Dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di

dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di

Ragam Suku Bangsa Indonesia – Indonesia terdiri dari sekitar 1.340 suku bangsa yang tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Menurut data BPS sendiri separuh atau 50% dari suku bangsa di tanah air adalah suku Jawa. Sisanya suku-suku yang mendiami wilayah Indonesia di luar Jawa seperti suku Makasar Bugis (3,68%), Batak 2.04%, Bali 1,88%, Aceh 1,4%, dan suku lainnya. Setiap suku memiliki adat dan norma yang berbeda-berbeda. Meski demikian keberagaman tersebut tidak membuat bangsa terpecah-pecah, sebaliknya keberagaman kemudian menyatu untuk mencapai tujuan masyarakat yang adil dan makmur.

Simak penjelasan lebih lengkapnya mengenai suku bangsa di Indonesia berikut ini: Daftar Isi • Pengertian Suku Bangsa • Suku-Suku di Indonesia • 1. Suku Jawa • Anda Mungkin Juga Menyukai • 2. Suku Sunda • 3. Suku Batak • 4. Suku Betawi • 5. Suku Dayak • 6. Suku Asmat • 7. Suku Bugis • 8.

Suku Madura • 9. Suku Minang • 10. Suku Baduy • 11. Suku Bali • 12. Suku Ambon • 13. Suku Gayo • 14. Suku Tengger • 15. Suku Sasak • 16. Suku Sumbawa • 17. Suku Flores • 18. Suku Toraja • 19. Suku Osing • 20. Suku Mandar • Daftar Suku-suku lainnya di Indonesia Pengertian Suku Bangsa Suku bangsa merupakan golongan manusia yang mengidentifikasi dirinya dengan sesama berdasarkan garis keturunan merujuk pada ciri khas seperti Budaya, bangsa, dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di, agama dan perilaku.

Suku bangsa juga merupakan golongan sosial yang dibedakan dari golongan-golongan sosial lain, karena memiliki ciri-ciri yang paling mendasar dan umum berkaitan dengan asal usul, tempat asal, serta kebudayaannya.

Dalam definisi lain, Suku bangsa juga merupakan suku sosial yang khusus dan bersifat askriptif atau telah ada sejak lahir, serta memiliki corak yang sama seperti golongan umur serta jenis kelamin. Suku bangsa sendiri dapat dikelompokkan berdasarkan: • Suku bangsa campuran, dimana di dalamnya terjadi percampuran antar ras yang mendiami satu Kawasan atau wilayah tertentu.

Contohnya pada suku Peranakan yang merupakan percampuran antar ras Tionghoa dan Melayu • Garis keturunan, sebagai faktor utama bagi suku bangsa. Terdapat tiga garis keturunan di Indonesia, yaitu Garis keturunan ayah (patrilineal), biasanya pada suku Batak, Ambon, Timor dan yang lainnya, Garis keturunan ibu (matrilineal), biasanya terjadi dalam suku Minangkabau di Sumatra Selatan dan Garis keturunan ayah dan ibu atau parental yang banyak dijalankan oleh suku Jawa.

Beragam suku dan tradisi unik di Indonesia yang akan membuatmu berdecak kagum, bergidik ngeri, penasaran, dan mengaduk pikiran dapat kamu pelajari pada buku 70 Tradisi Unik Suku Bangsa di Indonesia. Suku Jawa. Sumber: Phinemo.com Suku Jawa menggunakan Bahasa Jawa dalam bertutur sehari-hari, survey menunjukan kurang lebih hanya 42% orang Jawa yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa mereka sehari-hari, sementara 28% lainnya menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia secara campur, dan selebihnya hanya menggunakan bahasa Jawa saja.

dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di

Bahasa Jawa sendiri memiliki aturan yang berbeda dalam hal kosa kata dan intonasi berdasarkan hubungan antara pembicara dan dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di bicara, yang dikenal dengan unggah-ungguh. Aspek kebahasaan ini memiliki pengaruh sosial yang kuat dalam budaya Jawa, dan membuat mereka sangat sadar terhadap status sosialnya di masyarakat. Dalam masyarakat Jawa, sistem kekerabatan didasarkan pada garis keturunan bilateral (diperhitungkan dari dua belah pihak, ibu dan ayah).

Dengan prinsip bilateral atau parental ini, seorang Jawa berhubungan sama luasnya dengan keluarga dari pihak ibu dan juga ayah. Rp 75.000 Kekerabatan yang relatif solid biasanya terjalin dalam keturunan satu nenek moyang hingga generasi ketiga. Namun demikian, kualitas hubungan keluarga inti (nuclear family) dan keluarga luas (extended family) berbeda-beda antara satu lingkaran keluarga dengan yang lainnya, bergantung pada kondisi masing-masing keluarga.

2. Suku Sunda Suku Sunda. Sumber: indepedhedia.com Suku Sunda dikenal dengan Tatar Pasundan meliputi wilayah bagian barat pulau Jawa dimana sebagian besar wilayahnya masuk ke dalam provinsi Jawa Barat dan Banten. Berasal dari akar kata sunda atau suddha dalam bahasa Sanskerta yang berarti bersinar, terang dan putih.

Suku Sunda sendiri berjumlah 5,5 persen dari total penduduk Indonesia secara keseluruhan. Meskipun tersebar di berbagai wilayah Indonesia, namun sebagian besar masyarakat Sunda menempati wilayah Banten, Jakarta, dan Jawa.

Mayoritas suku ini beragama Islam namun ada juga sebagian kecil yang beragama Kristen, Hindu bahkan Sunda Wiwitan. 3. Suku Batak Suku Batak. Sumber: en.wikipedia.org Suku di Indonesia ini berasal dari Sumatera Utara dan juga cenderung tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

Terdiri dari 3,58 dari total penduduk Indonesia secara keseluruhan. Suku Batak terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Pakpak, dan Batak Karo. Suku Batak merupakan satu diantara suku di Indonesia yang mempertahankan kebudayaannya.

Mereka memegang teguh tradisi dan adat. Hingga saat ini adat dan budaya tetap dilaksanakan dalam kehidupan sosial orang Batak dan aktivitas sehari-harinya. Beberapa adat dan budaya Batak yang berlaku adalah: • Partuturan: Dalam kehidupan orang Batak sehari-hari kekerabatan (partuturan) adalah kunci dari falsafah hidupnya, yaitu dengan menanyakan marga dari setiap orang Batak yang ditemuinya.

Hal ini dapat digambarkan dengan ukiran 2 ekor cicak yang saling berhadapan yang menempel di kiri-kanan Ruma Batak. Kekerabatan ini pula yang menjadi semacam tonggak agung untuk mempersatukan hubungan darah dan menentukan sikap terhadap orang lain dengan baik. • Mangokal Holi: Prosesi upacara yang dilaksanakan untuk mengumpulkan tulang belulang dari jasad orang tua yang dimasukkan ke peti yang baru untuk dipindahkan pada suatu tempat yang telah disediakan oleh pihak keluarga.

Tradisi ini merupakan warisan turun-temurun yang bertujuan memberikan penghormatan kepada roh orang tua yang telah tiada. Pemindahan lokasi tulang belulang di maksud ke tempat yang baru adalah untuk mendapatkan tempat yang lebih baik dari tempat sebelumnya. Suku Betawi. Sumber: rimbakita.com Suku Betawi sebagai suku yang masyarakatnya merupakan keturunan dari penduduk yang bermukim di Batavia sejak abad ke-17 dan merupakan hasil perkawinan darah campuran dari aneka suku bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia.

Suku Betawi juga turut disebut sebagai penghuni asli wilayah Jakarta. Meski demikian masyarakat Betawi tersebar di daerah lainnya, seperti Bogor dan sekitarnya. Bahasa Betawi merupakan bahasa kreol yang didasarkan pada bahasa Melayu Pasar ditambah dengan unsur-unsur bahasa Sunda, bahasa Bali, bahasa dari Cina Selatan (terutama bahasa Hokkian), bahasa Arab, serta bahasa dari Eropa, terutama bahasa Belanda dan bahasa Portugis.

Karena berkembang secara alami, tidak ada struktur baku yang jelas dari bahasa ini yang dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di dari bahasa Melayu, meskipun ada beberapa unsur linguistik pembeda misalnya dari peluruhan awalan me- penggunaan akhiran -in (pengaruh bahasa Bali), serta peralihan bunyi /a/ terbuka di akhir kata menjadi /e/ atau /ɛ/ pada beberapa dialek lokal.

Betawi sendiri juga terkenal dengan keberagaman kulinernya yang berkaitan dengan budaya dan tradisi makan di dalamnya yang bisa kamu temukan pada buku Kuliner Betawi Selaksa Rasa & Cerita yang juga membahas mengenai urutan dari sejumlah peristiwa, upacara, dan hajatan. 5. Suku Dayak Borneo terbagi berdasarkan wilayah Administratif yang masing-masing terdiri dari Kalimantan Timur ibukotanya Samarinda, Kalimantan Selatan ibukotanya Banjarmasin, Kalimantan Tengah ibukotanya Palangka Raya, Kalimantan Barat ibukotanya Pontianak, dan Kalimantan Utara Ibukotanya Tanjung Selor.

Suku Dayak terbagi dalam 405 sub-sub suku. Masing-masing sub suku Dayak mempunyai adat istiadat dan budaya yang mirip, sesuai dengan sosial kemasyarakatannya, baik Dayak di Indonesia maupun Dayak di Sabah dan Sarawak Malaysia sebagai negara serumpun. Tanah Air-Tradisi Dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di dan Bersyukur Suku Dayak Agama asli suku Dayak Kaharingan merupakan agama asli yang lahir dari budaya nenek moyang. Sebagian masyarakat Dayak masih memegang teguh kepercayaan akan adanya benda-benda gaib pada tempat-tempat tertentu seperti batu-batuan, pohon-pohonan besar, taman-taman di hutan, danau, lubuk, dan lainnya yang menurut kepercayaannya memiliki “kekuatan gaib” dari Jubata dan Batara.

Saat ini, terhitung jumlah masyarakat Dayak ialah sekitar 1,27 persen dari total penduduk Indonesia secara keseluruhan. 6. Suku Asmat Suku Asmat. Sumber: beritapapua.id Dikenal sebagai suku titisan Dewa, Suku asal Papua ini meyakini, bahwasanya mereka berasal dari keturunan Dewa Fumeripits. Suku Asmat juga merupakan salah satu suku dari Provinsi Papua yang mendunia karena budayanya yang begitu menghormati alam serta kehidupan para leluhurnya, maka kearifan yang dimiliki oleh suku Asmat juga sangat luar biasa.

Etnis satu ini terbagi menjadi dua, yakni suku yang tinggal di pesisir pantai serta suku yang tinggal di bagian pedalaman. Kedua populasi berbeda dalam banyak aspek seperti dari cara hidup, dialek, ritual, bahkan struktur sosial. Pembagian bahasa Asmat hilir sungai terbagi menjadi bagian kelompok pantai barat laut dan bagian kelompok pantai barat daya. Sementara pembagian bahasa Asmat hulu terbagi menjadi kelompok Keenok serta Kaimok.

7. Suku Bugis Suku Bugis. Sumber: jurnalmetropol.com Suku Bugis merupakan salah satu suku di Indonesia yang berasal dari Provinsi Sulawesi Selatan namun saat ini juga telah menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia, seperti Papua, Jakarta, Kalimantan, hingga Riau. Suku ini tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu (Melayu muda).

Disamping itu, masyarakat Bugis juga bisa ditemukan di Malaysia dan Singapura. Dalam situs Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Kabupaten Wajo, Kata Bugis berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan Ugi merujuk pada raja pertama kerajaan China yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo, yaitu La Sattumpugi. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau pengikut La Sattumpugi. Ciri utama dari kelompok etnis ini adalah bahasa dan adat-istiadatnya.

Sehingga, pendatang dari Melayu dan Minangkabau yang merantau ke Sulawesi sejak abad ke 15 juga bisa dikategorikan sebagai masyarakat Bugis. 8. Suku Madura Suku Madura. Sumber: phinemo.com Suku Madura merupakan etnis dengan populasi yang cukup besar di Indonesia, jumlahnya sekitar 20 juta jiwa.

Mereka berasal dari pulau Madura dan pulau-pulau sekitarnya, seperti Gili Raja, Sapudi, Raas, dan Kangean.

dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di

Selain itu, orang Madura banyak tinggal di bagian timur Jawa biasanya disebut wilayah “tapal kuda”, dari Pasuruan sampai Utara Banyuwangi. Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan serta sifatnya yang mudah tersinggung, tetapi mereka juga dikenal disiplin, dan rajin bekerja. Selain itu orang Madura juga dikenal mempunyai tradisi Islam yang kuat, sekalipun kadang melakukan ritual pethik laut atau rokat tasse.

Dalam masyarakat Madura, ikatan kekerabatan terbentuk melalui garis keturunan, baik dari keluarga berdasarkan garis ayah maupun garis ibu ( paternal and maternal relatives). Pada umumnya, ikatan kekerabatan antar sesama anggota keluarga lebih erat dari garis keturunan ayah sehingga cenderung “mendominasi”. Ikatan kekerabatan orang Madura sendiri mencakup sampai empat generasi ke atas ( ascending generations) dan ke bawah ( descending generations) dari ego.

9.

dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di

Suku Minang Suku Minang. Sumber: pdangkita.com Suku di Indonesia selanjutnya adalah suku Minang yang merupakan salah satu etnis terbesar di Indonesia dengan jumlah kurang lebih 2,73 persen dari total masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Berasal dari Sumatera Barat, orang Minang juga kerap disamakan dengan orang Padang, karena Padang merupakan ibukota dari Provinsi Sumatera Barat. Meski begitu, masyarakat Minang justru menyebut kelompok etnis mereka dengan sebutan urang awak, yang merujuk pada orang Minang itu sendiri.

Pada kebudayaan Minang, suku bisa diartikan sebagai klan atau juga sebagai marga atau nama keluarga yang turun atau diambil dari garis keturunan Ibu yang disebut Matrilineal. Rumah Gadang adalah rumah adat suku Minangkabau yang juga memiliki sebutan lain, rumah Gadang, rumah Bagonjong, dan rumah Baanjuang. Rumah adat ini merupakan rumah model panggung yang berukuran besar dengan bentuk persegi panjang. Adat dalam suku Minang, salah satunya adalah Adat nan sabana Adat yang merupakan ketentuan hukum, sifat yang terdapat pada alam benda, flora dan fauna, maupun manusia sebagai ciptaan-Nya (Sunnatullah).

Adat nan sabana Adat ini adalah sebagai Sumber hukum Adat Dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di dalam menata masyarakat dalam segala hal. 10. Suku Baduy Suku Baduy. Sumber: travel.kompas.com Suku Baduy adalah sebuah suku yang hidup di pedalaman Banten, hidup secara terisolasi dari dunia luar khususnya masyarakat Baduy Dalam yang hidup secara sederhana dan menyatu dengan alam.

Suku Baduy memang terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Dua kelompok ini memiliki perbedaan terutama dalam hal berpakaian. Baduy Dalam merupakan kelompok dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di Baduy yang sangat teguh memegang adat istiadat leluhur. Mereka sangat menolak teknologi dan modernisasi, sehingga kehidupannya masih tradisional. Masyarakat Baduy Dalam umumnya memakai pakaian berwarna putih yang ditenun sendiri. Warna putih melambangkan kesucian.

Sementara Suku Baduy Luar lebih terbuka dengan pendatang, meskipun masih menjunjung tinggi adat istiadat yang ada. Masyarakat Baduy Luar beberapa sudah menggunakan barang-barang modern seperti kasur, bantal, dan beberapa alat elektronik. Pakaian tenun berwarna serba hitam menjadi penanda masyarakat Baduy Luar. Letak suku Baduy sendiri ada di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes. Orang Kanekes atau yang biasa dikenal sebagai masyarakat Baduy merupakan kelompok etnis yang berasal dari wilayah Banten, lebih tepatnya di Lebak.

Suku Baduy juga masih memiliki hubungan dengan orang Sunda. Tidak heran jika fisik mereka mirip orang Sunda kebanyakan dan bahasa sehari-hari mereka adalah Bahasa Sunda. 11. Suku Bali Suku Bali. Sumber: rimbakita.com Dalam bahasa Bali, Suku Bali disebut sebagai Wong Bali, Anak Bali, atau Krama Bali. Suku ini adalah kelompok etnis mayoritas di Pulau Bali. Jumlah populasi Suku Bali yang tinggal di Pulau Bali sekitar 3,3 juta jiwa.

Sementara ada sekitar 600.000 jiwa yang tersebar di beberapa wilayah di tanah air. Beberapa wilayah tersebut adalah Nusa Tenggara Barat. Lampung, Bengkulu, Sulawesi Tengah, dan beberapa wilayah lainnya. Suku Bali menggunakan Bahasa Bali untuk beraktivitas sehari-hari. Sistem kehidupan sosial masyarakatnya sendiri dinamakan Wangsa. Wangsa merupakan sistem kekeluargaan yang diatur melalui garis keturunan.

Saat ini sistem Wangsa sudah tidak dijalankan dengan sangat ketat seperti di masa lalu. Namun dalam beberapa hal, sistem Wangsa tetap dipertahankan. Misalnya dalam upacara adat yang sudah menjadi tradisi ataupun dalam pernikahan yang masih membedakan jalur keturunan leluhur seseorang.

12. Suku Ambon Suku Ambon. Sumber: inphedia.com Suku terbesar di Maluku ini adalah campuran antara suku Austronesia-Papua yang berasal dari Kepulauan Ambon-Laese dari sisi barat Pulau seram. Bahasa yang digunakan oleh suku Ambon ini adalah perpaduan antara pribumi dengan Bahasa Melayu Ambon atau Nasalaut.

dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di

Sebanyak 100.000 orang menggunakan Bahasa ini dan terpecah ke dalam beberapa dialek yaitu Nasalaut, Saparua, Haruku, Hatu, Asilulu, Hila, Wakasihu, dan lain-lain.

Mata pencaharian utama suku Ambon adalah dengan bercocok tanam di lading, tanaman yang biasanya ditanam adalah padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang-kacangan, kopi, kelapa, sayur-sayuran, tembakau, cengkeh, buah-buahan, dan sagu. Sagu adalah tumbuhan yang paling penting bagi masyarakat suku Ambon karena akan diolah menjadi makanan pokoknya yaitu papeda, makanan yang berasal dari sagu ini biasanya disajikan dengan ikan kuah kuning. Mengnai hubungan kekerabatan, mereka melewati garis keturunan pihak ayah (patrilineal) dengan pola menetap sesudah kawin ialah di lingkungan pihak ayah (patrilocal).

Sedangkan kesatuan kekerabatan yang terpenting ialah suatu kesatuan family atau disebut matarumah (keluarga batih). 13. Suku Gayo Suku Gayo. Sumber: tribunnews.com Menghampiri provinsi Aceh bagian tengah, ada suku yang mendiami Dataran Tinggi Gayo yaitu suku Gayo. Namun selain berasal dari daerah ini, beberapa masyarakat suku Gyao juga tinggal di beberapa wilayah Aceh Timur seperti kecamatan Serba Jadi, Simpang Jernih dan Peunaron.

Suku Gayo masuk ke dalam golongan ras Proto Melayu yang berasal dari India. Ada 3 kelompok dalam masyarakat suku Gayo, pertama masyarakat yang mendiami daerah Bener Meriah dan Aceh Tengah disebut Gayo Laut. Kedua, masyarakat yang mendiami daerah Aceh Tenggara dan GAyo Lues disebut Gayo Lues, dan ketiga masyarakat yang mendiami kecamatan Aceh Tamiang disebut Gayo Blang. Jika berbicara mengenai suku Gayo, ada sesuatu yang menjadi ciri khasnya yaitu kopi Gayo. Siapa yang tidak kenal dengan kopi Gayo, kopi jenis Arabika yang terkenal memiliki cita rasa yang sangat kuat ini banyak digemari para pecinta kopi.

Di Gayo, ada dua perkebunan kopi yang menghasilkan kualitas kopi terbaik yaitu Bener Meriah, Aceh Tengah dan Takengon. 14. Suku Tengger Suku Tengger. Sumber: madiunpos.com Suku Tengger adalah suku yang mendiami wilayah Gunung Bromo, Malang.

Sesuai dengan wilayahnya, masyarakat suku Tengger meyakini bahwa Gunung Bromo atau Gunung Brahma merupakan gunung yang suci. Ada salah satu adat suku Tengger yang dilakukan di kaki Gunung Bromo yaitu upacara Yadnya Kasada atau Kasodo.

Upacara Yadnya Kasada adalah sebuah upacara ritual yang diselenggerakan oleh masyarakat suku Tengger sebagai bentuk rasa syukur juga harapan agar terhindar dari malapetaka. Proses upacara ini dilakukan dengan menyediakan hasil bumi dan melarungkannya dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di dalam kawah Gunung Bromo. Masyarakat suku yang keturunan kerajaan Majapahit ini umumnya beragama hindu dan masih memegang teguh adat istiadatnya.

dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di

Meskipun berada di Kawasan wisata dan banyak wisatawan yang berkunjung tetapi akulturasi budaya tetap jarang terjadi. Maka dari itu adat serta budaya suku Tengger masih sangat lestari hingga saat ini. 15. Suku Sasak Suku Sasak.

Sumber: en.wiktionary.prg Salah satu suku di Indonesia yang masih memegang teguh tradisinya adalah suku Sasak, yaitu suku yang terletak di Lombok.

Masyarakat suku Sasak memiliki bangunan rumah yang terbuat dari tanah liat yang dicampur dengan kotoran kerbau. Kata Sasak secara etilomogi berasal dari kata “sak-sak” yang memiliki arti satu atau utama, berhubungan dengan kitab yang ditulis oleh Mpu Prapanca yaitu kitab Nagarakertagama.

Maka dari itu masyarakat beranggapan bahwa leluhur suku Sasak adalah orang-orang Dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di. Ada tradisi unik di dalam suku Sasak, yaitu kawin lari. Dalam masyarakat awam mungkin ini dianggap tabu, dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di sebenarnya ini adalah tradisi unik dari suku Sasak. Jika sepasang kekasih hendak menikah, maka calon mempelai pria akan membawa calon mempelai wanita selama 3 hari ke tempat tertentu tanpa sepengetahuan dari orang tuanya.

Setelah itu orang tua calon mempelai wanita akan “menebus” anaknya dan melanjutkan pembicaraan mengenai pernikahannya. 16. Suku Sumbawa Suku Sumbawa. Sumber: gotripina.com Suku Sumbawa berasal di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Dilihat dari letak geografisnya, Sumbawa berada di daerah yang memiliki hasil hutan yang baik karena berada di perbukitan. Beberapa diantaranya seperti jati, rotan, kayu sepang, menjangan, dan madu. Masyarakat suku Sumbawa mendami daerah kabutapen Sumbawa dan Sumbawa Barat.

Mayoritas agama dari masyarakat Sumbawa adalah Islam, sehingga banyak aktivitas-aktivitas yang dilakukan berhubungan dengan keagamaan. Namun meskipun demikian, masyarakat suku Sumbawa umumnya masih percaya dengan tahayul. Seperti tahayul tentang lingkungan sekitar, tahayul tentang alam gaib, tahayul mengenai alam semesta, dan lain-lain. 17. Suku Flores Suku Flores. Sumber: satujam.com Suku Flores merupakan percampuran antara etnis Portugis, Melanesia, dan Melayu.

Jika diingat, dahulu Flores merupakan koloni bangsa Portugis, maka dari itu kebudayaan bangsa Portugis masih sangat terasa di wilayah ini. Nama Flores sendiri juga diambil dari Bahasa Portugis yang berarti “tanjung bunga”. Umumnya masyarakat suku Flores sudah menganut kepercayaan agama seperti Islam, Kristen dan lainnya. Namun masih banyak juga masyarakat yang memiliki kepercayaan untuk pemujaan kepada leluhur. Salah satunya seperti pemujaan khusus kepada arwah-arwah dan para leluhur dengan mendirikan dan memelihara sebuah bangunan.

18. Suku Toraja Suku Toraja. Sumber: idntimes.com Suku Toraja, berasal dari Sulawesi Selatan dan mendominasi populasi di kota Makasar. Salah satu budaya yang terkenal dari suku Toraja adalah upacara kematian, di dalam masyarakat Toraja upacara kematian hanya untuk seseorang yang memiliki uang. Maka bagi keluarga yang tidak memiliki uang akan menunggu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk mengumpulkan uang dan membuat upacara kematian.

19. Suku Osing Suku Osing. Sumber: dolanyok.com Jawa Osing atau Wong Blambangan, begitulah biasanya suku yang merupakan penduduk asli Banyuwangi ini diucapkan. Suku yang berasal dari Jawa Timur ini menggunakan Bahasa sehari-hari yang disebut sebagai Bahasa Osing yang merupakan turunan dari Bahasa Jawa Kuno dan sedikit pengaruh dari Bahasa Bali, serta biasanya memiliki logat dan gaya Bahasa yang tidak sulit untuk membedakannya dengan Bahasa Jawa pada umumnya.

Berdasarkan sejarah pada umumnya daerah Jawa Timur merupakan salah satu daerah yang dahulu didominasi oleh kepercayaan Hindu-Buddha dari Kerajaan-Kerajaan yang pernah menguasai daerah tersebut, yang kemudian juga menjadi kepercayaan dari Suku Osing itu sendiri.

Akan tetapi seiring dengan berkembangnya Islam di Jawa juga berdampak pada kepercayaan dari Suku Osing yang kemudian mulai menganutnya.

Suku Osing memiliki beragam kesenian serta adat istiadat yang menjadi ciri khas, seperti Tradisi Tumpeng Sewu (makan besar pada bulan Haji), Tari Barong atau Barong Ider Bumi yang diselenggarakan setiap tanggal dua pada bulan Syawal, Tradisi Angklung Paglak juga menjadi ciri khas yang dilakukan sebagai hiburan serta untuk membantu petani dalam memanen, serta ada juga Tari Gandrung yang menjadi tarian khas Banyuwangi hingga kini.

Pada acara-acara adat, suku Osing biasa menggunakan baju adat yang disebut dengan Pakaian Jebeng Thulik yang merupakan kebaya lengan panjang dengan bordir yang terkesan elegan dan sederhana dengan ditambah sanggul khas Banyuwangi. 20. Suku Mandar Suku Mandar. Sumber: id.wikipedia.org Tanah Mandar atau suku Mandar merupakan suku yang ada di daerah Sulawesi Barat serta sebagaian Sulawesi Selatan dan Tengah. Istilah Mandar merupakan ikatan persatuan antara tujuh kerajaan di pesisir (Pitu Babana Binanga) serta tujuh kerajaan di gunung (Pitutu Ulunna Salu), semua bangs aini dipersatukan melalui perjanjian yang dilakukan oleh para leluhurnya di Allewuang Batu di Luyo.

Suku mandar dikenal sebagai suku yang memiliki kehebatan sebagai pelaut, bukan karena keunggulan teknologi, melainkan karena alat perikanan lokal yang mereka kembangkan yaitu rumpon dan perahu Sandeq yang dengan ciri khas bercadik tradisional dan sangat cepat.

Suku Mandar memiliki beberapa kesenian dan tradisi unik yang menjadi ciri khas dari daerah mereka, seperti Kalindaqdaq yang merupakan penyampaian perumpamaan ketika ingin menyampaikan keinginan kepada seseorang, dapat berupa rayuan, puisi atau sebuah motivasi kepada dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di lain. Kemudian ada Sayyang Pattu’du yang diartikan sebagai kuda menari yang merupakan tradisi syukuran terhadap anak-anak yang berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an 30 Juz dalam bentuk arakan keliling kampung menggunakan kuda yang menari diiringi dengan lantunan irama.

Suku Mandar juga memiliki kesenian yang disebut Parrawana atau Rebana yang dilakukan setiap ada acara pesta perkawinan atau bahkan pada acara Sayyang Pattu’du dimana sang kuda akan menari dengan diiringi oleh irama Rebana. Dengan beragamnya suku bangsa di Indonesia yang memiliki tradisi dan kebudayaannya masing-masing, buku Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia hadir untuk meringkas berbagai hal penting yang harus kamu ketahui tentang keberagaman suku bangsa di Indonesia. Daftar Suku-suku lainnya di Indonesia • Suku Kubu – Sumatra (Jambi) • Suku Sakai – Sumatra • Suku Alas – Sumatra • Suku Devayan – Sumatra • Suku Haloban – Sumatra • Suku Kluet – Sumatra • Suku Lekon – Sumatra dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di Suku Pakpak – Sumatra • Suku Sigulai – Sumatra • Suku Singkil – Sumatra • Suku Tamiang – Sumatra • Suku Aneuk Jamee – Sumatra (Aceh) • Suku Nias – Sumatra • Suku Mentawai – Sumatra • Suku Laut – Sumatra • Suku Belitung – Sumatra • Suku Bangka – Sumatra • Suku Anak Dalam – Sumatra • Suku Kayu Agung – Sumatra • Suku Palembang – Sumatra • Suku Banjar – Kalimantan • Suku Kutai – Kalimantan • Suku Berau – Kalimantan • Suku Paser – Kalimantan • Suku Bali – Bali • Suku Loloan – Bali • Suku Bima – Nusa Tenggara Barat • Suku Sumbawa – Nusa Tenggara Barat • Suku Boti – Nusa Tenggara Timur • Suku Bunak – Nusa Tenggara Timur • Suku Manggarai – Nusa Tenggara Timur • Suku Sika – Nusa Tenggara Timur • Suku Sumba – Nusa Tenggara Timur • Suku Rote – Nusa Tenggara Timur • Suku Ngada – Nusa Tenggara Timur • Suku Ende – Nusa Tenggara Timur • Suku Gorontalo – Sulawesi Utara • Suku Kaidipang – Sulawesi Utara • Suku Minahasa – Sulawesi Utara • Suku Mongondow – Sulawesi Utara • Suku Sangir – Sulawesi Utara • Suku Bungku – Sulawesi Tengah • Suku Balesang – Sulawesi Tengah • Suku Balantak – Sulawesi Tengah • Suku Wakatobi – Sulawesi Tenggara • Suku Fordata – Maluku • Suku Mamale – Maluku • Suku Nuaulu – Maluku • Suku Morotai – Maluku • Suku Halmahera – Maluku • Suku Wemale – Maluku • Suku Wai Apu – Maluku • Suku Ternate – Maluku • Suku Tidore – Maluku • Suku Seram – Maluku • Suku Sawai – Maluku • Suku Aero – Papua Demikian sebagian besar dari suku-suku yang ada di Indonesia, meski tentu masih dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di lagi suku lain yang belum kita eksplorasi secara lebih dalam.

Semoga informasi ini bermanfaat! Baca juga artikel terkait “Suku Bangsa di Indonesia” : • Dimensi Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka • Sejarah Pancasila • Memaknai Pancasila Sebagai Sumber Nilai • Arti dan Makna Pancasila Sebagai Ideologi Negara • Pengertian Demokrasi Pancasila • Sejarah Lambang Garuda Pancasila • Pengertian Wawasan Nusantara • Makna Pancasila Sebagai Sumber dari Segala Sumber Hukum • Makna Sumpah Pemuda • Pengamalan Nilai Pancasila Sumber: dari berbagai sumber Kategori • Administrasi 5 • Agama Islam 126 • Akuntansi 37 • Bahasa Indonesia 95 • Bahasa Inggris 59 • Bahasa Jawa 1 • Biografi 31 • Biologi 101 • Blog 23 • Business 20 • CPNS 8 • Desain 14 • Design / Branding 2 • Ekonomi 152 • Environment 10 • Event 15 • Feature 12 • Fisika 30 • Food 3 • Geografi 62 • Hubungan Internasional 9 • Hukum 20 • IPA 82 • Kesehatan 18 • Kesenian 10 • Kewirausahaan 9 • Kimia 19 • Komunikasi 5 • Kuliah 21 • Lifestyle 9 • Manajemen 29 • Marketing 17 • Matematika 20 • Music 9 • Opini 3 • Pendidikan 35 • Pendidikan Jasmani 32 • Penelitian 5 • Pkn 69 • Politik Ekonomi 15 • Profesi 12 • Psikologi 31 • Sains dan Teknologi 30 • Sastra 32 • SBMPTN 1 • Sejarah 84 • Sosial Budaya 98 • Sosiologi 53 • Statistik 6 • Technology 26 • Teori 6 • Tips dan Trik 57 • Tokoh 59 • Uncategorized 31 • UTBK 1 Suku Dayak merupakan nama yang oleh penjajah diberi kepada penghuni yang tinggal di pedalaman Pulau Borneo dan mendiami Pulau Kalimantan.

Terdapat 5 sampai 7 suku asli di Kalimantan yaitu Melayu, Dayak, Kutai, Banjar,Berau, Paser dan Tidung. Menurut sensus Badan Pusat Statistik Republik Indonesia pada tahun 2010, suku bangsa yang terdapat di Kalimantan dikelompokan menjadi tiga yaitu suku Banjar, suku Dayak Indonesia (268 suku bangsa) dan suku Kalimantan lainnya (non Dayak dan non Banjar). Budaya masyarakat Dayak merupakan Budaya maritim atau bahari.

Hampir semua nama sebutan orang Dayak memiliki arti sebagai sesuatu yang berhubungan dengan “perhuluan” atau sungai, terutama untuk nama-nama rumpun dan nama kekeluargaannya. Ada juga yang membagi orang Dayak dalam enam rumpun, yaitu rumpun Klemantan alias Kalimantan, Kenyah dan Bahau, rumpun Iban, rumpun Apokayan yaitu Dayak Kayan, rumpun Murut, rumpun Ot Danum-Ngaju dan rumpun Punan.

Tetapi secara ilmiah, para linguis melihat 5 kelompok bahasa yang ada di pulau Kalimantan dan masing-masing diantaranya memiliki kerabat di luar pulau Kalimantan: Kelompok Bahasa Yang Ada Di Pulau Kalimantan. Barito Raya, mempunyai 33 bahasa, termasuk 11 bahasa yang berasal dari kelompok bahasa Madagaskar, dan Sama-Bajau masih tergolong satu suku dengan nama sukunya sendiri yaitu Suku Paser.

Dayak Darat, mempunyai 13 bahasa, termasuk ke dalam bahasa Rejang di daerah Bengkulu. Borneo Utara, mempunyai 99 bahasa, termasuk bahasa Yakan di Filipina dan juga satu suku dengan nama sukunya sendiri yaitu Suku Tidung. Melayik, terdapat Dayak Meratus atau Bukit (alias Banjar arkhais), Dayak Keninjal, Dayak Iban (dan Saq Senganan), Dayak Bamayoh (Malayic Dayak), Dayak Kendayan (Kanayatn).

Beberapa suku asal Kalimantan yang beradat Melayu yang berkaitan dengan rumpun ini sebagai suku-suku yang berdiri sendiri yaitu Suku Banjar, Suku Sambas, Suku Berau, Suku Kutai, dan Suku Kedayan. Sulawesi Selatan, terdapat 3 suku Dayak di pedalaman Kalimantan Barat yaitu, Dayak Kalis, Dayak Embaloh, Dayak Taman yang disebut juga rumpun Dayak Banuaka.

Istilah “Dayak” pada umumnya digunakan untuk menyebut orang-orang asli non-Muslim, non-Melayu yang tinggal di pulau tersebut. Ini berlaku juga di Malaysia, karena di Indonesia terdapat suku-suku Dayak yang Muslim namun tetap termasuk ke dalam kategori Dayak meskipun beberapa di antaranya disebut Suku Banjar dan Suku Kutai.

Ada beragam penjelasan tentang etimologi dalam istilah ini. Menurut Lindblad, kata Dayak berasal dari kata daya mengambil dari bahasa Kenyah, yang artinya hulu sungai atau pedalaman.

Baca juga Teori Konspirasi Paling 'Hallu' Tentang Virus Corona! King, lebih jauh menduga-duga bahwa Dayak mungkin berasal dari kata ‘aja’, sebuah kata yang mengambil dari bahasa Melayu yang berarti asli atau pribumi.

Dia juga yakin bahwa kata tersebut mungkin berasal dari sebuah istilah dalam bahasa Jawa Tengah yang berarti perilaku yang tidak sesuai atau yang tidak pada tempatnya. Istilah untuk suku penduduk asli yang ada di dekat Sambas dan Pontianak adalah Daya, sedangkan penduduk di Banjarmasin disebut Biaju. Jadi semula istilah orang Daya (orang darat) ditujukan kepada penduduk asli Kalimantan Barat yaitu rumpun Bidayuh yang selanjutnya diberi nama Dayak Darat yang dibedakan dengan Dayak Laut (rumpun Iban).

Di Banjarmasin, istilah Dayak mulai digunakan pada perjanjian Sultan Banjar dengan Hindia Belanda ditahun 1826, untuk menggantikan istilah Biaju Besar (daerah sungai Kahayan) dan Biaju Kecil (daerah sungai Kapuas Murung) yang diganti menjadi Dayak Besar dan Dayak Kecil, setelah itu oleh pihak kolonial Belanda kedua daerah ini kemudian secara administratif disebut Tanah Dayak.

Sejak saat itulah istilah Dayak juga ditujukan kepada rumpun Ngaju-Ot Danum atau rumpun Barito. Dan istilah “Dayak” dipakai meluas dan secara kolektif merujuk kepada suku-suku penduduk asli setempat yang memiliki bahasa berbeda-beda, khususnya non-Muslim atau non-Melayu. Pada akhir abad ke-19 (pasca Perdamaian Tumbang Anoi) istilah Dayak ini dipakai dalam konteks kependudukan penguasa kolonial dan mengambil alih kedaulatan suku-suku yang berada di daerah-daerah pedalaman Kalimantan.

Istilah ‘Dayak’. Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai kebudayaan Kalimantan Timur, Dr. August Kaderland, seorang ilmuwan Belanda, adalah orang yang pertama kali menggunakan istilah Dayak, pada tahun 1895.

Arti dari kata ‘Dayak’ tersebut masih bisa diperdebatkan. Commans (1987), menulis bahwa menurut sebagian pengarang, ‘Dayak’ artinya adalah manusia, sementara pengarang lainnya menyatakan bahwa kata tersebut berarti pedalaman. Commans juga mengatakan bahwa arti yang sangat tepat adalah orang yang tinggal di hulu sungai.

Dengan nama yang sama, Lahajir et al. melaporkan bahwa orang-orang Iban juga menggunakan istilah Dayak sebagai arti dari manusia, sementara orang-orang Tunjung dan Benuaq mengartikannya kata tersebut sebagai hulu sungai. Mereka menyatakan juga bahwa sebagian orang mengklaim istilah Dayak menunjuk pada karakteristik personal tertentu yang diakui oleh orang-orang di Kalimantan, yaitu kuat, gagah, berani dan ulet.

Baca juga Daftar Mata Uang Paling Tinggi di Dunia Lahajir et al, mencatat juga bahwa setidaknya terdapat empat istilah untuk penduduk asli Kalimantan dalam literatur, yaitu Daya, Dyak, Daya, dan Dayak. Penduduk asli tersebut pada umumnya tidak mengenal istilah-istilah ini, akan tetapi orang-orang di luar lingkungan merekalah yang menyebut mereka sebagai ‘Dayak’.

Bahasa Austronesia. Secara umum kebanyakan penduduk di kepulauan Nusantara adalah penutur bahasa Austronesia. Saat ini teori yang lebih dominan adalah yang dikemukakan oleh linguis seperti Peter Bellwood dan Blust, yaitu tempat asal bahasa Austronesia adalah Taiwan. Sekitar 4 000 tahun lalu, sekelompok orang Austronesia datang bermigrasi ke Filipina. Kira-kira 500 tahun kemudian, barulah ada kelompok yang mulai bermigrasi ke selatan menuju kepulauan Indonesia sekarang, dan ke bagian timur menuju Pasifik.

Namun orang Austronesia ini bukan sebagai penghuni pertama pulau Borneo. Sungai-Sungai Di Kalimantan. Antara 60.000 dan 70.000 tahun lalu, waktu permukaan laut 120 atau 150 meter lebih rendah dari sekarang dan kepulauan Indonesia masih berupa daratan (para geolog menyebut daratan ini “Sunda”). Manusia juga sempat bermigrasi dari benua Asia menuju ke selatan, dan sempat juga mencapai benua Australia yang pada saat itu tidak terlalu jauh dari daratan Asia. Dari pegunungan itulah kemudian timbul sungai-sungai besar seluruh Kalimantan.

Diperkirakan, dalam rentang waktu yang cukup lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir lalu kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. Tetek Tahtum menceritakan migrasi suku Dayak Ngaju dari daerah perhuluan sungai-sungai menuju ke daerah hilir sungai-sungai. Di daerah selatan Kalimantan Suku Dayak juga pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak di daerah dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di sering dijuluki Nansarunai Usak Jawa, yakni kerajaan Nansarunai dari Dayak Maanyan yang telah dihancurkan oleh Majapahit.

Hal tersebut diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389. Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak Maanyan terdesak hingga terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman ke wilayah suku Dayak Lawangan.

Masuknya Islam. Arus besar berikutnya terjadi saat pengaruh Islam yang berasal dari kerajaan Demak dengan masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1520). Sebagian besar suku Dayak di wilayah selatan dan timur kalimantan yang memeluk Islam akhirnya keluar dari suku Dayak. Mereka memutuskan untuk tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai orang Banjar dan Suku Kutai. Sementara orang Dayak yang menolak agama Islam, kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman.

Mereka bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Batang Labuan Amas, Batang Amandit dan Batang Balangan. Sebagian lagi terus terdesak masuk ke rimba. Baca juga Ciri Kepribadian Introvert, Apakah Kamu Salah Satunya? Orang Dayak yang memeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin. Seorang pemimpin Banjar Hindu yang terkenal adalah Lambung Mangkurat, menurut orang Dayak ia merupakan seorang Dayak Ma’anyan atau Ot Danum.

Di Kalimantan Timur, orang Suku Tonyoy-Benuaq yang memeluk Agama Islam menamai dirinya sebagai Suku Kutai. Tidak hanya dari Nusantara, bangsa-bangsa lain juga banyak berdatangan ke Kalimantan. Kedatangan Bangsa Tionghoa Di Kalimantan. Misalnya saja bangsa Tionghoa tercatat datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming.

Hal ini juga tercatat dalam buku 323 Sejarah Dinasti Ming (1368-1643). Dari manuskrip berhuruf hanzi disebutkan, bahwa kota yang pertama kali mereka kunjungi adalah Banjarmasin.

Disebutkan juga bahwa seorang pangeran yang berdarah Biaju menjadi pengganti dari Sultan Hidayatullah I. Kunjungan tersebut terjadi pada masa Sultan Hidayatullah I dan penggantinya yaitu Sultan Mustain Billah. Pedagang Tionghoa mulai menetap di kota Banjarmasin di suatu tempat dekat pantai pada tahun 1736. Tujuan Dagang Bangsa Tionghoa. Kedatangan bangsa Tionghoa di selatan Kalimantan tidak menyebabkan perpindahan penduduk Dayak, dan tidak mempunyai pengaruh langsung.

Tujuan mereka hanya bertujuan untuk berdagang, terutama terhadap kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka juga tidak langsung berdagang dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa yang masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik.

Bukan hanya itu, sebagian dari mereka juga terdapat bangsa Eropa. Sejak awal abad V bangsa Tionghoa sampai di Kalimantan. Pada abad XV Kaisar Yongle mengirimkan sebuah angkatan perang besar ke selatan, (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Cheng Ho.

Mereka kembali ke Tiongkok pada tahun 1407. Sebelumnya dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di sempat singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang dari Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan mereka yang di antaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci.
Dalam penggunaan internasional, nama "Borneo" yang lebih banyak digunakan.

Dalam konteks Indonesia, istilah ini seringkali dipakai untuk merujuk Pulau Kalimantan secara keseluruhan, termasuk Sabah, Sarawak, dan Brunei. Sebagai perbandingan, kata "Kalimantan" (yang sebagian besarnya merupakan bekas wilayah Kerajaan Banjar) dipakai untuk merujuk ke bagian pulau yang diadministrasi oleh Indonesia. Pulau Kalimantan berada di tengah-tengah Asia Dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di karena itu pulau ini banyak mendapat pengaruh budaya dan politik dari pulau-pulau sekitarnya.

Sekitar tahun 400 pulau Kalimantan telah memasuki zaman sejarah dengan ditemukan prasasti Yupa peninggalan Kerajaan Kutai tetapi perkembangan kemajuan peradaban relatif lebih lambat dibandingkan pulau lain karena kendala geografis dan penduduk yang sedikit. Sekitar tahun 1362 Majapahit dibawah pimpinan Patih Gajah Mada melakukan perluasan kekuasaannya ke pulau Kalimantan, yaitu negeri-negeri : Kapuas-Katingan, Sampit, Kota Ungga, Kota Waringin, Sambas, Lawai, Kadandangan, Landa, Samadang, Tirem, Sedu, Barune, Kalka, Saludung (Maynila), Solot, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalong, Tanjung Kutei dan Malano tetap yang terpenting di pulau Tanjungpura.

Di zaman Hindia Belanda, Kalimantan dikenal sebagai Borneo (yang diambil dari kesultanan yang Brunei). Ini tidak berarti nama Kalimantan tidak dikenal. Dalam surat-surat Pangeran Tamjidillah dari Kerajaan Banjar pada tahun 1857 kepada pihak Residen Belanda di Banjarmasin ia menyebutkan pulau Kalimantan, tidak pulau Borneo. Ini menunjukkan bahwa di kalangan penduduk, nama Kalimantan lebih dikenal daripada nama Borneo yang dipakai dalam administrasi pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Suku Dayak merupakan salah satu suku besar di Indonesia, suku ini dikenal karena keramahan serta dedikasinya dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di melestarikan alam di pulau Kalimantan. Pada awalnya kata Dayak yang memiliki arti orang-orang yang berasal dari Hulu Sungai atau yang tinggal di bukit, hanya merupakan sebutan kolektif dari orang Inggris & Melayu bagi suku-suku asli yang mendiami pulau Kalimantan/Borneo.

Seiring berjalannya waktu istilah tersebut akhirnya dipakai sebagai identitas yang mempersatukan berbagai sub-suku yang ada di sana. Secara umum, suku Dayak dapat dikategorikan menjadi 7 rumpun suku berdasarkan asal daerahnya. Dari ketujuh daerah tersebut, terdapat 405 sub-suku dengan bahasa yang berbeda satu sama lain. Selain bahasa yang berbeda, dialek atau logat untuk satu bahasa yang sama juga bisa sangat beragam jika berbeda kampung. Suku Dayak yang ada di Kalimantan berdasakan kemiripan budaya serta asal daerahnya.

Ciri khas dari Dayak Ngaju adalah agama kaharingan yang masih dianut oleh sebagian suku Ngaju, serta upacara Tiwah, atau upacara mengantarkan roh leluhur. Untuk pakaian adat, Dayak Ngaju biasanya menggunakan warna merah sebagai warna dominan, kain atau rompi dari kulit kayu, serta menggunakan bulu burung enggang dan ruai sebagai hiasan kepala. Pada beberapa tarian adat, kaum wanita Ngaju biasanya juga membawakan tarian dengan menggunakan mandau/parang (contoh : Dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di Hetawang Hakangkalu), hal ini berbeda dari wanita sub-suku Dayak lainnya.

Selain itu, alat musik tradisional Dayak Ngaju biasanya di dominasi oleh Kecapi Karungut, Rebab, Gandang Tatau, Gong, dan suling. Dayak Apo Kayan merupakan suku Dayak yang berasal dari Hulu sungai Kayan dan dataran tinggi Usun Apau, Baram, Sarawak. Saat ini Dayak Apo Kayan menyebar di daerah Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat bagian utara, dan Sarawak, Malaysia.

Sub-suku yang termasuk dalam rumpun Apo Kayan adalah Kayan, Kenyah, Bahau, Kelabit, dll. Di Malaysia, Dayak Apo Kayan dikenal dengan sebutan Orang Ulu. Alat musik yang paling terkenal dari rumput Dayak Apo Kayan adalah Kecapi tradisional atau Sape' (Bahasa Kayan) atau Sampe' (Bahasa Kenyah), kecapi ini berbeda dari karungut, berfungsi sebagai alat musik melodis dan ukurannya lebih besar.

Selain itu ada juga Gong, Sluding/klentangan, Kadire/keledik (alat musik tiup), dan Antoneng. Dayak Iban, disebut juga Dayak Laut, merupakan rumpun dayak yang berada di daerah utara pulau Kalimantan. Dayak Iban menyebar di daerah Kalimantan Barat bagian utara, Sabah, Brunei, dan Sebagian besar ada di Sarawak.

Dari segi bahasa Dayak Iban memiliki kemiripan dengan bahasa Melayu. Adapun sub-suku dari Dayak Iban adalah Mualang, Seberuang, Melanau, dll.

dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di

Dayak iban memiliki ciri khas yaitu menjamu tamu dengan tuak (rice wine) serta tato di sekujur tubuh. Tato ini melambangkan pengalaman hidup seseorang, semakin banyak tato di tubuh berarti orang tersebut sudah memiliki banyak pengalaman dan sudah berkelana diberbagai tempat. Motif tato yang sering digunakan adalah motif bunga terong yang berada di atas dada bagian kiri dan kanan. Yang membedakan Dayak Iban dari sub-suku Dayak lain adalah pakaian tradisional wanita Iban memiliki hiasan kepala dari logam, selain itu Dayak Iban memiliki kain tenun dengan motif yang sangat khas, ditambah dengan hiasan bulu burung enggang dan ruai di bagian kepala.

Untuk musik tradisional biasanya didominasi oleh Gendang, kollatung, dan Gong. Dayak Klemantan atau disebut juga Dayak Darat mendiami daerah barat pulau Kalimantan. Rumput dayak ini tersebar di hulu-hulu sungai yang ada di Kalimantan Barat dan Sarawak, Malaysia. Dayak Darat di Malaysia dikenal dengan nama orang Bidayuh.

Sub-suku dari Dayak Darat adalah Kanayatn, Bidayuh, Ketungau, dll. Pakaian tradisional Dayak Darat biasanya didominasi oleh warna merah, kuning, hitam dan putih, dengan hiasan manik-manik. Selain itu terdapat juga rompi dari kulit kayu yang diberi motif tertentu. Untuk hiasan kepala, rumpun Dayak Darat biasanya menggunakan ikat kepala berwarna merah dengan hiasan bulu burung ruai, enggang, atau daun Rinyuakng.

dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di

Untuk alat musik tradisional biasanya didominasi oleh Suling, Gong, Gendang, dan Kollatung. Dayak Murut memiliki tarian yang terkenal yaitu tarian Mangunatip. Perkataan Magunatip diambil daripada perkataan "atip" yang bermaksud menekan antara dua permukaan. Penari magunatip memerlukan kemahiran dan ketangkasan yang baik untuk menari melintasi buluh yang dipukul serentak untuk menghasilkan bunyi dan irama tarian tersebut.

Pakaian tradisional Dayak Murut untuk pria secara umum terbuat dari kulit kayu atau kain tenun, dengan ikat kepala serta hiasan bulu burung ruai. Untuk wanita, baju tradisional dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di di dominasi warna hitam dengan hiasan motif berbagai warna. Untuk alat musik, biasanya didominasi oleh Suling, Gong, Kollatung, dan Kadire/keledik (alat musik tiup). Masyarakat Dayak Punan dikenal dari pola hidup yang nomaden atau berpindah-pindah, hal ini berbeda dengan kebanyakan suku Dayak lain yang memiliki rumah panjang sebagai tempat tinggal.

Saat ini kebanyakan dari sub-suku Dayak Punan telah menetap dan membuat komunitas di suatu desa yang tersebar di berbagai daerah. Rumpun Ot Danum atau Rumpun Barito adalah salah satu rumpun Dayak yang meliputi seluruh suku Dayak di Kalimantan Tengah,Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur bagian selatan dan Kalimantan Barat bagian tenggara.

Ada yang berpendapat bahwa kelompok Dayak Rumpun Ot Danum merupakan induk bagi Rumpun Dayak Ngaju, namun terkadang kedua rumpun dipisahkan. Sub-suku dari Dayak Ot Danum adalah Ma'anyan, Tunjung, Benuaq, Lebang, Undan, dll.

Ciri khas dari Dayak Ot Danum adalah pada beberapa upacara penting, seperti upacara kematian, Dayak Ot Danum menggunakan kerbau sebagai binatang yang dikurbankan selain babi. Di dalam upacara tradisional tersebut, para dukun biasanya menggunakan kalung dengan berbagai ornamen kayu, manik, tulang, dsb.

Penulis pernah tinggal di pulau Kalimantan di wilayah pedalaman Kalimantan Tengah, lebih tepatnya "di tengah-tengah Kalimantan Tengah" . disini sedikit banyak mengetahui tradisi dan kebiasaan orang asli suku Dayak melalui interaksi sehari-hari, memang tradisi suku dayak dilingkungan penulis tinggal saat itu sudah mulai terjadi perpindahan generasi.

Banyak cerita langsung dari warga mengenai kisah kisah tentang " Panglima Burung/ boron"; dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di Mandau terbang" "Minyak Bintang", sampai kepada kisah perang Dayak - Madura"; bahkan melihat langsung kuburan masal warga Madura di wilayah Parenggean.

Kekayaan alam pulau Kalimantan tidak perlu diragukan, saking banyaknya kita tidak akan mungkin bisa mendatanya (maklum auditor). tidak lupa sungai mistisnya " Sungai Mentaya, Sungai Kapuas sampai kepada Danau mistis Danau Sentarum" . Sedangkan Ras Deutro Melayu yang terdiri dari Suku Bugis Madura Jawa dan Bali.

Selain itu di Tana Toraja Sulawesi Selatan terdapat kampung yang mengagumkan bernama Lolai. 6 Suku Di Indonesia Yang Dikenal Penghasil Wanita Wanita Cantik Dan Setelah berakhirnya masa dynasti Yuan yg digulingkan oleh dinasti Ming 1368-1644 Yg dipimpin oleh. Ras yang terdapat di suku batak toraja dan dayak adalah. 2 Ras Deutro Melayu Melayu Muda antara lain Suku Bugis Madura Jawa Bali. Selain itu letak daerahnya juga tidak berdekatan bahkan bisa dibilang amat berjauhan.

Kata Dayak sendiri sebenarnya diberikan oleh orang Melayu yang datang ke kalimantan. Suku Dayak adalah suku pribumi kalimantan yang hidup dalam kelompok yang hidup di pedalaman di gunung dan sebagainya. Suku bangsa Indonesia yang termasuk dalam ras ini yaitu Suku Toraja di Sulawesi Selatan Suku Batak di Sumatera Utara Suku Nias di Kepulauan Nias. Rumah adat suku Batak Toba Rumah adat suku Toraja Batak Toba dan Toraja adalah dua nama suku yang berbeda.

1 Ras Proto Melayu Melayu Tua antara lain Suku Batak Suku Toraja Suku Dayak. Dalam hal ini suku mentawai merupakan penghuni asli kepulauan Mentawai sehagaimana suku Nias dan suku Enggano mereka ialah pendukung budaya Proto-Melayu yang menetap di kepulauan Nusantara sebelah barat. Kampung Lolai menjadi salah satu pemandangan alam terindah di Indonesia. Anggapan bahwa suku Toba adalah induk dari seluruh suku Batak sering tidak dapat diterima suku lain. Ras Melayu Mongoloid memiliki ciri-ciri ayitu kulit sawo matang muka bulat rambut ikal atau lurus hidung sedang atau lebar badan tinggi ramping membawa kebudayaan zaman batu muda serta memiliki paham animisme dan dinamisme.

Salah satu suku bangsa di Indonesia yang unik adalah suku Toraja yang merupakan suku bangsa dari wilayah pegunungan utara provinsi Sulawesi Selatan. Nama Toraja berasal dari kata To Riaja yang bermakna. Bangsa Mongol di Yunnan adalah keturunan dari Dinasti Yuan dan sempat terjadi pembauran penduduk didaerah itu antara bangsa Han chinese suku tionghoa asli yg skrg menjadi suku mayoritas penduduk china saat ini dgn mongolia pada masa Kekaisaran Mongol saat itu.

Sejarah Suku Mentawai. Namun selain suku dayak Kalimantan Barat dikenal dengan beragam jenis suku bangsa lainnya. SILAT ORANG DAYAK Terimakasih sudah mampir silahkan SUBCRIBE dan tunggu video selanjutnya dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di dayak ngaju apo ka. Ras Melayu Mongoloid Ras ini terbagi menjadi dua yaitu Ras Proto Melayu dan Ras Deutro Melayu. Rumah Balai Batak Toba Rumah Adat Batak Toba Rumah Balai Batak Toba atau Rumah Bolon adalah rumah adat.

Sedangkan Ras Deutro Melayu yang terdiri dari Suku Bugis Madura Jawa dan Bali. Suku Dayak juga dikenal sebagai suku dengan warisan magis.

Ras Proto Melayu terdiri dari Suku Batak Toraja dan Dayak. Kelompok ras Melayu Mongoloid yang dibedakan menjadi 2 dua golongan.

dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di

Ras Proto Melayu terdiri dari Suku Batak Toraja dan Dayak. Dengan demikian empat jenis ras yang ada di Indonesia adalah ras Weddoid Papua Melanezoid Negroid dan Melayu Mongoloid. Dalam sejarah Batak versi Toba terdapat mitologi tentang Si Raja Batak yang menjelaskan silsilah dari setiap marga yang ada di Batak.

2 Ras Deutro Melayu Melayu Muda antara lain Suku Bugis Madura Jawa Bali. Suku Dayak merupakan satu di antara suku yang berasal dari pulau di Kalimantan. Namun ada yang menarik dari kedua suku ini. 1 Ras Proto Melayu Melayu Tua antara lain Suku Batak Suku Toraja Suku Dayak. Pembahasan terverifikasi oleh Roboguru. Orang Dayak sendiri justru berkeberatan dengan nama Dayak karena hal tersebut lebih diartikan negatif.

Sementara itu untuk suku Dayak dikenal sebagai suku bangsa yang berasal dari pedalaman pulau Kalimantan secara keseluruhan. Perhatikan bentuk rumahnya maka kita akan menemukan kemiripan bentuk pada atapnya Kedua atap rumah adat tersebut menyerupai bentuk perahu. Kelompok ras Melayu Mongoloid yang dibedakan menjadi 2 dua golongan. Ternyata dalam setiap suku terdapat hikayat dan silsilah yang berbeda-beda.

Adanya perbedaan versi ini tentunya. Suku Batak Suku Toraja Suku Dayak Termasuk Ras Brainly Co Id Pahami Bacaan Di Bawah Ini Ras Ras Di Indonesiasuku Bangsa Yang Ada Di Indonesia Berasal Dari Brainly Co Id Ras Yang Terdapat Di Suku Batak Suku Toraja Dan Suku Dayak Adalah Brainly Co Id Ras Yang Terdapat Di Suku Batak Suku Toraja Dan Roboguru Kebudayaan Prasejarah Di Indonesia Prasejarah Nirleka Nir Tidak Suku Batak Suku Toraja Dan Suku Dayak Termasuk Kedalam Ras Brainly Co Id Apa Saja Fakta Tentang Suku Batak Yang Tidak Diketahui Oleh Banyak Orang Quora Beragam Suku Suku Bangsa Di Indonesia Jawa Sunda Dayak Melayu Madura Asmat Dani Banjar Dll Pindonesia Negara Ilustrasi Karakter Gambar Tarian Kartun Mengapa Budaya Batak Dan Toraja Hampir Sama Kategori wallpaper Tag dayak, terdapat, toraja, yang Navigasi Tulisan
• العربية • Azərbaycanca • Bikol Central • Català • Čeština • Deutsch • English • Esperanto • Español • Euskara • Suomi • Français • हिन्दी • Ilokano • Italiano • 日本語 • Jawa • ქართული • 한국어 • Lietuvių • Malagasy • Minangkabau • Bahasa Melayu • မြန်မာဘာသာ • Nederlands • Polski • Português • Русский • Simple English • Српски / srpski • Svenska • தமிழ் • ไทย • Türkçe • Українська • Oʻzbekcha/ўзбекча • Tiếng Việt • 中文 • Bân-lâm-gú Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan.

Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus. Cari sumber: "Suku Dayak" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR ( Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) Suku Dayak Penggambaran pria suku Dayak di Tering, Kalimantan Timur pada ca.

1879-1880 oleh Carl Bock ketika melakukan ekspedisi dari Kutai ke Banjarmasin Jumlah populasi setidaknya 6 juta jiwa Daerah dengan populasi signifikan Indonesia (Sensus 2010) 3.100.000 [1] • Kalimantan Tengah 1.000.000 • Kalimantan Barat 1.260.000 • Kalimantan Selatan 60.000 • Kalimantan Timur 360.000 • Dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di Utara 400.000 [2] Malaysia (Sabah & Sarawak) 2.900.000 [3] Brunei Darussalam 51.000 Bahasa Dayak, Indonesia dan Melayu.

Agama Mayoritas: • 62,7% Kristen ( Katolik & Protestan) Minoritas: • 31,6% Islam • 4,7% Hindu • 1% Buddha Etnis terkait Kutai, Tidung, Banjar, Melayu, Bajau, Rejang Suku Dayak [4] [5] [6] [7] [8] [9] [10] ( / ˈ d aɪ. ə k/ ( simak); ejaan lama: Dajak atau Dyak) [11] [12] [13] [14] adalah suku bangsa atau kelompok etnik yang mendiami pedalaman pulau Kalimantan.

Kata "daya" serumpun dengan misalnya kata "raya" dalam nama "Toraya" yang berarti "orang (di) atas, orang hulu". Berdasarkan bukti-bukti arkeologis yang ditemukan di Gua Niah ( Sarawak) dan Gua Babi ( Kalimantan Selatan), penghuni pertama Kalimantan memiliki ciri-ciri Austro-Melanesia, dengan proporsi tulang kerangka yang lebih besar dibandingkan dengan penghuni Kalimantan masa kini yang mendiami Pulau Kalimantan ( Brunei, Malaysia yang terdiri dari Sabah dan Sarawak, serta Indonesia yang terdiri dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan).

Ada 3 suku dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di atau 5 suku asli Kalimantan yaitu Melayu, Dayak, Banjar, Kutai, dan Tidung [15] Menurut sensus Badan Pusat Statistik Republik Indonesia tahun 2010, suku bangsa yang terdapat di Kalimantan Indonesia dikelompokkan menjadi 3 suku pokok yaitu: suku Dayak Indonesia (268 sub etnik/sub suku di Indonesia), Suku Melayu, dan suku asal Kalimantan lainnya (non Dayak & non Melayu).

Dahulu, budaya masyarakat Dayak adalah budaya maritim atau bahari. Hampir semua nama sebutan orang Dayak mempunyai arti sebagai sesuatu yang berhubungan dengan "perhuluan" atau sungai, terutama pada nama-nama rumpun dan nama kekeluargaannya. Ada yang membagi orang Dayak dalam enam rumpun antara lain: rumpun Klemantan alias Kalimantan, rumpun Iban, rumpun Apokayan yaitu Dayak Kayan, Kenyah dan Bahau, rumpun Murut, rumpun Ot Danum-Ngaju dan rumpun Punan.

Namun secara ilmiah, para linguis melihat 5 kelompok bahasa yang dituturkan di pulau Kalimantan dan masing-masing memiliki kerabat di luar pulau Kalimantan: [16] • " Barito Raya" (33 bahasa, termasuk 11 bahasa dari kelompok bahasa Madagaskar, dan Sama-Bajau termasuk Suku Dayak Paser. [17] [18] [19] • " Dayak Darat" (13 bahasa), termasuk bahasa Rejang di Bengkulu. [20] [21] • " Borneo Utara" (99 bahasa), termasuk bahasa Yakan di Filipina serta satu suku yang berdiri dengan nama sukunya sendiri yaitu Suku Tidung.

[22] • " Sulawesi" dituturkan 3 suku Dayak di pedalaman Kalbar: Dayak Taman, Dayak Embaloh, Dayak Kalis disebut rumpun Dayak Banuaka. [23] [24] • " Dayak Melayik" dituturkan: Dayak Meratus/Bukit (alias Banjar arkhais), Dayak Iban (dan Saq Senganan]] (Malayic Dayak), Dayak Kendayan (Kanayatn). Beberapa suku asal Kalimantan beradat Melayu yang terkait dengan rumpun ini sebagai suku-suku tersendiri yang berdiri mandiri ataupun suku Melayu itu sendiri yaitu Suku Banjar, Suku Kutai, Suku Melayu Berau, Suku Melayu Sambas, dan Suku Melayu kedayan.

[25] [26] [27] Daftar isi • 1 Etimologi • 2 Asal mula • 3 Pembagian sub-sub etnis • 4 Dayak pada masa kini • 4.1 Sebaran di wilayah Indonesia • 4.2 Tradisi Penguburan • 4.2.1 Penguburan primer • 4.2.2 Penguburan sekunder • 4.2.3 Prosesi penguburan sekunder • 5 Agama • 6 Konflik • 6.1 Keterlibatan • 7 Lihat pula • 8 Galeri • 9 Referensi • 10 Bacaan lanjutan • 11 Pranala luar Etimologi Masyarakat Dayak Barito beragama Islam yang dikenali sebagai suku Bakumpai di sungai Barito tempo dulu.

Istilah "Dayak" paling umum digunakan untuk menyebut orang-orang asli non-Muslim, non-Melayu yang tinggal di pulau itu. [28] [29] Ini terutama berlaku di Malaysia, karena di Indonesia ada suku-suku Dayak yang Muslim namun tetap termasuk kategori Dayak walaupun beberapa di antaranya disebut dengan Suku Banjar dan Suku Kutai. Terdapat beragam penjelasan tentang etimologi istilah ini. Menurut Lindblad, kata Dayak berasal dari kata daya dari bahasa Kenyah, yang berarti hulu sungai atau pedalaman. King, lebih jauh menduga-duga bahwa Dayak mungkin juga berasal dari kata aja, sebuah kata dari bahasa Melayu yang berarti asli atau pribumi.

Dia juga yakin bahwa kata itu mungkin berasal dari sebuah istilah dari bahasa Jawa Tengah yang berarti perilaku yang tak sesuai atau yang tak pada tempatnya. [30] [31] Istilah untuk suku penduduk asli dekat Sambas dan Pontianak adalah Daya (Kanayatn: orang daya= orang darat), sedangkan di Banjarmasin disebut Biaju (bi= dari; aju= hulu). [32] Jadi semula istilah orang Daya (orang darat) ditujukan untuk penduduk asli Kalimantan Barat yakni rumpun Bidayuh yang selanjutnya dinamakan Dayak Darat yang dibedakan dengan Dayak Laut (rumpun Iban).

Di Banjarmasin, istilah Dayak mulai digunakan dalam perjanjian Sultan Banjar dengan Hindia Belanda tahun 1826, untuk menggantikan istilah Biaju Besar (daerah sungai Kahayan) dan Biaju Kecil (daerah sungai Kapuas Murung) yang masing-masing diganti menjadi Dayak Besar dan Dayak Kecil, selanjutnya oleh pihak kolonial Belanda hanya kedua daerah inilah yang kemudian secara administratif disebut Tanah Dayak.

Sejak masa itulah istilah Dayak juga ditujukan untuk rumpun Ngaju-Ot Danum atau rumpun Barito. Selanjutnya istilah “Dayak” dipakai meluas yang secara kolektif merujuk kepada suku-suku penduduk asli setempat yang berbeda-beda bahasanya, [33] khususnya non-Muslim atau non-Melayu.

[34] Pada akhir abad ke-19 (pasca Perdamaian Tumbang Anoi) istilah Dayak dipakai dalam konteks kependudukan penguasa kolonial yang mengambil alih kedaulatan suku-suku yang tinggal di daerah-daerah pedalaman Kalimantan.

[35] Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Kalimantan Timur, Dr. August Kaderland, seorang ilmuwan Belanda, adalah orang yang pertama kali mempergunakan istilah Dayak dalam pengertian di atas pada tahun 1895.

Arti dari kata ‘Dayak’ itu sendiri masih bisa diperdebatkan. Commans (1987), misalnya, menulis bahwa menurut sebagian pengarang, ‘Dayak’ berarti manusia, sementara pengarang lainnya menyatakan bahwa kata itu berarti pedalaman. Commans mengatakan bahwa arti yang paling tepat adalah orang yang tinggal di hulu sungai.

[36] Dengan nama serupa, Lahajir et al. melaporkan bahwa orang-orang Iban menggunakan istilah Dayak dengan arti manusia, sementara orang-orang Tunjung dan Benuaq mengartikannya sebagai hulu sungai. Mereka juga menyatakan bahwa sebagian orang mengklaim bahwa istilah Dayak menunjuk pada karakteristik personal tertentu yang diakui oleh orang-orang Kalimantan, yaitu kuat, gagah, berani dan ulet. [37] Lahajir et al. mencatat bahwa setidaknya ada empat istilah untuk penuduk asli Kalimantan dalam literatur, yaitu Daya, Dyak, Daya, dan Dayak.

Penduduk asli itu sendiri pada umumnya tidak mengenal istilah-istilah ini, akan tetapi orang-orang di luar lingkup merekalah yang menyebut mereka sebagai ‘Dayak’. [38] Asal mula Penggambaran pria suku Dayak Long Wai/Long We dengan pakaian perang lengkap di Longwai, Kutai Barat, Kalimantan Timur pada ca. 1879-1880 oleh Carl Bock ketika melakukan ekspedisi dari Kutai ke Kota Banjarmasin. Secara umum kebanyakan penduduk kepulauan Nusantara adalah penutur bahasa Austronesia.

Saat ini teori dominan adalah yang dikemukakan linguis seperti Peter Bellwood dan Blust, yaitu bahwa tempat asal bahasa Austronesia adalah Taiwan. Sekitar 4 000 tahun lalu, sekelompok orang Austronesia mulai bermigrasi ke Filipina. Kira-kira 500 tahun kemudian, ada kelompok yang mulai bermigrasi ke selatan menuju kepulauan Indonesia sekarang, dan ke timur menuju Pasifik. Namun orang Austronesia ini bukan penghuni pertama pulau Borneo. Antara 60.000 dan 70.000 tahun lalu, waktu permukaan laut 120 atau 150 meter lebih rendah dari sekarang dan kepulauan Indonesia berupa daratan (para geolog menyebut daratan ini "Sunda"), manusia sempat bermigrasi dari benua Asia menuju ke selatan dan sempat mencapai benua Australia yang saat itu tidak terlalu jauh dari daratan Asia.

Dari pegunungan itulah berasal sungai-sungai besar seluruh Kalimantan. Diperkirakan, dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. [39] Tetek Tahtum menceritakan migrasi suku Dayak Ngaju dari daerah perhuluan sungai-sungai menuju daerah hilir sungai-sungai.

Di daerah selatan Kalimantan Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak di daerah itu sering disebut Nansarunai Usak Jawa, [40] yakni kerajaan Nansarunai dari Dayak Maanyan yang dihancurkan oleh Majapahit, yang diperkirakan dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di antara tahun 1309- 1389.

[41] Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak Maanyan terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman ke wilayah suku Dayak Lawangan. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasal dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1520).

Sebagian besar suku Dayak di wilayah selatan dan timur kalimantan yang memeluk Islam keluar dari suku Dayak dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak karena adanya pengaruh budaya, bahasa, adat bahkan DNA/genetika yang sangat kuat dari para pendatang karena adanya akumulasi.

Hal ini membuat perbauran/akulturasi suatu suku sehingga membentuk budaya baru yang kemudian menjadi suku yang mandiri/melahirkan etnis tersendiri. Walau begitu, orang Dayak yang hanya memeluk Islam tetap teguh dengan Dayaknya mereka tetap lah Dayak tetapi disebut sebagai orang Senganan/Dayak Senganan (kecuali orang-orang Dayak yang berakulturasi yang akhirnya melahirkan kebudayaan/suku baru yang bukan bagian dari Dayak lagi) tetapi biar begitu asal-usul mereka ya tetaplah Dayak.

Contoh saja suku Dayak yang memeluk Islam lalu membentuk budaya baru seperti Banjar dan Kutai, mereka lebih senang jika menyebut dirinya sebagai atau orang Banjar dan Orang Kutai. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam & tetap teguh dengan agama lama kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Batang Amandit, Batang Labuan Amas dan Batang Balangan.

Sebagian lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin, salah seorang pimpinan Banjar Hindu yang terkenal adalah Lambung Mangkurat menurut orang Dayak adalah seorang Dayak (Ma’anyan atau Ot Danum). [42] Di Kalimantan Timur, orang Suku Tonyoy-Benuaq yang memeluk Agama Islam menyebut dirinya sebagai Suku Kutai. Tidak hanya dari Nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan.

Bangsa Tionghoa tercatat mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming yang tercatat dalam buku 323 Sejarah Dinasti Ming (1368-1643). Dari manuskrip berhuruf hanzi disebutkan bahwa kota yang pertama dikunjungi adalah Banjarmasin dan disebutkan bahwa seorang pangeran yang berdarah Biaju menjadi pengganti Sultan Hidayatullah I.

Kunjungan tersebut pada masa Sultan Hidayatullah I dan penggantinya yaitu Sultan Mustain Billah. Hikayat Banjar memberitakan kunjungan tetapi tidak menetap oleh pedagang jung bangsa Tionghoa dan Eropa (disebut Walanda) di Kalimantan Selatan telah terjadi pada masa Kerajaan Banjar Hindu (abad XIV).

Pedagang Tionghoa mulai menetap di kota Banjarmasin pada suatu tempat dekat pantai pada tahun 1736. [43] Kedatangan bangsa Tionghoa di selatan Kalimantan tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di kerajaan Banjar di Banjarmasin.

Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik. Tidak hanya itu, sebagian dari mereka juga ada bangsa Eropa. Sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Kaisar Yongle mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Cheng Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok.

Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan di antaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkuk dan guci.

[44] Pembagian sub-sub etnis Persebaran suku-suku Dayak di Pulau Kalimantan. Dikarenakan arus migrasi dan pengaruh yang kuat dari para pendatang, Suku Dayak yang masih mempertahankan adat budayanya akhirnya memilih masuk ke pedalaman. Akibatnya, Suku Dayak yang berakulturasi akhirnya melahirkan kebudayaan baru dan menjadi sub-sub etnis tersendiri. Kelompok Suku Dayak, terbagi dalam sub-sub suku yang kurang lebih jumlahnya 405 sub (menurut J. U. Lontaan, 1975). Masing-masing sub suku Dayak di pulau Kalimantan mempunyai adat istiadat dan budaya yang mirip, merujuk kepada sosiologi kemasyarakatannya dan perbedaan adat istiadat, budaya, maupun bahasa yang khas.

Masa lalu masyarakat yang kini disebut suku Dayak, mendiami daerah pesisir pantai dan sungai-sungai di tiap-tiap pemukiman mereka. Etnis Dayak Kalimantan menurut seorang antropologi J.U. Lontaan, 1975 dalam Bukunya Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, terdiri dari dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di suku besar dan 405 sub suku kecil, yang menyebar di seluruh Kalimantan. [45] Dayak pada masa kini Tradisi suku Dayak Kanayatn.

Dewasa ini suku bangsa Dayak terbagi dalam enam rumpun besar, yakni: Apokayan ( Kenyah- Kayan- Bahau), Ot Danum-Ngaju, Iban, Murut, Klemantan atau Bidayuh dan Punan. Rumpun Dayak Punan merupakan suku Dayak yang paling tua mendiami pulau Kalimantan, sementara rumpun Dayak yang lain merupakan rumpun hasil asimilasi antara Dayak punan dan kelompok Proto Melayu (moyang Dayak yang berasal dari Yunnan).

Keenam rumpun itu terbagi lagi dalam kurang lebih 405 sub-etnis. Meskipun terbagi dalam ratusan sub-etnis, semua etnis Dayak memiliki kesamaan ciri-ciri budaya yang khas. Ciri-ciri tersebut menjadi faktor penentu apakah suatu subsuku di Kalimantan dapat dimasukkan ke dalam kelompok Dayak atau tidak.

Ciri-ciri tersebut adalah rumah panjang, hasil budaya material seperti tembikar, mandau, sumpit, beliong (kampak Dayak), pandangan terhadap alam, mata pencaharian (sistem perladangan), dan seni tari.

Perkampungan Dayak rumpun Ot Danum-Ngaju biasanya disebut lewu/ lebu dan pada Dayak lain sering disebut banua/ benua/binua/benuo. Di kecamatan-kecamatan di Kalimantan yang merupakan wilayah adat Dayak dipimpin seorang Kepala Adat yang memimpin satu atau dua suku Dayak yang berbeda.

Prof. Lambut dari Universitas Lambung Mangkurat, (orang Dayak Ngaju) menolak anggapan Dayak berasal dari satu suku asal, tetapi hanya sebutan kolektif dari berbagai unsur etnik, menurutnya secara " rasial", manusia Dayak dapat dikelompokkan menjadi: • Dayak Mongoloid • Malayunoid • Autrolo-Melanosoid • Dayak Heteronoid Namun di dunia ilmiah internasional, istilah seperti " ras Australoid", " ras Mongoloid dan pada umumnya "ras" tidak lagi dianggap berarti untuk membuat klasifikasi manusia karena kompleksnya faktor yang membuat adanya kelompok manusia.

Sebaran di wilayah Indonesia Orang Dayak umumnya berada di Kalimantan. Berdasarkan data dari Sensus Penduduk Indonesia 2010, jumlah penduduk Indonesia dari suku Dayak sebanyak 3.009.494 dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di, atau 1,27% dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di seluruh penduduk Indonesia, dan jumlah terbanyak berada di provinsi Kalimantan Barat.

Suku Dayak dalam Sensus Penduduk 2010, mencakup semua subsuku Dayak, dan jumlah di luar pulau Kalimantan sebanyak 2,81%. Berikut ini jumlah orang Dayak di Indonesia menurut provinsi berdasarkan Sensus 2010: [46] No Provinsi Jumlah 2010 % 1 Kalimantan Barat [47] 2.194.009 72,90% 2 Kalimantan Tengah [48] 450.682 14,98% 3 Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara [49] 212.056 7,05% 4 Kalimantan Selatan [50] 68.051 2,26% 5 Provinsi lain 84.696 2,81% Indonesia 3.009.494 100% Catatan: Data di Kalimantan Utara tidak tersedia, karena data masih bergabung dengan Kalimantan Timur.

Tradisi Penguburan Peti kubur di Kutai. Foto tersebut merupakan foto kuburan Dayak Benuaq di Kutai. Peti yang dimaksud adalah Selokng (ditempatkan di Garai). Ini merupakan penguburan primer - tempat mayat melalui Upacara/Ritual Kenyauw. Sementara di sebelahnya (terlihat sepotong) merupakan Tempelaq yang merupakan tempat tulang si meninggal melalui Upacara/Ritual Kwangkay.

Tradisi penguburan dan upacara adat kematian pada suku bangsa Dayak diatur tegas dalam hukum adat. Sistem penguburan beragam sejalan dengan sejarah panjang kedatangan manusia di Kalimantan. Dalam sejarahnya terdapat tiga budaya penguburan di Kalimantan: • penguburan tanpa wadah dan tanpa bekal, dengan posisi kerangka dilipat • penguburan di dalam peti batu (dolmen) • penguburan dengan wadah kayu, anyaman bambu, dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di anyaman tikar.

Ini merupakan sistem penguburan yang terakhir berkembang. Menurut tradisi Dayak Benuaq baik tempat maupun bentuk penguburan dibedakan: • wadah (peti) mayat--> bukan peti mati: lungun, [51] selokng dan kotak • wadah tulang-beluang: tempelaaq [52] (bertiang 2) dan kererekng (bertiang 1) serta guci berdasarkan tempat peletakan wadah (kuburan) [53] Suku Dayak Benuaq: • lubekng (tempat lungun) • garai (tempat lungun, selokng) • gur (lungun) • tempelaaq dan kererekng Pada umumnya terdapat dua tahapan penguburan: • penguburan tahap pertama (primer) • penguburan tahap kedua (sekunder) Penguburan primer • Parepm Api (Dayak Benuaq) • Kenyauw (Dayak Benuaq) Penguburan sekunder Penguburan sekunder tidak lagi dilakukan di gua.

Di hulu Sungai Bahau dan cabang-cabangnya di Kecamatan Pujungan, Malinau, Kalimantan Timur, banyak dijumpai kuburan tempayan-dolmen yang merupakan peninggalan megalitik. Perkembangan terakhir, penguburan dengan menggunakan peti mati (lungun) yang ditempatkan di atas tiang atau dalam bangunan kecil dengan posisi ke arah matahari terbit.

Masyarakat Dayak Ngaju mengenal tiga cara penguburan, yakni: • dikubur dalam tanah • diletakkan di pohon besar • dikremasi dalam upacara tiwah Prosesi penguburan sekunder • Tiwah adalah prosesi penguburan sekunder pada penganut Kaharingan, sebagai simbol pelepasan arwah menuju lewu tatau (alam kelanggengan) yang dilaksanakan setahun atau beberapa tahun setelah penguburan pertama di dalam tanah. • Ijambe adalah prosesi penguburan sekunder pada Dayak Maanyan. Belulang dibakar menjadi abu dan ditempatkan dalam satu wadah.

• Marabia • Mambatur (Dayak Maanyan) • Kwangkai [54] [55] [56] [57]/Wara (Dayak Benuaq) Agama Masyarakat rumpun Dayak Ngaju dan rumpun Dayak Ot Danum menganut agama leluhur yang diberi nama oleh Tjilik Riwut sebagai agama Kaharingan yang memiliki ciri khas adanya pembakaran tulang (Ijambe) dalam ritual penguburan sekunder.

Sedangkan agama asli rumpun Dayak Banuaka tidak mengenal adanya pembakaran tulang jenazah. Bahkan agama leluhur masyarakat Dayak Meratus di Kalimantan Selatan lebih menekankan ritual dalam kehidupan terutama upacara/ritual pertanian maupun pesta panen yang sering dinamakan sebagai agama Balian. Agama-agama asli suku-suku Dayak sekarang ini kian lama kian ditinggalkan. Sejak abad pertama Masehi, agama Hindu mulai memasuki Kalimantan dengan ditemukannya Candi Agung sebuah peninggalan agama Hindu di Amuntai, Kalimantan Selatan, selanjutnya berdirilah kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha.

Semenjak abad ke-4 masyarakat Kalimantan memasuki era sejarah yang ditandai dengan ditemukannya prasasti peninggalan dari Kerajaan Kutai yang beragama Hindu di Kalimantan Timur. [58] Penemuan arca-arca Buddha yang merupakan peninggalan Kerajaan Brunei kuno, Kerajaan Sribangun (di Kota Bangun, Kutai Kartanegara) dan Kerajaan Wijayapura.

Hal ini menunjukkan munculnya pengaruh hukum agama Hindu-Buddha dan asimilasi dengan budaya India yang menandai kemunculan masyarakat multietnis yang pertama kali di Kalimantan. Penemuan Batu Nisan Sandai menunjukan penyebaran agama Islam di Kalimantan sejak abad ke-7 mencapai puncaknya di awal abad ke-16, masyarakat kerajaan-kerajaan Hindu menjadi pemeluk-pemeluk Islam yang dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di kepunahan agama Hindu dan Buddha di Dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di.

Sejak itu mulai muncul hukum adat Banjar dan Melayu yang dipengaruhi oleh sebagian hukum agama Islam (seperti budaya makanan, budaya berpakaian, budaya bersuci), namun umumnya masyarakat Dayak di pedalaman tetap memegang teguh pada hukum adat/kepercayaan Kaharingan. Sebagian besar masyarakat Dayak yang sebelumnya beragama Kaharingan kini memilih Kekristenan, namun kurang dari 10% yang masih mempertahankan agama Kaharingan.

dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di

Agama Kaharingan sendiri telah digabungkan ke dalam kelompok agama Hindu (baca: Hindu Bali) sehingga mendapat sebutan agama Hindu Kaharingan. Namun ada pula sebagian kecil masyarakat Dayak kini mengkonversi agamanya dari agama Kaharingan menjadi agama Buddha dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di versi Tionghoa), yang pada mulanya muncul karena adanya perkawinan antarsuku dengan etnis Tionghoa yang beragama Buddha, kemudian semakin meluas disebarkan oleh para Biksu di kalangan masyarakat Dayak misalnya terdapat pada masyarakat suku Dayak Dusun Balangan yang tinggal di kecamatan Halong di Kalimantan Selatan.

Di Kalimantan Barat, agama Kristen diklaim sebagai agama orang Dayak (sehingga Dayak Muslim Kalbar terpaksa membentuk Dewan Adat Dayak Muslim tersendiri), tetapi hal ini tidak berlaku di propinsi lainnya sebab orang Dayak juga banyak yang memeluk agama Islam namun tetap menyebut dirinya sebagai suku Dayak.

Di wilayah perkampungan-perkampungan Dayak yang dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di beragama Kaharingan berlaku hukum adat Dayak. Wilayah-wilayah di pesisir Kalimantan dan pusat-pusat kerajaan Islam, masyarakatnya tunduk kepada hukum adat Banjar/Melayu seperti suku Banjar, Melayu-Senganan, Kedayan, Bakumpai, Kutai, Paser, Berau, Tidung, dan Bulungan.

Bahkan di wilayah perkampungan-perkampungan Dayak yang telah sangat lama berada dalam pengaruh agama Kristen yang kuat kemungkinan tidak berlaku hukum adat Dayak/Kaharingan. Pada masa kolonial, orang-orang bumiputera Kristen dan orang Dayak Kristen di perkotaan disamakan kedudukannya dengan orang Eropa dan tunduk kepada hukum golongan Eropa.

Belakangan penyebaran agama Kristen mampu menjangkau daerah-daerah Dayak terletak sangat jauh di pedalaman sehingga agama Kristen dianut oleh hampir semua penduduk pedalaman dan diklaim sebagai agama orang Dayak. Jika kita melihat sejarah pulau Borneo dari awal, orang-orang dari Sriwijaya, orang Melayu yang mula-mula bermigrasi ke Kalimantan. Etnis Tionghoa Hui Muslim Hanafi menetap di Sambas sejak tahun 1407, karena pada masa Dinasti Ming, bandar Sambas menjadi pelabuhan transit pada jalur perjalanan dari Champa ke Maynila, Kiu kieng (Palembang) maupun ke Majapahit.

[59] Banyak penjabat Dinasti Ming adalah orang Hui Muslim yang memiliki pengetahuan bahasa-bahasa asing misalnya bahasa Arab. [60] Laporan pedagang-pedagang Tionghoa pada masa Dinasti Ming yang mengunjungi Banjarmasin pada awal abad ke-16 mereka sangat khawatir mengenai aksi pemotongan kepala yang dilakukan orang-orang Biaju di saat para pedagang sedang tertidur di atas kapal.

Agamawan Kristen dan penjelajah Eropa yang tidak menetap telah datang di Kalimantan pada abad ke-14 dan semakin menonjol di awal abad ke-17 dengan kedatangan para pedagang Eropa. Upaya-upaya penyebaran agama Kristen selalu mengalami kegagalan, karena pada dasarnya pada masa itu masyarakat Dayak memegang teguh kepercayaan leluhur (Kaharingan) dan curiga kepada orang asing, sering kali orang-orang asing terbunuh.

Penduduk pesisir juga sangat sensitif terhadap orang asing karena takut terhadap serangan bajak laut dan kerajaan asing dari luar pulau yang hendak menjajah mereka. Penghancuran keraton Banjar di Kuin tahun 1612 oleh VOC Belanda dan serangan Mataram atas Sukadana tahun 1622 dan potensi serangan Makassar sangat mempengaruhi kerajaan-kerajaan di Kalimantan.

dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di

Sekitar tahun 1787, Belanda memperoleh sebagian besar Kalimantan dari Kesultanan Banjar dan Banten. Sekitar tahun 1835 barulah misionaris Kristen mulai beraktivitas secara leluasa di wilayah-wilayah pemerintahan Hindia Belanda yang berdekatan dengan negara Kesultanan Banjar.

Pada tanggal 26 Juni 1835, Barnstein, penginjil pertama Kalimantan tiba di Banjarmasin dan mulai menyebarkan agama Kristen ke pedalaman Kalimantan Tengah. Pemerintah lokal Hindia Belanda malahan merintangi upaya-upaya misionaris.

[61] [62] [63] [64] [65] Konflik Keterlibatan Dayak (istilah kolektif untuk masyarakat asli Kalimantan) telah mengalami peningkatan dalam konflik antar etnis.

dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di

Di awal 1997 dan kemudian pada tahun 1999, bentrokan-bentrokan brutal terjadi antara orang-orang Dayak dan Madura di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Puncak dari konflik ini terjadi di Sampit pada tahun 2001. Konflik-konflik ini pun kemudian menjadi topik pembicaraan di koran-koran di Indonesia.

Sepanjang konflik tahun 1997, sejumlah besar penduduk (baik Dayak maupun Madura) tewas. Muncul berbagai perkiraan resmi tentang jumlah korban tewas, mulai dari 300 hingga 4.000 orang menurut sumber-sumber independen.

[66] Pada tahun 1999, orang-orang Dayak, bersama dengan kelompok-kelompok Melayu dan Tionghoa memerangi para pendatang Madura; 114 orang tewas. [67]. [68] Kendati terdapat fakta bahwa hanya ada beberapa orang Dayak saja yang terlibat, tetapi media massa membesar-besarkan keterlibatan Dayak.

Lihat pula • Rumpun Dayak • Dayak Besar • Tanah Dayak • Tanah Dusun • Seni Tradisional Dayak • Partai Persatuan Dayak • Partai Bansa Dayak Sarawak • Kongres Dayak Malaysia • Majelis Adat Dayak Nasional • Daftar tokoh Dayak • Sastrawan Dayak Galeri • • ^ Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia Hasil Sensus Penduduk 2010. Badan Pusat Statistik. 2011. ISBN 9789790644175. Diakses tanggal 27 Agustus 2012.

• ^ Taburan Penduduk dan Ciri-ciri Asas Demografi (PDF). Jabatan Perangkaan Malaysia. 2011. ISBN 9789839044548 Periksa nilai: checksum -isbn= ( bantuan). Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2014-05-22. Diakses tanggal 27 Agustus 2012. • ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-03-16. Diakses tanggal 2012-08-25. • ^ "Ethnicity and territory in the late colonial imagination". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-01-07. Diakses tanggal 2011-07-23.

• ^ Sellato, Bernard (2002). Innermost Bornéo: studies in Dayak cultures. NUS Press. hlm. 19. ISBN 2914936028. ISBN 978-2-914936-02-6 • ^ Davis, Joseph Barnard (1867). Thesaurus craniorum: Catalogue of the skulls of the various races of man, in the collection of Joseph Barnard Davis. Printed for the subscribers. • ^ Malayan miscellanies (1820). Malayan miscellanies.

Malayan miscellanies. • ^ MacKinnon, Kathy (1996). The ecology of Kalimantan. Oxford University Press. ISBN 9780945971733. ISBN 0-945971-73-7 • ^ East India Company (1821). The Asiatic journal and monthly miscellany. 12. Wm. H. Allen & Co. • ^ "Dayak (suku)". kbbi.kemdikbud.go.id.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Diakses tanggal 17 Juni 2021.

Dayak merupakan suku bangsa yang mendiami daerah Kalimantan • ^ University of Calcutta (1869). Calcutta review. 48-49. University of Calcutta. hlm. 171. • ^ The London review of politics, society, literature, art, & science.

11. J.K. Sharpe (1865). hlm. 121. • ^ Wood, John George (1870). Uncivilized races of men in all countries of the world: being a comprehensive account of their manners and customs, and of their physical, social, mental, moral and religious characteristics.

2. J. B. Burr & co. hlm. 1110. • ^ "The London Saturday journal (1841)": 80. • ^ Haris, Syamsuddin (2004). Desentralisasi dan otonomi daerah: Naskah akademik dan RUU usulan LIPI. Yayasan Obor Indonesia. hlm. 188. ISBN 979-98014-1-9. ISBN 978-979-98014-1-8 • ^ Indonesia, Kalimantan • ^ http://www.ethnologue.com/subgroups/greater-barito • ^ http://press.anu.edu.au//austronesians/austronesians/mobile_devices/ch04.html • ^ http://press.anu.edu.au//austronesians/austronesians/mobile_devices/ch04s02.html • ^ http://www.ethnologue.com/subgroups/land-dayak • ^ http://press.anu.edu.au//austronesians/austronesians/mobile_devices/ch04s05.html • ^ http://www.ethnologue.com/subgroups/north-borneo • ^ dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di • ^ http://press.anu.edu.au//austronesians/austronesians/mobile_devices/ch04s04.html • ^ http://www.ethnologue.com/subgroups/malayic • ^ http://press.anu.edu.au//austronesians/austronesians/mobile_devices/ch04s03.html • ^ Schulze, Fritz (2006).

Insular Southeast Asia: linguistic and cultural studies in honour of Bernd Nothofer. Otto Harrassowitz Verlag. hlm. 47. ISBN 3447054778. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan) ISBN 978-3-447-05477-5 • ^ King, 1993:29 • ^ Leeming, David Adams (2010).

Creation myths of the world: an encyclopedia. 1 (edisi ke-2). ABC-CLIO. hlm. 99. ISBN 1598841742. ISBN 978-1-59884-174-9 • ^ King, 1993:30 • ^ Maunati, Yekti. Identitas Dayak. PT LKiS Pelangi Aksara. hlm. 8. ISBN 979949298X. ISBN 978-979-9492-98-2 • ^ Tegg, Thomas (1829). London encyclopaedia; or, Universal dictionary of science, art, literature and practical mechanics: comprising a popular view of the present state of knowledge.

4. Printed for Thomas Tegg. hlm. 338. • ^ Foreign missionary chronicle. s.n. (1838). hlm. 261. • ^ King, 1993. • ^ Rousseau, 1990 • ^ Commans, 1987: 6 • ^ Lahajir et al., 1993:4 • ^ Lahajir et al., 1993:3 • ^ Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977-1978 • ^ "Usak Jawa". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-02-26. Diakses tanggal 2011-04-21. • ^ Fridolin Ukur, 1971 • ^ Susanto, A. Budi (2007). Masihkah Indonesia.

Kanisius. hlm. 216. ISBN 9792116575. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-08-01. Diakses tanggal 2011-06-16. ISBN 978-979-21-1657-1 • ^ "Salinan arsip" (PDF). Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2012-01-18. Diakses tanggal 2011-07-17. • ^ Sarwoto Kertod ipoero, 1963 • ^ Hukum Adat dan Istiadat Kalimantan Barat, J.U. Lontaan. 1975 • ^ "Kewarganegaraan Suku Bangsa, Agama, Bahasa 2010" (PDF).

demografi.bps.go.id. Badan Pusat Statistik. 2010. hlm. 23, 31, 36–41. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2017-07-12. Diakses tanggal 28 Oktober 2021. • ^ Kalimantan Barat - Suku Bangsa • ^ Kalimantan Tengah - Suku Bangsa • ^ Kalimantan Timur - Suku Bangsa • ^ Kalimantan Selatan - Suku Bangsa • ^ "Salinan arsip".

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-01-07. Diakses tanggal 2011-06-26. • ^ http://berita.liputan6.com/read/42277/tempelaaq_tempat_tulang_belulang_leluhur_suku_dayak • ^ http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1985/06/15/KRI/mbm.19850615.KRI39073.id.html • ^ Lathief. H., Upacara adat kwangkay Dayak Benuaq Ohong di Mancong. Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996 - Social Science - 220 pages • ^ http://catalogue.nla.gov.au/Record/1156006 • ^ http://www.youtube.com/watch?v=kThegt6b3CE • ^ http://budimasnet.blogspot.com/2011/03/adat-kematian.html • ^ "Kawi and Pallawa inscriptions, 4th-12th centuries".

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-01-05. Diakses tanggal 2011-12-06. • ^ Muljana, Slamet (2005). Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. PT LKiS Pelangi Aksara. hlm. 61. ISBN 9798451163. ISBN 978-979-8451-16-4 • ^ Kong, Yuanzhi (2000). Hembing Wijayakusuma, ed. Muslim Tionghoa Cheng Ho: misteri perjalanan muhibah di Nusantara. Yayasan Obor Indonesia. hlm. 54. ISBN 9794613614. ISBN 978-979-461-361-0 • ^ Ukur, Fridolin (2000).

Tuaiannya sungguh banyak: sejarah Gereja Kalimantan Evanggelis sejak tahun 1835. BPK Gunung Mulia. hlm. 42. ISBN 9789799290588. ISBN 979-9290-58-9 • ^ Evangelical (1836). "Evangelical magazine and missionary chronicle,".

14. s.n: 578. • ^ End, Th. van den (1987). Ragi Carita 1, Jilid 1 dari Ragi carita: sejarah gereja di Indonesia. BPK Gunung Mulia. ISBN 979-415-188-2. ISBN 978-979-415-188-4 • ^ Foreign missionary chronicle. 5. Board of Foreign Missions and of the Board of Missions of the Presbyterian Church. hlm. 87. • ^ Steenbrink, Karel A. (2003). Catholics in Indonesia, 1808-1942: A modest recovery 1808-1903. KITLV Press. hlm. 149. ISBN 9067181412. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-08-01.

Diakses tanggal 2011-07-05. ISBN 978-90-6718-141-9 • ^ MacDougall, 1999 • ^ Mac Dougall, 1999 • ^ lihat, misalnya Manuntung, 22 Maret 1999 Bacaan lanjutan • Cfr. Tom Harrisson, "The Prehistory of Borneo", dalam Pieter van de Velde (ed.), Prehistoric Indonesia a Reader (Dordrecht-Holland: Foris Publications, 1984), hlm. 299-322 • Bellwood, Peter, “The Prehistory of Borneo”, Borneo Research Bulletin, 24/9 (1992), hlm. 7-13 • Kathy MacKinnon, The Ecology of Indonesian Series Volume III: The Ecology of Kalimantan, (Singapore: Periplus Editions Ltd., 1996), hlm.

255-363 • bdk. P.J. Veth, "The Origin of the Name Dayak", dalam Borneo Research Bulletin, 15/2 (September 1983), hlm. 118-121 • Fridolin Ukur, "Kebudayaan Dayak", dalam Kalimantan Review, 22/I (Juli-Desember 1992), hlm.

3-10 • Keragaman Suku Dayak di Kalimantan, Institut Dayakologi, Pontianak • Edi Petebang, Dayak Sakti, Institut Dayakologi • Edi Petebang, Eri Sutrisno, Konflik Etnis di Sambas, ISAI, Jakarta Pranala luar • Video di YouTube Borneo, Indonesia A Dayak Tribe in 1912 Tempo Doeloe (Orang Ulu) • Video di YouTube Borneo Kalimantan in 1938, Sarawak? (Orang Ulu) • Video di YouTube Sarawak, Malaysia, 1913 'wild women' (orang asli) • Video di YouTube Old Borneo, A Mystical Tribal Dancer with Sape Music (Orang Ulu) • Video di YouTube East Kalimantan (Borneo, Indonesia) in 1913.

Orang asli • Video di YouTube Indonesia: Pontianak (Borneo) 1948 struggle against Japanese • Video di YouTube The Borneo Story - The Dayaks Sarawak • Video di YouTube Dayak Rituals of Old Borneo in the 1920s • Video di YouTube The Ibans of Borneo 1 • (Indonesia) Sumbu perdamaian tumbang anoi • (Indonesia) Budaya Dayak Diarsipkan 2008-04-30 di Wayback Machine. • (Indonesia) Ternyata suku dayak bukan cuma satu jenis • (Inggris) Indonesia's New Ethnic Elites Diarsipkan 2011-01-01 di Wayback Machine.

• (Inggris) Kelompok bahasa Dayak • (Inggris) Sillander Dayak and Malay in Southeast Borneo Abal · Agabag · Ahe · Aoheng/Penihing · Beriam · Badeng · Bahau · Bakati · Bakumpai · Banyadu · Basap · Berusu · Bentian · Benuaq · Bidayuh · Bukat · Bungan · Desa · Dusun · Dusun Deyah · Dusun Malang · Dusun Witu · Gun · Huang Tering · Iban · Jalai · Jawant · Kadazan · Kebahan · Kanayatn/Kendayan · Dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di · Kayan · Keninjal · Ketungau · Kenyah · Kualant · Krio · Lawangan · Lebang · Lebu' Kulit/Umaq Kulit · Limbai · Long Gelat · Long Paka · Lundayeh · Ma'anyan · Mali · Mayau · Melanau · Membulu · Merap · Meratus · Modang · Mualang · Murut · Ngaju · Orung Daan · Ot Danum · Paser · Panyawung · Pesaguan · Paus · Punan Aput · Punan Habongkot · Punan Kelay · Punan Merah · Punan Murung · Punan Tubu · Samanakng · Samihim · Saq · Sebaruk · Seputan · Simpakng · Seberuang · Siang Murung · Suhaid · Suruk · Taba · Taman · Tayap · Tingalan · Tunjung · Uheng Kereho · Umaq Alim · Umaq Baqa · Umaq Lasan · Undau · Wahau Kategori tersembunyi: • Halaman dengan argumen ganda di pemanggilan templat • Galat CS1: ISBN • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • Halaman yang menggunakan pranala magis ISBN • Semua artikel yang membutuhkan referensi tambahan • "Related ethnic groups" needing confirmation • Halaman dengan pelafalan terekam • Templat webarchive tautan wayback • Halaman ini terakhir diubah pada 3 Mei 2022, pukul 11.13.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
Suku di Indonesia – Suku bangsa atau disebut juga etnis adalah suatu golongan manusia yang antara anggota satu dengan lainnya memiliki kesamaan, umumnya kesamaan tersebut berupa garis keturunan, ciri-ciri biologis, bahasa, budaya dan perilaku.

Indonesia yang mempunyai wilayah yang luas terdiri dari berbagai macam suku bangsa. Menurut information BPS pada tahun 2010, Jumlah suku bangsa di Indonesia adalah 1340 suku, terdiri dari suku-suku besar sepert Jawa dan Sunda sampai suku-suku kecil yang biasanya tinggal di wilayah pedalaman. seperti suku baduy di Banten.

Berikut ini adalah daftar beberapa nama-nama suku bangsa yang ada di Indonesia beserta dengan daerahnya. Tidak semua nama suku dicantumkan dalam tabel ini; NO NAMA SUKU ASAL DAERAH 1 Suku Kubu Sumatera (Jambi) two Suku Sakai Sumatera three Suku Gayo Sumatera 4 Suku Aceh Sumatera five Suku Alas Sumatera half dozen Suku Devayan Sumatera vii Suku Haloban Sumatera 8 Suku Kluet Sumatera ix Suku Lekon Sumatera 10 Suku Pakpak Sumatera 11 Suku Sigulai Sumatera 12 Suku Singkil Sumatera 13 Suku Tamiang Sumatera 14 Suku Aneuk Jamee Sumatera (Aceh) 15 Suku Batak Sumatera 16 Suku Batak Angkola Sumatera 17 Suku Batak Karo Sumatera eighteen Suku Batak Mandailing Sumatera 19 Suku Batak Pakpak Sumatera 20 Suku Batak Simalungun Sumatera 21 Suku Batak Toba Sumatera 22 Suku Nias Sumatera 23 Suku Minangkabau Sumatera 24 Suku Melayu Sumatera 25 Suku Mentawai Sumatera 26 Suku Laut Sumatera 27 Suku Belitung Sumatera 28 Suku Bangka Sumatera 29 Suku Anak Dalam Sumatera xxx Suku Kayu Agung Sumatera 31 Suku Palembang Sumatera 32 Suku Bengkulu Sumatera 33 Suku Lampung Sumatera 34 Suku Betawi Jakarta 35 Suku Sunda Pulau Jawa 36 Suku Jawa Pulau Jawa 37 Suku Tionghoa Pulau Jawa 38 Suku Baduy (badui) Pulau Jawa 39 Suku Bawean Pulau Jawa xl Suku Tengger Pulau Jawa 41 Suku Osing Pulau Jawa 42 Suku Madura Pulau Jawa 43 Suku Samin Pulau Jawa 44 Suku Dayak Borneo 45 Suku Banjar Kalimantan 46 Suku Kutai Kalimantan 47 Suku Berau Kalimantan 48 Suku Paser Kalimantan 49 Suku Bali Bali 50 Suku Loloan Bali 51 Suku Sasak Nusa Tenggara Barat 52 Suku Bima Nusa Tenggara Barat 53 Suku Sumbawa Nusa Tenggara Barat 54 Suku Boti Nusa Tenggara Timur 55 Suku Bunak Nusa Tenggara Timur 56 Suku Manggarai Nusa Tenggara Timur 57 Suku Sika Nusa Tenggara Timur 58 Suku Sumba Nusa Tenggara Timur 59 Suku Rote Nusa Tenggara Timur threescore Suku Ngada Nusa Tenggara Timur 61 Suku Flores Nusa Tenggara Timur 62 Suku Ende Nusa Tenggara Timur 63 Suku Gorontalo Sulawesi Utara 64 Suku Kaidipang Sulawesi Utara 65 Suku Minahasa Sulawesi Utara 66 Suku Mongondow Sulawesi Utara 67 Suku Sangir Sulawesi Utara 68 Suku Bungku Sulawesi Tengah 69 Suku Balesang Sulawesi Tengah 70 Suku Balantak Sulawesi Tengah 71 Suku Wakatobi Sulawesi Tenggara 72 Suku Buton Sulawesi 73 Suku Tolaki Sulawesi 74 Suku Mandar Sulawesi 75 Suku Luwu Sulawesi 76 Suku Makasar Sulawesi 77 Suku Bugis Sulawesi 78 Suku Toraja Sulawesi 79 Suku Bajo Sulawesi 80 Suku Alune Maluku 81 Suku Ambon Maluku 82 Suku Aru Maluku 83 Suku Buru Maluku 84 Suku Fordata Maluku 85 Suku mamale Maluku 86 Suku Nuaulu Maluku 87 Suku Morotai Maluku 88 Suku Halmahera Maluku 89 Suku Wemale Maluku 90 Suku Wai Apu Maluku 91 Suku Ternate Maluku 92 Suku Tidore Maluku 93 Suku Seram Maluku 94 Suku Sawai Maluku 95 Suku Aero Papua 96 Suku Asaro Papua 97 Suku Kalam Papua 98 Suku Huli Papua 99 Suku Goroka Papua 100 Suku Yali Papua 101 Suku Korowai Papua 102 Suku Dani Papua 103 Suku Bauzi Papua 104 Suku Amungme Papua 105 Suku Asmat Papua 106 Suku Muyu Papua 1.

Suku Jawa Suku jawa adalah suku terbesar yang ada di Indonesia yang mana berasal dari kawasan Jawa Tengah, Jawa Timur. dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selain berada di kawasan tersebut ada pula suku Jawa lainnya yang tinggal di Suriname Amerika Selatan, hal ini berkaitan dengan masa kolonial belanda pada jaman dahulu yang kemudian membawa suku tersebut sebagai para pekerja di sana. Karena itulah suku Jawa tersebut dikenal sebagai Jawa Suriname. two. Suku Sunda Suku Sunda adalah salah satu suku yang berada di Provinsi Jawa Barat.

Selain itu suku sunda juga dikenal sebagai suku terbesar kedua yang ada di Indonesia setelah suku Jawa. Suku Sunda juga dikenal dengan alat musik yang dimilikinya yang dikenal dengan nama angklung. Selain itu, ada pula alat musik unik lainnya yang dimiliki oleh Suku Sunda yang disebut sebagai Karinding.

3. Suku Madura Suku Madura dikenal sebagai salah satu suku bangsa yang menghuni kawasan Jawa Timur. Namun selain suku Madura ada pula suku lainnya, seperti halnya Suku Osing, atau pun Tengger.

Untuk suku Madura itu sendiri dikenal sebagai etnis yang memiliki populasi cukup besar. Hal ini terlihat melalui jumlah masyarakat yang dimilikinya yang mana berkisar pada jumlah xx.179.356 juta jiwa. Information tersebut berdasarkan pada hasil sensus yang dilakukan pada tahun 2014 lalu, yang tentunya akan terus meningkat hingga 4 tahun terakhir.

4. Suku Batak Suku batak adalah salah satu suku yang berasal dari kawasan Sumatera Utara lebih tepatnya dari Batak Karo, Batak Fakfak, Batak Simalungan, Batak Toba, batak Angkola, Nias, Melayu, Batak Mandailing, serta Maya-maya. Suku batak dikenal sebagai tema kolektif yang mengidentifikasikan beberapa suku bangsa lain yang bermukim serta berasal dari Tapanuli, Sumatera Utara.

Beberapa suku bangsa yang termasuk atau dikategorikan sebagai batak adalah Batak Karo, Batak Toba, Batak Simalungan, Batak Pakpak, Batak Angkola, serta Batak Mandailing. 5. Suku Betawi Betawi adalah salah satu suku yang berada di kawasan DKI Jakarta, selain dari pada suku Sunda dan juga Jawa.

Suku Betawi dikenal dengan boneka jumbo khas yang dimilikinya yang mana dikenal dengan nama ondel-ondel. 6. Suku Minangkabau Suku Minangkabau adalah suku yang tinggal di kawasan Provinsi Sumatra Barat selain dari pada suku lainnya, seperti halnya Melayu, Tanjung Kato, Mentawai, Panyali, Sikumbang, Caniago, atau pun Gusci.

Suku Minangkabau sering pula disebut sebagai suku Minang yang mana memiliki sistem kekerabatan matrilineal. Selain itu suku bangsa yang satu ini sangat identik dengan agama Islam di dalamnya. Banyak dari percakapan yang dilakukan oleh orang awam yang mana mereka sering kali menyamakan antara suku Minang dengan orang Padang.

Merujuk pada nama ibu kota dari provinsi Sumatra Barat yaitu Kota Padang. Namun, mereka sendiri pada umumnya sering kali menyebut kelompoknya sebagai urang awak, yang mana kata tersebut memiliki arti sebagai orang Minang. 7. Suku Bugis Suku Bugis adalah suku bangsa yang berasal dari Provinsi Sulawesi Selatan. Selain itu, di kawasan tersebut juga terdapat beberapa suku lainnya, seperti halnya Suku Toraja, Suku Mandar, Suku Sa’dan.

Suku Makassar. Untuk suku Bugis sendiri dikenal sebagai golongan dari suku Melayu Deutero, yang mana suku tersebut masuk ke Nusantara setelah terjadinya proses dari gelombang migrasi pertama yang terjadi di daratan Asia atau tetapnya di kawasan Yunan.

Sedangkan kata Bugis sendiri berasal dari kata To Ugi yang memiliki arti orang Bugis. 8. Suku Melayu Suku Melayu dikenal sebagai salah satu suku yang berada di kawasan Provinsi Bangka Belitung selain dari pada suku-suku lainnya, seperti halnya suku Jawa, Bugis, Sunda, Banten, Madura, Banjar, Minang, Palembang, Flores, Aceh, Manado, serta Maluku. Sementara itu, suku Melayu sendiri memiliki nama yang berasal dari kerajaan Malaya yang mana kerajaan tersebut dikenal sebagai salah satu kerajaan di kawasan tersebut lebih tepatnya sekitar Sungai Batang Hari.

Dalam perkembangannya, kerajaan tersebut takluk dan kemudian menjadi bawahan dari Kerajaan Sriwijaya. Sedangkan penggunaan kata Melayu itu sendiri terus meluas hingga ke luar Sumatra dan mengikuti teritori imperium dari Sriwijaya hingga akhirnya ia pun berkembang menuju Jawa, Borneo, serta Semenanjung Malaya.

Tidak heran jika kemudian banyak diantaranya orang melayu Semenanjung yang berasal dari kawasan Sumatera. 9. Suku Arab Suku arab dikenal sebagai warga negara dari masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai keturunan dari etnis arab dengan etnis pribumi.

Pada awalnya mereka tinggal di kawasan perkampungan Arab yang tentunya tersebar di berbagai kota besar di Indonesia. Seperti halnya di Jakarta yaitu di kawasan Pakojan, kemudian Bogor di kawasan Empang, Surakarta di kawasan Pasar Kliwon, Surabaya di kawasan Ampel, Gresik di kawasan Gapura, Malang di kawasan Jagalar, Cirebon di kawasan Kauman, Mojokerto di kawasan Kauman, Yogyakarta di kawasan Kauman, Probolinggo di kawasan Diponegoro serta Bondowoso. Selain beberapa kawasan di kota besar tersebut, suku bangsa arab ini juga tersebar di beberapa wilayah lainnya seperti halnya Palembang, kemudian Aceh, Medan, Banjarmasin dan masih banyak lagi kawasan lainnya di Indonesia.

Pada masa penjajahan suku ini dikenal sebagai bangsa dari timur asing yang juga bersama dengan sukuTionghoa-Indonesia serta suku India-Republic of indonesia yang turut membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia. 10. Suku Banten Suku banten sebetulnya adalah bagian dari orang-orang suku sunda yang tinggal diwilayah bekas kesultanan Banten.

Suku ini melingkupi 2,1% penduduk Nusantara dengan penduduk lebih dari 4 juta jiwa. Orang dari suku Banten menggunakan bahasa Banten yang sebetulnya masih merupakan bagian dari bahasa Sunda, hanya saja secara tata bahasa bahasa sunda, bahasa Banten dikategorikan sebagai bahasa Sunda kasar.

xi. Suku Banjar Banjar adalah salah satu suku yang berada di kawasan Provinsi Kalimantan Selatan, selain suku tersebut ada pula Suku Ngaju, Suku Maanyan, Suku Bakumpai, Suku Bukit, Suku Dusun, Suku Deyah, Suku Balangan, Suku Aba, Suku Melayu, serta suku Dayak dan lainnya.

Sedangkan untuk suku Banjar sendiri ia dikenal dengan jumlah penduduknya yang mencapai angka four, 1 juta jiwa.

Dari jumlah tersebut, sekitar ii,7 juta jiwa yang tinggal di kawasan Borneo selatan, sedangkan sisa lainnya berada di perantauan. 12. Suku Bali Suku Bali sesuai dengan nama yang dimilikinya suku ini menghuni provinsi Bali dan juga terbagi menjadi dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di macam suku berbeda yaitu suku Bali Aga serta Bali Majapahit.

Sementara itu, untuk suku bali aga dikenal sebagai suku bangsa yang menganggap bahwa diri mereka adalah penduduk asli dari bali itu sendiri. 13. Suku Sasak Suku sasak adalah salah satu suku yang tinggal di kawasan Nusa Tenggara Barat, suku dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di dikenal dengan nama yang berasal dari kata sak-sak, kata sak-sak itu tadi memiliki arti sampan.

Dalam sebuah kitab, yaitu kitab kertagama, kata sasak sendiri dikenal sebagai satu kesatuan dengan pulau Lombok, yaitu Lombok sasak MIrah Adhi. Sementara dalam tradisi lisan yang terdapat di masyarakat, mereka umumnya percaya bahwa kata sasak berasal dari kata sa’saq yang memiliki arti satu. Sedangkan kata Lombok berasal dari kata Lomboq yang memiliki arti lurus. Karena itulah apabila digabung maka kata tersebut akan mengandung arti sesuatu yang lurus.

xiv. Suku Dayak Suku Dayak adalah salah satu suku yang berasal dari pulau di Borneo. Namun selain suku dayak, Kalimantan Barat juga dikenal dengan beragam jenis suku bangsa lainnya, seperti halnya Suku Ulu AerSuku Kayau, Suku Manyuke, Suku Mbaluh, dan lainnya. Sementara itu, untuk suku Dayak sendiri dikenal sebagai suku bangsa yang berasal dari pedalaman pulau Kalimantan secara keseluruhan. Suku Dayak juga dikenal sebagai suku dengan warisan magis yang kuat.

Beragam ilmu spiritual menjadi ciri khas dari adat kebiasaan suku tersebut. Namun hingga saat ini masih belum banyak yang tahu bagaimana serta seperti apa asal-susul dari suku Dayak itu sendiri. xv. Suku Tionghoa Suku Tionghoa berasal dari kedatangan para leluhur dari suku Tionghoa yang berasal dari negara Cathay dan kemudian bermigrasi ke Indonesia. Hal ini terjadi pada ratusan atau bahkan ribuan tahun lalu, utamanya pada abad ke xvi hingga xix.

Pada awalnya mereka datang dengan tujuan berdagang, namun ramainya interaksi perdagangan membuat para pedagang asal China tersebut menetap dan tinggal di kawasan Republic of indonesia. Hal ini terjadi karena seiring berjalannya waktu para pedagang tersebut mulai berbaur dengan masyarakat asli Indonesia, dan mulai melakukan asimilasi juga akulturasi budaya. Karena itulah setelah Republic of indonesia merdeka, orang Tionghoa yang kemudian berkewarganegaraan sebagai masyarakat Republic of indonesia tersebut pun dikenal sebagai salah satu suku yang termasuk dalam lingkup nasional Republic of indonesia.

Suku tionghoa juga dikenal dengan sebutan Tenglang atau Hokkian 16. Suku Makasar Suku Makassar dikenal sebagai etnis melayu yang berada di kawasan pesisir selatan dari pulau Sulawesi. Karena itulah lidah dari orang Makassar sering kali menyebutnya dengan kata Mangkasara yang berarti bahwa mereka memiliki sifat terbuka.

Etnis atau suku Makassar dikenal sebagai suku bangsa yang memiliki jiwa penakluk, namun tentu saja tetap demokratis dalam melakukan pemerintahan. Selain itu masyarakat suku Makassar juga gemar melakukan peperangan di laut. Karena itulah pada abad ke 14 hingga 17 suku ini dikenal dengan simbol dari kerajaan Gowa, yang mana mereka dapat membentuk satu dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di dengan luas serta memiliki kekuatan dari armada laut yang besar hingga membentuk imperium yang bernafaskan Islam di dalamnya.

Tuliskan Tiga Suku Bangsa Yang Ada Di Indonesia Beserta Domisilinya Source: https://salamadian.com/jumlah-suku-bangsa-yang-ada-di-indonesia/ Terbaru • Jelaskan Cara Mengubah Interval Nada D Mayor • Pembagian Kerja Dan Beban Kerja Di Perusahaan Peternakan • Cara Pasang Twrp Redmi Note 7 Tanpa Pc • Berikut Ini Cara Memperkecil Resiko Resiko Usaha Adalah • Contoh Membuat Pohon Akar Masalah Tentang Peternakan • Hack Wifi Wpa2 Psk Windows 7 Cmd • Makalah Pemanfaatan Limbah Untuk Pakan Ternak • Cara Membuat Mika Lampu Mobil Dari Akrilik • Cara Melihat Nomor Hp Orang Di Messenger Kategori • Aplikasi • Berkebun • Bisnis • Budidaya • Cara • News • Pelajaran • Serba-serbi • SIM Keliling • Soal • Ternak • UncategorizedYahoo ist Teil der Markenfamilie von Yahoo.

Durch Klicken auf „ Alle akzeptieren" erklären Sie sich damit einverstanden, dass Yahoo und seine Partner Cookies und ähnliche Technologien nutzen, um Daten auf Ihrem Gerät zu speichern und/oder darauf zuzugreifen sowie Ihre personenbezogenen Daten verarbeiten, um personalisierte Anzeigen und Inhalte zu zeigen, zur Messung von Anzeigen und Inhalten, um mehr über die Zielgruppe zu erfahren sowie für die Entwicklung von Produkten.

Personenbezogene Daten, die ggf. verwendet werden • Daten über Ihr Dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di und Ihre Internetverbindung, darunter Ihre IP-Adresse • Browsing- und Suchaktivitäten bei der Nutzung von Yahoo Websites und -Apps • Genauer Standort Sie können ' Einstellungen verwalten' auswählen, um weitere Informationen zu erhalten und Ihre Auswahl zu verwalten.

Sie können Ihre Auswahl in den Datenschutzeinstellungen jederzeit ändern. Weitere Informationen darüber, wie wir Ihre Daten nutzen, finden Sie in unserer Datenschutzerklärung und unserer Cookie-Richtlinie.

Klicken Sie hier, um weitere Informationen zu unseren Partnern zu erhalten.
Klik nama provinsi untuk langsung menuju ke bagian tentang provinsi bersangkutan. Aceh [ sunting - sunting sumber ] • Suku Aceh • Suku Alas • Suku Arab • Suku Devayan • Suku Gayo • Suku Haloban • Suku Kluet • Suku Lekon • Suku Pakpak • Suku Sigulai • Suku Singkil dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di Suku Tamiang • Suku Minangkabau • Suku Aneuk Jamee Sumatra Utara [ sunting - sunting sumber ] • Suku Batak • Suku Angkola • Suku Karo • Suku Mandailing • Suku Pakpak • Pakpak Suak Boang • Pakpak Suak Kelasen • Pakpak Suak Keppas • Pakpak Suak Pegagan • Pakpak Suak Simsim • Suku Simalungun • Suku Toba • Suku Minangkabau • Suku Melayu • Melayu Deli • Melayu Langkat • Melayu Serdang • Suku Nias • Suku Aceh • Suku India • Suku Tamil • Suku Punjab • Suku Tionghoa • Hokkian • Hakka • Kanton • Tiochiu • Suku Arab Sumatra Barat [ sunting - sunting sumber ] • Suku Melayu • Suku Minangkabau • Suku Mentawai • Suku Caniago • Jambi [ sunting - sunting sumber ] • Suku Anak Dalam • Suku Anak Dalam Batin Sembilan • Suku Kerinci • Suku Melayu • Suku Jambi • Suku Batin • Suku Duano • Suku Minangkabau Riau [ sunting - sunting sumber ] • Suku Melayu • Suku Sakai • Suku Talang Mamak • Suku Minangkabau Kepulauan Riau [ sunting - sunting sumber ] • Suku Melayu • Suku Laut (Orang Laut/Orang Sampan) • Orang Barok • Orang Bentan ( punah) • Orang Bulang ( punah) • Orang Galang ( punah) • Orang Kanaq (sekarang menetap di Malaysia) • Orang Ladi ( punah) • Orang Laut Kappir (sekarang menetap di Thailand) • Orang Mantang • Orang Mepar ( punah) • Orang Dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di ( punah) • Orang Muka Kuning ( punah) • Orang Nanga • Orang Posik (Pusek/Persik) • Orang Sebarok • Orang Sengkanak • Orang Sugi ( punah) • Orang Tambus • Orang Teluk Nipah • Orang Trong ( punah) • Suku Tionghoa • Hokkian • Hakka • Tiochiu • Hainan Beberapa suku bangsa punah karena ber asimilasi dengan suku Melayu.

Sumatra Selatan dan Bangka Belitung [ sunting - sunting sumber ] • Suku Ameng Sewang • Suku Anak Dalam • Suku Daya • Suku Musi • Musi Banyuasin • Musi Sekayu • Suku Ogan • Suku Enim • Suku Kayu Agung • Suku Kikim • Suku Kisam • Suku Komering • Suku Lahat • Suku Lematang • Suku Lintang • Suku Melayu • Suku Melayu Palembang • Suku Melayu Bangka • Suku Melayu Banyuasin • Suku Melayu Belitung • Suku Melayu Selapan • Suku Pasemah • Suku Padamaran • Suku Rambang Senuling • Suku Lom • Suku Mapur • Suku Meranjat • Suku Ranau • Suku Rawas • Suku Saling • Suku Sekak • Suku Semendo • Suku Pegagan • Pegagan Ilir • Pegagan Ulu • Suku Penesak • Suku Pemulutan Bengkulu dan Lampung [ sunting - sunting sumber ] • Suku Bengkulu • Suku Pasemah • Suku Kedurang Padang Guci • Suku Rejang • Suku Enggano • Suku Kaur • Suku Serawai • Suku Lembak • Suku Mulo-muko • Suku Suban • Suku Pekal • Suku Batin • Suku Pindah • Suku Lampung • Suku Sungkai • Suku Way Kanan • Suku Abung • Suku Tulang Bawang • Suku Belalau • Suku Krui • Suku Ranau • Suku Pubian • Suku Melinting • Suku Semaka • Suku Smuong • Suku Darah Putih/Way Handak • Suku Way Lima • Suku Pemingir Teluk • Suku Komering • Suku Cikoneng • Suku Merpas DKI Jakarta [ sunting - sunting sumber ] • Suku Betawi • Suku Sunda • Suku Jawa • Suku Melayu • Suku Arab • Suku Tionghoa • Hokkian • Hakka • Kanton • Suku Batak • Suku Minangkabau • Suku India • Suku Tamil • Suku Punjab • Suku Jepang • Suku Korea Jawa Barat [ sunting - sunting sumber ] • Suku Sunda • Suku Betawi • Suku Jawa • Suku Cirebon • Suku Ciptagelar Banten [ sunting - sunting sumber ] • Suku Badui • Suku Banten • Suku Lampung Cikoneng • Suku Betawi Jawa Tengah dan DIY [ sunting - sunting sumber ] • Suku Jawa • Suku Samin • Suku Melayu • Suku Arab • Suku Tionghoa • Hokkian • Hakka Jawa Timur [ sunting - sunting sumber ] • Suku Jawa • Suku Bawean • Suku Tengger • Suku Osing • Suku Madura • Suku Samin • Suku Arab • Suku Tionghoa • Hokkian • Hakka Kalimantan Barat [ sunting - sunting sumber ] • Suku Melayu • Pontianak • Sambas • Sintang • Ngabang • Sanggau • Suku Dayak • Babak • Badat • Barai • Bangau • Bukat • Entungau • Galik • Gun • Iban • Jangkang • Kalis • Kantuk • Kayan • Kayanan • Kede • Kendayan • Keramai • Klemantan • Pos • Punti • Randuk • Ribun • Cempedek • Dalam • Darat • Darok • Desa • Kopak • Koyon • Lara • Senunang • Sisang • Suhaid • Sungkung • Limbai • Maloh • Mayau • Mentebak • Menyangka • Sani • Seberuang • Sekajang • Selayang • Selimpat • Dusun • Embaloh • Empayuh • Engkarong • Ensanang • Menyanya • Merau • Mualang • Muara • Muduh • Muluk • Ngalampan • Ngamukit • Nganayat • Panu • Pengkedang • Pompang • Senangkan • Suruh • Tabuas • Taman • Tingui • Suku Tionghoa • Hakka • Tiochiu Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan [ sunting - sunting sumber ] • Suku Banjar • Banjar Kuala • Banjar Pahuluan • Banjar Batang Banyu • Suku Dayak • Dayak Abal • Dayak Bakumpai • Dayak Berangas • Dayak Meratus • Dayak Dusun Deyah • Dayak Bentian • Dayak Bawo • Dayak Lawangan • Dayak Maanyan • Dayak Dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di • Suku Dayak Ot Danum • Suku Dayak Siang Murung • Dayak Taboyan • Suku Bugis • Orang Bugis Pagatan Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara [ sunting - sunting sumber ] • Suku Paser • Suku Kutai • Suku Banjar • Suku Berau • Suku Dayak • Auheng • Huang Tering • Oheng • Abai • Jalan • Touk • Baka • Kayan • Tukung • Bakung • Kenyah • Basap • Merap • Benuaq • Punan • Seputan • Bem • Tahol • Tingalan • Tidung • Timai • Penihing • Tunjung • Saq • Kulit • Berusu • Bulungan • Long Gelat • Busang • Long Paka • Modang Bali dan NTB [ sunting - sunting sumber ] • Suku Bali • Suku Jawa • Suku Osing • Suku Loloan • Suku Nyama Selam • Suku Trunyan • Suku Bayan • Suku Dompu • Suku Donggo • Suku Kore • Suku Nata • Suku Mbojo • Suku Sasak • Suku Sumbawa NTT [ sunting - sunting sumber ] • Suku Abui • Suku Alor • Suku Anas • Suku Atanfui • Suku Atoni • Suku Babui • Suku Bajawa • Suku Bakifan • Suku Blaga • Suku Boti • Suku Bunak • Suku Deing • Suku Ende • Suku Faun • Suku Flores • Suku Hanifeto • Suku Helong • Suku Kabola • Suku Karera • Suku Kawel • Suku Kedang • Suku Kemak • Suku Kemang • Suku Kolana • Suku Kramang • Suku Krowe Muhang • Suku Kui • Suku Labala • Suku Lamaholot • Suku Lemma • Suku Lio • Suku Manggarai • Suku Maung • Suku Mela • Suku Modo • Suku Muhang • Suku Nagekeo • Suku Ngada • Suku Noenleni • Suku Riung • Suku Rongga • Suku Rote • Suku Sabu • Suku Sika • Suku Sumba • Suku Tetun • Tetun Terik di Kupang • Tetun Portugis di perbatasan dengan Timor Leste • Suku Marae Sulawesi Utara [ sunting - sunting sumber ] • Suku Bantik • Suku Bolaang Uki • Suku Borgo • Suku Gorontalo • Suku Kaidipang • Suku Minahasa • Suku Mongondow • Suku Ponosakan • Suku Ratahan • Suku Sangir • Suku Talaud • Suku Tombulu • Suku Tonsawang • Suku Tonsea • Suku Tonteboran • Suku Toulour Gorontalo [ sunting - sunting sumber ] • Suku Gorontalo • Suku Polahi • Suku Bolango • Suku Suwawa • Suku Atinggola Sulawesi Tengah [ sunting - sunting sumber ] • Suku Bugis • Suku Bare'e • Suku Bada • Suku Gorontalo • Suku Pamona • Suku Bajau • Suku Balaesang • Suku Balantak • Suku Banggai • Suku Bungku • Suku Buol • Suku Dampelas • Suku Dondo • Suku Kahumamahon • Suku Kaili • Suku Muna • Suku Tomia • Suku Wakatobi • Suku Wawonii • Suku Kulawi • Suku Saluan Sulawesi Tenggara [ sunting - sunting sumber ] • Suku Buton • Suku Bugis • Suku Tojo Una-una • Suku Tolaki ( Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konewe Selatan, dan Kabupaten Konewe Utara) • Suku Moronene ( Kab.

Bombana) • Suku Labeau • Suku Tomboki • Suku Wuna ( Kab. Muna) • Suku Wolio ( Kab.Buton/ Kota Bau-Bau) • Suku Mekongga ( Kab. Kolaka/ Kolaka Utara) • Suku Wakatobi • Suku Wangi-wangi • Suku Kaledupa • Suku Tomia • Suku Binongko ( Kab. Wakatobi) Sulawesi Barat [ sunting - sunting sumber ] • Suku Mandar • Suku Mamasa • Suku Pattae • Suku Dakko • Suku Pannei • Suku Pattinjo Sulawesi Selatan [ sunting - sunting sumber ] • Suku Bentong Duri • Suku Makassar • Suku Massenrempulu • Suku Duri • Suku Daya Selayar • Suku Bugis • Suku Toala • Suku Toraja • Suku Oro • Suku Bajau • Suku Rampi • Suku Seko Maluku dan Maluku Utara [ sunting - sunting sumber ] • Suku Alune • Suku Ambon • Suku Arab • Suku Aru • Suku Babar • Suku Bacan • Suku Banda • Suku Bulli • Suku Buru • Suku Fordata • Suku Galela • Suku Gane • Suku Gebe • Suku Halmahera • Suku Haruku • Suku Jailolo • Suku Kei • Suku Kisar • Suku Laloda • Suku Leti • Suku Lumoli • Suku Maba • Suku Makian • Suku Mare • Suku Memale • Suku Moam • Suku Modole • Suku Morotai • Suku Nuaulu • Suku Pagu • Suku Patani • Suku Pelauw • Suku Rana • Suku Sahu • Suku Sawai • Suku Seram • Suku Sula • Suku Taliabu • Suku Tanimbar • Suku Ternate • Suku Tidore • Suku Tobaru • Suku Tobelo • Suku Togutil • Suku Wemale • Suku Wai Apu • Suku Wai Loa • Suku Weda Papua dan Papua Barat [ sunting - sunting sumber ] • Aero • Airo Sumaghaghe • Airoran • Ambai • Amberboken • Amungme • Dera • Edopi • Eipomek • Ekagi • Ekari • Emumu • Eritai • Fayu • Foua • Gebe • Gresi • Hattam • Humboltd • Hupla • Inanusatan • Irarutu • Isirawa • Iwur • Jaban • Jair • Kabari • Kaeti • Pisa • Sailolof • Samarokena • Sapran • Sawung • Wanggom • Wano • Waris • Watopen • Arfak • Asmat dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di Baudi • Berik • Bgu • Biak • Borto • Buruai • Kais • Kalabra • Kimberau • Komoro • Kapauku • Kiron • Kasuweri • Kaygir • Kembrano • Kemtuk • Ketengban • Kimaghama • Kimyal • Kokida • Kombai • Korowai • Kupul • Kurudu • Kwerba • Kwesten • Lani • Maden • Sawuy • Sentani • Silimo • Tabati • Tehid • Wodani • Ayfat • Yahrai • Yaly • Auyu • Citak • Damal • Dem • Dani • Demisa • Demtam • Mairasi • Mandobo • Maniwa • Mansim • Manyuke • Mariud Anim • Meiyakh • Meybrat • Mimika • Moire • Mombum • Moni • Mooi • Mosena • Murop • Muyu • Nduga • Ngalik • Ngalum • Nimboran • Palamui • Palata • Timorini • Uruway • Waipam • Waipu • Wamesa • Yapen • Yagay • Yey • Anu • Baso Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] • (Inggris) KBRI Beijing Diarsipkan 2010-06-03 di Wayback Machine.

Alfur • Alune • Amahai • Ambelau • Aputai • Asilulu • Babar Tenggara • Babar Utara • Banda • Barakai • Bati • Batuley • Benggoi • Boano • Bobot • Buli • Buru • Dai • Damar Barat • Damar Timur • Dawera-Daweloor • Dobel • Elpaputih • Emplawas • Fordata • Galela • Gamkonora • Gane • Gebe • Geser-Gorom • Dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di • Haruku • Hitu • Horuru • Hoti • Huaulu • Hukumina • Hulung • Ibu • Ili'uun • Imroing • Kadai • Kaibobo • Kamarian • Kao • Karey • Kayeli • Kei • Kisar • Koba • Kola • Kompane • Kur • Laba • Laha • Larike-Wakasihu • Latu • Leti • Liana-Seti • Lisabata-Nuniali • Lisela • Lola • Loloda • Lorang • Loun • Luang • Luhu • Maba • Makian Dayak termasuk suku bangsa yang terdapat di • Makian Timur • Melayu Ambon • Melayu Bacan • Melayu Banda • Melayu Maluku Utara • Mangole • Manipa • Manombai • Manusela • Mariri • Masela Barat • Masela Tengah • Masela Timur • Masiwang • Modole • Moksela • Naka'ela • Nila • Nuaulu ( Naulu Selatan • Naulu Utara) • Nusa Laut • Oirata • Pagu • Palumata • Patani • Paulohi • Perai • Piru • Roma • Sahu • Salas • Saleman • Saparua • Sawai • Seit-Kaitetu • Selaru • Seluwasan • Sepa • Serili • Serua • Sula • Tabaru • Taliabu • Talur • Tarangan Barat • Tarangan Timur • Tela-Masbuar • Teluti • Teor • Ternate • Ternateño 1 • Te'un • Tidore • Tobelo • Tugun • Togutil • Tulehu • Ujir • Waioli • Watubela • Wemale ( Selatan • Utara) • Yalahatan • Yamdena Abinomn 3 • Abun 3 • Aghu • Airoran • Ambai • Amungme • Anasi • Ansus • Arandai • Arfak • Arguni • As • Asmat ( Asmat Pantai Kasuari • Asmat Tengah • Asmat Utara • Asmat Yaosakor) • Atohwaim • Auye • Awbono • Awera • Awyi • Awyu Asue • Awyu Tengah • Awyu Edera • Awyu Jair • Awyu Utara • Awyu Selatan • Bagusa • Baham • Barapasi • Bauzi • Bayono • Bedoanas • Beneraf • Berik • Betaf • Biak • Biga • Biritai • Bonggo • Burate • Burmeso • Burumakok • Buruwai • Busami • Citak • Citak Tamnim • Dabe • Damal • Dani ( Dani Lembah Bawah • Dani Lembah Tengah • Dani Lembah Atas • Dani Barat) • Dao • Dem • Demisa • Dera • Diebroud • Dineor • Diuwe • Doutai • Duriankere • Dusner • Duvle • Edopi • Eipomek • Ekari • Elseng 3 • Emem • Empur • Eritai • Erokwanas • Fayu • Fedan • Foau • Gresi • Hatam 3 • Hupla • Iau • Iha • Iha Pijin 4 • Irarutu • Iresim • Isirawa • Itik • Iwur • Jofotek-Bromnya • Kaburi • Kais • Kaiy • Kalabra • Kamberau • Kamoro • Kanum Bädi • Kanum Ngkâlmpw • Kanum Smärky • Kanum Sota • Kapauri • Kaptiau • Karas • Karon Dori • Kaure • Kauwera • Kawe • Kayagar • Kayupulau • Kehu 5 • Keijar • Kemberano • Kembra 5 • Kemtuik • Ketengban • Ketum • Kimaghima • Kimki • Kimyal • Kirikiri • Kofei • Kokoda • Kombai • Komyandaret • Konda • Koneraw • Kopkaka • Korowai • Korupun-Sela • Kosare • Kowiai • Kuri • Kurudu • Kwer • Kwerba • Kwerba Mamberamo • Kwerisa • Kwesten • Kwinsu • Legenyem • Lepki 5 • Liki • Maden • Mai Brat • Mairasi • Maklew • Melayu Papua • Mander • Mandobo Atas • Mandobo Bawah • Manem • Manikion • Mapia • Marau • Marind • Marind Bian • Masimasi • Massep 3 • Matbat • Mawes • Ma'ya • Mekwei • Meoswar • Mer • Meyah • Mlap • Mo • Moi • Molof 5 • Mombum • Momina • Momuna • Moni • Mor • Mor • Morai • Morori • Moskona • Mpur 3 • Munggui • Murkim 5 • Muyu Utara • Muyu Selatan • Nafri • Nakai • Nacla • Namla 5 • Narau • Ndom • Nduga • Ngalum • Nggem • Nimboran • Ninggerum • Nipsan • Nisa • Obokuitai • Onin • Onin Pijin 4 • Ormu • Orya • Papasena • Papuma • Pom • Puragi • Rasawa • Riantana • Roon • Samarokena • Saponi • Sauri • Sause • Saweru • Sawi • Seget • Sekar • Semimi • Sempan • Sentani • Serui-Laut • Sikaritai • Silimo • Skou • Sobei • Sowanda • Sowari • Suabo • Sunum • Tabla • Taikat • Tamagario • Tanahmerah • Tandia • Tangko • Tarpia • Tause • Tebi • Tefaro • Tehit • Tobati • Tofanma 5 • Towei • Trimuris • Tsaukambo • Tunggare • Una • Uruangnirin • Usku 5 • Viid • Vitou • Wabo • Waigeo • Walak • Wambon • Wandamen • Wanggom • Wano • Warembori • Wares • Waris • Waritai • Warkay-Bipim • Waropen • Wauyai • Woi • Wolai • Woria • Yahadian • Yale Kosarek • Yali Angguruk • Yali Ninia • Yali Lembah • Yaqay • Yarsun • Yaur • Yawa • Yei • Yelmek • Yeretuar • Yetfa • Yoke • Zorop • Seni • Film • Tari • Sastra • Musik • Lagu • Masakan • Mitologi • Pendidikan • Olahraga • Permainan tradisional • Busana daerah • Daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia • Arsitektur • Bandar udara • Pelabuhan • Stasiun kereta api • Terminal • Pembangkit listrik • Warisan budaya • Wayang • Batik • Keris • Angklung • Tari Saman • Noken Simbol • Halaman ini terakhir diubah pada 26 April 2022, pukul 04.10.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •

Suku Kamu Termasuk? Ini 10 Suku Terbesar Di Indonesia




2022 www.videocon.com