Mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas

mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas

1. menurut anda, bagaimana ferdinand dalam memilih bentuk organisasi? apakah dalam bentuk usaha perorangan, firma atau partnership, atau perseroan? be … rikan analisa dan kaitkan jawaban anda dengan teori. 30 2. berikan analisa anda mengenai transformasi bisnis dari groovy. 35 3. berikan analisa anda terkait dengan manajemen konflik di groovy. kaitkan jawaban anda dengan teori. 35 Presiden Soekarno melakukan pemancangan tiang pertama pembangunan Tugu Nasional atau Monumen Nasional (Monas) pada 17 Agustus 1961.

Pada tahun 1950, setelah pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Jakarta—setelah sebelumnya berkedudukan di Yogyakarta—menyusul pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda pada 1949, Presiden Soekarno mulai memikirkan pembangunan sebuah monumen nasional di lapangan depan Istana Merdeka. Pembangunan monumen itu bertujuan untuk mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terus membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.

Akhirnya, pada 17 Agustus 1954, sebuah komite nasional dibentuk dan sayembara perancangan monumen nasional digelar pada tahun 1955.

mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas

Pada waktu itu terdapat 51 karya yang masuk, tetapi hanya satu karya yang dibuat oleh Frederich Silaban yang memenuhi kriteria, antara lain menggambarkan karakter bangsa Indonesia dan dapat bertahan selama berabad-abad. Dengan tujuan untuk mendapatkan alternatif karya lain, sayembara kedua pun diadakan, namun kali ini tidak ada satu pun karya yang memenuhi keriteria dari 136 peserta yang mengikuti sayembara.

Akhirnya, desain karya Frederich Silaban yang dipilih, meski untuk itu harus dilakukan beberapa perombakan pada bentuk bangunannya.

Soekarno juga meminta arsitek R.M. Soedarsono untuk membantu membangun rancangan tersebut. Tugu Peringatan Nasional itu kemudian dibangun di areal seluas 80 hektar, dengan diarsiteki oleh Frederich Silaban dan R.M.

Soedarsono, dan mulai dibangun pada 17 Agustus 1961. Empat belas tahun kemudian, pada 12 Juli 1975, Monumen Nasional diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto, dan mulai dibuka untuk umum. Lokasi pembangunan monumen itu kemudian dikenal dengan nama Medan Merdeka.

Monas atau Tugu Monas adalah monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Puncak tugu Monas dimahkotai lidah api berlapis lembaran emas, yang melambangkan semangat perjuangan menyala-nyala. Hmm. ada yang mau menambahkan?
tirto.id - Dari Yogyakarta, ibukota republik kembali ke Jakarta pada 1950 itu. Sukarno selaku presiden pun langsung berhasrat membangun suatu simbol untuk mempresentasikan karakter bangsa, layaknya Menara Eiffel di Paris sebagai lambang Revolusi Perancis.

Gagasan pembangunan Monumen Nasional (Monas) pun menjadi salah satu agenda utama di dalam benak Bung Karno. Tanggal 17 Agustus 1954, dibentuklah suatu komite nasional untuk mewujudkan hasrat sang presiden. Sukarno menghendaki Monas dibangun di Lapangan Merdeka yang berada tepat di depan Istana Merdeka sehingga ketika ada tamu negara yang datang, simbol kemegahan bangsa Indonesia itu langsung terlihat.

Sayembara Merancang Monas Tepat setahun setelah komite nasional pembangunan Monas dibentuk, diadakanlah sayembara untuk rancangan monumen tersebut. Sayembara yang dimulai pada 17 Agustus 1955 itu berhasil mengumpulkan sebanyak 51 karya.

Namun, hanya satu desain saja memenuhi kriteria, yakni karya Frederich Silaban (Eka Saputra, Indonesia Poenja Tjerita, 2016). Baca juga: Benarkah Fatahillah Membantai Rakyat Betawi? Sukarno menghendaki monumen nasional berbentuk tugu yang tinggi menjulang menantang langit dengan gagahnya. Tak main-main, tugu itu nantinya akan dibuat dari beton dan besi pilihan, serta batu pualam yang tahan gempa dan tidak lekang digerus zaman setidaknya hingga 1000 tahun ke depan.

Selain itu, monumen nasional harus bisa memantik semangat nasionalisme dan patriotisme. "(Bangunan) yang mencerminkan hal yang bergerak, yang dinamis dalam satu bentuk daripada materi yang mati,” tegas Presiden Sukarno waktu itu (Yuke Ardhiati, Bung Karno Sang Arsitek, 2005).

Sayembara pun digelar lagi untuk memenuhi hasrat sang presiden, dari tanggal 10 hingga 15 Mei 1960. Kali ini, yang mengirimkan karya jauh lebih banyak, yakni 222 orang dengan 136 desain rancangan bangun. Dari sekian banyak opsi itu, rupanya tidak ada satu pun yang sesuai harapan. Bung Karno memang terlalu perfeksionis jika berurusan dengan karya seni, ia adalah seorang arsitek, insinyur lulusan Technische Hogeschool, cikal-bakal Institut Teknologi Bandung (ITB).

Panitia yang nyaris putus asa kemudian membujuk Silaban untuk merevisi desain mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas sesuai dengan keinginan Presiden Sukarno.

Selain itu, rancangan awal yang diajukan Silaban dinilai terlalu megah sehingga akan membutuhkan biaya yang amat besar untuk mewujudkannya. Sedangkan negara saat itu sedang dalam situasi perekonomian yang buruk. Baca juga: Orang Kuningan Perumus Paskibraka Silaban menolak mengubah rancangannya itu. Ia justru menyarankan agar pembangunan monumen nasional ditunda saja hingga kondisi mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas negara membaik.

Namun, hasrat Sukarno sudah tak bisa dibendung lagi dan harus diwujudkan dalam tempo yang secepat-cepatnya. Sukarno menerima rancangan awal Silaban. Kemudian, ditunjuklah seorang arsitek bernama R.M. Soedarsono untuk mengejawantahkan desain tersebut dan diselaraskan seperti keinginan sang presiden.

mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas

Soedarsono yang paham betul bahwa Sukarno sangat menyukai filosofi kemudian menyertakan angka 17-8-45 dalam rancangan baru itu. Angka 17-8-45 merujuk pada moment kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945. Dalam konteks rancangan monumen itu, susunan angka-angka tersebut diwujudkan dalam rencana pembangunannya: tinggi cawan dari halaman 17 meter, lebar dasar monumen 8 meter, dan lebar halaman cawan 45 meter (Adolf Heuken, Medan Merdeka Jantung Ibukota RI, 2008).

Antara Sakral atau Vulgar Pembangunan monumen nasional akhirnya dimulai pada 17 Agustus 1961 di atas lahan seluas 80 hektare di seberang Istana Negara, Jakarta Pusat. Selain Soedarsono, Silaban selaku perancang awal desainnya pun turut dilibatkan dalam pelaksanaan proyek mercusuar ini. Sesuai keinginan Bung Karno, monumen nasional nantinya berupa tugu yang tegak berdiri dengan cawan sebagai wadah di bagian bawahnya. Bentuk seperti ini sebenarnya sudah cukup lama dikenal di Indonesia.

Inilah Lingga-Yoni, simbol hubungan sakral antara laki-laki dan perempuan, yang menjadi salah satu unsur khas di banyak candi peninggalan leluhur Nusantara. Baca juga: Panglima Islam Kekaisaran Cina Merambah Nusantara Dalam buku Candi Indonesia: Seri Jawa, Indonesian-English terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2013) yang dihimpun Edi Sedyawati dan kawan-kawan, disebutkan bahwa Lingga adalah simbol Syiwa (salah satu dewa tertinggi dalam ajaran Hindu) dengan bentuk alat kelamin laki-laki.

Sementara Yoni merupakan perlambang kesuburan yang menjadi simbol alat reproduksi perempuan. Lingga-Yoni memang sering ditemukan pada candi-candi yang ada di Indonesia.

Sukarno sendiri mengakui bahwa ia terinspirasi dengan Lingga-Yoni yang terdapat di Candi Sukuh, Karanganyar, Jawa Tengah. “Monumen-monumen itu pencerminan dari jiwa besar Indonesia,” sebut Bung Karno. Namun, tentu saja Lingga-Yoni yang mewujud pada bentuk monumen nasional tidak melulu dimaknai dengan konotasi yang boleh jadi dianggap vulgar. Buku resmi tentang Monas berjudul Tugu Nasional: Laporan Pembangunan terbitan tahun 1978 menjelaskan lebih rinci mengenai pemaknaan Lingga-Yoni itu.

Disebutkan, selain sebagai lambang kesuburan pria dan wanita, bentuk Monas yang berupa Lingga-Yoni juga melambangkan alu dan cawan, alat tradisional yang sangat umum bagi rakyat Indonesia, terlebih di pedesaan. Lingga-Yoni bisa pula dimaknai sebagai lambang dua sisi yang selalu ada di dunia ini, misalnya siang-malam, kanan-kiri, dan seterusnya.

Baca juga: Cinta dan Benci untuk Soeharto Pembangunan Monas sempat tersendat karena terjadinya peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang kelak menjadi pemicu runtuhnya Orde Lama. Namun, Bung Karno tidak sempat melihat proyek monumen nasional yang lama didambakannya itu rampung. Presiden pertama RI ini wafat pada 21 Juni 1970 ketika Soeharto sedang memantapkan posisinya sebagai penguasa baru.

Lima tahun berselang, proyek pembangunan monumen nasional akhirnya rampung juga. Monas yang menjadi impian Sukarno justru diresmikan oleh penerus yang sekaligus kerap diindikasikan sebagai penggulingnya, Soeharto, pada 12 Juli 1975, tepat hari ini 43 tahun lalu.

======== Artikel ini pernah ditayangkan pada 12 Juli 2017 di bawah judul yang sama. Kami menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik dengan sedikit penyuntingan. Selamat membaca !!! Menomen ini terletak persis di Pusat Kota Jakarta. Tugu Monas merupakan tugu kebanggaan bangsa Indonesia, selain itu monas juga menjadi salah mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas pusat tempat wisata dan pusat pendidikan yang menarik bagi warga Indonesa baik yang dijakarta maupun di luar Jakarta.

Tujuan pembangunan tugu monas adalah untuk mengenang dan mengabadikan kebesaran perjuangan Bangsa Indonesia yang dikenal dengan Revolusi 17 Agustus 1945, dan juga sebagai wahana untuk membangkitkan semangat patriotisme generasi sekarang dan akan datang. Monas mulai dibangun pada bulan Agustus 1959. Keseluruhan bangunan Monas dirancang oleh para arsitek Indonesia yaitu Soedarsono, Frederich Silaban dan Ir.

Rooseno. Pada tanggal 17 Agustus 1961, Monas diresmikan oleh Presiden Soekarno. Dan mulai dibuka untuk umum sejak tanggal 12 Juli 1975. Tugu Monas punya ciri khas tersendiri, sebab arsitektur dan dimensinya melambangkan kias kekhususan Indonesia. Bentuk yang paling menonjol adalah tugu yang menjulang tinggi dan pelataran cawan yang luas mendatar.

Di atas tugu terdapat api menyala seakan tak kunjung padam, melambangkan keteladanan semangat bangsa Indonesia yang tidak pernah surut berjuang sepanjang masa. Bentuk dan tata letak Monas yang sangat menarik memungkinkan pengunjung dapat menikmati pemandangan indah dan sejuk yang memesona, berupa taman di mana terdapat pohon dari berbagai provinsi di Indonesia.

Kolam air mancur tepat di lorong pintu masuk membuat taman menjadi lebih sejuk, ditambah dengan pesona air mancur bergoyang. Di dekat pintu masuk menuju pelataran Monas itu juga nampak megah berdiri patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kuda. Patung yang terbuat dari perunggu seberat 8 ton itu dikerjakan oleh pemahat Italia, Prof Coberlato sebagai sumbangan oleh Konsulat Jendral Honores, Dr Mario di Indonesia.

Gagasan Pembangunan Monas Gagasan awal pembangunan Monas muncul setelah sembilan tahun kemerdekaan diproklamirkan. Beberapa hari setelah peringatah HUT ke-9 RI, dibentuk Panitia Tugu Nasional yang bertugas mengusahakan berdirinya Tugu Monas. Panitia ini dipimpin Sarwoko Martokusumo, S Suhud selaku penulis, Sumali Prawirosudirdjo selaku bendahara dan dibantu oleh empat orang anggota masing-masing Supeno, K K Wiloto, E F Wenas, dan Sudiro. Panitia yang dibentuk itu bertugas mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pembangunan Monas yang akan didirikan di tengah lapangan Medan Merdeka, Jakarta.

Termasuk mengumpulkan biaya pembangunannya yang harus dikumpulkan dari swadaya masyarakat sendiri. Setelah itu, dibentuk panitia pembangunan Monas yang dinamakan ”Tim Yuri” diketuai langsung Presiden RI Ir Soekarno. Melalui tim ini, sayembara diselenggarakan dua kali. Sayembara pertama digelar pada 17 Februari 1955, dan sayembara kedua digelar 10 Mei 1960 dengan harapan dapat menghasilkan karya budaya yang setinggi-tingginya dan menggambarkan kalbu serta melambangkan keluhuran budaya Indonesia.

Dengan sayembara itu, diharapkan bentuk tugu yang dibangun benar-benar bisa menunjukan kepribadian bangsa Indonesia bertiga dimensi, tidak rata, tugu yang menjulang tinggi ke langit, dibuat dari beton dan besi serta batu pualam yang tahan gempa, tahan kritikan jaman sedikitnya seribu tahun serta dapat menghasilkan karya budaya yang menimbulkan semangat kepahlawanan.

Oleh Tim Yuri, pesan harapan itu dijadikan sebagai kriteria penilaian yang kemudian dirinci menjadi lima kriteria meliputi harus memenuhi ketentuan apa yang dinamakan Nasional, menggambarkan dinamika dan berisi kepribadian Indonesia serta mencerminkan cita-cita bangsa, melambangkan dan menggambarkan “api yang berkobar” di dalam dada bangsa Indonesia, menggambarkan hal yang sebenarnya bergerak meski tersusun dari benda mati, dan tugu harus dibangun dari benda-benda yang tidak cepat berubah dan tahan berabad-abad.

Namun, dua kali sayembara digelar, tidak ada rancangan yang memenuhi seluruh kriteria yang ditetapkan panitia. Akhirnya, ketua Tim Yuri menunjuk beberapa arsitek ternama yaitu Soedarsono dan Ir F Silaban untuk menggambar rencana tugu Monas.

Keduanya arsitek itu sepakat membuat gambarnya sendiri-sendiri yang selanjutnya diajukan ke ketua Tim Yuri (Presiden Soekarno), dan ketua memilih gambar yang dibuat Soedarsono. Dalam rancangannya, Soedarsono mengemukakan landasan pemikiran yang mengakomodasi keinginan panitia.

Landasan pemikiran itu meliputi kriteria Nasional. Soedarsono mengambil beberapa unsur saat Proklamasi Kemerdekaan RI yang mewujudkan revolusi nasional sedapat mungkin menerapkannya pada dimensi arsitekturnya yaitu angka 17, 8, dan 45 sebagai angka keramat Hari Proklamasi.

Bentuk tugu yang menjulang tinggi mengandung falsafah “Lingga dan Yoni” yang menyerupai “Alu”sebagai “Lingga” dan bentuk wadah (cawan-red) berupa ruangan menyerupai “Lumpang” sebagai “Yoni”. Alu dan Lumpang adalah dua alat penting yang dimiliki setiap keluarga di Indonesia khususnya rakyat pedesaan. Lingga dan Yoni adalah simbol dari jaman dahulu yang menggambarkan kehidupan abadi, adalah unsur positif (lingga) dan unsur negatif (yoni) seperti adanya siang dan malam, laki-laki dan perempuan, baik dan buruk, merupakan keabadian mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas.

Bentuk seluruh garis-garis arsitektur tugu ini mewujudkan garis-garis yang bergerak tidak monoton merata, naik melengkung, melompat, merata lagi, dan naik menjulang tinggi, akhirnya menggelombang di atas bentuk lidah api yang menyala. Badan tugu menjulang tinggi dengan lidah api di puncaknya melambangkan dan menggambarkan semangat yang berkobar dan tak kunjung padam di dalam dada bangsa Indonesia. S elamat berkunjung sahabat !!! Semoga kalian sehat selalu, amiiin Selamat membaca !!!

Menjadi presiden Pertama Republik Indonesia mungkin bukanlah cita-cita Bung Karno, namun garis hidup dan perjuanganyalah yang mentakdirkanya, bakat kepemimpinannya sudah dari kecil dia warisi. Tanpa upaya rekayasa diapun terpilih menjadi Presiden. Terlahir dengan nama Koesno Sosro Soekarno dari rahim seorang wanita keturunan Bali yang bernama Ida Nyoman Rai dan ayahnya seorang priyai yang bernama Raden Sukemi Sosro Dihardjodilahirkan tanggal 6 jui 1901, di Surabaya, disaat orang-orang hendak menunaikan sholat subuh, sehingga dia diberi julukan “Putra Sang Fajar.” Bila kita teliti garis keturunan beliau, ternyata Bung Karno merupakan cicit Raden Ayu Serangseorang pejuang yang berperang sebagai pahlawan wanita Islam bersama Pengeran Diponegoro melawan Belanda.

Raden Ayu Serang termasuk cicit pula dari Sunan Kalijaga, salah seorang wali songo nan Sembilan. inilah Selamat berkunjung sahabat !!!

Semoga kalian sehat selalu, amiiin Selamat membaca !!! Ditengah derasnya hujan angin, sosok bung Karno yang kala itu masih menjadi bocah angon berlari kecil menelusuri jalan setapak menuju bukit gorong, yang terletak disebelah kanan sungai Penyu Cilacap, Jawa tengah. Beliau membawa satu amanat dari salah satu gurunya KH. Rifai bin Soleh Al Mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas (Hadrotul maut), Banyuwangi, Jawa Timur.

Sebagai seorang pemikir handal yang mempercayai suatu kehidupan alam lain, beliau kerap mengasingkan diri dalam fenomena yang tak layak pada umumnya, yaitu selalu bertirakat dari satu gua kumuh, bebukitan terjalhutan belantara hingga tempat wingit lainnya. Kisah ini terjadi pada jum’at legi, bulan maulud 1937H. Berawal dari sebuah mimpi yang dialaminya. Di suatu malam, beliau didatangi seekor naga besar yang ingin ikut serta mendampingi hidupnya.
Monumen Nasional yang biasa disebut Monas merupakan sebuah tugu peringatan kegigihan rakyat Indonesia melawan kolonialisme Hindia Belanda yang kejam.

Monumen ini didirikan pada tahun yang sama dengan peresmian gerakan Pramuka Indonesia.mPendirian bangunan dimulai pada hari jadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tahun 1961. Proyek bangunannya diborong oleh P.N. Adhikarya sebagai kontraktor utama. Sementara arsitek perancangnya mengkolaborasikan keunikan arsitek ternama. Frederich Silaban dan R.M. Soedarsono menjadi arsitek yang diamanahi tugas mulia ini.

Tugu setinggi 132 meter akhirnya diselesaikan tepat pada tanggal 12 Juli 1975 yang kemudian segera diresmikan Presiden pada hari itu juga. Sekarang Tugu Monas menjadi salah satu destinasi wisata yang digemari masyarakat ibu kota. Letaknya tepat di jantung ibukota. Tepatnya di Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Selain monumen, di sana juga didirikan sebuah museum yang menceritakan pengalaman Indonesia merebut kedaulatannya.

Tugu Monas terbuka untuk masyarakat umum tujuh jam setiap harinya. Anda dapat berkunjung ke sini untuk menikmati keunikan bangunannya yang membawa lidah api berlapis emas sekaligus menambah wawasan sejarah bangsa. Awal Terbentuk • Gagasan mendirikan tugu monas Tentu saja sebuah monumen semegah Tugu Monas tidak didirikan tanpa tujuan.

Ada fungsi dan tujuan besar yang mendasari pembangunan mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas tersebut. Semua ide awal pembangunan ini bermula dari keinginan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno.

Keinginan mengembalikan kehormatan RI dan menunjukkan wibawanya di mata rakyat sendiri dan dunia internasional. Karenanya bangunan ini akan diletakkan di depan istana merdeka. Gagasan ini lahir di masa awal kemerdekaan Indonesia. Saat itu banyak konflik yang terjadi. Baik konflik dari dalam negeri maupun halangan-halangan yang terus dilancarkan untuk meruntuhkan kedaulatan NKRI. Hingga pada akhirnya, demi menjaga kedaulatan bangsa Indonesia, ibu kota kita sempat dipindahkan ke kota Yogyakarta.

Sejarah berdirinya tugu monas di awali pada tahun 1949, dimana keadaan nasional mulai membaik. Di tahun itulah Belanda yang masih sangat bernafsu mencengkeram kembali bumi Indonesia telah mengakui kedaulatan negara Indonesia.

Karena telah memperoleh pengakuan itulah, ibukota negara dikembalikan ke pusat, Jakarta. Sekembalinya ke Istana Merdeka, Presiden Soekarno teringat akan kebesaran bangsa Indonesia. Pada zaman dahulu ketika manusia masih berperadaban rendah, kita sebagai bangsa Indonesia telah memberi peninggalan berupa hasil budaya yang megah.

Candi Borobudur yang menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia adalah bentuk kebesaran budaya dan kegagahan bangsa Indonesia. Setelah beratus-ratus tahun Indonesia berusaha mengembalikan kehormatannya, kini kedaulatan Indonesia telah diakui utuh di mata dunia. Tidak ada lagi bangsa asing yang berhak merongrong kedaulatan kita.

Dan karena itulah Soekarno ingin mendirikan sebuah bangunan besar dan megah yang menggambarkan semangat bangsa Indonesia. Dalam pikiran Presiden saat itu, monumen peringatan ini akan menjadi pengingat dan penyemangat bagi generasi mendatang. Monumen yang ditinggalkan haruslah sama megahnya dengan Menara Eiffel di Paris, Perancis atau tugu-tugu lain di ibukota negara kuat kala itu. • Melakukan sayembara perancangan tugu monas Untuk mendapatkan rancangan yang memiliki nilai seni sekaligus filosofis, negara mengadakan sayembara.

Sayembara yang terbuka untuk umum ini diikuti oleh 51 peserta. Panitia nasional melakukan seleksi ketat bagi setiap karya yang masuk. Seleksi tersebut hanya menyisakan sebuah karya rancangan Frederich Silaban. Diterima panitia nasional bukan berarti karya tersebut langsung dijadikan acuan pendirian bangunan. Ternyata alasan diterimanya karya Frederich adalah karya tersebut menjadi satu-satunya karya yang sesuai dengan kriteria sayembara. Karya dari Frederich Silaban memiliki dua keunggulan yang sesuai dengan permintaan panitia.

Rancangannya dapat bertahan kokoh dalam hitungan abad dan mewakili karakter bangsa Indonesia. Akhirnya panitia pembangunan monumen kembali menggelar sayembara kedua. Sayembara ini digelar di tahun 1960. Minat masyarakat terhadap rencana Presiden ternyata cukup tinggi.

Terbukti dengan meningkatnya peserta sayembara menjadi 136 peserta. Sayangnya hasil penilaian menunjukkan tidak ada satu buah karya pun yang layak menjadi pemenang. Karena keadaan sudah semakin berlarut-larut tanpa hasil, akhirnya Presiden meminta Frederich membuat rancangan baru berkonsep lingga dan yoni. Konsep rancangan dari Frederich terlalu besar, sehingga baru bisa diwujudkan jika perekonomian Indonesia membaik. Frederich mengajak arsitek lain bernama R.M Soedarsono sebagai partnernya bekerja.

Kedua arsitek ini kemudian berhasil memenangkan hati Soekarno dengan konsep hasil rancangannya. • Pembangunan tugu monas Pembangunan Tugu Monas terdiri dari beberapa tahapan.

Presiden Soekarno benar-benar antusias memonitori perkembangan pembangunan monumen tersebut. Tugu Monas dibuat dengan konsep lingga-yoni sebagaimana kebanyakan bangunan yang ada di Indonesia pada masa terdahulu.

Lingga dan yoni merupakan bagian bangunan yang melambangkan kebudayaan Indonesia.

mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas

Keberadaannya selalu menyertai bangunan masa lampau yang dibangun oleh Kerajaan Maritim dan kerajaan kuat lain di wilayah Nusantara. Lingga-yoni hampir sama dengan ying dan yang di China. Lingga merupakan lambang dari energi positif yang dirupakan juga dengan alu pada alat penumbuk padi yang digunakan masyarakat Indonesia.

Yoni merupakan bagian cawan yang menjadi alas tempat lingga berada. Yoni ini melambangkan energi negatif yang biasa diberikan oleh para wanita. Yoni juga bisa disamakan dengan lesung sebagai tempat menumbuk padi tradisional.

Lingga dan yoni ini saling melengkapi, saling terikat dan ketergantungan. Sama seperti sejarah Indonesia yang panjang. Semua rentetan peristiwanya bernilai dan memilik hubungan ketergantungan yang kuat. 1.Tahap I (1961-1965) Pembangunan Monas tahap I diawali dengan peletakan beton pertama sebagai pondasi bangunan. Presiden sendirilah yang melakukannya di atas lahan seluas 80 ha.

Peletakan ini dilangsungkan tepat di tanggal 17 Agustus 1961.

mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas

Ada 284 pasak beton yang ditanam sebagai bagian dari monumen nasional. MONAS Sementara pasak bumi yang digunakan sebagai pondasi museum sejarah nasional total ada 360 buah. Penyelesaian bagian bangunannya juga bertahap. • Maret 1962 : Pondasi tugu Monas selesai • Oktober 1962 : Dinding tugu bagian dasar selesai • Agustus 1963 : Obelisk (bangunan menjulang) selesai 2.Tahap II (1969-1976) Tahap selanjutnya sempat tertunda akibat adanya peristiwa pengkhianatan peristiwa G30S/PKI 1965.Pembangunan lanjutan dilakukan pada tahun 1969 hingga 1976.

Pada tahap ini masih terjadi masalah air yang menggenang di beberapa titik museum. Walaupun begitu, di periode kedua ini pembangunan Monas sudah dapat diselesaikan. Penambahan diorama pada museum sejarah nasional juga telah dirampungkan pada periode ini. Selanjutnya, tugu Monas baru dibuka untuk umum pada pemerintahan Presiden Soeharto. Tanggal 12 Jul 1975 menjadi hari peresmian tugu Monas oleh penguasa orde baru. Berikut ini bagian-bagian bangunan yang ada di Monas : Monas lebih dari sekedar tugu peringatan yang menjulang.

Ada beberapa bagian bangunan yang memiliki nilai sejarah tersendiri.

mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas

Arsitek Monas sengaja membuat bangunan yang bernilai seni sekaligus filosofis. Ia membuat bangunan yang berbentuk gelombang, riak dengan segala keunikannya yang akan berujung di sebuah puncak emas yang melambangkan semangat rakyat Indonesia.

1. Puncak Monumen Sudah menjadi rahasia umum bahwa lidah api yang tak kunjung padam di atas monumen nasional ini mengandung emas. Api di atas monumen melambangkan semangat rakyat Indonesia yang akan selalu menyala. Pelataran yang ada di pucuk Monas ini jika diukur dari tanah berkedudukan di 115 meter menjulang ke atas.

Ada emas sebanyak 28 kg dari 38 kg emas yang menjadi pelapis awal obor semangat di puncak Monas. Emas sebanyak itu adalah hasil sumbangan dari seorang pengusaha sukses di tanah Aceh, Teuku Markam yang biografinya akan sedikit diulas pada bagian akhir artikel ini.

Selain menyumbang emas bagi kemegahan Monas, Teuku Markam juga menjadi salah satu pembebas tanah Senayan yang digunakan sebagai kawasan olahraga nasional. Di pelataran puncak ini cukup menampung sekitar 50 orang.

mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas

Selain itu, yang termahal dari bagian puncak Monas ini adalah lidah api kemerdekaan. Sebenarnya lidah api itu bukan hanya satu bagian utuh. Tetapi terdiri dari 77 bagian terpisah yang disatukan menjadi 1 bagian utuh. Diameternya mencapai 6 meter dengan tinggi hingga 14 meter. Di puncak Monas ini juga terdapat sebuah cawan lampu yang terbuat dari perunggu. Bahan perunggu yang digunakan total sebanyak 14,5 ton. Perunggu sebegitu banyaknya masih mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas diberi lapisan emas sebanyak 38 kg.

Namun untuk memperingati Dirgahayu Indonesia saat itu, pada tahun 1995 lapisan emas di puncak Monas ini ditambah lagi hingga beratnya terhitung 50 kg. Dari pucuk Monas inilah semua pengunjung bebas menikmati pemandangan modern kota Jakarta sekaligus keindahan Gunung Salak. Kabarnya ada patung seorang wanita yang rambutnya tergerai di puncak Monas.

Patung ini hanya dapat dilihat dari sudut tertentu di Istana Merdeka. Sampai sekarang patung wanita misterius itu belum dapat dijelaskan fungsi filosofisnya dan alasan mengapa dibangun secara samar. 2. Ruang Kemerdekaan Ruangan ini juga mengandung bahan-bahan berlapis emas dan perunggu. Di dalam ruang hening ini, kita dapat mengenangkan makna dari kemerdekaan Indonesia yang telah diraih dengan susah payah oleh para pendahulu kita.

Di dalam ruang ini, sebuah pintu mekanik dari campuran perunggu dan emas akan terbuka sendiri sambil mempedengarkan lagu Padamu Negeri, sekaligus rekaman naskah proklamasi yang dibacakan Soekarno. Di samping itu, ada sebuah kotak kaca berlapis emas yang digunakan sebagai tempat penyimpanan naskah asli proklamasi. Ada pula peta negara Indonesia yang terbentang luas dilengkapi lambang negara. Bendera pusaka yang dikibarkan saat 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur Raya Nomor 56 sudah tidak lagi dikibarkan di sini.

Kondisi kain yang semakin berumur tidak memungkinkan untuk dipertontonkan kepada umum. Lebih dari itu, lambang-lambang negara yang lain yang ada di ruangan ini semuanya dibuat dari lapisan emas atau perunggu. 3. Museum Sejarah Museum ini merupakan salah satu museum sejarah terlengkap skala nasional.

Terdapat 51 diorama di dalam museum sejarah nasional ini. Anda dapat mengetahui sejarah lengkap Indonesia. Mulailah perjalanan dari bagian timur laut di ruang museum lalu bergeraklah ke kanan hingga menyelesaikan diorama. Diorama sejarah Indonesia ini memberitahukan kepada pengunjung perkembangan keadaan Indonesia secara kronologis dan lengkap.

mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas

Anda akan mulai diberitahu bagaimana keadaan Indonesia pada zaman pra sejarah kemudian berlanjut ke zaman kerajaan yang sempat membesarkan nama Indonesia. Diorama ini mengakhiri perjalanan Indonesia sampai pasca kemerdekaan era orde baru. 4. Relief Sejarah Selain memiliki museum sejarah, ternyata Monas juga mempunyai relief timbul sejarah Indonesia yang terletak di bagian luar monumen.

Anda dapat menjumpai relief sejarah lengkap Indonesia ini di setiap sudut yang ada di halaman luar. Relief sejarah ini hampir sama dengan diorama yang ada di museum sejarah nasional. Relief timbul yang dibuat berjajar menceritakan sejarah Indonesia secara kronologis. Bedanya, sejarah yang diceritakan di sini adalah sejarah Nusantara yang dimulai dengan adanya sistem kerajaan di tanah kita. Dimulai dengan kerajaan paling jaya di masa silam, sejarah kerajaan majapahit dan juga sejarah kerajaan singosari.

Kedua kerajaan ini memiliki kelebihan masing-masing yang dapat dibanggakan dan diteladani oleh generasi muda. Kemudian relief berjalan ke kanan untuk menceritakan mengenai tanah pertiwi yang dijajah oleh bangsa asing. Mulai zaman kedatangan hingga mulai melakukan usaha perlawanan terhadap kolonialisme dicantumkan dalam relief bangunan sejarah ini.

Begitu pula dengan perubahan strategi Indonesia yang ingin lepas dari Hindia–Belanda. Strategi yang dulu melawan Belanda secara berkelompok sesuai daerah dan kepentingannya sendiri kemudian mulai menyusun strategi. Mereka mencoba menyatukan negara ini dengan mendirikan organisasi yang dapat mewadahi kepentingan semua pihak. Berdirilah organisasi Boedi Oetomo yang memotivasi pendirian organisasi-organisasi lain di Hindia-Belanda pada waktu itu.

Relief di sini juga memuat cerita mengenai sumpah pemuda hingga bagaimana kondisi Indonesia di era modern. 5. Kolam dan Patung Pangeran Diponegoro Sebenarnya ini bukan bagian utama bangunan Monas. Namun kolam dan patung Pangeran Diponegoro menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Tugu Monas karena masih berada di area Taman Monas. Fungsi adanya kolam ini untuk memperindah nilai seni yang sudah ada di bangunan Monas. Kolam seluas 25 meter x 25 meter tersebut dilengkapi dengan pembangunan air mancur.

Patung Diponegoro yang berada di dekat kolam sendiri dibangun dari 8 ton perunggu sumbangan Dr. Mario Bross. • Pemberian Nama Monas Sebagai Monumen Nasional, masalah nama menjadi hal yang tidak luput dari perhatian. Daerah tempat keberadaan tugu ini sempat mengalami beberapa kali pergantian nama, sampai akhirnya ditetapkan dengan resmi menjadi Monumen Nasional.

• Lapangan Gambir • Lapangan Ikada • Lapangan Merdeka • Lapangan Monas • Taman Monas Itulah beberapa nama yang pernah kita kenal sebelum diresmikan menjadi Monumen Nasional. Biografi Singkat Teuku Markam Pada pembahasan mengenai bagian puncak Monas, nama Teuku Markam disebut-sebut sebagai penyumbang emas puluhan kilogram yang digunakan sebagai pelapis api nan tak kunjung padam.

Peran beliau yang vital tidak banyak diketahui orang awam. Media tidak banyak yang meliput, sejarah pun tidak banyak yang memuat nama besarnya. Teuku Markam merupakan seorang saudagar kaya yang berasal dari tanah Aceh. Perjalanan mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas berliku, namun ia senantiasa menyisihkan penghasilannya yang berlebih untuk kepentingan negara.

Beliaulah yang membantu pemerintah menyelesaikan proyek impian Soekarno, Monas. Di samping itu, beliau juga aktif mendanai kebutuhan finansial KTT Asia Afrika yang pernah diadakan di Indonesia, membuat beberapa jalan penghubung antar kota di Jawa dan Sumatera, membeli tanah Senayan untuk digunakan sebagai area olahraga nasional dan mendukung sepenuhnya usaha kemerdekaan Irian Barat yang ingin kembali ke pangkuan Indonesia pada waktu itu.

Nasib tragis membalikkan keadaan Teuku Markam yang dikenal dekat dengan Bung Karno. Jika dahulu orang-orang menghormati Teuku Markam luar dalam, setelah orde lama berakhir, jasa-jasa beliau kepada negeri ini ikut terlupakan.

Di akhir hayatnya, ia meninggal akibat penyakit komplikasi yang dideritanya berkelanjutan. [accordion] [toggle title=”Artikel Terkait”] • Sejarah Istana Al Hamra • Sejarah Piramida Mesir • Sejarah Machu Picchu Sejak Ditemukan • Sejarah Kota Tua Jakarta • Sejarah Jembatan Ampera • Sejarah Ka’bah di Saudi Arabia • Sejarah Candi Kalasan • Sejarah Candi Gedong Songo • Sejarah Situs Ratu Boko • Sejarah Candi Mendut • Sejarah Grand Canyon di Amerika Serikat • Sejarah Great Wall China [/toggle] [toggle title=”Artikel”] [one_fourth] • Biografi W.R.

Soepratman • Pertempuran Medan Area • Sejarah Pembela Tanah Air • Sejarah Berdirinya Budi Utomo • Sejarah PKI • Sejarah Lagu Indonesia Raya • Danau Situ Gintung • Sejarah Burung Garuda • Sejarah Bahasa Indonesia • Perundingan Hooge Valuwe • Agresi Militer Belanda 2 • Sejarah Televisi di Indonesia • Pahlawan Nasional Wanita • Sejarah Kerajaan Majapahit • Sejarah 12 Kerajaan Islam Di Indonesia [/one_fourth] [one_fourth] • Sejarah Islam di Indonesia • Sejarah Danau Toba • Sejarah Minangkabau • Sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara • Sejarah Runtuhnya Bani Ummayah • Sejarah Partai Nasional Indonesia • Sejarah Lahirnya TNI • Sejarah Patung Pancoran • Sejarah Gitar • Sejarah Alat Musik Angklung • Sejarah Indische Partij • Arti Tut Wuri Handayani • Candi Peninggalan Agama Hindu • Candi Peninggalan Budha • Perkembangan Nasionalisme Indonesia • Perang Gerilya Indonesia • Perjuangan Pembebasan Irian Barat • Asal Usul Nusantara • Sejarah Microsoft Word [/one_fourth] [one_fourth] • Masa Penjajahan Belanda di Indonesia • Peristiwa Bandung Lautan Api • Sejarah Sepak Bola • Sejarah Danau Singkarak • Sejarah Jakarta • Sejarah Kerajaan Tarumanegara • Sejarah Kerajaan Sriwijaya • Peristiwa G30S/PKI • Sejarah Nazi • Sejarah Pembentukan PPKI • Sejarah Google • Sejarah MPR • Sejarah Pengembalian Irian Barat • Sejarah Sumpah Pemuda • Penyebab Terjadinya Pertempuran Ambarawa • Sejarah Timor Timur • Sejarah Perumusan UUD 1945 • Sejarah 12 Kerajaan Islam Di Indonesia [/one_fourth] [one_fourth_last] • Sejarah Perjanjian Tordesillas • Sejarah Benua Antartika • Sejarah Berdirinya Patung Liberty • Sejarah Rusia • Sejarah Benua Amerika • Sejarah Runtuhnya Uni Soviet • Sejarah Benua Atlantis • Sejarah Benua Australia • Peradaban Yunani • Sejarah Konstantinopel • Sejarah Brunei Darussalam • Peradaban Romawi • Sejarah PETA • Sejarah Wali Songo • Sejarah Bank Indonesia [/one_fourth_last] [/toggle] [/accordion] Sekarang kita dapat beraktivitas ke sana bersama keluarga.

Pemandangan yang unik, info sejarah baru, dan beberapa arena olahraga serta fasilitas publik lainnya sudah diperbaharui oleh pemerintah.

Sehingga warga bisa mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas di area ini. Silahkan berkunjung dan selamat menikmati Taman Monas.
ERROR: The request could not be satisfied 403 ERROR The request could not be satisfied.

Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error.

Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation.

Generated by cloudfront (CloudFront) Request ID: KOAK29iTWkFjyT11wVA3kqjCm4jwXEV3rJHt5A-FfY_KSaq38kThHQ==Monas, singkatan dari Monumen Nasional, merupakan salah satu daya tarik wisata andalan Jakarta. Ke Jakarta belumlah lengkap jika belum menjejakkan kaki di Lapangan Monas dan memasuki Tugu Monas, begitu prinsip yang kerap dianut oleh wisatawan nusantara dari luar Jakarta.

Lapangan Monas, tempat keberadaan Tugu Monas tersebut, terletak di hati kota Jakarta. Nama Lapangan Monas berasal dari keberadaan sebuah tugu yang terletak persis di tengah lapangan, yang diberi nama “Monumen Nasional” (Tugu Monas).

Nama resmi Lapangan Monas sebenarnya adalah Lapangan Medan Merdeka, tetapi lebih populer dengan sebutan Lapangan Monas. Lapangan ini merupakan ruang publik utama Jakarta, sekaligus bagi Indonesia. Sedangkan Tugu Monas merupakan tengaran ( landmark) Jakarta, bahkan ikon bagi identitas ibukota Republik Indonesia. Sebagai landmark, Tugu Monas tidak saja memiliki skala yang gigantis, tetapi juga menjadi menjadi titik orientasi kota.

Sedangkan lapangannya menjadi simpul aktivitas bagi penduduknya. Tugu Monas menjadi tujuan kunjungan, bukan hanya bagi warga Jakarta melainkan juga bagi para wisatawan nusantara yang berasal dari berbagai kota di Indonesia. Kemudahan dalam pencapaian merupakan unsur yang memperkuat keberadaan Kawasan Monas sebagai daerah tujuan wisata unggulan. Tugu Monas merupakan suatu bangunan monumental yang dibuat untuk mengenang perjalanan sejarah panjang bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaannya.

Wujud dan rancangan bangunan secara keseluruhan merupakan simbolisasi dari angka keramat 17-8-1945, hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Keberadaan Monas diharapkan menjadi tonggak bagi kemajuan bangsa Indonesia di masa mendatang, dengan tidak melupakan keterkaitan dengan masa lalunya, “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah”.

Lapangan Medan Merdeka yang lebih dikenal sebagai Lapangan Monas lahir dari rahim sejarah panjang pertumbuhan Jakarta, sejak masih bernama Jayakarta (1527-1619), Batavia (1619-1942) dan kemudian menjadi Jakarta (1942-sekarang).

Selama hampir lima abad tersebut, telah terjadi beberapa kali perpindahan kawasan pusat pemerintahan ( civic center) Jakarta. Sejarah kemudian mencatat bahwa kawasan sekitar Lapangan Monas dapat bertahan dari sejak awal terbentuknya, sampai saat ini sebagai civic center utama Jakarta, sekaligus nomor satu di Indonesia. Ciri tata ruang kota yang bersifat universal di berbagai belahan dunia adalah adanya kawasan pusat pemerintahan, ditandai oleh keberadaan istana (keraton), serta ruang terbuka (alun-alun atau central square) yang terletak di depannya.

Di Jakarta, sejarah merekam adanya central square kota yang berpindah-pindah dari alun-alun Jayakarta, Stadhuisplein di Batavia, Waterlooplein di Weltevreden, dan kemudian bergeser ke Koningsplein (sekarang Lapangan Monas). Alun-alun Jayakarta Keberadaan bangunan keraton dan alun-alun pada masa Jayakarta hanya dapat diketahui dari catatan sejarah, mengingat bahwa ketika Jayakarta dikalahkan oleh Belanda pada tahun 1619, Kota Jayakarta dihancurkan sehingga rata dengan tanah. Berdasarkan catatan sejarah serta sketsa peta kota tahun 1618 dapat diketahui bahwa pusat Kota Jayakarta terletak di tepi barat Sungai Ciliwung, atau di kawasan belakang Jalan Kali Besar Barat sekarang ini.

mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas

Dengan dibangunnya kota baru Batavia pada masa itu sebagai ganti Kota Jayakarta, bekas keraton dan alun-alun Kota Jayakarta tidak dapat dikenali lagi lokasi pastinya. Peta kota Jayakarta tahun 1618 (keraton dan alun-alun di tepi barat Ciliwung) Peta Kota Batavia tahun 1627 (pusat kota Jayakarta tak terlihat bekasnya) Dari Stadhuisplein ke Waterlooplein Pada awal berdirinya Kota Batavia, Istana Gubernur Jenderal terletak di dalam benteng yang diberi nama Kasteel Batavia.

Model rekonstruksi Kasteel Batavia Belakangan dibangun pusat pemerintahan baru di luar benteng, terdiri atas Stadhuis (gedung balaikota) yang dilengkapi dengan Stadhuisplein (plaza balaikota) serta Oudekerk (gedung gereja lama) yang kemudian diperbarui menjadi Nieuwekerk (gedung gereja baru). Stadhuis dan Stadhuisplein masih utuh sampai sekarang (menjadi gedung Museum Sejarah Jakarta dan Plaza Fatahillah), sedang Nieuwekerk sudah dibongkar dan dibangun menjadi gedung kantor yang sekarang digunakan sebagai Museum Wayang.

Civic center Batavia ini menjadi semakin lengkap ketika gedung Raad van Justitie (pengadilan tinggi) dibangun di sisi timur Stadhuisplein (sekarang digunakan sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik). Istana Gubernur Jenderal di dalam Kasteel Batavia: pusat pemerintahan tanpa plaza Peta Batavia tahun 1635, menunjukkan keberadaan Stadhuis, Stadhuisplein dan Oudekerk Situasi Stadhuisplein pada abad 18: Stadhuisplein di latar belakang dan Oudekerk di sisi kanan plaza Meski kemudian pusat pemerintahan berpindah ke selatan (kawasan Weltevreden), sampai dengan tiga setengah abad kemudian bekas civic center Batavia ini secara fisik tidak banyak mengalami perubahan, kecuali dibongkarnya bangunan gereja sebagaimana telah disebutkan di atas.

Gedung Museum Sejarah Jakarta (eks Stadhuis) Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik (eks Raad van Justitie) Plaza Fatahillah (eks Stadhuisplein): situasi pada akhir abad 20 Pada akhir abad 18, kondisi lingkungan fisik Kota Batavia mengalami kemerosotan tajam. Hal ini ditandai dengan berjangkitnya penyakit yang banyak memakan korban jiwa. Untuk itu Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels yang memerintah sejak tahun 1807 membangun kawasan pusat pemerintahan baru di wilayah selatan, yaitu di Weltevreden.

Di sisi timur sebuah lapangan yang sangat luas, Daendels membangun Istana Gubernur Jenderal (di abad 17 lapangan luas ini dikenal sebagai milik Anthonij Paviljoen, tetapi kemudian mengalami beberapa kali pergantian kepemilikan).

Istana yang dicat putih ini dijuluki Het Witte Huis (”the white house”), dan masih berdiri sampai mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas ini (digunakan sebagai gedung Kementerian Keuangan). Halaman depan istana dihiasi dengan patung Jan Pieterzoon Coen, sebagai penghormatan kepada Gubernur Jenderal pertama yang merupakan pendiri Kota Batavia.

Daendels sendiri (yang hanya memerintah selama beberapa tahun) tidak sempat menempati istana ini karena gedung tersebut baru dapat diselesaikan pembangunannya pada tahun 1828. Istana Gubernur Jenderal, akhir abad 19 Lapangan luas di depan istana Het Witte Huis tersebut (sekarang Lapangan Banteng) diberi nama Waterlooplein, sebagai peringatan atas pertempuran di Waterloo. Persis di tengah lapangan didirikan tugu yang menjulang tinggi dengan patung singa di puncaknya.

Karena patung singa tersebut, lapangan ini juga dikenal dengan sebutan ”Lapangan Singa”. Sebagai pelengkap bagi sebuah civic center, sebuah gedung pengadilan didirikan di samping Istana Gubernur Jenderal.

Bekas gedung pengadilan ini sampai dengan tahun 1980-an digunakan sebagai gedung Mahkamah Agung RI. Pada paruh ke dua abad 19 di sekitar Waterlooplein dibangun gereja Katolik (yang setelah beberapa kali mengalami perubahan bentuk, kini menjadi Gereja Katedral) serta gedung pertunjukan yang dinamakan Stadschouwburg mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas Gedung Kesenian).

Hampir sepanjang abad 19, kawasan Waterlooplein merupakan ”pusat kota” Batavia. Situasi Waterlooplein di abad 19, dengan tugu dan patung singa di tengahnya, serta gedung Istana Gubernur Jenderal (De Witte Huis) di latar belakang Pandangan dari udara Waterlooplein di awal abad 20: Gereja Katedral di latar depan Lapangan Banteng (eks Waterlooplein) dan Gedung Keuangan (eks De Witte Huis) di masa kini Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI di tahun 1945, Waterlooplein dinamakan Lapangan Banteng.

Tugu dengan patung singa dirobohkan. Pada tahun 1963, di tengah lapangan dibangun ”Tugu Pembebasan Irian Barat” untuk memperingati kembalinya Irian Barat ke pangkuan RI. ”De Witte Huis” digunakan sebagai kantor Kementerian Keuangan dan gedung pengadilan digunakan sebagai kantor Mahkamah Agung (sebelum kemudian pindah ke Jalan Medan Merdeka Utara).

Patung Pembebasan Irian Barat di tengah Lapangan Banteng Dari Waterlooplein ke Koningsplein Tidak jauh di sebelah barat Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng) terdapat sebuah lapangan luas yang semula dikenal sebagai Buffelsfeld (Lapangan Kerbau, karena digunakan untuk menggembalakan kerbau).

Oleh Daendels lapangan ini dipakai sebagai tempat latihan militer dan dinamakan Champs de Mars atau Paradeplaats. Sementara itu, pembangunan Istana Gubernur Jenderal di sisi timur Waterlooplein yang tak kunjung selesai mengakibatkan adanya kebutuhan tempat tinggal bagi Gubernur Jenderal jika sedang berada di Batavia (ketika itu para Gubernur Jenderal tinggal di Istana Buitenzorg, yaitu Istana Bogor sekarang).

Oleh karenanya, pada tahun 1816 sebuah rumah tinggal besar di Rijswijk (Jalan Veteran sekarang) milik J.A.

van Braam dibeli oleh pemerintah Hindia Belanda dan kemudian digunakan sebagai ”Hotel Gubernur Jenderal” dan kemudian dikenal sebagai ”Istana Rijswijk”. Bangunan yang didirikan pada tahun 1796 ini semula adalah rumah tinggal dua lantai. Di tahun 1848 lantai atas dibongkar dan lantai bawah dibuat menjadi ruang pertemuan yang luas.

Setelah kemerdekaan bangunan ini dinamakan Istana Negara dan masih utuh sampai sekarang. Karena adanya kediaman Gubernur Jenderal di sisi utara Champs de Mars (sekarang Lapangan Banteng), lapangan latihan militer ini sejak tahun 1818 dinamakan Koningsplein (Lapangan Raja). Pemerintah Hindia Belanda ternyata masih membutuhkan adanya kediaman resmi Gubernur Jenderal di Batavia (di luar Hotel Gubernur Jenderal/Istana Rijswijk), maka pada tahun 1873 dibangun sebuah istana yang menghadap ke Koningsplein (beradu punggung dengan bangunan Istana Rijswijk).

Sejak itu para Gubernur Jenderal tidak lagi tinggal di Bogor, melainkan di kediaman resmi yang kala itu dikenal sebagai ”Istana Gambir”. Setelah kemerdekaan bangunan ini dinamakan Istana Merdeka, dan kemudian (sejak tahun 1949) menjadi kediaman resmi Presiden Soekarno.

Seiring dengan keberadaan Istana Gubernur Jenderal di sisi utara Koningsplein, civic center pun bergeser dari kawasan Waterlooplein ke kawasan ini.

Kegiatan kemasyarakatan dan hiburan rakyat pun banyak diadakan di Koningsplein, seperti misalnya ”Pasar Gambir” (semacam pasar malam yang diselenggarakan rutin setiap bulan Agustus sejak tahun 1930).

mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas

Di masa pendudukan Jepang dan pada awal kemerdekaan, Koningsplein dikenal sebagai Lapangan Ikada. Belakangan Koningsplein/Lapangan Ikada ini dinamakan Medan Merdeka, namun setelah dibangun tugu Monas (Monumen Nasional) di pertengahan tahun 1960-an lapangan ini lebih terkenal dengan sebutan Lapangan Monas. Perpindahan civic center di Kota Batavia : Dari kawasan Stadhuisplein ke kawasan Waterlooplein, kemudian ke kawasan Koningsplein Peta situasi Weltevreden di akhir abad 19: Hubungan antara Waterlooplein dan Koningsplein Foto dari udara di awal abad 20: Kawasan sudut Koningsplein dan Istana Gambir (sekarang Istana Merdeka) di depannya Foto udara Lapangan Ikada (eks Koningsplein) tahun 1948 Peta zoning kawasan dan titik pusat Mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas Dalam sejarahnya yang panjang, sejak masih dikenal sebagai Buffelsfeld di akhir abad 18, kemudian menjadi Champs de Mars (1807), lalu Koningsplein (1818), Lapangan Ikada (1942) sampai menjadi Lapangan Merdeka (1949), central square yang kini lebih dikenal dengan sebutan Lapangan Monas ini telah mengalami berbagai perubahan tata ruang dan perubahan fungsi.

Selain itu, sejarah juga mencatat adanya berbagai bentuk usulan penataan kawasan ini, meski tidak semua sempat diwujudkan. Monas Pada Masa Pra Kemerdekaan Sejak ditetapkan sebagai lapangan parade militer pada masa Daendels, Koningsplein mengalami beberapa kali perubahan penataan. Pada tahun 1892 Dr. M. Treub, Kepala Kebun Raya Bogor, mengajukan rancangan tata ruang baru untuk Koningsplein, yaitu sebagai taman kota yang dilengkapi dengan pohon-pohon tropis.

Akses ke taman berupa sumbu-sumbu diagonal ditambah dengan sumbu melintang yang menghubungkan dengan bangunan museum (Gedung Gajah) di sisi barat taman. Bagian tengah taman yang merupakan pusat pertemuan sumbu-sumbu dirancang untuk menempatkan sebuah patung sebagai simbol “pusat Kota Batavia”.

Dengan penataan seperti ini fungsi parade militer diusulkan untuk dikembalikan ke Waterlooplein. Rancangan Dr. M. Treub ini tidak sempat direalisasikan. Berdasarkan catatan atas pemetaan Mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas, diketahui bahwa pada tahun 1918 lapangan ini telah tersegmentasi menjadi beberapa bagian dan beberapa bangunan besar didirikan di atasnya.

Di sisi utara terdapat bangunan reservoir air dan di dekatnya terdapat fasilitas sportsclub. Masih di sisi utara, berhadapan dengan Istana Gambir (sekarang Istana Merdeka) terdapat kompleks gedung kantor telepon.

Di sisi barat terdapat kompleks bangunan dan taman yang dinamai Helbachpark. Di bagian timur laut terdapat dua taman, yaitu Decapark dan Frombergpark serta gedung bioskop. Di dekat stasiun Gambir terdapat lapangan pacuan kuda dan di sebelah baratnya lahan untuk festival tahunan Pasar Gambir.

Pada tahun 1930, melalui suatu sayembara, Ir. Thomas Karsten – seorang arsitek – mengusulkan untuk menata kembali Koningsplein dengan titik tolak konsepsi ”alun-alun”. Sebagaimana terungkap pada rencana di tahun 1937, ada upaya menempatkan gedung Dewan Kota di tengah-tengah lapangan. Ada rencana pula menempatkan alun-alun di sisi selatan gedung Dewan Kota seluas 500 m x 500 m, lengkap dengan pohon beringin. Pada dasarnya, melalui rencana ini hendak dikukuhkan status Koningsplein sebagai pusat orientasi Kota Batavia yang dilengkapi berbagai fasilitas sosial-budaya dan olahraga, di samping fasilitas lain yang bersifat formal kepemerintahan.

Hanya sebagian kecil dari gagasan Karsten terwujudkan, selebihnya gagal diimplementasikan karena segera setelah itu meletus Perang Dunia II. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) relatif tidak ada perubahan fisik yang signifikan atas Koningsplein selain perubahan nama menjadi Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta).

Kawasan di sekitar Lapangan Ikada pun tidak mengalami banyak perubahan. Rencana penataan Koningsplein oleh Dr. M. Treub (1892) Rencana mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas Koningsplein oleh Ir. Thomas Karsten (1937) Monas Pada Masa Pasca Kemerdekaan Setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Indonasia (tahun 1949) terjadi suatu momentum perubahan yang cukup berarti atas kawasan tersebut.

Istana Merdeka (eks Istana Gambir) dan Istana Negara (eks Istana Rijswijk) resmi menjadi pusat pemerintahan, selanjutnya Lapangan Ikada diubah namanya menjadi Lapangan Merdeka.

Beberapa taman dinamai dengan menggunakan nama tokoh nasional, seperti Chairil Anwar, Ronggowarsito, Amir Hamzah, dan W.R Supratman. Gagasan menasionalisasikan kawasan tersebut kemudian diteruskan melalui konsep pengembangan kawasan Monumen Nasional serta pendirian Tugu Nasional. Pola diagonal usulan Dr. Treub muncul kembali.

Dalam gagasan ini, kawasan di sekitar Lapangan Merdeka dijadikan simbol kebesaran bangsa dan negara melalui penempatan fasilitas-fasilitas nasional yang berskala dunia.

Termasuk dalam konsep ini adalah pengembangan Teater Nasional, Galeri Nasional, Masjid Istiqlal, dan Lapangan Banteng (dengan Tugu Pembebasan Irian Barat) serta Hotel Banteng (kemudian diubah namanya menjadi Hotel Borobudur). Di tahun 1970-an sisi selatan Lapangan Merdeka dijadikan arena Pekan Raya Jakarta (Jakarta Fair) dan Taman Ria Monas yang dimaksudkan untuk mengulangi kesuksesan Pasar Gambir.

Namun kemudian kegiatan tersebut dirasakan mulai tidak cocok sebagai pemanfaatan Lapangan Merdeka. Arena Pekan Raya Jakarta kemudian dipindahkan ke lahan bekas bandara Kemayoran. Salah satu pengaturan di kawasan sekitar Monas yang diketahui oleh banyak orang adalah ketentuan bahwa: • tidak diijinkan ada bangunan melebihi ketinggian tugu Monumen Nasional • tidak diijinkan kehadiran fungsi komersial/swasta Peta situasi Lapangan Merdeka di awal tahun 1950-an, sesaat sebelum ditata kembali dengan adanya proyek Tugu Nasional Peta situasi Lapangan Merdeka setelah selesainya proyek Monumen Nasional Lahirnya Tugu Monas Tugu di tengah lapangan yang sekarang dikenal sebagai ”Tugu Monas” memiliki riwayat kelahiran yang panjang.

Di tahun 1954 Presiden Soekarno merancang untuk menempatkan suatu tugu peringatan untuk menghormati dan mengenang jasa-jasa pejuang bangsa. Sebuah kepanitiaan dibentuk dan pada tahun 1955 diadakan sayembara perancangan ”Tugu Nasional”. Sayembara yang terbuka untuk semua warga negara Indonesia (baik secara kolektif maupun perorangan) ini ditutup pada bulan Mei 1956.

Diikuti oleh 51 peserta, hasil tertinggi adalah hadiah kedua yang dimenangkan oleh arsitek F. Silaban. Dengan demikian bentuk Tugu Nasional yang memenuhi syarat belum dapat tercipta. Setelah terbentuknya Panitia Monumen Nasional diputuskan untuk mengadakan sayembara ulangan atau sayembara kedua, yang dimulai pada bulan Mei tahun 1960.

Diharapkan dari sayembara kedua itu akan dapat dihasilkan karya terbaik yang akan menggambarkan isi kalbu serta melambangkan keluhuran kebudayaan Indonesia. Panitia sayembara menjelaskan bahwa yang dikehendaki adalah bentuk tugu yang benar-benar bisa menunjukkan kepribadian Indonesia, tiga dimensi, tidak mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas, menjulang tinggi ke langit, dibuat dari beton dan batu pualam tahan gempa dan tahan cuaca, bisa bertahan selama sedikitnya 1000 tahun dan dapat menghasilkan karya budaya yang menimbulkan semangat patriotik.

Sayembara kedua ini ditutup pada tanggal 15 Oktober 1960, diikuti oleh 222 orang, sedangkan gambar yang masuk berjumlah 136 buah. Hasil keputusan juri adalah tidak ada hadiah pertama maupun hadiah kedua yang dapat diberikan, melainkan hadiah ketiga, keempat dan beberapa penghargaan. Beberapa permasalahan yang menurut juri belum terpenuhi adalah : • pemenuhan ketentuan tentang apa yang dinamakan ”nasional” • penggambaran tugu yang dinamik, berisi kepribadian Indonesia dan mencerminkan cita-cita bangsa Indonesia • pelambangan dan penggambaran ”api yang berkobar” di dalam dada bangsa Indonesia • penggambaran hal yang sebenarnya bergerak, meskipun tersusun dari benda yang mati • penggunaan material dari benda-benda yang tidak berubah dan tahan lama Atas hasil tersebut kemudian Ketua Dewan Juri sekaligus Ketua Umum Panitia Monumen Nasional (Presiden Soekarno) menunjuk beberapa arsitek yang cukup mempunyai nama pada waktu itu, yaitu Soedarsono dan F.

Silaban, yang ditugaskan membuat gambar rencana Tugu Nasional. Silaban dan Soedarsono bersepakat untuk masing-masing membuat gambar ide, yang kemudian diajukan kepada Presiden. Akhirnya pada permulaan tahun 1961 Ketua Umum Panitia Monumen Nasional selaku Ketua Juri, menyetujui pada garis besarnya gambar rencana gagasan yang dibuat oleh arsitek Soedarsono yang dianggap berisi kepribadian nasional. Soedarsono kemudian diperintahkan untuk mengembangkan ide tersebut. Dalam usaha pengembangan ide tersebut, Soedarsono selalu memberikan laporan kepada Presiden Soekarno dan semua ide tersebut selalu diparaf oleh Presiden Soekarno.

Dalam membuat rencana awal Soedarsono mengambil dasar pemikiran sebagai berikut : • Untuk memenuhi apa yang dinamakan ”nasional” diambil beberapa unsur saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang mewujudkan ”revolusi nasional” sedapat mungkin menerapkan pada dimensi bentuk arsitekturnya, yaitu penggunaan angka-angka 17, 8, 45 yang merupakan angka keramat ”Hari Proklamasi”.

• Falsafah ”lingga dan yoni” dapat dipenuhi dalam bentuk tugu yang menjulang tinggi menyerupai ”alu” sebagai ”lingga” dan bentuk wadah (cawan) berupa ruangan menyerupai ”lumpang” sebagai ”yoni”. Alu dan lumpang adalah suatu alat penting yang dimiliki setiap pribumi keluarga bangsa Indonesia, khususnya rakyat pedesaan. Lingga dan yoni adalah simbol dari jaman dahulu yang menggambarkan kehidupan abadi, adanya unsur positif (lingga) dan unsur negatif (yoni) seperti adanya siang dan malam, laki-laki dan perempuan, baik dan buruk, yang membentuk keabadian dunia.

• Bentuk seluruh garis-garis asitektur tugu ini mewujudkan garis-garis yang bergerak tidak monoton: merata, naik melengkung, melompat, merata lagi, lalu naik menjulang tinggi, akhirnya menggelombang di atas membentuk lidah api yang menyala.

Badan tugu menjulang tinggi dengan lidah api di puncaknya melambangkan dan menggambarkan api yang berkobar yang tak kunjung padam di dalam dada bangsa Indonesia.

• Isi di dalam ruang tenang sebagai wadah penyimpanan benda bersejarah seperti atribut yang mengawali Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pada dinding badan tugu bersegi empat dibuat satuan-satuan aksara dari bahan yang tahan berabad-abad, dimulai dari sebelah timur, sebagai simbol arah dari mana matahari mulai bersinar.

Sambil duduk di amphitheatre dengan hening membaca Naskah Proklamasi di dinding, kita dibawa untuk merenungkan peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia dengan segala pengorbanannya. Kemudian dinding sebelah utara memperlihatkan wilayah Republik Indonesia.

Di bagian barat dibuat tempat yang terhormat untuk menyimpan bendera pusaka Sang Saka Merah Putih mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas akhir jaman. Di bagian selatan dipasang lambang negara Republik Indonesia dengan falsafah Pancasila dalam bentuk Garuda Bhinneka Tunggal Ika. • Bangunan tugu itu dilaksanakan dengan menggunakan benda-benda atau bahan-bahan yang tahan berabad-abad.

Disini digunakan bahan batu alam, beton bertulang dan sebagainya dilengkapi dengan listrik, AC, telepon dan elevator (lift). Berdasarkan gambar rencana Tugu Nasional oleh arsitek Soedarsono yang dikembangkan lebih lanjut, dan disetujui oleh Ketua Juri, maka dimulailah pemancangan tiang pertama pembangunan Tugu Nasional pada tanggal 17 Agustus 1961. Dalam penyelesaian pembangunan Tugu Nasional sampai saat ini ternyata masih ada yang belum sempat terselesaikan yaitu pemasangan kelompok-kelompok patung perjuangan di tiap sudut pada keempat pintu masuk Ruang Museum Sejarah yang bertemakan : • Sebelah timur laut: kelompok patung perebutan kekuasaan dan penjajahan Jepang.

• Sebelah tenggara: kelompok patung Pahlawan 10 November 1945. • Sebelah barat daya: kelompok patung pembentukan Tentara Nasional Indonesia, sebagai pemersatu Angkatan Bersenjata. • Sebelah barat laut: kelompok patung Kebulatan Negara Kesatuan RI (masa pembangunan).

Dalam pelaksanaan pembangunan, Presiden Soekarno menjabat sebagai Ketua Umum Panitia Monumen Nasional ( bouwheer) yang secara langsung mengikuti perkembangan teknis. Arsitek Soedarsono ditunjuk sebagai Direksi Pelaksana, Prof. Ir. Rooseno sebagai supervisor dalam konstruksi beton bertulang, dan PN Adhi Karya selaku pelaksana utama.

Dalam hal wewenang kekuasaan daerah, koordinasi, logistik, perjanjian kerja dengan kontraktor diselesaikan oleh Ketua Harian Komandan Daerah Militer V/Jaya yang pada waktu itu dijabat oleh Kolonel Umar Wirahadikusumah. Wilayah Ibukota Jakarta Raya pada waktu itu berada di bawah pimpinan Gubernur Jakarta Brigjen Dr. Soemarno. Pembangunan ”Tugu Nasional” yang kemudian secara resmi diberi nama ”Monumen Nasional” (sering disingkat ”Monas”) mengalami kelambatan terutama diakibatkan oleh terjadinya tragedi nasional peristiwa G-30-S di tahun 1965.

Penyelesaian secara tuntas baru terjadi pada tahun 1976, dengan rincian tahapan pembangunan sebagai berikut: • Tahap pertama, 1961-1965, pekerjaan di bawah pengawasan Panitia Monumen Nasional, dengan biaya yang didapat dari sumbangan masyarakat.

• Tahap kedua, 1966-1968, pekerjaan masih di bawah pengawasan Panitia Monumen Nasional, sedangkan biaya didapat dari pemerintah pusat, melalui Sekretariat Negara RI. • Tahap ketiga, 1969-1976, pelaksanaan pekerjaan di bawah pengawasan Panitia Pembina Tugu Nasional, sedangkan biaya didapat dari pemerintah pusat, c.q. Direktorat Jenderal Anggaran melalui proyek REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun).

Arsitek Sudarsono dengan konsep perancangan puncak Tugu Nasional berupa ”lidah api yang menyala” Gambar penampang desain awal Tugu Nasional Lapangan Monas Masa Kini Sejak tahun 1980-an terdapat upaya untuk menata kembali kawasan Lapangan Monas yang telah penuh sesak oleh bangunan, terutama di belahan selatan dan belahan timur.

Satu demi satu kompleks bangunan yang ada dibongkar dan dipindahkan. Khusus untuk Arena Pekan Raya Jakarta disediakan tempat baru yang lebih representatif di bagian lahan bekas bandara Kemayoran. Sebuah masterplan kemudian disiapkan untuk menata kembali lapangan yang telah berhasil dikosongkan. Sambil menunggu realisasi penataan kembali lapangan, sebagian belahan selatan dimanfaatkan sebagai lahan parkir yang digunakan terutama oleh karyawan serta tamu kantor Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di Jalan Merdeka Selatan.

Sambil menunggu realisasi penataan kembali lapangan, sebagian belahan selatan dimanfaatkan sebagai lahan parkir yang digunakan terutama oleh karyawan serta tamu kantor Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di Jalan Merdeka Selatan.

Masterplan Kawasan Monas Kondisi fisik Lapangan Monas saat ini merupakan sebagian dari realisasi Masterplan Monas yang pada tahun 1993 telah dikukuhkan dengan Keputusan Presiden RI. Masterplan ini disiapkan oleh sebuah tim yang dipimpin oleh Prof.

Dr. Ir. M. Danisworo, M.Arch., MUP. Muatan terpenting masterplan tersebut adalah mengembalikan Lapangan Monas menjadi ruang terbuka hijau, setelah Taman Ria Monas dan Arena Pekan Raya Jakarta (serta beberapa bangunan restoran dan night club yang sempat dibangun di kawasan ini) berhasil dipindahkan.

Struktur sirkulasi utama berupa akses diagonal tidak mengalami perubahan, kecuali material permukaan jalan yang sekarang diganti dengan susunan batu alam, seperti sering dijumpai di jalanan kota-kota tua Eropa (yang merupakan ciri kawasan warisan abad pertengahan). Dalam masterplan ini juga diatur pembagian zona di masing-masing bidang yang terbelah jalur sirkulasi diagonal.

Sisi utara merupakan zona mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas kenegaraan, sisi timur zona komersial, sisi selatan zona kebudayaan, dan sisi barat zona olah raga. Di sisi timur dan sisi selatan juga dirancang keberadaan ruang bawah tanah untuk sarana parkir dan pertokoan. Sebuah amphitheater dirancang untuk dibangun di sisi selatan, persis di tengah (pada sumbu utara-selatan Tugu Monas).

Masterplan Kawasan Monas (1993) Sketsa tiga dimensi kawasan sekitar Tugu Monas versi masterplan 1993 Konsep ruang dan pencapaian dalam Masterplan Monas 1993 Sebagai taman kota yang terencana, Taman Medan Merdeka akan ditingkatkan fungsinya sebagai paru-paru kota dan pengendali lingkungan fisik.

Akhirnya Taman Medan Merdeka akan menjadi simbol kebesaran dan kebebasan bangsa serta kebanggaan nasional.

mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas

Bagian terpenting dari Taman Medan Merdeka direncanakan sebagai tempat kegiatan sosial-budaya, rekreasi, dan lokasi perpakiran. Taman tersebut terdiri dari zona inti yang disebut ”Ruang Agung” dan zona luar yang disebut ”Taman Kota”. Ruang agung adalah ruang inti yang ditata sebagai ruang terbuka hijau tanpa pohon-pohon untuk memperkuat keberadaan Tugu Monas yang terletak ditengah-tengahnya, agar tampak menonjol.

Sedangkan taman kota dengan pohon-pohon yang rapat atau lebat ditata untuk membentuk dan memperkuat keberadaan ruang agung, sehingga dengan demikian keberadaan monumen nasional yang didukung tatanan Taman Medan Merdeka menjadi lebih sakral.

Dalam pengembangan vegetasi, penataan dibuat sedemikian rupa dan tematik. Pada sektor selatan yang merupakan wilayah antara tugu Monas dan Jalan Medan Merdeka Selatan dimana terdapat gedung kegiatan Pemerintah DKI Jakarta ditanami berbagai jenis pohon yang mewakili jumlah propinsi di Indonesia (dahulu 27 propinsi, sekarang 30 propinsi). Vegetasi tersebut tersusun atas: Matoa – Papua, Menteng – DKI Jakarta, Sempur – Jawa Barat, Mahoni – Sulawesi Selatan, Duku – Sumatera Selatan, Melinjo – Banten, Saputangan – Riau, Kayu Manis – Sumbawa, Waru – Bengkulu, Ara – Lampung, Ketapang – Nusa Tenggara Timur, Sawo Kecik – Kalimantan Barat, Jati – Sulawesi Tenggara, Cengkeh – Sulawesi Utara, Ebony – Sulawesi Tengah, Cempaka Kuning – Nangro Aceh Darussalam, Agathis – Sumatera Utara, Puspa – Bangka Belitung, Kepel – Jawa Tengah, Mundu – Yogyakarta, Nyamplung – Jawa Timur, Beringin Putih – Kalimantan Timur, Segawe – Kalimantan Selatan, Rambutan Hutan – Kalimantan Tengah, Pala – Maluku, Kenari – Gorontalo, Gaharu – Nusa Tenggara Barat, Pinang Merah – Jambi, Kayu Putih – Maluku Utara, Keben – Bali.

Tata hijau di Medan Merdeka selain ditujukan untuk keindahan kota juga berfungsi sebagai biofilter terhadap palusi udara, suara, maupun cahaya yang berasal dari kendaraan bermotor terutama yang melintasi di keempat sisi ruas Jalan Medan Merdeka.

Pada daerah panggung terbuka dipilih jenis tanaman yang berbunga sepanjang tahun dan dapat mengundang burung-burung. Pada area pejalan kaki dipilih tanaman yang berfungsi melindungi dan memberikan keteduhan terutama dari teriknya matahari dan hujan. Tanaman peneduh ditata berjajar mengikuti jalur pejalan kaki. Hutan kota dan bukit-bukit kecil di bagian tepi Lapangan Monas Fungsi Lapangan Monas sebagai ruang terbuka hijau perlu dipertahankan (dikonservasi) karena sangat diperlukan sebagai “paru-paru kota” di tengah lingkungan bangunan yang padat Secara umum konsep tata hijau ditujukan untuk menciptakan ruang terbuka hijau yang menunjang keberadaan Tugu Monas serta Taman Medan Merdeka.

Untuk itu pemilihan jenis tanaman pun bersifat eksklusif dan dirancang untuk mengisi lahan terbuka yang perlu dihijaukan. Sedangkan secara fungsional pemilihan tanaman adalah sebagai sangtuari satwa, taman pendidikan, peneduh, pengarah, dan penyejuk.

Konsepsi taman sebagai sangtuari satwa secara perlahan mulai ditata meskipun secara artfisial, namun ternyata mampu memberikan hasil yang cukup signifikan. Berdasarkan informasi yang diterima dari pihak pengelola Taman Medan Merdeka pada medio Agustus 2004 dijelaskan bahwa pada bagian selatan Taman Medan Merdeka direncanakan untuk habitat rusa totol yang didatangkan dari Istana Bogor dan beberapa sumbangan masyarakat sebanyak 32 ekor yang menempati lahan seluas 5,2 ha.

Dalam kurun waktu kurang dari setahun ternyata jumlah kawanan rusa tersebut bertambah menjadi 42 ekor. Dimana 10 ekor rusa dilahirkan ditempat tersebut.

Habitat rusa tersebut dilengkapi dengan kolam buatan, rumput, srinkle, dan beberapa unggas sumbangan masyarakat. Megingat bahwa realisasi masterplan ini perlu dilakukan secara bertahap (terkait dengan kemampuan pendanaan dan kondisi eksisting di lapangan), maka rencana pelaksanaannya akan dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu: • Tahap sampai dengan tahun 1995, meliputi penyelesaian penataan ”ruang agung” dan penataan ”taman kota” dengan pola sederhana yang tidak terlalu jauh berbeda dengan pola taman yang ada sekarang serta masih memberikan toleransi bagi keberadaan lapangan parkir di sisi selatan.

• Tahap sampai dengan tahun 1998, meliputi penataan taman kota dengan pola sederhana namun menuntaskan rencana tata kawasan sisi selatan, termasuk pembangunan panggung terbuka (amphitheater) dan meniadakan lapangan parkir. • Tahap ideal yang tidak ditentukan waktunya, meliputi penataan taman kota dengan pola ideal dan penyelesaian ruang-ruang bawah tanah. Sampai dengan menjelang akhir tahun 2004 sekarang ini, belum semua rencana untuk tahun 1998 dapat dilaksanakan.

Sisi utara dan barat relatif telah mendekati kondisi yang direncanakan untuk tahun 1998. Meski telah enam tahun melewati batas waktu yang direncanakan, penataan di sisi selatan belum tuntas dilaksanakan. Amphitheater belum dibangun, dan lapangan parkir masih bertahan sebagaimana kondisi sepuluh tahun yang lalu. Kondisi Kawasan Monas Saat Ini Belum lama berselang Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai pengelola kawasan Monas telah membangun pagar besi di sekeliling lapangan.

Pintu-pintu gerbang disediakan di sudut-sudut kawasan (akses diagonal) serta bukaan di pintu masuk lapangan parkir di sisi selatan. Sebelumnya rencana pemagaran ini mendapat tentangan keras dari kalangan masyarakat yang mengkhawatirkan keberadaan pagar akan membatasi akses publik ke Lapangan Monas.

Pemagaran Lapangan Monas juga tidak tercantum dalam masterplan kawasan ini. Dalam konstelasi kelangkaan ruang publik di kota Jakarta, Lapangan Monas merupakan tempat rekreasi gratis bagi warga kota Jakarta. Setiap hari Minggu lapangan ini dipenuhi warga masyarakat yang berolahraga atau berekreasi, baik di taman, di kolam-kolam, maupun di tepi-tepi jalan (akses diagonal).

Oleh mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas warga kota kuatir bila pemagaran akan membuat akses mereka ke Monas menjadi terbatas. Meski mendapat tentangan keras, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersikukuh melaksanakan pemagaran Lapangan Monas. Alasan yang dikemukakan adalah untuk menertibkan kawasan tersebut yang sebelumnya sangat semerawut oleh keberadaan para pedagang makanan-minuman yang tidak tertib.

Selain itu, setelah pemagaran selesai lapangan Monas akan digunakan untuk membiakkan rusa totol (seperti di halaman depan Istana Bogor). Beberapa ekor rusa telah dilepaskan di lapangan ini, meski masih perlu dibuktikan apakah akan berhasil. Sementara itu, sisi selatan masih dominan dengan kegiatan parkir yang melayani pegawai serta tamu kantor-kantor di Jalan Medan Merdeka Mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas, terutama kantor Pemerintah Provinsi DKI.

Selain itu, beberapa rumah makan juga mulai bermunculan di sekitar lokasi parkir. Hal ini menandakan bahwa di lapangan ini telah berlangsung kecenderungan perkembangan yang tidak sesuai dengan masterplan kawasan. Pembelian tiket masuk ke Tugu Monas Lapangan Monas di hari Minggu: selalu dipenuhi warga masyarakat.
Mengapa Presiden Soekarno Mengusulkan Membangun Tugu Monas. Jangan spam, ya, aku butuh bgt.

30 mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas? ZA&dunia: REVOLUSI INGGRIS.???!!.>>> BENARKAH ADA . from bp1.blogger.com Dekrit presiden soekarno yang dikeluarkan pada tanggal 5 juli 1959 memiliki sejarah panjang. Mengapa rencana membangun museum proklamasi batal? Sampai sekarang patung wanita misterius itu belum dapat dijelaskan fungsi filosofisnya dan alasan mengapa dibangun secara samar.

Jawa barat, jawa tengah, jawa timur, borneo. Pembangunan tugu monumen nasional atau monas berdasarkan keputusan presiden ri nomor.

Soekarno kala ini membuka sayembara.

mengapa presiden soekarno mengusulkan untuk membangun tugu monas

Berlanjut ke bagian timur, barat, selatan, ada gedung pemerintahan sampai barak militer. Presiden soekarno mulai memikirkan pembangunan sebuah monumen nasional yang setara dengan menara eiffel di lapangan tepat di depan istana merdeka.

Source: arsitekturlanskap.istn.ac.id Setelah jepang menyerah kepada sekutu pada. Source: awsimages.detik.net.id Laporan pembangunan terbitan tahun 1978 menjelaskan lebih rinci disebutkan, selain sebagai lambang kesuburan pria dan wanita, bentuk monas yang berupa. Source: www.istn.ac.id Tugu monas adalah titik nol kota jakarta, dibangun atas pemikiran presiden soekarno.

Source: bacaterus.com Sebuah batu obelik yang terbuat dari marmer yang berbentuk. Source: lh5.googleusercontent.com Sukarno selaku presiden pun langsung berhasrat membangun suatu simbol untuk buku resmi tentang monas berjudul tugu nasional: Source: masbadar.com Taman, dalam konsep keraton jawa adalah tempat untuk kontemplasi. Source: bp1.blogger.com Dihimpun dari berbagai sumber, presiden seokarno ingin membangun sebuah monumen untuk mengingatkan rakyat pada perjuangan indonesia mencapai kemerdekaannya.

Source: i2.wp.com Soekarno, presiden pertama republiuk indonesia. Source: sejarahlengkap.com Pada tanggal 17 agustus 1961, monas diresmikan oleh presiden soekarno.
Fakta Singkat Gagasan Awal 1954, [.] This entry was posted in Paparan Topik and tagged Ali Sadikin, Betawi, Formula E, Gambir, Gelora Bung Karno, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, Hotel Indonesia, Kawasan Monas, Lapangan Merdeka, Lidah Api, Monas, Monumen Nasional, Museum Sejarah Monas, Ondel-ondel, Panitia Monumen Nasional, Panitia Pembina Tugu Nasional, Patung Diponegoro Monas, Pekan Raya Jakarta, Pelataran Puncak, Pembangunan Monas, pengunjung Monas, Presiden Soekarno, PRJ, Relief Sejarah Monas, Ruang Kemerdekaan, Sarwoko Martokoesoemo, Sejarah Jakarta, Sejarah Monas, Sejaran Monumen Nasional, Silaban, Silang Monas, Soedarsono, Soekarno, Sudiro, Teuku Markam, tiket Monas, Tugu Nasional, Tugu Selamat Datang.

Tugu Monas (Monumen Nasional) 3d animation 2013




2022 www.videocon.com