka. • Merupakan candi tertua di Pulau Sumatera. • Candi yang ditemukan oleh seorang arkeolog asal Belanda pada tahun 1860. Seperti dengan peninggalan candi lainnya, Candi Muara Takus adalah candi tertua di Pulau Sumatera khususnya Provinsi Riau.

Selain itu, candi ini juga memiliki keunikannya tersendiri. Keunikan tersebut dapat terlihat dari sejarah pembangunan hingga arsitekturnya. Bahkan sampai saat ini, Candi Muara Takus masih terjaga dan terpelihara keutuhannya sehingga pengunjung tetap bisa menikmati keindahan dan mengetahui sejarah-sejarah dari Candi Muara Takus.
Riau ternyata menyimpan salah satu bukti peninggalan bersejarah agama Buddha di tanah air, yaitu Candi Muara Takus.

Lokasinya terletak kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru. Situs bersejarah ini merupakan salah satu bukti peninggalan Kerajaan Sriwijaya di masa lampau. Ulasan mengenai Candi Muara Takus sebagai saksi sejarah Provinsi Riau akan menambah wawasan Anda sebagai berikut. Ada dua pendapat mengenai asal usul nama Candi Muara Takus. Pendapat pertama menyatakan bahwa nama Takus berasal dari salah satu anak sungai yang bermuara ke Sungai Kampar Kanan.

Sedangkan pendapat lainnya menyatakan bahwa nama Takus berasal dari bahasa China. Ta yang artinya besar, Ku artinya tua, dan Se artinya candi atau kuil. Berdasarkan keseluruhan arti tersebut, dalam Bahasa Cina nama tersebut bisa diterjemahkan sebagai candi tua yang besar dan terletak di sekitar muara sungai. Candi Muara Takus merupakan candi peninggalan agama Buddha.

Hal ini dapat dilihat dari keberadaan stupa yang merupakan ciri khas candi-candi Buddha. Namun, ada pula yang menyatakan bahwa candi kebanggaan Riau ini adalah hasil perpaduan budaya Hindu-Buddha. Karena ada bagian candi yang menyerupai mahligai, berupa kelamin laki-laki (lingga) dan kelamin perempuan (yoni). Bangunan utama pada Candi Muara Takus dikenal dengan nama Candi Tuo. Candi terbesar ini memiliki ukuran 32,8 meter kali 21,8 meter.

Bangunannya terbuat dari campuran batu, pasir, dan batu bata yang dicetak. Sedangkan bangunan kedua pada kompleks candi ini disebut Candi Mahligai. Candi Mahligai berbentuk bujur sangkar berukuran 10,44 meter kali 10,6 meter.

Pada bagian tengahnya candi muara takus terletak di sebuah menara berbentuk mirip yoni dengan tinggi mencapai 14,3 meter. Selain kedua candi besar tersebut, ada dua candi lainnya yang bernama Candi Palangka dan Candi Bungsu. Anda dapat mengunjunginya dengan mudah karena keempat candi tersebut berada di kawasan yang sama. Masyarakat Riau meyakini bahwa Candi Muara Takus adalah salah satu bangunan bersejarah peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang fungsinya sangat penting di masa lampau.

Konon, candi tersebut pernah menjadi pusat peradaban dan tempat untuk ritual keagamaan. Anggapan tersebut masih sering menimbulkan perdebatan di kalangan para peneliti dan sejarawan. Karena Kerajaan Sriwijaya terletak di Palembang dan jauh dari kawasan Riau. Alangkah lebih baik bila Anda memulai perjalanan sejak subuh supaya bisa tiba di Candi Muara Takus sebelum siang. Pemandangan candi di pagi hari sangat indah. Sedangkan candi muara takus terletak di siang dan sore hari cuacanya cukup terik dan sering mengalami hujan.

Jika candi muara takus terletak di mengabadikan keindahan candi ini, sebaiknya Anda membawa kamera profesional dengan lensa wide untuk mengambil footage secara luas. Need Help? Chat with us here • BATIQA Hotel & Apartments Karawang+62 811 1117930 • BATIQA Hotel Jababeka+62 811 1454 003 • BATIQA Hotel Cirebon+62 811 244 879 • BATIQA Hotel Lampung+62 721 5602900 • BATIQA Hotel Palembang+62 711 5229600 • BATIQA Hotel Pekanbaru+62 812 68933366 • BATIQA Hotel Darmo Surabaya+62 811 3473400 • BATIQA Hotel Jayapura+62 823 9711 9889 none
Candi merupakan bangunan suci yang digunakan sebagai sarana pemujaan bagi dewa-dewi pada masa Hindu-Budha.

Banyak sekali situs peninggalan kerajaan Hindu-Budha dalam bentuk candi yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah Candi Muara Takus yang terletak di kecamatan XII Koto, Kabupaten Kampar, Riau.

Maka dari itu, kali ini Munus telah merangkum informasi seputar candi ini secara lengkap. Yuk, simak penjelasannya dalam artikel ini. Sejarah Candi Muara Takus Candi Muara Takus, foto oleh menyapariau,com Candi ini merupakan satu-satunya peninggalan berbentuk candi dari Kerajaan Sriwijaya. Asal-usulnya sendiri masih menjadi misteri hingga kini dikarenakan belum ditemukan bukti-bukti sejarah yang kuat. Diperkirakan bahwa candi ini dibangun pada masa kerajaan Sriwijaya antara abad ke-4 hingga abad ke-11 Masehi.

Stupa khas Budhisme yang ada secara tidak langsung menjadi bukti bahwa agama Budha pernah berkembang dikawasan tersebut. Namun, ada sebagian orang yang berpendapat bahwa candi ini merupakan perpaduan antara budaya Hindu-Budha. Hal ini dikarenakan ada bangunan candi yang menyerupai mahligai berupa kelamin laki-laki (lingga) dan kelamin perempuan (yoni).

Asal Usul Nama Candi Muara Takus Terdapat dua pendapat yang membahas tentang asal usul nama candi ini. Yang pertama menyatakan bahwa nama Takus berasal dari salah satu anak sungai yang bermuara ke Sungai Kampar Kanan. Dan pendapat kedua menyatakan bahwa nama Takus Berasal dari bahasa Cina yaitu Ta yang artinya besar, Ku yang artinya tua, dan Se yang artinya candi atau kuil.

Secara keseluruhan, dalam bahasa Cina nama tersebut dapat diartikan sebagai candi tua yang besar dan terletak di sekitar muara sungai. Kompleks Candi Muara Takus Candi Muara Takus merupakan sebuah kompleks yang terdiri dari beberapa bangunan. Terdapat empat bangunan candi yang yang ada di kompleks tersebut.

Berikut ini merupakan penjelasan singkatnya: Baca Juga: Pembagian Zaman Praaksara - Kebudayaan, dan Peninggalannya Candi Tua Candi Tua atau Candi Sulung merupakan bangunan candi terbesar di kompleks ini memiliki 36 sisi yang tersusun oleh batu pasir dan batu cetak. Terdapat tiga bagian yaitu bagian atap, badan dan kaki dengan ukuran 32.8 meter x 21.8 meter. Bagian kaki dibagi menjadi dua bagian, dimana pada bagian pertama memiliki tinggi 2.37 meter, sedangkan pada bagian dua memiliki tinggi 1.98 meter.

Terdapat tangga masuk pada bagian timur selebar 4 meter dan di bagian barat selebar 3.08 meter yang dijaga dengan patung singa. Bentuk dari candi ini merupakan lingkaran dengan diameter kurang lebih 7 meter persegi candi muara takus terletak di tinggi 2.5 meter.

Candi Mahligai Candi Mahligai atau disebut juga Stupa Mahligai memiliki bangunan yang paling utuh dibandingkan yang lainnya di kompleks Candi Muara Takus. Stupa mahligai dibagi menjadi tiga bagian yang terdiri dari bagian atap, bagian badan, dan bagian kaki. Bangunan ini menghadap ke selatan dan memiliki 28 sisi. Dalam area ini, terdapat ukiran dengan gambar lotus ganda pada bagian dasar, sedangkan di bagian tengah terdapat menara silinder yang terdiri dari 36 sisi, dimana pada bagian dasar sisi memiliki bentuk kelopak bunga.

Dan pada bagian atas candi berbentuk lingkaran. Secara keseluruhan, candi ini memiliki bentuk menara yang mirip seperti yoni. Candi Palangka Candi Palangka dengan panjang 5.10 meter dan lebar 5.7 meter serta tinggi kurang lebih 2 meter terletak 3.85 meter sebelah timur dari area Mahligai. Bangunan ini dibuat dari batu bata merah yang tidak dicetak dan menghadap ke arah utara yaitu area pintu masuk.

Diperkirakan candi ini dulunya digunakan sebagai Altar. Candi Bungsu Candi ini dibuat dari batu bata merah dengan panjang 13.2 meter dan lebar 16.20 meter yang terletak di sebelah timur Candi Mahligai.

Bentuk dari Candi Bungsu mirip dengan Candi Sulung, namun bagian atasnya memiliki bentuk persegi. Pada bagian timur candi terdapat beberapa stupa berukuran kecil dan tangga yang terbuat dari batu putih. Bagian atas candi memiliki 20 sisi. Baca Juga: Candi Dieng dan Sejarahnya yang Penuh dengan Misteri Seorang peneliti bernama Yzerman menemukan lubang di bagian pinggiran padmasana stupa yang didalamnya terdapat tanah dan abu. Di dalam tanah tersebut ditemukan tiga keping emas.

Sedangkan di dasar lubang ditemukan satu keping lagi emas yang bergambar trisula dan 3 huruf nagari. Ia juga menemukan batu persegi di bawah lubang dengan gambar trisula dan 9 huruf nagari di bagian bawah batu tersebut. Bangunan ini terdiri dari dua jenis batu, yaitu batu pasir pada bagian utara dan batu bata pada bagian selatan. Diperkirakan bahwa pada awal pembangunannya, candi ini dibuat dari batu pasir, kemudian terjadi pembangunan ulang menggunakan batu bata.

Arsitektur Candi Muara Takus Candi Muara Takus, peninggalan kerajaan Budha di Riau, foto oleh versesoftuniverse,com Arsitektur bangunan candi ini bersifat Budha dikarenakan adanya stupa yang merupakan lambang dari Budha Gautama. Berdasarkan fungsinya stupa dibedakan menjadi tiga, yaitu : • Stupa sebagai bagian dari suatu bangunan. • Stupa berdiri sendiri maupun berkelompok tetapi masing-masing sebagai bangunan lengkap.

• Pelengkap kelompok sebagai candi perwara. Berdasarkan fungsi di atas, Candi Muara Takus memiliki fungsi yang kedua, yaitu stupa yang berdiri sendiri maupun berkelompok tetapi masing-masing sebagai bangunan lengkap.

Selain itu, arsitektur stupanya memiliki keunikan tersendiri karena tidak dapat ditemui di tempat lain di Indonesia. Bentuk ini memiliki kesamaan dengan stupa di Myanmar, Vietnam, Sri Lanka atau stupa kuno di India pada periode Ashoka, yaitu stupa dengan ornamen sebuah roda dan kepala singa.

Terdapat dua bangunan yang memiliki patung singa yakni Candi Tua dan Candi Mahligai. Di Candi Tua, arca singa terletak di depan candi atau di tangga masuk candi. Sedangkan di Candi Mahligai, arca singa ditemukan di keempat sudut pondasinya.

Penempatan patung singa ini berdasarkan konsep dari kebudayaan India, yang dimaksudkan untuk menjaga bangunan suci dari pengaruh jahat karena singa merupakan simbol kekuatan baik. Baca Juga: Masjid Cheng Ho: Simbol Perdamaian Umat Beragama Akses Menuju Candi Muara Takus Candi ini terletak cukup jauh yaitu 135 kilometer dari ibu kota Pekanbaru.

Hal ini membuat anak nusantara harus menyisihkan kurang lebih sekitar tiga hingga empat jam dari kota Pekanbaru untuk sampai ke lokasi candi. Maka dari itu, akan lebih baik untuk memulai perjalanan ketika subuh agar bisa tiba di lokasi sebelum siang. Karena pemandangan yang ditawarkan akan terasa sangat indah di pagi hari. Sedangkan jika siang atau sore hari, cuaca akan cukup terik dan sering terjadi candi muara takus terletak di. Akses menuju candi ini dapat ditempuh melalui jalur darat yaitu dari kota Pekanbaru menuju Bukittinggi, hingga sampai di Muara Mahat.

Dari Muara Mahat, akan ada jalur kecil menuju Muara Takus. Jika tidak memiliki kendaraan pribadi, anak nusantara dapat menggunakan kendaraan umum seperti angkot, bus kota, ataupun superben (angkutan umum) dari kota Pekanbaru menuju lokasi.

Baca Juga : Kerajaan Majapahit: Sejarah, Raja, dan Peninggalan
Candi Muara Takus Cagar budaya Indonesia Kategori Kawasan No. Regnas CB.453 Lokasi keberadaan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau Tanggal SK 2003 Pemilik Indonesia Pengelola Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat Koordinat 0°20′00″N 100°38′31″E  /  0.3332554°N 100.6419115°E  / 0.3332554; 100.6419115 Batu tulis dari Candi Bungsu di Muara Takus Candi Muara Takus adalah sebuah situs candi Buddha yang terletak di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar, Riau, Indonesia.

candi muara takus terletak di

Situs ini berjarak kurang lebih 135 kilometer dari Kota Pekanbaru. Situs Candi Muara Takus dikelilingi oleh tembok berukuran 74 x 74 meter, yang terbuat dari batu putih dengan tinggi tembok ± 80 cm, di luar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer, mengelilingi kompleks ini sampal ke pinggir Sungai Kampar Kanan.

Di dalam kompleks ini terdapat beberapa bangunan candi yang disebut dengan Candi sulung /tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka. Para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan situs candi ini didirikan. Ada yang mengatakan abad ke-4, ada yang mengatakan abad ke-7, abad ke-9 bahkan pada abad ke-11.

Namun candi ini dianggap telah ada pada zaman keemasan Sriwijaya, sehingga beberapa sejarahwan menganggap kawasan ini merupakan salah satu pusat pemerintahan dari kerajaan Sriwijaya. [1] [2] Pada tahun 2009 Candi Muara Takus dicalonkan untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.

Daftar isi • 1 Deskripsi situs • 1.1 Candi Mahligai • 1.2 Candi Tua • 1.3 Candi Bungsu • 1.4 Candi Palangka • 2 Arsitektur • 3 Latar belakang pendirian • 4 Beberapa aspek dalam pendirian candi • 5 Referensi • 5.1 Daftar Pustaka • 6 Pranala luar Deskripsi situs [ sunting - sunting sumber ] Candi Muara Takus adalah situs candi tertua di Sumatra, merupakan satu-satunya situs peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau.

Candi yang bersifat Buddhis ini merupakan bukti bahwa agama Buddha pernah berkembang di kawasan ini. Candi ini dibuat dari batu pasir, batu sungai dan batu bata. Berbeda dengan candi yang ada di Jawa, yang dibuat dari batu andesit yang diambil dari pegunungan.

Bahan pembuat Candi Muara Takus, khususnya tanah liat, diambil candi muara takus terletak di sebuah desa yang bernama Pongkai, terletak kurang lebih 6 km di sebelah hilir situs Candi Muara Takus.

Nama Pongkai kemungkinan berasal dari Bahasa Tionghoa, Pong berati lubang dan Kai berarti tanah, candi muara takus terletak di dapat bermaksud lubang tanah, yang diakibatkan oleh penggalian dalam pembuatan Candi Muara Takus tersebut.

Bekas lubang galian itu sekarang sudah tenggelam oleh genangan waduk PLTA Koto Panjang. Namun dalam Bahasa Siam, kata Pongkai ini mirip dengan Pangkali yang dapat berarti sungai, dan situs candi ini memang terletak pada tepian sungai.

Bangunan utama di kompleks ini adalah sebuah stupa yang besar, berbentuk menara yang sebagian besar terbuat dari batu bata dan sebagian kecil batu pasir kuning.

Di dalam situs Candi Muara Takus ini terdapat bangunan candi yang disebut dengan Candi Tua, Candi Bungsu, Stupa Mahligai serta Palangka. Selain bangunan tersebut di dalam komplek candi ini ditemukan pula gundukan yang diperkirakan sebagai tempat pembakaran tulang manusia.

Sementara di luar situs ini terdapat pula bangunan-bangunan (bekas) yang terbuat dari batu bata, yang belum dapat dipastikan jenis bangunannya. Candi Mahligai [ sunting - sunting sumber ] Candi Mahligai atau Stupa Mahligai, merupakan bangunan candi yang dianggap paling utuh.

Bangunan ini terbagi atas tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap. Stupa ini memiliki fondasi berdenah persegi panjang dan berukuran 9,44 m x 10,6 m, serta memiliki 28 sisi yang mengelilingi alas candi dengan pintu masuk berada di sebelah Selatan. Pada bagian alas tersebut terdapat ornamen lotus ganda, dan di bagian tengahnya berdiri bangunan menara silindrik dengan 36 sisi berbentuk kelopak bunga pada bagian dasarnya.

candi muara takus terletak di

Bagian atas dari bangunan ini berbentuk lingkaran. Menurut Snitger, dahulu pada ke-empat sudut fondasi terdapat 4 arca singa dalam posisi duduk yang terbuat dari batu andesit. Selain itu, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yzerman, dahulu bagian puncak menara terdapat batu dengan lukisan daun oval dan relief-relief sekelilingnya.

Bangunan ini diduga mengalami dua tahap pembangunan. Dugaan in didasarkan pada kenyataan bahwa di dalam kaki bangunan yang sekarang terdapat profil kaki bangunan lama sebelum bangunan diperbesar. Candi Tua [ sunting - sunting sumber ] Candi Tua atau Candi Sulung merupakan bangunan terbesar di antara bangunan lainnya di dalam situs Candi Muara Takus.

Bangunan ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan atap. Bagian kaki terbagi dua. Ukuran kaki pertama tingginya 2,37 m sedangkan yang kedua mempunyai ketinggian 1,98 m. Tangga masuk terdapat di sisi Barat dan sisi Timur yang didekorasi dengan arca singa. Lebar masing-masing tangga 3,08 m dan 4 m. Dilihat dari sisa bangunan bagian dasar mempunyai bentuk lingkaran dengan garis tengah ± 7 m dan tinggi 2,50 m. Ukuran fondasi bangunan candi ini adalah 31,65 m x 20,20 m.

Fondasi candi ini memiliki 36 sisi yang mengelilingi bagian dasar. Bagian atas dari bangunan ini adalah bundaran. Tidak ada ruang kosong candi muara takus terletak di sekali di bagian dalam Candi Sulung.

Bangunan terbuat dari susunan bata dengan tambahan batu pasir yang hanya digunakan untuk membuat sudut-sudut bangunan, pilaster-pilaster, dan pelipit-pelipit pembatas perbingkaian bawah kaki candi dengan tubuh kaki serta pembatas tubuh kaki dengan perbingkaian atas kaki. Berdasarkan penelitian tahun 1983 diketahui bahwa candi ini paling tidak telah mengalami dua tahap pembangunan. Indikasi mengenai hal ini dapat dilihat dari adanya profil bangunan yang tertutup oleh dinding lain yang bentuk profilnya berbeda.

Candi Bungsu [ sunting - sunting sumber ] Komplek Candi Muara Takus Candi Bungsu bentuknya tidak jauh beda dengan Candi Sulung. Hanya saja pada bagian atas berbentuk segi empat. Ia berdiri di sebelah barat Candi Mahligai dengan ukuran 13,20 x 16,20 meter. Di sebelah timur terdapat stupa-stupa kecil serta terdapat sebuah tangga candi muara takus terletak di terbuat dari batu putih.

Bagian fondasi bangunan memiliki 20 sisi, dengan sebuah bidang di atasnya. Pada bidang tersebut terdapat teratai. Penelitian yang dilakukan oleh Yzerman, berhasil menemukan sebuah lubang di pinggiran padmasana stupa yang di dalamnya terdapat tanah dan abu.

Dalam tanah tersebut didapatkan tiga keping potongan emas dan satu keping lagi terdapat di dasar lubang, yang digores dengan gambar-gambar tricula dan tiga huruf Nagari. Di bawah lubang, ditemukan sepotong batu persegi yang candi muara takus terletak di sisi bawahnya ternyata digores dengan gambar trisula dan sembilan buah huruf.

Bangunan ini dibagi menjadi dua bagian menurut jenis bahan yang digunakan. Kurang lebih separuh bangunan bagian Utara terbuat dari batu pasir, sedangkan separuh bangunan bagian selatan terbuat dari bata. Batas antara kedua bagian tersebut mengikuti bentuk profil bangunan yang terbuat dari batu pasir. Hal ini menunjukkan bahwa bagian bangunan yang terbuat dari batu pasir telah selesai dibangun kemudian ditambahkan bagian bangunan yang terbuat dari bata.

Candi Palangka [ sunting - sunting sumber ] Bangunan candi ini terletak di sisi timur Stupa Mahligai dengan ukuran tubuh candi 5,10 m x 5,7 m dengan tinggi sekitar dua meter.

Candi ini terbuat dari batu bata, dan memiliki pintu masuk yang menghadap ke arah utara. Candi Palangka pada masa lampau diduga digunakan sebagai altar. Arsitektur [ sunting - sunting sumber ] Candi Muara Takus Candi Muara Takus merupakan salah satu bangunan suci agama Budha yang ada di Riau. Ciri yang menunjukkan bangunan suci tersebut merupakan bangunan agama Budha adalah stupa. Bentuk stupa sendiri berasal dari seni India awal, hampir merupakan anak bukit buatan yang berbentuk setengah lingkaran tertutup dengan bata atau timbunan dan diberi puncak meru.

Stupa adalah ciri khas bangunan suci agama Budha dan berubah-ubah bentuk dan fungsinya dalam sejarahnya di India dan di dunia Budhisme lainnya. Berdasarkan fungsinya stupa dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: • Stupa yang merupakan bagian dari sesuatu bangunan. • Stupa yang berdiri sendiri atau berkelompok tetapi masing-masing sebagai bangunan lengkap. • Stupa yang menjadi pelengkap kelompok selaku candi perwara. Berdasarkan fungsi di atas dapat disimpulkan bahwa bangunan di kompleks Candi Muara Takus menduduki fungsi yang kedua, yaitu stupa yang berdiri sendiri atau berkelompok tetapi masing-masing sebagai bangunan lengkap.

Arsitektur bangunan stupa Candi Muara Takus sendiri sangatlah unik karena tidak ditemukan di tempat lain di Indonesia. Bentuk candi ini memiliki kesamaan dengan stupa Budha di Myanmar, stupa di Vietnam, Sri Lanka atau stupa kuno di India pada periode Ashoka, yaitu stupa yang memiliki ornamen sebuah roda dan kepala singa, hampir sama dengan arca yang ditemukan di kompleks Candi Muara Takus.

Patung singa sendiri secara filosofis merupakan unsur hiasan candi yang melambangkan aspek baik yang dapat mengalahkan aspek jahat atau aspek ‘terang’ yang dapat mengalahkan aspek ‘jahat’. Dalam ajaran agama Budha motif hiasan singa dapat dihubungkan maknanya dengan sang Budha, hal ini terlihat dari julukan yang diberikan kepada sang Budha sebagai ‘singa dari keluarga Sakya’.

Serta ajaran yang disampaikan oleh sang Budha juga diibaratkan sebagai ‘suara’ (simhanada) yang terdengar keras di seluruh penjuru mata angin. Dalam naskah Silpa Prakasa dituliskan bahwa terdapat empat tipe singa yang dianggap baik, antara lain: • Udyatā: singa yang digambarkan di atas kedua kaki belakang, badannya dalam posisi membalik dan melihat ke belakang.

Sikap ini disebut simhavalokana. • Jāgrata: singa yang digambarkan dengan wajah yang sangat buas (mattarūpina). Ia bersikap duduk dengan cakarnya diangkat ke atas. Sering disebut khummana simha. • Udyatā: singa yang digambarkan dalam sikap duduk dengan kaki belakang dan biasanya ditempatkan di atas suatu tempat yang tinggi.

Terkenal dengan sebutan jhmpa-simha. • Gajakrānta: singa yang digambarkan duduk dengan ketiga kakinya di atas raja gajah. Satu kaki depannya diangkat di depan dada seolah-olah siap untuk menerkam. Singa ini disebut simha kunjara. Di kompleks Candi Muara Takus sendiri terdapat dua candi yang memiliki patung singa, yaitu Candi Sulung dan Candi Mahligai.

Di Candi Sulung arca singa ditemukan di depan candi atau di tangga masuk candi tersebut. Di Candi Mahligai arca singa ditemukan di keempat sudut pondasinya. Penempatan patung singa ini, berdasarkan konsep yang berasal dari kebudayaan India, dimaksudkan untuk menjaga bangunan suci dari pengaruh jahat karena singa merupakan simbol dari kekuatan terang atau baik.

Berdasarkan penelitian R.D.M. Verbeck dan E. Th. van Delden diduga bahwa bangunan Candi muara takus terletak di Muara Takus dahulunya merupakan bangunan Buddhis yang terdiri dari biara dan beberapa candi. Latar belakang pendirian [ sunting - sunting sumber ] Candi merupakan bangunan suci yang berkembang pada masa Hindu- Buddha.

Bangunan suci ini dibuat sebagai sarana pemujaan bagi dewa-dewi agama Hindu maupun agama Buddha. Agama Hindu dan Buddha berasal dari India sehingga konsep yang digunakan dalam pendirian sebuah bangunan suci sama dengan konsep yang berkembang dan digunakan di India, yaitu konsep tentang air suci.

Bangunan suci harus berada di dekat air yang dianggap suci. Air itu nantinya digunakan sebagai sarana dalam upacara ritual. Peran air tidak hanya digunakan untuk upacara ritual saja, namun secara teknis juga diperlukan dalam pembangunan maupun pemeliharaan dan kelangsungan hidup bangunan itu sendiri.

Didirikannya bangunan suci di suatu tempat memang tempat tersebut potensi untuk dianggap suci, dan bukan bangunannya yang potensi dianggap suci. Maka dalam usaha pendirian bangunan suci para seniman bangunan selalu memperhatikan potensi kesucian suatu tempat di mana akan didirikan bangunan tersebut.

Agar tetap terjaga dan terpeliharanya kesucian suatu tempat, maka harus dipelihara daerah sekitar titik pusat bangunan atau Brahmasthana serta keempat titik mata angin di mana dewa Lokapala (penjaga mata angin) berada untuk melindungi dan mengamankan daerah tersebut sebagai Wastupurusamandala yaitu perpaduan alam gaib dan alam nyata.

Kemudian dilakukan berbagai upacara untuk mensucikan tanah tersebut. Dalam hal ini air sangat berperan selama upacara berlangsung, karena air selain mensucikan juga untuk menyuburkan daerah tersebut. Sehingga dalam upaya pendirian suatu bangunan suci, selain potensi kesucian tanah yang perlu diperhatikan adalah keberadaan atau tersedianya air di daerah tersebut. Hal ini sama dengan konsep kebudayaan India yang menyatakan bahwa keberadaan gunung meru sebagai tempat tinggal para dewa dikeilingi oleh tujuh lautan.

Maka secara nalar dan umun dapat diketahui bahwa pendirian sebagian besar bangunan suci tempatnya selalu berada di dekat air. Keadaan geografis wilayah Sumatra yang memiliki aliran sungai yang besar sangat mendukung konsep dari kebudayaan India tersebut. Dengan adanya aliran sungai besar tersebut air dengan mudah didapat untuk keperluan dari upacara ritual.

Selain faktor air, faktor ekonomi juga dapat melatarbelakangi berdirinya suatu bangunan suci. Aliran sungai di Sumatra pada masa lampau merupakan jalur transportasi untuk perdagangan. Pada awalnya jumlah pedagang yang datang sedikit.

Namun lama kelamaan karena menunggu waktu yang tepat untuk berlayar maka mereka bermukim di sekitar daerah tersebut. Maka diperlukanlah tempat peribadatan untuk umat beragama, dan didirikanlah bangunan suci. Karena tidak mungkin berdirinya suatu bangunan sakral atau candi tanpa didukung masyarakat pendirinya demi kelangsungan hidup bangunan suci tersebut.

Maka seirama dengan tumbuh dan pesatnya perdagangan di suatu tempat pada umumnya akan muncul pula bangunan-bangunan suci atau candi untuk digunakan sebagai tempat menjalankan upacara ritual oleh para pelaku ekonomi tersebut yang telah mengenal magis terhadap bangunan candi, berperan dalam fungsi candi muara takus terletak di sosial/ekonomi dan perdagangan.

candi muara takus terletak di

Faktor kekuasaan juga berpengaruh dalam pembangunan suatu candi. Suatu kerajaan yang berhasil menaklukkan suatu wilayah, tentunya terdapat tinggalan yang dapat menggambarkan ciri khas suatu kerajaan tersebut. Tinggalan tersebut dapat berupa prasasti maupun candi. Beberapa aspek dalam pendirian candi [ sunting - sunting sumber ] Dari suatu bangunan candi kita dapat melihat beberapa aspek kehidupan.

Pada candi Muara Takus ini aspek-aspek yang dapa kita lihat antara lain: • Aspek teknologi: Bahan yang digunakan adalah batu bata. Ukuran bata yang dipakai membangun candi ini bervariasi, panjang antara 23 sampai 26 cm, lebar 14 sampai dengan 15,5 cm dan tebalnya 3,5 cm sampai 4,5 cm. Bata pada masa lampau memiliki kualitas yang lebih baik dari bata pada masa sekarang. Ini dikarenakan tanah liat yang digunakan disaring sampai benar-benar tidak ada komponen lain selain tanah liat, misalnya pasir.

Selain itu, terdapat ”isian” di dalam bata, biasanya berupa sekam. Maksud dari isian ini, supaya bata kuat. Perekatan antar batu bata menggunakan sistem kosod. Sistem kosod merupakan sistem perekatan bata dengan cara menggosokkan bata dengan bata lain di mana pada bidang gosokannya tersebut diberi air. Sistem ini juga dapat ditemukan pada situs-situs di Jawa Timur dan masih dapat ditemukan di daerah Bali. Perekatan bata yang menggunakan sistem kosod menyebabkan perekatan antar bata akan bertambah erat dari tahun ke tahun.

• Aspek sosial: Pembangunan candi ini dilakukan secara bergotong royong dan dilakukan oleh orang ramai. Begitu juga pada saat upacara pemujaan terdapat perbedaan status, yaitu pemimpin upacara dan pengikutnya. • Aspek religi: terlihat dari bentuk candi Muara Takus yang berupa stupa, yang menunjukkan candi ini sebagai tempat candi muara takus terletak di umat agama Buddha, khususnya aliran Mahayana.

Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ Forgotten Kingdoms in Sumatra, Brill Archive • ^ Soekmono, R., (2002), Pengantar sejarah kebudayaan Indonesia 2, Kanisius, ISBN 979-413-290-X. Daftar Pustaka [ sunting - sunting sumber ] • (Indonesia) Balai Arkeologi Medan. 1998. Berkala Arkeologi SANGKHAKALA. • (Indonesia) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1996. Hasil Pemugaran dan Temuan Benda Cagar Budaya PSP I.

Proyek pembinaan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Pusat. Jakarta • (Indonesia) Haryono, Timbul. 1986. Relief dan Patung Singa Pada Candi-Candi Periode Jawa Tengah: Penelitian Atas Fungsi dan Pengertiannya. Laporan Penelitian. Yogyakarta • (Inggris) Kempers, A. J. Bernet. 1959. Ancient Indonesian Art.

Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press • (Indonesia) Siagian, Renville. 2002. CANDI sebagai warisan seni dan budaya Indonesia. Yogyakarta: Yayasan Cempaka Kencana • (Indonesia) Soekmono, R.

1974. Candi, Fungsi dan Pengertiannya. Disertasi. Jakarta • (Indonesia) Suaka PSP Prov. Sumbar dan Riau. 1995. Buletin Arkeologi AMOGHAPASA. Batusangkar Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] Wikimedia Commons memiliki media mengenai Candi Muara Takus.

• Situs Resmi Kementrian pariwisata Taman Nasional Betung Kerihun · Taman Nasional Bunaken · Kepulauan Raja Ampat · Taman Nasional Taka Bonerate · Taman Nasional Wakatobi · Kepulauan Derawan · Permukiman Tradisional Tana Toraja · Situs Bawomataluo · Candi Muara Takus · Candi Muarajambi · Trowulan - Bekas Ibukota Kerajaan Majapahit · Situs Gua Prasejarah di Maros-Pangkep · Situs Gua Karst Prasejarah Sangkulirang Mangkalihat · Kota Tua Jakarta · Kota Lama Semarang · Pemukiman Tradisional Nagari Sijunjung · Landskap Alam dan Sejarah Kepulauan Banda · Pusat Kota Bersejarah Yogyakarta · Kebun Raya Bogor • Situs Adan-Adan • Candi Banyunibo • Kompleks Percandian Batujaya • Candi Bojongmenje • Borobudur • Candi Boyolangu (Candi Gayatri) • Candi Brahu • Candi Bubrah • Candi muara takus terletak di Dawangsari • Candi Gampingan • Candi Jabung • Candi Jago • Candi Jawi • Candi Kalasan • Candi Lumbung • Candi Mendut • Candi Ngawen • Candi Palgading • Candi Patakan (dugaan) • Candi Pawon • Candi Plaosan • Situs Ratu Boko • Candi Sanggrahan • Candi Sari • Candi Sewu • Candi Sojiwan • Candi Sumberawan • Trowulan Pulau Bali • Halaman ini terakhir diubah pada 31 Januari 2022, pukul 10.08.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku.

Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.

candi muara takus terletak di

• Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •Kalau bicara soal wisata sejarah, Indonesia adalah negara yang kaya akan wisata bersejarah. Salah satu wisata bersejarah yang bisa ditemukan di berbagai pelosok negeri adalah wisata candi. Banyak candi yang berusia ratusan tahun menjadi saksi sejarah Indonesia dan berdiri kokoh sampai sekarang, salah satunya adalah Candi Muara Takus.

Candi Muara Takus ini merupakan sebuah situs peninggalan budha yang terletak kurang lebih 135 km dari kota Pekanbaru, Riau. Candi ini termasuk salah satu bukti bahwa kerajaan Sriwijaya pernah berjaya di masa lampau. Mengenai seperti apa Candi Muara Takus ini, kamu bisa simak review selengkapnya dalam ulasan di bawah ini! Review Candi Muara Takus di Riau Candi Muara Takus (menyapariau) Alamat : Kendalisodo, Pasir Jaya, Rambah Hilir, Pasir Jaya, Rambah Hilir, Kabupaten Rokan Hulu, Riau Map : Klik di sini Jam buka : 08.00 – 18.00 WIB Harga tiket masuk : Rp 10.000,00 per orang, belum termasuk tiket parkir Sebagai sebuah candi Budha tertua di Sumatera, Candi ini memiliki unsur arsitektur yang menggambarkan nilai – nilai budhisme yang sangat kental.

Bentuk stupa yang merupakan lambang Budha Gautama dan arsitektur candi yang mirip dengan candi budha di Myanmar menjadi ciri khas yang sangat tampak dari wisata candi di Riau ini. Tahun berdirinya situs Candi Muara Takus sampai saat ini memang masih belum bisa dipastikan. Akan tetapi sebagian besar ahli sejarah sepakat mengatakan kalau salah candi muara takus terletak di candi budha tertua di Sumatera ini dibangun pada abad ke-4, atau ke-7. Buat kamu yang semakin penasaran dengan Candi budha Muara Takus di Riau, berikut reviewnya : 1.

Bangunan Candi Muara Takus Bangunan utama dari candi Budha ini memiliki nama Candi Tuo. Ukurannya 32,80 x 21,80 meter dan merupakan bangunan candi terbesar yang berada di antara bangunan yang ada di kompleks Muara Takus. Pada sisi sebelah timur dan barat bangunan utama terdapat tangga yang memiliki 36 sisi dan terdiri atas bagian kaki I, bagian kaki II, tubuh dan puncak. Namun bagian puncaknya sudah rusak dan banyak batu serta stupa penghias yang hilang.

Kemudian bangunan kedua bernama Candi Mahligai. Bangunan ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 10,44 x 10,60 meter dan tingginya sampai puncak sebesar 14,30 meter berdiri di atas pondamen segi delapan dengan memiliki sebanyak 28 sisi.

Pada bagian alas, terdapat teratai berganda dengan terdapat sebuah menara yang berbentuk bangunan mirip phallus. Muara Takus (andalastourism) Bangunan ketiga Muara Takus disebut Candi Palangka yang terletak sekitar 3,85 meter sebelah timur Candi Mahligai. Bangunan ketiga ini terbentuk atas unsur batu bata merah dicetak dan merupakan candi paling kecil yang ada di situs ini.

Beralih ke bangunan keempat, terdapat sebuah bangunan terbuat dari dua jenis batu yaitu batu pasir dan batu bata yang bernama Candi Bungsu. Jadi bagian depan bangunan terbuat dari material batu pasi atau tuff. Sementara di bagian belakang terbuat dari material batu bata. Spot bangunan keempat yang bernama Candi Bungsu ini berada tepat di sebelah barat Candi Mahligai yang sebelumnya sudah kita bahas.

Selain bangunan – bangunan yang telah disebutkan di atas, pada bagian utara kompleks candi atau tepatnya di depan gerbang Candi Tuo terdapat onggokan tanah dengan dua buah lubang. Area ini diperkirakan candi muara takus terletak di pada zaman kerajaan merupakan tempat untuk melakukan prosesi pembakaran jenazah.

Jadi lubang pertama digunakan untuk memasukkan jenazah dan lubang satunya lagi digunakan untuk mengeluarkan abu jenazahnya. Tempat pembakaran jenazah ini pun masih termasuk ke dalam bagian pemeliharaan candi karena terletak di dalam kompleks candi. 2. Asal usul nama Muara Takus Muara Takus (batikcorakriau) Penamaan candi budha Muara Takus terbagi dalam dua sudut pandang yang berbeda.

Sudut pandang pertama meyakini bahwa nama candi ini diambil dari nama sebuah sungai kecil yang bermuara di Sungai Kampar. Sungai kecil tersebut bernama sungai takus. Sementara sudut pandang yang kedua berpendapat bahwa nama Muara Takus berasal dari dua kata yaitu Muara dan Takus. Muara artinya aliran sungai, sementara takus berasal dari bahasa Tiongkok, Takuse.

Ta dalam bahasa China artinya besar, ku artinya tua dan se artinya kuil.

candi muara takus terletak di

Jadi Muara Takus berarti candi tua berukuran besar yang terdapat pada muara sungai. 3. Kegiatan menarik di Candi Muara Takus Candi Muara Takus (yukpiknik) Selain dapat belajar tentang sejarah Indonesia dari candi budha di Riau ini, kita juga bisa tahu dan melihat secara langsung bukti kehidupan dan kebudayaan masa lampau yang masih berdiri kokoh sampai hari candi muara takus terletak di. Kamu juga bisa berkeliling candi, membidik foto – foto di berbagai spot menarik yang ada di kompleks candi ini.

Baiknya kalau kamu berkunjung ke sini, waktu terbaik kunjungan adalah ketika siang menjelang sore karena cahayanya masih sangat bagus untuk membidik foto. Kemudian pada sore harinya ketika senja hendak datang, kamu pun bisa mengabadikan momen senja yang sangat indah dan romantis dengan latar belakang candi peninggalan budha yang membuat kamu seolah sedang berada di Myanmar.

Pastikan bawa kamera profesional agar hasil foto kamu semakin sempurna. 4. Akses menuju tempat bersejarah ini Muara Takus (tripadvisor) Untuk menuju Candi Muara Takus, akses jalan yang harus ditempuh cukup sulit karena akses jalannya berpasir dan pada beberapa bagian masih mengalami kerusakan. Oleh sebab itu kalau musim hujan tidak dianjurkan mendatangi candi karena akses jalannya yang cukup berbahaya.

Lokasi candi cukup jauh dari ibu kota Pekanbaru. Hal ini membuat pengunjung harus menyisihkan waktu cukup banyak jika ingin berkunjung ke Candi Muara Takus, kecuali kalau menginap di sekitar candi.

Ya, di sekitar candi terdapat beberapa penginapan sederhana yang bisa dipilih sehingga kalau kamu berasal dari luar kota tidak perlu takut kebingungan mencari penginapan di sekitar candi kalau kemalaman.

Jika kamu berasal dari luar kota atau bahkan luar provinsi, untuk sampai di pekanbaru pastinya kamu butuh tiket pesawat murah sehingga alokasi dana kamu bisa digunakan untuk keperluan lainnya.

Oleh sebab itu, memiliki pengetahuan tentang tips dan trik cara mendapatkan tiket pesawat murah perlu kamu ketahui. Baca : 12 Tips Rahasia Berburu Tiket Pesawat Murah Berbagai kios tempat makan dengan model warung atau lesehan yang menjual aneka ragam kuliner khas Riau juga bisa ditemukan. Kamu harus melewati jalur lintas Riau – Sumatera Barat untuk sampai di candi ini. Kurang lebih waktu yang kamu butuhkan untuk sampai di Candi Muara Takus dari pusat kota Pekanbaru sekitar 3 sampai dengan 4 jam.

Jadi, jangan lupa bawa semua kebutuhan kamu juga untuk menemani perjalanan panjang kamu menuju tempat wisata bersejarah di Riau ini. Ada wisata apa lagi di Riau? Selain Candi Muara Takus, sebenarnya di Riau, khususnya di daerah ibukota Pekanbaru terdapat banyak potensi wisata yang bisa kamu jelajahi.

Informasinya baca : 10 Tempat Wisata di Pekanbaru yang Wajib Dikunjungi Tentunya akan banyak pengalaman baru dan seru yang bisa kamu dapatkan. Secara keseluruhan, Indonesia yang merupakan negara kepulauan menyimpan berbagai macam tempat wisata keren yang perlu kamu jelajahi untuk menambah pengalaman, edukasi, dan pengetahuan walau satu kali seumur hidup. Rekomendasi tempat wisata keren yang ada candi muara takus terletak di Indonesia apa saja, baca : 16 Tempat Wisata di Indonesia yang Wajib Dikunjungi Baca juga : 11 Tempat Wisata Terbaik Indonesia, Luar Negeri Kalah!

Itulah sedikit review tentang wisata Candi budha di Riau yaitu Muara Takus yang kamu perlu tahu. Jangan lupa kunjungi wisata bersejarah ini kalau kamu punya kesempatan dan waktu berlibur di kawasan Riau. Dapatkan pengalaman liburan seru dengan berkeliling di berbagai kota di Indonesia, happy holiday!
Candi Muara Takus terletak di desa Muara Takus, Kecamatan Tigabelas Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Propinsi Riau.

Jaraknya dari Pekanbaru, Ibukota Propinsi Riau, sekitar 128 Km. Perjalanan menuju Desa Muara Takus hanya dapat dilakukan melalui jalan darat yaitu dari Pekanbaru ke arah Bukittinggi sampai di Muara Mahat.

Dari Muara Mahat melalui jalan kecil menuju ke Desa Muara Takus. Kompleks Candi Muara Takus, satu-satunya candi muara takus terletak di sejarah yang berbentuk candi di Riau. Candi bernuansa Buddhistis ini merupakan bukti bahwa agama Budha pernah berkembang di kawasan ini. Kendatipun demikian, para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan candi ini didirikan. Ada dua pendapat mengenai nama Muara Takus. Yang pertama mengatakan bahwa nam tersebut diambil dari nama sebuah anak sungai kecil bernama Takus yang bermuara ke Sungai Kampar Kanan.

Pendapat lain mengatakan bahwa Muara Takus terdiri dari dua kata, yaitu “Muara” dan “Takus”. Kata “Muara” mempunyai pengertian yang sudah jelas, yaitu suatu tempat sebuah sungai mengakhiri alirannya ke laut atau ke sungai yang lebih besar, sedangkan kata “Takus” berasal dari bahasa Cina, Ta berarti besarr, Ku berarti tua, dan Se berarti candi atau kuil.

Jadi arti keseluruhan kata Muara Takus adalah candi tua yang besar, yang terletak di muara sungai.

candi muara takus terletak di

Candi Muara Takus merupakan candi Buddha, terlihat dari adanya stupa, yang merupakan lambang Buddha Gautama. Ada pendapat yang mengatakan bahwa candi ini merupakan campuran dari bentuk candi Buddha dan Syiwa.

Pendapat tersebut didasarkan pada bentuk bentuk Candi Mahligai, salah satu bangunan di kompleks Candi Muara takus, yang menyerupai bentuk lingga (kelamin laki-laki) dan yoni (kelamin perempuan). Arsitektur candi ini juga mempunyai kemiripan dengan arsitektur candi-candi di Myanmar. Candi Muara Takus merupakan sebuah kompleks yang terdiri atas beberapa bangunan.

Bangunan yang utama adalah yang disebut Candi Tuo. Candi ini berukuran 32,80 m x 21,80 m dan merupakan candi bangunan terbesar di antara bangunan yang ada. Letaknya di sebelah utara Candi Bungsu.

Pada sisi sebelah timur dan barat terdapat tangga, yang menurut perkiraan aslinya dihiasi stupa, sedangkan pada bagian bawah dihiasi patung singa dalam posisi duduk. Bangunan ini mempunyai sisi 36 buah dan terdiri dari bagian kaki I, kaki II, tubuh dan puncak.

Bagian puncaknya telah rusak dan batu-batunya telah banyak yang hilang. Candi Tuo dibangun dari campuran batu bata yang dicetak dan batu pasir (tuff). Pemugaran Candi Tuo dilaksanakan secara bertahap akibat keterbatasan anggaran yang tersedia. Pada tahun 1990, selesai dikerjakan bagian kaki I di sisi timur.

Selama tahun anggaran 1992/1993 pemugaran dilanjutkan dengan bagian sisi sebelah barat (kaki I dan II). Volume bangunan keseluruhan mencapai 2.235 m3, terdiri dari : kaki: 2.028 m3, tubuh: 150 m3, dan puncak: 57 m3.

Tinggi bangunan mencapai 8,50 m. Bangunan kedua dinamakan Candi Mahligai. Bangunan ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 10,44 m x 10,60 m. Tingginya sampai ke puncak 14,30 m berdiri diatas pondamen segi delapan (astakoma) dan bersisikan sebanyak 28 buah.

Pada alasnya terdapat teratai berganda dan di tengahnya menjulang sebuah menara yang bentuknya mirip phallus (yoni). Pada tahun 1860, seorang arkeolog Belanda bernama Cornel de Groot berkunjung ke Muara Takus. Pada waktu itu di setiap sisi ia masih menemukan patung singa dalam posisi duduk.

Saat ini patung-patung tersebut sudah tidak ada bekasnya. Di sebelah timur, terdapat teras bujur sangkar dengan ukuran 5,10 x 5,10 m dengan tangga di bagian depannya.

Volume bangunan Candi Mahligai 423,20 m3 yang terdiri dari volume bagian kaki 275,3 m3, tubuh 66,6 m3 dan puncak 81,3 m3. Candi Mahligai mulai dipugar pada tahun 1978 dan selesai pada tahun 1983. Bangunan ketiga disebut Candi Palangka, yang terletak 3,85 m sebelah timur Candi Candi muara takus terletak di. Bangunan ini terdiri dari batu bata merah yang tidak candi muara takus terletak di. Candi Palangka merupakan candi yang terkecil, relung-relung penyusunan batu tidak sama dengan dinding Candi Mahligai.

Dulu sebelum dipugar bagian kakinya terbenam sekitar satu meter. Candi Palangka mulai dipugar pada tahun 1987 dan selesai pada tahun 1989. Pemugaran dilaksanakan hanya pada bagian kaki dan tubuh candi, karena bagian puncaknya yang masih ditemukan pada tahun 1860 sudah tidak ada lagi.

Di bagian sebelah utara terdapat tangga yang telah rusak, sehingga tidak dapat diketahui bentuk aslinya. Kaki candi berbentuk segi delapan dengan sudut banyak, candi muara takus terletak di panjang 6,60 m, lebar 5,85 m serta tingginya 1,45 m dari permukaan tanah dengan volume 52,9 m3.

Bangunan keempat dinamakan Candi Bungsu. Candi Bungsu terletak di sebelah barat Candi Mahligai. Bangunannya terbuat dari dua jenis batu, yaitu batu pasir (tuff) terdapat pada bagian depan, sedangkan batu bata terdapat pada bagian belakang. Pemugaran candi ini dimulai tahun 1988 dan selesai dikerjakan tahun 1990. Melalu pemugaran tersebut candi ini dikembalikan ke bentuk aslinya, yaitu empat persegi panjang dengan ukuran 7,50 m x 16,28 m.

Bagian puncak tidak dapat dipugar, karena tidak diketahui bentuk sebenarnya. Tinggi setelah dipugar 6,20 m dari permukaan tanah, dan volume nya 365,8 m3. Menurut gambar yang dibuat oleh J.W. Yzerman bersama-sama dengan TH.

A.F. Delprat dan Opziter (Sinder) H.L. Leijdie Melvile, di atas bangunan yang terbuat dari bata merah terdapat 8 buah stupa kecil yang mengelilingi sebuah stupa besar.

Di atas bangunan yang terbuat dari batu pasir (tuff) terdapat sebuah tupa besar. Di bagian sebelah timur terdapat sebuah tangga yang terbuat dari batu pasir.

Selain bangunan-bangunan tersebut di atas, di sebelah utara, atau tepat di depan gerbang Candi Tuo terdapat onggokan tanah yang mempunyai dua lobang. Tempat ini diperkirakan tempat pembakaran jenazah. Lobang yang satu untuk memasukkan jenazah dan yang satunya lagi untuk mengeluarkan abunya. Tempat pembakaran jenazah ini, termasuk dalam pemeliharaan karena berada dalam komplek percandian. Di dalam onggokan tanah tersebut terdapat batu-batu kerikil yang berasal dari sungai Kampar.

Di di luar kompleks Candi Muara Takus, yaitu di beberapa tempat di sekitar Desa Muarata takus, juga diketemukan beberapa bangunan yang diduga masih erat kaitannya dengan candi ini.

candi muara takus terletak di

View Ulu Kasok dan Keliling Candi Muara Takus




2022 www.videocon.com