Askep diabetes melitus sdki

askep diabetes melitus sdki

Download ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DIABETES MELITUS OLEH : YUFLIHUL KHAIR LAPORAN PENDAHULUAN DIABETES MELITUS I. PENGERTIAN Diabetes Mellitus adalah keadaan hiperglikemi kronik yang disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah (Mansjoer dkk,1999).

Sedangkan menurut Francis dan John (2000), Diabetes Mellitus klinis adalah suatu sindroma gangguan metabolisme dengan hiperglikemia yang tidak semestinya sebagai akibat suatu defisiensi sekresi insulin atau berkurangnya efektifitas biologis dari insulin atau keduanya.

II. KLASIFIKASI Klasifikasi Diabetes Mellitus dari National Diabetus Data Group: Classification and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Other Categories of Glucosa Intolerance: 1. Klasifikasi Klinis a. Diabetes Mellitus 1) Tipe tergantung insulin (DMTI), Tipe I 2) Tipe tak tergantung insulin (DMTTI), Tipe II (DMTTI yang tidak mengalami obesitasdan DMTTI dengan obesitas) b.

Gangguan Toleransi Glukosa (GTG) c. Diabetes Kehamilan (GDM) 2. Klasifikasi risiko statistik a. Sebelumnya pernah menderita kelainan toleransi glukosa b. Berpotensi menderita kelainan toleransi glukosa Pada Diabetes Mellitus tipe 1 sel-sel β pancreas yang secara askep diabetes melitus sdki menghasilkan hormon insulin dihancurkan oleh proses autoimun, sebagai akibatnya penyuntikan insulin diperlukan untuk mengendalikan kadar glukosa darah.

Diabetes mellitus tipe I ditandai oleh awitan mendadak yang biasanya terjadi pada usia 30 tahun. Diabetes mellitus tipe II terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin (resistensi insulin) askep diabetes melitus sdki akibat penurunan jumlah produksi insulin. III. ETIOLOGI 1.

Diabetes Mellitus tergantung insulin (DMTI) a. Faktor genetic : Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi mewarisi suatu presdisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya diabetes tipe I. Kecenderungan genetic ini ditentukan pada individu yang memililiki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya.

b. Faktor imunologi : Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Ini merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing.

c. Faktor lingkungan Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel β pancreas, sebagai contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang dapat menimbulkan destuksi sel β pancreas. 2.

Diabetes Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI) Secara pasti penyebab dari DM tipe II ini belum diketahui, factor genetic diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Diabetes Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI) penyakitnya mempunyai pola familiar askep diabetes melitus sdki kuat. DMTTI ditandai dengan kelainan dalam sekresi insulin maupun dalam kerja insulin. Pada awalnya tampak terdapat resistensi dari sel-sel sasaran terhadap kerja insulin. Insulin mula-mula mengikat dirinya kepada reseptor-reseptor permukaan sel tertentu, kemudian terjadi reaksi intraselluler yang meningkatkan transport glukosa menembus membran sel.

Pada pasien dengan DMTTI terdapat kelainan dalam pengikatan insulin dengan reseptor. Hal ini dapat disebabkan oleh berkurangnya jumlah tempat reseptor yang responsif insulin pada membran sel. Akibatnya terjadi penggabungan abnormal antara komplek reseptor insulin dengan system transport glukosa.

Kadar glukosa normal dapat dipertahankan dalam waktu yang cukup lama dan meningkatkan sekresi insulin, tetapi pada akhirnya sekresi insulin yang beredar tidak lagi memadai untuk mempertahankan euglikemia (Price,1995).

askep diabetes melitus sdki

Diabetes Mellitus tipe II disebut juga Diabetes Mellitus tidak tergantung insulin (DMTTI) atau Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) yang merupakan suatu kelompok heterogen bentuk-bentuk Diabetes yang lebih ringan, terutama dijumpai pada orang dewasa, tetapi terkadang dapat timbul pada masa kanak-kanak. Faktor risiko yang berhubungan dengan proses terjadinya DM tipe II, diantaranya adalah: a.

Usia ( resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun) b. Obesitas c. Riwayat keluarga d. Kelompok etnik IV. PATOFISIOLOGI DM Tipe I DM Tipe II Ibarat suatu mesin, tubuh memerlukan bahan untuk membentuk sel baru dan mengganti sel yang rusak. Disamping itu tubuh juga memerlukan energi supaya sel tubuh dapat berfungsi dengan baik. Energi yang dibutuhkan oleh tubuh berasal dari bahan makanan yang kita makan setiap hari. Bahan makanan tersebut terdiri dari unsur karbohidrat, lemak dan protein (Suyono,1999).

Pada keadaan normal kurang lebih 50% glukosa yang dimakan mengalami metabolisme sempurna menjadi CO2 dan air, askep diabetes melitus sdki menjadi glikogen dan 20% sampai 40% diubah menjadi lemak. Pada Diabetes Mellitus semua proses tersebut terganggu karena terdapat defisiensi insulin.

Penyerapan glukosa kedalam sel macet dan metabolismenya terganggu. Keadaan ini menyebabkan sebagian besar glukosa tetap berada dalam sirkulasi darah sehingga terjadi hiperglikemia.

Penyakit Diabetes Mellitus disebabkan oleh karena gagalnya hormon insulin. Akibat kekurangan insulin maka glukosa tidak dapat diubah menjadi glikogen sehingga kadar gula darah meningkat dan terjadi hiperglikemi. Ginjal tidak dapat menahan hiperglikemi ini, karena ambang batas untuk gula darah adalah 180 mg% sehingga apabila terjadi hiperglikemi maka ginjal tidak bisa menyaring dan mengabsorbsi askep diabetes melitus sdki glukosa dalam darah.

Sehubungan dengan sifat gula yang menyerap air maka semua kelebihan dikeluarkan bersama urine yang disebut glukosuria. Bersamaan keadaan glukosuria maka sejumlah air hilang dalam urine yang disebut poliuria. Poliuria mengakibatkan dehidrasi intra selluler, hal ini akan merangsang pusat haus sehingga pasien akan merasakan haus terus menerus sehingga pasien akan minum terus yang disebut polidipsi. Produksi insulin yang kurang akan menyebabkan menurunnya transport glukosa ke sel-sel sehingga sel-sel kekurangan makanan dan simpanan karbohidrat, lemak dan protein menjadi menipis.

Karena digunakan untuk melakukan pembakaran dalam tubuh, maka klien akan askep diabetes melitus sdki lapar sehingga menyebabkan banyak makan yang disebut poliphagia. Terlalu banyak lemak yang dibakar maka akan terjadi penumpukan asetat dalam darah yang menyebabkan keasaman darah meningkat atau asidosis. Zat ini akan meracuni tubuh bila terlalu banyak hingga tubuh berusaha mengeluarkan melalui urine dan pernapasan, akibatnya bau urine dan napas penderita berbau aseton atau bau buah-buahan.

Keadaan asidosis ini apabila tidak segera diobati akan terjadi koma yang disebut koma diabetik (Price,1995). V. GEJALA KLINIS Menurut Askandar (1998) seseorang dapat dikatakan menderita Diabetes Mellitus apabila menderita dua dari tiga gejala yaitu 1. Keluhan TRIAS: Banyak minum, Banyak kencing dan Penurunan berat badan. 2. Kadar glukosa darah pada waktu puasa lebih dari 120 mg/dl 3.

Kadar glukosa darah dua jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dl Sedangkan menurut Waspadji (1996) keluhan yang sering terjadi pada penderita Diabetes Mellitus adalah: Poliuria, Polidipsia, Polifagia, Berat badan menurun, Lemah, Kesemutan, Gatal, Visus menurun, Bisul/luka, Keputihan. VI.

KOMPLIKASI Beberapa komplikasi dari Diabetes Mellitus (Mansjoer dkk, 1999) adalah 1. Akut a. Hipoglikemia dan hiperglikemia b. Penyakit makrovaskuler : mengenai pembuluh darah besar, penyakit jantung koroner (cerebrovaskuler, penyakit pembuluh darah kapiler). c. Penyakit mikrovaskuler, mengenai pembuluh darah kecil, retinopati, nefropati.

d. Neuropati saraf sensorik (berpengaruh pada ekstrimitas), saraf otonom berpengaruh pada gastro intestinal, kardiovaskuler (Suddarth and Brunner, 1990). 2. Komplikasi menahun Askep diabetes melitus sdki Mellitus a. Neuropati diabetik b. Retinopati diabetik c. Nefropati diabetik d. Proteinuria e. Kelainan koroner f. Ulkus/gangren (Soeparman, 1987, hal 377) Terdapat lima grade ulkus diabetikum antara lain: 1) Grade 0 : tidak ada luka 2) Grade I : kerusakan hanya sampai pada permukaan kulit 3) Grade II : kerusakan kulit mencapai otot dan tulang 4) Grade III : terjadi abses 5) Grade IV : Gangren pada kaki bagian distal 6) Grade V : Gangren pada seluruh kaki dan tungkai bawah distal Baca Juga: ASKEP HIPERTENSI VII.

PENEGAKKAN DIAGNOSTIK Kriteria yang melandasi penegakan diagnosa DM adalah kadar glukosa darah yang meningkat secara abnormal. Kadar gula darah plasma pada waktu puasa yang besarnya di atas 140 mg/dl atau kadar glukosa darah sewaktu diatas 200 askep diabetes melitus sdki pada satu kali pemeriksaan atau lebih merupakan criteria diagnostik penyakit DM. VIII. PENATALAKSANAAN Tujuan utama terapi DM adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya mengurangi terjadinya komplikasi askep diabetes melitus sdki serta neuropatik.

Tujuan terapeutik pada setiap tipe DM adalah mencapai kadar glukosa darah normal (euglikemia) tanpa terjadi hipoglikemia dan gangguan series pada pola aktivitas pasien. Ada lima konponen dalam penatalaksanaan DM, yaitu: 1. Diet a. Syarat diet DM hendaknya dapat: 1) Memperbaiki kesehatan umum penderita 2) Mengarahkan pada berat badan normal 3) Menormalkan pertumbuhan DM anak dan DM dewasa muda 4) Mempertahankan kadar KGD normal 5) Menekan dan menunda timbulnya penyakit angiopati diabetik 6) Memberikan modifikasi diit sesuai dengan keadaan penderita.

7) Menarik dan mudah diberikan b. Prinsip diet DM, adalah: 1) Jumlah sesuai kebutuhan 2) Jadwal diet ketat 3) Jenis: boleh dimakan/tidak c. Diit DM sesuai dengan paket-paket yang telah disesuaikan dengan kandungan kalorinya. 1) Diit DM I : 1100 kalori 2) Diit DM II : 1300 kalori 3) Diit DM III : 1500 kalori 4) Diit DM IV : 1700 kalori 5) Diit DM V : 1900 kalori 6) Diit DM VI : 2100 kalori 7) Diit DM VII : 2300 kalori 8) Diit DM VIII: 2500 kalori Keterangan : Diit I s/d III : diberikan kepada penderita yang terlalu gemuk Diit IV s/d V : diberikan kepada penderita dengan berat badan normal Diit VI s/d VIII : diberikan kepada penderita kurus.

Diabetes remaja, atau diabetes komplikasi. Dalam melaksanakan diit diabetes sehari-hari hendaklah diikuti pedoman 3 J yaitu: • J I : jumlah kalori yang diberikan harus habis, jangan dikurangi atau ditambah • J II : jadwal diit harus sesuai dengan intervalnya. • J III : jenis makanan yang manis harus dihindari Penentuan jumlah kalori Diit Diabetes Mellitus harus disesuaikan oleh status gizi penderita, penentuan gizi dilaksanakan dengan menghitung Percentage of relative body weight (BBR= berat badan normal) dengan rumus: BB (Kg) BBR = X 100 % TB (cm) – 100 Kurus (underweight)  Kurus (underweight) : BBR < 90 %  Normal (ideal) : BBR 90 – 110 %  Gemuk (overweight) : BBR > 110 %  Obesitas, apabila : BBR > 120 %  Obesitas ringan : BBR 120 – 130 %  Obesitas sedang : BBR 130 – 140 %  Obesitas berat : BBR 140 – 200 %  Morbid : BBR > 200 % Sebagai pedoman jumlah kalori yang diperlukan sehari-hari untuk penderita DM yang bekerja biasa adalah:  kurus : BB X 40 – 60 kalori sehari  Normal : BB X 30 kalori sehari  Gemuk : BB X 20 kalori sehari  Obesitas : BB X 10-15 kalori sehari 2.

Latihan Beberapa kegunaan latihan teratur setiap hari bagi penderita DM, adalah: a. Meningkatkan kepekaan insulin (glukosa uptake), apabila dikerjakan setiap 1 ½ jam sesudah makan, berarti pula mengurangi insulin resisten pada penderita dengan kegemukan atau menambah jumlah reseptor insulin dan meningkatkan sensitivitas insulin dengan reseptornya.

b. Mencegah kegemukan apabila ditambah latihan pagi dan sore c. Memperbaiki aliran perifer dan menambah supply oksigen d. Meningkatkan kadar kolesterol-high density askep diabetes melitus sdki e. Kadar glukosa otot dan hati menjadi berkurang, maka latihan akan dirangsang pembentukan glikogen baru f. Menurunkan kolesterol (total) dan trigliserida dalam darah karena pembakaran asam lemak menjadi lebih baik. 3. Penyuluhan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit (PKMRS) merupakan salah satu bentuk penyuluhan kesehatan kepada penderita DM, melalui bermacam-macam cara atau media misalnya: leaflet, poster, TV, kaset video, diskusi kelompok, dan sebagainya.

4. Obat a. Tablet OAD (Oral Antidiabetes) 1). Mekanisme kerja sulfanilurea • kerja OAD tingkat prereseptor : pankreatik, ekstra pancreas • kerja OAD tingkat reseptor 2).

Mekanisme kerja Biguanida Biguanida tidak mempunyai efek pankreatik, tetapi mempunyai efek lain yang dapat meningkatkan efektivitas insulin, yaitu: (a) Biguanida pada tingkat prereseptor  ekstra pankreatik  Menghambat absorpsi karbohidrat  Menghambat glukoneogenesis di hati  Meningkatkan afinitas pada reseptor insulin (b) Biguanida pada tingkat reseptor : meningkatkan jumlah reseptor insulin (c) Biguanida pada tingkat pascareseptor : mempunyai efek intraseluler b. Insulin Indikasi penggunaan insulin 1) DM tipe I 2) DM tipe II yang pada saat tertentu tidak dapat dirawat dengan OAD 3) DM kehamilan 4) DM dan gangguan faal hati yang berat 5) DM dan infeksi akut (selulitis, gangren) 6) DM dan TBC paru akut 7) DM dan koma lain pada DM 8) DM operasi 9) DM patah tulang 10) DM dan underweight 11) DM dan penyakit Graves Beberapa cara pemberian insulin 1).

Suntikan insulin subkutan Insulin reguler mencapai puncak kerjanya pada 1-4 jam, sesudah suntikan subcutan, kecepatan absorpsi di tempat suntikan tergantung pada beberapa factor antara lain:  lokasi suntikan ada 3 tempat suntikan askep diabetes melitus sdki sering dipakai yitu dinding perut, lengan, dan paha.

Dalam memindahkan suntikan (lokasi) janganlah dilakukan setiap hari tetapi lakukan rotasi tempat suntikan setiap 14 hari, agar tidak memberi perubahan kecepatan absorpsi setiap hari.  Pengaruh latihan pada absorpsi insulin Latihan akan mempercepat absorbsi apabila dilaksanakan dalam waktu 30 menit setelah suntikan insulin karena itu pergerakan otot yang berarti, hendaklah dilaksanakan 30 menit setelah suntikan. 2). Pemijatan (Masage) Pemijatan juga akan mempercepat absorpsi insulin.

3). Suhu Suhu kulit tempat suntikan (termasuk mandi uap) akan mempercepat absorpsi insulin.  Dalamnya suntikan Makin dalam suntikan makin cepat puncak kerja insulin dicapai. Ini berarti suntikan intramuskuler akan lebih cepat efeknya daripada subcutan.  Konsentrasi insulin Apabila konsentrasi insulin berkisar 40 – 100 U/ml, tidak terdapat perbedaan absorpsi. Tetapi apabila terdapat penurunan dari u –100 ke u – 10 maka efek insulin dipercepat. 4). Suntikan intramuskular dan intravena Suntikan intramuskular dapat digunakan pada koma diabetik atau pada kasus-kasus dengan degradasi tempat suntikan subkutan.

Sedangkan suntikan intravena askep diabetes melitus sdki rendah digunakan untuk terapi koma diabetik. KAKI DIABETES I. Pengertian Kaki diabetes adalah kelainan pada ekstrimitas bawah yang merupakan komplikasi kronik DM.

manifestasi kelaianan kaki diabetes dapat berupa: dermopati, selulitis, ulkus, osteomilitis dan gangrene. II. Faktor Penyebab Kaki DM 1. Faktor endogen:  Neuropati: Terjadi kerusakan saraf sensorik yang dimanifestasikan dengan penurunan sensori nyeri, panas, tak terasa, sehingga mudah terjadi trauma dan otonom/simpatis yang dimanifestasikan dengan peningkatan aliran darah, produksi keringat tidak ada dan hilangnya tonus vaskuler  Angiopati Dapat disebabkan oleh faktor genetic, metabolic dan faktor resiko lain.

 Iskemia Adalah arterosklerosis (pengapuran dan penyempitan pembuluh darah) pada pembuluh darah besar tungkai (makroangiopati) menyebabkan penurunan aliran darah ke tungkai, bila terdapat thrombus akan memperberat timbulnya gangrene yang luas.

Aterosklerosis dapat disebabkan oleh faktor: • Adanya hormone aterogenik • Merokok • Hiperlipidemia Manifestasi kaki diabetes iskemia:  Kaki dingin  Nyeri nocturnal  Tidak terabanya denyut nadi  Adanya pemucatan ekstrimitas inferior  Kulit mengkilap  Hilangnya rambut dari jari kaki  Penebalan kuku  Gangrene kecil atau luas.

2. Faktor eksogen a. Trauma b. Infeksi Terdapat lima grade ulkus diabetikum/kaki diabetes antara lain:  Grade 0 : tidak ada luka  Grade I : kerusakan hanya sampai pada permukaan kulit  Grade II : kerusakan kulit mencapai otot dan tulang  Grade III : terjadi abses  Grade IV : Gangren pada kaki bagian distal  Grade V : Gangren pada seluruh kaki dan tungkai bawah distal III.

Pedoman evaluasi kaki diabetes 1. Evaluasi vaskuler, meliputi: • palpasi pulsus perifer • ukur waktu pengisian pembuluh darah vena dengan cara mengangkat kaki kemudian diturunkan, waktu lebih dari 20 detik berarti terdapat iskemia atau kaki pucat waktu diangkat. • Ukur capillary reffile normal 3 detik atau kurang. 2. Evaluasi neurologik, askep diabetes melitus sdki pemeriksaan sensorik dan motorik 3.

Evaluasi muskuloskeletal, meliputi pengukuran luas pergerakan pergelangan kaki dan abnormalitas tulang. IV. Pendidikan kesehatan perawatan kaki 1. Hiegene kaki: • Cuci kaki setiap hari, keringkan sela-sela jari dengan cara menekan, jangan digosok • Setelah kering diberi lotion untuk mencegah kering, bersisik dan gesekan yang berlebih • Potong kuku secara teratur dan susut kuku jangan dipotong • Gunakan sepatu tumit rendah, kulit lunak dan tidak sempit • Gunakan kaos kaki yang tipis dan hangat serta tidak sempit • Bila terdapat callus, hilangkan callus yang berlebihan dengan cara kaki direndam dalam air hangat sekitar 10 menit kemudian gosok dengan handuk atau dikikir jangan dikelupas.

2. Alas kaki yang tepat 3. Mencegah trauma kaki 4. Berhenti merokok 5. Segera bertindak jika ada masalah V. Prinsip Penanganan Ulkus Kaki Diabetes 1. perawatan luka 2. Antibiotika 3. Pemeriksaan radiologis 4. Perbaikan sirkulasi dan nutrisi 5. Meminimalkan berat badan Baca Juga: Sistem Informasi Rumah Sakit IX. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL 1. Nyeri akut b/d agen injuri fisik 2. PK : Infeksi 3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan tubuh mengabsorbsi zat-zat gizi berhubungan dengan faktor biologis.

4. PK: Hipo / Hiperglikemi 5. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan faktor mekanik: perubahan sirkulasi, imobilitas dan penurunan sensabilitas (neuropati) 6. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan tidak nyaman nyeri, intoleransi aktifitas, penurunan kekuatan otot 7. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal (Familiar) dengan sumber informasi.

8. Kelelahan berhubungan dengan status penyakit 9. Deficit self care b/d kelemahan, penyakitnya X. PERENCANAAN No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional 1 Nyeri akut Setelah dilakukan askep selama 3 x 24 jam tingkat kenyamanan klien meningkat, dan dibuktikan dengan level nyeri: klien dapat melaporkan nyeri pada petugas, frekuensi nyeri, ekspresi wajah, dan menyatakan kenyamanan fisik dan psikologis, TD 120/80 mmHg, N: 60-100 x/mnt, RR: 16-20x/mnt Control nyeri dibuktikan dengan klien melaporkan gejala nyeri dan control nyeri.

Manajemen nyeri : 1. Lakukan pegkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan ontro presipitasi.

2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan. 3. Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien sebelumnya. 4. Kontrol ontro lingkungan yang mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan. 5. Kurangi ontro presipitasi nyeri. 6. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologis/non farmakologis). 7. Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi, distraksi dll) untuk mengetasi nyeri.

8. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri. 9. Evaluasi tindakan pengurang nyeri/ ontrol nyeri. 10. Kolaborasi dengan askep diabetes melitus sdki bila ada komplain tentang pemberian analgetik tidak berhasil.

11. Monitor penerimaan klien tentang manajemen nyeri. Administrasi analgetik :. 1. Cek program pemberian analogetik; jenis, dosis, dan frekuensi. 2. Cek riwayat alergi. 3. Tentukan analgetik pilihan, rute pemberian dan dosis optimal. 4. Monitor TTV sebelum dan sesudah pemberian analgetik.

5. Berikan analgetik tepat waktu terutama saat nyeri muncul. 6. Evaluasi efektifitas analgetik, tanda dan gejala efek samping. • Respon nyeri sangat individual sehingga penangananyapun berbeda untuk masing-masing individu.

• Komunikasi yang terapetik mampu meningkatkan rasa percaya klien terhadap perawat sehingga dapat lebih kooperatif dalam program manajemen nyeri. • Lingkungan yang nyaman dapat membantu klien untuk mereduksi nyeri.

• Pengalihan nyeri dengan relaksasi dan distraksi dapat mengurangi nyeri yang sedang timbul. • Pemberian analgetik yang tepat dapat membantu klien untuk askep diabetes melitus sdki dan mengatasi nyeri.

• Tindakan evaluatif terhadap penanganan nyeri dapat dijadikan rujukan untuk penanganan nyeri yang mungkin muncul berikutnya atau yang sedang berlangsung. 2 PK : Infeksi Setelah dilakukan askep selama 5 x 24 jam perawat akan menangani / mengurangi komplikasi defsiensi imun 1. Pantau tanda dan gejala infeksi primer & sekunder 2. Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain.

3. Batasi pengunjung bila perlu. 4. Intruksikan kepada keluarga untuk mencuci tangan saat kontak dan sesudahnya. 5. Gunakan sabun anti miroba untuk mencuci tangan. 6.

askep diabetes melitus sdki

Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan. 7. Gunakan baju dan sarung tangan sebagai alat pelindung. 8. Pertahankan teknik aseptik untuk setiap tindakan. 9. Lakukan perawatan luka dan dresing infus setiap hari.

10. Amati keadaan luka dan sekitarnya dari tanda – tanda meluasnya infeksi 11. Tingkatkan intake nutrisi.dan cairan 12. Berikan antibiotik sesuai program. 13. Monitor hitung granulosit dan WBC. 14. Ambil kultur jika perlu dan laporkan bila hasilnya positip. 15. Dorong istirahat yang cukup.

16. Dorong peningkatan mobilitas dan latihan. 17. Ajarkan keluarga/klien tentang tanda dan gejala infeksi. • Penularan infeksi dapat melalui pengunjung yang mempunyai penyekit menular. • Tindakan antiseptik dapat mengurangi pemaparan klien dari sumber infeksi • Pengunaan alat pengaman dapat melindungi klien dan petugas dari tertularnya penyakit infeksi.

• Perawatan luka setiap hari dapat mengurangi terjadinya infeksi serta dapat untuk mengevaluasi kondisi luka. • Penemuan secara dini tanda-tanda infeksi dapat mempercepat penanganan yang diperlukan sehingga klien dapat segera terhindar dari resiko infeksi atau terjadinya infeksi dapat dibatasi.

• Pengguanan teknik aseptik dan isolasi klien dapat mengurangi pemaparan dan penyebaran infeksi. • Satus nutrisi yang adekuat, istirahat yang cukup serta mobilisasi dan latihan yang teratur dapat meningkatkan percepatan proses penyembuhan luka. • Hasil kultur positif menunjukan telah terjadi infeksi. 3 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Setelah dilakukan askep selama 3×24 jam klien menunjukan status nutrisi adekuat dibuktikan dengan BB stabil tidak terjadi mal nutrisi, tingkat energi adekuat, masukan nutrisi adekuat Manajemen Nutrisi 1.

kaji pola makan klien 2. Kaji adanya alergi makanan. 3. Kaji makanan yang disukai oleh klien. 4. Kolaborasi dg ahli gizi untuk penyediaan nutrisi terpilih sesuai dengan kebutuhan klien. 5. Anjurkan klien untuk meningkatkan asupan nutrisinya.

6. Yakinkan diet yang dikonsumsi mengandung cukup serat untuk mencegah konstipasi. 7. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi dan pentingnya bagi tubuh klien. Monitor Nutrisi 1. Monitor BB setiap hari jika memungkinkan. 2. Monitor respon klien terhadap situasi yang mengharuskan klien makan. 3. Monitor lingkungan selama makan. 4. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak bersamaan dengan waktu klien makan.

5. Monitor adanya mual muntah. 6. Monitor adanya gangguan dalam proses mastikasi/input makanan misalnya perdarahan, bengkak dsb. 7. Monitor intake nutrisi dan kalori. Manajemen nutrisi dan monitor nutrisi yang adekuat dapat membantu klien mendapatkan nutrisi sesuai dengan kebutuha tubuhnya. 4 PK: Hipo / Hiperglikemi Setelah dilakukan askep 3×24 jam diharapkan perawat akan menangani dan meminimalkan episode hipo / hiperglikemia.

Managemen Hipoglikemia: 1. Monitor tingkat gula darah sesuai indikasi 2. Monitor tanda dan gejala hipoglikemi ; kadar gula darah < 70 mg/dl, kulit dingin, lembab pucat, tachikardi, peka rangsang, gelisah, tidak sadarbingung, ngantuk.

3. Jika klien dapat menelan berikan jus jeruk / sejenis jahe setiap 15 menit sampai kadar gula darah > 69 mg/dl 4. Berikan glukosa 50 % dalam IV sesuai protokol 5.

K/P kolaborasi dengan ahli gizi untuk dietnya. Baca Juga: ASUHAN KEPERAWATAN DHF (Dengue Haemoragic Fever) Managemen Hiperglikemia 1. Monitor GDR sesuai indikasi 2. Monitor tanda dan gejala diabetik ketoasidosis ; gula darah > 300 mg/dl, pernafasan bau aseton, sakit kepala, pernafasan kusmaul, anoreksia, mual dan muntah, tachikardi, TD rendah, polyuria, polidypsia,poliphagia, keletihan, pandangan kabur atau kadar Na,K,Po4 menurun.

3. Monitor v/s :TD dan nadi sesuai indikasi 4. Berikan insulin sesuai order 5. Pertahankan akses IV 6. Berikan IV fluids sesuai kebutuhan 7. Konsultasi dengan dokter jika tanda dan gejala Hiperglikemia menetap atau memburuk 8. Dampingi/ Bantu ambulasi jika terjadi hipotensi 9. Batasi latihan ketika gula darah >250 mg/dl khususnya adanya keton pada urine 10. Pantau jantung dan sirkulasi ( frekuensi & irama, warna kulit, waktu pengisian kapiler, nadi perifer dan kalium 11. Anjurkan banyak minum 12.

Monitor status cairan I/O sesuai kebutuhan Hipoglikemia dapat disebabkan oleh insulin yang berlebian, pemasukan makanan yg tidak adekuat, aktivitas fisik yang berlebiha, Hipoglikemia akan merangsang SS simpatis u/ mengeluarkan adrenalin, klien menjadi berkeringat, akral dingin, gelisah dan tachikardi.

Hiperglikemia dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya: terlalu banyak makan / kurang makan, terlalu sedikit insulin, dan kurang aktivitas. 4 Kerusakan integritas jaringan Setelah dilakukan askep 6×24 jam Wound healing meningkat: Dengan criteria Luka mengecil dalam ukuran dan peningkatan granulasi jaringan Wound care 1. Catat karakteristik luka:tentukan ukuran dan kedalaman luka, dan klasifikasi pengaruh ulcers 2.

Catat karakteristik cairan secret yang keluar 3. Bersihkan dengan cairan anti bakteri 4. Bilas dengan cairan NaCl 0,9% 5. Lakukan nekrotomi K/P 6. Lakukan tampon yang sesuai 7. Dressing dengan kasa steril sesuai kebutuhan 8. Lakukan pembalutan 9. Pertahankan tehnik dressing steril ketika melakukan perawatan luka 10. Amati setiap perubahan pada balutan 11. Bandingkan dan catat setiap adanya perubahan pada luka 12.

Berikan posisi terhindar dari tekanan Askep diabetes melitus sdki luka akan lebih realible dilakukan oleh pemberi asuhan yang sama dengan posisi yang sama dan tehnik yang sama 5 Kerusakan mobilitas fisik Setelah dilakukan Askep 6×24 jam dapat teridentifikasi Mobility level Joint movement: aktif. Self care:ADLs Dengan criteria hasil: 1. Aktivitas fisik meningkat 2. ROM normal 3. Melaporkan perasaan peningkatan kekuatan kemampuan dalam askep diabetes melitus sdki 4.

Klien bisa melakukan aktivitas 5. Kebersihan diri klien terpenuhi walaupun dibantu oleh perawat atau keluarga Terapi Exercise : Pergerakan sendi 1. Pastikan keterbatasan gerak sendi yang dialami 2. Kolaborasi dengan fisioterapi 3. Pastikan motivasi klien untuk mempertahankan pergerakan sendi 4. Pastikan klien untuk mempertahankan pergerakan sendi 5.

Pastikan klien bebas dari nyeri sebelum diberikan latihan 6. Anjurkan ROM Exercise aktif: jadual; keteraturan, Latih ROM pasif. Exercise promotion 1.

Bantu identifikasi program latihan yang sesuai 2. Diskusikan dan instruksikan pada klien mengenai latihan yang tepat Exercise terapi ambulasi 1. Anjurkan dan Bantu klien duduk di tempat tidur sesuai toleransi 2. Atur posisi setiap 2 jam atau sesuai toleransi 3.

Fasilitasi penggunaan alat Bantu Self care assistance: Bathing/hygiene, dressing, feeding and toileting. 1. Dorong keluarga untuk berpartisipasi untuk kegiatan mandi dan kebersihan diri, berpakaian, makan dan toileting klien 2. Berikan bantuan kebutuhan sehari – hari sampai klien dapat merawat secara mandiri 3. Monitor kebersihan kuku, kulit, berpakaiandietnya dan pola eliminasinya. 4. Monitor kemampuan perawatan diri klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari 5.

Dorong klien melakukan aktivitas normal keseharian sesuai kemampuan 6. Promosi aktivitas sesuai usia ROM exercise membantu mempertahankan mobilitas sendi, meningkatkan sirkulasi, mencegah kontraktur, meningkatkan kenyamanan.

Pengetahuan yang cukup akan memotivasi klien untuk melakukan latihan. Meningkatkan dan membantu berjalan/ ambulasi atau memperbaiki otonomi dan fungsi tubuh dari injuri Memfasilitasi pasien dalam memenuhi kebutuhan perawatan diri untuk dapat membantu klien hingga klien dapat mandiri melakukannya.

6 Kurang pengetahuan tentang penyakit dan perawatan nya Setelah dilakukan askep selama 3×24 jam, pengetahuan klien meningkat. Knowledge : Illness Care dg kriteria : 1 Tahu Diitnya 2 Proses penyakit 3 Konservasi energi 4 Kontrol infeksi 5 Pengobatan 6 Aktivitas yang dianjurkan 7 Prosedur pengobatan 8 Regimen/aturan pengobatan 9 Sumber-sumber kesehatan 10 Manajemen penyakit Teaching : Dissease Process 1.

Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang proses penyakit 2. Jelaskan tentang patofisiologi penyakit, tanda dan gejala serta penyebab yang mungkin 3.

Sediakan informasi tentang kondisi klien 4. Siapkan keluarga atau orang-orang yang berarti dengan informasi tentang perkembangan klien 5. Sediakan informasi tentang diagnosa klien 6. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau kontrol proses penyakit 7.

Diskusikan tentang pilihan tentang terapi atau pengobatan 8. Jelaskan alasan dilaksanakannya tindakan atau terapi 9. Dorong klien untuk menggali pilihan-pilihan atau memperoleh alternatif pilihan 10. Gambarkan komplikasi yang mungkin terjadi 11. Anjurkan klien untuk mencegah efek samping dari penyakit 12. Gali sumber-sumber atau dukungan yang ada 13. Anjurkan klien untuk melaporkan tanda dan gejala yang muncul pada petugas kesehatan 14.

kolaborasi dg tim yang lain. Dengan pengetahuan yang cukup maka keluarga mampu mengambil peranan yang positif dalam program pembelajaran tentang proses penyakit dan perawatan serta program pengobatan.

7 Defisit self care Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3×24 jam klien mampu Perawatan diri Self care :Activity Daly Living (ADL) dengan indicator : • Pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari (makan, berpakaian, kebersihan, toileting, ambulasi) • Kebersihan diri pasien terpenuhi Bantuan perawatan askep diabetes melitus sdki 1. Monitor kemampuan pasien terhadap perawatan diri 2.

Monitor kebutuhan akan personal hygiene, berpakaian, toileting dan makan 3. Beri bantuan sampai klien mempunyai kemapuan untuk merawat diri 4. Bantu klien dalam memenuhi kebutuhannya. 5. Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari sesuai kemampuannya 6.

Pertahankan aktivitas perawatan diri secara rutin 7. Evaluasi kemampuan klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. 8. Berikan reinforcement atas usaha yang dilakukan dalam melakukan perawatan diri sehari hari. Bantuan perawatan diri dapat membantu klien dalam beraktivitas dan melatih pasien untuk beraktivitas kembali.

DAFTAR PUSTAKA Brunner, Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol.3. EGC. Jakarta Carpenito, L.J., 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, edisi 2, Penerbit EGC, Jakarta. Carpenito, L.J., 2000, Diagnosa Keperawatan, Aplikasi pada Praktik Klinis, edisi 6, Askep diabetes melitus sdki EGC, Jakarta. Joanne C.Mc Closkey. 1996. Nursing intervention classification (NIC). Mosby year book.

St. Askep diabetes melitus sdki Marion Johnon,dkk. 2000. Nursing outcome classification (NOC). Mosby year book. St. Louis Marjory godon,dkk. 2000. Nursing diagnoses: Definition & classification 2001-2002. NANDA NANDA International, 2001, Nursing Diagnosis Classification 2005 – 2006, USA www.medicastore.com, 2004, Informasi tentang penyakit : Diabetes Melitus. Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit yang disebabkan oleh tidak adekuatnya pengendalian kadar glukosa darah. Pada artikel ini, Repro Note akan merangkum mengenai konsep medik dan asuhan keperawatan atau askep diabetes melitus menggunakan pendekatan sdki slki dan Siki.

Tujuan: • Memahami definisi, klasifikasi, Epidemiologi, penyebab, dan patofisiologi Diabetes melitus (DM) • Memahami tanda gejala, pemeriksaan, dan penatalaksanaan medik pasien diabetes melitus (DM) • Merumuskan diagnosa keperawatan pada askep diabetes melitus (DM) dengan menggunakan pendekatan sdki • Merumuskan luaran dan kriteria hasil pada askep diabetes melitus (DM) dengan askep diabetes melitus sdki pendekatan Slki • Melakukan intervensi keperawatan pada askep diabetes melitus (DM) dengan pendekatan Siki Image by stanias on Pixabay Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus (Askep DM) Definisi Diabetes melitus (DM) adalah sekelompok penyakit metabolik yang terjadi dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah.

Diabetes melitus paling sering menyebabkan kelainan pada sekresi insulin, kerja insulin, atau bahkan keduanya. Diabetes mellitus diambil dari kata Yunani “diabetes” yang berarti menyedot-melewati dan “mellitus” yang berarti manis.

Tinjauan sejarah menunjukkan bahwa istilah "diabetes" pertama kali digunakan oleh Apollonius dari Memphis sekitar 250 hingga 300 SM. Pada tahun 1922 Banting, Best, dan Collip memurnikan hormon insulin dari pankreas sapi di Universitas Toronto, yang mengarah pada ketersediaan pengobatan yang efektif untuk diabetes pada tahun 1922. Klasifikasi Sistem klasifikasi diabetes melitus (DM) termasuk unik karena temuan penelitian menunjukkan banyak perbedaan antara individu dalam setiap kategori, dan pasien bahkan dapat berpindah dari satu kategori ke kategori lain, kecuali pasien dengan diabetes tipe 1.

Diabetes melitus (DM) memiliki banyak subklasifikasi, termasuk tipe 1, tipe 2, diabetes onset dewasa muda (maturity-onset askep diabetes melitus sdki of the young/MODY), diabetes gestasional, diabetes neonatal, dan diabetes yang diinduksi steroid. Diabetes melitus tipe 1 dan 2 merupakan subtipe utama yang masing-masing memiliki patofisiologi, presentasi, dan tatalaksana yang berbeda, namun keduanya berpotensi mengalami hiperglikemia.

Klasifikasi utama diabetes melitus yaitu: Diabetes melitus tipe 1 Diabetes tipe 1 adalah penyakit autoimun yang mempengaruhi pankreas dengan prevalensi 5% hingga 10% dari seluruh penderita diabetes. Diabetes melitus tipe 1 ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel beta penghasil insulin di pankreas dan menghancurkannya. Penderita diabetes tipe 1 tidak bisa memproduksi insulin dan harus mendapatkan insulin melalui suntikan untuk mempertahankan kontrol gula darah dan memanfaatkan karbohidrat untuk energi.

Peningkatan gula darah akan mengakibatkan penurunan berat badan, rasa lapar dan haus yang berlebihan, dan peningkatan produksi urin. Untuk memvalidasi diagnosis, bisa dilakukan pengujian antibodi, dimana orang dengan diabetes tipe 1 biasanya memiliki antibodi yang menghancurkan sel beta pembuat insulin tubuh.

Diabetes melitus tipe 1 ini biasanya menyerang orang yang berusia muda dan kadang juga diistilahkan diabetes juvenil, namun bisa juga terjadi pada usia yang lebih tua. Proses kerusakan sel beta biasanya terjadi lebih cepat pada anak-anak daripada orang dewasa. Diabetes melitus tipe 2 Diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit kronis di mana tubuh tidak mampu mengontrol kadar glukosa dalam darah secara memadai, yang dapat menyebabkan glukosa darah menjadi tinggi yang berbahaya atau disebut hiperglikemia.

Diabetes tipe 2 ini merupakan jenis yang paling banyak terjadi dengan prevalensi sekitar 90% hingga 95% dari seluruh penderita diabetes. Diabetes tipe 2 paling sering berkembang pada usia diatas 45 tahun, tetapi akhir-akhir ini kejadiannya meningkat pada remaja dan dewasa muda. Penyakit ini ditandai dengan peningkatan kadar gula darah (glukosa) dan peningkatan resistensi terhadap hormon insulin yang mengangkut glukosa ke dalam sel.

Diabetes melitus tipe 2 adalah kondisi yang muncul akibat berbagai faktor risiko. Kebanyakan pasien yang mengalami diabetes tipe 2 ini mengalami obesitas, dimana obesitas itu sendiri menyebabkan peningkatan resistensi insulin.

Risiko diabetes melitus tipe 2 ini juga meningkat seiring bertambahnya usia, obesitas, dan kurangnya aktivitas fisik. Diabetes melitus gestasional Diabetes gestasional berkembang selama kehamilan ketika pankreas tidak dapat mengakomodasi resistensi insulin yang umum terjadi selama kehamilan karena sekresi hormon plasenta. Jika seseorang menderita diabetes gestasional dalam satu kehamilan, mereka mungkin akan mengalaminya lagi pada kehamilan berikutnya.

Jenis diabetes ini biasanya muncul pada usia kehamilan antara 24 dan 28 minggu. Orang dengan kelebihan berat badan sebelum hamil atau mereka yang memiliki diabetes dalam keluarga cenderung lebih rentan terhadap diabetes gestasional, tetapi hal ini tidak selalu terjadi. Selain itu, diabetes gestasional lebih sering terjadi pada orang yang merupakan penduduk asli Amerika, Alaska, Hispanik, Asia, dan Hitam, tetapi juga ditemukan pada mereka yang berkulit putih. Penting untuk mengobati diabetes gestasional segera setelah didiagnosis.

Menjaga gula darah dalam kisaran normal akan membantu mencegah komplikasi seperti bayi lahir terlalu besar, dan berkembang menjadi obesitas atau diabetes tipe 2 di kemudian hari. Sebagian besar kasus diabetes gestasional sembuh setelah persalinan. Tetapi banyak ahli merekomendasikan untuk tetap memeriksa kemungkinan diabetes sampai enam bulan pascapersalinan untuk menilai statusnya. Epidemiologi • Diabetes mellitus saat ini merupakan salah satu penyakit yang paling umum di seluruh dunia.

• Askep diabetes melitus sdki dari 23 juta orang di Amerika Serikat menderita diabetes, namun hampir sepertiga tidak terdiagnosis. • Pada tahun 2030, jumlah kasus diperkirakan akan meningkat lebih dari 30 juta. • Diabetes terutama terjadi pada orang tua, 50% orang yang berusia diatas 65 tahun memiliki beberapa derajat intoleransi glukosa.

• Orang yang berusia 65 tahun ke atas menyumbang 40% dari penderita diabetes. • Afrika-Amerika dan anggota kelompok ras dan etnis lainnya lebih mungkin untuk mengembangkan diabetes.

• Di Amerika Serikat, diabetes adalah penyebab utama amputasi non-traumatik, kebutaan pada orang dewasa usia kerja, dan penyakit ginjal stadium akhir.

• Diabetes adalah penyebab utama ketiga kematian akibat penyakit. • Biaya yang terkait dengan diabetes diperkirakan hampir $ 174 miliar per tahun. Etiologi Penyebab pasti diabetes mellitus sebenarnya belum diketahui, namun ada faktor-faktor yang berkontribusi terhadap perkembangan penyakit tersebut.

Penyebab DM Tipe 1 • Genetika dan autoimun mungkin berperan dalam penghancuran sel beta pada DM tipe 1. • Faktor lingkungan. Penyebab DM Tipe 2 • Berat badan yang berlebihan atau obesitas merupakan salah askep diabetes melitus sdki faktor yang berkontribusi terhadap DM tipe 2 karena menyebabkan resistensi insulin.

• Kurangnya olahraga dan gaya hidup yang tidak aktif juga dapat menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Penyebab DM Gestasional • Kelebihan berat badan sebelum hamil dan menambah berat badan ekstra, membuat tubuh sulit menggunakan insulin. • Faktor Genetik, Jika memiliki orang tua atau saudara kandung yang menderita DM tipe 2, kemungkinan besar terjadi kecenderungan mengalami Diabetes melitus gestasional.

askep diabetes melitus sdki

Patofisiologi Insulin disekresikan oleh sel beta di pankreas dan merupakan hormon anabolik. Ketika kita mengkonsumsi makanan, insulin memindahkan glukosa dari darah ke otot, hati, dan sel-sel lemak saat kadar insulin meningkat. Fungsi insulin juga termasuk transportasi dan metabolisme glukosa untuk energi, stimulasi penyimpanan glukosa di hati dan otot, berfungsi sebagai sinyal hati untuk berhenti melepaskan glukosa, peningkatan penyimpanan lemak makanan di jaringan adiposa, dan percepatan transportasi asam amino ke dalam sel.

Insulin dan glukagon mempertahankan kadar glukosa yang konstan dalam darah dengan merangsang pelepasan glukosa dari hati. Diabetes Mellitus Tipe 1 • Diabetes melitus tipe 1 ditandai dengan kerusakan sel beta pankreas.

• Faktor yang mendasari umum dalam perkembangan diabetes tipe 1 adalah kerentanan genetik. • Penghancuran sel beta menyebabkan penurunan produksi insulin, produksi glukosa yang tidak terkendali oleh hati dan hiperglikemia puasa. • Glukosa yang diambil dari makanan tidak dapat disimpan di hati lagi tetapi tetap berada dalam aliran darah. • Ginjal tidak akan menyerap kembali glukosa setelah melebihi ambang ginjal, sehingga akan muncul dalam urin dan disebut glikosuria.

• Kehilangan cairan yang berlebihan disertai dengan ekskresi glukosa yang berlebihan dalam urin yang menyebabkan diuresis osmotik. • Terdapat pemecahan lemak yang menghasilkan produksi keton, produk sampingan dari pemecahan lemak. Diabetes Melitus Tipe 2 • Diabetes mellitus tipe 2 memiliki masalah utama resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. • Insulin tidak askep diabetes melitus sdki berikatan dengan reseptor khusus sehingga insulin menjadi kurang efektif dalam merangsang pengambilan glukosa dan mengatur pelepasan glukosa.

• Harus ada peningkatan jumlah insulin untuk mempertahankan kadar glukosa pada tingkat normal atau sedikit meningkat. • Namun, ada cukup insulin untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi keton. • Diabetes askep diabetes melitus sdki 2 yang tidak terkontrol dapat menyebabkan hiperglikemik, sindrom nonketotik hiperosmolar. • Gejala umum yang mungkin dirasakan pasien adalah poliuria, polidipsia, polifagia, kelelahan, lekas marah, luka kulit yang sulit sembuh, atau penglihatan kabur.

Diabetes Melitus Gestasional • Pada diabetes mellitus gestasional (GDM), wanita hamil mengalami berbagai tingkat intoleransi glukosa dengan awal kehamilan. • Sekresi hormon plasenta menyebabkan resistensi insulin, yang menyebabkan hiperglikemia.

askep diabetes melitus sdki

• Setelah melahirkan, kadar glukosa darah pada wanita dengan Diabetes melitus gestasional biasanya kembali normal atau kemudian berkembang menjadi diabetes tipe 2. Tanda dan Gejala Manifestasi klinis tergantung pada tingkat hiperglikemia pasien. Poliuria atau peningkatan buang air kecil. Poliuria terjadi karena ginjal membuang kelebihan gula dari darah, menghasilkan produksi urin yang lebih tinggi. Polidipsia atau rasa haus yang meningkat. Polidipsia hadir karena tubuh kehilangan lebih banyak air saat poliuria terjadi, memicu peningkatan rasa haus pasien.

Polifagia atau nafsu makan meningkat. Meskipun pasien mungkin mengkonsumsi banyak makanan tetapi glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel karena resistensi insulin atau kurangnya produksi insulin.

Kelelahan dan kelemahan. Tubuh tidak menerima energi yang cukup dari makanan yang dimakan pasien. Penglihatan tiba-tiba berubah. Tubuh menarik cairan dari mata dalam upaya untuk mengkompensasi hilangnya cairan dalam darah, yang mengakibatkan kesulitan dalam memfokuskan penglihatan. Kesemutan atau mati rasa di tangan atau kaki. Kesemutan dan mati rasa terjadi karena penurunan glukosa dalam sel. Kulit kering. Karena poliuria, kulit menjadi dehidrasi.

Lesi kulit atau luka yang lambat sembuhnya. Glukosa tidak bisa masuk ke dalam sel sehingga menumpuk di dalam pembuluh darah, menghalangi lewatnya sel darah putih yang dibutuhkan untuk penyembuhan luka. Infeksi berulang. Karena konsentrasi glukosa yang tinggi, bakteri berkembang dengan mudah. Komplikasi Jika diabetes melitus tidak diobati, beberapa komplikasi dapat timbul dari penyakit ini antara lain: Hipoglikemia.

Hipoglikemia terjadi ketika glukosa darah turun menjadi kurang dari 50 sampai 60 mg/dL karena terlalu banyak insulin atau agen hipoglikemik oral, terlalu sedikit makanan, atau aktivitas fisik yang berlebihan.

Hipoglikemia dapat terjadi secara tiba-tiba pada pasien yang dianggap hiperglikemik karena kadar glukosa darahnya dapat turun dengan cepat.

Ketoasidosis diabetik Ketoasidosis diabetik disebabkan oleh tidak adanya atau terlalu sedikit jumlah insulin sehingga sangat tidak memadai dan memiliki tiga ciri utama yaitu hiperglikemia, dehidrasi dan kehilangan elektrolit, serta asidosis. Sindrom hiperglikemik hiperosmolar nonketotik Sindrom hiperglikemik hiperosmolar nonketotik adalah kondisi serius di mana hiperosmolaritas dan hiperglikemia mendominasi dan menyebabkan perubahan kesadaran perubahan kesadaran.

Penyakit kardiovaskular Diabetes secara dramatis meningkatkan risiko berbagai masalah kardiovaskular seperti penyakit arteri koroner atau sindrom koroner akut Seperti Infark Miokard dan angina, stroke dan aterosklerosis. Kerusakan Saraf (Neuropati) Kelebihan kadar gula dapat mempengaruhi dinding kapiler yang mempengaruhi saraf, terutama di kaki. Hal ini dapat menyebabkan kesemutan, mati rasa, terbakar atau nyeri yang biasanya dimulai pada ujung jari kaki atau jari tangan dan secara bertahap menyebar ke atas.

Jika tidak diobati, bisa menyebabkan kehilangan semua indra perasa pada anggota tubuh yang terkena. Kerusakan saraf yang berhubungan dengan pencernaan dapat menyebabkan masalah seperti mual muntah, diare atau sembelit. Bagi pria, hal itu dapat menyebabkan disfungsi ereksi.

Kerusakan ginjal (nefropati) Diabetes dapat merusak struktur dan sistem penyaringan di ginjal. Kerusakan parah dapat menyebabkan gagal ginjal kronis yang ireversibel sehingga memerlukan dialisis atau transplantasi ginjal.

Kerusakan mata (retinopati). Diabetes dapat merusak pembuluh darah retina (diabetic retinopathy), berpotensi menyebabkan kebutaan. Diabetes juga meningkatkan risiko kondisi penglihatan serius lainnya, seperti katarak dan glaukoma. Kerusakan kaki Kerusakan saraf di kaki atau aliran darah yang buruk ke kaki meningkatkan risiko berbagai komplikasi kaki. Jika tidak diobati, askep diabetes melitus sdki dan lecet dapat menyebabkan infeksi serius, yang seringkali tidak bisa sembuh dengan baik dan menjadi jaringan mati atau gangren yang pada akhirnya mungkin memerlukan amputasi jari kaki, kaki atau tungkai.

Penyakit Alzheimer Diabetes tipe 2 dapat meningkatkan risiko demensia, seperti penyakit Alzheimer. Semakin buruk kontrol gula darah, semakin besar risikonya. Pemeriksaan Diagnostik • Glukosa serum: Meningkat 200-1000 mg/dL atau lebih. • Serum aseton (keton): Sangat positif. • Asam lemak: Lipid, trigliserida, dan kadar kolesterol meningkat. • Osmolalitas serum: Meningkat tetapi biasanya kurang dari 330 mOsm/L.

• Glukagon: Peningkatan kadar dikaitkan dengan kondisi yang menghasilkan hipoglikemia aktual, kekurangan glukosa relatif atau kekurangan insulin. Oleh karena itu, glukagon dapat meningkat dengan ketoasidosisi diabetikum berat meskipun hiperglikemia. • Glycosylated hemoglobin (HbA1C): Mengevaluasi kontrol glukosa selama 8-12 minggu terakhir dengan 2 minggu sebelumnya yang paling berat. Berguna dalam membedakan kontrol yang tidak memadai. Hasil yang lebih besar dari 8% menunjukkan glukosa darah rata-rata 200 mg/dL dan menandakan perlunya perubahan dalam pengobatan.

• Insulin serum: Mungkin menurun/tidak ada (tipe 1) atau normal hingga tinggi (tipe 2), menunjukkan insufisiensi insulin/penggunaan yang tidak tepat (endogen/eksogen). Resistensi insulin dapat berkembang sekunder askep diabetes melitus sdki pembentukan antibodi.

• Natrium: Mungkin normal, meningkat, atau menurun. • Kalium: Normal atau meningkat (pergeseran seluler), kemudian menurun tajam. • Fosfor: Sering askep diabetes melitus sdki. • Gas darah arteri (ABG): Biasanya mencerminkan pH rendah dan penurunan HCO3 (asidosis metabolik) dengan alkalosis respiratorik kompensasi. • CBC: Hct mungkin meningkat (dehidrasi); leukositosis menunjukkan hemokonsentrasi, respons terhadap stres atau infeksi.

• BUN: Mungkin normal atau meningkat (dehidrasi/penurunan perfusi ginjal). • Amilase serum: Dapat meningkat, menunjukkan pankreatitis akut sebagai penyebab Ketoasidosisi diabetikum.

• Tes fungsi tiroid: Peningkatan aktivitas tiroid dapat meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan insulin. • Urine: Positif untuk glukosa dan keton; berat jenis dan osmolalitas dapat meningkat. • Kultur dan sensitivitas: Kemungkinan ISK, infeksi saluran pernapasan atau luka. Penatalaksanaan Manajemen Nutrisi • Perencanaan makan, dan pengendalian berat badan adalah dasar dari manajemen diabetes.

• Konsultasikan dengan profesional atau ahli diet terdaftar yang memahami manajemen diabetes melitus. • Perawat dan anggota tim perawatan kesehatan lainnya harus memiliki pengetahuan tentang terapi nutrisi dan mendukung pasien yang perlu menerapkan perubahan nutrisi dan gaya hidup. • Penurunan berat badan adalah pengobatan utama untuk pasien obesitas dengan diabetes tipe 2.

• Penurunan berat badan sekecil 5% sampai 10% dari total berat badan dapat secara signifikan meningkatkan kadar glukosa darah. • Pendidikan diet, terapi perilaku, dukungan kelompok, dan konseling gizi berkelanjutan harus didorong. • Rencana makan harus mempertimbangkan preferensi makanan pasien, gaya hidup, waktu makan yang biasa, dan latar belakang etnis dan budaya.

• Untuk membantu mencegah reaksi hipoglikemik dan mempertahankan kontrol glukosa darah secara keseluruhan, harus ada konsistensi dalam perkiraan interval antara waktu makan dengan penambahan makanan ringan sesuai kebutuhan. • Riwayat diet pasien harus ditinjau secara menyeluruh untuk mengidentifikasi kebiasaan makan dan gaya hidupnya.

• Pendidikan kesehatan harus mencakup pentingnya kebiasaan makan yang konsisten, hubungan makanan dan insulin, dan penyediaan rencana makan individual. • Perawat memainkan peran penting dalam mengkomunikasikan informasi terkait dengan ahli gizi dan memperkuat pasien untuk pemahaman yang lebih baik.

• Penggunaan pemanis buatan dapat diterima, dan ada dua jenis pemanis: nutritive dan nonnutritive. • Olahraga menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot-otot tubuh dan dengan meningkatkan pemanfaatan insulin. • Seseorang dengan diabetes harus berolahraga secara rutin dan dijadwalkan secara teratur. Disarankan untuk meningkatkan periode latihan secara perlahan dan bertahap. Baca Juga : Jenis dan Manfaat Olahraga bagi penderita Diabetes Melitus Farmakologis • insulin eksogen.

Pada diabetes tipe 1, insulin eksogen harus diberikan seumur hidup karena tubuh kehilangan kemampuan untuk memproduksi insulin. • insulin pada diabetes tipe 2. Pada diabetes tipe 2, insulin mungkin diperlukan dalam jangka panjang untuk mengontrol kadar glukosa jika perencanaan makan dan agen oral tidak efektif. • Self-Monitoring Glukosa Darah (SMBG) • Agen antidiabetik oral untuk pasien yang mengalami diabetes tipe 2 yang askep diabetes melitus sdki dapat diobati dengan manajemen nutrisi dan olahraga saja.

• Agen antidiabetes oral antara lain sulfonilurea, biguanida, inhibitor alfa-glukosidase, tiazolidinedion, dan dipeptidil-peptidase-4. Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus (Askep DM) SDKI SLKI dan SIKI Pengkajian Dalam melaksanakan askep Diabetes melitus (DM), beberapa hal yang harus dikaji oleh perawat antara lain: • Kaji riwayat pasien untuk menentukan ada tidaknya diabetes, penilaian riwayat gejala yang berhubungan dengan diagnosis diabetes, hasil pemantauan glukosa darah, kepatuhan terhadap diet yang ditentukan, farmakologis, dan rejimen olahraga, gaya hidup pasien, faktor budaya, psikososial, dan ekonomi, dan efek diabetes pada status fungsional harus dilakukan.

• Kaji pemeriksaani askep diabetes melitus sdki, Kaji tekanan darah pasien sambil duduk dan berdiri untuk mendeteksi perubahan ortostatik. • Kaji indeks massa tubuh dan ketajaman visual pasien. • Lakukan pemeriksaan kaki, kulit, sistem saraf dan mulut. • Pemeriksaan laboratorium. HgbA1C, glukosa darah puasa, profil lipid, tes mikroalbuminuria, kadar kreatinin serum, urinalisis, dan EKG harus diminta dan dilakukan.

Diagnosa, Luaran, dan Intervensi Keperawatan 1. Ketidakstabilan Kadar Gula Darah b/d Disfungsi pankreas / Resistensi Insulin(D.0027) Luaran: Kestabilan kadar Glukosa darah meningkat (L.03022) • Koordinasi dan kesadaran meningkat • Mengantuk, pusing, dan lelah/lesu menurun • Keluhan lapar menurun • Gemetar dan berkeringat menurun • Mulut kering dan rasa haus menurun • Kadar glukosa dalam darah membaik • Kadar glukosa dalam urin membaik • Jumlah urine membaik Askep diabetes melitus sdki Keperawatan: a.

Manajemen Hiperglikemia (I.03115) • Identifkasi kemungkinan penyebab hiperglikemia • Identifikasi situasi yang menyebabkan kebutuhan insulin meningkat • Monitor kadar glukosa darah, jika perlu • Monitor tanda dan gejala hiperglikemia seperti poliuri, polidipsia, polifagia, kelemahan, malaise, pandangan kabur, sakit kepala • Monitor intake dan output cairan • Monitor keton urine, kadar analisa gas darah, elektrolit, tekanan darah ortostatik dan frekuensi nadi • Berikan asupan cairan oral • Konsultasi dengan medis jika tanda dan gejala hiperglikemia tetap ada atau memburuk • Fasilitasi ambulasi jika ada hipotensi ortostatik • Anjurkan olahraga saat kadar glukosa darah lebih dari 250 mg/dL • Anjurkan monitor kadar glukosa darah secara mandiri • Anjurkan kepatuhan terhadap diet dan olahraga • Ajarkan indikasi dan pentingnya pengujian keton urine, jika perlu • Ajarkan pengelolaan diabetes melitus seperti penggunaan insulin, obat oral, monitor asupan cairan, penggantian karbohidrat, dan bantuan professional kesehatan • Kolaborasi pemberian insulin, jika perlu • Kolaborasi pemberian cairan IV, jika perlu • Kolaborasipemberian kalium, jika perlu b.

Manajemen Hipoglikemia (I.03113) • Identifkasi tanda dan gejala hipoglikemia • Identifikasi kemungkinan penyebab hipoglikemia • Berikan karbohidrat sederhana, jika perlu • Batasi glucagon, jika perlu • Berikan karbohidrat kompleks dan protein sesuai diet • Pertahankan kepatenan jalan nafas • Pertahankan akses IV, jika perlu • Hubungi layanan medis, jika perlu • Anjurkan membawa karbohidrat sederhana setiap saat • Anjurkan memakai identitas darurat yang tepat • Anjurkan monitor kadar glukosa darah • Anjurkan berdiskusi dengan tim perawatan diabetes tentang penyesuaian program pengobatan • Jelaskan interaksi antara diet, insulin/agen oral, dan olahraga • Anjurkan pengelolaan hipoglikemia (tanda dan gejala, faktor risiko dan pengobatan hipoglikemia) • Ajarkan perawatan mandiri untuk mencegah hipoglikemia (mis.

mengurangi insulin atau agen oral dan/atau meningkatkan asupan makanan untuk berolahraga • Kolaborasi pemberian dextros, jika perlu • Kolaborasi pemberian glucagon, jika perlu 2. Risiko Infeksi b/d Penyakit Kronis (Diabetes Melitus) (D.0142) Luaran: Tingkat Infeksi Menurun (L.14137) • Kebersihan tangan dan badan meningkat • Demam, kemerahan, nyeri, dan bengkak menurun • Periode malaise menurun • Periode menggigil, letargi, dan ganggauan kognitif menurun • Kadar sel darah putih membaik Intervensi Keperawatan: Pencegahan Askep diabetes melitus sdki (I.14539) • Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik • Batasi jumlah pengunjung • Berikan perawatan kulit pada daerah edema • Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien • Pertahankan teknik aseptik pada psien beresiko tinggi • Jelaskan tanda dan gejala infeksi • Ajarkan cara memeriksa luka • Kolaborasi pemberian imunisasi jika perlu 3.

Perfusi Perifer Tidak Efektif b/d Hiperglikemia (D.0009) Luaran: Perfusi Perifer meningkat (L.02011b) • Denyut nadi perifer meningkat • Penyembuhan luka dan sensasi meningkat • Warna kulit pucat menurun • Edema perifer menurun • Parastesia menurun • Kelemahan dan kram otot menurun • Bruit femoralis menurun • Nekrosis menurun • Pengisian kapiler membaik • Tekanan darah membaik • Indeks ankle-brachial membaik Intervensi Keperawatan: a.

Perawatan Sirkulasi (I.02079) • Periksa sirkulasi perifer(mis. Nadi perifer, edema, pengisian kalpiler, warna, suhu, angkle brachial index) • Identifikasi faktor resiko gangguan sirkulasi (mis.

Diabetes, perokok, orang tua, hipertensi dan kadar kolesterol tinggi) • Monitor panas, kemerahan, nyeri, atau bengkak pada ekstremitas • Hindari pemasangan infus atau pengambilan darah di area keterbatasan perfusi • Hindari pengukuran tekanan darah pada ekstremitas pada keterbatasan perfusi • Hindari penekanan dan pemasangan torniquet pada area yang cidera • Lakukan pencegahan infeksi • Lakukan perawatan kaki dan kuku • Lakukan hidrasi • Anjurkan berhenti merokok • Anjurkan berolahraga rutin • Anjurkan mengecek air mandi untuk menghindari kulit terbakar • Anjurkan menggunakan obat penurun tekanan darah, antikoagulan, dan penurun kolesterol, jika perlu • Anjurkan minum obat pengontrol tekakan darah secara teratur • Anjurkan menghindari penggunaan obat penyekat beta • Ajurkan melahkukan perawatan kulit yang tepat(mis.

Melembabkan kulit kering pada kaki) • Anjurkan program rehabilitasi vaskuler • Anjurkan program diet untuk memperbaiki sirkulasi( mis. Rendah lemak jenuh, minyak ikan, omega3) • Informasikan tanda dan gejala darurat yang harus dilaporkan( mis. Rasa sakit yang tidak hilang saat istirahat, luka tidak sembuh, hilangnya rasa) b.

Manajemen Sensasi Perifer (I.06195) • Identifikasi penyebab perubahan sensasi • Identifikasi penggunaan alat pengikat, prostesis, sepatu, askep diabetes melitus sdki pakaian • Periksa perbedaan sensasi tajam atau tumpul • Periksa perbedaan sensasi panas atau dingin • Periksa kemampuan mengidentifikasi lokasi dan tekstur benda • Monitor terjadinya parestesia, jika perlu • Monitor perubahan kulit • Monitor adanya tromboflebitis dan tromboemboli vena • Hindari pemakaian benda-benda yang berlebihan suhunya (terlalu panas atau dingin) • Anjurkan penggunaan termometer untuk menguji suhu air • Anjurkan penggunaan sarung tangan termal saat memasak • Anjurkan memakai sepatu lembut dan bertumit rendah • Kolaborasi pemberian analgesik, jika perlu • Kolaborasi pemberian kortikosteroid, jika perlu 4.

Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi (D.0111) Luaran : Tingkat pengetahuan membaik ( L.12111) • Perilaku klien sesuai dengan yang di anjuran meningkat • Minat klien dalam belajar meningkat • Kemampuan klien menjelaskan pengetahuan tentang penyakitnya meningkat • Kemampuan klien menggambarkan • pengalaman sebelumnya yang sesuai dengan penyakitnya meningkat • Perilaku sesuai dengan askep diabetes melitus sdki meningkat • Pertanyaan tentang penyakitnya menurun • Persepsi keliru tentang penyakitnya menurun • Perilaku kllien membaik Intervensi : edukasi kesehatan (l.12383) • Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan • Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan • Berikan kesempatan untuk bertanya askep diabetes melitus sdki Jelaskan klien tentang penyakitnya • Jelaskan faktor resiko yang dapat mempengaruhi kesehatan • Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat Referensi: • Barbie Cervoni.

2021. What Is Diabetes Mellitus. Verywell Health. https://www.verywellhealth.com/diabetes-mellitus-overview-5074551 • Stephen L.Pohl et.al. 1984. Diabetes Mellitus: an Overview. Behavioral medicine update: a publication of the Society of Behavioral Medicine 6(1):3-7 DOI:10.1093/abm/6.1.3 • Marianne Belleza RN. 2020. Diabetes Mellitus Nursing Care Management. Nurses Labs. • Amit Sapra & Priyanka Bhadari. 2021.

Diabetes Mellitus. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK551501/ • PPNI, 2017. Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta • PPNI, 2018. Standart Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI.

Jakarta • PPNI, 2019. Standart I Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) edisi 1 cetakan II. DPP PPNI. Jakarta
• Home • Keperawatan • Anatomi Fisiologi • Askep • Blogger • Coretan Perawat • Farmakologi • Kumpulan Materi • Kumpulan SAP • Maternitas • Rumus • Serba Serbi • Umum • Diagnosa • NANDA 2012 • NANDA 2014 • NANDA 2015 • NANDA 2017 • NANDA 2018 • NANDA 2018-2020 • UKOM • Hasil UKOM • Strategi UKOM • UKOM D3 • UKOM Ners • Kami • Disclamier • Kontak Kami • Peta Situs • Privacy Policy • Tentang Kami • Definisi Diabetes berasal dari bahasa Yunani yang berarti “mengalirkan atau mengalihkan” (siphon).

Mellitus berasal dari bahasa latin yang bermakna manis atau madu. Penyakit diabetes melitus dapat diartikan individu yang mengalirkan volume urine yang banyak dengan kadar glukosa tinggi. Diabetes melitus adalah penyakit hiperglikemia yang ditandai dengan ketidakadaan absolute insulin atau penurunan relative insensitivitas sel terhadap insulin (Corwin, 2009).

Diabetes Melitus (DM) adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron (Mansjoer dkk, 2007) Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2005, diabetus merupakan suatu kelompok panyakit metabolik dengan karakterristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya.

Diabetes Mellitus (DM) adalah kelainan defisiensi dari insulin dan kehilangan toleransi terhadap glukosa ( Rab, 2008) DM merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kelainan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia yang disebabkan defisiensi insulin atau akibat kerja insulin yang tidak adekuat (Brunner & Suddart, 2002).

• KLASIFIKASI Dokumen konsesus tahun 1997 oleh American Diabetes Association’s Expert Committee on the Diagnosis and Classification of Diabetes Melitus, menjabarkan 4 kategori utama diabetes, yaitu: (Corwin, 2009) • Tipe I: Insulin Dependent Diabetes Melitus (IDDM)/ Diabetes Melitus tergantung insulin (DMTI) Lima persen sampai sepuluh persen penderita diabetik adalah tipe I.

Sel-sel beta dari pankreas yang normalnya menghasilkan insulin dihancurkan oleh proses autoimun. Diperlukan suntikan insulin untuk mengontrol kadar gula darah. Awitannya mendadak biasanya terjadi sebelum usia 30 askep diabetes melitus sdki. • Tipe II: Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)/ Diabetes Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI) Sembilan puluh persen sampai 95% penderita diabetik adalah tipe II.

Kondisi ini diakibatkan oleh penurunan sensitivitas terhadap insulin (resisten insulin) atau akibat penurunan jumlah pembentukan insulin.

Pengobatan pertama adalah dengan diit dan olah raga, jika kenaikan kadar glukosa darah menetap, suplemen dengan preparat hipoglikemik (suntikan insulin dibutuhkan, jika preparat oral tidak dapat mengontrol hiperglikemia). Terjadi paling sering pada mereka yang berusia lebih dari 30 tahun dan pada mereka yang obesitas.

• DM tipe lain Karena kelainan genetik, penyakit pankreas (trauma pankreatik), obat, infeksi, antibodi, sindroma penyakit lain, dan penyakit dengan karakteristik gangguan endokrin. • Diabetes Kehamilan: Gestasional Diabetes Melitus (GDM) Diabetes yang terjadi pada wanita hamil yang sebelumnya tidak mengidap diabetes.

• ETIOLOGI • Diabetes Melitus tergantung insulin (DMTI) • Faktor genetic : Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi mewarisi suatu presdisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya diabetes tipe I.

Kecenderungan genetic ini ditentukan pada individu yang memililiki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya.

• Faktor imunologi : Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Ini merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. • Faktor lingkungan Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel β pancreas, sebagai contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang dapat menimbulkan destuksi sel β pancreas.

• Diabetes Melitus tak tergantung insulin (DMTTI) Secara pasti penyebab dari DM tipe II ini belum diketahui, factor genetic diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Diabetes Melitus tak tergantung insulin (DMTTI) penyakitnya mempunyai pola familiar yang kuat.

DMTTI ditandai dengan kelainan dalam sekresi insulin maupun dalam kerja insulin. Pada awalnya tampak terdapat resistensi dari sel-sel sasaran terhadap kerja insulin. Insulin mula-mula mengikat dirinya kepada reseptor-reseptor permukaan sel tertentu, kemudian terjadi reaksi intraselluler yang meningkatkan transport glukosa menembus membran sel.

Pada pasien dengan DMTTI terdapat kelainan dalam pengikatan insulin dengan reseptor. Hal ini dapat disebabkan oleh berkurangnya jumlah tempat reseptor yang responsif insulin pada membran sel. Akibatnya terjadi penggabungan abnormal antara komplek reseptor insulin dengan system transport glukosa.

Kadar glukosa normal dapat dipertahankan dalam waktu yang cukup lama dan meningkatkan sekresi insulin, tetapi pada akhirnya sekresi insulin yang beredar tidak lagi memadai untuk askep diabetes melitus sdki euglikemia (Price, 1995 cit Indriastuti 2008). Diabetes Melitus tipe II disebut juga Diabetes Melitus tidak tergantung insulin (DMTTI) atau Non Insulin Dependent Diabetes Melitus (NIDDM) yang merupakan suatu kelompok heterogen bentuk-bentuk Diabetes yang lebih ringan, terutama dijumpai pada orang dewasa, tetapi terkadang dapat timbul pada masa kanak-kanak.

Faktor risiko yang berhubungan dengan proses terjadinya DM tipe II, diantaranya adalah: • Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun) • Obesitas • Riwayat keluarga • Kelompok etnik • PATOFISIOLOGI Diabetes tipe I. Pada diabetes tipe satu terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun.

Hiperglikemi puasa terjadi akibat produkasi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Di samping itu glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia posprandial askep diabetes melitus sdki makan). Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi maka ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar, akibatnya glukosa tersebut muncul dalam urin (glukosuria).

Ketika glukosa yang berlebihan di ekskresikan ke dalam urin, ekskresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan.

Keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. Sebagai akibat dari kehilangan cairan berlebihan, pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsia). Defisiensi insulin juga akan menggangu metabolisme protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan. Pasien dapat mengalami peningkatan selera makan (polifagia), akibat menurunnya simpanan kalori.

Gejala lainnya mencakup kelelahan dan kelemahan. Dalam keadaan normal insulin mengendalikan glikogenolisis (pemecahan glukosa yang disimpan) dan glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru dari dari asam-asam amino dan substansi lain), namun pada penderita defisiensi insulin, proses ini akan terjadi tanpa hambatan dan lebih lanjut akan turut menimbulkan hiperglikemia.

Disamping itu akan terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan peningkatan produksi badan keton yang merupakan produk samping pemecahan lemak. Badan keton merupakan asam yang menggangu keseimbangan asam basa tubuh apabila jumlahnya berlebihan.

Ketoasidosis yang diakibatkannya dapat menyebabkan tanda-tanda dan gejala seperti nyeri abdomen, mual, muntah, hiperventilasi, nafas berbau aseton dan bila tidak ditangani akan menimbulkan perubahan kesadaran, koma bahkan kematian.

Pemberian insulin bersama cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan akan memperbaiki dengan cepat kelainan metabolik tersebut dan mengatasi gejala hiperglikemi serta ketoasidosis. Diet dan latihan disertai pemantauan kadar gula darah yang sering merupakan komponen terapi yang penting.

askep diabetes melitus sdki

Diabetes tipe II. Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan resptor tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam sel. Resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel ini. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan.

Untuk mengatasi resistensi insulin dan untuk mencegah terbentuknya glukosa dalam darah, harus terdapat peningkatan jumlah insulin yang disekresikan.

Pada penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun demikian, jika sel-sel beta tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin, maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi diabetes tipe II. Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas DM tipe II, namun masih terdapat insulin dengan jumlah yang adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi badan keton yang menyertainya.

Karena itu ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada diabetes tipe II. Meskipun demikian, diabetes tipe II yang tidak terkontrol dapat menimbulkan masalah akut lainnya yang dinamakan sindrom hiperglikemik hiperosmoler nonketoik (HHNK).

Diabetes tipe II paling sering terjadi pada penderita diabetes yang berusia lebih dari 30 tahun dan obesitas. Akibat intoleransi glukosa yang berlangsung lambat (selama bertahun-tahun) dan progresif, maka awitan diabetes tipe II dapat berjalan tanpa terdeteksi.

Jika gejalanya dialami pasien, gejala tersebut sering bersifat ringan dan dapat mencakup kelelahan, iritabilitas, poliuria, polidipsi, luka pada kulit yang lama sembuh-sembuh, infeksi vagina atau pandangan yang kabur (jika kadra glukosanya sangat tinggi).

Patways • MANIFESTASI KLINIS • Diabetes Tipe I • hiperglikemia berpuasa • glukosuria, diuresis osmotik, poliuria, polidipsia, polifagia • keletihan dan kelemahan • ketoasidosis diabetik (mual, nyeri abdomen, muntah, hiperventilasi, nafas bau buah, ada perubahan tingkat kesadaran, koma, kematian) • Diabetes Tipe II • lambat (selama tahunan), intoleransi glukosa progresif • gejala seringkali ringan mencakup keletihan, mudah tersinggung, poliuria, polidipsia, luka pada kulit yang sembuhnya lama, infeksi vaginal, penglihatan kabur • komplikasi jangka panjang (retinopati, neuropati, penyakit vaskular perifer) • DATA PENUNJANG: • Glukosa darah: gula darah puasa > 130 ml/dl, tes toleransi glukosa > 200 mg/dl, 2 jam setelah pemberian glukosa.

• Aseton plasma (keton) positif secara mencolok. • Asam lemak bebas: kadar lipid dan kolesterol meningkat • Osmolalitas serum: meningkat tapi biasanya < 330 mOsm/I • Elektrolit: Na mungkin normal, meningkat atau menurun, K normal atau peningkatan semu selanjutnya akan menurun, fosfor sering menurun. • Gas darah arteri: menunjukkan Ph rendah dan penurunan HCO3 • Trombosit darah: Ht meningkat (dehidrasi), leukositosis dan hemokonsentrasi merupakan respon terhadap stress atau infeksi.

• Ureum/kreatinin: mungkin meningkat atau normal • Insulin darah: mungkin menurun/ tidak ada askep diabetes melitus sdki I) atau normal sampai tinggi (Tipe II) • Urine: gula dan aseton positif • Kultur dan sensitivitas: kemungkinan adanya ISK, infeksi pernafasan dan infeksi luka.

• KOMPLIKASI Komplikasi yang berkaitan dengan kedua tipe DM askep diabetes melitus sdki Melitus) digolongkan sebagai akut dan kronik (Mansjoer dkk, 2007) • Komplikasi akut Komplikasi akut terjadi sebagai akibat dari ketidakseimbangan jangka pendek dari glukosa darah • HIPOGLIKEMIA/ KOMA HIPOGLIKEMIA Hipoglikemik adalah kadar gula darah yang rendah. Kadar gula darah yang normal 60-100 mg% yang bergantung pada berbagai keadaan.

Salah satu bentuk dari kegawatan hipoglikemik adalah koma hipoglikemik. Pada kasus spoor atau koma yang tidak diketahui sebabnya maka harus dicurigai sebagai suatu hipoglikemik dan merupakan alasan untuk pembarian glukosa. Koma hipoglikemik biasanya disebabkan oleh overdosis insulin. Selain itu dapat pula disebabkan oleh karana terlambat makan atau olahraga yang berlebih. Diagnosa dibuat dari tanda klinis dengan gejala hipoglikemik terjadi bila kadar gula darah dibawah 50 mg% atau 40 mg% pada pemeriksaaan darah jari.

Penatalaksanaan kegawat daruratan: • Pengatasan hipoglikemi dapat diberikan bolus glukosa 40% dan biasanya kembali sadar pada pasien dengan tipe 1. • Tiap keadaan hipoglikemia harus diberikan 50 cc D50 W dalam waktu 3-5 menit dan nilai status pasien dilanjutkan dengan D5 W atau D10 W bergantung pada tingkat hipoglikemia • Pada hipoglikemik yang disebabkan oleh pemberian long-acting insulin dan pemberian diabetic oral maka diperlukan infuse yang berkelanjutan.

• Hipoglikemi yang disebabkan oleh kegagalan glikoneogenesis yang terjadi pada penyakit hati, ginjal, dan jantung maka harus diatasi factor penyebab kegagalan ketiga organ ini. • SINDROM HIPERGLIKEMIK HIPEROSMOLAR NON KETOTIK (HHNC/ HONK).

HONK adalah keadaan hiperglikemi dan hiperosmoliti tanpa terdapatnya ketosis. Konsentrasi gula darah lebih dari 600 mg bahkan sampai 2000, tidak terdapat aseton, osmolitas darah tinggi melewati 350 mOsm perkilogram, tidak terdapat asidosis dan fungsi ginjal pada umumnya terganggu dimana BUN banding kreatinin lebih dari 30 : 1, elektrolit natrium berkisar antara 100 – 150 mEq per liter kalium bervariasi.

Penatalaksanan kegawat daruratan: Terapi sama dengan KAD (Ketoasidosis Diabetic) dengan skema Bila jumlah urin cukup dan serum kalsium kurang dari 5.5 mEq/liter, berikan 20-30 mEq/liter K + Untuk mengatasi dehidrasi diberikan cairan 2 jam pertama 1 - 2 liter NaCl 0,2 %.

Sesudah inisial ini diberikan 6 – 8 liter per 12 jam. Untuk mengatasi hipokalemi dapat diberikan kalium. Insulin lebih sensitive dibandingkan ketoasidosis diabetic dan harus dicegah kemungkinan hipoglikemi. Oleh karena itu, harus dimonitoring dengan hati – hati yang diberikan adalah insulin regular, askep diabetes melitus sdki ada standar tertentu, hanya dapat diberikan 1 – 5 unit per jam dan bergantung pada reaksi.

Pengobatan tidak hanya askep diabetes melitus sdki insulin saja akan tetapi diberikan infuse untuk menyeimbangkan pemberian cairan dari ekstraseluler keintraseluler. • KETOASIDOSIS DIABETIC (KAD) Pengertian DM Ketoasidosis adalah komplikasi akut diabetes mellitus yang ditandai dengan dehidrasi, kehilangan elektrolit dan asidosis. EtiologiTidak adanya insulin atau tidak cukupnya jumlah insulin yang nyata, yang dapat disebabkan oleh : • Insulin tidak diberikan atau diberikan dengan dosis yang dikurangi • Keadaan sakit atau infeksi • Manifestasi pertama pada penyakit diabetes yang tidak terdiagnosis dan tidak diobati.

Patofisiologi Apabila jumlah insulin berkurang, jumlah glukosa yang memasuki sel akan berkurang juga. disamping itu produksi glukosa oleh hati menjadi tidak terkendali. Kedua faktor ini akan menimbulkan hiperglikemi. Dalam upaya untuk menghilangkan glukosa yang berlebihan dari dalam tubuh, ginjal akan mengekskresikan glukosa bersama-sama air dan elektrolit (seperti natrium dan kalium). Diurisis osmotik yang ditandai oleh urinasi yang berlebihan (poliuri) akan menyebabkan dehidrasi dan kehilangna elektrolit.

Penderita ketoasidosis diabetik yang berat dapat kehilangan kira-kira 6,5 L air dan sampai 400 hingga 500 mEq natrium, kalium serta klorida selam periode waktu 24 jam. Akibat askep diabetes melitus sdki insulin yang lain adalah pemecahan lemak (lipolisis) menjadi asam-asam lemak bebas dan gliserol.

Asam lemak bebas akan diubah menjadi badan keton oleh hati. Pada ketoasidosis diabetik terjadi produksi badan keton yang berlebihan sebagai akibat dari kekurangan insulin yang secara normal akan mencegah timbulnya keadaan tersebut. Badan keton bersifat asam, dan bila bertumpuk dalam sirkulais darah, badan keton akan menimbulkan asidosis metabolik. Tanda dan Gejala Hiperglikemi pada ketoasidosis diabetik akan menimbulkan poliuri dan polidipsi (peningktan rasa haus).

Disamping itu pasien dapat mengalami penglihatan yang kabur, kelemahan dan sakit kepala. Pasien dengan penurunann volume intravaskuler yang nyata mungkin akan menderita hipotensi ortostatik (penurunan tekanan darah sistolik sebesar 20 mmHg atau lebih pada saat berdiri). Penurunan volume dapat menimbulkan hipotensi yang nyata disertai denyut nadi lemah dan cepat.

askep diabetes melitus sdki

Ketosisis dan asidosis yang merupakan ciri khas diabetes ketoasidosis menimbulkan gejala gastrointestinal seperti anoreksia, mual, muntah dan nyeri abdomen. Nyeri abdomen dan gejala-gejala fisik pada pemeriksaan dapat begitu berat sehingga tampaknya terjadi sesuatu proses intrabdominal yang memerlukan tindakan pembedahan. Nafas pasien mungkin berbau aseton (bau manis seperti buah) sebagai akibat dari meningkatnya kadar badan keton.

Selain itu hiperventilasi (didertai pernapasan yang sangat dalam tetapi tidak berat/sulit) dapat terjadi. Pernapasan Kussmaul ini askep diabetes melitus sdki upaya tubuh untuk mengurangi asidosis guna melawan efek dari pembentukan badan keton. Perubahan status mental bervariasi antara pasien yang satu dan lainnya.

Pasien dapat sadar, mengantuk (letargik) atau koma, hal ini biasanya tergantung pada osmolaritas plasma (konsentrasi partikel aktif-osmosis).

Pemeriksaan Penunjang Kadar glukosa dapat bervariasi dari 300 hingga 800 mg/dl. Sebagian pasien mungkin memperlihatkan kadar guka darah yang lebih rendah dan sebagian lainnya mungkin memeliki kadar sdampai setinggi 1000 mg/dl atau lebih (yang biasanya bernagtung pada derajat dehidrasi) • Harus disadari bahwa ketoasidosis diabetik tidak selalu berhubungan dengan kadar glukosa darah. • Sebagian pasien dapat mengalami asidosi berat disertai kadar glukosa yang berkisar dari 100 – 200 mg/dl, sementara sebagia lainnya mungkin tidak memperlihatkan ketoasidosis diabetikum sekalipun kadar glukosa darahnya mencapai 400-500 mg/dl.

Bukti adanya ketosidosis dicerminkan oleh kadar bikarbonat serum yang rendah ( 0- 15 mEq/L) dan pH yang rendah (6,8-7,3). Tingkat pCO2 yang rendah ( 10- 30 mmHg) mencerminkan kompensasi respiratorik askep diabetes melitus sdki kussmaul) terhadap asidosisi metabolik. Akumulasi badan keton (yang mencetuskan asidosis) dicerminkan oleh hasil pengukuran keton dalam darah dan urin.

askep diabetes melitus sdki

Penatalaksanaan • Rehidrasi • Jam pertamaberi infuse 200 – 1000 cc/ jam dengan NaCl 0,9 % bergantung pada tingkat dehidrasi • Jam kedua dan jam berikutnya 200 – 1000 cc NaCl 0,45 % bergantung pada tingkat dehidrasi • 12 jam pertama berikan dekstrosa 5 % bila kadar gula darah antara 200 – 300 mg/ 100 cc, ganti dengan dextrose 10 % bila kadar gula darah sampai 150 mg/ 100 cc.

• Kehilangan elektrolit Pemberian Kalium lewat infus harus dilakukan meskipun konsentrasi kalium dalam plasma normal. • Komplikasi kronik Umumnya terjadi 10 sampai 15 tahun setelah awitan.

• Makrovaskular (penyakit pembuluh darah besar), mengenai sirkulasi koroner, vaskular perifer dan vaskular serebral. • Mikrovaskular (penyakit pembuluh darah kecil), mengenai mata (retinopati) dan ginjal askep diabetes melitus sdki. Kontrol kadar glukosa darah untuk memperlambat atau menunda awitan baik komplikasi mikrovaskular maupun makrovaskular.

• Penyakit neuropati, mengenai saraf sensorik-motorik dan autonomi serta menunjang masalah seperti impotensi dan ulkus pada kaki. • Rentan infeksi, seperti tuberkulosis paru dan infeksi saluran kemih • Ulkus/ gangren/ kaki diabetik • PENATALAKSANAAN • Medis Tujuan utama terapi DM adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropatik.

Tujuan terapeutik pada setiap tipe DM adalah mencapai kadar glukosa darah normal tanpa terjadi hipoglikemia dan gangguan serius pada pola aktivitas pasien.

• Diet Syarat diet DM hendaknya dapat : • Memperbaiki kesehatan umum penderita • Mengarahkan pada berat badan normal • Menekan dan menunda timbulnya penyakit angiopati diabetik • Memberikan modifikasi diit sesuai dengan keadaan penderita • Menarik dan mudah diberikan Prinsip diet DM, adalah : • Jumlah sesuai kebutuhan • Jadwal diet ketat • Jenis : boleh dimakan / tidak Dalam melaksanakan diit diabetes sehari-hari hendaklah diikuti pedoman 3 J yaitu: • jumlah kalori yang diberikan harus habis, jangan dikurangi atau ditambah • jadwal diit harus sesuai dengan intervalnya • jenis makanan yang manis harus dihindari Penentuan jumlah kalori Diit Diabetes Mellitus harus disesuaikan oleh status gizi penderita, penentuan gizi dilaksanakan dengan menghitung Percentage of Relative Body Weight (BBR = berat badan normal) dengan rumus : • Kurus (underweight) BBR < 90 % • Normal (ideal) BBR 90% - 110% • Gemuk (overweight) BBR > 110% • Obesitas apabila BBR > 120% • Obesitas ringan BBR 120 % - 130% • Obesitas sedang BBR 130% - 140% • Obesitas berat BBR 140% - 200% • Morbid BBR >200 % Sebagai pedoman jumlah kalori yang diperlukan sehari-hari untuk penderita DM yang bekerja biasa askep diabetes melitus sdki : • Kurus (underweight) BB X 40-60 kalori sehari • Normal (ideal) BB X 30 kalori sehari • Gemuk (overweight) BB X 20 kalori sehari • Obesitas apabila BB X 10-15 kalori sehari • Latihan Beberapa kegunaan latihan teratur setiap hari bagi penderita DM, adalah : • Meningkatkan kepekaan insulin, apabila dikerjakan setiap 1 1/2 jam sesudah makan, berarti pula mengurangi insulin resisten pada penderita dengan kegemukan atau menambah jumlah reseptor insulin dan meningkatkan sensivitas insulin dengan reseptornya.

• Mencegah kegemukan bila ditambah latihan pagi dan sore • Memperbaiki aliran perifer dan menambah suplai oksigen • Meningkatkan kadar kolesterol – high density lipoprotein • Kadar glukosa otot dan hati menjadi berkurang, maka latihan akan dirangsang pembentukan glikogen baru.

• Menurunkan kolesterol (total) dan trigliserida dalam darah karena pembakaran asam lemak menjadi lebih baik. • Penyuluhan Penyuluhan merupakan salah satu bentuk penyuluhan kesehatan kepada penderita DM, melalui bermacam-macam cara atau media misalnya: leaflet, poster, TV, kaset video, diskusi kelompok, dan sebagainya.

• Obat • Tablet OAD (Oral Antidiabetes)/ Obat Hipoglikemik Oral (OHO) Mekanisme kerja sulfanilurea Obat ini bekerja dengan cara menstimulasi pelepasan insulin yang tersimpan, menurunkan ambang sekresi insulin dam meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukosa.

Obat golongan ini biasanya diberikan pada penderita dengan berat badan normal dan masih bisa dipakai pada pasien yang berat badannya sedikit lebih.

Mekanisme kerja BiguanidaBiguanida tidak mempunyai efek pankreatik, tetapi mempunyai efek lain yang dapat meningkatkan efektivitas insulin, yaitu : 1. Biguanida askep diabetes melitus sdki tingkat prereseptor → ekstra pankreatik • Menghambat absorpsi karbohidrat • Menghambat glukoneogenesis di hati • Meningkatkan afinitas pada reseptor insulin 2. Biguanida pada tingkat reseptor : meningkatkan jumlah reseptor insulin 3.

Biguanida pada tingkat pascareseptor: mempunyai efek intraselluler • Insulin Indikasi penggunaan insulin • DM tipe I • DM tipe II yang pada saat tertentu tidak dapat dirawat dengan OAD • DM kehamilan • DM dan gangguan faal hati yang berat • DM dan gangguan infeksi akut (selulitis, gangren) • DM dan TBC paru akut • DM dan koma lain pada DM • DM operasi • DM patah tulang • DM dan underweight • DM dan penyakit Graves Beberapa cara pemberian insulin yaitu dengan suntikan insulin subkutan, Insulin regular mencapai puncak kerjanya pada 1 – 4 jam, sesudah suntikan subcutan.

• Cangkok pankreas Pendekatan terbaru untuk cangkok adalah segmental dari donor hidup saudara kembar identik ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN DIABETES MELITUS Laporan Pendahuluan Askep Diabetes Melitus (DM) • PENGKAJIAN Fokus utama pengkajian pada klien Diabetes Mellitus adalah melakukan pengkajian dengan ketat terhadap tingkat pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan perawatan diri.

Pengkajian secara rinci adalah sebagai berikut • PENGKAJIAN PRIMER Pengkajian dilakukan secara cepat dan sistemik,antara lain : • Airway + cervical control Airway Lidah jatuh kebelakang (coma hipoglikemik), Benda asing/ darah pada rongga mulut Cervical Control : - • Breathing + Oxygenation Breathing : Ekspos dada, Evaluasi pernafasan - KAD : Pernafasan kussmaul - HONK : Tidak ada pernafasan Kussmaul (cepat dan dalam) Oxygenation : Kanula, tube, mask • Circulation + Hemorrhage control Circulation : - Tanda dan gejala schok - Resusitasi: kristaloid, koloid, akses vena.

Hemorrhage control : - • Disability : pemeriksaan neurologis è GCS A : Allert : sadar penuh, respon bagus V : Voice Respon : kesadaran menurun, berespon thd suara P : Pain Respons : kesadaran menurun, tdk berespon thd suara, berespon thd rangsangan nyeri U : Unresponsive : kesadaran menurun, tdk berespon thd suara, tdk bersespon thd nyeri • PENGKAJIAN SEKUNDER Pemeriksaan sekunder dilakukan setelah memberikan pertolongan atau penenganan pada pemeriksaan primer. Pemeriksaan sekunder meliputi : • AMPLE : alergi, medication, past illness, last meal, event • Pemeriksaan seluruh tubuh : Head to toe askep diabetes melitus sdki Pemeriksaan penunjang : lebih detail, evaluasi ulang Pemeriksaan Diagnostik • Tes toleransi Glukosa (TTG) memanjang (lebih besar dari 200mg/dl).

Biasanya, tes ini dianjurkan untuk pasien yang menunjukkan kadar glukosa meningkat dibawah kondisi stress. • Gula darah puasa normal atau diatas normal. • Essei hemoglobin glikolisat diatas rentang normal. • Urinalisis positif terhadap glukosa dan keton. • Kolesterol dan kadar trigliserida serum dapat meningkat menandakan ketidakadekuatan kontrol glikemik dan peningkatan propensitas pada terjadinya aterosklerosis.

Anamnese • Keluhan Utama Cemas, lemah, anoreksia, mual, muntah, nyeri abdomen, nafas pasien mungkin berbau aseton pernapasan kussmaul, poliuri, polidipsi, penglihatan yang kabur, kelemahan dan sakit kepala • Riwayat kesehatan sekarang Berisi tentang kapan terjadinya penyakit (Coma Hipoglikemik, KAD/ HONK), penyebab terjadinya penyakit (Coma Hipoglikemik, KAD/ HONK) serta upaya yang telah dilakukan oleh penderita untuk mengatasinya. • Riwayat kesehatan dahulu Adanya riwayat penyakit DM atau penyakit – penyakit lain yang ada kaitannya dengan defisiensi insulin misalnya penyakit pankreas.

Adanya riwayat penyakit jantung, obesitas, maupun arterosklerosis, tindakan medis yang pernah di dapat maupun obat-obatan yang biasa digunakan oleh penderita. • Riwayat kesehatan keluarga Riwayat atau adanya faktor resiko, riwayat keluarga tentang penyakit, obesitas, riwayat pankreatitis kronik, riwayat melahirkan anak lebih dari 4 kg, riwayat glukosuria selama stress (kehamilan, pembedahan, trauma, infeksi, penyakit) atau terapi obat (glukokortikosteroid, diuretik tiasid, kontrasepsi oral).

• Riwayat psikososial Meliputi informasi mengenai prilaku, perasaan dan emosi yang dialami penderita sehubungan dengan penyakitnya serta tanggapan keluarga terhadap penyakit penderita. • Kaji terhadap manifestasi Diabetes Mellitus: poliuria, polidipsia, polifagia, penurunan berat badan, pruritus vulvular, kelelahan, gangguan penglihatan, peka rangsang, dan kram otot. Temuan ini menunjukkan askep diabetes melitus sdki elektrolit dan terjadinya komplikasi aterosklerosis.

• Kaji pemahaman pasien tentang kondisi, tindakan, pemeriksaan diagnostik dan tindakan perawatan diri untuk mencegah komplikasi. • DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL • Nyeri akut b.d agen injuri biologis (penurunan perfusi jaringan perifer) • Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d. ketidakmampuan menggunakan glukose (tipe 1) • Ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh b.d.

kelebihan intake nutrisi (tipe 2) • Defisit Volume Cairan askep diabetes melitus sdki Kehilangan volume cairan secara aktif, Kegagalan mekanisme pengaturan • PK: Hipoglikemia PK: Hiperglikemi • Perfusi jaringan tidak efektif b.d hipoksemia jaringan.

• PERENCANAAN NOC: • Tingkat nyeri • Nyeri terkontrol • Tingkat kenyamanan Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam, klien dapat : 1. Mengontrol nyeri, dengan indikator : • Mengenal faktor-faktor penyebab • Mengenal onset nyeri • Tindakan pertolongan non farmakologi • Menggunakan analgetik • Melaporkan gejala-gejala nyeri kepada tim askep diabetes melitus sdki.

• Nyeri terkontrol 2. Menunjukkan tingkat nyeri, dengan indikator: • Melaporkan nyeri • Frekuensi nyeri • Lamanya episode nyeri • Ekspresi askep diabetes melitus sdki wajah • Perubahan respirasi rate • Perubahan tekanan darah • Kehilangan nafsu makan Manajemen nyeri : • Lakukan pegkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan ontro presipitasi.

• Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan. • Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien sebelumnya. • Kontrol ontro lingkungan yang mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan.

askep diabetes melitus sdki

• Kurangi ontro presipitasi nyeri. • Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologis/non farmakologis). • Ajarkan teknik non farmakologis (relaksasi, distraksi dll) untuk mengetasi nyeri. • Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri. • Evaluasi tindakan pengurang nyeri/ontrol nyeri. • Kolaborasi dengan dokter bila ada komplain tentang pemberian analgetik tidak berhasil. • Monitor penerimaan klien tentang manajemen nyeri. Administrasi analgetik :. • Cek program pemberian analogetik; jenis, dosis, dan frekuensi.

• Cek riwayat alergi. • Tentukan analgetik pilihan, rute pemberian dan dosis optimal. • Monitor TTV sebelum dan sesudah pemberian analgetik. • Berikan analgetik tepat waktu terutama saat nyeri muncul. • Evaluasi efektifitas analgetik, tanda dan gejala efek samping. Nutrition Management • Monitor intake makanan dan minuman yang dikonsumsi klien setiap hari • Tentukan berapa jumlah kalori dan tipe zat gizi yang dibutuhkan dengan berkolaborasi dengan ahli gizi • Dorong peningkatan intake kalori, zat besi, protein dan vitamin C • Beri makanan lewat oral, bila memungkinkan askep diabetes melitus sdki Kaji kebutuhan klien akan pemasangan NGT • Lepas NGT bila klien sudah bisa makan lewat oral Weight Management • Diskusikan dengan pasien tentang kebiasaan dan budaya serta faktor hereditas yang mempengaruhi berat badan.

• Diskusikan resiko kelebihan berat badan. • Kaji berat badan ideal klien. • Kaji persentase normal lemak tubuh klien. • Beri motivasi kepada klien untuk menurunkan berat badan. • Timbang berat badan setiap hari. • Buat rencana untuk menurunkan berat badan klien. • Buat rencana olahraga untuk klien. • Ajari klien untuk diet sesuai dengan kebutuhan nutrisinya. NOC: • Fluid balance • Hydration • Nutritional Status : Food and Fluid Intake Kriteria Askep diabetes melitus sdki : • Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal • Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal • Tidak ada tanda tanda dehidrasi, Elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan Fluid management • Timbang popok/pembalut jika diperlukan • Pertahankan catatan intake dan output yang akurat • Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik ), jika diperlukan • Monitor vital sign • Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian • Kolaborasikan pemberian cairan IV • Monitor status nutrisi • Berikan cairan IV pada suhu ruangan • Dorong masukan oral • Berikan penggantian nesogatrik sesuai output • Dorong keluarga untuk membantu pasien makan • Tawarkan snack ( jus buah, buah segar ) • Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk • Atur kemungkinan tranfusi • Persiapan untuk tranfusi Managemen Hipoglikemia: • Monitor tingkat gula darah sesuai indikasi • Monitor tanda dan gejala hipoglikemi ; kadar gula darah < 70 mg/dl, kulit dingin, lembab pucat, tachikardi, peka rangsang, gelisah, tidak sadarbingung, ngantuk.

• Jika klien dapat menelan berikan jus jeruk / sejenis jahe setiap 15 menit sampai kadar gula darah > 69 mg/dl • Berikan glukosa 50 % dalam IV sesuai protokol • K/P kolaborasi dengan ahli gizi untuk dietnya. Managemen Hiperglikemia • Monitor GDR sesuai indikasi • Monitor tanda dan gejala diabetik ketoasidosis ; gula darah > 300 mg/dl, pernafasan bau aseton, sakit kepala, pernafasan kusmaul, anoreksia, mual dan muntah, tachikardi, TD rendah, polyuria, polidypsia,poliphagia, keletihan, pandangan kabur atau kadar Na,K,Po4 menurun.

• Monitor v/s :TD dan nadi sesuai indikasi • Berikan insulin sesuai order • Pertahankan akses IV • Berikan IV fluids sesuai kebutuhan • Konsultasi dengan dokter jika tanda dan gejala Hiperglikemia menetap atau memburuk • Dampingi/ Bantu ambulasi jika terjadi hipotensi • Batasi latihan ketika gula darah >250 mg/dl khususnya adanya keton pada urine • Pantau jantung dan sirkulasi ( frekuensi & irama, warna kulit, waktu pengisian kapiler, nadi perifer dan kalium • Anjurkan banyak minum • Monitor status cairan I/O sesuai kebutuhan NOC : • Circulation status • Tissue Prefusion : cerebral Kriteria Hasil : a.

mendemonstrasikn status sirkulasi • Tekanan systole dandiastole dalam rentang yang diharapkan • Tidak ada ortostatikhipertensi • Tidak ada tanda tanda peningkatan tekanan intrakranial (tidak lebih dari 15 mmHg) b.

mendemonstrasikan kemampuan kognitif yang ditandai dengan: • berkomunikasi dengan jelas dan sesuai dengan kemampuan • menunjukkan perhatian, konsentrasi dan orientasi • memproses informasi • membuat keputusan dengan benar Peripheral Sensation Management (Manajemen sensasi perifer) • Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap panas/dingin/tajam/tumpul • Monitor adanya paretese • Instruksikan keluarga untuk mengobservasi kulit jika ada lsi atau laserasi • Gunakan sarun tangan untuk proteksi • Batasi gerakan pada kepala, leher dan punggung • Monitor kemampuan BAB • Kolaborasi pemberian analgetik • Monitor adanya tromboplebitis • Diskusikan menganai penyebab perubahan sensasi • Brunner & Suddarth.

2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol 3. Jakarta: EGC askep diabetes melitus sdki Carpenito, L.J. 2000. Diagnosa Keperawatan, Aplikasi pada Praktik Klinis, edisi 6. Jakarta: EGC • Corwin, EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi, 3 Edisi Revisi. Jakarta: EGC • Indriastuti, Na. 2008. Laporan Asuhan Keperawatan Pada Ny. J Dengan Efusi Pleura dan Diabetes Mellitus Di Bougenvil 4 RSUP dr Sardjito Yogyakarta.

Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada • Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River • Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media Aesculapius • Mc Closkey, C.J., et all.

1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River • Rab, T. 2008. Askep diabetes melitus sdki Gawat Darurat (Critical Care). Bandung: Penerbit PT Alumni • Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima Medika Demikianlah artikel kami dengan judul Laporan Pendahuluan Askep Diabetes Melitus (DM) pdf doc.

Semoga apa yang kami sajikan tersebut dapat bermanfaat bagi teman-teman semuanya. Oke Sekianlah artikel kami yang membahas mengenai Laporan Pendahuluan Askep Diabetes Melitus (DM) pdf doc, semoga artikel ini bermanfaat bagi teman-teman semua, dan jangan lupa share artikel kami ini jika bermanfaat dan tetap mencantumkan link blog kami.

Jangan bosan untuk membaca artikel lainnya disini, Sampai jumpa di postingan artikel lainnya. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes Militus merupakan penyakit kronis dengan jumlah penderita yang cukup banyak bahkan terus meningkat dari tahun ke tahun serta menjadi masalah kesehatan bagi semua negara Indonesia (Sumarman, 2016).

DM yang tidak terkendali dapat menyebabkan komplikasi metabolik ataupun komplikasi vaskuler jangka panjang, sehingga rentan terhadap infeksi kaki luka yang kemudian dapat berkembang menjadi gangren (Kartika, 2017). Diabetes militus dikenal sebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatn kadar gula dalam darah melebihi 150 mg/dl, dimana batas normal gula darah 70-150 mg/dl, sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesui kebutuhan tubuh (Leonita & Muliani, 2015).

Diabetes militus tidak dapat disembuhkan, tetapi kadar gula darah dapat dikendalikan atau di kontrol, insiden ini bersift kronis dengan ciri khas hiperglikemia/peningkatan kadar glukosa darah dari rentan normal (Damanik, 2016). Laporan statistik dari International Diabetes Federation (IDF) menyebutkan, ada sekitar 230 juta penderita diabetes. Angka tersebut terus bertambah hingga 3% atau sekitar 7 juta orang setiap tahunnya.jumlah penderita diabetes diperkirakan akan mencapai 350 juta pada tahun 2025.

World Health Organization (WHO) memprediksikan kenaikan jumlah penyandang diabetes di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030 (Kistianita, 2017). Laporan RisKesDas tahun 2018, propinsi Jawa Timur merupakan salah satu wilayah di Indonesia dengan prevelensi penderita Diabetes Militus pada penduduk umur > 15 tahun sebesar 2,0% (RisKesDas, 2018).

Jumlah penderita baru Diabetes Melitus di kabupaten Banyuwangi mengalami peningkatan yaitu 12.880 pada tahun 2013 menjadi 15.071 pada tahun 2014 (Yulia et al., 2017).

Diabetes Militus tipe 2 berkaitan erat dengan pertambahan umur seseorang (Kistianita, 2017). DM yang tidak terkendali akan menyebabkan penebalan tunika intima dan dapat menimbulkan penyumbatan sirkulasi pembulu darah, aliran darah jaringan tepi ke kaki terganggu dan nekrosis yang mengakibatkan ulkus diabetikum askep diabetes melitus sdki menimbulkan masalah keperawatan gangguan integritas jaringan kulit (Kartika, 2017).

Pengelolaan holistic ulkus/gangren diabetik membutuhkan kerjasama multidisipliner, dalam manajemen Diabetes Melitus meliputi edukasi, diit perencanaan makan, latihan jasmani dan farmakologis (Kartika, 2017). Perawat melakukan tindakan mandiri yang pertama yaitu adalah edukasi, kedua berupa pembatasan diit makanan, selanjutnya adalah olahraga, yang terakhir ialah terapi farmakologis (SDKI, 2017) Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik mengambil studi kasus dengan judul Asuhan keperawatan klien yang mengalami Diabetes Militus dengan gangguan integritas jaringan kulit di ruang Kelas II RSUD Genteng Banyuwangi.

1.2 Rumusan Masalah Bagaimanakah asuhan keperawatan pada klien yang mengalami Diabetes Melitus dengan gangguan integritas jaringan kulit ? 1.3 Tujuan Penilitian 1.3.1 Tujuan umum Melaksanakan asuhan keperawatan pada klien yang mengalami Diabetes Militus dengan gangguan integritas kulit di ruang kelas II RSUD Genteng Banyuwangi. 1.3.2 Tujuan khusus • Melakuakan pengkajian keperawatan pada klien yang mengalami Diabetes Militus dengan ganggun integritas jaringan kulit di ruang kelas II RSUD Genteng Banyuwangi.

• Menetapkan diagnosis keperawatan pada klien yang mengalami Diabetes Militus dengan gangguan integritas jaringan kulit di ruang kelas II RSUD Genteng Banyuwangi.

• Menyususun perencanaan kepeawatan pada klien yang mengalami Diabetes Militus dengan gangguan integritas jaringan kulit di ruang kelas II Genteng Banyuwangi. • Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien yang mengalami Diabetes Militus dengan gangguan integritas jaringan kulit di ruang kelas II RSUD Genteng Banyuwangi. • Melakukan evaluasi pada klien yang mengalami Diabetes Militus dengan gangguan integritas jaringan kulit di ruang kelas II RSUD Genteng Banyuwangi.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis Asuhan keperawatan pada klien yang mengalami Diabetes Militus dengan gangguan kerusakan integritas jaringan kulit tindakan yang dilakukan dengan cara edukasi, rawat luka, terapi farmakologi dan pembatasan diit makan di ruang kelas II RSUD Genteng Banyuwangi. 1.4.2 Manfaat Praktis • Bagi Perawat Diharapkan dapat memberikan inspirasi perawat untuk menggali ide-ide kritis dan upaya rasional yang mampu dikembangkan sebagai intervensi gangguan integritas jaringan kulit.

• Bagi Rumah Sakit Sebagai masukan dalam meningkatkan asuhan keperawatan pada pasien Diabetes Militus dengan gangguan integritas kulit di ruang kelas II RSUD Genteng Banyuwangi. • Institusi Pendidikan Sebagai refrensi untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan bagi tenaga didik institusi • Bagi Pasien Diharapkan klien dapat melakukan pencegahan dan perawatan Diabetes Militus secara mandiri dirumah. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Konsep Penyakit Diabetes Militus 1.1.1 Definisi Diabetes Militus merupakan golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah melebihi 150 mg/dl atau melebihi dalam batas normal diantara 70-150 mg/dl (Leonita & Muliani, 2015).

Gangren adalah kondisi yang terjadi ketika jaringan tubuh mati, yang disebabkan hilangnya suplai darah karena penyakit yang mendasari, cedera atau infeksi.

(Haryono, 2019). 1.1.2 Etiologi Faktor faktor yang berpengaruh atas terjadinya gangren dibagi menjadi endogen dan eksogen. Faktor endogen yaitu: • Genetik • Metabolik • Angiopati diabetik • Neuropati diabetik Sementara faktor eksogen yaitu: • Trauma • Infeksi • Obat (Haryono, 2019). Neuropati merupakan faktor penting untuk terjadinya gangren. Adanya neuropati perifer akan menyebabkan terjadinya gangguan sensori ataupun motorik, gangguan sensoris akan menyebabkan hilang ataupun menurunnya sensasi nyeri pada lokasi gangren dan gangguan motorik akan mengakibatkan terjadinya atrofi askep diabetes melitus sdki kaki, sehingga mengubah titik tumpu yang menyebabkan ulserasi pada kaki (Mubarak, 2015).

1.1.3 Menifestasi klinis Adanya penyakit Diabetes Militus ini pada awalnya sering kali tidak dirasakan dan tidak disadari oleh penderita, beberapa keluhan dan gejala yang perlu mendapat perhatian adalah • Keluhan fisik • Banyak kencing (poliuria) Kadar glukosa yang tinggi akan menyebabkan banyak kencing.

Kencing yang sering dan dalam jumlah banyak akan mengganggu penderita saat malam hari. • Banyak minum (polidipsia) Rasa haus amat sering dialami penderita Diabetes Militus karena banyaknya cairan yang keluar melalui kencing.

askep diabetes melitus sdki

• Banyak makan (polifagia) Rasa lapar yang semakin besar sering timbul pada penderita Diabetes Militus karena pasien mengalami keseimbangan kalori negatif, sehingga timbul rasa lapar. • Penurunan berat badan dan rasa lemah Hal ini disebabkan glukosa dalam darah tidak dpat masuk kedalam sel, sehingga sel kekurangan bahan bakar untuk menghasilkan tenaga. • Keluhan lain • Gangguan saraf tepi • Gangguan penglihatan • Gatal/bisul • Gangguan ereksi • Keputihan (Putri, 2015) 1.1.4 Patofisiologi Diabetes Militus tipe I ada beberapa faktor yang menyebabkan yaitu faktor 1) genetik, 2) infeksi virus dan 3) imunologi.

Sedangkan faktor yang menyebabkan Diabetes Militus tipe II yaitu faktor usia, idiopatik, obesitas dan genetik (Putri, 2015). Diabetes Militus terjadi karena adanya defisiensi insulin, akibat dari defisiensi insulin maka penyerapan glukosa kedalam sel-sel dan proses metabolisme untuk membentuk glikogen mengalami gangguan, kedaan ini menyebabkan glukosa berada tetap dalam sirkulasi sehingga terjadi hiperglikemi (Masriadi, 2016).

Penderita Diabates Militus ditandai dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah akibat kelainan sekresi atau kerja insulin dan pada non insulin merupakan Diabetes Militus yang tidak bergantung pada insulin, namun dimana pangkreas tetap menghasilkan insulin tetapi jumlah insulin yang diproduksi tidak cukup (Tarwoto, 2010).

Akibat tidak cukupnya insulin ini berakibat pada timbulnya masalah ketidakstabilan kadar glukosa dalam darah (SDKI, 2017). Peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) yang segera tidak ditangani akan berakibat pada koma diabetik (Nurarif, 2016). Selain mengalami koma diabetikum penderita juga bisa mengalami gangguan pada fungsi sel neutrofil dan monosit dalam pertahanan tubuh, akibatnya terjadi penurunan fungsi fagosit dalam merespon serangan infeksi kuman mycobacterium tubercolosis sehingga dapat memunculkan masalah keperawatan resiko infeksi (SDKI, 2017).

Terjadinya proses glikolisis pada protein akan menimbulkan komplikasi baik makrovaskuler maupaun mikrovaskuler. Gangren disebabkan oleh faktor utama yang berperan timbulnya adalah angiopati, neuropati dan infeksi. Adanya neuropati perifer akan menyebabkan gangguan sensorik maupun motorik. Gangguan sensorik akan menyebabkan menurunnya sensasi nyeri pada ektremitas/kaki sehingga akan mengalami trauma tanpa terasa yang mengakibatkan terjadinya luka (Jauhar, 2013).

Proses angiopati pada penderita DM berupa penyempitan dan penyumbatan pembulu darah perifer tungkai bawah terutama kaki, akibat perfusi jaringan bagian distal tungkai bawah berkurang menyebabkan deformabilitas eritrosit dan pelepasan oksigen akan terganggu, sehingga terjadi penyumbatan sirkulasi dan kekurangan oksigen mengakibatkan kematian jaringan yang selanjutnya askep diabetes melitus sdki gangren (Kartika, 2017) dan akan menimbulkan masalah keperawatan kerusakan jaringan integritas kulit (SDKI, 2017).

Penderita Diabetes Militus yang mengalami peningkatan kadar glukosa dalam darah tubuh berusaha untuk menyeimbangkan glukosa dalam darah dengan mekanisme glukosa oleh tubuh di keluarkan melalui ginjal, sehingga banyak glukosa dalam urin yang disebut glikosuria, glikosuria sendiri dapat menyebabkan diuretik osmotik yang menjadikan pasien Diabetes Militus selalu ingin kencing terus menerus (Tarwoto, 2010). Akibat dari seringnya kencing secara terus menerus penderita dapat mengalami resiko terjadi ketidakseimbangan elektrolit (SDKI, 2017).

1.1.5 Pathway Gambar 2. 1 Patofisiologi berdasarkan beberapa literatur (Masriadi, 2016) (Jauhar, 2013)(Kartika, 2017)(Nurarif, 2016). 1.1.6 Klasifikasi • Klasifiksi klinis • Diabetes Militus • Tipe tergantung insulin (DM Tipe I) IDDM ( insulin dependent diabetes militus) Disebabkan oleh distruksi sel beta pulau langerhans akibat proses autoimun.

• Tipe tidak tergantung pad insulin (DM Tipe II) NIDDM ( non insulin dependent diabetes militus) Disebabkan oleh kegagalan sel beta dan resistensi insulin. Resistensi insulin adalah turunya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati (Kusuma, 2016) • Diabetes Militus gastasional Diabetes gastasional adalah Diabetes Militus yang terjadi pada kehamilan dapat di diagnosa dengan menggunakan test toleran glukosa, terjadi kira kir 24 minggu kehamilan, Diabetes Militus gastsional 25% akan berkembang menjdi Diabetes Militus (Sudoyo, 2014) • Klasifikasi Resiko Statistik • Sebelumnya pernah menderita kelainan toleransi glukosa • Berpotensi menderita kelainan glukosa (Kusuma, 2016) • Klasifikasi kaki diabetik Menurut Wagner Meggit klasifikasi gangren/kaki diabetik dibagi menjadi enam tingkatan yaitu : Derajat 0 : tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh kemungkinan kelainan bentuk kaki seperti “claw, callus” Derajat I : ulkus superfisial terbatas pada kulit Derajat II : ulkum dalam menembus tendon tan tulang Derajat III : abses dalam atau tanpa osteomielitis Derajat IV : gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selulitis Derajat V : gangren seluruh kaki.

Sedangkan Brand dan Ward membagi gangren kaki menjadi dua golongan yaitu kaki diabetik akibat iskemia (KDI) yang disebabkan penurunan aliran darah ke tungkai akibat adanya makroangiopati dari pembuluh darah besar ditungkai dan kaki diabetik akibat neuropati (KDN) yang terjadinya kerusakan syaraf somatikdan otonomik, tidak ada gangguan dari sirkulasi. Klinis dijumpai kaki yang kering, hangat, kesemutan, mati rasa dan odem kaki (Taqiyyah Bararah, 2013).

1.1.7 Komplikasi Menurut (Bustan, 2015) komplikasi dari Diabetes Militus adalah • Komplikasi akut ditandai dengan : infeksi (karbunkel, gangren, pielonefritis) terjadi ketoasidosis diikuti koma • Komplikasi kronik berhubungan dengan kerusakan dinding pembulu darah yang menimbulkan aterosklerosis khas pada pembulu darah kecil dibagian ujung organ yang disebut mikroangiopati.

1.2 Konsep Dasar Manusia Pemenuhan Personal Hygiene Gangguan Kerusakan Integritas Jaringan Kulit 1.2.1 Definisi kulit Kulit adalah organ tubuh yang terbesar dan salah satu yang terpenting. Struktur kulit yang kompleks memberi banyak fungsi perlindungan bagi anatomi internal tubuh (Dingwall, 2010) 1.2.2 Anatomi kulit Setiap inci kulit mengandung jutaan sel dan ratusan kelenjar keringat, kelenjar minyak (sebasea), pembuluh darah dan ujung saraf.

Kulit terdiri atas tiga lapisan : epidermis, dermis dan jaringan subkutan. 1.2.3 Pengkajian keperawatan pada kaki Kaki mungkin mengalami stres dan ketegangan yang paling besar diantara bagian tubuh lainnya, seluruh bobot tubuh kita ditumpu oleh kaki dan mereka terus mengatasi tekanan tersebut.

Perawatan gangren memrlukan pendekatan multidisiplin. Jika intervensi keperawatan cukup adekuat untuk mempertahankan kesehatan kaki, psien akan rendah mengalami gangguan gangren sedangkan pasien lain yang mungkin beresiko tinggi akan mengurangi mobilitas yang membahayakan kesehatan mereka secara umum (Dingwall, 2010).

1.2.4 Penatalaksanaan Menurut (Maryuni, 2013) penatalaksanaan kaki diabetik dengan gangguan integritas jaringan kulit antara lain: • Persiapan alat dan bahan: • Gunting • Pinset • Alat ukur disposibel • Spidol • Dressing/balutan luka (hidrocolloid, balutan hidrofobik) • Kassa steril • Kassa gulung/roll • Plaster • Cairan NaCL 0,9% • Sabun pH rendah • Sarung tangan • Kantong plastik untuk tempat balutan bekas • Prosedur/penanganan • Buka balutan lama • Cuci luka dengan menggunakan cairan NaCL 0,9% dan sabun, serta bersihkan luka sampai bagian yang berlubang agar debris debris yang terdapat didalamnya terangkat • Setelah bersih, ukur panjang dan lebar luka menggunakan alat ukur disposible dan catat pada lembar pengkajian • Ukur kedalaman luka (undermining luka) dengan menggunakan pinset dan tanda dengan menggunakan spidol.

Selanjutnya ukur kedalaman tersebut sesuai yang dita ndai spidol dengan alat ukur disposible. • Karena bagian dalam jari yang berlubang masih banyak diselimuti oleh slough, derssing yang digunakan adalah balutan jenis hidrofobik yang dapat mengikat bakteri • Karena pada bagian punggung kaki tampak adanya edema dan berwarna kemerahan yang mengkilat, maka pada area tersebut dipasang/ digunakan jenis dressing hidrokoloid.

• Rasionalisasi penggunaan hidrokoloid pada area ini, antara lain: untuk mempertahankan luka dalam keadaan lembab, melindungi luka dari trauma, menghindari resiko infeksi dan mampu menyerap eksudat. • Pada gambaran ini juga tampak pada bagian ibu jari, ibu jari dilakukan pembalutan, setelah dipasang balutan hidrofobik (karena balutan hidrofobik, memerlukan balutan skunder atau balutan lain diatasnya sebagai penutup).

• Sementara itu, balutan hidrokoloid tidak membutuhkan balutan lain diatasnya sebagai penutup, cukup ditempelkan saja dan ganti balutannya apabila sudah bocor atau jenuh (tanda tidak mampu lagi menampung eksudat) • Lakukan pembalutan akhir dengan kassa yang cukup tebal agar dapat menampung eksudat maksimal dan fiksasi menggunakan kassa gulung. 1.3 Konsep Asuhan Keperawatan pada klien Diabetes Melitus dengan kerusakan integritas kulit 1.3.1 Pengkajian • Identitas Diabetes militus bisanya terjadi pada penderita diabetes yang telah mengalami gangren, yang sebagian besar banyak terdapat pada laki-laki dan kontrol gula darah yang buruk (Kartika, 2017).

• Status kesehtan saat ini • Keluhan utama • Saat masuk rumah sakit Adanya kesemutan pada kaki/tungkai bawah, adanya luka yang tidak sembuh sembuh dan berbau, adanya nyeri pada luka (Taqiyyah Bararah, 2013) • Saat pengkajian Penderita diabetes melitus mengeluhkan nyeri pada luka dan badan terasa sangt lemas, cepat lelah • Riwayat penyakit sekarang Adanya gatal pada kulit disertai luka yang tidak sembuh sembuh, kesemutan, meningkatnya nafsu makan, sering haus, banyak kencing dan menurunnya ketajaman penglihatan (Putri, 2015).

• Riwayat Kesehatan Terdahulu • Riwayat penyakit sebelumnya Adanya riwayat penyakit Diabetes Militus atau penyakit penyakit lain yang ada kaitannya dengan defisiensi insulin misalnya penyakit pankreas. Adanya riwayat penyakit jantung, obesitas, maupun aterosklerosis, tindakan medis yang pernah didapat maupun obat obatan yang biasanya digunakan oleh penderita (Taqiyyah Bararah, 2013). • Riwayat penyakit keluarga Dari genogram keluarganya biasanya terdapat salah satu anggota keluarga yang juga menderita Diabetes Militus atau penyakit keturunan yang dapat menyebabkan terjadinya defisiensi insulin misal hipertensi, jantung (Taqiyyah Bararah, 2013).

• Pemeriksaan Fisik • Keadaan umum • Kesadaran • Tanda-tanda fital • Pemeriksaan fisik persistem • Sistem pernafasan Frekuensi pernafasan meningkat, terdengar sura nafas tambahan, suara nafas menurun dan perubahan bunyi nafas (Padila, 2012).

• Sistem kardiovaskuler Biasanya terdengar suara krekels pada diabetes dengan gejala disritmia, takikardi (Padila, 2012).

• Sistem persyarafan Kesadaran pasien komposmentis, hingga koma, reflek tendon dalam, menurun, terdapat gangguan penglihatan, gangguan memori, mengantuk, kesemutan, parastesia (Padila, 2012). • Sistem penglihatan Pasien diabetes militus sistem penglihatannya terganggu, penglihatan kabur (Padila, 2012). • Sistem pendengaran Tidak ditemukan gangguan pada sistem pendengaran (Padila, 2012). • Sistem perkemihan Terdapat perubahan pola berkemih poliuria, nokturia, askep diabetes melitus sdki terdapat nyeri tekan, terkadang disertai pemasangan kateter pada klien, askep diabetes melitus sdki urin pekat dengan berbau khas urin (Padila, 2012).

• Sistem pencernaan Pasien biasanya diare, asites, abdomen keras dan nyeri saat ditekan, bising usus lemah (Padila, 2012). • Sistem moskulokelektal Penyebaran lemak, penyebaran masa otot, perubahan tinggi badan, cepat lelah, lemah, nyeri, adanya gangren di kaki (Padila, 2012).

• Sistem integumen Turgor kulit menurun, adanya luka atau warna kahitaman bekas luka, kelembapan dan suhu kulit di daerah sekitar ulkus pada gangren, kemerahan pada kulit sekitar luka dan terdapat nyeri tekan pada luka (Padila, 2012). • Sistem endokrin Pasien diabetes militus biasanya terdapatgangguan pada sistem endokrin, seperti hipoglikemi/hiperglikemi, polidipsi, poliuri, polifagi (Padila, 2012).

• Sistem reproduksi Masalah impoten pada pria, kesulitan orgasme pada wanita (Padila, 2012). • Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan askep diabetes melitus sdki pada pasien diabetes militus antara lain: • Kadar glukosa • Gula darah sewaktu random >200 mg/dl • Gula darah puasa/nuchter >140 mg/dl • Gula darah 2 jam PP (post prandial) >200 mg/dl • Aseton plasma didapatkan hasil positif mencolok • As lemak bebas didapatkan hasil peningkatan lipid dan kolesterol • Osmolaritas serum (>330 osm/I) • Urinalis didpatkan hasil: proteinuria, ketonuria, glukosuria (Putri, 2015).

• Penatalaksanaan Tujun utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam normal upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan terapeutik diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal.

Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes : • Diet • Syarat diet diabetes melitus hendaknya dapat: • Memperbaiki kesehatan askep diabetes melitus sdki penderita. • Mengarahkan pada berat badan normal • Menormalkan pertumbuhan Diabetes Melitus anak dan Diabetes Militus dewasa muda • Mempertahankan kadar gula darah normal • Menekan dan menunda timbulnya penyakit angiopati diabetic. • Memberikan motifasi diit sesuai dengan penyakit penderita. • Menarik dan mudah diberikan.

• Prinsip diit DM adalah: • Jumlah sesuai kebutuhan • Jadwal diet ketat • Jenis: boleh dimakan/tidak • Diit DM sesui dengan paket-paket yang telah disesuaikan dengan kandungan kalorinya. Dalam melaksanakan diit diabetes militus sehari-hari hendaklah diikuti pedoman 3J, JI yaitu: jumlah kalori yang diberikan harus habis dan jangan dikurangi atau ditambahi, J II : jadwal diit harus sesuai dengan intervalnya, J III : jenis makanan yang manis harus dihindari.

• Latihan Beberapa kegunaan latihan teratur setiap hari bgai penderita diabetes militus: askep diabetes melitus sdki Mencegah kegemukan apabila ditambah latihan pagi dan sore • Memperbaiki aliran darah dan menambah suplai oksigen • Meningkatkan kadar kolesterol • Menurunkan kolesterol (total) dan trigliserida dalam darah karena pembakaran asam lemak menjadi lebih baik • Pemantauan atau penyuluhan Penyuluhan kesehatan masyarakat rumah sakit adalah suatu bentuk penyuluhan kesehatan kepada penderita DM, melalui bermacam macam cara misalnya: leflet, poster, kaset vidio, diskusi kelompok.

• Obat • Tablet OAD (Obat Antidiabetes) • Sulfonilurea Obat ini merangsang sel beta pangkreas untuk memproduksi insulin • Hipoglikemik kuat Glibenkamid nama merek dagang, daonil dengan kesediaan 5 mg per tablet. Diberikan maksimal 3 tablet pagi dan siang • Untuk diabetes militus disertai kelainan ginjal dan hepar Glikuidin nama merek dagang glerenorm dengan sediaan 3 mg per tablet maksimal 4 tablet/hari berikan pagi dan sore • Antingiopati Gliklazid digunakan untuk komplikasi DM mikroangiopati, askep diabetes melitus sdki merek dagang diamicron sediaan 80 mg diberikan maksimal 4 tablet pagi dan siang • Hipoglikemik lemah tapi bekerja pada gangguan post resptor insulin glipizide dosis rendah misalnya minidiab dosis 2,5-20 mg diberikan pagi dan siang • Mekanisme kerja biguanida Biguanida tidak memiliki efek pangkreatik, tetapi mempunyai efek lain yang meningkatkan efektifitas insulin yaitu: • Biguanida pada tingkat preseptor ekstra pangkreatik • Menghambat absorsi karbohidrat • Menghambat gluconeogenesis dihati • Meningkatkan aktivitas pada reseptor insulin • Biguanida pada tingkat reseptor meningkatkan jumlah resptor insulin • Biguanida pada tingkat pasca reseptor mempunyai efek intraseluler • Insulin • Dosis insulin ditentukan berdasarkan pada : • Kebutuhan pasien, kebutuhan insulin meningkat pada keadaan sakit yang serius/parah, infeksi, menjalani oprasi dan masa pubertas • Pemberian insulin biasanya dimulai antara 0,5 dan 1 unit/Kg BB/hari • Kontrol gula darah • Pada stadium permulaan (sadar), diberikan gula murno 30 gram atau sirup gula murni dan makanan yang mengandung karbohidrat.

Obat hipoglikemik dihentikan sementara, glikosa darah sewaktu dipantau setiap 1-2 jam. Bila sebelumnya pasien tidak sadar, glukosa dalam darah dipertahankan sekitar 200 mg/dl. • Pada pasien stadium lanjut diberikan larutan dekstore 40% sebanyak 2 flakon bolus intravena dan diberikan cairan dekstore 10% per infus sebanyak 6 jam per kolf. Glukosa darah sewaktu diperiksa tiap 1-2 jam (Padila, 2012).

1.3.2 Diagnosa keperawatan • Gangguan integritas jaringan kulit berhubungan perubahan sirkulasi dengan ditandai dengan kerusakan jaringan Definisi : kerusakan kulit (dermis dan/ epidermis) atau jaringan (membran mukosa, kornea, fasia, otot, tendon, tulang, kartilago, kapsul sendi dan/ ligamen) Penyebab: • Perubahan sirkulasi • Perubahan status nutrisi (kelebihan atau kekurangn) • Neuropati perifer • Perubahan pigmentasi • Kurang terpapar informasi tentang upaya mempertahankan/melindungi integritas jaringan • Gejala dan tanda mayor • Subjektif: tidak tersedia • Objektif: kerusakan jaringan dan/atau lapisan kulit Gejala dan tanda minor • Subjektif: tidak tersedia • Objektif: nyeri, perdarahan, kemerahan, hematoma.

Kondisi klinis: Diabetes Militus (DM)(SDKI, 2017). • Ketidakstabilan kadar glukosa darah b.d ketidaktepatan pemantauan glukosa darah Definisi : Resiko terhadap variasi kadar glukosa darah dari rentang normal.

Faktor resiko: • Kurang terpapar informasi tentang manajemen diabetes militus • Ketidaktepatan pemantauan glukosa darah • Kurang patuh pada rencana manajemen diabetes militus • Manajemen medikasi tidak terkontrol • Periode pertumbuhan cepat • Stres berlebihan • Penambahan berat badan • Kurang dapat menerima diagnosis Kondisi klinis: Diabetes Militus (DM)(SDKI, 2017). • Resiko infeksi Definisi : beresiko mengalami peningkatan terserang organisme patogenik Faktor resiko : • Penyakit kronis (mis: DM) • Efek prosedur invasif Kondisi klinis : Diabetes Militus • Ketidakseimbangan cairan elektrolit berhubungan dengan ketidakseimbangan cairan Definisi : beresiko mengalami perubahan kadar serum elektrolit.

Faktor resiko • Ketidakseimbangan cairan (mis. Dehidrasi) • Kelebihan volume cairan • Gangguan mekanisme refulasi (mis. Diabetes militus) • Diare • Disfungsi ginjal Kondisi klinis terkait • Gagal ginjal • Diabetes militus (SDKI, 2017). 1.3.3 Intervensi Keperawatan • Gangguan integritas jaringan kulit Tujuan: • Menunjukan integritas jaringan: kulit dan membran mukosa,yang dibuktikan oleh indikatossr berikut: suhu, elastisitas, hidrasi, sensasi, perfusi jaringan, keutuhan kulit • Menunjukan penyembuhan luka: primer, yag dibuktikan oleh indikator berikut: penyatuan kulit, penyatuan ujung luka, pembentukan jaringan perut.

• Menunjukan penyembuhan luka: primer, yang dibuktikan oleh indikator berikut: eritena kulit sekitar, luka berbau busuk • Menunjukan penyembuhan luka:sekunder yang dibuktikan oleh indikator berikut: granulasi, pembentukan jaringan perut, penyusutan luka Kriteria hasil NIC: Kriteria hasil NOC: • Pasien atau keluarga menunjukan rutinitas perawatan kulit atau perawatan luka • Drainase purulen (atau lainnya) atau luka minimal • Tidak ada lapuh atau maserasi pada kulit • Nekrosis, selumur, lubang, perluasan luka kejaringan dibawah kulit atau pembentukan saluran sinus berkurang atau tidak ada • Eritema kulit dan eritema disekitar luka minimal Intervensi NIC: Aktivitas keperawatan • Pengkajian • Kaji fungsi alat-alat, seperti alat penurunan tekananan, meliputi kasur udara statis, terapi low air loss, terapi udara yang dicairkan dan kasur air • Perawatan area insisi (NIC): inspeksi adanya kemerahan, pembekakan atau tanda dehisensi atau eviserasi pada area insisi • Perawatan luka NIC • Inspeksi luka pada setiap ganti balutan • Kaji luka terhadap karakteristik berikut: • Lokasi, luas dan kedalaman • Adanya dan karakter eksudat, termasuk kekentalan warna dan bau • Ada atau tidaknya granulasi atau epitalialisasi • Ada atau tidaknya jaringan nekrotik, deskripsikan, warna.

• Ada atau tidaknya tanda-tanda infeksi luka setempat • Ada atau tidaknya perluasan luka ke jaringan dibawah kulit dan pembentukan saluran sinus • Aktivitas kolaboratif • Konsultasikan pada ahli gizi tentang makanan tinggi protein, mineral, kalori dan vitamin • Konsultasikan pada dokter tentang implementasi pemberian makanan dan nutrisi enteral atau parenteral untuk meningkatkan potensi penyembuhan luka • Rujuk keperawat tetapi enterostoma untuk mendapatkan bantuan dalam pengkajian, penentuan drajat luka dan dokumentasi perawatan luka atau kerusakan kulit • Perawatan luka NIC gunakan unit tens untuk peningkatan proses penyembuhan luka jika perlu • Aktivitas lain • Evaluasi tindakan pengobatan atau pembalutan topical yang dapat meliputi balutan hidrokoloid, balutan hidrofilik, bantuan absorben dan sebagainya • Lakukan perawatan luka atau perawatan kulit secara rutin yang meliputi: ubah dan atur posisi pasien secara langsung, pertahankan jaringan sekitar terbebas dari drainase dan kelembapan yang berlebihan • Lindungi pasien dari kontaminasi feses atau urin • Lindungi pasien dari eksresi luka lain dan ekskresi selang drain pada luka • Perawatan luka NIC • Lepas balutan dan plaster • Bersihkan dengan normal salin atau pembersih nontoksik jika perlu • Tempatkan area lukapada bak khusus • Lakukan perawatan ulkus kulit jika perlu • Atur posisi untuk mencegah penekanan pada luka jika perlu • Lakukan perawatan luka pada area infus IV, jalur hickman dan jalur vena sentral • Lakukan masase diarea sekitar luka untuk merangsang sirkulasi (Wilkinson, J.M, 2015).

• Ketidakstabilan kadar glukosa darah Kriteia hasil NOC: • Dapat mengontrol kadar glukosa darah • Pemahaman manajemen diabetes • Penerimaan kondisi kesehatan Intervensi NIC: Aktivitas keperawatan • Pengkajian • Kaji faktor yang dapat meningkatkan risiko ketidakseimbangan glukosa • Pantau kadar glukosa serum (dibawah 60 mg/dl menunjukan hipoglikemia diatas 300 mg/dl menunjukan hiperglikemi) sesuai dengan program atau protokol • Pantauan asupan dan haluaran • Pantau tanda-tanda hiperglikemi • Penyuluhan untuk pasien dan keluarga • Beri informasi mengenai diabetes • Beri informasi mengenai penerapan diit dan latihan fisik untuk mencapai keseimbangan kadar glukosa askep diabetes melitus sdki • Beri informasi mengenai obat-obatan yang digunakan untuk mengendalikan diabetes • Beri informasi mengenai penatalaksanaan diabetes selama sakit • Beri informasi mengenai pemantauan secara mandiri kadar glukosa dan keton jika perlu • Aktivitas kolaboratif • Kolaborasi dengan pasien dan tim diabetes untuk membuat perubahan dalam pengobatan jika perlu • Beritahu dokter jika tanda dan gejala hipoglikemia atau hiperglikemia terjadi dan tidak dapat dikembalikan dengan aktivitas mandiri • Aktivitas lain • Menejemen hipoglikemia (NIC) • Beri karbohidrat sederhana, sesuai indikasi • Beri karbohidrat kompleks dan protein, sesuai indikasi • Pertahankan askes intravena, jika perlu(Wilkinson, J.M, 2015).

• Resiko infeksi Tujuan • Penyebaran infeksi tidak terjadi Kriteria hasil • Klien menunjukkan tindakan personal untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi agen infeksi • Kadar serum albumin, Hb, dan glukosa darah dalam batas normal • Tidak terjadi tanda gejala infeksi seperti kalor, tumor, rubor, dolor, functiolaesa Intervensi Pengkajian • Kaji adanya tanda penyebaran infeksi pada luka • Pantau hasil laboratorium (mis., HDL, granulosit absolut, protein serum) • Kaji faktor yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi Penyuluhan untuk pasien/keluarga • Motivasi klien untuk menjaga kebersihan tubuh dan tempat tidur • Instruksikan untuk menjaga hiegine personal untuk melindungi tubuh terhadap infeksi • Anjurkan klien mematuhi program pengobatan Aktivitas kolaboratif • Kolaborasi dengan medis untuk pemberian antibiotic (Wilkinson, J.M, 2015).

• Resiko ketidakseimbangan elektrolit Tujuan :menunjukan keseimbangn elektrolit Kriteria hasil : • Tidak mengalami disritmia, kegelisahan atau parestesia • Asupan dan haluaran cairan akan seimbang Intervensi NIC Aktivitas keperawatan Pengkajian • Pantau tanda-tanda dan gejala ketidakseimbangan elektrolit yang relevan • Pantau kadar elektrolit serum • Catatan dan haluaran secara adekuat Penyuluhan :ajarkan gejala ketidakseimbangan elektrolit relevan Aktivitas kolaboratif • Pantau efek samping dan respond terapeutik terhadap elektrolit tambahan • Lakukan konsultsi dengan dokter jika askep diabetes melitus sdki elektrolit persistem atau memburuk Aktivitas lain • Berikan cairan jika perlu • Dorong asupan oral, letakkan cairan ditempat yang mudah dijangkau • Kontrol kehilangan elektrolit berlebihan (mis.

Mengistirahatkan usus) 1.3.4 Implementasi Keperawatan Implementasi yaitu suatu tindakan yang direncanakan dalam keperawatan. Tindakan ini mencakup tindakan mandiri dan kolaborasi. Tindakan mandiri (independen) yaitu aktivitas yang dilakukan oleh perawat yang didasarkan pada keputusan sendiri bukan dari petunjuk perintah dari petugas kesehatan lainnya.

Perencanaan yang dapat diimplementasikan antara lain: • Cara pengumpulan data harus berkesinambungan • Menentukan prioritas masalah • Bentuk untervensi keperawatan • Pendokumentasian asuhan keperawatan • Memberikan catatan keperawatan secara verbal • Mempertahankan dalam perencanaan pengobatan(Tarwoto, 2010).

1.3.5 Evaluasi Keperawatan Untuk mengevaluasi pasien dapat dilihat dari data hasil perkembangannya. Tujuannya untuk mencapai sejauh mana keberhasilan perawat dalam memberikan asuhn keperawatan.

Langkah untuk mengevaluasi pasien yaitu : mendaftar apa tujuan pasien, dan yang terakhir melakukan diskusi apakah tujuan pasien tercapai atau belum, apanila tujuan masih belum tercapai lakukan pengkajian ulang dimana letak terjadi kesalahannya dan cari solusinya (Tarwoto, 2010).

BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Desain yang digunakan dalam penelitian askep diabetes melitus sdki adalah studi kasus. Penelitian studi kasus adalah penelitian yang meneliti fenomena kontemporer secara utuh dan menyeluruh pada kondisi yang sebenarnya, dengan menggunakan berbagai sumber data.

Keuntungan menggunakan penelitian ini adalah pengkajian secara rinci meskipun jumlah pasiennya sedikit, sehingga akan didapatkan gambaran atau subyek unit secara jelas (Nursalam, 2013). Studi kasus ini adalah studi kasus untuk penelitian masalah Asuhan Askep diabetes melitus sdki yang mengalami Diabetes Militus dengan Kerusakan Integritas Jaringan Kulit di ruang kelas II RSUD Genteng Banyuwangi.

3.2 Batasan Istilah Diabetes Melitus merupakan golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah melebihi 150 mg/dl atau melebihi dalam batas normal diantara 70-150 mg/dl(Leonita & Muliani, 2015). Gangren adalah kondisi yang terjadi ketika jaringan tubuh mati, yang disebabkan hilangnya suplai darah karena penyakit yang mendasari, cedera atau infeksi (Haryono, 2019).

3.3 Partisipan Informasi atau partisipan dalam penelitian adalah orang yang benar-benar tahu dan menguasai masalah, penentuan sample atau informan (partisipan) dalam penelitian berfungsi untuk mendapatkan informasi yang maksimum (Moch. Imron, 2010). Partisipan akan penelitian ini adalah sebagai berikut: 3.3.1 Pasien Pasien dapat diperoleh data tentang objektif meliputi tanda dan gejala, pemeriksaan penunjang, dan pemeriksaan fisik.

3.3.2 Keluarga Data yang diperoleh dari keluarga meliputi genogram, riwayat penyakit keluarga, riwayat lingkungan, riwayat penyakit sekarang dan riwayat penyakit dahulu.

3.3.3 Petugas kesehatan • Perawat Data yang diperoleh dari perawat meliputi tentang keadaan dan kondisi pasien selama di rumah sakit atau kondisi saat pertama pasien datang ke rumah sakit. • Dokter Data yang diperoleh dari dokter meliputi terapi medis yang diberikan pada pasien, kronologi atau patofisiologi penyakit yang diderita pasien dan perkembangan kondisi pasien selama berada di rumah sakit • Petugas laboratorium atau radiologi Data yang diperoleh dari petugas laboratorium meliputi hasil pemeriksaan darah, kultur pus, dan urin.

Sedangkan pemeriksaan radiologi bisa diperoleh hasil pemeriksaan vaskuler. • Ahli gizi Dari ahli gizi diperoleh data tentang asupan diet yang harus diberikan pada pasien dengan gangren.

3.4 Lokasi dan waktu penelitian Studi kasus ini dilakukan selama 2 minggu di RSUD Genteng. Waktu penelitian dimulai pada tanggal 8 Juli sampai 20 Juli 2019 yaitu proses penyusunan Karya Tulis Ilmiah sampai studi kasus dari pertama kali pasien masuk rumah sakit sampai pasien pulang dan minimal perawatan 3 hari. 3.5 Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dalam penelitian adalah mendapatkan data.

Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu penilitian. Terdapat tiga macam teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi (Moch. Imron, 2010).

3.5.1 Wawancara Dalam metode ini peneliti akan melakukan wawancara guna untuk mengumpulkan data-data tentang anamnesis, identitas, keluhan utama, riwayat penyakit dan perubahan pola kesehatan. Sumber data didapat dari pasien, keluarga atau perawat (Moch. Imron, 2010) 3.5.2 Observasi Dalam metode ini peneliti akan melakukan observasi guna untuk mengumpulkan data-data tentang pengkajian fisik (IPPA) dan aktivitas sehari-hari pasien (Nursalam, 2013).

3.5.3 Studi dokumentasi Dalam metode ini peneliti akan melakukan studi dokumentasi yakni hasil dari pemeriksaan diagnostic dan data lain yang relevan baik bersifat tulisan atau gambaran (Nursalam, 2013). 3.6 Uji Keabsahan Data Peniliti melakukan askep diabetes melitus sdki beberapa cara untuk menjamin keebsahan data sehingga hasil penilitian ini benar benar dapat dipertanggung jawabkan. Salah satu yang peniliti lakukan untuk menjaga keebsahan data adalah dengan memperpanjang waktu pengamatan dan metode triangulasi.

3.6.1 Memperpanjang Waktu Pengamatan Memperpanjang waktu pengamatan ini, hubungan dengan narasumber akan semakin terbentuk, semakin akrab, saling percaya satu sama lain sehingga tidak ada kecurigaan. 3.6.2 Triangulasi Triangulasi dalam pengujian kredebilitas ini diartikan sebagai pengecekkan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan waktu (Nursalam, 2013).

Dan terdapat triangulasi sumber, teknik dan waktu • Triangulasi sumber Triangulasi sumber untuk menguji kreadibilitas data yang dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melaui beberapa sumber • Triangulasi teknik Triangulasi teknik untuk menguji kreadibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data pada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda • Triangulasi waktu Waktu juga sering mempengaruhi kreadibilitas data.

Data yang dikumpulkan dengan teknik wawancara dipagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, akan memberikan data yang lebih valid 3.7 Analisa Data Analisa data adalah mencari data dan disusun secara sistematis dari hasil wawancara, sehingga mudah dipahami dan di informasikan kepada orang lain (Nursalam, 2013).

3.7.1 Pengumpulan data Data dikumpulkan melaui hasil dari wawancara, observasi, dokumentasi. Hasil ditulis dalam bentuk catatan lapangan, kemudian ditulis dalam bentuk catatan terstruktur. 3.7.2 Mereduksi data Mereduksi data merupakan merangkum data, memilih hal-hal yang penting, memfokuskan pada hal-hal yang penting. Dengan demikian data yang telah dirangkum akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti melakukan pengumpulan data.

3.7.3 Penyajian data Dalam penelitian kualitatif, penyajian data dilakukan dalam bentuk tabel, gambar, bagan maupun tes naratif. 3.7.4 Kesimpulan Kesimpulan daam penelitian kualitatif adalah temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada.

Kemudian data dibahas dan dibandingkan dengan hasil-hasil penelitian yang lain secara teoritis dengan perilaku kesehatan. Data yang dikumpulkan dengan metode induksi yang berisi dengan data pengkajian, diagnosis, perencanaan, tindakan, dan evauasi. • Etika Penelitian 3.7.5 Informed consent (Persetujuan menjadi pasien) Merupakan cara persetujuan antar peneliti dan responden, penelitian dengan memberikan lembar persetujuan ( Informed consent). Dengan diberikan sebelum penelitian dilakukan, tujuannya agar subyek mengerti maksud dan tujuan penelitian, mengetahui dampaknya.

Jika subyek bersedia mereka harus menandatangani lembar persetujuan dan jika responden tidak bersedia maka peneliti harus menghormati hak responden.

3.7.6 Askep diabetes melitus sdki (Tanpa nama) Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak mencatumkan namanya pada lembar pengumpulan data, tetapi hanya memberi inisia atau kode.

3.7.7 Confidentialy Peneliti akan menjamin kerahasiaan dari hasil peneltian baik informasi maupun masalah-masalah lainnya yang telah dikumpukan dan hanya kelompok tertentu yang akan dilaporkan pada hasil penelitian

Seri Pembelajaran Perawat : ASKEP NYERI AKUT ( D.0077 )




2022 www.videocon.com