Ibu nabi muhammad wafat di desa

ibu nabi muhammad wafat di desa

JAKARTA – Nabi Muhammad SAW mengalami beban penderitaan yang begitu kuat sejak semasa kecil. Namun Rasulullah selalu sabar dan tabah. Sepatutnya kaum Muslim menjadikan Rasulullah SAW sebagai satu-satunya contoh kebaikan dalam kehidupan. Pada usia 6 tahun Nabi Muhammad SAW kembali ke pangkuan ibunya. Muhammad kecil sangat bahagia dapat bertemu kembali dengan ibunya, Aminah.

Mereka menghabiskan waktu dengan bermain dan belajar tentang hal yang terjadi di sekitarnya. Baca Juga: Ketika Jin Ifrit Melompati Nabi Muhammad Saat Sholat Pada suatu hari, Aminah mengajak Muhammad kecil untuk berziarah ke makan ayahnya di Madinah.

Dia pun meminta izin kepada Abdul Muthalib. Meskipun dengan berat hati, Abdul Ibu nabi muhammad wafat di desa memberikan izin kepada cucu dan menantunya berpergian jauh. Dilansir dari video milik akun YouTube Kisah Islami, Rabu (17/2/2021), Selama perjalanan, Aminah terus menceritakan tentang ayah Nabi Muhammad SAW yaitu Abdullah.

Perjalanannya itu ditemani dengan Ummu Aiman. Namun, di tengah perjalanan kembali ke Makkah, Aminah meninggal. Sejujurnya Nabi Muhammad SAW saat itu merasa sangat terpukul, namun beliau berusaha menguatkan hatinya. Selama perjalanan pulang bersama Ummu Aiman, Muhammad terus berdoa untuk ibunya sembari meneteskan air mata.

Baca Juga: Pesan Nabi Muhammad SAW kepada Para Ayah yang Akan Nikahkan Putrinya Sejak saat ibu nabi muhammad wafat di desa, Nabi Muhammad SAW diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib. Beliau diperlakukan istimewa karena, Abdul Muthalib yakin Muhammad akan menjadi orang yang besar di kemudian hari.

Selama kurang lebih 3 tahun lamanya, Muhammad kecil sangat menyayangi kakeknya begitupun sebaliknya. Namun, kebahagian itu tidak berlangsung lama, dia meninggal dunia. Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran Menjadi anak yatim piatu, kemudian ditinggalkan orang tersayang, rasanya seperti ditusuk pedang.

Itulah yang dirasakan oleh Nabi Muhammad SAW saat berusia 8 tahun. Kematian Abdul Muthalib tidak hanya membuat duka mendalam di hati Nabi Muhammad, tetapi juga pada penduduk Makkah. Sejak itu, Nabi Muhammad diasuh oleh pamannya Abu Thalib hingga masa dewasa.

Muhammad adalah anak yang tahu diri. Melihat beban berat yang dipikul pamannya, Muhammad tidak tinggal diam. Bermodalkan tubuh yang dimilikinya, Muhammad ikut bekerja seperti anak-anak lainnya, tanpa paksaan dan ikhlas membantu keluarga Abu Thalib.

Jakarta - Kisah Nabi Muhammad bisa diceritakan pada anak-anak kita. Ada banyak peristiwa penting yang berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW mulai dari kelahirannya, menikah, kala berdakwah hingga wafat. Dalam beberapa Sirah Nabawiyah disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW lahir di Kota Mekah pada 12 Rabiul Awwal tahun Gajah bertepatan dengan tahun 570 Masehi. Nabi Muhammad lahir dari orang tua bernama Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab.

Abdullah merupakan seorang saudagar yang sering bepergian ke Negeri Syam. Baca juga: Umar bin Khattab dan Sosok Pemimpin yang Dirindukan Akan tetapi Abdullah meninggal dunia saat Aminah mengandung Nabi Muhammad yang baru berusia 2 bulan. Setelah itu, Nabi Muhammad pun lahir tanpa didampingi oleh sang ayah.

ibu nabi muhammad wafat di desa

Setelah lahir, Nabi Muhammad diserahkan pada Halimah Sa'diah untuk disusukan. Zaman dulu masyarakat Arab memiliki kebiasaan menyusukan anak-anak mereka kepada perempuan desa. Hal ini bertujuan agar anak-anaknya tumbuh dilingkungan pedesaan yang udaranya mash bersih.

Nabi Muhammad pun tinggal bersama ibu susunya di dusun Bani Sa'ad selama empat tahun. Kisah Nabi Muhammad selanjutnya di usia 6 tahun sang ibu pun wafat. Kemudian Nabi Muhammad SAW dirawat oleh kakeknya dari pihak ayah yaitu Abdul Mutalib.

Selang dua tahun, sang kakek wafat. Sejak saat itu Nabi Muhammad SAW dirawat oleh pamannya bernama Abu Thalib yang merupakan salah satu petinggi dari keluarga Bani Hasyim.

Nabi Muhammad SAW pun sering ikut berdagang ke Syam bersama pamannya. Baca juga: Cerita Nabi Muhammad Menerima Wahyu Al Quran Pertama Kali Tumbuh dewasa, Nabi Muhammad SAW menikah dengan Siti Khadijah.

ibu nabi muhammad wafat di desa

Siti Khadijah adalah wanita terpandang, cantik dan berasal dari golongan orang berada di Arab. Nabi Muhammad menikah saat berusia 25 tahun.

ibu nabi muhammad wafat di desa

Sedangkan Khadijah saat itu berusia 40 tahun. Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu saat usia 40 ibu nabi muhammad wafat di desa. Setelah mendapat wahyu dari Allah SWT, Nabi Muhammad SAW pun mulai melakukan dakwah.

Pada awalnya, dakwah yang disampaikan dengan cara bersembunyi-sembunyi. Nabi Muhammad SAW wafat saat berusia 63 tahun. Beliau mengalami sakit dalam beberapa waktu, suhu tubuhnya tinggi dan sampai akhirnya mengembuskan nafas terakhir. Itulah kisah Nabi Muhammad SAW yang perlu kita ketahui. (lus/erd)
BincangSyariah.Com – Setelah empat tahun diasuh oleh Halimah, Muhammad pun diasuh kembali oleh ibundanya; Aminah bin Wahb.

Pada suatu ketika Aminah membawa Muhammad pergi ke Madinah untuk bersilaturrahim kepada paman-paman ayah Nabi saw. dari pihak ibu, yaitu Bani Addy Ibnu Najjar.

Dalam perjalanan pulang ke Makkah, tiba-tiba Aminah diserang sakit keras. Ketika di suatu desa yang bernama Al-Abwa’ (nama sebuah desa yang terletak di antara Makkah dan Madinah, lebih dekat ke Madinah kurang lebih 37 km.) Aminah meninggal dunia dan dimakamkan di tempat tersebut.

Selanjutnya Muhammad yang masih berumur enam tahun berada di bawah asuhan Ummu Aiman dan di bawah tanggungan kakeknya; Abdul Muthalib. Abdul Muthalib sangat sayang kepada cucunya itu. Hal seperti ini belum pernah dirasakannya kepada anak-anaknya karena dari dalam diri Muhammad tampak tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kelak di masa mendatang ia akan memiliki suatu perkara yang agung.

ibu nabi muhammad wafat di desa

Abdul Muthalib pun memuliakannya. Tidak berapa lama kemudian, Abdul Muthalib meninggal dunia, sedangkan Muhammad masih baru menginjak usia ke delapan tahun. Kemudian Muhammad dijamin oleh saudara kandung ayahnya; atau pamannya yang bernama Abu Thalib. Abu Thalib mengasuh Muhammad ibu nabi muhammad wafat di desa penuh kasih sayang dan perhatian. Harta yang dimiliki Abu Thalib waktu itu hanya sedikit, tetapi berkat adanya Muhammad akhirnya Allah swt.

melimpahkan keberkahan pada hartanya. Selama di dalam asuhan Abu Thalib, Muhammad merupakan teladan yang paling baik. ia bersikap qana’ah (menerima apa adanya) dan jauh dari perbuatan-perbuatan rendah yang biasa dilakukan kebanyakan anak-anak seusia dengannya.

Demikian itu pernah dikisahkan oleh pengasuhnya Ummu Aiman. Ketika saat makan tiba, anak-anak lainnya datang melahap makanan yang ada, sedangkan Muhammad tetap tenang dan menerima apa adanya.

Sumber: Kitab Nurul Yaqin Fi Siirati Sayyidil Mursaliin karya Ibu nabi muhammad wafat di desa Muhammad Al-Khudhari Bek. Suara.com - Nabi Muhammad SAW merupakan sosok penting dalam agama Islam.

Umat muslim pun harus tahu kisah Nabi Muhammad SAW baik ketika beliau lahir hingga wafat. Pastinya, Anda sebagai seorang muslim telah mengetahui siapakah Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad adalah nabi terakhir yang diutus Allah untuk menyebarkan ajaran Islam dan menuntun umat di dunia agar menyembah Allah SWT.

Kisah Nabi Muhammad kerap dibacakan dalam berbagai kesempatan. Mulai dari kutbah salat Jumat hingga bacaan cerita untuk anak. Perjalanan hidup Nabi Muhammad, memberikan banyak inspirasi, nilai-nilai, dan kebaikan yang bisa dijadikan teladan sekaligus pedoman umat muslim di dunia.

Berikut ini kisah Nabi Muhammad dari lahir hingga wafat. 1. Anak Yatim saat Lahir Baca Juga: 10 Kisah Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga Menurut beberapa Sirah Nabawiyah, Nabi Muhammad SAW lahir di Kota Mekah pads 12 Rabiul Awal tahun Gajah atau 570 Masehi.

Orang tua Nabi Muhammad merupakan Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab. Abdullah adalah seorang saudagar yang kerap bepergian ke Negeri Syam dan meninggal dunia saat usia kandungan Aminah masih 2 bulan. Selanjutnya, Nabi Muhammad SAW tumbuh sebagai seorang anak yatim. 2. Memiliki Ibu Susu Setelah lahir, Nabi Muhammad SAW diserahkan kepada Halimah Sa'diah untuk disusukan. Hal ini dilakukan karena zaman dulu masyarakat Arab biasa menyusukan anaknya kepada perempuan desa agar si anak tumbuh di lingkungan pedesaan yang udaranya masih bersih.

Di sana, Nabi Muhammad SAW tinggal bersama ibu susunya di dusun Bani Sa'ad selama 4 tahun.
Nabi Muhammad SAW merupakan keturunan Arab yang terlahir dalam keadaan yatim. Namun menurut Dr. Muhammad Abduh Yamani, keyatiman beliau tersimpan banyak hikmah, di antaranya didikan atau ajaran langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, Nabi akhir sebagai penyempurna risalah dari ajaran-ajaran Nabi sebelumnya.

Aminah ibu nabi Abdul Muthalib atau Syaibatul Hamdi, kakek Nabi Muhammad Saw menikahkan putranya yang bernama Abdullah dengan seorang perempuan yang memiliki nasab dan kedudukan baik di suku Quraisy, bernama Aminah binti Wahb bin Abdu Manaf bin Zuhroh bin Kilab. Ayah Aminah sesepuh atau konglomerat Bani Zuhroh yang mempunyai nasab dan kedudukan tinggi. Abdullah menikahi Aminah binti Wahb di Mekah. Tidak lama setelah pernikahan antara Abdullah dan Aminah di kota Mekah, Abdul Muthalib mengutus Abdullah untuk pergi ke Syam untuk berperang.

Sebabnya adalah perampasan barang dagangan suku Quraisy. Pada zaman jahiliyyah peperangan semacam ini sangat wajar dan seringkali terjadi. Ketika Abdullah melakukan perjalanan pulang dari Syam menuju kota Mekah, beliau singgah ke Madinah (saat itu masih bernama Yatsrib) untuk memetik hasil panen kurmanya. Namun, Abdullah mengalami sakit parah ketika di Madinah hingga meninggal dan dimakamkan di sana. Menurut pengarang kitab Al-Rahiq Al-Makhtum, Shofiyurrahman Mubarakfury, Abdullah wafat dalam usia 25 tahun sebelum Nabi Muhammad SAW dilahirkan.

Ketika kabar duka kematian Abdullah sampai ke masyarakat kota Mekah, suku Quraisy merasakan kehilangan yang begitu mendalam, terutama istri Abdullah, Aminah yang saat itu sedang mengandung seorang calon nabi utusan Allah SWT. Abdullah meninggalkan lima ekor unta, seekor kambing dan budak perempuan bernama Barakah yang memiliki kunyah Ummu Aiman. Budak ini nantinya akan mengasuh Rasulullah SAW.

Salah satu kebiasaan bangsa Arab adalah mencari perempuan yang akan menyusui anak-anak bayi mereka guna menjauhkan anak bayi tersebut dari berbagai penyakit, kelak memiliki tubuh dan otot yang kuat. Ketika Nabi Muhammad SAW lahir, Abdul Muthalib mencarikan perempuan terbaik dari Bani Sa’d yang akan menyusui Nabi, perempuan tersebut bernama Halimah binti Abi Duaib. Setelah Nabi Muhammad berusia enam tahun, Aminah mengajak beliau untuk berziarah ke makam ayahnya serta keluarganya dari keturunan Bani ‘Ady bin Najjar di kota Yatsrib ditemani oleh Halimah dan Ummu Aiman.

Perjalanan menuju kota Yatsrib ditempuh menggunakan unta. Setelah ziarah ke makam ayah Rasulullah dan para kerabatnya selesai, mereka melakukan perjalan kembali untuk pulang ke kota Mekah.

Sepanjang perjalanan, Aminah memberi perhatian lebih kepada Rasulullah SAW dengan mengajarkan beberapa hal sebagai seorang Ibu yang baik dengan penuh kasih sayang. Di tengah perjalanan, Aminah jatuh sakit.

Ia lalu memutuskan untuk singgah terlebih dahulu di suatu perkampungan yang terletak di antara Mekah dan Yatsrib, bernama Al-Abwa’.

Kisah pilu Rasulullah pun berlanjut dengan wafatnya ibunya saat itu juga. Sebelum wafat, Aminah menatap Nabi Muhammad SAW dan membacakan syair: بارك الله فيك من غلام يابن الذي من حومة الحمام نجا بعون المالك العلام فودي غداة الضرب بالسهام بمائة من إبل سوام Engkau adalah seorang anak yang diberkahi Allah swt Wahai anak yang ayahnya selamat karena sejumlah unta Yang selamat karena pertolongan sang Penguasa Dengan tebusan sejumlah seratus ekor unta Aminah, ibu Nabi Muhammad SAW ini terkenal memiliki kepribadian yang baik dan pandai dalam bersyiir, bahkan sebelum wafatnyapun beliau sempat membacakan syiir untuk anaknya Rasulullah SAW.

Aminah wafat dan dimakamkan di Al-Abwa’ saat Nabi Muhammad berusia enam tahun. Setelah itu, Nabi diasuh kakeknya Abdul Muthalib selama dua tahun dilanjutkan oleh saudara Ayahnya atau paman Nabi yaitu Abu Thalib. islami.co dihidupi oleh jaringan penulis, videomaker dan tim editor yang butuh dukungan untuk bisa memproduksi konten secara rutin.

Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kerja-kerja kami dalam memproduksi artikel, video atau infografis yang mengedukasi publik dengan ajaran Islam yang ramah, toleran ibu nabi muhammad wafat di desa mencerahkan, kami akan sangat berterima kasih karenanya. Sebab itu sangat membantu dan meringankan. Baca Juga • Kisah Kisah Haji Pertama Abu Bakar dan Berakhirnya Praktik Thawaf Telanjang • Sejarah Mengenal Ummul Mukminin, Siapa Saja?

• Sejarah Shafiyah binti Huyay: Ummul Mukminin yang Sering Dibully dengan Ibu nabi muhammad wafat di desa “Anak Yahudi” • Kisah Biografi Abbas bin Abdul Muthalib: Paman Nabi dan Teman Main Sejak Kecil • Kisah Shafiyah binti Huyay: Istri Rasulullah, Putri Pemimpin Yahudi yang Masuk Islam Berita • Pengalaman Toleransi Agama dari Semarang: Saling Berkunjung di Hari Raya sampai Bebersih Vihara • Quraish Shihab: Berdosa, Rajin Ibadah Sunnah Semalaman Tapi Malas Bekerja • Kapan Shalat Idul Fitri Dilakukan?

Kementerian Agama Akan Putuskan 1 Syawal Hari Ini • Quraish Shihab: Jangan Anggap Kecil Amalanmu, Jangan Remehkan Dosamu! • Kemenag Undang Ormas Islam dan Perwakilan Dubes pada Isbat Awal Syawal 1443 H Kolom • Pesan KH. Ali Mustafa Yaqub: Dakwah Jangan Dijadikan Profesi dan Sumber Mata Pencarian • Relasi Islam & Kristen di Indonesia: Peluang Dialog Antar-Agama • Riwayat Perjumpaan Islam & Kristen di Indonesia • Mengapa Ibadah Puasa Ramadhan Mengikuti Kalender Hijriyah?

ibu nabi muhammad wafat di desa

• Hikmah di Balik Baju Baru Lebaran Kajian • Ini Dalil Halal Bihalal dan Ziarah Kubur Ketika Lebaran • Argumen Bolehnya Zakat Ibu nabi muhammad wafat di desa dengan Uang dalam Madzhab Syafi’i • Tidak Semua Ghibah Dilarang, Dalam 6 Kondisi Ini Ghibah Dibolehkan • Sudah Pertengahan Ramadhan, Ini Dalil Baca Qunut Saat Shalat Witir • Suntik Insulin Saat Puasa, Apakah Membatalkan Puasa?

Ibadah • Khutbah Jumat Spesial Idul Fitri: Anjuran Menjaga Hubungan Baik dengan Tetangga • Apakah Puasa Syawal Mesti 6 Hari Berturut-turut? Ini Beberapa Perbedaan Pendapat Ulama • Hukum Shalat Idul Fitri dan Tata Cara Pelaksanaannya • Contoh Khutbah Idul Fitri 1443 H/2022 M: Menjadi Kaya Raya dengan Bersaudara • Mengapa Zakat Fitrah Diwajibkan?

Ini Sejarahnya! Budaya • Tradisi Nyadran, Ziarah dan Transfer Amal kepada Orang Tua • Tradisi Dandangan: Semarak Bulan Suci di Kota Kudus • Makna di Balik Nyadran, Nyekar, dan Tradisi Ramadhan Lainnya • Menyambut Lailatul Qadar ala Warga Desa: Tradisi Selikuran dan Pitulikuran di Pati • Budaya Melayu: Tradisi Tepung Tawar Masyarakat Melayu Langkat, Sumatera Utara
Setelah Nabi Muhammad SAW kembali ke Makkah al-Mukarramah. Beliau bisa berkumpul lagi dengan Sayyidah Siti Aminah (Ibunya).

Namun, ketika umurnya menginjak 6 tahun Nabi Muhammad harus kembali ke Madinah al-Munawwarah bersama ibunya untuk silaturrahmi ke rumah saudara-saudara ibunya disana. Waktu yang singkat tidak disia-siakan, dihabiskan sepenuhnya bersama saudaranya di Madinah.

ibu nabi muhammad wafat di desa

Kemudian, usai dari Madinah Beliau dan Ibunya kembali lagi ke Makkah. Namun, di tengah perjalanan kabar duka menyerta dalam langkah pulang tepatnya di desa Abwa’ (nama sebuah desa yang terletak antara Makkah dan Madinah, lebih dekat ke Madinah kurang lebih 37 km).

Baca juga : • Matinya Seorang Pendosa yang Dirahmati Allah SWT • Lahirnya Baginda Nabi Muhammad SAW dan Cerita Pasukan Gajah • Keajaiban Sholawat : Kuli Pasar yang Shaleh • Benarkah Hitungan Masa Haidhmu?

Inilah Penjelasan Syaikh Salim Tentang Masa Haidh • Ikuti Instagram Warta NU • Jangan Lupa Add Facebook Warta NU Bahwasanya Siti Aminah (Ibu Nabi Muhammad SAW) diserang sakit keras dan menghelakan nafas terakhirnya.

Sehingga, Siti Aminah pun dimakamkan di desa itu juga. Selepas pemakaman, Baginda Nabi kembali ke Makkah al-Mukarramah. Masih berumur 6 tahun sudah ditinggalkan oleh ayah dan ibunya.

ibu nabi muhammad wafat di desa

Akhirnya dirinya tinggal bersama kakeknya yang bernama Abdul Muthallib kurang lebih 2 tahun lamanya. Abdul Muthallib adalah seorang kakek yang sangat cinta pada cucunya (Nabi Muhammad SAW). Bahkan, pernah suatu ketika Abdul Muthallib tidak bisa makan karena tidak bersama dengan Nabi Muhammad SAW. Bahkan Abdul Muthalib melihat tanda dalam diri Nabi Muhammad tampak tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kelak di masa mendatang ia akan memiliki suatu perkara yang agung.

Tidak lama kemudian, ketika Nabi Muhammad SAW masih berumur 8 tahun kakeknya Abdul Muthallib meningga dunia.

Maka, tiada pilihan lain selain dirinya harus tinggal bersama pamannya yaitu Abu thalib yang merupakan wasiat dari kakeknya tersebut. Abu Thalib, yang memang sangat mencintai Nabi Muhammad SAW dan menjaganya dengan sungguh-sungguh hingga menjelang remaja. Mengasuh dengan penuh kasih dan sayang serta perhatian penuh terhadapnya. Harta sedikit namun berkat hadirnya Nabi Muhammad harta tersebut berkah dan melimpah.

Selama berada dalam asuhan Abu Thalib yang sederhana, Nabi Muhammad merupakan teladan yang paling baik. ia bersikap qana’ah (menerima apa adanya) tidak seperti perbuatan-perbuatan yang dilakukan anak-anak se usia dengannya.

Seperti dikisahkan oleh pengasuhnya Ummu Aiman, ketika saat makan tiba. Anak-anak lainnya datang melahap makanan yang ada, sedangkan Muhammad tetap tenang ibu nabi muhammad wafat di desa menerima apa adanya. Sungguh Mulia, masa yang masih sangat belia. Namun, keteguhan hati dan keteguhan jiwa dalam memegang prinsip diri sungguh sangat kuat. Dia adalah pewaris Nabi yang sangat mulia nan agung, Insanul kamil, manusia yang paling sempurna.

Penulis : Maulana Haris, Santri Pesantren Bahrul Ulum Tangsil Kulon Editor : GufronIlustrasi PHOTOGRAPH BY PAUL SALOPEK Wafatnya Ibunda Nabi ﷺ Telah berlalu sebelumya penjelasan bahwa ketika Rasūlullāh ﷺ berusia 4 tahun, ibu asuh Nabi ﷺ (Halimah) mengantar beliau kembali ke pangkuan ibu kandungnya, dan ini terjadi setelah proses pembelahan dada Nabi.

Para ulama menjelaskan bahwa diantara sebab Halimah bersedia mengembalikan Muhammad ﷺ adalah kejadian pembelahan dada tersebut menyebabkan Halīmah khawatir jika suatu saat Nabi akan diserang lagi sedangkan Nabi adalah amanahnya untuk dia jaga.

Akhirnya dia mengembalikan Nabi ﷺ kepada ibundanya. Setelah itu, Nabi Muhammad dirawat oleh ibunya sendiri dari umur 4 tahun sampai 6 tahun. Saat berumur 6 tahun, beliau dibawa ke Madinah oleh ibunya untuk menziarahi makam ayahanda beliau, karena ayah Nabi meninggal di Madinah. Selain itu banyak akhwāl (saudara laki-laki ibu) Abdul Muttholib (kakek Nabi) dari Bani Najjaar [1] yang tinggal di Madinah. Adapun ‘ ammamnya (saudara laki-laki bapak) banyak di Mekkah.

Disebutkan oleh para ahli sejarah, setelah menjenguk kuburan ayah Nabi ﷺ, mereka berjalan pulang. Ketika ibu nabi muhammad wafat di desa di suatu tempat bernama Abwā yang terletak sekitar 235 km dari Mekkah, Aminah, ibunda Nabi ﷺ meninggal dunia.

Sungguh, ini adalah cobaan luar biasa yang dialami oleh Nabi ﷺ yang saat itu masih anak-anak. Nabi telah mencapai puncak keyatiman (meninggal dalam keadaan ayahnya tidak ada) kemudian dirawat oleh ibundanya hanya 2 tahun, lalu ibunda beliau pun meninggal saat pulang dari safar di suatu tempat yang jauh dari Mekkah dan Madinah.

Jika beliau meninggal di Mekkah maka akan ada paman-pamannya dari sisi ayahnya dan kalau di Madinah akan ada paman-pamannya dari sisi kakeknya.

Namun ibundanya meninggal di tengah-tengah antara Mekkah dan Madinah (Abwā) sehingga tidak ada orang yang beliau bisa menyampaikan keluh kesahnya.

Nabi ﷺ melihat langsung bagaimana ibundanya menghadapi kematian. Para ulama menyebutkan bahwa semakin orang itu bertaqwa maka cobaan yang akan dia hadapi akan semakin berat. Apabila kita mempelajari tentang cobaan-cobaan yang dialami oleh Nabi ﷺ maka sangatlah luar biasa. Beliau lahir dalam keadaan yatim, umur 6 tahun melihat ibunya meninggal, sendirian tidak ada siapa-siapa di sisi beliau, di tempat yang asing.

Begitu besar kesedihan yang dirasakan oleh Nabi ﷺ. Oleh karena itu ujian Nabi ﷺ sangat luar biasa. Sebagaimana dalam hadits: الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الصَّالِحُوْنَ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الْعَبْدُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ “Orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi kemudian orang-orang shālih kemudian selanjutnya dan selanjutnya.

Seorang hamba diuji berdasarkan agamanya” (HR Ibnu Majah no 4023 dan At-Tirmidzi no 2398) [2] Nabi ﷺ telah menjadi yatim piatu semenjak masih anak-anak. Karena itulah beliau sangat sayang kepada anak-anak yatim, sampai-sampai beliau ﷺ mengatakan: أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ “Aku bersama orang yang menanggung anak yatim seperti 2 jari ini disurga.” (HR Al-Bukhari no 5304) Nabi ﷺ mengatakan demikian bukan hanya sekedar berdasarkan teori tetapi beliau telah merasakan sendiri susahnya menjadi anak yatim.

Dikisahkan bahwasanya ada seorang shahābat Nabi ﷺ datang menemui beliau, dia mengatakan: “Yā Rasūlullāh, hatiku seakan-akan keras.” Maka Rasūlullāh ﷺ berkata: إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ، فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ “Kalau engkau ingin hatimu lunak (yaitu mudah terenyuh/menangis tatkala mendengar ayat-ayat Allāh, khusyū’ tatkala shalat) maka berilah makan kepada fakir miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR Ahmad no 5756 dan dihasankan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 854) Hal ini karena Nabi mengetahui kerinduan anak yatim tatkala diusap kepalanya.

Bagaimana seorang anak ketika didatangi oleh orangtuanya, dia rindu untuk diusap kepalanya.

ibu nabi muhammad wafat di desa

Oleh karena itu, apabila seseorang ingin hatinya bersih dan mudah mendapatkan nashihat maka perhatikanlah orang miskin, berilah makan untuk mereka, datangi dan santuni anak yatim serta usaplah kepala mereka. Kita bisa mengirim uang atau santunan untuk anak yatim, tetapi alangkah lebih indah lagi jika kita bisa bertemu langsung dengan anak yatim kemudian mengusap kepalanya dan turut merasakan kesedihan yang dirasakan anak yatim tersebut.

ibu nabi muhammad wafat di desa

Nabi ﷺ benar-benar mengetahui kesedihan yang dialami oleh anak yatim, sehingga ketika beliau berbicara tentang rahmat (kasih sayang), maka hal ini benar-benar keluar dari lubuk hati beliau yang paling dalam.

Beliau benar-benar mengerti bukan sekedar teori, tetapi beliau pernah merasakan langsung sebagai anak yatim dan juga sebagai orang miskin.

ibu nabi muhammad wafat di desa

Di bawah asuhan sang Kakek Setelah ibunda Nabi ﷺ meninggal dunia, Rasūlullāh ﷺ kemudian diasuh oleh kakeknya, ‘Abdul Muththalib, dia sangat mencintai cucunya tersebut. Disebutkan oleh para ahli sejarah bahwa ‘Abdul Muththalib sering duduk-duduk di bawah naungan Ka’bah. Dia memiliki semacam tempat duduk dari permadani, jika anak-anaknya datang (yaitu paman-paman Nabi), mereka hanya duduk di sekitar permadani tersebut, tidak ada yang berani duduk di permadani ‘Abdul Muththalib disebabkan haybah (kharismatik) yang dimiliki olehnya sehingga orang-orang segan terhadapnya.

Adapun Nabi ﷺ kecil, yang masih berusia 6 tahun jika beliau datang ke Ka’bah maka beliau duduk di permadani kakeknya. Suatu hari beliau ﷺ pernah duduk di atas permadani sehingga dengan serta merta paman-paman beliau melarangnya.

Namun Nabi ﷺ tetap duduk dan dibiarkan saja oleh ‘Abdul Muththalib, bahkan kakeknya menggendongnya dan duduk disampingnya, karena Abdul Muththalib sangat mencintainya. Mungkin saja diantara penyebabnya adalah karena bapak Nabi (‘Abdullāh) juga diantara anaknya yang sangat dicintainya, demikian pula cucunya, terlebih Nabi ﷺ hidup dalam keadaan yatim piatu.

Suatu ketika saat paman-paman Nabi ﷺ melarang Muhammad duduk di atas permadani, maka ‘Abdul Muththalib membelanya dan mengatakan: “Biarkan cucuku, sesungguhnya dia memiliki suatu kehebatan.” [3] Di bawah Asuhan Sang Paman Tak berselang lama, ‘Abdul Muththalib juga meninggal dunia.

Disebutkan bahwasanya dia wafat dalam usia sekitar 82 tahun (80 tahun lebih). Sebelum wafat, ‘Abdul Muththalib mewasiatkan kepada Abū Thālib (paman Nabi) agar dia yang mengasuh Muhammad kecil. Alasan beliau memilih Abū Thālib karena Abū Thālib dan ‘Abdullāh saudara kandung seibu dan sebapak. ‘Abdul Muththalib menikah dengan beberapa wanita, diantara anaknya yang lahir dari ibu yang sama adalah Abū Thālib dan ‘Abdullāh [4], sedangkan paman Nabi yang lain lahir dari ibu yang berbeda dengan mereka berdua.

Akhirnya pengasuhan kepada Nabi Muhammad ﷺ pun berpindah kepada paman beliau, Abū Thālib. Disebutkan bahwa Abū Thālib sangat mencintai dan memperhatikan Nabi ﷺ seperti anak beliau sendiri.

Dia sering tidur di samping Nabi ﷺ dan jika pergi dia selalu mengajak Nabi ﷺ. Ketika Abū Thālib berdagang ke negeri Syam, Nabi Muhammad ﷺ diajak. Namun sayangnya Abū Thālib adalah orang yang miskin. Oleh karena itu, Nabi ﷺ ikut bekerja untuk membantu pamannya diantaranya dengan menggembala kambing.

Nabi ﷺ Biasa Menggembala Kambing Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda مَا بَعَثَ اللَّهُ ibu nabi muhammad wafat di desa إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ فَقَالَ أَصْحَابُهُ وَأَنْتَ فَقَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ “Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus kecuali menggembalakan kambing.” Kata para shahābat: “Engkau juga menggembalakan kambing, wahai Rasūlullāh?” Berkata Rasūlullāh ﷺ: “Ya, saya dulu menggembalakan kambing-kambingnya orang Mekkah agar dapat upah dari mereka.” (HR Al-Bukhari no 2262) Nabi ﷺ sendiri tidak memiliki kambing.

Kambing yang beliau gembalakan adalah milik orang lain, beliau hanya bertugas merawatnya supaya dapat upah, kemudian upah itu digunakan untuk membantu pamannya. Abu Thalib adalah orang yang terpandang tapi miskin secara ekonomi.

Dan telah lewat pembahasannya bahwasa Nabi sewaktu masih kecil juga menggembalakan kambing di kampung Bani Sa’ad tatakala beliau tinggal bersama ibu susuannya, Halimah As-Sa’diyah.

Dalam hadits yang lain, dari Jābir bin ‘Abdillāh radhiyallāhu Ta’āla ‘anhumā, Jabir mengisahkan : كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَجْنِي الْكَبَاثَ وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عَلَيْكُمْ بِالْأَسْوَدِ مِنْهُ فَإِنَّهُ أَطْيَبُهُ قَالُوا أَكُنْتَ تَرْعَى الْغَنَمَ قَالَ وَهَلْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا وَقَدْ رَعَاهَا Suatu hari kami bersama Nabi ﷺ dan kami sedang mengambil kayu siwak.

Lalu Rasūlullāh ﷺ berkata: “Carilah yang kayunya/batangnya hitam, karena itu siwak yang terbaik” Maka para shahābat heran, “Wahai Rasūlullāh, apakah engkau pernah menggembalakan kambing?” Rasūlullāh ﷺ berkata: “Bukankah setiap Nabi pernah menggembalakan kambing?” (HR.

Al-Bukhari no 3406 dan Muslim no 2050) Menurut para ulama, ini adalah salah satu dalil bahwasanya seluruh Nabi menggembalakan kambing. Bahkan sekalipun Nabi yang kaya raya pun juga ditakdirkan oleh Allāh untuk menggembalakan kambing.

Contohnya Nabi Mūsa ‘alayhissalām, beliau dibesarkan di istana Fir’aun, namun tetap ditakdirkan oleh Allāh untuk menggembalakan kambing. Dalam al-Qur’an dikisahkan bahwa Nabi Mūsa pernah membunuh salah seorang penduduk Mesir yang menyebabkan beliau dikejar-kejar dan melarikan diri ke negeri Madyan.

Di sana beliau bertemu dengan salah seorang penduduk Madyan, lalu dinikahkah dengan putrinya dengan mahar menggembalakan kambing selama 8 atau 10 tahun. Menurut para ulama, hikmah para Nabi (terutama sebelum menjadi Nabi) ditakdirkan oleh Allāh untuk menggembalakan kambing, diantaranya yaitu: ⑴ Untuk mengajarkan tawādhu’.

Karena pekerjaan sebagai seorang penggembala tidak ada yang pantas disombongkan darinya. Bahkan Nabi menceritakan bahwa ibu nabi muhammad wafat di desa pernah menjadi penggembala kambing setelah ia menjadi Nabi. Ibnu Hajar berkata : وَفِي ذِكْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِذَلِكَ بَعْدَ أَنْ عُلِمَ كَوْنُهُ أَكْرَمَ الْخَلْقِ عَلَى اللَّهِ مَا كَانَ عَلَيْهِ مِنْ عَظِيمِ التَّوَاضُعِ لِرَبِّهِ وَالتَّصْرِيحِ بِمِنَّتِهِ عَلَيْهِ وَعَلَى إِخْوَانِهِ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang dirinya bahwa beliau adalah penggembala kambing setelah diketahui (oleh para sahabat-pen) jika dirinya adalah makhluk termulia di sisi Allah, menunjukan akan besarnya tawadhu’ beliau terhadap Rabbnya, dan dengan tegasnya beliau menyebutkan karunia Allah (yaitu menjadikannya sebagai penggembala kambing -pen) terhadapnya dan terhadap saudara-saudaranya dari para Nabi” (Fathul Baari 4/441) ⑵ Menunjukan perhatian terhadap hewan yang lemah yaitu kambing, tidak seperti unta, kuda, atau yang semisal.

⑶ Jenis kambing ada bermacam-macam, ada yang jinak dan ada yang liar. Mengetahui hal ini adalah penting sebagai bekal menghadapi berbagai tipe manusia, ada yang angkuh, rendah diri, kaya, miskin, dll.

Kambing tidak seperti bebek yang pada umumnya mudah untuk dikendalikan, jika satu digiring maka yang lain ibu nabi muhammad wafat di desa mengikutinya. Berkebalikan dengan yang terjadi pada kambing. ⑷ Menumbuhkan sikap mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Nabi ﷺ sejak kecil sudah mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain.

(5) Bahkan selain mandiri, Nabi juga bekerja untuk membantu orang lain (yaitu pamannya). Karenanya saat didatangi malaikat Jibrīl, Nabi ﷺ begitu tampak ketakutan.

Beliau datang kepada Khadījah dan berkata: “Saya khawatir sesuatu menimpa diriku.” Kata Khadījah: “Sekali-kali tidak, demi Allāh, gembiralah wahai suamiku, engkau orang yang suka bersilaturahim, senantiasa jujur, menjamu tamu, membantu orang, bahkan engkau mencari uang untuk engkau berikan kepada orang yang tidak mampu, membantu orang yang terkena musibah.” Oleh karena itu, hendaknya kita membiasakan diri agar tidak bergantung kepada orang lain.

Diantara puncak kebahagiaan adalah seseorang itu tidak bergantung kepada makhluk apapun. Kita mengambil sebab, tapi jangan bergantung kepada sebab tersebut. Kapanpun seseorang menggantungkan hatinya kepada manusia dan berharap kepada manusia, maka suatu saat dia akan kecewa dan kebahagiaannya akan hilang. Berbeda jika seseorang senantiasa menggantungkan hatinya kepada Allāh maka dia akan senantiasa bahagia.

ibu nabi muhammad wafat di desa

Ibnu Hajar rahimahullah berkata : قَالَ الْعُلَمَاءُ الْحِكْمَةُ فِي إِلْهَامِ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ رَعْيِ الْغَنَمِ قَبْلَ النُّبُوَّةِ أَنْ يَحْصُلَ لَهُمُ التَّمَرُّنُ بِرَعْيِهَا عَلَى مَا يُكَلَّفُونَهُ مِنَ الْقِيَامِ بِأَمْرِ أُمَّتِهِمْ وَلِأَنَّ فِي مُخَالَطَتِهَا مَا يُحَصِّلُ لَهُمُ الْحِلْمَ وَالشَّفَقَةَ لِأَنَّهُمْ إِذَا صَبَرُوا عَلَى رَعْيِهَا وَجَمْعِهَا بَعْدَ تَفَرُّقِهَا فِي الْمَرْعَى وَنَقْلِهَا مِنْ مَسْرَحٍ إِلَى مَسْرَحٍ وَدَفْعِ عَدُوِّهَا مِنْ سَبُعٍ وَغَيْرِهِ كَالسَّارِقِ وَعَلِمُوا اخْتِلَافَ طِبَاعَهَا وَشِدَّةَ تَفَرُّقِهَا مَعَ ضَعْفِهَا وَاحْتِيَاجِهَا إِلَى الْمُعَاهَدَةِ أَلِفُوا مِنْ ذَلِكَ الصَّبْرَ عَلَى الْأُمَّةِ وَعَرَفُوا اخْتِلَافَ طِبَاعَهَا وَتَفَاوُتَ عُقُولِهَا فَجَبَرُوا كَسْرَهَا وَرَفَقُوا بِضَعِيفِهَا وَأَحْسَنُوا التَّعَاهُدَ لَهَا فَيَكُونُ تَحَمُّلُهُمْ لِمَشَقَّةِ ذَلِكَ أَسْهَلَ مِمَّا لَوْ كُلِّفُوا الْقِيَامَ بِذَلِكَ مِنْ أَوَّلِ وَهْلَةٍ لِمَا يَحْصُلُ لَهُمْ مِنَ التَّدْرِيجِ عَلَى ذَلِكَ بِرَعْيِ الْغَنَمِ وَخُصَّتِ الْغَنَمُ بِذَلِكَ لِكَوْنِهَا أَضْعَفَ مِنْ غَيْرِهَا وَلِأَنَّ تَفَرُّقَهَا أَكْثَرُ مِنْ تَفَرُّقِ الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ لِإِمْكَانِ ضَبْطِ الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ بِالرَّبْطِ دُونَهَا فِي الْعَادَةِ الْمَأْلُوفَةِ وَمَعَ أَكْثَرِيَّةِ تَفَرُّقِهَا فَهِيَ أَسْرَعُ انْقِيَادًا مِنْ غَيْرِهَا “Para ulama berkata bahwasanya hikmah dari diilhamkannya para Nabi untuk menggembalakan kambing sebelum diangkat menjadi Nabi yaitu agar mereka terlatih dalam menggembalakan kambing sehingga mampu menjalankan segala yang dibebankan kepada mereka dalam menjalankan urusan umat mereka.

Dan juga dengan bercampur/bergaul dengan kambing akan menimbulkan kesabaran dan ibu nabi muhammad wafat di desa saying. Dan jika mereka bersabar dalam menggembalakan kambing, mengumpulkan kambing-kambing setelah terpencarnya di daerah penggembalaan serta memindahkannya dari satu kawasan gembala ke kawasan yang lain, melindungi mereka dari musuhnya seperti hewan buas dan pencuri dan yang lainnya, kemudian mengetahui akan bervariasinya akhlak kambing-kambing dan begitu cepatnya kambing-kambing terpencar-pencar padahal begitu lemahnya, serta kebutuhan kambing-kambing tersebut terus diperhatikan, maka para Nabi akan terbiasa dengan kesabaran tersebut agar kelak bisa bersabar atas umat mereka.

Mereka akan mengetahui betapa bervariasinya perangai umat dan bertingkat-tingkatnya akal mereka, mereka akan mudah menambal kekurangan umat, mereka akan bersikap lemah lembut kepada yang lemah diantara umatnya, dan mereka akan lebih baik dalam memperhatikan umatnya.

Sehingga jadilah tugas para Nabi untuk mengurusi umatnya menjadi lebih ringan dibanding jika para Nnabi langsung dibebani untuk mengurusi umat tanpa tahapan sebelumnya yakni dengan menggembalakan kambing. Dan dikhususkan kambing, karena kambing lebih lemah dari pada yang ibu nabi muhammad wafat di desa (dari pada sapi dan onta-pen) serta berpencarnya kambing lebih sering daripada bepencarnya onta dan sapi, karena onta dan sapi mungkin untuk diikat tidak seperti kambing yang pada umumnya dilepas.

Namun meskipun kambing sering berpencar, mereka lebih mudah patuh dibandingkan onta dan sapi.” (Fathul Baari 4/441) Ibnu Hajar juga berkata : قَالُوا وَالْحِكْمَةُ فِي رِعَايَةِ الْأَنْبِيَاءِ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِمْ لَهَا لِيَأْخُذُوا أَنْفُسَهُمْ بِالتَّوَاضُعِ وَتَصْفَى قُلُوبُهُمْ بِالْخَلْوَةِ وَيَتَرَقَّوْا مِنْ سِيَاسَتِهَا بِالنَّصِيحَةِ إِلَى سِيَاسَةِ أُمَمِهِمْ بِالْهِدَايَةِ وَالشَّفَقَةِ “Para ulama berkata bahwasanya hikmah para Nabi menggembalakan kambing yaitu agar mereka bersikap tawadhu’ dan agar hati mereka menjadi bersih dengan cara berkhalwat (bersendirian) dan agar kemampuannya semakin meningkat dengan bersiasat/mengatur kambing-kambing dengan yang terbaik untuk kelak diterapkan kepada umat-umat mereka dalam mengatur mereka, dalam memberi petunjuk kepada mereka, dan mengasihi mereka” (Fathul Baari 14/6) Ibnu Baththal rahimahullah berkata : معنى قوله عليه السلام: (ما بعث الله نبيا إلا رعى الغنم) – والله أعلم – أن ذلك توطئة وتقدمةً فى تعريفه سياسة العباد، واعتبارًا بأحوال رعاة الغنم، وما يجب على راعيها من اختيار الكلأ لها، وإيرادها أفضل مواردها، واختيار المسرح والمراح لها، وجبر كسيرها، والرفق بضعيفها، ومعرفة أعيانها وحسن تعهدها، فإذا وقف على هذه الأمور كانت مثالاً لرعاية العباد، وهذه حكمة بالغة “Makna sabda Nabi “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi-pun kecuali pernah menggembalakan kambing” – Wallahu a’lam– adalah ini sebagai pembukaan dan muqaddimah untuk mengenali cara mengatur para hamba.

Dan untuk mengambil pelajaran dari kondisi para penggembala kambing, apa yang wajib bagi penggembala kambing dengan memilihkan rumput yang baik bagi kambing, menggiring kambing ke kawasan yang terbaik, memilih daerah gembalaan yang terbaik dan tempat istirahat yang terbaik, mengobati kambing yang sakit, lembut terhadap kambing yang lemah, mengenali pribadi setiap kambing, serta memberi perhatian yang baik terhadap mereka. Maka jika seorang nabi melakukan hal-hal tersebut, jadilah ia seorang teladan dalam mengurusi umat.

Dan ini merupakan hikmah yang tinggi” (Syarah Shahih Al-Bukhari 6/386) Nabi juga bersabda : وَالفَخْرُ وَالخُيَلاَءُ فِي أَهْلِ الخَيْلِ وَالإِبِلِ، وَالفَدَّادِينَ أَهْلِ الوَبَرِ، وَالسَّكِينَةُ فِي أَهْلِ الغَنَمِ “Bangga diri dan kesombongan ada pada pemilik kuda dan onta, yaitu orang-orang yang bersuara keras yang tinggal di gurun.

Adapun ketenangan ada pada pemilik kambing” (HR Al-Bukhari 3301 dan Muslim no 52) At-Thibiy rahimahullah berkata : تَخْصِيصُ الْخُيَلَاءِ بِأَصْحَابِ الْإِبِلِ، وَالْوَقَارُ بِأَهْلِ الْغَنَمِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ مُخَالَطَةَ الْحَيَوَانِ تُؤَثِّرُ فِي النَّفْسِ وَتُعَدِّي إِلَيْهَا هَيْئَاتٍ وَأَخْلَاقًا تُنَاسِبُ طِبَاعَهَا وَتُلَائِمُ أَحْوَالَهَا، “Dikhususkannya kesombongan untuk para penggembala onta dan dikhususkannya ketenangan bagi para penggembala kambing, menunjukkan bahwa kedekataan/pergaulan dengan hewan akan mempengaruhi jiwa dan menularkan kepada jiwa kondisi dan perangai yang sesuai dengan tabi’at dan kondisi jiwa tersebut.”(Syarh Misykat Al-Mashabih 12/3957) Al-Qari mengomentari perkataan di atas : قُلْتُ: وَلِهَذَا قِيلَ الصُّحْبَةُ تُؤَثِّرُ فِي النَّفْسِ، وَلَعَلَّ هَذَا أَيْضًا وَجْهُ الْحِكْمَةِ فِي أَنَّ كُلَّ نَبِيٍّ رَعَى الْغَنَمَ “Karenanya dikatakan bahwasanya persahabatan itu akan memberi pengaruh terhadap jiwa.

Dan mungkin saja ini ibu nabi muhammad wafat di desa salah satu hikmah mengapa semua Nabi menggembalakan kambing” (Mirqat al-Mafaatiih 9/4037) Kisah pertemuan Nabi ﷺ dengan pendeta Buhairā.

Ini kisah yang sangat penting karena sering dijadikan dalil oleh orang-orang Nashara untuk menjatuhkan Nabi ﷺ. Abū Thālib paman Nabi ﷺ sangat mencintai Nabi seakan-akan anaknya sendiri.

Sampai-sampai kemana dia pergi Nabi pasti diajak, bahkan dalam perjalanan yang sangat jauh yang mana ketika itu beliau masih berumur belasan tahun. Pada suatu perjalanan ke negeri Syam untuk berdagang, Nabi ﷺ bertemu dengan seorang pendeta bernama Buhairā. Telah kita ketahui bersama bahwa saat itu negeri Syam dikuasai oleh orang-orang Romawi yang beragama Nasrani. Di sanalah para pendeta biasa berkumpul.

Dalam sebuah riwayat dari Abū Mūsa Al-‘Asy’ariy radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, dia berkata: Abū Thālib pergi ke negeri Syam membawa Nabi ﷺ beserta sejumlah orang yang sudah tua dari kalangan Quraisy untuk berdagang.

Saat mereka sampai di tempat yang dekat dengan Buhairā, mereka berhenti untuk beristirahat dan unta-unta mereka diikatkan. Tak lama kemudian, Buhaira sang pendeta keluar menemui mereka, padahal sebelumnya para pendeta tidak pernah keluar menemui meskipun mereka sering lewat di tempat tersebut.

Hal ini disebabkan karena adanya Nabi ﷺ dalam rombongan tersebut. Saat rombongan Abu Thalib sedang sibuk membereskan unta, sang rahib-pun masuk di sela-sela mereka, lalu sang rahib bertemu dengan Nabi dan memegang tangan Beliau ﷺ sembari berkata: “Inilah pemimpin seluruh alam semesta, ini adalah Rasul Allāh pemimpin seluruh alam semesta.

Allāh mengutus dia sebagai rahmat semesta alam.” Orang-orang Quraisy kemudian berkata kepada sang rahib: “Bagaimana engkau tahu hal demikian, mengapa engkau mengatakan anak kecil ini akan menjadi pemimpin alam semesta?” Maka sang rahib berkata: “Tatkala kalian pergi menuju ke sini, tidak ada satu pohon dan batu pun kecuali sujud kepadanya.

Dan saya mengetahui bahwa dia seorang Nabi karena adanya tanda kenabian di bawah pundaknya, semacam tahi lalat besar dan padanya ada rambut.” Kemudian sang rahib pulang dan membuat makanan untuk mereka. Mereka melihat sebuah bayangan di bawah pohon yang bisa dijadikan tempat bernaung. Kemudian Nabi ingin istirahat di bawah bayangan tersebut, tapi orang-orang Quraisy sudah mendahului duduk di tempat tersebut sehingga Nabi duduk di sisi yang lain.

Tiba-tiba bayangan pohon berpindah kepada Nabi dan menanunginya. Pendeta rahib Buhairā berkata: “Jangan engkau bawa Muhammad ke Romawi, berhati-hatilah karena apabila mereka mengetahuinya mereka akan membunuhnya. Karena mereka mengetahui akan keluar seorang Nabi baru.” Tak lama kemudian tibalah 7 orang pasukan Romawi.

Mereka ditemui oleh sang pendeta dan bertanya: “Apa yang membuat kalian ke sini?” Mereka menjawab: “Kami mendengar bahwasanya akan ada seorang Nabi yang muncul di bulan ini dan dia akan melewati jalan ini, karena itulah kami bermaksud mencari Nabi tersebut. Setiap sudut jalan telah diutus orang untuk mencari Nabi tersebut.” Pendeta Buhaira berkata kepada pasukan: “Jika Allāh mengendaki sesuatu, adakah orang yang dapat menolaknnya?

Maka berbaiatlah kepada Nabi tersebut jika ia telah muncul.” Di akhir hadits dikatakan oleh Abū Mūsa Al-‘Asy’ariy, Sang pendeta terus mengingatkan agar tidak membawa Muhammad ke negeri Romawi. Hal ini menyebabkan Abū Thālib memulangkan Nabi ﷺ bersama dengan Abū Bakr dan Bilāl, dikirim pulang ke Mekkah. (HR At-Tirmidzi no 3948) Para ulama berbeda pendapat akan keshahīhan hadits di atas, karena di dalam sanadnya ada perawi yang bernama ‘Abdurrahman bin Ghazwān.

Para ulama menilainya bahwasanya dia memiliki riwayat yang munkar. Hadits ini dikatakan At-Tirmidzi dalam Sunannya sebagai hadits yang hasan gharīb dan kami tidak tahu dari jalur ini. Hadits ini juga dinilai shahih oleh Al-Hakim, Ibnu Hajar ( al-Ishobah 1/476), Ibnu Katsir (Al-Fushul fi siroh Ar-Rasul), Al-Albani (Difa’ ‘an al-Hadits an-Nabawi wa As-Siroh 62-72). Akan tetapi Imam Adz-Dzahabi (ulama besar Asy-Syāfi’ī, ahli hadits dan jarh wa ta’dil) membantah al-Hakim dan mengatakan bahwa hadits tersebut adalah hadits yang palsu, dengan membawakan banyak dalil yang menunjukkan kepalsuan hadits ini.

Beliau membantah mengapa pada akhir hadits disebutkan bahwasanya Abū Thālib mengirim Nabi pulang ke Mekkah dengan ditemani oleh Abū Bakr dan Bilāl. Padahal pada saat itu Bilāl belum lahir sedangkan Abū Bakr 2,5 tahun lebih muda dari Nabi. Ini adalah lafal yang tidak benar dan diingkari oleh para ulama.

Lalu bagaimana bayangan pohon tersebut bisa berpindah. Padahal jika bayangan berpindah itu artinya matahari juga harus berpindah. Demikian juga Abū Thālib mati dalam keadaan kafir. Seandainya hadits ini benar lalu mengapa Rasūlullāh ﷺ tidak pernah ibu nabi muhammad wafat di desa kepada pamannya “Wahai paman, ingatkah kejadian saat aku berumur 12 tahun?

Ingatkah perkataan pendeta Buhairā?” Oleh karena itu, kisah ini diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian menshahīhkan dan sebagian ulama mendha’īfkan. Diantaranya yang mendha’īfkan yaitu Adz-Adz-Dzahabi rahimahullāh Ta’āla. Al-Hafiz Ibnu Hajar (demikian juga Syaikh Al-Albani) mengatakan dari sisi sanad dia shahīh kecuali lafazh yang terakhir. Namun anehnya, hadits yang diperselisihkan ini dijadikan dalil oleh orang-orang Nasrani dengan mengatakan bahwa Muhammad itu tidak mendapat wahyu dari Allāh, akan tetapi diajari oleh pendeta Buhairā saat mereka bertemu.

Berkenaan dengan asumsi mereka, hal ini bisa dibantah dengan beberapa alasan: ⑴ Kisah sanad hadits ini diperselisihkan, sehingga orang-orang Nashrani tidak pantas berdalil dengan kisah ini.

⑵ Jika memang benar mereka (kaum Nasrani) meyakini bahwa Nabi Muhammad ﷺ mengambil ilmu dari Buhairā, lantas mengapa mereka tidak mau beriman kepada beliau? Bukankah ajarannya dibawa oleh pendeta Nashrani?! ⑶ Pertemuan Nabi Muhammad ﷺ dengan pendeta Buhairā hanya sebentar (sekedar makan siang) dan Nabi Muhammad berbahasa Arab sedangkan pendeta Buhairā berbahasa lain. Bagaimana mungkin dalam waktu sesingkat itu Buhaira mampu mengajari Al-Qurān yang berisi lebih dari 6000 ayat. Menurut sebagian mereka, pendeta Buhairā senantiasa mengirimkan surat kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Maka kita bantah dengan mengatakan bahwa ayat Al-Qurān turun berdasarkan kejadian-kejadian, artinya sang pendeta harus aktif segera mengirim suratnya karena ayat Al-Qurān langsung turun segera saat itu juga. Misalnya ketika perang Uhud, turun sebuah ayat, padahal komunikasi di zaman itu masih serba lama, paling cepat dengan kurir berkuda. Perhatikan pula bahwasanya isi Al-Qurān sendiri banyak bertentangan dengan isi Injil yang telah dirubah.

Bersambung Insya Allah… FOOTNOTE: [1] Karena ayah Abdul Muttholib yaitu Hasyim bin Abdi Manaf menikah dengan Salma bin ‘Amr An-Najjaariyah Al-Khazrajiyah, kemudian lahirlah Abdul Muttholib. Karenanya bani Najjar dari suku Khazraj di Madinah adalah akhwaal (saudara laki-laki ibu) dari Abdul Muttholib [2] Al-Imam Al-Bukhari –dalam shahihnya- membuat suatu bab yang diberi judul: بَاب أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ (Bab : Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi lalu yang paling shalih dan yang paling shalih), lalu beliau membawakan sebuah hadits dimana Nabi bersabda : إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلَانِ مِنْكُمْ “Aku sakit sebagaimana dua orang yang sakit diantara kalian.” (HR Al-Bukhari no 5648) [3] Lihat Dalail An-Nubuwwah karya al-Baihaqi 1/404 dan Siroh Ibnu Hiysam 1/168 [4] Ibu mereka berdua adalah Fathimah binti ‘Amr bin ‘Aidz

Kisah Menjelang Wafatnya Ibunda Nabi SAW




2022 www.videocon.com