Maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di

maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di

Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah salah satu “Wali Songo” penyebar agama Islam di nusantara, khususnya di Pulau Jawa. beliau merupakan seorang Imam termasyhur berasal dari Arabia, keturunan Zaenal Abidin dan sepupu Raja Chermen yang menetap bersama Mahomedans (orang-orang Islam) di Desa Leran Jenggala. Sementara itu berdasarkan prasasti makam Maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di Maulana Malik Ibrahim disebutkan bahwa beliau berasal dari Kashan ( bi Kashan), sebuah tempat di Persia (Iran) (Sunyoto, 2016).

Syekh Maulana Malik Ibrahim juga merupakan salah seorang tokoh penyebar agama Islam pertama di tanah Jawa dan merupakan wali tertua di antara “Wali Songo” lainnya (Drewes, 1968). Syekh Maulana Malik Ibrahim merupakan seorang ahli tata negara berpengalaman.

Beliau datang ke pulau Jawa pada tahun 1404 M. Jauh sebelum beliau datang, Islam sudah ada di nusantara walaupun sedikit, hal ini dibuktikan dengan adanya makam Fatimah binti Maimun yang nisannya bertuliskan tahun 1082 (Saputra, 2019). Metode dakwah yang dilakukan Syekh Maulana Malik Ibrahim dalam proses Islamisasi Gresik pada abad ke-14 M yang tercatat dalam Babad Gresik I meliputi dua metode yaitu, (1) Metode dakwah melalui jalur perdagangan dan (2) Metode dakwah melalui pendidikan pesantren, sebagaimana ulasan sebagai berikut ini: • Metode Dakwah Perdagangan Syekh Maulana Malik Ibrahim sejak kecil sudah memperoleh pendidikan agama Islam.

Setelah dewasa beliau mendapatkan amanat untuk menyiarkan agama Islam sambil berdagang. Di sekitar wilayah Gresik, Syaikh Maulana Malik Ibrahim mulai menyiarkan agama Islam dengan mendirikan masjid pertama di Desa Pasucinan, Leran, Manyar.

maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di

Aktifitas yang mula-mula dilakukan Syaikh Maulana Malik Ibrahim ialah berdagang di tempat terbuka dekat pelabuhan yang disebut Desa Rumo-saat ini disebut dengan Desa Roomo, yang menurut cerita setempat berkaitan dengan kata Rum (Persia), yaitu tempat kediaman orang Rum di sekitar pesisir Gresik (Sunyoto, 2016). Kedatangan Syaikh Maulana Malik Ibrahim untuk berdagang dan mendakwahkan agama Islam disampaikan dalam Babad Gresik I, yang mengungkapkan bahwa “Syekh Maulana Malik Ibrahim menyebarkan agama Islam sambil berdagang agar tidak terlalu menyolok dan mampu diterima oleh masyarakat Gresik, kemudian rombongan ini menghadap Raja Majapahit Prabu Brawijaya tetapi beliau belum berkenan masuk agama Islam.” (Soekarman, 1990) Berdasarkan ungkapan di atas, maka dapat diketahui bahwa awal dakwah Syekh Maulana Malik Ibrahim dimulai dengan media perdagangan.

Hal tersebut menandakan kearifan yang dimiliki oleh beliau dalam hal bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Mengingat sebelumnya masyarakat Gresik masih menganut kepercayaan agama Hindu dan Buddha di bawah Kerajaan Majapahit pada kepemimpinan Raja Brawijaya terakhir.

Ketika berdagang tersebut, Syekh Maulana Malik Ibrahim justru menunjukkan kemahiran dan kebijaksanaan beliau dalam dunia perdagangan.

Hal tersebut pada akhirnya mengundang simpati dari masyarakat sekitar dan Raja Majapahit hingga beliau diangkat menjadi kepala pelabuhan yang dikenal dengan maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di “Syahbandar”. Melalui kekuasaan yang diberikan oleh Raja Majapahit tersebut, maka Syekh Maulana Malik Ibrahim diizinkan menyebarkan agama Islam di wilayah kerajaan Majapahit (Firdausy et al., 2019).

• Metode Dakwah melalui Pendidikan Pesantren Syekh Maulana Malik Ibrahim merupakan ulama pertama maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di membangun pesantren sebagai model pendidikan Islam, dengan mengadaptasi bentuk pendidikan biara dan asrama yang dipakai oleh pendeta dan biksu terkait proses belajar mengajar dalam agama Buddha. Syekh Maulana Malik Ibrahim membuka pendidikan pesantren di Desa Gapura untuk mendidik kader-kader pemimpin umat dan penyebar Islam kepada masyarakat di wilayah Majapahit yang sedang mengalami kemerosotan akibat perang saudara (Sunyoto, 2016).

Oleh karena itu, Syekh Maulana Malik Ibrahim dijuluki sebagai ulama pionir yang menyebarkan Islam di tanah Jawa dengan menggunakan metode pendidikan pesantren (Firdausy et al., 2019). Sumber: Drewes, G. W. J. (1968) ‘New light on the coming of Islam to Indonesia?’, Bijdragen tot de Taal- Land- en Volkenkunde, 124.

doi: 10.1163/22134379-90002862. Firdausy, S. W. el et al. (2019) ‘Kiprah Syaikh Maulana Malik Ibrahim pada Islamisasi Gresik Abad ke-14 M dalam Babad Gresik I’, SULUK: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya, 1(1), pp. 1–10. doi: 10.15642/suluk.2019.1.1.1-10. Saputra, F. F. N. (2019) ‘Metode Dakwah Wali Songo dalam Penyebaran Islam di Jawa dalam Buku Atlas Wali Songo Karya Agus Sunyoto dan Relevansinya dengan Materi SKI Kelas IX’, p. 88. Sunyoto, A. (2016) Atlas Wali Songo: buku pertama yang mengungkap Wali Songo sebagai fakta sejarah.

Tanggerang: Pustaka IIMaN. Departemen Syiar UKM ASC new nike football boots 2012 2017 – 002 – Nike Air Max 270 ESS Ανδρικά Παπούτσια Γκρι / Λευκό DM2462 - FZ4324 – adidas tracksuits womens black friday sale today – 3 YUNU – Buy now adidas Y – 3 Y UKM ASC merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa di UM yang mempunyai arah gerak untuk mengembangkan dan menggali bakat mahasiswa UM dalam bidang Al-Qur’an yang meliputi Tahsinul Qiro’ah, Tartilul Qur’an, Tilawatul Qur’an, Tahfidzul Qur’an, Fahmul Qur’an, Syarhul Qur’an, Khathul Qur’an, Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an, dan Desain Aplikasi Al-Qur’an.

HIDAYATUNA.COM – Syekh Maulana Maghribi atau Maulana Malik Ibrahim dikenal sebagai sosok penyebar Islam yang mula-mula dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

Menurut sejarawan Islam, Agus Sunyoto beliau wafat pada tahun 1419 Masehi. Beliau datang ke Nusantara bersama beberapa penyebar Islam dari timur tengah. Di antaranya ialah Maulana Ishaq, Maulana Ahmad Jumadil Kubro, Maulana Malik Israil, Maulana Muhammad Ali Akbar. Lalu Maulana Hasanuddin, Maulana ‘Aliyuddin, dan Syekh Subakir atau Syekh Muhammad Al-Baqir.

Beberapa sejarawan mengatakan bahwa Syekh Maulana Maghribi merupakan Sunan Gresik. Beliau sunan yang menyebarkan agama Islam di wilayah Gresik dan sekitarnya. Makam beliau juga ditemukan di banyak tempat. Beberapa tempat yang dipercaya sebagai makam beliau adalah di Cirebon, Wonobodro Batang, Pekalongan, Pantaran Boyolali, Bayat Klaten, Parangtritis Yogyakarta, dan di Tuban.

Ada banyak versi cerita yang mendasari kenapa makam beliau banyak. Mungkin saja dari sekian banyak tempat makam tersebut, salah satu diantaranya adalah makam yang asli, dan lainnya adalah hanya petilasan saja. Dakwah Santun Syekh Maulana Maghribi Lebih penting untuk kita pelajari sebagai generasi penerus adalah ajaran-ajaran yang disampaikan oleh beliau. Khususnya dalam proses penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Sebagai ulama pertama penyebar agama Islam di daerah yang masih baru dan tidak berbahasa Arab, tentu metode dakwah dari beliau patut untuk kita jadikan pelajaran.

Beliau dikenal sebagai sosok wali yang menyebarkan agama Islam secara santun. Beliau tidak pernah mempertentangkan antara budaya setempat dengan ajaran agama Islam. Proses dakwah yang dilakukan oleh beliau ini kemudian diteruskan oleh para wali sesudahnya, termasuk sunan Ampel Surabaya.

Oleh karena perannya yang sangat penting, Syekh Maulana Maghribi atau sunan Gresik dan tokoh-tokoh penyebar Islam generasi pra wali songo dikenal sebagai pembuka jalan dakwah bagi para wali songo.

maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di

Sunan Giri sambil berdakwah melakukan perdagangan, dan sebagian hasil uangnya diberikan pada masyarakat miskin pada masa itu. Oleh raja Majapahit, sunan Gresik diangkat sebagai syahbandar dan diberikan sebidang tanah untuk proses penyebaran agama Islam.

Ahli Menyembuhkan Penyakit Selain berdagang beliau juga dikenal sebagai tabib (dokter) sehingga mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Masjid sebagai tempat berdakwah pun tidak pernah sepi, banyak masyarakat tertarik pada sunan Gresik. Banyak masyarakat yang senang dengan budi pekerti beliau.

Disamping itu juga karena kepintarannya dalam bidang perdagangan dan pengobatan. Ketika mendapatkan sebidang tanah beliau mendirikan masjid, dan di sanalah proses dakwah yang dilakukan bisa semakin terpusat. Di sela-sela kegiatan berdagang dan memberikan pengobatan gratis pada masyarakat, beliau memberikan pemahaman agama di dalam masjid tersebut. Oleh karena maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di banyak yang tertarik pada ajaran Islam maka banyak masyarakat mendirikan pemondokan di sekitar masjid.

Para masyarakat menetap di sekitar masjid agar tidak ketinggalan pelajaran Islam yang disampaikan oleh Syekh Maulana Maghribi. Proses ini pada masa sekarang dikenal dengan konsep Pesantren, konsep yang dikembangkan oleh Syekh Maulana Maghribi tersebut juga dikembangkan oleh anaknya, yakni sunan Ampel.

Dakwah di Zaman Majapahit Dalam berdakwah, Syekh Maulana Maghribi tidak pernah menggunakan cara-cara yang keras, selalu santun dan menghormati ajaran yang sudah ada yakni Hindu dan Budha. Sebagai bukti, beliau tidak pernah memaksa raja Majapahit untuk memeluk agama Islam. Beliau juga tidak pernah mempertentangkan antara ajaran Islam dengan agama lainnya. Di dalam ajarannya beliau juga menganjurkan untuk memberikan pertolongan pada sesamanya tanpa memandang latar belakang mereka.

Sikap ini dicontohkan oleh beliau ketika memberikan pengobatan secara gratis pada masyarakat miskin, tanpa beliau memandang mereka beragama Islam atau bukan, semuanya akan diobati oleh beliau. Konsep bersinergi dengan kerajaan juga penting untuk ditiru. Sebab jika kita membaca sejarah semua wali penyebar agama Islam, termasuk Syekh Maulana Maghribi, tidak pernah melakukan tindakan yang merugikan penguasa setempat.

Bahkan beliau oleh raja Majapahit diberikan sebidang tanah karena kebaikannya memberikan pengobatan gratis pada masyarakat Majapahit.
• Maulana Moqfaroh • Syarifah Sarah • Abdullah • Ibrahim • Abdul Ghofur • Ahmad • Abbas • Yusuf Agama Islam Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim (w.

1419 M/882 H) adalah nama salah seorang Walisongo, yang dianggap yang pertama kali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Ia dimakamkan di desa Gapurosukolilo, Gresik. Daftar isi • 1 Nasab dan keturunannya • 2 Riwayat Dakwah • 3 Filsafat • 4 Wafat • 5 Lihat pula • 6 Referensi Nasab dan keturunannya [ sunting - sunting sumber ] Nasab Maulana Malik Ibrahim bersumber dari catatan dari As-Sayyid Bahruddin Ba’alawi Al-Husaini yang kumpulan catatannya kemudian dibukukan dalam Ensiklopedi Nasab Ahlul Bait yang terdiri dari beberapa volume.

Dalam catatan itu tertulis: - As-Sayyid Maulana Malik Ibrahim bin - As-Sayyid Barakat Zainal Alam bin - As-Sayyid Husain Jamaluddin bin - As-Sayyid Ahmad Jalaluddin bin - As-Sayyid Abdullah bin - As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin - As-Sayyid Alwi Ammil Faqih bin - As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin - As-Sayyid Ali Khali’ Qasam bin - As-Sayyid Alwi bin - As-Sayyid Muhammad bin - As-Sayyid Alwi bin - As-Sayyid Ubaidillah bin - Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin - Al-Imam Isa Ar-Rumi bin - Al-Imam Muhammad An-Naqib bin - Al-Imam Ali Al-Uraidhi bin - Al-Imam Ja’far Shadiq bin - Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin - Al-Imam Ali Zainal Abidin bin - Al-Imam Al-Husain bin - Sayyidah Fathimah Az-Zahra/ Ali bin Abi Thalib, binti - Nabi Muhammad Rasulullah SAW.

Syekh Maulana Malik Ibrahim memiliki 3 isteri bernama: 1. Siti Fathimah binti Ali Maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di Alam Maulana Israil (Raja Champa Dinasti Azmatkhan 1), memiliki 2 anak, bernama: Maulana Moqfaroh dan Syarifah Sarah.

2. Siti Maryam binti Syaikh Subakir, memiliki 4 anak, yaitu: Abdullah, Ibrahim, Abdul Ghafur, dan Ahmad. 3. Wan Jamilah binti Ibrahim Zainuddin Al-Akbar Asmaraqandi, memiliki 2 anak yaitu: Abbas dan Yusuf.

Selanjutnya Sharifah Sarah binti Maulana Malik Ibrahim dinikahkan dengan Sayyid Fadhal Ali Murtadha [Sunan Santri/ Raden Santri] dan melahirkan dua putera yaitu Haji Utsman (Sunan Manyuran) dan Utsman Haji ( Sunan Ngudung). Selanjutnya Sayyid Utsman Haji (Sunan Ngudung) berputera Sayyid Ja’far Shadiq [ Sunan Kudus]. Riwayat Dakwah [ sunting - sunting sumber ] Maulana Malik Ibrahim dianggap termasuk salah seorang yang pertama-tama menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, dan merupakan wali senior di antara para Walisongo lainnya.

[2] Beberapa versi babad menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali ialah desa Sembalo, sekarang adalah daerah Leran, Kecamatan Manyar, yaitu 9 kilometer ke arah utara kota Gresik.

Ia lalu mulai menyiarkan agama Islam di tanah Jawa bagian timur, dengan mendirikan mesjid pertama di desa Pasucinan, Manyar. Makam Maulana Malik Ibrahim di sekitar tahun 1900 Pertama-tama yang dilakukannya ialah mendekati masyarakat melalui pergaulan. Budi bahasa yang ramah-tamah senantiasa diperlihatkannya di dalam pergaulan sehari-hari.

maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di

Ia tidak menentang secara tajam agama dan kepercayaan hidup dari penduduk asli, melainkan hanya memperlihatkan keindahan dan kebaikan yang dibawa oleh agama Islam. Berkat keramah-tamahannya, banyak masyarakat yang tertarik masuk ke dalam agama Islam. [3] Setelah berhasil memikat hati masyarakat sekitar, aktivitas selanjutnya yang dilakukan Maulana Malik Ibrahim ialah berdagang. Ia berdagang di tempat pelabuhan terbuka, yang sekarang dinamakan desa Roomo, Manyar. [4] Perdagangan membuatnya dapat berinteraksi dengan masyarakat banyak, selain itu raja dan para bangsawan dapat pula turut serta dalam kegiatan perdagangan tersebut sebagai pelaku jual-beli, pemilik kapal atau pemodal.

[5] Setelah cukup mapan di masyarakat, Maulana Malik Ibrahim kemudian melakukan kunjungan ke ibu maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di Majapahit di Trowulan. Raja Majapahit meskipun tidak masuk Islam tetapi menerimanya dengan baik, bahkan memberikannya sebidang tanah di pinggiran kota Gresik. Wilayah itulah yang sekarang dikenal dengan nama desa Gapura. Cerita rakyat tersebut diduga mengandung unsur-unsur kebenaran; mengingat menurut Groeneveldt pada saat Maulana Malik Ibrahim hidup, di ibu kota Majapahit telah banyak orang asing termasuk dari Asia Barat.

[6] Demikianlah, dalam rangka mempersiapkan kader untuk melanjutkan perjuangan menegakkan ajaran-ajaran Islam, Maulana Malik Ibrahim membuka pesantren-pesantren yang merupakan tempat mendidik pemuka agama Islam pada masa selanjutnya. Hingga saat ini makamnya masih diziarahi orang-orang yang menghargai usahanya menyebarkan agama Islam berabad-abad yang silam. Setiap malam Jumat Legi, masyarakat setempat ramai berkunjung untuk berziarah. Ritual ziarah tahunan atau haul juga diadakan setiap tanggal 12 Rabi'ul Awwal, sesuai tanggal wafat pada prasasti makamnya.

Pada acara haul biasa dilakukan khataman Al-Quran, mauludan (pembacaan riwayat Nabi Muhammad), dan dihidangkan makanan khas bubur harisah. [7] Filsafat [ sunting - sunting sumber ] Mengenai filsafat ketuhanannya, disebutkan bahwa Maulana Malik Ibrahim pernah menyatakan mengenai apa yang dinamakan Allah. Ia berkata: "Yang dinamakan Allah ialah sesungguhnya yang diperlukan ada-Nya." Meskipun hal ini tidak ada bukti yang dapat menunjukkan keberanan filsafat tersebut, karena di berbagai sumber, menyebutkan bahwa dia adalah seorang Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Wafat [ sunting - sunting sumber ] Setelah selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, Syeh Maulana Malik Ibrahim wafat tahun 1419.

Makamnya kini terdapat di desa Gapura, Gresik, Jawa Timur. Inskripsi dalam bahasa Arab yang tertulis pada makamnya adalah sebagai berikut: “ Ini adalah makam almarhum seorang yang dapat diharapkan mendapat pengampunan Allah dan yang mengharapkan kepada rahmat Tuhannya Yang Maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di Luhur, guru para pangeran dan sebagai tongkat sekalian para sultan dan wazir, siraman bagi kaum fakir dan miskin. Yang berbahagia dan syahid penguasa dan urusan agama: Malik Ibrahim yang terkenal dengan kebaikannya.

Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya dan semoga menempatkannya di surga. Ia wafat pada hari Senin 12 Rabi'ul Awwal 822 Hijriah. ” Saat ini, jalan yang menuju ke makam tersebut diberi nama Jalan Malik Ibrahim. [7] Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Arab-Indonesia • Champa • Sunan Ampel • Sunan Giri • Walisongo Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ Hadi, Abdul. "Sejarah & Profil Sunan Gresik: Wali Penyebar Islam Pertama di Jawa".

tirto.id. Diakses tanggal 2022-03-28. • ^ Drewes, G. W. J. 1968. New Light on the Coming of Islam to Indonesia?, Bijdragen tot de Taal- Land- en Volkenkunde. • ^ Salam, Solichin, 1960.

Sekitar Walisanga, hlm 24-25, Penerbit "Menara Kudus", Kudus. • ^ Munif, Drs. Moh. Hasyim, 1995. Pioner & Pendekar Syiar Islam Tanah Jawa, hlm 5-6, Yayasan Abdi Putra Al-Munthasimi, Gresik. • ^ Tjandrasasmita, Uka (Ed.), 1984. Sejarah Nasional Indonesia III, hlm 26-27, PN Balai Pustaka, Jakarta. • ^ Groeneveldt, W.P., 1960. Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources.

Bhratara, Jakarta. • ^ a b Jejak Para Wali dan Ziarah Spiritual, Penerbit Buku Kompas, Desember 2006. • Halaman ini terakhir diubah pada 28 Maret 2022, pukul 07.52.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • • ( 104) Biografiku.com - Profil dan Biografi Sunan Gresik. (Maulana Malik Ibrahim). Nama aslinya adalah Maulana Malik Ibrahim yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Gresik.

Beliau dikenal sebagai salah satu ulama yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa yang kemudian dikenal dengan nama wali songo. Bagaimana kisahnya? Daftar Isi • Biografi Sunan Gresik • Kelahiran Sunan Gresik • Menyebarkan Agama Islam • Menjadi Pedagang • Legenda Rakyat Biografi Sunan Gresik Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim adalah sosok ulama pertama yang diberi gelar sebagai Wali Songo.

Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim (w. 1419 M/882 H) adalah nama salah seorang Walisongo, yang dianggap yang pertama kali menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Ia dimakamkan di desa Gapura, kota Gresik, Jawa Timur. Tidak terdapat bukti sejarah yang meyakinkan mengenai asal keturunan Maulana Malik Ibrahim, meskipun pada umumnya disepakati bahwa ia bukanlah orang Jawa asli.

Sebutan Syekh Maghribi yang diberikan masyarakat kepadanya, kemungkinan menisbatkan asal keturunannya dari Maghrib, atau Maroko di Afrika Utara. Kelahiran Sunan Gresik Dalam biografi Sunan Gresik disebutkan dalam Babad Tanah Jawi versi J.J. Meinsma menyebutnya dengan nama Makhdum Ibrahim as-Samarqandy, yang mengikuti pengucapan lidah Jawa menjadi Syekh Ibrahim Asmarakandi.

Ia memperkirakan bahwa Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Dalam biografi Sunan Gresik diketahui bahwa dalam keterangannya pada buku The History of Java mengenai asal mula dan perkembangan kota Gresik, Raffles menyatakan bahwa menurut penuturan para penulis lokal, “Mulana Ibrahim, seorang Pandita terkenal berasal dari Arabia.

Ia merupakan keturunan dari Jenal Abidin, dan sepupu Raja Chermen (sebuah negara Sabrang), telah menetap bersama para Mahomedans lainnya di Desa Leran di Jang’gala”. BACA JUGA : Biografi Titiek Puspa - Artis Senior Indonesia Namun demikian, kemungkinan pendapat yang terkuat adalah berdasarkan pembacaan J.P.

Moquette atas baris kelima tulisan pada prasasti makamnya di desa Gapura Wetan, Gresik; yang mengindikasikan bahwa ia berasal dari Kashan, suatu tempat di Iran sekarang.

Terdapat beberapa versi mengenai silsilah Maulana Malik Maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di. Ia pada umumnya dianggap merupakan keturunan Rasulullah SAW; melalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rumi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali’ Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal, Jamaluddin Akbar al-Husain (Maulana Akbar), dan Maulana Malik Ibrahim.

Menyebarkan Agama Islam Maulana Malik Ibrahim dianggap termasuk salah seorang yang pertama-tama menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, dan merupakan wali senior diantara para Walisongo lainnya. Beberapa versi babad menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang.

Daerah yang ditujunya pertama kali ialah desa Sembalo, sekarang adalah daerah Leran, Kecamatan Manyar, yaitu 9 kilometer ke arah utara kota Gresik.

maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di

Ia lalu mulai menyiarkan agama Islam di tanah Jawa bagian timur, dengan mendirikan mesjid pertama di desa Pasucinan, Manyar. Dalam biografi Sunan Gresik disebutkan bahwa Pertama-tama yang dilakukannya ialah mendekati masyarakat melalui pergaulan. Budi bahasa yang ramah-tamah senantiasa diperlihatkannya di dalam pergaulan sehari-hari.

maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di

Ia tidak menentang secara tajam agama dan kepercayaan hidup dari penduduk asli, melainkan hanya memperlihatkan keindahan dan kabaikan yang dibawa oleh agama Islam. Berkat keramah-tamahannya, banyak masyarakat yang tertarik masuk ke dalam agama Islam. Menjadi Pedagang Sebagaimana yang dilakukan para wali awal lainnya, aktivitas pertama yang dilakukan Maulana Malik Ibrahim ialah berdagang. Ia berdagang di tempat pelabuhan terbuka, yang sekarang dinamakan desa Roomo, Manyar.

BACA JUGA : Biografi Nelson Tansu - Profesor Termuda Asal Indonesia di Amerika Serikat Perdagangan membuatnya dapat berinteraksi dengan masyarakat banyak, selain itu raja dan para bangsawan dapat pula turut serta dalam kegiatan perdagangan tersebut sebagai pelaku jual-beli, pemilik kapal atau pemodal. Setelah cukup mapan di masyarakat, Maulana Malik Ibrahim kemudian melakukan kunjungan maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di ibukota Majapahit di Trowulan.

Raja Majapahit meskipun tidak masuk Islam tetapi menerimanya dengan baik, bahkan memberikannya sebidang tanah di pinggiran kota Gresik. Wilayah itulah yang sekarang dikenal dengan nama desa Gapura. Cerita rakyat tersebut diduga mengandung unsur-unsur kebenaran; mengingat menurut Groeneveldt pada saat Maulana Malik Ibrahim hidup, di ibukota Majapahit telah banyak orang asing termasuk dari Asia Barat.

Demikianlah, dalam rangka mempersiapkan kader untuk melanjutkan perjuangan menegakkan ajaran-ajaran Islam, Maulana Malik Ibrahim membuka pesantren-pesantren maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di merupakan tempat mendidik pemuka agama Islam di masa selanjutnya. Hingga saat ini makamnya masih diziarahi orang-orang yang menghargai usahanya menyebarkan agama Islam berabad-abad yang silam.

Setiap malam Jumat Legi, masyarakat setempat ramai berkunjung untuk berziarah. Ritual ziarah tahunan atau haul juga diadakan setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal, sesuai tanggal wafat pada prasasi makamnya. Pada acara haul biasa dilakukan khataman Al-Quran, mauludan (pembacaan riwayat Nabi Muhammad), dan dihidangkan makanan khas bubur harisah.

Legenda Rakyat Menurut legenda rakyat, dikatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim berasal dari Persia. Maulana Malik Ibrahim Ibrahim dan Maulana Ishaq disebutkan sebagai anak dari Maulana Jumadil Kubro, atau Syekh Jumadil Qubro. Maulana Ishaq disebutkan menjadi ulama terkenal di Samudera Pasai, sekaligus ayah dari Raden Paku atau Sunan Giri. Syekh Jumadil Qubro dan kedua anaknya bersama-sama datang ke pulau Jawa.

Setelah itu mereka berpisah; Syekh Jumadil Qubro tetap di pulau Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, Vietnam Selatan; dan adiknya Maulana Ishak mengislamkan Samudera Pasai. BACA JUGA : Biografi Sultan Hasanuddin, Kisah Pahlawan Sang 'Ayam Jantan Dari Timur' Maulana Malik Ibrahim disebutkan bermukim di Champa (dalam legenda disebut sebagai negeri Chermain atau Cermin) selama tiga belas tahun.

Ia menikahi putri raja yang memberinya dua putra; yaitu Raden Rahmat atau Sunan Ampel dan Sayid Ali Murtadha atau Raden Santri. Setelah cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, ia hijrah ke pulau Jawa dan meninggalkan keluarganya. Setelah dewasa, kedua anaknya mengikuti jejaknya menyebarkan agama Islam di pulau Jawa.

Maulana Malik Ibrahim dalam cerita rakyat terkadang juga disebut dengan nama Kakek Bantal. Ia mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah, dan berhasil dalam misinya mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selain itu, ia juga sering mengobati masyarakat sekitar tanpa biaya. Sebagai tabib, diceritakan bahwa ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Champa.

Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya. Setelah selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur. Saat ini, jalan yang menuju ke makam tersebut diberi nama Jalan Malik Ibrahim. Biografiku.com
Senja hampir bergulir di Desa Gapuro, Gresik, Jawa Timur, menjelang bulan Ramadhan itu.

Tak ada angin. Awan seperti berhenti berarak. Batu pualam berukir kaligrafi indah itu terpacak bagaikan saksi sejarah. Itulah nisan makam almarhum Syekh Maulana Malik Ibrahim, yang wafat pada 12 Rabiul Awal 822 Hijriah, atau 8 April 1419. Di latar nisan itu tersurat ayat suci Al-Quran: surat Ali Imran 185, Ar-Rahman 26-27, At-Taubah 21-22, dan Ayat Kursi.

Ada juga rangkaian kata pujian dalam bahasa Arab bagi Malik Ibrahim: ”Ia guru yang dibanggakan para pejabat, tempat para sultan dan menteri meminta nasihat.

Orang yang santun dan murah hati terhadap fakir miskin. Orang yang berbahagia karena mati syahid, tersanjung dalam bidang pemerintahan dan agama.” Demikian terjemahan bebas inskripsi di nisan pualam makam berbangun lengkung menyerupai kubah itu.

Dalam beberapa sumber sejarah tradisional, Syekh Maulana Malik Ibrahim disebut sebagai anggota Wali Songo, tokoh sentral penyebar agama Islam di Pulau Jawa. Sejarawan G.W.J. Drewes menegaskan, Maulana Malik Ibrahim adalah tokoh yang pertama-tama dipandang sebagai wali di antara para wali.

”Ia seorang mubalig paling awal,” tulis Drewes dalam bukunya, New Light on the Coming of Islam in Indonesia. Gelar Syekh dan Maulana, yang melekat di depan nama Malik Ibrahim, menurut sejarawan Hoessein Djajadiningrat, membuktikan bahwa ia ulama besar.

Gelar tersebut hanya diperuntukkan bagi tokoh muslim yang punya derajat tinggi. Sekalipun Malik Ibrahim tidak termasuk dalam jajaran Wali Songo, masih maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di Hoessein, jelas dia adalah seorang wali.

Adapun istilah Wali Songo berasal dari kata ”wali” dan ”songo”. Maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di wali berasal dari bahasa Arab, waliyullah, orang yang dicintai Allah –alias kekasih Tuhan. Kata songo berasal dari bahasa Jawa, yang berarti sembilan. Ada wali yang termasuk anggota Wali Songo –yang terdiri dari sembilan orang– dan ada wali yang bukan anggota ”dewan” Wali Songo. Konsep ”dewan wali” berjumlah sembilan ini diduga diadopsi dari paham Hindu-Jawa yang berkembang sebelum masuknya Islam.

Wali Songo seakan-akan dianalogikan dengan sembilan dewa yang bertahta di sembilan penjuru mata angin. Dewa Kuwera bertahta di utara, Isana di timur laut. Indra di timur, Agni di tenggara, dan Kama di selatan. Dewa Surya berkedudukan di barat daya, Yama di barat, Bayu, atawa Nayu, di barat laut, dan Siwa di tengah. Para wali diakui sebagai manusia yang dekat dengan Tuhan.

Mereka ulama besar yang menyemaikan benih Islam di Jawadwipa. Figur para wali –sebagaimana dikisahkan dalam babad dan ”kepustakaan” tutur– selalu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang dahsyat. Namun, hingga sekarang, belum tercapai ”kesepakatan” tetang siapa saja gerangan Wali nan Sembilan itu. Terdapat beragam-ragam pendapat, masing-masing dengan alasannya sendiri. Pada umumnya orang berpendapat, yang terhisab ke dalam Wali Songo adalah: Syekh Maulana Malik Ibrahim alias Sunan Gresik, Raden Rakhmad alias Sunan Ampel, Raden Paku alias Sunan Giri, Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati, Raden Maulana Makdum Ibrahim alias Sunan Bonang, Syarifuddin alias Sunan Drajat, Jafar Sodiq alias Sunan Kudus, Raden Syahid alias Sunan Kalijaga, dan Raden Umar Sayid alias Sunan Muria.

Namun, komposisi Wali nan Sembilan ini juga punya banyak versi. Prof. Soekmono dalam bukunya, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Jilid III, tidak memasukkan Syekh Maulana Malik Ibrahim dalam jajaran Wali Songo. Guru besar sejarah kebudayaan Universitas Indonesia itu justru menempatkan Syekh Siti Jenar, alias Syekh Lemah Abang, sebagai anggota Wali Songo.

Sayang, Soekmono tak menyodorkan argumentasi mengapa Maulana Malik Ibrahim tidak termasuk Wali Songo. Ia hanya menyebut Syekh Siti Jenar sebagai tokoh sangat populer. Siti Jenar dihukum mati oleh Wali Songo, karena dinilai menyebarkan ajaran sesat tentang jubuhing kawulo Gusti (bersatunya hamba dengan Tuhannya), yang dapat mengguncang iman orang dan menggoyahkan syariat Islam.

Selain itu, Wali Songo juga ditafsirkan sebagai sebuah lembaga, atau dewan dakwah.

maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di

Istilah sembilan dirujukkan dengan sembilan fungsi koordinatif dalam lembaga dakwah itu. Teori ini diuraikan dalam buku Kisah Wali Songo; Para Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa karya Asnan Wahyudi dan Abu Khalid. Kedua penulis itu merujuk pada kitab Kanz Al-’ulum karya Ibn Bathuthah.

Mereka menjelaskan, sebagai lembaga dewan dakwah, Wali Songo paling tidak mengalami lima kali pergantian anggota. Pada periode awal, anggotanya terdiri dari Maulana Malik Ibrahim, Ishaq, Ahmad Jumad Al-Kubra, Muhammad Al-Magribi, Malik Israil, Muhammad Al-Akbar, Maulana Hasanuddin, Aliyuddin, dan Syekh Subakir. Pada periode kedua, Raden Rakhmad (Sunan Ampel), Sunan Kudus, Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), dan Sunan Bonang masuk menggantikan Maulana Malik Ibrahim, Malik Israil, Ali Akbar, dan Maulana Hasanuddin –yang wafat.

Pada periode ketiga, masuk Sunan Giri, menggantikan Ishaq yang pindah ke Pasai, Aceh, dan Sunan Kalijaga menggantikan Syekh Subakir yang pulang ke Persia.

Pada periode keempat, Raden Patah dan Fatullah Khan masuk jajaran Wali Songo. Kedua tokoh ini menggantikan Ahmad Jumad Al-Kubra dan Muhammad Al-Magribi yang wafat. Sunan Muria menduduki lembaga Wali Songo dalam periode terakhir.

maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di

Ia menggantikan Raden Patah, yang naik tahta sebagai Raja Demak Bintoro yang pertama. Analisis tersebut secara kronologis mengandung banyak kelemahan. Contohnya Sunan Ampel, yang diperkirakan wafat pada 1445.

Dalam versi ini disebutkan, seolah-olah Sunan Ampel masih hidup sezaman dengan Sunan Kudus, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, dan Sunan Muria. Padahal, Sunan Kudus hidup pada 1540-an. Adapun Sunan Bonang dan Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel. Sunan Bonang merupakan guru Sunan Kalijaga, yang berputra Sunan Muria.

Bagaimana mungkin Sunan Ampel hidup sezaman dengan Sunan Muria? Lagi pula, tokoh Wali Songo yang disebut dalam buku ini –Aliyuddin, Ali Akbar, dan Fatullah Khan– bukan wali terkenal di Jawa. Nama mereka jarang ditemukan dalam historiografi tradisional, baik berupa serat maupun babad. Padahal, di Jawa terdapat puluhan naskah kuno berupa babad, hikayat, dan serat, yang mengisahkan para maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di. Sebagian besar babad juga menggambarkan, Wali Songo hidup dalam kurun waktu yang bersamaan.

Para wali, menurut versi babad, dikisahkan sering mengadakan pertemuan di Masjid Demak dan Masjid ”Sang Cipta Rasa” (Cirebon). Di sana mereka membicarakan berbagai persoalan keagamanan dan kenegaraan. Kisah semacam ini, antara lain, dapat dibaca di Babad Demak, Babad Cirebon, dan Babad Tanah Jawi.

Babad Cirebon, misalnya, mewartakan bahwa pada 1426, para wali berkumpul di Gunung Ciremai. Mereka mengadakan musyawarah yang dipimpin Sunan Ampel, membentuk ”Dewan Wali Songo”. Sunan Gunung Jati ditunjuk selaku wali katib, atau imam para wali. Anggotanya terdiri dari Sunan Ampel, Syekh Maulana Magribi, Sunan Bonang, Sunan Ngudung alias Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Syekh Lemah Abang, Syekh Betong, dan Sunan Majagung.

maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di

Ditambah dengan Sunan Gunung Jati, jumlah wali itu malah menjadi 10 orang. Nama-nama Wali Songo yang tertulis di Babad Cirebon tersebut berbeda dengan yang tersurat di Babad Tanah Jawi. Dalam Babad Tanah Jawi, yang berasal dari Jawa Tengah, tidak ditemukan nama Syekh Betong dan Syekh Majagung. Sebagai gantinya, akan dijumpai nama Sunan Giri dan Sunan Drajat. Tapi, peran Wali Songo jelaslah tak sebatas di bidang keagamaan.

Mereka juga bertindak selaku anggota dewan penasihat bagi raja. Bahkan, Sunan Giri membentuk dinasti keagamaan, dan secara politis berkuasa di wilayah Gresik, Tuban, dan sekitarnya. Ia mengesahkan penobatan Joko Tingkir sebagai Raja Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya, setelah kekuasaan Raja Demak maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di. Di luar Wali Songo, ada puluhan tokoh penyebar agama Islam di Jawa yang juga dianggap sebagai wali.

Hanya, biasanya mereka berkuasa di kawasan tak seberapa luas. Sunan Tembayat, misalnya, dikenal sebagai pedakwah di Tembayat, sebuah wilayah kecamatan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Ia dilegendakan sebagai murid Sunan Kalijaga. Sunan Tembayat adalah Adipati Semarang yang termasyhur dengan nama Ki Ageng Pandanarang. Berdasarkan cerita babad yang dikutip H.J.

De Graaf dan T.H. Pigeuad, Pandanaran meninggalkan singgasananya lantaran gandrung akan ajaran Islam yang disampaikan Sunan Kalijaga. Pada 1512, Pandanarang menyerahkan tampuk pemerintahan kepada adik laki-lakinya. ”Ia bersama istrinya mengundurkan diri dari dunia ramai,” tulis De Graaf dan Pigeaud dalam buku Kerajaan Islam Pertama di Jawa. ”Pasangan bangsawan Jawa ini berkelana mencari ketenangan batin, sembari berdakwah,” kedua pakar sejarah dari Universitas Leiden, Negeri Belanda, itu menambahkan.

Usai bertualang, Pandanarang dan istrinya bekerja pada seorang wanita pedagang beras di Wedi, Klaten. Akhirnya ia menetap di Tembayat sebagai guru mengaji. Di sana selama 25 tahun, Pandanarang hidup sebagai orang suci dengan sebutan Sunan Tembayat.

Ia wafat pada 1537 dan dimakamkan di situ. Bangunan kompleks makam Sunan Tembayat terbuat dari batu berukir, menyerupai bentuk Candi Bentar di Jawa Timur dan pura di Bali. Pada prasasti makam Sunan Tembayat tertulis, makam ini pertama kali dipugar pada 1566 oleh Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya.

”Kemudian, pada 1633, Sultan Agung dari Mataram memperluas dan memperindah bangunan makam Tembayat,” tulis De Graaf. Cerita tutur tentang kesaktian orang suci dari Semarang maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di dimakamkan di Tembayat ini, menurut De Graaf, sudah beredar luas di kalangan masyarakat Jawa sejak pertengahan abad ke-17.

Kisah ini ternukil di naskah klasik karya Panembahan Kajoran dari Yogyakarta, yang ditulis pada 1677. Naskah tersebut pertama kali diteliti oleh D.A.

Rinkes pada 1909. Dan kini, bukti sejarah itu tersimpan di Museum Leiden, Negeri Belanda. ”Dengan begitu, legenda itu punya inti kebenaran,” tulis De Graaf, yang dijuluki ”Bapak Sejarah Jawa”.

Selain Sunan Tembayat –menurut versi Babad Tanah Jawi– Sunan Kalijaga juga punya murid lain, Sunan Geseng namanya. Nama asli petani penyadap nira ini adalah Ki Cokrojoyo.

Alkisah, dalam pengembaraannya, Sunan Kalijaga terpikat suara merdu Ki Crokro yang bernyanyi setelah menyadap nira. Kalijaga meminta Ki Cokro mengganti syair lagunya dengan zikir kepada Allah. Ketika Ki Cokro berzikir, mendadak gula yang ia buat dari nira itu berubah jadi emas. Petani ini heran bukan kepalang. Ia ingin berguru kepada Sunan Kalijaga. Untuk menguji keteguhan hati calon muridnya, Sunan Kalijaga menyuruh ki Cokro berzikir tanpa berhenti, sebelum ia datang lagi.

Setahun kemudian, Sunan Kalijaga teringat Ki Cokro. Sang aulia memerintahkan murid-muridnya mencari Ki Cokro, yang berzikir di tengah hutan. Mereka kesulitan menemukannya, karena tempat berzikir ki Cokro telah berubah menjadi padang ilalang dan semak belukar. Syahdan, setelah murid-murid Sunan Kalijaga membakar padang ilalang, tampaklah Ki Cokro sujud ke kiblat. Tubuhnya hangus, alias geseng, dimakan api. Tapi, penyadap nira ini masih bugar, mulutnya berzikir komat-kamit.

Sunan Kalijaga membangunkannya dan memberinya nama Sunan Geseng. Ia menyebarkan agama Islam di Desa Jatinom, sekitar 10 kilometer dari kota Klaten arah ke utara. Penduduk Jatinom mengenal Sunan Geseng dengan sebutan Ki Ageng Gribik. Julukan itu berangkat dari pilihan Sunan Geseng untuk tinggal di rumah beratap gribik –anyaman daun nyiur.

Menurut legenda setempat, ketika Ki Ageng Gribik pulang dari menunaikan ibadah haji, ia melihat penduduk Jatinom kelaparan. Ia membawa sepotong kue apem, dibagikan kepada ratusan orang yang kelaparan.

Semuanya kebagian. Kia Ageng Gribik meminta warga yang kelaparan makan secuil kue apem seraya mengucapkan zikir: Ya-Qowiyyu (Allah Mahakuat). Mereka pun kenyang dan sehat.

Sampai kini, masyarakat Jatinom menghidupkan legenda Ki Ageng Maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di itu dengan menyelenggarakan upacara ”Ya-Qowiyyu” pada setiap bulan Syafar.

Warga membikin kue apem, lalu disetorkan ke masjid. Apem yang terkumpul jumlahnya mencapai ratusan ribu. Kalau ditotal, beratnya sekitar 40 ton. Puncak upacara berlangsung usai salat Jumat.

Dari menara masjid, kue apem disebarkan para santri sambil berzikir, Ya-Qowiyyu….

maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di

Ribuan orang yang menghadiri upacara memperebutkan apem ”gotong royong” itu. Kisah Ki Ageng Gribik hanyalah satu dari sekian banyak mitos tentang para wali. Legenda keagamaan yang ditulis babad, menurut De Graaf, sedikit nilai kebenarannya.

Hanya yang mengenai wali-wali terkemuka, katanya, ada kepastian sejarah yang cukup kuat. Makam mereka masih tetap merupakan tempat yang sangat dihormati. Pada kurun abad ke-16 hingga abad ke-17, keturunan para wali juga memegang peranan penting dalam sejarah politik Jawa.

Selama 40 hari, Raden Paku bertafakur di sebuah gua. Ia bersimpuh, meminta petunjuk Allah SWT, ingin mendirikan pesantren. Di tengah hening malam, pesan ayahnya, Syekh Maulana Ishak, kembali terngiang: ”Kelak, bila tiba masanya, dirikanlah pesantren di Gresik.” Pesan yang tak terlalu sulit, sebetulnya. Tapi, ia diminta mencari tanah yang sama persis dengan tanah dalam sebuah bungkusan ini.

Selesai bertafakur, Raden Paku berangkat mengembara. Di sebuah perbukitan di Desa Sidomukti, Kebomas, ia kemudian mendirikan Pesantren Giri. Sejak itu pula Raden Paku dikenal sebagai Sunan Giri. Dalam bahasa Sansekerta, ”giri” berarti gunung. Namun, tak ada peninggalan yang menunjukkan kebesaran Pesantren Giri –yang berkembang menjadi Kerajaan Giri Kedaton.

Tak ada juga bekas-bekas istana. Kini, di daerah perbukitan itu hanya terlihat situs Kedaton, sekitar satu kilometer dari makam Sunan Giri. Di situs itu berdiri sebuah langgar berukuran 6 x 5 meter. Di sanalah, konon, sempat berdiri sebuah masjid, tempat Sunan Giri mengajarkan agama Islam.

Ada juga bekas tempat wudu berupa kolam berukuran 1 x 1 meter. Tempat ini tampak lengang pengunjung. ”Memang banyak orang yang tidak tahu situs ini,” kata Muhammad Hasan, Sekretaris Yayasan Makam Sunan Giri, kepada GATRA. Syahdan, Pesantren Giri terkenal ke seluruh penjuru Jawa, bahkan sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.

Menurut Babad Tanah Jawi, murid Sunan Giri juga bertebaran sampai ke Cina, Mesir, Arab, dan Eropa. Pesantren Giri merupakan pusat ajaran tauhid dan fikih, karena Sunan Giri meletakkan ajaran Islam di atas Al-Quran dan sunah Rasul.

Ia tidak mau berkompromi dengan adat istiadat, yang dianggapnya merusak kemurnian Islam. Karena itu, Sunan Giri dianggap sebagai pemimpin kaum ”putihan”, aliran yang didukung Sunan Ampel dan Sunan Drajat. Tapi, Sunan Kalijaga menganggap cara berdakwah Sunan Giri kaku.

Menurut Sunan Kalijaga, dakwah hendaklah pula menggunakan pendekatan kebudayaan. Misalnya dengan wayang. Paham ini mendapat sokongan dari Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati. Perdebatan para wali ini sempat memuncak pada peresmian Masjid Demak. ”Aliran Tuban” –Sunan Kalijaga cs– ingin meramaikan peresmian itu dengan wayang.

Tapi, menurut Sunan Giri, menonton wayang tetap haram, karena gambar wayang itu berbentuk manusia. Akhirnya, Sunan Kalijaga mencari jalan tengah. Ia mengusulkan bentuk wayang diubah: menjadi tipis dan tidak menyerupai manusia. Sejak itulah wayang beber berubah menjadi wayang kulit. Ketika Sunan Ampel, ”ketua” para wali, wafat pada 1478, Sunan Giri diangkat menjadi penggantinya.

Atas usulan Sunan Kalijaga, ia diberi gelar Prabu Satmata. Diriwayatkan, pemberian gelar itu jatuh pada 9 Maret 1487, yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Gresik.

Di kalangan Wali nan Sembilan, Sunan Giri juga dikenal sebagai ahli politik dan ketatanegaraan. Ia pernah menyusun peraturan ketataprajaan dan pedoman tata cara di keraton. Pandangan politiknya pun dijadikan rujukan. Menurut Dr. H.J. De Graaf, lahirnya berbagai kerajaan Islam, seperti Demak, Pajang, dan Mataram, tidak lepas dari peranan Sunan Giri.

Pengaruhnya, kata sejarawan Jawa itu, melintas sampai ke luar Pulau Jawa, seperti Makassar, Hitu, dan Ternate. Konon, seorang raja barulah sah kerajaannya kalau sudah direstui Sunan Giri.

Pengaruh Sunan Giri ini tercatat dalam naskah sejarah Through Account of Ambon, serta berita orang Portugis dan Belanda di Kepulauan Maluku. Dalam naskah tersebut, kedudukan Sunan Giri disamakan dengan Paus bagi umat Katolik Roma, atau khalifah bagi umat Islam. Dalam Babad Demak pun, peran Sunan Giri tercatat. Ketika Kerajaan Majapahit runtuh karena diserang Raja Girindrawardhana dari Kaling Kediri, pada 1478, Sunan Giri dinobatkan menjadi raja peralihan.

Selama 40 hari, Sunan Giri memangku jabatan tersebut. Setelah itu, ia menyerahkannya kepada Raden Patah, putra Raja Majapahit, Brawijaya Kertabhumi. Sejak itulah, Kerajaan Demak Bintoro berdiri dan maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa.

Padahal, sebenarnya, Sunan Giri sudah menjadi raja di Giri Kedaton sejak 1470. Tapi, pemerintahan Giri lebih dikenal sebagai pemerintahan ulama dan pusat penyebaran Islam. Sebagai kerajaan, juga tidak jelas batas wilayahnya. Tampaknya, Sunan Giri lebih memilih jejak langkah ayahnya, Syekh Maulana Ishak, seorang ulama dari Gujarat yang menetap di Pasai, kini Aceh. Ibunya Dewi Sekardadu, putri Raja Hindu Blambangan bernama Prabu Menak Sembuyu.

Kisah Sunan Giri bermula ketika Maulana Ishak tertarik mengunjungi Jawa Timur, karena ingin menyebarkan agama Islam. Setelah bertemu dengan Sunan Ampel, yang masih sepupunya, ia disarankan berdakwah di daerah Blambangan. Ketika itu, masyarakat Blambangan sedang tertimpa wabah penyakit. Bahkan putri Raja Blambangan, Dewi Sekardadu, ikut terjangkit. Semua tabib tersohor tidak berhasil mengobatinya. Akhirnya raja mengumumkan sayembara: siapa yang berhasil mengobati sang Dewi, bila laki-laki akan dijodohkan dengannya, bila perempuan dijadikan saudara angkat sang dewi.

Tapi, tak ada seorang pun yang sanggup memenangkan sayembara itu. Di tengah keputusasaan, sang prabu mengutus Patih Bajul Sengara mencari pertapa sakti. Dalam pencarian itu, patih sempat bertemu dengan seorang pertapa sakti, Resi Kandayana namanya. Resi inilah yang memberi ”referensi” tentang Syekh Maulana Ishak.

Rupanya, Maulana Ishak mau mengobati Dewi Sekardadu, kalau Prabu Menak Sembuyu dan keluarganya bersedia masuk Islam. Setelah Dewi Sekardadu sembuh, syarat Maulana Ishak pun dipenuhi. Seluruh keluarga raja memeluk agama Islam. Setelah itu, Dewa Sekardadu dinikahkan dengan Maulana Ishak. Sayangnya, Prabu Menak Sembuyu tidak sepenuh hati menjadi seorang muslim. Ia malah iri menyaksikan Maulana Ishak berhasil mengislamkan sebagian besar rakyatnya.

Ia berusaha menghalangi syiar Islam, bahkan mengutus orang kepercayaannya maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di membunuh Maulana Ishak. Merasa jiwanya terancam, Maulana Ishak akhirnya meninggalkan Blambangan, dan kembali ke Pasai. Sebelum berangkat, ia hanya berpesan kepada Dewi Sekardadu –yang sedang mengandung tujuh bulan– agar anaknya diberi nama Raden Paku.

Setelah bayi laki-laki itu lahir, Prabu Menak Sembuyu melampiaskan kebenciannya kepada anak Maulana Ishak maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di membuangnya ke laut dalam sebuah peti. Alkisah, peti tersebut ditemukan oleh awak kapal dagang maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di Gresik, yang sedang menuju Pulau Bali. Bayi itu lalu diserahkan kepada Nyai Ageng Pinatih, pemilik kapal tersebut. Sejak itu, bayi laki-laki yang kemudian dinamai Joko Samudro itu diasuh dan dibesarkannya.

Menginjak usia tujuh tahun, Joko Samudro dititipkan di padepokan Sunan Ampel, untuk belajar agama Islam. Karena kecerdasannya, anak itu diberi gelar ”Maulana `Ainul Yaqin”. Setelah bertahun-tahun belajar, Joko Samudro dan putranya, Raden Maulana Makhdum Ibrahim, diutus Sunan Ampel untuk menimba ilmu di Mekkah. Maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di, mereka harus singgah dulu di Pasai, untuk menemui Syekh Maulana Ishak. Rupanya, Sunan Ampel ingin mempertemukan Raden Paku dengan ayah kandungnya.

Setelah belajar selama tujuh tahun di Pasai, mereka kembali ke Jawa. Pada saat itulah Maulana Ishak membekali Raden Paku dengan segenggam tanah, lalu memintanya mendirikan pesantren di sebuah tempat yang warna dan bau tanahnya sama dengan yang diberikannya. Kini, jejak bangunan Pesantren Giri hampir tiada.

Tapi, jejak dakwah Sunan Giri masih membekas. Keteguhannya memurnikan agama Islam juga diikuti para penerusnya. Sunan Giri wafat pada 1506 Masehi, dalam usia 63 tahun. Ia dimakamkan di Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur sumber: https://edywitanto.wordpress.com/2011/01/15/maulana-malik-ibrahim/#more-3785 • 26/10/2020 Kisah inspiratif: Rasulullah Sebagai Pengusaha Islam • 10/02/2022 6 Keutamaan Sedekah Rutin, Mulai Sekarang, Yuk!

• 23/10/2020 Kunci Ketenangan Hidup Secara Islami, Point Terakhir Yang Sering Dilupakan • 23/10/2020 Point 6 Sering Kita Abaikan!! Tips Hidup Sehat Rasulullah Dari Pola Tidur • 23/10/2020 Keutamaan Sedekah Subuh, Banyak Orang Yang Tidak Mengetahuinya • 23/10/2020 Inilah Keutamaan Masjid Bagi Umat Muslim
“Inilah makam al marhum al maghfurlah yang berharap rahmat Tuhan, kebanggan para pangeran, sendi para sultan dan para menteri, penolong para fakir dan miskin, yang berbahagia lagi syahid, cemerlangnya simbol agama dan negara, Malik Ibrahim yang terkenal dengan Kakek Bantal.

Semoga Allah meliputinya dengan rahmat dan rida-Nya, dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Telah wafat pada hari Senin, 12 Rabiul Awal 822 H".TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Maulana Malik Ibrahin yang dikenal juga dengan nama Sunan Gresik adalah satu di antara Wali Songo. Maulana Malik Ibrahim adalah ulama asal Kashan, Persia yang menghabiskan masa hidupnya menyebarkan Islam ke Jawa, khususnya Gresik.

Pada tahun 1371 M Sunan Maulana Malik Ibrahim datang ke pulau Jawa dengan saudaranya Maulana Mahpur, Sayid Yusuf Mahrabi, dan 40 orang pengiring. Mereka datang ke pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam sambil berdagang. • Siapakah Tokoh Penyebar Islam yang Disebut Wali Songo?

Maulana Malik Ibrahim yang merupakan keturunan Rasulullah SAW punya peran penting dalam menyebarkan Islam di Indonesia. Berikut peran penting Maulana Malik Ibrahim dalam menyebarkan Islam di Indonesia: 1. Mengembangkan Islam Melalui Jalur Perdagangan Maulana Malik Ibrahim memulai aktivitas dakwahnya dengan berdagang di tempat terbuka yang berlokasi di desa Rumo, dekat pelabuhan.

Ia menyediakan kebutuhan-kebutuhan pokok dengan harga murah dan terjangkau oleh masyarakat.
Selama beberapa artikel ke depan, blog The Jombang Taste akan membahas sejarah syiar agama Islam di tanah Jawa oleh Wali Songo.

maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di

Artikel budaya kali ini diawali oleh sejarah dakwah Syekh Maulana Malik Ibrahim menyiarkan agama Islam di daerah Gresik dan sekitarnya. Jauh sebelum Maulana Malik Ibrahim datang ke Pulau Jawa, sebenarnya sudah ada masyarakat Islam di daerah-daerah pantai utara Jawa.

maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di

Salah satu wilayah yang sudah tersentuh agama Islam adalah Leran. Hal tersebut bisa dibuktikan dengan keberadaan makam seorang wanita yang bernama Fatimah Binti Maimun yang meninggal di desa Leran pada tahun 475 Hijriyah atau tahun 1082 Masehi. Jadi, sebelum masa Wali Songo menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, Islam sudah ada di Pulau Jawa, yaitu di daerah Jepara dan Leran. Tetapi agama Islam pada saat itu belum berkembang secara pesat dan terbatas pada daerah-daerah pantai yang menjadi tempat berlabuh para pedagang muslim.

Maulana Malik Ibrahim yang dikenal oleh penduduk setempat sebagai Kakek Bantal itu diperkirakan datang ke Gresik, Jawa timur, pada tahun 1404 Masehi. Syekh Maulana Malik Ibrahim berdakwah di Gresik hingga akhir hayatnya. Syekh Maulana Malik Ibrahim meninggal dan dimakamkan di Gresik pada tahun 1419.

Syekh Maulana Malik Ibrahim Berdakwah di Gresik Pada saat Syekh Maulana Malik Ibrahim menyiarkan agama Islam di Gresik, pada masa itu kerajaan yang berkuasa di Jawa timur adalah Kerajaan Majapahit.

Raja dan rakyat Majapahit adalah pemeluk agama Hindu dan Buddha. Sebagian rakyat Gresik sudah ada yang beragama Islam tetapi masih banyak yang beragama Hindu, atau bahkan tidak beragama sama sekali.

Dalam berdakwah di Gresik, Kakek Bantal (kelak disebut juga sebagai Sunan Gresik) menggunakan cara yang bijaksana dan strategi yang tepat berdasarkan ajaran Al-Quran: Hendaknya Engkau ajak ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah (kebijaksanaan) dan dengan petunjuk-petunjuk yang baik serta ajaklah mereka berdialog (bertukar pikiran) dengan cara yang sebaik-baiknya. (QS. An Nahl: 125) Ada yang menyebutkan bahwa Syekh Maulana Malik Ibrahim berasal dari Turki.

Sumber dari Wikipedia maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di bahwa Syekh Maulana Malik Ibrahim pernah mengembara di Gujarat, India, sehingga beliau cukup berpengalaman menghadapi orang-orang Hindu di Pulau Jawa.

Gujarat merupakan wilayah di India yang sebagian masyarakatnya merupakan pemeluk agama Hindu. Di Jawa, Kakek Bantal bukan hanya berhadapan dengan masyarakat Hindu, tetapi juga harus bersabar terhadap mereka yang tidak beragama maupun mereka yang terlanjur mengikuti aliran sesat.

Syekh Maulana Malik Ibrahim juga memiliki tantangan untuk meluruskan iman dari orang-orang Islam yang bercampur dengan kegiatan musyrik. Sunan Gresik Dihormati Bangsawan dan Rakyat Jelata Cara yang digunakan oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim untuk berdakwah adalah tidak langsung menentang kepercayaan mereka yang salah itu.

Syekh Maulana Malik Ibrahim mendekati mereka dengan penuh hikmah. Sunan Gresik menunjukkan keindahan dan ketinggian akhlak Islami sebagaimana ajaran Nabi Muhammad SAW.

Dari huruf-huruf Arab yang terdapat di batu nisannya dapat kita ketahui bahwa Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah si Kakek Bantal. Kakek Bantal adalah sosok penolong fakir miskin yang dihormati oleh para Pangeran dan para Sultan ahli negara yang ulung.

Dari tulisan yang ada pada makam Syekh Maulana Malik Ibrahim kita bisa mengetahui bahwa betapa hebat perjuangan beliau terhadap masyarakat. Kepedulian tersebut bukan hanya untuk kalangan atas, tetapi juga pada golongan rakyat bawah. Keterangan yang tertulis di makam Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah sebagai berikut: Inilah makam almarhum almaghfur, yang berharap rahmat Tuhan, kebanggaan para Pangeran, sendi para Sultan dan para menteri, penolong para fakir dan miskin, yang berbahagia lagi syahid, cemerlangnya simbol negara dan agama, Malik Ibrahim yang terkenal dengan nama Kakek Bantal.

Allah meliputinya dengan Rahmat-Nya dan keridhaan-Nya, dan dimasukkan ke dalam surga. Telah wafat pada hari Senin 12 Rabiul Awwal tahun 822 H. Semoga artikel ini bisa memberi manfaat bagi Anda untuk mengenal lebih dalam maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di budaya di Nusantara, khususnya tentang sejarah syiar agama Islam di Pulau Jawa.

maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di

Mari kita lestarikan kekayaan budaya bangsa! Artikel selanjutnya Sejarah Dakwah Agama Islam Sunan Ampel di Ampeldenta Surabaya Pos-pos Terbaru • Bisakah Budaya Perusahaan Melemahkan Budaya Nasional? • Baik dan Buruknya Produk Perawatan Anti Penuaan Kulit • Bahan-bahan Alami yang Harus Anda Perhatikan dalam Memilih Produk Perawatan Kulit • Mengapa Produk Perawatan Kulit Alami Lebih Baik daripada Produk Sintetis • Produk Alami Maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di Perawatan Kulit Anda • Cara Memperbaiki Penampilan Anda Agar Lebih Menarik • Perlukah Anda Menghapus Tato?

• Carane Ngomong Supaya Bocah Enom Bakal Ngrungokake • Pengaruh Tukar Padu Marang Kekancan Sak Umuran • Pedot Sekolah Mergo Lingkungan Most viewed posts • Lirik Lagu Pujian Setelah Sholat Tarawih Ramadhan • 7 Konsep Acara Maulana malik ibrahim menyebarkan agama islam di Bihalal Keluarga Kreatif, Murah dan Menyenangkan • 7 Makanan Khas Jawa Untuk Kenduren Tradisi Tingkepan Wanita Hamil • Tradisi Jawa Menghitung Hari Baik Berdasarkan Weton Seseorang • Sahur Gak Sahur Sak Karepmu, Sing Penting Aku Wis Mbugah Halaman • Download RPP MKI • Download RPP MKI Pandemi • Download Soal dan Kisi-kisi PTS MKI Kelas I-VI SD Masa Pandemi • Download Soal PTS, PAS & UKK MKI SD • Kebijakan Privasi • Kontak • Peta Situs • Tentang Cari…
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Maulana Malik Ibrahim yang dikenal juga sebagai Sunan Gresik adalah ulama penyebar Islam di pulau Jawa.

Sunan Gresik lahir di Campa, Kamboja. Silsilahnya tersambung ke Nabi Muhammad SAW melalui jalur Husain bin Ali r.a. Maulana Malik Ibrahim punya peran penting dalam menyebarkan Islam di Indonesia terutama lewat perdagangan.

Pada tahun 1371, Sunan Maulana Malik Ibrahim datang ke pulau Jawa dengan saudaranya Maulana Mahpur, Sayid Yusuf Mahrabi, dan 40 orang pengiring. • Apa Peran Penting Maulana Malik Ibrahim dalam Menyebarkan Islam di Indonesia? Mereka datang ke pulau Jawa untuk menyebarkan agama Islam sambil berdagang. Desa Sembalo menjadi daerah yang pertama kali dituju, sebuah tempat dekat desa Leran, Kabupaten Gresik, sekitar 9 kilometer dari arah utara Kota Gresik.

Dalam menyiarkan agama Islam, Sunan Maulana Malik Ibrahim mula-mula dengan berdagang, membuka toko, menyediakan kebutuhan pokok masyarakat dan menjualnya dengan harga murah, di dekat pelabuhan yang berlokasi di desa Rumo. Maulana Malik Ibrahim berdagang di tempat terbuka yang berlokasi di desa Rumo, dekat pelabuhan. Ia menyediakan kebutuhan-kebutuhan pokok dengan harga murah dan terjangkau oleh masyarakat.

Pelajaran SKI: Sunan Gresik / Maulana Malik Ibrahim (Profil, Cara Berdakwah, dan Kisah Singkat)




2022 www.videocon.com