Pelni radikal

pelni radikal

Rachland mencurigai keputusan pencopotan pejabat yang menyetujui rencana kajian di anak Kementerian BUMN tersebut bukan untuk memerangi islam radikal atau kelompok intoleran.

pelni radikal

" Saya mulai curiga sumbernya bukan itu pelni radikal kalian menyetop rencana kajian ramadhan di Pelni dan mencopot pejabat yang menyetujui," kata Rachland seperti dikutip Beritahits.id, Minggu (11/4/2021).

Baca Juga: Komisaris PT Pelni : Jangan Segan Memecat Pegawai Terlibat Radikalisme Meski demikian, Rachland tak menjelaskan kemungkinan lain alasan pencopotan jabatan sejumlah pegawai PT Pelni tersebut. Ia berharap, seluruh kampanye tentang Islam radikal atau kelompok intoleran benar-benar bersumber dari penghormatan atas hak kebebasan beragama, bukan bersumber dari kepentingan-kepentingan lainnya. " Semoga seluruh kampanye kalian tentang bahaya 'Islam radikal' atau 'kelompok intoleran' bersumber dari penghormatan pada hak atas kebebasan beragama," ungkap Rachland.

BeritaHits.id - Pengamat politik Rocky Gerung ikut mengomentari polemik PT Pelayaran Nasional Indonesia ( PT Pelni) membatalkan pengajian mengundang sejumlah penceramah yang beberapa diantaranya dicap radikal. Rocky Gerung menyoroti kerja Komisaris PT Pelni Dede Budhyarto dan menyinggung adanya dua kedunguan. Hal itu disampaikan Pelni radikal Gerung dalam video berjudul "Komisaris BUMN Berubah Jadi Mata-mata Dewan Ideologi" yang dibagikan melalui kanal YouTube miliknya, Senin (12/4/2021).

Rocky Gerung semula mengungkit permasalahan intoleransi yang menurutnya kerap diperbicangkan dan menjadi 'mainan' sejak lama.

Baca Juga: Viral Pengantin Resepsi saat Hamil 8 Bulan, 'Tunggu Anak Sekalian Bun' "Seolah hal yang paling mendebarkan timbulnya intoleransi. Itu mainan yang puluhan ribu kali dipakai. Apa gak belajar. Problem kita bukan itu," kata Rocky Gerung seperti dikutip beritahits.id.

pelni radikal

Pelni radikal Gerung soal PT Pelni dan pengajian ustaz dicap radikal (YouTube). Rocky Gerung kemudian menyinggung soal haluan pekerjaan seorang komisaris yang seharusnya bukan lebih mengurusi soal pengajian. "Paling buruk yaitu komisaris jadi mata-mata dewan ideologi. Sebetulnya dewan ideologi beroperasi dimana-mana. Komisaris kan harusnya membaca keluar masuk uang perusahaan, bukan keluar masuk masjid," tegas Rocky Gerung.
Berita islam - Ketua Harian Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyyah (PPKNU) H Tjetep Muhammad Yasin, SH MH mengaku heran, usai melihat kemarahan sejumlah warga NU di media sosial terkait flyer info Kajian Ramadhan 1442 H yang digelar di PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) Persero dengan sejumlah ustad yang dinilai radikal.

“Heran saja! Mengapa warga NU jadi pemarah, merasa paling benar. Yang lain dinilai radikal, pelni radikal eksistensi NKRI.

Ini sudah kelewatan. Menurut hemat saya, banyak nahdliyin yang larut dalam permainan orang. Atas nama NKRI, NU mau dibenturkan dengan kelompok lain,” demikian Gus Yasin, panggilan akrab H Tjetep Muhammad Yasin kepada duta.co, Jumat (9/4/21).

Menurut Gus Yasin, banyak warga NU yang keliru memahami motivasi berdirinya organisasi ini. Bahwa ada perlawanan terhadap kelompok lain (Wahabi di Makkah, saat itu red.) yang hendak menggusur sejumlah makam termasuk makam Kenjeng Nabi, lebih dari itu visi dan missi besar NU adalah membumikan nilai-nilai ahlussunnah waljamaah an-nahdliyyah. “Selama ini NU tidak pernah meminta pemerintah menutup pengajian.

pelni radikal

Baru saat ini NU menjadi pemarah, seakan menjadi penguasa segala-galanya. Lalu, minta yang lain dihabisi, tidak boleh hidup.

Bukankah ini soal keilmuan. Dan NU, itu gudangnya orang alim. Hanya NU yang bisa menggelar Munas Alim-Ulama. Jadi, kalau soal Wahabi itu, kecil,” jelas Gus Yasin, alumni PP Tebuireng ini. Tetapi, lanjutnya, menjadi ironis karena yang kecil itu dibesarkan, jadi menakutkan. Apalagi disebut mengancam NKRI, mengganti Pancasila dengan Khilafah.

“Hanya orang bodoh yang percaya itu. Saya mau tanya: Apa ada orang pro khilafah duduk di Parlemen, Senayan? Apa ada partai politik yang memperjuangkan khilafah sebagai ganti Pancasila?

Tidak ada. Yang ada justru ancaman mengganti Pancasila dengan Tri Sila, Eka Sila. Ini sudah di depan mata. Ironisnya, banyak nahdliyin tidak sadar,” tegasnya. Ditanya bagaimana caranya menghadapi kelompok radikal? Gus Yasin menegaskan, bahwa, keilmuan itu harus dilawan pelni radikal keilmuan.

pelni radikal

Kajian harus dilawan dengan kajian. Dan, sekali lagi, NU itu gudang ulama. “Kalau kajian mereka keliru, NU harus segera membuat kajian yang sama. Luruskan! Ingat. Kita gudangnya orang alim. Ada Gus Baha, Gus Qoyyum, Gus Najih, Kiai Idrus Romli, KH Luthfi Bashori. Ada juga Kiai Cholil Nafis, Kiai Abdurahman Nafis, Kiai Ma’ruf Khozin. Beliau-beliau ini tak kalah hebat dengan mereka,” tambahnya. “Atau pakai model Habib Rizieq Pelni radikal (HRS). Beliau ini kalau tidak cocok dengan kelompok Wahabi, siapkan dalil.

pelni radikal

Lihat video ‘Habib Rizieq Menjelaskan Siapakah Wahabi Salafi dan Ustadz2nya di Indonesia?’ dan bahaya pemikirannya. Tidak ada Wahabi yang berani membantah. Dia sebut dari Firanda Andirja, Kholid Basalamah sampai Riyadh Bajrey.

Inilah cara NU, ahlussunnah wal jamaah. Bukan dengan membubarkan pengajian mereka. Itu memalukan,” urainya. Pelni radikal gila lagi, tambah Gus Yasin, ada penjelasan atas nama direksi, ikut-ikutan menilai radikal. “Anda baca di grup-grup itu. Katanya, semalam dia mendapat info di luar Pelni terkait flyer Kajian Ramadhan, dan sudah saya laporkan kepada Deputy Pelni radikal dan IT. “Ini bukan domainnya. Ini justru bentuk radikalisme, mengadu domba dengan kelompok lain. Berbahaya,” terangnya.

Seperti terbaca duta.co tersebar kalimat: “Kami (saya dan Dir SDM) baru saja menerima flyer info penceramah dlm kegiatan Ramadhan di Lingk Pelni dr Badan Dakwah Pelni yg dikirim oleh kawan2 diluar Pelni. Sehubungan dgn hal tsb, Perlu kami sampaikan klarifikasi bahwa: 1.

pelni radikal

Direksi belum memberi ijin terkait dengan penunjukkan pembicara. 2. Direksi sampai saat ini belum mendapat info pembicara yg akan diundang dlm kegiatan Ramadhan. 3. Panitia menyebarkan info terkait pembicara Ramadhan belum ada ijin dari Direksi. Oleh sebab itu, Direksi menyatakan bahwa kegiatan tsb belum ada ijin.

Sehubungan dengan hal tersebut, kami memutuskan utk meniadakan kegiatan ceramah dlm kegiatan Ramadhan. Mohon maaf atas kejadian ini. Terima kasih ~ Laila Nur ~ Dr. Slamet Muliono Redjosari Anggota Pemikiran lslam DDII Jatim pelni radikal – PT. Pelni tercatat dalam sejarah sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memerangi radikalisme.

Hal ini dimotori oleh seorang komisaris yang terinfiltrasi oleh halusinasi dirinya sendiri. Kristia Budyarto atau yang akrab dengan panggilan kang Dede, berhasil mewacanakan bahaya radikalisme, dan mengajak BUMN lain untuk memberangusnya. Namun karena desakan publik, dia meminta maaf menarik pernyataannya yang membatalkan kajian online karena narasumbernya terinfiltrasi paham radikal.

Kasus Kristia ini bisa dikatakan sebagai fenomena gunung es dimana masih ada sekelompok masyarakat yang masih alergi dengan Islam dan senantiasa memanfaatkan momentum untuk menghantam Islam.

BUMN dan Stigma Radikalisme Kajian online Ramadhan bertema “Ramadhan memperkuat dan Memperteguh Iman” tiba-tiba dibatalkan, dengan alasan belum mendapat ijin dari direksi. Kajian yang sudah berlangsung bertahun-tahun itu tiba-tiba dihentikan oleh sosok Kristia. Pelni radikal pun mencari tahu siapa sebenarnya sosok Kristia ini. Akhirnya terkuaklah bahwa dia masuk dalam jajaran komisaris PT Pelni bukan sebagai seorang profesional, tetapi sebagai kompensasi atas jasanya memenangkan rezim ini dalam Pilpres tahun 2019 lalu.

Uniknya pembatalan kajian online ini dengan alasan belum dapat ijin dari direksi, dan dainya dituduh radikal. Tentu saja gelombang reaksi penolakan mencuat, dan menyerang balik sang komisaris sebagai anti Islam. Atas desakan berbagai pihak itu, akhirnya pihak PT Pelni kembali mencabut pembatalan itu.

pelni radikal

Apa yang dilontarkan Kristia tidak lepas dari bola liar yang dilempar oleh Said Aqil Siraj (SAS) ketika menyodorkan Wahabi sebagai pintu masuk terorisme. Tanpa mengunyah lebih matang atau ada kesengajaan, Kristia Budyarto langsung membatalkan kajian Ramadhan di PT Pelni itu. Jejak digital ungkapan Kristia berbunyi : “Itu pejabat yang terkait dengan kepanitiaan acara tersebut telah DICOPOT.

Ini pelajaran sekaligus WARNING kepada seluruh BUMN. Jangan segan-segan MENCOPOT ataupun MEMECAT pegawainya yang terlibat radikalisme.

Jangan beri ruang sedikitpun, BERANGUS.” Pelni radikal bumi hangus ini terasa aneh, karena sederet narasumber yang dituduh radikal, justru berada di garda terdepan dalam memerangi radikalisme ini.

pelni radikal

Ust. Firanda Andirja, Syafiq Reza Basalamah, Ust. Rizal Yuliar, Ust. Subhan Bawazier, dan KH Cholil Nafis, justru dikenal jamaahnya sebagai ceramah yang menyejukkan dan tak pernah mengkritik pemerintah secara terbuka. Maka wajar pelni radikal masyarakat menuduh balik bahwa komisaris BUMN ini sedang terwabah halusinasi bahaya radikalisme. Hilangnya Profesionalitas Wacana bahaya Islam radikal yang disampaikan Kristia memang blunder besar bagi dia, tetapi realitas ini menunjukkan pihak-pihak yang menaruh dendam kebencian pada Islam tidaklah hilang.

Publik pun pelni radikal wewenang Kristia sebagai pejabat publik dan berada di level tinggi, tetapi tiba-tiba melompat mengurusi hal-hal yang jauh dari urusannya. Apa yang dilakukan Kristia menunjukkan kepongahan sekaligus ketidakprofesionalan. Dikatakan pongah karena merasa dirinya memiliki kekuasaan yang bisa mengintervensi level yang paling bawah. Dikatakan tidak profesional karena sebagai komisaris seharusnya mengurusi pekerjaan besar yang bisa mendongkrak surplus BUMN ini.

Bukan justru menciptakan kegaduhan di tengah problem negara yang sedang menghadapi masalah ekonomi. Publik pun bertanya, apakah selaku komisaris, Kristia sedang menghadapi masalah besar sehingga mengalihkan perhatian publik dengan memproduksi wacana bahaya radikalisme.

Atau memang dia dipilih sebagai komisaris bertugas untuk terus mendiskreditkan umat Islam, dan itu bagian dari dirinya yang inheren dengan kebencian pada Islam.

Umat Islam akhirnya menyadari bahwa Kristia memang sosok yang unik dalam BUMN. Betapa tidak, baru kali ini seorang komisaris berkiprah dalam melahirkan adanya wacana bahaya radikalisme dan mengajak BUMN lain untuk mencermati bahaya radikalisme.

Tindakan Kristia jelas merugikan negara, karena dia tak kontributif. Padahal negara telah memberi insentif atau gaji sangat besar kepadanya. Sementara apa yang dia lakukan jelas mencemarkan nama institusinya. Alangkah bangganya jika PT Pelni memberi contoh kepada BUMN-BUMN yang lain karena mendorong karyawannya untuk berprestasi, sehingga bisa memperbesar kontribusinya pada negara. Bukan sebaliknya justru mewacanakan ilusi kosong yang kontra produktif bagi negara.

Kajian online saat ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk mendorong karyawannya bisa berbenah diri, baik dalam konteks agama dan keruhanian mereka. Sehingga diharapkan bisa bekerja lebih profesional dan berujung menguntungkan negara. Dengan menstigma bahaya radikal, justru memperkeruh suasana internal, dan menstimulasi pihak eksternal untuk tidak respek pada PT Pelni. Apalagi sudah mencopot orang-orang yang terlibat dalam kepanitiaan dengan mengaitkan radikalisme, tanpa ada pemulihan kembali.

Akankah orang yang dicopot karena dianggap radikal bisa kembali ke posisi semula seiring dengan pencabutan kembali apa yang pernah diucapkannya. Kristia telah salah menilai umat Islam sebagai ancaman. Padahal umat Islam bukan hanya toleran terhadap perbedaan, tetapi bisa diajak bersinergi dalam menciptakan produktivitas yang menguntungkan negara. Ketika tercipta kenyamanan kerja dan dukungan profesionalitas yang disupport oleh nilai-nilai agama, maka PT Pleni diharapkan bisa menjadi BUMN yang mempelopori profesionalitas, sehingga menopang keuangan negara.

Dengan sosok Kristia ini, PT Pelni justru dikenal dengan BUMN yang alergi terhadap agama karena menciptakan stigma radikal secara salah, dan hal ini merupakan fenomena phobia Islam. Surabaya, 14 April 2021 Kajian Post navigation
Ia betul sdh komfirmasi ke saya. Saya dihubungi utk isi kegiatan Ramadhan sbgmn masjid lainnya minta waktu ke saya pelni radikal berceramah.

Krn waktunya yg cocok dan daring maka saya terima, dan saya tak pernah menanyakan dg siapa dan siapa saja asatidznya pelni radikal diundang. https://t.co/3SflsT8Yo2 — cholil nafis (@cholilnafis) April 8, 2021 Ya. Dulu sdh dikomfirmasi dari sebulan lalu lebih ke saya.

Saya tak tahu siapa saja yg mengisi di kajian hari lainnya. Tapi tadi sdh di WA ke saya bahwa seluruh kajian itu dibatalkan. https://t.co/iIxJhKNOGw — cholil nafis (@cholilnafis) April 8, 2021 Sebelumnya, Komisaris Independen PT Pelni Kristia Budhyarto mengatakan bahwa pejabat di jajarannya yang menyelenggarakan kajian online Ramadan telah dicopot.

Alasannya, menurut Kristia, karena isu radikalisme. Tak hanya mencopot pejabat terkait, PT Pelni juga membatalkan kajian online Ramadan tersebut.

Hal ini disampaikan Kristia melalui akun Twitter @kangdede78, Kamis (8/3/2021). Kristia mengatakan, acara itu tidak memeroleh izin dari direksi. "Sehubungan flyer info penceramah dlm kegiatan Ramadhan di lingkungan PT @pelni162 dr Badan Dakwah Pelni yg sudah beredar luas perlu saya sampaikan bahwa: Panitia menyebarkan info terkait pembicara Ramadhan belum ada ijin dari Direksi.

Oleh sebab itu kegiatan tsb DIBATALKAN," tulis dia. Sehubungan flyer info penceramah dlm kegiatan Ramadhan di lingkungan PT @pelni162 dr Badan Dakwah Pelni yg sudah beredar luas perlu saya sampaikan bahwa: Panitia menyebarkan info terkait pembicara Ramadhan belum ada ijin dari Direksi.

Oleh sebab itu kegiatan tsb DIBATALKAN. https://t.co/6d3S5sQK2A — Dede Budhyarto (@kangdede78) April 8, 2021 Tak sampai di situ, Kristia Budhyarto pelni radikal mengatakan bahwa pejabat yang berkaitan dengan acara itu juga dicopot. Relawan Presiden Joko Widodo pada Pilpres lalu ini pun mengingatkan kepada seluruh jajaran BUMN agar tidak segan-segan mencopot pegawainya yang terlibat radikalisme.

"Selain itu pejabat yg terkait dgn kepanitiaan acara tsb telah DICOPOT. Ini pelajaran sekaligus WARNING kpd seluruh BUMN, jangan segan-segan MENCOPOT ataupun MEMECAT pegawainya yg terlibat radikalisme. Jangan beri ruang sdktpun, BERANGUS," kata dia.

Selain itu pejabat yg terkait dgn kepanitiaan acara tsb telah DICOPOT. Ini pelajaran sekaligus WARNING kpd seluruh BUMN, jangan segan-segan MENCOPOT ataupun MEMECAT pegawainya yg terlibat radikalisme. Jangan beri ruang sdktpun, BERANGUS.— Dede Budhyarto (@kangdede78) April pelni radikal, 2021 Berdasar tangkapan layar flyer yang beredar, pelni radikal online Ramadan itu seharusnya digelar tiap Kamis di Bulan April.

Pendakwah yang mengisi acara ada lima orang. Di antaranya Ustaz Firanda Andirja, Ustaz Rizal Yuliar, Ustaz Syafiq Riza Basamalah dan Cholil Nafis. Artikel Menarik Lainnya: pelni radikal Pilu, Sopir Truk Tewas Seorang Diri di Dalam Truk, Diduga Kena Serangan Jantung • Astaga, Mucikari Cantik Jual Mahasiswi Layani Pria Hidung Belang, Raup Untung Rp33 Juta • Pilu, Perantau Asal Jateng Pingsan, Pulang Jalan Kaki Tak Punya Uang, Malah Dikira Teroris #KAMUHARUSTAU • 1 Skema Rekayasa Lalu Lintas Lebaran 2022 Resmi Ditutup Hari Ini!

Cek Jadwalnya • 2 Meski Tanpa Makeup, Wajah Jessica Iskandar saat Melahirkan Anak Keduanya Tetap Cantik • 3 Raja Salman Masuk Rumah Sakit, Jalani Pemeriksaan Kolonoskopi • 4 Man City Perkasa di Puncak Klasemen Usai Bantai Newcastle, Jauhi Kejaran Liverpool • 5 Ahli Kesehatan: Wabah Hepatitis Akut Mungkin Berkaitan dengan Anjing, Ini Penjelasannya • 6 Sudah Bisa Urus STNK hingga SIM, Pelayanan Samsat Dibuka Mulai Pelni radikal Ini • 7 Ini 5 Lagu Daerah Jawa Tengah yang Populer Hingga kini!

• 8 Kekasih Cristiano Ronaldo Ungkap Nama Bayi Perempuannya, Punya Makna Indah VIRAL SEPEKAN • 1 Misteri Kematian Kartini, Diduga Dibunuh karena Berhubungan dengan Freemason • 2 Keluarga Kena Imbas Indra Kenz, Netizen Bingung: Kok Doni Salmanan dan Istri Enggak?

• 3 Vincent Verhaag Langsung Lemas Bayi yang Dikandung Jessica Iskandar Terlilit Tali Pusar • 4 Kamila Aisya, Siswi yang Lulus di 6 Universitas Top Dunia Sering Tertidur di Kelas • 5 Tsamara Amany Mundur dari PSI, Bro Giring Jadi Sorotan: Padahal Dikit Lagi Jadi Presiden • 6 Culture Shock Bule Palestina Jalani Puasa di Indonesia: Pelni radikal Sini Sahurnya Pakai Nasi • 7 Viral Makanan Disajikan di Lantai Diduga untuk Santri, Dimakan Tanpa Alas Bersama-sama • 8 Penampilan Chika Pakai Rok Pendek dan Baju Ketat Disorot Netizen: Kayak Biduan • 9 Maia Estianty Selesai Jalani Operasi Batu Empedu, Ternyata Sudah Disarankan Sejak 2016 • 10 Lemas Usai Diperiksa, Chandrika Chika Kena Sindir: Kalau Gibahin Mantan Semangat VIRAL SEPEKAN • 1 Misteri Kematian Kartini, Diduga Dibunuh karena Berhubungan dengan Freemason • 2 Keluarga Kena Imbas Indra Kenz, Netizen Bingung: Kok Doni Salmanan dan Istri Enggak?

• 3 Vincent Verhaag Langsung Lemas Bayi yang Dikandung Jessica Iskandar Terlilit Tali Pusar • 4 Kamila Aisya, Siswi yang Lulus di 6 Universitas Top Dunia Sering Tertidur di Kelas • 5 Tsamara Amany Mundur dari PSI, Bro Giring Jadi Sorotan: Padahal Dikit Lagi Jadi Presiden • 6 Culture Shock Bule Palestina Jalani Puasa di Indonesia: Di Sini Sahurnya Pakai Nasi • 7 Viral Makanan Disajikan di Lantai Diduga untuk Santri, Dimakan Tanpa Alas Bersama-sama • 8 Penampilan Chika Pakai Rok Pendek dan Baju Ketat Disorot Netizen: Kayak Biduan • 9 Maia Estianty Selesai Jalani Operasi Batu Empedu, Ternyata Sudah Disarankan Sejak 2016 • 10 Lemas Usai Diperiksa, Chandrika Chika Kena Sindir: Kalau Gibahin Mantan Semangat
SuaraSulsel.id - Komisaris PT Pelni Dede Budhyaryo membenarkan, direksi PT Pelni telah membatalkan acara pengajian yang digelar oleh Badan Kerohanian Islam PT Pelni.

Pejabat yang memberi izin pun dipecat. Nah pencopotan pejabat yang terlibat dalam kajian Ramadan daring PT Pelni ini dikritik oleh pegiat media sosial, Mustofa Nahrawardaya. Mustofa heran kenapa kajian daring itu dilabeli radikal. Apalagi dalam daftar penceramah terdapat nama KH Cholil Pelni radikal, Ketua MUI yang merupakan ulama NU.

Pada poster acara kajian Ramadan yang beredar, selain KH Cholil Nafis, juga ada nama penceramah Ustaz Firanda Andirja, Ustaz Rizal Yuliar, Ustaz Subhan Bawazier, dan Ustaz Syafiq Riza Basalamah.

Baca Juga: Azis Syamsuddin Minta Densus 88 Persempit Gerak Kelompok Radikal Mustofa pun dengan satir menyindir janganlah undang KH Cholil Nafis, undang yang lainnya saja misalnya Muhammad Guntur Romli, Ulil Absar Abdalla atau yang lainnya. “Saya usul jangan undang Kyai @cholilnafis di PELNI.

Nanti jadi cerdas semua jamaah. Coba undang Yai @MurtadhaOne1 @yusuf_dumdum atau @GunRomli atau @ulil,” tulis Tofa dalam cuitannya.

Mengutip hops.id -- jaringan Suara.com Daftar penceramah di PT Pelni yang dibatalkan karena dituduh radikal / [hops.id] Warganet lainnya pun heran juga, wong ada KH Choll Nafis kok dilabeli radikal itu gimana. Baca Juga: Yahya Waloni Tantang Orang yang Mengejeknya di Medsos: Saya Siap Mati!

“Ndak usahlah kau plintir ntar diabetesmu makin kambuh. Gerombolan kalian emang paling bisa maen plintir. Acara itu dibatalkan karena dominan yang radikal. Jangan kau plintir karena ada Kyai Cholilnya,” tulis Dede membalas cuitan Tofa. IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWSPT. Pelni tercatat dalam sejarah sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memerangi radikalisme. Hal ini dimotori oleh seorang komisaris yang terinfiltrasi oleh halusinasi dirinya sendiri.

Kristia Budyarto atau yang akrab dengan panggilan kang Dede, berhasil mewacanakan bahaya radikalisme, dan mengajak BUMN lain untuk memberangusnya. Namun karena desakan publik, dia meminta maaf menarik pernyataannya yang membatalkan kajian online karena narasumbernya terinfiltrasi paham radikal.

Kasus Kristia ini bisa dikatakan sebagai fenomena gunung es dimana masih ada sekelompok masyarakat yang masih alergi dengan Islam dan senantiasa memanfaatkan momentum untuk menghantam Islam. Kajian online Ramadhan bertema “Ramadhan memperkuat dan Memperteguh Iman” tiba-tiba dibatalkan, dengan alasan belum mendapat ijin dari direksi.

pelni radikal

Kajian yang sudah berlangsung bertahun-tahun itu tiba-tiba dihentikan oleh sosok Kristia. Publik pun mencari tahu siapa sebenarnya sosok Kristia ini. Akhirnya terkuaklah bahwa dia masuk dalam jajaran komisaris PT Pelni bukan sebagai seorang profesional, tetapi sebagai kompensasi atas jasanya memenangkan rezim ini dalam Pilpres tahun 2019 lalu.

Uniknya pembatalan kajian online ini dengan alasan belum dapat ijin dari direksi, dan dainya dituduh radikal. Tentu saja gelombang reaksi penolakan mencuat, dan menyerang balik sang komisaris sebagai anti Islam.

pelni radikal

Atas desakan berbagai pihak itu, akhirnya pihak PT Pelni kembali mencabut pembatalan itu. Apa yang dilontarkan Kristia tidak lepas dari pelni radikal liar yang dilempar oleh Said Aqil Siraj (SAS) ketika menyodorkan Wahabi sebagai pintu masuk terorisme.

Tanpa mengunyah lebih matang atau ada kesengajaan, Kristia Budyarto langsung membatalkan kajian Ramadhan di PT Pelni itu. Jejak digital ungkapan Kristia berbunyi : “Itu pejabat yang terkait dengan kepanitiaan acara tersebut telah DICOPOT. Ini pelajaran sekaligus WARNING kepada seluruh BUMN. Jangan segan-segan MENCOPOT ataupun MEMECAT pegawainya yang terlibat radikalisme. Jangan beri ruang sedikitpun, BERANGUS.” Politik pelni radikal hangus ini terasa aneh, karena sederet narasumber yang dituduh radikal, justru berada di garda terdepan dalam memerangi radikalisme ini.

Ust. Firanda Andirja, Syafiq Reza Basalamah, Ust. Rizal Yuliar, Ust. Subhan Bawazier, dan KH Cholil Nafis, justru dikenal jamaahnya sebagai ceramah yang menyejukkan dan tak pernah mengkritik pemerintah secara terbuka. Maka wajar bila masyarakat menuduh balik bahwa komisaris BUMN ini sedang terwabah halusinasi bahaya radikalisme. Wacana bahaya Islam radikal yang disampaikan Kristia memang blunder besar bagi dia, tetapi realitas ini menunjukkan pihak-pihak yang menaruh dendam kebencian pada Islam tidaklah hilang.

Publik pun mempertanyakan wewenang Kristia sebagai pejabat publik dan berada di level tinggi, tetapi tiba-tiba melompat mengurusi hal-hal yang jauh dari urusannya. Apa yang dilakukan Kristia menunjukkan kepongahan sekaligus ketidakprofesionalan.

Dikatakan pongah karena merasa dirinya memiliki kekuasaan yang bisa mengintervensi level yang paling bawah. Dikatakan tidak profesional karena sebagai komisaris seharusnya mengurusi pekerjaan besar yang bisa mendongkrak surplus BUMN ini.

pelni radikal

Bukan justru menciptakan kegaduhan di tengah problem negara yang sedang menghadapi masalah ekonomi. Publik pun bertanya, apakah selaku komisaris, Kristia sedang menghadapi masalah besar sehingga mengalihkan perhatian publik dengan memproduksi wacana bahaya radikalisme. Atau memang dia dipilih sebagai komisaris bertugas untuk terus mendiskreditkan umat Islam, dan itu bagian dari dirinya yang inheren dengan kebencian pada Islam.

Umat Islam akhirnya menyadari bahwa Kristia memang sosok yang unik dalam BUMN. Betapa tidak, baru kali ini seorang komisaris berkiprah dalam melahirkan adanya wacana bahaya radikalisme dan mengajak BUMN lain untuk mencermati bahaya radikalisme. Tindakan Kristia jelas merugikan negara, karena dia tak kontributif. Padahal negara telah memberi insentif atau gaji sangat besar kepadanya. Sementara apa yang dia lakukan jelas mencemarkan nama institusinya.

Alangkah bangganya jika PT Pelni memberi contoh kepada BUMN-BUMN yang lain karena mendorong karyawannya untuk berprestasi, sehingga bisa memperbesar kontribusinya pada negara. Bukan sebaliknya justru mewacanakan ilusi kosong yang kontra produktif bagi negara. Kajian online saat ramadhan seharusnya menjadi momentum untuk mendorong karyawannya bisa berbenah diri, baik dalam konteks agama dan keruhanian mereka.

Sehingga diharapkan bisa bekerja lebih profesional dan berujung menguntungkan negara. Dengan menstigma bahaya radikal, justru memperkeruh suasana internal, dan menstimulasi pihak eksternal untuk tidak respek pada PT Pelni.

Apalagi pelni radikal mencopot orang-orang yang terlibat dalam kepanitiaan dengan mengaitkan radikalisme, tanpa ada pemulihan kembali. Akankah orang yang dicopot karena dianggap radikal bisa kembali ke posisi semula seiring dengan pencabutan kembali apa yang pernah diucapkannya. Ketika tercipta kenyamanan kerja dan dukungan profesionalitas yang disupport oleh nilai-nilai agama, maka PT Pleni diharapkan bisa menjadi BUMN yang mempelopori profesionalitas, sehingga menopang keuangan negara.

Dengan sosok Kristia ini, PT Pelni justru dikenal dengan BUMN yang alergi terhadap agama karena menciptakan stigma radikal secara salah, dan hal ini merupakan fenomena phobia Islam.
ERROR: The request could not be satisfied 403 ERROR The request could not be satisfied.

Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront (CloudFront) Request ID: 6DQVzrg_KejXPYPow_WCLpnZx3rAbd4sMlsQvXt7AKD5fxIkqJ4kcA==
• • Mitra Terkini • Ceperan • Adpoin Pro • NETWORK • Aceh Tamiang • Ambon • Bali • Balikpapan • Bandaaceh • Bandar Lampung • Bandung • Bangka • Banjar • Banjar Baru • Banjarmasin • Banjarnegara • Banyumas • Barru • Batam • Bekasi • Bogor • Bondowoso • Bone • Bontang • Bulukumba • Cilacap • Cirebon • Deli Serdang • Depok pelni radikal Garut • Gowa • Indramayu • Jakarta • Jayapura • Jember • Jeneponto • Jombang • Kebumen • Kediri • Kendari • Kota Jambi • Kota Tual • Kudus • Kupang • Lampung Barat • Madiun • Magelang • Makassar • Malang • Malili • Mamuju • Manado • Manggarai • Maros • Masamba • Medan • Minahasa Utara • Muna • Nganjuk • Ngawi • Nunukan • Padang • Palangka Raya • Palu • Pamekasan • Pangkep • Parepare • Pekalongan • Pekanbaru • Pinrang • Ponorogo • Pontianak • Rajaampat • Rejang Lebong • Samarinda • Samosir • Semarang pelni radikal Serang • Siantar • Sidoarjo • Sidrap • Simalungun • Singkawang • Sinjai • Solo • Soppeng • Sorong • Sragen • Sukabumi • Sumedang • Surabaya • Takalar • Tangerang • Tangsel • Tarakan • Tasikmalaya • Toba • Toraja Terkini.id, Jakarta – Kabar pembatalan sebuah kajian online Islam di BUMN (PT Pelni) lantaran mayoritas penceramah yang diundang diduga radikal baru-baru ini menghebohkan publik.

Diketahui bahwa direksi PT Pelni akhirnya membatalkan acara kajian Islam Ramadan daring di Badan Kerohanian Islam PT Pelni karena ingin menindak radikalisme. Tak hanya itu, kabarnya pejabat BUMN pun sampai dicopot alias dipecat karena mengurusi kajian tersebut. Dede mengonfirmasi bahwa memang pejabat yang terlibat telah dicopot sebagai bentuk nyata dari sikap tegas pelni radikal radikalisme.

Baca Juga: Komisaris Pelni: Kalau Belum Bisa Seperti Saya Didik Anak 8. Dede mengatakan pencopotan pejabat itu sekaligus peringatan bagi kalangan BUMN agar tak sembarangan memberi panggung bagi penceramah radikal.

“Selain pejabat yang terkait dengan kepanitiaan acara tersebut telah DICOPOT. Ini pelajaran sekaligus WARNING kepada pelni radikal BUMN, jangan segan-segan MENCOPOT ataupun MEMECAT pegawainya yang terlibat radikalisme. Jangan beru ruang sedikitpun BERANGUS,” tulis Dede dalam akun Twitternya, dikutip terkini.id dari Hops.id pada Jumat, 9 April 2021. “Panitia menyebarkan info terkait pembicara Ramadhan belum ada pelni radikal dari Direksi. Oleh sebab itu kegiatan tersebut DIBATALKAN,” sambungnya.

Baca Pelni radikal Komisaris Pelni: Kalau Belum Bisa Seperti Saya Didik Anak 8. Dalam keterangan tersebut, Dede mengungkapkan alasan mengapa acara kajian Ramadan daring Bakis Pelni itu dibatalkan seluruhnya. Secara terang-terangan, ia mengatakan bahwa alasannya karena mayoritas pengisi acara merupakan penceramah radikal.

Menanggapi hal tersebut, rupanya banyak netizen yang tak setuju hingga akhirnya mengecam tindakan PT Pelni. Bahkan akun Twitter resmi Republika juga turut buka suara mengenai keputusan tersebut. “Ustaz Syafiq Basalamah bersikap tak setuju dengan mereka yang mengkritik pemerintah, malah dilabeli radikal oleh komisaris Pelni. Menurut sobat Republika, Radikal itu seperti apa? #Rolmin,” tulis akun @republikaonline. “beginilah akibatnya kalo relawan jadi komisaris BUMN, dulu kerjanya apa itu org?

apa bukan dari pengangguran akut ya, sampe segitu ketika dpt jabatan,” timpal akun @AndroidDev77. “Standar nya aja dulu dari pemerintah atau pelabel radikal biar kite2 tahu pelni radikal rambu2 radikal biar kita gak di tuduh radikal, radikul…. Pelni radikal mereka anti demo …. Patuh pada penguasa tanpa syarat asal mereka diberi kebebasan untuk shalat…,” imbuh akun @Alhamdulillahm7. Sementara di cuitan terpisah, beberapa netizen juga memang ramai membicarakan perihal pembatalan dan pelabelan “ustaz radikal” tersebut.

“Yang enggak radikal menurut si dedek itu klo ga jenggotan, ga cingkrang, rambut gondrong banyak kutu, isi ceramah nya menghina masa kecil Rasulullah, menghina pernikahan Rasulullah dengan syaidah Aisyah,” tulis akun @KhaekalMuhamad tampak berapi-api, seperti dikutip terkini.id pada Jumat, 9 April 2021.

“Jenggot saya panjang, celana saya cingkrang, saya selalu shalat 5 waktu di masjid, saya sering mengikuti ceramah-ceramah ustadz-ustadz yang dicekal oleh bos besar Pelni.

Apakah saya radikal? Mohon dijawab sesegera mungkin,” tanya akun @yusharis. “Nonton tvone ternyata lg berantem masalah ini. In my opinion, kalimat radikalisme yg digunakan timing dan konteksnya tidak jelas. Di tv diklarifikasi radikalisme yg dimaksud adalah pegawai yg melanggar aturan berarti dia radikal, tp tweet diatasnya pas banget membatalkan ceramah,” komentar akun @rcindysz.

“Saya bingung. Giliran ada orang mau dengar ceramah malah dibilang terlibat radikal. Susah banget jaman sekarang. Saya tau tengah gencarnya Terorisme dan Radikalisme. Tapi jangan disamaratakanlah. Ga semua ustad begitu.

pelni radikal

RIP Toleransi,” ujar akun @kecapmanisee.

Ceramah Ramadhan Dituduh Radikal, MUI: Sangat Melukai Umat Islam!




2022 www.videocon.com