Di atas ilmu ada akhlak

di atas ilmu ada akhlak

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG “Aku diciptakan dari api sedangkan Adam diciptakan dari tanah” ucap Iblis sembari menyombongkan diri. Allah menjadi murka dan menjatuhi hukuman berupa kekekalan di dalam neraka. Sebenarnya iblis adalah makhluk Allah yang paling mulia. Ketinggian ilmunya mengalahkan malaikat yang diciptakan tanpa adanya hawa nafsu di tubuhnya. Ilmu inilah yang membuat Iblis mempunyai derajat yang lebih tinggi dibandingkan makhluk lainnya. Namun kesombongan yang dilakukan telah meruntuhkan tatanan keilmuan yang telah dibina.

Iblis diusir dari surga dan Nabi Adam beserta istrinya dibiarkan dalam kenikmatan surga. Penggalan cerita di atas tidak bisa langsung kita simpulkan bahwa akhlak lebih utama daripada ilmu. Sebelum kedatangan manusia, Iblis lah makhluk yang paling mulia karena ketinggian ilmunya. Bahkan kemuliaan Nabi Adam diperoleh dengan ilmu yang dimilikinya.

Baca Juga: Inilah 3 Hal yang Harus Kita Lakukan Agar Doa Segera Dikabulkan Dalam ayat yang lain, malaikat sempat meragukan penciptaan Nabi Adam. Kemudian Allah menyakinkan malaikat dengan menantang malaikat di atas ilmu ada akhlak benda-benda di sekitar. Malaikat tidak mampu menjawab karena tidak diberi pengetahuan tentang itu. Sebaliknya Nabi Adam sagat lancar menyebutkannya karena ilmu yang dimilikinya.

Kita tentu pernah mendengar pepatah “Padi semakin berisi semakin merunduk” artinya orang yang semakin berilmu akan semakin rendah hati. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa akhlak adalah puncak dari segala ilmu.

Jika orang mendapat banyak ilmu, maka akhlak yang ada pada dirinya semakin mulia. Ilmu dan akhlak akan selalu berjalan beriringan.

di atas ilmu ada akhlak

Dalam sebuah tatanan, ilmu ibarat sebagai pohon rindang. Makin subur tanahnya, makin besar tubuhnya berkembang. Setelah tumbuh besar, makin banyak angina yang menerpanya. Kadang ranting-rantingnya terbawa ke kiri ataupun ke kanan. Kadang ke atas atau ke bawah ataupun ke segala arah. Namun bila ia bisa tegar dan tidak goyah maka dalam dirinya akan muncul keindahan yang disebut buah. Buah inilah yang menandakan kesempurnaan pada dirinya.

Baca Juga: Para Ulama Ini Mengamalkan Bid'ah Hasanah, Sesatkah Mereka?

di atas ilmu ada akhlak

Begitulah tahapan pada manusia, ketidaktahuan yang ada pada manusia akan diisi oleh ilmu pengetahuan. Kemudian Allah akan memberikan cobaan untuk menguji dirinya. Seberapa besar ilmu yang ia miliki maka sebesar itu pula cobaan yang akan diterimanya.

Bila manusia mampu di atas ilmu ada akhlak dari ujian yang diberikan, maka akan muncul yang disebut cahaya ilmu. Inilah yang nantinya menjadi cikal bakal akahlakul karimah. Iblis tidak mampu melewati ujian yang diberikan Tuhan. Sehingga ia tidak mendapatkan akhlak mulia yang menjadi puncak bagi orang yang berilmu. Oleh karenanya kita tidak bisa membandingkan antara ilmu dan akhlak. Keduanya merupakan satu tahapan yang tidak bisa dipisahkan.

Akhlak tidak mungkin ada tanpa adanya ilmu. Begitupun ilmu tentu akan runtuh bila tidak ada akhlak. Ilmu adalah tahap awal mendapatkan akhlak. Dan akhlak adalah puncak dari segala ilmu pengetahuan. Maka tugas manusia adalah mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Kuasai berbagai macam ilmu yang ada.

Manusia adalah makhluk yang luar biasa. Manusia mempunyai tingkat analisis dan ketajaman batin untuk membantunya menguasai keilmuan yang ada. Baca Juga: Berilmu Tapi Tak Diamalkan, Beramal Tapi Tak Didasari Ilmu Setelah menguasai ilmu yang ada, maka tugas selanjutnya adalah tegar dan sabar menghadapi cobaan yang datang dari Allah swt.

Cobaan tersebut sejatinya semakin mengokohkan diri kita menjadi manusia seutuhnya. Jika sudah melewati semuanya, diri kita akan siap menerima kemuliaan yang diberikan Tuhan berupa akhlak mulia.

• IPA • Biologi • Farmasi • Kimia • Fisika • Matematika • Kedokteran • IPS • Sejarah • Geografi • Ekonomi • PPKN • Sosiologi • Penjas • Psikologi • Agama • Ilmu Hadist • Ilmu Al Quran • Zakat • Sejarah Islam • Akidah • Filsafat Islam • Hukum Islam • Pendidikan Islam • Teknik • Teknik Arsitektur • Teknik Elektro • Teknik Industri • Teknik Kendaraan Ringan • Teknik Lingkungan • Teknik Mesin • Teknik Sipil • Teknik Komputer Jaringan • Bahasa • Bahasa Indonesia • Bahasa Arab • Bahasa Inggris • Bahasa Jepang di atas ilmu ada akhlak Kuliah • Ilmu Komunikasi • PGSD • Sistem Planet • Antropologi • PPKN • Silabus dan RPP • Metodologi Penelitian • Kumpulan Pengertian • Kumpulan Makalah • Soal • Soal Fisika • Soal Kimia • Soal Matematika • Soal Biologi • Soal Bahasa Inggris • Soal Geografi • Info • Info Beasiswa • Info Kampus • Info Sekolah • Info CPNS • Admin • About Us • Contact Us • Disclaimer • Yuk Jadi Penulis • Privacy Policy • Pasang Iklan • Daftar Isi Ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas seputar akhlak baik dan buruk serta sifat terpuji dan tercela, berikut sifat-sifat yang harus diperkuat atau dihilangkan.

Ilmu akhlak berbicara tentang sifat-sifat, semisal kedermawanan atau kekikiran, keberanian atau kepengecutan, yang muncul dan hilang berdasarkan ikhtiar kita atau yang dapat dikendalikan manusia. [1] Secara lebih singkat lagi ilmu akhlak didefinisikan sebagai pengenalan terhadap kemuliaan akhlak dan ketercelaannya.

[2] Ilmu Akhlak menuntun manusia untuk berbuat baik dan bagaimana melakukannya, selain itu juga agar manusia dapat menghindari sifat-sifat buruk.

Dapat diketahui di sini bahwa sasaran atau objek pembahasan ilmu akhlak adalah menilai baik dan buruk, benar dan salah, pantas dan tidak pantas, serta mana yang harus dan mana yang tidak boleh dari segala sifat atau tindakan manusia yang dilakukan dalam keadaan sadar.

di atas ilmu ada akhlak

{INSERTKEYS} [3] Perbuatan-perbuatan yang mempunyai nilai baik dan buruk, mempunyai dasar-dasar yang jelas. Pada pembahasan sebelumnya sudah disebutkan bahwa ada ilmu yang membahas dan meberikan klarifikasi pada persoalan baik dan buruk, itulah Ilmu Akhlak. Tentunya ilmu tersebut mempunyai dasar. Adapun dasar-dasar Ilmu Akhlak adalah sebagai berikut: Al-Qur’an sebagai dasar (rujukan) Ilmu Akhlak yang pertama, hal ini dinilai karena keontetikannya yang lebih tinggi, dibandingkan dengan dasar-dasar yang lain.

Mengingat al-Qur’an merupakan firman Tuhan, sehingga tidak ada keraguan baginya untuk dijadikan sebagai dasar atau asas. Walau nantinya ada beberapa perangkat yang diperlukan untuk mendukungnya. Dan tidak akan dibahas di sini, karena ada ilmu khsusus yang membahasnya. Nilai-nilai yang ditawarkan oleh al-Qur’an sendiri sifatnya komprehensif.

Perbuatan baik dan buruk sudah dijelaskan di dalamnya. Hanya saja, ada yang perlu diperhatikan. Mengingat ada banyak ayat-ayat al-Qur’an yang membutuhkan penafsiran. Sehingga untuk mememudahkan, orang-orang akan merujuk kepada al-Hadits ( sebagai Asbabun Nuzul suatu ayat) dan al-Aqlu (penalaran akal).

Sejauh manakah campur tangan kedua dasar tersebut pada persoalan Ilmu Akhlak. Pastinya al-Hadits dan al-Aqlu tidak akan merubah pesan yang ingin disimpaikan oleh al-Qur’an. Dalam riwayat Aisyah pernah ditanya oleh seseorang tentang akhlak Nabi. Aisyah menjawab akhlak Nabi adalah al-Qur’an.

[6] Dengan demikian, Nabi merupakan interpretasi yang hidup terhadap al-Qur’an. Karena segala ucapan (Qauliyah), perbuatan (Fi’liyah), dan penetapan (Taqririyah) merupakan sebuah wahyu dari Allah, dan apa-apa yang datang dari Nabi senantiasa terjaga.

[7] Dapat disimpulkan bahwa al-Qur’an dan al-Hadits berasal dari sumber yang sama, yaitu Allah SWT. Di dalam al-Qur’an terlah dijelaskan bahwa Nabi itu peribadi yang agung [8].

Karena memang pada dirinya terdapat sebuah suri tauladan yang baik [9]. Keistimewaan tersebut, tidak hanya diakui oleh umat Islam saja, akan tetapi non-muslimpun mengakui hal tersebut. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Machael H. Hart tentang 100 tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah, dia menyatakan bahwa Nabi Muhammad menduduki posisi pertama. [10] Jelaslah bahwa tidak ada kecacatan dalam peribadi Nabi, karena memang tugas diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak.

[11] Jika manusia dimuliakan oleh Allah karena mempergunakan akalnya dengan baik, maka Allah akan memberikan ganjaran atas perebuatan baik yang telah dilakukan. Kedudukan manusia di mata Allah akan melebihi Malaikat apabilah mereka dapat menggunakan potensi yang telah diberikan dengan baik. Dan begitu pun sebaliknya, orang yang tidak menggunakan potensinya dengan baik, maka derajatnya lebih rendah dibandingkan dengan binatang. [12] Mereka yang dapat selamat dari kesesatan adalah orang-orang yang senantiasa mempergunakan akalnya dengan baik.

Kita lihat orang-orang yang tercerahkan sebelum datangnya al-Qur’an, apa yang mereka jadikan dasar, tidak lain adalah akal mereka. Apakah Phytagoras, Anaximenes, Aristoteles, Plato, Socrates, Plotinus, dan beberapa filsuf lainnya berpegang teguh dan senantiasa mengamalkan al-Qur’an, tentu tidak, Islam saja belum ada di zaman mereka. Tapi mereka terkenal sebagai orang-orang yang bijak. Mungkin ada sebuah jalan yang bisa ditempuh dan mengantarkan kita kepada tujuan akhir kita, yaitu untuk mencapai kebahagian.

[14] Namun tidak ideal untuk dijadikan sebagai petunjuk dan pedoman. Dengan adanya Ilmu Akhlak maka jalan yang seharusnya ditempuh dengan begitu rumit dan menjelemet, akan terasa nyaman dan penuh dengan kedamaian, karena konsep ideal dari Ilmu Akhlak.
MOJOK.CO – Nggak perlulah gunakan kepintaranmu untuk menasihati orang tuamu.

Pahamilah bahwa akhlak itu di atas ilmu. Lagian, kenapa pula kamu jadi minteri Gus Mus? Lagi-lagi, Gus Mus dilecehkan oleh anak muda. Duh, saat saya menuliskan nama Gus Mus ini, saya menjamah peci dulu, kenakan dulu. Pasalnya, saya menghormati beliau dalam segala kelengkapan ilmu dan akhlaknya: ya guru, ya orang tua, ya sesepuh, ya tokoh bangsa, ya ulama, ya waratsatul anbiya’.

Coba, carilah figur sekaliber Gus Mus hari ini. Ada berapa nama yang bisa kita sebutkan? Sedikit sekali! Sekaliber di sini maksudnya dalam hal keilmuannya, akhlaknya, kerendahan hatinya, keteladannya, hingga kebijaksanaannya.

Nah, udah tahu hanya segelintir begitu, lha kok wani-wanine loh melecehkan, menghina, hinga minteri dengan yak-yako alim dewe. Sungguh, jingan! Jajaja. Fufufu. {/INSERTKEYS}

di atas ilmu ada akhlak

Pangkal peristiwa-peristiwa menyedihkan begini tiada lain ialah terjungkir-baliknya relasi hierarkis antara akhlak atau adab dan ilmu. Lebih utama mana, sih, antara ilmu dan akhlak? Jawabannya adalah: akhlak itu di atas ilmu. Dan, untuk tujuan inilah, dalam banyak proses pendidikan ilmu agama, seperti di pesantren-pesantren, gemblengan yang lebih diutamakan kepada para santri adalah akhlaknya.

Ilmu, dengan sendirinya, akan katut. Ta’dhim, kata kunci ini menjadi salah satu metodenya. Ta’dhim adalah penghormatan kepada guru. Ia tak hanya berhenti dalam bentuk mencium tangan guru, tapi begitu luas, meliputi segala bentuk kerendahan hati. Anda mungkin pernah mendengar lelaku ta’dhim antara Imam Syafii dan Imam Malik.

Suatu hari, Imam Syafii sowan kepada Imam Malik di Madinah, dengan maksud belajar ilmu hadis. Ketika tiba waktu salat, kedua ulama besar tersebut saling menyilakan mengimami. Ora rebutan kayak kuwek, hisshhh…. Imam Malik menyatakan bahwa Imam Syafii lebih berhak menjadi imam salat karena ia adalah tamunya yang ‘alim ‘allamah. Sebaliknya, Imam Syafii mengatakan bahwa Imam Malik lebih pantas menjadi imam salat dikarenakan ia adalah tuan rumah dan lebih sepuh pula.

Akhirnya, keduanya dengan spirit ke- ta’dhim-an yang luar biasa, bersepakat bergiliran mengimami shalat. Imam Nawawi, pengarang Adabul ‘Alim wal Muta’allim, menukil ucapan Imam Syafii: “Dahulu ketika aku belajar membaca di hadapan Imam Malik, demi hormatku padanya, lembar demi lembar aku letakkan dengan sangat lamban dan perlahan, semata-mata agar ia tak mendengar gesekan antar lembaran-lembaran tersebut.” Kepada Imam Syafii, salah satu muridnya, Imam Rabi’ mengatakan, “Demi Allah, demi hormatku kepada Imam Syafii, aku rela menahan rasa hausku untuk tidak minum, sementara ia melihat ke arahku.” Sekarang, simak tuturan sang Gerbang Ilmu ini, Ali bin Abi Thalib, “Termasuk kewajibanmu dalam memuliakan orang alim ialah dengan senang hati menyambut kehadirannya, duduk sopan di hadapannya, tidak menunjuknya dengan jari-jari tanganmu, tidak memalingkan pandanganmu, serta tidak menyampaikan pernyataaan orang yang berseberangan dengan pernyataannya, sebab sejatinya ia seperti pohon kurma: ketika jatuh buahnya dan kau tak berada di dekatnya, niscaya kau takkan mendapatkan apa-apa.” Ta’dhim di atas ilmu ada akhlak begini, pernahkah kita lakoni lagi?

Anda mungkin juga pernah mendengar riwayat tentang agungnya ta’dhim Syaikhona Kholil Bangkalan yang notabene adalah guru Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Selepas nyantri, Mbah Hasyim kemudian di atas ilmu ada akhlak luas sebagai ahli hadis yang luar biasa. Syaikhona Kholil bersengaja ikut taklim hadis di majelis Mbah Hasyim. Guru belajar kepada murid. Sungguh menakjubkan! Dan, yang lebih menakjubkan lagi, keduanya saling berebut untuk mempersiapkan sandal di teras ketika usai mengaji.

di atas ilmu ada akhlak

Saking hormatnya satu sama lainnya! Ada riwayat lain lagi terkait Syaikhona Kholil ini. Seorang putra kiai yang telah nyantri ke mana-mana mendatanginya dan menyatakan niatnya untuk berguru. Syaikhona Kholil menyuruhnya masuk ke kamar mandi, lalu dikunci dari luar, selama tiga hari tiga malam. Please ya, tak usah tanya gimana salatnya, makannya, tidurnya, dll—heuuuh, pikiranmu ra mashok! Lepas tiga hari, Syaikhona Kholil membuka sendiri pintu kamar mandi itu, lalu menyuruhnya pulang. Beliau menyatakan bahwa ia telah lulus dan dipersilakan mendirikan pesantren di kampungnya.

Apa gerangan yang membuat Gus yang telah matang ilmu tersebut manut saja dikekep dalam kamar mandi kalau bukan ta’dhim? Ya, ta’dhim, manut kiai, manut guru, manut wong tua, dan itulah jalan di atas ilmu ada akhlak menuju kesiapan menjadi guru besar di pesantrennya kemudian. Saya juga pernah mendapat tuturan dari seorang kawan, Bje. Ia berkisah bahwa di Konya, tempatnya Maulana Rumi, jika ada orang yang pengin bergabung di tarekat tersebut dan belajar, siapa pun ia, tak bisa langsung ujug-ujug belajar dan nyantri.

Ia harus mengabdi dulu sekian bulan untuk mengerjakan hal-hal yang tampak secara lahiriah tak ada hubungan langsungnya dengan pelajaran tarekat Maulawiyah tersebut.

Entah disuruh ngurusi dapur, cucian, toilet, sampah, dan sebagainya. Siapa pun Anda! Inilah gemblengan akhlak yang sangat utama untuk didahulukan dan diutamakan dalam mekanisme ta’lim muta’allim atau keilmuan.

Terlihat terang betapa akhlak itu di atas ilmu. Untuk apa, ya? Mari kita pahami bahwa, pertama, transfer ilmu dari guru kepada murid hingga menjelma sebuah internalisasi nilai, sejatinya tidak bisa semata disederhanakan sebagai “perpindahan A ke B” ala-ala paham sekular hari ini.

Jika hanya soal perpindahan kasat begitu, Anda cukup baca buku, cari info di beberapa link, nggenah-nggenahke dewe, dan jelas tak perlu guru. Keberadaan guru, kiai, atau ulama dalam mekanisme transfer ilmu itulah yang menempati maqam spiritual yang tak terbantahkan buah-buah manisnya di kemudian hari. Guru tidak hanya berperan sebagai penyelaras, pelurus, dan penashih dari tangkapan pemahaman murid. Guru melampaui itu: menebarkan ridanya, berkahnya, dan doanya agar murid-muridnya diberi pemahaman oleh Allah swt.

dengan pemahaman ilmu yang lurus, baik, dan bermanfaat. Mana di atas ilmu ada akhlak dimensi spiritual, doa, dan berkah beginian jika Anda tak punya guru? Memangnya google bisa memberkati? Kedua, sangat jelas bahwa tujuan utama kita menggali ilmu, berguru, membaca, berdiskusi, merenung, dll., tiada lain untuk menuju kepada buah-buah ilmu yang beraras kebaikan, keadaban, dan keluhungan—baik buat diri sendiri maupun orang lain ketika nantinya kita siarkan.

Pencapaian tertinggi ilmu begini hanya mungkin direngkuh bila timbunan ilmu di kepala kita dibingkai oleh keluhungan akhlak. Mau sejenius apa pun seseorang, seluas apa pun ilmunya, dan sedalam apa pun referensinya, jika hatinya tak bersendikan adab yang karim, niscaya ilmunya takkan mampu mencahayainya menuju kebijaksanaan tersebut.

Ilmu yang tidak bijaksana, apalah gunanya? Ia malah sangat rawan meletupkan kerusakan, chaos, minteri orang, ngakali orang, dunguin orang, gerungin orang, demi mengenyangkan hawa nafsunya!

Makanya, Imam Ghazali, dalam jilid pertama Ihya’ Ulumuddin, mengingatkan perihal betapa mengerikannya orang berilmu yang tidak migunani tersebut, alias tidak mengantarnya meraih kebijaksanaan-kebijaksanaan hidup.

Ilmu yang demikian, kata Imam Ghazali, hanya akan menjerembabkan pelakunya pada azab yang paling berat kelak di akhirat. Sampai di sini, terang sekali bahwa kedudukan adab atau akhlak itu di atas ilmu dan semestinya lebih dikedepankan. Babakan ilmu jelas kebak dengan kemungkinan-kemungkinan hipotesis benar atau salah.

Sebab, ilmu selalu beranah analisis, argumentatif, teoritis, dan tesis-antitesis-tesis. Sedemikian “labilnya otoritas” kebenaran ilmu, sementara otoritas akhlak karimah adalah mutlak niscaya, lantas apa alasan kita untuk yak-yako kewanen nyerang-nyerang poro sesepuh, pinisepuh, ngalim-ulama, poro masyayikh, poro guru, poro orang tua?

Marilah mawas diri. Jangan sampai bertambahnya ilmu kita justru bertambah bebal pula hati kita karena semakin tebal hijab rohani kita.

di atas ilmu ada akhlak

Sungguh, sama sekali tak ada pantas-pantasnya bagi kita untuk menyerang dan menjatuhkan para sesepuh, para guru dan para orang tua atas nama perspektif kebenaran ilmu apa saja. Justru, jika kita memang berilmu, dan ilmu kita berbalut akhlak, pastilah ekspresi kita akan selalu lekat dengan kerendahan hati dan kebijaksanaan.

Inilah sang alim yang hakiki, sang sophia-perennis. “Janganlah karena kau telah merasa pintar, lalu kau gunakan kepintaranmu untuk menasihati orang tuamu.” Begitu tutur sebuah nasihat. Jika kau masih juga kewanen yak-yako, kukutuk kau jadi es batu! Secara historis dan teologis, akhlak dapat memadu perjalan hidup manusia agar selamat di dunia dan akhirat. Tidak k ah berlebihan bila misi utama kerasulan Muhammad SAW.

adalah untuk menyempurnakan a k hlak manusia. Sejarah pun mencatat bahwa faktor pendukung keberh a silan dakwah beliau itu antara lain karena dukungan ak h laknya yang prima, hingga hal ini dinyatakan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Akhlak adalah suatu istilah agama yang dipakai menilai perbuatan manusia apakah itu baik, atau buruk. Sedangkan ilmu akhlak adalah suatu ilmu pengetahuan agama islam yang berguna untuk memberikan petunjuk-petunjuk kepada manusiabagaimana cara berbuat kebaikan dan menghindarkan keburukan.

Dalam hal ini dapat dikemukakan contohnya: « إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ.

اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَقِنِي سَيِّئَ الْأَعْمَالِ وَسَيِّئَ الْأَخْلَاقِ لَا di atas ilmu ada akhlak سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْت َ » "Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah Rabb semesta alam tiada sekutu bagi-Nya, dan demikianlah aku diperintahkan dan aku bagian dari orang IslamYa Allah berilah aku amalan yang terbaik dan akhlak yang paling mulia, tiada yang bisa memberi yang terbaik selain Engkau, dan lindungilah aku dari amalan dan akhlak yang buruk, tidak ada yang bisa melindungiku dari hal yang buruk selain Engkau".

[Sunan An-Nasa'i: Sahih] Hadist tersebut menjelaskan betapa pentingnya akhlak mulia itu, terutama untuk umat islam saat ini. Akhlak mulia merupakan cermin seorang muslim, mencerminkan di atas ilmu ada akhlak hati dan fikirannya, sedangkan akhlak buruk mencerminkaan seseorang yang telah gelap hatinya sehingga ia tidak bisa menentukan mana yang baik dan buruk baginya karena keburukan itu telah mendarah daging dalam dirinya.

Kata etika berasal dari yunani yaitu ethos yang berarti adat kebiasaan. Tetapi didalam kamus bahasa indonesia, etika diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak(moral). Etika berbicara tentang kebiasaan (perbuatan) tetapi bukan menurut arti tata adat. Oleh karena itu, etika landasannya adalah sifat dasar manusia. Tetapi etika menurut filsafat yaitu menyelidiki mana yang baik, dan mana yang buruk menurut perbuatan manusia.

Berasal dari bahasa latin, mos yaitu prinsip-prinsip tingkah laku manusia yang sejalan dengan adat kebiasaan. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia disebutkan bahwa moral adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Meskipun etika dan moral mempunyai kesamaan pengertian dalam percakapan sehari-hari, namun dari sisi lain mempunyai unsur perbedaan, misalnya : Istilah Etika dan ilmu Aklak adalah sama pengertianya sebagai suatu ilmu yang dapat dijadikan pedoman bagi manusia untuk melakukan perbuatan yang baik.

Sedangkan istilah moral, kesusilaan, kesopanan, dan akhlaq sama pengertianya sebagai suatu norma untuk menyatakan perbuatan manusia. Jadi istilah ini bukan suatu ilmu tetapi merupakan suatu perbuatan manusia. Istilah etika dan ilmu akhlaq dinyatakan sama bila ditinjau dari fungsinya. Tetapi bila ditinjau dari segi sumber pokoknya maka tentu keduanya berbeda. Dimana etika bersumber dari filsafat yunani, tetapi ilmu akhlak sumber pokoknya adalah al-qur’an dan hadits dan sumber pengembangannya adalah filsafat.

Istilah akhlaq dengan moral, kesusilaan dan kesopanan,dapat dilihat perbedaanya bila dipandang dari objeknya di mana akhlaq menitikberatkan perbuatan terhadap tuhan dan sesama manusia, sedangkan moral, kesusilan dan kesopanan hanya menitikberatkan perbuatan terhadap sesama manusia saja. Maka istilah akhlaq sifatnya teosentris meskipun akhlaq itu ada yang tertuju kepada manusia dan makluk-makluk lain,namun tujua utamanya hanya karena Allah swt semata.

Tetapi kesusilaan dan kesopanan semata-mata sasaran dan tujuanya untuk manusia saja karena itu istilah di atas ilmu ada akhlak bersifat antroposentris (kemanusian saja). Ruang lingkup ilmu akhlak adalah pembahasan tentang perbuatan-perbuatan manusia, kemudian menetapkannya apakah perbuatan itu tergolong baik atau tergolong buruk. Ilmu Akhlak dapat pula disebut sebagai ilmu yang berisi pembahasan dalam upaya mengenal tingkah laku manusia, obyek pembahasan ilmu akhlak berkaitan dengan norma atau penilaian terhadap suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang.

Jika kita katakana baik atau buruk, maka ukuran yang harus digunakan adalah ukuran normative. Pokok-pokok masalah yang dibahas dalam ilmu akhlak pada intinya adalah perbuatan manusia yang baik maupun yang buruk sebagai individu maupun sosial.

Tapi sebagian orang juga menyebutkan ilmu akhlak adalah tingkah laku manusia, namun perlu ditegaskan bahwa yang dijadikan obyek kajian ilmu akhlak adalah perbuatan yang dilakukan atas kehendak dan kemauan, sebenarnya mendarah daging dan telah dilakukan secara continue atau terus menerus sehingga mentradisi dalam kehidupannya. Banyak contoh perbuatan yang termasuk perbuatan akhlak dan begitu juga sebaliknya. Seseorang yang membangun mesjid, gedung sekolah, rumah sakit, jalan rayadan pos keamanan termasuk perbuatan akhlak yang baik karena itu berdasarkan kemauan manusia itu sendiri yang telah dipersiapakan sebelumnya.

di atas ilmu ada akhlak

T etapi jika seseorang yang memicingkan mata dengan tiba-tiba pada waktu benda berpindah dari gelap ke terang, atau menarik tangan pada waktu tersengat api atau binatang buas, bernapas, hati yang berubah rubah, orang yang menjadi ibu-bapak kita, tempat tinggal kita, kebangsaan kita,warna kulit kita, dan tumpah darah kita itu tidak termasuk perbuatan akhlak karena semua itu diluar perencanaan, kehendak atau pilihan kita.

Jadi sekarang kita bisa memahami yang dimaksud ilmu akhlak adalah ilmu yang mengkaji suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia yang dalam keadaan sadar, kemauan sendiri, tidak terpaksa, dan sungguh-sungguh atau sebenarnya bukan perbuatan yang pura-pura.

P erbuatan-perbuatan demikian selanjutnya diberi nilai baik atau buruk. Tujuan mempelajari ilmu akhlak dan permasalahannya menyebabkan kita dapat menetapkan sebagian perbuatan lainnya di atas ilmu ada akhlak yang baik dan sebagian perbuatan lainnya sebagai yang buruk. Bersikap adil termasuk baik, sedangkan berbuat zalim termasuk perbuatan buruk, membayar utang kepada pemilik nya termasuk perbuatan baik, sedangkan mengingkari utang termasuk perbuatan buruk.

Mustafa Zahri mengatakan bahwa tujuan perbaikan akhlak itu ialah untuk membersihkan kalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah sehinggahati menjadi suci bersih bagaikan cermin yang dapat menerima Nur cahaya Tuhan.

Keterangan tersebut memberikan panduan kepada manusia di atas ilmu ada akhlak mampu menilai dan menentukan suatu perbuatan untuk selanjutnya menetapkan bahwa perbuatan tersebut termasuk perbuatan baik atau buruk Selanjutnya ilmu akhlak juga menentukan kriteria perbuatan yang baik dan yang buruk, serta perbuatan apa saja yang termasuk perbuatan baik, dan perbuatan yang buruk itu, dan selanjutnya ia akan banyak mengetahui perbuatan baik dan perbuatan yang buruk.

Selain itu ilmu akhlak berguna secara efektif dalam upaya membersihkan diri manusia dalam perbuatan dosa dan maksiat. Jika tujuan ilmu akhlak tersebut tercapai, maka manusia akan memiliki kebersihan batin yang yang pada gilirannya melahirkan perbuatan terpuji.

Dengan perbuatan terpuji ini, akan lahirlah keadaan masyarakat yang damai, sejahtera, harmoni lahir dan batin, yang memungkinkan ia dapat beraktifitas guna mencapai kebahagiaan hidup didunia dan juga di akhirat.

A khlak adalah keadaan jiwa yang mendorong melakukan suatu perbuatan secara spontan tanpa pertimbangan dan proses berfikir terlebih dahulu dan tanpa ada unsur paksaan. ilmu akhlak adalah suatu ilmu pengetahuan agama islam yang berguna untuk memberikan petunjuk-petunjuk kepada manusiabagaimana cara berbuat kebaikan dan menghindarkan keburukan Akhlak pun memiliki kaitan erat dengan etika, moral, kesusilaan dan kesopanan.

Pembahasan mengenai r uang lingkup ilmu akhlak adalah tentang perbuatan-perbuatan manusia yang mendorong kepada baik atau buruknya.

ilmu akhlak bukanlah tingkah laku manusia melainkan perbuatan yang dilakukan atas kemauan manusia itu sendiri yang selalu dilakukannya dan kemudian mendarah daging dalam diri manusia itu sendiri.
Oleh : Harkaman dan Syarifah Zahra Gudwaty MUKADDIMAH Realitas kebenaran sudah mulai pudar, keburukan perlahan-lahan mulai berkuasa atas kebenaran. Masyarakat dunia mulai bingung untuk bertindak. Mungkin karena mereka sulit untuk menentukan tindakan-tindakan mana yang benar.

Di kepala mereka terus muncul tanda tanya besar “seperti apa kebaikan itu?”. Di sisi lain, ada sebuah kelompok yang menyatakan dirinya sebagai sumber kebenaran. Setiap tindakan yang keular darinya adalah kebenaran. Mereka yang tidak tergabung dalam kelompoknya tentunya merupakan orang-orang yang sesat, mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui hakikat kebenaran dan tidak ada kebaikan yang bisa dipancarkan dari dalam dirinya.

di atas ilmu ada akhlak

Benarkah demikian? Apa mungkin kebaikan itu terlembagakan? Namun itulah kenyataan yang harus dihadapi. Sangat mudah memberikan gelar kepada orang lain bahwa “dia adalah orang baik atau dia adalah orang buruk, dia adalah orang yang adil atau dia adalah orang yang tidak adil, dia orang yang dermawan-dia orang yang bakhil” dan di atas ilmu ada akhlak lainnya.

Seakan neraca kebaikan dan keburukan berada di tangan mereka. Pada dasarnya, untuk menjastifikasi seseorang ada sebuah dasar yang akan menopangnya.

Bagaimana mungkin sebuah argumen dapat diterima tanpa ada dasar yang menopangnya. Jika tidak mempunyai dasar atau sebuah landasan, maka hanya sebuah omong kosong belaka dan tidak mengandung nilai kebenaran. Sebarapa banyakkah masyarakat memperhatikan hal tersebut di atas. Kebanyakan sebuah klem yang mereka lontarkan tidak berdasar atas sesuatu yang jelas. Dari sinilah kemudian muncul perdebatan yang mengedepankan ego masing-masing.

Bukan kebenaran yang mereka cari tapi sebuah pembenaran saja. Demikianlah orang-orang yang tidak mengerti tentang Ilmu Akhlak, mereka berbuat seenaknya, mereka menganggap dirinyalah yang paling benar, sedang orang lain adalah pundi-pundi kesesatan dan jauh dari kebenaran. ILMU AKHLAK • Pengertian Ilmu Akhlak Ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas seputar akhlak baik dan buruk serta sifat terpuji dan tercela, berikut sifat-sifat yang harus diperkuat atau dihilangkan.

Ilmu akhlak berbicara tentang sifat-sifat, semisal kedermawanan atau kekikiran, keberanian atau kepengecutan, yang muncul dan hilang berdasarkan ikhtiar kita atau yang dapat dikendalikan manusia. [1] Secara lebih singkat lagi ilmu akhlak didefinisikan sebagai pengenalan terhadap kemuliaan akhlak dan ketercelaannya. [2] Ilmu Akhlak menuntun manusia untuk berbuat baik dan bagaimana melakukannya, selain itu juga agar manusia dapat menghindari sifat-sifat buruk.

Dapat diketahui di sini bahwa sasaran atau objek pembahasan ilmu akhlak adalah menilai baik dan buruk, benar dan salah, pantas dan tidak pantas, serta mana yang harus dan mana yang tidak boleh dari segala sifat atau tindakan manusia yang dilakukan dalam keadaan sadar. [3] Dengan demikian, Ilmu Akhlak memuat dua pesan penting bagi manusia guna mencapai kebahagian lahir dan batin.

• Ilmu Akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, antara yang terpuji dan yang tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin. • Ilmu Akhlak adalah ilmu pengetahuan yang memberikan pengertian baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka.

[4] • Dasar-dasar Ilmu Akhlak Menolong orang lain, suka memberi, adil, dermawan, mengapa beberapa perbauatan tersebut dinilai sebagai kebaikan? Dan mengapa juga kebohongaan, kezaliman, kekerasan dinilai sebagai keburukan?

Untuk menjawab pertanyaan yang muncul tersebut harus dijawab dengan argumen yang kuat dan mempunyai dasar. Perbuatan-perbuatan yang mempunyai nilai baik dan buruk, mempunyai dasar-dasar yang jelas. Pada pembahasan sebelumnya sudah disebutkan bahwa ada ilmu yang membahas dan meberikan klarifikasi pada persoalan baik dan buruk, itulah Ilmu Akhlak. Tentunya ilmu tersebut mempunyai dasar. Adapun dasar-dasar Ilmu Akhlak adalah sebagai berikut: • Al-Qur’an [5] Al-Qur’an sebagai dasar (rujukan) Ilmu Akhlak yang pertama, hal ini dinilai karena keontetikannya yang lebih tinggi, dibandingkan dengan dasar-dasar yang lain.

Mengingat al-Qur’an merupakan firman Tuhan, sehingga tidak ada keraguan baginya untuk dijadikan sebagai dasar atau asas. Walau nantinya ada beberapa perangkat yang diperlukan untuk mendukungnya. Dan tidak akan dibahas di sini, karena ada ilmu khsusus yang membahasnya.

Nilai-nilai yang ditawarkan oleh al-Qur’an sendiri sifatnya komprehensif. Perbuatan baik dan buruk sudah dijelaskan di dalamnya. Hanya saja, ada yang perlu diperhatikan.

Mengingat ada banyak ayat-ayat al-Qur’an yang membutuhkan penafsiran. Sehingga untuk mememudahkan, orang-orang akan merujuk kepada al-Hadits ( sebagai Asbabun Nuzul suatu ayat) dan al-Aqlu (penalaran akal). Sejauh manakah campur tangan kedua dasar tersebut pada persoalan Ilmu Akhlak.

Pastinya al-Hadits dan al-Aqlu tidak akan merubah pesan yang ingin disimpaikan oleh al-Qur’an. • Al-Hadits Asbabul Wurud suatu hadits berbeda-beda. Ada hadits yang dikeluarkan oleh Nabi karena seorang sahabat bertanya kepadanya, karena Nabi menegur seorang sahabat, karena peringatan dan penjelasan Nabi terhadap al-Qur’an. Dalam riwayat Aisyah pernah ditanya oleh seseorang tentang akhlak Nabi.

Aisyah menjawab akhlak Nabi adalah al-Qur’an. [6] Dengan demikian, Nabi merupakan interpretasi yang hidup terhadap al-Qur’an. Karena segala ucapan ( Qauli yah), perbuatan ( Fi’liyah), dan penetapan ( Taqririyah) merupakan sebuah wahyu dari Allah, dan apa-apa yang datang dari Nabi senantiasa terjaga.

di atas ilmu ada akhlak Dapat disimpulkan bahwa al-Qur’an dan al-Hadits berasal dari sumber yang sama, yaitu Allah SWT. Di dalam al-Qur’an terlah dijelaskan bahwa Nabi itu peribadi yang agung [8]. Karena memang pada dirinya terdapat sebuah suri tauladan yang baik [9].

Keistimewaan tersebut, tidak hanya diakui oleh umat Islam saja, akan tetapi non-muslimpun mengakui hal tersebut. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Machael H.

Hart tentang 100 tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah, dia menyatakan bahwa Nabi Muhammad menduduki posisi pertama. [10] Jelaslah bahwa tidak ada kecacatan dalam peribadi Nabi, karena memang tugas diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak.

[11] • Al-Aqlu (Akal) Salah satu angerah Tuhan kepada manusia yang menjadi esensi dari dirinya adalah akal. Dengannya manusia dapat berfikir secara rasional, membedakan antara yang hak dengan yang bathil. Jika manusia dimuliakan oleh Allah karena mempergunakan akalnya dengan baik, maka Allah akan memberikan ganjaran atas perebuatan baik yang telah dilakukan.

Kedudukan manusia di mata Allah akan melebihi Malaikat apabilah mereka dapat menggunakan potensi yang telah diberikan dengan baik.

Dan begitu pun sebaliknya, orang yang tidak menggunakan potensinya dengan baik, maka derajatnya lebih rendah dibandingkan dengan binatang.

[12] Mereka yang dapat selamat dari kesesatan adalah orang-orang yang senantiasa mempergunakan akalnya dengan baik. Kita lihat orang-orang yang tercerahkan sebelum datangnya al-Qur’an, apa yang mereka jadikan dasar, tidak lain adalah akal mereka.

Apakah Phytagoras, Anaximenes, Aristoteles, Plato, Socrates, Plotinus, dan beberapa filsuf lainnya berpegang teguh dan senantiasa mengamalkan al-Qur’an, tentu tidak, Islam saja belum ada di zaman mereka. Tapi mereka terkenal sebagai orang-orang di atas ilmu ada akhlak bijak. • Tujuan Ilmu Akhlak Setelah mengetahui defenisi dan dasar Ilmu Akhlak, maka akan dibahas tujuan dari pada Ilmu Akhlak ini sendiri, guna memberikan kejelasan lanjutan. Dalam hal ini, ada dua tujuan utama Ilmu Akhlak, yaitu: • Tujuan IIlmu Akhlak adalah untuk menyempurnakan prilaku manusia dengan menyodorkan kebaikan.

[13] Dalam pembahasan Ilmu Akhlak dipaparkan tentang hal-hal yang baik dan buruk, guna memahamkan kita dalam bertingkah laku agar tidak salah mengambil langkah yang akan merugikan diri sendiri, maupun orang lain dalam lingkungan bermasyarakat. Pada dasarnya ada dua persoalan yang dibicarakan, yaitu pemaparan tentang kebaikan dan keburukan.

Namun terdapat perbedaan, mepelajari kebaikan untuk mengerjakannya di atas ilmu ada akhlak mempelajari keburukan untuk meninggalkannya, serta memberikan kecenderungan untuk berperilaku baik. • Tujuan Ilmu Akhlak adalah untuk mencapai tujuan hidup yang ideal. Setelah kita memahami tentang apa saja yang baik dan yang buruk, maka secara naluri kita akan berusaha untuk meninggalkan keburukan dan berusaha menuju kepada kebaikan.

Karena apa yang ditawarkan oleh Ilmu Akhlak adalah sebuah peta perjalanan dalam menjalani kehidupan sehari-hari kita. Mungkin ada sebuah jalan yang bisa ditempuh dan mengantarkan kita kepada tujuan akhir kita, yaitu untuk mencapai kebahagian. [14] Namun tidak ideal untuk dijadikan sebagai petunjuk dan pedoman.

Dengan adanya Ilmu Akhlak maka jalan yang seharusnya ditempuh dengan begitu rumit dan menjelemet, akan terasa nyaman dan penuh dengan kedamaian, karena konsep ideal dari Ilmu Akhlak. KESIMPULAN Ketika manusia tidak mampu membedakan antara yang hak dengan yang batil, maka mereka akan bertingkah seenaknya saja. Tidak ada batas yang dikenalnya. Hak orang lain mereka gadaikan, bahkan haknya sendiri dipasung oleh keburukan.

Karena nafsu dibiarkan menjadi komandan dalam kehidupannya. Keterpurukan dan keterperosatan perilaku dan sifat manusia ke dalam lembah hitam, ini bisa saja diatasi dengan menyodorkan kepada mereka akhlak yang baik.

Memberikan sebuah kejelasan dan sebuah pengklarifikasian mana saja yang seharusnya dilakukan dan mana saja yang harus dihindari. Hal inilah yang ditawarkan oleh Ilmu Akhlak, dengan berasaskan al-Qur’an, al-Hadits dan al-Aqlu. Mengingat tujuan manusia adalah untuk mencapai kebahagian. Oleh sebab itu, Ilmu Akhlak menunjukkan jalan yang ideal untuk mereka. Jalan manakah yang seharusnya ditempuh, bagaimana kemulian dan ketercelaan akhlak, sehingga dapat mengantarkan mereka kepada tujuan hidup yang sebenarnya.

Maksud dari kemulian dan ketercelaan akhlak adalah sebuah rasionalisasi kenapa menolong, dermawan, adil itu merupakan sebuah kebaikan dan kenapa dengki, iri hati, dzalim itu meruapakan sebuah keburukan. Jadi Ilmu Akhlak memberikan rasionalisasi akan apa yang sebaiknya dikerjakan dan yang harus ditinggalkan.

Keharmonisan akan terbentuk, apabilah manusia menyadari hal demikian, mereka akan berusaha melatih diri mereka kepada hal-hal yang baik saja, selain dari pada itu akan ditinggalkannya.

Karena itu bisa membawanya kejalan yang salah dan menjauh dari tujuan mereka yang sebenarnya. DAFTAR PUSTAKA Ahmad, Athoullah. 2005. Antara Ilmu Akhlak Dan Tasawuf. Banten: Sengpho Al-Hadits Di atas ilmu ada akhlak al-Karim AR, Zahruddin dan Hasanuddin Sinaga.

2004. Pengantar Studi Akhlak.

di atas ilmu ada akhlak

Jakarta: PT RajaGrafindo Persada Hart, Machael H. Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah.chm. Pustaka Online Media ISNET: mediaisnet.org Mishbah, Mujtaba. 2008. Daur Ulang Jiwa. Jakarta: Al-Huda Yazdi, M. T. Misbah. 2006. Meniru Tuhan. Jakarta: Al-Huda [1] Mujtaba Mishbah. Daur Ulang Jiwa. (Jakarta, Al-Huda: Cet.1, 2008). Hal.20 [2] M. T. Misbah Yazdi, Meniru Tuhan. (Jakarta, Al-Huda: Cet. 1, 2006).

Hal. 5 [3] Mujtaba Misbah. Op.Cit. Hal.21 [4]Zahruddin AR dan Hasanuddin Sinaga. Pengantar Studi Akhlak. (Jakarta, PT RajaGrafindo Persada: Cet.1, 2004), Hal. 41-42 [5]Athoullah Ahmad. Antara Ilmu Akhlak Dan Tasawuf.

(Banten, Sengpho: Cet.1, 2005). Hal.32 [6]HR. Ahmad dan Muslim [7]QS. An-Najm: 3-4 [8]QS. As-Syu’ara: 137 [9]QS. Al-Ahzab: 21 [10]Machael H. Hart. Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah.chm.

di atas ilmu ada akhlak

Pustaka Online Media ISNET: mediaisnet.org [11]HR. Ahmad [12]QS. Al-‘Araf:179 [13] M.T. Misbah Yazdi. Op.Cit. Hal. 6 [14]Athoullah Ahmad. Op.Cit. Hal.63 June 2014 M T W T F S S 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Categories • Akhlak • Makalah • Qawaid Tafsir • Sosial Budaya Recent Posts • Ziyadah Al-bina’ Tadullu ‘ala Ziyadah Al-Ma’na • Kaidah Asbabun Nuzul dan Ta’ridh • Makna Zahir dan Batin • Kehujjahan Tafsir Menurut Rasulullah, Imam, Ahlulbait, Sahabat, Ijma’ dan Syuhud • Sumber-Sumber Tafsir Blogroll • IC-Thusi • Lingkar al-Sinkili • Perpustakaan Nasional • Perpustakaan STFI Sadra • STFI Sadra
Oleh : M.

Nur Taufik Guru Pendidikan Agama Islam Letakkan Akhlak di Atas Ilmu ABDURAHMAN bin Qasim, seorang pelayan Imam Malik bin Anas, menuturkan kesaksiannya selama menjadi pelayan beliau. Kata Abdurrahman, “Tidak kurang dua puluh tahun aku menjadi pelayan Imam Malik. Selama dua puluh tahun tersebut, aku perhatikan beliau menghabiskan dua tahun untuk mempelajari ilmu dan delapan belas tahun untuk mempelajari akhlak.” Imam Malik dan para ulama yang baik lainnya, selalu menjaga kualitas akhlaknya.

Akhlak kepada Allah, Rasul, dan sesamanya. Ketinggian derajat, pencapaian ilmu yang mendalam, dan kebesaran wibawa, tidak membuat mereka merasa lebih mulia dan lebih baik baik dari orang lain. Meletakkan akhlak di atas ilmu menjadi tanggung jawab kita semua, sebagai anak pada orang tua, sebagai santri, siswa, maupun mahasiswa pada guru serta dosennya, sebagai orang yang lebih muda pada yang tua atau sebaliknya. Meletakkan akhlak menjadi sangat penting di saat terjadi degradasi moral, seperti pergaulan bebas tanpa batas, tawuran massal antar pelajar, sikap anarkis sebagian pelajar saat melakukan aksi unjuk rasa, dan seabrek fenomena lainnya yang ‘memaksa’ kita untuk jauh lebih lama dalam mempelajari akhlak.

Jika akhlak seseorang itu sedikit, maka masih jauh lebih baik dari di atas ilmu ada akhlak, namun menyimpan bara pelanggaran. Berapa banyak orang-orang yang berilmu di atas ilmu ada akhlak, bertitel akademik, namun tak dinyana ia terjerembab dalam kasus korupsi. Berapa banyak para cerdik padai, kaum intelektual, namun semakin jauh dari kebenaran (Allah). Dari Jabir: Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku kedudukannya di surga adalah orang yang paling baik akhlaknya.

Orang yang paling aku benci adalah orang-orang yang pongah dan sombong.” Setidaknya ada dua keutamaan bagi orang yang berakhlak. Pertama, akhlak yang baik akan meningkatkan derajat. Dari Anas, Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba mencapai derajat yang tinggi di hari akhirat dan kedudukan yang mulia karena akhlaknya baik walaupun ia lemah dalam ibadah.” (HR.

Thabrani) Kedua, akhlak yang baik adalah ukuran keimanan. Rasulullah SAW bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya; yang lemah lembut tidak pernah menyakiti orang.

Seorang manusia tidak akan mencapai hakikat iman sebelum dia mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri dan sebelum tetangganya aman dari gangguannya.” Di sisi lain, akhlak yang buruk dapat melenyapkan amal. Banyak hadits yang menerangkan terhapusnya amal karena akhlak yang buruk. Pertama, “Kedengkian memakan kebaikan sama seperti api melalap kayu bakar.” Kedua, dari Ubaid, dia berkata; ada dua orang wanita berpuasa, dan mereka sangat menderita karena lapar dan dahaga pada sore harinya.

Kemudian kedua wanita itu mengutus seseorang menghadap Rasulullah SAW, untuk memintakan izin bagi keduanya agar diperbolehkan menghentikan puasa mereka. Sesampainya utusan tersebut kepada Rasulullah SAW, beliau memberikan sebuah mangkuk kepadanya untuk diberikan kepada kedua wanita tadi, seraya memerintahkan agar kedua-duanya memuntahkan isi perutnya ke dalam mangkuk itu.

Ternyata kedua wanita tersebut memuntahkan darah dan daging segar, sepenuh mangkuk tersebut, sehingga membuat orang-orang yang menyaksikannya terheran-heran. Rasulullah SAW bersabda; “Kedua wanita ini berpuasa terhadap makanan yang dihalalkan Allah tetapi membatalkan puasanya itu dengan perbuatan yang diharamkan oleh-Nya.

Mereka duduk bersantai sambil menggunjingkan orang-orang lain. Maka itulah ‘daging-daging’ mereka yang dipergunjingkan.” (HR.

Ahmad). Marilah kita berusaha berperilaku dan berakhlak yang mulia. Mudah-mudahan itu bisa menjaga amal-amal kita agar tidak lenyap seketika. -Majalah Jendela-ABDURAHMAN bin Qasim, seorang pelayan Imam Malik bin Anas, menuturkan kesaksiannya selama menjadi pelayan beliau. Kata Abdurrahman, “Tidak kurang dua puluh tahun aku menjadi pelayan Imam Malik. Selama 20 tahun tersebut, aku perhatikan beliau menghabiskan 2 tahun untuk mempelajari di atas ilmu ada akhlak dan 18 tahun untuk mempelajari akhlak.

Imam malik dan para ulama yang baik lainnya, selalu menjaga kualitas akhlaknya. Akhlak kepada Allah, Rasul, dan sesamanya.

Ketinggian derajat, pencapaian ilmu yang mendalam, dan kebesaran wibawa, tidak membuat mereka merasa lebih mulia dan lebih baik baik dari orang lain. Meletakkan akhlak di atas ilmu menjadi tanggungjawab kita semua, sebagai anak pada orangtua, sebagai santri, siswa, maupun mahasiswa pada guru-gurunya, sebagai orang yang lebih muda pada yang tua atau sebaliknya. Meletakkan akhlak menjadi sangat penting di saat terjadi degradasi moral; Pergaulan bebas tanpa batas, tawuran massal antar pelajar, sikap anarkis sebagian pelajar saat melakukan aksi unjuk rasa, dan seabrek fenomena lainnya yang ‘memaksa’ kita untuk jauh lebih lama dalam mempelajari akhlak.

Jika akhlak seseorang itu sedikit, maka masih jauh lebih baik dari ilmuwan namun menyimpan bara pelanggaran. Berapa banyak orang-orang yang berilmu luas, bertitel akademik, namun tak dinyana ia terjerembab dalam kasus korupsi. Berapa banyak para cerdik padai, kaum intelektual, namun semakin jauh dari kebenaran (Allah). Dari Jabir: Rasulullah SAW bersabda: “ Orang yang paling aku cintai dan yang paling dekat denganku kedudukannya di surga adalah orang yang paling baik akhlaknya.

Orang yang paling aku benci adalah orang-orang yang pongah dan sombong.” Setidaknya ada dua keutamaan bagi orang yang berakhlak. Pertama, akhlak yang baik akan meningkatkan derajat. Dari Anas, Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba mencapai derajat yang tinggi di hari akhirat dan kedudukan yang mulia karena akhlaknya baik walaupun ia lemah dalam ibadah.” (HR. Thabrani) Kedua, akhlak yang baik adalah ukuran keimanan. Rasulullah SAW bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya; yang lemah lembut tidak pernah menyakiti orang.

Seorang manusia tidak akan mencapai hakikat iman sebelum dia mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri dan sebelum tetangganya aman dari gangguannya.” Di sisi lain, akhlak yang buruk dapat melenyapkan amal.

Banyak hadits yang menerangkan terhapusnya amal karena akhlak yang buruk. Pertama, “Kedengkian memakan kebaikan sama seperti api melalap kayu bakar.” Kedua, dari Ubaid, dia berkata; ada dua orang wanita berpuasa, dan mereka sangat menderita karena lapar dan dahaga pada sore harinya. Kemudian kedua wanita itu mengutus seseorang menghadap Rasulullah SAW, untuk memintakan izin bagi keduanya agar diperbolehkan menghentikan puasa mereka. Sesampainya utusan tersebut kepada Rasulullah SAW, beliau memberikan sebuah mangkuk kepadanya untuk diberikan kepada kedua wanita tadi, seraya memerintahkan agar kedua-duanya memuntahkan isi perutnya ke dalam mangkuk itu.

Ternyata kedua wanita tersebut memuntahkan darah dan daging segar, sepenuh mangkuk tersebut, sehingga membuat orang-orang yang menyaksikannya terheran-heran.

di atas ilmu ada akhlak

Rasulullah SAW bersabda; “Kedua wanita ini berpuasa terhadap makanan yang dihalalkan Allah tetapi membatalkan puasanya itu dengan perbuatan yang diharamkan oleh-Nya. Mereka duduk bersantai sambil menggunjingkan orang-orang lain. Maka itulah ‘daging-daging’ mereka yang dipergunjingkan.” (HR. Ahmad). Marilah kita berusaha berperilaku dan berakhlak yang mulia. Mudah-mudahan itu bisa menjaga amal-amal kita agar tidak lenyap seketika.* Ali Akbar, penulis adalah Pengajar di Pesantren Darut Tauhid, Malang Rep: Admin Hidcom Editor: Cholis Akbar
Suaramuslim.net – Suatu saat saya jumpai seorang yang dari penampilannya cukup meyakinkan, menggunakan mobil dengan taksiran yang cukup mahal, berdasi dan tiba-tiba membuka kaca pintu mobilnya dan membuang tisu habis pakai ke jalan.

Di lain waktu saya jumpai pula, pelajar putri dengan dandanan yang menunjukkan seragam sekolah tertentu, berboncengan tiga di jalanan, yang lagi ramai juga dibincangkan di beberapa media sosial, foto sekelompok orang sedang melaksanakan ibadah di Tanah Haram, Makkah Al Mukarromah, sambil menjalankan tawaf mereka mendendang lagu-lagu bahkan ada yang menampilkan sambil melantunkan puji-pujian kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Adakah yang salah dari mereka? Tentu jawabannya tidak ada yang salah dari apa yang dilakukan oleh mereka, sebab mereka tidak merugikan orang lain. Mereka melakukan itu karena memang banyak alasan rasional yang bisa dikemukakan.

Mereka yang membuang tisu di jalan melalui pintu kaca mobil bisa beralasan bahwa tidak ada larangan membuang tisu di jalan, toh nanti kan ada tukang pembersih jalan. Saya kan sudah bayar pajak yang salah satunya dipergunakan untuk membiayai kebersihan jalan. Pelajar yang berboncengan tiga di jalan, juga bisa beralasan bahwa mereka melakukan itu karena menolong temannya agar tidak berjalan kaki, karena sudah keburu terlambat.

Sedang mereka yang bertawaf sambil berdoa dan melantunkan lagu-lagu kecintaan terhadap bangsa dan negaranya dan pujian sambil berdendang merupakan bentuk kecintaannya terhadap negara.

Hidup memang memerlukan standar, sehingga dengan standar itu ukuran benar dan salah bisa diterapkan. Tapi sejatinya sebagai manusia yang beragama dan berbudaya, di atas standar kebenaran hukum ada yang disebut kebenaran etika, tingkah laku beradab.

Tingkah laku beradab dilakukan bukan hanya persoalan benar dan salah, tapi apakah sesuatu itu boleh dilakukan jika tidak berdasarkan pertimbangan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan yang berlandaskan Ketuhanan. Sehingga ukuran kebenaran itu tidak hanya berdasarkan logika tetapi juga berdasarkan rasa. Sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah bahwa sesungguhnya di dalam diri manusia ada segumpal daging, itulah yang disebut dengan ” Qalbu “, Apabila Qalbu itu baik maka baiklah semua yang dilakukan, sebaliknya bila jelek, maka jeleklah yang dilakukan.

Di atas ilmu ada adab, di atas ilmu ada akhlak Imam Malik rahimahullah pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy, التعلم الأدب قبل أن تتعلم “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.” Habib Umar bin Hafidz pernah berkata, “Orang yang tinggi akhlaknya walaupun rendah ilmunya lebih mulia daripada orang yang tinggi ilmunya tapi kurang akhlaknya.” Akhlak itulah sejatinya yang menjadi misi kenabian, (وَ فِي رِوَايَةٍ: صَالِحَ) إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأََخْلَاقْ “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (dalam riwayat yang lain: menyempurnakan kebagusan akhlaq).” (HR.

Al Bukhari) Lalu bagaimana akhlak bisa dibentuk? Hujjatul Islam al Imam al-Ghazali di dalam kitab Ihya’ Ulumiddin menyatakan bahwa akhlak yang baik bisa terbentuk dari tiga faktor, yaitu: 1. Watak Watak manusia asal mulanya terbentuk dari bawaan sejak lahir (fitrah) atau turunan kedua orang tuanya.

Orang tua sangat berperan dalam pembentukan karakter seorang anak. Pepatah mengatakan,”buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Maksudnya, watak seorang anak tidak akan berbeda jauh dari orangtuanya. 2. Kebiasaan Ketika seseorang melakukan kebiasaan yang baik, maka orang tersebut akan mempunyai akhlak yang baik juga. Sebaliknya, jika melakukan kebiasaan yang tidak baik, maka akhlak orang tersebut akan punya kecenderungan tidak baik. Sebuah pernyataan mengatakan: اَلْعَادَةُ إِذَا غَرِزَتْ صَارَتْ طَبِيْعَةً “Kebiasaan yang dilakukan terus menerus akan menjadi sebuah watak (karakter)”.

3. Pendidikan Akhlak seseorang dapat terbentuk dengan siapa dia berteman dan berinteraksi. Apabila ia berinteraksi dengan orang yang baik, ia akan menjadi baik. Begitu juga sebaliknya, karena ia akan mendapat pembelajaran dari orang-orang yang ada di sekelilingnya, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada karakeristik orang tersebut. Nah akhirnya kita bisa memotret bahwa pendidikan merupakan hal yang amat penting, pendidikan yang hanya menekankan pada kemampuan logika tanpa mempertimbangkan rasa, akan berpotensi menjadi di atas ilmu ada akhlak yang nir adab, sebaliknya pendidikan yang mengembangkan logika dan rasa akan menjadikan anak didik menjadi manusia yang “respect” dan “resposibility”, manusia yang bisa memperlakukan orang lain dengan ukuran ukuran etika, sehingga anak-anak akan bertanggung jawab terhadap dirinya dan masyarakatnya.

Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya, اللَّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ “Allahummahdinii li ahsanil akhlaaqi laa yahdi li-ahsanihaa illa anta, washrif ‘anni sayyi-ahaa, laa yashrif ‘anni sayyi-ahaa illa anta [artinya: Ya Allah, tunjukilah padaku akhlak yang baik, tidak ada yang dapat menunjukinya di atas ilmu ada akhlak Engkau.

Dan palingkanlah kejelekan akhlak dariku, tidak ada yang memalinggkannya kecuali Engkau].” (HR. Muslim no. 771, dari ‘Ali bin Abi Tholib) Selamat beraktifitas, semoga Allah menjaga Akhlak kita, Aamiin. (Surabaya, 1 Maret 2018)

Indahnya Adab dan Akhlak HABIB UMAR BIN HAFIDZ (Part 2) - Di Atas Ilmu Ada Akhlak




2022 www.videocon.com