Kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut

kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut

Jawaban: Karomah Adalah Anugerah dari Allah, Ketahui Alasan Keistimewaannya bagi Para Wali. . Seperti diketahui, Mukjizat dan Irhas atas kehendak Allah untuk para Nabi terdahulu. Sedangkan Karomah adalah anugerah untuk para wali. Serta Ma'unah merupakan pertolongan Allah di luar dugaan. Penjelasan: maaf kalau salah kalau betul jadikan jawaban terbaik Penjelasan: Kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang adalah merupakan pemberian Allah SWT disebut dengan KAROMAH.

Karomah ini secara bahasa artinya adalah suatu kehormatan, kemuliaan atau anugerah. Adapun secara istilah, Karomah atau Karamah adalah peristiwa luar biasa yang terjadi pada wali Allah atas kehendak Allah. semoga bermanfaat Setelah wafatnya Rasulullah SAWIslam dipimpin oleh para Khulafaur Rasyidin, yaitu para sahabat Rasullah SAW yang adil dan bijaksana sehingga perse โ€ฆ baran Islam sangat luas, salah satunya adalah sahabat Umar bin Khattab Radiyaullohu'an.

Dalam kepemimpinannya Islam berkembang ke berbagi belahan bumi dan Umar memiliki inovasi dalam ekonomi, negara dan lainnya. Tuliskan 2 perkembangan yang terjadi di masa kepemimpinan khalifah Umar bin Khattab Radiyaullohu'an 5.Berikut ini yang bukan merupakan larangan ketika wukuf adalah.

A.memakai pakaian berjahit B.memakai wewangian bagi perempuan C.membunuh hewa โ€ฆ n D.memakai pakaian berjahit bagi wanita 6.jamaah haji indonesia berangkat ke Padang Arafah satu hari menjelang wukuf.Hal itu untuk mengurangi kemacetan dan mempermudah pengaturan kendaraan dalam pemberangkatan jamaah haji.Wukuf dilaksanakan pada tanggal.zulhijah A.8 B.9 C.10 D.11 10.selama berada ditanah suci,pak ahmad mรจlakasanakan tawaf bersama istrinta setelah selesai salat subuh.Tawaf yang mereka laksanakan adalah tawaf A.sunah B.qudum C.ifada D.wada TOLONG YA BANTU CEPAT, YG BANTU SAMAยฒ PUNYA PENGALAMAN BELAJAR BARENG.MAKASIH Kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang adalah merupakan pemberian Allah SWT disebut dengan KAROMAH.

Karomah ini secara bahasa artinya adalah suatu kehormatan, kemuliaan atau anugerah. Adapun secara istilah, Karomah atau Karamah adalah peristiwa luar biasa yang terjadi pada wali Allah atas kehendak Allah. ยป Pembahasan Yang dimaksud dengan wali Allah SWT sebenarnya adalah orang-orang yang memiliki keutamaan karena kesalehan juga ketaatannya kepada Allah SWT.

Contoh wali Allah ini antara lain adalah Maryam Binti Imran, atau Amir Bin Fuhairah. Kejadian luar biasa yang disebut karomah ini apabila terjadi pada diri seorang nabi atau rasul maka disebut dengan MUKJIZAT. Adapun jika terjadi pada mereka yang adalah calon nabi maka disebut dengan IRHAS. ยป Pelajari Lebih Lanjut: โ€ข Materi tentang perbedaan mukjizat, karomah, irhas brainly.co.id/tugas/2848296 โ€ข Materi tentang contoh karomah brainly.co.id/tugas/2593713 โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข ยป Detil Jawaban Kode : - Kelas : SMP Mapel : Pendidikan Agama Islam Bab : Nabi & Rasul Kata Kunci : Karomah, Mukjizat, Karamah, Wali Ari telah lulus kuliah dari prodi s1 akuntansi dan bercita-cita ingin menjadi auditor internal yang tersertifikasi nasional, agar bisa bekerja di peru โ€ฆ sahaan go public.

ini karena banyak perusahaan go public mensyaratkan bahwa calon auditor internal yang akan direkrut harus tersertifikasi. apa saja yang harus dilakukan oleh ari supaya cita-citanya tercapai ketika hendak melaksanakan salat ashar berjamaah bersama teman-temannya, sania terlebih dahulu melaksanakan empat rakaat shalat.

pertanyaan yang tepat โ€ฆ berdasarkan sikap sania adalah.a. sania melaksanakan salat sunahb. salat sunah sebelum asar seharusnya dua rakaatc. perbuatan sania sia-siad. sania melaksanakan shalat sunah gairu muakadโ€‹
Anggapan yang telah menyebar di kaum muslimin pada umumnya, terutama yang ada di Indonesia bahwasanya yang disebut wali Allah adalah orang-orang yang memiliki kekhususan-kekhususan yang tidak dimiliki oleh orang-orang biasa.

Yaitu mampu melakukan hal-hal yang ajaib yang disebut dengan karomah para wali. Sehingga jika ada seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi tentang syariโ€™at Islam namun tidak memiliki kekhususan ini maka kewaliannya diragukan. Sebaliknya jika ada seseorang yang sama sekali tidak berilmu bahkan melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah dan meninggalkan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah taโ€™ala, namun dia mampu menunjukan keajaiban-keajaiban (yang dianggap karomah) maka orang tersebut bisa dianggap sebagai wali Allah.

Hal ini disebabkan karena kaum muslimin (terutama yang di Indonesia) sejak kecil telah ditanamkan pemahaman yang rusak ini. Apalagi ditunjang dengan sarana-sarana elektronik seperti adanya film-film para sunan yang menggambarkan kesaktian para wali[1]. Tentunya hal ini adalah sangat berbahaya yang bisa menimbulkan rusaknya aqidah kaum muslimin.

Ketahuilah Allah kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut telah menjelaskan dalam kitab-Nya dan sunnah Rosul-Nya bahwasanya Allah taโ€™ala memiliki wali-wali dari golongan manusia dan demikian pula syaithon juga memiliki wali-wali dari golongan manusia.

Maka Allah membedakan antara para wali Allah dan para wali syaithon.[2] Sebagaimana firman Allah taโ€™ala : }ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽู„ููŠู‘ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ูŠูุฎู’ุฑูุฌูู‡ูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุธู‘ูู„ูู…ูŽุงุชู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ููˆุฑู ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูƒูŽููŽุฑููˆุง ุฃูŽูˆู’ู„ููŠูŽุงุคูู‡ูู…ู ุงู„ุทู‘ูŽุงุบููˆุชู ูŠูุฎู’ุฑูุฌููˆู†ูŽู‡ูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ููˆุฑู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุธู‘ูู„ูู…ูŽุงุชู ุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู ู‡ูู…ู’ ูููŠู‡ูŽุง ุฎูŽุงู„ูุฏููˆู†ูŽ{ (ุงู„ุจู‚ุฑุฉ:257) Allah adalah wali (penolong) bagi orang-orang yang beriman.

Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir penolong-penolong mereka adalah thogut yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan-kegelapan. (Al-Baqoroh : 256) }ููŽุฅูุฐูŽุง ู‚ูŽุฑูŽุฃู’ุชูŽ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ูŽ ููŽุงุณู’ุชูŽุนูุฐู’ ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌููŠู…ู ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู„ูŽู‡ู ุณูู„ู’ุทูŽุงู†ูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽุจู‘ูู‡ูู…ู’ ูŠูŽุชูŽูˆูŽูƒู‘ูŽู„ููˆู†ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุณูู„ู’ุทูŽุงู†ูู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุชูŽูˆูŽู„ู‘ูŽูˆู’ู†ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู‡ูู…ู’ ุจูู‡ู ู…ูุดู’ุฑููƒููˆู†ูŽ{ (ุงู„ู†ุญู„:100-98) Jika engkau membaca Al-Qurโ€™an maka berlidunglah kepada Allah dari (godaan) syaithon yang terkutuk.

Sesungguhnya tidak ada kekuatan baginya terhadap orang-orang yang beriman dan mereka bertawakal kepada Robb mereka.

Hanyalah kekuatannya terhadap orang-orang yang berwalaโ€™ kepadanya dan mereka yang dengannya berbuat syirik. (An-Nahl :98-100) }ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุชู‘ูŽุฎูุฐู ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ูˆูŽู„ููŠู‘ุงู‹ ู…ูู†ู’ ุฏููˆู†ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽู‚ูŽุฏู’ ุฎูŽุณูุฑูŽ ุฎูุณู’ุฑูŽุงู†ุงู‹ ู…ูุจููŠู†ุงู‹{ (ุงู„ู†ุณุงุก:119) Dan barangsiapa yang menjadikan syaithon sebagai wali selain Allah maka dia telah merugi dengan kerugian yang nyata (An-Nisaโ€™ : 119) }ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ูŠูู‚ูŽุงุชูู„ููˆู†ูŽ ูููŠ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูƒูŽููŽุฑููˆุง ูŠูู‚ูŽุงุชูู„ููˆู†ูŽ ูููŠ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ุทู‘ูŽุงุบููˆุชู ููŽู‚ูŽุงุชูู„ููˆุง ุฃูŽูˆู’ู„ููŠูŽุงุกูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ุฅูู†ู‘ูŽ ูƒูŽูŠู’ุฏูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ูƒูŽุงู†ูŽ ุถูŽุนููŠูุงู‹{ (ุงู„ู†ุณุงุก:76) Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah dan orang-orang kafir berperang di jalan thogut.

Maka perangilah para wali-wali syaithon sesungguhnya tipuan syaithon itu lemah. (An-Nisaโ€™ : 76)[3] Maka wajib bagi kita untuk membedakan manakah yang merupakan wali-wali Allah dan manakah yang merupakan wali-wali syaithon, sebagaimana Allah dan Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam membedakannya.[4] Definisi wali Wali diambil dari lafal al-walayah yang merupakan lawan kata dari al-โ€˜adawah. Adapun arti dari al-walayah adalah al-mahabbah (kecintaan) dan al-qorbu (kedekatan).

Sedangkan arti al-โ€˜adawah adalah al-bugdlu (kebencian) dan al-buโ€™du (kejauhan). Sedangkan wali artinya yang dekat.[5] Siapakah yang disebut wali Allah ? Yang disebut wali Allah adalah orang yang dia mencintai Allah taโ€™ala dan dekat dengan Allah taโ€™ala. Dan orang seperti ini harus memiliki sifat-sifat berikut : 1. Dia harus ittibaโ€™ (mengikuti) Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, menjalankan perintah Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan menjauhi larangan-larangan beliau.

Berdasarkan firman Allah taโ€™ala: }ู‚ูู„ู’ ุฅูู†ู’ ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุชูุญูุจู‘ููˆู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ููŽุงุชู‘ูŽุจูุนููˆู†ููŠ ูŠูุญู’ุจูุจู’ูƒูู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽูŠูŽุบู’ููุฑู’ ู„ูŽูƒูู…ู’ ุฐูู†ููˆุจูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุบูŽูููˆุฑูŒ ุฑูŽุญููŠู…ูŒ{ (ุขู„ ุนู…ุฑุงู†:31) Katakanlah :โ€Jika kalian mencintai Allah maka ikutlah aku maka Allah akan mencintai kalian dan memaafkan kalian dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayangโ€ (Ali Imron :31) Ayat ini merupakan ayat ujian yang turun untuk menguji orang-orang yang mengaku mencintai Allah taโ€™ala (termasuk di dalamnya orang yang mengaku dia adalah wali Allah).

Jika dia benar mengikuti Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam maka kecintaannya kepada Allah taโ€™ala adalah benar, dan jika tidak maka cintanya adalah dusta. 2. Dia harus bersifat lembut kepada kaum muslimin dan keras kepada kaum kafir, dan berjihad di jalan Allah dan tidak takut dengan celaan orang-orang yang mencela, sesuai dengan firman Allah taโ€™ala: }ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุฑู’ุชูŽุฏู‘ูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ุนูŽู†ู’ ุฏููŠู†ูู‡ู ููŽุณูŽูˆู’ููŽ ูŠูŽุฃู’ุชููŠ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจูู‚ูŽูˆู’ู…ู ูŠูุญูุจู‘ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูุญูุจู‘ููˆู†ูŽู‡ู ุฃูŽุฐูู„ู‘ูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ุฃูŽุนูุฒู‘ูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ูƒูŽุงููุฑููŠู†ูŽ ูŠูุฌูŽุงู‡ูุฏููˆู†ูŽ ูููŠ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽู„ุง ูŠูŽุฎูŽุงูููˆู†ูŽ ู„ูŽูˆู’ู…ูŽุฉูŽ ู„ุงุฆูู…ู ุฐูŽู„ููƒูŽ ููŽุถู’ู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูุคู’ุชููŠู‡ู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุดูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงุณูุนูŒ ุนูŽู„ููŠู…ูŒ{ (ุงู„ู…ุงุฆุฏุฉ:54) Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang mutad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang muโ€™min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.

Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 5:54) Hal ini sangatlah bertentangan dengan sifat sebagian orang yang mengaku dirinya wali, atau dianggap wali oleh masyarakat yang sifatnya sangat dekat dengan orang-orang kafir, bahkan mengagumi orang-orang kafir. 3. Dia harus bertaqwa dan beriman, yaitu beriman dengan hatinya dan bertaqwa dengan anggota tubuhnya, sesuai dengan firman Allah taโ€™ala: }ุฃูŽู„ุง ุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูŽูˆู’ู„ููŠูŽุงุกูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ุง ุฎูŽูˆู’ููŒ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ุง ู‡ูู…ู’ ูŠูŽุญู’ุฒูŽู†ููˆู†ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ูˆูŽูƒูŽุงู†ููˆุง ูŠูŽุชู‘ูŽู‚ููˆู†ูŽ{ (ูŠูˆู†ุณ:-6263) Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih (hati).

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. (Yunus : 62,63) Maka barangsiapa yang mengaku sebagai wali Allah namun tidak memiliki sifat-sifat ini maka dia adalah pendusta.[6] Orang Gila Wali??? Oleh karena itu sungguh keliru persangkaan sebagian orang yang mengangkat orang gila sebagai wali. Bahkan sebagian orang meyakini bahwa orang gila tersebut hanyalah telah sampai kepada derajat kewalian jika telah gila dan tatkala ia belum gila ia belum menjadi wali sejati.

Berkata Ibnu Taimiyah dalam Al-Furqon ((Jika seorang hamba tidak bisa menjadi seorang wali hingga menjadi seorang yang beriman dan bertakwaโ€ฆmaka tentu telah diketahui bahwa tidak seorangpun dari orang-orang kafir dan orang-orang munafik yang merupakan wali Allah maka demikan pula orang-orang yang tidak sah imannya dan ibadahnya โ€“meskipun mereka tidak berdosa misalnya- โ€ฆsebagaimana orang gila dan anak-anak karena Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam telah bersabda ุฑูููุนูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽู„ูŽู…ู ุนูŽู†ู’ ุซูŽู„ุงูŽุซูŽุฉู ุนูŽู†ู ุงู„ู’ู…ูŽุฌู’ู†ููˆู’ู†ู ุงู„ู’ู…ูŽุบู’ู„ููˆู’ุจู ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูŽู‚ู’ู„ูู‡ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠููููŠู’ู‚ูŽ ูˆูŽุนูŽู†ู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฆูู…ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุณู’ุชูŽูŠู’ู‚ูุธูŽ ูˆูŽุนูŽู†ู ุงู„ุตู‘ูŽุจููŠู‘ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุญู’ุชูŽู„ูู…ูŽ โ€œDiangkat pena dari tiga (golongan), orang gila yang hilang akalnya hingga sadar, dari orang yang tidur hingga terjaga dan dari anak kecil hingga bermimpi (dewasa)โ€[7] โ€ฆNamun anak-anak yang mumayyiz (telah bisa membedakan/ sudah ngerti jika diberi tahu-pen) maka sah ibadah mereka dan diberi pahala menurut pendapat mayoritas ulama.

Adapun orang gila yang diangkat pena darinya maka ibadahnya sama sekali tidak sah berdasarkan kesepakatan para ulama, tidak sah keimanan yang dilakukannya (sebagaimana juga jika ia melakukan kekufuran), sholat, dan ibadah-ibadah yang lainnya. Bahkan menurut seluruh orang yang berakal bahwasanya orang gila tidak layak untuk mengerjakan urusan-urusan duniawi seperti berdagang dan industri. Maka tidak layak untuk menjadi penjual kain, atau penjual minyak wangi, tukang besi, tukang kayu.

Dan tidak sah transaksi-transaksi yang dilakukannya, tidak sah penjualannya, pembeliannya, nikahnya, cerainya, pembenarannya, persaksiannya, dan perkataan-perkataannya yang lainnya, bahkan seluruh perkataannya semuanya tidak ada artinya, tidak berkaitan dengan hukum syarโ€™i, tidak ada pahalanya, dan tidak ada hukuman.

Maka jika orang gila tidak sah keimanannya, ketakwaannya, demikian juga taqorrubnya kepada Allah dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban dan perkara-perakara yang sunnah, maka tidak boleh seorangpun yang meyakini bahwa ia adalah wali Allah, apalagi dalihnya adalah karena mukasyafat yang ia dengar dari orang gila tersebut atau karena perbuatan orang gila itu seperti ia telah melihat orang gila itu menunjuk kepada seseorang lalu orang tersebut meninggal atau terkapar.

Karena sesungguhnya telah diketahui bahwasanya orang-orang kafir dan orang-orang munafik dari kalangan kaum musyrikin dan ahlul kitab mereka juga memiliki mukasyafaat (mengungkap tabir rahasia)[8] dan perbuatan-perbuatan yang dibantu syaitan seperti para dukun dan tukang sihirโ€ฆmaka tidak boleh bagi seorangpun hanya sekedar berdalih dengan hal-hal tersebut untuk menunjukan bahwa seseorang adalah wali Allah -meskipun ia tidak mengetahui apakah orang itu melakukan perkara-perkara yang membatalkan kewaliannya kepada Allah-)).

Ibnu Abil โ€˜Izz berkata, โ€œAdapun yang terjadi pada sebagian mereka -tatkala mendengar lagu-lagu yang indah- berupa igauan dan berbicara dengan bahasa-bahasa yang lain dengan bahasa yang biasa digunakannya, maka itu adalah syaitan yang berbicara melalui lisannya sebagaiman syaitan yang berbicara melalui lisan orang yang kemasukan syaitan.

Ini semua merupakan perbuatan-perabuatan syaitan. Bagaimanakah mungkin hilangnya akal merupakan sebab atau ibadah atau syarat untuk menjadi wali Allah??, sebagaimana yang disangka oleh banyak orang-orang sesat. Bahkan seorang dari mereka berkata, ู‡ูู…ู’ ู…ูŽุนู’ุดูŽุฑูŒ ุญูŽู„ู‘ููˆ ุงู„ู†ู‘ูุธูŽุงู…ูŽ ูˆูŽุฎูŽุฑู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ ุณูŠูŽุงุฌูŽ ููŽู„ุงูŽ ููŽุฑู’ุถูŽ ู„ูŽุฏูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ุงูŽ ู†ูŽูู’ู„ูŽ ู…ูŽุฌูŽุงู†ููŠู’ู†ู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุณูุฑู‘ูŽ ุฌูู†ููˆู’ู†ูู‡ูู…ู’ ุนูŽุฒููŠู’ุฒูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽุจู’ูˆูŽุงุจูู‡ู ูŠูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู’ุนูŽู‚ู’ู„ู Mereka (orang-orang gila yang dianggap wali) telah membuka (ikatan) aturan (syariโ€™at) dan mereka memporak-porandakan pagar-pagar (aturan).

Maka tidak ada lagi (yang namanya) kewajiban bagi mereka dan tidak juga (yang namanya) sunnah (mustahab). Orang-orang gila, hanya saja rahasia kegilaan mereka adalah besar dimana akal sujud pada pintu-pintu rahasia tersebut Dan ini adalah perkataan orang yang sesat bahkan kafir, yang menyangka bahwa pada kegilaaan ada sebuah rahasia yang akal sujud pada pintu rahasia tersebut karena ia melihat dari sebagian orang-orang gila tersebut suatu mukaasyafah (penglihatan di masa datang) atau tindakan yang ajaib yang luar biasa yang hal itu disebabkan bantuan syaitan sebagaimana yang terjadi pada para tukang sihir dan para dukun.

Maka orang sesat ini menyangka bahwa setiap orang yang bisa mukasyafah atau melakukan hal yang luar biasa adalah seorang wali Allah. Barangsiapa yang berkeyakinan seperti ini maka ia adalah kafir. Allah telah berfirman }ู‡ูŽู„ู’ ุฃูู†ูŽุจู‘ูุฆููƒูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู† ุชูŽู†ูŽุฒู‘ูŽู„ู ุงู„ุดู‘ูŽูŠูŽุงุทููŠู†ู, ูŽู†ูŽุฒู‘ูŽู„ู ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ู‘ู ุฃูŽูู‘ูŽุงูƒู ุฃูŽุซููŠู…ู { (ุงู„ุดุนุฑุงุก : 221 -222 ) Apakah akan aku beritahukan kepadamu, kepada siapkah syaithon-syaithon itu turun ?, mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak dosa.

Mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaithon) itu, dan kebanyakan mereka adalah pendusta. (As-Syuโ€™aroโ€™ : 221-222) Dan setiap orang yang syaitan turun kepadanya maka pasti ia melakukan kedustaan dan kefajiranโ€[9] Ibnu Abil โ€˜Izz berkata, โ€œBarangsiapa yang meyakini bahwa sebagian orang-orang dungu (agak gila) โ€“yang meninggalkan ittibaโ€™ (mengikuti) Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam baik dalam pembicaraannya, amalan-malannya, maupun keadaan-keadaannya- bahwsanya mereka termasuk wali-wali Allah, dan lebih utama daripada para pengikut jalan Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam maka ia adalah orang yang sesat, mubtadiโ€™, dan salah dalam beraqidah.

Karena orang dungu tersebut kalau bukan ia adalah syaitan yang zindiiqโ€ฆ, atau seorang gila yang mendapat udzur. Maka bagaimana ia bisa lebih mulia daripada orang yang termasuk wali-wali Allah yang mengikuti sunnah-sunnah Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam??? Atau menyamainya???. Dan tidaklah dikatakan bahwa mungkin saja orang dungu ini mengikuti sunnah-sunnah Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam di batin meskipun ia meninggalkan ittibaโ€™ di dzohir??. Ini sesungguhnya juga merupakan kesalahan, dan yang wajib adalah mengikuti Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam baik secara batin maupun secara zhohirโ€[10] Diantara mereka ada yang berdalil dengan hadits yang lemah bahwasanya Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, ุงุทู‘ูŽู„ูŽุนู’ุชู ุนู„ู‰ ุงู„ุฌู†ู‘ูŽุฉู ููŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ุงูŽ ุงู„ุจูู„ู’ู‡ูŽ โ€œAku melihat surga ternyata aku lihat mayoritas penghuninya adalah orang-orang dunguโ€[11] Ibnu Abil โ€˜Izz berkata[12], โ€œHadits ini tidak sah dari Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan tidak boleh dinisbahkan kepada Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, karena surga hanyalah diciptakan bagi ulil Albab yang akal mereka mengantarkan mereka kepada beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya, dan hari ahkir.

Allah telah menyebutkan para penghuni surga beserta ciri-ciri dan sifat-sifat mereka dalam Al-Qurโ€™an dan Allah (sama sekali) tidak menyebutkan bahwa diantara sifat penduduk surga adalah kedunguan.

(Yang benar) Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam hanyalah bersabda ุงุทู‘ูŽู„ูŽุนู’ุชู ุนู„ู‰ ุงู„ุฌู†ู‘ูŽุฉู ููŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ุงูŽ ุงู„ููู‚ูŽุฑูŽุงุกูŽ โ€œAku melihat surga ternyata aku lihat mayoritas penghuninya adalah orang-orang faqirโ€[13] Islam adalah agama yang menyeru manusia untuk menggunakan akalnya memikirkan ayat-ayat Allah, dan bukanlah agama yang menyeru kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut kedunguan apalagi kegilaan, karena hal ini tidakalah bisa diterima fitroh manusia, tidak diterima oleh akal sehat, bahkan orang gilapun mungkin tidak menerimanya.

Akal adalah anggota tubuh yang membedakan antara hewan dan manusia, akal merupakan tempat memahami, dengan akal seseorang bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan, antara hak dan batil. Oleh karena itu agama Islam sangat memperhatikan penjagaan akal dan menjadikan sebagai tempat digantungkannya โ€œtaklifโ€ (beban untuk menjalankan hukum-hukum syariโ€™at) dan Islam menjatuhkan taklif bagi orang yang kehilangan akal sebagaimana sabda Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam ุฑูุน ุงู„ู‚ู„ู… ุนู† ุซู„ุงุซุฉ ุนู† ุงู„ู…ุฌู†ูˆู† ุงู„ู…ุบู„ูˆุจ ุนู„ู‰ ุนู‚ู„ู‡ ุญุชู‰ ูŠููŠู‚ ูˆุนู† ุงู„ู†ุงุฆู… ุญุชู‰ ูŠุณุชูŠู‚ุธ ูˆุนู† ุงู„ุตุจูŠ ุญุชู‰ ูŠุญุชู„ู… โ€œDiangkat pena dari tiga (golongan), orang gila yang hilang akalnya hingga sadar, dari orang yang tidur hingga terjaga dan dari anak kecil hingga bermimpi (dewasa)โ€[14] Oleh karena itu merupakan perbuatan kriminal seseorang terhadap akalnya sendiri dengan meniadakan fugsi akal dan menghentikan aktifitas akal.

Orang tersebut pantas untuk dihukum akibat perbuatan kriminalnya tersebut walaupun pada hakikatnya orang tersebut telah berbuat kriminal terhadap dirinya sendiri dimana ia telah menutup akalnya sehingga jadilah ia seperti hewan atau lebih parah yang tidak bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan karena alat yang digunakannya untuk membedakan telah ia rusakan fungsinya.

Apakah merupakan tindakan seorang yang memiliki akal untuk berusaha untuk menghilangkan fungsi akalnya?? yang akal merupakan alat yang sangat teliti yang mampu mencatat masa lalunya dengan baik serta membuatnya berjalan dalam jalan yang teratur, serta memberikan gambaran yang baik di masa depan, apakah ada orang yang berakal yang ingin menghilangkan fungsi akalnya??.

Sesungguhnya orang yang menghilangkan fungsi akalnya dengan sengaja, perbuatannya itu menunjukan bahwa ia bisa tanpa akalnya, ia tidak butuh dengan akalnya, ia ingin berjalan di atas muka bumi dengan keadaannya yang tanpa akal, dia ingin seperti hewan-hewan yang tidak bisa membedakan, atau seperti benda-benda mati yang tidak bisa merasakan apa yang terjadi di daerah sekitarnya[15] Oleh karena itu orang-orang yang mendengarkan lagu-lagu hingga pingsan (hilang akal mereka) adalah para mubtadiโ€™ yang sesat, tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk berusaha melakukan perkara-perkara yang menyebabkan hilangnya akalnya, tidak ada seorang sahabat maupun seorang tabiโ€™in pun yang melakukan demikian, bahkan tatkala mereka mendengarkan Al-Qurโ€™an.

Akan tetapi mereka sebagaimana yang disifatkan oleh Allah ุฅูุฐูŽุง ุฐููƒูุฑูŽ ุงู„ู„ู‘ู‡ู ูˆูŽุฌูู„ูŽุชู’ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุชูู„ููŠูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุขูŠูŽุงุชูู‡ู ุฒูŽุงุฏูŽุชู’ู‡ูู…ู’ ุฅููŠู…ูŽุงู†ุงู‹ ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽุจู‘ูู‡ูู…ู’ ูŠูŽุชูŽูˆูŽูƒู‘ูŽู„ููˆู†ูŽ (ุงู„ุฃู†ูุงู„ : 2 ) Apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal (QS. 8:2) ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู†ูŽุฒู‘ูŽู„ูŽ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู ูƒูุชูŽุงุจุงู‹ ู…ู‘ูุชูŽุดูŽุงุจูู‡ุงู‹ ู…ู‘ูŽุซูŽุงู†ููŠูŽ ุชูŽู‚ู’ุดูŽุนูุฑู‘ู ู…ูู†ู’ู‡ู ุฌูู„ููˆุฏู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุฎู’ุดูŽูˆู’ู†ูŽ ุฑูŽุจู‘ูŽู‡ูู…ู’ ุซูู…ู‘ูŽ ุชูŽู„ููŠู†ู ุฌูู„ููˆุฏูู‡ูู…ู’ ูˆูŽู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฐูŽู„ููƒูŽ ู‡ูุฏูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽู‡ู’ุฏููŠ ุจูู‡ู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุดูŽุงุกู ูˆูŽู…ูŽู† kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽู…ูŽุง ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ู‡ูŽุงุฏู (ุงู„ุฒู…ุฑ : 23 ) Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qurโ€™an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah.Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.

(QS. 39:23)[16] Yang lebih parah dari orang gila yaitu yang diketahui melakukan perkara-perkara yang membatalkan tauhid, apakah seorang wali?? Ibnu Taimiyah berkata, ((Bagaimana lagi jika diketahui bahwasanya ia telah melakukan hal-hal yang membatalkan kewalian kepada Allah??, misalnya diketahui bahwasanya (1) ia tidak meyakini wajibnya mengikuti Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam secara dzohir dan batin namun ia hanya meyakini wajibnya mengikuti Rasulullah pada syariโ€™at-syariโ€™at yang dzhahir dan bukan yang batin, atau (2) meyakini bahwa para wali memiliki jalan menuju Allah yang berbeda dengan jalan para nabi.

Atau (3) ia berkata bahwa para nabi hanyalah mempersulit jalan atau (4) para nabi hanyalah teladan bagi orang-orang umum dan bukan teladan bagi orang-orang khusus dan yang semisalnya yang telah keluar dari mulut-mulut orang-orang yang mengaku-ngaku mereka adalah wali-wali Allah.

Mereka ini terdapat pada mereka perkara-perkara kekufuran yang membatalkan keimanan apalagi kewalian??. Barangsiapa yang berdalil dengan hal-hal aneh yang dilakukan oleh mereka untuk menunjukan kewalian mereka maka ia lebih sesat dari orang-orang Yahudi dan Nasrani)) Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh, ((Inilah yang menyebabkan bidโ€™ah-bidโ€™ah dan kesyirikan tersebar merajalela di negeri-negeri dikarenakan kesalahan keyakinan tentang wali (yaitu meyakini bahwa wali adalah orang yang bisa melakukan hal yang luar biasa meskipun ia adalah ahli maksiat โ€“pen).

Karena jika wali (palsu yang pada hakekatnya bukan wali) hidup dan fasik maka ia menjadikan masyarakat suka terhadap sebagian kemungkaran atau sebagian bidโ€™ah agar ia bisa memperoleh uang atau kedudukan atau yang lainnya dari mereka.

Masyarakatpun meyakini bahwa ia adalah seorang wali lalu merekapun mengikuti kemungkaran dan kebidโ€™ahan yang dilakukannya itu. Mereka berkata โ€œIni adalah wali fulanโ€. Untuk bisa menghancurkan kondisi yang seperti ini adalah dengan menegakkan dalil (menanamkan keyakinan kepada masyarakat) bahwa kewalian tidaklah diperoleh kecuali bagi orang-orang yang beriman dan bertakwaโ€ฆ (namun) para wali pendusta mereka menyebarkan kepada masyarakat bahwa amalan dzohir para wali tidak sama dengan amalan batin mereka sehingga mereka ingin menepis penjelasan (ahlussunnah) yang benar ini.

Mereka berkata, โ€œWali ini dzohirnya mengamalkan perkara-perkara (maksiat) namun di batinnya hatinya dan amalannya adalah untuk Allah. Diantara mereka ada suatu kelompok yang namanya โ€œAl-Malamiyahโ€ yang mereka adalah orang-orang yang karena ingin ikhlas maka mereka menampakkan perkara-perkara yang menyelisihi tauhid atau menyelisishi keistiqomahan, atau menyelisihi keikhlasan agar mereka dituduh dengan riyaโ€™[17]. Mereka berkata, โ€œKami menampakkan seperti ini demi keikhlasanโ€ agar tidak dikatakan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang riyaโ€™.

Maka merekapun menyembunyikan ketaatan mereka dan mereka menampakkan kefasikan agar mereka tidak berbuat riyaโ€™ di hadapan manusia.

Al-Fudhail bin โ€˜Iyadh telah berkata tentang orang-orang semodel mereka ini, ุงู„ุนู…ู„ ู„ุบูŠุฑ ุงู„ู„ู‡ ุฑูŠุงุก ูˆุชุฑูƒ ุงู„ุนู…ู„ ู„ุบูŠุฑ ุงู„ู„ู‡ ุดุฑูƒ โ€œBeramal karena selain Allah adalah riyaโ€™ dan meninggalkan amal karena selain Allah adalah kesyirikanโ€. Mereka menyangka mereka telah terlepas dari riyaโ€™ namun mereka terjatuh dalam kesyirikan karena mereka telah meninggalkan amal karena manusiaโ€ฆyaitu meninggalkan amalan-amalan yang wajib.))[18] Seorang wali tidaklah maksum sebagaimana seorang nabi Namun perlu diperhatikan bukanlah syarat seorang wali dia harus maโ€™sum (tidak pernah berbuat salah), dan tidak pula dia harus menguasai seluruh ilmu syariโ€™at.

Bahkan boleh baginya tidak mengetahui sebagian syariโ€™at atau masih samar baginya sebagian perkara agama. Oleh karena itu tidak wajib bagi manusia untuk mengimani seluruh apa yang dikatakan oleh seorang wali Allah karena dia bukanlah seorang nabi, tetapi seluruh yang dikatakannya dikembalikan kepada ajaran Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.

Jika sesuai, maka perkataannya diterima dan jika tidak, maka ditolak. Jika tidak diketahui apakah sesuai atau tidak dengan ajaran Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam maka tawaquf.[19] Dan inilah sikap yang benar kepada wali Allah.

Adapun sikap yang salah kepada wali Allah yaitu membenarkan semua apa yang diucapkan dan yang dilakukannya, atau sebaliknya jika melihat dia mengatakan atau melakukan sesuatu yang menyelisihi syariโ€™at maka langsung mengeluarkan dia dari kewaliannya.[20] Umar bin Al-Khotthob merupakan contoh wali Allah namun ia tidaklah maksum Umar bin Al-Khottob radhiyallahu โ€˜anhu adalah contoh seorang wali Allah, yang Rosulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda tentangnya ู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠู’ู…ูŽุง ู‚ูŽุจู’ู„ูŽูƒูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฃูู…ูŽู…ู ู†ูŽุงุณูŒ ู…ูุญูŽุฏู‘ูŽุซููˆู’ู†ูŽ ููŽุฅูู†ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ู…ูู†ู’ ุฃูู…ู‘ูŽุชููŠู’ ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ุนูู…ูŽุฑู Pada umat-umat sebelum kalian ada orang-orang yang muhaddatsun (yang mendapatkan sejenis ilham dari Allah)[21].

Kalaupun ada di kalangan umatku satu orang, maka dia adalah Umar.[22] ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูˆูŽุถูŽุนูŽ ุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู„ูุณูŽุงู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ูŠูŽู‚ููˆู’ู„ู ุจูู‡ู Sesungguhnya Allah meletakkan kebenaran pada lisan Umar yang ia mengucapkan kebenaran tersebut.[23] ู„ูŽูˆู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู†ูŽุจููŠู‘ูŒ ุจูŽุนู’ุฏููŠ ู„ูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุนูู…ูŽุฑูŽ Kalaulah ada nabi setelahku maka dia adalah Umar.[24] Hadits-hadits ini jelas menunjukan bahwasanya Umar radhiyallahu โ€˜anhu adalah seorang wali Allah, bahkan beliau mendapatkan ilham dari Allah. Selain itu beliau pernah melakukan hal-hal yang ajaib sebagaimana beliau pernah mengutus sebuah pasukan dan beliau mengangkat seorang pemuda yang bernama Sariyah untuk memimpin pasukan tersebut.

Tatkala Umar sedang berkhutbah di atas mimbar, beliau berteriak :โ€Wahai Sariyah, gunung !, wahai Sariyah, gunung !โ€. Lalu utusan pasukan tersebut menemui Umar dan berkata : โ€œWahai Amirul Muโ€™minin, kami bertemu musuh, tiba-tiba ada suara teriakan :โ€Wahai Sariyah, gunung!โ€, lalu kami menyandarkan punggung-punggung kami ke gunung kemudian Allah memenaggkan kamiโ€.[25] Beliau juga sangat ditakuti oleh Syaitan sebagaimana sabda Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam kepada Umar, ูŠูŽุง ุจู’ู†ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจ ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู†ูŽูู’ุณููŠ ุจููŠูŽุฏูู‡ู ู…ูŽุง ู„ูŽู‚ููŠูŽูƒูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ู‚ูŽุทู’ ุณูŽุงู„ููƒู‹ุง ููŽุฌู‘ู‹ุง ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุณูŽู„ูŽูƒูŽ ููŽุฌู‘ู‹ุง ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ููŽุฌู‘ููƒูŽ โ€œWahai Ibnul Khotthob, -demi Yang jiwaku berada di tanganNya- tidaklah syaitan bertemu dengan engkau di jalan manapun kecuali ia mencari jalan yang lainโ€[26] Namun hal ini tidak menunjukan bahwa Umar radhiyallahu โ€˜anhu harus maโ€™sum (terjaga dari kesalahan).

Kesalahan yang pernah beliau lakukan diantaranya [27]: 1. Yaitu Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berumroh pada tahun ke enam Hijroh bersama sekitar 1400 kaum muslimin โ€“mereka itu adalah yang berbaiโ€™at di bawah pohon- dan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam telah mengadakan perjanjian damai (perjanjian Hudaibiyah) dengan kaum musyrikin setelah melalui perundingan dengan kaum musrikin.

Keputusan perundingan tersebut adalah Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan kaum mukminin kembali ke Madinah pada tahun ini dan akan berumroh pada tahun yang akan datang. Dan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam memberi beberapa syarat terhadap mereka yang dalam syarat-syarat tersebut ada tekanan kepada kaum muslimin secara dzohir, sehingga hal itu memberatkan kebanyakan kaum muslimin, sedangkan Allah dan Rosul-Nya lebih mengetahui dengan maslahat yang ada di balik itu.

Umar radhiyallahu โ€˜anhu termasuk orang yang tidak setuju dengan hal itu, lalu berkata kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam :โ€Wahai Rosulullah, bukankah kita di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan ?โ€, maka Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menjawab :โ€Benarโ€, lalu Umar radhiyallahu โ€˜anhu berkata lagi :โ€Bukankah orang-orang yang terbunuh diantara kita masuk ke dalam surga dan orang-orang yang terbunuh di antara mereka masuk ke dalam neraka?โ€, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menjawab :โ€Benarโ€.

Umar radhiyallahu โ€˜anhu berkata :โ€Kenapa kita bersikap merendah pada agama kita?โ€, Nabi berkata :โ€Aku adalah Rosulullah dan Allah adalah penolongku dan aku bukanlah orang yang bermaksiat kepadanya.โ€, Umar radhiyallahu โ€˜anhu berkata :โ€Bukankah engkau berkata kepada kami bahwa kita akan mendatangi baitulloh dan berthowaf ?โ€, Nabi berkata :โ€Benarโ€.

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata lagi:โ€Apakah aku mengatakan kepadamu sesungguhnya engkau akan mendatanginya pada tahun ini?โ€, Umar radhiyallahu โ€˜anhu berkata :โ€Tidakโ€, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata :โ€Sesungguhnya engkau akan mendatanginya dan berthowaf.โ€ Umar pun mendatangi Abu Bakar radhiyallahu โ€˜anhu dan berkata kepadanya sebagaimana perkataannya kepada Rosulullah. Dan Abu Bakar radhiyallahu โ€˜anhu pun menjawab sebagaimana jawaban Rosulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, padahal dia tidak mendengar jawaban Rosulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam (kepada Umar).

Dan Abu Bakar radhiyallahu โ€˜anhu adalah orang yang lebih sering sesuai dengan Allah dan Rosul-Nya dari pada Umar radhiyallahu โ€˜anhu, dan Umar radhiyallahu โ€˜anhu mengakui kesalahannya dan berkata :โ€Aku benar-benar akan mengamalkannyaโ€[28] 2.

Ketika Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam wafat, Umar mengingkari kematian Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Namun tatkala Abu Bakar radhiyallahu โ€˜anhu berkata :โ€Sesungguhnya dia telah wafatโ€, maka Umar radhiyallahu โ€˜anhu pun menerimanya.[29] 3. Ketika Abu Bakar radhiyallahu โ€˜anhu memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat, maka Umar radhiyallahu โ€˜anhu berkata kepada Abu Bakar radhiyallahu โ€˜anhu :โ€Bagaimana bisa kita memerangi manusia, sedangkan Rosulullah bersabda :โ€Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku adalah Rosulullah.

Apabila mereka mengakui hal ini maka terjagalah darah-darah dan harta-harta mereka, kecuali dengan haknyaโ€โ€, maka Abu Bakar radhiyallahu โ€˜anhu berkata :โ€Bukanlah Rosulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda โ€œkecuali dengan haknyaโ€?, sesungguhnya zakat termasuk haknya.

Demi Allah kalau mereka itu menolak untuk membayar zakat kepadaku yang mereka membayarnya kepada Rosulullah maka aku akan memerangi mereka karena ketidakmauan merekaโ€. Berkata Umar radhiyallahu โ€˜anhu :โ€Demi Allah tidaklah ada, kecuali aku melihat Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi (orang-orang yang enggan membayar zakat), maka aku mengetahui bahwasanya dia adalah benarโ€[30] Faidah yang bisa diambil dari pemaparan ini adalah [31]: a.

Seorang wali tidak maโ€™sum, bisa berbuat salah, bahkan berkali-kali sebagaimana Umar yang salah kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut. b. Seorang wali bisa memiliki karomah sebagaimana Umar yang mendapat ilham dari Allah taโ€™ala. c. Tidak berarti seseorang yang mendapat karomah berarti lebih mulia daripada wali Allah yang tidak ada karomahnya[32].

Sebagaimana Abu Bakar radhiyallahu โ€˜anhu jelas lebih mulia daripada Umar radhiyallahu โ€˜anhu, namun dia tidak mendapatkan ilham dari Allah taโ€™ala dan tidak memiliki karomah-karomah sebagaimana yang dimiliki oleh Umar.

Berkata Ibnu Taimyah, ((Dan termasuk perkara yang perlu untuk diketahui bahwasanya karomah terkadang sesuai dengan kebutuhan seseorang.

Jika seorang yang lemah imannya membutuhkan karomah atau orang yang butuh maka Allah memberikannya karomah untuk manguatkan imannya dan memenuhi kebutuhannya. Sehingga orang yang kewaliannya lebih sempurna tidak butuh kepada karomah tersebut, maka tidaklah datang kepadanya seperti karomah tersebut karena derajatnya yang tinggi.

Dan tidak butuhnya ia kepada karomah tersebut bukan karena derajat kewaliannya yang kurang. Oleh karena itu munculnya karomah lebih banyak terjadi di generasi tabiin dari pada para sahabat. Berbeda dengan kejadian luar biasa yang terjadi melalui tangan-tangan para nabi untuk memberi petunjuk kepada manusia dan kebutuhan manusiaโ€ฆ)) d.

Seorang wali tetap kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah taโ€™ala dan Rosul-Nya dan menjauhi larangan-larangan Allah taโ€™ala dan Rosul-Nya. Sebagaimana Umar radhiyallahu โ€˜anhu yang tetap melaksanakan perintah Allah taโ€™ala dan RasulNya e.

Walaupun seorang wali, tapi perkataan dan perbuatannya harus ditimbang dengan Al-Kitab dan Sunnah Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam yang maโ€™sum. Sebagaimana ucapan Umar radhiyallahu โ€˜anhu dikembalikan (ditimbang) oleh Abu Bakar radhiyallahu โ€˜anhu dengan Sunnah Nabi.

Berkata Yunus bin Abdil Aโ€™la As-Shodafi : Saya berkata kepada Imam Syafiโ€™i : โ€œSesungguhnya sahabat kami โ€“yaitu Al-Laits- mengatakan :โ€Apabila engkau melihat sesorang bisa berjalan di atas (Permukaan) air, maka janganlah engkau anggap dia sebelum engkau teliti keadaan (amalan-amalan) orang tersebut, apakah sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.โ€, lalu Imam Syafiโ€™i berkata :โ€Al-Laits masih kurang, bahkan kalau engkau melihat seseorang bisa berjalan di atas air atau bisa terbang di udara, maka janganlah engkau anggap ia sebelum engkau memeriksa keadaan (amalan-amalan) orang tersebut apakah sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnahโ€.[33] Sehingga tidaklah benar anggapan bahwa Aresto adalah wali Allah karena Aresto adalah mentrinya Iskandar yang kafir (karena tidak ada wali Kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut dari orang kafir), yang sebagian orang (diantaranya Ibnu Sina) menyangka bahwa Iskandar adalah Dzulqornain.[34] f.

Seorang wali yang telah jelas bahwasanya perkataan atau perbuatannya menyelisihi Sunnah Nabi, maka dia harus kembali kepada kebenaran. Dan dia tidak menentangnya. Sebagaimana Umar radhiyallahu โ€˜anhu, beliau tidak membantah Abu Bakar radhiyallahu โ€˜anhu dengan berkata :โ€Tapi saya kan wali, saya kan mendapat ilham dari Allah, saya kan dijamin masuk surga, dan kalian harus menerima perkataan sayaโ€ g. Seorang wali harus mematuhi syariโ€™at Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.

Para Nabi saja kalau hidup sekarang harus mengikuti syariโ€™at Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam apalagi para wali. Karena jelas para Nabi lebih bertaqwa daripada para wali dari selain Nabi. Ibnu Masโ€™ud radhiyallahu โ€˜anhu berkata :โ€Tidaklah Allah mengutus seorang nabipun kecuali Allah mengambil perjanjiannya, jika Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam telah diutus dan nabi tersebut masih hidup maka nabi tersebut harus benar-benar beriman kepadanya dan menolongnya.

Dan Allah memerintah Nabi tersebut untuk mengambil perjanjian kepada umatnya kalau Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam telah diutus dan mereka (umat nabi tersebut masih) hidup maka mereka akan benar-benar beriman kepadanya dan menolongnya.โ€[35] h.

Seorang wali tidak boleh menyombongkan dirinya dengan mengaku-ngaku bahwa dia adalah wali sebagaimana yang dilakukan oleh Ahlul kitab yang mereka mengaku bahwa mereka adalah wali-wali Allah. Allah berfirman : ููŽู„ุงูŽ ุชูุฒูŽูƒู‘ููˆู’ุง ุฃูŽู†ู’ููุณูŽูƒูู…ู’ ู‡ููˆูŽ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุจูู…ูŽู†ู ุงุชู‘ูŽู‚ูŽู‰ Dan janganlah kalian menyatakan diri-diri kalian suci. Dia (Allah) yang lebih mengetahui tentang orang yang bertaqwa. (An-Najm : 32 ) Orang mengaku dirinya adalah wali maka dia telah berbuat maksiat kepada Allah taโ€™ala karena telah melanggar larangan Allah taโ€™ala ini.

Dan orang yang bermaksiat tidak pantas disebut wali Allah.[36] i. Dan juga bukan termasuk syarat sebagai wali Allah yaitu dia harus memiliki karomah. Namun karomah merupakan tambahan kenikmatan yang Allah berikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki dari kalangan para wali-Nya.[37] j. Dan wali-wali Allah tidak memiliki ciri-ciri yang khusus pada perkara-perkara mubah yang bisa membedakannya dengan manusia yang lain.[38] Pakainnya sama, rambutnya sama, dan yang lainnya juga sama.

Ciri-ciri wali tidaklah kembali pada perkara-perkara dunia, namun ciri-ciri wali kembali pada perkara-perkara akhirat. Oleh karena itu jelas kesalahan sebagian orang menyangka bahwa ahlu suffah telah mencapai derajat kewalian karena sekedar sifat mereka yang miskin dan kumuh[39], demikian juga sebagian orang yang menyangka bahwa ciri-ciri wali adalah orang yang memakai sorban, atau memakai tongkat, atau membawa selendang hijau, atau ciri-ciri yang lainnya.

Contoh-contoh karomah para wali Allah [40]: 1. Amir bin Fahiroh mati syahid, maka mereka mencari jasadnya namun tidak bisa menemukannya. Ternyata ketika dia terbunuh dia diangkat dan hal ini dilihat oleh Amir bin Thufail.

Berkata Urwah:โ€Mereka melihat malaikat mengangkatnyaโ€[41] 2. Kholid bin Walid ketika mengepung musuh di dalam benteng yang kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut, maka para musuhpun berkata :โ€Kami tidak akan menyerah sampai engkau meminum racunโ€, lalu diapun meminum racun namun tidak mengapa.[42] 3.

Saโ€™ad bin Abi Waqqos adalah orang yang selalu dikabulkan doโ€™anya. Dan dengan doโ€™anya itulah dia berhasil mengalahkan pasukan Kisro dan menguasai Iroq.[43] 4. Abu Muslim Al-Khoulani, dia pernah dicari oleh Al-Aswad Al-โ€˜Anasi yang mengaku sebagai nabi.

Lalu Al-Aswad bertanya kepada beliau :โ€Apakah engkau bersaksi bahwa saya adalah Rosul Allah?โ€, lalu dia berkata :โ€Saya tidak dengarโ€, lalu dia bertanya lagi :โ€Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rosul Allah?โ€, beliau menjawab :โ€Yaโ€. Lalu disiapkan api dan beliau dilemparkan ke api.

Namun mereka mendapatinya sedang sholat di dalam kobaran api itu, api itu menjadi dingin dan keselamatan untuknya.[44] 5. Saโ€™id Ibnul Musayyib, di waktu hari-hari yang panas, beliau mendengar adzan dari kuburan Nabi ketika tiba waktu-waktu sholat, dan mesjid dalam keadaan kosong (karena panasnya hari โ€“pent), tidak ada seorangpun kecuali dia.[45] 6.

Uwais Al-Qoroni ketika wafat mereka menemukan di bajunya ada beberapa kain kafan yang sebelumnya tidak ada, dan mereka juga menemukan lubang yang digali di padang pasir yang sudah ada lahadnya. Lalu mereka mengafaninya dengan kefan-kafan teresbut dan menguburkannya di lubang tersebut.[46] 7. Asid Bin Hudlair membaca surat Al-Kahfi lalu turunlah bayangan dari langit yang ada semacam lentera dan itu adalah para malaikat yang turun karena bacaannya.[47] Dan malaikat pernah menyalami Imron bin Husain radhiyallahu โ€˜anhu [48].

Salman radhiyallahu โ€˜anhu dan Abu Dardaโ€™ radhiyallahu โ€˜anhu makan di piring lalu piring mereka bertasbih atau makanan yang ada pada piring tersebut bertasbih.[49] Abbad bin Bisyr radhiyallahu โ€˜anhu dan Asid bin Hudlair radhiyallahu โ€˜anhu kembali dari Rosulullah pada malam yang gelap gulita. Maka Allah menjadikan cahaya bagi mereka berdua, dan tatkala mereka berpisah maka terpisah juga cahaya tersebut.[50] 8. Muthorrif bin Abdillah jika memasuki rumahnya maka tempayan-tempayannya bertasbih bersamanya.[51] Dia bersama seorang sahabatnya berjalan di malam hari, lalu Allah menjadikan cayaha untuk mereka berdua.[52] 9.

Ahnaf bin Qois. Ketika dia wafat, tutup kepala milik seseorang terjatuh di kuburannya. Lalu orang tersebut mengambil topinya, dan dia melihat kuburan Ahnaf bin Qois telah menjadi seluas mata memandang.[53] 10. Utbah Al-gulam, dia meminta kepada Allah tiga perkara, yaitu suara yang indah, air mata yang banyak, dan makanan yang diperoleh tanpa usaha. Dan jika dia membaca Al-Qurโ€™an maka dia menangis dengan air mata yang banyak.

Dan jika dia bernaung di rumahnya dia mendapatkan makanan dan dia tidak tahu dari manakah makanan tersebut.[54] Siapakah wali-wali syaithon ? Allah taโ€™ala berfirman : }ูˆูŽู…ูŽู† ูŠูŽุนู’ุดู ุนูŽู† ุฐููƒู’ุฑู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ู†ูู‚ูŽูŠู‘ูุถู’ ู„ูŽู‡ู ุดูŽูŠู’ุทูŽุงู†ุงู‹ ููŽู‡ููˆูŽ ู„ูŽู‡ู ู‚ูŽุฑููŠู†ูŒ{ ุงู„ุฒุฎุฑู : 36 Dan barang siapa yang berpaling dari pengajaran Ar-Rohman, kami adakan baginya syaithon yang menyesatkan, maka syaithon itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (Az-Zukhruf : 36) }ู‡ูŽู„ู’ ุฃูู†ูŽุจู‘ูุฆููƒูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู† ุชูŽู†ูŽุฒู‘ูŽู„ู ุงู„ุดู‘ูŽูŠูŽุงุทููŠู†ู, ูŽู†ูŽุฒู‘ูŽู„ู ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ู‘ู ุฃูŽูู‘ูŽุงูƒู ุฃูŽุซููŠู…ู, ูŠูู„ู’ู‚ููˆู†ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ู’ุนูŽ ูˆูŽุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูู‡ูู…ู’ ูƒูŽุงุฐูุจููˆู†ูŽ{ (ุงู„ุดุนุฑุงุก : 221 -223 ) Apakah akan aku beritahukan kepadamu, kepada siapkah syaithon-syaithon itu turun ?, mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak dosa.

Mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaithon) itu, dan kebanyakan mereka adalah pendusta. (As-Syuโ€™aroโ€™ : 221-223) Contoh-contoh tipuan syaithon 1. Abdullah bin Soyyad. Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pernah menguji Ibnu Soyyad (seorang dukun yang hidup di zaman Nabi yang dia adalah seorang Yahudi). Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata kepadanya :โ€(Cobalah tebak) aku menyembunyikan sesuatu (di hatiku)โ€. Ibnu Soyyad berkata :โ€Ad-Dukhโ€ฆAd-Dukh.โ€.

Padahal sesungguhnya Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam sedang menyembunyikan surat Ad-Dukhon. Lalu Nabi berkata kepadanya :โ€Cih, kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut tidak mampu melampaui kemampuanmuโ€[55]. Ibnu Soyyad hampir betul menebak apa yang ada di hati Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, dan ini adalah suatu keajaiban, namun dengan bantuan syaithon.

Karena seorang yang normal maka dia tidak akan bisa mengetahui isi hati manusia, bahkan Nabi pun tidak mengetahui isi hati manusia kecuali yang diberitahu oleh Allah taโ€™ala. Para sahabat pun (kecuali Hudzifah, karena dia telah diberitahu oleh Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam) tidak mengetahui siapa-siapa saja orang munafik yang ada bersama mereka.

[56] 2. Al-Aswad Al-โ€˜Anasi yang mengaku sebagai nabi. Dia dibantu para syaithon yang memberitahukan kepadanya tentang perkara-perkara ghoib. Dan tatkala kaum muslimin memeranginya mereka khawatir para syaithonnya akan mengabarkan kepadanya apa yang mereka bicarakan tentang dirinya (yaitu bahwasanya dia akan dibunuh โ€“pent).

Namun istrinya sadar akan kekafiran suaminya maka diapun menolong kaum muslimin.[57] 3. Musailamah Al-Kadzdzab yang juga mengaku sebagai nabi, memiliki syaithon-syaithon yang memberitahukan perkara-perkara ghoโ€™ib kepadanya dan membantunya melakukan hal-hal yang ajaib[58].

Diantaranya dia pernah meludah di sumur sehingga air sumur tersebut menjadi melimpah.[59] 4. Al-Harits Ad-Dimasyqi, seorang pembohong besar yang muncul dan mengaku sebagi nabi di Syam pada zaman khalifah Abdul Malik bin Marwan (wafat tahun 86 H).

Al-Harits memiliki kemampuan ajaib. Para syaithonnya melepaskan kedua kakinya dari belenggu, dan membuatnya kebal senjata, dan batu pualam bisa bertasbih jika dia sentuh dengan tangannya. Dan dia telah memperlihatkan kepada manusia sekelompok orang-orang sedang berjalan di udara dan naik kuda terbang di udara, dia berkata : โ€œMereka adalah malaikatโ€, padahal mereka adalah jin.

Dan tatkala kaum muslimin menangkapnya untuk dibunuh, kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut ada orang yang menombaknya di tubuhnya, namun tidak mempan.

kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut

Maka Abdul Malik berkata kepadanya :โ€Engkau tidak menyebut nama Allahโ€. Lalu orang itu menyebut nama Allah dan berhasil membunuh Al-harits.[60] 5. Lia โ€˜Aminuddin, yang mengaku sebagai Imam Mahdi dan mengaku telah didatangi oleh Jibril. Keajaiban yang ada padanya yaitu dia mampu untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Bahkan dia mengaku adalah seseorang yang memberantas bidโ€™ah dan kesyririkan[61]. Syubhat-syubhat Syubhat pertama Sesungguhnya Rosulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam diutus kepada manusia pada umumnya namun tidak pada manusia-manusia yang khusus yaitu para wali, dan para wali tersebut tidak butuh kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, mereka memiliki cara tersendiri untuk mencapai Allah taโ€™ala.

Sebagaimana Nabi Musa tidaklah diutus kepada Nabi Khidir sehingga Nabi Khidir tidak wajib mengikuti syariโ€™at Musa.[62] Jawab [63]: Perkataan ini sebagaimana perkataan kebanyakan para ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) bahwasanya Rosulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam diutus kepada orang-orang yang tuna aksara bukan kepada mereka. Dan pendalilan dengan kisah antara Khidir dan Musa adalah tidak tepat, sebab : a.

Kisah yang terjadi antara nabi Musa dan Khidir hanyalah bisa dijadikan dalil kalau ternyata Khidir adalah seorang wali dan bukan seorang nabi. Ulama berselisih pendapat tentang status Khidir, ada yang berpendapat bahwa ia adalah seorang hamba yang sholeh, namun pendapat yang benar bahwasanya khidr adalah seorang nabi dan bukan seorang wali. Yang menunjukan bahwa Khidr adalah seorang nabi adalah sebagai berikut: 1.

Firman Allah ููŽูˆูŽุฌูŽุฏูŽุง ุนูŽุจู’ุฏุงู‹ ู…ู‘ูู†ู’ ุนูุจูŽุงุฏูู†ูŽุง ุขุชูŽูŠู’ู†ูŽุงู‡ู ุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู‹ ู…ูู†ู’ ุนูู†ุฏูู†ูŽุง ูˆูŽุนูŽู„ู‘ูŽู…ู’ู†ูŽุงู‡ู ู…ูู† ู„ู‘ูŽุฏูู†ู‘ูŽุง ุนูู„ู’ู…ุงู‹ {65} Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. (QS. 18:65) Hal ini menunjukan bahwa Allah telah memberi wahyu kepada Khidir 2. Firman Allah ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ููˆุณูŽู‰ ู‡ูŽู„ู’ ุฃูŽุชู‘ูŽุจูุนููƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู† ุชูุนูŽู„ู‘ูู…ูŽู†ู ู…ูู…ู‘ูŽุง ุนูู„ู‘ูู…ู’ุชูŽ ุฑูุดู’ุฏุงู‹ {66} ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ู„ูŽู† ุชูŽุณู’ุชูŽุทููŠุนูŽ ู…ูŽุนููŠูŽ ุตูŽุจู’ุฑุงู‹ {67} ูˆูŽูƒูŽูŠู’ููŽ ุชูŽุตู’ุจูุฑู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ุชูุญูุทู’ ุจูู‡ู ุฎูุจู’ุฑุงู‹ {68} ู‚ูŽุงู„ูŽ ุณูŽุชูŽุฌูุฏูู†ููŠ ุฅูู† ุดูŽุงุก ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽุงุจูุฑุงู‹ ูˆูŽู„ูŽุง ุฃูŽุนู’ุตููŠ ู„ูŽูƒูŽ ุฃูŽู…ู’ุฑุงู‹ {69} ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุฅูู†ู ุงุชู‘ูŽุจูŽุนู’ุชูŽู†ููŠ ููŽู„ูŽุง ุชูŽุณู’ุฃูŽู„ู’ู†ููŠ ุนูŽู† ุดูŽูŠู’ุกู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุฃูุญู’ุฏูุซูŽ ู„ูŽูƒูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ุฐููƒู’ุฑุงู‹ Musa berkata kepada Khidhr:โ€Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamuโ€ (QS.

18:66) Dia menjawab:โ€Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. (QS. 18:67) Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal ituโ€ (QS.

18:68) Musa berkata:โ€Insya Allah kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpunโ€.

(QS. 18:69) Dia berkata:โ€Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tetang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamuโ€.

(QS. 18:70) Berkata Ibnu Katsir, ((Jika seandainya Khidr adalah seorang wali dan bukan seorang nabi maka Musa tidak akan berbicara dengan dia seperti ini, dan tidaklah Khidir menjawab Musa dengan seperti ini. Bahkan Musa hanyalah meminta kepada Khidr agar menemaninya untuk memperoleh ilmu yang dimilikinya yang Allah khususkan baginya dan bukan untuk selainnya.

Kalau Khidir bukanlah nabi maka ia tidaklah maโ€™sum (terjaga dari kesalahan) dan tidaklah Musa -yang ia seorang nabi yang agung dan seorang rasul yang mulia, yang maโ€™sum- memiliki keinginan yang sangat besar dan permintaan yang besar untuk mencari ilmu seorang wali yang tidak maโ€™sum. Dan tidaklah ia akan bersungguh-sungguh untuk pergi mencari Khidir dan menelusurinya meskipun memakan waktu yang lama.

Dikatakan bahwa masa ia mencari Khidr adalah 80 tahun. Kemudian tatkala ia bertemu dengan Khidir maka Musapun bersikap tunduk kepadanya dan mengagungkannya serta mengikutinya sebagaimana orang yang ingin mencari faedah dari Khidir. Hal ini (semua) menunjukan bahwa Khidir adalah seorang nabi seperti Musa yang diberi wahyu kepadanya sebagaimana diberi wahyu kepada Musa.

Dan iapaun telah dikhususkan dengan ilmu laduuni dan rahasaia-rahasia kenabian yang tidak Allah beritahukan kepada Musa Al-Kaliim yang merupakan nabi bani Israil yang mulia. ))[64] 3. Ibnu Katsir kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut, ((Khidir memberanikan diri untuk membunuh anak tersebut, dan tidaklah hal itu dilakukannya kecuali karena wahyu yang disampaikan kepadanya oleh malaikat pemberi kabar.

Dan ini merupakan dalil tersendiri akan kenabian Khidir dan petunjuk yang jelas akan kemaโ€™sumannya, karena seorang wali tidak boleh baginya untuk membunuh jiwa manusia hanya dengan sekedar apa yang diilhamkan ke dadanya. Karena perasaan (yang diilhamkan) kepadanya tidaklah maโ€™sum, mungkin saja perasaannya itu.

salah Dan ini merupakan hal yang disepakati. Maka tatkala Khidir maju membunuh anak tersebut yang belum dewasa dengan ilmunya bahwa anak itu jika mencapai usia dewasa akan membawa kedua orangtuanya kepada kekufuran karena besarnya kecintaan kedua orangtuanya kepadanya sehingga menyebabkan keduanya mengikutinya, maka membunuh anak tersebut ada kemaslahatan yang besar yang lebih daripada dibiarkan hidup demi menjaga kedua orangtuanya dari kekufuran dan akibat kekufuran.

Hal ini menunjukan akan kenabian Khidir dan ia dibantu oleh Allah dengan kemaโ€™sumannya))[65] 4. Berkata Ibnu Katsir, ((Tatkala Khidir menjelaskan kepada Musa sebab-sebab perbuatannya, dan ia menerangkan hakikat perkaranya maka ia berkata setelah itu, ุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู‹ ู…ู‘ูู† ุฑู‘ูŽุจู‘ููƒูŽ ูˆูŽู…ูŽุง ููŽุนูŽู„ู’ุชูู‡ู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู…ู’ุฑููŠ {82} โ€œSebagai rahmat dari Rabbmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiriโ€.

(QS. 18:82) Yaitu, โ€œApa yang telah aku perbuat bukanlah dari perasaanku akan tetapi aku diperintahkan untuk melakukannya dan diwahyukan kepadakuโ€ Maka keempat sisi di atas ini menunjukan akan kenabian Khidir, dan hal ini tidaklah menafikan kewaliannya bahkan tidak menafikan kerasulannya sebagaimana pendapat yang lainโ€ฆ Dan jika telah tetap apa yang kami sebutkan maka tidak tersisa dalil dan sandaran yang bisa dipegang oleh orang yang mengatakan kewalian Khidir bahwasanya seorang wali terkadang bisa mengetahui hakikat perkara-perkara tanpa diketahui oleh para pemimpin syariโ€™at yang zhohir (para rasul)โ€ฆ))[66] b.

Kalaulah memang Khidir adalah seorang wali bukan seorang nabi maka nabi Musa tidaklah diutus kepada Khidir (tetapi hanya diutus untuk bani Isroil), sehingga Khidir tidaklah wajib mengikuti nabi Musa โ€˜alaihissalam. Oleh karena itu Khidir berkata kepada Musa : โ€œAku diatas ilmu yang diajarkan Allah kepadaku yang tidak kau ketahui dan engkau di atas ilmu yang Allah mengajari engkau yang aku tidak mengetahuinyaโ€[67].

Dan tidak boleh bagi seorangpun yang sampai kepadanya risalah Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam untuk berkata sebagaimana perkataan Khidir ini. Adapun Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam risalahnya umum untuk seluruh jin dan manusia. Bahkan jika ada orang yang lebih mulia dari Khidir (seperti Ibrohim, Musa, dan Isa) bertemu dengan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, maka dia wajib mengikuti Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.

Apalagi Khidir jika ia hidup di zaman Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam [68] tentu lebih wajib lagi baginya untuk mengikuti syariโ€™at Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Allah taโ€™ala berfirman dalam surat Ali Imron : 81 : }ูˆูŽุฅูุฐู’ ุฃูŽุฎูŽุฐูŽ ุงู„ู„ู‘ู‡ู ู…ููŠุซูŽุงู‚ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ููŠู’ู†ูŽ ู„ูŽู…ูŽุง ุขุชูŽูŠู’ุชููƒูู… ู…ู‘ูู† ูƒูุชูŽุงุจู ูˆูŽุญููƒู’ู…ูŽุฉู ุซูู…ู‘ูŽ ุฌูŽุงุกูƒูู…ู’ ุฑูŽุณููˆู„ูŒ ู…ู‘ูุตูŽุฏู‘ูู‚ูŒ ู„ู‘ูู…ูŽุง ู…ูŽุนูŽูƒูู…ู’ ู„ูŽุชูุคู’ู…ูู†ูู†ู‘ูŽ ุจูู‡ู ูˆูŽู„ูŽุชูŽู†ุตูุฑูู†ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุฃูŽู‚ู’ุฑูŽุฑู’ุชูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽุฎูŽุฐู’ุชูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูู…ู’ ุฅูุตู’ุฑููŠ ู‚ูŽุงู„ููˆุงู’ ุฃูŽู‚ู’ุฑูŽุฑู’ู†ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุงุดู’ู‡ูŽุฏููˆุงู’ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุงู’ ู…ูŽุนูŽูƒูู… ู…ู‘ูู†ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽุงู‡ูุฏููŠู†ูŽ{ โ€Dan (ingatlah) tatkala Allah mengambil perjanjian dari para nabi:โ€Sungguh apa saja yang Aku berikan kepada kalian berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepada kalian seorang Rosul yang membenarkan apa yang ada pada kalian, niscaya kalian akan sungguh-sungguh beriman kepada Rosul tersebut dan sungguh-sungguh akan menolongnyaโ€.

Allah berfirman :โ€Apakah kalian mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu ?โ€, mereka menjawab :โ€Kami mengakuiโ€. Allah berfirman :โ€Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kalian.โ€ Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda ูุฅู†ู‡ ู„ูˆ ูƒุงู† ู…ูˆุณู‰ ุญูŠุง ุจูŠู† ุฃุธู‡ุฑูƒู… ู…ุง ุญู„ ู„ู‡ ุฅู„ุง ุฃู† ูŠุชุจุนู†ูŠ โ€œSesungguhnya kalau Musa hidup di tengah-tengah kalian maka tidaklah boleh baginya kecuali mengikuti akuโ€[69] Berkata Ibnu Katsir, โ€œRasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam adalah penutup para nabi selamanya hingga hari kiamat, dan dia adalah Imam yang teragung yang seandainya jika ia hidup di zaman kapan saja maka yang wajib adalah mendahulukan ketaatan kepadanya di atas ketaatan kepada seluruh nabi-nabi yang lain.

Oleh karena itu Nabilah yang mengimami mereka tatkala malam isroโ€™ miโ€™roj tatkala para nabi berkumpul di baitul maqdis. Dan ia juga (satu-satunya) pemberi syafaโ€™at di padang mahsyar agar Allah datang untuk memutuskan perkara diantara hamba-hambaNya, dan ia adalah Al-Maqoom Al-Mahmuud yang tidak pantas kecuali kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallamโ€[70] c.

Apa yang telah dilakukan oleh Khidir[71] tidaklah menyelisihi syariโ€™at Musa. Musa tidaklah mengetahui sebab yang membolehkan hal-hal itu. Dan ketika Khidir menjelaskan sebab-sebab tersebut Musa menyetujuinya. Sehingga berkata Ibnu Abbas kepada Najdah Al-Harwari ketika dia bertanya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu โ€˜anhu tentang membunuh anak-anak kecil: ุฅู† ูƒู†ุช ุนู„ู…ุช ู…ู†ู‡ู… ู…ุง ุนู„ู…ู‡ ุงู„ุฎุถุฑ ู…ู† ุฐู„ูƒ ุงู„ุบู„ุงู… ูุงู‚ุชู„ู‡ู…ุŒ ูˆุฅู„ุง ูู„ุง ุชู‚ุชู„ู‡ู… โ€œJika kamu mengetahui anak-anak tersebut sebagaimana yang diketahui oleh Khidir tentang anak kecil (yang dibunuhnya) maka bunuhlah mereka, dan jika tidak maka jangan.โ€[72] Berkata Ibnu Taimiyah dalam Al-Furqon, ((Sebagaimana dintara orang-orang kafir ada yang mengaku-ngaku bahwasanya ia adalah wali Allah padahal ia bukan wali Allah namun sebaliknya ia adalah musuh Allah maka demikian juga hal ini terdapat diantara orang-orang munafik yang menampakan Islam dan menampakkan pembenaran syahadatain dan menampakan bahwa mereka mengakui bahwa Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam diutus untuk seluruh manusia bahkan untuk seluruh jin dan manusia padahal di dalam batin mereka berkeyakinan yang sebaliknya (maksud beliau adalah orang-orang yang mengaku wali namun tidak mau mengamalkan syariโ€™at Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam -pen), contohnya โ€“ Mereka meyakini bahwa Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bukanlah seorang utusan Allah, ia hanyalah seorang raja yang ditaati yang mengatur manusia dengan kepandaiannya sebagaiamana raja-raja yang lain.

โ€“ Atau mereka berkata bahwasanya Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam hanyalah diutus kepada ummiyin (orang-orang yang tuna aksara) dan tidak diutus kepada ahli kitab sebagaimana yang didengungkan oleh kebanyakan orang-orang Yahudi dan Nasrani, โ€“ Atau ia diutus untuk seluruh manusia namun Allah memiliki wali-wali khusus yang Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tidaklah diutus kepada mereka, dan para wali itu tidak butuh kepadanya bahkan mereka memiliki jalan untuk menuju kepada Allah tanpa melalui jalannya Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam atau mereka (para wali) mengambil langsung dari Allah apa saja yang mereka butuhkan untuk dimanfaatkan tanpa melalui perantara โ€“ Atau Muhammad itu diutus dengan syariโ€™at yang dzhohir dan mereka (para wali) menyetujuinya dalam hal ini, adapun hakikat yang batin maka ia tidak diutus dengan hakikat batin, atau mereka mengatakan bahwa mereka lebih paham tentang hakekat batin, atau mereka mengatakan bahwa mereka mengerti hakekat batin sebagaimana Muhammad mengetahuinya hanya saja mereka mengetahuinya tanpa melalui jalannya, atau ia tidak mengetahui hakekat batin.

Sebagian mereka berkata bahwasanya ahlus suffah[73] (penghuni suffah) mereka tidak butuh kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tidaklah diutus kepada mereka, dan diantara mereka ada yang berkata bahwasanya Allah memberi wahyu kepada ahlus suffah di batin mereka berupa apa yang diwahyukan kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pada waktu malam miโ€™roj (dinaikkan ke sidratul muntaha) maka jadilah ahlus suffah kedudukannya seperti kedudukan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.

Mereka yang mengatakan demikian sungguh terlalu bodoh karena tidak mengetahui bahwasanya isroโ€™ miโ€™roj terjadi tatkala Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam di Mekah sebagaimana firman: }ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุฃูŽุณู’ุฑูŽู‰ ุจูุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ู„ูŽูŠู’ู„ุงู‹ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู’ุฃูŽู‚ู’ุตูŽู‰ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุจูŽุงุฑูŽูƒู’ู†ูŽุง ุญูŽูˆู’ู„ูŽู‡ู ู„ูู†ูุฑููŠูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุขูŠูŽุงุชูู†ูŽุง ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู‡ููˆูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ููŠุนู ุงู„ู’ุจูŽุตููŠุฑู{ (ุงู„ุงุณุฑุงุก:1) Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami.

Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. 17:1) Mereka juga tidak tahu bahwasanya suffah itu adanya di Madinah yaitu di utara masjid Nabawi yang ditempati oleh orang-orang yang asing yang tidak memiliki keluarga atau sahabat yang bisa ditinggali oleh mereka. Kaum mukminin mereka berhijroh ke Madinah maka barangsiapa yang memungkinkan bagi mereka untuk tinggal di suatu tempat maka di situlah ia tinggal dan barangsiapa yang tidak bisa maka ia tinggal di masjid Nabawi hingga mendapatkan tempat tinggal.

Dan bukanlah ahlus suffah adalah orang-orang tertentu yang selalu tinggal di suffah namun jumlah mereka terkadang sedikit dan terkadang banyak, seseorang tinggal di situ pada waktu tertentu kemudian meninggalkan tempat tersebut.

Para penghuni suffah mereka sama juga seperti kaum mukminin yang lainnya, mereka tidak memiliki keutamaan (kelebihan) khusus dalam bidang ilmu atau agama bahkan diantara mereka ada yang murtad (keluar) dari agama Islam dan dibunuh oleh Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam sebagaiamana โ€œUroniyyiinโ€ yang tidak betah tinggal di Madinah maka Nabi kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut mereka untuk mencari onta yang ada susunya dan memerintah mereka untuk meminum susunya dan air kencingnya.

Tatkala mereka sehat mereka membunuh penggembala onta tersebut dan membawa lari beberapa onta maka Nabipun mengutus pelacak untuk melacak jejak mereka lalu merekapun tertangkap dan dibawa di hadapan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam lalu Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam memerintah untuk memotong tangan-tangan dan kaki-kaki mereka dan mata-mata mereka di biarkan terbuka lalu mereka dijemur di bawah terik matahari dan mereka meminta minum namun tidak diberi minum.

Hadits tentang kisah mereka terdapat di shahihain (Bukhari dan Muslim) dari hadits Anas dan dalam hadits tersebut disebutkan bahwasanya mereka menghuni suffah[74], maka mereka juga menetap di suffah sebagaimana para penghuni yang lainnya. Dan suffah juga pernah ditinggali oleh seorang diantara kaum muslimin yang terbaik yaitu Saโ€™ad bin Abi Waqqosh dan ia adalah orang terbaik yang pernah tinggal di suffah kemudian ia berpindah dari suffah tersebut.

Demikian juga pernah ditinggali Abu Huroiroh dan yang lainnyaโ€ฆ. Adapun kaum Anshor mereka tidak termasuk penghuni suffah, dan demikian juga para sahabat senior seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Tolhah, Az-Zubair, Abdurrahman bin โ€˜Auf, Abu Ubaidah radhiyallahu โ€˜anhu dan para sahabat yang lain, mereka bukanlah termasuk penghuni suffah. Dan diriwayatkan bahwa Budak milik Al-Mugiroh bin Syuโ€™bah (yaitu yang telah membunuh Umar bin Al-Khothtob-pen) juga pernah tinggal di suffah.

Dan diriwayatkan juga bahwa Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata tentangnya, โ€œIni (Budak Mugiroh) adalah termasuk dari yang tujuhโ€, dan ini adalah hadits palsu berdasarkan kesepakatan para ulama meskipun diriwayatkan oleh Abu Nuโ€™aim dalam kitabnya Al-Hilyah, dan demikian juga semua hadits yang berkaitan dengan jumlah para wali, atau abdal, atau nuqobaโ€™, atau autaad, aqtoobโ€ฆ. Maksud dari pembicaraan ini ada di antara orang-orang yang pada dzhohirnya (tampak luarnya) mengakui risalah Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam untuk seluruh umat manusia namun di dalam batin mereka meyakini perkara-perkara yang membatalkan pengakuan dzohir mereka, dan mereka mengaku-ngaku bahwa mereka adalah para wali Allah padahal mereka menyimpan kekufuran di dalam batin merekaโ€ฆsebagaimana banyak dari orang-orang Yahudi dan Nashrani yang mengaku-ngaku bahwa mereka adalah wali-wali Allah dan mereka meyakini bahwa Muhammad adalah utusan Allah namun mereka berkata, โ€œMuhammad hanyalah diutus untuk selain ahlul kitab dan tidak wajib bagi kami untuk mengikutinya karena telah diutus kepada kami rosul sebelum diaโ€โ€ฆ)) Beliau juga berkata, ((Harus terdapat dalam keimananmu bahwasanya engkau beriman bahwa Muhammad adalah penutup para nabi dan Allah telah mengutusnya untuk seluruh manusia dan jin, maka siapa saja yang tidak beriman dengan apa yang dibawa oleh Muhammad maka ia bukanlah seorang mukmin, apalagi termasuk wali-wali Allah yang bertakwa.

Barangsiapa yang beriman dengan sebagian yang dibawanya dan kafir kepada sebagian yang lain maka ia adalah orang kafir dan bukan odrang mukmin sebagaimana firman Allah }ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽูƒู’ููุฑููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฑูุณูู„ูู‡ู ูˆูŽูŠูุฑููŠุฏููˆู†ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูููŽุฑู‘ูู‚ููˆุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฑูุณูู„ูู‡ู ูˆูŽูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ู†ูุคู’ู…ูู†ู ุจูุจูŽุนู’ุถู ูˆูŽู†ูŽูƒู’ููุฑู ุจูุจูŽุนู’ุถู ูˆูŽูŠูุฑููŠุฏููˆู†ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุชู‘ูŽุฎูุฐููˆุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุณูŽุจููŠู„ุงู‹ ุฃููˆู’ู„ูŽุฆููƒูŽ ู‡ูู…ู’ ุงู„ู’ูƒูŽุงููุฑููˆู†ูŽ ุญูŽู‚ู‘ู‹ุง ูˆูŽุฃูŽุนู’ุชูŽุฏู’ู†ูŽุง ู„ูู„ู’ูƒูŽุงููุฑููŠู†ูŽ ุนูŽุฐูŽุงุจู‹ุง ู…ูู‡ููŠู†ู‹ุง ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฑูุณูู„ูู‡ู ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูููŽุฑู‘ูู‚ููˆุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏู ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ุฃููˆู’ู„ูŽุฆููƒูŽ ุณูŽูˆู’ููŽ ูŠูุคู’ุชููŠู‡ูู…ู’ ุฃูุฌููˆุฑูŽู‡ูู…ู’ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุบูŽูููˆุฑู‹ุง ุฑูŽุญููŠู…ู‹ุง{ (ุงู„ู†ุณุงุก : 152-150) Sesungguhnya orang-orang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan:โ€Kami beriman kepada yang sebahagian dan kafir terhadap sebahagian (yang lain)โ€, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya.

Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya dan tidak membedakan seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya.

Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 4:150-152) Dan termasuk iman kepada Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam yaitu mengimani bahwa ia adalah perantara antara Allah dan makhluk-makhlukNya dalam menyempaikan perintahNya dan laranganNya, janji dan ancamanNya, perkara-perkara yang dihalalkan dan diharamkanNya.

Maka perkara yang halal adalah apa yang dihalalkan oleh Allah dan RasulNya dan yang haram adalah apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya, dan agama adalah apa yang disyariโ€™atkan oleh Allah dan RasulNya, maka barangsiapa yang meyakini bahwa seorang wali memiliki jalan menuju Allah selain jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam maka ia adalah orang kafir dan termasuk wali-wali syaitanโ€ฆ)) Beliau juga berkata, ((Kalau seseorang telah mencapai tingkatan dalam zuhud, ibadah, dan ilmu dalam tingkatan yang tinggi namun ia tidak beriman dengan seluruh apa yang dibawa Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam maka ia bukanlah orang yang beriman, dan bukan wali Allah sebagaimana kondisi para rahib dan pendeta yaitu ulama dan para ahli ibadah dari kalangan Yahudi dan Nashraniโ€ฆdan ia adalah orang kafir dan musuh Allah meskipun sekelompok orang menyangka bahwa ia adalah wali Allah)) Syubhat kedua Mereka (para wali syaithon) menganggap bahwa mereka mendapat wahyu langsung dari Allah -sebagaimana yang diserukan oleh Ibnu Arobi- dan bahwasanya mereka lebih baik dari para nabi yang mengambil ilmu dari Allah melalui perantara.

Mereka berkata :โ€Kenabian telah berakhir dengan wafatnya Rosulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, sedangkan kewalian belum berakhir[75].

Dan yang paling terakhir adalah yang lebih baik dari yang sebelumnyaโ€. Jawab : Ini adalah pemikiran sesat Ibnu Arobi yang sama sekali tidak bersandar kepada dalil.

Ketika dia mengetahui bahwa syariโ€™at ini sudah tidak bisa dirubah lagi hingga hari kiamat, (dan dia ingin keluar dari syariโ€™at) maka dia berkata :โ€Kenabian telah tertutup, tetapi kewalian belumโ€, dan dia menganggap bahwa kewalian lebih tinggi derajatnya dari pada kerosulan dan kenabian, sebagaimana dia berkata : ู…ูŽู‚ูŽุงู…ู ุงู„ู†ุจูˆุฉ ููŠ ุจุฑุฒุฎู ููˆูŠู‚ ุงู„ุฑุณูˆู„ ูˆ ุฏูˆู† ุงู„ูˆู„ูŠ Kedudukan kenabian berada di barzakh (pemisah antara dua dzat)[76], sedikit di atas (kedudukan) Rosul dan dibawah (kedudukan) Wali Hal ini tentunya pemutarbalikan syariโ€™at.

Seharusnya kenabian lebih khusus dari kewalian dan kerosulan lebih khusus daripada kenabian. Sehingga kedudukannya adalah kerosulan lebih tingi daripada kenabian dan kenabian lebih tinggi daripada kewalian.[77] Berkata Imam Abul โ€˜Izz Al-Hanafi :โ€Maka siapakah yang lebih kafir dari memisalkan dirinya dengan sebuah bata emas dan memisalkan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dengan bata perak, lalu dia menjadikan dirinya lebih tinggi daripada Nabi,โ€ฆโ€ฆ.bagaimana bisa samar kekufuran dari perkataannya (Ibnu Arobi) ini ?โ€ฆ.dan kekufuran Ibnu โ€œArobi lebih parah dari kekufuran orang-orang yang berkata : โ€œTidaklah kami beriman hingga kami diberikan apa yang diberikan kepada Rosulullahโ€ (Al-Anโ€™am : 124)โ€[78] Syubhat ketiga Kami tidak usah menjalankan syariโ€™at karena Allah taโ€™ala telah bersatu dengan kami para hambanya yang sholih.

Bukankah Allah taโ€™ala berkata dalam hadits qudsi : ูˆูŽ ู…ูŽุง ูŠูŽุฒูŽุงู„ู ุนูŽุจู’ุฏููŠ ูŠูŽุชูŽู‚ูŽุฑู‘ูŽุจู ุฅูู„ูŽูŠู‘ูŽ ุจูุงู„ู†ู‘ูŽูˆูŽุงููู„ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุฃูุญูุจู‘ูŽู‡ู, ููŽุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุญู’ุจูŽุจู’ุชูู‡ู ูƒูู†ู’ุชู ุณูŽู…ู’ุนูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูŽุณู’ู…ูŽุนู ุจูู‡ู ูˆูŽ ุจูŽุตูŽุฑูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูุจู’ุตูุฑู ูŠูู‡ู ูˆูŽูŠูŽุฏูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ูŠูŽุจู’ุดูุทู ุจูู‡ูŽุง ูˆูŽุฑูุฌู’ู„ูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ูŠูŽู…ู’ุดููŠ ุจูู‡ูŽุง, ูˆูŽู„ูŽุฆูู†ู’ ุณูŽุฃูŽู„ูŽู†ููŠ ู„ุฃูุนู’ุทููŠูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽู„ูŽุฆูู†ู ุงุณู’ุชูŽุนูŽุงุฐูŽู†ููŠ ู„ูŽุฃูุนููŠู’ุฐูŽู†ู‘ูŽู‡ู Dan hamba-Ku senantiasa bertaqorrub (mendekatkan dirinya) kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah (sunnah) hingga Aku mencintainya.

Apabila Aku mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang dia melihat dengannya, dan tangannya yang dia memukul dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya, dan jika dia meminta kepada-Ku maka akan aku berikan, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka aku akan melindunginya.[79] Jawab : Dzohir hadits ini adalah bukanlah Allah taโ€™ala menjadi pendengarannya, penglihatannya, tangannya, dan kakinya, tetapi dzohirnya adalah Allah taโ€™ala meluruskan (memberi petunjuk) kepada penglihatan, pendengaran, tangan dan kakinya, sehingga apa yang dilakukan oleh hamba tersebut selalu dibimbing oleh Allah taโ€™ala.

Adapun makna yang batil di atas adalah tidaklah mungkin, sebab : a. Ini merupakan aqidah wihdatul wujud (manunggaling kawulo gusti) yang sesat[80] karena bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qurโ€™an yang muhkam (jelas) yang tidak bisa lagi dipalingkan lagi maknanya. b. Hadits ini menunjukan bahwa syarat seseorang menjadi wali Allah yang sejati adalah ia harus melaksanakan perkara-perkara syairโ€™at yang merupakan kewajibannya, bahkan tidak cukup hanya sampai di situ bahkan ia harus melaksanakan perkara-perkara sunnah (mustahab) sehingga Allahpun mencintainya.

Dan demikianlah keadaan wali Allah yang sejati sepanjang hidupnya sehingga Allah senantiasa mencintainya Hadits ini sama sekali tidaklah menunjukan bahwa jika seseorang telah mencapai derajat kewalian (dicintai oleh Allah) maka ia boleh meninggalkan syariโ€™at bahkan hadits ini menunjukan yang sebaliknya, yaitu seorang wali senantiasa banyak beribadah dengan perkara-perkara yang wajib dan yang sunnah. Dan praktek penghulu para wali (yaitu Rasulullah r) senantiasa beribadah hingga akhir hayatnya.

Bahkan beliau meskipun sakit-sakitan hingga pingsan berulang-ulang beliau tetap berusaha untuk melaksanakan sholat secara berjamaโ€™ah[81].

c. Barang siapa yang memperhatikan hadits ini dengan baik maka dia akan faham tentang batilnya aqidah wihdatul wujud ini. Dalam hadits ini Allah taโ€™ala menetapkan adanya hamba (yang beribadah)[82] dan maโ€™bud (yang diibadahi), yang mendekat (bertaqorrub) dan yang didekati (ditaqorrubi), yang dicintai dan yang mencintai, yang meminta dan yang memberi, yang meminta perlindungan dan yang memberi perlindungan.

Maka hadits ini menunjukan adanya dua dzat yang berbeda, yang satu bukan yang lainnya. Dan bukan pula yang satu merupakan sifat atau bagian dari yang lainnya. d. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki si wali semuanya adalah sifat-sifat atau bagian-bagian pada makhluk yang baru tercipta yang sebelumnya belum ada (belum tercipta).

Maka tidak mungkin bagi siapa saja yang berakal untuk memahami bahwa pencipta yang awal (yaitu Allah) yang tidak ada sebelum Dia sesuatupun, akan menjadi pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki makhluk. Bahkan hal seperti inipun sulit untuk dibayangkan kalaupun kita anggap benar.[83] Perbedaan antara karomah wali Allah dan tipuan wali syaithon 1.

Bahwa karomah para wali tersebut disebabkan oleh keimanan dan ketaqwaan. Sedangkan keajaiban dan keluarbiasaan lain yang merupakan bantuan syaithon disebabkan oleh hal-hal yang merupakan larangan Allah taโ€™ala dan Rosulullah[84].

Jadi apabila di dalamnya mengandung unsur-unsur yang disenangi oleh syaithon, baik itu kemusyrikan, kedzoliman, atau kebidโ€™ahan, maka jelas yang terjadi pasti bukan karomah.

2. Karomah tidak bisa dibatalkan dengan bacaan-bacaan apa saja dan tidak bisa dilawan. Sedangkan kejadian-kejadian luar biasa lain yang merupakan bantuan syaithon bisa kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut dengan bacaan-bacaan ayat-ayat Allah seperti ayat kursi dan lain-lain 3. Karomah tidak bisa dipelajari sehingga menjadi suatu ilmu kedigdayaan yang baku.

Sedangkan kejadian-kejadian luar bisa yang berasal dari syaithon bisa dipelajari.[85] Sebagaimana karomah-karomah yang telah dimiliki oleh para salaf, tidak ada satu atsarpun yang menunjukan bahwa mereka pernah mengajarkan karomah mereka kepada orang lain.

Sebagaimana Umar radhiyallahu โ€˜anhu, beliau tidak pernah mengajarkan karomahnya kepada orang lain, kerena memang tidak bisa diajarkan. 4. Karomah pada umumnya tidak bisa dilakukan terus menerus, tetapi terjadi sesuai kehendak Allah bukan berdasarkan kehendak Wali yang mendapatkan karomah tersebut. Pengetahuan tambahan : 1. Seluruh orang yang beriman adalah wali-wali Allah.

Dan wali-wali yang paling mulia adalah para Nabi. Dan para Nabi yang paling mulia adalah para Rosul. Dan para Rosul yang paling mulia adalah para Rosul yang lima (Ulul โ€˜Azmi), dan diantara Ulul โ€˜Azmi yang paling mulia adalah Nabi Muhammad.[86] 2. Persamaan dan perbedaan antara Muโ€™jizat dan karomah. a. Persamaannya : Muโ€™jizat dan karomah sama-sama merupakan hal yang ajaib yang luar biasa (yang tidak bisa dilkukan olah orang biasa) yang Allah berikan kepada para hambanya.

b. Perbedaannya [87]: e. Muโ€™jizat hanya berlaku pada para nabi dan rosul, adapun karomah pada para wali. f. Muโ€™jizat diperoleh dengan kenabian, adapun karomah diperoleh dengan ketaqwaan. g. Karomah kedudukannya lebih rendah daripada muโ€™jizat. h. Akibat dari muโ€™jizat adalah baik, adapun efek samping dari karomah belum tentu.[88] i. Pemilik muโ€™jizat (yaitu para Nabi dan Rosul) menantang orang-orang yang menyelisihinya, adapun pemilik karomah tidak demikian.

3. Kita harus mengakui adanya karomah, tidak sebagaimana muโ€™tazilah yang mengingkari karomah dan berkata :โ€Kalau kita mengakui karomah, maka akan sama wali dengan Nabiโ€, oleh karena itu kami mengingkari karomah dan juga mengingkari hakikat sihir. Namun ini tidaklah benar sebab orang yang memiliki karomah tidaklah mengaku bahwa dia adalah seorang Nabi.[89] 4.

Hukum tenaga dalam, jika diatasnamakan Islam (biasanya dicampur dengan dzikir-dzikir asma Allah) maka harom. Kalau mereka menyatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk beribadah kepada Allah, maka kita katakan bahwa ini adalah bidโ€™ah sebab kenapa harus menggunakan tata cara dan gerakan-gerakan khusus yang tidak pernah diajarkan oleh Allah dan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Dan tidak ada dalil sama sekali bahwa dengan bacaan-bacaan dan gerakan-gerakan khusus yang mereka lakukan bisa mengahasilkan tenaga dalam.

Kalau mereka mengatakan tujuan mereka untuk beribadah dan untuk mempeoleh kekuatan, maka kita katakan bahwa mereka telah melakukan kesyirikan sebab niat ibadah mereka selain untuk Allah juga untuk hal yang lain.[90] Selain itu perkatek-praktek tenaga dalam yang ada menyelisihi syariโ€™at diantaranya : a.

Latihannya harus menggunakan kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut, padahal Rosulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam telah melarang seseorang untuk emosi, beliau bersabda : ู„ุง ุชุบุถุจ ูุฑุฏุฏ ู…ุฑุงุฑุง ู„ุง ุชุบุถุจ โ€œJanganlah engkau marahโ€, Rosulullah mengulanginya beberapa kali โ€œJanganlah engkau marahโ€ Rahasia mereka (yang latihan tenaga dalam) harus marah sebab dengan marah tersebut syaithon bisa masuk dalam tubuh mereka sehingga bisa memberi kekuatan kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut tenaga dalam mereka.

Sebagaimana sabda Rosulullah : ุฅู† ุงู„ุดูŠุทุงู† ูŠุฌุฑูŠ ู…ู† ุจู†ูŠ ุขุฏู… ู…ุฌุฑู‰ ุงู„ุฏู… Sesungguhnya syaithon mengalir dalam tubuh manusia sebagaimana aliran darah.

(Riwayat Bukhori) b. Ketika latihan, mereka sering tidak sadar, terutama ketika sedang memprkatekkan jurus mereka. Hal ini sama saja dengan sengaja membuat diri menjadi tidak sadar (alias mabuk), dan hal ini tidak boleh dalam Islam, sebab Islam menganjurkan kita untuk senantiasa menjaga akal kita sehingga bisa senantiasa berdzikir kepada Allah. c. Kadang disertai dengan puasa mutih (tidak boleh makan kecuali yang putih-putih), yang ini tidak ada syariโ€™atnya dalam Islam.

Atau untuk menjaga ilmunya dia harus menghindari pantangan-pantangan tertentu yang sebenarnya hal itu dihalalkan baginya sebelum dia memiliki ilmu tenaga dalam tersebut. Dan ini berarti mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah. Mencari karomah (kesaktian) tidaklah disyariโ€™atkan Dalam beribadah hendaknya kita berniat karena Allah bukan karena untuk mencari karomah (karena sama sekali tidak ada dalil yang menunjukan bahwa seorang mukmin harus mencari karomah/kesaktian dan keajaiban).

Bahkan beribadah dalam rangka untuk memperoleh kesaktian merupakan bentuk beribadah karena ingin memperoleh dunia yang diharamkan oleh Allah[91]. Allah berfirman: }ู…ู‘ูŽู† ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุฑููŠุฏู ุงู„ู’ุนูŽุงุฌูู„ูŽุฉูŽ ุนูŽุฌู‘ูŽู„ู’ู†ูŽุง ู„ูŽู‡ู ูููŠู‡ูŽุง ู…ูŽุง ู†ูŽุดูŽุงุก ู„ูู…ูŽู† ู†ู‘ูุฑููŠุฏู ุซูู…ู‘ูŽ ุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุง ู„ูŽู‡ู ุฌูŽู‡ูŽู†ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุตู’ู„ุงู‡ูŽุง ู…ูŽุฐู’ู…ููˆู…ุงู‹ ู…ู‘ูŽุฏู’ุญููˆุฑุงู‹{ (ุงู„ุฅุณุฑุงุก : 18 ) Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.

(QS. 17:18) }ู…ูŽู† ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุฑููŠุฏู ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุฉูŽ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุฒููŠู†ูŽุชูŽู‡ูŽุง ู†ููˆูŽูู‘ู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ูŽู‡ูู…ู’ ูููŠู‡ูŽุง ูˆูŽู‡ูู…ู’ ูููŠู‡ูŽุง ู„ุงูŽ ูŠูุจู’ุฎูŽุณููˆู†ูŽุŒ ุฃููˆู’ู„ูŽู€ุฆููƒูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ูููŠ ุงู„ุขุฎูุฑูŽุฉู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู ูˆูŽุญูŽุจูุทูŽ ู…ูŽุง ุตูŽู†ูŽุนููˆุงู’ ูููŠู‡ูŽุง ูˆูŽุจูŽุงุทูู„ูŒ ู…ู‘ูŽุง ูƒูŽุงู†ููˆุงู’ ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ{ (ู‡ูˆุฏ : 15-16 ) Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 11: 15-16) Namun yang Allah perintahkan hendaknya seorang mukmin berusaha untuk beristiqomah. Bahkan Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam yang merupakan penghulu dan pemimpin para wali bahkan pemimpin para nabi dan rasul telah diperintahkan oleh Allah untuk beristiqomah.

Allah berfirman kepada Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam }ููŽุงุณู’ุชูŽู‚ูู…ู’ ูƒูŽู…ูŽุง ุฃูู…ูุฑู’ุชูŽ ูˆูŽู…ูŽู† ุชูŽุงุจูŽ ู…ูŽุนูŽูƒูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุทู’ุบูŽูˆู’ุงู’ ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ุจูู…ูŽุง ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ ุจูŽุตููŠุฑูŒ{ (ู‡ูˆุฏ : 112 ) Maka istiqomahlah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas.

Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. 11:112) Berkata Ibnu Abil โ€˜Izz, โ€œMereka tidak mengetahui bahwasanya pada hakekatnya yang namanya karomah itu adalah melazimi keitiqomahan, dan bahwasanya Allah tidaklah memuliakan seorang hamba dengan memberikannya sebuah karomah yang lebih mulia daripada menjadikannya sesuai dengan apa yang dicintaiNya dan diridhoiNya yaitu taat kepadaNya dan taat kepada rasulNya, loyal kepada para walinya dan memusuhi musuh-musuhNyaโ€[92] Berkata Abu Ali Al-Jaurjani : โ€œJadilah engkau orang yang mencari keistiqomahan, jangan menjadi pencari karomah.

Sesungguhnya jiwamu bergerak (berusaha) dalam mencari karomah padahal Rob engkau mencari keistiqomahanmuโ€.[93] Berkata Syaikh As-Sahrowardi :โ€Ucapan ini adalah prinsip yang agung dalam perkara ini, karena sesungguhnya banyak mujtahid dan ahli ibadah mendengar salaf as-sholih, telah diberi karomat-karomat dan hal-hal yang luar biasa sehingga jiwa-jiwa mereka (para ahli ibadah itu) senantiasa mencari sesuatu dari hal itu (karomah tersebut), dan mereka ingin diberikan sedikit dari hal itu, dan mungkin diantara mereka ada yang hatinya prustasi dalam keadaan menuduh dirinya bahwa amal ibadahnya tidak sah karena tidak mendapatkan karomah.

Kalau mereka mengetahui rahasia hal itu (yaitu Allah tidak menuntut para hambanya untuk memperoleh karomah, tetapi yang Allah inginkan para hambanya beristiqomah โ€“pent) tentu perkara ini (mencari karomah) adalah perkara yang rendah bagi merekaโ€[94].

Keadaan orang-orang yang memiliki karomah : โ€“ Bertambah derajatnya karena apa yang dilakukannya merupakan ketaatan dan yukur kepada Allah โ€“ Semakin rendah derjatnya karena dia menggunakan karomahnya untuk bermaksiat kepada Allah.

(Misalnya dia sombong dengan karomah yang pernah dia alami, atau dia merasa telah bertaqwa dan yakin masuk surga dengan karomahnya itu). Contohnya yang terjadi pada Balโ€™aam bin Baโ€™uuroo. Beliau termasuk ahli ibadah di zaman bani Israil. Ia memiliki karomat, tidaklah ia meminta sesuatu kepada Allah kecuali Allah mengabulkannya.

Maka kaumnyapun mendatanginya dan memintanya agar berdoa keburukan atas nabi Musa dan kaumnya. Maka setelah kaumnya merayu-rayunya dan memaksanya akhirnya iapun memenuhi permintaan kaumnya maka Allahpun mencabut karomahnya tersebut[95]. Contoh yang lain adalah Lia Aminudiin yang konon kabarnya ia dahulu bisa menyembuhkan penyakit dengan membaca surat Al-Fatehah, akhirnya lama kelamaan iapun di datangi jin yang mengaku Jibril, akhirnya sekarang ia sesat dan menyesatkan.

โ€“ Tidak bertambah dan tidak pula berkurang kebaikan-kebaikannya. Jadilah karomahnya seperti perkara yang mubah.[96] Kota Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, 6 Syawwal 1426 H ( 10 November 2005 M) Disusun oleh Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja As-Soronji Daftar Pustaka : 1. Shahih Al-Bukhori, tahqiq DR Mushthofa Dib Al-Bagho, terbitan Dar Ibni Katsir 2. Shahih Muslim, tahqiq Muhammad Fuโ€™ad Abdil Baqi, terbitan Dar Ihya At-Turots Al-โ€˜Arobi 3. Sunan Abu Dawud, tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdilhamid, terbitan Darul Fikr 4.

Sunan At-Thirmidzi, tahqiq Ahmad Muhammad Syakir dan yang lainnya, Dar Ihyaโ€™ At-Turots, Beiruut 5. Sunan Ibnu Majah, tahqiq Muhammad Fuโ€™ad Abdul Baaqi, Darul Fikr Beiruut 6. Al-Ihsan fi taqriib Shahih Ibn Hibban, karya al-Amin โ€˜Ala-uddin al-Farisi, tahqiq Syuโ€™aib al-Arna-uth, cetakan kedua, Mu-assasah ar-Risalah 7. Shahih Ibni Khuzaimah, tahqiq DR Muhammad Kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut Al-Aโ€™dzomi, Al-Maktab Al-Islami 8.

Musnad Imam Ahmad, terbitan Maimaniah 9. Mushonnaf Ibni Abi Syaibah, tahqiq Kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut Yuusuf Al-Huut, Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh 10. Fathul Baari, Ibnu Hajar Al-โ€˜Asqolaani, tahqiq Muhibbuddin Al-Khoyhiib, Darul Maโ€™rifah (Beiruut) 11.

Al-Furqon baina auliyaurrohman wa auliyaussyaithon, karya Ibnu taimiyah, tahqiq Fawwaz Ahmad Zamarli, terbitan Darul Kutub Al-โ€˜Arobi 12. At-Taโ€™liqoot Al-Hisaan โ€˜alal Furqon, dari ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh. 13. Syarah Al-Ushul As-Sittah, karya Syaikh Utsaimin 14. Al-Qowaโ€™id Al-Mutsla, karya Syaikh Utsaimin, tahqiq Abu Muhammad Asyrof bin Abdil Maqsud, terbitan Adlwaโ€™ As-Salaf.

15. Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah, karya Abul โ€˜Izz Al-Hanafi, tahqiq DR Abdul Muhsin At-Turki dan Syuโ€™aib Al-Arnauth, cetakan pertama Muassasah Ar-Risaalah 16. Ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh Sayrah Matan Al-Aqiidah At-Thohawiyah, 17. Taqdiis Al-Asykhoosh fil fikri As-Suufii, Muhammad Ahmad Luuh, cetakan pertama, Dar Ibnul Qoyyim 18. Majalah As-Sunnah 03/III/1418 19. Al-Jadawil Al-Jamiโ€™ah 20. Adhwaโ€™ul bayan karya Syaikh Asy-Syingqithi, Darul Fikr 21. Tafsir Ibnu Katsir, terbitan Darul Fikr 22.

Al-Bidaayah wan Nihaayah, Ibnu Katsiir, Maktabatul Maโ€™aariif Beiruut 23. Tafsir At-Thobari, terbitan Darul Fikr 24. Ad-Dur Al-Manstuur, As-Suyuthi, Darul Fikr Beiruut 25. Abjadul โ€˜Ulum, Siddiiq bin Hasan Al-Qonuuji, tahqiq Abduljabbar Zakkar, Darul Kutub Al-โ€˜Ilmiyah 26. At-Taโ€™aariif, Al-Munaawii, tahqiq DR Muhammad Ridwan Ad-Dayah, cetakan pertama, Darul Fikr Al-Muโ€™aashir 27. Al-โ€˜Ilal Al-Mutanaahiyah, Ibul Jauzi, tahqiq Kholil Al-Miis, cetakan pertama Darul Kutub Alโ€™Ilmiyah 28.

An-Nihaayah fi ghoriibil hadits wal Atsar, Ibnul Atsiir, tahqiq Tohir Ahmad Az-Zaawi dan Mahmuud Muhammad At-Thonaahi, Daru Kutub Al-โ€˜Ilmiyah 29. Ghoriibul Hadits, Ibnul Jauzi, tahqiq DR Abdul Muโ€™thi Amiin Al-Qolโ€™aji, cetakan pertama, Darul Kutub Al-โ€˜Ilmiyah 30.

Lisaanul โ€˜Arob, Ibnu Manzhur, Dar Shodir 31. Majalah Al-Jamiโ€™ah Al-Islamiyah no 54 [1] Seperti film sunan Kalijaga, yang digambarkan bahwa beliau memperoleh derajat sunan setelah bertapa di pinggir sungai selama waktu yang lama, sehingga tubuh beliau tertimbun dengan tanah karena saking lamanya.

Jelas ini merupakan kekufuran!!!, Apakah derajat kewalian bahkan derajat sunan bisa diperoleh dengan meninggalkan kewajiban yang paling asasi yaitu sholat selama waktu yang lama karena bertapa di pinggir kali???. Apakah para sahabat Nabi r yang dipuji oleh Allah, yang sebagian mereka telah dijamin masuk surga demikian cara ibadah mereka??. Seandainya kaum muslimin di Indonesia mengikuti cara sunan Kalijaga sebagaimana di film yaitu bertapa dipinggir kali hingga waktu kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut lama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, dalam rangka memperoleh derajat kewalian maka saya rasa mereka semua akan mati bunuh diri karena tidak makan dan minum selama berminggu minggu.

Kemudian film-film seperti inilah yang semakin menjauhkan orang-orang kafir yang dari agama Islam, karena mereka menyangka iniliah ajaran Islam yang penuh dengan keanehan dan kedunguan serta kemunduran. [2] Al-Furqon hal 25 [3] Lihat pula surat-surat Al-Maidah :51-56, Al-Kahfi : 44, Al-Kahfi : 50, Ali Imron : 173-175 [4] Al-Ushul As-sittah hal 173 [5] Al-Furqon hal 31 [6] Al-Ushul As-Sittah hal 171,172 [7] HR Abu Dawud 4/140 (dan ini adalah lafal dari Abu Dawud), Ibnu Majah 1/658, Ibnu Hibban 1/356, Ibnu Khuzaimah 4/348 [8] Al-Mukaasyafah adalah kemampuan untuk menjelaskan hakikat sesuatu tanpa membutuhkan kepada pengamatan terhadap dalil-dalil (At-Taโ€™aariif I/672) Ilmu Al-Mukaasyafah dinamakan juga dengan ilmu batin yaitu suatu ibarat tentang cahaya yang nampak di hati tatkala hati disucikan dan dibersihkan dari sifat-sifat yang tercela.

Yang dengan cahaya tersebut terungkaplah banyak perkaraโ€ฆ(Abjadul โ€˜Ulum II/517) Dan yang dimaksud dengan mukaasyafah menurut orang-orang sufi yaitu dibukanya tabir hal-hal yang ghoib.

[9] Syarah Al-Aqiidah At-Thohaawiyah II/776 [10] Syarah Al-Aqiidah At-Thohaawiyah II/773 [11] HR Ibnu โ€˜Asakir dalam Tarikhnya 43/533, lihat takhrijnya dalam syarah al-aqiidah at-Thohawiyah II/773 dan Al-โ€˜ilal Al-Mutanaahiyah II/934-935. Lihat Dhoโ€™iiful Jamiโ€™ no 2959 Peringatan, kalaupun hadits ini benar maka makna balh dalam hadits ini bukanlah maknanya adalah orang-orang dungu, namun maknanya adalah orang-orang yang lalai dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah (An-Nihayah fi ghoriibil Hadits IV/283, Lisaanul โ€˜Arob XIII/477).

Berkata Al-Azhari, โ€œMereka adalah orang-orang yang tabiโ€™atnya diciptakan di atas kebaikan dan tidak mengenal keburukanโ€ (Goriibul Hadits Ibnul Jauzi I/87) [12] Syarah Al-Aqiidah At-Thohaawiyah II/774 [13] HR Al-Bukhari no 3069, 4902, 6083, 6180 Muslim no 2737 dan At-Thirmidzi no 2602, 2603 [14] HR Abu Dawud 4/140 (dan ini adalah lafal dari Abu Dawud), Ibnu Majah 1/658, Ibnu Hibban 1/356, Ibnu Khuzaimah 4/348 [15] Lihat pembahasan Syaikh Saโ€™d Nida dalam majalah Jamiโ€™ah Islamiyah no 54, hal 123-131 [16] Syarh Al-Aqiidah At-Thohawiyah II/774 [17] Dan praktek seperti ini ada di Indonesia sebagaimana penulis pernah berdialog dengan sebagian orang yang pernah mengikuti sebagian thoriqon-thoriqot sufiyah [18] Dari At-Taโ€™liqoot Al-Hisaan โ€˜alal Furqon [19] Al-Furqon hal 71, Al-Ushul As-Sittah hal 175 [20] Al-Furqon hal 82 [21] Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh, ((ู…ูุญูŽุฏู‘ูŽุซ yaitu ู…ูู„ู‡ูŽู… (diberi ilham) maka dilemparkan kebenaran dalam hatinya maka iapun menangkapnya.

Diungkapkan dengan lafal ู…ูุญูŽุฏู‘ูŽุซ (yang diajak bicara) karena pelakunya merasa ia telah diajak bicara dengan kebenaran tersebut, maka yang terjadi seakan-akan ada seseorang yang berbicara dengannya dalam batinya dan berkata ini dan itu.)) [22] Riwayat Bukhori no 3469 dan Muslim no 2398 [23] Riwayat Abu Dawud no 2962 dishahihkan oleh syaikh Al-Albani [24] Riwayat At-Thirmidzi no 3686, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani [25] Riwayat Bukhori no 3198, dan Muslim no 1610 [26] HR Al-Bukhari III/1199 no 3120, III/1347 no 3480, V/2259 no 5735, Muslim IV/1863 no 2396 [27] Al-Furqon hal 86,87 [28] Riwayat Bukhori no 2732, 2732, Lihat kisah jalannya perundingan Hudaibiyah secara lengkap pada HR Al-Bukhari no 2731,2732, Kitab As-Syurut.

Secara ringkas kejadiannya sebagai berikut: Nabi r bersama para sahabatnya (diantaranya adalah Abu Bakar dan Umar) pergi dari Madinah pada hari senin bulan Dzul Qoโ€™dah tahun ke enam Hijriah (Umdatul Qori 14/6), menuju Mekah untuk melaksanakan Umroh.

Tatkala Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan para sahabatnya sampai dan singgah di Hudaibiyah datanglah Budail bin Warqoโ€™ mengabarkan kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bahwa orang-orang musyrik di Mekah telah siap siaga untuk memerangi Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan para sahabatnya dan akan mengahalangi mereka mengerjakan umroh. Nabi รทpun berkata, โ€œSesungguhnya kami datang bukan untuk memerang seorangpun, namun kami datang untuk mengerjakan umroh.

Sesungguhnya peperangan (yang telah terjadi antara kaum muslimin dan kafir Quraisy secara berulang-ulang-pen) telah melemahkan kaum Quraisy dan telah memberi kemudhorotan kepada mereka. Jika mereka ingin maka aku akan memberikan waktu perdamaian (gencat senjata) antara aku dan orang-orang (yaitu orang-orang kafir Arab).

Jika (di masa perdamaian tersebut) kaum selain mereka (yaitu orang-orang kafir dari selain kafir Quraisy kota Mekah) mengalahkan aku maka mereka tidak perlu memerangiku lagi (karena aku telah dikalahkan oleh selain mereka-pen). Dan jika aku mengalahkan kaum selain mereka, maka jika mereka ingin mentaatiku sehingga masuk dalam Islam sebagaimana orang-orang masuk dalam Islam maka silahkan. Dan jika mereka enggan masuk dalam Islam maka selepas masa gencatan senjata kekuatan mereka telah kembali.

Namun jika mereka (sekarang) enggan untuk gencatan senjata maka demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, aku sungguh-sungguh akan memerangi mereka di atas agamaku hingga aku mati (dan aku bersendirian dalam kuburanku). Dan sesungguhnya Allah akan menolong agamaNyaโ€. Akhir cerita akhirnya orang-orang Quraisy setuju dengan gencatan senjata lalu mereka mengutus Suhail bin โ€˜Amr untuk menulis perjanjian damai dengan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.

Lalu datanglah Suhail bin โ€˜Amr, lalu iapun berkata kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam โ€œTulislah suatu pernyataan antara kami dan kalian!โ€, maka Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam memanggil penulis (yaitu Ali bin Abi Tholib) dan menyuruhnya untuk menulis Bismillahirrohmanirrohim. Suhail berkata, โ€œAdapun Ar-Rohim maka demi Allah, aku tidak tahu apa itu?, tapi tulislah saja bismikallahumma sebagaimana engkau pernah menulis demikianโ€ (karena kebiasaan orang jahilah dahulu mereka menulis โ€œbimikallahummaโ€ dan mereka tidak mengenal bismillahirromanirrohim, lihat Umdatul Qori 14/13).

Kaum muslimin (yaitu para sahabat Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam) berkata, โ€œDemi Allah kami tidak akan menulis kecuali bimillahhirrohmanirrohimโ€. Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata kepada si penulis, โ€œTulilah bismikallahummaโ€, kemudian beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam memerintahkan untuk menulis โ€œIni adalah keputusan Muhammad utusan Allahโ€.

Suhail berkata, โ€œDemi Allah kalau kami mengetahui bahwasanya engkau adalah utusan Allah maka kami tidak akan menghalangimu untuk umroh dan kami tidak akan memerangimu, tapi tulislah โ€œMuhammad bin Abdillahโ€. Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, โ€œDemi Allah aku adalah utusan Allah meskipun kalian mendustakan aku, tulislah โ€œMuhammad bin Abdillahโ€.

((Dalam riwayat yang lain dari hadits Al-Baroโ€™ โ€“HR Al-Bukhari no 3184- Dan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tidak (pandai) menulis maka iapun berkata kepada Ali, โ€œHapuslah tulisan โ€œUtusan Allah!โ€. Ali berkata, โ€œDemi Allah, aku tidak akan menghapusnya selamanyaโ€.

Nabi r berkata, โ€œPerlihatkanlah kepadaku tulisan tersebut!โ€, maka Alipun memperlihatkannya kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, lalu Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pun menghapusnya dengan tangannya)).

Lalu Nabi berkata kepada Suhail, โ€œDengan syarat kalian membiarkan kami untuk ke baitullah melaksanakan towafโ€. Suhail berkata, โ€œDemi Allah tidak (bisa demikan) โ€“Bangsa Arab akan mengatakan bahwa kami telah terpaksa (mengalah membiarkan kalian umroh-pen)- tapi kalian bisa umroh tahun depanโ€, lalu hal itupun di catat (dalam pernyataan perdamaian), lalu Suhai berkata (menambah pernyataan), โ€œDengan syarat tidak ada seorangpun yang datang dari kami (dari Mekah) meskipun ia berada di atas agamamu (Islam) kecuali engkau mengembalikannya kepada kamiโ€.

Para sahabat berkata, โ€œSubhanallah, bagaiamana dikembalikan kepada orang-orang musyrik padahal ia telah datang (kepada kami) dalam keadaan beragama Islam?โ€.

Dan tatkala mereka masih berunding membuat pernyataan perdamaian, tiba-tiba datang Abu Jandal anak Suhai bin โ€˜Amr dalam keadaan berjalan tertatih-tatih karena ada belenggu yang membelenggunya, ia telah lari dari bawah kota Mekah dan melemparkan dirinya di tengah-tengah para sahabat.

Berkata Suhai (ayah Abu Jandal), โ€œWahai Muhammad ini adalah orang pertama yang aku menuntut engkau untuk mengembalikannya kepadaku!โ€. Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, โ€œKita sama sekali belum selesai membuat pernyataan!โ€. Suhail berkata, โ€œKalau begitu, demi Allah, aku sama sekali tidak mau mengadakan perundingan damai denganmuโ€.

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, โ€œBiarkanlah ia (Abu Jandal) bersamaku!โ€, Suhail berkata, โ€œAku tidak akan membiarkannya bersamamu!โ€. Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, โ€œTidak, tapi engakau akan membiarkannya bersamaku, lakukanlah!โ€.

Suhail berkata, โ€œAku tidak akan melakukannyaโ€. Berkata Abu Jandal, โ€œWahai kaum muslimin, apakah aku dikembalikan kepada orang-orang musyrik (Mekah) padahal telah datang dalam keadaan beragama Islam?, tidakkah kalian melihat apa yang telah menimpaku?โ€, dan ia telah disiksa oleh orang-orang musyrik dengan siksaan yang keras karena bertahan di jalan Allah. Umar berkata,โ€Akupun mendatangi Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam lalu aku berkata kepadanya, โ€œBukankah engkau adalah benar seorang Nabi (utusan) Allah?โ€, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, โ€œTentu sajaโ€, Aku berkata, โ€œBukankah kita berada di atas kebenaran dan musuh kita berada di atas kebatilan?โ€, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, โ€œTentu sajaโ€, Aku berkata, โ€œLantas mengapa kita bersikap merendah pada agama kita?โ€.

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, โ€œAku adalah Utusan Allah dan aku tidak bermaksiat kepadaNya, dan Dia adalah penolongkuโ€. Aku (Umar) berkata, โ€œBukankah engkau perrnah mengatakan kepada kami bahwa kita akan mendatangi kaโ€™bah dan bertowaf di kaโ€™bah?โ€, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, โ€œIya, namun apakah aku mengabarkan kepadamu bahwa kita akan mendatangi kaโ€™bah tahun ini?โ€, Umar bekata, kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut.

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, โ€œSesungguhnya engkau akan mendatangi kaโ€™bah dan akan thowaf di sanaโ€. Umar berkata, โ€œAkupun mendatangi Abu Bakar, lalu aku katakana kepadanya, โ€œWahai Abu Bakarbukankah Nabi Muhammad adalah benar seorang Nabi (utusan) Allah?โ€, Abu Bakar berkata, โ€œTentu sajaโ€, Aku berkata, โ€œBukankah kita berada di atas kebenaran dan musuh kita berada di atas kebatilan?โ€, Abu Bakar berkata, โ€œTentu sajaโ€, Aku berkata, โ€œLantas mengapa kita bersikap merendah pada dalam agama kita?โ€, Abu Bakar berkata, โ€œWahai Umar, sesungguhnya ia adalah utusan Allah, dan tidak akan bermaksiat kepada Tuhannya, dan Tuhannya akan menolongnya, maka berpegangteguhlah dengan perintahnya dan janganlah menyelisihinya!โ€.

Aku berkata, โ€œBukankah ia pernah mengabarkan kepada kita bahwa kita akan mendatangi kaโ€™bah dan berthowaf di kaโ€™bah?โ€, Abu Bakar berkata, โ€œTentu saja, namun apakah ia mengabarkan kepadamu bahwa engkau akan mendatangi kaโ€™bah tahun ini?โ€, Aku berkata, โ€œTidakโ€, Abu Bakar berkata, โ€œEngkau akan mendatangi kaโ€™bah dan akan thowaf di sana!โ€. (HR Al-Bukhari no 2731, 2732, Fathul Bari 5/408-425, Umdatul Qori 14/3-14) Imam Nawawi berkata, โ€œPara ulama berkata bahwa bukanlah pertanyaan-pertanyaan Umar kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam di atas karena keraguan, namun karena karena beliau ingin mengungkap apa yang ia tidak pahami (kenapa Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bisa memutuskan demikian โ€“pen) dan untuk memotivasi (Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan Abu Bakar) untuk merendahkan orang-orang kafir dan memenangkan Islam sebagaimana hal ini merupakan akhlak beliau dan semangat dan kekuatan beliau dalam menolong agama dan menghinakan para pelaku kebatilan.

Adapun jawaban Abu Bakar kepada Umar yang seperti jawaban Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, hal ini merupakan tanda yang sangat jelas akan tingginya kemuliaan Abu Bakar dan dalamnya ilmu beliau serta menunjukan kelebihan beliau di atas para sahabat yang lain dalam pengetahuan dan kemantapan ilmu pada seluruh perkara tersebutโ€ (Al-Minhaj 12/141, atau cetakan Al-Maโ€™arif 12/353) [29] Riwayat Bukhori no 1241, 1242 [30] Riwayat Bukhori no 1399-1400 [31] Disimpulkan dari Al-Furqon hal 85-88 [32] Ini adalah perkara yang sangat penting sekali yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin [33] Syarah Aqidah At-Tohawiyah II/773 [34] Al-Furqon hal 42 [35] Lihat tafsir Ibnu Katsir jilid 1, Al-Furqon hal 92 [36] Syarah Al-Ushul As-Sittah hal 170 [37] Majalah As-Sunnah 03/III/1418 hal 25 [38] Al-Furqon hal 69 [39] Lihat penjelasan Syaikh Sholeh Alu Syaikh dalam At-Taโ€™liqoot Al-Hisaan [40] Diringkas dari Al-Furqon hal 154-157 [41] As-Siyar 2/224 [42] Al-Furqon hal 154 [43] Riwayat At-Thirmidzi no 3751 dan Ibnu Hibban no 2215 [44] As-Siyar 4/8,9 [45] Riwayat Al-Lalikai dalam Al-Karomat hal 165-166 [46] Al-Furqon hal 157 [47] Riwayat Bukhori no 5018 [48] Riwayat Muslim no 1226 [49] Kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut 2/348 [50] Riwayat Bukhori no 3805 [51] As-Siyar 4/195 [52] As-Siyar 4/86 [53] As-Siyar 5/60 [54] As-Siyar 9/7 [55] Riwayat Bukhori no 1354, Al-Furqon hal 158 [56] Bahkan Rasulullah r sendiri tidak mengetahui seluruh orang munafik.

Allah berfirman ูˆูŽู…ูู…ู‘ูŽู†ู’ ุญูŽูˆู’ู„ูŽูƒูู… ู…ู‘ูู†ูŽ ุงู„ุฃูŽุนู’ุฑูŽุงุจู ู…ูู†ูŽุงููู‚ููˆู†ูŽ ูˆูŽู…ูู†ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูŽุฏููŠู†ูŽุฉู ู…ูŽุฑูŽุฏููˆุงู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูููŽุงู‚ู ู„ุงูŽ ุชูŽุนู’ู„ูŽู…ูู‡ูู…ู’ ู†ูŽุญู’ู†ู ู†ูŽุนู’ู„ูŽู…ูู‡ูู…ู’ (ุงู„ุชูˆุจุฉ : 101 ) Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah.

Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka.

(QS. 9:101) Hal ini juga sesuai dengan hadits tentang Usamah bin Zaid yang membunuh seorang kafir yang ketika pedang Usamah telah di depan matanya tiba-tiba si kafir tersebut mengucapkan kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut ilaha illallah, namun Usamah tetap membunuhnya.

Dan hal ini dilaporkan kepada Rasulullah. r, lalu Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata kepada Usamah :โ€Apakah dia (yang terbunuh itu) telah berkata la ilaha illallah dan kau (tetap) membunuhnya ?โ€, Usamah menjawab :โ€Ya, Rasulullah, dia mengatakan itu hanya karena takut akan senjatakuโ€.

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata :โ€Apakah sudah kau belah dadanya sehingga kau tahu ia berkata itu karena takut atau tidak ?โ€. Maka Rosulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam terus mengulang-ulang perkataannya hingga Usamah berangan-angan seandainya dia baru masuk Islam pada hari itu. (HR Al-Bukhori no 4021, 6478, dan Muslim no 62 dan ini adalah lafal Muslim).

Hadits ini menunjukan bahwa Usamah yang telah berjihad tidak mengetahui isi hati manusia. Dan ada isyarat dari Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam agar para sahabat menilai seseorang dengan amalan dzohirnya bukan amalan batin.

Kalau para sahabat mengetahui isi hati manusia tentu Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tidak akan memerintahkan mereka untuk menilai secar dzohir saja. Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam juga bersabda, ุฅู†ูƒู… ุชุฎุชุตู…ูˆู† ุฅู„ูŠ ูˆู„ุนู„ ุจุนุถูƒู… ุฃู„ุญู† ุจุญุฌุชู‡ ู…ู† ุจุนุถ ูู…ู† ู‚ุถูŠุช ู„ู‡ ุจุญู‚ ุฃุฎูŠู‡ ุดูŠุฆุง ุจู‚ูˆู„ู‡ ูุฅู†ู…ุง ุฃู‚ุทุน ู„ู‡ ู‚ุทุนุฉ ู…ู† ุงู„ู†ุงุฑ ูู„ุง ูŠุฃุฎุฐู‡ุง โ€œSesungguhnya kalian berselilih dan berhukum kepadaku, dan bisa jadi sebagian kalian lebih pandai berhujah (berargumen) daraipada yang lain. Maka barangsiapa yang aku putuskan hukuman utuknya (memenangkannya) dengan (mengorbankan) sesuatu hak saudaranya maka sesungguhnya akau telah memberikan kepadanya suatu bongkahan dari api neraka maka janganlah ia mengambilnyaโ€ (HR Al-Bukhari II/952 no 253) Kalau seandainya Rasulullah r tahu isi hati manusia tentunya beliau tidak akan tertipu dengan pintarnya bersilat lidah dalam berargumen.

Demikian juga kisah Maโ€™iz bin Malik yang berzina kemudian datang kepada Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mengakui perbuatannya. Rasulullah Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tidak mengetahui isi hatinya, oleh karena itu Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menolaknya dan berpaling darinya hingga Maiz datang kepadanya empat kali, bahkan setelah itu Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata kepadanya ุฃุจูƒ ุฌู†ูˆู† (Apakah engkau tidak waras)?

(HR Al-Bukhari no 6430). Dalam riwayat yang lain Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata kepada Maiz, โ€œMungkin engkau hanya menciumnya atau memegangnya atau hanya melihatnya? (HR Al-Bukhari no 6438). Kalau memang Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mengetahui isi hati Maiz maka tidak perlu ia bersusah payah bertanya kepada Maiz dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Abdullah bin โ€˜Utbah bin Masโ€™ud berkata :โ€Saya telah mendengar Umar bin Khottob berkata :โ€Dahulu di masa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, orang-orang diterima (dihukumi) menurut keterangan wahyu, dan kini wahyu telah terputus.

Maka kami akan bertindak (menghukumi) kalian dengan perbuatan-perbuatan kalian yang dzohir (nampak) bagi kami. Maka barang siapa yang menampakkan kebaikan kepada kami maka kami percaya dan kami hargai, dan sama sekali bukan urusan kami mengenai batinnya. Allah yang akan menghisabnya. Dan barang siapa yang menampakkan keburukan kepada kami, maka kami tidak akan mempercayainya dan tidak kami benarkan, walaupun dia berkata sesungguhnya batinnya adalah baik.โ€โ€ (HR Al-Bukhori) [57] Al-Furqon hal 159 [58] Al-Furqon hal 159 [59] Majalah As-Sunnah 03/III/1418 [60] Al-Furqon hal 159 [61] Sebagaimana hal ini pernah dimuat dalam beberapa tabloid di Indonesia [62] Al-Furqon hal 36 [63] lihat jawaban ini dalam Al-Furqon hal 141-142 [64] Al-Bidaayah wan Nihaayah I/328 [65] Al-Bidaayah wan Nihaayah I/328 [66] Al-Bidaayah wan Nihaayah I/328 [67] Riwayat Bukhori, no 74 [68] Pendapat yang benar bahwasanya Khidir telah meninggal dan tidak kekal hingga hari kiamat.

Setelah Ibnu Katsir menyebutkan dan menjelaskan lemahnya dalil-dalil dan hikayat-hikayat yang dijadikan sandaran bahwa Khidir masih hidup hingga hari ini beliau berkata, โ€œDan riwayat-riwayat ini serta cerita-cerita (hikayat-hikayat) ini merupakan dasar pegangan orang yang berpendapat bahwa Khidir masih hidup hingga hari ini, dan semua hadits yang marfuโ€™ lemah sekali (dhoโ€™iif jiddan), tidak bisa hujjah ditegakkan di atas hadits-hadits seperti ini.

Dan cerita-cerita mayoritasnya pada sanadnya ada kelemahan dan paling banter hanyalah shahih kepada orang yang tidak maโ€™sum seperti sahabat atau yang lainnya yang mungkin untuk salahโ€ (Al-Bidaayah Wan Nihaayah I/334) Dalil-dalil yang menunjukan bahwa Khidir tidaklah kekal hingga hari kiamat adalah sebagai berikut: 1. Firman Allah }ูˆูŽู…ูŽุง ุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุง ู„ูุจูŽุดูŽุฑู ู…ู‘ูู† ู‚ูŽุจู’ู„ููƒูŽ ุงู„ู’ุฎูู„ู’ุฏูŽ{ (ุงู„ุฃู†ุจูŠุงุก : 34 ) Kami tidak menjadikan hidup kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad) (QS.

21:34) Dan Khidir adalah seorang manusia yang ada sebelum Nabi r, maka ia tidakalah keluar dari keuumaman ayat ini (bahwasanya yang namanya manusia tidak ada yang kekal) kecuali dengan dalil yang shahih, namun tidak ada dalil yang shahih yang mengeluarkannya dari keumuman ayat ini. 2. Firman Allah ูˆูŽุฅูุฐู’ ุฃูŽุฎูŽุฐูŽ ุงู„ู„ู‘ู‡ู ู…ููŠุซูŽุงู‚ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ููŠู’ู†ูŽ ู„ูŽู…ูŽุง ุขุชูŽูŠู’ุชููƒูู… ู…ู‘ูู† ูƒูุชูŽุงุจู ูˆูŽุญููƒู’ู…ูŽุฉู ุซูู…ู‘ูŽ ุฌูŽุงุกูƒูู…ู’ ุฑูŽุณููˆู„ูŒ ู…ู‘ูุตูŽุฏู‘ูู‚ูŒ ู„ู‘ูู…ูŽุง ู…ูŽุนูŽูƒูู…ู’ ู„ูŽุชูุคู’ู…ูู†ูู†ู‘ูŽ ุจูู‡ู ูˆูŽู„ูŽุชูŽู†ุตูุฑูู†ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุฃูŽู‚ู’ุฑูŽุฑู’ุชูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽุฎูŽุฐู’ุชูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูู…ู’ ุฅูุตู’ุฑููŠ ู‚ูŽุงู„ููˆุงู’ ุฃูŽู‚ู’ุฑูŽุฑู’ู†ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุงุดู’ู‡ูŽุฏููˆุงู’ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุงู’ ู…ูŽุนูŽูƒูู… ู…ู‘ูู†ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽุงู‡ูุฏููŠู†ูŽ{ โ€Dan (ingatlah) tatkala Allah mengambil perjanjian dari para nabi:โ€Sungguh apa saja yang Aku berikan kepada kalian berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepada kalian seorang Rosul yang membenarkan apa yang ada pada kalian, niscaya kalian akan sungguh-sungguh beriman kepada Rosul tersebut dan sungguh-sungguh akan menolongnyaโ€.

Allah berfirman :โ€Apakah kalian mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu ?โ€, mereka menjawab :โ€Kami mengakuiโ€. Allah berfirman :โ€Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kalian.โ€ Dan Khidir jika ia seorang nabi (terlebih lagi seorang wali yang derajatnya lebih rendah dari nabi) maka ia termasuk dalam perjanjian ini.

Maka jika ia hidup di zaman Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam maka merupakan kemuliaan yang sangat besar baginya jika ia menemui Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan beriman dengan Apa yang diturunkan Allah kepada Nabi r dan berusaha menolong Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan menjaga Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam jangan sampai seorang musuhpun menyentuh Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.

Dan jika ia seorang wali maka Ash-Shiddiiq (Abu Bakar) lebih mulia darinya. Dan jika ia seorang nabi maka Musa lebih mulia darinya padahal Rasulullah r pernah bersabda ูุฅู†ู‡ ู„ูˆ ูƒุงู† ู…ูˆุณู‰ ุญูŠุง ุจูŠู† ุฃุธู‡ุฑูƒู… ู…ุง ุญู„ ู„ู‡ ุฅู„ุง ุฃู† ูŠุชุจุนู†ูŠ โ€œSesungguhnya kalau Musa hidup di tengah-tengah kalian maka tidaklah boleh baginya kecuali mengikuti akuโ€ Dan ayat yang mulia ini menunjukan bahwa seluruh nabi jika seandainya mereka hidup di zaman Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam maka mereka seluruhnya adalah pengikut dan dibawah perintah dan syariโ€™at Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.

Sebagaimana Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tatkala berkumpul dengan mereka di malam isroโ€™ maka beliau mengimami mereka sholat. 3. Dan tidak diketahui dengan sanad yang shahih bahwasanya Khidir pernah ikut perang bersama Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam -meskipun hanya sehari.

Dan tatkala perang Badar yang dimana Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berdoa kepada Allah โ€œYa Allah jika binasa umat ini maka engkau tidak akan disembah setelahnya di muka bumiโ€. Dan di hari yang sangat berat itu semuanya berkumpul, baik pemuka-pemuka kaum muslimin (dari para sahabat) maupun pemuka-pemuka para malaikat, bahkan Jibril berada di bawah bendera kaum muslimin. Kalau seandainya Khidir hidup maka keberadaannya di bawah bendera kaum muslimin tatkala itu merupakan kemuliaan yang agung baginya (Lihat Al-Bidayah wan Nihaayah I/335) 4.

Apakah faedah baginya โ€“jika ia masih hidup hingga saat ini- dengan sikapnya yang bersembunyi, padahal jika ia menampakan dirinya maka pahalanya baginya lebih banyak dan derajatnya lebih tinggi dan lebih nampak muโ€™jizatnya (Lihat Al-Bidayah wan Nihaayah I/336) 5. Kemudian jika ia masih hidup setelah zaman Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam maka perbuatan yang sangat mulia yang bisa ia lakukan adalah dengan menyampaikan hadits-hadits Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan menjelaskan hadits-hadits yang lemah dan palsu, membantah amalan-amalan dan pemikiran-pemikiran bidโ€™ah, berperang bersama kaum muslimin, menghadiri sholat jumโ€™at bersama kaum muslimin, memberi manfaat kepada mereka (dengan mengajarkan ilmu kepada mereka), meluruskan para ulama dan pemerintah, menjelaskan tentang dalil-dalil dan hukum-hukum, semua ini lebih baik baginya daripada ia hanya sekedar berjalan memutari dunia, atau berkumpul dengan sebagian orang-orang (sufi) tertentu (yang tidak dikenal) yang kemudian menyampaikan perkataannya kepada manusia.

(Lihat Al-Bidayah wan Nihaayah I/336) 6. Ibnu Umar berkata, โ€œRasulullah r mengimami kami sholat isyaโ€™ di akhir hayat beliau. Tatkala beliau salam beliau berdiri dan berkata ุฃุฑุฃูŠุชูƒู… ู„ูŠู„ุชูƒู… ู‡ุฐู‡ ูุฅู† ุฑุฃุณ ู…ุงุฆุฉ ุณู†ุฉ ู…ู†ู‡ุง ู„ุง ูŠุจู‚ู‰ ู…ู…ู† ู‡ูˆ ุนู„ู‰ ุธู‡ุฑ ุงู„ุฃุฑุถ ุฃุญุฏ Tahukah kalian malam hari ini?, sesungguhnya setelah seratus tahun setelah malam ini maka tidak akan tersisa seorangpun (yang sekarang masih hidup) di atas muka bumi ini (HR Al-Bukhari I/55 no 116) Berkata Ibnul Jauzi, โ€œHadits-hadits yang shahih ini (yang semakna dengan hadits Ibnu Umar ini) memutuskan sampai ke akar-akarnya propaganda bahwa Khidir masih hidupโ€ฆjika Khidir mendapati masa Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam maka hadits ini menunjukan bahwa ia tidak akan hidup setelah seratus tahun, oleh karena itu maka sekarang ia telah tidak ada karena ia masuk dalam keumuman hadits ini.

Dan hukum asal adalah ia masuk dalam hadits ini hingga ada dalil yang shahih yang mengkhususkannyaโ€ (Lihat Al-Bidayah wan Nihaayah I/336-337) [69] HR Ahmad III/338 no 14672, Ibnu Abi Syaibah V/312 no 26421 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam irwaaul golil no 1589 dan Misykaatul Mashobiih no 177 [70] Tafsir Ibnu Katsir I/379 [71] Yaitu membocorkan kapal, membunuh seorang anak kecil dan memperbaiki tembok yang akan runtuh, sebagaimana dikisahkan dalam surat Al-Kahfi : 70-82 [72] Riwayat Muslim no 1812 [73] Ash Shuffah adalah semacam pelataran yang bersambung dengan mesjid Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, (masih satu atap dengan mesjid Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam) yang dulu dijadikan tempat tinggal sementara oleh beberapa orang sahabat Muhajirin yang miskin, karena mereka tidak memiliki harta, tempat tinggal dan keluarga di Madinah, maka Rasullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mengizinkan mereka tinggal sementara di pelataran tersebut di bawah naungan mesjid sampai mereka memiliki tempat tinggal tetap dan penghidupan yang cukup.

(lihat kitab โ€œTaqdis Al Asykhashโ€ tulisan Syaikh Muhammad Ahmad Lauh 1/34) [74] (HR Al-Bukhari 6/2495 no 6419 bab) Dari Abi Qilabah dari Anas bin Malik ia berkata, โ€œDatang beberapa orang dari โ€˜Ukl kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, dan mereka dahulunya tinggal di suffah namun mereka maka mereka berkata, โ€œWahai Rasulullah mintakanlah untuk kami susu!โ€, maka Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, โ€œAku tidak bisa membantu untuk kalian kecuali kalian pergi mendatangi onta-onta Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam (onta-onta zakat)โ€.

Maka merekapun mendatangi onta-onta tersebut dan meminum susunya dan air kencingnya hingga merekapun sembuh dan gemuk, lalu mereka membunuh penggembala onta-onta tersebut dan membawa lari sekelompok onta, lalu terdengarlah teriakan (orang minta tolong) maka Nabi rpun mengutus seorang pelacak untuk melacak jejak mereka.

Dan tidak sampai tengah hari merekapun telah tertangkap. Lalu Nabi rpun memerintahkan untuk memanaskan paku-paku lalu ia menculek mata mereka dan memotong tangan-tangan dan kaki-kaki mereka dan Rasulullah r tidak menghasm mereka (hasm adalah memberhentikan aliran darah pada bagian tubuh yang terpotong, seperti dengan menggunakan besi panas lalu ditempelkan ka bagian tubuh yang terpotong atau dengan memanaskan minyak panas lalu diletakkan ke bagian tubuh yang terpotong agar darah tidak mengalir Al-Fath 12/111 -pen) kemudian mereka dilemparkan di bawah terik matahari, mereka minta minum namun tidak diberi minum hingga akhirnya merekapun matiโ€.

Abu Qilabah berkata, โ€œMereka mencuri dan membunuh dan memerangi Allah dan RasulNyaโ€ (Lihat Al-Fath 6/153) [75] Diantara yang mengaku bahwa mereka adalah penutup para wali adalah Ibnu โ€˜Arobi, Muhammad bin โ€˜Utsman As-Suudaani, dan At-Tijaani Al-Magribi, yang masing-masing dari ketiga orang ini mengaku bahwa dialah penutup para wali. Ini jelas menunjukan bahwa mereka bertiga adalah para pendusta dan para dajjal, bagaimana masing-masing mengaku sebagai penutup dan wali yang terakhir sementara masih ada wali yang lain yang juga mengaku demikian.

(lihat syarh Syaikh Sholeh Alu Syaikh terhadap matan Al-Aqidah At-Thohawiyah) [76] Maksudnya yaitu pemisah antara kerasulan dan kewalian [77] Ibnu Arobi juga berkata (dalam kitabnya โ€œFususul hukumโ€) :โ€Tatkala Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam telah memisalkan kenabian dengan sebuah dinding (yang tesusun) dari bata dan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam melihat bahwa dinding tersebut telah sempurna kecuali tinggal tempat satu bata lagi, dan dialah sebagai bata yang terakhir (yang menutupi bata-bata (nabi-nabi) sebelumnya โ€“pent).

Adapun penutup para wali maka pasti ia melihat juga dinding ini, dia melihat dinding yang dimisalkan oleh Nabi r dan dia melihat dirinya di dinding yaitu di tempat dua bata, dirinya telah tercetak di tempat dua bata tersebut, sehingga sempurnalah dinding itu. Yang menyebabkan dia melihat dinding itu tinggal tempat dua bata (padahal Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam melihatnya hanya ada satu tempat bata โ€“pent) adalah karena dinding terdiri dari bata perak dan bata emas.

Bata perak adalah bagian luar dinding tersebut (yaitu bagian luar syariโ€™at-pen) dan hukum-hukum yang mengikutinya, sebagaimana Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mengambil syariโ€™at yang dzohir dari Allah yang diikuti, karena Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam melihat perkaranya sebagaimana adanya sehingga demikianlah pasti dia melihatnya.

Padahal bagian dalam tempat satu bata itu adalah tempat (yang lain bagi) bata emas, yang dia (penutup para wali tersebut) mengambil dari sumber yang malaikat yang diutus kepada Nabi mengambil dari sumber itu. Jika engkau memahami apa kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut kami isyaratkan maka engkau telah mendapatkan ilmu yang bermanfaat.โ€ (Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah hal 493) Maksudnya yaitu penutup para wali tatkala mengambil wahyu tidak butuh kepada perantara malaikat, ia bisa langsung mengambil dari Allah.

Berbeda dengan penutup para nabi, ia hanya bisa mengambil wahyu dengan perantara malaikat yang mengambil dari Allah. [78] Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah hal 493-494, Al-Furqon hal 110 [79] Riwayat Bukhori no 6502, dari hadits Abu Huroiroh.

[80] Yang aqidah ini merupakan aqidah Ibnu โ€˜Arobi, yang dimana ia berkata di awal bukunya Al-Futuhaat, ุงู„ุฑู‘ูŽุจู‘ู ุญูŽู‚ู‘ูŒ ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุจู’ุฏู ุญูŽู‚ู‘ูŒ ูŠูŽุง ู„ูŽูŠู’ุชูŽ ุดูุนู’ุฑููŠ ู…ูŽู†ู ุงู„ู’ู…ููƒูŽู„ู‘ูŽููุŸ ุฅูู†ู’ ู‚ูู„ู’ุชูŽ ุนูŽุจู’ุฏูŒ ููŽุฐูŽุงูƒูŽ ู†ูŽูู’ูŠูŒ ุฃูŽูˆู’ ู‚ูู„ู’ุชูŽ ุฑูŽุจู‘ูŒ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‰ ูŠููƒูŽู„ู‘ูŽููุŸ Ar-Rob adalah Al-Haq (Allah) dan hamba juga Al-Haq (Allah), duhai kabarkanlah kepadaku siapakah yang diberi tugas (ibadah)?

Jika engkau mengatakan bahwa yang diberi tugas (ibadah) adalah hamba maka itu adalah penafian atau jika engkau mengatakan Rob maka bagaimana ia bisa disuruh untuk beribadah Ia juga berkata, ู‚ู„ู†ุง ุตุฏู‚ุช ูˆู‡ู„ ุนุฑูุช ู…ุญู‚ู‚ุง ู…ู† ู…ูˆุฌุฏ ุงู„ูƒูˆู† ุงู„ุฃุนู… ุณูˆุงุฆูŠ ูุฅุฐุง ู…ุฏุญุช ูุฅู†ู…ุง ุฃุซู†ูŠ ุนู„ู‰ ู†ูุณูŠ ูู†ูุณูŠ ุบูŠุฑ ุฐุงุช ุซู†ุงุฆูŠ Kami katakan engkau benar, dan apakah engkau mengetahui dengan benar pencipta alam semesta seluruhnya selain aku? Jika aku memuji Allah maka sesungguhnya aku memuji diriku sendiri.

Diriku bukanlah pujianku Ia juga berkata (pada bab yang ke sepuluh) ุงู†ุธุฑ ุงู„ุญู‚ ููŠ ุงู„ูˆุฌูˆุฏ ุชุฑุงู‡ ุนูŠู†ู‡ ูุงู„ุจุบูŠุถ ููŠู‡ ุงู„ุญุจูŠุจ ู„ูŠุณ ุนูŠู†ูŠ ุณูˆุงู‡ ุฅู† ูƒู†ุช ุชุฏุฑูŠ ูู‡ูˆ ุนูŠู† ุงู„ุจุนูŠุฏ ูˆู‡ูˆ ุงู„ู‚ุฑูŠุจ ุฅู† ุฑุขู†ูŠ ุจู‡ ูู…ู†ู‡ ุฃุฑุงู‡ ุฃูˆ ุฏุนุงู†ูŠ ุฅู„ูŠู‡ ูู‡ูˆ ุงู„ู…ุฌูŠุจ Lihatlah Allah di alam nyata ini maka engkau akan melihatnya, semua alam nyata ini adalah dzat Allah, maka orang yang dibenci dalam dzat Allah dia juga adalah orang yang dicintai Dan tidaklah dzatku ini selain Allah jika engkau mengetahuinya, maka sesuatu yang jauh itulah sesuatu yang dekat.

Jika Dia melihatku melalui diriNya maka dari diriNya aku melihatNya, atau Dia memanggilku kepadaNya maka Dialah yang memenuhi panggilan tersebut. Jelas dalam bait yang terakhir ini bahwa Ibnu โ€˜Arobi tidak hanya menyatakan bahwa Allah bersatu dengan dirinya, bahkan lebih parah dari itu ia berkeyakinan bahwa alam semesta ini dialah dzat Allah. Semuanya yang nampak itulah dzat Allah, oleh karena itu menurut Ibnu โ€˜Arobi bahwasanya orang yang dibenci pada hakikatnya itulah orang yang dicintai juga, sesuatu yang jauh itulah juga sesuatu yang dekat.

Seseorang yang memanggil orang lain pada hakekatnya ia sedang memanggil dirinya sendiri, maka ia adalah yang memanggil kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut sekaligus yang memenuhi panggilan.

Keyakinan seperti ini lebih parah dan lebih kafir daripada keyakinan orang-orang Nashrani yang hanya membatasi bersatunya Allah pada Isa saja, karena Ibnu โ€˜Arobi menyatkan bahwa Allah bersatu dengan seluruh makhluq. Dan konsekuensi dari keyakinan ini bahwasanya Orang-Orang musyrik Arab dahulu tidaklah bersalah tatkala mereka menyembah patung, karena pada hakekatnya mereka sedang menyembah Allah juga.

Bahkan Firโ€™aun dan para pengikutnya adalah orang-orang yang sempurna imannya yang mengenal hakekat Allah, karena pada hakekatnya Firโ€™aun itulah Allah. Selain itu juga menurut aqidah Ibnu โ€˜Arobi ini bahwasanya pada hakekatnya tidak ada perbedaan antara pengharaman dan penghalalan, tidak ada perbedaan antara ibu, saudara kandung wanita, dan wanita ajnabiah. Tidak ada perbedaan antara khomr dan air biasa, antara zina dan nikah, semuanya dari dzat yang satu yaitu Allah. Konsekuensi dari aqidah ini bahwasanya para nabi dan rosul hanyalah mempersulit manusia.

(Lihat Syarh Al-Aqidah At-Thohawiyah I/126) [81] Sebagian orang yang tidak ingin dikekang dengan syariโ€™at mereka berdalil dengan firman Allah }ูˆูŽุงุนู’ุจูุฏู’ ุฑูŽุจู‘ูŽูƒูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุฃู’ุชููŠูŽูƒูŽ ุงู„ู’ูŠูŽู‚ููŠู†ู{ (ุงู„ุญุฌุฑ:99) dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu keyakinan(QS.

15:99) Mereka mengatakan, โ€œJika kami telah mencapai rasa yakin maka kami telah terlepas dari kewajiban beribadah kepada Allahโ€ Ini adalah penafsiran yang salah karena yang dimaksud dengan Al-Yaqin dalam ayat ini adalah kematian. Dengan dalil-dalil sebagai berikut: a. Ini adalah penafsiran salaf.

Imam Al-Bukhari berkata, โ€œBerkata Salim (bin Abdillah bin Umar) Al-Yaqin adalah Al-Maut (kematian)โ€ (Shahih Al-Bukhari 4/1739), dan atsar ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya (14/74). Ini juga adalah penasiran Mujahid, Hasan Al-Bashri, Qotadah, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dan yang lainnya (Tafsir Ibnu Katsir 2/561) b. Ini juga sesuai dengan firman Allah }ู…ูŽุง ุณูŽู„ูŽูƒูŽูƒูู…ู’ ูููŠ ุณูŽู‚ูŽุฑูŽ ู‚ูŽุงู„ููˆุง ู„ูŽู…ู’ ู†ูŽูƒู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุตูŽู„ู‘ููŠู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ู†ูŽูƒู ู†ูุทู’ุนูู…ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ูƒููŠู†ูŽ ูˆูŽูƒูู†ู‘ูŽุง ู†ูŽุฎููˆุถู ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุงุฆูุถููŠู†ูŽ ูˆูŽูƒูู†ู‘ูŽุง ู†ููƒูŽุฐู‘ูุจู ุจููŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุฏู‘ููŠู†ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุฃูŽุชูŽุงู†ูŽุง ุงู„ู’ูŠูŽู‚ููŠู†ู{ Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?.

Mereka menjawab:โ€Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami Al-Yaqin (kematian)โ€. (QS. 74:44-47) c. Ini juga sesuai dengan hadits Nabi r (HR Al-Bukhari 1/419 no 1186) dimana Nabi r berkata tentang Utsman bin Madzโ€™un yang telah wafat, ุฃู…ุง ู‡ูˆ ูู‚ุฏ ุฌุงุกู‡ ุงู„ูŠู‚ูŠู† ูˆุงู„ู„ู‡ ุฅู†ูŠ ู„ุฃุฑุฌูˆ ู„ู‡ ุงู„ุฎูŠุฑ ูˆุงู„ู„ู‡ ู…ุง ุฃุฏุฑูŠ ูˆุฃู†ุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ู…ุง ูŠูุนู„ ุจูŠ ((Adapun dia (Utsman bin Madzโ€™un) maka telah datang kepadanya Al-Yaqin (kematian), maka aku mengharapkan kebaikan baginya, demi Allah aku tidak tahu apa yang Allah lakukan padaku padahal aku adalah utusan Allah)) d.

Ayat ini justru maknanya kebalikan dari apa yang dipahami oleh orang-orang zindiq tersebut. Justru ayat ini menunjukan bahwa seseorang harus terus beribadah hingga ia meninggal.

Sebagaimana firman Allah tentang perkataan Nabi Isa ูˆุฃูˆุตุงู†ูŠ ุจุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุฒูƒุงุฉ ู…ุง ุฏู…ุช ุญูŠุง (Dan Allah mewasiatkan (memeerintahkan) kepadaku untuk (terus) sholat dan membayar zakat selama aku masih hidup) (QS 19:31) Dan inilah yang dipraktekan oleh para nabi dan mereka adalah orang-orang yang paling yakin tentang Allah namun mereka adalah orang-orang yang paling banyak ibadahnya kepada Allah (Adwaul bayan 2/425) e.

Jika Al-Yaqin ditafsirkan dengan arti keyakinan (mengetahui hakekat) maka tidaklah seperti yang dipahami oleh orang-orang zindiq tersebut, namun maknanya yaitu seseorang yang telah meninggal maka akan jelas baginya hakekat hari akhir, hakekat dari perkara-perkara goib yang telah Allah kabarkan kepadanya tatkala ia masih hidup di dunia.

(Adlwaul bayan 6/349) [82] Bukan sebagaimana pemahaman Ibnu โ€˜Arobi yang malah meninggalkan ibadah. [83] Al-Qowaโ€™id Al-Mutsla hal 125 [84] Al-Furqon hal 161 [85] Majalah As-Sunnah 03/III 1418 H [86] Al-Jadawil hal 19 [87] Al-Jadawil hal 20 [88] Lihat akhir pembahasan dalam risalah ini.

[89] Al-Jadawil hal 21 dan Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah hal 494 [90] Majalah As-Sunnah hal 30 [91] Lihat penjelasan Ibnu Abil โ€˜Izz dalam syarh Al-Aqidah At-Thohawiyah II/757 [92] Syarh Al-Aqidah At-Tohawiyah II/755 [93] Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah II/754 [94] Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah II/754 [95] Lihat Ad-Dur Al-Mantsur III/610 tafsir surat Al-Aโ€™rof ayat 175 [96] Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah II/754 Sumber: firanda.com Salah seorang ulama ditanya : โ€œMengapa perkataan Salafus Shalih lebih bermanfaat kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut perkataan kita?โ€ maka iapun menjawab : โ€œKarena mereka berbicara untuk kemulian Islam, untuk keselamatan jiwa, untuk mencari ridho Allah Yang Maha Pemurah, sedangkan kita berbicara untuk kemuliaan diri, mencari dunia dan mencari keridhaan mahlukโ€ [Sifatu Sofwah karya Ibnul Jauzi 4/122] Terbaru โ€ข Hukum Jual Beli Dua Harga โ€ข Bolehkah Jual Beli dengan Hanya Memajang Katalog di Internet?

kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut

โ€ข Kajian 25 September 2011 bersama Ustadz Abdullah Taslim โ€ข Memisahkan antara Shalat Fardlu dan Rawatib dengan Berbicara atau Berpindah Tempat โ€ข Biografi Al-Imam Ibnu Katsir โ€ข Jauhkan Sikap Meminta Minta โ€ข Muhasabah Sebelum dan Sesudah Beramal โ€ข MENGENAL CIRI-CIRI KHAWARIJ DAN PECAHANNYA โ€ข Bolehkah Mendahulukan Puasa Sunnah dari Qodho Puasa ?

โ€ข Kajian Umum bersama Ustadz Zainal Abidin, LC di Kebumen, 12 September 2011 โ€ข Makna Qunut, Makna Nazilah, Qunut Pada Pertengahan Ramadhan Dan Akhir Ramadhan โ€ข Kewajiban Mengikuti Cara Beragamanya Para Sahabat (Tafsir Surat An-Nisaโ€™ ayat 115) Arsip Bulanan Arsip Bulanan an-Naylah ada di twitter & facebook Terbanyak Dibaca โ€ข Hukum Jual Beli Dua Harga โ€ข Bolehkah Jual Beli dengan Hanya Memajang Katalog di Internet?

โ€ข Kajian 25 September 2011 bersama Ustadz Abdullah Taslim โ€ข Memisahkan antara Shalat Fardlu dan Rawatib dengan Berbicara atau Berpindah Tempat โ€ข Biografi Al-Imam Ibnu Katsir โ€ข Abu Bakr as-Shatri โ€ข Jauhkan Sikap Meminta Minta โ€ข Muhasabah Sebelum dan Sesudah Beramal Telah Dikunjungi โ€ข 20.140 kali Dari Kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut bin Musayyab Radhiyallahu anhu, bahwa ia melihat seseorang mengerjakan lebih dari dua rakaat shalat setelah terbit fajar.

Lalu beliau melarangnya. Maka orang itu berkata, "Wahai Sa'id, apakah Allah akan menyiksa saya karena shalat?", lalu Sa'id menjawab :"Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyalahi sunnah" [SHAHIH.

HR Baihaqi dalam "As Sunan Al Kubra" II/466, Khatib Al Baghdadi dalam "Al Faqih wal mutafaqqih" I/147, Ad Darimi I/116]. kamus โ€ข arab-indonesia Langganan via e-mail Masukkan alamat e-mail Anda untuk berlangganan situs ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui e-mail.

Pengertian Mukjizat, Karomah, Maunah, Irhas, Contoh & Dalilnya โ€“ Istilah mukjizat mungkin bagi kita bukan hal yang asing, mukjizat adalah kejadian luar biasa yang mendapatkan sesuatu yang luar biasa dari Allah SWT. Namun kita tidak boleh keliru untuk membedakan mana yang dinamakan mukjizat, karomah, maunah, dan irhas. โ€ข 1 Pengertian Mukjizat, Karomah, Maunah, Irhas, Contoh & Dalilnya โ€ข 1.1 Pengertian Mukjizat โ€ข 1.2 Ciri-Ciri Mukjizat โ€ข 1.3 Contoh Mukjizat โ€ข 1.4 Pengertian Karomah โ€ข 1.5 Contoh Karomah โ€ข 1.6 Pengertian Maunah โ€ข 1.7 Contoh Maunah โ€ข 1.8 Pengertian Irhas โ€ข 1.9 Contoh Irhas โ€ข 1.10 Share this: โ€ข 1.11 Related posts: Pengertian Mukjizat, Karomah, Maunah, Irhas, Contoh & Dalilnya Nah pada kesempatan kali ini Dutadakwah akan membahas mengenai pengertian mukjizat, karomah, maunah dan juga irhas.

Untuk mengetahuinya langsung saja kita simak penjelasannya sebagai berikut: Pengertian Mukjizat Secara bahasa, mukjizat merupakan sesuatu yang melemahkan atau mengalahkan. Adapun menurut istilah adalah suatu kejadian yang luar biasa yang terjadi pada diri Nabi dan Rasul Allah SWT dalam rangka untuk membuktikan bahwa dirinya adalah seorang nabi dan rasul. Mukjizat adalah suatu kejadian luar biasa yang tidak dapat diterima dengan akal manusia serta tidak dimiliki oleh siapapun karena Allah SWT hanya memberikannya sebagai kelebihan kepada para utusan-Nya sebagai pembuktian kebenaran atas kenabian kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut kerasulannya.

Ciri-Ciri Mukjizat โ€ข Berasal dari Allah SWT โ€ข Kejadian luar biasa yang diluar nalar manusia โ€ข Terjadi secara tiba-tiba โ€ข Terjadi pada diri seorang Nabi dan Rasul โ€ข Sebagai bukti kebesaran Allah SWT โ€ข Berfungsi untuk melemahkan hujjah atau sanggahan bagi orang-orang kafir yang mengingkarinya. Contoh Mukjizat โ€ข Nabi Ibrahim as.

yakni saat dibakar oleh raja Namrud. Api yang panas berubah menjadi dingin. โ€ข Nabi Musa as. yakni dapat membelah laut merah dengan memukulkan tongkatnya diatas air laut. โ€ข Nabi Sulaiman as.yakni kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut memahami serta berbicara bahasa hewan, menguasai bangsa jin, menundukkan angin.

โ€ข Nabi Isa as. yakni bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal atas izin Allah, dapat menyembuhkan orang buta dan penyakit kusta. โ€ข Nabi Muhammad SAW. yakni dapat membelah bulan menjadi dua bagian, sehingga terlihat dari semua negara ketika peristiwa itu terjadi, bisa mengeluarkan air dari celah-celah jarinya, peristiwa israโ€™ miโ€™raj dalam waktu singkat (semalam). Pengertian Karomah Karomah secara bahasa berarti kemuliaan, kehormatan dan anugerah.

Sedangkan menurut istilah adalah kejadian luar biasa yang diberikan oleh Allah SWT kepada para Waliyullah yakni hamba Allah SWT yang sholeh dan taat kepada-Nya.

Contoh Karomah Suatu kejadian yang dialami oleh Saโ€™ad bin Abi Waqqash yaitu doanya yang selalu dikabulkan oleh Allah SWT. Sama juga dengan Amir bin Fuhairah saat wafat, jasadnya diangkat oleh para malaikat dan disaksikan oleh sahabatnya Amir bin Thufail, Maryam binti Imran ra. yang selalu memperoleh makanan di mihrab. Sedangkan maryam tidak pernah keluar dari Mihrab. Sebagaimana dalam Al-qurโ€™an surat Al-Imran ayat 37 ููŽุชูŽู‚ูŽุจู‘ูŽู„ูŽู‡ูŽุง ุฑูŽุจู‘ูู‡ูŽุง ุจูู‚ูŽุจููˆู„ู ุญูŽุณูŽู†ู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุจูŽุชูŽู‡ูŽุง ู†ูŽุจูŽุงุชู‹ุง ุญูŽุณูŽู†ู‹ุง ูˆูŽูƒูŽูู‘ูŽู„ูŽู‡ูŽุง ุฒูŽูƒูŽุฑููŠู‘ูŽุง – ูƒูู„ู‘ูŽู…ูŽุง ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุฒูŽูƒูŽุฑููŠู‘ูŽุง ุงู„ู’ู…ูุญู’ุฑูŽุงุจูŽ ูˆูŽุฌูŽุฏูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽู‡ูŽุง ุฑูุฒู’ู‚ู‹ุง – ู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠูŽุง ู…ูŽุฑู’ูŠูŽู…ู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‰ูฐ ู„ูŽูƒู ู‡ูŽูฐุฐูŽุง – ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ู‡ููˆูŽ ู…ูู†ู’ ุนูู†ู’ุฏู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู – ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูŠูŽุฑู’ุฒูู‚ู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุดูŽุงุกู ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุญูุณูŽุงุจู Artinya: โ€œMaka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya.

Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: โ€œHai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?โ€ Maryam menjawab: โ€œMakanan itu dari sisi Allahโ€. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.โ€ Pengertian Maunah Menurut bahasa, maunah berarti pertolongan. Sedangkan menurut istilah adalah suatu kemampuan yang diberikan oleh Allah SWT kepada seorang mukmin untuk mengatasi kesulitan dalam hidupnya.

Maunah ini Allah berikan kepada siapapun yang Ia kehendaki-Nya. Baik itu nabi, para wali ataupun manusia biasa. Contoh Maunah Pertolongan Allah yang diberikan kepada sekumpulan orang yang selamat dari bencana alam, dan pada saat itu vila yang tempatnya di pantai anyer selamat, mereka sedang membaca menghafal Al-Qurโ€™an.

Padahal disekelilingnya semua sudah hancur terbawa air. Pengertian Irhas Irhas merupakan suatu kejadian luar biasa atau istimewa yang terjadi pada diri calon nabi atau rasul ketika masih kecil.

Contoh Irhas Pengertian Mukjizat, Karomah, Maunah, Irhas Beserta Contoh & Dalilnya Irhas yang diberikan kepada nabi Isa As, yang ketika Beliau masih bayi dapat berbicara kepada orang-orang yang melecehkan ibunya.

Begitu juga dengan kejadian yang terjadi pada Nabi Muhammad Saw ketika beliau masih kecil dan sedang bermain dengan saudara sepersepupuannya, ada dua malaikat yang mendatanginya, kemudian malaikat membelah dada Nabi Muhammad Saw untuk membersihkan hatinya dari segala kotoran hati. Nah itulah tadi penjelasan mengenai Pengertian Mukjizat, Karomah, Maunah, Irhas, Contoh & Dalilnya.

Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan. Terimakasih ๐Ÿ™‚ Related posts: โ€ข Syahadat, Arti dan Penjelasannya โ€ข 8 Cara Beriman Kepada Rasul Beserta Dalilnya (Lengkap) โ€ข 7 Ciri Orang Bertaqwa Dalam Islam Beserta Dalilnya (Lengkap) Posted in Aqidah Tagged 10 contoh irhas, 10 contoh maunah, 3 contoh peristiwa maunah, apa hikmah adanya peristiwa irhas, apa itu karomah dalam islam, arti mukjizat menurut alkitab, ciri orang yang diberi karomah, contoh irhas para nabi dan rasul, contoh karomah, contoh kejadian karamah adalah, contoh kejadian luar biasa maunah, contoh mukjizat, dalil tentang maunah, fungsi karomah, fungsi mukjizat, macam macam mukjizat, makna karomah, pengertian irhas, pengertian karomah, pengertian karomah yaitu kelebihan tertentu yang allah swt berikan kepada, pengertian maunah, pengertian mukjizat, pengertian mukjizat dan aspeknya, pengertian mukjizat menurut para ahli, pengertian mukjizat menurut para ulama, pengertian mukjizat kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut Post navigation Recent Posts โ€ข Suami Boleh Memukul Istri Jika hal itu Bermanfaโ€™at โ€ข Kisah Nabi Ilyasa Saat Berdakwah Kepada Kaum Bani Israil โ€ข Kisah Nabi Shaleh As Saat Berdakwah Kepada Kaum Tsamud โ€ข Suami Yang Sholih Menghadapi dan Menyikapi Istrinya โ€ข Mahar Dan Hukumnya Tidak Membayar, ini perihal penting โ€ข Lelaki Haram Melihat Perempuan & Sebaliknya โ€ข Syarah โ€˜Uqudllujain Pasal Dua, Tiga dan Empat โ€ข Taubat Suami Munafiq & Khutbah Syarah โ€˜Uqudullujain โ€ข Kisah Nabi Ibrahim As Saat Diutus Menyembelih Nabi Ismail โ€ข Kisah Nabi Ibrahim As Dibakar Hidup-Hidup Oleh Raja Namrud โ€ข Suami Wajib Memberi Nafkah & Istri Wajib Memenuhi Ajakannya โ€ข Berwasiat Baik Pada Istri dan Istri Patuh Kepada Suami โ€ข Suami Wajib Memberi Nafkah Keluarga Dalil & Rinciannya โ€ข Kewajiban Istri : Hak Suami yang wajib dipenuhi โ€ข Hak Suami Atas Istri Yang Wajib Dipenuhi Oleh Istri
Anggapan yang telah menyebar di kaum muslimin pada umumnya, terutama yang ada di Indonesia bahwasanya yang disebut wali Allah adalah orang-orang yang memiliki kekhususan-kekhususan yang tidak dimiliki oleh orang-orang biasa.

Yaitu mampu melakukan hal-hal yang ajaib yang disebut dengan karomah para wali. Sehingga jika ada seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi tentang syariโ€™at Islam namun tidak memiliki kekhususan ini maka kewaliannya diragukan. Sebaliknya jika ada seseorang yang sama sekali tidak berilmu bahkan melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah dan meninggalkan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah taโ€™ala, namun dia mampu menunjukan keajaiban-keajaiban (yang dianggap karomah) maka orang tersebut bisa dianggap sebagai wali Allah.

Hal ini disebabkan karena kaum muslimin (terutama yang di Indonesia) sejak kecil telah ditanamkan pemahaman yang rusak ini. Apalagi ditunjang dengan sarana-sarana elektronik seperti adanya film-film para sunan yang menggambarkan kesaktian para wali[1]. Tentunya hal ini adalah sangat berbahaya yang bisa menimbulkan rusaknya aqidah kaum muslimin. Ketahuilah Allah taโ€™ala telah menjelaskan dalam kitab-Nya dan sunnah Rosul-Nya bahwasanya Allah taโ€™ala memiliki wali-wali dari golongan manusia dan demikian pula syaithon juga memiliki wali-wali dari golongan manusia.

Maka Allah membedakan antara para wali Allah dan para wali syaithon.[2] Sebagaimana firman Allah taโ€™ala : }ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽู„ููŠู‘ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ูŠูุฎู’ุฑูุฌูู‡ูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุธู‘ูู„ูู…ูŽุงุชู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ููˆุฑู ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูƒูŽููŽุฑููˆุง ุฃูŽูˆู’ู„ููŠูŽุงุคูู‡ูู…ู ุงู„ุทู‘ูŽุงุบููˆุชู ูŠูุฎู’ุฑูุฌููˆู†ูŽู‡ูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ููˆุฑู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุธู‘ูู„ูู…ูŽุงุชู ุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู ู‡ูู…ู’ ูููŠู‡ูŽุง ุฎูŽุงู„ูุฏููˆู†ูŽ{ (ุงู„ุจู‚ุฑุฉ:257) Allah adalah wali (penolong) bagi orang-orang yang beriman.

Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir penolong-penolong mereka adalah thogut yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan-kegelapan. (Al-Baqoroh : 256) }ููŽุฅูุฐูŽุง ู‚ูŽุฑูŽุฃู’ุชูŽ ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ูŽ ููŽุงุณู’ุชูŽุนูุฐู’ ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌููŠู…ู ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู„ูŽู‡ู ุณูู„ู’ุทูŽุงู†ูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽุจู‘ูู‡ูู…ู’ ูŠูŽุชูŽูˆูŽูƒู‘ูŽู„ููˆู†ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุณูู„ู’ุทูŽุงู†ูู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุชูŽูˆูŽู„ู‘ูŽูˆู’ู†ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู‡ูู…ู’ ุจูู‡ู ู…ูุดู’ุฑููƒููˆู†ูŽ{ (ุงู„ู†ุญู„:100-98) Jika engkau membaca Al-Qurโ€™an maka berlidunglah kepada Allah dari (godaan) syaithon yang terkutuk.

Sesungguhnya tidak ada kekuatan baginya terhadap orang-orang yang beriman dan mereka bertawakal kepada Robb mereka.

Hanyalah kekuatannya terhadap orang-orang yang berwalaโ€™ kepadanya dan mereka yang dengannya berbuat syirik. (An-Nahl :98-100) }ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุชู‘ูŽุฎูุฐู ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ูˆูŽู„ููŠู‘ุงู‹ ู…ูู†ู’ ุฏููˆู†ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽู‚ูŽุฏู’ ุฎูŽุณูุฑูŽ ุฎูุณู’ุฑูŽุงู†ุงู‹ ู…ูุจููŠู†ุงู‹{ (ุงู„ู†ุณุงุก:119) Dan barangsiapa yang menjadikan syaithon sebagai wali selain Allah maka dia telah merugi dengan kerugian yang nyata (An-Nisaโ€™ : 119) }ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ูŠูู‚ูŽุงุชูู„ููˆู†ูŽ ูููŠ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูƒูŽููŽุฑููˆุง ูŠูู‚ูŽุงุชูู„ููˆู†ูŽ ูููŠ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ุทู‘ูŽุงุบููˆุชู ููŽู‚ูŽุงุชูู„ููˆุง ุฃูŽูˆู’ู„ููŠูŽุงุกูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ุฅูู†ู‘ูŽ ูƒูŽูŠู’ุฏูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ูƒูŽุงู†ูŽ ุถูŽุนููŠูุงู‹{ (ุงู„ู†ุณุงุก:76) Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah dan orang-orang kafir berperang di jalan thogut.

Maka perangilah para wali-wali syaithon sesungguhnya tipuan syaithon itu lemah. (An-Nisaโ€™ : 76)[3] Maka wajib bagi kita untuk membedakan manakah yang merupakan wali-wali Allah dan manakah yang merupakan wali-wali syaithon, sebagaimana Allah dan Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam membedakannya.[4] Definisi wali Wali diambil dari lafal al-walayah yang merupakan lawan kata dari al-โ€˜adawah. Adapun arti dari al-walayah adalah al-mahabbah (kecintaan) dan al-qorbu (kedekatan).

Sedangkan arti al-โ€˜adawah adalah al-bugdlu (kebencian) dan al-buโ€™du (kejauhan). Sedangkan wali artinya yang dekat.[5] Siapakah yang disebut wali Allah ?

Yang disebut wali Allah adalah orang yang dia mencintai Allah taโ€™ala dan dekat dengan Allah taโ€™ala. Dan orang seperti ini harus memiliki sifat-sifat berikut : 1. Dia harus ittibaโ€™ (mengikuti) Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, menjalankan perintah Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan menjauhi larangan-larangan beliau.

Berdasarkan firman Allah taโ€™ala: }ู‚ูู„ู’ ุฅูู†ู’ ูƒูู†ู’ุชูู…ู’ ุชูุญูุจู‘ููˆู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ููŽุงุชู‘ูŽุจูุนููˆู†ููŠ ูŠูุญู’ุจูุจู’ูƒูู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽูŠูŽุบู’ููุฑู’ ู„ูŽูƒูู…ู’ ุฐูู†ููˆุจูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุบูŽูููˆุฑูŒ ุฑูŽุญููŠู…ูŒ{ (ุขู„ ุนู…ุฑุงู†:31) Katakanlah :โ€Jika kalian mencintai Allah maka ikutlah aku maka Allah akan mencintai kalian dan memaafkan kalian dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayangโ€ (Ali Imron :31) Ayat ini merupakan ayat ujian yang turun untuk menguji orang-orang yang mengaku mencintai Allah taโ€™ala (termasuk di dalamnya orang yang mengaku dia adalah wali Allah).

Jika dia benar mengikuti Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam maka kecintaannya kepada Allah taโ€™ala adalah benar, dan jika tidak maka cintanya adalah dusta. 2. Dia harus bersifat lembut kepada kaum muslimin dan keras kepada kaum kafir, dan berjihad di jalan Allah dan tidak takut dengan celaan orang-orang yang mencela, sesuai dengan firman Allah taโ€™ala: }ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุฑู’ุชูŽุฏู‘ูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ุนูŽู†ู’ ุฏููŠู†ูู‡ู ููŽุณูŽูˆู’ููŽ ูŠูŽุฃู’ุชููŠ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจูู‚ูŽูˆู’ู…ู ูŠูุญูุจู‘ูู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูุญูุจู‘ููˆู†ูŽู‡ู ุฃูŽุฐูู„ู‘ูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ุฃูŽุนูุฒู‘ูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ูƒูŽุงููุฑููŠู†ูŽ ูŠูุฌูŽุงู‡ูุฏููˆู†ูŽ ูููŠ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽู„ุง ูŠูŽุฎูŽุงูููˆู†ูŽ ู„ูŽูˆู’ู…ูŽุฉูŽ ู„ุงุฆูู…ู ุฐูŽู„ููƒูŽ ููŽุถู’ู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูุคู’ุชููŠู‡ู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุดูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุงุณูุนูŒ ุนูŽู„ููŠู…ูŒ{ (ุงู„ู…ุงุฆุฏุฉ:54) Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang mutad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang muโ€™min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.

Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. 5:54) Hal ini sangatlah bertentangan dengan sifat sebagian orang yang mengaku dirinya wali, atau dianggap wali oleh masyarakat yang sifatnya sangat dekat dengan orang-orang kafir, bahkan mengagumi orang-orang kafir.

3. Dia harus bertaqwa dan beriman, yaitu beriman dengan hatinya dan bertaqwa dengan anggota tubuhnya, sesuai dengan firman Allah taโ€™ala: }ุฃูŽู„ุง ุฅูู†ู‘ูŽ ุฃูŽูˆู’ู„ููŠูŽุงุกูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ุง ุฎูŽูˆู’ููŒ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ุง ู‡ูู…ู’ kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ูˆูŽูƒูŽุงู†ููˆุง ูŠูŽุชู‘ูŽู‚ููˆู†ูŽ{ (ูŠูˆู†ุณ:-6263) Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih (hati). (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.

(Yunus : 62,63) Maka barangsiapa yang mengaku sebagai wali Allah namun tidak memiliki sifat-sifat ini maka dia adalah pendusta.[6] Orang Gila Wali??? Oleh karena itu sungguh keliru persangkaan sebagian orang yang mengangkat orang gila sebagai wali. Bahkan sebagian orang meyakini bahwa orang gila tersebut hanyalah telah sampai kepada derajat kewalian jika telah gila dan tatkala ia belum gila ia belum menjadi wali sejati. Berkata Ibnu Taimiyah dalam Al-Furqon ((Jika seorang hamba tidak bisa menjadi seorang wali hingga menjadi seorang yang beriman dan bertakwaโ€ฆmaka tentu telah diketahui bahwa tidak seorangpun dari orang-orang kafir dan orang-orang munafik yang merupakan wali Allah maka demikan pula orang-orang yang tidak sah imannya dan ibadahnya โ€“meskipun mereka tidak berdosa misalnya- โ€ฆsebagaimana orang gila dan anak-anak karena Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam telah bersabda ุฑูููุนูŽ ุงู„ู’ู‚ูŽู„ูŽู…ู ุนูŽู†ู’ ุซูŽู„ุงูŽุซูŽุฉู ุนูŽู†ู ุงู„ู’ู…ูŽุฌู’ู†ููˆู’ู†ู ุงู„ู’ู…ูŽุบู’ู„ููˆู’ุจู ุนูŽู„ูŽู‰ ุนูŽู‚ู’ู„ูู‡ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠููููŠู’ู‚ูŽ ูˆูŽุนูŽู†ู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฆูู…ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุณู’ุชูŽูŠู’ู‚ูุธูŽ ูˆูŽุนูŽู†ู ุงู„ุตู‘ูŽุจููŠู‘ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุญู’ุชูŽู„ูู…ูŽ โ€œDiangkat pena dari tiga (golongan), orang gila yang hilang akalnya hingga sadar, dari orang yang tidur hingga terjaga dan dari anak kecil hingga bermimpi (dewasa)โ€[7] โ€ฆNamun anak-anak yang mumayyiz (telah bisa membedakan/ sudah ngerti jika diberi tahu-pen) maka sah ibadah mereka dan diberi pahala menurut pendapat mayoritas ulama.

Adapun orang gila yang diangkat pena darinya maka ibadahnya sama sekali tidak sah berdasarkan kesepakatan para ulama, tidak sah keimanan yang dilakukannya (sebagaimana juga jika ia melakukan kekufuran), sholat, dan ibadah-ibadah yang lainnya. Bahkan menurut seluruh orang yang berakal bahwasanya orang gila tidak layak untuk mengerjakan urusan-urusan duniawi seperti berdagang dan industri.

Maka tidak layak untuk menjadi penjual kain, atau penjual minyak wangi, tukang besi, tukang kayu. Dan tidak sah transaksi-transaksi yang dilakukannya, tidak sah penjualannya, pembeliannya, nikahnya, cerainya, pembenarannya, persaksiannya, dan perkataan-perkataannya yang lainnya, bahkan seluruh perkataannya semuanya tidak ada artinya, tidak berkaitan dengan hukum syarโ€™i, tidak ada pahalanya, dan tidak ada hukuman.

Maka jika orang gila tidak sah keimanannya, ketakwaannya, demikian juga taqorrubnya kepada Allah dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban dan perkara-perakara yang sunnah, maka tidak boleh seorangpun yang meyakini bahwa ia adalah wali Allah, apalagi dalihnya adalah karena mukasyafat yang ia dengar dari orang gila tersebut atau karena perbuatan orang gila itu seperti ia telah melihat orang gila itu menunjuk kepada seseorang lalu orang tersebut meninggal atau terkapar.

Karena sesungguhnya telah diketahui bahwasanya orang-orang kafir dan orang-orang munafik dari kalangan kaum musyrikin dan ahlul kitab mereka juga memiliki mukasyafaat (mengungkap tabir rahasia)[8] dan perbuatan-perbuatan yang dibantu syaitan seperti para dukun dan tukang sihirโ€ฆmaka tidak boleh bagi seorangpun hanya sekedar berdalih dengan hal-hal tersebut untuk menunjukan bahwa seseorang adalah wali Allah -meskipun ia tidak mengetahui apakah orang itu melakukan perkara-perkara yang membatalkan kewaliannya kepada Allah-)).

Ibnu Abil โ€˜Izz berkata, โ€œAdapun yang terjadi pada sebagian mereka -tatkala mendengar lagu-lagu yang indah- berupa igauan dan berbicara dengan bahasa-bahasa yang lain dengan bahasa yang biasa digunakannya, maka itu adalah syaitan yang berbicara melalui lisannya sebagaiman syaitan yang berbicara melalui lisan orang yang kemasukan syaitan. Ini semua merupakan perbuatan-perabuatan syaitan. Bagaimanakah mungkin hilangnya akal merupakan sebab atau ibadah atau syarat untuk menjadi wali Allah??, sebagaimana yang disangka oleh banyak orang-orang sesat.

Bahkan seorang dari mereka berkata, ู‡ูู…ู’ ู…ูŽุนู’ุดูŽุฑูŒ ุญูŽู„ู‘ููˆ ุงู„ู†ู‘ูุธูŽุงู…ูŽ ูˆูŽุฎูŽุฑู‘ูŽู‚ููˆุง ุงู„ ุณูŠูŽุงุฌูŽ ููŽู„ุงูŽ ููŽุฑู’ุถูŽ ู„ูŽุฏูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู„ุงูŽ ู†ูŽูู’ู„ูŽ ู…ูŽุฌูŽุงู†ููŠู’ู†ู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุณูุฑู‘ูŽ ุฌูู†ููˆู’ู†ูู‡ูู…ู’ ุนูŽุฒููŠู’ุฒูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽุจู’ูˆูŽุงุจูู‡ู ูŠูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู’ุนูŽู‚ู’ู„ู Mereka (orang-orang gila yang dianggap wali) telah membuka (ikatan) aturan (syariโ€™at) dan mereka memporak-porandakan pagar-pagar (aturan).

Maka tidak ada lagi (yang namanya) kewajiban bagi mereka dan tidak juga (yang namanya) sunnah (mustahab). Orang-orang gila, hanya saja rahasia kegilaan mereka adalah besar dimana akal sujud pada pintu-pintu rahasia tersebut Dan ini adalah perkataan orang yang sesat bahkan kafir, yang menyangka bahwa pada kegilaaan ada sebuah rahasia yang akal sujud pada pintu rahasia tersebut karena ia melihat dari sebagian orang-orang gila tersebut suatu mukaasyafah (penglihatan di masa datang) atau tindakan yang ajaib yang luar biasa yang hal itu disebabkan bantuan syaitan sebagaimana yang terjadi pada para tukang sihir dan para dukun.

Maka orang sesat ini menyangka bahwa setiap orang yang bisa mukasyafah atau melakukan hal yang luar biasa adalah seorang wali Allah. Barangsiapa yang berkeyakinan seperti ini maka ia adalah kafir. Allah telah berfirman }ู‡ูŽู„ู’ ุฃูู†ูŽุจู‘ูุฆููƒูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู† ุชูŽู†ูŽุฒู‘ูŽู„ู ุงู„ุดู‘ูŽูŠูŽุงุทููŠู†ู, ูŽู†ูŽุฒู‘ูŽู„ู ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ู‘ู ุฃูŽูู‘ูŽุงูƒู ุฃูŽุซููŠู…ู { (ุงู„ุดุนุฑุงุก : 221 -222 ) Apakah akan aku beritahukan kepadamu, kepada siapkah syaithon-syaithon itu turun ?, mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak dosa.

Mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaithon) itu, dan kebanyakan mereka adalah pendusta. (As-Syuโ€™aroโ€™ : 221-222) Dan setiap orang yang syaitan turun kepadanya maka pasti ia melakukan kedustaan dan kefajiranโ€[9] Ibnu Abil โ€˜Izz berkata, โ€œBarangsiapa yang meyakini bahwa sebagian orang-orang dungu (agak gila) โ€“yang meninggalkan ittibaโ€™ (mengikuti) Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam baik dalam pembicaraannya, amalan-malannya, maupun keadaan-keadaannya- bahwsanya mereka termasuk wali-wali Allah, dan lebih utama daripada para pengikut jalan Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam maka ia adalah orang yang sesat, mubtadiโ€™, dan salah dalam beraqidah.

Karena orang dungu tersebut kalau bukan ia adalah syaitan yang zindiiqโ€ฆ, atau seorang gila yang mendapat udzur. Maka bagaimana ia bisa lebih mulia daripada orang yang termasuk wali-wali Allah yang mengikuti sunnah-sunnah Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam??? Atau menyamainya???. Dan tidaklah dikatakan bahwa mungkin saja orang dungu ini mengikuti sunnah-sunnah Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam di batin meskipun ia meninggalkan ittibaโ€™ di dzohir??.

Ini sesungguhnya juga merupakan kesalahan, dan yang wajib adalah mengikuti Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam baik secara batin maupun secara zhohirโ€[10] Diantara mereka ada yang berdalil dengan hadits yang lemah bahwasanya Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, ุงุทู‘ูŽู„ูŽุนู’ุชู ุนู„ู‰ ุงู„ุฌู†ู‘ูŽุฉู ููŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ุงูŽ ุงู„ุจูู„ู’ู‡ูŽ โ€œAku melihat surga ternyata aku lihat mayoritas penghuninya adalah orang-orang dunguโ€[11] Ibnu Abil โ€˜Izz berkata[12], โ€œHadits ini tidak sah dari Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan tidak boleh dinisbahkan kepada Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, karena surga hanyalah diciptakan bagi ulil Albab yang akal mereka mengantarkan mereka kepada beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya, dan hari ahkir.

Allah telah menyebutkan para penghuni surga beserta ciri-ciri dan sifat-sifat mereka dalam Al-Qurโ€™an dan Allah (sama sekali) tidak menyebutkan bahwa diantara sifat penduduk surga adalah kedunguan. (Yang benar) Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam hanyalah bersabda ุงุทู‘ูŽู„ูŽุนู’ุชู ุนู„ู‰ ุงู„ุฌู†ู‘ูŽุฉู ููŽุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ูู‡ุงูŽ ุงู„ููู‚ูŽุฑูŽุงุกูŽ โ€œAku melihat surga ternyata aku lihat mayoritas penghuninya adalah orang-orang faqirโ€[13] Islam adalah agama yang menyeru manusia untuk menggunakan akalnya memikirkan ayat-ayat Allah, dan bukanlah agama yang menyeru kepada kedunguan apalagi kegilaan, karena hal ini tidakalah bisa diterima fitroh manusia, tidak diterima oleh akal sehat, bahkan orang gilapun mungkin tidak menerimanya.

Akal adalah anggota tubuh yang membedakan antara hewan dan manusia, akal merupakan tempat memahami, dengan akal seseorang bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan, antara hak dan batil. Oleh karena itu agama Islam sangat memperhatikan penjagaan akal dan menjadikan sebagai tempat digantungkannya โ€œtaklifโ€ (beban untuk menjalankan hukum-hukum syariโ€™at) dan Islam menjatuhkan taklif bagi orang yang kehilangan akal sebagaimana sabda Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam ุฑูุน ุงู„ู‚ู„ู… ุนู† ุซู„ุงุซุฉ ุนู† ุงู„ู…ุฌู†ูˆู† ุงู„ู…ุบู„ูˆุจ ุนู„ู‰ ุนู‚ู„ู‡ ุญุชู‰ ูŠููŠู‚ ูˆุนู† ุงู„ู†ุงุฆู… ุญุชู‰ ูŠุณุชูŠู‚ุธ ูˆุนู† ุงู„ุตุจูŠ ุญุชู‰ ูŠุญุชู„ู… โ€œDiangkat pena dari tiga (golongan), orang gila yang hilang akalnya hingga sadar, dari orang yang tidur hingga terjaga dan dari anak kecil hingga bermimpi (dewasa)โ€[14] Oleh karena itu merupakan perbuatan kriminal seseorang terhadap akalnya sendiri dengan meniadakan fugsi akal dan menghentikan aktifitas akal.

Orang tersebut pantas untuk dihukum akibat perbuatan kriminalnya tersebut walaupun pada hakikatnya orang tersebut telah berbuat kriminal terhadap dirinya sendiri dimana ia telah menutup akalnya sehingga jadilah ia seperti hewan atau lebih parah yang tidak bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan karena alat yang digunakannya untuk membedakan telah ia rusakan fungsinya.

Apakah merupakan tindakan seorang yang memiliki akal untuk berusaha untuk menghilangkan fungsi akalnya?? yang akal merupakan alat yang sangat teliti yang mampu mencatat masa lalunya dengan baik serta membuatnya berjalan dalam jalan yang teratur, serta memberikan gambaran yang baik di masa depan, apakah ada orang yang berakal yang ingin menghilangkan fungsi akalnya??.

Sesungguhnya orang yang menghilangkan fungsi akalnya dengan sengaja, perbuatannya itu menunjukan bahwa ia bisa tanpa akalnya, ia tidak butuh dengan akalnya, ia ingin berjalan di atas muka bumi dengan keadaannya yang tanpa akal, dia ingin seperti hewan-hewan yang tidak bisa membedakan, atau seperti benda-benda mati yang tidak bisa merasakan apa yang terjadi di daerah sekitarnya[15] Oleh karena itu orang-orang yang mendengarkan lagu-lagu hingga pingsan (hilang akal mereka) adalah para mubtadiโ€™ yang sesat, tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk berusaha melakukan perkara-perkara yang menyebabkan hilangnya akalnya, tidak ada seorang sahabat maupun seorang tabiโ€™in pun yang melakukan demikian, bahkan tatkala mereka mendengarkan Al-Qurโ€™an.

Akan tetapi mereka sebagaimana yang disifatkan oleh Allah ุฅูุฐูŽุง ุฐููƒูุฑูŽ ุงู„ู„ู‘ู‡ู ูˆูŽุฌูู„ูŽุชู’ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุชูู„ููŠูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุขูŠูŽุงุชูู‡ู ุฒูŽุงุฏูŽุชู’ู‡ูู…ู’ ุฅููŠู…ูŽุงู†ุงู‹ ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽุจู‘ูู‡ูู…ู’ ูŠูŽุชูŽูˆูŽูƒู‘ูŽู„ููˆู†ูŽ (ุงู„ุฃู†ูุงู„ : 2 ) Apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal (QS. 8:2) ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู†ูŽุฒู‘ูŽู„ูŽ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู ูƒูุชูŽุงุจุงู‹ ู…ู‘ูุชูŽุดูŽุงุจูู‡ุงู‹ ู…ู‘ูŽุซูŽุงู†ููŠูŽ ุชูŽู‚ู’ุดูŽุนูุฑู‘ู ู…ูู†ู’ู‡ู ุฌูู„ููˆุฏู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุฎู’ุดูŽูˆู’ู†ูŽ ุฑูŽุจู‘ูŽู‡ูู…ู’ ุซูู…ู‘ูŽ ุชูŽู„ููŠู†ู ุฌูู„ููˆุฏูู‡ูู…ู’ ูˆูŽู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฐูŽู„ููƒูŽ ู‡ูุฏูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽู‡ู’ุฏููŠ ุจูู‡ู ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุดูŽุงุกู ูˆูŽู…ูŽู† ูŠูุถู’ู„ูู„ู’ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ููŽู…ูŽุง ู„ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ู‡ูŽุงุฏู (ุงู„ุฒู…ุฑ : 23 ) Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qurโ€™an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah.Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya.

(QS. 39:23)[16] Yang lebih parah dari orang gila yaitu yang diketahui melakukan perkara-perkara yang membatalkan tauhid, apakah seorang wali?? Ibnu Taimiyah berkata, ((Bagaimana lagi jika diketahui bahwasanya ia telah melakukan hal-hal yang membatalkan kewalian kepada Allah??, misalnya diketahui bahwasanya (1) ia tidak meyakini wajibnya mengikuti Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam secara dzohir dan batin namun ia hanya meyakini wajibnya mengikuti Rasulullah pada syariโ€™at-syariโ€™at yang dzhahir dan bukan yang batin, atau (2) meyakini bahwa para wali memiliki jalan menuju Allah yang berbeda dengan jalan para nabi.

Atau (3) ia berkata bahwa para nabi hanyalah mempersulit jalan atau (4) para nabi hanyalah teladan bagi orang-orang umum dan bukan teladan bagi orang-orang khusus dan yang semisalnya yang telah keluar dari mulut-mulut orang-orang yang mengaku-ngaku mereka adalah wali-wali Allah.

Mereka ini terdapat pada mereka perkara-perkara kekufuran yang membatalkan keimanan apalagi kewalian??. Barangsiapa yang berdalil dengan hal-hal aneh yang dilakukan oleh mereka untuk menunjukan kewalian mereka maka ia lebih sesat dari orang-orang Yahudi dan Nasrani)) Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh, ((Inilah yang menyebabkan bidโ€™ah-bidโ€™ah dan kesyirikan tersebar merajalela di negeri-negeri dikarenakan kesalahan keyakinan tentang wali (yaitu meyakini bahwa wali adalah orang yang bisa melakukan hal yang luar biasa meskipun ia adalah ahli maksiat โ€“pen).

Karena jika wali (palsu yang pada hakekatnya bukan wali) hidup dan fasik maka ia menjadikan masyarakat suka terhadap sebagian kemungkaran atau sebagian bidโ€™ah agar ia bisa memperoleh uang atau kedudukan atau yang lainnya dari mereka.

Masyarakatpun meyakini bahwa ia adalah seorang wali lalu merekapun mengikuti kemungkaran dan kebidโ€™ahan yang dilakukannya itu. Mereka berkata โ€œIni adalah wali fulanโ€. Untuk bisa menghancurkan kondisi yang seperti ini adalah dengan menegakkan dalil (menanamkan keyakinan kepada masyarakat) bahwa kewalian tidaklah diperoleh kecuali bagi orang-orang yang beriman dan bertakwaโ€ฆ (namun) para wali pendusta mereka menyebarkan kepada masyarakat bahwa amalan dzohir para wali tidak sama kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut amalan batin mereka sehingga mereka ingin menepis penjelasan (ahlussunnah) yang benar ini.

Mereka berkata, โ€œWali ini dzohirnya mengamalkan perkara-perkara (maksiat) namun di batinnya hatinya dan amalannya adalah untuk Allah. Diantara mereka ada suatu kelompok yang namanya โ€œAl-Malamiyahโ€ yang mereka adalah orang-orang yang karena ingin ikhlas maka mereka menampakkan perkara-perkara yang menyelisihi tauhid atau menyelisishi keistiqomahan, atau menyelisihi keikhlasan agar mereka dituduh dengan riyaโ€™[17]. Mereka berkata, โ€œKami menampakkan seperti ini demi keikhlasanโ€ agar tidak dikatakan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang riyaโ€™.

Maka merekapun menyembunyikan ketaatan mereka dan mereka menampakkan kefasikan agar mereka tidak berbuat riyaโ€™ di hadapan manusia. Al-Fudhail bin โ€˜Iyadh telah berkata tentang orang-orang semodel mereka ini, ุงู„ุนู…ู„ ู„ุบูŠุฑ ุงู„ู„ู‡ ุฑูŠุงุก ูˆุชุฑูƒ ุงู„ุนู…ู„ ู„ุบูŠุฑ ุงู„ู„ู‡ ุดุฑูƒ โ€œBeramal karena selain Allah adalah riyaโ€™ dan meninggalkan amal karena selain Allah adalah kesyirikanโ€.

Mereka menyangka mereka telah terlepas dari riyaโ€™ namun mereka terjatuh dalam kesyirikan karena mereka telah meninggalkan amal karena manusiaโ€ฆyaitu meninggalkan kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut yang wajib.))[18] Seorang wali tidaklah maksum sebagaimana seorang nabi Namun perlu diperhatikan bukanlah syarat seorang wali dia harus maโ€™sum (tidak pernah berbuat salah), dan tidak pula dia harus menguasai seluruh ilmu syariโ€™at.

Bahkan boleh baginya tidak mengetahui sebagian syariโ€™at atau masih samar baginya sebagian perkara agama.

kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut

Oleh karena itu tidak wajib bagi manusia untuk mengimani seluruh apa yang dikatakan oleh seorang kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut Allah karena dia bukanlah seorang nabi, tetapi seluruh yang dikatakannya dikembalikan kepada ajaran Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.

Jika sesuai, maka perkataannya diterima dan jika tidak, maka ditolak. Jika tidak diketahui apakah sesuai atau tidak dengan ajaran Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam maka tawaquf.[19] Dan inilah sikap yang benar kepada wali Allah.

Adapun sikap yang salah kepada wali Allah yaitu membenarkan semua apa yang diucapkan dan yang dilakukannya, atau sebaliknya jika melihat dia mengatakan atau melakukan sesuatu yang menyelisihi syariโ€™at maka langsung mengeluarkan dia dari kewaliannya.[20] Umar bin Al-Khotthob merupakan contoh wali Allah namun ia tidaklah maksum Umar bin Al-Khottob radhiyallahu โ€˜anhu adalah contoh seorang wali Allah, yang Rosulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda tentangnya ู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠู’ู…ูŽุง ู‚ูŽุจู’ู„ูŽูƒูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฃูู…ูŽู…ู ู†ูŽุงุณูŒ ู…ูุญูŽุฏู‘ูŽุซููˆู’ู†ูŽ ููŽุฅูู†ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ู…ูู†ู’ ุฃูู…ู‘ูŽุชููŠู’ ุฃูŽุญูŽุฏูŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ุนูู…ูŽุฑู Pada umat-umat sebelum kalian ada orang-orang yang muhaddatsun (yang mendapatkan sejenis ilham dari Allah)[21].

Kalaupun ada di kalangan umatku satu orang, maka dia adalah Umar.[22] ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูˆูŽุถูŽุนูŽ ุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู„ูุณูŽุงู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ูŠูŽู‚ููˆู’ู„ู ุจูู‡ู Sesungguhnya Allah meletakkan kebenaran pada lisan Umar yang ia mengucapkan kebenaran tersebut.[23] ู„ูŽูˆู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู†ูŽุจููŠู‘ูŒ ุจูŽุนู’ุฏููŠ ู„ูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุนูู…ูŽุฑูŽ Kalaulah ada nabi setelahku maka dia adalah Umar.[24] Hadits-hadits ini jelas menunjukan bahwasanya Umar radhiyallahu โ€˜anhu adalah seorang wali Allah, bahkan beliau mendapatkan ilham dari Allah. Selain itu beliau pernah melakukan hal-hal yang ajaib sebagaimana beliau pernah mengutus sebuah pasukan dan beliau mengangkat seorang pemuda yang bernama Sariyah untuk memimpin pasukan tersebut.

Tatkala Umar sedang berkhutbah di atas mimbar, beliau berteriak :โ€Wahai Sariyah, gunung !, wahai Sariyah, gunung !โ€. Lalu utusan pasukan tersebut menemui Umar dan berkata : โ€œWahai Amirul Muโ€™minin, kami bertemu musuh, tiba-tiba ada suara teriakan :โ€Wahai Sariyah, gunung!โ€, lalu kami menyandarkan punggung-punggung kami ke gunung kemudian Allah memenaggkan kamiโ€.[25] Beliau juga sangat ditakuti oleh Syaitan sebagaimana sabda Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam kepada Umar, ูŠูŽุง ุจู’ู†ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจ ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู†ูŽูู’ุณููŠ ุจููŠูŽุฏูู‡ู ู…ูŽุง ู„ูŽู‚ููŠูŽูƒูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ู‚ูŽุทู’ ุณูŽุงู„ููƒู‹ุง ููŽุฌู‘ู‹ุง ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุณูŽู„ูŽูƒูŽ ููŽุฌู‘ู‹ุง ุบูŽูŠู’ุฑูŽ ููŽุฌู‘ููƒูŽ โ€œWahai Ibnul Khotthob, -demi Yang jiwaku berada di tanganNya- tidaklah syaitan bertemu dengan engkau di jalan manapun kecuali ia mencari jalan yang lainโ€[26] Namun hal ini tidak menunjukan bahwa Umar radhiyallahu โ€˜anhu harus maโ€™sum (terjaga dari kesalahan).

Kesalahan yang pernah beliau lakukan diantaranya [27]: 1. Yaitu Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berumroh pada tahun ke enam Hijroh bersama sekitar 1400 kaum muslimin โ€“mereka itu adalah yang berbaiโ€™at di bawah pohon- dan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam telah mengadakan perjanjian damai (perjanjian Hudaibiyah) dengan kaum musyrikin setelah melalui perundingan dengan kaum musrikin. Keputusan perundingan tersebut adalah Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan kaum mukminin kembali ke Madinah pada tahun ini dan akan berumroh pada tahun yang akan datang.

Dan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam memberi beberapa syarat terhadap mereka yang dalam syarat-syarat tersebut ada tekanan kepada kaum muslimin secara dzohir, sehingga hal itu memberatkan kebanyakan kaum muslimin, sedangkan Allah dan Rosul-Nya lebih mengetahui dengan maslahat yang ada di balik itu. Umar radhiyallahu โ€˜anhu termasuk orang yang tidak setuju dengan hal itu, lalu berkata kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam :โ€Wahai Rosulullah, bukankah kita di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan ?โ€, maka Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menjawab :โ€Benarโ€, lalu Umar radhiyallahu โ€˜anhu berkata lagi :โ€Bukankah orang-orang yang terbunuh diantara kita masuk ke dalam surga dan orang-orang yang terbunuh di antara mereka masuk ke dalam neraka?โ€, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menjawab :โ€Benarโ€.

Umar radhiyallahu โ€˜anhu berkata :โ€Kenapa kita bersikap merendah pada agama kita?โ€, Nabi berkata :โ€Aku adalah Rosulullah dan Allah adalah penolongku dan aku bukanlah orang yang bermaksiat kepadanya.โ€, Umar radhiyallahu โ€˜anhu berkata :โ€Bukankah engkau berkata kepada kami bahwa kita akan mendatangi baitulloh dan berthowaf ?โ€, Nabi berkata :โ€Benarโ€.

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata lagi:โ€Apakah aku mengatakan kepadamu sesungguhnya engkau akan mendatanginya pada tahun ini?โ€, Umar radhiyallahu โ€˜anhu berkata :โ€Tidakโ€, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata :โ€Sesungguhnya engkau akan mendatanginya dan berthowaf.โ€ Umar pun mendatangi Abu Bakar radhiyallahu โ€˜anhu dan berkata kepadanya sebagaimana perkataannya kepada Rosulullah.

Dan Abu Bakar radhiyallahu โ€˜anhu pun menjawab sebagaimana jawaban Rosulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, padahal dia tidak mendengar jawaban Rosulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam (kepada Umar). Dan Abu Bakar radhiyallahu โ€˜anhu adalah orang yang lebih sering sesuai dengan Allah dan Rosul-Nya dari pada Umar radhiyallahu โ€˜anhu, dan Umar radhiyallahu โ€˜anhu mengakui kesalahannya dan berkata :โ€Aku benar-benar akan mengamalkannyaโ€[28] 2.

Ketika Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam wafat, Umar mengingkari kematian Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Namun tatkala Abu Bakar radhiyallahu โ€˜anhu berkata :โ€Sesungguhnya dia telah wafatโ€, maka Umar radhiyallahu โ€˜anhu pun menerimanya.[29] 3. Ketika Abu Bakar radhiyallahu โ€˜anhu memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat, maka Umar radhiyallahu โ€˜anhu berkata kepada Abu Bakar radhiyallahu โ€˜anhu :โ€Bagaimana bisa kita memerangi manusia, sedangkan Rosulullah bersabda :โ€Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku adalah Rosulullah.

Apabila mereka mengakui hal ini maka terjagalah darah-darah dan harta-harta mereka, kecuali dengan haknyaโ€โ€, maka Abu Bakar radhiyallahu โ€˜anhu berkata :โ€Bukanlah Rosulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda โ€œkecuali dengan haknyaโ€?, sesungguhnya zakat termasuk haknya.

Demi Allah kalau mereka itu menolak untuk membayar zakat kepadaku yang mereka membayarnya kepada Rosulullah maka aku akan memerangi mereka karena ketidakmauan merekaโ€. Berkata Umar radhiyallahu โ€˜anhu :โ€Demi Allah tidaklah ada, kecuali aku melihat Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi (orang-orang yang enggan membayar zakat), maka aku mengetahui bahwasanya dia adalah benarโ€[30] Faidah yang bisa diambil dari pemaparan ini adalah [31]: a.

Seorang wali tidak maโ€™sum, bisa berbuat salah, bahkan berkali-kali sebagaimana Umar yang salah berkali-kali. b. Seorang wali bisa memiliki karomah sebagaimana Umar yang mendapat ilham dari Allah taโ€™ala.

c. Tidak berarti seseorang yang mendapat karomah berarti lebih mulia daripada wali Allah yang tidak ada karomahnya[32]. Sebagaimana Abu Bakar radhiyallahu โ€˜anhu jelas lebih mulia daripada Umar radhiyallahu โ€˜anhu, namun dia tidak mendapatkan ilham dari Allah taโ€™ala dan tidak memiliki karomah-karomah sebagaimana yang dimiliki oleh Umar. Berkata Ibnu Taimyah, ((Dan termasuk perkara yang perlu untuk diketahui bahwasanya karomah terkadang sesuai dengan kebutuhan seseorang.

Jika seorang yang lemah imannya membutuhkan karomah atau orang yang butuh maka Allah memberikannya karomah untuk manguatkan imannya dan memenuhi kebutuhannya. Sehingga orang yang kewaliannya lebih sempurna tidak butuh kepada karomah tersebut, maka tidaklah datang kepadanya seperti karomah tersebut karena derajatnya yang tinggi. Dan tidak butuhnya ia kepada karomah tersebut bukan karena derajat kewaliannya yang kurang. Oleh karena itu munculnya karomah lebih banyak terjadi di generasi tabiin dari pada para sahabat.

Berbeda dengan kejadian luar biasa yang terjadi melalui tangan-tangan para nabi untuk memberi petunjuk kepada manusia dan kebutuhan manusiaโ€ฆ)) d. Seorang wali tetap harus melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah taโ€™ala dan Rosul-Nya dan menjauhi larangan-larangan Allah taโ€™ala dan Rosul-Nya. Sebagaimana Umar radhiyallahu โ€˜anhu yang tetap melaksanakan perintah Allah taโ€™ala dan RasulNya e. Walaupun seorang wali, tapi perkataan dan perbuatannya harus ditimbang dengan Al-Kitab dan Sunnah Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam yang maโ€™sum.

Sebagaimana ucapan Umar radhiyallahu โ€˜anhu dikembalikan (ditimbang) oleh Abu Bakar radhiyallahu โ€˜anhu dengan Sunnah Nabi. Berkata Yunus bin Abdil Aโ€™la As-Shodafi : Saya berkata kepada Imam Syafiโ€™i : โ€œSesungguhnya sahabat kami โ€“yaitu Al-Laits- mengatakan :โ€Apabila engkau melihat sesorang bisa berjalan di atas (Permukaan) air, maka janganlah engkau anggap dia sebelum engkau teliti keadaan (amalan-amalan) orang tersebut, apakah sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah.โ€, lalu Imam Syafiโ€™i berkata :โ€Al-Laits masih kurang, bahkan kalau engkau melihat seseorang bisa berjalan di atas air atau bisa terbang di udara, maka janganlah engkau anggap ia sebelum engkau memeriksa keadaan (amalan-amalan) orang tersebut apakah sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnahโ€.[33] Sehingga tidaklah benar anggapan bahwa Aresto adalah wali Allah karena Aresto adalah mentrinya Iskandar yang kafir (karena tidak ada wali Allah dari orang kafir), yang sebagian orang (diantaranya Ibnu Sina) menyangka bahwa Iskandar adalah Dzulqornain.[34] f.

Seorang wali yang telah jelas bahwasanya perkataan atau perbuatannya menyelisihi Sunnah Nabi, maka dia harus kembali kepada kebenaran. Dan dia tidak menentangnya. Sebagaimana Umar radhiyallahu โ€˜anhu, beliau tidak membantah Abu Bakar radhiyallahu โ€˜anhu dengan berkata :โ€Tapi saya kan wali, saya kan mendapat ilham dari Allah, saya kan dijamin masuk surga, dan kalian harus menerima perkataan sayaโ€ g.

Seorang wali harus mematuhi syariโ€™at Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Para Nabi saja kalau hidup sekarang harus mengikuti syariโ€™at Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam apalagi para wali. Karena jelas para Nabi lebih bertaqwa daripada para wali dari selain Nabi. Ibnu Masโ€™ud radhiyallahu โ€˜anhu berkata :โ€Tidaklah Allah mengutus seorang nabipun kecuali Allah mengambil perjanjiannya, jika Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam telah diutus dan nabi tersebut masih hidup maka nabi tersebut harus benar-benar beriman kepadanya dan menolongnya.

Dan Allah memerintah Nabi tersebut untuk mengambil perjanjian kepada umatnya kalau Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam telah diutus dan mereka (umat nabi tersebut masih) hidup maka mereka akan benar-benar beriman kepadanya dan menolongnya.โ€[35] h.

Seorang wali tidak boleh menyombongkan dirinya dengan mengaku-ngaku bahwa dia adalah wali sebagaimana yang dilakukan oleh Ahlul kitab yang mereka mengaku bahwa mereka adalah wali-wali Allah. Allah berfirman : ููŽู„ุงูŽ ุชูุฒูŽูƒู‘ููˆู’ุง ุฃูŽู†ู’ููุณูŽูƒูู…ู’ ู‡ููˆูŽ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุจูู…ูŽู†ู ุงุชู‘ูŽู‚ูŽู‰ Dan janganlah kalian menyatakan diri-diri kalian suci. Dia (Allah) yang lebih mengetahui tentang orang yang bertaqwa.

(An-Najm : 32 ) Orang mengaku dirinya adalah wali maka dia telah berbuat maksiat kepada Allah taโ€™ala karena telah melanggar larangan Allah taโ€™ala ini. Dan orang yang bermaksiat tidak pantas disebut wali Allah.[36] i. Dan juga bukan termasuk syarat sebagai wali Allah yaitu dia harus memiliki karomah. Namun karomah merupakan tambahan kenikmatan yang Allah berikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki dari kalangan para wali-Nya.[37] j.

Dan wali-wali Allah tidak memiliki ciri-ciri yang khusus pada perkara-perkara mubah yang bisa membedakannya dengan manusia yang lain.[38] Pakainnya sama, rambutnya sama, dan yang lainnya juga sama.

Ciri-ciri wali tidaklah kembali pada perkara-perkara dunia, namun ciri-ciri wali kembali pada perkara-perkara akhirat. Oleh karena kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut jelas kesalahan sebagian orang menyangka bahwa ahlu suffah telah mencapai derajat kewalian karena sekedar sifat mereka yang miskin dan kumuh[39], demikian juga sebagian orang yang menyangka bahwa ciri-ciri wali adalah orang yang memakai sorban, atau memakai tongkat, atau membawa selendang hijau, atau ciri-ciri yang lainnya.

Contoh-contoh karomah para wali Allah [40]: 1. Amir bin Fahiroh mati syahid, maka mereka mencari jasadnya namun tidak bisa menemukannya. Ternyata ketika dia terbunuh dia diangkat dan hal ini dilihat oleh Amir bin Thufail. Berkata Urwah:โ€Mereka melihat malaikat mengangkatnyaโ€[41] 2.

Kholid bin Walid ketika mengepung musuh di dalam benteng yang kokoh, maka para musuhpun berkata :โ€Kami tidak akan menyerah sampai engkau meminum racunโ€, lalu diapun meminum racun namun tidak mengapa.[42] 3.

Saโ€™ad bin Abi Waqqos adalah orang yang selalu dikabulkan doโ€™anya. Dan dengan doโ€™anya itulah dia berhasil mengalahkan pasukan Kisro dan menguasai Iroq.[43] 4. Abu Muslim Al-Khoulani, dia pernah dicari oleh Al-Aswad Al-โ€˜Anasi yang mengaku sebagai nabi.

Lalu Al-Aswad bertanya kepada beliau :โ€Apakah engkau bersaksi bahwa saya adalah Rosul Allah?โ€, lalu dia berkata :โ€Saya tidak dengarโ€, lalu dia bertanya lagi :โ€Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rosul Allah?โ€, beliau menjawab :โ€Yaโ€. Lalu disiapkan api dan beliau dilemparkan ke api. Namun mereka mendapatinya sedang sholat di dalam kobaran api itu, api itu menjadi dingin dan keselamatan untuknya.[44] 5. Saโ€™id Ibnul Musayyib, di waktu hari-hari yang panas, beliau mendengar adzan dari kuburan Nabi ketika tiba waktu-waktu sholat, dan mesjid dalam keadaan kosong (karena panasnya hari โ€“pent), tidak ada seorangpun kecuali dia.[45] 6.

Uwais Al-Qoroni ketika wafat mereka menemukan di bajunya ada beberapa kain kafan yang sebelumnya tidak ada, dan mereka juga menemukan lubang yang digali di padang pasir yang sudah ada lahadnya.

Lalu mereka mengafaninya dengan kefan-kafan teresbut dan menguburkannya di lubang tersebut.[46] 7. Asid Bin Hudlair membaca surat Al-Kahfi lalu turunlah bayangan dari langit yang ada semacam lentera dan itu adalah para malaikat yang turun karena bacaannya.[47] Dan malaikat pernah menyalami Imron bin Husain radhiyallahu โ€˜anhu [48].

Salman radhiyallahu โ€˜anhu dan Abu Dardaโ€™ radhiyallahu โ€˜anhu makan di piring lalu piring mereka bertasbih atau makanan yang ada pada piring tersebut bertasbih.[49] Abbad bin Bisyr radhiyallahu โ€˜anhu dan Asid bin Hudlair radhiyallahu โ€˜anhu kembali dari Rosulullah pada malam yang gelap gulita. Maka Allah menjadikan cahaya bagi mereka berdua, dan tatkala mereka berpisah maka terpisah juga cahaya tersebut.[50] 8. Muthorrif bin Abdillah jika memasuki rumahnya maka tempayan-tempayannya bertasbih bersamanya.[51] Dia bersama seorang sahabatnya berjalan di malam hari, lalu Allah menjadikan cayaha untuk mereka berdua.[52] 9.

Ahnaf bin Qois. Ketika dia wafat, tutup kepala milik seseorang terjatuh di kuburannya. Lalu orang tersebut mengambil topinya, dan dia melihat kuburan Ahnaf bin Qois telah menjadi seluas mata memandang.[53] 10. Utbah Al-gulam, dia meminta kepada Allah tiga perkara, yaitu suara yang indah, air mata yang banyak, dan makanan yang diperoleh tanpa usaha. Dan jika dia membaca Al-Qurโ€™an maka dia menangis dengan air mata yang banyak.

Dan jika dia bernaung di rumahnya dia mendapatkan makanan dan dia tidak tahu dari manakah makanan tersebut.[54] Siapakah wali-wali syaithon ? Allah taโ€™ala berfirman : }ูˆูŽู…ูŽู† ูŠูŽุนู’ุดู ุนูŽู† ุฐููƒู’ุฑู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ู†ูู‚ูŽูŠู‘ูุถู’ ู„ูŽู‡ู ุดูŽูŠู’ุทูŽุงู†ุงู‹ ููŽู‡ููˆูŽ ู„ูŽู‡ู ู‚ูŽุฑููŠู†ูŒ{ ุงู„ุฒุฎุฑู : 36 Dan barang siapa yang berpaling dari pengajaran Ar-Rohman, kami adakan baginya syaithon yang menyesatkan, maka syaithon itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.

(Az-Zukhruf : 36) }ู‡ูŽู„ู’ ุฃูู†ูŽุจู‘ูุฆููƒูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽู† ุชูŽู†ูŽุฒู‘ูŽู„ู ุงู„ุดู‘ูŽูŠูŽุงุทููŠู†ู, ูŽู†ูŽุฒู‘ูŽู„ู ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ู‘ู ุฃูŽูู‘ูŽุงูƒู ุฃูŽุซููŠู…ู, ูŠูู„ู’ู‚ููˆู†ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ู’ุนูŽ ูˆูŽุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูู‡ูู…ู’ ูƒูŽุงุฐูุจููˆู†ูŽ{ (ุงู„ุดุนุฑุงุก : 221 -223 ) Apakah akan aku beritahukan kepadamu, kepada siapkah syaithon-syaithon itu turun ?, kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak dosa.

Mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaithon) itu, dan kebanyakan mereka adalah pendusta. (As-Syuโ€™aroโ€™ : 221-223) Contoh-contoh tipuan syaithon 1.

kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut

Abdullah bin Soyyad. Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pernah menguji Ibnu Soyyad (seorang dukun yang hidup di zaman Nabi yang dia adalah seorang Yahudi). Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata kepadanya :โ€(Cobalah tebak) aku menyembunyikan sesuatu (di hatiku)โ€. Ibnu Soyyad berkata :โ€Ad-Dukhโ€ฆAd-Dukh.โ€. Padahal sesungguhnya Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam sedang menyembunyikan surat Ad-Dukhon. Lalu Nabi berkata kepadanya :โ€Cih, engkau tidak mampu melampaui kemampuanmuโ€[55].

Ibnu Soyyad hampir betul menebak apa yang ada di hati Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, dan ini adalah suatu keajaiban, namun dengan bantuan syaithon.

Karena seorang yang normal maka dia tidak akan bisa mengetahui isi hati manusia, bahkan Nabi pun tidak mengetahui isi hati manusia kecuali yang diberitahu oleh Allah taโ€™ala. Para sahabat pun (kecuali Hudzifah, karena dia telah diberitahu oleh Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam) tidak mengetahui siapa-siapa saja orang munafik yang ada bersama mereka. [56] 2. Al-Aswad Al-โ€˜Anasi yang mengaku sebagai nabi. Dia dibantu para syaithon yang memberitahukan kepadanya tentang perkara-perkara ghoib.

Dan tatkala kaum muslimin memeranginya mereka khawatir para syaithonnya akan mengabarkan kepadanya apa yang mereka bicarakan tentang dirinya (yaitu bahwasanya dia akan dibunuh โ€“pent). Namun istrinya sadar akan kekafiran suaminya maka diapun menolong kaum muslimin.[57] 3. Musailamah Al-Kadzdzab yang juga mengaku sebagai nabi, memiliki syaithon-syaithon yang memberitahukan perkara-perkara ghoโ€™ib kepadanya dan membantunya melakukan hal-hal yang ajaib[58].

Diantaranya dia pernah meludah di sumur sehingga air sumur tersebut menjadi melimpah.[59] 4. Al-Harits Ad-Dimasyqi, seorang pembohong besar yang muncul dan mengaku sebagi nabi di Syam pada zaman khalifah Abdul Malik bin Marwan (wafat tahun 86 H). Al-Harits memiliki kemampuan ajaib. Para syaithonnya melepaskan kedua kakinya dari belenggu, dan membuatnya kebal senjata, dan batu pualam bisa bertasbih jika dia sentuh dengan tangannya.

Dan dia telah memperlihatkan kepada manusia sekelompok orang-orang sedang berjalan di udara dan naik kuda terbang di udara, dia berkata : โ€œMereka adalah malaikatโ€, padahal mereka adalah jin.

Dan tatkala kaum muslimin menangkapnya untuk dibunuh, maka ada orang yang menombaknya di tubuhnya, namun tidak mempan. Maka Abdul Malik berkata kepadanya :โ€Engkau tidak menyebut nama Allahโ€. Lalu orang itu menyebut nama Allah dan berhasil membunuh Al-harits.[60] 5. Lia โ€˜Aminuddin, yang mengaku sebagai Imam Mahdi dan mengaku telah didatangi oleh Jibril. Keajaiban yang ada padanya yaitu dia mampu untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

Bahkan dia mengaku adalah seseorang yang memberantas bidโ€™ah dan kesyririkan[61]. Syubhat-syubhat Syubhat pertama Sesungguhnya Rosulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam diutus kepada manusia pada umumnya namun tidak pada manusia-manusia yang khusus yaitu para wali, dan para wali tersebut tidak butuh kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, mereka memiliki cara tersendiri untuk mencapai Allah taโ€™ala. Sebagaimana Nabi Musa kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut diutus kepada Nabi Khidir sehingga Nabi Khidir tidak wajib mengikuti syariโ€™at Musa.[62] Jawab [63]: Perkataan ini sebagaimana perkataan kebanyakan para ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) bahwasanya Rosulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam diutus kepada orang-orang yang tuna aksara bukan kepada mereka.

Dan pendalilan dengan kisah antara Khidir dan Musa adalah tidak tepat, sebab : a. Kisah yang terjadi antara nabi Musa dan Khidir hanyalah bisa dijadikan dalil kalau ternyata Khidir adalah seorang wali dan bukan seorang nabi.

Ulama berselisih pendapat tentang status Khidir, ada yang berpendapat bahwa ia adalah seorang hamba yang sholeh, namun pendapat yang benar bahwasanya khidr adalah seorang nabi dan bukan seorang wali. Yang menunjukan bahwa Khidr adalah seorang nabi adalah sebagai berikut: 1. Firman Allah ููŽูˆูŽุฌูŽุฏูŽุง ุนูŽุจู’ุฏุงู‹ ู…ู‘ูู†ู’ ุนูุจูŽุงุฏูู†ูŽุง ุขุชูŽูŠู’ู†ูŽุงู‡ู ุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู‹ ู…ูู†ู’ ุนูู†ุฏูู†ูŽุง ูˆูŽุนูŽู„ู‘ูŽู…ู’ู†ูŽุงู‡ู ู…ูู† ู„ู‘ูŽุฏูู†ู‘ูŽุง ุนูู„ู’ู…ุงู‹ {65} Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.

(QS. 18:65) Hal ini menunjukan bahwa Allah telah memberi wahyu kepada Khidir 2. Firman Allah ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู‡ู ู…ููˆุณูŽู‰ ู‡ูŽู„ู’ ุฃูŽุชู‘ูŽุจูุนููƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู† ุชูุนูŽู„ู‘ูู…ูŽู†ู ู…ูู…ู‘ูŽุง ุนูู„ู‘ูู…ู’ุชูŽ ุฑูุดู’ุฏุงู‹ {66} ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ู„ูŽู† ุชูŽุณู’ุชูŽุทููŠุนูŽ ู…ูŽุนููŠูŽ ุตูŽุจู’ุฑุงู‹ {67} ูˆูŽูƒูŽูŠู’ููŽ ุชูŽุตู’ุจูุฑู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ู„ูŽู…ู’ ุชูุญูุทู’ ุจูู‡ู ุฎูุจู’ุฑุงู‹ {68} ู‚ูŽุงู„ูŽ ุณูŽุชูŽุฌูุฏูู†ููŠ ุฅูู† ุดูŽุงุก ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽุงุจูุฑุงู‹ ูˆูŽู„ูŽุง ุฃูŽุนู’ุตููŠ ู„ูŽูƒูŽ ุฃูŽู…ู’ุฑุงู‹ {69} ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุฅูู†ู ุงุชู‘ูŽุจูŽุนู’ุชูŽู†ููŠ ููŽู„ูŽุง ุชูŽุณู’ุฃูŽู„ู’ู†ููŠ ุนูŽู† ุดูŽูŠู’ุกู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุฃูุญู’ุฏูุซูŽ ู„ูŽูƒูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ุฐููƒู’ุฑุงู‹ Musa berkata kepada Khidhr:โ€Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamuโ€ (QS.

18:66) Dia menjawab:โ€Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. (QS. 18:67) Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal ituโ€ (QS. 18:68) Musa berkata:โ€Insya Allah kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpunโ€.

(QS. 18:69) Dia berkata:โ€Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tetang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamuโ€. (QS. 18:70) Berkata Ibnu Katsir, ((Jika seandainya Khidr adalah seorang wali dan bukan seorang nabi maka Musa tidak akan berbicara dengan dia seperti ini, dan tidaklah Khidir menjawab Musa dengan seperti ini. Bahkan Musa hanyalah meminta kepada Khidr agar menemaninya untuk memperoleh ilmu yang dimilikinya yang Allah khususkan baginya dan bukan untuk selainnya.

Kalau Khidir bukanlah nabi maka ia tidaklah maโ€™sum (terjaga dari kesalahan) dan tidaklah Musa -yang ia seorang nabi yang agung dan seorang rasul yang mulia, yang maโ€™sum- memiliki keinginan yang sangat besar dan permintaan yang besar untuk mencari ilmu seorang wali yang tidak maโ€™sum.

Dan tidaklah ia akan bersungguh-sungguh untuk pergi mencari Khidir dan menelusurinya meskipun memakan waktu yang lama. Dikatakan bahwa masa ia mencari Khidr adalah 80 tahun. Kemudian tatkala ia bertemu dengan Khidir maka Musapun bersikap tunduk kepadanya dan mengagungkannya serta mengikutinya sebagaimana orang yang ingin mencari faedah dari Khidir.

Hal ini (semua) menunjukan bahwa Khidir adalah seorang nabi seperti Musa yang diberi wahyu kepadanya sebagaimana diberi wahyu kepada Musa. Dan iapaun telah dikhususkan dengan ilmu laduuni dan rahasaia-rahasia kenabian yang tidak Allah beritahukan kepada Musa Al-Kaliim yang merupakan nabi bani Israil yang mulia. ))[64] 3. Ibnu Katsir berkata, ((Khidir memberanikan diri untuk membunuh anak tersebut, dan tidaklah hal itu dilakukannya kecuali karena wahyu yang disampaikan kepadanya oleh malaikat pemberi kabar.

Dan ini merupakan dalil tersendiri akan kenabian Khidir dan petunjuk yang jelas akan kemaโ€™sumannya, karena seorang wali tidak boleh baginya untuk membunuh jiwa manusia hanya dengan sekedar apa yang diilhamkan ke dadanya.

Karena perasaan (yang diilhamkan) kepadanya tidaklah maโ€™sum, mungkin saja perasaannya itu. salah Dan ini merupakan hal yang disepakati. Maka tatkala Khidir maju membunuh anak tersebut yang belum dewasa dengan ilmunya bahwa anak itu jika mencapai usia dewasa akan membawa kedua orangtuanya kepada kekufuran karena besarnya kecintaan kedua orangtuanya kepadanya sehingga menyebabkan keduanya mengikutinya, maka membunuh anak tersebut ada kemaslahatan yang besar yang lebih daripada dibiarkan hidup demi menjaga kedua orangtuanya dari kekufuran dan akibat kekufuran.

Hal ini menunjukan akan kenabian Khidir dan ia dibantu oleh Allah dengan kemaโ€™sumannya))[65] 4. Berkata Ibnu Katsir, ((Tatkala Khidir menjelaskan kepada Musa sebab-sebab perbuatannya, dan ia menerangkan hakikat perkaranya maka ia berkata setelah itu, ุฑูŽุญู’ู…ูŽุฉู‹ ู…ู‘ูู† ุฑู‘ูŽุจู‘ููƒูŽ ูˆูŽู…ูŽุง ููŽุนูŽู„ู’ุชูู‡ู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู…ู’ุฑููŠ {82} โ€œSebagai rahmat dari Rabbmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiriโ€.

(QS. 18:82) Yaitu, โ€œApa yang telah aku perbuat bukanlah dari perasaanku akan tetapi aku diperintahkan untuk melakukannya dan diwahyukan kepadakuโ€ Maka keempat sisi di atas ini menunjukan akan kenabian Khidir, dan hal ini tidaklah menafikan kewaliannya bahkan tidak menafikan kerasulannya sebagaimana pendapat yang lainโ€ฆ Dan jika telah tetap apa yang kami sebutkan maka tidak tersisa dalil dan sandaran yang bisa dipegang oleh orang yang mengatakan kewalian Khidir bahwasanya seorang wali terkadang bisa mengetahui hakikat perkara-perkara tanpa diketahui oleh para pemimpin syariโ€™at yang zhohir (para rasul)โ€ฆ))[66] b.

Kalaulah memang Khidir adalah seorang wali bukan seorang nabi maka nabi Musa tidaklah diutus kepada Khidir (tetapi hanya diutus untuk bani Isroil), sehingga Khidir tidaklah wajib mengikuti nabi Musa โ€˜alaihissalam. Oleh karena itu Khidir berkata kepada Musa : โ€œAku diatas ilmu yang diajarkan Allah kepadaku yang tidak kau ketahui dan engkau di atas ilmu yang Allah mengajari engkau yang aku tidak mengetahuinyaโ€[67].

Dan tidak boleh bagi seorangpun yang sampai kepadanya risalah Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam untuk berkata sebagaimana perkataan Khidir ini. Adapun Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam risalahnya umum untuk seluruh jin dan manusia. Bahkan jika ada orang yang lebih mulia dari Khidir (seperti Ibrohim, Musa, dan Isa) bertemu dengan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, maka dia wajib mengikuti Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.

Apalagi Khidir jika ia hidup di zaman Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam [68] tentu lebih wajib lagi baginya untuk mengikuti syariโ€™at Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Allah taโ€™ala berfirman dalam surat Ali Imron : 81 : }ูˆูŽุฅูุฐู’ ุฃูŽุฎูŽุฐูŽ ุงู„ู„ู‘ู‡ู ู…ููŠุซูŽุงู‚ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ููŠู’ู†ูŽ ู„ูŽู…ูŽุง ุขุชูŽูŠู’ุชููƒูู… ู…ู‘ูู† ูƒูุชูŽุงุจู ูˆูŽุญููƒู’ู…ูŽุฉู ุซูู…ู‘ูŽ ุฌูŽุงุกูƒูู…ู’ ุฑูŽุณููˆู„ูŒ ู…ู‘ูุตูŽุฏู‘ูู‚ูŒ ู„ู‘ูู…ูŽุง ู…ูŽุนูŽูƒูู…ู’ ู„ูŽุชูุคู’ู…ูู†ูู†ู‘ูŽ ุจูู‡ู ูˆูŽู„ูŽุชูŽู†ุตูุฑูู†ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุฃูŽู‚ู’ุฑูŽุฑู’ุชูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽุฎูŽุฐู’ุชูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูู…ู’ ุฅูุตู’ุฑููŠ ู‚ูŽุงู„ููˆุงู’ ุฃูŽู‚ู’ุฑูŽุฑู’ู†ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุงุดู’ู‡ูŽุฏููˆุงู’ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุงู’ ู…ูŽุนูŽูƒูู… ู…ู‘ูู†ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽุงู‡ูุฏููŠู†ูŽ{ โ€Dan (ingatlah) tatkala Allah mengambil perjanjian dari para nabi:โ€Sungguh apa saja yang Aku berikan kepada kalian berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepada kalian seorang Rosul yang membenarkan apa yang ada pada kalian, niscaya kalian akan sungguh-sungguh beriman kepada Rosul tersebut dan sungguh-sungguh akan menolongnyaโ€.

Allah berfirman :โ€Apakah kalian mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu ?โ€, mereka menjawab :โ€Kami mengakuiโ€. Allah berfirman :โ€Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kalian.โ€ Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda ูุฅู†ู‡ ู„ูˆ ูƒุงู† ู…ูˆุณู‰ ุญูŠุง ุจูŠู† ุฃุธู‡ุฑูƒู… ู…ุง ุญู„ ู„ู‡ ุฅู„ุง ุฃู† ูŠุชุจุนู†ูŠ โ€œSesungguhnya kalau Musa hidup di tengah-tengah kalian maka tidaklah boleh baginya kecuali mengikuti akuโ€[69] Berkata Ibnu Katsir, โ€œRasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam adalah penutup para nabi selamanya hingga hari kiamat, dan dia adalah Imam yang teragung yang seandainya jika ia hidup di zaman kapan saja maka yang wajib adalah mendahulukan ketaatan kepadanya di atas ketaatan kepada seluruh nabi-nabi yang lain.

Oleh karena itu Nabilah yang mengimami mereka tatkala malam isroโ€™ miโ€™roj tatkala para nabi berkumpul di baitul maqdis. Dan ia juga (satu-satunya) pemberi syafaโ€™at di padang mahsyar agar Allah datang untuk memutuskan perkara diantara hamba-hambaNya, dan ia adalah Al-Maqoom Al-Mahmuud yang tidak pantas kecuali untuk beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallamโ€[70] c. Apa yang telah dilakukan oleh Khidir[71] tidaklah menyelisihi syariโ€™at Musa.

Musa tidaklah mengetahui sebab yang membolehkan hal-hal itu. Dan ketika Khidir menjelaskan sebab-sebab kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut Musa menyetujuinya. Sehingga berkata Ibnu Abbas kepada Najdah Al-Harwari ketika dia bertanya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu โ€˜anhu tentang membunuh anak-anak kecil: ุฅู† ูƒู†ุช ุนู„ู…ุช ู…ู†ู‡ู… ู…ุง ุนู„ู…ู‡ ุงู„ุฎุถุฑ ู…ู† ุฐู„ูƒ ุงู„ุบู„ุงู… ูุงู‚ุชู„ู‡ู…ุŒ ูˆุฅู„ุง ูู„ุง ุชู‚ุชู„ู‡ู… โ€œJika kamu mengetahui anak-anak tersebut sebagaimana yang diketahui oleh Khidir tentang anak kecil (yang dibunuhnya) maka bunuhlah mereka, dan jika tidak maka jangan.โ€[72] Berkata Ibnu Taimiyah dalam Al-Furqon, ((Sebagaimana dintara orang-orang kafir ada yang mengaku-ngaku bahwasanya ia adalah wali Allah padahal ia bukan wali Allah namun sebaliknya ia adalah musuh Allah maka demikian juga hal ini terdapat diantara orang-orang munafik yang menampakan Islam dan menampakkan pembenaran syahadatain dan menampakan bahwa mereka mengakui bahwa Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam diutus untuk seluruh manusia bahkan untuk seluruh jin dan manusia padahal di dalam batin mereka berkeyakinan yang sebaliknya (maksud beliau adalah orang-orang yang mengaku wali namun tidak mau mengamalkan syariโ€™at Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam -pen), contohnya โ€“ Mereka meyakini bahwa Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bukanlah seorang utusan Allah, ia hanyalah seorang raja yang ditaati yang mengatur manusia dengan kepandaiannya sebagaiamana raja-raja yang lain.

โ€“ Atau mereka berkata bahwasanya Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam hanyalah diutus kepada ummiyin (orang-orang yang tuna aksara) dan tidak diutus kepada ahli kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut sebagaimana yang didengungkan oleh kebanyakan orang-orang Yahudi dan Nasrani, โ€“ Atau ia diutus untuk seluruh manusia namun Allah memiliki wali-wali khusus yang Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tidaklah diutus kepada mereka, dan para wali itu tidak butuh kepadanya bahkan mereka memiliki jalan untuk menuju kepada Allah tanpa melalui jalannya Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam atau mereka (para wali) mengambil langsung dari Allah apa saja yang mereka butuhkan untuk dimanfaatkan tanpa melalui perantara โ€“ Atau Muhammad itu diutus dengan syariโ€™at yang dzhohir dan mereka (para wali) menyetujuinya dalam hal ini, adapun hakikat yang batin maka ia tidak diutus dengan hakikat batin, atau mereka mengatakan bahwa mereka lebih paham tentang hakekat batin, atau mereka mengatakan bahwa mereka mengerti hakekat batin sebagaimana Muhammad mengetahuinya hanya saja mereka mengetahuinya tanpa melalui jalannya, atau ia tidak mengetahui hakekat batin.

Sebagian mereka berkata bahwasanya ahlus suffah[73] (penghuni suffah) mereka tidak butuh kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tidaklah diutus kepada mereka, dan diantara mereka ada yang berkata bahwasanya Allah memberi wahyu kepada ahlus suffah di batin mereka berupa apa yang diwahyukan kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pada waktu malam miโ€™roj (dinaikkan ke sidratul muntaha) maka jadilah ahlus suffah kedudukannya seperti kedudukan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.

Mereka yang mengatakan demikian sungguh terlalu bodoh karena tidak mengetahui bahwasanya isroโ€™ miโ€™roj terjadi tatkala Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam di Mekah sebagaimana firman: }ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุฃูŽุณู’ุฑูŽู‰ ุจูุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ู„ูŽูŠู’ู„ุงู‹ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู’ุฃูŽู‚ู’ุตูŽู‰ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุจูŽุงุฑูŽูƒู’ู†ูŽุง ุญูŽูˆู’ู„ูŽู‡ู ู„ูู†ูุฑููŠูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุขูŠูŽุงุชูู†ูŽุง ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู‡ููˆูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ููŠุนู ุงู„ู’ุจูŽุตููŠุฑู{ (ุงู„ุงุณุฑุงุก:1) Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami.

Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. 17:1) Mereka juga tidak tahu bahwasanya suffah itu adanya di Madinah yaitu di utara masjid Nabawi yang ditempati oleh orang-orang yang asing yang tidak memiliki keluarga atau sahabat yang bisa ditinggali oleh mereka.

Kaum mukminin mereka berhijroh ke Madinah maka barangsiapa yang memungkinkan bagi mereka untuk tinggal di suatu tempat maka di situlah ia tinggal dan barangsiapa yang tidak bisa maka ia tinggal di masjid Nabawi hingga mendapatkan tempat tinggal. Dan bukanlah ahlus suffah adalah orang-orang tertentu yang selalu tinggal di suffah namun jumlah mereka terkadang sedikit dan terkadang banyak, seseorang tinggal di situ pada waktu tertentu kemudian meninggalkan tempat tersebut.

Para penghuni suffah mereka sama juga seperti kaum mukminin yang lainnya, mereka tidak memiliki keutamaan (kelebihan) khusus dalam bidang ilmu atau agama bahkan diantara mereka ada yang murtad (keluar) dari agama Islam dan dibunuh oleh Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam sebagaiamana โ€œUroniyyiinโ€ yang tidak betah tinggal di Madinah maka Nabi memerintah mereka untuk mencari onta yang ada susunya dan memerintah mereka untuk meminum susunya dan air kencingnya.

Tatkala mereka sehat mereka membunuh penggembala onta tersebut dan membawa lari beberapa onta maka Nabipun mengutus pelacak untuk melacak jejak mereka lalu merekapun tertangkap dan dibawa di hadapan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam lalu Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam memerintah untuk memotong tangan-tangan dan kaki-kaki mereka dan mata-mata mereka di biarkan terbuka lalu mereka dijemur di bawah terik matahari dan mereka meminta minum namun tidak diberi minum.

Hadits tentang kisah mereka terdapat di shahihain (Bukhari dan Muslim) dari hadits Anas dan dalam hadits tersebut disebutkan bahwasanya mereka menghuni suffah[74], maka mereka juga menetap di suffah sebagaimana para penghuni yang lainnya. Dan suffah juga pernah ditinggali oleh seorang diantara kaum muslimin yang terbaik yaitu Saโ€™ad bin Abi Waqqosh dan ia adalah orang terbaik yang pernah tinggal di suffah kemudian ia berpindah dari suffah tersebut.

Demikian juga pernah kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut Abu Huroiroh dan yang lainnyaโ€ฆ. Adapun kaum Anshor mereka tidak termasuk penghuni suffah, dan demikian juga para sahabat senior seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Tolhah, Az-Zubair, Abdurrahman bin โ€˜Auf, Abu Ubaidah radhiyallahu โ€˜anhu dan para sahabat yang lain, mereka bukanlah termasuk penghuni suffah.

Dan diriwayatkan bahwa Budak milik Al-Mugiroh bin Syuโ€™bah (yaitu yang telah membunuh Umar bin Al-Khothtob-pen) juga pernah tinggal di suffah. Dan diriwayatkan juga bahwa Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata tentangnya, โ€œIni (Budak Mugiroh) adalah termasuk dari yang tujuhโ€, dan ini adalah hadits palsu berdasarkan kesepakatan para ulama meskipun diriwayatkan oleh Abu Nuโ€™aim dalam kitabnya Al-Hilyah, dan demikian juga semua hadits yang berkaitan dengan jumlah para wali, atau abdal, atau nuqobaโ€™, atau autaad, aqtoobโ€ฆ.

Maksud dari pembicaraan ini ada di antara orang-orang yang pada dzhohirnya (tampak luarnya) mengakui risalah Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam untuk seluruh umat manusia namun di dalam batin mereka meyakini perkara-perkara yang membatalkan pengakuan dzohir mereka, dan mereka mengaku-ngaku bahwa mereka adalah para wali Allah padahal mereka menyimpan kekufuran di dalam batin merekaโ€ฆsebagaimana banyak dari orang-orang Yahudi dan Nashrani yang mengaku-ngaku bahwa mereka adalah wali-wali Allah dan mereka meyakini bahwa Muhammad adalah utusan Allah namun mereka berkata, โ€œMuhammad hanyalah diutus untuk selain ahlul kitab dan tidak wajib bagi kami untuk mengikutinya karena telah diutus kepada kami rosul sebelum diaโ€โ€ฆ)) Beliau juga berkata, ((Harus terdapat dalam keimananmu bahwasanya engkau beriman bahwa Muhammad adalah penutup para nabi dan Allah telah mengutusnya untuk seluruh manusia dan jin, maka siapa saja yang tidak beriman dengan apa yang dibawa oleh Muhammad maka ia bukanlah seorang mukmin, apalagi termasuk wali-wali Allah yang bertakwa.

Barangsiapa yang beriman dengan sebagian yang dibawanya dan kafir kepada sebagian yang lain maka ia adalah orang kafir dan bukan odrang mukmin sebagaimana firman Allah }ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽูƒู’ููุฑููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฑูุณูู„ูู‡ู ูˆูŽูŠูุฑููŠุฏููˆู†ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูููŽุฑู‘ูู‚ููˆุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฑูุณูู„ูู‡ู ูˆูŽูŠูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ ู†ูุคู’ู…ูู†ู ุจูุจูŽุนู’ุถู ูˆูŽู†ูŽูƒู’ููุฑู ุจูุจูŽุนู’ุถู ูˆูŽูŠูุฑููŠุฏููˆู†ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุชู‘ูŽุฎูุฐููˆุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุณูŽุจููŠู„ุงู‹ ุฃููˆู’ู„ูŽุฆููƒูŽ ู‡ูู…ู’ ุงู„ู’ูƒูŽุงููุฑููˆู†ูŽ ุญูŽู‚ู‘ู‹ุง ูˆูŽุฃูŽุนู’ุชูŽุฏู’ู†ูŽุง ู„ูู„ู’ูƒูŽุงููุฑููŠู†ูŽ ุนูŽุฐูŽุงุจู‹ุง ู…ูู‡ููŠู†ู‹ุง ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุฑูุณูู„ูู‡ู ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูููŽุฑู‘ูู‚ููˆุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฃูŽุญูŽุฏู ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ุฃููˆู’ู„ูŽุฆููƒูŽ ุณูŽูˆู’ููŽ ูŠูุคู’ุชููŠู‡ูู…ู’ ุฃูุฌููˆุฑูŽู‡ูู…ู’ kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุบูŽูููˆุฑู‹ุง ุฑูŽุญููŠู…ู‹ุง{ (ุงู„ู†ุณุงุก : 152-150) Sesungguhnya orang-orang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan:โ€Kami beriman kepada yang sebahagian dan kafir terhadap sebahagian (yang lain)โ€, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya.

Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya dan tidak membedakan seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 4:150-152) Dan termasuk iman kepada Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam yaitu mengimani bahwa ia adalah perantara antara Allah dan makhluk-makhlukNya dalam menyempaikan perintahNya dan laranganNya, janji dan ancamanNya, perkara-perkara yang dihalalkan dan diharamkanNya.

Maka perkara yang halal adalah apa yang dihalalkan oleh Allah dan RasulNya dan yang haram adalah apa yang diharamkan kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut Allah dan RasulNya, dan agama adalah apa yang disyariโ€™atkan oleh Allah dan RasulNya, maka barangsiapa yang meyakini bahwa seorang wali memiliki jalan menuju Allah selain jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam maka ia adalah orang kafir dan termasuk wali-wali syaitanโ€ฆ)) Beliau juga berkata, ((Kalau seseorang telah mencapai tingkatan dalam zuhud, ibadah, dan ilmu dalam tingkatan yang tinggi namun ia tidak beriman dengan seluruh apa yang dibawa Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam maka ia bukanlah orang yang beriman, dan bukan wali Allah sebagaimana kondisi para rahib dan pendeta yaitu ulama dan para ahli ibadah dari kalangan Yahudi dan Nashraniโ€ฆdan ia adalah orang kafir dan musuh Allah meskipun sekelompok orang menyangka bahwa ia adalah wali Allah)) Syubhat kedua Mereka (para wali syaithon) menganggap bahwa mereka mendapat wahyu langsung dari Allah -sebagaimana yang diserukan oleh Ibnu Arobi- dan bahwasanya mereka lebih baik dari para nabi yang mengambil ilmu dari Allah melalui perantara.

Mereka berkata :โ€Kenabian telah berakhir dengan wafatnya Rosulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, sedangkan kewalian belum berakhir[75]. Dan yang paling terakhir adalah yang lebih baik dari yang sebelumnyaโ€. Jawab : Ini adalah pemikiran sesat Ibnu Arobi yang sama sekali tidak bersandar kepada dalil. Ketika dia mengetahui bahwa syariโ€™at ini sudah tidak bisa dirubah lagi hingga hari kiamat, (dan dia ingin keluar dari syariโ€™at) maka dia berkata :โ€Kenabian telah tertutup, tetapi kewalian belumโ€, dan dia menganggap bahwa kewalian lebih tinggi derajatnya dari pada kerosulan dan kenabian, sebagaimana dia berkata : ู…ูŽู‚ูŽุงู…ู ุงู„ู†ุจูˆุฉ ููŠ ุจุฑุฒุฎู ููˆูŠู‚ ุงู„ุฑุณูˆู„ ูˆ ุฏูˆู† ุงู„ูˆู„ูŠ Kedudukan kenabian berada di barzakh (pemisah antara dua dzat)[76], sedikit di atas (kedudukan) Rosul dan dibawah (kedudukan) Wali Hal ini tentunya pemutarbalikan syariโ€™at.

Seharusnya kenabian lebih khusus dari kewalian dan kerosulan lebih khusus daripada kenabian. Sehingga kedudukannya adalah kerosulan lebih tingi daripada kenabian dan kenabian lebih tinggi daripada kewalian.[77] Berkata Imam Abul โ€˜Izz Al-Hanafi :โ€Maka siapakah yang lebih kafir dari memisalkan dirinya dengan sebuah bata emas dan memisalkan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dengan bata perak, lalu dia menjadikan dirinya lebih tinggi daripada Nabi,โ€ฆโ€ฆ.bagaimana bisa samar kekufuran dari perkataannya (Ibnu Arobi) ini ?โ€ฆ.dan kekufuran Ibnu โ€œArobi lebih parah dari kekufuran orang-orang yang berkata : โ€œTidaklah kami beriman hingga kami diberikan apa yang diberikan kepada Rosulullahโ€ (Al-Anโ€™am : 124)โ€[78] Syubhat ketiga Kami tidak usah menjalankan syariโ€™at karena Allah taโ€™ala telah bersatu dengan kami para hambanya yang sholih.

Bukankah Allah taโ€™ala berkata dalam hadits qudsi : ูˆูŽ ู…ูŽุง ูŠูŽุฒูŽุงู„ู ุนูŽุจู’ุฏููŠ ูŠูŽุชูŽู‚ูŽุฑู‘ูŽุจู ุฅูู„ูŽูŠู‘ูŽ ุจูุงู„ู†ู‘ูŽูˆูŽุงููู„ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุฃูุญูุจู‘ูŽู‡ู, ููŽุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุญู’ุจูŽุจู’ุชูู‡ู ูƒูู†ู’ุชู ุณูŽู…ู’ุนูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูŽุณู’ู…ูŽุนู ุจูู‡ู ูˆูŽ ุจูŽุตูŽุฑูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูุจู’ุตูุฑู ูŠูู‡ู ูˆูŽูŠูŽุฏูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ูŠูŽุจู’ุดูุทู ุจูู‡ูŽุง ูˆูŽุฑูุฌู’ู„ูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ูŠูŽู…ู’ุดููŠ ุจูู‡ูŽุง, ูˆูŽู„ูŽุฆูู†ู’ ุณูŽุฃูŽู„ูŽู†ููŠ ู„ุฃูุนู’ุทููŠูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽู„ูŽุฆูู†ู ุงุณู’ุชูŽุนูŽุงุฐูŽู†ููŠ ู„ูŽุฃูุนููŠู’ุฐูŽู†ู‘ูŽู‡ู Dan hamba-Ku senantiasa bertaqorrub (mendekatkan dirinya) kepada-Ku dengan amalan-amalan nafilah (sunnah) hingga Aku mencintainya.

Apabila Aku mencintainya, maka Aku adalah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan penglihatannya yang dia melihat dengannya, dan tangannya yang dia memukul dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya, dan jika dia meminta kepada-Ku maka akan aku berikan, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka aku akan melindunginya.[79] Jawab : Dzohir hadits ini adalah bukanlah Allah taโ€™ala menjadi pendengarannya, penglihatannya, tangannya, dan kakinya, tetapi dzohirnya adalah Allah taโ€™ala meluruskan (memberi petunjuk) kepada penglihatan, pendengaran, tangan dan kakinya, sehingga apa yang dilakukan oleh hamba tersebut selalu dibimbing oleh Allah taโ€™ala.

Adapun makna yang batil di atas adalah tidaklah mungkin, sebab : a. Ini merupakan aqidah wihdatul wujud (manunggaling kawulo gusti) yang sesat[80] karena bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qurโ€™an yang muhkam (jelas) yang tidak bisa lagi dipalingkan lagi maknanya.

b. Hadits ini menunjukan bahwa syarat seseorang menjadi wali Allah yang sejati adalah ia harus melaksanakan perkara-perkara syairโ€™at yang merupakan kewajibannya, bahkan tidak cukup hanya sampai di situ bahkan ia harus melaksanakan perkara-perkara sunnah (mustahab) sehingga Allahpun mencintainya. Dan demikianlah keadaan wali Allah yang sejati sepanjang hidupnya sehingga Allah senantiasa mencintainya Hadits ini sama sekali tidaklah menunjukan bahwa jika seseorang telah mencapai derajat kewalian (dicintai oleh Allah) maka ia boleh meninggalkan syariโ€™at bahkan hadits ini menunjukan yang sebaliknya, yaitu seorang wali senantiasa banyak beribadah dengan perkara-perkara yang wajib dan yang sunnah.

Dan praktek penghulu para wali (yaitu Rasulullah r) senantiasa beribadah hingga akhir hayatnya. Bahkan beliau meskipun sakit-sakitan hingga pingsan berulang-ulang beliau tetap berusaha untuk melaksanakan sholat secara berjamaโ€™ah[81]. c. Barang siapa yang memperhatikan hadits ini dengan baik maka dia akan faham tentang batilnya aqidah wihdatul wujud ini.

Dalam hadits ini Allah taโ€™ala menetapkan adanya hamba (yang beribadah)[82] dan maโ€™bud (yang diibadahi), yang mendekat (bertaqorrub) dan yang didekati (ditaqorrubi), yang dicintai dan yang mencintai, yang meminta dan yang memberi, yang meminta perlindungan dan yang memberi perlindungan. Maka hadits ini menunjukan adanya dua dzat yang berbeda, yang satu bukan yang lainnya. Dan bukan pula yang satu merupakan sifat atau bagian dari yang lainnya.

d. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki si wali semuanya adalah sifat-sifat atau bagian-bagian pada makhluk yang baru tercipta yang sebelumnya belum ada (belum tercipta). Maka tidak mungkin bagi siapa saja yang berakal untuk memahami bahwa pencipta yang awal (yaitu Allah) yang tidak ada sebelum Dia sesuatupun, akan menjadi pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki makhluk.

Bahkan hal seperti inipun sulit untuk dibayangkan kalaupun kita anggap benar.[83] Perbedaan antara karomah wali Allah dan tipuan wali syaithon 1. Bahwa karomah para wali tersebut disebabkan oleh keimanan dan ketaqwaan. Sedangkan keajaiban dan keluarbiasaan lain yang merupakan bantuan syaithon disebabkan oleh hal-hal yang merupakan larangan Allah taโ€™ala dan Rosulullah[84].

Jadi apabila di dalamnya mengandung unsur-unsur yang disenangi oleh syaithon, baik itu kemusyrikan, kedzoliman, atau kebidโ€™ahan, maka jelas yang terjadi pasti bukan karomah. 2. Karomah tidak bisa dibatalkan dengan bacaan-bacaan apa saja dan tidak bisa dilawan. Sedangkan kejadian-kejadian luar biasa lain yang merupakan bantuan syaithon bisa dibatalkan dengan bacaan-bacaan ayat-ayat Allah seperti ayat kursi dan lain-lain 3.

Karomah tidak bisa dipelajari sehingga menjadi suatu ilmu kedigdayaan yang baku. Sedangkan kejadian-kejadian luar bisa yang berasal dari syaithon bisa dipelajari.[85] Sebagaimana karomah-karomah yang telah dimiliki oleh para salaf, tidak ada satu atsarpun yang menunjukan bahwa mereka pernah mengajarkan karomah mereka kepada orang lain.

Sebagaimana Umar radhiyallahu โ€˜anhu, beliau tidak pernah mengajarkan karomahnya kepada orang lain, kerena memang tidak bisa diajarkan. 4. Karomah pada umumnya tidak bisa dilakukan terus menerus, tetapi terjadi sesuai kehendak Allah bukan berdasarkan kehendak Wali yang mendapatkan karomah tersebut.

Pengetahuan tambahan : 1. Seluruh orang yang beriman adalah wali-wali Allah. Dan wali-wali yang paling mulia adalah para Nabi. Dan para Nabi kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut paling mulia adalah para Rosul. Dan para Rosul yang paling mulia adalah para Rosul yang lima (Ulul โ€˜Azmi), dan diantara Ulul โ€˜Azmi yang paling mulia adalah Nabi Muhammad.[86] 2.

Persamaan dan perbedaan antara Muโ€™jizat dan karomah. a. Persamaannya : Muโ€™jizat dan karomah sama-sama merupakan hal yang ajaib yang luar biasa (yang tidak bisa dilkukan olah orang biasa) yang Allah berikan kepada para hambanya.

b. Perbedaannya [87]: e. Muโ€™jizat hanya berlaku pada para nabi dan rosul, adapun karomah pada para wali. f. Muโ€™jizat diperoleh dengan kenabian, adapun karomah diperoleh dengan ketaqwaan. g. Karomah kedudukannya lebih rendah daripada muโ€™jizat. h. Akibat dari muโ€™jizat adalah baik, adapun efek samping dari karomah belum tentu.[88] i.

Pemilik muโ€™jizat (yaitu para Nabi dan Rosul) menantang orang-orang yang menyelisihinya, adapun pemilik karomah tidak demikian. 3. Kita harus mengakui adanya karomah, tidak sebagaimana muโ€™tazilah yang mengingkari karomah dan berkata :โ€Kalau kita mengakui karomah, maka akan sama wali dengan Nabiโ€, oleh karena itu kami mengingkari karomah dan juga mengingkari hakikat sihir.

Kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut ini tidaklah benar sebab orang yang memiliki karomah tidaklah mengaku bahwa dia adalah seorang Nabi.[89] 4. Hukum tenaga dalam, jika diatasnamakan Islam (biasanya dicampur dengan dzikir-dzikir asma Allah) maka harom. Kalau mereka menyatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah untuk beribadah kepada Allah, maka kita katakan bahwa ini adalah bidโ€™ah sebab kenapa harus menggunakan tata cara dan gerakan-gerakan khusus yang tidak pernah diajarkan oleh Allah dan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.

Dan tidak ada dalil sama sekali bahwa dengan bacaan-bacaan dan gerakan-gerakan khusus yang mereka lakukan bisa mengahasilkan tenaga dalam. Kalau mereka mengatakan tujuan mereka untuk beribadah dan untuk mempeoleh kekuatan, maka kita katakan bahwa mereka telah melakukan kesyirikan sebab niat ibadah mereka selain untuk Allah juga untuk hal yang lain.[90] Selain itu perkatek-praktek tenaga dalam yang ada menyelisihi syariโ€™at diantaranya : a. Latihannya harus menggunakan emosi, padahal Rosulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam telah melarang seseorang untuk emosi, beliau bersabda : ู„ุง ุชุบุถุจ ูุฑุฏุฏ ู…ุฑุงุฑุง ู„ุง ุชุบุถุจ โ€œJanganlah engkau marahโ€, Rosulullah mengulanginya beberapa kali โ€œJanganlah engkau marahโ€ Rahasia mereka (yang latihan tenaga dalam) harus marah sebab dengan marah tersebut syaithon bisa masuk dalam tubuh mereka sehingga bisa memberi kekuatan untuk tenaga dalam mereka.

Sebagaimana sabda Rosulullah : ุฅู† ุงู„ุดูŠุทุงู† ูŠุฌุฑูŠ ู…ู† ุจู†ูŠ ุขุฏู… ู…ุฌุฑู‰ ุงู„ุฏู… Sesungguhnya syaithon mengalir dalam tubuh manusia sebagaimana aliran darah. (Riwayat Bukhori) b. Ketika latihan, mereka sering tidak sadar, terutama ketika sedang memprkatekkan jurus mereka. Hal ini sama saja dengan sengaja membuat diri menjadi tidak sadar (alias mabuk), dan hal ini tidak boleh dalam Islam, sebab Islam menganjurkan kita untuk senantiasa menjaga akal kita sehingga bisa senantiasa berdzikir kepada Allah. c. Kadang disertai dengan puasa mutih (tidak boleh makan kecuali yang putih-putih), yang ini tidak ada syariโ€™atnya dalam Islam.

Atau untuk menjaga ilmunya dia harus menghindari pantangan-pantangan tertentu yang sebenarnya hal itu dihalalkan baginya sebelum dia memiliki ilmu tenaga dalam tersebut. Dan ini berarti mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah. Mencari karomah (kesaktian) tidaklah disyariโ€™atkan Dalam beribadah hendaknya kita berniat karena Allah bukan karena untuk mencari karomah (karena sama sekali tidak ada dalil yang menunjukan bahwa seorang mukmin harus mencari karomah/kesaktian dan keajaiban).

Bahkan beribadah dalam rangka untuk memperoleh kesaktian merupakan bentuk beribadah karena ingin memperoleh dunia yang diharamkan oleh Allah[91]. Allah berfirman: }ู…ู‘ูŽู† ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุฑููŠุฏู ุงู„ู’ุนูŽุงุฌูู„ูŽุฉูŽ ุนูŽุฌู‘ูŽู„ู’ู†ูŽุง ู„ูŽู‡ู ูููŠู‡ูŽุง ู…ูŽุง ู†ูŽุดูŽุงุก ู„ูู…ูŽู† ู†ู‘ูุฑููŠุฏู ุซูู…ู‘ูŽ ุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุง ู„ูŽู‡ู ุฌูŽู‡ูŽู†ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุตู’ู„ุงู‡ูŽุง ู…ูŽุฐู’ู…ููˆู…ุงู‹ ู…ู‘ูŽุฏู’ุญููˆุฑุงู‹{ (ุงู„ุฅุณุฑุงุก : 18 ) Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.

(QS. 17:18) }ู…ูŽู† ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุฑููŠุฏู ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽุงุฉูŽ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุฒููŠู†ูŽุชูŽู‡ูŽุง ู†ููˆูŽูู‘ู ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุฃูŽุนู’ู…ูŽุงู„ูŽู‡ูู…ู’ ูููŠู‡ูŽุง ูˆูŽู‡ูู…ู’ ูููŠู‡ูŽุง ู„ุงูŽ ูŠูุจู’ุฎูŽุณููˆู†ูŽุŒ ุฃููˆู’ู„ูŽู€ุฆููƒูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ูููŠ ุงู„ุขุฎูุฑูŽุฉู ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู ูˆูŽุญูŽุจูุทูŽ ู…ูŽุง ุตูŽู†ูŽุนููˆุงู’ ูููŠู‡ูŽุง ูˆูŽุจูŽุงุทูู„ูŒ ู…ู‘ูŽุง ูƒูŽุงู†ููˆุงู’ ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ{ (ู‡ูˆุฏ : 15-16 ) Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 11: 15-16) Namun yang Allah perintahkan hendaknya seorang mukmin berusaha untuk beristiqomah.

Bahkan Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam yang merupakan penghulu dan pemimpin para wali bahkan pemimpin para kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut dan rasul telah diperintahkan oleh Allah untuk beristiqomah. Allah berfirman kepada Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam }ููŽุงุณู’ุชูŽู‚ูู…ู’ ูƒูŽู…ูŽุง ุฃูู…ูุฑู’ุชูŽ ูˆูŽู…ูŽู† ุชูŽุงุจูŽ ู…ูŽุนูŽูƒูŽ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูŽุทู’ุบูŽูˆู’ุงู’ ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ุจูู…ูŽุง ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ ุจูŽุตููŠุฑูŒ{ (ู‡ูˆุฏ : 112 ) Maka istiqomahlah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas.

Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. 11:112) Berkata Ibnu Abil โ€˜Izz, โ€œMereka tidak mengetahui bahwasanya pada hakekatnya yang namanya karomah itu adalah melazimi keitiqomahan, dan bahwasanya Allah tidaklah memuliakan seorang hamba dengan memberikannya sebuah karomah yang lebih mulia daripada menjadikannya sesuai dengan apa yang dicintaiNya dan diridhoiNya yaitu taat kepadaNya dan taat kepada rasulNya, loyal kepada para walinya dan memusuhi musuh-musuhNyaโ€[92] Berkata Abu Ali Al-Jaurjani : โ€œJadilah engkau orang yang mencari keistiqomahan, jangan menjadi pencari karomah.

Sesungguhnya jiwamu bergerak (berusaha) dalam mencari karomah padahal Rob engkau mencari keistiqomahanmuโ€.[93] Berkata Syaikh As-Sahrowardi :โ€Ucapan ini adalah prinsip yang agung dalam perkara ini, karena sesungguhnya banyak mujtahid dan ahli ibadah mendengar salaf as-sholih, telah diberi karomat-karomat dan hal-hal yang luar biasa sehingga jiwa-jiwa mereka (para ahli ibadah itu) senantiasa mencari sesuatu dari hal itu (karomah tersebut), dan mereka ingin diberikan sedikit dari hal itu, dan mungkin diantara mereka ada yang hatinya prustasi dalam keadaan menuduh dirinya bahwa amal ibadahnya tidak sah karena tidak mendapatkan karomah.

Kalau mereka mengetahui rahasia hal itu (yaitu Allah tidak menuntut para hambanya untuk memperoleh karomah, tetapi yang Allah inginkan para hambanya beristiqomah โ€“pent) tentu perkara ini (mencari karomah) adalah perkara yang rendah bagi merekaโ€[94].

Keadaan orang-orang yang memiliki karomah : โ€“ Bertambah derajatnya karena apa yang dilakukannya merupakan ketaatan dan yukur kepada Allah โ€“ Semakin rendah derjatnya karena dia menggunakan karomahnya untuk bermaksiat kepada Allah.

(Misalnya dia sombong dengan karomah yang pernah dia alami, atau dia merasa telah bertaqwa dan yakin masuk surga dengan karomahnya itu). Contohnya yang terjadi pada Balโ€™aam bin Baโ€™uuroo. Beliau termasuk ahli ibadah di zaman bani Israil. Ia memiliki karomat, tidaklah ia meminta sesuatu kepada Allah kecuali Allah mengabulkannya. Maka kaumnyapun mendatanginya dan memintanya agar berdoa keburukan atas nabi Musa dan kaumnya.

Maka setelah kaumnya merayu-rayunya dan memaksanya akhirnya iapun memenuhi permintaan kaumnya maka Allahpun mencabut karomahnya tersebut[95]. Contoh yang lain adalah Lia Aminudiin yang konon kabarnya ia dahulu bisa menyembuhkan penyakit dengan membaca surat Al-Fatehah, akhirnya lama kelamaan iapun di datangi jin yang mengaku Jibril, akhirnya sekarang ia sesat dan menyesatkan. โ€“ Tidak bertambah dan tidak pula berkurang kebaikan-kebaikannya. Jadilah karomahnya seperti perkara yang mubah.[96] Kota Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, 6 Syawwal 1426 H ( 10 November 2005 M) Disusun oleh Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja As-Soronji Daftar Pustaka : 1.

Shahih Al-Bukhori, tahqiq DR Mushthofa Dib Al-Bagho, terbitan Dar Ibni Katsir 2. Shahih Muslim, tahqiq Muhammad Fuโ€™ad Abdil Baqi, terbitan Dar Ihya At-Turots Al-โ€˜Arobi 3. Sunan Abu Dawud, tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdilhamid, terbitan Darul Fikr 4. Sunan At-Thirmidzi, tahqiq Ahmad Muhammad Syakir dan yang lainnya, Dar Ihyaโ€™ At-Turots, Beiruut 5.

Sunan Ibnu Majah, tahqiq Muhammad Fuโ€™ad Abdul Baaqi, Darul Fikr Beiruut 6. Al-Ihsan fi taqriib Shahih Ibn Hibban, karya al-Amin โ€˜Ala-uddin al-Farisi, tahqiq Syuโ€™aib al-Arna-uth, cetakan kedua, Mu-assasah ar-Risalah 7. Shahih Ibni Khuzaimah, tahqiq DR Muhammad Musthofa Al-Aโ€™dzomi, Al-Maktab Al-Islami 8. Musnad Imam Ahmad, terbitan Maimaniah 9.

Mushonnaf Ibni Abi Syaibah, tahqiq Kamal Yuusuf Al-Huut, Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh 10. Fathul Baari, Ibnu Hajar Al-โ€˜Asqolaani, tahqiq Muhibbuddin Al-Khoyhiib, Darul Maโ€™rifah (Beiruut) 11. Al-Furqon baina auliyaurrohman wa auliyaussyaithon, karya Ibnu taimiyah, tahqiq Fawwaz Ahmad Zamarli, terbitan Darul Kutub Al-โ€˜Arobi 12.

At-Taโ€™liqoot Al-Hisaan โ€˜alal Furqon, dari ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh. 13. Syarah Al-Ushul As-Sittah, karya Syaikh Utsaimin 14. Al-Qowaโ€™id Al-Mutsla, karya Syaikh Utsaimin, tahqiq Abu Muhammad Asyrof bin Abdil Maqsud, terbitan Adlwaโ€™ As-Salaf. 15. Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah, karya Abul โ€˜Izz Al-Hanafi, tahqiq DR Abdul Muhsin At-Turki dan Syuโ€™aib Al-Arnauth, cetakan pertama Muassasah Ar-Risaalah 16.

Ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh Sayrah Matan Al-Aqiidah At-Thohawiyah, 17. Taqdiis Al-Asykhoosh fil fikri As-Suufii, Muhammad Ahmad Luuh, cetakan pertama, Dar Ibnul Qoyyim 18. Majalah As-Sunnah 03/III/1418 19. Al-Jadawil Al-Jamiโ€™ah 20. Adhwaโ€™ul bayan karya Syaikh Asy-Syingqithi, Darul Fikr 21. Tafsir Ibnu Katsir, terbitan Darul Fikr 22. Al-Bidaayah wan Nihaayah, Ibnu Katsiir, Maktabatul Maโ€™aariif Beiruut 23. Tafsir At-Thobari, terbitan Darul Fikr 24. Ad-Dur Al-Manstuur, As-Suyuthi, Darul Fikr Beiruut 25.

Abjadul โ€˜Ulum, Siddiiq bin Hasan Al-Qonuuji, tahqiq Abduljabbar Zakkar, Darul Kutub Al-โ€˜Ilmiyah 26. At-Taโ€™aariif, Al-Munaawii, tahqiq DR Muhammad Ridwan Ad-Dayah, cetakan pertama, Darul Fikr Al-Muโ€™aashir 27. Al-โ€˜Ilal Al-Mutanaahiyah, Ibul Jauzi, tahqiq Kholil Al-Miis, cetakan pertama Darul Kutub Alโ€™Ilmiyah 28. An-Nihaayah fi ghoriibil hadits wal Atsar, Ibnul Atsiir, tahqiq Tohir Ahmad Az-Zaawi dan Mahmuud Muhammad At-Thonaahi, Daru Kutub Al-โ€˜Ilmiyah 29.

Ghoriibul Hadits, Ibnul Jauzi, tahqiq DR Abdul Muโ€™thi Amiin Al-Qolโ€™aji, cetakan pertama, Darul Kutub Al-โ€˜Ilmiyah 30. Lisaanul โ€˜Arob, Ibnu Manzhur, Dar Shodir 31.

Majalah Al-Jamiโ€™ah Al-Islamiyah no 54 [1] Seperti film sunan Kalijaga, yang digambarkan bahwa beliau memperoleh derajat sunan setelah bertapa di pinggir sungai selama waktu yang lama, sehingga tubuh beliau tertimbun dengan tanah karena saking lamanya.

Jelas ini merupakan kekufuran!!!, Apakah derajat kewalian bahkan derajat sunan bisa diperoleh dengan meninggalkan kewajiban yang paling asasi yaitu sholat selama waktu yang lama karena bertapa di pinggir kali???. Apakah para sahabat Nabi r yang dipuji oleh Allah, yang sebagian mereka telah dijamin masuk surga demikian cara ibadah mereka??. Seandainya kaum muslimin di Indonesia mengikuti cara sunan Kalijaga sebagaimana di film yaitu bertapa dipinggir kali hingga waktu yang lama dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, dalam rangka memperoleh derajat kewalian maka saya rasa mereka semua akan mati bunuh diri karena tidak makan dan minum selama berminggu minggu.

Kemudian film-film seperti inilah yang semakin menjauhkan orang-orang kafir yang dari agama Islam, karena mereka menyangka iniliah ajaran Islam yang penuh dengan keanehan dan kedunguan serta kemunduran.

[2] Al-Furqon hal 25 [3] Lihat pula surat-surat Al-Maidah :51-56, Al-Kahfi : 44, Al-Kahfi : 50, Ali Imron : 173-175 [4] Al-Ushul As-sittah hal 173 [5] Al-Furqon hal 31 [6] Al-Ushul As-Sittah hal 171,172 [7] HR Abu Dawud 4/140 (dan ini adalah lafal dari Abu Dawud), Ibnu Majah 1/658, Ibnu Hibban 1/356, Ibnu Khuzaimah 4/348 [8] Al-Mukaasyafah adalah kemampuan untuk menjelaskan hakikat sesuatu tanpa membutuhkan kepada pengamatan terhadap dalil-dalil (At-Taโ€™aariif I/672) Ilmu Al-Mukaasyafah dinamakan juga dengan ilmu batin yaitu suatu ibarat tentang cahaya yang nampak di hati tatkala hati disucikan dan dibersihkan dari sifat-sifat yang tercela.

Yang dengan cahaya tersebut terungkaplah banyak perkaraโ€ฆ(Abjadul โ€˜Ulum II/517) Dan yang dimaksud dengan mukaasyafah menurut orang-orang sufi yaitu dibukanya tabir hal-hal yang ghoib. [9] Syarah Al-Aqiidah At-Thohaawiyah II/776 [10] Syarah Al-Aqiidah At-Thohaawiyah II/773 [11] HR Ibnu โ€˜Asakir dalam Tarikhnya 43/533, lihat takhrijnya dalam syarah al-aqiidah at-Thohawiyah II/773 dan Al-โ€˜ilal Al-Mutanaahiyah II/934-935.

Lihat Dhoโ€™iiful Jamiโ€™ no 2959 Peringatan, kalaupun hadits ini benar maka makna balh dalam hadits ini bukanlah maknanya adalah orang-orang dungu, namun maknanya adalah orang-orang yang lalai dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah (An-Nihayah fi ghoriibil Hadits IV/283, Lisaanul โ€˜Arob XIII/477). Berkata Al-Azhari, โ€œMereka adalah orang-orang yang tabiโ€™atnya diciptakan di atas kebaikan dan tidak mengenal keburukanโ€ (Goriibul Hadits Ibnul Jauzi I/87) [12] Syarah Al-Aqiidah At-Thohaawiyah II/774 [13] HR Al-Bukhari no 3069, 4902, 6083, 6180 Muslim no 2737 dan At-Thirmidzi no 2602, 2603 [14] HR Abu Dawud 4/140 (dan ini adalah lafal dari Abu Dawud), Ibnu Majah 1/658, Ibnu Hibban 1/356, Ibnu Khuzaimah 4/348 [15] Lihat pembahasan Syaikh Saโ€™d Nida dalam majalah Jamiโ€™ah Islamiyah no 54, hal 123-131 [16] Syarh Al-Aqiidah At-Thohawiyah II/774 [17] Dan praktek seperti ini ada di Indonesia sebagaimana penulis pernah berdialog dengan sebagian orang yang pernah mengikuti sebagian thoriqon-thoriqot sufiyah [18] Dari At-Taโ€™liqoot Al-Hisaan โ€˜alal Furqon [19] Al-Furqon hal 71, Al-Ushul As-Sittah hal 175 [20] Al-Furqon hal 82 [21] Berkata Syaikh Sholeh Alu Syaikh, ((ู…ูุญูŽุฏู‘ูŽุซ yaitu ู…ูู„ู‡ูŽู… (diberi ilham) maka dilemparkan kebenaran dalam hatinya maka iapun menangkapnya.

Diungkapkan dengan lafal ู…ูุญูŽุฏู‘ูŽุซ (yang diajak bicara) karena pelakunya merasa ia telah diajak bicara dengan kebenaran tersebut, maka yang terjadi seakan-akan ada seseorang yang berbicara dengannya dalam batinya dan berkata ini dan itu.)) [22] Riwayat Bukhori no 3469 dan Muslim no 2398 [23] Riwayat Abu Dawud no 2962 dishahihkan oleh syaikh Al-Albani [24] Riwayat At-Thirmidzi no 3686, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani [25] Riwayat Bukhori no 3198, dan Muslim no 1610 [26] HR Al-Bukhari III/1199 no 3120, III/1347 no 3480, V/2259 no 5735, Muslim IV/1863 no 2396 [27] Al-Furqon hal 86,87 [28] Riwayat Bukhori no 2732, 2732, Lihat kisah jalannya perundingan Hudaibiyah secara lengkap pada HR Al-Bukhari no 2731,2732, Kitab As-Syurut.

Secara ringkas kejadiannya sebagai berikut: Nabi r bersama para sahabatnya (diantaranya adalah Abu Bakar dan Umar) pergi dari Madinah pada hari senin bulan Dzul Qoโ€™dah tahun ke enam Hijriah (Umdatul Qori 14/6), menuju Mekah untuk melaksanakan Umroh. Tatkala Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan para sahabatnya sampai dan singgah di Hudaibiyah datanglah Budail bin Warqoโ€™ mengabarkan kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bahwa orang-orang musyrik di Mekah telah siap siaga untuk memerangi Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan para sahabatnya dan akan mengahalangi mereka mengerjakan umroh.

Nabi รทpun berkata, โ€œSesungguhnya kami datang bukan untuk memerang seorangpun, namun kami datang untuk mengerjakan umroh. Sesungguhnya peperangan (yang telah terjadi antara kaum muslimin dan kafir Quraisy secara berulang-ulang-pen) telah melemahkan kaum Quraisy dan telah memberi kemudhorotan kepada mereka.

Jika mereka ingin maka aku akan memberikan waktu perdamaian (gencat senjata) antara aku dan orang-orang (yaitu orang-orang kafir Arab).

Jika (di masa perdamaian tersebut) kaum selain mereka (yaitu orang-orang kafir dari selain kafir Quraisy kota Mekah) mengalahkan aku maka mereka tidak perlu memerangiku lagi (karena aku telah dikalahkan oleh selain mereka-pen). Dan jika aku mengalahkan kaum selain mereka, maka jika mereka ingin mentaatiku sehingga masuk dalam Islam sebagaimana orang-orang masuk dalam Islam maka silahkan.

Dan jika mereka enggan masuk dalam Islam maka selepas masa gencatan senjata kekuatan mereka telah kembali. Namun jika mereka (sekarang) enggan untuk gencatan senjata maka demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, aku sungguh-sungguh akan memerangi mereka di atas agamaku hingga aku mati (dan aku bersendirian dalam kuburanku). Dan sesungguhnya Allah akan menolong agamaNyaโ€.

Akhir cerita akhirnya orang-orang Quraisy setuju dengan gencatan senjata lalu mereka mengutus Suhail bin โ€˜Amr untuk menulis perjanjian damai dengan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam. Lalu datanglah Suhail bin โ€˜Amr, lalu iapun berkata kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam โ€œTulislah suatu pernyataan antara kami dan kalian!โ€, maka Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam memanggil penulis (yaitu Ali bin Abi Tholib) dan menyuruhnya untuk menulis Bismillahirrohmanirrohim.

Suhail berkata, โ€œAdapun Ar-Rohim maka demi Allah, aku tidak tahu apa itu?, tapi tulislah saja bismikallahumma sebagaimana engkau pernah menulis demikianโ€ (karena kebiasaan orang jahilah dahulu mereka menulis โ€œbimikallahummaโ€ dan mereka tidak mengenal bismillahirromanirrohim, lihat Umdatul Qori 14/13). Kaum muslimin (yaitu para sahabat Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam) berkata, โ€œDemi Allah kami tidak akan menulis kecuali bimillahhirrohmanirrohimโ€.

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata kepada si penulis, โ€œTulilah bismikallahummaโ€, kemudian beliau shallallahu โ€˜alaihi wa sallam memerintahkan untuk menulis โ€œIni adalah keputusan Muhammad utusan Allahโ€. Suhail berkata, โ€œDemi Allah kalau kami mengetahui bahwasanya engkau adalah utusan Allah maka kami tidak akan menghalangimu untuk umroh dan kami tidak akan memerangimu, tapi tulislah โ€œMuhammad bin Abdillahโ€.

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, โ€œDemi Allah aku adalah utusan Allah meskipun kalian mendustakan aku, tulislah โ€œMuhammad bin Abdillahโ€. ((Dalam riwayat yang lain dari hadits Al-Baroโ€™ โ€“HR Al-Bukhari no 3184- Dan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tidak (pandai) menulis maka iapun berkata kepada Ali, โ€œHapuslah tulisan โ€œUtusan Allah!โ€. Ali berkata, โ€œDemi Allah, aku tidak akan menghapusnya selamanyaโ€. Nabi r berkata, โ€œPerlihatkanlah kepadaku tulisan tersebut!โ€, maka Alipun memperlihatkannya kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, lalu Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam pun menghapusnya dengan tangannya)).

Lalu Nabi berkata kepada Suhail, โ€œDengan syarat kalian membiarkan kami untuk ke baitullah melaksanakan towafโ€. Suhail berkata, โ€œDemi Allah tidak (bisa demikan) โ€“Bangsa Arab akan mengatakan bahwa kami telah terpaksa (mengalah membiarkan kalian umroh-pen)- tapi kalian bisa umroh tahun depanโ€, lalu hal itupun di catat (dalam pernyataan perdamaian), lalu Suhai berkata (menambah pernyataan), โ€œDengan syarat tidak ada seorangpun yang datang dari kami (dari Mekah) meskipun ia berada di atas agamamu (Islam) kecuali engkau mengembalikannya kepada kamiโ€.

Para sahabat berkata, โ€œSubhanallah, bagaiamana dikembalikan kepada orang-orang musyrik padahal ia telah datang (kepada kami) dalam keadaan beragama Islam?โ€. Dan tatkala mereka masih berunding membuat pernyataan perdamaian, tiba-tiba datang Abu Jandal anak Suhai bin โ€˜Amr dalam keadaan berjalan tertatih-tatih karena ada belenggu yang membelenggunya, ia telah lari dari bawah kota Mekah dan melemparkan dirinya di tengah-tengah para sahabat.

Berkata Suhai (ayah Abu Jandal), โ€œWahai Muhammad ini adalah orang pertama yang aku menuntut engkau untuk mengembalikannya kepadaku!โ€. Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, โ€œKita sama sekali belum selesai membuat pernyataan!โ€. Suhail berkata, โ€œKalau begitu, demi Allah, aku sama sekali tidak mau mengadakan perundingan damai denganmuโ€. Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, โ€œBiarkanlah ia (Abu Jandal) bersamaku!โ€, Suhail berkata, โ€œAku tidak akan membiarkannya bersamamu!โ€.

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, โ€œTidak, tapi engakau akan membiarkannya bersamaku, lakukanlah!โ€. Suhail berkata, โ€œAku tidak akan melakukannyaโ€. Berkata Abu Jandal, โ€œWahai kaum muslimin, apakah aku dikembalikan kepada orang-orang musyrik (Mekah) padahal telah datang dalam keadaan beragama Islam?, tidakkah kalian melihat apa yang telah menimpaku?โ€, dan ia telah disiksa oleh orang-orang musyrik dengan siksaan yang keras karena bertahan di jalan Allah.

Umar berkata,โ€Akupun mendatangi Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam lalu aku berkata kepadanya, โ€œBukankah engkau adalah benar seorang Nabi (utusan) Kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, โ€œTentu sajaโ€, Aku berkata, โ€œBukankah kita berada di atas kebenaran dan musuh kita berada di atas kebatilan?โ€, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, โ€œTentu sajaโ€, Aku berkata, โ€œLantas mengapa kita bersikap merendah pada agama kita?โ€.

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, โ€œAku adalah Utusan Allah dan aku tidak bermaksiat kepadaNya, dan Dia adalah penolongkuโ€. Aku (Umar) berkata, โ€œBukankah engkau perrnah mengatakan kepada kami bahwa kita akan mendatangi kaโ€™bah dan bertowaf di kaโ€™bah?โ€, Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, โ€œIya, namun apakah aku mengabarkan kepadamu bahwa kita akan mendatangi kaโ€™bah tahun ini?โ€, Umar bekata, โ€œTidakโ€.

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, โ€œSesungguhnya engkau akan mendatangi kaโ€™bah dan akan thowaf di sanaโ€. Kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut berkata, โ€œAkupun mendatangi Abu Bakar, lalu aku katakana kepadanya, โ€œWahai Abu Bakarbukankah Nabi Muhammad adalah benar seorang Nabi (utusan) Allah?โ€, Abu Bakar berkata, โ€œTentu sajaโ€, Aku berkata, โ€œBukankah kita berada di atas kebenaran dan musuh kita berada di atas kebatilan?โ€, Abu Bakar berkata, โ€œTentu sajaโ€, Aku berkata, โ€œLantas mengapa kita bersikap merendah pada dalam agama kita?โ€, Abu Bakar berkata, โ€œWahai Umar, sesungguhnya ia adalah utusan Allah, dan tidak akan bermaksiat kepada Tuhannya, dan Tuhannya akan menolongnya, maka berpegangteguhlah dengan perintahnya dan janganlah menyelisihinya!โ€.

Aku berkata, โ€œBukankah ia pernah mengabarkan kepada kita bahwa kita akan mendatangi kaโ€™bah dan berthowaf di kaโ€™bah?โ€, Abu Bakar berkata, โ€œTentu saja, namun apakah ia mengabarkan kepadamu bahwa engkau akan mendatangi kaโ€™bah tahun ini?โ€, Aku berkata, โ€œTidakโ€, Abu Bakar berkata, โ€œEngkau akan mendatangi kaโ€™bah dan akan thowaf di sana!โ€.

(HR Al-Bukhari no 2731, 2732, Fathul Bari 5/408-425, Umdatul Qori 14/3-14) Imam Nawawi berkata, โ€œPara ulama berkata bahwa bukanlah pertanyaan-pertanyaan Umar kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam di atas karena keraguan, namun karena karena beliau ingin mengungkap apa yang ia tidak pahami (kenapa Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bisa memutuskan demikian โ€“pen) dan untuk memotivasi (Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan Abu Bakar) untuk merendahkan orang-orang kafir dan memenangkan Islam sebagaimana hal ini merupakan akhlak beliau dan semangat dan kekuatan beliau dalam menolong agama dan menghinakan para pelaku kebatilan.

Adapun jawaban Abu Bakar kepada Umar yang seperti jawaban Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, hal ini merupakan tanda yang sangat jelas akan tingginya kemuliaan Abu Bakar dan dalamnya ilmu beliau serta menunjukan kelebihan beliau di atas para sahabat yang lain dalam pengetahuan dan kemantapan ilmu pada seluruh perkara tersebutโ€ (Al-Minhaj 12/141, atau cetakan Al-Maโ€™arif 12/353) [29] Riwayat Bukhori no 1241, 1242 [30] Riwayat Bukhori no 1399-1400 [31] Disimpulkan dari Al-Furqon hal 85-88 [32] Ini adalah perkara yang sangat penting sekali yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin [33] Syarah Aqidah At-Tohawiyah II/773 [34] Al-Furqon hal 42 [35] Lihat tafsir Ibnu Katsir jilid 1, Al-Furqon hal 92 [36] Syarah Al-Ushul As-Sittah hal 170 [37] Majalah As-Sunnah 03/III/1418 hal 25 [38] Al-Furqon hal 69 [39] Lihat penjelasan Syaikh Sholeh Alu Syaikh dalam At-Taโ€™liqoot Al-Hisaan [40] Diringkas dari Al-Furqon hal 154-157 [41] As-Siyar 2/224 [42] Al-Furqon hal 154 [43] Riwayat At-Thirmidzi no 3751 dan Ibnu Hibban no 2215 [44] As-Siyar 4/8,9 [45] Riwayat Al-Lalikai dalam Al-Karomat hal 165-166 [46] Al-Furqon hal 157 [47] Riwayat Bukhori no 5018 [48] Riwayat Muslim no 1226 [49] As-Siyar 2/348 [50] Riwayat Bukhori no 3805 [51] As-Siyar 4/195 [52] As-Siyar 4/86 [53] As-Siyar 5/60 [54] As-Siyar 9/7 [55] Riwayat Bukhori no 1354, Al-Furqon hal 158 [56] Bahkan Rasulullah r sendiri tidak mengetahui seluruh orang munafik.

Allah berfirman ูˆูŽู…ูู…ู‘ูŽู†ู’ ุญูŽูˆู’ู„ูŽูƒูู… ู…ู‘ูู†ูŽ ุงู„ุฃูŽุนู’ุฑูŽุงุจู ู…ูู†ูŽุงููู‚ููˆู†ูŽ ูˆูŽู…ูู†ู’ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ู…ูŽุฏููŠู†ูŽุฉู ู…ูŽุฑูŽุฏููˆุงู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูููŽุงู‚ู ู„ุงูŽ ุชูŽุนู’ู„ูŽู…ูู‡ูู…ู’ ู†ูŽุญู’ู†ู ู†ูŽุนู’ู„ูŽู…ูู‡ูู…ู’ (ุงู„ุชูˆุจุฉ : 101 ) Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya.

Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. (QS. 9:101) Hal ini juga sesuai dengan hadits tentang Usamah bin Zaid yang membunuh seorang kafir yang ketika pedang Usamah telah di depan matanya tiba-tiba si kafir tersebut mengucapkan la ilaha illallah, namun Usamah tetap membunuhnya.

Dan hal ini dilaporkan kepada Rasulullah. r, lalu Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata kepada Usamah :โ€Apakah dia (yang terbunuh itu) telah berkata la ilaha illallah dan kau (tetap) membunuhnya ?โ€, Usamah menjawab :โ€Ya, Rasulullah, dia mengatakan itu hanya karena takut akan senjatakuโ€.

Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata :โ€Apakah sudah kau belah dadanya sehingga kau tahu ia berkata itu karena takut atau tidak ?โ€. Maka Rosulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam terus mengulang-ulang perkataannya hingga Usamah berangan-angan seandainya dia baru masuk Islam pada hari itu.

(HR Al-Bukhori no 4021, 6478, dan Muslim no 62 dan ini adalah lafal Muslim). Hadits ini menunjukan bahwa Usamah yang telah berjihad tidak mengetahui isi hati manusia. Dan ada isyarat dari Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam agar para sahabat menilai seseorang dengan amalan dzohirnya bukan amalan batin. Kalau para sahabat mengetahui isi hati manusia tentu Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tidak akan memerintahkan mereka untuk menilai secar dzohir saja. Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam juga bersabda, ุฅู†ูƒู… ุชุฎุชุตู…ูˆู† ุฅู„ูŠ ูˆู„ุนู„ ุจุนุถูƒู… ุฃู„ุญู† ุจุญุฌุชู‡ ู…ู† ุจุนุถ ูู…ู† ู‚ุถูŠุช ู„ู‡ ุจุญู‚ ุฃุฎูŠู‡ ุดูŠุฆุง ุจู‚ูˆู„ู‡ ูุฅู†ู…ุง ุฃู‚ุทุน ู„ู‡ ู‚ุทุนุฉ ู…ู† ุงู„ู†ุงุฑ ูู„ุง ูŠุฃุฎุฐู‡ุง โ€œSesungguhnya kalian berselilih dan berhukum kepadaku, dan bisa jadi sebagian kalian lebih pandai berhujah (berargumen) daraipada yang lain.

Maka barangsiapa yang aku putuskan hukuman utuknya (memenangkannya) dengan (mengorbankan) sesuatu hak saudaranya maka sesungguhnya akau telah memberikan kepadanya suatu bongkahan dari api neraka maka janganlah ia mengambilnyaโ€ (HR Al-Bukhari II/952 no 253) Kalau seandainya Rasulullah r tahu isi hati manusia tentunya beliau tidak akan tertipu dengan pintarnya bersilat lidah dalam berargumen.

Demikian juga kisah Maโ€™iz bin Malik yang berzina kemudian datang kepada Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mengakui perbuatannya. Rasulullah Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tidak mengetahui isi hatinya, oleh karena itu Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menolaknya dan berpaling darinya hingga Maiz datang kepadanya empat kali, bahkan setelah itu Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata kepadanya ุฃุจูƒ ุฌู†ูˆู† (Apakah engkau tidak waras)? (HR Al-Bukhari no 6430).

Dalam riwayat yang lain Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata kepada Maiz, โ€œMungkin engkau hanya menciumnya atau memegangnya atau hanya melihatnya? (HR Al-Bukhari no 6438). Kalau memang Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mengetahui isi hati Maiz maka tidak perlu ia bersusah payah bertanya kepada Maiz dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Abdullah bin โ€˜Utbah bin Masโ€™ud berkata :โ€Saya telah mendengar Umar bin Khottob berkata :โ€Dahulu di masa Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, orang-orang diterima (dihukumi) menurut keterangan wahyu, dan kini wahyu telah terputus.

Maka kami akan bertindak (menghukumi) kalian dengan perbuatan-perbuatan kalian yang dzohir (nampak) bagi kami. Maka barang siapa yang menampakkan kebaikan kepada kami maka kami percaya dan kami hargai, dan sama sekali bukan urusan kami mengenai batinnya.

Allah yang akan menghisabnya. Dan barang siapa yang menampakkan keburukan kepada kami, maka kami tidak akan mempercayainya dan tidak kami benarkan, walaupun dia berkata sesungguhnya batinnya adalah baik.โ€โ€ (HR Al-Bukhori) [57] Al-Furqon hal 159 [58] Al-Furqon hal 159 [59] Majalah As-Sunnah 03/III/1418 [60] Al-Furqon hal 159 [61] Sebagaimana hal ini pernah dimuat dalam beberapa tabloid di Indonesia [62] Al-Furqon hal 36 [63] lihat jawaban ini dalam Al-Furqon hal 141-142 [64] Al-Bidaayah wan Nihaayah I/328 [65] Al-Bidaayah wan Nihaayah I/328 [66] Al-Bidaayah wan Nihaayah I/328 [67] Riwayat Bukhori, no 74 [68] Pendapat yang benar bahwasanya Khidir telah meninggal dan tidak kekal hingga hari kiamat.

Setelah Ibnu Katsir menyebutkan dan menjelaskan lemahnya dalil-dalil dan hikayat-hikayat yang dijadikan sandaran bahwa Khidir masih hidup hingga hari ini beliau berkata, โ€œDan riwayat-riwayat ini serta cerita-cerita (hikayat-hikayat) ini merupakan dasar pegangan orang yang berpendapat bahwa Khidir masih hidup hingga hari ini, dan semua hadits yang marfuโ€™ lemah sekali (dhoโ€™iif jiddan), tidak bisa hujjah ditegakkan di atas hadits-hadits seperti ini.

Dan cerita-cerita mayoritasnya pada sanadnya ada kelemahan dan paling banter hanyalah shahih kepada orang yang tidak maโ€™sum seperti sahabat atau yang lainnya yang mungkin untuk salahโ€ (Al-Bidaayah Wan Nihaayah I/334) Dalil-dalil yang menunjukan bahwa Khidir tidaklah kekal hingga hari kiamat adalah sebagai berikut: 1. Firman Allah }ูˆูŽู…ูŽุง ุฌูŽุนูŽู„ู’ู†ูŽุง ู„ูุจูŽุดูŽุฑู ู…ู‘ูู† ู‚ูŽุจู’ู„ููƒูŽ ุงู„ู’ุฎูู„ู’ุฏูŽ{ (ุงู„ุฃู†ุจูŠุงุก : 34 ) Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad) (QS. 21:34) Dan Khidir adalah seorang manusia yang ada sebelum Nabi r, maka ia tidakalah keluar dari keuumaman ayat ini (bahwasanya yang namanya manusia tidak ada yang kekal) kecuali dengan dalil yang shahih, namun tidak ada dalil yang shahih yang mengeluarkannya dari keumuman ayat ini.

2. Firman Allah ูˆูŽุฅูุฐู’ ุฃูŽุฎูŽุฐูŽ ุงู„ู„ู‘ู‡ู ู…ููŠุซูŽุงู‚ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ููŠู’ู†ูŽ ู„ูŽู…ูŽุง ุขุชูŽูŠู’ุชููƒูู… ู…ู‘ูู† ูƒูุชูŽุงุจู ูˆูŽุญููƒู’ู…ูŽุฉู ุซูู…ู‘ูŽ ุฌูŽุงุกูƒูู…ู’ ุฑูŽุณููˆู„ูŒ ู…ู‘ูุตูŽุฏู‘ูู‚ูŒ ู„ู‘ูู…ูŽุง ู…ูŽุนูŽูƒูู…ู’ ู„ูŽุชูุคู’ู…ูู†ูู†ู‘ูŽ ุจูู‡ู ูˆูŽู„ูŽุชูŽู†ุตูุฑูู†ู‘ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุฃูŽู‚ู’ุฑูŽุฑู’ุชูู…ู’ ูˆูŽุฃูŽุฎูŽุฐู’ุชูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูู…ู’ ุฅูุตู’ุฑููŠ ู‚ูŽุงู„ููˆุงู’ ุฃูŽู‚ู’ุฑูŽุฑู’ู†ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุงุดู’ู‡ูŽุฏููˆุงู’ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุงู’ ู…ูŽุนูŽูƒูู… ู…ู‘ูู†ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽุงู‡ูุฏููŠู†ูŽ{ โ€Dan (ingatlah) tatkala Allah mengambil perjanjian dari para nabi:โ€Sungguh apa saja yang Aku berikan kepada kalian berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepada kalian seorang Kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut yang membenarkan apa yang ada pada kalian, niscaya kalian akan sungguh-sungguh beriman kepada Rosul tersebut dan sungguh-sungguh akan menolongnyaโ€.

Allah berfirman :โ€Apakah kalian mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu ?โ€, mereka menjawab :โ€Kami mengakuiโ€. Allah berfirman :โ€Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kalian.โ€ Dan Khidir jika ia seorang nabi (terlebih lagi seorang wali yang derajatnya lebih rendah dari nabi) maka ia termasuk dalam perjanjian ini. Maka jika ia hidup di zaman Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam maka merupakan kemuliaan yang sangat besar baginya jika ia menemui Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan beriman dengan Apa yang diturunkan Allah kepada Nabi r dan berusaha menolong Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan menjaga Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam jangan sampai seorang musuhpun menyentuh Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.

Dan jika ia seorang wali maka Ash-Shiddiiq (Abu Bakar) lebih mulia darinya. Dan jika ia seorang nabi maka Musa lebih mulia darinya padahal Rasulullah r pernah bersabda ูุฅู†ู‡ ู„ูˆ ูƒุงู† ู…ูˆุณู‰ ุญูŠุง ุจูŠู† ุฃุธู‡ุฑูƒู… ู…ุง ุญู„ ู„ู‡ ุฅู„ุง ุฃู† ูŠุชุจุนู†ูŠ โ€œSesungguhnya kalau Musa hidup di tengah-tengah kalian maka tidaklah boleh baginya kecuali mengikuti akuโ€ Dan ayat yang mulia ini menunjukan bahwa seluruh nabi jika seandainya mereka hidup di zaman Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam maka mereka seluruhnya adalah pengikut dan dibawah perintah dan syariโ€™at Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.

Sebagaimana Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tatkala berkumpul dengan mereka di malam isroโ€™ maka beliau mengimami mereka sholat. 3. Dan tidak diketahui dengan sanad yang shahih bahwasanya Khidir pernah ikut perang bersama Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam -meskipun hanya sehari.

Dan tatkala perang Badar yang dimana Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berdoa kepada Allah โ€œYa Allah jika binasa umat ini maka engkau tidak akan disembah setelahnya di muka bumiโ€. Dan di hari yang sangat berat itu semuanya berkumpul, baik pemuka-pemuka kaum muslimin (dari para sahabat) maupun pemuka-pemuka para malaikat, bahkan Jibril berada di bawah bendera kaum muslimin.

Kalau seandainya Khidir hidup maka keberadaannya di bawah bendera kaum muslimin tatkala itu merupakan kemuliaan yang agung baginya (Lihat Al-Bidayah wan Nihaayah I/335) 4. Apakah faedah baginya โ€“jika ia masih hidup hingga saat ini- dengan sikapnya yang bersembunyi, padahal jika ia menampakan dirinya maka pahalanya baginya lebih banyak dan derajatnya lebih tinggi dan lebih nampak muโ€™jizatnya (Lihat Al-Bidayah wan Nihaayah I/336) 5.

Kemudian jika ia masih hidup setelah zaman Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam maka perbuatan yang sangat mulia yang bisa ia lakukan adalah dengan menyampaikan hadits-hadits Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam dan menjelaskan hadits-hadits yang lemah dan palsu, membantah amalan-amalan dan pemikiran-pemikiran bidโ€™ah, berperang bersama kaum muslimin, menghadiri sholat jumโ€™at bersama kaum muslimin, memberi manfaat kepada mereka (dengan mengajarkan ilmu kepada mereka), meluruskan para ulama dan pemerintah, menjelaskan tentang dalil-dalil dan hukum-hukum, semua ini lebih baik baginya daripada ia hanya sekedar berjalan memutari dunia, atau berkumpul dengan sebagian orang-orang (sufi) tertentu (yang tidak dikenal) yang kemudian menyampaikan perkataannya kepada manusia.

(Lihat Al-Bidayah wan Nihaayah I/336) 6. Ibnu Umar berkata, โ€œRasulullah r mengimami kami sholat isyaโ€™ di akhir hayat beliau. Tatkala beliau salam beliau berdiri dan berkata ุฃุฑุฃูŠุชูƒู… ู„ูŠู„ุชูƒู… ู‡ุฐู‡ ูุฅู† ุฑุฃุณ ู…ุงุฆุฉ ุณู†ุฉ ู…ู†ู‡ุง ู„ุง ูŠุจู‚ู‰ ู…ู…ู† ู‡ูˆ ุนู„ู‰ ุธู‡ุฑ ุงู„ุฃุฑุถ ุฃุญุฏ Tahukah kalian malam hari ini?, sesungguhnya setelah seratus tahun setelah malam ini maka tidak akan tersisa seorangpun (yang sekarang masih hidup) di atas muka bumi ini (HR Al-Bukhari I/55 no 116) Berkata Ibnul Jauzi, โ€œHadits-hadits yang shahih ini (yang semakna dengan hadits Ibnu Umar ini) memutuskan sampai ke akar-akarnya propaganda bahwa Khidir masih hidupโ€ฆjika Khidir mendapati masa Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam maka hadits ini menunjukan bahwa ia tidak akan hidup setelah seratus tahun, oleh karena itu maka sekarang ia telah tidak ada karena ia masuk dalam keumuman hadits ini.

Dan hukum asal adalah ia masuk dalam hadits ini hingga ada dalil yang shahih yang mengkhususkannyaโ€ (Lihat Al-Bidayah wan Nihaayah I/336-337) [69] HR Ahmad III/338 no 14672, Ibnu Abi Syaibah V/312 no 26421 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam irwaaul golil no 1589 dan Misykaatul Mashobiih no 177 [70] Tafsir Ibnu Katsir I/379 [71] Yaitu membocorkan kapal, membunuh seorang anak kecil dan memperbaiki tembok yang akan runtuh, sebagaimana dikisahkan dalam surat Al-Kahfi : 70-82 [72] Riwayat Muslim no 1812 [73] Ash Shuffah adalah semacam pelataran yang bersambung dengan mesjid Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, (masih satu atap dengan mesjid Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam) yang dulu dijadikan tempat tinggal sementara oleh beberapa orang sahabat Muhajirin yang miskin, karena mereka tidak memiliki harta, tempat tinggal dan keluarga di Madinah, maka Rasullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mengizinkan mereka tinggal sementara di pelataran tersebut di bawah naungan mesjid sampai mereka memiliki tempat tinggal tetap dan penghidupan yang cukup.

(lihat kitab โ€œTaqdis Al Asykhashโ€ tulisan Syaikh Muhammad Ahmad Lauh 1/34) [74] (HR Al-Bukhari 6/2495 no 6419 bab) Dari Abi Qilabah dari Anas bin Malik ia berkata, โ€œDatang beberapa orang dari โ€˜Ukl kepada Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, dan mereka dahulunya tinggal di suffah namun mereka maka mereka berkata, โ€œWahai Rasulullah mintakanlah untuk kami susu!โ€, maka Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam berkata, โ€œAku tidak bisa membantu untuk kalian kecuali kalian pergi mendatangi onta-onta Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam (onta-onta zakat)โ€.

Maka merekapun mendatangi onta-onta tersebut dan meminum susunya dan air kencingnya hingga merekapun sembuh dan gemuk, lalu mereka membunuh penggembala onta-onta tersebut dan membawa lari sekelompok onta, lalu terdengarlah teriakan (orang minta tolong) maka Nabi rpun mengutus seorang pelacak untuk melacak jejak mereka. Dan tidak sampai tengah hari merekapun telah tertangkap.

Lalu Nabi rpun memerintahkan untuk memanaskan paku-paku lalu ia menculek mata mereka dan memotong tangan-tangan dan kaki-kaki mereka dan Rasulullah r tidak menghasm mereka (hasm adalah memberhentikan aliran darah pada bagian tubuh yang terpotong, seperti dengan menggunakan besi panas lalu ditempelkan ka bagian tubuh yang terpotong atau dengan memanaskan minyak panas lalu diletakkan ke bagian tubuh yang terpotong agar darah tidak mengalir Al-Fath 12/111 -pen) kemudian mereka dilemparkan di bawah terik matahari, mereka minta minum namun tidak diberi minum hingga akhirnya merekapun matiโ€.

Abu Qilabah berkata, โ€œMereka mencuri dan membunuh dan memerangi Allah dan RasulNyaโ€ (Lihat Al-Fath 6/153) [75] Diantara yang mengaku bahwa mereka adalah penutup para wali adalah Ibnu โ€˜Arobi, Muhammad bin โ€˜Utsman As-Suudaani, dan At-Tijaani Al-Magribi, yang masing-masing dari ketiga orang ini mengaku bahwa dialah penutup para wali.

Ini jelas menunjukan bahwa mereka bertiga adalah para pendusta dan para dajjal, bagaimana masing-masing mengaku sebagai penutup dan wali yang terakhir sementara masih ada wali yang lain yang juga mengaku demikian.

(lihat syarh Syaikh Sholeh Alu Syaikh terhadap matan Al-Aqidah At-Thohawiyah) [76] Maksudnya yaitu pemisah antara kerasulan dan kewalian [77] Ibnu Arobi juga berkata (dalam kitabnya โ€œFususul hukumโ€) :โ€Tatkala Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam telah memisalkan kenabian dengan sebuah dinding (yang tesusun) dari bata dan Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam melihat bahwa dinding tersebut telah sempurna kecuali tinggal tempat satu bata lagi, dan dialah sebagai bata yang terakhir (yang menutupi bata-bata (nabi-nabi) sebelumnya โ€“pent).

Adapun penutup para wali maka pasti ia melihat juga dinding ini, dia melihat dinding yang dimisalkan oleh Nabi r dan dia melihat dirinya di dinding yaitu di tempat dua bata, dirinya telah tercetak di tempat dua bata tersebut, sehingga sempurnalah dinding itu.

Yang menyebabkan dia melihat dinding itu tinggal tempat dua bata (padahal Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam melihatnya hanya ada satu tempat bata โ€“pent) adalah karena kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut terdiri dari bata perak dan bata emas. Bata perak adalah bagian luar dinding tersebut (yaitu bagian luar syariโ€™at-pen) dan hukum-hukum yang mengikutinya, sebagaimana Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam mengambil syariโ€™at yang dzohir dari Allah yang diikuti, karena Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam melihat perkaranya sebagaimana adanya sehingga demikianlah pasti dia melihatnya.

Padahal bagian dalam tempat satu bata itu adalah tempat (yang lain bagi) bata emas, yang dia (penutup para wali tersebut) mengambil dari sumber yang malaikat yang diutus kepada Nabi mengambil dari sumber itu. Jika engkau memahami apa yang kami isyaratkan maka engkau telah mendapatkan ilmu yang bermanfaat.โ€ (Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah hal 493) Maksudnya yaitu penutup para wali tatkala mengambil wahyu tidak butuh kepada perantara malaikat, ia bisa langsung mengambil dari Allah.

Berbeda dengan penutup para nabi, ia hanya bisa mengambil wahyu dengan perantara malaikat yang mengambil dari Allah.

kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut

{INSERTKEYS} [78] Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah hal 493-494, Al-Furqon hal 110 [79] Riwayat Bukhori no 6502, dari hadits Abu Huroiroh. [80] Yang aqidah ini merupakan aqidah Ibnu โ€˜Arobi, yang dimana ia berkata di awal bukunya Al-Futuhaat, ุงู„ุฑู‘ูŽุจู‘ู ุญูŽู‚ู‘ูŒ ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽุจู’ุฏู ุญูŽู‚ู‘ูŒ ูŠูŽุง ู„ูŽูŠู’ุชูŽ ุดูุนู’ุฑููŠ ู…ูŽู†ู ุงู„ู’ู…ููƒูŽู„ู‘ูŽููุŸ ุฅูู†ู’ ู‚ูู„ู’ุชูŽ ุนูŽุจู’ุฏูŒ ููŽุฐูŽุงูƒูŽ ู†ูŽูู’ูŠูŒ ุฃูŽูˆู’ ู‚ูู„ู’ุชูŽ ุฑูŽุจู‘ูŒ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‰ ูŠููƒูŽู„ู‘ูŽููุŸ Ar-Rob adalah Al-Haq (Allah) dan hamba juga Al-Haq (Allah), duhai kabarkanlah kepadaku siapakah yang diberi tugas (ibadah)?

Jika engkau mengatakan bahwa yang diberi tugas (ibadah) adalah hamba maka itu adalah penafian atau jika engkau mengatakan Rob maka bagaimana ia bisa disuruh untuk beribadah Ia juga berkata, ู‚ู„ู†ุง ุตุฏู‚ุช ูˆู‡ู„ ุนุฑูุช ู…ุญู‚ู‚ุง ู…ู† ู…ูˆุฌุฏ ุงู„ูƒูˆู† ุงู„ุฃุนู… ุณูˆุงุฆูŠ ูุฅุฐุง ู…ุฏุญุช ูุฅู†ู…ุง ุฃุซู†ูŠ ุนู„ู‰ ู†ูุณูŠ ูู†ูุณูŠ ุบูŠุฑ ุฐุงุช ุซู†ุงุฆูŠ Kami katakan engkau benar, dan apakah engkau mengetahui dengan benar pencipta alam semesta seluruhnya selain aku?

Jika aku memuji Allah maka sesungguhnya aku memuji diriku sendiri. Diriku bukanlah pujianku Ia juga berkata (pada bab yang ke sepuluh) ุงู†ุธุฑ ุงู„ุญู‚ ููŠ ุงู„ูˆุฌูˆุฏ ุชุฑุงู‡ ุนูŠู†ู‡ ูุงู„ุจุบูŠุถ ููŠู‡ ุงู„ุญุจูŠุจ ู„ูŠุณ ุนูŠู†ูŠ ุณูˆุงู‡ ุฅู† ูƒู†ุช ุชุฏุฑูŠ ูู‡ูˆ ุนูŠู† ุงู„ุจุนูŠุฏ ูˆู‡ูˆ ุงู„ู‚ุฑูŠุจ ุฅู† ุฑุขู†ูŠ ุจู‡ ูู…ู†ู‡ ุฃุฑุงู‡ ุฃูˆ ุฏุนุงู†ูŠ ุฅู„ูŠู‡ ูู‡ูˆ ุงู„ู…ุฌูŠุจ Lihatlah Allah di alam nyata ini maka engkau akan melihatnya, semua alam nyata ini adalah dzat Allah, maka orang yang dibenci dalam dzat Allah dia juga adalah orang yang dicintai Dan tidaklah dzatku ini selain Allah jika engkau mengetahuinya, maka sesuatu yang jauh itulah sesuatu yang dekat.

Jika Dia melihatku melalui diriNya maka dari diriNya aku melihatNya, atau Dia memanggilku kepadaNya maka Dialah yang memenuhi panggilan tersebut. Jelas dalam bait yang terakhir ini bahwa Ibnu โ€˜Arobi tidak hanya menyatakan bahwa Allah bersatu dengan dirinya, bahkan lebih parah dari itu ia berkeyakinan bahwa alam semesta ini dialah dzat Allah. Semuanya yang nampak itulah dzat Allah, oleh karena itu menurut Ibnu โ€˜Arobi bahwasanya orang yang dibenci pada hakikatnya itulah orang yang dicintai juga, sesuatu yang jauh itulah juga sesuatu yang dekat.

Seseorang yang memanggil orang lain pada hakekatnya ia sedang memanggil dirinya sendiri, maka ia adalah yang memanggil dan sekaligus yang memenuhi panggilan. Keyakinan seperti ini lebih parah dan lebih kafir daripada keyakinan orang-orang Nashrani yang hanya membatasi bersatunya Allah pada Isa saja, karena Ibnu โ€˜Arobi menyatkan bahwa Allah bersatu dengan seluruh makhluq.

Dan konsekuensi dari keyakinan ini bahwasanya Orang-Orang musyrik Arab dahulu tidaklah bersalah tatkala mereka menyembah patung, karena pada hakekatnya mereka sedang menyembah Allah juga. Bahkan Firโ€™aun dan para pengikutnya adalah orang-orang yang sempurna imannya yang mengenal hakekat Allah, karena pada hakekatnya Firโ€™aun itulah Allah.

Selain itu juga menurut aqidah Ibnu โ€˜Arobi ini bahwasanya pada hakekatnya tidak ada perbedaan antara pengharaman dan penghalalan, tidak ada perbedaan antara ibu, saudara kandung wanita, dan wanita ajnabiah. Tidak ada perbedaan antara khomr dan air biasa, antara zina dan nikah, semuanya dari dzat yang satu yaitu Allah.

Konsekuensi dari aqidah ini bahwasanya para nabi dan rosul hanyalah mempersulit manusia. (Lihat Syarh Al-Aqidah At-Thohawiyah I/126) [81] Sebagian orang yang tidak ingin dikekang dengan syariโ€™at mereka berdalil dengan firman Allah }ูˆูŽุงุนู’ุจูุฏู’ ุฑูŽุจู‘ูŽูƒูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ูŠูŽุฃู’ุชููŠูŽูƒูŽ ุงู„ู’ูŠูŽู‚ููŠู†ู{ (ุงู„ุญุฌุฑ:99) dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu keyakinan(QS.

15:99) Mereka mengatakan, โ€œJika kami telah mencapai rasa yakin maka kami telah terlepas dari kewajiban beribadah kepada Allahโ€ Ini adalah penafsiran yang salah karena yang dimaksud dengan Al-Yaqin dalam ayat ini adalah kematian. Dengan dalil-dalil sebagai berikut: a. Ini adalah penafsiran salaf. Imam Al-Bukhari berkata, โ€œBerkata Salim (bin Abdillah bin Umar) Al-Yaqin adalah Al-Maut (kematian)โ€ (Shahih Al-Bukhari 4/1739), dan atsar ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya (14/74).

Ini juga adalah penasiran Mujahid, Hasan Al-Bashri, Qotadah, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dan yang lainnya (Tafsir Ibnu Katsir 2/561) b. Ini juga sesuai dengan firman Allah }ู…ูŽุง ุณูŽู„ูŽูƒูŽูƒูู…ู’ ูููŠ ุณูŽู‚ูŽุฑูŽ ู‚ูŽุงู„ููˆุง ู„ูŽู…ู’ ู†ูŽูƒู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุตูŽู„ู‘ููŠู†ูŽ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ู†ูŽูƒู ู†ูุทู’ุนูู…ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ูƒููŠู†ูŽ ูˆูŽูƒูู†ู‘ูŽุง ู†ูŽุฎููˆุถู ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ุฎูŽุงุฆูุถููŠู†ูŽ ูˆูŽูƒูู†ู‘ูŽุง ู†ููƒูŽุฐู‘ูุจู ุจููŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ุฏู‘ููŠู†ู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุฃูŽุชูŽุงู†ูŽุง ุงู„ู’ูŠูŽู‚ููŠู†ู{ Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?.

Mereka menjawab:โ€Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami Al-Yaqin (kematian)โ€. (QS.

74:44-47) c. Ini juga sesuai dengan hadits Nabi r (HR Al-Bukhari 1/419 no 1186) dimana Nabi r berkata tentang Utsman bin Madzโ€™un yang telah wafat, ุฃู…ุง ู‡ูˆ ูู‚ุฏ ุฌุงุกู‡ ุงู„ูŠู‚ูŠู† ูˆุงู„ู„ู‡ ุฅู†ูŠ ู„ุฃุฑุฌูˆ ู„ู‡ ุงู„ุฎูŠุฑ ูˆุงู„ู„ู‡ ู…ุง ุฃุฏุฑูŠ ูˆุฃู†ุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ู…ุง ูŠูุนู„ ุจูŠ ((Adapun dia (Utsman bin Madzโ€™un) maka telah datang kepadanya Al-Yaqin (kematian), maka aku mengharapkan kebaikan baginya, demi Allah aku tidak tahu apa yang Allah lakukan padaku padahal aku adalah utusan Allah)) d.

Ayat ini justru maknanya kebalikan dari apa yang dipahami oleh orang-orang zindiq tersebut. Justru ayat ini menunjukan bahwa seseorang harus terus beribadah hingga ia meninggal. Sebagaimana firman Allah tentang perkataan Nabi Isa ูˆุฃูˆุตุงู†ูŠ ุจุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุฒูƒุงุฉ ู…ุง ุฏู…ุช ุญูŠุง (Dan Allah mewasiatkan (memeerintahkan) kepadaku untuk (terus) sholat dan membayar zakat selama aku masih hidup) (QS 19:31) Dan inilah yang dipraktekan oleh para nabi dan mereka adalah orang-orang yang paling yakin tentang Allah namun mereka adalah orang-orang yang paling banyak ibadahnya kepada Allah (Adwaul bayan 2/425) e.

Jika Al-Yaqin ditafsirkan dengan arti keyakinan (mengetahui hakekat) maka tidaklah seperti yang dipahami oleh orang-orang zindiq tersebut, namun maknanya yaitu seseorang yang telah meninggal maka akan jelas baginya hakekat hari akhir, hakekat dari perkara-perkara goib yang telah Allah kabarkan kepadanya tatkala ia masih hidup di dunia.

(Adlwaul bayan 6/349) [82] Bukan sebagaimana pemahaman Ibnu โ€˜Arobi yang malah meninggalkan ibadah. [83] Al-Qowaโ€™id Al-Mutsla hal 125 [84] Al-Furqon hal 161 [85] Majalah As-Sunnah 03/III 1418 H [86] Al-Jadawil hal 19 [87] Al-Jadawil hal 20 [88] Lihat akhir pembahasan dalam risalah ini. [89] Al-Jadawil hal 21 dan Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah hal 494 [90] Majalah As-Sunnah hal 30 [91] Lihat penjelasan Ibnu Abil โ€˜Izz dalam syarh Al-Aqidah At-Thohawiyah II/757 [92] Syarh Al-Aqidah At-Tohawiyah II/755 [93] Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah II/754 [94] Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah II/754 [95] Lihat Ad-Dur Al-Mantsur III/610 tafsir surat Al-Aโ€™rof ayat 175 [96] Syarah Al-Aqidah At-Thohawiyah II/754
PETIR ADALAH SAHABAT SEJATIKU SEKALIGUS ILMUKU Allah SWT berfirman: ูˆูŽุงูุฐู’ ู‚ูู„ู’ุชูู…ู’ ูŠูฐู…ููˆู’ุณูฐู‰ ู„ูŽู†ู’ ู†ู‘ูุคู’ู…ูู†ูŽ ู„ูŽู€ูƒูŽ ุญูŽุชู‘ูฐู‰ ู†ูŽุฑูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูฐู‡ูŽ ุฌูŽู‡ู’ุฑูŽุฉู‹ ููŽุงูŽุฎูŽุฐูŽุชู’ูƒูู…ู ุงู„ุตู‘ูฐุนูู‚ูŽุฉู ูˆูŽุงูŽ ู†ู’ุชูู…ู’ ุชูŽู†ู’ุธูุฑููˆู’ู†ูŽ "Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, Wahai Musa!

Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas, maka halilintar menyambarmu, sedang kamu menyaksikan." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 55) Assalamualaikum wr.wb. Seberkas cahaya akan selalu menyinari jagad raya ini disaat itu pula manusia melakukan segala aktifitasnya dikala pagi menjelang sore maka Sang Surya lah yang akan menyinari bumi ini disaat malam pun akan di hiasi bulan dan bintang ditambah pula dengan kemilau lampu yang terang benderang menambahkan keindahan malam, namun para manusia dibumi ini seolah tak pernah mensyukuri karunia TUHANNYA merekapun tidak pernah menjalankan apa yang tertera didalam kitabnya masing-masing sehingga manusia itu lupa akan jatidiri yang sebenarnya mereka melupakan arti sebuah kehidupan didunia ini bahwa manusia hidup ada yang menciptakan adapula yang mematikannya ,dimana disaat telah terlahir kedunia harus bisa mengisi kehidupan untuk berbuat amal kebaikan lalu ALLAH yang akan mematikannya disinilah para manusia akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan semasa hidupnya, inilah yang harus dipikirkan dan direnungkan agar kamu bisa memahami bahwa manusia hidup didunia mempunyai dua kehidupan yang harus dilalui yaitu : 1.Hidup sementara untuk menjalani kehidupan di bumi : dari kehidupan inilah masa dimana manusia diwajibkan untuk beribadah demi memperoleh amal-amal kebaikan selama di dunia untuk kehidupan akhirat nanti namun terkadang manusia lebih suka melakukan amal-amal keburukannya karena tidak mampu memerangi hawa nafsunya 2.Mati untuk menjalani kehidupan akhirat yang kekal abadi dari kehidupan inilah manusia akan menjalani hisaban amal-amal perbuatan selama di dunia jika amal kebaikan lebih banyak maka Surgalah tempatnya tetapi jika amal keburukan lebih banyak maka Nerakalah tempatnya, sedangkan setelah kematian manusia mengalami 2 kehidupan kembali : - dan jika manusia itu matinya tidak wajar karena bersekutu dengan jin kafir/syetan/iblis maka ia akan menjadi makanan jin kafir tersebut dan menjadi budaknya sampai kiamat kubro datang, jika manusia mengalami mati seperti ini maka akan menjadi pengikut setia setan dan iblis serta kekal abadi di neraka nantinya, - jika manusia itu selalu berbuat amal kebaikan di dunia maka akan memperoleh nikmat kubur dan akan mendapat surganya ALLAH S.W.T.

Yang kekal Abadi suatu kebahagiaan yang dinantikan oleh setiap manusia dibumi, untuk memperjelas ada apa setelah mati berikut Al qur an dan hadisnya : Q.S.Al mu'minuun ayat 99 - 100 jus 18 yang artinya : โ€œ (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) , agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak.

Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.โ€ dan Al faqih berkata : bahwa Abu ja'far meriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a. bahwa orang mu'min itu apabila diletakan didalam kuburnya maka kuburnya 70 hasta ditaburi harum-haruman dan ditutup dengan kain sutra apabila ia hafal sebagian dari Al qur'an maka apa yang di hafalnya itu menerangi seluruh kuburnya dan apabila ia tidak hafal maka ia dibuatkan cahaya seperti matahari didalam badannya, ia bagaikan pengantin baru yang tidur dan tidak dibangunkan kecuali oleh istri yang sangat dicintainya, kemudian ia bangun dari tidurnya seakan-akan ia belum puas dari tidurnya sedangkan orang kafir maka kuburnya disempitkan atasnya sehingga tulang-tulangnya masuk kedalam perutnya lantas didatangi berbagai macam ular yang besar sebesar leher unta, dimana ular-ular itu makan dagingnya sehingga tidak tersisa pada tulangnya, kemudian datang kepadanya malaikat yang tuli, bisu dan buta dengan membawa cambuk-cambuk dari besi, mereka memukulinya dengan cambuk-cambuk itu tanpa mendengar jeritan dan melihat orang itu sehingga tidak akan timbul rasa belas kasihan kepadanya.

Rosululloh bersabda : kubur itu adalah pos pertama dari pos-pos akhirat apabila seseorang selamat dari pos pertama maka pos berikutnya lebih mudah daripadanya dan apabila seseorang tak selamat dari pos pertama itu maka pos berikutnya lebih berat padanya. Dari ayat Al qur'an dan Hadits tersebut tentulah bisa dipahami bersama bahwa setiap manusia akan mengalami kematian sekalipun bersembunyi, berlari ataupun mencari siasat untuk menghindari dari sebuah kematian kalaulah ALLAH sudah berkehendak tetap saja akan merenggut nyawanya dimanapun berada, dari sinilah manusia di harap mengerti dan tentu akan selalu mendekatkan diri pada ALLAH S.W.T.

Agar memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat memang pekerjaan ini tidaklah mudah namun dengan keyakinan dan sungguh-sungguh seraya mengharap ampunan padaNYA. Maka segala cita-citamu tuk menjadi kekasih ALLAH S.W.T. Akan menjadi sebuah kenyataan bukan impian lagi karena setiap manusia dibumi tentulah selalu mengharapkan agar menjadi kekasih ALLAH S.W.T. Tentu semua itu demi memperoleh ridhonya karena dengan menjadi kekasih ALLAH dengan sendirinya ALLAH S.W.T Akan memberi kelebihan pada kekasihnya seperti MU'JIZAT yang dimiliki para nabi, KAROMAH yang dimiliki para wali, MAUNAH yang dimiliki orang mu'min berikut penjelasannya : -MU'JIZAT NABI MUHAMMAD SOLALLAHU 'ALAIHI WASSALAM : "dimana beliau sebagai nabi terakhir yang diberi kelebihan oleh ALLAH S.W.T.

mampu memegang BULAN dan mengobati orang yang sakit contohnya : saat anak seorang raja yang kelahirannya tidak normal bahkan tidak mempunyai kaki dan tangan namun dengan kelebihan yang dimiliki NABI tentu dengan berdoa Pada ALLAH S.W.T. Maka sekejap saja tubuh manusia tadi menjadi normal tidak cacat lagi" Dan tentu MU'JIZAT yang dimiliki para nabi sebenarnya sama cuma karena disaat menunjukan MU'JIZAT NYA sesuai keinginan manusia pada saat itu untuk minta bukti saja dan keadaan para nabi saat terdesak harus mengeluarkan MU'JIZATNYA, mungkin bagi manusia yang cuma menggunakan logikanya itu takhayul dan dibilang dongeng belaka atau mungkin dibilang sihir, -KAROMAH PARA WALISONGO JAWA : " dimana beliau-beliau diberi kelebihan oleh ALLAH S.W.T.

Mampu memegang PETIR " untuk karomah para wali pun sama Tidak ada yang berbeda jauh antara wali yang satu dengan wali yang lainnya, mungkin kelebihan yang dimiliki para wali terkusus bagi yang menggunakan logikanya saja akan berucap sihir dan takhayul, Dari catatan diatas tentulah dapat diambil hikmah dan menjadi tauladan bagi umatnya kalau memang ada orang islam yang tidak mengakui adanya kelebihan yang dimiliki para nabi dan para wali itu menandakan manusia yang tidak percaya akan kekuasaan ALLAH S.W.T.

dan jika kamu menemukan manusia yang tidak percaya adanya kelebihan yang dimiliki para nabi dan para wali walaupun dia mengakunya islam lebih baik jangan kamu ikuti apalagi dijadikan pembimbingmu karena nantinya kamu malah akan diperbudaknya dan nyawamu siap ditumbalkan kapan saja? maka dari itulah jangan sekali-kali mengumbar hawa nafsumu secara berlebihan tetapi berusahalah memerangi hawa nafsumu semampu kamu karena ALLAH S.W.T.

Akan menilai dari keniatan dan kesungguhan hambanya didalam mendekatkan diri PADANYA, mungkin bagi kalian pun akan bertanya : "maaf KI AGENG KAMULYAN lalu bagaimana jika kami ingin mendekatkan diri pada ALLAH S.W.T. Agar kami bisa sedikit diberi kelebihan oleh ALLAH S.W.T. Demi memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat" jawab KI AGENG KAMULYAN : "jika memang kamu ingin memperolehnya baiknya kamu melakukan puasa NABI DAUD A.S" mungkin bagi kalianpun akan sangat takut jika melihat kilat dan petir namun perasaan itu akan terobati jika kamu telah melakukan PUASA SUNAH NABI DAUD A.S.

Selama 1 tahun, dan jika kamu melakukan PUASA SUNAH NABI DAUD A.S. Selama 2 tahun maka alam pun akan bersahabat dengan kamu termasuk kilat dan petir yang selama ini kamu takut jika melihatnya. Dan jika kamu melakukan PUASA SUNAH NABI DAUD A.S Selama 3 tahun atas ijin ALLAH S.W.T. Maka kamu dapat MEMEGANG PETIR itulah manfaat dari memerangi hawa nafsu dengan cara berpuasa maka kamupun akan diberi kelebihan oleh ALLAH S.W.T.

Sesuai dengan kemampuan kamu didalam memerangi hawa nafsumu tetapi jika kamu melihat manusia yang selalu angkara murka mengatasnamakan agama dan selalu mengkafirkan orang lain manusia seperti itulah yang hanya menggunakan logikanya saja sebenarnya manusia seperti itu tidak mempercayai adanya kelebihan yang dimiliki para nabi dan para wali karena bagi mereka itu mustahil dan takhayul dan bagi mereka dengan jalan kekerasan itulah jalan menuju Surga ALLAH S.W.T., padahal sudah aku jelaskan bahwa ALLAH S.W.T.

MAHA KUAT DAN MAHA KUASA hanya dengan sekejap mata saja maka bumipun akan hancur dari sinilah tugas manusia dibumi agar bisa meneladani jejak para nabi dan para wali ,dengan kamu berpuasa sunah maka kamupun akan dapat mampu memerangi hawa nafsumu dan memperoleh hikmah yang begitu besar berikut haditsnya : Dari Sahl r.a dari Nabi Muhammad solallahu 'alaihi wassalam bersabda :,,Sesungguhnya didalam surga ada satu yang disebut pintu royan,masuk dari pintu itu orang yang puasa pada hari kiamat ,tidak masuk dari pintu itu seorang juapun selain mereka ,lalu di panggil : mana orang yang puasa!

Mereka berdiri.Tidak masuk dari pintu itu seorang juapun selain mereka itu.Setelah mereka masuk,pintu dikunci,tidak dapat masuk dari pintu itu seorang juapun,, (H.R BUKHARI) * Dari Abdullah r.a katanya : ,,pernah kami serta Nabi Muhammad solallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda :,, Barang siapa yang menyanggupi hidup berumahtangga ,hendaklah ia menikah ,sesungguhnya menikah itu lebih mendinding penglihatan dan lebih memelihara kehormatan dan siapa yang tiada menyanggupi hendaklah puasa sesungguhnya puasa itu mengurangi keinginan,, (H.R BUKHARI) * dari hadist diatas tentulah bisa dijadikan pelajaran sangat berharga bukan malah berbuat angkara murka mengatasnamakan agama dan dengan puasa itu pula kamu dapat mengendalikan nafsu birahi yang kebablasan bisa-bisa kalau tidak berpuasa istrinya berceceran dimana-mana ,kalau mau menikah banyak tunggu dulu kalau memang stok laki-laki lebih sedikit dari perempuan karena peperangan mungkin istri lebih dari satu gak papa, tapi kalau stok laki-laki masih banyak tentu kasihan nanti laki-laki yang belum menikah mau menikah sama siapa kalau perempuannya sudah diambil semua, jangan rakus dengan perempuan ingat jaman rosululloh dahulu menikah lebih dari satu hanya untuk menolong bahkan karena untuk menolong beliau menikah dengan wanita yang lebih tua dari beliau, tetapi kalau jaman sekarang menikah lebih dari satu mungkin karena nafsu birahi bukan untuk menolong dan biasanya wanita yang akan menjadi istri 2, 3, 4 lebih cantik dan muda disesuaikan dengan selera, jangan mentang-mentang punya harta banyak menikah lebih dari satu ingat fakir miskin masih banyak di negeri sendiri atau negeri yang lain ini yang harus kalian perhatikan kalau ingin memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat, ingat rosulullah tidak pernah mengajarkan dengan harta yang banyak kamu menikah dengan istri yang banyak pula itu namanya rakus terhadap wanita dengan satu wanita juga sudah cukup menyalurkan syahwatmu,karena harta kekayaanmu adalah harta titipan ALLAH S.W.T.

Sudah selayaknya kamu membagi-bagikannya bagi orang yang tidak mampu berikut haditsnya : Dari Uqbah bin Harits r.a berkata : ,,Saya sembahyang Ashar serta Nabi Muhammad solallahu 'alaihi wasallam sesudah memberi salam,beliau segera berdiri dan terus masuk kerumah isteri beliau kemudian beliau keluar dan dilihatnya muka orang banyak seolah-olah heran melihat segeranya lalu beliau bersabda :,,Aku teringat waktu -sudah- sembahyang akan sepotong emas yang ada disisi kami ,aku tidak ingin emas itu akan terletak juga sampai sore atau malamnya.Oleh sebab itu ,aku perintahkan untuk membagi-bagikannya .(H.R.

BUKHARI) Mungkin bagi kalian akan bingung dan berkata :"maaf KI AGENG KAMULYAN,lalu jika saya bersedekah pada ulama atau pada KI AGENG sendiri lantaran meminta doanya ,apa itu diperbolehkan " jawab KI AGENG KAMULYAN : ,,ya tentu boleh,, Berikut haditsnya : Dri Abdullah bin Abi Aufa r.a berkata :,,Biasanya Nabi Muhammad Solallahu 'alaihi wasallam apabila datang satu kaum membawa sedekah mereka,beliau mendoakan: ,,Oh Tuhan !

Beri rahmat kiranya atas keluarga fulan" bapak saya datang pula membawa sedekahnya ,lalu beliau berdoa : Oh Tuhan ! Beri rahmat kiranya atas keluarga Abu Aufa" (H.R BUKHARI). Dan mungkin kalian akan berkata lagi :"maaf KI AGENG KAMULYAN ,lalu seandainya kami tidak bisa memberi apa-apa dikarenakan tidak punya apa-apa karena miskin berat ,bagaimana hukumnya" ,jawab KI AGENG KAMULYAN :,,jika memang kamu tidak punya penghasilan dan tidak punya harta sama sekali berbuat baiklah terhadap orang lain,, berikut haditsnya : Dari Abu Musa r.a berkata :,,Nabi Muhammad solallahu 'alaihi wasallam bersabda : ,,semestinya tiap-tiap muslim bersedekah" .Orang banyak bertanya Hai Rosulullah !

Bagaimana orang yang tidak punya? Beliau bersabda : ,,Ia bekerja dengan tangannya yang menguntungkan untuk dirinya dan dapat pula bersedekah " Tanya mereka :kalau tidak sanggup ? Beliau bersabda :,,hendaklah ia memberi pertolongan kepada orang yang berkepentingan yang mengharap pertolongan" berkata lagi : kalau sekiranya tidak sanggup ?

Beliau bersabda : ,,Hendaklah dikerjakan kebaikan dan dihentikan kejahatan yang demikian brarti bahwa ia bersedekah" (H.R. BUKHARI) atau mungkin kalian akan bertanya pula : "maaf KI AGENG lalu bagaimana dengan orang yang gemar memperkaya diri sendiri atau yang lebih gencarnya dengan sebutan korupsi" jawab KI AGENG : "bertaubatlah lalu sedekahkan uang korupsi tersebut untuk mengobati derita rakyat miskin, karena jika manusia selalu korupsi dan korupsi tidak pernah bertaubat maka cepat ataupun lambat ALLAH S.W.T.

akan memberi hukuman didunia, dan untuk akhiratnya pun akan lebih mengenaskan terkusus bagi yang kaya raya tapi kikir tidak pernah zakat dan sedekah berikut haditsnya : Dari Abu Hurairah r.a berkata :,,Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam bersabda :,, Barang siapa yang diberi ALLAH kekayaan, tetapi tidak dibayarkan zakatnya, dihari kiamat hartanya itu dijadikan ular bertaring dan dikalungkan ke lehernya lalu ular itu menggigit pipinya ,ular itu berkata : saya harta engkau, saya simpanan engkau.

Kemudian Nabi Muhammad salallahu 'alaihi wasallam membaca ayat : ,,Dan janganlah mengira orang-orang yang kikir dengan harta yang dikaruniakan Tuhan kepadanya ,akan jadi kebaikan bahkan kejahatan bagi mereka nanti dihari kiamat digantungkan dileher mereka harta yang mereka kikirkan itu" (H.R BUKHARI) jika memang kamu bingung harus menyalurkan kemana sedekahnya bisa disalurkan melalui rekening yang tercantum dibawah ini "SEMOGA SEDEKAH KALIAN MENJADI BAROKAH" mulailah dari sekarang untuk gemar sedekah agar kamu memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat, jangan pula kalian mengumbar nafsu birahi ataupun nafsu angkara murka mulailah dari sekarang berusaha memerangi hawa nafsumu agar kamu diberikan kelebihan oleh ALLAH S.W.T.

dengan cara berpuasa SUNAH NABI DAUD A.S Berikut haditsnya : Dari Abdullah bin 'Amr bin 'Ash r.a berkata: ,,Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada saya : Wahai Abdullah ! Tidak benarkah yang dikabarkan kepadaku bahwa engkau puasa siang hari dan berdiri malam hari?" kata saya : sebenarnya hai Rasulullah ! Beliau bersabda : ,.janganlah engkau kerjakan, puasalah dan berbukalah, berdirilah dan tidurlah, sesungguhnya tubuh engkau ada hak, sesungguhnya bagi matamu sendiri ada hak, sesungguhnya untuk istri engkau ada hak, sesungguhnya untuk tamu engkau ada hak dan sesungguhnya untuk engkau jika puasa engkau tiap-tiap bulan tiga hari, maka sesungguhnya untuk engkau dengan tiap-tiap kebaikan sepuluh misalnya, sesungguhnya yang demikian itu brarti mempuasakan seluruhnya.

Saya minta diperbanyak, maka dibanyakan atas saya. Kata saya : Hai Rasulullah ! Sesungguhnya saya masih mempunyai kekuatan .Sabda Beliau: ,,Maka puasalah -sebagaimana-puasa Nabi Allah Daud a.s dan jangan engkau lebihi dari itu".

Kata saya : bagaimana biasanya puasa Nabi Daud a.s ?Beliau Bersabda : ,,seperdua masa" .Pernah Abdullah berkata setelah ia tua : ya kiranya ,saya terima kelonggaran Nabi Muhammad Salallahu 'Alaihi Wasallam " (H.R.

BUKHARI ) * Dari Abdullah Bin 'Amr r.a berkata : ,,Diceritakan kepada Rasulullah salallahu 'alaihi wasallam bahwasanya saya berkata : Demi Allah, sesungguhnya saya akan puasa siang hari dan berdiri waktu malam selama saya masih hidup.Saya katakan kepada Nabi : Sebenarnya saya berkata begitu, saya tebus engkau dengan bapak dan ibu .Sabda Nabi :,,sesungguhnya engkau tidak akan menyanggupi yang demikian, hanya puasa dan berbukalah, berdiri dan tidurlah dan puasalah dalam tiap-tiap bulan tiga hari, sesungguhnya satu kebaikan dengan sepuluh misalnya yang demikian seumpama puasa semasa".Kata saya: saya bisa lebih dari itu.

Sabda Nabi: ,,Puasalah sehari dan berbukalah dua hari".Kata saya : saya sanggup lebih daripada itu.Sabda Nabi : ,,Puasalah sehari dan berbukalah sehari ,begitulah puasa Daud a.s dan itu pulalah puasa yang paling utama.Kata saya : ,,sesungguhnya saya bisa lebih dari pada itu.Sabda Nabi :,,Tiada lagi yang melebihi daripada itu" (H.R.

BUKHARI) sejenak merenung dari kata-kata diatas agar bisa diambil hikmah dan manfaatnya sudah saatnya kalian mengakhiri sifat angkara murkamu dan kembalilah kedalam agama yang penuh kasih sayang dan kedamaian dengan selalu memerangi hawa nafsumu agar kamu diberi kelebihan oleh ALLAH S.W.T.

KI AGENG KAMULYANูƒูŠ ุฃฺฌูŠฺ ูƒุงู…ูˆู„ูŠุงู† ***ูƒูŠ ุฃฺฌูŠฺ ูƒุงู…ูˆู„ูŠุงู† KI AGENG KAMULYAN alamat : Desa Kambangan rt 27 rw 06 Pedukuhan Kamulyan Komplek Mushola Baitul Abidin Kec.

Lebaksiu Kab. Tegal Jawa Tengah Phone : 081328048777 - 085747777735 Pin BB : ki-777 ~ SILSILAH ~ DARI IBU : " Ki Ageng Kamulyan Binti Umi Siti Aisah ( Nyimas Kencana Wangi) Bin Syeh Abdul Ghani Bin Syeh Makdum Ibrahim Bin Raden Sanjaya Bin Pangeran Purbaya (Jaka Umbaran) Bin Sultan Pakubuwono I ( Pangeran Puger) Bin Sultan Agung Hanyrokusumo Bin Sultan Anyokrowati Bin Panembahan Senopati ( Raja Mataram I ) Bin Ki Ageng Pamanahan Bin Ki Ageng Ngenis Bin Ki Ageng Selo (Syeh Abdurahman) Bin Ki Getas Pendawa Bin Ki Bondan Kejawen (Lembu Peteng) Bin Brawijaya v " .

Dari AYAH : " Ki Ageng Kamulyan / Ki Bontot Kamulyan ( Raden Mas Syamsul Arifin / Syeh Karnia ) bin Syeh Akhmad Rifai bin Syeh Akhmad Khasad bin syeh Zulkarnaen bin Syeh Muhammad Sarkawi bin Syeh Abdul Malik ( Raden Galuh Purbayasa ) Bin Syeh abdul Jabar ( Prabu Inu Kertapati ) Bin Syeh Maulana Ibrahim ( Prabu Sentanu ) Bin Syeh Zulkaernaen 1 ( Prabu Aji Santa Kirana) bin Syeh Kamulyan ( Prabu Kamulyan ) *** ยซยซยซ Menangani Permasalahan berat anda ยปยปยป Anonim 13 Oktober 2016 17.52 Assalamu Alaikum wr-wb, perkenalkan nama saya ibu Rosnida zainab asal Kalimantan Timur, saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS.

saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi pemerintahan manapun, saya mengabdikan diri sebagai guru disebuah desa terpencil, dan disini daerah tempat mengajar hanya dialiri listrik tenaga surya, saya melakukan ini demi kepentingan anak murid saya yang ingin menggapai cita-cita, Sudah 9 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 4 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari sekolah tempat saya mengajar mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya 0853-1144-2258 atas nama Drs Tauhid SH.MSI beliaulah yang selama ini membantu perjalan karir saya menjadi PEGAWAI NEGERI SIPIL.

alhamdulillah berkat bantuan bapak Drs Tauhid SH.MSI SK saya dan 2 teman saya sudah keluar, jadi teman2 jangan pernah putus asah kalau sudah waktunya tuhan pasti kasih jalan, Wassalamu Alaikum Wr Wr .. Balas Hapus โ€ข โ–บ 2021 (2) โ€ข โ–บ Februari (1) โ€ข โ–บ Januari (1) โ€ข โ–บ 2020 (10) โ€ข โ–บ November (1) โ€ข โ–บ Oktober (1) โ€ข โ–บ September (1) โ€ข โ–บ Agustus (1) โ€ข โ–บ Juli (1) โ€ข โ–บ Mei (1) โ€ข โ–บ April (1) โ€ข โ–บ Maret (2) โ€ข โ–บ Januari (1) โ€ข โ–บ 2019 (10) โ€ข โ–บ Desember (1) โ€ข โ–บ November (1) โ€ข โ–บ Oktober (1) โ€ข โ–บ September (1) โ€ข โ–บ Agustus (1) โ€ข โ–บ Juni (1) โ€ข โ–บ Mei (1) โ€ข โ–บ April (1) โ€ข โ–บ Februari (1) โ€ข โ–บ Januari (1) โ€ข โ–บ 2018 (19) โ€ข โ–บ Desember (2) โ€ข โ–บ November (1) โ€ข โ–บ Oktober (6) โ€ข โ–บ September (1) โ€ข โ–บ Agustus (2) โ€ข โ–บ Juli (1) โ€ข โ–บ Juni (1) โ€ข โ–บ Mei (1) โ€ข โ–บ April (1) โ€ข โ–บ Maret (1) โ€ข โ–บ Februari (1) โ€ข โ–บ Januari (1) โ€ข โ–บ 2017 (17) โ€ข โ–บ September (1) โ€ข โ–บ Agustus (1) โ€ข โ–บ Juni (2) โ€ข โ–บ April (2) โ€ข โ–บ Maret (4) โ€ข โ–บ Februari (3) โ€ข โ–บ Januari (4) โ€ข โ–บ 2016 (22) โ€ข โ–บ Desember (4) โ€ข โ–บ November (1) โ€ข โ–บ Oktober (3) โ€ข โ–บ September (1) โ€ข โ–บ Agustus (4) โ€ข โ–บ Juli (1) โ€ข โ–บ Juni (1) โ€ข โ–บ Mei (2) โ€ข โ–บ April (1) โ€ข โ–บ Maret (1) โ€ข โ–บ Februari (1) โ€ข โ–บ Januari (2) โ€ข โ–บ 2015 (36) โ€ข โ–บ Desember (1) โ€ข โ–บ November (2) โ€ข โ–บ Oktober (3) โ€ข โ–บ September (2) โ€ข โ–บ Agustus (3) โ€ข โ–บ Juli (3) โ€ข โ–บ Juni (3) โ€ข โ–บ Mei (3) โ€ข โ–บ April (4) โ€ข โ–บ Maret (4) โ€ข โ–บ Februari (4) โ€ข โ–บ Januari (4) โ€ข โ–บ 2014 (42) โ€ข โ–บ Desember (4) โ€ข โ–บ November (5) โ€ข โ–บ Oktober (4) โ€ข โ–บ September (3) โ€ข โ–บ Agustus (3) โ€ข โ–บ Juli (3) โ€ข โ–บ Juni (3) โ€ข โ–บ Mei (3) โ€ข โ–บ April (4) โ€ข โ–บ Maret (3) โ€ข โ–บ Februari (4) โ€ข โ–บ Januari (3) โ€ข โ–บ 2013 (71) โ€ข โ–บ Desember (4) โ€ข โ–บ November (5) โ€ข โ–บ Oktober (5) โ€ข โ–บ September (5) โ€ข โ–บ Agustus (4) โ€ข โ–บ Juli (5) โ€ข โ–บ Juni (6) โ€ข โ–บ Mei (7) โ€ข โ–บ April (7) โ€ข โ–บ Maret (10) โ€ข โ–บ Februari (8) โ€ข โ–บ Januari (5) โ€ข โ–บ 2012 (90) โ€ข โ–บ Desember (5) โ€ข โ–บ November (5) โ€ข โ–บ Oktober (6) โ€ข โ–บ September (5) โ€ข โ–บ Agustus (9) โ€ข โ–บ Juli (7) โ€ข โ–บ Juni (9) โ€ข โ–บ Mei (8) โ€ข โ–บ April (8) โ€ข โ–บ Maret (9) โ€ข โ–บ Februari (9) โ€ข โ–บ Januari (10) โ€ข โ–ผ 2011 (82) โ€ข โ–ผ Desember (11) โ€ข DOA MENUJU KAYA DAN REJEKI LANCAR "SYIAR DAN SYAIR...

โ€ข MEMILIH SOSOK PEMIMPIN SEJATI "SYIAR DAN SYAIR KED... โ€ข KELEBIHAN YANG DIMILIKI PARA WALI ALLAH "SYIAR DAN... โ€ข JAKA KENDIL MENERIMA WANGSIT "SYIAR DAN SYAIR KEDA... โ€ข TIGA TRAGEDI KEJAHATAN PERANG "SYIAR DAN SYAIR KED... โ€ข MENGKAJI ILMU HAKIKAT DIRI "SYIAR DAN SYAIR KEDAMA... โ€ข FENOMENA GERHANA BULAN MALAM 15 SURO "SYIAR DAN SY... โ€ข RAMALAN 2012 "SYIAR DAN SYAIR KEDAMAIAN 59" โ€ข SEBUAH KEYAKINAN DAN PASRAH DIRI "SYIAR DAN SYAIR ...

โ€ข GUGURNYA DURNA DALAM PERANG BARATAYUDA "SYIAR DAN ... โ€ข KARMA PALA "SYIAR DAN SYAIR KEDAMAIAN 56" โ€ข โ–บ November (11) โ€ข โ–บ Oktober (12) โ€ข โ–บ September (9) โ€ข โ–บ Agustus (11) โ€ข โ–บ Juli (8) โ€ข โ–บ Juni (6) โ€ข โ–บ Mei (6) โ€ข โ–บ April (3) โ€ข โ–บ Maret (2) โ€ข โ–บ Februari (3) โ€ข โ–บ 2010 (17) โ€ข โ–บ Desember (1) โ€ข โ–บ November (2) โ€ข โ–บ Oktober (2) โ€ข โ–บ September (6) โ€ข โ–บ Agustus (2) โ€ข โ–บ Juni (4) KI AGENG KAMULYANูƒูŠ ุฃฺฌูŠฺ ูƒุงู…ูˆู„ูŠุงู† ูƒูŠ ุฃฺฌูŠฺ ูƒุงู…ูˆู„ูŠุงู† Desa Kambangan rt 27 rw 06 Lebaksiu Tegal, jawa tengahูƒูŠ ุฃฺฌูŠฺ ูƒุงู…ูˆู„ูŠุงู†, Indonesia ***ูƒูŠ ุฃฺฌูŠฺ ูƒุงู…ูˆู„ูŠุงู† KI AGENG KAMULYAN alamat : Desa Kambangan rt 27 rw 06 Pedukuhan Kamulyan Komplek Mushola Baitul Abidin Kec.

Lebaksiu Kab. Tegal Jawa Tengah Phone : 081328048777 - 085747777735 Pin BB : ki-777 ~ SILSILAH ~ DARI IBU : " Ki Ageng Kamulyan Binti Umi Siti Aisah ( Nyimas Kencana Wangi) Bin Syeh Abdul Ghani Bin Syeh Makdum Ibrahim Bin Raden Sanjaya Bin Pangeran Purbaya (Jaka Umbaran) Bin Sultan Pakubuwono I ( Pangeran Puger) Bin Sultan Agung Hanyrokusumo Bin Sultan Anyokrowati Bin Panembahan Senopati ( Raja Mataram I ) Bin Ki Ageng Pamanahan Bin Ki Ageng Ngenis Bin Ki Ageng Selo (Syeh Abdurahman) Bin Ki Getas Pendawa Bin Ki Bondan Kejawen (Lembu Peteng) Bin Brawijaya v " .

Dari AYAH : " Ki Ageng Kamulyan / Ki Bontot Kamulyan ( Raden Mas Syamsul Arifin / Syeh Karnia ) bin Syeh Akhmad Rifai bin Syeh Akhmad Khasad bin syeh Zulkarnaen bin Syeh Muhammad Sarkawi bin Syeh Abdul Malik ( Raden Galuh Purbayasa ) Bin Syeh abdul Jabar ( Prabu Inu Kertapati ) Bin Syeh Maulana Ibrahim ( Prabu Sentanu ) Bin Syeh Zulkaernaen 1 ( Prabu Aji Santa Kirana) bin Syeh Kamulyan ( Prabu Kamulyan ) *** ยซยซยซ Menangani Permasalahan berat anda ยปยปยป Lihat profil lengkapku โ€ข โ–บ 2021 (2) โ€ข โ–บ Februari (1) โ€ข โ–บ Januari (1) โ€ข โ–บ 2020 (10) โ€ข โ–บ November (1) โ€ข โ–บ Oktober (1) โ€ข โ–บ September (1) โ€ข โ–บ Agustus (1) โ€ข โ–บ Juli (1) โ€ข โ–บ Mei (1) โ€ข โ–บ April (1) โ€ข โ–บ Maret (2) โ€ข โ–บ Januari (1) โ€ข โ–บ 2019 (10) โ€ข โ–บ Desember (1) โ€ข โ–บ November (1) โ€ข โ–บ Oktober (1) โ€ข โ–บ September (1) โ€ข โ–บ Agustus (1) โ€ข โ–บ Juni (1) โ€ข โ–บ Mei (1) โ€ข โ–บ April (1) โ€ข โ–บ Februari (1) โ€ข โ–บ Januari (1) โ€ข โ–บ 2018 (19) โ€ข โ–บ Desember (2) โ€ข โ–บ November (1) โ€ข โ–บ Oktober (6) โ€ข โ–บ September (1) โ€ข โ–บ Agustus (2) โ€ข โ–บ Juli (1) โ€ข โ–บ Juni (1) โ€ข โ–บ Mei (1) โ€ข โ–บ April (1) โ€ข โ–บ Maret (1) โ€ข โ–บ Februari (1) โ€ข โ–บ Januari (1) โ€ข โ–บ 2017 (17) โ€ข โ–บ September (1) โ€ข โ–บ Agustus (1) โ€ข โ–บ Juni (2) โ€ข โ–บ April (2) โ€ข โ–บ Maret (4) โ€ข โ–บ Februari (3) โ€ข โ–บ Januari (4) โ€ข โ–บ 2016 (22) โ€ข โ–บ Desember (4) โ€ข โ–บ November (1) โ€ข โ–บ Oktober (3) โ€ข โ–บ September (1) โ€ข โ–บ Agustus (4) โ€ข โ–บ Juli (1) โ€ข โ–บ Juni (1) โ€ข โ–บ Mei (2) โ€ข โ–บ April (1) โ€ข โ–บ Maret (1) โ€ข โ–บ Februari (1) โ€ข โ–บ Januari (2) โ€ข โ–บ 2015 (36) โ€ข โ–บ Desember (1) โ€ข โ–บ November (2) โ€ข โ–บ Oktober (3) โ€ข โ–บ September (2) โ€ข โ–บ Agustus (3) โ€ข โ–บ Juli (3) โ€ข โ–บ Juni (3) โ€ข โ–บ Mei (3) โ€ข โ–บ April (4) โ€ข โ–บ Maret (4) โ€ข โ–บ Februari (4) โ€ข โ–บ Januari (4) โ€ข โ–บ 2014 (42) โ€ข โ–บ Desember (4) โ€ข โ–บ November (5) โ€ข โ–บ Oktober (4) โ€ข โ–บ September (3) โ€ข โ–บ Agustus (3) โ€ข โ–บ Juli (3) โ€ข โ–บ Juni (3) โ€ข โ–บ Mei (3) โ€ข โ–บ April (4) โ€ข โ–บ Maret (3) โ€ข โ–บ Februari (4) โ€ข โ–บ Januari (3) โ€ข โ–บ 2013 (71) โ€ข โ–บ Desember (4) โ€ข โ–บ November (5) โ€ข โ–บ Oktober (5) โ€ข โ–บ September (5) โ€ข โ–บ Agustus (4) โ€ข โ–บ Juli (5) โ€ข โ–บ Juni (6) โ€ข โ–บ Mei (7) โ€ข โ–บ April (7) โ€ข โ–บ Maret (10) โ€ข โ–บ Februari (8) โ€ข โ–บ Januari (5) โ€ข โ–บ 2012 (90) โ€ข โ–บ Desember (5) โ€ข โ–บ November (5) โ€ข โ–บ Oktober (6) โ€ข โ–บ September (5) โ€ข โ–บ Agustus (9) โ€ข โ–บ Juli (7) โ€ข โ–บ Juni (9) โ€ข โ–บ Mei (8) โ€ข โ–บ April (8) โ€ข โ–บ Maret (9) โ€ข โ–บ Februari (9) โ€ข โ–บ Januari (10) โ€ข โ–ผ 2011 (82) โ€ข โ–ผ Desember (11) โ€ข DOA MENUJU KAYA DAN REJEKI LANCAR "SYIAR DAN SYAIR...

โ€ข MEMILIH SOSOK PEMIMPIN SEJATI "SYIAR DAN SYAIR KED... โ€ข KELEBIHAN YANG DIMILIKI PARA WALI ALLAH "SYIAR DAN... โ€ข JAKA KENDIL MENERIMA WANGSIT "SYIAR DAN SYAIR KEDA... โ€ข TIGA TRAGEDI KEJAHATAN PERANG "SYIAR DAN SYAIR KED...

โ€ข MENGKAJI ILMU HAKIKAT DIRI "SYIAR DAN SYAIR KEDAMA... โ€ข FENOMENA GERHANA BULAN MALAM 15 SURO "SYIAR DAN SY... โ€ข RAMALAN 2012 "SYIAR DAN SYAIR KEDAMAIAN 59" โ€ข SEBUAH KEYAKINAN DAN PASRAH DIRI "SYIAR DAN SYAIR ... โ€ข GUGURNYA DURNA DALAM PERANG BARATAYUDA "SYIAR DAN ...

โ€ข KARMA PALA "SYIAR DAN SYAIR KEDAMAIAN 56" โ€ข โ–บ November (11) โ€ข โ–บ Oktober (12) โ€ข โ–บ September (9) โ€ข โ–บ Agustus (11) โ€ข โ–บ Juli (8) โ€ข โ–บ Juni (6) โ€ข โ–บ Mei (6) โ€ข โ–บ April (3) โ€ข โ–บ Maret (2) โ€ข โ–บ Februari (3) โ€ข โ–บ 2010 (17) โ€ข โ–บ Desember (1) โ€ข โ–บ November (2) โ€ข โ–บ Oktober (2) โ€ข โ–บ September (6) โ€ข โ–บ Agustus (2) โ€ข โ–บ Juni (4) PADEPOKAN TANAH KAMULYAN diasuh oleh GURU BESAR KI AGENG KAMULYAN SPIRITUALIS, RELIGIUS, ARSITEKTUR, PHOTOGRAPHER, DEALS WITH VARIOUS ISSUES INCLUDING TREATING VARIOUS ILNESSES AND BUSINESS DEALING Menangani Berbagai Problem Anda : MERUKUNKAN SUAMI ISTRI, PENGASIHAN, WIBAWA, REJEKI, PENGLARIS, KESUKSESAN, KARIR, JABATAN, KEARTISAN & BERBAGAI PENYAKIT DALAM SERTA PENYAKIT YANG SUSAH DISEMBUHKAN, INSYAALLAH ATAS IZIN ALLAH SEMUA BISA DITANGANI.

JAM PRAKTEK PAGI JAM 08.00-18.00 WIB, MALAM JAM 20.30-22.30WIB BUKA SETIAP HARI. {/INSERTKEYS}

kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut

Alamat : Desa Kambangan RT 27/06 Blok Kamulyan kecamatan Lebaksiu Kabupaten Tegal. HP. 085747777735,081328048777 (Ki Ageng Kamulyan) Ki Ageng Kamulyan Guru Besar Ki Ageng Kamulyan Spiritualis, Religius, Arsitektur & Photographer Deals with various issues including Treating various ilnesses and business dealing Alamat : Desa Kambangan rt 27 rw 06 Pedukuhan Kamulyan Komplek Mushola Baitul Abidin Kecamatan Lebaksiu Kabupaten Tegal Jawa Tengah Telpon : 081328048777-085747777735โ€ข Home โ€ข About โ€ข About Si Cacai โ€ข Artikel โ€ข Artikel โ€ข Artikel Sumbangan โ€ข Syariat โ€ข Tarekat โ€ข Ahmadiah โ€ข Alawiyyah โ€ข Asas Tarekat โ€ข Awam dan Khas โ€ข Chistiyyah โ€ข Naqsyabandiyah โ€ข Qodariyah โ€ข Hakikat โ€ข Makrifat โ€ข Sufism โ€ข Ahli Sufi โ€ข Definasi โ€ข Kisah-kisah Sufi โ€ข Sejarah โ€ข Syarah Kitab โ€ข Bukti Kebenaran Al Quran โ€ข Futuhat Al Makiyyah โ€ข Kebenaran Hakiki โ€ข Kenalilah Akidahmu โ€ข Secebis Perbahasan Nur Muhammad โ€ข Sirrul Asrar โ€ข Tasawuf โ€ข Facebook Dalam setiap era kemodenan, kehidupan manusia sentiasa berkembang ke arah kesempurnaan, sehingga terwujudlah adat-istiadat, pengetahuan, budaya, moral, kepercayaan, aturan kemasyarakatan, pendidikan, undang-undang dan pemerintahan.

Dalam perkembangannya, aturan moral ini tetap mengalami pasang surutnya. Namun, setiap kali mengalami masa surutnya, pasti akan muncul insan-insan yang digelar wali-wali Allah yang sentiasa berjuang untuk mengembalikan nilai moral ke tahap yang tertinggi, sehingga nilai-nilai ini diserapi kembali ke dalam jiwa manusia. Perkembangan adat dan nilai akhlak ini terjadi pula dikalangan dunia Islam sejak Allah s.w.t. telah menjelaskan bahawa Nabi saw mempunyai moral yang paling sempurna.

Nabi s.aw.pun mengenalkan dirinya sebagai utusan yang akan menyempurnakan keperibadian moral dan akhlak. Justeru itu, Allah s.w.t. telah menyeru umat Islam untuk menjadikan RasulNya sebagai insan yang sentiasa dicontohi.Nabi Muhammad s.a.w.

telah berhasil membina sahabatsahabatnya menjadi manusia-manusia sufi yang boleh dibanggakan di hadapan seluruh umat manusia. Padahal pada waktu sebelumnya mereka adalah manusia-manusia jahiliyah yang berada di tepi jurang neraka. Tentunya keberhasilan beliau itu tidak lain karena bantuan Allah dan bimbingan Baginda s.a.w.Dalam kehidupan sehariannya Nabi s.a.w.

menyeru dan mempamerkan cara hidup yang sederhana, selalu prihatin,berharap penuh keridhaan Allah dan kesenangan di akhirat, dan selalu menjalani kehidupan sufistik dalam segala tingkah laku dan tindakannya.

Kehidupan sufistik ini dilanjutkan oleh generasi tabiโ€™in, tabiโ€™-tabiโ€™in dan seterusnya hingga kini. Perjuangan Rasulullah s.a.w. tidak berhenti setakat masa hidupnya sahaja, namun segala ilmu-ilmu dan nilai-nilai akhlak Islamiyah telah diwarisi oleh wali-wali yang sentiasa mendokong dan meneruskan perjuangan Rasulullah s.a.w.

sepertimana yang disifatkan oleh Allah s.w.t. dalam salah satu hadis qudsi yang berbunyi : Maka wujudnya para wali-wali Allah tidak dapat dinafikan dan mereka merupakan para kekasih Allah yang terdapat diseluruh pelusuk bumi di mana sahaja terdapat orang yang beriman.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah mengingatkan hakikat wujudnya para wali serta karamah mereka sebagaimana tercatit dalam kitabnya โ€œWali Allah adalah orang-orang mukmin yang bertaqwa kepada Allah.

Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada ketakutan pada diri mereka dan mereka tidak merasa khuwatir. Mereka beriman dan bertaqwa kepada Allah, bertaqwa dalam pengertian mentaati firman-firmanNya, penciptaanNya, izinNya, dan kehendakNya yang termasuk dalam ruang lingkungan agama. Semua itu kadang-kadang menghasilkan berbagai karamah pada diri mereka sebagai hujjah dalam agama dan bagi kaum muslimin, tetapi karamah tersebut tidak akan pernah ada kecuali dengan menjalankan syariat yang dibawa Rasulullah s.a.w.โ€ Kedudukan wali hanya dapat diberikan kepada orang-orang yang telah nyata ketaqwaannya.

Sementara orang yang nyata telah melanggar syariโ€™ah tidak dapat diberikan kedudukan yang mulia ini. Sayangnya, di kalangan manusia, ada orang yang mengaku bahawa dirinya adalah wali dan memperoleh karamah dari Allah, padahal dalam kehidupannya sehari-hari mereka tidak melaksanakan syariat Islam dengan baik sehingga mustahil bagi Allah untuk memberikan darjat โ€˜waliโ€™ kepada orang seperti ini.

sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak beriman kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut menipu manusia. Maka, peri pentingnya bagi umat Islam mengetahui juga akan perkara-perkara luar biasa yang wujud di alam ini supaya dapat membezakan antara yang hak dan yang batil.

Para wali-wali Allah juga diberi kurniaan yang luar biasa dikenali sebagai Karamah. Karamah adalah sesuatu pemberian Allah swt yang sifatnya seakan-akan dengan mukjizat para nabi dan rasul, iaitu kebolehan melakukan hal-hal yang luar biasa yang diberikan kepada orangorang yang dikasihiNya yang dikenal sebagai wali Allah. Mudah-mudahan dengan pembentangan secebis pengetahuan tentang wali-wali Allah dan karamah mereka ini, pintu keberkahan para wali-wali Allah akan terbuka bagi kita, sehingga dapat kita meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kita kepada Yang Maha Pencipta.

Adapun asal perkataan wali diambil daripada perkataan al walaโ€™ yang bererti : hampir dan juga bantuan. Maka yang dikatakan wali Allah itu orang yang menghampirkan dirinya kepada Allah dengan melaksanakan apa yang diwajibkan keatasnya, sedangkan kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut pula sentiasa sibuk kepada Allah dan asyik untuk mengenal kebesaran Allah.

Kalaulah dia melihat, dilihatnya dalil-dalil kekuasaan Allah. Kalaulah dia mendengar, didengarnya ayat-ayat atau tandatanda Allah.Kalaulah dia bercakap, maka dia akan memanjatkan puji-pujian kepada Allah.

Kalaulah dia bergerak maka pergerakannya untuk mentaati Allah. Dan kalau dia berijtihad, ijtihadnya pada perkara yang menghampirkan kepada Allah. Seterusnya dia tidak jemu mengingat Allah, dan tidak melihat menerusi mata hatinya selain kepada Allah.

Maka inilah sifat wali-wali Allah. Kalau seorang hamba demikian keadaannya, nescaya Allah menjadi pemeliharanya serta menjadi penolong dan pembantunya. Dari semua ayat itu dapat kita lihat bahawa Allah disebut waliorang mukmin disebut waliseorang yang dewasa yang diberi tugas melindungi dan memelihara anak kecil juga disebut wali. Demikian juga orang yang lemah yang tidak dapat mengurus harta-bendanya sendiri, lalu dipelihara oleh keluarga yang lain, maka keluarga tersebut itu juga dipanggil wali.

Penguasa pemerintah yang diberi tanggung jawab pemerintahan disebut wali. Ayah atau mahram yang berkuasa yang menikahkan anak perempuannya juga disebut wali. Lantaran itu dapatlah kita mengambail kesimpulan makna yang luas sekali dari kalimat wali ini. Terutama sekali ertinya ialah hubungan yang amat dekat (karib), baik kerana pertalian darah keturunan, atau kerana persamaan pendirian, atau kerana kedudukan, atau kerana kekuasaan atau kerana persahabatan yang karib.

Allah adalah wali dari seluruh hambaNya dan makhlukNya, kerana Dia berkuasa lagi Maha Tinggi. Dan kuasaNya itu adalah langsung. Si makhluk tadi pun wajib berusaha agar dia pun menjadi wali pula dari Allah. Kalau Allah sudah nyata tegas dekat atau karib kepadanya dia pun hendaklah beraqarrub, ertinya mendekatkan pula dirinya kepada Allah.

Maka timbullah hubungan perwalian yang timbal balik. Segala usaha memperkuatkan iman, memperteguhkan takwa, menegakkan ibadah kepada Allah menurut garis-garis yang ditentukan oleh Allah dan RasulNya, semuanya itu adalah usaha dan ikhtiar mengangkat diri menjadi wali Allah. Segala amal salih, sebagai kesan dari iman yang mantap, adalah rangka usaha mengangkat diri menjadi wali.

5. Ada yang mengatakan bahawa yang dimaksudkan dengan berita yang gembira di dunia ialah karamah dan dikabulkannya segala permintaan seorang mukmin ketika ia masih di dunia, sehingga segala keperluannya dipenuhi oleh Allah dengan segera. Seorang ulama berkata: โ€œJika seorang mukmin rajin beribadah, maka hatinya bercahaya, dan pancaran cahayanya melimpah ke wajahnya, sehingga terlihat pada wajahnya tanda khusyuโ€™ dan tunduk kepada Allah, sehingga ia dicintai dan dipuji oleh banyak orang, itulah tanda kecintaan Allah kepadanya, dan itulah berita gembira yang didahulukan baginya ketika ia di dunia.โ€ 2.

Ada yang mengatakan bahawa yang dimaksudkan dengan berita gembira di akhirat ialah sambutan baik dari para malaikat kepada kaum Muslimin di akhirat, iaitu ketika mereka diberi berita gembira dengan keberhasilan, diputihkannya wajah-wajah mereka dan diberikannya buku catatan amal-amal mereka dari sebelah kanan dan disampaikannya salam dari Allah kepada mereka dan beberapa berita gembira yang lain. Dari Abdullah Ibnu Kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut Ibnu Khattab, katanya: โ€œPada suatu kali Umar mendatangi tempat Muโ€™adz ibnu Jabal ra, kebetulan ia sedang menangis, maka Umar berkata: โ€œApa yang menyebabkan engkau menangis, wahai Muโ€™adz?โ€ Kata Muโ€™adz: โ€œAku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: โ€œOrang-orang yang paling dicintai Allah adalah mereka yang bertakwa yang suka menyembunyikan diri, jika mereka tidak ada, maka tidak ada yang mencarinya, dan jika mereka hadir, maka mereka tidak dikenal.

Mereka adalah para imam petunjuk dan para pelita ilmu.โ€ 12 Tanya seorang: โ€œWahai Rasulullah, siapakah mereka dan apa amal-amal mereka?โ€ Sabda beliau: โ€œMereka adalah orang-orang yang saling kasih sayang dengan sesamanya, meskipun tidak ada hubungan darah mahupun harta di antara mereka.

Demi Allah, wajah mereka memancarkan cahaya, mereka berada di atas mimbarmimbar dari cahaya, mereka tidak akan takut dan susah.โ€ โ€œ Rasulullah saw bersabda: โ€œWahai Abu Hurairah, berjalanlah engkau seperti segolongan orang yang tidak takut ketika manusia ketakutan di hari kiamat.

Mereka tidak takut siksa api neraka ketika manusia takut. Mereka menempuh perjalanan yang berat sampai mereka menempati tingkatan para nabi. Mereka suka berlapar, berpakaian sederhana dan haus, meskipun mereka mampu.

Mereka lakukan semua itu demi untuk mendapatkan redha Allah. Mereka tinggalkan rezeki yang halal kerana takut akan shubhahnya. Mereka bersahabat dengan dunia hanya dengan badan mereka, tetapi mereka tidak tertipu oleh dunia.

Ibadah mereka menjadikan para malaikat dan para nabi sangat kagum. Sungguh amat beruntung mereka, alangkah senangnya jika aku dapat bertemu dengan mereka.โ€ Kemudian Rasulullah saw menangis kerana rindu kepada mereka. Dan beliau bersabda: โ€œJika Allah hendak menyiksa penduduk bumi, kemudian Dia melihat mereka, maka Allah akan menjauhkan siksaNya. Wahai Abu Hurairah, hendaknya engkau menempuh jalan mereka, sebab siapapun yang menyimpang dari penjalanan mereka, maka ia akan mendapati siksa yang berat.โ€ 17 Rasulullah saw bersabda: โ€œSesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang diberi makan dengan rahmatNya dan diberi hidup dalam afiyahNya, jika Allah mematikan mereka, maka mereka akan dimasukkan ke dalam syurgaNya.

Segala bencana yang tiba akan lenyap secepatnya di hadapan mereka, seperti lewatnya malam hari di hadapan mereka, dan mereka tidak terkena sedikitpun oleh bencana yang datang.โ€ 18 Imam Ali Bin Abi Thalib berkata kepada Kumail An Nakhaโ€™i: โ€œBumi ini tidak akan kosong dari hamba-hamba Allah yang menegakkan agama Allah dengan penuh keberanian dan keikhlasan, sehingga agama Allah tidak akan punah dari peredarannya.

Akan tetapi, berapakah jumlah mereka dan dimanakah mereka berada? Kiranya hanya Allah yang mengetahui tentang mereka. Demi Allah, jumlah mereka tidak banyak, tetapi nilai mereka di sisi Allah sangat mulia. Dengan mereka, Allah menjaga agamaNya dan syariatNya, sampai dapat diterima oleh orang-orang seperti mereka.

Mereka menyebarkan ilmu dan ruh keyakinan. Mereka tidak suka kemewahan, mereka senang dengan kesederhanaan. Meskipun tubuh mereka berada di dunia, tetapi rohaninya membumbung ke alam malakut.

Mereka adalah khalifah-khalifah Allah di muka bumi dan para daโ€™I kepada agamaNya yang lurus. Sungguh, betapa rindunya aku kepada mereka.โ€ 19 Imam Ghazali menyebutkan: โ€œAllah pernah memberi ilham kepada para siddiq: โ€œSesungguhnya ada hamba-hambaKu yang mencintaiKu dan selalu merindukan Aku dan Akupun demikian. Mereka suka mengingatiKu dan memandangKu dan Akupun demikian. Jika engkau menempuh jalan mereka, maka Aku mencintaimu. Sebaliknya, jika engkau berpaling dari jalan mereka, maka Aku murka kepadamu.

โ€œ Tanya seorang siddiq: โ€œYa Allah, apa tanda-tanda mereka?โ€ Firman Allah: โ€œDi siang hari mereka selalu menaungi diri mereka, seperti seorang pengembala yang menaungi kambingnya dengan penuh kasih sayang, mereka merindukan terbenamnya matahari, seperti burung merindukan sarangnya. Jika malam hari telah tiba tempat tidur telah diisi oleh orang-orang yang tidur dan setiap kekasih telah bercinta dengan kekasihnya, maka mereka berdiri tegak dalam solatnya. Mereka merendahkan dahi-dahi mereka ketika bersujud, mereka bermunajat, menjerit, menangis, mengadu dan memohon kepadaKu.

Mereka berdiri, duduk, rukuโ€™, sujud untukKu. Mereka rindu dengan kasih sayangKu. Mereka Aku beri tiga kurniaan: Pertama, mereka Aku beri cahayaKu di dalam hati mereka, sehingga mereka dapat menyampaikan ajaranKu kepada manusia. Kedua, andaikata langit dan bumi dan seluruh isinya ditimbang dengan mereka, maka mereka lebih unggul dari keduanya. Ketiga, Aku hadapkan wajahKu kepada mereka. Kiranya engkau akan tahu, apa yang akan Aku berikan kepada mereka?โ€ 20 โ€˜Iyadz ibnu Ghanam menuturkan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: โ€œMalaikat memberitahu kepadaku: โ€œSebaik-baik umatku berada di tingkatan-tingkatan tinggi.

Mereka suka tertawa secara terang, jika mendapat nikmat dan rahmat dari Allah, tetapi mereka suka menangis secara rahsia, kerana mereka takut mendapat siksa dari Allah. Mereka suka mengingat Tuhannya di waktu pagi dan petang di rumah-rumah Tuhannya. Mereka suka berdoa dengan penuh harapan dan ketakutan.

Mereka suka memohon dengan tangan mereka ke atas dan ke bawah. Hati mereka selalu merindukan Allah. Mereka suka memberi perhatian kepada manusia, meskipun mereka tidak dipedulikan orang.Mereka berjalan di muka bumi dengan rendah hati, tidak congkak, tidak bersikap bodoh dan selalu berjalan dengan tenang.

Mereka suka berpakaian sederhana. Mereka suka mengikuti nasihat dan petunjuk Al Qurโ€™an. Mereka suka membaca Al Qurโ€™an dan suka berkorban. Allah suka memandangi mereka dengan kasih sayangNya.

Mereka suka membahagikan nikmat Allah kepada sesama mereka dan suka memikirkan negeri-negeri yang lain. Jasad mereka di bumi, tapi pandangan mereka ke atas.

Kaki mereka di tanah, tetapi hati mereka di langit. Jiwa mereka di bumi, tetapi hati mereka di Arsy. Roh mereka di dunia, tetapi akal mereka di akhirat. Mereka hanya memikirkan kesenangan akhirat. Dunia dinilai sebagai kubur bagi mereka. Kubur mereka di dunia, tetapi kedudukan mereka di sisi Allah sangat tinggi. Kemudian beliau menyebutkan firman Allah yang artinya: โ€œKedudukan yang setinggi itu adalah untuk orang-orang yang takut kepada hadiratKu dan yang takut kepada ancamanKu.โ€ 21 โ€œPada suatu waktu ia pernah membaca firman Allah: โ€œAfahasibtum annamaa khalaqnakum โ€˜abathanโ€pada telinga seorang yang kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut, maka dengan izin Allah, orang itu segera sedar, sehingga Rasuulllah saw bertanya kepadanya: โ€œApa yang engkau baca di telinga orang itu?โ€ Kata Abdullah: โ€œAku tadi membaca firman Allah: โ€œAfahasibtum annamaa khalaqnakumโ€˜abathanโ€ sampai akhir surah.โ€ Maka Rasul saw bersabda: โ€œAndaikata seseorang yakin kemujarabannya dan ia membacakannya kepada suatu gunung, pasti gunung itu akan hancur.โ€ 22 โ€œAllah berfirman: โ€œSeorang yang memusuhi waliKu, maka Aku akan mengumumkan perang kepadanya.

Tidak seorang pun dari hambaKu yang mendekat dirinya kepadaKu dengan amal-amal fardhu ataupun amal-amal sunnah sehinggai Aku menyayanginya. Maka pendengarannya, pandangannya, tangannya dan kakinya Aku beri kekuatan. Jika ia memohon sesuatu atau memohon perlindungan, maka Aku akan berkenan mengabulkan permohonannya dan melindunginya.

Belum Aku merasa berat untuk melaksanakan sesuatu yang Aku kehendaki seberat ketika Aku mematikan seorang mukmin yang takut mati, dan Aku takut mengecewakannya.โ€ 24 Tetapi, ada pula yang berpendapat bahwa seorang wali tahu bahwa dirinya seorang wali.

Syeikh Al Qusyairi berkata: โ€œMenurut kami, tidak semua wali mengetahui bahawa dirinya seorang wali. Tetapi ada pula yang mengetahui bahawa ia adalah seorang wali. Jika seorang wali mengetahui bahwa dirinya seorang wali, maka pengetahuannya itu adalah sebahagian dari karamahnya yang sengaja diberikan Seperti para nabi-nabi dan rasul-rasul yang martabat serta kedudukan mereka tidak sama di antara satu sama lain, para Aulia juga diberi martabat berlainan.

Di kalangan para Anbia dan Rasul yang jumlahnya sangat ramai itu pun (Nabi lebih 124,000 dan Rasul 315) yang wajib diketahui hanya 25 orang sahaja (Nabi dan Rasul) sedangkan yang bakinya tidak wajib diketahui. Daripada 25 orang Nabi dan Rasul itu ada pula lima orang yang dikurniakan martabat tinggi, dipanggil โ€˜Ulul Azmiโ€™iaitu Muhammad s.a.w., Ibrahim a.s., Musa a.s., Isa a.s.

dan Nuh a.s. Para Aulia juga mempunyai martabat yang berbeza-beza. Namun tidak ada siapa yang dapat mengenal pasti siapakah di antara para Aulia itu yang tertinggi martabatnya kecuali Allah, kerana fungsi atau peranan para nabi dan Rasul.

Seperti dijelaskan dahulu, para nabi dan rasul yang diutus kepada manusia harus membuktikan bahawa mereka dibekalkan oleh mukjizat yang dikurniakan Allah kepada mereka. Tetapi para Aulia tidak wajib membuktikan diri mereka sebagai Aulia melalui karamah yang dikurniakan oleh Allah kepada mereka. Bahkan para Aulia dikehendaki merahsiakan kewalian mereka, apalagi martabat mereka, kecuali dalam keadaan darurat atau terdesak sahaja.

Sebab itu para Aulia tidak dapat dikenal pasti yang lebih tinggi martabatnya daripada yang lain, sedangkan bilangan mereka sangat ramai. Mungkin martabat para Aulia itu dapat dikenal hanya melalui karamah mereka, sedangkan karamah mereka pun tidak wajib ditontonkan kepada orang ramai, kecuali jika terdesak.

Tingkatan para wali dapat dibahagikan kepada beberapa tingkatan sesuai dengan kedudukan mereka masing-masing di sisi Allah swt.

Di antara mereka ada yang terbatas jumlahnya di setiap masanya, tetapi ada pula yang tidak terbatas jumlahnya Sehubungan dengan hal ini, Syeikh Muhyiddin Ibnul Arabi memberikan penjelasan tentang tingkatan dan pembahagian para wali seperti yang diterangkan dalam kitabnya FUTUHATUL MAKKIYAH pada bab ke tujuh puluh tiga yang diringkas oleh Syeikh Al Manawi dalam mukaddimah Thabaqat Sughrahnya sebagai berikut: Al Aqtab berasal dari kata tunggal Al Qutub yang mempunyai erti penghulu.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa Al Aqtab adalah darjat kewalian yang tertinggi. Jumlah wali yang mempunyai darjat tersebut hanya terbatas seorang saja untuk setiap masanya. Seperti Abu Yazid Al Busthami dan Kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut Ibnu Harun Rasyid Assity.

Di antara mereka ada yang mempunyai kedudukan di bidang pemerintahan, meskipun tingkatan taqarrubnya juga mencapai darjat tinggi, seperti para Khulafaโ€™ur Rasyidin, Al Hasan Ibnu Ali, Muawiyah Ibnu Yazid, Umar Ibnu Abdul Aziz dan Al Mutawakkil.

kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut

Al Aimmah berasal dari kata tunggal imam yang mempunyai erti pemimpin. Setiap masanya hanya ada dua orang saja yang dapat mencapai darjat Al Aimmah. Keistimewaannya, ada di antara mereka yang pandangannya hanya tertumpu ke alam malakut saja, ada pula yang pandangannya hanya tertumpu di alam malaikat saja.

Al Abdal berasal dari kata Badal yang mempunyai erti menggantikan. Yang memperoleh darjat Al Abdal itu hanya ada tujuh orang dalam setiap masanya. Setiap wali Abdal ditugaskan oleh Allah swt untuk menjaga suatu wilayah di bumi ini. Dikatakan di bumi ini mempunyai tujuh daerah. Setiap daerah dijaga oleh seorang wali Abdal. Jika wali Abdal itu meninggalkan tempatnya, maka ia akan digantikan oleh yang lain.

Ada seorang yang bernama Abdul Majid Bin Salamah pernah bertanya pada seorang wali Abdal yang bernama Muaz Bin Asyrash, amalan apa yang dikerjakannya sampai ia menjadi wali Abdal?

Jawab Muaz Bin Asyrash: โ€œPara wali Abdal mendapatkan darjat tersebut dengan empat kebiasaan, yaitu sering lapar, gemar beribadah di malam hari, suka diam dan mengasingkan diriโ€. An Nuqabaโ€™ berasal dari kata tunggal Naqib yang mempunyai erti ketua suatu kaum. Jumlah kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut Nuqabaโ€™ dalam setiap masanya hanya ada dua belas orang. Wali Nuqabaโ€™ itu diberi karamah mengerti sedalam-dalamnya tentang hukum-hukum syariat.

Dan mereka juga diberi pengetahuan tentang rahsia yang tersembunyi di hati seseorang. Selanjutnya mereka pun mampu untuk meramal tentang watak dan nasib seorang melalui bekas jejak kaki seseorang yang ada di tanah. Sebenarnya hal ini tidaklah aneh. Kalau ahli jejak dari Mesir mampu mengungkap rahsia seorang setelah melihat bekas jejaknya. Apakah Allah tidak mampu membuka rahsia seseorang kepada seorang waliNya? An Nujabaโ€™ berasal dari kata tunggal Najib yang mempunyai erti bangsa yang mulia.

Wali Nujabaโ€™ pada umumnya selalu disukai orang. Dimana sahaja mereka mendapatkan sambutan orang ramai. Kebanyakan para wali tingkatan ini tidak merasakan diri mereka adalah para wali Allah. Yang dapat mengetahui bahawa mereka adalah wali Allah hanyalah seorang wali yang lebih tinggi darjatnya. Setiap zaman jumlah mereka hanya tidak lebih dari lapan orang. Al Hawariyun berasal dari kata tunggal Hawariy yang mempunyai erti penolong.

Jumlah wali Hawariy ini hanya ada satu orang sahaja di setiap zamannya. Jika seorang wali Hawariy meninggal, maka kedudukannya akan diganti orang lain. Di zaman Nabi hanya sahabat Zubair Bin Awwam saja yang mendapatkan darjat wali Hawariy seperti yang dikatakan oleh sabda Nabi: โ€œSetiap Nabi mempunyai Hawariy. Hawariyku adalah Zubair ibnul Awwamโ€. Walaupun pada waktu itu Nabi mempunyai cukup banyak sahabat yang setia dan selalu berjuang di sisi beliau.

Tetapi beliau saw berkata demikian, kerana beliau tahu hanya Zubair sahaja yang meraih darjat wali Hawariy. Kelebihan seorang wali Hawariy biasanya seorang yang berani dan pandai berhujjah. Ar Rajbiyun berasal dari kata tunggal Rajab. Wali Rajbiyun itu adanya hanya pada bulan Rajab saja. Mulai awal Rajab hingga akhir bulan mereka itu ada.

Selanjutnya keadaan mereka kembali biasa seperti semula. Setiap masa, jumlah mereka hanya ada empat puluh orang sahaja. Para wali Rajbiyun ini berpecah di berbagai wilayah. Di antara mereka ada yang saling mengenal, tapi kebanyakannya tidak. Disebutkan bahawa ada sebahagian orang dari Wali Rajbiyun yang dapat melihat hati orang-orang Syiah melalui kasyaf.

Ada dua orang Syiah yang mengaku sebagai Ahlu Sunnah dihadapan seorang wali Rajbiyun. Lalu keduanya diusir, kerana wali Rajbiyun itu melihat keduanya berupa dua ekor babi, sebab keduanya membenci Abu Bakar, Umar dan sahabat-sahabat lain. Keduanya hanya mencintai Ali dan sejumlah sahabatnya. Ketika keduanya bertanya padanya, maka si wali tersebut berkata: โ€œAku lihat kamu berdua berupa dua ekor babi, kerana kamu menganut mazhab Syiah dan membenci para sahabat Nabiโ€. Ketika berita itu disedari kebenarannya oleh keduanya, maka keduanya mengaku benar dan segera memohon ampun kepada Allah.

Demikianlah secebis kisah kasyaf seorang wali Rajbiyun. Pada umumnya, di bulan Rajab, sejak awal harinya, para wali Rajbiyun menderita sakit, sehingga mereka tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Selama bulan Rajab, mereka senantiasa mendapat berbagai pengetahuan secara kasyaf, kemudian mereka memberitahukannya kepada orang lain.

Anehnya penderitaan mereka hanya berlangsung di bulan Rajab. Setelah bulan Rajab berakhir, maka kesehatan mereka kembali seperti semula. Al Khatamiyun berasal dari kata Khatam yang mempunyai erti penutup atau penghabisan.

Maksudnya darjat AlKhatamiyun adalah sebagai penutup para wali. Jumlah mereka hanya seorang. Tidak ada darjat kewalian umat Muhammad yang lebih tinggi dari tingkatan ini.

Jenis wali ini hanya akan ada di akhir masa, iaitu ketika Nabi Isa as.datang kembali. Di antaranya, ada para Wali yang hatinya seperti Nabi Adam as. Jumlah mereka hanya tiga ratus orang. Sabda Nabi saw: โ€œMereka berhati seperti hati Adam asโ€. Mereka diberi anugerah tersendiri oleh Allah swt. Syeikh Muhyidin berkata: โ€œJumlah wali jenis ini bukan hanya tiga ratus orang saja dikalangan umatnya, tetapi ada juga dikalangan umat-umat lain.

Tentang keberadaan mereka hanya dapat diketahui secara kasyaf. Setiap masanya dunia tidak pernah kosong dari keberadaan mereka.

Mereka mempunyai budi pekerti Ilahi, mereka amat dekat disisi Allah. Doa mereka selalu diterima oleh Allah. Mereka senang dengan doa: โ€œWahai Tuhan kami, sesungguhnya kami suka menganiaya diri kami. Jika Engkau tidak berkenan memberi ampunan dan kasih sayang kepada kami, pasti kami akan termasuk orang-orang yang rugiโ€. Di antara mereka ada pula yang berhati seperti hati Nabi Nuh as. Jumlah mereka hanya empat puluh orang di setiap zamannya.

Hati mereka seperti hatinya Nabi Nuh as. Beliau adalah Nabi dan Rasul pertama. Mereka suka berdoa, seperti doa Nabi Nuh as yang ertinya: โ€œTuhanKu, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan sesiapa sahaja dari orang beriman, lelaki ataupun wanita yang masuk ke dalam rumahku dan jangan Engkau tambahkan bagi orang-orang yang berbuat aniaya kecuali kebinasaanโ€.

Tingkatan wali dari jenis ini sukar diraih orang, sebab ciri khas mereka sangat keras dalam menegakkan agama, seperti sifat Nabi Nuh as. Mereka selalu memperhatikan sabda Nabi saw yang ertinya: โ€œBarangsiapa yang beribadah selama empat puluh hari dengan penuh ikhlas, maka akan terpancar ilmu hakikat dari lubuk hatinya ke lidahnyaโ€.

Nabi Ibrahim as yang ertinya: โ€œTuhanku, berikan kepadaku kebijaksanaan, dan ikutkan aku kepada orang-orang salihโ€. Mereka diberi keistimewaan yang luar biasa, hati mereka dibersihkan dari rasa ragu, rasa dengki dan rasa buruk sangka terhadap Khalik maupun makhluk, mereka terlindung dari sebarang perbuatan buruk.

Syeikh Muhyiddin berkata: โ€œAku pernah menemui salah seorang dari jenis wali tersebut, aku kagum dengan kemuliaan budi pekertinya, luas pengetahuannya dan kesucian hatinya, sampai aku beranggapan bahwa kesenangan syurga telah dipercepatkan baginyaโ€. Di antaranya pula ada yang berhati seperti hati Malaikat Jibril. Jumlah wali jenis ini hanya ada lima orang sahaja dalam setiap zamannya. Rasulullah saw pernah menyebut tentang mereka dalam salah satu sabdanya. Mereka diberi kekuatan seperti yang diberikan kepada malaikat Jibril yang amat kuat.

Di hari kiamat kelak, mereka akan dikumpulkan dengan malaikat Jibril. Dan malaikat Jibril senantiasa membantu rohani mereka, sehingga mereka selalu terpimpin.

Di antaranya pula ada yang berhati seperti hati Malaikat Mikail as. Jumlah mereka hanya ada tiga orang sahaja dalam setiap masanya. Keistimewaan mereka suka berlemahlembut terhadap semua orang, dan mereka diberi kekuatan seperti Malaikat Mikail.

Di antaranya pula ada yang berhati seperti hati Malaikat Israfil. Jumlah mereka hanya ada satu orang sahaja dalam setiap zamann. Nabi saw pernah menyebut tentang mereka dalam salah satu sabdanya. Menurut pengamatan kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut Abu Yazid Al Bustami termasuk salah seorang dari jenis wali ini.

Termasuk juga Nabi Isa as. Syeikh Al Muhyiddin berkata: โ€œDi antara tokoh-tokoh sufi ada yang diberi hati seperti hati Nabi Isa, kedudukan mereka sangat tinggi di sisi Allah swtโ€. Di antaranya pula ada yang diberi hati seperti hati Nabi Daud as. Jumlah mereka di setiap masa hanya terbatas beberapa orang saja. Mereka diberi berbagai keistimewaan, kedudukan tinggi di dunia dan ketebalan iman.

Di antaranya pula ada yang diberi pangkat Rijalul Ghaib atau manusia-manusia misteri. Jumlah wali jenis ini hanya sepuluh orang di setiap masa. Mereka orang-orang yang selalu khusyuโ€™, mereka tidak berbicara kecuali dengan perlahan atau berbisik, kerana mereka merasa bahwa Allah swt selalu mengawasi mereka.

Mereka sangat misteri, sehingga keberadaan mereka tidak banyak dikenal kecuali oleh ahlinya. Mereka selalu rendah hati, malu dan mereka tidak banyak mementingkan kesenangan dunia. Boleh dikata segala tindak tanduk mereka selalu misteri. Di antaranya pula ada yang selalu menegakkan agama Allah. Jumlah mereka hanya lapan belas orang di setiap masa. Ciri khas mereka adalah selalu menegakkan hukum-hukum Allah.

Dan mereka bersikap keras terhadap segala penyimpangan.

kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut

Di antaranya pula ada wali yang dikenal dengan nama Rijalul Quwwatul Ilahiyah ertinya orang-orang yang diberi kekuatan oleh Tuhan. Jumlah mereka hanya lapan orang sahaja di setiap zaman. Wali jenis ini mempunyai keistimewaan, iaitu sangat tegas terhadap orang-orang kafir dan terhadap orang-orang yang suka memperkecilkan agama.

Sedikit pun mereka tidak takut oleh kritikan orang. Di kota Fez ada seorang yang bernama Abu Abdullah Ad Daqqaq. Beliau dikenal sebagai seorang wali dari jenis Rijalul Quwwatul Ilahiyah. Di antaranya pula ada jenis wali yang sifatnya keras dan tegas. Jumlah mereka hanya ada 5 orang disetiap zaman. Meskipun watak mereka tegas, tetapi sikap mereka lemah lembut terhadap orang-orang yang suka berbuat kebajikan. Di antaranya pula ada jenis wali yang dikenal dengan nama Rijalul Hanani Wal Athfil Illahi ertinya mereka yang diberi rasa kasih sayang Allah.

Jumlah mereka hanya ada lima belas orang di setiap zamannya. Mereka selalu bersikap kasih sayang terhadap manusia baik terhadap yang kafir mahupun yang mukmin. Mereka melihat manusia dengan pandangan kasih sayang, kerana hati mereka dipenuhi rasa insaniyah yang penuh rahmat.

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Haibah Wal Jalali. Jumlah mereka hanya empat orang di setiap masa. Jenis wali tingkatan ini dikenal sebagai orang-orang yang hebat dan mengkagumkan, meskipun sifat mereka lemah lembut, tetapi orang-orang yang menemui mereka akan tunduk.

Mereka tidak dikenal di bumi, tapi mereka adalah orang-orang yang dikenal di langit. Di antara mereka ada yang mempunyai hati seperti Nabi Muhammad sawada pula yang mempunyai hati seperti Nabi Syuaib, Nabi Salleh dan Nabi Hud. Sayyid Muhyiddin berkata: โ€œAku pernah menemui wali golongan ini di kota Damsyikโ€. Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Fathi. Ertinya rahsia-rahsia Allah swt selalu terbuka bagi mereka.

Jumlah mereka hanya ada 24 orang di setiap masanya. Jumlah mereka sama dengan bilangan jam, yaitu 24 orang. Meskipun demikian, mereka tidak pernah berkumpul di satu tempat dalam jumlah sebanyak itu. Adanya mereka menyebabkan terbukanya pintu-pintu pengetahuan, baik yang nyata mahupun yang rahsia.

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Imdadil Ilahi Wal Kauniiaitu mereka yang selalu mendapat kurniaan Ilahi. Jumlah mereka tidak lebih dari tiga orang di setiap masa. Mereka selalu mendapat pertolongan Allah untuk menolong manusia sesamanya.

Sikap mereka dikenal lemah lembut dan berhati penyayang. Mereka senantiasa menyalurkan anugerah-anugerah Allah kepada manusia. Pokoknya, adanya mereka menunjukkan berpanjangannya kasih sayang Allah kepada makhlukNya.

Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Ilahiyun Rahmaniyuniaitu manusia-manusia yang diberi rasa kasih sayang yang luar biasa.

kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut

Jumlah mereka ini hanya tiga orang di setiap masa. Sifat mereka seperti wali-wali Abdal, meskipun mereka tidak termasuk didalamnya. Kegemaran mereka suka mengkaji firman-firman Allah. Di antaranya pula ada yang termasuk dalam golongan Rijalul Ghina Billahiaitu orang-orang yang tidak memerlukan kepada manusia sedikit pun. Jumlah mereka hanya dua orang di setiap masanya. Mereka selalu mendapat siraman rohani dari alam malakut, sehingga kelompok ini tidak memerlukan kepada bantuan sesiapa pun, selain bantuan Allah.

Di antaranya, ada yang termasuk dalam golongan Al Mulamatiyah. Mereka tergolong dari wali darjat yang tinggi, pimpinan tertingginya adalah Nabi Muhammad saw. Mereka sangat berhati-hati dalam melaksanakan syariat Islam.

Segala sesuatu mereka tempatkan di tempatnya yang tepat. Tindak tanduk mereka selalu didasari rasa takut dan hormat kepada Allah. Sudah tentu keberadaan mereka sangat diperlukan, meskipun mereka tidak terbatas. Ada kalanya jumlah mereka meningkat, tetapi ada kalanya pula jumlah mereka berkurangan. Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam kelompok As Sufiyyah. Jumlah mereka tidak terbatas. Ada kalanya membesar dan ada kalanya pula berkurangan.

Mereka dikenal sebagai wali yang amat luhur budi pekertinya. Mereka kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut menghias diri mereka dengan kebajikan-kebajikan yang sesuai dengan ketinggian budi pekerti mereka. Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al โ€˜Ibaad. Mereka dikenali sebagai orang-orang yang suka beribadah. Pokoknya, ibadah merupakan kegiatan mereka sehari-hari, mereka suka mengasingkan diri di gunung-gunung, di lembah-lembah dan di pantai-pantai.

Di antara mereka ada yang mahu bekerja, tetapi kebanyakan dari mereka meninggalkan semua kegiatan duniawi. Puasa sepanjang masa dan beribadah di malam hari merupakan syiar mereka. Sebab, menurut mereka dunia ini adalah tempat untuk menyuburkan amal-amal di akhirat.

Abu Muslim Al Khaulani adalah di antara wali tingkatan ini. Biasanya jika ia merasa letih ketika beribadah di malam hari, maka ia memukul kedua kakinya seraya berkata: โ€œKamu berdua lebih pantas dipukul dari binatang ternakankuโ€. Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Az Zuhaad. Mereka termasuk orang-orang yang suka meninggalkan kesenangan duniawi.

Mereka mempunyai harta, tetapi mereka tidak pernah menikmatinya sedikitpun, sebab, seluruh hartanya mereka nafkahkan pada jalan Allah. Sayyid Muhyiddin berkata: โ€œDi antara bapa saudaraku ada yang tergolong dari wali tingkatan iniโ€. Disebutkan bahawa Syeikh Abdullah At Tunisi, seorang ahli ibadah di masanya, ia dikenal sebagai salah seorang wali Az Zuhad. Pada suatu hari, penguasa kota Tilmasan menghampiri tempat Syeikh Abdullah seraya berkata kepadanya: โ€œWahai Syeikh Abdullah, apakah aku boleh solat dengan pakaian kebesaranku ini?โ€ Mendengar pertanyaan itu, Syeikh Abdullah tertawa.

Tanya si penguasa: โ€œMengapa engkau tertawa, wahai Syeikh? Jawab Syeikh Abdullah: โ€œAku tertawa kerana lucunya pertanyaanmu tadi, sebab mengapa engkau bertanya kepadaku seperti itu, padahal pakaianmu dan makananmu dari harta yang haram?โ€ Mendengar jawaban Syeikh Abdullah seperti itu, maka si penguasa menangis dan menyatakan taubatnya kepada Syeikh, selanjutnya ia meninggalkan kekuasaannya demi untuk mengabdikan diri kepada Syeikh Abdullah, sehingga beliau berkata: โ€œMintalah doa kepada Yahya Bin Yafan, sesungguhnya ia adalah seorang penguasa dan seorang ahli zuhud, andaikata aku diuji sepertinya, mungkin aku tidak dapat melaksanakannyaโ€.

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Rijalul Maaโ€™i. Mereka adalah para wali yang senantiasa beribadah di pinggir-pinggir laut dan sungai. Mereka tidak banyak dikenal, kerana mereka suka mengasingkan diri. Disebutkan, bahwa Syeikh Abu Saud Asy Syibli pernah berada di pinggir sungai Kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut di Baghdad. Ketika hatinya bergerak: โ€œApakah ada di antara hamba-hamba Allah yang beribadah di dalam air?โ€ Tiba-tiba ada seorang yang muncul dari dalam air seraya berkata: โ€œAda, wahai Abu Saud.

Di antara hamba-hamba Allah ada juga yang beribadah di dalam air dan aku termasuk di antara mereka. Aku berasal dari negeri Takrit, aku sengaja keluar, kerana beberapa hari mendatang akan terjadi musibah di negeri Baghdadโ€.

Kemudian ia menghilang ke dalam air. Kata Abu Saud: โ€œTernyata tidak lebih dari lima belas hari musibah memang terjadi.โ€ Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Afrad. Mereka termasuk wali-wali berkedudukan tinggi. Di antara mereka adalah Syeikh Muhammad Al โ€˜Awani, sahabat karib Syeikh Abdul Qodir Al Jailani. Mereka ini jarang dikenal manusia awam, kerana kedudukan mereka terlalu tinggi. Jumlah mereka tidak terbatas.

Ada kalanya jumlah mereka meningkat dan ada kalanya pula berkurangan. Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Umanaโ€™ artinya orang-orang yang dapat diberikan kepercayaan. Di antara mereka adalah Abu Ubaidah Ibnul Jarrah, sepertimana yang disebutkan oleh Nabi saw: โ€œAbu Ubaidah adalah orang yang paling dapat diberi kepercayaan di antara umat iniโ€.

Jumlah mereka tidak terbatas. Mereka jarang dikenal manusia, kerana mereka tidak pernah menonjol ditengah masyarakatnya. Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Ahbabiaitu orang-orang yang dikasihi. Jumlah mereka tidak terbatas, adakalanya meningkat, adakalanya pula berkurangan.

Mereka mencapai tingkatan ini disebabkan mereka melaksanakan segala ibadah dan takarrub kerana cinta kepada Allah. Ibadah yang didasari cinta, lebih baik dari ibadah yang berharap pahala dan syurga. Maka sebagai imbalan baik bagi mereka, mereka mendapat kasih sayang Allah yang luar biasa. Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Muhaddathuniaitu orang-orang yang selalu diberi ilham oleh Allah.

Menurut hadits Nabi, ada sebahagian dari umatku yang diberi ilham dari Allah. Maka Umar Bin Al Khattab termasuk salah satu dari mereka. Sayyid Muhyiddin Ibnu Arabi ra berkata: โ€œDi zaman kami ada pula wali-wali Al Muhaddathun, di antaranya adalah Abul Abbas Al Khasyab dan Abu Zakariya Al Baha-iโ€. Para wali yang tergolong dalam golongan ini senantiasa mendapat bisikan-bisikan rohani dari penduduk alam malakut, misalnya dari Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail, sebab rohani mereka sudah dapat menembus alam arwah atau alam malakut.

Di antaranya, ada pula yang termasuk dalam golongan Al Wirathahiaitu mereka yang mendapat warisan dari Allah. Mereka adalah para ulama, pewaris para Nabi. Kelompok ini termasuk orang-orang yang gemar beribadah sampai melebihi dari batas kemampuannya. Mereka suka mengasingkan diri di tempat-tempat terpencil demi untuk memenuhi kecintaannya kepada Allah.

Sebuah kapal yang sarat dengan muatan dan bersama 200 orang temasuk ahli perniagaan berlepas dari sebuah pelabuhan di Mesir. Apabila kapal itu berada di tengah lautan maka datanglah ribut petir dengan ombak yang kuat membuat kapal itu terumbang-ambing dan hampir tenggelam.

Berbagai usaha dibuat untuk mengelakkan kapal itu dipukul ombak ribut, namun semua usaha mereka sia-sia sahaja. Kesemua orang yang berada di atas kapal itu sangat cemas dan menunggu apa yang akan terjadi pada kapal dan diri mereka. Ketika semua orang berada dalam keadaan cemas, terdapat seorang lelaki yang sedikitpun tidak merasa cemas.

Dia kelihatan tenang sambil berzikir kepada Allah S.W.T. Kemudian lelaki itu turun dari kapal yang sedang terumbangambing dan berjalanlah dia di atas air dan mengerjakan solat di atas air. Beberapa orang peniaga yang bersama-sama dia dalam kapal itu melihat lelaki yang berjalan di atas air dan dia berkata, โ€œWahai wali Allah, tolonglah kami. Janganlah tinggalkan kami!โ€ Lelaki itu tidak memandang ke arah orang yang memanggilnya.

Para peniaga itu memanggil lagi, โ€œWahai wali Allah, tolonglah kami. Jangan tinggalkan kami!โ€ Kemudian lelaki itu menoleh ke arah orang yang memanggilnya dengan berkata, โ€œApa hal?โ€ Seolah-olah lelaki itu tidak mengetahui apa-apa.

Peniaga itu berkata, โ€œWahai wali Allah, tidakkah kamu hendak mengambil berat tentang kapal yang hampir tenggelam ini? โ€œWali itu berkata, โ€œDekatkan dirimu kepada Allah.โ€ Para penumpang itu berkata, โ€œApa yang mesti kami buat?โ€ Wali Allah itu berkata, โ€œTinggalkan semua hartamu, jiwamu akan selamat.โ€ Kesemua mereka sanggup meninggalkan harta mereka. Asalkan jiwa mereka selamat. Kemudian mereka berkata, โ€œWahai wali Allah, kami akan membuang semua harta kami asalkan jiwa kami semua selamat.โ€ Wali Allah itu berkata lagi, โ€œTurunlah kamu semua ke atas air dengan membaca Bismillah.โ€ Dengan membaca Bismillah, maka turunlah seorang demi seorang ke atas air dan berjalan menghampiri wali Allah yang sedang duduk di atas air sambil berzikir.

Tidak berapa lama kemudian, kapal yang mengandungi muatan beratus ribu ringgit itu pun tenggelam ke dasar laut. Habislah kesemua barang-barang perniagaan yang mahal-mahal terbenam ke laut. Para penumpang tidak tahu apa yang hendak dibuat, mereka berdiri di atas air sambil melihat kapal yang tenggelam itu.

Salah seorang daripada peniaga itu berkata lagi, โ€œSiapakah kamu wahai wali Allah?โ€ Wali Allah itu berkata, โ€œSaya ialah Awais Al-Qarni.โ€ Peniaga itu berkata lagi, โ€œWahai wali Allah, sesungguhnya di dalam kapal yang tenggelam itu terdapat harta fakir-miskin Madinah yang dihantar oleh seorang jutawan Mesir.โ€ WaliAllah berkata, โ€œSekiranya Allah kembalikan semua harta kamu, adakah kamu betul-betul akan membahagikannya kepada orang-orang miskin di Madinah?โ€ Peniaga itu berkata, โ€œBetul, saya tidak akan menipu, ya wali Allah.โ€ Setelah wali itu mendengar pengakuan dari peniaga itu, maka dia pun mengerjakan solat dua rakaat di atas air, kemudian dia memohon kepada Allah swt agar kapal itu ditimbulkan semula bersama-sama hartanya.Tidak berapa lama kemudian, kapal itu timbul sedikit demi sedikit sehingga terapung di atas air.

Kesemua barang perniagaan dan lain-lain tetap seperti asal. Tiada yang kurang. Setelah itu dinaikkan kesemua penumpang ke atas kapal itu dan meneruskan pelayaran ke tempat yang dituju. Apabila sampai di Madinah, peniaga yang berjanji dengan wali Allah itu terus menunaikan janjinya dengan membahagi-bahagikan harta kepada semua fakir miskin di Madinah sehingga tiada seorang pun yang tertinggal.

Karamah merupakan perkara luar biasa yang berlaku ke atas ulama atau wali Allah. Mereka adalah golongan insan yang beriman dan beramal soleh, ikhlas dalam perkataan, perbuatan serta menjadikan seluruh kehidupan mereka hanya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Para kekasih Allah sangat menumpukan seluruh perhatiannya kepada Allah dan Allah pun senantiasa memperhatikannya bahkan menjadikan insan soleh tersebut lebih dekat kepadaNya. Karamah berlaku sepanjang zaman sejak dahulu hingga ke hari ini.

Begitu halnya dari kalangan para sahabat, ramai memiliki karamah atau kelebihan yang luar biasa. Mereka beriman dengan kejernihan kalbu, kecintaan terhadap Allah dan RasulNya melebihi segala-galanya bahkan kasih sayang mereka terhadap orang mukmin sangat mendalam, sehingga akhirnya mereka memperoleh darjat yang tinggi. Karamah berasal dari kata Ikraam yang mempunyai erti penghargaan dan pemberian.

Allah mengurniakan wali-waliNya berbagai kejadian luar biasa atau yang biasa disebut karamah. Hal itu diberikan kepada mereka sebagai rahmat dari Allah dan bukan kerana hak mereka. Karamah biasa disebut sebagai kejadian yang luar biasa yang diberikan Allah kepada hamba-hambaNya yang selalu meningkatkan taraf ibadahnya dan ketaatannya.

Karamah itu diberikan sebagai suatu pembekalan ilmu atau sebagai ujian bagi seorang wali. Dan karamah boleh terjadi tanpa sebab dan tanpa adanya tentangan dari orang lain. Allah telah menganugerahkan kepada manusia khusus dan awam 8 perkara luar biasa yang mencarit adat yang boleh berlaku ke atas manusia. Perkara luar biasa itu bolehlah dibahagikan kepada 2 bahagian iaitu, 4 perkara yang dipuji dan 4 perkara yang dikeji dan menyalahi ajaran Islam.

Ramai daripada kalangan orang Islam sendiri yang terkeliru tentang konsep dan perbezaan perkaraperkara tersebut, kadang-kala masyarakat tidak dapat membezakan yang mana baik dan yang mana mesti dijauhi. Bagi menjelaskan kekeliruan itu maka dijelaskan serba ringkas tentang perkara-perkara tersebut, agar kita semua dapat membuat penilaian dengan sebaik-baiknya.

Kejadian luar biasa yang diberikan kepada seorang pembohong yang mengaku sebagai nabi, seperti yang pernah diberikan kepada Musailamah Al Kadzab. Ia pernah meludah di sebuah sumur dengan harapan agar airnya bertambah banyak, tetapi pada kenyataannya airnya mengering, dan ia pernah meludah pada mata seorang yang juling, agar matanya sembuh, tetapi pada kenyataannya mata orang itu menjadi buta. Seseorang yang menginginkan sesuatu, kemudian Allah memberinya, maka pemberian itu tidak menunjukkan bahawa orang itu mempunyai kedudukan mulia di sisi Allah, baik pemberian itu bersifat biasa ataupun tidak.

Kemungkinan pemberian itu merupakan anugerah dari Allah, tetapi kemungkinan pula merupakan istidraj, iaitu pemberian sebagai ujian. Allah berfirman: โ€œSampai ketika mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, maka Kami siksa mereka dengan cara yang mendadakโ€ 33. Allah berfirman: โ€œFiraun dan bala tentaranya menyombongkan diri di permukaan bumi tanpa alasan yang dibenarkan, dan mereka mengira bahwa mereka tidak akan kembali kepada Kami, maka Kami menyiksanya dan bala tentaranya, kemudian Kami menenggelamkan mereka di dalam lautโ€ 34 Dari ayat-ayat di atas, dapat kami simpulkan bahwa antara karamah dan istidraj ada perbezaan.

Seorang yang diberi karamah tidak pernah merasa senang atas pemberian itu, bahkan ia makin bertambah takut kepada Allah, sebab ia takut kalau pemberian karamah itu merupakan ujian atau merupakan istidraj. Lain halnya dengan seorang yang diberi istidraj. Ia makin maharajalela, kerana ia mendapat anugerah dan ia pun tidak takut disiksa.

Adapun kalau seseorang bergembira ketika ia diberi karamah, maka ia termasuk orang yang melanggar. Ini disebabkan oleh beberapa perkara antaranya :- โ€ข Seseorang yang berkeyakinan, bahwa ia berhak mendapat karamah kerana amal kebajikannya, maka boleh dikatakan bahawa ia seorang yang bodoh.

Seharusnya ia merasa bahawa semua amal ibadah yang ia kerjakan merupakan kewajipan baginya terhadap hak Allah. Seharusnya ia selalu merasa kurang pengabdiannya kepada Tuhannya, kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut kalau ia merasa puas, maka ia termasuk orang yang bodoh. โ€ข Seseorang yang diberi karamah, seharusnya ia merasa bahwa karamah yang diberikan kepadanya hanya untuk menundukkan dirinya makin rendah dihadapan Allah.

Bila seseorang berlaku sebaliknya, maka sudah jelas orang itu mirip dengan Iblis yang merasa sombong atas kemuliaan yang diberikan kepada dirinya.

โ€ข Allah berfirman: โ€œMaka terimalah apa yang Aku berikan kepadamu dan jadilah engkau orang-orang yang berterima kasih. Dan sembahlah Tuhanmu sampai engkau didatangi kematianโ€. Berdasarkan ayat di atas, seseorang yang mendapat kurnia dari Allah, hendaknya ia selalu rajin menyembah Allah dan mensyukuri semua nikmat yang ia terima, bukannya makin bertambah ingkar.

โ€ข Seseorang yang tidak takut dan tidak bertawakkal kepada Allah sudah tentu ia tidak akan menjadi wali, apa lagi kalau ia selalu menyandarkan hidupnya kepada dirinya atau kepada orang lain. Jika seseorang dapat mendatangkan satu perbuatan atau kejadian yang luar biasa, pasti ia akan mengikutinya dengan pengakuan bagi dirinya, tetapi ada juga yang tidak.

Bagi mereka yang dapat mengikuti dengan pengakuan bagi dirinya dan dapat mendatangkan sesuatu perbuatan atau kejadian Ini boleh berlaku pada dua kemungkinan, iaitu adakalanya pengakuannya itu benar, tetapi adakalanya pengakuannya itu bohong. Jika pengakuannya itu memang benar dan ia benar-benar nabi, maka ia harus mampu untuk menunjukkan bukti kenabiannya, tetapi jika ia tidak mampu menunjukkan buktinya, maka ia adalah seorang pembohong.

Dalam situasi seperti ini ada kalanya orang-orangnya dapat membuktikan kepandaiannya, tetapi kaum Mutazilah menolak pendapat ini. Seseorang yang dapat mendatangkan perbuatan atau kejadian yang luar biasa tanpa pengakuan bagi dirinya, adakalanya ia seorang wali yang diredhai oleh Allah, tetapi adakalanya pula ia seorang fasik yang banyak dosanya.

Ada pula yang dapat mendatangkan berbagai kejadian luar biasa, tetapi ia tidak termasuk orang yang taat kepada Allah, Allah swt, tentunya hal itu dapat menyebabkan ingkar kepada Dzat Allah. Sedangkan kemungkinan yang kedua adalah tak mungkin, sebab hal itu termasuk hal yang batil.

Mengetahui Dzat Allah, sifat-sifatNya, perbuatan-perbuatanNya, hukumhukumNya, nama-namaNya, mencintaiNya, mentaatiNya dan senantiasa menyebutNya dan memujiNya, tentunya hal itu lebih mulia dari sekedar memberi se-potong roti, menundukkan seekor ular atau seekor singa. โ€œDan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmatNya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.

Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allahโ€ 38 Pemuda Ashabul Kahfi seramai tujuh orang berasal dari Syam. Mereka hidup setelah masa Nabi Isa.

Kerana mereka takut kehilangan imannya, maka mereka bersembunyi di sebuah gua untuk sesaat, tetapi mereka ditidurkan oleh Allah selama 300 tahun. Setelah itu mereka dibangunkan kembali. Anehnya tubuh mereka tidak binasa dimakan masa, kerana itu para ulama berpendapat bahwa mereka adalah para wali bukan para nabi. โ€œAdapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut dan aku bertujuan merusaknya bahtera itu, kerana di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.โ€Dan adapun anak itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.โ€ 40 โ€œRasulullah saw pernah bersabda: โ€œAda tiga lelaki tergolong di antara orang-orang terdahulu.

Pada suatu hari, ketika mereka berjalan di suatu hutan, maka mereka bermalam di suatu gua. Setelah mereka masuk ke dalam gua, tiba-tiba sebuah batu besar jatuh tepat di permukaan gua itu dan menutupinya, sehingga mereka tidak dapat keluar. Kata salah seorang daripada mereka: โ€œTidak ada yang dapat menyelamatkan kamu, kecuali jika kamu berdoa kepada Allah dan bertawassul dengan perbuatan baik kamu.Salah seorang di antara mereka berkata: โ€œDahulu aku gelas susu itu hingga pagi.

Ketika keduanya bangun, barulah kuberikan air susu itu. Ya Allah, jika amalan salihku yang satu itu benar-benar ikhlas untukMu, maka bebaskan kami dari batu besar iniโ€. Dengan izin Allah, batu itu bergeser sedikit dari mulut gua,tetapi mereka masih belum dapat keluar. Selanjutnya, orang yang kedua berkata: โ€œDahulu, anak saudaraku termasuk orang yang paling aku cintai, aku selalu menggodanya, agar ia cinta kepadaku, tetapi ia selalu menolak.

Pada suatu ketika, ia datang kepadaku dan minta bantuan wang. Aku ingin membantunya, asalkan ia ingin bercinta denganku. Ia bersetuju dengan permintaanku kerana terpaksa. Ketika aku hendak memperkosanya, maka ia berkata: โ€œSebenarnya engkau tidak boleh memecahkan keperawananku, kecuali dengan cara yang sahโ€.

Maka aku segera meninggalkannya dan aku tidak minta kembali wangku. Ya Allah, jika Engkau tahu, bahwa perbuatanku itu keranaMu, maka selamatkanlah kami dari batu besar iniโ€.

Dengan izin Allah batu besar itu bergeser sedikit, tetapi mereka belum dapat keluar. Selanjutnya orang yang ketiga berkata: โ€œDahulu kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut mempunyai banyak pegawai, aku selalu memberi upah mereka tepat pada waktunya, dan aku tidak pernah merugikan mereka.

Pada suatu kali salah seorang pegawaiku meninggalkan tempatku tanpa meminta upahnya. Selanjutnya, upah itu aku kembangkan dan aku belikan binatang ternak serta lembu abdi. Setelah beberapa waktu binatang ternak itu berkembang menjadi besar. Sampai pada suatu waktu ia datang kepadaku untuk meminta upahnya. Kataku: โ€œSemua binatang ternak dan lembu abdi yang kau lihat di lembah itu adalah upahmuโ€.

Kata lelaki itu: โ€œWahai hamba Allah, apakah engkau mempermainkan akuโ€. Kataku: โ€œAku tidak mempermainkan kamuโ€. Maka ia membawa pergi semua binatang ternak dan para abdi itu. Ya Allah, jika perbuatanku benar-benar ikhlas keranaMu, maka bebaskanlah kami dari himpitan batu besar iniโ€. Tentang Juraij, ia adalah seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil.

Ia mempunyai seorang ibu. Juraij gemar ibadah. Ketika ibunya rindu kepadanya, maka ia memanggil nama Juraij. Tetapi Juraij tidak memenuhi panggilan ibunya, ia hanya berkata: โ€œYa Allah, apakah sebaiknya aku memenuhi panggilan ibuku, ataukah โ€œYa Allah, jangan Engkau matikan putraku itu sampai setelah Engkau menemukannya dengan seorang wanita pelacurโ€. Kebetulan di tempat itu, ada seorang wanita pelacur. Ia berkata: โ€œAku akan merayu Juraij sampai ia berbuat zina dengankuโ€.

Maka ia mendatangi Juraij dan merayunya, tetapi Juraij tidak mempedulikannya. Akhirnya wanita pelacur itu merayu seorang petani yang kebetulan bermalam di samping tempat ibadah Juraij, sampai ia hamil dari petani itu. Selanjutnya ia mendatangi Juraij sambil membawa anak haramnya dari si petani. Kemudian ia berkata kepada orang banyak: โ€œBayiku ini adalah dari hasil hubungan gelapku dengan Juraijโ€.

Mendengar ucapan wanita pelacur itu, maka Bani Israil mendatangi tempat ibadah Juraij, kemudian mereka menhancurkannya dan merejam Juraij secara beramai-ramai. Maka Juraij melakukan solat dan ia berdoa. Kemudian ia menyentuh tubuh bayi itu dengan jari telunjuknya seraya berkata: Adapun kisah bayi yang lain, ada seorang wanita yang tengah menyusui anak bayinya. Ketika ada seorang pemuda tampan lewat di depannya, maka ibunya berkata: โ€œYa Allah, jadikan putraku ini seperti pemuda itu.โ€ Maka dengan spontan bayinya berkata: โ€œYa Allah, janganlah Engkau jadikan aku seperti pemuda itu.โ€ Selanjutnya ketika ada seorang wanita yang tertuduh mencuri dan berzina sedang lewat di depan ibunya, maka ia berkata: โ€œYa Allah, jangan Engkau jadikan putraku ini seperti wanita ituโ€.

Maka bayinya berkata: โ€œYa Allah, jadikan aku sepertinyaโ€. Maka ibunya bertanya: โ€œMengapa engkau berdoa seperti itu?โ€ Bayinya berkata: โ€œPemuda tampan yang lewat di sini tadi adalah seorang yang bengis dan kejam dan aku tidak ingin menjadi sepertinya. Adapun si wanita yang dituduh sebagai pencuri dan pelacur, sebenarnya ia bukan pencuri mahupun pelacur, dan ia hanya berkata: โ€œAku hanya pasrahkan diriku kepada Allahโ€.

42 Dari Abu Saeed Al-Khudri, beliau berkata : โ€œPada suatu malam ketika Usaid ibnu Khudhair sedang membaca Al Qurโ€™an di pekarangan rumahnya, tiba-tiba kudanya melonjak-lonjak, sampai ia menghentikan bacaannya. Kemudian ketika ia melanjutkan bacaannya lagi, anehnya, kudanya melonjak-lonjak lagi, sampai ia menghentikan bacaannya.

Kata Usaid: โ€œMaka aku takut kalau kudaku menginjak Yahya, putraku. Ketika aku berdiri, tiba-tiba aku lihat di atas kepalaku ada naungan cahaya dan ia membumbung ke atas lambat-lambat sampai menghilang dari pandanganku. โ€œAbu Bakar Ash Shiddiq pernah memiliki dua puluh gantang buah kurma yang diberikan kepadaku.

Ketika saat kematiannya tiba, maka ia berkata; โ€œWahai putriku, tidak seorang pun yang lebih kucintai dan lebih aku takuti kesusahannya darimu, dulu aku pernah berikan kepadamu dua puluh gantang buah kurma, kalau dulu telah engkau pakai, tentunya aku tak akan mempersoalkannya, tetapi pada hari ini harta itu akan jadi harta waris setelah aku tiada.

Harta itu boleh engkau bagi dengan kedua saudara lelakimu dan kedua saudara perempuanmu, bagilah harta Tingginya kemahuan seorang wali untuk mengabdikan dirinya kepada Allah, adakalanya menyebabkannya diberi karamah oleh Allah. Tetapi adakalanya juga tidak.

Adapun pemberian karamah adalah agar seorang wali semakin menjaga dirinya, agar ia tidak salah langkah dan sikap terhadap Allah. Jiwa manusia, meskipun ia tetap satu, tetapi berbeza dalam pengkhususannya. Setiap jiwa mempunyai pengkhususan tersendiri yang tidak dimiliki oleh lainnya. Jadi pengkhususan masing-masingnya adalah fitrah. Jiwa para nabi mempunyai pengkhususan tersendiri yang mampu mengenal Allah dengan sepenuhnya dan mampu berbicara dengan para malaikat, kerana telah mendapat keizinan dari Allah.

Pokoknya kemampuan mereka adalah kurniaan Ilahi dan bantuan Rabbani. 44 Dalam hal ini, Ibnu Khaldun pernah berkata: โ€œJiwa para auliyaโ€™ mempunyai pengaruh yang erat dengan alam semesta dan hal itu merupakan bantuan dari Allah yang disesuaikan dengan kejernihan jiwa, kekuatan iman, keteguhan mereka dengan agama Allah, sehingga seorang wali tidak akan berbuat apapun, kecuali setelah mendapat perintah atau restu dari Allah. Kalau ada di antara mereka yang berbuat sesuatu tanpa izin dari Allah, maka karamahnya segera ditarik oleh Allah.โ€ 45 Jika seorang wali hanya berharap mendapat karamah, maka wali itu tidak termasuk wali yang berperingkat tinggi.

Ibnu Athaillah pernah berkata: โ€œKemahuan yang tinggi tidak sampai menembusi tembok-tembok takdir.โ€ 47 Maksud ucapan itu adalah karamah tidak akan bertentangan dengan ketetapan takdir. Sebab, semua yang terjadi di alam semesta, baik yang biasa mahupun yang luar biasa sumbernya dari takdir Allah swt.

Pada umumnya, kemahuan seorang wali tidak akan bertentangan dengan takdir Allah. Imam Subki pernah bercerita: โ€œAku pernah dengar kisah Syeikh Zainuddin Al Faruqy Asy Syafiโ€™i, bahawa pada suatu hari ada seorang anak kecil jatuh dari atap rumahnya lalu mati.

Ketika Syeikh Zainuddin melihat kejadian itu, beliau berdoa kepada Allah. Maka dengan izin Allah, anak kecil yang mati itu hidup kembali. mati yang telah lama atau yang sudah menjadi tulang belulang. Yang kami dengar hanyalah pada diri sebagian Nabi di zaman dulu.Dan itu pun merupakan suatu mukjizat baginya.

Bukan termasuk jenis karamah. Yang mungkin terjadi pada diri seorang Nabi terdahulu adalah menghidupkan suatu kaum yang telah mati beberapa abad, kemudian mereka dihidupkan. Dengan izin Allah kaum itu hidup selama beberapa waktu. Yang tidak mungkin terjadi dimasa ini adalah adanya seorang wali yang menghidupkan Imam Syafiโ€™i atau Abu Hanifah, kemudian keduanya dapat hidup lama dan bergaul dengan masyarakat seperti pada waktu sebelumnya.

Jenis karamah ini pernah terjadi pada diri Syeikh Isa Al Hataar Al Yamani. Disebutkan bahawa ada seorang ingin menguji karamah Syeikh Isa Al Hattar. Ia menyuruh pelayannya membawa dua botol minuman keras kepada beliau.

Setelah kedua botol itu diterima oleh Syeikh Isa, maka ia menuang isi kedua botol itu seraya berkata kepada sebilangan orang yang ada di sisinya: โ€œMinumlah minyak samin iniโ€.

Maka minuman keras yang ada di kedua botol itu berubah menjadi minyak samin yang rasanyaamat lazat. Kisah karamah jenis ini sering terjadi. Karamah seperti ini pernah terjadi pada diri seorang wali yang berada di Masjid kota Tursus (Turki). Wali tersebut pernahtergerak dalam hatinya ingin pergi ke Masjidil Haram, kemudian beliau memasukkan kepalanya dikantungnya lalu mengeluarkannya kembali. Maka dengan izin Allah, wali itu telah berada di Masjidil Haram.

Kisah semacam ini pada umumnya dikisahkan secara berurutan dari orang-orang yang dapat dipercaya.

kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut

Karamah seperti ini tidak dapat diragukan kewujudannya. Karamah ini pernah terjadi pada diri seorang Sufi yang bernama Ibrahim Bin Adham. Beliau pernah mendengar suara dari pohon delima yang minta dimakan. Ketika Ibrahim Bin Adham makan buahnya, tiba-tiba pohon itu bertambah tinggi dan buahnya yang masam berubah jadi manis, serta dapat menghasilkan dua kali setiap tahun. Karamah seperti ini pernah terjadi pada Syeikh Sirri As-Saqathi. Seorang pernah menemuinya ketika beliau sedang menyembuhkan orang yang sakit kusta dan buta.

Syeikh Abdul Qadir Jailani pernah berkata kepada seorang anak yang sakit lumpuh, buta dan kusta: โ€œBerdirilah engkau dengan izin Allahโ€. Dengan izin Allah, maka anak tersebut segera bangun tanpa suatu cacat pun. Karamah seperti ini pernah terjadi pada diri Abu Said ibnu Abil Khair Al Maihani. Singa dan binatang yang lain takut kepadanya. Ada pula sebahagian wali yang dipatuhi segala benda seperti yang terjadi pada diri Syeikhul Islam Izzudin Ibnu Abdis Salam beliau pernah berkata kepada angin di waktu peperangan antara kaum Muslimin dan umat Nasrani: โ€œHai angin terbangkan musuh-musuh kamiโ€.

Dengan izin Allah kaum Nasrani diterbangkan angin dan dilempar ke tanah sampai binasa. Karamah seperti ini banyak di alami oleh para wali. Diriwayatkan bahawa sebahagian wali ada yang diikuti oleh hujan. Salah seorang dari mereka bernama Syeikh Abul Abbas As Syatir, ia sering menjual hujan dengan harga beberapa dirham. Kisah semacam ini banyak terjadi, sehingga sukar untuk dimungkiri kewujudannya. Karamah seperti ini pernah terjadi pada seorang wali yang bernama Al Haritsul Muhasibi, iaitu ketika beliau mendengar suara dari makanan yang hendak dimakannya, bahawa makanan itu diperolehi dengan cara yang haram.

Setelah beliau mengerti bahawa makanan itu adalah makanan haram, maka segera beliau meninggalkan makanan itu. Adakalanya seorang wali diberi kehebatan peribadi yang dapat menyebabkan kematian orang tertentu ketika ia melihat diri wali tersebut. Hal ini pernah terjadi pada seorang pembesar yang mati ketika berhadapan dengan Abu Yazid Al Busthami. Adakalanya seorang yang berhadapan dengan seorang wali seperti ini, maka ia akan tunduk, bahkan akan mengakui apa sahaja yang tersembunyi dalam hatinya.

Kejadian seperti ini banyak terjadi. Karamah seperti ini dikenali di kalangan ahli Sufi dengan โ€œAlamul Mithsal, iaitu antara alam yang nyata dan alam arwah. Orang yang yang mendapat karamah seperti ini dapat berubah bentuk dan berpindah tempat dengan bebas.

Karamah seperti jenis ini pernah di alami oleh seorang wali yang bernama Qadhibul Bani. Orang yang tidak mengenal beliau akan menyangkanya tidak pernah melakukan solat dan ia membencinya. Pada suatu hari, ketika beliau dicela oleh seorang yang menyangkanya tidak pernah melakukan solat, di saat itu Allah memperlihatkan karamahnya, sehingga beliau dapat berubah dalam beberapa bentuk yang menunjukkan bahawa beliau sedang melakukan solat.

Beliau bertanya : โ€œDalam gambaran atau bentuk manakah yang kamu lihat aku tidak solat?โ€ Perkara serupa ini pernah terjadi pula pada seorang wali yang pernah dilihat oleh seorang ketika beliau sedang berwudhu di Masjid Sayufiah di Cairo.

Orang itu menegur: โ€œHai orang tua, nampaknya cara kamu berwudhu itu tidak tertibโ€. Jawab si wali: โ€œAku tidak pernah berwudhu dengan cara yang tidak tertib. Hanya saja anda tidak dapat melihatku, kalau anda dapat melihat, pasti kamu akan melihat iniโ€. Beliau berkata demikian sambil memegang tangan orang itu, sampai ia dapat melihat Kaโ€™bah, kemudian beliau membawanya ke Mekkah dan menetap di sana selama beberapa tahun. Jenis karamah seperti ini pernah dialami oleh Abu Turab, ketika beliau menghentakkan kakinya ke bumi, maka Allah mengeluarkan air dari tanah itu.

Kata Imam Subki: โ€œDi antara jenis karamah seperti ini ialah terpancarnya sumber mata air di musim kemarau dan bumi tunduk pada seorang yang memukulkan kakinya ke bumiโ€. Pernah diceritakan bahawa ada seorang yang berjalan ke kota Mekkah untuk berhaji. Dalam perjalanan itu ia merasa haus sekali. Namun ia tidak mendapat seteguk air pun. Kemudian ia menemui seorang fakir yang bertongkat. Tepat di tempat itu terpancarlah sumber mata air yang dapat memberikan minuman kepada para jemaah haji yang sedang lewat di tempat itu.

Semua jemaah haji yang lewat di tempat itu membekali dirinya dengan air yang terpancar di bawah tongkat si fakir. Biasanya pekerjaan seberat itu tidak mungkin dilaksanakan oleh seorang yang banyak disibukkan dalam pembahasan berbagai macam ilmu pengetahuan.

Adakalanya untuk menulis sebuah karangan sahaja seorang akan menghabiskan seluruh umurnya. Apalagi akan menulis berpuluh-puluh buah karangan dalam waktu yang sangat singkat. Karamah semacam ini termasuk jenis karamah waktu dapat menjadi panjang. Jenis karamah ini pernah dialami oleh Imam Syafiโ€™I Rahimullah. Beliau mampu mengarang berpuluh-puluh kitab, padahal sebenarnya waktunya tidak akan cukup untuk melakukan hal itu, disebabkan kesibukan beliau sehari-harinya untuk mengkhatamkan Al Qurโ€™an setiap harinya dengan bacaan yang penuh oleh tadabbur dan di bulan Ramadhan pun beliau dapat mengkhatamkannya dua kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut setiap harinya.

Di samping itu, beliau juga disi-bukkan oleh banyaknya memperdalami ilmu pengetahuan, memberikan pelajaran, berzikir dan banyaknya penyakit yang dialaminya.

Dalam suatu riwayat dikatakan bahawa beliau menderita tiga puluh macam penyakit. Karamah semacam ini dialami juga oleh Imamul Haramain Abul Maโ€™ali Al Juwaini. Dengan umur yang tidak panjang, beliau mampu mengarang beberapa buah kitab. Sebenarnya umur yang sependek itu tidak akan cukup untuk mengarang berpuluh-puluh kitab disebabkan kesibukan beliau dalam belajar dan mengajar serta berzikir.

Jenis karamah seperti ini diberikan juga kepada seorang wali yang mampu mengkhatamkan Al Quran sebanyak lapan kali dalam sehari. Imam Nawawi juga diberi Allah kemampuan untuk mengarang berpuluh-puluh kitab dalam waktu singkat. Sebenarnya umur beliau yang sedemikian itu tidak cukup untuk mengarang kitab sebanyak itu. Ditambah lagi dengan berbagai macam ibadah yang beliau lakukan setiap harinya. Karamah seperti ini diberikan juga kepada Imam Taqiuddin As Subki.

Beliau mampu menulis berpuluh-puluh kitab. Sebenarnya umur yang sependek itu tidak akan cukup untuk menulis kitab sebanyak itu disebabkan beliau sangat sibuk memberi pengajaran, tekun beribadat, banyak membaca Al Quran dan berzikir. Sebenarnya jika kita hitung pekerjaan besar yang dikerjakannya dengan umurnya yang singkat, pasti tidak cukup untuk memenuhi sepertiganya, namun Allah memberinya barakah dalam umur, sehingga beliau dapat merampungkan segala tugas besar dipikulnya. Jenis karamah seperti ini pernah terjadi pada seorang wali yang diancam oleh seorang raja zalim.

Raja zalim itu berkata: โ€œTunjukkanlah padaku bukti kebenaranmu, jika tidak, aku akan hukum kamuโ€. Pada waktu itu si wali melihat dekatnya kotoran unta. Maka ia berkata: โ€œLihatlah ituโ€.

Tiba-tiba kotoran unta itu jadi sebungkal emas. Kemudian ia melihat sebuah tempat air yang tidak ada airnya. Si wali itu melemparkan tempat air yang kosong itu ke udara. Ketika tempat air itu jatuh tiba-tiba telah berisi air kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut dan tempat air itu terjungkir. Namun air yang di dalamnya tidak tertumpah setitik pun. Melihat kejadian tersebut raja itu hanya berkata: โ€œIni hanyalah perbuatan sihir belakaโ€.

Kemudian raja memerintahkan untuk melemparkan si wali ke dalam api yang bernyala-nyala. Tidak lama si wali tersebut segera keluar dan menarik putera raja yang masih kecil ke tengah api yang sedang menyala. Melihat kejadian ini raja hampir jadi gila, kerana putera satu-satunya diseret ke tengah api yang sedang menyala. Setelah beberapa saat, si wali keluar bersama putera raja itu dari api, sedang ditangan kanan putera raja itu memegang buah apel dan dikirinya memegang buah delima. Raja bertanya pada puteranya: โ€œWahai puteraku, dari mana kamu tadi?โ€ Jawab si putra: โ€œAku dapat dari sebuah kebunโ€.Mendengar keterangan putera raja itu para pembesar kerajaan hanya berkata: โ€œItu hanyalah suatu sihir belakaโ€.

Kemudian raja berkata kepada si wali: โ€œJika kamu dapat minum racun ini, aku akan percaya padamuโ€. Setelah itu, si wali minum racun itu. Namun ia tidak mati hanya bajunya sahaja yang koyak. Kemudian ditambah lagi meminum racun. Setiap kali minum racun ia tetap hidup hanya bajunya saja yang koyak-koyak. Pada terakhir kali ketika ia diberi minuman racun lagi bajunya tidak koyak dan ia pun selamat.

Di antaranya pula ada yang dibukakan baginya alam ghaib di hadapan pandangan matanya, sehingga ia dapat melihat apa saja yang terselubung di sebalik dinding, bahkan ia dapat mengetahui apa yang dilakukan oleh orang dirumahnya. Di antaranya pula ada yang diberi karamah kasyaf. Misalnya jika seorang wali mendatangi rumah seorang yang telah berbuat zina atau mabuk atau mencuri atau berbuat maksiat, maka wali itu dapat mengetahuinya, seperti yang terjadi pada Syeikh Ibnu Arabi.

Mukasyafah semacam ini dikhususkan bagi mereka yang hidup secara waraโ€™. Di antaranya pula ada yang diberi karamah dapat mengetahui gerak geri orang, misalnya seorang wali bergerak hatinya ingin bertemu dengan gurunya, maka gurunya segera hadir di hadapannya. Ada pula jenis karamah berupa didatangkannya sebuah pohon kepada seorang wali, kemudian wali itu menikmati buah dari pohon yang hadir di hadapannya.

Di antaranya pula ada yang diberi karamah dapat mengetahui segala jenis batu-batu mulia dan logam-logam mulia yang ada di perut bumi, meskipun demikian, seorang wali yang diberi karamah jenis ini tidak memperdulikan sedikit pun tentang harta kekayaan yang terpendam itu. Di antaranya pula ada yang diberi karamah berupa ilmu yang dapat memahami segala ucapan benda-benda yang mati, sehingga seorang wali yang diberi karamah seperti ini, ia dapat mendengar ucapan tasbih benda-benda yang mati.

Di antaranya pula ada yang diberi karamah dapat mengetahui segala rahsia benda-benda yang hidup.

kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut

Di antaranya pula ada yang diberi karamah segala macam ilmu pengetahuan, baik yang berupa ilmu-ilmu zahir mahupun ilmu-ilmu bathin.

Seorang yang diberi karamah berupa ini, ia akan dapat memahami berbagai macam persoalan dunia dan akhirat. Di antaranya pula ada yang diberi karamah berupa tingkatantingkatan Al Quthbiyah. Di antaranya pula ada yang diberi karamah pengetahuan dan kasyaf, sehingga dapat membezakan mana-mana pendapat mazhab-mazhab yang benar. Di antaranya pula ada yang diberi karamah dapat melihat dan mendengar hal-hal yang ghaib, sehingga antara yang terang dan yang terselubung tidak ada beza baginya.

Di antaranya pula ada yang diberi karamah dapat berbicara dengan makhluk alam malakut dan dapat mendengar guratanguratan pena di Lauh Mahfuz. Di antaranya pula ada yang diberi karamah tidak tersentuh makanan, minuman dan pakaian yang berasal dari hasil syubhat, apa lagi yang haram.

Jenis karamah ini, biasanya si wali diberi tanda tertentu oleh Allah jika ada makanan, minuman dan pakaian dari hasil syubhat yang menyentuh dirinya. Di antara yang mendapat karamah macam ini adalah ibunya Abu Yazid Al Bustami. Setiap kali ia mendapat makanan atau minuman yang syubhat, maka tangannya berpeluh dan gementar, sehingga ia harus menjauhi makanan dan minumannya. Di antaranya pula ada yang diberi karamah berupa makanan atau minuman sedikit yang dihidangkan dapat menjadi banyak.

Karamah ini pernah diberikan kepada Syeikh Abu Abdullah At Tawudi ketika ia menyuruh kawannya ke tukang jahit, maka ia mengeluarkan sepotong kain yang sempit dari balik bajunya, kemudian ia menyuruh kawannya untuk membawanya ke tukang jahit seraya berkata: โ€œDari kain yang sempit ini buatlah pakaian yang cukup untuk beberapa orangโ€.

Nyatanya kain yang sedemikian sempit itu dapat mencukupi pakaian untuk beberapa orang. Di antaranya pula ada yang diberi karamah dapat menjadikan air masin atau payau menjadi air tawar dan segar. Karamah seperti ini pernah diberikan kepada Syeikh Abdullah Ibnul Ustad Al Marwazi sahabat Syeikh Abu Madyan.

Di antaranya pula ada yang diberi karamah dapat berjalan di atas udara seperti ketika ia berjalan di atas bumi.

kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut

Di antaranya pula ada yang diberi karamah dapat berkata-kata dengan makhluk alam arwah, sehingga ia dapat mengetahui keadaan mereka yang sudah wafat, walaupun telah wafat bertahuntahun. Di antaranya pula ada yang diberi karamah dapat melenyapkan dirinya dari alam wujud ke alam ghaib, sehingga ia dapat menghilang dari suatu majlis tanpa pengetahuan mereka yang hadir.

Di antaranya pula ada yang diberi karamah dapat melangkahi bumi yang luas hanya dengan satu langkah atau hanya dengan sekejap mata, sehingga ia dapat solat Zuhur di Mekkah, kemudian solat Asar di tanah kelahirannya. Kandungan Al-Quran berkisar mengenai keseluruhan aspek kehidupan termasuk hukum, peradaban, perekonomian, kisah-kisah dan banyak lagi. Antara isi yang terkandung di dalam Al-Quran merupakan kisah-kisah kehidupan para Nabi-Nabi, kehidupan ummat-ummat terdahulu serta pengajaran-pengajaran yang terdapat didalam kisah mereka.

Apabila kita membahaskan tentang kewalian serta karamah mereka, tidak mungkin kita mengenepikan kepentingan kehidupan para Nabi dan Rasul serta Mukjizat-mukjizat mereka. Terkenanglah kita kepada kisah Nabi Musa serta tongkat dan cerita terbelahnya Sungai Nil. Tak lupa juga kita Allah s.w.t.

menggambarkan dengan begitu nyata sekali penggambaran perbicaraan semut yang didengari oleh Nabi Sulaiman a.s. Kisah Nabi Khidhir dan cara beliau menuntun Nabi Musa menjadi iktibar kepada kita.

Maka tentu sekali, selepas kisah-kisah mereka kita hayati, kita berkunjung pula kepada kisah-kisah manusia awam yang telah digambarkan Allah s.w.t. di dalam Al-Quran dengan kelebihan serta karomah mereka. Kisah Siti Mariam serta makanan kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut dihidangkannya, kisah Ashabul Kahfi dan tidur mereka yang lama dan banyaklah kisah yang lain.

Maka jika Al-Quran telah mengisikan kisah-kisahnya dengan mereka, maka menjadi kewajiban kitalah mengenali orang-orang yang dicontohi Al-Quran sebagai mereka yang soleh yang dikasihi Allah s.w.t. Maksud ini, membuktikan kepentingan mengenali para kekasih Allah serta keperibadian dan kelebihan mereka. Ajakan Nabi Muhammad s.a.w. kepada Saidina Umar dan Saidina Ali untuk mencari Uwais Al-Qarni menguatkan kepentingan mengenali mereka yang dekat dengan Allah.

Imam Al-Ghazali, Hujjatul Islam sendiri, menggalakkan berteman dengan mereka yang dekat dengan Allah serta mengikuti peribadi mereka. Kehidupan para ulama termasyhur seperti Syekh Abdul Qadir Jailani, Imam As-Syafiโ€™e dan lain-lain membuktikan kepada kita kepentingan mengenali orang-orang soleh serta karamah mereka yang merupakan pemberian murni dari Allah s.w.t.

disebabkan kesolehan, keperibadian dan perjuangan mereka. Terceduklah sudah sedikit dari khazanah Allah s.w.t. didalam kita membicarakan kehidupan para wali Allah serta karamah mereka.

Mungkin kini, selepas ilmunya dapat kita ceduk, marilah kita bertafakkur, berusaha serta menghulurkan tangan kita kepada Allah s.w.t. supaya kita ini tergolong dalam golongan mereka yang mengenali wali-wali Allah kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang merupakan pemberian allah disebut mendapatkan inayah Allah mendekati diri kepada Allah s.w.t.
varlord Verified answer Kelebihan yang dimiliki oleh para wali yang adalah merupakan pemberian Allah SWT disebut dengan KAROMAH.

Karomah ini secara bahasa artinya adalah suatu kehormatan, kemuliaan atau anugerah. Adapun secara istilah, Karomah atau Karamah adalah peristiwa luar biasa yang terjadi pada wali Allah atas kehendak Allah.

ยป Pembahasan Yang dimaksud dengan wali Allah SWT sebenarnya adalah orang-orang yang memiliki keutamaan karena kesalehan juga ketaatannya kepada Allah SWT. Contoh wali Allah ini antara lain adalah Maryam Binti Imran, atau Amir Bin Fuhairah.

Kejadian luar biasa yang disebut karomah ini apabila terjadi pada diri seorang nabi atau rasul maka disebut dengan MUKJIZAT. Adapun jika terjadi pada mereka yang adalah calon nabi maka disebut dengan IRHAS. ยป Pelajari Lebih Lanjut: โ€ข Materi tentang perbedaan mukjizat, karomah, irhas brainly.co.id/tugas/2848296 โ€ข Materi tentang contoh karomah brainly.co.id/tugas/2593713 โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข โ€ข ยป Detil Jawaban Kode : - Kelas : SMP Mapel : Pendidikan Agama Islam Bab : Nabi & Rasul Kata Kunci : Karomah, Mukjizat, Karamah, Wali

Ciri Ciri orang didampingi Khodam Orang Suci dan Para Waliyullah




2022 www.videocon.com