Berbuka dengan yang manis adalah

berbuka dengan yang manis adalah

Muslimahdaily - Tagline “Berbukalah dengan yang manis” sering kali muncul setiap Ramadhan tiba. Entah dari iklan televisi, poster media sosial, ceramah da’i, ucapan public figur, dan sebagainya. Namun sebenarnya, benarkah berbuka dengan yang manis adalah sunnah Rasulillah?

Ternyata, ungkapan tersebut bukan berasal dari hadits nabi. Bahkan dalam kitab-kitab hadits dan fiqh, tak ada satu pun ungkapan yang semakna apalagi serupa. Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh mengatakan bahwasanya ungkapan tersebut adalah ucapan Rasulullah. Ingatlah bahwasanya Rasulullah pernah bersabda, “Barang siapa yang menyampaikan hadits dariku suatu hadits yang ia sangka bahwa itu dusta, maka ia salah satu dari dua pendusta.” (HR.

Muslim). Lalu, Apa yang Shahih dari Nabi? Bukan makanan manis, buka puasa yang dianjurkan nabi adalah dengan kurma. Meski kurma itu manis, namun yang disebut Rasulullah adalah kurma, dan buah kurma memiliki keistimewaan dibanding buah lain, apalagi sekedar makanan manis. “Biasanya Rasulullah berbuka puasa dengan ruthab sebelum shalat (Maghrib). Jika tidak ada ruthab (kurma muda), maka dengan tamr (kurma matang).

Jika tidak ada tamr maka beliau meneguk beberapa teguk air.” (HR. Abu Daud). Kurma Memiliki Keistimewaan Keistimewaan kurma tercermin dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya ada sebuah pohon yang berbuka dengan yang manis adalah tidak berguguran, dan ia merupakan permisalan seorang muslim.

Pohon apa itu?” Ibnu Umar berkata, “Aku menyangka yang dimaksud (nabi) adalah pohon kurma. Namun aku enggan mengatakan ‘wahai Rasulullah, itu adalah pohon kurma’. Maka aku pun berpaling. Karena aku terlalu muda untuk bicara kepada mereka (saat itu di majelis Rasulullah banyak shahabat senior-pen), jadi aku diam saja. Rasulullah kemudian memberitahu jawabannya, “Pohon tersebut adalah pohon kurma.” (HR.

Al Bukhari dan Muslim). Qiyas yang Keliru Beberapa ulama meng-qiyaskan antara kurma dan makanan manis. Karena itulah kemudian muncul pendapat yang membenarkan ungkapan “berbukalah dengan yang manis.” Namun qiyas ini dianggap keliru dan tidak disepakati oleh para ulama. Pasalnya, sebagaimana disebutkan sebelumnya, kurma memiliki keistimewaan dan keberkahan. Dengannya, ia tak bisa diqiyaskan dengan apapun termasuk makanan manis.

Selain itu, kekeliruan qiyas ini pula nampak dari kebiasaan nabi. Beliau Shallallau‘alaihi wa sallam memilih meneguk air putih jika tidak ada kurma. Jikalau yang dimaksud nabi adalah berbuka dengan makanan manis, maka beliau tidaklah memilih air putih jika tak ada kurma. Maka jika qiyas tersebut benar, artinya ada konsekuensi jika tak ada makanan manis, minumlah air putih. Padahal yang dilakukan nabi adalah jika tak ada kurma, minumlah air putih.

Kurma dan air putih menjadi sunnah nabi dari hadits di atas. Salah seorang ulama syafi’iyyah, Zainuddin Al Malibari dalam Fathul Mu’in mengatakan, “Syaikhan (yakni An Nawawi dan Ar Rafi’i, dua ulama besar mazhab syafi’i - pen) mengatakan, ‘tidak ada yang lebih afdhal dari kurma selain air minum’.

Maka pendapat Ar Rauyani (ulama yang mengqiyaskan kurma dengan makanan manis-pen) bahwa makanan manis itu lebih afdhal dari air adalah pendapat yang lemah.” Dikutip dari laman muslimah.or.id. Berbuka dengan yang manis adalah Maka dapat disimpulkan bahwasanya tidak ada landasan dalil tentang berbuka dengan yang manis. Makanan berbuka sesuai petunjuk dan kebiasaan nabi ialah dengan kurma. Jika tak ada kurma, maka dengan air putih. Meski kurma memang memiliki rasa manis, namun ia tak tergantikan dengan makanan manis apapun karena keistimewaannya dan keberkahannya.

berbuka dengan yang manis adalah

Wallahu a’lam. DALAM nash hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW berbuka dengan ruthab, yaitu kurma segar yang baru dipetik. Bila tidak ada beliau SAW berbuka dengan kurma. Bila tidak ada keduanya, barulah dengan air putih. Dari Anas bin Malik ia berkata, “Rasulullah berbuka dengan rutab sebelum shalat, jika tidak terdapat rutab, maka beliau berbuka dengan tamr, jika tidak ada beliau meneguk air. (HR.

Ahmad dan Abu Dawud) Istilah ruthab (رطب) sebenarnya bermakna kurma juga, namun berbeda dengan kurma yang sering kita lihat. Ruthab adalah kurma yang masih muda, segar, berair, dan tentu saja menyehatkan.

berbuka dengan yang manis adalah

Sedangkan istilah tamr (تمر), itulah kurma yang sering kita temukan. Nah, jelas bahwa Rasulullah berbuka dengan kurma.

Namun, di masyarakat justru muncul anggapan “berbuka dengan yang manis”. Darimana sebenarnya asal muasalnya? Ternyata ada satu dua ulama di masa lalu yang menafsirkan bahwa perintah berbuka dengan ruthab atau kurma agar bisa memulihkan penglihatan yang menurun akibat puasa. Kalau tidak ada keduanya, bisa dengan manis-manisan. Begitulah fatwanya.

Al-Hattab Ar-Ru’aini (w. 954 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah menuliskan pendapat salah satu ulama tentang berbuka dengan yang manis-manis ini, di dalam kitab beliau Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil, sebagai berikut : “Syeikh Zarruq berkata dalam syarahnya : Di antara sunnah-sunnah puasa adalah menyeragakan berbuka, sebagai bentuk kasih sayang kepada orang yang lemah, menyayangi diri dan menjadi pembeda dengan orang yahudi.

Dan dengan memakan kurma atau apa yang semakna dari yang manis-manis, agar mengembalikan penglihatan yang berkurang lantaran puasa.” Al-Kharasyi (w. 1101 H) salah satu ulama mazhab Al-Malikiyah menuliskan di dalam kitabnya, Syarah Mukhtashar Khalil sebagai berikut : Diistihbabkan berbuka dengan kurma atau yang sejenisnya dari yang manis-manis karena untuk mengembalikan penglihatan yang berkurang lantaran puasa.

Selain itu yang sering disebut-sebut berpendapat seperti ini adalah salah satu ulama di dalam mazhab Asy-Syafi’iyah, yaitu Al-Qadhi Ar-Ruyani. Di dalam berbuka dengan yang manis adalah kitab fiqih mazhab Asy-Syafi’iyah kita temukan para penulis kitab mencantumkan pendapat Ar-Ruyani ini.

An-Nawawi (w. 676 H) salah satu muhaqqiq besar dalam ruang lingkup mazhab Asy-Syafi’iyah memuat pendapat Ar-Ruyani ini di dalam karya beliau, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab sebagai berikut : Ar-Ruyani berkata,”Berbuka itu dengan kurma, bila tidak ada maka dengan halawah (manis-manis), bila tidak ada maka dengan air”. Al-Qadhi Husein berkata yang lebih utama di zaman kami berbuka dengan apa yang didapatnya dengan kedua tangannya dari sungai, biar jauh berbuka dengan yang manis adalah syubhat.

Namun apa yang disebutkan oleh kedua ulama ini syadz. Yang benar adalah apa yang sudah disebutkan di dalam hadits. Loading. Namun pendapat Al-Qadhi Ar-Ruyani dan Al-Qadhi Husein ini dikritik oleh An-Nawawi dengan menyebutkan pendapat itu syadz.

Artinya bukan pendapat yang bisa diterima. Alasannya karena sudah ada hadits yang menegaskan hal ini, bahwa Rasulullah SAW berbuka dengan ruthab, kurma atau air dan bukan dengan yang manis-manis. Kata halawah dalam kamus bahasa Arab memang berarti makan yang rasanya manis. Namun secara istilah tidak mentang-mentang rasa suatu makanan atau itu manis, lantas bisa disebut dengan halawah. Buktinya batang tebu yang manis itu tidak disebut dengan halawah. Begitu juga gula pasir yang rasanya manis itu, tidak sebut halawah oleh orang Arab.

Maka istilah halawah di Arab wujudnya pasti berbeda dengan makanan yang kita kenal. Kolak dan biji salak itu manis rasanya, tetapi belum tentu orang Arab menyebutnya sebagai halawah. Adapun penafsiran satu dua ulama tentang berbuka dengan yang manis-manis tentu saja merupakan ijtihad yang masih kontroversi di kalangan ulama.

Intinya, memang tidak ada hadis yang secara lugas memerintahkan berbuka berbuka dengan yang manis adalah makanan manis. Namun, sama sekali tidak ada larangan untuk berbuka dengan makanan yang manis-manis selain kurma. [] SUMBER: RUMAH FIQIH
Alhamdulillah ya tidak terasa puasa tinggal 29 hari lagi hehe… Yakin deh kalau diniati demi mencari pahala dari Allah SWT pasti akan terasa ringan.

Berbuka puasa adalah momen yang sangat ditunggu setelah menahan haus dan lapar selama kurang lebih 13 jam. Bahkan membayangkan menu berbuka khas Indonesia seperti gorengan dan es buah saja membuat kita menelan ludah. Ah sudahlah. Tapi tahukah kamu Nabi SAW biasa berbuka puasa sebelum salat dengan ruthab (kurma basah).

Jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Hal tersebut selaras dengan penjelasan medis yang menyarankan untuk berbuka puasa dengan yang manis. Tapi dalam kadar yang sesuai, karena sebagaimana yang kita ketahui bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

berbuka dengan yang manis adalah

Karena pada dasarnya tubuh kita pada saat puasa itu kadar glukosa dalam darah berkurang akibat sudah dipakai untuk energi aktivitas kita sehari-hari. Ketika kadar glukosa darah sudah kurang dari 70 mg/dL, maka tubuh akan memecah cadangan energi berupa lemak di tubuh kita untuk menghasilkan glukosa darah. Nah, asupan gula yang berlebih itu juga tidak bagus loh.

Misalnya karena kita sudah menahan lapar dan haus seharian, lalu saat berbuka kita makan terlalu banyak makanan atau minuman yang manis-manis.

berbuka dengan yang manis adalah

Hal tersebut dapat memicu lonjakan kadar gula dalam tubuh yang lama kelamaan jika menjadi kebiasaan berbuka dengan yang manis adalah menjadi faktor resiko terjadinya penyakit diabetes melitus tipe 2. Lalu sebaiknya bagaimana? Untuk menggantikan energi kita yang hilang maka kita membutuhkan asupan yang manis saat berbuka puasa. Kandungan gula dari makanan atau minuman manis dapat meningkatkan kadar gula darah yang turun selama berpuasa.

Namun, kita harus hati-hati dalam memilih makanan yang manis, karena tidak semua hidangan manis saat berbuka puasa memiliki nilai gizi yang cukup untuk menggantikan nutrisi dan vitamin saat beraktivitas selama berpuasa. Jika salah memilih asupan maka akan berakibat mengantuk dan lemas setelah berbuka puasa. Padahal masih ada salat tarawih yang pahalanya luar biasa. Ada sedikit tips nih dari dr.

Suci Widya Primadhani yang juga alumni Pondok Pesantren Mahasiswa Baitusshodiq Bandar Lampung dalam memilih asupan yang manis. Sebaiknya kita mengkonsumsi gula alami saat berbuka puasa agar nutrisi dan vitamin terisi kembali, seperti di bawah ini: • Kurma Kurma memang identik dengan bulan ramadhan karena merupakan bagian dari kebiasaan Nabi SAW dalam berbuka puasa. Selain itu, karbohidrat yang ada di buah kurma lebih mudah masuk ke dalam liver (hati), sehingga buah ini cocok dimakan saat berbuka puasa.

2. Jus Buah Cara lain dalam mengonsumsi buah-buahan yaitu dengan mengolahnya menjadi jus, tetapi dianjurkan tidak menggunakan gula tambahan karena pada dasarnya buah sudah memiliki kandungan gula dengan kadar yang cukup. Kita juga bisa mengubahnya menjadi smoothies dengan mengkombinasikan dengan sayur atau buah lainnya.

3. Madu Madu memiliki indeks glikemik (GI) yang lebih rendah dibanding gula, sehingga tidak membuat lonjakan kadar gula darah secepat gula biasa ketika dikonsumsi. Madu juga bisa dikombinasikan sebagai pemanis tambahan untuk jus buah yang kalian buat. Berbuka puasa dengan yang manis atau bersama yang manis? Kenapa tidak jika bisa dengan keduanya. Tapi ingat dalam kandungan yang tepat dan tidak berlebihan. Semangat puasa semuanya… (Wendi/LINES Lampung) Berita/Artikel Terkini • Ketua LDII Solo Silaturohim dengan KGPAA Mangkunegara X, Bahas Budaya dan Pariwisata • Ketua DPD LDII Kota Bandarlampung Yaumil Khair Apresiasi Takabar Berbagi • 10 Hari Mencarimu, Lailatul Qodar • JANGAN SAMPAI BUKBER (BUKA BERSAMA) MALAH JADI MAKBER (MAKSIAT BERSAMA) • Wakil Bupati Pringsewu H.

Fauzi Apresiasi Kegiatan Bagi zakat dan Tali Asih DPD LDII Pringsewu Jakarta - Banyak orang menganggap berbuka puasa dengan makanan dan minuman manis adalah sunah. Padahal ajakan ini hanyalah tagline sebuah iklan minuman. Rasulullah SAW tidak pernah menganjurkan berbuka puasa dengan menyantap makanan dan minuman manis.

Namun kebanyakan masyarakat menganggap ini adalah sunah dan menjadi acuan ketika memilih makanan dan minuman buka puasa. Dikutip dari akun Instagram @gizipedia, sebuah postingan yang diunggah pada 22 Maret 2022 ini menjelaskan bahwa kalimat 'Berbuka dengan yang manis' ini termasuk anjuran sesat.

Baca juga: Resep Bakwan Pontianak yang Renyah Enak Buat Buka Puasa Lebih lanjut dijelaskan bahwa ajakan berbuka dengan yang manis ini adalah tagline sebuah merek dagang di tahun 2006. Meskipun sudah lebih dari 10 tahun namun tagline ini masih tetap eksis dan populer di masyarakat. Lewat akun Twitter resmi Teh Botol Sosro dijelaskan tentang tagline ini.

"Teh botol Sosro di momen Ramadan dengan tagline berbukalah dengan yang manis #saattehbotolsosro," cuit admin minuman ini pada 23 Mei 2014. Anjuran ini sebenarnya cukup keliru karena makan makanan manis memiliki risiko kesehatan. Salah satunya risiko 'sugar crash' Instagram @gizipedia ini juga menjelaskan bahwa sugar crush merupakan kondisi dimana timbul efek pusing, lesu, lemas dan sakit kepala akibat konsumsi gula terlalu banyak dalam satu waktu.

Jika ini terjadi, maka dikhawatirkan akan mengganggu ibadah sholat tarawih dan sholat malam saat Ramadan. Memang benar, konsumsi karbohidrat diperlukan untuk menggantikan energi yang hilang saat berpuasa. Namun jika berlebihan akan berefek buruk. Dalam jangka panjang, konsumsi makanan manis secara berlebihan ini bisa menyebabkan diabetes. Baca juga: Buka Puasa dengan 5 Buah Kesukaan Nabi Muhammad yang Sehat Berkhasiat Sementara jika melihat sunah Rasulullah SAW, dianjurkan untuk berbuka dengan makan kurma dan minum air putih.

"Apabila kamu ingin berbuka, berbukalah dengan kurma. Jika tidak ada, minumlah air putih karena ia suci," bunyi hadis riwayat at-Tirmidzi. Nabi Muhammad SAW, selama menunaikan ibadah puasa, terbiasa mengonsumsi kurma dan air putih untuk berbuka puasa. Jadi jangan jadikan buka sebagai ajang balas dendam pada makanan. Karena sebenarnya tujuan dari ibadah puasa adalah menahan hawa nafsu. Termasuk hawa nafsu pada makanan secara berlebihan.

Simak Video " Berburu Menu Buka Puasa di Kawasan Kuliner BKT" [Gambas:Video 20detik] (dvs/odi) Berita Terkait • Sedih! Curhatan Yatim Piatu Dikirimi Lontong Sayur oleh Tetangga Saat Lebaran • 6 Tips Atasi Minyak dan Lemak Sisa Masak Menu Lebaran • Ngakak! Netizen Sebut Aktivitas Masak Buat Lebaran Ini Paling Pedih • Dua Tahun Tidak Mudik, Netizen Kangen Budaya Makan di Kampung Saat Lebaran • 5 Tips Makan Saat Lebaran Agar Tak Kalap dan Tetap Sehat • Demi Buka Puasa Saat Macet, Pria Ini Kejar-kejaran dengan Penjual Tahu Bulat • 3 Cara Merebus Daging Sapi Agar Cepat Empuk Tanpa Presto • Keluhan Ojol Dapat Order Makanan Mepet Waktu Sahur dan Buka Berbuka dengan yang manis adalah /> Waktu buka puasa adalah saat yang ditunggu oleh kita yang melaksanakan ibadah puasa.

Salah satu sunnah yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW adalah untuk berbuka dengan yang manis. Namun sayang, banyak orang yang salah kaprah dengan sunnah yang satu itu.

Nabi mencontohkan kepada umat muslim yang menjalankan puasa supaya berbuka dengan sari kurma, kurma kering, atau air. Namun faktanya, makanan manis yang justru banyak dijumpai sebagai takjil buka puasa adalah es berbuka dengan yang manis adalah manis, kolak yang bersantan, kolang-kaling dengan aneka sirup perasa, serta berbagai macam es.

Apalagi saat bedug maghrib biasanya banyak orang yang ‘balas dendam’ setelah seharian puasa dengan banyak makan dan minum termasuk makan dan minum yang manis-manis. Jika hal tersebut dilakukan terus menerus tentunya akan mengganggu kesehatan ya, ladies.

Karena jika langsung mengosumsi banyak makanan manis, tubuh kita akan ‘kaget’ dan gula darah bisa langsung melonjak naik. Kurma sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW adalah makanan yang mengandung karbohidrat komplek dan serat alami yang sangat baik untuk kesehatan. Bukan hanya itu, kandungan glukosa yang ada di dalamnya juga gula alami yang tidak membuat orang kencing manis atau diabetes jika dikonsumsi dalam jumlah yang wajar. Sedangkan makanan manis lainnya yang sudah diolah dengan campuran gula mengandung jenis karbohidrat yang sederhana yang hanya membuat kita kenyang dengan sedikit manfaat untuk tubuh.

Apalagi jika mengonsumsi makanan manis yang bersantan. Alih-alih membuat tubuh jadi makin sehat, tubuh malah jadi sarang penyakit akibat terlalu banyak gula dan santan yang dikonsumsi. Selain itu, terlalu banyak makan juga akan membuat kita malas, ladies. Bulan puasa bukannya berat badan berkurang, malah menimbun lemak namanya. Alhasil, kegiatan ibadah dan aktivitas lainnya bisa terhambat.

Sebagai alternatifnya, ladies bisa mengganti atau menambahkan buah-buahan lain yang juga mengandung banyak vitamin dan mineral yang berbuka dengan yang manis adalah untuk kesehatan tubuh semisal jeruk, apel, alpukat, dan pisang.

Eits, bukan buah-buahan yang sudah dicampur atau dibuat jadi makanan lain seperti es pisang ijo, jus, dan pisang goreng ya! Sebagai tambahan, agar tubuh makin sehat sebaiknya mengurangi konsumsi teh dan kopi.

Tubuh membutuhkan air putih yang alami untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang setelah seharian berpuasa.

Jadi, sepertinya istilah ‘berbuka dengan yang manis’ perlu diganti menjadi ‘berbuka dengan yang manis sewajarnya’ nih. Hehe. Udah siap puasa Ramadhan ya, Ladies?

berbuka dengan yang manis adalah

😀 Sumber: ketahui.com
Baca juga: Ahli Gizi Sarankan Minum Air Kelapa Saat Buka Puasa, Ini Alasannya Dr Kaseem Halmar dari University of Warwick, Inggris, mengatakan hampir 14 jam tubuh seseorang yang menjalani puasa tidak mendapatkan asupan cairan dan sari makanan.

Itu membuat kadar gula dalam darah menurun dan menyebabkan lemas menjelang buka puasa. Menurut Dr Kaseem, jika seseorang berbuka dengan makanan atau minuman yang manis akan menyeimbangkan kembali kadar insulin, sehingga bisa kembali memproduksi energi. Tetapi, ia mengingatkan untuk tetap ada batasan dalam mengkonsumsinya.

"Namun harus diingat, bahwa tetap ada batasan untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang manis itu. Sekitar lima persen dari total jumlah asupan kalori yang dikonsumsi," katanya yang dikutip dari Nutrition.org.uk, Sabtu (16/5/2020). Berita Terkait • Jelang Lebaran Jangan Tumbang, Tips Buka Puasa Sehat Agar Puasa Lancar • Penting!

5 Kebiasaan Tak Sehat Ini Sebaiknya Dihindari saat Berbuka Puasa • Biar Jantung Tetap Sehat, Hindari Buka Puasa dengan Makanan Ini • 7 Makanan Kaya Air Ini Bantu Penuhi Kebutuhan Cairan Tubuh Saat Buka Puasa • Kenali Ciri-ciri Takjil Berbahaya, BPOM Berbuka dengan yang manis adalah Ada yang Mengandung Boraks • Apakah Vaksin Membatalkan Puasa?

Begini Hukumnya • Bagaimana Cara Mengatasi Begah Usai Buka Puasa? Ini Saran Dokter • Minuman yang Tak Disarankan Buat Buka Puasa, Malah Bikin Tambah Haus!

berbuka dengan yang manis adalah

MOST POPULAR • 1 4 Anak RI Meninggal Diduga Hepatitis Misterius, Ini Status Vaksin COVID-nya • 2 Anak di Jatim Meninggal Diduga karena Hepatitis Misterius, Ini Gejala Awalnya • 3 Caisar Diduga Nyabu Saat Live TikTok, Begini Ciri-ciri Pemakai Sabu • 4 Ciri-ciri Hepatitis Akut pada Anak, Orangtua Wajib Tahu! • 5 Hepatitis Misterius Menyerang Anak Usia Berapa Sih? Dokter Ungkap Faktanya • 6 Pemerintah Pastikan Biaya Perawatan Pasien Hepatitis Ditanggung BPJS Kesehatan • 7 Kemenkes Buka Suara Kasus Anak Jatim Meninggal Diduga Hepatitis Misterius • 8 Eks Bos WHO Bicara soal Potensi Hepatitis 'Misterius' Jadi Pandemi • 9 Nasib PPKM RI Diumumkan Hari Ini, Begini Riwayat COVID-19 Sepekan Terakhir • 10 Hasil Kolonoskopi Diungkap, Begini Kondisi Raja Salman Usai Masuk RS • SELENGKAPNYAPada awal bulan Ramadan, kamu biasanya masih bersemangat untuk menghadirkan variasi menu buka puasa untuk keluarga.

Namun, menjelang minggu kedua dan ketiga, biasanya kamu sudah mulai bingung ingin berbuka puasa dengan menu apa karena mulai bosan dan kehabisan ide. Nah, untuk menginspirasi kamu dalam mencari ide berbuka puasa yang menarik, berikut ini ada beberapa rekomendasikan resep menu buka puasa yang sederhana dan praktis untuk dicoba.

Resep Menu Buka Puasa yang Sederhana dan Sehat Bulan Ramadan tidak menjadi alasan untuk melupakan pola hidup sehat. Saat berbuka puasa, kamu dianjurkan untuk menyantap hidangan yang manis terlebih dahulu agar tubuh mendapatkan kalori cukup dan gula darah kembali naik.

Berbuka dengan yang manis adalah itu, baru kamu bisa menyantap hidangan lain yang lebih bervariasi. Menu yang beragam menjadi solusi tepat agar kamu tidak mudah bosan dengan makanan untuk berbuka.

berbuka dengan yang manis adalah

Berikut adalah rekomendasi resep menu buka puasa yang sederhana dan mudah disajikan. 1. Jus Buah Seruan “berbukalah dengan yang manis” memang ada benarnya jika dikaitkan dengan kondisi fisik ketika berpuasa. Rasa manis akan memberikan asupan kalori yang mencukupi saat berbuka puasa. Agar pola hidup sehat selama Ramadan tetap berjalan dengan baik, pilihlah menu berbuka dengan rasa manis yang menyehatkan. Kamu bisa membuat jus dari beraneka macam buah tanpa tambahan gula.

Supaya tidak bosan, kamu juga bisa mengombinasikan dua sampai tiga macam buah sekaligus saat mengonsumsinya saat berbuka. 2. Aneka Omelet Telur menjadi makanan yang lezat untuk dinikmati saat berbuka puasa. Alih-alih membuatnya sebagai telur dadar saja, cobalah olahan telur lainnya berupa omelet. Menariknya, omelet ini bisa disajikan sebagai menu ringan atau lauk dengan nasi saat buka puasa. Keunggulan lainnya dari omelet ini adalah kamu bisa mengganti isiannya agar tidak mudah bosan.

Kamu bisa mengisinya dengan aneka sayuran, jamur, daging cincang, sosis, daging asap, sampai tambahan beberapa potongan keju.

Cara membuatnya pun sangat praktis dan cepat. Kamu hanya membutuhkan wajan antilengket berukuran besar, spatula, dan minyak goreng. Sisanya tinggal bergantung pada kreativitas kamu dalam mengolah omeletnya. Berani bereksplorasi dengan menu omelet? 3. Roti Panggang Santapan yang biasanya jadi sajian sarapan ini juga cocok untuk dijadikan menu berbuka. Selain praktis, kamu bisa mengatur isiannya agar sesuai dengan nilai gizi yang diinginkan.

Kamu tentu tidak mau pola hidup sehat selama Ramadan jadi terganggu. Dengan roti panggang ini, kamu bisa membuat hidangan yang manis ataupun savory. Kalau sedang ingin menikmati rasa manis, kamu bisa tambahkan meses cokelat, selai buah, atau hanya menambahkan gula dan mentega saja. Jika ingin merasakan yang gurih, kamu bisa membuat grilled cheese dengan tambahan daging asap dan irisan jamur di dalamnya.

Semuanya bisa jadi pilihanmu jika ingin menikmati resep menu buka puasa yang sederhana selama Ramadan. 4. Aneka Salad Menu berbuka biasanya identik dengan yang sajian gorengan.

Nah, untuk menyeimbangkannya kamu bisa memasukkan aneka salad di dalam menu berbuka puasa. Cobalah buat bermacam-macam menu tersebut, mulai dari salad sayur, salad buah atau bahkan kombinasi dari keduanya.

Aneka sayuran dan buah tentu bisa mendukung pola hidup sehatmu selama Ramadan. Salad tentunya akan lebih nikmat dengan paduan dressing favorit. Kamu bisa memilih saus wijen, thousand island, mayo, madu dan yang lainnya untuk paduan dressing-nya. 5. Gado-gado Campur Jika salad adalah menu internasional, gado-gado menjadi sajian lokal berisi aneka sayuran yang sederhana dan praktis untuk dibuat.

Perpaduan antara sayuran segar pilihan dan bumbu kacang yang gurih dan pedas pastinya bisa membuat lidah tak berhenti bergoyang saat berbuka puasa.

Uniknya, tak ada standar yang resmi soal sayur seperti apa yang harus ada di dalam gado-gado. Kamu bisa memasukkan segala macam jenis sayur favorit berbuka dengan yang manis adalah dalam menu ini. Sebagai tambahan lauk, kamu bisa menambahkan telur rebus dan tempe goreng untuk melengkapinya.

Nah bagaimana dengan resep menu buka puasa sederhana dan praktis yang ada di atas? Tertarik mencobanya? Bicara soal hal yang praktis namun berdaya maksimal, mau tak mau langsung teringat dengan paket bundling dari smartfren.

Bayangkan saja, kamu bisa menikmati device bundling dengan bonus kuota yang melimpah. Penasaran? Yuk, jangan lewatkan penawaran menarik dari smartfren.
Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin.

Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi. DONASI SEKARANG Daftar Pembahasan: • 1 Berbukalah dengan yang Manis • 2 Anjuran Berbuka dengan yang Manis?

• 3 Kesimpulan Berbukalah dengan yang Manis Sebenarnya ungkapan “Berbukalah dengan yang Manis” bukanlah hadis nabi. Namun karena ungkapan ini sudah cukup familiar dan sering digunakan terlebih saat bulan Ramadan oleh mereka yang mempromosikan brand minumannya, seolah-olah ini dianggap sebagai hadis nabi.

Mengenai sejak kapan ungkapan ini muncul dan kemudian dikenal luas oleh masyarakat, penulis juga tidak tahu secara pasti. Namun ungkapan ini ini oleh sebagian dianggap sebagai salah satu mafhum daripada kesunahan berbuka dengan kurma. Sebagian memahami kesunahan berbuka dengan kurma berbuka dengan yang manis adalah karena illat (alasan) rasa manisnya.

Maka ketika tidak ada kurma, menurut pendapat ini boleh diganti dengan apa pun yang rasanya manis, seperti buah rambutan, buah manggis maupun minuman segar dan manis lainnya. Anjuran Berbuka dengan yang Manis? Sebagaimana kita tahu, kesunahan berbuka puasa adalah dengan mengkonsumsi kurma.

Sebagaimana sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ Adalah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berbuka puasa dengan ruthab sebelum shalat (Maghrib). Jika tidak ada ruthab (kurma muda) maka dengan tamr (kurma matang), jika tidak ada tamr maka beliau meneguk beberapa teguk air (HR.

Abu Daud) Secara dzahirnya Hadits, bisa dipahami bahwa ketika tidak didapati kurma, maka sunnah berbuka dengan minum air. Akan tetapi dari sinilah kemudian para ulama berbeda pendapat tentang anjuran “berbukalah dengan yang manis”.

berbuka dengan yang manis adalah

Baca Juga: Bagaimana Pandangan Ulama Tentang Membaca Al-Qur'an Menggunakan Speaker? Ini Jawabannya Sebagaimana dikutip oleh Abu Bakar Al-Hishni dalam kitab kifayatul Akhyar, Imam Ar-Rauyani mengatakan bahwa jika tidak didapati kurma, maka boleh berbuka dengan yang manis. Karena sesuatu yang manis bila dikonsumsi akan membantu pemulihan kebugaran tubuh dengan segera. وَيسْتَحب أَن يفْطر على تمر وَإِلَّا فعلى مَاء للْحَدِيث وَلِأَن الحلو يُقَوي وَالْمَاء يطهر وَقَالَ الرَّوْيَانِيّ إِن لم يجد التَّمْر فعلى حُلْو لِأَن الصَّوْم ينقص الْبَصَر وَالتَّمْر يردهُ فالحلو فِي مَعْنَاهُ “dianjurkan berbuka dengan kurma atau jika tidak ada maka dengan air, berdasarkan hadits ini.

karena yang manis-manis itu menguatkan tubuh dan air itu membersihkan tubuh. Ar Rauyani berkata: ‘kalau tidak ada kurma maka dengan yang manis-manis. karena puasa itu melemahkan pandangan dan kurma itu menguatkannya, dan yang manis-manis itu semakna dengan kurma’” (Kifayatul Akhyar halaman 200) Akan tetapi pendapat Imam Berbuka dengan yang manis adalah ini kemudian mendapat kritik dari beberapa ulama, termasuk dari internal madzhab Syafi’i sendiri.

berbuka dengan yang manis adalah

Ibnu Hajar Al-Haitami, Sayyid Bakri Syatha hingga Imam Nawawi merupakan ulama-ulama yang tidak sependapat dengan Imam Ar-Rauyani. فإن عجز” عن الثلاث “فبتمرة” أو رطبة يحصل له أصل السنة “فإن عجز” عن الرطب والتمر “فالماء” هو الذي يسن الفطر عليه دون غيره خلافًا للروياني حيث قدم عليه الحلو وذلك للخبر الصحيح المذكور Jika tidak ada tiga tamr atau ruthab, maka dengan satu tamr atau ruthab.

Maka dengan ini tercapai pokok sunnah. Jika tidak ada ruthab dan tamr, maka dengan air. Inilah yang disunnahkan dalam berbuka, bukan yang lainnya. Tidak sebagaimana pendapat Ar Rauyani yaitu ia mendahulukan makanan manis. Pendapat ini (didahulukannya kurma dan air) berdasarkan hadits shahih yang telah disebutkan” (Al Minhaj Al-Qawiim, Juz 1 halaman 252) Baca Juga: Hukum Menyentuh Benda yang Bertuliskan Al Quran dalam Keadaan Berhadats Di dalam Fathul Mu’in, Syaikh Zainuddin Al-Malibari jug menjelaskan sebagai berikut: قال الشيخان: لا شيء أفضل بعد التمر غير الماء فقول الروياني: الحلو أفضل من الماء ضعيف “Syaikhan (An Nawawi dan Ar Rafi’i) mengatakan: ‘tidak ada yang lebih afdhal dari kurma selain air minum’.

Maka pendapat Ar Rauyani bahwa makanan manis itu lebih afdhal dari air adalah pendapat yang lemah” (Fathul Mu’in Juz I halaman 274) Dalam kitab Hasyiata Qalyubi wa ‘Umairah pada Juz 2 halaman 78 juga disebutkan: قَوْلُهُ: (عَلَى تَمْرٍ) وَالْأَفْضَلُ كَوْنُهُ وَتْرًا وَكَوْنُهُ بِثَلَاثٍ فَأَكْثَرَ وَيُقَدِّمُ عَلَيْهِ الرُّطَبَ وَالْبُسْرَ وَالْعَجْوَةَ وَبَعْدَهُ مَاءُ زَمْزَمَ، ثُمَّ غَيْرُهُ، ثُمَّ الْحَلْوَاءُ بِالْمَدِّ خِلَافًا لِلرُّويَانِيِّ.

وَيُقَدِّمُ اللَّبَنَ عَلَى الْعَسَلِ لِأَنَّهُ أَفْضَلُ مِنْهُ “Perkataan Imam As-Suyuthi: ‘dengan kurma’, menunjukkan bahwa yang afdhal berbuka dengan tamr yang jumlahnya ganjil, tiga atau lebih, dan yang lebih utama berbuka dengan yang manis adalah adalah ruthab dan busr dan ajwah. Dan tingkatan setelah tamr adalah air zam-zam, baru yang lainnya, baru kemudian makanan manis sebagai tambahan.

Tidak sebagaimana pendapatnya Ar Ruyani. Dan juga susu diutamakan dari pada madu karena susu lebih utama dari madu”. Kesimpulan Kesimpulan yang bisa ditarik dari tulisan mengenai anjuran berbukalah dengan yang manis ini ini setidaknya bisa saya rumuskan dalam 3 hal berikut: • Berbuka dengan yang manis adalah “Berbukalah dengan yang manis” bukan lah sabda Nabi.

Maka tidak boleh dihubung-hubungkan dengan beliau. Karena jika bukan sabda Nabi tetapi kita anggap merupakan sabdanya, ini adalah bentuk kebohongan atas nama beliau yang dapat mengantarkan pelakunya masuk neraka. Baca Juga: Polemik Fatwa Hukum BPJS dalam Islam dan Solusi Jalan Tengah Bagi Masyarakat إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ “Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku.

Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Berbuka dengan yang manis adalah • Walaupun ungkapan berbukalah dengan yang manis disepakati oleh ulama sebagai bukan sabda Nabi akan tetapi tentang berbuka dengan yang manis jika tidak didapati kurma, masih menjadi ranah perbedaan pendapat diantara ulama.

• Pendapat yang kuat yang diambil oleh mayoritas ulama Syafi’iyah adalah jika memang tidak didapati kurma, maka pilihan yang kedua adalah berbuka dengan air. Pendapat ini disandarkan sebagaimana makna dzhirnya hadis yang telah disebutkan di atas.

Namun menurut pendapat Imam Ar-Rauyanibjika tidak didapati kurma maka anjuran yang kedua adalah berbuka dengan yang manis. Beliau memahami karena disunnahkannya berbuka dengan kurma adalah karena rasa manisnya yang memang bisa membuat badan kembali cepat agar.

Demikianlah pembahasan tentang ungkapan berbukalah dengan yang manis, baik tentang penjelasan apakah ungkapan ini hadits atau bukan, juga tentang perbedaan pendapat antara ulama mengenai anjuran berbuka dengan yang manis.

Wallahu a’lam bisshawab!
Yahoo is part of the Yahoo family of brands. By clicking " Accept all" you agree that Yahoo and our partners will store and/or access information on your device through the use of cookies and similar technologies and process your personal data, to display personalised ads and content, for ad and content measurement, audience insights and product development.

Your personal data that may be used • Information about your device and Internet connection, including your IP address • Browsing and search activity while using Yahoo websites and apps • Precise location You can select ' Manage settings' for more information and to manage your choices. You can change your choices at any time by visiting Your Privacy Controls.

Find out more about how we use your information in our Privacy Policy and Cookie Policy. Click here to find out more about our partners.

Gula Darah Naik Karena Minum Teh Manis Saat Berbuka & Sahur




2022 www.videocon.com