Kerangka kerja legal dogmatic

kerangka kerja legal dogmatic

Harison Citrawan https://scholar.google.co.id/citations?user=KA_Y1IMAAAAJ&hl=en Puslitbang HAM, Balitbang Hukum dan HAM Indonesia Harison Citrawan; bekerja sebagai fungsional peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Hak Asasi Manusia, Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Hak Asasi Manusia, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan area riset: hak sipil dan politik, keadilan transisional, dan hak asasi manusia di penjara; menyelesaikan Pendidikan Sarjana Hukum di Universitas Gadjah Mada pada tahun 2008, dan Magister Hukum Hak Asasi Manusia Internasional dari Rijksuniversiteit Groningen pada tahun 2010; alamat: Jalan H.R.

Rasuna Said Kav. 4-5, Jakarta Selatan; email: harison.citrawan@kemenkumham.go.id. Sabrina Nadilla https://scholar.google.co.id/citations?user=6dlvq9AAAAAJ&hl=id&oi=ao Puslitbang HAM, Balitbang Hukum dan HAM Sabrina Nadilla, dilahirkan pada tanggal 24 Juni 1996; memulai karier sebagai Kerangka kerja legal dogmatic sejak tahun 2017 hingga sekarang di Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM, Kementerian Hukum dan HAM RI; memperoleh Gelar Sarjana Hukum dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 2017; aktif dalam berbagai kegiatan seminar dan konferensi, a.l.

Konferensi Ilmiah Balitbangkumham Tahun 2019; aktif menulis dalam berbagai media, antara lain: Pelokalan Hak Asasi Manusia Melalui Partisipasi Publik dalam Kebijakan Berbasis Hak Asasi Manusia dalam jurnal HAM Vol. 10 No. 1 dan Konsolidasi SDM Hukum Nasional melalui Pendekatan Teori Sistem Hukum Luhmann dalam Prosiding Konferensi Ilmiah Badan Penelitian dan Pengembangan Hukum dan HAM Seri 2; alamat: Jalan H.R. Rasuna Said Kav. 4-5, Jakarta Selatan; email: sabrina@balitbangham.go.id Diskursus hukum dan hak asasi manusia di Indonesia masih sangat kental diwarnai oleh narasi dengan cara pandang legal-dogmatik.

Tulisan ini hendak mengajukan gagasan konseptual dan analitis kerangka kerja legal dogmatic hubungan antara hukum dan struktur pengetahuan dengan merujuk pada isu pelanggaran berat hak asasi manusia masa lalu.

Dengan tidak adanya regulasi yang dapat mengatasi kekerasan massal ( mass atrocities) pada masa lalu, artikel ini menyimpulkan bahwa pertama, proses pembentukan hukum dan peraturan perlu diposisikan di dalam kerangka kerja pembentukan pengetahuan.

Secara spesifik, kedudukan memori tentang kekerasan masa lalu, sebagai bagian dari struktur pengetahuan, menjadi unsur konstitutif dalam pembentukan hukum dan regulasi. Hubungan antara hukum dan memori dapat ditemukan melalui tiga mekanisme: narasi analogis, kesadaran historis, dan pembawa memori.

Kedua, pada level analitis, untuk dapat membantu dalam menjelaskan proses ketiga mekanisme tersebut, artikel ini menawarkan teori aktor jaringan sebagai alternatif. Selain itu, teknik tersebut diharapkan lebih mampu mencerminkan realitas sosial dalam proses legislasi. Bagaimanapun, dua simpulan ini menjadi awal semata dalam mengembangkan studi hukum dan hak asasi manusia dari lensa sosio-legal. Abdurahman, Ali, and Mei Susanto.

“Urgensi Pembentukan Undang-Undang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi di Indonesia Dalam Upaya Penuntasan Pelanggaran HAM Berat di Masa Lalu.” PADJAJARAN Jurnal Ilmu Hukum 3, no.

3 kerangka kerja legal dogmatic 389–530. Banakar, Reza. Normativity in Legal Sociology: Methodological Reflections on Law and Regulation in Late Modernity. London: Springer, 2015. Bellamy, Alex J. “Operationalizing the ‘Atrocity Prevention Lens.’” In Reconstructing Atrocity Prevention, 61–80.

New York: Cambridge University Press, 2016. Berger, Peter L, and Luckmann. The Social Construction of Reality, A Treatise in the Sociology of Knowledge. New York: Penguin Books, 1966. Bourdieu, Pierre. “The Force of Law: Toward a Sociology of the Juridical Field.” Hastings Law Journal 38, no. 5 (1987): 805. Kerangka kerja legal dogmatic, Kenneth A. “Social Construction, Language, and the Authority of Knowledge: A Bibliographical Essay.” College English 48, no.

8 (1986): 773–790. Buzelin, Hélène. “Unexpected Allies: How Latour’s Network Theory Could Complement Bourdieusian Analyses in Translation Studies.” The Translator 11, no. 2 (November 2005): 193–218. Callon, Michel. “Some Elements of A Sociology of Translation: Domestication of the Scallops and Fishermen of St. Brieuc Bay.” In Power, Action, and Belief: A New Sociology of Law, edited by John Law, 196–233.

London: Routledge, 1986. ———. “Some Elements of a Sociology of Translation.” In Technoscience: The Politics of Interventions, edited by Kristin Asdal, Brita Brenna, and Ingunn Moser, 72–135.

Oslo: Unipub, 2007. Chen, Ronald, and Jon Hanson. “Categorically Biased: The Influence of Knowledge Structures on Law and Legal Theory.” Southern California Law Review 77 (2004): 1103.

Citrawan, Harison. “Analisis Dampak Hak Asasi Manusia atas Regulasi: Sebuah Tinjauan Metodologi.” Jurnal HAM 8, no. 1 (2017): 13–24. ———. “From Grievance to Welfare: Reshaping the Identity of Past Gross Violation of Human Rights Victims in Indonesia.” Jurnal Masyarakat dan Budaya 20, no.

2 (2018): 237–248. http://jmb.lipi.go.id/index.php/jmb/article/view/571. Collins, Cath. Post-Transitional Justice: Human Rights Trials in Chile and El Salvador.

Pennsylvania: The Pennsylvania State University Press, 2010. Cotterrell, Roger. Law, Culture and Society: Legal Ideas in the Mirror of Social Theory. Hampshire: Ashgate, 2006. Durkheim, Emile. The Elementary Forms of Religious Life (Translated by Karen E. Fields). New York: The Free Press, 1995. Dworkin, Ronald. Law’s Empire. Cambridge, Massachusetts, London: The Belknap Press of Harvad University Press, 1986. Ehito, K. “The Struggle for Justice and Reconciliation in Post-Suharto Indonesia.” Southeast Asian Studies 4, no.

1 (2015): 73–93. Eickhoff, Martijn, Donny Danardono, Tjahjono Rahardjo, and Hotmauli Sidabalok. “The Memory Landscapes of ‘ 1965 ’ in Semarang.” Journal of Genocide Research 19, no.

4 (2017): 530–550. https://doi.org/10.1080/14623528.2017.1393945. Feierstein, Daniel. “Beyond the Binary Model: National Security Doctrine in Argentina as a Way of Rethinking Genocide as a Social Practice.” In Hidden Genocides: Power, Knowledge, Memory, 68–80.

New Brunswick, New Jersey, and London: Rutgers University Press, 2014. Fletcher, Laurel E, and Harvey M Weinstein. “Context, Timing and the Dynamics of Transitional Justice: A Historical Perspective.” Human Rights Quarterly 163, no. 31 (2009): 165–220. Fox, Stephen. “Communities of Practice, Foucault and Actor-Network Theory.” Journal of Management Studies 37, no.

6 (2000). Fronza, Emanuela. Memory and Punishment: Historical Denialism, Free Speech and the Limits of Criminal Law. International Criminal Justice Series. Vol. 19. The Hague: T.M.C Asser Press, 2018.

kerangka kerja legal dogmatic

http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/0731129X.2000.9992088. Goldman, Harvey. “From Social Theory to Sociology of Knowledge and Back : Karl Mannheim and The Sociology of Intellectual Knowledge Production” 12, no. 3 (1994): 266–278. Halbwachs, Maurice. On Collective Memory. Edited by Lewis A. Coser. Chicago, London: The University of Chicago Press, 1992. Ikhwan, Hakimul, Vissia Ita Yulianto, and Gilang Desti Parahita. “The Contestation of Social Memory in the New Media : A Case Study of the 1965 Killings in Indonesia” 12 (2019): 3–16.

Irianto, Sulistiyowati. “Enriching Legal Studies with Socio-Legal Research.” In Advancing Rule of Law in a Global Context, edited by Heru Susetyo, Patricia Rinwigati Waagstein, and Akhmad Budi Cahyono, 196. London: Taylor & Francis Group, 2020. Kania, Dede. “Hak Asasi Perempuan Dalam Peraturan Perundang-Undangan Di Indonesia.” Jurnal Konstitusi 12, no.

kerangka kerja legal dogmatic

4 (2016): 716. Kasim, Helmi. “Penegasan Peran Negara dalam Pemenuhan Hak Warga Negara atas Air.” Jurnal Konstitusi 12, no. 2 (2016): 353. Kim, Hunjoon, and Kathryn Sikkink. “Explaining the Deterrence Effect of Human Rights Prosecutions for Transitional Countries.” International Studies Quarterly 54, no. 4 (2010): 939–963. Krieken, Robert van. “Legal Reasoning as a Field of Knowledge Production: Luhmann, Bourdieu and Law’s Autonomy.” In Law, Power & Injustice: Confronting the Legacies of Sociolegal Research, Law & Society Association Conference, 1:117–125.

kerangka kerja legal dogmatic

Chicago, 2004. Kurze, A. “The Coming Out of Memory: The Holocaust, Homosexuality, and Dealing with the Past.” Kritika Kultura 33 (2019): 761–785.

Langford, Malcolm. kerangka kerja legal dogmatic and Multimethod Research.” In Research Method in Human Rights: A Handbook, edited by Siobhan McInerney-Lankford, Bard A. Andreassen, and Hans-Otto Sano, 173. Cheltenham, Northampton: Edward Elgar Publishing, 2017. Latour, Bruno. “On Actor-Network Theory: A Few Clarifications.” Soziale Welt 47, no.

4 (1996): 369–381. ———. The Making of Law: An Ethnography of the Conseil d’Etat. Cambridge: Polity Press, 2002. Law, John. “Notes on the Theory of the Actor-Network: OrderingStrategyand Heterogeneity.” Systems Practice 5, no. 4 (1992): 379–393. Maclean, Ian. “Foucault ’ s Renaissance Episteme Reassessed : Aristotelian Counterblast” 59, no. 1 (2014): 149–166. McAuliffe, Padraig.

Transitional Justice and Rule of Law Reconstruction: A Contentious Relationship. London & New York: Routledge, 2013. McGee, Kyle. “On Devices and Logics of Legal Sense: Toward Socio-Technical Legal Analysis.” In Latour and the Passage of Law, edited by Kyle McGee, 61–92.

Edinburgh: Edinburgh University Press, 2015. McGregor, Katharine E. “Commemoration of 1 October, ‘Hari Kesaktian Pancasila’: A Post Mortem Analysis?” Asian Studies Review 26, no.

1 (2002): 39–72. ———. “Exposing Impunity : Memory and Human Rights Activism in Indonesia and Argentina.” Journal of Genocide Research 19, no. 4 (2017): 551–573.

https://doi.org/10.1080/14623528.2017.1393948. McGregor, Katharine E., and Ken Setiawan. “Shifting from International to ‘Indonesian’ Justice Measures: Two Decades of Addressing Past Human Rights Violations.” Journal of Contemporary Asia 49, no. 5 (2019): 837–861. https://doi.org/10.1080/00472336.2019.1584636. McInerney-Lankford, Siobhán. “Legal Methodologies and Human Rights Research: Challenges and Opportunities.” In Research Methods in Human Rights: A Handbook, edited by Bård A. Andreassen, Hans-Otto Sano, and Siobhán McInerney-Lankford, 38–67.

Cheltenham, Northampton, 2017. Meyer, Renate E. “New Sociology kerangka kerja legal dogmatic Knowledge: Historical Legacy and Contributions to Current Debates in Institutional Research.” In The SAGE Handbook of Organizational Institutionalism, edited by Royston Greenwood, Christine Oliver, Thomas B. Lawrence, and Renate E. Meyer, 519–538. 2nd ed. 1 Oliver’s Yard, 55 City Road, London EC1Y 1SP United Kingdom: SAGE Publications Ltd, 2008.

Miller, Stephen. “Zombie Anti-Communism? Democratization and the Demons of Suharto-Era Politics in Contemporary Indonesia.” In The Indonesian Genocide of 1965 Causes, Dynamics and Legacies, edited by Katharine McGregor, Jess Melvin, and Annie Pohlman, 287–310. Palgrave Macmillan, 2018. Misztal, Barbara A. “Durkheim on Collective Memory.” Journal of Classical Sociology 3, no.

2 (2003): 123–143. Kerangka kerja legal dogmatic, Mark S, and Lisa C Fein. “The Social Construction of Organizational Knowledge : A Study of the Uses of CoerciveMimeticand Normative Isomorphism” (1983).

Moon, Claire. “States of Acknowledgement: The Politics of Memory, Apology, and Therapy.” In Crime, Social Control and Human Rights: From Moral Panics to States of Denial - Essays in Honour of Stanley Cohen, edited by David Downes, Paul Rock, Christine Chinkin, and Conor Gearty, 314–329.

kerangka kerja legal dogmatic

Oregon: Willan Publishing, 2007. Mustika, Rieka. “Inovasi Teknologi Portal Intranet Kominfo: Perspektif Actor Network Theory.” Jurnal Komunikasi Indonesia 4, no. 1 (January 2018). Nadilla, Sabrina. “Konsolidasi SDM Hukum Nasional Melalui Pendekatan Teori Sistem Hukum Luhmann.” In Nilai Penting SDM Hukum Dalam Pembangunan Hukum Nasional, 249–266. Jakarta: Balitbangkumham Press, 2019. ———. “Pelokalan Hak Asasi Manusia Melalui Partisipasi Publik dalam Kebijakan Berbasis Hak Asasi Manusia.” Jurnal HAM 10, no.

1 (2019): 85. Nalle, Victor Imanuel. “Asas Contarius Actus Pada Perpu Ormas: Kritik Dalam Perspektif Hukum Administrasi Negara Dan Hak Asasi Manusia.” PADJADJARAN Jurnal Ilmu Hukum (Journal of Law) 4, no. 2 (2017): 244–262. Nonet, Philippe, and Philip Selznick. Toward Responsive Law: Law and Society in Transition. London & New York: Routledge, 2017. Osiel, Mark J. Making Sense of Kerangka kerja legal dogmatic Atrocity. New York: Cambridge University Press, 2009.

Phillips, Derek L. “Epistemology and The Sociology of Knowledge: The Contributions of Mannheim, Mills, and Merton.” Theory and Society 1, no. 1 (1974): 59–88. Pottage, Alain. “The Materiality of What?” Journal of Law and Society 39, no.

1 (2012): 167–183. Putuhena, M. Ilham F. “Politik Hukum Perundang-Undangan dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Produk Legislasi.” Jurnal Rechts Vinding: Media Pembinaan Hukum Nasional 1, no. 3 (2012): 343–360. http://rechtsvinding.bphn.go.id/ejournal/index.php/jrv/article/view/89/111. Rahmanto, Tony Yuri. “Kebebasan Berekspresi dalam Perspektif Hak Asasi Manusia: Perlindungan, Permasalahan dan Implementasinya Di Provinsi Jawa Barat.” Jurnal HAM 7, no. 1 (2016): 45. Ringer, Fritz. “The Intellectual Field, Intellectual History, and The Sociology of Knowledge.” Theory and Society 19, no.

3 (1990): 269–294. Sarat, Austin, and Thomas R. Kearns. “Writing History and Registering Memory in Legal Decisions and Legal Practices: An Introduction.” In History, Memory, and the Law, edited by Austin Sarat and Thomas R. Kearns, 1–24. The University of Michigan Press, 2005. Savelsberg, Joachim J. Representing Mass Violence: Conflicting Responses to Human Rights Violations in Darfur. Oakland, California: University of Kerangka kerja legal dogmatic Press, 2015. Savelsberg, Joachim J., and Ryan D.

King. “Institutionalizing Collective Memories of Hate: Law and Law Enforcement in Germany and the United States.” American Journal of Sociology 111, no. 2 (2005): 579–616. ———. “Law and Collective Memory.” Annual Review of Law and Social Science 3, no.

1 (2007): 189–211. Schudson, Michael. Watergate and American Memory: How We Remember, Forget, and Reconstruct the Past. Basic Books, 1993.

Schwartz, Barry. “Social Change and Collective Memory: The Democratization of George Washington.” American Sociological Review 56, no. 2 (April 1991): 221. Sikkink, Kathryn. “The Justice Cascade: How Human Rights Prosecutions Are Changing World Politics,” n.d. Steinweis, Alan E. “The Auschwitz Analogy: Holocaust Memory and American Debates over Intervention in Bosnia and Kosovo in the 1990.” Holocaust and Genocide Studies 19, no.

2 (2005): 276–289. Sulistiyanto, Priyambudi. “Politics of Justice and Reconciliation in Post-Suharto Indonesia.” Journal of Contemporary Asia 37, no. 1 (2007): 73–94. Swidler, Ann, and Jorge Arditi. “The New Sociology of Knowledge.” Annual Review Sociology 20 (1994). Turkel, Gerald. “Michel Foucault: Law, Power, and Knowledge.” Journal of Law and Society 17, no. 2 (1990): 170–193. Whigham, Kerry E. “Remembering to Prevent : The Preventive Capacity of Public Memory” 11, no.

2 (2017): 53–71. Wibisana, Andri Gunawan. “Menulis Di Jurnal Hukum: Gagasan, Struktur, Dan Gaya.” Jurnal Hukum & Pembangunan 49, no. 2 (2019): 471. Wieringa, Saskia E., and Nursyahbani Katjasungkana. Propaganda and the Genocide in Indonesia.

Propaganda and the Genocide in Indonesia. London, New York: Routledge, 2019. Yoder, Jennifer A. “Angela Merkel’s Discourse about the Past: Implications for the Construction of Collective Memory in Germany.” Memory Studies 12, no. 6 (2019): 660–676. Article Metrics Abstract This article has been read : 12490 times PDF file viewed/downloaded : 3042 times DOI: http://dx.doi.org/10.30641/ham.2020.11.151-167 Refbacks • There are currently no refbacks. Jurnal HAM Indexed by : <div class="statcounter"><a title="hit counter" href="http://statcounter.com/" target="_blank"><img class="statcounter" src="//c.statcounter.com/10941648/0/74dd7a09/0/" alt="hit counter"></a></div> Jurnal HAM Statistic This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License Para penulis dan pakar hukum terkemuka di Belanda membedakan antara hukum dogmatis dengan kerangka kerja legal dogmatic hukum empiris.

[1] Ilmu hukum sendiri memiliki kharakter yang khas, yakni bersifat normative. Karena karakter ilmu hukum yang normative tersebut ilmu hukum bersifat sui generis, [2] yakni tidak dapat dibandingkan (diukur, dinilai) dengan bentuk ilmu lain yang manapun.

[3] Sedangkan studi hukum yang masuk dalam kategori ilmu hukum empiris menurut Van Apeldoorn adalah sosiologi hukum, sejarah hukum, perbandingan hukum dan psikologi hukum. [4] Ciri khas dan karakter ilmu hukum yang bersifat normative tersebut yang membedakan dengan ilmu-ilmu lainnya pada lapangan ilmu social. Untuk itu kaitan antara normativitas dengan karakter ilmu hukum yang bersifat sui generis adalah memandang hukum bukan hanya menempatkan hukum pada suatu gejala social yang hanya dipandang dari luar, melainkan masuk kedalam yang sangat fundamental dari hukum yaitu sisi intrinsic dari hukum.

Sehingga konsekwensi dari sifat ilmu hukum yang bersifat demikian, maka dikatakan bahwa ilmu hukum mempunyai karakteristik sebagai ilmu yang bersifat preskriptif, yakni yang mempelajari tujuan hukum, nilai-nilai keadilan, validitas hukum, konsep-konsep hukum dan norma-norma hukum. [5] Sifat preskriptif itulah yang dianggap substansial dalam mempelajari ilmu hukum, dikarenakan tidak akan dipelajari dalam ilmu social lainnya yang objeknya sama yakni hukum.

Dengan demikian berdasar pada uraian diatas, maka karakter ilmu hukum dogmatis adalah bersifat normative yang terjewantahkan dalam suatu peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh Pemerintah yang berdaulat dalam suatu Negara. Sifat dari sui generis berarti ilmu hukum merupakan ilmu dari jenis tersendiri, sehingga pengelompokannya bukan berada pada pohon atau rumpun ilmu social juga bukan merupakan kerangka kerja legal dogmatic pengetahuan alam. [6] Untuk itu kajian terhadap ilmu hukum yang memegang prinsip terhadap sifat dan karakter ilmu hukum yang bersifat sui generis ini, dengan terang benderang menolak kajian empiris dalam ilmu hukum.

• Perbedaan karakteristik kata “normatif” dalam hukum positif (“positive law”) dalam hukum alam (“law nature”) dan dalam hukum moral (“morality”): Hukum dan Fakta Hukum dan Moralitas Tesis Normativitas (Keterpisahan hukum kerangka kerja legal dogmatic Fakta) Tesis Reduktif (Ketidakterpisahan antara hukum dan fakta) Tesis Moralitas (Ketidakterpisahan antara hukum dan moralitas) Teori hukum alam Tesis keterpisahan (Keterpisahan hukum dan Moralitas) Pure Theory of Law Teori hukum Empiris-positivis • Kritik terhadap positivism hukum jika mendominasi kerangka berfikir penelitian hukum : Pada dasarnya positivism hanya mempertimbangkan aspek hukum positif saja, tanpa mempertimbangkan keadilan atau ketidakadilannya.

Padahal menurut Stammer kemurnian mutlak bagi teori hukum apapun adalah tidak mungkin. Kaum Positivistik harus mengakui manakala teori memasuki pertanyaan-pertanyaan tentang norma fundamental yang bertentangan.

Pertanyaan yang merupakan norma fundamental yang valid, dimana teori murninya tidak dapat dihindari, karena tanpa itu maka keseluruhan bangunan akan runtuh. [7] Dari sisi yang lain Lauterpacht seorang pengikut Kelsen mempertanyakan apakah teori hierarki tidak menyatakan secara langsung sebuah pengakuan akan prinsip-prisnsip hukum alam.

[8] Selain itu peraturan-peraturan hukum dibuat supaya ada hukum, bukan berarti supaya ada hukum. Dengan demikian maka dengan adanya hukum maka perlu untuk menegakkan kemanusiaan, dengan demikian hukum tidak identik dengan undang-undang. Di sisi yang lain hukum diperlukan penggarapan terus-menerus, dikarenakan hukum dalam hal ikhwal juga terdapat peraturan hukum yang melawan hukum karena bertentangan dengan kemanusiaan.

Untuk itu tidak dapat kemudian teori hukum murni ini digunakan sepenuhnya dalam konteks bernegara, sehingga Konsep hukum responsive yang diajarkan oleh Philippe Nonet and Philip Selznick [9] tidak dapat diterapkan dengan baik.

Menurut Friedmann, hukum sebagai suatu sistem terdiri dari sub-sub sistem yang saling bergerak yang tidak dapat terpisahkan dan terpengaruh satu dengan lainnya. Sub-sub sistem itu terdiri dari: Substansi Hukum ( legal substance), Struktur Hukum ( legal structure), dan Kultur Hukum (legal culture). Adapun budaya hukum yang baik akan terbentuk apabila semua pihak secara sungguh-sungguh dilibatkan untuk berpartisipasi secara penuh dalam proses pembentukan hukum, agar semua orang benar-benar merasa memiliki hukum itu.

kerangka kerja legal dogmatic

Karena begitu besarnya peran budaya hukum itu, maka ia dapat menutupi kelemahan dari legal substance dan legal structure. [10] Jadi menurut Friedmann hukum memiliki ruang lingkup yang sangat luas, tidak terbatas pada tekstual berupa peraturan perundang-undangan. Dalam berfungsinya hukum ditengah masyarakat tidak saja membutuhkan undang-undang belaka tetapi membutuhkan hal-hal lainnya seperti budaya masyarakat, aparat penegak hukum maupun sarana dan prasarana.

Dari sini kita bisa melihat bahwa aliran positivisme berusaha memahami hukum hanya sebatas tekstual. Selain itu juga dapat dilakukan kritik dari segi Teoritis [11] dimana positivisme hukum tumbuh dan berkembang subur pada masa hukum alam, yang pada intinya menginginkan ilmu hukum alam dapat diprediksi dan kerangka kerja legal dogmatic. Cara pandang formalistic ini tidak mempertimbangkan apakah norma yang diundangkan tersebut bersifat adil atau tidak. Selain itu dari segi Praktis [12] yakni dalam positivisme hukum undang-undang dipandang sebagai hukum yang komplit, sehingga tugas hakim tinggal menerapkan terhadap kejadian konkrit dilapangan.

Sehingga kemudian hakim menjadi kaku dan tidak mendorong adanya perkembangan masyarakat. Hakim hanya menginterpretasikan secara gramatikal terhadap peristiwa hukum yang terjadi dilapangan, dengan kerangka kerja legal dogmatic melihat dasar pertimbangan secara dasar-dasar tingkat keadilan dan kemanfaatannya. • Penjelasan lapisan Ilmu Hukum menurut J. Gijssels dan M.v.Hoecke, serta kaitannya dengan rancangan penelitian yang akan saya tulis : Lapisan Ilmu Kerangka kerja legal dogmatic Menurut J.

Gijssels dan M.v.Hoecke Jan Gijssels dan Mark van Hoecke membagi ilmu hukum dalam tiga lapisan, yakni dogmatik hukum, teori hukum dan filsafat hukum. [13] Tiap lapisan ilmu hukum tersebut memiliki kharakter khusus mengenai konsep, eksplanasi, sifat atau hakikat keilmuannya. Dogmatik hukum konsepnya technisch juridisch begrippen, ekplanasinya teknis yuridis dan sifat keilmuannya normative.

Lapisan teori hukum konsepnya algemene begrippen, eksplanasinya analitisdan sifat keilmuannya Normatif/Empiris. Lapisan filsafat hukum konsepnya grond begrippen, eksplanasinya reflektif dan sifat keilmuannya spekuliatif. [14] Hubungan Filsafat Hukum, Teori Hukum dan Dogmatik Hukum LAPISAN ILMU HUKUM KONSEP EKSPLANASI SIFAT Filsafat Hukum grond begrippen Reflektif Spekulatif Teori Hukum algemene begrippen Analitis Normatif/Empiris Dogmatik Hukum technisch juridisch begrippen Teknis Yuridis Normatif [1] Karya fenomenal yang membagi hukum secara rinci adalah JJH.

Bruggink, Refleksi tentang Hukum, (alih bahasa Bernard Arief Sidharta), Citra Aditya Bakti, Bandung, cetakan ke-2, 1999, Hal. 163. Bandingkan dengan Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, Prenada Media, Jakarta, Cetakan ketiga, 2009, Hal.

27 [2] Meuwissen, Tentang Pengembanan Hukum, Ilmu Hukum, Teori Hukum dan Filsafat Hukum, (Penerjemah Bernard Arief Sidharta), Refika Aditama, Bandung, cetakan ketiga, 2009, hal. 55 [3] Ibid [4] L.J. Van Apeldorn, Pengantar Ilmu Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta, Cetakan ketiga puluh empat, 2011, Hal. 412 – 413 [5] Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media, Jakarta, 2005, Hal.

23 [6] Philipus M Hadjon dan Tatiek Djatmiati, Argumentasi Hukum, Gajah Mada University Press, Yogyakarta, cetakan kedua, 2005, Hal. 1 [7] Kritik terhadap pandangan Hans Kelsen itu juga dapat dibaca melalui bukunya : Friemann, Theori and Philosophy of Law, Universiy of Paris, 1973, hal. 285 [8] Friedmann, Ibid [9] Mengenai konsep hukum responsive, otonom dan represif dapat dibaca dan dipahami melalui buku : Philippe Nonet kerangka kerja legal dogmatic Philip Selznick, Law and Society in Transition: To Reward Responsive Law, Harper and Row, New York, 1978, hal.

[10] Friedmann, Legal Theory, Steven & Son, London, 1960, Hal. 2-8 [11] Widodo Dwi Putro, Mengkritisi Positivisme Hukum: Langkah Awal Memasuki DiskursusvMetodologis dalam Penelitian Hukum, dalam Sulistyowati Irianto dan Shidarta, Metode Penelitian Hukum, konstelasi dan refleksi, Yayasan Pustaka Obor, Jakarta, 2011, hal.

23-25 [12] Ibid, hal. 28-30 [13] Secara lengkap diurai dalam buku Jan Gissels dan Mark van Hoecke, Wat is Rechtsteorie?, Kluwer, Antwerpen, 1982, hal. 10. Bandingkan dengan JJH. Bruggink, Opcit, Hal. 172 [14] Philipus M Hadjon, Pengkajian Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Unair, Surabaya, tt, hal. 10
• Home • Rubric of Faculty Members • MENAKAR KEILMIAHAN ILMU HUKUM DOGMA. MENAKAR KEILMIAHAN ILMU HUKUM DOGMATIS Oleh SHIDARTA (Juli 2015) Apakah objek dari suatu ilmu (sains)?

Pertanyaan ini sangat penting diajukan bagi para penstudi filsafat ilmu, namun sepertinya tidak menarik untuk dibahas oleh para pengkaji ilmu hukum. Hal ini karena pertanyaan demikian bisa menjadi biang penolakan bagi sebagian orang yang mengaku saintis untuk kemudian mengeluarkan ilmu hukum dari kerabat sains. Secara umum dinyatakan bahwa objek ilmu (sains) haruslah berupa fakta atau berangkat dari fakta. Sesuatu yang tidak faktual berarti fiktif. Sesuatu yang fiktif tidak layak untuk diperbincangkan dalam diskursus ilmiah.

Bagaimana dengan ilmu hukum? Apakah objek ilmu hukum itu? Dalam konteks ilmu hukum yang paling sempit dan konkret, yang disebut ilmu hukum dogmatis atau dogmatika hukum, objek ilmu hukum adalah norma.

Paul Scholten (1875-1946) menyebutnya sebagai hukum yang ada (bestaande recht) atau hukum positif. Bagi Scholten, pengertian hukum positif tidak harus hukum tertulis seperti undang-undang atau putusan hakim.

Hukum positif juga tidak hanya mencakup kebiasaan dan adat-istiadat, tetapi juga keyakinan hukum masyarakat. Hukum positif, dengan demikian, adalah suatu kompleks aturan-aturan dan kewenangan-kewenangan, yang satu sama lain saling terkait dalam suatu bangunan logis dari jiwa kita, yang mewujudkan satu kesatuan, yakni sebuah sistem.

Sistem ini terus-menerus bergerak, dan tidak pernah selesai. Perjalanan ilmu hukum dipandu oleh eschaton, semacam bintang yang menyala terang dan ikut bergerak seiring dengan pergerakan hukum.

Dengan demikian, objek ilmu hukum [dogmatis] memang tidak bisa disamakan seperti objek-objek sains. Objek ilmu hukum sangat unik karena terdiri dari kompleksitas norma-norma hukum positif. Di dalam norma selalu terdapat penilaian tentang baik dan buruk, yang dengan sendirinya secara preskriptif memberikan penganjuran tentang apa yang seyogianya dilakukan.

Karena bersifat preskriptif, ia bisa saja tidak faktual. Dengan dalih rekayasa sosial, suatu ketentuan norma hukum positif, misalnya, dapat dipaksakan berlaku terlepas masyarakatnya belum mempraktikkan ketentuan norma itu dalam perilaku mereka sehari-hari.

Dalam disertasinya berjudul Refleksi tentang Struktur Ilmu Hukum (1999), Bernard Arief Sidharta menyatakan bahwa ciri khas ilmu hukum adalah sebagai ilmu praktis yang bertumpu pada ilmu-ilmu humaniora [sic!] dan bersifat nasional serta tidak bebas nilai.

Juga disebutkan bahwa ilmu hukum mewujudkan medan berkonvergensi berbagai ilmu lain, sehingga secara metodologis mewujudkan dialektika metode normologis dan nomologis. Dalam objek telaah ilmu hukum itu terdapat unsur otoritas (kekuasaan). Pengembanan dan penerapan (ars) ilmu hukum berpartisipasi dalam proses pembentukan hukum dan produknya menimbulkan hukum baru.

Lalu, teori argumentasi memegang peranan penting dalam ilmu hukum. Model berpikir dalam ilmu hukum adalah problematis tersistematisasi. Metode penelitiannya adalah metode penelitian normatif, yakni metode doktrinal dengan optik preskriptif untuk secara hermeneutis menemukan kaidah hukum yang menentukan apa yang menjadi kewajiban dan hak yuridis subjek hukum dalam situasi kemasyarakatan tertentu.

kerangka kerja legal dogmatic

Apa yang disimpulkan di atas memiliki akar filosofisnya dalam karya Scholten. Dalam buku yang diangkat dari pidato Scholten di hadapan Akademi Ilmu Pengetahuan Belanda (1942), Scholten menyerang pandangan Kelsen yang hendak memurnikan hukum.

Menurut Scholten, jika ‘kemurnian’ ilmu hukum diperjuangkan, maka hasilnya adalah seperti mahluk tanpa darah. Bahan-bahan hukum itu sendiri sudah tidak murni, sehingga tidak mungkin dari bahan-bahan itu dapat dihasilkan suatu ‘kemurnian’.Sebuah aturan dogmatis tidak dapat dimengerti jika ia tidak diberi konteks historis dan sosiologis. Scholten mengatakan bahwa tidak ada ilmu tentang hukum positif saja karena yang ada sesungguhnya adalah ilmu tentang hukum positif Belanda, ilmu tentang hukum positif Prancis, dan seterusnya.

Sebagai ilmu hukum positif suatu negara, maka konteks historis dan sosiologis negara tentu sangat menentukan wujud hukum positif di negara tersebut. Ilmu hukum positif inipun hanya dapat digarap oleh warga dari negara yang bersangkutan karena jika dilakukan oleh orang warga negara lain, yang terjadi sudah merupakan kegiatan perbandingan huk/um.

Jadi, objek kajian ilmu hukum dogmatis Indonesia adalah sistem norma positif yang saat ini berlaku dalam wilayah yurisdiksi hukum Indonesia. Sebagai tatanan normatif, objek kajian ini menyogiakan perilaku dari orang-orang yang menjadi subjek norma tersebut.

Oleh karena itu, keberlakuan norma positif tadi menentukan batas-batas cakupan suatu ilmu hukum dogamtis. Jelas model pembatasan seperti itu dinilai “aneh” dan jelas-jelas akan ditolak masuk ke dalam kelompok sains. Belum lagi norma sebagai objek, sudah memberi petunjuk bakal adanya persoalan terkait objektivitas kebenaran.

Jika ditinjau dari filsafat bahasa, maka menurut John Langshaw Austin (1911-1960) rumusan bahasa yang biasanya muncul di dalam ranah hukum termasuk ke dalam kategori ujaran performatif (perfomative utterences). Ujaran performatif berhubungan dengan perilaku, sehingga tidak bisa dinilai benar-salahnya. Misalnya, pembentuk undang-undang mengatakan, “setiap warga negara sama kedudukannya di muka hukum!” Ujaran demikian mewajibkan setiap negara dan subjek hukum lain di luar negara menghormati hak setiap warga negara untuk diperlakukan sama di depan hukum.

Dengan perkataan lain, seyogianya di dalam berhukum, tidak boleh ada diskriminasi. Apakah ujaran di atas benar atau salah? Ujaran di atas bersifat normatif dan menyogiakan. Ujaran itu tidak merujuk pada fakta, sehingga bukan termasuk ujaran konstatif (constative utterence) yang biasanya diperagakan dalam bahasa ilmu-ilmu berkriteria sains menurut ukuran zaman modern.

Jadi, sekalipun kerangka kerja legal dogmatic negara ini, misalnya, tindakan diskriminatif masih sering ditunjukkan oleh aparat penegak hukum sebagai kepanjangan tangan negara, tetap saja norma yang menyatakan “setiap warga negara sama kedudukannya di muka hukum” itu sah berlaku.

Ukurannya sah, bukan benar-salah. Mengapa sah? Ujaran performatif mensyaratkan tiga alternatif sayarat agar suatu tutur dapat menjadi ujaran yang sah. Pertama, ujaran itu harus dinyatakan oleh penutur yang berwenang. Kedua, ujaran itu dinyatakan oleh penutur yang konsisten dengan pernyataannya. Ketiga, ujaran itu dinyatakan oleh penutur yang jujur.

Biasanya hukum sudah cukup puas jika dapat memastikan bahwa sumber ujaran (penutur) hukum positif itu memang memenuhi syarat kewenangan. Syarat ini sebenarnya merupakan syarat formal semata. Konsistensi dan kejujuran lebih sering dikonotiasikan sebagai syarat-syarat non-hukum karena banyak menjadi perhatian para penstudi sosiologi hukum dan filsafat hukum. Di sini terlihat bahwa materi olahan dalam ilmu hukum dogmatis dapat saja bersifat a-logis karena tidak berurusan dengan sisi faktual yang sungguh-sungguh terjadi di dalam konteks ruang dan waktu.

Hukum bahkan terkadang tidak membutuhkan aspek benar-salah dalam arti faktual tersebut, mengingat fiksi pun bisa diakomodasi menjadi suatu norma yang mengikat pula. Dalam ilmu hukum dikenal begitu banyak fiksi hukum yang secara sadar digunakan untuk membantu kinerja hukum agar hukum positif menjadi lebih berdaya laku dan berdaya guna.

Sebagai contoh, perintah agar semua orang tanpa terkecuali wajib untuk tahu tentang ketentuan hukum yang tengah berlaku di suatu tempat, jelas-jelas merupakan norma yang tidak logis, sekaligus tidak faktual. Atas dasar karakteristik seperti inilah maka ilmu hukum [dogmatis] atau dogmatika hukum dapat dipandang ilmu yang unik. Ilmu yang sui generis. Keunikan ilmu hukum dogmatis itu terletak pada aspek norma yang preskriptif dan aspek keterimaannya secara nasional. Kedua aspek tadi mengundang keberatan bagi kaum positivisme logis yang mendambakan adanya suatu ilmu yang berkesatuan (Einheitswissenchaft).

Ciri itu adalah kesamaan metode. Dalam perkembangan ilmu selama satu dasawarsa terakhir, pencarian ke arah Einheitswissenschaft itu tadi sudah dipandang usang.

Telah terbuka perspektif lain tentang kriteria ilmiah tersebut. Artinya, tidak ada keharusan kerangka kerja legal dogmatic menakar keilmiahan ilmu hukum hanya bermodalkan perspektif kaum positivisme logis itu saja.

(***) Baca juga tulisan terkait: Humaniora, Humanities, dan Posisi Ilmu Hukum Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal. Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / .

Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern. Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan. We're Moving Forward. This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser. Best viewed with one of these browser instead.

It is totally free. • Google Chrome • Mozilla Firefox • Opera • Internet Explorer 9 Close Dogmatik Hukum memiliki konotasi pejoratif dengan Ajaran hukum (rechtsleer) atau Kemahiran hukum (rechtskunde) yang merupakan cabang dari ilmu hukum yang berkenaan dengan obyek-obyek (pokok-pokok pengaturan) dari hukum, bahkan lebih luas yg berkenaan dengan tata hukum (rechtsbestel) secara keseluruhan.

Dogmatik hukum mengumpulkan dan menelaah pokok-pokok pengaturan yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dengan tujuan untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik dan penjelasan tunggal tentang pokok telaah yang diteliti.

Kegunaan dari dogmatik hukum adalah upaya menemukan dan mengumpulkan bahan empirikal sampai ke sudut-sudut terjauh dari hukum, yaitu dengan cara penataan dan pengolahan secara sistematikal, dengan menampilkan gambaran secara menyeluruh terikhtisar dan kejernihan dari apa yang tampaknya merupakan suatu kesemerawutan dari pengumpulan bahan yang belum kerangka kerja legal dogmatic atau tercerai berai. Maka Dogmatik hukum mempresentasikan secara global dan terpadu (sintetikal) tingkat keadaan hukum, sehingga para juris akan merujuk kepadanya, begitu pembacaan biasa atas undang-undang tidak lagi cukup untuk penyelesaian masalah-masalah yang di hadapi.

Objek kajian dogmatik hukum adalah menggali sumber-sumber hukum formal dalam arti luas yakni perundang-undangan, putusan pengadilan, traktat-traktat, asas-asas hukum, kebiasaan, dan memandang hukum secara terisolasi seolah-olah tercabut dari sumber kehidupannya yang sesungguhnya. Dogmatik hukum pada dasarnya melihat hukum sebagai sebuah kemandirian murni dengan suatu daya hidup (levenskracht) sendiri terlepas dari peristiwa-peristiwa kemasyarakatan.

Instrumen kerjanya adalah sistematisasi berdasarkan kaidah – kaidah logikal. Jadi Dogmatik Hukum (rechtsdogmatiek) atau ajaran hukum (rechtsleer) yaitu dalam arti sempit, bertujuan untuk memaparkan, mensistematisasi juga menjelaskan (verklaren) hukum positif yang berlaku (vigerende positiefrecht). Walaupun kerangka kerja legal dogmatic, Dogmatik Hukum bukanlah ilmu netral yang bebas nilai.

Tidak karena hukum itu saling terkait antara nilai-nilai dan kaidah–kaidah. Bukankah dalam asasnya sangat mungkin memaparkan nilai–nilai dan kaidah–kaidah sebagai ketentuan–ketentuan faktual secara sepenuhnya netral dan objektif, melainkan secara sadar mengambil sikap berkenan dengan butir-butir yang di diperdebatkan.

Sehingga orang tidak hanya mengatakan bagaimana hukum dapat di interpretasikan melainkan juga bagaimana hukum harus diinterpretasikan.

kerangka kerja legal dogmatic

Dogmatik Hukum memaparkan dan mensistematisasi hukum positif yang berlaku dalam suatu masyarakat tertentu dan pada suatu waktu tertentu dari suatu sudut pandang normatif. Sudut pandang normatif ini dapat berupa yuridik internal maupun ekstra yuridik. Bahwa sebuah pasal undang–undang tertentu harus dipandang sudah dihapuskan secara diam–diam karena ia bertentangan dengan ketentuan dalam sebuah undang–undang yang lebih baru, berdasarkan asas hukum yang umum bahwa undang–undang yang baru harus selalu didahulukan ketimbang undang–undang yang lama (lex posterior derogat legi priori).

Jadi Dogmatik Hukum mempelajari aturan–aturan hukum itu sendiri dari suatu sudut pandang atau pendekatan teknikal. Dogmatik Hukum bertujuan untuk atau memberikan sebuah penyelesaian konkret, atau membangun suatu kerangka yuridik-teknikal, bagi semua masalah konkret, atau membangun suatu kerangka yuridik-teknikal yang didasarkan pada sejumlah masalah yang ada atau yang ada kemudian harus dapat memperoleh penyelesaian yang yuridik.
BUKU JAWABAN UJIAN (BJU) UAS TAKE HOME EXAM (THE) SEMESTER 2020/21.1 (2020.2) Nama Mahasiswa : Renhard Nomor Induk Mahasiswa/NIM : 041126018 Tanggal Lahir : 08/08/1992 Kode/Nama Mata Kuliah : HKUM4401/Interpretasi dan Penalaran Hukum Kode/Nama Program Studi : 74201/Ilmu Hukum Kode/Nama UPBJJ : 177171/UPBJJ-UT Kota Bengkulu Hari/Tanggal UAS THE : Minggu, 20/12/2020 Tanda Tangan Peserta Ujian Petunjuk 1.

Anda wajib mengisi secara lengkap dan benar identitas pada cover BJU pada halaman ini. 2. Anda wajib mengisi dan menandatangani surat pernyataan kejujuran akademik. 3. Jawaban bisa dikerjakan dengan diketik atau tulis tangan. 4. Jawaban diunggah disertai dengan cover Kerangka kerja legal dogmatic dan surat pernyataan kejujuran akademik. KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS TERBUKA Surat Pernyataan Mahasiswa Kejujuran Akademik Yang bertanda tangan di bawah ini: Nama Mahasiswa : Renhard NIM : 041126018 Kode/Nama Mata Kuliah : HKUM4401/ Interpretasi dan Penalaran Hukum Fakultas : Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Program Studi : Ilmu Hukum UPBJJ-UT : Kota Bengkulu 1.

Saya tidak menerima naskah UAS THE dari siapapun selain mengunduh dari aplikasi THE pada laman. 2. Saya tidak memberikan naskah UAS THE kepada siapapun. 3. Saya tidak menerima dan atau memberikan bantuan dalam bentuk apapun dalam pengerjaan soal ujian UAS THE.

4. Saya tidak melakukan plagiasi atas pekerjaan orang lain (menyalin dan mengakuinya sebagai pekerjaan saya). 5. Saya memahami bahwa segala tindakan kecurangan akan mendapatkan hukuman sesuai dengan aturan akademik yang berlaku di Universitas Terbuka. 6. Saya bersedia menjunjung tinggi ketertiban, kedisiplinan, dan integritas akademik dengan tidak melakukan kecurangan, joki, menyebarluaskan soal dan jawaban UAS THE melalui media apapun, serta tindakan tidak terpuji lainnya yang bertentangan dengan peraturan akademik Universitas Terbuka.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya. Apabila di kemudian hari terdapat pelanggaran atas pernyataan di atas, saya bersedia bertanggung jawab dan menanggung sanksi akademik yang ditetapkan oleh Universitas Terbuka. Bengkulu, 20 Desember 2020 Yang Membuat Pernyataan Renhard NASKAH UAS-THE UJIAN AKHIR SEMESTER-TAKE HOME EXAM UNIVERSITAS TERBUKA SEMESTER: 2020/2021.1 Interpretasi dan Penalaran Hukum/ HKUM4401. 1. Indonesia dikenal sebagai negara yang mengakui nilai ketuhanan sebagaimana tercantum di dalam Pasal 29 Ayat 1 UUD 1945 yang menyatakan Negara berdasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pengakuan kerangka kerja legal dogmatic tuhan berkaitan erat dengan perkembangan ajaran hukum alam. Salah satu tokoh penting dalam perkembangan hukum alam adalah Thomas Aquinas. a.

kerangka kerja legal dogmatic

Analisa klasifikasi hukum menurut Thomas Aquinas. Menurut anda bagaimana keterkaitan klasifikasi hukum Thomas Aquinas dengan Pasal 29 Ayat 1 UUD 1945.

• Company About Us Scholarships Sitemap Q&A Archive Standardized Tests Education Summit • Get Course Hero iOS Android Chrome Extension Educators Tutors • Careers Leadership Careers Campus Rep Program • Help Contact Us FAQ Feedback • Legal Copyright Policy Academic Integrity Our Honor Code Privacy Policy Terms of Use Attributions • Connect with Us College Life Facebook Twitter LinkedIn YouTube Instagram
Oleh : Rustam (Dosen Tetap Universitas Riau Kepulauan) Batampos (11 Maret 2015).

Selagi dunia masih ada dan bumi masih utuh, rasanya kejahatan memang tak akan pernah sirna dari muka bumi. Setiap hari tak henti-hentinya oleh media massa kita disuguhi berbagai macam tayangan-tayangan yang membuat miris. Dari mulai kejahatan korupsi yang tak pernah pergi dari republik ini, malpraktek oleh tenaga medis, tindakan asusila terhadap anak-anak dan kejahatan-kejahatan lainnya.

Akhir-akhir ini, kita juga disuguhi oleh maraknya kejahatan begal yang membuat resah warga masyarakat Indonesia, tak terkecuali di Batam. Pelaku begal seolah bebas berbuat tanpa ada yang bisa menghentikannya, dan penegak hukumpun seolah kewalahan mengatasi persoalan yang terjadi. Padahal jika kita merenung, negara yang baik adalah yang mampu mengayomi dan mensejahterakan masyarakatnya.

Tapi kenyataannya, jika kita melihat pemberitaan yang ada, korban yang dilakukan oleh pelaku begal semakin hari semakin bertambah, sehingga membuat masyarakat marah dan akhirnya melakukan tindakan dengan caranya sendiri dalam pemberantasannya, antara lain dengan cara menghajar beramai-ramai dan bahkan membakar tubuh pelaku begal. Begal berarti orang atau beberapa orang yang melakukan pembegalan terhadap seseorang, dengan cara merampas dengan kekerasan dan atau ancaman kekerasan.

Jika kita tilik dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) sebagai lex generale, rasanya kita tidak akan melihat definisi terhadap kata “pembegalan”, pun juga kita tidak akan melihat apa itu tindak kerangka kerja legal dogmatic pembegalan. Lalu dengan melihat fakta di atas, bagaimana penegakan hukum terhadap begal, agar masyarakat kembali tenang dan aman dalam menjalankan aktifitasnya.

kerangka kerja legal dogmatic

Lawrence M. Friedman mengemukakan bahwa efektif dan berhasil tidaknya penegakan hukum tergantung tiga unsur sistem hukum, yakni struktur hukum ( legal structure), substansi hukum ( legal substance), dan budaya hukum ( legal culture). Ketika ketiga system hukum itu bersatu, maka penegakan hukum akan berjalan, namun sebaliknya, bila ketiganya terpecah belah, tidak menutup kemungkinan proses penegakan hukum juga akan terganggu.

• Struktur Hukum Friedman mengatakan aspek pertama untuk tegaknya system hukum adalah struktur hukum. Struktur hukum adalah keseluruhan institusi perangkat hukum yang menjalankan ketentuan formal hukum pidana. Untuk mengungkap kejahatan dibutuhkan kepolisian, untuk melakukan penuntutan dibutuhkan kejaksaan, demikian juga untuk mengadili seseorang yang diduga melakukan tindak pidana dibutuhkan hakim.

Artinya mustahil terjadi penegakan hukum disuatu negara tanpa membentuk lembaga yang berwenang untuk melakukan tindakan-tindakan hukum. Berkaitan dengan ini, ujung tombak penegakan hukum di Indonesia antara lain adalah kepolisian, kejaksaan, kehakiman, dan juga petugas lembaga pemasyarakatan. Semua itu harus bersatu padu dalam menegakan hukum pidana, sehingga terwujudlah apa yang dinamakan Integrated Criminal Justice System.

Kepolisian sebagai ujung tombak harus berperan aktif melihat fakta yang terjadi dimasyarakat. Melihat dampak dan ruang lingkupnya, mau tidak mau kepolisian harus membuat skala prioritas. Mana kejahatan yang saat ini betul-betul mendesak dan harus diberantas. Begal saat ini sudah luar biasa dampaknya, masyarakat menjadi cemas dan takut, karena tidak kerangka kerja legal dogmatic mereka para pelaku akan melukai korbannya.

Korban begalpun kebanyakan adalah masyarakat menengah kebawah, yang tidak jarang ketika menjadi korban, mereka sedang menjalankan aktifitasnya. Oleh karena itu, telah tiba waktunya aparat kepolisian, sebagai aparat hukum yang telah diberikan kewenangan oleh undang-undang, singsingkan lengan baju, bentuk tim terpadu dan satu kata untuk memberantas kejahatan, khususnya begal, sehingga penegakan hukum terhadap begal akan berjalan semakin efektif.

kerangka kerja legal dogmatic Substansi Hukum Ketika struktur hukum telah terbentuk dan bekerja maksimal dalam penegakan hukum, maka aspek kedua untuk menjaminnya penegakan hukum adalah substansi hukum. Substansi hukum mencakup keseluruhan norma dan ketentuan-ketentuan perundang-undangan.

Apakah norma-norma atau ketentuan-ketentuan dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia dapat mengakomodir kejahatan yang namanya begal? Karena bagaimanapun, dalam penegakan hukum harus mementingkan apa yang namanya asas legalitas. Nullum delictum nulla poena siena praevia lege poenali. Tidak ada suatu perbuatan dapat dipidana, kecuali ada undang-undang yang mengaturnya.

Seperti diungkap di atas tadi, kalau kita lihat di KUHP, sebenarnya kita tidak melihat pengertian atau tindak pidana yang langsung menunjuk pada kata begal. Namun melihat situasi yang berkembang, pembegalan itu terjadi ketika ada perampasan terhadap barang dengan paksa, disertai kekerasan atau ancaman kekerasan, yang dilakukan oleh beberapa orang, bahkan terkadang korban mengalami luka-luka dan juga kematian.

Lalu pertanyaannya dengan apa atau pasal mana Pelaku begal dapat dijerat secara hukum pidana? Coba kita tengok ketentuan hukum pidana kita. Pasal 365 KUHP ayat (1) menyatakan “Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun pencurian yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, terhadap orang dengan maksud untuk mempersiapkan atsu mempermudah pencurian, atau dalam hal tertangkap tangan, untuk memungkinkan melarikan diri sendiri atau peserta lainnya, atau untuk tetap menguasai barang yang dicuri”.

Lalu Pasal 365 ayat (2) menyatakan dapat diancam pidana penjara 12 tahun jika perbuatan dilakukan oleh dua orang atau lebih dan juga mengakibatkan luka-luka berat.

Kemudian jika mengakibatkan korban meninggal dunia, Pasal 365 ayat (3) pelaku diancam dengan pidana penjara 15 tahun. Bisakah kejahatan begal dijerat dengan Pasal di atas?

Penulis menekankan bahwa pelaku begal akan sangat tepat jika dijerat dengan pasal tersebut. Karena banyak kasus terjadi, pelaku begal dalam menjalankan aksinya selalu disertai dengan kekerasan, ancaman kekerasan, lalu dilakukan oleh beberapa orang dan korbannya akan mengalami luka-luka bahkan kematian. Pada intinya, pembegalanpun pada dasarnya pencurian, namun karena cara melakukannya yang berbeda-beda, maka istilahnya menjadi lain. Banyak istilah lain yang pada dasarnya masuk kategori tindak pidana pencurian, namun dimasyarakat istilahnya menjadi berbeda, seperti penjambretan, perampasan, perampokan, ngutil, dan lain-lain.

Dari ketentuan tersebut dengan jelas bahwa substansi hukum kita dapat menjangkau kejahatan yang namanya begal, tinggal penyidik jeli melihat unsur-unsur mana yang dapat terpenuhi, sehingga ancaman pidana yang diterapkan dapat sesuai dengan harapan masyarakat terutama korban begal.

• Budaya Hukum Setelah struktur dan substansi hukum, unsur ketiga yang menjamin penegakan hukum adalah budaya hukum. Budaya hukum disini adalah menyangkut pandangan, pola pikir dan cara bertindak masyarakat secara keseluruhan, termasuk aparat hukumnya.

Sebaik apapun kondisi dan penataan struktur hukum serta substansi hukum, tanpa adanya budaya hukum yang mendukung, maka penegakan hukum tidak akan berjalan efektif. Sebagai contoh penegakan hukum terhadap perjudian, sebaik apapun kerja aparat hukum dan ketentuan hukumnya, ketika sebagaian masyarakat masih menganggap perjudian sebagai hal lumrah, maka penegakan hukum terhadap kejahatan perjudian tak akan pernah habis.

Demikian juga halnya kerangka kerja legal dogmatic begal, masyarakat hendaknya berperan aktif demi tegaknya hukum. Friedman menyatakan “Tanpa budaya hukum sistem hukum itu sendiri tidak akan berdaya, seperti ikan mati yang terkapar di keranjang, bukan seperti ikan hidup yang berenang di lautnya ( without legal culture, the legal system is inert, a dead fish lying in a basket, not a living fish swimming in its sea)”.

Itulah pentingnya budaya hukum, budaya hukum yang dimaksud tentunya, tindakan atau cara pandang masyarakat yang kerangka kerja legal dogmatic kerja aparat penegak hukum, sehingga pemberantasan kejahatan yang namanya begal menjadi lebih efektif. Cara pandang atau perilaku masyarakat yang mendukung dalam penegakan hukum, berarti jalannya penegakan hukum akan menjadi efektif, demikian pula sebaliknya, ketika pola, tindakan dan cara pandang masyarakat menghambat penegakan hukum, maka jalannya penegakan hukum juga akan menjadi terganggu.

Melaporkan setiap kejahatan yang terjadi, bersedia menjadi saksi, tidak main hakim sendiri adalah salah satu dari tindakan masyarakat yang dapat mendukung penegakan hukum.

Demikian juga aparat penegak hukumnya, tangkap semua pelaku-pelaku yang masih berkeliaran dimasyarakat, lakukan operasi-operasi dijalanan yang dianggap rawan memungkinkan terjadinya tindak kejahatan, juga merupakan satu cara yang dapat dilakukan untuk memberantas kejahatan begal. Ketiga aspek di atas itulah yang menurut hemat penulis, ketika semua bersinergi, maka penegakan hukum terhadap begal akan lebih maksimal.

Maksimal dalam arti tujuan dari system peradilan pidana akan tercapai, yakni mengadili pelaku kejahatan, mencegah masyarakat menjadi korban kerangka kerja legal dogmatic dan dalam jangka panjang akan tercipta kesejahteraan masyarakat. May 2022 M T W T F S S 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 « Feb Layanan Akademik • E-JOURNAL OJS UNRIKA • TRACER STUDY ALUMNI • UNRIKA E-LEARNING CENTRE • UNRIKA E-LIBRARY • UNRIKA SIAKAD ONLINE Blogroll • FAKULTAS EKONOMI UNRIKA • FAKULTAS TEKNIK UNRIKA • FISIPOL UNRIKA • FKIP UNRIKA • LPMI UNRIKA • LPPM UNRIKA • PENERBIT UNRIKAPRESS • UNIVERSITAS RIAU KEPULAUAN BATAM

Teori Hukum




2022 www.videocon.com