Faktor penyebab gangguan kesehatan, kecuali

faktor penyebab gangguan kesehatan, kecuali

• Afrikaans • Akan • Alemannisch • Aragonés • Ænglisc • العربية • ܐܪܡܝܐ • الدارجة • مصرى • অসমীয়া • Asturianu • Aymar aru • Azərbaycanca • تۆرکجه • Башҡортса • Žemaitėška • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • भोजपुरी • Banjar • Bamanankan • বাংলা • བོད་ཡིག • Brezhoneg • Bosanski • Буряад • Català • Mìng-dĕ̤ng-ngṳ̄ • کوردی • Čeština • Cymraeg • Dansk • Dagbanli • Deutsch • Ελληνικά • English • Esperanto • Faktor penyebab gangguan kesehatan • Eesti • Euskara • Estremeñu • فارسی • Suomi • Võro • Na Vosa Vakaviti • Français • Frysk • Gaeilge • 贛語 • Kriyòl gwiyannen • Galego • Avañe'ẽ • 客家語/Hak-kâ-ngî • עברית • हिन्दी • Hrvatski • Kreyòl ayisyen • Magyar • Հայերեն • Արեւմտահայերէն • Interlingua • Ilokano • ГӀалгӀай • Ido • Íslenska • Italiano • ᐃᓄᒃᑎᑐᑦ/inuktitut • 日本語 • Patois • Jawa • ქართული • Taqbaylit • Қазақша • ಕನ್ನಡ • 한국어 • कॉशुर / کٲشُر • Kurdî • Kernowek • Кыргызча • Latina • Lingua Franca Nova • Luganda • Limburgs • Lingála • Lietuvių • Latviešu • मैथिली • Basa Banyumasan • Malagasy • Minangkabau • Македонски • മലയാളം • Монгол • ဘာသာ မန် • मराठी • Bahasa Melayu • Эрзянь • Nāhuatl • नेपाली • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Occitan • ਪੰਜਾਬੀ • Polski • پنجابی • پښتو • Português • Runa Simi • Română • Armãneashti • Русский • Русиньскый • Саха тыла • Sicilianu • Scots • سنڌي • Srpskohrvatski / српскохрватски • Taclḥit • සිංහල • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • Soomaaliga • Shqip • Српски / srpski • Svenska • Kiswahili • Sakizaya • தமிழ் • తెలుగు • Тоҷикӣ • ไทย • Tagalog • Türkçe • Xitsonga • Татарча/tatarça • Twi • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Vèneto • Tiếng Việt • Walon • Winaray • 吴语 • IsiXhosa • ייִדיש • Yorùbá • Vahcuengh • 中文 • Bân-lâm-gú • 粵語 Penyakit Papirus Edwin Smith, dokumen pembedahan tertua di dunia.

Papirus ini ditulis dalam skrip hieratik di Mesir kuno sekitar tahun 1600 SM. Teks di dalamnya menggambarkan pengamatan anatomi serta pemeriksaan, diagnosis, pengobatan, dan prognosis 48 jenis permasalahan medis dengan sangat rinci. Perawatan yang dijelaskan di antaranya menutup luka dengan jahitan, mencegah dan menyembuhkan infeksi dengan madu dan roti berjamur, menghentikan pendarahan dengan daging mentah, dan imobilisasi cedera kepala dan sumsum tulang belakang.

Teks yang diterjemahkan pada tahun 1930 ini mengungkapkan kecanggihan dan kepraktisan pengobatan Mesir kuno.

Rekto kolom 6 (kanan) dan 7 (kiri) dari papirus yang digambarkan di sini membahas tentang trauma wajah. (Kasus 12-20). Penyakit adalah kondisi abnormal tertentu yang secara negatif memengaruhi struktur atau fungsi sebagian atau seluruh tubuh suatu makhluk hidup, dan bukan diakibatkan oleh cedera eksternal apa pun.

[1] [2] Penyakit juga dikenal sebagai kondisi medis yang berhubungan dengan gejala dan tanda klinis tertentu. [1] Suatu penyakit dapat disebabkan oleh faktor-faktor eksternal seperti patogen atau oleh disfungsi internal. Sebagai contoh, disfungsi internal sistem imun dapat menghasilkan berbagai penyakit yang berbeda, di antaranya berbagai bentuk defisiensi imun, hipersensitivitas, alergi, dan penyakit autoimun. Pada manusia, penyakit sering digunakan secara lebih luas untuk merujuk pada kondisi apa pun yang menyebabkan rasa nyeri, disfungsi, distres, masalah sosial, atau kematian bagi penderitanya, atau masalah serupa bagi mereka yang berhubungan dengan orang tersebut.

Dalam pengertian yang lebih luas ini, penyakit kadang-kadang termasuk cedera, difabel, kelainan, sindrom, infeksi, gejala terisolasi, perilaku menyimpang, serta variasi struktur dan fungsi yang atipikal (tidak umum), sementara dalam konteks lain dan untuk tujuan lain, hal-hal ini dianggap kategori yang dapat dibedakan. Penyakit tidak hanya memengaruhi seseorang secara fisik, tetapi juga secara mental, karena mengidap dan hidup dengan suatu penyakit dapat mengubah pandangan hidup seseorang.

Kematian karena penyakit disebut kematian oleh sebab alami. Secara umum, ada empat jenis penyakit utama: penyakit menular, penyakit defisiensi, penyakit keturunan (termasuk penyakit genetik dan penyakit keturunan non-genetik), dan penyakit faktor penyebab gangguan kesehatan. Penyakit juga dapat diklasifikasikan dengan cara lain, seperti penyakit menular versus tidak menular. Penyakit paling mematikan pada manusia adalah penyakit arteri koroner (penyumbatan aliran darah), diikuti oleh penyakit serebrovaskular dan infeksi saluran pernapasan bawah.

[3] Di negara maju, penyakit yang paling banyak ditemui secara keseluruhan adalah kondisi neuropsikiatri, seperti depresi dan gangguan kecemasan. Studi penyakit disebut patologi, yang mencakup studi etiologi atau penyebab penyakit. Daftar isi • 1 Terminologi • 1.1 Konsep • 1.2 Jenis berdasarkan sistem tubuh • 1.3 Tahapan • 1.4 Tingkat • 2 Klasifikasi • 3 Penyebab • 3.1 Jenis penyebab • 4 Pencegahan • 5 Perawatan • 6 Epidemiologi • 6.1 Beban penyakit • 7 Masyarakat dan budaya • 7.1 Bahasa penyakit • 8 Lihat pula • 9 Referensi • 10 Pranala luar Terminologi [ sunting - sunting sumber ] Lihat pula: Terminologi medis Konsep [ sunting - sunting sumber ] Dalam banyak kasus, istilah-istilah seperti sakit, penyakit, gangguan, kelainan, dan morbiditas, digunakan secara bergantian; namun, ada situasi ketika istilah tertentu dianggap lebih sesuai.

[4] Penyakit Istilah penyakit secara luas mengacu pada segala kondisi yang mengganggu fungsi normal tubuh. Karena alasan ini, penyakit diasosiasikan dengan disfungsi proses homeostasis normal tubuh. [5] Umumnya, istilah ini digunakan secara khusus pada penyakit infeksi, yang merupakan penyakit yang terbukti secara klinis diakibatkan oleh keberadaan agen mikrob patogenik, termasuk virus, bakteri, jamur, protozoa, kecuali multiseluler, dan protein menyimpang yang dikenal sebagai prion.

Infeksi atau kolonisasi yang tidak dan tidak akan berujung pada penyimpangan fungsi normal yang secara klinis terbukti, seperti keberadaan bakteri dan khamir normal dalam usus, atau virus penumpang, tidak dianggap sebagai penyakit. Sebaliknya, infeksi yang tidak menunjukkan gejala selama masa inkubasinya, tetapi diperkirakan akan menimbulkan gejala di kemudian hari, biasanya dianggap sebagai penyakit.

Penyakit noninfeksi adalah semua penyakit lain, termasuk sebagian besar kanker, penyakit jantung, dan penyakit genetik. Penyakit dapatan/perolehan Penyakit yang didapat atau diperoleh ( bahasa Inggris: acquired diseases) adalah penyakit yang dimulai pada titik tertentu selama hidup seseorang, dan berkebalikan dengan penyakit yang sudah ada sejak lahir, yaitu penyakit bawaan. Penyakit perolehan tidak berarti penyakit tersebut "diperoleh melalui penularan", tetapi diperoleh setelah seseorang lahir.

Penyakit perolehan juga dapat berupa penyakit primer maupun penyakit sekunder. Penyakit kongenital atau penyakit bawaan Penyakit bawaan atau kelainan bawaan adalah penyakit yang telah ada saat seseorang di lahirkan. Penyakit ini sering kali merupakan penyakit genetik dan dapat diwariskan.

Penyakit jenis ini juga bisa dihasilkan dari infeksi yang ditularkan secara vertikal dari ibu pada anak yang dikandungnya, seperti HIV/ AIDS. Penyakit genetik Penyakit genetik atau kelainan genetik disebabkan oleh satu atau beberapa mutasi genetik. Penyakit ini sering kali diwariskan, tetapi beberapa mutasi bersifat acak dan de novo.

Penyakit keturunan atau turunan Penyakit keturunan adalah jenis penyakit genetik yang disebabkan oleh mutasi genetik yang bersifat turun-temurun (dan ditemukan dalam suatu keluarga). Penyakit akut Penyakit akut adalah penyakit yang bersifat jangka pendek ( akut); istilah ini terkadang juga merujuk pada penyakit yang terjadi secara mendadak atau tiba-tiba. Kondisi kronis atau penyakit kronis Penyakit kronis adalah penyakit faktor penyebab gangguan kesehatan berlanjut dari waktu ke waktu, sering kali berlangsung setidaknya selama kecuali bulan tetapi mungkin juga meliputi penyakit yang diperkirakan akan diderita seumur hidup.

Penyakit iatrogenik Penyakit atau kondisi iatrogenik adalah penyakit yang faktor penyebab gangguan kesehatan oleh intervensi medis, baik sebagai efek samping dari pengobatan atau sebagai hasil yang tidak disengaja.

Penyakit idiopatik Penyakit idiopatik memiliki penyebab atau sumber yang tidak diketahui. Karena ilmu kedokteran telah maju, banyak penyakit yang sebelumnya tidak diketahui sama sekali penyebabnya, telah berhasil dipahami beberapa aspek penyebabnya sehingga tidak lagi berstatus idiopatik.

Sebagai contoh, ketika kuman ditemukan, diketahui bahwa mereka adalah penyebab infeksi, tetapi kecuali tertentu dan penyakit tertentu belum dihubungkan sebagai sebab-akibat. Pada contoh lain, diketahui bahwa autoimunitas merupakan penyebab beberapa bentuk diabetes melitus tipe 1, meskipun jalur molekuler tertentu yang melatarbelakanginya belum dipahami.

Secara umum, telah diketahi bahwa faktor-faktor tertentu ber korelasi dengan penyakit tertentu; akan tetapi, korelasi dan kausalitas adalah dua fenomena yang sangat berbeda, karena penyebab ketiga mungkin saja menghasilkan penyakit, serta fenomena terkait.

Penyakit primer Penyakit primer adalah penyakit yang dihasilkan oleh faktor penyebab gangguan kesehatan penyebab penyakit, berbeda dengan penyakit sekunder, yang merupakan lanjutan ( sekuela), atau komplikasi yang diakibatkan oleh penyakit primer.

faktor penyebab gangguan kesehatan, kecuali

Sebagai contoh, pilek adalah penyakit primer, sedangkan rhinitis adalah penyakit sekunder yang mungkin mengikutinya.

Seorang dokter perlu menentukan jenis faktor penyebab gangguan kesehatan, apakah pilek atau infeksi bakteri, yang mengakibatkan rhinitis sekunder pada seseorang ketika memutuskan apakah akan meresepkan antibiotika atau tidak. Penyakit sekunder Penyakit sekunder adalah penyakit yang merupakan lanjutan atau komplikasi dari penyakit kausal sebelumnya, faktor penyebab gangguan kesehatan disebut sebagai penyakit primer atau sekadar penyebab utama yang mendasarinya.

Misalnya, infeksi bakteri dapat bersifat primer ketika orang yang sehat terpapar oleh bakteri dan menjadi terinfeksi, atau dapat menjadi penyakit sekunder akibat penyebab utama, yang menjadi predisposisi tubuh terhadap infeksi. Sebagai contoh, infeksi virus primer yang melemahkan sistem imun dapat mengakibatkan infeksi bakteri sekunder. Demikian pula dengan luka bakar primer yang menciptakan luka terbuka dapat memberikan titik masuk bagi bakteri, dan menyebabkan infeksi bakteri sekunder.

Penyakit yang tidak bisa disembuhkan Penyakit yang tidak bisa disembuhkan belum tentu merupakan penyakit mematikan atau terminal, dan terkadang gejala penyakit dapat diobati secara memadai agar penyakit tersebut hanya memiliki sedikit dampak atau bahkan tidak berdampak pada kualitas hidup.

Penyakit terminal Penyakit terminal atau penyakit mematikan adalah penyakit yang diperkirakan mengakibatkan kematian yang tak terhindarkan. Sebelumnya, Kecuali adalah penyakit terminal; sekarang meskipun tidak dapat disembuhkan, AIDS dapat dikelola tanpa batas menggunakan obat-obatan. Gangguan Gangguan adalah kelainan atau kekacauan fungsional. Gangguan medis dapat dikategorikan menjadi gangguan mental, gangguan fisik, gangguan genetik, gangguan emosi dan perilaku, dan gangguan fungsional.

Istilah gangguan sering dianggap lebih netral terhadap nilai dan kurang mendapat stigma dibandingkan dengan penyakit, sehingga lebih disukai dalam beberapa keadaan. [6] Dalam kesehatan mental, istilah gangguan mental digunakan sebagai cara untuk mengakui adanya interaksi kompleks antara faktor biologis, sosial, dan psikologis dalam kondisi kejiwaan; akan tetapi, istilah gangguan juga digunakan dalam banyak bidang kedokteran lainnya, terutama untuk mengidentifikasi gangguan fisik yang tidak disebabkan oleh organisme menular, seperti gangguan metabolisme.

Kondisi medis Kondisi medis adalah istilah luas yang mencakup semua penyakit, lesi, gangguan, atau kondisi nonpatologis yang biasanya mendapatkan perawatan medis, seperti kehamilan atau persalinan. Walaupun istilah kondisi medis umumnya juga mencakup penyakit mental, dalam beberapa konteks, istilah ini kecuali secara khusus untuk menunjukkan penyakit, cedera, atau penyakit apa pun selain untuk penyakit mental.

Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM), manual psikiatri yang digunakan secara luas yang berisi penjelasan semua gangguan mental, menggunakan istilah kondisi medis umum untuk merujuk pada semua penyakit dan cedera selain gangguan mental. [7] Penggunaan ini juga umum ditemukan dalam literatur psikiatris. Beberapa polis asuransi kesehatan juga mendefinisikan kondisi medis sebagai segala penyakit atau cedera, kecuali penyakit kejiwaan.

[8] Karena lebih netral terhadap nilai dibandingkan istilah seperti penyakit, istilah kondisi medis terkadang lebih disukai oleh orang-orang dengan masalah kesehatan yang mereka anggap tidak merugikan. Di sisi lain, dengan menekankan sifat medis dari kondisi ini, istilah ini kadang-kadang ditolak, seperti oleh para pendukung gerakan hak autisme.

Istilah kondisi medis juga merupakan sinonim untuk keadaan medis, yang menggambarkan keadaan pasien saat ini dari sudut pandang medis. Contoh penggunaan istilah keadaan medis misalnya pernyataan bahwa pasien dalam keadaan kritis. Morbiditas Morbiditas (dari bahasa Latin morbidus, artinya 'sakit, tidak sehat') adalah keadaan sakit, difabel, atau kesehatan buruk karena sebab apa pun. Istilah ini dapat digunakan untuk merujuk pada keberadaan segala bentuk penyakit, atau pada tingkat kondisi kesehatan yang memengaruhi seseorang.

Di kalangan pasien yang sakit parah, tingkat morbiditas sering diukur dengan sistem penilaian ICU. Komorbiditas adalah kehadiran dua kondisi medis atau lebih secara bersamaan, seperti skizofrenia dan penyalahgunaan zat.

Dalam ilmu epidemiologi dan aktuaria, istilah "angka morbiditas" dapat merujuk pada insiden atau prevalensi suatu penyakit atau kondisi medis. Ukuran ini berbeda kecuali mortalitas suatu kondisi, yang merupakan proporsi orang yang meninggal selama interval waktu tertentu.

Angka morbiditas digunakan dalam profesi aktuaria, seperti asuransi kesehatan, asuransi jiwa, dan asuransi perawatan jangka panjang, untuk menentukan premi yang tepat untuk dibebankan kepada pelanggan. Angka morbiditas membantu perusahaan asuransi memperkirakan kemungkinan seseorang akan terjangkit atau mengembangkan kecuali penyakit tertentu. Sindrom Sindrom adalah asosiasi dari beberapa tanda medis, gejala, atau karakteristik lain yang sering terjadi secara bersamaan.

Beberapa sindrom, seperti sindrom Down, faktor penyebab gangguan kesehatan memiliki satu penyebab. Sindrom lainnya, seperti sindrom Parkinson, memiliki beberapa kemungkinan penyebab. Sebagai contoh, sindrom koroner akut bukanlah penyakit tunggal, tetapi lebih merupakan manifestasi dari beberapa penyakit, seperti infark miokard sekunder akibat penyakit arteri koroner. Pada sindrom lain, penyebabnya tidak diketahui. Nama sindrom yang familier sering kali tetap digunakan bahkan setelah penyebab yang mendasarinya ditemukan, atau ketika diakibatkan oleh sejumlah penyebab primer yang berbeda.

Contohnya sindrom Turner dan sindrom DiGeorge yang masih sering disebut dengan nama "sindrom" meskipun keduanya dapat dilihat sebagai entitas penyakit dan tidak hanya sebagai sekumpulan tanda dan gejala.

Prapenyakit Prapenyakit adalah fase awal sebelum terjadinya penyakit ( prodom) atau fase subklinis sebelum gejala penyakit muncul. Pradiabetes dan prahipertensi adalah contoh umum prapenyakit. Namun, nosologi atau epistemologi prapenyakit masih diperdebatkan karena jarang ditemui batasan jelas yang membedakan antara kepedulian untuk status subklinis/prodromal/tanda awal penyakit (pada satu sisi) dan konflik kepentingan yang diakibatkan oleh menjual ketakutan akan penyakit atau medikalisasi penyakit (pada sisi lainnya).

Mengidentifikasi prapenyakit faktor penyebab gangguan kesehatan tepat dapat menghasilkan tindakan pencegahan yang bermanfaat, seperti memotivasi seseorang untuk mengerjakan latihan kecuali yang sehat, [9] tetapi memberi label prapenyakit pada orang yang sehat dengan dugaan yang tidak berdasar dapat mengakibatkan perawatan yang berlebihan, seperti menggunakan obat yang hanya membantu orang dengan penyakit berat atau membayar resep obat dengan rasio manfaat-biaya sangat kecil.

Sebuah studi menyimpulkan bahwa ada tiga persyaratan untuk keabsahan konsep prapenyakit ini, yaitu kondisi yang berisiko sangat tinggi untuk berkembang menjadi penyakit, dapat ditindaklanjuti untuk mengurangi risiko, dan memiliki manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan bahaya dalam setiap intervensi yang diambil.

[10] Jenis berdasarkan sistem tubuh [ sunting - sunting sumber ] Mental Gangguan mental merupakan label umum kecuali kategori penyakit yang meliputi ketidakstabilan afektif atau emosional, disregulasi perilaku, serta disfungsi atau gangguan kognitif. Penyakit spesifik yang dikenal sebagai penyakit mental termasuk depresi berat, gangguan kecemasan umum, skizofrenia, dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas.

Gangguan mental dapat berasal dari faktor biologis (misalnya anatomis, kimiawi, atau genetik) atau psikologis (misalnya trauma atau konflik). Penyakit mental dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk bekerja atau belajar dan dapat membahayakan hubungan interpersonal. Istilah gila digunakan secara teknis sebagai istilah hukum.

Organik Penyakit organik adalah penyakit yang diakibatkan oleh perubahan fisik atau fisiologis pada beberapa jaringan atau organ tubuh. Istilah ini terkadang tidak meliputi infeksi. Penyakit organik biasanya digunakan untuk membedakannya dengan gangguan mental. Gangguan emosi dan perilaku digolongkan dalam penyakit organik jika disebabkan oleh faktor penyebab gangguan kesehatan pada struktur fisik atau fungsi tubuh, seperti setelah strok atau cedera otak traumatis, tetapi tidak digolongkan dalam penyakit organik jika disebabkan oleh masalah psikososial.

Tahapan [ sunting - sunting sumber ] Pada penyakit menular, masa inkubasi adalah periode waktu antara infeksi dan munculnya gejala. Periode latensi adalah periode waktu antara infeksi dan kemampuan agen penyakit untuk menyebar ke orang lain, yang kejadiannya dapat mendahului, mengikuti, atau secara bersamaan dengan munculnya gejala. Beberapa virus juga menunjukkan fase dorman, yang disebut latensi virus, yaitu ketika virus bersembunyi di dalam tubuh dalam keadaan tidak aktif.

Sebagai contoh, virus varicella-zoster yang menyebabkan cacar air pada fase akut; setelah sembuh dari cacar air, virus dapat tetap faktor penyebab gangguan kesehatan dalam sel saraf selama bertahun-tahun, dan kemudian menyebabkan herpes zoster. Penyakit akut Penyakit akut adalah penyakit yang berumur pendek, seperti pilek. Penyakit kronis Penyakit kronis adalah penyakit yang berlangsung lama, biasanya faktor penyebab gangguan kesehatan enam bulan.

Selama periode tersebut, penyakit mungkin terus-menerus ada, atau mungkin mengalami remisi dan kambuh secara berkala. Penyakit kronis mungkin bersifat stabil (tidak memburuk) atau mungkin progresif (semakin buruk dari waktu ke waktu). Beberapa penyakit kronis dapat disembuhkan secara permanen.

Sebagian besar penyakit kronis dapat diobati, meskipun tidak dapat disembuhkan secara permanen. Penyakit klinis Penyakit yang memiliki konsekuensi klinis; dengan kata lain, stadium penyakit yang menghasilkan tanda dan gejala khas penyakit tersebut. [11] AIDS kecuali tahap penyakit klinis infeksi HIV. Kesembuhan Kesembuhan adalah akhir dari suatu kondisi medis atau suatu perawatan yang sangat mungkin mengakhiri kondisi medis, sementara remisi mengacu pada hilangnya gejala.

Remisi lengkap merupakan hasil terbaik untuk penyakit yang tak tersembuhkan. Kambuh Kambuh ( bahasa Kecuali flare-up) dapat merujuk pada kembalinya gejala atau timbulnya gejala yang kecuali parah. [12] Penyakit progresif Penyakit progresif adalah penyakit secara alami memburuk hingga terjadi kematian, kelemahan serius, atau kegagalan organ.

Penyakit progresif yang lambat juga merupakan penyakit kronis; banyak juga yang merupakan penyakit degeneratif. Kebalikan dari penyakit progresif adalah penyakit stabil atau penyakit statis: suatu kondisi medis yang tidak menjadi lebih baik atau lebih buruk.

Penyakit refraktori Penyakit refraktori adalah penyakit yang tidak merespons terhadap pengobatan, terutama pada kasus individual, meskipun pengobatan yang diberikan melebihi standar normal untuk penyakit tesebut. Penyakit subklinis Penyakit subklinis juga disebut penyakit diam atau penyakit tanpa gejala. Subklinis juga merupakan suatu tahap pada beberapa penyakit sebelum munculnya gejala klis untuk pertama kali.

[13] Fase terminal Jika seseorang akan segera mati karena suatu penyakit, terlepas dari apakah penyakit tersebut biasanya faktor penyebab gangguan kesehatan pada kematian, maka periode antara fase sebelumnya dengan fase sekarat disebut fase terminal. Tingkat [ sunting - sunting sumber ] Penyakit terlokalisasi Penyakit terlokalisasi adalah penyakit yang hanya menyerang satu bagian tubuh, seperti tinea pedis atau infeksi mata.

Penyakit terdiseminasi Penyakit terdiseminasi adalah penyakit yang telah menyebar ke bagian tubuh lain; jika berupa kanker, penyakit ini biasanya disebut metastasis. Penyakit sistemik Penyakit sistemik adalah penyakit yang menyerang seluruh tubuh, seperti influenza atau tekanan darah tinggi.

Klasifikasi [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Nosologi Penyakit dapat diklasifikasikan berdasarkan penyebab, faktor penyebab gangguan kesehatan (mekanisme terjadinya penyakit), atau berdasarkan gejalanya.

Klasifikasi juga dilakukan menurut sistem organ yang terlibat, meskipun pengelompokan ini lebih rumit karena ada banyak penyakit yang memengaruhi lebih dari satu organ. Kesulitan utama dalam nosologi yaitu penyakit sering kali tidak dapat didefinisikan dan diklasifikasikan dengan jelas, terutama ketika penyebab atau patogenesisnya tidak diketahui.

Dengan demikian, diagnosis terkadang hanya mencerminkan gejala atau serangkaian gejala (sindrom). Secara klasik, klasifikasi penyakit pada manusia dilakukan berdasarkan pengamatan atas korelasi antara analisis patologis dan sindrom klinis.

Saat ini, klasifikasi cenderung dilakukan berdasarkan penyebabnya jika diketahui. [14] Klasifikasi penyakit yang paling dikenal dan banyak dipakai adalah ICD yang diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia. Sistem klasifikasi ini diperbarui secara berkala dengan publikasi terakhir saat ini yaitu ICD-10. Penyebab [ sunting - sunting sumber ] Lihat pula: Penyebab penyakit dan Penularan penyakit Hanya sejumlah penyakit yang menular dan umumnya diyakini infeksius, misalnya influenza.

Mikroorganisme yang menyebabkan penyakit ini dikenal sebagai patogen (terkadang disebut agen infeksi atau agen penyakit) yang meliputi berbagai jenis bakteri, virus, protozoa, dan jamur. Penyakit infeksi dapat ditularkan, misalnya melalui kontak dari tangan-ke-mulut setelah menyentuh materi infeksius pada permukaan benda, melalui gigitan serangga atau pembawa penyakit lainnya, serta dari air atau makanan yang terkontaminasi (sering kali melalui kontaminasi tinja), dll.

[15] Terdapat pula penyakit menular seksual. Dalam beberapa kasus, suatu penyakit dapat dicegah atau diperbaiki dengan nutrisi yang tepat atau perubahan gaya hidup lainnya. Beberapa penyakit, seperti sebagian besar (tetapi tidak semua) kanker, penyakit jantung, dan gangguan mental, merupakan penyakit tidak menular.

Banyak penyakit tidak menular didasarkan oleh genetik, baik sebagian atau seluruhnya, sehingga dapat ditularkan dari satu generasi ke generasi lainnya. Penentu sosial kesehatan adalah kondisi sosial yang menentukan perbedaan status kesehatan individu atau kelompok masyarakat. Pada umumnya, penyakit kecuali dengan keadaan sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan.

Penentu sosial kesehatan telah diakui oleh beberapa organisasi kesehatan seperti Badan Kesehatan Masyarakat Kanada dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan kolektif dan pribadi.

Dewan Penentu Sosial di bawah WHO juga mengakui faktor-faktor penentu sosial kesehatan dalam kemiskinan. Ketika penyebab suatu penyakit tidak dipahami dengan baik, masyarakat cenderung membuat mitos untuk penyakit tersebut atau menggunakannya sebagai metafora atau simbol apa pun yang dianggap jahat oleh budaya setempat.

Misalnya, sampai bakteri penyebab tuberkulosis ditemukan pada tahun 1882, para ahli dengan berbagai cara mengaitkan penyakit ini dengan faktor keturunan, gaya hidup kurang bergerak, depresi, dan kegemaran berlebihan dalam seks, makanan, atau alkohol—semua penyakit sosial pada masa itu.

faktor penyebab gangguan kesehatan, kecuali

{INSERTKEYS} [16] Ketika suatu penyakit disebabkan oleh patogen (misalnya penyakit malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium), istilah penyakit dapat digunakan secara keliru bahkan dalam literatur ilmiah sebagai pengganti agen penyebabnya, yaitu patogen. Kebiasaan bahasa ini dapat mengakibatkan kebingungan dalam komunikasi prinsip sebab-akibat dalam epidemiologi, dan karenanya sangat tidak dianjurkan.

[17] Jenis penyebab [ sunting - sunting sumber ] Udara Penyakit bawaan udara adalah penyakit yang disebabkan oleh patogen dan ditularkan melalui udara. Makanan Penyakit bawaan makanan atau keracunan makanan adalah segala penyakit yang diakibatkan oleh konsumsi makanan yang terkontaminasi oleh bakteri patogen, racun, virus, prion, atau parasit.

Infeksi Penyakit infeksi terdiri atas penyakit yang terbukti secara klinis (dengan tanda atau gejala penyakit yang khas) disebabkan oleh infeksi, yaitu keberadaan dan pertumbuhan agen biologis patogenik dalam organisme inang secara individual.

Termasuk dalam kategori ini adalah penyakit menular, yaitu penyakit infeksi seperti influenza atau pilek, yang dapat menyebar dari satu orang ke orang lain. Gaya hidup Penyakit gaya hidup adalah penyakit apa pun yang tampaknya meningkat frekuensinya karena suatu negara menjadi lebih terindustrialisasi dan penduduknya berumur lebih panjang, terutama jika faktor-faktor risikonya mencakup pilihan perilaku seperti gaya hidup yang menetap atau diet dengan makanan yang tidak sehat seperti karbohidrat olahan, lemak trans, atau minuman beralkohol.

Tidak dapat menular Penyakit tidak menular adalah kondisi medis atau penyakit yang tidak dapat ditularkan. Penyakit tidak menular tidak dapat disebarkan secara langsung dari satu orang ke orang lain. Penyakit jantung dan kanker adalah contoh penyakit tidak menular pada manusia. Pencegahan [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Kedokteran pencegahan Banyak penyakit dan gangguan dapat dicegah melalui berbagai cara.

Contoh tindakan pencegahan penyakit yaitu penerapan sanitasi, asupan nutrisi yang tepat, latihan fisik yang memadai, vaksinasi dan perawatan diri lainnya, serta tindakan kesehatan masyarakat. Perawatan [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Terapi Perlakuan medis, perawatan medis, atau terapi adalah upaya untuk menyembuhkan atau meringankan penyakit atau masalah kesehatan lainnya.

Pada bidang medis, terapi identik dengan kata pengobatan. Di antara para psikolog, istilah ini dapat merujuk secara khusus pada psikoterapi atau "terapi bicara". Pengobatan umum di antaranya medikasi, pem bedahan, penggunaan peralatan medis, dan perawatan diri. Terapi dapat dilakukan oleh sistem layanan kesehatan yang terorganisir, atau secara informal oleh pasien atau anggota keluarganya. Perawatan kesehatan preventif merupakan cara untuk menghindari cedera, sakit, atau penyakit sejak awal.

Pengobatan atau penyembuhan diterapkan setelah masalah medis terjadi. Perawatan medis mencoba untuk memperbaiki atau menghilangkan masalah, tetapi mungkin tidak menghasilkan kesembuhan permanen, terutama pada penyakit kronis. Penyembuhan adalah bagian dari perawatan yang menghilangkan penyakit sepenuhnya atau mengakhiri masalah medis secara permanen. Banyak penyakit yang tidak bisa disembuhkan sepenuhnya masih bisa dirawat.

Manajemen nyeri (juga disebut kedokteran nyeri) adalah cabang kedokteran yang menggunakan pendekatan interdisipliner untuk meredakan rasa nyeri dan meningkatkan kualitas hidup seseorang yang hidup dengan rasa nyeri. [18] Perawatan untuk kedaruratan medis harus diberikan segera, sering kali melalui instalasi gawat darurat. Epidemiologi [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Epidemiologi Epidemiologi adalah studi tentang faktor-faktor yang menyebabkan atau mendorong penyakit.

Beberapa penyakit lebih umum ditemukan di daerah geografis tertentu, di antara orang-orang dengan karakteristik genetik atau sosial ekonomi tertentu, atau pada waktu yang berbeda dalam setahun. Epidemiologi dianggap sebagai metodologi utama penelitian kesehatan masyarakat dan sangat dihargai dalam kedokteran berbasis bukti untuk mengidentifikasi faktor risiko penyakit. Dalam studi penyakit menular dan tidak menular, pekerjaan seorang epidemiologis berkisar dari penyelidikan wabah hingga desain studi, pengumpulan data, dan analisis, termasuk pengembangan model statistik untuk menguji hipotesis dan dokumentasi hasil untuk diserahkan ke jurnal ilmiah.

Ahli epidemiologi juga mempelajari interaksi penyakit dalam suatu populasi, suatu kondisi yang dikenal sebagai sindemik. Ahli epidemiologi mengandalkan sejumlah disiplin ilmu lain seperti biologi (untuk lebih memahami proses penyakit), biostatistik (untuk mengolah informasi mentah yang tersedia), ilmu informasi geografis (untuk menyimpan data dan memetakan pola penyakit), serta ilmu sosial (untuk lebih memahami berbagai faktor risiko).

Epidemiologi dapat membantu mengidentifikasi penyebab serta memandu upaya pencegahan. Dalam mempelajari penyakit, epidemiologi menghadapi tantangan untuk mendefinisikan suatu penyakit. {/INSERTKEYS}

faktor penyebab gangguan kesehatan, kecuali

Khususnya untuk penyakit yang kurang dipahami, berbagai kelompok yang berbeda mungkin menggunakan definisi penyakit yang sangat berbeda. Tanpa definisi yang disepakati, beragam peneliti dapat melaporkan suatu penyakit dengan jumlah kasus dan karakteristik yang berbeda.

[19] Beberapa basis data morbiditas penyakit dikompilasi dari data yang disediakan oleh otoritas kesehatan negara dan teritori, di tingkat nasional [20] [21] atau skala yang lebih besar (seperti Basis Data Morbiditas Rumah Sakit Eropa (HMDB) [22] yang mungkin berisi data rumah sakit dengan diagnosis rinci,usia, kecuali jenis kelamin. Data HMDB Eropa diserahkan oleh negara-negara Eropa ke Kantor Regional Organisasi Kesehatan Dunia untuk Eropa. Beban penyakit [ sunting - sunting sumber ] Beban penyakit adalah dampak akibat masalah kesehatan di suatu daerah yang diukur dengan biaya keuangan, kematian, morbiditas, atau indikator lainnya.

Ada beberapa langkah yang digunakan untuk mengukur beban yang ditimbulkan faktor penyebab gangguan kesehatan penyakit pada manusia. Kehilangan tahun kehidupan potensial (YPLL) adalah perkiraan sederhana akan hilangnya tahun kehidupan seseorang akibat suatu penyakit. Misalnya, jika seseorang meninggal pada usia 65 karena suatu penyakit, faktor penyebab gangguan kesehatan mungkin akan hidup sampai usia 80 tanpa faktor penyebab gangguan kesehatan itu, maka penyakit itu telah menyebabkan hilangnya 15 tahun kehidupan potensial.

Pengukuran YPLL tidak memperhitungkan seberapa difabel seseorang sebelum meninggal, sehingga pengukuran tersebut menyetarakan seseorang yang mati mendadak dan seseorang yang meninggal pada usia yang sama setelah puluhan tahun menderita penyakit. Pada tahun 2004, WHO menghitung bahwa 932 juta tahun potensi kehidupan hilang karena kematian dini.

[23] Metrik tahun kehidupan berkualitas tersesuaikan (QALY) dan tahun kehidupan disabilitas tersesuaikan (DALY) diukur dengan cara serupa, tetapi memperhitungkan apakah orang tersebut tetap sehat setelah didiagnosis menderita penyakit tertentu.

Selain jumlah tahun yang hilang karena kematian prematur, pengukuran ini menambahkan tahun-tahun yang hilang karena sakit. Tidak seperti YPLL, kedua pengukuran ini menunjukkan beban yang dikenakan pada orang yang sangat sakit, tetapi hidup dengan durasi normal.

Penyakit yang memiliki morbiditas tinggi, tetapi mortalitas rendah, memiliki DALY tinggi dan YPLL rendah. Pada tahun 2004, WHO menghitung bahwa 1,5 miliar DALY hilang karena penyakit dan cedera.

[23] Di negara maju, penyakit jantung dan strok paling banyak menyebabkan kematian, tetapi kondisi neuropsikiatrik seperti gangguan depresi mayor mengakibatkan sebagian besar tahun hilang karena sakit. Masyarakat dan budaya [ sunting - sunting sumber ] Obesitas dulunya merupakan simbol status dalam budaya Abad Renaisans: "Jenderal Toscana Alessandro del Borro", dikaitkan dengan Andrea Sacchi, 1645.

[24] Walaupun saat ini obesitas umumnya dikaitkan dengan penyakit. Bagaimana masyarakat merespons penyakit merupakan subjek dari sosiologi medis. Suatu kondisi dapat dianggap sebagai penyakit pada beberapa budaya atau era tetapi tidak pada yang lain. Misalnya, obesitas dapat menunjukkan kekayaan dan kelimpahan, dan merupakan simbol status di daerah rawan kelaparan dan beberapa tempat yang dilanda HIV/ AIDS.

[25] Epilepsi dianggap sebagai tanda bakat spiritual di antara orang-orang Mong. [26] Penyakit memberi legitimasi sosial atas manfaat tertentu, seperti tunjangan sakit, penghindaran kerja, dan perawatan oleh orang lain.

Orang yang sakit mengambil peran sosial yang disebut peran sakit. Seseorang yang merespons penyakit yang menakutkan, seperti kanker, dengan cara yang dapat diterima secara budaya mungkin secara publik dan pribadi dihormati dengan status sosial yang lebih tinggi. [27] Sebagai imbalan atas manfaat ini, orang yang sakit berkewajiban untuk mencari perawatan faktor penyebab gangguan kesehatan berupaya untuk menjadi sehat kembali. Sebagai perbandingan, kehamilan, tidak diartikan sebagai penyakit, bahkan jika ibu dan bayi sama-sama mendapat manfaat dari perawatan medis.

Sebagian besar agama memberikan pengecualian dari tugas keagamaan kepada orang yang sakit. Misalnya, seseorang yang hidupnya akan terancam dengan ber puasa pada Yom Kippur atau selama bulan Ramadan akan dibebaskan dari persyaratan, atau bahkan dilarang berpartisipasi.

Orang yang sakit juga dibebaskan dari tugas sosial. Misalnya, kesehatan yang buruk adalah satu-satunya alasan yang diterima secara sosial bagi seorang Amerika Serikat untuk menolak undangan ke Gedung Putih.

faktor penyebab gangguan kesehatan, kecuali

{INSERTKEYS} [28] Identifikasi suatu kondisi sebagai penyakit, dan bukan sekadar variasi struktur atau fungsi manusia, dapat memiliki implikasi sosial atau ekonomi yang signifikan. Pengakuan kontroversial penyakit seperti cedera regangan berulang (RSI) memiliki sejumlah efek positif dan negatif pada tanggung jawab keuangan dan lainnya dari pemerintah, perusahaan, dan lembaga terhadap seorang individu, serta pada individu penderita itu sendiri.

Implikasi sosial dari memandang penuaan sebagai suatu penyakit bisa sangat mendalam, meskipun klasifikasi ini belum tersebar luas. Penderita kusta merupakan orang-orang yang secara historis dijauhi karena mereka memiliki penyakit menular, dan istilah "kusta" masih membangkitkan stigma sosial.

Ketakutan akan penyakit masih bisa menjadi fenomena sosial yang luas, meskipun tidak semua penyakit membangkitkan stigma sosial yang ekstrem. Status sosial dan status ekonomi memengaruhi kesehatan.

Penyakit kemiskinan adalah penyakit yang berhubungan dengan kemiskinan dan status sosial yang rendah; penyakit kemakmuran adalah penyakit yang berhubungan dengan status sosial dan ekonomi yang tinggi. Jenis penyakit yang dikaitkan dengan kondisi tertentu akan bervariasi menurut waktu dan tempat. Beberapa penyakit, seperti diabetes melitus, dapat dikaitkan dengan kemiskinan (pilihan makanan yang buruk) maupun kemakmuran (rentang hidup yang panjang dan gaya hidup yang kurang gerak), melalui mekanisme yang berbeda.

Istilah penyakit gaya hidup menggambarkan penyakit yang terkait dengan umur panjang dan lebih umum terjadi pada antara orang tua. Sebagai contoh, kanker jauh lebih umum di masyarakat dengan sebagian besar anggotanya hidup hingga usia 80 tahun dibandingkan di masyarakat dengan sebagian besar anggotanya meninggal sebelum mereka mencapai usia 50 tahun.

Bahasa penyakit [ sunting - sunting sumber ] Narasi penyakit adalah cara mengatur pengalaman medis menjadi cerita yang koheren yang menggambarkan pengalaman pribadi individu yang sakit.

Orang-orang menggunakan metafora untuk memahami pengalaman mereka akan penyakit. Metafora memindahkan penyakit dari hal obyektif yang ada menjadi pengalaman afektif. Metafora yang paling populer mengacu pada konsep militer: Penyakit adalah musuh yang harus ditakuti, diperangi, diperangi, dan dialihkan. Pasien atau penyedia layanan kesehatan adalah pejuang, bukan korban pasif atau pengamat.

Agen infeksi adalah penjajah; penyakit tidak menular merupakan pemberontakan internal atau perang saudara. Karena ancaman penyakit bersifat mendesak, dan mungkin masalah antara hidup dan mati, maka tindakan yang radikal, bahkan menindas, menjadi tugas moral masyarakat dan pasien saat mereka dengan berani bergerak untuk berjuang melawan kehancuran.

Perang melawan kanker adalah contoh dari penggunaan bahasa secara metaforis. [29] Bahasa ini memberdayakan beberapa penderita, tetapi membuat orang lain merasa gagal. [30] Jenis metafora lain menggambarkan pengalaman penyakit sebagai perjalanan: Penderitanya melakukan perjalanan ke atau dari suatu tempat penyakit, dan mengubah dirinya sendiri, menemukan informasi baru, atau menambah pengalamannya selama perjalanan. Ia mungkin bepergian "di jalan menuju pemulihan" atau membuat perubahan untuk "mencapai jalur yang benar" atau memilih "jalur".

[29] [30] Beberapa di antaranya secara eksplisit bertema imigrasi: penderita penyakit telah diasingkan dari wilayah rumah yang sehat ke tanah orang sakit, yang mengubah identitas dan hubungan dalam prosesnya.

[31] Bahasa ini lebih umum di kalangan profesional kesehatan Inggris dibandingkan bahasa agresi fisik. [30] Beberapa metafora bersifat spesifik terhadap penyakit. Perbudakan adalah metafora umum untuk kecanduan: Pecandu alkohol diperbudak oleh minuman, dan perokok ditawan oleh nikotin.

Beberapa pasien kanker memperlakukan kerontokan rambut mereka dari kemoterapi sebagai metonimia atau metafora untuk semua kerugian yang disebabkan oleh penyakit ini. [29] Beberapa penyakit digunakan sebagai metafora untuk penyakit sosial: "Kanker" merupakan deskripsi umum untuk apa pun yang endemik dan merusak dalam masyarakat, seperti kemiskinan, ketidakadilan, atau rasisme. AIDS dipandang sebagai penghakiman ilahi untuk kemerosotan moral, dan hanya dengan membersihkan diri dari "polusi" oleh "penyerbu" maka masyarakat dapat menjadi sehat kembali.

[29] Kemudian, ketika AIDS tampaknya kurang mengancam, jenis bahasa emosi ini diterapkan pada flu burung dan diabetes melitus tipe 2. [32] Penulis pada abad ke-19 umumnya menggunakan tuberkulosis sebagai simbol dan metafora untuk transendensi.

Penderita penyakit ini digambarkan dalam literatur sebagai orang yang telah melampaui kehidupan sehari-hari untuk menjadi objek pencapaian spiritual atau artistik sesaat. Pada abad ke-20, setelah penyebabnya lebih dipahami, penyakit yang sama menjadi lambang kemiskinan, kemelaratan, dan masalah sosial lainnya. [31] Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Kecacatan perkembangan, kecacatan berat dan seumur hidup yang disebabkan oleh gangguan mental atau fisik • Penyakit lingkungan • Interaksi inang–patogen • Daftar penyakit tak dapat disembuhkan • Penyakit mitokondrial • Patologi tumbuhan • Penyakit langka, penyakit yang diderita sangat sedikit orang • Sosiologi kesehatan dan penyakit • Filsafat kedokteran Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ a b " Disease" di Dorland's Medical Dictionary • ^ White, Tim (19 December 2014).

"What is the Difference Between an 'Injury' and 'Disease' for Commonwealth Injury Claims?". Tindall Gask Bentley. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 October 2017 . Diakses tanggal 6 November 2017. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "What is the deadliest disease in the world?". WHO. 16 May 2012. Diarsipkan dari versi asli Parameter -archive-url= membutuhkan -url= ( bantuan) tanggal 17 December 2014.

Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan); Parameter -ur= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan); Tidak memiliki atau membutuhkan -url= ( bantuan); Parameter -access-date= membutuhkan -url= ( bantuan) • ^ "Mental Illness – Glossary". US National Institute of Mental Health accessdate=18 April 2010. Diarsipkan dari versi asli tanggal 28 May 2010. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Tanpa pipa ( link) • ^ "Regents Prep: Living Environment: Homeostasis".

Oswego City School District Regents Exam Prep Center. Diarsipkan dari versi asli tanggal 25 October 2012 . Diakses tanggal 12 November 2012. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Sefton, Phil (21 November 2011).

"Condition, Disease, Disorder". AMA Style Insider. American Medical Association . Diakses tanggal 20 August 2019. • ^ American Psychiatric Association Task Force on DSM-IV (2000). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (edisi ke-4th). Washington, DC: American Psychiatric Association.

ISBN 978-0-89042-025-6. • ^ "Expat Insurance Glossary by The Insurance Page". Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 October 2008 . Diakses tanggal 20 November 2008. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Lenzer, Jeanne (14 August 2012). "Blood pressure drugs for mild hypertension: Not proven to prevent heart attacks, strokes, or early death". Slate. Diarsipkan dari versi asli tanggal 15 August 2012 .

Diakses tanggal 16 August 2012. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Viera, Anthony J. (2011), "Predisease: when does it make sense?", Epidemiologic Reviews, 33 (1), hlm. 122–34, doi: 10.1093/epirev/mxr002, PMID 21624963 • ^ "clinical disease". Mosby's Medical Dictionary (edisi ke-9th). Elsevier. 2009 . Diakses tanggal 6 November 2017 – via medical-dictionary.thefreedictionary.com. • ^ Shiel, William C.

Jr. (2019-06-20). "Definition of Flare". MedicineNet . Diakses tanggal 2019-12-21. • ^ "subclinical" . Diakses tanggal 6 November 2017 – via medical-dictionary.thefreedictionary.com. • ^ Loscalzo J1, Kohane I, Barabasi AL. Human disease classification in the postgenomic era: a complex systems approach to human pathobiology. Mol Syst Biol. 2007;3:124. Epub 2007 Jul 10.

• ^ Alexander van Geen, et al. "Impact of population and latrines on fecal contamination of ponds in rural Bangladesh." Science Of The Total Environment 409, no. 17 (August 2011): 3174–82. • ^ Olson, James Stuart (2002).

Bathsheba's breast: women, cancer & history. Baltimore: The Johns Hopkins University Press. hlm. 168–70. ISBN 978-0-8018-6936-5. • ^ Marcantonio, Matteo; Pascoe, Emily; Baldacchino, Frederic (January 2017). "Sometimes Scientists Get the Flu. Wrong…!". Trends in Parasitology. 33 (1): 7–9.

doi: 10.1016/j.pt.2016.10.005. PMID 27856180. • ^ Hardy, Paul A.; Hardy, Paul A. J. (1997). Chronic Pain Management: The Essentials. Cambridge University Press. hlm. 10. ISBN 978-1-900151-85-6. OCLC 36881282. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 October 2015. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Tuller, David (4 March 2011). "Defining an illness is fodder for debate". The New York Times. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 January 2017.

Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "National Hospital Morbidity Database". {/INSERTKEYS}

faktor penyebab gangguan kesehatan, kecuali

aihw.gov.au. Australian Institute of Health and Welfare. Diarsipkan dari versi asli tanggal 13 August 2013. Diakses tanggal 11 July 2013. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Hospital Morbidity Database (HMDB)". statcan.gc.ca. Statistics Canada. 2007-10-24. Diarsipkan dari versi kecuali tanggal 30June2016. Diakses tanggal 21 September 2015. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan); Periksa nilai tanggal di: -archivedate= ( bantuan) • ^ "European Hospital Morbidity Database".

who.int. World Health Organization. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2 September 2013. • ^ a b "Disease and injury regional estimates for 2004". who.int. World Health Organization. Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 Faktor penyebab gangguan kesehatan 2010. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Standard DALYs (3% discounting, age weights).

Also DALY spreadsheet and YLL spreadsheet. • ^ Gerten-Jackson, Carol. "The Tuscan General Alessandro del Borro". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2 May 2009. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Haslam DW, James WP (2005).

"Obesity". Lancet. 366 (9492): 1197–209. doi: 10.1016/S0140-6736(05)67483-1. PMID 16198769. • ^ Fadiman, Anne (1997). The spirit catches you and you fall down: a Hmong child, her American doctors, and the collision of two cultures. New York: Farrar, Straus, and Giroux. ISBN 978-0-374-52564-4. • ^ Sulik, Gayle (2010). Pink Ribbon Blues: How Breast Cancer Culture Undermines Women's Health. New York: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-974045-1. • ^ Martin, Judith (2005).

faktor penyebab gangguan kesehatan, kecuali

Miss Manners' Guide to Excruciatingly Correct Behavior. New York: W.W. Norton & Co. hlm. 703. ISBN 978-0-393-05874-1. OCLC 57549405. • ^ a b c d Gwyn, Richard (1999). "10". Dalam Cameron, Lynne; Low, Graham. Researching and applying metaphor. Cambridge, England: Cambridge University Press.

ISBN 978-0-521-64964-3. OCLC 40881885. • ^ a b c Span, Paula (22 April 2014). "Fighting Words Are Rarer Among British Doctors". The New York Times. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2 July 2014. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b Diedrich, Lisa (2007).

Treatments: language, politics, and the culture of illness. Minneapolis: University of Minnesota Press. hlm. 8, 29. ISBN 978-0-8166-4697-5. OCLC 601862594. • ^ Hanne Kecuali, Hawken SJ (December 2007). "Metaphors for illness in contemporary media".

Med Humanit. 33 (2): 93–99.

faktor penyebab gangguan kesehatan, kecuali

kecuali 10.1136/jmh.2006.000253. PMID 23674429. Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] • Media terkait penyakit dan gangguan di Wikimedia Commons Kategori tersembunyi: kecuali Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • Halaman yang menggunakan rujukan web tanpa URL faktor penyebab gangguan kesehatan Halaman yang menggunakan rujukan dengan accessdate dan tanpa URL • Halaman dengan galat rujukan archiveurl • Pemeliharaan CS1: Tanpa pipa • Galat CS1: tanggal • Artikel Wikipedia dengan penanda GND • Artikel Wikipedia dengan penanda LCCN • Artikel Wikipedia dengan penanda NDL • Artikel Wikipedia dengan penanda HDS • Artikel Wikipedia dengan penanda MA • Artikel Wikipedia dengan penanda NARA • Artikel Wikipedia dengan penanda ganda • Halaman ini terakhir diubah pada 6 Desember 2021, pukul 01.45.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • • Diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan ciri-ciri berupa tingginya kadar gula (glukosa) darah. Kecuali merupakan sumber energi utama bagi sel tubuh kecuali. Glukosa yang menumpuk di dalam darah akibat tidak diserap sel tubuh dengan baik dapat menimbulkan berbagai gangguan organ tubuh.

Jika diabetes tidak dikontrol dengan baik, dapat timbul berbagai komplikasi yang membahayakan nyawa penderita.

Kadar gula dalam darah dikendalikan oleh hormon insulin yang diproduksi oleh pankreas, yaitu organ yang terletak di belakang lambung. Pada penderita diabetes, pankreas kecuali mampu memproduksi insulin sesuai kebutuhan tubuh. Tanpa insulin, sel-sel tubuh tidak dapat menyerap dan mengolah glukosa menjadi energi. Jenis-Jenis Diabetes Secara umum, diabetes dibedakan menjadi dua jenis, yaitu diabetes tipe 1 dan tipe 2.

Diabetes tipe 1 terjadi karena sistem kekebalan tubuh penderita menyerang dan menghancurkan sel-sel pankreas yang memproduksi insulin. Hal ini mengakibatkan peningkatan kadar glukosa darah, sehingga terjadi kerusakan pada organ-organ tubuh. Diabetes tipe 1 dikenal juga dengan diabetes autoimun. Pemicu timbulnya keadaan autoimun ini masih belum diketahui dengan pasti. Dugaan paling kuat adalah disebabkan oleh faktor genetik dari penderita yang dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan.

Diabetes tipe 2 merupakan jenis diabetes yang lebih sering terjadi. Diabetes jenis ini disebabkan oleh sel-sel tubuh yang menjadi kurang sensitif terhadap insulin, sehingga insulin yang dihasilkan tidak dapat dipergunakan dengan baik (resistensi sel tubuh terhadap insulin). Sekitar 90-95% persen penderita diabetes faktor penyebab gangguan kesehatan dunia menderita diabetes tipe ini. Selain kedua jenis diabetes tersebut, terdapat jenis diabetes khusus pada ibu hamil yang dinamakan diabetes gestasional.

Diabetes pada kehamilan disebabkan oleh perubahan hormon, dan gula darah akan kembali normal setelah ibu hamil menjalani persalinan. Gejala Diabetes Diabetes tipe 1 dapat berkembang dengan cepat dalam beberapa minggu, bahkan beberapa hari saja.

Sedangkan pada diabetes tipe 2, banyak penderitanya yang tidak menyadari bahwa mereka telah menderita diabetes selama bertahun-tahun, karena gejalanya cenderung tidak spesifik. Beberapa ciri-ciri diabetes tipe 1 dan tipe 2 meliputi: • Sering merasa haus. • Sering buang air kecil, terutama di malam hari. • Sering merasa sangat lapar.

• Turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas. • Berkurangnya massa otot. • Terdapat keton dalam urine. Keton adalah produk sisa dari pemecahan otot dan lemak akibat tubuh tidak dapat menggunakan gula sebagai sumber energi. • Lemas. • Pandangan kabur. • Luka yang sulit sembuh. • Sering mengalami infeksi, misalnya pada gusi, kulit, vagina, atau saluran kemih. Beberapa gejala lain juga bisa menjadi ciri-ciri bahwa seseorang mengalami diabetes, antara lain: • Mulut kering.

• Rasa terbakar, kaku, dan nyeri pada kaki. • Gatal-gatal. • Disfungsi ereksi atau impotensi. • Mudah tersinggung. • Mengalami hipoglikemia reaktif, yaitu hipoglikemia yang terjadi beberapa jam setelah makan akibat produksi insulin yang berlebihan. • Munculnya bercak-bercak hitam di sekitar leher, ketiak, faktor penyebab gangguan kesehatan selangkangan, ( akantosis nigrikans) sebagai tanda terjadinya resistensi insulin. Beberapa orang dapat mengalami kondisi prediabetes, yaitu kondisi ketika glukosa dalam darah di atas normal, namun tidak cukup tinggi untuk didiagnosis sebagai diabetes.

Seseorang yang menderita prediabetes dapat menderita diabetes tipe 2 jika tidak ditangani dengan baik. Faktor risiko diabetes Seseorang akan lebih mudah mengalami diabetes tipe 1 jika memiliki faktor-faktor risiko, seperti: • Memiliki keluarga dengan riwayat diabetes tipe 1.

• Menderita infeksi virus. • Orang berkulit putih diduga lebih mudah mengalami diabetes tipe 1 dibandingkan ras lain. • Diabetes tipe 1 banyak terjadi pada usia 4-7 tahun dan 10-14 tahun, walaupun diabetes tipe 1 dapat muncul pada usia berapapun. Sedangkan pada kasus diabetes tipe 2, seseorang akan lebih mudah mengalami kondisi ini jika memiliki faktor-faktor risiko, seperti: • Kelebihan berat badan. • Memiliki keluarga dengan riwayat diabetes tipe 2.

• Memiliki ras kulit hitam atau asia. • Kurang aktif. Aktivitas fisik membantu mengontrol berat badan, membakar glukosa sebagai energi, dan membuat sel tubuh lebih sensitif terhadap insulin. Kurang aktif beraktivitas fisik menyebabkan seseorang lebih mudah terkena diabetes tipe 2. • Usia. Risiko terjadinya diabetes tipe 2 akan meningkat seiring bertambahnya usia. • Menderita tekanan darah tinggi ( hipertensi). • Memiliki kadar kolesterol kecuali trigliserida abnormal.

Seseorang yang memiliki kadar kolesterol baik atau HDL ( high-density lipoportein) yang rendah dan kadar trigliserida yang tinggi lebih berisiko mengalami diabetes tipe 2. Khusus pada wanita, ibu hamil yang menderita diabetes gestasional dapat lebih mudah mengalami diabetes tipe 2.

Selain itu, wanita yang memiliki riwayat penyakit polycystic ovarian syndrome (PCOS) juga lebih mudah mengalami diabetes tipe 2. Diagnosis Diabetes Gejala diabetes faktor penyebab gangguan kesehatan berkembang secara bertahap, kecuali diabetes tipe 1 yang gejalanya dapat muncul secara tiba-tiba.

Dikarenakan diabetes seringkali tidak terdiagnosis pada awal kemunculannya, maka orang-orang yang berisiko terkena penyakit ini dianjurkan menjalani pemeriksaan rutin. Di antaranya adalah: • Orang yang berusia di atas 45 tahun.

• Wanita yang pernah mengalami diabetes gestasional saat hamil. • Orang yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) di atas 25. • Orang yang sudah didiagnosis menderita prediabetes.

Tes gula darah merupakan pemeriksaan yang mutlak akan dilakukan untuk mendiagnosis diabetes tipe 1 atau tipe 2. Hasil pengukuran gula darah akan menunjukkan apakah seseorang menderita diabetes atau tidak. Dokter akan merekomendasikan pasien untuk menjalani tes gula darah pada waktu dan dengan metode tertentu.

Metode tes gula darah yang dapat dijalani oleh pasien, antara lain: Tes gula darah sewaktu Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa darah pada jam tertentu secara acak. Tes ini tidak memerlukan pasien untuk berpuasa terlebih dahulu. Jika hasil tes gula darah sewaktu menunjukkan kadar gula 200 mg/dL atau lebih, pasien dapat didiagnosis menderita diabetes.

Tes gula darah puasa Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa darah pada saat pasien berpuasa. Pasien akan diminta berpuasa terlebih dahulu selama 8 jam, kemudian menjalani pengambilan sampel darah untuk diukur kadar gula darahnya. Hasil tes gula darah puasa yang menunjukkan kadar gula darah kurang dari 100 mg/dL menunjukkan kadar gula darah normal.

Hasil tes gula darah puasa di antara 100-125 mg/dL menunjukkan pasien menderita prediabetes. Sedangkan hasil tes gula darah puasa 126 mg/dL atau lebih menunjukkan pasien menderita diabetes. Tes toleransi glukosa Tes ini dilakukan dengan meminta pasien untuk berpuasa selama semalam terlebih dahulu. Pasien kemudian akan menjalani pengukuran tes gula darah puasa. Setelah tes tersebut dilakukan, pasien akan diminta meminum larutan gula khusus.

Kemudian sampel gula darah akan diambil kembali setelah 2 jam minum larutan gula. Hasil tes toleransi glukosa di bawah 140 mg/dL menunjukkan kadar gula darah normal. Hasil tes tes toleransi glukosa dengan kadar gula antara 140-199 mg/dL menunjukkan kondisi prediabetes.

Hasil tes toleransi glukosa dengan kadar gula 200 mg/dL atau lebih menunjukkan pasien menderita diabetes. Tes Hb A1C ( glycated haemoglobin test) Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa rata-rata pasien selama 2-3 bulan ke belakang. Tes ini akan mengukur kadar gula darah yang terikat pada hemoglobin, yaitu protein yang berfungsi membawa oksigen dalam darah.

Dalam tes HbA1C, pasien tidak perlu menjalani puasa terlebih dahulu. Hasil tes HbA1C di bawah 5,7 % merupakan kondisi normal. Hasil tes HbA1C di antara 5,7-6,4% menunjukkan pasien mengalami kondisi prediabetes. Hasil tes HbA1C di atas 6,5% menunjukkan pasien menderita diabetes.

Selain tes HbA1C, pemeriksaan estimasi glukosa rata-rata (eAG) juga bisa dilakukan untuk mengetahui kadar gula darah dengan lebih akurat.

Hasil dari tes gula darah akan diperiksa oleh dokter dan diinformasikan kepada pasien. Jika pasien didiagnosis menderita diabetes, dokter akan merencanakan langkah-langkah pengobatan yang akan dijalani. Khusus bagi pasien yang dicurigai menderita diabetes tipe 1, dokter akan merekomendasikan tes autoantibodi untuk memastikan apakah pasien memiliki antibodi yang merusak jaringan tubuh, termasuk pankreas.

Pengobatan Diabetes Pasien diabetes diharuskan untuk mengatur pola makan dengan memperbanyak konsumsi buah, sayur, protein dari biji-bijian, serta makanan rendah kalori dan lemak. Pilihan makanan untuk penderita diabetes juga sebaiknya benar-benar diperhatikan. Bila perlu, pasien diabetes juga dapat mengganti asupan gula dengan pemanis yang lebih aman untuk penderita diabetes, sorbitol.

Pasien diabetes dan keluarganya dapat melakukan konsultasi gizi dan pola makan dengan dokter atau dokter gizi untuk mengatur pola makan sehari-hari. Untuk membantu mengubah gula darah menjadi energi dan meningkatkan sensitivitas sel terhadap insulin, pasien faktor penyebab gangguan kesehatan dianjurkan untuk berolahraga secara rutin, setidaknya 10-30 menit tiap hari. Pasien dapat berkonsultasi dengan dokter untuk memilih olahraga dan aktivitas fisik yang sesuai. Pada diabetes tipe 1, pasien akan membutuhkan terapi insulin untuk mengatur gula darah sehari-hari.

Selain itu, beberapa pasien diabetes kecuali 2 juga disarankan untuk menjalani terapi insulin untuk mengatur gula darah. Insulin tambahan tersebut akan diberikan melalui suntikan, bukan dalam bentuk obat minum.

Dokter akan mengatur jenis dan dosis insulin yang digunakan, serta memberitahu cara menyuntiknya. Pada kasus diabetes tipe 1 yang berat, dokter dapat merekomendasikan operasi pencangkokan (transplantasi) pankreas untuk mengganti pankreas yang mengalami kerusakan.

Pasien diabetes tipe 1 yang berhasil menjalani operasi tersebut tidak lagi memerlukan terapi insulin, namun harus mengonsumsi obat imunosupresif secara rutin. Pada pasien diabetes tipe 2, dokter akan meresepkan kecuali, salah satunya adalah metformin, obat minum yang berfungsi untuk menurunkan produksi glukosa dari kecuali.

Selain itu, obat diabetes lain yang bekerja dengan cara menjaga kadar glukosa dalam darah agar tidak terlalu tinggi setelah pasien makan, juga dapat diberikan. Dokter juga dapat menyertai obat-obatan di atas dengan pemberian suplemen atau vitamin untuk mengurangi risiko terjadinya komplikasi. Misalnya, pasien diabetes yang sering mengalami gejala kesemutan akan diberikan vitamin neurotropik.

Vitamin neurotropik umumnya terdiri dari vitamin B1, B6, dan B12. Vitamin-vitamin tersebut bermanfaat untuk menjaga fungsi dan struktur saraf tepi. Hal ini sangat penting untuk dijaga pada pasien diabetes tipe 2 untuk menghindari komplikasi neuropati diabetik yang cukup sering terjadi. Pasien diabetes harus mengontrol gula darahnya secara disiplin melalui pola makan sehat agar gula darah tidak mengalami kenaikan hingga di atas normal. Selain mengontrol kadar glukosa, pasien dengan kondisi ini juga akan diaturkan jadwal untuk menjalani tes HbA1C guna memantau kadar gula darah selama 2-3 bulan terakhir.

Komplikasi Diabetes Sejumlah komplikasi yang dapat muncul akibat diabetes tipe 1 dan 2 adalah: • Penyakit jantung • Stroke • Gagal ginjal kronis • Neuropati diabetik • Gangguan penglihatan • Katarak • Depresi • Demensia • Gangguan pendengaran • Frozen shoulder • Luka dan infeksi pada kaki yang sulit sembuh • Kerusakan kulit atau gangrene akibat infeksi bakteri dan jamur, termasuk bakteri pemakan daging Diabetes akibat kehamilan dapat menimbulkan komplikasi pada ibu hamil dan bayi.

Contoh komplikasi pada ibu hamil adalah preeklamsia. Sedangkan contoh komplikasi yang dapat muncul pada bayi adalah: • Kelebihan berat badan saat lahir. • Kelahiran prematur. • Gula darah rendah (hipoglikemia). • Keguguran. • Penyakit kuning.

• Meningkatnya kecuali menderita diabetes tipe 2 pada saat bayi sudah menjadi dewasa. Pencegahan Diabetes Diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah karena pemicunya belum diketahui.

Sedangkan, diabetes tipe 2 dan diabetes gestasional dapat dicegah, yaitu dengan pola hidup faktor penyebab gangguan kesehatan. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah diabetes, di antaranya adalah: • Mengatur frekuensi dan menu makanan menjadi lebih sehat • Menjaga berat badan ideal • Rutin berolahraga • Rutin menjalani pengecekan gula darah, setidaknya sekali dalam setahun
Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan.

Penyakit akibat infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang berat, hingga kematian. Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih faktor penyebab gangguan kesehatan dengan nama virus Corona adalah jenis baru dari Coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini dapat menyerang siapa saja, mulai dari lansia (golongan usia lanjut), orang dewasa, anak-anak dan bayi, sampai ibu hamil dan ibu menyusui.

Infeksi virus Corona yang disebut COVID-19 ( Corona Virus Disease 2019) pertama kali ditemukan kecuali kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan sangat cepat dan menyebar ke hampir semua negara, termasuk Indonesia, hanya faktor penyebab gangguan kesehatan waktu beberapa bulan.

Hal tersebut membuat beberapa negara memberlakukan kebijakan lockdown untuk mencegah virus Corona makin meluas. Di Indonesia, pemerintah menerapkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk menekan penyebaran virus ini. Coronavirus adalah kumpulan virus yang menginfeksi sistem pernapasan.

Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia). Selain virus SARS-CoV-2 atau virus Corona, virus yang termasuk dalam kelompok Coronavirus adalah virus penyebab Severe Acute Respiratory Syndrome ( SARS) dan virus penyebab Middle-East Respiratory Syndrome ( MERS).

Meski disebabkan oleh virus dari kelompok yang sama, yakni Kecuali, COVID-19 memiliki beberapa perbedaan dengan SARS dan MERS, antara lain dalam hal kecepatan penyebaran dan keparahan gejala. Bila Anda memerlukan pemeriksaan COVID-19, klik tautan di bawah ini agar Anda dapat diarahkan ke fasilitas kesehatan terdekat: • Rapid Test Antibodi • Swab Antigen (Rapid Test Antigen) • PCR Tingkat Kematian Akibat Virus Corona (COVID-19) Menurut data yang dirilis Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, jumlah kasus terkonfirmasi positif hingga 15 Maret 2022 adalah 5.914.532 orang, dengan jumlah kematian 152.745 jiwa.

Dari faktor penyebab gangguan kesehatan tersebut, diketahui tingkat kematian ( case fatality rate) akibat COVID-19 adalah sekitar 2,6%. Jumlah ini menurun dari 3,4% pada bulan Januari 2022 lalu. Jika dilihat berdasarkan usia, kelompok usia >60 tahun memiliki persentase angka kematian yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.

Sedangkan, bila dilihat dari jenis kelamin, 52,3 % penderita yang meninggal akibat COVID-19 adalah laki-laki dan 47,7% sisanya adalah perempuan. Meski jumlah kematian akibat COVID-19 tergolong tinggi, angka kesembuhan dari COVID-19 juga terus bertambah. Data terakhir menyebutkan, jumlah penyintas atau orang yang pernah terinfeksi virus Corona kemudian sembuh adalah 5.462.344 orang.

Gejala Virus Corona (COVID-19) Gejala awal infeksi virus Corona atau COVID-19 bisa menyerupai gejala flu, yaitu demam, pilek, batuk kering, sakit tenggorokan, dan sakit kepala. Setelah itu, gejala dapat hilang dan sembuh atau malah memberat. Penderita COVID-19 dengan gejala berat bisa mengalami demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak napas, atau nyeri dada. Keluhan tersebut muncul ketika tubuh bereaksi melawan virus Corona.

Secara umum, ada tiga gejala umum yang bisa menandakan seseorang terinfeksi virus Corona, yaitu: • Demam (suhu tubuh di atas 38 derajat Celsius) • Batuk kering • Sesak napas Ada beberapa gejala lain yang juga bisa muncul pada infeksi virus Faktor penyebab gangguan kesehatan meskipun lebih jarang, yaitu: • Diare • Sakit kepala • Konjungtivitis • Hilangnya kemampuan mengecap rasa • Hilangnya kemampuan untuk mencium bau ( anosmia) • Ruam di kulit Gejala-gejala COVID-19 ini umumnya muncul dalam waktu 2 hari sampai 2 minggu setelah penderita terpapar virus Corona.

Sebagian pasien yang terinfeksi virus Corona bisa mengalami penurunan oksigen tanpa adanya gejala apa pun. Kondisi ini disebut happy hypoxia. Guna memastikan apakah gejala-gejala tersebut merupakan gejala dari virus Corona, diperlukan rapid test atau PCR. Untuk menemukan tempat melakukan rapid test atau PCR di sekitar rumah Anda, klik di sini. Kapan harus ke dokter Segera lakukan faktor penyebab gangguan kesehatan mandiri jika Anda mengalami gejala infeksi virus Corona (COVID-19) seperti yang telah disebutkan di atas, terutama jika dalam 2 minggu terakhir Anda berada di daerah yang memiliki kasus COVID-19 atau kontak dengan penderita COVID-19.

Setelah itu, hubungi hotline COVID-19 di 119 Ext. 9 untuk mendapatkan pengarahan lebih lanjut. Bila Anda menduga telah terpapar virus Corona tetapi tidak mengalami faktor penyebab gangguan kesehatan apa pun atau bergejala ringan, tidak perlu memeriksakan diri ke rumah sakit. Anda cukup isolasi mandiri di rumah selama 10 hari sejak munculnya gejala, ditambah dengan 3 hari bebas gejala demam dan gangguan pernapasan.

Jika muncul gejala, baru lakukan isolasi mandiri dan tanyakan kepada dokter melalui telepon atau aplikasi mengenai tindakan yang perlu dilakukan dan obat yang perlu dikonsumsi.

Bila Anda memerlukan pemeriksaan langsung oleh dokter, jangan langsung ke rumah sakit, karena risiko Anda tertular atau menularkan virus Corona ke orang lain akan meningkat. Anda dapat membuat janji konsultasi dengan dokter di rumah sakit melalui aplikasi ALODOKTER agar bisa diarahkan ke dokter terdekat yang dapat membantu Anda. ALODOKTER juga memiliki fitur untuk membantu Anda memeriksa risiko tertular virus Corona dengan lebih mudah. Untuk menggunakan fitur kecuali, silakan klik gambar di bawah ini.

Penyebab Virus Corona (COVID-19) Infeksi virus Corona atau COVID-19 disebabkan oleh C oronavirus, yaitu kelompok virus yang menginfeksi sistem pernapasan. Pada sebagian besar kasus, C oronavirus hanya kecuali infeksi pernapasan ringan sampai sedang, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti pneumonia, MERS ( Middle-East Respiratory Syndrome) dan SARS ( Severe Acute Respiratory Syndrome). Ada dugaan bahwa virus Corona awalnya ditularkan dari hewan ke manusia.

Namun, kemudian diketahui bahwa virus Corona juga menular dari manusia ke manusia. Seseorang dapat tertular COVID-19 melalui berbagai cara, yaitu: • Tidak sengaja menghirup percikan ludah (droplet) yang keluar saat penderita COVID-19 batuk atau bersin • Memegang mulut atau hidung tanpa mencuci tangan terlebih dahulu setelah menyentuh benda yang terkena cipratan ludah penderita COVID-19 • Melakukan kontak jarak dekat dengan penderita COVID-19 Virus Corona juga bisa menular melalui benda-benda yang sering disentuh, misalnya uang, gagang pintu, atau permukaan meja.

Virus Corona dapat menginfeksi siapa saja, tetapi efeknya akan lebih berbahaya atau bahkan fatal bila terjadi pada orang lanjut usia, ibu hamil, orang yang memiliki penyakit tertentu, perokok, atau orang yang daya tahan tubuhnya lemah, misalnya pada penderita kanker. Karena mudah menular, virus Corona juga berisiko tinggi menginfeksi para tenaga medis yang merawat pasien COVID-19. Oleh sebab itu, para tenaga medis dan orang-orang yang sering kontak dengan pasien Faktor penyebab gangguan kesehatan perlu menggunakan alat pelindung diri (APD).

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh WHO, terdapat beberapa varian SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Varian yang dimaksud dibagi menjadi dua jenis, yaitu variant of concern (VOC) dan variant of interest (VOI). VOC adalah varian virus SARS-CoV-2 yang dapat meningkatkan risiko penularan COVID-19 dengan cepat, memperparah gejala, dan mengurangi efektivitas terapi. Berikut ini adalah jenis variant of concern tersebut: • Varian Alfa (B.1.1.7) yang pertama kali ditemukan di Inggris pada September 2020.

faktor penyebab gangguan kesehatan, kecuali

• Varian Beta (B.1.351/B.1.351.2/B.1.351.3) yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan pada Mei 2020. • Varian Gamma (P.1/P.1.1/P.1.2) yang pertama kali ditemukan di Brazil pada November 2020. • Varian Delta (B.1.617.2/AY.1/AY.2/AY.3) yang pertama kali ditemukan di India pada Oktober 2020. • Varian Omicron (B.1.1.529) yang pertama kali ditemukan di beberapa negara pada November 2021. Sementara itu, VOI adalah varian yang saat ini sedang diteliti karena dicurigai berpotensi menjadi VOC.

Jenis varian tersebut adalah: • Varian Lamda (c.37) yang pertama kali ditemukan di Peru pada Desember 2020. • Varian Mu (B.1621) yang pertama kali ditemukan di Kolombia pada Januari 2021. Diagnosis Virus Corona (COVID-19) Untuk menentukan apakah pasien terinfeksi virus Corona, dokter akan menanyakan gejala yang dialami pasien. Dokter juga akan bertanya apakah pasien tinggal di daerah atau baru saja bepergian ke wilayah yang memiliki banyak kasus COVID-19, serta apakah pasien kontak dengan penderita atau orang yang diduga terinfeksi virus Corona sebelum gejala muncul.

Selanjutnya, guna memastikan diagnosis, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan berikut: • Rapid test, untuk mendeteksi antibodi (IgM dan IgG) yang diproduksi oleh tubuh dalam melawan virus Corona • Rapid test antigen, untuk mendeteksi antigen, yaitu protein yang ada di bagian terluar virus • Swab test atau tes PCR ( polymerase chain reaction), untuk mendeteksi virus Corona di dalam lapisan faktor penyebab gangguan kesehatan • CT scan atau Rontgen dada, untuk mendeteksi infiltrat atau cairan di paru-paru • Tes darah lengkap, untuk memeriksa kadar sel darah putih dan C-reactive protein Hasil rapid test COVID-19 positif kemungkinan besar menunjukkan bahwa Anda memang sudah terinfeksi virus Corona, tetapi bisa juga berarti Anda terinfeksi kuman atau virus faktor penyebab gangguan kesehatan lain.

faktor penyebab gangguan kesehatan, kecuali

Sebaliknya, hasil rapid test COVID-19 negatif belum tentu menandakan bahwa Anda mutlak terbebas dari virus Corona. Pengobatan Virus Corona (COVID-19) Pada pasien bergejala ringan atau tanpa gejala, dokter akan menyarankan untuk isolasi mandiri di rumah, sambil tetap melakukan langkah-langkah pencegahan penyebaran infeksi virus Corona.

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan oleh dokter adalah: • Merujuk pasien dengan gejala berat untuk menjalani perawatan dan karantina di rumah sakit rujukan • Meresepkan obat pereda demam dan nyeri yang aman dan sesuai dengan kondisi pasien • Menganjurkan pasien untuk melakukan isolasi mandiri dan istirahat yang cukup • Menganjurkan pasien untuk banyak minum air putih untuk menjaga kadar cairan tubuh Sementara, pada pasien dengan gejala berat, dokter akan memberikan rujukan untuk menjalani karantina di rumah sakit rujukan.

Metode perawatan yang dapat diberikan antara lain: • Pemberian infus cairan agar tetap terhidrasi • Pemasangan ventilator atau alat bantu napas • Faktor penyebab gangguan kesehatan obat, seperti pengencer darah, antiperadangan, antiinterleukin-6 (IL-6), remdesivir, atau favipiravir Komplikasi Virus Corona (COVID-19) Pada kasus yang parah, infeksi virus Corona bisa menyebabkan beberapa komplikasi berikut ini: • Pneumonia(infeksi paru-paru) • Infeksi sekunder pada organ lain • Gagal ginjal • Acute cardiac injury • Acute respiratory distress syndrome • Kematian Di samping itu, ada pula istilah long haul COVID-19.

Istilah ini merujuk kepada seseorang yang sudah dinyatakan sembuh melalui hasil negatif pemeriksaan PCR, tetapi tetap mengalami keluhan, seperti lemas, batuk, nyeri sendi, nyeri dada, sulit berkonsentrasi, jantung berdebar, atau demam yang hilang timbul. Pencegahan Virus Corona (COVID-19) Saat ini, Indonesia sedang menjalankan program vaksinasi COVID-19 secara bertahap.

Hingga Maret 2022, data menunjukkan 92,89% penduduk telah menerima vaksin dosis pertama dan sekitar 72,88% telah menerima vaksin dosis kedua. Tambahannya, sebanyak 6,67% penduduk sudah menerima vaksin booster. Vaksinasi COVID-19 bertujuan untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap virus Corona.

Faktor penyebab gangguan kesehatan itu, vaksinasi juga bertujuan untuk membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity. Dengan begitu, masyarakat yang tidak dapat menjalani vaksin karena memiliki kondisi tertentu, seperti reaksi alergi berat terhadap vaksin, dapat terlindungi.

Untuk mencapai tujuan di atas, vaksin COVID-19 kini sudah dapat diberikan pada anak usia 6–18 tahun, ibu hamil, dan ibu menyusui. Sementara untuk orang yang memiliki riwayat penyakit atau menderita kondisi tertentu, vaksinasi bisa dilakukan, tetapi harus ada izin dari dokter. Vaksinasi merupakan cara terbaik untuk mencegah COVID-19. Namun, Anda juga tetap harus menghindari faktor-faktor yang bisa menyebabkan Anda terinfeksi virus Corona, yaitu: • Terapkan physical distancing, yaitu menjaga jarak minimal 1 meter dari orang lain, dan jangan dulu ke luar rumah kecuali ada keperluan mendesak.

• Gunakan masker saat beraktivitas di tempat umum atau keramaian, termasuk saat pergi berbelanja bahan makanan atau mengikuti ibadah di hari raya. • Rutin mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer yang mengandung alkohol minimal 60%, terutama setelah beraktivitas di luar rumah atau di tempat umum. • Jangan menyentuh mata, mulut, dan hidung sebelum mencuci tangan.

• Tingkatkan daya tahan tubuh dengan menjalani pola hidup faktor penyebab gangguan kesehatan, seperti mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara rutin, beristirahat yang cukup, dan mencegah stres. • Hindari kontak dengan penderita COVID-19, orang yang dicurigai positif terinfeksi virus Corona, atau orang yang sedang sakit demam, batuk, atau pilek.

• Tutup mulut dan hidung dengan tisu saat batuk atau bersin, kemudian buang tisu ke tempat sampah. kecuali Jaga kebersihan lingkungan dan kebersihan rumah, termasuk benda-benda yang sering disentuh. Untuk orang yang diduga terkena COVID-19 (termasuk kategori suspek dan probable) yang faktor penyebab gangguan kesehatan disebut sebagai ODP (orang dalam pemantauan) maupun PDP (pasien dalam pengawasan), ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar tidak menularkan virus Corona ke orang lain, yaitu: • Lakukan isolasi mandiri dengan cara tinggal terpisah dari orang lain untuk sementara waktu.

Bila tidak memungkinkan, gunakan kamar tidur dan kamar mandi yang berbeda dengan yang digunakan orang lain.

• Jangan keluar rumah, kecuali untuk mendapatkan pengobatan. • Hubungi pihak rumah sakit untuk menjemput bila gejala yang Anda alami bertambah berat. • Larang orang lain untuk mengunjungi atau menjenguk Anda sampai Anda benar-benar sembuh. • Sebisa mungkin jangan melakukan pertemuan dengan orang yang sedang sedang sakit. • Hindari berbagi penggunaan alat makan dan minum, alat mandi, serta perlengkapan tidur dengan orang lain. • Pakai masker dan sarung tangan bila sedang berada di tempat umum atau sedang bersama orang lain.

kecuali Gunakan tisu untuk menutup mulut dan hidung bila batuk atau bersin, lalu segera buang tisu ke tempat sampah. Perlu diketahui, kondisi-kondisi yang perlu ditangani langsung oleh dokter di rumah sakit, seperti melahirkan, operasi, cuci darah, atau vaksinasi anak, akan dilakukan dengan beberapa penyesuaian selama pandemi COVID-19.

Tujuannya adalah agar Anda tidak tertular virus Corona selama di rumah sakit. Apabila Anda ingin mendapatkan lebih banyak informasi mengenai gejala, pencegahan, dan penanganan infeksi virus Corona, silakan download aplikasi ALODOKTER di Google Play atau App Store. Melalui aplikasi ALODOKTER, Anda juga bisa chat langsung dengan dokter dan membuat janji konsultasi dengan dokter di rumah sakit.

Kategori Kesembuhan Gangguan Jiwa, ODGJ dan Keluarga Harus Mengenalnya untuk Mencegah Kambuh




2022 www.videocon.com