Cerita literasi pendek beserta pengarangnya

cerita literasi pendek beserta pengarangnya

Apa itu cerpen? Seperti apa contoh cerpen dan bagaimana cara menganalisisnya? Yuk, jawab rasa penasaranmu tentang cerpen dengan membaca artikel ini! -- Ketika memasuki kelas 11 SMA semester 1, dalam pelajaran Bahasa Indonesia kamu akan bertemu dengan topik-topik pelajaran yang sangat menyenangkan. Mengapa? Karena kamu akan banyak belajar mengenal dan memahami lebih dalam tentang cerpen, pantun, juga cerita-cerita nonfiksi lainnya. Apalagi untuk kamu yang gemar membaca, menulis, berimajinasi, dan memikirkan banyak hal, tulisan seringkali menjadi media yang sangat cocok untuk mengungkapkan dan mengekspresikan perasaan serta pemikiran.

Nah, salah satu bentuk tulisan atau karya sastra yang akan kita bahas di sini adalah cerpen. Pasti kamu udah familiar kan dengan cerpen? Tapi, apakah kamu tahu bedanya cerpen dengan novel? Meskipun agak mirip-mirip, cerpen dan novel memiliki perbedaan yang cukup signifikan, lho!

Apa itu Cerpen? Cerpen itu singkatan dari cerita pendek. Nah, cerita pendek ini adalah salah satu jenis karya sastra yang berbentuk prosa fiksi.

cerita literasi pendek beserta pengarangnya

Bedanya sama novel, cerita di dalam cerpen cenderung lebih padat dan biasanya tidak memiliki banyak tokoh. Yaa. kalau orang-orang bilang, kita hanya butuh sekali duduk untuk menyelesaikan satu cerita pendek. Hmm, mungkin bisa dicoba. Siapa saja bisa membuat cerita pendek. Termasuk kamu yang masih duduk di bangku sekolah. Kehidupan di sekolah tentunya sangat menarik, dong! Banyak kejadian-kejadian menarik yang bisa kamu ekspresikan ke dalam sebuah cerita pendek.

Entah itu cerita tentang tingkah lucu temanmu semasa SMA, cerita tentang guru tegas dan guru jenaka cerita literasi pendek beserta pengarangnya selalu membuatmu ingat pada dirinya, atau bahkan cerita-cerita manis yang mungkin, ketika kamu malu mengekspresikannya, kamu bisa mewakilinya dengan menciptakan tokoh pada sebuah cerita pendek.

Itu menarik banget! Lalu, bagaimana cara membuat cerpen? Eits, membuat cerpen juga ada tekniknya, lho! Kamu bisa berkonsultasi dengan guru Bahasa Indonesiamu di sekolah, terus kalau di rumah, bisa sambil buka aplikasi Ruangguru dan nonton video belajarnya di ruangbelajar.

Sebenarnya, nggak banyak kok, yang harus dipelajari dalam membuat sebuah cerpen. Kamu cukup memahami fungsi, unsur intrinsikdan unsur ekstrinsik cerpen. Lalu, kamu bisa membuat kerangka cerita dan mulai menulisnya. Setelah jadi, kamu bisa konsultasikan lagi ke gurumu di sekolah. Kalau menurut beliau oke, tinggal diterbitin deh, di blog pribadi. Atau bisa juga dikirim ke media-media. Nah, kalau kamu sudah paham tentang dasar-dasar cerpen, kamu juga perlu membaca banyak referensi cerita untuk menambah kosakatamu.

cerita literasi pendek beserta pengarangnya

Untuk membuat cerpen, kamu juga harus memahami isi dalam sebuah cerita yang dibuat oleh orang lain. Maka dari itu, di sini kita juga akan membahas tentang analisis cerpen, ya! Ciri-Ciri Cerpen Cerpen memiliki beberapa ciri-ciri. Di antaranya yaitu: 1. Terfokus pada 1 tokoh 2. Ceritanya tidak lebih dari 10.000 kata 3.

Memiliki puncak masalah 4. Terdapat solusi atau penyelesaian masalah 5. Ceritanya padat dan langsung tertuju pada tujuan 6. Alur yang singkat membuat cerpen tidak memiliki tokoh yang banyak 7.

Latar ceritanya terbatas Baca juga: Contoh Cerpen Singkat dan Menarik Beserta Strukturnya Fungsi Cerpen Cerpen juga punya fungsi, lho! Apa cerita literasi pendek beserta pengarangnya sih, fungsi cerpen?

Coba perhatikan infografik berikut! Fungsi Rekreatif Cerpen berfungsi untuk memberikan rasa senang, gembira, dan menghibur bagi seluruh pembacanya. Fungsi Estetis Cerpen memiliki fungsi untuk memberikan keindahan bagi pembaca karya sastra. Fungsi Moralitas Cerpen dapat memberikan nilai-nilai moral kepada pembaca, sehingga mendapat pengetahuan tentang hal-hal yang baik dan hal-hal yang buruk. Fungsi Didaktif Cerpen dapat mengarahkan dan mendidik para pembaca dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan di dalam cerita.

Fungsi Relegiusitas Cerpen mengandung nilai-nilai yang terdapat pada ajaran agama yang bisa dijadikan teladan bagi para pembacanya. Selain kelima fungsi tersebut, cerpen juga memiliki fungsi-fungsi lainnya, tergantung dari maksud dan tujuan pengarang ketika menulis cerpen. Struktur Cerpen Struktur cerpen terdiri dari orientasi, rangkaian peristiwa, komplikasi, dan resolusi. Nah, untuk penjelasan lebih lengkapnya, ada di bawah ini, ya! 1. Orientasi Bagian ini berisi penentuan peristiwa yang menciptakan gambaran visual dari latar, atmosfer, dan waktu dari cerita.

Di bagian ini, kamu juga akan menemukan pengenalan para tokoh, menata adegan, dan hubungan antartokoh. 2. Rangkaian Peristiwa Lalu, pada bagian ini, kisah akan berlanjut melalui serangkaian peristiwa satu ke peristiwa lainnya yang tidak terduga. 3. Komplikasi Kemudian, cerita akan bergerak menuju konflik atau puncak masalah, pertentangan, atau kesulitan-kesulitan bagi para tokohnya yang memengaruhi latar waktu dan karakter. 4. Resolusi Terakhir, pada bagian ini, akan menceritakan solusi dari masalah atau tantangan yang dicapai.

Kamu juga akan mengetahui bagaimana cara pengarang mengakhiri cerita. Oke, setelah kita mengetahui pengertian, ciri-ciri, fungsi, dan struktur cerpen, nggak afdhol kalo kita nggak menganalisis contoh cerpen, nih!

Contoh Cerpen Oke, di sini kamu bisa membaca contoh cerita pendek terlebih dahulu, kemudian kita analisis bersama. Baca baik-baik, dan nikmati alur ceritanya, ya! -- Tikus dan Manusia karangan Jakob Sumardjo Entah bagaimana caranya tikus itu memasuki rumah kami tetap sebuah misteri. Tikus berpikir secara tikus dan manusia berpikir secara manusia, hanya manusia-tikus yang mampu membongkar misteri ini.

Semua lubang di seluruh rumah kami tutup rapat (sepanjang yang kami temukan), namun tikus itu tetap masuk rumah. Rumah kami dikelilingi kebun kosong yang luas milik tetangga. Kami menduga tikus itu adalah tikus kebun. Tubuhnya cukup besar dan bulunya hitam legam. Pertama kali kami menyadari kehadiran penghuni rumah yang tak diundang, dan tak kami ingini itu, ketika saya tengah menonton film.

Tiba-tiba kaki saya diterjang benda dingin yang meluncur ke arah televisi, dan saya lihat tikus hitam besar itu berlari kencang bersembunyi di balik rak buku. Jantung saya nyaris copot, darah naik ke kepala akibat terkejut, dan otomatis kedua kaki saya angkat ke atas. Baru kemudian muncul kemarahan dan dendam saya. Saya mencari semacam tongkat di dapur, dan hanya saya temukan sapu ijuk. Sapu itu saya balik memegangnya dan menuju ke arah balik rak buku.Tangan saya amat kebelet memukul habis itu tikus.

Namun, tak saya cerita literasi pendek beserta pengarangnya wujud benda apa pun di sana. Mungkin begejil item telah masuk rak bagian bawah di mana terdapat lubang untuk memasukkan kabel-kabel pada televisi. Untuk memeriksanya, saya harus mematikan televisi dulu. Saya takut kalau tikus keparat itu menyerang saya tiba-tiba.

Imigran gelap rumah itu, saya biarkan selamat dahulu. Saya tidak pernah menceritakan keberadaan tikus itu kepada istri saya yang pembenci tikus, sampai pada suatu hari istri saya yang justru memberitahukan kepada saya adanya tikus tersebut. Berita itu begitu pentingnya melebihi kegawatan masuknya teroris di kampung kami. “Pak, rumah kita kemasukan tikus lagi! Besar sekali!

Item!” “Di mana Mamah lihat?” “Di dapur, lari dari rak piring menuju belakang kulkas!” Istri saya cemas luar biasa, menahan napas, sambil mengacung-acungkan pisau dapur ke arah kulkas di dapur. “Sudah satu tahun enggak ada tikus. Rumah sudah bersih. Mengapa tikus masuk rumah kita?

Tetangga jauh. Dari mana tikus itu?” “Itu tikus kebun, Mah,” jawab saya santai sambil mengembalikan buku ke rak buku. “Jangan santai-santai saja Pah, cepat lihat kolong kulkas!” Wah, situasi semakin gawat.

Saya memenuhi perintah istri saya dengan menyalakan senter ke bagian kolong kulkas. Tidak ada apa pun. Tikus keparat! Ke mana dia menghilang? Sejak itu istri saya amat ketat menjaga kebersihan. Semua piring di rak dibungkus kain, juga tempat sendok. Tudung saji diberati dengan ulekan agar tikus tidak bisa menerobos masuk untuk menggasak makanan sisa.

Gelas bekas saya minum malam hari harus ditutup rapat. Tempat sampah ditutupi pengki penadah sampah sambil diberati batu. Strategi kami adalah semua tempat makanan ditutup rapat-rapat sehingga tikus tak akan bisa menerobos. Istri saya memesan dibelikan lem tikus paling andal. Selembar kertas minyak tebal dilumuri lem tikus oleh istri saya dan di tengah-tengah lumuran lem itu ditaruh ampela ayam bagian makan malam saya.

Jebakan lem tikus ditaruh di kaki kulkas. Pada malam itu, ketika istri saya tengah asyik menonton sinetron, istri saya tiba-tiba berteriak memanggil saya yang sedang mengulangi membaca di kamar kerja, bahwa si tikus terperangkap. Saya segera menutup buku dan lari ke dapur menyusul istri. Benar, seekor tikus hitam sedang meronta-ronta melepaskan diri dari kertas yang berlem itu.

“Mana pukul besi?!” saya panik mencari pukul besi yang entah disimpan di mana di dapur itu. “Jangan dipukul Pah!” “Lalu bagaimana?” Saya menjawab mendongkol. “Selimuti dengan kertas koran.

Bungkus rapat-rapat. Digulung supaya seluruh lem lengket ke badannya.” “Lalu diapakan?” Saya semakin dongkol. “Buang di tempat sampah!” “Aah, mana pukul besi?”Kedongkolan memuncak. “Nanti darahnya ke mana-mana! Bungkus saja rapat-rapat!” Saya mengalah.

Ketika tikus itu akan saya tutupi kertas koran, matanya kuyu penuh ketakutan memandang saya. Ah, persetan! Saya menekan rasa belas kasihan saya.

Tikus saya bungkus rapat-rapat, lalu saya buang di tong sampah di depan rumah, sambil tak lupa memenuhi perintah istri saya cerita literasi pendek beserta pengarangnya penutupnya diberati batu. Siang harinya sepulang dari mengajar, istri saya terbata-bata memberi tahu saya bahwa tikus itu lepas ketika Mang Maman tukang sampah mau menuangkan sampah ke gerobaknya.

Cerita Mang Maman, ada tikus meloncat dari gerobak sampahnya dan lari ke kebun sebelah dengan terbungkus kertas coklat. Cerita lepasnya tikus ini beberapa hari kemudian diperkuat oleh Bi Nyai, pembantu kami, bahwa dia melihat tikus hitam yang belang-belang kulitnya. Geram juga saya, dan diam-diam saya membeli dua jebakan tikus. Ketika mau saya pasang malam harinya, istri saya keberatan. “Darahnya ke mana-mana,” katanya.

“Ah, gampang, urusan saya. Kalau kena lantai, saya akan pel pakai karbol,” jawabku. Istri saya mengalah, dan rupanya merasa punya andil bersalah juga. Coba kalau tikus itu dulu kupukul kepalanya, tentu beres. Pada waktu subuh istri membangunkan saya. “Tikusnya kena, Pah!” Memang benar, seekor tikus hitam terjepit jebakan persis pada lehernya. Darah tak banyak keluar. Ketika saya amati dari dekat, ternyata bukan tikus yang kulitnya sudah belang-gundul.

“Ini bukan tikus yang lepas itu, Mah!” “Masa?”Ia mendekat mengamati. “Kalau begitu ada tikus lain.” “Mungkin ini istrinya,” celetekku. Ketika mau saya lepas dari jebakan, istri saya melarangnya. “Buang saja ke tempat sampah dengan jebakannya.” Rasa tidak aman masih menggantung di rumah kami.Tikus belang itu masih hidup. Dendam kami belum terbalas. Berhari-hari kemudian kami memasang lagi lem tikus dengan bergantiganti umpan, seperti sate ayam, sate cerita literasi pendek beserta pengarangnya, ikan jambal kegemaran saya, sosis, namun tak pernah berhasil menangkap si belang.

Bibi mengusulkan agar dikasih umpan ayam bakar. Saya membeli sepotong ayam bakar di restoran padang yang paling ramai dikunjungi orang. Sepotong kecil paha ayam itu dipasang istri saya di tengah lumuran lem Fox, sisanya saya pakai lauk makan malam. Gagasan Bi Nyai ternyata ampuh. Seekor tikus menggeliat-geliat melepaskan diri dari karton tebal yang dilumuri lem.Tikus itu benar-benar musuh istri saya, di beberapa bagian badannya sudah tidak berbulu.

Kasihan juga melihat sorot matanya yang memelas seolah minta ampun. “Mah, cepat ambil pukul besinya.” Istri saya mengambil pukul besi di dapur dan diberikan kepada saya. Ketika mau saya hantam kepalanya, istri saya melarang sambil berteriak. “Tunggu dulu! Pukul besinya dibungkus koran dulu.

Kepala tikus juga dibungkus koran. Darahnya bisa enggak ke mana-mana!” Begitu jengkelnya saya kepada istri yang tidak pernah belajar bahwa tikus yang meronta-ronta itu bisa lepas lagi. “Cepat sana.

cerita literasi pendek beserta pengarangnya

Cari koran!” bentakku jengkel. “Kenapa sih marah-marah saja?” sahut istri saya dongkol juga. Saya diam saja, tetapi cukup tegang mengawasi tikus yang meronta-ronta semakin hebat itu. Kalau dulu berpengalaman lepas, tentu dia bisa lepas juga sekarang. Akhirnya tikus hitam itu saya hantam tiga kali pada kepalanya.

Bangkainya dibuang bibi di tempat sampah. Beberapa hari setelah itu istri saya mulai kendur ketegangannya. Kalau saya lupa menutup kopi nescafe, biasanya dia marah-marah kalau bekas kopi susu itu dijilati tikus, tetapi sekarang tidak mendengar lagi sewotnya. Begitulah kedamaian rumah kami mulai nampak, sampai pada suatu pagi istri saya mendengar sayup-sayup cicit-cicit bunyi bayi tikus!

Inilah gejala perang baratayuda akan dimulai lagi di rumah kami. “Harus kita temukan sarangnya! Bayi-bayi tikus itu kelaparan ditinggal kedua orangtuanya. Kalau mati bagaimana? Kalau mereka hidup, rumah kita menjadi rumah tikus!” kata istri.

cerita literasi pendek beserta pengarangnya

Lalu kami melakukan pencarian besar-besaran. Bagian-bagian tersembunyi di rumah kami obrak-abrik, namun bayi-bayi tikus tidak ketemu. Bayi-bayi itu juga tidak kedengaran tangisnya lagi.

“Mungkin ada di para-para. Tapi bagaimana naiknya?” kata saya. “Nunggu Mang Maman kalau ambil sampah siang,” kata istri. Ketika Mang Maman mau mengambil sampah di depan rumah, bibi minta kepadanya untuk naik ke para-para mencari bayi-bayi tikus. “Di sebelah mana, Bu?” tanya Mang Maman. “Tadi hanya terdengar di dapur saja. Mungkin di atas dapur ini atau dekat-dekat sekitar situ,” sahut istri saya.

Sekitar setengah jam kemudian Mang Mamang berteriak dari para-para bahwa bayi-bayi tikus itu ditemukan. Mang Maman membawa bayi-bayi itu di kedua genggaman tangannya sambil menuruni tangga. “Ini Bu ada lima. Satu bayi telah mati, yang lain sudah lemas.

Lihat, napas mereka sudah tersengal-sengal.” Istri saya bergidik menyaksikan bayi-bayi tikus merah itu. “Bunuh dan buang ke tempat sampah, Mang” kata istri saya. cerita literasi pendek beserta pengarangnya, jangan Bu, mau saya bawa pulang.” “Mau memelihara tikus?” tanya istri saya heran.

“Ah ya tidak Bu. Bayi-bayi tikus ini dapat dijadikan obat kuat,” jawab Mang Maman sambil meringis. “Obat kuat? Bagaimana memakannya?” “Ya ditelan begitu saja. Bisa juga dicelupkan ke kecap lebih dulu.” Setelah memberi upah sepuluh ribu rupiah, istri saya masih terbengong-bengong menyaksikan Mang Maman memasukkan keempat bayi tikus itu ke kedua kantong celananya, sedangkan yang seekor dijinjing dengan jari dan dilemparkan ke gerobak sampahnya.

Tikus-tikus tak terpisahkan dari hidup manusia. Tikus selalu mengikuti manusia dan memakan makanan manusia juga. Meskipun bagi sementara orang, terutama perempuan, tikus-tikus amat menjijikkan, mereka sulit dimusnahkan.

Perang melawan tikus ini tidak akan pernah berakhir. Saya masih menunggu, pada suatu hari istri saya akan terdengar teriakannya lagi oleh penampakan tikus-tikus yang baru. -- Baca juga: Menganalisis Unsur-Unsur Cerpen Analisis Cerpen Bagaimana menurutmu cerita tadi? Apakah menarik? Setelah kamu membacanya, sekarang kita mulai analisis cerpen tersebut, yuk! Caranya adalah dengan memperhatikan struktur atau bagian-bagian dari cerpen tersebut.

Struktur cerpen sendiri terdiri atas 6 bagian, yakni Abstrak, Orientasi, Komplikasi (Puncak Konflik), Evaluasi, Resolusi, dan Koda. Kita bahas satu per satu, ya! a. Abstrak Abstrak merupakan bagian cerita yang menggambarkan keseluruhan isi cerita.

Kalau keberadaan abstrak dalam cerpen, sebenarnya bersifat opsional, mungkin ada yang menggunakannya mungkin juga tidak.

Apalagi, jika kisah dalam cerpen cenderung langsung pada peristiwa-peristiwa penting, tidak bertele-tele, dan cerita literasi pendek beserta pengarangnya terpusat pada konflik utamanya. b. Orientasi Orientasi adalah pengenalan cerita. Pada orientasi ini, biasanya pengarang ingin memulainya dengan menggambarkan penokohan ataupun bibit-bibit masalah yang dialaminya.

Kutipan: Entah bagaimana caranya tikus itu memasuki rumah kami tetap sebuah misteri. Tikus berpikir secara tikus dan manusia berpikir secara manusia, hanya manusia-tikus yang mampu membongkar misteri ini.

cerita literasi pendek beserta pengarangnya

Semua lubang di seluruh rumah kami tutup rapat (sepanjang yang kami temukan), namun tikus itu tetap masuk rumah. Rumah kami dikelilingi kebun kosong yang luas milik tetangga. Kami menduga tikus itu adalah tikus kebun.Tubuhnya cukup besar dan bulunya hitam legam. Kutipan tersebut mengenalkan masalah yang dialami tokoh, yakni dengan menggambarkan banyaknya tikus di dalam rumah mereka.

c. Komplikasi (Puncak Konflik) Komplikasi atau puncak konflik adalah bagian cerpen yang menceritakan puncak masalah yang dialami tokoh utama. Masalah itu tentu saja tidak dikehendaki oleh sang tokoh. Bagian ini pula yang paling menegangkan dan memunculkan rasa penasaran pembaca tentang cara sang tokoh di dalam menyelesaikan masalahnya bisa terjawab.

Dalam bagian ini, sang tokoh menghadapi dan menyelesaikan masalah itu, kemudian timbul konsekuensi atau akibat-akibat tertentu yang meredakan masalah sebelumnya. Kutipan: “Mah, cepat ambil pukul besinya.” Istri saya mengambil pukul besi di dapur dan diberikan kepada saya.

Ketika mau saya hantam kepalanya, istri saya melarang sambil berteriak. “Tunggu dulu! Pukul besinya dibungkus koran dulu. Kepala tikus juga dibungkus koran. Darahnya bisa enggak ke mana-mana!” Begitu jengkelnya saya kepada istri yang tidak pernah belajar bahwa tikus yang meronta-ronta itu bisa lepas lagi.

“Cepat sana. Cari koran!” bentakku jengkel. “Kenapa sih marah-marah saja?” sahut istri saya dongkol juga. Saya diam saja, tetapi cukup tegang mengawasi tikus yang meronta-ronta semakin hebat itu. Kalau dulu berpengalaman lepas, tentu dia bisa lepas juga sekarang. Akhirnya tikus hitam itu saya hantam tiga cerita literasi pendek beserta pengarangnya pada kepalanya. Bangkainya dibuang bibi di tempat sampah.

Kutipan tersebut merupakan komplikasi karena pada bagian itulah sang tokoh utama menyelesaikan permasalahannya, yakni dengan melakukan gerakan tangkap tikus bersama-sama istrinya. Pada bagian itu pula timbul ketegangan puncak antartokoh, termasuk implikasinya pada pembaca yang turut terlibat emosi dan rasa penasarannya. Kemudian, hal tersebut terjawab, yakni dengan terkalahkannya tikus-tikus pembawa masalah mereka itu. d. Evaluasi Evaluasi adalah bagian yang menyatakan komentar pengarang atas peristiwa puncak yang telah diceritakannya.

Cerita literasi pendek beserta pengarangnya yang dimaksud dapat dinyatakan langsung oleh pengarang atau diwakili oleh tokoh tertentu. Pada bagian ini alur ataupun konflik cerita agak mengendur, tetapi pembaca tetap menunggu implikasi ataupun konflik selanjutnya, sebagai akhir dari ceritanya. Kutipan: Beberapa hari setelah itu istri saya mulai kendur ketegangannya. Kalau saya lupa menutup kopi, biasanya dia marah-marah kalau bekas kopi susu itu dijilati tikus, tetapi sekarang tidak mendengar lagi cerita literasi pendek beserta pengarangnya.

Begitulah kedamaian rumah kami mulai nampak, sampai pada suatu pagi istri saya mendengar sayup-sayup cicit-cicit bunyi bayi tikus! Inilah gejala perang baratayuda akan dimulai lagi di rumah kami. Penggalan cerita di atas merupakan akibat atau implikasi dari peristiwa puncak. Sang istri tokoh utama tidak tegang lagi dengan ulah-ulah tikus itu, kedamaian di rumahnya pun mulai mereka rasakan walaupun itu bukan yang terakhir karena masih ada masalah lain yang tersisa, yakni yang disebut dengan perang Baratayuda, pencarian habis-habisan terhadap sisa-sisa dan sarang-sarang tikus.

e. Resolusi Resolusi merupakan tahap penyelesaian akhir dari seluruh rangkaian cerita. Bedanya dengan komplikasi, pada bagian ini ketegangan sudah lebih mereda. Dapat dikatakan pada bagian ini hanya terdapat masalah-masalah kecil yang tersisa yang perlu mendapat penyelesaian. Kutipan: Istri saya bergidik menyaksikan bayi-bayi tikus merah itu. “Bunuh dan buang ke tempat sampah, Mang” kata istri saya. “Ah, jangan Bu, mau saya bawa pulang.” “Mau memelihara tikus?” tanya istri saya heran.

“Ah ya tidak Bu. Bayi-bayi tikus ini dapat dijadikan obat kuat,” jawab Mang Maman sambil meringis. “Obat kuat? Bagaimana memakannya?” “Ya ditelan begitu saja. Bisa juga dicelupkan ke kecap lebih dulu.” Setelah memberi upah sepuluh ribu rupiah, istri saya masih terbengong-bengong menyaksikan Mang Maman memasukkan keempat bayi tikus itu ke kedua kantong celananya, sedangkan yang seekor dijinjing dengan jari dan dilemparkan ke gerobak sampahnya. Kutipan tersebut menceritakan penyelesaian masalah, sebagai akhir dari konflik utama, tidak lagi ada ketegangan di dalamnya.

Semua masalah pun dianggap tuntas dengan dimasukkannya anak-anak tikus ke dalam kantong celana Mang Maman dan sebagiannya lagi dibuang ke gerobak sampah dengan entengnya. f. Koda Koda merupakan komentar akhir terhadap keseluruhan isi cerita. Bagian ini dapat juga diisi dengan simpulan tentang hal-hal yang dialami tokoh utama. Kutipan: Tikus-tikus tak terpisahkan dari hidup manusia.Tikus selalu mengikuti manusia dan memakan makanan manusia juga.

Meskipun bagi sementara orang, terutama perempuan, tikus-tikus amat menjijikkan, mereka sulit dimusnahkan. Perang melawan tikus ini tidak akan pernah berakhir. Saya masih menunggu, pada suatu hari istri saya akan terdengar teriakannya lagi oleh penampakan tikus-tikus yang baru.

Dalam penggalan cerita tersebut, pengarangnya mengomentari bahwa perang manusia melawan tikus tidak akan pernah berakhir. Tikus-tikus tetap akan menguntit manusia selama makanannya itu tetap ada, tidak terkecuali pada istrinya yang pada saat-saat tertentu akan merasa terancam lagi oleh penampakan tikus-tikus baru lainnya. Bagian-bagian cerita pendek itu merupakan bentuk struktur umum. Artinya sangat mungkin keberadaan cerpen-cerpen lainnya tidak memiliki struktur seperti itu. Hal ini terkait dengan kreativitas dan kebebasan yang dimiliki oleh setiap pengarang dalam berkarya.

Nah, cerita literasi pendek beserta pengarangnya itu biasa disebut sebagai Licentia Poetica. Itu semua adalah gambaran dalam menganalisis sebuah cerpen. Ada banyak struktur dalam cerpen yang kalau kita urutkan, bisa kita pahami cara pengarang dalam membuat sebuah tulisan cerita yang menarik dan imajinatif. Bagaimana? Sekarang kamu sudah paham kan apa itu cerpen dan bagaimana cara menganalisis cerpen?

Sebenarnya masih banyak lho, teknik-teknik yang bisa digunakan dalam menganalisis sebuah cerpen. Kalau kamu ingin jago membuat cerpen yang menarik dan disenangi banyak pembaca, mulailah memahaminya dan mulailah menulis. So, untuk mendapatkan banyak pengetahuan tentang cerpen, selain dari guru di sekolahmu, kamu juga bisa menonton video belajar di ruangbelajar. Setelah itu, kamu bisa konsultasikan deh, ke gurumu!

Jadi, selamat belajar dan menulis cerpen! Referensi: Suherli dkk. 2017. Bahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas 11. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud. Artikel ini telah diperbarui pada 11 November 2021. Apa itu cerita nonfiksi? – Pernahkah kalian ketika ingin sebelum beli buku mengecek jenis apa buku ini atau hanya melihat judul serta nama pengarangnya saja?

cerita literasi pendek beserta pengarangnya

Kalian beli cerita literasi pendek beserta pengarangnya karena pengarang buku merupakan seorang idola sehingga terus mengikuti karya-karya nya? Karena saking membutuhkan suatu buku, mungkin kalian tidak menyadari bahwa buku yang dibeli termasuk buku jenis nonfiksi. Biasanya buku cerita non fiksi ini digunakan sebagai penunjang referensi untuk membuat karya ilmiah, skripsi, makalah dan lain sebagainya.

Pengertian Cerita nonfiksi Cerita nonfiksi merupakan sebuah karangan atau tulisan yang bersifat informatif, penulisnya mempunyai tanggung jawab atas kebenaran dari peristiwa, orang, dan/atau informasi yang disampaikannya.

Oleh karena itu, ketika sedang merangkai kerangka isi cerita non fiksi sangat dibutuhkan penelitian ketat berdasarkan informasi, data-data yang akurat dan kebenaran atau fakta suatu peristiwa atau permasalahan mengenai hal yang akan ditulis. Hal ini perlu diperhatikan karena cerita ini biasanya digunakan sebagai sumber atau bahan rujukan informasi para pembacanya.

Bahasa yang digunakan dalam ceritanya juga harus logis dan dapat diterima nalar pembaca, bahasa yang dipakai formal bukan informal. Grameds dapat mempelajari bagiamana langkah demi langkah dalam menulis cerita nonfiksi pada buku Jadi Penulis Nonfiksi?

Gampang Kok!!! Di dalamnya terdapat berbagai tips penulisan, dan masih banyak lagi yang dapat membantu untuk meningkatkan kemampuan menulis kamu. Cerita nonfiksi sangatlah berbeda dengan karya cerita fiksi dimana penulisnya tidak membutuhkan keakuratan terkait isi di dalamnya. Perbedaan cerita nonfiksi dapat dilihat pertama kali dari judul buku.Mau tau selengkapnya mengenai ciri-ciri cerita nonfiksi?

Ciri-ciri cerita nonfiksi Ini lho beberapa ciri-ciri cerita nonfiksi yang kalian perhatikan ketika sedang ingin mengidentifikasinya: 1.

cerita literasi pendek beserta pengarangnya

Bahasa yang Formal atau Baku Seperti yang aku sampaikan diatas, ciri pertama yang mudah diidentifikasi dari kategori menulis buku non fiksi terletak dari penyampaiannya yang memakai bahasa formal terlihat dari judul bukunya, tidak memakai bahasa gaul. Bahasa formal dalam hal ini tidak menggunakan bahasa tulis gaul, alay ataupun bahasa kekinian yang sedang booming, tidak menggunakan tulisan yang macam-macam.

Dari segi penulisan sesuai dengan bahasa yang baik dan benar, terkadang isi buku nonfiksi bersifat serius. Meskipun ada beberapa buku nonfiksi, misal buku motivasi dan buku referensi ada yang ditulis menggunakan bahasa yang lebih ringan. Walau menggunakan bahasa yang ringan, penulisan tetap menggunakan bahasa yang pas, cara ini diperbolehkan. Rp 175.000 Dalam proses penulisan buku cerita nonfiksi,penulis biasanya mengikuti peraturan dari setiap penerbit karena setiap penerbit memiliki SOP cerita literasi pendek beserta pengarangnya yang beraneka ragam.

Ada penerbit buku yang menerima buku yang menggunakan bahasa baku dan ide yang belum pernah diterbitkan sebelumnya ataupun mirip dengan salah satu buku yang sudah pernah diluncurkan. Lalu, ada penerbit yang menerima buku nonfiksi yang menggunakan bahasa yang sesuai dengan gaya bahasa dari penulis. Namun dari segi penyampaian pada dasarnya haruslah menggunakan puebi baik dan benar. Jadi kembali lagi, tergantung dari masing-masing kebijakan penerbit.

2. Bahasa yang denotatif Apa itu bahasa denotatif? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang berkaitan dengan denotasi. Artinya kata yang didasarkan atas penunjukan yang lugas pada sesuatu di luar bahasa atau yang didasarkan atas konvensi tertentu dan bersifat objektif.

Keduanya memiliki persamaan, denotatif adalah makna dengan pengertian objektif dan sesuai dengan aslinya. Maksud dari apa adanya adalah tidak disertai dengan perasaan dan pemikiran tanpa menimbulkan nilai rasa tertentu. Apa yang ditulis berguna untuk menyampaikan informasi secara lengkap, to the point dan tegas. Para penulis memakai bahasa denotatif dengan tujuan penulis memberikan informasi kepada pembaca tanpa dibuat-buat. Informasi yang tidak berbelit-belit dan hanya separuhnya.

Tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga memberikan stimulan dan inspirasi kepada pembaca. 3. Isinya Berkaitan tentang Fakta/Aktual Isi buku cerita bersifat fakta dan faktual. Fakta sesuai dengan data yang didapatkan dari lapangan atau penelitian yang sudah ada sebelumnya. Isi buku yang disampaikan bersifat faktual sehingga pembaca dapat memperoleh manfaat dari informasi yang diberikan. Kategori buku non fiksi ada banyak jenis, diantaranya ada jenis buku bahan mengajar, motivasi dan buku referensi.

Dari beberapa jenis buku tersebut, semuanya memiliki karakteristik berbeda, dan memiliki satu esensi yang sama, yaitu buku imajinatif tanpa sumber. 4. Tulisannya Bersifat Ilmiah Populer Tulisan buku cerita non fiksi dikatakan dengan gaya penulisan ilmiah populer atau disesuaikan dengan format puebi.

Dengan kata lain, tulisan tidak melulu kaku dan itu-itu saja. Dikatakan tulisan ilmiah populer karena penyajiannya dengan bahasa yang sesuai dengan pasar dan data yang diambil berdasarkan dengan kajian, survey penelitian di lapangan, daftar pustaka dan mengacu pada referensi atau sumber yang sama. Sumber yang disinggung nantinya tidak secara langsung ditulis ulang begitu saja. Namun, tetap melalui proses pemilihan diksi atau kata yang familiar cukup mudah cerita literasi pendek beserta pengarangnya dimengerti serta disampaikan kembali dengan menggunakan gaya bahasa yang oleh penulis.

cerita literasi pendek beserta pengarangnya

Cara yang biasa dipakai dengan mengkombinasi ide lama dari sumber referensi lalu di padu padankan dengan ide yang kita miliki. 5. Isinya diambil dari yang sudah ada ataupun penemuan Mengapa buku non fiksi ditulis oleh sang penulis sampai diterbitkan untuk pembaca?

Tentunya memiliki untuk menyempurnakan atau memperbaiki ide dari penulis/ulasan naskah yang terlebih dahulu sudah. Maka dari itu, bagi penulis yang menulis tema, isi, ide cerita yang serupa atau gampangnya sama persis dengan bahasa yang berbeda sering ditolak oleh penerbit besar.

Penerbit besar memiliki kriteria seperti penulis menyerahkan naskah yang mengandung unsur ide baru yang menarik dan tidak cerita literasi pendek beserta pengarangnya persis dengan naskah yang sudah ada. Jadi, tidak boleh sembarangan memberi naskah kepada penerbit agar tulisan kalian bisa dicetak oleh para penerbit besar Kalian bisa menemukan sebuah karya nonfiksi dan dapat langsung mengidentifikasi terkait unsur-unsur yang sudah disebutkan diatas di dalam karya tulis. Pelajari unsur-unsur tersebut dan pengaplikasiannya untuk meningkatkan cerita literasi pendek beserta pengarangnya menulis kamu melalui buku 1 Jam Mahir Menulis: Panduan Belajar Menulis Fiksi & Nonfiksi oleh Annisa Mardatillah.

Riwayat hidup seseorang, merupakan tulisan yang berisi perjalanan hidup seseorang baik ditulis sendiri maupun ditulis oleh orang lain. Salah satu contohnya adalah buku Soekarno: Sebuah Biografi yang menceritakan mengenai kisah sosok pahlawan kemerdekaan di Indonesia. 2. Esai Esai merupakan sebuah karangan atau tulisan yang membahas suatu tema dari sudut pandang pribadi si penulis. Seperti salah satu contohnya yang dapat Grameds baca yaitu FS Solilokui: Kumpulan Esai.

3. Karya tulis ilmiah KTI adalah hasil karya yang diperoleh dari kegiatan menulis dengan menerapkan konvensi ilmiah contohnya seperti skripsi, tesis, makalah, jurnal, artikel hasil penelitian dan kertas kerja. Grameds dapat mempelajari teknik serta konsepsi penyusunan dokumen secara terstruktur dalam membuat karya tulis ilmiah yang baik melalui microsoft office word melalui buku Menyusun Karya Tulis Ilmiah Menggunakan Microsoft Office Word 2003 (revisi).

4. Catatan dokume nter Cerita sejarah merupakan tulisan yang bercerita tentang masa lalu suatu objek. Salah satu contohnya adalah buku Tak Bersalah (The Innocent Man) yang merupakan adaptasi dari film dokumenter yang ada di Netflix. Jenis-jenis Cerita Nonfiksi Berdasarkan contoh-contoh yang disebutkan, jenis cerita nonfiksi dibagi menjadi dua yakni Nonfiksi murni dan nonfiksi kreatif.

Adapun penjelasannya dibawah ini: 1. Non fiksi murni Penulisannya dirangkai atau dibuat dengan penggambaran yang benar-benar asli. Penulis ketika mengembangkan pembuatan cerita non fiksi murni terdapat bukti berupa data-data yang orisinal dapat dipertanggung jawabkan.

Contohnya tulisan yang bersifat ilmiah seperti skripsi, jurnal, makalah, riwayat hidup seseorang 2. Non fiksi kreatif Non fiksi kreatif juga menyertakan bukti berupa data-data orisinal yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah karangan imajinatif. Contohnya berupa tulisan yang ada pada jurnalisme sastra seperti artikel dan berita. Struktur nonfiksi tak sama dengan cerita fiksi.

Struktur nonfiksi menyinggung: • Orientasi, merupakan bagian yang berisi tentang pengenalan tokoh yang terlibat dalam cerita dan penjelasan dari teks isi cerita. • Rangkaian peristiwa secara urut, berisi urutan peristiwa yang terjadi dalam cerita mulai dari awal hingga akhir permasalahan yang biasanya memakai alur maju. • Reorientasi, merupakan akhir cerita yang berisi kesimpulan suatu cerita dan penutup yang berisi saran dan pesan moral yang dapat diambil sisi positif dari teks cerita nonfiksi Selanjutnya, aku akan membahas unsur-unsur yang ada di dalam cerita nonfiksi: Unsur Buku Non Fiksi Dibawah ini merupakan unsur-unsur cerita nonfiksi yang mesti ada dalam sebuah cerita 1.

Judul Judul buku adalah nama yang dipakai untuk buku atau bab yang dapat menyiratkan secara pendek isi buku, biasanya diletakkan pada sampul buku.Judul buku non fiksi memakai bahasa baku. 2. Nama Penulis Terdapat nama pengarang di dalam sebuah cerita nonfiksi yang menyampaikan karangannya 3. Nama Penerbit Penerbit adalah perusahaan/instansi yang mencetak buku dari mulai mengedit, layout, desain cover dan lain sebagainya sampai buku tersebut dicetak dan siap diedarkan.

4. Tebal Halaman / jumlah bab Jumlah halaman dan jumlah bab yang dibahas dalam buku. 5. Isi buku Isi adalah topik yang akan dibahas 6. Penutup Penutup adalah kesimpulan dari buku yang merupakan pernyataan terakhir dari penulis atas bukunya terkadang terdapat pula saran dari penulisnya. Bagi kalian yang mencoba menulis karya yang bersifat nonfiksi perlu tahu nih tahap-tahapnya supaya tidak ada yang terlewat. Cara Membuat Karangan Cerita Nonfiksi Langkah-langkah membuat karangan nonfiksi, ikutin terus yuk sampai akhir 1.

Mencari Ide Kreatif Mau menemukan ide apa menulis buku nonfiksi, kamu bisa membuat coretan didalam notes terkait bidang apa yang dikuasai atau kesenangan yang paling sering dilakukan sambil browsing juga Ketika ide itu sudah terbentuk dalam satu konsep, maka yang perlu disiapkan tentang sasaran kepada siapa kita akan membuatnya dan cerita itu cocok untuk di usia berapa aja 2. Mengumpulkan referensi Setelah menemukan ide, maka kegiatan selanjutnya ada mengumpulkan cerita literasi pendek beserta pengarangnya terkait isi cerita yang akan dituangkan.

Perlu banget untuk melakukan riset, observasi dari buku, koran maupun jurnal yang dapat dijadikan referensi tulisan kita. 3. Membuat Konsep yang akan ditulis Setelah data terkumpul, buatlah konsep untuk buku kamu mulai dari menyusun bab, menyusun sub bab ataupun membuat pertanyaan-pertanyaan yang melengkapi isi tulisan.Tentukan tema buku nonfiksi apa yang akan dibuat, misalnya sejarah, motivasi atau karangan ilmiah 4.

cerita literasi pendek beserta pengarangnya

Gaya Bahasa Konsepnya sudah dibuat, selanjutnya pakailah gaya bahasa tulisan dengan tema maupun jenis yang ditulis. Penting banget nih, memerhatikan penulisan dengan gaya bahasa yang disesuaikan dengan puebi karena pada bagian ini karya kamu akan dinilai oleh calon penerbit yang akan mendistribusikan karyamu layak atau tidaknya. Setelah lolos dari penerbit, maka pembaca akan menilai karyamu, apakah informatif, bahasanya mudah dipahami atau terlalu sulit untuk dipahami.

5. Data Pendukung Beberapa buku nonfiksi biasanya memerlukan data pendukung. Data pendukung bisa berupa contoh kejadian, contoh aplikasi, foto, gambar, dan sebagainya. 6. Masukkan bagian-bagian buku dengan lengkap Jangan lupa untuk menuliskan daftar isi, daftar gambar, daftar tabel, pendahuluan, isi, daftar pustaka, indeks, dan profil kita sebagai penulis di dalam buku.

Beserta daftar gambar dan daftar yang dicantumkan pada isi buku bila ada istilah-istilah ilmiah di dalam karangan buat indeks untuk memudahkan pembaca apa maksud dari istilah yang kamu pakai. Semua kelengkapan naskah itu bertujuan untuk mempermudah pembaca dalam memahami isi buku kita.

7. Memilih Judul yang Tepat Judul selalu menjadi hal pertama yang dilihat sebelum pembaca memutuskan atau tertarik membacanya ketika di perpustakaan dan membeli sebuah buku.Pilihlah judul dan diksi yang mewakili isi naskah, eye catching, mengundang rasa penasaran calon pembaca misalnya: Filosofi Teras.

8. Mengecek Ulang Tulisan Setelah proses menulis buku nonfiksi selesai, sebaiknya proses terakhir yang diperlukan supaya bisa meyakini diri sendiri adalah membaca ulang naskah yang dibuat, cerita literasi pendek beserta pengarangnya kembali apa masih ada data yang kurang atau rangkaian kata yang berpotensi membingungkan pembaca, harus dihapus dan diganti kata yang friendly 9. Menyerahkan ke Penerbit Nah, setelah naskah sudah selesai melalui tahapan self-editing, sudah yakin dengan semuanya maka langkah terakhir yang kamu lakukan ialah kirimkanlah hasil karya kepada penerbit dan jangan lupa cek kembali sebelum dikirim pastikan semua kelengkapannya.

Kita bisa mengirimkan naskah kepada penerbit mayor untuk diterbitkan, menawarkan pada agen naskah, atau menerbitkannya secara indie. Pilihlah penerbit yang memiliki persamaan visi dan misi dengan naskah kita agar peluang untuk diterbitkan lebih besar. Baca juga : 5 Buku Fiksi dan Nonfiksi yang Membicarakan Kesehatan Mental Contoh Buku Nonfiksi Butuh referensi mau nulis, baca dulu buku-buku cerita yang termasuk nonfiksi, simak terus ya sampai akhir karena aku akan cerita literasi pendek beserta pengarangnya tau contoh-contohnya nih 1.

Contoh Buku Non-Fiksi tentang Pendidikan Buku Mata Pelajaran Sekolah merupakan buku yang memiliki fungsi untuk mendampingi siswa belajar menjadi warga negara yang baik. Melalui materi-materi yang terdapat di buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan siswa diharapkan menjadi generasi penerus dididik, dibina, dan diarahkan dapat berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kepedulian serta penghargaan yang tinggi terhadap bangsanya.

Selain itu, generasi penerus dapat menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dapat mengantarkan generasi penerus mampu menghadapi tantangan masa depan. Berbekal falsafah Pancasila, peserta didik mampu mengikuti perubahan dan perkembangan zaman, tetapi tetap mempertahankan karakter bangsa Indonesia.

2. Contoh Cerita Non Fiksi tentang Sosiologi Buku ini berisi pemikiran-pemikiran orisinil Soekarno tentang berbagai hal, terutama menyangkut ideologi, nasionalisme, dan kemerdekaan, berlangsung sepanjang tahun 1928–1940 dan dimuat di berbagai surat kabar, terutama Suluh Indonesia Muda dan Pikiran Rakyat.

Boleh dikatakan, pikiran-pikiran dalam buku inilah yang menjadi haluan jejak perjuangan Soekarno dalam menentukan masa depan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan dan persatuan. 3. Contoh Buku Non Fiksi untuk Anak Buku aktivitas ini sangat tepat untuk mengasah kemampuan berpikir anak-anak. Logika berpikir anak-anak harus diasah agar mereka cepat mudah memahami banyak hal.

Latihan-latihan di buku ini adalah dasar untuk mengasah kemampuan berpikir mereka sekaligus mengenal hewan-hewan binatang buas. 4. Contoh Cerita Non Fiksi Singkat Pendek Buku merupakan cerita non fiksi pendek singkat dari isi buku tersebut Itu dia tadi penjelasan tentang cerita nonfiksi.

Bagaimana, sudah paham kan apa yang dimaksud cerita nonfiksi dan apa saja jenis-jenisnya? Nah sekarang kalian bisa mulai mencari karya cerita nonfiksi untuk dibaca, kemudian kalian juga bisa jika ingin menulisnya. Ketahui juga tentang : Pengertian Cerita Fiksi Pengertian Pantun Pengertian Puisi Kategori • Administrasi 5 • Agama Islam 126 • Akuntansi 37 • Bahasa Indonesia 95 • Bahasa Inggris 59 • Bahasa Jawa 1 • Biografi 31 • Biologi 101 • Blog 23 • Business 20 • CPNS 8 • Desain 14 • Design / Branding 2 • Ekonomi 152 • Environment 10 • Event 15 • Feature 12 • Fisika 30 • Food 3 • Geografi 62 • Hubungan Internasional 9 • Hukum 20 • IPA 82 • Kesehatan 18 • Kesenian 10 • Kewirausahaan 9 • Kimia 19 • Komunikasi 5 • Kuliah 21 • Lifestyle 10 • Manajemen 29 • Marketing 17 • Matematika 20 • Music 9 • Opini 3 • Pendidikan 35 • Pendidikan Jasmani 32 • Penelitian 5 • Pkn 69 • Politik Ekonomi 15 • Profesi 12 • Psikologi 31 • Sains dan Teknologi 30 • Sastra cerita literasi pendek beserta pengarangnya • SBMPTN 1 • Sejarah 84 • Sosial Budaya 98 • Sosiologi 53 • Statistik 6 • Technology 26 • Teori 6 • Tips dan Trik 57 • Tokoh 59 • Uncategorized 31 • UTBK 1

Malin Kundang




2022 www.videocon.com