Chairul tanjung suku apa

chairul tanjung suku apa

A. Membandingkan Kritik Sastra dan Esai ! Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mampu: (1) mengidentifi kasi unsur kritik dan esai; (2) membandingkan kritik dengan esai berdasarkan pengetahuan dan sudut pandang penulisannya. Kegiatan Mengidentifi kasi Unsur Kritik dan Esai Di atas telah disinggung bahwa kritik adalah penilaian terhadap suatu karya secara seimbang baik kelemahan maupun kelebihannya.

Selanjutnya, gurumu atau salah seorang temanmu akan membacakan teks kritik terhadap cerpen. Untuk itu, tutuplah bukumu dan berkonsentrasilah untuk menangkap dan memahami isi teks tersebut. Capaian Eksperimen Novel Lelaki Harimau Maman Mahayana Setelah sukses dengan Cantik itu Luka (Yogyakarta: Chairul tanjung suku apa, 2002; Jakarta Gramedia, 2004) yang memancing berbagai tanggapan, kini Eka Kurniawan menghadirkan kembali karyanya, Lelaki Harimau (Gramedia, 2004; 192 halaman).

Sebuah novel yang juga masih memendam semangat eksperimen. Berbeda dengan Cantik itu Luka yang mengandalkan kekuatan narasi yang seperti lepas kendali dan deras menerjang apa saja, Lelaki Harimau memperlihatkan penguasaan diri narator yang dingin terkendali, penuh pertimbangan, dan kehati-hatian. Pemanfaatan –atau lebih tepat eksplorasi–setiap kata dan kalimat tampak begitu cermat dalam usahanya merangkai setiap peristiwa.

Eka seperti hendak menunjukkan dirinya sebagai ”eksperimental” yang sukses bukan lantaran faktor kebetulan. Ada kesungguhan yang luar biasa dalam menata setiap peristiwa dan kemudian mengelindankannya menjadi struktur cerita. Di balik itu, tampak pula adanya semacam kekhawatiran untuk tidak melakukan ke lalai- an yang tidak perlu.

Di sinilah Lelaki Harimau menunjukkan jati dirinya sebagai Bahasa Indonesia 18 185 8 5 5 Bahasa Indonesia 18 185 8 5 5 Mencermati perkembangan kepengarangan Eka Kurniawan, kekuatan narasi itu sesungguhnya sudah tampak dalam Coret-Coret di Toilet (Yogyakarta: Yayasan Aksara Indonesia, 2000), sebuah antologi cerpen yang mengusung berbagai tema.

Dalam antologi itu, Eka terkesan bercerita lepas-ringan, meski di dalamnya banyak kisah tentang konteks sosial zamannya. Di sana, ia tampak masih mencari bentuk. Belakangan, cerpennya ”Bau Busuk” (Jurnal Cerpen, No. 1, 2002) cukup mengagetkan dengan eksperimennya. Dengan hanya mengandalkan sebuah alinea dan 21 kalimat, Eka bercerita tentang sebuah tragedi pembantaian yang terjadi di negeri antah-berantah (Halimunda).

Di negeri itu, mayat tak beda dengan sampah. Pembantaian bisa jadi berita penting, bisa juga tak penting, sebab esok akan diganti berita lain atau hilang begitu saja, seperti yang terjadi di negeri ini. Meski narasi yang meminimalisasi kalimat itu, sebelumnya pernah dilakukan Mangunwijaya dalam Durga Umayi (Jakarta: Grafi ti, 1991) yang hanya menggunakan 280 kalimat untuk novel setebal 185 halaman, Eka dalam Lelaki Harimau seperti menemukan caranya sendiri yang lebih cair.

Di sana, ada semacam kompromi antara semangat eksperimen dengan hasratnya untuk tidak terlalu memberi beban berat bagi pembaca.

Maka, Rangkaian kalimat panjang yang melelahkan itu, diolah dalam kemasan yang lain sebagai alat untuk membangun peristiwa. Wujudlah rangkaian peristiwa dalam kalimat- kalimat yang tidak menjalar jauh berkepanjangan ke sana ke mari, tetapi cukup dengan penghadiran dua sampai empat peristiwa berikut berbagai macam latarnya.

Cara ini ternyata cukup efektif. Lelaki Harimau, di satu pihak berhasil membangun setiap peristiwa melalui rangkaian kalimat yang juga sudah berperistiwa, dan di lain pihak, ia tak kehilangan pesona narasinya yang mengalir dan berkelak-kelok.

Dengan begitu, kalimat-kalimat itu sendiri sesungguhnya sudah dapat berdiri sebagai peristiwa. Cermati saja sebagian besar rangkaian kalimat dalam novel itu.

Di sana –sejak awal –kita akan menjumpai lebih dari dua–tiga peristiwa yang seperti sengaja dihadirkan untuk membangun suasanan peristiwa itu sendiri.

Chairul tanjung suku apa saja, cara ini bukan tanpa risiko. Rangkaian peristiwa yang membangun alur cerita, jadinya terasa agak lambat. Ia juga boleh jadi akan 186 Kelas XII 1 1 8 86 Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia Secara tematik, Lelaki Harimau tidaklah mengusung tema besar, pemikiran fi lsafat, atau fakta historis. Ia berkisah tentang kehidupan masyarakat di sebuah desa kecil.

Dalam komunitas itu, hubungan antarsesama, interaksi antarwarga, bisa begitu akrab, bahkan sangat akrab. Perhatikan kalimat pertama yang mengawali kisahan novel ini. ”Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya, ditemani aroma asin yang terbang di antara batang kelapa, dan bunyi falseto laut, dan badai jinak merangkak di antara ganggang, dadap, dan semak lantana.” (hlm.

1). Peristiwa apa yang melatarbelakangi pembunuhan itu dan bagaimana duduk perkaranya? Jawabannya terungkap justru pada bagian akhir novel ini. Jadi, peristiwa di bagian awal, sebenarnya kelanjutan dari peristiwa yang terjadi di bagian akhir saat Margio meminta Anwar Sadat untuk mengawini ibunya (hlm.

192). Itulah salah satu keunikan novel ini. Eka melanjutkan kalimat pertama itu tidak pada peristiwa pembunuhan yang dilakukan Margio, tetapi pada diri tokoh Kyai Jahro. Mulailah ia berkisah tentang kyai itu.

Lalu, dari chairul tanjung suku apa muncul pula tokoh Mayor Sadrah. Ia pun bercerita tentang tokoh itu. Begitulah, pencerita seperti sengaja tidak membiarkan dirinya berdiri terpaku pada satu titik. Ia menyoroti satu tokoh dan kemudian secara perlahan beralih ke tokoh lain. Di antara rangkaian peristiwa yang dibangun dan dihidupkan oleh setiap tokohnya, menyelusup pula mitos tentang manusia harimau, potret bersahaja masyarakat pinggiran, dan keakraban kehidupan mereka.

Sebuah pesona yang disampaikan lewat narasi yang rancak yang seperti menyihir pembaca untuk chairul tanjung suku apa mengikuti kelak-kelok peristiwa yang dihadirkannya. Dalam hal itu, kedudukan pencerita seperti sebuah kamera yang terus bergerak merayap dari satu tokoh ke tokoh lain, dari satu peristiwa ke peristiwa lain.

Akibatnya, peristiwa yang dihadirkan di awal: Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, … seperti timbul-tenggelam mengikuti pergerakan tokoh-tokohnya. Seperti seseorang yang masuk sebuah lorong berbentuk spiral. Ia terus menggelinding perlahan mengikuti ke mana pun arah lorong Bahasa Indonesia 18 187 8 7 7 Bahasa Indonesia 18 187 8 7 7 Dalam konteks perjalanan novel Indonesia, pola alur seperti itu pernah digunakan Achdiat Karta Mihardja dalam Atheis (1949), meski dihadirkan untuk membingkai biografi tokoh Hasan.

Putu Wijaya dalam Stasiun membangunnya untuk mengeksplorasi pikiran-pikiran si tokoh. Akan tetapi, dalam Dag-Dig-Dug, Putu Wijaya menggunakannya agak lain. Akhir cerita yang seperti mengulangi kembali peristiwa awal, dirangkaikan lewat dialog- dialog antartokoh mengingat karya itu berupa naskah drama.

Iwan Simatupang dalam Kering dan Koong, menutup peristiwa akhir dengan mengembalikan kesadaran si tokoh sebagai akibat yang terjadi pada peristiwa awal. Tampak di sini, bahwa pola spiral sesungguhnya bukanlah hal yang baru sama sekali.

Meskipun begitu, Lelaki Harimau, dilihat dari sudut itu, tetap saja menghadirkan kekhasannya sendiri. Selain pola alur yang demikian, Eka menggunakan kalimat-kalimat itu sebagai pintu masuk menghadirkan rangkaian peristiwa. Dengan demikian kalimat tidak hanya bertindak sebagai fondasi bagi pencerita untuk membangun peristiwa, juga sebagai pilar penyangga bagi peralihan peristiwa satu ke peristiwa lain melalui pergantian fokus cerita (focus of narration) dari tokoh yang satu ke tokoh yang lain.

Dalam hal ini, Lelaki Harimau telah menunjukkan keunikannya sendiri. Hal lain yang juga ditampilkan Eka dalam novel ini menyangkut cara bertuturnya yang agak janggal, tetapi benar secara semantis. Ia banyak menghadirkan metafora yang terasa agak aneh, tetapi tidak menyalahi makna semantisnya. Kadang kala muncul di sana-sini pola kalimat yang mengingatkan kita pada style penulis Melayu Tionghoa. Di bagian lain, berhamburan pula analogi atau idiom yang tidak lazim, tetapi justru terasa segar sebagai sebuah usaha melakukan eksplorasi bahasa.

Dalam hal ini, bahasa Indonesia dalam novel ini jadi terasa sangat kaya dengan ungkapan, idiom, metafora, dan analogi. Dalam beberapa hal, Lelaki Harimau harus diakui, berhasil memperlihatkan sejumlah capaian. Ia menjelma tidak sekadar mengandalkan imajinasi, tetapi juga bertumpu lewat proses berpikir dan tindak eksploratif kalimat dengan berbagai kemungkinannya. Peristiwa perselingkuhan Nuraeni-Anwar Sadat pun, terasa sebagai kisah yang eksotis (hlm.

133-142); prosesi penguburan Komar bin Syueb, ayah Margio (hlm. 168-171), menjadi kisah yang di sana-sini menghadirkan kelucuan.

Eka seperti sengaja memporakporandakan struktur 188 Kelas XII 1 1 8 88 Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia Sumber: http://ekakurniawan.net/blog/capaian-eksperimentasi-novel-lelaki-harimau-43.php#more-43 No. Pernyataan Ya Tidak 1. Membahas tentang sebuah karya sastra. 2. Di dalamnya chairul tanjung suku apa isi atau sinopsis cerpen.

3. Teks tersebut menilai kelebihan dan kekurangan cerpen. 4. Penilaian dilakukan secara objektif, didasarkan atas data objektif yang benar-benar ada.

5. Disertai kajian teori untuk menguatkan analisis atau penilaian. Disertai kajian teori untuk menguatkan analisis atau penilaian.

Berdasarkan jawaban di atas, dapatkah kamu menemukan bahwa teks kritik berisi tentang penilaian atas kelebihan chairul tanjung suku apa kelemahan sebuah karya secara objektif, disertai dengan data-data pendukung, baik sinopsis karya, alasan logis, maupun teori-teori yang mendukung? Jika hal itu terpenuhi, kritik termasuk dalam genre teks eksposisi. Kritik terfokus pada penilaian. Hal ini tentu akan berbeda dengan esai.

Kamu akan mempelajari esai. Kamu pasti sudah pernah menonton fi lm ”Batman”, baik melalui layar televisi maupun bioskop.

Berikut ini adalah contoh esai fi lm ”Batman” yang ditulis oleh Gunawan Muhammad. Batman Gunawan Mohammad Batman tak pernah satu, maka ia tak berhenti. Apa yang disajikan Christopher Nolan sejak ”Batman Begins” (2005) sampai dengan ”Th e Dark Knight Rises” (2012) berbeda jauh dari asal-muasalnya, tokoh cerita bergambar karya Bob Kane dan Bill Finger dari tahun 1939. Bahkan tiap fi lm dalam trilogi Nolan sebenarnya tak chairul tanjung suku apa sosok yang sama, meskipun Christian Bale memegang peran utama dalam ketiga-tiganya.

Tiap kali kita memang bisa mengidentifi kasinya dari sebuah topeng kelelawar yang itu-itu juga. Tapi tiap kali ia dilahirkan kembali sebagai sebuah jawaban baru terhadap tantangan baru. Sebab selalu ada hubungan dengan Bahasa Indonesia 18 189 8 9 9 Bahasa Indonesia 18 189 8 9 9 Sebab itu Batman bisa bercerita tentang asal mula, tetapi asal mula dalam posisinya yang bisa diabaikan: wujud yang pertama tak menentukan sah atau tidaknya wujud yang kedua dan terakhir.

Wujud yang kedua dan terakhir bukan cuma sebuah fotokopi dari yang pertama. Tak ada yang–sama yang jadi model. Yang ada adalah simulacrum—yang masing-masing justru menegaskan yang–beda dan yang–banyak dari dan ke dalam dirinya, dan tiap aktualisasi punya harkat yang singularis, tak bisa dibandingkan. Mana yang ”asli” tak serta-merta mesti dihargai lebih tinggi. Sebab kreativitas berbeda dari orisinalitas. Kreativitas berangkat ke masa depan.

Orisinalitas mengacu ke masa lalu. Masa yang telah silam itu tentu saja baru ada setelah ditemukan kembali. Akan tetapi, arkeologi yang menggali dan menelaah petilasan tua, perlu dilihat sebagai bagian dari proses mengenali masa lalu yang tak mungkin dikenali.

Pada titik ketika masa lalu mengelak, ketika kita tak merasa terkait dengan petilasan tua, ketika itulah kreativitas lahir. Saya kira bukan kebetulan ketika dalam komik ”Night on Earth” karya Warren Ellis dan John Cassaday (2003), Planetary, sebuah organisasi rahasia, menyebut diri archeologists of the impossible. Para awaknya datang ke Kota Gotham, untuk mencari seorang anak yang bisa membuat kenyataan di sekitarnya berganti-ganti seperti ketika ia dengan remote control menukar saluran televisi.

Kota Gotham pun berubah dari satu kemungkinan ke kemungkinan lain, dan Batman, penyelamat kota itu, bergerak dalam pelbagai penjelmaannya. Ada Batman sang penuntut balas yang digambarkan Bob Kane; ada Batman yang muncul dari serial televisi tahun 1966, yang dibintangi oleh Adam West sebagai Batman yang lunak; ada juga Batman yang suram menakutkan dalam cerita bergambar Frank Miller.

Semua itu terjadi di gang tempat ayah Bruce Wayne dibunuh penjahat—yang membuat si anak jadi pelawan laku kriminal. Satu topeng, satu nama—sebuah sintesis dari variasi yang banyak itu.

Namun, sintesis itu berbeda dengan penyatuan. Ia tak menghasilkan identitas chairul tanjung suku apa satu dan pasti. Hal yang lebih penting lagi, sintesis itu tak meletakkan semua varian dalam sebuah norma yang baku.

Tak dapat ditentukan mana yang terbaik, tepatnya: mana yang terbaik untuk selama-lamanya. Sebab itu Kota Gotham dalam ”Night on Earth” bisa jadi sebuah alegori. Ia bisa mengajarkan kepada kita tentang aneka perubahan yang tak bisa dielakkan dan sering tak terduga. Ia bisa mengasyikkan tapi sekaligus membingungkan. Ia paduan antara sesuatu yang ”utuh” dan sesuatu yang kacau.

190 Kelas XII 1 1 9 90 Bahasa Indonesia Dengan alegori itu tak bisa kita katakan, mengikuti Leibniz, bahwa inilah ”dunia terbaik dari semua dunia yang mungkin”, le meilleur des mondes possibles.

Bukan saja optimisme itu berlebihan. Voltaire pernah mencemoohnya dalam novelnya yang kocak, ”Candide”, sebab di dunia ini kita tetap saja akan menghadapi bermacam-macam kejahatan dan bencana, 1.001 inkarnasi Th e Joker dengan segala mala yang diakibatkannya. Kesalahan Leibniz—yang hendak menunjukkan sifat Tuhan yang Mahapemurah dan Mahapengasih— justru telah memandang Tuhan sebagai kekuasaan yang tak murah hati: Tuhan yang hanya menganggap kehidupan kita sebagai yang terbaik, dan dengan begitu dunia yang bukan dunia kita tak patut ada dan diakui.

Kesalahan Leibniz juga karena ia terpaku kepada sebuah pengalaman yang chairul tanjung suku apa tak akan berubah. Padahal, seperti Kota Gotham dalam ”Night on Earth”, dunia mirip ribuan gambar yang berganti-ganti di layar, dan berganti-ganti pula cara kita memandangnya. Penyair Wallace Stevens menulis sebuah sajak, ”Th irteen Ways of Looking at a Blackbird”. Salah satu bait dari yang 13 itu mengatakan, But I know, too, Th at the blackbird is involved In what I know Memandang seekor burung-hitam bukan hanya bisa dilakukan dengan lebih dari satu cara.

Juga ada keterpautan antara yang kita pandang dan ”yang aku ketahui”. ”Yang aku ketahui” tak pernah ”aku ketahui semuanya”. Dengan kata lain, dunia—seperti halnya Kota Gotham—selamanya adalah dunia yang tak bisa seketika disimpulkan. Tak berarti pengalaman adalah sebuah proses yang tak pernah tampak wujud dan ujungnya.

Pengalaman bukanlah arus sungai yang tak punya tebing. Meskipun demikian, wujud, ujung, dan tebing itu juga tak terpisah dari ”yang aku ketahui”. Dunia di luarku selamanya terlibat dengan tafsir yang aku bangun dari pengalamanku—tafsir yang tak akan bisa stabil sepanjang masa.

Walhasil, akhirnya selalu harus ada kesadaran akan batas tafsir. Akan selalu ada yang tak akan terungkap—dan bersama itu, akan selalu ada Gotham yang terancam kekacauan dan keambrukan. Itu sebabnya dalam ”Th e Dark Knight Rises”, Inspektur Gordon tetap mau menjaga misteri Batman, biarpun dikabarkan Bruce Wayne sudah mati.

Dengan demikian bahkan penjahat yang tecerdik sekalipun tak akan bisa mengklaim ”aku tahu”. Sumber: Majalah Tempo, Edisi Senin, 06 Agustus 2012~ Bahasa Indonesia 19 191 9 1 1 Untuk mengetahui unsur esai, jawablah pertanyaan berikut ini dengan memberi tanda (9) sesuai dengan hasil temuanmu! No. Pernyataan Ya Tidak 1. Membahas tentang sebuah karya sastra.

2. Di dalamnya dituliskan isi atau sinopsis cerpen. 3. Teks tersebut menilai kelebihan dan kekurangan cerpen. Penilaian dilakukan secara objektif, didasarkan atas data objektif 4. yang benar-benar ada.

chairul tanjung suku apa

Berdasarkan hasil jawabanmu di atas, dapatkah kamu menemukan bahwa esai di atas membahas karya fi lm, tetapi tidak mencantumkan sinopsisnya, tidak menilai kelebihan dan kelemahan karya, tetapi membahas satu hal saja dari fi lm ”Batman” dengan sudut pandang pribadi (secara subjektif). Subjektivitas penulis esai tampak sekali pada penggunaan kata ganti saya dalam teks di atas. Hal lain yang juga penting untuk diketahui bahwa bahasan esai tidak hanya terkait karya, tetapi terdapat obyek lain misalnya peristiwa sehari-hari bahkan imajinasi dan impian penulisnya tentang suatu hal atau keadaan.

Kegiatan Membandingkan Kritik dengan Esai Berdasarkan Pengetahuan dan Pandangan Berdasarkan kajian pada pembelajaran sebelumnya, kamu dapat membuat perbandingan dengan melihat persamaan dan perbedaan di antara kritik dan esai. Persamaan dan perbedaan dapat dilihat berdasarkan pengetahuan yang ada dalam kritik dan esai serta sudut pandang yang diambil penulisnya dalam membahas objek kajian.

Berdasarkan pengetahuan (isi) yang dikaji di dalamnya, perbandingan kritik dan esai dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 1: Perbandingan Kritik dan Esai Berdasarkan Pengetahuan yang Disajikan 1. Objek kajian adalah karya, misalnya seni Obyek kajian dapat berupa karya atau musik, sastra, tari, drama, fi lm, pahat, fenomena dan lukis.

chairul tanjung suku apa

192 Kelas XII 1 1 9 92 Bahasa Indonesia 2. Ada deskripsi karya, bila karya berwujud Tidak ada ringkasan atau sinopsis karya. buku deskripsinya berupa sinopsis atau novel. 3. Menyajikan data obyektif.

Tidak selalu membutuhkan data. Dilihat dari pandangan penulisnya, perbandingan kritik dan sastra dapat diringkas sebagai berikut. Tabel 2: Perbandingan Kritik dan Esai Berdasarkan Pandangan Penulisnya 1. Penilaian chairul tanjung suku apa karya dilakukan Kajian dilakukan secara subjektif, menurut secara objektif disertai data dan alasan pendapat pribadi penulis esai. yang logis. 2. Dalam memberikan penilaian seringkali Jarang atau hampir tidak pernah menggunakan kajian teori yang sudah mencantumkan kajian teori.

mapan. 3. Pembahasan terhadap karya secara utuh Objek atau fenomena yang dikaji tidak dan menyeluruh. dibahas menyeluruh, tetapi hanya pada hal yang menarik menurut pandangan penulisnya. Meskipun demikian, pembahasannya dilakukan secara utuh. Tugas Berdasarkan perbandingan di atas, bacalah dua teks berikut ini. Tentukanlah mana yang merupakan teks kritik dan mana yang merupakan teks esai. Jelaskan alasanmu! Teks I Gerr Oleh: Gunawan Muhammad Di depan kita pentas yang berkecamuk.

Juga satu suku kata yang meledak: ”Grrr”, ”Dor”, ”Blong”, ”Los”. Atau dua suku kata yang mengejutkan dan membingungkan: ”Aduh”, ”Anu”.

Di depan kita: panggung Teater Mandiri. Teater Mandiri pekan ini berumur 40 tahun—sebuah riwayat yang tak mudah, seperti hampir semua grup teater di Indonesia. Ia bagian dari sejarah Indonesia yang sebenarnya penting sebagai bagian dari cerita pembangunan Bahasa Chairul tanjung suku apa 19 193 9 3 3 ”bangun” dalam arti jiwa yang tak lelap tertidur.

Putu Wijaya, pendiri dan tiang utama teater ini, melihat peran pembangunan ini sebagai ”teror”—dengan cara yang sederhana. Putu tak berseru, tak berpesan. Ia punya pendekatan tersendiri kepada kata. Pada Putu Wijaya, kata adalah benda. Kata adalah materi yang punya volume di sebuah ruang, sebuah kombinasi bunyi dan imaji, sesuatu yang fi sik yang menggebrak persepsi kita.

Ia tak mengklaim satu makna. Ia tak berarti: tak punya isi kognitif atau tak punya manfaat yang besar. Ini terutama hadir dalam teaternya—yang membuat Teater Mandiri akan dikenang sebagai contoh terbaik teater sebagai peristiwa, di mana sosok dan benda yang tak berarti dihadirkan. Mungkin sosok itu (umumnya tak bernama) si sakit yang tak jelas sakitnya. Mungkin benda itu sekaleng kecil balsem.

Atau selimut—hal-hal yang dalam kisah-kisah besar dianggap sepele. Dalam teater Putu Wijaya, justru itu bisa jadi fokus. Bagi saya, teater ini adalah ”teater miskin” dalam pengertian yang berbeda dengan rumusan Jerzy Grotowski. Bukan karena ia hanya bercerita tentang kalangan miskin. Putu Wijaya tak tertarik untuk berbicara tentang lapisan- lapisan sosial. Teater Mandiri adalah ”teater miskin” karena ia, sebagaimana yang kemudian dijadikan semboyan kreatif Putu Wijaya, ”bertolak dari yang ada”.

Saya ingat bagaimana pada tahun 1971, Putu Wijaya memulainya. Ia bekerja sebagai salah satu redaktur majalah Tempo, yang berkantor di sebuah gedung tua bertingkat dua dengan lantai yang goyang di Jalan Senen Raya 83, Jakarta. Siang hari ia akan bertugas sebagai wartawan. Malam hari, ketika kantor sepi, ia akan menggunakan ruangan yang terbatas dan sudah aus itu untuk latihan teater.

Dan ia akan mengajak siapa saja: seorang tukang kayu muda yang di waktu siang memperbaiki bangunan kantor, seorang gelandangan tua yang tiap malam istirahat di pojok jalan itu, seorang calon fotograf yang gagap. Ia tak menuntut mereka untuk berakting dan mengucapkan dialog yang cakap. Ia membuat mereka jadi bagian teater sebagai peristiwa, bukan hanya cerita.

Dari sini memang kemudian berkembang gaya Putu Wijaya: sebuah teater yang dibangun dari dialektik antara ”peristiwa” dan ”cerita”, antara kehadiran aktor dan orang-orang yang hanya bagian komposisi panggung, antara kata sebagai alat komunikasi dan kata sebagai benda tersendiri. Juga teater yang hidup dari tarik-menarik antara patos dan humor, antara suasana yang terbangun utuh dan disintegrasi yang segera mengubah keutuhan itu.

Orang memang bisa ragu, apa sebenarnya yang dibangun (dan dibangunkan) oleh teater Putu Wijaya. Keraguan ini bisa dimengerti. Indonesia 194 Kelas XII 1 1 9 94 Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia Sartre pernah mengatakan, salah satu motif menciptakan seni adalah ”memperkenalkan tata di mana ia semula tak ada, memasangkan kesatuan pikiran dalam keragaman hal-ihwal”.

chairul tanjung suku apa

Saya kira ia salah. Ia mungkin berpikir tentang keindahan dalam pengertian klasik, di mana tata amat penting. Bagi saya Teater Mandiri justru menunjukkan bahwa di sebuah negeri di mana tradisi dan antitradisi berbenturan (tapi juga sering berkelindan), bukan pengertian klasik itu yang berlaku.

Pernah pula Sartre mengatakan, seraya meremehkan puisi, bahwa ”kata adalah aksi”. Prosa, menurut Sartre, ”terlibat” dalam pembebasan manusia karena memakai kata sebagai alat mengomunikasikan ide, sedangkan puisi tidak.

Namun, di sini pun Sartre salah. Ia tak melihat, prosa dan puisi bisa bertaut—dan itu bertaut dengan hidup dalam teater Putu Wijaya. Puisi dalam teater ini muncul ketika keharusan berkomunikasi dipatahkan.

Sebagaimana dalam puisi, dalam sajak Chairil Anwar apalagi dalam sajak Sutardji Calzoum Bachri, yang hadir dalam pentas Teater Mandiri adalah imaji-imaji, bayangan dan bunyi, bukan pesan, apalagi khotbah.

Hal ini penting, di zaman ketika komunikasi hanya dibangun oleh pesan verbal yang itu-itu saja, yang tak lagi akrab dengan diri, hanya hasil kesepakatan orang lain yang kian asing. Sartre kemudian menyadari ia salah. Sejak 1960-an, ia mengakui bahwa bahasa bukan alat yang siap.

Bahasa tak bisa mengungkapkan apa yang ada di bawah sadar, tak bisa mengartikulasikan hidup yang dijalani, le vecu. Ia tentu belum pernah menyaksikan pentas Teater Mandiri, tapi ia pasti melihat bahwa pelbagai ekspresi teater dan kesusastraan punya daya ”teror” ketika, seperti Teater Mandiri, menunjukkan hal-hal yang tak terkomunikasikan dalam hidup.

Sebab yang tak terkatakan juga bagian dari ”yang ada”. Dari sana kreativitas yang sejati bertolak. Sumber: Majalah Tempo Edisi Senin, 27 Juni 2011 Bahasa Indonesia 19 195 9 5 5 Teks 2 Menimbang Ayat-Ayat Chairul tanjung suku apa Karya sastra yang baik juga bisa menggambarkan hubungan antarmanusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Tuhan.

Ini karena dalam karya sastra seharusnya terdapat ajaran moral, sosial sekaligus ketepatan dalam pengungkapan karya sastra.

chairul tanjung suku apa

Begitu pula yang ingin disampaikan oleh Habiburrachman El Shirazy dalam novelnya yang berjudul Ayat-ayat Cinta. Novel yang kemudian menjadi fenomena tersendiri dalam perjalanan karya sastra Indonesia, terutama yang beraliran islami, karena penjualannya mampu mengalahkan buku-buku yang digandrungi, seperti Harry Potter ini mengusung tema cinta islami yang dihiasi dengan konfl ik-konfl ik yang disusun dengan apik oleh penulisnya.

Novel ini mengisahkan perjalanan cinta antara 2 anak manusia, Fahri sebagai pelajar Indonesia yang belajar di Mesir, dan Aisha, seorang gadis Turki. Meskipun mengusung tema cinta tidak lantas membuat novel ini membahas cinta erotis antara laki-laki dan wanita. Banyak cinta lain yang masih bisa digambarkan, seperti cinta pada sahabat, kekasih hidup, dan tentu saja pada cinta sejati, Allah Swt.

Perjalanan cinta yang tidak biasa digambarkan oleh Habiburrachman. Nilai dan budaya Islam sangat kental dirasakan oleh pembaca pada setiap bagiannya. Bahkan, hampir di tiap paragraf kita akan menemukan pesan dan amanah. Ya, katakan saja paragraf yang sarat dengan amanah. Namun, dengan bentuk yang seperti itu tidak kemudian membuat novel ini menjadi membosankan untuk dibaca karena penulis tetap menggunakan kata-kata sederhana yang mudah dipahami dan tidak terkesan menggurui.

Gaya penulis untuk mengungkapkan setiap pesan justru menyadarkan kita bahwa sedikit sekali yang baru kita ketahui tentang Islam. Latar yang Dilukis Sempurna Hal lain yang pantas untuk diunggulkan dalam novel ini adalah kemampuan Habiburrachman untuk melukiskan latar dari tiap peristiwa, baik itu tempat kejadian, waktu, maupun suasananya. Ia dapat begitu fasih untuk menggambarkan tiap lekuk bagian tempat yang ia jadikan latar dalam novel tersebut ditambah dengan gambaran suasana yang mendukung sehingga seakan-akan mengajak pembaca untuk berwisata dan menikmati suasana Chairul tanjung suku apa di Timur Tengah lewat karya tulisannya.

196 Kelas XII 1 1 9 96 Bahasa Indonesia Bukan hal yang aneh kemudian ketika memang ’Kang Abik’, begitu penulis sering dipanggil, mampu untuk menggambarkan latar yang bisa dikatakan sempurna itu. Ia memang beberapa tahun hidup di Mesir karena tuntutan belajar. Akan tetapi, tidak menjadi mudah juga untuk mengungkapkan setiap tempat yang dijadikan latar.

Bahkan oleh orang Mesir sendiri memang tidak memiliki sarana bahasa yang tepat untuk mengungkapkan apa yang ingin ia sampaikan. Alur cerita juga dirangkai dengan begitu baik. Meskipun banyak menggunakan alur maju, cerita berjalan tidak monoton. Banyak peristiwa yang tidak terduga menjadi kejutan.

Konfl ik yang dibangun juga membuat novel ini layak menjadi novel kebangkitan bagi sastra islami setelah merebaknya novel- novel chairul tanjung suku apa. Banyak kejutan, banyak inspirasi yang kemudian bisa hadir dalam benak pembaca. Bahkan bisa menjadi semacam media perenungan atas berbagai masalah kehidupan.

Karakter Tokoh yang Terlalu Sempurna Satu hal yang ditemukan terlihat janggal dalam novel ini adalah karakter tokoh, yaitu Fahri yang digambarkan begitu sempurna dalam novel tersebut. Maksud penulis di sini, mungkin ia ingin menggambarkan sosok manusia yang benar-benar mencitrakan Islam dengan segala kebaikan dan kelembutan hatinya. Hal yang menjadi janggal jika sosok yang digambarkan begitu sempurna sehingga sulit atau chairul tanjung suku apa tidak ditemukan kesalahan sedikit pun padanya.

Jika dibandingkan dengan karya sastra lama milik Tulis Sutan Sati, mungkin akan ditemukan kesamaan dengan karakter tokoh Midun dalam Roman Sengsara Membawa Nikmat yang berpasangan dengan Halimah sebagai tokoh wanitanya.

Dalam roman tersebut, Midun juga digambarkan sebagai sosok pemuda yang sempurna dengan segala bentuk fi sik dan kebaikan hatinya. Hanya saja, di sini penggambarannya tidak menggunakan bahasa-bahasa yang langsung menunjukkan kesempurnaan tersebut sehingga tidak terlalu kentara.

Ini di luar bahasa karya sastra lama yang cenderung suka melebih-lebihkan (hiperbola). Perbedaan yang lain adalah tidak banyak digunakannya istilah- istilah islami dalam roman tersebut daripada novel Ayat-ayat Cinta.

Pembaca yang merasakan hal ini pasti akan bertanya-tanya, adakah sosok yang memang bisa sesempurna tokoh Fahri tersebut. Meskipun penggambaran karakter tokoh diserahkan sepenuhnya pada diri penulis, tetapi akan lebih baik jika karakter tokoh yang dimunculkan tetap memiliki keseimbangan.

Dalam arti, jika tokoh yang dimunculkan memang berkarakter baik, maka Bahasa Indonesia 19 197 9 7 7 Bahasa Indonesia 19 197 9 7 7 Sumber:http://esaisastrakita.blogspot.com/2013/05/esai-kritik-prosa-aninda-lestia-anjani.html (Dengan penyesuaian) Tugas 1. Buatlah perbandingan isi teks 1 dan teks 2 dengan menggunakan tabel berikut ini.

Aspek Gerr Menimbang Ayat-ayat Cinta Hal yang dikaji Deskripsi/sinopsis Data yang disajikan 2. Buatlah perbandingan cara pandang penulis kedua teks di atas dengan menggunakan tabel berikut.

Aspek Gerr Menimbang Ayat-ayat Cinta Cara penilaian Penggunaan Kajian teori Keutuhan pembahasan B. Menyusun Kritik dan Esai ! Setelah mempelajari materi ini, kamu chairul tanjung suku apa mampu: (1) menyusun kritik terhadap karya sastra; (2) menyusun pernyataan esai terhadap suatu objek atau permasalahan. 198 Kelas XII 1 1 9 98 Bahasa Indonesia Setelah memahami isi kritik dan esai, pada pembelajaran ini, kamu akan belajar untuk menyusun kritik dan esai.

Untuk itu, bacalah kembali contoh teks kritik ”Lelaki Tak Pernah Basi” dan esai ”Batman” di atas. Kegiatan Menyusun Kritik Sastra Dalam menyusun kritik, ada beberapa hal yang harus dipegang chairul tanjung suku apa kritikus (penulis kritik).

Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut. 1. Penulis kritik (kritikus) harus benar-benar membaca atau mengamati karya yang akan dikritik. 2. Kritikus harus membekali diri dengan pengetahuan tentang karya yang akan dikritisi. 3. Kritikus harus mengumpulkan data-data penunjang dan alasan logis untuk mendukung penilaian yang diberikan. 4. Kritik yang disampaikan tidak hanya mengungkap kelemahan, tetapi harus seimbang dengan kelebihannya. 5. Jika diperlukan, kritikus menggunakan kajian teori yang relevan untuk mendukung penilaiannya.

Marilah kita lihat kembali kalimat-kalimat kritik, serta kalimat yang mengandung penilaian kelebihan dan kekurangan karya, pada teks ”Capaian Eksperimen Lelaki Harimau” di atas. Kalimat-kalimat kritik dalam teks tersebut didominasi oleh kelebihan novel terebut. Dalam mengungkapkan kelebihannya, kritikus melengkapinya dengan data atau alasan yang logis. Perhatikan contoh berikut! Berbeda dengan Cantik itu Luka yang mengandalkan kekuatan narasi yang seperti lepas kendali dan deras menerjang apa saja, Lelaki Harimau memperlihatkan penguasaan diri narator yang dingin terkendali, penuh pertimbangan dan kehati-hatian.

Pemanfaatan –atau lebih tepat eksplorasi–setiap kata dan kalimat tampak begitu cermat dalam usahanya merangkai setiap peristiwa. Pada kutipan di atas, kritikus menilai keunggulan cara penceritaan novel Lelaki Harimau disertai data pengguaan chairul tanjung suku apa dan kalimat dilakukan sangat cermat. Kalimat-kalimat yang digunakan dapat membangun peristiwa dalam novel tersebut. Perhatikan pula bagaimana kritikus menilai kelebihan novel dilihat dari alurnya seperti terbaca pada kutipan berikut ini.

Bahasa Indonesia 19 199 9 9 9 Di antara rangkaian peristiwa yang dibangun dan dihidupkan oleh setiap tokohnya, menyelusup pula mitos tentang manusia harimau, potret bersahaja masyarakat pinggiran, dan keakraban kehidupan mereka. Sebuah pesona yang disampaikan lewat narasi yang rancak yang seperti menyihir pembaca untuk terus mengikuti kelak-kelok peristiwa yang dihadirkannya.

Selain mengupas kelebihannya, teks kritik tersebut juga menyampaikan kelemahan novel Lelaki Harimau seperti tampak pada kutipan berikut ini. Tentu saja, cara ini bukan tanpa risiko. Rangkaian peristiwa yang membangun alur cerita, jadinya terasa agak lambat. Ia juga boleh jadi akan mendatangkan masalah bagi pembaca yang tak biasa menikmati kalimat panjang.

Tugas Bacalah kutipan novel Laskar Pelangi berikut ini, kemudian buatlah kalimat kritiknya! Bab I: Sepuluh Murid Baru PAGI itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang di depan sebuah kelas.

Sebatang pohon tua yang riang meneduhiku. Ayahku duduk di sampingku, memeluk pundakku dengan kedua lengannya dan tersenyum mengangguk-angguk pada setiap orangtua dan anak-anaknya yang duduk berderet-deret di bangku panjang lain di depan kami. Hari itu adalah hari yang agak penting: hari pertama masuk SD. Di ujung bangku-bangku panjang tadi ada sebuah pintu terbuka. Kosen pintu itu miring karena seluruh bangunan sekolah sudah doyong seolah akan roboh.

Di mulut pintu berdiri dua orang guru seperti para penyambut tamu dalam perhelatan. Mereka adalah seorang bapak tua berwajah sabar, Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, sang kepala sekolah dan seorang wanita muda berjilbab, Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus. Seperti ayahku, mereka berdua juga tersenyum. Namun, senyum Bu Mus adalah senyum getir yang dipaksakan karena tampak jelas beliau sedang cemas. Wajahnya tegang dan chairul tanjung suku apa gelisah. Ia berulang kali menghitung jumlah anak-anak yang duduk di bangku 200 Kelas XII 2 2 0 00 Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia ”Sembilan orang.

. baru sembilan orang Pamanda Guru, masih kurang satu…,” katanya gusar pada bapak kepala sekolah. Pak Harfan menatapnya kosong. Aku juga merasa cemas. Aku cemas karena melihat Bu Mus yang resah dan karena beban perasaan ayahku menjalar ke sekujur tubuhku. Meskipun beliau begitu ramah pagi ini tapi lengan kasarnya yang melingkari leherku mengalirkan degup jantung yang cepat.

Aku tahu beliau sedang gugup dan aku maklum bahwa tak mudah bagi seorang pria berusia empat puluh tujuh tahun, seorang buruh tambang yang beranak banyak dan bergaji kecil, untuk menyerahkan anak laki-lakinya ke sekolah.

Lebih mudah menyerahkannya pada tauke pasar pagi untuk jadi tukang parut atau pada juragan pantai untuk menjadi kuli kopra agar dapat membantu ekonomi keluarga. Menyekolahkan anak berarti mengikatkan diri pada biaya selama belasan tahun dan hal itu bukan perkara gampang bagi keluarga kami.

”Kasihan ayahku ….” Maka aku tak sampai hati memandang wajahnya. ”Barangkali sebaiknya aku pulang saja, melupakan keinginan sekolah, dan mengikuti jejak beberapa abang dan sepupu-sepupuku, menjadi kuli ….” Tapi agaknya bukan hanya ayahku yang gentar.

Setiap wajah orang tua di depanku mengesankan bahwa mereka tidak sedang duduk di bangku panjang itu, karena pikiran mereka, seperti pikiran ayahku, melayang-layang ke pasar pagi atau ke keramba di tepian laut membayangkan anak lelakinya lebih baik menjadi pesuruh di sana. Para orang tua ini sama sekali tak yakin bahwa pendidikan anaknya yang hanya mampu mereka biayai paling tinggi sampai SMP akan dapat mempercerah masa depan keluarga. Pagi ini mereka terpaksa berada di sekolah ini untuk menghindarkan diri dari celaan aparat desa karena tak menyekolahkan anak atau sebagai orang yang terjebak tuntutan zaman baru, tuntutan memerdekakan anak dari buta huruf.

Aku mengenal para orangtua dan anak-anaknya yang duduk di depanku. Kecuali seorang anak lelaki kecil kotor berambut keriting merah yang meronta- ronta dari pegangan ayahnya. Ayahnya itu tak beralas kaki dan bercelana kain belacu. Aku tak mengenal anak beranak itu.

Bahasa Indonesia 20 201 0 1 1 Selebihnya adalah teman baikku. Trapani misalnya, yang duduk di pangkuan ibunya, atau Kucai yang duduk di samping ayahnya, atau Syahdan yang tak diantar siapa-siapa. Kami bertetangga dan kami adalah chairul tanjung suku apa Melayu Belitong dari sebuah komunitas yang paling miskin di pulau itu.

Adapun sekolah ini, SD Muhammadiyah, juga sekolah kampung yang paling miskin di Belitong. Ada tiga alasan mengapa para orang tua mendaft arkan anaknya di sini. Pertama, karena sekolah Muhammadiyah tidak menetapkan iuran dalam bentuk apa pun, para orang tua hanya menyumbang sukarela semampu mereka. Kedua, karena fi rasat, anak-anak mereka dianggap memiliki karakter yang mudah disesatkan iblis sehingga sejak usia muda harus mendapatkan pendadaran Islam yang tangguh.

Ketiga, karena anaknya memang tak diterima di sekolah mana pun. Bu Mus yang semakin khawatir memancang pandangannya ke jalan raya di seberang lapangan sekolah berharap kalau-kalau masih ada pendaft ar baru. Kami prihatin melihat harapan hampa itu. Maka tidak seperti suasana di SD lain yang penuh chairul tanjung suku apa ketika menerima murid angkatan baru, suasana hari pertama di SD Muhammadiyah penuh dengan kerisauan, dan yang paling risau adalah Bu Mus dan Pak Harfan.

Guru-guru yang sederhana ini berada dalam situasi genting karena Pengawas Sekolah dari Depdikbud Sumsel telah memperingatkan bahwa jika SD Muhammadiyah hanya chairul tanjung suku apa murid baru kurang dari sepuluh orang maka sekolah paling tua di Belitong ini harus ditutup.

Karena itu sekarang Bu Mus dan Pak Harfan cemas sebab sekolah mereka akan tamat riwayatnya, sedangkan para orang tua cemas karena biaya, dan kami, sembilan anak-anak kecil ini yang terperangkap di tengah cemas kalau-kalau kami tak jadi sekolah. Tahun lalu, SD Muhammadiyah hanya mendapatkan sebelas siswa, dan tahun ini Pak Harfan pesimis dapat memenuhi target sepuluh.

Maka diam- diam beliau telah mempersiapkan sebuah pidato pembubaran sekolah di depan para orang tua murid pada kesempatan pagi ini. Kenyataan bahwa beliau hanya memerlukan satu siswa lagi untuk memenuhi target itu menyebabkan pidato ini akan menjadi sesuatu yang menyakitkan hati. ”Kita tunggu sampai pukul sebelas,” kata Pak Harfan pada Bu Mus dan seluruh orangtua yang telah pasrah. Suasana hening.

Para orang tua mungkin menganggap kekurangan satu murid sebagai pertanda bagi anak-anaknya bahwa mereka memang sebaiknya didaft arkan pada para juragan saja.

Sedangkan aku dan agaknya juga anak-anak yang lain merasa amat pedih: pedih pada orang tua kami yang tak mampu, pedih menyaksikan detik-detik terakhir sebuah sekolah tua yang tutup justru pada 202 Kelas XII 2 2 0 02 Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia Saat itu sudah pukul sebelas kurang lima dan Bu Mus semakin gundah.

Lima tahun pengabdiannya di sekolah melarat yang amat ia cintai chairul tanjung suku apa tiga puluh dua tahun pengabdian tanpa pamrih pada Pak Harfan, pamannya, akan berakhir di pagi yang sendu ini. ”Baru sembilan orang Pamanda Guru …,” ucap Bu Mus bergetar sekali lagi. Ia sudah tak bisa berpikir jernih.

Ia berulang kali mengucapkan hal yang sama yang telah diketahui semua orang. Suaranya berat selayaknya orang yang tertekan batinnya. Akhirnya, waktu habis karena telah pukul sebelas lewat lima dan jumlah murid tak juga genap sepuluh. Semangat besarku untuk sekolah perlahan lahan runtuh. Aku melepaskan lengan ayahku dari pundakku. Sahara menangis terisak-isak mendekap ibunya karena ia benar-benar ingin sekolah di SD Muhammadiyah. Ia memakai sepatu, kaus kaki, jilbab, dan baju, serta telah punya buku-buku, botol air minum, dan tas punggung yang semuanya baru.

Pak Harfan menghampiri orang tua murid dan menyalami mereka satu per satu. Sebuah pemandangan yang pilu. Para orang tua menepuk-nepuk bahunya untuk membesarkan hatinya. Mata Bu Mus berkilauan karena air mata yang menggenang.

Pak Harfan berdiri di depan para orangtua, wajahnya muram. Beliau bersiap-siap memberikan pidato terakhir. Wajahnya tampak putus asa. Namun ketika beliau akan mengucapkan kata pertama, Assalamu’alaikum, seluruh hadirin terperanjat karena Tripani berteriak sambil menunjuk ke pinggir lapangan rumput luas halaman sekolah itu. ”Harun!”. Kami serentak menoleh dan di kejauhan tampak seorang pria kurus tinggi berjalar terseok-seok.

chairul tanjung suku apa

Pakaian dan sisiran rambutnya sangat rapi. Ia berkemeja lengan panjang putih yang dimasukkan ke dalam. Kaki dan langkahnya membentuk huruf x sehingga jika berjalan seluruh tubuhnya bergoyang- goyang hebat. Seorang wanita gemuk setengah baya yang berseri-seri susah payah memeganginya. Pria itu adalah Harun, pria jenaka sahabat kami semua, yang sudah berusia lima belas tahun dan agak terbelakang mentalnya. Ia sangat gembira dan berjalan cepat setengah berlari tak sabar menghampiri kami.

Ia tak menghiraukan ibunya yang tercepuk-cepuk kewalahan menggandengnya. Bahasa Indonesia 20 203 0 3 3 Mereka berdua hampir kehabisan napas ketika tiba di depan Pak Harfan.

”Bapak Guru …, ” kata ibunya terengah-engah. ”Terimalah Harun, Pak, karena SLB hanya ada di Pulau Bangka, dan kami tak punya biaya untuk menyekolahkannya ke sana. Lagi pula lebih baik kutitipkan dia disekolah ini daripada di rumah ia hanya mengejar -ngejar anak-anak ayamku …. Harun tersenyum lebar memamerkan gigi-giginya yang kuning panjang- panjang.

Pak Harfan juga terseyum, beliau melirik Bu Mus sambil mengangkat bahunya. ”Genap sepuluh orang …,” katanya. Harun telah menyelamatkan kami dan kami pun bersorak. Sahara berdiri tegak merapikan lipatan jilbabnya dan menyandang tasnya chairul tanjung suku apa gagah, ia tak mau duduk lagi.

Bu Mus tersipu. Air mata guru muda ini surut dan ia menyeka keringat di wajahnya yang belepotan karena bercampur dengan bedak tepung beras. (Dikutip dari novel Laskar Pelangi, 10-15) Kegiatan Menyusun Pernyataan Esai terhadap Objek atau Peristiwa Berbeda dengan kritik yang menyajikan kelebihan dan kelemahan karya, esai membahas objek atau fenomena dari sudut pandang yang dianggap menarik oleh penulisnya.

Hal yang dibahas kadang-kadang bukan merupakan hal yang penting bagi orang lain, tetapi kejelian penulis dalam memilih aspek yang acap kali diabaikan orang lain, serta kemampuannya menyajikan dalam bahasa yang mengalir lancar membuat esai menjadi menarik.

Perhatikan beberapa contoh kalimat esai dalam kutipan teks ”Batman” di atas. Tiap kali kita memang bisa mengidentifi kasinya dari sebuah topeng kelelawar yang itu-itu juga. Tapi tiap kali ia dilahirkan kembali sebagai sebuah jawaban baru terhadap tantangan baru.

Sebab selalu ada hubungan dengan hal-ihwal yang tak berulang, tak terduga—dengan ancaman penjahat besar Th e Joker atau Bane, dalam krisis Kota Gotham yang berbeda-beda.

Sebab itu Batman bisa bercerita tentang asal mula, tetapi asal mula dalam posisinya yang bisa diabaikan: wujud yang pertama tak menentukan sah atau tidaknya wujud yang kedua dan terakhir. Wujud yang kedua dan terakhir bukan cuma sebuah fotokopi dari yang pertama.

Tak ada yang–sama yang jadi model. Yang 204 Kelas XII 2 2 0 04 Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia Dalam kutipan di atas, penulis mengajak pembaca untuk menyadari bahwa meskipun judul fi lm dan tokoh utamanya sama, ternyata Batman dalam tiap fi lm selalu berbeda. Penulis esai cukup cerdik membuktikan pernyataannya. Pendapatnya tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut ini.

Satu topeng, satu nama—sebuah sintesis dari variasi yang banyak itu. Namun, sintesis itu berbeda dengan penyatuan. Ia chairul tanjung suku apa menghasilkan identitas yang satu dan pasti. Hal yang penting lagi, sintesis itu tak meletakkan semua varian dalam sebuah norma yang baku. Chairul tanjung suku apa dapat ditentukan mana yang terbaik, tepatnya: mana yang terbaik untuk selama-lamanya. Tugas Bacalah kembali kutipan novel Laskar Pelangi di atas.

Kemudian, datalah bagian-bagian yang menarik untuk disoroti, misalnya penggunaan bahasa, kriteria pemilihan tokoh, bersekolah, dan sebagainya.

Pilihlah satu bagian saja. Kemudian, buatlah kalimat esainya. C. Menganalisis Sistematika dan Kebahasaan ! Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mampu: (1) menganalisis sistematika kritik sastra dan esai; (2) menganalisis kebahasaan kritik sastra dan esai. Kegiatan Menganalisis Sistematika Kritik Sastra dan Esai Teks kritik dan esai berdasarkan fungsinya dapat dimasukkan dalam genre teks eskposisi.

Kamu pasti masih ingat fungsi teks eksposisi, bukan? Benar, teks eksposisi digunakan untuk menyampaikan pendapat. Sistematika teks kritik dan esai dapat dilihat dari struktur teksnya.

Masih ingat jugakah kalian dengan Bahasa Indonesia 20 205 0 5 5 Bahasa Indonesia 20 205 0 5 5 Dalam teks kritik, pendapat/ tesis yang disampaikan adalah hasil penilaian terhadap sebuah karya. Argumen yang disajikan berupa data-data obyektif dalam karya serta alasan yang logis. Penegasan ulang dalam kritik dapat berupa ringkasan atau pengulangan kembali tesis dalam kalimat yang berbeda. Perhatikan hasil analisis sistematika kritik Capaian Eksperimen Novel Lelaki Harimau” berikut ini.

chairul tanjung suku apa

Sistematika Kutipan teks Pernyataan pendapat .Sebuah novel yang juga masih memendam semangat eksperimen. Berbeda dengan Cantik itu Luka yang mengandalkan kekuatan narasi yang seperti lepas kendali dan deras menerjang apa saja, Lelaki Harimau memperlihatkan penguasaan diri narator yang dingin terkendali, penuh pertimbangan, dan kehati-hatian. Argumen 1. Di sana, ada semacam kompromi antara semangat eksperimen dengan hasratnya untuk tidak terlalu memberi beban berat bagi pembaca.

Rangkaian kalimat panjang yang melelahkan itu, diolah dalam kemasan yang lain sebagai alat untuk membangun peristiwa. 2. Secara tematik, Lelaki Harimau tidaklah mengusung tema besar, pemikiran fi lsafat, atau fakta historis.

Ia berkisah tentang kehidupan masyarakat di sebuah desa kecil. 3. Pencerita seperti sengaja tidak membiarkan dirinya berdiri terpaku pada satu titik. Ia menyoroti satu tokoh. Kemudian, secara perlahan beralih ke tokoh lain. 4. Meski begitu, Lelaki Harimau, dilihat dari sudut itu, tetap saja menghadirkan kekhasannya sendiri. Selain pola alur yang demikian, Eka menggunakan kalimat- kalimat itu sebagai pintu masuk menghadirkan rangkaian peristiwa.

206 Kelas XII 2 2 0 06 Bahasa Indonesia Sistematika Kutipan teks 5. Hal lain yang juga ditampilkan Eka dalam novel ini menyangkut cara bertuturnya yang agak janggal, tetapi benar secara semantis.

Ia banyak menghadirkan metafora yang terasa agak aneh, tetapi tidak menyalahi makna semantisnya. Penegasan ulang Dalam beberapa hal, Lelaki Harimau harus diakui, berhasil memperlihatkan sejumlah capaian.

Ia menjelma tak sekadar mengandalkan imajinasi, tetapi juga bertumpu lewat proses berpikir dan tindak eksploratif kalimat dengan berbagai kemungkinannya. Dalam teks esai, pendapat/tesis yang disampaikan adalah pandangan penulis terhadap objek atau fenomena yang disorotinya. Argumen yang disajikan berupa alasan yang logis yang subjektif. Penegasan ulang dalam kritik dapat berupa ringkasan atau pengulangan kembali Perhatikan chairul tanjung suku apa analisis sistematika, berdasarkan struktur teks, teks esai: ”Batman” berikut ini.

Sistematika Kutipan teks Pernyataan pendapat Batman tak pernah satu, maka ia tak chairul tanjung suku apa. Argumen 1. Tiap kali, kita memang bisa mengidentifi kasinya dari sebuah topeng kelelawar yang itu-itu juga. Tapi tiap kali ia dilahirkan kembali sebagai sebuah jawaban baru terhadap tantangan baru. Sebab selalu ada hubungan dengan hal- ihwal yang tak berulang, tak terduga—dengan ancaman penjahat besar The Joker atau Bane, dalam krisis Kota Gotham yang berbeda-beda.

2. Sebab itu, Batman bisa bercerita tentang asal mula, tetapi asal mula dalam posisinya yang bisa diabaikan: wujud yang pertama tak menentukan sah atau tidaknya wujud yang kedua dan terakhir.

Wujud yang kedua dan terakhir bukan cuma sebuah fotokopi dari yang pertama. 3. Satu topeng, satu nama—sebuah sintesis dari variasi yang banyak itu. Tapi sintesis itu berbeda dengan penyatuan.

chairul tanjung suku apa

Bahasa Indonesia 20 207 0 7 7 Penegasan ulang Walhasil, akhirnya selalu harus ada kesadaran akan batas tafsir. Akan selalu ada yang tak akan terungkap—dan bersama itu, akan selalu ada Gotham yang terancam kekacauan dan keambrukan. Itu sebabnya dalam “The Dark Knight Rises”, Inspektur Gordon tetap mau menjaga misteri Batman, biarpun dikabarkan Bruce Wayne sudah mati.

Dengan demikian bahkan penjahat yang tecerdik sekalipun tak akan bisa mengklaim ”aku tahu”. Tugas Bacalah kembali teks ”Menimbang Ayat-ayat Cinta” dan ”Gerr” di atas. Kemudian, analisislah sistematika teksnya berdasarkan struktur teks.

Kamu dapat menggunakan tabel yang sama seperti contoh di atas. Kegiatan Menganalisis Kebahasaan Kritik Sastra dan Esai Sebagai teks eksposisi, teks kritik dan esai secara umum juga memiliki kaidah kebahasaan yang hampir sama dengan teks eksposisi. 1. Menggunakan pernyataan-pernyataan persuasif. Contoh: a. Oleh karena itu, berhadapan dengan novel model ini, kita (pembaca) mesti memulainya tanpa prasangka dan menghindar dari jejalan pikiran yang berpretensi pada sejumlah horison harapan.

Bukankah banyak pula novel kanon yang peristiwa-peristiwa awalnya dibangun melalui narasi yang chairul tanjung suku apa b. Rangkaian kalimat panjang yang melelahkan itu, diolah dalam kemasan yang lain sebagai alat untuk membangun peristiwa.

Wujudlah rangkai peristiwa dalam kalimat-kalimat yang tidak menjalar jauh berkepanjangan ke sana ke mari, tetapi cukup dengan penghadiran dua sampai empat peristiwa berikut berbagai macam latarnya. 2. Menggunakan pernyataan yang menyatakan fakta untuk mendukung atau membuktikan kebenaran argumentasi penulis/penuturnya. Mungkin pula diperkuat oleh pendapat ahli yang dikutipnya ataupun pernyataan- pernyataan pendukung lainnya yang bersifat menguatkan. Dalam contoh di atas, kutipan tampak pada ikrar Sumpah Pemuda.

208 Kelas XII 2 2 0 08 Bahasa Indonesia 3. Menggunakan pernyataan atau ungkapan yang bersifat menilai atau mengomentari. Pemanfaatan chairul tanjung suku apa lebih tepat eksplorasi–setiap kata dan kalimat tampak begitu cermat dalam usahanya merangkai setiap peristiwa. Eka seperti hendak menunjukkan dirinya sebagai ”eksperimental” yang sukses bukan lantaran faktor kebetulan. Ada kesungguhan yang luar biasa dalam menata setiap peristiwa dan kemudian mengelindankannya menjadi struktur cerita.

Di balik itu, tampak pula adanya semacam kekhawatiran untuk tidak melakukan kelalaian yang tidak perlu.

chairul tanjung suku apa

4. Menggunakan istilah teknis berkaitan dengan topik yang dibahasnya. Topik contoh teks kritik adalah novel, dan istilah-istilah yang digunakan juga berkaitan dengan novel, misalnya narator, antologi, eksplorasi, eksperimen, mitos, biografidan alur. Topik pada teks esai adalah fi lm, terutama fi lm ”Batman”. Istilah-istilah fi lm yang digunakan antara lain orisinalitas, trilog Nolan, planetary, remote control, alegori, dan candide.

Dengan menggunakan Chairul tanjung suku apa Besar Bahasa Indonesia, baik cetak maupun versi daring, dan kamus istilah bidang fi lm, carilah arti istilah-istilah tersebut.

TEMPO.CO, Jakarta - Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta memperpanjang proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) tetap Garuda Indonesia selama 60 hari hingga 20 Mei 2022. Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra mengatakan perusahaan menyambut positif putusan tersebut. “Kami memahami bahwa proses ini juga tidak mudah bagi para pihak, sehingga dibutuhkan waktu yang lebih panjang untuk memenuhi ketentuan administrasi dan verifikasi,” kata Irfan dalam keterangannya, Selasa, 22 Maret 2022.

Irfan berujar, PKPU merupakan proses yang kompleks dan berlapis sehingga perlu dijalankan dengan prinsip kehati-hatian oleh Garuda maupun krediturnya. Adapun perseroan mengapresiasi lantaran sebagian besar kreditur telah menyelesaikan tahapan verifikasi dan memberikan dukungan.

Sejalan dengan penetapan perpanjangan PKPU Tetap, Garuda melakukan komunikasi berkala dengan kreditur chairul tanjung suku apa pokok-pokok perdamaian. Garuda, tutur Irfan, telah menerima masukan dari para kreditur untuk menghasilkan kesepakatan bagi seluruh pihak sejalan dengan upaya restrukturisasi dan akselerasi pemulihan maskapai. “Kami tekankan kembali bahwa melalui proses perpanjangan ini, Garuda dapat mengoptimalkan proses rekonsiliasi tagihan dengan beberapa kreditur, proses negosiasi dan pembahasan skema restrukturisasi, serta mempertimbangkan permintaan beberapa kreditur untuk melengkapi dokumen verifikasi,” ucap dia.

Emiten berkode GIAA itu berharap seluruh pemangku kepentingan dapat menggunakan momentum perpanjangan PKPU untuk mengoptimalkan segala saran dan masukan rencana perdamaian, melanjutkan proses verifikasi, serta mencocokkan jumlah piutang dan verifikasi pajak. Sembari proses PKPU berlangsung, Irfan mengatakan perusahaan pelat merah tengah menyambut momentum pemulihan industri penerbangan secara bertahap di tengah pandemi Covid-19.

chairul tanjung suku apa

Sejalan dengan kebijakan pelonggaran aturan perjalanan, ia mengatakan pada periode akhir Maret 2022, Garuda mencatatkan peningkatan lalu lintas penumpang sebesar 58,7 persen. Peningkatan itu ditunjang oleh perhelatan MotoGP Mandalika serta momentum relaksasi penerbangan internasional melalui pengoperasian sejumlah rute internasional Garuda, seperti Narita-Denpasar, Sydney-Denpasar, Surabaya-Madinah, dan Jakarta-Madinah.

“Garuda memastikan seluruh layanan penerbangan termasuk layanan penumpang, kargo, dan perawatan pesawat tetap beroperasi secara normal,” kata Irfan. FRANCISCA CHRISTY ROSANA Baca: Sri Mulyani Sebut Naikkan PPh Orang Kaya Jadi 35 Persen, Chairul Tanjung Senyum Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.
Ini Deretan Sanksi Baru AS dan Inggris untuk Rusia Jelang Perayaan Hari Kemenangan Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini, Senin 9 Mei 2022 Sentimen The Fed Bisa Jadi Momentum Beli Saham, Tapi… Sentimen The Fed Bisa Jadi Momentum Beli Saham, Tapi… LIVE : Harga emas 24 karat Pegadaian hari ini (08:19 WIB) LIVE : Proyeksi analis soal IHSG setelah libur Lebaran (07:58 WIB) Terpopuler • Hendak IPO, Ini Tantangan Bank Sumut di Sisi Kredit • Kinerja 15 Emiten Asuransi, Grup Kresna (ASMI) Hingga Salim (AHAP) Pimpin Lonjakan Premi • Jelang RUPS TUGU: Setelah Presdir, Satu Direksi & Komisaris Ikut Mengundurkan Diri • Inilah Penyebab Laba Bank Membesar Pada Kuartal I/2022, Dapat Berlanjut?

• Temuan Bank Mandiri, Begini Tingkat Belanja Masyarakat Terbaru “Pesawat jenis Boeing 737-800 tetap beroperasi seperti biasa di Indonesia dan proses pengecekan tetap berlangsung sebagai bagian dari audit berkala yang dilakukan oleh para inspektur dari kelaikudaraan dan pengoperasian pesawat udara,” ujar Direktur Jenderal Penerbangan Udara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto, Selasa, 22 Maret 2022.

Di Indonesia, Boeing 737-800 NG dioperasikan oleh maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Pada 2020, perseroan memiliki 73 unit pesawat, namun julah itu menyusut menjadi 42 unit pada 2020. Selama pandemi Covid-19, Garuda merelokasi pesawatnya akibat penurunan jumlah penumpang. Novie mengatakan sebagai regulator penerbangan sipil nasional, Kementerian terus melakukan upaya untuk meningkatkan pengawasan agar keselamatan dan keamanan penerbangan dapat terus dijaga. Ia mengklaim berkomunikasi intens dengan maskapai penerbangan domestik serta melakukan untuk memastikan kepatuhan operator terhadap regulasi keselamatan penerbangan.

Mengenai kecelakaan pesawat yang terjadi di Cina, Novie menyatakan Kementerian Perhubungan masih memonitor perkembangan situasi yang ada. “Hingga adanya informasi yang cukup dan jelas untuk mengambil kebijakan, khususnya penyelenggaraan transportasi udara,” katanya. Kementerian pun menyampaikan duka cita atas musibah kecelakaan Cina Eastern Airline. Pesawat itu membawa 123 penumpang dan sembilan awak pesawat menurut informasi dari Civil Aviation Administration of China (CAAC).

“Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada korban kecelakaan pesawat China Eastern Boeing 737-800 di wilayah Guangxi. Semoga proses penyelidikan penyebab kecelakaan dapat segera chairul tanjung suku apa ujar Novie.

FRANCISCA CHRISTY ROSANA Baca: Sri Mulyani Sebut Naikkan PPh Orang Kaya Jadi 35 Persen, Chairul Tanjung Senyum Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.
MENU • Home • Tentang Kami • Profil Kontributor • Kebijakan Privasi • Kontak Kami • Geografi • Geografi Ekonomi • Geografi Fisik • Geografi Kota • Geografi Kependudukan • Geografi Lingkungan • Sumber Daya Alam • Perpetaan • Astronomi • Laut dan Pesisir • Meteorologi • Ekonomi • Kewarganegaraan • Bahasa • Bahasa Indonesia • Sejarah • Pengetahuan Umum • Status sosial adalah kedudukan suatu individu dalam suatu tatanan masyarakat.

Status ini merupakan pandangan orang lain terhadap individu tersebut. Apakah individu tersebut dihormati, disukai, dibenci, atau bahkan diremehkan tergantung oleh status sosialnya.

Secara umum, terdapat 3 macam status sosial seseorang, ketiga sumber tersebut adalah ascribed status, achieved status, dan assigned status. Mari kita pelajari lebih lanjut makna setiap jenis status sosial ini. Daftar Isi • Ascribed Status • Contoh Ascribed Status • Keluarga Kerajaan • Suku Kelahiran • Kasta dan Golongan • Achieved Status • Contoh Achieved Status • Seseorang Yang Terlahir Miskin Namun Menjadi Sukses • Pemain yang Menjadi Pesepakbola Hebat • Pelajar yang Menjadi Ilmuwan Hebat • Assigned Status • Contoh Assigned Status • Tetua Desa • Seorang Ahli Agama yang Bijak dan Memiliki Pengikut Banyak • Perbedaan Antara Ascribed, Achieved, dan Assigned Status • Siapa yang Memberikan • Cara Mendapatkannya • Status Sosial yang Hanya Bisa Didapatkan dengan Salah Satu Cara Ascribed Status Ascribed status adalah status sosial seseorang yang sudah ada dari lahir.

Chairul tanjung suku apa, status sosial ini disebabkan oleh garis keturunan dari individu tersebut. Status sosial yang termasuk kedalam ascribed status antara lain adalah jenis kelamin, ras, kasta, golongan, keturunan, ataupun suku. Hal-hal ini tidak bisa diubah dan memang sudah ada semenjak individu tersebut dilahirkan.

Namun, di masa depan bisa saja status-status ini berubah karena suatu kejadian ataupun pencapaian tertentu. Contoh Ascribed Status Untuk lebih memahami status sosial yang berasal dari lahir, atau ascribed status, kita akan membahas beberapa contoh-contohnya dalam kehidupan sehari-hari.

Keluarga Kerajaan Salah satu contoh terbaik dari ascribed status adalah seseorang yang lahir pada keluarga kerajaan, misal kerajaan Inggris. Pria yang dilahirkan oleh raja dan ratu Inggris otomatis akan menjadi pangeran kerajaan Inggris. Individu ini tidak harus melakukan apa-apa untuk mendapatkan statusnya sebagai seorang pangeran. Sejak lahir, kehidupannya sudah berbeda dengan anak-anak biasa. Dengan lebih banyak peraturan, tanggung jawab, serta kekayaan. Suatu saat dimasa depan, individu ini akan menggantikan ayahnya menjadi raja Inggris.

Suku Kelahiran Seseorang yang lahir kedalam suatu suku tentu saja akan selalu identik dengan suku tersebut dan memiliki tanggung jawab, hak, serta karakteristik yang berbeda dengan orang lainnya. Contohnya adalah suku batak dimana budayanya memang lebih keras dari suku sunda misalnya.

Oleh karena itu, ketika ada orang batak yang ada di tanah pasundan, pasti akan dianggap lebih kasar. Padahal, belum tentu individu tersebut berbicara secara kencang atau dengan kata-kata yang keras. Namun, pandangan tersebut sudah mengakar karena suku kelahirannya. Kasta dan Golongan Ketika seseorang dilahirkan kedalam kasta atau golongan tertentu, maka hidupnya tentu saja akan didikte oleh nilai-nilai yang seharusnya dimiliki oleh kasta tersebut. Contohnya adalah di agama Hindu dimana ada kasta-kasta seperti Ksatria dan Brahmana.

Seorang anak yang lahir dari kasta Ksatria tentu saja akan belajar berperang, berkuda, dan memanah semenjak lahir. Sedangkan, anak yang lahir dari golongan brahmana cenderung akan belajar agama, ilmu pengetahuan, dan filsafat. Jalur hidup dan pintu-pintu kesempatan kedua anak tersebut jauh berbeda. Semua karena mereka dilahirkan dari kasta yang berbeda dan memang diharapkan menjadi orang yang berbeda pula. Achieved Status Achieved status, seperti namanya bersifat achieved atau dapat digapai dengan kerja keras dan usaha.

Status sosial ini tidak pasti dan dapat dimiliki oleh semua orang, asalkan mereka mau berusaha dan berkerja keras. Status sosial yang termasuk kedalam achieved status antara lain adalah kekayaan, ilmu pengetahuan, bisnis dan usaha, jabatan, pekerjaan, dan kesehatan. Semuanya bisa dicapai oleh semua orang, asalkan mereka mau berusaha dan berkerja keras. Meskipun begitu, ada juga beberapa status sosial yang termasuk achieved status tetapi juga termasuk ascribed status.

Contohnya adalah kekayaan dan bisnis yang turun temurun dari sebuah keluarga konglomerat. Contoh Achieved Status Untuk lebih memahami status sosial yang berasal dari usaha, atau achieved status, kita akan membahas beberapa contoh-contohnya dalam kehidupan sehari-hari.

Seseorang Yang Terlahir Miskin Namun Menjadi Sukses Kalian sering kan mendengar orang-orang yang tidak terlahir kaya, tetapi berhasil menjadi orang chairul tanjung suku apa sukses dan kaya raya.

Mereka mendapatkan kekayaannya dari usaha dan kerja keras mereka. Contohnya adalah Chairul Tanjung yang kerap terkenal sebagai anak singkong. Beliau tidak terlahir kaya tetapi berkat kegigihannya dan kerja kerasnya, berhasil mendapatkan kekayaan dan membangun bisnis yang sangat besar. Bahkan, beliau juga mampu menjadi mentri pada era pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Padahal, seperti yang kita ketahui, Chairul Tanjung tidak lahir dari keluarga konglomerat ataupun bangsawan.

Pemain yang Menjadi Pesepakbola Hebat Cristiano Ronaldo tidak langsung terlahir menjadi pemain bola yang hebat. Beliau harus berjuang keras untuk menjadi seorang pemain bola yang baik. Padahal, keluarganya tidak ada gen ataupun budaya bermain bola. Meskipun begitu, Ronaldo berjuang keras dengan senantiasa berlatih dan bermain untuk meningkatkan kemampuan permainan bolanya. Hal ini semua terjadi karena ronaldo sangat mencintai sepak bola dan mau berjuang untuk mendapatkan mimpinya.

Pelajar yang Menjadi Ilmuwan Hebat Tidak ada ilmuwan yang terlahir hebat, semuanya pasti melewati banyak rintangan untuk mencapai posisinya. Mereka pasti mengeluarkan banyak waktu untuk belajar, berkontemplasi, serta mengembangkan konsep-konsep ilmiah.

Contohnya Albert Einstein yang merupakan salah satu ilmuwan terhebat yang kita kenal. Beliau mendedikasikan banyak sekali waktunya untuk mengembangkan bidang pengetahuan fisika dan sains murni. Padahal, awalnya Einstein tidak berkerja dalam universitas, melainkan dalam sebuah kantor paten. Meskipun begitu, beliau terus berupaya untuk mengembangkan pengetahuan fisika sehingga akhirnya ditawari jabatan sebagai dosen di salah satu universitas ternama di Jerman.

Assigned Status Assigned status adalah status sosial yang disematkan kepada seseorang oleh orang lain, bukan oleh dirinya sendiri ataupun ada semenjak lahir. Status sosial ini cukup sulit untuk didapatkan karena tidak bisa didapatkan secara mandiri oleh seseorang. Meskipun begitu, seseorang tetap dapat berusaha untuk mendapatkan assigned status ini. Hanya saja, dia tidak bisa mengklaim secara sepihak status sosial tersebut. Status ini hanya bisa diberikan oleh orang-orang lain yang ada disekitarnya.

Contoh Assigned Status Untuk lebih memahami status sosial yang berasal dari pengakuan orang lain, atau assigned status, kita akan membahas beberapa contoh-contohnya dalam kehidupan sehari-hari. Tetua Desa Seorang tetua desa tidak dapat dipilih melalui pemilihan kepala daerah ataupun dideklarasikan secara sepihak oleh individu tersebut.

Posisi ini hanya dapat disematkan jika seluruh masyarakat desa sepakat bahwa individu tersebut adalah yang paling bijak dan paling mampu mewakili mereka. Oleh karena itu, posisi ini sangat bergantung kepada penilaian orang lain terhadap diri kita.

Meskipun begitu, kita tetap dapat berupaya untuk mendapatkan posisi ini dengan cara berlaku baik kepada tetangga, berbagi pengalaman, mengayomi, serta senantiasa peduli kepada lingkungan sekitar. Seorang Ahli Agama yang Bijak dan Memiliki Pengikut Banyak Banyak ahli agama yang ada di masyarakat, namun yang dianggap tetua dan memiliki banyak pengikut tidaklah banyak.

Posisi ini hanya dapat dicapai dengan pengalaman, kontribusi, dan ilmu yang sangat banyak kepada bidang keagamaan. Selain itu, posisi chairul tanjung suku apa juga tidak dapat dideklarasikan secara sepihak, harus ada persetujuan dari banyak orang mengenai posisi individu tersebut sebagai tetua agama.

Oleh karena itu, sehebat apapun ilmu agama kita, jika tidak diakui oleh ahli-ahli lain dan masyarakat umum, maka kita tidak akan bisa menjadi ahli agama yang dituakan dan memiliki banyak pengikut. Perbedaan Antara Ascribed, Achieved, dan Assigned Status Secara umum, perbedaan utama antara ketiga jenis status tersebut adalah siapa yang memberikan dan bagaimana cara mendapatkannya.

Selain itu, ada pula status sosial yang hanya mungkin didapatkan lewat salah satu jenis status dan tidak mungkin menggunakan cara lain.

Siapa yang Memberikan Perbedaan pertama dari ketiga jenis status sosial ini adalah siapa yang memberikan status tersebut. Pada kasus ascribed status, yang memberikan adalah keluarga/garis keturunannya semenjak lahir. Pada kasus achieved, yang memberikan status tersebut adalah dirinya sendiri dengan usaha dan kerja kerjas. Sedangkan, pada kasus assigned status, yang memberikannya adalah orang lain. Cara Mendapatkannya Perbedaan kedua dari ketiga jenis status sosial ini adalah cara mendapatkannya.

Mungkin hal ini cukup mirip dengan poin pertama, namun yang berbeda disini adalah proses dari mendapatkan status tersebut. Pada ascribed status, tidak ada yang harus dilakukan oleh individu tersebut untuk mendapatkan status sosialnya.

Bahkan, individu tersebut juga tidak dapat menolak status sosial tersebut. Pada achieved status, individu tersebut harus berjuang untuk mendapatkan status sosial yang ada. Jika individu tersebut lengah ataupun luput, bisa saja status tersebut hilang atau tidak melekat lagi pada dirinya. Sedangkan, pada ascribed status, seorang individu harus meyakinkan masyarakat disekitarnya untuk menyematkan status tersebut pada dirinya.

Jika masyarakat disekitarnya enggan untuk melabeli individu tersebut dengan status tertentu, maka individu tersebut tidak mungkin mendapatkan ascribed status.

Status Sosial yang Hanya Bisa Didapatkan dengan Salah Satu Cara Terkadang ada status sosial tertentu yang hanya dapat dicapai dengan suatu cara. Ada saja status-status sosial yang hanya bisa dicapai dengan pengakuan orang lain, ada pula status sosial yang hanya bisa didapatkan dari lahir.

Contoh status sosial yang hanya dapat dicapai dengan pengakuan orang lain adalah tetua desa atau pemuka agama. Kedua status ini harus berasal dari mulut orang lain, akan aneh kalau kita mengklaim diri sendiri sebagai kedua hal tersebut. Contoh status sosial yang hanya bisa didapatkan dari lahir adalah kasta dan golongan. Kedua jenis status sosial ini melekat semenjak lahir dan tidak dapat dipisahkan dari identitas seseorang. Selain itu, sangat sulit atau bahkan tidak bisa untuk melepaskan atau mengganti golongan/kasta tersebut.

Berdasarkan pemaparan diatas, tidak semua status sosial dapat dicapai dengan ketiga cara tersebut. Meskipun begitu, globalisasi dan modernisasi dunia ini telah membuat mobilitas vertikal menjadi semakin mudah. Kategori • Astronomi (2) • Bahasa Indonesia (32) • Ekonomi (23) • Geografi (6) • Geografi Ekonomi (16) • Geografi Chairul tanjung suku apa (21) • Geografi Kependudukan (8) • Geografi Kota (15) • Geografi Lingkungan (9) • Kewarganegaraan (25) • Laut dan Pesisir (4) • Meteorologi (15) • Pengetahuan Umum (89) • Perpetaan (12) • Sejarah (46) • Sumber Daya Alam (5)
Reporter: Hikma Dirgantara - Editor: Wahyu T.Rahmawati KONTAN.CO.ID - JAKARTA.

Tahun 2021 rupanya menjadi periode gemilang bagi Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG). Pasalnya, IHSG berhasil berulang kali menembus level all time high pada tahun ini. Teranyar, pada penutupan perdagangan hari ini, Senin (4/4). IHSG berada di level 7.116,22 yang merupakan level tertingginya sepanjang masa. Tak hanya mencetak rekor, IHSG juga telah berhasil menguat hingga 8,12% sepanjang tahun ini. Apiknya kinerja IHSG menjadi berkah tersendiri bagi reksadana indeks.

Maklum, portofolio reksadana indeks mayoritas dibuat mengikuti dengan indeks acuan masing-masing. Alhasil, kinerja reksadana indeks pada tahun chairul tanjung suku apa berpotensi mengekor dengan kinerja IHSG.

Baca Juga: Saham-Saham Penghuni LQ45 Terbang Tinggi, Bagaimana Valuasi dan Rekomendasi? Direktur Panin Asset Management melihat reksadana indeks berpotensi catatkan kinerja apik pada tahun ini. Pasalnya, IHSG ke depan berpotensi untuk kembali mengalami peningkatan. Sehingga, dari sisi kinerja, reksadana indeks berpotensi akan sesuai dengan IHSG dan saham big caps. “Karena kebanyakan indeks itu saham yang likuid dan besar seperti IDX-30,” kata Rudiyanto kepada Kontan.co.id, Senin (4/4).

Adapun, merujuk data Infovesta Utama, kinerja reksadana indeks Panin IDX30 dalam setahun terakhir berhasil tumbuh 16,67%. Tidak berbeda jauh dengan IHSG di mana pada periode yang sama tumbuh 17,75%. Baca Juga: Menilik Efek Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2022 Terhadap Prospek Reksadana Ke depan, Rudiyanto optimistis akan ada beberapa sentimen yang bisa kembali mendorong rally IHSG lebih lanjut.

Pertama, solidnya laporan keuangan dari dari sektor non perbankan, seperti telekomunikasi, batubara, hingga sawit. Lalu, sentimen pembagian dividen di periode April secara historis telah menjadi katalis positif untuk pergerakan harga saham chairul tanjung suku apa IHSG.

Berikutnya, ia berharap pada bulan ini sudah terdapat kabar positif dari Amerika Serikat, yakni data inflasi AS Maret yang mengalami penurunan. Jika ternyata inflasi AS bisa mereda, maka ekspektasi chairul tanjung suku apa suku bunga agresif juga akan mereda.

Hal ini pada akhirnya bisa menjadi sentimen positif untuk IHSG. “Untuk risiko, tingkat inflasi AS maupun Indonesia yang lebih tinggi dari perkiraan bisa menjadi katalis negatif untuk IHSG dan reksadana indeks,” terang Rudiyanto.ERROR: The request could not be satisfied 403 ERROR The request could not be satisfied.

The Amazon CloudFront distribution is configured chairul tanjung suku apa block access from your country. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation.

Generated by cloudfront (CloudFront) Request ID: XQBS8YJDK8IevDXjTkt_Jp3YDnTbf5utEOtaOEyNugAizo6l_sGaOw==
Ini Deretan Sanksi Baru AS dan Inggris untuk Rusia Jelang Perayaan Hari Kemenangan Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini, Senin 9 Mei 2022 Sentimen The Fed Bisa Jadi Momentum Beli Saham, Tapi… Sentimen The Fed Bisa Jadi Momentum Beli Saham, Tapi… LIVE : Harga emas 24 karat Pegadaian hari ini (08:19 WIB) LIVE : Proyeksi analis soal IHSG setelah libur Lebaran (07:58 WIB) Terpopuler • Hendak IPO, Ini Tantangan Bank Sumut di Sisi Kredit • Kinerja 15 Emiten Asuransi, Grup Kresna (ASMI) Hingga Salim (AHAP) Pimpin Lonjakan Premi • Jelang RUPS TUGU: Setelah Presdir, Satu Direksi & Komisaris Ikut Mengundurkan Diri • Inilah Penyebab Laba Bank Membesar Pada Kuartal I/2022, Dapat Berlanjut?

• Temuan Bank Mandiri, Begini Tingkat Belanja Masyarakat Terbaru

Profil dan Biodata Lengkap Ibu Chairul Tanjung Halimah binti Amih




2022 www.videocon.com