Seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah

seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah

Al-Qur’an adalah wahyu Ilahy (kitab suci) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. sebagai pedoman seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah bagi umat manusia. Untuk memahami Al-Qur’an diperlukan berbagai ilmu, antara lain adalah “Ulum Al- Qur-an”. Ilmu ini mencakup pembahasan-pembahasan yang berhubungan dengan Al-Qur’an dari segi sebab turunnya, pengumpulan dan urutan-ururannya, pengetahuan tentang ayat-ayat makkiyah dan madaniyyah, nasikh dan mansukh dan lain- lain.

Ulum Al- Qur’an dengan berbagai cabang dan macamnya tidak lahir sekaligus, tetapi melalui proses dan perkembangan yang dapat dibagi ke dalam fase periwayatan dan fase kodifikasi. Sampai saat ini telah lahir puluhan tokoh di bidang Ulum Al-Qur’an, diantara mereka yang paling masyhur adalah Jalaluddin Al Suyuthi yang menulis kitab Al Itqan fi `Ulumil Qur-an dan Al Zarqany dengan karyanya Al Burhan fi `Ulumil Qur-an.

Kedua kitab ini selalu menjadi rujukan dalam kajian-kajian Ulumul Qur-an. ABSTRAK Qirāʼāt al-Quran merupakan salah satu cabang 'ulūm al-Quran. Ia merupakan ilmu yang membincangkan kaedah menyebut kalimah-kalimah di dalam al-Quran. Ia juga menjelaskan perbandingan bacaan antara imam-imam qirāʼāt.

Ia telah dibincangkan dalam kalangan ilmuwan terdahulu hingga kini. Namun, kebanyakan kajian qirāʼāt al-Quran di Malaysia adalah bersifat monodisiplin sedangkan disiplin ilmu ini memerlukan penelitian dan penerapan daripada disiplin ilmu lain dalam mengupas sesebuah permasalahan.

Antara disiplin ilmu yang mempunyai hubung kait yang kuat dengan ilmu qirāʼāt al-Quran adalah ilmu linguistik. Asimilasi kedua-dua bidang ilmu ini akan memberikan kefahaman yang lebih jelas berkaitan sebab berlaku perbezaan bagi sesuatu bacaan dalam kalangan imam-imam qirāʼāt. Oleh itu, Kajian ini dilakukan untuk mengenal pasti hubung kait ilmu qirāʼāt al-Quran dengan ilmu linguistik. Kajian ini juga bertujuan untuk mengenal pasti kajian-kajian lepas berkaitan penerapan ilmu linguistik terhadap qirāʼāt al-Quran yang telah dijalankan di Malaysia.

Kajian ini merupakan kajian kualitatif dengan reka bentuk analisis kandungan untuk mendapatkan data kajian. Analisis linguistik yang dilakukan terhadap ayat-ayat yang dibaca dengan cara berbeza oleh para imam untuk menjelaskan bentuk penerapan linguistik terhadap qirāʼāt al-Quran. Kajian mendapati bahawa ilmu linguistik mempunyai hubung kait yang kuat dengan ilmu qirāʼāt al-Quran dan berfungsi sebagai satu alat untuk memahami sebab dan kesan perbezaan bacaan para imam qirāʼāt.

Hasil kajian juga menunjukkan kajian penerapan bidang linguistik terhadap qirāʼāt al-Quran di Malaysia masih kurang. Oleh itu, pengkaji mencadangkan agar kajian penerapan linguistik terhadap qirāʼāt al-Quran dapat dilakukan dengan lebih meluas dalam kalangan ilmuwan dan sarjana di Malaysia kerana ia dapat membantu para ilmuwan dan sarjana dalam memahami sebab dan kesan perbezaan bacaan para imam qirā'at al-Quran dengan lebih baik.

Tulisan ini merupakan ulasan pemikiran salah seorang sarjanawan Barat yang bernama Anna M. Gade tentang tilawah. Anna M. Gade sendiri merupakan seorang profesor pada bidang Studi Lingkungan di Universitas Wisconsin, Madison, Amerika Serikat. Dalam salah satu karyanya, ia spesifik menunjukkan dalam judulnya “The Quran Recitation”, yang berarti tilawah al-Quran. Ketika disebut tilawah al-Quran (bacaan al-Quran), tentu ini terdapat keterkaitan dengan qira’ah al-Quran yang secara bahasa sama-sama menunjukkan arti bacaan al-Quran.

Untuk permasalah tersebut, Gade menjelaskan bahwa tilawah merupakan salah satu bagian dari qira’ah, karena cakupan dari qira’ahyang lebih umum dari pada tilawah.

Selain itu, Gade juga menjelaskan tilawah pada sisi pendeskripsian al-Quran terhadap tilawah, praktik, keindahan, hingga kompetisi tilawah al-Quran.

p> Abstract Hadits yang merupakan manifestasi perkataan (qouliy), perbuatan (" ’liy) dan dan pengakuan (taqriri) dari bagi baginda nabi Muhammad saw 14 abad yang silam mengandung kajian sainti" k yang sangat mendalam dan bermanfaat bagi kehidupan, memiliki rahasia-rahasia yang baru bisa diketahui pada abad modern ini.

Hadits yang dimaksud adalah hadits yang berkaitan erat dengan kehidupan . [Show full abstract] sehari-hari (a’malul yaumiyyah) meliputi: makanan, minuman, kesehatan, dan tidur.

Rahasia-rahasia tersebut coba dikaji dari baerbagai sudut, sanadnya, kitabnya, dan rahasia sains yang yang terkandung di dalammnya meliputi " sika, kimia, biologi, dan kedokteran. Rahasia yang ditelaah meliputi: puasa, khasiat yang terkandung dalam makanan, siwak, gandum, kurma, larangan meniup minuman, cara yang terbaik dalam tidur.

Keywordi: hadits, sains, rahasia

Objektif kajian ini adalah untuk menyingkap . [Show full abstract] sejarah kaunseling Islam di Malaysia dan meneroka definisi istilah kaunseling di kalangan pengamal kaunseling Islam dan pihak-pihak yang berautoriti dalam bidang kaunseling di Pantai Barat Seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah Malaysia.

Kajian menggunakan metod Grounded Theory dan temubual sebagai mekanisme pengumpulan data. Dapatan kajian menunjukkan bahawa responden bersepakat bahawa Kaunseling Islam mempunyai usul dan asasnya dalam al-Hadith dan amalan Rasulullah SAW. Responden berselisih pendapat tentang penggunaan istilah Kaunseling Islam, walaubagaimanapun mereka bersepakat bahawa ia boleh digunakan jika keseluruhan aplikasi kaunseling adalah genuine dan dibangunkan sepenuhnya secara teori dan praktikal daripada acuan al-Quran, al-Sunnah dan karya ulama-ulama Islam.

View full-text Kapanlagi Plus - Rasul adalah orang terpilih yang mendapat tugas dari Allah SWT untuk memberi petunjuk dan memperbaiki segenap manusia. Sebagai manusia terpilih, Rasul punya sifat wajib terpuji. Sebagai umat muslim, kalian tentu perlu mengetahui arti sidiq, amanah, tabligh, fathonah sebagai sifat wajibnya.

Dengan mengetahui arti sidiq dan sifat wajib rasul lain, diharapkan kalian bisa meniru atau meneladaninya. Terlebih, tugas rasul begitu mulia, yakni sebagai pemberi petunjuk, pembawa kabar gembira, dan peringatan kepada umat manusia. 1. Arti Sidiq, Amanah, Tabligh, dan Fathonah Ilustrasi (Credit: Unsplash) 1. Arti Sidiq Arti sidiq adalah jujur. As-sidiq sebagai sifat wajib rasul berarti selalu benar. Rasul tak mungkin berbohong kepada Allah maupun kepada orang lain. Sebagai seorang rasul, bahkan kejujuran Nabi Muhammad SAW tak hanya terkenal di kalangan sahabat, tapi juga para musuh.

Hal tersebut sesuai hadis yang diriwayatkan Ali RA bahwa Abu Jahal pernah berkata kepada Rasulullah SAW: "Kami tidak menganggap engkau dusta, tapi menganggap dusta ajaran yang engkau bawa." Kejujuran ini juga dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS kepada ayahnya yang menyembah berhala. Nabi Ibrahim berusaha mengajak bapaknya untuk meninggalkan sesembahan tersebut.

Al-Quran pun merekam peristiwa tersebut: "Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ibrahim di dalam kitab (Alquran), sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan seorang nabi." (QS Maryam: 41). 2.

seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah

Arti Amanah, Tabligh, dan Fathonah Ilustrasi (Credit: Unsplash) Selain arti sidiq, kalian juga perlu mengetahui arti dari sifat wajib rasul lainnya. Penjelasan tersebut akan kalian dapat dalam informasi berikut ini. 2. Amanah Arti amanah adalah terpercaya. Sifat ini wajib dimiliki oleh rasul, sebab jika tidak tugas-tugasnya yang sangat berat tak mungkin terlaksana.

Sebagai contoh, saat kaum nabi Nuh AS mendustakan Allah, Allah pun berfirman untuk menegaskan bahwa Nuh AS merupakan orang yang terpercaya melalui QS. Asy-Syu'ara ayat 106-107: "Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku ini seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu." 3. Tabligh Arti Tabligh adalah menyampaikan. Rasul harus menyampaikan perintah dan larangan Allah SWT. Tak ada sesuatu yang disembunyikan Nabi Muhammad SAW, segalanya disampaikan kepada umat.

Terdapat sebuah riwayat yang diceritakan Ali bin Abi Talib ketika ditanya tentang wahyu yang tak ada dalam Al-Quran. Ali menegaskan ayat dalam Al-Quran berikut ini: "Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya.

Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir". (QS. Al-Maidah: 67) Ali juga menegaskan dengan berkata: "Demi Zat yang membelah biji dan melepas napas, tiada yang disembunyikan kecuali pemahaman seseorang terhadap Alquran." 4. Fathonah Arti fathonah adalah cerdas.

Rasul merupakan manusia pilihan yang memiliki kecerdasan tinggi. Kecerdasan tersebut dibutuhkan untuk menjalankan tugas dari Allah SWT. Beliau menyampaikan ribuan ayat Al-Quran, menjelaskan dalam puluhan ribu hadis, menjelaskan firman-firman Allah, dan dituntut memiliki kemampuan berdebat dengan orang kafir dengan cara sebaik mungkin. Oleh karena itu, wajar jika Rasulullah pun punya banyak peran semasa hidup.

Beliau berperan sebagai tokoh Islam, pemimpin, pebisnis, panglima perang, hingga politisi. 3. Manfaat Sifat Fathonah Ilustrasi (Credit: Pixabay) Arti Fathonah adalah cerdas. Tentu bukan tanpa alasan mengapa dari sekian banyak sifat, cerdas menjadi salah satu sifat wajib bagi Nabi dan Rasul. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Nabi dan Rasul membutuhkan sifat fathonah untuk menghafal wahyu yang diberikan Allah SWT. Tak sampai di situ, dengan kecerdasan yang dimiliki, Nabi dan Rasul juga mampu menemukan cara penyampaian yang tepat kepada umatnya.

Di samping itu, ternyata sifat fathonah juga masih punya manfaat lainnya. Bahkan, tak saja untuk zaman Nabi dan Rasul, sifat fathonah juga bisa dimanfaatkan untuk kehidupan masa kini. Pasalnya, dengan fathonah atau kecerdasan, seseorang bisa solusi paling efektif untuk setiap masalah yang dihadapi di segala aspek.

Mulai dari masalah dalam lingkup pribadi, sosial, pekerjaan, dan sebagainya. 4. Ciri-Ciri Muslim yang Fathonah Ilustrasi (Credit: Pixabay) Setiap muslim wajib meneladani sifat fathonah dan sifat wajib Nabi dan Rasul lainnya. Selain melalui contoh yang dicontohkan Nabi dan Rasul, kita juga bisa belajar arti fathonah melalui orang-orang sekitar. Ya, sebab bisa jadi ada saudara muslim kita yang sudah mencontoh sifat fathonah Nabi dan Rasul. Untuk itu, selain memahami arti fathonah, penting juga untuk tahu ciri-ciri muslim yang fathonah.

Berikut ciri-ciri muslim yang mempunyai sifat fathonah. 1. Merupakan seorang yang pandai dalam memberikan nasihat baik. Tak saja baik, muslim yang fathonah juga pandai dalam penyampaian sehingga tidak akan menyinggung perasaan orang lain. 2. Seorang muslim yang fathonah juga mampu menyampaikan berita atau kabar kebaikan.

Dia bisa memfilter mana yang pantas disampaikan dan tidak. 3. Muslim yang fathonah cenderung cerdas dalam bertutur kata dan berkomunikasi. Biasanya, kemampuan ini akan dimanfaatkan untuk mengajak kebaikan dengan beramar ma'ruf nahi munkar. 4. Arti fathonah adalah cerdas, itu artinya seorang muslim harus cerdas dalam menyampaikan amanat yang diberikan. 5. Fathonah atau cerdas dalam konteks muslim ternyata juga mencakup pandai seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah beribadah.

Maksudnya, seorang muslim harus mengerjakan suatu amalan dengan memprioritaskan ibadah maupun amalan yang paling utama. 6. Seorang muslim yang fathonah juga harus cerdas dalam dalam bersosialisasi. Pasalnya, kehidupan sehari-hari seorang muslim tidak lepas dari silahturahim.

Sehingga setiap masalah baik yang muncul di lingkungan masyarakat maupun keluarga harus bisa diatasi dengan cara cerdas. 5. Cara Menumbuhkan Sifat Fathonah Ilustrasi (Credit: Unsplash) Selain arti fathonah, setiap muslim juga perlu tahu cara menumbuhkan sifat fathonah.

Sebab, sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya fathonah jadi sifat wajib Nabi dan Rasul yang berguna di kehidupan saat ini. Arti fathonah adalah cerdas, sehingga cara menumbuhkan sifat wajib Nabi dan Rasul tersebut adalah dengan memperbanyak ilmu. Pasalnya, seperti kata pepatah semakin banyak seseorang tahu, semakin seseorang tersebut merasa bodoh. Dengan begitu, seorang muslim akan lebih tergerak untuk memperbanyak ilmu.

Sebab, seperti yang kita tahu dalam agama Islam, menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban. Hal tersebut seperti yang terkandung dalam hadis yang berbunyi: "Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim" (HR. Ibnu Majah no. 224) Namun tetap harus dipahami bahwa kecerdasan atau fathonah tak saja mengenai ilmu yang didapat dari belajar. Kecerdasan dalam sifat fathonah juga meliputi kecerdasan dalam bersosial dan memetik hikmah dari setiap kejadian.

Hal tersebut sebagaimana yang terkandung dalam Alquran surat Al-Baqarah: 269, yang bunyinya: "Allah menganugerahkan al-hikmah (pemahaman yang dalam tentang Alquran dan sunnah) kepada siapa yang dikehendakinya. Barang siapa yang dianugerahi al-hikmah itu ia benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Hanya orang-orang yang berakal (ulul albab) yang dapat mengambil pelajaran dari firman Allah." (Q.S.

Al-Baqarah: 269) Dengan memupuk sifat fathonah, seorang muslim juga akan semakin teguh pada keimanannya. 6. Manfaat Sifat Shiddiq Ilustrasi (Credit: Unsplash) Ash shidqu atau memiliki arti benar adalah sebuah sikap yang menunjukkan kenyataannya, baik berupa perkataan, sikap, seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah perbuatan.

Dalam bahasa, istilah lain Shiddiq artinya adalah jujur. Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda, "Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga." (HR. Bukhari) Memiliki sikap Shiddiq juga baik untuk diri sendiri. Salah satunya yaitu, jiwa yang tenang. Manakala manusia bisa berlaku benar atau jujur dalam hidupnya, niscaya dia akan memperoleh ketenangan jiwa yang didambakannya itu.

seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah

Hal ini diungkapkan dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda, "Dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwamu dan kamu tidak suka bila hal itu diketahui orang lain." (HR. Ahmad) Selain itu, keutamaan arti Shiddiq yang lainnya juga menjadi sebuah sumber keselamatan. Ya, salah satu usaha yang kita lakukan untuk mendapatkan keselamatan dalam hidup ini adalah berlaku jujur, dalam hadist lainnya, Rasulullah saw.

bersabda, "Kamu harus berkata benar, karena sesungguhnya ia bersama kebajikan dan keduanya adalah dalam surga." (HR.

Ahmad, Bukhari, dan Ibnu Majah) Kemudian, berlaku benar atau jujur, akan membuat kita terhindar dari kemunafikan dan dijauhkan dari kelompok orang-orang munafik. Ini merupakan salah satu ciri orang munafik yakni berdusta. Rasulullah SAW bersabda, "Tanda orang munafik ada tiga: apabila berkata dusta, bila berjanji mangkir, dan bila dipercaya khianat." (HR. Bukhari dan Muslim) 7. Jenis-Jenis Siddiq dalam Islam Ilustrasi (Credit: Pixabay) Ternyata sifat Shiddiq ini juga memiliki jenisnya loh KLovers.

Ya, hal ini juga perlu KLovers ketahui. Bukan hanya tahu Shiddiq artinya saja, namun juga jenisnya. Dan berikut ini jenis-jenis Shiddiq dalam Islam: 1. Shiddiq artinya dalam perkataan, yang memiliki seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah menegakkan lisan di atas perkataan seperti tegaknya bulir pada tangkainya.

2. Shiddiq artinya dalam perbuatan, yang memiliki makna yaitu menegakkan amal pada perintah dan mengikuti sunnah, layaknya kepala yang tegak di atas jasad. 3. Shiddiq artinya dalam keadaan, yang memiliki makna yaitu menegakkan amal hati dan anggota tubuh pada keikhlasan. Ini sesuai dengan firman Allah SWT, "Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka.

Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. Al-Ahzab:24). 8. Ciri-Ciri Muslim yang Siddiq Ilustrasi (Credit: Pixabay) Dan yang terakhir yaitu, ciri-ciri seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah sifat Shiddiq. Ya, muslim yang memiliki sikap Shiddiq memiliki ciri-cirinya loh. Dan berikut ini ciri-ciri dari muslim yang memiliki sikap Shiddiq tersebut: 1.

Mengikuti jejak keutamaan para Nabi yang mencakup perbuatan. 2. Mempunyai komitmen kuat terhadap Islam. 3. Mempunyai keimanan kepada Allah dan Rasulullah SAW, mendirikan salat, menepati janji, serta menunaikan zakat. 4. Tidak ragu berjihad dengan harta dan jiwa. 5. Kesesuaian antara ucapan dan perbuatan. 6. Kesesuaian antara informasi dan kenyataan. 7. Ketegasan dan kemantapan hati. 8. Sesuatu yang baik yang tidak dicampuri kedustaan. 9. Sifat Mustahil Rasul Ilustrasi (Credit: Pixabay) Setelah mengetahui Shiddiq artinya dan sifat wajib rasul lainnya, kalian juga perlu menyimak penjelasan tentang sifat mustahil atau sifat yang tak mungkin dimiliki oleh rasul berikut ini.

1. Kidzib Arti Kidzib adalah bohong atau dusta. Rasul jelas tak akan melakukan perbuatan dusta karena beliau harus menyampaikan kebenaran, baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Hal tersebut terdapat dalam Firman Allah, berikut ini: "Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru; Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut keinginannya. Tidak lain (Alquran itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)". (QS. An-Najm: 2-4) 2. Khianat Arti khianat adalah bertentangan atau mengingkari janji. Rasul tak mungkin punya sifat semacam ini, tak mungkin berkhianat pada perintah Allah SWT. Hal tersebut juga terdapat dalam firman Allah berikut ini: "Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru; Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut keinginannya.

Tidak lain (Alquran itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)". (QS. An-Najm: 2-4). 3. Al Kitman Arti Al kitman adalah menyembunyikan rahasia. Sebagai orang yang menyampaikan ajaran baik, Rasul tak mungkin menyembunyikan kebenaran ajaran.

Selain itu, Rasul juga benar-benar dilindungi oleh Allah SWT dari sifat tersebut. Hal ini pun dijelaskan dalam Alquran yang berbunyi: "Katakanlah (Muhammad), Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib dan aku tidak (pula) mengatakan kepadamu bahwa aku malaikat.

Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah, Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Apakah kamu tidak memikirkan(nya)." (QS Al-A'am: 50). 4. Al Baladah Arti Al Baladah adalah bodoh. Hal ini berkebalikan dengan sifat wajib fathonah.

seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah

Meski saat dipilih oleh Allah Rasul merupakan orang yang tak bisa membaca dan menulis, tapi Rasulullah merupakan orang yang dianugerahi kemampuan untuk menyampaikan wahyu. Beliau juga seseorang yang adil dan bijaksana sehingga bisa menjalankan tugasnya dalam berdakwah dengan baik. KLovers, itulah penjelasan mengenai Shiddiq artinya beserta sifat wajib rasul lainnya yang penuh teladan.

Lengkap dengan penjelasan mengenai sifat mustahil yang tak mungkin dimiliki rasul. Yuk, simak juga • Surat Al Kafirun Beserta Arti dan Keutamaannya Bagi Umat Muslim • 7 Rekomendasi Film China Romantis Terbaik dan Terbaru, Dijamin Seru Sekaligus Bikin Baper • 7 Rekomendasi Film Hacker Paling Menegangkan, Terbaik Sepanjang Masa • 6 Rekomendasi Film Islami Seru dan Sarat Makna, Cocok Ditonton Bareng Keluarga • 10 Rekomendasi Film Sad Ending Barat yang Populer, Cocok Ditonton saat Pingin Nangis
Liputan6.com, Jakarta Momen Ramadan menjadi waktu yang tepat bagi umat Muslim untuk lebih mendekatkan diri pada Allah SWT.

Selain melalui berpuasa, cara lain dekat dengan Sang Pencipta adalah melalui ibadah. Dikutip dari kanal Youtube Ustaz Adi Hidayat Official, hendaknya setiap Muslim yang hendak berpuasa agar tidak main-main dan menganggap ringan kesempatan Ramadan yang Allah SWT berikan pada hidupnya.

"Karena belum tentu nikmat itu akan diterima oleh setiap hamba atau mungkin bisa berulang di kesempatan berikutnya," tutur Ustaz Adi Hidayat. Oleh karena itu, ujar Ustaz Adi Hidayat, para sahabat Nabi Muhammad SAW banyak yang mengalirkan air mata di penghujung Ramadan.

seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah

Menangis. Berharap agar Ramadan terus berlangsung setiap hari. "Mereka tahu, belum tentu tahun depan bisa berjumpa (Ramadan). Karena itu semua bermujahadah ketika akan tiba Ramadan," lanjut Adi Hidayat. Ketika Ramadan tiba, para seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah memaksimalkan ibadah, melakukannya sepenuh jiwa.

Mencontoh ibadah Rasulullah SAW sepanjang Ramadan. Lebih lanjut Ustaz Adi Hidayat mengisahkan kesaksian salah seorang sahabat, Ibnu Abbas ra, akan ibadah Rasulullah SAW di bulan Ramadan. "Saya belum pernah melihat Rasulullah semulia ini dalam ibadahnya, selembut ini dalah sedekahnya, sebanyak ini dalam pemberiannya kecuali saat Ramadan," Adi Hidayat menuturkan kesaksian Ibnu Abbas ra.

Diibaratkan, lembutnya hembusan angin sepoi-sepoi pun kalah dibandingkan kelembutan amalan Nabi Muhammad SAW kala Ramadan. Perilaku Rasulullah itu memotivasi orang-orang di sekelilingnya untuk lebih serius beribadah saat Ramadan. Ada banyak doa-doa menyambut bulan suci Ramadan yang selalu Rasulullah SAW amalkan. Bukan hanya sebagai bentuk syukur dan suka cita dipertemukan dengan bulan Ramadan selanjutnya, tetapi agar keberkahan selalu menyertai.

Nabi Muhammad SAW mengamalkan doa-doa menyambut bulan suci Ramadan sebagai sunnah. Doa ini membuat umat muslim yang membaca lebih merasa siap dengan kedatangan bulan Ramadan. Begitu juga diri selalu diliputi kebaikan dan dijanjikan pahala yang melimpah.

Bulan Ramadan ditentukan oleh keberadaan hilal. Tak heran bila doa-doa menyambut bulan suci Ramadan atas kedatangan hilal turut diamalkan. Bukan hanya doa, tetapi Rasulullah SAW membawa zikir saat melihat bulan atau hilal sebagai tanda datangnya Ramadan. Berikut Liputan6.com ulas doa menyambut bulan Ramadan dari berbagai sumber, Selasa (8/3/2021). * Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Mendekati bulan Ramadan, dianjurkan bagi umat Islam untuk bersuka cita dalam hati. Tidak lupa untuk membaca doa-doa menyambut bulan suci Ramadan, agar semakin mendapat keberkahan. Berdasarkan hadist riwayat Imam At-Thabarani dan Imam Ad-Dailami, berikut bacaan doa-doa menyambut bulan suci Ramadan yang diamalkan oleh Rasulullah SAW: Allāhumma sallimnī li Ramadhāna, wa sallim Ramadhāna lī, wa sallimhu minnī.

Artinya: “Ya Allah, selamatkanlah aku (dari penyakit dan uzur lain) demi (ibadah) Bulan Ramadhan, selamatkanlah (penampakan hilal) Ramadhan untukku, dan selamatkanlah aku (dari maksiat) di Bulan Ramadhan.” Memohon agar mendapat kebaikan di bulan Ramadan pun turut dipanjatkan sebagai doa-doa menyambut bulan suci Ramadan.

Bacaan doa ini bisa diamalkan sesuai dengan sunnah Rasul. Untuk menambah pahala dan upaya mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan Ramadan. Berikut doa-doa menyambut bulan suci Ramadan yang diamalkan oleh Rasulullah SAW berdasarkan riwayat Imam Abu Dawud : Hilālu rusydin wa khairin (2 kali), āmantu bil ladzī khalaqaka, (3 kali), alhamdulillāhil ladzī dzahaba bi syahri kadzā, wa jā’a bi syahri kadzā.

Artinya: “Bulan petunjuk dan kebaikan (2 kali). Aku beriman kepada Tuhan yang menciptakanmu (3 kali). Seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah puji bagi Allah yang menghilangkan bulan itu, dan mendatangkan bulan ini.” (HR Abu Dawud) Doa-doa menyambut bulan suci Ramadan yang diamalkan oleh Rasulullah SAW selanjutnya adalah saat melihat hilal.

Umat Islam di seluruh dunia menggunakan dua pendekatan dalam menentukan awal Ramadan. Dua pendekatan tersebut yaitu dengan hisab dan rukyat. Ketika menyaksikan hilal, Rasulullah Muhammad SAW selalu membaca doa-doa menyambut bulan suci Ramadan di bawah ini. Doa melihat hilal tersebut tercantum dalam hadis riwayat Imam Tirmidzi.

Allahumma ahillahu 'alaina bil yumna wal imani was salamati wal islami rabbi wa rabbukallahu. Artinya, "Ya Allah, tampakkan bulan itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu adalah Allah." Cara menentukan awal Ramadan dengan metod hisab adalah perhitungan untuk memprediksi ketinggian hilal yang menjadi penanda pergantian bulan dalam sistem kalender hijriah.

Ketika diprediksi sudah berada di ketinggian di atas 0 derajat, maka sudah bisa dikatakan bulan berganti. Sedangkan rukyat adalah metode menentukan awal Ramadan yang dilakukan dengan menyaksikan hilal baik dengan mata secara langsung maupun dengan alat. Jika sudah muncul, hilal akan terlihat seperti garis lengkung tipis. Bukan hanya membaca doa-doa menyambut bulan suci Ramadan, tetapi dzikir turut dilantunkan.

Berdasarkan hadist riwayat Imam Ahmad dijelaskan, Rasulullah SAW membawa zikir saat melihat bulan atau hilal sebagai tanda datangnya Ramadan.

Berikut bacaan zikir yang diamalkan Rasulullah SAW ketika melihat hilal Ramadan : Allāhu akbaru, lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘azhīmi. Allāhumma innī as’aluka khaira hādzas syahri, wa a‘ūdzu bika min syarril qadari, wa min syarril mahsyari. Artinya: “Allah maha besar. Tiada daya dan upaya kecuali berkat pertolongan Allah yang maha agung.

Aku memohon kepada-Mu kebaikan bulan ini (Ramadan). Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan takdir dan keburukan mahsyar.” Membaca zikir dapat menunjukkan bahwa umat muslim sebagai manusia adalah makhluk yang lemah dan selalu senantiasa membutuhkan pertolongan Allah. Selain itu, bacaan doa zikir ini dapat memohon kebaikan di bulan Ramadan serta perlindungan dari takdir yang buruk. Ketika bulan Ramadan segera tiba, Rasulullah SAW pun memohon ampunan dengan doa-doa menyambut bulan suci Ramadan.

Tidak hanya kepada umat yang hidup sezaman dengan Rasulullah. Cintanya diberikan kepada umatnya yang hidup di masa yang jauh dari zaman Rasulullah. Cinta itu diwujudkan dalam bentuk doa. Banyak sekali doa-doa menyambut bulan suci Ramadan Rasulullah SAW yang ditujukan kepada umatnya. Di antara sekian banyak doa, Rasulullah SAW memohonkan kepada Allah SWT agar umatnya dijauhkan dari azab. Doa-doa menyambut bulan suci Ramadan tersebut terdapat dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA.

Allahumma la tursil 'ala ummati 'adzaban min fauqihim wa la min tahti arjulihima wa la talbishum syiya'an. Artinya: "Ya Allah, jangan Engkau kirim kepada umatku azab dari arah atas mereka, dan juga jangan kirim azab dari arah kaki mereka, dan jangan Engkau campurkan mereka dengan macam-macam golongan yang saling bertentangan." Menuntaskan Utang Puasa Menjelang bulan Ramadan, sudah seharusnya untuk membayar semua utang puasa di tahun sebelumnya. Puasa ini disebut puasa Qadha.

Puasa Qadha wajib dilaksanakan sebanyak hari puasa yang telah ditinggalkan saat Ramadan. Ketentuan membayar hutang puasa Ramadan dapat dilihat jelas dalam firman Allah pada Q.S. Al-Baqarah ayat 184 yang berbunyi: "(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.

Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." Menyambut dengan Gembira Amalan yang bisa dilakukan sebelum bulan Ramadan yang tak kalah penting adalah menyambut bulan suci ini dengan penuh suka cita.

Amalan ini termasuk ke dalam amalan hati. Caranya adalah dengan memperbanyak bersyukur karena telah dipertemukan kembali pada bulan suci Ramadan. Mulianya bulan Ramadan menjadikan bulan ini begitu istimewa dan harus disambut dengan penuh kegembiraan. Di bulan Ramadan, pahala akan dilipat gandakan dan dosa akan dihapuskan. Rasulullah SAW dan para sahabat pun menyambut bulan Ramadan dengan bergembira, dan melepasnya dengan tangisan. Seperti yang telah dijelasakan dalam sebuah hadis Dorrutun Seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah, yang artinya “Siapa yang bergembira dengan masuknya bulan Ramadan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.” Puasa Sunnah di Bulan Syaban Amalan menyambut bulan Ramadan berikutnya yaitu menunaikan puasa sunnah di bulan Syaban.

Anda bisa memperbanyak puasa sunnah di bulan Syaban sebelum datangnya bulan Ramadan. Namun biasanya satu atau dua hari menjelang masuknya bulan Ramadan umat muslim dilarang menunaikan puasa sunnah, kecuali bagi mereka yang sudah membiasakannya. Larangan ini juga disebutkan dalam hadist Rasul, yaitu sebagai berikut ; “Jangan kamu dahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali bagi seseorang yang memuaskan puasa tertentu, maka ia boleh meneruskan puasanya”.

(Hadits Shahih, riwayat Bukhari: 1781 dan Muslim: 1812. teks hadits riwayat al-Bukhari). Saling Memaafkan Amalan yang bisa dilakukan sebelum bulan Ramadan yang pertama adalah saling memaafkan. Saat memasuki bulan Ramadan, kamu harus suci lahir dan batin. Suci secara lahir artinya seperti menjaga kesehatan, kebersihan, dan lain-lain. Sedangkan suci batin adalah suci dari segala pikiran buruk, dendam, dan masalah hati lainnya.

Maka dari itu, menjelang bulan Ramadan, hendaknya umat Muslim untuk saling memaafkan. Cara ini bisa membebaskan dirimu dari kesalahan pada orang lain dan membersihkan hati. Dengan begitu, bulan Ramadan akan terasa ringan untuk dijalani. Bertaubat Seorang muslim diperintahkan untuk menyambut bulan Ramadan dengan taubat nashuha, mempersiapkan diri untuk berpuasa, serta menghidupkan bulan Ramadan dengan tekad yang murni dan tulus.

Dengan bertobat pada Allah SWT kamu bisa menjalankan dan memaksimalkan pahala di bulan Ramadan dan menyambut bulan Ramadan dengan hati yang bersih, suci dan bergembira.

Berziarah Amalan menyambut bulan Ramadan selanjutnya yaitu dengan melakukan ziarah kubur. Anda bisa berziarah ke makam orang tua, mengirimkan doa untuk para leluhur serta bertawassul kepada mereka. Bertawassul di sini artinya mengirimkan doa agar anggota keluarga yang sudah meninggal atau para leluhur diberikan keselamatan dan berkah selama bulan Ramadan sebulan mendatang.

Ini juga bisa menjadi amalan baik yang dapat menambah pahala bagi Anda yang mendoakan. • Acèh • Afrikaans • العربية • مصرى • অসমীয়া • Asturianu • Авар • Azərbaycanca • تۆرکجه • Башҡортса • Беларуская • Български • বাংলা • Bosanski • Català • Нохчийн • کوردی • Qırımtatarca • Čeština • Чӑвашла • Cymraeg • Dansk • Dagbanli • Deutsch • Zazaki • ދިވެހިބަސް • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Euskara • فارسی seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah Suomi • Français • Frysk • ગુજરાતી • Hausa • עברית • हिन्दी • Hrvatski • Հայերեն • ГӀалгӀай • Italiano • 日本語 • Jawa • ქართული • Қазақша • ភាសាខ្មែរ • ಕನ್ನಡ • 한국어 • कॉशुर / کٲشُر • Kurdî • Кыргызча • Lëtzebuergesch • Лакку • Lietuvių • Latviešu • Malagasy • Minangkabau • Македонски • മലയാളം • मराठी • Bahasa Melayu • नेपाली • Li Niha • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • ਪੰਜਾਬੀ • Polski • پنجابی • Português • Română • Русский • Scots • سنڌي • Srpskohrvatski / српскохрватски • සිංහල • Simple English • Soomaaliga • Shqip • Српски / srpski • Sunda • Svenska • Kiswahili • தமிழ் • తెలుగు • Тоҷикӣ • ไทย • Türkmençe • Türkçe • Татарча/tatarça • ئۇيغۇرچە / Uyghurche • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Tiếng Việt • Walon • 吴语 • მარგალური • 中文 • 粵語 • l • b • s Salat ( pengucapan bahasa Indonesia: [salat]; bahasa Arab: ٱلصَّلَاة‎ aṣ-ṣalāh, bahasa Arab: ٱلصَّلَوَات‎ aṣ-ṣalawāt) adalah salah satu jenis ibadah di dalam agama Islam yang dilakukan oleh Muslim.

Kegiatan salat meliputi perkataan dan perbuatan yang diawali dengan gerakan takbir dan diakhiri dengan gerakan salam. [1] Kedudukan salat di dalam Islam ialah sebagai rukun Islam yang kedua. [2] Salat merupakan suatu ibadah yang istimewa di dalam Islam karena perintah pelaksanaannya diterima oleh Nabi Muhammad dari Allah secara langsung. [3] Salat dijadikan sebagai penanda utama dalam status keimanan seorang muslim.

Mengerjakan salat merupakan tanda awal keislaman sedangkan meninggalkan salat merupakan tanda awal kekafiran. [4] Menurut syariat Islam, praktik salat harus sesuai dengan segala petunjuk tata cara yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad sebagai figur pengejawantahan perintah Allah. [5] Dalil mengenai kewajiban pelaksanaan salat terdapat di dalam Al-Qur'an, hadis maupun ijmak para ulama.

[6] Persyaratan yang harus dipenuhi dalam melaksanakan salat ada sembilan, yaitu Islam, berakal, mumayyiz, bersuci, menutup aurat, bersih dari najis, mengetahui waktu pelaksanaan salat, menghadap ke kiblat dan memiliki niat. Selain itu terdapat rukun salat yang jumlahnya sebanyak empat belas macam gerakan dan ucapan, serta delapan hal yang membatalkan salat.

[7] Salat secara umum terbagi menjadi dua jenis yaitu salat fardu dan salat sunah. Salat fardu terbagi menjadi 5 waktu tertentu yang dikerjakan setiap hari dan bersifat wajib. Sementara itu, salat sunah bersifat dianjurkan untuk dikerjakan pada waktu tertentu, khususnya pada hari raya Islam.

[8] Daftar isi • 1 Etimologi • 2 Hakikat • 3 Dalil • 3.1 Dalil di dalam Al-Qur'an • 3.2 Dalil di dalam hadis • 4 Pensyariatan • 4.1 Nabi Adam dan keturunannya • 4.2 Nabi Ibrahim • 4.3 Nabi Ishaq dan Ya'kub • 4.4 Nabi Muhammad • 5 Kiblat • 6 Hukum • 6.1 Kondisi khusus • 7 Persyaratan • 7.1 Beragama Islam • 7.2 Balig • 7.3 Wudu • 8 Rukun • 8.1 Takbir • 9 Jenis • 9.1 Berdasarkan hukumnya • 9.1.1 Salat nawafil • 9.1.2 Salat fardu • 9.2 Salat berjamaah • 9.3 Salat fardu • 10 Kemakruhan • 11 Keharaman • 11.1 Berpakaian ketat • 12 Manfaat • 12.1 Memelihara kesehatan tubuh manusia • 13 Lihat pula • 14 Referensi • 14.1 Catatan kaki • 14.2 Daftar pustaka • 15 Pranala luar Etimologi [ sunting - sunting sumber ] Muslim di Indonesia sedang salat dalam posisi berdiri.

seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah

Kata salat merupakan kata serapan dalam bahasa Arab yaitu shalla. Kata ini merupakan turunan seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah kata yushalli - shalaatan. [9] Secara bahasa, kata salat berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti sebagai doa.

Dalam Surah At-Taubah ayat 103 menjadi landasan pemaknaan ini. Dalam ayat ini, kata salat dimaknai sebagai doa. Pemaknaan salat sebagai doa juga diperoleh dari perbuatan dan ucapan yang diadakan selama kegiatan salat merupakan serangkaian doa. [10] Sementara itu, secara istilah salat diartikan oleh para ulama sebagai serangkaian ucapan dan gerakan tertentu yang diawal dengan takbir dan diakhiri dengan gerakan salam. Gerakan takbir perlu didahului dengan niat dan memiliki persyaratan tertentu sebelum dilaksanakan.

[11] Abu Hanifah menambahkan makna salat ini dengan memberikan ciri umum gerakannya yaitu berdiri, rukuk dan sujud. [12] Hakikat [ sunting - sunting sumber ] Salat termasuk dalam ibadah yang tujuan pelaksanaannya hanya untuk menghambakan diri kepada Allah.

Dalam pelaksanaan salat timbul suatu hubungan antara manusia sebagai makhluk ciptaan Allah, dan Allah sebagai pencipta makhluk yaitu manusia. Hubungan ini disebutkan di dalam Al-Qur'an pada Surah Az-Zariyat ayat 56, Surah Yasin ayat 22, dan Surah Al-'An'am ayat 162.

Pada Surah Az-Zariyat ayat 56 disebutkan bahwa manusia dan jin diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah. Surah Yasin ayat 22 merupakan perenungan bahwa manusia akan kembali kepada Tuhannya sehingga tidak ada alasan untuk tidak beribadah kepadaNya.

Sementara itu, Surah Al-'An'am ayat 162 menjelaskan bahwa salat seorang muslim hanya dipersembahkan kepada Allah yang merupakan tuhan bagi seluruh alam.

[13] Dalil [ sunting - sunting sumber ] Dalil di dalam Al-Qur'an [ sunting - sunting sumber ] Kata salat hanya disebutkan 83 kali di dalam Al-Qur'an. [14] Perintah mengerjakan salat terdapat dalam beberapa ayat yaitu Surah Al-Hajj ayat 77, Surah Al-Baqarah ayat 43 dan 238, Surah An-Nisa' ayat 103 serta Surah Al-'Ankabut ayat 45. Surah Al-Hajj ayat 77 tidak secara langsung memberikan perintah salat, tetapi menyebutkan dua gerakan salat yaitu rukuk dan sujud. Surah Al-Baqarah ayat 43 secara langsung memerintahkan salat dengan menyebutkan salah satu gerakan salat yaitu rukuk.

Ayat ini juga disertai dengan perintah untuk melaksanakan ibadah lain yaitu zakat. Surah An-Nisa' ayat 103 menjelaskan bahwa salat merupakan kewajiban bagi orang yang beriman dengan waktu pelaksanaannya telah ditentukan.

Manfaat salat kemudian disebutkan dalam Surah Al-'Ankabut ayat 45 yaitu untuk mencegah manusia melakukan perbuatan yang keji dan mungkar.

Setelah perintah dan manfaat salat disampaikan, maka dalam Surah Al-Baqarah ayat 238, Allah memerintahkan untuk memelihara salat dan melaksanakannya dengan khusyuk hanya untuk Allah. [15] Berikut ini adalah ayat-ayat lain yang membahas tentang salat di dalam Al-Quran, kitab suci agama Islam: • Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: Hendaklah mereka mendirikan salat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan (Ibrahim 14:31).

• Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji ( zina) dan mungkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat lain), dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (al-‘Ankabut 29:45). • Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan (Maryam 19:59).

• Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh-kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya (al-Ma’arij 70:19-23). Dalil di dalam hadis [ sunting - sunting sumber ] Perintah salat juga disampaikan di dalam hadis. Dalam periwayatan hadis dari Abdullah bin Umar, Nabi Muhammad mengatakan bahwa salah satu rukun islam adalah salat.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Ahmad. Terdapat pula sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, nabi Muhammad mengatakan bahwa salat merupakan ibadah pertama yang dihitung dalam pengadilan hari kiamat.

Keberuntungan akan diperoleh oleh manusia yang melaksanakan salat dengan baik, sedangkan yang melaksanakan kerugian akan memperoleh kerugian dan kekecewaan. [16] Nabi Muhammad juga memberikan analogi mengenai pentingnya salat bagi agama Islam dan umat muslim.

Salat diumpamakan sebagai tiang yang menopang bangunan. Dalam analogi ini, bangunannya adalah Islam yang dibangun atas dasar jihad. Salat dijadikan sebagai pengokoh dasar keislaman dan penopang jalan mencapai jihad kepada Allah.

[17] Pensyariatan [ sunting - sunting sumber ] Allah memerintahkan pelaksanaan salat pada para nabi yang diutusnya antara lain Nabi Ibrahim, Nabi Isma'il, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad.

[14] Setiap nabi dan rasul yang diutus oleh Allah telah diberi perintah untuk mengerjakan salat dengan hukum wajib untuk dilaksanakan. Tata cara dan aturan dalam pelaksanaan salat oleh tiap nabi dan rasul kemungkinan berbeda-beda sesuai dengan perintah Allah. Salat telah dilaksanakan sejak masa kenabian Adam hingga masa kenabian Muhammad.

Penyempurnaan aturan, bacaan dan gerakan salat diadakan ketika Nabi Muhammad mengalami peristiwa Isra Mikraj menuju ke Sidratulmuntaha. [18] Perintah salat juga diberikan kepada Bani Israil, [19] dan seluruh Ahli Kitab. [20] Nabi Adam dan keturunannya [ sunting - sunting sumber ] Keterangan mengenai perintah dan pelaksanaan salat oleh Adam dan keturunannya tertera pada Surah Maryam ayat 59.

Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa adam dan keturunannya bersujud dan menangis ketika dibacakan ayat-ayat Allah. [21] Nabi Ibrahim [ sunting - sunting sumber ] Keterangan mengenai pelaksanaan salat oleh Nabi Ibrahim terdapat dalam Surah Ibrahim ayat 37.

Dalam ayat ini, diketahui bahwa nabi Ibrahim memindahkan anak dan keturunannya ke sebuah lembah yang tandus dan tidak ditumbuhi oleh tumbuhan. Di tempat tersebut, Ibrahim membangun Ka'bah sebagai tempat pelaksanaan salat bagi dirinya dan anak keturunannya. [22] Nabi Ishaq dan Ya'kub [ sunting - sunting sumber ] Di dalam Al-Qur'an juga disiratkan akan salat yang dilakukan oleh nabi Ishak dan Yakub: [23] ".dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshaq dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami), dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh.

Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah." — Al-Anbiya' 21:72-73 Nabi Muhammad [ sunting - sunting sumber ] Sejak awal diutusnya Nabi Muhammad, umat muslim telah diperintahkan oleh Allah untuk melaksanakan salat. Perintah ini disampaikan langsung di dalam Al-Qur;an. S alat lima waktu baru diwajibkan setelah terjadinya peristiwa Isra Mikraj.

Dalam Isra Mikraj tersebut disebutkan bahwa Nabi Muhammad salat terlebih dahulu di Al-Jami' Al-Aqsha sebelum naik ke langit dan berjumpa dengan para nabi yang lainnya. Nabi Muhammad juga bertemu dengan Nabi Musa dan dia menceritakan seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah umatnya yaitu Bani Israil, tidak mampu melakukan salat lima puluh waktu dalam sehari.

Kiblat [ sunting - sunting sumber ] Makkah, Madinah, dan Yerusalem Pada awal mulanya salat umat muslim berkiblat ke Al-Jami' al-Aqsha di Yerusalem sebelum akhirnya diperintah Allah untuk berpindah kiblat ke bangunan yang didirikan Nabi Ibrahim dan Ismail yaitu Ka'bah yang berada di dalam Masjidil Haram.

[27] Pengalihan arah kiblat ini terjadi ketika Nabi Muhammad dan para pengikutnya sedang melaksanakan salat di Madinah. Posisi salat pada saat itu menghadap ke utara sesuai dengan posisi dari Al-Jami' al-Aqsha. Setelah perubahan arah kiblat diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad, maka kiblat salat berikutnya dialihkan ke arah selatan menghadap ke Ka'bah di Makkah.

Proses pengalihan ini mulai dilakukan di penghujung hari, sehingga di permulaan hari, arah kiblat masih menghadap ke Al-Jami' al-Aqsha. [28] Ayat Al-Qur'an yang memperjelas status Ka'bah sebagai kiblat umat Islam adalah Surah Al-Baqarah ayat 144, 149, dan 150. Ketiga ayat ini berisi perintah untuk memalingkan wajah ke arah Masjidil Haram. [29] Pewahyuan ketiga ayat ini berlangsung pada bulan Rajab atau Syakban tahun ke-2 Hijriyah (624 Masehi).

[30] Posisi menghadap kiblat memiliki tiga tingkatan yang menjadi syarat penunaian salat secara benar. Masing-masing ialah ketetapan hati, perasaan diawasi oleh Allah, dan pemaknaan terhadap kalam Allah. Ketetapan hati berkaitan dengan penjagaan hati dan pikiran yang dapat mengurangi pahala salat. Pikiran dan hati selama salat dijaga dari hawa nafsu dan keraguan berlebihan.

Perasaan diawasi oleh Allah ialah melaksanakan salat dengan pikiran selalu meyakini bahwa Allah mengetahui, mengamati dan mengawasi ibadah salat. Sedangkan pemaknaan terhadap kalam Allah berarti bahwa salat dilaksanakan dengan mengetahui makna bacaannya, serta makna ubudiahnya.

[31] Hukum [ sunting - sunting sumber ] Dalam Islam, salat merupakan suatu kewajiban yang dihukumi fardu ain bagi muslim yang telah baligh. Tiap muslim wajib melaksanakan salat selama ia masih hidup. Dalil mengenai kewajiban salat terdapat di dalam Al-Qur'an maupun hadis. [32] Dalam banyak hadis, Nabi Muhammad telah memberikan peringatan keras kepada orang yang suka meninggalkan salat wajib, mereka akan dihukumi menjadi kafir [33] dan mereka yang meninggalkan salat maka pada hari kiamat akan disandingkan bersama dengan orang-orang, seperti Qarun, Fir'aun, Haman dan Ubay bin Khalaf.

[34] Hukum salat secara umum terbagi menjadi dua yaitu wajib dan sunah. Salat yang wajib dikerjakan disebut salat fardu, sedangkan yang sunah untuk dikerjakan disebut salat sunah. [35] Kondisi khusus [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Safar (perjalanan), Salat Qashar, dan Salat Jamak Dalam situasi dan kondisi tertentu kewajiban melakukan salat diberi keringanan tertentu.

Misalkan saat seseorang sakit dan saat berada dalam perjalanan. Bila seseorang dalam kondisi sakit hingga tidak bisa berdiri maka ia dibolehkan melakukan salat dengan posisi duduk, sedangkan bila ia tidak mampu untuk duduk maka ia diperbolehkan salat dengan berbaring.

Bila dengan berbaring ia tidak mampu melakukan gerakan tertentu ia dapat melakukannya dengan isyarat. Sedangkan bila seseorang sedang dalam perjalanan, ia diperkenankan menggabungkan ( jamak) atau meringkas ( qashar) salatnya. Menjamak salat berarti menggabungkan dua salat pada satu waktu yakni salat zuhur dengan salat asar atau salat magrib dengan salat isya. Mengqasar salat berarti meringkas salat yang tadinya 4 rakaat (zuhur, asar, isya) menjadi 2 rakaat.

Persyaratan [ sunting - sunting sumber ] Syarat-syarat salat adalah hal-hal yang harus dipenuhi sebelum salat ditunaikan. Jenis syarat dalam salat dibagi berdasarkan kemampuan dari dalam diri individu maupun pengamatan dari luar diri individu.

Syarat yang harus dimiliki di dalam diri individu meliputi beragama Islam, baligh, berakal sehat, dan mengetahui rukun salat. Sementara syarat yang berasal dari luar individu ialah kebersihan dan kesucian dari hadas dan najis, ketepatan waktu pelaksanaan salat serta posisi salat menghadap kiblat.

[36] Beragama Islam [ sunting - sunting sumber ] Syarat sahnya salat yang paling pertama adalah pelaksananya harus meyakini kebenaran agama Islam. Salat seseorang dianggap tidak sah ketika dirinya menjadi kafir. Orang kafir yang kembali beragama Islam wajib mengqada salat-salatnya agar dapat kembali menjadi sah. Keterangan ini diperoleh dari Surah Al-Baqarah ayat 217. [37] Sebaliknya, mualaf tidak diwajibkan mengqada salat yang ditinggalkannya selama masih menjadi kafir.

Dosa-dosa selama masih menjadi kafir diampuni oleh Allah sesuai keterangan pada Surah Al-Anfal ayat 38. [38] Balig [ sunting - sunting sumber ] Tanda balig bagi manusia adalah sama dengan tanda memasuki masa pubertas. Bagi laki-laki, tanda ini berupa terjadinya mimpi basah. Sementara bagi wanita, tanda balig adalah terjadinya menstruasi. Sebelum mencapai usia balig, salat belum berstatus sebagai kewajiban, tetapi setelah mencapai usia balig maka status salat menjadi wajib. [39] Anak yang belum mencapai masa pubertas dibebaskan dari kewajiban melaksanakan salat.

Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Muhammad bin Isa at-Tirmidzi dan Muhammad bin Ismail al-Bukhari. [40] Wudu [ sunting - sunting sumber ] Tiga orang yang sedang berwudu di tempat wudu. Sebelum melaksanakan salat, tiap muslim wajib melakukan wudu. Caranya seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah dengan membersihkan bagian tubuh tertentu menggunakan air.

Wudu mejadi syarat wajib sebelum melaksanakan salat wajib maupun salat sunah. Syarat pelaksanaan wudu adalah berislam, berakal sehat, menggunakan air suci, dan tidak berpenghalang. Makna berakal sehat ialah mampu membedakan antara hal yang seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah dengan hal yang buruk. Sementara itu, air suci adalah air yang belum pernah digunakan untuk kegunaan lain, misalnya air hujan, air laut, air sungai, salju yang mencair, dan air dari tangki atau kolam besar.

Penghalang di dalam wudu adalah najis atau hadas. Penghalang ini terbagi menjadi dua yaitu penghalang lahir dan penghalang biologis. Penghalang lahir misalnya kotoran yang menempel di sela-sela kuku, sedangkan penghalang biologis misalnya haid dan nifas bagi wanita.

Syarat tambahan diberikan kepada orang dengan penyakit yang membuatnya selalu berhadas. Bagi penderita penyakit selalu berhadas, wudu dilakukan setiap memasuki waktu salat. Penyakit berhadas ini misalnya keputihan dan tidak mampu menahan buang air kecil. [41] Wudu dimulai dengan niat dan kemudian dilanjutkan dengan membasuh kedua telapak tangan.

Selanjutnya yang dibasuh adalah bagian muka, kedua telapa tangan hingga mencapai siku, mengusap bagian kepala dan membasuh kedua telapak kaki hingga tumit. Pelaksanaan wudu ini dilakukan secara berurutan. [42] Wudu dapat menjadi batal akibat beberapa hal. Penyebab paling umum adalah keluarnya kotoran dari anus atau alat kelamin. Penyebab berikutnya adalah tidur dengan posisi tubuh tengkurap atau kaki terangkat. Wudu juga dapat batal akibat orang yang berwudu kehilangan akal sehat akibat mabuk, sakit, epilepsi, atau gila.

Batalnya wudu juga disebabkan karena bersentuhan langsung antara kulit dengan kulit pada orang yang bukan mahram. Keberadaan atau ketidakberadaan hawa nafsu tidak mempengaruhi pembatalan wudu. Kondisi terakhir yang dapat membatalkan wudu adalah menyentuh lubang anus sendiri maupun orang lain baik dalam keadaan hidup atau telah meninggal. [43] Rukun [ sunting - sunting sumber ] Rukun salat adalah setiap perkataan atau perbuatan yang akan membentuk hakikat salat. Jika salah satu rukun ini tidak ada, maka salat pun tidak sah berdasarkan syariat Islam dan juga tidak bisa diganti dengan sujud sahwi.

[44] • Berdiri bagi yang mampu. [45] • niat dalam hati • Takbiratul ihram. [46] • Membaca surat Al Fatihah pada tiap rakaat. [47] • Rukuk dan tuma’ninah. [48] [49] • Iktidal setelah rukuk dan tumakninah. [49] [50] • Sujud dua kali dengan tumakninah. [49] [51] • Duduk antara dua sujud dengan tumakninah. [49] [52] • Duduk tasyahud akhir • membaca tasyahud akhir.

[53] • Membaca salawat nabi pada tasyahud akhir. [54] • Membaca salam yang pertama. [55] • Tertib melakukan rukun secara berurutan. [56] Takbir [ sunting - sunting sumber ] Pengucapan kata "akbar" di dalam takbir ketika salat tidak diperbolehkan. Larangan ini berlaku secara mutlak serta berlaku pula di dalam azan. Pemanjangan ucapan "akbar" dapat mengubah arti dari kata tersebut.

Kata akbar ketika dipanjangkan menjadi akbâr akan berarti sejenis tanaman atau bedug yang hanya punya satu sisi pukul. Selain itu, imam salat yang memanjangkan kata "akbar" dapat membuat makmum mendahuluinya dalam rukun salat.

Makmum dalam artian ini menyelesaikan pengucapan takbir sebelum imam, sehingga melanggar rukun salat. [57] Jenis [ sunting - sunting sumber ] Berdasarkan hukumnya [ sunting - sunting sumber ] Salat nawafil [ sunting - sunting sumber ] Salat nawafil adalah salat tambahan selain salat fardu.

Salat nawafil ini terbagi menjadi tiga tingkatan yaitu salat sunah, salat mustahab dan salat tathawwu'.

seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah

Ketiga tingkatan ini sering disatukan menjadi satu yaitu salat sunah, tetapi ketiganya tetap memiliki perbedaan. [58] Salat sunah merupakan salat tambahan yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad semasa hidupnya secara terus-menerus. Salat mustahab adalah salat yang diketahui pelaksanaanya di dalam hadis, tetapi pelaksanaannya secara terus-menerus tidak terdapat di dalam hadis.

Sementara itu, salat tathawwu' merupakan salat yang tidak terdapat dalam hadis maupun dicontohkan oleh para sahabat, tabiin dan tabi'ut tabi'in. Salat tathawwu' hanya dikerjakan sebagai bentuk pendekatkan diri seorang hamba kepada Allah. Kesalahan dalam penyebutan ketiga jenis salat nawafil ini tidak membuat seorang muslim berdosa selama mereka memahami makna dari ketiganya. [59] Salat sunah adalah salat-salat yang dianjurkan untuk dikerjakan, akan tetapi tidak diwajibkan.

Seorang muslim tidak berdosa ketika tidak melaksanakan salat sunah, sedangkan melaksanakannya berarti memperoleh pahala. Salat sunah terbagi lagi menjadi dua, yaitu salah sunah muakkad dan salat sunah ghairu muakkad. Salat sunah muakkad adalah salat sunah yang dianjurkan dengan penekanan yang kuat (hampir mendekati wajib), seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah salat dua hari raya dan salat tarawih.

Sedangkan salat sunah ghairu muakkad adalah salat sunah yang dianjurkan tanpa anjuran dengan seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah yang kuat. [60] Contoh salat sunah ghairu muakkad yaitu salat rawatib dan salat sunah yang sifatnya insidentil (tergantung waktu dan keadaan, seperti salat kusuf/khusuf hanya dikerjakan ketika terjadi gerhana).

Salat fardu [ sunting - sunting sumber ] • Fardu, Salat fardhu ialah salat yang diwajibkan untuk mengerjakannya. Salat fardhu terbagi lagi menjadi dua, yaitu: • Fardu ain adalah kewajiban yang diwajibkan kepada mukalaf langsung berkaitan dengan dirinya dan tidak boleh ditinggalkan ataupun dilaksanakan oleh orang lain, seperti salat lima waktu, dan salat Jumat (fardhu 'ain untuk pria).

• Fardu kifayah adalah kewajiban yang diwajibkan kepada mukalaf tidak langsung berkaitan dengan dirinya. Kewajiban itu menjadi sunnah setelah ada sebagian orang yang mengerjakannya. Akan tetapi bila tidak ada orang yang mengerjakannya maka kita wajib mengerjakannya dan menjadi berdosa bila tidak dikerjakan, seperti salat jenazah. Salat berjamaah [ sunting - sunting sumber ] Sebuah infografik mengenai posisi salat berjamaah sesuai sunnah dari Nabi Muhammad ﷺ.

Salat tertentu dianjurkan untuk dilakukan secara bersama-sama (berjamaah). Dalam pelaksanaannya setiap Muslim diharuskan mengikuti apa yang telah Nabi Muhammad ajarkan, yaitu dengan meluruskan dan merapatkan barisan, antara bahu, lutut dan tumit saling bertemu.

[61] [62] [63] [64] Pada salat berjamaah seseorang yang dianggap paling kompeten akan ditunjuk sebagai imam salat, dan yang lain akan berlaku sebagai makmum. • Salat yang dapat dilakukan secara berjamaah maupun sendiri antara lain: • Salat fardu • Salat tarawih • Salat yang harus dilakukan berjamaah antara lain: • Salat Jumat • Salat Hari Raya (Ied) • Salat Istisqa' Artikel utama: Salat Fardu Yaitu salat yang tidak wajib berjamaah tetapi sebaiknya berjamaah.

Salat fardu [ sunting - sunting sumber ] Salat yang mula-mula diwajibkan bagi Nabi Muhammad dan para pengikutnya adalah salat malam, yaitu sejak diturunkannya Surat al-Muzzammil (73) ayat 1-19. Setelah beberapa lama kemudian, turunlah ayat berikutnya, yaitu ayat 20: "Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu, dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang.

Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Alquran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik, dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya, dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." — Al-Muzzammil 73:20 Dengan turunnya ayat ini, hukum salat malam hukumnya menjadi sunnah.

Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid, al-Hasan, Qatadah, dan ulama salaf lainnya berkata mengenai ayat 20 ini, "Sesungguhnya ayat ini menghapus kewajiban salat malam yang mula-mula Allah wajibkan bagi umat Islam. Kemakruhan [ sunting - sunting sumber ] Waktu-waktu salat dalam sehari Waktu salat yang dberi hukum makruh adalah pada salat mutlaq.

Kemakruhan salat ini dikarenakan meniru perbuatan orang munafik. Waktu pelaksanaannya ada beberapa yaitu: [65] • Setelah salat subuh hingga matahari terbit • Saat matahari terbit hingga baru mencapai sepenggalah • Posisi matahari tepat berada di atas tubuh, sehingga bayang-bayang tepat berada di bawah tubuh.

Kemakruhan ini dikecualikan untuk hari Jumat. • Setelah salat asar hingga matahari terbenam. • Saat matahari terbenam hingga sempurna. Kemakruhan juga berlaku pada tempat salat. Terdapat beberapa tempat salat yang membuat hukum salat menjadi makruh. Berdasarkan kelayakannya sebagai tempat ibadah, kemakruhan melaksanakan salat berlaku di pemandian umum, tempat berganti pakaian, dan tempat memberi minum ternak.

[66] Salat juga dianggrap makruh jika dikerjakan di tempat yang memiliki banyak najis seperti tempat penyembelihan hewan, pemakaman, dan tempat pembuangan akhir. [67] Ada pula tempat yang makruh untuk salat karena mengganggu publik atau dimurkai oleh Allah. Tempat salat yang makruh akibat menggangu publik adalah di jalan raya yang masih digunakan, lembah yang rawan banjir, pasar atau di depan publik.

Sedangkan tempat salat yang dimurkai Allah adalah di tempat ibadah umat non muslim atau di tempat maksiat. [68] Keharaman [ sunting - sunting sumber ] Berpakaian ketat [ sunting - sunting sumber ] Dalam salat, baik laki-laki maupun perempuan dilarang menggunakan pakaian yang ketat. Pelarangan ini dikarenakan pakaian ketat membuat aurat terlihat melalui lekuk tubuh. [69] Manfaat [ sunting - sunting sumber ] Memelihara kesehatan tubuh manusia [ sunting - sunting sumber ] Salat merupakan sebuah ibadah yang memiliki gerakan-gerakan tertentu.

Setiap gerakan salat bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia. Gerakan wudu sebelum salat serta pelaksanaan salat membuat akupunktur dan pemijatan alami bagi tubuh manusia melalui sentuhan. Daerah akupunktur ini terbagi menjadi 12 titik di telapak tangan, 24 titik pada wajah, 8 titik pada lengan, 24 titik pada kepala, dan 13 titik pada kaki.

Gerakan-gerakan salat juga mencegah beberapa penyakit timbul pada manusia. Gerakan berdiri setelah sujud atau rukuk membuat saraf pada bagian otak dan punggung manusia terkendurkan. Hal ini membuat tubuh manusia lebih sulit terkena penyakit yang berkaitan dengan ruas tulang punggung. Pada posisi sujud, terjadi kontraksi pada otot-otot dan terjadi pemijatan pada bagian pembuluh darah dan saraf di bagian kelenjar getah bening serta mencegah pengerutan pada bagian pembuluh darah.

Sementara itu, pada gerakan duduk tasyahud, terjadi pemijatan pada bagian pusat otak ruas tulang punggung, bahu, mata dan jari kaki.

Sedangkan pada gerakan salam, terjadi penguatan otot leher dan kepala selama kepala menoleh ke kanan dan ke kiri. [70] Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Wudu • Azan • Zikir • Makrifat Referensi [ sunting - sunting sumber ] Catatan kaki [ sunting - sunting sumber ] • ^ Ar-Rahbawi 2017, hlm.

175. • ^ Hambali, Muh. (2017). Rusdianto, ed. Panduan Muslim Kaffah Sehari-Hari: Dari Kandungan hingga Kematian. Yogyakarta: Laksana. hlm. 19. ISBN 978-602-407-185-1. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Al-Mahfani dan Hamdi 2016, hlm. 81.

• ^ al-Basuruwani 2018, seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah. 58. • ^ Rasulullah ﷺ bersabda, Salatlah kalian sesuai dengan apa yang kalian lihat aku mempraktikkannya. Hadits riwayat Imam Bukhari no. 628, 7246 dan Imam Muslim no. 1533. • ^ Sarwat 2019, hlm. 9. • ^ Adil 2018, hlm. 75. • ^ Ar-Rahbawi 2017, hlm. 177. • ^ Al-Mahfani dan Hamdi 2016, hlm. 80. • ^ Syarbini 2011, hlm.

2. • ^ Sarwat 2019, hlm. 4. • ^ Sarwat 2019, hlm. 4-5. • ^ al-Basuruwani 2018, hlm. 53. • ^ a b Syarbini 2011, hlm. 4. • ^ Al-Mahfani dan Hamdi 2016, hlm. 82-83. • ^ Al-Mahfani dan Hamdi 2016, hlm. 84. • ^ Sarwat 2019, hlm. 7.

• ^ Sarwat 2019, hlm. 9-10. • ^ "Surah Al-Baqarah - 83". quran.com. Diakses tanggal 27 September 2021. • ^ "Surah Al-Baqarah - 3-4". quran.com. Diakses tanggal 27 September 2021. • ^ Sarwat 2019, hlm. 10. • ^ Sarwat 2019, hlm. 10-11.

• ^ "Surah Al-Anbya - 72-73". quran.com. Diakses tanggal 2021-09-27. • ^ Usmani 2015, hlm. 23. • ^ Usmani 2015, hlm. 26. • ^ Usmani 2015, hlm. 25. • ^ "Surah Al-Baqarah - 144". quran.com. Diakses tanggal 2021-09-27. • ^ Usmani 2015, hlm. 22. • ^ Bashori 2015, hlm. 97–98. • ^ Bashori 2015, hlm.

104. • ^ bin Sa'ad, Abu Abdirrahman Adil (2018). Ensiklopedi Shalat. Diterjemahkan oleh Mujtahid, Umar. Jakarta Timur: Ummul Qura.

hlm. 58. ISBN 978-602-7637-03-0. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Al-Mahfani dan Hamdi 2016, hlm. 82. • ^ Muhammad ﷺ bersabda: "Perjanjian yang memisahkan kita dengan mereka adalah salat.

Barangsiapa yang meninggalkan salat, maka berarti dia telah kafir." Hadis riwayat Imam Ahmad dan Tirmidzi. • ^ Muhammad ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang menjaga salat maka ia menjadi cahaya, bukti dan keselamatan baginya pada hari kiamat dan barangsiapa yang tidak menjaganya maka ia tidak mendapatkan cahaya, bukti dan keselamatan dan pada hari kiamat ia akan bersama Qarun, Fir'aun, Haman dan Ubay bin Khalaf." Hadis shahih riwayat Imam Ahmad, Ath-Thabrani dan Ibnu Hibban.

• ^ Watiniyah 2019, hlm. 19. • ^ Sya'roni, M., dan Mathroni, M. (2006). Risalah Bimbingan Salat. Semarang: Aneka Ilmu. hlm. 25-26. ISBN 978-979-7361-43-3. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Maulana dan Jinaan 2017, hlm.

2-3. • ^ Maulana dan Jinaan 2017, hlm. 3. • ^ Maulana dan Jinaan 2017, hlm. 3-4. • ^ Maulana dan Jinaan 2017, hlm. 4. • ^ Syafril 2018, hlm. 2. • ^ Syafril 2018, hlm. 3-4. • ^ Syafril 2018, hlm. 9. • ^ https://rumaysho.com/1723-rukun-rukun-shalat-1.html • ^ “Salatlah dalam keadaan berdiri. Jika tidak mampu, kerjakanlah dalam keadaan duduk. Jika tidak mampu lagi, maka kerjakanlah dengan tidur menyamping.” HR Bukhari no. 1117, dari ‘Imron bin Hushain.

• ^ “Pembuka salat adalah thoharoh (bersuci). Yang mengharamkan dari hal-hal di luar salat adalah ucapan takbir. Sedangkan yang menghalalkannya kembali adalah ucapan salam.” HR Abu Daud no. 618, Tirmidzi no. 3, Ibnu Majah no. 275. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Al Irwa’ no.

301. • ^ “Tidak ada salat (artinya tidak sah) orang yang tidak membaca Al Fatihah.” HR Bukhari no. 756 dan Muslim no. 394, dari ‘Ubadah bin Ash Shomit. • ^ “Kemudian ruku’lah dan thuma’ninahlah ketika ruku’.” HR Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397. • ^ a b c d “Salat tidaklah sempurna sampai salah seorang di antara kalian menyempurnakan wudhu, … kemudian bertakbir, lalu melakukan ruku’ dengan meletakkan telapak tangan di lutut sampai persendian yang ada dalam keadaan thuma’ninah dan tenang.” HR Ad-Darimi no.

1329. Syaikh Husain Salim Asad mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. • ^ “Kemudian tegakkanlah badan (i’tidal) dan thuma’ninalah.” • ^ “Kemudian sujudlah dan thuma’ninalah ketika sujud.” • ^ “Kemudian sujudlah dan thuma’ninalah ketika sujud. Lalu bangkitlah dari sujud dan thuma’ninalah ketika duduk.

Kemudian sujudlah kembali dan thuma’ninalah ketika sujud.” • ^ “Jika salah seorang antara kalian duduk (tasyahud) dalam salat, maka ucapkanlah “at tahiyatu lillah …”.” HR Seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah no. 831 dan Muslim no. 402, dari Ibnu Mas’ud. • ^ “Jika salah seorang di antara kalian hendak salat, maka mulailah dengan menyanjung dan memuji Allah, lalu bershalawatlah kepada Nabi ﷺ, lalu berdo’a setelah itu semau kalian.” Riwayat ini disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Fadh-lu Salat ‘alan Nabi, hal.

86, Al Maktabah Al Islamiy, Beirut, cetakan ketiga 1977. • ^ “Yang mengharamkan dari hal-hal di luar salat adalah ucapan takbir. Sedangkan yang menghalalkannya kembali adalah ucapan salam.” HR Abu Daud no. 618, Tirmidzi no. 3, Ibnu Majah no. 275. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Al Irwa’ no. 301. • ^ Pembahasan rukun salat ini banyak disarikan dari penjelasan Syaikh Abu Malik dalam kitab Shahih Fiqh Sunnah terbitan Al Maktabah At Taufiqiyah.

• ^ bin Sa'ad, Abu Abdirrahman Adil (2018). Ensiklopedi Shalat. Diterjemahkan oleh Mujtahid, Umar. Jakarta Timur: Ummul Qura. hlm. 553.

seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah

ISBN 978-602-7637-03-0. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Watiniyah 2019, hlm. 20. • ^ Watiniyah 2019, hlm. 21. • ^ Watiniyah 2019, hlm. 19-20. • ^ Rasulallah ﷺ bersabda, “Luruskan shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan salat.” (Hadits riwayat Bukhari, dalam Fath al-Bari’ No.723) • ^ Rasulallah ﷺ bersabda, “Benar-benarlah kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan membuat berselisih di antara wajah-wajah kalian.” (Hadits riwayat Bukhari 717, Imam Muslim 127, Lafadz ini dari Imam Muslim).

Berkata Al-Imam An-Nawawi, “Makna hadits ini adalah akan terjadi di antara kalian permusuhan, kebencian dan perselisihan di hati.” • ^ Rasulallah ﷺ bersabda, “Luruskan shaf kalian, jadikan setentang di antara bahu-bahu, dan tutuplah celah-celah yang kosong, lunaklah terhadap tangan saudara kalian dan jangan kalian meninggalkan celah-celah bagi setan.

Barangsiapa menyambung shaf maka Allah menyambungkannya dan barangsiapa yang memutuskannya maka Allah akan memutuskannya.” (Hadits riwayat Bukhari, Abu Dawud 666. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Sunan Abu Dawud) • ^ Dari Abu Qosim Al-Jadali berkata, “Saya mendengar Nu’man bin Basyir berkata, ‘Rasulallah ﷺ menghadapkan wajahnya kepada manusia dan bersabda, ‘Luruskan shaf-shaf kalian! Luruskan shaf-shaf kalian! Luruskan shaf-shaf kalian! Demi Allah benar-benar kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan menjadikan hati kalian berselisih.’ Nu’man berkata, ‘Maka saya melihat seseorang melekatkan bahunya dengan bahu kawannya, lututnya dengan lutut kawannya, mata kaki dengan mata kaki kawannya.’’” (Hadits riwayat Abu Dawud 662, Ibnu Hibban 396, Ahmad 4272.

Dishahihkan Syaikh Al-Albany dalam As-Shahihah no.32) • ^ Watiniyah 2019, hlm. 26. • ^ Watiniyah 2019, hlm. 27. • ^ Watiniyah 2019, hlm. 27-28. • ^ Watiniyah 2019, hlm. 28. • ^ Salman, Masyhur Hasan (2016). Ensiklopedi Kesalahan dalam Shalat. Jakarta: Pustaka Imam Syafi'i. hlm. 27. ISBN 978-602-9183-46-7. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Usmani 2015, hlm. 21. Daftar pustaka [ sunting - sunting sumber ] • Adil, Abu Abdirrahman (2018).

Mujtahid, Umar, ed. Ensiklopedi Salat. Jakarta: Ummul Qura. ISBN 978-602-7637-03-0. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • al-Basuruwani, Abu Abbas Zain Musthofa (2018). Fiqh Shalat Terlengkap. Yogyakarta: Laksana. ISBN 978-602-407-451-7. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Al-Mahfani, M. K., dan Hamdi, A.; Zainal (2016). Mukhlisin, ed. Kitab Lengkap Panduan Shalat.

Jakarta: Wahyu Qolbu. ISBN 978-602-6358-04-2. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • Ar-Rahbawi, Abdul Qadir (2017). Editor, ed. Fikih Shalat Empat Mazhab. Jakarta: Elex Media Komputindo. ISBN 978-602-04-5063-6. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Bashori, Muhammad Hadi (2015). Pengantar Ilmu Falak. Jakarta: Pustaka Al Kautsar. ISBN 978-979-592-701-3.

Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Maulana, A. dan Jinaan, A. (2017). Panduan Lengkap Salat Fardu dan Sunah. Jakarta: PT Grasindo. ISBN 978-602-375-978-1. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • Sarwat, Ahmad (2019). Ensiklopedia Fikih Indonesia 3: Shalat.

Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama. ISBN 978-602-03-8459-7. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Syafril, Muhammad (2018).

Panduan Salat Wajib dan Sunah. Jakarta: QultumMedia. ISBN 978-979-017-411-5. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Syarbini, Amirulloh (2011).

Editor, ed. Keajaiban Shalat, Sedekah, dan Silaturahmi. Jakarta: Elex Media Komputindo. ISBN 978-979-27-9706-0. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Usmani, Ahmad Rofi' (2015).

Nikmatnya Shalat. Bandung: Penerbit Mizania. ISBN 978-602-9255-82-9. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Watiniyah, Ibnu (2019). Tuntunan Lengkap 99 Salat Sunah Superkomplet. Jakarta: Kaysa Media. ISBN 978-602-215-048-0. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] Wikimedia Commons memiliki media mengenai Salat.

Lihat informasi mengenai salat di Wiktionary. • (Indonesia) Rukun-rukun salat di situs web Muslim • (Indonesia) Ilustrasi posisi Imam dan Makmum dalam salat berjamaah • (Melayu) Sembahyang • Halaman ini terakhir diubah pada 13 April 2022, pukul 04.17. • Teks tersedia di bawah Seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku.

Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
• Acèh • Адыгабзэ • Afrikaans • Alemannisch • አማርኛ • Aragonés • Ænglisc • العربية • ܐܪܡܝܐ • الدارجة • مصرى • অসমীয়া • Asturianu • Авар • अवधी • Azərbaycanca • تۆرکجه • Башҡортса • Basa Bali • Boarisch • Bikol Central • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • भोजपुरी • Bamanankan • বাংলা • བོད་ཡིག • Brezhoneg • Bosanski • Буряад • Català • Mìng-dĕ̤ng-ngṳ̄ • Нохчийн • کوردی • Qırımtatarca • Čeština • Чӑвашла • Cymraeg • Dansk • Dagbanli • Deutsch • Zazaki • Dolnoserbski • ދިވެހިބަސް • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • Estremeñu • فارسی • Fulfulde • Suomi • Võro • Føroyskt • Français • Arpetan • Frysk • Gaeilge • Kriyòl gwiyannen • Galego • Avañe'ẽ • ગુજરાતી • Hausa • עברית • हिन्दी • Fiji Hindi • Hrvatski • Hornjoserbsce • Magyar • Հայերեն • Interlingua • Interlingue • Ilokano • ГӀалгӀай • Ido • Íslenska • Italiano • 日本語 • Patois • Jawa • ქართული • Qaraqalpaqsha • Taqbaylit • Kabɩyɛ • Қазақша • ಕನ್ನಡ • 한국어 • Къарачай-малкъар • कॉशुर / کٲشُر • Kurdî • Кыргызча • Latina • Lëtzebuergesch • Лакку • Лезги • Lingua Franca Nova • Limburgs • Ladin • Lombard • Lietuvių • Latviešu • मैथिली • Basa Banyumasan • Malagasy • Олык марий • Minangkabau • Македонски • മലയാളം • Монгол • मराठी • Кырык мары • Bahasa Melayu • Malti • Mirandés • မြန်မာဘာသာ • مازِرونی • Napulitano • Plattdüütsch • नेपाली • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • ߒߞߏ • Occitan • Oromoo • Ирон • ਪੰਜਾਬੀ • Polski • پنجابی • پښتو • Português • Runa Simi • Română • Armãneashti • Русский • Русиньскый • संस्कृतम् • Саха тыла • Sicilianu • Scots • سنڌي • Srpskohrvatski / српскохрватски • Taclḥit • සිංහල • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • Soomaaliga • Shqip • Српски / srpski • Sunda • Svenska • Kiswahili • தமிழ் • తెలుగు • Тоҷикӣ • ไทย • Türkmençe • Tagalog • Türkçe • Татарча/tatarça • ئۇيغۇرچە / Uyghurche • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Tiếng Việt • Walon • Winaray • Wolof • 吴语 • მარგალური • ייִדיש • Yorùbá • 中文 • 文言 • Bân-lâm-gú • 粵語 • IsiZulu Kiri: Al-Qur’an abad ke-11 Afrika Utara di British Museum.

Kanan: Al-Qur’an − di Mashhad, Iran – ditulis oleh Ali bin Abi Thalib. Al-Qur'an atau Qur'an ( bahasa Arab: القرآن, translit. al-Qurʾān‎; [1] khusus dengan pengucapan quran ; [2] khusus Bahasa Inggris Britania / k ɒr ˈ ɑː n/.

[3] [4]}} kor- AHN), adalah sebuah kitab suci utama dalam agama Islam, yang umat Muslim percaya bahwa kitab ini diturunkan oleh Allah, ( bahasa Arab: الله‎ = Allah) kepada Nabi Muhammad. [5] Kitab ini terbagi ke dalam beberapa surah (bab) dan setiap surahnya terbagi ke dalam beberapa ayat. Umat Muslim percaya bahwa Al-Qur'an difirmankan langsung oleh Allah kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril, [6] [7] berangsur-angsur selama 22 tahun, 2 bulan dan 22 hari atau rata-rata selama 23 tahun, dimulai sejak tanggal 17 Ramadan, [8] saat Nabi Muhammad berumur 40 tahun hingga wafat pada tahun 632.

[5] [9] [10] Umat Muslim menghormati Al-Qur'an sebagai sebuah mukjizat terbesar Nabi Muhammad, sebagai salah satu tanda dari kenabian, [11] dan merupakan puncak dari seluruh pesan suci (wahyu) yang diturunkan oleh Allah sejak Nabi Adam dan diakhiri dengan Nabi Muhammad. [a] Kata "Quran" disebutkan sebanyak 70 kali di dalam Al-Qur'an itu sendiri. [12] Menurut ahli sejarah beberapa sahabat Nabi Muhammad memiliki tanggung jawab menuliskan kembali wahyu Allah berdasarkan apa yang telah para sahabat hafalkan.

[13] Setelah Nabi Muhammad wafat, para sahabat segera menyusun dan menuliskan kembali hafalan wahyu mereka. Penyusunan kembali Al-Qur'an ini diprakarsai oleh Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq atas usulan dari Umar bin Khattab dengan persetujuan para sahabat senior. Al-Qur’an menjelaskan sendiri bahwa isi dari Al-Qur’an adalah sebuah petunjuk. Terkadang juga dapat berisi cerita mengenai kisah bersejarah, dan menekankan pentingnya moral.

[14] [15] Al-Qur’an digunakan bersama dengan hadis untuk menentukan hukum syari'ah. [16] Saat melaksanakan Salat, Al-Qur’an dibaca hanya dalam bahasa Arab. [17] Beberapa pakar Barat mengapresiasi Al-Qur’an sebagai sebuah karya sastra bahasa Arab terbaik di dunia. [18] [19] Seseorang yang menghafal isi Al-Qur'an disebut Al Hafidz. Beberapa umat Muslim membacakan Al-Qur’an dengan bernada, dan peraturan, yang disebut tajwid. Saat bulan suci Ramadan, biasanya umat Muslim melengkapi hafalan Dan membaca Al-Qur’an mereka setelah melaksanakan shalat tarawih.

Untuk memahami makna dari al quran, umat Muslim menggunakan rujukan yang disebut tafsir. [20] Daftar isi • 1 Etimologi • 2 Terminologi • 3 Nama-nama lain • 4 Struktur • 4.1 Surah • 4.1.1 Makkiyah dan Madaniyah • 4.1.2 Penggolongan menurut jumlah ayat • 5 Sejarah penulisan mushaf Al-Qur'an • 5.1 Periode penurunan Al-Qur'an • 5.2 Penulisan Al-Qur'an dan perkembangannya • 5.2.1 Masa Nabi Muhammad • 5.2.2 Masa Khulafaur Rasyidin • 5.2.2.1 Pemerintahan Abu Bakar • 5.2.2.2 Pemerintahan Utsman bin Affan • 6 Upaya penerjemahan dan penafsiran • 6.1 Terjemahan • 6.2 Tafsir • 7 Adab terhadap Al-Qur'an • 8 Hubungan Al-Qur'an dengan kitab-kitab lain • 9 Pembacaan • 10 Lihat pula • 11 Catatan • 12 Referensi • 12.1 Catatan kaki • 13 Daftar pustaka • 13.1 Bahasa Indonesia • 13.2 Bahasa Asing • 14 Pranala luar Etimologi [ sunting - sunting sumber ] Wahyu pertama Muhammad, Surah Al-Alaq, kemudian ditempatkan ke-96 dalam urutan Al-Qur'an (dalam gaya penulisan saat ini).

Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa Alquran adalah bentuk kata benda infinitif ( mashdar) dari kata قرأ qara`a yang bermakna membaca atau mengumpulkan. [b] Jika Alquran berasal dari kata qara`a yang bermakna membaca, maka Alquran berarti bacaan, sedangkan jika berasal dari kata qara`a yang bermakna mengumpulkan, maka Alquran berarti kumpulan, karena Alquran itu berisi kumpulan kisah-kisah dan hukum.

[21] Al-Qur'an menjelaskan bahwa kitab ini adalah sebuah "pembeda" ( al-furqān), "buku ibu" ( umm al-kitāb), "petunjuk" ( huda), "kebijaksanaan" ( hikmah), "pengingat" (Dzikr) dan " wahyu" ( tanzīl; sesuatu yang diturunkan, menandakan sebuah objek yang diturunkan dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah).

[22] Istilah lainnya yakni al-kitāb (Buku), yang juga digunakan dalam bahasa Arab untuk skriptur lain, seperti Taurat dan Injil, Kata sifat "Quran" memiliki transliterasi yang beragam, termasuk "quranic", "koranic", dan "qur'anic", atau dikapitasisasikan menjadi "Qur'anic", "Koranic", dan "Quranic".

Istilah lain dari Al-Qur'an adalah mushaf ('karya tulisan'). Konsep pemakaian kata-kata tersebut dapat juga dijumpai pada salah satu surah Al-Qur'an sendiri yakni pada Surah Al-Qiyamah ayat 17 dan 18 yang artinya: "Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur'an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami.

(Karena itu,) jika Kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti bacaannya". (Al-Qiyāmah 75:17-18) [23] Terminologi [ sunting - sunting sumber ] Al-Qur'an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Muhammad yang dapat menjadi sarana ibadah dengan membacanya.

[24] Allah telah berfirman tentang berbagai definisi Al-Qur'an, [c] serta terdapat penegasan bahwa tiada yang mengingkari Al-Qur'an selain golongan yang celaka. [25] Mayoritas ahli tafsir sepakat bahwa wahyu pertama yang diterima oleh nabi Muhammad adalah surah Al-'Alaq ayat 1-5. [26] Walaupun hal demikian tidak tertulis secara langsung di Al-Qur'an. [27] Para ahli tafsir memiliki definisi tersendiri tentang Al-Qur'an, semisal Dr. Subhi Saleh yang mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut: "Kalam Allah yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah".

Adapun Muhammad Ali Ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur'an sebagai berikut: "Al-Qur'an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ penutup para nabi dan rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surah Al-Fatihah dan ditutup dengan surah An-Nas" Dengan definisi tersebut di atas, firman Allah yang diturunkan kepada nabi selain nabi Muhammad, tidak dinamakan Al-Qur'an, tetapi dinamakan sebagai hadis qudsi.

Nama-nama lain [ sunting - sunting sumber ] • Al-Kitab (Buku) [29] [30] • Al-Furqan (Pembeda benar salah) [31] • Adz-Dzikr (Pemberi peringatan) [32] • Al-Mau'idhah (Pelajaran/nasihat) [33] • Al-Hukm (Peraturan/hukum) [34] • Al-Hikmah (Kebijaksanaan) [35] • Asy-Syifa (Obat/penyembuh) [33] [36] • Al-Huda (Petunjuk) [33] [37] [38] [39] • At-Tanzil (Yang diturunkan) [40] • Ar-Rahmat (Karunia) [37] • Ar-Ruh (Ruh) [41] • Al-Bayan (Penerang) [42] • Al-Kalam (Ucapan/firman) [43] • Al-Busyra (Kabar gembira) [44] • An-Nur (Cahaya) [45] • Al-Basha'ir (Pedoman) [46] • Al-Balagh (Penyampaian/kabar) [47] • Al-Qaul (Perkataan/ucapan) [48] Struktur [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Surah, Makkiyah, dan Madaniyah Al-Qur'an terdiri atas 114 surah, 30 juz dan 6236 ayat menurut riwayat Hafsh, [49] 6262 ayat menurut riwayat ad-Dur, atau 6214 ayat menurut riwayat Warsy.

[50] [51] Secara umum, Al-Qur'an terbagi menjadi 30 bagian yang dikenal dengan nama juz. Pembagian juz memudahkan mereka yang ingin menuntaskan pembacaan Al-Qur'an dalam kurun waktu 30 hari. Terdapat pembagian lain yang disebut manzil, yang membagi Al-Qur'an menjadi 7 bagian. Surah [ sunting - sunting sumber ] Bab atau bagian ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan.

Bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Bab atau bagian ini akan dihapus bila tidak tersedia referensi ke sumber tepercaya dalam bentuk catatan kaki atau pranala luar. Setiap surah dalam Al-Qur'an terdiri atas sejumlah ayat, mulai dari surah-surah yang terdiri atas 3 ayat; yakni surah Al-Kautsar, An-Nasr dan Al-Asr, hingga surah yang mencapai 286 ayat; yakni surah Al-Baqarah.

Surah-surah umumnya terbagi ke dalam subbagian pembahasan yang disebut ruku.' Kunjungan Ratu Belks ke Raja Salomo. Edward Poynter, 1890. Menurut Taurat, tujuh ratus istri dan tiga ratus selir menyesatkannya di masa tuanya dan menyuruhnya menyembah berhala.

Salomo masuk Al-Qur'an sebagai nabi-raja yang memerintah manusia, jin dan alam. Lafadz Bismillahirahmanirrahim ( بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) merupakan ciri di hampir seluruh pembuka surah di Al-Qur'an selain Surah At-Taubah.

Walaupun demikian, terdapat 114 lafadz Bismillahirahmanirrahim yang setara dengan jumlah 114 surah dalam Al-Quran, oleh sebab lafadz ini disebut dua kali dalam Surah An-Naml, yakni pada bagian pembuka surah serta pada ayat ke-30 yang berkaitan dengan sebuah surat dari raja Sulaiman kepada ratu Saba.

Makkiyah dan Madaniyah [ sunting - sunting sumber ] Menurut tempat diturunkannya, surah-surah dapat dibagi atas golongan Makkiyah (surah Mekkah) dan golongan Madaniyah (surah Madinah). [52] Pembagian ini berdasarkan tempat dan waktu yang diperkirakan terjadi penurunan surah maupun ayat tertentu, di mana surah-surah yang turun sebelum Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah digolongkan sebagai surah Makkiyah sementara surah-surah yang turun setelahnya tergolong sebagai surah Madaniyah.

Surah yang turun di Mekkah pada umumnya surah-surah dengan jumlah ayat yang sedikit, berisi prinsip-prinsip keimanan dan akhlaq, panggilannya ditujukan kepada manusia. Sedangkan surah-surah yang turun di Madinah pada umumnya memiliki jumlah ayat yang banyak, berisi peraturan-peraturan yang mengatur hubungan seseorang dengan Tuhan, ataupun seseorang dengan lainnya (syari'ah) maupun pembahasan-pembahasan lain.

Pembagian berdasar fase sebelum dan sesudah hijrah ini dianggap lebih tepat, sebab terdapat surah Madaniyah yang turun di Mekkah. [53] Penggolongan menurut jumlah ayat [ sunting - sunting sumber ] Bab atau bagian ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan.

Bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Bab atau bagian ini akan dihapus bila tidak tersedia referensi ke sumber tepercaya dalam bentuk catatan kaki atau pranala luar.

Artikel utama: Pembagian Alquran menurut jumlah ayat Dari segi jumlah ayat, surah-surah yang ada di dalam Al-Qur'an terbagi menjadi empat bagian: • Al-Sab' al-ṭiwāl (tujuh surah yang panjang), enam di antaranya surah Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisaa', Al-A'raaf, Al-An'aam, dan Al Maa-idah. Surah yang ketujuh adalah Surah Al-Anfal dan Surah At-Taubah sekaligus. • Al-Mi'ūn (seratus ayat lebih), seperti Syu'ara, Hud, Yusuf, Al-Mu'min, As-Saffat, Ta Ha, An-Nahl, Al-Anbiya, Al-Isra dan Al-Kahfi.

• Al-Maṡānī (kurang sedikit dari seratus ayat), seperti Al-Anfaal, Al-Hijr. Maryam, Al-Waqi'ah, An-Naml, Az-Zukhruf, Al-Qasas, Shaad, Al-Mu'minun, Yasin dan sebagainya.

• Al-Mufaṣṣal (surah-surah singkat), seperti Adh-Dhuha, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas dan sebagainya. Sejarah penulisan mushaf Al-Qur'an [ sunting - sunting sumber ] Manuskrip Sana'a, halaman kanan manuskrip biner Stanford '07. Lapisan atas adalah ayat 265-271 Surah Baqarah.

Lapisan ganda mengungkapkan penambahan yang dibuat pada naskah pertama Al-Qur'an dan perbedaannya dengan Al-Qur'an hari ini. Al-Qur'an memberikan dorongan yang besar untuk mempelajari sejarah dengan secara adil, objektif dan tidak memihak. [54] Dengan demikian tradisi sains Islam sepenuhnya mengambil inspirasi dari Al-Qur'an, sehingga umat Muslim mampu membuat sistematika penulisan sejarah yang lebih mendekati landasan penanggalan astronomis.

Periode penurunan Al-Qur'an [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Asbabun Nuzul Al-Qur'an tidak turun secara sekaligus dalam satu waktu melainkan berangsur-angsur supaya meneguhkan diri Rasul.

[55] Menurut sebagian ulama, ayat-ayat al-Qur'an turun secara berangsur-angsur dalam kurun waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari; dan ada pula sebagian ulama lain yang berpendapat bahwa Al-Qur'an diwahyukan secara bertahap dalam kurun waktu 23 tahun (dimulai pada 22 Desember 603 M).

[56] Para ulama membagi masa turunnya ini dibagi menjadi dua periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah yang membentuk penggolongan surah Makkiyah dan surah Madaniyah. Periode Mekkah berlangsung selama 12 tahun masa kenabian Rasulullah ﷺ dan surah-surah yang turun pada waktu ini tergolong surah Makkiyyah.

Sementara periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung selama 10 tahun dan surah yang turun pada kurun waktu ini disebut surah Madaniyah. Ilmu Al-Qur'an yang membahas mengenai latar belakang maupun sebab suatu ayat atau beberapa ayat al-Qur'an diturunkan disebut Asbabun Nuzul.

Penulisan Al-Qur'an dan perkembangannya [ sunting - sunting sumber ] Penulisan ayat-ayat al-Qur'an dilakukan serta diselesaikan pada masa nabi Muhammad yang merupakan seorang Arab, [57] [58] [59] Pertanggungjawaban isi Al-Qur'an berada pada Allah, sebab kemurnian dan keaslian Al-Qur'an dijamin oleh Allah. [60] Sementara itu sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa transformasi Al-Qur'an menjadi teks saat ini tidak diselesaikan pada zaman nabi Muhammad, melainkan proses penyusunan Al-Qur'an berlangsung dalam jangka waktu lama sejak masa Khulafaur Rasyidin hingga khalifah Utsman bin Affan.

Masa Nabi Muhammad [ sunting - sunting sumber ] Menurut riwayat para ahli tafsir, ketika Nabi Muhammad masih hidup, terdapat seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah orang yang ditunjuk untuk menulis Al-Qur'an yakni Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab.

[61] Sahabat yang lain juga kerap menuliskan wahyu tersebut walau tidak diperintahkan. Media penulisan yang digunakan saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang.

Di samping itu banyak juga sahabat-sahabat langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur'an setelah wahyu diturunkan. Bab atau bagian ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan.

Bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Bab atau bagian ini akan dihapus bila tidak tersedia referensi ke sumber tepercaya dalam bentuk catatan kaki atau pranala luar. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, terjadi beberapa pertempuran (dalam perang yang dikenal dengan nama Perang Riddah) yang mengakibatkan tewasnya beberapa penghafal Al-Qur'an dalam jumlah yang signifikan.

Umar bin Khattab yang saat itu merasa sangat khawatir akan keadaan tersebut lantas meminta kepada Abu Bakar untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur'an yang saat itu tersebar seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah antara para sahabat. Abu Bakar lantas memerintahkan Zaid bin Tsabit sebagai koordinator pelaksanaan tugas tersebut. Setelah pekerjaan tersebut selesai dan Al-Qur'an tersusun secara rapi dalam satu mushaf, hasilnya diserahkan kepada Abu Bakar.

Abu Bakar menyimpan mushaf tersebut hingga wafatnya kemudian mushaf tersebut berpindah kepada Umar sebagai khalifah penerusnya, selanjutnya mushaf dipegang oleh anaknya yakni Hafshah yang juga istri Nabi Muhammad.

[ butuh rujukan] Pemerintahan Utsman bin Affan [ sunting - sunting sumber ] Pada masa pemerintahan khalifah ke-3 yakni Utsman bin Affan, terdapat keragaman dalam cara pembacaan Al-Qur'an (qira'at) yang disebabkan oleh adanya perbedaan dialek (lahjah) antar suku yang berasal dari daerah berbeda-beda. Hal ini menimbulkan kekhawatiran Utsman sehingga ia mengambil kebijakan untuk membuat sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah) yang ditulis dengan sebuah jenis penulisan yang baku.

Standar tersebut, yang kemudian dikenal dengan istilah cara penulisan (rasam) Utsmani yang digunakan hingga saat ini. Bersamaan dengan standardisasi ini, seluruh mushaf yang berbeda dengan standar yang dihasilkan diperintahkan untuk dimusnahkan (dibakar). Dengan proses ini Utsman berhasil mencegah bahaya laten terjadinya perselisihan di antara umat Islam pada masa depan dalam penulisan dan pembacaan Al-Qur'an. Mengutip hadis riwayat Ibnu Abi Dawud dalam Al-Mashahif, dengan sanad yang shahih: “ Suwaid bin Ghaflah berkata, "Ali mengatakan: Katakanlah segala yang baik tentang Utsman.

Demi Allah, apa yang telah dilakukannya mengenai mushaf-mushaf Al-Qur'an sudah atas persetujuan kami. Utsman berkata, 'Bagaimana pendapatmu tentang isu qira'at ini? Saya mendapat berita bahwa sebagian mereka mengatakan bahwa qira'atnya lebih baik dari qira'at orang lain.

Ini hampir menjadi suatu kekufuran'. Kami berkata, 'Bagaimana pendapatmu?' Ia menjawab, 'Aku berpendapat agar umat bersatu pada satu mushaf, sehingga tidak terjadi lagi perpecahan dan perselisihan.' Kami berkata, 'Pendapatmu sangat baik'." ” Menurut Syaikh Manna' Al-Qaththan dalam Mahabits fi 'Ulum Al-Qur'an, keterangan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Utsman telah disepakati oleh para sahabat.

Demikianlah selanjutnya Utsman mengirim utusan kepada Hafsah untuk meminjam mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Lalu Utsman memanggil Zaid bin Tsabit Al-Anshari dan tiga orang Quraish, yaitu Abdullah bin Az-Zubair, Said bin Al-Ash dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam.

Ia memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, dan jika ada perbedaan antara Zaid dengan ketiga orang Quraisy tersebut, hendaklah ditulis dalam bahasa Quraish karena Al-Qur'an turun dalam dialek bahasa mereka.

Namun terdapat keterangan bahwa dialek bahasa yang dipergunakan di Al-Qur'an merupakan dialek Arab murni. [62] Setelah mengembalikan lembaran-lembaran asli kepada Hafsah, Utsman mengirimkan tujuh buah mushaf, yaitu ke Mekkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah, dan Madinah (mushaf al-Imam). Upaya penerjemahan dan penafsiran [ sunting - sunting sumber ] Museum Al-Qur'an di Melaka, Malaysia.

Upaya-upaya untuk mengetahui isi dan maksud Al-Qur'an telah menghasilkan proses penerjemahan (literal) dan penafsiran (lebih dalam, mengupas makna) dalam berbagai bahasa.

Namun hasil usaha tersebut dianggap sebatas usaha manusia dan bukan usaha untuk menduplikasi ataupun mengganti teks yang asli dalam bahasa Arab, sebab teks yang asli memiliki ciri kebahasaan dan berbagai istilah khusus yang tidak ditemui dalam terjemahan bahasa lain.

[63] Dengan demikian, kedudukan terjemahan dan tafsir yang dihasilkan tidaklah sama dengan Al-Qur'an itu sendiri. [64] Terjemahan [ sunting - sunting sumber ] Terjemahan Al-Qur'an adalah hasil usaha penerjemahan secara literal terhadap teks bahasa Arab Al-Qur'an tanpa disertai dengan usaha interpretasi lebih jauh.

Al-Qur'an menggunakan suatu lafazh dengan berbagai gaya dan untuk suatu maksud yang bervariasi; kadang-kadang untuk arti hakiki, kadang-kadang pula untuk arti majazi (kiasan) atau arti dan maksud lainnya.

Terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Indonesia: • Al-Qur'an dan Terjemahannya, oleh Departemen Agama Republik Indonesia, ada dua edisi revisi, yaitu tahun 1989 dan 2002 • Terjemah Al-Qur'an, oleh Prof. Mahmud Yunus • An-Nur, oleh Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash-Siddieqy • Al-Furqan, oleh A. Hassan guru Persatuan Islam • Al-Qur'anu'l-Karim Bacaan Mulia, oleh Hans Bague Jassin Terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Inggris: • The Holy Qur'an: Text, Translation and Commentary, oleh Abdullah Yusuf Ali • The Meaning of the Holy Qur'an, oleh Marmaduke Pickthall Terjemahan Al-Qur'an dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia: • Al-Amin (bahasa Sunda) • Al-Ibriz (bahasa Jawa), oleh K.

Bisyri Mustafa Rembang • Al-Qur'an dan Terjemahnya Bahasa Sasak (bahasa Sasak), oleh tim penerjemah dari IAIN Mataram [65] • Al-Qur'an Suci Basa Jawi (bahasa Jawa), oleh Prof. K.H.R. Muhammad Adnan • Qur'an bahasa Sunda oleh K.H. Qomaruddien • Qur'an Kejawen (bahasa Jawa), oleh Kemajuan Islam Jogyakarta • Qur'an Suadawiah (bahasa Sunda) • Terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Bugis (huruf lontara), oleh KH Abdul Muin Yusuf Tafsir [ sunting - sunting sumber ] Koin yang menggambarkan Alexander Agung sebagai penakluk Mesir dengan tanduk Amun di kepalanya.

Alexander dianggap sebagai putra dewa Amon berkepala domba jantan di Mesir. Menurut mayoritas komentator Qur'an, Żul Qarnain adalah Alexander. [66] Upaya penafsiran Al-Qur'an telah berkembang sejak zaman hidupnya nabi Muhammad, saat itu para sahabat dapat menanyakan kepada sang Nabi jika memerlukan penjelasan atas ayat tertentu.

Kemudian setelah wafatnya nabi Muhammad hingga saat ini, usaha menggali lebih dalam ayat-ayat Al-Qur'an terus berlanjut. Metodologi yang umum digunakan para mufassirin berupa metode analitik, tematik, hingga perbandingan antar ayat, dan dengan mengetahui asbabu nuzul nya al qur'an, itu adalah salah satu cara untuk menafsirkan al qur'an.

[67] Corak penafsiran yang dihasilkan berupa tafsir bercorak sastra-bahasa, sastra-budaya, filsafat, teologis bahkan ilmiah. Akan tetapi, adanya berbagai ayat Al-Qur'an yang masih misterius bagi para ahli tafsir, membuktikan bahwa pengetahuan dan ilmu manusia yang terbatas tidak sanggup menandingi sebuah Kitab berasal dari Ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu. [68] Serta terdapat keterangan bahwa inti ajaran Al-Qur'an adalah bagian-bagian tersurat yang mudah dipahami ( muhkamat), sedangkan bagian-bagian tersirat yang rumit ( mutasyahabihat) berada dalam Ilmu Allah.

[69] Adab terhadap Al-Qur'an [ sunting - sunting sumber ] Ada dua pendapat mengenai hukum menyentuh Al-Qur'an terhadap seseorang yang sedang junub, perempuan haid dan nifas.

Pendapat pertama mengatakan bahwa jika seseorang sedang mengalami kondisi tersebut tidak boleh menyentuh Al-Qur'an sebelum bersuci. Sedangkan pendapat kedua mengatakan boleh dan sah saja untuk menyentuh Al-Qur'an, karena tidak ada dalil yang menguatkannya.

[70] “ Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. (Al-Waqiah 56:77-79) ” • Pendapat pertama Pendapat kelompok pertama meyakini seseorang diharuskan berwudhu sebelum menyentuh sebuah mushaf Al-Qur'an.

Hal ini berdasarkan tradisi dan interpretasi secara literal dari surah Al Waaqi'ah di atas. Penghormatan terhadap teks tertulis Al-Qur'an adalah salah satu unsur penting kepercayaan bagi sebagian besar Muslim. Mereka memercayai bahwa penghinaan secara sengaja terhadap Al-Qur'an adalah sebuah bentuk penghinaan serius terhadap sesuatu yang suci. Berdasarkan hukum pada beberapa negara berpenduduk mayoritas Muslim, hukuman untuk hal ini dapat berupa penjara kurungan dalam waktu yang lama dan bahkan ada yang menerapkan hukuman mati.

• Pendapat kedua Pendapat kedua mengatakan bahwa yang dimaksud oleh surah Al Waaqi'ah di atas ialah: "Tidak ada yang dapat menyentuh Al-Qur'an yang ada di Lauhul Mahfudz sebagaimana ditegaskan oleh ayat yang sebelumnya (ayat 78) kecuali para Malaikat yang telah disucikan oleh Allah." Pendapat ini adalah tafsir dari Ibnu Abbas dan lain-lain sebagaimana telah diterangkan oleh Al-Hafidzh Ibnu Katsir di tafsirnya.

Bukanlah yang dimaksud bahwa tidak boleh menyentuh atau memegang Al-Qur'an kecuali orang yang bersih dari hadats besar dan hadats kecil. Pendapat kedua ini menyatakan bahwa jikalau memang benar demikian maksudnya tentang firman Allah di atas, maka artinya akan menjadi: Tidak ada yang menyentuh Al-Qur'an kecuali mereka yang suci (bersih), yakni dengan bentuk faa'il (subjek/pelaku) bukan maf'ul (objek).

Kenyataannya Allah berfirman: "Tidak ada yang menyentuhnya (Al-Qur'an) kecuali mereka yang telah disucikan", yakni dengan bentuk maf'ul (objek) bukan sebagai faa'il (subjek).

"Tidak ada yang menyentuh Al-Qur'an kecuali orang yang suci." [71] Yang dimaksud oleh hadis di atas ialah: Tidak ada yang menyentuh Al-Qur'an kecuali orang mu'min, karena orang mu'min itu suci tidak najis sebagaimana sabda Nabi Muhammad.

"Sesungguhnya orang mu'min itu tidak najis". [72] Hubungan Al-Qur'an dengan kitab-kitab lain [ sunting - sunting sumber ] Menjelang melahirkan Yesus, Maria mengguncang pohon untuk mengumpulkan kurma segar, Tema diambil dari Injil Pseudo-Matius.

[73] Berkaitan dengan adanya kitab-kitab yang dipercayai diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Muhammad ﷺ yakni Shuhuf Ibrahim, Kitab Taurat, Zabur, maupun Injil, Di antara kitab-kitab suci tersebut, Allah secara khusus menyebut kedudukan "Al-Kitab yang diberikan kepada Musa" memiliki kaitan paling erat dengan Al-Qur'an.

[74] Terdapat berbagai ayat di Al-Qur'an tentang penegasan kedudukan terhadap kitab-kitab tersebut. Berikut adalah seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah pernyataan Al-Qur'an, mengenai hubungan Al-Qur'an dengan kitab-kitab tersebut: • Bahwasanya Al-Qur'an menuntut kepercayaan umat Islam terhadap kebenaran kitab-kitab tersebut. [75] [76] • Bahwasanya Al-Qur'an diposisikan sebagai penggenapan dan batu ujian (verifikator) bagi kitab-kitab sebelumnya.

[77] • Bahwasanya Al-Qur'an menjadi referensi untuk menghilangkan perselisihan pendapat antara umat-umat rasul yang berbeda. [78] • Bahwasanya Al-Qur'an meluruskan sejarah. Dalam Al-Qur'an terdapat riwayat-riwayat seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah kaum dari seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah terdahulu, juga mengenai beberapa bagian mengenai kehidupan para rasul tersebut serta meluruskan beberapa aspek penting pada teks-teks lain di kalangan Bani Israil, Ahli Kitab, Yahudi dan Kristen.

[79] • Bahwasanya Taurat, Injil beserta Al-Qur'an merupakan kesatuan utuh yang saling berkaitan dalam keimanan terhadap Kitab-Kitab Allah. [80] Pembacaan [ sunting - sunting sumber ] Menurut An-Nawawi, pembacaan Al-Qur'an dilakukan pada tempat-tempat yang bersih dan dianggap sebagai tempat terbaik.

Para ulama menganjurkan bahwa tempat terbaik untuk membaca Al-Qur'an adalah di dalam masjid. Pemilihan masjid didasari oleh kemuliaan dan kebersihan yang dimiliki oleh masjid. Pembacaan Al-Qur'an di dalam masjid lebih utama dibandingkan dengan berzikir. Tujuan pembacaan Al-Qur'an dapat untuk menghafal maupun pembacaan untuk mengingat bacaannya.

Pembacaan Al-Qur'an dilakukan dengan kaidah-kaidah tilawah. [81] Pemberhentian pembacaan Al-Qur'an tidak boleh dilakukan kecuali untuk menjawab salat atau untuk mendengar azan. Pelarangan menghentikan bacaan Al-Qur'an ialah ketika tujuannya hanya untuk berbicara dengan orang lain tanpa maksud tertentu. Sebaliknya, bacaan Al-Qur'an dapat dihentikan ketika adanya pembicaraan yang diperlukan dalam kondisi tertentu.

Misalnya untuk mengingatkan seseorang yang lupa akan sesuatu atau menuntun orang yang buta untuk berjalan. [82] Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Kitab Allah • Nabi Islam Catatan [ sunting - sunting sumber ] • ^ Ibrahim: 1, Ar-Ra'd: 1, Yunus: 108, Al-'Ankabut: 49 • ^ Suatu kata dalam bahasa Arab bisa memiliki lebih dari satu makna.

Dalam kasus ini, قرأ ( qara`a) memiliki makna جمع ( jama'a, mengumpulkan) dan تلا ( talā, membaca). Dari kata قرأ diambil kata lain: القرية ( al-qaryah), yang berarti desa karena di desa terkumpul keluarga-keluarga. • ^ Surah Fussilat: 44, An-Nahl: 89, An-Nahl: 102, Maryam: 97, Yasin: 70, An-Naml: 76, Al-An'am: 70, Az-Zumar:55-59, Shaad: 29, Ibrahim: 52 Referensi [ sunting - sunting sumber ] Catatan kaki [ sunting - sunting sumber ] • ^ dictionary.reference.com: koran • ^ dictionary.reference.com: quran • ^ Cambridge dictionary: koran • ^ Cambridge dictionary: quran • ^ a b Nasr, Seyyed Hossein (2007).

"Qurʼān". Encyclopædia Britannica Online. Diakses tanggal 2007-11-04. • ^ Lambert, Gray (2013). The Leaders Are Coming!. WestBow Press. hlm. 287. ISBN 9781449760137. • ^ Roy H. Williams; Michael R. Drew (2012). Pendulum: How Past Generations Shape Our Present and Predict Our Future. Vanguard Press. hlm. 143. ISBN 9781593157067. • ^ • Chronology of Prophetic Events, Fazlur Rehman Shaikh (2001) p. 50 Ta-Ha Publishers Ltd. • Quran 17:105 • ^ Living Religions: An Encyclopaedia of the World's Faiths, Mary Pat Fisher, 1997, page 338, I.B.

Tauris Publishers. • ^ Qur'an Al-Isra':106 • ^ Peters, F.E. (2003). The Words and Will of God. Princeton University Press. hlm. 12–13. ISBN 0-691-11461-7. • ^ Brannon M. Wheeler (18 June 2002). Prophets in the Quran: An Introduction to the Quran and Muslim Exegesis. A&C Black. hlm. 2. ISBN 978-0-8264-4957-3.

• ^ Donner, Fred, "The historical context" in McAuliffe, J. D. (ed.), The Cambridge Companion to the Qur'ān (Cambridge University Press, 2006), p.

31–33. • ^ Nasr (2003), p. 42 [ perlu rujukan lengkap] • ^ Qur'an 2:67-76 • ^ Handbook of Islamic Marketing, Page 38, G. Rice – 2011 • ^ Literacy and Development: Ethnographic Perspectives – Page 193, Brian V Street – 2001 • ^ Alan Jones, The Koran, London 1994, ISBN 1-84212-609-1, opening page.

"Its outstanding literary merit should also be noted: it is by far, the finest work of Arabic prose in existence." • ^ Arthur Arberry, The Koran Interpreted, London 1956, ISBN 0-684-82507-4, p.

191. “It may be affirmed that within the literature of the Arabs, wide and fecund as it is both in poetry and in elevated prose, there is nothing to compare with it.” • ^ Apocalypse And/or Metamorphosis – Page 81, Norman Oliver Brown – 1991 • ^ Al-Utsaimin 2001, hlm.

3 • ^ a b Abbas Jaffer; Masuma Jaffer (2009). Quranic Sciences. ICAS press. hlm. 11–15. ISBN 1-904063-30-6. • ^ 75:12 • ^ Al-Qaththan 2002, hlm.

16. • ^ Surah Al-Baqarah: 99, Al-Ankabut: 47, Al-An'am: 26 • ^ Al-A'zami, M.M., (2005), Sejarah Teks Al-Qur'an dari Wahyu sampai Kompilasi, (terj.), Jakarta: Gema Insani Press, ISBN 979-561-937-3.

• ^ Surah Al-Qalam: 36-44, Al-Qalam: 57, Al-An'am: 148-149, Yunus: 35-36 • ^ Nasr, Seyyed Hossein (2007). "Qurʼān". Encyclopædia Britannica Online.

• ^ "Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa," (Al-Baqarah 2:2) • ^ "Demi Kitab (Al-Qur'an) yang menjelaskan," (Ad-Dhukan 44:2) • ^ "Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam," (Al-Furqan 25:1) • ^ "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (Al-Hijr 15:9) • ^ a b c "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (Yunus 10:57) • ^ ".dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Qur'an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab, dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah." (Ar-Ra'd 13:37) • ^ "Itulah sebagian hikmah seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah diwahyukan Tuhanmu kepadamu, dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah)." (Al-Isra 17:39) • ^ ".dan Kami turunkan dari Al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian." (Al-Isra 17:82) • ^ a b ".dan sesungguhnya Al-Qur'an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman." (An-Naml 27:77) • ^ ".dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al-Qur'an), kami beriman kepadanya.

Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan." (Al-Jin 72:13) • ^ "Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai." (At-Tawbah 9:33) • ^ ".dan sesungguhnya Al-Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam," (Asy-Syuara 26:192) • ^ ".dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur'an) dengan perintah Kami.

Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al-Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami, dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (Asy-Syuraa 42:52) • ^ "(Al-Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa." (Al-Imran 3:138) • ^ ".dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya.

Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui." (At-Tawbah 9:6) • ^ "Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur'an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)"." (An-Nahl 16:102) • ^ "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu.

(Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al-Qur'an)." (An-Nisa 4:174) • ^ "Al-Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini." (Al-Jatsiyah 45:20) • ^ "(Al-Qur'an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran." (Ibrahim 14:52) • ^ ".dan sesungguhnya telah Kami turunkan berturut-turut perkataan ini (Al-Qur'an) kepada mereka agar mereka mendapat pelajaran." (Al-Qashash 28:51) • ^ (Arab) Mushaf al-Madinah an-Nabawiyah (bi-Riwayah Hafsh).

Madinah: Mujamma' al-Malik Fahd li-Thiba'ah al-Mushaf asy-Syarif. Halaman Ba'. • ^ (Arab) Mushaf al-Madinah an-Nabawiyah bi-Riwayah ad-Durr 'an Abi Amr al-Bashri. Madinah: Mujamma' al-Malik Fahd li-Thiba'ah al-Mushaf asy-Syarif. Halaman Jim. • ^ Jalaluddin ‘Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthy (849-911 H), al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an an-Nau’ at-tasi’ ‘asyar ‘adad suwar wa ayat wa kalimat wa huruf Al-Qur’an. • ^ A. Rippin, Bulletin of the School seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah Oriental and African Studies, University of London, Vol.

45, No. 1. (1982), pp. 149-150. • ^ Abu Ishaq Ibrahim bin Musa asy-Syatiby, Al-Muwafaqat, Kitab al-Ijtihad al-masalah ar-rabi’ah ‘asyarah tharf al-ijtihad al-khash bi al-’ulama wa al-’am bi al-mukallafin –at-Takallum ‘an ahwal at-Tasyri’ wa al-bad al-makkiy wa usul al-’amah- Dar Ibnu Qayyim/ Dar Ibnu ‘Affan, 1424/ 2003 • ^ Rahman, A., (2007), Ensiklopediana Ilmu dalam Al-Quran: Rujukan Terlengkap Isyarat-Isyarat Ilmiah dalam Al-Quran, (terj.), Bandung: Penerbit Mizania, ISBN 979-8394-43-7 • ^ Surah Al-An'am: 89 • ^ Chronology of Prophetic Events, Fazlur Rehman Shaikh (2001) p.

50 Ta-Ha Publishers Ltd. • ^ Surah Fussilat: 44 • ^ Surah Al-Hijr: 97, Luqman: 23, Muhammad: 2-3, Furqan: 30-31, Al-'Ankabut: 48-49, Al-A'raf: 2 • ^ Surah Al-Qiyamah: 16-19 • ^ Surah Ar-Ra'd: 19, Hud: 1, Al-Hijr: 1, Az-Zumar: 1, Ghaafir: 2, Al-Ahqaf: 2, Al-Hijr: 9 • ^ Tabatabai, Sayyid M. H. (1987).

The Qur'an in Islam : its impact and influence on the life of muslims. Zahra Publ. ISBN 0710302665. • ^ Surah An-Nahl: 103, Al-Qalam: 35-40 • ^ Leaman, Oliver (2006).

The Qur'an: an Encyclopedia. New York, NY: Routledge. ISBN 0-415-32639-7. • ^ Aslan, Reza (20 November 2008). "How To Read the Quran".

Slate. Diakses tanggal 25 Februari 2017. • ^ Haris, Tawalinuddin (2017). "Al-Qur'an dan Terjemahnya Bahasa Sasak: Beberapa Catatan". SUHUF Jurnal Pengkajian Al-Qur'an dan Budaya. 1. Jakarta: Lajnah Pentahihan Mushaf Al-Qur'an (10): 211–226. ISSN 1979-6544. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-11-07. Diakses tanggal 2017-11-07. • ^ http://turkoloji.cu.edu.tr/mine_mengi_sempozyum/ismail_avci_iskenderi_zulkarneyn_ve_hizir.pdf • ^ Ismail al-Faruqi dalam The Cultural Atlas of Islam (Atlas Budaya Islam) menjelaskan, "tidak mungkin seseorang bisa memahami ayat Alquran tanpa mengetahui sebab-sebab turunnya ayat Alquran, suatu hal yang mustahil untuk memahami suatu ayat tanpa mengetahui latar belakang dan konteks historis ayat tersebut, kapan turunnya, dan bagaimana keadaan waktu itu.” • ^ Surah At-Talaq: 12, Ta Ha: 98, Al-An'am: 80 • ^ Surah Ali-Imran: 7, Al-Mudassir: 30-31 • ^ Almanhaj: Hukum menyentuh atau memegang Al-Qur'an bagi orang junub, wanita haid dan nifas Diarsipkan 2010-03-17 di Wayback Machine.

(diakses pada 8 Juli 2010) • ^ Shahih riwayat Daruquthni dari jalan Amr bin Hazm, dan dari jalan Hakim bin Hizaam diriwayatkan oleh Daruquthni, Hakim, Thabrani di kitabnya Mu'jam Kabir dan Mu'jam Ausath dan lain-lain, dan dari jalan Ibnu Umar diriwayatkan oleh Daruquthni dan lain-lain, dan dari jalan Utsman bin Abil Aash diriwayatkan oleh Thabrani di Mu'jam Kabir dan lain-lain.

Irwaa-ul Ghalil no. 122 oleh Syaikhul Imam Al-Albani. Dia telah mentakhrij hadis di atas dan menyatakannya shahih.

seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah

• ^ Shahih riwayat Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i, Ibnu Majah, Ahmad dan lain-lain dari jalan Abu Hurairah, ia berkata: "Rasulullah ﷺ pernah menjumpaiku di salah satu jalan dari jalan-jalan yang ada di Madinah, sedangkan aku dalam keadaan junub, lalu aku menyingkir pergi dan segera aku mandi kemudian aku datang (menemui dia), lalu dia bersabda, "Kemana engkau tadi wahai Abu Hurairah?" Jawabku, "Aku tadi dalam keadaan junub, maka aku tidak suka duduk bersamamu dalam keadaan tidak bersih (suci)".

Maka dia bersabda, "Subhanallah! Sesungguhnya orang mu'min itu tidak najis". (Dalam riwayat yang lain dia bersabda, "Sesungguhnya orang muslim itu tidak najis"). • ^ Leirvik 2010, pp. 33–34. • ^ Surah Al-Ahqaf:12, Al-Ahqaf: 30, Al-An'aam: 91-92, Al-Qasas: 44-50 • ^ ".dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya Akhirat.

(Surah Al-Baqarah 2:4) • ^ Surah Al-An'aam: 157 • ^ ".dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur'an dengan membawa kebenaran, menggenapi apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu Dia beritahukan kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu," (Al-Mā'idah 5:48) • ^ Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu menganggap baik perbuatan mereka sendiri, maka syaitan menjadi pemimpin mereka pada hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih, dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

(An-Naĥl 16:63-64) • ^ Surah Al-Imran: 65-67, Al-Baqarah: 113, Al-Baqarah: 140, Al-Furqan: 33, Al-Maidah: 15, An-Nahl: 64, Ar-Ra'd: 36, Al-Baqarah: 213, Asy-Syura: 10 • ^ Surah Al-Baqarah: 136, Ali-Imran: 84, Al-Mā'idah:43, Surah Al-Mā'idah:49, Al-Mā'idah:66, Al-Mā'idah:68, Saba: 31-32 • ^ Adil 2018, hlm. 193. • ^ Adil 2018, hlm. 194. Daftar pustaka [ sunting - sunting sumber ] • Adil, Abu Abdirrahman (2018). Mujtahid, Umar, ed.

Ensiklopedi Salat. Jakarta: Ummul Qura. ISBN 978-602-7637-03-0. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Bahasa Indonesia [ sunting - sunting sumber ] • Departemen Agama Republik Indonesia.

Al-Qur'an dan Terjemahannya. • Baidan, Nashruddin (2003). Perkembangan Tafsir Al-Qur'an di Indonesia. Solo: Tiga Serangkai. ISBN 9789796682133. • Baltaji, Muhammad (2005). Metodologi Ijtihad Umar bin Al Khatab. (terjemahan H. Masturi Irham, Lc). Jakarta: Khalifa. ISBN 979-99129-0-3. • Faridl, Miftah; Syihabudin, Agus (1989). Al-Qur'an, Sumber Hukum Islam yang Pertama. Bandung: Penerbit Pustaka. OCLC 65583166. • Ichwan, Muhammad Nor (2001). Memasuki Dunia Al-Qur'an.

Semarang: Lubuk Raya. • Ilyas, Yunahar (1997). Feminisme dalam Kajian Tafsir Al-Qur'an Klasik dan Kontemporer. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. • Shihab, Muhammad Quraish (1993). Membumikan Al-Qur'an. Bandung: Mizan. • Wahid, Marzuki (2005). Studi Al-Qur'an Kontemporer: Perspektif Islam dan Barat. Bandung: Pustaka Setia.

Bahasa Asing [ sunting - sunting sumber ] • Al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih (2001). Ushûl fî at-Tafsîr (dalam bahasa Arab). Al-Maktabah al-Islamiyyah. • Hixon, Lex (2003). The seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah of the Qurʼan : an introduction to Islamic spirituality (edisi ke-2.). Quest. ISBN 0835608220.

• Hawting, G.R. (1993). Approaches to the Qur'ān (edisi ke-1. publ.). Routledge. ISBN 978-0-415-05755-4. • Rippin, Andrew (2006). The Blackwell companion to the Qur'an. Blackwell. ISBN 1-4051-1752-4. • Tabatabae, Sayyid Mohammad Hosayn (1988). The Qur'an in Islam: Its Impact and Influence on the Life of Muslims.

Routledge. ISBN 978-0-7103-0266-3. • Neal Robinson, Discovering the Qur'an, Georgetown University Press, 2002. ISBN 978-1-58901-024-6 • Sells, Michael, Approaching the Qur'ān: The Early Revelations, White Cloud Press, Book & CD edition (15 November 1999). ISBN 978-1-883991-26-5 • Wild, Stefan (1996). The Quʼran as Text. Brill. ISBN 978-90-04-09300-3. • Bell, Richard; William Montgomery Watt (1970). Bell's introduction to the Qurʼān.

Edinburgh University Press. ISBN 978-0-7486-0597-2. • Rahman, Fazlur (2009) [1989]. Major Themes of the Qur'an (edisi ke-Second). University Of Chicago Press.

seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah

ISBN 978-0-226-70286-5. • Peters, F. E. (1991). " The Quest of the Historical Muhammad". International Journal of Middle East Studies.

• Peters, Francis E. (2003). The Monotheists: Jews, Christians and Muslims in Conflict and Competition. Princeton University Press. ISBN 978-0-691-12373-8. • Nasr, Seyyed Hossein (2007). "Qurʾān". Encyclopædia Britannica Online. • Nasr, Seyyed Hossein (2003). Islam: Religion, History and Civilization. HarperSanFrancisco. ISBN 978-0-06-050714-5. • Kugle, Scott Alan (2006). Rebel Between Spirit And Law: Ahmad Zarruq, Sainthood, And Authority in Islam.

Indiana University Press. ISBN 978-0-253-34711-4. • Esposito, John; Yvonne Yazbeck Haddad (2000). Muslims on the Americanization Path?. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-513526-8. • Corbin, Henry (1993) [1964 (in French)]. History of Islamic Philosophy, Translated by Liadain Sherrard, Philip Sherrard.

London; Kegan Paul International in association with Islamic Publications for The Institute of Ismaili Studies. ISBN 978-0-7103-0416-2. • Rahman, Fazlur (2009) [1989]. Major Themes of the Qur'an (edisi ke-Second). University Of Chicago Press. ISBN 978-0-226-70286-5. • Allen, Roger (2000). An Introduction to Arabic literature.

Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-77657-8. Tafsir: Artikel utama: Daftar tafsir • Al-Tabari, Jāmiʻ al-bayān ʻan taʼwīl al-qurʼān, Cairo 1955–69, transl.

J. Cooper (ed.), The Commentary on the Qurʼān, Oxford University Press, 1987. ISBN 978-0-19-920142-6 • Tabatabae, Sayyid Mohammad Hosayn.

Tafsir al-Mizan. Pembelajaran: • Stowasser, Barbara Freyer. Women in the Qur'an, Traditions and Interpretation, Oxford University Press; Reprint edition (1 June 1996), ISBN 978-0-19-511148-4 • Gibson, Dan (2011). Qur'anic Geography: A Survey and Evaluation of the Geographical References in the Qur'an with Suggested Solutions for Various Problems and Issues.

Independent Scholars Press, Canada. ISBN 978-0-9733642-8-6. • McAuliffe, Jane Dammen (1991). Qurʼānic Christians : an analysis of classical and modern exegesis. New York: Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-36470-6. • Siljander, Mark D.; Mann, John David (2008). A Deadly Misunderstanding: a Congressman's Quest to Bridge the Muslim-Christian Divide. New York: Harper One. ISBN 9780061438288. Literatur kritik: • M.

M. Al-Azami (2003). The History of The Qur'anic Text: From Revelation to Compilation: A Comparative Study with the Old and New Testaments (edisi ke-First). UK Islamic Academy. ISBN 1-872531-65-2. • Gunter Luling (2003). A challenge to Islam for reformation: the rediscovery and reliable reconstruction seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah a comprehensive pre-Islamic Christian hymnal hidden in the Koran under earliest Islamic reinterpretations.

New Delhi: Motilal Banarsidass Publishers. (580 Seiten, lieferbar per Seepost). ISBN 978-81-208-1952-8. • Luxenberg, Christoph (2004). The Syro-Aramaic Reading of the Koran: a contribution to the decoding of the language of the Koran, Berlin, Verlag Hans Schiler, 1 May 2007.

ISBN 978-3-89930-088-8. • Puin, Gerd R. "Observations on Early Quran Manuscripts in Sana'a", in The Qurʾan as Text, ed. Stefan Wild, E. J. Brill 1996, pp. 107–111. • Wansbrough, John. Quranic Studies, Oxford University Press, 1977 • Ibn Warraq (editor) (2013). Koranic Allusions: The Biblical, Qumranian, and Pre-Islamic Background to the Koran. Prometheus Books. hlm. 463. ISBN 978-1616147594.

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-10-06. Diakses tanggal 2016-12-08. Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: authors list ( link) Ensiklopedia: • Encyclopaedia of the Qur'an. Jane Dammen McAuliffe et al.

(eds.) (edisi ke-First). Brill Academic Publishers. 2001–2006. ISBN 978-90-04-11465-4. • The Qur'an: An Encyclopedia. Oliver Leaman et al. (eds.) (edisi ke-First). Routledge. 2005. ISBN 978-0-415-77529-8. • The Integrated Encyclopedia of the Qur'an. Muzaffar Iqbal et al. (eds.) (edisi ke-First). Center for Islamic Sciences. January 2013. ISBN 978-1-926620-00-8. Jurnal Akademik: • " Journal of Qur'anic Studies / Majallat al-dirāsāt al-Qurʹānīyah".

School of Oriental and African Studies. ISSN 1465-3591. • "Journal of Qur'anic Research and Studies". Medina, Saudi Arabia: King Fahd Qur'an Printing Complex. Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] Wikimedia Commons memiliki media mengenai Qur'an. Wikisource memiliki naskah asli yang berkaitan dengan artikel ini: Al-Qur'an • (Indonesia) Al-Qur'an di situs web resmi Qur'an Kemenag Diarsipkan 2020-03-03 di Wayback Machine. • (Indonesia) "Quran Word by Word". QuranAcademy.org. • (Indonesia) Al-Qur'an Terjemahan Makna Bahasa Indonesia.

Alquran.pro. • (Indonesia) Quran Terjemah Indonesia [ pranala nonaktif permanen] • (Inggris) Al-Qur'an dalam berbagai bahasa • (Inggris) Proyek Al-Qur'an Multibahasa • 9. At-Taubah • 10. Yunus • 11. Hud • 12. Yusuf • 13. Ar-Ra’d • 14. Ibrahim • 15. Al-Hijr seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah 16. An-Nahl • 17. Al-Isra' • 18. Al-Kahf • 19. Maryam • 20. Ta Ha • 21. Al-Anbiya' • 22. Al-Hajj • 23. Al-Mu’minun • 24. An-Nur • 25. Al-Furqan • 26. Asy-Syu'ara' • 27.

An-Naml • 28. Al-Qasas • 29. Al-'Ankabut Juz 21 - Juz 30 • 29. Al-'Ankabut • 30. Ar-Rum • 31. Luqman • 32. As-Sajdah • 33. Al-Ahzab • 34. Saba’ • 35. Fatir • 36. Ya Sin • 37. As-Saffat • 38. Sad • 39. Az-Zumar • 40. Al-Mu'min • 41. Fussilat • 42. Asy-Syura • 43. Az-Zukhruf • 44. Ad-Dukhan • 45. Al-Jasiyah • 46. Al-Ahqaf • 47. Muhammad • 48. Al-Fath • 49.

Al-Hujurat • 50. Qaf • 51. Az-Zariyat • 52. At-Tur • 53. An-Najm • 54. Al-Qamar • 55. Ar-Rahman • 56. Al-Waqi’ah • 57. Al-Hadid • 58. Al-Mujadilah • 59. Al-Hasyr • 60. Al-Mumtahanah • 61. As-Saff • 62. Al-Jumu’ah • 63. Al-Munafiqun • 64. At-Tagabun • 65. At-Talaq • 66. At-Tahrim • 67. Al-Mulk • 68. Al-Qalam • 69. Al-Haqqah • 70. Al-Ma’arij • 71. Nuh • 72. Al-Jinn • 73. Al-Muzzammil • 74. Al-Muddassir • 75. Al-Qiyamah • 76. Al-Insan • 77. Al-Mursalat • 78. An-Naba’ • 79. An-Nazi’at • 80. 'Abasa • 81.

At-Takwir • 82. Al-Infitar • 83. Al-Mutaffifin • 84. Al-Insyiqaq • 85. Al-Buruj • 86. At-Tariq • 87. Al-A’la • 88. Al-Ghasyiyah • 89. Al-Fajr • 90. Al-Balad • 91. Asy-Syams • 92.

seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah

Al-Lail • 93. Ad-Duha • 94. Al-Insyirah • 95. At-Tin • 96. Al-'Alaq • 97. Al-Qadr • 98. Al-Bayyinah • 99. Az-Zalzalah • 100. Al-'Adiyat • 101. Al-Qari'ah • 102. At-Takasur • 103. Al-'Asr • 104. Al-Humazah • 105. Al-Fil • 106. Quraisy • 107. Al-Ma'un • 108. Al-Kausar • 109. Al-Kafirun • 110. An-Nasr • 111. Al-Lahab • 112. Al-Ikhlas • 113. Al-Falaq • 114. An-Nas Khadijah binti Khuwailid • Saudah binti Zum'ah • Aisyah binti Abu Bakar • Hafshah binti Umar • Zainab binti Khuzaimah • Hindun binti Abi Umayyah • Zainab binti Jahsy • Juwairiyah binti al-Harits • Ramlah binti Abu Sufyan • Shafiyah binti Huyay • Maimunah binti al-Harits • Maria binti Syama’un Keturunan Waddan • Buwath • Safwan • Asyirah • Badar • Sawiq • Qaynuqa • Bahran • Al-Kidr • Hamra' al-Asad • Uhud • Dzi Amr • Dzatu al-Riqa` • Dumatul Jandal • Khandaq • Bani Quraizhah • Bani Mustaliq • Bani Lahyan • Pembebasan Mekkah ( Fathu Makkah) • Khaybar • Hunayn • Tha'if • Tabuk • Thi Amr • Bahran • Al-Asad • Bani Nadhir • Thi Qerd • Hudaybiyyah • Awtas • Penyergapan kafilah • Mu'tah • Yarmuk • Pengepungan Nakhla • Penyergapan Najd • Penyergapan Al-Is • Invasi al-Khabt • Ekspedisi Batn Edam • Ekspedisi Qatan Lokasi Kategori tersembunyi: • Artikel mengandung aksara Arab • Artikel yang memerlukan referensi lebih detail • Templat webarchive tautan wayback • Halaman yang menggunakan pranala magis ISBN • Halaman yang menggunakan multiple image dengan pengubahan ukuran gambar otomatis • Semua artikel yang tidak memiliki referensi • Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • CS1 sumber berbahasa Arab (ar) • Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: authors list • Pranala Commons ada di Wikidata • Artikel dengan pranala luar nonaktif • Artikel dengan pranala luar nonaktif permanen • Artikel Wikipedia dengan penanda GND • Artikel Wikipedia dengan penanda VIAF • Artikel Wikipedia dengan penanda BIBSYS • Artikel Wikipedia dengan penanda BNE • Artikel Wikipedia dengan penanda BNF • Artikel Wikipedia dengan penanda EMU • Artikel Wikipedia dengan penanda LCCN • Artikel Wikipedia dengan penanda NDL • Artikel Wikipedia dengan penanda NKC • Artikel Wikipedia dengan penanda NLG • Artikel Wikipedia dengan penanda NLI • Artikel Wikipedia dengan penanda NSK • Artikel Wikipedia dengan penanda PLWABN • Artikel Wikipedia dengan penanda SELIBR • Artikel Wikipedia dengan penanda VcBA • Artikel Wikipedia dengan penanda FAST • Artikel Wikipedia dengan penanda SUDOC • Artikel Wikipedia dengan penanda TDVİA • Artikel Wikipedia dengan penanda WorldCat-VIAF • Halaman ini terakhir diubah pada 2 Mei 2022, pukul 05.53.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih seorang sahabat nabi yang disebutkan dalam alquran adalah. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •

Sahabat nabi Muhammad yang namanya diabadikan didalam Al-Quran




2022 www.videocon.com