Kh nawawi sidogiri

kh nawawi sidogiri

Sidogiri sendiri merupakan pesantren yang didirikan pada 1745 M oleh Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban (yang wafat pada 1766 M).

Sementara Sayyid Sulaiman tidak lain keturunan keempat Syekh Syarif Hidayatullah yang biasa dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Salah satu pengasuh pesantren yang berada di Kabupaten Pasuruan tersebut adalah KH.

Ahmad Nawawi bin Abdul Jalil, setelah sebelumnya diasuh oleh kakak kandung beliau, KH. Abdul Alim bin Abdul Jalil. Dikutip dari BuletinIslam.comKiai Nawawi merupakan kiai kahrismatik yangs sangat dihormati, baik tingkat Nasional hingga mancanegara. Alumni Sidogiri tidak tersebar di bumi Nusantara, tapi juga di luar negeri. dan berikut ini adalah biografi KH.

Ahmad Nawawi Abd. Jalil yang kami rangkum dari berbagai sumber. Biografi KH. Ahmad Nawawi Bin Abdul Jalil Jarang terekspos di media, memperhatikan biografi kiai yang juga penyusun kitab tauhid al-Ma'man Min al-Dhalal tersebut sungguh luar biasa. Di kepengurusan Nahdlatul Ulama, Kiai Nawawi bin Abdul Djalil Sidogiri adalah Mustasyar (Penasehat) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Beliau termasuk salah seorang dari sembilan orang kiai sepuh yang dipercaya sebagai tim Ahwa pada Muktamar ke-33 NU tahun 2015 di Jombang.

Silsilah Bersambung Kepada Pengarang Kitab I'anah Thalibin Kiai Nawawi lahir dari pasangan KH. Abdul Jalil bin Fadil dan Nyai Hanifah Nawawy. Kiai Abdul Djalil atau ayahnya KH Nawawi adalah cicit Sayid Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi, Pengarang I’anatut Thalibin.

Ibu Kiai Abdul Djalil adalah Nyai Syaikhah binti Syarifah Lulu’ binti Sayid Abu Bakar asy-Syatha ad-Dimyathi. Jika dilihat dari silsilahnya, Kiai Nawawi Abdul Djalil Sidogiri merupakan keturunan dan cicit dari seorang ulama dan wali besar, yaitu darah Wali Songo dan Syekh Sayyid Bakri Syatho.

Sementara, ayah Kiai Abdul Djalil adalah Kiai Fadlil bin Sulaiman bin Ahsan bin Sayid Zainal Abidin (Bujuk Cendana/R. Senopati Pranujoyo, Kwanyar Bangkalan) bin Sayid Muhammad Khotib bin Sayid Muhammad Qosim (Sunan Drajat) bin Raden Rahmat (Sunan Ampel).

Baca Juga : Luar Biasa Ini Cerita Sifat Zuhud Kiai Nawawi Sidogiri Selain memiliki kesibukan sebagai pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri setelah menggantikan kakandanya, Kiai Nawawi juga tercatat sebagai Tim Ahwa adalah singkatan dari Ahlul Halli wa Aqdi, yang mempunyai wewenang memilih dan mencabut mandat pimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama atau Rais Syuriah PBNU. Kecintaannya terhadap Nahdlatul Ulama dapat dilihat dari salah satu pesan beliau, "Santri-santri Sidogiri jangan sampai keluar dari NU, karena NU itu peninggalannya KH Hasyim Asy'ari, Kiai Nawawi bin Noerhasan (Kiai Nawawi Sepuh, Red) ikut terlibat dalam lahirnya NU" Kiai Nawawi Wafat KH Nawawi Abdul Djalil Sidogiri wafat pada Minggu 13 Juni 2021, pukul 14.40 WIB.

Mustasyar PBNU ini menghembuskan nafas terakhir di RS Raci, Bangil, Pasuruan, setelah mendapatkan perawatan sebelumnya di RS Lavalette Malang selama empat hari. Navigation Menu • Home • Berita • Wawancara • Feature • Infografis • Artikel • Bahtsul Masail • Profil • Sejarah • Masyayikh Sidogiri • Struktur • Pendidikan • Daerah Pemukiman Santri • Sosial • Santri • Sidogiri Penerbit • Sekretariat • Agenda • Penerimaan Santri dan Murid Baru • Biaya Pendaftaran • Pendaftaran Santri Ramadan • Laporan Kh nawawi sidogiri • Maklumat • Kontak • Follow us on Twitter • Follow us on Facebook • Follow Us On Google+ • Subscribe To Rss Feed • Switch to Bahasa • Switch to Arabic • Switch to English Posted on 20 Feb 2022 KA.

Sa’doellah Nawawie sebagai Pejuang: Ingin Mati Ditembak Belanda Demi Indonesia Semasa revolusi memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, KA Sa’doellah Nawawie mempunyai peran penting dalam memobilisasi rakyat guna membendung invasi asing yang menjajah bumi Nusantara. Bahkan dengan sigap penuh keberanian beliau mengangkat senjata dan memimpin pasukan untuk mengusir kolonial Belanda.

Mulai 10 Oktober 1945 sampai 1 Januari 1946, beliau bergabung dengan front perlawanan Hizbullah selaku komandan Kompi II untuk Divisi Timur. Tentara yang dipimpin sekitar 250-an yang bermarkas di Sidogiri.

Beliau bersenjatakan keris dan Pegras, sejenis pistol. Menurut pandangannya, agresi Belanda harus dihadapi dengan berperang. Memerangi Belanda adalah peperangan suci untuk membela tanah air dari invasi kaum kafir. Dengan ketegasan dan kedisiplinan seorang militer, Kiai Sa’doellah memimpin pasukannya dengan strategi yang matang dalam bergerilya. Kepiawaiannya dalam memimpin pasukan sangat dikagumi oleh pasukannya, sehingga mereka sangat patuh terhadap semua perintahnya.

Bahkan pada tahun 1946, ketika berumur 24 tahun, beliau dan pasukannya ada di Tulangan Sidoarjo untuk mempertahankannya dari serangan Belanda. Dalam pertempuran itu, mereka kadang harus maju dan kadang terpaksa mundur untuk menyusun strategi. Ketegasan beliau melawan Belanda, berbeda jauh dengan KH. Hasani, adiknya, yang berjuang melalui pendekatan terhadap Belanda.

Pernah beliau mendapat keluhan dari bawahannya tentang sikap Kiai Hasani yang dekat dengan Belanda, sampai memakai baju doreng tentara Belanda dan pernah naik tank Belanda. ”Kalau betul Hasani itu ikut Belanda, tidak usah kalian yang membunuhnya. Aku sendiri yang akan menembaknya. Tapi aku akan menanyakan pada Hasani dulu apa maksudnya dia seperti itu,” ungkap beliau. Lalu beliau mengajak Kiai Hasani bertemu di suatu tempat, dan menanyakan apa maksud dari semua perbuatannya.

Lantas Kiai Hasani mengungkapkan alasannya, yakni kh nawawi sidogiri menyelamatkan santri. Karena pada masa itu pesantren kosong ditinggalkan berjuang dan mengungsi oleh semua kiai. “Kalau aku tidak berbuat begini, pasti pondok dibakar,” ungkapnya. Mendengar alasan itu, Kiai Sa’doellah tidak bertindak apapun. Keberanian dan Strateginya Semangat dan keberanian Kiai Sa’doellah dalam berjuang sangat tinggi, sehingga tidak mementingkan diri sendiri.

Kesehariannya rela ada di mana-mana, bergerilya dan bertempur di medan perang. Pernah beliau pergi ke Semarang, Jogjakarta dan tanah Betawi untuk menghadapi agresi Belanda, dengan menunggang seekor kuda dan memegang cemeti. Sedangkan pasukannya diangkut dengan truk. Untuk menyemangati pasukannya, sebelum berangkat berperang, Kiai Sa’doellah membakar semangat mereka dengan orasinya yang menggebu.

Beliau mengintruksikan pada semua pasukannya agar jangan takut dan susah. Walau digertak bagaimanapun juga oleh Belanda, jangan sampai ada yang menyerah. Ayat al-Qur’an yang sering disampaikan pada pasukannya adalah, ”Kullu nafsin dza’iqatu al-maut” (QS. Ali Imron:185). Setiap yang kh nawawi sidogiri pasti akan merasakan kematian. Menurut beliau, ”Walau bagaimanapun juga, setiap manusia pasti akan merasakan kematian.

Jadi jangan sampai takut mati dan susah. Pantang mundur, dan terus maju!”. Perjuangan beliau sangat sistematis dan taktis. Diceritakan bahwa suatu ketika, untuk mengacaukan daerah kekuasaan Kiai Sa’doellah, musuh menyebarkan isu bahwa gagak hitam akan menyerang daerahnya.

Mendengar isu itu, Kiai Sa’doellah juga menyebarkan isu bahwa gagak putih akan melawan gagak hitam itu. Untuk membakar semangat pasukannya di medan tempur, dengan penuh keberanian beliau ada di garis depan dan memekikkan kalimat, ”Allahu Akbar!!”. Konon keanehan terjadi setiap kali beliau membaca takbir.

Yaitu langit menjadi mendung gelap, sehingga Belanda tidak bisa melihat dan merasa gentar. Takut untuk menghadapi tentara Islam. Di kalangan pasukannya, beliau dikenal sebagai sosok yang pemberani. Sehingga beliau pernah masuk ke markas gudang penyimpanan senjata Belanda yang bertempat di Pasuruan, bersama KHR. As’ad Syamsul Arifin Situbondo, santri sekaligus anak buahnya dalam pasukan. Saat peperangan melawan tentara Sekutu meletus di Surabaya tanggal 23 November 1945, Kiai Sa’doellah dengan membawa pasukannya membantu pejuang arek-arek Suroboyo itu untuk mempertahankan tanah air dari ambisi penjajah yang ingin menguasainya.

Tepatnya di daerah Wonokasian. Selama 20 hari peperangan berlangsung seru. Ribuan manusia bergelimpangan terkena mortir-mortir yang dimuntahkan dari kapal-kapal Sekutu. Peristiwa itu dikenang sebagai Hari Pahlawan.

Di saat agresi kesatu, 21 Juli 1947 sampai 3 Desember 1948, Belanda melancarkan serangan besar-besaran secara umum, meliputi Malang, Pasuruan, Probolinggo, dan Bondowoso. Saat itu, pertahanan yang ada di Pandaan Pasuruan jebol, sehingga Belanda merembet ke daerah Pasuruan. Mereka menyisir keberadaan tentara pejuang terus menuju Sidogiri, yang merupakan tempat markas para pejuang. Setelah sampai di Pelinggisan, mereka dihadang oleh pejuang kh nawawi sidogiri Kompi IV, yang dipimpin Kapten Abd.

Latif dan Mahfud Jupri, dengan senjata seadanya. Hingga pertahanan di Pelinggisan pun jebol. Merembetnya Belanda menuju Sidogiri sudah diketahui para pejuang yang ada di Sidogiri lewat tiliksandi (mata-mata).

Untuk menghindari kebengisan Belanda yang sudah mengamuk, akhirnya para pejuang, termasuk Kiai Sa’doellah, keluar dari Sidogiri menuju Kepanjen Malang. Mereka berkumpul dengan Komandan Batalyon TNI Syamsul Hisyam, dari tahun 1947 s.d.

1949. Rupanya serangan Belanda ke Sidogiri sangat merugikan. Karena saat itulah salah satu kh nawawi sidogiri pejuang, KH. Abd. Djalil bin Fadlil (ayahanda KH. Abd. Alim Abd. Djalil Pengasuh PPS), gugur ditembak oleh Belanda. Kiai Sa’doellah ketika mendengar kakak iparnya itu meninggal, langsung mengambil senjatanya dan hendak melawan Belanda. Namun beliau dihalangi oleh KH. Abd. Adzim, kakak iparnya yang lain, demi menghindari jatuhnya korban yang berkelanjutan.

Membekali Tentara dengan Ilmu Batin Selain persiapan dzahir, beliau juga membekali pasukannya dengan berbagai ilmu batin sebelum berangkat ke medan laga. Caranya, beliau mengambil al-Qur’an lalu diletakkan dalam sebuah wadah yang berisikan air, kemudian diminumkan pada semua tentara. Konon ijazah itu akan membuat orang yang meminumnya kebal dari peluru. Tapi pasukan yang meminumnya harus menjauhi dua pantangan. Yaitu tidak boleh menggoda perempuan dan mengambil harta jarahan perang ( ghanimah).

Kalau melanggar pantangan pertama, maka akan terkena penyakit belang. Dan kalau melanggar pantangan kedua, maka akan meletus badannya. Selain itu, Kiai Sa’doellah memberi wirid yang dibaca ketika berperang.

Yakni Bismillâh bi ‘aunillâh 3 x, Allâhu yaghfir 3 xIlâhanâ Anta Maulânâ wanshurna ‘alal qaumilkafirîn. Konon ketika wirid ini dibaca tentara beliau, Belanda tidak bisa melihat kh nawawi sidogiri. Wirid itu oleh Kiai Sa’doellah diberi nama Lembu Sekelan. Artinya, dalam perasaan Belanda pelurunya akan mengenai sasaran, namun pada kenyataannya luput. Sedangkan hizib beliau yang kedua adalah Lâ haula wa lâ quwwata illâ billâhil‘aliyyil-‘azhîm 200 x. Hizib ini diberi nama Hizib Tembok Suarga, yang akan membentengi pasukan dengan kekuatan yang kh nawawi sidogiri.

Berjuang Tanpa Pamrih Kemerdekaan Bangsa Indonesia dari belenggu kaum penjajah adalah tujuan utama perjuangan Kiai Sa’doellah. Hal ini tercermin dari perkataan beliau pada seorang temannya tentang gugurnya KH. Abd. Djalil, ”Seandainya Indonesia belum merdeka, saya juga ingin mati ditembak Belanda, tapi asalkan Indonesia merdeka”.

Artinya, beliau tidak rela mati kalau Indonesia tidak merdeka. Semangat beliau untuk menjadikan Indonesia lepas dari kaum imperialis Barat sangat tinggi. Sehingga, saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Presiden Soekarno di Jakarta, beliau hadir mendengarkannya dan berkumpul dengan para tokoh Proklamasi yang lain.

Beliau juga menyanyikan lagu, ”Sorak-sorak bergembira, bergembira semua. Sudah bebas negeri kita, Indonesia merdeka. Indonesia merdeka… merdeka! Republik Indonesia. Itulah hak milik kita, untuk selama-lamanya. Merdeka… merdeka… merdeka…!!”. Ikhlas dan tanpa pamrih, itulah perjuangan beliau. Ini terbukti pada saat ada rasionalisasi pasukan dari Pemerintah pada tahun 1950 dan Belanda sudah angkat tangan sekaligus angkat kaki dari Indonesia.

Pemerintah menginstruksikan agar semua pasukan pejuang memfusikan diri menjadi satu kh nawawi sidogiri pasukan yang disebut Tentara Nasional Indonesia (TNI). Saat itu Kiai Sa’doellah tak berkenan untuk masuk dalam jajaran ketentaraan, walaupun kawan-kawannya ada yang sampai menjadi jenderal setelah masuk TNI. Dan setelah perjuangan, beliau tak pernah mengambil gaji pensiunan yang diberikan Pemerintah pada veteran perang, dan hal itu juga diperintahkan pada semua pasukannya.

Alasan beliau, takut perjuangannya tidak ikhlas demi membela tanah air. Karena itulah sampai sekarang sebagian pasukan beliau tidak mau menerima gaji pensiunan. KA Sa’doellah setelah Perjuangan: Dari Pesantren Kembali ke Pesantren Setelah Indonesia betul-betul merdeka, pada tahun 50-an Kiai Sa’doellah kembali ke Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) untuk mengurusi santri, yang pada masa itu kira-kira berjumlah 1.500-an.

Beliau menjabat Penanggung Jawab sekaligus Ketua Umum PPS. Walau banyak yang menganjurkan agar masuk ke jajaran TNI, kiai yang dalam surat-surat resmi suka memakai nama A.S. Nawawie ini tetap tidak berkenan. Ini menunjukkan betapa ikhlasnya beliau dalam perjuangannya dan begitu semangatnya beliau untuk mendidik santri. Keberadaan Kiai Sa’doellah di tengah-tengah pesantren rupanya memberi banyak arti dalam memajukan PPS pada masa selanjutnya.

Banyak kebijakan dan gagasannya yang memperpesat perkembangan PPS, utamanya dalam hal administrasi dan pengorganisasian. Peninggalan dan jasanya sangat banyak, sehingga ketika beliau wafat ada taushiyah dari KH.

Cholil Nawawie, ”Apa-apa yang direncanakan Sa’doellah supaya dilanjutkan, agar menjadi (amal) jariyah-nya”. Kebijakan beliau, antara lain pada tahun 1961 memprakarsai terbentuknya koperasi PPS.

Pada awalnya, koperasi tersebut hanya berupa toko-toko kecil yang terletak di Daerah-daerah (kompleks pemukiman santri PPS) dan di Perpustakaan Sidogiri sekarang. Kini, rintisan beliau yang berupa koperasi ini berkembang menjadi 10 unit yang tersebar di beberapa desa, dan omzetnya mencapai milyaran rupiah. Selain itu, pada tahun 1961 M, beliau juga memprakarsai pengiriman guru tugas PPS ke berbagai daerah di Jawa Timur, bagi yang lulus Tsanawiyah.

Dengan itu, diharapkan agar santri bisa menyalurkan ilmunya dan belajar untuk beradaptasi dengan masyarakat. Beliau juga sangat syafaqah (sayang) pada santri. Rasa syafaqah beliau pada santri terbukti ketika para santri akan pulang sendiri sendiri saat pulangan santri. Beliau memberi intruksi agar santri disediakan bis rombongan, tujuannya agar tidak ditipu orang. Sebab pada masa itu sedang marak maraknya penipuan. Dawuh beliau, ”Kalau santri ditipu orang, maka berarti saya yang dikena tipu”.

Kaderisasi untuk Masa Depan Santri Menurut pandangan Kiai Sa’doellah, pesantren bukan hanya merupakan suatu lembaga tempat pengembangan ajaran Ahlussunnah waljamaah dan tempat mempertahankannya dari serangan akidah-akidah yang lain, tapi juga sebagai tempat Latihan bermasyarakat Islami. Oleh karenanya sangat perlu kaderisasi sebagai pembekalan untuk terjun ke tengah-tengah masyarakat. Kh nawawi sidogiri sangat antusias dalam mengkader santri agar menjadi pemimpin yang profesional.

Kalau melantik Pengurus, beliau bersedia untuk hadir dan memberi arahan yang kadang sampai jam dua malam. Beliau sering memanggil para Pengurus pesantren, lalu membimbing dan membina mereka. Kadang dengan cara diceritai bermacam-macam cerita. Tujuannya untuk membina watak mereka. Beliau juga transparan dalam forum rapat, sehingga kalau dikritik bagaimanapun juga beliau terima dengan baik.

Beliau berharap, santri keluaran Pondok Pesantren Sidogiri (PPS) sampai tingkat apa saja, supaya berkiprah sesuai dengan tingkatannya. Dalam pelatihannya, yang diutamakan oleh beliau adalah para putra pemimpin atau tokoh masyarakat.

Karena beliau beranggapan, bagaimanapun juga dia kelak akan menjadi pemimpin, oleh karenanya harus dilatih. Untuk membimbing mereka dalam hal kepemimpinan, beliau menjadikan mereka Pengurus. Agar mereka bisa berlatih menjadi pemimpin. Pembekalan jiwa kepemimpinan terhadap santri beliau wujudkan melalui sistem kepengurusan PPS.

Pada masa itu format kepengurusan disesuaikan dengan tatanan pemerintahan negara. Seperti di PPS dulu ada Dewan Perancang dan Dewan Pelaksana.

Sedangkan kedaerahan dibagi menjadi tiga seperti yang ada di Pulau Jawa. Daerah Tingkat I Timur meliputi Daerah A, B, dan I; Daerah Tingkat I Tengah meliputi C, D, dan E; dan Daerah Tingkat I Barat meliputi H, G, dan F. Masing-masing dipimpin oleh satu orang, laksana sistem Gubenuran.

Sehingga mirip Gubenur Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Penanganan di kh nawawi sidogiri secara penuh diamanatkan pada Pengurus Daerah. Sehingga pada masa itu kepatuhan santri pada Pengurus seakan-akan sama dengan kepatuhannya ketika berhadapan dengan kiai. Kiai Sa’doellah punya cara unik untuk membiasakan Pengurus bersikap kritis dalam rapat, meskipun kepada beliau. Caranya, sebelum rapat beliau memanggil dan menyuruh Ust. Zainal Abidin untuk menanggapi pendapat beliau dalam rapat.

Oleh ‘Gubernur Jawa Tengah’ ini, perintah Kiai dilaksanakan. Tentu saja Pengurus-pengurus lain kaget dan mencelanya kh nawawi sidogiri rapat, “Masak Kiai ditentang!”.

Namun setelah itu mereka tidak sungkan lagi bersikap kritis dalam rapat-rapat, sesuai keinginan Kiai Sa’doellah. Untuk mewujudkan sosok pemimpin yang ulung dan menguasai kemampuan berorasi, Kiai Sa’doellah mencetuskan berdirinya organisasi Jam’iyatul Muballighin (Jamub) sebagai wadah kreasi santri dalam bidang dakwah. Sehingga mampu melahirkan beberapa orator handal. Semua itu tak lain agar ketika santri harus terjun ke tengah-tengah masyarakat, mereka sudah menguasai betul teori kh nawawi sidogiri yang sebenarnya.

Kiai Sa’doellah menginginkan santri tetap berdisiplin tinggi dan mempunyai rasa tanggungjawab. Misalnya ketika Ketua Koperasi pada masa itu akan berhenti menangani koperasi, karena merangkap Ketua II PPS dan wali kelas, Kiai Sa’doellah memperbolehkannya dengan berkata, ”Boleh, asalkan (pada) penggantinya, kamu yang bertanggung jawab”. Ucapannya itu sebagai cerminan begitu sistematisnya cara beliau mendidik dan mengkader santri.

Pernah ditanyakan pada beliau, kenapa di Sidogiri tidak didirikan perguruan tinggi seperti di pesantren lainnya. Beliau menjawab, ” Sidogiri itu sumber. Kalau sumber itu murni sumber, maka bisa dibuat apa saja. Bisa jadi es, jindul dan lainnya.

Kalau sudah dibuat sesuatu, maka tidak bisa dibuat apa saja”. Telaten Mendidik Santri Keistimewaan Kiai Sa’doellah dalam cara mendidik santri adalah sangat telaten dan penuh perhatian. Sehingga santri lebih merasa berhadapan dengan seorang ayah dari pada seorang guru. Cara beliau mendidik jiwa santri ialah sangat berhati-hati dalam menjaga perasaan. Ketika ada santri yang kurang tepat dalam melaksanakan sesuatu, beliau tidak langsung memarahinya.

Namun mengarahkannya dengan ucapan, ”Kalau begini, kh nawawi sidogiri Kalau begini, bagaimana?”. Beliau sering turun tangan sendiri, baik ketika berhubungan dengan santri atau orang lain. Dan ketika memberi wejangan pada orang lain, kadang beliau sampai menangis. Sering Kiai Sa’doellah mewanti-wanti santri agar jangan sampai melanggar sedikitpun. Beliau tidak ingin sedikitpun ilmu yang didapatkan di pesantren ada yang tidak bermanfaat.

Maka dari itu, beliau menganjurkan agar semua santri mentaati semua peraturan PPS, dan selalu bersungguhsungguh ( IJTIHAD) dalam mencari ilmu. Sering beliau menyentil ucapan KH. Abd. Djalil bin Fadlil, kakak iparnya, ”Uthlub ‘uluman wajtahid katsiran”. Carilah ilmu sebanyak mungkin dan bersungguh-sungguhlah.

Kalau diamati, semua pesan-pesan beliau pada santri mengarah pada perjuangan dan keberhasilan nanti di masyarakat setelah boyong. Ambil contoh, beliau pernah berpesan pada seorang santri yang akan boyong agar kalau ada di masyarakat jangan lekas marah terhadap omongan orang lain. Pesan beliau, ” Jek peggelen dek ocean oreng, lamon tero deddieh oreng”.

Pesan itu memberi arti bahwa ketika berhadapan dengan masyarakat, maka kesabaran harus ditanamkan dalam hati. Selain itu, beliau sering berpesan terhadap santri yang akan boyong, agar jangan sampai lupa pada Pondok Pesantren Sidogiri. Kalau sempat, sambang ke Sidogiri. Kh nawawi sidogiri kalau sangat tidak sempat, maka bacaan al-Fatihah-nya saja sambungkan. Dan beliau mengharapkan kalau sudah menjadi tokoh masyarakat dan akan membangun madrasah, maka diberi nama “Madrasah Miftahul Ulum”, disamakan nama madrasah di PPS.

Agar ketika melihat papan nama bertuliskan “Madrasah Miftahul Ulum”, sesama alumni PPS merasa dekat dan bisa berhubungan. Sebagai tempat bercermin bagi santri, ketika berpidato di hadapan mereka—biasanya pada malam Jumat—beliau sering menceritakan perjalanan para ulama dalam berjuang dan menuntut ilmu. Yang sering diceritakan adalah perjalanan Kh nawawi sidogiri Cholil Bangkalan dari tempat mondoknya di Wonosari ke Sidogiri, untuk mengaji pada KH.

Nawawie bin Noerhasan. Sedangkan jarak antara Wonosari dan Sidogiri kira-kira 13 KM. Setiap kali berangkat ke Sidogiri, Kiai Cholil Bangkalan membaca surat Yasin 20 kali. Sedangkan pulangnya ke Wonosari membaca 20 kali, dan diimbuhi membaca satu kali di Warungdowo, hingga genap 41 kali.

”Bagaimana tidak akan menjadi wali, kalau tirakatnya seperti itu,” sambung beliau. Selain itu, beliau juga sering menceritakan dakwah para Walisongo. Kadang apa yang beliau sampaikan sifatnya seperti menceritakan orang lain, namun ternyata dialaminya sendiri.

Hal itu terungkap setelah beliau wafat, ketika ada salah kh nawawi sidogiri anak buahnya di masa perjuangan mengatakan bahwa yang diceritakan Kiai Sa’doellah itu terjadi pada dirinya sendiri. Intinya, semua kehidupan beliau adalah ajaran bagi santri.

Semua langkah beliau, haliah atau kauniah, dan semua yang tampak, menjadi panutan bagi santri. Sangat Disiplin dan Tepat Waktu Sebagaimana seorang tentara yang harus selalu disiplin, Kiai Sa’doellah dalam kesehariannya memegang teguh kedisiplinan.

Bila ada rapat jam 8, maka jam 8 beliau sudah ada di tempat acara. Beliau juga sering memberi wejangan pada Pengurus Pleno ketika rapat, agar selalu disiplin, jangan sampai ada sesuatu yang lain masuk, lalu meninggalkan kedisiplinannya. Semua itu tercermin dari kebijakan beliau dalam menangani sistem keamanan PPS yang membentuk Keamanan Daerah dan Keamanan Umum.

Semuanya diatur langsung oleh beliau. Dan anehnya, beliau sangat senang bila santri jebolan pesantrennya jadi tentara, sesuai dengan karakter jiwanya yang pernah menjadi komandan tentara Hizbullah.

Sampai-sampai beliau berkata, ”Kenapa santri tidak ada yang mau jadi tentara?”. Dimasa beliau juga dibentuk Pertahanan Sipil (Hansip), yang juga mengamankan pesantren. Untuk kepulangan santri, beliau sangat ketat, sehingga menginginkan santri kh nawawi sidogiri hanya satu kali dalam satu tahun.

Yaitu pada bulan Ramadlan saja. Bagi santri yang terlambat kembali setelah pulangan, maka harus membawa keterangan wali santri kenapa terlambat. Kalau tidak membawa surat keterangan, maka disuruh pulang lagi. Keinginan beliau itu hampir menjadi ketetapan dalam peraturan, dan sudah diumumkan sebelum pulangan Ramadan ketika itu.

Namun setelah diajukan pada Kiai Cholil Nawawie, kakaknya yang menjadi Pengasuh PPS, ternyata beliau tidak menyetujui. Akhirnya rencana ketetapan itu dicabut.

Selain disiplin, Kiai Sa’doellah sangat tegas dalam menindak santri yang melanggar, sampai memberikan ultimatum pada seluruh Pengurus, ”Santri yang salah tetap disalahkan, jangan dibela-bela. Dan santri yang melanggar, maka ditindak sebelum ditindak di rumah”. Beliau senang sekali melihat santri berambut pendek, dan sebaliknya sangat tidak senang melihat santri berambut panjang. Beliau langsung memanggilnya untuk dipotong rambutnya.

Kiai Sa’doellah juga sangat tidak suka kalau santri bermain api, bersiul dan bernyanyi di sungai atau tempat lain, dan selain pengurus memperbaiki kerusakan listrik sendiri. Kalau ada santri mau pulang boyong lalu minta maaf, maka takkan diterima kecuali menyebutkan satu persatu kesalahannya.

Semua itu agar tidak diambil mudah oleh santri. Suatu ketika ada seorang kh nawawi sidogiri yang akan berangkat tugas minta doa wirid, dengan alasan takut mengecewakan Sidogiri sebagai utusan Sidogiri. Kiai Sa’doellah menjawab, ”Kalau Sidogiri kecewa, itu karena kamu tidak becus!”.

kh nawawi sidogiri

Keinginan beliau agar santri menaati peraturan pesantren sangat ketat. Beliau sering mewanti-wanti santri agar jangan sampai melanggar peraturan di pesantren, baik kecil atau besar.

Ucapnya, ” Sukur gak melanggar santri-santri iku, tak dungakno sak boyonge teko pondok pesantren, lek dadi kiai dadi kiai sing gede, sing manfaat nang masyarakat. Lek dadi wong sugeh, mandar dadi wong sugeh sing temenan, sing manfaat nang masyarakat”. (Asalkan santri-santri itu tidak melanggar peraturan, saya doakan setelah boyong dari pesantren: kalau menjadi kiai, jadi kiai yang besar, yang bermanfaat bagi masyarakat; kalau menjadi orang kaya, semoga jadi orang yang betulbetul kaya, yang bermanfaat bagi masyarakat).

Hal itu sering beliau ungkapkan dalam rapat-rapat Pengurus. Bersambung ke KH. Sadoellah Nawawie (Bagian III) Disadur dari Buku Jejak Langkah Masyayikh Sidogiri Jilid 1 Pesan Buku
Navigation Menu • Home • Berita • Wawancara • Feature • Infografis • Artikel • Bahtsul Masail • Profil • Sejarah • Masyayikh Sidogiri • Struktur • Pendidikan • Daerah Pemukiman Santri • Sosial • Santri • Sidogiri Penerbit • Sekretariat • Agenda • Penerimaan Santri dan Murid Baru • Biaya Pendaftaran • Pendaftaran Santri Ramadan • Laporan Pengurus • Maklumat • Kontak • Follow us on Twitter • Follow us on Facebook • Follow Us On Google+ • Subscribe To Rss Feed • Switch to Bahasa • Switch to Arabic • Switch to English Posted on 2 Mar 2022 Kiai Hasani Ketika Seorang Kh nawawi sidogiri Mendobrak Fanatisme 10 hari Sebelum Wafat.

Kiai Didatangi Imam al-Ghazali Ribuan orang berjubel di komplek pesarean (makam) Keluarga Pondok Pesantren Kh nawawi sidogiri. Komplek pemakaman yang terletak di belakang mesjid, sebelah barat mihrab itu, tampak penuh dengan orang-orang yang ingin memberikan penghormatan terakhir untuk KH. Hasani Nawawie.

kh nawawi sidogiri

Sebagian besar datang dari jauh, bukan masyarakat setempat. Wajah-wajah mereka terlihat muram. Berduka. Tak ada tawa. Di sebelah barat komplek pemakaman dengan luas sekitar 50 meter persegi ini, terlihat lain jenis) kh nawawi sidogiri melihat prosesi pemakaman dari atas tirai terpal itu. Di sekitar pagar, tampak petugas dari satuan Banser sibuk mencegah orang-orang yang merangsek ke pagar.

Mereka ingin masuk ke dalam kompleks agar dapat mengekspresikan penghormatan terakhirnya secara langsung. Di dalam pagar, tampak Keluarga Sidogiri, tokoh-tokoh dan orang-orang yang sibuk mempersiapkan pemakaman. Sementara itu di luar komplek pemakaman, terdengar gaduh.

Masyarakat berebut ikut memikul keranda jenazah Kiai Hasani Nawawie. Minimal, mereka dapat menyentuh keranda tokoh panutan itu. Melalui pengeras suara, terdengar seruan agar masyarakat tidak berebutan. “Hormati mayyit, hormati jenazah, jangan berebutan!” Teriakan itu terdengar sibuk dan sangat keras. Ketika jenazah sampai di pesarean, masyarakat yang sejak kh nawawi sidogiri gaduh mulai tenang. Hanya sesekali terdengar bisikan dan gumam “Allah… Allah…” dan isak tangis wanita dari barat pesarean.

Prosesi pemakaman itu berlangsung sekitar pukul 16.00 Selasa sore, 13 Rabiul Awal 1422 / 5 Juni 2001. Sebelumnya, salat jenazah dilaksanakan sebanyak 11 kali di Masjid Jami’ Sidogiri. Salat jenazah dilaksanakan berulang-ulang karena masyarakat yang datang berta’ziah terus mengalir dari berbagai daerah. Setiap kali salat jenazah dilaksanakan, masjid selalu penuh bahkan sampai meluber ke surau dan jalan-jalan.

Salat jenazah pertama dilaksanakan sekitar pukul 09.00 pagi, sedang salat jenazah terakhir sekitar 16.00 sore. Kiai Hasani memenuhi panggilan Allah SWT. sehari setelah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW; tepatnya pada malam Selasa, 13 Rabiuts Tsani 1422, pukul 03.50 dini hari. Beliau wafat pada usia 77 tahun karena serangan darah tinggi yang sudah sejak lama dideritanya. Sehari sebelum wafat (malam Senin), Hadratussyekh masih sempat menghadiri acara peringatan Maulid Nabi di Masjid Sidogiri.

Kiai mengikuti pembacaan diba’ dengan sempurna mulai awal sampai selesai. Beliau juga masih sempat berta’ziyah ke rumah H. lsmail, seorang warga desa Sidogiri yang wafat sehari sebelum peringatan hari maulid. Saat itu, Kiai sudah terlihat sakit parah. Sambil dipapah, beliau berjalan ke rumah H. Ismail yang berjarak kira-kira 150 meter dari dalemnya. Menurut penuturan dari salah satu putra tirinya, Mas H.

Abdul Barri, 10 hari sebelum wafat, Kiai Hasani bercerita telah didatangi Imam al-Ghazali dalam tidurnya. Beliau mushafahah (berjabat tangan) dengan tokoh sufi terkemuka Abad Pertengahan itu. Kiai Hasani merasakan perjumpaan dengan Imam al-Ghazali seperti dalam alam nyata, tidak dalam mimpi. Beliau tidak menceritakan lebih lanjut tentang pertemuan dengan Imam al-Ghazali tersebut. Cuma, pada hari itu pula beliau dawuh kepada KH.

Nawawi Abd. Djalil,” Sing enak sa’iki mastur (Yang enak sekarang ini tidak dikenal orang).” Sebelumnya, beliau akan naik haji pada tahun ini menemani Nyai Shalihah, istri beliau. Niat itu telah diutarakan kepada beberapa anggota keluarga Sidogiri.

Yang membuat keluarga Sidogiri tersentak sedih dengan niat Kiai ini, beliau mengatakan bahwa usai naik haji, dirinya tidak akan kembali lagi. Di masa hidupnya, Kiai Hasani banyak mengingat akhirat dan kh nawawi sidogiri didoakan segera mati. Karena beliau dekat dengan Allah SWT. dan rindu segera bertemu. Tetapi Allah SWT. menganugerahi beliau umur panjang, 77 tahun. “Pilih!” dawuh Kiai Hasani suatu ketika pada seseorang, “Mati sekarang masuk surga, atau mati 70 tahun lagi juga masuk surga.” Orang itu hanya diam.

“Kalau saya, memilih mati sekarang. Sama halnya dengan diberi uang 100 ribu sekarang atau 100 ribu 70 tahun lagi,” lanjut beliau mengibaratkan. Kiai Hasani Muda, Diplomat Ulung di Masa Belanda Lahir sekitar tahun 1924/1925, Kiai Hasani sudah yatim semenjak masih dalam usia dini. Abah beliau, KH. Nawawie bin Noerhasan wafat ketika Kiai Hasani masih berusia sekitar 2 tahun. Kiai Hasani adalah putra bungsu KH. Nawawie. Beliau adalah satu dari 8 bersaudara putra Kiai Nawawie.

Masingmasing adalah Nyai Fatimah dan KH. Noerhasan bin Nawawie (dari Nyai Ruyanah). Kemudian Nyai Hanifah, KH. Cholil Nawawie, Nyai Aisyah (ketiganya dari Nyai Nadhifah). Sedangkan KH. Siradjul Millah, K.A. Sa’doellah Nawawie dan KH. Hasani Nawawie adalah dari Nyai Asyfi’ah (Nyai Gondang).

Tanda-tandanya sebagai ulama yang dekat dengan Allah SWT. sudah tampak semenjak muda. Tidak seperti umumnya anakanak muda, Kiai Hasani menghabiskan masa belianya penuh dengan cahaya keagamaan. Beliau adalah sosok pemuda yang agamis, wara’, khusyuk, rajin, dan berbudi pekerti luhur. Menghabiskan waktu dengan aktivitas tak berguna merupakan hal yang sangat tidak disukainya.

Raut wajahnya sejuk dipandang. Bila berjalan, selalu menundukkan kepala dan tampak sangat tenang. Tak seperti kebanyakan putra ulama besar, Kiai Hasani tidak menghabiskan masa mudanya untuk menimba ilmu di berbagai lembaga pendidikan. Beliau tidak pernah bersekolah dan mondok di pesantren manapun kecuali di pesantren abahnya sendiri itupun di bawah asuhan KH.

Abd. Djalil, menantu sang ayah yang berarti juga kakak iparnya. Dalam hal ini Kiai Hasani mengaku dirinya mondok ke Sidogiri dari rumah ibunya (Nyai Asyfi’ah) di Gondang, Winongan ke Sidogiri. Selain itu, beliau tidak pernah mondok k e mana-mana. Kiai Hasani lebih banyak mendapatkan ilmunya secara otodidak. Semasa hidup, putra bungsu KH. Nawawie bin Noerhasan ini hanya mempunyai tiga orang guru.

Pertama kali beliau belajar kepada KH. Syamsuddin, Tampung Winongan Pasuruan. Kepada ulama yang biasa dipanggil Gus Ud kh nawawi sidogiri, Kiai Hasani ngaji kitab al-Ajurumiyah, Imrithi dan Mutammimah. Selain kepada Gus Ud, di Tampung, beliau juga ngaji kepada KH.

Birroel Alim. Selanjutnya, Kiai Hasani belajar kitab Alfiyah ibn Malik kepada kakak iparnya sendiri, KH. Abd. Djalil, di Sidogiri. Kitab monumental tentang ilmu nahwu (gramatika Arab) ini beliau pelajari sampai tuntas.

Usai mengkhatamkan Alfiyah atas saran kakak iparnya itu, Kiai Hasani bermaksud belajar ilmu Fikih. Kiai Djalil juga berjanji akan membacakan kitab al-Asybah wa al-Nazha’ir kepadanya. Tapi, sebelum kitab kaidah-kaidah Fikih itu sampat diajarkan kepada Kiai Hasani, KH.

Abd. Djalil terlebih dahulu wafat. KH. Abd. Djalil adalah pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri pada era 1930-an serta menantu KH. Nawawie bin Noerhasan, abah Kiai Hasani. Konon, salah satu penyebab Kiai Hasani alim tanpa perlu belajar di lembaga kh nawawi sidogiri mana pun adalah berkat doa KH. Ma’ruf, Kedungloh Kediri. Kiai Ma’ruf adalah teman akrab KH. Nawawie bin Noerhasan, Abah Kiai Hasani.

la masyhur kh nawawi sidogiri wali Allah SWT. Bisa bertemu langsung dengan Nabi Khidir AS. dan -bahkan- bila ada kesulitan, bisa langsung berdialog dengan Rasulullah. Suatu saat, Kiai Hasani sowan kepada ulama sepuh Itu. Setelah menceritakan asal usulnya, beliau ditanya oleh KH. Ma’ruf “Apakah sudah hafal nadham Alfiyah?”. Dengan jujur, Kiai Hasani menjawab, “Tidak.” Lalu Kiai Ma’ruf menawari kertas-kertas kecil untuk belajar di pesantrennya selama 40 hari, tapi Kiai Hasani kh nawawi sidogiri.

Kiai Hasani mengatakan beliau sulit untuk kerasan. Kiai Ma’ruf lalu menawari Kiai Hasani untuk mengamalkan puasa selama tiga hari. Selama berpuasa, hanya diperkenankan sahur dan berbuka hanya dengan satu biji kurma. Dengan tirakat ini, KH. Ma’ruf menjamin Kiai Hasani bisa alim tanpa belajar. Tapi, lagi-Iagi Kiai Hasani menolaknya karena merasa tidak mampu melaksanakan amalan itu. Mendengar jawaban Kiai Hasani itu, KH. Ma’ruf menyuruhnya pulang dan berjanji akan mendoakannya setiap kali melaksanakan salat.

Kiai Hasani memang tidak pernah mengenyam pendidikan di lembaga tertentu. Akan tetapi beliau tekun me-muthalaah (mengkaji) pelbagai kitab. Tafsir dan Akhlaq merupakan disiplin pengetahuan kesukaannya. Kitab-kitab yang beliau miliki penuh dengan catatan-catatan hikmah dan kertas-kertas kecil sebagai tanda bahwa terdapat sebuah pernyataan penting pada halaman kitab tersebut.

Beberapa hari setelah wafatnya, kitab-kitab itu diwakafkan ke Perpustakaan Sidogiri. Kiai Hasani hidup pada masa di mana penjajahan Belanda sedang berada pada puncaknya. Kiai Hasani muda lebih mengutamakan berjuang melawan para penjajah daripada menghabiskan waktunya di kh nawawi sidogiri menara gading. Namun modus perjuangan yang beliau tempuh adalah modus yang unik. Tidak seperti KA. Sa’doellah Nawawie, kakaknya yang memilih berjuang memanggul senjata, Kiai Hasani lebih suka berjuang melalui jalan diplomasi.

Beliau kerap mendatangi kamp-kamp Belanda dan berpidato disitu. Dengan mendekati Belanda Kiai Hasani berupaya menetralisir incaran Belanda terhadap Sidogiri. Sidogiri, saat itu, memang sedang menjadi salah satu incaran utama pasukan kompeni. Sidogiri merupakan markas perjuangan KA.

Sa’doellah dalam mengusir Belanda. Kh nawawi sidogiri Kiai Hasani itu sering memimpin pasukan untuk mengadakan penyerbuan terhadap Belanda dari desa kecil ini. Apa yang dilakukan Kiai Hasani dengan mendekati Belanda ternyata cukup efektif untuk mengamankan Sidogiri dari serangan mereka.

Jika pasukan Belanda mau menyerang Sidogiri, Kiai Hasani sudah menyetop mereka sebelum masuk ke desa Sidogiri. Beliau menyuruh mereka untuk kembali.

Dan, mereka pun menuruti apa yang dikatakannya. Pola Hidup Sufi: 21 Kali Bermimpi Soekarno Terletak di tepi selatan asrama Pesantren Sidogiri bersebelahan dengan masjid, dalem itu tampak sepi. Seperti tak ada kegiatan kerumahtanggaan di situ. Bangunannya tampak tua sekali, dengan jendela dan pintu bercat cokelat. Bagian depan berlantai semen seluas 1×3 m². Tak ada aksesoris apapun, hanya tampak beberapa pohon pisang di depannya. Pagar bambu yang menutupinya di bagian depan sudah kh nawawi sidogiri agak rusak.

Dari sebelah barat, dalem itu ditutupi beberapa satir dari anyaman bambu. (Sekarang beberapa bagian sudah mengalami perubahan). Di sinilah, Kiai Hasani tinggal. Jika Anda ke sana, Anda tak akan mengira bahwa itu adalah dalem seorang ulama besar yang amat disegani, terutama di Jawa Timur. Rumah itu memang terlalu sederhana. Tapi, dari sinilah figur panutan itu meniupkan angin sufisme dari pikiran ke pikiran: sufisme yang tidak hanya dalam bentuk konsepsi, tapi sebuah realitas kehidupan.

Kiai Hasani memang menyukai hidup sederhana. Apa yang dijalani dalam hidupnya merupakan bentuk nyata dari nilai nilai sufistik yang tak mengacuhkan materi. Sufisme memang telah menjadi pandangan hidup beliau sejak muda. Beliau konsisten dengan nilai-nilai itu, qawlan wa fi’lan. Sehingga ada kesan unik pada para hidup yang beliau jalani. Memang, pola hidup sufistik pada zaman ini secara realitas tidaklah popular, meski hal itu sering muncul sebagai komoditas wacana.

kh nawawi sidogiri

Ia telah menjadi tumpukan cerita di masa lalu. Nilai utama sufisme yang selalu dipegang teguh oleh beliau sampai akhir hayatnya adalah al-bu’d ‘an al-dun’ya (menjauhkan diri kh nawawi sidogiri dunia). Dalam catatan sejarah, nilai ini dipopulerkan oleh Sayidina Ali yang menyatakan talak tiga untuk dunia.

Begitu pula dalam pandangan Kiai Hasani, hubb al-dun’ya (suka dunia) adalah penyakit yang telah amat kronis menimpa umat ini. Suatu ketika, dalam sebuah manuskripnya, beliau mengungkapkan bahwa akar dari kerusakan umat ini adalah kesenangan ulama ulamanya kepada dunia. Dari 8 orang putra Kiai Nawawie, semuanya hidup miskin.

Tak terkecuali Kiai Hasani. Kesempatan untuk kaya selalu ditolak oleh Kiai ini. Beliau tidak pernah menghiraukan urusan uang dan harta. “Jangan sampai engkau tahu, berapa jumlah uang yang ada di sakumu,” dawuh beliau seperti mengingatkan akan bahaya dunia. Begitulah Kiai Hasani dalam memandang dunia.

kh nawawi sidogiri

Zuhud (asketisme) menjadi cermin utama dalam para hidup yang beliau jalani. Seperti tak ada kesukaan sedikit pun terhadap dunia. Kalau pada umumnya, para tokoh (termasuk ulama) menyukai fasilitas-fasilitas mewah, tapi lain halnya dengan Kiai Hasani. Beliau malah hidup sangat sederhana. Tidak suka mobil. Sering tampak berjalan kaki atau naik becak untuk sebuah keperluan. “Keinginan punya mobil saja, aku tidak ingin,” dawuhnya suatu ketika kepada KH.

Nawawi bin Abd. Djalil, salah satu keponakannya. Jika Anda masuk ke dalem Kiai, maka pasti tersirat sebuah kesimpulan; betapa sederhananya beliau. Di dalem, tidak terdapat peralatan apa-apa. Tak ada hiasan dan di bagian bawah hanya berlantai semen. Menariknya di dinding sebelah dalam, Kiai menggantungkan clurit, pacul dan tangga. Entah isyarat apa yang beliau maksudkan dengan peralatan tani ini. Yang jelas, barang-barang itu bukan hiasan yang dimaksudkan untuk menambah keindahan pemandangan.

Dalam dahar-nya (makan) sehari-hari, Kiai Hasani biasanya hanya cukup dengan nasi putih dengan lauk krupuk dan kecap. Makanan kesukaan beliau adalah kentang rebus diletakkan di piring kecil dan tempe mendol. Pada hari Senin, sehari sebelum wafat, kondisi beliau semakin melemah. Dokter yang memeriksanya menganjurkan agar makan lebih banyak, tapi beliau beralasan bahwa sejak dulu beliau tidak pernah makan banyak. Akhirnya kh nawawi sidogiri hanya menyarankan agar yang penting perut tetap ada isinya.

Uniknya, Kiai malah memberi makan kucing piaraannya dengan ikan tongkol dan ikan-ikan yang biasanya menjadi lauk kebanyakan orang. Kiai memang suka memelihara hewan yang konon juga merupakan hewan piaraan kegemaran Abu Hurairah, salah seorang Sahabat Nabi yang juga perawi Hadis paling masyhur. Kucing-kucing yang terlantar dan sakitsakitan oleh beliau dirawat dan pelihara dengan baik kh nawawi sidogiri sehat dan gemuk. Kalau ada kucing yang mati, maka beliau akan menguburkannya layaknya manusia.

Suatu saat salah satu kucing piaraan beliau terlindas kendaraan salah satu anggota keluarga Sidogiri. Lalu dikuburkan di suatu tempat. Ketika tahu kejadian tersebut, beliau langsung membongkar lagi kuburan kucing tersebut dan dipindahkan ke tempat penguburan kucing yang terletak di belakang dalem beliau.

Dalam dawuh-nyaKiai Hasani menyatakan bahwa kucing merupakan nunutan beliau untuk masuk surga. “Kamu tidak punya dosa, Pus!” dawuh beliau suatu hari seperti berdialog dengan kucing kesayangannya. Memang, beliau sangat akrab dengan kesederhanaan itu. Hidup layaknya orang biasa sudah menjadi manhaj al-hayah (prinsip hidup) bagi beliau.

Berpakaian seperti lazimnya orang biasa. Sering terlihat memakai baju takwa hitam. Tidak suka memakai sorban seperti kebiasaan para ulama. Bahkan, beliau juga lebih suka memakai kopyah hitam dibanding kopyah putih.

kh nawawi sidogiri

Itu semua merupakan manifestasi dari pandangan kesederhanaan dan kesukaan untuk hidup layaknya orang biasa. Kiai Hasani memang amat tidak suka memakai atribut jasmaniah para ulama.

Beliau juga tidak senang diperlakukan istimewa. Pernah suatu ketika, beliau diundang menghadiri walimatul arusy salah seorang tokoh di Pasuruan. Di tempat yang disediakan untuk undangan para kiai, tertulis kalimat “Khusus Masyayikh”. Mengetahui tulisan semacam itu, Kiai Hasani yang kebetulan diundang dan hadir dalam acara tersebut tidak berkenan masuk. Apa kata beliau?

“Aku bukan masyayikh!”. Akhirnya tuan rumah melepas tulisan itu dan Kiai Hasani pun berkenan masuk. Konon, Kiai juga senang diundang oleh salah seorang di Probolinggo, karena di tempat itu beliau tidak diistimewakan dari yang lain. Jika Kiai Hasani mau, bukannya beliau tidak bisa untuk hidup seperti lazimnya tokoh-tokoh lain dalam hal harta benda. Dalam pembagian tirkah warisan setelah beliau wafat, uangnya banyak tercecer di mana-mana.

Kadang di bawah kasur, di dalam kitab dan di tempat-tempat lain. Ini merupakan sebuah cermin bahwa Kiai tidak pernah memasukkan urusan harta ke dalam pikirannya.

Beliau tidak pernah menghitung berapa uang yang dimilikinya. “Jangan sampai kau ketahui uang yang masuk ke sakumu, agar kamu tidak bersandar pada uang,” ungkap beliau menyiratkan sebuah pandangan zuhdiyah-nya. Dulu, Kiai Hasani pernah titip modal kepada H.

Makki, salah satu jutawan terkenal di Pamekasan Madura. Hal ini dimaksudkan beliau sebagai pemenuhan atas kewajiban berkasab (bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup) bagi seorang Muslim. Tapi, sampai akhir hayatnya Kiai Hasani tidak pernah menghiraukan uang itu lagi. Menjelang pembagian warisan, uang itu diserahkan oleh H. Makki kepada keluarga beliau di Sidogiri.

“Al-Dun’ya Dawa’,“ dawuh Hadratussyekh Dunia adalah obat. Kalimat singkat itu diperoleh beliau melalui mimpi. Syahdan, Kiai Hasani pernah bermimpi bertemu Soekarno (Presiden ke-1 Republik Indonesia). Dalam mimpi itu, Soekarno hanya menyampaikan kalimat “al-Dun’ya Dawa’,” kepada Kiai. Konon, mimpi yang sempat beliau tulis dalam manuskripnya itu terjadi sebanyak 21 kali.

Awalnya Kiai Hasani tidak paham apa maksud dari kalimat tersebut. Lalu beliau menceritakan mimpi itu kepada kakak beliau Almaghfurlah KH. Cholil Nawawie. Setelah berpikir cukup lama, KH. Cholil bisa menerka apa maksud dari kalimat “dunia adalah obat” itu. “Obat, hanya digunakan jika keadaan sakit (betul-betul membutuhkan), begitu pula dunia,” papar Kiai Cholil kepada Kiai Hasani.

Mengenai hal itu, Kiai Hasani juga berdawuh, ”Yang baik, berobat itu apa kata dokternya. Tidak boleh overdosis.” Pandangan dan sikap hidup asketis itu memang telah beliau tampakkan semenjak muda. Tak ada tempat di hati untuk kesenangan duniawi. “Saya ingin tahu, seperti apa rasanya senang dunia itu?” kata beliau suatu ketika, penuh tanda tanya. Begitulah Kiai Hasani, selalu memelihara keselarasan antara dawuh dan perilaku. Kekentalannya dengan sufisme tidak hanya terejawantahkan dalam kata-kata, tapi juga pola hidupnya sehari-hari.

Oleh karena itu, beliau sering mewanti wanti bahwa yang terpenting bagi kita sekarang ini adalah mengamalkan ilmu. “Kalau dulu memang dibutuhkan orangorang alim, sekarang sudah tidak perlu lagi. Semuanya sudah alim-alim. Kita hanya perlu menyelamatkan diri,” tegas Hadratussyekh Ulama memang telah begitu banyak.

Lalu, sebanyak itukah orang yang bermoral ulama? Sufisme telah menjadi kajian luas, di Majelis taklim, seminar, halaqah, dan mimbar-mimbar kuliah. Buku-buku tentang Tasawuf membanjiri toko-toko. Lantas, seluas itukah nilai-nilai sufisme kh nawawi sidogiri telah diterapkan?

Kiai Hasani seperti mengkritik itu semua: “Al-Ilm al-yawm mazhlum,“ dawuh beliau penuh kecewa. Saat ini, ilmu pengetahuan (terutama pengetahuan agama) memang telah menjadi korban.

Pandangan kritis itu tidak hanya ditunjukkan Kiai Hasani untuk para ulama dan cendekiawan. Dalam pandangan beliau, orang-orang yang melaksanakan ibadah pun sekarang banyak yang maghrur, tertipu dan terjerumus dalam lembah kedunguan.

Setelah naik kh nawawi sidogiri pada tahun 1958, beliau enggan untuk naik haji lagi. Hadratussyekh begitu prihatin melihat Ka’bah sekarang. Begitu banyak munkarat di sekitar bangunan tinggi kh nawawi sidogiri itu. Padahal kita mesti ekstra hati-hati di Tanah Suci itu.

Tanah yang mendapat julukan “Haram” ini tidak bisa dibuat sembarangan. Mengenai ibadah, Kiai Hasani memberi penekanan utama pada sisi makna. Ibadah bukan cuma urusan ritual badaniah belaka, tapi berintisari pada pemaknaan hati.

Oleh karena itu, beliau lebih suka melakukan ibadah yang dirasanya sebagai hal berat. Di situ ada upaya menundukkan hati kepada ilahi. Mengatur gerak hati memang lebih berat dibanding aktivitas jasmaniah. Ini terutama menyangkut keikhlasan dan gerak kalbu yang lain. “Lebih berat maksiatnya hati dari pada maksiatnya badan,” kata beliau.

kh nawawi sidogiri

Menjadikan gerak kalbu sebagai esensi segala aktivitas merupakan pandangan yang diperkenalkan kalangan sufi. Kendati demikian, Kiai Hasani sangat kukuh dan tegas memegang norma-norma ritual sebuah ibadah. Beliau amat tegas dengan kebenaran tata laksana salat menurut aturan Fikih, begitu pula dalam ibadah-ibadah lain.

Bahkan, sampai masalah azan pun beliau mempunyai perhatian amat serius. Sampai sekarang, azan di Masjid Sidogiri tidak pernah berlagu dan berirama mendayu-dayu. Kiai Hasani marah jika azan dikumandangkan berlagu. Kalau dipikir, pada aspek tatakrama, azan berlagu hanya mementingkan dominasi seni serta telah kehilangan makna panggilannya menghadap Allah SWT. Persis seperti umumnya para sufi, Kiai Hasani sejak lama merindukan mati, sebuah keinginan yang agaknya sulit dicerna dalam pikiran orang “waras” yang belum merasakan betapa sesak dunia ini dan betapa indah bertemu dengan Sang Rabb.

Kerinduan itu sering beliau ungkapkan, terutama menjelang hari wafatnya. Apa yang menguntungkan dari mati? “Kalau orang baik, pendek umur, ia akan cepat ketemu dengan kebaikannya. Kalau orang jelek, pendek umur, ia cepat putus dari kejelekannya agar tidak banyak dosanya,” dawuh Hadratussyekh membangun logika dari pandangannya. Jika ada tamu, Kiai Hasani selalu mengantarkan sendiri suguhan kh nawawi sidogiri tamunya. Beliau juga sangat sedih jika banyak tamu, khawatir tidak bisa menghormati mereka dengan layak.

Etiket kh nawawi sidogiri lain yang juga sudah begitu melekat pada Kiai Hasani adalah melestarikan ajaran khumul. Dalam kamus sufi, khumul berarti tidak mau dikenal orang (tentang keistimewaan yang ada pada dirinya). Dalam tuntunan Tasawuf lbnu Atha’ as-Sakandari ajaran ‘tidak suka tampil’ itu adalah dimaksudkan sebagai langkah penyelamatan bagi seorang yang menjalani kehidupan sufi agar tidak terjerumus oleh popularitas dan ketenaran.

“Sing enak sa’iki iki mastur,” dawuh Kiai kepada KH. Nawawi bin Abd. Djalil, salah seorang keponakannya. Memang, khumul telah menjadi filosofi baku, tidak hanya bagi Kiai Hasani tapi juga Sidogiri. Pondok pesantren yang sudah berusia 256 tahun itu seperti besar dalam ketersembunyian.

Terbukti pondok salaf ini tidak pernah kh nawawi sidogiri brosur atau jenis promosi lain, bahkan memasang plakat pun bagi Sidogiri terkesan sangat tabu. KH. Hasani Nawawie (Bagian II) Disadur dari Buku Jejak Langkah Masyayikh Sidogiri Jilid 1 Pesan Buku Sejak tahun 2005, KH Ahmad Nawawi Abdul Jalil melanjutkan kepemimpinan pondok pesantren Sidogiri, Kraton, Pasuruan, Jawa Timur. Ia menggantikan pengasuh sebelumnya KH Abdul Alim bin KH Abdul Jalil yang wafat pada 2005.

<> Kiai Nawawi mengasuh pesantren yang kini terkenal menjadi model pesantren mandiri melalui pengembangan BMT-BMT Syariah yang menyebar terutama di hampir setiap kabupaten di Jawa Timur. Kiai Nawawi dikenal sebagai pengasuh yang sangat dekat dengan para santrinya. Ia kerap mengontrol sendiri kamar-kamar santri di malam hari. Ia menginginkan para santri beribadah dan memuthala’ah pelajaran di malam hari. Demikian pengakuan salah seorang santri.

“Lha, katanya mau jadi mujtahid? Kok malah tidur? Ayo dibaca lagi Ghayatul Wushulnya (salah satu kitab Ushul Fiqih),” kata Kiai Nawawi kepada salah seorang santri yang tertidur di mushalla.

Dalam berbagai kesempatan, Kiai Nawawi selalu menekankan kepada para santrinya tentang pentingnya menjaga muru'ah Ulama dan komitmen pengabdian terhadap Nahdlatul Ulama. Tak heran jika kemudian para santri Sidogiri yang banyak mendirikan pesantren modern, selalu melabeli pesantrennya sebagai bagian dari NU yang memadukan metode pendidikan modern dan mempertahankan kajian kitab klasik. Kecuali pengembangan perekonomian, pesantren Sidogiri yang tengah diasuhnya kini dikenal memiliki banyak alumni muda yang mengembangkan pemikiran yang loyal dalam pemeliharaan paham Ahlus Sunnah wal Jamaah di tengah pelbagai macam aliran lain.

Sebagaimana dimaklum, pesantren Sidogiri didirikan pada 1745 M oleh Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban (yang wafat pada 1766 M). Sayyid Sulaiman tidak lain keturunan keempat Syekh Syarif Hidayatullah yang biasa dikenal dengan Sunan Gunung Jati.

( Red Alhafiz K)
Sekitar tahun 1925 M/ 1343 H. lahirlah seorang bayi laki-laki dari pasangan KH. Nawawi bin Nurhasan Sidogiri dengan Nyai Nadzifah.

Di kemudian hari, bayi itu diberi nama Muhammad Cholil. Nama itu adalah pemberian dari Syaikhona Cholil Bangkalan. Konon, Mbah Cholil mengatakan bahwa kelak Cholil kecil akan menjadi penggantinya. Ketika beliau masih di dalam kandungan dibawalah oleh orang tua beliau Kyai Nawawi Sidogiri beserta istrinya yang tengah mengandung. Ke Madura meminta do’a dan barokah kepada Guru beliau Syaikhona Kholil bangkalan Madura.

Mbah Yai Kholil Berkata dan berpesan : “Mon Kanak areyah Lahir senga’ beri’ nyama kholil karena kanak reyah tang panaros”. (Ingat, Kalau anak dalam kandunganmu lahir beri nama kholil ya, karena dia adalah penerus saya). (ada sebuah kisah menarik dimana beliau oleh Allah diberikan karomah yang mirip dengan mbah Syaikhona kholil Bangkalan Madura). Kiyai Kholil sidogiri adalah seorang figure hamba Allah yang cinta ilmu pengetahuan dan memiliki maqom yang sangat tinggi.

Beliau juga termasuk berkawan akrab dengan mbah kiyai hamid pasuruan. Suatu ketika seorang santri beliau bertamu ke ndalem beliau dan di suguhi makanan dan minuman (kebetulan sang santri entah sedang berpuasa sunnat ataukah berpuasa karena mendalami ilmu hikmah) menolak tawaran Kiyai Kholil. Akhirnya Kiyai dawuh: “Tirakatnya santri pondok Sidogiri itu dua halyaitu Rajin belajar menuntut ilmu di pondok dan istiqamah sholat dengan berjama’ah.

Sama halnya dengan kebiasaan Mbah Kiyai maksum lasem beliau akan cepat2 menyuruh santrinya yang berpuasa (entah puasa sunnah atau yang lainnya) untuk berbuka jika sang santri mendapat tugas mengisi bak mandi atau tugas yang berhubungan dengan hajat orang / santri banyak) Kiyai Mustafa Lekok pasuruan adalah wali Allah yang menjabat sebagai sekretarisnya para wali. Ketika ditanya bagaimanakah maqam Kiyai kholil sidogiri.

Beliau menjawab: “ Kiyai Kholil sidogiri itu muqarrabin yang sangat sangat dekat dengan Allah” Kisah Lain Ketika masih kecil tanpa ada sebab yang jelas kiai kholil kecil berteriak "Meduro kiamat bah, Meduro kiamat bah, Meduro kiamat bah" teriakanya.

Kiai Nawawi yang pada saat itu mendengar teriakan putranya menjadi bingung sambil berkata: "Ono opo Lil ?(ada apa lil).","Meduro Kiamat bah (madura kiamat abah)". Sore harinya nya Kiai Nawawi mendengar kabar ternyata Syaikhona kholil Bangkalan Madura telah meninggal dunia/ wafat. (kematian seorang wali berarti hilangnya tonggak untuk menahan azab Allah dan ruh sesama wali itu kh nawawi sidogiri mengenal).

Hari demi hari pun berlalu. Cholil kecil tumbuh sehat. Kini, beliau mulai mengeja huruf. Mempelajari kitab-kitab salaf. Beliau berpindah dari satu pondok ke pondok yang lain. Mulai belajar di Sidogiri, sampai mengembara ke Makkah al-Mukarramah. Konon, beliau juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Sarang Jawa Tengah. Saat itu, Sarang dipengasuhi oleh KH. Zubair (Ayahanda KH. Maimum Zubair). Beliau begitu tekun mengaji dan mengkaji. Disamping itu, kh nawawi sidogiri sembunyi-sembunyi beliau mengisi jading KH.

Zubair. Setiap pagi, jading sudah terisi penuh. Hati KH. Zubair bertanya-tanya, siapa kira-kira yang mengisi jading. Tak lama kemudian, KH. Zubir pun tahu bahwa yang mengisi jeding adalah Kiai Cholil bin Nawawi dari Sidogiri. Lalu, KH. Zubair berkata kepada Kiai Cholil, “Mas, Kamu pulang saja, kasihan yang lain” Semangat Kiai Cholil bin Nawawi memang tidak diragukan lagi.

Kitab seakan sudah menjadi teman sejati. Tak ada hari tanpa untaian ilmu itu. Bahkan, Nyai Murti, istri kedua Kiai Cholil juga menuturkan, setiap Kiai datang menggilir, beliau tidak pernah lepas dari kitab.

Malah menjelang tidurpun beliau masih terus membaca kitab hingga akhirnya tertidur. Selain itu, Kiai Cholil juga istikamah mengajar. Seakan tidak ada kata libur dalam kamus beliau.

Setiap ada kesempatan, beliau pasti mengajar. Mengajar adalah amal baik yang dijadikan tirakat oleh beliau. Konon, suatu ketika Kiai Cholil mengajak Ust. Abdurrahman Syakur menghadiri Undangan dengan menaiki dokar. Di sela-sela perjalanan itu Kiai Cholil menyempatkan mengajarinya ilmu Fara’idh.

Alhmadulillah, sampai sekarang pelarajan yang diberikan Kiai Cholil masih melekat. Perinsip Kiai Cholil Nawawi adalah “ Lazimul Muthala’ah wal Jama’ah Tananlul-Ulum an-Nafi’ah (Tekunlah belajar dan salat berjema’ah, niscaya kau peroleh ilmu yang bermenfaat.” Kebiasaan lain yang sangat beliau tekuni adalah salat berjemaah.

Bisa dikata Kiai Cholil sampai ajal menjemput tidak pernah meninggalkan salat berjemaah. Pada saat sakit pun beliau masih menyempatkan diri untuk salat berjemaah. Salat terakhir beliau adalah salat Isya’ yang dilanjutkan dengan salat tarawih. Waktu itu, beliau sudah sakit parah. Beliau sudah tidak mampu salat berdiri. Namun, dengan tekat menancap di hati beliau melangkah ke masjid untum bermakmum pada KH. Abdul Alim.

Dengan tawaduk, beliau bertanya kepada KH. Abdul Alim apakah beliau sudah bisa salat duduk. Setelah itu, beliau salat bermakmum pada KH. Abdul Alim. Kiai Cholil Nawawi kh nawawi sidogiri seorang yang begitu peduli pada masyarakat kecil. Beliau begitu kasihan pada mereka. Jika ada orang menjajakan dagagan ke dalem beliau menjelang lebaran, hampir pasti beliau selalu memblinya. Beliau tidak tega jika pedagang kecil itu pulang dengan tangan hampa.

Untuk sementara, barang itu akan di simpan di dalem. Ketika hari raya tiba, beliau membagi-bagikan barang itu pada tetangga. Kiai Cholil juga menyediakan padi untuk masyarakat. Di dalem beliau ada dua lumbung padi, satu untuk keperluan dalem, yang satu untuk persediaan takut masyarakat membutuhkan. Suatu ketika, panen gagal.

Masyarakt kelaparan. Mereka pun berduyun-duyun mendatangi dalem Kiai Cholil. Lumbung persediaan untuk dalempun iktu habis. Akan tetapi, masih belum mencukupi. Masyarakat ada yang tidak kebagian. Lalu, Kiai Cholil menangis. Beliau sedih karena merasa tidak bisa membantu masyarakat dengan maksimal. Kiai Cholil begitu arif memandang kehidupan dunia. Menurut beliau kehidupan dunia hanya perjalanan menuju keabadian. Kehidupan dunia hanya untuk memperbanyak bekal untuk kelak di akhirat. Suatu hari, Kiai Cholil mengadukan perasaannya pada KH.

Kholid. “Lid, Aku sekarang susah.” Kata Kiai Cholil. “susah kenapa Kiai?” Tanya KH. Kholid. Lalu, Kiai Cholil menjawab, “Setiap kali saya sedekah, Allah swt. langsung membalasnya. Kemarin, Saya sedekah sarung kepada orang. Tak lama kemudian ada orang mengantarkan saurng 10 helai ke rumah. Beberapa harinya lagi, saya bersedekah, tak lama kemudian ada orang mengantarkan sesuatu yang sama dengan apa yang saya sedekahkan dengan jumlah lebih besar.

Saya takut, balasan Allah swt.

kh nawawi sidogiri

itu diberikan kepada saya di dunia saja, sementara di akhirat nanti saya tidak mendapatkan apa-apa.” Dawuh Kiai Cholil sambil meneteskan air mata. Bahkan, saat makan, ketika terasa Nikmat, Kiai Cholil berhenti.

Alasannya, “Saya hawatir nikmat saya habis di dunia.” Kata Kiai Cholil. Tak heran, jika Kiai Cholil sering berdo’a, “Ya Allah, hidupkan aku dalam keadaan miskin. Dan ambil nyawaku dalam keadaan miskin.

Serta, kumpulkanlah aku bersama orang-orang miskin”. Kia Cholil adalah kiai besar yang tidak mau dibesar-besarkan. Sifat tawaduk mengakar kuat dalam hati beliau. Suatu saat, beliau diundang ke satua acara perkawinan. Ketepatan yang mengundang tidak begitu kenal kepada Kiai Cholil. Saat Kiai Cholil datang, tuan rumah tidak menyambut beliau seperti menyambut kiai besar.

Pakain sederhana kiai membuat tuan rumah tidak mengira bahwa beliau pengasuh Sidogiri. Dengan tenang Kiai Cholil langsung duduk dengan para undangan yang lain. Selang beberapa lama, tuan rumah tahu bahwa yang duduk dengan masyarakat biasa itu Kiai Cholil. Tuan rumah langsung bangkit dan mempersilahkan kiai Cholil agar masuk ke tempat yang telah disediakan untuk para kiai.

Kiai Cholil menjawab, “Sudah di sini saja, sama saja kok.” Ramadan sudah ada di penghujung akhir. Kiai Cholil tetap memaksa salat Trawih berjemaah di Masjid meski beliau sakit. Di tengah salat Trawih, beliau pergi ke jading mengambil wudu. Ketika mau keluar, Kiai Cholil terjatuh tanpa seorang pun yang tahu.

Untunglah, tak selang beberapa lama, khadamnya datang menolong. Si khadam langsung memeluk Kiai Cholil samberi berdiri untuk di angkat ke dalem, tapi tak lama kemudian beliau menghembuskan nafas terakhir. Tanpa terasa, air mata tumpah. Isak tangis terdengar sayup-sayup.

Hati juga tak kalah sedih karena tak rela kehilangan sang kiai. Beribu-ribu orang hadir memberikan penghormatan terakhir. Dengan mata berkaca-kaca, mereka mengenang dengan doa.

Saat itu, keranda seakan berjalan di ujung jari, karena banyaknya orang yang memikul, bahkan tikar yang menjadi alas keranda menjadi rebutan sampai habis.

Mereka menginginkan secuil berokah dari Kiai Cholil bin Nawawi. Kiai Cholil wafat pada malam Senin pon 21 Ramadan tahun 1397 H/ 05 September 1997 M dan dihauli di Pondok Pesantren Sidogiri setiap tanggal 21 Ramadan (sore menjelang magrib)
Navigation Menu • Home • Berita • Wawancara • Feature • Infografis • Artikel • Bahtsul Masail • Profil • Sejarah • Masyayikh Sidogiri • Struktur • Pendidikan • Daerah Pemukiman Santri • Sosial • Santri • Sidogiri Penerbit • Sekretariat • Agenda • Penerimaan Santri dan Murid Baru • Biaya Pendaftaran • Pendaftaran Santri Ramadan • Laporan Pengurus • Maklumat • Kontak • Follow us on Twitter • Follow us on Facebook • Follow Us On Google+ • Subscribe To Rss Feed • Switch to Bahasa • Switch to Arabic • Switch to English Posted on 25 Jan 2022 Kiai Sufi Tanpa Ambisi KIAI NOERHASAN BIN KIAI NAWAWI Lahirnya sang macan putih Ketika seorang hamba mencapai derajat tinggi dalam dunia sufisme dan tenggelam dalam air konvergensi, maka langkah dan pandangannya selalu berorientasi pada makna keikhlasan.

Ia akan giat berusaha memperoleh dan memelihara keikhlasan, hingga ia menyembunyikan ritual ibadah dan kebajikan dirinya, meski juga tidak meninggalkannya sedikit pun. KH. Noerhasan Nawawie adalah salah satu Maha Guru ( Masyayikh) Pondok Pesantren Sidogiri (PPS), yang kesehariannya selalu mengaplikasikan makna keikhlasan. Dan ia menikmati kesendirian pandangan terhadap Yang Maha Benar dalam segala amal dan ahwalnya. Ia juga figur ulama yang selalu takut dan hati-hati dalam menampakkan status dan kedudukan, yang berpotensi mendatangkan riya’.

Tak heran bila kh nawawi sidogiri orang kurang mengenal sosok putra tertua KH. Nawawie bin Noerhasan Sidogiri ini. Putra Pertama Sekitar tahun 1909 M, lahirlah bayi mungil dari sebuah keluarga kecil di Desa Sidogiri. Tangisan menyeruak menggema seakan memberitahukan kehadirannya di dunia.

Bayi kh nawawi sidogiri lahir dari pasangan KH. Nawawie bin Noerhasan bin Noerkhatim dan Nyai Ru’yanah binti Abd. Hayyi (Kiai Urip). Kiai Nawawie adalah ulama besar yang juga salah satu pendiri jamiyah NU. Pasangan ini masih bersaudara sepupu. Dan keduanya adalah keturunan Sayid Sulaiman Mojoagung Kh nawawi sidogiri dan Sunan Gunung Jati. Kiai Nawawie menyambut kehadiran anak lelaki pertamanya dengan bahagia dan suka-cita. Harapan Pengasuh PPS itu untuk mempunyai anak lelaki tercapai sudah, karena kepadanyalah nanti beliau akan menyerahkan tongkat estafet perjuangan.

Muhammad Noerhasan, begitulah nama bayi mungil tersebut yang disandangkan oleh kedua orang tuanya. Konon, saat Noerhasan masih berada dalam kandungan, Kiai Nawawie mendapat firasat bahwa putranya kelak akan menjadi tokoh yang disegani. Firasat itu timbul dari mimpi beliau, yang menggambarkan bahwa apa yang ada dalam kandungan istrinya adalah macan putih.

Hal itu juga diperkuat perkataan seorang Habib yang datang di kala kandungan Nyai Ru’yanah berusia 9 bulan. Saat itu, Nyai Ru’yanah tidak mau makan sama sekali. Akhirnya datanglah seorang Habib yang mengatakan bahwa yang ada dalam kandungan Nyai Ru’yanah adalah macan putih.

Hal ini membuat Nyai Ru’yanah makin sedih, khawatir apa yang dikatakan Habib tersebut benar-benar kenyataan. Ternyata saat lahir, bukan auman macan putih yang terdengar, tapi tangisan bayi mungil yang kelak akan menjadi tokoh panutan umat.

Dekat dengan Sang Ayah Di kemudian hari, putra-putri Kiai Nawawie berjumlah 9 orang dari tiga istri. Istri pertama adalah sepupunya sendiri, Nyai Ru’yanah binti Kiai Urip (dikenal sebagai Nyai Sidogiri), kedua Nyai Kh nawawi sidogiri (Nyai Tampung), dan ketiga Nyai Asyfi’ah (Nyai Gondang). Dari istri pertama, Kiai Kh nawawi sidogiri mendapat dua putraputri, yakni (1) Nyai Fatimah, istri Kh nawawi sidogiri.

Abd. Adzim bin Urip, dan (2) KH. Noerhasan. Dari istri kedua, mendapat (3) Nyai Hanifah, istri KH. Abd. Djalil bin Fadlil, (4) KH. Cholil, dan (5) Nyai Aisyah, istri KH. Thoyyib bin Abd. Karim, Kramat. Sedangkan dari istri ketiga, mendapat (6) KH. Siradjul Millah-Waddin, (7) KA Sa’doellah, (8) KH. Hasani, dan (9) seorang putri yang meninggal pada usia 4 tahun. Sang ayah, Kiai Nawawie, tak ingin menyia-nyiakan karunia titipan Allah SWT., sehingga Noerhasan kecil diasuh dan dididik langsung olehnya.

Beliau selalu mengajak Noerhasan kecil ke mana pun pergi. Kasih sayang Kiai Nawawie membuat Noerhasan sulit terpisahkan dari sang ayah. Dan memang di antara putra-putri Kiai Nawawie, hanya Noerhasan yang sempat merasakan hidup bersama abahnya sampai besar. Beliau pula satu-satunya putra Kiai Nawawie yang pernah diajak naik kh nawawi sidogiri bersama ke Mekah, ketika berumur belasan tahun (kira-kira umur 11-12). Noerhasan muda menunaikan ibadah haji bersama ayahnya dengan dituntun saat melakukan tawaf mengelilingi Kakbah.

Namun kebersamaan Noerhasan dengan sang ayah tak berlangsung lama. Karena ketika beliau menginjak usia 13 tahun, Kiai Nawawie meninggalkannya untuk selama-lamanya, pergi menuju alam baka.

Noerhasan muda sangat sedih karena ditinggalkan ayah tercinta. Seiring perjalanan waktu, Noerhasan pun tumbuh menjadi anak yang cerdas. Sebagaimana lazimnya seorang bocah kecil, Muhammad–begitulah ia biasa dipanggil sejak kecil–tidak jauh berbeda dengan teman sebayanya. Ia sering bermain dan bergaul dengan teman-temannya. Meski demikian, ia tergolong anak pendiam.

Syahdan, Kiai Noerhasan di masa kecil sampai remaja sering bersama, bermain dan bercengkerama dengan teman sebayanya, pendidikannya pun tak jauh berbeda dengan teman yang lain.

Tapi saat malam tiba, kira-kira jam 10, beliau masuk ke dalam kamar membawa handuk besar. Lantas mematikan lampu templok dan tidur sampai Subuh. Namun anehnya, setelah menikah ternyata beliau mampu mengajar kitab-kitab besar, padahal mengajinya biasa-biasa saja. “Dapat (ilmu) dari mana Kiai Noerhasan itu, saya heran,”ungkap teman masa kecilnya Kiai ‘Mad Sekargadung, dengan kagum.

Sempat Belajar di Mekah Jenjang pendidikan agama yang Kiai Noerhasan tempuh dimulai dengan berguru langsung pada ayahnya sendiri. Hal itu berlangsung sampai beliau ditinggal wafat kh nawawi sidogiri. Selain itu, beliau juga pernah berguru pada kedua kakak iparnya, yakni KH.

Abd. Adzim bin Urip dan KH. Abd. Djalil bin Fadlil. Dan sebagaimana lazimnya ulama dahulu yang kurang sreg jika belum mengaji di Mekah—yang merupakan pusat ilmu dan ulama— maka kira-kira berumur 16 tahun, Kiai Noerhasan melanjutkan pendidikannya ke tanah suci Mekah. Namun masa belajar beliau tak berlangsung lama, kira-kira tiga tahunan. Selain itu, beliau jalankan sistem pendidikannya dengan otodidak. KH. Noerhasan Nawawie sebagai Ayah: Menikah seperti Ali, Penyayang seperti Nabi KH.

Noerhasan Nawawie memulai hidup baru dengan kh nawawi sidogiri masa lajang saat berumur 25 tahun. Beliau mempersunting Nyai Muqimah putri Kiai Muhsin yang saat itu berusia 18 tahun.

Gadis ini menjadi tunangan Kiai Noerhasan sejak berusia 40 hari. Yaitu saat Muqimah kecil berumur 40 hari, ia digendong abahnya menemui Kiai Nawawie bin Noerhasan saat turun dari masjid. Dengan penuh hormat, Kiai Muhsin menuturkan pada Kiai Nawawie yang tak lain adalah pamannya sendiri, “Anu ‘Man, kulo gadah yugo estri (Paman, saya punya anak perempuan) ”.

Kiai Nawawie menimpali dengan penuh perhatian, “Endi-endi, delokdelok! O, yo ayu…mbesok olehno Muhammad ae (Mana, mana, aku ingin lihat. Wah, cantik… Kelak dinikahkan dengan Muhammad [Noerhasan] saja!) ”.

Sejak saat itulah Kiai Noerhasan dengan Nyai Muqimah terikat pertunangan, hingga mereka berdua melangsungkan pernikahan kira-kira tahun 1934. Sebenarnya Nyai Muqimah masih keponakan Kiai Noerhasan sendiri. Karena Kiai Muhsin adalah sepupu Kiai Noerhasan. Yakni putra dari adik Kiai Nawawie, Nyai Fathonah binti Noerhasan bin Noerkhatim.

Pernikahan semacam ini diperkenankan dalam Islam, sebagaimana pernikahan Sayidina Ali dengan Siti Fatimah, yang tak lain adalah putri dari sepupu Sayidina Ali, Nabi Muhammad SAW.

Setelah menikah, Kiai Noerhasan tinggal di dalemnya yang sederhana, di selatan lapangan Desa Sidogiri. Area tempat tinggal beliau selanjutnya dikenal dengan sebutan Daerah I (lanjutan dari pusat kompleks santri di area barat yang disebut Daerah A, B, C, dst). Pasangan Kiai Noerhasan dan Nyai Muqimah dikaruniai 8 putra-putri. Yakni (1) Ning Nur Azzah, wafat, (2) KH. Ghazi (beristri Nyai Hj Zubaidah), (3) Mas Yahya Nawawi, wafat, dan (4) Ning Nur Azzah, wafat.

Kemudian (5) KH. Fuad (beristri Ning Maslihah Siradj), (6) Ning Illiyah (istri Ust H Mahmud Ali Zain), (7) Ning Munjiat (istri Kh nawawi sidogiri Cholil Abd. Ghafur), dan (8) Ning Iradatul Hasanah Luluk Maknunah, juga wafat. Ayah yang Penyayang Sebagai seorang ayah sekaligus pemimpin keluarga, sikap Kiai Noerhasan terhadap istri dan putra-putrinya sangat perhatian dan penuh kasih sayang. Kesabaran dan ketelatenan beliau dalam mendidik keluarganya untuk selalu tawakal dan sabar, adalah potret dari keluarga sakinah.

Semua itu tercermin dari sikap keseharian beliau yang supel dan penuh perhatian. Bahkan beliau menggendong sendiri putra-putrinya, dan tidak pernah memarahi mereka atau mengikat dengan aturan yang berat. Beliau memberi mereka kebebasan. Asalkan tidak bertentangan dengan Syara’, mereka beliau biarkan. Rupanya, penekanan yang beliau lakukan dalam hal pendidikan kh nawawi sidogiri dengan bentuk aplikatif. Terbukti, kewajiban memakai hijab (baca: kerudung) bagi orang perempuan betul-betul diterapkan pada semua anggota keluarganya yang perempuan.

Sampai-sampai santri tidak tahu siapa nyai dan ning mereka, karena jarang keluar rumah. Dan untuk mendidik kebiasaan dalam beribadah, beliau sering mengajak putranya pergi melaksanakan salat jamaah. Bahkan ada putra beliau yang sering diajak Jumatan, meski masih belum mukallaf (belum baligh).

Pendidikan seperti inilah yang paling efektif dalam membangun karakter yang penuh dengan kesopanan, sesuai yang digambarkan dalam adagium Arab, “ Lisanu al-hal afshahu min lisani al-maqal”. Perbuatan jauh lebih berpengaruh daripada perkataan. Kiai Noerhasan juga tak pernah bosan menemani putraputrinya untuk sekedar mendongeng tentang para nabi dan para sahabat, disaat mereka menjelang tidur. Perhatian pada Anak Kecil Perhatian dan kasih sayang Kiai Noerhasan pada anak kecil sangat nampak, seakan-akan beliau bukanlah seorang kiai besar yang disegani.

Tak jarang beliau mengajak mayoran (makan bersama dalam satu wadah ala pesantren) dengan anak-anak kecil yang mengaji pada beliau. Kh nawawi sidogiri ketika tiba musim layangan, yang merupakan kesenangan anak kecil, beliau sering menemani mereka dan memberikan arahan. Dan kesabaran Kiai Noerhasan pada anak kecil tak diragukan lagi.

Beliau pernah menyuruh Mas Haudi-keponakan Nyai Muqimah yang tinggal serumah dengannya– untuk membeli rokok eceran, sekaligus disuruh membeli minyak gas oleh Nyai.

Di tengah perjalanan pulang, tanpa sengaja rokok titipan Kiai Noerhasan masuk ke dalam botol gas. Perasaan takut dan waswas pun bercampur menjadi satu, sehingga ia tak berani untuk pulang. Kh nawawi sidogiri Kiai Noerhasan mencarinya. Setelah ditemukan, kh nawawi sidogiri dugaan, sesudah Mas Haudi menceritakan kejadian sebenarnya, Kiai Noerhasan malah mengatakan, “ Ndak opo-opo, enak malah tambah barak (Tak apa-apa, malah enak tambah menyala) “.

Mendengar tanggapan Kiai Noerhasan seperti itu, legalah hati Mas Haudi. Disitulah letak kehati-hatian Kiai Noerhasan dalam menjaga perasaan orang lain.

Kedekatan beliau dengan anak-anak kecil, juga tampak pada saat-saat di mana biasanya orang hilang kesabaran karena lelah. Selepas Isya kira-kira jam 9 malam, anak-anak kecil yang mengaji dan putra-putri beliau berkumpul di dalemnya, untuk beliau dongengi orang-orang saleh sambil duduk di kursi goyang dan minum kopi.

Ceritanya pun dibuat seru bak cerita dalam film. Untuk membuat penasaran mereka, beliau atur ceritanya dengan sistem bersambung tiap malam. KH. Noerhasan Nawawie dalam Kehidupan Sosial: Pendiam tapi Dekat Semua Kalangan Kendati dalam kesehariannya Kiai Noerhasan terkesan pendiam, tapi hubungannya dengan keluarga sangat akrab.

Beliau sering berkunjung ke rumah adik-adiknya setiap ada kesempatan. Setiap selesai salat Jumat, Kiai Noerhasan tidak langsung pulang ke dalemnya, tetapi masih menyempatkan diri untuk silaturahim ke rumah saudara-saudaranya. Hal itu beliau lakukan setelah pulang dari pesarean (makam leluhur). Nyai Gondang, ibu KA Sa’doellah Nawawie, adalah orang pertama yang beliau sambangi. Karena beliaulah satu-satunya ibu Kiai Noerhasan yang masih hidup.

Setelah itu, Kiai Noerhasan meneruskan ke dalem Nyai Fatimah (kakak perempuannya) di timur dalem Kiai Sa’doellah. Kemudian ke dalem kakak perempuannya dari ayah, Nyai Hanifah (ibu KH.

Abd. Alim Abd. Djalil), dan dilanjutkan ke dalem KH. Cholil. Baru setelah itu beliau pulang. Meski beliau putra tertua dalam keturunan Kiai Nawawie, sikap hormat dan takzim pada semua saudara tetap melekat pada diri beliau. Sehingga semua saudaranya juga sangat takzim dan akrab pada beliau, terutama KH. Hasani Nawawie. Sedangkan KH. Cholil Nawawie, adiknya yang menjadi Pengasuh PPS, sering bermakmum pada Kiai Noerhasan saat salat berjamaah Magrib di surau Daerah I.

Pernah saat Kiai Noerhasan pulang dari berkunjung ke dalem Kiai Cholil setelah Jumatan, di tengah perjalanan beliau berjumpa Kiai Hasani yang kh nawawi sidogiri pulang dari Daerah I.

Adiknya itu mengajak beliau berkunjung ke dalem Kiai Cholil, “Ayo nang umahe Kang Cholil, Kang ‘Mad!”. Tanpa merasa keberatan, beliau mengiakan, “Ayo!”. Sesampai di dalem Kiai Cholil, tentu saja Kiai Cholil menegur Kiai Hasani, “Lo ‘Ni, kok dijak rene maneh Kang ‘Mad?

Sik tas teko kene! (Lo ‘Ni, Kang ‘Mad kok diajak ke sini lagi? Barusan dia dari sini!) ”. “Iyo Kang ‘Mad? (Benar begitu, Kang ‘Mad?), ” tanya Kiai Hasani heran. “ Ben awakmu onok barenge (Biar kamu ada temannya), ” timpal beliau dengan penuh kesabaran.

Disadur dari Buku Jejak Langkah Masyayikh Sidogiri jilid 1 KH. Noerhasan Nawawie Bagian IINavigation Menu • Home • Berita • Wawancara • Feature • Infografis • Artikel • Bahtsul Masail • Profil • Sejarah • Masyayikh Sidogiri • Struktur • Pendidikan • Daerah Pemukiman Santri • Sosial • Santri • Sidogiri Penerbit • Sekretariat • Agenda • Penerimaan Santri dan Murid Baru • Biaya Pendaftaran • Pendaftaran Santri Ramadan • Laporan Pengurus • Maklumat • Kontak • Follow us on Twitter • Follow us on Facebook • Follow Us On Google+ • Subscribe To Rss Feed • Switch to Bahasa • Switch to Arabic • Switch to English Posted on 2 Feb 2022 kiai Cholil Nawawi Abdi Sejati Pendidikan Islam Hari Jumat pagi 25 Syawal 1347 H / 06 April 1929 M pengasuh Pondok Pesantren sidogiri, KH.

Nawawie bin Noerhasan, wafat dalam keadaan sujud ketika melaksanakan salat Dhuha. Sebagaimana tradisi dalam lingkungan pesantren, jika pengasuhnya wafat, maka yang mengganti adalah putranya.

Sulitnya, saat itu putra-putra Kiai Nawawie masih kecil-kecil dan belum siap memangku pondok. Untunglah, saat kh nawawi sidogiri Kiai Nawawie sudah mempunyai dua orang menantu yang alim, yakni KH. Abd. Djalil dan KH. Abd. Adzim. Setelah melalui musyawarah keluarga, semuanya sepakat meminta KH.

Abd. Djalil untuk menjadi pengasuh. Pada mulanya, beliau keberatan, dan minta kesediaan KH. Abd. Adzimnamun KH. Abd. Adzim juga menolak. Maka, walau dengan berat hati, KH. Abd. Djalil pun bersedia. Pada tahun itu pula, KH.

Abd. Djalil resmi menjadi pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri yang ke-9 dengan urut- urutan; 1. Kiai Aminullah, 2. Kiai Abu Dzarrin, 3. Kiai Mahalli, 4. Kiai Utsman, 5. Kiai Husain, 6. Kiai Noerhasan, 7. Kiai Bahar, 8. Kiai Nawawie, dan 9. KH. Abd. Djalil. Masa-masa awal Kiai Cholil menjadi pengasuh, situasi masih keruh. Penjajah Belanda berusaha untuk menguasai belahan bumi Nusantara kembali. Namun, karena tekad untuk menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat sudah bulat, usaha itu mendapat perlawanan keras dari para patriot bangsa.

Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan itu, Kiai atau ulama memegang peran penting dan strategis. Malah, merespon situasi genting tersebut, Jam’iyah NU mengeluarkan resolusi jihad, yang isinya secara tegas menolak imperialisme dan mewajibkan berjuang membela tanah air. Pondok Pesantren Sidogiri juga tidak ikut ketinggalan.

kh nawawi sidogiri

Pondok Pesantren Sidogiri menjadi tempat para gerilyawan mengatur strategi. Malah, adik Kiai Cholil, KA Sa’doellah Nawawie, secara resmi menjadi tentara sampai berpangkat letnan dan memimpin perang gerilya, walaupun pada akhirnya beliau memilih mengundurkan diri dan kembali ke pesantren. Setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan. Pada tanggal 01 Dzu Qa’dah 1366 H atau 26 September 1947 M, KH. Abd. Djalil gugur sebagai syahid ketika melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Belanda kemudian menyeret tubuh beliau dan membuangnya ke sungai Sidogiri. Konon, tetesan darah Kiai Abd. Djalil membuat aliran air sungai Sidogiri saat itu menjadi harum semerbak. Kiai Abd. Djalil wafat setelah menjadi pengasuh di Pondok Pesantren Sidogiri selama 19 tahun. Rupanya, santri tidak siap ditinggal oleh Kiai Abd. Djalil dengan begitu mendadak. Lebih-Iebih setelah agresor Belanda sudah tahu bahwa Pondok Pesantren Sidogiri sebagai sarang gerilyawan.

Suasana menjadi genting dan santri kalang kabut. Dalam suasana seperti itu, santri lebih dikonsentrasikan untuk berjuang melawan agresi Belanda. Sepeninggal Kiai Abd.

Djalil, Pondok Pesantren Sidogiri kembali kesulitan mencari pengganti beliau sebagai pengasuh. Semua putra Kiai Nawawie saling mengalah untuk mendahulukan yang lain. Kiai Noerhasan sebagai putra tertua mengatakan belum siap dan meminta agar Kiai Cholil yang menjadi pengasuh. Namun Kiai Cholil juga merasa berat. Alasannya, Kiai Noerhasan itu putra tertua dari Kiai Nawawie, maka ia lebih berhak menjadi pengasuh.

Namun, Kiai Noerhasan dengan tawaduk menjawab, yang lebih berhak adalah Kiai Cholil, sebab Kiai Cholil saat itu sudah menempati dalem abahnya. Maka, selama hampir dua tahun (1947-1949) Sidogiri mengalami kevakuman (fatrah). Fatrah dalam arti secara resmi tidak ada yang menjadi pengasuh. Tapi pada prakteknya, tidak. Sebab, hampir semua putra Kiai Nawawie muru’ (mengajar) kitab di biliknya masing-masing. Adalah seorang alumni yang alim bernama KH.

Birroel Alim (ayahanda Mas Muzakki), merasa terpanggil dengan keadaan Sidogiri. Didorong rasa tanggung jawab dan kecintaan pada almamaternya, Kiai Birroel Alim berusaha mengumpulkan semua alumni, khususnya di daerah Pasuruan. Dalam pertemuan itu, secara aklamasi alumni memohon kepada Kiai Cholil agar mau menjadi pengasuh. Karena permintaan itu begitu kuat, Kiai Cholil pun bersedia. Maka, pada permulaan tahun 1949, Kiai Cholil resmi menjadi pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri yang ke-10, menggantikan KH.

Abd. Djalil. Ada yang Berkata: Kiai Cholil itu Wali sejak Kecil Sekitar tahun 1925 M/1343H. Nyai Nadzifah, istri KH. Nawawie, melahirkan seorang putra yang kemudian diberi nama Muhammad Cholil. Nama itu adalah pemberian dari Syaikhona Cholil Bangkalan, seorang Kiai yang kesohor kewaliannya. Wa qila, saat itu Mbah Cholil mengatakan bahwa bayi ini kelak akan menjadi penggantinya.

Keistimewaan Kiai Cholil memang sudah tampak sejak kecil. Malah sebagian orang meyakini Kiai Cholil itu sudah menjadi wali sejak kecil. Banyak kisah-kisah menarik terkait dengan keistimewaannya ini. Sehari sebelum Kh nawawi sidogiri Cholil Bangkalan wafat, Mas Cholil (panggilan akrab Kiai waktu kecil) berteriak-teriak, “ Meduro kiamat, Meduro kiamat (Madura kiamat, Madura kiamat)”. Ucapan itu diteriakkan Mas Cholil berkali-kali, sehingga didengar oleh abahnya, Kiai Nawawie, yang waktu itu sedang mengajar di surau, “Ono opo, Lil (ada apa Lil)?” Kiai Nawawie bertanya.

“ Meduro kiamat, Bah, (Madura Kiamat, Abah). “ ulang Mas Cholil. Kiai Nawawie baru mengerti perkataan Mas Cholil pada keesokan harinya, ketika datang berita bahwa Mbah Cholil Bangkalan wafat.

Innalillahi wa inna lillahi raji’un. Kita tahu, mangkatnya seorang ulama besar, sekelas Mbah Cholil Bangkalan bisa disebut kiamat. Sebab, ulama adalah pilar dunia, yang menahan murka Allah untuk menurunkan adzab pada manusia. Juga pernah dalam cuaca yang sangat panas, tiba-tiba Mas Cholil berkata pada abahnya, Kiai Nawawie, “ Ba Aba, udan, Ba (hujan)”. “Opo Lil, wong ketigo ngene, (Apa Lil, wong sekarang kemarau).” kata Kiai Nawawie.

“Udan Ba (Hujan, Kh nawawi sidogiri ulang Mas Cholil. Tak lama kemudian turun hujan dengan deras. Wallâhu a‘lam. Sebenarnya banyak cerita tentang keistimewaan Kiai Cholil yang tampak sejak kecil. Lepas dari valid dan tidaknya, adalah wajar jika Allah SWT memberikan keistimewaan kepada hamba-Nya yang terpilih. Seperti halnya keistimewaan yang Allah SWT berikan pada calon nabi-Nya, yang dikenal dengan istilah irhash. Di kemudian hari, prediksi Mbah Cholil Bangkalan menjadi kenyataan.

Sama dengan Mbah Cholil, Kiai Cholil Sidogiri juga menjadi kiai besar yang sangat disegani. Santrinya menyebar di seluruh pelosok tanah air, dan banyak di antaranya yang menjadi tokoh dan bisa berkiprah banyak dalam masyarakat.

Masa Belajar Dalam menjalani masa-masa belajar, Kiai Cholil mengembara dari satu pondok ke pondok yang lain. Selain mengaji kepada Kiai Abd.

Djalil, Kiai Cholil pernah ngaji di Pesantren SarangJawa Tengah, yang saat itu diasuh oleh KH. Zubair (ayahanda KH. Maimum Zubair). Saat Kiai Cholil mondok di kh nawawi sidogiri, di samping mengaji, secara sembunyi-sembunyi beliau mengisi jeding Kiai Zubair. Selang beberapa lama, hal itu diketahui, Kiai Zubair berkata pada Kiai Cholil, “Mas sampeyan wangsul mawon, sa aken liane (Mas, Kamu pulang saja, kasihan yang lain).” Bisa diartikan, Kiai Zubair menyuruh pulang Kiai Cholil, khawatir kalau-kalau ilmu Kiai Zubair ‘habis’ dan santri yang lain ‘tidak kebagian’.

Di Pondok Sarang, Kiai Cholil mondok hanya kurang-Iebih 3 bulan. Selepas dari Sarang, Kiai Cholil melanjutkan mengaji pada KH. Mahfudz Termas, dan KH. Masduki, Lasem, Jawa Tengah. Tidak diketahui secara pasti berapa lama Kiai Cholil mengaji pada dua ulama kenamaan tersebut. Selang beberapa lama, Kiai Cholil berangkat nyantri ke Mekah.

Di Tanah Suci Kiai Cholil mengaji kepada ulamaulama kenamaan, di antaranya pada Syekh Amin Quthby dan Syekh Hasan al-Yamany. Di Mekah, Kiai Cholil mondok selama 3 tahun (ada yang berkata hanya 7 bulan). Sejauh ini, tidak ada kejelasan yang pasti dan runtut tentang pengembaraan belajar Kiai Cholil. Kehidupan Keluarga Tahun 1947 M/1366 H. Kiai Cholil menikah dengan Nyai Asma dari Podokaton Pasuruan. Setelah sekian tahun berkeluarga, beliau tidak dikarunia putra seorang pun.

Akhirnya, Kiai Cholil menikah dengan seorang janda berputra satu, bernama Nyai Murti. Sebelumnya, Nyai Murti adalah istri KH. Ali Wafa, Tempurejo Jember. Istri Kiai yang kedua ini menetap di Warungdowo. Saat tiba waktu gilir, biasanya Kiai Cholil datang ke sana dengan naik dokar. Dari istri keduanya ini pun Kiai Cholil tidak dikarunia anak. Dalam mu’asyaroh (berhubungan) dengan kedua istrinya, Kiai Cholil sangat berhati-hati dan berlaku adil, utamanya soal qosam (gilir).

Pernah korek api Kiai Cholil tertinggal di dalem (yang ditempati Nyai Asma), namun Kiai tidak berani mengambil sendiri, dengan alasan hari itu bukan waktu gilirnya.

Malah, saat beliau sudah sakit parah, Kiai Cholil tidak mau dibawa ke dalem istrinya yang pertama (Nyai Asma) sebab bukan tepat waktu gilirnya. Waktu hampir wafat pun Kiai Cholil menyempatkan diri untuk meminta maaf kepada istrinya, khawatir pernah berlaku tidak adil. Soal kehati-hatiannya ini, Kiai Cholil pernah berkata pada seseorang, “Awakmu gelem dek akherat melaku medeng (Kamu mau di akhirat tubuhmu menjadi miring),” Ungkapan Kiai itu adalah ancaman bagi seorang suami yang tidak berbuat adil kepada istri-istrinya, seperti yang diterangkan dalam Hadis.

Peka Terhadap Problem Sosial Masyarakat Di dalem Kiai Cholil ada dua lumbung padi, satu untuk keperluan dalem, yang satunya untuk persediaan, kalau-kalau masyarakat kampung membutuhkan. Ketika datang paceklik, biasanya kh nawawi sidogiri akan datang meminta bantuan kepada Kiai Cholil. Satu waktu, panen gagal, sehingga mereka berduyun-duyun meminta bantuan, Dari banyaknya orang yang datang, lumbung persediaan yang biasanya untuk keperluan dalem juga dikeluarkan, namun tetap tidak mencukupi.

Hal itu membuat Kiai Cholil menangis sedih, karena merasa tidak bisa membantu masyarakat dengan maksimal. Seperti lazimnya menjelang hari raya, banyak orang berkeliling menjajakan dagangan dari rumah ke rumah. Setiap orang datang menawarkan barang, hampir pasti Kiai membelinya, dan untuk sementara waktu disimpan di dalem.

Ketika hari raya tiba, semua barang itu dibagi-bagikan kepada tetangga sekitar. Kiai Cholil terkenal sangat loman dan tidak membedabedakan orang yang datang bertamu, semuanya disambut hangat dan hormat. Lebih-Iebih bila yang bertamu dari kalangan Habaib, maka beliau akan betul-betul memuliakannya. Wujud kepedulian Kiai Cholil juga bisa dilihat dari komitmennya untuk mendidik masyarakat. Secara rutin beliau memberikan pengajian kepada masyarakat kampung setiap hari Selasa.

Kiai Cholil di setiap hari Ahad juga memberi pengajian kitab Bidayatul Hidayah kepada kepala desa dan aparatnya sekecamatan Kraton. Disadur dari Buku Jejak Langkah Masyayikh Jilid 1 Pesan Buku  KH. Cholil Nawawie Bagian II
dibaca: 123 Tidak kh nawawi sidogiri umat Islam di Indonesia yang mengetahui bahwa ternyata KH Nawawi Abdul Djalil Sidogiri adalah cicit Sayyid Bakri Syatho, pengarang kitab fikih legendaris, I’anatuth Thalibin. Berikut ini laporan Rekso Amukti : Kiai Nawawi lahir dari pasangan KH.

Abdul Jalil bin Fadil dan Nyai Hanifah Nawawy. Kiai Abdul Djalil atau ayahnya KH Nawawi adalah cicit Sayid Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi, Pengarang I’anatut Thalibin. Ibu Kiai Abdul Djalil adalah Nyai Syaikhah binti Syarifah Lulu’ binti Sayid Abu Bakar asy-Syatha ad-Dimyathi. Sementara, ayah Kiai Abdul Djalil adalah Kiai Fadlil bin Sulaiman bin Ahsan bin Sayid Zainal Abidin (Bujuk Cendana/R. Senopati Pranujoyo, Kwanyar Bangkalan) bin Sayid Muhammad Khotib bin Sayid Muhammad Qosim (Sunan Drajat) bin Raden Rahmat (Sunan Ampel).

Dengan demikian dalam tubuh Kiai Nawawi Abdul Djalil Sidogiri mengalir darah para ulama dan wali besar, yaitu darah Kh nawawi sidogiri Songo dan Syekh Sayyid Bakri Syatho. Kitab karangan kakek buyut KH Nawawi Abdul Djalil Sidogiri I’anatuth Thalibin, kitab karangan Syekh Sayyid Bakri Syatho, kakek buyut KH Nawawi Abdul Djalil. Kiai Nawawi terpilih menjadi Khodimul Ma’had Pondok Pesantren Sidogiri atas musyawarah Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri.

Dia menggantikan kakaknya, Kiai Abdul Alim bin Abdul Jalil yang wafat pada 28 Dzul Qo’ah 1426 H. yang bertepatan 9 Januari 2005. Selama masa kepemimpinannya, Kiai Nawawi Abdul Djalil Sidogiri dikenal sebagai pengasuh Pesantren Sidogiri yang sangat dekat dengan para santrinya.

Dia kerap mengontrol sendiri kamar-kamar santri di malam hari. Dia menginginkan para santri beribadah dan memuthala’ah (mempelajari) pelajaran di malam hari. Pesantren Sidogiri sendiri didirikan pada 1745 M oleh Sayyid Sulaiman bin Abdurrahman Basyaiban (yang wafat pada 1766 M). Sayyid Sulaiman tidak lain keturunan keempat Syekh Syarif Hidayatullah yang biasa dikenal dengan Sunan Gunung Jati.

Di kepengurusan Nahdlatul Ulama, Kiai Nawawi bin Abdul Djalil Sidogiri adalah Mustasyar (Penasehat) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Beliau termasuk salah seorang dari sembilan orang kiai sepuh yang dipercaya sebagai tim Ahwa pada Muktamar ke-33 NU tahun 2015 di Jombang. Kh nawawi sidogiri Ahwa adalah singkatan dari Ahlul Halli wa Aqdi, yang mempunyai wewenang memilih dan mencabut mandat pimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama atau Rais Syuriah PBNU. KH Nawawi Abdul Djalil Sidogiri wafat pada Minggu 13 Juni 2021, pukul 14.40 WIB.

Mustasyar PBNU ini menghembuskan nafas terakhir di RS Raci, Bangil, Pasuruan, setelah mendapatkan perawatan sebelumnya di RS Lavalette Malang selama empat hari. Sugeng tindak Kyai… Posted in Sejarah Post navigation Leave a Reply Cancel reply Your email address will not be published. Required fields are marked * Comment Name * Email * Website Search for: Recent Posts • Andy Priyono : Oli Kixx dengan formulasi Triple Double Tehcnology atau Teknologi Peningkatan Ganda • Antrian Penumpang Lion Air di Juanda, Luber Jalur Sby- Makassar Full Booking • Kekuatan Anggota Yang Di miliki,Mendatangkan Keberkahan.

• ” Keunikan Dusun Langring Banyuwangi “ • PUASA SYAWAL & Buka Bersama di Masjid AnNur AsSalam BSS Land Mandai Kab Maros Recent Comments Archives • May 2022 • April 2022 • March 2022 • February 2022 • January 2022 • December 2021 • November 2021 • October 2021 • September 2021 • August 2021 • July kh nawawi sidogiri • June 2021 • May 2021 • April 2021 • March 2021 • February 2021 • January 2021 • December 2020 • November 2020 • October 2020 • September 2020 • August 2020 • July 2020 • June 2020 • May 2020 • April 2020 • March 2020 • February 2020 • January 2020 • December 2019 • November 2019 • October 2019 • September 2019 • August 2019 • July 2019 • June 2019 • May 2019 • April 2019 • March 2019 • February 2019 • January 2019 • December 2018 • November 2018 • October 2018 • September 2018 • July 2014 Categories • Agama • Bisnis • Budaya • Info Kampus • Kriminal • Metafisika • Pemerintahan • Pendidikan kh nawawi sidogiri Politik • Redaksi menaramadinah.com • Sejarah • Wisata Meta • Log in • Entries RSS • Comments RSS • WordPress.org
Navigation Menu • Home • Berita • Wawancara • Feature • Infografis • Artikel • Bahtsul Masail • Profil • Sejarah • Masyayikh Sidogiri • Struktur • Pendidikan • Daerah Pemukiman Santri • Sosial • Santri • Sidogiri Penerbit • Sekretariat • Agenda • Penerimaan Santri dan Murid Baru • Biaya Pendaftaran • Pendaftaran Santri Ramadan • Laporan Pengurus • Maklumat • Kontak • Follow us on Twitter • Follow us on Facebook • Follow Us Kh nawawi sidogiri Google+ • Subscribe To Rss Feed • Switch to Bahasa • Switch to Arabic • Switch to English Posted on 18 Feb 2022 KH.

Sa’dulloh Nawawie waktu muda Ulama Intelektual Pembela Revolusi Kemerdekaan Putra Pendiri NU yang Kutu Buku Sejarah dilaksanakan oleh banyak orang.

Namun, hanya segelintir manusia yang dapat tampil, karena mereka lahir pada saat yang tepat dan mampu menafsirkannya”. Demikian kata wartawati Oriana Fallaci dalam pengantar bukunya yang terkenal, Interview with Histori. KA Sa’doellah Nawawie boleh jadi termasuk salah satu orang yang digambarkan Fallaci itu. Putra salah satu pendiri NU KH. Nawawie bin Noerhasan ini adalah salah satu orang yang dapat tampil ke pentas sejarah Republik Indonesia, sehingga dapat mewujudkan kemerdekaan bangsa dari agresi sang imperialis Belanda.

Sekelumit Silsilah dan Masa Kecil Kiai Sa’doellah lahir di Sidogiri (?) pada tahun 1922 M. Beliau terlahir sebagai anak kedua dari empat bersaudara, dari pasangan KH. Nawawie bin Noerhasan dan Nyai Kh nawawi sidogiri yang sering disebut Nyai Gondang. Kakaknya yang seayah dan seibu adalah KH. Siradjul Millah-Waddin, sedangkan adiknya KH. Hasani dan seorang perempuan yang meninggal pada usia 4 (empat) tahun. Kiai Nawawie, abahnya, adalah ulama besar yang menjadi salah seorang pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU).

Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri ini menyetujui pendirian NU dengan syarat tidak mengurus uang (baca: tidak mengambil iuran pada anggota). Beliau juga ikut andil dalam pembuatan lambang organisasi Islam terbesar di dunia ini.

Yakni, setelah para ulama sepakat mendirikan NU, hadlratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari menyuruh KH. Ridlwan Surabaya untuk membuat lambang NU.

Lewat istikharah, Kiai Ridlwan mendapat isyarat gambar bumi dan bintang sembilan. Hasil itu segera ia laporkan pada Kiai Hasyim. Kata Kiai Hasyim, “Gambar itu sudah bagus. Tapi saya minta kamu sowan ke Kiai Nawawie di Sidogiri Pasuruan untuk meminta petunjuk lebih lanjut”. Kiai Ridlwan segera menemui dan mengutarakan maksudnya pada Kiai Nawawie yang di kalangan ulama saat itu dikenal sebagai kiai yang waskita ( mukasyafah).

Beliau menjawab dalam bahasa Jawa, ”Saya setuju dengan gambar bumi dan bintang. Namun masih perlu ditambah tali untuk mengikatnya. Dan juga ditambah tulisan ayat, ‘Wa’tashimu bihablillahi jami’an wa la tafarraqu” (QS. Ali Imron:103). Kiai Nawawie juga meminta agar tali yang mengikat gambar bumi ikatannya dibuat agak longgar. Setelah lambang itu disahkan, Kiai Nawawie di hadapan kiai-kiai berkata, ”Selagi (filosofi) tali yang mengikat bumi itu masih kuat, maka sampai kiamat NU tidak akan habis dan selalu ada”.

(Disampaikan oleh Gus Ishom Hadzik, Jombang, dalam lokakarya kebangsaan untuk komunitas pesantren di Surabaya) Kembali ke KA Sa’doellah, dibandingkan saudara-saudaranya, sejak kecil Kiai Sa’doellah bisa dibilang aneh. Saat kecil, beliau sangat dekat pada abahnya, Kiai Nawawie. Saking dekatnya, apa saja yang dilakukan abahnya beliau tiru. Dan setiap kali abahnya bepergian, beliau mengikutinya dari belakang. Selain itu, Kiai Nawawie memberi perhatian penuh padanya.

Sejak kecil sudah tercermin bahwa beliau kelak akan menjadi orang besar dan ahli berdiplomasi. Suatu ketika ada seorang Arab bertamu pada Kiai Nawawie. Saat itu Sa’doellah kecil duduk di samping abahnya tanpa memakai busana apapun.

Lantas orang Arab itu berkata,” Lho kelihatan pusarnya, aurat itu. Haram, haram!”. Dibilang begitu, Kh nawawi sidogiri kecil ‘nyelonong masuk ke dalam dan kembali dengan memakai sabuk untuk menutupi pusarnya, tapi tetap tidak memakai baju. Pendidikan beliau dimulai dari bangku madrasah yang bertempat di Gondang, desa asal ibundanya. Namun sekolahnya hanya sebentar, lalu pindah ke Sidogiri. Selanjutnya beliau tidak pernah sekolah lagi.

Kiai Sa’doellah juga tidak tampak mengaji pada siapapun. Tapi sebetulnya, beliau turut mengikuti pengajian KH. Cholil Nawawie, kakak tirinya, yang diadakan di masjid Sidogiri. Caranya dengan memakai salon yang disambungkan ke dalem.

kh nawawi sidogiri

Status putra kiai rupanya tidak menjadi penghambat keluwesan dan kesupelannya dalam bergaul dengan teman-teman sebaya. Sikapnya pada santri sangat akrab dan menghargai, sehingga menghilangkan kesan sakral di antara kaum santri. Tak jarang beliau bermain ke kamar-kamar santri untuk sekadar bersenda-gurau.

Dan beliau sering mengajak mayoran (makan bersama) dengan santri, dan biasanya memesan intip (kerak nasi) pada santri. Kegemaran Beliau Sehari-hari Sejak muda KA. Sa’doellah Nawawie sangat menggemari menembak dengan senapan angin.

Ketika duduk santai di depan kamar khususnya—yang terletak di bawah pohon mangga di timur dalem KH. Abd. Alim Abd.

Djalil sekarang—beliau menembak buah mangga di atasnya, namun yang menjadi sasaran adalah tangkainya.

kh nawawi sidogiri

Dan jarang bidikannya meleset. Dalam kesehariannya, kalau tidak ada acara, beliau mengisi waktu dengan mengetik dan membaca di dalemnya. Membaca media massa memang sangat digemarinya sejak kecil. Sedangkan buku-buku yang dibaca kebanyakan yang membahas tentang kenegaraan. Sehingga sebagian besar buku-bukunya yang diwakafkan ke Perpustakaan Sidogiri berupa buku-buku kenegaraan dan perjuangan.

Selain itu beliau sangat peduli dan menggemari olahraga, utamanya sepakbola, walaupun tidak main langsung. Sehingga pada masa itu di Sidogiri dibentuk satu tim sepakbola, dan pernah merebut juara I dalam suatu pertandingan yang diselenggarakan Kh nawawi sidogiri di stadion Pasuruan. Di pagi hari Kiai Sa’doellah kadang berolahraga lari-lari kecil, sehingga beliau berbadan tegap dan sehat. Selain itu beliau juga senang olahraga bulutangkis. Dari senangnya, sampai-sampai Winarni—pebulutangkis perempuan asal Pelinggisan Susukanrejo Pasuruan, yang menjadi juara se-Asia di Thomas Cup sebagai utusan Indonesia saat itu—beliau ajak bertanding di muka madrasah lama.

namun pertandingan itu gagal karena hujan lebat. Ternyata hujan itu berkat doa KH. Abd. Adzim bin Oerip, kakak iparnya, yang melemparkan daun Cermai ke atas. Mendengar itu, Kiai Sa’doellah hanya tersenyum. Kiai Sa’doellah juga termasuk seniman. Sering karangannya digubah dalam bentuk kata-kata dan dilukiskan. Dimasa perjuangan, beliau sering menggubah lagu perjuangan berbahasa Indonesia.

Beliau juga pernah menggambar dan menulis nama putranya, Mas d. Nawawie Sa’doellah, lengkap dengan tanggal lahir dan nama bidannya dalam bentuk segi tiga. Satu contoh lagi adalah ide pembuatan lambang santri Sidogiri yang murni dari Kiai Sa’doellah. Lambang ini digambarkan oleh H Utsman Anis. H. Utsman diperintah menggambarnya untuk melahirkan apa yang diangan angankan beliau. Maka H. Ustman membuat tiga gambar, kemudian diajukan.

Lalu Kiai Sa’doellah memberi masukan dengan sebuah pertanyaan,” Ya’ apa kalau begini, Ya’ apa kalau begini”. Akhirnya apa yang beliau ungkapkan digambar lagi, sampai diterima dalam bentuk seperti sekarang. “Berbakti pada Ibu Tiada Bandingannya” “Surga berada di telapak kaki ibu”. Itulah arti sebuah hadis yang menggambarkan betapa agungnya kedudukan seorang ibu. Hadis ini rupanya menancap kuat di hati KA. Sa’doellah Nawawie, sehingga betul-betul diaplikasikan dalam bentuk nyata.

Terbukti, beliau menggendong ibundanya, Nyai Asyfi’ah, ketika akan ke jeding dan lainnya. Padahal beliau sendiri sudah sepuh sekitar umur 50-an. Selain itu, Nyai kebetulan tidak mengetahui kenaikan nominal uang dan kenaikan harga barang. Kalau menyuruh khadam membeli sesuatu, beliau hanya memberi uang satu cidua ci (nominal terendah saat itu).

Namun Kh nawawi sidogiri Sa’doellah tidak menegurnya, beliau hanya memanggil si khadam dan menambah uangnya. Pesan Kiai Sa’doellah pada santri sebelum pulangan, “Santri-santri ketika mau kembali ke pesantren diharapkan mencuci kaki ibunya kemudian diminum”.

Pernah suatu ketika, Kiai Sa’doellah mengadakan rapat dengan seluruh Pengurus dan guru yang bertempat di gedung madrasah (Daerah K sekarang). Di tengah-tengah pidato beliau menangis, karena terbayang akan ibunya yang sudah meninggal.

Dengan lirih beliau berkata, ”Kamu (baca: kalian) jangan berani berani pada ibumu. Surga itu ada di telapak kaki ibu”. Pernah ada santri yang bernama Ra ‘Datsir (sekarang KH. Mudatsir) dari Pamekasan yang menjabat ketua II pada masa itu, minta izin pulang kh nawawi sidogiri menyelenggarakan Haul abahnya. Dan dia mengajak KH. Bahrullah Aziz dari Jember yang menjabat Bendahara Umum. Setelah diizini, mereka pulang. Setelah itu, ternyata keduanya terlambat kembali ke pondok dari ketentuan yang diizinkan.

Setelah sampai di pondok, keduanya tidak langsung laporan, padahal sebelumnya Kiai Sa’doellah telah menanyakan keberadaan keduanya. Tak selang begitu lama, Ra ‘Datsir dipanggil ke dalem.

Setelah sampai, dia langsung dimarahi oleh Kiai. Ketika itu beliau sangat marah, sampai mukanya merah padam dan menggebrak meja. ”Kenapa kamu terlambat?! Kamu kan punya tanggung jawab!! Kamu kan Wali kelas dan Bahrullah itu kan Bendahara, bagaimana dibawa sampai lama-lama begini!!” kata beliau. Ra Datsir pun mengutarakan halangannya, kenapa ia terlambat. Yakni karena oleh ibunya masih belum diizinkan kembali sebelum menyelesaikan sesuatu di rumah. Sebelum Ra Datsir meneruskan ucapannya, Kiai Sa’doellah langsung menangis tersedu-sedu sambil berkata, ”Sudah saya memaafkan, kalau itu karena ibu, kamu terlambat.

Saya memaafkan. Tidak ada bandingannya orang berbakti pada ibu”. Beliau terus menangis sampai lama. Semua itu membuktikan bahwa Kiai Sa’doellah sangat tinggi pengabdiannya pada kedua orang tua, terutama pada ibu. Sikap terhadap Keluarga Hubungan dengan keluarga Sidogiri yang lain sangat harmonis dan bagus sekali, sampai-sampai berbicara pada semua saudaranya beliau memakai bahasa yang sopan ( boso, Jawa). Di masa remajanya, sikap beliau pada saudara-saudaranya sangat akrab.

Sering beliau berboncengan dengan KH. Cholil, kakaknya, dengan menaiki sepeda ontel. Dan sering beliau tidur di kasur kakaknya tersebut. Pada KH. Noerhasan Nawawie, kakak tertuanya, juga sangat akrab.

Suatu ketika saat Kiai Noerhasan tidur-tiduran, beliau tindih dari atas. Padahal Kiai Noerhasan berbadan kecil dan Kiai Sa’doellah berbadan gemuk.

Kontan Kiai Noerhasan tidak bisa bergerak. Namun anehnya, setelah berkeluarga dan punya anak, beliau bisa merubah sikapnya 180 derajat. Yang pada awalnya beliau sering bersenda gurau dengan kakak-kakaknya, seketika langsung boso pada semua keluarga yang dianggap lebih tua. Sebelumnya, kalau bersalaman pada kakak-kakaknya biasa saja, seketika berubah mencium tangan.

Pada awalnya, kejadian ini dianggap gurauan oleh Kiai Noerhasan. Kata beliau ketika di bosoi oleh Kiai Sa’doellah,” He, opo ae koen ‘Lo!”. “ Mboten Kang ‘Mat,” jawab Kiai Sa’doellah.

Keheranan Kiai Noerhasan pun diungkapkan pada temannya. Kiai Sa’doellah adalah salah satu Panca Warga (Lima putra KH. Nawawie bin Noerhasan) yang merangkul semua kalangan keluarga, sehingga pada masanya semua keluarga dapat bersatu untuk membangun kesuksesan PPS. Beliau sangat perhatian terhadap anggota Keluarga Besar PPS yang lain, sampai menggratiskan I’anah Mashlahah (iuran tahunan pondok) kh nawawi sidogiri iuran sekolah pada putra-putra mereka, dan tidak menarik uang listrik yang dialirkan lewat mesin Diesel ketika itu.

Pada mula berdirinya koperasi yang bertempat di Daerah Daerah, beliau menyuruh anggota Keluarga untuk mengisi jajan di warung-warung koperasi, agar ada pemasukan pada Keluarga dalam hal nafkah hidup.

”Masak Keluarga akan jual tempe di pasar? Tidak pantas,” ungkap beliau. Ketika Koperasi sudah menjadi satu, Kiai Sa’doellah juga meminta pada Keluarga untuk menanam saham di koperasi. Sehingga sampai sekarang anggota Keluarga Besar Kh nawawi sidogiri masih punya saham di koperasi PPS. Kiai Sa’doellah menikah dengan Nyai Sa’diyah binti KH. Syamsul Arifin dari Bondowoso tahun 1953 (?) M. Dua hari setelah pernikahannya, Kiai Sa’doellah diberi seekor burung Kakak Tua oleh temannya. Setiap melihat beliau, burung ini mengangkat satu kakinya dan memekikkan kata, “Merdeka!”.

Sekitar 9 tahun kemudian baru beliau dikaruniai seorang putri, yakni Ning Dewi Hikmatus Sa’diyah (istri Mas Muzammil Ma’shum Probolinggo). Lalu 5 tahun kemudian lahirlah Mas d. Nawawy Sa’doellah (beristri Ning Hilmiyah binti H. Yahya Pasuruan). Sebagai kepala kh nawawi sidogiri tangga, beliau sangat mengayomi dan sayang terhadap keluarganya, utamanya pada putra-putri beliau.

Sering putra beliau, ketika masih kecil, dibawa rapat dengan Pengurus. Pernah di suatu kh nawawi sidogiri, sambil menggendong putranya itu, beliau bercerita,” Nawawy iki mandar dadi wong ae mbesok.

Bien sek cili’e Nawawy iki ono Sidogiri nangis tok. Tak gowo mule nang Bondowoso, sik nangis ae. Embuh pirang dino ono ndik Bondowoso nangis ae. Akhire tak gowo muleh maneh nang Sidogiri, sik nangis ae. Dadi aku duwe samurai, tak dudukno pedang (iku) bek aku, ‘opo koen ‘Wy, kok nangis tok ‘Wy, enjuk iki tah?’”.

Maka sejak saat itu, putranya tidak menangis lagi. Bersambung ke KH. Sadoellah Nawawie (Bagian II) Disadur dari Buku Jejak Langkah Masyayikh Sidogiri Jilid 1 Pesan Buku
PASURUAN – Tidak banyak umat Islam di Indonesia yang mengetahui bahwa ternyata KH Nawawi Abdul Djalil Sidogiri adalah cicit Sayyid Bakri Syatho, pengarang kitab fikih legendaris, I’anatuth Thalibin. Kiai Nawawi lahir dari pasangan KH. Abdul Jalil bin Fadil dan Nyai Hanifah Nawawy. Kiai Abdul Djalil atau ayahnya KH Nawawi adalah cicit Sayid Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi, Pengarang I’anatut Thalibin.

Ibu Kiai Abdul Djalil adalah Nyai Syaikhah binti Syarifah Lulu’ binti Sayid Abu Bakar asy-Syatha ad-Dimyathi. Sementara, ayah Kiai Abdul Djalil adalah Kiai Fadlil bin Sulaiman bin Ahsan bin Sayid Zainal Abidin (Bujuk Cendana/R. Senopati Pranujoyo, Kwanyar Bangkalan) bin Sayid Muhammad Khotib bin Sayid Muhammad Qosim (Sunan Drajat) bin Raden Rahmat (Sunan Ampel).

Dengan demikian dalam tubuh Kiai Nawawi Abdul Djalil Sidogiri mengalir darah para ulama dan wali besar, yaitu darah Wali Songo dan Syekh Sayyid Bakri Syatho. Kitab karangan kakek buyut KH Nawawi Abdul Djalil Sidogiri I’anatuth Thalibin, kitab karangan Syekh Sayyid Bakri Syatho, kakek buyut KH Nawawi Abdul Djalil. Kiai Nawawi terpilih menjadi Khodimul Ma’had Pondok Pesantren Sidogiri atas musyawarah Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri. Dia menggantikan kakaknya, Kiai Abdul Alim bin Abdul Jalil yang wafat pada 28 Dzul Qo’ah 1426 H.

yang bertepatan 9 Januari 2005. Selama masa kepemimpinannya, Kiai Nawawi Abdul Djalil Sidogiri dikenal sebagai pengasuh Pesantren Sidogiri yang sangat dekat dengan para santrinya.

Dia kerap mengontrol sendiri kamar-kamar santri di malam hari. Dia menginginkan para santri beribadah dan memuthala’ah (mempelajari) pelajaran di malam hari. Pesantren Sidogiri sendiri didirikan pada 1745 M oleh Sayyid Kh nawawi sidogiri bin Abdurrahman Basyaiban (yang wafat pada 1766 M). Sayyid Sulaiman tidak lain keturunan keempat Syekh Syarif Hidayatullah yang biasa dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Di kepengurusan Nahdlatul Ulama, Kiai Nawawi bin Abdul Djalil Sidogiri adalah Kh nawawi sidogiri (Penasehat) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Beliau termasuk salah seorang dari sembilan orang kiai sepuh yang dipercaya sebagai tim Ahwa pada Muktamar ke-33 NU tahun 2015 di Jombang. Tim Ahwa adalah singkatan dari Ahlul Halli wa Aqdi, yang mempunyai wewenang memilih dan mencabut kh nawawi sidogiri pimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama atau Rais Syuriah PBNU. KH Nawawi Abdul Djalil Sidogiri wafat pada Minggu 13 Juni 2021, pukul 14.40 WIB. Mustasyar PBNU ini menghembuskan nafas terakhir di RS Raci, Bangil, Pasuruan, setelah mendapatkan perawatan sebelumnya di RS Lavalette Malang selama empat hari.

Sugeng tindak Kyai.

Silaturrahmi Terakhir Seorang Guru (KH.A.NAWAWI ABDUL JALIL) Terhadap Sang Murid (KH.SUHRI ZAINI)




2022 www.videocon.com