Apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil, isteri mendapat

apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil, isteri mendapat

Contoh Soal Latihan PAI Tentang Pernikahan Kelas 12 SMA/SMK K13 Terbaru I. Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, d, atau e yang dianggap sebagai jawaban yang paling tepat!

1. Pernyataan di bawah ini merupakan fungsi dari sebuah pernikahan, kecuali …. a. tempat berlangsungnya proses penanaman nilai b. menjaga diri dari berbagai macam penyakit c. penerus dari keberadaan eksistensi manusia d. perlindungan bagi terjaganya akhlak e. sebagai tempat mewujudkan kasih sayang 2. Seorang pemuda berusia 27 tahun, punya keinginan besar untuk menikah tetapi secara ekonomi kondisinya belum memadai, agar selamat dari perbuatan dosa, sebaiknya pemuda tersebut.

a. menikah dengan minta bantuan orangtua b. menikah dengan mengadakan resepsi sedehana c. menahan keinginannya karena dalam kondisi tidak wajib d. tunda keinginan untuk menikah sampai apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil secara materi e.

banyak berpuasa untuk meredam nafsu sambil mengumpulkan materi 3. Ibu Siti ketika menikah dengan bapak Ahmad membawa seorang putri yang bernama Aisyah, ketika perkawinan mereka kandas di tengah jalan dan perceraian merupakan jalan terbaik. Seandainya bapak Ahmad ingin menikah kembali, maka terlarang baginya untuk menikahi Aisyah, karena Aisyah merupakan mahram dengan sebab. a. keturunan b. persusuan c. pernikahan d.

pertalian agama e. dimadu 4. Suami istri harus berusaha menciptakan suasana tentram dan damai dalam keluarga. Berikut ini yang tidak mendukung suasana tersebut adalah. a. mengajak keluarga untuk berwisata bersama b. membiasakan ucapan yang santun dalam keluarga c. menanamkan nilai-nilai keislaman pada keluarga d. menyibukkan diri dengan salat sunah selama berada di rumah e.

menemani anak-anak mengejakan PR atau tugas sekolah lainnya 5. Perhatikan pernyataan berikut ini! 1) Terhindar dari perbuatan maksiat 2) Untuk meneruskan kehidupan manusia 3) Pasangan yang didapat sesuai dengan perilaku 4) Terwujudnya ketentraman, kasih sayang dan cinta 5) Ikatan yang menyatukan seorang laki-laki dan wanita 6) Merupakan status simbol dalam kehidupan masyarakat Melalui pernyataan tersebut, yang termasuk hikmah pernikahan adalah nomor.

a. 1), 2) dan 3) b. 4), 5) dan 6) c. 1), 2) dan 4) d. 3), 5) dan 6) e. 2), 3) dan 4) 6.

apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil, isteri mendapat

Pernikahan berstatus sah jika antara lain ada walinya. Adapun orang yang tidak sah menjadi wali pengantin wanita sebagai berikut, adalah. a. bapak pengantin wanita b. saudara laki-laki sebapak c. anak laki-laki dari saudara sebapak d. kakek mempelai wanita isteri mendapat. saudara tiri laki-laki dari mempelai wanita 7. Apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil, maka isteri mendapat .

a. harta waris dari suaminya b. izin pulang ke rumah orang tuanya c. kesempatan untuk menikah lagi d. pakaian, belanja bulanan dan tempat tinggal e. wasiat tentang harta kekayaan orang tuanya 8. Menurut ajaran Islam, yang lebih kita utamakan dalam memilih pasangan hidup adalah .

a. agama dan pendidikan b. golongan, suku dan kebangsaan c. rupa dan adat istiadat setempat d. pangkat, golongan dan penghasilan e. harta dan tingkat keturunan dalam masyarakat 9. Talak yang dijatuhkan suami kepada istrinya dengan jalan tebusan dari pihak istri, baik dengan jalan mengembalikan mas kawin atau dengan memberikan sejumlah uang yang disetujui oleh mereka berdua disebut … a.

khulu’ b. ila' c. fasakh d. dzihar e. li’an 10. Berikut ini yang tidak termasuk kewajiban suami dalam kehidupan berumah tangga, adalah. a.

apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil, isteri mendapat

Memberikan nafkah, sandang pangan kepada istri dan anak-anaknya b. Memimpin serta membimbing istri dan anak-anaknya agar bertaqwa c. Menggauli istrinya secara ma’ruf d. Memelihara istri dan anak-anaknya dari bencana dunia akherat e. Menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak disukai suami II. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan benar. 1. Jelaskan pengertian nikah menurut Islam! 2. Tuliskan tujuan nikah! 3. Pernikahan dinyatakan sah apabila memenuhi 5(lima) rukun nikah, sebutkan!

4. Bagaimanakah cara memilih jodoh(isteri atau suami) menurut Islam! 5. Tuliskan 3 (tiga) macam kewajiban suami terhadap isteri! 6. Bagaimana pendapat kalian tentang hidup bebas tanpa nikah yang banyak terjadi di tengah masyarakat dalam hubungannya dengan hukum Islam! 7. Apakah yang dimaksud dengan mahram! 8. Jelaskan macam-macam hukum nikah!

apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil, isteri mendapat

9. Jelaskan isi kandungan Q.S.adz-Zariyat/51:49! 10. Tuliskan sighat Ijab dan Qabul secara lengkap! Talak ketika Istri Dalam Keadaan Hamil Pertanyaan, Assalamu’alaikum ustadz. Sahabat ana menanyakan, bagaimana hukumnya talak pada saat istri yang sedang dalam keadaan hamil? adakah hadits yang rajih (kuat) yang menunjukkan boleh-tidaknya talak (cerai) dalam kondisi istri sedang hamil?

jazakallahu khoiron, wassalamu’alaikum wr wb. Kunarfi Amar Sidiq ( [email protected]) Jawaban: Wa ‘alaikumus salam Keterangan Syekh Abdul Aziz bin Baz Talak Ketika Hamil Masalah ini banyak dibicarakan masyarakat.

Sebagian orang awam beranggapan bahwa talak untuk istri yang sedang hamil, tidak sah. Saya tidak tahu, dari mana datangnya anggapan semacam ini. Sementara tidak ada satupun keterangan dari ulama. Namun, keterangan yang ada dari para ulama bahwa talak untuk istri yang sedang hamil adalah sah. Ini adalah kesepakatan ulama, tidak ada perselisihan.

Terdapat hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa tatkala Ibnu Umar mentalak istrinya ketika haid, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Ibnu Umar untuk mempertahankan istrinya sampai selesai haidnya dan bersuci. Kemudian beliau bersabda, ثم ليطلقها طاهرا أو حاملا “Silahkan talak istrimu, dalam kondisi suci atau ketika sedang hamil.” (HR. Ahmad dan Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa talak untuk wanita hamil statusnya sama dengan talak untuk wanita suci yang belum disetubuhi.

Ringkasnya, mentalak wanita ketika hamil hukumnya boleh. Bahkan termasuk talak sunnah, menurut pendapat yang kuat. Talak yang dilarang adalah talak sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, yaitu talak ketika haid atau nifas.

Selama wanita sedang haid atau nifas maka tidak boleh seorang suami yang muslim mentalaknya. Sumber: http://www.ibnbaz.org.sa/mat/12770 Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah) Artikel www.KonsultasiSyariah.com Artike yang berkaitan dengan talak (cerai): 1.

Al-Muhallil Menikah untuk Dicerai. 2. Haruskah Aku Talak Istri yang Berselingkuh? 3. Cara Rujuk Setelah Talak Tiga. 4. Cerai Bohong-bohongan. 5. Haruskah ada Saksi saat Rujuk dan Cerai? 6. Ingin Kembali Setelah Jatuh Talak. 🔍 Kemana Ruh Manusia Setelah Mengalami Kematian, Insya Allah Artinya, Ruqyah Agar Cepat Dapat Jodoh, Jilbab Syar'i Panjang, Amalan Basmalah, Setelah Kematian POPULAR CATEGORIES • FIKIH 1490 • AQIDAH 931 • Ibadah 790 • Sholat 599 • Halal Haram 552 • Pernikahan 517 Recent Posts • Bolehkah Ayah Mencium Anak Perempuannya yang Sudah Dewasa?

• Apakah Jual Beli Kurma Secara Online Termasuk Riba? • Hukum Shalat di Antara Tiang-tiang dalam Shalat Jama’ah • Hukum Meminjam Uang di Pinjaman Online (Pinjol) • Apa yang Dilakukan Masbuk ketika Masuk ke Shaf? • Sembuh Sakit karena Bersedekah
Menu • Buku • Daftar buku lengkap • Daftar buku lengkap • Akhlak Rasul • Rumah Tangga Bahagia • Keluarga Sakinah • Kebangkitan Islam • Pendidikan Islam • Wanita Sholihah • Akhlak Mulia • Cara Menulis • Bahasa Arab Modern • Konsultasi • Cara Tanya • Cara Tanya Waris • Nikah • Cerai • Waris • Dosa • Taubat Nasuha • Islam • Dua Kalimah Syahadat • Shalat 5 Waktu • Puasa Ramadan • Zakat • Haji dan Umrah • Taubat Nasuha • 70 Dosa Besar • Cara Masuk Islam • Terbaru • Artikel Terbaru • Daftar Isi Situs • Taubat Nasuha • Dosa Besar • Wudhu dan Mandi Isteri mendapat • Najis dan Bersuci • Cara Masuk Islam • Khalwat • About • Tentang Kami • Sitemap • Aswaja • Bid'ah Baik • Doa Harian • Shalat Sunnah Rawatib • Situs Wahabi • Situs Hizbut Tahrir TALAK ISTRI SEDANG HAID, APAKAH SAH?

Ass,wr,wb Ustad saya mau bertanyasaya seorang istri dan saya sudah ditalak suami saya 2xsuami saya berkata dalam keadaan emosi @ Pada talak pertama suami saya berkata seperti ancaman "kalau kamu tidak nurut kita pisah" banyak mengatakan demikian itu dikatakan talak 1setelah talak pertama suami saya belum pernah mengatakan secara langsung kepada saya untuk rujuk tapi dia mengajak saya untuk berhubungan intimsaya berkata "aku kan sudah ditalak rujuk dulu baru boleh campur " suamiku tidak menjawab @ pada talak kedua disaat kami bertengkar hingga dia membanting2 barang dan saat itu suami saya habis mengkonsumsi minuman keras lalu dia sambil mengatakan " kita cerai saja "pada kondisi itu juga saya sedang haid yang mau selesai 1.

Apakah talak kedua di anggap sah ? 2. Bila memang itu sah saya sudah ditalak 2apakah saya masih bisa rujuk dan bagaimana caranya ? Terima kasih ustad Wss TOPIK KONSULTASI ISLAM • TALAK ISTRI SEDANG HAID, APAKAH SAH? • TALAK SAAT HAMIL, SAH ATAU TIDAK? • ISTRI INGIN GUGAT CERAI KARENA TAK DIBERI NAFKAH SUAMI • WANITA YANG SAYA CINTAI BERSUAMI PREMAN • PERNAH BERCUMBU, APAKAH PERLU CERITA PADA CALON SUAMI? • AQIQAH DENGAN UANG HASIL MENABUNG • CARA MELUNASI HUTANG YANG BANYAK • BERWUDHU DARI BAK MANDI • CARA TAUBAT DOSA ONANI • DZIKIR DAN DOA YANG DIAJARKAN RASULULLAH • PRIA MENIKAHI WANITA YANG LEBIH TUA, BOLEHKAH?

• HARTA WARISAN PENINGGALAN MAMA • CARA KONSULTASI SYARIAH ISLAM JAWABAN 1. Ucapan talak yang pertama disebut talak mu'allaq atau talak kondisional yakni "kalau kamu tidak nurut kita pisah".

Talak baru jatuh kalau istri tidak mentaati perintah atau keinginan suami seperti disebut dalam konteks ucapan tersebut. Kalau istri mentaati suaminya maka talak tidak terjadi. Kami tidak tahu Talak kedua jelas talak sharih dan jatuh talak walaupun diucapkan suami saat istri sedang haid. Mentalak istri saad sedang haid hukumnya haram, haram dan berdosa bagi suami melakukan itu.

Talak ini disebut talak bid'ah. Namun status talaknya tetap terjadi dan sah. Imam Nawawi dalam Syarah Muslim 10/60 menyatakan: أجمعت الأمة على تحريم طلاق الحائض الحائل بغير رضاها فلو طلقها أثم ووقع طلاقه ويؤمر بالرجعة Artinya: Ulama sepakat atas haramnya suami mentalak istri yang sedang haid yang tidak hamil tanpa kerelaan istri.

Kalau suami melakukan itu, maka ia berdosa tetapi talaknya terjadi. Dan suami dianjurkan untuk rujuk. 2. Talak pertama baru dianggap sah apabila anda tidak menuruti permintaan suami saat ia menyatakan "kalau kamu tidak nurut kita pisah." Kalau ternyata anda nurut, maka talak tidak terjadi.

Terlepas dari itu, seandainya pun kedua talak itu terjadi, maka berarti telah jatuh talak 2 (dua). Suami yang mentalak istrinya dengan talak 2 masih bisa rujuk. Adapun cara rujuknya cukup menyatakan: "Aku rujuk" Ini apabila masa iddah belum habis.

Baca detail: Cerai dalam Islam Kalau masa iddah sudah habis, maka cara rujuknya adalah dengan akad nikah baru dengan adanya wali dan dua saksi. Baca isteri mendapat Pernikahan Islam _______________________ TALAK SAAT HAMIL, SAH ATAU TIDAK? Assalamualikum. 1. saya mau bertanya kalau seorang isteri yang lagi hamil 3 bulan dan diceraikan sama suami apa cerai nya itu sah dengan arti kata talak nya jatuh atau tidak.

terima kasih sebelum nya.wasalam. JAWABAN 1. Berda Talak suami pada istri yang sedang hamil hukumnya boleh, sah dan terjadi dan termasuk dalam kategori tala sunnah. Bersarkan pada hadits sahih dalam Sahih Muslim hadits #1471 Nabi bersabda kepada Ibnu Umar yang habis mentalak istrinya saat haid: قوله صلى الله عليه وسلم : ثم ليطلقها طاهرا أو حاملا فيه دلالة لجواز طلاق الحامل التي تبين حملها وهو مذهب الشافعي ، قال ابن المنذر : وبه قال أكثر العلماء منهم طاوس والحسن وابن سيرين وربيعة وحماد بن أبي سليمان ومالك وأحمد وإسحاق وأبو ثور وأبو عبيد ، قال ابن المنذر : وبه أقول.

وبه قال بعض المالكية Artinya: Hadits ini menjadi dalil bolehnya menceraikan istri yang hamil yang jelas kehamilannya. Ini adalah madzhab Syafi'i. Pendapat ini disepakati oleh mayoritas ulama. . termasuk sebagian ulama mazhab Maliki.

Baca detail: Cerai dalam Islam _______________________ ISTRI INGIN GUGAT CERAI KARENA TAK DIBERI NAFKAH SUAMI selamat pagi p. ustadz saya mau tanya, saya menikah dengan suami saya karena terpaksa waktu itu saya dipaksa oleh orang tua saya,,akhirnya saya pun dengan terpaksa menikah. sekarang saya dari mulai saat pertama menikah sampai sekarang belum pernah dikasih uang belanja. 1. apakah saya boleh mengajukan cerai.mohon pencerahanya.

terima kasih JAWABAN 1. Boleh. Tidak mendapat nafkah dari suami bisa dijadikan alasan untuk mengajukan gugat cerai ke Pengadilan Agama. Baca detail: Cerai dalam Islam _______________________ WANITA YANG SAYA CINTAI BERSUAMI PREMAN Assalmualaiku wrwb.

Langsung aja. Saya sangat mencintai seorang wanita sebelum dan sesudah saya tau kalau ternyata dia punya suami, dulu dia di paksa oleh seorang laki laki (seorang preman) yg tidak lain suaminya sekarang untuk menikah jika tidak mau, laki laki itu mengancam akan membunuh keluarganya, setelah 1 tahun nikah wanita yg sangat saya cintai pergi keluar negri untuk mrnjauhi suaminya yg preman, suka mukul dan pemabuk itu. Dia minta cerai pada suaminya, tapi di tolak dengan ancaman yg membuat seluruh kelarga ketakutan, akhirnya setelah 10 tahun di luar negri kami saling jatuh cinta.

Pertanyaan: 1. Apa saya bisa menikahinya tanpa harus melalui perceraian dgn suami pertama untuk menghindari ancaman 2. apa yg harus saya lakukan agar kami bsa menikah tanpa dosa dan resiko NB: suaminya adalah preman yg gak segan untuk bacok orang, Bahkan oknum kepolisian menyarankan untuk menerima lamaran preman itu untuk menghindari tindakan yg akan di lakukan si preman jika wanita yg saya Sayangi menolaknya.!

JAWABAN 1. Tidak bisa. Selagi dia masih berstatus sebagai istri orang dan belum dicerai maka anda tidak bisa menikah dengannya. Kalau maka pernikahan itu tidak sah. Lihat: Bolehkah Perempuan ber-Suami Menikah Siri? 2. Lakukan gugat cerai ke Pengadilan Agama secara diam-diam dan katakan pada Hakim agar tidak memberitahu suaminya apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil potensi bahasa dan resiko yang mesti ditanggung.

Dengan membawa bukti dan saksi termasuk si polisi itu, maka insyaAllah Hakim akan menerima argumen si istri untuk mengadili soal ini tanpa kehadiran suami. Setelah ada putusan Hakim, maka anda isteri mendapat menikahinya setelah masa iddahnya habis. Baca detail: Cerai dalam Islam _______________________ PERNAH BERCUMBU, APAKAH PERLU CERITA PADA CALON SUAMI? assalamualaikum saya pernah melakukan ciuman dan tubuh saya pernah diraba, tapi saya untungnya tidak sampai melakukan hubungan antar kemaluan.

1. apakah saya harus memberitahukan ini kepada calon suami? JAWABAN 1. Tidak perlu memberitahu. Jagalah rahasia itu rapat-rapat. Yang penting saat ini adalah bertaubatlah pada dosa masa lalu dan perbaiki sikap dan perilaku anda pada suami. Baca juga: Cara Harmonis dalam Rumah Tangga _______________________ AQIQAH DENGAN UANG HASIL MENABUNG Assalamualaikum ustad, saya mau bertanya beberapa hal: 1. Dahulu orang tua saya belum mengaqiqahkan saya di karenakan keadaan yang sulit.

Apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil sekarang bolehkah saya aqiqah sendiri di mana uang untuk membeli kambingnya dari suami saya karena saya tidak bekerja (ibu rumah tangga) atau hasil dari uang menabung saya? 2. Saya mempunyai 2 anak perempuan.

apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil, isteri mendapat

Tetapi keduanya dari semenjak lahir maaf (kemaluannya) tidak di sunat. Saya mendapat penjelasan dari dokter katanya memang peraturan kedokteran dan dari MUI sekarang untuk anak perempuan yang terlahir sudah tidak perlu di lakukan sunat.

Dikarenakan dengan alasan kesehatan dan keharmonisan keluarga anak tersebut jika kelak dia dewasa. Bagaimana menurut ustad, karena saya juga pernah dengar kalau sunat untuk perempuan hukumnya sunat muakad.

Sebelumnya terima kasih atas jawabannya. Wasalam. JAWABAN 1. Boleh saja, tapi aqiqah itu hanya sunnah, tidak wajib. Dan sunnahnya itu apabila dilakukan oleh orang tua anda. Namun tidak apa-apa kalau anda mau aqiqah asal dapat ijin dari suami. Baca: Aqiqah dalam Islam 2. Khitan bagi perempuan adalah wajib menurut mazhab Syafi'i dan Hanbali.

Sedangkan menurut mazhab Maliki dan Hanafi hukumnya sunnah. Anda bisa mengikuti pendapat dokter tersebut kalau memang dianggap lebih baik menurut kesehatan. Baca: Hukum Khitan dalam Islam _______________________ CARA MELUNASI HUTANG YANG BANYAK Assalamualaikum, saya mau curhat hutang saya banyak saya udah gak mampu lagi untuk membayar nya, 1.

ada gak amalan untuk mendatangkan uang goib, atau nggak, bisa meringankan hutang saya terima kasih tolong balas secepat nya JAWABAN 1. Amalan paling mujarab untuk bayar hutang adalah kerja keras untuk melunasinya. Kalau tidak ada pekerjaan yang bergaji besar di Indonesia yang sesuai kemampuan anda, anda mungkin bisa mencoba kerja di luar negeri seperti Timur Tengah atau Asia Timur (Jepang, Korea, Hongkong). Baca: Hutang dalam Islam www.alkhoirot.net/2012/04/hutang-dalam-islam.html Untuk doa mudah rejeki dan bisa bayar hutang lihat di sini _______________________ BERWUDHU DARI BAK MANDI 1.

Bolehkah berwudhu/bersuci dari bak mandi yang memiliki kran yang sebelumnya saya mandi wajib dengan menciduk air dari bak tersebut? JAWABAN 1. Boleh karena status air masih suci dan mensucikan.

Yang tidak boleh kalau sebelumnya air itu sudah dipakai untuk mandi wajib dengan cara nyebur ke dalamnya dalam kondisi ini maka status air adalah suci tapi tidak mensucikan (tahir ghairu mutahhir). Baca: Cara Wudhu dan Mandi Junub _______________________ CARA TAUBAT DOSA ONANI Assalamualaikum 1. saya mau bertannya bagaimana caranya orang yang onani ingin bertaubat ? JAWABAN 1. Caranya, (a) berhenti dari perbuatan itu; (b) minta ampun pada Allah; (c) jauhkan apapun yang menyebabkan naiknya nafsu syahwat seperti video, bacaan dan gambar por-no.

Lihat: Cara Taubat Nasuha Baca juga: On-ani dalam Islam _______________________ DZIKIR DAN DOA Apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil DIAJARKAN RASULULLAH Assalamualaikum .

pak ustad saya mau bertanya, 1. bacaan dzikir dan doa yang di ajarkan Rosululloh itu seperti apa ya?? 2. dan kapan waktu yang tepat untuk menjalankan nya supaya saya bisa lebih mendekatkan diri kpada allah swt ?? sebelum nya sya ucapin terimakasih . JAWABAN 1. Doa paling disukai oleh Allah adalah shalat 5 waktu.

Adapun bacaan doa dan dzikir setelah shalat, lihat: Bacaan Doa dan dzikir setelah shalat. Setelah itu shalat sunnah sebelum dan sesudah shalat wajib. Baca: Shalat Sunnah Rawatib 2. Adapun doa-doa lain selain di atas bersifat occasional (sesuai situasi). Lihat di sini: Doa Sehari-hari _______________________ PRIA MENIKAHI WANITA YANG LEBIH TUA, BOLEHKAH? Assalamualaikum wr wb, Saya cowok 18thn mahasiswa semester 1 dan islam. Saya ingin berkonsultasi isteri mendapat pernikahan, sebenarnya ini hanya untuk menambah ilmu.

1. Apa hukumnya menikah dengan wanita islam lebih tua 5-10 tahun? Apa dampaknya bagi saya, keluarga, dan masyarakat sekitar? 2. Bagaimana caranya agar bisa menikah dengan wanita non muslim? Apa hukumnya? Dan bagaimana nya cara mengajak dia masuk ke agama islam?

Mohon jawabannya win win solution. Saya berterima kasih sebesar-besarnya. JAWABAN 1. Hukumnya boleh dan tidak ada dampaknya. Rasulullah sendiri isteri mendapat Khadijah saat umur istrinya lebih tua 10 tahun. 2. Menikah dengan wanita non-muslim yang ahli kitab (kristen, katolik, Yahudi) itu boleh berdasarkan QS Al-Maidah ayat 5. Namun sangat tidak dianjurkan karena dampak kurang baik bagi pendidikan anak dan juga kehidupan keseharian rumah tangga.

Sangat dianjurkan untuk mengajak dia masuk Islam lebih dulu sebelum menikah. Caranya: langsung saja diajak masuk Islam. Untuk memotivasi, beri dia bacaan tentang orang-orang bule yang masuk Islam. Anda bisa dapatkan bahan itu di internet atau di toko buku. _______________________ HARTA WARISAN PENINGGALAN MAMA Assalamualaikum Hi Tim Alkhoirot, Tanggal 11 September kemaren, Allah telah memanggil mama saya untuk menghadap-Nya. & berkenaan dengan hal itu saya ingin meminta bantuan tim Alkhoirot mengenai perhitungan pembagian waris yang sesuai ajaran Islam.

Saya sudah baca beberapa artikel mengenai itu (termasuk artikel dari tim Alkhoirot), tapi saya masih ada kebingungan seperti siapa duluan yang harus dihitung dan saya hitung tidak sampai angka 100%, lalu sisanya diapakan?

Apakah bisa diamalkan ke panti asuhan atau zakat mal atas nama mama? Kalau tidak keberatan, mohon bantu simulasikan pembagiannya. Berikut silsilah keluarga: - Bapak dari mama - Ibu dari mama (non-muslim) - Mama saya (yang meninggal) - Anak pertama mama (laki-laki) - Anak kedua (laki-laki) - Anak ketiga (perempuan - saya) - Cucu perempuan 1 org (dari anak pertama mama) Dari artikel yang saya baca, yang mempunyai hak waris secara Islam hanya orang-orang itu, karena kakak dan adik-adik mama sudah kalah posisinya karena keberadaan bapak dari mama (kakek saya) & anak laki-laki mama.

Semua barang peninggalan mama, ada rumah yang memang sudah dipesan ke saya dan kakak-kakak saya sejak mama masih sehat bahwa rumah itu akan diberikan ke saya karena saya anak perempuan. 1. Itu brarti untuk rumah tersebut tidak masuk perhitungan dalam pembagian warisan, kan? 2. Apakah pembagian warisan hanya terbatas pada harta berbentuk uang?

3. Bagaimana dengan mobil, baju, perhiasan dan aksesoris lainnya seperti jam tangan, barang elektronik, hp, dan lain-lain? 4. Sudah sejak lama mama sering bilang bahwa saya boleh memiliki semua perhiasan mama & baju-baju atau jilbab mama juga menjadi milik saya (beberapa memang saya sudah sering pinjem dari sejak mama masih sehat). Tapi semua kata-kata itu hanya disampaikan secara santai, obrolan biasa. Tidak seperti tentang rumah yang memang mama berbicara langsung di depan saya dan kakak-kakak saya.

Beberapa perhiasan mama yang memang disimpan memang sudah saya yang simpan karena bercampur dengan punya saya, tetapi mama ada cincin yang biasa dipakai. Bahkan ada jam yang dari harga terbilang mahal, tapi sepertinya agak susah untuk dijual lagi untuk mendapatkan nilai uangnya. Semua aksesoris itu yang saya takutkan akan menjadi perselisihan, tetapi kalau saya diam saja dan tetap menyimpannya, takut salah karena bukan hak saya dan menjadi tidak berkah.Mohon bantuannya untuk case yang saya sampaikan di atas ya.

Tolong dijelaskan perhitungannya dengan sejelas-jelasnya karena saya awam. Terima kasih banyak sebelumnya. Wa'alaikumsalam JAWABAN Cara membagi warisan Dalam kondisi di atas, yang mendapat warisan adalah sebagai berikut: (a) bapak dari mama mendapat bagian 1/6 (seperenam).

Cara membagi: 1/6 x seluruh harta (b) sisa harta yang 5/6 diwariskan pada ketiga anak kandung di mana anak lelaki mendapat bagian dua kali lipat dari anak perempuan. Cara termudah, bagi harta yang 5/6 ini menjadi 5 (lima) bagian, anak laki-laki masing-masing mendapat 2 (dua) bagian sedang anak perempuan mendapat 1 (satu) bagian.

(c) ibu dari mama tidak mendapat bagian karena non-muslim (d) cucu perempuan tidak mendapat bagian karena terhalang oleh adanya anak kandung.

Menjawab pertanyaan anda: 1.

apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil, isteri mendapat

Harta yang dihibahkan saat masih hidup tidak termasuk harta warisan. 2. Tidak. Harta warisan meliputi seluruh harta pewaris. 3. Itu semua termasuk harta warisan. 4. Soal perhiasaan dan baju-baju kalau memang dihibahkan maka bukan termasuk harta warisan. Namun karena tidak ada bukti dan tidak diucapkan di depan anak-anak yang lain, maka sebaiknya dikomunikasikan lebih isteri mendapat dengan mereka.

Baca detail: Hukum Waris Islam Saya mebutuhkan dalil dari Al-Quran dan Sunah yang dapat menjelaskan problem saya.

Sebelum menikah dengan suami saya, saya telah berzina dengannya sehingga kami mempercepat pernikahan untuk menyembunyikan apa yang kami lakukan (dan saya hamil).

Setelah beberapa lama, takdir Allah menentukan kehamilan saya gagal. Tapi Allah ganti dengan kehamilan berikutnya hingga kini saya sedang hamil. Suami saya telah mentalak saya sebanyak empat kali selama pernikahan kami.

Akan tetapi dia berkeyakinan bahwa ketiga talaknya yang pertama tidak berlaku, karena dia merupakan talak bid’i, karena dia lakukan dalam keadaan dirinya suci dan sudah dia gauli. Ketika itu dia sangat marah, perlu diketahui bahwa aku sedang hamil saat dia mentalak aku empat kali. Apa hukum pernikahan kami sejak awal? Apakah beberapa jumlah talak itu dianggap walaupun dia terjadi pada saat saya suci dan sudah digauli serta dalam kondisi suami sangat marah.

Jika jawabannya tidak, apakah pernikahan kami dianggap gugur dan batal? Apakah talak yang terjadi antara kami adalah talak bain kubra dan berikutnya kami diharamkan satu sama lain ataukah cukup bagi kami memperbarui akad kami atau menunggu anak kami lahir? Mohon penjelasannya. Alhamdulillah. Pertama: Anda sebutkan bahwa anda dalam keadaan hamil saat terjadi talak yang empat itu.

Talak hamil adalah talak suni (bukan bid’i), maka talaknya jatuh, walaupun dilakukan langsung setelah jimak. Hal ini telah dijelaskan dalam fatwa no. isteri mendapat. Jika suami anda merujuk anda pada setiap talak, kemudian dia mentalaknya lagi, maka semua talak itu jatuh, dan tidak ada satupun di antaranya yang dapat dikatakan bahwa itu talak bid’i. Jika suami anda menceraikan anda lagi sebelum dia rujuk, maksudnya dia mentalak anda, kemudian sebelum dia rujuk, ditalak lagi sekali lagi, maka talak yang kedua terjadi sejak masa idah dan talak pada masa idah termasuk talak bid’i, menurut pendapat yang kuat, talak ini tidak jatuh.

Penjelasan dalam masalah ini terdapat dalam fatwan no. 126549. Kedua: Berikutnya adalah menilai marah yang dilakukan suami anda. Talak orang yang marah dianggap jatuh jika marahnya tidak sampai derajat mengganggu pilihan dan keinginan seorang suami. Adapun jika marahnya sampai pada taraf dia tidak sadar apa yang dia ucapkan atau tidak memahami makna ucapannya, karena marah yang sangat membuat dia tidak dapat mengendalikan dirinya, maka talak seperti ini tidak jatuh.

Hal ini telah dijelaskan dalam fatwa no. 45174 Yang selayaknya anda berdua sikapi sekarang, hendaknya kalian berdua pergi ke lembaga Islam di kota anda, lalu menjelaskan secara terperinci kejadian yang sebenarnya. Sering terjadi bahwa apabila masalah ini diketahui secara terperinci, akan mempengaruhi hukum syar’i yang sedang kalian cari.

Ketiga: Jika terjadi talak tiga dari yang empat itu, maka terjadilah ba’in kubra. Maka anda (sebagai isteri) tidak halal lagi baginya sebelum anda menikah lagi dengan laki-laki lain selainnya. Tidak berguna dalam hal ini, memperbarui akad dan mengulangnya, selama anda belum menikah dengan suami lain. Adapun jika semua talak itu belum jatuh, atau jatuh hanya talak satu atau talak dua, maka ketika itu hubungan suami isteri di antara kalian masih dapat berlaku.

Keputusan akhir dalam kasus kalian ada di tangan lembaga Islam berdasarkan kejadiannya yang terperinci sebagaimana telah kami sebutkan.

Wallahu a’lam.
• Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) • E-Court • Direktori Putusan • Prosedur Berperkara • Tingkat Pertama • Tingkat Banding • Tingkat Kasasi • Tingkat Peninjauan Kembali • Prosedur Pengambilan Produk Pengadilan • Gugatan Sederhana Ekonomi Syari'ah • Gugatan Sederhana • Hak Hak Para Pencari Keadilan • Hak-Hak Pokok dalam Proses Persidangan • Tata Tertib Persidangan • Mediasi • Tata Cara Mediasi • Daftar Nama Mediator • Layanan Informasi Perkara • Jadwal Sidang • Statistik Perkara • Panggilan Ghoib • Delegasi/Tabayun • Validasi Akta Cerai • Biaya • Biaya Berperkara • Biaya Hak-Hak Kepaniteraan • Radius Biaya Panggilan • Laporan Penggunaan Biaya Perkara • Pengembalian Sisa Panjar Biaya Perkara • Prodeo • Syarat-Syarat Berperkara Prodeo • Prosedur Berperkara Prodeo • Rincian Isteri mendapat Prodeo yang Dibebankan ke Negara • Pos Bantuan Hukum • Posbakum • Penerima Jasa Posbakum • Jenis Jasa Hukum yang Dilayani • Syarat dan Mekanisme • Dasar Aturan Posbakum • Pedoman Pengelolaan Kepaniteraan • Kesekretariatan Informasi Kesekretariatan • Profil Pegawai • Profil Pimpinan • Profil Hakim • Profil Kepaniteraan • Profil Kesekretariatan • Profil PPNPN • Kepegawaian • Statistik Data Pegawai • LHKPN • LHKASN • Daftar Hasil Penelitian • Survey Kepuasan Masyarakat • Laporan Kepegawaian • Umum dan Keuangan • Perjanjian Pihak Ketiga • Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) • Realisasi Anggaran • Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK) • Neraca Keuangan • Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak • Aset dan Inventaris • Kertas Kerja (RKAL) • Laporan BMN • Perencanaan • Pengadaan Barang dan Jasa • Rencana Strategis (Renstra) • Rencana Kinerja Tahunan (RKT) • Rencana Aksi Kinerja • Perjanjian Kinerja (PK) • Indikator Kinerja Utama (IKU) dan Rreviu IKU • Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKjIP) • Rencana Kerja dan Anggaran • SAKIP • Pedoman Pengelolaan Kesekretariatan • Unit Pelaksana Teknis Kesekretariatan • Statistik Jumlah Pengunjung Website • Layanan Publik Informasi/Pengaduan • Layanan Pengadilan • Standar dan Maklumat Pelayanan • Jam Kerja Pelayanan • Isteri mendapat Publik • SOP Pelayanan Publik • Petugas PTSP dan Pengaduan • Alur Berperkara • Informasi Pelayanan SMS • Layanan Informasi Publik • Prosedur Pelayanan Permintaan Informasi • Hak Pemohon Informasi • Prosedur Keberatan atas Permintaan Informasi • Biaya Memperoleh Informasi • Formulir Permintaan Informasi • Laporan Akses Informasi • Alur Permohonan Informasi • Formulir Pengajuan Keberatan • Pengawasan • Sistem Pengawasan Mahkamah Agung RI (SIWAS MARI) • Pedoman Pengawasan • Kode Etik Hakim • Kode Etik Panitera & Juru Sita • Kode Etik Pegawai MA • Daftar Nama Pejabat Pengawas • Daftar Hukuman Disiplin • Putusan Majelis Kehormatan Hakim • Langkah Pemeriksaan • Statistik Hukuman • Layanan Pengaduan • Prosedur Pengaduan • Hak Pelapor & Terlapor • Laporan Pengaduan Masyarakat • Pedoman Pengaduan • Formulir Pengaduan • Penyampaian Pengaduan • Alur & Tahapan Penanganan • Tindak Lanjut Pengaduan • Pengaduan Layanan Publik • Prosedur Evakuasi • Publikasi Artikel & Arsip • Arsip Berita • Arsip Pengumuman • Arsip Multimedia • Arsip Foto • Arsip Video • Arsip Hasil Penelitian • Arsip Surat Perjanjian dengan Pihak Ketiga (MoU) • Regulasi/Aturan • Arsip Artikel apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil Reformasi Birokrasi • Akreditasi Penjamin Mutu (APM) • Zona Integritas (ZI) • Informasi Lainnya Informasi Lainnya Oleh Adeng Septi Irawan, S.H.*) [1] Pengertian dan Macam-macam Talak - Pengertian Talak Talak berasal dari kata ithlaq yang menurut bahasa berarti melepaskan atau meninggalkan.

Lalu menurut istilah syara’ talak yaitu: حَلُّ رَبِطَةِ الزَّ وَاجِ وَاِ نْهَا ءُ الْعلَا قَةِ الزَّ وْ جِيَّةِ “ Melepas tali perkawinan dan mengakhiri hubungan suami istri” al-Jaziry mendefinisikan اَلطَّلَاقُ اِزَ الَةُ النَّكَحِ اَوْ نُقْصَانَ حَلَّهِ بِلَفْظٍ مَخْصُوْصٍ “Talak ialah menghilangkan ikatan perkawinan atau mengurangi pelepasan ikatannya dengan menggunakan kata-kata tertentu”. Menurut Abu Zakaria al-Anshori حَلُّ عَقْدِ النَّكَاحِ بِلَفْظِ الطَّللَاقِ وَنَحْوِه “ Melepas tali akad nikah dengan kata talak dan yang semacam-nya”.

Jadi talak itu ialah menghilangkan ikatan perkawinan sehingga setelah hilangnya ikatan perkawinan itu istri tidak lagi halal bagi suaminya dan ini terjadi dalam hal talak ba’in, sedangkan arti mengurangi pelepasan ikatan perkawinan ialah berkurangnya hak talak bagi suami yang mengakibatkan berkurangnya jumlah talak yang menjadi hak suami dari tiga menjadi dua dari dua menjadi satu, dan dari satu menjadi hilang hak talak itu, yaitu terja-di dalam talak raj’i.

- Macam-Macam Talak - Ditinjau dari segi waktu dijatuhkannya talak, maka talak dibagi menjadi tiga macam: • Talak Sunniyaitu talak yang dijatuhkan sesuai dengan tuntutan sunnah.

Dikatakan talak sunni jika memenuhi empat syarat: • Istri yang ditalak sudah pernah digauli, bila talak dijatuhkan terhadap istri yang belum pernah digauli tidak termasuk talak sunni. • Istri dapat segera melakukan iddah suci setelah ditala, yaitu dalam keadaan suci dari haid. Menurut Ulama Apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil perhitungan iddah bagi wanita berhaid ialah tiga kali sucibukan tiga kali haid.

Talak terhadap istri yang telah lepas haid (menopause) atau belum pernah haid, atau sedang hamil, atau talak karena suami meminta tebusan ( khulu’) atau ketika istri dalam haid semuanya tidak termasuk talak sunni. • Talak itu dijatuhkan ketika istri dalam keadaan suci, baik di permulaan, di pertengahan maupun di akhir suci. kendati beberapa saat lalu datang haid. • iv. Suami tidak pernah menggauli istri selama masa suci dimana talak itu dijatuhkan. Talak yang dijatuhkan oleh suami ketika istri dalam keadaan suci dari haid tetapi pernah digauli, tidak termasuk talak sunni.

• Talak Bid’i yaitu talak yang dijatuhkan tidak sesuai atau bertentangan dengan tuntunan sunnah, tidak memenuhi syarat-syarat talak sunni, termasuk talak bid’I ialah: • Talak yang dijatuhkan terhadap istri pada waktu haid (menstruasi) baik di permulaan haid maupun di pertengahannya. • Talak yang dijatuhkan terhadap istri dalam keadaan suci tetapi pernah digauli oleh suaminya dalam keadaan suci dimaksud. • Talak la sunni wala bid’I yaitu talak yang tidak termasuk kategori talak sunni dan talak bid’I, yaitu: • Talak yang dijatuhkan terhadap istri yang belum pernah digauli • Talak yang dijatuhkan terhadap istri yang belum pernah haid, atau istri yang telah lepas haid • Talak yang dijatuhkan terhadap istri yang sedang hamil.

- Ditinjau dari segi tegas dan tidaknya kata-kata yang dipergunakan sebagai ucapan talak maka talak dibagi menjadi dua, yaitu: • Talak Sharihyatu talak dengan mempergunakan kata-kata yang jelas dan tegas, dapat dipahami sebagai pernyataan talak atau cerai seketika diucapkan. Imam Syafi’I mengatakan bahwa kata-kata yang dipergunakan untuk talak sharih ada tiga, yaitu talak (cerai), firaq (pisah), dan sarah (lepas), ketiga ayat itu disebut dalam al-Qur’an dan al-Hadits.

Apabila suami menjatuhkan talak terhadap istrinya dengan talak sharih maka menjadi jatuhlah talak itu dengan sendirinya, sepanjang ucapannya itu dinyatakan dalam keadaan sadar dan atas kemauannya sendiri. • Talak Kinayahyaitu talak dengan mempergunakan kata-kata sindiran atau samar-samar, seperti suami berkata engkau sekarang telah jauh dari diriku, selesaikan sendiri segala urusanmu, janganlah engkau mendekati aku lagi, keluarlah engkau dari rumah ini sekarang juga, susullah keluargamu sekarang juga.

Tentang kedudukan talak dengan kata-kata kinayah atau sindiran ini sebagaimana dikemukakan oleh Taqiyuddin al-Husaini, bergantung kepada niat suami. Artinya jika suami dengan kata-kata tersebut bermaksud menjatuhkan talak, maka menjadi jatuhlah talak itu, dan jika suami dengan kata-kata tersebut tidak bermksud menjatuhkan talak maka talak tidak jatuh. - Ditinjau dari segi ada atau tidaknya kemungkinan mantan suami merujuk kembali mantan istri. Maka talak dibagi menjadi dua macam, yaitu: • Talak Raj’Iyaitu talak yag dijatuhkan suami terhadap istrinya yang telah pernah digauli, bukan karena memperoleh ganti harta dari istri, talak yang pertama kali dijatuhkan atau yang kedua kalinya.

Setelah terjadi talak raj’I maka istri wajib beriddah hanya bila kemudian suami hendak kembali kepada bekas istri sebelum berakhir masa iddah, maka hal itu dapat dilakukan dengan menyatakan rujuk, tetapi jika dalam masa iddah tersebut bekas suami tidak menyatakan rujuk terhadap mantan istrinya, maka dengan berakhirnya masa iddah tersebut kedudukan talak menjadi talak ba’in kemudian jika sesudah berakhirnya masa iddah itu suami ingin kembali kepada bekas istrinya maka wajib dilakukan dengan akad nikah baru dan dengan mahar yang baru pula.

• Talak Ba’inyaitu talak yang tidak memberi hak merujuk bagi bekas suami terhadap bekas istrinya. Untuk mengembalikan bekas istri ke dalam ikatan perkawinan dengan bekas suami harus melalui akad nikah baru, lengkap dengan rukun dan syarat-syaratnya.

Talak Ba’in dibagi menjadi dua: • Talak Ba’in Shugro ialah talak ba’in yang menghilangkan pemilikan bekas suami terhadap istri tetapi tidak menghilangkan kehalalan bekas suami untuk kawin kembali dengan bekas istri, artinya bekas suami boleh mengadakan akad nikah baru dengan bekas istri, baik dalam masa iddahnya maupun sesudah berakhir iddahnya. Termasuk talak ba’in Shugro ialah: - Talak sebelum berkumpul - Talak dengan penggantian harta atau yang disebut Khulu’ - Talak karena aib (cacat badan), karena salah seorang dipenjara, talak karena penganiayaan atau yang semacam.

• Talak Ba’in Kubroialah talak ba’in yang menghilangkan pemilikan bekas suami terhadap bekas istri serta menghilangkan kehalalan bekas suami untuk kawin kembali dengan bekas istrinya, kecuali setelah bekas istri itu kawin dengan laki-laki lain dan telah berkumpul dengan suami kedua itu serta telah bercerai secara wajar dan telah selesai menjalankan masa iddahnya.

Talak ba’in kubro terjadi pada talak yang ketiga - Ditinjau dari segi cara suami menyampaikan talak terhadap istrinya, talak ada beberapa macam: • Talak dengan ucapan • Talak dengan tulisan • Talak dengan isyarat • Talak dengan utusan - Ditinjau dari segi masa iddah, ada: • Iddahnya haid atau suci • Iddahnya karena hamil • Iddahnya dengan bulan - Ditinjau dari segi keadaan suami, ada: • Talak mati • Talak hidup - Ditinjau dari segi proses atau prosedur terjadinya, ada : • Tidak langsung oleh suami • Talak tidak langsung lewat qadhi (pengadilan agama) • Talak lewat Hakamain [2] Talak yang Menjadi Penghalang untuk Mendapatkan Warisan Salah satu syarat seseorang mendapatkan warisan adalah adanya hubungan pernikahan (sababiyah) [3].

Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Q.S. an-Nisa’ ayat 12: ۞ وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ اَزْوَاجُكُمْ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهُنَّ وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ مِنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُّوْصِيْنَ بِهَآ اَوْ دَيْنٍ ۗ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّكُمْ وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ مِّنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوْصُوْنَ بِهَآ اَوْ دَيْنٍ ۗ وَاِنْ كَانَ رَجُلٌ يُّوْرَثُ كَلٰلَةً اَوِ امْرَاَةٌ وَّلَهٗٓ اَخٌ اَوْ اُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا السُّدُسُۚ فَاِنْ كَانُوْٓا اَكْثَرَ مِنْ ذٰلِكَ فَهُمْ شُرَكَاۤءُ فِى الثُّلُثِ مِنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُّوْصٰى بِهَآ اَوْ دَيْنٍۙ غَيْرَ مُضَاۤرٍّ ۚ وَصِيَّةً مِّنَ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَلِيْمٌ ۗ Artinya: “dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak.

jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil jika kamu tidak isteri mendapat anak.

jika kamu mempunyai anak, Maka Para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta.

tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.” Suami istri tersebut dapat saling mewarisi, apabila hubungan perkawinan mereka memenuhi dua syarat [4]: • Perkawinan mereka sah menurut syariat Islam, yakni dengan akad yang memenuhi syarat-syarat dan rukun-rukunnya.

• Masih berlangsung hubungan perkawinan, yakni hubungan perkawinan mereka masih berlangsung sampai saat kematian salah satu pihak suami atau istri, tidak dalam keadaan bercerai. Termasuk dalam pengertian masih berlangsung perkawinan, yaitu istri yang masih menjalani talak raj’i karena selama istri masih dalam keadaan talaq raj’i, suami dapat kembali rujuk kepada istrinya.

Oleh karena itu, apabila salah seorang suami atau istri dalam masa iddah talaq raj’i meninggal dunia, maka suami atau istri yang masih hidup berhak mendapatkan warisan. Akan tetapi, jika salah seorang di antara mereka meninggal dunia setelah masa iddah talaq raj’i berakhir, maka masing-masing tidak lagi saling mewarisi.

Berbeda halnya dengan suami istri yang masih dalam masa iddah talaq bain, maka antara suami dan istri tersebut tidak saling mewarisi sejak dijatuhkannya talaq bain tersebut. Pembagian Waris Terhadap Istri yang Ditalak - Istri yang dicerai dengan talak raj’i Apabila cerainya adalah talak raj’i: maka ia masih sebagai istri secara hukum syar’i.

karena masa iddah itu masih merupakan tanggungan suaminya, apabila perceraian dilakukan atas inisiatif suaminya (bukan karena li’an atau khuluk) tanggungan suami itu berupa nafkah lahiriyah papan, sandang dan pangan. Selama masa iddah, wanita tersebut tidak boleh dipinang, apalagi dinikahi orang lain.

apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil, isteri mendapat

{INSERTKEYS} [5] Apabila suaminya meninggal dunia maka sesungguhnya ia berhak atas warisan dari mantan suaminya berdasarkan firman Allah Shubhanahu wa ta’alla: قال الله تعالى: ﴿وَٱلۡمُطَلَّقَٰتُ يَتَرَبَّصۡنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلَٰثَةَ قُرُوٓءٖۚ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَن يَكۡتُمۡنَ مَا خَلَقَ ٱللَّهُ فِيٓ أَرۡحَامِهِنَّ إِن كُنَّ يُؤۡمِنَّ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَٰلِكَ إِنۡ أَرَادُوٓاْ إِصۡلَٰحٗاۚ وَلَهُنَّ مِثۡلُ ٱلَّذِي عَلَيۡهِنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ وَلِلرِّجَالِ عَلَيۡهِنَّ دَرَجَةٞۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ٢٢٨﴾ [سورة البقرة: 228] Artinya :Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'.

Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat.

Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa menanti itu jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf.

Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Baqarah:228) Dan firman –Nya: قال الله تعالى: ﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ إِذَا طَلَّقۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحۡصُواْ ٱلۡعِدَّةَۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ رَبَّكُمۡۖ لَا تُخۡرِجُوهُنَّ مِنۢ بُيُوتِهِنَّ وَلَا يَخۡرُجۡنَ إِلَّآ أَن يَأۡتِينَ بِفَٰحِشَةٖ مُّبَيِّنَةٖۚ وَتِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِۚ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ ٱللَّهِ فَقَدۡ ظَلَمَ نَفۡسَهُۥۚ لَا تَدۡرِي لَعَلَّ ٱللَّهَ يُحۡدِثُ بَعۡدَ ذَٰلِكَ أَمۡرٗا ١﴾ [سورة الطلاق : 1] Artinya : “Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertaqwalah kepada Allah Rabbmu.

Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang.

Itulah hukum-hukum Allah dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru”. (QS. Ath-Thalaq:1).

- Istri yang dicerai dengan talak ba’in, yang dijatuhkan ketika suami dalam keadaan sehat. Wanita atau istri yang dicerai atau di talak oleh suaminya yang meninggal dunia secara mendadak, sedang ia dicerai ba’in: seperti dicerai talak tiga atau ia (istri) memberikan pengganti kepada suaminya agar menceraikannya ( khulu’), atau ia di masa ‘iddah fasakh (pembatalan perkawinan) bukan ‘iddah talak, maka ia tidak berhak mendapat warisan dari mantan suaminya.

Akan tetapi ada satu kondisi di mana istri yang dicerai secara ba’in mendapat warisan dari mantan suaminya, seperti: apabila suaminya mencerai di saat sakit yang membawa kematiannya yang bertujuan untuk menghalanginya mendapatkan warisan. Maka dalam kondisi ini, ia (istri) mendapat warisan darinya sekalipun sudah habis masa ‘ iddah selama ia belum menikah, maka jika ia sudah menikah maka ia tidak berhak mendapat warisan.

- Istri yang dicerai dengan talak ba’in, yang dijatuhkan ketika suami dalam keadaan sakit . Tentang talak waktu sakit keras tak ada hukumnya dalam al-Qur'an maupun sunnah yang sah. Kecuali dari sahabat ada diceritakan tentang keputusan Utsman bin Affan terhadap Abdurrahman bin 'Auf dan isteri-isteri Ibnu Mikmal. sebagai berikut: • Dari Rabi'ah bin Abi Abdir-Rahman, ia berkata: Seorang isteri Abdurrahman bin 'Auf minta thalaq .

Maka ia berkata: Kalau engkau sudah bersuci (dari haidh) kabarkanlah kepadaku,. Setelah itu isterinya kabarkan kepadanya hal sudah bersihnya, lalu ia thalaq putus atau ia berikan thalaq yang ketinggalan, padahal ia dalam sakit di waktu itu.

Maka Utsman jadikan perempuan itu mendapat warisan (padahal) sudah habis masa iddahnya. (H.R.Malik). • Dari 'Abdurrahman bin Hurmuz Al-A'raj, bahwasanya Utsman bin'Affan memberi warisan kepada isteri-isteri Ibnu Mikmal, padahal ia telah ceraikan mereka dalam masa iddahnya. • Seorang pernah thalaq isteri-isterinya, dan hartanya ia bagikan diantara anak-anaknya. Tatkala sampai kabar kepada Umar, ia berkata: hendaklah engkau tarik kembali isteri-isterimu dan hartamu, atau aku jadikan mereka ahli warismu.

Bahwa perempuan yang dicerai oleh suaminya di dalam sakit atau hampir mati itu oleh Umar dan Utsman diberi pusaka. Alasan dari sisi agama pembagian ini belum jelas, tetapi kedua khalifah bisa jadi mempunyai salah satu pertimbangan berikut: • Merasa tidak patut seorang perempuan yang telah jadi isteri seseorang, lantas dicerai, dan tidak berapa lama sesudah itu ditinggal mati, sedang ia tidak dapat pusaka apa-apa, sebab tidak sedikit pada adatnya, ada usaha atau rembukan si mati buat mendapatkan harta itu, atau sebagian daripadanya.

• Memandang bahwa si suami ceraikan isteri-isterinya itu karena sengaja tidak hendak memberi pusaka yang isteri-isteri itu berhak mendapatkannya kalau mereka belum cerai. Juga terjadi ketika Utsman bin 'Affan menjatuhkan talak kepada isterinya bernama Ummul-Banin, puteri 'Uyainah binti Hashn Al-Fazaari, dimana ia turut terkepung di rumahnya. Tatkala Utsman terbunuh, Ummul-Banin itu datang kepada Ali memberitahukan kejadian tersebut. Maka Ali menetapkan untuk bagian pusaka harta Utsaman.

Dan Ali berkata: "(Utsman) telah meninggalkannya (Ummul-Banin) tetapi tatkala maut menjelang, bahkan ia mentalaknya." Dengan alasan ini lalu para ahli fiqih berselisih pendapat tentang talak yang dijatuhkan pada waktu sakit keras menjelang maut.

Pendapat Ulama dan Imam Madzhab - Golongan Hanaf i: "Jika suami sedang sakit lalu mentalak ba'in isteri, kemudian tak lama sesudah itu ia mati karena sakitnya tadi, maka bekas isterinya mendapatkan hak warisnya." Tetapi kalau ia mati sesudah habisnya iddah, maka bekas isteri tidak mendapatkan bagian warisan. (Ini disebut talak pelarian ( talaqul faar). (Talak bentuk I) Jika pada saat itu suami menyuruh atau berkata kepada isterinya: "Sekarang pilihlah!

Bersuamikan aku atau cerai, lalu isterinya minta cerai (Khulu') kepadanya. Kemudian setelah itu suaminya mati dalam masa iddah, maka bekas isterinya tidak dapat mewaris hartanya. (tidak mengandung unsur pelarian), karena isterinyalah yang meminta atau memilih diberikan talak, dan masalah ini hukumnya sama dengan orang yang menjatuhkan talak ba'in kepada isterinya, sedangkan ia dalam pengepungan musuh atau dalam barisan peperangan.

{/INSERTKEYS}

apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil, isteri mendapat

(Talak bentuk II) isteri mendapat Maliki "Bekas isteri seperti ini tetap mendapat warisan bekas suaminya, baik dalam masa iddah maupun tidak. baik sudah kawin lagi dengan orang lain ataupun belum." - Syafi'i : "Tidak berhak mewarisi lagi”. [6] - Umar dan 'Aisyah: "Bekas isteri tetap mendapat pusaka selama dalam iddah, karena iddah itu termasuk dalam hukum perkawinan dan karena diqiyaskan (analogi) dengan talak raj'i." - Ibnu Hazm : "Talak orang sakit sama hukumnya dengan talak orang sehat.

Tidak ada perbedaan apakah mati karena sakitnya itu atau tidak, jika yang sakit jatuhkan talak tiga kali atau ketiga kalinya atau sebelum bersetubuh lalu ia mati atau bekas isterinya mati sebelum iddah habis atau sesudah habis iddah, atau dalam talak raj'i sedang bekas suami tidak merujuknya sampai ia mati atau bekas isterinya mati sesudah iddahnya habis, maka bekas isteri sama sekali tidak mendapat hak waris.

Begitu pula bekas suaminya." - Imam Ahmad bin Hambal : “istri yang telah dicerai tetap mendapat waris dari suaminya yang dalam keadaan sakit yang menyebabkan wafatnya meskipun sebelum itu ia tidak digauli (disetubuhi) atau suami istri itu tidak pernah berduaan lagi, asalkan istri tidak kawin lagi dengan laki-laki lain.” [7] Dalam Bidayatul Mujtahid dikatakan bahwa perbedaan pendapat di atas adalah karena adanya perbedaan tentang wajib-tidaknya menggunakan saddud-dzaraa'i.

Ini karena talak yang dijatuhkan orang yang sedang sakit diprasangkai untuk menghalangi bagian pusaka yang seharusnya didapat oleh isteri kalau akad perkawinannya masih utuh. Bagi yang berpendapat bahwa saddud-dzaraa'i dapat dipakai ia mengharuskan pemberian pusaka kepada bekas isterinya. Dan bagi yang tidak menggunakan saddud-dzaraa'i, tetapi melihat adanya talak, ia tidak memberikan pusaka kepada bekas isterinya itu.

Karena itu lalu golongan ini berpendapat: " Jika talak telah sah, segala akibatnya berlaku seluruhnya." Bekas suami juga tidak mewarisi pusaka, jika yang mati itu bekas isterinya. Tetapi jika talaknya tidak sah, maka isteri tetap mendapatkan bagiannya yang ditetapkan oleh agama.

(Wallahu a’lam bis Shawab) KESIMPULAN Talak adalah menghilangkan ikatan perkawinan sehingga setelah hilangnya ikatan perkawinan itu istri tidak lagi halal bagi suaminya dan ini terjadi dalam hal talak ba’in, sedangkan arti mengurangi pelepasan ikatan perkawinan ialah berkurangnya hak talak bagi suami yang mengakibatkan berkurangnya jumlah talak yang menjadi hak suami dari tiga menjadi apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil dari dua menjadi satu, dan dari satu menjadi hilang hak talak itu, yaitu terjadi dalam talak raj’i.

Lebih spesifiknya lagi, macam-macam talak dapat diklasifikasikan berdasarkan segi waktu dijatuhkannya talak ( Talak Sunni, Talak Bid’I, dan Talak La sunni wala bid’I), segi tegas dan tidaknya kata-kata yang dipergunakan sebagai ucapan talak ( Talak Sharih, Talak Kinayah, Talak Raj’I, dan Talak Ba’in), segi cara suami menyampaikan talak terhadap istrinya (Talak dengan ucapan, Talak dengan tulisan, Talak dengan isyarat, dan Talak dengan utusan), segi masa iddah (Iddahnya haid atau suci, Iddahnya karena hamil, dan Iddahnya dengan bulan), segi keadaan suami (Talak mati dan Talak hidup), segi proses atau prosedur terjadinya (Tidak langsung oleh suami, Talak tidak langsung lewat qadhi, dan Talak lewat Hakamain).

Apabila salah seorang suami atau istri dalam masa iddah talaq raj’i meninggal dunia, maka suami atau istri yang masih hidup berhak mendapatkan warisan. Akan tetapi, jika salah seorang di antara mereka meninggal dunia setelah masa iddah talaq raj’i berakhir, maka masing-masing tidak lagi saling mewarisi. Berbeda halnya dengan suami istri yang masih dalam masa iddah talaq bain, maka antara suami dan istri tersebut tidak saling mewarisi sejak dijatuhkannya talaq bain tersebut.

Bahwa perempuan yang dicerai oleh suaminya di dalam sakit atau hampir mati itu oleh Umar dan Utsman diberi pusaka. Alasan dari sisi agama pembagian ini belum jelas, tetapi kedua khalifah bisa jadi mempunyai salah satu pertimbangan berikut: • Merasa tidak patut seorang perempuan yang telah jadi isteri seseorang, lantas dicerai, dan tidak berapa lama sesudah itu ditinggal mati, sedang ia tidak dapat pusaka apa-apa, sebab tidak sedikit pada adatnya, ada usaha atau rembukan si mati buat mendapatkan harta itu, atau sebagian daripadanya.

• Memandang bahwa si suami ceraikan isteri-isterinya itu karena sengaja tidak hendak memberi pusaka yang isteri-isteri itu berhak mendapatkannya kalau mereka belum cerai.

apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil, isteri mendapat

SARAN Penulis sadar bahwa dalam tulisan ini masih banyak kekurangan, oleh karenanya Penulis meminta kepada pembaca untuk memberikan kritik dan saran untuk substansi tulisan tersebut. DAFTAR PUSTAKA Ghazaly, Abd. Rahman.2003. Fiqh Munakahat.Jakarta:Prenada Media\ Abidin, Slamet dan Aminuddin.1999. Fiqh Munakahat II. Bandung : CV. Pustaka Setia Ramulyo, Moch. Idris. 1999.

Hukum Perkawinan Islam.Jakarta : Bumi Aksara Iskandar, Slamet.tt. Fikih Munakahat.Semarang : Fak. Tarbiyah IAIN Walisongo Ramulyo, M. Idris. 1994. Perbandingan Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dengan Kewarisan Menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata (BW). Jakarta. Sinar Grafika.

Nasution, Amin Husein. 2012. Hukum Kewarisan: Suatu Analisis Komparatif Pemikiran Mujtahid dan Kompilasi Hukum Islam. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada. Faridl, Miftah. 2004. 150 Massalah Nikah dan Keluarga. Jakarta. Gema Insani. Rusyd, Ibnu 1989. Bidayah al Mujtahid Wa Nihayah al Muqtasid.

Beirut. Dar Al-jiil. Adhim, Aziz Salim Basyarahil dan Fauzhil. 1999. Janda. Jakarta. Gema Insani Press. [1] Penulis adalah Hakim Pratama Pengadilan Agama Sukamara Kalimantan Tengah [2] Iskandar, Slamet. Fikih Munakahat.

Fak. Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.tt hal. 51 [3] M. Idris Ramulyo, Perbandingan Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam dengan Kewarisan Menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata (BW), (Jakarta: Sinar Grafika, 1994), hal. 108 [4] Amin Husein Nasution, Hukum Kewarisan: Suatu Analisis Komparatif Pemikiran Mujtahid dan Kompilasi Hukum Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2012), hlm.

75-76 [5] Miftah Faridl, 150 Massalah Nikah dan Keluarga, (Jakarta : Gema Insani, 2004), hlm. 150 [6] Ibnu Rusyd, Bidayah al Mujtahid Wa Nihayah al Muqtasid, Juz 2, Beirut: Dar Al-jiil, 1409 H/1989, hlm. 62 [7] Aziz Salim Basyarahil dan Fauzhil Adhim, Janda, (Jakarta : Gema Insani Press.

1999) hal. 139
1.) Apabila ada seorang suami yang mentalak bain istrinya yang hamil, istri mendapat. A. Harta warisan dari suaminya B. Izin pulang kerumah orang tuanya. C. Kesempatan untuk menikah lagi D. Pakaian belanja bulanan dan tempat tinggal. E. Wasiat tentang harta kekayaan orang tuanya 2.) Rukun nikah adalah suatu perkara yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan nikah jika tidak nikahnya tidak sah rukun nikah itu adalah sebagai berikut kecuali.

A. calon suami B. Calon istri C. Ijab Kabul D. Dua orang saksi E. Bapak pengantin wanita 3.) dibawah ini yang bukan merupakan tujuan nikah adalah. A. Supaya hidup manusia tentram dan bahagia.

B. Melaksanakan perintah Allah SWT. C. Membina rasa kasih sayang D. Mengikuti sunnah Rasulullah SAW. E. Terpenuhnya kebutuhan biologis semata. 4.) Berikut ini adalah termasuk kewajiban suami dalam kehidupan berumah tangga kecuali. A. Memberikan nafkah sandang pangan kepada istri dan anak-anaknya. B. Memimpin serta membimbing istri dan anak-anaknya agar bertaqwa.

C. Menggauli istrinya secara Ma'ruf. D. Memelihara istri dan anak-anaknya dari bencana dunia akhirat. E. Menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak sukai suami.​ 1. Apabila ada seorang suami yang mentalak bain istrinya yang hamil, istri mendapat pakaian, belanja bulanan dan tempat tinggal (Jawaban D) A. Harta warisan dari suaminya (Jawaban Salah) B. Izin pulang kerumah orang tuanya (Jawaban Salah) C. Kesempatan untuk menikah lagi (Jawaban Salah) D.

Pakaian belanja bulanan dan tempat tinggal (Jawaban Benar) E. Wasiat tentang harta kekayaan orang tuanya (Jawaban Salah) 2. Rukun nikah adalah suatu perkara yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan nikah jika tidak nikahnya tidak sah rukun nikah itu adalah sebagai berikut kecuali Bapak pengantin wanita, karena yang harus ada adalah wali. Jika bapaknya sudah tidak ada maka bisa digantikan dengan yang lain seperti kakak laki-laki, adik laki-laki atau paman.

(Jawaban E) A. Calon suami (Jawaban salah) termasuk rukun nikah B. Calon istri (Jawaban salah) termasuk rukun nikah C. Ijab Kabul (Jawaban salah) termasuk rukun nikah D. Dua orang saksi (Jawaban salah) termasuk rukun nikah E. Bapak pengantin wanita (Jawaban Benar) 3.

Dibawah ini yang bukan merupakan tujuan nikah adalah terpenuhinya kebutuhan biologis semata (Jawaban E) A. Supaya hidup manusia tentram dan bahagia. (Jawaban salah) merupakan tujuan nikah. B. Melaksanakan perintah Allah SWT. (Jawaban salah) merupakan tujuan nikah. C. Membina rasa kasih sayang. (Jawaban salah) merupakan tujuan nikah. D. Mengikuti sunnah Rasulullah SAW. (Jawaban salah) merupakan tujuan nikah.

E. Terpenuhinya kebutuhan biologis semata. (Jawaban Benar) 4. Berikut ini adalah termasuk isteri mendapat suami dalam kehidupan berumah tangga kecuali Menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak sukai suami.​ (Jawaban E) A. Memberikan nafkah sandang pangan apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil istri dan anak-anaknya.

B. Memimpin serta membimbing istri dan anak-anaknya agar bertaqwa. C. Menggauli istrinya secara Ma'ruf. D. Memelihara istri dan anak-anaknya dari bencana dunia akhirat. E. Menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak sukai suami.​ (Jawaban Benar) Pembahasan Talak secara bahasa berarti melepaskan ikatan. Kata ini adalah derivat dari kata الْإِطْلَاق “ithlaq”, yang berarti melepas atau meninggalkan. Secara syar’i, talak berarti melepaskan ikatan perkawinan.

Berikut ini adalah hukum yang berkaitan dengan masa iddah setelah talak yaitu: 1- Untuk wanita yang mengalami masa ‘iddah karena talak roj’iy (talak yang masih bisa dirujuki), maka ia masih memiliki hak apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil tempat tinggal dan nafkah.

Hal ini dikarenakan wanita yang ditalak roj’iy (yang masih bisa dirujuki), masih berstatus sebagai istri. Suami bisa saja rujuk kapan pun selama masa ‘iddah, tanpa melalui akad baru dan tanpa pula melalui ridho istri. 2- Untuk wanita yang ditalak ba-in (yang tidak bisa kembali kecuali dengan akad baru), maka ia masih mendapatkan hak rumah selama masa ‘iddah, namun tidak mendapatkan nafkah kecuali jika dalam keadaan hamil, maka tetap masih diberikan nafkah sampai melahirkan bahkan ketika mengasuh anak-anak tetap diberikan upah.

Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala, • أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ وَإِنْ كُنَّ أُولَاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآَتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ “Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.

Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya” (QS.

Ath Tholaq: 6). Ayat ini menunjukkan kewajiban memberikan tempat tinggal bagi setiap wanita yang masih dalam masa ‘iddah. Dan juga menunjukkan pengecualian bagi wanita hamil yaitu masih mendapatkan nafkah selain tempat tinggal. Sebagaimana didukung pula dalam hadits lainnya mengenai kisah Fathimah binti Qois radhiyallahu ‘anha ketika ia diceraikan oleh suaminya, lantas Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, • لاَ نَفَقَةَ لَكِ إِلاَّ أَنْ تَكُونِى isteri mendapat “Tidak ada nafkah untukmu kecuali jika engkau dalam keadaan hamil” (HR.

Abu Daud no. 2290. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Pelajari lebih lanjut 1. Materi tentang rukun nikah brainly.co.id/tugas/27560586 2. Materi tentang syarat nikah brainly.co.id/tugas/5314425 3.

Materi tentang tujuan menikah brainly.co.id/tugas/8723604 Detil jawaban Kelas: 10 Mapel: Agama Bab: Menjaga Martabat Manusia dengan Menjauhi Pergaulan Bebas dan Zina Kode: 10.14.12 Kata Kunci: Hukum Nikah, Tujuan Nikah, Pernikahan #AyoBelajarAssalamu ‘alaikum wr. wb. Pak ustadz yang kami hormati, semoga selalu lindungan Allah SWT. Kami ingin menanyakan tentang hukum menceraikan wanita dalam kondisi hamil.

Benarkah seorang suami dilarang menalak wanita yang sedang hamil? Atas jawabannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr.

apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil, isteri mendapat

wb. (Ahmad Hudri) Jawaban Assalamu ’alaikum wr. wb. Penanya yang budiman, semoga Allah SWT selalu menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa talak meskipun halal atau diperbolehkan, tetapi ia merupakan perbuatan yang tidak disukai Allah.

Karena itu talak mesti dipahami sebagai solusi terakhir ketika sudah ditemukan solusi lain untuk menyelesaikan kemelut dalam kehidupan berumah tangga. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim diceritakan bahwa Ibnu Umar RA menalak istrinya dalam kondisi haid.

Kejadian itu kemudian diceritakan oleh Umar bin Khatthab RA kepada Rasulullah SAW. Mendengar cerita tersebut lantas Rasulullah SAW meminta Umar bin Khaththab RA agar memerintahkan putranya untuk kembali kepada istrinya. Baru kemudian jika ia tetap ingin menceraikannya, maka ceraikan ketika dalam kondisi suci atau hamil. عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَهِيَ حَائِضٌ فَذَكَرَ ذَلِكَ عُمَرُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا ثُمَّ لِيُطَلِّقْهَا طَاهِرًا أَوْ حَامِلًا Artinya, “Dari Ibnu Umar RA bahwa ia pernah menalak istrinya dalam keadaan haid.

Kemudian Umar bin Khatthab RA menceritakan kejadian tersebut kepada Nabi. Lantas beliau pun berkata kepada Umar bin Khatthab RA, ‘Perintah kepada dia (Ibnu Umar RA) untuk isteri mendapat kepada istrinya, baru kemudian talaklah dia dalam keadaan suci atau hamil,” (HR Muslim).

Perintah Rasulullah saw kepada Ibnu Umar RA melalui ayahnya, yaitu Umar bin Khaththab RA itu setidaknya mengadung dua hal penting. Pertama, larangan untuk menalak wanita dalam keadaan haid. Kedua, kebolehan menalak wanita dalam keadaan suci atau hamil.

Senada dengan hal ini Muhyidin Syaraf An-Nawawi dalam Syarah Muslim-nya menjelaskan bahwa kandungan hadits tersebut menunjukkan kebolehan menalak wanita yang sedang hamil yang jelas kehamilannya. Menurutnya, ini adalah pandangan Madzhab Syafi‘i. Lebih lanjut, menurut Ibnul Mundzir, pandangan Madzhab Syafi‘i ini adalah pendapat mayoritas ulama. Di antara mereka adalah Thawus, Al-Hasan, Ibnu Sirin, Rabiah, Hammad bin Abi Sulaiman, Malik, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, dan Abu Ubaid.

فِيهِ دَلَالَةٌ لِجَوَازِ طَلَاقِ الْحَامِلِ الَّتِي تَبَيَّنَ حَمْلُهَا وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ قَالَ بْنُ الْمُنْذِرِ وَبِهِ قاَلَ أَكْثَرُ الْعُلَمَاءِ مِنْهُمْ طَاوُسٌ وَالْحَسَنُ وَبْنُ سِيرِينَ وَرَبِيعَةٌ وَحَمَّادُ بْنُ أَبِي سُلَيْمَانَ وَمَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ وَأَبُو ثَوْرٍ وَأَبُو عُبَيْدٍ Artinya, “Hadits ini menunjukkan kebolehan menalak wanita hamil ketika memang jelas kehamilannya.

Ini adalah pandangan Madzhab Syafi‘i. Ibnul Mundzir berkata, pandangan ini juga dianut oleh mayoritas ulama, antara lain Thawus, Al-Hasan, Ibnu Sirin, Rabiah, Hammad bin Abi Sulaiman, Malik, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, dan Abu Ubaid,” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi, Kairo, Darul Hadits, cet ke-4, 1422 H/2001 M, juz V, halaman 325). Ibnul Mundzir juga mengamini pendapat yang menyatakan kebolehan menalak wanita yang dalam kondisi hamil.

Demikian juga sebagian ulama dari isteri mendapat Madzhab Maliki. Namun ada juga sebagian ulama Madzhab Maliki yang mengharamkannya. Sedangkan riwayat lain mengtakan, Al-Hasan berpendapat bahwa menalak wanita yang sedang hamil adalah makruh. قَالَ بْنُ الْمُنْذِرِ وَبِهِ أَقُولُ وَبِهِ قَالَ بَعْضُ الْمَالِكِيَّةِ وَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ حَرَامٌ وَحَكَى بْنْ الْمُنْذِرِ رِوَايَةً أُخْرَى عَنِ الْحَسَنِ أَنَّهُ قَالَ طَلَاقُ الْحَامِلِ مَكْرُوهٌ Artinya, “Ibnul Mundzir berkata, saya juga berpendapat demikian.

Begitu juga dengan sebagian ulama dari kalangan Madzhab Maliki. Sedang sebagian yang lain menyatakan haram. Ibnul Mundzir juga meriwayatkan riwayat jalur lain dari Al-Hasan. Menurut riwayat jalur ini, Al-Hasan berpendapat bahwa menalak wanita yang sedang hamil adalah makruh,” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi, juz V, halaman 325). Berangkat dari penjelasan di atas, maka kita dapat menarik simpulan bahwa mayoritas ulama memperbolehkan penalakan wanita yang sedang hamil kendati ada yang menyatakan bahwa makruh dan haram.

Namun pendapat yang dianggap kuat adalah pendapat mayoritas ulama yang memperbolehkan penalakan wanita yang sedang hamil. Dan iddah bagi wanita hamil yang ditalak adalah sampai ia melahirkan kandungannya sebagaimana firman Allah SWT berikut ini: وَأُولاتُ الأحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ Artinya, “Wanita-wanita yang hamil waktu iddah mereka adalah isteri mendapat melahirkan kandungan,” (QS At-Thalaq [65]: 4).

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca. Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq, Wassalamu ‘alaikum wr.

apabila ada seorang suami yang mentalak bain isterinya yang hamil, isteri mendapat

wb. ( Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Hukum Menceraikan Istri dalam Keadaan Hamil




2022 www.videocon.com