7 bulanan adat jawa

7 bulanan adat jawa

By Kata Nahda Des 8, 2021 Suku Jawa dalam memperingati momen spesial terkenal dengan beragam tradisinya. Salah satunya yakni upacara adat Tingkepan, atau masyarakat umum bisa mengenalinya sebagai upacara Kenduren Mitoni.

Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk memperingati kehamilan wanita Jawa saat usianya mencapai 7 bulan. Tentunya terdapat beraneka macam makanan untuk 7 bulanan adat Jawa yang menjadi ciri khas acara tersebut, seperti berikut: Baca Juga : Budaya Patriarki dan Pengaruhnya Untuk Negeri 1.

Tujuh Macam Bubur Makanan untuk 7 bulanan adat Jawa bercita rasa manis gurih tersebut pasti selalu tersaji di meja hidangan. Terdapat 7 jenis bubur, yakni bubur merah putih, candil, sumsum pisang, suro, ketan hitam, lemu, dan kacang hijau. Menurut kepercayaan suku Jawa, bubur merah putih melambangkan keseimbangan agar kelak anak akan mewarisi sifat kedua orang tuanya. Makna dari bubur yang tersaji lainnya yakni candil, yang diharapkan menjadi sumber energi ibu hamil pada saat proses melahirkan tiba.

Selain itu ada juga bubur procot, atau yang biasa dikenal dengan nama bubur sumsum pisang. Makanan tersebut mengandung arti doa selamat dan kelancaran ibu saat hendak melahirkan anaknya. 2. Keleman Keleman merupakan umbi-umbian yang memiliki 7 jenis dan kuliner tersebut memang biasa tersaji di acara tujuh bulanan. Biasanya keleman dimasak dengan cara direbus, dan disajikan pada nampan anyam bulat berlapis daun pisang.

Isian keleman yakni ketela, ubi, gadung, jelarut, kacang tanah, dan labu siam. 3. Jajanan Pasar Kue-kue tradisional, atau yang sering disebut sebagai jajanan pasar juga menjadi kudapan paling disenangi.

Makanan tersebut tentunya bercita rasa manis gurih yang menjadi kesukaan siapapun. Ada klepon, onde-onde, lupis, wajik, kue talam, dan masih banyak lagi. 4. Rujak Tingkep Merupakan makanan untuk 7 bulanan adat Jawa yang masuk dalam salah satu ritual Kenduren Mitoni. Di dalam rujak tersebut terdapat tujuh macam buah-buahan seperti nanas, bengkoang, mangga, dan lainnya yang disiram dengan kuah asam manis pedas.

Sebelum menyantap makanan tersebut, calon 7 bulanan adat jawa dan ibu melakukan proses ritual kemudian rujak akan dibagi kepada tamu undangan. Ritual pembagian rujak tingkep biasa dikenal dengan nama dodol rujak merupakan sesi terakhir dari rangkaian acara tujuh bulanan khas suku Jawa. Sangat pas jika rujak tersebut dibagikan paling terakhir sebagai pencuci mulut yang segar setelah puas menyantap beragam hidangan lainnya.

5. Dawet Dawet adalah minuman segar berbahan dasar tepung sagu, gula merah, gula aren, santan kelapa dan daun pandan. Es dawet juga menjadi sajian penutup yang pembagiannya dilakukan bersamaan dengan rujak tingkep.

Cara membaginya juga unik, calon ibu dan ayah seperti sedang berjualan minuman, kemudian tamu yang ingin minuman tersebut membeli dengan memberikan uang koin dari tanah liat.

6. Sajen Medikingan Makanan untuk 7 bulanan adat Jawa berikutnya adalah Sajen Medikingan yang merupakan satu nampan berisi nasi dan lauk pauk serta bubur procot. Uniknya, tidak hanya terdapat satu jenis nasi saja yang tersaji di sajen tersebut, tetapi ada dua yakni tumpeng nasi kuning dan nasi loyang.

Untuk lauk utama sendiri, umumnya disajikan satu ekor ayam bakar utuh beserta lalapannya. 7. Tumpeng Kuat Meski namanya tumpeng, jangan salah paham, sebab yang tersaji di dalam 7 bulanan adat jawa bukanlah nasi, melainkan urap-urapan tanpa cabe. Lauk pendamping juga lebih sederhana seperti telur rebus dan beberapa gorengan. Makna dari tumpeng tersebut yakni agar bayi yang dilahirkan kelak berbadan sehat dan kuat. Baca Juga : Perkawinan Adat Jawa Tengah dan Prosesinya Makanan untuk 7 bulanan adat Jawa memang syarat akan beragam makna serta filosofi yang mendalam.

Bukan hanya sekedar kudapan acara pesta biasa untuk menyenangkan tamu undangan. Penyajiannya yang khusus, juga menambah nilai sakral dari acara tersebut. Tentunya makanan yang tersaji pasti memiliki maksud dan tujuan serta doa untuk kelancaran ibu dan bayi saat proses lahiran nanti. Bagaimana, sangat menarik bukan? Cara Menghitung 7 Bulanan Adat Jawa. Tips ke karimun jawa all about karimun jawa !!

Bulan yang direkomendasikan untuk sunatan adalah bulan jumadilakhir, bulan rejeb (rajab), bulan ruwah (sya'ban), dan bulan besar. Filosofi Mitoni: Ritual Tujuh Bulanan Dalam Adat Jawa – Lifestyle Fimela.com from www.fimela.com 10/11/2021 · 7 bulanan itu habis berapa duit, acara tujuh bulanan sederhana, berapa budget 7 bulanan, biaya 7 bulanan bayi, biaya 7 bulanan kehamilan, biaya. € upacara kebiasaan hidup manusia / adat jawa, cara menghitung pitonan bayi, cara.

Memilih hari baik untuk khitanan tidak berbeda jauh dengan memilih hari baik untuk pernikahan dan keperluan penting (hajatan) yang lain. Download Gambar Source: youngmom.hipwee.com Rasa antusias sekaligus cemas akan menghantui calon orangtua menjelang hari persalinan tiba. Proses pemberian anak adalah dengan kehamilan selama 9 bulan, oleh karena itu. Bulan yang direkomendasikan untuk sunatan adalah bulan jumadilakhir, bulan rejeb (rajab), bulan ruwah (sya'ban), dan bulan besar. Cara ngitung 7 bulanan adat jawa?

Download Gambar Source: tapanuli.delinewstv.com Proses pemberian anak adalah dengan kehamilan selama 9 bulan, oleh karena itu. Acara tersebut kerap dilakukan guna memanjatkan syukur atas kehamilan calon ibu pada saat usia kandungan memasuki umur 7. Berbagai macam tradisi hadir dari berbagai sudut daerah.

Untuk itulah, tradisi mitoni digelar dengan tujuan menghaturkan doa dan harapan. Download Gambar Source: lokadata.id Perkara mengenai ibadah dan adat istiadat ini telah dijelaskan oleh ibnu taimiyah bahwa: Seperti yang dikutip dari wikipedia, upacara tingkeban adalah salah satu tradisi masyarakat jawa, upacara ini disebut juga mitoni berasal dari kata pitu yang arti nya tujuh.

Cara menghitung 7 bulanan adat jawa. Pada usia ini, umumnya janin yang ada di dalam kandungan sudah hampir sempurna. Download Gambar Source: youngmom.hipwee.com Oleh fungsi diposting pada 24 desember 2021.

Pada usia ini, umumnya janin yang ada di dalam kandungan sudah hampir sempurna. Itulah 10 tahapan prosesi 7 bulanan adat jawa atau kerap disebut dengan nama mitoni. Travellers from s.kaskus.id bndaaa share q bngng klo orng jawa mau 7 bulanan cara ngitungnya g mn yyyy. Download Gambar Source: borobudurnews.com Cara menghitung 7 bulanan adat jawa : Tedak siten merupakan budaya warisan leluhur masyarakat jawa untuk bayi yang berusia.

Dalam rangkaian acara adat pun dilakoninya sesuai dengan tata cara yang biasa dilakukan. Proses pemberian anak adalah dengan kehamilan selama 9 bulan, oleh karena itu. Download Gambar Source: www.sarihusada.co.id Travellers from s.kaskus.id bndaaa share q bngng klo orng jawa mau 7 bulanan cara ngitungnya g mn yyyy. Perhitungan ini dilakukan berdasarkan kalendar jawa, dimana. Berbagai macam tradisi hadir dari berbagai sudut daerah. Ada yang tau tata cara 7 bulanan yg bener ??

Download Gambar Source: chara.my.id Travellers from s.kaskus.id bndaaa share q bngng klo orng jawa mau 7 bulanan cara ngitungnya g mn yyyy. Jual stiker tasyakuran 7 bulanan dengan harga rp1000 dari 7 bulanan adat jawa online percetakan dhuy kab. 7 bulanan adat jawa · mitoni tradisi adat jawa merayakan 7 bulanan anak pertama popmama com from cdn.popmama.com cara menghitung 3 bulanan bayi adat jawa.

Cara menghitung 7 bulanan adat jawa : Download Gambar Source: www.starjogja.com Cara perhitungan masa subur, saya masih bingung, tolong dibantu bunda. Ritual 7 bulanan alias mitoni salah satunya, acara ini sudah berlangsung sejak zaman nenek moyang dan masih dilestarikan hingga saat ini.

Dalam tradisi tingkeban tujuh bulanan orang hamil pertama kali cara penghitungannya sama dengan penghitungan untuk. Proses pemberian anak adalah dengan kehamilan selama 9 bulan, oleh karena itu. Download Gambar Source: chara.my.id September 23, 2021 admin cara terbaru 0. Acara 7 bulanan kehamilan adat jawa, cara menghitung 7 lapan bayi. Oleh fungsi diposting pada 24 desember 2021. Hanya saja esensinya tetap sama, yaitu mencari keselamatan material dan spiritual bagi pasangan, calon anak serta keluarga.

Download Gambar Source: arifpurnam4.blogspot.com Masyarakat jawa menandai usia kehamilan tujuh bulan itu dengan sapta kawasa jati. Pada usia ini, umumnya janin yang ada di dalam kandungan sudah hampir sempurna.

Travellers from s.kaskus.id bndaaa share q bngng klo orng jawa mau 7 bulanan cara ngitungnya g mn yyyy. Tips ke karimun jawa all about karimun jawa !! Download Gambar Source: www.fimela.com Tata cara selamatan kehamilan 4 bulan dan 7 bulan.

Memilih hari baik untuk khitanan tidak berbeda jauh dengan memilih hari baik untuk pernikahan dan keperluan penting (hajatan) yang lain. Acara 7 bulanan hamil, acara nujuh bulanan adat jawa, adat tujuh bulanan jawa, cara hitung tujuh bulanan, cara mencari hari baik tujuh bulanan, cara menghitung acara 7 bulanan kandungan, hari baik acara 7 bulanan, hari baik mitoni, hari selamatan ibu hamil dan bayi, kapan 7 bulanan.

Mitoni sendiri berasal dari kata “pitu” yang artinya adalah angka tujuh. Download Gambar Source: www.hipwee.com September 23, 2021 admin cara terbaru 0. Cara menghitung 7 bulanan adat jawa. Acara 7 bulanan kehamilan adat 7 bulanan adat jawa, cara menghitung 7 lapan bayi. Berbagai macam tradisi hadir dari berbagai sudut daerah. Salah Satu Upacara Adat Yang Kerap Dilakukan Oleh Orang Jawa Juga Umat Islam Di Indonesia Ialah Acara Nujuh Bulan Atau Dalam Tradisi Jawa Disebut Mitoni Atau Tingkeban.

Cara menghitung 7 bulanan adat jawa. Tips ke karimun jawa all about karimun jawa !! Rasa antusias sekaligus cemas akan menghantui calon orangtua menjelang hari persalinan tiba. Untuk Itulah, Tradisi Mitoni Digelar Dengan Tujuan Menghaturkan Doa Dan Harapan.

Meskipun tradisi mitoni memiliki bentuk yang beragam di berbagai daerah. Acara tersebut kerap dilakukan guna memanjatkan syukur atas kehamilan calon ibu pada saat usia kandungan memasuki umur 7.

Perhitungan ini dilakukan berdasarkan kalendar jawa, dimana. Ada Yang Tau Tata Cara 7 Bulanan Yg Bener ?? 12.11.2021 · mitoni tradisi adat jawa merayakan 7 bulanan anak pertama popmama com from cdn.popmama.com cara menghitung 3 bulanan bayi adat jawa. Pada masa kehamilan, pada umumnya masyarakat jawa melakukan beberapa syukuran, salah satunya yaitu syukuran 7 bulanan atau yang sering disebut sebagai mitoni (hamil 7 bulan). Acara 7 bulanan.dalam setiap acara apapun termasuk acara 7 bulanan ini biasanya ada seseorang yang ditunjuk sebagai mc atau pembawa acara.

Mitoni Tradisi Adat Jawa Merayakan 7 Bulanan Anak Pertama Popmama Com From Cdn.popmama.com Cara Menghitung 3 Bulanan Bayi Adat Jawa. Yakni selamatan kehamilan usia 7 bulan, maksudnya adalah sudah genap. Masyarakat jawa menandai usia kehamilan tujuh bulan itu dengan sapta kawasa jati.

Mitoni merupakan salah satu upacara untuk memperingati usia kehamilan 7 bulan. Cara Menghitung 7 Bulanan Adat Jawa. Dalam tradisi tingkeban tujuh bulanan orang hamil pertama kali cara penghitungannya sama dengan penghitungan untuk. Acara 7 bulanan hamil, acara nujuh bulanan adat jawa, adat tujuh bulanan jawa, cara hitung tujuh bulanan, cara mencari hari baik tujuh bulanan, cara menghitung acara 7 bulanan kandungan, hari baik acara 7 bulanan, hari baik mitoni, hari selamatan ibu hamil dan bayi, kapan 7 bulanan.

Ritual 7 bulanan alias mitoni salah satunya, acara ini sudah berlangsung sejak zaman nenek moyang dan masih dilestarikan hingga saat ini. Post navigation
Orang Jawa atau sering dikenal dengan wong jowo merupakan salah satu suku 7 bulanan adat jawa di Indonesia yang memiliki daya 7 bulanan adat jawa dan kreatif yang sangat luar biasa.

Orang Jawa juga dikenal pandai memaknai segala sesuatu yang ada dalam hidup ini, sehingga tidak heran jika seringkali wisatawan luar ingin belajar tentang budaya Jawa. Budaya Jawa yang merupakan tradisi turun temurun ini tidak jarang yang sudah dibukukan dalam kitab yang oleh karena 7 bulanan adat jawa pada jaman dulu, tidak ditulis dengan alfabet, tetapi dengan tulisan Jawa. Oleh karena itu, biasanya wisatawan mancanegara berusaha dengan berbagai cara untuk bias membaca dan menulis tulisan Jawa yang dikenal dengan aksara Jawa.

Dengan kepandaian dan daya imajinasi yang luar biasa ini, menjadikan masyarakat Jawa memiliki aneka tradisi yang beragam yang memiliki makna dan simbolik tersendiri. Hal inilah yang menjadi salah satu karakteristik dari masyarakat Jawa salah satunya dengan adanya tradisi mitoni.

Perlu untuk anda ketahui, ada banyak sekali berbagai macam kata-kata yang dimaknai dalam Jawa. Berbagai macam kata-kata tersebut juga masih dijadikan sebagai kata untuk ucapan kesehariannya seperti halnya telinga yang dibilang kuping. Pada masyarakat Jawa, kuping diartikan sebagai sesuatu yang kaku njepiping, tebu diartikan sebagai anteping kalbu, serta pisang ayu yang disimbolkan sebagai suatu harapan akan kehidupan yang tentrem serta rahayu, dan masih banyak lagi berbagai macam kata-kata simbolik yang lainnya.

Oleh karena itu, kita seringkali harus mencerna suatu kata atau kalimat yang diucapkan oleh orang Jawa sebelum bertindak, karena bisa jadi kalimat tersebut bukanlah maksud yang sebenarnya alias sebagai kiasan. Masyarakat Jawa yang telah melahirkan beragam upacara adat. Upacara – upacara adat tersebut kebanyakan benilai spiritual yang tinggi. Selain itu, banyak juga yang mempunyai makna untuk menunjukkan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa serta untuk berbagi kepada kerabat dan tetangga.

Salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga 7 bulanan adat jawa adalah mitoni. Dalam masyarakat Jawa, tradisi ini merupakan peringatan siklus kehidupan seseorang yang dimulai dari dalam kandungan. Mitoni merupakan salah 7 bulanan adat jawa upacara untuk memperingati usia kehamilan 7 bulan. Masyarakat Jawa menandai usia kehamilan tujuh bulan itu dengan sapta kawasa jati. Dimana sapta memiliki pengertian 7, kawasa berarti kekuasaan dan jati adalah nyata.

Semua makna kata tersebut dijadikan satu didalam suatu tradisi mitoni yang bertujuan untuk menunjukkan rasa syukur karena Yang Maha Kuasa telah memberikan keselamatan jabang bayi (janin) hingga usia kandungan 7 bulan dan harapan / doa agar bayi lahir secara sehat dan sempurna tanpa adanya suatu masalah.

Memang secara medis, pada usia kehamilan yang ke 7 bulan, janin sudah memiliki organ yang hampir lengkap, dan mulai dapat mengontrol nafas, suhu tubuh, dll sehingga resiko untuk mengalami masalah pada kehamilan dapat dikatakan lebih rendah dibandingkan pada fase awal kehamilan.

Oleh karena itu, masyarakat Jawa menunjukkan rasa syukurnya dengan tradisi mitoni ini. Tradisi mitoni ini dimulai 7 bulanan adat jawa acara siraman yang dalam Bahsa Indonesia berarti mandi. Maksud dari mandi disini diartikan sebagai membersihkan serta mensucikan calon ibu serta bayi yang ada didalam kandungan agar suci secara lahir maupun batin. Pada acara siraman ini, air yang digunakan berasal dari 7 sumber yang berbeda. Sumber dalam 7 bulanan adat jawa Jawa dapat diartiken sebagai sumur, sehingga sebelum pelaksanaan prosesi siraman, pemilik hajat akan meminta air dari 7 tetangganya.

Pada saat ini, banyak masyarakat Jawa khususnya yang tinggal di kompleks perumahan mengalami kesulitan mencari air dari 7 sumber, karena penggunaan air dari PDAM atau dengan tower air tersentral untuk satu komplek.

Oleh karena itu, banyak yang mengakalinya dengan menggunakan air minum dalam kemasan yang menggunakan sumber air berbeda (subner air biasanya dicantumkan pada kemasan air minum). Pada tahap siraman ini dilakukan dari calon nenek dan kakek, kemudian dilanjutkan sanak saudara. Usai menjalani siraman, calon ibu akan menjalani prosesi brojolan.

Pada prosesi ini, calon ibu berbusana kain jarit yang di ikat longgar dengan latrek yang dalam bahasa Jawa berarti sejenis benang warna merah, putih dan hitam. Warna merah melambangkan kasih sayang, warna putih melambangkan tanggung jawab, serta warna hitam melambangkan kekuasaan Yang Maha Kuasa yang telah mempersatukan kedua orang tuanya. Prosesi ini dilaksanakan dengan cara calon bapak memasukkan kelapa gading ke dalam kain jarit calon ibu dari atas dan mengeluarkannya dari bawah.

Prosesi ini memiliki makna, memohon kepada Yang Maha Kuasa agar pada proses persalinan dapat berjalan lancar. Pernah dengar tentang prosesi Mitoni atau 7 bulanan adat Jawa? Prosesi ini telah dilakukan secara turun-temurun sejak dulu. Prosesi ini dilakukan khusus untuk ibu hamil yang telah mengandung selama 7 bulan.

Ini dilakukan untuk mempersiapkan kelahiran serta doa kepada Yang Maha Kuasa agar calon bayi diberikan Kesehatan hingga masa persalinan. Sejarah Budaya Mitoni dalam Adat Jawa source: id.theasianparent.com Mitoni berarti tujuh yang kata awalnya berasal dari kata “pitu”. Pada acara ini, keluarga memang memohon keselamatan calon bayi hingga masa persalinan tiba.

Namun, tidak hanya hal itu saja.

7 bulanan adat jawa

Keluarga juga berdoa agar bayi yang lahir kelak menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua dan berbudi pekerti luhur. Ada banyak perlengkapan yang harus dipersiapkan untuk prosesi Mitoni ini.

Perlengkapan yang disediakan tidak sembarangan, beberapa perlengkapan harus tepat berjumlah 7 buah. Contohnya seperti kain batik dan kemben. Untuk kemben bahkan disarankan menggunakan 7 warna berbeda yang telah dianjurkan secara turun-menurun. Selain kemben dan batik, air yang digunakan untuk tahapan siraman juga dulunya diambil dari 7 sumber air yang berbeda-beda. Air ini diletakkan dalam satu wadah bersama beragam kembang, seperti mawar, melati dan kenanga.

Untuk tahapan prosesi Mitoni ini, berikut 10 hal yang harus dilakukan: 1. Sungkeman Ritual 7 bulanan adat Jawa ini dimulai dengan prosesi sungkeman. Sungkeman dilakukan langsung oleh calon orang tua atau calon ayah dan ibu bagi si bayi. Sungkeman memiliki makna mendalam, yaitu mohon doa restu yang besar untuk calon anak agar diberi keselamatan dan kesejahteraan.

Calon ibu dan calon ayah bayi akan melakukan sungkem kepada para eyang dan sesepuh dari dua belah pihak keluarga. Biasanya kepada orang tua dari pihak wanita, orang tua dari pihak laki-laki, dan beberapa sesepuh lain yang berhak. Keseluruhan sesepuh pada prosesi ini biasanya berjumlah 7 orang.

2. Siraman Pada prosesi siraman, calon ibu akan dimandikan atau disiram dengan air dengan beragam kembang yang telah disiapkan sebelumnya. Calon ibu akan memakai lapisan kain batik dan duduk pada alas duduk yang juga telah disiapkan.

Pada zaman dulu, air yang digunakan harus menggunakan air yang berasal dari 7 sumber mata air. Siraman dilakukan oleh 7 orang sesepuh atau pihak keluarga yang telah disepakati bersama. Biasanya, yang ditunjuk untuk melakukan prosesi siraman ini adalah suami dari calon ibu, orang tua calon ibu, dan ibu dari calon ayah bayi. Orang-orang yang ditunjuk ini diharapkan kelak dapat menjadi pengayom yang baik bagi anak. 3. Ngrogoh Cengkir Cengkir adalah tunas kelapa, berasal dari Kata kencengen yang berarti pikiran yang kuat.

Pada tahap ini calon ayah akan mempersiapkan tunas kelapa untuk digunakan pada tahap berikutnya. Kenapa tahapan ini menggunakan tunas kelapa? Hal ini disebabkan banyak orang mempercayai bahwa pohon kelapa memiliki sejuta manfaat.

Seluruh bagian kelapa rata-rata bisa digunakan untuk banyak hal. Selain isinya, mulai dari akar, batang pohon, daun, hingga tempurung kelapa bisa dimanfaatkan. Itu sebabnya prosesi ini menggunakan tunas kelapa. Tunas kelapa yang digunakan juga kadang-kadang dilukis dengan tokoh pewayangan 7 bulanan adat jawa harapan si anak akan mewarisi sifat-sifat baik tokoh Baca juga: Pantangan Ibu Hamil Adat Jawa 4.

Brojolan Brojolan pada 7 bulanan adat Jawa ini dimaksudkan sebagai simulasi kelahiran calon bayi. Cengkir yang telah disiapkan calon ayah sebelumnya akan digunakan untuk simulasi kelahiran ini. Tunas kelapa akan diluncurkan atau dimasukkan ke balik kain yang digunakan calon ibu. Ritual ini dilakukan dengan membuat permohonan agar si anak yang lahir nanti diberikan anugerah berupa ketampanan untuk bayi laki-laki dan kecantikan untuk bayi perempuan. Ketika kelapa diluncurkan dari balik kain, kelapa akan disambut seperti menyambut seorang bayi.

5. Belah Cengkir Setelah melakukan prosesi brojolan, cengkir atau tunas kelapa yang digunakan tadi akan dibelah oleh calon ayah. Dulu, hal ini dimaksudkan untuk memprediksi jenis kelamin anak.

Jika bayi laki-laki, maka air kelapa yang terbelah akan banyak keluar dari tempurung kelapa. Jika bayi perempuan, air kelapa yang keluar hanya berupa rembesan saja.

6. Mantes Mantes atau kadang disebut pantes-pantes adalah prosesi 7 bulanan adat Jawa untuk pergantian pakaian calon ibu. Pada prosesi ini, calon ibu akan berganti pakaian sebanyak tujuh kali. Proses ini sangat menarik untuk diikuti. Hal ini karena ketika 7 bulanan adat jawa baju sebanyak 6 kali, para tamu akan serempak mengatakan bahwa baju yang digunakan tidak cocok. Setelah percobaan ke-7, barulah para tamu akan mengatakan baju yang digunakan cocok.

Baju tersebut akan digunakan terus sampai seluruh acara berakhir. Baju atau kain yang digunakan tentunya juga memiliki makna tersembunyi. 7.

7 bulanan adat jawa

Angreman Pada prosesi 7 bulanan adat Jawa angreman, calon ibu akan duduk di atas kain yang telah disiapkan. Kain-kain ini diambil dari kain ke-1 hingga ke-6 pada prosesi manten yang tidak jadi digunakan oleh calon ibu. Angreman ini sendiri berarti mengeram atau duduk pada posisi seperti ayam betina yang sedang mengerami telur.

Prosesi ini tentunya juga memiliki makna tertentu. Makna angreman ini adalah bahwa kelak calon ayah dan calon ibu akan menjadi orang tua yang baik untuk anak.

Calon ayah dan ibu akan bertanggung jawab penuh untuk menyayangi dan memenuhi kebutuhan hidup sampai si anak cukup dewasa. 8. Potong Tumpeng Seperti acara syukuran pada umumnya, acara 7 bulanan adat Jawa juga memiliki acara potong tumpeng. Tidak ada ketentuan khusus untuk tumpeng ini.

7 bulanan adat jawa

Pihak keluarga bebas menyajikan tumpeng dan lauk pauk yang ingin disajikan. Biasanya tumpeng berupa nasi kuning dengan hiasan berbagai macam lauk pauk di sekelilingnya. 9. Pembagian Takir Takir adalah wadah makanan yang biasanya terbuat dari daun pisang.

Biasanya takir dibentuk menyerupai kapal dan dibagikan kepada para tamu. Tentunya takir yang berbentuk kapal ini juga memiliki maksud tertentu. Takir ini semacam lambang bahwa suami istri telah siap menjadi orang tua dan kapten kapal yang baik untuk bahtera keluarga. 10. 7 bulanan adat jawa Dawet dan Rujak Prosesi terakhir dalam rangkaian acara 7 bulanan adat Jawa ini adalah dengan berjualan dawet dan rujak.

Calon ibu akan berperan sebagai penjual dawet dan rujak pada tahap ini. Dawet dan rujak dijual kepada para tamu dengan perantara tanah liat yang telah disiapkan. Dawet pada tahap ini terbuat dari tepung beras yang disajikan dengan gula merah cair dan santan. Untuk rujak sendiri, berisi 7 macam aneka buah pilihan.

Rujak pada acara ini memiliki makna yang mendalam, yaitu si anak kelak dapat berbakti untuk masyarakat dan diterima di lapisan masyarakat mana saja. Itulah 10 tahapan prosesi 7 bulanan adat Jawa atau kerap disebut dengan nama Mitoni. Bagi orang Jawa, prosesi ini sakral dan dilakukan benar-benar dengan ketulusan hati untuk si anak.

7 bulanan adat jawa

Di beberapa daerah lain juga terdapat ritual menyambut usia kandungan yang mencapai 7 bulan, namun dengan cara yang berbeda juga. Kini, prosesi Mitoni mulai pudar eksistensinya untuk kaum milenial atau ibu-ibu muda yang baru mempunyai anak. Mulai dari proses sungkeman kepada orang tua, siraman, hingga proses akhir jualan dawet dan rujak, memiliki makna tersendiri. Makna dibalik prosesi ini tentunya memiliki arti baik dan sebaiknya jangan dilupakan begitu saja.

7 bulanan adat jawa

Navigasi pos
Adat Jawa memiliki banyak sekali tradisi unik yang masih tetap bertahan hingga sekarang, yang mana salah satunya adalah mitoni atau acara tujuh-bulanan. Meskipun begitu, adat yang satu ini sudah sering ditinggalkan terutama oleh anak-anak muda Jawa jaman sekarang. Oleh karena itu, hari ini Hipwee Wedding ingin mengingatkan kalian semua akan cantiknya upacara adat yang satu ini.

Acara tujuh bulanan dimaknai sebagai permintaan akan keselamatan dan pertolongan pada Yang Maha Kuasa Mitoni, tingkeban, atau Tujuh bulanan merupakan suatu prosesi adat Jawa yang ditujukan pada wanita yang telah memasuki masa tujuh bulan kehamilan. Mitoni sendiri berasal dari kata “pitu” yang artinya adalah angka tujuh.

Meskipun begitu, pitu juga dapat diartikan sebagai pitulungan yang artinya adalah pertolongan, dimana acara ini merupakan sebuah doa agar pertolongan datang pada si bunda yang sedang mengandung. Selain mohon doa akan kelancaran dalam bersalin, acara mitoni ini juga disertai doa agar kelak si anak menjadi pribadi yang baik dan berbakti. Acara dimulai dengan prosesi siraman yang dilakukan oleh 7 kerabat terdekat dengan tujuan meminta keselamatan bagi si jabang bayi acara siraman via www.kompasiana.com Acara siraman dilakukan sebagai prosesi penyucian si ibu dan anak.

Seperti nama prosesi, air yang digunakan diambil dari tujuh sumber. Yang melakukan siraman pun adalah tujuh bapak dan ibu teladan dari kedua belah pihak, dengan nenek dan kakek si jabang bayi yang diutamakan. Siraman biasanya dilakukan di sebuah setting bernama krobongan atau bisa juga di kamar mandi.

Mitoni dilanjutkan dengan prosesi brojolan agar si bayi lahir ke dunia dengan selamat si nenek memasukkan kelapa gading ke jarik ibu via www.youtube.com Acara siraman dilanjutkan dengan acara brojolan yang biasanya dipimpin oleh nenek si jabang bayi. Selesai siraman, si calon ibu hanya memakai kain jarik yang disertai dengan sepotong tali bernama letrek. Si calon nenek kemudian akan memasukkan tropong 7 bulanan adat jawa telur ayam dari atas jarik hingga hingga jatuh dari bagian bawah.

Setelah itu, brojolan dilanjutkan dengan dua buah kelapa gading yang juga dibrojolkan dari jarik. Si nenek wajib menerima atau menangkap kelapa gading dari bawah jarik kemudian menyerahkan pada si bapak. Akhirnya, si calon bapak memotong tali letrek dengan keris sebagai pertanda suami yang dapat memotong alang rintang. Si ibu duduk atau ‘angrem’ di atas enam jarik dan ayah memotong tumpeng via www.youtube.com Setelah selesai melakukan prosesi brojolan, acara tujuh bulanan dilanjutkan dengan acara angreman.

Acara dimulai dengan si ibu yang dituntun ke ruang lain untuk berganti baju dengan tujuh macam kain jarik.

Hanya kain ketujuh lah yang akan 7 bulanan adat jawa sedangkan enam jarik yang sebelumnya dipakai akan dipakai sebagai alas duduk atau alat “angrem.” Prosesi juga biasanya disertai dengan si ibu yang disuapi oleh si ayah dengan nasi tumpeng dan bubur merah putih.

7 bulanan adat jawa

Hal tersebut menandakan si ibu yang akan selalu menjaga si anak dan juga ayah yang akan selalu menghidupi keluarganya. Prosesi mecah kelapa, pengharapan akan jenis kelamin si calon bayi nanti si ayah akan memecah kelapa via plus.kapanlagi.com Setelah prosesi angreman, acara akan dilanjutkan dengan prosesi memecah kelapa gading yang telah diberikan oleh si nenek ke ayah. Kelapa gading tersebut biasanya telah digambari dengan tokoh wayang Kamajaya dan Kamaratih yang terkenal dengan ketampanan dan kecantikannya.

Si ayah kemudian memilih salah satu kelapa untuk dipecah. Jika ayah memilih Kamajaya, diharapkan si jabang bayi adalah laki-laki, dan Kamaratih adalah perempuan.

Acara ditutup dengan prosesi dodol rujak atau jualan rujak demi masa depan anak yang mumpuni secara finansial kereweng untuk tamu membeli rujak via kartikagriyaningtyass.blogspot.co.id Di akhir acara, si ibu akan membuat rujak yang kemudian akan dijual kepada para tamu. Para tamu pun akan membelinya dengan kereweng atau uang-uangan dari bahan tanah liat.

Prosesi ini pun merupakan sebuah harapan agar si anak dapat mendapat banyak rejeki untuk dirinya dan juga bagi kedua orang tua mereka. Dengan selesainya acara mitoni atau 7 bulanan adat jawa bulanan sebelum matahari terbenam, diharapkan si anak hadir di dunia dengan penuh keselamatan, rejeki, dan pertolongan dari Yang Maha Esa. Nah, kamu yang anak Jawa boleh mempertimbangkan untuk melestarikan budaya adat yang satu ini ya, agar generasi kita mendatang menjadi generasi yang menghargai budaya.

Bagaimana, setuju?
Ilustrasi 7 bulanan - Image from id.pinterest.com Ritual dan Hukum Syariat dalam Acara 7 Bulanan Adat Jawa - Ketahui lebih lanjut mengenai tradisi 7 bulanan disini. Pada masa kehamilan, pada umumnya masyarakat Jawa melakukan beberapa syukuran, salah satunya yaitu syukuran 7 bulanan atau yang sering disebut sebagai mitoni (hamil 7 bulan).

Lalu haruskah melaksanakannya? Dan bagaimana pandangan agama Islam tentang acara tersebut? Simak penjelasan selengkapnya berikut ini. Acara Syukuran 7 Bulanan Dalam Adat Jawa Umumnya, syukuran 7 bulanan bayi merupakan acara selamatan yang bertujuan untuk menolak bala dan 7 bulanan adat jawa keselamatan bagi anak yang sedang dikandung sekaligus Ibu yang mengandung.

Selain Mitoni, tradisi ini juga disebut dengan Tingkeban. Bun, sebelum Anda melaksanakan acara 7 bulanan, Anda harus tahu dulu kapan waktu yang tepat dan apa yang menjadi dasar diadakannya acara tersebut.

7 bulanan adat jawa

7 bulanan berapa minggu, sih? Nah, umumnya acara ini diadakan ketika kandungan menginjak usia 29-32 minggu, atau menginjak trimester ketiga. Pada usia kehamilan itu, si Kecil di dalam kandungan mengalami banyak perkembangan yang lebih pesat dari pada usia 4 bulan, karena usia kandungan 7 bulan merupakan usia persiapan awal menuju ke proses kelahiran. Adapun perkembangan yang dialami si Kecil antara lain: • Ukuran dan berat bayi bertambah Normalnya, si Kecil akan berbobot lebih dari 1 kilogram dengan panjang sekitar 38,6-39 cm.

Pertumbuhan yang semakin mendekati siap lahir ini berdampak terhadap kondisi Bunda. Anda biasanya menjadi lebih sering merasakan nyeri di bagian pinggang karena ukuran bayi yang dikandung semakin besar. Selain itu, Bunda juga akan mengalami sembelit dan lebih sering buang air kecil. • Darah mulai mengalir di jaringan kulit bayi Darah yang mulai mengalir di sekujur tubuh si Kecil ini membuat kulit yang sebelumnya keriput berangsur-angsur menjadi semakin mulus dan halus.

• Organ tubuh bayi semakin berkembang Pada usia kehamilan 7 bulan, paru-paru dan saluran pencernaan si Kecil hampir berkembang sepenuhnya. Selain itu, organ matanya juga terus membuka dan menutup. Bahkan beberapa peneliti menyebutkan bahwa menstimulasi janin di usia ini dengan cahaya bisa meningkatkan perkembangan indra penglihatannya.

Si Kecil juga telah memiliki alis dan bulu mata lho, Bun. Nah, dengan banyaknya perkembangan dan pertumbuhan penting yang dialami oleh si Kecil pada usia 7 bulan kehamilan ini, maka syukuran 7 bulan dilakukan untuk mendoakan kesehatan dan keselamatan Ibu hamil beserta bayi. Selain itu, kandungan yang menginjak usia 7 bulan juga memiliki pantangan tersendiri bagi sang Ibu dan ayah biologisnya, baik secara syariat agama maupun secara adat istiadat yang berlaku di masyarakat.

Ritual dalam Acara 7 Bulanan Adat Jawa Ilustrasi ritual 7 bulanan - Image from id.pinterest.com Apa aja sih, susunan acara dalam 7 bulanan anak? Nah, berikut 4 prosesi yang biasa dilakukan dalam acara mitoni: • Siraman Siraman dilakukan untuk menyucikan secara lahir dan batin sang Ibu sekaligus calon bayi.

Acara ini dilakukan oleh tujuh orang Bapak dan Ibu yang diteladani dari calon Ibu dan calon Ayah. Dengan menggunakan gayung dari batok kelapa, ketujuh Ibu dan Bapak terpilih tersebut menyiram calon Ibu, yang dimulai dari saudara tertua di keluarga. • Acara Brojolan Brojolan dilakukan dengan cara sang Ayah meluncurkan dua cengkir dari balik kain yang dipakai oleh sang Ibu.

Cengkir atau kelapa muda yang dipakai ini sebelumnya telah dilukis dengan gambaran Dewi Kamaratih yang melambangkan bayi wanita jelita dan Dewa Kamajaya yang melambangkan bayi pria rupawan. Kemudian acara dilanjutkan dengan prosesi membelah cengkir, prosesi ini merupakan simbol untuk membukakan jalan si calon bayi agar lahir sesuai pada jalannya.

• Pembagian Takir Pontang Takir pontang adalah tempat makanan yang akan disajikan, yang biasanya terbuat dari daun pohon pisang dan janur yang dibentuk menyerupai kapal sebagai simbol bahwa dalam mengarungi bahtera kehidupan, harus menata diri dengan menata pikiran karena laju perjalanan bahtera selalu mengalami keadaan naik turun atau pontang panting mengikuti gelombang kehidupan.

Hidangan yang sudah di letakkan di dalam takir pontang pun diberikan sebagai suguhan dan ucapan terima kasih kepada para sesepuh yang telah menghadiri upacara. • Jualan Dawet dan Rujak Acara 7 bulanan ditutup dengan prosesi jualan dawet dan rujak. Filosofi dari 2 prosesi ini adalah usaha sebagai calon orang tua untuk memenuhi kebutuhan sang anak kelak. Prosesi ini juga merupakan sebuah harapan agar kelak si anak bisa mendapatkan banyak rejeki untuk dirinya dan juga bagi kedua orang tuanya.

Oh iya, jika mitoni untuk calon 7 bulanan adat jawa yang akan mempunyai anak pertama dilakukan dengan tambahan siraman, maka acara mitoni atau acara 7 bulanan anak kedua dan seterusnya hanya dilakukan dengan prosesi selamatan kenduri saja.

Baca Juga : 1. 200+ Referensi Nama Anak Perempuan Jawa Modern 2. 6 Arti Mimpi Melahirkan Anak Perempuan Padahal Belum Menikah 3. 9 Tanda Bayi Sehat Dalam Kandungan, Bunda Wajib Tahu! Syariat dalam Acara 7 Bulanan Adat Jawa Meskipun 7 bulanan merupakan adat turun temurun, namun tetap saja acara ini menjadi perdebatan bagi beberapa ulama Islam, ada yang memperbolehkan dan ada pula yang tidak, hal ini karena adanya indikasi bid’ah dari ritual-ritual yang dilakukan selama prosesi 7 bulanan.

Persoalan mengenai ibadah dan adat istiadat ini telah dijelaskan oleh Ibnu Taimiyah, beliau berkata bahwasanya: “Pada asalnya ibadah itu tidak disyariatkan untuk mengerjakannya kecuali apa yang telah disyariatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan adat itu pada asalnya tidak dilarang untuk mengerjakannya kecuali apa yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Dari penjelasan tersebut, dapat kita simpulkan bahwa yang wajib dilakukan sebagai ibadah adalah hal-hal yang memang jelas telah disyariatkan dalam agama Islam.

Sedangkan untuk kegiatan yang termasuk adat istiadat yang secara turun temurun terjaga dalam suatu masyarakat, hukumnya adalah boleh-boleh saja, selama kegiatan tersebut tidak melanggar syariat yang ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam hal ini, Imam Asy- Syafi’i menjelaskan bahwa: “Hal-hal yang baru yang menyalahi Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ (kesepakatan ulama), atau atsar maka itu bid’ah yang menyesatkan. Sedangkan suatu hal yang baru yang tidak menyalahi salah satu dari keempatnya maka itu (bid’ah) yang terpuji.” Jadi, semua kembali dan tergantung pada niat serta tujuan apa yang kita miliki untuk melaksanakan acara syukuran 7 bulanan tersebut.

Apakah 7 bulanan adat jawa suatu keharusan karena cemas akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada calon bayi dan Ibu yang mengandungnya. Atau sebagai salah satu upaya untuk memperbanyak doa dan sebagai salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala, yang kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar dengan cara mengadakan syukuran dan menjamu mereka dengan makanan dan minuman.

Dalam agama Islam, acara syukuran atau peringatan memang bukanlah hal yang wajib. Akan tetapi, acara yang dilakukan dengan mewah dan menghambur-hamburkan uang juga tidak diperbolehkan dalam Islam.

Oleh karena itu, sebaiknya adakan acara 7 bulanan sederhana, jangan yang terlalu mewah, apalagi jika niatnya adalah sebagai ajang menyombongkan diri bahwa Anda mampu dan kaya untuk membagikan banyak makanan kepada tetangga sekitar.

Namun, perihal membagi-bagikan makanan kepada para tamu undangan ini menurut Madzhab Syafi’i adalah sunnah, selama hal tersebut diniatkan untuk menunjukkan rasa syukur atas nikmat dan rezeki yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan sebagai bentuk bersedekah kepada saudara atau para tamu undangan.

Yang mana dalam proses acara tersebut, juga bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk saling mempererat tali silaturahmi antar tamu undangan. Nah, mengenai hal ini, Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Lau du’iitu ila kuraa la ajabtu Artinya: “Seandainya aku diundang untuk jamuan makan sebesar satu paha belakang (kambing), pasti akan aku penuhi” (HR. Bukhari) Selain itu, acara syukuran 7 bulanan yang memberikan suguhan kepada para tamu undangan juga termasuk sedekah, yang mana perihal sedekah tersebut adalah ibadah yang sangat besar pahalanya.

Demikianlah penjelasan tentang acara 7 bulanan ini. Semoga bermanfaat.• #RAMADAN • #COVID-19 • Community • Pregnancy • Getting Pregnant • First Trimester ( 1 - 13 weeks ) • Second Trimester ( 14 - 27 weeks ) • Third Trimester ( 28 - 41 weeks ) • Birth • Baby • 0-6 months • 7-12 months • Kid • 1-3 years old • 4-5 years old • Big Kid • 6-9 years old • 10-12 years old • Life • Relationship • Health and Lifestyle • Home and Living • Fashion and Beauty •  Keberagaman budaya di Indonesia membuat setiap daerah mempunyai tradisi masing-masing dalam merayakan kehadiran bayi di dalam kandungan.

Salah satunya seperti tradisi yang dilakukan masyarakat Jawa. Budaya Jawa memang menanamkan pada masyarakat prinsip golek slamething dhiri (mengejar keselamatan dalam hidup dan keselamatan jiwa di akhirat), sehingga segala bentuk syukuran bertujuan untuk keselamatan diri, keluarga serta masyarakat. Contohnya tradisi Mitoni, tradisi ini dilakukan demi mendoakan keselamatan ibu hamil melewati tujuh bulanan anak pertamanya.

Masyarakat 7 bulanan adat jawa percaya bayi berusia tujuh bulan di dalam kandungan memiliki jiwa yang keamanannya harus dirayakan. Apalagi anak pertama dipercaya dapat membawa keberuntungan bagi keluarga dan saudara-saudara yang lain. Seperti kata pepatah, begitu banyak tempat, begitu banyak adat, sehingga membuat Mitoni dipraktekkan berbeda-beda di setiap daerah yang berbeda.

Upacara di luar ruangan melambangkan kerendahan hati rakyat biasa dan ungkapan syukur mereka kepada Tuhan. Sedangkan, upacara di dalam ruangan hanya dikhususkan bagi keluarga kerajaan atau bangsawan. Ingin tau informasi selengkapnya mengenai tradisi tujuh bulanan adat Jawa ini? Dilansir dari laman Javaans, berikut Popmama.com telah merangkum ulasannya. Pexels/Artem Beliaikin Diawali dengan ritual kenduri, yakni ritual berkumpul bersama kerabat atau tetangga untuk makan dan berdoa sesuai dengan kepercayaan.

Pemimpin ritual duduk bersila di atas alu kayu yang biasa digunakan untuk menumbuk padi. Hal ini melambangkan penghapusan kejahatan dan bencana yang akan datang.

Makanan yang disajikan berupa makanan tradisional, bahkan memiliki makna masing-masing. Puding beras merah putih melambangkan kekuatan fisik, lalu dua buah kelapa bergambar tokoh pasangan terkenal yakni Arjuna dan Sumbadra. Tokoh pasangan ini mencerminkan harapan bagi orangtua akan penampilan serta sifat bayi yang akan lahir 7 bulanan adat jawa masa mendatang.

Jika laki-laki diharapkan dapat tampan dan sopan seperti Arjuna, lalu apabila perempuan maka akan cantik dan setia seperti Sumbadra. Freepik/wayhomestudio Pada ritual ini, calon Mama harus menyapa orangtua dengan penuh pengabdian dan kesopanan.

Dirinya harus memberi sungkeman atau ngabekti di depan orangtuanya. Salam hormat dilakukan dengan cara telapak tangan rapat, ujung jari ke atas sementara kedua ibu jari menyentuh hidung. Orangtua duduk di kursi seperti raja dan ratu.

Kemudian calon Mama akan maju ke depan dengan berlutut untuk mencium lutut kanan kedua orangtuanya.

7 bulanan adat jawa

Hidungnya sedikit menyentuh lutut kanan kedua orangtuanya, lalu kedua telapak tangan berada di atas lutut. Saat melakukan ini, ibu hamil akan mengucapkan “Saya memberikan restu saya.

Saya meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat dan saya meminta restunya,” Pixabay/zerin117 Ritual 7 bulanan adat jawa dapat dilakukan baik di kamar mandi atau halaman belakang rumah. Siraman berasal dari kata siram yang berarti mandi. Ritual mandi suci ini dilakukan untuk menyucikan ibu hamil serta bayi di dalam kandungan. Gerabah diisi dengan air dan bunga siraman seperti mawar, melati, magnolia serta kenanga. Air yang digunakan, yakni air suci dari tujuh mata air. Calon Mama tidak diperkenankan menggunakan perhiasan dan hanya mengenakan kain longgar saja.

Dirinya diantar oleh beberapa perempuan ke tempat pemandian. Setelah itu, duduk di kursi beralaskan tikar yang bertabur beragam jenis daun seperti opok-opok, alang-alang, oro-oro, dadap srep, dan awar-awar yang menggambarkan keselamatan, serta daun kluwih yang melambangkan kehidupan yang lebih sejahtera.

Biasanya terdapat tujuh orang yang memandikan, tujuh orang dalam bahasa Jawa artinya pitu. Dengan begitu, mereka bisa memberikan pitulungan yang artinya pertolongan.

lucedale.co Dalam proses ini, dua buah kelapa muda yang dipahat dengan ukiran gambar Dewa Kamajaya dan Dewi Ratih telah disiapkan. Tanpa melihat kelapa, sang calon Papa akan memilih kelapa dan memotongnya dengan pisau.

7 bulanan adat jawa

Jika kelapa terbelah menjadi dua, para tamu akan mengatakan ini anak perempuan, namun bila dari kelapa muncul pancuran seperti santan, maka para tamu akan berkomentar ini anak laki-laki. Pexels/motomoto sc Dalam bahasa Jawa, angrem berarti penetasan telur. Calon orangtua duduk di atas tumpukan kain batik seolah-olah duduk di atas telur, ini melambangkan kelahiran bayi yang selamat pada waktu yang tepat. Sembari duduk, mereka bersama-sama memakan hidangan yang telah dihidangkan di atas piring batu besar atau yang biasa kita sebut sebagai 7 bulanan adat jawa.

Cobek ini menggambarkan plasenta bayi lho, Ma. Freepik/rawpixel.com Di akhir ritual, kedua orangtua calon bayi menjual rujak dan dawet yang akan dibeli oleh para tamu. Rujak melambangkan semangat hidup dan dawet menggambarkan kelahiran bayi yang lancar dan aman. Nah, demikianlah rangkuman informasi seputar tradisi Mitoni yang dilakukan ibu hamil beradat Jawa untuk merayakan tujuh bulanan anak pertama.

Meskipun tradisi Mitoni memiliki bentuk yang beragam di berbagai daerah. Hanya saja esensinya tetap sama, yaitu mencari keselamatan material dan spiritual bagi pasangan, calon anak serta keluarga. Baca juga: • Unik dan Punya Makna, Begini 5 Tradisi Ibu Hamil di India • Unik, Begini Tradisi Pemberian Nama Bayi Berdasarkan Adat Sunda • Kimmy Jayanti dan Suami Rayakan 7 Bulanan dengan Tradisi India

Cinematic Mitoni atau Siraman 7 Bulanan Video, Hihi & Jojo




2022 www.videocon.com