Jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan

jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan

Sebagai salah satu profesi yang sangat penting dalam dunia ekonomi, wajib hukumnya memahami kode etik untuk menjaga mutu dan kepercayaan para pengguna jasa. Kode etik profesi akuntan terdapat pada prinsip etika profesi akuntansi yang mengatur kaidah serta norma dalam lingkup profesional.

Topik ini akan diulas dengan lengkap oleh blog Mekari Jurnal di sini. Dengan membaca tulisan ini Anda akan bisa menjawab beberapa pertanyaan terkait hal ini seperti: • Tidak memihak apa adanya jujur dan sesuai fakta disebut apa? • Yang merupakan prinsip-prinsip etika profesi akuntan dalam profesi akuntansi adalah? • Suatu pedoman berperilaku dan bertindak bagi para akuntan dalam menjalankan tanggung jawab profesi untuk memberikan informasi kepada pihak dengan beragam kepentingan disebut apa? 4 Kesimpulan Tentang Prinsip Etika Profesi Akuntansi Prinsip Etika Profesi Akuntansi Tahukah Anda kalau software akuntansi online Mekari Jurnal bisa memudahkan Anda mengelola keuangan perusahaan secara lebih praktis dan akurat.

Jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan dengan coba gratis Jurnal pada banner di bawah ini. Saya Mau Coba Gratis Jurnal Sekarang!

atau Saya Mau Bertanya Ke Sales Jurnal Sekarang! Etika profesi akuntansi yaitu suatu ilmu yang membahas perilaku atau perbuatan baik dan buruk manusia sejauh yang dapat memahami oleh pikiran manusia terhadap pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus sebagai akuntan. Seperti yang menyebutkan di atas, etika ini mengatur bagaimana seorang akuntan melakukan pekerjaannya. Tanpa kode etik, seorang akuntan dapat saja langsung memberhentikan.

Dalam prinsip etika profesi akuntansi, skandal yang bertentangan dengan kode etik merupakan masalah besar. Itulah sebabnya Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) mengeluarkan kode etik yang harus dipatuhi oleh akuntan. Terdapat delapan prinsip dasar etika profesi akuntansi yang harus memahami oleh setiap akuntan yang menjalankan pekerjaannya. Baca juga: Kenali Perbedaan Pembukuan dan Akuntansi Fungsi dan Tujuan Prinsip Etika Profesi di Bidang Akuntansi Seseorang dengan profesi akuntan atau auditor harus memiliki kode etik dan prinsip dasar akuntansi yang baik.

jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan

Profesi yang mereka jalani sangat berat tanggung jawabnya. Hasil pekerjaannya dibutuhkan oleh para pihak pemakai informasi akuntansi dan kepentingan publik lain untuk membuat keputusan dalam bisnis.

Beberapa fungsi etika profesi akuntansi adalah: • Memberikan laporan dan menyajikan data yang benar tentang perusahaan. • Membantu penegakkan hukum. • Mencegah adanya kecurangan akuntansi. • Mengajarkan tentang tanggung jawab dan kewajiban moral kepada akuntan dan auditor.

• Mengenali masalah akuntansi yang berkaitan dengan etika. Coba Fitur Laporan Keuangan dan Bisnis untuk Keputusan Bisnis Lebih Cepat dan Akurat Saya Mau Coba Gratis Jurnal Sekarang! atau Saya Mau Bertanya Ke Sales Jurnal Sekarang!

Kode Etik Akuntan Pada Profesi Akuntansi Berikut adalah poin-poin dari prinsip etika, kode etik profesi akuntansi dan penjelasannya: Perilaku Profesional Setiap anggota harus berperilaku konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.

Kewajiban untuk menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan profesi harus memenuhi sebagai perwujudan tanggung jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan masyarakat umum.

Dalam upaya memasarkan dan mempromosikan diri dan pekerjaan, akuntan profesional sangat tidak menganjurkan mencemarkan nama baik profesi. Sesuai prinsip etika profesi Akuntansi, Akuntan wajib mempunyai sikap jujur dan dapat dipercayai sebagai salah satu bagian dari etika dalam profesi akuntansi. Baca Juga : Software Akuntansi Bagi Pengusaha UKM Kode Etik Tanggung Jawab Profesi Akuntan Seorang akuntan dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional terhadap semua kegiatan yang melaksanakan.

Anggota memiliki tanggung jawab kepada pemakai jasa mereka dan tanggung jawab untuk bekerja sama dengan sesama anggota demi mengembangkan profesi akuntansi serta memelihara kepercayaan masyarakat. Semua usaha tersebut memerlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi. Baca Juga: 5 Alasan Aplikasi Pembukuan Akuntansi Wajib Digunakan Pebisnis Standar Teknis Setiap kegiatan harus mengikuti standar teknis dan standar profesional yang relevan berdasar prinsip etika profesi.

Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati, akuntan berkewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa, selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan objektivitas. Standar teknis dan standar professional yang harus ditaati anggota adalah standar etika profesi akuntansi yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia, International Federation of Accountants, badan jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan dan pengaturan perundang-undangan yang relevan.

Kelola Kas & Transaksi Lebih Mudah dan Akurat, Pelajari Fitur Jurnal Selengkapnya di sini! Saya Mau Coba Gratis Jurnal Sekarang!

jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan

atau Saya Mau Bertanya Ke Sales Jurnal Sekarang! Kepentingan Publik Anggota akuntan profesional berkewajiban untuk bertindak dalam rangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik serta menunjukkan sikap profesionalisme. Salah satu bagian dari prinsip etika profesi dalam akuntansi adalah penerimaan tanggung jawab kepada publik. Profesi akuntan juga memegang peranan penting di masyarakat. Arti publik dari profesi akuntan meliputi klien, pemerintah, pemberi kredit dan pegawai.

Investor, dunia bisnis dan pihak-pihak yang bergantung kepada integritas dan objektivitas akuntan dalam memelihara berjalannya fungsi bisnis dengan tertib. Oleh karena itu, seorang akuntan hebat harus selalu bertindak sesuai dengan koridor pelayanan publik untuk menjaga kepercayaan mereka. Baca Juga : Kesalahan yang Sering Dilakukan Pengusaha dalam Kelola Keuangan Kode Etik Akuntan : Integritas Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.

Integritas mengharuskan seorang anggota untuk bersikap jujur dan berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa. Pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi. Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak menerima kecurangan atau peniadaan prinsip.

Maka dari itu, integritas merupakan salah satu prinsip etika profesi akuntansi paling penting yang harus dimiliki oleh akuntan. Kode Etik Kerahasiaan Akuntan Suatu pedoman berperilaku dan bertindak bagi para akuntan dalam menjalankan tanggung jawab profesi untuk memberikan informasi kepada pihak dengan beragam kepentingan disebut kode etik kerahasiaan akuntan.

Mengingat akuntan adalah profesi yang berhubungan langsung dengan data keuangan maupun akuntansi, maka sudah sepatutnya harus mampu memegang prinsip etika kerahasiaan. Prinsip etika profesi kerahasiaan mengharuskan setiap akuntan untuk tidak melakukan hal berikut ini. • Mengungkapkan informasi rahasia yang memperrolehnya dari hubungan profesional dan hubungan bisnis pada pihak di luar kantor akuntan atau organisasi tempat akuntan bekerja tanpa memberikan kewenangan yang memadai dan spesifik, terkecuali jika mempunyai hak dan kewajiban secara hukum atau profesional untuk mengungkapkan kerahasiaan tersebut.

• Menggunakan informasi rahasia untuk keuntungan pribadi atau pihak ketiga. Informasi yang memperoleh baik melalui hubungan profesional maupun hubungan bisnis. Etika Profesi Akuntansi : Objektivitas Tidak memihak apa adanya jujur dan sesuai fakta disebut objektive. Setiap anggota harus menjaga objektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya.

Objektivitas adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang memberikan anggota. Prinsip objektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka serta bebas dari benturan kepentingan atau di bawah pengaruh pihak lain.

jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan

Proses Akuntansi Otomatis Minim Risiko Human Error dengan Jurnal. Pelajari selengkapnya! Saya Mau Coba Gratis Jurnal Sekarang! atau Saya Mau Bertanya Ke Sales Jurnal Sekarang! Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional Kompetensi adalah salah satu penjamin mutu dan kualitas layanan dari seorang profesional di bidang jasa.

Prinsip etika profesi kompetensi dan kehati-hatian profesional mengharuskan setiap anggota akuntan untuk: • • Memelihara pengetahuan dan keahlian profesional yang dibutuhkan untuk menjamin pemberi kerja (klien menerima layanan yang profesional dan kompeten.) • Bertindak tekun dan cermat sesuai teknis dan profesional yang berlaku ketika memberikan jasa profesional. Etika profesi dalam bidang akuntansi sangat perlu memperhatikan oleh setiap akuntan untuk menghindari hal-hal yang tidak menginginkan.

Hal ini melakukan untuk memenuhi tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang akuntan yang profesional. Kesimpulan Tentang Prinsip Etika Profesi Akuntansi Dengan memahami prinsip kode etik profesi akuntan dengan baik, maka akuntan seharusnya dapat bekerja dengan maksimal. Salah satunya dengan membuat laporan keuangan yang terperinci.

Kini, akuntan dapat membuat laporan keuangan dengan mudah menggunakan jurnal software akuntansi online. Anda sebagai seorang akuntan dapat membuat laporan keuangan tanpa khawatir ada kesalahan. Jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan dengan menginput transaksi pada Jurnal, Anda akan mendapatkan laporan keuangan secara instan sesuai dengan yang Anda butuhkan.

Tunggu apalagi, segera gunakan Jurnal untuk mendapat berbagai kemudahannya di sini. Saya Mau Coba Gratis Jurnal Sekarang! atau Saya Mau Bertanya Ke Sales Jurnal Sekarang! Nah, diatas adalah pembahasan terkait kode etik etika profesi akuntan, juga prinsip etika profesi akuntansi di blog Mekari Jurnal. Setelah membaca tulisan ini Anda akan bisa menjawab beberapa pertanyaan terkait hal ini seperti: • Tidak memihak apa adanya jujur dan sesuai fakta disebut apa?

• Yang merupakan prinsip-prinsip etika profesi akuntan dalam profesi akuntansi adalah? • Suatu pedoman berperilaku dan bertindak bagi para akuntan dalam menjalankan tanggung jawab profesi untuk memberikan informasi kepada pihak dengan beragam kepentingan disebut apa?

Semoga informasi diatas bisa berguna untuk Anda, dan silahkan untuk dibagikan di sosial media. Apakah ada yang meragukan judul di atas? Jika Anda adalah auditor tapi masih meragukannya, sepertinya Anda perlu menimbang kembali, masih yakin ingin terus sebagai auditor atau tidak.

Jika Anda bukan auditor dan tidak sepakat pula dengan judul di atas, sepertinya Anda termasuk orang yang tidak berhak menuntut banyak terhadap hasil kerja profesi auditor.

Saya termasuk yang masih yakin, konsep independensi ( independence) dan objektivitas ( objectivity) adalah pegangan penting auditor, tak terkecuali auditor internal. Kenapa saya menekankan pada auditor internal? Karena pada merekalah, konsep yang mesti dijunjung tinggi ini menjadi tantangan yang amat berat. Sebagai bagian dari manajemen, sudah pasti lebih berat bagi auditor internal untuk menilai manajemen itu sendiri. Subjek yang akan mereka hadapi adalah kawan, mitra terdekat atau bahkan pihak yang memiliki jabatan yang levelnya lebih tinggi.

Auditor internal juga menjalankan dua peran sekaligus yang sebenarnya sifat pekerjaannya berpotensi bisa menimbulkan konflik batin, yaitu peran asurans (menilai) dan konsultansi (membantu). Situasi ini jelas berbeda dengan yang terjadi pada auditor eksternal. Bagaimana independensi dan objektivitas ini dimaknai dalam konteks audit internal? Apakah dengan karakteristik yang beda lantas konsep independensi dan objektivitas dalam audit internal juga berbeda dengan audit eksternal?

Bagaimana pula cara mengelolanya? Kita akan coba gali lebih lanjut. Versi Audit Internal Dalam ranah audit internal, independensi dan objektivitas tetap menjadi konsep yang amat penting. Buktinya apa? Keduanya diatur dalam berbagai unsur kerangka kerja praktik profesional ( International Professional Practices Framework) IIA mulai dari definisi audit internal, standar sampai dengan kode etiknya.

jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan

Berikut ini kutipan sebagian definisi audit internal IIA (2009): Internal auditing is an independent, objective assurance and consulting activity designed to add value and improve an organization’s operations. Dari definisi ini jelas sekali terlihat bahwa independensi dan objektivitas menjadi pegangan dalam seluruh aktivitas audit internal, baik yang bersifat asurans maupun konsultansi. Jadi, tidak tepat bila ada yang mengatakan bahwa saat memberi asurans, level independensi dan objektivitas harus tinggi tapi saat memberi konsultansi, level tersebut boleh dikurangi.

Standar tidak membedakan keduanya. Meski penting tapi kadang kita masih dibuat bingung dengan konsep independensi dan objektivitas. Bahkan tidak jarang keduanya dipertukarkan seolah punya makna yang sama. Bagaimana Standar IIA (2012) mengatur keduanya? Kita bisa lihat pada Standar IIA 1100 tentang independensi dan objektivitas. Berikut bunyi pernyataan standarnya: The internal audit activity must be independent, and internal auditors must be objective in performing their work.

Aktivitas audit internal harus independen dan auditor internal harus objektif dalam melaksanakan tugasnya. Apa yang bisa kita tangkap dari pernyataan ini? IIA ingin memberi garis pembeda yang jelas antara independensi dan objektivitas. Standar 1100 menyiratkan bahwa independensi erat kaitannya dengan aktivitas audit yang selanjutnya pada Standar 1110 disebut sebagai "independensi organisasi". Apakah ini berarti independensi secara individu tidak penting?

Ternyata tetap penting menurut IIA. Ini terlihat dalam interpretasi Standar 1100 yang juga menekankan perlunya pengelolaan ancaman terhadap independensi di tingkat individu, penugasan, dan fungsional di samping independensi organisasi. Lalu bagaimana dengan objektivitas? Dari Standar 1100 di atas tersirat bahwa objektivitas terkait erat dengan sisi auditor atau individu pelakunya.

Hal ini diperkuat dengan Standar 1120 yang mengatur "objektivitas individu". Kesimpulannya, independensi lebih menekankan pada tata organisasi audit internal sedangkan objektivitas lebih menekankan pada sikap individunya.

Subramaniam (2010) memandang independensi sebagai state of affairs dan objektivitas sebagai state of mind. Ada lagi yang menarik dari cara IIA membedakan independensi dan objektivitas ini.

Independensi tidak masuk dalam prinsip-prinsip kode etik IIA, sementara objektivitas masuk menjadi salah satu prinsip di samping tiga prinsip lainnya (integritas, kerahasiaan, kompetensi). Apakah dengan ini, IIA ingin memperkuat pendiriannya bahwa independensi adalah terkait organisasi (bukan individu manusia) sehingga tak perlu diatur perilaku etiknya? Wallahu a’lam. Sejauh ini kita sudah paham bahwa independensi dan objektivitas itu amat penting dalam audit internal. Kita juga paham bahwa makna keduanya berbeda.

Tapi rasanya belum lengkap jika kita tak mengenal definisi formalnya. Dalam interpretasi Standar 1100, independensi didefinisikan sebagai kondisi bebas dari situasi yang dapat mengancam kemampuan aktivitas auditor internal untuk dapat melaksanakan tanggung jawabnya secara tidak memihak.

Dijelaskan pula bahwa independensi itu bisa diwujudkan dengan pengaturan terkait hak akses data dan pelaporan fungsi audit internal. Sementara itu, objektivitas didefinisikan sebagai suatu sikap mental tidak memihak yang memungkinkan auditor internal melaksanakan tugas sedemikian rupa sehingga mereka memiliki keyakinan terhadap hasil kerja mereka dan tanpa kompromi dalam mutu.

Silakan direnungkan secara mendalam definisi tersebut! Jika sudah betul-betul paham, kita akan bandingkan konsepnya dengan konsep dalam jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan eksternal.

Versi Audit Eksternal Apakah ada perbedaan konsep independensi dan objektivitas audit internal dengan audit eksternal atau profesi akuntan publik?

Iya, sepertinya memang ada beda, paling tidak terlihat dari konsep independensi. Auditor eksternal atau akuntan publik tidak bermasalah dengan posisinya di dalam organisasi, sebab mereka jelas sebagai pihak luar. Karena itu, jika kita lihat Kode Etik Profesi Akuntan Publik Seksi 290: Independensi dalam Perikatan Assurance yang diterbitkan IAPI (adopsi dari International Ethics Standards Broad for Accountants, 2008), tidak nampak pengaturan mengenai independensi organisasi seperti IIA.

Kode etik tersebut menjelaskan konsep independensi yang berbeda. Menurut kode etik tersebut, ada dua bentuk independensi yang mesti dijaga oleh akuntan publik, yaitu: • Independensi dalam pemikiran: merupakan sikap mental yang memungkinkan pernyataan pemikiran yang tidak dipengaruhi oleh hal-hal yang dapat mengganggu pertimbangan profesional, yang memungkinkan seorang individu untuk memiliki integritas dan bertindak secara objektif, serta menerapkan skeptisisme profesional.

• Independensi dalam penampilan: merupakan sikap yang menghindari tindakan atau situasi yang dapat menyebabkan pihak ketiga (pihak yang rasional dan memiliki pengetahuan mengenai semua informasi yang relevan, termasuk pencegahan yang diterapkan) meragukan integritas, objektivitas, atau skeptisisme profesional dari anggota tim assurance, KAP, atau Jaringan KAP.

Dari letak pengaturannya juga nampak beda. Ingat, IIA tidak memasukkan independensi dalam kode etik tapi IAPI memasukkannya. Dan entah kenapa, saya merasa seperti ada kemiripan makna antara “independensi dalam pemikiran” versi IAPI dengan “objektivitas” versi IIA.

Coba Anda bandingkan! Meski begitu, IAPI sebenarnya juga mengatur sendiri konsep objektivitas dalam prinsip dasar etika profesi Seksi 120. Tapi sudahlah, tak usah dipikir terlalu dalam! Sebenarnya saya hanya ingin mengingatkan, jangan mencampur aduk antara konsep yang berlaku bagi auditor internal dengan profesi akuntan publik. Kadang ada bedanya! Mengelola Tantangan Kita kembali saja ke konteks independensi dan objektivitas dalam audit internal.

Saking pentingnya dua hal tersebut, IIA (2011) menerbitkan satu pedoman praktik ( practice guide) yang khusus membahas independensi dan objektivitas. Di awal, saya sudah sebut bahwa konsep independensi dan objektivitas bagi audit internal adalah tantangan berat. Hal itu dibuktikan di dalam pedoman praktik IIA ini. Ada banyak tantangan dalam menjaga independensi dan objektivitas yang diungkap oleh pedoman tersebut. Kelayakan status dan otonomi organisasi audit internal adalah bentuk tantangan nyata bagi independensi audit internal.

Jika laporannya dapat diintervensi atau penganggarannya tidak leluasa maka amat mungkin audit internal mengalami masalah independensi. Untuk itu pedoman praktik IIA (2011) memberikan contoh hal-hal yang dapat memperkuat independensi, seperti: • Kebijakan dan posisi organisasi audit internal. • Lingkungan organisasi yang mendukung audit intern agar dapat bekerja tanpa ada pembatasan dan risiko retaliasi. • Piagam audit.

• Praktik rekrutmen dan pemberian kompensasi yang baik. • Outsourcing. Terkait dengan objektivitas, pedoman praktik IIA (2011) juga mengidentifikasi tantangan yang lebih banyak lagi, seperti: • Tekanan sosial, misalnya ada tuntutan jumlah temuan tertentu baik dari auditor eksternal, regulator, atau manajemen sendiri.

• Kepentingan ekonomi, terutama menyangkut keberlanjutan posisi auditor sebagai pegawai. • Hubungan pribadi, terutama jika auditor memiliki hubungan dekat atau pertemanan dengan pihak-pihak yang diaudit.

• Keakraban akibat telah terjalin hubungan yang baik antara auditor dan auditi dalam jangka panjang. • Bias akibat budaya, ras, atau gender. • Bias kognitif dalam interpretasi informasi.

• Self-review, atau auditor mereviu pekerjaannya sendiri di masa lalu. • Intimidasi dari pihak yang diaudit atau pihak lain yang berkepentingan. Untuk tantangan objektivitas, pedoman praktik IIA (2011) menawarkan beberapa alternatif pengelolaannya seperti: • Insentif bagi fungsi audit internal dan keseluruhan organisasi.

• Jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan anggota tim yang berbeda. • Rotasi penugasan. • Pelatihan terkait metode penjagaan objektivitas. • Supervisi dan reviu pekerjaan auditor. • Quality assessment, melalui reviu proses, prosedur atau kegiatan audit secara internal ataupun eksternal.

• Praktik rekrutmen yang baik. • Outsourcing. Menariknya, bagian akhir pedoman praktik IIA (2011) juga menawarkan kerangka kerja untuk mengelola independensi dan objektivitas. Bagaimana jika pada akhirnya masalah independensi dan objektivitas ini tak mampu diselesaikan? Standar 1130 IIA (2012) menyatakan bahwa kendalanya harus diungkapkan kepada pihak yang tepat tergantung kasusnya.

Bagaimana jika pengungkapan ini tak juga dilakukan? Hehe. mungkin kiamat sudah dekat, karena auditor internal telah melalaikan konsep sucinya!

(hrs) Referensi: • IAPI. (2011). Kode Etik Profesi Akuntan Publik. Institut Akuntan Publik Indonesia. • IIA. (1999). Definition of Internal Auditing. The Institute of Internal Auditors. • IIA. (2009). Code of Ethics. The Institute of Internal Auditors. • IIA. (2011). Practice Guide:Independence and Objectivity. The Institute of Internal Auditors. • IIA. (2012). International standards for the professional practice of internal auditing (Standards).

The Institute of Internal Auditors. • Subramaniam, J.S.N. (2010). Internal audit independence and objectivity: emerging research opportunities. Managerial Auditing Journal, Vol. 25 Iss 4 pp. 328 - 360
Profesi akuntan sendiri sudah beragam jenisnya dan dibagi sesuai dengan kompetensinya.

Mungkin Anda ingin mengetahui terlebih dahulu jenis dari profesi akuntan sebelum mengenal etika profesi akuntansi. Akuntan merupakan salah satu profesi yang penting dalam dunia bisnis karena berhubungan dengan keuangan, oleh karena itu wajib hukumnya bagi seorang akuntan menerapkan etika profesi akuntansi yang ada.

Etika profesi ini dikeluarkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI), etika tersebut merupakan jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan dan perilaku yang mengatur hubungan antara auditor dengan kliennya, antara auditor dengan rekan sejawatnya dan juga hubungannya dengan masyarakat. Setiap akuntan mewakili instansi profesi dalam menjalankan pekerjaannya oleh karena itu sikap profesionalitas wajib dijalankan Etika profesi dimaksudkan sebagai panduan dan aturan bagi semua anggota, baik yang berpraktek sebagai auditor, bekerja di perusahaan swasta, di instansi pemerintah, maupun di lingkungan dunia pendidikan.

Etika Profesi Akuntansi terdiri dari 8 Prinsip yaitu : 1. Tanggung Jawab Profesi Akuntan harus memiliki tanggung jawab dalam menjalankan pekerjaannya dan menggunakan pertimbangan moral untuk kegiatan yang dilakukannya.

jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan

Tanggung jawab bukan hanya kepada kliennya saja tetapi juga kepada rekan seprofesinya serta kepada masyarakat. Para akuntan secara kolektif harus menjaga nama baik profesinya agar selalu bisa menjadi kepercayaan masyarakat dalam bidang akuntansi karena hal ini juga merupakan tradisi dari profesi akuntan.

Baca juga : 10 Prinsip AkuntansiBerikut Penjelasan Lengkapnya 2. Kepentingan Publik Arti publik disini meliputi klien, pemerintah, investor, pemberi kredit, pegawai, dunia bisnis dan pihak-pihak yang bergantung kepada integritas dan objektivitas akuntan tersebut dalam kinerjanya sebagai seorang professional. Akuntan wajib menempatkan kepentingan publik sebagai yang utama dalam menjalankan tanggung jawab mereka dan menjaga kepercayaan publik tersebut.

3. Integritas Integritas yang tinggi dalam menjalankan profesinya harus dipegang tinggi oleh seorang akuntan agar bisa menjaga kepercayaan publik. Integritas itu mencakup bersikap jujur, berterus terang, tidak curang serta dapat menerima kesalahan yang tidak disengaja.

Pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi. 4. Objektivitas Etika Profesi Akuntansi Selain integritas, seorang akuntan harus menjaga objektifitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya. Dalam kapasitasnya sebagai auditor, konsultan, pegawai swasta maupun pegawai pemerintah maka seorang akuntan wajib menunjukan objektifitas mereka dalam berbagai situasi.

Prinsip objektifitas seorang akuntan meliputi hal-hal seperti bersikap adil, jujur secara intelektual, tidak memihak, tidak berprasangka serta bebas dari pengaruh pihak lain. 5. Kerahasiaan Etika Profesi Akuntansi Karena pekerjaan akuntan berhubungan dengan bidang keuangan yang merupakan suatu informasi sensitif maka tentu saja seorang akuntan harus memegang prinsip kerahasiaan kliennya ataupun yang berhubungan dengan pekerjaannya dengan pihak lain.

Dia tidak boleh memberikan informasi kepada pihak manapun jika tanpa persetujuan atau wewenang yang memadai secara spesifik terkecuali jika mempunyai hak dan kewajiban secara hukum atau profesional yang harus megungkapkan kerahasiaan itu. Seorang akuntan juga dilarang keras menggunakan data rahasia tersebut sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau keuntungan pihak ketiga. 6.

Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional Prinsip kompetensi dan kehati-hatian pasti dimiliki oleh seorang akuntan professional, kompentensi menjadi salah satu penjamin mutu dan kualitas pelayanan sedangkan kehati-hatian berarti sikap teliti jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan cermat dalam pekerjaannya.

Klien akan merasa aman dan meningkatkan kepercayaan kepada akuntan jika ia memiliki kompetensi yang dijelaskan sebelum menggunakan jasa dan salah satu kompetensi yang paling mendasar yang harus dimiliki semua akuntan tentu saja tahu tahap-tahap dari siklus akuntansi itu sendiri.

7. Perilaku Profesional Seorang akuntan harus berperilaku baik dan menjauhkan tindakan yang bisa mendeskreditkan profesinya dan hal ini harus dilakukan secara konsisten agar kepercayaan klien selalu ada kepada akuntan tersebut. Akuntan yang tidak bersikap profesional seperti selalu tidak tepat waktu, ingkar janji atau perilaku negatif lainnya akan membuat klien merasa tidak nyaman dan kecewa yang bisa jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan profesi akuntan menjadi kurang baik secara kolektif.

8. Standar Teknis Etika Profesi Akuntansi Setiap akuntan harus melaksanakan pekerjaannya dengan standar teknis dan standar professional yang telah ditetapkan oleh perundang-undangan yang relevan yaitu yang telah dirumuskan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).

Mereka tidak boleh menyimpang sama sekali dari apa yang telah dirumuskan tersebut karena profesi akuntan merupakan profesi yang sangat vital dalam dunia usaha. Demikianlah penjelasan tentang etika profesi akuntansi yang harus diterapkan akuntan agar bisa menjadi akuntan yang profesional dan berdedikasi terhadap profesinya. Seorang akuntan juga sebaiknya menggunakan software akuntansi dalam membantu pekerjaannya agar lebih mudah dan cepat dalam memberikan data, laporan keuangan atau laporan lain yang berhubungan dengan pembukuan kliennya.

Harmony merupakan pilihan terbaik untuk akuntan yang mau memiliki software akuntansi berbasis cloud karena mudah digunakan, harga terjangkau, bisa dikerjakan kapanpun dan dimanapun serta telah dipakai oleh ribuan pemilik bisnis di Indonesia. Coba GRATIS selama 30 hari Software Harmony disini. Contoh Soal Jurnal Penyesuaian Untuk Perusahaan Jasa dan Dagang Ingin lebih memahami dan menerapkan jurnal dalam usaha Anda?

Dalam artikel kali ini Anda akan lebih belajar mengenai contoh soal jurnal penyesuaian dan membahas studi… Persamaan Dasar Akuntansi: Penjelasan dan Contohnya Seringkali pebisnis merasa belum mengetahui persamaan dasar akuntansi secara lengkap.

jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan

Akan tetapi teori persamaan dasar akuntansi ini merupakan hal yang penting dalam mempengaruhi siklus akuntansi… Penjelasan dan Cara Menghitung BEP (Break Even Point) dalam Bisnis Bisa dikatakan hampir semua pengusaha mengetahui istilah BEP (Break Event Point). Tetapi apakah Anda mengetahui cara menghitung BEP? Sebagai seorang pemilik bisnis, Anda wajib mengetahui… Cara Membuat Laporan Laba Rugi Lengkap Beserta Contohnya Pada umumnya, cara jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan laporan laba rugi adalah sebuah kewajiban pada setiap perusahaan maupun setiap industri lainnya dengan melakukan teknik pelaporan yang sama.

Dalam pendidikan… 4 Contoh Jurnal Khusus dan Penjelasan Lengkapnya Istilah jurnal dalam akuntansi beragam seperti contoh jurnal khusus, jurnal penyesuaian, jurnal umum, jurnal penutup dan jurnal koreksi. Setiap jurnal yang ada tentunya juga memiliki… 1.Prinsip prinsip etika profesi akuntansi menurut AICPA, IAI, IFAC Kode Perilaku Profesional AICPA terdiri atas dua bagian: • Prinsip-prinsip Perilaku Profesional (Principles of Profesionnal Conduct); menyatakan tindak – tanduk dan perilaku ideal.

• Aturan Perilaku (Rules of Conduct); menentukan standar minimum. Enam Prinsip-prinsip Perilaku Profesional:a.

Tanggung jawab: Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, anggota harus melaksanakan pertimbangan profesional dan moral dalam seluruh keluarga.

• Kepentingan publik: Anggota harus menerima kewajiban untuk bertindak dalam suatu cara yang akan melayani kepentingan publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukkan komitmen pada profesionalisme.

• Integritas: Untuk mempertahankan dan memperluas keyakinan publik, anggota harus melaksanakan seluruh tanggung jawab profesional dengan perasaan integritas tinggi. • Objektivitas dan Independesi: Anggota harus mempertahankan objektivitas dan bebas dari konflik penugasan dalam pelaksanaan tanggung jawab profesional.

• Kecermatan dan keseksamaan: Anggota harus mengamati standar teknis dan standar etik profesi. • Lingkup dan sifat jasa: Anggota dalam praktik publik harus mengamati Prinsip prinsip Perilaku Profesional dalam menentukan lingkup dan sifat jasa yang akan diberikan. KODE ETIK IFAC Kode etik International Federations of Accountants (IFAC) yang diterjemahkan, jadi kode etik ini bukan merupakan hal yang baru kemudian disesuaikan dengan IFAC, tetapi mengadopsi dari sumber IFAC.

Jadi tidak ada perbedaaan yang signifikan antara kode etik SAP dan IFAC. Adopsi etika oleh Dewan SPAP tentu sejalan dengan misi para akuntan Indonesia untuk tidak jago kandang. Apalagi misi Federasi Akuntan Internasional seperti yang disebut konstitusi adalah melakukan pengembangan perbaikan secara global profesi akuntan dengan standard harmonis sehingga memberikan pelayanan dengan kualitas tinggi secara konsisten untuk kepentingan publik.

Seorang anggota IFAC dan KAP tidak boleh menetapkan standar yang kurang tepat dibandingkan dengan aturan dalam kode etik ini. Akuntan profesional harus memahami perbedaaan aturan dan pedoman beberapa daerah juridiksi, kecuali dilarang oleh hukum atau perundang-undangan Prinsip-prinsip Fundamental Etika IFAC : • Seorang akuntan profesional harus bertindak tegas dan jujur dalam semua hubungan bisnis dan profesionalnya.

• Seorag akuntan profesional seharusnya tidak boleh membiarkan terjadinya bias, konflik kepentingan, atau dibawah penguruh orang lain sehinggamengesampingkan pertimbangan bisnis dan profesional. • Kompetensi profesional dan kehati-hatian.

jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan

Seorang akuntan profesionalmempunyai kewajiban untuk memelihara pengetahuan dan keterampilan profesional secara berkelanjutan pada tingkat yang dipelukan untuk menjaminseorang klien atau atasan menerima jasa profesional yang kompeten yangdidasarkan atas perkembangan praktik, legislasi, dan teknik terkini. Seorangakntan profesional harus bekerja secara tekun serta mengikuti standar-standar profesional haus bekerja secara tekun serta mengikuti standar-standar profesionaldan teknik yang berlaku dalam memberikan jasa profesional.

• Seorang akuntan profesional harus menghormati kerhasiaaninformasi yang diperolehnya sebagai hasil dari hubungan profesional dan bisnisserta tidak boleh mengungapkan informasi apa pun kepada pihak ketiga tanpa izinyng enar dan spesifik, kecuali terdapat kewajiban hukum atau terdapat hak profesional untuk mengungkapkannya.

• Perilaku Profesional. Seorang akuntan profesional harus patuh pada hukum dan perundang-undangan yang relevan dan harus menghindari tindakan yang dapatmendiskreditkan profesi. KODE ETIK IAI Kode etik adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik, dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi profesional.

Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia adalah aturan perilaku, etika akuntan dalam memenuhi tanggung jawab profesionalnya Aturan etika IAI-KASP memuat tujuh prinsip-prinsip dasar perilaku etis auditor dan empat panduan umum lainnya berkenaan dengan perilaku etis tersebut.

Ketujuh prinsip dasar IAI tersebut adalah: • Integritas Integritas berkaitan dengan profesi auditor yang dapat dipercaya karena menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran.

• Obyektivitas Auditor yang obyektif adalah auditor yang tidak memihak sehingga independensi profesinya dapat dipertahankan. • Kompetensi dan Kehati-hatian Agar dapat memberikan layanan audit yang berkualitas, auditor harus memiliki dan mempertahankan kompetensi dan ketekunan. • Kerahasiaan Auditor harus mampu menjaga kerahasiaan atas informasi yang diperolehnya dalam melakukan audit, walaupun keseluruhan proses audit mungkin harus dilakukan secara terbuka dan transparan.

Informasi tersebut merupakan hak milik auditan, untuk itu auditor harus memperoleh persetujuan khusus apabila akan mengungkapkannya, kecuali adanya kewajiban pengungkapan karena peraturan perundang-undangan. Kerahasiaan ini harus dijaga sampai kapanpun bahkan ketika auditor telah berhenti bekerja pada instansinya.

Dalam prinsip kerahasiaan ini juga, auditor dilarang untuk menggunakan informasi yang dimilikinya untuk kepentingan pribadinya, misalnya untuk memperoleh keuntungan finansial. • Prinsip kerahasiaan tidak berlaku dalam situasi-situasi berikut: Pengungkapan yang diijinkan oleh pihak yang berwenang, seperti auditan dan instansi tempat ia bekerja.

Dalam melakukan pengungkapan ini, auditor harus mempertimbangkan kepentingan seluruh pihak, tidak hanya dirinya, auditan, instansinya saja, tetapi juga termasuk pihak-pihak lain yang mungkin terkena dampak dari pengungkapan informasi ini. • Ketepatan Bertindak Auditor harus dapat bertindak konsisten dalam mempertahankan reputasi profesi serta lembaga profesi akuntan sektor publik dan menahan diri dari setiap tindakan yang dapat mendiskreditkan lembaga profesi atau dirinya sebagai auditor profesional.

Tindakan-tindakan yang tepat ini perlu dipromosikan melalui kepemimpinan dan keteladanan. • Standar teknis dan professional Auditor harus melakukan audit sesuai dengan standar audit yang berlaku, yang meliputi standar teknis dan profesional yang relevan. Standar ini ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia dan Pemerintah Republik Indonesia. Pada instansi-instansi audit publik, jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan juga standar audit yang mereka tetapkan dan berlaku bagi para auditornya, termasuk aturan perilaku yang ditetapkan oleh instansi tempat ia bekerja.

Dalam hal terdapat perbedaan dan/atau pertentangan antara standar audit dan aturan profesi dengan standar audit dan aturan instansi, maka permasalahannya dikembalikan kepada masing-masing lembaga penyusun standar dan aturan tersebut.

2. Aturan aturan dan interpretasi etika dalam kode etik akuntansi ATURAN DAN INTERPRETASI ETIKA Interpretasi Aturan Etika merupakan interpretasi yang dikeluarkan oleh Badan yang dibentuk oleh Himpunan setelah memperhatikan tanggapan dari anggota, dan pihak – pihak berkepentingan lainnya, sebagai panduan dalam penerapan Aturan Etika, tanpa dimaksudkan untuk membatasi lingkup dan penerapannya.

Pernyataan Etika Profesi yang berlaku saat ini dapat dipakai sebagai Interpretasi dan atau Aturan Etika sampai dikeluarkannya aturan dan interpretasi baru untuk menggantikannya. • Kepatuhan Kepatuhan terhadap Kode Etik, seperti juga dengan semua standar dalam masyarakat terbuka, tergantung terutama sekali pada pemahaman dan tindakan sukarela anggota.

Di samping itu, kepatuhan anggota juga ditentukan oleh adanya pemaksaan oleh sesama anggota dan oleh opini publik, dan pada akhirnya oleh adanya mekanisme pemrosesan pelanggaran Kode Etik oleh organisasi, apabila diperlukan, terhadap anggota yang tidak menaatinya. Jika perlu, anggota juga harus memperhatikan standar etik yang ditetapkan oleh badan pemerintahan yang mengatur bisnis klien atau menggunakan laporannya untuk mengevaluasi kepatuhan klien terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.

• Fungsi Etika Sarana untuk memperoleh orientasi kritis berhadapan dengan berbagai moralitas yang membingungkan. Etika ingin menampilkan ketrampilan intelektual yaitu ketrampilan untuk berargumentasi secara rasional dan kritis. Orientasi etis ini diperlukan dalam mengabil sikap yang wajar dalam suasana pluralisme. Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Pelanggaran Etika: • Kebutuhan Individu • Tidak Ada Pedoman • Perilaku dan Kebiasaan Individu Yang Terakumulasi dan Tak Dikoreksi • Lingkungan Yang Tidak Etis • Perilaku Dari Komunitas Sanksi Pelanggaran Etika Sanksi Sosial adalah Skala relatif kecil, dipahami sebagai kesalahan yang dapat ‘dimaafkan’.

Sanksi Hukum adalah Skala besar, merugikan hak pihak lain. Jenis – jenis Etika • Etika umum yang berisi prinsip serta moral dasar. • Etika khusus atau etika terapan yang berlaku khusus. Tiga prinsip dasar perilaku yang etis Hindari pelanggaran etika yang terlihat remeh. Meskipun tidak besar sekalipun, suatu ketika akan menyebabkan konsekuensi yang besar pada profesi.

Pusatkan perhatian pada reputasi jangka panjang. Disini harus diingat bahwa reputasi adalah yang paling berharga, bukan sekadar keuntungan jangka pendek. Bersiaplah menghadapi konsekuensi yang kurang baik bila berpegang pada perilaku etis. Mungkin akuntan akan menghadapi masalah karier jika berpegang teguh pada etika.

Namun sekali lagi, reputasi jauh lebih penting untuk dipertahankan. Kode Etik IAI adalah aturan perilaku etika akuntan dalam memenuhi tanggung jawab profesionalnya Kode Etik IAI meliputi: a. Prinsip etika akuntan b. Aturan etika akuntan; dan c.

Interpretasi aturan etika akuntan Kode Etik IAI dirumuskan oleh Badan yang khusus dibentuk untuk tujuan tersebut oleh Dewan Pengurus Nasional. Kode Etik IAI mengikat seluruh anggota IAI 3. Tanggung jawab sosial kantor akuntan publik dalam etika profesi sebagai suatu entitas bisnis Sebagai entitas bisnis layaknya entitas – entitas bisnis lain, Kantor Akuntan Publik juga dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat, bukan hanya dalam bentuk ”uang” dengan jalan memberikan sumbangan, melainkan lebih kompleks lagi.

Artinya, pada Kantor Akuntansi Publik bentuk tanggung jawab sosial suatu lembaga bukanlah pemberian sumbangan atau pemberian layanan gratis.

Tapi meliputi ciri utama dari profesi akuntan publik terutama sikap altruisme, yaitu mengutamakn kepentingan publik dan juga memperhatikan sesama akuntan publik dibanding mengejar laba. sumber: https://sariioktavia.wordpress.com/2015/11/24/kode-etik-profesi-akuntansi/ https://keyturns.wordpress.com/2015/11/14/perilaku-etika-dalam-profesi-akuntansi-kode-etik-profesi-akuntansi-etika-dalam-auditing/ https://sandyherdians.wordpress.com/2016/01/07/etika-dalam-kantor-akuntan-publik/ Cari untuk: Tulisan Terakhir • Tugas Kelompok : Standar Audit dan Akuntansi Global • AKUNTANSI KOMPARATIF : AMERIKA DAN ASIA • AKUNTANSI KOMPARATIF : EROPA • PERKEMBANGAN DAN KLASIFIKASI (bab II) • AKUNTANSI INTERNASIONAL Arsip • Juli 2017 • April 2017 • November 2016 • Oktober 2016 • Juni 2016 • April 2016 • Maret 2016 • Juli 2015 • April 2015 • Maret 2015 • Januari 2015 • November 2014 • Oktober 2014 • Juli 2014 • Juni 2014 • Mei 2014 • April 2014 • Maret 2014 • November 2013 • Oktober 2012 Kategori Kategori taylor swifthttps://soundcloud.com/rafaahp/taylor-swift-love-story
Kata etika tentu tidak asing lagi bagi kita, dimana sejak kecil para orangtua dan guru selalu mengajarkan agar kita bertindak sesuai dengan etika.

Penerapan etika menjangkau hampir ke semua bagian dan lapisan masyarakat, termasuk dalam menjalankan profesi. Karena itu, pada profesi akuntan terdapat etika yang harus dipenuhi dan akan kita ulas lebih lanjut pada pembahasan kali ini. Apa Itu Etika Profesi Akuntan? Sebelum membahas lebih jauh mengenai etika profesi akuntan, kita perlu memahami terlebih dahulu konsep dari etika itu sendiri.

Etika merupakan serangkaian konsep mengenai nilai baik dan buruk yang menjadi panduan manusia dalam menjalani hidup. Dengan mengikuti etika yang berlaku, diharapkan manusia terhindar dari hal buruk yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Salah satu bidang dalam cabang keilmuan etika adalah etika profesi, yang merupakan tatanan dalam menjalankan profesi.

Etika profesi dinilai perlu untuk dibuat, disepakati, dan tentunya dijalankan agar para pengemban profesi dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Selain itu, etika profesi juga penting untuk dipatuhi agar dapat terhindar dari penyimpangan yang mungkin terjadi.

Etika profesi juga berlaku pada profesi akuntan, sebagai profesi yang bertugas untuk menerapkan ilmu akuntansi dalam konteks nyata. Pekerjaan akuntan secara umum meliputi pencatatan, pelaporan, hingga audit keuangan pada sebuah lembaga atau organisasi. Dalam menjalankan tugas profesi, etika profesi akuntan menjadi kode etik dan aturan yang harus dipatuhi oleh seorang akuntan. Mengapa Perlu Ada Etika Profesi Akuntan?

Secara garis besar, seperti etika profesi lainnya, etika profesi akuntan bertujuan agar pengemban profesi tersebut dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Namun menjalankan tugas dengan baik tidak semudah yang diucapkan, karena akuntansi termasuk bidang yang berperan penting di dunia ini.

Akuntansi berhubungan erat dengan perhitungan keuangan, hal yang sangat vital sekaligus rawan terjadi penyimpangan. Seperti layaknya sebuah pisau tajam, penggunaan ilmu dalam dunia nyata tergantung pada bagaimana orang yang menerapkannya.

Pisau dapat menjadi alat yang berguna jika dipakai untuk memasak, dan di sisi lain bisa membahayakan jika berada pada tangan orang yang berniat jahat. Begitu juga dengan akuntansi sebagai salah satu cabang keilmuan, yang bisa digunakan untuk tujuan baik dan buruk. Akuntansi akan sangat berguna dalam melaporkan dan mengatur keuangan sebuah perusahaan, sehingga dapat membantu kinerja perusahaan tersebut.

Namun penerapan akuntansi yang menyimpang bisa mengarah pada perbuatan kriminal, seperti penggelapan uang dan rekayasa dana perusahaan. Tindak korupsi yang merugikan perusahaan atau bahkan negara adalah salah satu contoh penerapan akuntansi yang disalahgunakan. Untuk menghindari terjadinya hal-hal tersebut, etika profesi akuntan perlu dipatuhi dan dijalankan dengan baik.

Etika profesi akuntan menjadi guideline yang menaungi para pengemban profesi akuntan agar tetap berada dalam jalur yang seharusnya. Karena pada dasarnya semua ilmu dibuat untuk tujuan yang baik guna memudahkan dan memajukan peradaban manusia, termasuk juga ilmu akuntansi. Prinsip Etika Profesi Akuntan Terdapat beberapa lembaga yang menerapkan prinsip-prinsip dalam etika profesi akuntan, baik dalam skala nasional maupun global.

Berikut adalah prinsip etika menurut tiga lembaga akuntan yang diterapkan dalam profesi akuntan: 1. Etika Profesi Akuntan Menurut AICPA American Institue of Certified Public Accountants (AICPA) adalah organisasi yang menetapkan standar profesi dan audit dalam profesi akuntan, terutama akuntan publik. Kode etik profesi akuntan yang ditetapkan AICPA disebut dengan Code of Professional Conduct, yang terdiri dari: • Responsibility, yaitu tanggung jawab dalam menjalankan profesi akuntan dan menjaga kepercayaan publik.

• The Public Interest, yaitu pemberikan kontribusi jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan positif untuk kepentingan publik. • Integrity, yaitu seorang akuntan harus menjalankan tugas dengan integritas tinggi. • Objecivity and Independence, yaitu menjaga objektivitas dan bebas dari konflik kepentingan pihak tertentu. • Due Care, yaitu mengikuti standar etika dan teknis profesi akuntan serta profesional dalam menjalankan tugas profesi.

2. Etika Profesi Akuntan Menurut IFAC International Federation of Accountants (IFAC) merupakan organisasi profesi akuntan yang berada pada tingkat internasional dengan 127 negara anggota, termasuk Indonesia. Sejak didirikan di tahun 1977, IFAC memiliki peranan besar dalam pengembangan dan penguatan profesi akuntan global. Etika profesi akuntan yang dibuat IFAC dinamai dengan Code of Ethics, yang terdiri dari: • Bagian A, memuat prinsip dasar etika profesi akuntan yang terdiri dari integritas, objektivitas, kompetensi dan kehati-hatian, kerahasiaan, serta perilaku profesional.

• Bagian B, yang memuat penerapan prinsip dan kerangka kerja profesi akuntan dalam ranah publik secara profesional. • Bagian C, yang memuat penerapan prinsip dan kerangka kerja profesi akuntan dalam ranah bisnis. 3. Etika Profesi Akuntan Menurut IAI Prinsip terakhir bersumber dari Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), merupakan organisasi yang menjadi wadah untuk berkumpulnya para pengemban profesi akuntan di Indonesia. Seluruh profesi akuntan dapat menjadi anggota IAI, mulai dari akuntan publik, akuntan manajemen, akuntan pendidik, akuntan pajak, dan lain sebagainya.

Etika profesi akuntan dituangkan dalam Kode Etik IAI, yang terdiri dari: • Prinsip Etika Mencakup tanggung jawab, kepentingan umum, integritas, objektivitas, kompetensi dan kehati-hatian, kerahasiaan, perilaku profesional, dan standar teknis. • Aturan Etika Mencakup independensi, integritas, dan objektivitas; standar umum dan prinsip akuntansi; tanggung jawab kepada klien; tanggung jawab terhadap rekan se-profesi; tanggung jawab dalam praktik lain.

• Interpretasi Etika Standar jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan dapat berbeda-beda tergantung pada komunitas sosial dan budaya yang berlaku di dalamnya. Demikianlah pembahasan mengenai etika profesi akuntan, mulai dari pengertian hingga prinsip-prinsip yang ada di dalamnya.

Adanya etika ini tentunya dapat menjadi panduan agar profesi akuntan dapat terus berjalan dengan baik dalam memberikan kontribusi bagi masyarakat. Semoga informasi ini bermanfaat bagi Anda! Artikel Terkait • Inilah Jenis-jenis Standar Akuntansi Keuangan yang Digunakan di Indonesia • Prinsip Dasar Akuntansi • Jenis-jenis Laporan Keuangan yang Perlu Anda Ketahui • Apa itu Standar Akuntasi Keuangan?

Apa Fungsi Standar Akuntansi Keuangan? Demikianlah artikel tentang etika profesi akuntan, semoga bermanfaat bagi Anda semua.
BAB IV PERILAKU ETIKA DALAM PROSEFI AKUNTANSI Akuntansi Sebagai Profesi dan Peran Akuntan Akuntansi memegang peranan penting dalam ekonomi dan sosial, karena dalam setiap pengambilan keputusan mengenai hal keuangan harus bedasarkan informasi akuntansi.

Hal tersebut menjadikan Akuntan sebagai profesi yang keberadaanya sangat dibutuhkan di dalam berbagai lingkungan bisnis. Secara garis besar, Akuntan dapat digolongkan menjadi : • Akuntan Publik • Akuntan Intern • Akuntan Pemerintah • Akuntan Pendidik • Ekspektasi Publik Pada umumnya masyarakat memandang profesi akuntan sebagai seorang yang profesional.

Dalam hal ini, masyarakat mempunyai presepsi bahwa seorang akuntan itu telah mematuhi standar dan tata nilai yang berlaku di profesi akuntan. Nilai-nilai Etika VS Teknik Akuntansi/Auditing Nilai-nilai Etika yang terdapat dalam diri seorang Akuntan, dapat dicirikan sebagai berikut: • Integritas Merupakan segala perbuatan dan tutur kata pelaku profesi menunjukan sikap yang transparan, juju dan konsistensi. • Kerjasama Merupakan kemampuan untuk bekerja dalam tim • Inovasi Merupakan kemampuan memberi nilai tambah kepada pelanggan dan peroses kerja dengan metode yang baru.

• Simplisitas Merupakan kemampuan memberikan pemecahan masalah yang timbul dan menyederhanakan masalah yang bersifat kompeks. Sedangkan teknik akuntansi merupakan norma-norma khusus yang ditetapka dari prinsip-prinsip akuntan yang menjelaskan transaksi dan kejadian keuangan tertentu yang dihadapi oleh entitas akuntansi tersebut.

Perilaku Etika dalam Pemberian Jasa Akuntan Publik Setiap profesi yang menyediakan jasanya kepada masyarakat memerlukan kepercayaan dari masyarakat yang dilayaninya. Kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa akuntan publik akan menjadi lebih tinggi, jika profesi tersebut menerapkan standar mutu tinggi terhadap pelaksanaan pekerjaan profesional yang dilakukan oleh anggota profesinya. Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik merupakan etika profesional bagi akuntan yang berpraktik sebagai akuntan publik Indonesia.

Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik bersumber dari Prinsip Etika yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Dalam kongresnya tahun 1973, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) untuk pertama kalinya menetapkan kode etik bagi profesi akuntan. Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia terdiri dari tiga bagian: • Prinsip Etika. • Aturan Etika. • Interpretasi Aturan Etika. Prinsip Etika memberikan kerangka dasar bagi Aturan Etika, yang mengatur pelaksanaan pemberian jasa profesional oleh anggota.

Prinsip Etika disahkan oleh Kongres dan berlaku jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan seluruh anggota, sedangkan Aturan Etika disahkan oleh Rapat Anggota Himpunan dan hanya mengikat anggota Himpunan yang bersangkutan. Kesimpulan Peran akuntan dalam pembangunan ekonomi dan sosial perusahaan tidak dapat terlepas dari prinsip Good Corporate Governance. Hal ini meliputi prinsip kewajaran, akuntabilitas, tranparasi, dan responsibilitas.

BAB V KODE ETIK PROFESI AKUNTANSI Kode etik profesi akuntansi adalah suatu peraturan yang diterapkan bagi para profesi akuntansi. Kode etik profesi akuntansi ini sangat penting karena untuk mencegah terjadinya kecurangan (fraud). Lembaga yang menaungi profesi akuntan di Indonesia adalah Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). KODE PERILAKU PROFESIONAL Garis besar kode etik dan perilaku professional adalah : Kontribusi untuk masyarakat dan kesejahteraan manusia Prinsip mengenai kualitas hidup semua orang menegaskan kewajiban untuk melindungi hak asasi manusia dan menghormati keragaman semua budaya.

Sebuah tujuan utama profesional komputasi adalah untuk meminimalkan konsekuensi negatif dari sistem komputasi, termasuk ancaman terhadap kesehatan dan keselamatan. • Hindari menyakiti orang lain. “Harm” berarti konsekuensi cedera, seperti hilangnya informasi yang tidak diinginkan, kehilangan harta benda, kerusakan harta benda, atau dampak lingkungan yang tidak diinginkan.

• Bersikap jujur dan dapat dipercaya. Kejujuran merupakan komponen penting dari kepercayaan. Tanpa kepercayaan suatu organisasi tidak dapat berfungsi secara efektif.

• Bersikap adil dan tidak mendiskriminasi. Nilai – nilai kesetaraan, toleransi, menghormati orang lain, dan prinsip – prinsip keadilan yang sama dalam mengatur perintah. • Hak milik yang temasuk hak cipta dan hak paten. Pelanggaran hak cipta, hak paten, rahasia dagang dan syarat – syarat perjanjian lisensi dilarang oleh hukum di setiap keadaan.

• Memberikan kredit yang pantas untuk property intelektual. Komputasi profesional diwajibkan untuk melindungi integritas dari kekayaan intelektual. • Menghormati privasi orang lain. Komputasi dan teknologi komunikasi memungkinkan pengumpulan dan pertukaran informasi pribadi pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah peradaban.

Prinsip kejujuran meluas ke masalah kerahasiaan informasi setiap kali salah satu telah membuat janji eksplisit untuk menghormati kerahasiaan atau, secara implisit, saat informasi pribadi tidak secara langsung berkaitan dengan pelaksanaan tugas seseorang. PRINSIP – PRINSIP ETIKA IFAC, AICPA DAN IAI • Prinsip-prinsip Etika AICPA Kode Etik AICPA terdiri atas dua bagian; bagian pertama berisi prinsip-prinsip Etika dan pada bagian kedua berisi Aturan Etika (rules): • Tanggung Jawab Dalam menjalankan tanggung jawab sebagai seorang profesional,anggota harus menjalankan pertimbangan moral dan profesional secara sensitif.

• Kepentingan Publik Anggota harus menerima kewajiban mereka untuk bertindak sedemikian rupa demi melayani kepentingan publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukan komitmen atas profesionalisme.

• Integritas Untuk memelihara dan memperluas keyakinan publik, anggota harus melaksanakan semua tanggung jawab profesinal dengan ras integritas tertinggi.

jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan

• Objektivitas dan Independensi Seorang anggota harus memelihara objektivitas dan bebas dari konflik kepentingan dalam menunaikan tanggung jawab profesional.Seorang anggota dalam praktik publik seharusnya menjaga independensi dalam faktadan penampilan saat memberikan jasa auditing dan atestasi lainnya • Kehati-hatian (due care) Seorang anggota harus selalu mengikuti standar-standar etika dan teknis profesi terdorong untuk secara terus menerus mengembangkan kompetensi dan kualitas jasa, dan menunaikan tanggung jawab profesional sampai tingkat tertinggi kemampuan anggota yang bersangkutan • Ruang Iingkup dan Sifat Jasa Seorang anggota dalam praktik publik harus mengikuti prinsip-prinsip kode Perilaku Profesional dalam menetapkan ruang lingkup an sifat jasa yang diberikan • Prinsip-prinsip Fundamental Etika IFAC • Integritas Seorang akuntan profesional harus bertindak tegas dan jujur dalam semua hubungan bisnis dan profesionalnya.

• Objektivitas Seorang akuntan profesional seharusnya tidak boleh membiarkan terjadinya bias, konflik kepentingan, atau dibawah penguruh orang lain sehingga mengesampingkan pertimbangan bisnis dan profesional. • Kompetensi profesional dan kehati-hatian Seorang akuntan professional mempunyai kewajiban untuk memelihara pengetahuan dan keterampilan profesional secara berkelanjutan pada tingkat yang dipelukan untuk menjamin seorang klien atau atasan menerima jasa profesional yang kompeten yang didasarkan atas perkembangan praktik, legislasi, dan teknik terkini.

Seorang akuntan profesional harus bekerja secara tekun serta mengikuti standar-standar profesional harus bekerja secara tekun serta mengikuti standar-standar professional dan teknik yang berlaku dalam memberikan jasa profesional. • Kerahasiaan Seorang akuntan profesional harus menghormati kerhasiaan informasi yang diperolehnya sebagai hasil dari hubungan profesional dan bisnis serta tidak boleh mengungkapkan informasi apa pun kepada pihak ketiga tanpa izin yang benar dan spesifik, kecuali terdapat kewajiban hukum atau terdapat hak profesional untuk mengungkapkannya.

• Perilaku Profesional Seorang akuntan profesional harus patuh pada hukum dan perundang-undangan yang relevan dan harus menghindari tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi. • Prinsip Etika Profesi Menurut IAI Prinsip Etika memberikan kerangka dasar bagi aturan etika, yang mengatur pelaksanaan pemberian jasa profesional oleh anggota.

Prinsip Etika disahkan oleh Kongres dan berlaku bagi seluruh anggota, sedangkan Aturan Etika disahkan oleh Rapat Anggota Himpunan dan hanya mengikat anggota Himpunan yang bersangkutan. Interpretasi Aturan Etika merupakan interpretasi yang dikeluarkan oleh Badan yang dibentuk oleh Himpunan setelah memperhatikan tanggapan dari anggota, dan pihak-pihak berkepentingan lainnya, sebagai panduan dalam penerapan Aturan Etika, tanpa dimaksudkan untuk membatasi lingkup dan penerapannya.

Prinsip Etika Profesi dalam Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia menyatakan pengakuan profesi akan tanggungjawabnya kepada publik, pemakai jasa akuntan, dan rekan. Prinsip ini memandu anggota dalam memenuhi tanggung-jawab profesionalnya dan merupakan landasan dasar perilaku etika dan perilaku profesionalnya.

Prinsip ini meminta komitmen untuk berperilaku terhormat, bahkan dengan pengorbanan keuntungan pribadi. Prinsip Etika disahkan oleh Kongres dan berlaku bagi seluruh anggota. Adapun prinsip – prinsip tersebut adalah: • Tanggung Jawab Profesi Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya.

Sebagai profesional, anggota mempunyai peran penting dalam masyarakat. Sejalan dengan peran tersebut, anggota mempunyai tanggung jawab kepada semua pemakai jasa profesional mereka. Anggota juga harus selalu bertanggung jawab untuk bekerja sama dengan sesama anggota untuk mengembangkan profesi akuntansi, memelihara kepercayaan masyarakat dan menjalankan tanggung jawab profesi dalam mengatur dirinya sendiri. Usaha kolektif semua anggota diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.

• Kepentingan Publik Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukan komitmen atas profesionalisme. Satu ciri utama dari suatu profesi adalah penerimaan tanggung jawab jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan publik.

Profesi akuntan memegang peran yang penting di masyarakat, dimana publik dari profesi akuntan yang terdiri dari klien, pemberi kredit, pemerintah, pemberi kerja, pegawai, investor, dunia bisnis dan keuangan, dan pihak lainnya bergantung kepada obyektivitas dan integritas akuntan dalam memelihara berjalannya fungsi bisnis secara tertib. Ketergantungan ini menimbulkan tanggung jawab akuntan terhadap kepentingan publik.

Kepentingan publik didefinisikan sebagai kepentingan masyarakat dan institusi yang dilayani anggota secara keseluruhan. Ketergantungan ini menyebabkan sikap dan tingkah laku akuntan dalam menyediakan jasanya mempengaruhi kesejahteraan ekonomi masyarakat dan negara.

• Integritas Integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya pengakuan profesional. Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan merupakan patokan (benchmark) bagi anggota dalam menguji keputusan yang diambilnya.

Integritas mengharuskan seorang anggota untuk, antara lain, bersikap jujur jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa. Pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi. Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak menerima kecurangan atau peniadaan prinsip.

• Obyektivitas Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya. Obyektivitasnya adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan anggota. Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka, serta bebas dari benturan kepentingan atau dibawah pengaruh pihak lain.

• Kompetensi dan Kehati – hatian Profesional Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan berhati – hati, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan ketrampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa profesional dan teknik yang paling mutakhir.

Hal ini mengandung arti bahwa anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan jasa profesional dengan sebaik – baiknya sesuai dengan kemampuannya, demi kepentingan pengguna jasa dan konsisten dengan tanggung jawab profesi kepada publik. • Kerahasiaan Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.

Kepentingan umum dan profesi menuntut bahwa standar profesi yang berhubungan dengan kerahasiaan didefinisikan bahwa terdapat panduan mengenai sifat – sifat dan luas kewajiban kerahasiaan serta mengenai berbagai keadaan dimana informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dapat atau perlu diungkapkan.

Anggota mempunyai kewajiban untuk menghormati kerahasiaan informasi tentang klien atau pemberi kerja yang diperoleh melalui jasa profesional yang diberikannya. Kewajiban kerahasiaan berlanjut bahkan setelah hubungan antar anggota dan klien atau pemberi jasa berakhir. • Perilaku Profesional Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.

Kewajiban untuk menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan profesi harus dipenuhi oleh anggota sebagai perwujudan tanggung jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan masyarakat umum.

• Standar Teknis Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar profesional yang relevan. Jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan dengan keahliannya dan dengan berhati – hati, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas. Standar teknis dan standar professional yang harus ditaati anggota adalah standar yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.

Internasional Federation of Accountants, badan pengatur, dan pengaturan perundang – undangan yang relevan. ATURAN DAN INTERPRETASI ETIKA Interpretasi Aturan Etika merupakan interpretasi yang dikeluarkan oleh Badan yang dibentuk oleh Himpunan setelah memperhatikan tanggapan dari anggota, dan pihak – pihak berkepentingan lainnya, sebagai panduan dalam penerapan Aturan Etika, tanpa dimaksudkan untuk membatasi lingkup dan penerapannya. Pernyataan Etika Profesi yang berlaku saat ini dapat dipakai sebagai Interpretasi dan atau Aturan Etika sampai dikeluarkannya aturan dan interpretasi baru untuk menggantikannya.

• Kepatuhan Kepatuhan terhadap Kode Etik, seperti juga dengan semua standar dalam masyarakat terbuka, tergantung terutama sekali pada pemahaman dan tindakan sukarela anggota. Di samping itu, kepatuhan anggota juga ditentukan oleh adanya pemaksaan oleh sesama anggota dan oleh opini publik, dan pada akhirnya oleh adanya mekanisme pemrosesan pelanggaran Kode Etik oleh organisasi, apabila diperlukan, terhadap anggota yang tidak menaatinya.

Jika perlu, anggota juga harus memperhatikan standar etik yang ditetapkan oleh badan pemerintahan yang mengatur bisnis klien atau menggunakan laporannya untuk mengevaluasi kepatuhan klien terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. • Fungsi Etika Sarana untuk memperoleh orientasi kritis berhadapan dengan berbagai moralitas yang membingungkan.

Etika ingin menampilkan ketrampilan intelektual yaitu ketrampilan untuk berargumentasi secara rasional dan kritis.

jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan

Orientasi etis ini diperlukan dalam mengabil sikap yang wajar dalam suasana pluralisme. Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Pelanggaran Etika: • Kebutuhan Individu • Tidak Ada Pedoman • Perilaku dan Kebiasaan Individu Yang Terakumulasi dan Tak Dikoreksi • Lingkungan Yang Tidak Etis • Perilaku Dari Komunitas Sanksi Pelanggaran Etika Sanksi Sosial adalah Skala relatif kecil, dipahami sebagai kesalahan yang dapat ‘dimaafkan’.

Sanksi Hukum adalah Skala besar, merugikan hak pihak lain. Jenis – jenis Etika • Etika umum yang berisi prinsip serta moral dasar. • Etika khusus atau etika terapan yang berlaku khusus. Tiga prinsip dasar perilaku yang etis Hindari pelanggaran etika yang terlihat remeh. Meskipun tidak besar sekalipun, suatu ketika akan menyebabkan konsekuensi yang besar pada profesi.

jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan

Pusatkan perhatian pada reputasi jangka panjang. Disini harus diingat bahwa reputasi adalah yang paling berharga, bukan sekadar keuntungan jangka pendek. Bersiaplah menghadapi konsekuensi yang kurang baik bila berpegang pada perilaku etis.

Mungkin akuntan akan menghadapi masalah karier jika berpegang teguh pada etika. Namun sekali lagi, reputasi jauh lebih penting untuk dipertahankan.

Kode Etik IAI adalah aturan perilaku etika akuntan dalam memenuhi tanggung jawab profesionalnya Kode Etik IAI meliputi: a. Prinsip etika akuntan b. Aturan etika akuntan; dan c.

Interpretasi aturan etika akuntan Kode Etik IAI dirumuskan oleh Badan yang khusus dibentuk untuk tujuan tersebut oleh Dewan Pengurus Nasional. Kode Etik IAI mengikat seluruh anggota IAI BAB VI ETIKA DALAM AUDITING Standar auditing berkaitan dengan kriteria atau ukuran mutu kinerjaaudit, dan berkaitan dengan tujuan yang hendak di capai dengan menggunakanprosedur yang ada. Standar auditing terdiri dari 10 kelompok yangdikelompokan ke dalam 3 baguan, diantaranya Standar Umum, StandarPekerja Lapangan, Standar Pelaporan.

Dalam banyak hal, standar-standartersebut saling berhubungan dan saling bergantung satu dengan lainnya.´materialitasµ dan ´resiko auditµ melandasi penerapan semua standar auditingterutama standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan.

Auditing adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi untuk menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi yang dimaksud dengan kriteria – kriteria yang dimaksud yang dilakukan oleh seorang yang kompeten dan independen.

Etika dalam auditing adalah suatu prosees yang sistematis untuk memperoleh serta mengevaluasi bukti secara objektif mengenai asersi-asersi kegiatan ekonomi, dengan tujuan menetapkan derajat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut, serta penyampaian hasilnya kepada pihak pihak yang berkepentingan.

Kepercayaan Publik Kepercayaan masyarakat umum atasindependensi sikap auditir independen sangat penting bagiperkembangan profesi akuntansi publik. Untuk menjadi independen,seorang auditor harus secara intelektual, jujur. Tanggung Jawab Auditor kepada Publik Ada 3 karakteristik dan hal-hal yang ditekankan untuk dipertanggungjawabkan oleh auditor kepada publik, antara lain: • Auditor harus memposisikan diri untuk independen, berintegritas, dan obyektif • Auditor harus memiliki keahlian teknik dalam profesinya.

• Auditor harus melayani klien dengan profesional dan konsisten dengan tanggung jawab mereka kepada publik. Tanggung jawab dasar auditor antara lain • Perencanaan, pengendalian dan pencatatanauditor perlu merencanakan, mengendalikan dan mencatat pekerjaannya.

• Sistem akuntasi, mengetahui dengan pasti sistem pencatatan dan pemrosesan transaksi serta menilai kecukupannya sebagai dasar penyusunan laporan keuangan. • Bukti audit, akan memperoleh bukti audit yang relevan untuk memberikan kesimpulan yang rasional. • Pengendalian intern Meninjau ulang laporan keuangan yang relevan Independensi auditor Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensidan sikap mental harus dipertahankan oleh auditorr.

Standar ini mengharuskan seorang auditor bersikap independen, yangartinya seorang auditor tidak mudah dipengaruhi, karena pekerjaanyauntuk kepentingan umum.

Profesi akuntansipublik telah menetapkan dalam kode etik Akuntansi Indonesia, agaranggota profesi menjaga dirinya dan kehilangan profesi menjagadirinya dari kehilangan presepsi independensi diri masyarakat Mengacu pada independensi dari auditor internal atau dari auditor eksternal dari pihak yang mungkin memiliki kepentingan keuangan dalam bisnis yang sedang diaudit.

Independensi membutuhkan integritas dan pendekatan objektif untuk proses audit. Konsep mengharuskan auditor untuk melaksanakan pekerjaan nya bebas dan secara obyektif. Peraturan Pasar Modal dan Regulator Mengenai Independensi Akuntan Publik Undang undang Pasar Modal No. 8 tahun 1995 memberikan pengertian pasar modal yang lebih spesifik yaitu, “kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek”.

Pasar modal memiliki peran yang sangat besar terhadap perekonomian Indonesia. institusi yang bertugas untuk melakukan pembinaan, pengaturan, dan pengawasan sehari-hari kegiatan pasar modal di Indonesia adalah Badan Pengawas Pasar Modal atau Bapepam.

Bapepam mempunyai kewenangan untuk memberikan izin, persetujuan, pendaftaran kepada para pelaku pasar modal, memproses pendaftaran dalam rangka penawaran umum, menerbitkan peraturan pelaksanaan dari perundang-undangan di bidang pasar modal, dan melakukan penegakan hukum atas setiap pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal. Salah satu tugas pengawasan Bapepam adalah memberikan perlindungan kepada investor dari kegiatan-kegiatan yang merugikan seperti pemalsuan data dan laporan keuangan, window dressing,serta lain-lainnya dengan menerbitkan peraturan pelaksana di bidang pasar modal.

Dalam melindungi investor dari ketidakakuratan data atau informasi, Bapepam sebagai regulator telah mengeluarkan beberapa peraturan yang berhubungan dengan kereablean data yang disajikan emiten baik dalam laporan tahunan maupun dalam laporan keuangan emiten. Ketentuan-ketentuan yang telah dikeluarkan oleh Bapepam antara lain adalah Peraturan Nomor: VIII.A.2/Keputusan Ketua Bapepam Nomor: Kep-20/PM/2002 tentang Independensi Akuntan yang Memberikan Jasa Audit Di Pasar Modal.

CONTOH KASUS • Perilaku Etika Dalam Prosefi Akuntansi Suami Holly Angela Auditor Utama BPK TEMPO.CO, Jakarta – Suami Holly Angela, perempuan yang tewas diduga dibunuh di Apartemen Kalibata City, merupakan Auditor Utama Badan Pemeriksa Keuangan. Sumber Tempo di BPK membenarkan bahwa Holly merupakan istri dari Gatot Supriantono, Auditorat Keuangan Negara I BPK.

“Iya, dia (Gatot) auditor,” ujarnya melalui pesan pendek, Rabu, 2 Oktober 2013. Sumber Tempo juga membenarkan bahwa Gatot beberapa hari ini sedang di Australia. “Iya, sedang bertugas,” ujarnya. Hal ini senada dengan yang dikatakan beberapa kerabat Holly saat dijumpai di RSCM bahwa kepulangan jenazah Holly menunggu kedatangan suaminya yang sedang bertugas di negeri Kanguru tersebut. Gatot diketahui menikah dengan Holly sekitar 2 tahun yang lalu.

Menurut sumber Tempo, ini merupakan pernikahan yang kedua bagi Gatot. “Istri pertamanya meninggal 2 tahun lalu,” ujarnya. Untuk Holly, pernikahannya dengan Gatot juga jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan kedua kalinya. Holly memiliki satu putri bernama Caca dari hasil pernikahan dengan suaminya yang pertama. Gadis remaja ini tinggal di Salatiga.

Sementara Holly dan Gatot tinggal di Tower Ebony kamar E 09 AT, Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan. Sebelumnya, dua orang ditemukan tewas di Apartemen Kalibata City, Kalibata, Jakarta Selatan, pada Senin dinihari, 30 September 2013. Seorang korban diketahui bernama Holly Angela, 36 tahun, dan seorang pria yang belum diketahui identitasnya.

Pria tersebut diduga melompat dari tower yang sama dengan penemuan Holly Angela. Diduga ada cekcok antara kedua korban sebelum peristiwa ini terjadi.

Sumber: http://metro.tempo.co/read/news/2013/10/02/064518353/suami-holly-angela-auditor-utama-bpk • Kode Etik Profesi Akuntansi Kasus Enron Enron merupakan perusahaan dari penggabungan antara InterNorth (penyalur gas alam melalui pipa) dengan Houston Natural Gas. Kedua perusahaan ini bergabung pada tahun 1985. Bisnis inti Enron bergerak dalam industri energi, kemudian melakukan diversifikasi usaha yang sangat luas bahkan sampai pada bidang yang tidak ada kaitannya dengan industri energi.

Diversifikasi usaha tersebut, antara lain meliputi future transaction, trading commodity non energy dan kegiatan bisnis keuangan.Kasus Enron mulai terungkap pada bulan Desember tahun 2001 dan terus menggelinding pada tahun 2002 berimplikasi sangat luas terhadap pasar keuangan global yang di tandai dengan menurunnya harga saham secara drastis berbagai bursa efek di belahan dunia, mulai dari Amerika, Eropa, sampai ke Asia.

Enron, suatu perusahaan yang menduduki ranking tujuh dari lima ratus perusahaan terkemuka di Amerika Serikat dan merupakan perusahaan energi terbesar di AS jatuh bangkrut dengan meninggalkan hutang hampir sebesar US $ 31.2 milyar. Dalam kasus Enron diketahui terjadinya perilaku moral hazard diantaranya manipulasi laporan keuangan dengan mencatat keuntungan 600 juta Dollar AS padahal perusahaan mengalami kerugian.

Manipulasi keuntungan disebabkan keinginan perusahaan agar saham tetap diminati investor, kasus memalukan ini konon ikut melibatkan orang dalam gedung putih, termasuk wakil presiden Amerika Serikat. Sumber: https://uwiiii.wordpress.com/2009/11/14/kasus-enron-dan-kap-arthur-andersen/ • Etika Audit Gayus divonis 6 tahun penjara dan denda Rp1 Miliar Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menjatuhkan vonis enam tahun penjara dan denda sebesar satu miliar rupiah kepada Gayus Tambunan.

Hakim Suhartoyo mengatakan Gayus terbukti telah melakukan tindak pidana korupsi dan pencucian uang. “Terdakwa Gayus Tambunan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi yang merupakan gabungan dari beberapa perbuatan yang berdiri sendiri dan secara berlanjut dan pencucian uang,” kata majelis hakim dalam amar putusannya, Kamis (01/03). Gayus juga dikenai hukuman membayar pidana denda sebesar Rp1 Miliar.

“Apabila denda itu tidak dibayar, maka diganti pidana kurungan selama 4 bulan”. Gayus terbukti menerima uang Rp925 juta dari Roberto Santonius terkait kepengurusan gugatan keberatan pajak PT Metropolitan Retailmart dan menerima 3,5 juta dollar Amerika dari Alif Kuncoro terkait kepengurusan pajak tiga perusahaan Grup Bakrie, yakni PT Arutmin, PT Kaltim Prima Coal, dan PT Bumi Resource.

Namun vonis ini jauh lebih rendah dari tuntutan yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum yaitu delapan jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan dan denda satu miliar rupiah.

Gayus sejauh ini menyatakan pikir-pikir terhadap vonis yang dijatuhkannya hari ini. “Saya akan diskusikan dulu,” kata Hotma Sitompul, kuasa hukum Gayus, usai sidang. Jaksa penuntut jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan juga belum menyikapi vonis ini.

“Kami akan gunakan waktu untuk pikir-pikir,” ucap jaksa. Vonis yang dijatuhkan oleh Hakim Hartoyo merupakan vonis ketiga yang diterima oleh Gayus dalam serangkaian kasus suap dan korupsi sehingga total dia harus menjalani hukuman selama 20 tahun penjara.

jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan

Sumber: http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2012/03/120301_vonisgayus• Pengertian Etika Profesi Akuntansi • Fungsi Etika Akuntansi • Etika Profesi Akuntansi Menurut IAI • 1. Prinsip Integritas • 2. Objektivitas • 3. Kompetensi Dan Kehati-Hatian Profesional • 4. Kerahasiaan • 5. Perilaku Profesional • 6. Tanggung Jawab profesi • 7. Standar Teknis • 8. Kepentingan Publik • Share this: Pengertian Etika Profesi Akuntansi Etika profesi akuntansi adalah bagian dari ilmu etika bisnis dan etika manusia.

Etika profesi akuntansi merupakan sifat, karakter dan moral yang harus diterapkan pada akuntansi. Etika akuntansi telah diperbaharui dan diperbaiki untuk menjadi pedoman bagi para pelaku akuntansi. Etika akuntansi juga berfungsi untuk mencegah terjadinya kecurangan dalam akuntansi. Fungsi Etika Akuntansi Seorang akuntan atau auditor harus memiliki kebiasaan dan prinsip yang baik. Profesi yang mereka jalani sangat berat tanggung jawabnya.

Hasil pekerjaannya dibutuhkan oleh para pihak pemakai informasi akuntansi dan kepentingan publik lain untuk membuat keputusan dalam bisnis. Beberapa fungsi etika akuntansi aalah: • Memberikan laporan dan menyajikan data yang benar tentang perusahaan. • Membantu penegakkan hukum. • Mencegah adanya kecurangan akuntansi.

• Mengajarkan tentang tanggung jawab dan kewajiban moral kepada akuntan dan auditor. • Mengenali masalah akuntansi yang berkaitan dengan etika. Etika Profesi Akuntansi Menurut IAI IAI dalam Exposure Draft, Kode Etik Akuntan Profesional, menyebutkan prinsip dasar etika profesi akuntansi. Berikut uraiannya. 1. Prinsip Integritas Prinsip integritas ini mewajibkan setiap akuntan (professional) bersikap lugas dan jujur dalam semua hubungan professional dan hubungan bisnisnya.

Artinya integritas adalah berterus terang dan selalu mengatakan yang sebenarnya. Akuntan professional diharuskan tidak boleh terkait dengan pernyataan resmi, laporan, komunikasi atau informasi lain ketika akuntan meyakini bahwa informasi tersebut terdapat: • Kesalahan material atau pernyataan yang menyesatkan. • Informasi atau pernyataan atau yang dilengkapi secara sembarangan. • Penghilangan atau pengaburan informasi yang seharusnya diungkapkan sehingga akan menyesatkan. Saat meyadari bahwa dirinya dikaitkan dengan informasi semacam tersebut,maka akuntan professional mengambil keputusan dan langkah-langkah yang diperlukan agar tidak dikaitkan dengan informasi tersebut.

Baca Juga: Pemakai Informasi Akuntansi (Internal dan Eksternal) 2. Objektivitas Setiap anggota diharuskan menunjukkan objektivitasnya dalam berbagai situasi dalam menjalankan kewajibannya dan menghidari yang dapat jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan pertimbangan professional atau bisnisnya.

Akuntan professional mungkin dihadapkan pada situasi yang bisa saja mengganggu objektivitasnya, namun semua anggota tidak akan memberikan layanan professional jika suatu keadaan atau hubungan menyebabkan terjadi bias atau dapat memberi pengaruh yang berlebihan pada pertimbangan profesionalnya. 3. Kompetensi Dan Kehati-Hatian Profesional Prinsip kompetensi dan kehati hatian professional mengharuskan setiap anggotanya Akuntan Profesional untuk : • Memelihara pengetahuan dan keahlian professional yang dibutuhkan untuk menjamin pemberi kerja (klien0 menerima layanan yang professional dan kompeten.

• Bertindak tekun dan cermat sesuai teknis dan professional yang berlaku ketika memberikan jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan professional. “ Jasa profesional yang berkompeten mensyaratkan pertimbangan yang cermat dalam menerapkan pengetahuan serta keahlian profesional untuk jasa yang diberikan.” Kompetensi dapat dibagi menjadi dua tahap yaitu: • Pencapaian kompetensi professional • Pemeliharaan kompetensi professional Pemeliharaan kompetensi profesional memerlukan kesadaran yang berkelanjutan dan pemahaman atas perkembangan teknis, professional serta bisnis yang relevan.

Program pengembangan yang berkelanjutan membuat akuntan dapat mengembangkan dan memelihara kemampuanyya untuk bertindak secara kompeten dalam lingkungan professional. Ketekunan yang dimaksud meliputi tanggung jawab untuk bertindak sesuai penugasan, berhati-hati, lengkap dan tepat waktu.

Seorang akuntan professional mengambil langkah-langkah yang rasional untuk menjamin bahwa anggota yang bekerja dibawah kewenangannya telah mendapatkan pelatihan serta pengawasan yang memadai.

4. Kerahasiaan Prinsip kerahasiaan mengharuskan setiap akuntan untuk tidak melakukan hal berikut ini. • mengungkapkan informasi rahasia yang diperolehnya dari hubungan professional dan hubungan bisnis pada pihak diluar kantor akuntan atau organisasi tempat akuntan bekerja tanpa diberikan kewenangan yangmemadai dan spesifik, terkecuali jika mempunyai hak dan kewajiban secara hukum atau professional untuk mengungkapkan kerahasiaan tersebut. • Menggunakan informasi rahasia untuk keuntungan pribadi atau pihak ketiga.

Informasi yang diperoleh baik melalui hubungan professional maupun hubungan bisnis. Kode etika profesi akuntansi mewajibkan seluruh akuntan untuk melakukan hal-hal yang berkaitan dengan prinsip kerahasiaan berikut ini • Akuntan professional menjaga kerahasian informasi termasuk dalam lingkungan sosialnya, sekaligus waspada terhadap kemungkinan pengungkapan yang tidak disengaja kepada keluarga atau rekan bisnis terdekat.

• Menjaga kerahasiaan informasi yang diberikan / diungkapkan oleh pemberi kerja (klien). • Menjaga kerahasiaan informasi di dalam kantor akuntan atau organisasi di tempatnya bekerja. • Akuntan professional harus mengambil langkah yang dibutuhkan untuk memastikan, bahwa staf dibawah pengawasannya dan orang yang memberi saran dan bantuan professional serta menghormati kewajiban akuntan professional untuk menjaga kerahasiaan informasi.

• Kewajiban untuk mematuhi semua prinsip kerahasiaan terus dipertahankan, bahkan saat setelah berakhirnya hubungan antara klien dan akuntan. Ketika akuntan mendapat klien baru, berhak menggunakan pengalaman dari sebelumnya. Namun demikian akuntan tetap tidak diperbolehkan mengungkapkan setiap informasi rahasia yang diperoleh dari hubungan professional atau bisnis sebelumnya.

jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan

Baca Juga: Prospek Kerja Jurusan Akuntansi dan Gaji 5. Perilaku Profesional Prinsip perilaku professional mewajibkan setiap akuntan professional mematuhi ketentuan hukum serta peraturan yang berlaku dan menghindari setiap perilaku yang dapat mengurangi kepercayaan pada profesi. Dalam upaya memasarkan dan mempromosikan diri dan pekerjaan, akuntan professional sangat tidak dianjurkan mencemarkan nama baik profesi.

Akuntan wajib mempunyai sikap jujur dan dapat dipercaya, serta tidak melakukan hal-hal diantaranya: • Mengakui dengan berlebihan mengenai jasa yang ditawarkan, pengelaman yang diperoleh, kualifikasi yang dimiliki. • Membuat referensi yang menjatuhkan atau membuat perbandingan tanpa bukti kepada pekerjaan pihak lain. Sumber lain, Mulyadi menambahkan 6. Tanggung Jawab profesi Seorang Akuntan dalam melaksanakan tanggungjawabnya sebagai professional, harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan professional terhadap semua kegiatan yang dilaksanakannya.

Anggota memiliki tanggungjawab kepada pemakai jasa professional mereke dan tanggungjawab untuk bekerja sama dengan sesama anggota demi mengembangkan profesi akuntansi serta memelihara kepercayaan masyarakat. Semua usaha tersebut diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi. 7. Standar Teknis Setiap anggota akuntan professional dalam melaksanakan jasa profesionalnya harus sesuai dengan standar ptofesional yang relevan. Keahlian anggota akuntan professional berkewajiban untuk melaksakan tugas yang diterima dari pemberi kerja dengan prinsip integritas dan objektivitas.

Standar yang harus ditaati setiap anggota adalah standar yang dikeluarkan jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan IAI (Ikatan Akuntansi Indonesia), International Federation Of Accountants, badan jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan dan undang-undang yang relevan dengan profesi akuntan.

Baca Juga: Sejarah Akuntansi di Indonesia 8. Kepentingan Publik Anggota akuntan professional berkewajiban untuk bertindak dalam rangka pelayanan kepada public, menghormati kepercayaan publik serta menunjukkan sikap profesionalisme.

Salah satu ciri dari profesi adalah penerimaan tanggung jawab kepada publik. Profesi akuntan juga memegang peranan penting di masyarakat. Arti public dari profesi akuntan meliputi klien, pemerintah, pemberi kredit, pegawai. Investor, dunia bisnis dan keuangan dan pihak-pihak yang bergantung kepada integritas dan obyektivitas akuntan dalam memlihara berjalannya fungsi bisnis dengan tertib.

Tugas terpenting setiap anggota adalah menjaga dan mempelihara kepercayaan publik terhadap profesi akuntan. Demikianlah pembahasan tentang Pengertian Etika Profesi Akuntansi Serta 8 Prinsip Dasar Kode Etik Lengkap.

Semoga bermanfaat bagi pembaca. Sekian dan terima kasih. Share this: • • • • • Posted in Akuntansi Tagged bidang bidang profesi akuntansi, cakupan etika profesi dalam bidang akuntansi, ciri ciri profesi akuntansi, contoh profesi akuntansi, etika dalam akuntansi, etika profesi akuntansi, etika profesi akuntansi pdf, etika profesi akuntansi ppt, etika profesi seorang akuntan, jabatan akuntansi, jabatan bidang akuntansi, macam-macam profesi akuntansi, makalah etika profesi akuntansi, mengapa ada kode etik dalam sebuah profesi, modul etika profesi akuntansi, pengertian etika profesi akuntan, pengertian profesi akuntan, pengertian profesi teknisi akuntansi, prinsip etika profesi akuntansi, prinsip-prinsip standar asumsi-asumsi dan praktik akuntansi, sebutkan etika profesi akuntansi, tujuan profesi akuntansi
Akuntan mempunyai peranan besar dalam perusahaan karena bersinggungan langsung dengan keuangan perusahaan.

Bila terjadi kesalahan dalam pencatatan keuangan, maka perusahaan akan rugi besar. Dalam hal ini, akuntan harus mempertanggungjawabkan pekerjaannya. Besar sekali bukan risiko dan hal yang dihadapi? Mari gali lebih dalam mengenai profesi yang terkenal bergelimang angka melalui artikel di bawah ini!

Apa itu Akuntan? Akuntan adalah seseorang yang memonitor dan mencatat alur keuangan yang ada pada perusahaan atau organisasi. Semua alur keuangan dan transaksi harus diverifikasi validitasnya demi keuangan organisasi yang sehat sesuai ketentuan perusahaan.

Pencatatan dan perhitungan data keuangan harus dilakukan secara runut dan teliti untuk menghindari kesalahan yang berakibat fatal. Karena profesi ini membutuhkan tanggung jawab besar dan masih dibutuhkan di Indonesia, terdapat suatu organisasi yang menaunginya. Di Indonesia, profesi akuntan seluruh Indonesia dinaungi oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Organisasi ini didirikan pada tahun 1957 dengan tujuan untuk membimbing perkembangan akuntansi di Indonesia serta meningkatkan mutu kualitas pekerjaan.

Tugas dan Tanggung Jawab Akuntan Apa saja tugas dan tanggung jawab besar yang diemban sang juru kunci keuangan perusahaan, ya? Mari simak uraian singkatnya berikut ini! • Mencatat semua jelaskan yang dimaksud prinsip objektivitas dalam etika profesi akuntan keluar masuk dalam perusahaan • Melakukan pembukuan transaksi dan menyusunnya dalam laporan keuangan • Memverifikasi laporan keuangan dan jumlah pajak total yang dihitung staf keuangan • Memeriksa dan mengantisipasi risiko kecurangan dalam keuangan • Menganalisis dan menyusun informasi audit rutin keuangan • Membentuk dan merencanakan pengendalian indikasi kecurangan dalam transaksi • Mengevaluasi laporan dan anggaran perusahaan • Memberikan konsultasi riset keuangan • Melakukan pelatihan akuntansi Skill Wajib yang Harus Dimiliki Dalam menjadi seorang akuntan yang handal dan profesional, dibutuhkan beberapa skill yang wajib dimiliki.

Tanpa skill tersebut kegiatan pencatatan dan perhitungan keuangan tidak akan berjalan lancar. Skill tersebut antara lain: Teliti Dengan teliti seseorang dapat mengerjakan sesuatu dengan baik dan benar. Ketelitian adalah salah satu faktor seseorang agar tidak terjadi kesalahan hitung maupun pencatatan.Satu kesalahan saja dalam keuangan akan menyebabkan hal yang sangat fatal. Hal ini dikarenakan adanya efek domino yang dihasilkan dari pencatatan tersebut.

Misalkan seseorang melakukan kesalahan input keuangan yang mengakibatkan terjadinya salah hitung dalam laporan keuangan. Laporan keuangan tersebut akan diteruskan kepada pihak manajemen perusahaan untuk dibuat keputusan strategis mengenai bisnis perusahaan. Kemudian, strategi tersebut akan diimplementasikan kepada perusahaan. Strategi yang tidak tepat tersebut tentunya tak akan cocok dengan fakta yang sesungguhnya terjadi sehingga lagi-lagi bisnis perusahaan akan terganggu.

Berpikir Sistematis Berpikir sistematis memungkinkan seseorang menyusun dan menghitung skema keuangan dengan urut dan teratur. Pola pikir sistematis akan mempermudah dalam penyelesaian perhitungan keuangan perusahaan yang rumit dan melibatkan banyak transaksi. Baca Juga : Tugas Telemarketing dan Skill yang Harus dimiliki Menghitung Karena berhubungan langsung dengan uang dan angka, tentu sudah menjadi kewajiban untuk menghitung dengan lancar.

Bahkan seseorang yang terbiasa menghitung akan terbiasa dan melakukan perhitungan secara otomatis “di luar kepala”. Seluruh perhitungan akan membawa kepada target dari hasil pengeluaran biaya untuk peningkatan bisnis. Semua skill di atas harus dikuasai secara seimbang sehingga menciptakan kualitas finansial perusahaan yang baik. Selain kemampuan di atas, ada hal lain yang perlu diperhatikan yaitu kejujuran.

Tanpa kejujuran, akuntan akan mempunyai dorongan untuk melakukan manipulasi data dan korupsi atas dana keuangan perusahaan. Maka perusahaan pun akan merugi. Kode Etik Akuntan Melibatkan kejujuran membuat akuntan memiliki pedoman kode etik yang harus dipelajari dan dipegang teguh dalam menjalankan profesi. Pedoman dan kode etik masing-masing negara mempunyai kode etik yang berbeda dan disusun oleh organisasi menaungi profesi tersebut. Di Indonesia, pedoman kode etik akuntan disusun oleh IAI.

Kode etik yang dimaksud memuat kaidah yang menjadi landasan bagi kegiatan profesi dan membangun kepercayaan antara pihak yang terkait, seperti perusahaan, organisasi, dan masyarakat, Diharapkan pedoman tersebut akan menjadi pedoman dan landasan untuk beretika dan memenuhi tanggung jawab pekerjaan.

Kode etik yang dirancang oleh IAI yaitu: • Tanggung jawab profesi, selalu menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukan. • Kepentingan publik, semua tindakan wajib berada dalam kerangka pelayanan publik, kepercayaan publik, dan menunjukkan komitmen atas profesionalisme.

• Integritas dalam rangka memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas tinggi. • Objektivitas, semua kegiatan perhitungan dan pengolahan harus menjaga objektivitas, netral, dan tak terpengaruh kepentingan tertentu. • Kompetensi dan kehati-hatian. • Kerahasiaan dan menjaga informasi yang diperoleh selama melakukan perhitungan dan pengolahan • Standar teknis, melaksanakan jasa sesuai standar teknis dan standar profesional yang berlaku Jenis Akuntan Profesi akuntan cukup rumit hingga menghasilkan berbagai jenis tergantung di sektor atau tempat bekerja.

Di bawah ini adalah jenis-jenis nya: Akuntan Publik Akuntan publik biasanya memiliki kantor sendiri dan menawarkan jasanya kepada masyarakat umum. Jasa yang ditawarkan antara lain perpajakan, penyusunan sistem, verifikasi kewajaran laporan keuangan, konsultasi manajemen dan penyusunan laporan keuangan. Pemerintah Seperti namanya, sudah seorang profesi ini berkutat di kantor pemerintah seperti Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Tugas-tugas yang diemban antara lain melakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap aliran keuangan negara serta melakukan perancangan sistem akuntansi untuk pemerintah. Pendidik Jika dua profesi di atas lebih condong kepada profesi sebagai praktisi, maka profesi yang satu ini berfokus di dunia pendidikan.

Seorang pendidik bertugas mengajar dan menyusun kurikulum pendidikan akuntansi. Selain itu, melakukan penelitian dan pengembangan ilmu akuntansi juga menjadi bagian dari tanggung jawab yang harus diemban. Baca Juga : Tugas dan Syarat Menjadi Merchendiser Internal Profesi akuntan selanjutnya merupakan profesi yang ditemukan pada perusahaan. Akuntan internal menduduki suatu jabatan baik staf hingga kepala bagian akuntansi atau direktur keuangan.

Tugasnya antara lain menyusun laporan keuangan hingga menyusun anggaran perusahaan. Syariah Profesi ini tergolong baru dan masih jarang ditemukan di Indonesia. Seorang akuntan syariah biasanya dipekerjakan pada perusahaan yang berpatokan kepada hukum syariah Islam. Karena berpatokan pada syariah, standar kerjanya sesuai dengan Standar Akuntansi Syariah dan juga berpegang pada keputusan MUI. Pajak Salah satu jenis yang saat ini mulai diterapkan oleh perusahaan adalah akuntan pajak.

Mereka adalah orang yang hanya berfokus pada pencatatan dan pembukuan pajak perusahaan. Tugasnya adalah mengatur keuangan yang akan dilaporkan kepada Direktorat Jenderal Pajak.

Itulah pembahasan mengenai profesi akuntan, profesi ini merupakan pekerjaan yang cukup penting untuk menjaga keuangan perusahaan tetap sehat dan berjalan dengan benar. Bagaimana apakah anda berminat menjadi akuntan? Salah satu pekerjaan yang terdapat pada bidang penjualan adalah sales representative.

Pada dasarnya, menjadi seorang sales representative sama seperti pekerjaan sales lainnya yaitu melakukan atau meningkatkan penjualan yang ada di dalam sebuah perusahaan. Meski begitu, terdapat beberapa perbedaan pada setiap pekerjaan tersebut. Maka dari itu. Memiliki seorang pemimpin yang kompeten merupakan suatu keharusan dalam membangun perusahaan. Salah satunya yaitu seorang team leader yang mampu memimpin dan membimbing timnya untuk melakukan hasil kinerja yang optimal.

Namun, seorang leader juga harus diimbangi dengan anggota tim yang baik juga. Apabila, salah satu dari.

Prinsip Dasar Etika Seorang Akuntan




2022 www.videocon.com