Hasil dari kehumasan adalah terciptanya

hasil dari kehumasan adalah terciptanya

COM_CONTENT_CATEGORY COM_CONTENT_WRITTEN_BY Dalam rangka meningkatkan kemampuan, ketrampilan, dan kompetensi Pegawai; Balittanah mengirimkan 2 orang Pegawainya, yaitu Yayan Supriana dan Indah Roch Handayani, untuk mengikuti Pelatihan kehumasan pada 8 – 14 September 2013 di Komplek Surya PPMKP Ciawi.

Jumlah peserta yang mengikuti Kegiatan Pelatihan Kehumasan ini sebanyak 60 orang yang berasal dari lingkup Kementan, ditambah 2 orang peserta dari Pemda Sukabumi yang dibagi dalam 2 kelas paralel. Pelatihan ini dibuka langsung oleh Kepala Pusat PPMKP, Ciawi. Adapun materi yang disampaikan adalah sebagai berikut: • Kebijakan kehumasan Kementan • Membangun hubungan antar lembaga dan media massa • Analisa Media dan counter issue • Pengelolaan informasi public • Pelaksanaan Jabatan dan teknik pengusulan angka kredit • Pengembangan kepribadian • Publikasi (Media cetak dan elektronik) • Komunikasi dan negosiasi yang efektif • Kunjungan ke Fakultas Ilmu Komunuikasi (FIKOM), UNPAD, Jatinangor Hasil Pelatihan • Keberadaan kehumasan dalam suatu organisasi atau lembaga sangatlah penting, karena dalam era keterbukaan informasi dan birokrasi, banyak informasi yang harus disampaikan kepada masyarakat baik melalui media cetak maupun elektronik tentang kegiatan atau isu yang sedang berkembang berkaitan dengan oraganisasi atau lembaga yang perlu diketahui masyarakat dan dikemas sedemikian rupa, sehingga informasi yang disampaikan sampai dan jelas.

• Sesuai dengan Visi dan misi Kehumasan Pemerintah adalah terciptanya pengelolaan kehumasan (kelembagaan, ketatalaksanaan, dan SDM) yang proporsional, profesional, efektif dan efisien dalam mendukung penerapan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik.

Sedangkan salah satu misinya adalah membangun citra dan reputasi positif pemerintah, membangun kepercayaan publik ( public trust) dan mensosialisasikan kebijakan dan program pemerintah. • Tugas humas pemerintah adalah melaksanakan komunikasi timbal balik antara instansi pemerintah dan publik secara terencana untuk menciptakan saling pengertian dalam mencapai tujuan demi memperoleh manfaat bersama serta meningkatkan kelancaran arus informasi dan aksesibilitas publik.

• Peran Humas Pemerintah adalah sebagai Komunikator, Katalisator, Diseminator, Fasilitator, konselor, advisor, dan interprator serta Prescriber • Pranata Humas adalah PNS yang diberi tugas, tanggungjawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan pelayanan informasi dan kehumasan.

Dan dalam melaksanakan tugasnya didasarkan pada keahlian dan keterampilan tertentu serta bersifat mandiri. • JPREV • JNEXT • Pelatihan Praktik Penggunaan PUTK dengan IJHOP4-2 • Optimalisasi Keberlanjutan Usaha Tani di Lahan Gambut • Balittanah dalam Bimtek PROPAKTANI: Pengelolaan Tanah Mendukung Budidaya Tanaman Sehat • RENSTRA • Kartini Masa Kini di Dunia Pertanian • Penelitian di Kalimantan Barat Menguak Jejak Kebakaran Berdasarkan Profil Gambut • Rangkaian Kegiatan Peat-IMPACTS bersama ICRAF di Kalimantan Barat Form Penawaran PUP Balittanah 2021 Rekomendasi Pemupukan: 1.

Rekomendasi Pupuk NPK untuk Padi Sawah 2. Rekomendasi Pupuk NPK untuk Jagung di Lahan Sawah 3. Rekomendasi Pupuk NPK untuk Kedelai di Lahan Sawah 4.

Rekomendasi Pupuk NPK untuk Tanaman Perkebunan 5. Rekomendasi Pupuk NPK Hortikultura 6. Rekomendasi Pupuk NPK Pakan Hasil dari kehumasan adalah terciptanya • Home • Profil • Sejarah • Pimpinan Kami • Struktur Organisasi • Visi dan Misi • SDM • Pelayanan Jasa • Laboratorium Pengujian • Penyelenggara Uji Profisiensi • Kerjasama Penelitian • Bimtek dan Praktek Kerja • Konsultasi Teknologi • Perpustakaan • Kelompok Peneliti • Kimia dan Kesuburan Tanah • Fisika dan Konservasi Tanah • Biologi dan Kesehatan Tanah • SDM • Profil Peneliti • Non Peneliti • Fasilitas • Laboratorium Kimia • Laboratorium Fisika • Laboratorium Biologi • Laboratorium Mineralogi • Rumah Kaca • Kebun Percobaan • Perpustakaan • Produk • Peta • Peta 2010 • Peta 2011 hasil dari kehumasan adalah terciptanya Peta 2015 • Perangkat Uji Tanah • Pupuk dan Pembenah Tanah • Perangkat Lunak • Harga Produk • Rekomendasi • Publikasi • Monograf • Prosiding • Buku • Petunjuk Teknis • Leaflet • Artikel Peneliti • Kegiatan • APBN • 2012 • 2013 • 2014 • 2015 • 2016 • 2017 • 2018 • 2019 • 2020 • 2021 • Proposal • 2019 • 2020 • 2021 • Laporan • 2008 • 2009 • 2010 • 2011 • 2018 • 2019 • 2020 • Hasil dari kehumasan adalah terciptanya • Bimtek • Demfarm • Kegiatan Saat Ini • Data Laporan Bulanan • Pelayanan Publik • Maklumat • Motto • DIPA • Laporan Kinerja (LAKIN) • Laporan Keuangan • Laporan Tahunan • Regulasi / Peraturan • I K M • Tarif Analisis dan Harga Produk • Prosedur Standar Pelayanan Publik • Covid • Aset • Pengaduan Masyarakat • Formulir Survey Kepuasan Masyarakat • RENSTRA • FAQ Sekelilingnya atau masyarakat luas terhadap organisasi atau perusahaan tersebut dilihat sebagai sebuah badan usaha yang dipercaya, professional dan dapat diandalkan dalam pembentukan pelayanan yang baik.

Tugas PR itu sendiri ialah menciptakan, citra organisasi yang diwakilinya sehingga tidak menimbulkan isu-isu yang merugikan. Nah berikut ini beberapa pengertian citra (image) menurut para ahli, untuk lebih jelasnya simak saja ulasan dibawah ini.

hasil dari kehumasan adalah terciptanya

Pengertian Citra (Image) Menurut Para Ahli Adapun pengertian citra (image) menurut para ahli yang diantaranya: Menurut Linggar “Dalam Teori Dan Profesi Kehumasan Serta Aplikasinya, 2000:69” Bahwa citra humas yang ideal ialah kesan yang benar, yakni sepenuhnya berdasarkan pengalaman, pengetahuan serta pemahaman atas kenyataan yang sesungguhnya.

Menurut G. Sach “Dalam Soemirat Dan Elvinaro Ardianto, 2007:171” Citra ialah pengetahuan mengenai kita dan sikap-sikap terhadap kita yang mempunyai kelompok-kelompok yang berbeda.

Menurut Effendi “Dalam Soemirat Dan Elvinaro Ardianto, 2007:171” Yang Kemudian Di Sitir olehnya bahwa citra ialah dunia sekeliling kita yang memandang kita. Menurut KBBI “1990:667” Citra ialah pemahaman kesan yang timbul karena pemahaman akan suatu kenyataan. Menurut Frank Jefkins hasil dari kehumasan adalah terciptanya Soemirat Dan Elvinaro Ardianto, 2007:114” Citra diartikan sebagai kesan seseorang atau individu tentang sesuatu yang muncul sebagai hasil dari pengetahuan dan pengalamannya.

Menurut Jalaludin Rakhmad “Dalam Soemirat Dan Elvinaro Ardianto, 2007:114” Mendefinisikan citra sebagai gambaran tentang realitas dan tidak harus sesuai dengan realitas, citra ialah dunia menurut persepsi. Menurut Ruslan “Dalam Bukunya Manajemen Humas Dan Manajemen Komunikasi Dan Aplikasi, 1998:63” Menyebutkan bahwa landasan citra berakar dari: “Nilai-nilai kepercayaan yang konkritnya diberikan secara individual dan merupakan pandangan atau persuasi.

Serta terjadinya proses akumulasi dari individu-individu tersebut akan mengalami suatu proses cepat atau lambat untuk membentuk suatu opini publik yang lebih luas dan abstrak yaitu sering dinamakan citra atau image”. Jenis-Jenis Citra Menurut jefkins ada beberapa jenis citra : Citra bayangan / mirror image Adalah citra yang melekat pada orang dalam atau orang-orang di organisasi. Biasanya yang dinilai adalah pimpinannya mengenai anggapan pihak luar terhadap orang yang dipimpinnya.

Dengan kata lain, citra bayangan adalah citra yang dianut oleh orang dalam mengenai pandangan pihak luar terhadap organisasinya.

hasil dari kehumasan adalah terciptanya

Citra yang berlaku/ current image Adalah pandangan yang melekat pada pihak-pihak luar mengenai suatu organisasi. Citra yang berlaku tidak selamanya, bahkan jarang sesuai denga kenyataan karena semata-mata terbentuk dari pengalaman atau pengetahuan orang-orang luar yang bersangkutan yang biasanya tidak memadai. Citra ini sepenuhnya ditentukan oleh banyak sedikitnya informasi yang dimiliki oleh penganut atau mereka yang mempercayai. Citra yang diharapkan/ wish image Adalah citra yang diinginkan oleh pihak manajemen.

Citra yang diharapkan ini tidak sama dengan citra yang sebenarnya. Biasanya citra yang yang diharapkan lebih atau lebih menyenangkan, walupun dalam kondisi tertentu, citra yang hasil dari kehumasan adalah terciptanya baik juga kadangkala bisa merepotkan. Secara umum, yang dinamakan dengan citra yang diharapkan itu selalu berkonotasi baik.

Citra yang diharapkan itu biasanya dirumuskan dan diperjuangkan untuk menyambut sesuatu yang relatif baru, yakni ketika khalayak belum memiliki informasi yang ada. Citra perusahaan/ corporate image Adalah citra dari suatu organisasi secara keseluruhan. Jadi bukan citra atas produk atau pelayanannya. Citra perusahaan ini terbentuk oleh beberapa hal. Hal-hal positif yang dapat meningkatkan citra antara lain adalah reputasi (nama baik) perusahaan, kesediaan memikul perusahaan, tanggung jawabyang besar melalui kegiatan-kegiatan perilaku manajemen dan sebagainya.

Citra majemuk/ multiple image Merupakan citra yang bervariasi muncul karena setiap perusahaan atau organisasi pasti memiliki banyak unit dan pegawai.

Masing-masing unit dan individu tersebut memiliki perilaku tersendiri sehingga secara sadar maupun tidak, mereka pasti memunculkan suatu citra yang belum tentu sama dengan citra organisasi atau perusahaan secara keseluruhan, jumlah citra yang dimiliki oleh perusahaan boleh dikatakan sama banyaknya dengan jumlah pegawai yang dimiliki.

hasil dari kehumasan adalah terciptanya

Hubungan Citra Perusahan dengan Citra merek Konsumen mengorganisasikan berbagai informasi mengenai perusahaan dan pengalaman yang hasil dari kehumasan adalah terciptanya dengan produk perusahaan kedalam citra perusahaan. Beberapa perusahaan menghabiskan banyak biaya untuk mengembangkan citra perusahaan di mata masyarakat dengan beberapa alasan, yaitu: Citra perusahaan yang positif akan mendorong persepsi positif terhadap produk perusahaan.

Terdapat hubungan yang erat antara citra perusahaan dengan citra produk (citra merek). Merek produk sering diasosiasikan dengan perusahaan yang memproduksi produk tersebut.

Perusahaan berusaha menjaga citra yang telah ada dari berbagai isu-isu umum, yang dapat secara langsung mempengaruhi konsumen. Keuntungan terciptanya citra positif Apabila suatu perusahaan telah berhasil dalam membentuk citra yang positif dibenak konsumen, maka akan mendapat keuntungan seperti: • Memperpanjang hidup produk itu sendiri.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu: Kesadaran diantara manajer perusahaan tentang tujuan perusahaan jangka panjang. Menetapkan lebih jelas tujuan dari perusahaan dan pimpinannya. Meningkatkan wawasan dan pengetahuan mengenai posisi pesaing dan kondisi pasar yang dihadapinya.

Meningkatkan komunikasi internal dan eksternal. Mengetahui lebih terperinci mengenai perusahaan, tujuan, karyawan, pemasok, pimpinan dan media. • Citra yang positif akan memberikan keutungan terciptanya loyalitas/kesetiaan konsumen, kepercayaan terhadap produk dan kerelaan konsumen dalam mencari produk/jasa tersebut apabila membutuhkannya.

• Dapat memperoleh konsumen yang baru, hal ini dikarenakan konsumen yang merasa puas dengan produk/jasa dari perusahaan akan menceritakan pengalaman mereka kepada orang lain sehingga orang lain tersebut untuk membeli produk/jasa yang sama. Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Citra Citra yang baik dari suatu organisasi ( baik korporasi maupun local), merupakan asset, karena citra mempunyai suatu dampak pada persepsi konsumen dari komunikasi dan operasi organisasi dalam berbagai hal.

Gronroos (1990) yang dikutip dalam sutisna (2001:332), mengidentifikasi terdapat empat peran citra bagi suatu organisasi. • Citra menceritakan harapan, bersama dengan kampanye pemasaran eksternal, seperti periklanan, penjualan pribadi dan komunikasi dari mulut ke mulut. Citra yang positif lebih memudahkan bagi organisasi untuk berkomunikasi secara efektif, dan membuat orang-orang lebih mudah mengerti dengan komunikasi dari mulut ke mulut. • Citra adalah sebagai penyaring yang mempengaruhi persepsi pada kegiatan perusahaan.

Kualitas teknis dan khususnya kualitas fungsional dilihat melalui saringan ini. Jika citra baik, maka citra menjadi pelindung. • Citra adalah fungsi dari pengalaman dan juga harapan konsumen. Ketika konsumen membangun harapan dan realitas pengalaman dalam bentuk kualitas pelayanan teknis dan fungsional, kualitas pelayanan yang dirasakan menghasilkan perubahan citra, citra akan mendapat penguatan dan bahkan meningkat.

• Citra mempunyai pengaruh penting pada manajemen. Dengan kata lain, citra mempunyai dampak internal.

Citra yang kurang nyata dan jelas mungkin akan mempengaruhi sikap karyawan terhadap organisasi yang mempekerjakannya.

• Mengapa citra perusahaan perlu dikembangkan dan perlu mendapatkan perhatian khusus dari pihak manajemen terdapat 2 alasan: • Perubahaan lingkungan perusahaan yang begitu cepat menyebabkan citra yang telah ada saat ini tidak sesuai lagi. Hal ini terjadi karena ada konsumen menuntut produk dan pelayanan yang lebih tinggi, perusahaan melakukan diversifikasi, reorganisasi atau perusahaan mengalami kejadian buruk karena satu hal. • Citra merupakan identitas yang bisa membedakan dari perusahaan lain dan juga dijadikan sebagai alat persaingan yang efektif terutama bagi perusahaan jasa.

Hal ini terjadi karena situasi persaingan antar perusahaan yang telah menjadi tajam. Masih menurut Sutisna (2001:334): jika citra negative, mungkin salah satunya disebabkan oleh pengalaman buruk konsumen.

Dalam hal demikian, terdapat masalah hasil dari kehumasan adalah terciptanya dengan kualitas teknis atau fungsional. Dalam situasi demikian, jika manajemen menggunakan biro iklan untuk merencanakan kampanye iklan dan menyampaikan pesan seperti perusahaan adalah berorientasi pada pelayanan, kesadaran konsumen, modern, atau apapun isinya, hal itu hanya akan menghasilkan bencana bagi organisasi.

Citra adalah realitas, begitu yang dikemukakan oleh Bernstein (1985) dalam Gronroos (1990) yang dikutip dalam Sutisna (2001:334).

Oleh karena itu jika komunikasi pasar tidak cocok dengan realitas, secara normal realitas akan menang. Jika masalah citra adalah problem yang nyata, hanya tindakan nyata pulalah yang akan menolong. Masalah-masalah nyata yang berkaitan dengan kinerja organisasi yaitu kualitas teknis atau fungsional yang sebenarnya menyebabakan masalah citra. Tindakan internal yang memperbaiki kinerja organisasi dibutuhkan jika citra yang buruk ingin diperbaiki.

Bahkan Buchari Alma (2000:316) menyatakan bahwa: ”citra ini adalah kesan hasil dari kehumasan adalah terciptanya diperoleh sesuai dengan pengetahuan dan pemahaman seseorang tentang sesuatu. Citra terbentuk dari bagaimana perusahaan melaksanakan kegiatan operasionalnya, yang mempunyai landasan utama bagi segi layanan.” Oleh sebab itu, untuk dapat menghasilkan citra/kesan positif dimata konsumen, maka hal yang harus diperbaiki dan ditingkatkan adalah dari segi kualitas pelayanan yang diberikan oleh sebuah organisasi atau perusahaan.

Demikianlah pembahasan mengenai Citra – Pengertian, Jenis, Hubungan, Keuntungan dan Pengaruh. Semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya.
Kehumasan: Komunikasi, Menulis dan Publikasi (M. Sadli Umasangaji) Staf Departemen Kehumasan PD KAMMI Kota Ternate Hubungan masyarakatatau lebih sering disingkat humas adalah seni menciptakan pengertian publik yang lebih baik sehingga dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap suatu individu atau organisasi.

Humas juga adalah usaha yang direncanakan secara terus-menerus dengan sengaja, guna membangun dan mempertahankan pengertian timbal balik antara organisasi dan masyarakatnya. Pendapat ini menunjukkan bahwa hubungan masyarakat dianggap sebuah proses atau aktivitas yang bertujuan untuk menjalin hasil dari kehumasan adalah terciptanya antara organisasi dan pihak luar organisasi Posisi humas merupakan penunjang tercapainya tujuan yang ditetapkan oleh suatu manajemen organisasi.

Sasaran humas adalah publik internal dan eksternal, dimana secara operasional humas bertugas membina hubungan harmonis antara organisasi dengan publiknya dan mencegah timbulnya rintangan hasil dari kehumasan adalah terciptanya yang mungkin terjadi di antara keduanya. Peran humas dalam sebuah organisasi sangatlah penting.Dalam riset tentang kegiatan humas (public relations), ada dua peran besar yang secara konsisten muncul dalam kegiatan humas yaitu peran sebagai teknisi dan manajemen.Peran sebagai teknisi mewakili seni dari humas seperti hasil dari kehumasan adalah terciptanya, mengedit, mengambil foto, menangani produksi komunikasi, membuat event spesial, dan melakukan kontak telepon denganmedia.Peran sebagai manajemen berfokus pada kegiatan yang membantu organisasi dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah terkait humas.Manajemen humas melaksanakan peran, pertama sebagai pemberi penjelasan, yaitu orang yang bekerja sebagai konsultan untuk mendefinisikan masalah, menyarankan pilihan, dan memantau implementasi kebijakan.Kedua sebagai fasilitator komunikasi, yaitu orang yang berada pada batas antara organisasi dengan lingkungannya yang menjaga agar komunikasi dua arah tetap berlangsung.

Kehumasan sebagai departemen dianalogikan sebagai mediaorganisasi, pusat informasi ke luar dan ke dalam (menangani pers, mengelola media, majalah, mendokumentasikan kegiatan-kegiatan organisasi), kepanjangan tangan pimpinan dalam hal komunikasi, dan sebagainya.Departemen kehumasan secara logika harus jelas pengorganisasiannya.Pengorganisasian berbicara tentang struktur organisasi, deskripsi kerja, tanggung jawab dan wewenangnya serta sistem kerjanya. Kehumasan dan humas pada dasarnya dua hal yang saling terkait akan tetapi bagi saya kehumasan lebih bersifat sebagai kelembagaan sedang humas lebih bersifat indivual.

Misalkan dalam tatanan pemerintah maka kehumasan bisa dicontohkan dengan Kementrian Komunikasi dan Informasi maka Humas diidentikkan dengan juru bicara. Maka kehumasan sebagai organisasi kepemudaan perlu adanya kaderisasi kehumasan.Dalam hal ini saya mencoba membentuk kehumasan dalam perannya sebagai organisasi kepemudaan, maka peran kehumasan harusnya dikokohkan dan difungsikan pada konteks sebagai komunikasi, menulis, dan publikasi.

Kehumasan Sebagai Komunikasi Kehumasan sebagai komunikasi berperan membuka akses saluran dan komunikasi dua arah, antara organisasi dan publiknya, baik secara langsung mau pun tidak langsung.Berperan dalam pelayanan informasi terhadap internal organisasi dan publiknya, baik langsung mau pun tidak langsung, mengenai kebijakan dan kegiatan keorganisasian. Peran kehumasan sebagai komunikasi diantaranya, Pertama, model press agentry (agen pemberitaan); yaitu menggambarkan bagaimana informasi bergerak satu arah dari organisasi menuju publik.Kedua, model informasi publik; yaitu model yang menggambarkan bagaimana kehumasan bertugas memberitahu publik.Model ini selalu dipraktikkan oleh humas pemerintah, lembaga pendidikan, dan organisasi nirlaba.Ketiga, model asimetris dua arah; yaitu memandang humas sebagai kerja persuasi ilmiah yang menggunakan hasil riset untuk mengukur dan menilai publik.Keempat, model simetris dua arah; yaitu sebuah model yang menggambarkan sebuah orientasi humas dimana organisasi dan publik saling menyesuaikan diri.Model ini berfokus pada penggunaan metode riset ilmu sosial untuk memperoleh rasa saling pengertian serta komunikasi dua arah antara publik dan organisasi.Dari keempat model tersebut, tiga model pertama merefleksikan sebuah praktik kehumasan yang berusaha mencapai tujuanorganisasi melalui persuasi.Model keempat berfokus pada usaha menyeimbangkan kepentingan pribadi dengan kepentingan publik atau kelompok lainnya.

Dalam sebuah organisasi, humas memegang peranan yang sangat penting dan strategis. Selain itu, sebagai sebuah kegiatan komunikasi, humas juga berfungsi sebagai jembatan untuk membangun suasana yang kondusif dalam kerangka ‘win- win solutions’, antar berbagai stakeholdersorganisasi, baik internal maupun eksternal dalam rangka membangun citra dari organisasi itu sendiri. Oleh karena itu praktik humas yang paling ideal adalah berdasarkan model simetris dua arah.Peranan kehumasan adalah untuk memberikan sanggahan mengenai pemberitaan yang salah dan merugikan serta mengkomunikasikan atau menginformasikan berbagai kebijakan kepada masyarakat.Hal ini bertujuan untuk membentuk citra positif tersebut dimata publik.

Kehumasan sebagai komunikasi dapat diidentikkan untuk membangun citra organisasi serta penokohan gerakan organisasi.Menurut Edo Segara, kehumasan dalam tubuh gerakan mahasiswa muslim memiliki karakter yang berbeda dengan humas sebuah produk komersial, humas pemerintah, atau humas hotel.

Sebab humas dalam gerakan mestinya didasarkan ideologi islam. Jadi, masalah krusialnya adalah bagaimana kita meyakinkan orang bahwa ideologi, pemikiran, wacana gerakan social, dan segala sesuatu yang sifatnya abstrak, bisa diterima atau paling tidak dimengerti oleh khalayak. Maka dalam hal ini kehumasan sebagai komunikasi, program kerjanya meliputi silahturahim tokoh, silahturahim media dan sejenisnya. Dan sistem kaderisasi kehumasan sebagai komunikasi melalui kajian kehumasan dengan materi meliputi dasar-dasar humas, komunikasi efektif, dasar-dasar retrorika, etika humas, komunikasi politik, komunikasi massa, dan lainnya.

Kehumasan Sebagai Menulis Menurut Rhenald Kasali, kegiatan kehumasan didominasi oleh aktivitas tulis menulis dibanding kegiatan-kegiatan lainnya.

Sekitar 70 persen kegiatan humas merupakan aktivitas tulis menulis, selebihnya merupakan aktivitas-aktivitas lainnya. Dominannya kegiatan tulis menulis dalam hasil dari kehumasan adalah terciptanya kehumasan setidaknya terlihat dari beragamnya produk tertulis kehumasan yang ditujukan untuk meningkatkan citra organisasi.

Sebut saja bulletin, majalah internal, newsletter, opini, artikel. Mengingat kebutuhannya yang sangat tinggi, tentunya profesionalisme sumber daya kehumasan dituntut untuk menguasai kemampuan tulis menulis dalam jurnalistik dan kepenulisan.Dengan begitu, fungsi kehumasan menjadi lebih efektif karena tujuan dan sasaran serta kinerja organisasi dapat terinformasikan dengan baik.

Keterbatasan kemampuan sumber daya manusia akan mengakibatkan tidak efektifnya fungsi kehumasan dalam bidang jurnalistik. Untuk mendukung kegiatan kehumasan, sudah seharusnya setiap sumber daya manusia kehumasan perlu dibekali pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam bidang jurnalistik dan kepenulisan.

Paling tidak, beberapa materi yang perlu dikuasai diantaranya teknik reportase dan penulisan berita, kiat menulis artikel dan feature, teknik wawancara, bahasa jurnalistik, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan jurnalistik atau kemampuan tulis-menulis.

Dengan mempunyai kemampuan tulis menulis diharapkan sumber daya manusia kehumasan dapat mendukung kegiatan kehumasan institusi seperti mampu menulis siaran pers, advertorial, newsletter, majalah internal, opini, artikel hingga company profile.

Kehumasan Sebagai Publikasi Menurut Edo Segara, kehumasan sebagai publikasi yaitu memperkenalkan organisasi kepada publik. Baik melalui tulisan-tulisan berupa opini, pernyataan sikap, maupun press release kepada media baik elektronik, cetak, maupun online.Trend yang juga perlu dilakukan adalah membuat blog dan jejaring social (seperti facebook dan twitter) dalam organisasi yang dikelola dengan baik dimana bukan saja dengan konten-konten secara rutin tetapi juga punya agenda menjaga hubungan baik dan timbal balik kepada para pengunjung.

Kehumasan sebagai publikasi sangatlah erat dengan kehumasan sebagai komunikasi dan menulis.Dan bisa dikatakan perpaduan dari keduanyalah yang membentuk publikasi. Kehumasan sebagai publikasi dapat dieratkan untuk membentuk citra, penokohan, dan membangun branding organisasi.Menciptakan citra atau publikasi yang positif merupakan prestasi, reputasi dan sekaligus menjadi tujuan utama bagi aktivitas public relations dalam melaksanakan manajemen kehumasan membangun citra atau nama baik lembaga atau organisasi.

Merupakan bentuk produk publikasi dan promosi yang dikelola oleh humas, dalam upaya mendukung perluasan nama dan pengaruh pada sebuah organisasi dan lain sebagainya. Setiap fungsi dan tugas humas adalah menyelenggarakan publikasi atau menyebarluaskan informasi melalui berbagai media tentang aktivitas atau kegiatan perusahaan atau organisasi yang pantas untuk diketahui oleh publik.

Sumber: Anonim, 2013.Pentingnya Kemampuan Jurnalistik Bagi Praktisi Public Relations. (Online) http://www.theprworld.com/360/highlight/446-pentingnya-kemampuan-jurnalistik-bagi-praktisi-pr Iskandar, 2012.Hubungan Masyarakat.

(Online) http://iskandarh3.wordpress.com/2012/10/25/hubungan-masyarakat/ Salma, 2012.Pengertian Humas. (Online) http://humassalma.blogspot.com/2012/12/pengertian-humas.html Raharjo, 2013.Humas Memegang Peranan yang Sangat Penting dan Strategis.

(Online) http://www.cirebonkota.go.id/index.php/berita/humas-memegang-peranan-yang-sangat-penting-dan-strategis/ Anonim, 2013.Peran Manajemen Public Relations. (Online) http://belajarkomunikasilagi.blogspot.com/2013/01/peran-manajemen-public-relations.html Wikipedia, 2013.Hubungan Masyarakat.

(Online) http://id.wikipedia.org/wiki/Hubungan_masyarakat Kurniati, Renie, 2010. Public Relations Writing Teknik Penulisan Humas. (Online) http://reniekurniati.blogspot.com/2010/11/pr-writing-teknik-penulisan-humas.html Anonim, 2003.Humas. (Online) http://juli2m2003.wordpress.com/2009/03/20/humas/ Lubis, Evawani Elysa, 2012. Peran Humas Dalam Membentuk Citra Pemerintah. Jurnal Ilmu Administrasi Negara, Volume 12, Nomor 1, Juli 2012: 1 – 73 Segara, Edo, 2010.

Humas Gerakan, Membangun Citra Gerakan. Jakarta: Muda Cendekia Publisher Kupang - Kantor Wilayah kementerian Hukum dan HAM NTT mengikuti kegiatan Pemberdayaan Fungsi Kehumasan Kementerian Hukum dan HAM PASTI secara virtual dengan mengunakan aplikasi Zoom di Ruang Multifungsi Kanwil, (20/07/2020).

Kegiatan ini diikuti oleh Kepala Divisi Administrasi, Piet Bukorsyom, Kepala Divisi Imigrasi, Amrizal, Kepala Bagian Program dan Humas, Mariana Manuhutu sedangkan para kepala unit pelaksana teknis dan petugas kehumasan pemasyarakatan dan imigrasi Se-NTT mengikutinya dari tempat masing-masing secara virtual. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Biro Humas Pusat dan dibuka langsung oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Hukum dan HAM RI.

Bambang Rantam Sariwanto dan yang menjadi Narasumber dalam kegiatan ini yaitu Staf Khusus Menteri Bidang Transformasi Digital, Fajar B. S. Lase dan Tenaga Ahli Bidang Media Komisi I DPRD RI, Muhammad Kardeni.

hasil dari kehumasan adalah terciptanya

Fajar Lase, yang menjadi narasumber pertama, menjelaskan pentingnya sebuah pemberitaan tentang kinerja dan prestasi yang di capai suatu organisasi untuk dapat diketahui oleh publik. Begitu juga kinerja dan prestasi yang di raih oleh Kemenkumham. Menurutnya masyarakat tidak akan tahu tentang kinerja dan prestasi yang di raih oleh Kemenkumham kalau tidak di publikasikan melalui sebuah pemberitaan.

Untuk itu Fungsi kehumasan sangatlah penting. Fajar menerangkan fungsi humas ada pada Public Relation. Public Relation terdiri dari audiences, society, news, media, social, advertising dan communication, dapat dilihat betapa pentingnya Public Relation untuk kehumasan.

Fajar juga menambahkan cenderung terjadi permasalahan dimana orang-orang yang di tempatkan di Public Relation Kehumasan adalah orang-orang yang tidak memiliki minat yang sama.

Namun di era digital yang dibutuhkan adalah orang-orang yang memiliki passion terhadap kehumasan. “Saya menghimbau agar para Kakanwil, Kadiv Administrasi, Pranata kehumasan,dan Kepala UPT harus benar-benar mencari orang yang memiliki passion untuk masuk dalam kehumasan.

Carilah orang yang tepat untuk ditempatkan pada tempat yang tepat,” ujar Fajar. Dalam kesempatan yang sama Fajar, juga menekankan peran humas sebagai sumber berita utama. Untuk itu data yang baik dan akurat menjadi sangat penting dalam proses pembuatan sebuah berita. Selain itu terdapat beberapa peran humas lainnya yaitu menciptakan goodwill public terhadap Lembaga, menjaga hubungan baik pemerintah dengan stakeholder, membangun pemahaman masyarakat tentang kebijakan pemerintah, sebagai wajah organisasi yang langsung akan berhadapan dengan pihak di luar kementerian, sebagai pusat kementerian dalam menghimpun, mengolah, mengemas dan menyebarluaskan informasi berupa kebijakan pemerintah kepada public dan membangun kepercayaan masyarakat terhadap sebuah pemerintah.

Bertindak sebagai narasumber kedua, Muhammad Kardeni menyampaikan tentang meningkatkan reputasi kehumasan melalui konten media dimana humas sebagai jembatan komunikasi untuk menciptakan usaha yang sengaja di lakukan dan di rencanakan secara berkesinambungan untuk menciptakan saling pengertian antara sebuah lembaga dengan masyarakat.

Sedangkan ruang lingkup dalam pelaksanaan kehumasan disampaikan melalui informasi atas aktivitas hasil dari kehumasan adalah terciptanya bersifat kelembagaan dan di publikasikan melalui media massa agar terciptanya citra positif. “Hubungan antara humas dan media massa diteoritiskan sebagai hubungan yang simbiosis mutualis atau saling menguntungkan karena keduanya saling memberikan manfaat” tutur M.

Kardeni Kardeni menyampaikan bahwa ada yang perlu diperhatikan dalam dunia kehumasan sesuai dengan tema kegiatan yakni pemberdayaan fungsi kehumasan. Hal-hal yang harus diperhatikan untuk merespon dan menyelesaikan menajemen isu yang berkembang saat ini dimulai dari Investigasi: Mengumpulkan data dan fakta serta menganalisa persepsi yang berkembang, Yang kedua Aksi: Responsif dan komunikatif terhadap situasi, langkah ke tiga ialah Reaksi: Memonitor umpan balik atau respon setelah aksi itu dilaksanakan agar Pemulihan : Apresiasi, komitmen baik, dan pencegahan terlaksana dengan baik.

• Home • Profil • Struktur Organisasi • Tugas Pokok dan Fungsi • Visi, Misi, dan Tata Nilai • Profil Pejabat • Sekilas Kantor Wilayah • Kepala Kantor Wilayah Dari Masa Ke Masa • Hubungi Kami • Satuan Kerja • Produk Hukum • UUD RI Tahun 1945 • Undang - Undang • PERPPU • Peraturan Pemerintah • Peraturan Presiden • Peraturan Menteri • Peraturan Lembaga / Instansi Lain • Peraturan Daerah • Produk Kepegawaian • Produk Keuangan • Produk Perlengkapan • MoU • MoU Kerjasama Dalam Negeri • MoU Kerjasama Luar Negeri • Layanan Publik • Pelayanan Hukum Umum • Panduan Penggunaan AHU Online • Panduan Kekayaan intelektual • Kewarganegaraan • Anak Ganda (Tak terbatas) • Naturalisasi • Melalui Pernyataan • Prosedur Permohonan • Biaya Pendaftaran Kewarganegaraan • Keimigrasian • Aplikasi Pelaporan Orang Asing • Layanan Untuk WNI • Paspor • Penarikan, Pembatalan, Pencabutan dan Penggantian Paspor Biasa • Surat Perjalanan Laksana Hasil dari kehumasan adalah terciptanya Untuk WNI • Surat Perjalanan Lintas Batas atau PAS Lintas Batas • Rekomendasi Visa Bekerja dan Berlibur (Work and Holiday Visa) • APEC Business Travel Card (ABTC) • Layanan Untuk WNA • Alih Status Izin Tinggal • Izin Tinggal Terbatas / Izin Tinggal Tetap Bagi Subyek Perkawinan Campur • Izin Tinggal Terbatas • Izin Tinggal Kunjungan • VISA Kunjungan • Bebas Visa Kunjungan • Visa Tinggal Terbatas • Surat Perjalanan Laksana Paspor Untuk Orang Asing • Pemasyarakatan • Layanan Bidang Pembinaan Narapidana dan Pelayanan Tahanan • Layanan Asimilasi Tindak Pidana Kusus • Layanan Asimilasi Tindak Pidana Umum • Layanan Bimbingan Kerja • Layanan Bimbingan Rohani • Layanan Cuti Bersyarat (CB )Tindak Pidana Tertentu • Layanan Cuti Bersyarat (CB) Tindak Pidana Umum • Layanan Cuti Menjelang Bebas (CMB) Tindak Pidana Tertentu • Layanan Cuti Menjelang Bebas (CMB) Tindak Pidana Umum • Layanan Permohonan Cuti Mengunjungi Keluarga • Layanan Fasilitasi Bantuan Hukum • Layanan Fasilitasi Keterlambatan Penerimaan Perpanjangan Penahanan • Layanan Permohonan Izin Luar Biasa • Layanan Kegiatan Kesenian • Layanan Kegiatan Olahraga • Layanan Konsultasi Hukum Di Bidang Pemasyarakatan • Layanan Konsultasi Hukum • Pameran Hasil Karya Narapidana • Layanan Pembebasan Bersyarat Tindak Pidana Tertentu • Layanan Pembebasan Bersyarat Tindak Pidana Umum • Layanan Pemindahan Penahanan (Dalam Wilayah Dan Antar Wilayah) • Layanan Pendidikan • Layanan Penyediaan Bahan Bacaan • Layanan Penyuluhan • Layanan Bidang Keamanan dan Ketertiban • Layanan Kunjungan WBP • Layanan Pengaduan • Layanan Bidang Kesehatan dan Perawatan Narapidana/Tahanan • Layanan Rujukan Perawatan Lanjutan Di Luar Lapas/Rutan • Layanan Permintaan Rekomendasi Medis • Layanan Inisiasi Terapi ARV Bagi WBP • Layanan Lanjutan Pengobatan Methadone Bagi WBP Pengguna Napza • Layanan Rehabilitasi Sosial Bagi Pengguna Napza • Layanan Pemberian Makan • Layanan Kesehatan • Layanan Pemberian Air Bersih • Layanan Hiv & Aids • Layanan Pemberian Pakaian, Perlengkapan Makan, Mandi, Cuci Dan Tidur • Layanan Hasil dari kehumasan adalah terciptanya Dan Tb Kebal Obat • Layanan Perawatan Bayi Sampai Usia 2 Tahun • Layanan Perawatan Wanita Datang Bulan, Hamil Dan Menyusui • Layanan Perawatan Manusia Usia Lanjut (Manula) • Layanan Perawatan Gangguan Jiwa • Layanan Bidang Bimbingan Kemasyarakatan dan Pengentasan Anak • Layanan Bimbingan Klien Dewasa • Layanan Pemberian Izin Ke Luar Kota • Layanan Pelimpahan Bimbingan Klien Pemasyarakatan • Layanan Izin Ke Luar Negeri • Layanan Pendampingan Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum • Layanan Konseling Anak • Layanan Bimbingan Kepada Klien Anak • Layanan Pendidikan Khusus Anak • Layanan Penelitian Kemasyarakatan Anak • Layanan Penelitian Kemasyarakatan Dewasa • Layanan Pencabutan Pembebasan Bersyarat • Layanan Bidang Benda Sitaan dan Barang Rampasan Negara • Peninjauan Benda Sitaan Dan Barang Rampasan Negara • Pengambilan Benda Sitaan Dan Barang Rampasan Negara • Pinjam Pakai Benda Sitaan Dan Barang Rampasan Negara • Pelayanan Informasi Benda Sitaan Dan Barang Rampasan Negara • Layanan Bidang Informasi dan Komunikasi • Layanan Informasi Kepada Media Massa • Layanan Informasi Kepada Publik • Layanan Izin Penelitian • Layanan Izin Peliputan • Kerjasama Hasil dari kehumasan adalah terciptanya Negeri • Kerjasama Dalam Negeri • Pusat Informasi • Agenda Kegiatan • F.A.Q • Video Kegiatan • Galeri Foto • Artikel • E-Buletin • Laporan • Laporan Keuangan • Laporan Tahunan • LAKIP • Indikator Kinerja Utama • Survey IKM • Survey IKM Pelayanan Jasa Hukum • Survey IKM Pelayanan Pemasyarakatan • Survey IKM Pelayanan Keimigrasian
Humas dan hubungan pers (public relations dan press relations), keduanya biasa disingkat PR) sering dianggap sama.

Tentu saja anggapan ini salah, karena hubungan pers tersebut hanya merupakan salah satu bagian dari humas. Kegunaan hubungan pers bergantung pada sejauh mana peranan dan keberadaan media massa itu sendiri serta tingkat penerimaannya oleh masyarakat.

Karena itu hubungan pers lebih populer di negara-negara industri yang sudah maju, yang sebagian besar penduduknya tinggal di daerah-daerah perkotaan di mana media massa ada dalam jumlah serta variasi yang berlimpah. 1. Pengertian Hubungan Pers Hubungan pers (press relations) adalah upaya-upaya untuk mencapai publikasi atau penyiaran yang maksimum atas suatu pesan atau informasi humas dalam rangka menciptakan pengetahuan dan pemahaman bagi khalayak dan organisasi atau perusahaan yang bersangkutan.

Dalam prakteknya, hubungan pers ternyata tidak hanya terkait dengan kalangan pers (istilah yang populer bagi kalangan media cetak, khususnya jurnalisme surat kabar) saja, melainkan juga semua bentuk media lainnya, media cetak, media bioskop, media elektronik seperti halnya radio hasil dari kehumasan adalah terciptanya televisi, dan sebagainya. Istilah-istilah dari dunia media cetak memang cenderung lebih populer, sedangkan istilah lain yang secara harfiah lebih tepat justru tidak diterima secara luas, misalnya saja istilah “hubungan media” (media relations).

Meskipun kurang populer bila dibandingkan dengan istilah “siaran berita” atau “paparan berita” (news release), istilah “siaran pers” (press release) ternyata masih cukup banyak yang menggunakannya, termasuk kalangan praktisi humas profesional.

hasil dari kehumasan adalah terciptanya

Tujuan pokok diadakannya hubungan pers adalah “menciptakan pengetahuan dan pemahaman”, jadi jelas bukan semata-mata menyebarkan suatu pesan sesuai dengan keinginan perusahaan induk atau klien demi mendapatkan “suatu citra atau sosok yang lebih indah daripada aslinya di mata umum”. Tidak seorang pun yang berhak untuk mendikte apa yang harus diterbitkan, atau disiarkan oleh media massa, setidak-tidaknya di suatu masyarakat yang demokratis.

Seperti yang pernah dikemukakan oleh pelopor jasa konsultasi humas di Amerika Serikat, Ivy Ledbetter Lee, dalam bukunya yang berjudul Declaration of Principles terbitan tahun 1906, bahwa semua jenis materi pers harus bebas dari nilai-nilai dan kepentingan sepihak. Kriteria kejujuran dan kenetralan itu juga harus dipegang teguh oleh kalangan praktisi humas. Setiap pesan atau berita yang disampaikan kepada masyarakat melalui pers haruslah sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya. Baik atau buruknya humas diukur berdasarkan kejujuran dan sikap netralnya.

Kepentingan masyarakat, dalam hal ini adalah para pembaca, pendengar, atau pemirsa harus selalu diutamakan. Kalau hal ini benar-benar diperhatikan maka sambutan khalayak pembaca, pendengar, dan pemirsa dengan sendirinya akan positif sehingga perusahaan induk atau klien humas tadi pasti akan memperoleh suatu publisitas yang baik seperti diinginkannya.

2. Upaya Menciptakan Hubungan Pers yang Baik Selain memasok berbagai materi yang layak diterbitkan, semua praktisi humas juga perlu memahami bagaimana surat kabar dan majalah itu dibuat dan diterbitkan, serta bagaimana memproduksi program-program siaran radio dan televisi.

Sebagian pengetahuan tersebut dapat dipelajari hanya dengan observasi. Untuk itu diadakan kunjungan-kunjungan ke sejumlah penerbitan, stasiun radio, dan studio televisi (atau rumah produksi yang memasok program-programnya). Kadang-kadang kita dapat memahami suatu media hanya dengan menelepon orang-orang yang terkait dan mengajukan berbagai pertanyaan hasil dari kehumasan adalah terciptanya relevan kepadanya, seperti kapan saat terakhir suatu naskah humas sudah harus diserahkan ke meja redaksi.

Ini merupakan bagian dari tugas seorang praktisi humas, yakni berusaha untuk mengetahui segala sesuatunya selengkap mungkin. Kalau tidak mengetahui tenggat atau saat akhir penyerahan naskah ke sebuah majalah atau surat kabar mungkin ia akan terlambat menyodorkan naskah ke redaksi, atau setelah majalah atau surat kabar itu dicetak.

Jika ini terjadi maka jerih payahnya menyusun naskah humas itu pun sia-sia. Berikut ini adalah sebuah ringkasan atau rangkuman atas hal-hal terpenting perihal pers yang harus diketahui oleh seorang praktisi humas.

hasil dari kehumasan adalah terciptanya

a. Kebijakan editorial: Ini merupakan pandangan dasar dari suatu media yang dengan sendirinya akan melandasi pemilihan subjek-subjek yang akan dicetak atau yang akan diterbitkannya. Misalnya saja, ada koran-koran yang senantiasa memuat ulasan khusus secara singkat mengenai berbagai macam transaksi bisnis yang terjadi setiap hari. b. Frekuensi penerbitan: Setiap terbitan punya frekuensi penerbitan yang berbeda-beda; bisa beberapa kali dalam sehari, harian, dua kali seminggu, mingguan, bulanan, atau bahkan tahunan.

Praktisi humas juga perlu mengetahui berapa edisi yang diterbitkan dalam tiap penerbitan. c. Tanggal terbit: Kapan tanggal dan saat terakhir sebuah naskah harus diserahkan ke redaksi untuk penerbitan yang akan datang?

Tanggal penerbitan dari suatu media ditentukan oleh frekuensi dan proses pencetakannya. Di Inggris, koran-koran yang memiliki jaringan percetakan di berbagai tempat di luar London, jadi tidak hanya di Fleet Street, biasanya dapat terbit lebih cepat daripada koran-koran lainnya. d. Proses pencetakan: Apakah suatu media dicetak secara biasa (letterpress), dengan teknik-teknik fotogravur, litografi, ataukah fleksografi?

Dewasa ini, teknik percetakan yang populer di seluruh dunia adalah teknik offset-litho. e. Daerah sirkulasi: Apakah jangkauan sirkulasi dari suatu media itu berskala lokal, khusus di daerah pedesaan, perkotaan, berskala nasional, ataukah bahkan sudah berskala internasional? Teknologi satelit memungkinkan dilakukannya sirkulasi atau distribusi media secara internasional. Beberapa koran dan majalah yang sudah memiliki sirkulasi secara internasional adalah International Herald Tribune, Wall Street Journal, USA Today, Financial Times, The Economist, dan sejumlah surat kabar Cina dan Jepang, terutama Asahi Shimbun.

f. Jangkauan pembaca: Berapa dan siapa saja yang membaca jurnal atau media yang bersangkutan? Seorang praktisi humas juga dituntut untuk mengetahui kelompok usia, jenis kelamin, status sosial, minat khusus, kebangsaan, etnik, agama, hasil dari kehumasan adalah terciptanya ke orientasi politik dari khalayak pembaca suatu media g.

Metode distribusi: Praktisi humas juga perlu mengetahui metode-metode distribusi dari suatu media; apakah hasil dari kehumasan adalah terciptanya melalui toko-toko buku, dijajakan secara langsung dari pintu ke pintu, lewat pos atau sistem langganan, atau secara terkontrol (dikirimkan lewat pos atas permintaan atau seleksi). Ada sejumlah prinsip umum yang perlu diperhatikan oleh setiap praktisi humas dalam menciptakan dan membina hubungan pers yang baik.

Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut. 1. Memahami dan melayani media. Dengan berbekal semua pengetahuan di atas, seorang praktisi humas akan mampu menjalin kerja sama dengan pihak media, ia juga akan dapat menciptakan suatu hubungan timbal-balik yang saling menguntungkan. 2. Membangun reputasi sebagai orang yang dapat dipercaya.

hasil dari kehumasan adalah terciptanya

Para praktisi humas harus senantiasa siap menyediakan atau memasok materi-materi yang akurat di mana saja dan kapan saja hal itu dibutuhkan. Hanya dengan cara inilah ia akan dinilai sebagai suatu sumber informasi yang akurat dan dapat dipercaya oleh para jurnalis. Bertolak dari kenyataan itu maka komunikasi timbal-balik yang saling menguntungkan akan lebih mudah diciptakan dan dipelihara. 3. Menyediakan salinan yang baik. Misalnya saja menyediakan reproduksi foto-foto yang baik, menarik, dan jelas.

Dengan adanya teknologi input langsung melalui komputer (teknologi ini sangat memudahkan koreksi dan penyusunan ulang dari suatu terbitan, seperti siaran berita atau news release), penyediaan salinan naskah dan foto-foto yang baik secara cepat menjadi semakin penting. 4. Bekerja sama dalam penyediaan materi. Sebagai contoh, petugas humas dan jurnalis dapat bekerja sama dalam mempersiapkan sebuah acara wawancara atau temu pers dengan tokoh-tokoh tertentu.

5. Menyediakan fasilitas verifikasi. Para praktisi humas juga perlu memberi hasil dari kehumasan adalah terciptanya kepada para jumalis untuk melakukan verifikasi (membuktikan kebenaran) atas setiap materi yang mereka terima.

Contoh konkretnya, para jurnalis itu diizinkan untuk langsung menengok fasilitas atau kondisi-kondisi organisasi yang hendak diberitakan.

6. Membangun hubungan personal yang kokoh. Suatu hubungan personal yang kukuh dan positif hanya akan tercipta serta terpelihara apabila dilandasi oleh keterbukaan, kejujuran, kerja sama, dan sikap saling menghormati profesi masing-masing.

3. “Berita” Humas Kelaikan berita berarti bahwa informasi yang hendak dimuat di media massa harus mampu menarik minat para pembaca, pemirsa, atau pendengar. Standar ini harus senantiasa diperhatikan oleh setiap praktisi humas yang hendak mempublikasikan pesan-pesan humasnya.

Mereka harus memeriksa kelaikan berita dari suatu siaran berita, artikel, atau gambar-gambar (foto) yang hendak dipublikasikan sebelum diserahkan ke media massa. Undanglah para jurnalis dari berbagai macam media guna mengikuti acara pers yang khusus diadakan untuk menjajaki kelaikan berita dari suatu materi. Pertanyaan-pertanyaan yang harus diajukan dalam kaitan ini antara lain sebagai berikut: a.

Apakah berita ini laik atau layak untuk dimuat? b. Apakah foto ini tidak akan menyita terlalu banyak halaman?

c. Mengapa para jurnalis yang hadir membatasi waktunya dalam mengikuti acara pers ini? Pada akhirnya, setiap praktisi humas harus mampu menilai kelaikan berita dari suatu materi yang hendak disiarkannya. Siaran pers menciptakan suatu citra tertentu di mata kritis para editor perihal organisasi yang menyebarkannya.

Akan tetapi, pada kenyataannya di mana-mana siaran berita itu masih menjadi salah satu kegiatan humas yang kurang digarap secara sungguh-sungguh. Kenyataan ini sangat disayangkan, mengingat arti penting yang sesungguhnya dari siaran berita itu demikian besar. Para editor dari berbagai media massa masih sering menyaksikan rendahnya kualitas siaran berita yang mereka terima dari praktisi humas.

Tentu saja ini dapat merusak hubungan pers, yang pada akhirnya jelas akan merugikan organisasi atau perusahaan yang bersangkutan.

Bila siaran beritanya buruk, kesan terhadap organisasi pengirimnya juga menjadi buruk. Sebuah siaran berita yang baik harus menyajikan suatu kisah yane sama bermutunya dengan yang biasa ditulis oleh para jurnalis. Informasi hasil dari kehumasan adalah terciptanya terungkap harus jelas, dan sepenuhnya sesuai dengan kenyataan yang ada, serta menaati segenap kaidah penulisan yang baik. Siaran berita tidak boleh berlebih-lebihan sehingga mirip iklan. Cara paling mudah untuk belajar menulis siaran berita adalah dengan rajin-rajin membaca surat kabar.

Sedikit sekali news release yang kualitasnya setara dengan artikel-artikel di media massa. Banyak yang lebih mirip iklan. Jangan sekali-kali memulai isi sebuah siaran berita dengan kalimat seperti “Dengan bangga kami mengumumkan bahwasanya.” atau ungkapan-ungkapan lain yang cenderung memuji-muji diri sendiri. Aspek-aspek yang sangat menentukan kualitas siaran berita akan dibahas secara mendalam berikut ini.

Pada pokoknya, ada empat hal yang harus diperhatikan demi menciptakan suatu hubungan pers yang baik. 1. Susunan kalimat siaran berita harus senada dengan gaya yang digunakan oleh para jurnalis. Gaya penulisan ini berbeda dari gaya penulisan esai yang hasil dari kehumasan adalah terciptanya penuh kiasan, penulisan jawaban untuk suatu pertanyaan ujian yang terlampau lugas dan kaku, atau penulisan sebuah artikel feature yang menekankan pada segi keindahan.

Sebuah laporan surat kabar ditulis secara gamblang, jelas, serta enak dibaca. Siaran berita yang baik biasanya akan ditempatkan pada kolom atau tempat utama yang mencolok. Kalau seorang humas sudah mampu menyakinkan editor dan jurnalis untuk memasang beritanya pada halaman utama maka ia sudah mencapai suatu keberhasilan! 2. Siaran berita harus dibuat dalam gaya tulisan yang singkat dan padat, bukan seperti surat cinta yang penuh basa-basi. Terapkanlah kaidah penulisan yang tepat.

hasil dari kehumasan adalah terciptanya

Selain itu, siaran berita harus berpenampilan baik guna menghindari terganggunya penglihatan editor akibat terlalu banyaknya koreksi yang harus ia bubuhkan. 3. Bobot, karakter, dan kandungan siaran berita haruslah disesuaikan dengan reputasi dan karakter media yang hendak memuatnya. Siaran berita teknis untuk sebuah media atau majalah teknis harus diusahakan agar semua terminologi yang ada di dalamnya sudah benar.

Jangan mengirimkan sebuah siaran berita yang berisikan uraian lengkap tentang riwayat hidup seorang tokoh pengusaha ke sebuah koran yang biasanya hanya menyediakan beberapa baris saja untuk artikel-artikel semacam itu.

4. Hendaknya siaran berita itu dikirimkan ke beberapa jurnal atau media yang sekiranya paling sesuai (jadi tidak asal media) dan naskahnya harus diserahkan ke meja redaksi beberapa saat sebelum naik cetak. Untuk memilih media yang paling tepat, petugas humas harus memiliki sebuah daftar lengkap mengenai semua media yang ada, termasuk klasifikasinya.

Ia harus tahu media mana saja yang cocok untuk menyiarkan pesan-pesan humas yang tertuang dalam siaran beritanya itu. Ia juga perlu mengetahui proses percetakan, tenggat waktu penyerahan naskah dan tanggal terbit dari masing-masing media. Media-media yang diterbitkan secara harian, mingguan, bulanan, dan seterusnya, perlu dibedakan ke dalam daftar-daftar tersendiri.

hasil dari kehumasan adalah terciptanya

Mungkin Anda perlu menyebarkan sebuah siaran berita yang harus segera diketahui oleh khalayak, dan untuk itu tentu tidak tepat jika Anda memakai media yang terbit satu bulan sekali. Cara termudah untuk mempelajari cara penulisan siaran berita yang baik adalah dengan rajin-rajin menyimak laporan di berbagai koran, dan mengobservasi cara-cara penulisannya.

Di situ selalu terkandung teknik-teknik tertentu yang bersifat khusus. Berikut ini adalah dua buah karakteristik fundamental yang akan tampak apabila Anda cukup rajin menyimak berita dari berbagai surat kabar. a. Subjek selalu dinyatakan di awal kalimat pembuka. Dalam sebuah siaran berita, subjek itu jarang berupa nama organisasi, melainkan bidang kegiatan atau apa yang tengah dikerjakan oleh organisasi atau perusahaan yang bersangkutan. Sebagai contoh, “Rute penerbangan baru ke Manila baru saja dibuka oleh Garuda Indonesia”; jadi bukannya “Garuda Indonesia baru saja membuka rute penerbangan baru ke Manila”.

b. Paragraf pembuka senantiasa berisikan rangkuman atas keseluruhan cerita. Maksudnya, seandainya saja kolom media memang tidak memungkinkan untuk memuat naskah atau kalimat-kalimat yang selanjutnya maka paragraf pertama tadi sudah dapat mengemukakan inti pesan atau berita kepada pembaca.

Para editor selalu sibuk sehingga mereka tidak mempunyai cukup waktu untuk mentolerir siaran-siaran berita humas yang bermutu rendah. Mereka menerima puluhan atau bahkan ratusan berita hasil dari kehumasan adalah terciptanya berbagai organisasi setiap harinya, sehingga mereka tidak mau memboroskan waktu hanya untuk mengurus naskah-naskah yang buruk atau salah penyusunannya. Biasanya, hanya dengan membaca uraian pada paragraf pertama saja mereka sudah bisa mengetahui baik atau buruknya siaran berita itu, dan memutuskan untuk memuat atau langsung membuangnya ke tempat sampah.

Berikut ini akan diuraikan sebuah rumus penyusunan siaran berita bermutu yang sudah teruji. Standar yang dipergunakan di dalam rumus ini juga merupakan standar yang dianut oleh para editor. Dalam bahasa aslinya, rumus tersebut lebih dikenal dengan akronim SOLAADS. 1. Subject atau subjek: apa yang dituturkan oleh cerita? 2. Organization atau organisasi: apa sebutan/nama organisasi/perusahaan yang bersangkutan atau yang berkepentingan? 3. Location atau lokasi: di mana organisasi itu berlokasi?

4. Hasil dari kehumasan adalah terciptanya atau keunggulan: apa saja kelebihan atau keunggulannya? Apanya yang baru? Di mana letak atau aspek kekhususannya?

Serta apa pula manfaatnya? 5. Application atau aplikasi/penerapan: apa saja kegunaan atau manfaatnya? Siapa pengguna atau pihak-pihak yang dapat memanfaatkannya? 6. Details atau rincian: berapa ukurannya, apa warnanya, berapa harganya, bagaimana bentuk atau penampilannya (dan berbagai hal rinci lainnya)? 7. Source atau sumber: di mana produk itu bisa diperoleh? Jika tidak ada lokasi khusus maka sumber yang dipakai adalah alarnat kantor pusat organisasi.

Nilai atau arti penting rumus tujuh unsur dalam penyusunan siaran pers atau “berita” humas tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. 1. Rumus itu dapat berfungsi sebagai daftar petunjuk atas berbagai macam data yang dibutuhkan sebelum penulisan siaran berita dilakukan.

2. Rumus itu merupakan alur baku atas penyusunan siaran berita, sekaligus menunjukkan urutan informasi yang harus disajikan agar kesemuanya seimbang dan dapat dicema dengan baik oleh pembaca. 3. Rumus tersebut juga berfungsi sebagai patokan guna memeriksa kualitas keseluruhan naskah setelah penulisannya rampung.

Penulis dapat memastikan ada atau tidaknya informasi vital yang terlewatkan melalui pencocokan antara naskah yang ditulisnya dengan rumus tersebut. Penulis harus menjamin bahwa semua informasi sudah tercakup dalam naskah siaran berita yang disusunnya. 4. Penerapan rumus tujuh unsur ini tidak hasil dari kehumasan adalah terciptanya bahwa kita harus selalu membuat siaran berita yang terdiri dari tujuh paragraf, atau kita tidak boleh membuatnya lebih dari jumlah itu.

Ketujuh unsur tersebut hendaknya diartikan saja sebagai pedoman bagi urutan penyajian informasi. 5. Paragraf pertama harus selalu menyatakan subjek; nama perusahaan atau organisasi secara singkat (misalnya Mazda, bukannya Mazda Car Imports Ltd., dan Meccano, bukannya Meccano Ltd.); lokasi, yang kalau memang perlu boleh berbeda dari alamat sumber; serta tinjauan serba sekilas perihal isi cerita secara keseluruhan.

Setelah itu barulah cerita dapat diperluas ke unsur keunggulan, aplikasi, dan rincian dari rumus di atas. Dewasa ini, mengingat yang dinilai oleh editor hanyalah paragraf yang pertama maka jelas bahwa kalimat pembuka atau pendahuluan menjadi semakin penting dan semakin menentukan.

Oleh karena itu, jangan sekali-kali Anda meremehkan kalimat pembuka! Sekarang sudah banyak jurnalis, karena kesibukannya, yang hanya memasukkan paragraf-paragraf pertama dari naskah-naskah yang mereka terima ke terminal komputemya.

Apabila mereka hendak memilih naskah, hanya paragraf-paragraf pertama itu sajalah yang akan mereka nilai. Seandainya ada yang mereka rasakan baik, barulah mereka akan mencari naskah yang selengkapnya. 6. Paragraf akhir harus menyatakan nama lengkap, alamat jelas, dan nomor-nomor telepon dari organisasi pengirim siaran berita. Misalnya saja, “Teko kopi Red Rose ini dibuat dan dipasarkan oleh Old English Pottery Co Ltd., Western Works, Overton, Shropshire, telepon xxxxxxx”. Paragraf yang terakhir tersebut belum tentu dimuat, mengingat semakin ke bawah letak dari suatu paragraf, kemungkinan pemuatannya akan semakin kecil.

Oleh sebab itu, hendaknya informasi terpenting tidak diletakkan di situ. 4. Jenis, Teknik Penulisan, dan Penyajian Siaran Pers Rumus di atas cocok untuk siaran berita mengenai adanya suatu produk -barang atau jasa- baru, terbentuknya bangunan atau struktur baru seperti akademi, pasar swalayan, pabrik, jembatan, pelabuhan, atau bandar udara. Secara umum, rumus ini bisa diberlakukan.

Akan tetapi ada beberapa jenis siaran berita atau paparan berita atau siaran pers yang ternyata tidak cocok dengan rumus ini. Berikut ini akan diuraikan enam jenis siaran pers yang paling populer. a. Siaran berita yang sesuai dengan rumus tujuh unsur: Idealnya, siaran berita ini tertuang ke dalam selembar kertas atau satu halaman saja. Ingatlah bahwa kolom yang tersedia di berbagai media senantiasa terbatas.

Kemungkinan pemotongan berita yang terlalu panjang oleh editor selalu terbuka. Risikonya, jika siaran berita itu terlalu panjang dan kemudian dipotong, akan muncul kemungkinan bahwa makna inti atau penekanannya akan mengalami pergeseran. b. Kisah latar belakang informasi: Biasanya siaran berita pendukung atau yang bersifat latar belakang ini tidak untuk dipublikasikan secara umum, melainkan hanya untuk para jurnalis agar mereka bisa memahami sepenuhnya isi atau makna siaran berita inti yang disodorkan oleh hasil dari kehumasan adalah terciptanya humas.

c. Siaran berita teknis yang disertai rangkuman: Berbagai macam produk teknis biasanya memerlukan news release yang lebih panjang-lebar, sehingga diperlukan dua atau tiga halaman guna memuatnya. Siaran berita seperti ini biasanya juga disertai dengan rangkuman agar editor lebih mudah meringkasnya. d. Siaran berita sebagai rangkuman atas suatu laporan atau pidato: Dokumen-dokumen penting, seperti laporan resmi perusahaan, katalog dan pembukuan tahunan, atau draft pidato resmi, hendaknya disertai dengan siaran berita sebagai rangkumannya, apabila dokumen tersebut hendak diserahkan ke media guna dipublikasikan.

Siaran berita itu berfungsi sebagai ringkasan yang menjelaskan secara singkat intisari dokumen-dokumen itu, dan menonjolkan aspek-aspek yang hasil dari kehumasan adalah terciptanya dan atau yang paling penting.

Tanpa rangkuman, biasanya para editor enggan untuk mencurahkan banyak waktu guna mempelajari sendiri dokumen-dokumen tersebut. Kalaupun mereka punya waktu, belum tentu mereka mampu menangkap kelaikan berita maupun hal-hal paling penting yang terkandung di dalamnya. Ada kemungkinan mereka justru akan menarik penafsiran sendiri yang tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh pihak yang mengirimkannya.

e. Penambahan keterangan gambar: Ini merupakan jalan tengah antara sebuah photocaption (keterangan gambar) dengan sebuah siaran berita. Hal tersebut digunakan jika ada sebuah gambar yang menceritakan sesuatu cerita yang cukup penting sehingga gambar tersebut memang harus diberi tambahan keterangan agak panjang-lebar. Penonjolan keterangan gambar dengan garis bawah atau huruf-huruf berbentuk khusus juga dapat digunakan untuk menunjukkan betapa keterangan itu penting dan harus dibaca.

Sebuah perusahaan yang hendak mengirimkan gambar-gambarnya kepada media massa perlu menyertainya dengan sebuah siaran berita singkat yang merupakan penambahan keterangan bagi gambar itu. Tentu saja tujuannya adalah menghindari salah tafsir atau salah pengertian di pihak editor. Siaran berita ini bisa disatukan dengan gambar, atau bisa pula dijadikan lembaran terpisah sebagai lampiran.

f. Pengumuman singkat (brief announcement): Siaran berita mengenai hal-hal yang relatif sederhana, misalnya saja mengenai pengangkatan pejabat baru atau perubahan alamat organisasi, sebaiknya dibatasi satu paragraf saja. Mengapa demikian? Karena untuk berita-berita semacam itu, kalangan media biasanya hanya bersedia menyediakan sedikit kolom yang hanya muat untuk satu paragraf saja.

Koran-koran bisnis atau majalah-majalah perdagangan bahkan rnemuat berita semacam itu hanya dalam beberapa kata. Penulisan siaran berita yang baik agaknya merupakan suatu tugas yang paling sulit bagi para praktisi humas. Hal ini dikarenakan siaran berita itu memiliki arti penting yang khusus, sehingga penulisannya pun memerlukan teknik-teknik dan perhatian yang khusus pula.

Salah satu bentuk kesulitan terbesar yang dihadapi oleh para praktisi humas -terutama mereka yang diserahi tanggung jawab penulisan dan penyebaran siaran berita- adalah godaan untuk menjadikan suatu pesan menjadi iklan, yang pada gilirannya berkembang menjadi godaan untuk memanipulasi berita yang dengan sendirinya akan meruntuhkan validitasnya.

Godaan ini harus dilawan dengan sekuat tenaga karena akan menghancurkan makna dan tujuan inti dari publikasi siaran berita itu sendiri. Untuk menerapkan rumus tujuh unsur yang baru saja diuraikan di atas, disiplin mutlak diperlukan.

Berikut ini adalah beberapa aspek disiplin yang harus dicamkan oleh setiap praktisi humas, khususnya mereka yang mengelola siaran berita. 1. Paragraf, kalimat, dan kata-kata yang digunakan harus diusahakan sesingkat dan sepadat mungkin. Meskipun belakangan ini ada kecenderungan bahwa gaya bahasa siaran berita semakin berbunga-bunga dan semakin sulit untuk dipotong maupun ditulis ulang, usahakanlah selalu untuk memilih kalimat serta kata-kata yang lugas.

Tulislah ‘rumah’, bukan ‘kediaman’, atau ‘wafat’ bukannya ‘pulang ke rahmatullah’. Makna kedua kata ini memang sama, namun yang pertama lebih baik karena lebih padat dan singkat. 2. Usahakanlah agar setiap siaran berita tidak lebih dari satu halaman atau selembar kertas saja. 3. Hindari gaya bahasa superlatif atau yang cenderung berlebih-lebihan. Jauhi pula kata atau ungkapan yang memuji-muji diri sendiri, baik yang terang-terangan maupun yang tersirat.

Hindarilah ekspresi-ekspresi yang serba hebat seperti “terbesar di dunia”, “terobosan baru abad ini”, “pelopor utama di bidangnya”, dan seterusnya. 4. Hindari generalisasi yang tidak jelas dan kecondongan untuk menjelaskan segala sesuatu yang bisa berakibat tulisan keluar dari konteks aslinya. Jauhi ungkapan atau keterangan yang subjektif seperti “ekonomis”, “hemat biaya”, “hemat waktu”, “praktis”, “mutunya benar-benar terjamin”, dan seterusnya. Kemukakan saja fakta-faktanya, sehingga kesan unggul dari produk yang bersangkutan akan muncul dengan sendirinya.

Jangan sekali-kali mengatakan “produk yang baru ini memiliki paduan warna yang sangat menarik”, melainkan katakan saja apa warna produk itu, dan biarkanlah para pembaca untuk menilai sendiri menarik atau tidaknya warna-warna tersebut. 5. Jangan pernah memakai kata-kata klise seperti “unik”, “lain dari yang lain”, “bercakupan luas”, “sangat ilmiah”, “sampai detik ini”, “pasti memudahkan”, dan sebagainya. Meskipun istimewa, produk itu belum tentu benar-benar unik, karena hal-hal yang sepenuhnya unik sangat langka di dunia ini.

6. Jangan mengutip pendapat atau komentar dari seorang tokoh, kecuali jika itu benar-benar langsung bersumber dari orang atau pihak yang bersangkutan. 7. Jangan sembarangan memilih jurnal atau media. Ingatlah bahwa masing-masing media massa punya khalayak pembaca tersendiri, sehingga masing-masing memiliki versi yang berlainan satu sama lain.

Media lokal, media teknis, media bisnis, dan media nasional harus diperlakukan secara berbeda, dan jenis-jenis informasi yang mereka butuhkan maupun gaya penuturannya pasti juga berbeda. Siaran pers/berita yang baik, jelas akan menunjukkan bahwa praktisi humas yang menggarapnya adalah seorang yang profesional dan tahu benar akan apa yang diinginkannya. Salah satu prinsip dasar yang harus diusahakan oleh setiap praktisi humas dalam menciptakan hubungan pers yang baik adalah dengan menciptakan reputasi positif dan menggugah respek kalangan pers.

Seorang praktisi humas yang memiliki gaya penulisan yang baik dan sepenuhnya sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan yang baku, pasti akan lebih dihargai oleh kalangan pers. Berikut ini adalah beberapa aturan sederhana dalam penulisan yang lazim berlaku di kalangan pers.

(Perhatikan bahwa gaya penulisan di dunia penerbitan agak berbeda dari gaya penulisan yang dianut oleh dunia pers). a. Kop surat (printed heading paper): Setiap siaran berita boleh ditulis atau dicetak di atas kertas dengan kop surat khusus yang tidak sama dengan kop surat pada kertas yang biasa dipakai untuk keperluan korespondensi bisnis sehari-hari.

Pada bagian atas kertas itu perlu dibubuhkan kata- kata tambahan yang berbunyi, misalnya, “Berita dari” atau “Informasi dari” yang kemudian diikuti dengan logo atau simbol organisasi. Alamat dan nomor telepon hendaknya dicantumkan pada bagian bawah kertas. Satu warna saja sudah cukup. b. Judul berita (headlines): Judul harus menyatakan secara jelas apa yang hendak diberitakan.

Praktisi humas tidak perlu terlalu pusing mengarang judul yang spektakuler karena biasanya para editor suka membuat judul sendiri yang berbeda dari judul aslinya, sesuai dengan gaya penuturan jurnalnya, atau dalam rangka menyesuaikan luas kolom yang tersedia. c. Subjudul (subheadings): Biasanya subjudul tidak perlu dibubuhkan, karena sang editor belum tentu memakainya. Kalaupun ia memerlukannya, ia akan membuat subjudul itu sendiri.

Namun, demi lebih memperjelas judul, tidak ada salahnya mencantumkan subjudul, apalagi jika siaran berita itu menyangkut suatu uraian yang sangat teknis, atau jika ada dua produk yang dikemukakan, misalnya saja Model A dan Model B. Pada umumnya, subjudul ini merupakan alat tipografis yang digunakan sebagai bagian dari perwajahan halaman. d. Paragraf pinggir (indented paragraph): Paragraf pertama tak perlu “dimasukkan” ke margin dalam, meskipun di surat kabar semua paragraph dimasukkan ke tepi (kalimat baris pertama dibuat lebih pendek daripada kalimat-kalimat lainnya dalam paragraf yang sama).

Samakan saja panjang kalimat hasil dari kehumasan adalah terciptanya baris awal dengan kalimat-kalimat yang ada di bawahnya. Sedangkan untuk paragraf-paragraf berikutnya, kalimat di baris pertama harus dibuat menjorok ke dalam sehtngga lebih pendek daripada yang lain. e. Huruf besar (capital letters): Jangan tulis nama perusahaan/organisasi atau nama produk dengan huruf besar semuanya.

Sebagai contoh, tulislah Cadbury, jangan CADBURY. Ikutilah kaidah pemakaian huruf besar yang baku. f. Penggarisbawahan (underlining): Tidak ada kata atau kalimat dalam siaran berita yang perlu digarisbawahi. Untuk menonjolkan suatu kata atau kalimat maka kata atau kalimat itu dimiringkan (disajikan dalam bentuk huruf italics).

Biasanya yang menentukannya adalah editor, jadi praktisi humas yang membuat siaran berita itu tidak perlu melakukannya sendiri. g. Titik-titik dalam singkatan (points in abbreviations): Menurut kaidah yang berlaku, titik tidak perlu dipakai dalam singkatan. Jadi yang benar adalah IPR, USA, IBM, atau ITT, bukannya I.P.R, U.S.A., I.B.M, atau I.T.T. Namun, untuk singkatan-singkatan tertentu, pemakaian titik memang diwajibkan. Misalnya saja “d.a.” (dengan alamat) atau “u.p.” (untuk perhatian).

Dalam Bahasa Inggris, contoh singkatan yang harus selalu memakai titik adalah “i.e.” (id est = yaitu) dan “e.g.” (exempli gratia = misalnya). h. Angka-angka (figures): Semua angka, dari satu sampai sembilan harus ditulis dalam huruf. Sedangkan 10 (sepuluh) ke atas harus ditulis dalam angka, kecuali untuk angka tahun, harga, satuan moneter, satuan ukur, atau nomor alamat dan telepon.

Nilai-nilai yang amat besar perlu lebih diperjelas dalam bentuk untaian huruf, misalnya satu juta. i. Tanggal (dates): Gaya penulisan yang dianut oleh dunia pers (di negara-negara Barat, khususnya Inggris) adalah angka atau nama bulan disebutkan terlebih dahulu baru disusul dengan angka tanggal, misalnya hasil dari kehumasan adalah terciptanya 23). Namun ada juga beberapa koran yang menyebutkan tanggal lebih dulu, baru nama bulan. Tanggal tidak disertai dengan sufiks -st, -nd, -rd, maupun -th.

Jika siaran berita itu melaporkan suatu peristiwa, jangan sekali-kali memakai kata “baru-baru ini”, “hari ini”, “Senin depan”, atau kata-kata lainnya yang kurang jelas.

Hal itu bisa membingungkan para editor. Setiap media punya jadwal terbit yang berlainan. Ada yang harian, mingguan, bulanan, dan seterusnya. Kalau waktu yang disebutkan tidak disertai dengan tanggal yang pasti, jelas akan menimbulkan masalah. Lagi pula, saat penulisan siaran berita tidak sama dengan saat publikasi.

Bisa jadi yang disebutkan “hari ini” pada siaran berita itu sebenarnya “seminggu yang lalu” pada saat siaran berita tersebut dipublikasikan oleh pers. Kata “baru-baru ini” bahkan menunjukkan bahwa berita yang bersangkutan sudah basi. Kalaupun kata “hari ini” mau dipakai, hendaknya disertai dengan tanggal persisnya di dalam tanda kurung. j. Sambungan (continuations): Apabila siaran berita itu memerlukan lebih dari satu halaman maka tulislah kata “bersambung” atau “berlanjut ke halaman berikutnya” pada sudut kanan bawah.

Setelah itu, pada ujung atas halaman-halaman selanjutnya berikanlah tanda tertentu yaang menunjukkan bahwa itu hasil dari kehumasan adalah terciptanya halaman sambungan, misalnya “Mesin kopi baru - 2”. Jangan lupa membubuhkan nomor halaman setelah halaman pertama.

k. Tanda petik (quotation marks): Tanda petik (“.”) dibubuhkan untuk setiap kalimat yang dikutip secara langsung maupun tak langsung. Seperti telah disebutkan sebelumnya, dunia penerbitan memiliki gaya penulisan tersendiri. Sebagian di antara mereka ada yang mencantumkan tanda petik pada judul buku yang diterbitkannya. Hal yang sama juga sering kali dilakukan oleh perusahaan rekaman kaset yang memberi tanda petik pada nama album rekaman atau nama lagu-lagunya. 1. Larangan (embargo): Di sini, larangan atau embargo berarti suatu permintaan untuk tidak menerbitkan suatu cerita atau naskah sebelum tanggal dan saat tertentu.

Namun, para editor tidak berkewajiban untuk mematuhi embargo tersebut, karena memang tidak ada peraturan atau kode etik yang mengaturnya.

Meskipun begitu embargo itu hendaknya dihormati, apalagi di dalam kondisi-kondisi tertentu. Misalnya saja embargo itu dimintakan atas dasar suatu peraturan bursa saham (yang melarang diedarkannya berita-berita yang akan dapat mengguncangkan harga-harga saham), adanya selisih waktu antarnegara (agar berita yang bersangkutan dapat tersiar dalam waktu bersamaan), atau karena si editor dipercaya menerima suatu informasi yang sebenarnya amat tertutup (seperti Buku Putih atau dokumen rahasia milik pemerintah) dengan syarat ia akan menyimpannya sampai hasil dari kehumasan adalah terciptanya waktu tertentu.

Selain tidak bisa ditunda tanpa alasan khusus, penerbitan siaran berita juga tidak bisa dipercepat sesuai kehendak praktisi humas. la bahkan tidak perlu untuk mencantumkan catatan “Harap segera dipublikasikan”, karena siapa saja yang mengirim siaran berita ke pers pasti ingin dimuat. Kalau tidak, untuk apa dikirimkan? m. Identitas penulis (authorship): Di akhir naskah siaran berita, penulis harus mencantumkan nama dan nomor teleponnya.

Selain untuk menunjukkan identitas penulis, pencantuman nama dan nomor telepon tersebut sekaligus juga untuk menunjukkan bahwa naskah siaran berita itu sudah habis atau berakhir. Tujuan ketentuan ini adalah menghindarkan publikasi siaran berita yang dibuat oleh pihak-pihak yang sebenarnya tidak berwenang (kasus seperti ini pemah benar-benar terjadi di Nigeria).

Sebuah artikel feature (karangan yang berkenaan dengan human interest) tidak bisa disamakan dengan siaran berita, dan demikian pula sebaliknya. Kalau ada orang yang mengatakan bahwa artikel feature itu merupakan news release yang panjang maka orang tersebut salah besar. Keduanya merupakan materi editorial yang sama sekali hasil dari kehumasan adalah terciptanya. Gaya penulisan artikel feature sangat berbeda dari gaya penulisan atau pelaporan berita-berita khas surat kabar.

Meskipun harus diakui bahwa prinsip-prinsip penyajian atau presentasinya lebih kurang memang sama, akan tetapi artikel feature berbeda dari siaran berita, terutama sekali dalam hal-hal sebagai berikut. a. Artikel feature selalu lebih panjang sehingga menyita lebih banyak halaman. b. Artikel feature bersifat eksklusif (terbatas untuk kalangan tertentu), sedangkan siaran berita disajikan bagi siapa’saja yang mau memanfaatkannya. c. Hasil dari kehumasan adalah terciptanya feature biasanya tidak perlu dan tidak akan diedit besar-besaran atau ditulis ulang seperti halnya siaran berita.

d. Nama penulisnya selalu ditonjolkan dan dinyatakan secara jelas sebagai penciptanya. Seandainya penulis berkeberatan narnanya dicantumkan maka nama direktur pengelola media yang bersangkutan akan dipasang sebagai penggantinya. e Berbeda dari siaran berita, hal-hal pokok dalam artikel feature tidak “diumbar” pada paragraf pertama. Biasanya tulisan pada paragraf pertama artikel tersebut sengaja dibuat guna menggugah minat para pembaca untuk mencari inti kandungan artikel tersebut secara keseluruhan.

Namun, tulisan awal itu bukan sekadar kata pendahuluan seperti di dalam esai. f Kalau gaya penulisan siaran berita cenderung lugas dan dingin karena semata-mata menyajikan informasi faktual maka sebuah artikel feature selalu dapat ditulis secara imajinatif, mungkin dibumbui dengan anekdot, lelucon sindiran, pertanyaan, sitiran, kutipan dari suatu wawancara, contoh-contoh, serta paparan pengalaman dan pendapat pribadi.

Kosakatanya biasanya lebih kaya meskipun ungkapan-ungkapannya cenderung berlebihan. g. Masa baca artikel feature biasanya jauh lebih lama daripada siaran berita. Tidak seperti siaran berita, artikel-artikel feature juga diperlakukan lebih baik di perpustakaan, diindeks, dan terkadang menyatu dengan kepustakaan hasil dari kehumasan adalah terciptanya tertentu. Masa bacanya makin panjang jika dicetak ulang, baik melalui direct mails shots (penerbitan ulang jarak jauh, yakni mengadakan penerbitan atas dasar permintaan, dan artikel itu akan langsung dikirimkan kepada para pemesan); melalui unit penjualan; atau melalui penyebaran ke berbagai toko dan pameran buku.

Informasi yang termuat di dalamnya sengaja tidak dibatasi oleh tanggal agar bisa bertahan hingga bertahun-tahun. Produksi artikel-artikel feature dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain sebagai berikut. 1. Ditulis langsung oleh para petugas humas yang biasa menangani jurnal internal.

2. Ditulis oleh seorang penulis freelance yang sengaja direkrut untuk keperluan penulisan artikel. 3. Ditulis oleh seorang penulis freelance, tetapi kemudian diatasnamakan kepada pimpinan organisasi, direktur utama perusahaan, atau pejabat lainnya. 4. Hasil olahan dari makalah atau pidato pimpinan atau tokoh organisasi. 5. Hasil kerja konsultan humas.

6. Hasil peninjauan atau kunjungan langsung ke suatu fasilitas atau unit organisasi yang dilakukan oleh seorang jurnalis. Penulisan artikel feature memerlukan cukup banyak waktu. Pertama-tama, idenya harus diciptakan terlebih dahulu. Beberapa hal yang sering melandasi Penulisan artikel feature, apabila dikaitkan dengan tujuan humas, antara lain adalah usaha untuk memperoleh dukungan dan pemahaman khalayak atas produk barang atau jasa tertentu.

Setelah idenya diperoleh, si penulis harus mengadakan negosiasi dengan editor dari media yang diharapkan akan memuat artikel tersebut. Untuk menulis sebuah artikel, subjeknya perlu diteliti secara mendalam, dan hal itu meliputi serangkaian perjalanan observasi, wawancara dan investigasi secara langsung. Setelah itu barulah penulisannya mulai dilakukan.

Artikel itu harus segera diserahkan kepada editor sesuai dengan waktu, yang telah ditetapkan agar jangan sampai terlambat naik cetak. Keseluruhan proses tersebut memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Akan tetapi begitu artikel tersebut berhasil dipublikasikan, apalagi jika yang memuatnya adalah media atau jurnal terkemuka maka organisasi pembuatnya akan memperoleh lebih banyak manfaat daripada yang diterimanya dari penerbitan siaran berita.

Selain hasil dari kehumasan adalah terciptanya, karena sejak awal rancangan naskah dari artikel feature tersebut sudah sering dibahas dan dinegosiasikan, ia tidak akan banyak diutak-atik oleh editor. Kemudian ada pula yang disebut artikel sindikasi. Artikel-artikel sindikasi (syndicated articles) memang tidak eksklusif, namun mengandung kelebihan tersendiri karena dimuat di lebih dari satu jurnal: Meskipun demikian, hendaknya artikel tersebut tidak diberikan ke dua atau lebih jurnal yang sejenis atau yang bersaing ketat satu sama lain.

Contohnya adalah artikel tentang pariwisata yang dimuat di sejumlah koran sore yang terbit di berbagai kota yang berlainan (sehingga antara koran yang satu dengan yang lain tidak merupakan saingan). Distribusi artikel sindikasi berbeda dari siaran berita.

Sebelum artikel tersebut dikirim, sebaiknya ringkasan atau sinopsisnya dikirim terlebih dahulu kepada para editor dari media-media yang dituju untuk memperoleh persetujuan atau kepastian pemuatannya. Dalam mengajukan suatu ide, praktisi humas harus memastikan bahwa segala informasi yang diperlukan benar-benar sudah cukup akurat, kesan iklan ada dalam taraf minimal, serta semua izin yang sekiranya diperlukan (misalnya dari tokoh yang ucapannya hendak dikutip) sudah diperoleh.

Bila semua syarat itu telah terpenuhi maka ia benar-benar siap menulis, kecuali jika ia masih ingin merundingkan soal honor. Ada beberapa jurnal yang memang menyediakan honor bagi para penulis yang mampu membuat artikel-artikel humas yang baik.

hasil dari kehumasan adalah terciptanya

5. Hasil dari kehumasan adalah terciptanya Pers Secara umum, terdapat tiga macam peristiwa atau acara pers (press events). Yakni sebagai berikut. a Konferensi pers (press conference): Ini adalah sebuah pertemuan para jurnalis yang sengaja berkumpul untuk mendapatkan informasi perihal topik yang tengah hangat dibicarakan. Biasanya acara ini diselenggarakan secara mendadak, dan tempatnya pun seadanya. Jangan berharap akan memperoleh aneka fasilitas kenyamanan dalam acara pers seperti ini.

Segala akomodasi atau jamuan boleh dikatakan minim. Konferensi pers bahkan sering kali berlangsung di ruangan tunggu bandar udara, segera setelah tokoh yang ditunggu-tunggu baru saja turun dari pesawatnya. Jika Anda adalah seorang jurnalis yang sering kali terlibat dalam acara-acara pers seperti ini, sebaiknya Anda menjalin hubungan dekat dengan petugas humas bandara. b. Resepsi pers (press reception): Acara kalangan pers yang satu ini biasanya lebih menyenangkan, lebih terencana dan terorganisir.

Dalam acara resepsi ini, para jumalis diundang untuk meliput suatu acara, mendengarkan keterangan-keterangan resmi, atau sekadar bercakap-cakap guna mendekatkan hubungan antara para jurnalis dengan organisasi yang bertindak sebagai pihak penyelenggaranya. Acara ini senantiasa disertai dengan jamuan, entah itu berupa makan siang atau makan malam. Presentasinya sendiri acap kali disertai dengan suatu demonstrasi dan dilakukan dengan hasil dari kehumasan adalah terciptanya peralatan audiovisual.

Penyelenggaraan acara resepsi pers ini memerlukan suatu persiapan tersendiri secara cermat selama beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan sebelumnya. c. Kunjungan pers (facility visit): Seorang jurnalis atau sekelompok wartawan acap kali diundang guna mengunjungi sebuah pabrik, menghadin acara pembukaan kantor baru yang disusul dengan peninjauan bersama, atau acara demonstrasi produk baru.

Acara ini juga disertai dengan fasilitas transportasi, jamuan, dan terkadang akomodasi menginap barang satu malam (apabila tempatnya di luar kota atau bahkan di luar negen). Meskipun konferensi pers lebih sederhana bila dibandingkan dengan kedua acara pers lainnya, akan tetapi ketiga-tiganya harus memiliki nilai berita (news value) yang baik serta dikelola atau diselenggarakan secara sungguh-sungguh. Acara resepsi pers yang acak-acakan sama sekali tidak bisa hasil dari kehumasan adalah terciptanya, karena hal itu merupakan sesuatu yang sangat penting demi terciptanya hubungan pers yang baik.

Guna menyelenggarakan suatu acara pers dengan baik, setiap praktisi humas harus memperhatikan segala aspek persiapan serta pelaksanaannya. Berikut ini disajikan beberapa hal pokok yang harus senantiasa diperhatikan. a. Rencana penyelenggaraan resepsi harus digodog secara matang jauh-jauh hari sebelumnya. Pilihlah tanggal dan saat yang akan memungkinkan hadirnya sebanyak mungkin kalangan pers, agar sesuatu yang hendak disampaikan pada acara tersebut bisa memperoleh publikasi positif yang maksimal dan dapat langsung dipublikasikan dalam waktu cepat.

b. Pilihlah gedung atau bangunan yang representatif serta strategis. Perhatikan segala macam aspeknya, mulai dari kemudahannya dijangkau dengan kendaraan umum sampai dengan kapasitas ruang parkirnya. c. Cantumkan jadwal acara secara jelas dan rinci pada kartu hasil dari kehumasan adalah terciptanya. d. Kirimkanlah undangan-undangan tersebut dengan atas nama individu (bukan atas nama lembaga atau nama medianya) dalam waktu yang cukup longgar, kira-kira dua minggu sebelum acara pers itu berlangsung.

Usahakan agar setiap tokoh yang diundang akan dapat memberi jawaban mengenai kesediaannya untuk hadir (misalnya dengan menyediakan saluran telepon khusus). Ini akan membantu petugas humas yang bertindak sebagai panitia penyelenggara untuk mengetahui jumlah tamu yang akan hadir, dan mencari pengganti bagi mereka yang terriyata berhalangan.

e. Pastikan bahwa segala hidangan cukup memuaskan. Dalam acara-acara seperti ini, makanan biasanya lebih penting daripada minuman. f. Persiapkan waktu dan peralatan bicara dengan saksama, mulai dari VCR, perangkat TV, overhead projector, sound system, layar peraga, sampel, foto- foto, panel-panel, dan sebagainya.

g. Sediakanlah informasi pers yang memadai, namun jangan timbuni para tamu dengan aneka rupa materi yang kelewat banyak, apalagi yang tidak relevan.

Apa yang mereka butuhkan adalah tulisan singkat dan foto-foto menarik yang bisa mereka kantungi dengan mudah. Kalau panitia ingin memberikan materi lain, pajang saja di meja resepsionis agar mereka bisa memilihnya sendiri. h. Identifikasikan setiap tamu dengan papan nama kecil di dada agar mereka mudah dikenali. Sebaiknya warnanya dibuat berbeda dari yang dikenakan oleh para petugas penyelenggara atau pihak tuan rumah.

i. Jangan terlalu banyak berbasa-basi, dan taatilah jadwal yang telah disusun. Jurnalis adalah orang yang sibuk. Di kota-kota besar seperti London, dalam satu malam bisa berlangsung lebih dari satu acara resepsi pers. Ini menambah arti penting persiapan dan kualitas materi yang hendak disampaikan.

Kalau memang terpaksa memilih, para jumalis pasti akan memilih acara resepsi pers yang sekiranya menawarkan liputan yang lebih baik.

Sedangkan para editor berskala nasional cenderung menghadiri semua undangan agar jangan sampai ketinggalan berita, namun mereka akan membatasi waktu kehadirannya di masing-masing acara sehingga mereka bisa mengikuti semuanya. j. Kerahkan para petugas secukupnya sebagai tuan rumah dan rekan bicara bagi para tamu. Akan tetapi, jangan sampai jumlah mereka malah lebih banyak daripada jumlah tamunya.

k. Jangan campurkan para jurnalis dengan tamu-tamu lain, misalnya konsumen. Anda juga harus berhati-hati jika hendak mengundang rekanan bisnis atau pihak-pihak luar lainnya, karena Anda tidak bisa mengendalikan apa yang akan mereka sampaikan seandainya mereka ditanyai oleh para jurnalis tersebut.

Sebagai kesimpulan dapat dikemukakan bahwa inti hubungan pers adalah proses memberi dan melayani, bukannya meminta sesuatu, kepada kalangan pers yang harus dijalani oleh para petugas humas. Meskipun demikian, itu tidak hasil dari kehumasan adalah terciptanya para praktisi humas tidak menerima apa-apa sama sekali.

Apa yang diterima oleh para praktisi humas memang lebih abstrak, namun tidak kalah pentingnya, yakni suatu mitra yang akan dapat menunjang berbagai macam kegiatan humas dalam rangka mencapai tujuan-tujuan kehumasan. Kalangan media massa akan kehilangan banyak informasi berharga yang penting bagi khalayaknya. Jadi sebenarnya para praktisi humas itu membantu para editor dan penerbit dalam rangka melaksanakan tugas-tugasnya.

Dengan menyajikan segala bantuan kepada kalangan pers, para praktisi humas akan dapat memetik manfaat berupa dukungan dan berbagai kemudahan dalam menyebarkan berbagai pesan humas demi menciptakan pengetahuan dan pemahaman khalayak mengenai segala aspek organisasinya. dari : Teori dan Profesi Kehumasan, M Linggar Anggoro
PR (Public Relations)/ Humas merupakan suatu profesi dimana fungsi dan kegunaan nya diterapkan pada organisasi pemerintahan maupun swasta. Humas atau hubungan masyarakat adalah seni menciptakan pengertian publik yang lebih baik sehingga dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap suatu individu atau organisasi.

Humas menurut Frank Jefkins adalah sesuatu yang merangkum keseluruhan komunikasi yang terencana baik kedalam maupun keluar antara suatu organisasi dengan semua hal layak dalam rangka mencapai tujuan-tujuan spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian.

Etika merupakan cabang dari filsafat dimana mempelajari pandangan-pandangan dan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan masalah kesusilaan yang kadang-kadang orang memakai dengan istilah filsafat etika, filsafat moral, filsafat susila.

Pada kenyataannya tidak semua praktisi humas professional menerapkan etika dalam menjalankan profesi kehumasannya. Karena kurang menyadari atau bahkan kurang peduli betapa pentingnya etika profesi dalam menjalankan profesi kehumasan. Etika (e timologi) berasal dari bahasa yunani, yaitu ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan ( custom).

Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari bahasa latin yaitu mos dan dalam bentuk jamak nya adalah mores, yang berarti adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan) dan dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk. Menurut Austin Fogothey, dalam bukunya rights and reason ethic (1953), etika berhubungan dengan seluruh ilmu pengetahuan tentang manusia dan masyarakat sebagai antropologi, psikologi, sosiologi, ekonomi, ilmu politik, dan hukum.

Perbedan terletak pada aspek keharusan. Etika berbeda dengan teologi morl karena bersandar pada kaidah-kaidah keagamaan tetapi terbatas pada pengetauan yang dilahirkan tenaga manusia sendiri. Etika adalah ilmu pengetahuan normatif yang praktis mengenai “kelakuan benar dan tidak benar” manusia dan dapat dimengerti oleh akal murni. Etika dan moral hampir sama pengertian nya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan.

Moral atau moralitas digunakan untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika digunakan untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku. Kesimpulan secara umum bahwa “hubungan dengan perbuatan seseorang yang dapat menimbulkan penilaian dari pihak lainya akan baik-buruknya perbuatan yang bersangkutan disebut etika”. Howard Stephenson dalam bukunya Hand Book of Public Relations (1971). Mengatakan bahwa definisi profesi humas adalah kegiatan humas atau public relations merupakan profesi secara praktis memiliki seni keterampilan atau pelayanan tertentu yang berlandaskan latihan, kemampuan, dan pengetahuan serta diakui sesuai dengan standar etikanya.

Kebebasan memperoleh informasi dan sistem komunikasi indonesia sekarang lebih bersifat universal dan terbuka.artinya pemerintah memberikan hak-hak perlindungan bagi penerbitan media pers dan wartawan tertentu dalam menyalurkan informasi atau berita untuk memenuhi hak publik untuk mengetahui. Akan tetapi sebaliknya, di era keterbukaan ini banyak pejabat instansi pemerintah atau para eksekutif pihk swasta masih belum siap dan bahkan melakukan kebijakan menutup akses masyarkat untuk memperoleh informsi yang dibutuhkanya.

Perbedaan utama antara fungsi dan tugas hubungan masyarakat (humas) yang terdapat di istansi dinas pemerintah dan lembaga non peemerintah (perusahaan komersial swasta) yaitu tidak ada sesuatu yang diperjual belikan atau transaksi terjadi, baik berbentuk prduk barang maupun jasa pelayanan yang ditawarkan kepada pihak yang membutuhkan secara komersial.

2. Secara strategis (jangka panjang), Humas instansi pemerintah berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan, memberikan saran, gagasan, dan ide yang kreatif serta cemerlang hingga mampu menunjang keberhasilaan pembangunan nasional jangka panjang serta mendorong melalui kerja sasma dan mendapat dukungan masyarakat.

Lapindo yang dimiliki oleh Bakrie Group memang memiliki sumberdaya politik ekonomi yang dapat berpengaruh di Indonesia, bahkan Bakrie Group dapat menciptakan opini public mengenai lumpur Lapindo itu sendiri melalui media yang dimilikinya.

Pada 22 Oktober 2008 Lapindo Brantas mengadakan siaran pers mengenai hasil para ahli geologi di London. Pada konfrensi tersebut Lapindo menyewa perusahaan Public Relation untuk mengabarkan bahwa peristiwa tersebut nukan kesalahan Lapindo. Lapindo mengeluarkan statement bahwa kejadian tersebut akibat dari bencana alam, akan tetapi sejumlah ahli geolog dan LSM yang peduli terhadap kasus ini tetap menganggap bahwa kejadian pengeboran Lapindo yang menjadi pemicu tragedi tersebut.

Lapindo terus menutupi fakta dengan berbagai cara termasuk membuat iklan serta memecah belah warga melalui masalah ganti rugi hal tersebut dilakukan untuk mengarahkan pada opini public. Etika dalam industri kehumasan sangatlah penting, dengan adanya etika dalam humas menjadikan kontrol bagi pribadi humas maupun industri kehumasan itu sendiri.

Etika juga dapat berperan untuk mengukur dan melihat profesionalisme yang dimiliki pribadi humas. Oleh karena itu dalam industri kehumasan sikap atau etika yang baik wajib dimiliki oleh seorang humas. Maka bagi seseorang dalam industri kehumasan sangatlah penting untuk memiliki pemahaman mengenai etika. Karena industri humas meliputi pengertian dan menuju kepada kemauan baik, dan reputasi yang tergantung pada kepercayaan.

Maka berlaku jujur adalah jalan yang terbaik karena hubungan masyarakat tidak akan berjalan tanpa adanya kepercayaan. Selain itu pula etika dapat berperan dalam pembuktian profesionalitas yang dimiliki oleh pribadi humas itu sendiri. Madam Togel 4 September 2021 14.42 Hallo bosku Untuk anda pecinta togel yang sedang kebingungan untuk mencari angka jitu untuk di betting di berbagai pasaran, Anda sangat tepat jika membaca komentar ini^^.

Seperti uang yang jatuh dari langit, permainan togel sangatlah menjadi primadona bagi Anda yang kebingungan untuk mencari tambahan dana untuk kebutuhan sehari-hari. Dengan modal betting yang sangat kecil dan jackpot yang diberikan oleh bandar togel online yang sangat besar, akan membuat Anda menjadi sultan dalam waktu yang singkat.

Tetapi, semua itu tidak lepas dari keberuntungan dan angka yang Anda betting dong^^. Untuk memudahkan Anda mencapai jackpot kita memberikan prediksi angka yang sangat jitu dengan presentase kemenangan yang sangat besar jika Anda betting di https://165.22.110.99/kerena di MADAM TOGEL Anda bisa melakukan bettingan hanya dengan 100 rupiah saja.

Untuk pasaran yang sangat ramai playernya, kita sudah siapkan prediksi untuk menjadi angka bettingan Anda.

Untuk Anda yang mencari prediksi jitu pasaran Hongkong, tinggal klik PREDIKSI HONGKONG. Prediksi tersebut sudah kita rancang sedemikian rupa dengan rumus-rumus yang kita ciptakan. Pasaran yang sangat ramai kedua yaitu Sydney, dengan keluaran result di siang hari pukul 13.50 WIB.

Membuat pasaran ini menjadi primadona bagi kalangan pecinta togel. Nah, di pasaran sydney kita juga sudah siapkan PREDIKSI SYDNEYyang sudah pasti memiliki presentase winrate yang sangat tinggi karena sudah di siapkan oleh para ahli dalam dunia togel.

Selain 2 pasaran tersebut, PREDIKSI SINGAPORE juga menjadi prediksi yang sangat banyak pengunjung nya karena banyak player yang sudah memenangkan jackpot yang sangat besar dengan mengacu pada prediksi tersebut. Untuk Anda jangan ragu-ragu untuk klik Prediksi Singapore karena angka yang diberikan sudah dibuktikan sangat jitu. Nah, selain 3 pasaran tersebut kita juga sediakan 12 prediksi pasaran togel lain nya.

Dan semua di rangkum dalam PREDIKSI MADAM TOGELtidak perlu repot-repot untuk Anda pecinta togel untuk mencari angka togel jitu lainnya.

Karena semua prediksi kita sudah dijamin memiliki presentase winrate yang sangat tinggi dan bisa di akses tanpa biaya pula alias gratis. Balas Hapus • ► 2017 (2) • ► Juli (1) • ► Januari (1) • ► 2016 (7) • ► November (2) • ► Oktober (2) • ► April (1) • ► Maret (2) • ▼ 2015 (27) • ► November (1) • ► Oktober (1) • ▼ Mei (1) • Etika Kehumasan • ► Januari (24) • ► 2014 (16) • ► November (3) • ► Oktober (2) • ► Juli (9) • ► Januari (2) • ► 2013 (1) • ► Oktober (1)BAB I PENDAHULUAN • A.

Latar Belakang Hubungan masyarakat atau Public Relations adalah suatu usaha yang sengaja dilakukan, direncanakan secara berkesinambungan untuk menciptakan saling pengertian antara sebuah lembaga/institusi dengan masyarakat. Humas (PR) adalah sebuah seni sekaligus ilmu sosial dalam menganalisa kecenderungan, meramalkan konsekuensinya, memberikan pengarahan kepada pimpinan institusi/lembaga dan melaksanakan program-program terencana yang dapat memenuhi kepentingan baik institusi maupun lembaga tersebut maupun masyarakat yang terkait.

Public Relations (PR) merupakan fungsi manajemen untuk mencapai target tertentu yang sebelumnya harus hasil dari kehumasan adalah terciptanya program kerja yang jelas dan rinci, mencari fakta, merencanakan, mengkomunikasikan, hingga mengevaluasi hasil-hasil apa yang telah dicapainya. Public relation atau hubungan masyarakat masih merupakan bidang baru terutama di Indonesia.

Lahirnya public relations seperti yang dipraktekan sekarang ialah karena adanya kemajuan-kemajuan dalam berbagai macam bidang itu. Kemajuan yang sekaligus merupakan juga kekuatan-kekuatan dalam masyarakat, memisahkan manusia kedalam berbagai kelompok atau golongan, yang masing-masing mempunyai tujuan sendiri dan berusaha untuk mencapai tujuan itu dengan sebaik-baiknya. Namun, salah satu kemampuan yang harus dimiliki praktisi humas yang bekerja pada perusahaan publik atau organisasi bisnis lainnya adalah kemampuan untuk melakukan komunikasi dalam bidang keuangan.

Khalayak perusahaan publik, misalnya, sebaguan besar dalah para investor yang sangat ingin tahu dengan kmajuan atau kemunduran kegiatan bisnis perusahaan., misalnya, sebaguan besar dalah para investor yang sangat ingin tahu dengan kmajuan atau kemunduran kegiatan bisnis perusahaan. Mereka sangat ingin tahu dengan laporan keuangan perusahaan karena dari sanalah mereka mendapatkan informasi mengenai kemajuan perusahaan.

Para investor ingin memastikan bahwa investisi yang mereka tanamkan dengan membeli saham perusahaan telah betul – betul aman dan uang yang mereka tanamkan dapat berkembang dan memberikan keuntungan [1]. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang maka dapat dirumuskan identifikasi permasalahan dalam penulisan makalah ini sebagai berikut : • Bagaimana bentuk laporan keuangan dalam konsep bidang kehumasan suatu institusi khususnya, Non Provit.

• Bagaimana konsep akuntansi dalam laporan keuangan bidang humas. • Dan bagaimana tata cara analisis data untuk sempurnanya laporan keuangan dan hasil dari kehumasan adalah terciptanya di kehumasan. BAB II PEMBAHASAN • A.

I. Pengertian Laporan Keuangan Laporan keuangan adalah salah satu sarana atau media komunikasi antara pihak perusahaan dengan khalayaknya. Sebuah laporan keuangan walaupun terdiri dari deretan angka – angka sebernanya merupakan sebuah cerita dan informasi mengenai apa yang yelah dilakukan perusahaan selama periode waktu tertentu.

Myer dalam bukunya Financial Statement Analysis mengatakan bahwa yang dimaksud dengan laporan keuangan adalah: ”Dua daftar yang disusun oleh akuntan pada akhir periode untuk suatu perusahaan” [2]. Kedua daftar itu adalah daftar neraca atau daftar posisi keuangan dan daftar rugi laba. II. Sifat Laporan Keuangan Laporan keuangan dipersiapkan atau dibuat dengan maksud untuk memberikan gambaran atau laporan kemajuan ( Progress Report) secara periodik yang dilakukan pihak manajemen.

Jadi, laporan keuangan bersifat historis serta menyeluruh, dan sebagai suatu progress report. Laporan keuangan terdiri dari data – data yang merupakan hasil dari suatu kombinasi antara: [3] • Fakta yang telah dicatat ( recorded fact). • Prinsip – prinsip dan kebiasaan – kebiasaan didalam akuntansi.

• Pendapat pribadi hasil dari kehumasan adalah terciptanya personal judgment). Fakta – fakta hasil dari kehumasan adalah terciptanya telah dicatat: berarti bahwa laporan keunagn ini dibuat atas dasar fakta dari catatan akuntansi, seperti jumlah uang kas yag tersedia dalam perusahaan maupun yang disimpan di bank, jumlah piutang, persediaan barang dagangan, utang maupun aktiva tetap yang dimiliki perusahaan.

Prinsip – prinsip dan kebiasaan – kebiasaan didalam akuntansi, berartidata yang dicatat itu berdasarkan pada prosedur maupun anggapan – anggapan tertentu yang merupakan prinsip – prinsip akuntansi yang lazim. Hal ini dilakukan dengan tujuan memudahkan pencatatan atau untuk keseragaman. Misalnya, cara mengalokasikan biaya untuk persediaan alat tulis menulis, apakah harus dinilai menurut harga belinya atau menurut menurut harga pasar pada saat tanggal penyusunan laporan keuangan?.

Pendapat pribadi, dimaksudkan bahwa, walaupun pencatatan transaksi telah diatur oleh konvensi – konvensi atau dalil – dalil dasar yang sudah ditetapkan yang sudah menjadi standar praktik pembukuan, namun pengunaan dari konvensi – konvensi dan dalil dasar tergantung pada akuntan atau manajemen perusahaan yang bersangkutan.

Sementara pendapat tergantung kepada kemampuan atau integritas pembuatnya, yang dikombinasikan dengan fakta yang tercatat. III. Keterbatasan Laporan Keuangan Dengan mengingat atau memperhatikan sifat – sifat laporan keuangan tersebut diatas, maka dapat dipahami bahwa laporan keuangan ini mempunyai beberapa keterbatasan antara lain: [4] • Laporan keuangan yang dibuat secara periodik pada dasrnya merupakan intern report (laporan yang dibuat antar waktu tertentu yang sifatnya sementara) dan bukan merupakan laporan yang final.

• Laporan keuangan menunjukkan angka dalam rupiah yang kelihatannya bersifat pasti dan tepat, tetapi sebenarnya dasar penyusunannya dengan standar nilai yang mungkin berbeda atau berubah – ubah. • Laporan keuangan disusun berdasarkan hasil pencatatan transaksi keuanga atau nilai rupiah dari berbagai waktu atau tanggal yang lalu dimana daya beli uang tersebut semakin menurun dibandingkan dengan tahun – tahun sebelumnya.

• Laporan keuangan tidak dapat mencerminkan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi posisi atau keadaan keuangan perusahaan karena faktor – faktor tersebut tidak tidak dapat dinyatakan dengan satuan uang ( dikwitansikan). IV. Bentuk Laporan Keuangan Laporan keuangan pada umumnya terdiri dari Neraca dan Laporan Rugi Laba walaupun dalam praktiknya sering diikutsertakan beberapa laporan lainnya yang sifatnya untuk memperoleh kejelasan lebih lanjut.

Sebelum menganalisis dan menafsirkan suatu laporan keuangan, seorang penganalisis harus mempunyai pengertian yang mendalam tentang bentuk – bentuk maupun prinsip – prinsip penyususnan laporan keuangan.

Oleh karena itu, maka akan kami bahas tentang bentuk tiap – tiap dari laporan keuangan. 1. Neraca Neraca adalah laporan keuangan yang bersifat sistematis tentang aktiva, utang serta modal dari suatu perusahaan pada suatu saat tertentu. Jadi, yujuan neraca adalah untuk menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan pada suatu tanggal tertentu, biasanya pada waktu dimana buku ditutup dan ditentuka sisanya pada suatu akhir bulan fiskal atau tahn kalender.

• a. Bentuk neraca Bentuk atau susunan neraca tidak ada keseragaman diantara perusahaan – perusahaan, hasil dari kehumasan adalah terciptanya tergantung pada tujuan yang akan dicapai tetapi bentuk neraca yang umum digunakan adalah sebagai berikut: • Bentuk Skontro (Account Form) dimana semua aktiva tercantum sebelah kiri/debet dan utang serta modal tercantum sebelah kanan/kredit. • Bentuk Vertikal (Report Form), dalam bentuk ini semua aktiva tampak di bagian atas yang selanjutnya diikuti dengan utang jangka pendek, utang jangka panjang seta modal.

• Bentuk neraca yang disesuaikan dengan kedudukan atau posisi keuanganperusahaan, bentuk ini bertujuan agar kedudukan atau posisi keuangan yag dikehendaki tampak dengan jelas. 2. Laporan Rugi Laba Bentuk laporan rugi laba yang biasa digunakan adalah sebagai berikut: • Bentuk single step; yaitu dengan menggabungkan semua penghasilan menjadi satu kelompok dan semua biaya dalam satu kelompok, sehingga untuk menghitung rugi/laba bersih hanya memerlukan satu langkah, yaitu mengurangkan total biaya terhadap total penghasilan.

• Bentuk multiple step; dalam bentuk ini dilakukan pengolompokkan yang lebih teliti sesuai dengan prinsip yang digunakan secara umum. BAB III AKUNTANSI DAN ANALISIS • A. Akuntansi Keuangan I. Pengertian dan Definisi Akuntansi Akuntansi adalah suatu proses mencatat, mengklasifikasi, meringkas, mengolah dan menyajikan data, transaksi serta kejadian yang berhubungan dengan keuangan sehingga dapat digunakan oleh orang yang menggunakannya dengan mudah dimengerti untuk pengambilan suatu keputusan serta tujuan lainnya.

Akuntansi berasal dari kata asing accounting yang artinya bila diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia adalah menghitung atau mempertanggungjawabkan. Akuntansi digunakan di hampir seluruh hasil dari kehumasan adalah terciptanya bisnis di seluruh dunia untuk mengambil keputusan sehingga disebut sebagai bahasa bisnis. II. Fungsi Akuntansi Fungsi utama akuntansi adalah sebagai informasi keuangan suatu organisasi.

Dari laporan akuntansi kita bisa melihat posisi keuangan sutu organisasi beserta perubahan yang terjadi di dalamnya. Akuntansi dibuat secara kualitatif dengan satuan ukuran uang. Informasi mengenai keuangan sangat dibutuhkan khususnya oleh pihak manajer / manajemen untuk membantu membuat keputusan suatu organisasi. III. Laporan Dasar Akuntansi Pada dasarnya proses akuntansi akan membuat output laporan rugi laba, laporan perubahan modal, dan laporan neraca pada suatu perusahaan atau organisasi lainnya.

Pada suatu laporan akuntansi harus mencantumkan nama perusahaan, nama laporan, dan tanggal penyusunan atau jangka waktu laporan tersebut untuk memudahkan orang lain memahaminya. Laporan dapat bersifat periodik dan ada juga yang bersifat suatu waktu tertentu saja. Akutansi memiliki proses yang terdiri dari tahapan-tahapan untuk dapat menghasilkan laporan yang diinginkan dan dilakukan oleh akuntan: [5] 1.

Proses Mengklarifikasi Transaksi Tahap yang awal ini adalah di mana dilakukan suatu pembagian transaksi suatu organisasi atau perusahaan ke dalam jenis-jenis tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Contoh seperti membagi transaksi yang masuk ke dalam penjualan, pembelian, pengeluaran kas, penerimaan kas dan lain sebagainya ke dalam masing-masing hasil dari kehumasan adalah terciptanya. Sedangkan untuk transaksi yang jumlahnya kecil dan jarang terjadi bisa sama-sama dimasukkan ke dalam jenis kategori yang sama yaitu transaksi rupa-rupa.

2. Proses Mencatat Dan Merangkum Setelah melakukan pengklarifikasian data selanjutnya adalah melakukan pencatatan. Masukkan transaksi yang ada ke dalam jurnal yang tepat sesuai urutan transaksi terjadi atau kejadiannya. sumber-sumber yang dapat dijadikan bukti adanya transaksi yaitu seperti kertas-kertas bisnis semacam bon, bill, nota, struk, sertifikat, dan lain sebagainya.

Jurnal yang umumnya ada pada jurnal akuntasi yaitu seperti jurnal penjualan, jurnal pembelian, jurnal hasil dari kehumasan adalah terciptanya kas, jurnal pengeluaran kas dan jurnal umum.

Setelah transaksi dimasukkan ke dalam jurnal-jurnal yang ada, maka selanjutnya adalah memasukkan jurnal ke dalam buku besar secara berkala.

hasil dari kehumasan adalah terciptanya

Hasil pemindahan ke dalam buku besar tersebut akan terlihat dari rangkuman neraca percobaan. 3.

hasil dari kehumasan adalah terciptanya

Proses Menginterpretasikan Dan Melaporkan Setelah kedua proses di atas dijalankan, maka proses yang terakhir adalah melakukan pembuatan kesimpulan dari kegiatan atau pekerjaan laporan keuangan sebelumnya. Segala hal yang berhubungan dengan keuangan perusahaan diungkapkan pada laporan keuangan tersebut. Dari informasi laporan keuangan baik dalam bentuk laporan rugi laba, laporan modal dan neraca seseorang dapat mengetahui apa yang terjadi pada suatu perusahaan, apakah sudah sesuai dengan tujuan perusahaan dan informasi tersebut dapat menjadi acuan atau pedoman bagi manajemen untuk mengambil keputusan kebijakan pada organisasi perusahaan demi mencapai kondisi yang diinginkan.

• B. Analisis Keuangan Analisis keuangan adalah proses penentuan ciri – ciri keuangan dan operasi suatu perusahaan yang diperoleh dari data akuntansi dan laporan – laporan keuangan lainnya. Tujuan analisis adalah untuk mengetahui kondisi dan prestasi yang telah dicapai suatu perusahaan yabg diganbarkan melalui catatan – catatan dan laporan –laporan keuangan. Analisis keuangan dapat memberikan indicator yang menunjukkan apakah perusahaan dijalankan secara rasional dan tertib.

Jika perusahaan tidak dapat mencapai norma – norma keuangan sebagaimana industri atau perusahaan sejenis, maka besar kemungkinan akan terjadi penyimpangan. [6] Salah satu alat utama yang sering digunakan dalam melakukan analisismkeuangan adalah melalui rasio keuangan yang dapat digunakan untuk mengetahui posisi keuangan dan prestasi perusahaan.

Pihak- pihak yang berkepentingan atas hasil analisis ini adalah: • Kreditor Jangka Pendek Kreditur jangka pendek berkepentingan atas likuiditas perusahaan. Mereka ingin mengetahui sampai sejauh mana perusahaan mampu membayar utang jangka pendek. Rasio keuangan suatu perusahaan sangat penting bagi para keridor jangka pendek. • Kreditor Jangka Panjang Kreditur jangka panjang berkepentingan atas informasi mengenai hasil dari kehumasan adalah terciptanya mana perusahhan mampu mendapatkan keuntungan, sehingga perusahaan mampu membayar bunga dari uang yang dipinjamnya dan sampai sejauh mana perusahaan mampu melunasi utang jangka panjang apabila sudah masa pelunasannya.

• Pemegang Saham Pemegang saham memerlukan informasi sampai sejauh mana perusahaan mampu membayar deviden terutama deviden kas. • Pengelola Pengelola atau manajemen berkepentingan atas informasi yang disajikan dan hasil analisis gguna pengambilan keputusan. [7] BAB IV PENUTUP DAN KESIMPULAN Laporan keuangan adalah salah satu sarana atau media komunikasi antara pihak perusahaan dengan khalayaknya. Laporan keuangan dipersiapkan atau dibuat dengan maksud untuk memberikan gambaran atau laporan kemajuan ( Progress Report) secara periodik yang dilakukan pihak manajemen.

Laporan keuangan pada umumnya terdiri dari Neraca dan Laporan Rugi Laba walaupun dalam praktiknya sering diikutsertakan beberapa laporan lainnya yang sifatnya untuk memperoleh kejelasan lebih lanjut. Akuntansi adalah suatu proses mencatat, mengklasifikasi, meringkas, hasil dari kehumasan adalah terciptanya dan menyajikan data, transaksi serta kejadian yang berhubungan dengan keuangan sehingga dapat digunakan oleh orang yang menggunakannya dengan mudah dimengerti untuk pengambilan suatu keputusan serta tujuan lainnya.

Analisis keuangan adalah proses penentuan ciri – ciri keuangan dan operasi suatu perusahaan yang diperoleh dari data akuntansi dan laporan – laporan keuangan lainnya. Tujuan analisis adalah untuk mengetahui kondisi dan prestasi yang telah dicapai suatu perusahaan yabg diganbarkan melalui catatan – catatan dan laporan –laporan keuangan. DAFTAR KEPUSTAKAAN Morissan, MA, Manajemen Public Relations: strategi Menjadi Humas Profesional, Jakarta: Kencana 2008, Cet 1 S.

Munawir, Analisis Laporan Keuangan, Liberty, Yogyakarta, 1986 http://organisasi.org/ilmu_pengetahuan/akuntansi

Pengertian humas(memahami kehumasan) @fauzitayafada




2022 www.videocon.com