Sholat ied

sholat ied

Baca Juga • Cara Mudah Bersih-Bersih Rumah Selama Libur Lebaran • Instagram Rilis Filter dan GIF Ramadhan-Idul Fitri • Google Tambah Fitur Pencarian Khusus Ramadhan dan Idul Fitri Secara umum, shalat Idul Fitri tak jauh berbeda daripada shalat berjamaah. Shalat Idul Fitri dan Shalat Idul Adha juga mirip, yakni dilaksanakan pada pagi hari. Hanya saja, ada anjuran untuk memperlambat waktu dimulainya shalat Idul Fitri.

Hal itu untuk memberi kesempatan bagi orang yang belum menunaikan zakat fitrah hingga batas waktunya, yakni ketika khatib naik mimbar. Waktu dimulainya shalat Idul Fitri adalah sama seperti shalat dhuha, yakni kira-kira setengah jam setelah matahari terbit. Tempat pelaksanaan shalat Idul Fitri ialah di lapangan terbuka. Masjid dapat menjadi lokasi alternatif, misalnya, ketika cuaca buruk sehingga lapangan tidak memungkinkan sebagai tempat shalat.

Hal ini pernah dilakukan Rasulullah SAW. Sholat ied hadis yang diriwayatkan Abu Said al-Khudri, disebutkan sholat ied Nabi SAW selalu keluar rumah pada hari Idul Fitri dan Idul Adha menuju lapangan. Beliau lalu shalat Id di sana. Jarak antara lapangan itu dan masjid kira-kira seribu hasta atau dua ratus meter. Adapun dalam hadis lain, dari Abu Hurairah disebutkan, suatu hari raya hujan turun. Nabi SAW kemudian melakukan shalat bersama para sahabat di masjid. Tata Cara Shalat Pertama, ketika imam hendak memimpin shalat Id, hendaknya terdapat pembatas (sutrah) di hadapannya.

Hal ini sesuai dengan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. “ Dari Ibnu Umar (diriwayatkan) bahwa Rasulullah SAW ketika keluar untuk melaksanakan shalat Id, maka sholat ied memerintahkan agar menancapkan tombak di depannya. Kemudian, beliau shalat menghadap kepadanya (tombak itu), sementara jamaah berada di belakangnya.” Kedua, niat shalat. Niat letaknya di dalam hati sehingga tidak perlu diucapkan. Bagi imam, hendaknya berniat sebagai imam. Adapun bagi makmum, berniat untuk mengikuti imam.

Ketiga, shalat pun dimulai. Patut diketahui bahwa shalat Id dilaksanakan dengan dua rakaat. Sebelumnya, tak ada azan. Tak ada iqamah. Tidak pula disertai shalat sunah, baik sebelum maupun setelahnya. Hal itu sesuai hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas, “ Rasulullah SAW pada hari Idul Adha atau Idul Fitri keluar, kemudian shalat dua rakaat, dan tidak mengerjakan shalat, baik sebelum maupun sesudahnya.” Selain itu, hadis riwayat Jabir, “ Aku menyaksikan shalat bersama Rasulullah SAW pada suatu hari raya.

Beliau memulai dengan shalat sebelum khutbah tanpa azan dan iqamah.” Keempat, ketika shalat, disertai takbir. Takbir shalat Idul Fitri sebagai berikut. Pada rakaat pertama—sesudah takbiratul ihram—takbir tujuh kali dengan mengangkat tangan. Pada rakaat kedua—sesudah takbir bangun dari sujud (takbiratul qiyam)—maka takbir lima kali dengan mengangkat tangan. Ini sesuai dengan hadis dari Aisyah. Rasul SAW pada shalat Idul Fitri dan Idul Adha bertakbir tujuh kali dan lima kali selain takbir untuk rukuk.

Kelima, bacaan di antara takbir. Ada dua pendapat tentang hal tersebut. Pendapat pertama menyebut tidak ada dalil dari Nabi Muhammad SAW tentang bacaan di sela-sela tujuh dan lima kali takbir itu. Pendapat kedua berdasarkan pada riwayat dari Ibnu Mas’ud, yang menyebutkan, di tiap sela-sela takbir tambahan itu dianjurkan membaca hamdalah, memuji Allah, dan shalawat kepada Nabi SAW. Adapun bacaan yang dimaksud adalah: “ Allahu akbar kabiiraa; walhamdulillahi katsiiraa; wasubhanallahi bukratawwa ashiilaa.” Bisa juga dengan: “ Subhaanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illa Allah, wallahu akbar.” Keenam, membaca surah al-Fatihah, kemudian dilanjutkan dengan surah pendek.

Untuk sholat ied, lakukanlah sebagaimana shalat biasa, yakni ditutup dengan salam. Saat rakaat pertama shalat Idul Fitri, disarankan membaca surah al-A’la atau surah Qaf. Saat rakaat keduanya, dianjurkan membaca surah al-Ghasyiyah atau surah al-Qamar. Ketujuh, khutbah setelah shalat Idul Fitri. Khutbah ini dilangsungkan satu kali. Tidak diselingi dengan duduknya khatib di antara dua sesi khutbah.

Khatib hendaknya memulai khutbah dengan memuji Allah SWT (membaca alhamdulillah). Dalam khutbahnya, khatib dapat mengumandangkan takbir.

sholat ied

Dalam hadis riwayat Sa’ad al-Mu’adzdzin, disebutkan bahwa Nabi SAW memperbanyak takbir di dalam khutbah dua hari raya. Khutbah ditutup sholat ied doa. Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa ramadhan (baca puasa ramadhan dan fadhilahnya) dan merasakan keistimewaan ramadhan, seluruh umat islam di dunia akan merayakan hari besar yakni idul fitri.

Idul fitri diartikan sebagai hari suci atau hari dimana umat islam seperti terlahir kembali dan bersih dari dosa. Idul fitri atau yang biasa disebut dengan hari lebaran adalah salah satu momen yang ditunggu oleh umat islam baik di Indonesia atau di negara lain dan dirayakan pada tanggal 1 Syawal. Saat idul fitri kita melakukan satu ibadah yang hanya dilaksankana pada hari raya idul fitri saja yakni shalat idul fitri atau yang biasa disebut sebagai shalat id.

Shalat idul fitri adalah salah satu shalat yang hanya dikejakan saat perayaan hari raya idul fitri. Shalat idul fitri berbeda dengan shalat sunnah lainnya seperti shalat dhuha (baca keutamaan shalat dhuha), shalat tahajud (baca keutamaan shalat tahajud) shalat witir dan shalat wajib dalam hal cara melaksanakan.

Shalat idul fitri dilaksanakan pada pagi hari saat hari raya idul fitri dan umat islam akan beramai-ramai mengunjungi mesjid atau lapangan untuk melaksanakan shalat idul fitri secara berjamaah. Hukum Shalat Idul Fitri Meskipun shalat idul fitri termasuk shalat sunnah, namun beberapa hadist dan dalil menyatakan bahwa hukum melaksanakan shalat idul fitri adalah wajib.

Sholat ied adalah beberapa dalil tentang shalat idul fitri أَمَرَنَا – تَعْنِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- – أَنْ نُخْرِجَ فِى الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ. “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami sholat ied saat shalat ‘ied agar mengeluarkan para gadis yang beanjak dewasa dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haidh.

Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haidh untuk menjauhi tempat shalat.” Shalat eid diwajibkan berdasarkan beberapa pendapat. Seperti yang dijelaskan berikut ini : • Rasullullah memerintahkan umatnya untuk melaksanakan shalat idul fitri dan bila seseorang memiliki uzur ia tetap harus keluar rumah dan pergi ketempat dilaksanakannya shalat namun tetap harus menjaga jaraknya • Rasullullah selalu melaksanakan shalat id dan tidak pernah meninggalkannya • Perintah Allah SWt dalam sholat ied Al Kautsar ayat 2 “Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (QS.

Al Kautsar: 2) • Boleh meninggalkan shalat jum’at jika pagi harinya telah melaksanakan shalat id (jika idul fitri jatuh pada hari jum’at) hal ini ditafsirkan bahwa seseuatu yang sifatnya wajib bisa gugur karena sesuatu yang wajib pula. Waktu Shalat Idul Fitri Shalat idul fitri dilaksanakan pada hari raya idul fitri tanggal 1 Syawal. Berbeda dengan shalat idul adha yang dilakukan pada waktu pagi dan lebih awal, shalat idul fitri dilaksanakan lebih akhir sekitar pukul 7-8 karena setelah idul fitri tidak ada pelaksanaan penyembelihan hewan kurban Tempat Shalat Idul Fitri Pada hari raya idul fitri kita menyaksikan banyak umat islam yang melaksanakan ibadah shalat id di sebuah tanah lapang hal ini sesuai hadits rasullullah SAW yang menyatakan bahwa shalat idul fitri di sebuah tanah lapang lebih afdhol daripada shalat id dalam masjid رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى “Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar pada hari raya ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha menuju tanah lapang.” (HR Abu Said) Namun jika memiliki uzur seperti hujan, dan tidak adanya tanah lapang disekitar tempat tinggal anda maka shalat id boleh dilaksanakan di dalam masjid.

Persiapan Shalat Idul Fitri Setelah mengetahui hukum, waktu dan tempat melaksanakan kita perlu mengetahui tata cara dan hal-hal yang perlu dilakukan sebelum melaksanakan shalat idul fitri. Simak penjelasan berikut ini 1. Mandi dan mensucikan diri Sebelum melaksanakan shalat idul fitri hendaknya kita mandi dan mensucikan diri. Jangan lupa untuk berwudhu sebelum berangkat menuju tempat shalat.

Terkadang seseorang lupa untuk mengambil wudhu terutama wanita yang memakai make up setelah mandi. Jangan lupa bahwa wudhu adalah salah satu syarat sahnya shalat. 2. Memakai pakaian terbaik Saat hendak melaksanakan shalat idul fitri, sebaiknya kita menghias diri dan memakai pakaian terbaik.

Pria juga dianjurkan untuk memakai wangi-wangian. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim bahwa “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar ketika shalat Idul Fithri dan Idul Adha dengan pakaiannya yang terbaik. 3. Makan Sebelum melaksanakan shalat id kita dianjurkan untuk makan dipagi hari dan hal inilah yang membedakan shalat idul fitri dengan shalat idul sholat ied dimana saat sebelum shalat idul adha kita tidak dianjurkan untuk makan hal ini dimaksudkan bahwa pada hari raya idul fitri umat islam tidak lagi melakukan ibadah puasa seperti sebelumnya pada bulan ramadhan.

Sebagaimana hadist Rasullullah SAW كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fithri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.” 4.

sholat ied

Berjalan kaki dan menempuh jalan yang berlainan Yang dinaksud dengan menempuh jalan yang berlainan adalah saat pergi dan pulang shalat idul fitri hendaknya kita melewati jalan yang berbeda hal ini dimaksudkan supaya saat pergi maupun pulang kita lebih banyak bertemu dengan orang-orang yang juga melaksanakan shalat id dan saling berminal aidzin. Pergi menuju tempat shalat id juga dianjurkan untuk berjalan kaki daripada menggunakan kendaraan kecuali jika ada halangan atau hajat. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh ibnu Jabir : كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘ied, beliau lewat jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.

Dan Hadist yang diriwayatkan oleh ibnu umar كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang dengan berjalan kaki 5. Melafalkan takbir Saat sebelum melaksanakan shalat id sebaiknya kita melafalkan kalimat takbir kepada Allah SWT sebagai tanda bahwa kita gembira menyambut hari raya idul fitri (baca manfaat takbir) Kalimat takbir adalah sebagai berikut : اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ “Allahu akbar, Allahu akbar, laa ilaaha illallah wallahu akbar, Allahu akbar wa lillahi ilhamd (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, segala pujian hanya untuk-Nya) Tata Cara Shalat Idul fitri Sholat ied idul fitri hampir sama cara pelaksanaannya seperti shalat wajib atau shalat sunnah hanya saja terdapat sedikit perbedaan.

Shalat idul fitri dilaksanakan dua rakaat secara berjamaah dan tidak ada adzan maupun iqamat untuk mengawalinya. Berikut adalah penjabarannya • Dimulai dengan takbiratul ikhram sebagaimana shalat lainnya • Bertakbir sebanyak 7 kali selain takbiratul ikhram dan dengan melafadzkan kalimat takbir.

Diantara takbir-takbir tersebut hendaknya membaca kalimat سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِ “Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar. Allahummaghfirlii war hamnii (Maha suci Allah, segala pujian bagi-Nya, tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah selain Allah.

Ya Allah, ampunilah aku dan rahmatilah aku). 3. Membaca Alfatihah kemudian membaca surat lainnya pada rakaat pertama 4. Kemudian lakukan gerakan shalat seperti pada shalat umumnya yakni ruku, itidal dan sujud 5. Setelah bangkit dan masuk rakaat sholat ied, bertakbir sebanyak lima kali dan dengan lafadz yang sama seperti rakaat pertama 6. Membaca surat Alfatihah dan surat lainnya 7. Selanjutnya lakukan gerakan shalat sebagaimana biasanya sampai tahyat akhir dan salam Setelah shalat id boleh khotib akan menyampaikan khutbah atau ceramah, jamaah boleh mengikuti khutbah ini dan mendengarkan namun juga boleh meninggalkan jika memiliki kepentingan.

Sebagaimana hadits Rasullullah SAW إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ sholat ied saat ini akan berkhutbah.

Siapa sholat ied mau tetap duduk untuk mendengarkan khutbah, silakan ia duduk. Siapa yang ingin pergi, silakan ia pergi. (HR Abdullah Said) Demikian pengertian dan segala penjelasan tentang shalat idul fitri yang perlu diketahui.

Semoga kita sebagai umat islam bisa melaksanakan ibadah shalat id tanpa halangan apapun. Shalat id ini sangat afdol dilakukan terutama setelah sebulan penuh melaksanakan puasa, kita kana merasa seperti terlahir kembali jika puasa dan ibadah yang kita laksanakan hanya untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Semoga bermanfaat. ( baca juga tips agar lancar berpuasa, tips agar kuat berpuasa, tips persiapan puasa, persiapan puasa menurut islam dan tips berpuasa sambil bekerja)
S halat ‘Ied Penjelasan Al-Hafiz Ibnu Hajar menjelaskan: فَإِنَّ الْعِيدَ مُشْتَقٌّ مِنَ الْعَوْدِ وَقِيلَ لَهُ ذَلِكَ لِأَنَّهُ يَعُودُ فِي كُلِّ عَامٍ وَقَدْ نَقَلَ الْكَرْمَانِيُّ عَنِ الزَّمَخْشَرِيِّ أَنَّ الْعِيدَ هُوَ السُّرُورُ الْعَائِدُ وَأَقَرَّ ذَلِكَ فَالْمَعْنَى أَنَّ كُلَّ يَوْمٍ شُرِعَ تَعْظِيمُهُ يُسَمَّى عِيدًا “‘Ied diambil dari kata al-‘aud (sesuatu yang kembali), dikatakan demikian karena terulang setiap tahun.

sholat ied

Al-Kirmani menukil dari az-Zamakhsyari bahwa ‘ied adalah kebahagiaan yang berulang, lalu ia sholat ied hal tersebut. Maka maknya ‘ied adalah semua hari yang disyariatkan untuk diagungkan.” ( [1]) Hari raya kaum muslimin untuk setiap tahun ada dua, sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik: قَدِمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ: ” إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الْفِطْرِ، وَيَوْمَ النَّحْرِ ” “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah ketika itu memiliki dua hari khusus yang mereka bermain-main padanya di masa Jahiliah.

Maka beliau bersabda: Sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari tersebut dengan yang lebih baik darinya. Yaitu hari al-fithri dan hari an-Nahr.” ( [2]) Dalil disyariatkan Para ulama sepakat bahwa shalat hari raya disyariatkan dalam Islam. Dalilnya adalah firman Allah Ta’āla: فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” ( [3]) Berkata Qotadah: “dia adalah shalat ‘iedul adha.” ( [4]) Dalil dari sunnah di antaranya hadits Ummu ‘Athiyyah: «أَمَرَنَا – تَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنْ نُخْرِجَ فِي الْعِيدَيْنِ، الْعَوَاتِقَ، وَذَوَاتِ الْخُدُورِ، وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ» “ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami pada saat shalat ‘ied (Idul Fithri ataupun Idul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru sholat ied dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haid.

Namun beliau memerintahkan sholat ied wanita yang sedang haid untuk menjauhi tempat shalat.” ( [5] ) Hukumnya Hukumnya adalah sunnah muakkadah ( [6]), karena Rasulullah tidaklah mewajibkan shalat kecuali shalat lima waktu.

Dari Tholhah Bin Ubaidillah, ketika datang seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan tentang Islam, Rasulullah pun menjawab: «خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي اليَوْمِ وَاللَّيْلَةِ»، فَقَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ: «لاَ، إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ» “Shalat lima waktu di setiap sehari semalam, lalu lelaki itu bertanya kembali: Apakah ada selainnya yang diwajibkan untukku?

Beliaupun menjawab: Tidak, kecuali jika engkau melakukan yang sunnah.” ( [7]) Hikmah disyariatkan dua hari raya Hal tersebut dikarenakan setiap kaum memiliki suatu hari, mereka berpenampilan baik dan keluar dengan menggunakan hiasan-hiasan mereka, mereka bermain-main pada hari itu, kebiasaan ini tak satupun yang bisa terlepas darinya, entah itu dari Bangsa Arab atau Non Arab.

Maka Agama Islam menjadikan dua hari raya dalam setiap tahun untuk dirayakan oleh kaum muslimin, sebagaimana dalam hadits Anas: Sholat ied رَسُولُ اللهِ صَلَّى Sholat ied عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ: ” إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الْفِطْرِ، وَيَوْمَ النَّحْرِ ” Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam datang ke Madinah, dan penduduk Madinah ketika sholat ied memiliki dua hari khusus yang mereka bermain-main pada dua hari tersebut di masa Jahiliah.

Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari tersebut dengan yang lebih baik lagi darinya. Yaitu ‘Iedul Fithri dan hari an-Nahr (‘Iedul Adha).” ( [8]) Hari tersebut diisi dengan perayaan dan kebahagiaan, namun tidak lepas dari nilai-nilai ibadah seperti takbir dan shalat. Berkata Ibnu ‘Abbas: كان ابن عباس يقول: حقٌّ على المسلمين إذا نظروا إلى هلال شوال أن يكبرِّوا الله حتى يفرغوا من عيدهم، لأن الله تعالى ذكره يقول: “ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ما هداكم” “Wajib bagi kaum muslimin apabila mereka melihat hilal Bulan Syawal untuk bertakbir hingga selesai dari hari raya mereka, karena Allah berfirman {Dan hendaklah kalian menyempurnakan bilangan puasa dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian}.” ( [9]) Waktu Para ulama mengatakan bahwa waktunya dimulai dari terbitnya matahari sampai matahari tergelincir, berkata An-Nawawi: ووقتها ما بين طلوع الشمس إلى ان تزول والافضل ان يؤخرها حتى ترتفع الشمس قيد رمح “Waktu sholat ‘ied adalah antara terbitnya matahari sampai tergelincir, dan yang lebih utama adalah mengakhirkannya hingga matahari meninggi setinggi tombak.” ( [10]) Dan disunnahkan mengakhirkan shalat ‘iedul fitri dan menyegerakan shalat ‘iedul adha, berkata Ibnu Qudamah: وَيُسَنُّ تَقْدِيمُ الْأَضْحَى؛ لِيَتَّسِعَ وَقْتُ التَّضْحِيَةِ، وَتَأْخِيرُ الْفِطْرِ؛ لِيَتَّسِعَ وَقْتُ إخْرَاجِ صَدَقَةِ الْفِطْرِ.

وَهَذَا مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ، وَلَا أَعْلَمُ فِيهِ خِلَافًا “Disunnahkan untuk menyegerakan shalat ‘iedul adha agar waktu menyembelih lebih luas, dan disunnahkan mengakhirkan shalat ‘iedul fithri untuk meluangkan waktu pengeluaran zakat fitroh.

Dan ini adalah madzhab syafi’i dan aku tidak mengetahui ada khilaf di dalamnya.” ( [11]) Tempat Disunnahkan melaksanakan shalat ‘ied di tempat yang lapang, hal ini sholat ied yang diriwayatakan oleh Abu Sa’id al-Khudri: خرج رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في أضحى أو فطر إلى المصلى “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada hari raya ‘iedul fithri dan ‘iedul adha ke tempat shalat.” ( [12]) Kecuali ada uzur, maka lebih baik dikerjakan di masjid, dan pelaksanaan di tanah lapang ini dikatakan sebagai ijma’.

( [13]) Tata cara Ada dua tata cara: Pertama: Tata cara sholat sholat ied yang mencukupi, sholat ied dengan melakukan sholat dua rakaat pada umumnya, dengan mendatangkan rukun-rukunnya, kewajiban-kewajibannya dan sunnah-sunnahnya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh imam an-Nawawi أَمَّا الْأَحْكَامُ فَصَلَاةُ الْعِيدِ رَكْعَتَانِ بِالْإِجْمَاعِ وَصِفَتُهَا المجزئة كصفة سائر الصلوات وسننها Sholat ied “Adapun hukum-hukumnya, maka shalat ‘ied dua raka’at berdasarkan kesepakatan para ulama.

Tata cara yang mencukupi adalah seperti tata cara shalat-shalat yang lain, sunnah-sunnahnya dan gerakan-gerakannya.” ( [14]) Kedua: Tata cara sholat yang sempurna, yaitu sebagai berikut: • Memulai dengan takbiratul ihrom, kemudian membaca istiftah sebagaimana shalat-shalat lainnya. • Kemudian bertakbir zawaid (takbir tambahan ( [15])) sholat ied tujuh kali takbir -selain takbiratul ihrom- untuk raka’at pertama, dan lima kali takbir -selain takbirotul intiqol-pada raka’at kedua sebelum memulai membaca Al Fatihah (namun jika melakukan takbir selain dengan bilangan ini maka boleh sebagaimana yang akan dijelaskan).

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya: «أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فِي الْعِيدَيْنِ، اثْنَتَيْ عَشْرَةَ تَكْبِيرَةً، سَبْعًا فِي الْأُولَى، وَخَمْسًا فِي الْآخِرَةِ، Sholat ied تَكْبِيرَتَيِ الصَّلَاةِ» “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir pada shalat dua hari raya sebanyak 12 kali takbir; 7 kali takbir di raka’at pertama, dan 5 takbir pada raka’at kedua, selain 2 takbir shalat (takbirotal ihrom dan takbirotul intiqal).” ( [16]) Hukum takbir tambahan ini sunnah Dan hukum takbir tambahan ini bukanlah wajib, melainkan sunnah.

Muhammad shiddiq khon ketika menjelaskan perbedaan pendapat dalam jumlah bilangan takbir tambahan, beliau menyebutkan: والحاصل: أنه سنة لا تبطل الصلاة بتركه عمدا ولا سهوا “Kesimpulannya takbir tambahan hukumnya sunnah, tidak membatalkan shalat jika meninggalkannya secara sengaja maupun lupa.” ( [17]) Dan takbir tambahan ini terletak antara istiftah dan ta’awwudz: مذهبنا أن التكبيرات الزَّوَائِدَ تَكُونُ بَيْنَ دُعَاءِ الِاسْتِفْتَاحِ وَالتَّعَوُّذِ وَبِهِ قَالَ الْعُلَمَاءُ كَافَّةً “Madzhab kami (Syafi’iyyah): Takbir tambahan terletak antara do’a istiftah dan ta’awwudz, ini adalah pendapat ulama secara keseluruhan.” ( [18]) Mengangkat tangan setiap kali bertakbir Dan juga disunnahkan untuk mengangkat tangan setiap kali bertakbir, berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar bahwasanya mengangkat kedua tangannya sebelum ruku’: وَيَرْفَعُهُمَا فِي كُلِّ تَكْبِيرَةٍ يُكَبِّرُهَا قَبْلَ الرُّكُوعِ “dan beliau mengangkat kedua tangannya di setiap kali bertakbir sebelum ruku’.” ( [19]) Sisi pendalilan: keumuman hadits ini menunjukkan bahwa setiap takbir yang terletak sebelum ruku’ disyari’atkan mengangkat kedua tangan.

Apakah ada dzikir tertentu di sela-sela takbir tersebut? Ini adalah perkara yang diperselisihkan oleh para ulama, sebagian mengatakan tidak ada dzikir atau bacaan apapun di antara takbir tambahan tersebut, dan sebagian lain mengatakan ada, ini pendapat madzhab syafi’iyyah dan hanabilah berdasarkan perbuatan sahabat Ibnu Mas’ud.

( [20]) Syaikh Utsaimin condong kepada pendapat yang mengatakan tidak ada dzikir di antara keduanya, namun beliau tetap mengatakan orang yang berdzikir sholat ied antara dua takbir berada di atas kebaikan. ( [21]) • Kemudian membaca Ta’awwudz lalu Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surat lainnya. Surat yang dibaca oleh Nabi Surat yang dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah surat Qaaf pada raka’at pertama dan surat Al Qomar pada raka’at kedua. Ada riwayat bahwa ‘Umar bin Al Khattab pernah menanyakan pada Waqid Al Laitsiy mengenai surat apa yang dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘Idul Adha dan ‘Idul Fithri.

Ia pun menjawab: كَانَ يَقْرَأُ فِيهِمَا بِ (ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ) وَ (اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ) “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca “ Qaaf, wal qur’anil majiid” (surat Qaaf) dan “ Iqtarobatis saa’atu wan syaqqol qomar” (surat Al Qomar).” ( [22] ) Boleh juga membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua.

Dari An-Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ Sholat ied حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam shalat ‘ied maupun shalat Jum’at “ Sabbihisma robbikal a’la” (surat Al A’laa) dan  “Hal ataka haditsul ghosiyah” (surat Al Ghosiyah).” An-Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.

( [23]) • Setelah membaca surat, kemudian melakukan gerakan shalat seperti biasa (ruku, i’tidal, sujud, dst). • Bertakbir ketika bangkit untuk mengerjakan raka’at kedua. • Kemudian bertakbir (takbir zawaid/tambahan) sebanyak lima kali takbir -selain takbir bangkit dari sujud- sebelum memulai membaca Al Fatihah. • Kemudian membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya sebagaimana yang telah disebutkan di atas. • Mengerjakan gerakan lainnya hingga salam. Khutbah ‘ied Disyariatkan untuk berkhutbah untuk shalat hari raya, dilakukan setelah mengerjakan shalat ‘ied.

Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas: شَهِدْتُ الصَّلاَةَ يَوْمَ الفِطْرِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ فَكُلُّهُمْ يُصَلِّيهَا قَبْلَ الخُطْبَةِ “Aku menyaksikan shalat ‘iedul fithri bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan abu bakar, Umar, dan ‘Utsman, dan mereka semua shalat sebelum khutbah.” ( [24]) Dan hukum khutbah ini sunnah sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah Bin As-Saib: شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيدَ، فَلَمَّا صَلَّى قَالَ: ” إِنَّا نَخْطُبُ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ Sholat ied وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَلْيَرْجِعْ ” “Aku menyaksikan hari raya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah selesai shalat beliau berkata: Kami akan berkhutbah, barangsiapa yang suka untuk duduk mendengarkan khutbah maka duduklah, dan barangsiapa yang suka untuk kembali maka silahkan kembali.” ( [25]) Seandainya wajib maka Nabi tidak akan memberikan pilihan untuk meninggalkannya bagi yang mau.

Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama, di antaranya sebagaimana yang dikatakan Imam Nawawi. ( [26]) Adapun bilangannya, maka mayoritas ulama mengatakan bahwa khutbah hari raya dua kali, bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa ini adalah ijma’ yang tidak ada perselisihannya di dalamnya.

( [27]) Permasalahan Shalat I’ed Masbuq Jika seseorang masbuq dalam shalat ‘ied maka ia harus melengkapi shalat yang tertinggal, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Qotadah dari ayahnya ketika mendengar suara orang-orang gaduh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِذَا أَتَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا “Jika kalian datang menuju shalat, datangilah (berjalanlah) dengan tenang.

Apa yang kalian dapati (dari gerakan imam, pent.), maka ikutilah. Dan apa yang kalian tertinggal, maka sempurnakanlah.” ( [28]) Namun jika yang tertinggal adalah beberapa takbir tambahan, tidak perlu mengqodho takbir tambahan tersebut.

( [29]) Luput darinya shalat ‘ied secara berjama’ah Ada dua keadaan: Keadaan Pertama: Satu orang sholat ied sedikit Bagi orang yang terlewatkan shalat ‘ied secara berjama’ah maka para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, apakah ia mengqodhonya atau tidak ada qodho baginya?

Imam Sholat ied menukilkan bahwa kebanyakan ulama membolehkan untuk mengqodhonya walaupun mereka berbeda dari segi tata caranya. ( [30]) Keadaan Kedua: Jumlahnya banyak Namun jika yang luput dari shalat ‘ied adalah kebanyakan sholat ied muslimin, seperti ketika menyangka sholat ied tersebut masih Bulan Ramadhan lalu datang seseorang yang jujur memberikan persaksian di hadapan pemimpinnya bahwa ia telah melihat hilal Bulan Syawal, kemudian pemimpin tersebut mengatakan bahwa hari itu adalah hari raya, maka wajib bagi kaum muslimin untuk membatalkan puasanya.

Adapun shalatnya maka ada dua perincian: Pertama: Ketika persaksian tersebut terjadi belum tergelincir matahari dan cukup waktunya untuk melaksanakan shalat ‘ied, maka mereka melakukan shalat ‘ied saat itu juga, karena mereka masih dalam waktu mengerjakan shalat ‘ied.

Kedua: Persaksian tersebut setelah tergelincir matahari, maka shalat ‘ied dikerjakan pada esok hari. ( [31]) Hal ini berdasarkan riwayat Abu ‘Umair bin Anas: أنَّ ركبًا جاؤوا إلى النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يَشهَدون أنَّهم رأوُا الهلالَ بالأمسِ، فأمَرَهم أن يُفطِروا، وإذا أصبَحوا يُغدُوا إلى مصلَّاهم “Sekelompok orang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersaksi bahwa mereka melihat hilal kemarin, maka Nabi memerintahkan mereka untuk berbuka, dan jika telah datang waktu subuh mereka pergi ke tanah lapang.” ( [32]) Bertepatan dengan hari jum’at Terjadi perselisihan dari kalangan ulama jika hari raya bertepatan dengan hari jum’at, dan penulis condong dengan pendapat siapa saja yang telah menyaksikan shalat ‘ied, gugur terhadapnya kewajiban menghadiri shalat Jum’at.

Namun, imam masjid tetap menegakkan shalat Jum’at agar siapa saja yang ingin shalat jum’at bisa melakukannya. ( [33]) Berkata Ibnu Qudamah: وَإِنْ اتَّفَقَ عِيدٌ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ، سَقَطَ حُضُورُ الْجُمُعَةِ عَمَّنْ صَلَّى الْعِيدَ، إلَّا الْإِمَامَ، فَإِنَّهَا لَا تَسْقُطُ عَنْهُ إلَّا أَنْ لَا يَجْتَمِعَ لَهُ مَنْ يُصَلِّي بِهِ الْجُمُعَةَ “Jika hari raya bertepatan dengan hari jum’at, maka shalat jum’at gugur bagi orang yang telah melaksanakan shalat ‘ied, kecuali imam maka tidak gugur baginya, kecuali jika tidak ada orang yang akan melaksanakan shalat jum’at.” ( [34]) Berdasarkan riwayat dari Iyas bin Abi Romlah: شَهِدْتُ مُعَاوِيَةَ سَأَلَ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ: شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا؟ قَالَ: نَعَمْ صَلَّى الْعِيدَ أَوَّلَ النَّهَارِ، ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ فَقَالَ: مَنْ شَاءَ أَنْ يُجَمِّعَ فَلْيُجَمِّعْ “Saya menyaksikan Mu’âwiyah bertanya kepada Zaid bin Arqam, ‘Apakah engkau menyaksikan bersama Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dua ‘ied berkumpul?’ (Zaid) menjawab, ‘Iya.

Beliau melaksanakan shalat ‘ied pada awal siang, kemudian memberi keringanan pada (shalat) Jum’at dengan berkata, ‘Siapa saja yang hendak menegakkan (shalat) Jum’at hendaknya dia menegakkan (shalat) Jum’at tersebut.” ( [35]) Hadits lain adalah dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda: قَدِ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ، فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ “Telah bertemu dua ‘ied pada hari kalian ini.

Siapa saja yang berkehendak (untuk tidak menghadiri shalat Jum’at), (shalat ‘ied -nya) telah mencukupinya dari (shalat) Jum’at. Namun, kami (tetap) akan menegakkan (shalat) Jum’at.” ( [36]) Juga dari Abu ‘Ubaid bahwa beliau berkata: “Saya menghadiri shalat ‘ied bersama Utsman bin Affan, sedang waktu itu adalah hari Jum’at.

(Utsman) melaksanakan shalat Id sebelum khutbah, kemudian berkata: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ العَوَالِي فَلْيَنْتَظِرْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya pada hari ini telah berkumpul dua Ied untuk kalian.

Oleh karena itu, siapa saja di antara penduduk ‘awâlî (pelosok kota) yang ingin menunggu (pelaksanaan shalat) Jum’at, silakan menunggu. Akan tetapi, siapa saja yang ingin kembali, telah kuizinkan untuknya.” ( [37]) FOOTNOTE: =============================== ([1]) Fathul baari 8/271 ([2]) HR.

Ahmad 12006 ([3]) QS. Al-kautsar: 2 ([4]) Tafsiir Abdur Rozzaaq 3/466 ([5]) HR. Muslim 2/605 No. 890 ([6]) Para ulama berbeda pendapat dalam masalah hukum sholat ‘ied: Pendapat pertama: shalat hari raya hukumnya wajib. Ini adalah pendapat madzhab hanafiyyah, istilah wajib menurut madzhab mereka berbeda dengan fardhu. Berkata Az-Zaila’i ketika menjelaskan hukum shalat dua hari raya menurut madzhab hanafiyah: تَجِبُ صَلَاةُ الْعِيدَيْنِ عَلَى مَنْ تَجِبُ عَلَيْهِ الْجُمُعَةُ بِشَرَائِطِهَا “Shalat dua hari raya hukumnya wajib bagi orang yang wajib untuk melaksanakan shalat jum’at dengan syarat-syaratnya.” (Tabyiinul haqooiq syarhu kanzu ad-daqooiq 1/223) Perbedaan antara wajib dan fardhu dalam madzhab mereka adalah: Fardhu: adalah sesuatu yang wajib dengan dalil yang qoth’i seperti shalat wajib lima waktu.

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Mu’adz: فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ “Maka ajarkanlah mereka bahwa sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada mereka lima shalat di setiap hari dan malamnya.” (HR. Bukhori No. 1395 dan Muslim No. 19) Lafaz “mewajibkan kepada mereka” ini adalah dalil yang sangat jelas menunjukkan wajibnya shalat lima waktu.

Wajib: adalah sesuatu yang wajib dengan dalil zhonni (berdasarkan ijtihad) seperti shalat witir, shalat hari raya dan yang lainnya menurut madzhab mereka.

Berkata Asy-Syairozi membawakan pendapat madzhab hanafiyyah dalam membedakan wajib sholat ied fardhu: وقال أصحاب أبي حنيفة الواجب ما ثبت وجوبه بدليل مجتهد فيه كالوتر والأضحية عندهم والفرض ما ثبت وجوبه بدليل مقطوع به كالصلوات الخمس والزكوات المفروضة وما أشبهها “Dan berkata murid-murid Abu Hanifah: wajib adalah yang kewajibannya ditetapkan dengan dalil ijtihad, seperti shalat witir dan berkurban menurut mereka.

Dan fardhu adalah yang kewajibannya ditetapkan dengan dalil yang qoth’i seperti shalat lima waktu, zakat wajib, dan semisalnya”. (Al-Luma’ Fii Ushuul Al-Fiqhi 1/23) Akan tetapi dijelaskan oleh Asy-Syairozi bahwa ini adalah pendapat yang salah: وهذا خطأ لأن طريق الأسماء الشرع واللغة والاستعمال وليس في شيء من ذلك فرق بين ما ثبت بدليل مقطوع به أو بطريق مجتهد فيه.

“Ini adalah kesalahan, karena metode penamaan adalah berdasarkan syari’at, bahasa, dan penggunaan. Dan tidak ada satupun hal tersebut yang membedakan antara sesuatu yang ditetapkan dengan dalil qoth’i dan yang ditetapkan dengan dalil ijtihad.” (Al-Luma’ Fii Ushuul Al-Fiqhi 1/23) Dalil yang mereka gunakan untuk menyatakan bahwa shalat hari raya adalah wajib adalah firman Allah: {فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ} “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan sholat ied (Al-kautsar: 2) Dan juga Nabi senantiasa mengerjakannya di tiap tahunnya dan belum pernah meninggalkannya, berkata Az-Zaila’i: {فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ} [الكوثر: 2] الْمُرَادُ بِهَا صَلَاةُ الْعِيدِ .وَقَدْ وَاظَبَ عَلَيْهَا النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – مِنْ غَيْرِ تَرْكٍ، وَهُوَ دَلِيلُ الْوُجُوبِ “(Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah) yang dimaksud dengannya adalah shalat hari raya (idul adha)… dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengerjakannya tanpa meninggalkannya, dan ini adalah dalil menunjukkan wajib.” (Tabyiinul haqooiq syarhu kanzi ad-daqooiq 1/224) Pendapat kedua: mengatakan shalat hari raya hukumnya fardhu kifayah.

Ini adalah pendapat madzhab hanabilah, berkata Ibnu Qudamah: وَصَلَاةُ الْعِيدِ فَرْضٌ عَلَى الْكِفَايَةِ “dan shalat ‘ied hukumnya adalah fardhu kifayah.” (Al-Mughni 2/272) Adapun dalil yang menunjukkan fardhu kifayah maka sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah: أَنَّهَا لَا يُشْرَعُ لَهَا الْأَذَانُ، فَلَمْ تَجِبْ عَلَى الْأَعْيَانِ، كَصَلَاةِ الْجِنَازَةِ “karena shalat tersebut tidak disyariatkan untuk adzan, maka menjadi tidak wajib ain, sebagaimana shalat jenazah.” (Al-Mughni 2/272) وَلِأَنَّهَا لَوْ وَجَبَتْ عَلَى الْأَعْيَانِ لَوَجَبَتْ خُطْبَتُهَا، وَوَجَبَ اسْتِمَاعُهَا كَالْجُمُعَةِ “Karena jika sholat ied tersebut diwajibkan untuk setiap individu maka akan diwajibkan juga khutbahnya, serta akan diwajibkan untuk mendengarkannya khutbah tersebut sebagaimana shalat sum’at.” (Al-Mughni 2/272) Pendapat ketiga: mengatakan hukum shalat hari raya adalah sunnah sholat ied.

Ini adalah pendapat madzhab malikiyyah dan syafi’iyyah, berkata Imam An-Nawawi: وَأَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى أَنَّ صَلَاةَ الْعِيدِ مَشْرُوعَةٌ وَعَلَى أَنَّهَا لَيْسَتْ فَرْضَ عَيْنٍ وَنَصَّ الشَّافِعِيُّ وَجُمْهُورُ الْأَصْحَابِ عَلَى أَنَّهَا سُنَّةٌ “Kaum muslimin telah sepakat bahwa shalat ‘ied disyariatkan, dan bahwa hukumnya adalah sunnah bukan wajib.

Imam Asy-Syafi’i dan mayoritas murid-muridnya mengatakan bahwa hukumnya sunnah.” (Al-majmu’ syarh al-muhadzdzab 5/2) Dan dalil perkataan mereka adalah: Dari Tholhah bin Ubaidillah, ketika datang seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan tentang Islam, Rasulullah pun menjawab: «خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي اليَوْمِ وَاللَّيْلَةِ»، فَقَالَ: هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا؟ قَالَ: «لاَ، إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ» “Shalat lima waktu di setiap hari dan malamnya, lalu lelaki itu bertanya kembali: Apakah ada selainnya yang diwajibkan untukku?

Beliaupun menjawab: tidak kecuali engkau melakukan yang sunnah.” (HR. Bukhori sholat ied.

sholat ied

2678 Muslim no. 11) Hadits Mu’adz: فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ “Maka ajarkanlah mereka bahwa sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada mereka lima shalat di setiap hari dan malamnya.” (HR.

Bukhori sholat ied 1395 Muslim no 19) Sisi pendalilannya dalam dua hadits di atas adalah Nabi menyebutkan bahwa shalat yang wajib dikerjakan oleh umat Islam terbatas hanya lima shalat wajib saja.

Dan juga shalat ini hukumnya bukan fardhu kifayah, berkata Imam An-Nawawi membantah perkataan yang mengatakan sholat ied kifayah dengan beberapa alasan: (1) Sholat ied berhujjah dengan hadits Tholhah, lalu seandainya shalat hari raya hukumnya fardhu kifayah, maka Nabi tidak memutlakkan ini, karena fardhu kifayah hukumnya wajib untuk semua, akan tetapi tidak ada dosa jika ada sebagian orang yang melakukan, karenanya seandainya semuanya meninggalkannya maka semuanya berdosa.

(2) Karena waktu yang terbatas. sholat ied Tidak ada adzan dan iqomat untuk shalat ini. (4) Sunnah adalah pendapat mayoritas ulama terdahulu dan belakangan. Adapun pengkiyasan shalat ‘Ied dengan shalat jenazah maka ada perbedaan antara keduanya, karena shalat jenazah ini berkaitan dengan hak si mayit, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Abu Huroiroh: «حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ» قِيلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ؟، قَالَ: «إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَشَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ» “Hak seorang Muslim terhadap orang Muslim lainnya itu ada enam, kemudian ada yang bertanya: apa itu wahai Rasulullah?

beliaupun menjawab: jika engkau bertemu dengannya maka berilah salam kepadanya, jika ia mengundangmu maka penuhilah undangannya, jika ia meminta nasihat kepadamu maka berilah ia nasihat, jika ia bersin kemudian mengucapkan Alhamdulillah maka tasymitkanlah ia (yaitu dengan mendoakan ia dengan ucapan “yarhamukallah”), jikalau ia sakit, tinjaulah ia dan jikalau ia meninggal dunia, maka ikutilah jenazahnya”.

(HR. Muslim No. 2162) Berkata Syaikh Ali Bin Sulthon Muhammad dalam menjelaskan makna “وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ”, أَيْ: جِنَازَتَهُ لِلصَّلَاةِ عَلَيْهِ، وَلِلدَّفْنِ أكْمَلُ “Yaitu jenazahnya untuk dishalati dan untuk dikuburkan untuk lebih sempurnanya.” (Mirqootul Mafaatiih Syarh Misykaatul Mashoobiih 3/1120) Kesimpulan dari semua pemaparan di atas penulis lebih memilih pendapat ketiga yang menyatakan bahwa shalat ied hukumnya sunnah muakkadah.

([7]) HR. Bukhori no. 2678 dan Muslim no. 11 ([8]) HR. Ahmad 12006 ([9]) Tafsiir Ath-Thobari Jaami’ul Bayan Fii Takwiilil Quraan 3/479 ([10]) Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 5/3 ([11]) Al-mughni 2/280 ([12]) HR.

Bukhori No. 956 dan Muslim No. 889 Berkata Ibnu Qudamah: السُّنَّةُ أَنْ يُصَلِّيَ الْعِيدَ فِي الْمُصَلَّى، أَمَرَ بِذَلِكَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ. وَاسْتَحْسَنَهُ الْأَوْزَاعِيُّ، وَأَصْحَابُ الرَّأْيِ.

وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ الْمُنْذِرِ. “Disunnahkan untuk melaksanakan shalat ‘ied di musholla (tanah lapang), ‘Ali memerintahkan hal tersebut dan Al-Auza’i dan Ashab Ar-Ra’yi menganggapnya hal yang baik, dan ini adalah perkataan Ibnu Mundzir. (Al-Mughni 2/275) ([13]) Berkata Ibnu Qudamah: وَلَنَا «، أَنَّ النَّبِيَّ sholat ied صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ يَخْرُجُ إلَى الْمُصَلَّى وَيَدَعُ مَسْجِدَهُ» ØŒ وَكَذَلِكَ الْخُلَفَاءُ بَعْدَهُ، وَلَا يَتْرُكُ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – الْأَفْضَلَ مَعَ قُرْبِهِ، وَيَتَكَلَّفُ فِعْلَ النَّاقِصِ مَعَ بُعْدِهِ، وَلَا يَشْرَعُ لِأُمَّتِهِ تَرْكَ الْفَضَائِلِ، وَلِأَنَّنَا قَدْ أُمِرْنَا بِاتِّبَاعِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَالِاقْتِدَاءِ بِهِ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الْمَأْمُورُ بِهِ هُوَ النَّاقِصَ، وَالْمَنْهِيُّ عَنْهُ هُوَ الْكَامِلَ، وَلَمْ يُنْقَلُ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ صَلَّى الْعِيدَ بِمَسْجِدِهِ إلَّا مِنْ عُذْرٍ، وَلِأَنَّ Sholat ied إجْمَاعُ الْمُسْلِمِينَ.

فَإِنَّ النَّاسَ فِي كُلِّ عَصْرٍ وَمِصْرٍ يَخْرُجُونَ إلَى الْمُصَلَّى، فَيُصَلُّونَ الْعِيدَ فِي الْمُصَلَّى، مَعَ سَعَةِ الْمَسْجِدِ وَضِيقِهِ، وَكَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يُصَلِّي فِي الْمُصَلَّى مَعَ شَرَفِ مَسْجِدِهِ، “Dan hujjah kami, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju musholla (tanah lapang) dan meninggalkan masjidnya, dan begitu juga para Kholifah setelahnya, dan Nabi tidak mungkin meninggalkan sesuatu yang lebih utama (Masjid Nabawi) yang jaraknya dekat lalu membebani untuk melakukan sesuatu yang kurang utama dan juga jaraknya jauh, beliau tidak mungkin memberikan syari’at pada umatnya untuk meninggalkan perkara-perkara yang utama, karena kita diperintahkan untuk mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan meneladaninya, dan tidak boleh sesuatu yang diperintahkan dia adalah sesuatu yang kurang dan yang dilarang adalah sesuatu yang sempurna, dan tidak ada penukilan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau shalat ‘ied di masjidnya kecuali sholat ied udzur, dan karena ini sholat ied ijma’ kaum muslimin, sesungguhnya manusia di setiap waktu dan di setiap daerah selalu keluar menuju tanah lapang dan sholat ied shalat ‘ied di tanah lapang bersamaan dengan luasnya masjid dan sempitnya masjid.

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat ‘ied di tanah lapang bersamaan dengan mulianya masjidnya.” (Al-Mughni 2/276) Ibnul Qayyim mengatakan: “Sunnah Nabi sudah tetap bahwa beliau meninggalkan masjidnya ketika shalat dua hari raya, beliau mengerjakannya di mushalla yang berada di pintu luar Madinah”.

(Zadul Ma’ad 1/441) Hanya saja Imam Syafi’i berpendapat bahwa penduduk Makkah, tidak shalat ied kecuali di Masjidil Haram, karena itu adalah tempat paling baik di dunia. (Lihat Al-Umm 1/207) ([14]) Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 5/17 ([15]) Takbir tambahan adalah takbir yang terletak antara takbirotul ihrom dan takbir untuk ruku’ untuk ruku’ pada raka’at pertama, dan pada raka’at kedua adalah yang terletak antara takbir ketika bangkit dari sujud dan takbir untuk ruku’.

([16]) Syarhu ma’aani al-aaatsar no. 7262 Dalam masalah takbir tambahan ada beberapa pendapat dari kalangan ulama: Pendapat pertama: Bertakbir 3 kali setelah takbirotul ihrom pada raka’at pertama dan 3 kali takbir setelah takbirotul intiqol pada raka’at kedua. Total 6 takbir tambhan, ini adalah pendapat madzhab Hanafiyyah, berkata Ibnu ‘Abidin: وَهِيَ ثَلَاثُ تَكْبِيرَاتٍ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ، هَذَا مَذْهَبُ ابْنِ مَسْعُودٍ وَكَثِيرٍ مِنْ الصَّحَابَةِ، وَرِوَايَةٌ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَبِهِ أَخَذَ أَئِمَّتُنَا الثَّلَاثَةُ، “dan dia (takbir tambahan) ada 3 takbir di setiap raka’at.

Ini adalah madzhab Ibnu Mas’ud dan kebanyakan para sahabat, dan ini adalah salah satu riwayat dari Ibnu ‘Abbas, dan pendapat ini yang diambil oleh para imam yang tiga.” (Ad-durrul sholat ied 2/172) Mereka berdalil dengan riwayat Al-Aswad bin Yazid: أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ ” كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْعِيدَيْنِ تِسْعًا تِسْعا: أَرْبَعًا قَبْلَ الْقِرَاءَةِ، ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ، وَفِي الثَّانِيَةِ يَقْرَأُ فَإِذَا فَرَغَ كَبَّرَ أَرْبَعًا، ثُمَّ رَكَعَ ” “Sesungguhnya Ibnu Mas’ud bertakbir pada shalat dua hari raya masing-masing 9 kali takbir: 4 kali takbir sebelum membaca (termasuk di dalamnya takbirotul ihrom), kemudian bertakbir, lalu ruku’, dan pada raka’at kedua membaca lalu bertakbir 4 kali kemudian ruku’.” (Mushonnaf Abdur Rozzaq 5686) كَانَ ابْنُ مَسْعُودٍ جَالِسًا وَعِنْدَهُ حُذَيْفَةُ وَأَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ، فَسَأَلَهُمَا سَعِيدُ بْنُ الْعَاصِ عَنِ التَّكْبِيرِ فِي الصَّلَاةِ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى فَجَعَلَ هَذَا يَقُولُ: سَلْ هَذَا، وَهَذَا يَقُولُ: سَلْ هَذَا، فَقَالَ لَهُ حُذَيْفَةُ: سَلْ هَذَا Ù€ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ Ù€ فَسَأَلَهُ، فَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: «يُكَبِّرُ أَرْبَعًا ثُمَّ يَقْرَأُ، ثُمَّ يُكَبِّرُ فَيَرْكَعُ، ثُمَّ يَقُومُ فِي الثَّانِيَةِ فَيَقْرَأُ، ثُمَّ يُكَبِّرُ أَرْبَعًا بَعْدَ الْقِرَاءَةِ» “Ibnu Mas’ud sedang duduk, disisinya ada Hudzaifah dan Abu Musa Al-Asy’ari, kemudian Sa’id bin al-‘Ash bertanya kepada keduanya tentang takbir dalam sholat di hari raya, kemudian yang ini berkata: bertanyalah kepada ini, dan yang lain pun mengatakan hal yang sama, akhirnya Hudzaifah berkata, bertanyalah kepada ini yaitu Abdullah bin Mas’ud.

Akhirnya Sa’id Bin al’Ash pun bertanya kepadanya, lalu Ibnu Mas’ud pun menjawab: Bertakbir 4 kali (termasuk di dalamnya takbirotul ihrom) kemudian membaca, kemudian bertakbir lalu ruku’, kemudian bangkit ke raka’at kedua kemudian membaca lalu bertakbir 4 kali takbir (termasuk di dalamnya takbir untuk ruku’) setelah membaca.” (Mushonnaf Abdur Rozzaq 5687) Dan ini juga salah satu riwayat Ibnu ‘Abbas. (Lihat Mushonnaf Abdur Rozzaq 5689) Pendapat kedua: Bertakbir 6 kali takbir pada raka’at pertama dan 5 kali takbir pada raka’at kedua.

Total 11 takbir tambahan, dan ini adalah pendapat madzhab Imam Malik: ويكبر في الركعة الأولى سبع تكبيرات وفي الركعة الثانية خمس تكبيرات… وإن جعلها سبعا في الأولى بتكبيرة الإحرام فهو مذهب مالك “Bertakbir pada raka’at pertama 7 kali dan pada raka’at kedua 5 kali, … dan jika menjadikan 7 kali takbir pada rakaat pertama dengan memasukkan takbirotul ihrom maka ini adalah madzhab Malik.

(Al-Kaafii Fii Fiqhi Ahlil Madinah 1/264) Dan ini juga pendapat hanabilah Hanabilah, berkata Ibnu Qudamah: قَالَ: Sholat ied عَبْدِ اللَّهِ: يُكَبِّرُ فِي الْأُولَى سَبْعًا مَعَ تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ، وَلَا يَعْتَدُّ بِتَكْبِيرَةِ الرُّكُوعِ؛ لِأَنَّ بَيْنَهُمَا قِرَاءَةً، وَيُكَبِّرُ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ خَمْسَ تَكْبِيرَاتٍ، وَلَا يَعْتَدُّ بِتَكْبِيرَةِ النُّهُوضِ “Berkata Abu ‘Abdillah (Imam Ahmad): takbir pada raka’at pertama 7 kali bersama dengan takbirotul ihrom, dan takbir untuk ruku’ tidak termasuk hitungan, karena di antara keduanya ada bacaan.

Dan bertakbir pada raka’at kedua 5 kali, dan takbir ketika bangkit tidak masuk dalam hitungan.” (Al-Mughni 2/282) Dalil mereka adalah: شَهِدْتُ الأَضْحَى وَالْفِطْرَ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ، فَكَبَّرَ فِي الرَّكْعَةِ الأَولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ قَبْلَ الْقِرَاءَةِ، وَفِي الآخِرَةِ خَمْسَ تَكْبِيرَاتٍ قَبْلَ الْقِرَاءَةِ.

“Aku menyaksikan shalat ‘iedul adha dan ‘iedul fithri bersama Abu Huroiroh, ia bertakbir pada raka’at pertama 7 kali sebelum membaca, dan pada raka’at terakhir (kedua) bertakbir sebanyak 5 kali sebelum membaca.” (Muwattho’ imam Malik no. 590) Pendapat ketiga: Bertakbir pada raka’at pertama 7 kali, dan pada raka’at kedua 5 kali, sehingga total takbir tambahan ada 12 takbir, dan ini adalah pendapat madzhab Syafi’iyyah. ثُمَّ يُكَبِّرَ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ سِوَى تَكْبِيرَةِ الْإِحْرَامِ وَسِوَى تَكْبِيرَةِ الرُّكُوعِ وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَةِ الْقِيَامِ مِنْ السُّجُودِ وَالْهَوِيِّ إلَى الرُّكُوعِ “Kemudian bertakbir pada raka’at pertama 7 kali selain takbirotul ihrom dan takbir untuk ruku’, dan pada raka’at kedua bertakbir 5 kali selain takbir bangkit dari sujud dan selain takbir untuk turun ruku’.” )Al-Majmu’ syarhul muhadzdzab 5/17) Dalil mereka adalah riwayat ‘Aisyah: «يُكَبِّرُ فِي الْعِيدَيْنِ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ تَكْبِيرَةً سِوَى تَكْبِيرَةِ الِاسْتِفْتَاحِ» “Veliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir pada shalat 2 hari raya 12 kali takbir selain takbirotul istiftah (takbirotul ihrom).” (Sunan ad-daruquthni no.

1720) Dan juga terdapat riwayat-riwayat lain yang menunjukkan bahwa Rasulullah bertakbir tambahan dengan bilangan selain yang disebutkan di atas, seperti yang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdillah: «التَّكْبِيرُ فِي يَوْمِ الْعِيدِ فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى أَرْبَعًا، وَفِي الْآخِرَةِ ثَلَاثًا، فَالتَّكْبِيرُ سَبْعٌ سِوَى تَكْبِيرُ الصَّلَاةِ» “Bertakbir pada shalat hari raya pada raka’at pertama 4 kali dan pada raka’at kedua 3 kali.

Maka takbir ada 7 kali selain takbir untuk shalat.” (Mushonnaf ‘Abdurrozzoq No. 5694) Kesimpulan Melihat banyaknya perbedaan dalam bilangan takbir tambahan dalam shalat maka yang tampak lebih baik adalah boleh melakukan semuanya, sebagaimana sikap Imam Ahmad dalam permasalahan ini, beliau berkata: اخْتَلَفَ أَصْحَابُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي التَّكْبِيرِ وَكُلُّهُ جَائِزٌ Para sahabat Rasulullah berselisih dalam masalah takbir, dan semuanya boleh.

(Al-Furuu’ wa Tashiihul Furuu’ karya Ibnu Muflih 3/230) Dan ini juga pendapat yang dipilih oleh Syaikh ‘Utsaimin, beliau menjelaskan tentang pendapat Imam Ahmad lalu menguatkannya, beliau berkata: أنه يرى أن السلف إذا اختلفوا في شيء، وليس هناك نص فاصل قاطع، فإنه كله يكون جائزاً؛ لأنه ـ رحمه الله ـ يعظم كلام الصحابة ويحترمه، فيقول: إذا لم يكن هناك نص فاصل يمنع من أحد الأقوال فإن الأمر في هذا واسع.

ولا شك أن هذا الذي نحا إليه الإمام أحمد من أفضل ما يكون لجمع الأمة واتفاق كلمتها “Sesungguhnya beliau (Imam Ahmad) memandang bahwa salaf apabila berselisih terhadap sesuatu dan tidak ada nas yang memutuskannya secara tegas, maka semuanya menjadi boleh, karena beliau mengagungkannya perkataan para sahabat dan memuliakannya.

Beliau mengatakan: jika tidak ada nash yang memutuskan untuk menghalangi dari salah satu pendapat, maka perkara dalam masalah ini luas. Dan tidak diragukan bahwa jalan yang ditempuh oleh Imam Ahmad ini termasuk yang paling mulia untuk menyatukan umat.” (Asy-Syarhul Mumti’ 5/137) ([17]) Ar-Roudhotun Nadiyyah Syarh Ad-Durori Al-Bahiyyah 1/144 ([18]) Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 5/20-21 Dan disebutkan juga dalam kitab ini bahwa beberapa ulama berbeda pendapat dalam masalah ini, seperti Sholat ied Hanifah beliau berpendapat bahwa pada raka’at kedua takbir tambahan terletak setelah membaca, dan juga Ibnu Ash-Shobbagh menghikayatkan dari Abu Yusuf bahwa takbir tambahan terletak setelah ta’awwudz agar ta’awwudz bersambung dengan doa istiftah, dan juga Syaikh Abu Hamid menukilkan dari Muhammad bahwasanya takbir terletak sebelum doa istiftah.

Dan semua pendapat tersebut dibantah oleh Imam An-Nawawi. ([19]) HR. Abu Dawud no. 722 Ada perbedaan pendapat dalam mengangkat tangan ketika takbir tambahan: Pendapat pertama: disyariatkannya mengangkat kedua tangannya di setiap takbir tambahan.

Ini adalah pendapat mayoritas Ulama dari madzhab Hanafiyyah (Lihat: Badai’u Ash-Shonai’ Fii Tartiib Sholat ied 1/277), Syafi’iyyah (Lihat: Al-Majmu’ Syarhu Al-Muhadzdzab 5/21) dan Hanabilah (Lihat: Al-Mughni Libni Qudamah 2/283), dan juga ini salah satu riwayat dari Imam Malik (Lihat: An-Nawadir Wa Az-Ziyadaat 1/501).

Hadits di atas adalah dalil yang sifatnya umum, mereka juga memiliki beberapa dalil yang sifatnya khusus menjelaskan tentang masalah ini, sebagian lemah dan sebagiannya lagi shohih, di antaranya riwayat Umar bin Khotthob dan Ibnu Umar, dari Bakr bin Sawadah: أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ مَعَ كُلِّ تَكْبِيرَةِ فِي الْجِنَازَةِ وَالْعِيدَيْنِ ” “Sesungguhnya Umar Bin Khotthob radhiyallahu ‘anhu mengangkat kedua tangannya setiap kali bertakbir dalam shalat jenazah dan shalat dua hari raya.” Namun atsar ini dikatakan oleh para ulama lemah karena di dalamnya terdapat perowi bernama Ibnu Lahi’ah.

(Lihat: adh-Dhu’afaa’ li Abi Az-Zur’ah 2/330) Ibnul Qoyyim juga mengatakan: وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ مَعَ تَحَرِّيهِ لِلِاتِّبَاعِ يَرْفَعُ يَدَيْهِ مَعَ كُلِّ تَكْبِيرَةٍ “Ibnu Umar dalam usaha beliau untuk mengikuti sunnah, beliau mengangkat kedua tangannya setiap kali bertakbir.” (Zaadul ma’aad 1/427) Namun atsar ini tidak didapati sanadnya.

Dan ada juga atsar sholat ied tabi’in yaitu dari ‘Atho: عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ: قُلْتُ لِعَطَاءٍ: «يَرْفَعُ الْإِمَامُ يَدَيْهِ كُلَّمَا كَبَّرَ هَذِهِ التَّكْبِيرَةِ الزِّيَادَةَ فِي صَلَاةِ الْفِطْرِ؟» قَالَ: «نَعَمْ، وَيَرْفَعُ النَّاسُ أَيْضًا» “Dari juroij, aku bertanya kepada ’Atho: Apakah imam mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir tambahan ini pada shalat ‘iedul fithri?

Ia menjawab: iya, dan orang-orang mengangkat kedua tangannya juga.” (Mushonnaf Abdurrozzaq no. 5699, juga disebutkan dalam as-sunanul kubro lil baihaqi 3/413) Pendapat kedua: Tidak disyariatkannya mengangkat tangan ketika bertakbir tambahan. Ini adalah pendapat Imam Malik, Ats-Tsauri, Abu Yusuf, dan Ibnu Abu Laila. (Lihat: al-Majmu’ syarh al-muhadzdab 5/21) Alasan mereka adalah karena tidak adanya dalil yang shohih yang menjelaskan hal tersebut.

(Lihat: Ad-Diinul Khoolish 4/337) ([20]) Terdapat dua pendapat dalam masalah bacaan di antara takbir tambahan: Pendapat pertama: di setiap antara dua takbir terdapat dzikir-dzikir seperti sholat ied, ats-tsana’, dan bersalawat kepada Nabi. Ini adalah pendapat madzhab Syafi’iyyah dan Hanabilah. Syaikh Bin Baz pun mengambil pendapat ini.

Berkata imam Asy-Syafi’i: ثُمَّ وَقَفَ بَيْنَ الْأُولَى وَالثَّانِيَةِ قَدْرَ قِرَاءَةِ آيَةٍ لَا طَوِيلَةٍ وَلَا قَصِيرَةٍ فَيُهَلِّلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَيُكَبِّرُهُ، وَيَحْمَدُهُ ثُمَّ صَنَعَ هَذَا بَيْنَ كُلِّ تَكْبِيرَتَيْنِ مِنْ السَّبْعِ وَالْخَمْسِ “Kemudian berdiam antara takbir pertama dan kedua sebatas membaca satu ayat, sholat ied panjang juga tidak pendek.

Kemudian bertahlil, bertakbir, bertahmid, lalu melakukan hal yang sama di antara setiap dua takbir dari 7 dan 5 takbir.” (Al-Umm 1/270) Berkata Ibnu Qudamah: وَيَسْتَفْتِحُ فِي أَوَّلِهَا، وَيَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ، وَيُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – بَيْنَ كُلِّ تَكْبِيرَتَيْنِ “Membaca istiftah di awal, dan bertahmid, tsanaa, dan bersalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara setiap dua takbir.” (Al-Mughni 2/283) Dalil mereka adalah berdasarkan penjelasan dari Ibnu Mas’ud ketika ditanya oleh Al-Walid bin Uqbah, أَنَّ الْوَلِيدَ بْنَ Sholat ied دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَابْنُ مَسْعُودٍ، وَحُذَيْفَةُ، وَأَبُو مُوسَى فِي عَرْصَةِ الْمَسْجِدِ، فَقَالَ الْوَلِيدُ: إِنَّ الْعِيدَ قَدْ حَضَرَ فَكَيْفَ أَصْنَعُ؟ فَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: «تَقُولُ اللهُ أَكْبَرُ، وَتَحْمَدُ اللهَ، وَتُثْنِي عَلَيْهِ، وَتُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَدْعُو اللهَ، ثُمَّ تُكَبِّرُ، وَتَحْمَدُ اللهَ، وَتُثْنِي عَلَيْهِ، وَتُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ تُكَبِّرُ، وَتَحْمَدُ اللهِ، وَتُثْنِي عَلَيْهِ، وَتُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَدْعُو اللهَ، ثُمَّ تُكَبِّرُ، وَتَحْمَدُ اللهَ، وَتُثْنِي عَلَيْهِ وَتُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَدْعُو، ثُمَّ Sholat ied وَاقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، وَسُورَةٍ، ثُمَّ كَبِّرْ وَارْكَعْ وَاسْجُدْ، ثُمَّ قُمْ فَاقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، وَسُورَةٍ، ثُمَّ كَبِّرْ، وَاحْمَدِ اللهَ، وَأَثْنِ عَلَيْهِ، وَصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَادْعُ ثُمَّ كَبِّرْ، وَاحْمَدِ اللهَ، وَأَثْنِ عَلَيْهِ، وَصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَارْكَعْ وَاسْجُدْ» قَالَ: فَقَالَ حُذَيْفَةُ، وَأَبُو مُوسَى: أَصَابَ “Walid Bin Uqbah masuk masjid, sedangkan Ibnu Mas’ud, Hudzaifah, dan Abu Musa di halaman masjid, lalu Walid berkata: Sesungguhnya hari raya telah tiba, apa yang harus aku lakukan?

Ibnu Mas’ud pun menjawab: Engkau ucapkan takbir, tahmid, tsana’, dan bersalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdoa kepada Allah, kemudian bertakbir, tahmid, tsana’, dan bersalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian bertakbir, tahmid, tsana’, dan bersalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdoa, kemudian bertakbir, tahmid, tsana’, dan bersalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdoa, kemudian bertakbirlah dan bacalah al-fatihah dan surat, kemudian bertakbirlah dan ruku’lahlah dan sujudlah, kemudian bangkit dan bacalah al-fatihah dan surat.

Lalu, bertahmidlah, tsana’, dan bersalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdoalah. Kemudian bertakbirlah bertahmidlah, tsana’, dan bersalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ruku’ dan sujudlah.

Berkata Hudzaifah dan Abu Musa: benar.” (HR. Ath-Thobroni dalam Al-Mu’jam Al-Kabir sholat ied. 9515, hadits ini dishohihkan oleh Al-Albani dalam Irwaul Gholil 3/114) Pendapat kedua: Tidak ada bacaan antara dua takbir. Ini adalah pendapat Hanafiyyah dan Malikiyyah. Ibnu Qudamah menukilkan pendapat mereka: وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ، وَمَالِكٌ، وَالْأَوْزَاعِيُّ: يُكَبِّرُ مُتَوَالِيًا، لَا ذِكْرَ بَيْنَهُ، لِأَنَّهُ لَوْ كَانَ بَيْنَهُ ذِكْرٌ مَشْرُوعٌ لَنُقِلَ، كَمَا نُقِلَ التَّكْبِيرُ، وَلِأَنَّهُ ذِكْرٌ مِنْ جِنْسٍ مَسْنُونٍ، فَكَانَ مُتَوَالِيًا، كَالتَّسْبِيحِ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ.

“Abu Hanifah, Malik, dan Al-Auza’i berpendapat: Bertakbir terus menerus dan tidak ada dzikir di antara keduanya, karena seandainya di antara keduanya ada dzikir yang di syari’atkan tentunya akan dinukilkan, sebagaimana dinukilkannya takbir, dan karena takbir adalah dzikir yang termasuk jenis yang disunnahkan, maka dilakukan terus menerus sebagaimana tasbih ketika ruku’ dan sujud.” (Al-Mughni 2/284) ([21]) Beliau berkata: وقال بعض العلماء: يكبّر بدون أن يذكر بينهما ذكراً.

وهذا أقرب للصواب، والأمر في هذا واسع، إن ذكر ذكراً فهو على خير، وإن كبّر بدون ذكر، فهو على خير “Sebagian ulama mengatakan: bertakbir tanpa berdzikir di antara keduanya. Dan ini lebih dekat kepada kebenaran, dan perkara dalam permasalahan ini luas, jika seseorang berdzikir di antara keduanya maka ia di atas kebaikan, dan jika bertakbir tanpa berdzikir sholat ied ia di atas kebaikan.” (Asy-Syarhu Al-Mumti’ 5/139-140) ([22]) HR.

Muslim 2/607 No. 891 ([23]) HR. Muslim 2/598 no. 878 ([24]) HR. Bukhori no. 4895, Muslim no. 884 ([25]) Syarh Musykil Al-Aatsaar no. 3740 ([26]) Beliau berkata: “Disunnahkan ketika selesai dari shalat untuk berkhutbah.” (Al-Majmu’ syarhul muhadzdzab 5/21) ([27]) Berkata Ibnu Hazm: فَإِذَا سَلَّمَ الْإِمَامُ قَامَ فَخَطَبَ النَّاسَ خُطْبَتَيْنِ يَجْلِسُ بَيْنَهُمَا جِلْسَةً، فَإِذَا أَتَمَّهُمَا افْتَرَقَ النَّاسُ.

فَإِنْ خَطَبَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَلَيْسَتْ خُطْبَةً، وَلَا يَجِبُ الْإِنْصَاتُ لَهُ، كُلُّ هَذَا لَا خِلَافَ فِيهِ “Jika imam telah salam hendaknya ia bangkit untuk berkhutbah dua kali dan ia duduk di antara keduanya.

Jika ia telah menyempurnakan khutbahnya maka orang-orang bisa berpencar. Dan jika ia berkhutbah sebelum shalat maka ini bukanlah khutbah dan tidak wajib diam (untuk mendengarkannya). Semua ini tidak ada perselisihan di dalamnya.” (Al-muhalla bil aatsaar 3/293) ([28]) HR. Bukhari no. 635 dan Muslim no. 602 ([29]) Berkata al-Buhuti: وَكَذَا إنْ أَدْرَكَ الْإِمَامَ قَائِمًا بَعْدَ التَّكْبِيرِ الزَّائِدِ أَوْ بَعْضِهِ لَمْ يَأْتِ بِهِ “Begitu juga seandainya ia mendapati imam dalam keadaan berdiri setelah takbir tambahan atau sebagiannya maka ia tidak perlu mendatangkannya.” (Kasysyaf al-qina’ 2/55) ([30]) Beliau berkata menjelaskan madzhab ulama: وَإِذَا صَلَّاهَا مَنْ فَاتَتْهُ مَعَ الْإِمَامِ فِي وَقْتِهَا أَوْ بَعْدَهُ صَلَّاهَا رَكْعَتَيْنِ كَصَلَاةِ الْإِمَامِ وَبِهِ قَالَ أَبُو ثَوْرٍ وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ وَعَنْهُ رِوَايَةٌ يُصَلِّيهَا أَرْبَعًا بِتَسْلِيمَةٍ وَإِنْ شَاءَ بِتَسْلِيمَتَيْنِ وَبِهِ جَزَمَ الْخِرَقِيُّ وَالثَّالِثَةُ مُخَيَّرٌ بَيْنَ رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعٍ وَهُوَ مَذْهَبُ الثَّوْرِيِّ وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ يُصَلِّيهَا أَرْبَعًا وَقَالَ الْأَوْزَاعِيُّ رَكْعَتَيْنِ بِلَا جَهْرٍ ولا تكبيرات زوائد وقال اسحق ان صلاها في المصلى فكصلاة الامام والا اربعا “Jika seseorang yang luput darinya shalat ‘ied bersama imam pada waktunya atau telah lewat waktunya, maka: (1) Hendaknya ia melakukan shalat tersebut (qodho) dua raka’at seperti shalat imam.

Ini adalah pendapat Abu Tsaur dan ini adalah salah satu riwayat dari Ahmad. (2) Ada riwayat lain darinya (Imam Ahmad): yaitu shalat 4 raka’at dengan satu salam dan jika ia mau boleh dengan dua salam, ini yang dipastikan oleh Al-Khiroqi.

(3) Dan riwayat ketiga: boleh memilih antara 2 atau 4 raka’at, ini adalah madzhab At-Tsauri. (4) Ibnu Mas’ud berkata: sholat ied 4 raka’at. (5) Dan berkata al-Awza’i: shalat 2 raka’at tanpa mengeraskan suara dan juga tanpa takbir tambahan. (6) Dan berkata Ishaq: seandainya ia shalat di tempat lapang maka ia shalat seperti shalatnya imam, jika bukan di tempat lapang maka shalat 4 raka’at.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab 5/30) Dari sini kita dapati bahwa kebanyakan ulama membolehkan bagi orang yang luput darinya shalat ‘ied berjama’ah untuk mengqodho shalat ‘ied tersebut.

Dan juga perlu diketahui bahwa mengqodho shalat ‘ied bukanlah wajib, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr: وَلَيْسَ قَضَاءُ صَلَاةِ الْعِيدِ بِوَاجِبٍ لِمَنْ فَاتَتْهُ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ “Mengqodho shalat ‘ied bukanlah sesuatu yang wajib kecuali bagi yang mau.” (Al-Istidzkar 2/398) ([31]) Berkata al-Buhuti: (فَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ بِالْعِيدِ إلَّا بَعْدَ الزَّوَالِ أَوْ أَخَّرُوهَا) وَلَوْ (لِغَيْرِ عُذْرٍ خَرَجَ مِنْ الْغَدِ فَصَلَّى بِهِمْ قَضَاءً وَلَوْ أَمْكَنَ) قَضَاؤُهَا (فِي يَوْمِهَا) “Jika hari raya tidak diketahui kecuali setelah zawal (tergelincirnya matahari) atau mereka mengakhirkannya walau tanpa udzur, (maka imam) keluar di esok harinya dan mengimami orang-orang sebagai qodho walaupun memungkinkan untuk mengqodhonya sholat ied hari saat itu.” (Kasysyaful qina’ 2/50) ([32]) HR.

Ahmad No. 20603 ([33]) Perbedaan pendapat dalam masalah ini: Perkataan pertama: Shalat Jumat tidak gugur, dan ini adalah pendapat madzhab Hanafiyyah dan Malikiyyah.

Mereka berdalil dengan keumuman ayat yang mewajibkan untuk shalat jum’at Pendapat kedua: Orang yang menghadiri shalat ‘ied gugur baginya kewajiban menghadiri shalat jum’at tetapi tetap wajib bagi mereka untuk melaksanakan shalat zhuhur, namun bagi imam wajib untuk menegakkannya.

Ini adalah pendapat madzhab Hanabilah, dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, bahkan beliau menyebutkan bahwa ini adalah perkara yang disepakati oleh para sahabat: وَالْقَوْلُ الثَّالِثُ: وَهُوَ الصَّحِيحُ أَنَّ مَنْ شَهِدَ الْعِيدَ سَقَطَتْ عَنْهُ الْجُمُعَةُ لَكِنْ عَلَى الْإِمَامِ أَنْ يُقِيمَ الْجُمُعَةَ لِيَشْهَدَهَا مَنْ شَاءَ شُهُودَهَا وَمَنْ لَمْ يَشْهَدْ الْعِيدَ.

وَهَذَا هُوَ الْمَأْثُورُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ: كَعُمَرِ وَعُثْمَانَ وَابْنِ مَسْعُودٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَابْنِ الزُّبَيْرِ وَغَيْرِهِمْ. وَلَا يُعْرَفُ عَنْ الصَّحَابَةِ فِي ذَلِكَ خِلَافٌ.

sholat ied

وَأَصْحَابُ الْقَوْلَيْنِ الْمُتَقَدِّمَيْنِ لَمْ يَبْلُغْهُمْ مَا فِي ذَلِكَ مِنْ السُّنَّةِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا اجْتَمَعَ فِي يَوْمِهِ عِيدَانِ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِي الْجُمُعَةِ “Pendapat ketiga dan ini adalah pendapat yang benar bahwa yang menyaksikan shalat ‘ied gugur baginya shalat jum’at, akan tetapi imam wajib menegakkan shalat agar bisa dihadiri orang yang ingin untuk melakukannya dan orang yang belum menghadiri shalat ‘ied.

Ini adalah yang bersumber dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau seperti Umar, Utsman, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, dan selain mereka. Tidak diketahui ada perselisihan dari para sahabat. Adapun dua pendapat pertama yang lalu belum sampai kepada mereka sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berkumpul dua hari raya, beliau shalat ied kemudian memberi rukhshah untuk shalat jumat.” (Majmu’ al-fatawa 24/211) Pendapat ketiga: Shalat jum’at tetap wajib kecuali untuk orang-orang yang tinggal di pedalaman desa dan semisalnya yang jauh dari masjid jami’.

Dan ini adalah pendapat madzhab syafi’iyyah, berkata Imam An-Nawawi: فَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَصْحَابُ إذَا اتَّفَقَ يَوْمُ جُمُعَةٍ يَوْمَ عِيدٍ وَحَضَرَ أَهْلُ الْقُرَى الَّذِينَ تَلْزَمُهُمْ الْجُمُعَةُ لِبُلُوغِ نِدَاءِ الْبَلَدِ فَصَلَّوْا الْعِيدَ لَمْ تَسْقُطْ الْجُمُعَةُ بِلَا خِلَافٍ عَنْ أَهْلِ الْبَلَدِ وَفِي أَهْلِ الْقُرَى وَجْهَانِ الصَّحِيحُ الْمَنْصُوصُ لِلشَّافِعِيِّ فِي الْأُمِّ وَالْقَدِيمُ أَنَّهَا تَسْقُطُ “Asy-Syafi’i dan pengikutnya berkata: Kika bertepatan hari raya dan hari jum’at dan dihadiri penduduk desa yang wajib shalat jum’at, karena adzan terdengar di daerah mereka, lalu mereka shalat ‘ied, maka shalat jum’at tidak gugur bagi penduduk kota, adapun untuk penduduk desa maka ada dua sholat ied, dan yang shohih dan dinaskan oleh Syafi’I dalam kitab al-Umm dan mazhab lama, bahwasanya shalat jum’at gugur”.

(Al-majmu’ syarhul muhadzdzab 4/491) ([34]) Al-Mughni 2/265 ([35]) HR. Ahmad no. 19318. Hadits ini shohih li ghoirih, sanadnya lemah karena Iyas bin Abu Romlah adalah perawi majhul. Berkata al-Hakim hadits ini shohih sanadnya, dan tidak diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim, dan ini disepakati oleh adz-Dzahabi.

Dishohihkan oleh Ibnul Madini sebagaimana yang disebutkan oleh al-Hafiz dalam at-Talkhish 2/88. Nampaknya ia menshohihkan karena syahid-syahid yang lain. Sholat ied Musnad Imam Ahmad 32/68-69. ([36]) HR. Abu Dawud no 1073, dishohihkan oleh Al-Albani ([37]) HR. Sholat ied 5572. Al-‘Awali adalah perkampungan dekat dengan Madinah dari arah timur.

(Lihat Fathul Bari 10/27) Sholat ‘ied termasuk salah satu bagian dari syiar Islam dan merupakan anugrah Allah yang khusus kepada umat Islam. Secara bahasa Ied artinya kembali, dikatakan ied karena kembalinya hari itu dengan perputaran tahun, atau karena kembalinya rasa gembira dan bahagia tiap datangnya hari tersebut.

Ada yang mengatakan karena banyaknya keutamaan Allah SWT yang dicurahkan kepada hamba-Nya pada hari tersebut. Kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud “sholat” di ayat tersebut adalah sholat ied. Menurut pendapat yang kuat Sholat iedul adha lebih utama daripada sholat iedul fitri sebagaimana pendapat imam Ibn Hajar karena ada nash langsung dari Sholat ied.

Sedangkan menurut imam Izzuddin bin Abdissalam Shalat Iedul Fitri yang lebih utama. Waktu Sholat ied adalah mulai terbitnya matahari hingga masuknya waktu duhur. Namun dianjurkan mengakhirkan hingga ketinggian matahari ukuran tombak (sekitar 16 menit dari terbitnya matahari), karena mengikuti Nabi dan keluar dari pendapat ulama’ seperti imam Malik yang menyatakan itu adalah awal waktunya. islami.co dihidupi oleh jaringan penulis, videomaker dan tim editor yang butuh dukungan untuk bisa memproduksi konten secara rutin.

Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kerja-kerja kami dalam memproduksi artikel, video atau infografis yang mengedukasi publik dengan ajaran Islam yang ramah, toleran dan mencerahkan, kami akan sangat berterima kasih karenanya.

sholat ied

Sebab itu sangat membantu dan meringankan. Baca Juga • Khutbah Khutbah Jumat Spesial Idul Fitri: Anjuran Menjaga Hubungan Baik dengan Tetangga • Esei Aneka Bentuk Imajinasi Lebaran • Tela'ah Hikmah di Balik Baju Baru Lebaran • Kolom Pentingnya Merumuskan Mekanisme Standar Maaf di Era Digital • Kolom Gausah Berlebihan Menyikapi Bocil, Berbagi Uang di Hari Raya Lebaran Itu Biasa Saja Fren!! Berita • Pengalaman Toleransi Agama dari Semarang: Saling Berkunjung di Hari Raya sampai Bebersih Vihara • Quraish Shihab: Berdosa, Rajin Ibadah Sunnah Semalaman Tapi Sholat ied Bekerja • Kapan Shalat Idul Fitri Dilakukan?

Kementerian Agama Akan Putuskan 1 Syawal Hari Ini • Quraish Shihab: Jangan Anggap Kecil Amalanmu, Jangan Remehkan Dosamu! • Kemenag Undang Ormas Islam dan Perwakilan Dubes pada Isbat Awal Syawal 1443 H Kolom • Pesan KH.

Ali Mustafa Yaqub: Dakwah Jangan Dijadikan Profesi dan Sumber Mata Pencarian • Relasi Islam & Kristen di Indonesia: Peluang Dialog Antar-Agama • Riwayat Perjumpaan Islam sholat ied Kristen di Indonesia • Mengapa Ibadah Puasa Ramadhan Mengikuti Kalender Hijriyah? • Hikmah di Balik Baju Baru Lebaran Kajian • Ini Dalil Halal Bihalal dan Ziarah Kubur Ketika Lebaran • Argumen Bolehnya Zakat Fitrah dengan Uang dalam Madzhab Syafi’i • Tidak Semua Ghibah Dilarang, Dalam 6 Kondisi Ini Ghibah Dibolehkan • Sudah Pertengahan Ramadhan, Ini Dalil Baca Qunut Saat Shalat Witir • Suntik Sholat ied Saat Puasa, Apakah Membatalkan Puasa?

Ibadah • Khutbah Jumat Spesial Idul Fitri: Anjuran Menjaga Hubungan Baik dengan Tetangga • Apakah Puasa Syawal Mesti 6 Hari Berturut-turut?

Ini Beberapa Perbedaan Pendapat Ulama • Hukum Shalat Idul Fitri dan Tata Cara Pelaksanaannya • Contoh Khutbah Idul Fitri 1443 H/2022 M: Menjadi Kaya Raya dengan Bersaudara • Mengapa Zakat Fitrah Diwajibkan? Ini Sejarahnya! Budaya • Tradisi Nyadran, Ziarah dan Transfer Amal kepada Orang Tua • Tradisi Dandangan: Semarak Bulan Suci di Kota Kudus • Makna di Balik Nyadran, Nyekar, dan Tradisi Sholat ied Lainnya • Menyambut Lailatul Qadar ala Warga Desa: Tradisi Selikuran dan Pitulikuran di Pati • Budaya Melayu: Tradisi Tepung Tawar Masyarakat Melayu Langkat, Sumatera Utara
Merdeka.com - Hari raya Idulfitri adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Islam di dunia setelah menjalani puasa Ramadan sebulan lamanya.

Di hari yang suci tersebut, umat Islam merayakannya dengan suka cita dan berbagi kebahagiaan dengan sesama. Meski situasi dunia setahun belakangan ini belum membaik dikarenakan oleh COVID-19, namun hal itu tak menyurutkan niat dan minat masyarakat dalam menyambut hari kemenangan. Imbauan untuk beribadah di rumah saja masih tetap digalakkan, dan sepatutnya kita mematuhinya.

Hukum Pengerjaan dan Bacaan Sholat Ied Hukum melaksanakan sholat Ied dalam Islam adalah sunah muakkad. Hal ini karena Rasulullah SAW selalu mengerjakannya. Sedangkan menurut pendapat Imam Abu Hanifah, sholat Ied hukumnya fardhu ‘ain dan menurut Imam Ahmad hukumnya fardhu kifayah. Sholat Ied disunahkan pengerjaannya baik bagi orang yang mukmim ataupun musafir, merdeka atau budak, laki-laki maupun perempuan. BACA JUGA: Menag Yaqut Menyakini Silaturahmi Meningkatkan Peradaban Indonesia Cara Mudah Sholat ied Ketupat Lebaran, Menu Wajib di Hari Raya ke-7 Bacaan sholat Ied yang pertama adalah niat.

Berikut bacaannya; أُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ (مَأْمُوْمًاإِمَامًا) لِلهِ تَعَــــالَى Usholli rak’ataini sunnatan ai’idil fitri (ma’mumam/imaman) lillahi ta’ala. Artinya: “ Aku berniat sholat sunah Idul Fitri dua rakaat (menjadi makmum/imam) karena Allah ta’ala”. BACA JUGA: Sejarah Tradisi Mudik Lebaran, Dimulai Era Kerajaan Mataram dan Majapahit Tak Lagi Jalani Lebaran dengan Istri, Indro Warkop Beberkan Perasaannya Hukum melafalkan niat sholat Ied adalah sunah.

Yang wajib adalah secara sadar dan sengaja dalam batin berniat akan menunaikan sholat Ied. Sebelum imam dan makmum berniat, sholat dimulai tanpa azan dan iqamah karena tidak disunahkan. Cukup hanya dengan seruan “ ash-shalaatul jami'ah”. Bacaan Sholat Ied Beserta Tata Caranya Setelah selesai membaca niat sholat Ied, Anda bisa melanjutkan sholat dengan tata cara berikut ini; 1.

Membaca Takbiratul Ihram 2. Membaca Doa Iftitah "Allaahu Akbaru kabiiraa-walhamdu lillaahi katsiiran, wa subhaanallaahi bukrataw-waashiila. Wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas-samaawaati wal ardha haniifam-muslimaw-wamaa anaa minal musyrikiina. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi Rabbil ‘aalamiina. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa anaa minal muslimiin." BACA JUGA: Sang Ibu Kehujanan Saat Salat Id, Sikap Anaknya Mengingatkan pada Sosok Uwais AlQarni 5 Keutamaan Puasa Syawal bagi Umat Islam, Lengkap Disertai Dalilnya 3.

Takbir Sebanyak 7 Kali (Rakaat Pertama) Setelah membaca doa iftitah, selanjtnya adalah mengucapkan takbir sebanyak 7 sholat ied, diikuti dengan tasbih setiap kali selesai takbir.

Bacaan tasbih setiap selesai 7 takbir di sholat Ied adalah seperti berikut: "Subhanallah walhamdulillah wala ilaaha illallahu wallahu akbar wala haulawala quwwata illa billahil 'aliyyil 'adzim." Artinya: " Maha Suci Allah, segala pujian bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah, Allah Maha Besar, dan tiada daya dan upaya serta kekuatan (bagi kita) melainkan dengan kekuasaan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung." Setelah itu, membaca surat Al-Fatihah dan diikuti surat pendek Al-Quran seperti biasa.

Gerakan dan bacaan selanjutnya hingga rakaat pertama selesai sama dengan pengerjaan sholat lainnya. BACA JUGA: Puncak Macet Parah, Warga Mau Healing jadi Pening Endingnya 'Piknik' di Jalan Potret Para Pensiunan Jenderal Polri Rayakan Idul Fitri 1443 H Bersama Keluarga 4. Rakaat Kedua Seperti rakaat yang pertama, rakaat kedua dimulai dengan Takbiratul Ihram dan disusul dengan takbir lagi. Namun kali ini takbir hanya sebanyak 5 kali. Setiap kali selesai takbir, baca tasbih seperti pada rakaat pertama.

Khotbah Sholat Ied Dalam mengerjakan sholat Ied, bagian yang terakhir adalah mengikuti khotbah Idul Fitri. Para umat muslim diajurkan untuk mengikutinya seusai salam. Mendengarkan khotbah sholat Ied adalah salah satu upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Perlu diperhatikan, bagi khatib disunahkan untuk memulai khotbah pertamanya dengan mengucapkan takbir sebanyak sembilan kali.

sholat ied

Sedangkan di khotbah kedua, memulainya dengan takbir sebanyak tujuh kali. Berikut ini adalah panduan tata cara khutbah sholat Ied yang lengkap, melansir dari dream.co.id: BACA JUGA: Resep Opor Ayam Lezat Mudah Dipraktikan, Hidangan Wajib Lebaran Ribuan Wisatawan Padati Kawasan Kota Tua Khutbah Sholat Idul Fitri Pertama: • Disunnahkan untuk memulai khutbah pertama dengan takbir sebanyak 9 kali.

• Memuji Sholat ied SWT dengan membaca Alhamdulillah • Membaca sholawat nabi " Allahumma solli 'ala Saidina Muhammad wa 'ala ali Saidina Muhammad" • Berpesan untuk keluarga sendiri agar terus bertakwa dan lebih meningkatkan ibadah kepada Allah SWT • Akhiri khutbah pertama Sholat Id di rumah dengan membaca ayat suci Alquran.

Surat 3 Qul sudah cukup (Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas) Khutbah Sholat Idul Fitri Kedua • Disunnahkan untuk memulai khutbah kedua dengan takbir sebanyak 7 kali. • Tata cara khutbah sholat Ied kedua sama dengan yang pertama, hanya ada penambahan bacaan doa di akhir khutbah. • Untuk bacaan doa di akhir khutbah sifatnya bebas. Untuk keselamatan keluarga maupun seluruh umat Islam di seluruh dunia.

• Karena saat ini umat Islam sedang menghadapi wabah COVID-19, bisa juga diselipkan doa agar Allah SWT mengangkat pandemi ini agar umat Islam dapat melaksanakan ibadah dengan lancar seperti biasanya. 1 Nekat Berenang saat Ombak Tinggi, Tiga Wisatawan Tewas Tenggelam di Pantai Sukabumi 2 Cantik Klasik Khas Sageuk, 10 Aktris Korea Ini Jadi Sering Main Drama Sejarah 3 Manisnya Bisnis Manisan Cianjur, Omzet Rp10 Juta Per Hari Sepekan Jelang Lebaran 4 7 Rekomendasi Body Lotion dengan Sensasi Dingin untuk Lembapkan Kulit di Cuaca Panas 5 Kisah Kehidupan Seks Tentara Belanda di Indonesia Selengkapnya
Merdeka.com - Sholat Ied adalah sholat yang dilakukan pada saat hari raya Islam, yaitu saat Idulfitri dan Sholat ied.

Seluruh umat Islam akan keluar dari rumahnya, dan me nuju ke tanah lapang terdekat sholat ied berkumpul mengumandangkan takbir dan melaksanakan sholat berjemaah. Sholat Ied dikerjakan sebanyak dua rakaat, dan memang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan di tanah lapang. Hal ini tergambar dalam hadis Abu Sa’id Al Khudri, yang artinya, " Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar pada hari raya ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha menuju tanah lapang." (HR.

Bukhari dan Muslim). Baik sholat ied Idulfitri atau pun Iduladha, memiliki tata cara yang sama. Hal yang membedakan hanya pada niat, dan beberapa sunnah yang menyertainya. Misalnya, Ibnul Qayyim mengatakan, "Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengakhirkan sholat Idulfitri sholat ied mempercepat sholat ied sholat Iduladha." BACA JUGA: Bacaan Doa untuk Orang Menikah, Berikut Arti dan Keutamaannya Sonny Septian Akui Perlakukan King Faaz Seperti Anak Sendiri, Intip Potret Kompaknya Kemudian hadis dari ‘Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata, " Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat sholat ied pada hari Idul Fitri dan beliau makan terlebih dahulu.

Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari sholat ied baru beliau menyantap hasil kurbannya." (HR. Ahmad). Seperti yang disebutkan sebelumnya, jika pelaksanaan sholat ied akan lebih afdol dikerjakan di tanah lapang. Tapi, bagaimana dalam kondisi pandemi seperti saat ini? Bolehkah sholat ied dikerjakan di rumah? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kami akan jelaskan lebih lanjut dalam artikel kali ini.

Hukum Sholat Ied di Rumah Tempat pelaksanaan sholat ied lebih utama dilakukan di tanah lapang atau lapangan. Hal ini juga telah didukung oleh hadis yang sebelumnya telah disampaikan. Namun, jika kita menemui uzur atau sedang dalam kondisi darurat, seperti pandemi COVID-19 ini, maka sholat ied dapat dialihkan di rumah masing-masing. Hal ini terpaksa dilakukan guna menghindari kerumunan, yang dikhawatirkan dapat membahayakan para jamaah akibat penularan virus Corona.

Melansir dari laman islam.nu.or.id, uzur dalam pelaksanaan shalat ied memiliki kesamaan dengan uzur pada shalat Jumat.

"Uzur-uzur sholat ied adalah hujan, tanah belok/berlumpur, situasi mencekam (khauf), cuaca dingin, dan uzur lainnya," (Lihat Imam An-Nawawi, 2010 M: V/8) Uzur untuk menghindari kerumunan dalam pencegahan penularan COVID-19 di Indonesia dapat dimasukkan ke dalam cakupan "uzur lainnya" pada keterangan Imam An-Nawawi. Niat Sholat Ied di Rumah Sholat ied yang dikerjakan di rumah bisa dilakukan berjemaah bersama keluarga, atau bisa juga dilakukan secara sendiri-sendiri.

Meski tata cara sholat ied sama antara Idulfitri dan Iduladha, namun niatnya berbeda. Niat Sholat Idul Fitri di Rumah Niat Salat Idul Fitri untuk imam: BACA JUGA: Peristiwa 8 Mei 1886: Terciptanya Coca-Cola dari Tangan Seorang Ahli Farmasi Mengenal Ciri-ciri Sholat ied Hamil sejak Dini, Perempuan Wajib Tahu "Ushalli sunnatan li ‘idil fithri rak ‘ataini imaman lillahi ta’alaa" Artinya: “Aku niat salat sunat Idul Fitri dua rakaat menjadi imam karena Allah Ta’ala” Niat Salat Idul Fitri untuk makmum: "Ushalli sunnatan li ‘idil fithri rak ‘ataini makmuuman lillahi ta’ala" BACA JUGA: 40 Kata Mutiara untuk Ayah yang Sudah Meninggal, Penuh Makna dan Kerinduan 6 Resep Hidangan Tradisional ala Sunda, Enak dan Menggugah Selera Artinya: “Aku sholat ied salat sunat Idul Fitri dua rakaat menjadi makmum karena Allah Ta’ala” Niat Salat Idul Fitri sendiri: "Ushalli sunnatan li ‘idil fithri rak ‘ataini lillahi ta’alaa" Artinya: “Aku niat salat sunat Idul Fitri dua rakaat karena Allah Ta’ala” Niat Sholat Idul Adha di Rumah Niat sholat Idul Adha untuk imam: "Ushalli sunnatan li ‘idil adha rak ‘ataini imaman lillahi ta’alaa." Artinya: "Aku niat sholat sunat Idul Adha dua rakaat menjadi imam karena Allah Ta’ala." Niat sholat Idul Adha untuk makmum: "Ushalli sunnatan li ‘idil adha rak ‘ataini makmuuman lillahi ta’ala." Artinya: "Aku niat sholat sunat Idul Adha dua rakaat menjadi makmum karena Allah Ta’ala." Niat sholat Idul Adha sendiri: "Ushalli sunnatan li ‘idil adha rak ‘ataini lillahi ta’alaa." Artinya: "Aku niat sholat sunat Idul Adha dua rakaat karena Allah Ta’ala." Tata Cara Sholat Ied Melansir dari rumaysho.com, berikut tata cara sholat ied: • Niat, yang dibaca cukup dalam hati, dan takbiratul ihram.

• Setelah takbiratul ihram membaca doa iftitah (istiftah) sebagaimana shalat lainnya. • Setelah membaca doa iftitah, melakukan takbir tambahan (zawaid) sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama (selain takbir untuk takbiratul ihram dan takbir turun rukuk).

Sedangkan pada rakaat kedua, melakukan takbir tambahan sebanyak lima kali (selain takbir bangkit dari sujud dan takbir turun rukuk). Takbir tambahan (zawaid) ini hanya sunnah, sehingga jika luput atau terlewat, tidak harus diulangi. Jika ada makmum yang masbuk saat takbir zawaid, cukup ikuti sisa takbir tanpa qadha’. • Di antara takbir zawaid (tambahan), disunnahkan berhenti sejenak.

Saat itu bisa membaca takbir atau mengagungkan Allah. Namun yang paling bagus yaitu dengan membaca: SUBHANALLAH WAL HAMDU LILLAH WA LAA ILAHA ILLALLAH WALLAHU AKBAR. Setelah takbir ketujuh pada rakaat pertama dan takbir kelima pada rakaat kedua tidak ada bacaan takbir dan dzikir. • Setelah takbir zawaid, membaca surah Al-Fatihah. Setelah surah Al-Fatihah dianjurkan membaca surah Qaf pada rakaat pertama dan surah Al-Qamar pada rakaat kedua, atau membaca surah Al-A’laa pada rakaat pertama dan surah Al-Ghasyiyah pada rakaat kedua.

• Bacaan surah saat shalat ied dikeraskan (jahr), begitu pula dengan bacaan takbir, sedangkan dzikir-dzikir lainnya dibaca dengan lirih (sirr).

1 Kisah Kehidupan Seks Tentara Belanda di Indonesia 2 6 Potret Terbaru Aisyahrani Hamil Anak Ketiga, Penampilannya Mencuri Perhatian 3 Barisan Prajurit Kopaska TNI Menangis di Hutan, Alasannya Bikin Haru 4 Misteri Penembak Arief Rahman Hakim: Pengawal Presiden atau Polisi Militer Jakarta?

5 6 Sholat ied Lucu Rayyanza Anak Raffi Ahmad & Nagita Liburan di Bali, Bikin Gemas SelengkapnyaTata cara shalat Ied sebenarnya hampir sama dengan shalat sunah pada umumnya. Namun, pelaksanaannya ada sedikit perbedaan, yaitu pada jumlah takbir. Shalat Ied dilaksanakan dua kali dalam satu tahun penanggalan hijriah. Hukum shalat Ied adalah sunah muakadah alias sangat dianjurkan, meskipun bukan sholat ied.

Teruntuk laki-laki maupun perempuan. Ada dua shalat Ied yang dilakukan umat Islam, yakni shalat Idul Fitri dan Idul Adha.

Shalat Idul Fitri dilakukan setiap tanggal 1 Syawal, yakni bulan ke 10 pada penanggalan hijriah, persis setelah bulan Ramadhan berakhir. Sedangkan shalat Idul Adha, dilakukan setiap tanggal 10 bulan Dzulhijjah.

sholat ied

Tanggal 10 dzulhijjah bertepatan 70 hari setelah hari raya idul fitri. Di Indonesia kebih dikenal dengan hari raya qurban. Berikut ini tata cara shalat Idul Fitri dan Idul Adha, serta bacaan shalat Ied untuk Parents yang beragama Islam. Artikel terkait : Hukum berpuasa Ramadhan tanpa shalat tarawih, Parents wajib tahu Tata Cara Shalat Ied dan Bacaan Shalat Shalat Idul Fitri maupun shalat Idul Adha dilaksanakan dua rakaat secara berjemaah dan tidak disunahkan azan sholat ied ikamah untuk memulainya.

Berikut ini panduannya.

sholat ied

Shalat Ied didahului dengan membaca niat. Inilah bacaan niat shalat Idul Fitri dan Idul Adha. • Bacaan Niat Shalat Idul Fitri ushallî rak‘ataini sunnatan li ‘îdil fithri ma'mûman lillahi ta'ala Artinya: “Aku berniat shalat sunnah Idul Fitri dua rakaat menjadi makmum karena Allah ta’ala.” • Bacaan Niat Shalat Idul Adha ushallî rak‘ataini sunnata li ‘îdil adlhâ ma'mûman lillahi ta'ala Artinya: “Aku berniat shalat sunnah Idul Adha dua rakaat menjadi makmum karena Allah ta’ala.” Seterusnya tata cara shalat Idul Fitri sama seperti shalat Idul Adha.

• Takbiratul Ikhram Setelah membaca niat, takbiratul ikhram seperti shalat biasa, dilanjutkan membaca doa ifititah. Lalu bertakbir sebanyak 7 kali, dengan melafazkan doa di antara takbir. Berikut bacaannya, “Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar," Artinya : Maha suci Allah, segala pujian bagi-Nya, tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah selain Allah.

• Membaca Alfatihah • Ruku, Itidal dan Sujud Kemudian lakukan gerakan shalat seperti pada shalat umumnya. • Bertakbir pada Rakat Kedua Setelah bangkit dan masuk rakaat kedua, bertakbir sebanyak lima kali dan dengan lafaz yang sama seperti rakaat pertama.

• Gerakan Shalat Seperti Biasa Lakukan gerakan shalat seperti biasa sampai tahiyat akhir dan salam. Setelah shalat Ied, khotib akan menyampaikan khutbah atau ceramah, jemaah boleh mengikuti khutbah ini dan mendengarkan, tapi juga boleh meninggalkan jika memiliki kepentingan. Sebagaimana hadis Rasullullah SAW.

“Aku saat ini akan berkhutbah. Siapa yang mau tetap duduk untuk mendengarkan khutbah, silakan ia duduk. Siapa yang ingin pergi, silakan ia pergi, " HR Abdullah Said. Artikel terkait : Manfaat gerakan shalat bagi kesehatan fisik dan mental, Parents wajib tahu! Waktu Pelaksanaan Shalat Ied Waktu pelaksanaan shalat Idul Fitri dimulai sejak matahari terbit hingga masuk waktu dzuhur.

Shalat Idul Fitri disunahkan memperlambat waktunya. Hal ini untuk sholat ied waktu bagi yang belum mengeluarkan zakat fitrah. Sedangkan, shalat Idul Adha dilaksanakan lebih pagi.

Tujuannya agar ada banyak waktu untuk kegiatan berkurban selepas shalat Idul Adha. Tempat Pelaksanaan Shalat Ied Tempat pelaksanaan shalat Ied lebih utama dilakukan di tanah lapang, kecuali jika ada halangan seperti hujan. Abu Sa’id Al Khudri mengatakan, “Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar pada hari raya Idul Fithri dan Idul Adha menuju tanah lapang.” Inspiratif! 10 Sosok Every U Does Good Heroes Ini Akan Membawa Kebaikan bagi Indonesia Sunnah-sunnah Jika Hendak Melaksanakan Shalat Ied • Dianjurkan untuk mandi sebelum berangkat shalat.

Meniru ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mandi pada hari Ied sebelum berangkat shalat Ied. • Disunahkan memakai pakaian terbaik • Makan sebelum keluar menuju shalat Ied, khusus untuk shalat Idul Fitri. • Membaca takbir • Menyuruh perempuan dan anak-anak berangkat shalat Ied.

• Melewati jalan pergi dan pulang yang berbeda, seperti yang dilakukan Rasulullah SAW. Demikian informasi tentang tata cara shalat Ied, serta bacaan shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Selamat berlebaran, Parents, sholat ied maaf lahir sholat ied batin. Referensi : Islam.nu Baca juga : id.theasianparent.com/shalat-idul-fitri • Kehamilan • Tips Kehamilan • Trimester Pertama • Trimester Kedua • Trimester Ketiga • Melahirkan • Menyusui • Tumbuh Kembang • Bayi • Balita • Prasekolah • Praremaja • Usia Sekolah • Parenting • Pernikahan • Berita Terkini • Seks • Keluarga • Kesehatan • Penyakit • Info Sehat • Vaksinasi • Kebugaran • Gaya Hidup • Keuangan • Travel • Fashion • Hiburan • Kecantikan • Kebudayaan • Lainnya • TAP Sholat ied • Beriklan Dengan Kami • Hubungi Kami • Jadilah Kontributor Kami Tag Kesehatan
Imam an-Nawawi dalam kitab Syarh Muslim (3/280) menjelaskan, “Hadits Abu Sa’id Al Khudri di atas adalah dalil bagi orang yang menganjurkan bahwa shalat ‘ied sebaiknya dilakukan di tanah lapang dan ini lebih afdhol (lebih utama) daripada melakukannya di masjid.

Inilah yang dipraktekkan oleh kaum muslimin di berbagai negeri. Adapun penduduk Makkah, maka sejak masa silam shalat ‘ied mereka selalu dilakukan di Masjidil Haram.”

Detik-Detik Kejadian Kocak Saat Sholat Idul Fitri 2022, Bikin Sakit Perut 😂




2022 www.videocon.com