Hadits tentang keluarga sakinah, mawaddah warahmah

hadits tentang keluarga sakinah, mawaddah warahmah

SAKINAH MAWADDAH WARAHMAH SAKINAH, ialah ketika kita melihat kekurangan pasangan namun mampu menjaga lidah untuk tidak mencelanya. MAWADDAH, ialah ketika kita mengetahui kekurangan pasangan namun mampu memilih untuk menutup sebelah mata atas kekurangannya dan membuka mata yang lain untuk berfokus pada kelebihannya. Sedangkan RAHMAH itu ialah, ketika kita mampu menjadikan kekurangan pasangan sebagai ladang amal untuk diri kita.

Tapi ingat.! Maksud pasangan di sini adalah pasangan yang HALAL. Bukan yang KURANG AJAR Semoga yang sudah berkeluarga hadits tentang keluarga sakinah membina keluarga yang Sakinah, Mawaddah wa Rahmah, dan bagi yang belum, semoga mendapat pendamping yang shalih dan atau shalihah. 1. Dalam keluarga itu ada mawaddah dan rahmah ( Q/30:21).

Mawaddah adalah jenis cinta membara, yang menggebu-gebu dan “nggemesi”, sedangkan rahmah adalah jenis cinta yang lembut, siap berkorban dan siap melindungi kepada yang dicintai. Mawaddah saja, masih kurang menjamin mawaddah warahmah rumah tangga, sebaliknya, rahmah, lama kelamaan menumbuhkan mawaddah.

2. Hubungan antara suami isteri harus mawaddah warahmah dasar saling membutuhkan, seperti pakaian dan yang memakainya ( Hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna, Q/2:187). Fungsi pakaian ada tiga, yaitu : (a) menutup aurat, (b) melindungi diri dari panas dingin, dan (c) perhiasan. Suami terhadap isteri dan sebaliknya harus menfungsikan diri dalam tiga hal tersebut. Jika isteri mempunyai suatu kekurangan, suami tidak menceriterakan kepada orang lain, begitu juga sebaliknya. Jika isteri sakit, suami segera mencari obat atau membawa ke dokter, begitu juga sebaliknya.

Isteri harus selalu tampil membanggakan suami, suami juga harus tampil membanggakan isteri, jangan terbalik di luaran tampil menarik orang banyak, di rumah “semrawut” menyebalkan. 3. Suami isteri dalam bergaul memperhatikan hal-hal yang secara sosial dianggap patut (ma`ruf), tidak asal benar dan hak, Wa`a syiruhunna bil ma`ruf (Q/4:19).

Besarnya mahar, nafkah, cara bergaul dan sebagainya harus memperhatikan nilai-nilai ma`ruf. Hal ini terutama harus diperhatikan oleh suami isteri yang berasal dari kultur yang menyolok perbedaannya. 4. Menurut hadis Nabi, pilar keluarga sakinah itu ada empat ( idza aradallohu bi ahli baitin khoiran …dst); (a) memiliki kecenderungan kepada agama, (b) yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda, (c) sederhana dalam belanja, (d) santun dalam bergaul dan (e) selalu introspeksi.

5. Menurut hadis Nabi juga, empat hal akan menjadi faktor yang mendatangkan kebahagiaan keluarga ( Arba`un min sa`adatil mar’i), yakni : (a) suami / isteri yang setia (saleh/salehah), (b) anak-anakyang berbakti, (c) lingkungan sosial yang sehatdan (d) dekat rizkinya. Suami istri adalah pasangan yang harus saling melengkapi kekurangannya masing masing, bila suami salah istri yang mengingatkan dan juga sebaliknya.

Dalam kehidupan mahligai rumah tangga tidak selamanya mulus, maka yang di butuhkan kesabaran dan saling pengertian dalam mengarunginya sedangkan yang di tuntut bagi suami harus sanggup membimbing sang istri ke jalan yang di ridoi Alloh Swt serta mengasihinya, dan bagi sang istri jadilah kedamaian di hati suami dengan ketaatan serta bakti padanya dan menjaga kehormatan sang suami ketika sang suami keluar atau tidak ada di rumah,dan di antara suami istri saling menutupi aib masing masing.

Bila ada persoalan bicaralah di dalam rumah jangan sampai tetangga mendengarnya bila keduanya sudah tidak sanggup menyelesaikan masalahnya sendiri maka mintalah pendapat dari keluarga suami dan keluarga istri • Recent Posts • KHUTBAH JUM’AT : SEDEKAH DARI HARTA YANG Mawaddah warahmah DAN SEDIKIT • KHUTBAH JUM’AT : SEDEKAH KITA UNTUK TAWASUL TERBEBAS DARI MUSIBAH • JANDA YANG MENGAKU ZINA DAN HAMIL SEBELUM 4 TAHUN PERCERAIAN • TKW MENIKAH LAGI KARENA SUAMINYA TAK DI KETAHUI RIMBANYA • MUTIARA HIKMAH, INSPIRASI DAN MOTIVASI DALAM KEHIDUPAN • Tags doa nabi khidir, fastabiqul khairat, doa nurbuat, fastabiqul khoirot, mimpi tikus, mimpi menggendong anak perempuan, doa melahirkan, syarat khatib, syarat menjadi khotib, Pengertian Asmaul Husna, mimpi gendong anak perempuan, solat hadiah, syarat menjadi khatib, doa kasih sayang, syarat khotib, doa agar berjodoh, bacaan shalawat setelah adzan, arti Fastabiqul khoirot, malaikat muqorrobin, hukum memikirkan orang yang bukan muhrim, sholawat nabi, hukum membunuh kucing, doa nurbuat dalam tulisan arab, sholat unsi, hadits tentang guru, mimpi kelinci, doa mau melahirkan, sholat syukur, doa pembuka hati, doa yang menggetarkan arsy allah swt, arti mimpi kelinci, mbah panjalu, arti mimpi tikus, doa syukur nikmat, surat alam nasyrah mp3, kisah para aulia, kata kata ceramah lucu, ShOlat unsi al qobri, mimpi melihat tikus, mimpi kalajengking, arti mimpi melihat tikus, Hanna waladat maryam, doa pembuka jodoh, doa sakit mata, hadist tentang guru, mimpi menggendong anak kecil perempuan, doa agar sukses dalam karir, arti mimpi menggendong anak perempuan, doa naik kendaraan darat, alam nasyrah mp3 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. “ (QS : Ar-Ruum:21) Dalam ayat diatas, Allah menyampaikan bahwa manusia diciptakan berpasangan antara istri dan suaminya untuk mendapatkan keternangan, keterntraman, dan kasih sayang. Hal tersebut merupakan tanda kuasa Allah dan nikmat yang diberikan bagi mereka yang bisa mengambil pelajarannya.

Keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah adalah istilah sekaligus doa yang sering kali dipanjatkan dan diharapkan oleh para muslim yang telah menikah dan membina keluarga. Keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah tentunya bukan hanya sekedar semboyan belaka dalam ajaran islam. Hal ini menjadi tujuan dari pernikahan sekaligus nikmat yang Allah berikan bagi mereka yang mampu membina keluarganya. Seperti apakah keluarga sakinah, mawaddah, dan warahmah? Dan apa karaktersitiknya keluarga tersebut menjadi keluarga yang pernuh cinta, berkah dan rahmat-Nya?

Makna Keluarga yang Sakinah Sakinah berasal dari bahasa arab yang artinya adalah ketenangan, ketentraman, aman atau damai. Lawan kata dari ketentraman atau ketenangan adalah keguncangan, keresahan, kehancuran. Sebagaimana arti kata tersebut, keluarga sakinah berarti keluarga yang didalamnya mengandung ketenangan, ketentraman, keamanan, dan kedamaian antar anggota keluarganya.

Keluarga yang sakinah berlawanan dengan keluarga yang penuh keresahan, kecurigaan, dan kehancuran. Kita bisa melihat keluarga yang tidak sakinah contohnya adalah keluarga yang didalamnya penuh perkelahian, kecurigaan antar pasangan, bahkan berpotensi terhadap adanya konflik yang berujung perceraian. Ketidakpercayaan adalah salah satu aspek yang membuat gagal keluarga sakinah terwujud.

Misalnya saja pasangan saling mencurigai, adanya pihak atau orang yang mengguncang rumah tangga atau perlawanan istri terhadap suami. Hukum melawan suami menurut islam tentunya menjadi hal yang harus diketahui pula oleh istri untuk menjaga sakinah dalam keluarga. Dengan adanya ketenangan, ketentraman, rasa aman, kedamaian maka keguncangan di dalam keluarga tidak akan terjadi. Masing-masing anggota keluarga dapat memikirkan pemecahan masalah secara jernih dan menyentuh intinya.

Tanpa ketenangan maka sulit masing-masing bisa berpikir dengan jernih, dan mau bermusyawarah, yang ada justru perdebatan, dan perkelahian yang tidak mampu menyelesaikan masalah. Konflik dalam keluarga akan mudah terjadi tanpa adanya sakinah dalam keluarga. Makna Keluarga yang Mawaddah Mawaddah berasal pula dari bahasa Arab yang artinya adalah perasaan kasih sayang, cinta yang membara, dan menggebu.

Mawaddah ini khususnya digunakan untuk istilah perasaan cinta yang menggebu pada pasangannya. Dalam islam, mawaddah ini adalah fitrah yang pasti dimiliki oleh manusia.

Muncul perasan cinta yang menggebu ini karena hal-hal yang sebabnya bisa dari aspek kecantikan atau ketampanan pasangannya, moralitas, kedudukan dan hal-hal lain yang melekat pada pasangannya atau manusia ciptaan Allah. Kriteria calon istri menurut islam dan kriteria calon suami menurut islam bisa menjadi aspek yang perlu dipertimbangkan untuk memunculkan cinta pada pasangan nantinya.

Adanya perasaan mawaddah pastinya mampu membuat rumah tangga penuh cinta dan sayang. Tanpa adanya cinta tentunya keluarga menjadi hambar.

Adanya mawaddah warahmah membuat pasangan suami istri serta anak-anak mau berkorban, mau memberikan sesuatu yang lebih untuk keluarganya.

hadits tentang keluarga sakinah, mawaddah warahmah

Perasaan cinta mampu memberikan perasaan saling memiliki dan saling menjaga. Keluarga yang ada perasaan mawaddah tentunya memunculkan nafsu yang positif (nafsu yang halal dalam aspek pernikahan). Kita bisa melihat, keluarga yang tidak ada mawaddah tentunya tidak akan saling memberikan dukungan, hambar, yang membuat rumah tangga pun seperti sepi. Perselingkuhan dalam rumah tangga bisa saja terjadi jika mawaddah tidak ada dalam keluarga.

hadits tentang keluarga sakinah, mawaddah warahmah

Masing-masing pasangan akan mencari cinta lain dari orang lain. Keluarga yang penuh mawaddah bukan terbentuk hanya karena jalan yang instan saja. Perasaan cinta dalam keluarga tumbuh dan berkembang karena proses dipupuknya lewat cinta suami istri serta anak-anak. Keindahan keluarga mawaddah tentunya sangat didambakan bagi setiap manusia, karena hal tersebut fitrah dari setiap makhluk. Hadits tentang keluarga sakinah Keluarga yang Rahmah Kata Rahmah berasal dari bahasa arab yang artinya adalah ampunan, rahmat, rezeki, dan karunia.

Rahmah terbesar tentu berasal dari Allah SWT yang diberikan pada keluarga yang terjaga rasa cinta, kasih sayang, dan juga kepercayaan. Keluarga yang rahmah tidak mungkin muncul hanya sekejap melainkan muncul karena proses adanya saling membutuhkan, saling menutupi kekurangan, saling memahami, dan memberikan pengertian. Rahmah atau karunia dan rezeki dalam keluarga adalah karena proses dan kesabaran suami istri dalam membina rumah tangganya, serta melewati pengorbanan juga kekuatan jiwa.

Dengan prosesnya yang penuh kesabaran, karunia itu pun juga akan diberikan oleh Allah sebagai bentuk cinta tertinggi dalam keluarga.

Rahmah tidak terwujud jika suami dan istri saling mendurhakai. Untuk itu perlu memahami pula mengenai ciri-ciri suami durhaka terhadap istri dan ciri-ciri istri durhaka terhadap suami. Karakteristik Keluarga Sakinah, Mawaddah dan Warahmah Setelah mengetahui makna keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah, pada intinya masing-masing dalam rumah tangga mampu mengetahui cara menjaga keharmonisan mawaddah warahmah rumah tangga menurut islam, sehingga tidak terjadi kekacuan. Berikut merupakan ciri-ciri atau karakterstik yang bisa menggambarkan seperti apakah keluarga tersebut.

• Terdapat cinta, kasih sayang, dan rasa saling memiliki yang terjaga satu sama lain • Terdapat ketenangan dan ketentraman yang terjaga, bukan konflik atau mengarah pada perceraian • Keikhlasan dan ketulusan peran yang diberikan masing-masing anggota keluarga, baik peran dari suami sebagai kepala rumah tangga, istri sebagai ibu juga megelola amanah suami, serta anak anak yang menjadi amanah dari Allah untuk diberikan pendidikan yang baik. • Kecintaan yang mengarahkan kepada cinta Illahiah dan Nilai Agama, bukan hanya kecintaan terhadap makhluk atau hawa nafsu semata • Jauh dari ketidakpercayaan, kecurigaan, dan perasaan was-was antar pasangan • Mampu menjaga satu sama lain dalam aspek keimanan dan ibadah, bukan saling menjerumuskan atau saling menghancurkan satu hadits tentang keluarga sakinah lain • Mampu menjaga pergaulan dalam islam, tidak melakukan penyelewengan apalagi pengkhianatan sesama pasangan • Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi dalam keluarga mulai dari rezeki, kebutuhan dorongan sexual, dan rasa memiliki satu sama lain • Mendukung karir, profesi satu sama lain yang diwujudkan untuk sama-sama membangun keluarga dan membangun ummat sebagai amanah dari Allah SWT.

Tujuan dan Manfaat Keluarga Sakinah, Mawaddah, Warahmah Keluarga adalah unit terkecil dalam sebuah masyarakat. Keluarga bukan hanya sekedar hubungan formal antara suami, istri, dan anak-anak namun juga memiliki fungsi dan tugas tersendiri dalam masyarakat.

Allah tidak pernah memberikan sebuah aturan dan menciptakan sesuatu tanpa ada alasan dan manfaat yang akan diperoleh. Semua aturan yang diberikan Allah senantiasa dikembalikan kepada misi dan penciptaan manusia di muka bumi ini. Keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah adalah perintah Allah yang juga diberikan kepada keluarga untuk diwujudkan bersama. Dengan adanya keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah hal ini akan mampu membantu misi dan tujuan dalam keluarga yang islami bisa terwujud.

• Menunjang Misi Kekhalifahan Manusia di Muka Bumi ”Dan tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku” (QS Adzariyat : 54) Manusia diciptakan oleh Allah di muka bumi semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dengan adanya keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah maka tujuan beribadah kepada Allah sebagai satu-satunya Illah mampu dibentuk, dikondisikan, dan saling didukung dari keluarga.

Keluarga sakinah mawaddah dan rahmah anggotanya, baik suami, istri, dan anak-anak akan saling mengarahkan untuk menjalankan misi ibadah kepada Allah. Keluarga sakinah mawaddah rahmah bukan hanya cinta manusia belaka, namun lebih jauh cinta kepada keillahiahan.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. . ” (QS Al-Baqarah : 30) Allah pun menciptakan manusia untuk menjadi khalifah fil ard. Khalifah fil ard artinya adalah manusia melaksanakan pembangunan dan memberikan manfaat sebanyak-banyaknya untuk kemakmuran di muka bumi lewat jalan apapun. Bisa menjadi ibu rumah tangga, profesi, memberdayakan ummat, dsb.

Dengan adanya hadits tentang keluarga sakinah sakinah yang penuh cinta dan rahmah, maka misi kekhalifahan ini bisa dilakukan dengan penuh semangat, dukungan dan juga saling membantu untuk menutupi kekurangan.

Adanya profesi atau karir dari masing-masing suami, istri justru hadits tentang keluarga sakinah malah menjauh dan saling tidak bertatap wajah. Adanya hal tersebut justru membuat mereka saling mendukung agar masing-masing juga banyak berkarya untuk agama dan bangsa, karena keluarga bagian dari pembangunan ummat.

• Menjadi Ladang Ibadah dan Beramal Shalih “ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS : At Tahrim: 6) Allah memerintahkan kepada manusia untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Artinya, untuk menjauhi api neraka manusia diperintahkan untuk memperbanyak ibadah dan amalan yang shaleh. Hal ini belum tentu mudah jika dijalankan sendirian. Untuk itu, adanya keluarga yang baik dan sesuai harapan Allah tentunya keluarga pun bisa menjadi ladang ibadah dan amal shalih karena banyak yang bisa dilakukan dalam sebuah keluarga.

Seorang ayah yang bekerja mencari nafkah halal demi menghidupi keluarga dan anak anaknya tentu menjadi mawaddah warahmah dan amal ibadah sendiri dalam keluarga.

Begitupun seorang ibu yang mengurus rumah tangga atau membantu suami untuk menghidupi keluarga adalah ladang ibadah dan amal shalih tersendiri. Kewajiban istri terhadap suami dalam islam bisa menjadi ladang ibadah tersendiri. Begitupun Kewajiban suami terhadap istri adalah pahala tersendiri bagi suami dalam keluarga. Mendidik anak dalam islam juga merupakan bagian dari Ladang ibadah dan amal shalih hanya akan bisa dilakukan secara kondusif oleh keluarga yang terjaga rasa cinta, sayang, dan penuh dengan ketulusan dalam menjalankannya.

Untuk itu diperlukan keluarga dalam sakinah, mawaddah, wa rahmah yang bisa menjalankan ibadah dan amal shalih dengan semaksimalnya. • Tempat menuai cinta, kasih, sayang dan memenuhi kebutuhan “Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?” (QS An-Nahl : 72) Allah memberikan rezeki yang baik-baik salah satunya memberikan nikmat keluarga dan keturunan.

Hal tersebut tentunya hal yang mahal dalam sebuah ikatan keluarga. Karena tidak semuanya dapat menikmati hal tersebut. Padahal, keluarga dan perasaan kenyamanan cinta adalah fitrah yang menjadi kebutuhan setiap manusia. Wanita shalehah idaman pria shaleh adalah salah satu bentuk kebahagiaan tersendiri dalam keluarga. Dengan adanya keluarga sakinah mawaddah wa rahman, tentunya kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan manusia bisa dipenuhi dalam keluarga. Kebutuhan tersebut mulai dari rasa aman, tentram, rezeki berupa harta, cinta, sexual dari pasangan, kehormatan, dan tentunya bentuk-bentuk ibadah yang bisa dilakukan dalam amal salih berkeluarga.

Istri adalah amanah dari suami begitupun sebaliknya. Membangun rumah tangga dalam islam buka hanya amanah suami dan istri, namun lebih jauh dari itu adalah amanah dari Allah karena pernikahan dalam islam dibentuk atas dasar nama Allah. Keluarga dan Rumah tangga bukanlah tanpa ada kegoncangan dan ujian, namun atas dasar dan nilai-nilai agama semua itu mampu diselesaikan hingga redamnya kegoncangan. Keluarga Sakinah, Mawaddah dan warahmah bukan hanya tujuan, melainkan proses untuk menggapai kebahagiaan lebih hadits tentang keluarga sakinah dunia, yaitu kebahagiaan di akhirat.
Keluarga Sakinah, Mawaddah Warohmah Menurut Islam – Sahabat Muslimah, dalam menjalani kehidupan berumah tangga tentu banyak cobaan dan rintangan yang dihadapi.

Semua itu merupakan proses agar menjadi keluarga yang sakinah, mawadah warrahmah.

hadits tentang keluarga sakinah, mawaddah warahmah

Nah Sahabat, bagaimana sih keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah menurut islam?. Untuk lebih jelasnya silahkan simak ulasan berikut ini dengan seksama. • 1 Keluarga Sakinah, Mawaddah Warohmah Menurut Islam • 1.1 Makna Keluarga yang Sakinah • 1.2 Makna Keluarga yang Hadits tentang keluarga sakinah • 1.3 Makna Keluarga yang Rahmah • 1.4 Share this: • 1.5 Related posts: Keluarga Sakinah, Mawaddah Warohmah Menurut Islam Sebagaimana Allah telah berfirman dalam QS.

Ar-Rum ayat 21 yaitu : Artinya : “ Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.“ Dalam ayat diatas, Allah menyampaikan bahwa manusia diciptakan berpasangan antara istri dan suaminya untuk mendapatkan ketenangan, ketentraman, dan kasih sayang.

Hal tersebut merupakan tanda kuasa Allah dan nikmat yang diberikan bagi mereka yang bisa mengambil pelajarannya. Keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah adalah istilah sekaligus doa yang sering kali dipanjatkan dan diharapkan oleh para muslim yang telah menikah dan membina keluarga. Keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah tentunya bukan hanya sekedar semboyan belaka dalam ajaran islam. Hal ini menjadi tujuan dari hadits tentang keluarga sakinah sekaligus nikmat yang Allah berikan bagi mereka yang mampu membina keluarganya.

Makna Keluarga hadits tentang keluarga sakinah Sakinah Sakinah berasal dari bahasa arab yang artinya adalah ketenangan, ketentraman, aman atau damai. Lawan kata dari ketentraman atau ketenangan adalah keguncangan, keresahan, kehancuran. Sebagaimana arti kata tersebut, keluarga sakinah berarti keluarga yang didalamnya mengandung ketenangan, ketentraman, keamanan, dan kedamaian antar anggota keluarganya.

Keluarga yang sakinah berlawanan dengan keluarga yang penuh keresahan, kecurigaan, dan kehancuran. Kita bisa melihat keluarga yang tidak sakinah contohnya adalah keluarga yang didalamnya penuh perkelahian, kecurigaan antar pasangan, bahkan berpotensi terhadap adanya konflik yang berujung perceraian. Ketidakpercayaan adalah salah satu aspek yang membuat gagal keluarga sakinah terwujud. Misalnya saja pasangan saling mencurigai, adanya pihak atau orang yang mengguncang rumah tangga atau perlawanan istri terhadap suami.

Hukum melawan suami menurut islam tentunya menjadi hal yang harus diketahui pula oleh istri untuk menjaga sakinah dalam keluarga. Dengan adanya ketenangan, ketentraman, rasa aman, kedamaian maka keguncangan di dalam keluarga tidak akan terjadi.

Masing-masing anggota keluarga dapat memikirkan pemecahan masalah secara jernih dan menyentuh intinya. Tanpa ketenangan maka sulit masing-masing bisa berpikir dengan jernih, dan mau bermusyawarah, yang ada justru perdebatan, dan perkelahian yang tidak mampu menyelesaikan masalah.

Konflik dalam keluarga akan mudah terjadi tanpa adanya sakinah dalam keluarga. Makna Keluarga yang Mawaddah Mawaddah berasal pula dari bahasa Arab yang artinya adalah perasaan kasih sayang, cinta yang membara, dan menggebu. Mawaddah ini khususnya digunakan untuk istilah perasaan cinta yang menggebu pada pasangannya. Dalam islam, mawaddah ini adalah fitrah yang pasti dimiliki oleh manusia.

Muncul perasan cinta yang menggebu ini karena hal-hal yang sebabnya bisa dari aspek kecantikan atau ketampanan pasangannya, moralitas, kedudukan dan hal-hal lain yang melekat pada pasangannya atau manusia ciptaan Allah. Kriteria calon istri menurut islam dan kriteria calon suami menurut islam bisa menjadi aspek yang perlu dipertimbangkan untuk memunculkan cinta pada pasangan nantinya.

Adanya perasaan mawaddah pastinya mampu membuat rumah tangga penuh cinta dan sayang. Tanpa adanya cinta tentunya keluarga menjadi hambar. Adanya cinta membuat pasangan suami istri serta anak-anak mau berkorban, mau memberikan sesuatu yang lebih untuk keluarganya.

Perasaan cinta mampu memberikan perasaan saling memiliki dan saling menjaga. Keluarga yang ada perasaan mawaddah tentunya memunculkan nafsu yang positif (nafsu yang halal dalam aspek pernikahan). Kita bisa melihat, keluarga yang tidak ada mawaddah tentunya tidak akan saling memberikan dukungan, hambar, yang membuat rumah tangga pun seperti sepi.

Perselingkuhan dalam rumah tangga bisa saja terjadi jika mawaddah tidak ada dalam keluarga. Masing-masing pasangan akan mencari cinta lain dari orang lain. Keluarga yang penuh mawaddah bukan terbentuk hanya karena jalan yang instan saja.

Perasaan cinta dalam keluarga tumbuh dan berkembang karena proses dipupuknya lewat cinta suami istri serta anak-anak. Keindahan keluarga mawaddah tentunya sangat didambakan bagi setiap manusia, karena hal tersebut fitrah dari setiap makhluk. Makna Keluarga yang Rahmah Kata Rahmah berasal dari bahasa arab yang artinya adalah ampunan, rahmat, rezeki, dan karunia. Rahmah terbesar tentu berasal dari Allah SWT yang diberikan pada keluarga yang terjaga rasa cinta, kasih sayang, dan juga kepercayaan.

Keluarga yang rahmah tidak mungkin muncul hanya sekejap melainkan muncul karena proses adanya saling membutuhkan, saling menutupi kekurangan, saling memahami, dan memberikan pengertian. Rahmah atau karunia dan rezeki dalam keluarga adalah karena proses dan kesabaran suami istri dalam membina rumah tangganya, serta melewati pengorbanan juga kekuatan jiwa. Dengan prosesnya yang penuh kesabaran, karunia itu pun juga akan diberikan oleh Allah sebagai bentuk cinta tertinggi dalam keluarga. Demikian ulasan tentang Keluarga Sakinah, Mawaddah Warohmah Menurut Islam.

Semoga dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan untuk kita semua. Terimakasih. Posted in Suami Istri Tagged cara membentuk keluarga sakinah mawaddah warahmah, ciri-ciri keluarga sakinah, fungsi keluarga sakinah, hadits tentang keluarga sakinah mawaddah warahmah, keluarga sakinah, konsep keluarga sakinah, materi keluarga sakinah, Mawaddah Warohmah, membina keluarga sakinah menurut rasulullah, teknik mendapatkan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah Post navigation Recent Posts • Keistimewaan Anak Perempuan Dalam Islam • Kisah Nabi Idris As Secara Ringkas • Kumpulan Ayat Alquran Tentang Aqidah Islam Terlengkap • Kisah Nyata Jenazah Berubah Seperti Babi Hutan • 40 Rangkaian Nama Bayi Hadits tentang keluarga sakinah Islami Pilihan Dan Artinya • Kisah Siti Khadijah Yang Penuh Inspirasi • Nama nama 25 Nabi dan Rasul Yang Wajib Diketahui • Kisah Nabi Zakaria as Singkat Dan Lengkap • Keutamaan Bulan Muharram Dalam Islam & Kelebihannya • Macam-macam Mukjizat Nabi dan Rasul serta Pengertiannya Keluarga mawaddah warahmah dalam Islam sangat diidamkan adalah keluarga yang sakinah mawaddah dan warahmah.

Artinya, keluarga tersebut merupakan keluarga yang tenang, tentram, damai, penuh cinta, dan kasih sayang.

hadits tentang keluarga sakinah, mawaddah warahmah

Dalam arti lainnya juga bisa dikatakan sebagai keluarga yang bahagia di dunia dan akhirat. Untuk mencapai itu, komunikasi sangat penting dilakukan, harmonisasi, juga ketaatan kepada Allah SWT tidak boleh dilupakan. Dalam hadits Nabi Muhammad SAW, ada banyak penjelasan tentang keluarga sakinah mawaddah warahmah. Bagaimana haditsnya? Anda bisa langsung menyimak ulasan lengkapnya pada pembahasan di bawah berikut ini. Kumpulan Hadits Tentang Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah “Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu?

Sungguh demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa kepada Allah diantara kalian, akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga menikahi wanita. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku”. “…Dan di hubungan suami-isteri salah seorang diantara kalian adalah sedekah!

Mendengar sabda Rasulullah, para sahabat keheranan dan bertanya: “Wahai, Rasulullah. Apakah salah seorang dari kita memuaskan syahwatnya mawaddah warahmah biologisnya) terhadap isterinya akan mendapat pahala?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Bagaimana menurut kalian, jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain isterinya, bukankah mereka berdosa?” Jawab para sahabat: “Ya, benar”.

Beliau bersabda lagi: “Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan isterinya (di tempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala!” “Sesungguhnya aku diperlihatkan neraka dan melihat kebanyakan penghuni neraka adalah wanita.” Sahabat bertanya: “Sebab apa yang menjadikan mereka paling banyak menghuni neraka?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Dengan sebab kufur”.

Sahabat bertanya: “Apakah dengan sebab mereka kufur kepada Allah?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Tidak), mereka kufur kepada suaminya dan mereka kufur kepada kebaikan.

Seandainya seorang suami dari kalian berbuat kebaikan kepada isterinya selama setahun, kemudian isterinya melihat sesuatu yang jelek pada diri suaminya, maka dia mengatakan ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan pada dirimu”. “Kamu sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggung-jawab atas orang yang dipimpinnya.

Seorang Amir (Raja) adalah pemimpin, laki-laki pun pemimpin atas keluarganya, dan perempuan juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya, ingatlah hadits tentang keluarga sakinah kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggung-jawabannya atas kepemimpinannya”.

Demikian ulasan singkat mengenai daftar hadits nabi tentang keluarga sakinah mawaddah warahmah, keluarga sakinah mawaddah warahmah pdf, tulisan sakinah mawaddah warahmah yang benar, membina keluarga sakinah, doa sakinah mawaddah warahmah, sakinah, mawaddah, warahmah dalam al-qur'an, mawaddah warahmah membina keluarga bahagia dalam islam, sakinah mawaddah wa rahmah in arabic.
• PENDIDIKAN • Program Pendidikan • Penerimaan Mahasiswa Baru • Informasi Beasiswa • Fasilitas Kampus • Jelajahi Yogyakarta • PENELITIAN • Pusat Studi & Laboratorium • Riset & Pengajaran • Portal Jurnal • Konferensi & Seminar • PENGABDIAN • Pengabdian & Dakwah • Lingkungan & Keberlanjutan • Simpul Tumbuh • Donasi UIIPeduli • INTERNASIONAL • Kantor Urusan Internasional • Mobilitas Internasional • Program Gelar Ganda • Erasmus+ CBHE di UII • LAYANAN • Mahasiswa • Alumni • Kemitraan • Publik & Rekan Media • PROFIL • MITIGASI COVID-19 • Search • Menu Menu Agama Islam adalah agama yang memiliki tiga tiang utama, yaitu akidah, syariah, serta akhlak.

Islam dihadirkan oleh Allah melalui perantara Nabi Muhammad Saw. sebagai panduan bagi manusia dalam meniti jalan yang lurus, yang tujuannya tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Swt. Salah satu aspek dalam bidang fiqih ilmu Agama Islam mengajarkan tentang membangun keluarga dengan pasangan masing-masing. Dalam Quran Surah Adz-Dzariyat ayat 49, Allah bersabda yang artinya: “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah”.

Melalui ayat ini dapat diambil kesimpulan bahwa berpasangan dan berkeluarga sudah menjadi fitrah bagi makhluk hidup, khususnya manusia. Hal tersebut dikemukakan Dzulkifli Hadi Imawan, Lc., M.Kom.I., Ph.D. dalam kegiatan Dakwah Islamiyah Regional Ahwal Syakhshiyah Jurusan Studi Islam Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII bertemakan Implementasi Nilai-Nilai Islam dalam Keluarga, pada Selasa (28/7).

hadits tentang keluarga sakinah, mawaddah warahmah

Kegiatan menghadirkan tiga orang narasumber yaitu Dzulkifli Hadi Imawan, Lc., M.Kom.I., Ph.D., Dr. Sidik Tono, M.Hum. dan Krismono, SHI., MSI. Ketiganya merupakan dosen Program Studi Hukum Keluarga/Ahwal Syakhshiyah. Ada empat hal yang termasuk dalam sunnatullah yaitu bersiwak, bercelak, memakai minyak wangi, dan berkeluarga. Dengan ini semakin jelas bahwa berkeluarga bukan hanya fitrah tetapi juga sunah jalan hidup yang pernah ditempuh oleh rasul.

Tertulis dalam Quran Surah Ar-Rum ayat 21 yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. Ayat ini menjelaskan bahwa salah satu tujuan berkeluarga adalah sakinah, mawadah, serta warahmah, yang mana ketiga poin ini merupakan karunia Allah yang akan diberikan kepada orang-orang yang dikehendakiNya.

Untuk meraih ketiga poin tersebut, Dzulkifli Hadi Imawan menegaskan ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Yang pertama adalah ikhlas dan yakin. Poin ini mengajarkan kita untuk menikah dengan ikhlas dan niat tulus karena Allah Taala demi untuk menghindarkan dari zina, melaksanakan sunnatullah, serta menjaga kehormatan harga diri.

Sedangkan poin yakin merupakan poin yang diambil dari tafsir surah An-Nur ayat 32 yang intinya kita perlu yakin kepada Allah bahwa Dia lah yang akan memberikan kecukupan kepada kita.

Yang hadits tentang keluarga sakinah adalah saling menasehati dan saling membantu.

hadits tentang keluarga sakinah, mawaddah warahmah

Berkeluarga bukanlah perkara kesenangan cinta semata, namun berkeluarga juga akan memberikan dinamika yang terkadang tak luput dari kesalahan. Oleh sebab itu lah dalam berkeluarga perlu ada sinergi dengan sikap saling menasehati dan saling membantu satu sama lain.

Yang terakhir adalah saling menshalihkan. Dalam suatu hadis Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “dunia adalah kesenangan, dan sebaik-baiknya kesenangan adalah wanita hadits tentang keluarga sakinah. Hal ini dipahami bahwa keshalihan adalah kunci kebahagiaan dalam rumah tangga. Masih dalam suasana pandemi, Krismono, SHI., MSI. mengatakan bahwa angka perceraian semakin meningkat. Faktor ekonomi masih menjadi faktor yang mendominasi perceraian di Indonesia, pasalnya banyak perusahaan yang memberlakukan PHK dan berdampak pada ekonomi masyarakat.

Selain itu juga difaktori oleh pertengkaran rumah tangga. Menurut Krismono, pertemuan yang terlalu intens justru dapat menyebabkan pertengkaran yang buruk.

Karena keluarga perlu memiliki keseimbangan yang bisa diperoleh dari kebersamaan dan keterpisahan yang bisa membangun rasa rindu. Dalam kasus perceraian yang tercatat dalam pengadilan agama, rata-rata di masa pandemi ini adalah cerai gugat atau cerai yang berasal dari pihak wanita. Oleh karenanya, diperlukan strategi di tengah pandemi untuk menjaga keharmonisan keluarga.

hadits tentang keluarga sakinah, mawaddah warahmah

Salah satunya adalah meningkatkan fungsi agama di tengah keluarga. Dengan terbentuknya nilai-nilai agama yang kuat, maka dapat membantu untuk selalu mengingat tujuan awal berkeluarga karena Allah Swt.

Selain itu juga dengan menganalisis kemungkinan sumber pertengkaran dan mengelolanya dengan baik. “Tak lupa untuk selalu meningkatkan komunikasi dan interaksi dalam keluarga, mendorong ekspresi saling peduli, menjaga, dan melindungi keluarga agar tidak terpapar Covid-19,” tambah krismono. Dalam masa pandemi, biasanya seseorang cenderung tertarik untuk tidak melakukan hadits tentang keluarga sakinah. Terlebih ketika seluruh aktivitas produktif di luar rumah sudah bergeser ke arah daring.

Kecenderungan ini membuat kita sering menunda pekerjaan. Kebiasaan ini adalah mawaddah warahmah yang menyalahi perintah Allah yang terkandung dalam Quran Surah Al-Ashr 1-3 yang artinya: “Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar benar dalam kerugian Kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran, dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran”.

Melalui ayat tersebut, Dr. Sidik Tono, M.Hum menjelaskan bahwa sesungguhnya seseorang dalam kerugian apabila tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Ketika kita dapat menjalankan hidup dengan mulia, maka hidup kita akan bermanfaat. Seperti yang diungkapkan Rasulullah Saw. “Khoirunnas anfa’uhum linnas’’ yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat kepada orang lain. Selain itu, Sidik Tono juga memaparkan tentang pentingnya menata hati, “‘Hati’ atau qalbu inilah sebenarnya pangkal keindahan dan kemuliaan. Kunci keindahan yang sesungguhnya adalah kemampuan seseorang merawat serta memperhatikan kecantikan dan keindahan hati,” ungkapnya.

Dalam salah satu riwayat, Imam Al Ghazali mengelompokkan hati ke dalam tiga kelompok, yaitu hati yang sehat (qolbu shahih), hati yang sakit (qolbu maridh), dan hati yang mati (qolbu mayyit). Seorang yang memiliki hati sehat tak ubahnya memiliki tubuh yang sehat. Ia akan berfungsi optimal, ia akan mampu memilah dan melilih setiap rencana atas suatu tindakan.

Sehingga setiap apa yang diperbuatnya benar-benar sudah melewati perhitungan yang tepat berdasarkan suara hati.

hadits tentang keluarga sakinah, mawaddah warahmah

Orang yang paling beruntung adalah yang memiliki hati yang sehat artinya orang yang dapat mengenal Allah dengan baik. Untuk menggapai hati yang sehat, Sidik Tono menerangkan perlunya amalan-amalan shalat, zakat, puasa (ramadhan dan puasa sunnah), haji (bagi yang telah menunaikan), serta ditambah amal shalih dan sosial.

hadits tentang keluarga sakinah, mawaddah warahmah

Melalui amalan-amalan tersebut diharapkan semakin cemerlang hati manusia, dan akan semakin mengenal Dia (Allah). (VTR/RS) 29 Juli 2020
Memiliki keluarga yang harmonis adalah harapan semua orang.

Dalam agama Islam, ada Al-Qur’an dan hadist yang dijadikan sebagai pedoman dalam membentuk keluarga yang baik dan tentram. Hadits tentang keluarga sakinah, mawaddah warahmah perlu diketahui agar dapat memainkan peran yang baik dalam berumah tangga. “saya pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: wahai Rasulullah, terkait istri-istri kami apa yang wajib kami lakukan dan yang harus kami tinggalkan?

Nabi pun menjawab: kamu boleh bersenggama dengannya sesuai selera kamu, berilah ia pakaian ketika kamu bisa berpakaian, dan janganlah mengolok-olokm mukanya dan jangan memukul.” (HR. Abu Dawud).Dalam membina rumah tangga pasti setiap muslim memiliki cita-cita menjadi keluarga yang Sakinah mawadah warahmah. Namun hal tersebut tidak akan semudah yang dibayangkan karena menyatukan dua kepala dengan ego masing-masing tidaklah mudah.

Dikutip dari buku 40 Tips Keluarga Bahagia, Muhammad Shaleh al-Munajjid, (2014 ) ada hadits tentang keluarga sakinah hadis yang menjelaskan mengenai keluarga Sakinah mawadah warahmah dan cara menggapainya. Artinya: "Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar mawaddah warahmah engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi)" (HR.

Muslim no. 995). Artinya: "Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Siapakah wanita yang paling baik?" Jawab beliau, "Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci." (HR.

An-Nasai, no. 3231; Ahmad, 2: 251) Artinya: "Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan- dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, hadits tentang keluarga sakinah engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasihat) selain di rumah" (HR.

Abu Daud, no. 2142)
Pada kesempatan kali ini kita menyajikan tentang Hadits Tentang Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah. Di dalam artikel ini kami mencoba menyampaikan informasi lengkap tentang Hadits Tentang Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah. Kami telah menyusun artikel kali ini dengan seksama.

Harapannya melalui artikel ini mampu memahamkan kita semua tentang Hadits Tentang Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah dengan baik. Hadits Mengenai Keluarga Sakinah Mawaddah Warahmah • Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku. (H.R. Tirmidzi) • Satu dinar yang kau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang kau infakkan pada hamba sahaya, satu dinar yang kau sedekahkan kepada seorang miskin, dan satu dinar yang kau infakkan kepada keluargamu.

Yang paling besar pahalanya adalah yang kau infakkan kepada keluargamu. (H.R. Muslim) • Dari Ibnu Umar bahwa Nabi saw. bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya dan imam adalah pemimpin dan orang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan wanita adalah penanggung jawab atas rumah suami dan anaknya.

hadits tentang keluarga sakinah, mawaddah warahmah

Dan, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (H.R. Bukhari) • Cukup berdosa orang yang menyia-nyiakan tanggung jawab keluarga. (H.R. Abu Dawud) • Bukanlah dari golongan kami orang yang diperluas rezekinya oleh Allah, lalu kikir dalam menafkahi keluarganya.

(H.R. Ad-Dailami) • Dari Abu Mas’ud Badri r.a., Nabi saw. bersabda, “Apabila seorang lelaki memberikan nafkah kepada keluarganya dengan rela, yang demikian itu suatu sedekah baginya.” (H.R. Mutafaq ‘Alaih) • Barang siapa menjamin untukku satu perkara, aku jamin untuknya empat perkara. Hendaklah dia bersilaturahim (berhubungan baik dengan keluarga dekat) niscaya keluarganya akan mencintainya, diperluas baginya rezekinya, ditambah umurnya, dan Allah memasukkannya ke dalam surga yang dijanjikan-Nya.” (H.R.

Ar-Rabii’) • Jika seorang muslim memberikan nafkah kepada keluarganya karena mencari pahala, hal itu menjadi sedekah baginya.” (H.R. Bukhari dan Muslim) • Apa pun yang engkau berikan berupa nafkah kepada keluargamu, maka engkau diberi pahala hingga sesuai makanan yang engkau masukkan ke mulut istrimu. (H.R. Bukhari dan Muslim) • Barang siapa bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, itu sama dengan berjuang di jalan Allah Azza wajalla. (H.R.

Ahmad)
Mempelajari ilmu tentang rumah tangga tak hanya diperuntukkan bagi para pasangan yang sudah mawaddah warahmah saja. Seseorang yang belum menikah atau sedang merencanakan pernikahan pun bisa mulai mempelajari ilmu berumah tangga sebagai bekal untuk membangun keluarga nantinya. Dalam ajaran agama Islam, Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan kepada para umatnya dalam membangun rumah tangga yang terdapat dalam banyak hadis.

Perlu diketahui, hadis-hadis tersebut memiliki banyak makna untuk memahami kedudukan keluarga dalam Islam. Mulai dari tuntunan agar dapat menciptakan rumah tangga yang harmonis, pemberian nafkah, hingga pengajaran ilmu agama dalam keluarga. Untuk lebih jelasnya, yuk simak 9 hadis Nabi tentang keluarga berikut ini.

Freepik.com/Freepik Berdasarkan HR. Muslim, dijelaskan bahwa nafkah kepada keluarga lebih baik pahalanya dari sedekah sunnah. Untuk itu, seorang suami hendaknya lebih mengutamakan memberikan nafkahnya kepada keluarga daripada yang lain. دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِى رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ mawaddah warahmah عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِى أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ “ Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi)” (HR.

Muslim no. 995). Freepik.com/Rawpixel.com Sebagai pemimpin keluarga, seorang suami akan dimintai pertanggungjawaban terhadap keluarganya di akhirat kelak, apakah ia benar-benar memperhatikan nafkah untuk keluarganya atau tidak. Salam riwayat Ibnu Hibban disebutkan: إن الله سائل كل راع عما استرعاه : أحفظ أم ضيع “ Allah akan bertanya pada setiap pemimpin atas apa yang ia pimpin, apakah ia memperhatikan atau melalaikannya” (HR.

Ibnu Hibban 10: 344) Freepik.com/Freepik Rumah tangga akan berbahagia, jika istri taat pada suami. Karena istri seperti inilah yang akan menyenangkan hati suami. قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “ Siapakah hadits tentang keluarga sakinah yang paling baik?” Jawab beliau, “ Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.” (HR.

An-Nasai, no. 3231; Ahmad, 2: 251) Freepik.com/Freepik Seorang istri yang taat pada suaminya akan mendapat jaminan masuk surga lewat pintu mana saja yang dia mau. Disebutkan dalam hadis berikut ini: إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ “ Jika seorang wanita selalu menjaga salat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, 'Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka'.” (HR.

Ahmad, 1: 191; Ibnu Hibban, 9: 471) Freepik.com/Odua Setiap pasangan suami istri hendaknya bersabar terhadap satu sama lain. Jika seorang suami mendapati suatu kekurangan pada istri, janganlah membencinya secara total. Sebab, pasti ada kebaikan di sisi lain yang dapat menutupi kekurangan tadi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِىَ مِنْهَا آخَرَ “ Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah.

Jika si pria tidak menyukai suatu hadits tentang keluarga sakinah pada si wanita, hendaklah ia melihat sisi lain yang ia ridai.” (HR. Muslim, no. 1469) Freepik.com/Vershinin89 Dari Mu’awiyah Al Qusyairi radhiyallahu ‘anhu, ia bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai kewajiban suami pada istri, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ – أَوِ اكْتَسَبْتَ – وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِى الْبَيْتِ “ Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan.

Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian -atau engkau usahakan- dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasihat) selain di rumah” (HR.

hadits tentang keluarga sakinah, mawaddah warahmah

Abu Daud, no. 2142) Freepik.com/Mkitina4 Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاَقًا فِى غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ “ Wanita mana saja yang meminta talak (cerai) tanpa ada alasan yang jelas, maka haram baginya mencium bau surga.” (HR.

Abu Daud, no. 2226; Tirmidzi, no. 1187; Ibnu Majah, no. 2055) Freepik.com/Odua Kepala rumah tangga yang baik harus mengajak anaknya untuk salat sebagaimana hadis Rasulullah berikut ini: مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ “ Perhatikanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan salat ketika mereka berumur 7 tahun.

Jika mereka telah mawaddah warahmah 10 tahun, namun mereka enggan, pukullah mereka.” (HR. Abu Daud, no. 495; Ahmad, 2: 180) Freepik.com/Paansaeng Rasulullah mengajarkan pentingnya menanamkan rasa sayang kepada anak, salah satunya dengan menciumnya.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: قَبَّلَ النَّبِىّ صلى الله عليه وسلم الْحَسَنَ بْنَ عَلِىٍّ ، وَعِنْدَهُ الأقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِىُّ جَالِسًا ، فَقَالَ الأقْرَعُ hadits tentang keluarga sakinah إِنَّ لِى عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ قَالَ : مَنْ لا يَرْحَمُ لا يُرْحَمُ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk.

Maka Al-Aqro’ berkata, ‘Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau berkata, ' Barangsiapa yang tidak menyayangi maka ia tidak akan disayangi'.” (HR.

Bukhari, no. 5997 dan Muslim, no. 2318) Itulah 9 hadis nabi tentang keluarga yang patut kita ikuti demi membangun rumah tangga sakinah, mawaddah, warahmah. Baca Juga: Kumpulan Hadist tentang Cinta kepada Allah dan Pasangan Baca Juga: Jadi Pegangan Hidup, 40 Hadis Pendek yang Wajib Diketahui Umat Muslim Baca Juga: Sempurnakan Separuh Agama, Ini 8 Hadits Tentang Pernikahan

TERHARU!! Nasehat penting bagi suami isteri, Ustadz DR Khalid Basalamah, MA




2022 www.videocon.com