Tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan

tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan

Emile Durkheim merupakan tokoh sosiologi klasik yang terkenal dengan teori bunuh dirinya. Dalam bukunya “SUICIDE” Emile mengemukakan dengan jelas bahwa yang menjadi penyebab bunuh diri adalah pengaruh dari integrasi social.

Teori ini muncul karena Emile melihat didalam lingkungannya terdapat orang-orang yang melakukan tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan diri. Yang kemudian menjadikan Emile tertarik untuk melakukan penelitian diberbagai Negara mengenai hal ini. Peristiwa bunuh diri merupakan kenyataan-kenyataan social tersendiri yang karena itu dapat dijadikan sarana penelitian dengan menghubngkannya terhadap struktur social dan derajat integrasi social dari suatu kehidupan.

Terdapat empat alasan orang bunuh diri menurut Emile Durkheim, yaitu: a. Karena alasan agama Dalam penelitiannya, Durkheim mengungkapkan perbedaaan angka bunuh diri dalam penganut ajaran Katolik dan Protestan. Penganut agama Protestan cenderung lebih besar angka bunuh dirinya dibandingkan dengan penganut agama Katolik.

Perbedaan ini dikarenakan adanya perbedaan kebebasan yang diberiakn oleh kedua agama tersebut kepada penganutnya. Penganut agama Protestan memperoleh kebebasan yang jauh lebih besar untuk mencari sendiri hakekat ajaran-ajaran kitab suci, sedangkan pada agama Katolik tafsir agama ditentukan oleh pemuka Gereja.

Akibatnya kepercayaan bersama dari penganut Protestan berkurang sehingga menimbulkan keadaan dimana penganut agama Protestan tidak lagi menganut ajaran/tafsir yang sama. Integrasi yang rendah inilah yang menjadi penyebab laju bunuh diri dari penganut ajaran ini lebih besar daripada penganut ajaran bagama Katolik.

b. Karena alasan keluarga Semakin kecil jumlah anggota dari suatu keluarga, maka akan semakin kecil pula keinginan untuk terus hidup. Kesatuan social yang semakin besar, semakin besar mengikat orang-orang kepada kegiatan social di antara anggota-anggota kesatuan tersebut.

Kesatuan keluarga yang lebih besar biasanya lebih akan terintegrasi. c. Karena alasan politik Durkheim disini mengungkapkan perbedaan angka bunuh diri antara masyarakat militer dengan masyarakat sipil. Dalam keadaan damaiangka bunuh diri pada masyarakat militer cenderung lebih besar daipada masyarakat sipil. Dan sebaliknya, dalam situasi perang masyarakat militer angka bunuh dirinya rendah.

Didalam situasi perang masyarakat militer lebih terintegrasi dengan baik dengan disipilin yang keras dibandingkan saat keadaan damai di dalam situasi ini golongan militer cenderung disiplinnya menurun sehingga integrasinya menjadi lemah. d. Karena alasan kekacauan hidup (anomie) Bunuh diri dengan alas an ini dikarenakan bahwa orang tidak lagi mempunyai pegangan dalam hidupnya.

Norma atau aturan yang ada sudah tidak lagi sesuai dengan tuntutan jaman yang ada. Jenis-jenis bunuh diri a. Bunuh diri Egoistic Adalah suatu tindak bunuh diri yang dilakukan seseorang karena merasa kepentingannya sendiri lebih besar daripada kepentingan kesatuan sosialnya. Seseorang yang tidak mampu memenuhi peranan yang diharapkan (role expectation)di dalam role performance (perananan dalam kehidupan sehari-hari), maka orang tersebut akan frustasi dan melakukan bunuh diri.

b. Bunuh diri Anomie c. Bunuh diri Altruistic Orang melakukan bunuh diri karena merasa dirinya sebagai beban dalam masyarakat. Contohnya adalah seorang istri yang melakukan bunuh diri yang telah ditinggal mati oleh suaminya. Serta juga bunuh diri yang dilakukan oleh orang Jepang “hara kiri”, yaitu bunuh diri yang dilakukan oleh anggota militer demi membela negaranya.

d. Bunuh diri Fatalisme Adalah bunuh diri yang dilakukan karena rasa putus asa. Tidak ada lagi semangat untuk melanjutkan hidup. sumber: Siahaan, Hotman M. 1986. Pengantar Ke Arah Sejarah dan Teori Sosiologi. Jakarta: Penerbit Erlangga. January 2011 M T W T F S S 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 « Dec Dec » • Archives • January 2012 • December 2011 • January 2011 • December 2010 • November 2010 • Categories • Uncategorized • Meta • Register • Log in • Entries feed • Comments feed • WordPress.com • Blogroll • adewcakgundum • Discuss • Get Inspired • Get Polling • Get Support • Learn WordPress.com • minikucing • ratnandoet • riyanidirgantara • rizmwawe • rohatieazra tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan sasiana • strawberrymerah • WordPress Planet • WordPress.com News • yunianurayni • twitter Kesalahan: Twitter tidak merespons.

Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman. • halaman1 • About • Blogroll • Discuss • Get Inspired • Get Polling • Get Support • Learn WordPress.com • Ninda • Ninda Putri • Ninda Putri • WordPress Planet • WordPress.com News • Tulisan Terakhir • Just The Way You are • Tolak Bala, Antara Tradisi Dan Kemusyrikan • milan on fire!

• BERSEPEDA YUK! • BUMI KITA SEMAKIN MEMANAS • Teori Bunuh Diri (Suicide) Durkheim memilih studi bunuh diri karena persoalan ini relative merupakan fenomena konkrit dan spesifik, di mana tersedia data yang bagus cara komparatif. Akan tetapi, alasan utama Durkheim untuk melakukan studi bunuh diri ini adalah untuk menunjukkan kekuatan disiplin Sosiologi. Dia melakukan penelitian tentang angka bunuh diri di beberapa negara di Eropa. Secara statistik hasil dari data-data yang dikumpulkannya menunjukkan kesimpulan bahwa gejala-gejala psikologis sebenarnya tidak berpengaruh terhadap kecenderungan untuk melakukan bunuh diri.

Menurut Durkheim peristiwa-peristiwa bunuh diri sebenarnya merupakan kenyataan-kenyataan sosial tersendiri yang karena itu dapat dijadikan sarana penelitian dengan menghubungkannya terhadap sturktur sosial dan derajat integrasi sosial dari suatu kehidupan masyarakat. Durkheim memusatkan perhatiannya pada 3 macam kesatuan sosial yang pokok dalam masyarakat: • Bunuh Diri dalam Kesatuan Agama Dari data yang dikumpulan Durkheim menunjukkan bahwa angka bunuh diri lebih besar di negara-negara protestan dibandingkan dengan penganut agama Katolik dan lainnya.

Penyebabnya terletak di dalam perbedaan kebebasan yang diberikan oleh masing-masing agama tersebut kepada para penganutnya. • Bunuh Diri dalam Kesatuan Keluarga Dari penelitian Durkheim disimpulkan bahwa semakin kecil jumlah anggota dari suatu keluarga, maka akan semakin kecil pula keinginan untuk hidup.

Kesatuan sosial yang semakin besar, mengikat orang pada kegiatan-kegiatan sosial di antara anggota-anggota kesatuan tersebut. • Bunuh Diri dalam Kesatuan Politik Dari data yang dikumpulkan, Durkheim menyimpulkan bahwa di dalam situasi perang, golongan militer lebih terintegrasi dengan baik, dibandingkan dalam keadaan damai.

tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan

Sebaliknya dengan masyarakat sipil. Kemudian data tahun 1829-1848 disimpulkan bahwa angka bunuh diri ternyata lebih kecil pada masa revolusi atau pergolakan politik, dibandingkan dengan dalam masa tidak terjadi pergolakan politik.

Durkheim membagi tipe bunuh diri ke dalam 4 macam: • Bunuh Diri Egoistis Tingginya angka bunuh diri egoistis dapat ditemukan dalam masyarakat atau kelompok di mana individu tidak berinteraksi dengan baik dalam unit sosial yang luas.

Lemahnya integrasi tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan melahirkan perasaan bahwa individu bukan bagian dari masyarakat, dan masyarakat bukan pula bagian dari individu. Lemahnya integrasi sosial melahirkan arus sosial yang khas, dan arus tersebut melahirkan perbedaan angka bunuh diri. Misalnya pada masyarakat yang disintegrasi akan melahirkan arus depresi dan kekecewaan.

Kekecewaan yang melahirkan situasi politik didominasi oleh perasaan kesia-siaan, moralitas dilihat sebagai pilihan individu, dan pandangan hidup masyarakat luas menekan ketidakbermaknaan hidup, begitu sebaliknya. Durkheim menyatakan bahwa ada faktor paksaan sosial dalam diri individu untuk melakukan bunuh diri, di mana individu menganggap bunuh diri adalah jalan lepas dari paksaan sosial.

• Bunuh Diri Altruistis Terjadi ketika integrasi sosial yang sangat kuat, secara harfiah dapat dikatakan individu terpaksa melakukan bunuh diri. Salah satu contohnya adalah bunuh diri massal dari pengikut pendeta Jim Jones di Jonestown, Guyana pada tahun 1978. contoh lain bunuh diri di Jepang (Harakiri).

Bunuh diri ini makin banyak terjadi jika makin banyak harapan yang tersedia, karena dia bergantung pada keyakinan akan adanya sesuatu yang indah setelah hidup di dunia. Ketika integrasi mengendur seorang akan melakukan bunuh diri karena tidak ada lagi kebaikan yang dapat dipakai untuk meneruskan kehidupannya, begitu sebaliknya. • Bunuh Diri Anomic Bunuh diri ini terjadi ketika kekuatan regulasi masyarakat terganggu. Gangguan tersebut mungkin akan membuat individu merasa tidak puas karena lemahnya kontrol terhadap nafsu mereka, yang akan bebas berkeliaran dalam ras yang tidak pernah puas terhadap kesenangan.

Bunuh diri ini terjadi ketika menempatkan orang dalam situasi norma lama tidak berlaku lagi sementara norma baru belum dikembangkan (tidak ada pegangan hidup). Contoh: bunuh diri dalam situasi depresi ekonomi seperti pabrik yang tutup sehingga para tenaga kerjanya kehilangan pekerjangan, dan mereka lepas dari pengaruh regulatif yang selama ini mereka rasakan.

Contoh lainnya seperti booming ekonomi yaitu bahwa kesuksesan yang tiba-tiba individu menjauh dari struktur tradisional tempat mereka sebelumnya melekatkan diri.

• Bunuh Diri Fatalistis Bunuh diri ini terjadi ketika regulasi meningkat. Durkheim menggambarkan seseorang yang mau melakukan bunuh diri ini seperti seseorang yang masa depannya telah tertutup dan nafsu yang tertahan oleh disiplin yang menindas. Contoh: perbudakan. 4 Januari 2011 pukul 7:55 PM faktor lingkungan sosial yang berasal dari keluarga –> bagaimana jika dihadapkan pada kenyataan sekarang yang sering terbukti dengan banyak anak, konflik antara anggota keluarga tersebut justru semakin meningkat.

terlebih dengan dihadapkan pada kondisi ekonomi yang minimalis. masihkah relevan teori tersebut??
Jawaban yang tepat berdasarkan pertanyaan di atas adalah B. Untuk lebih jelasnya, yuk simak penjelasan berikut. Soal di atas berkaitan dengan pengantar integrasi dan poin yang ditanyakan adalah pengertian integrasi.Integrasi merupakan proses penyesuaian, pembauran unsur-unsur berbeda dalam masyarakat meliputi ras, etnis, agama, adat istiadat, dan sebagainya menjadi satu kesatuan yang utuh.

Emile Durkheim membagi integrasi menjadi dua, yaitu: • Integrasi tinggi, ketika anggota kelompok memiliki hubungan yang erat, kompak, dan saling memperlihatkan perasaan sebagai anggota kelompok satu sama lain.

• Integrasi rendah, ketika anggota kelompok cenderung bersifat individualistis dan kurang memiliki perasaan terhadap kelompok. Pengelompokan integrasi tersebut, didasarkan pada pengamatan pada kasus bunuh diri pada kelompok agama Katholik, Protestan, dan Yahudi. Dari hasil pengamatan tersebut, integrasi dalam masyarakat mempengaruhi angka bunuh diri.

Semakin tinggi tingkat integrasi sosial dalam masyarakat, semakin rendah angka bunuh diri dan semakin rendah integrasi maka semakin tinggi angka bunuh diri. Hal ini seperti yang ditemukan dalam kelompok Katholik dan Protestan, sementara pada kelompok Yahudi angka bunuh diri rendah.

Jadi yang tepat adalah B. Bunuh diri tak hanya menjadi fenomena di Indonesia tapi juga sudah jadi masalah global. Organisasi seperti International Association of Suicide Prevention (IASP) hadir dan fokus pada pencegahan bunuh diri, tapi bunuh diri tetap saja terjadi seperti yang baru-baru ini kejadian di Jagakarsa, Jakarta Selatan. tirto.id - Pada Jumat, 17 Maret 2017 beredar video siaran langsung bunuh diri di Facebook yang dilakukan oleh seorang pria di Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Kejadian ini hanya contoh bahwa Indonesia belum bebas dari persoalan kesehatan mental masyarakat. Apa yang terjadi di Indonesia juga bagian dari masalah yang dihadapi oleh banyak negara di dunia. Berdasarkan data yang dikeluarkan World Health Organization (WHO) pada 2012, sebanyak 804.000 kematian di dunia disebabkan oleh bunuh diri setiap tahunnya.

Secara global, tingkat rasio bunuh diri adalah 11,4 orang per 100.000 penduduk. Bila dibandingkan dengan perempuan, laki-laki cenderung lebih rentan melakukan bunuh diri dengan rasio sebesar 15 orang per 100.000 penduduk. Di ASEAN pada 2012, negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi adalah Myanmar dengan rasio 13,1 orang per 100.000 penduduk diikuti oleh Thailand sebesar 11,4 orang per 100.000 penduduk.

Sementara tingkat bunuh diri terendah berada di Filipina sebesar 2,9 orang per 100.000 penduduk dan Malaysia 3 orang per 100.000 penduduk. Berdasarkan jenis kelamin, tingkat bunuh diri laki-laki tertinggi berada di Thailand dengan rasio 19,1 orang per 100.000 penduduk dan Myanmar dengan rasio 16,5 orang per 100.000 penduduk.

Sedangkan negara dengan tingkat bunuh diri perempuan tertinggi adalah Myanmar sebesar 10,3 orang per 100.000 penduduk dan Laos 6,6 orang per 100.000 penduduk. Di Indonesia, tingkat rasio bunuh diri mencapai 1,6 sampai 1,8 orang untuk setiap 100.000 penduduk pada 2001.

Di 2005 mengalami kenaikan, rasio bunuh diri di Indonesia mencapai 11,4 orang per 100.000 penduduk. Sementara itu pada 2012, rasio bunuh diri menurun menjadi 4,3 orang per 100.000 penduduk dan tergolong rendah di antara tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan ASEAN lainnya. Menariknya, Indonesia merupakan satu-satunya negara di ASEAN yang tingkat bunuh diri tertingginya adalah perempuan, dengan rincian laki-laki sebesar 3,7 orang per 100.000 penduduk dan perempuan 4,9 orang per 100.000 penduduk.

Beberapa laporan mengenai bunuh diri perempuan di Indonesia umumnya terjadi pada kelompok ibu rumah tangga. Dari penelitian yang dilakukan oleh Chris Girard “ Age, Gender, and Suicide: A Cross-National Analysis” pada 1993, bunuh diri pada perempuan disebabkan karena kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, tekanan sosial, dan kesulitan ekonomi.

Sedangkan pada laki-laki diakibatkan oleh ketidakmampuan memenuhi peran-peran sosial yang secara tradisional dibebankan pada laki-laki seperti peran sebagai kepala keluarga. Keduanya memiliki persoalan serupa, lantaran dipicu oleh gejala depresi.

Pada titik tertentu, depresi dapat berujung pada bunuh diri. Data yang dikeluarkan oleh WHO pada 2012 memperkirakan terdapat 350 juta orang mengalami depresi, baik ringan maupun berat. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di Indonesia pada 2013, menunjukkan bahwa prevalensi gangguan mental emosional --yang ditunjukkan dengan gejala depresi dan kecemasan-- adalah sebesar 6% untuk usia 15 tahun ke atas atau sekitar 14 juta orang.

Selain tingginya jumlah penduduk yang mengalami depresi, ketersediaan tenaga profesional kesehatan jiwa, khususnya psikiater, juga merupakan salah satu hal yang memengaruhi kesehatan mental masyarakat.

Data WHO di 2011 dan 2014 menunjukkan bahwa Indonesia kekurangan tenaga psikiater. Bila dibandingkan dengan ASEAN, Indonesia termasuk berada pada posisi terendah--setelah Laos dan Kamboja--dengan rasio sebesar 0,01 psikiater per 100.000 penduduk pada 2011 dan 0,29 psikiater per 100.000 penduduk pada 2014. Data dari Kementerian Kesehatan pun menyatakan hanya ada 600-800 psikiater di seluruh Indonesia.

Artinya satu orang psikiater terlatih harus menangani 300.000-400.000 orang. Apabila dicermati, rasio psikiater memiliki pengaruh terhadap kesehatan mental masyarakat.

Merujuk pada data, Malaysia dan Filipina --yang memiliki tingkat bunuh diri lebih rendah dibandingkan dengan Indonesia-- memiliki rasio psikiater yang lebih tinggi dari Indonesia. Rasio psikiater pada 2014 di Filipina adalah 0,46 psikiater per 100.000 penduduk dan Malaysia 0,76 psikiater per 100.000 penduduk.

Lebih tinggi jika dibandingkan dengan Indonesia. Sebaliknya, Myanmar --yang memiliki tingkat bunuh diri tertinggi-- memiliki rasio psikiater yang tergolong rendah, yaitu 0,29 psikiater per 100.000 penduduk.

Masalah bunuh diri dan kesehatan jiwa di Indonesia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat penting dan harus mendapat perhatian sungguh-sungguh dari seluruh jajaran lintas sektor pemerintah baik di tingkat Pusat maupun daerah, serta perhatian dari seluruh masyarakat.

Kementerian Kesehatan mencatat kesenjangan pengobatan gangguan jiwa di Indonesia mencapai lebih dari 90 persen. Ini artinya kurang dari 10 persen penderita gangguan jiwa mendapatkan pelayanan terapi dari petugas kesehatan. Pemerintah mau tak mau harus menambah jumlah tenaga kesehatan jiwa profesional. Sementara bagi Anda yang merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan tenaga kesehatan jiwa profesional seperti psikolog atau psikiater maupun klinik kesehatan jiwa.

Intinya, tindakan bunuh diri dapat dicegah dengan upaya struktural dari pemerintah, dan yang tak kalah penting kesadaran dan perhatian kita terhadap orang-orang terdekat atau di sekeliling masing-masing. Jangan lagi masalah darurat kesehatan mental ini dibiarkan.

======================== Jika Anda merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdikusi dengan pihak terkait, seperti psikolog atau psikiater maupun klinik kesehatan jiwa. Salah satu yang bisa dihubungi adalah Into the Light yang dapat memberikan rujukan ke profesional terdekat (bukan psikoterapi/ layanan psikofarmaka) di intothelight.email@gmail.com.
UAS 1/ Ujian Akhir Semester 1 Tahun 20./ 20.

tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan

Mata Pelajaran : Sosiologi Kelas : XI (11) SMA Hari / Tanggal : / Nama : Nomor : www.informasiguru.com I.Pilihlah jawaban a, b, c, d dan e yang menurut Anda benar ! 1.Stratifikasi sosial didasari oleh.

a. Makanan yang dikonsumsi, busana, dan keturunan b. Relasi, agama, busana, dan gaya hidup c. Kekayaan, kekuasaan, keturunan, dan pendidikan d. Pendidikan, relasi, dan gaya hidup e.

Semua benar 2. Profesi merupakan dasar pelapisan sosial karena… a. Penghargaan yang diberikan masyarakat terhadap setiap pekerjaan berbeda b. Persaingan untuk mendapatkan pekerjaan yang sulit, terutama pada posisi-posisi penting yang memungkinkan memperoleh gaji besar c. Adanya kecendrungan seseorang untuk memilih pekerjaan sesuai seleranya d.

Di masyarakat terdapat beragam pekerjaan yang menghasilkan pendapatan yang berbeda e. Kecendrungan seseorang untuk mengutuskan orang lain sesuai dengan pekerjaan yang digelutinya (2) 3. Dalam setiap kehidupan masyarakat, pelapisan sosial akan selalu ada.

Hal itu disebabkan oleh . a. Keadaan masyarakat yang semakin kompleks b. Adanya sifat diskriminatif c. Kemajemukan masyarakat d. Adanya suatu yang dihargai dan bernilai seperti benda atau uang e. Adanya struktur yang unik dalam kehidupan masyarakat 4.

Kriteria pelapisan sosial yang dikaitkan dengan jabatan tertentu adalah… a. Kekuasaan b. Keturunan c. Kehormatan d. Kekayaan e. Pendidikan 5. Jalinan antara kelompok-kelompok sosial, lembaga-lembaga sosial, norma sosial dan lapisan-lapisan sosial di masyarakat disebut.

. a. Deferensiasi sosial b. Stratifikasi sosial c. Struktur sosial d. Problem sosial e. Interaksi sosial 6. Perhatikan pernyataan berikut !

1. Menyangkut hubungan sosial antar kelompok pada saat tertentu 2. Sebagian kebudayaan (masyarakat yang dapat dilihat dari sudut pandang teori) 3. Hubungan sosia yang dapat memberikan bentuk dasar pada masyarakat (3) 5. Memberikan batasan pada aksi-aksi yang kemungkinan besar dilakukan secara organisasi Dari pernyataan di atas yang termasuk ciri-ciri struktur sosial adalah. a. 1 dan 2 b. 1 dan 4 c. 2 dan 3 d. 2 dan 4 e. 3 dan 5 7.

Orang-orang dari ras Negroid mempunyai ciri-ciri fisik berkulit hitam, bibir tebal, rambut gimbal, dan kepala bertengkorak pendek. Ciri yang terakhir, secara antropologis disebut dengan istilah .

a. Leiotris b. Ulotris c. Dolichepalus d. Branchychepalus e. Mesochepalus 8. Dalam bersikap dan bertingkah laku anggota masyarakat membutuhkan pedoman agar sikapnya sesuai dengan keinginan masyarakat. Sebagai dasar untuk penanaman disiplin sosial kelompok atau masyarakat hal ini merupakan. a.Bentuk – bentuk struktur sosial b.Pengertian struktur sosial c.Ciri – ciri struktur sosial d.Fungsi struktur sosial e.Fungsi norma a.Proses sosial b.Integrasi sosial c.Kelompok sosial d.Stratifikasi sosial e.Diferensiasi social 10.

Diferensiasi berdasarkan gender pada masyarakat maju dikaitkan dengan… a. Kepribadian b. Keahliannya c. Tingkah laku d. Pola pendidikan e. Keturunan 11. Stratifikasi sosial di masyarakat terbentuk karena adanya.

a.

tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan

Kemajemukan dalam masyarakat b. Penghargaan lebih terhadap sesuatu c. Dominasi terhadap kelompok lain d. Distribusi hak dan kewajiban e. Pengaturan status dan peranan 12. Fungsi stratifikasi sosial yangberkaitan dengan sifat stratifikasi yang dianut oleh suatu masyarakat adalah. a. Mudah/sukarnya bertukar kedudukan atau status b. Distribusi hak-hak istimewa yang objektif c.

Simbol status yang mencerminkan peranan orang tersebut d. Sistem pertanggaan yang diciptakan anggota masyarakat e. Solidaritas diantara anggota kelompok (5) kedudukannya dibandingkan dengan yang miskin, ini menunjukkan di dalam masyarakat ada.

a. Diferensiasi sosial b. Integrasi sosial c. Mobilitas sosial d. Stratifikasi sosial e. Konflik sosial 14. Farhan adalah siswa SMA Tunas Bangsa, sebagai siswa tentunya ia rajin belajar, ini merupakan gambaran dari unsur-unsur stratifikasi sosial yaitu.

a. Status dan peranan b. Norma dan nilai c. Status dan norma d. Peranan dan nilai e. Peranan dan norma 15. Perhatikan pernyataan berikut ! 1. Kekayaan 2.

tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan

Kekuasaan 3. Pengetahuan 4. Jenis kelamin 5. Agama Pernyataan di atas yang termasuk dasar-dasar stratifikasi sosial adalah. a. 1 dan 2 (6) a. ras b. klan c. kekerabatan d. etnik e. rasisme 17. Beberapa gejala sosial dalam masyarakat 1)Perubahan sosial yang cepat dalam tempo singkat. 2)Setiap kelompok mempunyai kepentingan sendiri. 3)Kesamaan unsur berbagai kelompok sosial di masyarakat. 4)Masing-masing orang mempunyai semangat untuk membangun. Yang berpotensi sebagai penyebab terjadinya konflik sosial dalam masyarakat adalah.

a.1 dan 2 b.1 dan 3 c.2 dan 3 d.2 dan 4 e.3 dan 4 18. Kebutuhan industri menyebabkan terjadi eksploitasi hutan secara besar-besaran. Orientasi keuntungan ekonomis menyebabkan pengusaha menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan kayu hingga merambah hutan milik adat masyarakat setempat.

Rakyat menolak karena menganggap hutan tadi adalah tempat yang sakral. Terjadilah konflik antara pengusaha (7) a.Kepercayaan b.Kepentingan c.Ideologi d.Budaya e.Individu 19.Bentuk-bentuk konflik sosial : 1)Konflik antara pendukung tim sepak bola.

2)Demonstrasi buruh menuntut kenaikan upah. 3)Aksi warga menolak penggusuran lahan untuk proyek pemerintah. 4)Sweeping oleh organisasi masa ke tempat diskotik di kota besar. Dari contoh tersebut yang termasuk konflik vertikal adalah. a.1 dan 2 b.1 dan 3 c.2 dan 3 d.2 dan 4 e.3 dan 4 20. Pertentangan antara satu status dengan status lainnya dalam diri individu karena kepentingan status itu saling bertentangan dinamakan .

a.Konflik status b. Konflik peranan c. Konflik antargenerasi d. Konflik antarkelas sosial e. Konflik antarkelompok sosial (8) 21. Jika masing-masing unsur sosial saling berbeda sudah bisa saling menyesuaikan diri sehingga terbentuklah harmoni sosial. Proses demikian disebut . a. Kompromi sosial b. Akomodasi sosial c. Integrasi sosial d.

Konsolidasi e. Integrasi sosial 22. Penyelesaian konflik dari dua belah pihak melalui panitia tetep disebut . a. Toleransi b. Mediasi c. Arbitrase d. Konsiliasi e.

Konvensi 23. Berikut ini yang termasuk diferensiasi sosial adalah. a. Ras, jenis kelamin, dan pendidikan b. Kekayaan, suku bangsa, dan agama c. Klan, agama, dan ras d. Pekerjaan, jenis kelamin, dan keahlian e. Kekuasaan, jenis kelamin, dan agama 24. Orang india merupakan campuran dari ras… a.

tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan

Negroid dan austroloid b. Kaukasoid dan mongoloid c. Mongoloid dan negroid d. Veddoid dan melanesoid e. Negrito dan kaukasoid (9) 27. .Untuk meredam konflik antara suporter sepak bola dengan panitia penyelenggara yang tidak profesional dalam menjalankan tugas, aparat keamanan melakukan tindakan tegas dengan menangkap provokator. Dilihat dari cara yang ditempuh oleh aparat, penyelesaian konflik tersebut termasuk akomodasi dalam bentuk. a.Koersi b.Arbitrasi c.Ajudikasi d.Konsiliasi e.Kompromi 28.

Keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia membuat negeri ini terhadap konflik horisontal. Oleh karena itu upaya untuk mendorong proses integrasi sosial dapat dilakukan dengan . a.Mengembangkan pemahaman budaya kelompok lain b.Melaksanakan perkawinan massal antar kelompok (10) c.Menghargai kekayaan kelompok lain d.Menjaga nilai budaya masyarakat e.Menanamkan semangat berkarya 29.Upaya penyelesaian konflik horizontal di daerah tertentu dilakukan dengan cara mempertemukan keinginan pihak pihak yang berselisih untuk tercapainya kesepakatan bersama setelah diperoleh kesamaan pendapat dengan melibatkan tokoh masyarakat maupun tokoh agama.

Bentuk penyelesaian konflik tersebut adalah . a.Koersi b.Ajudikasi c.Toleransi d.Konsiliasi e.Stalemate 30.Indonesia merupakan negara maju yang memiliki potensi konflik, namun konflik tersebut dapat di eliminasi karena lebih mengedepankan persatuan dalam keberagaman. Faktor pendorong terwujudnya integrasi sosial dalam deskripsi tersebut adalah . a.Nasionalis b.Pancasila c.Patriotis d.Agama e.Tujuan 32. Tingginya angka bunuh diri pada kelompok Protestan menurut penelitian Durkheim disebabkan … a.

Integrasi tinggi b. Integrasi rendah c. solidaritasi tinggi d. integrasi cukup e. solidaritas yang baik 33.

Kata mobilitas berasal dari bahasa latin, yaitu … a. mobile artinya gerak b. mobile artinya jalan c. mobilis artinya kendaraan d. mobile artinya perpindahan e. mobilis artinya gerak 34. Seseorang yang kehilangan pekerjaannya merupakan contoh dari … a. social climbing b. social sinking c. social elevator d.

social circulation e. social gap 35. Proses mobilitas sosial melalui saluran - saluran mobilitas dinamakan … a. social climbing b. social sinking c. social elevator d.

social circulation e. social gap 36. Di dalam masyarakat selalu terjadi konflik baik dalam masyarakat sederhana maupun dalam masyarakat modern. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa konflik merupakan . a.Gejala sosial b.Masalah sosial c.Suatu kejahatan d.Dinamika sosial e.Disintegrasi sosial 37.Masyarakat yang majemuk sangat rentan terhadap konflik sosial terutama masyarakat majemuk dengan adanya . a.Minoritas dominan b.Mayoritas dominan c.Fragmentasi sosial d.Kompetisi seimbang e.Kompetisi tidak seimbang 38.Usaha untuk meredakan konflik dikenal sebagai .

a.Akomodasi b.Kooperasi c.Mediasi d.Adaptasi e.Kompromi 39.Perhatikan beberapa gejala berikut 1)keinginan melihat daerah lain 2)Ekspansi teritorial dan gerak populasi 3)Kelas-kelas sosial yang berbeda 4)Perbedaan rasial dan agama (13) b.1, 2, dan 4 tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan, 3, dan 5 d.2, 4, dan 5 e.3, 4, dan 5 40.Seorang siswa dari keluarga tidak mampu berhasil masuk perguruan tinggi melalui SNMPTN.

Pada saat berkuliah ia sangat rajin dan tekun belajar sehingga lulus dengan predikat sangat memuaskan. Setelah lulus dia bekerja di perusahaan ternama dan sekarang menjadi direktur. Dari contoh tersebut yang menjadi saluran dalam mobilitas sosial adalah . a.Organisasi ekonomi dan politik b.Organisasi pendidikan dan politik c.Lembaga pendidikan dan ekonomi d.Lembaga pendidikan dan kekuasaan e.Lembaga pendidikan dan keagamaan 41.

Subras penduduk yang mendiami kawasan Asia Tenggara, Asia Tengah, dan Asia Timur adalah subras . a. Negroid b. Asiatik c. Nordik d. Mediterania e. Melanesia 42. Pelapisan sosial yang tidak mengaitkan ukuran kekayaan dan kekuasaan adalah pelapisan sosial yang mempunyai kriteria .

(14) b. Kehormatan c.

tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan

iImu pengetahuan d. Terbuka e. Tertutup 43. Dalam klasifikasi ras yang dikemukakan oleh A. Kroeber, sebagian besar orang Indonesia termasuk dalam ras .

a. Polynesia b. Bushman c. Malayan Mongoloid d. Melanesia e. Asiatic Mongoloid 44. Status sosial yang dicapai sebagai hasil usaha seseorang, disebut …. a.Ascribed status b.Assigned status c.Achieved status d.Close social status e.Open social status 45. Stratifikasi sosial adalah pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat.

Pendapat tersebut dikemukakan oleh . a. Selo Soemardjan b. Bruce J. Cohen c. Pitirim A. Sorokin d. Max Weber e. Astrid S. Susanto (15) II.Jawablah pertanyaan berikut dengan benar! 1. Sebutkan saluran-saluran yang bisa digunakan untuk melakukan sebuah mobilitas sosial! Jawab: Saluran – saluran mobilitas sosial vertikal ada 4 yaitu : 1)Angkatan bersenjata 2)Lembaga keagamaan 3)Lembaga pendidikan sekolah 4)Organisasi atau perserikatan ekonomi 2.Beberapa gejala sosial : 1)merasa puas dengan kondisi yang ada 2)sangat memegang teguh ideologi 3)diskriminasi rasial terhadap masyarakat tertentu 4)ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi 5)struktur masyarakat bersifat terbuka Gejala sosial yang menghambat laju mobilitas sosial adalah .

Jawab: 1, 2 dan 3 3.Seandainya terjadi pergolakan yang dilakukan oleh kelompok buruh dengan manajer suatu Perusahaan, maka hal tersebut merupakan konflik . Jawab: Antarkelompok sosial 4.Jelaskan sifat – sifat stratifikasi sosial! Jawab: -) Stratifikasi sosial Tertutup Anggota dari setiap strata sulit melakukan mobilitas vertikal, satu – satunya jalan untuk masuk dalam stratifikasi ini melalui kelahiran.

-) Stratifikasi sosial Terbuka (16) -) Stratifikasi sosial campuran Membatasi kemungkinan berpindahnya strata pada bidang tertentu, tetapi membiarkan untuk melakukan perpindahan lapisan pada bidang yang lain.

5.Perhatikan faktor berikut ini! 1) perbedaan suku. 2) perbedaan agama. 3) perbedaan status sosial. 4) perbedaan kebudayaan. 5) perbedaan pendidikan formal Faktor di atas yang menyebabkan terjadinya diferensiasi sosial adalah nomor . Jawab: 1, 2 dan 4 (1) 32. Tingginya angka bunuh diri pada kelompok Protestan menurut penelitian Durkheim disebabkan … a.

Integrasi tinggi b. Integrasi rendah c. solidaritasi tinggi d. integrasi cukup e. solidaritas yang baik 33. Kata mobilitas berasal dari bahasa latin, yaitu … a. mobile artinya gerak b. mobile artinya jalan c. mobilis artinya kendaraan d. mobile artinya perpindahan e.

mobilis artinya gerak 34. Seseorang yang kehilangan pekerjaannya merupakan contoh dari … a. social climbing b. social sinking c. social elevator d. social circulation e. social gap 35. Proses mobilitas sosial melalui saluran - saluran mobilitas dinamakan … a. social climbing b. social sinking c.

social elevator d. social circulation e. social gap (2) 36. Di dalam masyarakat selalu terjadi konflik baik dalam masyarakat sederhana maupun dalam masyarakat modern. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa konflik merupakan . a.Gejala sosial b.Masalah sosial c.Suatu kejahatan d.Dinamika sosial e.Disintegrasi sosial 37.Masyarakat yang majemuk sangat rentan terhadap tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan sosial terutama masyarakat majemuk dengan adanya .

a.Minoritas dominan b.Mayoritas dominan c.Fragmentasi sosial d.Kompetisi seimbang e.Kompetisi tidak seimbang 38.Usaha untuk meredakan konflik dikenal sebagai . a.Akomodasi b.Kooperasi c.Mediasi d.Adaptasi e.Kompromi 39.Perhatikan beberapa gejala berikut 1)keinginan melihat daerah lain 2)Ekspansi teritorial dan gerak populasi 3)Kelas-kelas sosial yang berbeda 4)Perbedaan rasial dan agama (3) 5)Perbedaan jenis kelamin Dari daftar di atas yang merupakan faktor pendorong terjadinya mobilitas sosial adalah .

a.1, 2, dan 3 b.1, 2, dan 4 c.1, 3, dan 5 d.2, 4, dan 5 e.3, 4, dan 5 40.Seorang siswa dari keluarga tidak mampu berhasil masuk perguruan tinggi melalui SNMPTN.

Pada saat berkuliah ia sangat rajin dan tekun belajar sehingga lulus dengan predikat sangat memuaskan. Setelah lulus dia bekerja di perusahaan ternama dan sekarang menjadi direktur. Dari contoh tersebut yang menjadi saluran dalam mobilitas sosial adalah . a.Organisasi ekonomi dan politik b.Organisasi pendidikan dan politik c.Lembaga pendidikan dan ekonomi d.Lembaga pendidikan dan kekuasaan e.Lembaga pendidikan dan keagamaan 41.

Subras penduduk yang mendiami kawasan Asia Tenggara, Asia Tengah, dan Asia Timur adalah subras . a. Negroid b. Asiatik c. Nordik d. Mediterania e. Melanesia 42. Pelapisan sosial yang tidak mengaitkan ukuran kekayaan dan kekuasaan adalah pelapisan sosial yang mempunyai kriteria . (4) b. Kehormatan c. iImu pengetahuan d. Terbuka e. Tertutup 43. Dalam klasifikasi ras yang dikemukakan oleh A.

Kroeber, sebagian besar orang Indonesia termasuk dalam ras . a. Polynesia b. Bushman c. Malayan Mongoloid d. Melanesia e. Asiatic Mongoloid 44. Status sosial yang dicapai sebagai hasil usaha seseorang, disebut …. a.Ascribed status b.Assigned status c.Achieved status d.Close social status e.Open social status 45. Stratifikasi sosial adalah pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat.

Pendapat tersebut dikemukakan oleh . a. Selo Soemardjan b.

tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan

Bruce J. Cohen c. Pitirim A. Sorokin d. Max Weber e. Astrid S. Susanto (5) II.Jawablah pertanyaan berikut dengan benar! 1. Sebutkan saluran-saluran yang bisa digunakan untuk melakukan sebuah mobilitas sosial!

Jawab: Saluran – saluran mobilitas sosial vertikal ada 4 yaitu : 1)Angkatan bersenjata 2)Lembaga keagamaan 3)Lembaga pendidikan sekolah 4)Organisasi atau perserikatan ekonomi 2.Beberapa gejala sosial : 1)merasa puas dengan kondisi yang ada 2)sangat memegang teguh ideologi 3)diskriminasi rasial terhadap masyarakat tertentu 4)ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi 5)struktur masyarakat bersifat terbuka Gejala sosial yang menghambat laju mobilitas sosial adalah .

Jawab: 1, 2 dan 3 3.Seandainya terjadi pergolakan yang dilakukan oleh kelompok buruh dengan manajer suatu Perusahaan, maka hal tersebut merupakan konflik . Jawab: Antarkelompok sosial 4.Jelaskan sifat – sifat stratifikasi sosial! Jawab: -) Stratifikasi sosial Tertutup Anggota dari setiap strata sulit melakukan mobilitas vertikal, satu – satunya jalan untuk masuk dalam stratifikasi ini melalui kelahiran. -) Stratifikasi sosial Terbuka (6) -) Stratifikasi sosial campuran Membatasi kemungkinan berpindahnya strata pada bidang tertentu, tetapi membiarkan untuk melakukan perpindahan lapisan pada bidang yang lain.

5.Perhatikan faktor berikut ini! 1) perbedaan suku. 2) perbedaan agama. 3) perbedaan status sosial. 4) perbedaan kebudayaan. 5) perbedaan pendidikan formal Faktor di atas yang menyebabkan terjadinya diferensiasi sosial adalah nomor . Jawab: 1, 2 dan 4 Parts » UAS 1 plus Kunci Sosiologi 11 SMA » Kekayaan, kekuasaan, keturunan, dan pendidikan Di masyarakat terdapat beragam pekerjaan yang menghasilkan pendapatan yang berbeda Adanya suatu yang dihargai dan bernilai seperti benda atau uang Kekuasaan Struktur sosial » 3 dan 5 Branchychepalus Fungsi norma Diferensiasi social Kepribadian Penghargaan lebih terhadap sesuatu Distribusi hak-hak istimewa yang objektif » Konflik sosial Status dan peranan 1 dan 2 etnik 1 dan 2 Ideologi » 2 dan 3 Konflik status Tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan Konsiliasi Klan, agama, dan ras Kaukasoid dan mongoloid Amalgamasi Etnosentrisme Koersi » Mengembangkan pemahaman budaya kelompok lain Konsiliasi Pancasila arbitrasi Integrasi rendah mobilis artinya gerak social sinking social circulation Show more
Emile Durkheim Manusia adalah makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain.

Manusia selalu membutuhkan kehadiran orang lain. Setiap tindakan yang dilakukan selalu berhubungan dengan orang-orang disekitar. Jika kehidupan manusia dalam sikap individu hanya mampu bertahan temporer, tidak demikian dengan sikap sosial yang akan terbangun secara lama dengan individu-individu yang beragam dalam lingkungan sosial. Segala aktivitas manusia dalam dunia sosial berhubungan dengan fakta sosial.

Salah satu fakta sosial diantaranya adalah fenomena bunuh diri. Kenyataan dalam masyarakat sudah tertampakkan bahwa kejadian bunuh diri sudah berlangsung selama puluhan tahun masa silam, bahkan sampai saat ini masih terjadi.

Berbagai asumsi akan memunculkan pandangan dari masyarakat terkait adanya tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh berbagai orang. Dengan melakukan aksi bunuh diri besar kemungkinan akan menyebabkan sebuah kematian.

Kehidupan manusia memang mengalami pentahapan, bermula dari lahir tumbuh berkembang dan pada akhirnya akan mengalami kematian. Akan tetapi kematian yang terjadi dari manusia mengalami berbagai kewajaran atau bahkan diluar kenalaran.

Menurut Widodo (2011: 152), kematian berdampak pada persepsi individu yang berbeda. Sebagian memandang kematian dianggap sebagai peristiwa yang sangat penting dan menakutkan, individu lain memandang kematian sebagai proses alami belaka. Perbedaan persepsi ini mengakibatkan sikap dan perilaku yang berbeda setiap individu dalam menghadapi kematian. Kematian yang disebabkan oleh bunuh diri cenderung meningkat di seluruh dunia.

Data yang ditemukan di Indonesia menyatakan bahwa bunuh diri menjadi penyebab utama kedua kematian pada usia produktif 15-29 tahun, dan rata-rata kematian karena bunuh diri di Indonesia adalah satu orang pada setiap satu jam (Kompas, 8 September 2016) dalam (Valentina dan Helmi, 2016: 123).

Walaupun pada kenyataannya individu yang melakukan bunuh diri tak selamanya berada pada usia produktif, anak kecil atau orang dewasa bahkan orang tua juga bisa mengalami tindakan bunuh diri. Kematian yang disebabkan dengan cara bunuh diri adalah sebuah tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok.

Tindakan dalam bunuh diri tidak selamanya berujung kematian, ada beberapa kejadian yang akhirnya menyelamatkannya. Walaupun pada kebanyakan kasus, tindakan dalam bunuh diri tersebut berakir pada hilangnya nyawa seseorang.

Motif yang melatarbelakangi sesorang melakukan bunuh diri tentunya didasarkan pada proses sosial yang dihadapinya. Apakah selama hidupnya bisa berbaur dan bersosialisasi dengan baik di masyarakat atau justru sebaliknya. Setiap individu mempunyai pola pikir yang berbeda, ideologi yang dijalankan sesuai dengan hakikat keyakinan yang dimilikinya.

Interaksi sosial dalam lingkungan sosial juga akan mempengaruhi seseorang dalam mengambil sikap yang dilakukan. Kejadian bunuh diri didasarkan atas beberapa perilaku yang mencerminkan bagaimana seseorang dalam hidupnya mengalami tekanan atau tidak. Aturan-aturan yang ada dalam kehidupannya juga sangat berpengaruh baginya. Selain itu tekanan psikologis maupun sosiologis juga sangat besar pada perilaku seseorang dalam melakukan aksi bunuh diri.

Bunuh diri merupakan kejadian dalam masyarakat yang seringkali tak terelakkan. Bunuh diri adalah peristiwa mengakhiri hidup secara sengaja. Gejala-gejala sosial dalam masyarakat tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan mempengaruhi seseorang dalam melakukan tindakan bunuh diri.

Merujuk Durkheim, setidaknya ada empat tipe tindakan bunuh diri, yaitu egoistic suicide, altruism suicide, anomie suicide, dan fatalistic suicide. Egoistic suicide adalah tindakan bunuh diri yang terjadi karena integrasi sosial yang terlalu lemah.

Altruism suicide adalah tindakan bunuh diri yang terjadi karena integrasi sosial yang terlalu kuat. Anomie suicide adalah tindakan bunuh diri yang terjadi karena kaburnya nilai dan norma dalam masyarakat. Fatalistic suicide adalah tindakan bunuh diri yang terjadi karena nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat terlampau berlebihan. Tindakan bunuh diri yang terjadi dalam masyarakat dapat dipetakan melalui fakta integrasi sosial yang semakin kuat atau yang semakin lemah.

Selain itu tindakan bunuh diri juga dapat dipetakan berdasarkan fakta tatanan nilai dan norma yang semakin lemah atau semakin kuat. PEMBAHASAN BUNUH DIRI DALAM FAKTA SOSIAL Untuk memisahkan sosiologi dari psikologi, Durkheim dengan tegas membedakan antara fakta sosial dengan fakta psikologi. Fakta psikologi adalah fenomena yang dibawa oleh manusia sejak lahir (inherited).

Dengan demikian bukan merupakan hasil pergaulan hidup masyarakat. Fakta sosial tidak dapat diterangkan dengan fakta psikologi. Ia hanya dapat diterangkan dengan fakta sosial pula (Ritzer, 2011: 16). Fakta sosial jelas berbeda dengan fakta psikologi. Fakta sosial sangat berhubungan dalam kehidupan manusia. Segala pergaulan hidup akan bersinggungan dengan fakta-fakta yang ada di lingkungan sosial atau masyarakat.

Menurut Emile Durkheim (dalam Usman, 2012: 40), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari fakta sosial. Fakta sosial adalah bersifat eksternal terhadap individu.

Fakta sosial bisa berupa cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang memperlihatkan ciri-ciri tertentu yang berada di luar kesadaran individu. Fakta sosial mempunyai kekuatan memaksa individu. Fakta sosial juga bersifat umum, dalam arti tersebar merata, menjadi milik kolektif dan bukan sekadar hasil dari penjumlahan beberapa fakta individu.

Perhatian Durkheim yang utama bukan dalam bunuh diri sebagai tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan tindakan individu melainkan dalam turun-naiknya angka bunuh diri itu. Angka bunuh diri dilihat sebagai fakta sosial dan bukan fakta individu, dan yang diharapkan dari analisa itu adalah bahwa bunuh diri dipengaruhi oleh fakta sosial lainnya seperti tingkat atau tipe integrasi sosial (Johnson, 1986: 192).

Bunuh diri yang yang dilihat melalui angka pada turun-naiknya, merupakan sebuah frekuensi fakta sosial yang ada di masyarakat. Bahwa tindakan bunuh diri tersebut dilakukan di berbagai tempat sehingga berlaku secara umum. Segala tindakan dalam bunuh diri sangat dipengaruhi oleh kesadaran diluar dirinya, artinya gejala-gejala sosial yang hadir akan turut membentuk dari apa yang dijumpainya.

Selain itu ketika adanya integrasi atau nilai dan norma maka akan memaksa individu untuk berada dalam lingkungan kelompok tersebut. Bunuh diri adalah tindakan yang dapat menyebabkan kematian, disengaja, dilakukan oleh dirinya sendiri dan pelaku menganggap tindakannya sebagai jalan yang terbaik untuk menyelesaikan masalahnya (Gamayanti, 2014: 208).

Bunuh diri merupakan tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok tertentu untuk mengakhiri hidupnya. Tidak semua masyarakat dapat menerima dengan tindakan bunuh diri, meskipun dapat kita jumpai dimana saja dan kapan saja. Fenomena yang terjadi seseorang dapat melakukan bunuh diri karena adanya ikatan sosial atau norma yang sesuai atau tidak sesuai baginya dalam hubungan sosial di masyarakat.

TIPE BUNUH DIRI DALAM PENDEKATAN SOSIOLOGI Bunuh diri yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok tidak mengenal jenis kelamin, usia, asal-usul daerah, dan latar belakang keluarga. Tindakan bunuh diri yang dilakukan dapat dijumpai pada laki-laki atau perempuan, tidak mengenal usia baik kecil atau yang sudah dewasa.

Selain itu daerah dimana ia tinggal juga bisa berasal dari daerah mana saja. Sedangkan orang yang mempunyai latar belakang status sosial miskin atau kaya juga dapat dijumpai bahwasannya seseorang tersebut dapat melakukan aksi bunuh diri.

Hal tersebut menggambarkan bahwa yang sangat menentukan pada tingkatan bunuh diri adalah integrasi sosial dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Berikut merupakan analisis sosial dalam mengidentifikasi terhadap tipe-tipe bunuh diri, diantaranya yaitu: • Egoistic Suicide Merupakan bunuh diri yang terjadi karena adanya integrasi sosial yang terlalu lemah.

Hubungan sosial yang dilakukan dalam masyarakat atau sebuah kelompok yang dimilikinya tidak begitu mengikat. Seseorang dalam kehidupan keluarga juga sangat dirasa kurang dalam komunikasi yang diembannya. Dirinya merasa sendiri karena segala bentuk pengaruh sosial yang datangnya dari luar kurang dapat menerimanya dengan baik. Segala aktivitas dilakukan tidak dapat melibatkan secara langsung kepada keluarga, teman sebaya, kelompok, atau pun masyarakat. Bunuh diri yang terjadi karena adanya tingkatan individualistik yang berlebihan.

Meskipun adanya lingkungan sosial yang mendukung, tetapi jiwanya apatis. Tidak serta merta dalam sebuah keadaan sosial yang menghinggapinya. Partisipasi dalam hubungan sosial sangat kurang, dirinya lebih mementingkan rasa ego yang dibangunnya. Keterikatan yang sangat kurang dalam hal integrasi akan membuat seseorang menjadi alienasi. Keterasingan yang melanda dalam jangka waktu yang tidak singkat dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan bunuh diri.

Kehidupan yang dilaluinya hanya berdasarkan pada kepentingan individu, sehingga kurang bersosialisasi dalam lingkungan tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan.

• Altruism Suicide Merupakan bunuh diri yang terjadi karena adanya integrasi sosial yang terlalu kuat. Jiwa solidaritas dari manusianya sangat tinggi, sehingga aturan-aturan yang diciptakan dalam kelompoknya akan diikuti.

Menjalin hubungan sosial yang sangat kuat, keinginan-keinginan dari lingkungannya akan diwujudkan. Ikatan dalam sebuah kelompok adalah sense of belonging, jika ada anggotanya yang sakit maka sakit juga yang lainnya. Tingkat persaudaraan diatas segalanya, jalinan hubungan anatar sesama menjadi hal yang penting.

Keikutsertaan dalam sebuah kegiatan menjadi hal yang prioritas. Konformitas dalam sebuah kelompok atau lingkungan sosial juga sangat tinggi. Keadaan dalam integrasi sosial yang sangat kuat dapat menciptakan seseorang melakukan tindakan bunuh diri. Rasa yang tertorehkan sedemikian besar dalam kelompoknya, akan dilakukan untuk kepentingan apa saja.

Kehidupan yang dilakukan bersumber kepada ikatan sosial yang sangat kuat sehingga integrasi dalam dirinya semakin kokoh untuk kepentingan diluar dirinya. Disisi lain fenomena bunuh diri akibat terlampau kuatnya integrasi sosial menyiratkan pengekangan berlebih individu oleh masyarakatnya, individu serasa dikuasai penuh oleh lingkungan sosial sehingga tak dapat berbuat banyak untuk menghindarinya. • Anomie Suicide Bunuh diri anomik muncul dari tidak adanya pengaturan bagi tujuan dan aspirasi individu.

Dalam kondisi yang normal dan stabil keinginan individu dijamin oleh norma-norma yang sesuai yang didukung oleh prinsip-prinsip moral yang umum (Johnson, 1986: 192). Kekaburan norma dalam masyarakat menjadikan individu-individu bingung dan tanpa arah. Nilai dan norma yang selama ini dijadikan sebagai patokan bergeser fungsinya menjadi abu-abu.

Aturan yang selama ini dijadikan pedoman dalam berperilaku dan mengambil keputusan seolah hilang begitu saja. Keinginan dan kebutuhan manusia menjadi terhambat karena keadaan yang selama ini sudah mapan tergantikan dengan keadaan yang baru.

Adanya perubahan yang tidak biasa menjadi sesuatu diluar batas menyebabkan frustasi bagi masyarakat. Perubahan-perubahan yang mendadak dalam masyarakat, seperti krisis ekonomi, politik, hukum akan membawa masyarakat kearah keresahan.

Fungsi yang selama ini didambakan menjadi berubah, hilangnya pegangan hidup dalam masyarakat menjadi sebuah dilematis tersendiri. Seperti dikemukakan Durkheim, kebutuhan dan keinginan manusia tidak mungkin terpenuhi semuanya, tetapi biasanya dihambat oleh norma-norma yang sudah mapan. Kalau hambatan-hambatan ini dilepaskan, keinginan manusia yang tidak habis-habisnya itu menjadi manifest.

Karena meningkatnya frustasi yang muncul dari keinginan yang tidak terpenuhi itu, angka bunuh diri meningkat. Dalam menunjang proposisi ini, Durkheim menunjukkan bahwa perubahan-perubahan yang mendadak dalam masyarakat, seperti krisis ekonomi yang parah atau periode-periode ekspansi dan kesejahteraan ekonomi yang tidak lazim, umumnya berkaitan dengan meningkatnya angka bunuh diri (Johnson, 1986: 193).

Bunuh diri anomik mencerminkan seorang individu yang mengalami kebingungan moral dan kurangnya arah sosial yang berkaitan dengan pergolakan sosial dan ekonomi yang dramatis. Seorang individu tidak tahu dibidang mana mereka cocok dalam komunitas mereka (Mantiri, Erwin dan James, 2016: 260). Keadaan yang membuat bingung masyarakat menjadikan suasana masyarakat tidak harmonis. Terlebih terjadinya perubahan yang tidak semuanya masyarakat dapat menerimanya dengan baik. • Fatalistic Suicide Tipe bunuh diri yang demikian ini tidak begitu banyak dibahas oleh Durkheim.

Pada tipe bunuh diri anomi terjadi dalam situasi dimana nilai dan norma yang berlaku di masyarakat melemah. Lain halnya pada bunuh diri diri fatalistik, ini terjadi ketika nilai dan norma yang berlaku di masyarakat meningkat dan terasa berlebihan (Upe, 2010: 103).

Fatalistic suicide merupakan bunuh diri yang terjadi karena adanya aturan-aturan yang berada di masyarakat meningkat.

tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan

Aturan yang terlalu kuat sangat membatasi terhadap gerak masyarakat. Individu yang tidak siap menjadi tertekan oleh tatanan nilai dan norma dalam masyarakat.

Nilai dan norma yang sudah menindas menjadikan masyarakat hanya taat dan patuh terhadap sebuah kebijakan. Individu-individu yang berada di masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya pasrah pada keadaan nasib. Jiwa fatalis sudah membelenggu dalam kehidupannya. Pengekangan dalam sebuah norma tetap dijalankan dengan dalih hanya menjalankan sebuah peraturan.

Norma yang terlampau kuat ini membuat ketidakberdayaan pada individu-individu di masyarakat. Segala sesuatu yang dijalankan berhubungan erat dengan aturan. Bunuh diri fatalistik terjadi ketika seseorang terlalu diatur atau terkekang, ketika masa depan mereka diblokir tanpa belas kasihan dan keinginan diri-sendiri dihambat karena disiplin yang berlebihan.

Ini adalah kebalikan dari bunuh diri anomik dan muncul dalam masyarakat terlalu menindas menyebabkan individu lebih memilih mati daripada melanjutkan hidup dalam masyarakat mereka (Mantiri, Erwin dan James, 2016: 260). Norma yang terlalu kuat akan membuat seseorang menjadi takhluk. Ketika aturan sudah dijalankan, masyarakat harus tunduk dan patuh untuk mengikutinya. Sekelompok orang yang mendekam di penjara maka kebebasan untuk hidup dan bermasyarakat sudah hilang, terlebih mendapat hukuman yang lama di dalam sel tahanan.

Tidak jarang ditemukan juga beberapa orang mengakhiri hidupnya dengan jalan melakukan bunuh diri karena adanya tekanan yang berlebih selama berada dalam kehidupan penjara. KESIMPULAN Bunuh diri merupakan sebuah fakta sosial dimana keadaan tersebut terdapat di berbagai lapisan masyarakat. Gejala-gejala yang nampak berada pada gejala sosial bukan gejala individu. Pengaruh dari hubungan sosial dan struktur sosial dalam masyarakat sangat mempengaruhi terhadap perilaku individu-individu.

tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan

Berkaitan dengan bunuh diri yang terjadi dalam lingkungan sosial atau masyarakat dapat dianalisis dengan empat macam tipe bunuh diri, yaitu: Egoistic suicide, Altruism suicide, Anomie suicide, dan Fatalistic suicide.

Tipe bunuh diri tersebut sangat berhubungan dengan keadaan masyarakat. Integrasi sosial yang dimiliki oleh individu sangat menentukan terhadap tindakan bunuh diri. Apabila integrasi sosial sangat kuat maka akan memungkinkan seseorang melakukan tindakan altruism suicide, sedangkan integrasi sosial yang sangat lemah, maka seorang individu akan menempuh jalan egoistic suicide.

Sementara dalam tatanan sosial tidak selamanya berjalan sesuai dengan kemapanan sosial. Nilai dan norma yang kabur menjadikan masyarakat semakin bingung dan kacau. Tidak adanya pegangan nilai dan norma yang dijadikan patokan dalam bertindak. Individu merasa kehilangan cita-cita, tujuan, dan norma dalam hidupnya, sehingga melakukan suicide.

Sedangkan jika nilai dan norma dalam masyarakat meningkat dan sangat berlebihan, maka yang terjadi hanyalah patuh dan taat pada keadaan.

Pasrah pada nasib menjadi jalan yang harus dilaluinya. Apabila tekanan yang dilaluinya semakin hari semakin tidak dapat dibendung, maka jalan yang ditempuh adalah fatalistic suicide. Penindasan dari sebuah tata aturan yang semakin merajalela. Ketidakberdayaan masyarakat semakin lemah dan tak berdayakan lagi dalam sendi-sendi kehidupan.Biografi Singkat Emile Durkheim Emile Durkheim lahir pada tanggal 15 April 1858 di Epinal, Prancis. Ia berasal dari keluarga rabbi atau pendeta bagi kaum Yahudi.

Tetapi pada umur belasan tahun, Ia menyangkal silsilah keturunanya (Strenski, 1997: 4). Sejak saat itu, minat terhadap agama lebih akademis daripada teologis (Mestrovic, 1988). Ia tidak hanya kecewa dengan ajaran agama, namun juga pada pendidikan umum dan penekananya pada soal-soal literer dan estetis.

Ia mendambakan bisa mempelajari metode-metode ilmiah dan prinsip-prinsip moral yang bisa memandu kehidupan sosial. Pada tahun 1887 Ia mengajar filsafat di beberapa sekolah provinsi di sekitar Paris. Keinginanya dalam mempelajari ilmu pengetahuan semakin besar ketika Ia melakukan perjalanan ke Jerman.

Disana Ia mengenal psikologi ilmiah yang dirintis oleh Wilhelm Wundt. Di tahun-tahun setelah kunjunganya ke Jerman, Durkheim menrbitkan beberapa karya yang menuliskan pengalamanya di Jerman. Publikasi-publikasi ini membantu Ia memperoleh posisi di departemen filsafat di Universitas Bordeaux pada tahun 1887. Disana Durkheim memberikan kuliah dalam ilmu sosial di sebuah Universitas Prancirs untuk pertama kalinya.

Hal ini merupakan prestasi terbesar, karena hanya berjarak satu dekade sebelumnya kehebohan menggemparkan merebak di sebuah Universiras Prancis setelah seorang mahasiswa menyebut Auguste Comte dalam disertasinya. Tanggung jawab utama Durkheim adalah memberikan pedagogik untuk calon guru sekolah, dan mata kuliahnya yang paling penting adalah pendidikan moral. Alasan dari pendidikan moral sendiri adalah agar para pendidik mampu menularkan sistem moral kepada siswa-siswanya yang diharapkan memperbaiki kemrosotan moral yang Ialami masyarakat Prancis.

Teori Emile Durkheim 1. Teori Solidaritas Dalam buku ini menerangkan bahwa masyarakat modern tidak diikat oleh kesamaan antara orang-orang yang melakukan pekerjaaan yang sama, akan tetapi pembagian kerjalah yang mengikat masyarakat dengan memaksa mereka agar tergantung satu sama lain. solidaritas menunjuk pada suatu keadaan hubungan antara individu dan / atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama.

a. Solidaritas mekanis Solidaritas mekanis dibentuk oleh h u kum represif (pelaku suatu kejahatan atau perilaku menyimpang akan terkena hukuman, dan hal itu akan membalas kesadaran kolektif yang dilanggar oleh kejahatan itu). karena anggota masyarakat jenis ini memiliki kesamaan satu sama lain, dan karena mereka cenderung sangat percaya pada moralitas bersama, apapun pelanggaran terhadap system nilai bersama tidak akan dinilai main-main oleh setiap individu.

Pelanggar akan dihukum atas pelanggaranya terhadap system moral kolektif. Meskipun pelanggaran terhadap system moral hanya pelanggaran kecil namun mungkin saja akan dihukum dengan hukuman yang berat. b. Solidaritas organi k Masyarakat solidaritas organic dibentuk oleh hukum restitutif ( ia bertujuan bukan untuk menghukum melainkan untuk memulihkan aktivitas normal dari suatu masyarakat yang kompleks).

Dimana seseorang yang melanggar harus melakukan restitusi untuk kejahatan mereka, pelanggaran dilihat sebagai serangan terhadap individu tertentu atau sekmen tertentu dari masyarakat bukannya terhadap sistem moral itu sendiri.

Dalam hal ini, kurangnya moral kebanyakan orang tidak melakukan reaksi xecara emosional terhadap pelanggaran hukum. Durkheim berpendapat masyarakat modern bentuk solidaritas moralnya mengalami perubahan bukannya hilang. Dalam masyarakat ini, perkembangan kemandirian yang diakibatkan oleh perkembangan pembagian kerja menimbulkan kesadaran-kesadaran individual yang lebih mandiri, akan tetapi sekaligus menjadi semakin tergantung satu sama lain, karena masing-masing individu hanya merupakan satu bagian saja dari suatu pembagian pekerjaan sosial.

2. Teori tentang Agama Dalam teori ini Durkheim mengulas sifat-sifat, sumber bentuk-bentuk, akibat, dan variasi agama dari sudut pandang sosiologistis. Agama menurut Durkheim merupakan ”a unified system of belief and practices relative to sacret things”, dan selanjutnya “ that is to say, things set apart and forbidden – belief and practices which unite into one single moral community called church all those who adhere to them.” Agama menurut Durkheim berasal dari masyarakat itu sendiri.

Masyarakat selalu membedakan mengenai hal-hal yang dianggap sacral dan hal-hal yang dianggap profane atau duniawi. Dasar dari pendapat Durkheim adalah agama merupakan perwujudan dari collective consciouness sekalipun selalu ada perwujudaan-perwujudan lainnya. Tuhan dianggap sebagai simbol dari masyarakat itu sendiri yang sebagai collective consciouness kemudian menjelma ke dalam collective representation. Tuhan itu hanya lah idealisme dari masyarakat itu sendiri yang menganggapnya sebagai makhluk yang paling sempurna (Tuhan adalah personifikasi masyarakat).

Kesimpulannya, agama merupakan lambang collective representation dalam bentuknya yang ideal, agama adalah sarana tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan memperkuat kesadaran kolektif seperti ritus-ritus agama.

Orang yang terlibat dalam upacara keagamaan maka kesadaran mereka tentang collective consciouness semakin bertambah kuat. Sesudah upacara keagamaan suasana keagamaaan dibawa dalam kehidupan sehari-hari, kemudian lambat laun collective consciouness tersebut semakin lemah kembal 3.

Teori Bunuh Diri Dalam bukunya yang kedua Suicide, dikemukakan dengan jelas, hubungan antara tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan integrasi sosial dan kecenderungan orang melakukan bunuh diri. Tujuannya dalam studi kali ini, selain untuk berkontribusi terhadap pemahaman persoalan sosial, juga untuk menunjukan sebuah kekuatan disiplin sosiologi.

Durkheim ingin mengetahui pola atau dorongan sosial dibalik tindakan bunuh diri yang terlihat sepintas merupakan tindakan yang sangat individual.

Dan dengan pendekatan disiplin sosiologi yang baru ini, ia percaya dapat memperluas ranah sosiologi kepada fenomena-fenomena lain yang terbuka bagi analisis sosiologi. Durkheim tidak mempelajari mengapa seseorang melakukan bunuh diri. Karena itu adalah wilayah studi psikologi. Perhatiannya adalah menjelaskan perbedaan angka bunuh diri dari beberapa negara. Ia memiliki asusmsi mengenai fakta sosial yang melatarbelakangi fenomena bunuh diri ini sekaligus kenapa suatu kelompok memiliki angka bunuh diri yang lebih itnggi.

Durkheim menggunakan dua cara yang saling berhubungan untuk mengevaluasi angka bunuh diri. Pertama dengan membandingkan suatu tipe masyarakat atau kelompok dengan tipe lain. Kedua, dengan melihat perubahan angka bunuh diri dalam sebuah masyarakat atau kelompok dalam rentang waktu tertentu. Jika ada perbedaan dalam angka bunuh diri antara suatu kelompok dengan kelompok lain atau dari suatu periode dengan periode yang lain, maka menurut Durkheim perbedaan tersebut adalah akibat dari perbedaan faktor-faktor sosial atau arus sosial.

Dengan angka-angka statistik dari hasil penelitiannya di beberapa negara, dia menunjukan penolakannya terhadap teori-teori lama tentang bunuh diri tersebut.

Kalau kemiskinan, menurut Durkheim, kenyataannya orang-orang dari lapisan atas( kaya) justru lebih tinggi tingkat bunuh dirinya dbanding dengan orang-orang dari lapisan bawah(miskin). Hal itu ditunjukannya dengan mengatakan bahwa di negara-negara miskin di Eropa seperti Italia dan Spanyol, justru memiliki angka bunuh diri yang lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara Eropa yang lebih makmur, seperti Prancis, Jerman ,dan negara-negara Skandinavia.

Lalu Durkheim menambahkan bahwa, jika diselidiki, sebenarnya ada pola yang lebih teratur dari pada sebab-sebab serta penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh teori-teori terdahulu mengenai bunuh diri.

Angka bunuh diri yang ditunjukan dari suatu kelompok atau masyarakat bersumber pada keadaan masyarakat yang bersangkutan. Dengan demikian, bunuh diri harus dipelajari dengan menghubungkanya dengan struktur sosial dari masyarakat atau negara yang bersangkutan, Durkheim memusatkan perhatiannya pada 3 macam kesatuan sosial yang pokok dalam masyarakat: A.

Bunuh Diri dalam Kesatuan Agama. Dari data yang dikumpulan Durkheim menunjukkan bahwa angka bunuh diri lebih besar di negara-negara protestan dibandingkan dengan penganut agama Katolik dan lainnya.

Penyebabnya terletak di dalam perbedaan kebebasan yang diberikan oleh masing-masing agama tersebut kepada para penganutnya. B. Bunuh Diri dalam Kesatuan Keluarga. Dari penelitian Durkheim disimpulkan bahwa semakin kecil jumlah anggota dari suatu keluarga, maka akan semakin kecil pula keinginan untuk hidup.

Kesatuan sosial yang semakin besar, mengikat orang pada kegiatan-kegiatan sosial di antara anggota-anggota kesatuan tersebut. C. Bunuh Diri dalam Kesatuan Politik. Dari data yang dikumpulkan, Durkheim menyimpulkan bahwa di dalam situasi perang, golongan militer lebih terintegrasi dengan baik, dibandingkan dalam keadaan damai.

Sebaliknya dengan masyarakat sipil. Kemudian data tahun 1829-1848 disimpulkan bahwa angka bunuh diri ternyata lebih kecil pada masa revolusi atau pergolakan politik, dibandingkan dengan dalam masa tidak terjadi pergolakan politik.

Durkheim membagi tipe bunuh diri ke dalam 4 macam: • Bunuh Diri Egoistik Kasus bunuh diri egoistik ini dapat ditemukan dalam kehidupan sosial dimana individu tidak berinteraksi dengan baik dalam unit sosial yang luas. Individu dengan masyarakat sangatlah erat kaitannya. Hal ini dikarenakan individu merupakan merupakan bagian dari masyarakat, dan masyarakat juga merupakan bagian dari individu.

Akan tetapi jika integrasinya lemah, maka akan menyebabkan perasaan bahwa individu itu bukan bagian dari masyarakat, yang berarti juga bahwa masyarakat itu bukan bagian dari sang individu. • Bunuh Diri Altruistik Kasus bunuh diri altruistik lebih mungkin terjadi ketika “integrasi sosialnya terlalu kuat” (Durkheim, 1897/1951:217).

Jika angka bunuh diri altruistik semakin tinggi, jelaslah integrasi akan semakin kuat jika “semakin banyak harapan yang tersedia, karena ia bergantung pada adanya sesuatu yang indah setelah hidup di dunia ini”. Ketika integrasi melemah, seseorang akan melakukan bunuh diri karena ia beranggapan bahwa tidak ada lagi kebaikan yang lebih besar yang dapat menopang mereka.

Ketika integrasi tinggi, mereka melakukan bunuh diri demi kebaikan yang lebih tinggi. • Bunuh Diri Anomik Kasus bunuh diri yang terjadi ketika kekuatan regulasi masyarakat terganggu. Gangguan itu mungkin individu akan merasa tidak puas karena lemahnya kontrol terhadap nafsu mereka, yang akan bebas tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan dalam ras yang tidak pernah puas terhadap kesenangan.

Angka bunuh diri anomik bisa meningkat terlepas dari apakah ganguan itu positif seperti peningkatan ekonomi, atau negatif seperti penurunan ekonomi. Dari kedua macam gangguan ini membuat kolektivitas masyarakat menjadi tidak mampu melanjarkan otoritasnya terhadap individu untuk sementara waktu.

Perubahan-perubahan semacam ini menempatkan orang dalam situasi dimana norma-norma lama sudah tidak berlaku lagi dan sedangkan norma baru belum lagi dikembangkan. Dengan adanya semacam ini melepaskan arus rasa ketercabutan anomi dari akar dan rasa kehilangan norma-norma mengikat dan arus ini cenderung meningkatkan bunuh diri anomik.

• Bunuh Diri Fatalistik Bunuh diri fatalistik adalah sebaliknya dari anomik. Fatalistik terjadi dalam situasi regulasinya meningkat. Emile Durkheim melukiskan orang – orang yang lebih mungkin untuk melakukan bunuh diri fatalistik sebagai “pribadi – pribadi dengan masa depan yang terhalang tanpa ampun dan nafsu – nafsu yang dicekik dengan kasar oleh disiplin yang bersifat menindas”.

Seperti yang telah disebutkan bahwa angka kematian yang disebabkan karena bunuh diri semakin meningkat setiap tahunnya. Salah satu negara dengan jumlah kasus bunuh diri terbanyak adalah Korea Selatan dengan mencapai angka 60%.

Salah satu contoh kasus bunuh diri yang terjadi di negara Korea Selatan adalah kasus bunuh diri yang dilakukan oleh salah seorang artis bernama Kang Doo Riyang terjadi pada 14 Desember 2015 lalu.

Berikut merupakan berita yang dikutip dari salah satu media massa yang menyajikan berita kasus bunuh diri tersebut.

“Artis cantik Korea Kang Doo Ri ditemukan tewas dalam kecelakaan mobil, 14 Desember 2015, di Incheon, Korea Selatan, pukul 04.00 waktu setempat.

Awalnya Kang Doo Ri dinyatakan meninggal dunia karena kecelakaan mobil yang merenggut nyawanya. Namun polisi menemukan fakta mengejutkan. Kang Doo Ri menghabisi nyawanya sendiri. Temuan itu berdasarkan hasil penyelidikan di lokasi.

Kang Doo Ri yang baru berusia 22 tahun melakukan debut pada 2010 silam dengan drama Three Brothers. Kang Doo Ri juga beberapa kali muncul dalam Sassy Go Go serta memiliki siaran khusus mokbang (makan lahap secara streaming dan disaksikan orang banyak). Kang Doo Ri menambah panjang deretan artis asal Negeri Ginseng yang memilih mengakhiri hidupnya. Kemungkinan besar, Kang Doo Ri dilaporkan mengalami depresi akibat persaingan yang sangat ketat.

Sebelum meninggal dunia, Kang Doo Ri sempat menuliskan pesan terakhir yang ditujukan untuk salah satu temannya. Dari berbagai sumber, kasus bunuh diri di Korea Selatan memang sangat tinggi. Mereka percaya setelah meninggal dunia ,mereka akan ke tempat yang lebih baik atau terlahir dengan hidup yang lebih menyenangkan”.

Kesimpulan Karya Emile Durkheim ▪ Disertasinya yang berjudul “ The Division of Labor in Society ” diterbitkan pada tahun 1893. Dalam disertasikan tersebut, ia memaparkan tentang konsep-konsep evolusi sejarah moral atau norma-norma tertib social.

Ia juga menempatkan krisis moral yang hebat yang terjadi dalam masyarakat modern. Disertasinya ini menjadi karya klasik dalam tradisi sosiologi.
Tingginya angka bunuh diri pada kelompok Protestan menurut penelitian Emile Durkheim disebabkan oleh.

a. Integrasi tinggi b. Integrasi rendah c. Solidaritas tinggi d. Integrasi cukup e. Solidaritas yang baik Pembahasan Sebenarnya dari opsi yang ada tidak ada jawaban yang benar. Ini dikarenakan bahwa Tingginya angka bunuh diri pada kelompok Protestan menurut penelitian Emile Durkheim disebabkan oleh SOLIDARITAS YANG RENDAH.

Menurut penelitian sosial Emile Durkheim, Tingginya angka bunuh diri pada kelompok Protestan menurut penelitian Emile Durkheim disebabkan oleh solidaritas yang rendah. Kaum protestan dianggap sebagai individualis dan kritis yang menyebabkan rendahnya solidaritas di negara protestan atau di kelompok protestan itu sendiri.

Ini berbeda dengan negara katolik atau kelompok katolik yang memiliki solidaritas yang tinggi dan mengakibatkan rendahnya tingkat bunuh diri di kelompok dan agama tersebut. Pelajari lebih lanjut • Materi tentang Identifikasikan alasan alasan seseorang melakukan bunuh diri menurut teori emile durkheim brainly.co.id/tugas/15692420 • Materi tentang Tokoh sosiologi dan apa yang dicetuskan brainly.co.id/tugas/12438622 • Materi tentang Jelaskan macam macam teori bunuh diri dari emile durkheim brainly.co.id/tugas/17906317 ======================== Detil Tingginya angka bunuh diri pada kelompok protestan menurut penelitian durkheim disebabkan Kode : 11.3.1 Kelas : 11 SMA Mapel : Sejarah/Sosiologi Bab : Pemikiran Durkheim #AyoBelajar 1.

Jelaskan Pengertian dan perbedaan pelatihan, pendidikan, dan Pengembangan SDM? 2. Jelaskan Tujuan dari pengembangan Staf?

3. Dalam perspektif Penge … mbangan Sumber Daya Manusia pembelajaran dan paradigma kinerja.1. Jelaskan apa yang dimaksud paradigma pembelajaran 2. Jelaskan apa yang dimaksud paradigma Kinerja (PSDM) dikenal istilah Paradigma.Sedia jawaban Tugas 1 UT,jawaban terjamin,anti plagiarisme,harga murah,amanah,selebihnya pc 082181028130.​ 1 No. Soal Sosialisasi politik dapat dilakukan melalui tiga proses yaitu kognitif, afektif, dan evaluatif. Jelaskan proses sosialisasi politik me … lalui ketiga konsep tersebut!

0 Sosialisasi politik yang dilakukan ole suatu Partai Politik, termasuk proses yang mana? Jelaskan! Budaya politik merupakan pola tingkah laku individu dan orientasinya terhadap kehidupan politik yang dihayati ole para anggota suatu sistem politik.

Jelaskan budaya politik Indonesia berdasarkan pandangan Herbert Feith! 3. Mengacu pada piramida partisipasi politik dari Roth dan Wilson, terlihat sebagian besar masyarakat adalah orang yang apolitik. Mengapa? READY JAWABAN TUGAS FULL WORD TUGAS TMK 085158872802 READY JAWABAN TUGAS FULL WORD TUGAS TMK 085158872802 READY JAWABAN TUGAS FULL WORD TUGAS TMK 085158872802 READY JAWABAN TUGAS FULL WORD TUGAS TMK 085158872802 READY JAWABAN TUGAS FULL WORD TUGAS TMK 085158872802 Spencer mengemukakan tentang tahap perkembangan masyarakat, jelaskan tahapan dibawah ini.

a. Tahap penggandaan b. Tahap kompleksitas C. Tahap dif … erensiasi 2 Pembangunan bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Kemukakan analisa Anda tentang 3 elemen pembangunan sosial menurut Wirutomo dengan disertai contohnya masing-masing. I dari !
1. Jelaskan Pengertian dan perbedaan pelatihan, pendidikan, dan Pengembangan SDM? 2. Jelaskan Tujuan dari pengembangan Staf? 3. Dalam perspektif Penge … mbangan Sumber Daya Manusia pembelajaran dan paradigma kinerja.1.

Jelaskan apa yang dimaksud paradigma pembelajaran 2. Jelaskan apa yang dimaksud paradigma Kinerja (PSDM) dikenal istilah Paradigma.Sedia jawaban Tugas 1 UT,jawaban terjamin,anti plagiarisme,harga murah,amanah,selebihnya pc 082181028130.​ 1 No.

Soal Sosialisasi politik dapat dilakukan melalui tiga proses yaitu kognitif, afektif, dan evaluatif. Jelaskan proses sosialisasi politik me … lalui ketiga konsep tersebut! 0 Sosialisasi politik yang dilakukan ole suatu Partai Politik, termasuk proses yang mana? Jelaskan!

Budaya politik merupakan pola tingkah laku individu dan orientasinya terhadap kehidupan politik yang dihayati ole para anggota suatu sistem politik. Jelaskan budaya politik Indonesia berdasarkan pandangan Herbert Feith! 3. Mengacu pada piramida partisipasi politik dari Roth dan Wilson, terlihat sebagian besar masyarakat adalah orang yang apolitik.

Mengapa? READY JAWABAN TUGAS FULL WORD TUGAS TMK 085158872802 READY JAWABAN TUGAS FULL WORD TUGAS TMK 085158872802 READY JAWABAN TUGAS FULL WORD TUGAS TMK 085158872802 READY JAWABAN TUGAS FULL WORD TUGAS TMK 085158872802 READY JAWABAN TUGAS FULL WORD TUGAS TMK 085158872802 Spencer mengemukakan tentang tahap perkembangan masyarakat, jelaskan tahapan dibawah ini. a. Tahap penggandaan b. Tahap kompleksitas C. Tahap dif … erensiasi 2 Pembangunan bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Kemukakan analisa Anda tentang 3 elemen pembangunan sosial menurut Wirutomo dengan disertai contohnya masing-masing. I dari !

Emile Durkheim: Teori Solidaritas




2022 www.videocon.com