Putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah

putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah

• Acèh • Afrikaans • Alemannisch • አማርኛ • العربية • مصرى • Asturianu • Авар • Azərbaycanca • تۆرکجه • Башҡортса • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • বাংলা • བོད་ཡིག • Brezhoneg • Català • Mìng-dĕ̤ng-ngṳ̄ • Нохчийн • کوردی • Čeština • Чӑвашла • Cymraeg • Dansk • Deutsch • Zazaki • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • فارسی • Suomi • Føroyskt • Français • Frysk • Gaeilge putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah Galego • Hausa • עברית • हिन्दी • Hrvatski • Magyar • Հայերեն • Արեւմտահայերէն • Italiano • 日本語 • Jawa • ქართული • Kabɩyɛ • 한국어 • Kurdî • Latina • Лакку • Lietuvių • Latviešu • Malagasy • Македонски • മലയാളം • مازِرونی • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Occitan • Polski • پښتو • Português • Română • Русский • Sicilianu • Srpskohrvatski / српскохрватски • Simple English • Slovenčina • سرائیکی • Slovenščina • Shqip • Српски / srpski • Svenska • Kiswahili • தமிழ் • ไทย • Tagalog • Türkçe • Татарча/tatarça • ئۇيغۇرچە / Uyghurche • Українська • اردو • Tiếng Việt • Walon • Winaray • 吴语 • ייִדיש • 中文 • 粵語 Kaligrafi Nuh ' alaihis-salam Makam • Kota Nakhchivan, Kaukasus Selatan • Al-Haram Imam 'Ali, Najaf • Kota Al-Karak, sebelah timur Laut Mati • Desa Karak Nuh di Lebanon • Kota Cizre di kawasan Anatolia Tenggara Karya terkenal Bahtera Gelar • Nabi dan Rasul • Ulul Azmi • 'alaihis-salam (keselamatan atasnya) Anak • Kan'an • Sem • Ham • Yafet Orang tua Pengorbanan Noah oleh Daniel Maclise Dihormati di Yahudi Kekristenan Islam Mandaeisme Baháʼí Nuh [catatan 1] adalah tokoh utama pada kisah banjir bandang dalam Al-Qur'an, Alkitab, dan Tanakh.

Di dalam Al-Qur'an, banjir bandang yang menyapu seluruh muka bumi diturunkan oleh Allah yang maha mengetahui lagi maha penyayang, dikarenakan permintaan Nuh yang gagal mengajak umat manusia untuk menyembah Allah. [1] Sehingga Nuh pun memohon kepada Allah untuk tidak membiarkan satupun orang kafir tinggal di atas bumi. [2] Allah lalu menyuruh Nuh untuk membangun bahtera demi menyelamatkan keluarganya, orang-orang yang beriman kepadanya yang hanya berjumlah sedikit, dan sepasang dari masing-masing hewan.

[3] Sedangkan di dalam versi Kitab Kejadian, yakni Kitabnya Yahudi dan Kristen; banjir bandang yang membantai seluruh manusia diturunkan karena Tuhan menyesal telah menciptakan manusia, disebabkan sifat mereka yang penuh dengan kekerasan. Namun karena Tuhan senang akan seseorang bernama Nuh, maka Ia pun menyuruhnya untuk membangun bahtera demi menyelamatkan keluarganya, sepasang dari masing-masing hewan, dan benih-benih tumbuhan.

[4] Kisah Nuh sangat mirip dalam penceritaannya dengan Kisah Utnapishtim (Atrahasis) pada Epos Gilgamesh yang lebih awal ditulis. Di mana pada ceritanya, Dewa Enlil kesal dengan manusia yang terlalu berisik sehingga berniat membantai manusia dengan menimpakan air bah besar.

Mendengar hal tersebut Dewa lainnya yaitu Ea (Enki) segera mendatangi seorang manusia di bumi bernama Utnapishtim dan menyuruhnya membangun kapal raksasa untuk menyelamatkan kehidupan di Bumi. Daftar isi • 1 Ayat • 2 Nama • 3 Kisah • 3.1 Latar belakang • 3.2 Seruan • 3.3 Penolakan • 3.4 Bahtera • 3.5 Banjir • 3.6 Surut • 3.7 Kehidupan setelah banjir • 3.8 Wafat • 4 Kedudukan • 4.1 Yahudi • 4.2 Kristen • 4.3 Islam • 5 Keluarga • 5.1 Istri • 5.2 Keturunan • 6 Tempat berlabuh • 7 Analisa Naratif • 8 Mitologi banjir serupa dari bangsa lain • 8.1 Mesopotamia • 8.2 Yunani • 8.3 Hindu • 9 Makam • 10 Galeri • 11 Lihat pula • 12 Catatan • 13 Rujukan • 13.1 Daftar pustaka • 14 Pranala luar Ayat [ sunting - sunting sumber ] “ Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah), 'Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih.' Dia (Nuh) berkata, 'Wahai kaumku!

Sesungguhnya aku ini seorang pemberi peringatan yang menjelaskan kepadamu. Sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya, dan taatlah kepadaku.' — Nuh (71): 1-3 ” “ Berfirmanlah Allah kepada Nuh, 'Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi.' — Kejadian 6: 13 ” Nama [ sunting - sunting sumber ] Nama Nuh berasal dari Ibrani נֹחַ, נוֹחַ ( Nōăḥ), yang berarti "hinggap", "menentramkan", "berhenti", atau "istirahat" ( 2 Raja-raja 2:15; Ratapan 5:5; Ulangan 5:14).

Arti nama Nuh berdasarkan asal kata tersebut adalah "sabat", "istirahat", dan "penghiburan". [5] Kisah [ sunting - sunting sumber ] Dalam Al-Qur'an (kitab suci Islam), nama Nuh disebutkan 43 kali [a] dan kisahnya termaktub dalam surah Al-A'raf (7): 59-64, Yunus (10): 71-73, Hud (11): 25-49, Al-Anbiya' (21): 76-77, Al-Mu'minun (23): 23-30, Asy-Syu'ara' (26): 105-122, Al-Ankabut (29): 14-15, Ash-Shaffat (37): 75-82, Al-Qamar (54): 9-17, dan Nuh (71). Dalam Tanakh (kitab suci Yahudi) dan Alkitab (kitab suci Kristen), kisah Nuh termuat pada Kitab Kejadian (Beresyit) pasal 6-9.

Selain sumber kitab suci, kisah Nuh juga terdapat dalam riwayat hadits dan literatur Rabinik. Meski memiliki inti yang sama, terdapat beberapa perbedaan antara putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah Nuh dalam Al-Qur'an dan Alkitab.

Kisah Nuh dalam Al-Qur'an lebih menekankan pada seruan Nuh pada kaumnya yang mengingkari Allah, sedangkan Alkitab memusatkan pada peristiwa air bah. Latar belakang [ sunting - sunting sumber ] Dalam Alkitab disebutkan bahwa Nuh adalah keturunan kesembilan Adam. Rincian nama beserta umur mereka adalah: [6] • Adam memiliki putra bernama Set/ Syits saat berusia 130 tahun • Set memiliki putra bernama Enos saat berumur 150 tahun • Enos memiliki putra bernama Kenan ketika berumur 90 tahun • Kenan memiliki putra bernama Mahalaleel saat berusia 70 tahun • Mahalaleel memiliki putra bernama Yared ketika berusia 65 tahun • Yared memiliki putra bernama Henokh saat berusia 162 tahun • Henokh memiliki putra bernama Metusalah ketika berumur 65 tahun.

Henokh kerap dipandang sebagai Nabi Idris dalam sumber Islam. • Metusalah memiliki putra bernama Lamekh saat berusia 187 tahun • Lamekh memiliki putra bernama Nuh saat berusia 182 tahun Menurut perhitungan usia dalam Alkitab, Adam masih hidup selama beberapa tahun setelah Lamekh (ayah Nuh) lahir. Al-Qur'an tidak berbicara mengenai silsilah Nuh, tapi disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Adam dan Nuh terpisah jarak sepuluh qarn.

[7] Sebagian menafsirkan bahwa makna qarn ini adalah generasi yang berarti bahwa Adam dan Nuh terpisah 10 generasi. Pendapat lain menyatakan bahwa qarn adalah abad, yang berarti bahwa Adam dan Nuh terpisah jarak 10 abad.

Seruan [ sunting - sunting sumber ] Para ulama berbeda pendapat mengenai usia Nuh saat diangkat menjadi rasul. Sebagian mengatakan pada usia lima puluh tahun, ada yang berpendapat saat berusia 350 tahun.

Pendapat lain menyatakan pada usia 480 tahun. [8] Disebutkan dalam Al-Qur'an bahwa kaum Nuh melakukan penyembahan berhala dan Nuh diutus agar mereka kembali ke jalan Allah. [9] Nuh berdakwah siang dan malam, [10] menggunakan cara diam-diam, kemudian terang-terangan, kemudian kedua cara tersebut sekaligus. [11] Mereka menyembah berhala bernama Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr.

[12] Ibnu Jarir ath-Thabari menyebutkan bahwa nama-nama berhala tersebut diambil dari nama-nama orang saleh yang hidup pada masa antara Adam dan Nuh. Setelah mereka meninggal, para pengikutnya membuat patung mereka agar mereka bisa lebih khusyuk beribadah saat mereka melihat patung-patung tersebut.

Setelah para pengikut mereka meninggal, iblis menghasut generasi berikutnya dengan menyatakan bahwa orang tua mereka dulu menyembah patung-patung tersebut.

Akhirnya generasi anak-anak pengikut orang-orang saleh tersebut justru menyembah patung-patung tersebut. [13] [14] Urwah bin Zubair menyatakan bahwa orang-orang saleh tersebut adalah putra-putra Adam.

putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah

Wadd adalah yang tertua dan paling berbakti pada orangtuanya di antara mereka berlima. [15] [16] Penolakan [ sunting - sunting sumber ] Para pembesar kaum Nuh tidak menyambut baik seruan tersebut.

Nuh dianggap sesat, [17] pendusta, [18] dan gila.

putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah

{INSERTKEYS} [19] Selain menuduh Nuh berusaha mendapat kedudukan tinggi melalui dakwahnya, mereka berdalih bahwa utusan Allah harusnya adalah malaikat, bukan manusia biasa seperti Nuh. [20] Mereka digambarkan menutupkan jari ke telinga dan menutupkan baju ke wajah sebagai bentuk penolakan. [21] Lebih lanjut, mereka juga membalas dengan seruan agar orang-orang tetap terus menyembah berhala, sehingga mereka menyesatkan banyak orang.

[22] Mereka juga mengancam akan merajam Nuh jika dia tidak berhenti berdakwah. [23] Sasaran celaan kaum Nuh tidak hanya ditujukan pada pribadi Nuh, tetapi juga para pengikutnya. Para pengikut Nuh adalah orang-orang yang dianggap hina oleh para pembesar tersebut.

Para pembesar kaum tersebut berjanji akan mendengarkan seruan Nuh jika Nuh mengusir pengikutnya yang dari kalangan papa tersebut, tetapi Nuh menolak tawaran tersebut. [24] [25] Penentangan dari kaum Nuh juga diwariskan kepada generasi setelahnya.

Para orang tua yang menentang Nuh akan memerintahkan anak-anak mereka yang sudah baligh agar ikut memusuhi dan menentang Nuh, sehingga orang-orang kafir ini melahirkan generasi yang kafir pula. [26] [27] Lebih jauh, mereka juga menantang agar Nuh benar-benar mendatangkan azab yang selalu diperingatkannya jika mereka tetap tidak beriman. [28] Alkitab tidak mengisahkan seruan Nuh maupun penolakan kaumnya, tetapi hanya dijelaskan bahwa bumi sangat rusak karena semua manusia menjalankan kehidupan yang rusak di bumi.

[29] Bahtera [ sunting - sunting sumber ] Lukisan " Bahtera Nuh", oleh Französischer Meister, 1675. Dipajang di Museum Magyar Szépmüvészeti, Budapest, Hungaria. Setelah berdakwah sekian lama, Nuh kemudian meminta pertolongan kepada Allah atas penolakan kaumnya.

"Dia (Nuh) berkata, 'Ya Tuhanku, sungguh kaumku telah mendustakan aku, maka berilah keputusan antara aku dengan mereka, dan selamatkanlah aku dan mereka yang beriman bersamaku.'" — Asy-Syu'ara (26): 117-118 Allah kemudian memerintahkan Nuh agar membuat bahtera karena Allah akan mendatangkan air bah yang akan menenggelamkan orang-orang kafir.

[30] [31] [32] Alkitab menyebutkan bahwa Allah memerintahkan Nuh untuk membuat bahtera tersebut dari kayu gofir. [33] Alkitab Terjemahan Baru hanya mengalihaksarakan dari bahasa Ibrani gofer ( bahasa Ibrani: גפר‎) tanpa menerjemahkannya. Bahtera tersebut memiliki panjang tiga ratus hasta, lebar lima puluh hasta, dan tinggi tiga puluh hasta.

Bahtera tersebut juga memiliki tiga tingkatan. [34] Al-Qur'an tidak menjelaskan secara rinci mengenai bahtera Nuh. Ada ulama yang berpendapat bahwa bahtera tersebut terbuat dari pohon Jati, sedangkan pendapat lain menyatakan terbuat dari pohon Sanabur. [35] Sebagian ulama menyatakan bahwa Allah memerintahkan Nuh menanam pohon sebagai bahan bahtera.

Nuh kemudian menanam pohon dan menunggunya sampai siap untuk ditebang. Sebagian berpendapat bahwa Nuh menunggu selama empat puluh tahun, sebagian lain berpendapat sampai seratus tahun. [35] Al-Qur'an menjelaskan bahwa saat Nuh membuat bahtera, para pemuka kaumnya mengejek Nuh. Nuh membalas bahwa dia akan membalas ejekan mereka kelak. [36] Setelah usai, Nuh diperintahkan membawa binatang-binatang ke bahtera secara berpasangan, jantan dan betina. [37] [38] Alkitab merincikan bahwa binatang yang tidak haram dan burung diambil tujuh pasang yang ikut dimasukkan ke dalam bahtera, sementara binatang yang haram diambil satu pasang.

[39] Disebutkan bahwa tingkatan bawah bahtera diisi binatang melata dan hewan buas, bagian tengah untuk manusia, dan bagian atas untuk burung. [40] Banjir [ sunting - sunting sumber ] Penggambaran banjir pada masa Nuh dalam miniatur Mughal abad ke-16 Terkait manusia yang menaiki perahu, Al-Qur'an menjelaskan bahwa mereka adalah Nuh sendiri, keluarganya yang beriman, dan para pengikutnya. Tidak disebutkan nama atau jumlah pastinya, tetapi dijelaskan bahwa orang-orang beriman yang bersama Nuh hanya sedikit.

[41] Ibnu 'Abbas berpendapat bahwa ada delapan puluh laki-laki dan keluarganya yang ikut dalam bahtera Nuh. [42] Sumber dari Kitab Kejadian menyebutkan bahwa manusia yang jelas menaiki bahtera ada delapan orang, yakni Nuh, kemudian tiga putranya yang bernama Sem, Ham, dan Yafet, beserta istri mereka berempat.

[43] Tidak ada keterangan mengenai keberadaan orang lain yang ikut bersama mereka di bahtera dalam Kitab Kejadian. Perjanjian Baru menegaskan bahwa hanya ada delapan orang yang selamat dalam banjir tersebut. [44] Alkitab menjelaskan bahwa air hujan kemudian mengguyur selama empat puluh hari dan empat puluh malam, [45] dimulai pada bulan kedua hari ketujuh belas saat Nuh berusia enam ratus tahun.

[46] Banjir tersebut sampai setinggi lima belas hasta dari puncak gunung [47] dan terjadi selama 150 hari. [48] Al-Qur'an menjelaskan bahwa saat banjir, Nuh memanggil anaknya yang kafir yang berada di luar untuk ikut masuk ke dalam bahtera.

Anaknya menolak dan lebih memilih naik gunung untuk menghindar dari banjir. Akhirnya anak Nuh tersebut ikut tenggelam bersama orang-orang kafir. [49] Sebagian pendapat menyatakan bahwa nama anak Nuh yang tenggelam adalah Yam, sedangkan pendapat lain mengatakan Kan'an. [50] Keberadaan anak Nuh yang tenggelam tidak disebutkan dalam Alkitab.

Surut [ sunting - sunting sumber ] Setelah beberapa waktu lamanya, banjir perlahan mulai surut. Alkitab menjelaskan pada bulan ketujuh hari ketujuh belas, bahtera Nuh terkandas di pegunungan Ararat. Pada bulan kesepuluh, puncak-puncak gunung mulai tampak kembali. Empat puluh hari setelahnya, Nuh melepaskan gagak dan burung tersebut pulang pergi. Nuh kemudian melepaskan seekor merpati, tetapi merpati tersebut kembali kepada Nuh karena tidak mendapat pijakan di bumi.

Tujuh hari setelahnya, Nuh kembali melepas merpati dan merpati tersebut kembali dengan membawa daun zaitun.

Tujuh hari kemudian, Nuh kembali melepas merpati, tetapi merpati tersebut tidak kembali, menandakan bahwa bumi sudah cukup aman untuk kembali ditinggali. [51] Al-Qur'an menjelaskan bahwa bahtera Nuh berlabuh di suatu tempat yang bernama Al-Judi. Nuh kemudian memohon pada Allah agar mengampuni anaknya yang tenggelam, tetapi Allah tidak memperkenankan permintaan tersebut dan mengingatkan Nuh untuk tidak meminta sesuatu yang dia tidak ketahui hakikatnya. Nuh kemudian memohon ampun atas permintaannya tersebut.

[52] Al-Qur'an tidak menjelaskan mengenai Nuh setelah turun dari bahtera, tapi sebagian ulama menyatakan bahwa Nuh dan pengikutnya kemudian membangun sebuah desa yang bernama Tsamanin (delapan puluh) dan di sana mereka memiliki delapan puluh bahasa.

[42] Alkitab menjelaskan bahwa setelah Nuh turun dari bahtera, dia mempersembahkan korban bakaran kepada Allah beberapa ekor dari hewan yang tidak haram. [53] Kehidupan setelah banjir [ sunting - sunting sumber ] Alkitab menyebutkan bahwa setelah banjir, Nuh bekerja sebagai petani dan menanam anggur. Nuh kemudian minum anggur hingga mabuk dan telanjang.

Ham yang melihat kejadian tersebut kemudian menceritakan kepada saudara-saudaranya. Sem dan Yafet kemudian mengambil kain sambil berjalan mundur, kemudian menutupi aurat Nuh dengan memalingkan muka. Setelah tersadar dan mengetahui perbuatan Ham, Nuh kemudian mengutuk putra Ham yang bernama Kan'an untuk menjadi hamba bagi Sem dan Yafet.

[54] Disebutkan bahwa Ham tidak bisa dikutuk karena Nuh menyadari bahwa mereka yang telah keluar bersamanya dari bahtera adalah mereka yang diberkati oleh Tuhan dan barangsiapa yang mengutuki orang yang diberkati Tuhan maka ucapan kutuk tersebut akan berbalik kepada pengutuk itu sendiri. [55] Penafsir Alkitab menyebutkan bahwa mabuknya Nuh dapat dimaklumi. Hal ini karena Nuh dipandang sebagai orang yang pertama kali membuat minuman anggur, sehingga tidak mengetahui dampak yang ditimbulkan.

[56] Kisah mengenai mabuknya Nuh dan kutukannya pada Kan'an tidak terdapat dalam Al-Qur'an. Wafat [ sunting - sunting sumber ] Alkitab menyebutkan bahwa Nuh masih hidup selama 350 tahun setelah banjir.

Dia meninggal pada usia 950 tahun. [57] Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Nuh tinggal bersama kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun.

[58] Sebagian menyatakan bahwa waktu yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah lamanya usia Nuh, sedangkan sebagian yang lain berpendapat bahwa itu adalah lamanya Nuh berdakwah pada kaumnya, sehingga usia Nuh lebih dari 950 tahun. [59] Kedudukan [ sunting - sunting sumber ] Yahudi [ sunting - sunting sumber ] Kebajikan Nuh telah menjadi perbincangan di antara para rabi. [60] Keterangan mengenai Nuh "seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya" menjelaskan bahwa kebaikannya bersifat relatif: dia dikatakan sebagai orang yang benar bila dibandingkan dengan generasinya yang jahat, tapi tidak demikian jika dibandingkan dengan generasi tzadik semacam Abraham ( Ibrahim dalam Islam).

Mereka menyatakan bahwa Nuh tidak berdoa untuk keselamatan mereka yang hendak ditenggelamkan sebagaimana Abraham yang berusaha berdoa untuk keselamatan Sodom dan Gomorah. Nuh juga tampak tidak pernah bicara dan hanya sekadar mendengar dan melaksanakan perintah Tuhan. Ini menjadikan sebagian penafsir Kitab Kejadian menyatakan bahwa Nuh hanya mementingkan kenyamanannya sendiri dan mengabaikan tetangganya. [61] Sebagai catatan, Kitab Kejadian memang tidak mencantumkan upaya Nuh untuk menyadarkan kaumnya sebagaimana yang tertuang dalam Al-Qur'an, dan lebih memusatkan pada peristiwa banjir tersebut.

Di sisi lain, Rabi Shlomo Yitzchaki mengatakan bahwa pembangunan bahtera tersebut berjalan selama 120 tahun, dengan sengaja memberi waktu orang-orang berdosa untuk bertobat.

[62] Menurut Jewish Encyclopedia, "Kitab Kejadian berisi dua kisah tentang Nuh." Pada yang pertama, Nuh adalah pahlawan air bah, dan yang kedua, dia adalah ayah dari umat manusia dan seorang petani yang menanam kebun anggur pertama. Perbedaan karakter antara kedua kisah ini telah menyebabkan beberapa penafsir bersikeras bahwa pelaku dari cerita yang terakhir tidak sama dengan pelaku dari cerita yang pertama. Mungkin nama asli pahlawan banjir itu sebenarnya Henokh. [63] Kristen [ sunting - sunting sumber ] Nuh disebut sebagai "pemberita kebenaran".

[64] Pada Injil Matius dan Injil Lukas, Yesus membandingkan banjir Nuh dengan Pengadilan Terakhir. [65] [66] Bahtera Nuh juga disamakan dengan gereja: keselamatan hanya ditemukan dalam Kristus sebagaimana pada masa Nuh hanya dapat didapatkan dengan menaiki bahtera.

[67] [68] Islam [ sunting - sunting sumber ] Nuh dipandang sebagai salah satu nabi dalam Islam. Dalam daftar 25 nabi, Nuh biasanya ditempatkan di urutan ketiga setelah Adam dan Idris. Dalam sebuah riwayat hadits juga diterangkan bahwa Nuh adalah rasul pertama. [69] Sebagai seorang rasul, Nuh menyampaikan dan mengajak kaumnya agar kembali ke jalan Allah. Seruan Nuh ini sangat ditonjolkan dalam Al-Qur'an di berbagai surah, berbanding terbalik dengan Tanakh dan Alkitab yang tidak membahasnya sama sekali.

Nuh juga termasuk satu dari lima rasul Ulul Azmi, yakni rasul pilihan yang mempunyai ketabahan luar biasa. Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Allah melebihkannya atas segala umat [70] dan dinyatakan sebagai hamba Allah yang banyak bersyukur.

[71] Keluarga [ sunting - sunting sumber ] Istri [ sunting - sunting sumber ] Nama dan jumlah istri Nuh tidak disebutkan secara tersurat dalam sumber Al-Qur'an dan Alkitab. Sumber Alkitab menyebutkan bahwa istri Nuh merupakan salah satu penumpang bahtera.

[72] Al-Qur'an menjelaskan bahwa istri Nuh termasuk golongan orang kafir, [73] tapi tidak dijelaskan mengenai nasib akhirnya. Beberapa sumber di luar kitab suci menyebutkan nama yang berbeda-beda untuk istri Nuh. Dalam tradisi Yahudi, yakni pada Sefer haYashar dan Bereshith Rabba, disebutkan bahwa nama istri Nuh adalah Naamah.

Meski demikian, terdapat perbedaan pendapat mengenai latar belakangnya. Bereshith Rabba menyebutkan bahwa Naamah adalah putri dari Lamekh bin Metusael yang merupakan keturunan Qabil/Kain, [74] sedangkan Kitab Yasar menyebutkan bahwa Naamah adalah putri dari Henokh. Henokh sendiri adalah kakek buyut Nuh. Disebutkan bahwa Nuh menikahinya pada usia 498 tahun. [75] Namun teolog John Gill menyebutkan bahwa Naamah adalah nama dari menantu Nuh, yakni istri Ham.

[76] Kitab Yobel (termasuk dalam kanon Gereja Ortodoks Ethiopia) menyebutkan nama lain untuk istri Nuh, yakni Emzara. Ibnu Jarir ath-Thabari juga menyebutkan bahwa nama istri Nuh adalah Amzurah putri Barakil. Barakil sendiri adalah putra Mehuyael, cicit Qabil/Kain. Panarion menyebutkan nama berbeda untuk istri Nuh, yakni Barthenos, sedangkan kitab ekstrakanonikal Kristen Conflict of Adam and Eve with Satan menyebutkan istri Nuh bernama Haikal, putri Abaraz, putri dari salah satu putra Enos.

Enos sendiri adalah putra dari Syits/Set bin Adam. Sebagian penulis menghubungkan Haikal dengan Barthenos ( Bath-Enos, putri Enos). Kitab al-Magall (bagian dari literatur Klementinus), Kitab Gua Harta (termasuk Apokrifa Perjanjian Baru), dan Patriark Eutychius dari Aleksandria menyebutkan bahwa nama istri Nuh adalah Haikal, putri Namus (Namousa), putri Henokh, saudara Metusalah. Sebagian sumber Islam juga menyebutkan Walaghah sebagai nama istri Nuh yang kafir yang disebutkan dalam Al-Qur'an.

[77] Al-Qur'an menjadikan istri Nuh dan istri Lut sebagai percontohan dari orang kafir. Keduanya hidup dalam pengawasan orang saleh yang merupakan suami mereka sendiri, tetapi mereka justru berkhianat, dan suami mereka tidak dapat menolong keduanya dari azab Allah.

[78] Keturunan [ sunting - sunting sumber ] Sebuah peta T dan O yang menggambarkan tentang pembagian koloni masyarakat, mengidentifikasikan tiga benua sebagai populasi dari keturunan Sem (Shem), Ham (Cham) dan Yafef (Japeth).

Alkitab hanya mencatat Nuh memiliki tiga orang anak, Sem, Ham dan Yafet yang dilahirkan setelah Nuh berumur 500 tahun, sebelum air bah terjadi. Ketika Sem berusia 100 tahun, dua tahun setelah air bah, ia dikaruniai Arpakhsad. [79] Oleh karena itu Sem hanya berusia 98 ketika banjir datang. Ham dikatakan sebagai yang termuda. [80] Kitab Kejadian menjelaskan dengan terperinci mengenai keturunan Nuh: [81] Yafet dan keturunannya: • Gomer • Magog • Madai • Yawan • Tubal • Mesekh • Tiras Ham dan keturunannya: • Kush: leluhur Raja Namrudz/Nimrod • Misraim • Put • Kan'an Sem dan keturunannya: • Elam • Asyur • Arpakhsad: leluhur Ibrahim/ Abraham • Lud • Aram Tempat berlabuh [ sunting - sunting sumber ] Gunung Qardu, dilihat dari Şırnak.

Gunung ini dipandang sebagai Gunung Judi tempat berlabuhnya bahtera Nuh dalam beberapa tradisi. Alkitab menyebutkan bahwa bahtera Nuh berlabuh di Pegunungan Ararat, [82] sedangkan Al-Qur'an menyebutkan di Al-Judi.

[83] Nama Ararat sendiri sebenarnya merupakan versi Yunani [84] dari pelafalan Ibrani (אֲרָרָט; [85] RRṬ) dari nama Urartu, [86] kerajaan yang berpusat di Danau Van yang berdiri pada 860 SM–590 SM. Asal-usul nama Judi sendiri kurang jelas, tetapi ditafsirkan sebagai versi rusak dari nama yang sama, Al-Gurdi. Tradisi Kristen Timur dan bangsa Syria awal di timur Tigris memiliki legenda bahwa bahtera Nuh berlabuh di Gunung Judi di Tanah Kard. [87] Bangsa Armenia sampai abad ke-11 juga mengaitkan bahtera tersebut dengan Judi.

[88] Tradisi Yahudi Babilonia, Syria, dan Muslim mengidentifikasikan Gunung Qardu (Gordyae dalam bahasa Yunani) sebagai Judi. Gunung tersebut terletak di pinggir Kota Jazirah Ibnu Umar (Kota Cizre modern) di kawasan Al-Jazirah/ Mesopotamia Hulu [89] dan berada di sebelah selatan Danau Van (koordinat 37°22′10″N 42°20′39″E  /  37.36944°N 42.34417°E  / 37.36944; 42.34417).

Al-Qur'an sendiri menyatakan bahwa bahtera Nuh berlabuh di Al-Judi, tanpa kata "gunung". Mulai Abad Pertengahan, Gunung Masis yang berada di sebelah timur laut Danau Van (koordinat 39°42.113′N 44°17.899′E  /  39.701883°N 44.298317°E  / 39.701883; 44.298317) dipandang sebagai tempat berlabuhnya bahtera Nuh dan gunung tersebut kemudian dinamakan dengan Gunung Ararat.

Sekarang nama Masis dan Ararat digunakan secara bersamaan oleh bangsa Armenia. [90] Gunung Masis dianggap merupakan tempat berlabuhnya bahtera Nuh lantaran merupakan gunung tertinggi di kawasan tersebut sehingga dianggap sebagai tempat yang pertama kali terlihat saat banjir mulai surut. [91] Meski demikian, sejarawan dan sarjana Alkitab percaya bahwa Ararat merujuk pada wilayah yang lebih besar, tidak hanya terbatas pada Gunung Ararat/Masis.

Richard James Fischer menyatakan bahwa Kitab Kejadian menggunakan kata jamak "pegunungan" dan tidak merujuk gunung tertentu. [92] Mereka yang mengkritisi pandangan bahwa Gunung Masis adalah Ararat menyatakan bahwa Ararat sendiri adalah nama negara saat Kitab Kejadian ditulis. Dalam komentar Kejadian 2008, Arnold menuliskan bahwa lokasi Pegunungan Ararat tidak merujuk pada satu gunung khusus yang memiliki nama Ararat, melainkan wilayah pegunungan di Tanah Ararat. [86] Bila merujuk pada pendapat terakhir, maka Gunung Qardu di dekat Cizre modern yang dipandang sebagai Gunung Judi juga dapat dimasukkan ke dalam kawasan Pegunungan Ararat.

Analisa Naratif [ sunting - sunting sumber ] Menurut Hipotesis Dokumenter, lima kitab pertama dari Alkitab (Pentateuch/Taurat), termasuk Kitab Kejadian, dikumpulkan selama abad ke-5 SM dari empat sumber utama, yang asalnya tidak lebih awal dari abad ke-10 SM. Dua di antaranya, yaitu Sumber Yahwis, yang dikarang pada abad ke-10 SM, dan Sumber Imamat, dari abad ke-7 SM, membentuk bab-bab dari Kitab Kejadian mengenai Nuh.

Upaya editor di abad ke-5 SM untuk mengakomodasi kedua sumber independen dan terkadang saling bertentangan tersebut menyebabkan kontradiksi pada berbagai point penceritaan seperti berapa lama air bah-nya terjadi (40 hari menurut Kitab Kejadian 7:17, 150 hari menurut Kejadian 7:24) dan berapa banyak binatang yang harus dibawa Nuh ke bahtera-nya (sepasang untuk tiap binatang di Kej 6:19, sepasang dari tiap binatang haram dan 7 pasang untuk setiap binatang halal di Kej 7:2).

[93] [94] Mitologi banjir serupa dari bangsa lain [ sunting - sunting sumber ] Terdapat kisah banjir besar dalam beberapa kebudayaan, seperti di Mesopotamia, India, dan Yunani Mesopotamia [ sunting - sunting sumber ] Mitologi tertulis paling awal mengenai banjir ditemukan pada Epos Atrahasis dan Epos Gilgames.

Lauh I Epos Atrahasis menceritakan para dewa muda yang melakukan pemberontakan kepada para dewa karena merasa keberatan setelah sekian waktu melakukan pekerjaan kasar. Dewa Enki kemudian mengusulkan untuk menciptakan manusia untuk menangani berbagai pekerjaan kasar tersebut.

Bunda Dewi Mami kemudian menciptakan manusia dengan membentuk tanah liat yang dicampuri daging dan darah dewa yang dibunuh, Geshtu-E, "dewa yang memiliki kepandaian" (namanya berarti "telinga" atau "hikmat"). Manusia kemudian berkembang menjadi sangat banyak sehingga mengganggu istirahat para dewa. [95] [96] Lauh II menceritakan bahwa Dewa Enlil mengirim penyakit, kelaparan dan masa kekeringan untuk mengurangi jumlah mereka. Di akhir disebutkan bahwa dalam persidangan para dewa diputuskan bahwa manusia akan dibinasakan dengan air bah dan Enki dipaksa bersumpah untuk merahasiakan rencana tersebut.

Lauh III menjelaskan mengenai kisah air bah. Dewa Enki memberitahu Atrahasis mengenai bencana air bah dan menyuruhnya membuat bahtera. Atrahasis beserta keluarga dan hewan-hewan yang ikut bersamanya di bahtera selamat dari air bah. Enlil marah karena menganggap Enki melanggar sumpah, tapi pada akhirnya keduanya sepakat untuk mengatur jumlah penduduk manusia dengan cara lain. {/INSERTKEYS}

putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah

{INSERTKEYS} [97] Yunani [ sunting - sunting sumber ] Nuh kerap disamakan dengan Deukalion putra Prometheus dalam mitologi Yunani. Deukalion diperingatkan oleh Zeus dan Poseidon mengenai akan datangnya banjir bandang dan dia membuat bahtera. Setelah banjir usai, dia mengucap syukur pada para dewa dan menerima nasihat mengenai cara merepopulasi bumi. Deukalion juga mengirim merpati untuk mencari tahu keadaan bumi dan burung tersebut kembali dengan dahan zaitun.

[98] [99] Dalam versi cerita yang lain, Deukalion juga dikatakan sebagai penemu minuman anggur sebagaimana Nuh dalam Alkitab. [100] Hindu [ sunting - sunting sumber ] Dalam Hindu dikisahkan bahwa Wisnu memerintahkan Raja Manu untuk membuat sebuah kapal besar untuk terhindar dari banjir besar.

Setelah banjir reda, kapal berlabuh di Pegunungan Malaya. [101] Cerita mengenai Encyclopædia Britannica mencatat bahwa "Manu menggabungkan karakteristik tokoh-tokoh Alkitab Ibrani Nuh, yang menyelamatkan kehidupan dari kepunahan dalam banjir besar, dan Adam, manusia pertama." [102] Krishna Mohan Banerjee menyatakan bahwa nama "Nuh" dan "Manu" memiliki akar yang sama. [103] William Jones "mengidentifikasikan Manu dengan Nuh" bersama dengan "tujuh orang bijak dapat diidentifikasi dengan delapan orang di atas bahtera." [104] Namun pendapat lain mengatakan terkait Manu bahwa "cerita itu sepenuhnya India" dan "perahu itu tidak setara dengan Bahtera Nuh, meskipun itu masih merupakan perlambang keselamatan.

[105] Makam [ sunting - sunting sumber ] Ada beberapa tempat yang diyakini sebagai makam Nuh, di antaranya: • Makam Nuh ( bahasa Azeri: Nuh peyğəmbər türbəsi) di kota Nakhchivan di kawasan Kaukasus Selatan, menurut tradisi bangsa Armenia. Penduduk sekitar menganggapnya sebagai tempat suci. [106] [107] • Al-Haram Imam 'Ali, Najaf, menurut kepercayaan Syi'ah [108] [109] • Makam Nuh di kota Al-Karak, sebelah timur Laut Mati • Karak Nuh, sebuah desa di Lebanon [110] • Kota Cizre di kawasan Anatolia Tenggara Galeri [ sunting - sunting sumber ] • Makam Nuh ( bahasa Azeri: Nuh peyğəmbər türbəsi) di kota Nakhchivan di kawasan Kaukasus Selatan Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • 25 Nabi, di antaranya: • Hud • Shaleh • Ibrahim • Air bah • Ararat • Bahtera Nuh • Durupinar • Sem, Ham dan Yafet, ketiga putra Nuh.

• Bagian Alkitab yang berkaitan: Kejadian 6 , 7 , 8 dan 9, Matius 24, 2 Petrus 3 Catatan [ sunting - sunting sumber ] • ^ "Surah Nuh - 23". quran.com .

Diakses tanggal 2022-02-06. • ^ "Surah Nuh - 26". quran.com . Diakses tanggal 2022-02-06. • ^ "Surah Hud - 37-41". quran.com . Diakses tanggal 2022-02-06. • ^ "Bible Gateway passage: Genesis 6 - New International Version". Bible Gateway (dalam bahasa Inggris) . Diakses tanggal 2022-02-06.

• ^ Abraham Park. D. Min.,D.D., Silsilah Di Kitab Kejadian. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo). Hal.142 ISBN 978-979-081-235-2 • ^ Kejadian 5: 1-29 • ^ "Abû Umâmah menceritakan bahwa suatu ketika, seorang pria bertanya kepada Nabi Muhammad, 'Apakah Adam menjadi seorang Nabi?' Nabi Muhammad menjawab, 'Ya.' Pria itu bertanya, 'Berapa banyak waktu yang berlalu antara dia dan Nuh?' Nabi Muhammad menjawab, 'Sepuluh Qarn.'" (Shahîh Ibn Hibbân, Hadits 6190).

• ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 87. • ^ Hud (11): 26 • ^ Nuh (71): 5 • ^ Nuh (71): 8-9 • ^ Nuh (71): 23 • ^ Tafsir ath-Thabari (29/99) • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 98. • ^ Ibnu Abi Hatim, Tafsir Al-Mushannif (8/262, 263) • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm.

98-99. • ^ Al-A'raf (7): 60 • ^ Hud (11): 27 • ^ Nuh (23): 25 • ^ Nuh (23): 24 • ^ Nuh (23): 7 • ^ Nuh (23): 23-24 • ^ Asy-Syu'ara (26): 116 • ^ Asy-Syu'ara (26): 111-115 • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 105. • ^ Nuh (71): 27 • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 106. • ^ Hud (11): 32 • ^ Kejadian 6: 12 • ^ Hud (11): 37 • ^ Kejadian 6: 14, 17 • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 107-109. • ^ Kejadian 6: 14 • ^ Kejadian 6: 15-16 • ^ a b Ibnu Katsir 2014, hlm.

111. • ^ Hud (11): 38 • ^ Hud (11): 40 • ^ Kejadian 6: 19-20 • ^ Kejadian 7: 2-3 • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 112. • ^ Hud (11): 40 • ^ a b Ibnu Katsir 2014, hlm. 127. • ^ Kejadian 7: 13 • ^ 1 Petrus 3: 20 • ^ Kejadian 7: 12 • ^ Kejadian 7: 11 • ^ Kejadian 7: 19-20 • ^ Kejadian 7: 24 • ^ Hud (11): 42-43 • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm.

118. • ^ Kejadian 8: 1-12 • ^ Hud (11): 44-47 • ^ Kejadian 8: 20 • ^ Kejadian 9: 20-27 • ^ Ginzberg, Louis (1909). The Legends of the Jews (Translated by Henrietta Szold) Philadelphia: Jewish Publication Society. • ^ Ellens & Rollins. Psychology and the Bible: From Freud to Kohut, 2004, ( ISBN 027598348X, 9780275983482), hlm.

52 • ^ Kejadian 9: 28-29 • ^ Al-Ankabut (29): 14 • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 133. • ^ "NOAH - JewishEncyclopedia.com". jewishencyclopedia.com. • ^ Mamet, D., Kushner, L., Five Cities of Refuge: Weekly Reflections on Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers, and Deuteronomy, Schocken Books, 2003, hlm.

1. • ^ Frishman, J., Rompay, L. von, The Book of Genesis in Jewish and Oriental Christian Interpretation: A Collection of Essays, Peeters Publishers, 1997, hlm. 62–65. • ^ Jewish Encyclopedia: Noah. Critical View • ^ 2 Petrus 2: 5 • ^ Matius 24: 38 • ^ Lukas 17: 26 • ^ W., Wiersbe, Warren (1993). Wiersbe's expository outlines on the Old Testament.

Wheaton, Ill.: Victor Books. ISBN 978-0896938472. OCLC 27034975. • ^ "Flood, the - Baker's Evangelical Dictionary of Biblical Theology Online". Bible Study Tools . Diakses tanggal 2018-07-18. • ^ HR. Al-Bukhari (4712) • ^ Ali 'Imran (03): 32 • ^ Al-Isra' (17): 3 • ^ Kejadian 7: 13 • ^ At-Tahrim (66): 10 • ^ Kejadian 4: 22 • ^ Yashar 5:15 • ^ Exposition of the Old and New Testament, by John Gill, (1746–63), at sacred-texts.com., note on Genesis 4:22.

• ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 290. • ^ At-Tahrim (66): 10 • ^ Kejadian 11: 10 • ^ Kejadian 9: 24 • ^ Kejadian 10: 1-32 • ^ Kejadian 8: 4 • ^ Hud (11): 44 • ^ Petrosyan 2016, hlm. 68. • ^ Frymer, Tikva S.; Sperling, S. David (2008). "Ararat, Armenia". Encyclopaedia Judaica (edisi ke-2nd). view online Diarsipkan 2015-12-22 di Wayback Machine. • ^ a b Arnold 2008, hlm. 104. • ^ Conybeare, Frederick Cornwallis (April 1901).

"Reviewed Work: Ararat und Masis. Studien zur armenischen Altertumskunde und Litteratur by Friedrich Murad". The American Journal of Theology. 5 (2): 335–337. JSTOR 3152410. • ^ Frederick Cornwallis Conybeare, review of Friedrich Murat, Ararat und Masis, Studien zur armenischen Altertumskunde und Litteratur, Heidelberg, 1900. • ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 124. • ^ Avetisyan, Kamsar (1979). Հայրենագիտական էտյուդներ [Armenian studies sketches] (dalam bahasa Armenia).

Yerevan: Sovetakan grogh. hlm. 14. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-11-27 . Diakses tanggal 2015-11-24. Հայերը Արարատը անվանում են Մասիս...

Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Vos, Howard F. (1982). "Flood (Genesis)". Dalam Bromiley, Geoffrey W. International Standard Bible Encyclopedia: E-J (edisi ke-fully revised). Wm. B. Eerdmans Publishing. hlm. 319. ISBN 978-0-8028-3782-0.

• ^ Richard James Fischer (2007). "Mount Ararat". Historical Genesis: From Adam to Abraham. University Press of America. hlm. 109–111. ISBN 9780761838074. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-01-28 . Diakses tanggal 2016-11-03. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Collins, John J. (2004). Introduction to the Hebrew Bible. Minneapolis: Fortress Press. hlm.

56–57. ISBN 0-8006-2991-4. • ^ Friedman, Richard Elliotty (1989). Who Wrote the Bible? . New York: HarperCollins Publishers. hlm. 59. ISBN 0-06-063035-3. • ^ {id} David L.Baker, John J.Bimson. 2004. Mari Mengenal Arkeologi Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia. hlm. 69-70. • ^ {en} Ernest Wrught. 1960. Biblical Archaelogy.

Philadelphia:The Westminster Press. hlm. {/INSERTKEYS}

putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah

27. • ^ W. G. Lambert and A. R. Millard, Atrahasis: The Babylonian Story of the Flood, Eisenbrauns, 1999, ISBN 1-57506-039-6. • ^ Encyclopædia Britannica, Deucalion. • ^ Wajdenbaum, P., Argonauts of the Desert: Structural Analysis of the Hebrew Bible, Routledge, 2014, hlm. 104–108. • ^ Anderson, G., Greek and Roman Folklore: A Handbook, Greenwood Publishing Group, 2006. hlm. 129–130. • ^ Frazer. RW., A Literary History of India, Mittal Publications, 1898, hlm.

83–84. • ^ Encyclopædia Britannica, Manu • ^ Sugirtharajah, R. S. (2001). The Bible and the Third World: Precolonial, Colonial and Postcolonial Encounters. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 93. ISBN 978-0-521-00524-1.

• ^ Trautmann. TR., Aryans and British India, Yoda Press, 2006 p. 58. • ^ Bonnefoy, Y., Asian Mythologies, University of Chicago Press, 1993, hlm. 80. • ^ Fraser, John Foster (1925) [1899]. Round the World on a Wheel (edisi ke-5th). London: Methuen Publishing. hlm. 90. In time we reached Nachitchevan and visited Noah's tomb. It is a featureless, mud-covered building that the Armenians regard as holy.

• ^ Massalski, Władysław (1897). "Нахичевань". Brockhaus and Efron Encyclopedic Dictionary Volume XXa (dalam bahasa Rusia). hlm. 704—705. online view "По преданию, основан Ноем, гробница которого показывается местными армянами." • ^ Al-Islam.org • ^ al-Qummi, Ja'far ibn Qūlawayh (2008).

Kāmil al-Ziyārāt. Shiabooks.ca Press. hlm. 66–67. • ^ Winter, 2010, hlm. 43 ff Daftar pustaka [ sunting - sunting sumber ] • Arnold, Bill T. (2008). Genesis. Cambridge University Press.

ISBN 978-0-521-00067-3. • Ibnu Katsir (2014). Kisah-Kisah Para Nabi. Diterjemahkan oleh Muhammad Zaini. Surakarta: Insan Kamil Solo.

ISBN 978-602-6247-11-7. • Petrosyan, Armen (2016). "Biblical Mt. Ararat: Two Identifications". Comparative Putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah. 2 (1): 68–80. ISSN 2409-9899. Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] Wikimedia Commons memiliki media mengenai Noah.

• (Indonesia) Kisahmuslim: Kisah Nabi Nuh • (Inggris) Jewish Encyclopedia: Nuh • (Inggris) Nuh dan Bahteranya • Daud (+ Batsyeba) • Salomo (+ Naama) • Rehabeam (+ Maakha/Mikhaya) • Abia • Asa (+ Azuba) • Yosafat • Yoram (+ Atalya) • Ahazia* (+ Zibya) • Yoas* (+ Yoadan) • Amazia* • Uzia (Azarya) • Yotam • Ahas (+ Abi) • Hizkia (+ Hefzibah) • Manasye (+ Mesulemet) • Amon (+ Yedida) • Yosia (+ Hamutal dan Zebuda) • Yoahas* • Yoyakim (Elyakim)* (+ Nehusta) Babel—Yesus Kategori tersembunyi: • Artikel mengandung aksara Azerbaijan • Artikel mengandung aksara Arab • CS1 sumber berbahasa Inggris (en) • Templat webarchive tautan wayback • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • CS1 sumber berbahasa Armenia (hy) • CS1 sumber berbahasa Rusia (ru) • Halaman yang menggunakan pranala magis ISBN • Artikel mengandung aksara non-Indonesia • Articles with hCards • Artikel mengandung aksara Ibrani • Pranala kategori Commons ditentukan secara lokal • Halaman dengan kesalahan referensi • Halaman ini terakhir diubah pada 1 April 2022, pukul 11.49.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.

• Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • • Putra nabi nuh yang juga tidak mau menerima ajakan ayahnya untuk menyembah allah bernama.

Nama-nama Nabi yang terakhir dalam agama Islam yaitu Nabi Muhammad. Kemudian Nabi Nuh diberikan wahyu oleh Allah untuk menjadi Nabi di antara mereka sebagai pengingat dan mengajak mereka untuk menyembah Allah dan kembali ke jalan yang benar.

Meminta kepada Allah Swt untuk menurunkan azab kepada mereka. Dakwah Nabi Nuh dan Azab Allah Terhadap Kaumnya. Berulang kali Nabi Nuh menasehati keluarganya bahwa hanya Allah lah Tuhan yang layak disembah. Nabi Nuh mengumpulkan umatnya yang beriman untuk segera melindungi diri dan masuk ke dalam bahtera.

Dia adalah anak yang inkar dan kafir sehingga dia tidak berhasil. Nabi Nuh juga pernah mendapat mukjizat Allah yaitu membuat bahtera besar untuk menyelamatkan kaumnya dan kehidupan binatang dari banjir bandang. Mengajak kaum Aad untuk berhenti menyembah berhala ajakan Nabi Hud justru ditolak oleh kaum Aad. Ayahnya bernama Abdullah dan ibunya Siti Aminah. Dalam kisahnya Nabi Luth diperintahkan oleh Allah untuk menetap di sebuah daerah bernama Sadum Sodom yang mana masih berada di kawasan Yordania.

Namun istri Nabi Nuh dan putra pertamanya Kanan justru menentang perintahnya dan tetap menyembah berhala. Tapi hanya sedikit orang yang mau mendengarkan seruan Nabi Nuh As. Nabi Nuh berada di tengah-tengah kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun berdakwah menyampaikan risalah Tuhan mengajak mereka meninggalkan penyembahan berhala dan kembali menyembah dan beribadah kepada Allah Yang maha Kuasa memimpin mereka keluar dari jalan yang sesat dan gelap ke jalan yang benar dan terang mengajar mereka hukum-hukum.

Diantara mereka Kanan satu-satunya anak Nabi Nuh as yang mengabaikan ajakan ayahnya dan tidak mau beriman yang akhirnya mendapatkan azab Ilahi berupa badai topan yang menenggelamkannya bersama dengan orang-orang kafir. Nabi Muhammad lahir di Mekkah dan meninggal di kota Madinah. Disebutkan Nabi Ibrahim merupakan pendukung Nabi Nuh.

Ayah nabi Luth kembar yang satu bernama Nahor. Nabi Nuh Every bit pun merasa lelah untuk menyadarkan kaumnya tetapi mereka tetap tidak mau mendengarkannya. Hingga akhirnya Allah murka dan. Nabi Nuh dikenal dengan kesabaran yang luas. Namun Allah menolak permintaan Nabi Nuh sebab Kanan itu walaupun putra Nabi Nuh sendiri ia anak yang durhaka tidak mau beriman. Kisah Nabi Ibrahim dan Kaumnya. Berdasarkan suatu riwayat kapal yang membawa Nabi Nuh dan para pengikutnya itu berlayar selama twoscore hari sesudah itu banjir mereda dan Nabi Nuh diperintahkan turun dari kapalnya.

Istri dan putra Nabi Nuh Kanan membangkang dan ikut mencemooh bahtera Nabi Nuh sehingga mereka tidak ikut menaiki bahtera. Keduanya juga berkumpul dengan orang-orang kafir yang memusuhi Nabi Nuh. TAFSIR Al Mishbah episode kelima membahas lanjutan ayat Surah As-Saffat ayat 83-100 yang berisi kisah Nabi Ibrahim yang meneguhkan keesaan Tuhan di hadapan kaumnya yang menyembah berhala-berhala. Ia masih berharap agar sang istri berubah fikiran dan mau menerima ajakannya. Kemudian Nabi Nuh Equally.

Nabi Nuh juga membawa segala jenis binatang berpasang-pasangan mulai dari bintang buas burung gajah sapi hingga semut. Nabi Nuh as memiliki empat putra yaitu Sam Ham Yafet dan Kanan.

Ia menguatkan ajaran Nabi Nuh pendahulunya. Nuh sangat sedih karena ia tidak mampu mengajak istri yang ia cintai beriman kepada Allah dan risalah yang ia bawa. Sementara dalam barisan kaumnya yang mulai masuk ke dalam Bahtera Nabi Nuh as masih belum melihat tanda-tanda keikutsertaan istri dan anak-anaknya. Kisah putra Nabi Nuh every bit dalam Alquran sebagaimana tujuan. Dengan sekuat tenaga Nabi Nuh terus mengajak kaumnya untuk kembali menyembah Allah.

Qanan adalah putera Nabi Nuh equally yang tenggelam dalam taufan karena dia tidak mau mengikuti seruan ayahnya. Kisah Putra Nabi Nuh as. Nabi Nuh diutus oleh Allah Swt untuk menyeru ajaran tauhid kepada bani Rasim yang menyembah berhala berupa patung-patung kawasan sekitar sungai Eufrat dan Tigris.

Risalah yang dibawanya mengajak semua kaumnya untuk beriman kepadanya dan masuk ke dalam Bahtera yang telah dibangunnya seorang diri tak terkecuali keluarganya. Berikut kisah perjuangan para Ulul Azmi yang bisa kita ambil hikmahnya. Pada masa pengutusan nabi Nuh ini terdapat seorang raja yang zalim bernama Darmasyil. Dakwah Nabi Muhammad adalah mengajak kepada umat manusia untuk menyembah Allah Yang Maha Esa.

Pada zaman Nabi Nuh banyak dari kaumnya yang menyembah berhala. 5-viii Meski demikian dalam al-Quran diperlihatkan dengan jelas bahwa banjir itu tidak meliputi seluruh dunia bumi tetapi hanya umat Nabi Nuh yang dihancurkan.

Ketiga anaknya bernama Yafith Sam dan Ham mau menerima dakwah ayahnya. Tidak berbeda sebagaimana Nabi Hud diutus hanya untuk kaum Advertising QS. Mereka juga semakin menutup telinga dan mata saat Nabi Nuh mencoba meyakinkan sebuah pahala yang besar kepada mereka yang beriman. Sayangnya itu adalah harapan kosong bagi Nuh. Maka secara garis keturunan adalah Luth bin Haran bin Azara bin Nahor bin Suruj bin Rau bin Falij bin Abir bin Syalih bin Arfahsad bin Syam bin Nuh.

Bahkan istri dan anaknya yang bernama Kanan mendustakannya. Dahsyatnya Kisah Nabi Nuh As Tentang Azab Allah Dan Keikhlasan Merdeka Com Allah Menegur Nabi Nuh Allah Tenggelam Kisah Nabi Nuh As Awal Mula Penyembahan Terhadap Patung Dan Terjadinya Petaka Banjir Besar Dadanby Nabi Nuh Dan Banjir Besar Di Bulan Rajab Nuh A S Rohis Smansa Kisah Istri Dan Putra Nabi Nuh As Yang Durhaka Kisah Inspirasi Kisah Nabi Nuh Lengkap Dan Mukjizat Nabi Nuh Pondok Islami Menebar Berkah Berbagi Manfaat Nabi Nuh Gagal Mendidik Anaknya Yang Bernama Kan An Ternyata Ini Penyebabnya Kisah Kan An Anak Nabi Nuh Equally Yang Durhaka Bacaan Madani Bacaan Islami Dan Bacaan Masyarakat Madani Kisah Nabi Nuh Yang Perlu Diceritakan Agar Bisa Diteladani Anak Orami Kisah Nabi Nuh Dan Banjir Terbesar Di Bumi Sepanjang Sejarah Manusia Kisah Nabi Nuh As Dan Keingkaran Kaumnya Dalam Al Quran Siapa Nama Ayah Nabi Ibrahim Yang Terkenal Pembuat Patung Penyembah Berhala Walaupun Ayahnya Seorang Nabi Tapi Anaknya Durhaka Inilah Kisah Kan An Pecihitam Org Kita Keturunan Anak Nabi Nuh Yang Selamat Di Bahtera Republika Online Kisah Nabi Nuh Yang Perlu Diceritakan Agar Bisa Diteladani Anak Orami Dakwah Nabi Nuh Pdf Putra Nabi Nuh As Wikishia Kisah Nabi Nuh A Docx Kisah Nabi Nuh Beserta Mukjizat Yang Diberikan Allah Swt Kepadanya Nabi Nuh Sendiri Merupakan Keturunan Nabi Adam Yang Ke 9 Course Hero Putra Nabi Nuh Yang Tidak Mau Beriman Adalah Source: https://edukasinewss.com/trending/putra-nabi-nuh-yang-juga-tidak-mau-menerima-ajakan-ayahnya-untuk-menyembah-allah-bernama.html Terbaru • Untuk Menambahkan Slide Baru Kita Dapat Menggunakan Cara • Cara Minum Susu Prenagen Esensis Folavit Dan Natur E • Seorang Peternak Ayam Mempunyai 100 M Kawat Berduri • Tidak Menyimpan Nomor Tapi Bisa Melihat Status Wa • Kelompok Ternak Kamdomain_7 Di Purwosari Girimulyo Kulon Progo • Cara Memakai Masker Rambut Makarizo Hair Energy • Cara Menghapus Pintasan Di Layar Utama Xiaomi • Nama Kepala Dinas Peternakan Provinsi Di Yogyakarta • Cara Memindahkan Foto Dari Cd Ke Hp Kategori • Aplikasi • Berkebun • Bisnis • Budidaya • Cara • News • Pelajaran • Serba-serbi • SIM Keliling • Soal • Ternak • Uncategorized
Banyak yang mempertanyakan perilaku Nuh saat membangun sebuah bahtera besar yang jauh dari laut dan sungai.

Nuh dianggap sebagai orang gila oleh kaumnya. Keraguan yang disematkan kepada Nuh sebenarnya merupakan bagian dari ketidakimanan mereka terhadap risalah yang telah dibawa oleh Nuh. Saat Bahtera Nuh telah usai, Nuh diperintahkan untuk memasukkan semua kaumnya yang beriman beserta hewan-hewan secara berpasang-pasangan. Mendung mulai menyelimuti tanah Nuh. Tidak ada celah cahaya sama sekali. Siang saat itu bagaikan malam karena tertutup mendung tebal.

Hujan dan banjir bisa kapan saja melanda, tinggal menunggu perintah dari Yang Maha Kuasa, Allah Swt. Saat hujan mulai turun, Nuh memastikan semua rombongannya benar-benar masuk ke Bahtera, termasuk seluruh keluarganya. Karena bagaimanapun juga, keluarga adalah bagian dari kehidupan setiap orang. Keluarga adalah suatu hal yang harus diutamakan. Begitu juga dengan Nabi Nuh. Risalah yang dibawanya mengajak semua kaumnya untuk beriman kepadanya dan masuk ke dalam Bahtera yang telah dibangunnya seorang diri, tak terkecuali keluarganya.

Sementara dalam barisan kaumnya yang mulai masuk ke dalam Bahtera, Nuh masih belum melihat tanda-tanda keikutsertaan istri dan anak-anaknya. Nuh mulai mencari bagian-bagian keluarganya yang tertinggal. Saat ia bertemu istrinya, sang Istri malah menolak mentah-mentah ajakannya. Sang Istri malah meragukan keabsahan risalah yang dibawanya. Ia lebih mempercayai para pembesar kaumnya yang dari awal menolak dakwah suaminya, Nuh. Nuh sangat sedih, karena ia tidak mampu mengajak istri yang ia cintai beriman kepada Allah dan risalah yang ia bawa.

Ia tertunduk lesu. Ia masih berharap agar sang istri berubah fikiran dan mau menerima ajakannya. Sayangnya, itu adalah harapan kosong bagi Nuh. Istrinya tetap durhaka. Sambil berlalu, ia sama sekali tak mau menengok kebelakang. Pilihannya sudah bulat. Mengikuti para pembesar kaumnya yang sangat ia hormati melebihi hormatnya terhadap sang suami dan risalah yang dibawa suaminya. Nuh mencoba mengikhlaskan Istrinya. Setelah gagal mengajak sang Istri, Nuh mencoba mencari keberadaan sang putra.

Putranya yang bernama Kan’an juga masih belum terlihat di antara kerumunan kaumnya. Sementara hujan sudah mulai turun. Mendung-mendung gelap yang menyelimuti kaum Nuh sudah mulai berubah menjadi hujan yang siap membinasakan kaumnya. Nuh melihat anaknya di kejauhan. Kan’an sedang mengayuh tali menaiki gunung.

Ia percaya bahwa azab yang dijanjikan itu tak akan pernah bisa menjangkau dirinya jika ia lari putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah gunung. Air semakin tinggi, mengejar seorang Kan’an yang dengan pongahnya menolak ajakan sang ayah dan lebih memilih jalannya sendiri, menaiki gunung yang tinggi. Sementara banjir semakin tinggi.

Banjir itu mulai menenggelamkan semua hal yang ditemuinya. Bahkan gunung yang dinaiki Kan’an pun mulai tenggelam. Nuh yang iba dengan putranya mulai mengarahkan bahteranya ke gunung tempat sang putra berpijak.

“Wahai anakku, raihlah tanganku, naiklah ke bahtera bersama kaummu yang selamat!” “Tinggalkanlah aku, aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air bah!” “Wahai anakku, hari ini tidak ada yang dapat memberikan keselamatan kecuali keselamatan dari Allah Swt.” Ajakan seorang ayah itu serta merta ditolak oleh sang anak.

Ia sama sekali tidak memerdulikan keselamatannya. Ia telah menjadi bagian dari kaum Nuh yang kafir. Nuh melihat anaknya tenggelam dan binasa di depan matanya.

Ia begitu sedih melihat keluarganya binasa karena kekafirannya. Seketika Allah memberikan jawaban atas kegelisahannya. “Wahai Nuh, mereka sejatinya bukanlah keluargamu. Keluargamu yang sejati adalah yang memercayai risalah dan beriman kepadamu. Sebaliknya, orang yang mengingkarimu dan mendustakan kalimat Tuhanmu, mereka telah keluar dari ikatan keluargamu.” islami.co dihidupi oleh jaringan penulis, videomaker dan tim editor yang butuh dukungan untuk bisa memproduksi konten secara rutin.

Jika kamu bersedia menyisihkan sedikit rezeki untuk membantu kerja-kerja kami dalam memproduksi artikel, video atau infografis yang mengedukasi publik dengan ajaran Islam yang ramah, toleran dan mencerahkan, kami akan sangat berterima kasih karenanya.

Sebab itu sangat membantu dan meringankan. Baca Juga • Kajian Kisah Nabi Nuh dalam Al-Quran dan Alasan Kenapa Dakwah Itu Gak Perlu Galak-Galak • Kolom Polemik Menggambar Nabi Muhammad dan Lukisan Nabi dalam Sejarah Seni • Kolom Narasi Ideologis Film Jejak Khilafah & Putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah Sejarah di Baliknya • Tela'ah Catatan terhadap Konsep Hakimiyyah Abu A’la Al-Maududi • Sejarah Tahun-tahun Haji Pernah Batal akibat Politik dan Wabah Berita • Pengalaman Toleransi Agama dari Semarang: Saling Berkunjung di Hari Raya sampai Bebersih Vihara • Quraish Shihab: Berdosa, Rajin Ibadah Sunnah Semalaman Tapi Malas Bekerja • Kapan Shalat Idul Fitri Dilakukan?

Kementerian Agama Akan Putuskan 1 Syawal Hari Ini • Quraish Shihab: Jangan Anggap Kecil Amalanmu, Jangan Remehkan Dosamu! • Kemenag Undang Ormas Islam dan Perwakilan Dubes pada Isbat Awal Syawal 1443 H Kolom • Pesan KH. Ali Mustafa Yaqub: Dakwah Jangan Dijadikan Profesi dan Sumber Mata Pencarian • Relasi Islam & Kristen di Indonesia: Peluang Dialog Antar-Agama • Riwayat Perjumpaan Islam & Kristen di Indonesia • Mengapa Ibadah Puasa Ramadhan Mengikuti Kalender Hijriyah?

• Hikmah di Balik Baju Baru Lebaran Kajian • Ini Dalil Halal Bihalal dan Ziarah Kubur Ketika Lebaran • Argumen Bolehnya Zakat Fitrah dengan Uang dalam Madzhab Syafi’i • Tidak Semua Ghibah Dilarang, Dalam 6 Kondisi Ini Ghibah Dibolehkan • Sudah Pertengahan Ramadhan, Ini Dalil Baca Qunut Saat Shalat Witir • Suntik Insulin Saat Puasa, Apakah Membatalkan Puasa?

Ibadah • Khutbah Jumat Spesial Idul Fitri: Anjuran Menjaga Hubungan Baik dengan Tetangga • Apakah Puasa Syawal Mesti 6 Hari Berturut-turut? Ini Beberapa Perbedaan Pendapat Ulama • Hukum Shalat Idul Fitri dan Tata Cara Pelaksanaannya • Contoh Khutbah Idul Fitri 1443 H/2022 M: Menjadi Kaya Raya dengan Bersaudara • Mengapa Zakat Fitrah Diwajibkan? Ini Sejarahnya! Budaya • Tradisi Nyadran, Ziarah dan Transfer Amal kepada Orang Tua • Tradisi Dandangan: Semarak Bulan Suci di Kota Kudus • Makna di Balik Nyadran, Nyekar, dan Tradisi Ramadhan Lainnya • Menyambut Lailatul Qadar ala Warga Desa: Tradisi Selikuran dan Pitulikuran di Pati • Budaya Melayu: Tradisi Tepung Tawar Masyarakat Melayu Langkat, Sumatera Utara Ibnu abbas menyatakan dalam kisah Nabi Nuh As bahwa jarak antara Nabi Ada As dan Nabi Nuh As adalah sepuluh abad lamanya.

Pada saat itu semua umat patuh kepada Allah SWT. Dan mereka mulai menyembah kepada berhala pertama kali yaitu pada masa Nabi Nuh As. Nama-nama berhala yang terkenal pada zaman itu adalah Wad, Suwa, Yaqudz, Yaudz dan Nars. Nabi Nuh As hidup bersama masyarakat yang dulu pernah mendapat tuntunan dari Nabi Idris As. Namun sepeninggal Nabi Idris As, umat manusia mulai kehilangan tujuan hidup mereka serta mulai tidak memiliki keyakinan.

Sehingga diutuslah Nabi Nuh As untuk menyadarkan mereka kembali. Kedurhakaan Anak Putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah Nuh As Dalam kisah Nabi Nuh As, beliau memiliki anak yang bernama Kan’an. Ia merupakan putra tertua Nabi Nuh As yang durhaka, mangapa demikian?. Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Nuh As untuk membuat kapal meskipun pada saat itu sedang kering dan tak ada hujan apalagi banjir.

Namun karena ketaatan beliau kepada Allah SWT ia pun bergegas mengumpulkan kayu dan peralatan peralatan lainnya untuk melaksanakan perintah Allah tersebut. Disamping itu banyak orang yang mencibir, mencaci, dan menganggap bodoh Nabi Nuh As atas apa yang ia kerjakan bahkan anaknya sendiri merasa malu karena perbuatan ayahnya itu. Adik-adik Kan’an bernama Yafith, Sam, dan Ham.

Nabi Nuh berasal dari Armenia, merupakan bagian dari Rasul Ulul Azmi. Sebagai Nabi dan rasul Nabi Nuh As diutus untuk menyadarkan kaum kaum pada zamannya yang menyembah berhala dan mendustakan Allah SWT. Dijelaskan dalam Al Qur’an Nabi Nuh As telah berdakwah selama 950 tahun lamanya, namun banyak dari mereka yang memilih untuk menutup telinga dan tidak mengikuti ajaran Nabi Nuh As, hingga pada akhirnya Nabi Nuh As memohon kepada Allah SWT untuk melimpahkan adzab kepada mereka.

Dan Allah SWT memintanya untuk membuat kapal besar, Nabi Nuh As pun membuat kapal besar tersebut selama 40 tahun. Yang justru membuat nya semakin dianggap gila dan tidak dipercaya oleh kaum pada zamannya bahkan oleh istrinya dan anak tertuanya. Allah SWT mengabulkan permohonan Nabi Nuh As, Ia mendatangkankan banjir bandang yang menenggelamkan kaum kafir pada saat itu seperti yang dijelaskan dalam firman-Nya : حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ آمَنَ ۚ وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ Artinya : “Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman”.

Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS. HUD : 40) Dan beberapa penjelasan lainnya yang termuat dalam QS. Hud ayat 40-47. Baca Juga: Kisah Uwais Al Qorni, Dikenal di Langit Tak Dikenal di Bumi Nabi Nuh As dan kaumnya yang beriman selamat dari adzab tersebut dengan menaiki kapal yang dibuat olehnya, namun tidak dengan istri dan putranya Kan’an yang telah dibujuk oleh Nabi Nuh As namun tetap saja berkhianat. وَهِيَ تَجْرِيْ بِهِمْ فِيْ مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَى نُوْحُ ابْنَهُ وَكَانَ فِيْ مَعْزِلٍ يَابُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ اْلكَافِرِيْنَ Artinya: “Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung.

Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”. (QS. HUD : 42) Pelajaran dari kisah Nabi Nuh As Dari pernyataan yang telah dijelaskan diatas dapat kita peroleh hikmah apa saja yang dapat diteladani dari kisah Nabi Nuh As, antara lain: • Pentingnya pengawasan orang tua dalam hal keyakinan yang dimiliki oleh anak.

• Menjauhi sifat sombong dan angkuh seperti apa yang dimiliki oleh Kan’an • Memahami dan mencontoh kesabaran yang dimiliki oleh Nabi Nuh As • Mentaati orang tua selama apa yang ia serukan baik dan tidak menyimpang dari ajaran Allah SWT • Menjalankan apa yang diperintahkan Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya Demikianlah sekilas tentang kisah Nabi Nuh As, semoga bermanfaat dan dapat menambah khazanah ilmu kita dan dapat meningkatkan keimanan kita. Aamiin _ Penulis: Yanuar Huda Assa’banna, Alumni Fakultas Syari’ah di UNIDA GONTOR Editor: Azman Hamdika Syafaat
Surat Nuh dan Kisah Nabi Nuh Dalam Alquran – Sahabat belajaralquran.id salah satu kisah nabi yang banyak memberikan pelajaran berharga Adalah kisah dakwah Nabi Nuh AS.

Kisah perjuangan dakwah ini di abadikan dalam Alquran. Pada Alquran itu sendiri, terdapat surat alquran yang dinamakan surat Nuh. Dalam artikel ini juga kita dapat membaca ayat ayat alquran Surat Nuh, yang merupakan surat Alquran ke 71, sekaligus mendengarkan lantunan ayat suci alquran suran Nuh yang merdu dari seorang qori.

Sahabat sahabat juga dapat mendownload lantunan ayat suci alquran surat nuh dalam bentuk file mp3. Nabi Nuh as sebagai manusia pilihan Allah diutus kepada penduduk bumi untuk memberi peringatan dan memberi ancaman kepada kaumnya dari siksa Allah swt. Ia memperingatkan manusia untuk senantiasa menyembah Allah swt dan bukan menyembah selain Dia.

Allah swt juga memerintahkan kepada Nabi Nuh as untuk mengancam kaumnya yang ingkar bahwa azab Allah akan datang yaitu banjir bandang yang akan menenggelamkan seluruh manusia yang ingkar dan kafir. Kehidupan Nabi Nuh as merupakan kehidupan yang penuh dengan penderitaan. Dia adalah rasul yang paling panjang usianya dan paling gigih perjuangannya. Daftar Isi • Masa Hidup Nabi Nuh as • Jumlah dan Nama Putra Nabi Nuh • Kisah Nabi Nuh Dalam Alquran • Nabi Nuh as Membuat Kapal • Surat Nuh • Surat Nuh Arab, Latin dan Artinya • Lantunan Ayat Suci Alquran Surat Nuh Masa Hidup Nabi Nuh as Nabi Nuh as adalah generasi yang ke sepuluh dari Nabi Adam as.

Nuh adalah bin (anak) Lamak bin Metusylah bin Akhnukh, yaitu Idris. Silsilah (nasab) ini berkelanjutan sampai syith bin Adam as, bapak semua manusia. Jumlah dan Nama Putra Nabi Nuh Nabi Nuh as mempunyai empat orang putera, mereka adalah : • Sam, • Ham, • Yafith dan • Qan’an.

Qan’an adalah putera Nabi Nuh as yang tenggelam dalam taufan karena dia tidak mau mengikuti seruan ayahnya. Dia adalah anak yang inkar dan kafir sehingga dia tidak berhasil menyelamatkan diri dari banjir yang menenggelamkan seluruh umat Nabi Nuh as yang kafir. Adapun ketiga puteranya yang lain, mereka telah selamat. Sam adalah bapak bangsa Arab (Smith). Ham adalah bapak orang-orang Ethiopia. Yafith adalah bapak bangsa Romawi. Ada beberapa hadist yang berhubungan dengan soal ini, di antaranya ash-Shabuni mengutip hadist riwayat Imam Ahmad dari Nabi saw, sabdanya : ”Sam bapak bangsa Arab, Ham bapak bangsa Ethiopia dan Yafith bapak bangsa Romawi” Nabi Nuh as menerima wahyu kenabian dari Allah dalam masa “fatrah” yaitu masa kekosongan di antara dua rasul di mana manusia secara berangsurangsur melupakan ajaran agama yang dibawa oleh nabi yang meninggalkan mereka.

Ketika Nabi Nuh as datang ke tengah-tengah kaumnya, mereka sedang melakukan penyembahan berhala. Mereka memberi nama berhala-berhala itu Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr. Mereka adalah nama orang-orang saleh dari kaum Nuh as dan setelah mereka meninggal dunia, setan membisikkan kepada kaumnya agar mendirikan di tempat tinggal mereka patung-patung mereka dan berikan pada patung-patung itu nama-nama mereka.

Orang-orang melakukannya dan mereka tidak menyembah patung-patung itu, namun setelah orang-orang ini meninggal dunia dan melupakan ilmu lalu disembahlah patung-patung itu. Sekian lamanya kaum Nuh as menyembah berhala. Mereka menjadikan berhala-berhala tersebut sebagai sesembahan yang diharapkan darinya kebaikan dan memohon perlindungan kepadanya dari segala kejahatan, menyerahkan segala urusan dalam kehidupan ini kepadanya.

Oleh karena itu, Allah swt mengutus Nabi Nuh as untuk menyeru dan memberi peringatan kepada mereka. Allah swt telah berfirman sebagai berikut: Allah swt mengutus Nabi Nuh as, seorang yang jelas ucapannya, cerdas dan lembut. Allah telah memberikan kekuatan kepadanya untuk berdebat dan kemampuan mengemukakan argumentasi untuk mematahkan semua alasan yang disampaikan oleh kaumnya. Nabi Nuh as menyeru kaumnya agar beribadah kepada Allah saja, namun mereka berpaling.

Ia juga memberikan peringatan dengan siksa yang pedih, serta memberikan kabar gembira dengan ganjaran yang besar, namun mereka tetap buta dan tidak mau mendengar, serta menyombongkan diri. Betapa berat penderitan Nuh as dalam perjuangan ini serta musibah besar yang dialami nabi ini dalam masa yang panjang. Kehidupan yang merupakan rentetan penderitaan, siksa dan bencana yang tidak dapat ditanggung kecuali oleh nabi-nabi yang sangat sabar dan teguh hati.

Oleh karena itu Nabi Nuh as termasuk salah satu rasul Ulul’ Azmi. Nuh as, sebagai rasul Allah, di samping meluruskan kembali penyimpangan-penyimpangan pelaksanaan tugas kekhalifahan manusia, ia pun merupakan tonggak pemacu perkembangan sosial budaya umat manusia. Dia telah mencoba mengadakan revolusi pemikiran terhadap kaumnya dari menyembah berhala kepada menyembah Allah swt.

Nuh as, dengan bimbingan Allah, telah membuat perahu guna menyelamatkan umatnya dan budaya manusia dari kehancuran (bencana alam/banjir besar) Kisah Nabi Nuh Dalam Alquran Pada suatu hari Nabi Nuh as mendatangi kaumnya untuk menyampaikan risalah yang diembannya, tetapi kaumnya senantiasa merendahkannya serayaberkata : “ Wahai Nuh, bukankah telah beratus-ratus kali kami mengatakan bahwa kami tetap menganggap dirimu sebagai manusia biasa seperti kami.

Buat apa kami harus mengikuti kata-kata bualanmu itu? Seandainya ada seorang malaikat diutus kepada kami, mungkin kami dapat mengikutinya serta membenarkan apa yang dikatakan olehnya. Dan perlu engkau ketahui bahwa orang-orang yang mengikutimu adalah orang-orang yang bodoh dan rendah, sedangkan kami ini adalah orang-orang mulia, mempunyai pekerjaan serta kedudukan yang tinggi.

Maka ketahuilah bahwa kami semua tidak perlu lagi bertukar pikiran ataupun meminta pertolongan orang lain, cukup dengan kepintaran serta kepandaian kami saja, sedangkan engkau sendiri juga tidak mempunyai kelebihan daripada kami, baik mengenai harta benda, akal pikiran maupun mengenai wawasan dalam kehidupan ini.

Maka berhentilah dari omong kosong atau bualanmu itu”. Cercaan dan hinaan mereka itu kemudian dijawab oleh Nabi Nuh as : ”Baiklah, aku memang tidak lebih pandai dari kalian semua, namun kalaukalian merasa lebih pandai, dapatkah kalian memutar jalannya matahari dengan kepintaran kalian itu atau meraih bintang-bintang di langit dengan tangan kalian?

Juga bisakah kalian mendapatkan cahaya terang kalau tidak lantaran matahari yang telah diciptakan oleh Allah Ta’ala, dan bisakah kalian hidup tanpa udara yang dijadikan oleh Allah Ta’ala?” Kaum Nabi Nuh as diam sejenak, kemudian mereka kembali berkata dengan sanggahan baru yang memang sengaja dibuat-buat: “Wahai Nuh, kalau engkau ini benar-benar merupakan manusia yang mencintai sesama, cintailah orang-orang yang mengikutimu itu saja, dan biarkanlah kami karena kami tidak dapat mengikuti langkah mereka.

Kami tidak dapat mengikuti agama yang mereka anut, yaitu agama yang telah engkau ajarkan kepada mereka, sehingga dengan demikian akan nampak perbedaan yang jelas antara raja dan rakyat jelata, orang-orang mulia dan orang yang hina dina, antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin yang tidak mempunyai apa-apa”. Nabi Nuh berkata : “Wahai kaumku, perlu kalian ketahui, bahwa agama Allah itu tidak membedakan antara si pintar dan si bodoh, antara raja atau budak, antara yang sedang kuasa dengan yang dikuasai, antara si kaya dan si miskin.

Hal-hal seperti itu tidak berlaku di hadapan Allah, hanya takwalah yang membedakan antara manusia satu dengan manusia lainnya”. Kaum Nabi Nuh menjawab :”Wahai Nuh, sesungguhnya kami ini sudah sering kali berdebat sehingga kami sudah merasa muak dan bosan.

Oleh karena itu datangkanlah siksaan dari Tuhanmu sebagaimana yang sering kali engkau katakana kepada kami kalau engkau memang orang yang benar. Tapi kami merasa bahwa engkau tidak akan mampu mendatangkan siksaan tersebut”.

Itulah jawaban kaum Nabi Nuh disebabkan mereka benar-benar sudah merasa tersudutkan dan merasa sempit dada mereka. Mendengar tantangan dari kaumnya yang seperti itu, dengan sabar Nabi Nuh menjawab : ”Sungguh kalian adalah orang-orang yang sangat bodoh, bukannya rahmat Allah yang kalian minta, tetapi siksaan Allah. Hendaklah kalian ketahui bahwa Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu. Apabila Allah menghendaki siksaan atas dirimu, maka akan disegerakanlah siksaan itu, di mana kamu kelak akan menyesalinya”.

Kaum Nabi Nuh berkata : ” Ah sudahlah, hentikan saja bualanmu dan segerakanlah siksaan itu kepada kami niscaya kami tidak akan takut apalagi sampai menyesal. Pokoknya engkau tidak usah lagi mengajak-ajak kami, mengerti?”. Demikianlah, mereka menggunakan berbagai cara yang aniaya, menuduh dan menteror supaya dapat melemahkan hati dan mematahkan semangat Nabi Nuh as.

Putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah palsu dan dusta ini merupakan senjata orang-orang durjana setiap masa dalam menghadapi seorang nabi mulia atau seorang dai yang akan mengusahakan perbaikan.

Nabi Nuh as Membuat Kapal Nabi Nuh as berada di tengah-tengah kaumnya dalam kurun waktu yang sangat panjang, menyampaikan risalah Tuhan, mengajak mereka meninggalkan penyembahan berhala dan mengajak menyembah kepada Allah Yang Maha Kuasa.

putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah

Akan tetapi, dalam waktu yang cukup lama itu, Nabi Nuh as tidak berhasil menyadarkan dan menarik kaumnya untuk mengikuti dan menerima dakwahnya. Bahkan kaum Nabi Nuh as tidak akan ada lagi yang beriman kecuali orang-orang yang telah dahulu beriman. Setelah perdebatan yang sengit dengan kaumnya berlalu, akhirnya Nabi Nuh as lebih mendekatkan diri kepada Allah swt dan berdo a kepada-Nya, sebagaimana terdapat dalam surat Nuh ayat 25 dan 26 berikut ini: Nabi Nuh as memohon kepada Allah agar seluruh orang kafir dimusnahkan dan mereka jangan dibiarkan hidup.

Sebab, jika di antara mereka ada yang dibiarkan hidup, tentulah yang masih hidup itu nantinya akan berusaha menyesatkan hamba-hamba Allah yang beriman. Selain itu, mereka yang dibiarkan hidup akan melahirkan anak-anak yang kafir. Selain memohon kepada Allah swt agar membinasakan kaumnya, Nabi Nuh as juga memohon agar Allah swt mengampuni kesalahannya, kedua orang tuanya dan orang-orang yang bersamanya.

Do’a Nabi Nuh as tertulis dalam Surat Nuh ayat 28 sebagai berikut: Thabathaba’i memberi penjelasan tentang ayat di atas, bahwa yang dimaksud dengan “orang-orang yang masuk ke rumahnya dengan beriman” adalah semua orang dari kaumnya yang beriman kepadanya, dan orang-orang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan pada umumnya sampai Hari Qiyamat.

Permohonan Nuh as akhirnya dikabulkan oleh Allah swt dan Allah akan menghancurkan mereka dengan taufan. Kemudian Allah memerintah Nuh as untuk membuat sebuah kapal. Nabi Nuh as mengumpulkan para pengikutnya dan mereka mulai mengumpulkan bahan yang diperlukan untuk membuat kapal.

Nabi Nuh as membuat kapal tersebut atas perintah dan petunjuk wahyu dari Allah swt Dalam menyelesaikan pembuatan kapal, Nabi Nuh as tidak luput dari ejekan kaumnya yang kebetulan lewat atau sengaja melalui tempat pembuatan kapal tersebut. Hampir setiap orang yang lewat di tempat itu, mereka mengejek Nabi Nuh as dengan berbagai macam ejekan, seperti kata mereka : Hai Nuh, kemarin kamu mengaku nabi, tiba-tiba kini kamu telah menjadi tukang kayu. Mereka berkumpul menonton dan sekali-kali tertawa lantang pada saat Nuh as bersungguh-sungguh dan bekeija keras.

Ada pula yang mengejek Nabi Nuh beserta kaumnya yang setia sebagaimana katanya : Wahai Nuh, apa manfaatnya kapal yang saat ini tengah engkau buat itu sedangkan di sekitar sini kami tidak menjumpai lautan atau sungai? Apakah untuk menjalankan kapal itu akan engkau tarik dengan belasan ekor lembu? Atau barangkali engkau terbangkan ke udara seperti layaknya seekor burung raksasa?.

Para pemuka masyarakat di sekitat Nabi Nuh as menuduh Nabi Nuh as berusaha meraih keunggulan atas kaumnya, yaitu mencari keuntungan pribadi seperti status, kekuasaan dan kekayaan.

Mereka mengatakan bahwa Nabi Nuh as sebagai orang kesurupan. Ejekan kaum yang zhalim tidak hanya sampai di situ saja, bahkan pada suatu malam ketika Nabi Nuh as dan para pengikutnya tertidur disebabkan terlalu lelah bekeija di siang hari, kaum yang zhalim tersebut membuang kotoran (tinja) dan air kencingnya di atas kapal yang belum selesai tersebut. Tentu saja pada pagi harinya di sana sini terdapat kotoran dan air kencing manusia-manusia duijana tersebut, sehingga Nabi Nuh menganggap mereka sudah melampaui batas.

Di bawah ejekan dan gangguan kaumnya yang kafir serta zhalim tersebut Nabi Nuh beserta para pengikutnya meneruskan pekerjaan tersebut. Tidak berapa lama kemudian pekerjaan pembuatan kapal itu pun telah selesai dengan baik.

Allah swt memerintah Nuh as supaya menaikkan keluarga dan orang-orang yang beriman serta berbagai jenis hewan yang berpasang pasangan untuk melestarikan keturunannya. Setelah itu akan terjadi taufan yang akan menenggelamkam orang-orang yang menolak kebenaran dan melakukan kesalahan. Pada saat azab Allah datang, air yang sangat deras menyembur dari dalam tanah dibarengi dengan hujan putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah sangat lebat, sehingga menyebabkan banjir dahsyat.

Dengan iringan “Bismillahi majreha w a mursaha”, kapal Nabi Nuh as mulai berlayar menyusuri lautan air, menentang angin yang kadang kala lemah lembut dan kadang kala ribut. Sewaktu Nabi Nuh as tengah berdiri di haluan kapal, tiba-tiba pandangannya tertuju pada salah satu orang yang timbul tenggelam di tengah dahsyatnya air yang bergolak tersebut yang tiada lain adalah seorang anaknya yang bernama Kan’aan, seorang anak yang kafir, ingkar, tidak mau mentaati perintah ayahnya.

Melihat keadaan seperti itu, Nabi Nuh as berusaha menyadarkan dan menghimbau anaknya seraya berkata Wahai Kan’an anakku, marilah bersama-sama dengan kami dan janganlah engkau bersama-sama orang yang kafir itu. Meskipun ia putera nabi, tetapi tetap mengalami nasib yang menyedihkan karena tergolong orang-orang yang kafir. Pada saat itu timbullah rasa cinta kasih seorang ayah terhadap petera kandungnya yang berada dalam keadaan cemas menghadapi maut ditelan gelombang.

Kan’an yang tersesat dan telah terkena rayuan setan serta hasutan kaumnya yang sombong dan keras kepala itu menolak dengan keras ajakan ayahnya. Akhirnya seluruh manusia ditenggelamkan, termasuk Kan an, putera Nabi Nuh as yang semula berfikir bahwa dia bisa selamat dengan berlindung ke gunung terdekat.

putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah

Namun ternyata dia tidak berhasil menyelamatkan diri dari azab Allah tersebut. Banjir bandang yang dahsyat serta gelombangnya yang bergulung-gulung tersebut telah memporak porandakan serta menelan seluruh kaum Nabi Nuh as yang kafir serta zhalim.

Semua pintu langit seakan tertutup kembali, curahan air hujan telah berhenti, sedangkan bumi telah pula menghisap air yang ada di permukaannya. Adapun Nabi Nuh as berlabuh di atas sebuah bukit kecil bernama “Judiy” yang hingga kini bekas-bekasnya tengah dicari oleh orang-orang ahli sejarah. Untuk selanjutnya Nabi Nuh as beserta para pengikutnya kembali ke kampung halaman untuk menghirup udara dan suasana baru yang penuh dengan pertolongan serta berkah dari Allah Ta’ala Ketika berlabuh di bukit Judi, Allah memerintah Nuh dan orang-orang yang menaiki kapal bersamanya untuk turun dengan aman selamat dan keberkahan dari Yang Maha Perkasa Maha Pengasih.

Mereka mendarat dari kapal pada hari ‘Asyura (sepuluh Muharram) setelah berada di atas kapal selama seratus lima puluh hari. Maka pada hari itu Nabi Nuh as melakukan puasa untuk menyatakan rasa syukur kepada Allah serta memerintahkan kepada pengikutnya untuk berpuasa pula.

Nuh wafat setelah tinggal di tengah kaumnya 950 tahun sebelum taufan, sedangkan sesudahnya hanya Allah lah Yang Maha Mengetahui. Menurut Ibnu ‘ Abbas masa hidup Nuh adalah 1780 tahun dan itu merupakan masa hidup manusia terpanjang.

Setelah wafat Nabi Nuh dimakamkan di dekat Masjid Haram Mekah. Surat Nuh Surah Nuh adalah surah ke-71 dalam al-Qur’an. Surah ini tergolong surah Makkiyah yang terdiri atas 28 ayat. Dinamakan dengan surat Nuh karena surat ini seluruhnya menjelaskan ajakan, pengaduan dan doa Nabi Nuh terhadap kaumnya. Apa makna yang terkandung di dalam Surat Nuh ? Surat Nuh Arab, Latin dan Artinya بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 1.

اِنَّآ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖٓ اَنْ اَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ innā arsalnā nụhan ilā qaumihī an anżir qaumaka ming qabli ay ya`tiyahum ‘ażābun alīm Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah), “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih.” 2.

قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ لَكُمْ putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah مُّبِيْنٌۙ qāla yā qaumi innī lakum nażīrum mubīn Dia (Nuh) berkata, “Wahai kaumku! Sesungguhnya aku ini seorang pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, 3. اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاتَّقُوْهُ وَاَطِيْعُوْنِۙ ani’budullāha wattaqụhu wa aṭī’ụn (yaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, 4. يَغْفِرْ لَكُمْ مِّنْ ذُنُوْبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۗ اِنَّ اَجَلَ اللّٰهِ اِذَا جَاۤءَ لَا يُؤَخَّرُۘ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ yagfir lakum min żunụbikum wa yu’akhkhirkum ilā ajalim musammā, inna ajalallāhi iżā jā’a lā yu’akhkhar, lau kuntum ta’lamụn niscaya Dia mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu (memanjangkan umurmu) sampai pada batas waktu yang ditentukan.

Sungguh, ketetapan Allah itu apabila telah datang tidak dapat ditunda, seandainya kamu mengetahui.” 5. قَالَ رَبِّ اِنِّيْ دَعَوْتُ قَوْمِيْ لَيْلًا وَّنَهَارًاۙ qāla rabbi innī da’autu qaumī lailaw wa nahārā Dia (Nuh) berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam, 6.

فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَاۤءِيْٓ اِلَّا فِرَارًا fa lam yazid-hum du’ā`ī illā firārā tetapi seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, justru mereka lari (dari kebenaran). 7. وَاِنِّيْ كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوْٓا اَصَابِعَهُمْ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَاَصَرُّوْا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًاۚ wa innī kullamā da’autuhum litagfira lahum ja’alū aṣābi’ahum fī āżānihim wastagsyau ṡiyābahum wa aṣarrụ wastakbarustikbārā Dan sesungguhnya aku setiap kali menyeru mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jarinya ke telinganya dan menutupkan bajunya (ke wajahnya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri.

8. ثُمَّ اِنِّيْ دَعَوْتُهُمْ جِهَارًاۙ ṡumma innī da’autuhum jihārā Lalu sesungguhnya aku menyeru mereka dengan cara terang-terangan. 9. ثُمَّ اِنِّيْٓ اَعْلَنْتُ لَهُمْ وَاَسْرَرْتُ لَهُمْ اِسْرَارًاۙ ṡumma innī a’lantu lahum wa asrartu lahum isrārā Kemudian aku menyeru mereka secara terbuka dan dengan diam-diam, 10.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ fa qultustagfirụ rabbakum innahụ kāna gaffārā maka aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun, 11. يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ yursilis-samā`a ‘alaikum midrārā niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, 12. وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ اَنْهٰرًاۗ wa yumdidkum bi`amwāliw wa banīna wa yaj’al lakum jannātiw wa yaj’al lakum an-hārā dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.” 13.

مَا لَكُمْ لَا تَرْجُوْنَ لِلّٰهِ وَقَارًاۚ mā lakum lā tarjụna lillāhi waqārā Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah? 14. وَقَدْ خَلَقَكُمْ اَطْوَارًا wa qad khalaqakum aṭwārā Dan sungguh, Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan (kejadian).

15. اَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللّٰهُ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًاۙ a lam tarau kaifa khalaqallāhu sab’a samāwātin ṭibāqā Tidakkah kamu memperhatikan bagai-mana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis? 16. وَّجَعَلَ الْقَمَرَ فِيْهِنَّ نُوْرًا وَّجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا wa ja’alal-qamara fīhinna nụraw wa ja’alasy-syamsa sirājā Dan di sana Dia menciptakan bulan yang bercahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita (yang cemerlang)?

17. وَاللّٰهُ اَنْۢبَتَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ نَبَاتًاۙ wallāhu ambatakum minal-arḍi nabātā Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah, tumbuh (berangsur-angsur), 18. ثُمَّ يُعِيْدُكُمْ فِيْهَا وَيُخْرِجُكُمْ اِخْرَاجًا ṡumma yu’īdukum fīhā wa yukhrijukum ikhrājā kemudian Dia akan mengembalikan kamu ke dalamnya (tanah) dan mengeluarkan kamu (pada hari Kiamat) dengan pasti.

19. وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ بِسَاطًاۙ wallāhu ja’ala lakumul-arḍa bisāṭā Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, 20. لِّتَسْلُكُوْا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًاl itaslukụ min-hā subulan fijājā agar kamu dapat pergi kian kemari di jalan-jalan yang luas. 21. قَالَ نُوْحٌ رَّبِّ اِنَّهُمْ عَصَوْنِيْ وَاتَّبَعُوْا مَنْ لَّمْ يَزِدْهُ مَالُهٗ وَوَلَدُهٗٓ اِلَّا خَسَارًاۚ qāla nụḥur rabbi innahum ‘aṣaunī wattaba’ụ mal lam yazid-hu māluhụ wa waladuhū illā khasārā Nuh berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka durhaka kepadaku, dan mereka mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambah kerugian baginya, 22.

وَمَكَرُوْا مَكْرًا كُبَّارًاۚ wa makarụ makrang kubbārā dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar.” 23.

وَقَالُوْا لَا تَذَرُنَّ اٰلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَّلَا سُوَاعًا ەۙ وَّلَا يَغُوْثَ وَيَعُوْقَ وَنَسْرًاۚ wa qālụ lā tażarunna ālihatakum wa lā tażarunna waddaw wa lā suwā’aw wa lā yagụṡa wa ya’ụqa wa nasrā Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa‘, Yagus, Ya‘uq dan Nasr.” 24.

وَقَدْ اَضَلُّوْا كَثِيْرًا ەۚ وَلَا تَزِدِ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا ضَلٰلًا wa qad aḍallụ kaṡīrā, wa lā tazidiẓ-ẓālimīna illā ḍalālā Dan sungguh, mereka telah menyesatkan banyak orang; dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. 25. مِمَّا خَطِيْۤـٰٔتِهِمْ اُغْرِقُوْا فَاُدْخِلُوْا نَارًا ەۙ فَلَمْ يَجِدُوْا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْصَارًا mimmā khaṭī`ātihim ugriqụ fa udkhilụ nāran fa lam yajidụ lahum min dụnillāhi anṣārā Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong selain Allah.

26. وَقَالَ نُوْحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْاَرْضِ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ دَيَّارًا wa qāla nụḥur rabbi lā tażar ‘alal-arḍi minal-kāfirīna dayyārā Dan Nuh berkata, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. 27. اِنَّكَ اِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوْا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوْٓا اِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا innaka in tażar-hum yuḍillụ ‘ibādaka wa lā yalidū illā fājirang kaffārā Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka hanya akan melahirkan anak-anak yang jahat dan tidak tahu bersyukur.

28. رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَّلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِۗ وَلَا تَزِدِ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا تَبَارًا rabbigfir lī wa liwālidayya wa liman dakhala baitiya muminaw wa lil-muminīna wal-mu`mināt, wa lā tazidiẓ-ẓālimīna illā tabārā Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kehancuran.” Lantunan Ayat Suci Alquran Surat Nuh Dengarkan lantunan ayat Alquran surat Nuh, yaitu surat ke 71 dalam alquran.

Lantunan ayat alquran yang merdu ini dibacakan oleh seorang qori Your browser does not support the audio putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah. Demikianlah artikel tentang perjalanan dakwah Nabi Nuh AS serta Alquran surat Nuh, Arab, latin dan artinya. Sahabat sahabat juga dapat mendownload lantunan ayat alquran surat nuh ini.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Baca Juga Artikel Lainya di belajaralquran.id • Belajar Membaca Alquran Untuk Dewasa • Mengaji Alquran Mudah • Nama-Nama Lain Alquran • Metode Rubaiyat Related posts: • 15 Tujuan Ibadah Haji Dan Hukumnya • 10 Hadis Pendidikan Anak • Bagaimana Tata Cara Berwudhu, doa dan syarat nya Posted in Belajar Membaca Alquran, alquran, Islam, kisah Nabi, Mukjizat Alquran Tagged alquran, alquran mp3, kisah nabi, mukjizat, nabi, nabi nuh, surat nuh Post navigation
Ilustrasi Nabi Nuh as mengajak putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah menaiki bahtera dalam Kitab Majma' al-Tawarikh abad 9 H Nama lengkap Kan'an bin Nuh Penyebab Wafat/Syahadah Tenggelam pada waktu Banjir Nabi Nuh as Era Sebelum Islam Putra Nabi Nuh as adalah salah saeorang anak dari Nabi Nuh as yang karena menolak beriman, ia bersama orang-orang kafir mendapatkan azab dari Allah swt berupa ditenggelamkan lewat angin badai.

Kisah mengenai putra Nabi Nuh as ini diceritakan dalam Alquran pada Surah Hud ayat 40 sampai 47. Terdapat perbedaan pendapat antara mufasir mengenai beberapa bagian detail dari peristiwa tersebut. Mayoritas mufasir berpendapat, ia adalah putra kandung Nabi Nuh as yang kekafirannya tidak diketahui oleh Nabi Nuh as yang karena itu ia mengajak putranya itu untuk ikut menaiki bahtera agar selamat.

Daftar isi • 1 Kisah Putra Nabi Nuh as • 2 Syubhat mengenai Putra Nabi Nuh as • 3 Ketidaktahuan Nabi Nuh as atas Kekufuran Putranya • 4 Catatan Kaki • 5 Daftar Pustaka Kisah Putra Nabi Nuh as Nabi Nuh as memiliki empat putra, yaitu Sam, Ham, Yafet dan Kan'an. Diantara mereka, Kan'an satu-satunya anak Nabi Nuh as yang mengabaikan ajakan ayahnya dan tidak mau beriman, yang akhirnya mendapatkan azab Ilahi berupa badai topan yang menenggelamkannya bersama dengan orang-orang kafir.

[1] Kisah putra Nabi Nuh as dalam Alquran sebagaimana tujuan dari kisah-kisah Alquran lainnya sehingga rincian kisah dan karakteristik khusus putra Nabi Nuh as tidak disampaikan secara detail. [2] Satu-satunya penggambaran mengenai putra Nabi Nuh as dalam Alquran yaitu ketika badai topan telah dimulai dan putra Nabi Nuh as berada di luar bahtera.

Menurut Alquran, Nabi Nuh as ketika mellihat putranya, ia segera mengajaknya untuk menaiki bahtera agar selamat namun putranya tersebut mengabaikan permintaan ayahnya dan berkata akan pergi ke puncak gunung yang disebutnya ia akan di tempat tersebut. Nabi Nuh as kembali mengajak putranya untuk naik ke bahtera dan berkata bahwa topan tersebut adalah azab dari Allah swt yang tidak ada yang akan selamat kecuali Allah swt menghendaki.

Kemudian gelombang air menerjang memisahkan keduanya, sampai pada akhirnya putra Nabi Nuh as tewas ditelan badai. [3] Syubhat mengenai Putra Nabi Nuh as Pada ayat 46 dalam surah Hud disebutkan, "Wahai Nuh, ia bukan dari keluargamu" menimbulkan polemik dan perbedaan pendapat di kalangan mufasir mengenai status Kan'an.

Sebagian dengan bersandar pada ayat ini dan juga ayat lainnya seperti ayat 10 Surah Al-Tahrim yang menyebutkan istri Nabi Nuh as sebagai contoh istri yang berkhianat. Mereka berpendapat bahwa anak yang ditenggelamkan tersebut bukan anak kandung Nabi Nuh as melainkan anak haram dari istrinya. [4] Sementara banyak mufasir lain dari kalangan Ahlusunah dan Syiah dengan bersandar pada riwayat yang ada, berpendapat tafsir ayat 45 dan 46 pada Surah Hud tidak membenarkan pandangan tersebut, dan berkeyakinan kata " فخانتاهما" (lalu kedua istri itu berkhianat pada kedua suaminya) dalam Alquran tidak menunjukkan bahwa istri Nabi Nuh as pelaku zina sehingga tidak bisa dikatakan bahwa ia memiliki anak haram.

[5] Allamah Thabathabai berpendapat bahwa yang tengelam dalam lautan badai adalah putra kandung dan sah Nabi Nuh as. Ia bersandar pada bentuk panggilan sebagaimana yang diceritakan dalam Surah Hud ayat 42, "Wahai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami", jenis panggilan tersebut adalah panggilan kasih sayang yang hendak menunjukkan bahwa ia mencintai dan menginginkan kebaikan bagi putranya tersebut.

[6] Pendapat bahwa Kan'an adalah putra kandung Nabi Nuh as juga disebutkan dalam Tafsir al-Amtsal ( Tafsir Nemuneh), Majma' al-Bayan dan Tafsir Thabari sehingga diakui sebagai pendapat yang paling kuat. [7] Ketidaktahuan Nabi Nuh as atas Kekufuran Putranya Banyak dari kalangan mufasir berpendapat bahwa Nabi Nuh as tidak mengetahui sebelumnya mengenai kekufuran putranya sehingga ketika melihat putranya itu, ia mengajaknya untuk ikut naik ke atas bahtera.

[8] Karena jika Nabi Nuh as telah mengetahui bahwa putranya itu kufur, maka tentu ia tidak akan mengajak putranya tersebut. Nabi Nuh as sebelumnya telah mengecam kekufuran dan menghendaki dari Allah swt agar tidak menyisakan orang-orang kafir hidup di muka bumi dan tentu mengkhususkan doanya tersebut tidak tertimpa untuk anaknya karena hubungan kekeluargaan adalah sesuatu yang tidak dapat diterima akan dilakukan oleh Nabi Nuh as.

[9] Sebagian dari mufasir dengan melihat cara Nabi Nuh as berdialog dengan putranya sebagaimana yang diriwayatkan dalam Alquran menunjukkan Nabi Nuh as tidak mengetahui mengenai kekufuran putranya tersebut.

Jika Nabi Nuh as mengetahui sebelumnya bahwa putranya itu kufur, ia tidak akan berkata, "Janganlah engkau bersama orang-orang kafir", [10] melainkan akan berkata, "Janganlah engkau termasuk golongan orang-orang kafir." Karena pada kalimat pertama sebagaimana yang tertulis dalam Alquran menunjukkan arti bersama-sama akan mendapatkan bala dan bencana karena berada pada tempat yang sama, tidak menunjukkan bahwa putranya itu juga termasuk orang-orang kafir, dengan kalimat permintaan dari Nabi Nuh as tersebut menunjukkan bahwa ia tidak mengetahui kekufuran anaknya sehingga ia menyarankan agar putranya tersebut tidak bersama-sama dengan orang-orang kafir.

[11] Allamah Thabathabai berkeyakinan dari lahiriyah ayat menunjukkan bahwa Allah swt telah berjanji pada Nabi Nuh as akan menyelamatkan dia bersama keluarganya dari -badai topan, namun dikarenakan Nabi Nuh as tidak mengetahui kekufuran putranya, ia sebagaimana diceritakan dalam Surah Hud ayat 45 menagih janji tersebut kepada Allah swt. [12] Catatan Kaki • ↑ Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, jld.

1, hlm. 113; Maqdisi, Affarinasy wa Tarikh, jld. 1, hlm. 442; Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, jld. 2, hlm. 8-9; Thabari, Tarikh Thabari, jld. 1, hlm. 191 • ↑ Bayumi Mehran, Barresi Tarikhi Qeshash-e Qur'an, jld.

4, hlm. 70 • ↑ Qs. Hud: 42-48 • ↑ Bayumi Mehran, Barresi Tarikhi Qeshash-e Qur'an, jld. 4, hlm. 17 • ↑ Thabathabai, terj. Tafsir al-Mizan, jld.

10, hlm. 352; Thabarsi, terj. Tafsir Majma' al-Bayan, jld. 12, hlm. 69; Bayumi Mehran, Barresi Tarikhi Qeshash-e Qur'an, jld. 4, hlm. 17; Makarim, Tafsir Nemuneh, jld.

9, hlm. 117; Thabari, Tafsir al-Thabari, jld. 12, hlm. 32; Alusi, Ruh al-Ma'ani, jld. 6, hlm.

putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah

266 • ↑ Thabathabai, terj. Tafsir al-Mizan, jld. 10, hlm. 346 • ↑ Makarim, Tafsir Nemuneh, jld. 9, hlm. 117; terj. Tafsir Majma' al-Bayan, jld. 12, hlm. 68; Thabari, Tafsir al-Thabari, jld. 12, hlm. 32; Alusi, Ruh al-Ma'ani, jld.

6, hlm. 266 • ↑ Thabarsi, terj. Tafsir Majma' al-Bayan, jld. 12, hlm. 61; Thabathabai, terj. Tafsir al-Mizan, jld. 10, hlm. 350; Makarim, Tafsir Nemuneh, jld. 9, hlm. 115; Alusi, Ruh al-Ma'ani, jld.

6, hlm. 266 • ↑ Thabathabai, terj. Tafsir al-Mizan, jld.

putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah

10, hlm. 350 • ↑ Qs. Hud: 42 • ↑ Thabathabai, terj. Tafsir al-Mizan, jld. 10, hlm. 346; Jawadi Amuli, Sirah Payambaran dar Qur'an, hlm. 273 • ↑ Thabathabai, terj. Tafsir al-Mizan, jld. 10, hlm. 350-351 • Al-Quran al-Karim • Ibnu Khaldun, Abdurrahman bin Muhammad.

Tarikh Ibnu Khaldun. Peneliti: Khalil Syahhadah. Beirut: Dar al-Fikr, cet. 2, 1408 H. • Ibnu Katsir, Abul Fida' Ismail bin Umar bin Katsir al-Dimasyqi. Al-Bidāyah wa an-Nihāyah. Beirut: Dar al-Fikr, 1407 H. • Alusi, Mahmud bin Abdullah.

Ruh al-Ma'āni fi Tafsir al-Quran al-Azim wa as-Sab'u al-Matsāni. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1415 H. • Anzabi Nizad Ridha. Zendeqi Payambaran wa Qishashe Quran dar Adabiyāte Parsi (2) Nuh Ustuwartarin Marde Haq. Nasyriyah Pazuhesyhaye Falsafi Danisykadeh Adabiyat wa Ulume Insai Tabriz. Vol. 119, Paiz 1355 HS. • Biyumi Mahran, Muhammad. Barresi Tarikhi Qishashe Quran. Terjemahan Mas'ud Anshari. Teheran: Syitkat Intisyarat Ilmi wa Farhanggi, 1383 HS. • Partui, Mahdi. Risyehhaye Tarikhi Amtsāl wa Hikam.

Nasyriyah Hunar wa Mardum, vol. 96 dan 97, Mehr wa Aban, 1349 HS. • Jawadi Amuli, Abdullah. Sireh Payambaran dar Quran. Qom: Nasyr Isra', 1389 HS. • Dinawari, Abu Hanifah Ahmaf bin Daud. Akhbār ath-Thiwal. Terjemahn Mahmud Mahdawi Damghani. Teheran: Nasyr Putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah, cet.4, 1371 HS.

• Dehkhuda, Ali Akbari. Amtsāl wa Hikam. Teheran: Amir Kabir, 1383 HS. • Dzulfiqari, Husain. Dastānhaye Amtsāl.

Teheran: Maziyan, cet. 2, 1385 HS. • Thabathabai, Muhammad Husain. Tarjumah Tafsir al-Mizān. Penerjemah: Musawi, Muhammad Baqir. Qom: Jami'ah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom, cet. 5, 1374 HS. • Thabrisi, Fadhl bin Hasan. Tarjumah Tafsir Majma' al-Bayān.

Penerjemah: Husain Nuri dan Muhammad Mufattih. Teheran: Nasyr Farahani, 1352 H. • Thabari Muhammad bin Jarir. Jami' al-Bayān fi Tafsir al-Quran. Beirut: Dar al-Makrifah, 1412 H • Masudi, Abul Hasan Ali bin al-Husain. Muruj adz-Dzahab wa Ma'ādin al-Jauhar. Penerjemah: Abul Qasim Payande. Teheran: Intisyarat Ilmi wa Farhanggi, cet.

5, 1374 HS. • Muqaddasi, Muthahar bin Thahir. Affarinesy wa Tarikh. Penerjemah: Muhammad Ridha Syafii Kadkuni. Teheran: Ageh, cet.1, 1374 HS. • Maulana, Jalaluddin Balkhi. Matsnawi Ma'nawi.

Editor: Musawi. Nasyr Thulu', 1372 HS. Kategori tersembunyi: • Halaman yang memiliki Editorial Box • Artikel dengan penilaian kualitas dan prioritas • Artikel dengan prioritas a • Artikel dengan kualitas b • Artikel dengan prioritas a dan kualitas b • Artikel dengan link yang sesuai • Artikel dengan foto • Artikel dengan kategori • Artikel dengan infobox • Artikel tanpa navbox • Artikel dengan alih • Artikel yang memiliki referensiPutra Nabi Nuh every bit Ilustrasi Nabi Nuh as mengajak putranya menaiki bahtera dalam Kitab Majma’ al-Tawarikh abad ix H Nama lengkap Kan’an bin Nuh Penyebab Wafat/Syahadah Tenggelam pada waktu Banjir Nabi Nuh as Era Sebelum Islam Putra Nabi Nuh as adalah salah saeorang anak dari Nabi Nuh as yang karena menolak beriman, ia bersama orang-orang kafir mendapatkan azab dari Allah swt berupa ditenggelamkan lewat angin badai.

Kisah mengenai putra Nabi Nuh every bit ini diceritakan dalam Alquran pada Surah Hud ayat 40 sampai 47. Terdapat perbedaan pendapat antara mufasir mengenai beberapa bagian detail dari peristiwa tersebut. Mayoritas mufasir berpendapat, ia adalah putra kandung Nabi Nuh equally yang kekafirannya tidak diketahui oleh Nabi Nuh every bit yang karena itu ia mengajak putranya itu untuk ikut menaiki bahtera agar selamat.

Kisah Putra Nabi Nuh every bit Nabi Nuh as memiliki empat putra, yaitu Sam, Ham, Yafet dan Kan’an. Diantara mereka, Kan’an satu-satunya anak Nabi Nuh as yang mengabaikan ajakan ayahnya dan tidak mau beriman, yang akhirnya mendapatkan azab Ilahi berupa badai topan yang menenggelamkannya bersama dengan orang-orang kafir. [1] Kisah putra Nabi Nuh as dalam Alquran sebagaimana tujuan dari kisah-kisah Alquran lainnya sehingga rincian kisah dan karakteristik khusus putra Nabi Nuh equally tidak disampaikan secara item.

[ii] Satu-satunya penggambaran mengenai putra Nabi Nuh equally dalam Alquran yaitu ketika badai topan telah dimulai dan putra Nabi Nuh every bit berada di luar bahtera. Menurut Alquran, Nabi Nuh as ketika mellihat putranya, ia segera mengajaknya untuk menaiki bahtera agar selamat namun putranya tersebut mengabaikan permintaan ayahnya dan berkata akan pergi ke puncak gunung yang disebutnya ia akan di tempat tersebut.

Nabi Nuh every bit kembali mengajak putranya untuk naik ke bahtera dan berkata bahwa topan tersebut adalah azab dari Allah swt yang tidak ada yang akan selamat kecuali Allah swt menghendaki.

Kemudian gelombang air menerjang memisahkan keduanya, sampai pada akhirnya putra Nabi Nuh as tewas ditelan badai. [iii] Syubhat mengenai Putra Nabi Nuh as Pada ayat 46 dalam surah Hud disebutkan, “Wahai Nuh, ia bukan dari keluargamu” menimbulkan polemik dan perbedaan pendapat di kalangan mufasir mengenai condition Kan’an. Sebagian dengan bersandar pada ayat ini dan juga ayat lainnya seperti ayat 10 Surah Al-Tahrim yang menyebutkan istri Nabi Nuh as sebagai contoh istri yang berkhianat.

Mereka berpendapat bahwa anak yang ditenggelamkan tersebut bukan anak kandung Nabi Nuh equally melainkan anak haram dari istrinya. [4] Sementara banyak mufasir lain dari kalangan Ahlusunah dan Syiah dengan bersandar pada riwayat yang ada, berpendapat tafsir ayat 45 dan 46 pada Surah Hud tidak membenarkan pandangan tersebut, dan berkeyakinan kata “ فخانتاهما” (lalu kedua istri itu berkhianat pada kedua suaminya) dalam Alquran tidak menunjukkan bahwa istri Nabi Nuh as pelaku zina sehingga tidak bisa dikatakan bahwa ia memiliki anak haram.

[five] Allamah Thabathabai berpendapat bahwa yang tengelam dalam lautan badai adalah putra kandung dan sah Nabi Nuh as. Ia bersandar pada bentuk panggilan sebagaimana yang diceritakan dalam Surah Hud ayat 42, “Wahai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami”, jenis panggilan tersebut adalah panggilan kasih sayang yang hendak menunjukkan bahwa ia mencintai dan menginginkan kebaikan bagi putranya tersebut.

[vi] Pendapat bahwa Kan’an adalah putra kandung Nabi Nuh as juga disebutkan dalam Tafsir al-Amtsal putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah Tafsir Nemuneh), Majma’ al-Bayan dan Tafsir Thabari sehingga diakui sebagai pendapat yang paling kuat.

[seven] Ketidaktahuan Nabi Nuh every bit atas Kekufuran Putranya Banyak dari kalangan mufasir berpendapat bahwa Nabi Nuh as tidak mengetahui sebelumnya mengenai kekufuran putranya sehingga ketika melihat putranya itu, ia mengajaknya untuk ikut naik ke atas bahtera. [eight] Karena jika Nabi Nuh as telah mengetahui bahwa putranya itu kufur, maka tentu ia tidak akan mengajak putranya tersebut.

Nabi Nuh equally sebelumnya telah mengecam kekufuran dan menghendaki dari Allah swt agar tidak menyisakan orang-orang kafir hidup di muka bumi dan tentu mengkhususkan doanya tersebut tidak tertimpa untuk anaknya karena hubungan kekeluargaan adalah sesuatu yang tidak dapat diterima akan dilakukan oleh Nabi Nuh equally. [9] Sebagian dari mufasir dengan melihat cara Nabi Nuh as berdialog dengan putranya sebagaimana yang diriwayatkan dalam Alquran menunjukkan Nabi Nuh as tidak mengetahui mengenai kekufuran putranya tersebut.

Jika Nabi Nuh every bit mengetahui sebelumnya bahwa putranya itu kufur, ia tidak akan berkata, “Janganlah engkau bersama orang-orang kafir”, [x] melainkan akan berkata, “Janganlah engkau termasuk golongan orang-orang kafir.” Karena pada kalimat pertama sebagaimana yang tertulis dalam Alquran menunjukkan arti bersama-sama akan mendapatkan bala dan bencana karena berada pada tempat yang sama, tidak menunjukkan bahwa putranya itu juga termasuk orang-orang kafir, dengan kalimat permintaan dari Nabi Nuh equally tersebut menunjukkan bahwa ia tidak mengetahui kekufuran anaknya sehingga ia menyarankan agar putranya tersebut tidak bersama-sama dengan orang-orang kafir.

[eleven] Allamah Thabathabai berkeyakinan dari lahiriyah ayat menunjukkan bahwa Allah swt telah berjanji pada Nabi Nuh as akan menyelamatkan dia bersama keluarganya dari -badai topan, namun dikarenakan Nabi Nuh as tidak mengetahui kekufuran putranya, ia sebagaimana diceritakan dalam Surah Hud ayat 45 menagih janji tersebut kepada Allah swt.

[12] Catatan Kaki • ↑ Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, jld. one, hlm. 113; Maqdisi, Affarinasy wa Tarikh, jld. 1, hlm. 442; Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, jld. 2, hlm. viii-9; Thabari, Tarikh Thabari, jld. 1, hlm. 191 • ↑ Bayumi Mehran, Barresi Tarikhi Qeshash-e Qur’an, jld. 4, hlm. seventy • ↑ Qs. Hud: 42-48 • ↑ Bayumi Mehran, Barresi Tarikhi Qeshash-e Qur’an, jld. 4, hlm. 17 • ↑ Thabathabai, terj. Tafsir al-Mizan, jld.

10, hlm. 352; Thabarsi, terj. Tafsir Majma’ al-Bayan, jld. 12, hlm. 69; Bayumi Mehran, Barresi Tarikhi Qeshash-e Qur’an, jld. 4, hlm. 17; Makarim, Tafsir Nemuneh, jld. nine, hlm. 117; Thabari, Tafsir al-Thabari, jld. 12, hlm. 32; Alusi, Ruh al-Ma’ani, jld. 6, hlm. 266 putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah ↑ Thabathabai, terj. Tafsir al-Mizan, jld. 10, hlm.

putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah

346 • ↑ Makarim, Tafsir Nemuneh, jld. 9, hlm. 117; terj. Tafsir Majma’ al-Bayan, jld. 12, hlm. 68; Thabari, Tafsir al-Thabari, jld. 12, hlm. 32; Alusi, Ruh al-Ma’ani, jld. 6, hlm. 266 • ↑ Thabarsi, terj. Tafsir Majma’ al-Bayan, jld. 12, hlm. 61; Thabathabai, terj. Tafsir al-Mizan, jld. 10, hlm. 350; Makarim, Tafsir Nemuneh, jld. nine, hlm. 115; Alusi, Ruh al-Ma’ani, jld. 6, hlm. 266 • ↑ Thabathabai, terj.

Tafsir al-Mizan, jld. 10, hlm. 350 • ↑ Qs. Hud: 42 • ↑ Thabathabai, terj. Tafsir al-Mizan, jld. ten, hlm. 346; Jawadi Amuli, Sirah Payambaran dar Qur’an, hlm. 273 • ↑ Thabathabai, terj. Tafsir al-Mizan, jld. 10, hlm. 350-351 • Al-Quran al-Karim • Ibnu Khaldun, Abdurrahman bin Muhammad. Tarikh Ibnu Khaldun. Peneliti: Khalil Syahhadah. Beirut: Dar al-Fikr, cet. 2, 1408 H. • Ibnu Katsir, Abul Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir al-Dimasyqi.

Al-Bidāyah wa an-Nihāyah. Beirut: Dar al-Fikr, 1407 H. • Alusi, Mahmud bin Abdullah. Ruh al-Ma’āni fi Tafsir al-Quran al-Azim wa as-Sab’u al-Matsāni. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1415 H. • Anzabi Nizad Ridha. Zendeqi Payambaran wa Qishashe Quran dar Adabiyāte Parsi (2) Nuh Ustuwartarin Marde Haq. Nasyriyah Pazuhesyhaye Falsafi Danisykadeh Adabiyat wa Ulume Insai Tabriz. Vol.

119, Paiz 1355 HS. • Biyumi Mahran, Muhammad. Barresi Tarikhi Qishashe Quran. Terjemahan Mas’ud Anshari. Teheran: Syitkat Intisyarat Ilmi wa Farhanggi, 1383 HS. • Partui, Mahdi. Risyehhaye Tarikhi Amtsāl wa Hikam. Nasyriyah Hunar wa Mardum, vol. 96 dan 97, Mehr wa Aban, 1349 HS. • Jawadi Amuli, Abdullah. Sireh Payambaran dar Quran. Qom: Nasyr Isra’, 1389 HS. • Dinawari, Abu Hanifah Ahmaf bin Daud. Akhbār ath-Thiwal. Terjemahn Mahmud Mahdawi Putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah.

Teheran: Nasyr Niy, cet.iv, 1371 HS. • Dehkhuda, Ali Akbari. Amtsāl wa Hikam. Teheran: Amir Kabir, 1383 HS. • Dzulfiqari, Husain.

Dastānhaye Amtsāl. Teheran: Maziyan, cet. 2, 1385 HS. • Thabathabai, Muhammad Husain. Tarjumah Tafsir al-Mizān. Penerjemah: Musawi, Muhammad Baqir. Qom: Jami’ah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qom, cet. v, 1374 HS. • Thabrisi, Fadhl bin Hasan. Tarjumah Tafsir Majma’ al-Bayān. Penerjemah: Husain Nuri dan Muhammad Mufattih. Teheran: Nasyr Farahani, 1352 H. • Thabari Muhammad bin Jarir. Jami’ al-Bayān fi Tafsir al-Quran.

Beirut: Dar al-Makrifah, 1412 H • Masudi, Abul Hasan Ali bin al-Husain. Muruj adz-Dzahab wa Ma’ādin al-Jauhar. Penerjemah: Abul Qasim Payande. Teheran: Intisyarat Ilmi wa Farhanggi, cet. v, 1374 HS. putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah Muqaddasi, Muthahar bin Thahir. Affarinesy wa Tarikh. Penerjemah: Muhammad Ridha Syafii Kadkuni. Teheran: Ageh, cet.1, 1374 HS. • Maulana, Jalaluddin Balkhi. Matsnawi Ma’nawi. Editor: Musawi.

Nasyr Thulu’, 1372 HS. Putra Nabi Nuh Yang Tidak Mau Beriman Adalah Source: https://id.wikishia.net/view/Putra_Nabi_Nuh_as Terbaru • Untuk Menambahkan Slide Baru Kita Dapat Menggunakan Cara • Cara Minum Susu Prenagen Esensis Folavit Dan Natur E • Seorang Peternak Ayam Mempunyai 100 M Kawat Berduri • Tidak Menyimpan Nomor Tapi Bisa Melihat Status Wa • Kelompok Ternak Kamdomain_7 Di Purwosari Girimulyo Kulon Progo • Cara Memakai Masker Rambut Makarizo Hair Energy • Cara Menghapus Pintasan Di Layar Utama Xiaomi • Nama Kepala Dinas Peternakan Provinsi Di Yogyakarta • Cara Memindahkan Foto Dari Cd Ke Hp Kategori • Aplikasi • Berkebun • Bisnis • Budidaya • Cara • News • Pelajaran • Serba-serbi • SIM Keliling • Soal • Ternak • Uncategorized
Breaking News • Kamen Rider Revice Episode 34 Link Unduh Terbaru • One Piece Episode 1014 Kapan Rilis?

Jadwal Anime Terbaru • Berapa Gaji Youtuber dan Bagaimana Cara Menghitung Penghasilannya? • Cinta Kuya Sempat Cium Kejanggalan Saat Ayahnya Dipaksa Transfer DP Mobil Oleh Medina Zein • Berita Foto : Pencarian Korban Ledakan Hotel Di Kuba Terus Dilakukan • Dugaan Modus Penipuan Medina Zein Ke Uya Kuya, Gali Lubang Tutup Lubang Hingga Bukti Transfer Palsu • Harga Minyak Goreng Di Minimarket Masih Tinggi, Belum Berubah Sejak Larangan Ekspor CPO Diterapkan • Arus Diprediksi Padat, Menhub Imbau Masyarakat Tunda Perjalanan Balik Hari Ini • Ini Bedanya Milk Cleanser Dengan Facial Wash Untuk Membersihkan Wajah Berdasarkan Jenis Kulit • Ramalan Zodiak Senin, 9 Mei 2022: Libra Jatuh Cinta, Gemini Memanfaatkan Kreativitasnya Istri dan putra Nabi Nuh Kanan membangkang dan ikut mencemooh bahtera Nabi Nuh sehingga mereka tidak ikut menaiki bahtera.

Kisah Nabi Nuh As Awal Mula Penyembahan Terhadap Patung Dan Terjadinya Petaka Banjir Besar Dadanby Dari keempat anak-anak Nuh tiga ikut ke perahu satu menolak ikut masuk ke dalam perahu yakni Kanan. Putra nabi nuh as yang juga tidak mau menerima ajakan ayahnya untuk menyembah allah swt bernama. Ia masih berharap agar sang istri berubah fikiran dan mau menerima ajakannya. Dengan sekuat tenaga Nabi Nuh terus mengajak kaumnya untuk kembali menyembah Allah.

Beliau merupakan salah seorang nabi yang pertama diutus oleh Allah SWT untuk menjadi rasul bagi kaumnya. Mengajak kaum Aad untuk berhenti menyembah berhala ajakan Nabi Hud justru ditolak oleh kaum Aad. Meski demikian ayahnya menolak ajakan Ibrahim bahkan mengancam akan merajamnya dan menyuruh Ibrahim meninggalkannya. Keraguan yang disematkan kepada Nuh sebenarnya merupakan bagian dari ketidakimanan mereka terhadap risalah yang telah dibawa oleh Nuh.

Dan ini menunjukkan sesuatu yang irrasional menurut akal bisa jadi rasional menurut Tuhan. Hingga akhirnya Allah murka dan. Akal manusia terbatas sementara akal Tuhan tanpa batas aql al-Nas muhaddadun wa aql al-Allah ghairu muhaddadin.

Nuh punya isteri bernama Wafilah dan empat orang putra yakni Syam Khan Yafits dan Kanan. Nabi Nuh juga pernah mendapat mukjizat Allah yaitu membuat bahtera besar untuk menyelamatkan kaumnya dan kehidupan binatang dari banjir bandang. Tsunami yang besar itu telah menenggelamkan kampung dan kota juga semua bangunan dan makhluk hidup yang diterjangnya.

Oaseid 28 Februari 2020 0934. Kanan meledek prilaku ayahnya yang aneh. Mereka tetap melakukan semaun kegiatan maksiat dan kejahatan. BACA JUGA Permukaan Yang Betul Untuk Menggambar Model Adalah Ibrahim juga menyatakan bahwa dia telah mendapat sebagian ilmu wahyu yang tidak dimiliki ayahnya sehingga Ibrahim meminta agar ayahnya mau menurutinya.

Bahkan mereka tidak segan-segan menantang Allah Swt. Bahkan prilaku berlebihan Kanan juga menjadi sebab. Nabi Nuh as menjelaskan kepada kaumnya bahawa mustahil terdapat selain Allah Yang Maha Esa sebagai Pencipta. Nabi Nuh As berdakwah sangat lama sebagimana diungkapkan dalam Al-Quran adalah Selama 950 tahun Nabi Nuh As berjuang menyerukan kepada kaumnya untuk kembali ke jalan yang benar yaitu menyembah Allah Swt.

משה Modern Mošé Tiberias Mōšeh. Bersama Harun Musa dikenal sebagai seorang pemimpin dan nabi yang membebaskan Bani Israel dari perbudakan di Mesir. Selain itu mereka yang dibiarkan hidup akan melahirkan anak-anak yang kafir. Nabi Nuh mengumpulkan umatnya yang beriman untuk segera melindungi diri dan masuk ke dalam bahtera. Kemudian Nabi Luth memohon kepada Allah agar semua kaum Sodom diberi azab seberat-beratnya karena tidak mau mengikuti jalan yang benar dengan menyembah Allah SWT dan terus melakukan perbuatan keji.

Jakarta- Nabi Nuh As sudah berada di puncak kekesalan. Kisah mengenai putra Nabi Nuh as ini diceritakan dalam Alquran pada Surah Hud ayat 40 sampai 47. Dengan meminta datangnya azab Allah Swt kalau memang ajakan Nabi Nuh As tersebut benar. Nabi Nuh dikenal dengan kesabaran yang luas.

Sayangnya itu adalah harapan kosong bagi Nuh. Mereka juga semakin menutup telinga dan mata saat Nabi Nuh mencoba meyakinkan sebuah pahala yang besar kepada mereka yang beriman. Rasa Syukur Nabi Nuh Usai Banjir. Nuh menyampaikan kepada mereka bahawa Allah SWT telah memuliakan manusia. Ia memberikan pengertian kepada mereka bahawa dunia telah lama menipu mereka dan telah tiba waktunya untuk menghentikan tipuan ini.

Nabi Nuh as dianggap sebagai orang gila oleh kaumnya. Pada masa pengutusan nabi Nuh ini terdapat seorang raja yang zalim bernama Darmasyil. BACA JUGA Berikut Merupakan Daerah Penghasil Nikel Adalah Dia telah menciptakan mereka. Namun Kaum Sodom tidak semudah itu dibalikkan pemikirannya. Setelah begitu lama dirinya mendakwahkan ketauhidan Allah Swt umatnya masih saja kekeh menyembah berhala yang mereka namai sendiri sebagai Wadd Suwa Yaghuts Yauq dan Nasr.

Nuh menerima dengan sepenuh hati. Siang malam Nabi Nuh berdakwah dengan penuh kesabaran namun hanya sedikit dari kaumnya yang menyambut ajakan Nabi Nuh. Allah SWT mengangkat Nabi Nuh As menjadi rasul saat berusia empat ratus delapan puluh tahun. 14 Allah SWT mengutus Nabi Nuh AS menjadi rasul kepada kaum Bani Rasib yang terletak di negeri Mesopotamia. Terdapat perbedaan pendapat antara mufasir mengenai beberapa bagian detail dari peristiwa tersebut.

Kisah Inspirasi Banyak yang mempertanyakan perilaku Nabi Nuh as saat membangun sebuah bahtera besar yang jauh dari laut dan sungai. Nabi Nuh diutus oleh Allah Swt untuk menyeru ajaran tauhid kepada bani Rasim yang menyembah berhala berupa patung-patung kawasan sekitar sungai Eufrat dan Tigris. Selain memohon kepada Allah swt agar membinasakan kaumnya Nabi Nuh as juga memohon agar Allah. Nuh sangat sedih karena ia tidak mampu mengajak istri yang ia cintai beriman kepada Allah dan risalah yang ia bawa.

Nabi Nuh juga membawa segala jenis binatang berpasang-pasangan mulai dari bintang buas burung gajah sapi hingga semut. Dakwah Nabi Nuh dan Azab Allah Terhadap Kaumnya. Putra Nabi Nuh as adalah salah saeorang anak dari Nabi Nuh as yang karena menolak beriman ia bersama orang-orang kafir mendapatkan azab dari Allah swt berupa ditenggelamkan lewat angin badai. Siapa Nama Ayah Nabi Ibrahim Yang Terkenal Pembuat Patung Penyembah Berhala Putra Nabi Nuh As Wikishia Nabi Nuh Gagal Mendidik Anaknya Yang Bernama Kan An Ternyata Ini Penyebabnya 25 Nama Nama Nabi Dan Rasul Beserta Tugasnya Bisa Dikenalkan Sejak Dini Pengikut Nabi Nuh Hanya Orang Orang Miskin Pengikut Orang Walaupun Ayahnya Seorang Nabi Tapi Anaknya Durhaka Inilah Kisah Kan An Pecihitam Org Kisah Nabi Nuh A Docx Kisah Nabi Nuh Beserta Mukjizat Yang Diberikan Allah Swt Kepadanya Nabi Nuh Sendiri Merupakan Keturunan Nabi Adam Yang Ke 9 Course Hero Dahsyatnya Kisah Nabi Nuh As Tentang Azab Allah Dan Keikhlasan Merdeka Com Dakwah Nabi Nuh Pdf Kisah Nabi Nuh Yang Perlu Diceritakan Agar Bisa Diteladani Anak Orami Nabi Nuh Dan Banjir Besar Di Bulan Rajab Kisah Kan An Anak Nabi Nuh As Yang Durhaka Bacaan Madani Bacaan Islami Dan Bacaan Masyarakat Madani Kisah Nabi Nuh Yang Perlu Diceritakan Agar Bisa Diteladani Anak Orami Kisah Istri Dan Putra Nabi Nuh As Yang Durhaka Kisah Inspirasi Kisah Nabi Nuh As Dan Keingkaran Kaumnya Dalam Al Quran 03 Nabi Nuh As
Tafsir Surah Al-Mu’minun Ayat 26-28 melanjutkan kisah Nabi Nuh pada tafsir sebelumnya, bahwa keingkaran kaumya sudah diambang batas, Nuh pun berdoa kepada Allah dari sifat buruk kaumnya tersebut.

Putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah dikabulkan, Allah memeritahkan Nuh untuk membuat sebuah kapal, yang nantinya akan digunakan oleh Nuh dan pengkutnya yang beriman, sementara mereka yang ingkar akan menerima azab dari Allah Swt. Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Mu’minun Ayat 22-25 Ayat 26 Setelah Nuh melihat keingkaran kaumnya yang tidak mau menyadari kesesatan mereka, padahal Nuh cukup lama melaksanakan kewajiban dakwahnya, maka Allah mewahyukan kepadanya bahwa kaumnya tidak akan pernah beriman.

Pengikutnya yaitu orang-orang yang sudah beriman tidak akan bertambah lagi jumlahnya. Nuh kemudian berdoa kepada Tuhan supaya diberi pertolongan, seraya berdoa, “Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku.” Doa Nuh itu disebutkan dalam firman Allah: فَدَعَا رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَغْلُوْبٌ فَانْتَصِرْ Maka dia (Nuh) mengadu kepada Tuhannya, ”Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah (aku).” (al-Qamar/54: 10).

Dan seperti dalam firman-Nya: وَقَالَ نُوْحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْاَرْضِ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ دَيَّارًا Dan Nuh berkata, ”Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. (Nuh/71: 26) Ayat 27 Setelah doa Nuh diperkenankan, maka Allah mewahyukan kepada-nya, agar ia mulai membuat perahu di bawah pengawasan dan petunjuk wahyu-Nya, supaya perahu itu kokoh dan tidak mudah mengalami kerusakan dan supaya Nuh mengetahui teknik pembuatannya, sebab pembuatan sebuah perahu yang besar dan kukuh tentu saja memerlukan keahlian.

Apabila perintah Allah sudah datang untuk membinasakan kaumnya dengan topan yang besar, dan tanda-tandanya sudah tampak, yaitu tannµr tempat membakar roti di bawah tanah sudah mulai memancarkan air, maka Allah menyuruh Nabi Nuh memasukkan ke dalam perahu itu sepasang jantan dan betina dari tiap-tiap jenis binatang. Dalam perahu dibuat bertingkat-tingkat. Tingkat yang paling bawah untuk binatang buas seperti singa, harimau, dan sebagainya.

Di tingkat kedua binatang ternak seperti: sapi, kambing, dan sebagainya.

putra nabi nuh yang tenggelam dan tidak mau menerima pertolongan ayahnya adalah

Di tingkat ketiga semua jenis burung sepasang-pasang dan di tingkat yang paling atas sekali Baca Juga : Hidangan Manna dan Salwa dalam Al-Qur’an Beserta Manfaatnya Nabi Nuh dengan sekalian keluarganya yang selamat, di antaranya tiga orang putranya: Sām, Hām dan Yafis. Adapun putra beliau yang bernama Kan’an termasuk orang yang tenggelam, karena ia tidak mau ikut bersama ayahnya. Dengan dimasukkannya setiap jenis binatang yang ada pada waktu itu, maka perahu Nuh merupakan kebun binatang yang lengkap.

Semua binatang yang tidak masuk ke dalam perahu dan orang kafir yang tidak mengikuti ajakan Nabi Nuh ditenggelamkan dalam topan besar itu, sesuai dengan ancaman Allah bahwa mereka akan ditimpa azab. Allah sebelumnya melarang Nuh supaya jangan memberitahukan rencana Allah dan maksud pembuatan perahu kepada orang-orang yang zalim itu, karena mereka semuanya akan ditenggelamkan.

Ayat 28 Allah memerintahkan kepada Nuh, jika ia bersama orang-orang yang beriman telah berada di atas perahu, maka ia harus mengucapkan pujian kepada Allah sebagai rasa syukur atas keselamatan mereka semuanya yang berada dalam perahu itu, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim.” Ayat ini memberi petunjuk bahwa kita tidak boleh merasa gembira dengan turunnya azab kepada orang atau golongan lain, kecuali bila di dalamnya mengandung keselamatan bagi kaum mukminin, terhindarnya mereka dari bahaya kemusnahan, dan tersapu bersihnya dunia dari segala bentuk kemusyrikan dan kemaksiatan.

Menurut keterangan Ibnu ‘Abbas ra bahwa yang berada dalam perahu Nuh itu selain semua jenis binatang itu ada 80 orang manusia, yaitu Nuh beserta tiga orang putranya beserta istri-istrinya dan 72 orang mukmin umat Nuh yang setia kepadanya.

(Tafsir Kemenag) Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al-Mu’minun 29-31 TENTANG KAMIDengan semangat membangun peradaban islami berbasis tafsir Al Quran, kami berusaha memenuhi asupan kebutuhan masyarakat terhadap kitab suci Al Quran, baik terjemah, tafsir tematik dengan materi yang aktual di masyarakat, maupun Ulumul Quran yang merupakan perangkat keilmuan dalam memahami Alquran

Nabi Nuh A S - Kisah Islami Channel




2022 www.videocon.com