Pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi

pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi

Sucikan Harta Kita Tentang Zakat Zakat merupakan salah satu rukun Islam dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tiang syariat Islam. Oleh sebab itu, hokum menunaikan zakat adalah wajib bagi setiap muslim dan muslimah yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu.

Meninggalkan kewajiban zakat berarti meninggalkan salah satu rukun Islam, dosa besar bagi mereka yang meninggalkan. Bila rukun Islam, seperti membaca syahadat, sholat, puasadan haji memiliki hubungan langsung dengan Allah SWT. Zakat tidak saja memiliki hubungan langsung dengan Allah, tetapi juga memiliki hubungan dengan manusia secara sosiologis. Begitu pentingnya peran zakat dalam pembangunan masyarakat Islam. Arti Zakat Menurut bahasa, kata “zakat” berarti tumbuh, berkembang, subur atau bertambah.

Dalam Al-Quran dan hadits disebutkan, “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” (QS. Al-Baqarah[2]:276); “Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka” (QS.

At-Taubah [9]: 103); “Sedekah tidak akan mengurangi harta” (HR. Tirmizi). Menurut istilah, dalam kitab al-Hawi, al-Mawardi mendefinisikan zakat dengan nama pengambilan tertentu dari harta yang tertentu, menurut sifat-sifat tertentu, dan untuk diberikan kepada golongan tertentu.

Adapun kata infak dan sedekah, sebagian ahli fikih berpendapat bahwa infak adalah segala macam bentuk pengeluaran (pembelanjaan), baik untuk kepentingan pribadi, keluarga, maupun yang lainnya. Sementara kata sedekah adalah segala bentuk pembelanjaan (infak) di jalan Allah.

pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi

Berbeda dengan zakat, sedekah tidak dibatasi atau tidak terikat dan tidak memiliki batasan-batasan tertentu. Sedekah, selain bisa dalam bentuk harta, dapat juga berupa sumbangan tenaga atau pemikiran, dan bahkan sekedar senyuman. Hukum Zakat Zakat merupakan salah satu rukun Islam dan menjadi salah satu unsur pokok tiang penegakan syariat Islam. Oleh sebab itu, hukum menunaikan zakat adalah wajib bagi setiap muslim dam muslimah yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Allah SWT berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat.

Dan yang demikian itulah agama yang lurus” (QS. Al-Bayyinah[98]:5). Rasulullah Saw bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalahutusan-Nya; mendirikan shalat; melaksanakan puasa (di bulan Ramadhan); menunaikan zakat; dan berhaji ke Baitullah (bagi yang mampu)” (HR.

Muslim). Yang Wajib Mengeluarkan Zakat Zakat adalah fardu‘ain bagi setiap muslim.

pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi

Bagi laki-laki dan perempuan. Bahkan anak-anak dan orang gila sekalipun memiliki kewajiban yang sama bila hartanya sudah memenuhi syarat yang telah ditetapkan. Macam-macam Zakat • Zakat nafs (jiwa), disebut juga zakat fitrah. Harta yang wajib dikeluarkan pada bulan Dan sebelum pelaksanaan sholat Idul fitri. • Zakat maal (harta). Harta yang sudah memenuhi syarat tertentu dan waktu tertentu pula, wajib mengeluarkan zakat maal.

Jenis-jenis Harta Yang Wajib Zakat • Emas dan perak (baik sebagai mata uang ataupun bukan) • Binatang ternak, yaitu; unta, sapi dan kambing • Barang dagangan dan keuntungannya • Hasil pertanian dan buah-buahan Syarat dan Sebab Harta Wajib Zakat • Memenuhi Nishab adalah jumlah/ ukuran minimal harta yang menyebabkan harta tersebut wajib mengeluarkan zakat. • Telah mencapai haul, yaitu jika harta tersebut telah berlalu satu tahun hijriyyah, kecuali untuk harta berupa hasil pertanian dimana waktu wajib zakatnya adalah saat Haul jadi syarat bagi harta yang sudah mencapai nishab untuk dikeluarkan zakatnya.

Penerima Zakat Golongan yang berhak menerima zakat ada delapan yaitu: • Fuqara’ (faqir) adalah orang yang tidak memiliki harta benda untuk bias mencukupi kebutuhan hidupnya • Masakin (miskin) adalah orang yang memiliki harta benda atau pekerjaan namun tidak bias mencukupi • Amilin (amil) adalah orang-orang yang bekerja mengurus zakat dan tidak diupah selain dari zakat.

• Mu’allaf, orang yang baru masuk Islam. Atau bias juga orang Islam yang masih lemah dalam menjalankan syariat Islam. • Riqab (budakMukatab) adalah budak yang di janjikan merdeka oleh tuannya setelah melunasi sejumlah tebusan yang sudah disepakati bersama dan juga dibayar secara • Gharimin, orang memiliki tanggungan • Sabilillah, adalah orang yang berperang di jalan Allah dan tidak mendapatkan • Ibnu Sabil, adalah orang yang memulai bepergian dari daerah tempat zakat (baladuzzakat) atau melewati daerah tempat zakat.

Contoh Zakat Profesi Insan TAMZIS • Nishob Zakat berdasar hukum Islam seniali 85 gram emas. Misal: Harga emas/ gram bulan Maret 2015 yaituRp. 500.000,- Jadi, 500.000,- x 85 gram = 42.500.000,-/ tahun Kemudian, 42.500.000,- : 12 bulan = 3.541.600,-/ bulan Dan dibulatkanmenjadi = Rp.

3.500.000,- Maka Nishob zakat Profesi setiap bulan Maret sebesar Rp. 3.500.000,- • Penetapan Zakat berdasarkan pendapatan BRUTO pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi kotor) sebelum • Kadar Nishob yang harus dikeluarkan dari zakat profesi karyawan TAMZIS Rp. 3.500.000,- x 2,5% = Rp. 87.500,- SEDEKAH ON TAMZIS Pahalanya Berlipat-lipat Landasan Infak/ Sedekah Islam memerintahkan umatnya untuk saling membantu dan saling menolong antar sesama. Salah satunya dengan infak dan sedekah, antara lain melalui ayat Al-Quran dan hadit ssebagai berikut: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Quran) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rejeki yang kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi”.

(QS 35:29) “….yaitu orang yang berinfak baik diwaktu lapang maupun sempit”. (QS Al-Imran:134). “Setiap ruas jari-jari yang pada manusia itu bias memberikan sedekah pada setiap hari yang diterbiti matahari.

Berbuat adil diantara dua orang yang berselisih adalah sedekah. Setiap langkah yang pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi untuk pergi shalat adalah sedekah. Dan menyingkirkan sesuatu yang dapat mengganggu dijalan adalah sedekah. (HR Bukhari dan Muslim).

Para jumhur mufasir dan ulama kontemporer juga menyepakati suatu kondisi sosial yang mewajibkan orang untuk peduli. Pada banyak riwayat dikatakan bahwa infak dan sedekah bukan mengurangi harta, bahkan sebaliknya, menjadi banyak dan berkah. Dalam hal lain juga disampaikan bahwa infak dan sedekah dapat menghindarkan orang dari bala dan kesempitan. Pengertian Infak/ Sedekah Infak berarti mengeluarkan sebagian harta untuk kepentingan yang diperintahkan ajaran Islam.

Jika zakat ada nisabnya, Infak tak mengenal nishab.Infak dikeluarkan oleh setiap orang yang beriman baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit (Qs. Ali Imran: 143). Infak boleh diberikan kepada siapapun, misalnya untuk kedua orang tua, anak yatim dan sebagainya.(QS 2:215) Sedangkan sedekah jika ditinjau dari segi terminology syari’at, pengertian sedekah sama dengan infak termasuk juga ketentuan dan hukumnya.

pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi

Hanya saja, sedekah memiliki arti luas, tak hanya menyangkut hal uang namun juga yang bersifat non materil. Hadits Imam Muslim dari Abu Dzar, Rasulullah menyatakan bahwa jika tak mampu bersedekah dengan harta maka membaca tasbih, takbir, tahmid, tahlil dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah sedekah. Sebagaimana kita yakini bahwa semua rizki dan harta yang diberikan Allah SWT kepada kita adalah amanah yang harus dijaga sekaligus merupakan ujian (Q.S.

8:28). Rizki dan harta bisa menjadikan kita lupa kepada Sang Pencipta dan bisa membuat kita rugi dunia dan akhirat (Q.S. 63:9). Tetapi rizki dan harta juga bisa menghantarkan kita ke surga jika kita mensyukuri dan membelanjakannya di jalan Allah (Q.S. 14:7). Salah satu jalan mensyukuri rizki adalah dengan mengeluarkan infak. “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji.

Allah pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S Ali-Baqarah: 261). Infak adalah suatu kewajiban yang harus tetap dilakukan dalam keadaan apapun. Dalam keadaan senang maupun susah, dalam keadaan lapang maupun sempit. Allah berfirman: “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang berbuat kebajikan.”(Q.S Ali-Imran 134) Jika umat Islam sudah melaksanakan kewajiban infak serta dana yang terhimpun dikelola secara baik dan bertanggungjawab, maka banyak persoalan sosial dan keummatan bias diatasi.

Untuk itu kami Baitul Maal TAMZIS mengajak saudara sesama muslim untuk memberikan infak/ sedekah terbaiknya. Insya Allah infak/ sedekah saudara-saudara akan kami kelola sesuai syariah dan akan kami laporkan penggunaannya secara periodik. Baitul Maal TAMZIS Baitul Maal TAMZIS adalah lembaga sosial bagian dariBaitut Tamwil TAMZIS yang secara khusus mengelola dan memberdayakan umat.

Tujuan Baitul Maal TAMZIS adalah untuk mengangkat derajat dan martabat kaum dhuafa sebagaimana diperintahkan oleh syariah Islam. Baitul Maal TAMZIS berdiri sejak 2006 yang secara umum mengelola dana zakat, infak/ sedekah dan wakaf untuk kesejahteraan umat secara umum melalui beberapa program antara lain: Beasiswa ustadz dan ustadzah, pemberdayaan ekonomi, Santunan anak yatim dan dhuafa dan Peduli kemanusiaan.

Pentingnya Infak/ Sedekah • Indikator utama ketundukan sesorang terhadap ajaran Islam (QS. 9:5 & 11) • Ciri orang yang mendapatkan kebahagiaan (QS.

23:4) • Mendapatkan pertolongan-Nya (QS. 9:71 dan QS. 22:40-41) • Memperhatikan hak fakir dan Miskin serta para mustahik (QS. 9:60) • Membersihkan diri dan hartanya, menyuburkan, mengembangkan dan mensucikan jiwanya (QS.

pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi

9:103 dan QS. 30:39) Ancaman Bagi yang Enggan Infak/ Sedekah • Berhak untuk diperangi (HR. Imam Bukhari dan Muslim) • Harta bendanya hancur dan rusak (HR. Imam Bazzar danBaihaqi) • Jika keengganan itu telah memasal, maka Allah SWT akan menurunkan azab-Nya dalam bentuk kemarau panjang (HR.

Imam Thabrani) Hikmah Infak/ Sedekah • Menolong, membantu dan membina kaum dhuafa maupun mustahik ke arah kehidupan lebih sejahtera, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, terhindar dari kekufuran, memberantas sifat iri, dengki dan terjaga dari martabatnya ketika melihat orang kaya yang berkecukupan tidak • Perwujudan keimanan pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi Allah SWT, mensyukuri nikmat, menumbuhkan akhlak mulia, ketenangan hidup sekaligus mengembangkan harta yang dimilikinya.

Pemanfaatan Infak/ Sedekah Infak yang terkumpul sepenuhnya digunakan untuk meningkatkan kualitas umat Islam yang diselenggarakan oleh Baitul Maal TAMZIS Tata Cara Penyerahan Infak/ Sedekah • Menyerahkan langsung Infak kekantor TAMZIS terdekat. • Auto debet dari rekening Anggota simpanan Ijabah TAMZIS • Hubungi Bapak Zubaeri (081331530539 dan Bapak Eko (085701271807) WAKAF UANG TAMZIS (WUT) Manfaatnya Mengalir Abadi Dasar Wakaf Uang Al Quran dan Hadist “Kamu sekali-kali tidak akan samapai kepada kebaikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai, dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”.

(QS. Ali Imran : 92) “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka putuslah amalanya kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendo’akan orang tuanya”.

(HR. Ahmad) Dasar Fatwa MUI dan Negara Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga membolehkan wakaf uang (2003:86). Fatwa komisi Fatwa MUI itu dikeluarkan pada tanggal 11 Mei 2002. Dalam fatwa tersebut ditetapkan bahwa: Wakaf uang (Cash Wakaf/ Waqf al-Nuqud) merupakan wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok orang, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai (cash).

Termasuk dalam pengertian uang adalah surat-surat berharga. Wakaf uang hukumnya jawaz (boleh) Wakaf uang hanya boleh disalurkan dan digunakan untuk hal-hal yang dibolehkan secara Syari. Nilai pokok wakaf harus dijamin kelestariannya, tidak boleh dijual, dihibahkan dan atau diwariskan.

Di Negara Indonesia, wakaf uang sudah diatur pelaksanaannya melalui Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia No 42 tahun 2006. Sekilas Wakaf Uang Kata Wakaf berasal dari bahasa Arab Waqf yang berarti menahan, berhenti, atau diam. Jika dihubungkan dengan harta seperti tanah, binatang dan yang lain, ia berarti pembekuan hak milik untuk kegunaan tertentu (Ibnu Manzhur:9/359). Secara terminologi, wakaf diartikan sebagai penahan hak milik atas materi benda (al-‘ain) untuk tujuan menyedekahkan manfaat (al-manfa’ah) (al-Jurjani:328).

Istilah wakaf uang belum dikenal di zaman Rasulullah. Wakaf uang (cash waqf) baru dipraktekan sejak awal abad kedua Hijriyah. Imam Az Zuhri (wafat 124 H) salah seorang ulama terkemuka dan peletak dasar tadwin al-hadits memfatwakan, dianjurkan wakaf dinar dan dirham untuk pembangunan sarana dakwah, sosial, dan pendidikan umat Islam. Di Indonesia, wakaf Uang baru popular tahun 200-an. Wakaf uang banyak diinvestasikan pada bisnis berbasis syariah.

Keuntungan dari hasil investasi tersebut digunakan kepada segala sesuatu yang bermanfaat secara social keagamaan. Wakaf uang adalah wakaf yang dilakukan sesorang, kelompok orang, lembaga atau badan hokum dalam bentuk uang tunai. Termasuk dalam pengertian uang adalah surat-surat berharga.

Wakaf UANG TAMZIS sudah berjalan sejak pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi. Adapun Wakaf Uang TAMZIS ini merupakan upaya mengoptimalkan potensi-potensi wakaf yang ada dalam diri karyawan dan anggota TAMZIS. Kedepan, akan dikembangkan pada lembaga ata institusi yang senafas dan kepada masyarakat secara umum. Dengan program WAKAF UANG TAMZIS ini mudah-mudahan potensi tersebut bisa dimaksimalkan untuk program-program sosial-keagamaan yang selama ini telah berjalan.

Mengapa Wakaf Uang • Siapapun Bisa Dengan pemahaman dan kesadaran baru tentang wakaf uang, orang yang ingin wakaf tak harus menunggu kaya. Setiap lembar uang yang Anda miliki bias dijadikan amal jariyah yang abadi. Kapapun bisa. • Bisa Dimana Saja Wakaf uang lebih gampang. Karena kami penanggungjawab WAKAF UANG TAMZIS menyediakan kotak di masing-masing meja karyawan atau kantor TAMZIS di seluruh Indonesia.

Dengan begitu, niat wakaf uang Anda dimanapun bias dilaksanakan. Tak usah menunggu. • Uang Tak Berkurang Uang yang AndaWakafkan, tak sepeserpun akan berkurang jumlahnya. Justru sebaliknya, uang tersebut akan berkembang melalui investasi yang dijamin aman, dengan pengelolaan secara amanah, yakni bertanggungjawab, professional dan transparan. Penerima Manfaat Wakaf Uang TAMZIS (WUT) memiliki fokus utama pada aspek pengelolaan asset wakaf produktif secara optimal sehingga dapat memberi manfaat sebesar mungkin.

Hasil dari pengelolaan dari wakaf uang tersebut akan diserahkan pada Baitul Maal TAMZIS untuk disalurkan kepada masyarakat yang berhak dalam bentuk program-program pendidikan, kesehatan, sosial umum dan pemberdayaan ekonomi.

Dari pengalaman menyalurkan zakat, infak dan sedekah (ZIS) sejak 2006, Baitul Maal TAMZIS yang telah menyalurkan kepada yang berhak dengan tepat sasaran, tepat guna dan tepat akuntabilitas. Kita tahu, Mauquf Alaih (Penerima Manfaat) adalah Rukun dalam Wakaf, maka Anda selaku Donatur Wakaf uang dapat mengarahkan Penerima Manfaat atas wakaf Anda pada program: • Bisnis berbasis syariah untuk pengembangan Insan Produktif; • Pendidikan untuk pengembangan Insan Qur’ani; • Pemberdayaan ekonomi untuk pengembangan Insan Mandiri; • Wakaf saran ibadah; Makmur Masjidku; atau • Menyerahkan kepada Nazhir untuk penyaluran (Tidak Terikat) Program Sebagai gambaran, berikut sekilas program-program Wakaf Uang TAMZIS di bidang Bisnis Berbasis Syariah, Pendidikan, Pemberdayaan Ekonomi dan Wakaf Sarana Ibadah: 1.

Bisnis Berbasis Syariah; Syariah Integratif Zone (SIZ) Syariah Integratif Zone (SIZ) adalah konsep pengelolaan dan pengembangan dana wakaf produktif yang integrative antar wilayah berbasis syariah. Bisa bentuk property seperti pembangunan Ruko, pasar tradisional syariah, masjid social entr epreneur, gedung pertemuan muslim, pesantren usaha, hotel syariah, swalayan berbasis syariah.

Hal tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di masa depan yang lebih produktif dan optimal dalam pengelolaan wakaf. 2. Pendidikan Ustad/ ustadzah TPQ; Pengembangan Insan Qur’ani Pengmbangan InsanQur’ani adalah program pendidikan dan pelatihan untuk menciptakan Ustad/ Ustadzah berkarakter qur’ani. Mulai skill dan metode mengajar Qur’an dan mampu memberi tauladan akhlak yang sesuai dengan ajaran Al-Qur’an. 3. Pemberdayaan ekonomi UKM; Masyarakat Mandiri Masyarakat Mandiri merupakan program pendampingan bagi pengusaha kecil yang akan mengembangkan usahanya.

Bisa berbentuk konsultasi gratis, pendampingan pengembangan usaha dan permodalan bagi usaha. Misi utamanya adalah menyelenggarakan program pemberdayaan masyarakat yang berbasis kewirausahaan social secara terintegrasi dan berkelanjutan hingga menjadi pengusaha mandiri.

4. Wakaf Sarana Ibadah; Makmur Masjidku Makmur masjidku merupakan wakaf sarana untuk menunjang kekhusukan jamaah dalam beribadah di masjid. Berupa mukena, Al-Qur’an, sarung dll. Assalamu alaikum Wr. Wb. Alhamdulillah setiap bulannya walaupun uangnya sedikit saya rutin mengeluarkan zakat/infaq 2,5% dari gaji pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi.

Yg kemudian zakat/infaq tsb saya bagi-bagikan kepada: keponakan (yg kebetulan ponakan saya adalah anak yatim) dan kepada saudara-saudara saya yg kurang mampu. Yang jadi pertanyaan saya adalah • Apa arti dan perbedaan SEDEKAH, ZAKAT dan INFAQ? • Salahkah saya?

Kalau selama ini ketika saya memberikan uang tsb saya niatkan membayar sedekah dan infaq! • Apakah saya menyalahi aturan kalau zakat/infaq tsb saya berikan kepada saudara-saudara saya yg kurang mampu seperti keponakan, kakak/adik saya sendiri? Atas segala perhatiannya saya ucapkan terima kasih Wassallamu alaikum Wr. Wb. Wa’alaikum salam wr.

wb. Terima kasih atas pertanyaannya Bapak Ishendar yang budiman.

pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi

1. Zakat, infaq, dan shodaqoh merupakan kebuktian iman kita kepada allah dan sesama muslim yang membutuhkannya. Kalau kita melihat dari penggunaan ayat-ayat Al-Quran istilah shadaqah, zakat, dan infaq sebetulnya menunjuk kepada satu pengertian yaitu sesuatu yang dikeluarkan. Zakat, infaq dan shadaqah memiliki persamaan dalam peranannya memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengentasan kemiskinan.

Adapun perbedaannya yaitu zakat hukumnya wajib sedangkan infaq dan sedekah hukumnya sunnah. Atau zakat yang dimaksudkan adalah pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi yang wajib dikeluarkan, sementara infaq dan shadaqah adalah istilah yang digunakan untuk sesuatu yang tidak wajib dikeluarkan. Jadi pengeluaran yang sifatnya sukarela itu yang disebut infaq dan shadaqah.

zakat ditentukan nisabnya sedangkan infaq dan sedekah tidak memiliki batas, zakat ditentukan siapa saja yang berhak menerimanya sedangkan infaq boleh diberikan kepada siapa saja. Perbedaannya juga dapat dicermati antara lain yaitu; 1) Zakat itu sifatnya wajib dan adanya ketentuannya/batasan jumlah harta yang harus zakat dan siapa yang boleh menerima.

2.Infaq : sumbangan sukarela atau seikhlasnya (materi) 3.Sedekah: lebih luas dari infaq, karena yang disedekahkan tidak terbatas pada materi saja. Sedangkan pengertian sedekah, zakat dan infaq yaitu sebagai berikut; a) Sedekah berasal dari kata shadaqa yang berarti benar. Orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar pengakuan imannya. Adapun secara terminologi syariat shadaqah makna asalnya adalah tahqiqu syai’in bisyai’i, atau menetapkan / menerapkan sesuatu pada sesuatu.

Sikapnya sukarela dan tidak terikat pada syarat-syarat tertentu dalam pengeluarannya baik mengenai jumlah, waktu dan kadarnya. Atau pemberian sukarela yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, terutama kebada orang-orang miskin setiap kesempatan terbuka yang tidak di tentukan baik jenis, jumlah maupun waktunya, sedekah tidak terbatas pada pemberian yang bersifat material saja tetapi juga dapat berupa jasa yang bermanfaat bagi orang lain. Bahkan senyum yang dilakukan dengan ikhlas untuk menyenangkan orang lain termasuk kategori sedekah.

Shadaqoh mempunyai cakupan yang sangat luas dan digunakan al-qur’an untuk mencakup segala jenis sumbangan. Sedekah berarti memberi derma, termasuk memberikan derma untuk mematuhi hukum dimana kata zakat digunakan didalam al-qur’an dan sunah. Zakat telah disebut pula sedekah karena zakat merupakan sejenis derma yang diwajibkan sedangkan sedekah adalah sukarela, zakat dikumpulkan oleh pemerintah sebagai suatu pengutan wajib, sedegkan sedekah lainnya dibayarkan secara sukarela.

Jumlah dan nisab zakat di tentukan, sedangkan jumlah sedekah yang lainya sepenuhnya tergantung keinginan yang menyumbang. Pengertian sedekah sama dengan pengertian infaq, termasuk juga hukum dan ketentuan-ketentuannya. Hanya saja shadaqoh mempunyai makna yang lebih luas lagi dibanding infaq. Jika infaq berkaitan dengan materi, sedekah memiliki arti lebih luas, menyangkut juga hal yang bersifat nonmateriil.

Shadaqah ialah segala bentuk nilai kebajikan yang tidak terikat oleh jumlah, waktu dan juga yang tidak terbatas pada materi tetapi juga dapat dalam bentuk non materi, misalnya menyingkirkan rintangan di jalan, menuntun orang yang buta, memberikan senyuman dan wajah yang manis kepada saudaranya, menyalurkan syahwatnya pada istri dsb.

Dan shadaqoh adalah ungkapan kejujuran (shiddiq) iman seseorang. Hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Dzar, Rasulullah menyatakan bahwa jika tidak mampu bersedekah dengan harta, maka membaca tasbih, takbir, tahmid, tahlil, berhubungan suami-istri, atau melakukan kegiatan amar ma’ruf nahi munkar adakah sedekah. Dalam hadist Rasulullah memberi jawaban kepada orang-orang miskin yang cemburu terhadap orang kaya yang banyak bershadaqah dengan hartanya, beliau bersabda: "Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap takbir shadaqah, setiap tahmid shadaqah, setiap amar ma’ruf adalah shadaqah, nahi munkar shadaqah dan menyalurkan syahwatnya kepada istri shadaqah".

(HR. Muslim) b) Zakat secara bahasa (lughat), berarti : tumbuh; berkembang dan berkah (HR. At-Tirmidzi) atau dapat pula berarti membersihkan atau mensucikan (QS. At-Taubah : 10). Seorang yang membayar zakat karena keimanannya nicaya akan memperoleh kebaikan yang banyak. Allah SWT berfirman : "Pungutlah zakat dari sebagian kekayaan mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.".

(QS : At-Taubah : 103).

pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi

Sedangkan menurut terminologi syari’ah (istilah syara’) zakat berarti kewajiban atas harta atau kewajiban atas sejumlah harta tertentu untuk kelompok tertentu dalam waktu tertentu.

Zakat juga berarti derma yang telah ditetapkan jenis, jumlah, dan waktu suatu kekayaan atau harta yang wajib diserahkan; dan pendayagunaannya pun ditentukan pula, yaitu dari umat Islam untuk umat Islam. Atau Zakat adalah nama dari sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarat tertentu (nishab) yang diwajibkan Allah SWT untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula (QS. 9:103 dan QS. 30:39). Ulama’ Hanafiyyah mendefinisikan zakat dengan menjadikan hak milik bagian harta tertentu dan harta tertentu untuk orang tertentu yang telah ditentukan oleh Syari’ karena Allah.

Demikian halnya menurut mazhab Imam Syafi’i zakat adalah sebuah ungkapan keluarnya harta atau tubuh sesuai dengan secara khusus. Sedangkian menurut mazhab Imam Hambali, zakat ialah hak yang wajib dikeluarkan dari harta yang khusus untuk kelompok yang khusus pula, yaitu kelompok yang disyaratkan dalam Al-Qur’an.

Zakat mempunyai fungsi yang jelas untuk menyucikan atau membersihkan harta dan jiwa pemberinya. c) Infaq berasal dari kata anfaqa yang berarti mengeluarkan sesuatu (harta) untuk kepentingan sesuatu. Menurut terminologi syariat, infaq berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan Islam.

Jika zakat ada nishabnya, infaq tidak mengenal nishab. Infaq dikeluarkan setiap orang yang beriman, baik yang berpenghasilan tinggi maupun rendah, apakah ia di saat lapang maupun sempit (QS. 3:134). Jika zakat harus diberikan pada mustahik tertentu (8 asnaf), maka infaq boleh diberikan kepada siapapun. Misalnya, untuk kedua orang tua, anak-yatim, dan sebagainya (QS.

2:215). Infaq adalah pengeluaran sukarela yang di lakukan seseorang, setiap kali ia memperoleh rizki, sebanyak yang ia kehendakinya. Allah memberi kebebasan kepada pemiliknya untuk menentukan jenis harta, berapa jumlah yang yang sebaiknya diserahkan.

Terkait dengan infak ini Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim ada malaikat yang senantiasa berdo’a setiap pagi dan sore : "Ya Allah SWT berilah orang yang berinfak, gantinya. Dan berkata yang lain : "Ya Allah jadikanlah orang yang menahan infak, kehancuran".

(HR. Bukhori) 2. Melakukan amal kebajikan semuanya agar bernilai ganjaran pahala di sisi Allah Swt. Semuanya tergantung pada niat. Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya sahya perbuatan itu hanyalah dengan niat”. (HR. Muslim). Jika Bapak mengeluarkan harta diniatkan sedekah maka akan bernilai ibadah sedekah yang besar ganjarannya dari Allah Swt. Pun demikian jika diniatkan berinfak akan bernilai pahala infak.

Tentunya hendaknya terlebih dahulu dimantapkan niat bapak yang manakah amal karikatif (sedekah atau infak) yang bapak pilih dan ditunaikan. 3. Zakat/infaq diberikan kepada saudara-saudara yg kurang mampu seperti keponakan, kakak/adik sendiri menurut ulama diperbolehkan atau tidak berdosa untuk memberi kepadanya zakat. Sebab, mereka bukan menjadi tanggung jawab bapak Ishendar dan dengan catatan bahwa mereka adalah mustahik zakat yaitu apakah mereka masuk kriteria fakir atau miskin.

Meskipun demikian, alangkah lebih arifnya jika bapak mengeluarkan harta tersebut sebagai sedekah yang juga tidak kalah besar amalan pahalanya.

Dan mengeluarkan zakat malnya pada lembaga amil zakat baik BAZ maupun LAZ yang amanah agar zakat dapat lebih merata tersalurkannya dan dapat terberdayakan mustahiknya. Berdasarkan penjelasan tersebut jelas bahwa sedekah, infak dan zakat memiliki sisi perbedaan baik penghimpunannya maupun penyalurannya. Dengan mengeluarkan sedekah/infak/zakat sebetulnya untuk bekal investasi nanti di akhirat bahkan akan dijauhkan dari musibah.

Rasulpun menjelaskan orang yang mengeluarkan sedekah/zakat akan terhindar dari marabahaya/musibah. Bahkan zakat dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa, memurnikan jiwa (menumbuhkan akhlak mulia, menjadi murah hati, peka terhadap rasa kemanusiaan) dan mengikis sifat bakhil (kikir) serta serakah.

Dengan begitu, akhirnya tercipta suasana ketenangan bathin yang terbebas dari tuntutan Allah SWT dan kewajiban kemasyarakatan, yang selalu melingkupi hati. Demikian semoga dapat dipahami. Waallahu A’lam. Muhammad Zen, MA
26/04/2021 - 5 Min Read Perbedaan Zakat, Infak dan Sedekah yang Wajib Kamu Ketahui Di dalam bermuamalah dan beramal seorang muslim sudah tak asing lagi dengan istilah zakat, infak, dan sedekah.

Ketiganya ini banyak sekali ditemukan di lembaga-lembaga penyalur maupun di masjid-masjid yang menampungnya. Ketiganya mempunyai kesamaan yakni suatu kegiatan amal untuk memberikan bantuan berupa harta yang kita miliki kepada pihak-pihak yang sedang membutuhkan bantuan. Namun ternyata kebanyakan dari kita justru tidak begitu paham bahwa ada perbedaan zakat dan infak serta sedekah secara makna yang mendasar dari ketiga istilah tersebut.

Perbedaan zakat dan infak serta sedekah yang mendasar terletak pada sifat hukumnya, yaitu zakat hukumnya wajib atau fardhu ‘ain, infak hukumnya fardhu khifayah, dan sedekah hukumnya sunnah. Dari berbagai sumber hadis dijelaskan adanya perbedaan zakat dan infak serta sedekah yang begitu mendasar.

Seperti zakat ditentukan nisabnya sedangkan infak dan sedekah tidak memiliki batas nisab. Zakat juga merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan, serta ada ketentuan siapa saja yang berhak menerimanya dan siapa saja yang sudah mencapai nisabnya. Sementara infak dan sedekah tidak ada aturan tertentu untuk mengamalkannya. Untuk menegetahui secara jelasnya berikut penjelasan perbedaan zakat dan infak serta sedekah lebih lengkapnya. Rincian Perbedaan Zakat dan Infak Serta Sedekah 1.

Zakat Zakat menurut bahasa artinya adalah membersihkan atau menyucikan diri. Sementara secara istilah syariah, zakat berarti sebagian harta yang dimiliki, wajib diserahkan kepada orang-orang tertentu. Orang-orang tertentu tersebut sudah diatur dalam syariat, seperti fakir, miskin mualaf, orang yang terlilit hutang, orang yang sedang dalam perjalanan, amil zakat atau pengurus zakat, orang yang sedang berjuang di jalan Allah, dan memerdekakan budak.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, hukum dari zakat adalah wajib atau fardhu ain, yaitu suatu kewajiban bagi setiap orang untuk melaksanakan perintah Allah SWT sesuai ketentuan syariat. Perintah zakat di Al-Qur’an ada pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi banyak. Zakat disebutkan sebanyak 44 kali oleh Allah dalam Al-Qur’an. Berikut ini beberapa perintah zakat, merupakan ibadah wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah ayat 103). “ Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.

Al Mujaadilah ayat 13). “ Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al-Qur’an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.” (QS. An-Nisaa’ ayat 162). Zakat sendiri ada dua macam jenisnya, yakni zakat fitrah dan zakat mal.

Zakat Fitrah wajib dibayarkan oleh pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi muslim senilai 3,5 liter atau 2,5 kilogram bahan makanan pokok pada bulan suci Ramadan.

Kemudian ada zakat mal, yang berarti zakat harta. Zakat ini dikeluarkan oleh seorang muslim jika harta yang diperoleh dari profesi, atau usahanya yang telah mencapai nisab dan haul. Jika harta yang tersimpan dari hasil profesi atau usahanya mengendap selama 1 tahun telah mencapai nisab setara harga emas 85 gram maka ia sudah wajib untuk membayar zakat mal.

Nisab dalam konteks perhitungan zakat adalah jumlah batasan harta atau kepemilikan seorang muslim selama satu tahun untuk dikenai ketentuan wajib mengeluarkan zakat. Jika harta tersebut belum mencapai batasannya atau belum mencapai nisab, maka statusnya belum wajib dizakati. Sementara haul adalah sumber kepimilikan harta selama satu tahun Besaran zakat adalah 2,5 persen. Misalnya, hitungannya harga emas saat ini per gramnya adalah Rp 1 juta, dikalikan 85 gram menjadi Rp 85 juta.

Contohnya, seseorang yang bergaji Rp 10 juta per bulan selama setahun maka nilainya mencapai Rp 120 juta. Angka ini sudah melebihi harga 85 gram emas yang sudah disebutkan sebelumnya. Maka, jumlah zakat yang harus dibayarkan adalah Rp 120 juta x 2,5 persen = Rp 3 juta. 2. Infak Secara bahasa infak berasal dari kata anfaqa yang artinya mengeluarkan atau membelanjakan harta. Secara istilah syariah, infak berarti mengeluarkan sebagian harta atau penghasilan untuk kepentingan yang diperintahkan Islam.

Seperti misalnya membantu menyumbang kepada anak yatim piatu, fakir, miskin, menyumbang untuk operasional masjid atau menolong orang yang terkena musibah bencana. Hukum dari infak adalah wajib atau fardhu khifayah, yaitu suatu kewajiban bagi sekelompok orang untuk melaksanakan perintah Allah SWT sesuai ketentuan syariat. Namun bila sudah dilaksanakan oleh seseorang atau beberapa orang maka kewajiban ini gugur. Misalnya mengisi uang ke kotak amal untuk operasional dan perawatan masjid adalah infak.

Sebab bila tidak ada yang menyumbang maka kegiatan masjid tidak jalan, dan hal itu menjadi tanggung jawab masyarakat sekitar masjid, semuanya berdosa. Jika zakat ada nisabnya, infak tidak mengenal nisab. Allah memberi kebebasan kepada pemiliknya untuk menentukan waktu dan besaran harta yang dikeluarkannya sebagai cerminan kadar keimanan seseorang. Dalam Al-Qur’an perintah infak ditujukan kepada setiap orang yang bertakwa, baik yang berpenghasilan tinggi maupun rendah, apakah ia di saat lapang maupun sempit.

Di dalam beberapa hadis disebutkan, infak merupakan kunci rezeki dari Allah SWT. Jika seseorang memberikan infak maka Allah akan menggantinya dengan rezeki yang tidak pernah diduga-duga. Seperti hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah RA.

“ Tidaklah para hamba berada di pagi hari kecuali di dalamnya terdapat dua malaikat yang turun. Salah satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang berinfak ganti (dari apa yang ia infakkan)’. Sedang yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menahan (hartanya) kebinasaan (hartanya).” 3.

Sedekah Sedekah menurut bahasa berasal dari kata shidqoh yang berarti benar. Para ulama menyebutkan orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar pengakuan imannya. Jadi sedekah adalah cara seseorang mewujudkan dan mencerminkan keimanannya. Secara terminologi, sedekah berarti pemberian sukarela kepada orang lain (terutama kepada orang-orang yang lebih membutuhkan, yang tidak ditentukan jenis, jumlah maupun waktunya.

Sedekah tidak terbatas pada pemberian yang bersifat material saja tetapi juga dapat berupa jasa yang bermanfaat bagi orang lain. Bahkan senyum yang dilakukan dengan ikhlas untuk menyenangkan orang lain termasuk kategori sedekah.

Hukum dari sedekah adalah sunnah, yaitu amalan yang jika dilakukan akan mendapatkan pahala dan tidak dikerjakan tidak akan mendapatkan dosa. Ada beberapa hadis yang menganjurkan tentang sedekah, di antaranya: Sedekah sebagai amal yang tak terputus meski seseorang sudah meninggal dunia “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang salih” (HR.

Muslim No. 1631) Tidak pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi habis harta kita dengan bersedekah “ Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim, No. 2588). Dari penjelasan di atas kini kamu sudah mengetahui bagaimana perbedaan zakat dan infak serta sedekah. Semuanya memberikan manfaat dan ikut membantu bagi orang banyak.

Selain itu, dari beberapa sumber Al-Qur’an dan hadis yang disebutkan di atas, jumlah harta yang kita miliki tidak akan berkurang sedikit pun hanya karena ikut bersedekah, atau menginfakkan dan menunaikan zakatnya. Jangan lupa alokasikan juga danamu untuk menambah asetmu lewat pendanaan P2P syariah di ALAMI! Kamu bisa menikmati imbal hasil sampai dengan setara 16% per tahun dengan mendanai usaha yang sudah dikurasi secara selektif oleh tim ALAMI. Yuk, download aplikasinya di […] Dalam menunaikan zakat fitrah ada beberapa ketentuan yang harus dipahami agar pelaksanaannya benar.

pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi

Ketentuannya itu mulai dari waktu pelaksanaannya hingga jumlah yang harus dibayarkan. Sebab tujuan mengeluarkan zakat fitrah adalah berbeda jika dibandingkan dengan infak atau sedekah. Keduanya tidak dibatasi kapan dan jumlahnya berapa yang harus ditunaikan, sementara zakat ada hitungannya tersendiri, seperti yang pernah diuraikan di dalam artikel yang berjudul “Perbedaan Zakat, Infak dan Sedekah yang Wajib Kamu Ketahui”.

[…] Disclaimer • Layanan Pembiayaan Berbasis Teknologi Informasi Berdasarkan Prinsip Syariah merupakan kesepakatan perdata antara Pendana dengan Penerima Pembiayaan, sehingga segala risiko yang timbul dari kesepakatan tersebut ditanggung sepenuhnya oleh masing-masing pihak. • Risiko Pembiayaan atau gagal bayar sepenuhnya tanggungjawab oleh Pendana. Tidak ada lembaga atau otoritas negara yang bertanggung jawab atas risiko gagal bayar ini.

• Penyelenggara dengan persetujuan dari masing-masing Pengguna (Pendana dan/atau Penerima Pembiayaan) mengakses, memperoleh, menyimpan, mengelola dan/atau menggunakan data pribadi Pengguna ("Pemanfaatan Data") pada atau di dalam benda, perangkat elektronik (termasuk smartphone atau telepon seluler), perangkat keras (hardware) maupun lunak (software), dokumen elektronik, aplikasi atau sistem elektronik milik Pengguna atau yang dikuasai Pengguna, dengan memberitahukan tujuan, batasan dan mekanisme Pemanfaatan Data tersebut kepada Pengguna yang bersangkutan sebelum memperoleh persetujuan yang dimaksud.

• Pendana yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman terhadap layanan Pembiayaan ini, disarankan agar tidak menggunakan layanan Pembiayaan ini. • Penerima Pembiayaan wajib mempertimbangkan tingkat bagi hasil / marjin / ujrah serta biaya-biaya lainnya sesuai dengan kemampuan dalam melunasi pembiayaan.

• Setiap kecurangan tercatat secara digital di dunia maya dan dapat diketahui oleh masyarakat luas di media sosial. • Pengguna harus membaca dan memahami informasi ini sebelum membuat keputusan menjadi Pendana atau Penerima Pembiayaan.

• Pemerintah yaitu dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan, tidak bertanggung jawab atas pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi pelanggaran atau ketidakpatuhan oleh Pengguna, baik Pendana maupun Penerima Pembiayaan (baik karena kesengajaan atau kelalaian Pengguna) terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan maupun kesepakatan atau perikatan antara Penyelenggara dengan Pendana dan/atau Penerima Pembiayaan.

• Setiap transaksi dan kegiatan pembiayaan atau pelaksanaan kesepakatan mengenai pembiayaan antara atau yang melibatkan Penyelenggara, Pendana dan/atau Penerima Pembiayaan wajib dilakukan melalui escrow account dan virtual account sebagaimana yang diwajibkan berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi dan pelanggaran atau ketidakpatuhan terhadap ketentuan tersebut merupakan bukti telah terjadinya pelanggaran hukum oleh Penyelenggara sehingga Penyelenggara wajib menanggung ganti rugi yang diderita oleh masing-masing Pengguna sebagai akibat langsung dari pelanggaran hukum tersebut di atas tanpa mengurangi hak Pengguna yang menderita kerugian menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

Infaq adalah mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan ajaran Islam.

Dengan demikian secara umum shadaqah bermakna semua kebajikan atau kebaikan yang mengharap ridha Allah SWT. Zakat, Infaq, Sedekah dan Wakaf Oleh sebab itu, hokum menunaikan zakat adalah wajib bagi setiap muslim dan muslimah yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Bila rukun Islam, seperti membaca syahadat, sholat, puasadan haji memiliki hubungan langsung dengan Allah SWT. Menurut bahasa, kata “zakat” berarti tumbuh, berkembang, subur atau bertambah.

Adapun kata infak dan sedekah, sebagian ahli fikih berpendapat bahwa infak adalah segala macam bentuk pengeluaran (pembelanjaan), baik untuk kepentingan pribadi, keluarga, maupun yang lainnya. Sementara kata sedekah adalah segala bentuk pembelanjaan (infak) di jalan Allah. Sedekah, selain bisa dalam bentuk harta, dapat juga berupa sumbangan tenaga atau pemikiran, dan bahkan sekedar senyuman. Oleh sebab itu, hukum menunaikan zakat adalah wajib bagi setiap muslim dam muslimah yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu.

Allah SWT berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Rasulullah Saw bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalahutusan-Nya; mendirikan shalat; melaksanakan puasa (di bulan Ramadhan); menunaikan zakat; dan berhaji ke Baitullah (bagi yang mampu)” (HR.

Harta yang wajib dikeluarkan pada bulan Dan sebelum pelaksanaan sholat Idul fitri. Telah mencapai haul, yaitu jika harta tersebut telah berlalu satu tahun hijriyyah, kecuali untuk harta berupa hasil pertanian dimana waktu wajib zakatnya adalah saat Haul jadi syarat bagi harta yang sudah mencapai nishab untuk dikeluarkan zakatnya. Fuqara’ (faqir) adalah orang yang tidak memiliki harta benda untuk bias mencukupi kebutuhan pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi Masakin (miskin) adalah orang yang memiliki harta benda atau pekerjaan namun tidak bias mencukupi Amilin (amil) adalah orang-orang yang bekerja mengurus zakat dan tidak diupah selain dari zakat.

Riqab (budakMukatab) adalah budak yang di janjikan merdeka oleh tuannya setelah melunasi sejumlah tebusan yang sudah disepakati bersama dan juga dibayar secara Gharimin, orang memiliki tanggungan Sabilillah, adalah orang yang berperang di jalan Allah dan tidak mendapatkan Ibnu Sabil, adalah orang yang memulai bepergian dari daerah tempat zakat (baladuzzakat) atau melewati daerah tempat zakat.

Maka Nishob zakat Profesi setiap bulan Maret sebesar Rp. Para pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi mufasir dan ulama kontemporer juga menyepakati suatu kondisi sosial yang mewajibkan orang untuk peduli. Infak berarti mengeluarkan sebagian harta untuk kepentingan yang diperintahkan ajaran Islam. Jika zakat ada nisabnya, Infak tak mengenal nishab.Infak dikeluarkan oleh setiap orang yang beriman baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit (Qs.

Infak boleh diberikan kepada siapapun, misalnya untuk kedua orang pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi, anak yatim dan sebagainya. Hadits Imam Muslim dari Abu Dzar, Rasulullah menyatakan bahwa jika tak mampu bersedekah dengan harta maka membaca tasbih, takbir, tahmid, tahlil dan melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah sedekah.

Sebagaimana kita yakini bahwa semua rizki dan harta yang diberikan Allah SWT kepada kita adalah amanah yang harus dijaga sekaligus merupakan ujian (Q.S. Infak adalah suatu kewajiban yang harus tetap dilakukan dalam keadaan apapun. Jika umat Islam sudah melaksanakan kewajiban infak serta dana yang terhimpun dikelola secara baik dan bertanggungjawab, maka banyak persoalan sosial dan keummatan bias diatasi.

Tujuan Baitul Maal TAMZIS adalah untuk mengangkat derajat dan martabat kaum dhuafa sebagaimana diperintahkan oleh syariah Islam. Imam Bazzar danBaihaqi) Jika keengganan itu telah memasal, maka Allah SWT akan menurunkan azab-Nya dalam bentuk kemarau panjang (HR. Menolong, membantu dan membina kaum dhuafa maupun mustahik ke arah kehidupan lebih sejahtera, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, terhindar dari kekufuran, memberantas sifat iri, dengki dan terjaga dari martabatnya ketika melihat orang kaya yang berkecukupan tidak Perwujudan keimanan kepada Allah SWT, mensyukuri nikmat, menumbuhkan akhlak mulia, ketenangan hidup sekaligus mengembangkan harta yang dimilikinya.

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka putuslah amalanya kecuali tiga perkara: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendo’akan orang tuanya”. Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga membolehkan wakaf uang (2003:86).

Nilai pokok wakaf harus dijamin kelestariannya, tidak boleh dijual, dihibahkan dan atau diwariskan. Kata Wakaf berasal dari bahasa Arab Waqf yang berarti menahan, berhenti, atau diam. Jika dihubungkan dengan harta seperti tanah, binatang dan yang lain, ia berarti pembekuan hak milik untuk kegunaan tertentu (Ibnu Manzhur:9/359).

Secara terminologi, wakaf diartikan sebagai penahan hak milik atas materi benda (al-‘ain) untuk tujuan menyedekahkan manfaat (al-manfa’ah) (al-Jurjani:328). Wakaf uang (cash waqf) baru dipraktekan sejak awal abad kedua Hijriyah. Keuntungan dari hasil investasi tersebut digunakan kepada segala sesuatu yang bermanfaat secara social keagamaan. Kedepan, akan dikembangkan pada lembaga ata institusi yang senafas dan kepada masyarakat secara umum.

Justru sebaliknya, uang tersebut akan berkembang melalui investasi yang dijamin aman, dengan pengelolaan secara amanah, yakni bertanggungjawab, professional dan transparan. Hasil dari pengelolaan dari wakaf uang tersebut akan diserahkan pada Baitul Maal TAMZIS untuk disalurkan kepada masyarakat yang berhak dalam bentuk program-program pendidikan, kesehatan, sosial umum dan pemberdayaan ekonomi. Hal tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di masa depan yang lebih produktif dan optimal dalam pengelolaan wakaf.

Masyarakat Mandiri merupakan program pendampingan bagi pengusaha kecil yang akan mengembangkan usahanya. Misi utamanya adalah menyelenggarakan program pemberdayaan masyarakat yang berbasis kewirausahaan social secara terintegrasi dan berkelanjutan hingga menjadi pengusaha mandiri.

Makmur masjidku merupakan wakaf sarana untuk menunjang kekhusukan jamaah dalam beribadah di masjid. Infaq Dan Shadaqah – Website Resmi Badan Amil Zakat Nasional Shadaqah berasal dari kata shadaqa yang berarti benar. Atau pemberian sukarela yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, terutama kepada orang-orang miskin setiap kesempatan terbuka yang tidak ditentukan jenis, jumlah maupun waktunya, sedekah tidak terbatas pada pemberian yang bersifat material saja tetapi juga dapat berupa jasa yang bermanfaat bagi orang lain.

Shadaqah ialah segala bentuk nilai kebajikan yang tidak terikat oleh jumlah, waktu dan juga yang tidak terbatas pada materi tetapi juga dapat dalam bentuk non materi, misalnya menyingkirkan rintangan di jalan, menuntun orang yang buta, memberikan senyuman dan wajah yang manis kepada saudaranya.

Sedekah berarti memberi derma, termasuk memberikan derma untuk mematuhi hukum dimana kata zakat digunakan didalam Al-Qur’an dan Sunnah. Dalam hadist Rasulullah memberi jawaban kepada orang-orang miskin yang cemburu terhadap orang kaya yang banyak bershadaqah dengan hartanya, beliau bersabda : “Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap takbir shadaqah, setiap tahmid shadaqah, setiap amar ma’ruf adalah shadaqah, nahi munkar shadaqah dan menyalurkan syahwatnya kepada istri shadaqah”.

Infaq. Infaq dikeluarkan setiap orang yang beriman, baik yang berpenghasilan tinggi maupun rendah, apakah ia di saat lapang maupun sempit (QS.

Mengenal Arti Zakat, Shadaqah, Infak, Hibah, Hadiah dan Wakaf - Kendalmu ( Ilustrasi sumber dari Google ) Oleh : Ustadz Margo Hutomo, L.c.

Makna dan pengertian Zakat Dalam masyarakat beredar sebuah pemahaman, bahwa zakat adalah sejumlah harta yang telah ditentukan jenis dan kadar yang harus dibayarkan kepada pihak yang berhak menerimanya pada waktu yang telah ditentukan. Dan zakat adalah juga merupakan salah satu rukun agama Islam. Allah swt. berfirman, artinya: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yg rukuk.” (QS. Al Baqarah 43) Pemahaman yang demikian memang benar, namun ada hal yang perlu diperhatikan, bahwa kadangkala para ulama menggunakan kata zakat untuk istilah zakat sunah.

Menurut Ibnul Arabi Kata zakat memang sering digunakan untuk menyebut zakat wajib, namun kadangkala juga digunakan untuk menyebut zakat sunah, nafkah, hak, dan memaafkan suatu kesalahan. (Fathul Bari, 3:296) Makna dan pengertian shadaqah Kata shadaqah dalam banyak dalil memiliki makna yang sama dengan kata zakat, sebagaimana disebutkan pada ayat berikut, artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.” (QS.

At Taubah: 103) Dalam hadis yang shahih, Nabi saw. bersabda, artinya: “Bila anak Adam meninggal dunia, maka seluruh pahala amalannya terputus, kecuali pahala tiga amalan: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang senantiasa mendoakan kebaikan untuknya.” (HR.

at-Tirmidzi dan lainnya) Berdasarkan hadits iniImam Mawardi menyimpulkan: Shadaqah adalah zakat, dan zakat adalah shadaqah. Dua kata yang berbeda teksnya namun memiliki arti yang sama. (al Ahkam as-Sulthaniyyah, Hal. 145) Dengan demikian shadaqah adalah sebuah kata yang mencakup yang wajib dan juga yang sunah, asalkan bertujuan untuk mencari keridhaan Allah swt.semata. Oleh karena itu, sering kali kita tidak perduli bahkan mungkin tidak merasa perlu untuk mengenal nama penerimanya.

Walau demikian, dalam beberapa dalil, kata shadaqah memiliki makna yang lebih luas dari sekedar membayarkan sejumlah harta kepada orang lain. Shadaqah dalam beberapa dalil digunakan untuk menyebut segala bentuk amal baik yang berguna bagi orang lain atau bahkan bagi diri sendiri. Suatu hari sekelompok sahabat miskin mengadu kepada Rasulullah saw.

perihal rasa cemburu mereka terhadap orang-orang kaya. Orang-orang kaya mampu mengamalkan sesuatu yang tidak kuasa mereka kerjakan yaitu menyedekahkan harta yang melebihi kebutuhan mereka. Menanggapi keluhan ini, Rasulullah saw. memberikan solusi kepada mereka melalui sabdanya, artinya: BACA JUGA : Pasca dicabutnya Izin Investasi Miras, Legakah Ummat Islam ?

“Bukankah Allah telah membukakan bagi kalian pintu-pintu shadaqah? Sejatinya setiap ucapan tasbih bernilai shadaqah bagi kalian, demikian juga halnya dengan ucapan takbir, tahmid, dan tahlil.

Sebagaimana memerintahkan kebajikan dan melarang kemungkaran juga bernilai shadaqah bagi kalian. Sampai pun melampiaskan syahwat kemaluan kalian pun bernilai shadaqah.” Tak ayal lagi para sahabat keheranan mendengar penjelasan beliau ini, sehingga mereka kembali bertanya: “Ya Rasulullah, apakah bila kita memuaskan syahwat, kita mendapatkan pahala?” Beliau menjawab: “Bagaimana pendapatmu bila ia menyalurkannya pada jalan yang haram, bukankah dia menanggung dosa?” Demikian pula sebaliknya bila ia menyalurkannya pada jalur yang halal, maka iapun mendapatkan pahala.

(HR. Muslim) Makna dan pengertian Infak Kata infak dalam dalil-dalil Al quran, hadits dan juga budaya ulama, memiliki makna yang cukup luas yang mencakup semua jenis pembelanjaan harta kekayaan.

Allah swt.berfirman, artinya: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67).

pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi

Hal serupa juga nampak dengan jelas pada sabda Nabi saw. artinya: “Kelak pada hari Qiyamat, kaki setiap anak Adam tidak akan bergeser dari hadapan Allah hingga ditanya perihal lima hal: umurnya untuk apa ia habiskan, masa mudanya untuk apa ia lewatkan, harta kekayaannya dari mana ia peroleh dan kemana ia infakkan (belanjakan) dan apa yang ia lakukan dengan ilmunya.” (HR.

at-Tirmidzi) Kemanapun dan untuk pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi apapun, baik tujuan yang dibenarkan secara syariat ataupun diharamkan, semuanya disebut dengan infak. Oleh karena itu, mari kita simak kisah perihal ucapan orang-orang munafik yang merencanakan kejahatan kepada Rasulullah saw.dan para sahabatnya, Allah ceritakan, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah.

Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi penyesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang kafir itu dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal: 36) Oleh karena itu pada banyak dalil perintah untuk berinfak disertai dengan penjelasan infak di jalan Allah, sebagaimana pada ayat berikut, artinya: BACA JUGA : Meneladani Perjuangan Kyai Dahlan “Dan infakkanlah/belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah.” (QS.

Al-Baqarah: 195) Makna dan pengertian Hibah Ketika kita memberikan sebagian harta kepada orang lain, pasti ada tujuan tertentu yang hendak kita capai. Bila tujuan utama dari pemberian kita itu adalah rasa iba dan keinginan menolong orang lain, maka pemberian ini diistilahkan dalam syariat Islam dengan hibah. Rasa iba yang menguasai perasaan kita ketika mengetahui atau melihat kondisi penerima pemberian lebih dominan dibanding kesadaran untuk memohon pahala dari Allah.

Sebagai contoh, mari kita simak ucapan sahabat Abu Bakar ketika membatalkan hibahnya kepada putri beliau tercinta Aisyah ra., artinya: “Wahai putriku, tidak ada orang yg lebih aku cintai agar menjadi kaya dibanding engkau dan sebaliknya tidak ada orang yg paling menjadikan aku berduka bila ia ditimpa kemiskinan dibanding engkau. Sedangkan dahulu aku pernah memberimu hasil panen sebanyak 20 wasaq (sekitar 3.180 Kg). Bila pemberian ini telah engkau ambil, maka yang sudah tidak mengapa, namun bila belum maka pemberianku itu sekarang aku tarik kembali menjadi bagian dari harta warisan peninggalanku.” (HR.

Imam Malik) Makna dan pengertian Hadiah Diantara bentuk pemberian harta kepada orang lain yang juga banyak dikenal oleh masyarakat adalah hadiah. Dan semua kita pasti sudah pernah memberikan suatu hadiah kepada orang lain atau mungkin juga kita menerimanya dari orang lain. Tentu kita menyadari bahwa hadiah kita tidaklah akan diberikan kepada sembarang orang, apalagi kepada orang yang belum kita kenal. Hanya orang-orang tertentu sajalah yang berhak mendapatkan hadiah dari kita.

Hadiah yg kita berikan kepada seseorang, sejatinya hanyalah salah satu bentuk dari penghargaan kita kepada penerimanya. Sebagaimana melalui hadiah yang kita berikan, seakan kita ingin meningkatkan hubungan yang lebih erat antara kita dengannya.

Menurut Rasulullah saw.

pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi

makna hadiah adalah sebagaimana sabdanya, artinya: “Hendaknya kalian saling memberi hadiah niscaya kalian saling cinta mencintai.” (HR. Bukhari dalam kitab al-Adab al-Mufrad) Berdasarkan sabdanya ini, kita dapat mengetahui berbagai pemberian yang selama ini oleh berbagai pihak disebut dengan hadiah, semisal hadiah pada pembelian suatu produk, atau undian atau lainnya.

Pemberian-pemberian ini sejatinya tidak layak disebut hadiah, mengingat semuanya sarat dengan tujuan komersial, dan pamrih, bukan untuk tujuan meningkatkan keeratan hubungan yang tanpa pamrih dan komersial. BACA JUGA : Puasa dari Perspektif Kesehatan Makna dan Pengertian Wakaf Secara bahasa, wakaf adalah al habs dan al man’u, artinya menahan atau mencegah. Kata al waqf adalah bentuk masdar (kata benda) dari ungkapan waqfu al syai, artinya menahan sesuatu. Wakaf adalah salah satu bentuk amal jariyah yang pahalanya secara terus menerus mengalir selama wakafnya dimanfaatkan oleh pihak lain untuk hal yang dibenarkan oleh syariat.

Wakaf memiliki dua tujuan, Pertama, untuk mengentaskan kefakiran dan kemiskinan, baik yang bersifat lahir maupun batin. (horisontal). Kedua, untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.(vertikal). Menurut PP. Nomor 28 tahun 1997, tentang perwakafan tanah dijelaskan, bahwa wakaf itu adalah perbuatan hukum seseorang atau badan hukum yang memisahkan sebagian harta kekayaannya berupa tanah milik dan melembagakan selama-lamanya untuk kepentingan peribadatan atau keperluan lainnya sesuai ajaran Islam.

Para ulama dalam menanggapi istilah wakaf memiliki beragam Pengertian,; Pertama, wakaf menuruti madzhab Abu Hanifah dan Ulama Hanafiah Ulama Hanafiyah mendefinisikan, bahwa wakaf adalah kepemilikan harta wakaf yang tidak terlepas dari wakif. Bahkan wakif dibenarkan menariknya kembali dan boleh menjualnya. Jadi yang timbul dari wakaf hanyalah “menyumbangkan manfaat”. Kedua, pengertian wakaf menurut mazhab Malikiyah Menurut ulama Malikiyah, wakif menahan benda dari penggunaannya secara kepemilikan, tetapi membolehkan pemanfaatan hasilnya untuk tujuan kebaikan, yaitu pemberian manfaat benda secara wajar sedang benda itu tetap menjadi milik si wakif.

Perwakafan menurut Malikiyah berlaku suatu masa tertentu, dan karenanya tidak boleh disyaratkan sebagai wakaf kekal (selamanya). Ketiga, pengertian wakaf menurut mazhab Syafi’i Bahwa harta wakaf terlepas dari pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi wakif, dan harta wakaf sifatnya harus kekal serta dimanfaatkan pada sesuatu yang diperbolehkan oleh syariat.

Keempat, pengertian wakaf menurut mazhab Ahmad bin Hambal Menurut ulama bermadzhab Ahmad bin Hambal, wakaf adalah menahan kebebasan pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi harta dalam membelanjakan harta yang diwakafkannya, dan hak kewenangannya atas benda yang diwakafkannya itu harus putus. Selain itu harus dipergunakan untuk hal-hal yang bersifat mendekatkan diri kepada Allah.

Demikianlah sekilas uraian yang bisa kami sampaikan. Semoga bermanfaat.
26/04/2021 - 5 Min Read Perbedaan Zakat, Infak dan Sedekah yang Wajib Kamu Ketahui Di dalam bermuamalah dan beramal seorang muslim sudah tak asing lagi dengan istilah zakat, infak, dan sedekah.

Ketiganya ini banyak sekali ditemukan di lembaga-lembaga penyalur maupun di masjid-masjid yang menampungnya. Ketiganya mempunyai kesamaan yakni suatu kegiatan amal untuk memberikan bantuan berupa harta yang kita miliki kepada pihak-pihak yang sedang membutuhkan bantuan. Namun ternyata kebanyakan dari kita justru tidak begitu paham bahwa ada perbedaan zakat dan infak serta sedekah secara makna yang mendasar dari ketiga istilah tersebut. Perbedaan zakat dan infak serta sedekah yang mendasar terletak pada sifat hukumnya, yaitu zakat hukumnya wajib atau fardhu ‘ain, infak hukumnya fardhu khifayah, dan sedekah hukumnya sunnah.

Dari berbagai sumber hadis dijelaskan adanya perbedaan zakat dan infak serta sedekah yang begitu mendasar. Seperti zakat ditentukan nisabnya sedangkan infak dan sedekah tidak memiliki batas nisab.

Zakat juga merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan, serta ada ketentuan siapa saja yang berhak menerimanya dan siapa saja yang sudah mencapai nisabnya. Sementara infak dan sedekah tidak ada aturan tertentu untuk mengamalkannya.

pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi

Untuk menegetahui secara jelasnya berikut penjelasan perbedaan zakat dan infak serta sedekah lebih lengkapnya. Rincian Perbedaan Zakat dan Infak Serta Sedekah 1.

Zakat Zakat menurut bahasa artinya adalah membersihkan atau menyucikan diri. Sementara secara istilah syariah, zakat berarti sebagian harta yang dimiliki, wajib diserahkan kepada orang-orang tertentu.

Orang-orang tertentu tersebut sudah diatur dalam syariat, seperti fakir, miskin mualaf, orang yang terlilit hutang, orang yang sedang dalam perjalanan, amil zakat atau pengurus zakat, orang yang sedang berjuang di jalan Allah, dan memerdekakan budak.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, hukum dari zakat adalah wajib atau fardhu ain, yaitu suatu kewajiban bagi setiap orang untuk melaksanakan perintah Allah SWT sesuai ketentuan syariat. Perintah zakat di Al-Qur’an ada cukup banyak.

Zakat disebutkan sebanyak 44 kali oleh Allah dalam Al-Qur’an.

pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi

Berikut ini beberapa perintah zakat, merupakan ibadah wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat. “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah ayat 103). “ Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan dengan Rasul?

Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.

Al Mujaadilah ayat 13). “ Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al-Qur’an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.

Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.” (QS. An-Nisaa’ ayat 162). Zakat sendiri ada dua macam jenisnya, yakni zakat fitrah dan zakat mal. Zakat Fitrah wajib dibayarkan oleh setiap muslim senilai 3,5 liter atau 2,5 kilogram bahan makanan pokok pada bulan suci Ramadan. Kemudian ada zakat mal, yang berarti zakat harta. Zakat ini dikeluarkan oleh seorang muslim jika harta yang diperoleh dari profesi, atau usahanya yang telah mencapai nisab dan haul.

Jika harta yang tersimpan dari hasil profesi atau usahanya mengendap selama 1 tahun telah mencapai nisab setara harga emas 85 gram maka ia sudah wajib untuk membayar zakat mal. Nisab dalam konteks perhitungan zakat adalah jumlah batasan harta atau kepemilikan seorang muslim selama satu tahun untuk dikenai ketentuan wajib mengeluarkan zakat. Jika harta tersebut belum mencapai batasannya atau belum mencapai nisab, maka statusnya belum wajib dizakati.

Sementara haul adalah sumber kepimilikan harta selama satu tahun Besaran zakat adalah 2,5 persen. Misalnya, hitungannya harga emas saat ini per gramnya adalah Rp 1 juta, dikalikan 85 gram menjadi Rp 85 juta. Contohnya, seseorang yang bergaji Rp 10 juta per bulan selama setahun maka nilainya mencapai Rp 120 juta.

Angka ini sudah melebihi harga 85 gram emas yang sudah disebutkan sebelumnya. Maka, jumlah zakat yang harus dibayarkan adalah Rp 120 juta x 2,5 persen = Rp 3 juta. 2. Infak Secara bahasa infak berasal dari kata anfaqa yang artinya mengeluarkan atau membelanjakan harta. Secara istilah syariah, infak berarti mengeluarkan sebagian harta atau penghasilan untuk kepentingan yang diperintahkan Islam. Seperti misalnya membantu menyumbang kepada anak yatim piatu, fakir, miskin, menyumbang untuk operasional pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi atau menolong orang yang terkena musibah bencana.

Hukum dari infak adalah wajib atau fardhu khifayah, yaitu suatu kewajiban bagi sekelompok orang untuk melaksanakan perintah Allah SWT sesuai ketentuan syariat. Namun bila sudah dilaksanakan oleh seseorang atau beberapa orang maka kewajiban ini gugur. Misalnya mengisi uang ke kotak amal untuk operasional dan perawatan masjid adalah infak. Sebab bila tidak ada yang menyumbang maka kegiatan masjid tidak jalan, dan hal itu menjadi tanggung jawab masyarakat sekitar masjid, semuanya berdosa.

Jika zakat ada nisabnya, infak tidak mengenal nisab. Allah memberi kebebasan kepada pemiliknya untuk menentukan waktu dan besaran harta yang dikeluarkannya sebagai cerminan kadar keimanan seseorang.

Dalam Al-Qur’an perintah infak ditujukan kepada setiap orang yang bertakwa, baik yang berpenghasilan tinggi maupun rendah, apakah ia di saat lapang maupun sempit. Di dalam beberapa pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi disebutkan, infak merupakan kunci rezeki dari Allah SWT. Jika seseorang memberikan infak maka Allah akan menggantinya dengan rezeki yang tidak pernah diduga-duga.

Seperti hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah RA. “ Tidaklah para hamba berada di pagi hari kecuali di dalamnya terdapat dua malaikat yang turun. Salah satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang berinfak ganti (dari apa yang ia infakkan)’.

Sedang yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menahan (hartanya) kebinasaan (hartanya).” 3. Sedekah Sedekah menurut bahasa berasal dari kata shidqoh yang berarti benar.

pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi

Para ulama menyebutkan orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar pengakuan imannya. Jadi sedekah adalah cara seseorang mewujudkan dan mencerminkan keimanannya. Secara terminologi, sedekah berarti pemberian sukarela kepada orang lain (terutama kepada orang-orang yang lebih membutuhkan, yang tidak ditentukan jenis, jumlah maupun waktunya. Sedekah tidak terbatas pada pemberian yang bersifat material saja tetapi juga dapat berupa jasa yang bermanfaat bagi orang pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi.

Bahkan senyum yang dilakukan dengan ikhlas untuk menyenangkan orang lain termasuk kategori sedekah. Hukum dari sedekah adalah sunnah, yaitu amalan yang jika dilakukan akan mendapatkan pahala dan tidak dikerjakan tidak akan mendapatkan dosa. Ada beberapa hadis yang menganjurkan tentang sedekah, di antaranya: Sedekah sebagai amal yang tak terputus meski seseorang sudah meninggal dunia “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang salih” (HR.

Muslim No. 1631) Tidak akan habis harta kita dengan bersedekah “ Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim, No. 2588). Dari penjelasan di atas kini kamu sudah mengetahui bagaimana perbedaan zakat dan infak serta sedekah. Semuanya memberikan manfaat dan ikut membantu bagi orang banyak. Selain itu, dari beberapa sumber Al-Qur’an dan hadis yang disebutkan di atas, jumlah harta yang kita miliki tidak akan berkurang sedikit pun hanya karena ikut bersedekah, atau menginfakkan dan menunaikan zakatnya.

Jangan lupa alokasikan juga danamu untuk menambah asetmu lewat pendanaan P2P syariah di ALAMI! Kamu bisa menikmati imbal hasil sampai dengan setara 16% per tahun dengan mendanai usaha yang sudah dikurasi secara selektif oleh tim ALAMI. Yuk, download aplikasinya di […] Dalam menunaikan zakat fitrah ada beberapa ketentuan yang harus dipahami agar pelaksanaannya benar. Ketentuannya itu mulai dari waktu pelaksanaannya hingga jumlah yang harus dibayarkan.

Sebab tujuan mengeluarkan zakat fitrah adalah berbeda jika dibandingkan dengan infak atau sedekah. Keduanya tidak dibatasi kapan dan jumlahnya berapa yang harus ditunaikan, sementara zakat ada hitungannya tersendiri, seperti yang pernah diuraikan di dalam artikel yang berjudul “Perbedaan Zakat, Infak dan Sedekah yang Wajib Kamu Ketahui”. […] Disclaimer • The sharia-compliant, information technology-based peer-to-peer financing service is a civil agreement between Funder and Beneficiary, so that all risks arising from the agreement are borne entirely by each party.

• Every Funder is fully responsible for all credit risks of late or default payments. No national entity or authority is responsible for any such risks.

• The Operator, with the approval of respective Users (Funder and/or Beneficiary) accesses, acquires, stores, administers, and/or uses the Users’ personal data of Users (“Data Utilization”) on or inside objects, electronic devices (including smartphones or phone cellular), hardware, software, electronic documents, applications, or electronic systems belonging to Users or controlled by the Users, by notifying the purpose, limitations and mechanisms of the Data Utilization to the Users concerned before obtaining such consent.

• Funders who do not have sufficient knowledge and experience on financing business are advised not to use this service. • Pemberian infak pada suatu lembaga tidak boleh melebihi should carefully consider ujrah/return rates along with any other costs in accordance with the ability to pay off the loan.

• Every fraudulent activity is recorded digitally in cyberspace and may potentially be informed to the public through social media networks. • Every User should read and understand this information before making a decision to become a Funder and Beneficiary. • The Government, in this case the Financial Services Authority, shall not be liable for any breach or non-compliance by the User, either the Funder or the Beneficiary (either by User’s intent or negligence) of the provisions of the laws and regulations or agreements or agreements between the Operator and the Funder and/or Beneficiary.

• Every transaction and lending activity or the implementation of the agreements on lending activity between or involving the Operator, Funder and/or Beneficiary shall be made through escrow and virtual accounts as required under the Regulation of the Financial Services Authority Number 77 / POJK.01 / 2016 on The Information Technology-based Peer to Peer Lending Service and the violation or non-compliance towards those provisions constitute evidence of a violation of law by the Operator so that the Operator shall bear the indemnity suffered by each User as a direct result of the above breach of the law without prejudice to the right of the User suffering loss according to the Civil Law.

Beda Infaq, Sedekah, Zakat, & Wakaf




2022 www.videocon.com