Kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena

kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena

Seperti yang kita ketahui reproduksi itu ada semacam proses proses perkawinan, bagi hewan juga ada yang namanya perkawinan secara teknologi atau menggunakan teknologi masa kini mengikuti perkembangan zaman, dari pada bingung mari kita masuk ke bagian pertama Inseminasi Buatan (Kawin Suntik) Inseminasi buatan merupakan cara untuk memasukkan sperma hewan jantan ke dalam organ reproduksi betina dengan menggunakan alat-alat kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena.

Nama lain dari inseminasi buatan ini ialah kawin suntik. Tujuan dilakukannya inseminasi buatan ini adalah sebagai berikut. 1) Meningkatkan kualitas bagi keturunannya. 2) Memudahkan pengaturan dalam proses perkawinan. 3) Mengurangi adanya kelangkaan hewan jantan yang termasuk bibit unggul. 4) Menaikkan tingkat reproduksi hewan. Baca Juga : Jual Software Aplikasi Pendaftaran Online Klinik Penjelasan: • Teknik untuk memasukkan sperma kedalam alat kelamin betina dengan alat berupa suntikan.

• Tujuannya, agar dapat memperoleh bibit unggul dengan biaya murah, sebab hewan jantan yang memiliki sifat unggul hanya diambil spermanya saja, jadi kita hanya membeli sperma saja dan tidak perlu membeli induk pejantannya. • Contoh kawin suntik, sapi betina lokal dengan sapi jantan unggul berbadan gemuk dan besar dari Australia, sperma dari si jantan diambil lalu disuntikkan ke alat reproduksi betina. Bayi Tabung (Fertilisasi in Fitro) Istilah bayi tabung ternyata bukan hanya terkenal dikalangan manusia tetapi sekarang juga dapat dilakukan pada hewan caranya hampir sama seperti cara yang dilakukan pada manusia manfaat untuk mencegah kepunahan bibit unggul dan juga membuat keturunan yang lebih bagus, namun biaya yang dibutuhkan sangat mahal jika menggunakan cara ini karena alat yang digunakan sudah canggih dan kemungkinan berhasilnya tinggi, namun bayi tabung pada hewan ini tidak banyak dipakai oleh masyarakat dan juga kurang dikenal.

Kloning Kloning merupakan teknik atau metode reproduksi secara aseksual yang menggunakan atau memakai sel tubuh (sel somatik) makhluk hidup. Klon atau keturunan yang dihasilkan akan memiliki kesamaan gen dengan induknya. Para ilmuwan pada awalnya melakukan teknik kloning pada katak dan salamander sekitar tahun 50-an. Pada tahun 1996, seorang ilmuwan sains dari Inggris, Ian Wilmut menggunakan prosedur yang sama untuk mengkloning seekor domba, nama domba itu adalah Dolly.

Baca Juga : Jual Software Aplikasi HRM Klinik Semenjak itu banyak para ilmuwan lain yang mencobanya seperti, kuda pertama yang dihasilkan dari kloning diberi nama Prometea.

Prometea dilahirkan oleh induk yang sekaligus juga mendonor DNA-nya. Prometea dikloning dari sel kulit induknya yaitu seekor kuda pekerja kecil jenis haflinger.

Nukleus dari sel kulit kuda tersebut kemudian ditanamkan pada sel telur kuda lain yang telah dibuang nukleusnya. Sel kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena mulai membelah kemudian dikembalikan lagi ke rahim induknya.

Selain domba dan kuda, kloning juga dicobakan kepada anjing. Suatu tim yang beranggotakan 11 orang berhasil untuk pertama kalinya mengkloning anjing. Drh Yuda Heru Fibrianto ialah salah satu anggota tim yang berasal dari Indonesia. Proyek kloning ini memakan waktu selama 2 tahun 8 bulan. Proses kloning anjing adalah sebagai berikut. 1) Membuat biakan sel dari kulit anjing yang akan dipakai untuk donor sel. Kulit anjing diambil sedikit saja dan dibiakkan dalam cawan petri.

Jika sudah berkembang disimpan dalam suhu 150°C.

kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena

2) Persiapan untuk mengambil sel telur dari anjing yang sudah diovulasikan dengan cara melihat kondisi atau keadaan dari sel-sel vagina dan juga kadar hormon progesteron dalam darah.

3) Melakukan kloning pada sel telur, dilakukan dengan cara menghilangkan inti dari sel telur tersebut dan digantikan dengan satu sel yang telah dibiakkan atau dikembangkan dari sel donor. 4) Menyatukan sel yang berasal dari kulit dengan sel telur yang telah hilang intinya dilakukan dengan menggunakan listrik sebesar 3 – 3,5 kV/cm di dalam plat dari baja putih yang sejajar dan dalam media manitol.

5) Implantasi yaitu memasukkan sel telur yang telah bersatu tadi ke dalam rahim anjing lain yang akan di jadikan induk dilakukan dengan cara operasi. 6) Lalu dilakukan pemeriksaan kehamilan dengan ultrasonografi (USG) 22 hari kemudian. Guna memastikan kehamilan telah terjadi kemudian ditunggu lagi sampai hari ke-60.

Penjelasan: • Prosesnya dilakukan dengan cara, sel telur dibuang intinya kemudian disatukan dengan inti sel yang berasal dari sel tubuh. • Jenis ini termasuk perkembangbiakan vegetatif karena tidak melibatkan sel sperma di dalam prosesnya. • Contoh: domba dolly, kuda, anjing, dan masih banyak lagi. Nah mungkin sekian yang dapat kami sampaikan kepada anda dari macam-macam teknologi reproduksi pada hewan, jika masih kurang teman-teman dapat mencari lebih banyak lagi melalui referensi lain.

Penulis : Mayor Sukai/Like Fan Page Facebook Garuda Cyber Indonesia Subscribe Channel Youtube Garuda Cyber Indonesia Follow Instagram Garuda Cyber Indonesia Chat Wa • Gaya Hidup • Buku dan Film • Fashion • Griya • Hobi • Karir • Keluarga • Keuangan • Makan & Minum • Musik • Olahraga • Otomotif • Taman & Kebun • Iptek • Astronomi • Biologi • Elektronik • Geografi • Internet & Komputer • Kimia • SEO • Teknologi • Kecantikan • Kosmetik • Perawatan Kulit • Perawatan Rambut • Perawatan Wajah • Kesehatan • Bugar & Fit • Kondisi & Penyakit • Sehat Alternatif • Terapi & Obat • Ragam • Militer • Pengembangan Diri • Sejarah • Tokoh • Satwa • Sosbud • Budaya • Manusia • Politik • Review Ini berarti hewan kloning merupakan duplikat sama persis dari induknya, yang berarti juga memiliki DNA yang sama.

Kloning sebenarnya banyak terjadi di alam. Reproduksi aseksual pada organisme tertentu dan terjadinya kembar dari sel telur yang sama merupakan contoh kloning. Dengan kemajuan teknologi, proses kloning saat ini bisa dilakukan kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena laboratorium. Kloning Hewan di Laboratorium Para ilmuwan telah mencoba mengkloning hewan untuk waktu yang lama.

Banyak upaya awal belum menunjukkan hasil positif. Hasil kloning pertama yang cukup sukses yaitu ketika kecebong berhasil dikloning dari sel embrio katak. Hal ini dilakukan dengan proses transfer nukleus. Hanya saja kecebong hasil kloning tidak hidup lama untuk tumbuh menjadi katak dewasa. Namun hal ini tetap menjadi terobosan yang penting. Contoh kloning hewan pertama yang benar-benar berhasil dilakukan pada domba.

Dolly, nama domba hasil kloning tersebut, tidak hanya hidup lama tetapi juga mampu bereproduksi secara alami. Dolly dikloning oleh Ian Wilmut dan timnya di Institut Roslyn di Edinburgh, Skotlandia, pada tahun 1997. Tidak seperti kasus sebelumnya, Dolly tidak dikloning dari sel embrio, tetapi dari sel kelenjar susu yang diambil dari domba dewasa. Sejak saat itu ilmuwan berhasil mengkloning berbagai jenis hewan seperti tikus, kucing, kuda, lembu, babi, rusa, dll.

kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena

Bahkan, kloning manusia sudah dimungkinkan saat ini meskipun perdebatan tentang etika masih tetap berlangsung. Proses Kloning Hewan Upaya awal kloning hewan dilakukan dengan menggunakan sel embrio. Inti DNA diekstraksi dari sel embrio dan ditanamkan ke sel telur yang belum dibuahi. Proses pembuahan dirangsang dengan memberikan kejutan listrik atau dengan bahan kimia tertentu.

Sel-sel yang berkembang kemudian ditanamkan ke rahim induk betina.

kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena

Hewan kloning yang dihasilkan memiliki ciri identik dengan sel asli. Sejak kloning Dolly, saat ini dimungkinkan membuat kloning dari sel non-embrio. Kloning hewan dapat dilakukan baik untuk tujuan reproduksi dan non-reproduksi atau terapeutik. Dalam kasus kedua, kloning dilakukan untuk menghasilkan sel punca yang dapat digunakan untuk tujuan terapeutik, misalnya untuk penyembuhan atau menciptakan organ yang rusak (tidak menduplikasi seluruh organisme).

Etika Kloning Hewan Sementara kebanyakan ilmuwan menganggap kloning hewan sebagai terobosan besar, banyak orang merasa tidak nyaman dengan ide itu karena alasan etika. Yang benar adalah bahwa sebagian besar masyarakat umum tidak memahami apa sebenarnya kloning sehingga menimbulkan kesalahpahaman.

Di beberapa negara, kloning hewan diperbolehkan, meskipun belum mengijinkan kloning manusia. Sedangkan sebagian yang lain melarang kloning untuk tujuan terapi meskipun hal ini berpotensi menyelamatkan banyak orang dari penyakit mematikan. Plus Minus Kloning Hewan Proses kloning bisa saja mengalami kegagalan seperti terjadinya cacat bawaan. Namun di sisi lain, koning hewan berpotensi menyelamatkan spesies langka yang terancam kepunahan. Sebagai sebuah terobosan baru, kloning masih tetap memicu kontroversi dari pihak yang pro dan kontra hingga saat ini.[] Populer • Apakah Gelombang Radio?

Kegunaan, Efek Kesehatan & Sejarahnya • Cara Mengatasi Bengkak & Gatal akibat Gigitan Semut Api • Cara Menghilangkan Bekas Terbakar di Kain Poliester & Rayon • Makna Simbol Mata Ra & Mata Horus dalam Mitologi Mesir Kuno • Cara Kerja Barometer Air Raksa & Aneroid • Firaun Tutankhamun: Kisah Hidup, Kematian & Fakta Lainnya Epsom salt (garam Epsom) paling dikenal sebagai komponen dari ritual mandi garam … [Baca.] • 7 Cara Membedakan Kacamata Oakley Asli dengan Palsu • Cara Kerja & Arti Angka pada Jam Tangan Water Resistant • 3 Jenis Blender, Mana yang Terbaik & Panduan Membelinya • Cara Kerja & Kelebihan Slow Cooker serta Panduan Membelinya • Kelebihan, Kekurangan & Tips Membeli Kompor Induksi
Kloning : Pro dan Kontra Penguasaan teknologi yang semakin maju membuat banyaknya penemuan-penemuan dari para ilmuwan yang berteknologi canggih dipublikasikan.

Dalam bidang biologi, teknologi dapat diterapkan juga. Diantaranya, teknologi reproduksi dan bioteknologi. Contoh teknologi reproduksi yang saat ini sedang gencar-gencarnya dikembangkan ialah bayi tabung, kloning, dan inseminasi buatan. Kloning merupakan salah satu bentuk keberhasilan para ilmuwan dalam perolehan keturunan yang banyak mengundang pro dan kontra. Diawali dengan lahirnya Dolly di Skotlandia sampai isu lahirnya bayi perempuan hasil kloning bernama Eve.

Kloning banyak mendapat kontra dari masyarakat, terutama dalam kloning manusia. Kloning berasal dari kata ‘klon’ dari bahasa Yunani yang berarti tunas muda. Kloning dapat diartikan sebagai upaya untuk memproduksi sejumlah individu yang secara genetik identik. Proses kloning merupakan suatu bentuk reproduksi aseksual atau tanpa kawin. Kloning sebenarnya sudah diterapkan pada tumbuhan, yakni sistem stek pada tanaman singkong.

Namun pada tahun 1996, kelahiran seekor domba hasil kloning bernama Dolly, membuat pembaharuan pada sistem kloning, yaitu memperbanyak sel pada hewan tingkat tinggi. Kloning didasarkan pada prinsip bahwa setiap sel makhluk hidup mempunyai kemampuan totipotensi, yang artinya setiap sel memiliki kemampuan menjadi individu.

Kloning dapat diterapkan kepada tanaman, katak, domba dan tikus. Namun beberapa tahun terakhir, para ilmuwan dilaporkan telah berhasil mengkloning kera dan kucing. Kloning bertujuan untuk mendapatkan keturunan yang sama atau identik dengan induknya. Untuk kloning tumbuhan dan hewan, dapat digunakan untuk melestarikan tumbuhan dan hewan langka. Selain untuk perbanyakan keturunan, pengklonaan juga telah digunakan untuk terapi atau pengobatan pada penderita diabetes, leukemia, kelumpuhan saraf, dan berbagai penyakit akibat kerusakan jaringan Hasil kloning akan memiliki sifat-sifat yang identik dengan induknya.

Hal ini terjadi karena dalam proses pengkloningan, terjadi pengambilan bagian dari induk yang kemudian akan ditumbuhkan menjadi individu baru yang sama persis dengan induknya.

Berbagai Macam Kloning 1. Kloning pada Tumbuhan Kloning dapat dilakukan dari sel-sel tumbuhan, baik dari akar, batang, dan daun. Sel-sel yang dibuat kloning bisa ditempatkan pada media yang sesuai dapat ditumbuhkan menjadi individu baru yang sempurna. Prosesnya adalah memotong organ tumbuhan yang di-inginkan.

Lalu kita mencari kultur jaringan (eksplan), mengambil selnya dan memindahkan ke media berisi nutrisi agar cepat tumbuh. Eksplan ini akan menggumpal menjadi gumpalan yang bernama kalus. Kalus adalah cikal bakal akar, batang, dan daun. Kalus kemudian ditanam di media tanah dan akan menjadi sebuah tanaman baru.

2. Kloning pada Katak Penelitian untuk kloning pada katak pertama kali dilakukan oleh John Gordon tahun 1970. Teknik ini dilakukan dengan mengambil sel telur katak yang belum dibuahi dan menghancurkan nukleusnya dengan radiasi. Selanjutnya inti sel telur itu diganti dengan inti sel yang berasal dari sel tubuh.

Dalam percobaan, inti sel diambil dari nukleus sel usus katak betina sejenis, maka akan terbentuk individu baru. Zigot ini nantinya dipelihara dalam medium pembiakan. 3. Kloning pada Tikus Percobaan ini dilakukan dengan mengambil sel telur tikus betina setelah hewan itu kawin.

Lalu inti sel telur atau inti sel spermatozoid dikeluarkan salah satunya sebelum bergabung. Maka sel telur sekarang hanya akan mempunyai satu inti saja, inti sel telur atau inti sel sperma. Kromosom kemudian akan dirangsang sehingga akan membelah. Sel telur akan memiliki sel kromosom lengkap yang semuanya berasal dari salah satu induk.

Setelah itu embrio akan tumbuh dan ditanamkan pada rahim tikus betina. 4 Kloning pada Domba Kloning pada domba dilakukan dengan mempersiapkan sel telur dari domba yang telah diambil intinya. Kemudian sel telur kosong ini disatukan dengan sel dewasa dari suatu organ tubuh. Dalam percobaan Ian Wilmut dan Keith Campbell yang melahirkan Dolly tahun 1996, mereka menggunakan sel dari kelenjar mamae (kelenjar susu) domba.

Sel mamae dan sel telur kosong lalu didifusikan. Sel yang terfusi nantinya akan meng-gandakan diri atau membelah. Setelah itu embrio ditanamkan kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena dalam rahim domba lain sebagai ibu angkat. Embrio akan tumbuh dan berkembang secara normal. Kloning untuk Terapi atau Pengobatan Ada tiga teknik yang digunakan. Yaitu, transfer inti sel somatik alias kloning terapeutik manusia. Yaitu menyatukan sel inti dari manusia dewasa ke dalam sel telur donor yang kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena dihilangkan inti selnya menggunakan kejutan elektrik.

Dengan demikian DNA sel pasien kembali pada tahap embrionik dan menghasilkan sel tunas yang identik dengan tubuhnya. Teknik kedua adalah partenogenesis di mana sel telur lengkap dengan inti sel langsung diaktivasi untuk membelah diri lewat sejumlah perlakuan.

Teknik ketiga, transfer ooplasma. Cara ini merupakan kebalikan transfer inti, yaitu menghilangkan sitoplasma, kemudian sel telur yang sedang tumbuh ditransfer ke sel pasien untuk mengubahnya menjadi sel tunas.

Kloning dalam Kehidupan Kelahiran DollyTanggal 5 Juli 1996, di Roslin Institute, Edinburgh, Skotlandia, seorang ilmuwan bernama Ian Wilmut berhasil mengkloning seekor domba jenis Finn Dorset bernama Dolly. Dolly diklon dengan menggunakan sebuah sel telur yang intinya diganti dengan inti sel kelenjar susu ibunya. Kelahiran Dolly menyatakan satu hal: sel-sel tubuh selain sel kelamin ternyata dapat bergenerasi menjadi kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena baru.

Kemampuan ini disebut totipotensi. Dolly bukanlah satu-satunya domba hasil kloning. Sebelumnya, dua domba bernama Megan dan Morag dilahirkan, dan merupakan domba klona pertama yang berasal dari embrio yang sama, artinya yang satu adalah klona dari yang lain. Dolly berbeda dari mereka karena Dolly adalah hasil kloning dari domba dewasa. Sayangnya, walaupun Dolly dianggap sebagai kesuksesan besar di bidang teknologi reproduksi, ia ternyata mengidap beberapa penyakit seperti penyakit paru-paru dan arthritis (mengerasnya sendi dan engsel tulang) yang biasa ditemukan pada domba yang sudah tua.

Dolly disuntik mati pada umur 6 tahun, setengah dari usia domba biasa, yaitu 12 tahun.

kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena

Terapi dengan Kloning Kloning ternyata dapat digunakan untuk terapi penyakit. Jika Anda penderita gagal ginjal, penderita gangguan otot jantung, atau penderita rematik yang mengalami nyeri menyiksa sepanjang waktu, penelitian stem cell (sel tunas) dapat memberi harapan untuk sembuh.

Stem cell atau sel tunas merupakan sel yang memiliki kemampuan untuk membelah dalam jangka waktu tak terbatas dan mampu membentuk 220 jenis sel penyusun tubuh manusia. Sel tunas bisa dikembangkan menjadi sel ginjal, sel otot jantung, sel pankreas, sel saraf, serta sel lain kemudian dicangkokkan ke organ tubuh untuk menggantikan jaringan yang rusak.

Dalam penelitian dengan tikus, sel tunas berhasil dengan baik. Namun untuk mendapatkan sel tunas, orang harus menghentikan pertumbuhan embrio. Tentu saja proses ini terjadi di luar tubuh, yaitu di laboratorium sebagaimana dilakukan pada proses bayi tabung (in vitro fertilization/IVF).

Bahkan kebanyakan embrio penelitian berasal dari sisa program bayi tabung. Saat ini, sedang diteliti apa akibat dari sel tunas pada manusia. Jika penelitian ini berhasil, berbagai penyakit dapat disembuhkan Pro dan Kontra Kloning Dampak Positif Jika kloning dilakukan pada tumbuhan dapat memberikan keuntungan yang lebih banyak. Akan diperoleh tanaman baru dalam jumlah besar dalam waktu yang singkat dan dengan sifat yang identik atau sama dengan induknya.

Jika tanaman induk mempunyai sifat-sifat unggul maka dapat dipastikan keturunannya pun akan memiliki sifat unggul yang sama dengan induknya. Upaya kloning pada tumbuhan juga dapat kita gunakan sebagai upaya konservasi tumbuhan langka. Adanya teknologi kloning pada tumbuhan dapat meningkatkan agrobisnis. Demikian pula halnya pada hewan ternak. Kalangan yang pro kloning manusia mengemukakan beberapa dampak positif dari kloning manusia, misalnya dapat menumbuhkan janin yang bebas penyakit keturunan dan dapat menghasilkan sel, organ atau jaringan yang sesuai untuk pengobatan penyakit.

Dampak Negatif Kloning pada tanaman akan menghasilkan keturunan yang sama dengan induknya. Hal ini akan menurunkan keanekaragaman tanaman baru yang dihasilkan, demikian juga pada hewan.

Sementara itu kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena pada hewan dan manusia masih banyak dipertentangkan sebab banyak akibat yang ditimbulkan. Contohnya, resiko kesehatan terhadap individu hasil kloning. Kalangan yang menentang berpendapat bahwa kloning manusia dapat disalahgunakan untuk menciptakan spesies atau ras baru dengan tujuan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan.

Lagipula, pengklonaan kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena mamalia belum sepenuhnya sempurna. Dapat dilihat pada Domba Dolly yang menderita berbagai penyakit. Selain itu, akan terjadi kekacauan kekerabatan dan identitas diri dari klona maupun induknya. Larangan Kloning Manusia Kloning manusia lebih banyak mendapat tentangan dari berbagai pihak, jika dibandingkan dengan kloning hewan dan tumbuhan.

Roslin Institute, sebagai lembaga pertama yang sukses mengkloning domba, menentang keras kloning manusia. Ilmuwan Dixon, spesialis etika kloning manusia mengutuk tindakan tersebut.

Sementara itu fatwa ahli fiqh Hukum Islam Sheik Yusuf Al-Qardawi menyatakan bahwa Islam melarang kloning manusia karena sangan bertentangan dengan keragaman penciptaan Allah swt. Vatikan mengatakan bahwa kloning manusia itu merupakan pelanggaran terhadap prinsip-prinsip etika, kebrutalan mental yang bertentangan dengan pertimbangan manusiawi dan etika.

UNESCO meminta agar negara-negara di dunia melarang kloning manusia. Kongres Amerika mengesahkan Undang-undang yang melarang pengkloningan manusia segera beberapa jam setelah pengumuman kelahiran bayi manusia hasil kloning, Eve. Agama Islam sendiri menentang keras kloning manusia dan menganggap kloning manusia tidak sejalan dengan norma agama Islam. Dalam kitab Al-Qur’an, terdapat ayat-ayat yang menyatakan bahwa dari segi proses, kloning dimungkinkan terjadinya, akan tetapi kewenangan dan motif untuk melakukannya masih menjadi perdebatan.

Apakah manusia mempunyai wewenang untuk melakukan proses itu atau tidak? Dalam pertimbangan moral, jika kloning manusia akan melahirkan manusia yang tidak produktif, terutama dalam mengemban amanah beratnya sebagai pemimpin di Bumi, apalagi jika terbukti menurunkan martabat kemanusiaan, maka kloning dapat ditolak.

Jumlah biaya yang tidak sedikit untuk melakukan proses kloning, dianggap sebagai “penghamburan biaya” hanya untuk mengkloning satu manusia, sementara di luar sana banyak “manusia-manusia formal” yang kekurangan dan berada di bawah garis kemiskinan. Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dari tahun ke tahun berkembang dengan sangat pesat, yang ditandai dengan berbagai penemuan-penemuan baru.

Salah satu sektor yang terpengaruh dari kemajuan IPTEK ini adalah peternakan, khususnya di bidang reproduksi hewan guna meningkatkan produktivitas hewan ternak. Penelitian-penelitian reproduksi hewan di berbagai institusi riset telah menghasilkan teknologi yang diaplikasikan pada berbagai spesies hewan. Teknologi reproduksi pada hewan merupakan cara perkembangbiakan hewan dengan menggunakan peralatan tertentu secara cepat dan efisien.

Adapun tujuan dari ini adalah untuk memperoleh sifat dan karakter yang lebih baik dari induknya atau untuk meningkatkan kualitas anakan. Teknologi reproduksi hewan yang tersedia saat ini ada dalam berbagai bentuk, mulai bantuan perkawinan alami yang sederhana sampai kloning hewan dewasa dengan prosedur yang sangat kompleks. Untuk lebih jelasnya, kita simak yuk penjelasannya! Inseminasi Buatan (Kawin Suntik) Inseminasi buatan (IB) atau kawin suntik merupakan proses memasukan cairan sperma (semen) dari hewan jantan ke dalam saluran reproduksi hewan betina dengan bantuan manusia.

cairan sperma dimasukan dengan cara disuntik, sehingga cara ini sangat memudahkan hewan untuk bisa menghasilkan anak karena hewan jantan tidak harus kawin dengan hewan betina secara langsung. Inseminasi buatan memiliki beberapa manfaat yaitu efisiensi biaya, efisiensi waktu, dan perbaikan kualitas. Sebagai contoh, semen sapi brahman dari India diinseminasikan pada sapi betina lokal dengan tujuan untuk menghasilkan anak sapi yang memiliki kualitas daging lebih baik.

Baca juga: Memahami Reproduksi Seksual Pada Hewan Dalam melaksanakan inseminasi buatan dibutuhkan semen dari hewan jantan yang memiliki kualitas unggul. Semen tersebut kemudian disimpan pada suhu rendah yang bertujuan agar semen tidak mengalami kerusakan dan mati, karena sel sperma sangat rentan terhadap suhu panas. Kloning Kloning adalah pembuatan suatu organisme dengan meniru organisme lainnya.

Dimana, kloning dilakukan dengan menggunakan sel tubuh hewan untuk kemudian dikembangkan menjadi satu individu utuh. Individu anakan yang dihasilkan memiliki sifat dan ciri yang sama persis dengan induknya, misalnya jika sel yang digunakan untuk kloning berasal dari hewan betina maka individu anakan yang dihasilkan juga hewan betina.

Kloning pertama dibuat oleh Ian Wilmut dan rekannya di Roslin Institute di Edinburgh, Skotlandia pada tahun 1996 dan diberi nama Dolly (seekor kambing).

Dimana, mengambil sel telur dari ovarium domba betina dan mengambil sel kelenjar mamae dari domba betina lain, lalu mengeluarkan nucleus sel telur dan memasukan nucleus sel kelenjar mama eke dalam sel telur yang sudah tidak memiliki nucleus. Kemudian sel telur yang mengandung sel kelenjar mamae dimasukan ke dalam uterus domba dan domba tersebut akan hamil serta melahirkan anak domba hasil kloningan.

Kelas Pintar Kelas Pintar adalah salah satu partner Kemendikbud yang menyediakan sistem pendukung edukasi di era digital yang menggunakan teknologi terkini untuk membantu murid dan guru dalam menciptakan praktik belajar mengajar terbaik.

kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena

Related Topics • IPA Terpadu • Teknologi Reproduksi • Teknologi Reproduksi Hewan Previous Article
Dec 01, 2020 Setiap hari, masyarakat banyak mengkonsumsi daging yang mengakibatkan jumlah konsumsi daging terus meningkat.

Untuk membantu hewan bereproduksi, digunakan teknologi yang mempermudah pekerjaan tersebut. Berikut adalah cara yang dikembangkan untuk membantu reproduksi pada hewan yaitu : 1. Inseminasi Buatan Inseminasi buatan atau kawin suntik adalah proses memasukkan cairan sperma (semen) dari hewan jantan ke dalam saluran reproduksi hewan betina dengan bantuan manusia.

Cairan sperma dimasukkan dengan cara disuntik. Dengan cara ini, sangat memudahkan hewan untuk bisa menghasilkan anak karena hewan jantan tidak harus kawin dengan hewan betina secara langsung. Sehingga, hewan betina bisa menghasilkan anak tanpa bertemu dengan hewan jantan. Dalam melaksanakan inseminasi buatan, dibutuhkan semen dari hewan jantan yang memiliki kualitas unggul.

Semen tersebut kemudian disimpan pada suhu rendah, yaitu ?800C hingga ?200C. Hal kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena bertujuan agar semen tidak mengalami kerusakan dan mati, karena sel sperma sangat rentan terhadap suhu panas. Inseminasi buatan telah diterapkan pada beberapa hewan, antara lain pada sapi, bebek, itik, domba, dan hewan lainnya.

2. Kloning Kloning adalah teknik reproduksi secara aseksual pada hewan. Artinya, tidak melalui tahap fertilisasi.

Kloning dilakukan dengan menggunakan sel tubuh hewan untuk kemudian dikembangkan menjadi satu individu utuh. Individu anakan yang dihasilkan memiliki sifat dan ciri yang sama persis dengan induknya. Misalnya, jika sel yang digunakan untuk kloning berasal dari hewan betina, maka individu anakan yang dihasilkan juga hewan betina. Langkah kerja yang dilakukan untuk membuat kloning domba Dolly adalah mengambil sel telur dari ovarium domba betina dan mengambil sel kelenjar mamae dari domba betina lain.

Lalu mengeluarkan nukleus sel telur dan memasukkan nukleus sel kelenjar mamae ke dalam sel telur yang sudah tidak memiliki nukleus. Kemudian sel telur yang mengandung sel kelenjar mamae dimasukkan ke dalam uterus domba kemudian domba tersebut akan hamil dan melahirkan anak domba hasil kloning.
Teknologi reproduksi hewan adalah upaya manusia untuk mengembangbiakkan hewan di luar perkembangbiakan alaminya, dengan harapan bisa mengatasi masalah dalam perkembangbiakan.

Jika kita mengenal hidroponik, vertikultur, dan kultur jaringan sebagai reproduksi buatan pada tumbuhan, maka untuk reproduksi buatan pada hewan kita mengenal inseminasi buatan, perkawinan silang, dan kloning Inseminasi buatan Inseminasi buatan adalah adalah proses memasukkan cairan sperma dari hewan jantan ke sistem reproduksi hewan betina dengan bantuan manusia.

Sapi adalah contoh hewan yang perkembangbiakannya dilakukan dengan inseminasi buatan. Untuk menghasilkan anakan sapi yang unggul, sperma dari sapi jantan yang unggul dimasukkan ke dalam saluran reproduksi sapi betina dengan bantuan manusia. Inseminasi buatan ini dilakukan dengan cara memasukkan sperma yang telah dibekukan dengan menggunakan alat seperti suntikan.

Manfaat inseminasi buatan antara lain: • Efisiensi waktu, • Efisiensi biaya karena tidak harus memiliki hewan jantan, dan tidak perlu mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ke tempat yang dibutuhkan, • Memperbaiki kualitas anakan, • Mengoptimalkan secara luas penggunaan bibit pejantan unggul dalam jangka waktu lebih lama • Meningkatkan angka kelahiran kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena dengan cepat dan teratur, • Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin pada hewan, • Sperma beku dari pejantan unggul masih dapat dipakai beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati, dengan peralatan yang tepat sperma dapat disimpan dalam jangka waktu lama Sementara kerugian reproduksi buatan dengan inseminasi buatan antara lain: • Jika hewan tidak sedang dalam masa birahi saat dilangsungkannya inseminasi buatan, maka tidak akan terjadi pembuahan.

• Akan terjadi kesulitan kelahiran jika pejantan dengan turunan yang besar diinseminasikan pada betina dengan turunan kecil • Bisa terjadi kawin sedarah apabila menggunakan sperma beku dari pejantan yang sama dalam jangka waktu yang lama • Jika pejantan donor tidak dipantau sifat genetiknya dengan baik, maka dapat menyebabkan menurunnya sifat-sifat genetik yang jelek. Perkawinan silang Perkawinan silang atau hibridisasi adalah mengawinkan dua jenis hewan yang berbeda varietasnya dan memiliki sifat-sifat unggul.

Kloning Kloning adalah proses menghasilkan individu-individu dari jenis yang sama yang identik secara genetik, berasal dari induk yang sama, mempunyai susunan jumlah gen yang sama.

kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena

Konsep kloning didasarkan pada prinsip bahwa setiap sel pada makhluk hidup memiliki kemampuan menjadi sebuah individu baru. Ada beberapa jenis kloning yang dikenal, diantaranya: 1. Kloning DNA rekombinan Kloning DNA rekombinan adalah pemindahan sebagian rantai DNA yang diinginkan dari suatu organisme pada satu elemen replikasi genetik. 2. Kloning reproduktif Kloning reproduktif adalah kloning yang menghasilkan hewan yang sama dengan sel induk.

3. Kloning terapeutik Kloning terapeutik adalah kloning untuk memproduksi embrio manusia.

kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena

Tujuan utamanya adalah penelitian, bukan untuk membentuk manusia baru. Selain itu juga bertujuan mendapatkan sel batang yang dapat digunakan untuk mempelajari perkembangan manusia dan menyembuhkan penyakit.kali ini saya akan membahas tentang kloning hewan 1. Pengertian Kloning Hewan Kloning hewan adalah proses dimana seluruh organisme diproduksi dari sel yang diambil dari organisme induk sehingga menghasilkan keturunan yang secara genet ik identik. Ini berarti hewan kloning merupakan dupl ikat sama persis dari induknya, yang berarti juga memiliki DNA yang sama.

Kloning sebenarnya banyak terjadi di alam. Reproduksi aseksual pada organisme tertentu dan terjadinya kembar dari sel telur yang sama merupakan contoh kloning. 2. Sejarah Kloning Hewan Kloning pada hewan dilakukan mula-mula pada amfibi (kodok), dengan mengadakan transplantasi nukleus ke dalam telur kodok yang dienukleasi Sebagai donor digunakan nukleus sel somatik dari berbagai stadium perkembangan.

Ternyata donor nukleus dari sel somat ik yang diambil dari sel epitel usus kecebong pun masih dapat membentuk embrio normal. Keberhasilan ini tentu memicu penelitian lebih lanjut tentang kemungkinan penerapan teknologi kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena ini pada hewan lain dan manus ia. Hingga akhirnya pada tanggal 13 Oktober 1993, dua peneliti Amerika, Jerry L.

Hall dan Robert J. Stillman dari Universitas George Washington mengumumkan hasil kerjanya tentang kloning manusia dengan menggunakan metode embryo splitting (pemisahan embrio ketika berada dalam tahap totipotent) atas embrio yang dibuat secara in vitro fertilization (IVF). Dari proses embryo splitting tersebut, Hall dan Stillman mendapatkan 48 embrio baru yang secara genetis sama persis. 18 penelitian terhadap kloning ini pun tetap berlanjut.

Sejarah tentang hewan kloning telah muncul se jak tahun 1900, tetapi hewan kloning baru dapat dihasilkan lewat penelitian Dr. Ian Willmut seorang ilmuwan skotlandia pada tahun 1997, dan untuk pertama kali membuktikan bahwa kloning dapat dilakukan pada hewan mamalia dewasa. Metode kloning yang digunakan untuk mengklon biri-biri t ersebut adalah metode somatic cell nuclear transfer (SCNT).

Hewan kloning tersebut dihasilkan dari inti sel epitel ambing domba dewasa yang dikultur dal am suatu medium, kemudian ditransfer ke dal am ovum domba yang kromosomnya telah dikeluarkan, yang akhirnya menghasilkan anak domba kloning yang diberi nama Dolly. Kloning domba Dolly merupakan peristiwa penting dalam sejarah kloning. Dolly direproduksi tanpa bantuan domba jantan, melainkan diciptakan dari sebuah sel kelenjar susu yang di ambil dari seekor domba betina.

Dalam proses ini Dr. Ian Willmut menggunkan sel kelenjar susu domba finndorset sebagai donor inti sel dan sel telur domba blackface sebagi resepien.

kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena

Sel telur domba blackface dihilangkan intinya dengan cara mengisap nukleusnya keluar dari selnya menggunakan pipet mikro. Kemudian, sel kelenjar susu domba finndorset difusikan (digabungkan) dengan sel telur domba b lackface yang tanpa nukleus. Proses penggabungan ini dibantu oleh kejutan/sengatan listrik, sehingga terbentuk fusi antara sel telur domba blackface tanpa nucleus dengan sel kelenjar susu dompa finndorsat. Hasil fusi ini kemudian berkembang menjadi embrio dalam tabung percobaan dan kemudian dipindahkan ke rahim domba blackface.

Kemudian embrio berkembang dan lahir dengan ciri-ciri sama dengan domba finndorset. Sejak Wilmut berhasil membuat klon anak domba yang donor nukleusnya diamb il dari sel kelenjar susu domba dewasa, maka terbukti bahwa pada mammalia pun klon dapat dibuat.

Atas dasar itu para ahli berpendapat bahwa pada manusia pun secara teknis klon dapat dibuat. • 1962 John Gurdon mengkla im telah mengkloning katak dari sel dewasa. • 1963 J.B.S. Koin Haldane ‘clone’ istilah • 1966 Pembentukan kode genetik lengkap • 1967 Enzim DNA ligase terisolasi • 1969 Shapiero dan Beckwith mengisolasi gen pertama • 1970 enzim restriksi Pertama terisolasi • 1972 Paul berg menciptakan molekul DNA rekombinan pertama • 1973 Cohen dan Boyer menciptakan organisme pertama DNA rekombinan • 1977 Karl Illmensee mengklaim tel ah menciptakan tikus dengan hanya satu orangtua • 1979 Karl Illmensee membuat klaim telah kloning threemice • 1983 Solter dan McGrath sekering sel embrio tikus dengan telur tanpa inti, tetapi gagal untuk mengkloning teknik mereka • 1984 Steen Wiladsen klon domba dari sel embrio • 1985 Steen Wiladsen klon domba dari sel embrio.

kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena

Steen Wiladsen bergabung Genetika Grenad untuk mengkloning sapi secara komersial • 1986 Steen Wiladsen klon ternak dari sel dibedakan • 1986 Pertama, Prather, dan klon Eyestone sapi da ri sel embrio • 1990 Proyek Genom Manusia dimulai • 1996 Dolly, hewan pertama yang dikloning dari sel dewasa lahir • 1997 Presiden B ill Clinton mengusulkan moratorium lima tahun pada kloning • 1997 Richard Benih mengumumkan rencananya untuk mengkloning manusia • 1997 Wilmut dan Campbell menciptakan Pol ly, domba kloning dengan gen manusia dimasukkan • 1998 Teruhiko Wakayama menciptakan tiga generasi tikus kloning genetik identik 3.

Proses Kloning Hewan Teknik kloning melibatkan dua pihak, yaitu donor sel somatis (sel tubuh) dan donor ovum (sel gamet). Meskipun pada proses ini kehadiran induk betina adalah hal yang mutlak dan tidak mungkin dihindari, tetapi pada proses tersebut t idak ada fertilisasi dan rekombinasi (perpaduan) gen dari induk jantan dan induk betina. Ini mengakibatkan anak yang dihasilkan memiliki sifat yang sama persis dengan induk donor sel somatis.

untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada gambar di bawah ini Langkah kloning dimulai dengan pengambilan sel puting susu seekor domba. Sel ini disebut sel somatis (sel tubuh). Dari domba bet ina lain diambil sebuah ovum (sel telur) yang kemudian dihilangkan inti selnya. Proses berikutnya adalah fusi (penyatuan) dua sel tersebut dengan memberikan kejutan listrik yang mengakibatkan ‘terbukanya’ membran sel telur sehingga kedua sel bisa menyatu. Dari langkah ini telah diperoleh sebuah sel telur yang berisi inti sel somatis.

Ternyata hasil fusi sel tersebut memperlihatkan sifa t yang mirip dengan zigot, dan akan mulai melakukan proses pembelahan. Sebagai langkah terakhir, ‘zigot’ tersebut akan ditanamkan pada rahim induk domba betina, sehingga sang domba tersebut ham il. Anak domba yang lahir itulah yang dinamakan Dolly, dan mem iliki sifat yang sangat sangat mirip dengan domba induknya.

4. berikut 8 hewan hasil kloning di dunia • Dua babi transgenik terlihat menunjukkan protein fluorsen hijau di kuku-kukunya di Harbin, Provinsi Heilongjiang, Cina, 26 Desember 2006.

CHINA OUT REUTERS/China Daily (CHINA) • Dua ayam tanpa bulu pada 22 Mei 2002 di Hebrew University di Rehovot, Israel. Ayam ini rendah lemak, ramah lingkungan karena mengurangi biaya yang harus dikeluarkan peternak untuk ventilasi. • Noori, seekor kambing Pashmina, di Fakultas Kedokteran Hewan di Universitas Ilmu Pertanian dan Teknologi Sher-e-Kashmir (SKUAST) di Shuhama, 25 km timur Srinagar, 15 Maret 2012.

Noori yang memiliki berat 1,3 kg dan lahir pada 9 Maret 2012 adalah kambing Pashmina pertama hasil kloning. Doktor Riaz Ahmad Shah yang mengepalai proyek kloning ini di SKUAST memiliki bulu yang hangat. Mereka hidup di padang rumput di Ladakh dengan suhu udara yang bisa mencapai minus 20 derajat Celsius. • Angelfish (Pterophyllum) yang dimodifikasi secara genetik bersinar dalam akuarium di Taiwan International Aquarium Expo di Taipei 7 November 2012.

Ikan ini adalah angelfish pertama yang memancarkan fluoresen pink dan bisa terlihat dalam kegelapan. REUTERS/Pichi Chuang (TAIWAN – Tags: ANIMALS SOCIETY SCIENCE TECHNOLOGY) • Sebuah tim internasional kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena 22 Juli 2011 mengatakan bahwa mereka tak hanya mengkloning satu tikus, tapi lusinan. Ryuzo Yanagimachi dari University of Hawaii mengatakan mereka sudah berhasil mengkloning beberapa generasi tikus.

• Bayi kembar monyet dari embrio hasil kloning memegang satu sama lain di Oregon Regional Primate Research Center di Beaverton, Oregon, 4 Maret.

• Lima anak babi bernama Millie, Christa, Alexis, Carrel dan Dotcom adalah hasil kloning fasilitas riset Virginia Tech University dan PPL Therapeutics, perusahaan biofarma yang membantu mengkloning Dolly. • Ikan Convict Cichlids (Amatitlania nigrofasciata) tampak bersinar dalam tas plastik dalam sebuah akuarium di Taipei, 28 Oktober 2010. REUTERS/Pichi Chuang (TAIWAN – Tags: ANIMALS SOCIETY SCI TECH) berikut video tentang kloning hewan
Teknologi Reproduksi Secara Kloning, Sejarah, Jenis, dan Tekniknya Amongguru.com.

Kloning merupakan salah satu teknologi reproduksi secara vegetatif (aseksual) untuk menciptakan replika yang tepat bagi suatu organisme. Kata kloning berasal dari bahasa Inggris, yaitu clone, yang berarti potongan. Teknik kloning akan menghasilkan organisme baru yang secara genetis memiliki kesamaan dengan induknya. Konsep kloning sebenarnya didasarkan pada sifat totipotensi makhluk hidup, dimana setiap sel penyusun tubuh makhluk hidup memiliki kemampuan untuk membentuk spesies baru.

Spesies baru tersebut dinamakan klon, sehingga klon dapat diartikan sebagai organisme yang mempunyai rangkaian kromosom sama dan sifat identik dengan induknya. Klon diciptakan dari proses yang disebut dengan transfer inti somatik. Sel somatik terdapat pada semua sel tubuh. Mekanisme kloning dimulai dari inti sel somatik yang dimasukkan ke dalam sel telur yang tidak dibuahi dan sudah dihapus inti selnya. Telur dengan inti somatik tersebut akan dijaga sampai terbentuk embrio.

Embrio selanjutnya akan ditempatkan ke dalam induk pengganti dan berkembang di dalam induk tersebut. Manfaat Kloning Teknologi kloning sebenarnya akan memberikan banyak manfaat, apabila dilakukan secara bijaksana dengan tujuan untuk kebaikan besama. Kloning adalah satu satu kemajuan teknologi genetika, yang dapat memberikan beberapa manfaat sebagai berikut. 1. Pengembangan teknologi reproduksi embiologi dan diferensiasi DI bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, teknik kloning sangat bermanfaat untuk pengembangan teknologi, khususnya yang berkaitan dengan reproduksi embirologi dan diferensiasi 2.

Mengembangkan dan memperbanyak bibit unggul Jika teknik kloning menggunakan inti sel donor yang berasal dari bibit unggul, tentu organisme yang dihasilkan juga akan mempunyai sifat-sifat unggul seperti induknya.

Sifat unggul ini akan semakin meningkat jika dikombinasikan dengan teknik transgenik untuk mendapatkan gen tambahan yang lebih unggul. 3. Menolong pasangan infertil (tidak mempunyai keturunan) Kloning memungkinkan banyak pasangan tidak subur untuk bisa mendapatkan anak. Teknik kloning merupakan hal yang revolusioner sebagai pengobatan infertilitas, karena penderita tidak perlu menghasilkan sperma atau sel telur. Mereka hanya memerlukan sejumlah sel somatik dari manapun untuk diambil, sehingga memungkinkan mereka mempunyai keturunan yang mengandung gen dari suami atau istrinya.

4. Untuk mengganti jaringan tubuh yang rusak Sel-sel tubuh dapat dikloning dan diregenerasi untuk menggantikan jaringan tubuh yang rusak, misalnya urat syaraf dan jaringan otot.

Kela manusia akan dapat mengganti jaringan tubuhnya yang sudah rusak karena penyakit atau faktor lain dengan organ hasil kloning. 5. Melestarikan spesies langka Teknik kloning akan mampu melindungi spesies dari kepunahan.

Misalnya, kloning domba Dolly yang sukses adalah langkah pertama dalam melindungi hewan langka. Contoh lainnya, yaitu hasil kloning yang melahirkan Noah (hewan mirip Bison dari Ais Tenggara) yang terancam punah. 6. Meningkatkan resistensi tanaman budidaya dan kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena ternak Teknologi kloning akan dapat menyediakan sarana budidaya tanaman yang lebih kuat dan tahan tahan terhadap penyakit.

Demikian halnya pada hewan ternak, dimana teknik kloning akan mampu menciptakan ternak unggul yang tahan terhadap penyakit. 7. Mematikan sel-sel kanker Teknologi kloning memungkinkan ilmuwan untuk menghidupkan dan mematikan sel, sehingga dapat digunakan untuk mengatasi kanker. Selain itu, ada harapan bahwa kelak kita kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena menghambat proses penuaan berkat apa yang kita pelajari dari kloning.

Sejarah Kloning Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena dalam rekayasa genetika telah menjadi tonggak lahirnya teknik kloning. Penelitian kloning pertama kali adalah pada tahun 1952 yang dilakukan oleh Robert Briggs dan Thomas King. Mereka berhasil membuat kloning dari sel cebong. Telur kodok A yang telah dibuahi dikeluarkan inti selnya, kemudian diganti dengan sel telur kodok B yang berada pada fase embrio.

Hasil dari penelitian tersebut diperoleh kodok baru yang mempunyai sifat sama persis dengan kodok B. Pada tahun 1962, John Gurdon berhasil merekaya kloning dari sel-sel cebong yang lebih tua dari yang dilakukan Robert Briggs dan Thomas King. Di tahun 1978, lahir Baby Laouse melalui pembuahan bayi tabung berkat jasa Dr. Patrick Steptoe dan R. G Edwards dari Inggris. Mereka berdua kemudian menjadi pelopor teknik bayi tabung. Transfer embrio manusia dari ibu satu ke ibu yang lain berlangsung pertama kalinya pada tahun 1983, kemudian disusul dengan keberhasilannya lagi pada tahun 1986.

Pada tahun 1993, Dr, Jerry Hall berhasil mengkloning embrio manusia dengan teknik pembelahan, meskipun pada akhirnya semua klon tersebut rusak. Tepatnya tanggal 23 Februari 1997, Dr.

Ian Wilmuth telah berhasil mengkloning mamalia pertama dengan kelahiran domba dolly menggunakan teknik ahli inti sel somatik atau somatic sel nuclear transfer (SCNT), setelah melakukan percobaan 227 kali. Selanjutnya, ara peneliti di Universitas Hawai yang dipimpin oleh Dr Teruhiko Wakayama pada tahun 1998 berhasil melakukan kloning tikus hingga tiga generasi, dengan memakai teknik mikro injection yang tingkat keberhasilannya 3%.

Di tahun 2000, Professor Gerard Schatten dari Amerika berhasil membuat kera kloning yang diberi nama Tetra. Baca : • Teknologi Reproduksi Tumbuhan Secara Hidroponik dan Contohnya • Teknologi Reproduksi Tumbuhan Secara Kultur Jaringan dan Contohnya • Teknologi Reproduksi Hewan Secara Inseminasi Buatan dan Contohnya Semenjak kloning pada mamalia berhasil dilakukan, maka kemudian muncul pendapat dari beberapa ahli bahwa manusia juga secara teknis dapat dibuat secara kloning.

Jenis-jenis Kloning Terdapat beberapa jenis kloning yang sudah dikenal, antara laian sebagai berikut. 1. Kloning DNA Rekombinan Kloning DNA Rekomininan adalah teknik kloning dengan cara memasukkan DNA asing ke dalam plasmid suatu sel bakteri. DNA yang dimasukkan akan bereplikasi (memperbanyak diri) dan diturunkan pada sel anak pada waktu sel tersebut membelah. Gen asing ini tetap melakukan fungsi seperti sel asalnya, meskipun berada dalam sel bakteri. Pembentukan DNA rekombinan tersebut dinamakan juga rekayasa genetika.

2. Kloning Terapeutik Kloning terapeutik menjadi bagian dari terapi sel punca yang bertujuan untuk menghindari adanya penolakan terhadap sistem imun pasien pada saat dilakukan terapi.

Kloning terapeutik dilakukan dengan sel induk, dimaksudkan untuk tujuan terapeutik (penyembuhan) dan riset medis, sehingga bukan untuk menciptakan manusia baru.

Hal ini dilakukan dengan menggunakan teknologi SCNT ( Somatic Cell Nuclear Transfer). Sel punca memiliki potensi positif untuk terapi berbagai penyakit, sehingga menjadi harapan baru untuk mengobatinya. Sampai saat ini, terdapat tiga golongan penyakit yang dapat diatasi dengan penggunaan sel punca, yaitu penyakit auoimun, penyakit degeratif (stroke, Alzheimer, dan Parknson), serta penyakit kanker.

3. Kloning Reproduksi Kloning reproduksi dilakukan untuk menghasilkan individu baru yang sama dengan menggunakan teknik SCNT. Genetika individu klon tidak seluruhnya memiliki kesamaan dengan sang induk, persamaan genetika individu klon dengan induknya hanya terletak pada inti DNA donor yang berada di kromosom.

Individu klon juga memiliki material genetik lainnya yang berasal dari DNA mitokondria di dalam sitoplasma. Teknologi kloning reproduktif dapat digunakan untuk mencegah terjadinya kepunahan hewan-hewan langka atau sulit dikembangbiakkan. Teknik Kloning Teknik kloning dapat dikatakan sebagai teknik yang cukup rumit, sehingga tingkat keberhasilannya juga rendah. Dengan demikian, di dalam pelaksanaannya harus dilakukan secara hati-hati oleh orang yang sudah memiliki keahlian dibidang genetika. Berikut ini adalah contoh teknik kloning secara sederhana yang dilakukan pada hewan dan manusia.

1. Teknik kloning pada hewan Teknik kloning pada hewan dilakukan untuk memperoleh populasi hewan yang memiliki kesamaan genetik dengan induknya. Salah satu teknik kloning pada hewan yang menyita perhatian dunia adalah pada tahun 1997, dimana pada waktu itu Dr. Ian Wilmuth berhasil mengkloning mamalia pertama dengan kelahiran domba dolly. Dr. Ian Willmuth menggunakan teknik alih inti sel somatik setelah beratus kali mengalami kegagalan dalam penelitiannya. Cara kloning yang dilakukan Dr.

Ian Wilmut sehingga menghasilkan domba Dolly adalah sebagai berikut. • Mengambil sel telur yang ada dalam ovarium domba betina • Mengambil kelenjar mamae dari domba betina lainnya.

• Mengeluarkan inti sel (nukleus) sel telur yang haploid. • Memasukkan sel kelenjar mamae ke dalam sel telur yang tidak memiliki nukleus.

kloning merupakan teknologi reproduksi secara aseksual pada hewan karena

• Sel telur dikembalikan ke uterus domba induknya semula (domba donor sel telur). • Memasukkan sel telur ke dalam uterus domba, kemudian domba tersebut akan hamil • Domba melahirkan anak hasil kloning. 2. Teknik kloning pada manusia Setelah beberapa ilmuwan berhasil melakukan kloning terhadap hewan mamalia, maka kemudian pemikiran untuk menerapkan teknik kloning pada manusia, meskipun pada akhirnya banyak pertentangan.

Kloning pada manusia adalah cara untuk membuat keturunan terhadap kode genetik yang sama dengan induknya.

Secara sederhana, proses kloning manusia dapat dijelaskan sebagai berikut. 1. Penyiapan sel stem Sel stem adalah sel pertama yang nantinya akan tumbuh menjadi berbagai sel tubuh. Sel stem diambil dari manusia yang akan dikloning.

Caranya adalah dengan mengambil sel inti yang memiliki materi genetik, selanjutnya dipisahkan dari sel.

2. Penyiapan sel telur Sel telur diambil dari seorang wanita yang kemudian inti selnya dipisahkan. 3. Implantasi sel stem Setelah sel telur disiapkan dan dipisah inti selnya, kemudian inti sel dari sel stem diimplantasikan ke sel telur tersebut. 4. Pembelahan sel telur menjadi embrio Sel telur dirangsang agar dapat melakukan pembelahan dan pertumbuhan. Setelah membelah, sel telur selanjutnya menjadi sel embrio.

Sel telur yang terus membelah tersebut dinamakan blastosis. Pada hari ke lima, blastosis akan melakukan pemisahan diri dan siap diimplantasikan ke dalam rahim.

5. Embrio berkembang pada rahim Embro yang dtanamkan pada rahim akan berkembang dan tumbuh menjadi bayi dengan kode genetis sama persis sel stem donornya. Demikian ulasan mengenai teknologi reproduksi secara kloning, sejarah, jenis, dan tekniknya. Terima kasih atas kunjungan Anda dan semoga bermanfaat.

Reproduksi Seksual dan Aseksual pada Makluk Hidup




2022 www.videocon.com