Malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun....

malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun....

Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 mengakibatkan…. A. Portugis menerapkan perdagangan monopoli B. pasukan dari Demak pimpinan Pati Unus tidak mau mendukung perjuangan rakyat Malaka C.

pedagang islam dari pelabuhan Aceh, Gresik dan Banten berpindah ke Malaka D. terjalin hubungan dagang antara Malaka dengan Demak E. pelabuhan pantai Barat Sumatera menjadi sepi Pembahasan: Pada tahun 1511, dibawah pimpinan Alfonso de Albuquerque, Portugis berhasil menaklukan Malaka.

Dampak dari jatuhnya Malaka ke tangan Portugis antara lain: • Portugis menerapkan monopoli perdagangan di Malaka • Portugis melarang pedagang islam berdagang di Malaka • Pedagang Islam kemudian melakukan perdagangan tidak melalui Malaka melainkan melalui Pantai Barat Sumatera sehingga menjadi semakin ramai.

• Berkembangnya berbagai pelabuhan yang ada di Indonesia seperti Aceh dan Banten • Terjadi perlawanan kerajaan di Nusantara terhadap kekuasaan Portugis di Malaka, contohnya yang dilakukan Sultan Iskandar Muda dari Aceh dan pasukan Demak yang dipimpin oleh Pati Unus. Untuk meteri lebih lanjut mengenai Kerajaan Kerajaan Islam di Indonesia silahkan link youtube berikut ini. Jika bermanfaat, jangan lupa subscribe, like, komen dan share. Terimakasih • • Katagori • Ayo Kerja • Barisan6 • IPS Terpadu • Kumpulan Soal • Masa Awal Kemerdekaan • Masa Demokrasi Liberal • Masa Demokrasi Terpimpin • Masa Hindu-Budha • Masa Islam • Masa Kolonial Barat • Masa Orde Baru • Masa Pendudukan Jepang • Masa Pergerakan Nasional • Masa Pra-Aksara • Masa Reformasi • Materi Daring Sejarah • Pakar Kejombloan • PembaTIK 2021 • Pemberontakan di Indonesia • Pendidikan • Perjuangan Bangsa Indonesia • Sejarah Dunia • Sejarah Indonesia • Soal EHB BKS Sejarah Peminatan • Soal IPS Terpadu • Soal OSN IPS • Soal PAS Sejarah • Soal PAT Sejarah • Soal Sejarah SMA • Soal Tes Wawasan Kebangsaan • Soal USBN IPS • Soal USBN Sejarah • soal UTBK Sejarah • Toeri-Teori • Uncategorized • Pos-pos Terbaru • Kisi Tes Potensi Akademi Pretest PPG 2022 Matapelajaran Sejarah • Sebelum keluarnya Undang Undang Agraria tahun 1870 • Peran Marthen Indey • Kontribusi Indonesia dalam OKI • Tokoh yang memprakarsai Gerakan Non Blok • Negara Pelopor ASEAN • Tokoh pendiri Dinasti Isyana • Fungsi peninggalan Megalitikum • Saluran malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun.

Islam di Indonesia • Dasar Teori Persia • Faktor pendorong adanya penjelajahan samudera • Bentuk pelaksanaan politik etis • Ciri perjuangan bangsa Indonesia sebelum tahun 1908 • Akhir dari Demokrasi Liberal • Tokoh Indonesia yang berjasa ikut mendirikan ASEAN • Pasal terkait jabatan presiden • Prinsip Gerakan Non Blok • Latar belakang pembentukan Romusa • Hasil Konferensi Meja Bundar • Kerajaan Islam di Pulau Sumatera • Isi Kapitulasi Kalijati • 3 Peserta Peraih Suara Terbesar Pemilu 1971 • Penyelesaian masalah Timor Timur • Asal usul nenek moyang Indonesia • Memilih Sumber • Partai yang tergabung dalam PDI • Provinsi Baru di Sulawesi Pasca Reformasi • Negara yang hadir dalam Konferensi Asia di New Delhi • Pengaruh Portugis dalam Bidang Kesenian • Gerakan bawah tanah masa pendudukan Jepang Jawaban A.

1511 menurut saya ini yang paling benar, karena kalau dibandingkan dengan pilihan yang lain, ini jawaban yang paling pas tepat, dan akurat. Jawaban B. 1522 menurut saya ini 100% salah, karena sudah melenceng jauh dari apa yang ditanyakan.

malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun....

Jawaban C. 1530 menurut saya ini juga salah, karena dari buku yang saya baca ini tidak masuk dalam pembahasan. Jawaban D. 1533 menurut saya ini salah, karena dari apa yang ditanyakan, sudah sangat jelas jawaban ini tidak saling berkaitan. Jawaban E. 1535 menurut saya ini salah, karena setelah saya cari di google, jawaban tersebut lebih tepat digunkan untuk pertanyaan lain. Kesimpulan Dari penjelasan dan pembahasan diatas, bisa disimpulkan pilihan jawaban yang benar adalah A.

1511 Jika masih punya pertanyaan lain, kalian bisa menanyakan melalui kolom komentar dibawah, terimakasih.
ASTALOG.COM – Kesultanan Malaka adalah sebuah Kerajaan Melayu yang pernah berdiri di Malaka, Malaysia. Seperti dilasir dari Artikelsiana, kerajaan ini didirikan oleh Parameswara, kemudian mencapai puncak kejayaan di abad ke 15 dengan menguasai jalur pelayaran Selat Malaka, sebelum ditaklukan oleh Portugal tahun 1511.

Kejatuhan Malaka ini menjadi pintu masuknya kolonialisasi Eropa di kawasan Nusantara. Kerajaan ini tidak meninggalkan bukti arkeologis yang cukup untuk dapat digunakan sebagai bahan kajian sejarah, namun keberadaan kerajaan ini dapat diketahui melalui Sulalatus Salatin dan kronik Cina masa Dinasti Ming.

Dari perbandingan dua sumber ini masih menimbulkan kerumitan akan sejarah awal Malaka terutama hubungannya dengan perkembangan agama Islam di Malaka serta rentang waktu dari pemerintahan masing-masing raja Malaka. Pada awalnya Islam belum menjadi agama bagi masyarakat Malaka, namun perkembangan berikutnya Islam telah menjadi bagian dari kerajaan ini yang ditunjukkan oleh gelar sultan yang disandang oleh penguasa Malaka berikutnya.

Pemerintahan dan Perkembangan Sosial Ekonomi: Di bawah pemerintahan Iskandar Syah, Kerajaan Malaka mengalami perkembangan pesat. Malaka menjadi pusat perdagangan dan perkembangan agama Islam di Asia Tenggara. Bandar Malaka ramai dikunjungi kapal-kapal dagang dari berbagai daerah.

Malaka menjadi bandar transito. Kehidupan rakyat pun makin makmur. PELAJARI: Pembentukan Sel Sperma Periode Kejayaan Portugis di Nusantara Kedatangan orang-orang Eropa pertama di kawasan Asia Tenggara pada awal abad XVI kadang-kadang dipandang sebagai titik penentu yang paling penting dalam sejarah kawasan ini. Pada abad XV bangsa Portugis merupakan salah satu bangsa yang mencapai kemajuan-kemajuan di bidang teknologi.

Bangsa Portugis telah dapat membuat kapal-kapal yang lebih layak dan canggih di bandingkan dengan kapal-kapal sebelumnya memungkinkan mereka melakukan sebuah pelayaran dan melebarkan kekuasaaan ke seberang lautan. Dengan alasan untuk menguasai impor rempah-rempah di kawasan Eropa, bangsa Portugis mencari daerah kawasan penghasil rempah-rempah terbaik.

Rempah-rempah di kawasan Eropa merupakan kebutuhan dan juga cita rasa. Selama musim dingin di Eropa, tidak ada salah satu cara pun yang dapat di jalankan untuk mempertahankan agar semua hewan-hewan ternak dapat tetap hidup.

Kerena itu banyak hewan ternak yang disembelih dan dagingnya kemudian harus di awetkan. Untuk itulah diperlukan sekali banyak garam dan rempah-rempah. Kerajaan Malaka Diserang Portugis Kesultanan Malaka, setelah mengalami kejayaan yang bisa dibilang tidak terlalu lama, akhirnya pada tahun 1511 diserang oleh tentara portugis di bawah pimpinan Afonso de Albuquerque, sedangkan kesultanan Malaka saat itu dipimpin oleh Sultan Mahmud Syah.

Serangan ke ibu kota Malaka tersebut dilakukan pada 10 Agustus 1511, hingga pada 24 Agustus 1511 Kesultanan Malaka berhasil ditaklukan Portugis. Sultan Mahmud Syah berhasil melarikan diri ke daerah Bintan dan menjadikan Bintan sebagai pusat pemerintahan baru dan menyusun kekuatan.

Setelah Malaka berhasil dikuasai portugis, maka kesultanan Demak pada bulan Januari 1513 mengirim pasukan untuk membebaskan Malaka dari cengkraman Portugis, Demak mengirim pasukan berkekuatan hingga 100 kapal, dengan kekuatan 5000 pasukan yang dipimpin oleh Patih Yunus. Tetapi serangan dari Demak tersebut berhasil dipatahkan oleh Portugis. Setelah berhasil menguasai Malaka, Portugis melakukan ekspansi (perluasan wilayah) ke wilayah sekitar Selat Malaka.

Pada bulan Juli 1514, pasukan Portugis yang saat itu dipimpin oleh de Albuquerque menyerang tanah Kampar dan berhasil menguasainya. Sehingga Raja Kampar terpaksa tunduk pada Portugis, Raja Kampar menyatakan kesediaan dirinya karena harus menjadi bawahan Portugis. PELAJARI: Gambar Nilai-nilai Persatuan dan Kesatuan di Sekolah Sultan Mahmud Syah setelah berhasil lolos dari penyergapan portugis, dan kembali menyusun kekuatan dalam menghadapi portugis.

Pada tahun 1518 hingga 1520 pasukan di bawah pimpinan Sultan Mahmud Syah berusaha menyerang Portugis, namun serangan ini berhasil dipatahkan oleh Portugis. Di sisi lain, Portugis terus memperkuat posisinya, hingga akhirnya sekutu dari Kesultanan Malaka yaitu Samudra Pasai, ditaklukan oleh Portugis pada tahun 1521. Masih di tahun yang sama, pasukan Portugal yang dibawah pimpinan de Albuquerque, menyerang balik wilayah Bintan dimana Sultan Mahmud Syah berada, tetapi serangan ini berhasil dipatahkan oleh pasukan dari Sultan Mahmud Syah.

Portugis kembali menyerang wilayah Bintan pada 23 Oktober 1526 dan berhasil menguasai Bintan. Sultan Mahmud Syah berhasil lolos dari penangkapan Portugis dan pergi ke Kampar, Sultan wafat dua tahun kemudian. Daftar isi • 1 Sejarah • 1.1 Perebutan Malaka • 1.2 Bandar Portugis di kawasan yang tak bersahabat • 1.3 Tindak balasan militer Tiongkok terhadap Portugal • 1.4 Boikot dan serangan balasan Tiongkok • 1.5 Penaklukan Belanda dan akhir Malaka Portugis • 2 Fortaleza de Malaca • 2.1 Gerbang • 2.2 Pembongkaran • 3 Kota Malaka pada era Portugis • 3.1 Tranqueira • 3.2 Yler • 3.3 Sabba • 4 Imigrasi Bangsa Portugis • 5 Pemerintahan Portugis di Malaka • 6 Referensi Sejarah [ sunting - sunting sumber ] Menurut sejarawan Portugis abad ke-16 Manuel Godinho de Erédia (1563-1623), situs kota lama Malaka mendapatkan namanya dari malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun.

prem, pohon penghasil buah yang tumbuh di sepanjang tepian sebuah sungai bernama Airlele (Ayer Leleh). Sungai Airlele konon bersumber dari Buquet China ( Bukit Cina). Erédia mencatat bahwa kota ini didirikan oleh Permicuri ( Parameswara) Raja pertama Malaka pada 1411. Perebutan Malaka [ sunting - sunting sumber ] Informasi lebih lanjut: Perebutan Malaka (1511) Kabar kemakmuran Malaka sampai pula ke telinga Raja Portugal Manuel I, maka diutuslah Admiral Diogo Lopes de Sequeira berlayar ke Malaka guna menjalin persekutuan dagang dengan penguasanya sebagai wakil Portugal di timur India.

Sequeira tiba di Malaka pada 1509 dan menjadi orang Eropa pertama yang memijakkan kakinya di Malaka sekaligus di Asia Tenggara. Mula-mula kedatangannya disambut baik oleh Sultan Mahmud Syah, namun tak lama kemudian kemalangan datang menyusul. [1] Persaingan umum di kalangan pemeluk Islam dan Kristen dikobarkan oleh sekelompok Muslim Goa di lingkungan istana setelah Goa ditaklukkan oleh Bangsa Portugis. [2] Komunitas dagang Muslim internasional meyakinkan Mahmud bahwa Bangsa Portugis adalah ancaman maut.

Oleh karena itu Mahmud kemudian menangkap beberapa anak buah Sequeira, membunuh sisanya, dan berupaya menyerang keempat kapal Portugis yang akhirnya sanggup meloloskan diri. Belajar dari pengalaman di India, Bangsa Portugis menyimpulkan bahwa penaklukanlah satu-satunya cara untuk dapat menancapkan kukunya di Malaka.

[1] Pada April 1511, Afonso de Albuquerque bertolak dari Goa menuju Malaka, membawa 1200 orang dengan tujuh belas atau delapan belas kapal. [1] Sang Raja Muda mengajukan sejumlah tuntutan, salah satunya adalah izin mendirikan sebuah benteng sebagai pos dagang Portugis di dekat kota. [2] Sultan menampik seluruh tuntutan, konflik tak terelakkan lagi, dan setelah bertempur selama 40 hari, Malaka pun jatuh ke tangan Portugis pada 24 Agustus.

Pertikaian sengit antara Sultan Mahmud dan puteranya Sultan Ahmad turut pula melemahkan pihak Malaka. [1] Selepas kekalahan Kesultanan Malaka pada 15 Agustus 1511 dalam peristiwa perebutan Malaka, Afonso de Albuquerque mulai berupaya membangun kubu pertahanan permanen guna mengantisipasi serangan balasan dari Sultan Mahmud.

Sebuah benteng dirancang dan dibangun mengungkungi sebuah bukit, menyusuri garis pantai, di tenggara muara sungai, menempati bekas lahan istana Sultan. Albuquerque tinggal di Malaka sampai November 1511 demi mempersiapkan pertahanan Malaka menghadapi segala bentuk serangan balasan dari orang-orang Melayu. [1] Sultan Mahmud Syah terpaksa harus mengungsi meninggalkan Malaka.

Bandar Portugis di kawasan yang tak bersahabat [ sunting - sunting sumber ] "Fábrica da Malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun. de Malaca: Intramuros Anno 1604" (Pembangunan Kota Malaka: Kawasan Dalam Benteng Tahun 1604) karya Manuel Godinho de Eredia. Sebagai pangkalan kerajaan niaga Kristiani Eropa pertama di Asia Tenggara, Malaka dikelilingi oleh banyak negara Muslim baru.

Selain itu, akibat kontak awal yang tak bersahabat dengan kekuasaan Melayu setempat, Malaka Portugis harus berhadapan dengan sikap permusuhan yang sengit. Kota ini bertahan digempur peperangan bertahun-tahun yang dikobarkan sultan-sultan Melayu demi menyingkirkan orang-orang Portugis dan kembali menduduki negerinya. Sultan Mahmud beberapa kali berusaha merebut kembali ibu kota Malaka.

Beliau mengimbau dukungan dari sekutunya Kesultanan Demak di Jawa yang, pada 1511, menanggapi dengan mengirimkan angkatan perang laut sebagai bala bantuan. Di bawah pimpinan Pati Unus, Sultan Demak, kerja sama Melayu–Jawa itu berakhir gagal dan sia-sia. Portugis balas menyerang membuat sultan terpaksa melarikan diri ke Pahang. Sultan kemudian bertolak ke Pulau Bintan, tempat beliau mendirikan ibu kota baru. Setelah memiliki pangkalan baru, sultan mulai menghimpun pasukan-pasukan Melayu yang tercerai-berai lalu mengatur sejumlah penyerbuan dan blokade untuk menggempur pihak Portugis.

Serangan yang bertubi-tubi datangnya membuat Portugis sangat menderita. Pada 1521, untuk kedua kalinya, Demak melancarkan peperangan guna membantu Sultan Melayu merebut kembali Malaka, namun juga berakhir gagal untuk kedua kalinya, bahkan merenggut nyawa Sultan Demak sendiri. Beliau kelak dikenang sebagai Pangeran Sabrang Lor atau Pangeran yang malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun.

( Laut Jawa) ke Utara ( Semenanjung Malaya). Serangan-serangan itu menjadikan Portugis yakin bahwa sultan yang tersingkir itu harus dibungkam. Berkali-kali Portugis berusaha menekan pasukan Melayu, namun barulah pada 1526 Portugis berjaya meluluhlantakkan Bintan. Sultan mundur ke Kampar di Riau, Sumatra, tempat beliau wafat dua tahun kemudian.

Beliau meninggalkan dua putera: Muzaffar Shah, dan Alauddin Riayat Shah II. Muzaffar Shah dijemput dan dijadikan raja oleh rakyat di utara semenanjung sehingga berdirilah Kesultanan Perak. Sementara putera Mahmud lainnya, Alauddin, mewarisi jabatan ayahandanya dan mendirikan ibu kota baru di selatan.

Wilayah kekuasaannya adalah Kesultanan Johor, penerus Malaka. Sultan Johor berulang kali berupaya merebut Malaka dari kekuasaan Portugis. Imbauan Sultan Johor yang disampaikan kepada Jawa pada 1550 ditanggapi oleh Ratu Kalinyamat, penguasa Jepara, dengan mengirimkan bala bantuan sebanyak 4.000 prajurit yang diangkut 40 kapal untuk merebut Malaka. Pasukan Jepara kemudian menyatukan kekuatan dengan pasukan persekutuan Melayu dan berhasil mengumpulkan sekitar 200 kapal perang sebagai persiapan penyerbuan.

Pasukan gabungan ini menyerbu dari utara dan merebut sebagian besar wilayah Malaka, namun Portugis mampu membalas dan memukul mundur para penyerangnya. Pasukan persekutuan Melayu dipukul mundur ke laut, sementara pasukan Jepara terus bertahan di darat dan baru mundur setelah para pemimpinnya dibantai.

Pertempuran berlanjut di pantai dan di laut sehingga lebih dari 2.000 prajurit Jepara terbunuh. Dua kapal Jepara didamparkan badai ke pantai Malaka menjadi mangsa Portugis. Hanya kurang dari setengah prajurit Jepara yang sanggup lolos meninggalkan Malaka. Pada 1567, Pangeran Husain Ali I Riayat Syah dari Kesultanan Aceh mengerahkan angkatan perang laut untuk memaksa Portugis meninggalkan Malaka, namun serangan ini pun akhirnya gagal.

Pada 1574 sebuah serangan gabungan dari Kesultanan Aceh dan pasukan Jawa dari Jepara kembali mencoba merebut Malaka dari Portugis, namun berakhir dengan kegagalan akibat kurangnya koordinasi. Bandar-bandar lain yang tumbuh menjadi saingan semisal Johor membuat para saudagar Asia tidak lagi berlabuh di Malaka sehingga kota itu mengalami kemunduran sebagai sebuah bandar niaga.

[3] Alih-alih mencapai ambisinya menguasai jaringan niaga Asia, Portugis justru menjadikannya kacau-balau.

Alih-alih terwujudnya sebuah bandar pusat pertukaran kekayaan Asia, ataupun sebuah negara Melayu pengendali Selat Malaka malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun.

menjadikannya aman bagi lalu-lintas niaga, yang timbul justru perdagangan yang terserak ke sejumlah bandar di antara pahit-getir peperangan di Selat. [3] Tindak balasan militer Tiongkok terhadap Portugal [ sunting - sunting sumber ] Informasi lebih lanjut: Fernão Pires de Andrade dan Tomé Pires Kesultanan Malaka adalah salah satu negara penyetor upeti sekaligus sekutu Dinasti Ming di Tiongkok.

Penaklukan Malaka oleh Portugal pada 1511 dibalas Tiongkok dengan perlakuan kejam terhadap orang-orang Portugis.

malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun....

Usai Penaklukan Malaka, Tiongkok menolak ditemui serombongan utusan Portugis. [4] Pemerintah Kekaisaran Tiongkok di Guangzhou memenjarakan dan menghukum mati banyak utusan diplomatik Portugis sesudah terlebih dahulu menyiksa mereka. Seorang duta Malaka telah memberi tahu pihak Tiongkok perihal perebutan Malaka oleh Portugis, yang ditanggapi Tiongkok dengan menunjukkan sikap permusuhan terhadap orang-orang Portugis.

Kepada pihak Tiongkok duta Malaka itu membeberkan tipu-muslihat Portugis, yakni menyamarkan rencana penaklukan dengan pura-pura berdagang, dan mengisahkan pula kesukaran yang dialaminya akibat dijajah Portugis. [5] Malaka berada di bawah perlindungan Tiongkok sehingga invasi Portugis itu membangkitkan murka Tiongkok.

[6] Akibat keluhan yang diajukan Sultan Malaka mengenai invasi Portugis kepada Kaisar Tiongkok, orang-orang Portugis disambut dengan sikap permusuhan oleh orang-orang Tionghoa tatkala mereka tiba di Tiongkok. [7] Keluhan Sultan itu telah menimbulkan "kesulitan besar" bagi orang-orang Portugis di Tiongkok.

[8] Orang-orang Tionghoa sangat "tidak ramah" terhadap Portugis. [9] Sultan Malaka yang berpangkalan di Bintan selepas mengungsi dari Malaka, mengirim pesan kepada pihak Tiongkok, yang ditimpali perilaku bandit dan tindak kekerasan Portugis di Tiongkok, menyebabkan pemerintah Tiongkok menghukum mati 23 orang Portugis dan menyiksa yang lain di penjara. Setelah Portugis menempatkan pos-pos dagang dan melakukan kegiatan-kegiatan perompakan serta pengeroyokan di wilayahnya, pihak Tiongkok membalas dengan menumpas tuntas Portugis di Ningbo dan Quanzhou.

[10] Pires, seorang duta dagang Portugis, adalah salah satu di antara orang-orang Portugis yang meninggal dalam penjara Tiongkok. [11] Sekalipun demikian, seiring perlahan membaiknya hubungan, dan setelah Portugis membantu melawan gerombolan perompak Wokou di sepanjang pesisir Tiongkok, pada 1557 Dinasti Ming akhirnya mengizinkan orang-orang Portugis untuk menetap di Makau dalam sebuah koloni dagang Portugis yang baru.

[12] Kesultanan Melayu Johor turut pula memperbaiki hubungannya dengan Portugis, bahkan maju berperang bersama mereka melawan Kesultanan Aceh. Boikot dan serangan balasan Tiongkok [ sunting - sunting sumber ] Para pedagang Tionghoa memboikot Malaka setelah jatuh ke tangan Portugis, beberapa orang Tionghoa di Jawa menyumbangkan kapal-kapal guna membantu upaya-upaya kaum Muslim merebut kembali Malaka dari Portugal.

Keterlibatan orang-orang Tionghoa Jawa dalam perebutan kembali Malaka diriwayatkan dalam "The Malay Annals of Semarang and Cerbon" (Sejarah Melayu Semarang dan Cerbon). [13] Saudagar-saudagar Tionghoa berdagang dengan orang-orang Melayu dan orang-orang Jawa, tidak dengan Portugis. [14] Penaklukan Belanda dan akhir Malaka Portugis [ sunting - sunting sumber ] Informasi lebih lanjut: Pertempuran Malaka (1641) Menjelang permulaan abad ke-17, Kompeni Belanda ( bahasa Belanda: Verenigde Oostindische Compagnie, VOC) mulai berani menantang kekuasaan Portugis di Timur.

Di masa itu, Portugis telah mengubah Malaka menjadi sebuah benteng yang tak tertembus, Fortaleza de Malaca, yang mengendalikan akses ke jalur-jalur pelayaran di Selat Malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun. dan perdagangan rempah-rempah di sana. Belanda mulai melakukan penerobosan wilayah dan serangan kecil-kecilan terhadap Portugis. Upaya bersungguh-sungguh yang pertama adalah pengepungan Malaka pada 1606 oleh armada VOC ketiga dari Holandia beranggotakan sebelas kapal, di bawah komando Admiral Cornelis Matelief de Jonge yang mengakibatkan pecahnya pertempuran malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun.

di Tanjung Rachado. Meskipun Belanda dibuat kabur kocar-kacir, lebih banyak korban berjatuhan di pihak armada Portugis yang dipimpin Martim Afonso de Castro, Raja Muda Goa, selain itu pertempuran ini mengakibatkan pasukan-pasukan Kesultanan Johor menjalin persekutuan dengan Belanda dan kelak juga dengan Kesultanan Aceh. Sekitar kurun waktu itu, Kesultanan Aceh telah tumbuh menjadi sebuah kekuatan regional dengan kesatuan angkatan laut yang mengagumkan dan menganggap Malaka Portugis sebagai ancaman laten.

Pada 1629, Iskandar Muda dari Kesultanan Aceh mengirim beberapa ratus kapal untuk menyerbu Malaka, akan tetapi misi itu mengalami kegagalan besar. Menurut catatan-catatan Portugis, dalam penyerbuan itu seluruh kapal Iskandar Muda dihancurkan dan sekitar 19.000 prajuritnya tewas.

Belanda bersama sekutu-sekutu pribuminya menyerang dan akhirnya merebut Malaka dari Portugis pada bulan Januari 1641. Upaya kerja sama Belanda-Johor-Aceh ini ampuh menghancurkan baluwarti terakhir malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun. Portugis, sehingga meredupkan pengaruh mereka di kawasan kepulauan itu.

Belanda menduduki kota Malaka, namun tidak berniat menjadikannya pangkalan utama, dan malah bertekun membangun Batavia (sekarang Jakarta) sebagai pusat jaringan dagangnya di belahan dunia Timur. Bandar-bandar Portugis di wilayah-wilayah penghasil rempah-rempah di Maluku juga jatuh ke tangan Belanda pada tahun-tahun berikutnya. Akibat penaklukan-penaklukan ini, luas jajahan Portugis di Asia menyusut hingga terbatas pada Timor Portugis, Goa, Daman dan Diu di India Portugis, serta Makau sampai abad ke-20.

Fortaleza de Malaca [ sunting - sunting sumber ] Porta de Santiago sekarang ini. Cikal bakal tatanan pertahanan Kota Malaka adalah sebuah menara berbentuk persegi yang dinamakan Fortaleza de Malaca. masing-masing sisinya selebar 10 depa dan setinggi 40 depa, berdiri di kaki bukit pertahanan, sebelah-menyebelah dengan lautan. Mulai dari sisi timurnya dibangun tembok melingkar dari mortar dan batu, dan di tengah-tengah halaman bertembok itu digali pula sebuah sumur.

Dari tahun ke tahun, tembok dibangun sampai akhirnya mengelilingi seluruh bukit pertahanan. Benteng berbentuk segi lima mula-mula dibangun di titik terjauh dari tanjung di sebelah tenggara muara sungai menuju ke sebelah barat Fortaleza.

Pada titik ini dibangun dua tembok pertahanan yang membentuk sudut siku-siku dan menyusuri garis pantai. Yang satu dibangun sepanjang 130 depa ke arah utara menuju muara sungai dan berakhir di baluwarti São Pedro, sementara yang lain dibangun sepanjang 75 depa ke arah timur, menyusuri malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun. pantai, dan berujung di gerbang dan selekoh Santiago. Dari selekoh São Pedro, tembok berbelok ke arah timur-laut sepanjang 150 depa, melewati gerbang Pelataran Rumah Cukai dan berakhir pada titik paling utara dari benteng, yakni selekoh São Domingos.

Dari gerbang São Domingos, dibangun tembok pertahanan dari timbunan tanah sepanjang 100 depa ke arah tenggara sampai ke selekoh Madre de Deus.

Dari sini, mulai dari gerbang Santo António, pembangunan diteruskan melewati selekoh Onze Mil Virgens hingga berakhir di gerbang Santiago. Panjang keseluruhan tembok pertahanan mencapai 655 depa ditambah sedepa kurang 10 tapak tangan. Gerbang [ sunting - sunting sumber ] Benteng Kota Malaka memiliki empat gerbang; • Porta de Santiago • Gerbang Pelataran Rumah Cukai • Porta de São Domingos • Porta de Santo António Dari empat gerbang ini hanya dua yang terbuka untuk umum: Gerbang Santo António yang membuka akses ke kawasan pemukiman Yler, dan gerbang barat di Pelataran Rumah Cukai yang membuka akses menuju Tranqueira beserta Bazaar-nya.

Pembongkaran [ sunting - sunting sumber ] Setelah tegak selama hampir 300 tahun, pada 1806, bangsa Inggris yang enggan merawat Benteng dan juga khawatir kekuatan-kekuatan Eropa lain akan menguasainya, memerintahkan untuk membongkarnya sedikit demi sedikit. Benteng Malaka nyaris lenyap tak berbekas andai tak dihalangi Sir Stamford Raffles yang berkunjung ke Malaka pada 1810.

Yang tersisa dari benteng Portugis pertama di Asia Tenggara ini hanyalah Porta de Santiago, yang kini dikenal dengan sebutan A Famosa. Kota Malaka pada era Portugis [ sunting - sunting sumber ] Di luar pusat kota yang dilingkungi benteng, berdiri tiga perkampungan. Yang pertama adalah Upe (Upih), lazim disebut Tranqueira (sekarang Kampung Tengkera) yang berarti dinding pertahanan. Dua perkampungan lainnya adalah Yler ( Hilir) atau Tanjonpacer ( Tanjung Pasir), dan Sabba.

Tranqueira [ sunting - sunting sumber ] Benteng Tranqueira di Malaka, karya Carl Friedrich Reimer, 1786. Tranqueira adalah pemukiman suburban Malaka yang terpenting. Perkampungan ini berbentuk persegi panjang, dengan tembok pertahanan di batas utaranya, Selat Malaka sebagai batas selatannya, serta Sungai Malaka ( Rio de Malaca) dan tembok fortaleza menjadi batas timurnya.

Tranqueira adalah kawasan pemukiman utama Kota Malaka. Sekalipun demikian, bilamana perang meletus, warga Tranqueira akan diungsikan ke dalam benteng. Tranqueira dibagi menjadi dua paroki, São Tomé dan São Estêvão.

Paroki São Tomé juga dikenal dengan nama Campon Chelim ( bahasa Melayu: Kampung Keling) karena mayoritas penghuninya adalah Orang Keling atau warga pendatang dari Kerajaan Kalingga di pesisir Pantai Koromandel.

Paroki São Estêvão juga dinamakan Campon China ( Kampung Cina). Manuel Godinho de Erédia (1563-1623) mencatat bahwa di kawasan ini rumah-rumah terbuat dari kayu akan tetapi beratap genting. Sebuah jembatan batu dikawal prajurit melintas di atas sungai Malaka, menjadi jalan masuk ke dalam Benteng melalui Pelataran Rumah Cukai.

Pusat niaga Malaka juga bertempat di Tranqueira, berdekatan dengan pantai di muara sungai, dan dijuluki Bazaar dos Jaos (Pasar Orang Jawa). Kawasan ini sekarang dikenal sebagai Kampung Tengkera. Yler [ sunting - sunting sumber ] Kawasan Yler ( Hilir) kurang lebih meliputi Buquet China ( Bukit Cina) dan pesisir tenggara.

Sumur di Buquet China adalah salah satu sumber air utama bagi warganya. Tengaran yang menonjol di kawasan ini meliputi Gereja Madre De Deus dan Biara Kapusin São Francisco.

Tengaran menonjol lainnya adalah Buquetpiatto ( Bukit Piatu). Batas-batas pemukiman tak bertembok ini konon merentang sejauh Buquetpipi dan Tanjonpacer. Tanjonpacer ( bahasa Melayu: Tanjung Pasir) kelak dinamakan Ujong Pasir. Kini di Malaka, di kawasan ini masih terdapat sebuah komunitas keturunan para pendatang Portugis. Perkampungan Yler saat ini dikenal dengan nama Banda Hilir. Reklamasi daratan di zaman modern (dengan tujuan pembangunan kawasan niaga Melaka Raya) telah melenyapkan akses ke laut yang dahulu dimiliki Banda Hilir.

Sabba [ sunting - sunting sumber ] Rumah-rumah di perkampungan ini dibina menyusuri tepian sungai. Beberapa pribumi Melayu Muslim, penghuni asli Kota Malaka, mendiami rawa-rawa yang ditumbuhi pohon Nypeiras, tempat mereka membuat arak Nypa ( Nipah) melalui proses penyulingan untuk diperdagangkan.

malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun....

Perkampungan ini dianggap sebagai kawasan hunian terjauh dari kota, karena merupakan kawasan peralihan menuju pedalaman Malaka, tempat melintas kayu dan arang yang dibawa masuk ke Kota. Beberapa paroki juga berlokasi di luar kota di sepanjang sungai; São Lázaro, Nossa Senhora de Guadalupe, dan Nossa Senhora da Esperança. Orang-orang Melayu Muslim mendiami lahan-lahan pertanian yang jauh masuk ke pedalaman. Kelak pada era Belanda, Inggris, dan kemudian Kota Malaka modern, nama Sabba terabai dan terlupakan.

Sekalipun demikian, di masa lampau perkampungan ini meliputi kawasan-kawasan yang kini dikenal sebagai Banda Kaba, Bunga Raya, Kampung Jawa, dan pusat Kota Malaka modern. Imigrasi Bangsa Portugis [ sunting - sunting sumber ] Bangsa Portugis juga mengirim banyak Órfãs d'El-Rei ke negeri-negeri jajahannya di Afrika, India, dan juga ke Malaka.

Secara harfiah Órfãs d'El-Rei berarti "Yatim-Piatu Raja", yakni gadis-gadis yatim-piatu Portugis yang dikirim ke negeri-negeri jajahan di seberang lautan untuk menikah baik dengan warga pendatang Portugis maupun dengan pribumi berderajat mulia. Pemerintahan Portugis di Malaka [ sunting - sunting sumber ] Penyelenggara pemerintahan Portugis di Malaka adalah seorang Capitão-mor (Kapitan-mayor, Pemimpin Besar) yang ditunjuk untuk menjabat selama tiga tahun, seorang Uskup beserta para pejabat gereja yang menandakan keberadaan komunitas Kristen setingkat keuskupan di Malaka, dan para pejabat kotapraja, yakni pegawai-pegawai Kerajaan Portugal yang menangani urusan keuangan dan kehakiman beserta seorang petinggi pribumi berpangkat Bendahara untuk mengatur penduduk muslim pribumi dan warga asing yang bertempat tinggal di dalam wilayah hukum Portugis.

Kapitan-Mayor Malaka (1512–1641) Kapitan-mayor Mulai Sampai Rui de Brito Patalim 1512 1514 Jorge de Albuquerque malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun. pertama) 1514 1516 Jorge de Brito 1516 1517 Nuno Vaz Pereira 1517 1518 Afonso Lopes da Costa 1518 1519 Garcia de Sá (kali pertama) 1519 1521 Jorge de Albuquerque (kali kedua) 1521 1525 Pero de Mascarenhas 1525 1526 Jorge Cabral 1526 1528 Pero de Faria 1528 1529 Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ a b c d e Ricklefs, M.C.

(1991).

malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun....

A History of Modern Indonesia since c. 1300, Edisi ke-2. London: MacMillan. hlm. 23. ISBN 0-333-57689-6. • ^ a b Mohd Fawzi bin Mohd Basri; Mohd Fo'ad bin Sakdan; Azami bin Man (2002). Kurikulum Bersepadu Sekolah Menengah Sejarah Tingkatan 1.

Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. hlm. 95. ISBN 983-62-7410-3. • ^ a b Ricklefs, M.C. (1991). A History of Modern Indonesia since c. 1300, Edisi ke-2. London: Macmillan. hlm. 23–24. ISBN 0-333-57689-6. • ^ Kenneth Warren Chase (2003). Firearms: a global history to 1700 (edisi ke-illustrated). Cambridge University Press. hlm. 142. ISBN 0-521-82274-2. Diakses tanggal 14 December 2011. Portugis menghabiskan waktu beberapa tahun, mencoba menjalin hubungan resmi dengan Tiongkok, tetapi Malaka sudah lama menjadi bagian dari tatanan penyetoran upeti Tiongkok, dan pihak Tiongkok akhirnya tahu mengenai serangan Portugis, sehingga menjadi curiga.

Perutusan itu secara resmi ditolak pada 1521. • ^ Nigel Cameron (1976). Barbarians and mandarins: thirteen centuries of Western travelers in China. Volume 681 of A phoenix book (edisi ke-illustrated, reprint).

University of Chicago Press. hlm. 143.

malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun....

ISBN 0-226-09229-1. Diakses tanggal 18 July 2011. sang duta, dengan sangat efektif mencurahkan kisah kemalangannya, tentang kesukaran hidup dalam penjajahan Portugis di Malaka; ia menguatkan kisahnya dengan kisah-kisah lain tentang tindakan-tindakan keji Portugis di Maluku, sehingga (dengan cukup jujur) meyakinkan orang bahwasanya kunjungan-kunjungan niaga Eropa hanya permulaan belaka dari perampasan wilayah.

Dengan sedikitnya kekuatan laut yang saat itu dimiliki Tiongkok • ^ Zhidong Hao (2011). Macau History and Society (edisi ke-illustrated). Hong Kong University Press. hlm. 11. ISBN 988-8028-54-5. Diakses tanggal 14 December 2011. Pires datang sebagai seorang duta besar ke Beijing untuk merundingkan syarat-syarat dan ketentuan dagang dengan Tiongkok.

Ia berhasil sampai ke Beijing, tetapi misinya gagal karena pertama-tama, ketika Pires berada di Beijing, Sultan Malaka yang terguling dari tahtanya juga mengirim seorang duta ke Beijing untuk mengadukan serangan dan penaklukan Portugis atas Malaka kepada kaisar. Malaka berada di bawah naungan perlindungan Tiongkok ketika Portugis merebutnya. Tentu saja Tiongkok tidak bersuka hati atas apa yang diperbuat Portugis di sana.

• ^ Ahmad Ibrahim, Sharon Siddique, Yasmin Hussain, ed. (1985). Readings on Islam in Southeast Asia. Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 11. ISBN 9971-988-08-9. Diakses tanggal 18 July 2011. di Tiongkok situasi jauh dari bersahabat; ini tampaknya berkaitan dengan keluhan penguasa Malaka, yang ditaklukkan Portugis pada 1511, ke hadapan kaisar Tiongkok, pelindungnya. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list ( link) • ^ John Horace Parry (June 1, 1981).

The discovery of the sea. University of California Press. hlm. 238. ISBN 0-520-04237-9. Diakses tanggal 14 December 2011. In 1511 . Alboquerque sendiri bertolak .

untuk menyerang Malaka . Sultan Malaka mengungsi ke pesisir, untuk kemudian memapankan diri di rawa-rawa Johor, dari situ ia mengirimkan tuntutan-tuntutan untuk dibela kepada pelindungnya yang jauh, Kaisar Tionghoa. Petisi-petisi itu di kemudian hari membuat Portugis, yang sedang berupaya mendapatkan izin berdagang di Kanton, mengalami kesulitan yang besar • ^ John Horace Parry (June 1, 1981). The discovery of the sea. University of California Press.

hlm. 239. ISBN 0-520-04237-9. Diakses tanggal 14 December 2011. Bila Portugis mencoba untuk masuk, dengan kapal-kapal milik mereka, ke Kanton itu sendiri, sambutan pemerintah Tiongkok—yang patut dimaklumi, mengingat reputasi mereka di Malaka—tidaklah ramah, dan setelah lewat beberapa dasawarsa barulah mereka mendapatkan tempat berpijak di Makau. • ^ Ernest S. Dodge (1976). Islands and Empires: Western Impact on the Pacific and East Asia.

Jilid 7 : Europe and the World in Age of Expansion. U of Minnesota Press. hlm. 226. ISBN 0-8166-0853-9. Diakses tanggal 18 July 2011. Sepak-terjang Portugis yang tak termaafkan, digabungkan dengan kecerobohan pemilihan kata dalam surat-surat yang diajukan Pires kepada kaisar langit, ditambah dengan peringatan dari Sultan Melayu di Bintan, meyakinkan pihak Tiongkok bahwasanya Pires benar-benar berniat jahat • ^ Kenneth Scott Latourette (1964).

The Chinese, their history and culture, Jilid 1–2 (edisi ke-4, reprint). Macmillan. hlm. 235. Diakses tanggal 18 July 2011. Penguasa Muslim Malaka, yang mereka gulingkan dari tahta, mengadukan mereka ke pemerintah Tiongkok. Seorang utusan Portugis, Pires, yang sampai ke Peking pada 1520 dianggap sebagai mata-mata, dan dipindahkan dengan titah kekaisaran ke Kanton • ^ Wills, John E., Jr.

(1998). "Relations with Maritime Europe, 1514–1662," dalam The Cambridge History of China: Jilid 8, The Ming Dynasty, 1368–1644, Bagian 2, 333–375. Malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun. oleh Denis Twitchett, John King Fairbank, dan Albert Feuerwerker.

malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun....

New York: Cambridge University Press. ISBN 0-521-24333-5, 343-344. • ^ C. Guillot, Denys Lombard, Roderich Ptak, ed. (1998). Dari Mediterania ke Laut Tiongkok: berbagai catatan. Otto Harrassowitz Verlag. hlm. 179. ISBN 3-447-04098-X. Diakses tanggal 14 December 2011. Para penulis Tionghoa berpendapat bahwa, orang-orang Tionghoa-Malaka tidaklah diperlakukan dengan baik oleh Portugis .

lazimnya memang kapal-kapal Tionghoa cenderung menghindari Malaka setelah 1511, malahan berlayar ke bandar-bandar lain. Agaknya sebagian besar bandar-bandar ini terletak di pesisir timur semenanjung Malaya dan di Sumatera. Johor, di pelosok selatan semenanjung, adalah tempat lain yang menjadi tujuan banyak orang Tionghoa .

Selepas 1511, banyak orang Tionghoa yang adalah orang-orang Muslim bersekutu dengan pedagang-pedagang Islam lain menentang Portugis; menurut Malay Annals of Semarang and Cerbon, warga Tionghoa yang menetap di pesisir utara Jawa terlibat dalam serangan-serangan balasan atas Malaka. Kapal-kapal Jawa memang dikirim namun mengalami kekalahan telak.

Demak dan Jepara saja kehilangan lebih dari tujuh puluh kapal. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list ( link) • ^ Peter Borschberg, National University of Singapore. Faculty of Arts and Social Sciences, Fundação Oriente (2004). Peter Borschberg, ed. Iberians in the Singapore-Melaka area and adjacent regions (16th to 18th century). Jilid 14 : South China and maritime Asia (edisi ke-illustrated).

Otto Harrassowitz Verlag. hlm. 12. ISBN 3-447-05107-8. Diakses tanggal 14 December 2011. tetap saja yang lain menarik diri guna melanjutkan usaha dagang dengan orang-orang Jawa, Melayu, dan Gujarat.Bilamana dunia Islam mempertimbangkan untuk melancarkan serangan balasan terhadap Melaka Portugis, beberapa warga Tionghoa agaknya menyiapkan kapal-kapal dan modal.

Orang-orang Tionghoa ini, berasal baik dari Fujian ataupun daerah lain, mungkin adalah keturunan Muslim. Kelompok ini agaknya terdiri atas faksi-faksi kecil yang mengungsi dari Campa setelah krisis tahun 1471. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun.

link) • Halaman ini terakhir diubah pada 30 November 2021, pukul 03.38. • Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.

• Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
Didahului oleh Diganti oleh Kesultanan Melayu Melaka Melaka Belanda Melaka Portugis merupakan kawasan jajahan Empayar Portugis yang ditadbir merangkumi kawasan Melaka moden selama 130 tahun (1511-1641). Dengan jatuhnya Kesultanan Melayu Melaka pada 15 Ogos 1511, Afonso de Albuquerque cuba mendirikan benteng/kubu pertahanan untuk melawan serangan Sultan Mahmud Shah.

Maka terbinalah Fortaleza de Malaca. Isi kandungan • 1 Sejarah • 1.1 Perebutan Melaka • 1.2 Bandar Portugis di kawasan yang tak bersahabat • 1.3 Tindak balas tentera Cina terhadap Portugal • 1.4 Boikot dan serangan balasan China • 1.5 Penaklukan Belanda dan akhir Melaka Portugis • 2 Fortaleza de Malaca • 2.1 Gerbang • 2.2 Pembongkaran • 3 Pembinaan • 3.1 Tranqueira • 3.2 Yler • 3.3 Sabba • 4 Imigrasi Bangsa Portugis • 5 Pemerintahan Portugis di Melaka • 5.1 Senarai Kapten-Mejar Melaka ( Capitão-mor de Malacca) • 6 Rujukan Sejarah [ sunting - sunting sumber ] Menurut sejarawan Portugis abad ke-16 Manuel Godinho de Erédia (1563-1623), tempat kota lama Melaka mendapatkan namanya dari pokok melaka yang tumbuh di sepanjang tepian sebuah sungai bernama Airlele (Ayer Leleh).

Sungai Airlele konon bersumber dari Buquet China ( Bukit Cina). Erédia mencatat bahawa kota ini didirikan oleh Permicuri ( Parameswara), yakni raja pertama kesultanan ini pada 1411. Malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun. Melaka [ sunting - sunting sumber ] Maklumat selanjutnya: Penaklukan Melaka (1511) Khabar kemakmuran Melaka sampai ke telinga Raja Portugal Manuel I, maka diutuslah Laksamana Diogo Lopes de Sequeira berlayar ke Melaka guna menjalin persekutuan dagang dengan penguasanya sebagai wakil Portugal di timur India.

Sequeira tiba di Melaka pada 1509 dan menjadi orang Eropah pertama yang memijakkan kakinya di Melaka sekaligus di Asia Tenggara. Mula-mula kedatangannya disambut baik oleh Sultan Mahmud Syah, namun tidak lama kemudian kemalangan datang menyusul. [1] Persaingan umum antara kalangan pemeluk Islam dan Kristian dikobarkan oleh sekelompok Muslim Goa di lingkungan istana setelah Goa ditaklukkan oleh bangsa Portugis. [2] Komunitas dagang Muslim internasional meyakinkan Mahmud bahawa bangsa Portugis ini dapat mendatangkan ancaman maut.

Oleh kerana itu Mahmud kemudian menangkap beberapa anak buah Sequeira, membunuh sisanya, dan berupaya menyerang keempat kapal Portugis yang akhirnya sanggup meloloskan diri. Pihak Portugis mempelajari dari pengalaman mereka di India bahawa penaklukanlah satu-satunya cara untuk dapat menancapkan kukunya di Melaka. [1] Pada April 1511, Afonso de Albuquerque bertolak dari Goa menuju Melaka, membawa 1200 orang askar dengan tujuh belas atau lapan belas kapal. [1] Sang Raja Muda mengajukan sejumlah tuntutan, salah satunya adalah izin mendirikan sebuah benteng sebagai pos dagang Portugis di dekat kota.

[2] Sultan menampik seluruh tuntutan, konflik tak terelakkan lagi, dan setelah bertempur selama 40 hari, Melaka pun jatuh ke tangan Portugis pada 24 Ogos. Pertikaian sengit antara Sultan Mahmud dan puteranya Sultan Ahmad turut pula melemahkan pihak Melaka. [1] Selepas kekalahan Kesultanan Melaka pada 15 Ogos 1511 dalam peristiwa perebutan Melaka, Afonso de Albuquerque mulai berupaya membangun kubu pertahanan kekal guna bersiap menghadapi serangan balasan dari Sultan Mahmud.

Sebuah benteng dirancang dan dibangun mengungkungi sebuah bukit, menyusuri garis pantai, di tenggara muara sungai, menempati bekas lahan istana Sultan. Albuquerque tinggal di Melaka sampai November 1511 demi mempersiapkan pertahanan Melaka menghadapi segala bentuk serangan balasan dari orang-orang Melayu.

[1] Sultan Mahmud Syah terpaksa harus melarikan diri meninggalkan Melaka. Bandar Portugis di kawasan yang tak bersahabat [ sunting - sunting sumber ] "Fábrica da Cidade de Malaca: Intramuros Anno 1604" (Pembangunan Kota Melaka: Kawasan Dalam Benteng Tahun 1604) karya Manuel Godinho de Eredia.

Sebagai pangkalan kerajaan niaga Kristiani Eropa pertama di Asia Tenggara, Melaka dikelilingi oleh banyak negara Muslim baru. Selain itu, akibat kontak awal yang tak bersahabat dengan kekuasaan Melayu setempat, Melaka Portugis harus berhadapan dengan sikap permusuhan yang sengit. Kota ini bertahan digempur peperangan bertahun-tahun yang dikobarkan sultan-sultan Melayu demi menyingkirkan orang-orang Portugis dan kembali menduduki negerinya.

Sultan Mahmud beberapa kali berusaha merebut kembali ibu kota Melaka. Beliau mengimbau dukungan dari sekutunya Kesultanan Demak di Jawa yang, pada 1511, menanggapi dengan mengirimkan angkatan perang laut sebagai bala bantuan. Di bawah pimpinan Pati Unus, Sultan Demak, kerja sama Melayu–Jawa itu berakhir gagal dan sia-sia.

Portugis balas menyerang membuat sultan terpaksa melarikan diri ke Pahang. Sultan kemudian bertolak ke Pulau Bintan, tempat beliau mendirikan ibu kota baru. Setelah memiliki pangkalan baru, sultan mulai menghimpun pasukan-pasukan Melayu yang tercerai-berai lalu mengatur sejumlah penyerbuan dan blokade untuk menggempur pihak Portugis. Serangan yang bertubi-tubi datangnya membuat Portugis sangat menderita. Pada 1521, untuk kedua kalinya, Demak melancarkan peperangan guna membantu Sultan Melayu merebut kembali Malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun., namun juga berakhir gagal untuk kedua kalinya, bahkan merenggut nyawa Sultan Demak sendiri.

Beliau kelak dikenang sebagai Pangeran Sabrang Lor atau Pangeran yang menyeberang ( Laut Jawa) ke Utara ( Semenanjung Melayu).

Serangan-serangan itu menjadikan Portugis yakin bahawa sultan yang tersingkir itu harus dibungkam. Berkali-kali Portugis berusaha menekan pasukan Melayu, namun barulah pada 1526 Portugis berjaya meluluhlantakkan Bintan. Sultan mundur ke Kampar di Riau, Sumatera, tempat baginda mangkat dua tahun kemudian. Beliau meninggalkan dua putera: Muzaffar Shah, dan Alauddin Riayat Shah II.

Muzaffar Shah dijemput dan dijadikan raja oleh rakyat di utara semenanjung sehingga berdirilah Kesultanan Perak. Sementara putera Mahmud lainnya, Alauddin, mewarisi jabatan ayahandanya dan mendirikan ibu kota baru di selatan. Wilayah kekuasaannya adalah Kesultanan Johor, penerus Melaka. Sultan Johor berulang kali berupaya merebut Melaka dari kekuasaan Portugis. Imbauan Sultan Johor yang disampaikan kepada Jawa pada 1550 ditanggapi oleh Ratu Kalinyamat, penguasa Jepara, dengan mengirimkan bala bantuan sebanyak 4.000 orang askar yang diangkut 40 kapal untuk merebut Melaka.

Pasukan Jepara kemudian menyatukan kekuatan dengan pasukan persekutuan Melayu dan berhasil mengumpulkan sekitar 200 kapal perang sebagai persiapan penyerbuan.

malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun....

Pasukan gabungan ini menyerbu dari utara dan merebut sebagian besar wilayah Melaka, namun Portugis mampu membalas dan memukul mundur para penyerangnya.

Pasukan persekutuan Melayu dipukul mundur ke laut, sementara pasukan Jepara terus bertahan di darat dan baru mundur setelah para pemimpinnya dibantai. Pertempuran berlanjut di pantai dan di laut sehingga lebih dari 2.000 orang askar Jepara terbunuh. Dua kapal Jepara didamparkan badai ke pantai Melaka menjadi mangsa Portugis. Hanya kurang dari setengah orang askar Jepara yang sanggup lolos meninggalkan Melaka.

Pada 1567, Putera Husain Ali I Riayat Syah dari Kesultanan Aceh mengerahkan angkatan perang laut untuk memaksa pihak Portugis meninggalkan Melaka, namun serangan ini pun akhirnya gagal. Pada 1574 sebuah serangan gabungan dari Kesultanan Aceh dan pasukan Jawa dari Jepara kembali mencuba merebut Melaka dari Portugis, namun berakhir dengan kegagalan akibat kurangnya koordinasi.

Bandar-bandar lain yang tumbuh menjadi saingan semisal Johor membuat para saudagar Asia tidak lagi berlabuh di Melaka sehingga kota itu mengalami kemunduran sebagai sebuah bandar niaga. [3] Alih-alih mencapai ambisinya menguasai jaringan niaga Asia, Portugis justeru menjadikannya kacau-balau.

Alih-alih terwujudnya sebuah bandar pusat pertukaran kekayaan Asia, ataupun sebuah negara Melayu pengendali Selat Melaka yang menjadikannya aman bagi lalu-lintas niaga, yang timbul justeru perdagangan yang terserak ke sejumlah bandar di antara pahit-getir peperangan di Selat. [3] Tindak balas tentera Cina terhadap Portugal [ sunting - sunting sumber ] Maklumat selanjutnya: Tomé Pires Kesultanan Melaka adalah salah satu negara penyetor upeti sekaligus sekutu Dinasti Ming di China.

Penaklukan Melaka oleh Portugal pada 1511 dibalas China dengan perlakuan kejam terhadap orang-orang Portugis. Usai penaklukan Melaka, China menolak ditemui serombongan utusan Portugis. [4] Maharaja China di Guangzhou memenjarakan dan menghukum mati banyak utusan diplomatik Portugis sesudah terlebih dahulu menyiksa mereka. Seorang duta Melaka telah memberitahu pihak Malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun. perihal perebutan Melaka oleh Portugis, yang ditanggapi China dengan menunjukkan sikap permusuhan terhadap orang-orang Portugis.

Kepada pihak China duta Melaka itu membeberkan tipu-muslihat Portugis, yakni menyamarkan rencana penaklukan dengan pura-pura berdagang, dan mengisahkan pula kesukaran yang dialaminya akibat dijajah Portugis. [5] Melaka berada di bawah perlindungan China sehingga penaklukan Portugis itu membangkitkan murka China.

[6] Akibat keluhan yang diajukan Sultan Melaka mengenai penaklukan Portugis kepada Maharaja China, orang-orang Portugis disambut dengan sikap permusuhan oleh orang-orang Tionghoa tatkala mereka tiba di China. [7] Keluhan Sultan itu telah menimbulkan "kesulitan besar" bagi orang-orang Portugis di China.

[8] Orang-orang Tionghoa sangat "tidak ramah" terhadap Portugis. [9] Sultan Melaka yang berpangkalan di Bintan selepas mengungsi dari Melaka, mengirim pesan kepada pihak China, yang ditimpali perilaku bandit dan tindak kekerasan Portugis di China, menyebabkan pemerintah China menghukum mati 23 orang Portugis dan menyiksa yang lain di penjara.

Setelah Portugis menempatkan pos-pos dagang dan melakukan kegiatan-kegiatan perompakan serta pengeroyokan di wilayahnya, pihak China membalas dengan menumpas tuntas Portugis di Ningbo dan Quanzhou. [10] Pires, seorang duta dagang Portugis, adalah salah satu di antara orang-orang Portugis yang meninggal dalam penjara China. [11] Sekalipun demikian, seiring perlahan membaiknya hubungan, dan setelah Portugis membantu melawan gerombolan perompak Wokou di sepanjang pesisir China, pada 1557 Dinasti Ming akhirnya mengizinkan orang-orang Portugis untuk menetap di Makau dalam sebuah koloni dagang Portugis yang baru.

[12] Kesultanan Melayu Johor turut pula memperbaiki hubungannya dengan Portugis, bahkan maju berperang bersama mereka melawan Kesultanan Aceh.

Boikot dan serangan balasan China [ sunting - sunting sumber ] Para pedagang Tionghoa memulau Melaka setelah jatuh ke tangan Portugis, beberapa orang Tionghoa di Jawa menyumbangkan kapal-kapal guna membantu upaya-upaya kaum Muslim merebut kembali Melaka dari Portugal. Keterlibatan orang-orang Tionghoa Jawa dalam perebutan kembali Melaka diriwayatkan dalam The Malay Annals of Semarang and Cerbon ("Sejarah Melayu Semarang dan Cerbon").

[13] Saudagar-saudagar Tionghoa berdagang dengan orang-orang Melayu dan orang-orang Jawa, tidak dengan Portugis. [14] Penaklukan Belanda dan akhir Melaka Portugis [ sunting - sunting sumber ] Maklumat selanjutnya: Pertempuran Melaka (1641) Menjelang permulaan abad ke-17, Kompeni Belanda ( Bahasa Belanda: Verenigde Oostindische Compagnie, VOC) mulai berani menantang kekuasaan Portugis di Timur.

Di masa itu, Portugis telah mengubah Melaka menjadi sebuah benteng yang tak tertembus, Fortaleza de Malaca, yang mengendalikan akses ke jalur-jalur pelayaran di Selat Melaka dan perdagangan rempah-rempah di sana. Belanda mulai melakukan penerobosan wilayah dan serangan kecil-kecilan terhadap Portugis. Upaya bersungguh-sungguh yang pertama adalah pengepungan Melaka pada 1606 oleh armada VOC ketiga dari Holandia beranggotakan sebelas kapal, di bawah komando Admiral Cornelis Matelief de Jonge yang mengakibatkan pecahnya pertempuran laut di Tanjung Rachado.

Meskipun Belanda dibuat kabur kocar-kacir, lebih banyak korban berjatuhan di pihak armada Portugis yang dipimpin Martim Afonso de Castro, Raja Muda Goa, selain itu pertempuran ini mengakibatkan malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun. Kesultanan Johor menjalin persekutuan dengan Belanda dan kelak juga dengan Kesultanan Aceh.

Sekitar kurun waktu itu, Kesultanan Aceh telah tumbuh menjadi sebuah kekuatan regional dengan kesatuan angkatan laut yang mengagumkan dan menganggap Melaka Portugis sebagai ancaman laten. Pada 1629, Sultan Iskandar Muda dari Kesultanan Aceh mengirim beberapa ratus buah kapal untuk menyerbu Melaka, akan tetapi misi itu mengalami kegagalan besar.

Menurut catatan-catatan Portugis, dalam penyerbuan itu seluruh kapal Iskandar Muda dihancurkan dan sekitar 19,000 orang askarnya tewas. Belanda bersama sekutu-sekutu pribuminya menyerang dan akhirnya merebut Melaka dari Portugis pada bulan Januari 1641. Upaya kerja sama Belanda-Johor-Aceh ini ampuh menghancurkan baluwarti terakhir kekuasaan Portugis, sehingga meredupkan pengaruh mereka di kawasan kepulauan itu.

Belanda menduduki malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun. Melaka, namun tidak berniat menjadikannya pangkalan utama, dan malah bertekun membangun Batavia (sekarang Jakarta) sebagai pusat jaringan dagangnya di belahan dunia Timur. Bandar-bandar Portugis di wilayah-wilayah penghasil rempah-rempah di Maluku juga jatuh ke tangan Belanda pada tahun-tahun berikutnya.

malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun....

Akibat penaklukan-penaklukan ini, luas jajahan Portugis di Asia menyusut hingga terbatas pada Timor Portugis, Goa, Daman dan Diu di India Portugis, serta Makau sampai abad ke-20. Fortaleza de Malaca [ sunting - sunting sumber ] Porta de Santiago sekarang ini.

Cikal bakal tatanan pertahanan Kota Melaka adalah sebuah menara berbentuk persegi yang dinamakan Fortaleza de Malaca. masing-masing sisinya selebar 10 depa dan setinggi 40 depa, berdiri di kaki bukit pertahanan, sebelah-menyebelah dengan lautan. Mulai dari sisi timurnya dibangun tembok melingkar dari mortar dan batu, dan di tengah-tengah halaman bertembok itu digali pula sebuah sumur.

Dari tahun ke tahun, tembok dibangun sampai akhirnya mengelilingi seluruh bukit pertahanan. Benteng berbentuk segi lima mula-mula dibangun di titik terjauh dari tanjung di sebelah tenggara muara sungai menuju ke sebelah barat Fortaleza. Pada titik ini dibangun dua tembok pertahanan yang membentuk sudut siku-siku dan menyusuri garis pantai. Yang satu dibangun sepanjang 130 depa ke arah utara menuju muara sungai dan berakhir di baluwarti São Pedro, sementara yang lain dibangun sepanjang 75 depa ke arah timur, menyusuri garis pantai, dan berhujung di gerbang dan selekoh Santiago.

Dari selekoh São Pedro, tembok berbelok ke arah timur-laut sepanjang 150 depa, melewati gerbang Pelataran Rumah Cukai dan berakhir pada titik paling utara dari benteng, yakni selekoh São Domingos. Dari gerbang São Domingos, dibangun tembok pertahanan dari timbunan tanah sepanjang 100 depa ke arah tenggara sampai ke selekoh Madre de Deus. Dari sini, mulai dari gerbang Santo António, pembangunan diteruskan melewati selekoh Onze Mil Virgens hingga berakhir di gerbang Santiago.

Panjang keseluruhan tembok pertahanan mencapai 655 depa ditambah sedepa kurang 10 tapak tangan. Gerbang [ sunting - sunting sumber ] Benteng Kota Melaka memiliki empat gerbang; • Porta de Santiago • Gerbang Pelataran Rumah Cukai • Porta de São Domingos • Porta de Santo António Dari empat gerbang ini hanya dua yang terbuka untuk umum: Gerbang Santo António yang membuka akses ke kawasan pemukiman Yler, dan gerbang barat di Pelataran Rumah Cukai yang membuka akses menuju Tranqueira beserta Bazaar-nya.

Pembongkaran [ sunting - sunting sumber ] Setelah tegak selama hampir 300 tahun, pada 1806, bangsa Inggris yang enggan merawat Benteng dan juga malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun. kekuatan-kekuatan Eropa lain akan menguasainya, memerintahkan untuk membongkarnya sedikit demi sedikit. Benteng Melaka nyaris lenyap tak berbekas andai tak dihalangi Sir Stamford Raffles yang berkunjung ke Melaka pada 1810.

malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun....

Yang tersisa dari benteng Portugis pertama di Asia Tenggara ini hanyalah Porta de Santiago, yang kini dikenal dengan sebutan A Famosa. Pembinaan [ sunting - sunting sumber ] Di luar pusat kota yang dilingkungi benteng, berdiri tiga perkampungan. Yang pertama adalah Upe (Upih), lazim disebut Tranqueira (sekarang Kampung Tengkera) yang berarti dinding pertahanan. Dua perkampungan lainnya adalah Yler ( Hilir) atau Tanjonpacer ( Tanjung Pasir), dan Sabba.

Tranqueira [ sunting - sunting sumber ] Gambaran Benteng Tranqueira di Melaka lukisan Carl Friedrich Reimer, 1786. Tranqueira adalah pemukiman suburban Melaka yang terpenting. Perkampungan ini berbentuk persegi panjang, dengan tembok pertahanan di batas utaranya, Selat Melaka sebagai batas selatannya, serta Sungai Melaka ( Rio de Malaca) dan tembok fortaleza menjadi batas timurnya.

Tranqueira adalah kawasan pemukiman utama Kota Melaka. Sekalipun demikian, bilamana perang meletus, warga Tranqueira akan diungsikan ke dalam benteng. Tranqueira dibagi menjadi dua paroki, São Tomé dan São Estêvão. Paroki São Tomé juga dikenal dengan nama Campon Chelim ( Bahasa Melayu: Kampung Keling) kerana mayoritas penghuninya adalah Orang Keling atau warga pendatang dari Kerajaan Kalingga di pesisir Pantai Koromandel.

Paroki São Estêvão juga dinamakan Campon China ( Kampung Cina). Manuel Godinho de Erédia (1563-1623) mencatat bahawa di kawasan ini rumah-rumah terbuat dari kayu akan tetapi beratap genting. Sebuah jembatan batu dikawal askar melintas di atas sungai Melaka, menjadi jalan masuk ke dalam Benteng melalui Malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun.

Rumah Cukai. Pusat niaga Melaka juga bertempat di Tranqueira, berdekatan dengan pantai di muara sungai, dan dijuluki Bazaar dos Jaos (Pasar Orang Jawa). Kawasan ini sekarang dikenal sebagai Kampung Tengkera. Yler [ sunting - sunting sumber ] Kawasan Yler ( Hilir) kurang lebih meliputi Buquet China ( Bukit Cina) dan pesisir tenggara.

Sumur di Buquet China adalah salah satu sumber air utama bagi warganya. Tengaran yang menonjol di kawasan ini meliputi Gereja Madre De Deus dan Biara Kapusin São Francisco. Tengaran menonjol lainnya adalah Buquetpiatto ( Bukit Piatu). Batas-batas pemukiman tak bertembok ini konon merentang sejauh Buquetpipi dan Tanjonpacer. Tanjonpacer ( Bahasa Melayu: Tanjung Pasir) kelak dinamakan Ujong Pasir. Kini di Melaka, di kawasan ini masih terdapat sebuah komunitas keturunan para pendatang Portugis.

Perkampungan Yler saat ini dikenal dengan nama Banda Hilir. Reklamasi daratan di zaman modern (dengan tujuan pembangunan kawasan niaga Melaka Raya) telah melenyapkan akses ke laut yang dahulu dimiliki Banda Hilir. Sabba malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun. sunting - sunting sumber ] Rumah-rumah di perkampungan ini dibina menyusuri tepian sungai.

Beberapa pribumi Melayu Muslim, penghuni asli Kota Melaka, mendiami rawa-rawa yang ditumbuhi pohon Nypeiras, tempat mereka membuat arak Nypa ( Nipah) melalui proses penyulingan untuk diperdagangkan. Perkampungan ini dianggap sebagai kawasan hunian terjauh dari kota, kerana merupakan kawasan peralihan menuju pedalaman Melaka, tempat melintas kayu dan arang yang dibawa masuk ke Kota.

Beberapa paroki juga berlokasi di luar kota di sepanjang sungai; São Lázaro, Nossa Senhora de Guadalupe, dan Nossa Senhora da Esperança. Orang-orang Melayu Muslim mendiami lahan-lahan pertanian yang jauh masuk ke pedalaman. Kelak di era Belanda, Inggris, dan kemudian Kota Melaka modern, nama Sabba terabai dan terlupakan. Sekalipun demikian, di masa lampau perkampungan ini meliputi kawasan-kawasan yang kini dikenal sebagai Banda Kaba, Bunga Raya, Kampung Jawa, dan pusat Kota Melaka modern.

Imigrasi Bangsa Portugis [ sunting - sunting sumber ] Penduduk Portugis di pegangan kolonial mereka (termasuk Melaka) lazimnya terbahagi kepada 5 golongan: [15] • Soldados, atau golongan askar yang diperbuat daripada lelaki bujang yang ditugaskan untuk mempertahankan kota Melaka. Ketika tiada pertempuran, mereka biasanya diupah oleh Fidalgo (Bangsawan Portugis) untuk menjadi askar peribadi sehingga dikerah untuk pertahanan. • Casados, iaitu peneroka yang sudah berkahwin.

Golongan ini diperintah secara langsung di bawah pentadbiran rasmi Portugal, Estado da India. Mereka diperbuat daripada fidalgo, soldados yang sudah bersara dan golongan bawahan yang berhijrah untuk memulakan hidup baharu.

Memandangkan kebanyakan pendatang ini adalah kaum lelaki, mereka terpaksa berkahwin dengan penduduk tempatan tanah jajahan, Akibatnya, terdapat ramai anak casados yang mempunyai darah campuran. [16] • Moradores, iaitu peneroka yang tidak berada di bawah pentadbiran rasmi Portugal. Mereka hanya mendapat kebenaran untuk bertempat di kawasan sekitar kubu Portugis dan mentadbir sesama sendiri. Biasanya mereka terdiri daripada pedagang yang mendirikan penempatan jangka panjang.

• Ministrios, atau pegawai diraja yang dilantik untuk tempoh jangka pendek. Contoh jawatan yang dipegang adalah ouvidor (Majistret Diraja) dan Vedor da Fazenda (Penguasa Kewangan). • Religioso, atau golongan agamawan.

Mereka ialah pegawai Katolik yang diberikan amanah Paus untuk berkhidmat di bawah Keuskupan Melaka yang di bawah seliaan Keuskupan Agung Goa yang ditubuhkan pada tahun 1557.

Orde yang terdapat di Melaka termasuklah Kapusin, Augustinian dan Dominican. [17] Melaka juga digunakan sebagai perhentian sementara untuk paderi Jesuit yang menuju ke Jepun dan Cina, termasuklah Francis Xavier. [18] Bangsa Portugis juga mengirim banyak Órfãs d'El-Rei ke negeri-negeri jajahannya di Afrika, India, dan juga ke Melaka.

Secara harfiah Órfãs d'El-Rei berarti "Yatim-Piatu Raja", yakni gadis-gadis yatim-piatu Portugis yang dikirim ke negeri-negeri jajahan di seberang lautan untuk menikah baik dengan warga pendatang Portugis maupun dengan pribumi berderajat mulia.

malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun....

Pemerintahan Portugis di Melaka [ sunting - sunting sumber ] Melaka merupakan salah satu pucuk utama Portugis di Timur di bawah seliaan Estado da India yang berpusat di Goa. Estado da India mempunyai seorang Gabenor/Viceroy. Melaka sendiri ditadbir seorang Capitao-Mor de Malacca (Kapten-Mejar Melaka) yang menjalankan pentadbiran dari dalam Fortaleza.

Beliau dilantik setiap tiga tahun oleh Raja Portugal. Pada tahun 1552, Melaka diangkat dan diwartakan menjadi sebuah camara (bandar) [19]. Pentadbirannya dijalankan oleh Senado de Camara (Majlis Bandar) yang biasanya dianggotai fidalgos, procuradores dos mesteres (wakil pedagang dan persatuan) dan rakyat yang diltantik. [20] Camara menjadi badan yang mewakili suara dan kepentingan casados yang menggunakannya untuk menjadi cara perhubungan antara mereka dan Mahkota Diraja Portugal.

malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun....

Badan khas yang juga wujud di Melaka ialah Misericordia iaitu Rumah Kebajikan yang memberikan khidmat kewangan, perubatan dan juga pendidikan, khususnya kepada orang Kristian di Melaka tanpa mengira latar belakang.

Mereka ditadbir oleh sebuah mesa yang diketuai seorang Provedor. Mereka juga bertindak sebagai wasi kewangan kepada mereka yang mewasiatkan harta mereka kepada Misericordia. [21] Berkenaan dengan hal penduduk tempatan, struktur pentadbiran Melaka sebelum dijajah dikekalkan. Malah pada mulanya, Afonso de Albuquerque ingin Sultan Mahmud Shah kembali memerintah di bawah seliaan Portugis, tetapi tidak berjaya melakukan demikian. [22] Jawatan Bendahara, Temenggung dan Shahbandar juga dikekalkan tetapi dilantik dari kumpulan bukan Islam.

Pada tahun 1571, Raja Sebastião I telah cuba untuk memisahkan Estado da India kepada tiga bahagian dengan Melaka menjadi salah sebuahnya di bawah gabenor tersendiri. Namun, percaturan ini tidak menjadi nyata dan struktur pentadbiran Portugis kekal tanpa perubahan drastik sehingga 1641. [23] Menurut Eredia, pada tahun 1613 penyelenggara pemerintahan Portugis di Melaka adalah seorang Capitão-mor (Kapitan-mayor, Pemimpin Besar) yang ditunjuk untuk menjabat selama tiga tahun, seorang Uskup beserta para pejabat gereja yang menandakan keberadaan komunitas Kristen setingkat keuskupan di Melaka, dan para pejabat kotapraja, yakni pegawai-pegawai Kerajaan Portugal yang menangani urusan keuangan dan kehakiman beserta seorang petinggi pribumi berpangkat Bendahara untuk mengatur penduduk muslim pribumi dan warga asing yang bertempat tinggal di dalam wilayah hukum Portugis.

Senarai Kapten-Mejar Melaka ( Capitão-mor de Malacca) [ sunting - sunting sumber ] Kapten-Mejar Melaka (1512–1641) No. Kapten-Mejar Dari Sehingga Raja 1 Ruy de Brito Patalim 1512 1514 Manuel I 2 Jorge de Alburquerque 1514 1516 3 Jorge de Brito 1516 1517 4 Nuno Vaz Pereira 1517 1518 5 Alfonso Lopes da Costa 1518 1520 6 Jorge de Alburquerque 1521 1525 Manuel I John III 7 Pedro Mascarenhas 1525 1526 John III 8 Jorge Cabral 1526 1528 9 Pero de Faria 1528 1529 10 Garcia de Sà 1529 1533 11 Dom Paulo da Gama 1533 1534 12 Dom Estevao da Gama 1534 1539 13 Pero de Faria 1539 1542 14 Ruy Vaz Pereira 1542 1544 15 Simão Botelho 1544 1545 16 Garcia de Sà 1545 1545 17 Simão de Mello 1545 1548 18 Dom Pedro da Silva da Gama 1548 1552 19 Licenciado Francisco Alvares 1552 1552 20 Dom Alvaro de Ata de Gama 1552 1554 21 Dom Antonio malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun.

Noronha 1554 1556 22 Dom João Pereira 1556 1557 23 João de Mendonça 1557 1560 John III Sebastian I 24 Francisco Deça 1560 1560 Sebastian I 25 Diogo de Meneses 1564 1567 26 Leonis Pereira 1567 1570 27 Francisco da Costa 1570 1571 28 António Moniz Barreto 1571 1573 29 Miguel de Castro 1573 1573 30 Leonis Pereira ou Francisco Henriques de Meneses 1573 1574 31 Tristão Vaz da Veiga 1574 1575 32 Miguel de Castro 1575 1577 33 Aires de Saldanha 1577 1579 Sebastian I Henry I 34 João da Gama 1581 1582 Philip I 35 Roque de Melo 1582 1584 36 João da Silva 1584 1587 37 João Ribeiro Gaio 1587 1587 38 Nuno Velho Pereira 1587 15xx 39 Diogo Lobo 15xx 15xx 40 Pedro Lopes de Sousa 15xx 1594 41 Francisco da Silva Meneses 1597 1598 42 Martim Afonso de Melo Coutinho 1598 1599 Philip I Phillip II 43 Fernão de Albuquerque 1599 1603 Phillip II 44 André Furtado de Mendonça 1603 1606 45 António de Meneses 1606 1607 46 Francisco Henriques 1610 1613 47 Gaspar Afonso de Melo 1613 1615 48 João Calado de Gamboa 1615 1615 49 António Pinto da Fonseca 1615 1616 50 João da Silveira 1617 1617 51 Pedro Lopes de Sousa 1619 1619 52 Filipe de Sousa ou Francisco Coutinho 1624 1624 Phillip III 53 Luis de Melo 162.

1626 54 Gaspar de Melo Sampaio 16xx 1634 55 Álvaro de Castro 1634 1635 56 Diogo de Melo e Castro 1630 1633 57 Francisco de Sousa de Castro 1630 1636 58 Diogo Coutinho Docem 1635 1637 59 Manuel de Sousa Coutinho 1638 1641 Phillip III John IV Rujukan [ sunting - sunting sumber ] • ^ a b c d e Ricklefs, M.C. (1991). A History of Modern Indonesia since c.

1300, Edisi ke-2. London: MacMillan. m/s. 23. ISBN 0-333-57689-6. • ^ a b Mohd Fawzi bin Mohd Basri; Mohd Fo'ad bin Sakdan; Azami bin Man (2002). Kurikulum Bersepadu Sekolah Menengah Sejarah Tingkatan 1.

Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. m/s. 95. ISBN 983-62-7410-3. CS1 maint: multiple names: authors list ( link) • ^ a b Ricklefs, M.C. (1991). A History of Modern Indonesia since c. 1300, Edisi ke-2. London: Macmillan. m/s. 23–24. ISBN 0-333-57689-6. • ^ Kenneth Warren Chase (2003). Firearms: a global history to 1700 (ed. illustrated). Cambridge University Press. m/s. 142. ISBN 0-521-82274-2. Dicapai pada 14 December 2011. Portugis menghabiskan waktu beberapa tahun, mencoba menjalin hubungan resmi dengan Tiongkok, tetapi Malaka sudah lama menjadi bagian dari tatanan penyetoran upeti Tiongkok, dan pihak Tiongkok akhirnya tahu mengenai serangan Portugis, sehingga menjadi curiga.

Perutusan itu secara resmi ditolak pada 1521. • ^ Nigel Cameron (1976). Barbarians and mandarins: thirteen centuries of Western travelers in China. Volume 681 of A phoenix book (ed. illustrated, reprint). University of Chicago Press. m/s. 143. ISBN 0-226-09229-1. Dicapai pada 18 July 2011.

sang duta, dengan sangat efektif mencurahkan kisah kemalangannya, tentang kesukaran hidup dalam penjajahan Portugis di Malaka; ia menguatkan kisahnya dengan kisah-kisah lain tentang tindakan-tindakan keji Portugis di Maluku, sehingga (dengan cukup jujur) meyakinkan orang bahwasanya kunjungan-kunjungan niaga Eropa hanya permulaan belaka dari perampasan wilayah.

Dengan sedikitnya kekuatan laut yang saat itu dimiliki Tiongkok -volume= has extra text ( bantuan) • ^ Zhidong Hao (2011). Macau History and Society (ed. illustrated). Hong Kong University Press. m/s. 11. ISBN 988-8028-54-5.

Dicapai pada 14 December 2011. Pires datang sebagai seorang duta besar ke Beijing untuk merundingkan syarat-syarat dan ketentuan dagang dengan Tiongkok. Ia berhasil sampai ke Beijing, tetapi misinya gagal karena pertama-tama, ketika Pires berada di Beijing, Sultan Malaka yang terguling dari tahtanya juga mengirim seorang duta ke Beijing untuk mengadukan serangan dan penaklukan Portugis atas Malaka kepada kaisar.

Malaka berada di bawah naungan perlindungan Tiongkok ketika Portugis merebutnya. Tentu saja Tiongkok tidak bersuka hati atas apa yang diperbuat Portugis di sana. • ^ Ahmad Ibrahim, Sharon Siddique, Yasmin Hussain, penyunting (1985). Readings on Islam in Southeast Asia. Institute of Southeast Asian Studies. m/s. 11. ISBN 9971-988-08-9. Dicapai pada 18 July 2011. di Tiongkok situasi jauh dari bersahabat; ini tampaknya berkaitan dengan keluhan penguasa Malaka, yang ditaklukkan Portugis pada 1511, ke hadapan kaisar Tiongkok, pelindungnya.

CS1 maint: multiple names: editors list ( link) • ^ John Horace Parry (June 1, 1981). The discovery of the sea. University of California Press. m/s. 238. ISBN 0-520-04237-9. Dicapai pada 14 December 2011. In 1511 . Alboquerque sendiri bertolak .

untuk menyerang Malaka . Sultan Malaka mengungsi ke pesisir, untuk kemudian memapankan diri di rawa-rawa Johor, dari situ ia mengirimkan tuntutan-tuntutan untuk dibela kepada pelindungnya yang jauh, Kaisar Tionghoa.

Petisi-petisi itu di kemudian hari membuat Portugis, yang sedang berupaya mendapatkan izin berdagang di Kanton, mengalami kesulitan yang besar • ^ John Horace Parry (June 1, 1981). The discovery of the sea. University of California Press. m/s. 239. ISBN 0-520-04237-9. Dicapai pada 14 December 2011. Bila Portugis mencoba untuk masuk, dengan kapal-kapal milik mereka, ke Kanton itu sendiri, sambutan pemerintah Tiongkok—yang patut dimaklumi, mengingat reputasi mereka di Malaka—tidaklah ramah, dan setelah lewat beberapa dasawarsa barulah mereka mendapatkan tempat berpijak di Makau.

• ^ Ernest S. Dodge (1976). Islands and Empires: Western Impact on the Pacific and East Asia. Jilid 7 : Europe and the World in Age of Expansion. U of Minnesota Press. m/s. 226. ISBN 0-8166-0853-9. Dicapai pada 18 July 2011. Sepak-terjang Portugis yang tak termaafkan, digabungkan dengan kecerobohan pemilihan kata dalam surat-surat yang diajukan Pires kepada kaisar langit, ditambah dengan peringatan dari Sultan Melayu di Bintan, meyakinkan pihak Tiongkok bahwasanya Pires benar-benar berniat jahat • ^ Kenneth Scott Latourette (1964).

The Chinese, their history and culture, Jilid 1–2 (ed. 4, reprint). Macmillan. m/s. 235. Dicapai pada 18 July 2011. Penguasa Muslim Malaka, yang mereka gulingkan dari tahta, mengadukan mereka ke pemerintah Tiongkok. Seorang utusan Portugis, Pires, yang sampai ke Peking pada 1520 dianggap sebagai mata-mata, dan dipindahkan dengan titah kekaisaran ke Kanton • ^ Wills, John E., Jr.

(1998). "Relations with Maritime Europe, 1514–1662," dalam The Cambridge History of China: Jilid 8, The Ming Dynasty, 1368–1644, Bagian 2, 333–375. Disunting oleh Denis Twitchett, John King Fairbank, dan Albert Feuerwerker. New York: Cambridge University Press. ISBN 0-521-24333-5, 343-344.

• ^ C. Guillot, Denys Lombard, Roderich Ptak, penyunting (1998). Dari Mediterania ke Laut Tiongkok: berbagai catatan. Otto Harrassowitz Verlag. m/s. 179. ISBN 3-447-04098-X. Dicapai pada 14 December 2011. Para penulis Tionghoa berpendapat bahwa, orang-orang Tionghoa-Malaka tidaklah diperlakukan dengan baik oleh Portugis . lazimnya memang kapal-kapal Tionghoa cenderung menghindari Malaka setelah 1511, malahan berlayar ke bandar-bandar lain.

Agaknya sebagian besar bandar-bandar ini terletak di pesisir timur semenanjung Malaya dan di Sumatera. Johor, di pelosok selatan semenanjung, adalah tempat lain yang menjadi tujuan banyak orang Tionghoa . Selepas 1511, banyak orang Tionghoa yang adalah orang-orang Muslim bersekutu dengan pedagang-pedagang Islam lain menentang Portugis; menurut Malay Annals of Semarang and Cerbon, warga Tionghoa yang menetap di pesisir utara Jawa terlibat dalam serangan-serangan balasan atas Malaka. Kapal-kapal Jawa memang dikirim namun mengalami kekalahan telak.

Demak dan Jepara malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun. kehilangan lebih dari tujuh puluh kapal. CS1 maint: multiple names: editors list ( link) • ^ Peter Borschberg, National University of Singapore. Faculty of Arts and Social Sciences, Fundação Oriente (2004). Peter Borschberg malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun.

Iberians in the Singapore-Melaka area and adjacent regions (16th to 18th century). Jilid 14 : South China and maritime Asia (ed. illustrated). Otto Harrassowitz Verlag. m/s. 12. ISBN 3-447-05107-8. Dicapai pada 14 December 2011. tetap saja yang lain menarik diri guna melanjutkan usaha dagang dengan orang-orang Jawa, Melayu, dan Gujarat.Bilamana dunia Islam mempertimbangkan untuk melancarkan serangan balasan terhadap Melaka Portugis, beberapa warga Tionghoa agaknya menyiapkan kapal-kapal dan modal.

Orang-orang Tionghoa ini, berasal baik dari Fujian ataupun daerah lain, mungkin adalah keturunan Muslim. Kelompok ini agaknya terdiri atas faksi-faksi kecil yang mengungsi dari Campa setelah krisis tahun 1471. CS1 maint: multiple names: authors list ( link) • ^ Subrahmanyam, Sanjay (2012-04-10).

The Portuguese Empire in Asia, 1500-1700: A Political and Economic History (dalam bahasa Inggeris). Chichester, UK: John Wiley & Sons, Ltd. m/s. 230–231. doi: 10.1002/9781118496459. ISBN 978-1-118-49645-9. • ^ Disney, A. R. (2009). A History of Portugal and the Portuguese Empire: From Beginnings to 1807: Volume 2: The Portuguese Empire.

2. Cambridge: Cambridge University Press. doi: 10.1017/cbo9780511813337. ISBN 978-0-521-40908-7. • ^ Subrahmanyam, Sanjay (2012). The Portuguese Empire in Asia, 1500-1700 A Political and Economic History (ed. 2., Auflage). New York, NY. m/s. 235. ISBN 978-1-118-27401-9. OCLC 894714765.

• ^ Sar Desai, D. R. “The Portuguese Administration in Malacca, 1511–1641.” Journal of Southeast Asian History, vol. 10, no. 3, 1969, pp. 501–512., doi:10.1017/S0217781100005056. • ^ South East Asia, Colonial History: Imperialism before 1800. United Kingdom, Routledge, 2001.

p.163 • ^ Boxer, C. R. (1973), The Portuguese seaborne empire 1415-1825 (dalam bahasa Inggeris), Penguin, m/s. 273–280 • ^ Boxer, C.R. (1977). Portuguese Seaborne Empire: 1415-1825. London: Hutchinson. m/s. 285–290. • ^ Disney, A. R. (2009). A History of Portugal and the Portuguese Empire: From Beginnings to 1807: Volume 2: The Portuguese Empire.

2. Cambridge: Cambridge University Press. m/s. 164. doi: 10.1017/cbo9780511813337. ISBN 978-0-521-40908-7. • ^ Subrahmanyam, Sanjay (2012). The Portuguese empire in Asia, 1500-1700: a political and economic history (ed.

malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun....

2nd). Chichester, UK: John Wiley & Sons. m/s. 130. ISBN 978-1-118-49645-9. OCLC 779165225. Kurun ke-15 1415–1640 Ceuta 1458–1550 Alcácer Ceguer (El Qsar es Seghir) 1471–1550 Arzila (Asilah) 1471–1662 Tangier 1485–1550 Mazagan (El Jadida) 1487–kurun ke-16 Ouadane 1488–1541 Safim (Safi) 1489 Graciosa Kurun ke-16 1505–1541 Santa Cruz do Cabo de Gué (Agadir) 1506–1525 Mogador (Essaouira) 1506–1525 Aguz (Souira Guedima) 1506–1769 Mazagan (El Jadida) 1513–1541 Azamor (Azemmour) 1515–1541 São João da Malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun.

(Mehdya) 1577–1589 Arzila (Asilah) 15th century 1455–1633 Anguim 1462–1975 Tanjjung Verde 1470–1975 São Tomé 1 1471–1975 Príncipe 1 1474–1778 Annobón 1478–1778 Fernando Poo (Bioko) 1482–1637 Elmina (São Jorge da Mina) 1482–1642 Pantai Emas Portugis 1508–1547 2 Madagascar 3 1498–1540 Kepulauan Mascarene Kurun ke-16 1500–1630 Malindi 1501–1975 Mozambique Portugal 1502–1659 Saint Helena 1503–1698 Zanzibar 1505–1512 Quíloa (Kilwa) 1506–1511 Socotra 1557–1578 Accra 1575–1975 Angola Portugal 1588–1974 Cacheu 4 1593–1698 Mombassa (Mombasa) Kurun ke-17 1645–1888 Ziguinchor 1680–1961 São João Baptista de Ajudá 1687–1974 Bissau 4 Kurun ke-18 1728–1729 Mombassa (Mombasa) 1753–1975 São Tomé dan Príncipe Portugal Kurun ke-19 1879–1974 Guinea Portugal 1885–1975 Congo Portugal Kurun ke-16 1506–1615 Gamru (Bandar Abbas) 1507–1643 Sohar 1515–1622 Hormuz (Ormus) 1515–1648 Quriyat 1515–?

Qalhat 1515–1650 Masqat 1515?–? Barka 1515–1633? Julfar (Ras al-Khaimah) 1521–1602 Bahrain ( Muharraq • Manama) 1521–1529? Qatif 1521?–1551? Pulau Tarut 1550–1551 Qatif 1588–1648 Matrah Kurun ke-17 1620–? Khor Fakkan 1621?–? As Sib 1621–1622 Qeshm 1623–? Khasab 1623–? Libedia 1624–? Kalba 1624–? Madha 1624–1648 Dibba Al-Hisn 1624?–? Bandar-e Kong Chittagong (Porto Grande De Bengala) • 1531–1571 Chaul • 1531–1571 Chalé • 1534–1601 Pulau Salsette • 1534–1661 Bombay (Mumbai) • 1535 Ponnani • 1535–1739 Baçaím (Vasai-Virar) • 1536–1662 Cranganore (Kodungallur) • 1540–1612 Surat • 1548–1658 Tuticorin (Thoothukudi) • 1559–1961 Daman dan Diu • 1568–1659 Mangalore (Portuguese India) • 1579–1632 Hugli • 1598–1610 Masulipatnam (Machilipatnam) 1518–1521 Maldives 1518–1658 Portuguese Ceylon (Sri Lanka) 1558–1573 Maldives Kurun ke-17 India Portugal • 1687–1749 Mylapore Kurun ke-18 India Portugal • 1779–1954 Dadra and Nagar Haveli Kurun ke-16 1511–1641 Melaka 1512–1621 Maluku • 1522–1575 Ternate • 1576–1605 Ambon • 1578–1650 Tidore 1512–1665 Makassar 1537–1999 Macau 1571–1639 Decima (Dejima / Nagasaki) Kurun ke-17 1642–1975 Timor Portugis ( Timor Leste) 1 Kurun ke-19 Macau Portugal • 1864–1999 Coloane • 1851–1999 Taipa • 1890–1999 Ilha Verde Kurun ke-20 Macau Portugal • 1938–1941 Lapa dan Montanha (Hengqin) Kurun ke-16 1500–1822 Brazil • 1534–1549 Captaincy Colonies of Brazil • 1549–1572 Brazil • 1572–1578 Bahia • 1572–1578 Rio de Janeiro • 1578–1607 Brazil • 1621–1815 Brazil 1536–1620 Barbados Kurun ke-17 1621–1751 Maranhão 1680–1777 Nova Colónia do Sacramento Kurun ke-18 1751–1772 Grão-Pará and Maranhão 1772–1775 Grão-Pará and Rio Negro 1772–1775 Maranhão and Piauí Kurun ke-19 1808–1822 Cisplatina (Uruguay) 1809–1817 Portuguese Guiana (Amapá) 1822 Upper Peru (Bolivia) Kategori-kategori tersembunyi: • Laman yang menggunakan argumen pendua dalam panggilan templat • CS1 maint: multiple names: authors list • Sumber CS1 bahasa Inggeris (en) • Laman menggunakan pautan ajaib ISBN • Pages using infobox country with unknown parameters • Rencana yang mengandungi teks bahasa Belanda • Rencana yang mengandungi teks bahasa secara jelas menyebut Bahasa Malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun.

Sunting pautan • Laman ini kali terakhir disunting pada 04:13, 19 Februari 2022. • Teks disediakan dengan Lesen Creative Commons Pengiktirafan/Perkongsian Serupa; terma tambahan mungkin digunakan.

Lihat Terma Penggunaan untuk butiran lanjut. • Dasar privasi • Perihal Wikipedia • Penafian • Paparan mudah alih • Pembangun • Statistik • Kenyataan kuki • •
Setelah jatuhnya bandar pelabuhan dagang Malaka ketangan Portugis tahun 1511 maka menimbulkan beberapa akibat diantaranya sebagai berikut, kecuali….

A. munculnya kerajaan kerajaan Islam baru di Nusantara B. jalur perdagangan di barat Sumatra semakin ramai C. dilaksanakannya sistem monopoli dalam perdagangan di Selat Malaka D. terjadinya perebutan kekuasaan antara Potugsi dan Spanyol di Malaka E. terjadinya penyerangan Demak terhadap Malaka Pembahasan: Pada tahun 1511, Portugis dibawah pimpinan Alfonso de Albuquerque berhasil menaklukan Malaka pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah.

Malaka pada saat itu merupakan bandar pelabuhan yang sangat ramai. Dampak dari penguasaan Portugis terhadap Malaka antara lain: • jalur perdagangan dibaratSumatra semakin ramai • dilaksanakannya sistem monopoli yang diterapkan oleh Portugis dalam perdagangan di Selat Malaka • terjadinya penyerangan Demak terhadap Malaka.

Penyerangan dipimpin oleh Pati Unus pada tahun 1513, tujuannya adalah mengusir Portugis dari Malaka. Selain Demak, juga terdapat Kerajaan Aceh yang berupaya mengalahkan Portugis di Malaka. • Malaka tidak lagi menjadi pelabuhan dagang utama atau pusat. • Perdagangan yang dulunya berpusat di Malaka kemudian menyebar ke daerah sekitarnya salah satunya adalah di Sumatera dan Jawa. • Belanda yang mengetahui kalau Malaka jatuh ke tangan Portugis mengambil rute pelayaran dari Tanjung Harapan – Samudera Hindia – kemudian mendarat di Banten, dengan kata lain tidak melalui Selat Malaka.

• munculnya kerajaan kerajaan Islam baru di Nusantara Pembahasan: Kunci jawaban: Setelah jatuhnya bandar pelabuhan dagang Malaka ketangan Portugis tahun 1511 maka menimbulkan beberapa akibat diantaranya sebagai berikut, kecuali…. D. terjadinya perebutan kekuasaan antara Potugsi dan Spanyol di Malaka SEMOGA BERMANFAAT • • Katagori • Ayo Kerja • Barisan6 • IPS Terpadu • Kumpulan Soal • Masa Awal Kemerdekaan • Masa Demokrasi Liberal • Masa Demokrasi Terpimpin • Masa Hindu-Budha • Masa Islam • Masa Kolonial Barat • Masa Orde Baru • Masa Pendudukan Jepang • Masa Pergerakan Nasional • Masa Pra-Aksara • Masa Reformasi • Materi Daring Sejarah • Pakar Kejombloan • PembaTIK 2021 • Malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun.

di Indonesia • Pendidikan • Perjuangan Bangsa Indonesia • Sejarah Dunia • Sejarah Indonesia • Soal EHB BKS Sejarah Peminatan • Soal IPS Terpadu • Soal OSN IPS • Soal PAS Sejarah • Soal PAT Sejarah • Soal Sejarah SMA • Soal Tes Wawasan Kebangsaan • Soal USBN IPS • Soal USBN Sejarah • soal UTBK Sejarah • Toeri-Teori • Uncategorized • Pos-pos Terbaru • Kisi Tes Potensi Akademi Pretest PPG 2022 Matapelajaran Sejarah • Sebelum keluarnya Undang Undang Agraria tahun 1870 • Peran Marthen Indey • Kontribusi Indonesia dalam OKI • Tokoh yang memprakarsai Gerakan Non Blok • Negara Pelopor ASEAN • Tokoh pendiri Dinasti Isyana • Fungsi peninggalan Megalitikum • Saluran persebaran Islam di Indonesia • Dasar Teori Persia • Faktor pendorong adanya penjelajahan samudera • Bentuk pelaksanaan politik etis • Ciri perjuangan bangsa Indonesia malaka jatuh ke tangan portugis pada tahun.

tahun 1908 • Akhir dari Demokrasi Liberal • Tokoh Indonesia yang berjasa ikut mendirikan ASEAN • Pasal terkait jabatan presiden • Prinsip Gerakan Non Blok • Latar belakang pembentukan Romusa • Hasil Konferensi Meja Bundar • Kerajaan Islam di Pulau Sumatera • Isi Kapitulasi Kalijati • 3 Peserta Peraih Suara Terbesar Pemilu 1971 • Penyelesaian masalah Timor Timur • Asal usul nenek moyang Indonesia • Memilih Sumber • Partai yang tergabung dalam PDI • Provinsi Baru di Sulawesi Pasca Reformasi • Negara yang hadir dalam Konferensi Asia di New Delhi • Pengaruh Portugis dalam Bidang Kesenian • Gerakan bawah tanah masa pendudukan JepangKOMPAS.com - Sebelum dijajah Belanda, Indonesia dijajah oleh bangsa Portugis.

Wilayah Nusantara yang pertama dikuasai Portugis adalah Kesultanan Malaka. Pada abad ke-15, wilayah Kesultanan Malaka ada di Semenanjung Malaysia, Selat Malaka, hingga pesisir timur Sumatera. Malaka adalah pintu masuk kolonialisasi bangsa Eropa di Nusantara.

Berikut sejarah jatuhnya Kesultanan Malaka ke tangan Portugis seperti dikutip dari A History of Modern Indonesia since c. 1200 (2008) karya MC Ricklefs. Baca juga: Tujuan Bangsa Eropa Datang ke Indonesia Portugis mencari Kepulauan Rempah-rempah Di akhir abad ke-15, Portugis mencari Kepulauan Rempah-rempah.

Rempah-rempah adalah komoditas bernilai mahal di Eropa. Rempah-rempah digunakan untuk mengawetkan daging. Saat itu, perdagangan rempah-rempah dikuasai para pedagang muslim. Bermodalkan kemampuan geografi dan astronomi, Portugis mengirim para pelayar untuk mencari daerah yang dimaksud.

Pada 1487, pelayar Bartolomeu Dias pun mengitari Tanjung Harapan di Afrika dan memasuki Samudra Hindia. Baca juga: Rempah-rempah Khas di Indonesia Kemudian pada 1497, pelayar Vasco de Gama sampai di India. Namun di India, barang dagangan Portugis kalah saing dengan barang-barang dari Asia. Berita Terkait Mengenang Perjalanan Bongkahan Tanah Makam Tan Malaka, dari Kediri ke Sumatera Sultan Himayatuddin Dapat Gelar Pahlawan Nasional, Warga Berdatangan ke Makam Kisah Wisma Nusantara, Pencakar Langit Pertama di Asia Tenggara Menelusuri Jejak Tentara Jepang di Sabang Menelusuri Kampung Tugu, Jejak Portugis di Utara Jakarta Berita Terkait Mengenang Perjalanan Bongkahan Tanah Makam Tan Malaka, dari Kediri ke Sumatera Sultan Himayatuddin Dapat Gelar Pahlawan Nasional, Warga Berdatangan ke Makam Kisah Wisma Nusantara, Pencakar Langit Pertama di Asia Tenggara Menelusuri Jejak Tentara Jepang di Sabang Menelusuri Kampung Tugu, Jejak Portugis di Utara Jakarta

Rakyat Malaka sampai titik darah penghabisan melawan Portugis di Malaka tahun 1511




2022 www.videocon.com