Warung makan bu spoed

warung makan bu spoed

tirto.id - Ketika membahas soal warung-warung legendaris yang telah melampaui usia puluhan tahun, pikiran saya selalu terbayang menu-menu rumahan. Yang terbayang, misal, warung makan Bu Spoed di kawasan Wijilan di Yogyakarta. Atau warung sate gebug di Malang yang sudah ada sejak 1920-an. Juga rawon Bu Katun di Lumajang yang sudah nyaris berusia lima dekade.

warung makan bu spoed

Selain makanan, ada sesuatu yang khas dari warung-warung ini: penataan dan desain interiornya. Misal, meja dan kursi dari kayu solid yang usianya sudah setua warungnya. Deretan kalender dari toko emas dan dealer motor. Juga pigura foto kunjungan tokoh dan artis. Temboknya seringkali sudah pudar atau telah melalui proses pengecatan ulang beberapa kali hingga terlalu mencolok bedanya. Bekas jelaga yang terus menerus digosok setiap harinya hingga halus.

Daftar menu di dinding mulai kehilangan warna aslinya hingga tak lagi terbaca tulisannya. Semua menguarkan aroma nostalgia. Waktu seperti berhenti dan membeku. Awal-awal merantau ke Yogyakarta, orangtua saya pernah mengajak ke sebuah kedai nasi pecel di sekitar kampus Bulaksumur. Kata ibu, warung ini jadi andalan ketika ada teman yang ulang tahun atau ada yang baru lulus ujian. Salah satu menu yang kerap dipesan ibu adalah nasi sop yang ditambahkan bayam rebus dan masih ada hingga saat ini.

Sejak zaman ibu berkuliah, hingga sekarang mereka masih mempertahankan menu, tata letak, dan juga pelayanannya.

"Meja saji dan jendela dapurnya masih sama seperti dulu," kenang beliau. Karena sudah populer dan para bekas pelanggannya sudah jadi penggede, warung ini pun turut beradaptasi, termasuk menaikkan harganya. Menu sederhana favorit ibu harganya dua kali lebih mahal ketimbang menu yang sama di warung ramesan lain.

Toh ibu tetap memilih makan di tempat ini. "Makan di sini rasanya kayak warung makan bu spoed ke zaman kuliah dulu," kata ibu tertawa kecil. Kalau sudah begini, harga tak lagi warung makan bu spoed perkara. Dan itu terjadi bagi para penyuka kuliner dengan motivasi nostalgis. Rasa dan harga itu nomor dua dan tiga, yang penting kenangannya. Holtzman (2006) dalam Food and Memory menyebut fenomena ini sebagai gustatory nostalgia: ketika sebuah hidangan mengandung ingatan dan kenangan tertentu yang tersimpan dalam diri seseorang.

Soal gustatory nostalgia ini, saya jadi ingat kenangan lama. Infografik Miroso Selera yang Melintas Zaman. tirto.id/Tino Suatu hari, seorang kawan lelaki mengajak makan rawon yang cukup populer.

Saat itu tahun 2009, dan dia bilang rawon di sini juara dunia. "Ini warung rawon yang terkenal enaknya, kujamin kamu pasti suka,” ujarnya sambil mengunyah mendol dan tak melepaskan pandangan dari saya. Ketika mulai menyuap nasi rawon panas yang dihidangkan bersama pugasan kecambah segar dan sedikit sambal dan mendol, saya agak terdiam.

Rasa rawonnya, menurut saya, tak jauh berbeda dengan buatan tante saya di Malang. Kuahnya tak sepekat dugaan saya dan empat kerat daging yang dipotong kubus itu masih sedikit alot.

Padahal secara harga, rawon di sini lebih mahal dengan porsi yang lebih sedikit. Masalahnya, selama kami makan, lelaki saya ini tak berhenti senyum, terus memandang saya lekat-lekat, dan tiba-tiba saja bercerita kalau ia sudah lama suka saya. Saat itu, rawon yang tadinya terasa biasa saja, jadi terasa lebih lezat. Hitung maju belasan tahun kemudian, saya datang ke tempat yang sama, memesan hidangan yang sama pula.

Porsinya makin mengecil. Begitu pula mendolnya. Dan seperti hukum alam di jagat ekonomi, harga makanan jarang sekali turun, malah terus naik menyesuaikan inflasi. Rasanya juga sama. Bedanya, saya tak lagi berpacaran dengan pria itu. Meskipun kami sudah tak lagi bersama tapi warung rawon itu menyimpan memori kami berdua. Dan setiap makan di sini, mau tak mau saya akan ingat kenangan itu. Atau, bisa juga jika ingin mengenang tentang mantan saya itu, saya akan pilih makan di sini. Jadi, mungkin tidak tepat juga kalau kita melulu bicara soal rasa atau harga ketika membincang sebuah tempat makan.

Ini juga akan sangat bergantung pada selera, dan memori seseorang. Saya pernah diajak ke sebuah warung soto legendaris di Solo. Warung soto ini warung makan bu spoed ciri seperti warung lawasan lainnya; menempelkan foto si pemilik dan mencantumkan tahun berdirinya.

Tata letak warungnya pun masih terasa sisa-sisa zaman dulu warung makan bu spoed kotak display wadah lauk dari kayu dan meja kursi yang tua tapi kokoh.

Warung ini beberapa kali dipromosikan sepupu dan keponakan saya yang tumbuh besar di Solo sebagai soto paling enak se-Solo raya. Sama seperti ketika menyantap rawon di Malang itu, ekspektasi saya tak benar-benar terpenuhi. Soto di sini enak, gurih, tapi tak seenak warung soto langganan saya di sisi lain kota Solo. Namun setelah banyak mengobrol dengan sepupu dan keponakan, saya bisa memahami kenapa soto ini amat dipuji oleh mereka.

Warung ini sudah membersamai mereka tumbuh dewasa. Pendek kata, mereka punya kenangan kuat terhadap warung ini lebih dari saya yang cuma datang sesekali. Faktor kenangan di antara kami sudah berbeda, dan itu sah saja. Warung klasik ini biasanya punya kesadaran untuk merawat kenangan dan warisan dari para pendahulunya.

Cara meneruskan legacy-nya adalah dengan cara memakai resep warisan, juga daftar menu yang nyaris tak berubah. Begitu pula desain ruangan dan menunya. Walau ada juga beberapa tempat makan klasik yang berkembang seiring waktu, baik warung makan bu spoed segi desain maupun cara berjualan. Tentunya upaya-upaya merawat kenangan ini sebaiknya berlaku dua arah. Warungnya menjaga kualitas menu dan kalau bisa desain interiornya; dan si pelanggan akan datang dengan ingatan selera yang mungkin sama seperti dulu seraya mewariskan rasa itu pada anak cucu mereka.

[] Warung Bu Spoed, sudah berusia sekitar 100 tahun. Warung yang tak begitu besar ini menyajikan menu-menu sederhana yang bertahan hingga empat generasi. Warung makan di Yogya yang dikenal juga dengan sebutan Warung Mbah Galak, pernah menolak utusan Sultan HB IX yang mau memborong tahu dan tempe bacem dari warung ini. **** Rasa penasaran tentang warung makan di Yogya yang sudah berusia 100 tahun membawa saya mendatangi Warung Bu Spoed di Jalan Ibu Ruswo No.32, Gondomanan.

Sayang, begitu saya sampai ternyata warung Bu Spoed telah tutup selama tiga hari belakangan dan akan buka lagi besok. Keesokan harinya, saya mencoba untuk kembali ke warung makan Bu Spoed. Lega, warung itu masih buka dan tak terlalu ramai.

Hanya ada satu-dua orang yang mengantre pembayaran. Namun, ketika melihat meja makan, saya garuk-garuk kepala, kok kosong? Oh ternyata, saya hanya terlambat beberapa menit sebelum habis.

Walau sedikit kecewa, tapi tak apa-apa karena hari itu saya bisa bertemu dengan Sari Dwijayanti, pemilik sekaligus penerus Warung Bu Spoed ini. Senyuman ramah menyambut kedatangan saya yang kesiangan. “Waduh Mbak, maaf udah habis jadi belum bisa sambil ngincip,” ucapnya dengan selipan perasaan tidak enak hati sembari mempersilahkan saya duduk di dalam.

Saya nyengir sambil terheran-heran, padahal ini masih pukul 12 siang. Berarti lebih cepat 3 jam dari jadwal warung ini biasanya tutup, “Nggak papa, Mbak. Cepet banget habis, ya?”. Sari tertawa kecil, ia mengaku warung ini sering tutup lebih awal dari jadwal. Banyak orang- orang yang sering kesiangan atau istilah jawanya ‘ kecelik’ begitu sampai sini. Padahal selama kepengurusan Sari, ia telah menambah banyak ragam menu masakan, kurang lebih ada 60 menu sayur dan lauk- pauk yang dihidangkan tiap harinya.

“Paling banyak ada 60, bisa kurang tiap harinya soalnya tempatnya ndak cukup. Menu banyak pun juga cepet habis,” ujar perempuan berumur 33 tahun itu. Julukan ‘Spoed’ dan Mbah Galak dari pelanggan Berdiri pada tahun 1920-an, warung yang didirikan oleh Mbah Harjo, mbah buyut Sari, ini tak melayani makan di tempat.

Hanya bungkus atau take away. Warungnya sederhana, hanya berada di dalam rumah Mbah Harjo dan suami. Seperti layaknya rumah zaman dulu, hanya bilik-bilik dari anyaman bambu dijadikan tembok rumah. Menu yang dihidangkan pun juga sederhana, tak terlalu banyak karena dikerjakan sendiri oleh Mbah Harjo.

Sejak remaja, kedua tangan Mbah Harjo telah lincah meracik bumbu dan rempah-rempah di dapur untuk menghasilkan berbagai masakan lezat. Terik daging, empal goreng, paru krispi, hingga oseng-oseng lombok peto jadi masakan unggulan yang sering dicari pembeli saat seratus tahun yang lalu. “Oseng-oseng lombok peto itu semacam masakan lombok ijo diiris tipis dicampur dengan tempe kecil-kecil,” ungkap Sari begitu menyadari kernyitan bingung dari saya. Baru dengar.

Saya mengangguk sambil membayangkan seperti apa bentuknya, “hm, kayak oseng?” “Beda banget. Kalau oseng kan tempe nya yang dimakan, lombok jadi pelengkap. Kalau ini lomboknya yang dimakan,” Sari bergumam, menu itu memang belum dikeluarkan lagi dari generasi ketiga hingga sekarang. Ia sendiripun sudah lama sekali tidak merasakannya. Selain masakan-masakan lezatnya, warung ini juga terkenal karena kecepatan tangan Mbah Harjo ketika warung makan bu spoed pembeli.

Nama “Warung Bu Spoed” yang dipakai hingga sekarang pun diberi oleh para pembelinya dulu. Spoed, plesetan kata dari speed yang memiliki arti cepat. “Karena orang jaman dulu sulit bilang speedmaka disebut Spoed atau dibaca sput sput,” ujar Sari. Tim warung Bu Spoed. Foto Nabila/Mojok.co Tapi saking lamanya warung ini berdiri, Sari mengaku hanya mendengar cerita tersebut dari mulut ke mulut para pembelinya yang masih setia hingga sekarang.

Ada juga versi cerita yang menyebutkan kata “Spoed” berasal dari kata “Pit” yang berarti sepeda dalam bahasa jawa. “Kebetulan, dulu suami Mbah Harjo juga punya bengkel sepeda di sebelah warung makannya, bisa juga nama spoed pelesetan dari pit,” Sari melanjutkan, dirinya tak berpikir terlalu panjang terkait darimana sebenarnya nama spoed berasal. Yang jelas, Sari sangat bersyukur dengan nama yang mampu membuat warung mbah buyutnya mampu bertahan hingga empat generasi Tak hanya terkenal dengan sebutan Bu Spoed, ungkapan “Warung Mbah Galak” pun sempat muncul untuk menamai warung yang dulu berada Pojok Beteng Utara Timur tersebut.

Warung Bu Spoed pindah karena area Warung makan bu spoed Keraton Yogayakarta dipugar. “Nggak cuma Mbah Harjo, anak Mbah Harjo atau simbah saya juga terkenal galak, tapi setelah generasi mama sampai saya udah nggak galak lagi,” kenang Sari. Pernah suatu ketika saat bersama simbah, Sari sedang menemani beliau untuk memotong bumbu-bumbu.

Pintu pun dibukanya satu supaya cahaya dapat masuk. Tiba-tiba ada seorang pembeli yang datang dan berkata pada simbah, “Bu, mau beli,” Tanpa melirik pembeli, simbah dengan judesnya menjawab, “Belum buka!!” Saat mendengar itu, Sari langsung merasa tidak enak hati dengan si pembeli.

Padahal hanya kurang satu jam warung tersebut buka, beberapa masakan pun sudah ada yang siap. Akhirnya, si pembeli memutuskan untuk menunggu di luar hingga buka. Namun sisi positifnya, nilai-nilai kedisiplinannya itulah yang dipraktikan oleh Sari hingga sekarang, apalagi soal waktu.

“Saya modif dengan cara yang lebih halus, kalau belum waktunya buka ya saya tutup pintunya. Mau berapa banyak pelanggan menunggu di luar, nggak papa,” akunya Menu habis dan rezeki secukupnya Hingga sekarang ada seorang pelanggan yang masih setia mendatangi warung makan Bu Spoed sejak zaman Mbah Harjo.

Ia adalah seorang kakek tua berumur sekitar 80-an. Walau kulitnya sudah mengeriput, otaknya masih mampu mengingat semua menu dan rasa masakan warung ini dari generasi pertama.

Setiap datang, pria tua itu harus menaiki bangku kecil untuk melihat rupa-rupa masakan yang dihidangkan. Konon, berpuluh-puluh tahun yang lalu, tiap selesai mandi sore sang kakek yang dulunya masih kecil, sekitar TK-SD, diajak oleh asisten rumah tangganya untuk memilih makanan di warung milik Mbah Harjo.

Warung makan bu spoed post shared by Warung Makan Bu Spoed (@warungmakanbuspoed) Menu-menu di Warung Bu Spoed. Rupa-rupa masakan telah dijajalnya, hingga ia paham betul apa saja menunya dan bagaimana rasanya. Kebiasaan itu tak hanya dilakukan oleh sang kakek saat masih kecil, ketika warung Bu Spoed dipindahtangan oleh anak Mbah Harjo, Cucu Mbah Harjo, hingga sekarang oleh Cicit Mbah Harjo alias Sari pun ia selalu menyempatkan diri untuk menikmati hidangan warung ini.

“Beliau nggak warung makan bu spoed komplain soal rasa masakan, karena masih sama.

warung makan bu spoed

Cuma ya, sering komplainnya: kok gak ada masakan ini itu ya?” ucap Sari sambil menirukan gaya kakek. Sari mengakui, ada beberapa masakan legendaris yang memang sudah lama tak dikeluarkan lagi.

Tapi, perihal rasa masakan yang ada, ia jamin mirip dengan masakan asli dari Mbah Harjo. “Sampai sekarang kami masih mempertahankan cara tradisional dari mbah buyut.

Semua bumbu kami uleg, dirajang, diparut manual menggunakan tangan bukan blender atau lainnya,” katanya.

warung makan bu spoed

Sari melanjutkan, tradisi itu memang membuat ia dan para pegawainya kewalahan karena harus membuat masakan dalam skala besar dengan cara serba manual. Tapi apa boleh buat, semua itu ia lakukan demi menjaga cita rasa masakan mbah buyutnya. “Kalau kata orang jawa, bikin bumbu dengan cara manual itu lebih mantep.

Kalo pake alat, nanti beda rasanya,” ujarnya sambil mengelap keringat di dahi. Raut wajahnya terlihat lelah karena sedari pagi ikut mengurus masakan di dapur. Kegiatan ini ia lakukan setiap hari. Meski telah memiliki lima pegawai, dari pagi hingga siang Sari tetap harus riweuh.

Sebab, semua resep andalan yang ada disini adalah resep rahasia keluarga. Tak ada yang boleh tahu selain keluarga besar Mbah Harjo. Paling-paling, ketika membuat bumbu- bumbu masakan dan ungkepan, Sari hanya dibantu oleh sang suami, mama, dan budenya. Pegawai yang lain hanya sekedar menggorengnya saja. “Padahal bikin beberapa menu ungkep itu warung makan bu spoed satu-dua hari Mbak. Kayak empal, saya bumbui pagi ini, baru bisa dihidangkan besok siang,” ucapnya.

Tak heran, ketika saya mencicip empal goreng di keesokan harinya, tekstur dagingnya sangat empuk dengan rasa yang merasuk. Sari bergumam sambil melirik etalase makanan yang mulai dibersihkan karena warung makan bu spoed habis sejak berpuluh menit yang lalu, “Kalau makanan sudah habis pun, tidak akan kami restock di hari itu juga.

Pesan Mbah Harjo, rezeki itu secukupnya. Jika hari itu sudah habis, yasudah berarti rejekinya memang segitu,” kata Sari. Itulah yang membedakan warung Bu Spoed dengan lainnya, jika banyak warung lain yang bisa membuatkan masakan kembali jika salah satu menu cepat habis. Maka, warung Bu Spoed tidak mau dan tidak akan. Walau sekedar mengosengkan kembali, menggorengkan kembali beberapa menit, mereka tak akan melakukannya.

Menurut Sari, itu adalah prinsip sederhana yang diturunkan Mbah Harjo pada tiap generasi-generasinya, dan ia berjanji untuk menjaga itu. Ujian telur ceplok untuk Sari Berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya yang telah dipersiapkan sejak dini untuk menjadi penerus, Sari termasuk yang tidak terencana.

warung makan bu spoed

Dulu, setelah menyelesaikan studi nya, Sari langsung merantau ke luar Jogja untuk mengadu nasib. Beberapa pekerjaan dan kota telah ia jajal, menjadi pegawai bank ataupun warung makan bu spoed pabrik. Namun, rasa keinginannya untuk pulang ternyata lebih kuat dibanding dengan niatnya sejak lama untuk mencoba suasana perantauan. “Saya dulu bosan di Jogja terus, tapi akhirnya saya pengen pulang ke Jogja,” ujarnya tersenyum lebar. Pengalaman merantau tak pernah disesali.

Beberapa bulan ia sempat hidup di tanah sunda, mengantarkan Sari bertemu dengan laki-laki yang menjadi suaminya, sekaligus sebagai partner usaha Warung Bu Spoed yang ia kelola. “Mitos orang Jawa gak boleh sama Sunda, kurang berlaku sama saya. Sekarang saya malah bisa inovasi bikin masakan Sunda-Jawa di sini,” Sari nyengir. Suasana Warung Bu Spoed. Foto Nabila/Mojok.co Akhirnya, dengan beberapa pertimbangan ia memutuskan kembali ke Jogja dan bertemu dengan sang mama.

Sari bertekad untuk belajar dari nol supaya meneruskan usaha Mbah Harjo. Termasuk belajar memasak. Sebab, penerus usaha Mbah Harjo minimal harus tahu tentang resep setiap masakan Mbah Harjo. Hanya penerusnya dan keluarganya lah yang boleh memasak resep rahasia turun temurun dari Mbah Harjo. “Tes pertama saya itu masak telor ceplok, astaga saya benar-benar gak bisa masak waktu itu.

Telor ceplok aja gagal total,” Sari tertawa mengingat betapa histerisnya dia saat mengikuti ujian pertama mamanya. Masuk ke dapur, bau asap, dan keringat yang bercucuran saking panasnya tak pernah warung makan bu spoed Sari selama ia bekerja kantoran. “Ah! Lengket semua waktu itu Mbak di dapur, tiap detik panggil mama.

Ya gini lah, biasa pake AC,” Sari tertawa lagi. “Apalagi dulu di tes pake arang, karena disini masak memang menggunakan arang semua,” lanjutnya. Ujian telor ceplok akhirnya terlewati setelah melakukan beberapa kali percobaan. Tidak gosong, keasinan, atau kurang matang, semua rasa pas. Step selanjutnya pun Sari jalani lagi, beberapa jenis masakan sederhana hingga rumit perlahan diajarkan langsung oleh Mama Sari yang saat itu masih menjadi pengelola warung makan Bu Spoed.

Hingga pada akhirnya, Sari dinyatakan lulus dan mampu memegang amanah sebagai generasi keempat penerus warung makan Bu Spoed. Selama ujian masak, ada satu hal yang paling Sari ingat. Ketika mencicipi masakan, tak cukup hanya satu lidah, tapi minimal tiga.

Walau hanya masakan simple seperti telor ceplok, hasil masakannya selalu diincip oleh sang mama, suami, dan Sari sendiri. “Lidah dan selera orang kan berbeda, kalau enak bagiku belum tentu buat mama juga enak. Jadi biar gak subjektif amat, sampe sekarang aku selalu praktikin buat minimal tiga orang ngincip masakan di sini,” ujar Sari. Selain itu, hal yang selalu ia jaga adalah perihal kebersihan. Prinsipnya, setiap yang disajikan bagi pelanggan akan dikonsumsi juga oleh keluarga dan para pegawai.

“Mama saya selalu bilang gini, tiap apa yang kamu kasih ke pembeli. Itulah yang kamu warung makan bu spoed buat keluarga dan kamu sendiri,” Sari bercerita.

Hal-hal kecil pun selalu diperhatikan mamanya. Nyuci kangkung harus 3-4 kali, kalau cuma sekali pasti masih terasa kotor dan tak jadi dimasak. “Ini kamu nyuci berapa kali?

warung makan bu spoed

Sekali kan? Masih kotor gini, gak usah dihidangin di depan,” ucapan Sari meniru mama nya yang kala itu sempat mengomel dengan salah satu pegawainya. “Nggak cuma kebersihan makanan Mbak. Kalau mbah buyut dulu selalu ngajarin ke kami semua. Sebelum warung buka, cek juga kamar mandi.

Kata beliau, kebersihan warung dilihat dari kamar mandinya,” Tolak utusan Sultan HB IX yang mau borong masakan Sejak awal berdirinya, Warung Makan Bu Spoed terkenal di semua kalangan, dari pelajar/mahasiswa, montir, sopir, pegawai, hingga pejabat. Walau sudah melegenda, kata “warung ” masih dipertahankan untuk menghindari rasa takut bagi beberapa kalangan yang ingin makan di Warung Bu Spoed. “Kami bisa saja mengganti dengan rumah makan atau restoran, bangunannya juga sudah lebih bagus.

Tapi kami nggak mau, biar tetap merakyat. Coba aja, diganti ‘Resto Bu Spoed’, saya kalau jadi pelajar mikir dua kali lah,” ungkap Sari sambil tertawa kecil. Perempuan yang dulu sempat bekerja di bank ini mengatakan, dari dulu hingga sekarang ia juga tak pernah pilih-pilih pelanggan. Prinsipnya, siapa cepat dia dapat. Walau ada pejabat warung makan bu spoed datang, jika memang ada antrean, ya silahkan mengantre.

Bagi Sari, semua orang yang makan di Warung Bu Spoed ini sama, sama- sama pembeli. Dapur Warung Bu Spoed. Foto Nabila/Mojok.co Sari jadi ingat satu cerita dari simbah atau generasi kedua dari Warung Bu Spoed. Dulu, simbah memiliki satu pembeli langganan, yaitu kepercayaan dari kraton.

Pagi hari, seseorang berseragam kraton itu datang ke warung Bu Spoed yang masih berada di tikungan pojok benteng. Beberapa orang sudah mengantre di sana. “Bu, saya dari keraton,” ucap pria itu sambil mendekati simbah. Simbah yang terkenal galak pun, dengan tegasnya menjawab, “Silahkan ikut antrean, nggih,” Rupanya, pria itu diminta oleh Sultan Hamengkubowono IX untuk memborong menu masakan kesukaannya, tahu-tempe bacem. Seusai mengantrei, pria yang merupakan tangan kanan sultan mengatakan ingin membeli semua tahu-tempe bacem yang tersedia.

Dengan tegas, simbah menjawab lagi, “ Nggak bisa. Ini buat pembeli nanti,” dengan tangannya yang masih sibuk membungkus masakan lain, beliau melanjutkan, “Kalau mau ya, setengah aja. Kalau semua nggak boleh, kasian pelanggan lain yang cari,” kata Sari menirukan simbahnya.

warung makan bu spoed

Sari tertawa sambil geleng-geleng mengingat kegalakan simbahnya itu. Padahal kalau dipikir- pikir, tahu-tempe warung makan bu spoed akan sama-sama laku, hanya saja lebih cepat karena diborong. Simbah pun masih bisa menjual makanan lain yang masih ada ke para pelanggannya. “Tapi namanya simbah, dia mikir kasian kalau ada pelanggan jauh datang ke sini cuma buat tahu tempe bacem, eh ternyata habis,” ucap perempuan yang juga pernah tinggal di Semarang selama kurang lebih satu tahun itu.

Hingga sekarang, menu ini menjadi menu yang paling cepat habis dan saya sudah membuktikannya sendiri. Selang beberapa hari setelah bertemu dengan Sari, saya datang ke warung yang hanya membutuhkan waktu perjalanan 5 menit dari rumah. Percobaan pertama, saya gagal seperti di awal, pintu warung telah tertutup rapat. Percobaan kedua, saya gagal lagi, semua masakan telah habis dan pintu warung sudah setengah tertutup.

Akhirnya pada percobaan ketiga, saya mencoba untuk berangkat pukul sembilan pagi dari rumah. Saya lega karena melihat warung makan ber banner kuning ini masih buka dan beberapa pengunjung antre di dalamnya. Setelah memarkirkan motor Mio kesayangan di depan warung, saya masuk. “Pesan apa?” ucap salah seorang pegawai. “Saya pesen tahu-tempe bacem ya, Mbak,” jawab saya dengan penuh percaya diri.

Dua pegawai celingukan mencari menu yang dimaksud, selang beberapa detik satu pegawai menghampiri saya yang masih berdiri di depan etalase makanan.

“Maaf, Mbak. Sudah habis,” ucapnya. Saya terkejut sekaligus heran, kedatangan saya hanya selisih kurang lebih satu jam warung ini buka. Tapi, masakan incaran sudah habis tanpa sisa satupun. Dengan berat hati, saya memesan menu lain yang tak kalah legendaris: empal goreng. Baceman ala Warung Makan Bu Spoed sering dicari oleh para pelangganya. Salah satunya sebut saja Irma, ia merupakan mantan anak rantau yang sudah kembali ke kampung halamannya.

Saya mengenalnya dari seorang teman, katanya Irma ini salah satu pelanggan dari Bu Spoed. Bagi perempuan yang sudah lulus kuliah ini, banyak hal yang dirindukan dari Jogja, salah satunya baceman Warung Makan Bu Spoed. “Dulu kontrakanku deket banget sama warung ini, hampir tiap hari beli lauk.

Uang 15 ribu bisa buat seharian. Tapi, kalau mau cari yang lebih murah banyak, cuma soal rasa, Bu Spoed juara,” ujarnya. Jika mengingat dulu hampir setiap ke sana ia selalu mencari tempe dan tahu bacem. Bukan karena tak suka ayam atau menu lainnya, melainkan karena lauk itu lebih murah dibandingkan yang lain, “Yah, mungkin bagiku dulu makan disini udah termasuk mewah, apalagi cobain empalnya. Bisa dihitung jari,” katanya. Selain Irma, pelanggan lain yang sempat saya temui adalah Rani (28).

Ia menjadi salah satu pembeli yang hampir dibilang rutin menyantap masakan Warung Makan Bu Spoed. Makanan favoritnya adalah oseng daun pepaya dan bacem.

Ia memang jarang makan di tempat, biasanya selalu pesan bungkus untuk keluarga di rumah. “Andalan kalau males masak,” ucapnya. Yang disukai Rani dengan warung ini adalah masakan yang bermacam-macam tiap harinya. Selain itu, harganya pun cukup murah di kantong. Soal rasa, Rani tipikal yang agak pilih-pilih makanan, tapi hampir semua masakan di warung makan Bu Spoed ini cocok bagi Rani. “Belum ada setahun saya nemu warung ini, kayak hidden gems gitu,” kata perempuan asal Yogya ini pamit.

BACA JUGA Mahasiswa yang Pilih Jualan di Masa Sulit liputan menarik lainnya di rubrik SUSUL .
Jakarta - Warung Bu Spoed yang jadi tempat makan legendaris yang berusia lebih dari satu abad.

Ada juga kisah Crazy Rich muda yang sukses bisnis kuliner, hingga kesalahan meracik teh. Warung makan bu spoed di setiap daerah di Indonesia memiliki tempat makan legendaris yang sudah berdiri selama puluhan hingga seratus tahun lalu.

Tempat makan tersebut masih mempertahan resep dan cara memasaknya hingga sekarang. Seperti warung makan Bu Spoed yang berdiri sejak satu abad yang lalu di Yogyakarta dan masih eksis hingga sekarang. Warung warung makan bu spoed ini sekilas mirip dengan warteg, jejeran aneka lauk pauk rumahan dengan resep khas Bu Spoed yang tak pernah berubah dari generasi pertama sampai generasi ketika. Selain warung makan Bu Spoed, ada juga barisan Crazy Rich yang sukses berbisnis dalam usia muda.

Para pengusaha muda ini merambah bisnis kuliner dan sukses di usia muda mereka. Bisnis yang mereka lakoni juga beragam mulai dari merintis se'i sapi hingga membuka restoran Jepang kekinian. Ada juga beberapa kesalahan meracik teh yang meski sepele ternyata sangat berpengaruh dengan kualitas dan rasa teh.

Mulai dari menambahkan terlalu banyak gula sampai menggunakan pemanis buatan yang tentunya membuat teh jadi tidak sehat.

warung makan bu spoed

Berikut tiga artikel yang paling menarik minat pembaca detikFood kemarin (06/12). 1. Warung Bu Spoed yang Legendaris Warung Makan Bue Spoed Legendaris Berusia 1 Abad Foto: dok. Warung Makan Bu Spoed Warung Bu Spoed yang legendaris terletak di kota Yogyakarta. Meski sederhana, warung makan ini sudah berdiri sejak satu abad lebih dan masih diminati sampai sekarang. Konsepnya seperti warung makan prasmanan, dengan aneka lauk prasmanan yang menggugah selera.

Resep yang digunakan masih sama dari generasi pertama hingga generasi tiga. Untuk menunya sendiri setiap harinya warung makan legendaris ini menyajikan lebih dari 60 menu. Namun ada beberapa menu yang wajib dicoba kalau mau makan di sini. Misalnya seperti terik daging, empal goreng sampai paru krispi merupakan makanan yang dijual 100 tahun lalu.

Karena tempat makan ini selalu ramai, sebaiknya datang di bawah jam 12 siang agar pilihan makanan tetap lengkap. Baca Juga: Warung Bu Spoed, Bertahan Selama 1 Abad Berkat Resep Turun-Temurun 2.

Crazy Rich Sukses Bisnis Kuliner Bisnis Kuliner Crazy Rich Muda Belia Foto: Instagram Menyandang gelar "Crazy Rich" atau kaya raya merupakan salah satu pencapaian terbesar bagi beberapa pengusaha muda ini yang usianya masih di angka 20-an, namun sudah sukses berdiri sendiri dengan memulai aneka bisnis.

Salah satunya bisnis kuliner yang inovatif dan kekinian. Misalnya Tom Liwafa, Crazy Rich asal Surabaya ini terkenal dengan berbagai bisnisnya salah satunya bisnis kuliner yang menjual se'i sapi. Begitu juga dengan Christopher Sebastian yang sukses merintis bisnis Raja Se'i dengan Rizky Billar dan masih banyak lagi.

Baca Warung makan bu spoed 4 Crazy Rich Muda Belia yang Sukses Bisnis Kuliner Berita Terkait • Kisah Muslim Tak Sengaja Makan Babi dan Nelayan yang Mendadak Tajir • Ade Londok Diusir Pemilik Restoran hingga 5 Mie Ayam Legendaris di Jakarta • Viral Mie Instan Disebut Paling Enak hingga Beras Sultan Paling Mahal di Dunia • Penjual Burger Sukses Miliki 67 Hotel dan Efek Kesalahan Minum Kopi • Resep Rahasia Ayam Goreng MCD Hingga Tips Memasak Rendang Anti Gagal • Terkait Virus Corona Amigos Kemang hingga Jahe Merah • Tren Testis Dicelup Kecap Asin hingga Karyawan Dipaksa Makan Kecoa • Pria Muslim Marah Karena Diberi Muffin Babi dan Warung Bakso Pakai Penglaris Hallo Sobat Brilio, Warung makan di Yogyakarta sangatlah menjamur dan dapat ditemukan di berbagai sudut kota.

Hal ini tak dipungkiri juga karena alasan banyaknya kampus yang tersedia di Yogyakarta. Harga terjangkau dan masakan yang nikmat cocok bagi para mahasiswa untuk mencari makan. Namun dari banyaknya warung makan yang ada mungkin yang punya sejarah panjang bisa warung makan bu spoed. Salah satunya adalah Warung Makan Bu Spoed. Warung legendaris yang menyediakan masakan khas Jawa tempo dulu ini sudah ada sejak 1920. Telah dikelola generasi keempat, masakannya yang khas dan otentik masih dipertahankan hingga kini.

Warung yang dikenal juga dengan sebutan Warung Mbah Galak ini selalu ramai dikunjungi pelanggannya. Sejak warung ini belum buka pun banyak pelanggan rela antre hanya untuk mendapatkan sajian nikmat yang disajikan di warung ini.

Tak jarang juga masakan di warung ini habis sebelum jam tutup.

warung makan bu spoed

Tak hanya masyarakat biasa, pejabat hingga para seniman juga menjadi langganan warung ini. Penasaran kan seperti apa menu istimewa di tempat ini? Yuk, langsung simak video selengkapnya! (brl/red)
Breaking News • Ingin Untung, 5 Cara Meningkatkan Penjualan Online di Shopee • Cara Membuat NFT dari HP, Siap Cuan Seperti Ghozali Everyday • 7 Cara Pilih Reksadana Paling Cuan Tahun 2022 • Edukasi Fintech Legal Dorong Ekonomi Digital Indonesia • Cara Memulai Bisnis Property Tanpa Modal Bagi Pemula • Kabupaten IKN Kembangkan Desa Korporasi Sapi • 18 Ide Bisnis Mahasiswa 2022, Modal Kecil Untung Besar • Warung makan bu spoed Dengan Mobil Murah, Siapkan Uang Dari Sekarang • Inilah 5 Produk Bank Syariah Indonesia Paling Diminati • 7 Daftar HP Murah Untuk Lebaran 2022 Pemilihan kata yang tepat untuk investor tentu berbeda dengan yang biasa kita gunakan.

Didalam penulisan secara kasat mata akan menunjukkan tingkat keseriusan didalam membangun usaha. Walaupun hanya usaha warung makan, proposal usaha warung makan juga diperlukan. Kerjasama dengan investor akan lebih baik untuk pengembangan usaha selanjutnya atau membangun usaha dari nol.

warung makan bu spoed

Ide apapun dapat kita curahkan kedalam proposal, tentu dengan ide yang unik akan lebih dapat mencuri perhatian calon investor. Setelah ide, yang perlu kemudian diperhatikan adalah tampilan proposal. Bukan berarti cuma usaha warung makan saja, tampilan proposal tidak memberi kesan kalau kita serius dalam membangun usaha.

Tips kali ini dari kontenstore adalah bagaimana membuat proposal Usaha warung makan, sederhana tapi jelas menunjukkan maksud dan tujuan kita untuk mencari investor.

Contoh salah satu bagian halaman isi proposal. Foto: kontenstore. Pada awal penulisan proposal, ada baiknya didalamnya terdapat latar belakang atau alasan kita untuk membangun usaha. Baca juga : 5 Kedai Kopi Instagramable dan Proposal bisnisnya Setelah maksud dan tujuan dalam latar belakang, warung makan bu spoed bab selanjutnya adalah isi.

Dimana semua ide dapat kita tulisan pada bab ini.

warung makan bu spoed

Seperti misalnya : • Visi Misi : visi adalah cara pandang kita terhadap usaha yang akan kita bangun, dengan kata lain mau diapakan usaha kita kedepan. Sedangkan misi adalah bagaimana kita dapat memberikan manfaat kepada customer maupun lingkungan sekitar.

warung makan bu spoed

• Strategi Usaha : ide apa yang kita miliki untuk dapat bersaing dengan usaha yang sejenis. • Nama dan Lokasi Usaha. • Produk : apapun yang akan kita ingin jual dapat dicantumkan pada bagian ini. Termasuk daftar menu makanan. • Analisa SWOT, sama seperti strategi Usaha cuma bedanya Strenght, Weakness Opportunity dan Threats (SWOT) dapat melihat secara mendetail. Didalam Strenght (kekuatan), kelebihan usaha kita dibanding usaha sejenis. Untuk Weakness (Kelemahan), tuliskan apa yang menjadi kelemahan kita dalam membangun usaha.

Opportunity adalah peluang atau kesempatan apa yang bisa kita ambil jika membuka usaha warung makan, seperti membuka usaha catering, atau menerima pesanan makanan pesta. Sedangkan Threats adalah ancaman. Kita bisa membandingkan dengan usaha warung makan lainnya, apa yang menjadi keunggulan pesaing kita. • Analisa pasar, didalam bagian ini anda dapat merencanakan strategi untuk usaha anda. Dapat direncanakan bagaimana target pasar, pesaing, dan sasaran pembeli.

Jangan lupa rencanakan strategi pemasaran kita seperti apa, apakah melalui iklan, Whatsapp, website atau lain sebagainya. • Rancangan Realisasi Biaya, buatlah rancangan biaya yang real, tidak dilebihkan atau dikurangi.

Total rancangan biaya yang terlalu besar juga dapat memberikan kesan negatif dimata investor. Bagaimanapun juga, investor akan menghitung investasi mereka agar dana investasi dapat tepat guna.

Warung makan bu spoed bagian isi diatas, harus ditutup dengan bab penutup. Dalam bab penutup berisi kesimpulan dari proposal yang kita buat. Warung makan Bu Spoed, dengan suasana rumahan dan menu masakan rumah. Foto: brilio.net Penjelasan singkat pembuatan proposal tentu tidak akan memperjelas. Dengan mendownload contoh proposal usaha warung makan dibawah, diharapkan dapat memberikan ide dan gagasan untuk membuat proposal usaha warung makan sendiri.

Semoga dengan proposal usaha warung makan yang kita ajukan kepada investor kelak, dapat mendatangkan investasi untuk keberlangsungan dan keberagaman usaha. [ Download Contoh Proposal]
Yogyakarta - Tak banyak usaha keluarga yang bisa bertahan selama satu abad. Apalagi warung makan yang mampu mempertahankan cita rasa sampai generasi keempat.

Di Kota Yogyakarta, tepatnya di Jalan Ibu Ruswo No 32, Kemantren Gondomanan, ada satu warung makan yang warung makan bu spoed sampai satu abad lebih.

Warung makan itu bernama "Warung Makan Bu Spoed" yang berdiri sejak 1920. Pemilik Warung Makan Bu Spoed Sari Dwijayanti mengungkapkan, dirinya hanya mengetahui berdasarkan cerita dari sang ibunya generasi ketiga soal awal mula pendirian warung ini. Pendiri pertama yaitu Mbah Harjo yang merupakan nenek buyutnya.

Warung Makan Bue Spoed Legendaris Berusia 1 Abad Foto: dok. Warung Makan Bu Spoed Ia mengungkapkan, di pojok beteng yang dulu hancur karena serangan tentara Inggris atau lebih dikenal sebagai "Geger Sapehi" itu awalnya sangat sederhana.

Sama seperti bangunan lain hanya beruba anyaman bambu atau gedek. "Ya dulu dari anyaman bambu jadi satu sama rumah hanya melayani bungkus dibawa pulang," katanya. Menu makanan yang dijual Mbah Harjo saat itu, kata Sari, memang beberapa ada yang sudah tidak ada. Tapi, menu andalan seperti terik daging, empal goreng sampai paru krispi merupakan makanan yang dijual 100 tahun lalu.

Total ada 60 menu setiap harinya yang disajikan. "Kalau untuk oseng-oseng lombok peto sudah tidak ada sejak generasi ketiga atau simbah saya," katanya. Baca juga: 5 Bakso Viral di Bogor Favorit Artis dan YouTuber, Pernah Coba? Warung Makan Bue Spoed Legendaris Berusia 1 Abad Foto: dok. Warung Makan Bu Spoed Soal penamaan warung yang berbeda dengan nama asli Bu Harjo, lanjut Sari, ada kisah tersendiri. Mulai dari sebutan pelanggan karena kecepatan tangan Mbah Harjo dalam melayani pembeli, keberadaan bengkel sepeda atau bahasa Jawa disebut "pit".

warung makan bu spoed

"Ada juga yang menamai warung Mbah Galak. Karena memang nilai-nilai yang diajarkan simbah adalah disiplin itu sampai sekarang," jelasnya. Bahkan, karena sikap disiplin tersebut, kata Sari, pernah ada utusan Sri Sultan Hamengku Buwono X yang akan memborong tahu dan tempe bacem. "Tapi ditolak simbah karena tidak mau pelanggan yang jauh-jauh kecewa. Hanya diperbolehkan beli separo saja," katanya. Tempe dan tahu bacem " Warung Makan Bu Spoed" ini sampai saat ini masih menjadi andalan.

Sari mengaku, khusus menu itu sebaiknya datang pagi-pagi setelah warung buka. "Kalau jam 8.00 WIB setelah buka itu ramai biasanya. Setelah itu jam 09.00 WIB sepi baru ramai lagi 09.30 WIB," katanya. Baca juga: 5 Tips Diet Meisya Siregar yang Kian Bugar Usai Turun BB 26 Kg Simak Video " Gurih Nikmat Sego Berkat Berbalut Daun Jati" [Gambas:Video 20detik] (dfl/odi) Berita Terkait • Jalan-jalan ke Malioboro? Jangan Lupa Warung makan bu spoed di 6 Kafe Keren Ini • Cerita Arif Nurdianto, Chinese Food Chef Marriot Yogyakarta Memasak Hidangan China Halal • Jamuan Imlek Komplet dengan Yu Sheng Tersedia di Restoran Ini • Mau Jajan di Warung Berusia 1 Abad, Jangan Datang Lewat Jam 12 Siang • Jajan Modal Rp 20.000 di Pasar Beringharjo, Dapat Apa Saja?

• Soto Kembang Durian, Soto Unik dari Kulon Progo yang Renyah Segar • Sempat Tak Buka 2 Bulan, Kini Gudeg Pawon Buka Sore Hari • Mbah Payem Legenda Wedang Ronde Yogya Wafat, Ini Pesan Terakhirnya




2022 www.videocon.com