Makalah bahasa indonesia tentang pendidikan

makalah bahasa indonesia tentang pendidikan

Selain itu, saya hanyalah seorang manusia biasa menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, baik dari segi tata bahasa, susunan kalimat maupun isi. Oleh sebab itu dengan segala kerendahan hatisaya selaku penyusun menerima segala kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Sehingga dalam melaksanakan prinsip penyelenggaraan pendidikan harus sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu; mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

makalah bahasa indonesia tentang pendidikan

Di Indonesia, proses pendidikan digunakan evaluasi, akreditasi dan sertifikasi untuk memantau perkembangan pendidikan. Evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

makalah bahasa indonesia tentang pendidikan

Salah satu bentuk evaluasi pendidikan adalah dengan makalah bahasa indonesia tentang pendidikan ujian nasional baik di jenjang SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA, yang dapat digunakan sebagai tolak ukur kualitas pendidikan. Pendidikan adalah proses belajar mengajar terhadap peserta didik, agar memiliki kecerdasan dan berkarakter yang baik, baik untuk diri sendiri maupun untuk masyarakat.

Sebuah pendidikan biasanya diajarkan oleh seorang guru, dan biasanya lokasinya disekolah, namun sebenarnya pendidikan tak hanya dapat diberikan disekolah saja, pendidikan dapat kita dapatkan dimana saja. Guru merupakan seseorang yang perlu di gugu dan ditiru, artinya apabila kita menjadi sesosok guru, kita harus bersikap yang pantas makalah bahasa indonesia tentang pendidikan murid-murid dapat mencontohnya dengan baik.

Mulai dari sikap terhadap murid, cara berbicara, sampai cara berpakaian, haruslah yang sesuai. Karena guru menjadi sorotan dikelas dan juga memiliki peran penting disekolah, jadi guru harus memiliki kompetensi standar yang baik. Pendidikan di Indonesia saat ini mutunya masih sangat tertinggal jika dibandingkan dengan mutu pendidikan di luar negri.

Seperti yang kita ketahui, Pendidikan di Indonesia terkesan berantakan. Masih banyak masyarakat di Indonesia yang masih tidak mengerti pentingnya pendidikan, Sehingga mayoritas masyarakat di Indonesia menyepelekan pendidikan.

Padahal jika ditilik lebih jauh lagi, pendidikan merupakan salah satu indeks pembangunan dan merupakan elemen pengukur maju atau tidaknya sebuah negara. Kualitas pendidikan yang rendah yang mengakibatkan matinya kreativitas anak didik pasca sekolah dan jatuhnya rasa percaya diri siswa didik ketika menghadapi dunia kerja yang keras. Lulusan sekolah sering kali justru menjadi anak cengeng dengan sifat ABG-nya yang kental, dan semakin jauh dari realitas masyarakat di sekitarnya.

Di samping persoalan mendasar tersebut dan yang telah disebutkan diatas, masalah lain yang mengemuka adalah relatif rendahnya kesejahteraan guru, minimnya sarana Pendidikan Dasar, dan terbatasnya biaya operasional pendidikan. Fakta di Indonesia, Pendidikan Dasar mendapat tekanan khusus bila dibandingkan dengan jenjang pendidikan lain. menurut para pakar pendidikan, Pendidikan Dasar ini yang paling parah.

Sarananya saja paling banyak rusak dibandingkan SLTP dan SLTA. Belum lagi menyangkut masalah pelaksanaan proses belajarnya. Faktor-faktor penyebab munculnya permasalahan ini yang paling mendasar ialah, adanya perbedaan konsep materi pengajaran, ada yang hanya menggunakan dasar filsafat, psikologi, dan sosiologi, ada pula yang menggunakan dasar politi, ekonomi, IPTEKS, dan sebagainya.

Factor berikutnya yaitu perbedaan pemahaman, ada yang lebih menekankan tentang tingkah laku siswa tersebut, ada pula yang memperhatikan pemahaman materi siswa tersebut.

Diluar negri, mereka telah memanfaatkan IPTEKS sebagai sarana prasarana pendidikan, sedangkan di Indonesia baru saja memulai hal tersebut, seperti contohnya, cara belajar mengajar saat ini tak hanya dilakukan di ruang kelas saja, tapi dapat dilakukan dirumah, dengan cara pembelajaran video di internet. Atau contoh seperti penerapan UNBK, hal tersebut juga memunculkan sebuah masalah, dimana daerah daerah terpencil yang tidak menjangkau adanya listrik, mereka kesusahan untuk melaksanakan program tersebut.

Untuk menyeimbangi pembelajaran dimana menggunakan otak kiri, kita juga perlu menggunakan otak kanan dimana kita perlu mempelajari kesenian, namun disini menimbulkan sebuah masalah, yaitu, apabila seni adalah sesuatu yang penting, mengapa tak dimasukkan kedalam ujian nasional? Bahkan disetiap sekolah pun jarang yang memiliki peralaatan kesenian, karena harga peralatan tersebut relative mahal.

Berkembangnya penduduk yang semakin meningkat, tentunya semakin banyak anak-anak yang mendaftar ke sekolah-sekolah, sementara penyebaran penduduk juga kurang merata, dimana perkotaan sangatlah padat penduduk, sehingga sarana prasana di sekolah pada perkotaan kurang mencukupi, sedangkan didaerah terpencil, mereka sepi pendaftar sekolah.

makalah bahasa indonesia tentang pendidikan

Pemerintah saat ini sedang kekurangan dana untuk membiayai pendidikan di Indonesia, rakyat pun tak semua mampu mendaftarkan anaknya ke bangku sekolah. Dari sini mungkin terdapat penyelewengan dana dari pemerintah untuk kebutuhan pribadi pihak sekolah yang sehingga tidak tersampaikan ke para siswa yang membutuhkan.

Jikalau dana atau sumber daya sudah tersedia, tapi kurangnya pengelolaan sistem manajemen dapat menyebabkan kegiatan pembelajaran tidak berjalan dengan baik.Sistem manajemen dikatakan kurang baik salah satu contohnya disebabkan oleh kurikulum yang tidak berlandaskan dengan jelas dan sering bergonta ganti. Masalah pendidikan sebenarnya bukan hanya pekerjaan rumah pemerintah saja, tetapi juga sebuah pekerjaan rumah seluruh masyarakat Indonesia.

Pemerintah sudah melakukan usaha terbaiknya dengan mengganti kurikulum yang dinilai kurang efektif, memperbaikinya, hingga mengganti model pembelajarannya. Itu merupakan sebuah usaha nyata yang harus kita hargai. Kita pun harus ikut serta dalam usaha pembangunan citra pendidikan di Indonesia.

Kita harus membandingkan sistem pendidikan di Indonesia dengan sistem pendidikan negara maju. Agar kita merasa bahwa pendidikan di Indonesia masih banyak kekurangannya dan agar semakin semangat memperbaikinya.

Baik atau buruknya kualitas murid, merupakan hasil dari pembawaan guru. Murid akan semangat jika gurunya semangat dan murid akan malas jika gurunya malas. Dengan perbandingan-perbandingan dari berbagi sudut dan dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan, diharapkanmutu pendidikan di Indonesia dapat menjadi lebih baik dan terus berkembang. Tanpa pendidikan dan tanpa penyesuaian dengan perkembangan zaman, negara Indonesia akan lebih jauh tertinggal dari negara-nagara maju lainnya.

Karena sesungguhnya rakyat yang semakin cerdas, hari sekarang dan hari depan akan semakin lebih bahagia dan berguna. Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan sebagainya.

Pendidikan karakter dapat mengembangkan kepribadian seseorang untuk menjadi lebih baik, sehingga penting untuk membangun jati diri sebuah bangsa. Untuk menuju bangsa yang berkarakter kita perlu untuk memberikan pendidkan karakter. Bahkan Presiden Ir. Soekarno sempat berkata, “Tidak akan mungkin membangun sebuah negara kalau pendidikan karakternya tidak dibangun”. Hal tersebut menandakan betapa pentingnya pendidikan karakter atau pendidikan moral dalam membangun jati diri sebuah bangsa.

Disaat jam pelajaran berlangsung, tak apa apabila kita tidak melulu memberikan materi yang membosankan, kita dapat menyelingi dengan bercerita/literasi yang dapat mencontohkan karakter seseorang yang baik. Karena terkadang para siswa teratrik dengan sebuah cerita apalagi yang dapat memotivasi mereka. Mungkin hal ini sudah banyak dilakukan diberbagai sekolah, yaitu disaat pagi hari atau diawal masuk sekolah, para guru berbaris didepan gerbang,dan para murid bersalaman kepada guru satu persatu, secara tidak langsung mereka mengajarkan kepada muridnya untuk terbiasa dengan bersalaman, adanya sopan santun, dan hormat kepada orang yang lebih tua.

Semisal kita mengajar seorang siswa SMA, yang tentunya lagi hangat-hangatnya soal pacaran, mungkin kita dapat menunjukkan video tentang tidak baiknya berpacaran, baik dari segi agama, dari penglihatan orang lain, dan tidak baik untuk diri sendiri, semisal dapat mengakibatkan kehamilan diluar nikah, timbulnya fitnah, bahkan dosa besar yang akan ditanggung oleh orang tua dan juga mendapatkan siksaan yang berat untuk diri sendiri kelak di akhirat.

• Pendidikan di Indonesia saat ini mutunya masih sangat tertinggal jika dibandingkan dengan mutu pendidikan di luar negri. Kualitas pendidikan yang rendah yang mengakibatkan matinya kreativitas anak didik pasca sekolah dan jatuhnya rasa percaya diri siswa didik ketika menghadapi dunia kerja yang keras.

• Solusi untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia ini merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat di Indonesia ini, sebenarnya banyak inovasi untuk meningkatkan mutu pendidikan, namun sayangnya tidak semua orang sadar untuk membantu berjalannya inovasi tersebut.

Dan juga pada pendidikan di Indonesia ini seorang anak perlu memiliki karakter yang baik. Contoh Makalah Pendidikan – Makalah merupakan sebuah karya tulis ilmiah yang sering dibuat oleh para pelajar maupun mahasiswa untuk memenuhi tugas dari guru. Makalah dituangkan dengan bahasa yang baik dan benar dan sesuai makalah bahasa indonesia tentang pendidikan aturan EYD.

Makalah sebenarnya bentuk kecil dari karya tulis ilmiah, namun dalam segi penulisan makalah harus sesuai kaidah-kaidah yang berlaku. Makalah dibentuk secara sistematis dengan beberapa elemen dasar yaitu cover atau halaman muka, judul, kata pengantar, daftar isi, bab pendahuluan, bab isi, bab penutup dan juga daftar pustaka.

Tujuan setiap makalah berbeda-beda sesuai dengan tema yang diangkat, contoh makalah tentang blog akan berbeda tujuannya dengan makalah tentang perbankan syariah. Contoh Penulisan Makalah Pendidikan yang Baik Kumpulan Contoh Makalah Nah, pada kali ini penulis akan mengangkat tentang pendidikan atau bertemakan pendidikan. Seperti halnya diatas, bahwa makalah tema pendidikan memiliki tujuan tersendiri untuk mengangkat pendidikan. Dibawah ini ada contoh makalah tentang pendidikan yang dapat menjadi referensi Anda yang akan ingin membuat makalah.

Judul makalah yang diangkat yaitu Permasalahan Pendidikan di Indonesia. Judul : Rendahnya Pendidikan di Indonesia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap warga negara berhak memiliki pendidikan setinggi mungkin, namun kadang kala pendidikan di negara kita masih kalah jauh dengan negara-negara tetangga seperti se ASEAN. Menurut UNESCO pada tahun 2000, indeks pengembangan manusia di Indonesia menurun dari tahun ke tahunnya. Dari 174 negara di dunia, Indonesia terdapat pada urutan ke 109 di tahun 1999.

Ada apakah dengan pendidikan di Indonesia sehingga terus mengalami penurunan, hal ini bukan tentu saja sangat memprihatinkan karena pendidikan merupakan sarana untuk kemajuan negara. Menurut data The World Economic Forum Swedia pada tahun 2000, Indonesia menduduki urutan ke-37 dari 57 negara di dunia.

Indonesia masih memiliki daya saing yang rendah dibandingkan negara-negara lain. Di era globalisasi meningkatkan pendidikan haruslah disegerakan agar mampu bersaing dengan negara lain. Dengan memperbaiki pendidikan, maka sumber daya manusia di Indonesia akan jauh lebih baik.

Setelah kita amati, masalah serius terdapat pada peningkatan mutu pendidikan di Indonesia yaitu rendahnya mutu pendidikan di setiap jenjang pendidikan, mulai pendidikan formal maupun informal. Kualitas pendidikan yang rendah menurut data Balitbang 2003 bahwa di seluruh nusantara dan hanya 8 sekolah yang mendapat pengakuan dunia, begitu juga SMP hanya memiliki 8 sekolah yang diakui dunia, sedangkan untuk SMA terdapat 7 sekolah yang mendapatkan pengakuan.

Apa saja sih penyebab rendahnya pendidikan di Indonesia, makalah bahasa indonesia tentang pendidikan masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran.

Di bawah ini permasalahan khusus penyebab rendahnya dunia pendidikan antara lain biasanya pendidikan yang terlalu mahal, kurang relevan antara pendidikan dengan kebutuhan, kurangnya pemerataan pendidikan, rendahnnya prestasi siswa, kurangnya kesejahtraan guru, rendahnya kualitas guru, serta rendahnya sarana fisik pendidikan tersebut. Dengan adanya permasalahan-permasalahan tersebut sehingga penulis memberikan judul makalan ini yaitu “Rendahnya Kualitas Pendidikan di Indonesia” Contoh Makalah Pendidikan B.

Rumusan Masalah 1. Karakteristik pendidikan di Indonesia 2. Kualitas pendidikan di Indonesia 3. Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia 4. Solusi permasalahan pendidikan di Indonesia C. Tujuan Penulisan 1. Menjabarkan karakteristik pendidikan di Indonesia 2. Menjabarkan mutu pendidikan di Indonesia 3. Menjabarkan apa saja penyebab mutu pendidikan di Indonesia 4.

Menjabarkan solusi pendidikan di Indonesia D. Manfaat Penulisan 1. Bagi Pemerintah Penulisan karya tulis ini bisa dijadikan sumbangsih untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia 2. Bagi Guru Agar bisa menjadi acuan bagi guru agar makalah bahasa indonesia tentang pendidikan semangat dalam belajar mengajar di sekolah 3. Bagi Mahasiswa Menjadi bahan kajian belajar untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia BAB II PEMBAHASAN A.

Karakteristik Pendidikan di Indonesia Melaksanakan pendidikan merupakan tujuan suatu pendidikan, maka dari itu Indonesia harus meningkatkan pendidikan untuk kepentingan bangsa. Melalui pendidikan bebagai aspek kehidupan seperti agama bisa dikembangkan dengan melalui pelajaran-pelajaran di sekolah. Selain itu juga pendidikan juga menjadi tempat pengembangan pikiran seperti belajar menganalisis, memecahkan masalah, menyimpulkan dan lain sebagainya.

B. Mutu Pendidikan di Indonesia Seperti yang telah penulis sebutkan di latar belakang, bahwa pendidikan di Indonesia sangatlah rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain.

Kini kualitas pendidikan di Indonesia semakin memburuk. Hal tersebut bisa dilihat dari kualitas guru, sarana belajar, dan murid-muridnya. Guru-guru sekarang banyak sekali guru-guru yang hanya sebatas mengajar, kecuali bagi guru-guru lama yang yang sudah berdedikasi di dunia pendidikan. Gaji guru menjadi permasalahan saat ini, banyak sekali guru yang resign mengajar dan lebih menjadi buruh pabrik hal ini karena gaji guru yang begitu rendah. Selain staf pengajar, masalah sarana belajar perlu diperhatikan agar proses belajar mengajar lebih berkuallitas.

C. Penyebab Rendahnya Mutu Pendidikan di Indonesia Dibawah ini ada beberapa penyebab rendahya mutu pendidikan di Indonesia, diantaranya: 1. Efektifitas Pendidikan di Indonesia Sangat Rendah Salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah kurangnya efektifnya pendidikan di Indonesia. Misalnya tidak adanya sasaran ketika mengajar sehingga mengakibatkan peserta didik tidak memiliki gambaran yang jelas mengenai proses pendidikannya. Masyarakat masih beranggapan bahwa pendidikan atau sekolah yang lebih tinggi modal utama untuk mendapatkan pekerjaan, pendidikan yang diambil tidak sesuai bakat dan minat murid, dan masih banyak staf pengajar yang mengajar tidak sesuai dengan jurusannya.

Hal tersebut menyebabkan rendahnya efektifitas pendidikan. 2. Efisiensi Pendidikan Di Indonesia Masalah efisiensi pendidikan di Indonesia yang sering terjadi yaitu mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pengajaran, dan kualitas staf pengajar.

Di Indonesia mahalnya biaya pendidikan makalah bahasa indonesia tentang pendidikan sempat dikeluhkan oleh sebagian masyarakat, walaupun harga pendidikan di Indonesia relative rendah dibandingkan negara-negara makalah bahasa indonesia tentang pendidikan. 3. Standardisasi Pendidikan di Indonesia Kualitas pendidikan di Undonesia diukur oleh standard dan kompetensi, salah satunya Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP).

kadang kala standardisasi dan kompetensi ini memiliki bahaya yang tersembunyi yaitu seperti hanya memikirkan bagaimana caranya agar mencapai standar pendidikan saja, sehingga lupa akan pendidikan efektif dan dapat digunakan. Sayang sekali hal ini menjadi pendidikan seperti kehilangan makna makalah bahasa indonesia tentang pendidikan terlalu menuntun standar kompetensi. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Kualitas atau mutu pendidikan di Indonesia masih sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara lain, hal ini dikarenakan faktor penyebab seperti kurang efektifitas, efisiensi, dan standardisasi pendidikan yang belum optimal.

makalah bahasa indonesia tentang pendidikan

Sehingga menimbulkan berbagai masalah seperti pendidikan yang terlalu mahal, kurang relevan antara pendidikan dengan kebutuhan, kurangnya pemerataan pendidikan, rendahnnya prestasi siswa, kurangnya kesejahtraan guru, rendahnya kualitas guru, serta rendahnya sarana fisik atau bangunan. Solusi yang dapat diberikan pada permasalahan tersebut yaitu harus mampu mengubah sistem sosial, karena sangat berkaitan erat dengan sistem pendidikan, mutu guru, serta peserta didik.

B. Saran Kemajuan dunia dilatarbelakangi oleh pendidikan yang maju, maka dari itu perubahan sistem pendidikan nasional harus terus dilakukan agar pendidikan di Indonesia memiliki kualitas yang lebih baik. Dengan meningkatnya kualitas pendidikan, ini akan meningkatkan pula sumber daya manusia yang memiliki kualitas baik juga sehingga mampu bersaing secara sehat dengan negara-negara lain.
Contoh Makalah Bahasa Indonesia Judul Skripsi Kumpulan judul makalah bahasa indonesia tentang pendidikan merupakan desain gambar wallpaper HD gratis yang diunggah oleh seorang fotografer dan ahli desain grafis terbaik di indonesia.

Pada halaman ini kami juga memiliki berbagai gambar menarik dengan format PNG, JPEG, JPG, BMP, GIF, WebP, TIFF, Makalah bahasa indonesia tentang pendidikan, EPS, PCX, CDR, AI, logo, icon, vector, hitam dan putih, transparan, dll.

Semua konten yang tersedia bersumber dari seluruh situs penyedia gambar di indonesia. Silahkan Unduh foto atau gambar ini dalam resolusi HD dengan cara klik "Tombol Download" dibawah-nya. Jika Anda tidak menemukan resolusi sesuai dengan apa yang Anda cari, maka pilihlah resolusi asli atau yang lebih tinggi.

Terima kasih sudah berkunjung, jangan lupa makalah bahasa indonesia tentang pendidikan bookmark judul makalah bahasa indonesia tentang pendidikan using Ctrl + D (PC) atau Command + D (macos). Jika Anda menggunakan ponsel, Anda juga dapat menggunakan menu simpan halaman melalui browser.

Sistem Operasi apapun yang digunakan baik itu Windows, Mac, iOs atau Android dapat mengunduh gambar menggunakan tombol download. Makalah Bahasa Indonesia Pengaruh Bahasa Indonesia Makalah Bahasa Indonesia Pengaruh Bahasa Indonesia Judul Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Dan Sastra Doc Kumpulan Contoh Judul Artikel Dan Makalah Pendidikan Skripsi Ria Ramadhinny Rahesa Nim 1101045253 Penulisan Skripsi Studi Kasus Pendidikan Teknik 17 Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar Cara Membuat Lengkap Makalah Bahasa Indonesia Keilmuan 30 Contoh Cover Makalah Kuliah Sma Kelompok Baik Benar Kumpulan 50 Judul Skripsi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Contoh Judul Skripsi Bahasa Indonesia Ptk Neptunestate S Diary Contoh Makalah Tentang Pendidikan Bahasa Indonesia Pendahuluan Dinegara-negara yang multilingual, multirasial, serta multi kultural, untuk menanggung kelangsungan komunikasi kebangsaan butuh dikerjakan suatu hal rencana bhs ( inggris : language planning ) yang pastinya terlebih dulu mesti diawali dengan kebijaksanaan bhs ( inggris : language policy ).

yang disebut dengan multilingual di sini yaitu ada serta digunakannya banyak bhs dengan beragam macamnya didalam lokasi negeri itu sendiri dengan berdampingan, tak tahu dipakai dengan terpisah oleh tiap-tiap makalah bahasa indonesia tentang pendidikan ( suku bangsa ) ataupun dipakai dengan bergantian, layaknya yang dibicarakan didalam bilingualisme.

lantas, yang disebut dengan multirasial yaitu terdapatnya etnis yang tidak sama, yang umumnya bisa dikenali dari tanda-tanda fisik spesifik atau dari bhs serta budaya yang menempel pada etnis tersebut. namun yang disebut dengan multikultural yaitu terdapatnya beragam budaya, kebiasaan istiadat, serta rutinitas yang tidak sama dari masyarakat yang menempati negara tersebut.

umumnya ciri etnis, bhs, serta kultur terikat jadi satu, menandai ras ( suku bangsa ) spesifik yang membedakannya dari ras yang lain. negara indonesia, malaysia, filipina, singapura. serta india adalah perumpamaan negera yang multi lingual, multirasial, serta multikultural, yang membutuhkan ada kebijakan bhs, supaya problem penentuan atau oenentuan bhs spesifik sebagai alat komunikasi didalam negara itu tidak menyebabkan gejolak konflik horizontal yang selanjutnya akan menggoyahkan kehidupan bangsa di negara tersebut.

di negara indonesia, kebijakan tersebut telah termaktub didalam pembukaan uud 45, serta sumpah pemuda, hingga tidak dulu berlangsung komplik sebagaimana di tersebut diatas, dikarenakan seluruh bangsa, etnis telah mempunyai prinsip berbahasa satu bhs indonesia, serta berbangsa satu yakni bangsa indonesia.

Kebijakan Bahasa Bila kita ikuti rumusan yang disepakati didalam seminar politik bhs nasional yang diselenggarakan makalah bahasa indonesia tentang pendidikan jakarta th. 1975, maka kebijaksanaan bhs itu bisa disimpulkan sebagai satu pertimbangan konseptual serta politis yang ditujukan agar bisa berikan rencana, pengarahan, serta ketentuan-ketentuan yang bisa digunakan sebagai basic untuk pengolahan total problem kebahasaan yang dihadapi oleh satu bangsa dengan nasional.

lantas, kebijaksanaan bhs itu adalah satu pegangan yang berbentuk nasional, untuk lantas bikin rencana bagaimana langkah membina serta mengembangkan bahassa sebagai alat komunikasi verbal yang bisa dipakai dengan pas di semua negara, serta bisa di terima oleh seluruh warga dengan lingual, etnis, serta kultur yang tidak sama. Masalah-masalah kebahasaan yang dihadapi tiap-tiap bangsa yaitu berbeda, karena bergantung pada kondisi nkebahasaan yang ada didalam negara itu sendiri.

negara-negara yang telah mempunyai histori kebahasaan yang cukup, serta didalam negara itu cuma ada satu bhs makalah bahasa indonesia tentang pendidikan walau dengan sekian dialek serta macamnya ) condong tidak memiliki problem kebahasaan yang serius.

negara yang demikianlah, contohnya, saudi arabia, jepang, belanda, serta inggri. namun di nega-negara yang terbentuk, serta mempunyai sekian banyak bhs tempat dapat mempunyai masalah kebahasaan yang cukup serius, serta memiliki kemungkinan untuk munculnya gejolak sosial serta politik akibat masalah bhs itu.

indonesia sebagai negara yang relatif baru dengan masalah-masalah kebahasaan yang dapat berlangsung di negara lain, dengan historis buah bhs, yakni ( 1 ) bhs nasional indonesia, ( 2 ) bhs tempat, serta ( 3 ) bhs asing.

jauh sebelum saat kebijaksanaan bhs di ambil untuk mengambil keputusan manfaat ketiga bhs itu, paa pemimpin perjuangan indonesia, menurut kenyataan bahwa bhs melayu sudah sejak berabad-abad yang lantas sudah dipakai dengan luas sebagai liguna franca di seluruh nusantara serta melayu itu jadi bhs persatuan untuk seluruh indonesia, serta memberinya nama bhs indonesaia.

momen pengangkatan bhs indonesia yang berlangsung pada tanggal 28 oktober 1928 didalam satu ikrar yang dimaksud soempah pemoeda itu tidak dulu menyebabkan protes atau reaksi negatif dari suku-suku bangsa lain di indonesia, walau jumlah penuturnya lebi banyak berlipat-lipat. lantas, penetapan bhs indonesia jadi bhs negara didalam undang-undang basic 1945 lalu tidak menyebabkan problem. oleh oleh karena itu, beberapa pengambil ketentuan didalam memastikan kebijaksanaan bhs yang mengambil keputusan manfaat-fungsi bhs indonesia, bhs tempat, serta bhs asing bisa mengerjakannya dengan mulus.

bhs indonesia ditetapkan, cocok dengan kedudukannya, sebagai bhs nasional serta bhs negara, sebagai simbol kebanggaan nasional, serta sebagai alat komunikasi nasional kenegaraan atau intrabangsa ; bhs tempat berperan sebagai simbol kedaerahan serta alat komunikasi intrasuku ; namun bhs asing berperan sebagai alat komunikasi antar- bangsa serta alat penambah pengetahuan pengatahuan. ketiga bhs itu dengan manfaatnya tiap-tiap tidak menyebabkan problem serta peningkatan pemakaian bhs indonesia dari beberapa warga bangsa indonesia, karena sampai Saat ini penguasaan mereka dapat bhs indonesia tetap jauh dari yang diinginkan ( tengok chaer 1993 ).

Masalah kebahasaan yang dihadapi bangsa filipina agak serupa dengan situasi di indonesia, namun tampaknya masalah yang mereka hadapi lebih ruwet. di filipina, layaknya di indonesia, ada banyak bhs tempat serta dua bhs asing bekas penjajahannya yang amat menempel pada bangsa itu, yakni bhs spanyol serta bhs inggris.

saat merdeka serta membutuhkan lambang indentitas bangsa, mereka mengambil keputusan serta mengangkat bhs tgalog, di antara bhs tempat, jadi bhs nasional yang dinamakan baru bhs filipino. tidak sama dengan bhs melayu ( sebagai basic bhs indonesia ), bhs tagalog ( sebagai basic bhs filipino ) pada mulanya belum dipakai dengan meluas di seluruh lokasi filipina. oleh dikarenakan itu, penerimaan waraga filipina pada bhs filipino ini tidak demikian menggembirakan ; lebih-lebih dikarenakan mereka mempunyai kesan bahwa bhs filipina ini cuma didasarkan pada bhs tagalog ( based on tagalog ).

untuk lebih menggalakan penerimaan bhs serta pengunaan bhs pilipino ini pada th. 1973 majelis konstituante filipina ganti nama pilipino dengan nama filipino dengan janji makalah bahasa indonesia tentang pendidikan bhs filipino dapat didasarkan pada seluruh bhs tempat yang ada fi filipina.

bagaimana langkahnya, entahlah. yang jelas ingga sekarang ini untuk komunikasi kenegaraan serta komunikasi antarsuku tetap digunkan bhs inggris, diselruh lokasi filipina. dengan bhs inggris mereka bisa berkomunikasi intrabangsa, namun didalam bhs filipino belum dikerjakan. Masalah kebahsaan yang dihadapi negara singapur juga cukup ruwet ; namun tampaknya pemerintah singapur sudah bisa lakukan kebijaksanaan bhs dengan pas.

republik singapur yaitu negaa kecil yang warganya multilingual, multirsial, serta multikultural. maka menyadarai situasi itu, pemerintah singapur semula membedakan ada dua perihal, yakni manfaat bhs serta pemakaian bhs. didalam perihal manfaat bhs ini, mereka membedakan ada bhs nasional serta bhs resmi. mereka mengkui mempunyai satu bhs nasional, yakni bhs melayu sebagai simbol kenasionalan negara itu, layaknya didalam lagu kebangsaan, aba-aba kemiliteran, serta slogan-slogan lain.

di samping itu singapur mengakui ada empat buah bhs resmi, yang bisa dipakai didalam semua urusan resmi kepemerintahan. keempat bhs resmi itu yaitu ( 1 ) bhs melayu, ( 2 ) bhs mandarin ( bahasa-bahasa cina ), ( 3 ) bhs tamil( terhitung bhs india yang lain ), serta ( 4 ) bhs inggris. dari urutannya dengan emosional sangat terhormat kedudukannya yaitu bhs melayu, tetapi, pemakaianya relatif kecil. sebaliknya bhs inggris ada didalam kedudukan yang sangat rendah, namun frekuensi pemakaianya sangat tinggi.

Penanganan problem kebahasaan di india tampaknya serupa dengan di singapur ; cuma skalanya semakin besar. bila singapur mengakui satu bhs nasioal serta bisa mampu di terima dengan baik oleh waga singapur dengan total, dikarenakan di samping satu bangsa nasional itu ( yang lebih berbentuk simbol kenasionalan ) ditetapkan uga ada empat bhs resmi ( termasukbahasa melayu ) yang bisa dipakai dengan kedudukan sederajat ( meskipun didalam sebenarnya frekuensi pemakaian bhs inggris lebih tinggi ).

bhs india juga mengambil keputusan ada satu bhs nasional, yakni bahsa hindia, dua bhs resmi kenegaraan, yakni bhs hindia serta bhs inggris, dan sebanyak bhs resmi kedaerahan ( tengok moeliono 1983 ). bhs nasional, bhs hindia, tidak bisa dipakai dengan luas alay komunikasi yang bisa dipakai untuk kepentingan itu yaitu bhs inggris, bhs bekas penjajahanya, yang saat dulu memanglah sudah jadi liguna franca.

Keperluaan satu negara atau negara untuk mempunyai sesuatu bhs sebagai indentitas nasionalnya serta satu bhs, atau lebih, sebagai bhs resmi kenegaraan ( dapat bhs yang sama juga dengan bhs nasional ) tidak senantiasa dapat dipenuhi keperluan oleh bhs atau bahasa-bahasa asli pribumi yang dimiliki.

indonesia bisa mencukupi keperluan itu dari bhs asli pribumi ; filipina bisa mencukupi beberapa ; namun somalia tidak bisa sekalipun. sehubungan dengan itu didalam rencana bhs dikenal ada negara jenis endoglosi, layaknya indonesia ;tipe eksoglosik-endoglosik, layaknya filipina ; serta jenis eksoglosik, layaknya somalia. selanjutnya tengok bagan tersebut yang diangkat dari moeliono 1983. Bila kita ikuti rumusan yang disepakati didalam seminar politik bhs nasional yang diselenggarakan di jakarta th.

1975, maka kebijaksanaan bhs itu bisa disimpulkan sebagai satu pertimbangan konseptual serta politis yang ditujukan agar bisa berikan rencana, pengarahan, serta ketentuan-ketentuan yang bisa digunakan sebagai basic untuk pengolahan total problem kebahasaan yang dihadapi oleh satu bangsa dengan nasional.

lantas, kebijaksanaan bhs itu adalah satu pegangan yang berbentuk nasional, untuk lantas bikin rencana bagaimana langkah membina serta mengembangkan bahassa sebagai alat komunikasi verbal yang bisa dipakai dengan pas di semua Negara, serta bisa di terima oleh seluruh warga dengan lingual, etnis, serta kultur yang tidak sama.

Masalah-masalah kebahasaan yang dihadapi tiap-tiap bangsa yaitu berbeda, karena bergantung pada kondisi nkebahasaan yang ada didalam negara itu sendiri. negara-negara yang telah mempunyai histori kebahasaan yang cukup, serta didalam negara itu cuma ada satu bhs saja( walau dengan sekian dialek serta macamnya ) condong tidak memiliki problem kebahasaan yang serius. negara yang demikianlah, contohnya, saudi arabia, jepang, belanda, serta inggri.

makalah bahasa indonesia tentang pendidikan

namun di nega-negara yang terbentuk, serta mempunyai sekian banyak bhs tempat dapat mempunyai masalah kebahasaan yang cukup serius, serta memiliki kemungkinan untuk munculnya gejolak sosial serta politik akibat masalah bhs itu. indonesia sebagai negara yang relatif baru dengan masalah-masalah kebahasaan yang dapat berlangsung di negara lain, dengan historis buah bhs, yakni ( 1 ) bhs nasional indonesia, ( 2 ) bhs tempat, serta ( 3 ) bhs asing.

jauh sebelum saat kebijaksanaan bhs di ambil untuk mengambil keputusan manfaat ketiga bhs itu, paa pemimpin perjuangan indonesia, menurut kenyataan bahwa bhs melayu sudah sejak berabad-abad yang lantas sudah dipakai dengan luas sebagai liguna franca di seluruh nusantara serta melayu itu jadi bhs persatuan untuk seluruh indonesia, serta memberinya nama bhs indonesaia.

momen pengangkatan bhs indonesia yang berlangsung pada tanggal 28 oktober 1928 didalam satu ikrar yang dimaksud soempah pemoeda itu tidak dulu menyebabkan protes atau reaksi negatif dari suku-suku bangsa lain di indonesia, walau jumlah penuturnya lebi banyak berlipat-lipat. lantas, penetapan bhs indonesia jadi bhs negara didalam undang-undang basic 1945 lalu tidak menyebabkan problem. oleh oleh karena itu, beberapa pengambil ketentuan didalam memastikan kebijaksanaan bhs yang mengambil keputusan manfaat-fungsi bhs indonesia, bhs tempat, serta bhs asing bisa mengerjakannya dengan mulus.

bhs indonesia ditetapkan, makalah bahasa indonesia tentang pendidikan dengan kedudukannya, sebagai bhs nasional serta bhs negara, sebagai simbol kebanggaan nasional, serta sebagai alat komunikasi nasional kenegaraan atau intrabangsa ; bhs tempat berperan sebagai simbol kedaerahan serta alat komunikasi intrasuku ; namun bhs asing berperan sebagai alat komunikasi antar- bangsa serta alat penambah pengetahuan pengatahuan.

ketiga bhs itu dengan manfaatnya tiap-tiap tidak menyebabkan problem serta peningkatan pemakaian bhs indonesia dari beberapa warga bangsa indonesia, karena sampai saat ini penguasaan mereka dapat bhs indonesia tetap jauh dari yang diinginkan ( tengok chaer 1993 ). Masalah kebahasaan yang dihadapi bangsa filipina agak serupa dengan situasi di indonesia, namun tampaknya masalah yang mereka hadapi lebih ruwet.

di filipina, layaknya di indonesia, ada banyak bhs tempat serta dua bhs asing bekas penjajahannya yang amat menempel pada bangsa itu, yakni bhs spanyol serta bhs inggris.

saat merdeka serta membutuhkan lambang indentitas bangsa, mereka mengambil keputusan serta mengangkat bhs tgalog, di antara bhs tempat, jadi bhs nasional yang dinamakan baru bhs filipino.

tidak sama dengan bhs melayu ( sebagai basic bhs indonesia ), bhs tagalog ( sebagai basic bhs filipino ) pada mulanya belum dipakai dengan meluas di seluruh lokasi filipina. oleh dikarenakan itu, penerimaan waraga filipina pada bhs filipino ini tidak demikian menggembirakan ; lebih-lebih dikarenakan mereka mempunyai kesan bahwa bhs filipina ini cuma didasarkan pada bhs tagalog ( based on tagalog ). untuk lebih menggalakan penerimaan bhs serta pengunaan bhs pilipino ini pada th.

1973 majelis konstituante filipina ganti nama pilipino dengan nama filipino dengan janji bahwa bhs filipino dapat didasarkan pada seluruh bhs tempat yang ada fi filipina. bagaimana langkahnya, entahlah. yang jelas ingga sekarang ini untuk komunikasi kenegaraan serta komunikasi antarsuku tetap digunkan bhs inggris, diselruh lokasi filipina.

dengan bhs inggris mereka bisa berkomunikasi intrabangsa, namun didalam bhs filipino belum dikerjakan. Masalah kebahsaan yang dihadapi negara singapur juga cukup ruwet ; namun tampaknya pemerintah singapur sudah bisa lakukan kebijaksanaan bhs dengan pas. republik singapur yaitu negaa kecil yang warganya multilingual, multirsial, serta multikultural. maka menyadarai situasi itu, pemerintah singapur semula membedakan ada dua perihal, yakni manfaat bhs serta pemakaian bhs.

didalam perihal manfaat bhs ini, mereka membedakan ada bhs nasional serta bhs resmi. mereka mengkui mempunyai satu bhs nasional, yakni bhs melayu sebagai simbol kenasionalan negara itu, layaknya didalam lagu makalah bahasa indonesia tentang pendidikan, aba-aba kemiliteran, serta slogan-slogan lain. di samping itu singapur mengakui ada empat buah bhs resmi, yang bisa dipakai didalam semua urusan resmi kepemerintahan. keempat bhs resmi itu yaitu ( 1 ) bhs melayu, ( 2 ) bhs mandarin( bahasa-bahasa cina ), ( 3 ) bhs tamil( terhitung bhs india yang lain ), serta ( 4 ) bhs inggris.

dari urutannya dengan emosional sangat terhormat kedudukannya yaitu bhs melayu, tetapi, pemakaianya relatif kecil. sebaliknya bhs inggris ada didalam kedudukan yang sangat rendah, makalah bahasa indonesia tentang pendidikan frekuensi pemakaianya sangat tinggi. Penanganan problem kebahasaan di india tampaknya serupa dengan di singapur ; cuma skalanya semakin besar. bila singapur mengakui satu bhs nasioal serta bisa makalah bahasa indonesia tentang pendidikan di terima dengan baik oleh waga singapur dengan total, dikarenakan di samping satu bangsa nasional itu ( yang lebih berbentuk simbol kenasionalan ) ditetapkan uga ada empat bhs resmi ( termasukbahasa melayu ) yang bisa dipakai dengan kedudukan sederajat ( meskipun didalam sebenarnya frekuensi pemakaian bhs inggris lebih tinggi ).

bhs india juga mengambil keputusan ada satu bhs nasional, yakni bahsa hindia, dua bhs resmi kenegaraan, yakni bhs hindia serta bhs inggris, dan sebanyak bhs resmi kedaerahan ( tengok moeliono 1983 ).

bhs nasional, bhs hindia, tidak bisa dipakai dengan luas alay komunikasi yang bisa dipakai untuk kepentingan itu yaitu bhs inggris, bhs bekas penjajahanya, yang saat dulu memanglah sudah jadi liguna franca. Keperluaan satu negara atau negara untuk mempunyai sesuatu bhs sebagai indentitas nasionalnya serta satu bhs, atau lebih, sebagai bhs resmi kenegaraan ( dapat bhs yang sama juga dengan bhs nasional ) tidak senantiasa dapat dipenuhi keperluan oleh bhs atau bahasa-bahasa asli pribumi yang dimiliki.

indonesia bisa mencukupi keperluan itu dari bhs asli pribumi ; filipina bisa mencukupi beberapa ; namun somalia tidak bisa sekalipun.

sehubungan dengan itu didalam rencana bhs dikenal ada negara jenis endoglosi, layaknya indonesia ;tipe eksoglosik-endoglosik, layaknya filipina ; serta jenis eksoglosik, layaknya somalia. selanjutnya tengok bagan tersebut yang diangkat dari moeliono 1983. Negara tipe EndoglosikNegara Bahasa Nasional Bahasa Resmi Kenegaraan Bahasa Resmi Kedaerahan 1 Filipina Pilipino 1 Pilipino, - Inggris, Spanyol 2 - - 2 India Hindia Hindi (sebelas bahasa berdasarkan konstitusi,a.l Telugu, Tamil, dan Benggali Inggris 3 Singapura Melayu Melayu - Mandarin - Tamil Inggris - 4 Tanzania Swahili Swahili - Inggris - 5 Ethiopia Amhar Amhar - Inggris.

Keterangan : 1. Pada th. 1946-1972 nama bhs nasional filipina yaitu pilipino( dengan huruf p ) yang menurut pada bhs tagalog lantas sesudah itu diubah jadi filipino seluruh bhs daerah( dengan huruf f ) yang dapat diusuhakan menurut unsur seluruh bhs tempat yang ada di filipina. 2. Bhs. Spanyol cuma jadi bhs resmi pada th. 1946 hingga 1972, sesudah itu tak akan. Pengambilan ketentuan didalam kebijaksanaan bhs oleh beberapa pemimpin negara untuk mengambil keputusan satu bhs yang dapat dipakai sebagai bhs resmi kenegaraan umumnya juga terkait dengan hasrat untuk memajukan satu bangsa.

makalah bahasa indonesia tentang pendidikan

misalnya, mustafa kemal atturk, presiden pertama republik turki( proklamasi turki jadi sesuatu negara republik yaitu tanggal 19 oktober 1923 ) untuk modernisasi san kemajuan bangsa, menghapuskan pemakaian huruf arab yang telah berabad-abad lamanya digunaka, serta menggantinyadengan huruf latin. satu ketentuan yang berani serta luar biasa. dengan semangat yang serupa dengan turki, untuk meraih kemajuan makalah bahasa indonesia tentang pendidikan teknologi barat, nehru.

Tujuan keijiksanaan bhs yaitu bisa berlasungnya komunikasi kenegaraan serta komunisi inrtabangsa dengan baik, tanpa menyebabkan gejolak sosial serta emosional yang bisa mengganggu kestabilan bangsa.

oleh dikarenakan itu, kebijaksanaan bhs yang sudah di ambil di indonesia, filifina, india, serta singapura, walau didalam perwujudan yang tidak sama, suah bisa dikira meraih tujuan serta tujuan.

indonesia tampaknya sudah bisa dengan pas merampungkan problem kebahasaan ini dengan mengambil keputusan manfaat serta dtatus bhs indonesia, bhs tempat, serta bhs aasing pada tempatnya tiap-tiap. singapura lalu demikianlah juga, yaknindengan mengangkat keempat bhs punya warganya yang multirasial sebagai bhs resmi yang kedudukannya sederajat, serta mengangkat bhs melayu jadi bhs nasional. Kebijaksanaan bhs adalah usaha kenegaraan satu bangsauntuk memastikan serta mengambil keputusan dengan pas manfaat serta status bahasa-bahasa yang ada di negara tersebut, supaya komunikasi kenegaraan serta kebangsaan bisa berjalan dengan baik.

Rencana Bahasa Lihat urutan didalam penanganan serta pengolahan masalah-masalah kebahasaan didalam negara yang multilingual, multirasial, serta multikultural, maka rencana bhs adalah aktivitas yang perlu dikerjakan setelah lakukan kebijaksaan bhs.

atau dengan kata lain, rencana bhs, itu disusun menurut ketentua-ketentuan yang sudah digariskan didalam kebijaksanaan bhs.

makalah bahasa indonesia tentang pendidikan

namun sebelunya butuh diketahui ada juga ahli yang memasukan bhs kebijaksanaan bhs itu sebagai satu step didalam rencana bhs. Arti rencana bahasa( language planing ) semula dipakai oleh haugen ( 1959 ) pengertian usaha untuk membingbing perkembangan bhs ke arah yang diingninkan oleh beberapa makalah bahasa indonesia tentang pendidikan.

menurut haugen setelah itu, perancanaan bhs itu tidak hanya meramalkan hari esok menurut dari yang diketahui pada saat lampau, namun rencana itu adalah usaha yang terarah untuk merubah hari esok. sebagai perumpamaan usaha rencana itu dijelaskan pembuatan tata ejaan yang normatif, penyusunan tata bhs serta kamus yang akan jadikan dasar untuk beberapa penutur didalam penduduk yang heterogen. Didalam perubahannya, sesudah haugn melancarkan arti language planing itu, pengertian rencana bhs itu yang banyak dikemukakan beberapa ahli memanglah jadi beragam, baik baikdari sisi luasnya aktivitas, pelaku yang bertindak didalamnya, ataupun peristilahnya.

kesuksesan rencana bhs itu amat bergantung pada jaringan komunikasi sosial yang ada serta pada mobilitas kemampuan sosial. Di indonesia aktivitas yang sama dengan language planninh ini sesungguhnya telah berlasung sebelum saat nama itu diperkenalkan oleh hauge( moeliono 1983 ), yaitu sejak zaman pendudukan jepang saat ada komisi bhs indonesia hingga saat alisjahbana menerbitkan majalah pembina bhs indonesia th.

1948. jadi bila akan dipandang lebih jauh, language planning di indonesia telah diawali sejak van ophuijsen menyusun ejaan bhs melayu ( indonesia ) pada th. 1901, disusul dengan berdirinya commisie voor volkslectuur th. 1908, yang pada th. 1917 beralih namnya jadi balai pustaka ; lantas disambung dengan sumpah pemuda th.

1928, serta lantas kongres bhs i th. 1938 di kota solo. Arti yang dipakai alijsahbana yaitu language engineering, yang dianggapnya lebih pas dari pada arti language planning yang terlampau sempit maksudnya. harapan alijahbana didalam language engineering ini yaitu pengembangan bhs yang teratur didalam konteks pergantian sosial, budaya, serta teknologi yang lebih luas menurut rencana makalah bahasa indonesia tentang pendidikan cermat.

menurut alijsahbana problem language engineering yang mutlak yaitu ( 1 ) pembakuan bhs, ( 2 ) pemoderenan bhs, serta ( 3 ) penyediaan alat perlengkapan layaknya buku pelajaran serta buku bacaan. Arti lain didalam rencana bhs ini ada juga dipakai glottopolitics serta language reform. arti glottopolitics dipakai oleh hall ( 1951 ) didalam catatannya tentang situasi bhs di haiti. arti tersebut dipakai untuk merujuk pada penerapan linguistik pada kebijaksanaan pemerintah didalam penentuan fasilitas komunikasi yang sangat pas.

namun arti language reform dipakai oleh heyd ( 1954 ) serta galagher ( 1971 ) yang tiap-tiap menguraikan reformasi bhs di turki. arti itu juga dipakai oleh de francis ( 1950 ) serta serruys ( 1962 ) yang menulis perihal reformasi bhs serta gerakan pemberantasan buta huruf di cina.

paling akhir didalam ketentuan inggris da juga digunkan arti language development didalam makna yang sama juga dengan language planning. Di indonesia instansi yang terlibat didalam rencana serta pengembangan bhs diawali dengan berdirinya comissie voor de volksectuur yang didirikan oleh pemerintah kolonial belanda pada th.

1908, yang pada th. 1917 beralih jadi balai pustaka. instansi ini dengan majalahnya sari pustaka, pandji pustaka, serta kedjawen bisa dikira sebagai perencana da pengembang bhs. Problem selanjutnya didalam rencana didalam bhs ini yaitu, apakah tujuan rencana bhs itu.

dari beragam kajian bisa kita tengok tujuan rencana bhs itu ( yang dikerjakan sesudah mengambil keputusan kestatusan bhs nasional serta bhs resmi kenegaraan ), yakni ( 1 ) pembinaan serta pengembangan bhs yang direncanakan ( sebagai bhs nasiona, bhs resmi kenegaraan, dan seterusnya ) ;, dab ( 2 ) khalayak didalam penduduk yang diinginkan dapat terima serta menggunakan anjuran yang disusulkan serta ditetapkan.

Proses rencana bhs ini kemungkinan besar dapat megalami kendala yang barangkali akibat dari perencanaannya yang kurang pas dapat juga dari beberapa pemegang tampuk kebijakan, dari grup sosial spesifik dari makalah bahasa indonesia tentang pendidikan bhs beberapa penutur, ataupun dari dana serta ketenangan.

sukses serta tidak nya usaha rencana bhs ini yaitu problem evluasi. didalam perihal ini memanglah bisa dikatakan evaluasi kesuksesan rencana bhs itu memanglah sulit dikerjakan. Demikian contoh makalah pendidikan, semoga bisa menjadi bahan referensi bagi anda.
Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif.

Menyadari akan hal tersebut, pemerintah sangat serius menangani bidang pendidikan, sebab dengan sistem pendidikan yang baik diharapkan muncul generasi penerus bangsa yang berkualitas dan mampu menyesuaikan diri untuk hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Reformasi pendidikan merupakan respon terhadap perkembangan tuntutan global sebagai suatu upaya untuk mengadaptasikan sistem pendidikan yang mampu mengembangkan sumber daya manusia untuk memenuhi tuntutan zaman yang sedang berkembang.

Melalui reformasi pendidikan, pendidikan harus berwawasan masa depan yang memberikan jaminan bagi perwujudan hak-hak azasi manusia untuk mengembangkan seluruh potensi dan prestasinya secara optimal guna kesejahteraan hidup di masa depan.

Guru adalah salah satu unsur manusia dalam proses pendidikan. Dalam proses pendidikan di sekolah, guru memegang tugas ganda yaitu sebagai pengajar dan pendidik. Sebagai pengajar guru bertugas menuangkan sejumlah bahan pelajaran ke dalam otak anak didik, sedangkan sebagai pendidik guru bertugas membimbing dan membina anak didik agar menjadi manusia susila yang cakap, aktif, kreatif, dan mandiri. Djamarah berpendapat bahwa baik mengajar maupun mendidik merupakan tugas dan tanggung jawab guru sebagai tenaga profesional agar menjadi manusia susila yang cakap, aktif, kreatif, dan mandiri.

Djamarah berpendapat bahwa baik mengajar maupun mendidik merupakan tugas dan tanggung jawab guru sebagai tenaga profesional2. Oleh sebab itu, tugas yang berat dari seorang guru ini pada dasarnya hanya dapat dilaksanakan oleh guru yang memiliki kompetensi profesional yang tinggi.

Menurut Aqib guru adalah faktor penentu bagi keberhasilan pendidikan di sekolah, karena guru merupakan sentral serta sumber kegiatan belajar mengajar3.

Lebih lanjut dinyatakan bahwa guru merupakan komponen yang berpengaruh dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah4. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan atau kompetensi profesional dari seorang guru sangat menentukan mutu pendidikan. Kompetensi profesional guru dalam hal ini guru matematika SMP Negeri di wilayah Kabupaten Pandeglang masih relatif rendah. Berdasarkan hasil Tes Kompetensi Guru yang dilakukan Depertemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Lanjutran Pertama yang bekerja sama dengan Pusat Penilaian Pendidikan pada Tahun 2003, menunjukkan bahwa rata-rata nilai kompetensi guru matematika di Kabupaten Pandeglang hanya mencapai 42,25 %.

Angka ini masih relatif jauh di bawah standar nilai kompetensi minimal yang diharapkan yaitu 75 %. nilai kompetensi minimal yang diharapkan yaitu 75 %.

Pada dasarnya tingkat kompetensi profesional guru dipengaruhi oleh faktor dari dalam guru itu sendiri yaitu bagaimana guru bersikap terhadap pekerjaan yang diemban. Sedangkan faktor luar yang diprediksi berpengaruh terhadap kompetensi profesional seorang guru yaitu kepemimpinan kepala sekolah, karena kepala sekolah merupakan pemimpin guru di sekolah.

makalah bahasa indonesia tentang pendidikan

Sikap guru terhadap pekerjaan merupakan keyakinan seorang guru mengenai pekerjaan yang diembannya, yang disertai adanya perasaan tertentu, dan memberikan dasar kepada guru tersebut untuk membuat respons atau berperilaku dalam cara tertentu sesuai pilihannya.

Sikap guru terhadap pekerjaan mempengaruhi tindakan guru tersebut dalam menjalankan aktivitas kerjanya. Bilamana seorang guru memiliki sikap positif terhadap pekerjaannya, maka sudah barang tentu guru akan menjalankan fungsi dan kedudukannya sebagai tenaga pengajar dan pendidik di sekolah dengan penuh rasa tanggung jawab.

Demikian pula sebaliknya seorang guru yang memiliki sikap negatif terhadap pekerjaannya, pastilah dia hanya menjalankan fungsi dan kedudukannya sebatas rutinitas belaka.

Untuk itu amatlah perlu kiranya ditanamkan sikap positif guru terhadap pekerjaan, mengingat peran guru dalam lingkungan pendidikan dalam hal ini sekolah amatlah sentral. Sikap guru terhadap pekerjaan dapat dilihat dalam bentuk persepsi dan kepuasaannya terhadap pekerjaan maupun dalam bentuk motivasi kerja yang ditampilkan. Guru yang memiliki sikap positif terhadap pekerjaan, sudah barang tentu akan menampilkan persepsi dan kepuasan yang baik terhadap pekerjaanya maupun motivasi kerja yang tinggi, yang pada akhirnya akan mencerminkan seorang guru yang mampu bekerja secara profesional dan memiliki kompetensi profesional yang tinggi kinerjaanya maupun motivasi kerja yang tinggi, yang pada akhirnya akan mencerminkan seorang guru yang mampu bekerja secara profesional dan memiliki kompetensi profesional yang tinggi.

Sikap positif maupun negatif seorang guru terhadap pekerjaan tergantung dari guru bersangkutan maupun kondisi lingkungan.

Menurut Walgito, sikap yang ada pada diri seseorang dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu faktor fisiologis dan psikologis, serta faktor eksternal, yaitu berupa situasi yang dihadapi individu, normanorma, dan berbagai hambatan maupun dorongan yang ada dalam masyarakat. Sekolah sebagai organisasi, di dalamnya terhimpun unsur-unsur yang masingmasing baik secara perseorangan maupun kelompok melakukan hubungan keja sama untuk mencapai tujuan.

Unsur-unsur yang dimaksud, tidak lain adalah sumber daya manusia yang terdiri dari kepala sekolah, guru-guru, staf, peserta didik atau siswa, dan orang tua siswa. Tanpa mengenyampingkan peran dari unsur-unsur lain dari organisasi sekolah, kepala sekolah dan guru merupakan personil intern yang sangat berperan penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan di sekolah.

Keberhasilan suatu sekolah pada hakikatnya terletak pada efisiensi dan efektivitas penampilan seorang kepala sekolah. Sedangkan Sekolah sebagai lembaga pendidikan bertugas menyelenggarakan proses pendidikan dan proses belajar mengajar dalam usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam hal ini kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tugas untuk memimpin sekolah, kepala sekolah bertanggung jawab atas tercapainya tujuan sekolah.

Kepala sekolah diharapkan menjadi pemimpin dan inovator di sekolah. Oleh sebab itu, kualitas kepemimpinan kepala sekolah makalah bahasa indonesia tentang pendidikan signifikan bagi keberhasilan sekolah. bertanggung jawab atas tercapainya tujuan sekolah. Kepala sekolah diharapkan menjadi pemimpin dan inovator di sekolah. Oleh sebab itu, kualitas kepemimpinan kepala sekolah adalah signifikan bagi keberhasilan sekolah. Wahjosumidjo mengemukakan bahwa: Penampilan kepemimpinan kepala sekolah adalah prestasi atau sumbangan yang diberikan oleh kepemimpinan seorang kepala sekolah, baik secara kualitatif maupun kuantitatif yang terukur dalam rangka membantu tercapainya tujuan sekolah.

Penampilan kepemimpinan kepala sekolah ditentukan oleh faktor kewibawaan, sifat dan keterampilan, perilaku maupun fleksibilitas pemimpin. Menurut Wahjosumidjo, agar fungsi kepemimpinan kepala sekolah berhasil memberdayakan segala sumber daya sekolah untuk mencapai tujuan sesuai dengan situasi, diperlukan seorang kepala sekolah yang memiliki kemampuan profesional yaitu: kepribadian, keahlian dasar, pengalaman, pelatihan dan pengetahuan profesional, serta kompetensi administrasi dan pengawasan.

Kemampuan profesional kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan yaitu bertanggung jawab dalam menciptakan suatu situasi belajar mengajar yang kondusif, sehingga guru-guru dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik dan peserta didik dapat belajar dengan tenang.

Disamping itu kepala sekolah dituntut untuk dapat bekerja sama dengan bawahannya, dalam hal ini guru. Kepemimpinan kepala sekolah yang terlalu berorientasi pada tugas pengadaan sarana dan prasarana dan kurang memperhatikan guru dalam melakukan tindakan, dapat menyebabkan guru sering melalaikan tugas sebagai pengajar dan pembentuk nilai moral. Hal ini dapat menumbuhkan sikap yang negatif dari seorang guru terhadap pekerjaannya di sekolah, sehingga pada akhirnya berimlikasi terhadap keberhasilan prestasi siswa di sekolah.

keberhasilan prestasi siswa di sekolah. Kepala sekolah adalah pengelola pendidikan di sekolah secara keseluruhan, dan kepala sekolah adalah pemimpin formal pendidikan di sekolahnya. Dalam suatu lingkungan pendidikan di sekolah, kepala sekolah bertanggung jawab penuh untuk mengelola dan memberdayakan guru-guru agar terus meningkatkan kemampuan kerjanya.

Dengan peningkatan kemampuan atas segala potensi yang dimilikinya itu, maka dipastikan guru-guru yang juga merupakan mitra kerja kepala sekolah dalam berbagai bidang kegiatan pendidikan dapat berupaya menampilkan sikap positif terhadap pekerjaannya dan meningkatkan kompetensi profesionalnya Berdasarkan uraian diatas menunjukkkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah dan sikap guru terhadap pekerjaan merupakan faktor yang cukup menentukan tingkat kompetensi profesional guru.

Sehinga dapat makalah bahasa indonesia tentang pendidikan bahwa masih rendahnya kompetensi profesional guru dalam hal ini guru matematika SMP Negeri di Kabupaten Pandeglang, disebabkan oleh kompetensi profesional guru itu sendiri yang rendah, kepemimpinan kepala sekolah yang kurang makalah bahasa indonesia tentang pendidikan dan sikap guru yang negatif terhadap pekerjaannya.

Atas dasar pemikiran tersebut, peneliti merasa tertarik untuk mengadakan penelitian tentang “Hubungan Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Sikap Guru terhadap Pekerjaan dengan Kompetensi Profesional Guru Matematika SMP Negeri di Kabupaten Pandeglang”.

B. Identifikasi Masalah Masalah yang muncul berkenaan dengan hubungan kepemimpinan kepala sekolah dan sikap guru terhadap pekerjaan dengan kompetensi profesional guru, diidentifikasikan sebagai berikut: • Apakah kepemimpinan kepala sekolah memiliki hubungan dengan kompetensi profesional guru. • Makalah bahasa indonesia tentang pendidikan sikap guru terhadap pekerjaan memiliki hubungan dengan kompetensi profesional guru. • Apakah kepemimpinan kepala sekolah dan sikap guru terhadap pekerjaan berhubungan dengan makalah bahasa indonesia tentang pendidikan profesional guru.

• Apakah kompetensi profesional guru dapat ditingkatkan melalui kepemimpinan kepala sekolah. • Apakah kompetensi profesional guru dapat ditingkatkan melalui sikap guru terhadap pekerjaan guru. • Apakah para guru telah mempunyai tingkat kompetensi profesional yang tinggi. • Apakah kepala sekolah telah menerapkan kepemimpinan yang efektif dan relevan dengan kondisi sekolah.

• Apakah para guru telah memiliki sikap positif terhadap pekerjaannya. • Apakah kepemimpinan kepala sekolah yang semakin positif akan diiringi dengan semakin positifnya kompetensi profesional guru. • Apakah sikap guru terhadap pekerjaan yang positif akan diiringi dengan semakin positifnya • Apakah tingkat kompetensi profesional guru yang rendah diakibatkan oleh kepemimpinan kepala sekolah yang kurang efektif dan tidak relevan.

• Apakah tingkat kompetensi profesional guru yang rendah diakibatkan oleh sikap guru yang negatif terhadap pekerjaannya. • Bagaimana pola hubungan fungsional antara kepemimpinan kepala sekolah dan sikap guru terhadap pekerjaan dengan kompetensi profesional guru.

C. Pembatasan Masalah Pembatasan masalah dilakukan agar penelitian lebih terarah, terfokus, dan tidak menyimpang dari sasaran pokok penelitian. Oleh karena itu, penulis memfokuskan kepada pembahasan atas masalah-masalah pokok yang dibatasi dalam konteks permasalahan yang terdiri dari : • Hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan kompetensi profesional guru.

• Hubungan antara sikap guru terhadap pekerjaan dengan kompetensi profesional guru. • Hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah dan sikap guru terhadap pekerjaan dengan kompetensi profesional guru. Selanjutnya untuk lebih memperdalam penelitian, maka dipilih tiga variabel yang relevan dengan permasalahan pokok, yaitu kepemimpinan kepala sekolah sebagai variabel bebas kesatu (X1), sikap guru terhadap pekerjaan sebagai variabel bebas kedua (X2), dan kompetensi profesional guru sebagai variabel terikat (Y).

D. Perumusan Masalah Perumusan masalah merupakan langkah yang paling penting dalam penelitian ilmiah. Perumusan masalah berguna untuk mengatasi kerancuan dalam pelaksanaan penelitian. Berdasarkan masalah yang dijadikan fokus penelitian, masalah pokok penelitian tersebut dirumuskan sebagai berikut : • Apakah terdapat hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan kompetensi profesional guru.

• Apakah terdapat hubungan antara sikap terhadap pekerjaan dengan kompetensi profesional guru. • Apakah terdapat hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah dan sikap guru terhadap pekerjaan dengan kompetensi profesional guru. E. Makalah bahasa indonesia tentang pendidikan Penelitian Kegunaan dari penelitian yaitu untuk meningkatkan kompetensi profesional guru dengan melihatnya dari aspek kepemimpinan kepala sekolah dan sikap guru terhadap pekerjaan.

Untuk maksud tersebut, dicari hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan kompetensi profesional guru dan hubungan antara sikap guru terhadap pekerjaan dengan kompetensi profesional guru. Setelah itu dikaji bagaimana hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah dan sikap guru terhadap pekerjaan secara bersama-sama dengan kompetensi profesional guru. Dengan mengetahui hubungan tersebut, hasil penelitian diharapkan berguna untuk meningkatkan kompetensi profesional guru matematika khususnya di Kabupaten Pandeglang.

Betapapun terdapat banyak kritik yang dilancarkan oleh berbagai kalangan terhadap pendidikan, atau tepatnya terhadap praktek pendidikan, namun hampir semua pihak sepakat bahwa nasib suatu komunitas atau suatu bangsa di masa depan sangat bergantung pada kontibusinya pendidikan.

Shane (1984: 39), misalnya sangat yakin bahwa pendidikanlah yang dapat memberikan kontribusi pada kebudayaan di hari esok. Pendapat yang sama juga bisa kita baca dalam penjelasan Umum Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional (UU No. 20/2003), yang antara lain menyatakan: “Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya.

Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan/atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat”.

Dengan demikian, sebagai institusi, pendidikan pada prinsipnya memikul amanah “etika masa depan”. Etika masa depan timbul dan dibentuk oleh kesadaran bahwa setiap anak manusia akan menjalani sisa hidupnya di masa depan bersama-sama dengan makhluk hidup lainnya yang ada di bumi. Hal ini berarti bahwa, di satu pihak, etika masa depan menuntut manusia untuk tidak mengelakkan tanggung jawab atas konsekuensi dari setiap perbautan yang dilakukannya sekarang ini.

Sementara itu pihak lain, manusia ditutut untuk mampu mengantisipasi, merunuskan nilai-nilai, dan menetapkan prioritas-prioritas dalam suasana yang tidak pasti agar generasi-generasi mendatang tidak menjadi mangsa dari proses yang semakin tidak terkendali di zaman mereka dikemudian hari (Joesoef, 2001: 198-199).

Visi ini tentu saja mensyaratkan bahwa, sebagai institusi, pendidikan harus solid. Idealnya, pendidikan yang solid adalah pendidikan yang steril dari berbagai permasalahan. Namun hal ini adalah suatu kemustahilan. Suka atau tidak suka, permasalahan akan selalu ada dimanapun dan kapanpun, termasuk dalam institusi pendidikan. Oleh karena itu, persoalannya bukanlah usaha menghindari permasalahah, tetapi justru perlunya menghadapi permasalahan itu secara cerdas dengan mengidentifikasi dan memahami substansinya untuk kemudian dicari solusinya.

Makalah ini berusaha mengidentifikasi dan memahami permasalahan-permasalahan pendidikan kontemporer di Indonesia. Permasalahan-permasalahan pendidikan dimaksud dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu permasalahan eksternal dan permasalahan internal.

Perlu pula dikemukakan bahwa permasalah pendidikan yang diuraikan dalam makalah ini terbatas pada permasalahan pendidikan formal. Namun sebelum menguraikan permasalahan eksternal dan internal tersebut, terlebih dahulu disajikan uraian singkat tentang fungsi pendidikan. Uraian yang disebut terakhir ini dianggap penting, karena permasalahan pendidikan pada hakekatnya terkait erat dengan realisasi fungsi pendidikan. Fungsi Pendidikan Pasal 3 UU No.

20/2003 menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam rumusan pasal 3 UU No. 20/2003 ini terkandung empat fungsi yang harus diaktualisasikan olen pendidikan, yaitu: (1) fungsi mengembangkan kemampuan peserta didik, (2) fungsi membentuk watak bangsa yang bermartabat, (3) fungsi mengembangkan peradaban bangsa yang bermartabat, dan (4) fungsi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Noeng Muhadjir (1987: 20-25) menyebutkan bahwa, sebagai institusi pendidikan mengemban tiga fungsi. Pertama, pendidikan berfungsi menumbuhkan kreativitas peserta didik. Kedua, pendidikan berfungsi mewariskan nilai-nilai kepada peserta didik; dan Ketiga, pendidikan berfungsi meningkatkan kemampuan kerja produktif peserta didik.

Sedangkan fungsi pendidikan ketiga yang dikemukakan Noeng Muhadjir pada dasarnya sama dengan fungsi pertama menurut UU No. 20/2003. Sementara itu, Vebrianto, seperti dikutip M.

Rusli Karim (1991: 28) menyebutkan empat fungsi pendidikan. Keempat fungsi dimaksud adalah: (1) transmisi kultural, pengetahuan, sikap, nilai dan norma ; (2) memilih dan menyiapkan peran sosial bagi peserta didik; (3) menjamin intergrasi nasional; dan (4) mengadakan inovasi-inovasi sosial.

makalah bahasa indonesia tentang pendidikan

Terlepas dari adanya perbedaan rincian dalam perumusan fungsi pendidikan seperti tersebut di atas, namun satu hal yang pasti ialah bahwa fungsi utama pendidikan adalah membantu manusia untuk meningkatkan taraf hidup dan makalah bahasa indonesia tentang pendidikan kemanusiaannya.

1. Permasalahan Eksternal Pendidikan Masa Kini Permasalahan eksternal pendidikan di Indonesia dewasa ini sesungguhnya sangat komplek. Hal ini dikarenakan oleh kenyataan kompleksnya dimensi-dimensei eksternal pendidikan itu sendiri. Dimensi-dimensi eksternal pendidikan meliputi dimensi sosial, politik, ekonomi, budaya, dan bahkan juga dimensi global.

Dari berbagai permasalahan pada dimensi eksternal pendidikan di Indonesia dewasa ini, makalah ini hanya akan menyoroti dua permasalahan, yaitu permasalahan globalisasi dan permasalahan perubahan sosial. Permasalahan globalisasi menjadi penting untuk disoroti, karena ia merupakan trend abad ke-21 yang sangat kuat pengaruhnya pada segenap sector kehidupan, termasuk pada sektor pendidikan. Sedangakan permasalah perubahan social adalah masalah “klasik” bagi pendidikan, dalam arti ia selalu hadir sebagai permasalahan eksternal pendidikan, dan karenya perlu dicermati.

Kedua permasalahan tersebut merupakan tantangan yang harus dijawab oleh dunia pendidikan, jika pendidikan ingin berhasil mengemban misi (amanah) dan fungsinya berdasarkan paradigma etika masa depan. 1.1. Permasalahan globalisasi Globalisasi mengandung arti terintegrasinya kehidupan nasional ke dalam kehidupan global.

Dalam bidang ekonomi, misalnya, globalisasi ekonomi berarti terintegrasinya ekonomi nasional ke dalam ekonomi dunia atau global (Fakih, 2003: 182). Bila dikaitkan dalam bidang pendidikan, globalisasi pendidikan berarti terintegrasinya pendidikan nasional ke dalam pendidikan dunia.

Sebegitu jauh, globalisasi memang belum merupakan kecenderungan umum dalam bidang pendidikan. Namun gejala kearah itu sudah mulai Nampak. Sejumlah SMK dan SMA di beberapa kota di Indonesia sudah menerapkan sistem Manajemen Mutu (Quality Management Sistem) yang berlaku secara internasional dalam pengelolaan manajemen sekolah mereka, yaitu SMM ISO 9001:2000; dan banyak diantaranya yang sudah menerima sertifikat ISO.

Oleh karena itu, dewasa ini globalisasi sudah mulai menjadi permasalahan actual pendidikan. Permasalahan globalisasi dalam bidang pendidikan terutama menyangkut output pendidikan.

Seperti diketahui, di era globalisasi dewasa ini telah terjadi pergeseran paradigma tentang keunggulan suatu Negara, dari keunggulan komparatif (Comperative adventage) kepada keunggulan kompetitif (competitive advantage).

Keunggulam komparatif bertumpu pada kekayaan sumber daya alam, sementara keunggulan kompetitif bertumpu pada pemilikan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas (Kuntowijoyo, 2001: 122). Dalam konteks pergeseran paradigma keunggulan tersebut, pendidikan nasional akan menghadapi situasi kompetitif yang sangat tinggi, karena harus berhadapan dengan kekuatan pendidikan global.

Hal ini berkaitan erat dengan kenyataan bahwa globalisasi justru melahirkan semangat cosmopolitantisme dimana anak-anak bangsa boleh jadi akan memilih sekolah-sekolah di luar negeri sebagai tempat pendidikan mereka, terutama jika kondisi sekolah-sekolah di dalam negeri secara kompetitif under-quality (berkualitas rendah).

Kecenderungan ini sudah mulai terlihat pada tingkat perguruan tinggi dan bukan mustahil akan merambah pada tingkat sekolah menengah. Bila persoalannya hanya sebatas tantangan kompetitif, maka masalahnya tidak menjadi sangat krusial (gawat). Tetapi salah satu ciri globalisasi ialah adanya “regulasi-regulasi”. Dalam bidang pendidikan hal itu tampak pada batasan-batasan atau ketentuan-ketentuan tentang sekolah berstandar internasional. Pada jajaran SMK regulasi sekolah berstandar internasional tersebut sudah lama disosialisasikan.

Bila regulasi berstandar internasional ini kemudian ditetapkan sebagai prasyarat bagi output pendidikan untuk memperolah untuk memperoleh akses ke bursa tenaga kerja global, maka hal ini pasti akan menjadi permasalah serius bagi pendidikan nasional. Globalisasi memang membuka peluang bagi pendidikan nasional, tetapi pada waktu yang sama ia juga mengahadirkan tantangan dan permasalahan pada pendidikan nasional. Karena pendidikan pada prinsipnya mengemban makalah bahasa indonesia tentang pendidikan masa depan, maka dunia pendidikan harus mau menerima dan menghadapi dinamika globalisasi sebagai bagian dari permasalahan pendidikan masa kini.

Ada sebuah adegium yang menyatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi, semuanya berubah; satu-satunya yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Itu artinya, perubahan social merupakan peristiwa yang tidak bisa dielakkan, meskipun ada perubahan social yang berjalan lambat dan ada pula yang berjalan cepat.

makalah bahasa indonesia tentang pendidikan

Bahkan salah satu fungsi pendidikan, sebagaimana dikemukakan di atas, adalah melakukan inovasi-inovasi social, yang maksudnya tidak lain adalah mendorong perubahan social. Fungsi pendidikan sebagai agen perubahan sosial tersebut, dewasa ini ternyata justru melahirkan paradoks. Kenyataan menunjukkan bahwa, sebagai konsekuansi dari perkembangan ilmu perkembangan dan teknologi yang demikian pesat dewasa ini, perubahan social berjalan jauh lebih cepat dibandingkan upaya pembaruan dan laju perubahan pendidikan.

Sebagai akibatnya, fungsi pendidikan sebagai konservasi budaya menjadi lebih menonjol, tetapi tidak mampu mengantisipasi perubahan sosial secara akurat (Karim, 1991: 28). Dalam kaitan dengan paradoks dalam hubungan timbal balik antar pendidikan dan perubahan sosial seperti dikemukakan di atas, patut kiranya dicatat peringatan Sudjatmoko (1991:30) yang menyatakan bahwa Negara-negara yang tidak mampu mengikuti revolusi industri mutakhir akan ketinggalan dan berangsur-angsur kehilangan kemampuan untuk mempertahankan kedudukannya sebagai Negara merdeka.

Dengan kata lain, ketidakmampuan mengelola dan mengikuti dinamika perubahan sosial sama artinya dengan menyiapkan keterbelakangan. Permasalahan perubahan sosial, dengan demikian harus menjadi agenda penting dalam pemikiran dan praksis pendidikan nasional.

makalah bahasa indonesia tentang pendidikan

Seperti halnya permasalahan eksternal, permasalahan internal pendidikan di Indonesia masa kini adalah sangat kompleks. Daoed Joefoef (2001: 210-225) misalnya, mencatat permasalahan internal pendidikan meliputi permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan strategi pembelajaran, peran guru, dan kurikulum. Selain ketiga permasalahan tersebut sebenarnya masih ada jumlah permasalahan lain, seperti permasalahan yang berhubungan dengan sistem kelembagaan, sarana dan prasarana, manajemen, anggaran operasional, dan peserta didik.

Dari berbagai permasalahan internal pendidikan dimaksud, makalah ini hanya akan membahas tiga permasalahan internal yang di pandang cukup menonjol, yaitu permasalahan sistem kelembagaan, profesionalisme guru, dan strategi pembelajaran. Permasalahan sistem kelembagaan pendidikan yang dimaksud dengan uraian ini ialah mengenai adanya dualisme atau bahkan dikotomi antar pendidikan umum dan pendidikan agama.

Dualisme atau dikotomi antara pendidikan umum dan pendidikan agama ini agaknya merupakan warisan dari pemikiran Islam klasik yang memilah antara ilmu umum dan ilmu agama atau ilmu ghairuh syariah dan ilmu syariah, seperti yang makalah bahasa indonesia tentang pendidikan dalam konsepsi al-Ghazali (Otman, 1981: 182).

Dualisme dikotomi sistem kelembagaan pendidikan yang berlaku di negeri ini kita anggap sebagai permasalahan serius, bukan saja karena hal itu belum bisa ditemukan solusinya hingga sekarang, melainkan juga karena ia, menurut Ahmad Syafii Maarif (1987:3) hanya mampu melahirkan sosok manusia yang “pincang”.

makalah bahasa indonesia tentang pendidikan

Jenis pendidikan yang pertama melahirkan sosok manusia yang berpandangan sekuler, yang melihat agama hanya sebagai urusan pribadi. Sedangkan sistem pendidikan yang kedua melahirkan sosok manusia yang taat, tetapi miskim wawasan. Dengan kata lain, adanya dualisme dikotomi sistem kelembagaan pendidikan tersebut merupakan kendala untuk dapat melahirkan sosok manusia Indonesia “seutuhnya”.

Oleh karena itu, Ahmad Syafii Maarif (1996: 10-12) menyarankan perlunya modal pendidikan yang integrative, suatu gagasan yang berada di luar ruang lingkup pembahasan makalah ini. Salah satu komponen penting dalam kegiatan pendidikan dan proses pembelajaran adalah pendidik atau guru. Betapapun kemajuan taknologi telah menyediakan berbagai ragam alat bantu untuk meningkatkan efektifitas proses pembelajaran, namun posisi guru tidak sepenuhnya dapat tergantikan.

Itu artinya guru merupakan variable penting bagi keberhasilan pendidikan. Menurut Suyanto (2007: 1), “guru memiliki peluang yang amat besar untuk mengubah kondisi seorang anak dari gelap gulita aksara menjadi seorang yang pintar dan lancar baca tulis alfabetikal maupun funfsional yang kemudian akhirnya ia bisa menjadi tokoh kebanggaan komunitas dan bangsanya”. Tetapi segera ditambahkan: “guru yang demikian tentu bukan guru sembarang guru. Ia pasti memiliki profesionalisme yang tinggi, sehingga bisa “digugu lan ditiru”.

Lebih makalah bahasa indonesia tentang pendidikan Suyanto (2007: 3-4) menjelaskan bahwa guru yang profesional harus memiliki kualifikasi dan ciri-ciri tertentu. Kualifikasi dan ciri-ciri dimaksud adalah: (a) harus memiliki landasan pengetahuan yang kuat, (b) harus berdasarkan atas kompetensi individual, (c) memiliki sistem seleksi dan sertifikasi, (d) ada kerja sama dan kompetisi yang sehat antar sejawat, (e) adanya kesadaran profesional yang tinggi, (f) meliki prinsip-prinsip etik (kide etik), (g) memiliki sistem seleksi profesi, (h) adanya militansi individual, dan (i) memiliki organisasi profesi.

Makalah bahasa indonesia tentang pendidikan ciri-ciri atau karakteristik profesionalisme yang dikemukakan di atas jelaslah bahwa guru tidak bisa datang dari mana saja tanpa melalui sistem pendidikan profesi dan seleksi yang baik.

Itu artinya pekerjaan guru tidak bisa dijadikan sekedar sebagai usaha sambilan, atau pekerjaan sebagai moon-lighter (usaha objekan) Suyanto (2007: 4).

Namun kenyataan dilapangan menunjukkan adanya guru terlebih terlebih guru honorer, yang tidak berasal dari pendidikan guru, dan mereka memasuki pekerjaan sebagai guru tanpa melalui system seleksi profesi. Singkatnya di dunia pendidikan nasional ada banyak, untuk tidak mengatakan sangat banyak, guru yang tidak profesioanal.

Inilah salah satu permasalahan internal yang harus menjadi “pekerjaan rumah” bagi pendidikan nasional masa kini. Menurut Suyanto (2007: 15-16) era globalisasi dewasa ini mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap pola pembelajaran yang mampu memberdayakan para peserta didik.

Tuntutan global telah mengubah paradigma pembelajaran dari paradigma pembelajaran tradisional ke paradigma pembelajaran baru. Suyanto menggambarkan paradigma pembelajaran sebagai berpusat pada guru, menggunakan media tunggal, berlangsung secara terisolasi, interaksi guru-murid berupa pemberian informasi dan pengajaran berbasis factual atau pengetahuan. Paulo Freire (2002: 51-52) menyebut strategi pembelajaran tradisional ini sebagai strategi pelajaran dalam “gaya bank” (banking concept).

Di pihak lain strategi pembelajaran baru digambarkan oleh Suyanto sebagai berikut: berpusat pada murid, menggunakan banyak media, berlangsung dalam bentuk kerja sama atau secara kolaboratif, interaksi guru-murid berupa pertukaran informasi dan menekankan pada pemikiran kritis serta pembuatan keputusan yang didukung dengan informasi yang kaya.

Model pembelajaran baru ini disebut oleh Paulo Freire (2000: 61) sebagai strategi pembelajaran “hadap masalah” (problem posing). Meskipun dalam aspirasinya, sebagaimana dikemukakan di atas, dewasa ini terdapat tuntutan pergeseran paradigma pembelajaran dari model tradisional ke arah model baru, namun kenyataannya menunjukkan praktek pembelajaran lebih banyak menerapkan strategi pembelajaran tradisional dari pembelajaran baru (Idrus, 1997: 79).

Hal ini agaknya berkaitan erat dengan rendahnya professionalisme guru. Permasalahan pendidikan di Indonesia masa kini sesungguhnya sangat kompleks.

Makalah ini dengan segala keterbatasannya, hanya sempat menyoroti beberapa diantaranya yang dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu permasalahan eksternal dan internal. Dalam permasalahan eksternal di bahas masalah globalisasi dan masalah perubahan social sebagai lingkungan pendidikan.

Sedangkan menyangkut permasalahan internal disoroti masalah system kelemahan (dialisme dikotomi), profesionalisme guru, dan strategi pembelajaran. Dari pemahaman terhadap sejumlah permasalahan dimaksud di atas dapat disimpulkan bahwa berbagai permasalahan pendidikan yang komplek itu, baik eksternal maupun internal adalah saling terkait.

Hal ini tentu saja menyarankan bahwa pemecahan terhadap permasalahan-permasalahan pendidikan tidak bisa dilakukan secara parsial; yang merupakan pendekatan terpadu. Bagaimanapun, permasalahan-permasalahan di atas yang belum merupakan daftar lengkap, harus kita hadapi dengan penuh tanggung jawab. Sebab, jika kita gagal menemukan solusinya maka kita tidak bisa berharap pendidikan nasional akan mampu bersaing secara terhormat di era globalisasi dewasa ini.

DAFTAR PUSTAKA • Fakih, Mansour, 2000. Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi, Yogyakarta: Insist Press dan Pustaka Pelajar. • Freire, Paulo, 2000. Pendidikan Kaum Tertindas, alih bahasa Oetomo Dananjaya dkk. Jakarta: LP3ES. • Joesoef, Daoed, 2001. “Pembaharuan Pendidikan dan Pikiran”, dalam Sularto ( ed .). Masyarakat Warga dan Pergulatan Demokrasi: Antara Cita dan Fakta. Jakarta: Kompas. • Karis, M. Rusli. 1991, “Pendidikan Islam sebai Upaya Pembebasan Manusia”, dalam Makalah bahasa indonesia tentang pendidikan Usa (ed.).

Pendidikan Islam di Indonesia: Antara Cita dan Fakta. Yogyakarta: Tiara Wacana. • Kuntowijoyo, 2001. Muslim Tanpa Masjid: Esai-Esai Agama, Budaya, dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transendental, Bandung: Mizan. • Maarif, Ahmad Syafii, 1987. “Masalah Pembaharuan Pendidikan Islam”, dalam Ahmad Busyairi dan Azharudin Sahil ( ed .). Tantangan Pendidikan Islam. Makalah bahasa indonesia tentang pendidikan LPM UII.

• Maarif. Ahmad Syafii, 1996. “Pendidikan Islam dan Proses Pemberdayaan Umat”. Jurnal Pendidikan Islam, No. 2 Th.I/Oktober 1996. • Muhadjir, Noeng, 1987. Ilmu Pendidikan dan Perubahan Social: Suatu Teori Pendidikan. Yogyakarta: Reka Sarasih • Muhadjir, Noeng, 1987. Ilmu Pendidikan dan Perubahan Social: Suatu Teori Pendidikan. Yogyakarta: Reka Sarasih.

• Othman, Ali Issa, 1981. Manusia Menurut al-Ghazali, alih bahasa Johan Smit dkk. Bandung: Pustaka. • Shane, Harlod G., 1984.

Arti Pendidikan bagi Masa Depan. Jakarta: Rajawali Pers. • Soedjatmoko, 1991. “Nasionalisme sebagai Prospek Belajar”, Prisma, No. 2 Th. XX, Februari. • Suyanto, 2007, “Tantangan Profesionalisme Guru di Era Global”, Pidato Dies Natalis ke-43 Universitas Negeri Yogyakarta, 21 Mei.

presentase makalah dampak pandemi covid 19 terhadap pendidikan ( makalah Bahasa Indonesia)




2022 www.videocon.com