Perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di

perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di

★ Sejarah SMA Kelas 11 Semester 2 Perang Padri yang terjadi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di…. a. Maluku b. Sumatera Barat c. Aceh d. Sumatera Selatan e. Jawa Timur Pilih jawaban kamu: A B C D E Soal Selanjutnya > Soal / jawaban salah? klik disini untuk mengoreksi melalui kolom komentar Preview soal lainnya: Perlawanan Bangsa Indonesia terhadap Kolonialisme Belanda - Sejarah SMA Kelas 11 Pada awalnya, Perang Padri bukanlah perang melawan kolonialisme Belanda.

Perang Padri merupakan konflik yang terjadi antara kaum padri dan kaum adat karena … A. kaum padri ingin memperbaiki gaya hidup kaum adat yang sekalipun beragama Islam masih melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama B. Kaum padri dan kaum adat berebut pengaruh dalam masyarakat C. Kaum adat terlalu otoriter dalam berkuasa D. Kaum padri dilarang mencampuri urusan agama dengan pemerintahan E. Kaum padri dan kaum adat ingin mendapatkan bantuan Belanda Materi Latihan Soal Lainnya: • Muatan IPA Tema 8 SD Kelas 5 • Simbiosis - IPA SD Kelas 5 • PAS IPA SMP Kelas 8 • Pakeman - Bahasa Sunda Semester 2 Genap SMP Kelas 9 • Penilaian Harian IPS Tema 4 SD Kelas 6 • PAI SD Kelas 5 • Tema 7 SD Kelas 3 • Pengetahuan Umum SD Kelas 6 • PAS Al-Quran Hadits MI Kelas 3 • Ulangan TIK SD Kelas 4 Cara Menggunakan : Baca dan cermati soal baik-baik, lalu pilih salah satu jawaban yang kamu anggap benar dengan mengklik / tap pilihan yang tersedia.

Tips : Jika halaman ini selalu menampilkan soal yang sama secara beruntun, maka pastikan kamu mengoreksi soal terlebih dahulu dengan menekan tombol "Koreksi" diatas. Tentang LatihanSoalOnline.com Latihan Soal Online adalah website yang berisi tentang latihan soal mulai dari soal SD / MI Sederajat, SMP / MTs sederajat, SMA / MA Sederajat hingga umum.

Website ini hadir dalam rangka ikut berpartisipasi dalam misi mencerdaskan manusia Indonesia. Halaman Depan • Hubungi Kami • Kirim Soal • Privacy Policy • • MENU • Home • SMP • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Kewarganegaraan • IPS • IPA • Penjas • SMA • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Akuntansi • Matematika • Kewarganegaraan • IPA • Fisika • Biologi • Kimia • IPS • Sejarah • Geografi • Ekonomi • Sosiologi • Penjas • SMK • Penjas • S1 • Agama • IMK • Pengantar Teknologi Informasi • Uji Kualitas Perangkat Lunak • Sistem Operasi • E-Bisnis • Database • Pancasila • Kewarganegaraan • Akuntansi • Bahasa Indonesia • S2 • Umum • About Me 1.8.

Sebarkan ini: Perang paderi atau padre memiliki penyebab ( latar belakang terjadinya perang padri ), Perang Padri merupakan perang yang begitu panjang yaitu dari tahun 1821-1837 sekitar 26 tahun lamanya berlangsungnya Perang Padri, Dalam Peperangan tersebut memiliki berbagai perjanjian-perjanjian dan perang Padri merupakan berasal dari perjuangan rakyat di daerah Sumatera Barat ( Minangkabau ), Nama Perang Padri itu sendiri diambil dari Kota yang ada di Sumatera Barat dan berbagai bahasa-bahasa Asing sehingga terbentuk nama Perang Paderi ( Padri ).

Dalam peperangan ini memiliki tahap-tahap yang membuat Perang Padri tersebut sangat panjang, Dalam Perang Padri terkenal seorang nama yang sangat terkenal karena memiliki keberaniannya yang menegakkan kebenaran perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di meluruskan ke jalan agama yang merupakan seorang tokoh yang sangat penting dalam peperangan tersebut.

Untuk lebih jelas dari Perang Paderi ( Padri ) dan berbagai macam yang menyangkut Perang Padri, simak ulasannya berikut ini. • Pedir atau Pideri yaitu sebuah kota kecil di pantai Barat Sumatera Utara tempat dimana mereka berangkat dan pulang dan naik haji.

• Berasal dari bahasa Portugis, Padre atau dalam bahasa Belanda Vader yang berarti “ Ayah ” atau “ Pendeta ” jadi dengan demikian kaum Padri ialah Kaum Pendeta.

Perang Padri Ini Dapat Dibagi Atau Berlangsung Tiga Tahap Yaitu : • Kaum Padri melawan kaum adat • Kaum Padri melawan kaum adat dan Belanda • Kaum Padri dan kaum adat melawan Belanda Latar Belakang Terjadinya Perang Padri Perang Padri adalah peperangan yang berlangsung di daerah Minangkabau (Sumatra Barat) dan sekitarnya terutama di kerajaan Pagaruyung dari tahun 1803 hingga 1838.Perang ini merupakan peperangan yang pada awalnya akibat pertentangan dalam masalah agama sebelum berubah menjadi peperangan melawan penjajahan.

Istilah Padri berasal dari kata Pidari atau Padre, yang berarti ulama yang selalu berpakaian putih.Para pengikut gerakan padri biasanya memakai jubah putih.Sedangkan kaum adat memakai pakaian hitam.Selain itu juga ada yang berpendapat bahwa disebut gerakan Padri karena para pemimpin gerakan ini adalah orang Padari, yaitu orang-orang yang berasal dari Pedir yang telah naik haji ke Mekah melalui pelabuhan Aceh yaitu Pedir.

Adapun tujuan dari gerakan Padri adalah memperbaiki masyarakat Minangkabau dan mengembalikan mereka agar sesuai dengan ajaran Islam yang murni yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist.Gerakan ini mendapat sambutan baik di kalangan ulama, tetapi mendapat pertentangan dari kaum adat.(Mawarti, Djoened PNN, 1984:169).

Dalam perkembangannya, di minangkabau tampak timbulnya kebiasaan-kebiasaan buruk, sedang para pembesar tidak mampu menghalangi, bahkan turut menjalankan kebiasaan-kebiasaan buruk, yaitu menyabung ayam, madat, berjudi, dan minum minuman keras.Kebiasaan ini semain meluas dan mempengaruhi kelompok pemudanya. Menghadapi keadaan ini kaum ulama atau padri mengadakan reaksi sehingga gerakannya dikenal dengan gerakan padri. Kaum padri ingin memperbaiki keadaan masyarakat dengan cara mengembalikan pada ajaran islam yang murni.

Sejak saat itu timbul bibit-bibit pertentanga antara kaum padri dengan kaum adat. Perang Padri dilatarbelakangi oleh kepulangan tiga orang Haji dari Mekkah sekitar tahun 1803, yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang yang ingin memperbaiki syariat Islam yang belum sempurna dijalankan oleh masyarakatMinangkabau. Mengetahui hal tersebut, Tuanku Nan Renceh sangat tertarik lalu ikut mendukung keinginan ketiga orang Haji tersebut bersama dengan ulama lain di Minangkabau yang tergabung dalam Harimau Nan Salapan.

Harimau Perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di Salapan yang terdiri dari Tuanku nan Renceh, Tuanku Lubuk aur, Tuanku Berapi, Tuanku Padang Lawas, Tuanku Galung, Tuanku Biaro, dan Tuanku kapau. kemudian meminta Tuanku Lintau untuk mengajak Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah beserta Kaum Adat untuk meninggalkan beberapa kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Dalam beberapa perundingan tidak ada kata sepakat antara Kaum Padri dengan Kaum Adat. Seiring itu beberapa nagari dalam Kerajaan Pagaruyung bergejolak, puncaknya pada tahun 1815, Kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang Kerajaan Pagaruyung dan pecahlah peperangan di Koto Perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di. Serangan ini menyebabkan Sultan Arifin Muningsyah terpaksa menyingkir dan melarikan diri dari ibu kota kerajaan. Perang saudara ini semakin meluas dan mengalami perkembangan baru setelah pihak asing mulai campur tangan.Kaum adat mengharapkan bantun dari inggris.Raffles melihat kemungkinan yang terjadi, mempertimbangkan untung dan rugi.Raffles juga menghubungi kaum padri untuk menawarkan jasa baik, tetapi tidak ada persesuaian pendapat.

Tujuan raffles sebenarnya untuk mendaatkaan daerah pedalaman yang subur. Baca Juga : Tujuan Tanam Paksa Namun, inggris harus segera menyerahkan daerahnya kepada belanda sebagai pelaksanaan perjanjian london (1824). Kekuatan inggris di sumatera barat diserahkan kepada hindia-belanda. Pemerintah hindia belanda mengangkat james du puy sebagai ressiden. Kaum adat kini beralih memintta bantuan kepada belanda.

Pada tahun 1824, Belanda dan kaum Padri mengadakan perdamian di masang ( perjanjian masang ) yang isinya : • Isi Perjanjian Masang • Penetapan batas daerah kedua belah pihak • Kaum padri harus mengadakan perdagangan hanya dengan pihak belanda Tetapi ternyata pihak belanda tidak dapat menetapi perjanjiannya yang telah dibuatnya itu, sehingga peperangan tidak dapat dihindari lagi / berkobar lagi.

Masyarakat Minangkabau dengan sangat gigihnya melawan serangan Belanda yang menggunakan senjata modern. Akhirnya kaum adat menyadari bahwa pihak Belanda sebenarnya tidak sungguh-sungguh / berhasrat untuk menolongnya melainkan hendak menjajah seluruh daerah Minangkabau ( Sumatera Barat ), hal ini dibuktikan dengan tindakan pihak Belanda seperti tersebut dibawah ini. • Tindakan-Tindakan Belanda • Rakyat Minangkabau dipaksa bekerja demi kepentingan pihak Belanda tanpa diberi upah.

• Rakyat Minangkabau diharuskan membayar Cukai Pasar dan Cukai mengadu ayam. Setelah kaum adat menyadari kekeliruannya maka kaum adat kemudian berskutu / bergabung dengan pihak kaum padre guna melawan pihak Belanda. Dengan bersatunya kaum adat dan kaum padri maka peperangan melawan Belanda semakin menjadi hebat dan mencakup seluruh daerah Minang, Akibatnya pihak Belanda mengalami kerugian yang sangat besar.

Kemudian setelah pihak Belanda berhasil menyelesaikan perang Diponegoro maka seluruh pasukannya dikirim ke Sumatera Barat untuk menghadapi perlawanan rakyat Sumatera Barat. Karena mendapat bantuan dari Pulau Jawa maka pihak Belanda berhasil menududuki daerah pertahanan rakyat. Minangkabau ( Sumatera Barat ), bahkan pada tahun 1837 pusat perjuangan kaum di daerah Bonjol berhasil dikuasai oleh pihak Belanda, tetapi Tuanku Imam Bonjol bersama-sama para pengikutnya berhasil meloloskan diri dari penangkapan pihak Belanda dan melanjutkan perjuangannya.

Akan tetapi pada tahun itu juga Tuanku Imam Bonjol berhasil ditangkap oleh Belanda dan diasingkan ke Cianjur kemudian ke Ambon lalu ke Minahasa dan meninggal pada tahun 1855. Dengan begitu berakhirlah perang Padri dan daerah Minangkabau ( Sumatera Barat ) jatuh ke tangan pihak Belanda. Perbedaan pendapat ini memicu peperangan antara Kaum Padri yang dipimpin oleh Harimau nan Salapan dengan Kaum Adat di bawah pimpinan Yang Dipertuan Pagaruyung waktu itu Sultan Arifin Muningsyah.

Kemudian peperangan ini meluas dengan melibatkan Belanda Harimau nan Salapan (Harimau yang Delapan), merupakan sebutan untuk pimpinan beberapa perguruan yang tersebar di Nagari yang ada dalam Kerajaan Pagaruyung masa itu, yang kemudian menjadi pemimpin dari Kaum Padri. Berikut ini nama pemimpin Harimau nan Salapan tersebut: • Tuanku nan Renceh atau Tuanku nan Tuo atau Tuanku Kamang • Tuanku Mansiangan • Tuanku Pandai Sikek • Tuanku Lintau • Tuanku Pasaman • Tuanku Rao • Tuanku Tambusai • Tuanku Barumun • Perang Saudara Baca Juga : Penyebaran Islam Di Indonesia Perang Padri merupakan peperangan yang meninggalkan kenangan heroik sekaligus traumatis dalam memori bangsa.

Hampir selama 20 tahun pertama perang ini (1803-1821), dapatlah dikatakan sebagai perang saudara antara sesama etnis Minang dan Mandailing atau Batak umumnya. Pada awalnya peperangan ini dilatar belakangi oleh adanya keinginan para ulama di Kerajaan Pagaruyung untuk menerapkan dan menjalan syariat Islam sesuai dengan Mahzab Wahabi yang waktu itu berkembang di tanah Arab (Arab Saudi sekarang).

Kemudian pemimpin para ulama yang tergabung dalam Harimau nan Salapan meminta Tuanku Lintau untuk mengajak Raja Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah beserta Kaum Adat untuk meninggalkan beberapa kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dalam beberapa perundingan tidak ada kata sepakat antara kaum Padri dengan kaum Adat. Seiring itu beberapa nagari dalam kerajaan Pagaruyung bergejolak, puncaknya pada tahun 1815, kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang kerajaan Pagaruyung, dan pecahlah peperangan di Koto Tangah.

Serangan ini menyebabkan Sultan Arifin Muningsyah terpaksa menyingkir dan melarikan diri dari ibukota kerajaan.[3] Dari catatan Raffles yang pernah mengunjungi Pagaruyung di tahun 1818, menyebutkan bahwa ia hanya mendapati sisa-sisa istana raja Minangkabau yang sudah terbakar.

Serangan ke Bonjol Pada tanggal 16 April 1835, Belanda memutuskan untuk kembali mengadakan serangan besar-besaran untuk menaklukkan Bonjol dan sekitarnya. Operasi militer dimulai pada tanggal 21 April 1835, di mana pasukan Belanda dipimpin oleh Letnan Kolonel Bauer yang kemudian memecah pasukannya menjadi dua bagian yang bergerak masing-masing dari Matur dan Bamban, kemudian bersama bergerak menuju Masang.

Pasukan ini mesti menyeberangi sungai yang saat itu lagi banjir, dan terus masuk menyelusup ke dalam hutan rimba; mendaki gunung dan menuruni lembah; guna membuka jalur baru menuju Bonjol. Pada tanggal 23 April 1835 gerakan pasukan Belanda ini telah berhasil mencapai tepi Batang Gantiang, dan kemudian terus menyeberanginya dan berkumpul di Batusari.

Dari sini hanya ada satu jalan sempit menuju Sipisang, daerah yang masih dikuasai oleh Kaum Padri. Sesampainya di Sipisang, pecah pertempuran sengit antara pasukan Belanda dengan Kaum Padri selama tiga hari tiga malam pertempuran berlangsung tanpa henti, sampai korban di kedua belah pihak banyak yang berjatuhan. Baca Juga : Panitia Sembilan Namun dengan kekuatan yang jauh tak sebanding, pasukan Kaum Padri terpaksa mengundurkan diri ke hutan-hutan rimba sekitarnya.

Jatuhnya daerah Sipisang ini meningkatkan moralitas pasukan Belanda, dan kemudian daerah ini dijadikan sebagai kubu pertahanan sambil menunggu pembuatan jembatan menuju Bonjol.

Walau pergerakan laju pasukan Belanda menuju Bonjol masih sangat lamban, hampir sebulan waktu yang diperlukan untuk dapat mendekati daerah Alahan Panjang. Sebagai front terdepan dari Alahan Panjang adalah daerah Padang Lawas, yang secara penuh masih dikuasai oleh Kaum Padri. Namun pada tanggal 8 Juni 1835 pasukan Belanda berhasil menguasai daerah ini. Selanjutnya pada tanggal 11 Juni 1835 pasukan Belanda kembali bergerak menuju sebelah timur Batang Alahan Panjang dan membuat kubu pertahanan di sana, sementara pasukan Kaum Padri tetap bersiaga di seberangnya.

Pada tengah malam tanggal 16 Juni 1835 pasukan Belanda berhasil mendekati Bonjol dalam jarak kira-kira hanya 250 langkah dari Bonjol dan kemudian mencoba membuat kubu pertahanan di sana. Selanjutnya dengan menggunakan houwitser, mortir dan meriam besar, menembaki benteng Bonjol.

Namun Kaum Padri juga tidak tinggal diam, kemudian membalas dengan menembakan juga meriam-meriam dari Bukit Tajadi.

perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di

Namun karena posisi yang kurang menguntungkan, pasukan Belanda banyak menjadi korban. Kemudian pada tanggal 17 Juni 1835 kembali datang bantuan tambahan pasukan sebanyak 2000 orang yang dikirim oleh Residen Francis di Padang, dan pada tanggal 21 Juni 1835, dengan kekuatan yang besar pasukan Belanda memulai gerakan maju menuju sasaran akhir yaitu benteng Bonjol di Bukit Tajadi.

• Perundingan Dalam pelarian dan persembunyiannya, Tuanku Imam Bonjol terus mencoba mengadakan konsolidasi terhadap seluruh pasukannya yang telah bercerai-berai dan lemah, namun karena telah lebih 3 tahun bertempur melawan Belanda secara terus menerus, ternyata hanya sedikit saja yang tinggal dan masih siap untuk bertempur kembali. Dalam kondisi seperti ini, tiba-tiba datang surat tawaran dari Residen Francis di Padang untuk mengajak berunding. Kemudian Tuanku Imam Bonjol menyatakan kesediaannya melakukan perundingan.

Perundingan itu dikatakan tidak boleh lebih dari 14 hari lamanya. Selama 14 hari berkibar bendera putih dan gencatan senjata berlaku. Tuanku Imam Bonjol diminta untuk datang ke Palupuh tempat perundingan tanpa membawa senjata. Tapi hal itu cuma jebakan Belanda untuk menangkap Tuanku Imam Bonjol, peristiwa itu terjadi di bulan Oktober 1837 dan kemudian Tuanku Imam Bonjol dalam kondisi sakit langsung dibawa ke Bukittinggi kemudian terus dibawa ke Padang, untuk selanjutnya diasingkan.

Namun pada tanggal 23 Januari 1838, ia dipindahkan ke Cianjur, dan pada akhir tahun 1838, ia kembali dipindahkan ke Ambon. Kemudian pada tanggal 19 Januari 1839, Tuanku Imam Bonjol kembali dipindahkan ke Menado, dan di daerah inilah setelah menjalani masa pembuangan selama 27 tahun lamanya, pada tanggal 8 November 1864, Tuanku Imam Bonjol menemui ajalnya.

Baca Juga : Dampak Pendudukan Jepang Di Indonesia Peta Mataram Baru setelah Perang Diponegoro pada tahun 1830 Alibasah Sentot Pertempuran terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infantri, kavaleri dan artileri —yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal— di kedua belah pihak berlangsung dengan sengit.

Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh Jawa. Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi; begitu pula sebaliknya. Jalur-jalur Iogistik dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang. Berpuluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus sementara peperangan berkencamuk.

Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun stategi perang. Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama; karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi. Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan penghujan; para senopati menyadari sekali untuk bekerjasama dengan alam sebagai “senjata” tak terkalahkan.

Bila musim penghujan tiba, gubernur Belanda akan melakukan usaha usaha untuk gencatan senjata dan berunding, karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat. Penyakit malaria, disentri, dan sebagainya merupakan “musuh yang tak tampak” melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka.

perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di

Ketika gencatan senjata terjadi, Belanda akan mengkonsolidasikan pasukan dan menyebarkan mata-mata dan provokator mereka bergerak di desa dan kota; menghasut, memecah belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang dibawah komando pangeran Diponegoro. Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda. Pada puncak peperangan, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu; suatu hal yang belum pernah terjadi ketika itu dimana suatu wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu.

Dari sudut kemiliteran, ini adalah perang pertama yang melibatkan semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern. Baik metode perang terbuka (open warfare), maupun metoda perang gerilya (geurilia warfare) yang dilaksanakan melalui taktik hit and run dan penghadangan. ini bukan sebuah tribal war atau perang suku.

Tapi suatu perang modern yang memanfaatkan berbagai siasat yang saat itu belum pernah dipraktekkan. perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat syaraf (psy-war) melalui insinuasi dan tekanan-tekanan serta provokasi oleh pihak Belanda terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran; dan kegiatan telik sandi (spionase) dimana kedua belah pihak saling memata-matai dan mencari informasi mengenai kekuatan dan kelemahan lawannya.

Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit.

Pada tahun 1829, Kyai Maja, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap.

perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di

Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Alibasah Sentot Prawirodirjo menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang.

Baca Juga : Perjanjian Linggarjati Di sana, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855. Berakhirnya Perang Jawa yang merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa.

Perang Jawa ini banyak memakan korban dipihak pemerintah Hindia sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang Jawa. Sehingga setelah perang ini jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya.

Mengingat bagi sebagian orang Kraton Yogyakarta Diponegoro dianggap pemberontak, sehingga konon anak cucunya tidak diperbolehkan lagi masuk ke Kraton, sampai kemudian Sri Sultan HB IX memberi amnesti bagi keturunan Diponegoro, dengan mempertimbangkan semangat kebangsaan yang dipunyai Diponegoro kala itu. Kini anak cucu Diponegoro dapat bebas masuk Kraton, terutama untuk mengurus Silsilah bagi mereka, tanpa rasa takut akan diusir. Perang Diponegoro dan Perang Padri Di sisi lain, sebenarnya Belanda sedang menghadapi Perang Padri di Sumatera Barat.

Penyebab Perang Paderi adalah perselisihan antara Kaum Padri (alim ulama) dengan Kaum Adat (orang adat) yang mempermasalahkan soal agama Islam, ajaran-ajaran agama, mabuk-mabukan, judi, maternalisme dan paternalisme. Saat inilah Belanda masuk dan mencoba mengambil kesempatan. Namun pada akhirnya Belanda harus melawan baik kaum adat dan kaum paderi, yang belakangan bersatu. Perang Paderi berlangsung dalam dua babak: babak I antara 1821-1825, dan babak II.

Untuk menghadapi Perang Diponegoro, Belanda terpaksa menarik pasukan yang dipakai perang di Sumatera Barat untuk menghadapi Pangeran Diponegoro yang bergerilya dengan gigih. Sebuah gencatan senjata disepakati pada tahun 1825, dan sebagian besar pasukan dari Sumatera Barat dialihkan ke Jawa.

Namun, setelah Perang Diponegoro berakhir (1830), kertas perjanjian gencatan senjata itu disobek, dan terjadilah Perang Padri babak kedua. Pada tahun 1837 pemimpin Perang Paderi, Tuanku Imam Bonjol akhirnya menyerah. Berakhirlah Perang Padri.

Proses Perlawanan Musuh kaum Padri selain kaum adat adalah Belanda. Perlawanan dimulai tahun 1821 Kaum Adat yang mulai terdesak dengan serangan Kaum Padri, meminta bantuan kepada Belanda. Kaum Padri memulai serbuan ke berbagai pos Belanda dan pencegatan terhadap patrol Belanda. Pasukan Padri bersenjatakan senjata tradisional, sedangkan musuhnya menggunakan meriam dan jenis senjata lainnya yang sudah dibilang cukup modern.

Pertempuran banyak menimbulkan korban kedua belah pihak. Pasukan Belanda mendirikan benteng pertahanan di Batu sangkar diberi nama Fort Van Der Capellen. Peperangan ini ditandai dengan tiga masa.Masa pertama berlangsung antara 1821-1825, ditandai dengan meluasnya perlawan rakyat keseluruh daerah minangkabau.Masa kedua adalah antara tahun 1825-1830, ditandai dengan meredanya pertempuran karena Belanda berhasil mengadakan perjanjiaan dengan gerakan kaum pradi yang mulai melemah.

Masa ketiga antara tahun 1830-1838, ditandai dengan perlawanan padri yang meningkat dan penyerbuan Belanda secara besar-besaran, kemudian diakhiri dengan tertangkapnya pemimpin-pemimpin padri. Dalam pertempuran yang dipimpin oleh Tuanku Pasaman dan pasukan Belanda berupa 200 orang serdadu dengan meriam 6 pon dan meriam kodok.Ditambah 8000 hingga 10.000 pasukan dari Bumiputera.Pasukan Tuanku Pasaman gugur kurang lebih 350 orang salah satunya anaknya sendiri.Kemudian mereka mundur menuju Lintau yang menerobos jebakan dari Belanda untuk memutus jalan.

Pada tanggal 10 juni 1822 raaff mengirim surat damai. Tetapi Tuanku Pasaman tidak menjawab dan diserbulah pasukan Padri disekitar Tanjung Alam.Dilain tempat Tuanku Ranceh melakukan penyerangan di Baso pada 14 agustus 1822 terhadap Belanda.Bulan September 1822 Padri mengadakan operasi di Guguk Sugandang dan Tanjung Alam, dan membakar kampung penduduk yang memihak Adat, pasukan Padri berjumlah 20.000 orang. Baca Juga : Manusia Purba Di Indonesia Di Bonio pertahana Padri cukup kuat, pemimpin Belanda Letnan P.

H. Marinus memindah meriam-meriam ke bukit, begitu juga pasukan kapten Brusse dengan seribu penduduk setempa. Dalam pertempuran ini Marinus meninggal dan Padri mundur di dalam hutan-hutan sekitar. Pertempuran Padri dilanjut di kapau, pasukan ini pada tanggal 18 september 1823 mencoba mengepung Belanda denga 100 orang dan belanda menyingkir ke Kota Tua.

24 september 1823 di Agam Padri menyerang Belanda dengan jumlah 170 orang dari Belanda, dan berhasil membunuh 19 serdadu tetapi kalahnya persenjataan mendesak Padri yang dijaga 360 orang. Kolonel Sturs yang diangkat menjadi penguasa sipil dan militer sumatera barat mulai 2 november 1824, pada tanggal 29 oktober 1825 padri diwakili oleh tuanku keramat mengadakan kontrak perjanjian perdamaian yang baru ditanda tangani di Pedang pada tanggal 15 november 1825 yang isinya kedua belah pihak melindungi pedagang dan orang-orang dari pengungsian diujung karang.

Perdamaian antara belanda dan kaum padri ini mengecewakan para pengikut kaum adat. September 1826 serdadu Belanda di minangkabau sebanyak 500 orang serta 17 opsir ke jawa sehingga kekuatan militer belanda di minangkabau tinggal 677 orang. Dengan ini, belanda harus menjaga 17 pos yang letaknya tersebar di daerah-daerah.Kelemahan ini dimanfaatkan oleh padri untuk melawan, saat belanda melakukan pemaksaan penduduk kampung malik melakukan penentangan. Kaum padri mengambil kesempatan untuk menyerang belanda, ketua adat dari daerah XII dapat mempengaruhi penduduk kota XX untuk melakukan penyerangan ke belanda juga dengan tidak membayar cukai dan pajak pasar.

Tahun 1829 daerah kekuasaan kaum Padri telah meluas sampai ke Batak Mandailing, Tapanuli. Di Natal. Tapanuli Baginda Marah Husein minta bantuan kepada Kaum Padri mengusir Gubernur Belanda di sana. Maka setelah selesai perang Diponegoro, Natal di bawah pimpinan Tuanku Nan Cerdik dapat mempertahankan serangan Belanda di sana.

Kelemahan belanda diberbagai daerah pertempuran membawa akibat semakin meluasnya perlawanan kaum padri. Di samping itu, terlihat pasukan kaum adat yang kecewa mulai melakukan perlawanan terhadap belanda. Kira-kira 70 orang penghulu adat dengan bantuan penduduk XIII kota yang bersikap anti-belanda telah menyerbu padang, tetapi kemudian memundurkan diri stelah kurang lebih 100 orang serdadu belanda melawannya.

Sementara itu, kaum padri yang bergerak disebelah barat pasaman berhasil menduduki air bangis. Tahun 1829 De Stuers digantikan oleh Letnan Kolonel Elout, yang datang di Padang Maret 1831. Dengan bantuan Mayor Michiels, Natal dapat direbut, sehingga Tuanku Nan Cerdik ke Bonjol. Banyak kampung yang dapat direbut Belanda. Tahun 1832 datang bantuan dari Jawa, di bawah Sentot Prawirodirjo.Dengan cepat Lintau, Bukit, Komang, Bonjol, dan hampir seluruh daerah Agam dapat dikuasai oleh Belanda.

Sementara itu, pertemuan yang terjadi pada 10 september 1833 antara mantua dan agam membawa kekalahan pada pihak padri, meskipun mereka dapat menewaskan beberapa serdadu belanda.

Beberapa distrik dan seluruh daerah VIII perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di jatuh ke tangan belanda.

perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di

Penyerangan-penyerangan padri pada pos-pos dan benteng-benteng belanda masih terus dilakukan, seperti penyerangan benteng belanda di amerongen oleh tuanku tambusai pada pertengahan januari 1833. Akhir Perlawanan Kesulitan yang diderita kaum padri di bojol berawal dengan di tutupnya jalan-jalan penghubung dengan daerah lain oleh pasukan belanda. Pada tanggal 11-16 juni 1835, sayap kanan pasukan belanda telah berhasil menutup jalan yang menghubungkan benteng bonjol dengnan daerah sebelah barat.

Setelah daerah-daerah sekitar Bonjol dapat dikuasai oleh Belanda, serangan ditujukan langsung ke benteng Bonjol.Membaca situasi yang gawat ini, Tuanku Imam Bonjol menyatakan bersedia untuk berdamai.Belanda mengharapkan, bahwa perdamaian ini disertai dengan penyerahan. Tetapi Imam Bonjol berpendirian lain.

Perundingan perdamaian ini adalah siasat mengulur waktu, agar dapat mengatur pertahanan lebih baik, yaitu membuat lubang yang menghubungkan pertahanan dalam benteng dengan luar benteng, di samping untuk mengetahui kekuatan musuh di luar benteng.Kegagalan perundingan ini menyebabkan berkobarnya kembali pertempuran pada tanggal 12 Agustus 1837.

Belanda memerlukan waktu dua bulan untuk dapat menduduki benteng Bonjol,yang didahului dengan pertempuran yang sengit. Meriam-meriam Benteng Bonjol tidak banyak menolong, karena musuh berada dalam jarak dekat.Perkelahian satu lawan satu tidak dapat dihindarkan lagi.Korban berjatuhan dari kedua belah pihak.Pasukan Padri terdesak dan benteng Bonjol dapat dimasuki oleh pasukan Belanda menyebabkan Tuanku Imam Bonjol beserta sisa pasukannya menyerah pada tanggal 25 Oktober 1937.

Tuanku imam bonjol kemudian perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di ke cianjur, jawa barat. Tada tanggal 19 januari 1839 beliau dibuang ke ambon, lalu pada tahun 1841 dipindahkan ke manado, dan meninggal disana pada tanggal 6 november 1864. Walaupun Tuanku Imam Bonjol telah menyerah tidak berarti perlawanan kaum Padri telah dapat dipadamkan.Perlawanan masih terus berlangsung dipimpin oleh Tuanku Tambusai pada tahun 1838.

Setelah itu berakhirlah perang Padri dan daerah Minangkabau dikuasai oleh Belanda. Demikianlah pembahasan mengenai Penjelasan Terjadinya Perang Paderi ( Padri 1821-1837 ) semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya. 🙂 🙂 🙂 Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Sejarah Ditag 8 tokoh perang padri, akhir perang padri, akhirnya perang padri, akibat perang padri, apa yang dimaksud strategi benteng stelsel, apakah yang dimaksud dengan perang puputan, bonjol, dampak ekonomi perang padri, dampak perang padri, dampak perang padri bagi belanda dan indonesia, dampak perlawanan perang diponegoro, dampak terjadinya perang aceh, dialog perang padri, gaya kepemimpinan imam bonjol, harimau nan salapan, hasil dari perang padri, hikmah dari perang padri, hikmah perang diponegoro, hikmah perang padri, istri dari teuku umar adalah, jalannya perang diponegoro, jalannya perang padri, jalannya perang padri secara singkat, jelaskan akibat perang diponegoro, jelaskan dampak setelah terjadinya perang padri, jelaskan sebab terjadinya perang aceh, jelaskan secara ringkas mengenai perang padri, jelaskan terjadinya perjanjian masang, jurnal perang padri, keistimewaan imam bonjol, kesimpulan dari perang diponegoro, kesimpulan perang padri, kesimpulan perang padri brainly, keteladanan imam bonjol, keteladanan pangeran diponegoro, kronologi perang padri, kronologi perang padri brainly, latar belakang perang diponegoro, latar belakang perang padri, makalah perang padri, makalah perang padri lengkap, makalah perang padri pdf, mengevaluasi perang diponegoro, nama tokoh sejarah, naskah drama perang padri, nilai juang perang banjar, nilai juang perang batak, nilai keteladanan dari perang banjar, nilai keteladanan perang banjar, nilai keteladanan perang padri, nilai keteladanan tuanku imam bonjol, nilai nilai kejuangan perang padri, nilai nilai keteladanan ki hajar dewantara, pasaman, penyebab perang padri, penyebab terjadinya perang padri, peran dan nilai nilai perjuangan tokoh, peran i gusti ketut jelantik, peran pangeran diponegoro, peran tuanku nan cerdik dalam perang padri, peranan pangeran antasari, peranan pattimura, perang aceh dikenal juga sebagai perang, perang diponegoro, perang diponegoro singkat, perang padri brainly, perang padri di tanah batak, perang padri di tapanuli, perang padri pdf, perang padri ruang guru, perang padri singkat, perang padri singkat brainly, perang puputan yang maknanya, perilaku yang pantas ditiru dari imam bonjol, perjanjian masang, perjanjian padang, perlawanan padri 1812 1837, pertanyaan perang padri, pertanyaan tentang perang padri brainly, pineleng minahasa, poster perang padri, ppt perang padri, ppt perlawanan kaum padri, proses perang padri, proses perang padri secara singkat, sebutkan isi dari plakat panjang, sebutkan penyebab dari perang banjar, sejarah perang padri, sejarah singkat perlawanan imam bonjol, sifat teladan kapitan pattimura, sikap kepahlawanan tuanku imam bonjol, strategi belanda menghadapi perang diponegoro, strategi perang diponegoro, strategi perang padri, tuanku nan alahan, tuanku nan renceh, uraian pangeran diponegoro Navigasi pos • Contoh Teks Editorial • Contoh Teks Laporan Hasil Observasi • Teks Negosiasi • Teks Deskripsi • Contoh Kata Pengantar • Kinemaster Pro • WhatsApp GB • Contoh Diksi • Contoh Teks Eksplanasi • Contoh Teks Berita • Contoh Teks Negosiasi • Contoh Teks Ulasan • Contoh Teks Eksposisi • Alight Motion Pro • Contoh Alat Musik Ritmis • Contoh Alat Musik Melodis • Contoh Teks Cerita Ulang • Contoh Teks Prosedur Sederhana, Kompleks dan Protokol • Contoh Karangan Eksposisi • Contoh Pamflet • Pameran Seni Rupa • Contoh Seni Rupa Murni • Contoh Paragraf Campuran • Contoh Seni Rupa Terapan • Contoh Karangan Deskripsi • Contoh Paragraf Persuasi • Contoh Paragraf Eksposisi • Contoh Paragraf Narasi • Contoh Karangan Narasi • Teks Prosedur • Contoh Karangan Persuasi • Contoh Karangan Argumentasi • Proposal • Contoh Cerpen • Pantun Nasehat • Cerita Fantasi • Memphisthemusical.Com
★ SMA Kelas 11 / Sejarah SMA Kelas 11 Semester 2 Perang Padri yang terjadi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di….

a. Maluku b. Sumatera Barat c. Aceh d. Sumatera Selatan e. Jawa Timur Pilih jawaban kamu: A B C D E Soal Selanjutnya > Soal / jawaban salah?

klik disini untuk mengoreksi melalui kolom komentar Preview soal lainnya: Sejarah SMA Kelas 11 Semester 2 Komite Nasional dibentuk pada awal kemerdekaan didasarkan pada … a. Rakyat sangat menghendaki dilaksanakannya otonomi daerah b. Badan ini berperan sebagai penyelenggara pemilihan umum c. Badan ini merupakan bentukan bara tokoh – tokoh nasional d. Perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di menghendaki kehadiran lembaga ini dalam membentuk tugasnya e.

Belum adanya DPR dan MPR yang harus dbentuk melalui pemilihan umum Cara Menggunakan : Baca dan cermati soal baik-baik, lalu pilih salah satu jawaban yang kamu anggap benar dengan mengklik / tap pilihan yang tersedia. Materi Latihan Soal Lainnya: • Tema 7 SD Kelas 4 • Ekonomi SMA Kelas 12 • Teks Iklan, Slogan dan Poster - Bahasa Indonesia SMP Kelas 8 • Tema 7 SD Kelas 1 • Ulangan Harian Tema 3 - Penjas PJOK SD Kelas 3 • Matematika Tema 1 SD Kelas 1 • Bahasa Indonesia SD Kelas 6 • Matematika Tema 8 Subtema 1 SD Kelas 2 • Prakarya - SMA Kelas 10 • Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat ASEAN - SD Kelas 6 Tentang LatihanSoalOnline.com Latihan Soal Online adalah website yang berisi tentang latihan soal mulai dari soal SD / MI Sederajat, SMP / MTs sederajat, SMA / MA Sederajat hingga umum.

Website ini hadir dalam rangka ikut berpartisipasi dalam misi mencerdaskan manusia Indonesia. Halaman Depan • Hubungi Kami • Kirim Soal • Privacy Policy • • Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya.

Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus. Cari sumber: "Perang Padri" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR ( Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) Perang Padri Perang Padri Tanggal 1803– 1838 Lokasi Sumatra Barat, Sumatra Utara dan Riau Hasil Kemenangan Belanda.

Pihak terlibat Perang 1803– 1821: Kaum Adat Perang 1821– 1833: Kaum Adat Belanda Perang 1833– 1838: Belanda Perang 1803- 1821: Kaum Padri Perang 1821- 1833: Kaum Padri Perang 1833- 1838 Kaum Padri Kaum Adat Tokoh dan pemimpin Rajo Alam Mayor Jendral Cochius Kolonel Stuers Letnan Kolonel Raaff Letnan Kolonel Elout Letnan Kolonel Krieger Letnan Kolonel Bauer Letnan Kolonel Michiels Mayor Laemlin † Mayor Prager Mayor du Bus Kapten Poland Kapten Lange Tuanku Nan Renceh Tuanku Pasaman Tuanku Imam Bonjol Tuanku Rao † Tuanku Tambusai Perang Padri berlangsung di Sumatra Barat dan sekitarnya terutama di kawasan Kerajaan Pagaruyung dari tahun 1803 hingga 1838.

[1] Perang ini merupakan peperangan yang pada awalnya akibat pertentangan dalam masalah adat sebelum berubah menjadi peperangan melawan penjajahan. Perang Padri dimulai dengan munculnya pertentangan sekelompok ulama yang dijuluki sebagai Kaum Padri terhadap kebiasaan-kebiasaan yang marak dilakukan oleh kalangan masyarakat yang disebut Kaum Adat di kawasan Kerajaan Pagaruyung dan sekitarnya.

Kebiasaan yang dimaksud seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat, minuman keras, tembakau tercuali sirih, dan juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan, serta longgarnya pelaksanaan kewajiban ritual formal agama Islam.

[2] Tidak adanya kesepakatan dari Kaum Adat yang padahal telah memeluk Islam untuk meninggalkan kebiasaan tersebut memicu kemarahan Kaum Padri, sehingga pecahlah peperangan pada tahun 1803. Hingga tahun 1833, perang ini dapat dikatakan sebagai perang saudara yang melibatkan sesama Orang Minang dan Suku Mandailing. Dalam peperangan ini, Kaum Padri dipimpin oleh Harimau Nan Salapan sedangkan Kaum Adat dipimpinan oleh Yang Dipertuan Pagaruyung waktu itu Sultan Arifin Muningsyah.

Kaum Adat yang mulai terdesak, meminta bantuan kepada Belanda pada tahun 1821. Namun keterlibatan Belanda ini justru memperumit keadaan, sehingga sejak tahun 1833 Kaum Adat berbalik melawan Belanda dan bergabung bersama Kaum Padri, walaupun pada akhirnya peperangan ini dapat dimenangkan oleh Belanda. Perang Padri termasuk peperangan dengan rentang waktu yang cukup panjang, menguras harta dan mengorbankan jiwa raga. Perang ini selain meruntuhkan kekuasaan Kerajaan Pagaruyung, juga berdampak merosotnya perekonomian masyarakat di sekitarnya dan memunculkan perpindahan masyarakat dari kawasan konflik.

Daftar isi • 1 Latar belakang • 2 Keterlibatan Belanda • 3 Gencatan senjata • 4 Tuanku Imam Bonjol • 4.1 Peperangan jilid kedua • 4.2 Perlawanan bersama • 4.3 Serangan ke Bonjol • 4.4 Benteng Bonjol • 4.5 Pengepungan Bonjol • 4.6 Perundingan • 5 Akhir peperangan • 6 Warisan sejarah • 7 Referensi Latar belakang [ sunting - sunting sumber ] Perang Padri dilatarbelakangi oleh kepulangan tiga orang Haji dari Mekkah sekitar tahun 1803, yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang yang ingin memperbaiki syariat Islam yang belum sempurna dijalankan oleh masyarakat Minangkabau.

[3] Mengetahui hal tersebut, Tuanku Nan Renceh sangat tertarik lalu ikut mendukung keinginan ketiga orang Haji tersebut bersama dengan ulama lain di Minangkabau yang tergabung dalam Harimau Nan Salapan. [4] Harimau Nan Salapan kemudian meminta Tuanku Lintau untuk mengajak Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah beserta Kaum Adat untuk meninggalkan beberapa kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Dalam beberapa perundingan tidak ada kata sepakat antara Kaum Padri dengan Kaum Adat. Seiring itu beberapa nagari dalam Kerajaan Pagaruyung bergejolak, puncaknya pada tahun 1815, Kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang Kerajaan Pagaruyung dan pecahlah peperangan di Koto Tangah. Serangan ini menyebabkan Sultan Arifin Muningsyah terpaksa menyingkir dan melarikan diri dari ibu kota kerajaan.

[5] Dari catatan Raffles yang pernah mengunjungi Pagaruyung pada tahun 1818, menyebutkan bahwa ia hanya mendapati sisa-sisa Istana Kerajaan Pagaruyung yang sudah terbakar. [6] Keterlibatan Belanda [ sunting - sunting sumber ] Karena terdesak dalam peperangan dan keberadaan Yang Dipertuan Pagaruyung yang tidak pasti, maka Kaum Adat yang dipimpin oleh Sultan Tangkal Alam Bagagar meminta bantuan kepada Belanda pada tanggal 21 Februari 1821, walaupun sebetulnya Sultan Tangkal Alam Bagagar waktu itu dianggap tidak berhak membuat perjanjian dengan mengatasnamakan Kerajaan Pagaruyung.

[7] Akibat dari perjanjian ini, Belanda menjadikannya sebagai tanda penyerahan Kerajaan Pagaruyung kepada pemerintah Hindia Belanda, kemudian mengangkat Sultan Tangkal Alam Bagagar sebagai Regent Tanah Datar. [8] Keterlibatan Belanda dalam perang karena diundang oleh kaum Adat, dan campur tangan Belanda dalam perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di itu ditandai dengan penyerangan Simawang dan Sulit Air oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema pada bulan April 1821 atas perintah Residen James du Puy di Padang.

[9] Kemudian pada 8 Desember 1821 datang tambahan pasukan yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Raaff untuk memperkuat posisi pada kawasan yang telah dikuasai tersebut.

Fort van der Capellen Pada tanggal 4 Maret 1822, pasukan Belanda dibawah pimpinan Letnan Kolonel Raaff berhasil memukul mundur Kaum Padri keluar dari Pagaruyung. Kemudian Belanda membangun benteng pertahanan di Batusangkar dengan nama Fort Van der Capellen, sedangkan Kaum Padri menyusun kekuatan dan bertahan di Lintau.

[10] Pada tanggal 10 Juni 1822 pergerakan pasukan Raaff di Tanjung Alam dihadang oleh Kaum Padri, tetapi pasukan Belanda dapat terus melaju ke Luhak Agam. Pada tanggal 14 Agustus 1822 dalam pertempuran di Baso, Kapten Goffinet menderita luka berat kemudian meninggal dunia pada 5 September 1822. Pada bulan September 1822 pasukan Belanda terpaksa kembali ke Batusangkar karena terus tertekan oleh serangan Kaum Padri yang dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh.

Setelah mendapat tambahan pasukan pada 13 April 1823, Raaff mencoba kembali menyerang Lintau, tetapi Kaum Padri dengan gigih melakukan perlawanan, sehingga pada tanggal 16 April 1823 Belanda terpaksa kembali ke Batusangkar. Sementara pada tahun 1824 Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah kembali ke Pagaruyung atas permintaan Letnan Kolonel Raaff, tetapi pada tahun 1825 raja terakhir Minangkabau ini wafat dan kemudian dimakamkan di Pagaruyung. [11] Sedangkan Raaff sendiri meninggal dunia secara mendadak di Padang pada tanggal 17 April 1824 setelah sebelumnya mengalami demam tinggi.

[12] Sementara pada bulan September 1824, pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Frans Laemlin telah berhasil menguasai beberapa kawasan di Luhak Agam di antaranya Koto Tuo dan Ampang Gadang. Kemudian mereka juga telah menduduki Biaro dan Kapau, tetapi karena luka-luka yang dideritanya di bulan Desember 1824, Laemlin meninggal dunia di Padang. [13] Gencatan senjata [ sunting - sunting sumber ] Perlawanan yang dilakukan oleh Kaum Padri cukup tangguh sehingga sangat menyulitkan Belanda untuk menundukkannya.

Oleh sebab itu Belanda melalui residennya di Padang mengajak pemimpin Kaum Padri yang waktu itu telah dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai dengan maklumat "Perjanjian Masang" pada tanggal 15 November 1825. [2] Hal ini dimaklumi karena disaat bersamaan Pemerintah Hindia Belanda juga kehabisan dana dalam menghadapi peperangan lain di Eropa dan Jawa seperti Perang Diponegoro. Selama periode gencatan senjata, Tuanku Imam Bonjol mencoba memulihkan kekuatan dan juga mencoba perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di kembali Kaum Adat.

Sehingga akhirnya muncul suatu kompromi yang dikenal dengan nama "Plakat Puncak Pato" di Bukit Marapalam, Kabupaten Tanah Datar yang mewujudkan konsensus bersama Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah yang artinya adat Minangkabau berlandaskan kepada agama Islam, sedangkan agama Islam berlandaskan kepada Al-Qur'an. [14] Tuanku Imam Bonjol [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Tuanku Imam Bonjol Tuanku Imam Bonjol yang bernama asli Muhammad Shahab muncul sebagai pemimpin dalam Perang Padri setelah sebelumnya ditunjuk oleh Tuanku Nan Renceh sebagai Imam di Bonjol.

[15] Kemudian menjadi pemimpin sekaligus panglima perang setelah Tuanku Nan Renceh meninggal dunia. [16] Pada masa kepemimpinannya, ia mulai menyesali beberapa tindakan keliru yang dilakukan oleh Kaum Padri terhadap saudara-saudaranya, sebagaimana yang terdapat dalam memorinya.

Walau di sisi lain fanatisme tersebut juga melahirkan sikap kepahlawanan dan cinta tanah air. [5] Peperangan jilid kedua [ sunting - sunting sumber ] Setelah berakhirnya perang Diponegoro dan pulihnya kekuatan Belanda di Jawa, Pemerintah Hindia Belanda kembali mencoba untuk menundukan Kaum Padri. Hal ini sangat didasari oleh keinginan kuat untuk penguasaan penanaman kopi yang sedang meluas di kawasan pedalaman Minangkabau ( darek).

Sampai abad ke-19, komoditas perdagangan kopi merupakan salah satu produk andalan Belanda di Eropa. Christine Dobbin menyebutnya lebih kepada perang dagang, hal ini seiring dengan dinamika perubahan sosial masyarakat Minangkabau dalam liku-liku perdagangan di pedalaman dan pesisir pantai barat atau pantai timur.

Sementara Belanda pada satu sisi ingin mengambil alih atau monopoli. [11] Selanjutnya untuk melemahkan kekuatan lawan, Belanda melanggar perjanjian yang telah dibuat sebelumnya dengan menyerang nagari Pandai Sikek yang merupakan salah satu kawasan yang mampu memproduksi mesiu dan senjata api.

Kemudian untuk memperkuat kedudukannya, Belanda membangun benteng di Bukittinggi yang dikenal dengan nama Fort de Kock. Persiapan pasukan Belanda di Fort de Kock Pada awal bulan Agustus 1831 Lintau berhasil ditaklukkan, menjadikan Luhak Tanah Datar berada dalam kendali Belanda. Namun Tuanku Lintau masih tetap melakukan perlawanan dari kawasan Luhak Limo Puluah.

Sementara ketika Letnan Kolonel Elout melakukan berbagai serangan terhadap Kaum Padri antara tahun 1831–1832, ia memperoleh tambahan kekuatan dari pasukan Sentot Prawirodirdjo, salah seorang panglima pasukan Pangeran Diponegoro yang telah membelot dan berdinas pada Pemerintah Hindia Belanda setelah usai perang di Jawa. Namun kemudian Letnan Kolonel Elout berpendapat, kehadiran Sentot yang ditempatkan di Lintau justru menimbulkan masalah baru. Beberapa dokumen-dokumen resmi Belanda membuktikan kesalahan Sentot yang telah melakukan persekongkolan dengan Kaum Padri sehingga kemudian Sentot dan legiunnya dikembalikan ke Pulau Jawa.

Di Jawa, Sentot juga tidak berhasil menghilangkan kecurigaan Belanda terhadap dirinya, dan Belanda pun juga tidak ingin ia tetap berada di Jawa dan mengirimnya kembali ke Sumatra.

Namun di tengah perjalanan, Sentot diturunkan dan ditahan di Bengkulu, lalu ditinggal sampai mati sebagai orang buangan. Sedangkan pasukannya dibubarkan kemudian direkrut kembali menjadi tentara Belanda. Sentot Prawirodirdjo, yang diilustrasikan oleh Justus Pieter de Veer. Pada bulan Juli 1832, dari Jakarta dikirim pasukan infantri dalam jumlah besar di bawah pimpinan Letnan Kolonel Ferdinand P.

Vermeulen Krieger, untuk mempercepat penyelesaian peperangan.

perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di

Dengan tambahan pasukan tersebut pada bulan Oktober 1832, Luhak Limo Puluah telah berada dalam perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di Belanda bersamaan dengan meninggalnya Tuanku Lintau. [17] Kemudian Kaum Padri terus melakukan konsolidasi dan berkubu di Kamang, tetapi seluruh kekuatan Kaum Padri di Luhak Agam juga dapat ditaklukkan Belanda setelah jatuhnya Kamang pada akhir tahun 1832, sehingga kembali Kaum Padri terpaksa mundur dari kawasan luhak dan bertahan di Bonjol.

Selanjutnya pasukan Belanda mulai melakukan penyisiran pada beberapa kawasan yang masih menjadi basis Kaum Padri. Pada awal Januari 1833, pasukan Belanda membangun kubu pertahanan di Padang Mantinggi, tetapi sebelum mereka dapat memperkuat posisi, kubu pertahanan tersebut diserang oleh Kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Rao yang mengakibatkan banyak korban di pihak Belanda.

[18] Namun dalam pertempuran di Air Bangis, pada tanggal 29 Januari 1833, Tuanku Rao menderita luka berat akibat dihujani peluru. Kemudian ia dinaikkan ke atas kapal untuk diasingkan. Belum lama berada di atas kapal, Tuanku Rao menemui ajalnya.

Diduga jenazahnya kemudian dibuang ke laut oleh tentara Belanda. [19] Perlawanan bersama [ sunting - sunting sumber ] Kaum Adat Sejak tahun 1833 mulai muncul kompromi antara Kaum Adat dan Kaum Padri. [20] Pada tanggal 11 Januari 1833 beberapa kubu pertahanan dari garnisun Belanda diserang secara mendadak, membuat keadaan menjadi kacau; [21] disebutkan ada sekitar 139 orang tentara Eropa serta ratusan tentara pribumi terbunuh.

Sultan Tangkal Alam Bagagar yang sebelumnya ditunjuk oleh Belanda sebagai Regent Tanah Datar, ditangkap oleh pasukan Letnan Kolonel Elout pada tanggal 2 Mei 1833 di Batusangkar atas tuduhan pengkhianatan. Kemudian Belanda mengasingkannya ke Batavia, walau dalam catatan Belanda Sultan Tangkal Alam Bagagar menyangkal keterlibatannya dalam penyerangan beberapa pos Belanda, tetapi pemerintah Hindia Belanda juga tidak mau mengambil risiko untuk menolak laporan dari para perwiranya.

Kedudukan Regent Tanah Datar kemudian diberikan kepada Tuan Gadang di Batipuh. [7] Menyadari hal itu, kini Belanda bukan hanya menghadapi Kaum Padri saja, tetapi secara keseluruhan masyarakat Minangkabau. Maka Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1833 mengeluarkan pengumuman yang disebut "Plakat Panjang" berisi sebuah pernyataan bahwa kedatangan Belanda ke Minangkabau tidaklah bermaksud untuk menguasai negeri tersebut, mereka hanya datang untuk berdagang dan menjaga keamanan, penduduk Minangkabau akan tetap diperintah oleh para penghulu mereka dan tidak pula diharuskan membayar pajak.

Kemudian Belanda berdalih bahwa untuk menjaga keamanan, membuat jalan, membuka sekolah, dan sebagainya memerlukan biaya, maka penduduk diwajibkan menanam kopi dan mesti menjualnya kepada Belanda. Serangan ke Bonjol [ sunting - sunting sumber ] Romantisme kepahlawanan dalam Perang Padri, diilustrasikan oleh Justus Pieter de Veer. Lamanya penyelesaian peperangan ini, memaksa Gubernur Jenderal Hindia Belanda Johannes van den Bosch pada tanggal 23 Agustus 1833 pergi ke Padang untuk melihat dari dekat proses operasi militer yang dilakukan oleh pasukan Belanda.

[22] Sesampainya di Padang, ia melakukan perundingan dengan Komisaris Pesisir Barat Sumatra, Mayor Jenderal Riesz dan Letnan Kolonel Elout untuk segera menaklukkan Benteng Bonjol, pusat komando pasukan Padri. Riesz dan Elout menerangkan bahwa belum datang saatnya yang baik untuk mengadakan serangan umum terhadap Benteng Bonjol, karena kesetiaan penduduk Luhak Agam masih disangsikan dan mereka sangat mungkin akan menyerang pasukan Belanda dari belakang.

Tetapi Van den Bosch bersikeras untuk segera menaklukkan Benteng Bonjol paling lambat tanggal 10 September 1833, kedua opsir tersebut meminta tangguh enam hari sehingga jatuhnya Bonjol diharapkan pada tanggal 16 September 1833. Taktik serangan gerilya yang diterapkan Kaum Padri kemudian berhasil memperlambat gerak laju serangan Belanda ke Benteng Bonjol, bahkan dalam beberapa perlawanan hampir semua perlengkapan perang pasukan Belanda seperti meriam beserta perbekalannya dapat dirampas.

Pasukan Belanda hanya dapat membawa senjata dan pakaian yang melekat di tangan dan badannya. Sehingga pada tanggal 21 September 1833, sebelum Gubernur Jenderal Hindia Belanda digantikan oleh Jean Chrétien Baud, Van den Bosch membuat laporan bahwa penyerangan ke Bonjol gagal dan sedang diusahakan untuk konsolidasi guna penyerangan selanjutnya. Kemudian selama tahun 1834 Belanda hanya fokus pada pembuatan jalan dan jembatan yang mengarah ke Bonjol dengan mengerahkan ribuan tenaga kerja paksa.

Hal ini dilakukan untuk memudahkan mobilitas pasukannya dalam menaklukkan Bonjol. Selain itu pihak Belanda juga terus berusaha menanamkan pengaruhnya pada beberapa kawasan yang dekat dengan kubu pertahanannya.

Pada tanggal 16 April 1835, Belanda memutuskan untuk kembali mengadakan serangan besar-besaran untuk menaklukkan Bonjol dan sekitarnya. Operasi militer dimulai pada tanggal 21 April 1835, pasukan Belanda dipimpin oleh Letnan Kolonel Bauer, memecah pasukannya menuju Masang menjadi dua bagian yang bergerak masing-masing dari Matur dan Bamban. Pasukan ini mesti menyeberangi sungai yang saat itu tengah dilanda banjir, dan terus masuk menyelusup ke dalam hutan rimba; mendaki gunung dan menuruni lembah; guna membuka jalur baru menuju Bonjol.

Pada tanggal 23 April 1835 gerakan pasukan Belanda ini telah berhasil mencapai tepi Batang Gantiang, kemudian menyeberanginya dan berkumpul di Batusari.

Dari sini hanya ada satu jalan sempit menuju Sipisang, daerah yang masih dikuasai oleh Kaum Padri. Sesampainya di Sipisang, pecah pertempuran sengit antara pasukan Belanda dengan Kaum Padri. Pertempuran berlangsung selama tiga hari tiga malam tanpa henti, sampai banyak korban di kedua belah pihak.

Akhirnya dengan kekuatan yang jauh tak sebanding, pasukan Kaum Padri terpaksa mengundurkan diri ke hutan-hutan rimba sekitarnya.

Jatuhnya daerah Sipisang ini meningkatkan moralitas pasukan Belanda, kemudian daerah ini dijadikan sebagai kubu pertahanan sambil menunggu pembuatan jembatan menuju Bonjol. [23] Walau pergerakan laju pasukan Belanda menuju Bonjol masih sangat lamban, hampir sebulan waktu yang diperlukan untuk dapat mendekati daerah Lembah Alahan Panjang. Sebagai front terdepan dari Alahan Panjang adalah daerah Padang Lawas yang secara penuh masih dikuasai oleh Kaum Padri. Namun pada tanggal 8 Juni 1835 pasukan Belanda berhasil menguasai daerah ini.

[24] Selanjutnya pada tanggal 11 Juni 1835 pasukan Belanda kembali bergerak menuju sebelah timur Batang Alahan Panjang dan membuat kubu pertahanan di sana, sementara pasukan Kaum Padri tetap bersiaga di seberangnya. Pasukan Belanda berhasil mendekati Bonjol dalam jarak kira-kira hanya 250 langkah pada tengah malam tanggal 16 Juni 1835, kemudian mereka mencoba membuat kubu pertahanan. Selanjutnya dengan menggunakan houwitser, mortir dan meriam, pasukan Belanda menembaki Benteng Bonjol.

Namun Kaum Padri tidak tinggal diam dengan menembakkan meriam pula dari Bukit Tajadi. Sehingga dengan posisi yang kurang menguntungkan, pasukan Belanda banyak menjadi korban.

Pada tanggal 17 Juni 1835 kembali datang bantuan tambahan pasukan sebanyak 2000 orang yang dikirim oleh Residen Francis di Padang dan pada tanggal 21 Juni 1835, dengan kekuatan yang besar pasukan Belanda memulai gerakan maju menuju sasaran akhir yaitu Benteng Bonjol di Bukit Tajadi. Benteng Bonjol [ sunting - sunting sumber ] Lukisan Bonjol pada tahun 1839. Benteng Bonjol terletak di atas bukit yang hampir tegak lurus ke atas, dikenal dengan nama Bukit Tajadi.

Tidak begitu jauh dari benteng ini mengalir Batang Alahan Panjang, sebuah sungai di tengah lembah dengan aliran yang deras, berliku-liku dari utara ke selatan.

Benteng ini berbentuk segi empat panjang, tiga sisinya dikelilingi oleh dinding pertahanan dua lapis setinggi kurang lebih 3 meter. Di antara kedua lapis dinding dibuat parit yang dalam dengan lebar 4 meter. Dinding luar terdiri dari batu-batu besar dengan teknik pembuatan hampir sama seperti benteng-benteng di Eropa dan di atasnya ditanami bambu berduri panjang yang ditanam sangat rapat sehingga Kaum Padri dapat mengamati bahkan menembakkan meriam kepada pasukan Belanda.

[25] Semak belukar dan hutan yang sangat lebat di sekitar Bonjol menjadikan kubu-kubu pertahanan Kaum Padri tidak mudah untuk dilihat oleh pasukan Belanda. Keadaan inilah yang dimanfaatkan dengan baik oleh Kaum Padri untuk membangun kubu pertahanan yang strategis, sekaligus menjadi markas utama Tuanku Imam Bonjol. [26] Pengepungan Bonjol [ sunting - sunting sumber ] Kejatuhan Bukit Tajadi, diilustrasikan oleh Justus Pieter de Veer.

Melihat kokohnya Benteng Bonjol, pasukan Belanda mencoba melakukan blokade terhadap Bonjol dengan tujuan untuk melumpuhkan suplai bahan makanan dan senjata pasukan Padri. Blokade yang dilakukan ini ternyata tidak efektif, karena justru kubu-kubu pertahanan pasukan Belanda dan bahan perbekalannya yang banyak diserang oleh pasukan Kaum Padri secara gerilya. Di saat bersamaan seluruh pasukan Kaum Padri mulai berdatangan dari daerah-daerah yang telah ditaklukkan pasukan Belanda, yaitu dari berbagai negeri di Minangkabau dan sekitarnya.

Semua bertekad bulat untuk mempertahankan markas besar Bonjol sampai titik darah penghabisan, hidup mulia atau mati syahid. Usaha untuk melakukan serangan ofensif terhadap Bonjol baru dilakukan kembali setelah bala bantuan tentara yang terdiri dari pasukan Bugis datang, maka pada pertengahan Agustus 1835 penyerangan mulai dilakukan terhadap kubu-kubu pertahanan Kaum Padri yang berada di Bukit Tajadi, dan pasukan Bugis ini berada pada bagian depan pasukan Belanda dalam merebut satu persatu kubu-kubu pertahanan strategis Kaum Padri yang berada disekitar Bukit Tajadi.

[27] Namun sampai awal September 1835, pasukan Belanda belum berhasil menguasai Bukit Perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di, malah pada tanggal 5 September 1835, Kaum Padri keluar dari kubu pertahanannya menyerbu ke luar benteng menghancurkan kubu-kubu pertahahan Belanda yang dibuat sekitar Bukit Tajadi.

Setelah serangan tersebut, pasukan Kaum Padri segera kembali masuk ke dalam Benteng Bonjol. Pada tanggal 9 September 1835, pasukan Belanda mencoba menyerang dari arah Luhak Limo Puluah dan Padang Bubus, tetapi hasilnya gagal, bahkan banyak menyebabkan kerugian pada pasukan Belanda. Letnan Kolonel Bauer, salah seorang komandan pasukan Belanda menderita sakit dan terpaksa dikirim ke Bukittinggi kemudian posisinya digantikan oleh Mayor Prager.

Blokade yang berlarut-larut dan keberanian Kaum Padri, membangkitkan semangat keberanian rakyat sekitarnya untuk memberontak dan menyerang pasukan Belanda, sehingga pada tanggal 11 Desember 1835 rakyat Simpang dan Alahan Mati mengangkat senjata dan menyerang kubu-kubu pertahanan Belanda.

Pasukan Belanda kewalahan mengatasi perlawanan ini. Namun setelah datang bantuan dari serdadu-serdadu Madura yang berdinas pada pasukan Belanda, perlawanan ini dapat diatasi. Frans David Cochius, komandan penaklukan Benteng Bonjol.

Hampir setahun mengepung Bonjol, pada tanggal 3 Desember 1836, pasukan Belanda kembali melakukan serangan besar-besaran terhadap Benteng Bonjol, sebagai usaha terakhir untuk penaklukan Bonjol. Serangan dahsyat ini mampu menjebol sebagian Benteng Bonjol, sehingga pasukan Belanda dapat masuk menyerbu dan berhasil membunuh beberapa keluarga Tuanku Imam Bonjol. Tetapi dengan kegigihan dan semangat juang yang tinggi Kaum Padri kembali berhasil memporak-porandakan musuh sehingga Belanda terusir dan terpaksa kembali keluar dari benteng dengan meninggalkan banyak sekali korban jiwa di masing-masing pihak.

Kegagalan penaklukan ini benar-benar memukul kebijaksanaan Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia yang waktu itu telah dipegang oleh Dominique Jacques de Eerens, kemudian pada awal tahun 1837 mengirimkan seorang panglima perangnya yang bernama Mayor Jenderal Cochius untuk memimpin langsung serangan besar-besaran ke Benteng Bonjol untuk kesekian kalinya.

[28] Cochius merupakan seorang perwira tinggi Belanda yang memiliki keahlian dalam strategi perang Benteng Stelsel. Selanjutnya Belanda dengan intensif mengepung Bonjol dari segala jurusan selama sekitar enam bulan (16 Maret–17 Agustus 1837) [29] dipimpin oleh jenderal dan beberapa perwira. Pasukan gabungan ini sebagian besar terdiri dari berbagai suku, seperti Jawa, Madura, Bugis dan Ambon.

Terdapat 148 perwira Eropa, 36 perwira pribumi, 1.103 tentara Eropa, 4.130 tentara pribumi, termasuk di dalamnya Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (pasukan pembantu Sumenap alias Madura). Dalam daftar nama para perwira pasukan Belanda tersebut di antaranya adalah Mayor Jendral Cochius, Letnan Kolonel Bauer, Mayor Sous, Mayor Prager, Kapten MacLean, Letnan Satu van der Tak, Pembantu Letnan Satu Steinmetz, dan seterusnya.

perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di

Kemudian ada juga nama Inlandsche (pribumi) seperti Kapitein Noto Prawiro, Indlandsche Luitenant Prawiro di Logo, Karto Wongso Wiro Redjo, Prawiro Sentiko, Prawiro Brotto, Merto Poero dan lainnya.

Dari Batavia didatangkan terus tambahan kekuatan tentara Belanda, dimana pada tanggal 20 Juli 1837 tiba dengan Kapal Perle di Padang, sejumlah orang Eropa dan Sepoys, serdadu dari Afrika yang berdinas dalam tentara Belanda, direkrut dari Ghana dan Mali, terdiri dari 1 sergeant, 4 korporaals dan 112 flankeurs, serta dipimpin oleh Kapitein Sinninghe.

Serangan yang bergelombang serta bertubi-tubi dan hujan peluru dari pasukan artileri yang bersenjatakan meriam-meriam besar, selama kurang lebih 6 bulan lamanya, serta pasukan infantri dan kavaleri yang terus berdatangan.

Pada tanggal 3 Agustus 1837 dipimpin oleh Letnan Kolonel Michiels sebagai komandan lapangan terdepan mulai sedikit demi sedikit menguasai keadaan, dan akhirnya pada tanggal tanggal 15 Agustus 1837, Bukit Tajadi jatuh, dan pada tanggal 16 Agustus 1837 Benteng Bonjol secara keseluruhan dapat ditaklukkan. Namun Tuanku Imam Bonjol dapat mengundurkan diri keluar dari benteng dengan didampingi oleh beberapa pengikutnya terus menuju daerah Marapak. Perundingan [ sunting - sunting sumber ] Dalam pelarian dan persembunyiannya, Tuanku Imam Bonjol terus mencoba mengadakan konsolidasi terhadap seluruh pasukannya yang telah bercerai-berai dan lemah, tetapi karena telah lebih 3 tahun bertempur melawan Belanda secara terus menerus, ternyata hanya sedikit saja yang tinggal dan masih siap untuk bertempur kembali.

Tuanku Imam Bonjol menyerah kepada Belanda pada Oktober 1837, dengan kesepakatan bahwa anaknya yang ikut bertempur selama ini, Naali Sutan Chaniago, diangkat sebagai pejabat kolonial Belanda. [30] Pada tanggal 23 Januari 1838, Imam Bonjol dibuang ke Cianjur, dan pada akhir tahun 1838, ia kembali dipindahkan ke Ambon.

Kemudian pada tanggal 19 Januari 1839, Tuanku Imam Bonjol kembali dipindahkan ke Lotta, Minahasa, dekat Manado, dan di daerah inilah setelah menjalani masa pembuangan selama 27 tahun lamanya. Pada tanggal 8 November 1864, Tuanku Imam Bonjol meninggal dunia pada tanggal 8 November 1864.

Beliau dimakamkan di tempat pengasingannya tersebut. Tuanku Imam Bonjol menulis autobiografi yang dinamakan Naskah Tuanku Imam Bonjol yang antara lain berisi kekecewaannya terhadap masyarakat Bonjol yang terpecah dan tidak mau bersatu. [30] Tulisan tersebut merupakan karya sastra autobiografi pertama dalam bahasa Melayu disimpan oleh keturunan Imam Bonjol dan dipublikasikan tahun 1925 di Berkley, [31] dan 2004 [32] di Padang.

[30] Akhir peperangan [ sunting - sunting sumber ] Monumen Perang Padri yang dibangun pada masa Hindia Belanda Meskipun pada tahun 1837 Benteng Bonjol dapat dikuasai Belanda, dan Tuanku Imam Bonjol berhasil ditipu dan ditangkap, tetapi peperangan ini masih berlanjut sampai akhirnya benteng terakhir Kaum Padri, di Dalu-Dalu ( Rokan Hulu), yang waktu itu telah dipimpin oleh Tuanku Tambusai jatuh pada 28 Desember 1838.

[33] Jatuhnya benteng tersebut memaksa Tuanku Tambusai mundur, bersama sisa-sisa pengikutnya pindah ke Negeri Sembilan di Semenanjung Malaya, dan akhirnya peperangan ini dianggap selesai kemudian Kerajaan Pagaruyung ditetapkan menjadi bagian dari Pax Netherlandica dan wilayah Padangse Bovenlanden telah berada di bawah pengawasan Pemerintah Hindia Belanda.

Warisan sejarah [ sunting - sunting sumber ] Pengaruh dari peperangan ini menumbuhkan sikap patriotisme kepahlawanan bagi masing-masing pihak yang terlibat.

Selepas jatuhnya Benteng Bonjol, pemerintah Hindia Belanda membangun sebuah monumen untuk mengenang kisah peperangan ini. [25] Kemudian sejak tahun 1913, beberapa lokasi tempat terjadi peperangan ini ditandai dengan tugu dan dimasukan sebagai kawasan wisata di Minangkabau.

[34] Begitu juga selepas kemerdekaan Indonesia, pemerintah setempat juga membangun museum dan monumen di Bonjol dan dinamai dengan Museum dan Monumen Tuanku Imam Bonjol. Perjuangan beberapa tokoh dalam Perang Padri ini, mendorong pemerintah Indonesia kemudian menetapkan Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Tambusai sebagai Pahlawan Nasional.

Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ Cuisinier, Jeanne (1959). "La Guerre des Padri (1803-1838-1845)". Archives de Sociologie des Religions. Centre National de la Recherche Scientifique. • ^ a b Sejarah. Yudhistira Ghalia Indonesia. ISBN 978-979-746-801-9. • ^ Azra, Azyumardi (2004). The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia: Networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern 'Ulama' in the Seventeenth and Eighteenth Centuries.

University of Hawaii Press. ISBN 0-8248-2848-8. • ^ Ampera Salim, Zulkifli (2005). Minangkabau Dalam Catatan Sejarah yang Tercecer. Citra Budaya Indonesia. ISBN 979-3458-03-8. • ^ a b Nain, Sjafnir Aboe (2004). Memorie Tuanku Imam Bonjol. Padang: PPIM. • ^ Raffles, Sophia (1830). Memoir of the Life and Public Services of Sir Thomas Stamford Raffles. London: J. Murray. • ^ a b Amran, Rusli (1981). Sumatra Barat hingga Plakat Panjang. Penerbit Sinar Harapan. • ^ G. Kepper, (1900).

Wapenfeiten van Het Nederlands Indische Leger; 1816-1900. Den Haag: M.M. Cuvee. • ^ Episoden Uit Geschiedenis der Nederlandsche Krigsverrigtingen op Sumatra’s Westkus. Indisch Magazijn 12/1, No. 7. 1844:116. • ^ H. M. Lange (1852). Het Nederlandsch Oost-Indisch leger ter Westkust van Sumatra (1819-1845). ‘S Hertogenbosch: Gebroeder Muller. I: 20-1 • ^ a b Dobbin, C.E. (1983). Islamic revivalism in a Changing Peasant Economy: Central Sumatra, 1784-1847. Curzon Press. ISBN 0-7007-0155-9.

• ^ P. C. Molhuysen en P.J. Blok perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di. Nieuw Nederlands Biografisch Woordenboek.

Deel 2, Bladzijde 1148. • ^ Nederlandse Staatscourant (10 Juni 1825). • ^ Jones, Gavin W., Chee, Heng Leng, dan Mohamad, Maznah (2009). Muslim Non Muslim Marriage: Political and Cultural Contestations in Southeast Asia, Bab 6: Not Muslim, Not Minangkabau, Interreligious Marriage and its Culture Impact in Minangkabau Society by Mina Elvira.

Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 978-981-230-874-0 • ^ Munasifah (2007). Ayo Mengenal Indonesia: Sumatra 1. Jakarta: CV. Pamularsih. hlm. 51. ISBN 978-979-1494-31-1 • ^ Mardjani Martamin (1984).

perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di

Tuanku Imam Bonjol. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional. • ^ Zakariya, Hafiz (2006). Islamic reform in colonial Malaya: Shaykh Tahir Jalaluddin and Sayyid Shaykh al-Hadi. ProQuest.

ISBN 0-542-86357-X. • ^ Nederlandse Staatscourant (17-06-1833). • ^ Said, Mohammad (1961). Dari halaman2 terlepas dalam catatan tentang tokoh Singamangaradja XII. Waspada. • ^ Abdullah, Taufik (1966). Adat dan Islam: an Examination of Conflict in Minangkabau. Indonesia. No. 2, 1-24. • ^ Nederlandse Staatscourant (29-05-1833). • ^ Pusat Sejarah Militer Angkatan Darat Indonesia (1964). Sejarah Singkat Perjuangan Bersenjata Bangsa Indonesia.

Staf Angkatan Bersenjata. • ^ J.C. van Rijnveld (1841). De Merkwaardige Terugtocht van Pisang op Agam. Militaire Spectator. Bladzijde 1-7 en 24-32. • ^ Abdul Qadir Djaelani, (1999), Perang sabil versus perang salib: umat Islam melawan penjajah Kristen Portugis dan Belanda, Yayasan Pengkajian Islam Madinah Al-Munawwarah.

• ^ a b Boelhouwer, J.C. (1841). Herinneringen van Mijn Verblijf op Sumatra’s Westkust Gedurende de Jaren 1831-1834. Den Haag: Erven Doorman. • ^ Tempointeraktif, 15 Oktober 2007. Dari Catatan Harian Bonjol. • ^ Journaal van de Expeditie Naar Padang Onder de Generaal-Majoor Cochius in 1837 Gehouden Door de Majoor Sous-Chief van Den Generaal-Staf Jonkher C.P.A.

de Salis. hlm. 59-183. • ^ Tate, D. J. M. (1971). The Making of Modern South-East Asia: The European conquest.

Oxford University Press. • ^ G. Teitler (2004). Het Einde Padri Oorlog: Het Beleg en de Vermeestering van Bondjol 1834-1837: Een Bronnenpublicatie. Amsterdam: De Bataafsche Leeuw.

hlm. 59-183. • ^ a b c Hadler, Jeffrey (2008/08). "A Historiography of Violence and the Secular State in Indonesia: Tuanku Imam Bondjol and the Uses of History". The Journal of Asian Studies (dalam bahasa Inggris). 67 (3): 971–1010. doi: 10.1017/S0021911808001228. ISSN 1752-0401. Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) Halaman 986-989, 1002 • ^ IMAM BONDJOL, TUANKU, and NAALI, SUTAN CANIAGO.

1925. Naskah Tuanku Imam Bondjol [manuscript in Arabic-script Minangkabau]. University of California, Berkeley. Doe Library, DS646.15.S76.I43. • ^ IMAM BONDJOL, TUANKU. 2004. Naskah Tuanku Imam Bonjol. Transliterator Syafnir Aboe Nain. Padang: PPIM. • ^ Sejarah Untuk SMP dan MTs. Grasindo. ISBN 978-979-025-198-4.

• ^ Westenenk, L. C., (1913), Sumatra Illustrated Tourist Guide: A Fourteen Days’ Trip in the Padang Highlands, Batavia (Weltevreden): Official Tourist Bureau. • 1840. J.C. van Rijneveld. Veldtocht der Nederlandse troepen op het eiland Celebes in de jaren 1824-1825. Militaire Spectator. Bladzijde 221-240. • 1841. J.C. Boelhouwer. Herinneringen aan mijn tijd op Sumatra's Westkust gedurende de jaren 1831-1834.

Erven Doorman. • 1841. J.C. van Rijneveld. De merkwaardige terugtocht van Pisang op Agam. Militaire Spectator.

Bladzijde 1-7 en 24-32. • 1842. A. Meis. Verhaal van de Palembangse Oorlog van 1819 tot 1821. Militaire Spectator. Bladzijde 182-189. • 1844. H.M. Lange. Verhaal van de krijgsgebeurtenissen in het landschap Rauw, aan de westkust van Sumatra, gedurende het jaar 1833, en van de heldhaftige verdediging van het fort Amerongen.

Militaire Spectator. Bladzijde 7-15, 23-33, 53-61, 81-83 en 119-125. • 1850. H.M. Lange. 'Hulde aan de nagedachtenis van hen, die sinds de vestiging van het Koninklijk Nederlands gezag in Oost-Indië, roemvol perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di zijn. Militaire Spectator. Bladzijde 464-475. • 1876. A.J.A. Gerlach. Neerlands heldenfeiten in Oost-Indië.

Bewerkt naar Les fastes militaires des indes Orientales. Deel II. Gebroeders Belinfante. Den Haag. • 1900. G. Kepper. Wapenfeiten van het Nederlands Indische Leger; 1816-1900. M.M. Cuvee, Den Haag. • Perang Padri (1821–37) • Perang Pattimura • Pemberontakan Ronggo (1810) • Geger Sepehi (1812) • Perang Diponegoro (1825–30) • Ekspedisi Palembang • 1819 • 1821 • Invasi Belanda ke Pantai Barat Sumatera (1831) • Ekspedisi Sumatera Pertama • Perang Aceh Pertama • Perang Aceh (1873–1913) ( Ekspedisi Tanah Gayo, Alas, dan Batak) • Perang Bali • 1846 • 1848 • 1849 • 1858 • 1894 • 1906 • 1908 • Pemberontakan di Kalimantan Barat • 1823 • 1850–54 • 1854–55 • Pemberontakan Batipuh • Perang Banjar (1859–63) • Perang Bone • 1824 • 1825 • 1859 • Penyerbuan Jawa 1811 • Penyerbuan Meester Cornelis • Perang Tapanuli • Ekspedisi Palembang (1851–59) • Nias (1855–64) • Besemah (1864–68) • Mandor (1884–85) • Jambi (1885) • Ekspedisi Idi (1890) • Ekspedisi Pidie (1897–98) • Ekspedisi Kerinci (1903) • Ekspedisi Sulawesi (1905–06) • Perang Belasting • Perang Kamang • Perang Manggopoh Pendudukan Jepang • Halaman ini terakhir diubah pada 7 Mei 2022, pukul 07.03.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
Perang Padri merupakan salah satu bentuk perlawanan rakyat pada masa pendudukan Belanda.

Namun, tahukah kamu kalau awal mula permasalahannya berasal dari peperangan antar saudara? Kalau penasaran ingin mengetahui ulasannya lebih lanjut, mending langsung cek saja artikel sejarah Perang Padri berikut ini.

Ketika masa pendudukan Belanda, terjadi perlawanan rakyat di berbagai daerah. Penyebabnya tak lain dan tak bukan karena kehidupan rakyat yang semakin menderita. Salah satu perlawanan dalam sejarah pendudukan Belanda berasal dari Sumatra Barat yang kemudian dikenal dengan Perang Padri. Sebenarnya, perang tersebut sudah terjadi mulai tahun 1803. Pada mulanya merupakan pertempuran sesama saudara. Akan tetapi, Belanda masuk dan membuat permusuhan itu semakin runyam. Hingga kemudian, kedua belah pihak yang bertempur itu menjadi satu dan berbalik melawan Belanda.

Kira-kira seperti apa kronologinya? Daripada kebanyakan basa-basi, kamu bisa langsung saja membaca sejarah lengkap Perang Padri di bawah ini, ya! Sejarah Latar Belakang Terjadinya Perang Padri Kaum Adat Sumber: Wikimedia Commons Sebelum membahas lebih lanjut mengenai sejarah perang antara rakyat Sumatra Barat melawan Belanda, tidak ada salahnya untuk menyimak latar belakang terjadinya peristiwa tersebut. Salah satu peperangan terlama di Indonesia tersebut bermula dari perseteruan antara kaum Padri dan kaum Adat.

Terbentuknya Kaum Padri dan Kaum Adat Latar belakang sejarah bermulanya Perang Padri bermula dari berkembangnya paham Wahabi yang dipelajari oleh pemuka agama atau kaum terpelajar. Baik itu pada saat menunaikan ibadah haji atau memang berniat untuk belajar agama di Arab Saudi. Sepulangnya dari sana, orang-orang tersebut mengalami banyak perubahan. Tidak hanya cara berpakaian yang mengenakan jubah seperti orang Arab saja. Akan tetapi, perubahan terlihat jelas dalam perilaku mereka sehari-hari.

Nah, jubah yang dikenakan tersebut kemudian digunakan sebagai identitas yang membedakan pemuka agama dengan rakyat biasa maupun orang-orang Belanda. Dengan kata lain, jubah tersebut merupakan penanda bagi orang yang memiliki tingkatan ilmu agama Islam yang tinggi.

Sekitar tahun 1800-an, agama Islam mengalami perkembangan yang bisa dibilang sangat pesat. Hal tersebut kemudian memunculkan dua kubu di masyarakat yang sangat kuat, yaitu kaum Padri dan kaum Adat.

Kaum Padri adalah golongan pemuka agama. Mengenai asal-usulnya namanya, padri berasal dari bahasa Spanyol, yaitu “padree” yang berarti pemuka agama. Golongan ini mengemban tujuan mulia untuk menyebarkan agama Islam di Minangkabau, Sumatra Barat. Sementara itu, kubu yang satunya adalah kaum Adat. Sesuai dengan namanya, anggota dari kaum ini adalah mereka yang masih memegang tegus adat istiadat dan tradisi leluhur.

Meskipun begitu, sebagian besar dari mereka sudah masuk Islam. Baca juga: Mengenal Lebih Dekat dengan Sosok Sultan Suriansyah, Pendiri dari Kerajaan Banjar Munculnya Permusuhan Antara Kaum Padri dan Kaum Adat Sumber: Wikimedia Commons Benih-benih perang mulai tumbuh ketika kaum Padri berusaha untuk memurnikan sejarah tradisi atau adat yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.

Pada waktu itu, tradisi-tradisi yang masih dilakukan oleh kaum Adat memang bertentangan dengan ajaran agama. Contohnya adalah melakukan sabung ayam, suka minum-minuman keras, atau memakai madat. Selain itu, yang membuat kaum Padri miris adalah ibadah wajib tidak dilaksanakan dengan benar oleh kaum Adat.

Maka dari itu, para pemuka tersebut ingin mencoba memperbaiki hal tersebut dengan membawa kaum Adat ke arah yang menurut mereka lebih benar.

perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di

Perdebatan sengit yang lainnya terjadi karena penentuan pembagian waris. Jika menurut budaya Minangkabau yang sudah berlangsung turun temurun, seharusnya pembagian tersebut diambil dari garis keturunan perempuan atau matrilineal. Sementara itu, di agama Islam peraturannya adalah diambil dari garis keturunan laki-laki atau patrilineal. Bahkan, Syekh Ahmad Khatib pun mengutuk budaya matrilineal tersebut.

Pada tahun 1803, ada tiga orang haji yang pulang ke Minang. Mereka adalah Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik. Konon, ketiga haji tersebut dulunya pernah menjadi tentara Turki saat terlibat peperangan dengan Kerajaan Prancis. Setelah itu, mereka menemui ulama-ulama yang lain dengan rencana untuk memurnikan rakyat dari adat-adat yang menyimpang dari ajaran agama Islam.

Dari pertemuan tersebut, lahirlah Harimau Nan Salapan. Untuk yang belum tahu, Harimau nan Salapan adalah ulama-ulama yang ditunjuk untuk menjadi dewan untuk membersihkan umat dari adat-adat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Anggotanya ada delapan orang, yaitu Tuanku Mansingan, Tuanku nan Renceh, Tuanku Barapi, Tuanku Kapau, Tuanku Lubuk Aur, Tuanku Ladang Lawas, Tuanku Galung, dan Tuanku Padang Luar.

Baca juga: Peninggalan-Peninggalan Sejarah Era Kerajaan Ternate yang Masih Ada Hingga Sekarang Masalah Semakin Memanas Setelah dewan ulama terbentuk, mereka memulai agendanya untuk “memurnikan” rakyat Minangkabau. Salah satu caranya adalah dengan mengirim seorang ulama bernama Tuanku Lintau supaya membujuk pemimpin kaum Adat untuk sepenuhnya menjalankan syariat Islam.

Sang pemimpin, yaitu Yang Dipertuan Pagaruyung Sultan Arifin Muningsyah, tentu saja tidak terlalu menyukai ide tersebut. Karena sesuai dengan prinsip yang dipegangnya, kalau adat istiadat itu harus dipegang teguh.

Perseteruan semakin memanas ketika Haji Miskin yang merupakan salah seorang anggota kaum Padri mulai melarang warga untuk melakukan sabung ayam. Ia pun tidak segan-segan untuk membakar arena sabung ayam.

Hal tersebut tentu saja membuat kaum Adat marah. Mereka kemudian mengejar dan berusaha menangkap Haji Miskin yang pada saat itu kabur meminta perlindungan kepada Harimau nan Salapan. Pada awalnya, Harimau nan Salapan tersebut melakukan diskusi dengan ulama lain yang bernama Tuanku nan Tuo. Menurutnya, lebih baik memurnikan ajaran Islam dengan menggunakan cara-cara yang halus. Karena kalau menggunakan cara kasar, nantinya malah terjadi peperangan yang tidak akan pernah habis.

Namun entah mengapa, pada akhirnya yang disetujui bersama adalah yang menggunakan jalan kekerasan. Maka dari itu, peperangan antar kedua kubu tidak dapat dihindarkan. Baca juga: Ulasan Lengkap Mengenai Silsilah Raja-Raja yang Pernah Memimpin Kerajaan Kediri Meletusnya Perang Padri Ilustrasi Perang Sumber: Wikimedia Commons Menurut catatan sejarah, penyebab meletusnya perang Padri adalah setelah kaum Padri menyerukan jihad untuk melawan kaum Adat.

Dengan menggunakan jalur kekerasan, mereka tidak segan-segan untuk membunuh para tetua dan juga membakar rumah-rumah adat.

Namun setelah semua itu dilakukan, kaum Adat bergeming. Mereka tetap pada pendirian untuk memegang teguh adat leluhur. Hingga pada tahun 1815, kaum Padri kehilangan kesabaran dan kemudin menyerang Kerajaan Paguruyung. Penyerangan tersebut dipimpin oleh Tuanku Pasaman.

Pertempuran hebat pun pecah di Koto Tengah. Kedua kubu tersebut saling serang sehingga banyak sekali korban jiwa berjatuhan. Tak hanya dari rakyat biasa, tetapi juga anggota kerajaan. Karena situasi kerajaan yang sangat kacau, Sultan Arifin Muningsyah kemudian lari untuk menyelamatkan diri. Pasalnya, Istana Paguruyung habis terbakar akibat pertempuran itu dan hanya tersisa puing-puingnya. Mengenai gambaran kondisi tempat tersebut pernah tertulis dalam catatan milik Raffles yang berkunjung ke sana sekitar tahun 1818.

Awal Mula Campur Tangan Belanda Kaum Padri tidak kenal lelah untuk melancarkan serangan. Hal tersebut tentu saja membuat kaum Adat menjadi terdesak. Terlebih lagi, Sultan Arifin Muningsyah tidak diketahui keberadaannya. Maka dari itu, dengan diwakili oleh Sultan Tangkal Alam Bagagar, kaum Adat meminta tolong kepada Belanda. Setelah mencapai kesepakatan yang diinginkan, kedua belah pihak secara resmi menandatangani perjanjian itu pada tanggal 21 Februari 1821.

Hal tersebut juga berarti bahwa Kerajaan Pagaruyung menjadi milik pemerintah Hinda Belanda. Selanjutnya, Sultan Tangkal Alam diangkat sebagai Regent Tanah Datar.

Tak berapa lama kemudian, Belanda mengirimkan pasukannya untuk memukul mundur armada Kaum Padri. Mereka tidak mengirimkan pasukan sampai ke perbukitan hingga pelosok Minang. Pada bulan April 1821, kaum Adat yang berkoalisi dengan Belanda kemudian menyerang wilayah Sulit Air dan Simawang. Penyerangan itu dipimpin oleh Kapten Goffinet dan Kapten Dienema. Pada akhir tahun, dikirimkan lagi pasukan pimpinan Letkol Raff untuk memperkuat pertahanan.

Baca juga: Bukti Peninggalan-Peninggalan Sejarah dari Kerajaan Gowa-Tallo, Serambi Mekah di Indonesia Timur Kronologi Sejarah Perang Padri I Peperangan Belanda dan Rakyat Sumber: Wikimedia Commons Gabungan pasukan Belanda dan kaum Adat tersebut baru bisa mengusir pasukan kaum Padri keluar dari Pagaruyung pada tanggal 4 Maret 1822.

Kaum ulama itu kemudian menyingkir ke daerah Lintau untuk menyusun rencana pembalasan. Sementara untuk menancapkan kekuasaan, Belanda kemudian membangun Benteng Van De Capellen. Setelah itu, mereka terus melakukan usahanya penyerangan terhadap kaum Padri. Pada awalnya, pasukan Belanda tersebut berhasil membuat kaum ulama kewalahan. Namun, kekuatan mereka melemah ketika Kapten Goffinet meninggal dunia pada bulan September 1822. Hal itu membuat pasukannya harus mundur karena tidak sanggup menghadapi pasukan Padri yang dipimpin oleh Tuanku Nan Renceh.

Selanjutnya pada bulan April 1823, Letnan Kolonel Raaff mengerahkan pasukan untuk menyerang Lintau. Peperangan ini berlangsung begitu sengit karena kaum begitu gigih menghalau serangan lawan.

Karena tidak membuahkan hasil, pasukan Belanda pun kembali ke Batusangkar. Alasan lainnya adalah karena sang pemimpin meninggal dunia. Di tengah kekisruhan tersebut, sekitar tahun 1824 Sultan Arifin tiba-tiba kembali ke Pagaruyung. Namun, kedatangannya tidak terlalu berpengaruh banyak. Hal tersebut dikarenakan setahun kemudian ia meninggal dunia. Pasukan Belanda masih belum mau menyerah dan kemudian melakukan penyerangan yang dipimpin oleh Mayor Frans Laemlin.

Pada bulan September 1824, pasukannya berhasil merebut daera Koto Tuo, Ampang Gadang, Kapau, dan juga Biaro. Sayangnya, sang pemimpin pasukan meninggal dunia di akhir tahun 1824 karena luka parah. Baca juga: Ulasan tentang Raden Patah, Sang Pendiri Kerajaan Demak yang Masih Keturunan Ningrat Melakukan Gencatan Senjata Melakukan pertempuran dengan Kaum Padri rupanya membuat Belanda merasa kesulitan. Mereka tidak hanya mengerahkan tenaga saja, tetapi juga menghabiskan dana.

Belum lagi, mereka juga harus menghadapi perlawanan di wilayah lain. Karena pertimbangan dana yang sudah semakin menipis, akhirnya Belanda berinisiatif untuk melakukan gencatan senjata dengan Kaum Padri. Untuk yang belum tahu, gencatan senjata adalah kesepakatan bersama antar pihak yang berkonflik untuk menghentikan peperangan. Durasinya bisa saja sementara, tetapi juga bisa dalam waktu yang lebih lama.

Pemerintah Hindia Belanda kemudian mengutus residennya yang berada di Padang untuk membuat perjanjian gencatan senjata dengan kaum Padri. Pada waktu itu, kaum golongan ulama berada di bawah kepemimpinan Tuanku Imam Bonjol. Pada tanggal 15 November 1825, kesepakatan antar kedua belah pihak itu resmi ditandatangani.

Yang kemudian dikenal dengan nama Perjanjian Masang. Untuk sementara, perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di di Sumatra Barat menjadi lebih terkendali. Akan tetapi, perdamaian tersebut rupanya tidak dapat diterima oleh kaum Adat. Untuk melampiaskan kekecewaaan, mereka kemudian berbalik memusuhi Belanda. Situasi ini kemudian membuat kedudukan Belanda menjadi serba sulit.

Pasukan mereka tidak mendapatkan dukungan penuh dari kaum Adat, sementara itu juga tidak dapat menaklukkan Kaum Padri. Tuanku Imam Bonjol Mengajak Kaum Adat untuk Berdamai Nama asli dari Tuanku Imam Bonjol adalah Muhammad Shahab.

Ia diangkat menjadi pemimpin kaum Padri setelah Tuanku Nan Renceh meninggal dunia. Meskipun merupakan anggota ulama, laki-laki tersebut sebenarnya tidak terlalu menyetujui tindakan golongannya yang menyerang kaum Adat. Karena bagaimana pun, mereka masih satu saudara. Makanya ketika menjadi pemimpin dan ada celah untuk berdamai dengan kaum Adat, ia menggunakan kesempatan tersebut dengan sebaik mungkin. Terlebih lagi, situasi Belanda memang sedang lemah.

Dirinya ingin menyadarkan bahwa yang menjadi musuh sesungguhnya adalah Belanda. Tuanku Iman Bonjol pun mengundang perwakilan kaum adat ke Bukit Marapalam yang terletak di Kabupaten Tanah Datar.

Pada awalnya perundingan kedua kubu memang tidak berjalan terlalu baik. Namun akhirnya, kesepakatan bersama yang diimpikan terjadi juga. Kesepakatan itu diberi nama Plakat Puncak Pato. Isinya adalah untuk mewujudkan adat Minangkabau yang berlandaskan agama Islam, dan Islam yang berlandaskan Al-Qur’an. Baca juga: Peninggalan-Peninggalan Sejarah yang Membuktikan Keberadaan Kerajaan Banten Sejarah Perang Padri Jilid II Pasukan Belanda Sumber: Wikimedia Commons Gencatan senjata dalam sejarah Perang Padri yang pertama tidaklah berlangsung lama.

Setelah berhasil bangkit dari keterpurukan ekonomi, Belanda pun mengingkari perjanjian yang dibuat. Salah satu alasannya adalah karena mereka ingin menguasai daerah perkebunan kopi di Minangkabau.

Kopi merupakan salah satu komoditi andalan milik Belanda. Maka dari itu, mereka ingin menaklukkan kaum Padri supaya lebih leluasa dalam menguasai perkebunan.

Sebagai langkah awal, pasukan Belanda kemudian menyerang nagari Pandai Sikek. Selanjutnya, mereka mendirikan sebuah benteng bernama Fort de Kock di Bukittinggi. Dari situ, Belanda terus bergerak untuk menaklukkan daerah-darah basis milik kaum Padri. Tidak hanya daerah Lintau, tetapi juga Luhak Tanah Datar berhasil dikuasai. Hal ini kemudian membuat pihak lawan menjadi kalang kabut. Terlebih lagi, Belanda mendapatkan pasukan tambahan dari Jakarta supaya operasi penaklukkan perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di bisa berjalan lebih cepat.

Setelah bulan Oktober 1832, banyak sekali daerah-daerah yang sudah ditaklukkan oleh Belanda. Kaum Padri terdesak dari mana-nama dan kemudian bertahan di wilayah Bonjol.

Pada awal tahun 1833, kubu kaum ulama sempat melakukan balas dendam dengan menyerang benteng pertahanan Belanda. Penyerangan yang dipimpin oleh Tuanku Rao tersebut berhasil melumpuhkan pasukan Belanda. Sayang sekali, kemenangan itu tidak bertahan lama. Karena kalah persenjataan, pasukannya harus terpaksa mundur. Terlebih lagi, sang pemimpin terluka parah karena ditembaki tanpa ampun oleh Belanda.

Akhir hidup Tuanku Rao bisa dibilang sangat mengenaskan. Dalam keadaan sekarat, ia ditangkap oleh Belanda untuk diasingkan. Ketika dalam perjalanan ke tempat pembuangan, ia meninggal dunia dan jasadnya di buang ke laut.

perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di

Serentak Melawan Belanda Peristiwa di atas kemudian semakin menumbuhkan semangat persatuan rakyat untuk mengusir Belanda dari Minangkabau. Seperti yang telah kamu tahu, kaum Padri dan Adat telah setuju untuk menggabungkan kekuatan. Keadaan menjadi semakin memanas setelah banyak benteng pertahanan Belanda diserang.

Korban tewas dari kedua belah pihak tentu saja tidak terhindarkan. Di tengah kekacauan tersebut, Belanda menangkap Sultan Tangkal Alam karena dianggap berkhianat. Ia ditengarai ikut menyerang benteng pertahanan milik mereka. Meski sempat menyangkal, ia tetap saja dicopot dari jabatan sebagai Regent Tanah Datar lalu dibuang ke Batavia.

perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di

Namun dari peristiwa tersebut, pihak Belanda kemudian menyadari kalau kedua kaum yang berseteru itu telah bekerja sama. Untuk sedikit meredam situasi, pemerintah Belanda kemudian mengeluarkan sebuah pengumuman, yaitu Plakat Panjang. Isinya adalah Belanda datang ke sana hanya untuk berdagang, bukan untuk menguasai. Selain itu, mereka akan membangunkan jalan dan sekolah. Tentu saja itu hanya pemanis belaka karena mereka mengharapkan rakyat untuk menanam kopi dan harus menjualnya kepada Belanda.

Baca juga: Informasi tentang Prasasti Bersejarah Peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang Perlu Kamu Ketahui Usaha Penyerangan Benteng Bonjol Wilayah Benteng Bonjol Sumber: Wikimedia Commons Pada tanggal 23 Agustus 1833, Van den Bosch datang ke Padang. Ia menanyakan mengapa penaklukkan di daerah tersebut berjalan begitu lambat.

Setelah itu, para petinggi Belanda di Hindia Belanda melakukan pertemuan. Hasilnya adalah sebelum tanggal 16 September 1833, mereka harus sudah menjatuhkan markas utama milik kaum Padri, yaitu Benteng Bonjol.

perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di

Sementara itu, kaum Padri dan Adat mengetahui mengenai rencana serangan Belanda. Mereka kemudian mengatur siasat perang. Dalam perang Padri kali ini, mereka akan menggunakan taktik serangan gerilya.

Ketika waktunya tiba, strategi gerilya tersebut ternyata cukup ampuh untuk menghalau serangan pasukan Belanda. Mereka bahkan bisa merampas persenjataan milik pasukan lawan. Penyerangan kali ini dianggap sebuah kegagalan. Pada tahun 1834, Belanda kemudian fokus untuk membangun infrastruktur jalan menuju Benteng Bonjol.

Selain untuk memperlancar mobilitas, gunanya adalah supaya lebih mudah mematahkan strategi gerilya milik lawan. Setelah selesai, pasukan Belanda mulai bergerak untuk menyerang Benteng Bonjol dengan dipimpin oleh Letnan Kolone Bauer. Pertempuran pun pecah di daerah Sipisang yang merupakan daerah basis kaum Padri.

Pertarungan yang terjadi selama tiga hari tiga malam tersebut akhirnya dimenangkan oleh Belanda. Pasukan Padri terdesak dan kemudian bersembunyi ke hutan. Daerah itu pun dikuasai dan dijadikan basecamp Belanda untuk sementara.

Selanjutnya, Belanda semakin bergerak mendekati Benteng Bonjol. Setelah semakin dekat, mereka kemudian menembaki benteng menggunakan meriam. Baca juga: Kisah Lengkap tentang Sultan Maulana Hasanuddin, Sang Pendiri Kerajaan Banten Benteng Bonjol Berhasil Dikepung Pasukan Belanda berhasil mengepung wilayah sekitar Benteng Bonjol yang terletak di atas sebuah bukit bernama Tajadi. Meskipun terkepung, tentu saja kaum Padri tidak menyerah begitu saja. Lagipula, benteng tersebut sudah ditata sedemikian rupa sehingga tidak mudah diambil alih.

Untuk semakin menekan pihak lawan, Belanda kemudian memblokade semua akses yang menuju ke benteng tersebut. Pada awalnya, mereka bertujuan untuk menghentikan pasokan senjata dan makanan. Namun, hal tersebut malah menjadi boomerang. Pasalnya, kaum Padri akhirnya secara diam-diam mengambil perbekalan milik Belanda. Selain itu, kaum ulama tersebut tetap mendapatkan bala bantuan dari simpatisannya yang berada di luar wilayah benteng.

Pertarungan yang sengit antara kedua kubu terus terjadi. Pada bulan Agustus 1935, pihak Belanda menyerang benteng setelah mendapatkan bantuan dari Bugis. Selanjutnya, serangan itu dibalas oleh kaum Padri dengan menyerang markas pertahanan Belanda sebulan kemudian. Kedudukan mereka masih sama-sama kuat sehingga keadaan bertahan seperti itu selama beberapa waktu.

Akan tetapi, keadaan itu pula yang pada akhirnya membangkitkan semangat juang dan keberanian rakyat di sekitar benteng untuk menyerang Belanda. Tidak main-main, mereka bahkan berhasil membuang bangsa penjajah itu menjadi kewalahan. Baca juga: Peninggalan-Peninggalan Bersejarah Milik Kerajaan Aceh Darussalam yang Masih Ada Hingga Sekarang Akhir dari Kisah Sejarah Perang Padri Kemenangan Belanda Sumber: Wikimedia Commons Perang Padri merupakan salah satu perang yang paling lama dalam sejarah.

Bahkan semenjak penyerangan Benteng Bonjol pertama, Belanda baru benar-benar bisa menaklukkan setahun kemudian. Kegigihan kaum Padri yang didukung oleh rakyat untuk mempertahkan benteng tersebut memang sangatlah luar biasa. Namun sepertinya memang perjuangan pada waktu itu memang sudah harus menemui titik akhirnya.

Pada tanggal 3 desember 1836, pasukan Belanda akhirnya mengadakan serangan besar-besaran. Mereka menyerang benteng dari segala penjuru. Kali ini, penjajah tersebut berhasil menjebol pertahanan sehingga dapat masuk ke dalam benteng. Pertumpahan darah tidak dapat dihindarkan. Banyak sekali korban jiwa yang jatuh dari kedua kubu. Meskipun begitu, masih belum dapat melumpuhkan kekuatan kaum Padri. Hingga kemudian, pada bulan Maret tahun 1837, Belanda berusaha lagi untuk melumpuhkan kekuatan lawan dengan membawa lebih banyak pasukan.

Lebih dari 5.000 tentara didatangkan dari berbagai daerah untuk menyerang benteng Bonjol. Selama kurang lebih enam bulan, pasukan tersebut terus menerus melakukan serangan.

Hingga akhirnya, mereka berhasil mengambil alih Benteng Bonjol pada tanggal 16 Agustus 1837. Penangkapan Tuanku Imam Bonjol Ketika Benteng Bonjol dapat ditaklukkan oleh Belanda, Tuanku Imam Bonjol beserta para pengikutnya berhasil melarikan diri. Selama dalam pelarian itu, ia berusaha untuk mengatur siasat meskipun pasukannya tercerai berai dan tinggal sedikit. Sayangnya, masa pelarian itu tidaklah lama.

Dengan menggunakan tipu daya, pemimpin kaum Padri tersebut dapat ditangkap oleh Belanda pada tanggal 28 Oktober 1837. Ia kemudian diasingkan ke Cianjur. Setelah itu dibuang lagi perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di Ambon pada akhir tahun 1838.

Tak berhenti di situ, Tuanku Imam Bonjol kemudian dipindahkan lagi ke Lotta, Minahasa. Selama kurun waktu 27 tahun, ia menjalani masa pengasingan di tempat tersebut. Ia meninggal dunia di sana pada tanggal 8 November 1864. Dalam catatan sejarah, penangkapan Tuanku Imam Bonjol bukanlah akhir dari Perang Padri. Peperangan melawan Belanda masih tetap dilanjutkan oleh Tuanku Tambusai. Namun, pasukannya tidak bertahan lama. Akhirnya di penghujung tahun 1838, wilayah Kerajaan Paguruyung resmi jatuh ke tangan Pemerintah Belanda.

Hal ini kemudian menandakan berakhirnya perang yang sudah terjadi selama puluhan tahun itu. Baca juga: Informasi Lengkap tentang Ken Arok, Sang Pendiri Kerajaan Singasari yang Punya Masa Lalu Kelam Ulasan Lengkap tentang Sejarah Perang Padri Demikianlah informasi lengkap mengenai sejarah Perang Padri yang dapat kamu simak di sini. Cukup panjang memang, tapi semoga saja dapat menambah wawasanmu setelah membacanya, ya! Nah, di PosKata kamu nggak hanya bisa mendapatkan ulasan mengenai masa-masa penjajahan di Indonesia saja, lho.

Kalau ingin membaca tentang sejarah kerajaan-kerajaan ada di nusantara juga bisa. Tidak hanya kerajaan bercorak Islam seperti Samudra Pasai, Aceh Darussalam, dan Mataram Islam saja, kok. Akan tetapi, ada juga tentang kerajaan Hindu-Buddha seperti Sriwijaya, Tarumanegara, Singasari, dan masih banyak lagi.

Jadi, tunggu apalagi? Cek terus PosKata, ya! Editor Elsa Dewinta Elsa Dewinta adalah seorang editor di Praktis Media. Wanita yang memiliki passion di dunia content writing ini merupakan lulusan Universitas Sebelas Maret jurusan Public Relations. Baginya, menulis bukanlah bakat, seseorang bisa menjadi penulis hebat karena terbiasa dan mau belajar.
Perang Padri adalah peperangan yang berlangsung di Sumatra Barat dan sekitarnya, terutama di kawasan Kerajaan Pagaruyung dari tahun 1803 hingga 1838.

Perang ini merupakan peperangan yang pada awalnya akibat pertentangan dalam masalah agama sebelum berubah menjadi peperangan melawan penjajahan. Tokoh yang berperan penting dalam perang ini adalah Tuanku Imam Bonjol. Dengan demikian, jawaban yang tepat adalah B.KOMPAS.com - Perang Padri merupakan peperangan yang terjadi di Sumatera Barat tepatnya di wilayah Kerajaan Pagaruyung pada 1803-1838. Perang Padri awalnya terjadi karena adanya perbedaan prinsip mengenai agama antara kaum Perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di dengan kaum Adat.

Namun, lama-lama perang Padri menjadi perjuangan melawan penjajah Belanda. Karena kaum Padri dan kaum Adat bergabung jadi satu berjuang melawan Belanda.

Penyebab Perang Padri Perang Padri terjadi karena ada pertentangan dari kaum Padri atau kelompok ulama terhadap kebiasaan-kebiasaan buruk yang terjadi di masyarakat. Kebiasaan tersebut seperti, judi, sabung ayam, minuman keras, tembakau maupun menggunaan hukum matriarkat untuk pembagian warisan.

Baca juga: Sejarah Perang Badar Sebelum masyarakat sudah berkata akan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan tersebut. Namun masyarakat masih tetap menjalankan kebiasaan tersebut dan membuat kaum Padri marah sehingga terjadinya peperangan. Perang Padri bisa disebut juga sebagai perang saudara. Karena dalam perang tersebut melibatkan Minang dan Mandailing. Kaum Padri dipimpin oleh Harimau Nan Salapan, sementara kaum Adat dipimpin Sultan Arifin Muningsyah. Dalam buku Sejarah Indonesia Modern, 1200-2004 (2005) karya Merle Calvin Ricklefs, Gerakan pembaruan Islam tersebut dikenal sebagai gerakan Padri.

perang padri yang teradi tahun 1803 sampai 1838 merupakan perlawanan rakyat yang terjadi di

Karena mereka telah menunaikan ibadah haji di Makkah.

SEJARAH PERANG CANDU I (1839-1842) II (1856-1860)




2022 www.videocon.com