Apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok

apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok

Mahasiswa sering dianggap sebagai seseorang yang punya pikiran dan tingkah laku yang lebih dewasa. Begitulah masyarakat berpikir ketika melihat mahasiswa lewat di depannya atau hanya mendengar kata "mahasiswa".

Namun kedewasaan itu hanyalah stereotip yang berlaku hanya untuk mahasiswa yang benar-benar niat menjadi mahasiswa. Salah satu yang sering jadi momok dalam dunia perkuliahan adalah sikap apatis saat kerja kelompok. Sudah menjadi rahasia umum di dunia perkuliahan, ada saja oknum-oknum mahasiswa yang tidak memiliki kedewasaan dan kebijaksanaan saat harus berhadapan dengan kerja kelompok. Menghilang, susah dihubungi, susah diajak berkumpul, sampai yang paling sering dikeluhkan oleh para mahasiswa adalah cuma nitip nama tanpa ikut kerja.

Menyikapi hal tersebut, di bawah ini ada beberapa cara menghadapi orang-orang yang dikenal punya sifat apatis saat kerja kelompok. Simak di bawah ini. unsplash/campaign_creators Ketika kalian tahu bahwa ternyata ada individu-individu yang dikenal apatis saat kerja kelompok, langkah pertama yang harus dilakukan adalah buatlah peraturan yang jelas untuk tiap individu.

apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok

Jelaskan fungsi dan tanggung jawab tiap orang yang berada di kelompok akan sangat menentukan tugas kalian. Jangan lupa buat aturan yang bisa membuat para individu-individu apatis dalam kelompok kalian menjadi lebih berpikir untuk berkontribusi.

apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok

unsplash/campaign_creators Pembagian tugas juga penting, usahakan pembagian tersebut adil dan penuh musyawarah. Tugas tiap individu tidak berat sebelah adalah hal yang tentunya tidak akan membuat iri satu sama lain. Jika kamu tidak ingin mengambil risiko tugas mandek, kamu bisa beri porsi lebih sedikit kepada anggota kelompok yang dikenal apatis.

Namun hal tersebut cukup kamu lakukan bila sudah sangat terdesak. Baca Juga: 5 Manfaat Sering Mengikuti Lomba Saat Menjadi Mahasiswa unsplash/nikarthur Sindir saja jika dia tidak sadar dengan tugasnya.

Dihubungi sulit dan diajak berkumpul tidak mau datang. Kamu harus pandai bersikap dengan orang-orang apatis ini. Jika ada kesempatan untuk duduk bersama, sindir saja habis-habisan. Orang-orang apatis kadang punya seribu alasan untuk berkelit dari tugas yang diberikan kepadanya. Kamu juga harus lebih cerdas untuk menyadarkan orang-orang apatis tersebut.

unsplash/Glenn Carstens-Peters Langkah terakhir jika kamu benar-benar tidak bisa lagi menghadapi orang-orang apatis di kelompokmu adalah ancam mereka dengan mencoret nama mereka dari kelompok.

Hal ini kadang bisa memberikan efek jera yang ampuh. Namun jika masih saja apatis, lakukan saja pencoretan nama tersebut dan juga laporkan ke pihak dosen. Orang-orang apatis di suatu kelompok tidak dipungkiri sangat sering ditemui dalam dunia perkuliahan. Tidak untuk dibiarkan, perlu ada tindakan tegas agar tidak merugikan anggota kelompok yang lain.

Baca Juga: Wajib Waspada! Ini 5 Korupsi yang Sering Dilakukan Mahasiswa di Kampus Berita Terpopuler • Hamas Mulai Bangkit, Menkeu Israel: Ini Semua Kesalahan Netanyahu • 10 Potret Liburan Ayu Ting Ting dan Keluarga ke Jogja, Ayah Rozak Hits • Kamu Workaholic?

Waspadai 7 Tanda Kamu Terlalu Keras ke Diri Sendiri • 10 Fakta Elon Musk, Orang Terkaya di Dunia yang Baru Membeli Twitter • Kemenag Sebut Kriteria Jemaah Haji Reguler yang Berangkat Tahun Ini • 10 Potret Baby Ameena dalam Berbagai Ekspresi, Gemasnya Kebangetan • BMKG: Waspada, Suhu Panas Terik Terjadi hingga Pertengahan Mei • Libur Lebaran Usai, Jakarta Kembali Terapkan Ganjil Genap Hari Ini • 10 Momen Nagita Slavina Masak Makan Malam buat Teman-teman Artisnya RENCANA PELAKSANAAN LAYANAN BIMBINGAN KONSELING BKP TOPIK TUGAS (RPL BK) Satuan Pendidikan : Universitas Negeri Medan Kelas/ Semester : BK Reguler C / IV (empat) Alokasi Waktu : 1 x 45 menit Tugas Perkembangan : Mencapai dan Mengharapkan Tingkah Laku Sosial Yang Bertanggung Jawab A Topik Permasalahan/ Bahasan Tidak Konsen Kuliah Dikelas Karena Banyak Tugas B Kompetensi Dasar Mencapai dan mengharapkan tingkah laku sosial yang bertanggung jawab C Bidang Bimbingan Pribadi D Jenis Layanan Bimbingan Kelompok E Format Layanan Kelompok F Fungsi Layanan Pemahaman dan Pengembangan G Tujuan Layanan Meningkatkan konsentrasi kuliah dikelas walaupun banyak tugas H Hasil Yang Ingin Dicapai 1.

Anggota kelompok dapat menjelaskan pentingnya berkonsentrasi pada saat kuliah dikelas 2. Anggota kelompok dapat menjelaskan faktor yang mempengaruhi tidak konsentrasi belajar 3. Anggota kelompok dapat menjelaskan dampak tidak konsentrasi dalam belajar 4. Anggota kelompok dapat menjelaskan bagaimana cara menyelesaikan banyak tugas dengan baik dan tepat waktu 5. Anggota kelompok dapat menjelaskan cara/upaya/solusi untuk meningkatkan konsentari belajar dikelas walaupun ada banyak tugas I Sasaran Layanan Teman Sebaya ( BK Reguler C 2015) J Karakter Yang Dikembangkan Bertanggung jawab K Uraian Kegiatan 1.

Strategi Penyajian/ Mode 1. Diskusi 2. Tanya jawab 2. Materi 1. Faktor yang mempengaruhi tidak konsentrasi dalam belajar 2. Dampak tidak konsentrasi dalam belajar 3. Cara menyelesaikan banyak tugas dengan baik dan tepat waktu 4. Cara meningkatkan konsentrasi belajar walaupun banyak tugas L Langkah-langkah Pelayanan 1. Tahap Pembentukan a.

Berdoa b. Menerima anggota kelompok dengan keramahan dan keterbukaan serta berterima kasih c. Menejelaskan pengertian bimbingan kelompok d. Menjelaskan tujuan bimbingan kelompok e. Menjelaskan cara pelaksanaan bimbingan kelompok f. Menjelaskan azas-azas dalam bimbingan kelompok g. Ice-breaking untuk pengenalan/pengakraban 2.

Tahap Peralihan a. Menjelaskan kembali dengan ringkas cara pelaksanaan kegiatan kelompok b. Tanya jawab untuk memastikan kesiapan apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok kelompok c. Mengenali suasana hati dan pikiran masing-masing anggota kelompok untuk mengetahui kesiapan mereka d.

Menentukan azas-azas yang dipedomani dan diperhatikan dalam pelaksaan kegiatan bimbingan kelompok 3. Tahap Kegiatan a. Menjelaskan topik yang telah ditentukan yaitu tidak konsen kuliah dikelas karena banyak tugas b. Meminta anggota kelompok untuk mengemukakan pendapatnya tentang mengapa penting topik ini di bahas c.

Membahas : · Faktor penyebab · Dampak · Bagaimana solusi d. Melakukan permainnan dengan tujuan untuk menciptakan keakraban yang lebih mendalam e. Meminta anggota untuk menyampaikan komitmennya 4. Tahap Pengakhiran a. Menjelaskan bahwa kegiatan bimbingan kelompok akan berakhir b. Anggota kelompok menyampaikan kesan dan pesan nya c. Memberikan tanggapan tentang BMB3 d. Menyepakati kegiatan bimbingan kelompok berikutnya e.

Mengucapkan terima kasih f. Berdoa g. Bersalaman/bernyanyi/ice breaking M Tempat Pelaksanaan Pendopo FIP N Waktu 09.30 – 10.15 WIB O Pelaksana Layanan Dian Thalia Tyomana Damanik P Pihak Yang Dilibatkan Teman sebaya Q Media dan Bahan Yang Digunakan Game “Berbaris Menurut…” R Penilaian Laiseg (penilaian segera) BMB3 S Keterkaitan Layanan Dengan Kegiatan Pendukung Diketahui, Dosen Pengampu Mata Kuliah Pelaksana Layanan (Dra.

Rahmulyani, M.Pd, Kons) (Dian Thalia Tyomana Damanik) NIM : 1153151008 PANDUAN MELAKUKAN PROSES LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN BIMBINGAN KELOMPOK TOPIK TUGAS DENGAN TEMAN SEBAYA Pengantar mengisi daftar hadir : “Baiklah adik-adik, sebelum kita memulai bimbingan kelompok ini, silahkan untuk menanda tangani daftar hadir ini supaya saya tahu siapa saja yang ikut pada pertemuan BKP hari ini.

Jika sudah selesai kembalikan kepada saya”. TAHAP : PEMBENTUKAN • Ucapan selamat datang : Selamat pagi teman-teman semuanya. • Pengantar doa bersama : Untuk memenuhi bimbingan kelompok pada pagi hari ini, ada baiknya kita berdoa terlebih dahulu, agar apa yang kita lakukan nanti mendapatkan kelancaran dan kemudahan dari Tuhan Yang Maha Esa. Berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Bagi teman-teman yang kristen, saya yang akan memimpin doa.

Diharapkan kepada teman-teman sekalian untuk serius dalam berdoa. Doa dimulai. • Pengantar bimbingan kelompok : Baiklah teman-teman, pada pagi hari ini kita akan melaksanakan kegiatan Bimbingan Kelompok atau BKP. Adapun pengertian BKP itu adalah salah satu bentuk layanan yang membahas masalah umum dalam kelompok dengan memanfaatkan dinamika kelompok. • Pengantar tujuan bimbingan kelompok : Dan tujuan dari BKP ini adalah untuk melatih kita berani mengeluarkan pendapat, bersikap terbuka, membina keakraban, mengendalikan diri, dan dapat bersikap tenggang rasa dengan orang lain khususnya dengan teman-teman didalam kelompok.

kemudian agar teman-teman nantinya bisa memiliki belajar yang tinggi. • Pengantar cara pelaksanaan : Adapun cara pelaksanaan BKP ini adalah : • Semua anggota diharapkan untuk berpendapat • Tidak ada pendapat apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok salah dan tidak saling menyalahkan • Tunjuk tangan terlebih dahulu jika ada yang ingin bertanya dan bergantian jika yang bertanya lebih dari satu orang.

• Pengantar azas bimbingan kelompok : Didalam BKP ini ada tiga asas yang harus kita pegang atau kita patuhi, yaitu: • Azas keaktifan : diharapkan kepada setiap anggota kelompok untuk aktif berpendapat atau bertanya. Teman-teman juga harus aktif dalam upaya merealisasikan apa yang dibahas di kelompok.

• Azas keterbukaan : diharapkan kepada setiap anggota kelompok untuk bersifat terbuka, memberikan ide-ide ataupun saran yang disampaikan anggota kelompok. • Azas kenormatifan : diharapkan kepada setiap anggota kelompok untuk berbicara dengan sopan dan santun, dan tunjuk tangan bagi yang ingin berpendapat. • Azas kemandirian : diharapkan kepada setiap anggota kelompok untuk dapat secara mandiri merealisasikan dalam kehidupan sehari-hari. • Penjelasan perkenalan/ pengakraban : Berhubung kita sudah saling mengenal, untuk sesi pengenalan kita ganti dengan sesi pengakraban untuk lebih mengakrabkan kita semua, marilah kita memainkan sebuah games yang berjudul “ Berbaris Menurut…?

” TAHAP : PERALIHAN • Menjelaskan kegiatan yang akan dijalani : Baiklah teman-teman kita akan memulai kegiatan Bimbingan kelompok ini. • Menanyakan apakah anggota sudah siap : Apakah teman-teman semuanya sudah siap untuk melakukan BKP ini?

• Mempelajari suasana yang terjadi didalam kelompok : (melihat dan memperhatikan sikap setiap anggota kelompok ketika mereka sedang mengatakan “Siap”, dengan menggerakkan kepala dari sebelah kanan ke kiri.) • Bila perlu kembali ke aspek tahap sebelumnya : (jika anggota telah siap maka melanjutkan ketahap selanjutnya, jika belum maka menanyakan kembali apakah anggota sudah siap).

TAHAP : KEGIATAN • Pemimpin kelompok mengemukakan topik bahasan : Baiklah teman-teman, adapun topik BKP kita pada pagi hari ini adalah “ Tidak Konsen Kuliah Dikelas Karena Banyak Tugas“. • Tanya jawab hal yang belum dipahami : Sampai disini adakah yang belum dipahami teman-teman sekalian?

Jika ada silahkan ditanyakan kepada saya, jika tidak kita akan lanjut ketahap selanjutnya. • Anggota kelompok membahas topik sampai tuntas : • Penting : Mengapa penting topik tidak konsen kuliah dikelas karena banyak tugas penting kita bahas? Menyimpulkan : Dari semua pendapat teman-teman sekalian, siapa yang dapat menyimpulkan mengapa topik tidak konsen kuliah dikelas karena banyak tugas penting untuk kita bahas?

• Faktor Penyebab : Apa saja yang menjadi faktor penyebab seseorang tidak konsen kuliah dikelas? Menyimpulkan : Dapat disimpulkan kalian sudah berpendapat dengan baik tentang faktor penyebab seseorang tidak konsen kuliah dikelas (belajar) • Akibat : Apa akibat dari tidak konsen kuliah dikelas walaupun banyak tugas dalam dirinya?

Menyimpulkan : Dapat disimpulkan bahwa akibat/ dampak dari orang tidak konsen kuliah dikelas walaupun banyak tugas adalah…. • Upaya yang dilakukan : Setelah kita mengetahui dampak dari orang tidak konsen kuliah dikelas walaupun banyak tugas, apa saja upaya-upaya yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan konsentrasi belajar kita?

Menyimpulkan : Dari pendapat adik-adik sekalian maka saya menyimpulkan bahwa upaya yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan konsentrasi belajar walaupun ada banyak tugas, adalah….

• Setiap anggota mengemukakan apa yang akan dilakukan setelah membahas topik? Setelah melaksanakan BKP ini, saya ingin mendengar apa komitmen teman-teman sekalian untuk memotivasi diri sendiri. Dan mulai kapan komitmen itu akan dilakukan.

TAHAP : PENGAKHIRAN • Pemimpin mengemukakan bahwa kegiatan akan berakhir : Baiklah teman-teman, beberapa menit lagi kegiatan BKP kita ini akan segera selesai. Terimakasih kepada teman-teman yang telah berpartisipasi dalam kegiatan BKP ini? • Pemimpin meminta anggota kelompok mengemukakan kesan : Setelah melaksanakan BKP ini, apa kesan dari teman-teman sekalian? Dan apa hasil yang didapat dari BKP ini. Silahkan utarakan, dimulai dari. siapa? • Merencanakan kegiatan lanjutan : Baiklah teman-teman sekalian, sampai jumpa di pertemuan selanjutnya.

Mudah-mudahan kita akan bertemu pada kegiatan-kegiatan yang lainnya atau dengan kegiatan BKP ini lagi tetapi dengan membahas topik yang berbeda. • Pesan dan harapan : Apa pesan dan harapan kawan-kawan sekalian tentang kegiatan BKP kita hari ini? • Doa : Baiklah teman-teman, untuk mengakhiri kegiatan BKP ini marilah kita berdoa menurut agama dan kepercayaan kita masing-masing.

Saya memimpin doa untuk teman-teman yang kristen. Doa dimulai. • Lagu/ Games : LAGU : SAYONARA Sayonara… Sayonara… Sampai berjumpa lagi… (2x) Buat apa susah… Buat apa susah… Susah itu tak ada gunanya… (2x) GAME : IKUTI ARAH ANGIN • Pengantar BMB3 : Baiklah kawan-kawan, saya ingin mengetahui apa saja yang kalian dapat dari BKP ini.

Isilah lembar BMB3 ini tentang pengetahuan baru apa yang kalian dapat, apa perasaan, sikap, tindakan dan tanggungjawab kalian setelah kita melakukan BKP ini. Medan, 14 Februari 2017 Pelaksana Layanan Dian Thalia Tyomana Damanik NIM. 115315108
MENU • Home • SMP • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • IPS • IPA • SMA • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • IPA • Biologi • Fisika • Kimia • IPS • Ekonomi • Sejarah • Geografi • Sosiologi • SMK • S1 • PSIT • PPB • PTI • E-Bisnis • UKPL • Basis Data • Manajemen • Riset Operasi • Sistem Operasi • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • Agama • Bahasa Indonesia • Matematika • S2 • Umum • (About Me) 7.6.

Sebarkan ini: Dinamika kelompok merupakan kelompok yang terdiri dari dua/lebih individu yang mempunyai hubungan psikologis dengan jelas antara anggota satu dengan lainnya serta berlangsung dalam situasi yang dialami. Dinamika Kelompok terdiri dari kata dinamika dan kelompok. Kata dinamika berasal dari kata dinamis yang artinya bergerak dan kata kelompok yang berarti sekumpulan orang yang berkumpul dan berinteraksi serta mempunyai tujuan bersama. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian, Fungsi Dan 5 Jenis Panca Indera Manusia Beserta Bagiannya Secara Lengkap Anggota-anggota kelompok diikat oleh satu aturan baik dalam pembicaraan maupun petrilaku (interaksi) tentang sesuatu yang nampaknya berharga (tujuan).

Dengan interaksi timbul pengaruh secara timbal balik antara satu individu dengan individu yang lain atau individu dengan kelompok secara keseluruhan. Dinamika Kelompok ini dipandang sebagai teknik berhubungan antar manusia, dengan maksud agar kualitas hubungan individu dalam kelompok tersebut dapat mengarah kepada perubahan tingkah laku yang positif. Hal itu dilakukan melalui pendekatan andragogi dimana peserta yang lebih berpartisipasi aktif dalam suatu program pelatihan ( diklat). Dalam pelaksanaannya dinamika kelompok ini lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengalami atau melakukan kegiatan untuk memecahakan suatu permasalahan yang bersifat rekreatif, selanjutnya proses tersebut didalam suatu diklat diganti dengan materi yang disesuaiak dengan diklat yang akan dilaksanakan.

Fungsi Dinamika Kelompok Fungsi dari dinamika kelompok itu antara lain: • Membuat kelompok kerjasama saling menguntungkan dalam hal mengatasi persoalan hidup.

• Memudahkan pekerjaan. • Memecahkan masalah pekerjaan yang membutuhkan solusi masalah serta mengurangi beban pekerjaan yang terlampau besar hingga selesai lebih cepat, efisien dan efektif. Salah satunya dengan membagi pekerjaan yang besar menyesuaikan bagian kelompoknya pada masing-masing (sesuai keahlian).

• Menciptakan iklim yang demokratis didalam kehidupan bermasyarakat dengan memungkinkan setiap individu memberikan masukan, berinteraksi, serta mempunyai peran yang sma di dalam masyarakat. Jenis Kelompok Sosial Kelompok sosial merupakan suatu kesatuan sosial yang terdiri dari dua atau lebih individu yang menjalankan interaksi sosial dan ada pembagian tugas, struktur serta norma yang ada. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Penjelasan Suntik Vitamin C Beserta Manfaat Dan Efek Sampingnya • Kelompok Primer Ialah kelompok sosial yang didalamnya ada interaksi sosial yang anggotanya saling mengenal satu sama lain secara dekat, dan berhubungan erat ddalam kehidupan.

Sedangkan meurut Goerge Homans kelompok primer adalah sejumlah orang yang beberapa orang sering berkomunikasi dengan yang lain, sehingga tiap-tiap orang bisa berkomunikasi secara langusng (bertatap muka) tanpa melewati perantara. Contphnya : Keluarga, kawan sepermainan, RT, kelompok agama, dll. • Kelompok Sekunder Bila interaksi sosial terjadi secara tidak langsung, berjauhan, serta sifatnya kurang kekeluargaan.

Hubungan yang terjadi umumnya bersifat objektif. Contohnya: perhimpinan serikat kerja, partai politik dan lainya. • Kelompok Formal Pada kelompok tersebut ditandai dengan adanya Anggaran Dasar atau peraturan, Anggaran Rumah Tamgga (ART) yang ada. Anggotanya diangkat oleh organisasi. Contohnya dari kelompok tersebut merupakan seluruh perkumpulan yang mempunyai AD/ART. • Kelompok Informal Ialah kelompok yang tumbuh dari proses interaksi, kebutuhan seseorang, daya tarik.

Keanggotaan keolompok umumnya tidak teratur serta keanggotaannya ditentukan oleh daya tarik bersama dari individu serta kelompok. Terjadi pembagian tugas yang jelas namun bersifat infirmal dan hanya berdasarkan kekeluargaan serta simpati.

Cotohnya: kelompok arisan. Ciri Dinamika Kelompok Kelompok bisa dinamakan kelompok sisoal, jika mempunyai ciri-ciri sepeti bibawah ini: • Mempunyai motif yang sama antara individu satu dengan lainnya.

(menyebabkan intraksi/kerjasama sebagai pencapaian tujuan yang sama) • Ada akibat-akibat iteraksi yang berlainan antara individu satu dengan yang lain (akibat yang ditimbulkan tergantung rasa serta kecakapan individu yang terlambat) • Adanya pembentukan struktur atau organisasi kelompok dan penugasan yang jelas dsan teradiri dari peran serta kedudukan pada masing-masing. • Adanya peneguhan norma pedoman tingkag laku anggota kelompok yang mengatur interaksi pada suatu kegiatan anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

Keunggulan dan Kelemahan dalam Kelompok Pada proses dinamika kelompok ada faktor yang bisa menghambat ataupun memperlancar proses tersebut yang ada berupa kelebihan ataupun kekurangan pada kelompok tersebut. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Fungsi dan Jenis-Jenis Vitamin Menurut Ahli Kimia • Kelebihan Kelompok • • Adanya keterbukaan antar anggota kelompok untuk menerima dan memberi informasi serta pendapat anggota yang lainnya.

• Kemauan anggota kelompok untuk mendahulukan kepentingan kelompoknya dengan menekan kepentingan pribadi • Mempunyai kemampuan anggota kelompok untuk mendahulukan kepentingan kelompok dengan melakukan tekanan • Kemampuan secara emosional dalam mengungkapkan kaidah dan telah disepakati kelompok. • Kekurangan Kelompok Kekurangan Kelompok Kelemahan pada kelompok bisa disebabkan karena waktu penugasan, tempat atau jarak anggota kelompok yang berjauhan yang dapat memengaruhi kualitas dan kuantitas pertemuan.

Proses Dalam Dinamika Kelompok Bekerja dalam kelompok memang bukan satu-satunya cara untuk dapat bekerja secara efektif. Bagi orang tertentu terkadang tidak memerlukan kerjasama dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.

Namun adakalanya suatu pekerjaan karena sifatnya justru lebih baik bila diselesaikan melalui kerjasama. Ada beberapa pertimbangan aseseorang bekerja sendiri untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Pertimbangan tersebut antara lain : sifat pekerjaan yang lebif efektif bila diselesaikan sendiri, waktu yang mendesak, tanggung apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok dan sumber yang terbatas.

Sedangkan seseorang memilih bekerja dalam kelompok dengan pertimbangan adanya manfaat yang bias diambil apabila pekerjaan tersebut diselesaikan secara berkelompok yaitu : 1. Resiko pekerjaan ditanggung bersama 2.

Sumber yang didapat lebih banyak 3. Terjadi proses belajar dari angota kelompok 4. Kelemahan individu teratasi oleh kelompok 5. Kemampuan memecahkan masalah dan pengambilan keputusan dapat lebih baik.

Agar tujuan bersama dapat tercapai maka kelompok tersebut harus bekerja secara efektif. Kelompok yang efektif adalah kelompok yang dapat memecahkan masalah secara bersama atau dapat mewujudkan suatu sasaran yang disetujui bersama. Kegiatan Apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok Dinamika Kelompok Ada lima bahasan yang dilakukan dalam Dinamika Kelompok yaitu : Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian Jenis dan Fungsi Protein Terlengkap 1.

Pengenalan diri sendiri Pengenalan diri sendiri berarti mengetahui dan memahami diri sendiribaik secara potensi yang dimiliknya maupun cara-cara memberdayakan dan mengembangkan potensi tersebut serta memahami kekurangan dan kelemahan diri. Pengenalan diri sendiri adalah suatu langkah awal untuk dapat menjadi individu yang berhasil dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Sebagai mahkluk sosial kita sangat membutuhkan agar diri kita dapat diterima, disenangi dan dibutuhkan oleh kelompok dan lingkungannya.

Untuk itu setiap individu dituntut agar selalu menyesuaikan diri dengan keinginan kelompok. 2. Pengenalan Orang Lain Apabila dalam usaha pengenalan diri sendiri kita lebih banyak mencari tahu kelemahan dan kekurangan yang ada pada diri sendiri, maka dalam proses pengenalan orang lain lebih banyak berusaha untuk mengenali sisi positifnya agar dapat memanfaatkan kemampuan kita dengan sebaik-baiknya, sehingga tidak mengganggu dalam menyesuaikan diri dengan kelompok.

Usaha untuk mengenal orang lain dapat dilakukan dengan memperhatikan perilaku, gaya dan gerak-gerik serta penampilan dari setiap aktifitas. Selain itru dapat pula dilakukan dengan mencari informasi tentang orang tersebut dari orang-orang yang cukup mengenalnya. Dalam kegiatan Dinamika Kelompok ini banyak memberikan kesempatan kepada peserta untuk saling berinteraksi agar saling mengenal dan terbuka sehungga akan mempercepat proses penyesuaian diri dan menjadikan kelompok tersebut kelompok yang kondusif dalam mencapai tujuan bersama.

3. Komunikasi Komunikasi merupakan inti dari hubungan antar manusia dalam kelompok. Proses komunikasi dapat berlangsung baik dan efektif apabila terjadi pemahaman yang sama antar komunikator selaku pemberi pesan dan komunikan selaku penerima pesan tentang ide atau informasi yang disampaikan.

Agar dapat efektif maka informasi yang akan disampaikan harus memenuhi 5 C yaitu : Clear ( jelas), Complete (lengkap), Concise (ringkas), Correct ( benar) dan Corteous (sopan). 4. Kerjasama Kelompok Pada hakekatnya kerjasama merupakan landasan bagi keberadaan kelompok. Kerjasama berlansung dalam semua proses kelompok dari awal sampai akhir, dimana setiap anggota kelompok saling berinteraksi, berkomunikasi dan berpartisipasi. Setiap individu memiliki peran dan aktifitas sesuai dengan kemampuannya dalam rangka mencapai tujuan bersama.

Kehidupan dalam suatu kelompok baik formal maupun non formal, kelompok kecil maupun besar, kelompok profesi maupun sosial, jika tidak didasarkan kerjasama antar anggota kelompoknya maka kelompok ini akan menjadi mati atau bubar. Usaha menciptakan kerjasama kelompok ini merupakan syarat guna tercapainya tujuan kelompok.

Dengan menyamakan persepsi serta berbekal potensi dalam menyatu paduka kemampuan individi diharapkan kelompok akan berjalan harmonis kearah sasaran yang ditentukan. 5. Norma (aturan) Kelompok Norma kelompok adalah cara melihat atau memandang sesuatu yang dimiliki oleh kelompok berupa sikap, nilai dan aturan permainan bersama.

Norma kelompok diperlukan agar dapat memberikan arah dan isi tentang begaimana anggota kelompok berinteraksi dan berperilaku. Norma kelompok ini tercipta adanya tujuan kelompok dapat berupa consensus, pedoman ataupun peraturan. Apapun bentuknya norma kelompok ini selalu ada di dalam kelompok, karena norma ini akan mempengaruhi perilaku individu dalam kelompok. Kegiatan dalam dinamika kelompok ini bersifat umum yaitu berupa permainan ataupun diskusi untuk memecahakan suatu permalahan.

Untuk menghindari kejenuhan peserta dalam mengikuti pelatihan, kita berikan permainan-permainan yang menarik namun mempunyai refleksi ataupun filosofi bagaimana seharusnya proses dalam kelompok tersebut dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pancasila Sebagai Norma Bernegara Sebarkan ini: • • • • • Posting pada IPS, Umum Ditag aspek aspek dinamika kelompok, aspek dinamika kelompok sosial, Ciri Dinamika Kelompok, contoh dinamika kelompok, contoh dinamika kelompok dalam organisasi, contoh dinamika kelompok dalam perusahaan, contoh dinamika kelompok sosial, contoh kasus dalam dinamika kelompok, dinamika kelompok pdf, dinamika kelompok ppt, dinamika kelompok sosial kurikulum 2013, download buku dinamika kelompok, faktor yang mempengaruhi dinamika kelompok, Fungsi Dinamika Kelompok, hakikat dinamika kelompok, jelaskan pola pola hubungan antar kelompok, jenis jenis dinamika kelompok, Jenis kelompok sosial, jurnal penelitian dinamika kelompok, konsep dasar kelompok, konsep dasar kelompok kerja, konsep dasar kelompok pdf, konsep dinamika kelompok, makalah dinamika kelompok, makalah dinamika kelompok sosial, makalah tentang konsep kelompok, materi dinamika kelompok, materi dinamika kelompok power point, pembelajaran dinamika kelompok, penyebab dinamika kelompok sosial, peranan dinamika kelompok, pertanyaan tentang dinamika kelompok, sejarah dinamika kelompok, soal tentang dinamika kelompok sosial, syarat syarat produktivitas kelompok, teori dinamika kelompok menurut para ahli, unsur unsur dinamika kelompok sosial Navigasi pos Pos-pos Terbaru • Pengertian Coelentarata – Ciri, Habitat, Reproduksi, Klasifikasi, Cara Hidup, Peranan • Pengertian Gerakan Antagonistic – Macam, Sinergis, Tingkat, Anatomi, Struktur, Contoh • Pengertian Dinoflagellata – Ciri, Klasifikasi, Toksisitas, Macam, Fenomena, Contoh, Para Ahli • Pengertian Myxomycota – Ciri, Siklus, Klasifikasi, Susunan Tubuh, Daur Hidup, Contoh • “Panjang Usus” Definisi & ( Jenis – Fungsi – Menjaga ) • Pengertian Mahasiswa Menurut Para Ahli Beserta Peran Dan Fungsinya • “Masa Demokrasi Terpimpin” Sejarah Dan ( Latar Belakang – Pelaksanaan ) • Pengertian Sistem Regulasi Pada Manusia Beserta Macam-Macamnya • Rangkuman Materi Jamur ( Fungi ) Beserta Penjelasannya • Pengertian Saraf Parasimpatik – Fungsi, Simpatik, Perbedaan, Persamaan, Jalur, Cara Kerja, Contoh • Contoh Soal Psikotes • Contoh CV Lamaran Kerja • Rukun Shalat • Kunci Jawaban Brain Out • Teks Eksplanasi • Teks Eksposisi • Teks Deskripsi • Teks Prosedur • Contoh Gurindam • Contoh Kata Pengantar • Contoh Teks Negosiasi • Alat Musik Ritmis • Tabel Periodik • Niat Mandi Wajib • Teks Laporan Hasil Observasi • Contoh Makalah • Alight Motion Pro • Alat Musik Melodis • 21 Contoh Paragraf Deduktif, Induktif, Campuran • 69 Contoh Teks Anekdot • Proposal • Gb WhatsApp • Contoh Daftar Riwayat Hidup • Naskah Drama • Memphisthemusical.Com Selama kita di sekolah, tentu sudah tidak asing lagi dong dengan yang namanya kerja kelompok.

Hampir di semua mata pelajaran, ibu ataupun bapak gurumu pasti pernah meminta para muridnya untuk melakukan kerja kelompok. Pada saat pembagian kelompok, seringkali kita dihadapkan dengan berbagai macam kejadian lucu bahkan menjengkelkan.

Dari yang nggak mau satu kelompok sama Si A lah, bingung mau milih anggota kelompok-lah, dan masih banyak lagi hal seru lainnya. Mau tahu hal-hal apa saja yang sering terjadi ketika sedang pembagian kelompok di sekolah? Yuk langsung kita bahas! unsplash/Brooke Cagle Siapa yang akan bersedia jika disatukan dengan murid yang dikenal pemalas, tukang tidur di kelas, dan tidak ada kontribusinya jika sedang kerja kelompok. Lebih banyak bengongnya ketika belajar, juga nggak ngasih ide dan solusi sama sekali ketika sedang berdiskusi.

Sebenarnya, kamu sendiri tidak akan mau 'kan jika harus satu kelompok dengan murid seperti itu? Tapi, kalau kamu sampai menolak, bisa-bisa kamu malah kena omelan guru lagi. Duh, ikhlasin aja, ya! unsplash/Nikhita S Murid yang dikenal dengan ide-ide cemerlangnya, seringkali menjadi rebutan ketika sedang ada pembagian kelompok.

apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok

Tidak ada satupun yang akan menolak jika harus satu kelompok dengan murid pintar ini. Selain bisa diandalkan dalam mengerjakan tugas, tipe murid yang satu ini juga dianggap bisa meringankan beban yang seringkali dirasakan oleh anggota kelompok lainnya. Kalau kamu sendiri, termasuk murid pintar yang sering jadi rebutan nggak? unsplash/tribesh kayastha Salah satu hal terberat adalah ketika kamu diharuskan untuk mengeluarkan salah satu murid dari kelompokmu. Sulit rasanya untuk mengeluarkan murid tersebut dari kelompokmu itu.

Di satu sisi, kamu tidak ingin dia merasa tersinggung dan sakit hati karena keputusanmu. Tapi di sisi lain, mau tidak mau kamu harus mengeluarkan salah satu di antara mereka karena kelompokmu kelebihan anggota.

unsplash/Capturing the human heart. "Bu aku sama Si A aja, ya! Soalnya 'kan rumah kita deket, biar nanti ngerjainnya gampang bu!" Entah yang dikatakannya itu benar, atau mungkin hanya akal-akalan dia saja. Yang jelas, alasan "Rumah kita deket bu!" pasti pernah kamu dengar pada saat ibu atau bapak gurumu melakukan pembagian kelompok.

unsplash/Randy Fath Pada saat pembagian kelompok berlangsung, rasa khawatir sering kali kamu rasakan. Takut jika anggota yang terpilih mengecewakan, takut jika anggota kelompokmu zonk semua, dan masih banyak lagi kekhawatiran lainnya.

Nah, kalau kamu sendiri, hal apa sih yang paling ditakutkan ketika sedang ada pembagian kelompok di kelas? unsplash/Austin Pacheco "Sial banget sih gue bisa satu kelompok sama lo, udah pindah kelompok aja sana!" (Dengan ekspresi antara kesal dan pengen ketawa). Paling sebel kalau sudah satu kelompok sama murid yang cerewet, nakal, dan nggak bisa diajak serius kalau lagi belajar.

apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok

Apalagi kalau sama murid yang sukanya cuma numpang nama doang. Ingin rasanya aku 'menendang' orang itu. unsplash/Jonny McLaren Dalam setiap kelas, pasti kamu pernah deh menemukan 2 orang murid yang kelakuannya itu kayak Tom dan Jerry. Ribut saja kerjaan mereka berdua itu, tiap kali ketemu bukannya menyapa, malah saling ledek-ledekan dan kejar-kejaran. Tapi, dibalik kelakuan mereka yang sering berantem itu, tersimpan hal-hal lucu yang sering menimbulkan gelak tawa seluruh isi ruangan.

Belum lagi, kalau mereka disatukan dalam kelompok yang sama, puas sekali rasanya melihat kehebohan dan kekocakan mereka itu. Banyak sekali momen-momen lucu, aneh, hingga menjengkelkan yang sering kita temui selama di sekolah. Dan suatu saat nanti, momen-momen itu akan menjadi kenangan yang pasti akan selalu kita rindukan.

Yuk bagikan pengalaman seru-mu yang pernah kamu alami ketika di sekolah. Tulis di kolom komentar, ya! Baca Juga: 12 Tipe Orang yang Pasti Pernah Kamu Temui Ketika Perpisahan Sekolah Berita Terpopuler • Hamas Mulai Bangkit, Menkeu Israel: Ini Semua Kesalahan Netanyahu • 10 Potret Liburan Ayu Ting Ting dan Keluarga ke Jogja, Ayah Rozak Hits • Kamu Workaholic? Waspadai 7 Tanda Kamu Terlalu Keras ke Diri Sendiri • 10 Fakta Elon Musk, Orang Terkaya di Dunia yang Baru Membeli Twitter • Kemenag Sebut Kriteria Jemaah Haji Reguler yang Berangkat Tahun Ini • 10 Potret Baby Ameena dalam Berbagai Ekspresi, Gemasnya Kebangetan • BMKG: Waspada, Suhu Panas Terik Terjadi hingga Pertengahan Mei • Libur Lebaran Usai, Jakarta Kembali Terapkan Ganjil Genap Hari Ini • 10 Momen Nagita Slavina Masak Makan Malam buat Teman-teman Artisnya
Tidak satu orang pun di dunia ini yang tidak berkomunikasi, mulai saat kita terbangun dan sampai kita tidur kita pasti akan berkomunikasi.

Komunikasi memungkinkan seseorang untuk menyampaikan ide-ide dan gagasan tentang apa yang mereka pikirkan dan rasakan.

Jadi dapat dikatakan komunikasi adalah hal yang sangat vital dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari hari. Namun terkadang di era globalisasi ini sering kali kita jumpai masih adanya tindakan kurang pantas yang membuat komunikasi tidak berjalan dengan baik atau sengaja dibuat seperti tidak ada komunikasi sama sekali. Salah satu contohnya adalah masih banyaknya terjadi kasus kekerasan dan pelecehan seksual baik verbal maupun non verbal terhadap wanita dan anak-anak dimana pelecehan seksual merupakan perilaku atau tindakan yang menganggu yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang terhadap pihak lain yang berkaitan langsung dengan jenis kelamin yang diganggunya dan dirasakan menurunkan martabat dan harga diri orang yang diganggunya [i].

Pelecehan seksual yang terjadi dewasa ini mayoritas korbannya adalah kaum perempuan dimana kaum perempun masih dianggap kaum yang lemah dan mudah diperdaya. Sehingga memunginkan kejahatan tersebut terjadi. Teknologi yang ada sekarangpun secara tidak langsung berperan dalam penambahan kasus pelecehan seksual.

Dimana teknologi yang seharusnya sangat berguna bagi pendidikan bisa menjadi media utama pelecehan seksual, seperti halnya media sosial. Korban dari kasus pelecehan seksual kebanyakan tidak berani bersuara atau takut melaporkan kejadian yang dialaminya karena malu dan juga karena tingkat kepedulian aparat mengenai kasus ini sedikit lambat.

Biasanya jika ada kasus pelecehan seksual yang dipojokan selalu kaum perempuan, apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok itulah banyak korban dari kasus pelecehan ini memilih untuk diam dan menutup rapat aibnya. Dari latar belakang yang telah dipaparkan diatas hal tersebut dengan apa yang diungkapkan oleh Shirley Ardener dalam Muted Group Theory (Teori Kelompok Bungkam) yaitu apakah seseorang atau suatu kelompok dapat menyuarakan apa yang mereka inginkan, kapan, di mana, kehendak mereka, ataukah mereka harus mengubah pemikiran yang hendak mereka suarakan dapat diterima di lingkungan sosial.

Ketika seseorang mengubah apa yang mereka ingin katakan agar tidak merasa dikucilkan oleh lingkungan sosialnya, maka orang tersebut termasuk ke dalam kelompok yang terbungkam [iii]. Kelompok bungkam muncul disebabkan karena adanya tekanan dan tindasan terhadap suatu kelompok, baik dalam bentuk ras,gender,pekerjaan dll.

Adanya tekanan dan tindasan yang di tujukan pada suatu kelompok tertentu menyebabkan pembungkaman itu sendiri, namun tidak semua pembungkaman disebabkan oleh tekanan dan penindasan ada juga pembungkaman muncul sebagai akibat ketidakmampuan suatu kelompok atau individu untuk mengungkapkan dan mengekspresikan apa yang sedang di alaminya [iii].

Kaitan pelecehan seksual dengan Teori Kelompok Bungkam terletak pada penggambaran makna perempuan atau wanita yang digambarkan sebagai mahluk yang lemah dan tidak berdaya sehingga wanita sebagian kecil dijadikan objek utama bagi laki-laki. Korban pelecehan seksual kebanyakan tidak berani bersuara atau takut melaporkan kejadian yang dialaminya karena malu. Tahun 1970, seorang antropolog, Edwin Ardener (1975) seorang antropologis sosial dari Oxford University dan Shirley Ardener (1978) sebagai rekan kerjanya menyatakan bahwa kelompok yang menyusun bagian teratas dari urutan tingkat sosial menentuk an suatu sistem komunikasi bagi budaya tersebut.

Kelompok dengan kekuasaan yang lebih rendah seperti wanita, kaum miskin dan warna kulit dimana kelompok tersebut bisa dikatakan kelompok yang dominan. Jadi kelompok dominan di dalam teori kelompok bukam inilah yang mendominasi atau apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok kekuasaan. Shirley Ardener menjelaskan bahwa wanita atau kelompok bawah pasti akan meyuarakan pendapat, tetapi pendapat mereka yang di bicarakan akan tidak didengarkan, pada akhirnya mereka yang berpendapat atau menyampaikan sesuatu pada kelompok dominan tidak akan mendapatkan tanggapan yang sia-sia atau percuma.

Kelompok bungkam dianggap tidak pandai berbicara oleh sistem bahasa kelompok yang dominan. Teori Bungkam dimana kelompok dominan dalam menekan atau membungkam kata, ide, dan wacana dari kelompok marjinal.

Teori ini memandang bahwa bahasa dalam budaya tertentu tidak memungkinkan bagi semua orang untuk berbicara dengan setara. Dengan kata lain bahasa tidak diciptakan setara oleh semua orang.

Dimana perempuan tidak sebebas laki-laki dalam menyampaikan ucapannya kapanpun, dan dimanapun dikarenakan perempuan tidak bisa mengungkapkan ide-idenya.

Teori kelompok yang dibungkam ini kemudian dikembangkan secara lebih lengkap oleh Cheris Kramarae. Kramarae adalah profesor speech communication dan sosiolog di Universitas Illinois. Dia juga profesor tamu di Pusat Studi Perempuan (Center for the Study of Women) di Universitas Oregon, dan baru-baru ini sebagai dekan di Universitas Perempuan Internasional (the International Woman’s University) di Jerman. Kramarae menemukan bahwa perempuan dalam kartun biasanya dilukiskan sebagai emosional, apologetik (peminta maaf/penyesal), dan plin-plan sedangkan pernyataan yang sederhana dan kuat disuarakan oleh laki-laki.

Teori ini telah difasihkan terutama sebagai teori feminis, dengan perempuan sebagai kelompok yang dibungkam, tetapi bisa juga diterapkan pada kelompok budaya terpinggirkan lainnya. Sebagaimana dijelaskan Orbe (1998), “Di dalam masyarakat yang memelihara hubungan kekuasaan yang asimetris, kerangka kelompok yang dibungkam berada.” Dalam lingkup komunikasi, teori ini termasuk konteks kultural yang mengkaji gender dan komunikasi dan salah satu dari teori kritis. Adapun Asumsi-asumsi mengenai Teori Bungkam menurut Cheris Kramarae menyatakan bahwa bahasa adalah konstruksi kaum pria.

Menurutnya, bahasa dalam budaya tertentu tidak memperlakukan setiap orang secara setara, dan tidak semua orang berkontribusi secara berimbang terhadap penciptaan bahasa tersebut.

Wanita tidak sebebas dan memiliki akses yang luas sebagaimana kaum pria dalam mengekspresikan apa yang mereka inginkan, kapan, dan di mana mereka menginginkannya, karena kata-kata dan norma-norma yang digunakan pada dasarnya dibentuk oleh kelompok dominan, yaitu kaum pria itu sendiri.

1. Dimana perempuan memandang dunia secara berbeda dibandingkan laki-laki karena perbedaaan pengalaman dan aktivitas yang berasal dari pembagian kerja antara perempuan dan laki-laki.

Perempuan bertanggung jawab untuk pekerjaan di rumah, sedangkan laki-laki bertanggung jawab untuk pekerjaan di luar rumah atau dengan kata lain perempuan bekerja mengurus rumah tangga, sedangkan laki-laki bekerja mencari nafkah bagi keluarganya. Setelah revolusi industri, banyak perempuan yang bekerja di luar rumah atau menjadi wanita karir. Meskipun begitu, mereka tetap mempunyai tanggung jawab untuk mengurus rumah dan anaknya. Hal ini disebut Arlie Hochschild sebagai waktu kerja kedua (second shift), yakni saat perempuan menghabiskan waktu delapan jam untuk karirnya dan pulang ke rumah untuk mengurus rumah tangga.

2. Karena dominansi politik mereka, sistem persepsi laki-laki adalah dominan, menghambat kebebasan perempuan untuk berekspresi. Asumsi ini menekankan bahwa perempuan sulit untuk mengekspresikan apa yang ingin mereka katakan. Teori ini mengemukakan bahwa orang akan sulit berbicara jika tidak ada kata yang dapat menggambarkan apa yang ada dipikirannya.

3. Untuk dapat berpartisipasi dalam masyarakat, perempuan harus mengubah model mereka sendiri berdasarkan ketentuan yang dapat diterima oleh sistem ekspresi laki-laki. Perempuan harus mengkonseptualisasi apa yang ada dipikirannya, lalu mencari kalimat yang sesuai dengan pikiran laki-laki. Dengan kata lain, perempuan melakukan pengkodean terhadap apa yang ia pikirkan [iv].

Proses Teori Kelompok Bungkam adalah kelompok dominan yang menciptakan dan mengontrol sistem bahasa yang membungkam kelompok masyarakat yang subordinat. Menurut West & Turner (2010) meringkas pemikiran Kramarae bahwa pembungkaman dalam Teori Kelompok Bungkam itu berlangsung melalui penertawaan (ridicule), ritual, pengontrolan, dan pelecehan.

Laki-laki kerap mengolok-olok perempuan sebagai pihak yang cerewet, manja, cengeng, suka bergosip, rewel, dan seterusnya. a. MengejekHouston dan Kramarae dalam West dan Turner (2009) menyatakan bahawa pembicaraan wanita sering kali diremehkan. Pria sering kali memberikan label terhadap pembicaraan wanita sebagai mengoceh, mengomel, merengek dll.

apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok

Anggapan pria bahwa wanita hanya membincangkan hal – hal yang tidak bermakna saja, seperti contohnya pria tidak bisa memahami bagaimana seorang wanita bisa menghabiskan berjam – jam ditelepon hanya untuk berbincang – bincang sesuatu yang tidak penting. Wanita juga tidak menampik hal tersebut karena beberapa wanita sering menyebut perbicaraan sebagai berceloteh ataupun bergosip. Selain itu kekhawatiran wanita sering dianggap remeh oleh pria atau menjadi hal yang tidak penting untuk didengarkan, tetapi wanita diharapkan untuk menjadi pendengar yang baik yang mendukung pria.

c. Control ,Para peneliti telah mengamati bahwa pria mengendalikan banyak keputusan, seperti apa yang harus ada dalam buku sejarah, dan ini menyebabkan sejarah wanita tidak disentuh selain itu media juga dikendalikan oleh pria, contohnya adalah banyaknya liputan olah raga yang dimana presenternya adalah laki – laki, media lebih banyak meliput pertandingan olahraga yang dilakukan oleh para laki-laki ketimbang pertandingan yang dilakukan oleh para perempuan.

Eksistensi perempuan dan beragam praktek komunikasi perempuan mendapatkan perhatian lebih sedikit media. Selain itu, pria sering kali gagal menanggapi pembicaraan pasangan mereka; mereka menolak untuk mempertimbangkan apa yang dibicarakan oleh wanita dan menggeser ke topic yang lebih mereka sukai.

d. Pelecehan, Elizabeth Kissling dalam West dan Turner (2008) menulis mengenai pelecehan di jalan, mengamati bahwa wanita tidak memiliki akses yang bebas di jalan – jalan umum. Pria mengendalikan wilayah public sehingga wanita yang berjalan disana mungkin akan menerima ancaman verbal (terkadang dianggap sebagai pujian).

Kajian ini timbul karena adanya anggapan bahwa antara pria dan wanita memiliki dunia yang berbeda dengan menjelaskan bahwa perbedaan pria dan wanita terletak pada pembagian tugas dan wewenang, dimana persepsi ini timbul sejak munculnya revolusi industri dimana pada masa revolusi industri membutuhkan pegawai yang tangguh dan dapat bekerja keras dan berat, pria lah yang mampu mengerjakan itu semua berbeda dengan masa sebelum revolusi industri kebanyakan penduduk bekerja sebagai petani dan peternak yang pekerjaannya apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok kerjakan bersama sama sehingga antara pria dan wanita memiliki persamaan yang cukup banyak, dan dalam pembagian kerja dilakukan secara bersama sama tanpa ada pembedaan.

Mark Orbe Dan Michael Hecther berpendapat komposisi kelompok bungkam adalah berfokus pada wanita namun pendapat ini di bantah oleh Radhika Chopra beliau menyatakan komposisi kelompok bungkam tidak hanya di alami oleh wanita saja,pria juga dapat menjadi bagian dari kelompok bungkam jika kita mengamati isu - isu pembungkaman dimana ayah yang merawat anaknya tentu saja bukanlah isapan jempol semata ada banyak orangtua (ayah) yang harus merawat anak-anaknya hingga ia melupakan peranannya sebagai pria yang harus aktif dalam kegiatan diluar rumah hal ini menyebabkan kebungkaman ayah dari anak itu sendiri.

Chopra beragumen wacana ayah yang menjadi seorang ibu yang di tampilkan dalam buku Nancy Chodrowmereduksi sang ayah menjadi orang tidak penting yang tak berwujud kehadirannya dianggap sebagai ketidakhadiran bila dibandingkan kehadiran seorang ibu yang sangat vital peranannya, Chopra menyatakan bahwa wacana ini tidak hanya membungkam si ayah, melainkan juga gagal dalam membahas kegiatan menjadi seorang ayah di dalam masyarakat [v].

Kesimpulan dari Teori Kelompok Bungkam adalah adanya tekanan-tekanan dari kelompok dominan kepada kelompok kecil (minoritas) yang menyebabkan terjadinya proses pembungkaman.

Selain itu dominasi suatu kelompok terhadap kelompok lain yang mengakibatkan adanya tekanan-tekanan terhadap kelompok minioritas. Perbedaan persepsi gender yang seakan memposisikan wanita untuk tetap tinggal di rumah mengurus rumah tangga dan mengurus anaknya ini membuat posisi wanita menjadi terputus dengan dunia luar sehingga wanita tidak bisa berinteraksi secara bebas dan ini menimbulkan pembungkaman bagi wanita.

Perbedaan dan tekanan yang menyebabkan terjadinya dan terbentuknya kelompok bungkam, bukanlah khalayan pengarang dan sekedar teori belaka namun kelompok bungkam memang ada di masyarakat kita terkadang kita tidak menyadarinya bahwa kita sendiri telah termasuk kedalam bagian kelompok bungkam.

Perempuan adalah wanita yang istimewa menurut pandangan para lelaki hal itu dapat dilihat dari berbagai aspek yaitu kelembutannya, keibuannya, kegenitannya, dan kemanjaannya, serta sifat-sifat lain yang terkadang sulit untuk ditebak. Sehingga apa yang dipaparkan dalam teori kelompok bungkam sudah tidak sepantasnya lagi terjadi pada masa sekarang karena terlalu menekankan pada masalah aniaya terhadap perempuan.

Teori kelompok bungkam telah dikritik karena tidak memiliki kegunann karena teori ini terlibat dalam esensialisme, atau keyakinan bahwa semua pria pada esensinya adalah sama dan semua wanita pada esensinya adalah sama dan keduannya berbeda satu sama lain.
Kita sebagai manusia merupakan makhluk sosial yang melihat pentingnya berkelompok. Secara alamiah, manusia tidak dapat hidup sendiri.

Dalam memenuhi kebutuhannya pun manusia tidak jauh dari interaksi dengan manusia lain yang ada disekelilingnya. Dengan demikian, hampir seluruh waktu kita habiskan untuk berinteraksi, dididik, belajar serta bermain dalam kelompok. Kelompok terbentuk karena adanya dua orang atau lebih yang memiliki kontak untuk mencapai tujuan. Kelompok memiliki tujuan yang hendak dicapai. Tujuan kelompok adalah suatu keadaan di masa mendatang yang diinginkan oleh anggota kelompok.

Oleh sebab itu masing-masing anggota melakukan berbagai tugas kelompok. Ivan Steiner (dalam Forsyth, 1983) memandang dinamika kelompok melalui dua perspektif, sosiologi dan psikologi. Sosiologi menekankan pada kelompok dan pengaruh pada kelompok tersebut. Sedangkan psikologi memandang individu sebagai diri yang unik. Keunikan ini terlihat dari cara berpikir, emosi, dan sikap pada kelompok.

Durkheim (dalam Forsyth, 1983) lebih berfokus pada hubungan interpersonal pada primary groups. Sedangkan Gustav Le Bon (dalam Forsyth, 1983) lebih memfokuskan pada dinamika individu pada kelompok. Pada akhirnya, dinamika kelompok tidak hanya dimiliki oleh satu disiplin ilmu saja.

Keduanya mampu menjadikan dinamika kelompok sebagai sub bab yang tidak terpisahkan. Anggota kelompok diterima sebagai anggota kelompok dengan menekankan kriteria atau ukuran tertentu. Smith (dalam Johnson & Johnson, 2000) memandang perlunya suatu tindakan penyatuan dari masing-masing anggota terhadap kelompoknya. Pembagian kelompok diharapkan mempunyai kemampuan yang berimbang, sehingga apabila ada anggota yang mempunyai tingkat intelegensi tinggi mampu menginduksi anggota yang lain, sehingga tidak terjadi ketimpangan.

Pandangan ini terjadi karena para ahli mengamati adanya individu-individu yang bergabung dalam satu kelompok, dan mereka merasa yakin bahwa dengan bergabung dengan kelompok tersebut, maka kebutuhan yang ada pada dirinya terpenuhi.

Menurut Cattel (dalam Johnson & Johnson, 2000) kelompok adalah kumpulan individu yang dalam hubungannya dapat memuaskan kebutuhan satu dengan yang lainnya.

Mills (Johnson & Johnson, 2000) menyatakan bahwa kelompok memiliki definisi, sebagai kelompok kecil yang terdiri dari dua atau lebih dalam sebuah hubungan untuk sebuah tujuan dan menganggap bahwa hubungan atau interaksi yang terjadi mempunyai makna. Setiap kelompok memiliki tujuan yang hendak dicapai. Johnson (2000) menjelaskan bahwa kelompok adalah suatu sistem yang diorganisasikan pada dua orang atau lebih yang dihubungkan satu dengan lainnya yang menunjukkan fungsi yang sama, memiliki standar peran dalam berhubungan antar anggota dan memiliki norma yang mengatur fungsi kelompok dan setiap anggotanya.

Pengertian kelompik dapat dilihat dari aspek saling ketergantungan (interdependensi). Cartwright apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok Zender (dalam Johnson & Johnson, 2000) memaparkan bahwa kelompok adalah sekumpulan individu yang melakukan hubungan dengan orang lain (sesama anggota) yang menunjukkan saling ketergantungan yang cukup signifikan.

Interaksi atau hubungan timbal balik merupakan komponen yang penting dalam kelompok, karena dengan hubungan timbal balik tersebut akan ada proses memberi dan menerima informasi antar anggota kelompok (kebutuhan akan informasi terpenuhi). Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa kelompok adalah sekumpulan orang yang terdiri dari dua atau lebih individu yang melakukan interaksi satu dengan yang lainnya yang dapat mempengaruhi pada setiap anggotanya.

Setelah memahami pengertian kelompok dari berbagai sudut pandang, maka dapat melihat bagaimana pembentukan kelompok terjadi. Pembentukan kelompok merupakan salah satu awal dari individu untuk berinteraksi dengan sesamanya.

apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok

Adapun tahap-tahap yang perlu diperhatikan dalam pembentukan kelompok yang pertama kali diajukan oleh Bruce Tackman pada 1965. Teori ini memfokuskan pada cara suatu kelompok menghadapi suatu tugas mulai dari awal pembentukan kelompok hingga proyek selesai.

Tahap pembentukan kelompok Tuckman dapat dilihat sebagai berikut: Contoh : Kelompok kecil mahasiswa ospek yang telah saling mengenal tersebut dihadapkan pada suatu permainan kelompok. Ketika mencari jalan keluar untuk menyelesaikan permainan tersebut, beberapa anggota telah mulai berani mengungkapkan pendapat. Pendapat yang bervariasi memungkinkan terjadinya konflik. Pada tahap ini sudah terdapat kesepakatan antara anggota kelompok. Kelompok mulai menemukan kesesuaian dengan kesepakatan yang mereka buat mengenai aturan-aturan dan nilai-nilai yang digunakan.

Pada tahap ini, anggota kelompok mulai dapat mempercayai satu sama lain seiring dengan melihat kontribusi penting masing-masing anggota untuk kelompok. Norma merupakan standar perilaku yang dapat diterima yang digunakan bersama oleh para anggota kelompok. Norma memberitahukan kepada anggota apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya dilakukan. Norma sebagai elemen dasar dalam struktur kelompok sebagai arahan dan motivasi, pengatur interaksi sosial, serta membuat tanggapan orang lain tersebut dapat diprediksi dan bermakna.

Johnson dan Johnson (2000) menyatakan bahwa norma sebagai keyakinan umum dalam kelompok mengenai perilaku, sikap serta persepsi yang sesuai. Adapun 2 bentuk norma yaitu norma deskriptif dan norma perspektif dimana yang artinya sebagai berikut: · Norma deskriptif merupakan apa yang sering dilakukan, dirasakan, serta dipikirkan oleh orang ketika sedang berada dalam suatu situasi tertentu. Contoh: ketika di jalan tol ada himbauan bagi kendaraan yang berjalan lambat untuk berjalan di bahu kiri dan bagi kendaraan yang ingin mendahului dan melaju cepat untuk berjalan di lajur kanan.

Kelompok kadang mengadopsi norma sebagai aturan kelompok mereka, tetapi norma-norma kebanyakan muncul secara bertahap karena anggota kelompok mencoba menyelaraskan perilaku mereka sampai mereka sesuai dengan standar tertentu. Dalam proses perkembangan norma, ada seorang peneliti bernama Muzafer Sherif (Forsyth, 1983) yang mencerminkan bagaimana orang-orang dalam kelompok dari waktu ke waktu datang untuk mengembangkan standar yang berfungsi sebagai kerangka acuan bagi perilaku dan persepsi.

Sherif mempelajari perkembangan norma dengan mengambil keuntungan dari gerak refleks. Dalam penelitiannya, Sherif menemukan bahwa individu cenderung mengambil keputusan itu sendiri. Akan tetapi ketika individu tersebut telah berada dalam sebuah kelompok, pada sesi pertama dalam kelompok, individu tersebut mulai mempertimbangkan keputusan lain dari anggota kelompok lainnya.

Selanjutnya, keputusan individu tersebut menjadi satu keputusan kelompok. Proses bersatunya keputusan menjadi satu keputusan dalam kelompok oleh Sherif disebut sebagai funnel pattern atau motif corong. Menurut Sherif, norma berkembang karena adanya interaksi antar anggota kelompok tersebut. Sherif menyimpulkan bahwa norma-norma baru berkembang dalam kelompok bila konteksnya menyediakan sedikit informasi untuk menuntun tindakan atau untuk memungkinkan anggota untuk menyusun keyakinan.

Menurut Kelman (dalam Forsyth, 1983) mereka yang mematuhi norma kelompok bahkan ketika tidak ada tekanan eksternal untuk melakukannya, menunjukkan bahwa mereka secara pribadi menerima standar tersebut sebagai milik mereka. Kelompok juga menginternalisasikan norma yang ada pada kelompok mereka dengan cara menerima norma tersebut sebagai standar yang pasti bagi perilaku mereka.

Dalam suatu kelompok masing-masing anggota tentu tidak melakukan hal yang sama dalam mencapai tujuan. Setiap anggota memiliki tugas dan fungsi apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok berbeda sesuai dengan harapan. Dengan kata lain, anggota kelompok yang berbeda tentu akan memainkan peran yang berbeda.

apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok

Contoh: tugas dan tanggung jawab seorang direktur adalah memimpin perusahaan. Tugas karyawan adalah mengikuti perintah atasannya. Terkadang masyarakat sengaja menciptakan perannya. Hal ini ditunjukkan dalam kelompok untuk memperjelas eksistensi mereka. Tidak hanya formal group structure yang dibentuk, namun kelompok juga akan kemungkinan membentuk informal group structure. Hal ini mengidentifikasikan peran dari masing-masing anggota kelompok yang bervariasi.

Forsyth (1983) menyatakan bahwa role differentiation adalah perbedaan peran dalam suatu kelompok, misal menjadi pemimpin, pengikut, atau pengeluh. Dalam suatu kelompok tentulah tidak akan memiliki peran yang sama pada anggotanya.

Ada yang berperan sebagai pemimpin sehingga dituntut untuk optimis. Meskipun bukan menjadi jaminan bahwa dengan status tertentu, setiap anggota di asosiakan dengan sifat terrtentu. Terdapat perbedaan dengan ketiganya karena setiap anggota akan tidak mudah untuk mencapai task role dan sociemotional role secara bersamaan.

Masing-masing telah memiliki spesifikasinya sendiri. Spesi fikasi tugas cenderung untuk mendapatkan pertanyaan lagi, menampilkan ketegangan, antagonisme, dan perselisihan.

S edangkan spes ifikasi sosioemosional menerima demostra si dari solidaritaspengurangan ketegangan, dan solusi dari masalah. Namun bukan berarti anggota kelompok tidak mampu menjalankan sekaligus. Bahkan ketika anggota kelompok melakukan keduanya, maka peran mereka akan menjadi lebih efektif. · Role conflict : Konflik yang terjadi secara intragroup dan intraindividual yang merupakan hasil dari apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok peran. Misalnya ketika seseorang mengalami pergolakan dengan perannya sendiri akibat dari peran oranglain yang tidak sesuai sehingga mengacaukan perannya sendiri.

Hal inilah yang dinamakan intrarole conflict. Namun apabila ketidakcocokan antara dua peran sekaligus hal ini dinamakan interrole conflict.Pengertian Kelompok Sosial – Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan interaksi dengan sesamanya.

Kebutuhan interaksi ini merupakan kebutuhan mendasar yang jika tidak dipenuhi, manusia bisa merasakan jenuh bahkan sampai stress. Kita lihat akibat pandemi Covid19 seperti sekarang ini, banyak laporan menyebutkan tingkat stress masyarakat meningkat. Keterbatasan interaksi sosial yang mendadak menjadi salah satu sebabnya.

Kelompok-kelompok sosial berkurang dan jarang berkumpul seperti dulu. Seberapa besar apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok peran kelompok sosial? Grameds, yuk kita bahas bersama tentang kelompok sosial. Daftar Isi • A. Pengertian Kelompok Sosial • 1. Soerjono Soekanto • 2.

George Homans • 3. Paul B. Horton dan Chester Chester L. Hunt • B. Proses Terbentuknya Kelompok Sosial • 1. Dorongan untuk bertahan hidup • 2. Dorongan untuk meneruskan garis keturunan • Anda Mungkin Juga Menyukai • 3. Dorongan meningkatkan efektivitas dan efisiensi pekerjaan • C. Kelompok Sosial VS Kelas Sosial • D. Macam-macam Kelompok Sosial • 1. Kelompok Sosial Berdasarkan Proses Terbentuknya • a. Kelompok semu • 1). Kerumunan atau crowd • 2). Massa • 3). Publik • b. Kelompok nyata • 1).

Kelompok statistik • 2). Kelompok Masyarakat • 3). Kelompok masyarakat khusus • 4). Kelompok asosiasi • 2. Kelompok Sosial Berdasarkan Ikatan Anggota • a. Etnis • b. Bangsa • c. Masyarakat • d. Paguyuban • e. Patembayan • f. Komunitas • g. Organisasi sosial • E.

Klasifikasi Kelompok Sosial • F. Syarat Kelompok Sosial • 1. Adanya interaksi antar anggota • 2. Interdependen • 3. Kesadaran • 4. Adanya kesamaan • 5. Rasa menjadi bagian • 6. Struktur • 7. Mempunyai sistem dan terus menjalankan proses berkembang. • G. Ciri-ciri Kelompok Sosial • H. Nilai dan Norma yang Berlaku Dalam Kelompok Sosial A.

Pengertian Kelompok Sosial Seperti biasa, definisi terkadang tidak dapat mendeskripsikan gambaran yang benar-benar tepat apa yang didefinisikan karena keterbatasan kata, diksi, atau metafora. Namun dengan definisi, setidaknya kita bisa memahami sesuatu mendekati pengertian sebenarnya.

Definisi tentang kelompok sosial telah diungkapkan oleh banyak ahli. Berikut ini merupakan pendapat para ahli mengenai kelompok sosial: 1. Soerjono Soekanto Profesor sosiologi dari Universitas Indonesia tersebut mendefinisikan kelompok sosial sebagai kesatuan-kesatuan atau himpunan manusia yang hidup berdampingan karena memiliki hubungan yang saling timbal balik dan saling mempengaruhi satu sama lain.

2. George Homans Sosiolog asal Amerika Serikat ini mendefinisikan kelompok sosial sebagai kumpulan individu yang saling berinteraksi, melakukan kegiatan, dan memiliki perasaan yang mendorong untuk membentuk sesuatu yang terorganisir secara menyeluruh dan saling timbal balik.

3. Paul B. Horton dan Chester Chester L. Hunt Kedua sosiolog ini mendefinisikan kelompok sosial sebagai sekumpulan manusia yang sadar akan keanggotaannya sebagai makhluk sosial kemudian saling berinteraksi satu sama lain.

B. Proses Terbentuknya Kelompok Sosial Fitrah manusia sebagai makhluk sosial mendorong manusia untuk berinteraksi dengan sesamanya.

Manusia saling membutuhkan satu sama lain. Karena sifat dasar tersebut, kelompok sosial dengan mudah terbentuk secara alami. Adanya interaksi menjadikan mereka berkumpul, membuat kelompok baik terorganisir atau tidak, lalu membuat kegiatan di dalamnya. Semakin panjang interaksi mereka, semakin kuat ikatan yang terjalin.

Semakin kuat ikatan tersebut, semakin kuat persatuan dan kesatuan di dalam kelompok tersebut. Kuatnya ikatan perasaan di dalam kelompok tersebut dipengaruhi oleh kesamaan dalam tujuan, pemikiran, hobi, cita-cita, perilaku, dan sebagainya. Selain itu, ada beberapa dorongan yang menjadikan manusia butuh untuk berkelompok. Pendorong-pendorong tersebut dapat dijabarkan melalui penjelasan di bawah ini: 1. Dorongan untuk bertahan hidup Salah satu kebutuhan manusia adalah dengan bersosialisasi dengan sesamanya.

Hal ini disebabkan oleh kebutuhan manusia untuk saling tolong menolong. Melakukan kegiatan ekonomi saja, manusia memerlukan manusia lainnya, baik sebagai produsen, distributor, ataupun konsumen.

Rp 63.000 2. Dorongan untuk meneruskan garis keturunan Kebutuhan lain manusia yang tidak mungkin dapat dicapai oleh dirinya sendiri adalah memiliki garis keturunan. Untuk mempunyai keturunan, seseorang harus menikahi lawan jenisnya. Dari pernikahan tersebut akan terbentuk kelompok sosial kecil berupa keluarga. 3. Dorongan meningkatkan efektivitas dan efisiensi pekerjaan Pekerjaan yang dilakukan seorang diri, terlebih tanpa pembagian tugas dan manajemen yang baik tentunya sangat melelahkan.

Bayangkan saya misalnya dalam sebuah keluarga, seorang ibu harus mencari nafkah, membereskan urusan rumah tangga, mendidik anak, memasak, dan lain-lain dan semua itu dikerjakan sendiri, tentu melelahkan. Tidak adanya efektivitas, efisiensi, dan pembagian tugas dalam pekerjaan menyebabkan pekerjaan terasa sangat berat.

Hingga terbentuklah bermacam-macam kelompok sosial. Ada yang berdasarkan hobi. Ada yang berdasarkan cita-cita. Ada yang berdasarkan pemikiran.

apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok

Bahkan ada yang berdasarkan kesamaan nasib. Mereka membentuk kelompok sosial untuk saling menguatkan satu sama lain. Karena pada dasarnya, manusia akan kesulitan untuk berjuang sendiri. C. Kelompok Sosial VS Kelas Sosial Kelompok sosial berbeda dengan kelas sosial. Jika kelompok sosial terbentuk secara alami karena adanya ikatan perasaan dan kebutuhan, kelas sosial tercipta karena adanya perbedaan tingkatan antara manusia satu dengan manusia lainnya.

Kelas sosial pada umumnya muncul karena adanya pihak yang menganggap diri atau kelompoknya lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain. D. Macam-macam Kelompok Sosial Kelompok sosial terbagi menjadi beberapa macam dan kategori.

Berdasarkan proses terbentuknya, kelompok sosial terbagi menjadi kelompok semu, kelompok nyata, kelompok statistik, kelompok statistik, kelompok kemasyarakatan, kelompok masyarakat khusus, dan kelompok asosiasi. Sementara berdasarkan ikatan antar anggotanya, kelompok sosial terbagi menjadi kelompok sosial etnis, bangsa, masyarakat, paguyuban, patembayan, komunitas, dan organisasi sosial. Penjelasan lebih rinci akan kita bahas di bawah ini. Yuk Grameds check it out!

apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok

1. Kelompok Sosial Berdasarkan Proses Terbentuknya a. Kelompok semu Kelompok semu terdiri dari orang-orang yang terbentuk sementara secara spontan dan tidak memiliki identitas, aturan, ikatan, ataupun tujuan bersama. Dalam kelompok semu, interaksi dan komunikasi hanya bersifat sementara dan tidak mengikat.

Oleh karena itu, kelompok semu tidak bertahan lama. Berdasarkan ciri-ciri tersebut, contoh kelompok semu adalah: 1). Kerumunan atau crowd Kerumunan merupakan kumpulan yang terjadi secara spontan dan tidak teratur.

Kerumunan terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu: – Kerumunan formal ( formal crowds) Kerumunan yang mempunyai pusat perhatian yang sama. Contoh: penonton sepak bola, penonton bioskop, dan sebagainya. – Kerumunan terencana yang ekspresif (Planned expressive group) Kerumunan yang terencana, tidak mempunyai pusat perhatian yang sama, namun memiliki tujuan yang sama. Contoh: orang yang menghadiri pesta, orang yang rekreasi, dan sebagainya.

– Kerumunan santai namun tidak nyaman ( Inconvenient Causal Crowds) Kerumunan yang terbentuk karena adanya kebutuhan untuk menggunakan fasilitas umum di suatu tempat. Contoh: orang sedang menunggu bis, orang sedang menunggu antrian, dan lain-lain. Kerumunan yang terbentuk karena adanya suatu peristiwa tertentu. Contoh: kerumunan karena adanya penampakan UFO di langit atau pergerakan indah dari sekelompok burung, dan sebagainya. – Kerumunan yang melawan hukum ( Acting Lawless Crowds) Kerumunan yang terbentuk karena adanya sebuah tindakan yang melawan hukum.

Contoh: tawuran, pengeroyokan, dan sebagainya. – Kerumunan yang berlawanan dengan moral ( Immoral Lawless Crowds) Kerumunan ini terbentuk karena kumpulan orang yang melakukan kegiatan yang berlawanan dengan nilai dan norma-norma yang dianut oleh masyarakat tertentu. Contoh: kerumunan orang mabuk. Sma/Ma Buku Interaktif Kl.10 Sosiologi Peminatan Smt.1 Rev.2 2). Massa Kelompok sosial jenis ini hampir sama dengan kerumunan, bedanya massa direncanakan dan diorganisir.

Massa sifatnya tidak spontan. Contoh: Demonstrasi, kampanye, parade, dan lain-lain. 3). Publik Publik merupakan kumpulan individu dalam jumlah besar namun secara fisik tidak harus berada di satu tempat yang sama. Publik biasanya direncanakan dan tidak jarang satukan karena alat komunikasi. Contoh: pemirsa TV dan youtube. b. Kelompok nyata Kelompok nyata merupakan kelompok sosial yang bersifat tetap. Sebagian besar kelompok yang ada di masyarakat merupakan kelompok nyata. Kelompok nyata terbagi menjadi beberapa jenis lagi, yaitu: 1).

Kelompok statistik Biasanya, kelompok sosial jenis ini ada karena keperluan penelitian. Kelompok ini tidak terorganisir, apalagi terencana. Tidak ada kesadaran berkelompok dalam kelompok statistik dan ada karena disesuaikan dengan kepentingan.

Contoh: kelompok penduduk usia 17-65 tahun, kelompok remaja yang mempunyai akun media sosial, dan lain-lain. 2). Kelompok Masyarakat Kelompok sosial yang terbentuk karena adanya kesamaan kepentingan di antara anggotanya.

Namun demikian, kesamaan kepentingan tersebut tidak lantas menjadikan kepentingan bersama dalam kelompok ini. Kelompok ini terbentuk secara alami dan spontan, tanpa perlu direncanakan.

Kelompok masyarakat memungkinkan adanya sarana kesadaran berkelompok dan interaksi karena adanya sarana pemersatu. Sifatnya tetap dan memiliki kemungkinan tidak dibatasi oleh wilayah. Contoh: 3). Kelompok masyarakat khusus Kelompok ini terbentuk karena adanya kesamaan yang khusus dan lebih spesifik di antara anggotanya. Kesamaan tersebut bisa berupa usia, gender, tempat tinggal, pekerjaan, dan lain-lain. Kelompok ini terbentuk secara alami dan biasanya terbentuk karena ketersediaan sarana untuk bersatu.

Anggotanya memiliki kesadaran dalam berkelompok dan interaksi yang kontinu. 4). Kelompok asosiasi Kelompok ini memiliki sifat tetap. Keberadaannya sengaja dibentuk dan direncanakan dengan baik. Biasanya kelompok ini mempunyai organisasi yang kuat dan memiliki sistem yang terorganisir dengan baik.

2. Kelompok Sosial Berdasarkan Ikatan Anggota a. Etnis Etnis atau suku merupakan kelompok sosial yang pengelompokannya didasarkan pada kemiripan dalam hal garis keturunan. Selain itu, etnis juga mempunyai kemiripan budaya, bahasa, dan ideologi apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok sama. Kesamaan-kesamaan tersebut menentukan seseorang diakui atau tidak dalam etnis tertentu.

Contoh: persatuan ikatan mahasiswa etnis tertentu, persaudaraan etnis tertentu, dan sebagainya. b.

apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok

Bangsa Bangsa merupakan kelompok sosial yang pengelompokannya disatukan oleh nasionalisme pada negara. Bangsa terbentuk karena adanya penderitaan, sejarah, nasib, dan perjuangan yang sama. Contoh: Bangsa Indonesia, Bangsa Jerman, Bangsa Amerika, dan lain-lain. c. Masyarakat Kelompok sosial jenis ini merupakan kelompok sosial yang cakupannya luas dan ciri-cirinya beragam.

Pada umumnya, masyarakat dikelompokkan berdasarkan wilayah tempat tinggal, mata pencaharian, kemajuan peradaban, dan lain-lain. Contoh: netizen, masyarakat desa, masyarakat kota, masyarakat Pulau Jawa, dan lain-lain. Sosiologi Komunikasi Massa d. Paguyuban Paguyuban merupakan kelompok sosial yang terbentuk karena adanya ikatan batin yang kuat. Dalam prakteknya, tidak jarang gotong royong dan tolong-menolong antar anggota didasari ketulusan tanpa kepentingan dan pamrih.

Beberapa diantaranya memiliki garis keturunan yang sama. Beberapa yang lain diikat oleh rasa kebersamaan dan solidaritas. Paguyuban memiliki ciri-ciri intim (Hubungan yang erat dan menyeluruh), privat (hubungannya bersifat pribadi), dan eksklusif (hanya untuk “kita” saja, selain “kita” tidak termasuk). Contoh: keluarga inti, keluarga besar, rukun tetangga, dan sebagainya. e. Patembayan Patembayan adalah kelompok sosial yang memiliki ikatan lahiriah, biasanya kurang disertai adanya ikatan batin.

Sehingga dalam prakteknya, interaksi dilakukan karena adanya kepentingan satu sama lain. Hal ini berisiko ikatan kelompok ini sifatnya tidak berjangka panjang. Terbentuknya patembayan didasari atas pemikiran rasional yang lebih mempertimbangkan untung-rugi ikut serta di dalamnya. Jika seseorang anggota sudah tidak memiliki kepentingan apapun, dia bisa keluar sewaktu-waktu dari kelompok.

Contoh: ikatan antar pedagang, ikatan pengusaha, ikatan alumni sekolah, serikat pekerja, dan sebagainya. f. Apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok Komunitas adalah kelompok sosial yang terdiri dari orang-orang yang memiliki kesamaan karakteristik seperti hobi, geografi, profesi, agama, ras, dan lain-lain. Di dalam komunitas, memungkinkan terjadinya interaksi yang saling membantu sehingga ikatan perasaan cukup kuat di dalamnya.

Contoh: komunitas pendaki gunung, komunitas gowes, komunitas fotografi, dan lain-lain. g. Organisasi sosial Organisasi sosial merupakan kelompok sosial yang memiliki struktur yang jelas. Masing-masing anggota memiliki tugas dan peran masing-masing. Dan semua diatur dengan rapi, spesifik, dan terukur. Organisasi sosial keanggotaannya bersifat resmi dan sifat lembaganya memiliki identitas yang jelas dan diakui.

E. Klasifikasi Kelompok Sosial Kelompok sosial dibagi menjadi beberapa klasifikasi, yaitu sebagai berikut: • Berdasarkan atas cara terbentuknya, seperti kelompok semu dan kelompok nyata.

• Berdasarkan kualitas hubungan antar anggotanya, seperti kelompok primer (hubungan cenderung informal) dan kelompok sekunder (hubungan cenderung formal). • Berdasarkan kekuatan ikatan antar anggotanya, seperti paguyuban dan patembayan. • Berdasarkan pencapaian tujuannya, seperti kelompok formal (mempunyai aturan sendiri) dan kelompok informal (memiliki tujuan bersama namun tidak resmi).

F. Syarat Kelompok Sosial Sebuah kelompok dapat dikatakan sebagai kelompok sosial jika memenuhi beberapa syarat di bawah ini, yaitu: 1. Adanya interaksi antar anggota Adanya kelompok sosial untuk mewadahi interaksi anggotanya. Sebuah kelompok yang tidak memiliki interaksi tidak dapat dikatakan sebagai kelompok, melainkan hanya kumpulan individu.

2. Interdependen Anggota satu dengan lainnya saling mempengaruhi perilaku dan sikap. 3. Kesadaran Setiap anggota memiliki kesadaran akan keterlibatannya di dalam kelompok tersebut. 4. Adanya kesamaan Adanya kesamaan, baik itu nasib, penderitaan, daerah, profesi, dan lainnya, dapat mempererat ikatan antar anggota. 5. Rasa menjadi bagian Perasaan dan persepsi ini harus dimiliki oleh anggota dari kelompok sosial.

Dengan merasa menjadi bagian kelompok, seseorang dapat merasakan manfaat adanya kelompok sosial. 6. Struktur Adanya struktur akan menuntun anggota untuk melaksanakan peran dan tugasnya sebagai bagian dari kelompok sehingga keberadaan kelompok sosial dapat dirasakan. 7. Mempunyai sistem dan terus menjalankan proses berkembang. G. Ciri-ciri Kelompok Sosial Jika ditemukan ciri-ciri seperti di bawah ini, maka bisa dikatakan sebagai kelompok sosial: • Adanya motivasi, dorongan, dan motif yang sama antara satu individu dengan lainnya.

• Adanya pembagian tugas atau penegasan fungsi sehingga masing-masing memiliki kesadaran peran dan wewenangnya di dalam kelompok. • Adanya akibat dari interaksi yang dilakukan oleh anggota satu dengan anggota lainnya. • Terbentuknya norma di dalam kelompok yang sesuai dengan nilai-nilai yang diusung oleh anggota. • Kepentingan berjalan dan berproses. • Ditemukannya pergerakan yang dinamis dalam aktivitasnya. H. Nilai dan Norma yang Berlaku Dalam Kelompok Sosial Interaksi yang terjadi di dalam kelompok sosial membentuk kebiasaan dan kekhasan di dalamnya.

Hal ini terjadi dalam semua hal, termasuk nilai-nilai dan norma yang dijunjung oleh kelompok sosial tersebut. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh kelompok sosial diharuskan untuk sesuai dengan nilai dan norma yang ada di dalamnya. Kegiatan yang tidak sesuai dengan nilai dan norma kelompok akan ditolak karena tidak mencerminkan kepribadian kelompok dan melenceng dari tujuan dibentuknya kelompok sosial tersebut.

Saat penerimaan anggota baru pun, beberapa kelompok sosial membuka rekrutmen dengan sistem seleksi siapa saja yang cocok dengan nilai dan norma yang berlaku. Kalaupun tidak ada seleksi, biasanya anggota baru menyesuaikan dengan nilai dan norma tersebut agar kehadirannya diterima secara sosial. Baca juga artikel terkait “Pengertian Kelompok Sosial” : • Pengertian Perubahan Sosial • Contoh Masalah Sosial di Indonesia • Pengertian Interaksi Sosial • Pengertian Lembaga Sosial • Pengertian Struktur Sosial • Daftar Suku Bangsa di Indonesia • Pengertian Diferensiasi Sosial Grameds, demikianlah pembahasan kita mengenai kelompok sosial.

Gramedia bercita-cita untuk menjadi yang terdepan dalam menjadi #SahabatTanpaBatas dengan menyajikan buku-buku terbaik kami untuk Anda semua. Kategori • Administrasi 5 • Agama Islam 126 • Akuntansi 37 • Bahasa Indonesia 95 • Bahasa Inggris 59 • Bahasa Jawa 1 • Biografi 31 • Biologi 101 • Blog 23 • Business 20 • CPNS 8 • Desain 14 • Design / Branding 2 • Ekonomi 152 • Environment 10 • Event 15 • Feature 12 • Fisika 30 • Food 3 • Geografi 62 • Hubungan Internasional 9 • Hukum 20 • IPA 82 • Kesehatan 18 • Kesenian 10 • Kewirausahaan 9 • Kimia 19 • Komunikasi 5 • Kuliah 21 • Lifestyle 10 • Manajemen 29 • Marketing 17 • Matematika 20 • Music 9 • Opini 3 • Pendidikan 35 • Pendidikan Jasmani 32 • Penelitian 5 • Pkn 69 • Politik Ekonomi 15 • Profesi 12 • Psikologi 31 • Sains dan Teknologi 30 • Sastra 32 • SBMPTN 1 • Sejarah 84 • Sosial Budaya 98 • Sosiologi 53 • Statistik 6 • Technology 26 • Teori 6 • Tips dan Trik 57 • Tokoh 59 • Uncategorized 31 • UTBK 1
Cara-Cara Mengatasi/Menyelesaikan Konflik Yang Terjadi Dalam Kelompok Masyarakat – Konflik pasti akan terjadi dalam kehidupan kita, konflik bisa terjadi antar individu, antar kelompok ataupun antar individu dengan antar kelompok.

Konflik yang terjadi tersebut pastinya harus kita selesaikan atau kita tangani baik secara baik, seperti melalui perdamaian ataupun dengan jalan yang kurang baik, seperti melalui kekerasan atau jalan lain. Kali ini kita akan membahas tentang cara penyelesaian konflik dalam kelompok dan cara mengatasi konflik dalam masyarakat. 2.2 Cara mengatasi konflik melalui kerja sama Cara Penyelesaian Konflik Dalam Kelompok Konflik yang terjadi dalam kelompok dapat dipecahkan atau diatasi dengan beberapa cara, seperti berikut: Komunikasi Komunikasi yang lancar antar anggota kelompok dapat menghindari kesalapahaman sehingga akan lebih mudah menyelesaikan masalah yang terjadi.

Cari Tahu Akar Konflik Setiap anggota kelompok harus dapat mencari tahu akar atau sumber terjadinya konflik, agar kelompok dapat mengatasi konflik yang terjadi.

Bersikap Fleksibel Setiap anggota kelompok harus bersikap fleksibel sehingga akan selalu ada jalan untuk mengatasi konflik yang terjadi dalam kelompok. Adil Adil dalam kelompok berarti artinya setiap anggota menempatkan diri dengan netral, tidak memihak pada salah satu pihak yang berkonflik atau memperkeruh suasana. Bersekutu Untuk mengatasi konflik yang terjadi kita harus memiliki sikap bersekutu sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Cara Mengatasi Konflik Dalam Masyarakat Cara mengatasi konflik melalui akomodasi Akomodasi apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok usaha untuk meredakan pertentangan atau konflik agar tercapai stabilitas atau cara menyelesaikan suatu konflik atau pertentangan tanpa mengalahkan atau menghancurkan pihak lawan sehingga pihak lawan tidak merasa kehilangan kepribadiannya.

Tujuan akomodasi Ada beberapa tujuan terjadinya akomodasi, antara lain : • Mengurangi pertentangan akibat perbedaan paham • Mencegah terjadinya pertentangan sementara wakktu • Mewujudkan terjadinya kerja sama antara kelompok-kelompok yang berkonflik akibat dampak psikologis dan budaya • Memungkinkan terjadinya asimilasi Bentuk-bentuk akomodasi Bentuk akomodasi ada banyak. Berikut ini kami jabarkan satu persatu tentang bentuk-bentuk akomodasi.

Coersion adalah bentuk akomodasi secara paksaan Compromise adalah pihak-pihak yang berselisih saing mengurangi tuntutannya Arbritasi adalah penyelesaian konflik oleh pihak lain (pihak ke tiga) dan keputusannya bersifat mengikat Toleransi adalah penyelesaian konflik secara kekeluargaan (tidak formal) Mediasi adalah penyelesaian konflik yang dibantu oleh pihak ketiga yang bertugas sebagai penasehat dan hasil keputusannya tidak mengikat atau tidak wajib diikuti oleh pihak yang sedang berkonflik.

Konversi adalah penyelesaian konflik dengan salah satu pihak rela mengalah dan menerima pendirian pihak lain Konsilisasi adalah penyelesaian konflik dengan mempertemukan pihak yang bertikai agar mendapatkan kesepakatan bersama Ajudikasi adalah penyelesaian konflik melalui pengadilan secara formal Stalemate adalah mengurangi ketegangan dari pihak yang sedang terlibat berkonflik dengan cara berhenti untuk sementara, karena kedua pihak memiliki kekuatan yang seimbang Segregasi adalah upaya saling menghindar dan saling memisahkan diri dari pihak yang bertikai agar mengurangi ketegangan Sease fire adalah menangguhkan permusuhan dalam jangka waktu tertentu sambil mengupayakan penyelesaian yang baik dan tidak merugikan kedua belah pihak.

Istilah lainnya adalah genjatan senjata Displacement adalah usaha mengakhiri konflik dengan mengalihkan pada objek yang sama Cara mengatasi konflik melalui kerja sama Kerja sama adalah proses sosial yang dilakukan individu untuk memenuhi kebutuhan manusia. Kerja sama dalam masyarakat akan terjadi jika mengadapi situasi, seperti sebagai berikut : • Tantangan alam yang ganas • Pekerjaan massal • Upacara keagamaan • Musuh bersama • Dan lain sebagainya Bentuk-bentuk kerja sama Kerjasama memiliki berbagai bentuk, antara lain : Apa yang terjadi jika tidak ada pembagian tugas dalam kelompok adalah pelaksaan perjanjian mengenai pertukaran barang atau jasa antar dua organisasi atau lebih.

Cooperation adalah proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan organisasi untuk menghindari terjadinya instabilitas atau kegoncangan dalam organisasi yang bersangkutan. Coalition adalah gabungan dua organisasi atau lebih yang memiliki tujuan yang sama. Joint venture adalah kerjasama dalam hal-hal tertentu, contohnya : kerja sama proyek. Demikian penjelasan yang bisa kami sampaikan tentang Cara-Cara Mengatasi Konflik Yang Terjadi Dalam Kelompok Masyarakat Semoga bermanfaat dan sampai jumpa pada postingan selanjutnya.

Posted in IPS, sosiologi, Uncategorized Tagged artikel cara mengatasi konflik sosial, bagaimanakah dampak sebuah konflik dalam suatu masyarakat, bentuk bentuk konflik, cara mengatasi konflik, cara mengatasi konflik dalam organisasi, contoh konflik, dampak konflik, jenis jenis konflik, macam macam konflik, makalah cara mengatasi konflik, mengapa konflik dapat meningkatkan solidaritas in group, pengertian konflik menurut para ahli, penyebab konflik, penyelesaian konflik sosial lengkap, penyelesaian konflik sosiologi, teori penyelesaian konflik Post navigation Recent Posts • Pengertian Galaksi Bima Sakti, Sejarah, Teori, Ciri dan Pergerakan Galaksi Bima Sakti Lengkap • Pengertian Black Hole, Sejarah, Teori, Sifat, Karakteristik dan Jenis Black Hole (Lubang Hitam) Lengkap • Pengertian Uterus, Struktur Bagian dan Fungsi Uterus (Rahim) Lengkap • Pengertian Diafragma, Fungsi, Struktur dan Cara Kerja Diafragma Pada Pernapasan Lengkap • Pengertian, Macam-Macam Jenis dan Contoh Alat Pemuas Kebutuhan Manusia Lengkap • Pengertian Politik Etis, Latar Belakang, Tujuan, Isi, Penyimpangan dan Dampak Politik Etis Lengkap • Pengertian Realitas Sosial, Macam, Bentuk, Konsep dan Contoh Realitas Sosial Menurut Para Ahli Lengkap • Pengertian Kebudayaan Nasional, Karakteristik, Fungsi, Tujuan dan Contoh Kebudayaan Nasional Indonesia Lengkap • Pengertian AFNEI, Sejarah, Tugas dan Tujuan AFNEI di Indonesia Lengkap • Pengertian Waran, Ciri-Ciri, Manfaat dan Risiko Investasi Waran (Warrant) Lengkap • Pengertian Modal Kerja, Konsep, Jenis, Manfaat, Penggunaan, Manajemen dan Perputaran Modal Kerja Lengkap • Pengertian Audit Internal, Tujuan, Fungsi dan Ruang Lingkup Audit Internal Menurut Para Ahli Lengkap • Pengertian Riset Pasar, Macam Jenis, Metode dan Contoh Riset Pasar Lengkap • Pengertian, Tujuan, Manfaat dan Proses Penilaian Kinerja Karyawan Menurut Para Ahli Lengkap

TUGAS KELOMPOK (MATEMATIKA PEMINATAN)




2022 www.videocon.com