Terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum

terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum

Pengertian pancasila sebagai sumber dari segala hukum - Pancasila merupakan ideologi dan dasar negara Indonesia. Dasar negara adalah sebuah landasan kehidupan bagi bangsa dan negara. Sehingga bisa dikatakan kalau pancasila itu merupakan sumber dari segala hukum di Inodnesia. Lalu apa yang dimaksud dengan pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum? Sudah tahukah kamu makna pancasila sebagai sumber dari segala hukum di indonesia?

terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum

Jika belum, maka pada pembahasan kali ini kami akan menjelaskan terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum pancasila sebagai sumber dari segala hukum. Berikut ini adalah penjelasan definisi pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum. Pengertian Pancasila Sebagai Sumber dari Segala Hukum Pengertian Pancasila Sebagai Sumber dari Segala Hukum Arti pancasila sebagai sumber dari segala hukum adalah bahwa segala peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia harus bersumberkan Pancasila atau tidak bertentangan dengan Pancasila.

Pancasila sebagai ketentuan tertinggi tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam pokok-pokok pikiran UUD 1945, yang pada akhirnya dioperasionalkan dalam bentuk hukum dan peraturan positif di bawahnya. Dengan kata lain, makna pancasila sebagai sumber dari segala hukum yaitu: • Pancasila menjadi dasar dalam penyelenggaraan negara. • Pancasila menjadi dasar dalam pengaturan dan sistem pemerintahan negara.

Sumber hukum yaitu sumber yang dijadikan sebagai bahan dalam penyusunan peraturan perundang-undangan. Sumber hukum terdiri atas sumber hukum tertulis dan sumber hukum tidak tertulis.

Sumber hukum tertulis merupakan hukum yang dicantumkan atau ditulis dalam berbagai peraturan negara. Sedangkan hukum tidak tertulis yaitu hukum yang hidup dan berkembang di masyarakat, tetapi tidak tertulis misalnya hukum kebiasaan atau hukum adat.

Kembali ke Menu Pembahasan ↑ Sekarang sudah tahu kan bagaimana pengertian pancasila sebagai sumber dari segala hukum itu. Demikian penjelasan yang dapat kami tuliskan tentang pengertian pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum negara indonesia.

Semoga penjelasan dalam blog temukan pengertian di atas dapat bermanfaat. Fungsi dan Kedudukan Pancasila - Pancasila merupakan ideologi dasar bagi negara Indonesia.

Nama ini terdiri dari dua kata dari bahasa Sanskerta: "pañca" berarti lima dan "śīla" berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Dasar negara merupakan fundamen atau Alas yang dijadikan pijakan serta dapat memberi kekuatan kepada berdirinya suatu negara. Indonesia dibangun juga berdasarkan pada suatu alas atau landasan yaitu Pancasila.

Pancasila pada fungsinya sebagai dasar negara, adalah sumber kaidah hukum yang mengatur Bangsa Indonesia, termasuk di dalamnya seluruh unsur-unsurnya yakni rakyat, pemerintah dan wilayah. Pancasila pada posisi seperti inilah yang merupakan dasar pijakan penyelenggaraan negara serta seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pancasila merupakan kristalisasi pengalaman hidup dalam sejarah bangsa indonesia yang telah membentuk watak, sikap, prilaku, etika dan tata nilai norma yang telah melahirkan pandangan hidup. Pandangan hidup sendiri adalah suatu wawasan menyeluruh terhadap kehidupan yang terdiri dari kesatuan rangkaian dari nilai-nilai luhur. Pandangan hidup berguna sebagai pedoman / tuntunan untuk mengatur hubungan sesama manusia, hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan lingkungan.

Ideoligi berasal dari kata “Idea” yang berarti konsep, gagasan, pengertian dasar, cita-cita dan logos yang berarti ilmu jadi Ideologi dapat diartikan adalah Ilmu pengertian-pengertian dasar. Dengan demikian Pancasila sebagai Ideologi Bangsa dimana pada hakikatnya adalah suatu hasil perenungan atau pemikiran Bangsa Indonesia. Pancasila di angkat atau di ambil dari nilai-nilai adat istiadat yang terdapat dalam pandangan hidup masyarakat Indonesia, dengan kata lain pancasila merupakan bahan yang di angkat dari pandangan hidup masyarakat Indonesia.

Pancasila sebagai nilai-nilai kehidupan yang ada di masyarakat indonesia, hal tersebut melalui penjabaran instrumental sebagai acuan hidup yang merupakan cita-cita yang ingin digapai serta sesuai dengan jiwa Indonesia serta karena pancasila lahir bersamaan dengan lahirnya Indonesia. Menurut Von Savigny bahwa setiap bangsa punya jiwanya masing-masing yang disebut Volkgeist, artinya Jiwa Rakyat atau Jiwa Bangsa. Pancasila sebagai jiwa Bangsa lahir bersamaan dengan adanya Bangsa Indonesia yaitu pada jaman dahulu kala pada masa kejayaan nasional.

Pancasila sebagai kepribadian bangsa karena Pancasila lahir bersama dengan lahirnya bangsa Indonesia dan merupakan ciri khas bangsa Indonesia dalam sikap mental maupun tingkah lakunya sehingga dapat membedakan dengan bangsa lain. dan Pancasila Merupakan wujud peran dalam mencerminkan adanya kepribadian Negara Indonesia yang bisa mem bedakan dengan bangsa lain, yaitu amal perbuatan, tingkah laku dan sikap mental bangsa Indonesia.

Karena saat berdirinya bangsa indonesia, Pancasila merupakan perjanjian luhur yang telah disepakati oleh para pendiri bangsa untuk dilaksanakan, di lestarikan dan di pelihara. Artinya Pancasila telah disepakati secara nasional sebagai dasar negara tanggal 18-Agustus-1945 pada sidang PPKI (Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia), PPKI ini merupakan wakil-wakil dari seluruh rakyat Indonesia yang mengesahkan perjanjian luhur (Pancasila) tersebut. Pancasila merupakan sarana yang ampuh untuk mempersatukan Bangsa Indonesia.

Karena Pancasila merupakan palsafah hidup dan kepribadian Bangsa Indonesia yang mengandung nilai-nilai dan norma-norma yang oleh Bangsa Indonesia diyakini paling benar, bijaksana, adil dan tepat bagi Bangsa Indonesia guna mempersatukan Rakyat Indonesia. Sekian Artikel tentang Fungsi dan Kedudukan Pancasila, semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi sobat MARKIJAR.Com terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum dapat memberikan pengetahuan tentang Kedudukan dan Fungsi Pancasila Bagi Negara Indonesia yang sejatinya wajib diketahui oleh seluruh warga indonesia agar dijadikan pedoman dalam kehidupan.
Makna Pancasila sebagai Sumber dari Segala Sumber Hukum – Pancasila sebagai dasar negara kita memiliki posisi yang strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ditambah lagi, kedudukannya sebagai ideologi bangsa menempatkan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. Seperti apakah itu? Namun, sebelum membahas tentang konsep tersebut ada baiknya kita sejenak menengok bagaimana sejarah lahirnya Pancasila. The founding fathers, para pendiri bangsa ini telah merumuskan Pancasila sebagai paradigma dalam kehidupan bernegara.

Pancasila dirumuskan dengan menyatukan secara sempurna lima prinsip dasar dalam bernegara. Kelima prinsip tersebut adalah ketuhanan atau theisme, kemanusiaan atau humanisme, kebangsaan atau nasionalisme, kerakyatan atau demokrasi, dan keadilan atau sosialisme. Tanggal 1 Juni telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai Hari Lahir Pancasila. Proses perumusan lima sila dasar negara tersebut melibatkan lima tokoh besar selaku tim perumus. Mereka adalah Soekarno, Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, K.H Abdul Wachid Hasyim, dan Soepomo.

Kelima tokoh tersebut mempunyai waktu empat hari, yaitu 29 Mei—1 Juni 1945 untuk merumuskan asas negara Indonesia. Waktu perumusan tersebut bersamaan dengan sidang perdana BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Adapun agenda sidang tersebut adalah untuk menyusun apa falsafah dari negara Indonesia. BPUPKI sendiri merupakan perwujudan dari janji Jepang untuk memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia.

Kuniaki Koiso Perdana Menteri Jepang saat itu—kemudian membentuk badan bernama BPUPKI. Seperti namanya, BPUPKI didirikan dengan tujuan untuk menyelidiki dan mempelajari semua hal yang terkait dengan proses berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Merumuskan falsafah atau dasar negara menjadi agenda yang penting untuk diprioritaskan pada sidang pertama tersebut. Tepat pada hari keempat, yaitu 1 Juni 1945, Soekarno pun menyampaikan hasil diskusi tim perumus dasar negara.

Dalam pidatonya dihadapan peserta sidang—yang terdiri dari 70 orang anggota BPUPKI—Soekarno mempresentasikan usulan lima asas negara Indonesia yang disebutnya dengan “Pancasila”. Lima asas tersebut adalah ketuhanan Yang Maha Esa, kebangsaan Indonesia, perikemanusiaan atau internasionalisme, persatuan dan kesatuan, dan kesejahteraan sosial.

Pancasila akhirnya diterima oleh para peserta sidang sebagai dasar negara Indonesia. Itulah mengapa tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila. Lebih lanjut, pada terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum 18 Agustus 1945 Pancasila diputuskan menjadi ideologi bangsa Indonesia.

Momen penetapan tersebut terjadi pada sidang pertama Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). • A. Pengertian Pancasila • Anda Mungkin Juga Menyukai • B. Tujuan Pancasila • C. Landasan Pancasila Sebagai Sumber dari Segala Sumber Hukum • D. Makna Pancasila Sebagai Sumber dari Segala Sumber Hukum • Buku Terkait Pancasila • Rekomendasi Buku & Artikel Terkait • • Kategori Ilmu Ekonomi • Materi Terkait A.

Pengertian Pancasila Selain menjadi dasar negara, Pancasila juga merupakan pilar ideologis bangsa Indonesia. Nama Pancasila sendiri diambil dari dua kata bahasa Sanskerta, yaitu, panca yang berarti lima dan sila artinya asas atau prinsip. Rp 63.000 Dengan demikian, Pancasila adalah seperangkat rumusan dan pedoman kehidupan dalam berbangsa dan bernegara.

Karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi seluruh rakyat Indonesia untuk memegang erat pedoman tersebut. Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan Pancasila sebagai dasar negara serta falsafah bangsa dan negara Republik Indonesia yang terdiri dari lima sila. Pancasila juga seringkali didefinisikan sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia yang memiliki makna bahwa kristalisasi pengalaman hidup dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia yang telah membentuk sikap, watak, perilaku, tata nilai, pandangan filsafat, moral, etika yang telah melahirkannya yang dibahas dalam buku Sistem Demokrasi Pancasila Edisi Kedua dibawah ini.

Sila pertama Pancasila adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Bunyi sila kedua adalah “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Berikutnya, “Persatuan Indonesia” menjadi sila ketiga dari Pancasila. Bunyi sila keempat adalah “ Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”. Terakhir, sila kelima Pancasila, berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Bunyi dan urutan kelima sila tersebut tidak sama persis dengan yang pertama kali diusulkan oleh tim perumus.

Beberapa kali terjadi perubahan dalam redaksi kalimat setiap sila juga urutannya. Hingga akhirnya diperoleh redaksi kalimat Pancasila yang final seperti yang kita hafalkan saat ini. Kelima ideologi tersebut termaktub dalam paragraf ke-4 naskah Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Simbol dari kelima sila juga terpampang pada dada burung garuda selaku lambang negara Indonesia atau yang kita kenal sebagai Garuda Pancasila. Berbagai nilai terkandung di dalam Pancasila dan seringkali dijadikan pedoman atau landasan hukum di Indonesia seperti halnya yang dibahas dalam buku Insan Berkarakter Pancasila.

Berikut adalah simbol yang melambangkan setiap sila pada Pancasila beserta maknanya: 1. Bintang Tunggal Simbol ini melambangkan sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Bintang tunggal tersebut memiliki lima sudut, berwarna kuning keemasan, dan memiliki latar belakang berwarna hitam. Bintang ini diletakkan tepat di tengah perisai pada dada Garuda Pancasila. Warna kuning keemasan pada bintang tunggal dimaknai sebagai cahaya kasih yang dipancarkan Tuhan Yang Maha Esa kepada seluruh makhluk-Nya.

Sementara latar belakang bintang tunggal yang berwarna hitam melambangkan warna asli alam yang diciptakan Tuhan. Bukan tanpa alasan bintang tunggal ini digambarkan dengan memiliki lima sudut. Kelima sudut tersebut melambangkan lima agama yang diakui di Indonesia, yaitu, Islam, Katolik, Kristen, Budha, dan Hindu. Dengan demikian, sila pertama menyampaikan pesan bahwa bangsa Indonesia meyakini Tuhan. Juga, negeri ini mengakui keberagaman agama yang dianut warganya dengan tetap memegang teguh nilai-nilai ketuhanan.

Simbol ini melambangkan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab yang merupakan sila kedua Pancasila. Letak simbol rantai emas ini adalah di area kanan bawah pada perisai Garuda Pancasila. Jika kita amati dengan saksama, ada dua bentuk mata rantai pada gambar rantai emas ini, yaitu, lingkaran dan persegi.

Mata rantai berbentuk lingkaran melambangkan perempuan. Sementara laki-laki dilambangkan dengan mata rantai berbentuk persegi. Kedua mata rantai tersebut saling berkaitan satu sama lain sehingga terbentuk satu rantai yang utuh. Makna dari hal tersebut adalah setiap manusia Indonesia—perempuan maupun laki-laki—saling membutuhkan. Keterkaitan antar mata rantai juga melambangkan kekuatan jika seluruh bangsa Indonesia mau bersatu. Kaitan mata rantai emas sendiri sama sejatinya sama seperti tangan-tangan yang saling menggenggam atau bergandengan.

Karena itu, makna dari sila kedua adalah terwujudnya kehidupan manusia Indonesia yang damai, rukun, dan sejahtera. Manusia Indonesia juga terbiasa untuk saling bantu dan menumbuhkan kebiasaan gotong royong dalam segala hal. 3. Pohon Beringin Di bagian kanan atas perisai terdapat simbol pohon beringin. Ini adalah simbol dari sila ketiga Pancasila, yaitu, Persatuan Indonesia.

Memilih pohon beringin untuk melambangkan sila ini sangatlah tepat adanya. Ya, karena beringin merupakan terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum besar yang rindang dan rimbun, sehingga banyak orang memilihnya sebagai tempat berteduh. Filosofi inilah yang diangkat dari penggambaran pohon beringin sebagai sila ketiga.

Seluruh rakyat diharapkan dapat bernaung di bawah perlindungan negara Indonesia. Tak hanya sampai di situ, ada pula bagian pohon beringin yang juga penting sehingga dipilih menjadi simbol sila ketiga.

Pohon ini dikenal memiliki akar kuat dan sulur yang menjalar ke mana-mana. Hal tersebut melambangkan banyak dan beragamnya suku bangsa di Indonesia. Namun, semua suku tersebut bersatu dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 4. Kepala Banteng Simbol ini diletakkan di sebelah kiri atas perisai Garuda Pancasila. Simbol kepala banteng ini mewakili sila keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Banteng dipilih sebagai lambang untuk sila keempat karena hewan ini dikenal suka berkumpul.

Karenanya mereka sering disebut sebagai hewan sosial. Filosofi tersebut sangat tepat dengan isi dari sila keempat itu sendiri. Ya, “musyawarah” yang dimaksud dalam Pancasila adalah orang-orang yang berkumpul untuk melakukan diskusi. Kemudian mereka menghasilkan keputusan yang disepakati bersama.

Sila keempat juga mengamanahkan kepada kita bahwa berkumpul untuk diskusi menjadi solusi dari setiap perbedaan. Selain itu, sila keempat juga menuntun kita untuk tidak menggunakan cara-cara yang keras saat menyelesaikan masalah. 5. Padi dan Kapas Simbol padi dan kapas ini digambarkan di sebelah kiri bawah dalam perisai Pancasila. Simbol ini melambangkan sila kelima, yaitu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kebutuhan pokok manusia merupakan makna yang disimbolkan oleh padi dan kapas. Padi melambangkan pangan, sedangkan kapas melambangkan pakaian atau sandang.

Ketersediaan kebutuhan dasar merupakan perwujudan dari keadilan sosial itu sendiri. Setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan keadilan sosial tersebut tanpa memandang kedudukan ataupun statusnya dalam masyarakat. Sila kelima ini juga merupakan komitmen pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh bangsa Indonesia.

Penjelasan lengkap mengenai Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara mulai dari proses panjang Pancasila dari awal perumusan, penafsiran filosofis dan ideologis dapat kamu pelajari pada buku Pancasila karya Prof. Drs H. Achmad Fauzi DH.M.A. dibawha ini. B. Tujuan Pancasila Utamanya, tujuan Pancasila adalah menjadi ideologi bangsa Indonesia. Sebagai ideologi, nilai-nilai Pancasila haruslah terinternalisasi dalam jiwa setiap manusia Indonesia dan dijalankan dalam kehidupan terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum.

Pancasila yang dirumuskan oleh para pendiri negara merupakan kristalisasi nilai-nilai sosial dan budaya nenek moyang masyarakat dan bangsa Indonesia. Dengan berbagai nilai positif yang diambil dari seluruh aspek kehidupan masyarakat, rumusan Pancasila berisi nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan yang secara lengkap dibahas dalam buku Pancasila Eksistensi & Aktualisasi.

Tujuan Pancasila juga tersirat dalam Tujuan Nasional yang tersurat pada alinea keempat naskah Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 berikut ini: “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial …” Namun, secara garis besar berikut adalah tujuan Pancasila: a.

Membentuk dan meninggikan rasa saling menghormati dan menghargai terhadap hak asasi setiap manusia b. Melahirkan nasionalisme dan memperkuat rasa cinta tanah air dalam diri setiap rakyat Indonesia c. Membentuk dan memperkuat demokrasi pada bangsa Indonesia, yaitu dengan mengutamakan kepentingan bersama demi kesejahteraan segenap bangsa d. Melahirkan bangsa yang berkeadilan baik secara sosial maupun ekonomi sehingga seluruh rakyat Indonesia mendapatkan kesempatan yang sama dalam pengembangan diri.

C. Landasan Pancasila Sebagai Sumber dari Segala Sumber Hukum Dalam kedudukannya sebagai ideologi bangsa Indonesia, Pancasila menjadi sumber dari segala sumber hukum. Landasan terhadap konsep tersebut dapat kita lihat dengan mengacu pada Teori Norma yang dikemukakan oleh Hans Kelsen dan Nawiasky.

Teori tersebut bertajuk die Stufenordnung der Rechtsnormen. Di dalamnya dipaparkan tingkatan peraturan dalam suatu negara, yaitu: 1. Staatsfundamentalnorm, yaitu seperangkat norma fundamental negara yang bersifat abstrak dan menjadi sumber hukum 2.

Staatsgrundgesetz, meliputi aturan dasar, aturan pokok, atau konstitusi negara 3. Formell Gesetz, yaitu undang-undang 4. Verordnung & Autonome Satzung, yaitu aturan pelaksana peraturan pemerintah dan peraturan daerah. Berdasarkan teori Hans Kelsen dan Nawiasky di atas, Pancasila dikategorikan ke dalam staatsfundamentalnorm. Hal tersebut pun kemudian ditetapkan dengan dokumen resmi kenegaraan berwujud undang-undang. Tap MPRS Nomor XX/MPRS/1966 adalah peraturan pertama yang menetapkan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum.

Peraturan tersebut disempurnakan dengan Tap MPR Nomor III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Perundang-undangan. Ketetapan tersebut kemudian diperkuat lagi melalui Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Undang-Undang tersebut kemudian populer dengan sebutan UU PPPU. Kembali pada konteks Pancasila, Pasal 2 UU PPPU tersebut menyebutkan, “Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum negara.” Dengan demikian, secara yuridis Pancasila memiliki landasan konstitusional dalam kedudukannya sebagai sumber hukum di Indonesia.

Pancasila yang diposisikan sebagai sumber dari segala sumber hukum tersebut sejalan pula dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Hal tersebut tersurat dengan jelas pada alinea keempat, sebagai berikut: “… maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.” Namun kemudian muncul pertanyaan, mengapa Pancasila tidak disebutkan dalam hierarki Peraturan Perundang-undangan seperti yang disebutkan dalam Pasal 7 Ayat 1 UU PPPU?

Sebagaimana diketahui bahwa dalam pasal tersebut disebutkan bahwa jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan di Indonesia terdiri atas: a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat; c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; d. Peraturan Pemerintah; e. Peraturan Presiden; f. Peraturan Daerah Provinsi; dan g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. Pancasila tidak disebutkan dalam urutan tersebut karena nilai-nilainya telah terkandung di dalam UUD 1945.

Sementara menurut Pasal 3 Ayat 1 UU PPPU, UUD 1945 merupakan hukum dasar dalam Peraturan Perundang-undangan di Indonesia. Jika kembali merujuk kepada teori Hans Kelsen dan Nawiasky berarti dapat disimpulkan bahwa posisi Pancasila sebagai Staatsfundamentalnorm berada di atas UUD 1945 selaku Staatsgrundgesetz. Dengan demikian, Pancasila bukanlah dasar hukum dalam Peraturan Perundang-undangan Indonesia, melainkan sumber dari segala sumber hukum. Karena dasar hukum Indonesia adalah UUD 1945.

D. Makna Pancasila Sebagai Sumber dari Segala Sumber Hukum Terminologi “sumber hukum”sendiri dimaknai sebagai sumber dari suatu hukum. Hal tersebut meliputi nilai-nilai, kaidah, ataupun norma hukum. Sementara Pancasila merupakan refleksi dari seluruh nilai yang hidup, tumbuh, dan berkembang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Pancasila yang menjadi dasar filsafat negara dan filsafat hidup bangsa Indonesia mengandung nilai-nilai yang bersifat sistematis, fundamental, dan menyeluruh seperti halnya yang dibahas pada buku Pancasila dibawah ini.

Karena itu, “Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum” merupakan norma yang fundamental sebagai dasar dari terbentuknya konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai konsekuensi dari hal tersebut, seluruh nilai Pancasila haruslah tercermin dan menjadi ruh dalam seluruh isi hukum atau Peraturan Perundang-undangan di Indonesia.

Atau dengan kata lain, seluruh konstitusi yang mengatur penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia tidak boleh bertentangan dengan Pancasila. Sebagai sumber hukum, Pancasila secara konstitusional mengatur penyelenggaraan negara Republik Indonesia. Hal tersebut tak terkecuali seluruh unsur-unsur negara Indonesia, yaitu, rakyat, wilayah, serta pemerintah. Berbagai masalah bangsa Indonesia seperti ancaman terhadap demokrasi, keberagaman dan masih banyak lagi di atur dalam nilai Pancasila dan secara lengkap kamu bisa pelajari pada buku Demokrasi, Agama, Pancasila: Catatan sekitar Perpolitikan Indonesia Now.

Dalam kedudukannya sebagai dasar negara, Pancasila juga merupakan asas kerohanian, di dalamnya meliputi cita-cita hukum. Dengan demikian, Pancasila menjadi sumber nilai, kaidah, serta norma, baik moral maupun hukum positif di negara Indonesia. Pada konteks tersebut, Pancasila menguasai hukum dasar, baik yang tertulis berupa UUD 1945 maupun yang tidak tertulis.

Karena itulah, dalam posisinya sebagai dasar negara tersebut, Pancasila memiliki kekuatan yang mengikat secara hukum. Nilai-nilai dalam Pancasila pun kemudian dijabarkan lebih lanjut pada pokok-pokok pikiran UUD 1945. Karena UUD 1945 berkedudukan sebagai dasar hukum maka nilai-nilai Pancasila pun akhirnya menjiwai hukum-hukum positif di Indonesia.

Demikianlah, makna pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum, Pancasila seharusnya menjadi ruh yang menggerakkan penyelenggaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Sebagai rakyat kita juga perlu aktif mengambil bagian untuk mengawasi jalannya penyelenggaraan negara agar tetap sesuai dengan Pancasila.

Buku Terkait Pancasila 1. Paradigma Baru Pendidikan Pancasila 2. Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan Di Perguruan Tinggi Rekomendasi Buku & Artikel Terkait Kategori • Administrasi 5 • Agama Islam 127 • Akuntansi 37 • Bahasa Indonesia 95 • Bahasa Inggris 59 • Bahasa Jawa 1 • Biografi 31 • Biologi 101 • Blog 23 • Business 22 • CPNS 8 • Desain 14 • Design / Branding 2 • Ekonomi 152 • Environment 10 • Event 15 • Feature 12 • Fisika 30 • Food 3 • Geografi 62 • Hubungan Internasional 9 • Hukum 20 • IPA 82 • Kesehatan 18 • Kesenian 10 • Kewirausahaan 9 • Kimia 19 • Komunikasi 5 • Kuliah 21 • Lifestyle 10 • Manajemen 29 • Marketing 19 • Matematika 20 • Music 9 • Opini 3 • Pendidikan 35 • Pendidikan Jasmani 32 • Penelitian 5 • Pkn 69 • Politik Ekonomi 15 • Profesi 12 • Psikologi 31 • Sains dan Teknologi 30 • Sastra 32 • SBMPTN 1 • Sejarah 84 • Sosial Budaya 98 • Sosiologi 53 • Statistik 6 • Technology 26 • Teori 6 • Tips dan Trik 57 • Tokoh 59 • Uncategorized 31 • UTBK 1 Pancasila dalam kedudukannya ini sering disebut sebagai Dasar Filsafat atau Dasar Falsafah Negara (Philosofische Gronslag) dari Negara, ideologi Negara atau (Staatsidee).

Dalam pengertian ini pancasila merupakan suatu dasar nilai serta norma untuk mengatur pemerintahan Negara atau dengan kata lain perkataan. Pancasila merupakan suatu dasar untuk mengatur penyelenggaraan Negara. Konsekuensinya seluruh pelaksanaan dan penyelenggaraan Negara terutama segala peraturan perundang-undangan termasuk proses reformasi dalam segala bidang dewasa ini dijabarkan dan diderivasikan dari nilai-nilai pancasila.

Maka pancasila merupakan Sumber dari segala sumber hukumpancasila merupakan sumber kaidah hukum Negara yang secara konstitusional mengatur Negara Republik Indonesia beserta seluruh unsur-unsurnya yaitu rakyat wilatah, beserta pemerintah Negara Sebagai dasar Negara, Pancasila merupakan suatu asas kerokhanian yang meliputi suasana kebatinan atau cita-cita hukum, sehingga merupakan suatu sumber nilai, norma serta kaidah, baik moral maupun hukum Negara, dan menguasai hukum dasar baik yang tertulis atau Undang-Undang Dasar maupun yang tidak tertulis atau Dalam kedudukannya sebagai dasar Negara, Pancasila mempunyai kekuatan mengikat secara hukum.

Sebagai sumber dari segala hukum atau sebagai sumber tertib hukum Indonesia maka Setiap produk hukum harus bersumber dan tidak boleh bertentangan dengan Pancasila. Pancasila tercantum dalam ketentuan tertinggi yaitu Pembukaan UUD 1945, kemudian dijelmakan atau dijabarkan lebih lanjut dalam pokok-pokok pikiran, yang meliputi suasana kebatinan dari UUD 1945, yang pada akhirnya dikongkritisasikan atau dijabarkan dari UUD1945, serta hukum positif lainnya. Pancasila sebagai dasar filsafat negara, pandangan hidup bangsa serta idiologi bangsa dan negara, bukanlah hanya untuk sebuah rangkaian kata- kata yang indah namun semua itu harus kita wujudkan dan di aktualisasikan di dalam berbagai bidang dalam kehidupan bermasarakat, berbangsa dan bernegara.

Kedudukan Pembukaan UUD 1945 sebagai Sumber hukum Positif Dalam kedudukan dan fungsi pancasila sebagai dasar negara sebagai negara republik indonesia, maka kedudukan pancasila sebagai mana tercantum dalam pembukaan UUD 1945 adalah sebagai sumber dari segala terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum hukum indonesia. Dengan demikian seluruh peraturan perudang- undangan di indonesia harus bersumber pada pembukaan UUD terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum yang di dalamnya terkandung asas kerohanian negara atau dasar filsafat negara RI.

Dalam alinia ke empat pembukaan UUD 1945, termuat unsur- unsur yang menurut ilmu hukum di syaratkan bagi adanya suatu tertib hukum di indonesia (rechts orde) atau (legai orde) yaitu suatu kebulatan dan keseluruhan peraturan- peraturan hokum Dengan di cantumkanya pancasila secara formal didalam pembukaan UUD 1945, maka pancasila memperoleh kedudukan sebagai norma dasar hukum positif, dengan demikian tata kehidupan benegara tidak hanya bertopang pada asas- asas sosial, ekonomi, politik, akan tetapi dalam perpaduanya dengan keseluruhan asas yang melekat padanya yaitu panduan asas- asas kultural.

Hubungan Kausal Organis Pembukaan UUD 1945 dengan Batang Tubuh UUD 1945 Dalam sistem tertib hukum indonesia, penjelasan UUD 1945 menyatakan bahwa Pokok Pikiran itu meliputi suasana kebatinan dari Undang- Undang Dasar Negara Indonesia serta mewujudkan cita- cita hukum, menguasai hukum dasar tertulis (UUD) dan hukum dasar tidak tertulis (convensi), selanjutnya Pokok Pikiran itu di jelmakan dalam pasal- pasal UUD 1945.

Maka dapatlah disimpulkan bahw suasana kebatinan UUD 1945 tidak lain di jiwai atau bersumber pada dasar filsafat negara dan fungsi pancasila sebagai dasar negara RI. Pembukaan UUD 45 mempunyai kedudukan Lebih tinggi dibanding Batang Tubuh, alasannya Dalam Pembukaan terdapat : • Dasar Negara (Pancasila) • Fungsi dan Tujuan Bangsa Indonesia • Bentuk Negara Indonesia (Republik) Baik menurut teori umum hukum ketatanegaraan dari Nawiasky, maupun Hans Kelsen dan Notonagoro diakui kedudukan dan fungsi kaidah negara yang fundamental yang bersifat tetap; sekaligus sebagai norma tertinggi, sumber dari segala sumber hukum dalam negara.

Karenanya, kaidah ini tidak dapat diubah, oleh siapapun dan lembaga apapun, karena kaidah ini ditetapkan hanya sekali oleh Pendiri Negara. Sebagai kaidah negara yang fundamental, sekaligus sebagai asas kerokhanian negara dan jiwa konstitusi, nilai-nilai dumaksud bersifat imperatif (mengikat, memaksa).

Artinya, semua warga negara, organisasi infrastruktur dan suprastruktur dalam negara imperatif untuk melaksanakan dan membudayakannya. Sebaliknya, tiada seorangpun warga negara, maupun organisasi di dalam negara yang dapat menyimpang dan atau melanggar asas normatif ini, apalagi merubahnya.

Pembukaan Undang- undang Dasar 1945 Sebagai pokok kaidah negara yang fundamental sehingga Pembukaan UUD 1945 tidak bisa diubah, Pokok kaidah negara yang fundamental tersebut menurut ilmu hukum mempunyai hakikat dan kedudukan hukum yang tetap terletak pada kalangan tertinggi maka secara hukum tidak dapat diubah. Karena mengubah pembukaan UUD 1945 sama halnya dengan pembubaran negara RI, sedangkan Batang Tubuh bisa diubah (diamandeman) Dalam sistem tata hukum RI, Pembukaan UUD 45 pada hakikatnya telah memenuhi syarat sebagai Pokok Kaidah Negara yang Fundamental.

Pokok kaidah negara yang fundamental dapat di rinci sebagai berikut : • Ditentukan oleh Pendiri Negara (PPKI) dan terjelma dalam suatu pertanyaan lahir sebagai penjelmaan kehendak Pendiri Negara. • Pernyataan Lahirnya sebagai Bangsa yang mandiri • Memuat Asas Rohani (Pancasila), Asas Politik Negara (Republik berkedaulatan Rakyat), dan Tujuan Negara (menjadi Negara Adil Makmur) • Memuat Ketentuan yang menetapkan adanya suatu UUD Negara Dengan mengakui kedudukan dan fungsi kaidah negara yang fundamental, dan bagi negara Proklamasi 17 Agustus 1945 ialah berwujud: Pembukaan UUD Proklamasi 1945.

Maknanya, PPKI sebagai pendiri negara mengakui dan mengamanatkan bahwa atas nama bangsa Indonesia kita menegakkan sistem kenegaraan Pancasila – UUD 45. Asas demikian terpancar dalam nilai-niai fundamental yang terkandung di dalam Pembukaan UUD 45 sebagai kaidah filosofis-ideologis Pancasila seutuhnya.

Karenanya dengan jalan apapun, oleh lembaga apapun tidak dapat diubah. Karena Pembukaan ditetapkan hanya 1 X oleh pendiri negara (the founding fathers, PPKI) yang memiliki legalitas dan otoritas pertama dan tertinggi (sebagai penyusun yang mengesahkan UUD negara dan lembaga-lembaga negara).

Artinya, mengubah Pembukaan dan atau dasar negara berarti mengubah negara; berarti pula mengubah atau membubarkan negara Proklamasi (membentuk negara baru; mengkhianati negara Proklamasi 17 Agustus 1945).

Siapapun dan organisasi apapun yang tidak mengamalkan dasar negara Pancasila – beserta jabarannya di dalam UUD negara, bermakna pula tidak loyal dan tidak membela dasar negara Pancasila, maka sikap dan tindakan demikian dapat dianggap sebagai makar ( tidak menerima ideologi negara dan UUD negara). Jadi, mereka dapat dianggap melakukan separatisme ideologi dan atau mengkhianati negara. • ► 2015 (1) • ► 03/15 - 03/22 (1) • ► 2014 (3) • ► 10/12 - 10/19 (1) • ► 03/30 - 04/06 (1) • ► 02/16 - 02/23 (1) • ► 2013 (3) • ► 05/05 - 05/12 (2) • ► 01/13 - 01/20 (1) • ▼ 2012 (33) • ▼ 12/16 - 12/23 (5) • Hubungan antara Proklamasi - Pancasila - Pembukaan.

• Pancasila Sebagai Sistem Filsafat Indonesia • PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA POLITIK • Kedudukan Pancasila Sebagai Sumber dari Segala Sum. • PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI BANGSA DAN NEGARA INDON. • ► 12/02 - 12/09 (7) • ► 11/18 - 11/25 (1) • ► 09/30 - 10/07 (1) • ► 09/16 - 09/23 (2) • ► 09/09 - 09/16 (3) • ► 08/26 - 09/02 (2) • ► 05/20 - 05/27 (1) • ► 04/29 - 05/06 (1) • ► 03/11 - 03/18 (1) • ► 02/19 - 02/26 (3) • ► 02/12 - 02/19 (2) • ► 02/05 - 02/12 (4) • ► 2011 (38) • ► 12/11 - 12/18 (2) • ► 11/06 - 11/13 (2) • ► 10/16 - 10/23 (1) • ► 10/02 - 10/09 (13) • ► 09/25 - 10/02 (1) • ► 05/08 - 05/15 (1) • ► 04/24 - 05/01 (1) • ► 04/03 - 04/10 (5) • ► 03/20 - 03/27 (1) • ► 03/06 - 03/13 (3) • ► 02/27 - 03/06 (5) • ► 02/20 - 02/27 (2) • ► 02/06 - 02/13 (1) • ► 2010 (18) • ► 12/19 - 12/26 (1) • ► 06/06 - 06/13 (3) • ► 03/28 - 04/04 (3) • ► 03/07 - 03/14 (2) • ► 02/28 - 03/07 (3) • ► 02/14 - 02/21 (1) • ► 01/24 - 01/31 (5) • ► 2009 (11) • ► 11/15 - 11/22 (1) • ► 09/20 - 09/27 (2) • ► 09/13 - 09/20 (3) • ► 01/18 - 01/25 (5) • ► 2008 (2) • ► 12/21 - 12/28 (2)
Intisari-Online.com - Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum atau sumber hukum dasar nasional, menjadikan Pancasila sebagai ukuran dalam menilai hukum yang berlaku di negara Indonesia.

Hukum yang dibuat dan berlaku di negara Indonesia harus mencerminkan kesadaran dan rasa keadilan yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Hukum di Indonesia harus menjamin dan merupakan perwujudan serta tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam rumusan Pancasila sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945 dan interpretasinya dalam tubuh UUD 1945 tersebut.

Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum dipertegas dalam UU Nomor 10 tahun 2004 tentang pembentukan petaturan perundang-undangan terutama Pasal 2. Baca Juga: Pancasila Sebagai Sistem Etika, Kelima Nilainya Membentuk Perilaku Manusia Indonesia UU tersebut kemudian diganti dengan UU No.12 Tahun 2011 yang mengatur hal serupa.

Dengan demikian, keberadaan Pancasila kembali menjadi supreme norm dalam sistem hukum negara Indonesia sehingga Pancasila sebagai suatu pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita hukum maupun cita-cita moral bangsa terlegitimasi secara yuridis. Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum artinya menempatkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus dasar filosofis bangsa dan negara.

Baca Juga: Pancasila Sebagai Dasar Negara pada Masa Awal Kemerdekaan, Timbul Beberapa Pemberontakan yang Ingin Mengganti Pancasila dengan Ideologi Lain ARTIKEL TERKAIT • Sejarah Hari Lahir Pancasila Berawal dari Kekalahan Jepang pada Perang Pasifik • Apa Arti Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan?

Yuk Simak Selengkapnya Berikut Ini • Pancasila sebagai Kepribadian Bangsa Sangat Penting untuk Menyelesaikan Masalah dengan Musyawarah • Berdasarkan Masing-masing Butirnya, Begini Memahami Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa
Kementerian PPN/Bappenas) /Subj (Typewritten text) /DA (0.00 0.00 0.00 rg 0.00 Tc 0.00 Tw 14.53 TL /TimesNewRomanPSMT 12.00 Tf) /DS (font: Arial,sans-serif 12.0pt; text-align:left;color:#000000) >> endobj 408 0 obj <> endobj 409 0 obj <> endobj 410 0 obj <> endobj 411 0 obj <> stream q q /Artifact <> BDC BT 0 g 0 G /F0 11 Tf 1 0 0 1 113.45 799.6 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 124.65 799.6 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 339.13 799.6 Tm ( ) Tj ET BT /F1 8 Tf 1 0 0 1 438.15 799.6 Tm [ (I) 8.

(B) 11. (L) 6. (A) -13. (M) 8. ( L) 6. (A) -13. (W) 8. ( R) -13. (E) 11. (V) 11. (I) -16. (E) -13. (W) 33. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 512.58 799.6 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 412.95 790.6 Tm [ (V) 11.

(ol) 3. ( 2 N) -7. (o 1 2022, Hal ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 483.38 790.6 Tm (158) Tj ET BT 1 0 0 1 495.38 790.6 Tm (-) Tj ET BT 1 0 0 1 497.98 790.6 Tm (180) Tj ET BT 1 0 0 1 510.17 790.6 Tm ( ) Tj ET BT /F2 8 Tf 1 0 0 1 345.33 781.38 Tm (\() Tj ET BT 1 0 0 1 347.92 781.38 Tm [ (M) -10. (e) 19. (ne) -5. (lu) 3. (s) -10. (ur) 8. (i ) 3. ( K) -2. (e) 19. (duduka) -5. (n P) 6. (a) -5.

(n) -24. (c) 19. (a) -5. (s) -10. (il) 6. (a) -5. ( s) -10. (e) 19. (ba) -5. (ga) -5. (i ) 3. (S) 6. (um) 3. (be) 19. (r) 8. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 512.38 781.38 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 416.75 772.17 Tm [ (da) -5. (r) 8. (i ) 3. (S) 6. (e) 19. (ga) -5. (la) -2. ( S) 6. (um) 3. (b) -24. (e) 19. (r) 8. ( ) -24. (H) 22. (ukum ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 507.38 772.17 Tm (\)) Tj ET BT 1 0 0 1 510.17 772.17 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 510.17 762.97 Tm ( ) Tj ET EMC /Artifact <> BDC BT /F2 12 Tf 1 0 0 1 492.17 51.825 Tm (158) Tj ET BT 1 0 0 1 510.17 51.825 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 113.45 38.025 Tm ( ) Tj ET 126.75 0 0 42.2 113.95 762.7 cm /X0 Do EMC /P <> BDC BT 0.0078895464 0 0 0.0236966825 -0.8990138067 -18.0734597156 cm /F3 14 Tf 1 0 0 1 174.05 715.58 Tm [ (ME) -2.

(N) -6. (E) -3. (L) 10. (U) -6. (SU) 7. (R) -6. (I) 3. ( ) -6. (K) 7. (E) -3. (D) 8. (U) -6. (D) 8. (U) -6. (K) 7. (A) -6. (N) 8. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 367.92 715.58 Tm [ (P) 11.

(A) -6. (N) -6. (C) 8. (A) -6. (SILA) 5. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 452.95 715.58 Tm ( ) Tj ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 137.25 699.58 Tm [ (SE) -5.

(B) -3. (A) -6. (G) 7. (A) -6. (I) 3. ( ) -6. (S) 13. (U) -6. (MB) -2.

terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum

(E) 10. (R) ] TJ ET BT 1 0 0 1 263.9 699.58 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 267.3 699.58 Tm [ (D) -6. (A) 8. (R) -6. (I) 3. ( ) -6. (SE) -5. (G) 21. (A) -6. (L) -3. (A) 8. ( ) -6. (SU) -7. (MB) 11. (E) -3. (R) 8. ( ) -6. (H) 7. (U) -6. (K) 7. (U) -6. (M) ] TJ ET BT 1 0 0 1 486.17 699.58 Tm ( ) Tj ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 138.45 683.38 Tm (\() Tj ET BT /F4 14 Tf 1 0 0 1 143.05 683.38 Tm [ (D) -6. (i) 7. (s) 3. (cove) 3. (r) 3. (i) 7. (ng ) -7. (t) 7. (he ) -6. (P) -2.

(os) 3. (i) -7. (t) 7. (i) 7. (on ) -7. (of) 4. ( ) -6. (P) -2. (ancas) 3. (i) 7. (l) 7. (a ) -6. (as) 3. ( ) -6. (t) 7. (he ) -6. (B) -3. (as) 3. (i) 7. (c ) -5. (N) -6. (or) 3.

(m) -7. ( ) -6. (i) 7. (n ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 280.7 667.35 Tm [ (I) 3. (ndonesi) 9. (a) ] TJ ET BT /F3 14 Tf 1 0 0 1 338.13 667.35 Tm (\)) Tj ET BT 1 0 0 1 342.92 667.35 Tm ( ) Tj ET EMC /P <> BDC BT /F3 12 Tf 1 0 0 1 311.7 653.15 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 314.7 653.15 Tm ( ) Tj ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 236.68 639.35 Tm [ (H) -4. (e) -5. (n) 6. (d) 23. (r) -5. (a Wah) 6. (an) -10. (u) 6. ( P) -5. (r) -5. (ab) 23.

(a) -16. (n) -10. (d) 23. (a) -16. (n) 6. (i) ] TJ ET BT /F2 12 Tf 1 0 0 1 386.75 639.35 Tm ( ) Tj ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 221.88 625.75 Tm [ (S) 6. (e) -5. (kol) -4. (a) -5. (h T) -5. (i) -4. (ng) 17. (g) 17. (i) -4. ( I) 16. (l) -4. (m) -4. (u ) -16. (H) 22. (ukum) -4. ( ) -16. (IBL) 11. (A) 5. (M) 6. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 404.95 625.75 Tm ( ) Tj ET EMC /P <> BDC EMC /P <> BDC EMC /P <> BDC EMC /Span <> BDC BT /F5 11 Tf 1 0 0 1 243.48 600.55 Tm [ (h) -7.

(e) -7. (n) 11. (d) -7. (r) 6. (a) -7. (w) 13. (a) -7. (h) -7. (a) 11. (n) -7. (u) -7. (@) -2. (i) 22. (b) -7. (l) 22. (a) -7. (m) -21. (.) 5. (a) -7. (c) -8. (.) 5. (i) 22. (d) ] TJ ET EMC /P <> BDC BT 0 0 1 rg 0 0 1 RG 1 0 0 1 380.13 600.55 Tm ( ) Tj ET 0 g 243.48 598.55 136.65 0.79999 re f* EMC /P <> BDC BT 0 G /F2 12 Tf 1 0 0 1 311.7 587.15 Tm ( ) Tj ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 113.45 573.35 Tm [ (S) 6.

(ubm) -4. (i) -4. (s) 6. (s) 6. (i) -4. (on ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 172.45 573.35 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 185.48 573.35 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 221.48 573.35 Tm (:) Tj ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 224.68 573.35 Tm ( ) Tj ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 227.68 573.35 Tm [ (17 J) -10.

(a) -5. (nua) -5. (ri) -5. ( 2022 ) ] TJ ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 307.5 573.35 Tm ( ) Tj ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 113.45 559.53 Tm [ (A) 22. (c) -5. (c) -5. (e) -5. (pt) -4. (e) -5. (d ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 161.85 559.53 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 185.48 559.53 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 221.48 559.53 Tm (:) Tj ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 224.68 559.53 Tm ( ) Tj ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 227.68 559.53 Tm [ (25 J) -10.

(a) -5. (nua) -5. (ri) -5. ( 2022) ] TJ ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 304.5 559.53 Tm ( ) Tj ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 329.52 559.53 Tm ( ) Tj ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 113.45 545.72 Tm [ (P) 6. (ubl) -4. (i) -4. (s) 6. (h) ] TJ ET BT 1 0 0 1 149.45 545.72 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 185.48 545.72 Tm ( ) Tj ET BT 1 terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum 0 1 221.48 545.72 Tm (:) Tj ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 224.68 545.72 Tm ( ) Tj ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 227.68 545.72 Tm [ (31 J) -10.

(a) -5. (nua) -5. (ri) -5. ( 2022) ] TJ ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 304.5 545.72 Tm ( ) Tj ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 113.45 531.92 Tm ( ) Tj ET EMC /P <> BDC BT /F4 12 Tf 1 0 0 1 113.45 517.72 Tm [ (Abs) 6. (t) -4. (r) 6. (ac) -5. (t) ] TJ ET BT 1 0 0 1 154.85 517.72 Tm ( ) Tj ET q 0.0125 -0.18756 595.18 842.18 re W* n 112.05 513.72 399.53 0.39999 re f* EMC /P <> BDC Q Q BT 0 g 0 G /F1 12 Tf 1 0 0 1 113.45 502.92 Tm [ (T) 6.

(he) -5. ( ) -116. (Cons) 6. (t) -4. (i) -4. (t) -4. (ut) -4. (i) -4. (on ) -116. (o) 17. (f) -4. ( ) -116. (R) 11. (e) -5. (publ) -4. (i) 11. (c) -5. ( ) -116. (Indone) -5. (s) 6. (i) -4. (a ) -116. (i) 11. (s) 6. ( ) -116. (abs) 6. (e) -5. (nt) -4. ( ) -116. (t) -4. (o ) -116. (de) -5. (s) 6. (c) -5. (r) 6. (i) -4. (be) terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum. ( ) -99.

(P) -5. (anc) -5. (as) 6. (i) -4. (l) -4. (a ) -116. (as) 6. ( ) -116. (t) -4. (h) 17. (e) 11. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 113.45 489.13 Tm [ (r) 6. (ul) -4. (e) -5. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 137.65 489.13 Tm [ (t) -4. (hat) -4. ( ) -149. (f) -4. (or) 6. (m) 5.

terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum

(s) 6. ( ) -149. (an ) -149. (unde) -5. (r) 6. (l) -4. (y) -5. (i) -4. (ng ) -149. (bas) 6. (i) -4. (s) 6. ( ) -149.

(f) -4. (or) 6. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 315.5 489.13 Tm [ (a ) -149. (l) -4. (e) -5. (gal) -4. ( ) -149. (s) 6. (y) -5. (s) 6. (t) -4. (e) -5. (m) 5. ( ) -149. (i) -4. (n ) -149. (Indone) -5. (s) 6. (i) -4. (a. ) -149. (It) -5. ( ) -149. (m) 5. (i) -4. (ght) -4. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 113.45 475.33 Tm [ (be) -5. (c) -5. (om) 5. (e) -5. ( ) -82.

(a ) -82. (pr) 6. (obl) -4. (e) -5. (m) 5. ( ) -82. (wh) 17. (e) -5. (n ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 237.48 475.33 Tm [ (t) -4. (he) 11. ( ) -82. (m) 5. (aj) -4. (or) 6. (i) -4. (t) -4. (y) -5. ( ) -82. (nu) 17. (m) 5. (be) -5. (r) 6. ( ) -82. (of) ] TJ ET BT 1 0 0 1 350.73 475.33 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 354.73 475.33 Tm [ (s) 6. (t) -4.

(at) -4. (e) -5. (s) 6. (m) 5. (e) -5. (n ) -82. (i) -4. (s) 6. ( ) -82. (di) 11. (f) -4. (f) -4. (i) 11. (c) -5. (ul) -4. (t) -4. ( ) -66. (t) -4. (o ) -82. (f) 11. (i) -4. (nd ) -82. (a) 17. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 113.45 461.52 Tm [ (l) -4. (e) -5. (gal) -4. ( ) -16. (r) 6. (e) 11. (f) -4. (e) -5. (r) 6. (e) -5. (nc) 11. (e) -5. ( ) -16. (r) 6. (e) -5. (gar) 6. (di) -4. (ng P) -5. (anc) -5. (as) 6. (i) -4. (l) -4. (a) 17. ( ) -16. (as) 6.

( ) -16. (t) -4. (h) 17. (e) -5. ( ) -16. (bas) 6. (i) -4. (c) -5. ( ) -16. (nor) 6. (m) 5. ( ) -16. (i) -4. (n ) -16. (Indon) 16. (e) -5. (s) 6. (i) -4. (a.) ] TJ ET BT 1 0 0 1 442.95 461.52 Terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 446.15 461.52 Tm [ (T) 6. (hi) -4. (s) 6. ( ) -16. (ar) 6. (t) -4. (i) 11. (c) -5. (l) -4.

(e) 11. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 113.45 447.7 Tm [ (ai) -4. (m) ] TJ ET BT 1 0 0 1 131.45 447.7 Tm (s) Tj ET BT 1 0 0 1 136.05 447.7 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 139.45 447.7 Tm [ (t) -4. (o ) -32. (di) -4. (s) 6. (c) -5. (ov) -5. (e) -5. (r) 6. ( ) -32. (t) -4. (he) -5. ( ) -32. (pos) 6. (i) 11. (t) -4. (i) -4. (on ) -32. (of) -4. ( ) -16. (P) -5. (anc) -5. (as) 6. (i) -4. (l) -4. (a) 17. ( ) -32. (as) 6. ( ) -32. (t) -4. (he) -5. ( ) -32.

(bas) 6. (i) -4. (c) -5. ( ) -32. (nor) 6. (m) 5. ( ) -32. (i) -4. (n ) -32. (s) 6. (t) -4. (at) -4. (ut) -4. (or) 6. (y) -5. ( ) -32. (s) 6. (y) -5. (s) 6. (t) -4. (e) -5. (m) 22. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 113.45 433.9 Tm [ (i) -4. (n ) -366. (Indone) -5. (s) 6. (i) -4. (an, ) -366. (and) 17.

( ) -366. (how ) -349. (P) -5. (anc) -5. (as) 6. (i) -4. (l) -4. (a) 17. ( ) -366. (i) -4. (s) 6. ( ) -349. (i) -4. (m) 5. (pl) -4. (e) -5. (m) 5. (e) -5. (nt) -4. (e) -5. (d) 17. ( ) -366. (i) -4. (n) 17. ( ) -366. (t) -4. (he) 11. ( ) -366. (c) -5. (ons) 6. (t) -4. (r) 6. (uc) -5. (t) 11. (i) -4. (on ) -366. (of) 11. ( ) ] TJ ET BT 1 0 terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum 1 113.45 420.1 Tm [ (Indone) -5.

(s) 6. (i) -4. (a ) -382. (l) -4. (e) -5. (ga) 17. (l) -4. ( ) -382. (s) 6. (y) -5. (s) 6. (t) -4. (e) -5. (m) 5. (.) ] TJ ET BT 1 0 0 1 235.08 420.1 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 242.68 420.1 Tm [ (P) -5. (an) 17. (c) -5. (as) 6. (i) -4. (l) -4. (a ) -382. (as) 6. ( ) -366. (t) -4. (he) -5. ( ) -382. (bas) 6. (i) -4. (c) -5. ( ) -382. (nor) 6. (m) 5. ( ) -382.

(i) -4. (s) 6. ( ) -382. (r) 6. (e) -5. (f) 11. (l) -4. (e) -5. (c) 11. (t) -4. (e) -5. (d ) -366. (i) -4. (n ) -382. (t) -4. (he) 11. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 113.45 406.3 Tm [ (pr) 6. (e) -5. (am) 5. (bul) -4. (e) -5.

( ) -49. (of) -4. ( ) -49. (1945 ) -49. (Cons) 6. (t) -4. (i) -4. (t) -4. (u) 17. (t) -4. (i) -4. (on ) -49. (and ) -49. (i) -4. (n ) -49. (ar) 22. (t) -4. (i) -4. (c) -5. (l) 11. (e) -5. ( ) -49. (1 ) -49. (\() 16. (3\) ) -49.

(of) -4. ( ) -49. (1945 ) -49. (Cons) 6. (t) -4. (i) -4. (t) -4. (ut) -4. (i) -4. (on. ) -32. (P) -5. (r) 6. (i) -4. (or) 6. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 113.45 392.5 Tm [ (t) -4. (o ) -82. (t) -4. (he) -5. ( ) -82. (am) 5. (e) -5. (ndm) 5. (e) -5. (n) 17. (t) -4.

terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum

( ) -82. (of) -4. ( ) -82. (1945 ) -82. (Cons) 6. (t) -4. (i) 11. (t) -4. (ut) -4. (i) -4. (on, ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 312.5 392.5 Tm [ (e) 11. (x) -5. (pl) -4. (ai) -4. (nat) 11. (i) -4. (on ) -82. (r) 6. (e) -5. (gar) 6. (di) -4. (ng ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 428.55 392.5 Tm [ (P) -5. (an) 17. (c) -5.

(as) 6. (i) -4. (l) -4. (a) ] TJ ET BT 1 0 0 1 476.58 392.5 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 480.58 392.5 Tm [ (as) 6. ( ) -82. (a ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 113.45 378.7 Tm [ (bas) 6. (i) -4. (c) -5. ( ) -116. (nor) 6. (m) 5. ( ) -116. (was) 6. ( ) -116. (s) 6. (t) -4. (i) -4. (pul) -4. (at) 11. (e) -5. (d ) -116. (i) -4. (n) 17. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 261.3 378.7 Tm [ (MP) 11. (R) -5. (S ) -116. (D) 5. (e) -5. (c) 11. (r) 6. (e) -5. (e) -5. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 335.33 378.7 Tm [ (X) -5.

(X) 11. (/) -4. (MP) 11. (R) -5. (S/) -4. (1) ] TJ ET BT 1 0 0 1 393.35 378.7 Tm (966) Tj ET BT 1 0 0 1 411.35 378.7 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 415.75 378.7 Tm [ (r) 6.

(e) -5. (gar) 6. (di) -4. (ng) 17. ( ) -116. (Sour) 6. (c) -5. (e) 11. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 113.45 364.9 Tm [ (of) -4. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 130.05 364.9 Tm [ (t) -4. (he) -5. ( ) -349. (L) 6. (aw ) -349. (G) 5. (ov) -5. (e) -5. (r) 6. (nanc) -5. (e) -5. ( ) -349. (R) -5. (e) -5. (publ) -4. (i) -4. (c) -5. ( ) -349. (Indo) 16. (ne) -5. (s) 6. (i) -4. (a ) -349. (and ) -349. (H) 5. (i) -4. (e) -5. (ar) 6. (ar) 6. (c) -5. (hy) -5. ( ) -349. (of) -4. ( ) -349. (L) 6.

(aw) -15. ( ) -349. (and) -16. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 113.45 351.1 Tm [ (R) -5. (e) -5. (gul) -4. (at) 11. (i) -4. (n ) -99. (i) -4. (n ) -99. (Indon) 16. (e) -5. (s) 6. (i) -4. (a, ) -99. (al) -4. (s) 6. (o ) -99. (M) 16. (P) -5. (R) -5. ( ) -99. (D) 5. (e) -5. (c) -5. (r) 6. (e) 11. (e) -5. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 324.33 351.1 Tm [ (II/) -5. (MP) 11. (R) ] TJ ET BT 1 0 0 1 360.33 351.1 Tm (-) Tj ET BT 1 0 0 1 364.33 351.1 Tm [ (R) -5.

(I/) -5. terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum 17. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 407.15 351.1 Tm [ (r) 6. (e) -5. (gar) 6. (di) -4. (ng ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 459.38 351.1 Tm [ (G) 5.

(ui) -4.

terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum

(dl) -4. (i) -4. (n) 17. (e) 11. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 113.45 337.27 Tm [ (of) -4. ( ) -116. (Im) 5. (pl) -4. (e) -5. (m) 5. (e) -5. (nt) -4. (a) 17. (t) -4. (i) -4. (on ) -116. (P) -5. (an) 17. (c) -5.

(as) 6. (i) -4. (l) -4. (a ) -116. (or) 6. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 274.5 337.27 Tm [ (E) 11. (k) -5. (a ) -116.

terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum

(P) -5. (r) 6. (a) 17. (s) 6. (e) -5. (t) -4. (y) -5. (a ) -116. (P) -5. (an) 17. (c) -5. (ak) -5. (ar) 6. (s) 6. (a) ] TJ ET BT 1 0 0 1 401.75 337.27 Tm (.) Tj ET BT 1 0 0 1 404.75 337.27 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 409.15 337.27 Tm [ (F) -5. (ur) 6. (t) -4. (he) -5. (r) 6. (m) 5. (or) 6. (e) -5. (, ) -116. (af) -4. (t) 11. (e) -5.

(r) 6. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 113.45 323.47 Tm [ (t) -4. (he) -5. ( ) -166. (am) 5. (e) -5. (nd) 17. (e) -5. (m) 5. (e) -5. (nt) -4. ( ) -166. (o) 17. (f) -4. ( ) -166. (1) ] TJ ET BT 1 0 0 1 219.08 323.47 Tm [ (945) 17. ( ) -166. (Cons) 6. (t) -4. (i) -4. (t) -4. (u) 17. (t) -4. (i) -4. (on,) 17.

( ) -166. (P) 11. (anc) -5. (as) 6. (i) -4. (l) -4. (a ) -166. (as) 6. ( ) -149. (t) -4. (he) 11. ( ) -166. (bas) 6.

terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum

(i) -4. (c) -5. ( ) -166.

terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum

(nor) 6. (m) 5. ( ) -166. (m) 5. (i) -4. (ght) 11. ( ) -166. (be) 11. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 113.45 309.67 Tm [ (f) -4. (ound ) -16. (i) -4. (n ) -16. (L) 6. (aw ) -15. (Num) 6. (be) -5. (r) 6. ( ) -16. (12 ) -32. (Y) 23. (e) -5. (ar) 6. ( ) -16. (2011 ) -32. (r) 6.

(e) -5. (gar) -10. (di) -4. (ng ) -16. (E) -5. (s) 6. (t) -4. (abl) -4. (i) -4. (s) 6. (hm) 5. (e) -5. (nt) -4. ( ) -16. (of) -4. ( ) -16. (L) 6. (e) -5. (g) 17. (i) -4. (s) 6. (l) -4. (at) -4. (i) -4. (on ) -16. (and) 17. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 113.45 295.88 Tm [ (P) -5.

(r) 6. (e) -5. (s) 6. (i) -4. (de) -5. (nt) -4. (i) -4. (a) 17. (l) -4. ( ) -416. (R) 11. (e) -5. (gul) -4. (at) 11. (i) -4. (on ) -416. (Num) 6. (be) -5. (r) 6. ( ) -416. (87 ) -416. (Y) 23. (e) -5. (ar) 6. ( ) -416. (2014 ) -416. (r) 6. (e) -5. (gar) 6. (di) -4. (ng ) -416. (Im) 5. (pl) -4. (e) -5. (m) 5. (e) -5.

(n) 17. (t) -4. (at) -4. (i) -4. (on) 17. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 113.45 282.08 Tm [ (R) -5. (e) -5. (gul) -4. (at) 11.

(i) -4. (on ) -516 (of) 11. ( ) -516. (L) 6. (aw ) -515. (Num) 6. (be) -5. (r) 6. ( ) -516. (12 ) -516. (Y) 39. (e) -5. (ar) -10. ( ) -516. (2011 ) -516. (r) 6. (e) -5. (gar) 6. (di) -4. (ng ) -516. (E) -5. (s) 6. (t) -4. (ab) 17. (l) -4. (i) -4. (s) ] TJ ET BT 1 0 0 1 453.35 282.08 Tm [ (hm) 5. (e) -5. (nt) -4. ( ) -516. (o) 17. (f) -4. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 113.45 268.28 Tm [ (L) 6. (e) -5. (gi) -4. (s) 6. (l) -4. (at) -4. (i) -4. (on.

terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum

) -216. (T) 6. (he) -5. ( ) -216. (c) -5. (onc) 11. (e) -5.

terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum

(pt) -4. ( ) -216. (of) -4. ( ) -199. (P) -5. (anc) -5. (as) 6. (i) -4. (l) -4. (a ) -216. (a) 17. (s) 6. ( ) -216. (t) -4. (he) -5. ( ) -216. (bas) 6. (i) -4. (c) -5. ( ) -216.

(nor) 6. (m) 5. ( ) -216. (i) -4. (s) 6. ( ) -216. (i) -4. (m) 5. (pl) -4. (e) -5. (m) 5. (e) -5. (nt) -4. (e) -5. (d ) -216. (as) 6. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 113.45 254.47 Tm [ (m) 5.

(i) -4. (c) -5. (r) 6. (o ) -49. (as) 6. (pe) -5. (c) -5. (t) -4. ( ) -49. (whi) -4. (c) -5. (h ) -49. (i) -4. (s) 6. ( ) -49. (i) -4. (n ) -49. (t) -4. (he) -5. ( ) -49. (pr) 6. (i) -4. (nc) -5. (i) -4. (pl) -4. (e) -5. ( ) -49. (of) -4. ( ) -32. (s) 6. (t) -4. (at) -4. (ut) -4. (or) 6. (y) -5. ( ) -49. (m) 5. (ak) -5. (i) -4. (ng, ) -49. (and ) -49. (m) 5. (ac) -5. (r) 6.

(o ) -49. (as) 6. (pe) -5. (c) -5. ( ) -49. (a) -16. (s) -10. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 113.45 240.67 Tm [ (t) -4. (he) -5. ( f) -4. (oundat) 11. (i) -4. (on of) -4. ( r) 6. (ul) -4. (e) -5. ( o) 17. (f) -4. ( l) -4. (aw as) 6. ( we) -5. (l) 11. (l) -4. ( as) 6. ( l) -4. (e) 11. (gal) -4. ( de) -5. (v) -5. (e) 11. (l) -4. (opm) 5.

(e) -5. (nt) -4. ( i) -4. (n Indon) 16. (e) -5. (s) 6. (i) -4. (a.) ] TJ ET BT 1 0 0 1 457.17 240.67 Tm ( ) Tj ET EMC /P <> BDC BT /F4 12 Tf 1 0 0 1 113.45 226.65 Tm ( ) Tj ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 113.45 213.05 Tm [ (Ke) -5. (y) -5. (wor) 6. (ds) ] TJ ET BT /F1 12 Tf 1 0 0 1 161.45 213.05 Tm 0.004 Tc (: ) Tj ET BT 1 0 0 1 168.45 213.05 Tm 0 Tc [ (P) -5. (anc) -5. (as) 6. (i) -4. (l) -4. (a) ] TJ ET BT 1 0 0 1 216.68 213.05 Tm (,) Tj ET BT 1 0 0 1 219.68 213.05 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 222.68 213.05 Tm [ (B) -5.

(as) 6. (i) 11. (c) -5. ( Nor) 6. (m) ] TJ ET BT 1 0 0 1 279.5 213.05 Tm (, ) Tj ET BT 1 0 0 1 285.5 213.05 Tm [ (Cons) 6. (t) -4. (i) -4. (t) -4. (ut) -4. (i) -4. (on.) ] TJ ET BT 1 0 0 1 347.92 213.05 Tm ( ) Tj ET EMC /P <> BDC BT /F4 12 Tf 1 0 0 1 311.7 199.05 Tm ( ) Tj ET EMC /P <> BDC BT /F3 12 Tf 1 0 0 terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum 113.45 185.05 Tm [ (A) -10.

(b) 23. (s) 6. (tr) -5. (a) -16. (k) 23. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 158.45 185.05 Tm ( ) Tj ET q 0.0125 -0.18756 595.18 842.18 re W* n 112.05 182.05 399.53 0.40002 re f* EMC /P <> BDC Q Q BT 0 g 0 G /F2 12 Tf 1 0 0 1 113.45 171.25 Tm [ (D) 5. (a) -5. (l) -4. (a) -5. (m) -4. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 153.85 171.25 Tm [ (kons) 6. (t) -4. (i) 11. (t) -4. (us) 6. (i) -4. ( ) -432. (I) 16. (ndone) -5. (s) 6. (i) -4. (a) ] TJ ET BT 1 0 0 1 255.3 171.25 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 263.5 171.25 Tm [ (y) 33.

(a) -5. (n) -16. (g) 17. ( ) -432. (s) 6. (a) -5. (a) -5. (t) -4. ( ) -432. (i) -4. (ni) -4. ( ) -432. (be) -5. (r) 16. (l) -4. (a) -5. (ku, ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 389.95 171.25 Tm [ (t) 11. (i) -4. (da) -5. (k ) -432. (d) 17. (i) -4. (t) -4. (e) 11.

(m) -4. (uka) -5.

terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum

(n) ] TJ ET BT 1 0 0 1 472.77 171.25 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 480.98 171.25 Tm [ (i) -4. (s) 6. (t) 11. (i) -4. (l) -4. (a) -5. (h) 17. ( ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 113.45 157.45 Tm [ (P) 6. (a) -5. (nc) -5.

terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum

(a) -5. (s) 6. (i) -4. (l) -4. (a) ] TJ ET BT 1 0 0 1 159.05 157.45 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 164.85 157.45 Tm [ (d) 17. (a) -5. (l) -4. (a) 11. (m) -4. ( ) -232. (pe) 11. (m) -4. (buka) -5. (a) -5. (n ) -216. (a) -5. (t) -4. (a) -5. (upun ) -232. (d) 17. (i) 11. ( ) -232. (da) -5. (l) -4.

(a) -5. (m) ] TJ ET BT 1 0 0 1 349.33 157.45 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 355.13 157.45 Tm [ (b) 17. (a) -5. (t) -4. (a) -5. (ng) 17. ( ) -232. (t) -4. (ubuh) ] TJ ET BT 1 0 0 1 420.15 157.45 Tm ( ) Tj ET BT 1 0 0 1 425.95 157.45 Tm [ (U) 5. (U) 5. (D) 5. ( ) -232.

(N) 5. (e) -5. (g) 17. (a) -5. (ra) -5. ( ) -232. (R) -15. (I ) ] TJ ET BT 1 0 0 1 113.45 143.65 Tm [ (T) -5. (a) -5. (hun ) -32. (1945) ] TJ ET BT 1 0 0 1 171.65 143.65 Tm -0.2 Tc (. ) Tj ET BT 1 0 0 1 177.88 143.65 Tm 0 Tc (P) Tj ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 184.48 143.65 Tm [ (e) -5. (rs) 5. (oa) -5. (l) -4. (a) -5. (n) 17. ( terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum -32.

(s) 6. (um) -4. (be) -5. (r) 16. ( ) -32. (ruj) -5. (uka) -5. (n) 17. ( ) -32. (ba) 11. (hw) 5. (a) -5. ( ) -32. (P) 6. (a) -5. (nc) -5. (a) -5. (s) 6. (i) 11. (l) -4. (a) -5. ( ) ] TJ ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 389.95 143.65 Tm [ (s) 6. (e) -5. (b) 17. (a) -5. (g) 17. (a) -5. (i) ] TJ ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 425.75 143.65 Tm ( ) Tj ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 429.15 143.65 Tm [ (da) -5.

(s) 6. (a) -5. (r) 16. ( ) -32. (ne) -5. (g) 17. (a) -5. (ra) 10. ( ) -32. (da) -5. (n) 17. ( ) ] TJ ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 113.45 129.85 Tm [ (s) 6. (um) -4. (be) -5. (r ) -216. (da) -5. (ri) 11. ( ) -216. (s) 6. (e) -5. (g) 17. (a) -5. (l) -4. (a) -5. ( ) -216. (s) 6. (um) -4. (be) -5. (r ) -216. (huku) 17. (m) -4. ( ) -216. (N) 5. (e) -5. (g) 17. (a) -5. terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum -5.

( ) -216. (s) 6. (e) -5. (ri) -5. (ng) 17. (ka) -5. (l) -4. (i) 11. ( ) -216. (m) -4. (e) -5. (n) 17. (j) -4. (a) -5. (di) 11. ( ) -216. (pe) -5. (rt) 11. (a) -5. (ny) 33. (a) -5. (a) -5. (n ) ] TJ ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 489.38 129.85 Tm [ (ba) -5.

(g) 17. (i) ] TJ ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 510.17 129.85 Tm ( ) Tj ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 113.45 116.05 Tm [ (pa) -5. (ra) -5. ( ) -66. (pe) -5. (ny) 33. (e) -5. (l) -4. (e) -5. (ngg) 17. (a) -5. (ra) -5. ( ) -66. (N) 5. (e) -5. (g) 17. (a) -5. (ra) -5. ( ) ] TJ ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 250.1 116.05 Tm [ (pa) -5. (da) 11. ( ) -66. (s) 6. (a) -5. (a) -5. (t) 11. ( ) ] TJ ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 298.9 116.05 Tm [ (ha) -5.

(r) 16. (us) 6. ( ) -66. (m) -4. (e) -5. (nc) -5. (a) -5. (r) 16. (i) -4. ( ) -66. (dokum) 11. (e) -5. (n ) -66. (a) -5. (p) 17. (a) -5. (ka) -5. (h ) -66. (y) 33. (a) -5. (ng) 17. ( ) ] TJ ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 483.98 116.05 Tm [ (da) -5.

(pa) -5. (t) -4. ( ) ] TJ ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 113.45 102.22 Tm [ (di) -4. (g) 17. (una) -5. (ka) -5. (n ) -49. terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum 6.

(e) -5. (ba) -5. (g) 17. (a) -5. (i) -4. ( ) -49. (re) -5. (fe) -5. (re) -5. (ns) 6. (i) -4. ( ) -49. (t) -4. (e) -5. (n) 17. (t) -4. (a) -5. (ng) 17. ( ) -49. (P) 6. (a) -5. (nc) -5. (a) -5. (s) 6. (i) -4. (l) -4. (a) -5. ( ) -49. (s) 6. (e) -5. (ba) -5. (g) 17. (a) -5. (i) -4. ( ) -49. (s) 6. (um) -4. (be) -5. (r ) -49. (da) -5. (r) 16. (i) -4.

( ) -49. (s) 6. (e) -5. (g) 17. (a) -5. (l) -4. (a) -5. ( ) -49. (s) 6. (um) -4. (be) -5. (r) 16. ( ) ] TJ ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 113.45 88.425 Tm [ (hukum) -4. (.) ] TJ ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 149.85 88.425 Tm ( ) Tj ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 159.25 88.425 Tm (P) Tj ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 165.85 88.425 Tm [ (e) -5.

(rm) -5. (a) -5. (s) 6. (a) -5. (l) 11. (a) -5. (ha) -5. (n ) -532. (d) 17. (a) -5. (l) -4. (a) 11. (m) -4. ( ) -532 (t) -4. (ul) 11. (i) -4. (s) 6. (a) -5. (n ) -516. (i) -4. (ni) -4. ( ) -532 (a) -5. (da) 11. (l) -4. (a) -5. (h ) -532.

(b) ] TJ ET EMC /P <> BDC BT 1 0 0 1 384.13 88.425 Tm [ (a) -5. (g) 17. (a) -5. (i) -4. (m) -4. (a) -5. (na) -5. (k) 17. (a) -5. (h ) -532. (pe) -5. (ng) 17. (a) -5. (t) -4. (ura) -5. (n) 17. ( ) ] TJ ET EMC endstream endobj 412 0 obj <> endobj 413 0 obj [-1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 777 777 -1 -1 777 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 -1 250 333 408 500 500 833 777 180 333 333 500 563 250 333 250 277 500 500 500 500 500 500 500 500 500 500 277 277 563 563 563 443 920 722 666 666 722 610 556 722 722 333 389 722 610 889 722 722 556 722 666 556 610 722 722 943 722 722 610 333 277 333 469 500 333 443 500 443 500 443 333 500 500 277 277 500 277 777 500 500 500 500 333 389 277 500 500 722 500 500 443 479 200 479 541 350 500 350 333 500 443 1000 500 500 333 1000 556 333 889 350 610 350 350 333 333 443 443 350 500 1000 333 979 389 333 722 350 443 722 250 333 500 500 500 500 200 500 333 759 275 500 563 333 759 500 399 548 299 299 333 576 453 333 333 299 310 500 750 750 750 443 722 722 722 722 722 722 889 666 610 610 610 610 333 333 333 333 722 722 722 722 722 722 722 563 722 722 722 722 722 722 556 500 443 443 443 443 443 443 666 443 443 443 443 443 277 277 277 277 500 500 500 500 500 500 500 548 500 500 500 500 500 500 500 500] endobj 414 0 obj <> endobj 415 0 obj <> endobj 416 0 obj <> endobj 417 0 obj <> stream x�s �2PH��w3P04RI�2T0Bi�ga`��˥᝚��W�Z������XP���X������'�� endstream endobj 418 0 obj <> endobj 419 0 obj <> stream x��} `T���w��ݷ���l���l6�nn6�fC��B A# �$\�J��/�֣�b�֪�K8 h5��VE�*j�x���Z[!���l� �%��y��̛��{o�3�����@ � V�N7fޥ�� o^��fLm]�i��Y�}@,�4q�]{+-d�{c&5��7u�l������&���9M�ɻ�֌�ɓƖ�������O�8)Th;�z����M5��[_����R�/�R;��?4�L7Μ�ѵlUR&.,�;�%��Y« �?`�tN����[�@p� �n�۱� R���a��8���9�o����c2�͚μ�~0� ^1ovǬO:�{�/���aD�������o��%�<0]փ�> :�ً�u-b��޹`fǧ� ���0�/�w��e�x��c�k��%�Jy^�dz�gv̟}����)�O�/�Z�xI�����i��E��V^�S�a�@�<��)S�@��w���+�ni�rɞ���*O�]�O������F�r�^4��7e��i�yt��A��Q� @�!W�TQ,!+@J���EX�?�+a�`&rAP�r�\e� ?���Z��<�ƅu���ʯ�'E��<�DZ��Fz�`QDH�- : ���!B��x�e��-c�?'�H����9�.�s�o�x� c����}��<+��WD���������<��NL�Y�7�p���݁L��H��}��� �cspppppp� ��7�t�-�N[9888F����y�������������������������㻃�O0g�����C��H�������ǂ�=��y@->V���7B�~�,��Җ$-y*x0_�����e�U��W!�}��ю�k����������y�D�y��w`��C��`�B�ד 1G���9N����o� M���G� ?4��NV�oe�����tl��1������Z�� ��=�5R�a7�����p �H(�H�4��M?-�����P���Ih�{@ Z�:&��Ci@��`@ib� F�I(��d0�����Q�P��`A�6��L:���A*�t&3��� i(](�7����\(}(�~p���,&����G��(���2���B�̇�!&���BV�EYy(��,�P��Pa��L�A�QP� "P��JPV0Y �(�C�8�PV�(�Q(GY�r'�� �5P���CY���PU(�@�X&�Au�S�Q6@�F�E9��;��G9Ơlb�D�N��('19P6Cc�c�PNe�&�l�&�����Gp2���I(�`�Sar�C��(�a ���r�`&����PΆ�Q�A�>̅SP΃6��1y:L��g@;�N�@9��3aF�]X3Qv�,� a6�E0'��\�K�\ �P���<Έ��0y.t�<�<Ό�.`�B�By,D� ��ЋP^ �Q�����Ʒ��p��p6������� W��(���Q�0y\ �� Q^�����;�&���Q�~��z&o�KP���� ?��(o��P� �c�[� L��ɟÕ(W��%\�y~��mp���Z�+Q�w� �������G����]pʻ�F����Pރ�5�܌�^��}p+��������%�����P����[�nG�V�\w�\ ��� ��N�2��A��-~��a���w��#L> ����Q� ~c���(��'P�O�*���(��5(�f�X6�:��ƒ(7A��`}�x6���� �����fx A�2�� ��@�yx��r �����-�?o0�Wx��$ʷ���M��B��F�6<��o�1�,���vx�����-��o�`3���1�1�>��Q���ɿ�+(w«(�[P~���'�v�(�����W�����O�����/lC�%��3�fr��r���û�'9���9�c��3N��q�G��?b������8�C��2N��q����?d��!����8���0N�q�����g��>������8�=���1N�q�����e��.��w�og���q�v������8����0N�q�����q�����q�ی��f��6����oc���q�6����oe���q�V��[�oe�������5��~� ���?q���[�oa���q���[�oa��*��W���8�U��2N�q�+��_a�� ���0N�q�ˌ�_f��2������8�%��/1N�q����_d��"�����8���/2N�q� ��_`����͌�73N��8}3����?�8�y���3N�q�s�ӟc������ob���q�&���2N��8}#���72N��8}#��ӟe���q�F���od�� ��g�?�8���O3N�q�ӌӟf��ԏ�Ӄ��9��h8�����W�'N�s��t@�s�ƪQ��ƚ ��V~�7.��T)@2��;�!�)�^����i�����XG� ��ؚ�a��q���Lr�G� )P�R����r߲b������Iʡ� ��a�I�}�I��G�=�H4�㇆CXh)�9 Ƿ����t888888��'q!

ړPSJhM(%fOR-'sppp�t�jjOڏdž��-�= �K� fO��=I��IG%a������.u��������1 ��ٞ[�b$n�Lʄ�$�RI_R�s{�� -�d���4�F=ЀN��'K�G�L��4Ԟ$?"����'�'q�0媿9 Ƿ�`��&pppppp �V�?hp��Q���QJ��;�S���O镊�}G��<#����IZ�k��')��')�{��~��q,�ۓF��5�M��������l��IG1�I�!{�jȞt���q{Lj���`O�� h��=p�9&Jꔠ�t$�9�3�{�~8�)W��Y8�%�g��������1 �=��!���؏%�I5jM*nO�����")�@�m?�� ���;P�����W�̬P��=I�Wpp�C�r�ߜ��[BH��&pppppp �c���,�H�� 4�S9v=-�/"j�p����988F ����a�0���̆�l#�DI�� )��1��s&;�����a����Z�h��&pppppp �c���'�H(G5�q#j҂�~��Q�;rܞ���1b�����V��c��a�CXL_Y���j`O�Y���T c�'q2a�5-���A��G� ���U�ܲp#aOB�I�Кt`�ӗ�T�k��dppp����l�ٓ����<H{ҁz6Ҡ�R!��$�qfV��į�-�d��c�`9�”k��Z��(�&pppppp �7g��ۓ�b$�t�u`LhM0�O���x����cĐ^n�6����@2�Z�y��%�̞�Y{;����������Y8�%d��#��apl==�o��H(G=�Z��L�%%��#��spp�\���l��Ň��X�VH�}��������6ңFs$�9�'��[?������$���A抎t888888�����ۓ�b$�#���֤D�*�~�a��X��$��{t귱'Y�6H�hO2�cOJ1R{��Hؓ>gr{�Ap�$�7g�����G�t888888������tcОd�$�3��ړL��������1b��O�j���4�&e(� nǁz6Ҡ�R!���$�G��Hs���tl�,�w�Cx�c��Z��?~��������1 �ߜ�nO:��0�$��Q}�v � I���C����1bș��f�oLJ���P �`�zr�� �Hؓ2�IhM.�{������*�����\V &��ߎ'�-o(����zv���%�=83[S���;�������{�8��'����Ge�e#��a�=��N��-:��P��.Ȣ�z�P� f�<)�ì�����1bh�������m;L�P�jJԳ������LȄ��#a�9��Ɏ~l�`�w�Cxq.����GU�M#��a���Y~@�o��H(GY>ȥ/�%C�s�Yi���o���>���IwW���}�lf5����z� �?X�*�������Մ�p_�8q�pJ��V�蠞t�H7������c�t�S�7U�b$��`���d�-( C&�������>���S�Ƃ����G���7���FC�ד������H�N���g�o��?�aGw�&p��pbV-���A{J�H7������c��t�S�z#��s��jMvT�*J B��ì�p�����Ƭ�N�����潞�C���:������4X�;X�B(w֑x9���`�я������>Č~o���A7멑n�08���/��b$����ӏ,SQ���C>��?,����8�Ҁ�����!�Ȁ����B0�h������K`%)^SD]*W�U�������?�埅��c�E�叿s�mf�7dw���>�g��o���q��<�-D@�zz ��� �-g�!χp��/i���~#��a4O�z��V�����������c�nF�._�x�®g��<����͝3{F[��'D��?���<2������� ������2�>���rf��9RS�6kr��d4�uZ�Z��r�(ȭ�ַ�b��1Y�w��<������}"�c.���?O��β���Ŝs��3��ݛ�]�P����b�j��>2�� _S�mu�v��^��: ��X�Ug�W늑vW]���y=u��X�*���[3[�� �� j0�y�V��[]�*�:lT,�[[K����D]ǬXӉ-u���5/7Fjfzg��;:f�,P�S��$v�i�l�*ת������0�=����qJKL�h��0�1�y��_�b�暖��Mu�=u��\t���rWl�-����lm�:b�����-5^†I.<����%F��]�<�9%�n���ƴ�����zNo������u���F�ǷAj��gr���rx[;j�V%C�I�N��R�O��]e4%.�*�a0�����7��Xvj8i�u%�E�q�b��.lI��i�GA��Q��J�Tlޏ�b���c9�i���o��z�x��;>�?�c0F�7� h����Ӈ±`0��C;�T�w�x<�/��=�O�y��.���A^ێ��^-���ޫ��0wb�'�$�]0�� �P�5&�Ӕ��K3M�J�[�݋�x�KL����`�&��+���'yv"�a����i-�����k�0y��D���i�!�H� ���J��b�;iZ ��?���[wZ�Xj��XRM��Z!�!�������f�Ӣ�u�� ��g�IJ��,���c��� ٪v��e���NZ�y_<�Xyp������k��G��2����zz����#Y���{]�=�=}��^��۳^l[z��ڇn_-�U�X�խx�Hy^������Z�rK,�XEX������`�76#�u{[f�AV���=��C�^�%W��*J��4�e��+&�� D�iݺʇi-�]H�,V��4���4K����w��t�T�`�3��8�P��}B"Θ8P&;P�3�d���Pn�)q݉�ك���b�)g`� ��-QuY� �T�*��$�G�WUD�YM'��Ɯ4�{o��fۧ"<^�ě�:��i-����I�1���%6bߑ�腎ƥ3q��>��^�����'��ﭛ�9���[�v�j����w�;-�Ld�L��X�=Ɗ�=2��;�����������O �Ϭo�c�;b����Y:b�3\=؉�iO.g��P׎{L�{f�8�gz1b M�U�u�L²�7������t�����76q��4>�Zb������6�_����̘"s��+��M�!s�*dvb��沫Cks�yݭ�E�k�{� *f��EN[{�������`�n�A)˜9����w�[���=���^+V�Ȩ�ӌX��e��W�I��b�߂`"�����X�P��a`a0&�Fa"=yB�8���������F�W9hiWL�<Ȕ���hQ��K�64�t���'W4�;�O�%5�t�/,��T�a��w���N�SqT���W���?Y-�8��-�vh?���wa+:1ƈ�*t]�����ŷW��F���3�7;P��&����Q-[����[{���V��у��Q��Ꜽ­�j�-�;:A-K� ىR��� wV�0����p�J�M�� *��ڗYx��Ⳙ���4.�i��{u�B���⃨�8�u��������B�^,^�\ُr3�m�v���� �u�@'J'���4F�O��y�7� �[��:t2���b�T�����F��o �W�70�7觢�k��@�ܧ����@���-0�Vܷ�ˠ3�;п �������ĥ�ܒA���7�i���t�0:C7b�F�t7R5 %/;ّV�_��������^��ݣ W�R W�%�/��x�.�+w!�0邡<$��`� 0����*aq1o1�IQѹЉx��u��1���6��KQ�@���g�u `��O��vb'��:-�zH���:*�Y��^x�W{*5���}�;���^����٫S�>�:�Z/΄�� ��҇�]-:�8��rnO��J��˄e�2�2�,\K̏��Ф�� ��<�T�:��JR�-e�rqӸg����3�g^���t�w������e:6�T���{Ft�1�}9�0��0ր��£�)M���u�*�� ���w�tY���X=��6�;i�x����t�k��D�BׄNdq��Q���i���vt ����J�Ҳ��hnV��de���heUuaԃ�l6/����G�o�Mo\и�Q,���� ���SmoJja���Bx[6��趢��2�� �t2��Nd��*t�MG'���c�s0�����h�� ���x���M���<6���D��~L���N�`�1��X����+Y��P����1mP:�U���� ���"�N���t��B�:�8���T����/�/�Fu'X�w�f��Xm�xSu�&oa�J&���E��u���=2^w�x]�l�Ƅ�tG5պ5պ�պ@�k��t��I��c&O`27����ǭ��[���Wn�B��87-���B'$3������x&3���I�n�SW��U��m����`�A%�l������gP�5��ʀgt�xoe5z��c���[yz������0�a���׷�Ym!��8����2�C'�sѿ*����V^L�߉��������X���8���r��͝�G�Eo�xԟC.;�ͽ��1����+ѻ�7���z�����V�8�Md.��w&�ڒ��#�Ś;��(\כKK�����^ozY��/4��9{��$��˪H/k����k�<�W�z/�Zk�۝��-��8��zos��0�����{����r�:���#�u��9����)����>%&<��'���Ux�c�W ���u���R��b*���+��Ns����^�Ź�f�-<�)�ܚ{����>g���`r�U;˽����Gƭ��Y��M c��s��3�ؔ5Β��B Hdi4WZ"͐�H'JR��'��t)MJV��F�^�U��J�B)S JP&�ŷE��6��0RO!�R��F�JjF�j Q 8zbIb��0i4���a��XY��O��l�)�NnYEȵ���@�lr vQ��A�@끐��kԿ`�5���!�?f�b�O�3Q�>+������*{��xS��v�>(�_����ѱ�&����{o���X!

��n�������BaA]�z��z�-��y�º�h<9��uo6�]�*�G�����ekdٰ�z�jWy<�L��q4���X����-x���z�M���'d�l�1���L ��*3h�U�F3���1K��fYU�� ��e,������DsZ�ώ�'��8�-�';�;�`A�y��%f�>��du�_gͤ�vo�lt���Κg���kլ���2�g̜G}Tv��]��u��9L�L���]3�&����]�����vԶ��{YM�~Ǻr�j�S�2ZY=���$7�������͎�p�h��ԲJ �[kNI����E;ꇣ�Ʈ���p�/rl��_�`kL�ӡ�Iy�y�4 )M�S��`��� �c�g0Ɉ�&�h���ڽ�/^����K�(�,���%8xݓb�ԾT���E�k[ ���%Z:�;�?={�]���� �M�N�O̞x���[�ʮ�K�����]2���wf;�-eh�i��-�RXP�����+��'�͏z���= <�<�yn�<�QЄSZ�E+o���#.ŞH� �jYs���tw�Rz"��u�vU��[%U.UXU5�� �e�u��Cb�8Q�.�q�+���W��Ь��4���yLѯجئة��aETѤhWt)�++���Ю��tkD�ƥ k��&��)�s[��^��KQ���ujԵNQ�u���Nz�Z�K�5-����c�k� B�_tr�P,d�/M���Ű8H�w�P�8��1@h�Y�8��p���Y�d�Q d�RX��w���X�bZl)��� ��˯�7�]�� �6���>�-?��Ƿ�����:���&�-���cЏ�ݸ�k�a <��%�zzq�t���z�9� ��)�ޅm�i7�[Č��Aj����(���z̥��l �d�0 ��%�q��WɊe=�3���_H�&���-�����)�Il�?�5�><����X�O� lq/� �b�-%� ���3���5�D �h<+>:~+��>�“����8���x5^����ѐ\�݇� �S�l[,��[~7��֓R �p�+��Ӯ�����a3i ����I�K��'�-���qȁl���'<�.� ��?ȗ� s>/{B~�-g�z����Y�D�bg�Ux�z��W�,Mąg1��@N"s�u�&�G^#� ��S�GbL�(�UV*��˱&+����L�yx.«}=��=� %>'[$�O��-��C~��1p�� ���l٥�veA.C��9؛���u�g�����b�V�B����/�&-�w��-}>����Z�n%��?�'���m�9�n�B�P%���\a9n7 ��W��4q&�h7n�����p֑���B��ʯ��V�Qʖ�J3���ޱ'gO랷` u�䁛�4�~-J�\l�� [z9��V�w�v/��u�$< ���~F"�o'^�xת�\:�#ȉ�5�6�Lí�� �p[F��O�%�Rr��n�s�������A������=��L�N,�؛�B�"x�5�a�pns��u �����VX-�^�D?�m��P�U�������� ˕�d��)���Kd��^�m�})w������S8Ŋf��[(>P�R��/�^��J?�՟�����;�x�,�'���⸰�]��I3^1�0Y��_��!;Ey�􈧉g���/�d��(�Ny�8��8�Ox[�%�/���‡$[�S�@�AU!If�]"��B�p!��//���巑��ۄ�%�&$�V՗ 7c��ӄ��EV,�N���;�9x��� 9�˲��]�+��ƛ�56��2�p�!�!��!��,�.�3���ț������%���VLБ2�&6�n򲨆V�F�)XH��ShVlKP�� /�yD$a�;C�3q�(d!��!��D �7#��x�2�-��*�gw��p��M��86�ŭ.�B؀}�  ���n2 y���B�h�-mضe8_Xr�t<���� �7�O�l�‘��2�r������*�fA���W����@��{�_�T�s���B%�o�!��V���b�_��(n��F"�����q�7��"��?��4��qN-N�� 5x�N�_� ���*���=ȿg�{�.�� S�AY1r���q��� W!o��ב�����l���G�*rgU���_���ÃWh΢�a>-��m��E'���b�P[���o�N��y�Ndއ�.I�����^%�#�����ƞ"�]-U����P���������8 `�͆�-;�b���_��Ä́��C��)ƵGjn\�T�:�8\Ō�uO=�&q�5�I�YԱZQ�>�Km�2���3����y�n8��3Q�[��������E�"�F]�'�B���f�E��&\݌맕�#މ���q��5�>X��.�'�7>��Ɵq� lĵس��/�K�{�o���-؊��m�>{��+�4��u����`�*�<$<�z�$<� rY�����%��T��tD9�� �����=�'wUN�S U6�FQv�Y����N ��: �C�P0\��6�M~$M�]b���ąy?}�y9����:����U��<��o������/f~^����?X�SR }��H��H���Z"imZA��\?�T�k�ɫ%1U�~o�}b��N-�c jMM����e�g�&bZ�H��}�y�`��=��0�#����=�U�Ăda۠�v�c-�Vi�*J�T��FĬ̒�ҢB�%Y��>;B��*��F�"3ʬ%y�婥����MI�*//h�9��>/7Z^Q�u��kT'�ۅ����=�I�ET�ι��g�YQ� & �(�' K�8u��+c�oq�yٗ*.s\�q]Qw�3��C���KiU���ct:�no�DTkJ�N�� ��-�=�%%*k �f� ��J�J�"�dRCly �FS�{uUu1�]]S��h2�7NO#�p���, :G��c]�9*[)�6�(��j��d�%#xS_��sIIBs��`�R�C�1���lp�]�m��� �a�a�>aW0X9a��=m �m �u�@������Acee�qWۢ��/��b�Af[�D]�P/,ל�{��DJu�8�"���E����"� ��7#�H,&Eb�#PD���"�{� �P,)B�X� �cW͹A��E�����jJ)�:z�S�'}����QY�}�罝�@��z�>�ok:��*�O��۩��>FO���)��c%��#��[m84 ��������T������ mV�Z� KKK�3��D�İB{��������f�-=kB�0�73o��=���G����6�jZ�p�#S�����&c�)�g�o��z���s�v߃gϹ� IU?�p�=�/8� +6�4)�0)����Muw�;����u���M8�l&/ ����d'��z��3��Zd.

O&��� V�Z�`���COFeF]�,aA1�nMq�ve ӑU�%�n�� &h�Z��+ ��tD# ��Pd8v�'�td�=���9*�2�C�c���:��,�����QA E�mrda�-9.�j_@���ε�L~�h���خ�ىڦׇ�R{ix�]����aQa��m61ܫ�r[�^�R�*�X8΃���, ������[���������Xᳶ������f�\�������m���m��ǒq���4�j�:�vNʓ�'¯�_ �k7�O�r.�#���g�Mp:�nob�s��f��=@���$�n����p(9l��C� a�m�))6A�T��Y���ɸDI �{\.�Jw�������V�o��B"�*tF��`�3VA�_�A\Q�1Q9���yT�"����AP�$v}S�re~PN���> ��ݼ�m!�$�؎�1Y[E���M���=b�o^k����6�$\+��MTK�!Q�b@��F���3EP�"�XVwf���u�`�POv�λ���NJH��Z��L��=����@vx�Ϛ�o�D��'d;�M�Y��M�=��^�ɖ�>�Bg��_�Z$�5-;=���2���goBϗW���H~/��,�o�+z��-!Btb�u1� $K�K�tN�-�V!.HI�������p{D�#�ɴGx�f�ٓl6{<}��QC��D�R���4�Dv'��I&��6F�� c� o+v��$H�(o �uNUI4@\��m!��L����a���O\�`IO_-'����'%��׉>�5 v�Q.

~N#0�UF��dǎ��a�C2�B�(f��)����y"�7O�i�p��<�/���Cd�y#�/1�] �F�Za!.�k��-B����*�.�/�H��;F�"4�;�9��.%B��apK�`����`��K�$a\�&��lNx_�M�Q���]���zc��P�`VeiUJ�k;U�ݑ�8��8�aa!��E��������z�̤�� ]�q���-��v�đ9{#�}�U�W�wK�~�}y��v�����r��UL[�gېKV����&�P^�_j_�X�vAvW��Ҥs��6d��x#�u�"%˘���G�*���ӲN������< $5-�֐�j��=���k��}��N�O���g+���<���^$/�� �ܜ��*�D���J��l\� JIi�T#j�ԮTy�-����*�-͏� ����o��s �� �� �ƉǠg�P�"�l�ߖ��G�^����9-�'�M�k����:�����XI����c���i��-���� �p��KC���SD�o ���/�q�ύ3p`z+d� W�]N ��{\�&�Ed��AǪt/.��v��+-9}�?z;-ɬ�XpA�b�E9�]�z�N�r[�Űד�e�j,�ߤeN(��P�����^\��S��KNJ�w��K'5 �,�v�����K�Nj�=����1j��-77$Q�\-�x���q�U ;[5����BWE���8�-�R�����A[D�@c6 �EV���ZCovE-�V��E��R��.A$C�k�*�TMO�҄Iھ��� �I��-�;���v�?C�̕AhGՎǑk�Cl ������&�6b��� 7�� ��#�@��S$�'���鮺G�N-��� �¢��*�U%�t���X�]%S�5�u�:Ocy���t�Z/��3�4��iƕ4�Ք�;n�f�f��R���d�%V�Y5�JhWAqe~ ��!�-h���Tm�&���Z^b�6i�(�v��b�YZ���N�)��L�O�/��!�2�`��i$�Õ�JO�+�;O�+���'�GM2M~�k�C�N�.� ���!��+��q��w���+����_����f�?$Ԁ\K:#�>27��E ��>⒚�n x�S"M�j��9�>�E� ;v���8��Z�B�v���fܱ�j]GM�' %4�^Q�<�J� �]l�)�H�ʓ�F��*�Z)(p�%�� L�Ii`N28ui�㭐G�`���EJ�5�4c�{P�+*�(_ӁHP�����ƒE�d!�ʚ��*3�!8:a�!k �L���ȼu�H� ϝ�Z�m�j4�K��K��=UQ�,˦�}5�*�U{�!�d��Xk��2��}�k;��p�Ck:�~���5�a���O���i(Ѝ�gJP�~�D}IqYiiYBVXlɉ�ҢB�6�e 儲�2 #��.˓1Js������g6~2uR�?Se�C���;�"ͬ��ZKeל�rrs���)�/�oJ���5��L�]9���-�/,Λ�"�\>��%ɒ�r�M�7��ʔ�����;j��er��8�� ����P�2A@a�_��d�`�W���"�% e��2�����/���]vZ•�A��Ӂ�{�N3]��*�М� ~�J��#T��BG�M��4L9�1��d�R�҈"-�֕N����B�S��h�HU�f���la2�]2��@S\�P~��a'�hV(B��7�G� � �1mm���ͦ�M<>�B!\��S�L0:�_��@v��G�z �����!k�%�,oVN�$Ic%� ��Ǩ��o��6geH�� .����@�����5�u�k���u��v��u��^z2G��L��V�3�j-�Y�괌�Z'��r-�9sIn�S�8A�ֺ(�-��n�V�i]a��t}��_L�ǔ(j�k���&�س��5N�;�)�l�v�&����FxjfP���g*.�PdK~ɑ�`prŹ�m�M�d5���I�F��>\ө���>���S*Ul�$F�G�ഘ�/6��Ĕ/�a�Fğk��ߴ��;w��eO�)��:�4;��3C-u'�:O�[ܗO ��+!"mB�~�F�8��$�]�(���$�Ԏ�JI&]/���W&�CIxjt�f�n������A<[�l��[i�^��H�����c�&lk��mm��mŖ�aM1O����C{�+�<ŕ�t���B��L�5㋕�][��u��b=)'�ءHQ�$�j�n�f?9U"�J!��Z�e��J�j������;���k�^^3�n�%�SL2�K��.<�+U��2씔2"�.DO O�KU���D�da�j��H�2�ʔ[�~����O�VS�Yx_ئݥNVn�H�%a!��[�-&)� e��ZhS�P�nYf�ݲ�"�X/Q�1���j���%:�����wDzVi�vD V����z�U��JN�V��r�R+�SnU�FeT�g��)�)�{�\I���5��Q}�^�Q�ҋ;�DO[��k��ɨiH�`��'�YXiĉ���v�-m܁�h�R�E���9s��� }�� ��E��èQ�ԓ��5 ��o��I��I��v&��4ވ6�ѡSR�UvDJx�KP3��r�=ubO��S���^�����2Et.����~�m+� IҘ,�'��+l����>^�i�4�>���S3��L�I ]M��(��C��;3�Y�_'�f]>my����-w}��u?r����1ef�K��g�,�yN�o���D�xoy�oT�b� �($�5�-� �����N���SRO�f���Ng:w�]T��?]C�AU�i�4ϭ��U:;U�i.

�����4^YKs�]t��Mt/p/s�n� Ю �(��)�� E��^A���f-�mp�L��724�۽w�Թ̔#�L�z�44 ���hJY��9� �X��Aq�u{�$zz�G�hI���� 4�(e���3��V��-M�1�4����\qnM̳���on�ڔX`�f�"?e�����-+-+};}r���'D��Q�(,f���N�^?��)���@F�x�.�a�ug�T�2ܵ�m� <��G+%��+TDi�)�^�PU"����Rt>{4���~iy� ;i��v{�}�}�}�]n����I��f��f�Jw,b�)=<���9xJ��Ó,�>�ʂ��ɔ��T�$uB��J�A���AEׇIld��!��I ��"'��⢔�ꁚ�-�J�HM�֓d��4�2'�b���5%���V6����R �.�C&E5ũ2�>3��5J'�V�-�L�s���C' -��B5Ю�\�����\�C�hL�Ms�W��f��e4G�B�E٘L��8T��v��q� �7�B�6�i5�AV<Ȋ˘�J#ʌ�X�65�\Y��?�:i�2�� ��2����0Q!Q�+<�b},Q�+��f��G54�KL�հ�5%TX7�Oט��Q�'�L&6/h^�,6OQ�)��s5���%��� ��:��~���-��x܈����qc��O�1�;�+�z�]#ɥ��S${��&[� :�.XV����^u#��G&�-x��`��h.

-�R��Z)���ơA��/Xjcck��X6�Fl9sx ��ySU�q�q���arˣP��ЅЅ��M�����Q �:�i���ֿ[��Vbjm��.�V���Ȱ� ��x��j<���1�=�@��Oԯ��P��x����mΚP=9��V(���� ��L�Jo�?W��H �\S_��ԭ6[���s�]��s ��.���Aߨp�*�� e4�:aj����9�i��=a�&'�,�%[�'���� �V��^f�#��3��3�wa`���WyB�����1Q��&젏���>��A ��=>�A��f��nT��?� Փ�TI�6�ZrLT=E�+ �X�ch/}���>F헣��^ݩ�NI-�UE��N)��S�9m ievu� kȈ�QH��+B�� ��i��4�2��+�r�e����:u�q�In�Z�ȚRrF� X�� #�;wbiɤ��������TFiY�>�e�̙5������ Κ�:}>��kj"=]�ђ���@é���N¸�hznـeZ���sT4�So�u3�C����F�+e��_ �0So �J���D�O��龀����������Ŭ̚ie��u�ԬC�4 -ͤ٭�� ����Y�;�"���t�1��9�50D�ʈjZ"i�/��D�:]P�{�k#::?M�-�Rj��(2����'FԪ��f�ޤz�>�c��C嚽dsj�J�>�4��f(H�o�)�ԯd��d\��25�ʢ�Je��C:˙�"�Yb:;Q���L�R��� k�>����oJ��눖�DsJ�%�5�%M%�%]%+J�y2e�n܋�(b%�K�X iLj�1]id�DC�� 2-�=�@�~�7=��EZ��{ �r���i�-,bg��z��f�I+�$�$\�߮-^)S� �:E�g�)�� Ⱥ+��c@`kTH��b$\A0n�Ö�ԇ�#�*J��^`��lO2�hK#r�]�:4��y�-\a$t�BɠR��ڨ�S� gcc��!���u�}"i�иn����N�U�)=P�-R˪'�}�FO�nr}��94rw<�0��s�:Sp%��i�Hξp�O�۬�86��"����F����xq��,����� f�.T�PO���BmOJ�Hb#)�Ō�8��w��\�F3N�ؤ.f�2�"�ڡl8B48������ )��%`c �'8k�`Æ�q(1\���O���g�Z���ki.T�u 3(����:�ߓXOOr%F��6�Ө�M�.̕��gI�cc4�5�t�PeL�o�W�<����}���*��8���+M��rIEnUEC�ɹ��N�]�<�tn�ʻ���Q��-E�ŝŲh )��9 �Ԕ� �����k\��,��-bo����kc�޵����IU��� �H:��8S���H�.ҡ(R��H�&��)1�-\D_��]}5��}JۚN�����_۩��RR��:E?�l7��_d)e6WK2��fefM\Eֲҽ=\�������'���1�M�9e�]��/��} `T�������&���#��ym6��y�GB��!�� $����(�����Rj�"��Z뇖REj�Ք�Y�V��Z��E�-�Sk���sg7� ( O�L�̙�̙s�<��ݴ�~Ec{�QS�#�I{2- U�Ml�i��ss\RQ���u-+}`Y�)������!�A���kW��<ҖT<�j�S/�Xe�ª$�< ��F_����@�������‘j��bs���9���"��3~ �f�+>>�I�;�9q�a����%��93}��)��k�8-c�x��q�֢�Ί���t/0�H-/gg�=,͸K���4u�\�um��+?݉}�Я�m���Wٹx�BW�uֈ��pyؐ���QaZ9):>5�FH����pw� [���ѕ��L]��#���X����9��x*O3׏�R �� J�s@F�����5�D�S�<>5��/$x����--+/D�jJ�X3�t���h�69�R���Ag9�#�MgF�G�h�� ���=Z[�>x�� ���~P`���:��A� �T�&#�a�ֲ����(�X-�A{��i�3B�����`�d���+��e2�G�܅�Z���Z�/te��w�{�Z���ڡ�n-z����r3�5��P�N3�mS�SS0�wi�B����g�,/Й vQg��v� �A�vu'��t��g�;�w��q��6X��kݭY7����{��ˣ��,��3��l�DM,L 5�b��{�7I+Eڬ��qQ�1��~?��w���2X3�4�������W)'=V��N�1]�� �fOs(��h����]4�ԒawD�:�M��N�O��u$OL�Z]I�AcJEO렿'�9y�p�F�e�O"m�9��l��R����a���K���Mt��ݴ�$�v��Q��Q��z�w?�Jg���.O�����,u7u�-���X��;�q77'�-�'��N)�>P (��<-���w(��G�٧_��ɥa��r��,�{y����)vb>r�hm5=~T�U�hg�3T.$�S�����f�.$��%]�>��KBҴ�T]N�Wd�-��-b���y��v �n�K�����u��Ŭ��~����2����v[�͐������������Ԓ�* M�*��aE F��ƻ���l�r#���P���<�)B/�ȥ^+'����^䶇�uYպLVh� MX��N+/�Q���LE�Y�vd^�G�Vڑ!�݂��3�P��'%eƲ��#��B��2��B��ْbu����{��ê7�Ԓ�w����~���E4�R�}����}��7�l]B��i#&9�g���_ϯiI��''$�n������PV�7W`1[��c={�3wL֠��쑳�����h:r�=�*��������gR���D��Y��$���i��R+h�8-�i0��N�ሆ��ބ r��pNA<��nS�M����������K�s�v���M��j��~xj�D7��Y-O;�^$��G��v5�bhD����Ql��6�P-n&�x�����W�:�)���-��4��q�~G(-z3��K��Ϛ���k���� 1O:Pf,�Ag064����G�&�7���ލ y0��M���3�3����aO�K���h�r���J���R.cTg��;�Lj�F-!E4�b��.z���e9;'��8G(�h�.ۄp�<��ps���φ���p]��؟���J��wk�î�(h8,�<�e�QH:Laa&V�����#v�-�1t�� 9����Lz-Zo�[Tmޏ-[�d�!G�ɔ����`]H� L�J����������� ) a!��jClZm���R-s��H�������[�-�s9��a\�-'���=��hA�u��Q9���ڂ�;̙w��Mo4ߡtk��)D[ r-����7�ء&[xz^nA�!�@Z@�!���Gj�G�`�)̖�採�̴Ŗ��ޯgN��iR�l���p8Bi�\4$qD�wbGvA����"�� Dze�̶S�����߮�କ^%��$�d�/W�������A ��Rט�`u5e�.���b��r��Ǐ2�"�:�aeC��e��OG�9 ���C�����K9-m��z^[�c�f3�*�CaSXH�C��"%I-k9Dӿ0[ßSX0D�o�B"�J�u� C��X3sp�!�-D�9o� w�3##,fШ�:L�q!����ؘ���{���ش⚁і����\Q9�2Xj^�ۖ�SR20-pev?�FR�)�Gf�̋ӚZ�4�`�,���k�H҉�t�ţ�"*�Tg(��z�^)$��1we��,Z��͊S�*��#$Z��v�2ޜ��X��%C��9 �R�t$%[��œ�X�'#�9z�[}9�& �w0/��(��E�� �Y��7֍0g�p͢�7��o4'H��a�̜~�5���� ��e�)--9Lzu�m?�M�oj��ոgA [�5�iH:�*�h%S�Й�On��5�J,%�?p�w!i)���2�����}�tQ�+k@AZV�ݕ岺�vGr ��>,�nק9R�������GGU��z4�d�Y�� g��;�R�Aw�Kʖ��CO-��. "Ǖ��0(ƕ3�B���;�ʡۥaQV�)��$B�A�q�ʭ��k�">'���R�c&��C�Z,�+�Z�"K�zPl��� �S��( S���/�l�����Ӑ�����k����C�5�l >���8�':š5ڔ�_i��I�dB���N-g\�-:Z+���ǠIC�z���K5H.W��W̑z}�KI%n���38�w��:�� ��-HI�3)٤XC�$����3�p>y��ij ]E�BJit���m�&K��Y�&M�+��홅y)� I�$��XR�VB;� �fZNjK��HPq�$Ӝ�2S��$�%�Ƹ,aq��y��(M����dn�vh���n� �>ͩ=��J�����)(8 ӱ��_bBJ^n(�c*/u����t*��TX`��%q!��k������hzv$��ИSKs{�88F+E�I��t�I��i'��:<v� G���N�J�=����$#�8{` +�\�� ���K%�J�BM��#�(�M!4�B��jq�����u��Qj�N�K%J��1 ��(e�R��㈲ܮ���M���Į��QVZd�� E�8�$ʇ�f�@��Cs���=��>��v�w�e���~rp'ྤ@��ҟ&��r��<����tr�!���ꢒXMBnzz4��ͭȊHJ���>qP 9���rw���7���$eD�$���� 4q��:�)�A�9Ǚ�rr�"Lɮ�${\rF��h,��;"�&'�-'��eU,��� K(�m�q��[=�S�j�gO,�fzG�����I%'O&ɉ K,/����)����q�׌ILi�^�LIC�G��S�0z>O.I�`.�6nh1�]��ԓ� ��W�6?"$���JO�v���bzg��peeڲ�2i��/�9���e�Ȣ ���,Z�E��Ɩ/��`{b+蟜�I3u��Ò��������� ����Gp��pq���M��ʥ��%3,/� �2��t�TA:VV�7w�X��hd��J�����]%�ntd��� M0�% -��:�}�:9��{����~��q'�Y3r��92c���rb��^`c���!q����sYjN�;"Ic����68{D�ˮhz���t�t.�9lŔY00�]90>?�=�s��]o%y�I�1r,�#�����\�,d��C�ҒSS�<�f��8��B�!l��X6�&¿�J,!+-��Ro�H��rPg9�oM��hB%i�4��V�sW�-���������ᕕ��Þ�ɜ䘔g�� -��U] ��4���ja'+�~ �WQ�����N�>��~Ied���Eޡ�roj6��V���:�ۮ����i������iE9S+2�*T��ʱY�,MR�)�xpA��UQ�/�.̯��M��S�6$7���nHa�3�/�L�HʎJ-.N�)?c��~�@��l0YBh��ڒE O��X2�8>n���k�kGf(��R�x=��(��G���dž�Uű���8I�mg��ce����1fһ̑ ����~�dU�Ov��n���w��m�Y����d(ݯ$�ك���9=Y��� ��,�K�^}�0����YQ.WT��d�72sh��p��]�vK�W�oh���q�VJIr�>��&�>$C����x �/����l���D������ }��ٰzn���Z��Z��--[�+�Ye�C��kb����h}�����>�g���\��g��hW�<�t���}����>�g�l���}���ٳ����W��c���}�<쫽6n�#���#����qj��8!�ք���I�I�/������>�g�l���}��e �������M�<;�/f��?�_F�1E�� I��$ {N���� \�GK��]��H��'�,��ѓ\)W�d��Tಢ����?

��_8%&۫g$$"S�qGX��ˣ%ƈ!�K������ �`[j�q~y��p�B<�i�g!>��z�����2���c�)q�-�K��@�jHii�_��"�I;� �P�ܭ��f̑)e���TC���.҉�F�!�p0� v��!��,���X{+��m�j_ uχz�Po��Lf> �vH�����>d��b�74���u�[�M����Eny�@� by�-�c�oL5�[��؃3�g6��I�A�RxlR"p�j=mb�Nle>������l�{!�������)�x�-��>q�4c�V��`,߈9� �؁������}+j��3�T彺�R��M��T��v��xo��M�����xT�حbfzk�JH��r�E�՚��q��]!�Zpt� ���83u�7>8U�KBju>�b����B�e�f�}>�u�)4rx�rD�3�4d���^m�飘�7����w��Q������Γ�kq�lkE/w�:���3�e-�&�$��o��η����9�˭b��8��ƨ��k�:��:�^>V��]�F�ڠVuMi�qJ�]˃��E� ��p�n�B�7Y���2һ�q��"x&���3�-�^�j���G�\eZ�̩c���P�6c9o��k7w�v��>�t ������W�N�WjzW"��Q߷a+�}�F?�zK��N��w�U{]�}i+�-�\��usČw��������@^:{�����(�W�@���B���G�j�w���2�~=h@���K���c������X��8�W����6�8��[�{?�*�K�J�K#�X�u�:W�bܧ_s��0���w�e�o ����������m����d���/z���-Z)� T��� 9&��T���p���5N���*OA7�81�Cc!���V���F�6sVc�� �� ���1�B��#Q ��UA)��0Z��jOk ��a`�Fc�ޞ��P5�?J��Aݣ�>���ī-�!zZ�4�5�:�C�*1�c�䛈����V�F@�:� �o9[�U���3I��9����;�2��(�M/���?z�� �5�B����8҉H� A3>�J ��J���8NUN�r����Ѯ]�/�~���:L�ͥ��L�Ñr�1���p ��\�T���jGp��!'V`�2�D��@�U{��N���~=Q��s��/W;�@F�Z��׊�>�.��eHޯ����Ts�O���y�5M��qm�m]�����:��:꺚�Z��e--���9M]�����Ǝ��NY�X�Ѹ�9��������[�6����6�y�sV[��^�ɫ�-p�po��Y]����U�:�m�;����9j~C'o�������_�������Yu-N�"�i�F��m�;f5�7�ka]G�s~kCc����ct���yVckg�`ggc��q^}cCCc��E�u64v��hn��6��[:�k��5v:����yu���:gWG]C㼺��m��L'odqpՍs��u8��5��h��M����ɛ�����!7f�0q\��v$kyG����9��gCߝYΉ]u�-����@5�sR�.Be]GCck�3�� �ג�s~{{K3�-v[kW�sJ�-缺���@�.Nm��js��h��jt;�;�a�κ�g{G3�΂,��Ng{cǼ�.��~1R�K�.H�i��"�y n��-������0V����ʺyoͭ΅Mͳ��z�mn��2��3���m�-��i����e����*pjv4vvu�`z��}uF �5C+]���,w4C�m [[���W�� ���M�;��ظ����ijli�(�V�b��OT�ij�o�>g�2g��m--m���ng}]'�������IHk��j/��il�^�-Cs{cCs]v[ǜʁ�3�P���"[t��jN/ŧ���E�J��N�m0&N���- �H�@9� �tY��'���$h�Rs:�2n���Z��YMus`̜�@+�Q(�l�im�D�CM�峳�P]gg۬�:�m��σ�SBs P&��0Z�D�j^I�54B���<�6�sasW��c7�`7�{orK3��6��CU�� ��9���y6�� ��a@�M(�Pu�.�� ����neu���u�'V��eգ'r����srB��X ���Pk�v�d��k'V�������� �gΆ=O���Y��)�d1��42���Iʛ�MoPoɥ��ϥ_K�xJ�-=�wK�wK~���%�x���Sξ���\�����������`m�wcxc�N߭y߭y߭�vk�w���5��;�7Ο�'L Y7�)�����-�n>� t _���0�*����� �������8��D ��K��З���D$����P��B͡SB)t�!�PC�A&�A1��n(����6<�Ͽ�9C7�3��}���^4� �{�#�p ��g�7��>�?����῀f��H��j-޸��?����f<.�L�f�N$9J��Ir-�ӕ��*uJaJ�TU�(7�r��$໔g!����Qބ�C�!��j�G�i��D2�kz�0������ (`������G�`�dff�d�3k�Q�G��!>�<�9�9�7Yj-��&�u�u �c���Y�k�$���θ�k�5P�Fs������^���l};� ��]�_ ������B�bn���J�*���� ��]���9�yL��Y��m���rq^`Ԇ��4��wF��qПS;�H9��O����_�'��vm]G]=q�Z��B��h���ij�� �Z�Z��$�hF�UÞ~\�')�XU�$��V�s]�YD"Z��h�눙�<$ ����>��>t_G�]t?�.c�Cw�s��0�v ��н��nFw���}�g�݃�� Դ����ف6�0W�0/�KO �W >,0gگ��[�(�aސ�L��r�$r~ �$v�ip�� ��KY�^���������dH�"8 濝s�:�6��T���o��2�6��v�F�jZO;� z}���ї�[�c��Y>ƪY=��ސl���������5#@���Uj�f��5�N{"dR��!��v�Z�nX�l�C�a���p��!���8�8�8ɸҸ޸ո��m<`< �\#�d�\(��5r��%����[�r�-@>,W4�Mq)�J�R�4(]�Je��U٩t+���q��d3�L��rS����eZiZo�j�i�606=m3�̅�rs����e^i^o�j�i�60&���(#���T�Ak����+��#`�Xrp�����z����7_� � -(0��5�s���v���z`ج ���S&�����sI(� -��R��e$��_x�~���;� 0<�> �N� - �j�j�����`Z�V;�wA�"���?S��"��/��ӗ�n���>�o� g(wP��U�U�"}�ڛ ��s�(�l�G��$�6 ��o� �M�G�H�� o*�pu�%dYC�#�C����&ϑ���u�y�#�QFè�F�D�A�i1F�P!�͢sT�E�B�[ZV��<��E�� �hM���V!

mB����څķ ��(4ˍ�r�b�"_��T�S���-&-��q,�i�����^�BjM�K��x���r����-'��ș٧�:5���[Eooݠ�+UW�^�%�n��ݖ!-�g� n��o���J��o����.��ž���5d��UV�Q��Ŭ�.��*���,�!�y�����z���i����읢�w )Y#xb� �=�,%+�Z��l"[ɣd'y�t�}�y�&G�qr�j���h,uQ7-�%��V�:�6��E�ҕt-]O7ѭ�Q��>M��>z��A�#�8=�4��l,�����V�*�>�%z~�.�_;[����h�������������w����r���[����l� ������B~�������b��􀐋M[U�BN V�ͣ�/8�A1��U�-B^~(�쇇U�!��A���*֠ _�o����O}k�O�J�S!W��P�����Gk��W���I�� 9�.�{L��cB�z��������������piPxr�^�>�~r۩��k����S,��Si��yJ�q��k�`���v��������_�5�W��t��+Q�iQ�iQ���q?�1��Ow���_ �-F�g�.♗���_�o&�E�o����A�iA���pSP�5(�^^�%(�<(�"(�2(�:(-OPx}PxcPxKP�����A��A�A��Aᧃ������N �9~-(-((-8(�~P�������'A�O�Ÿ�O�{�ϒ�0 k�º��>(��mA��@yy6h?��Á�� ����iA�E��?����  �Tߋk�, ��l`���W�wS�]�����#�-(0�Z%a[6��CӶ!w���-��/hw^�������z���x��j�q� ��S��z>�L�A�&Oy`�'�B��be��20�𧩀x���ٕe�o���<�3�9_R2�#�v~�sv��ͭҊ�Ǯ�1���p�������i��\�/T{�ǜ�({s�k!jj�`�F(;�wu���-b��}�.5�b����Q�C)(�AyϧH�&���-��]�����W���k�Gy���� uX?

�����^�Ͻ������g�ہ�␯���O�p�]Л�;���J5K&�R��b�u.$��/ZΊZ��;W��ܤB��3�7�w�3@��z݋�R߉�t��=���fP�h�^���ݮ7�g��� ���e���Ü���7ל���7Ӝߝ � S�"�ʞ�=J��_������9�/�ݥ5�͞��͈mT�J3j����l�4�O�/޷��n;�v� �y���sϐ����c����Dh��� ����� ���c�W�U˟{鯫AZ�Ň��?������dNw�p�-��.�]��1�,���d�J���e �y�J6^)���"�B�?��/�\�_��+а\3�ްt������B_q\_�ۯ-�� �W}��O��4{$>� =�e��Z��TD�;��-�O�.D�W�9}�O��չ�ݿ��+���d�o�ɥ�nXg�����У�¶_S['a�#pZ���5��J�f.����`_� ��5N���������N��:�-�񝕺�%W͞������W�?��ᣂ�`�=��Q�KF�e�����875^зMO�}����iq��qVT���"����~�Ig�q�����-�Пk�M����a4�b4�<س�g{O��9����.�Dy*{�� ���J���BLu���!/�� O��Q]��� o�����8Ϩgdu~ΠY��杷����W��r�o�r&(��;�^��w�7W�]��9�}�W�G\�� _՜�����:��q�ڻH��})�y]xZA_��=�v��NO��y��JX/���������J�c�$������:.� ��3Εi�} ~u���-+��= ����7�V�i��'�*O ��o�^(�χ�w0�/�;�\�;���xO�@���]f_���?���ٍ'�@Z}9=��W��gk���H�/~���� s�s}1�#���7�3�U��g�z>�g�_W��Ov�R���_��W����5�߮��a��ku_���W�e���y+z���+Y�r�����=����})�H�:���Y�+W�^{�(��������ݐ�z%���L��&p���?ͻ_�E]�_S?O��� 4Z�=ë~����R�x�%�壛�����7D�)��g�-��9�Y����>�Z��o϶�3�i�R���L������'��?߼}���!v��J}B�;-���Y�����4��o���y��W��l �_e� �_���'�C~� �C���{[�����wJk��N�j O��m���}��a.�� \}�J��tz�R~�z�-�g��k���D.̯\}�1pn���+w�2t��7W��^^sn�7�+������S��j0��{��=Z�W���7@����k���_X��-��B��ײ��=?������y�d����ӗ�x6���w��4�W�}����:��xܗ�W���������3��Cޯ���YO��ܾu��~��������/�9��c&��~>��e�j������O[}� �=�%��W�9�u���B�g�o���"����d�-���3�������b�eŻ)˾�(���[�O�@�����"�F�{�����0��w����b� �v���þ/�� �^V�^�VW����fU~��--���-�b}_�R������Lj����/zy������-��qU}��2UC}3߆?K#�'��s7�?¯n�Gȩ� ���\W�O@�t�r���3~+�-������֥3�.`�~: #d��q����4�s������KXֻo���6�"�I'9��������2�\K���d�'�ȃ�Q�?�� �� �e��OA����������O�OP�+�p҃��M�&����������܏��$���P�'� ��<�_⠟��I<�"!N�,% ��Z-B�7�$ �3���G�H2𩁤�I*�LҀgM$�6�d��#���1�<K����I6��?�I.�t6���!���I�nR�=��D�A-1+&���A��%���R �?� �JJ@J�5 ed�(U���P�� R R1���d���Ql2�1l �2����T� ��qdHM �3���@Fs ���D2䨆�Y�b&�I�d�:2�j2�ٚ�S�T2d�z2�l��Z-�y�N&��� 5 w3ɵ {ud�_�dp6� r�D��,�%SAo ׃L��i ��H-�f+���Ff����� � H��BR���]E�j��4��.!�A~��9 ÷�&��;I3��]d.������{I ��:2d�>� �J�w�K�I�A����!(uX�'��@����C�O�O!����d�$i�{����ȍ ��2���P%b ��t��ˤ t�B�0�� �d!�p��O�9�b��(��C ��J,Y z�A����'7q}A���H%7��H#���� �@{d��A��V�"Y�?[�&+@��@�J.��S� �P)-�2�����-3j.QJ���m��:�(C�*�:C��yJ����pp˕rh}�2\�DP��F�A�� }��@Ä�k+�1�V��բ�ґ8�!�V��+��C=e@=eD=%��RH9X�LF���沒1`��+�6R6�LIj��C�f'��F���F��`c@�M!����B/��s����'��u���M ?�Hv�M";�2Ԁ.Ԁ���`S�3`SQs���J��4�d��C2i.�%n�G�Hͧ�$��H�)�~J?%����P�&*@MT�ڧ?j��q����� ��,��� z!���^�1����A}4�ٙ4B��͢A#p5�ű8��-��Ts2'h�D�Z �%A=\s�b�,tA K-��R��4�� ����`�g�LH�bY���r�U��j<� ������u�D�J5���EM4 5�u��&�&�:�[����5�4�5��k������f&�:�5��kf��i@]���Y=��f�Yd�&��I3j��l�Cn@�šY3����5Qj�v�D7�&�@Mԉ�����n$]��u��:�-�ź�6��' QO-B=�����-&7��Z*�%7����஖W��F^.�P���Z�j9j�[���߅T����?�������:�V�YK�]� �yy���.�\���Z���V�\KQs�@��u�m��V�����J�S���Z�z��S+PO݆z��S�QO�V�8r'j�5J��H�=�"kao� x���\[ݭ�+��u�=����zj-ꩻPO݋zj����C �Vw)����g�2p���(E���B͵5ם���F��m�\���K)S��w�a���B�u�R��.�_#��Q���RF+��z�ew)3��仠Ɍ\��H�4H��}�>%D�JV��FJcI��@[H� �`b�U����J7���&�# �)��I��a��$���Cr�Ir-��V��F9�"�L�M/��?��IF������hs4�b�c�C�ZK�����v?�!�ڎ� �R�\�� ��,�*'6m��MVkKt��ݺ!���n�4��]���>��A�B��:t��!�ϻ�V#5��G�[�'Y��Gy�՘~d��ZL'L'�s�9�}�l4G��3̳�O�1�A���1�1쏤��j<�g�4��-#�U��~���� 0ʔ�?

`��*��� 0S�gC���Tw���X�`�o�!��E�oG� ;j�v�S0�>����,��}�2�k�w P��!��}�?:C���� �?8���t�� S�+:� A ~�a����k-]P�ax@�2a� R>QN�����7���c&�;0'���l�D+-&��Ȕ"kLn�l��q�i�\l*�Υi ��a��I�#�i�OM��j�&��C+��0.7-AXkZ�A^aZ�p�i-_�� �}~�E�ޏ�ִ�� ���q�9<8@/���F�?�����=m�9��^� �2�M�; ��1��)S��s���k-!Q�s��l�0l.�-JU��y���C/������zy�<A�� ���U�\�anW2� ������&��f^a�6���ͫ�+8�� ��{�{��}�[ }��bަ,BxT��.�g���������u/�� ��@Yc~ a��]��{�ǡ��̟�Z���:�����h��� `����]�\�;��הb-��W�,%J _x���.l��y=�K��rK��a� �6�e�Z��Ыnj�s��X:,�䥖[,+-k�YVze� �6 xH��� ة��ݖg-{��g������5H�p�r�x��>�����.�V-�U��g�zu�5��թ8�G����(UV��ݚodb-�=��^�$�i�3��`�W>�6)'��q��a�����6š���+�:f]�A^a\�p����U���]���k��q��/������ٸa���C�h:`}�����8�w=��xl���� �a}Zɰ>g-ݺ��@��ʚ�@���l��M���m9Zo����m!>�������E�1e��S��p��!Ly���=܌�;<aOx,��Kx��!M���8�B��םp�G�^�T�;��R����t ������_�9L��8L7nFh��!̕5��� —��"-���H�j����0��� ,�·��o3��C�9a��g,'»����ɪ���A�~�n�� ���]e]��?��A��وq�M��;O���lF�6���n<`~��0�����2��\�������� ����}�n�p�~ç�A?(�Q�� hmU�N��Y�I���i&�j�a���_�����9�ٶ-�r4�����ö��-�v �g������5�u�Os��3�6)l)klsn�`�)OG�mp�i\���x³�j�=�d�}P/�������C���:޽�WW{�R����'��P�h>�#��gڵ<��C� �Gs��5����7���D��.�����]��I�LB�FpK4��MC׆.n6�����q-^C�N����ڹ��T�!�n�<0��� ��Z��-X��D�"��-�cy���_���dq�q[����<�E��?��Y���R;�_p�SA(��<��;9e4/s�'b6k~��=V��M�j��'�Ԃ��ӂ�ޓ�K5Pk���]�n�x~�q�ր�Q��AO�k�y���� ���8G��>s��ɍ<>$��p�Լ�k�����y4�?G���d^��!����/�뇈�c���s��S�H���h�0�"�1ϋ�ol�V>^O9�����)-\Z~����]X�U�xN�L��T�A3�PM��a>"ok+� ��So�I3�Pi��VğBZq:�ۊ�p> �0�<���v!�=b*�Sg���v8w�Y����x }�3���x��G�,�4�����igs��8�uﭦbR��j9G%j�>t:1s�q�' j���lr�,�ك5܁n<�f��P䇡�� ^��iG�c={��mD~;����Ϧn ���k_��� ���Ͼg/ֶSK1U��H�'p޹�S�rd�����8�'���H�����7��p����{^����q�1ڀ��[��c���ڻ����]���O��%qr��R�Qtp�r�:�9�I;����>R�#]��c�>�>�c筻���&�B�)w;���*�v6��Vm8�bD9�umX'���)�q�c���g+�j���k t�j;��9�x����yՌ1�a�v�U;��K�����.��@����C.}�=��[{<���s���&������]�?�A.JE�n���q�������� �1��r=��c�7���0g:��)\�����q��H���?=��X���'�=��1R"��I����H>�R�>/��w�,�ٷ�-9�>?F�pw���Q����t�E��c�'�Aw"���c�0>9 ���� �o?�^]���BN�%��[��t�k���\����;�]��GT�#�n�旨��n�Z��d��^�9d2�c-�Տ��5��^��:��Hl����0��gPZ����D~ƕN]etwa�]8w�Q�E����!�Ew%��� 8��6���8_Q�_�x ��]���C�_( Gl4w������� �-���.ӣ�l�V`>F �GN;�c4�nC�����i��u�P�ƣ�����P�����<W��=�� ��9���Az�u��B�vS�C�T��!Ճ}[������)�?����qF`���^A�̮�N�� ��F��0���7�"���� �[��xK?o�g�-=�I�BIl��^����A�㰫��- -�����0������% C�����0N_���M¯*�L��-��[V�2�_�@�:����� ��j?7lxV�`'�UT�*�ۇ{�TxV���v�/��-`�[������A����ĝ���S��&����g7jA��z�\-���f5\�e䍒0e��]�~�����+�A�U�u�/�x�ԋ�PI��K�;�5҇�G���1�(�h]��@W��+����նI���G����ߘ�5=o궦[3-��s<�"���� �2i��o���E��H����D6�3�'�c��G�)uJ�Rv)�"ѦwM��Y2K�ik�$ ����8KZ�=����m����`�3��$�Ph(���o �]����8-�!~a؃ht�������i@Si`4��4�Y4%j�k�!P8k�i�p<�O�����Ԁ�j@�i@�����b�}*-�8�4�f����e�4�f�H����l:%.��(2��$sI���>��l#��ݤ��H^#o�#�`�0j��K��J:�6�V����k���Db;�n�,����>d��;���Y��� �4{���Q��/�{X���=Ξc/v[�va�J��m]���J?X;[�v�{��Z�:���Mc]l{�ml2[���f�XCx�嬉Ml=�d�Y5`�X.�����lÆ 5�b�F���uE��A���}��~BO@ ��V�����9��!z���G��Gh=F$��>����3@F��ϱ���z����ч�v���l3}�-�O��n� s� �)���N̵�ߖ���b�0.ڍ�й��P�#!����R��;��)���S xt�A2L֩��4��������/�w�Qn-�a��c�p���n��N{������h���^a��~�v��4��Ƚ��c�zw��'�4���}���D����O���};�^N�E�޾��ɿK~5�`�k4�N>�����ǒ_OnM�?�'�ߤ�0H#ৼC�����~�[���w��No9������^���yb9� �\r��J�ϮԂ$7�\��*�U��Q�N���Ln�r�ϰ�a7��s��[Ln���֨p��)�R�>�w��@n3�m�v��}�����9L��=���P���Rm��ԛS�U�A����;���E�]��3<~�v@w�I4b��U��A��z��� JiDBc��B�����F��4���\xDR����XD�n}�~�F�c�k%�-v<��W;����R_ߩ���>��޼o���wr� �n{-��{[���q��W�mɏ�>Үa���zZ�����c���-5V"���o��T�; ������M�'�r����:�MG ��rh�kAh��B����Ϻ�b���D�@Y��=��Ф�@�6ࣁo�TC�w�S�D�o������m�������wkLz%�h�o�$J�}rK����-<���Ǽ��w�ָ�TBzZ�� ���]y�T@sR!�)AlTtv�{� ߥ-v4#�-�awH�h�;W��h���f��E�h���V���f�W�9�Q�*³&9SzY�.:�g@����'T5y�["�y��s �� P��%8�}`����?�4�)�)S�,�D}^lB�M�y�QM�s)�4�zgs�9����淅n~���0�Ü����!���GD���9E:�3�ǝ_u~C p.r��u�_�YQ���OT��������i%�$�#��m�����(�\�N-M�_�����-1�j�� T�k��T��X�s��C�������?�)�&=m<+΋K�+����S��@l�>�5�S�OZ���9�-�z�5����f���^�U�e�4��z��m��f+�i���mZ�}��%�����em�}��w���;�ڣ�#]��#ˑ��q�9���u}���ns}ݵXOt}׵\Ow}ߵ^�t�ĵG�����~��O���=��'����.�K�w�;Y��������G�o� �A�a�1� �i�Y�^�����꧘�)����NN������K��?u�C���SGz�RG�V�֦�O��:�[��@����.uf��y� S��.O]���י�nIݞ�+uO���C�GR����-�����Km� ����y}_�������7�7�7LQ�}�Rk}����a�m��ħ�7.��`=���u�-s� ߊ�CD?N���g��)��������k����+-�-g�C$d����.����4g�?-)��K ��,N+I]K�F`1C.]ڐ�����c``UZ�/�``Mڄ�ɠLK���6;mF���\����Җ�[V�L[��.mC��m�*H�3mwھ�6p8�v8�Xډ���!ig���D�:���ܟ�O���!���zץ��6.��I����}��I����w��C>��H�ho] ���������l��dm���R�g�������z������Ze���"n��u�U,���c�J��v�.����2���v��qj?�&�'���m�����--]0�nO�P�C�K�r��\�l5���>� �����Rw��K�����J�K��zL/�R��J���������.��J���O�$������3� ��~�g���K���MO_-)����լ���Fn��M�y雼�[�w�V�7�V��r�W�}�U��/L��ogM���VӏoM?�~&�-�ŀp��@���e=���%������r�����'0^������B¿�s�HK^�8�6������� �@U��� �&&���f�V��f3.-B�+���pOx��L`A`q`�w_`e`���Z�u�?66�f��;eL�����l���}��i����1ֿ��� ƹg#nԇNβ�X��� 3#!#%ß���I��ȷལ����w�{����3�N��1<�m�#3FgTg�f�G�D͘��L�s��2��x�2ROۖ������ ?��*�8�ጵ܆3�+KG�$[o���#[2���3vɾHZtZש�sƞ��3���2e�N���sl�IiѲ�r鈎ҥ��(Kͽ}F��W�2�^E�0��,�d�}����sQ���3(�g����@0;X��2�'m]�_p@pppX�<8*XK�a�q�Q*�>8)m_pjpzpVpnp~pQ�.��;-�"�:�H1��j���l������[���g��3�LgfR�/3����f��3K2K3�C�3�2GfdVdVe�d�eNȜ�9-sF��@�z.sA�b�v)y�̕�k2�en�ܜ�-sg�nJ���.��2fN�yL�V�'2Og�ͼ��2C �PJpo�)#!��2B���C�C}I3�P��74(444<424:T-GX9��jC�C% V���� 5�f Y�Мм��В��Ъ������Ж��ЮО��СБ����P[�\�=Kd�C�� �}"�t�!�l�0�9��{f����3�&'!'Ż-ǟ"���ɷ�PJN9�s� �8��r�'K�3:�:�6sA���u9s��4��̙�3/gaΒ����ٻsV��YOpy�Ɯ-9�sv����9�r���9�Ӗs.�=�-W䴳}��s=��܀�ٹ��}�/w@f���������c��r�sG�V���[��;)wj`r���Y��͝O��n� sE�I�KsW�&��ĵ��)w��E���m��+��{ �%�hnk��3��s/�����yμ� ���������{�Gr���_�z$��ڒ�[��{��O̟B֗��@��99g`ɟ�6��&4��S@�E���P�if��%��/g����A�*��ע���ɼ�78�/����o�B�v9����ߓ�=���C�az�q�'����oO5 D�=�����8?% �}� ��Isx�i���\0�`���&۹^A�wY��Q���-��c<��3����l$�ϳ����7WP_0�g&S}�y�[�睂Ys �*XT��7?}��s����`V� ~^+X]��[��UA���M��u�j��0ַɱ>:�I�x�r� v4�M�%��<� X��O[�s �F�0�TX���_�Ғ Ny��)8�ۡ���z��z9�3�y�P���rY�c�* �^̵_XRXZ8з"��p�6� � Gd�VV��e�+����/me!�����B)� g���.-�pA���e�+ ��+�P��p[���݅� zK + �p'�W�#�-Ci���#N��I^^Ǧ�$�o@o�(i�'���w@��n;N��673Υ6�y�u¥3� ��ȷ��m��Z��T��=�W����0�}����V�#r�:rl� ��b�C���-��A?��b��;� `�˃��-�*�[�&r���4����!ˋ�J�*��H�D���<�G@�Ob���x����:�TF��y�=ۏR�í������������Z��ЊNH{��'V��%X�~�� �-5�6�{̻��p����(������g���ga��3[D%r��&��кjQ���O�?�z3l� (�8��b�*�[{+��[џt�;���-��]̈́lO�T����)���ީ�͗�-�InR�\��w�(�<�~ u�w�o-��{^���q�׌�:��� w}��A��;�������@{[x��];�6�΍�o9M��&9��k��6�w!�iYGvu��:b�5��)�0�w_5����-�H@m�ڦ1�� �\�{���ИE0ż6�c�w3�6;�o��q�發jk�-�q�E3�����>H��7���3��ǹW1f�G�?��u��2unϺ���i��v�,r�?�r} �x9��)��q�k;�����m�b�1�Nr�8>���Q/��R1�B�VkC��� [�q��W��ʐ�ȱ 2<+�Kd �Kd��Ka������t�8��)���@yz> Ϳ�?3ϣ�-}��+XÕ�� �y%�����g�l-���� %�Ћ܆���W��,��VHU�R�G)j =�+�î�z��3�B�B�?�TԺ�r��0�0�9�[cFa�D����-�U�v�����'�8^����)����)��� .�=�{6G�Ɨ��p�uS!�i�8� U+SC��c�!����Ρ������=����>9�����3aM�h�_A��D��[XV�� Z� ����s��I�l�9O�ׇ��N3N%��M@m~ m�����r�>[��a�U���Ч�>����TK`;7�v�ȶ�8'a5/�2��+3�n�ȸ�P�O�?i܉�5�^3xc�z:z�V�w1�#m��0�a>d�ܺ4�i��i�^�� v� ʿ�� (CAy�1��õ�c�O>wˑ�C�b��7�B���bMN�a��B�y;R�Ρ�`�a�$g�cG#�!m�]��v�WZ%t�g��נ,՟!�j�����2�����6�:Ơ��N=���s%����:�Y�A��x��q��X�_ � ��C�7�m���_��+��AY�^�'�$d���q��5��[���?

�.����h o0n������ϳToC��sߥ5s�� �Op�0ƍaܿQ����o �L�H�.J0� `��@�B��r�Y= d�z�e��g �L�-r��5ɿ��ᾅ���5z!;(;a�vNk�� }�m�-��E;��-��i4��-g��AqN��0��q��s������--nA��e(����^}��4�Ӡb?.��3�c���>#�;5�'i�L��W^�\��=o���;x֓֍�m/bnC'�ap��������)P��f)�B����`�#?�1n[ʃL���՘Cn�"罘����_Ч}�{T��J�b&vs?N���gs�-��U��6�_���8�����ށYw9�o�ѓ�c>��ܬ3=?�"��u9[C�NIa������o��ф9gǡ9'��Eڃ�j��+���1�I�h� ��3Q��ث=��4�ʧN5p��k��x:;��Q�� ��-��<;x�5=;�gU��;%��R� �o�l�O8J��λ�+X��P�ƻ;yu�>�d�n0y��8� terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum F=X��"�W��[��� >���q�G� z�v�oH�Э���^�=�x�CK��كՏo��vllF��o��^����w��K�ʗ �9ۗ���U��o1����B�-�g�Q�A~���:�&M�!栍`�z·�W�f�xN�etJ\�>J��� QG�����:ypP/���O�l�r�n}L�����:�}���� Έ��>C�Vh����p�ʍ"W)���"�'��$1UL����]+��N╭'y������7��S�w��U��"�T�/�<�z�C�����)f��n5`]x�� 1�-�A ����Ay�k�^���Y����W�k���ǬL}\L���$�$�&�ae�]b]w���5J�F�=�]�ߑ��u8��h�M����-�[D��c��� �~�~�~��1�1�1H<��,jw:�Ń�5�!G�����β���8#΋�4�sjI�O ��Z�V����^m�V���*�*�F��&h�y��6[{N[�-֖i+�5�:m���w�i��}�A��vL;����j(M����������C�;���Bz��[���v6{�F�3m�>^;���e��g#�@�bU����=��ϰx���=�b��.坸6���h�g�q[-�L7sM�[o�n�o7�Q.?�� ?/۾�8=E���0ű=i���r[���y������&�j�G����~��i��e��W�O_�j���X�y����U���!gb����i�N4x��� >��yc%�Lc!���2� �W�G�X���_'x/�~5O��j֞���9���a !s�1����/j4��w��l���5<�-��৉�(���i&-nJ��KXE��5��{��� ��t��.u��>Mr���v�気�F�!��~ؾ�������au�j��>��ٯcu���&��aXs݂5����?b���Xs���6������k���y͵я�\��k�T8��&wVh� �w�h -1�\�q[�Yr��$Y��8��I��0>Q6��!=� �8:�s���Z�2k��7���g�YO���]�T�p �%TV����:�����r���B��n�)���z�� �4,+�{��ò���u�'�Z�t��˲1q ->�w^� a�����~X�pY�ߞ����-���&�LlK<�sU\Y��5\ �}�[�Y>�)�/��Wm2�-�r�i8�ؓ䍩w�gvS��d��+�����$$-޷���4 ipL�^�Oֳ�x�����8=wjϗ��c����a���O*�z��Y���誽)[K�N�f\��~9l�8�:gj�tn+I���Z�kyVu� �YD.n-�dS�&k���W} �%�?���V��Z���T��=�t1��I�d=�Ɏi4����ɹ���K�K�r{M�\�<"�"�*�&�.yߣ�����GƠ.�2��<��R�t�h�����%/H^ܩ.�k�K�l�J�U-��Q�2>;y]Xn�m���V]EdH��>�%�d���f8-w�<��c�'p��e<������2��Y�������;?%��1#�wJߔ�)�R�� G>ݸ��)�١/ ӪSj#}�KSƧLL���`��Rf��-���Ӭ��9nʒ��\^.cʪ����S6Z��N�ޓ�?�Pʑ��-:uʹ��^�������W�Wv�B>s�׀��#l{V?<��������WJ��s���s{�n,�4&Q�^�U{�*�e ֣7�닩cn�*� zs������o��y�v�^#�/�M�{H��0���ߚ�~���lU��7�`�-����ƻ�ux˺�q#�q#�qp��_��7���gobϲ~;��θ���W�I�/C}�ڪK a 8���v���O�ۏ���tt�5�I������}p�+8�U�2܁�w@�O@�O -4fVɒrL�'}��C�e�� i��E�W��+��#��87#��(��r ���:��C�y��ڮGyA��n��m�������,�-->�8�S�� ����xj$��d���q'j։�u� O<���T�iE�V�Z�� ��_����T_�5�_�$Ќ͘A?���?�ҙ(���5�_�8�g����W_m�m߄������8��� ��� x�?��O"����&�� �G����ύ�������m�M�i�A��� Z����v� �U�E�3e�kB�&�+���F���y�� �3���Mظ�����e�GC��K���_�>����@����� v)C_�}�s��9�Y >K'q�g$�� ��= ��/.�ob.(s�\ �b�4��+��D�1�388�l"��8�s���64��-~^���/������� ��]���A�w‸C��Sگ�=b���-U � D�/��V�5b�� 6�mb��-�Q���8!N���.�����O�;�������j��A�Pm�6R�Uk��xm�6Ek�fjs�y�B�6��O*�6j[���rm9q����EwZ;�q� ��4rl�ַ�-���-�?��`'�m{�~����56��`�x�_��ˌ�jmu����k��K[ ��n�͈��q��}���{��y��ɧ\��[�-�)�#����'�?�.��-�\��Wq�@��ql� ��ӈ�4�?�7�-B��}����f�M��~ol��߯ږc��w��w�����{U��Y�m��D>��b�[�%�����U��OP���H�>�j-�)F�{Ľb�#���mMb���^Ւ�:F���[�xª�Պ�b (b&]s�<�n �Y+���F��)M-]�����7�,����)E�����1Bo�kʙ"������4�N�����[�1�M�a��K;/Czy�l����w�8h�Qj�d�j�n�e�K�/�/���k����D!�����i��%����hG���S�3��D���N�TG��G0��%X�(q�::�8��#�*G���RNrL�\��&�����E-��3�E]������m�"M�Ŏ�g�Υk��6E/G���1���bo%)f9�ُR�����E$� ��:*�y�f�sʱ�����Lq�9v׋�!H.

���nɶ�1��;v;���R�YO�87r����0���Îe �8F�R��n岂r$�q�q�-�}��ィ�i�'9��)�28�(�^g(�79g�����Q��u�v\~������!['����9�94F~�C�������Hhq]љ�u��J)ѝ�\�ʱ�%�s�s �Ź�����9��Y�y΅�S�%���Uε�E��΍�-h��N�۝��5��79�8�;9J�G�ù��Γ�Ig���9�r�:t ���qy]W�������5�5�5�U��t�u�sՇk�sp�&�sMuMw�d s�r�U�Gj4�=Y�I�:U�Ji�ۖk���s�k�k�c��ʵ�98���u��>��d?�����"�u5�ϻ�����X�:JW+id��q9�Hr���$�b���LHJ N&�:��JJ�5$�,a�c`BEBUBMB�c�cA„�� �f�$�Nx.aA���!

�V&���"a�sJ�6aC��m ;v�N%�K8�! ��%�H8�p�q0�BB��t'��qk�j?�Nqu��!w>� d�������A��.�֗{�{���]���w��;��=>lE��)��L��ľ�=�=ϽнĽn�{�{=�N�Za��qV�7�����wuj��%p��Hv�=���v܇ܲ�q� ���'�m�s�v�`�=v���p�=^O��ғ�Mm� �lw�BOO?��BG��5�S���a��z�=�<����q�z�$�����k�������'�hv�E��K�/FoL}�ӳԳ³�8�9J<� �=M�M��D����i��%�O�稧�s�5,a����b���_LLJ��h��X�X���\n����D�^I��!����c��e�e��Zd:� �id�h��X��E�ʋ'��v���3yn��K5���s�̟���Q��o���胴7�8��KW"���`%,�� � �317"�X�3+k��9�v x1�[9�_������o8���DC�j(X�c� ����58z]t�y�c��"C}%�~�~��3�@�� �m��P[�q�Z�: �Is�ʗ�a���1����6R������G �����h v0�l��l�>�{��Zc5��ʖ����Q��- ����A�$t�g4����QƯC��a5�^hlJ�S�b���8r'�9-#�/��o��xg�߅�W~K��;Bs�2�܀\�~����!���������@ If�VM������T��o}:�3���v��� ��-��k�<�M��- ��]� ��"t?�_��U��[5�;}(�>�����>�� �-h����6@�����"�ץ��S��&X��?=��HUnE^?G��*G.�L�%��R��$�� ޯض��O�n��/�*�-h��3�e�o�l�WM6bǡZ���w����Cs�F�qn"ş��&��i�D��-���vq�)��!t'�G�P�R#kE�'�rs�\� λ�����U���Σ.8t 8�y��[��6"�l���EH��O�lE; š�^�ǁ�5�35u t�ryq�^ɧT�٨���Ω�a =,[)r� ����R�C:� �}���pB���/�{�G���@Y���U�dy>�����t�8 pb6!N��Y��-�I�c�,���Ѣ�7 �B>O��N�A���l��o�k2�����7i���m���1~�\���%���a�)ѰH�� �`I���t!r�q��pv�� �}-aa�d���Wy�GyF�<+Ⅾ���s�\ΥDe���#%*�UG��*��Y�������u���ՅUG��̴�9�Ҝ��QXg1~��:��ò R��.d�gU�g����E��-G�M��"g\Y���+�t�z_�Wm��#��jɍ����%�,�����ǁ?��r�������{�x=�����'�з�X��J�e�]A�p8���ω��H��,q*=-�����ɭ�D��H�XKn}\��m!�����0q��ӿ��G��oi�\�C�q~G�W�Irm�-&�#��9�D�O�]��U�S<�1�G6y���-y�Ó<伝u�]ۼb[�ﯺ�(]R�\�EN�mRa��:�_6�%��.2V��I8���&7�3�&�[�Z�&�q�����T��"��-�*�zr�<��&�K�*�P�6ݢ_5�&�"77��I�U�Y��8n�RY^.c� �ձ�Jj$�Dn���v�k&���r-䎒k�;��b��q_��M{��1�r�۰�g�C}�����Z�a?�~����_�<�U�ˎ�=�װmYmvu*��G��r��]��N��9U�g���w�䕜�I�y߸{��Xɓ��`�Hz�v��\i������y�� -l_��)�E�d��4�<0ڿ'��Mɜ\�N��G��1ƨ��-�+�UI��.�;!�q�I���~-�J����C[C�����Y � ��T�� 퀶�}�'@�1�7_���+(w��'�C��2��������r3�;@�y�����nC�F�g�ӠT ��q PFW%C'J�!�TPZAy�/~i!�y������M��� �����Ҏ� �e�?

���_e<�o���2ˁOA��U;b�_E��X�� �ݠ?8�i��K����/�Rɴ}A��,%������(�\@ķ�p%(c�Ex�L��[k��v���s�s�0���j���)�ί:�&2����r>����—5r�e���ov�"nu�s���o������%x�=�b`bJb��=1=1]-�}�o��\r�}�E�-%���jr���D#�M䶒�A���^�(:�k���*�V��ȝQ���. ����9�3����X,?k�y�0.nl��Z�V����i���0�\EW�6����5V�'�$\S���,m�6���"�}(�&ڨ�mҗ錡�j����Փ۫����Z�����w���{q/����k�L�S%,�ى#'�o4�y�"�9���ig�ڣ'�ȹ�8�Q~ݒ�V��"��긝�a���/���2x�+9�%X�0���s�("_I���g�S�_,ķ�.�._d��;8v�O�/2�G��$p*��򒰽-��~���ây}�6m"YX��#���/P��DZ��8 �>N����%p�q�!ۚ�-�lk��"�]����w����(���yE�N�'��͉�Ā�s����/H�y�� �˶кs���� ^?r�V�����{�C�[�)�Z/6F�-1��-c�T��:ST�/����)���'-^<��(�_V�,�_h��Bצ �������}t���%��x�^Jx�~a����DIR(i���L �̰\��Ӆ�ݢ}�����;����'��Ŀ'e�<��Na��A��O�O�O��9]�-�?�ub����<{" �V�n���-���Iq�������śt�M��-���t}J\C���*ޥ�3���b�fj���f��J���\�s�[s�;�D-Q�k�Z����K�%Fh�Z��KK���H-]KwkZ��ej��-K�Z��#���<1Z+� �}Z�V$*������f�fQE���� 4 _*��e�2q?ָ��Y� �R[)j�U�*񠶚���m�xH[���0SX[��u�zm�xDk�Y�xm��A<�m�6�z��o��Y*b��s���q��/�D�?��Oh��~)&i/i/�'�����d���E�Wگ���گ�S�i�%�j��~#��~��VL�~��N<����*�C�!�,'VL�Zė�?i3�?k_�^�^3�7�7�W�'�g$����̼�:�fDCy��}$�;��X�3D�!�f�g,a�;���k�����,b��L�2�Xs9>+Gқ��'�������ƹ�Kic�w)ol��w)q��'�P;� �uJ/9�r�Յ��qFv!s-����9>Ψ.d�)��Zƹ�K=�Q:9<.5���-�������e��q���2�}q���e���Xɩ(aHɯ)��t�s��)^U]H�9����s��.����.�7�s)����]Ho@����@�w�UӅ��c=؅��c�v!=�ka+7�pv�u�*:��e����.[F�xu]�����G�=�e�w�7�˚���.�s��.k?���x�uY���M�n;�{����ob�J�2�lOt!_W�&u!_W��B���M�$_x?Q��� t��(Y����O����f���s�V�/���������{8�dr%���3C��j�xU�*�bx.��&�G���`���{!�q�$��-�XH�ݠ@Vm� ���$go*SͰ�LA�=�~W��p�w�w��;�wD"�9�U����="[���������Y��b�T��,���63���M���Z�c�aqL��'��}9�V_O�ڢo�w�{���!��~\�w�'�6��ގ8{�Wtj�'�f؉~��� �0��'j��J�>2�Q�~��` �tˍa�o�~�(7F�k�~ܨ4��zܷ��2՘n�2��k���8���XJqV�YR��S��&�Ic��)η�_��3��_7~7z�ӭޖ��*sX_[��/� � X�����#"GX^�_D��<}�����f�o2����շ-\�$I#R1����$�l�q�h5Ns�5�(�n�SX��}�7b/҂�Exw�h�UQ�)����;뗰N���`K}<�/j�r?ĥ}�A�^q$ƮE� ����Ɉ��d�;�0-w���L�u��r7� ��)�o�K��1ޭC�����5>�3�gg4ȕ�rg�<��dN�����U�V�bM��0��8��`��z#���'��)�E���Z�#���'\�\O�&��r���W��G)��>�2嚸��"�7r�x-�,��H2T>c�K��/����6b�w�kS7t�c�ɘ[�����6�� �mF��ȸ�m��W�QۑV���9GxJiG�΍h��ׅSQQ��ٟ�?#t�p�paP4������+� ��&��1<�j^\q]�h ��5���-�U�g©����+Z��[����p�oXtPA:�����e��n�:�)k��Q�������:��z�9Y_��"�ܘ-��Q-�WonTN�n*nH���3�\�㞍s�?� �@.]����@��8[��� ;= �UE���p#Z΁�r�Жs���x�׻���-�@���r�M�����?�_/�����g:�3A�Ad��E��C�Xoя�~z+�%�O�O�ƌr(f����rf���;����W��A�C�q��z��/����v5@��)M=}%z�$��bU �y>RJ3���rs��򔳏 ��Gw\��J{&Ix~212?��da[ʍ�%ikWgU��"�.�p������Kܛʜ�Ik�1���PK�� W�x4�o ����.{����e�%`].����~^���� � s���`�Q��G� �g�z��hy:��d)��z)]��ի�?8i�~����������X�������Ŗ�>�q�90�Y�Z����Y�ϊ5����ʐ-���l��Yf Rp ���S�`�A���AH~on� 7��vu�k��ܸZ� �}x��u6�=���!k�*��������{�8>J<sM�)���������5�y�y1s��E:�'����7�o��-��t������Ls�y�B�����U�֚��ZBn#0y���Nn���i�A:y����t��6*�s�˥�a�"�"'%8B�*��e7ORXI�f�S1�)]�Mt)��[(�lvs��n��yc$[��0���֖m�i+�D1w�>�~��m�m�-�6�r���h+'W��]�.V/�;ۨ�^l����w��#9��z��Ē�{llSU����nD ��"]̲�B�\�6�U+��/[��\�����6a[d ؖR� �j��js�m����d�dαm%6�=���5�[#�����U%�m�l�T[�] Sd�P�G�Ec����f; ;B�3��9*�y�eq ��'wJ�ͳ��·s@}̤.d9mI�I�v���2p���J�JkO��l�A*iB�������D����E�'���^E�m9 �uQ�C�ZF��*��C�~�ua�u/�V�9��W@�#�1�Xy"����:�)�ru��3��y��LDyN��<�F��i��KE;r\��;��C��I�l�b)�"-�=�o8B�J� JPZ⽝X����a i���LI��K}�,��__ i�fO��V�\Tږy1g��!��4���-�Zj�����pZd$���"��S\Ϩ1~���� ��Usҙ�����#��˳�{�}�Z1<��?`�"�ʊ��Q׬���V\�Rw��+�����P<��Ux9JSqM�v�:B�f�u��]iZnHiZnPiZDx���Hy"=���5 �>��ī��ȿMW����S���\�T���U[�� 䞁<�̷pr��u�{�̐�'A���} ��Y� ���� YK�O%�����Gy�*�Z-�e��B"���5=�C!��/�������;��#���������:��Z��Z+Y�!�+<^_[����U�r���o�{� �뀿��I$�#�_�W���t=�@��&�-�$�c�N����l:Z����~�=�{?���`٘9�j��ii��/#~���]u<��AX���������Kv���?d M��D��)�M�?^K y]�?bM�C!w �����R�/�s�=�_o��]���e5�-��j��e�a?�����^ �u W����?��=�8v��Կ�W�e���J��ѳ���%��?��R�.����y���N ��=��5�_���-��r���Y�+�%K���8�^�D.���E������D[�5jM�&rK���_�l������FJ�߬l��V��Ki�j��3�y�"�/�uݩ'����}Z;��xVםls�`�\��2�� �҅��-�<���`�r�b�K�R��.�C�/�F�#� �J���bd!^B��T{(��R훔{(q���өc���a)�n��nuZ�<�y��잔g�˽�jg'N��j/�M�Pf��>N�T��l�OT���玫��:����Dt�(�}ȝ�j���qB���)wIʝ��j��!

����DZ�(�n��) �y3`�/�߂�b� ��H �z�M_�[_���N\��H<���/Կ�/ҿ�Ŷևz��O����Һ� C�೼5� vz\8�O��,��W�"�/U� K�j��}W>���ݫ�V�����6x �p;�b_�\ /�P�6ڝ<��ڦ�����V �lAz�/���̚�� �_�K�+\K��nNU'm��S�4����wb���@�8n��K�ɍ�Lr���D�%-=�F���j-iGnT'w�律�����.���߅�vx��2ޅ�:֋����Șs�3�5�OX�����g�;�S����ʈ.���eϺ�6��>�[�uA���JY��o�� 8���.�*�NՑ��B�K�x"�1��j���:f��/\�d:Y�4�?�Wbh4S����/^��Χk)��C)�S�����˧��5������;ה��=N�C+�gI}�t��w�g#��Qr���הz�U����ܳ/ۢ��5���5�:�Yc���\y5ic��iz��vW�:����3�K�-�2z6�>C��A�����Xz!�<q�E��H�d��=��뷻�[��!��߫������ ����y#s Bg&�#��oL^�J希�������u��9o���-@ηH��Oj�;���V�{]���J��K����*ij����a��G8.��ݲ���1� 꼮������щ��?7�Be��ӝe��[]I���uE������A)(���]���znFWԿl�YN�t)g����WuE�k�%�]-����ڥ�*>������f~ӕ.~�ڛG� ��Mw������)^ � Q��Z�ӕ_���ڴsZ�.t��ѽz@�� �>��O�&�^�(��f�+�2�����6��� �sz}s�'�z}�>]�E1���g?z.[JaS_��>@oԛ�M�V�CoƵ�r($�~@o!X�?+D� �-%��e�N�'%�VU�Sݕ��r��rYKt���\���TR6U�3�%m�����j�W��.%�9�R�i$>ç7S��%B��E�����&���t)���+�w�h���� ���zQ#fcj��(:�R�����̟,�0y��<���ʓM�x�N����DR��~��y����m�5[���Kڡt%�YlqTr*�����5�zCY�U��F_��^���KaͨY���J�uqx���^�n�Zxp��B�s��a�σK���^��jT�;�;:֫�aۣ��u�9�y�z1�������������������?�o�s��/����b�v�j��JB�#���`=X�Э4�ij�=;����FJ��l����jOoS#����������h�ml/���H{��x�b�a��-�� �,����X�i�b�V��-�K���Da�E#�*!W�$���I.�/2�-��_�����Q��/g��q��e���ۗ3Z�W��lO�ۏY�<�Y�}f�3Dt����sS9w���Ҭ�������<���%e�T/tQ��8�e�-���s��@��p?A�r�b���M��j%�O��Y��B��m��K}�j_�DC-�JK5�е\S��������u&O�����f���Df���FK�>#�#bR�{U��f�nb�#ʫ�����Gy�&�>��D)��:h��5��F��<���f���hm����`?Z�2�m��0C����8կl���p��e�DK�aŌ<��6>ZO�^U�{�������{�\�^w`6%��p}��)����l�k�Y]��Q}SxP��Vn�ü(Ǝp���@+:J�F�UB��\���H��C�W=�e�4�XҤh�fXk�V�W�j)��Zz3�tm9�^����i�łk,�������e�\L��-���j.f�"s15���?�ny�D�1�>e3m78����Jm�����g�!_�����Ņ��I��ڊѽI=wDi���^5ˍ^r~ڄ�4ʭ��k��-�-<����6���QP��g0G9�'����Zj�:�wU��-X�UDoG���/*��(��ut���np��t��=?-�/��2��m��+lO}�N�>򥩓��Ǧ>��83�Ѻ�Zʤ��M��2$���+�=��\Quߨ�\1m�h����tI��M$�4Q$>Np���x���I�y����d9��'� ?K��Z񈘬B���M�V1@�!��]�!zJ�� u�D��T-R �#]��� ��D��7�����STww��E�x +��\�FF^��G ��}4k� �Z�5�"2E��E-Z�#*���q�t$����Q}de9=_V��+�OKFZ��L�ȧ�a(��1VLӔd�H����1�q�������jR��C}L_�㔋�� �FL��GJ�~D� x��)�s�< M�����vJm(܊���{�S��������[.

=���-�z��cVuݗ�6�-����P��z�߲�t��v�m��2/ �/u곋z�����^��s9�1�H�9W���N���W����.z�j�4��v ���lm��Iۥ�Z�s����B��^�W������^#�(5���:c�1�Xl�66;��q㬩�^3�,5����ٶF��n[�����i�{������ ��ɎY����$�L��p��r]�\C]4���Z�Z�������:�:� Rr� ��et�6ᚫ�ߓ�&�����{J�r���Oi��Sx�ct�ܟ� oE���n�4XB��`��$Yz��׮�Aʟ����o�~��u꯼�R��ɝB�*{�-�G��[c�ӫb�3��އ�-�����X�d-��Z���Gx���d��Է���h�+��d�K?Gi)�D�Ǥ�T~���&H?_��?.����:*T�. ��!ʟ[��ű��pC�������������j��w������� X�I�>���~�povq?0.~�{���~��Y�7i���\�9�ߥ� ҿE��,s�i>]M3� 4ӟ.f�yb�X&V�����0w���yL��'� ��SK�Z��wN�S���Z/Y'��)��� �������x��*�I����o����j*�T��_�ƩR�bKUp[��U~������V�b��( �U������O����'O��_����n�'����Tw_{������������/��C�Z��Ϳ��3�(zV������<4K<'��b�X+��f�]4�}�8*N�6)�]���,��U�?)����V�8ʯ���?-�{<�W��=J�>�VR1^�;��ju�*~��~k�0�Q�j��������Z�o}���ۃ{�R{��e��+�+��ǨҍQҏQm�J��j����J��%�WکVZ�V��_���ʆƆ�?M���������k�5Sq�EG��x�/T�5���`��k��kUM=���!�2�͓����We�S-��Ŏh����\��Gǎ������c�Ǐ�-��}q���������q�'c��{c����űv��>?�>;6��`�}����ݯ����e��<��s�4Rܭ��1�ߗ���{�� ����;�ع�3%����,"*("**���ذ�(vl��"���*6TTD�`���+vĎ��aC�����]���������ϙy�$'9��d&��%%?�ʆ�v�WvVvFE�C�Ð�r�2W�R�B�ʱ���B���,���ϐ����2rPk�Z�~�~��������xP<��%C�(�)�����Oc��c2�dX�-�b��~f�X1�G�Ӑiδc<�� "��qL<���g�2��&fs�9J꾗I�7�yA��`2���y�:-����� �̚����=-m٘u'�c/֏��F�C�v;����6���`c�86���.fW�ד{�,6������g�;R�Vr��g��pZr���D΄3笹J��]�Զ���vg�'ąs��(.���%r��jn����E��lR_Ij��H}<�;ɝ�sy����x�7�K�ּ-����������G�j�b3�T��i�� �ۈ\C���\��2U�d�b�t�n��A�R��{@�Q����2M�d��9;Uq�쥑��\����8 2M�2]q����8J�����@�Q��82Mqd��9;]��_�8���^��z�r���#g�V��kyA��E�v���]��uE��U�^��z]��u����uS��-�^��z���u����uO��}�^�z���zz=���X���^O�z=����z���>�^��{���^���{��Z��k�A��G�v��z}��D:���N/%��K�Q���N/%��tz):��J�^J�Ki��K���uz)%�^JY��RC�R��R��4��4��4��,J�R���R��4�垲�N?e �~ʒ4���:-�z-K�,�׮��R�]�vVz��굳�kW^�W�^6z�*����׫2�e���N���^�*z��z�@/G�^U�z9����׫�^����^��z�j����Ͻ:z��B�����ׯ�^�:�}ߦ����س%ز�C���'��a�>���Y�I����դ�����R��C�ȑ\��^�b��0�RN�a\�6b6���m�i�i��t� l�#�Y��t1�l5���鷦��a��wA�5]�Xp�K��\p�+��Zp�k��^p���O��*�~k��[M�P�5]�-�fA�� ½]p���Wp��� �'�>�.�����c�Z�9�m��7Wu�-�;iqy�W�s�?�st���6�;������hm��̶���C[:=�����"an�H�?�`��A�9#���&��=�ԍ`-ΘNp�9lw��^G_��J S�y �y&u�3;�s���9]�Qz�Q������>�w`_��K� ��gj�� 8�%K��g�-����g�'C�a�x�R�Gj��;4W���{��X$ѻ�F�u�0aԳ�߼��/: ]��L����nL�:E�P�X(߅�:������Xׂu$�N���<��P��3����m 4����"�[kǩ��t~�qy�<����/W6�� �?

-��/ik�kVk�54[4;4���LM�模�P2�3,n�����������ƨ�����Qu��WI]�4W����q\5.�ō��r�I�n:7�����R�%� n��K��r���Nnw�;��Nqg� ��w���=�r������:���qc슛��n�;bO���� ��<�#p���q,�'�8<��i8'�$<���q2^����8o��H�mǻ�>-�'�)-���%-��w��?ǯ�{�Y���4B�X(&,+�Z(/��[�^� ����,�\��BC�K�)� �����"#bQ%Jb��X\�ˈ�� bE��XE�*�k���FbS���Zl/v��=D_1P C�r�+O���xy�� '�s�dy��X^*/�W������%�����f�f�f�&M�^�Y�]�[�OsHsXs�Pa(ʆF���f�= }�J�6*kT�������Q5��B�9+�*�rN� .���%qs�dn1���ö��Xi�erGI�� i]&-�[������ \W�&▸-�n���`����x0��exN��I�oŕ�.��Y�8w��-_Ź����g�~�?

� ���ᖂ)g%� ���B]���C��[D^T��h(��f��h)Z����X]�%��EW���Jl'v=� ����y� %��/�W4K5+5��u�M�m�]������E ���2�2*odk�5r2�}����uV?���WK�+ �b�f�?�bK��� ��]��sk�b�qz���G,���W��jqu�� W���U�s���Ln��[�-��s����nH�#� �4w���]�nrwI�= ��X\%bq�������p��q$���x)^�S�:�r[p%����a-�;M�Y-_�7�m-?�O�K� *A��bw�(���B�P{���o�7���բF4��%��bY�Nt��5źb���&�ۊ�.b7�[�C�(y� �V���~�;������;w�����V����:�&[a�I:.X���KZeO �������~_@���^���]���-���r���_ zet�ע ��}�&( ]&v�>��I�� 呭'h��o�',�O�_.���@�k�(��SU'��:�H��OT�x���/鶚�ҥ��wR�G����?Or� �m����׽��~C�����2av3n`*��B���K2�w��u}b��a�K'ba�I����_��Qw}ڷ,Tn���u��D߷�AQ��1ԇ�JLǚ�ZTV�3jM���7�۾(��x���a��?>��!���,�[�K�+�k��;�{r��ֲ�`R�kC�-��o�%H�S뇪�沅\J.-[�ed+��l-����d��\I�,��v��\E����\Uv�������\S�%ז��ue��\_n 7�ɍ�&���Tn&��͡�ؖ�B�9�GJp5Ce��2+kdc�D.*����ⲙ�^� }�>�HfdN�e, �BV�*�@Vˢ,ɲl(���rI��Tf�HB=e^�����Π�(Q��C"��Iå�H)J��b�Q�hi�+���I� �D)N�$M��H��Ti�4]Z %K)�"i��&�����i��*͐�K���\i��PZ&-�VHK���i��VZ'�K�R��Z�%m���}�1醴E�*m�6K;���i�tJ:-���J�K�e�tM�%ݑH��K�t\�(m��K���R��_:(�I��a)K:"�NH'�l)G:/]�.JW���])O�'ݗJ��g���Nz"=��J/���1G#��r�m��H�]e����[f�K�Ÿ��@Rbţ��s�!u�4�P&:LJ�#��9�����?Eʖ�� 񪹤������Ao�{��a�%�bԌ�h�"�1S�)�gJ2Li� S�)�T`*2�D&����e�3��Bf1��YάdV3�L:����lb�2ۙ��nf��9�b3G�c� �s��a�3�+�5�sS��\���om�Ϟ�}{�c�}�gǃ}7GVĖ�%S�-�rb�����X7��B��{d:��3U�N�1آle҂�c���%��������G�}����^B�z)X�Jb٫�m��_Kl{yf��@����غ��w�m��o�tM�b�QR�7%e�I��KR�&��-���@ z�ޑ��'����(Fdd���Ɣ1cJ0�L)ƒ�b���S����df1s�y�&�Y�,a�1+�U�&�Yˬg62��m�f���e�3�L&�9�gN2���s���\e�3��-�R�}M��u#�o��뻌6�[OiނE��?�;���-Av.t������?[O���R�n��+��%�+��ڌ����rOr��7���/eIJ"Z��% qtC��@���� [Jt�7��!fl-�6xm����&V+��������� b+��,�����{�������L�m�?�����;U��8% ��Ws���\k��k�q����Y>�����2��8����폘����&�b�_� �c�s�w�����1��4����?_W�k�t���� �ue�/ï�I��Ǎ��/f���ӂ�3�gϳ�H��"��-D ���RBi�4�P�ܟ�3�c�}����G�S��љ�-`���/�חT1�����~zx�y��7�����79M1����B�,_��7⽉����ן���s%���Jf����6�l�������M<��IhR⏰Iچ}��g�%��-3�w�i�A���U���/WѲa��d�Ѿ�G�}Z�J.~����������A�uK���W6Aӟ��2/dG��/��P=��ژt�������ޝ�N�3�[�7 l�G�ƿ�ݗ�Ϫ������ѸQ��������[7'����L �%��C^��HMڛ�+�&i�~�ՙHX�۸���'�󤍻B����-�6N׺Vw��z/̫�p?�?�Ɛ�T�5�M����:Y8&$���> �G��J��6��� z�A�ut�g�����cȘ2t\�c�81����+�δc:3�?�3���0��L3�If�2��I��d�$�i�Yڒ'HZ�I�� i�$-{�3h�Mdg�Ir���f�4��"v�_��A�����e���.�%�� terangkan fungsi dan kedudukan pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum �V� U� S�!؇�F� W�%�WA0BՏ`?U$�H:ϰ��j��&Y�@b'�n^+�`կ�M��2���`M�/��t���4'�����j������~ER5�"{1��%y;��%9���ȫ�Ls����qV.�+ۊ��ͨ��$W�K�Tv��=�gsث������ �̙r���=W�s�\�V\G�;��q��FP�r��]�A�8��]��p��/U����.�+ߊ��w��0~?���'��-~)��o�w���-���?�_񟰀el�K���W�.���qw���<���8����p�CY!CYa eE5ȉ6�m��h����ʐ~P�DB� ��y3���4q���P��Z-}ޕ��-s���xޓ��D3?"}� >���-OZuD�a- �QD�8"'��-"� �l>����b~%��I*l r���E�~/�I�A�(�M�I�6����_��y���[$i��G��b<�0��X&R�F،HSl����$�hKd%��Չtµp}"]pcܜ�f$u=�l�;��DzaDd�I=��4F��c��'�x"'�<��$</&r!^�S�\���-Dn�;0) q>����O�"����:�W�--��<���)~���OD~XA�8AD��HC�T0'��`)�'�Z�$�ֶ`O��"�Yp�Ph&�"�]h't&���%��Sz�K) ��!�&9N�,$9MH�9WX(,'r��ZXGd��I�A�6!C8H�~!K8I�q�p����U���B����-����W�х����2P*�H*E �TJa����l� :��Qᬠ���(*��pW�#����‹HOEOE�~�^�p"���!DR�P�&2F1N1��8�4E������D&+�*V�R��7(��8�]��0B0SqF�e+�ø�ˊ\SwG���(^�H�wJDǠ)y�?���&t��LY���RZ)m�x+��ґ��RVW�Q6$�>y�܉l�l��H���Sٓ��J?e/"��a�H"#���#���Q�#2V��Fd�2Q9����d�R"+W*ӉLUnPn#r�r��xX�^e��8�G����D�(/+s������'����/��T��O*^e�8�R%�L�4R��Ji��R�Y^e�r$R���"Ͽ������(�X�\E�U+��t��3�i��',HF��2��=�<�s 3���Lf 0S��&�x`�3���Lf0Ӏ��t`��L0 ��f03�I&�D`f3���$�L0����,`�3�9�$� L20)����B`��E�,f0��Y �b`���%�,f)0K�Y�2`�����,f0+�Y�J`V��U��f0��Y�j`���5��� L*0i���L:0��������f0�Y�z`����lf0���F`6� �M�lf30����`�����lf0ۀ��v`�����f0;�� �N`������f0����~`�s��� 0�9�!`s�L`2���00��9 L0Y�ds �c��80ǁ9� `Ns�����$0��9�)`���&�����40g�9�`�s�����L0�9�9`�s���\�0���E`.s �K�\�20��� �`�s���\�*0׀��5`�s�����07��&�\`ns�����0����m`ns�;���.0w����Cy�Cy�G�/�8��=� ��� �/0~����?0���L0�L 0A�L00��� �^��&�`B��Lo`z L(0���L0}��L` &�����/0�DL?`���H`"���E��G[���`�~T`?�yt}RҎSQ0O%�JZ�<5��j(i��PҪ���SCI���0O%�JZ�<�.`v� ����f70�d��s`�������%0��y �<�FV�Qd����G�����L>0�y�C`��G�<�10��y�`(�y�,����Z�5D��9j�ڡ��uG>(�V�������RC����ж6QH�Vѹ���>.��j��h-������*G����}� �%���D�(7�X��4ÿ��P����/(��Y�X$���R��]Nj �nOE"�N� ���4��A����}"K~�ۑA���4���X����� �ȑ�лL��^p��8���Q ��ФE}S��@~��C&�WL��x��$��9� � ��L�-��/ <^x�$�lI�͒��%AY>-W��$�QI����%��I�2~x�$�6I�a���$?ϱ�$mv>��j]s_�A?�n�W����A-b��Cma���CC߭���`��W ޲�o�<���^"��ަ��j�.��a�,sx�S8 %;���@�=,�yp�.�t⡟� �9�B�����4����ͯ��<)1��/7���l��=�J]�E�,5���b�+�i�"{Rޙ������ ��DRQK�� ���HGr`�B�?@���g�Y�_�o���t���6���󿶧�ݽ]����S��Q���)!X�ӧ�oR�p�ӽ����l����)�N�&�����b�sC�.�_r�C�5����g��E/��X?ڣ�������燔���xC��;7/�ڢWAi�#�.�}x����x��mbE��(�p&�;ba�� �ޅ�Y�Խ��^�I�34�fO_c���u��בf�J��r�W�P���iN�.d�����nf��'ؓ�u�ڥN+�.�3�����?O��d�H~/���!u[��1z={�=�JC�z==�z6�z�Vï�������_6?�r~f�"z�������ϳ?9?��"z��d=�=/�d=/�"z.�����_��<���Sw����V��2>K&W$�I�9H�w�t�4�� �¦�F�-�+C �Y�ҳ���U��* ��NE��ĵ��˝�$=�l=�#���ǧШ�!h.��������-���p }~���p�/C�_>��4�� ���w1�EQ0��/� ;p֟���ɿ- ��F �ysU�~���W��'Ǩ�>��hd5�O)���5�ȁr�,��C��r�&����r��O����?�Y�\�j���t�΅�\~������ʃ�@� �`�^�!��C������ �����P`��-��#�'��9����j@�� 8�?��?��;�-�n��d_�-�.Sy7RpW�-�>p׸����f>���&���Lމ4�u� ��,<�����O�r��v��x�r������wBuD^�.d��FӸ������7���$��~��B�f cn9����ʗ�-")}��ދo�$�`9C��j�h�tO�<@(���s �~��ں���t�L�t56݌J��ֆ��Ґ�K�D�z-};��A�/]F�Ck��u��Y��t�`w@_�^�!��C��R$w8#hlu�P6#�2��>�#�L�9��������~�,�$V� V� V� V� V� V� V� V� V� V� V� �<�n< �����b�3Y�I&�����*3/�w�!X�5b��R�5[���Z3�fl+փ�d{�lo6�Ď`G�Hm:��K���l*�1��d���<{����g�����Ҍ̙p%8K� \7���O��+��KNN�8p��B�=0p&`�W+`�&�.\�p �R�e��W�\�p`*``:�Z�u��7n��p �V�m��w�� �p?�����3f<x�$�)�l�Ӏg���<x�"�%�ˀW�^�x0�&�-�ۀw�R�!����)*] =���]��z�{���)�-����2�`���@�0b��'vMrS����TCn�!7ջwf���a�p���-����c�'i͐�������O��- ��>�tt�[֯wX�~۴�nۅ��D���Z6��ֲi�����wdXr_[��k���;�f0dt�X�G��#���i��Rl����`�c,Fj$�0j�J��e�-���[0�,0<S�e���ڶZ�B���RQ���%Z#��!�E�� �ז)t3ޤʖ��V�ǿ�p���cݎ��œc�<�1�^m �2�c�5�J��}�@��-aV��� b�`��M�/��;k����A'�~A�a��}� �2%Ɗv�~�}��Ji�)c`\�e�oD�~}"-����L�(�-M�s�f_�{��۵���lӨ��T1ɡ�����C�j�N5<ɮs�]m���3Qk@�����9TЖ�� k�aٸ}�&�[��6n�l�ظQ5����t(�-�S��� ����믍a� '0��h���A[�߮�l����v8?

�W/���o?�<��t�aO_��"f��7GvGgv�f��.+��譙�4n'&�in{3uĒ�kz��aP�,ֹȥ�G�����;�<�ިSW�7�Pt�$\�h0*���3�b���V6m�{����u�<-jД��v�&m�i�3jћ�W#����lZ�F���o1�JF݀Z�.���4����%=L>-�;��Dz/V�~���`��MZ<=�lp�V��kg�x�l�x�k���[��6Z7�{ɇU�ƕ(6�� �%� �K>��� �L�*�}���F��R��4!�QړS��%y.1V0 �m�m�e_����0p�����'w������ �o�)� � ����c}��)�9�oȑ�����6;�e6s_��v���q���;�7Ǽ̙�)=y�����d-�`}l��xZՙe�9��k����>kTXŮя�â�o�7V?�RE��+n����1�+��'�+T\��}�g����zegn_�y�q��=\�'e���&�V�s--��m�98i�.6��XU�up���u���m�T����ɱ���s��v~����9�~S6 ����YY�F���˳��3���n �'����\�+&L��;m;�3�ޅ��ZRY)T6�����D�V�7f��<�E�y�����MK_괷Mf�� �:����c;�f<}[������M���G�s?��:�Gg� �������v����ۡ��e5M}�y&̚`~T5��l���KLmk��ee�� �t����y�U���1�+�=I�ʜb�4z� �,ƻ��ĵ�6*�����U�t�&�-�iỹ�x3gHyM��&�G�$�trXv�����&�Vm{���Cך��/�h������;�;��*z�G������f�U8��B�̇�+�k�W�N��5/xTJ�s���Ɯ��o���OuM�$��Ȉ=�8fϪ֍�663(����y��_0w҂ �qA�W�jU������ǹӋ����c���ou��������tb���)�z��Xy��WJ����w8�Ey{ب�kv,�6�Db��C:1j�]��:�ԯ���-�ѧg�z�ǷNVO�5��C�c�/�Oڟw�O�� ׾J׆��r[~/q@�N��O�_���!��x����/�ƚ?��Ŵ�T2����]����lvmܣ��n˪\.7�n���N��Z�*�qy���] �Nn������8q�uN���4� �~���`{@qj��V~��g�~LqS�X�Cqm�oHU��3��+7�������!�'1���`_�H��#��DG������I[���ZUmMR�;:�nU-���U���-_��{��KͦUb_���ܛf�-�f��+f��5�N-;�&RkY��nj�n %NKM�Җ��B����м���'㏖>R�z�g/�m?

�;����V�R��m�5�]�����N�7��]�{z�9�ˮ��cO޶q���:�u�v�-��}��xm���]��ލș�>���o���+7�m��I��f�yӀ"*,�y��-���ˊ45Q�,��àO�l�6�1�P��p�ղ����y,H+5�����s��5=ś�h!���z�:�U ��o񾽖�/��*�"˴��k9" ��߭]���B����b���J��2�A��$]����e"���Y�c�����tà��.���.����c8x�iJ��%k��u~�0��׶�97-�Cɍ��������$DZ��C�(��i]�� 9�R'�z4���oևIZΜ�ϋk\�ʽk^:>�mKf�}d߮���㻆N�b�ha\�ϖN�V��mf]R?����γ�oX0���z6�d~m�Q�)8sR��'�^i�jڭ��z���s'�Pe woj%k����>�4�^z���a�j����[Rjδ;�V���U�4i�e�\E ǷG�p�[9B�y?���1���xO~rnK��&� ���3�3��_6�C���^�[�L9����z�LC/���Q ��`�/�@��W���=�ŎZ��wȯ-�6���j�Fu�u����y�%����`��`�� �ܪ'�" ��ל[c��i۳M��,hX�R�=�6+��%x�m#�����9ht^��y�,!=��Y�ġ����`��#zZ�N��6�^P��ksگ3�ݗvaE��!��s�]�z����9�+oT��*e��o�v~�=�U��#��ky���p�v��ou�_�AK�}5v��Os�B:�5x�[ŻҮdほ�>~���a�m��nTk�[��6�:���uCcK^pY�-o-��%��T�r+��]j��6�-r<����v]�4���l_��8�L�r�j���l�m�fM񲣏����Nz����v�����(Y���ͦ�l��%�l^�İ��R��.[��]���y=���v�L �v�7v�g�=95�k��eo�wӴu����c5��RF��;K����n�ͽ�n;̶4��֞}C�Gܵ���uց�{�;]5)���v٪���.H�p%= w���s���Vq����e���L��c]���:���=������}6Sl�ԯ�zύ1���W�8��Q����� ��lkܭ��.�����>�����^$��pM}=g\\��-H-�︿��������X��G��j�-�W� �x"�j�񍶚�V7�/;�p��x'��ι����-�[ĺ��N�ܒ��<���ڪ=��u/���i�h[rs������Gj���[��3�� ���d�i�Gi�} �eL��U3˯�o?�Yp�w�`��~�A����7`�N�--�;�G���F=P8t*#_4�������9����x���k�>�]�t�cp ���#�����6�a����b����.o�E� �iW�<��ڻ��X�<���n�jKfv�?-�k���iòK�0^���v'�?��tQ�W�s�n�%g6Z L��{��p㺃��}n<-i-�I/��g]+�`�}� ,�y�.�~Fr�z�B:���V�y&%��"c�s��W?�>����r���*< �2�l\b�� Pg�o��Ɣ��}�o�l���������'v��o����.>��4ev�ǖ�<���o��]sǺ�S����Mvy{o-r�`I~׵�d�GW����-��x夸���-�U�f���J�D����^�����^�p��!V��(��}ӲQ/���������ȿ_c�`��s֗�'�݇��Q��k�}�>��'_��?�wj�S�:�j�;��Uʠ"�e� ���+t���Q�\)���+� W;&Ƣ^��œN�4{oѺ��� 5�X�~�f�f;��N�[=�k�$�x���=��u�go�������U��G��;:���f��-ΌPOw�Zs�mJ kC�'�_�Hp�a������YC��/� �d7�Ya�T}aȐ� �`t;8�ppvrr"���Z�ə�M�)}��چ����k1��M���J��>E]˿wqsvP��o� t�\��/ ���q�%g�M�Ti:���y�Gf�>�ѵj��f�R�n���'�_^����#V����ٺɃYT����S�>����شƺcݳ˳�?

�9~Ь����J����lK�����w�p��SOS���U� �p(-ʺE}f-X�m�����Z��3�-E endstream endobj 420 0 obj <> stream user Microsoft® Word 2010 Microsoft® Word 2010 2022-02-25T15:49:57+07:00 2022-02-25T16:14:22+07:00 2022-02-25T16:14:22+07:00 endstream endobj 421 0 obj < <6906ED9E7959BB6B02D6B8228886C7DB>] >> stream x�5�w@Ue��{㖗�Ģ���R�̑�&��!�a�+�e%fa�����X���r Q�bhSE�2R�(�Т{߷�>���>������8kSc��p8����)�aO^���@��/-C�V8� �S��F�v�h�,���D��P-B*E�A��B1A�v�*1����S���0��"R�!K�N�}b��t��F�V���H���!"3D�Ջ-ƥ��(�#*犪pQ-j*Dc��`��D����#B�Ţ��� "���?Y$��yb�����V�Ķ:��_�y���%���\QAx� �}�ж�h�E�aCE�~�OS�WC`G��MĪ@;~�H�/f�Â�b����ν� �}A��\�i�,F���v�Z�}Yڮw7��Y����e��,��ܰ�� l�o�_p����� ���n�fp4h7�-�R�)�6�ZB ���w��p��c�m�h��=C����@G�{�>��� ���Ѕ�f���� t��z�C��Bx�уy��a<�0����ż�� C`(D��0 ��h��i3�C ��'a<���9��ix��10��x�@23w��xH��a"�4+`L�)0�� �H�Y/��0^�W�U�A�YGI�̄Y�:��0�p��ބ�0ނy0g�*xށtX �`!��bX�� ��۰V@��a+l��`3l������6�>���6B-�6�; >�O��ld�`'dA6����-��b��\�{a�<���K��m� -�k8���p���A1-��;�~��N� �4�- ��3p~��P�p~�_�WR���<��;\��P UPMs���%���p�������*\�����L��^N���)cD��-W��Ѻ�j��y�(�E�Eq�8�A9\��$9�ypE��5�F� ���]�(��E��?]�Š�\�EN8� �Z����?ʕ�� endstream endobj startxref 846658 %%EOFBung Karno dan Pancasila NUSANTARANEWS.CO – Pancasila sebagai sumber dari segala sumber tertib hukum, baru menjadi kesepakatan bangsa sejak tahun 1966 dengan ditetapkannya TAP MPRS No.XX/MPRS/1966, di antaranya menetapkan: “Sumber dari tertib hukum sesuatu negara atau yang biasa dinyatakan sebagai “sumber dari segala sumber hukum” adalah pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita hukum serta cita-cita moral yang meliputi suasana kejiwaan dan watak dari Rakyat negara yang bersangkutan.

Sumber dari tertib hukum Republik Indonesia adalah pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita hukum serta cita-cita moral yang meliputi suasana kejiwaan serta watak dari bangsa Indonesia, ialah cita-cita mengenai kemerdekaan individu, kemerdekaan bangsa, peri-kemanusiaan, keadilan sosial, perdamaian nasional dan mondial, cita-cita politik mengenai sifat bentuk dan tujuan Negara, cita-cita moral mengenai kehidupan kemasyarakatan dan keagamaan sebagai pengejawantahan daripada Budi Nurani Manusia.

Pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita hukum serta cita-cita moral luhur yang meliputi suasana kejiwaan serta watak dari bangsa Indonesia itu pada 18 Agustus 1945 telah dimurnikan dan dipadatkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan atas nama Rakyat Indonesia, menjadi Dasar Negara Republik Indonesia, yakni Pancasila: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyaratan/perwakilan, dan Keadilan Sosial.

[sic. Rumusan sila ke lima berbeda dengan rumusan yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 [Dirangkum dari TAP MPRS No. XX/MPRS/1966] Dari Ketetapan MPRS tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa: • Pancasila sebagai dasar negara adalah fondasi bagi pembentukan negara-bangsa. • Pancasila sebagai dasar negara merupakan cita negara ( staatsidee) dan cita hukum ( rechtsidee) yang berkembang menjadi staatsfundamentalnorm bersifat konstitutif dan regulatifsehingga harus menjiwai dan menjadi acuan statik bagi segala peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

• Pancasila sebagai dasar negara adalah asas dari hukum positif yang berlaku di NKRI, dengan kata lain merupakan sumber dari segala sumber hukum, sebagaimana ditegaskan dalam UU No.

10 tahun 2004, tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Dengan demikian segala peraturan perundang-undangan yang berlaku di NKRI harus berdasar pada Pancasila yang bersifat final dan mengikat. • Pancasila sebagai dasar negara menjiwai UUD 1945 dalam mengatur penyelenggara-an negara serta menata kehidupan warga-negara dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.[]
Intisari-Online.com - Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum atau sumber hukum dasar nasional, menjadikan Pancasila sebagai ukuran dalam menilai hukum yang berlaku di negara Indonesia.

Hukum yang dibuat dan berlaku di negara Indonesia harus mencerminkan kesadaran dan rasa keadilan yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Hukum di Indonesia harus menjamin dan merupakan perwujudan serta tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam rumusan Pancasila sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945 dan interpretasinya dalam tubuh UUD 1945 tersebut. Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum dipertegas dalam UU Nomor 10 tahun 2004 tentang pembentukan petaturan perundang-undangan terutama Pasal 2.

Baca Juga: Pancasila Sebagai Sistem Etika, Kelima Nilainya Membentuk Perilaku Manusia Indonesia UU tersebut kemudian diganti dengan UU No.12 Tahun 2011 yang mengatur hal serupa. Dengan demikian, keberadaan Pancasila kembali menjadi supreme norm dalam sistem hukum negara Indonesia sehingga Pancasila sebagai suatu pandangan hidup, kesadaran dan cita-cita hukum maupun cita-cita moral bangsa terlegitimasi secara yuridis.

Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum artinya menempatkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus dasar filosofis bangsa dan negara. Baca Juga: Pancasila Sebagai Dasar Negara pada Masa Awal Kemerdekaan, Timbul Beberapa Pemberontakan yang Ingin Mengganti Pancasila dengan Ideologi Lain ARTIKEL TERKAIT • Arti Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan dan Bentuk Aktualisasinya • Kronologi dan Sejarah Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945, Yuk Simak • Memahami Pancasila Sebagai Keppribadian Bangsa, Apa Fungsinya?

• Pancasila Sebagai Dasar Negara pada Masa Awal Kemerdekaan, Sempat Diliputi Beberapa Pemberontakan yang Ingin Mengganti Pancasila dengan Ideologi Lain

Pancasila sebagai Dasar Negara dan Sumber segala Sumber Hukum Negara




2022 www.videocon.com