Keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut

keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut

Keringanan dalam Melakukan Kewajiban Shalat Oleh Anwar Tandjung Kita sudah ketahui bahwa rukhsah itu berarti suatu keringanan bagi manusia mukalaf dalam melakukan ketentuan Allah Swt. pada keadaan tertentu karena ada kesulitan; suatu kebolehan melakukan pengecualian dari prinsip umum karena kebutuhan ( al-hajat) keterpaksaan ( ad-darurat).

Dalam fikih terdapat kaidah-kaidah: “Yang darurat itu membolehkan yang dilarang”“Tidak ada (dalam agama) yang susah dan yang menyusahkan”. Di samping itu prinsip Islam bertujuan menghilangkan kesukaran dan kesulitan. Salah satu contohnya dalam melakukan kewajiban ibadah shalat.

Dalam keadaan apapun kewajiban melakukan shalat bagi muslim dan muslimah yang sudah balig atau dewasa itu tetap keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut. Terlepas apakah seseorang hamba itu sakit parah, atau dalam perjalanan, hujan deras, keadaan genting-ketakutan, perang dan lain sebgainya.

Hanya saja tatacara pelaksanaan kewajiban ‘aini (pribadi) itu ada keringanannya. Karena tentunya keadaan itu memaksa sang hamba untuk tidak menjalanakan gerakan ibadah shalat secara sempurna. Tapi Allah Maha Rahman dan Rahim. Yakin saja ibadah itu akan diterima-Nya. Shalat Qashar Menurut bahasa Arab qashar berarti meringkas, yaitu meringkas shalat yang semula harus dikerjakan empat rakaat (misal dhuhur, ashar dan isya) menjadi dua rakaat.

Hal ini sesuai firman Allah Swt. dalam surat An-Nisa’ ayat 101: “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalatmu” Ini berarti, bila seseorang dalam bepergian (musafir) dibolehkan mengqashar shalat.

Begitu pula jika dalam keadaan berperang. Karena tuntunan konsntrasi penuh dalam menghadapi serangan pihak musuh, maka diperboehkan mengqashar shalat.

Seperti sabda Rasulullah, “Tidaklah mengapa kamu mengqashar shalatmu jika kamu takut diserang orang-orang kafir”. Adapun petunjuk tekhnis mengqashar shalat tentunya hanya terdapat dalam kitab-kitab fiqih yang merupakan warisan para mujtahid dalam menentukan sebuah hukum.

Sebagaimana keterangan dalam Matnul Gyayah wat Taqrib karya Qadhi Abu Suja’: Seorang musafir diperbolehkan mengqashar shalat yang berrakaat empat dengan lima syarat.

1) Kepergiannya bukan dalam rangka maksyiat. 2) jarak perjalanannya paling sedikit 16 farsakh. 3) shalat yang diringkas adalah yang berrakaat empat. 4) niat mengqashar bersamaan dengan takbiratul Ihram. 5) dan hendaknya tidak bermakmum pada orang yang mukim (tidak musafir). Adapun syarat kedua mengenai jarak tempuh perjalanan, maka mengqashar shalat hanya diperbolehkan ketika jarak tempuh bepergian mencapai 16 farsakh atau kira-kira 90 km.

Yaitu jarak yang biasanya para musafir telah mengalami kelelahan dan kepayahan. Akan tetapi jikalau orang tersebut melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat sehingga dapat menghemat waktu, maka baginya ada dua pilihan.

Boleh mengqashar shalat ataupun tidak mengqashar.

keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut

Karena pada dasarnya qashar sebagai sebuah dispensasi (rukhshah) tidaklah bersifat wajib. Tetapi bersifat anjuran. Artinya, qashar adalah sebuah pilihan yang disediakan oleh Allah bagi umatnya yang merasa berat melakukan shalat dengan empat rekaat ketika bepergian.

Adapun niatnya seperti berikut: (Disesuaikan dengan Dzhur, Ashar, dan Isya’) Ushalli fardhad dhuhri rak’ataini mustaqbilal qiblati qasran lillahi ta’la (Aku niat shalat dhuhur dua rekaat menghadap qiblat keadaan qashar karena Allah). Shalat Jama’ Shalat jama’ adalah mengumpulkan dua shalat fardlu yang dikerjakan dalam satu waktu shalat.

Shalat yang boleh dijama’ adalah shalat dhuhur dengan ashar dan magrib dengan isya’. Shalat jama’ ada 2 (dua) macam, pertama jama’ taqdim ialah melakukan shalat dhuhur dan ashar pada waktunya dhuhur atau melakukan shalat maghrib dan isya’ pada waktunya maghrib. Kedua, Jama’ ta’khir ialah melakukan shalat dhuhur dan ashar pada waktunya shalat ashar atau melakukan shalat maghrib dan isya’ pada waktunya shalat isya’. Syarat-syarat jama’ taqdim ada 4 (empat): Pertama, tartib maksudnya mendahulukan shalat yng pertama dari pada yang kedua seperti mendahulukan shalat dhuhur dari pada ashar, atau mendahulukan maghrib dari pada isya’.

Kedua, niat jama’ dalam shalat yang pertama.

keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut

Waktu niatnya adalah antara takbir dan salam, tapi yang sunat, niat bersamaan dengan takbiratul ihram. Niatnya shalat dhuhur dan ashar dengan jama’ taqdim: (Disesuaikan dengan waktu shalatnya) “Saya niat shalat fardlu dhuhur empat rekaat dijama’ bersama ashar dengan jama’ taqdim karena Allah Ta’ala”. Ketiga, Muwalat ( berurutan ) maksudnya antara dua shalat pisahnya tidak lama menurut uruf, jadi setelah dari shalat yang pertama harus segera takbiratul ihram untuk shalat yang kedua.

Keempat, Ketika mengerjakan shalat yang kedua masih tetap dalam perjalanan, meskipun perjalanan itu tidak harus mencapai masafatul qashr, sebagaimana shalat qashar.

keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut

Sebagaimana dalam matan gahayah wat taqrib: “Boleh saja bagi musafir menjamak (mengumpulkan) antara shalat dzuhur dan ashar dalam waktu mana saja yang ia suka (diantara keduanya). Dan antara shalat maghrib dan isya’ di waktu mana saja yang ia suka.” Adapun syarat-syarat jama’ ta’khir ada dua, pertama, niat jama’ ta’khir dilakukan dalam waktunya shalat yang pertama.

niatnya shalat dhuhur dan ashar dengan jama’ ta’khir : (Disesuaikan dengan waktu shalat). “Saya niat shalat fardlu Dzuhur empat rekaat dijama’ bersama ashar dengan jama, ta’khir karena Allah Ta’ala”. Shalat Jama’ Qashar Shalat jama’ qashar adalah melakukan shalat wajib yang mestinya 4 rakaat menjadi dua rakaat yang dikerjakan dalam satu waktu shalat. Misalnya mengqashar dan menjama’ shalat dzhur dan ashar, magrib dan isya’.

Ingat shalat magrib teap dilakukan 3 rakaat, karena tidak dapat diqashar. Dalam pelaksanaannya sama seperti shalat jama’ taqdim dan jama’ takhir. Contoh niatnya seperti: (Disesuaikan dengan waktu shalatnya). “ Saya sengaja shalat fardhu dzuhur dua rakaat qashar jama’ bersama ashar, jama’ taqdim, tunai menjadi ma’mum karena Allah Ta’ala.” Shalatnya Orang Sakit Seorang hamba yang sedang sakit tetap diwajibkan melaksanakan shalat fardhu, selama akal dan ingatan orang yang sakit masih sadar.

Berikut ini adalah tata cara shalat bagi oang yang dalam keadaan sakit dengan beberapa kondisi kesehatan yang berbeda-beda : Pertama adalah orang keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut sakit dalam keadaan tidak bisa berdiri, maka mereka boleh mengerjakan shalatnya sambil duduk, dengan ketentuan sebagai berikut : Ketika mengerjakan ruku’ caranya adalah dengan duduk membungkun sedikit semampunya.

Sama halnya shalat di atas kendaraan. Kedua, cara shalat ketika keadaan orang sakit tidak dapat berdiri dan tidak dapat duduk. Maka shalat orang yang sakit dalam keadaan demikian adalah mereka boleh mengerjakan shalatnya dengan cara dua belah kakinya diarahkan ke arah kiblat, kepalanya ditinggikan dengan alas bantal dan mukanya keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut ke arah kiblat.

Dengan ketentuan ketika ruku’ dan sujudnya adalah sebagai berikut: Cara mengerjakan ruku’nya adalah cukup mengerjakan kepala ke muka. Cara sujudnya adalah dengan cara menggerakkan kepala lebih ke muka dan lebih ditundukkan seperti terlihat pada gambar di bawah ini. Selanjutnya shalat dengan cara berbaring seperti tersebut di atas, maka boleh mengerjakan shalatnya cukup dengan isyarat, baik dengan isyarat kepala ataupun dengan isyarat mata.

Dan jika semuanya tidak mungkin, maka orang yang sakit boleh mengerjakan dalam hati, selama akal dan jiwa masih ada.

Itulah yang perlu kita lakukan dalam hal mengerjakan shalat, setiap orang Islam wajib melaksanakannya meskipun dalam keadaan sakit selama akal dan ingatan seseorang masih dalam keadaan sadar.

Shalat di Atas Kendaraan Dalam perjalanan menuju Mekkah-Madinah, tidak selamanya kewajiban shalat dapat dilaksanakan di luar kendaraan. Seperti halnya dalam pesawat, perjalanan tentu tidak mungkin dihentikan, sementara waktu shalat telah tiba.

Tatacaranya seperti berikut: Duduknya sama dengan duduk dalam tasyahud. Rukuk dan sujud dilakukan dengan isyarat yaitu dengan cara menundukkan kepala, tetapi penundukan kepala pada waktu sujud lebih rendah dari rukuk. Hal ini seperti ditegaskan pada ayat, “Peliharalah segala shalatmu dan (peliharalah) shalat wustha.

Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu.” (QS. Albaqarah: 238). TIDAK semua ibadah atau amal kebaikan diterima oleh Allah SWT. Ada syarat bagi ibadah yang diterima oleh Allah SWT.

Berdasarkan nash Al-Quran dan Hadits, berikut ini syarat ibadah yang diterima Allah SWT dalam konsep risalah Islam, yaitu ibadah yang dilakukan dengan ilmunya, ikhlas, dan sesuai dengan sunnah atau contoh Rasulullah Saw. 1. Ikhlas. Ibadah dilakukan secara ikhlas. Ibadah dilakukan dengan kesadaran sendiri dan ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuju ataupun karena dipaksa.

"Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, lagi tetap teguh di atas tauhid; dan supaya mereka mendirikan shalat serta memberi zakat. Dan yang demikian itulah Agama yang benar" (QS. Al-Bayyinah:5) “Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Pemelihara alam semesta.“ (QS.

Al-An‘âm: 162). "Allah tidak menerima amalan kecuali dikerjakan dengan ikhlas dan hanya mencari ridla-Nya." (HR. Al-Nasâ`i). 2. Ilmu. Ibadah yang dilakukan disertai ilmunya. "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya" (QS. Al-Israa':36). Umar bin Khattab pernah mengatakan, "Siapa yang beribadah tanpa disertai ilmunya, maka ibadahnya tertolak dan tidak diterima." Jika ibadah dilakukan tanpa disertai pengetahuan tentang ilmunya, maka ibadah tersebut bisa salah dalam tata cara serta tidak dipenuhi syarat dan rukunnya. Menurut para ulama, “Barang siapa shalat sedangkan ia bodoh (tidak mengetahui) tata cara wudhu dan shalat, maka tidak sah shalatnya.

Walaupun wudhu dan shalatnya sesuai dalam pengamalannya”. ( Sittin al-Mas’alat). Mu’adz bin Jabal mengatakan, “Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” ( Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar). Al-Muhallab“Amalan yang bermanfaat adalah amalan yang terlebih dahulu didahului dengan ilmu. Amalan yang di dalamnya tidak terdapat niat, ingin mengharap-harap ganjaran, dan merasa telah berbuat ikhlas, maka ini bukanlah amalan (karena tidak didahului dengan ilmu, pen).

Sesungguhnya yang dilakukan hanyalah seperti amalannya orang gila yang pena diangkat dari dirinya.” ( Syarh Al Bukhari). 3. Sunah. Tata caran ubadah harus sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Ibadah yang dilakukan harus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah Saw dan para sahabat. “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR.

Al-Bukhari, dari Malik bin Al-Huwairits). “Barangsiapa yang mengadakan sesuatu dalam perkara kami ini yang tidak ada tuntunan (Islam) di dalamnya maka ditolak.” (Muttafaq 'alayh) “Sesungguhnya sebaik-baik berita adalah Kitabullah (Al-Qur’an), dan sebaik-baik bimbingan, adalah bimbingan Muhammad, sedang sejelek-jelek perkara adalah mengada-ada padanya, dan setiap bid`ah (penyimpangan dengan mengada-ada) adalah sesat.” (HR. Muslim, Ibn Majah, Ahmad & Darimi).

“Hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunahku dan sunnah para khalifah ar-rasyidin (yang diberi petunjuk) sesudahku, gigitlah dengan gigi geraham kalian, dan hati-hatilah dari setiap perkara yang baru (dalam agama), karena sesungguhnya perkara yang baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan adalah di neraka.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah). Demikianlah Syarat Ibadah yang Diterima oleh Allah SWT.

Semoga kita bisa melaksanakannya. Amin! Wallahu a'lam. (www.risalahislam.com).*
Islam adalah rahmatan lil’alamin, yang artinya adalah rahmat bagi seluruh alam. Segala sesuatu tentang kehidupan telah diatur oleh Islam dalam kitab suci Al-Qur’an, yang merupakan pedoman sekaligus tuntunan arah bagi ummat Islam. Ditambah dengan As-Sunnah, tuntunan dari Rasulullaah SAW, nabi kita, utusan Allah SWT, yang dengan perjuangan dan segala pengorbanan beliau, kita mampu merasakan nikmat Islam keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut tiada duanya hingga detik ini.

Islam adalah solusi, dari semua permasalahan hidup, karena Allah telah menjamin bahwa tidak ada satu masalahpun yang tidak ada solusinya, dibalik kesusahan selalu ada kemudahan. Hal tersebut terangkum dalam QS. Al-Insyirah ayat 5-6, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan selalu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan selalu ada kemudahan.”. Allah SWT pun tidak pernah mempersulit hambaNya. Jika ada hamba yang kesulitan dalam menjalankan perintahNya, sejatinya itu adalah kesulitan yang dibuat sendiri oleh si hamba.

Allah selalu memberikan keringanan, dan tak pernah memberikan ujian melebihi kemampuan hambaNya. Begitupun dalam menjalankan perintah shalat, Allah memberikan keringanan, ketika dahulu datang perintah shalat untuk pertama kali, jumlahnya ada 50 kali dalam sehari. Namun kini, hanya tinggal 5 kali dalam sehari saja masih begitu banyak ummat Islam yang meninggalkannya, bahkan tanpa rasa berdosa sama sekali kepada Allah. Astaghfirullaah… Shalat (c) abujibriel Allah sangat mencintai hambaNya.

Keringanan juga Dia berikan kepada hamba yang tengah menjalani sebuah perjalanan atau safar. Hamba yang dijuluki sebagai musafir ini mendapat keringanan dalam menjalankan shalat oleh Allah. Jadi tidak ada alasan lagi kita mengatakan bahwa perintah Allah itu memberatkan. Nah, apa saja keringanan shalat yang Allah berikan kepada hambanya yang musafir atau sedang menjalankan safar (perjalanan jauh) ini? berikut ulasannya: 1. Shalat Qashar Shalat qashar memiliki hukum sunnah muakad.

Rasulullaah SAW sering menjalankannya bersama para sahabat saat mereka tengah melakukan safar atau perjalanan jauh. Allah telah menyebut shalat qashar ini dalam QS. An-Nisa’ ayat 101, “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqasharkan shalat(mu).”. Pun juga disebutkan dalam sebuah hadits, “Nabi SAW bersabda, Qashar adalah sedekah yang diberikan Allah untukmu, maka terimalah olehmusedekah itu. (Muttafaq ‘alaih).”. Sedangkan pengertian dari shalat qashar sendiri adalah, meringkas shalat yang empat rakaat menjadi dua rakaat dengan membaca fatihah dan surah.

Sedangkan untuk shalat maghrib yang tiga rakaat dan subuh yang dua rakaat tidak boleh diqashar. hijriyah (c) cdn Menurut para jumhur ulama, para sahabat, dan tabi’in, mereka menyaksikan bahwa Rasulullaah SAW melakukan shalat qashar ketika menempuh perjalanan empat burd atau sekitar empat puluh mil, yang kemudian disepakati sebagai batas terendah kita boleh menqashar sholat kita.

Shalat qashar juga boleh dilakukan sejak kita keluar rumah untuk melakukan perjalanan sampai kita tiba pada tempat tujuan, dengan niat melakukan perjalanan atau safar bukan untuk bermaksiat kepada Allah. Namun pengecualian bagi seseorang yang berniat tinggal dalam tempat tujuan yang disinggahi (tidak langsung kembali ke kampung asal atau rumah tempat tinggal), maka dia tidak boleh mengqashar shalatnya.

Maksud bermukim disini adalah tidak menetap di sana. Shalat qashar disunnahkan bagi para musafir, baik musafir yang melakukan safar atau perjalanan dengan kendaraan apapun maupun yang berjalan kaki, dengan batas dan ketentuan jarak yang telah disepakati sesuai yang dicontohkan oleh Rasulullaah SAW.

2. Shalat Sunnah Jika pada saat tidak melakukan safar atau perjalanan kita terbiasa menjalankan shalat sunah rawatib atau shalat sunnah sebelum atau sesudah shalat wajib, maupun shalat sunnah yang lainnya, maka Allah memberikan keringanan kepada kita untuk tidak usah menjalankan shalat sunnah tersebut. Kecuali dua shalat sunnah, yaitu shalat sunnah fajar dan shalat sunnah witir, karena terkandung banyak manfaat dan keberkahan dari kita menjalankan shalat sunnah tersebut.

Hijrah (c) rinaisalsabilla Namun, tidak masalah jika kita menjalankan shalat sunnah dhuha selagi kita dalam perjalanan, karena Rasulullaah SAW pernah melakukannya sewaktu menjadi musafir. Beliau menjalankan delapan rakaat shalat sunnah dhuha di atas kendaraannya saat menjalankan safar atau perjalanan jauh. Begitulah, bentuk cinta Allah kepada kita yang tak mampu dihitung dengan apapun. Betapa Maha Kasih Allah. Namun masih saja kita mengingkari dan menjauhiNya. Semoga kita bisa selalu berusaha berubah dan berproses menjadi lebih baik setiap harinya, mendekat kepada Allah, dan berserah diri kepadaNya, agar Allah lindungi dan selamatkan kita di dunia maupun akhirat kelak.

Aamiin. (sof) activate javascript ketika hendak melaksanakan salat ashar berjamaah bersama teman-temannya, sania terlebih dahulu melaksanakan empat rakaat shalat. pertanyaan yang tepat … berdasarkan sikap sania adalah.a. sania melaksanakan salat sunahb. salat sunah sebelum asar seharusnya dua rakaatc. perbuatan sania sia-siad. sania melaksanakan shalat sunah gairu muakad​
Silahkan simak di bawah ini: 1.

Alasan para sahabat melakukan ijtihad setelah wafatnya Rasulullah SAW. adalah …. a. Al-Qur’an dan Sunnah tidak relevan dengan perkembangan keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut.

b. Pemeluk agama islam semakin kompleks dan banyaknya permasalahan yang belum ditemukan di dalam Al-Qur’an dan Assunah. c. Al-Qur’an belum disatukan menjadi sebuah musyaf d. Ijtihad lebih kuat dijadikan landasan karena mengutamakan pemikiran yang masuk akal.

e. Hadits-hadist belum disusun menjadi sebuah buku Jawaban : b 2. Munculnya 4 madzhab yang popular dikalangan umat islam terjadi pada masa …. a. Dinasti umayyah di timur b. Dinasti Abbasiyah c.Dinasti fatimiyah d.

Dinasti Turki Ustmani e. Dinasti mughal Jawaban : b 3. Periode kemunduran perkembangan fiqih ditandai dengan . a. Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan baik dalam bidang agama maupun bidang umum b.

keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut

Para ulama’ hanya mengandalkan teks-teks Al-Qur’an dan Hadits dalam menetapkan suatu hukum c. Adanya dorongan dari penguasa kepada para ulama’ untuk mencari solusi setiap permasalahan d. Semakin lemahnya kretivitas ilmiah dikalangan ulama’ dan hanya mengandalkan kitab madzhab yang diyakininya.

e. Sikap para ulama yang hanya mengomentari atau menjelaskan kitab madzhab masing-masing Jawaban : d 4. Berikut ini merupakan perbuatan yang termasuk muamalah, yaitu …. a. Puasa ramadhan b. zakat c. Ibadah qurban d. Salat berjamaah e. Kerjasama dalam bidang pertanian Jawaban : e 5. Ibadah mahdhoh merupakan ibadah yang bersifat tauqifiyah oleh syariat yang dilaksanakan atas perintah Allah SWT, dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Bentuk ibadah tersebut antara lain yaitu, Kecuali. a. Shalat b. Zakat c. shadaqoh d.

keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut

puasa e. haji Jawaban : c 6. Secara umum, yang bukan merupakan syari’at islam yaitu …. a. Mengatur kehidupan dunia b. Menelantarkan kehidupan alam c. Mengatur kehidupan makhluk d. mengatur kehidupan manusia e. Mengatur kehidupan manusia dan alam Jawaban : b 7. Menunaikan ibadah bertujuan untuk membersihkan dan mensucikan jiwa dengan mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah semesta alam sebagai bentuk . a. Penyesuaian hidup di dunia dan akhirat b. Pengabdian sebagai unsur pembebasan jiwa dari nafsu c.

Pembebasan akal dan jiwa manusia untuk beragama d. Penghambaan manusia kepada Allah swt e. Sarana untuk minta pertolongan Jawaban : d 8. Menciptakan dan mewujudkan kebaikan seluruh manusia sehingga terbentuk rasa keadilan yang merata & umat manusia dapat menikmati hidup damai, aman & tentram merupakan . a. Maqoshiddu syar’i b. Definisi syariat c. Prinsip-prinsip syariat d. Dasar syariat e. Hikmah syariat Jawaban : a 9. Pengertian istilah syariat sesuai bahasa berarti . a. Ikatan b. Peraturan c.

Hakim d. Peradilan e. Hukum Jawaban : e 10.

keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut

Sebuah bentuk keringanan dalam menjalankan ibadah yang diberikan oleh syara’ karena seorang hamba kesulitan dalam menjalankan syariat disebut . a.

keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut

Rukhsah b. Syariat c. Azimah d. Syarat e. Rukun Jawaban : a 11. Berikut ini merupakan salah satu bentuk ibadah mahdah, kecuali . a. Puasa b.

keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut

Zakat c. Infak d. Sholat e. Haji Jawaban :c 12. Dalil QS. Al-Fatihah ayat 5 menjadi hujjah, salah satu prinsip ibadah mahdhah yaitu . a. hanya allah yang berhak disembah b. ibadah sesuai dengan tuntunan Allah dan Rosulnya c. memelihara dalam keseimbangan dalam ibadah d. yakin bahwa Allah dekat dengan hambanya e. ikhlas sebagai sendi sendi ibadah yang akan di terima disisi Allah Jawaban keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut a 13. Syariat secara bahasa mengandung pengertian .

a. jalan ketempat pengairan b. hukum-hukum c. aturan-aturan Allah d. rambu-rambu yang dijadikan pedoman e. Memelihara agama Jawaban : a 14. Seorang yang paling berhak memandikan jenazah adalah sebagai berikut . a. Gurunya b. Muridnya c. Tetangganya d. suami/istri e. Teman dekatnya Jawaban : d 15. Cara mensholatkan jenazah ketika jenazahnya laki-laki maka, posisi imam berada . a. Dekat dengan kepala jenazah b.

Dekat dengan perut jenazah c. Dekat dengan kaki jenazah d. Samping kanan jenazah e. Samping kiri jenazah Jawaban : a
Allah menciptakan manusia pada hakekatnya adalah hanya untuk beribadah kepada-Nya.

Manusia adalah ciptaan Allah yang paling sempurna diantara makhluk-makhluk yang ada di alam semesta ini. Kesempurnaan itu semestinya harus digunakan oleh manusia keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut total menghambakan diri kepadaNya. Firman Allah sebagai berikut : Pada dasarnya Allah memerintahkan kepada manusia agar tidak sekejap waktu pun bermaksiat atau bersantai-santai.

Semestinya setiap detik kita harus melakukan ketaatan kepada Allah swt. Walaupun Allah menciptakan manusia dengan segala keterbatasannya. Fisik manusia tidak akan dapat bekerja selama 24 jam terus-menerus. Surat Ali Imran ayat 102 Dalam kajian fiqih, Rukhsahsecara bahasa, adalah bermakna keringanan atau kelonggaran. Pengertian rukhsah dalam kaidah fiqih adalah pemberian keringanan bagi manusia mukallaf dalam melakukan ketetntuan Allah swt.

pada keadaan tertentu, karena ada kesulitan atau ketidak berdayaan. Beberapa ulama mendefinisikan Rukhsah sebagai kebolehan melakukan pengecualian dari prinsip umum karena kebutuhan (al-hajat) atau keterpaksaan (ad-darurat). Pada dasarnya hukum rukhsah adalah ibadah (dibolehkan) secara mutlak, karena sekedar adanya kebutuhan atau keterpaksaan. Jika unsur kebutuhan sudah terpenuhi dan keterpaksaan sudah hilang, maka hukumnya kembali ke sumula yakni azimah (melakukan sesuatu perbuatan seperti yang telah ditetapkan Allah swt).

jadi dengan kata lain, rukhsah tidak berlaku lagi. "Sesungguhnya Allah hanya meng-haramkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakan-nya) sedang ia tidak meninginkan-nya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.

Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"(QS. Al-Baqarah 173). Contoh dalam ibadah adalah berpuasa pada bulan Ramadhan wajib hukumnya bagi mukallaf, namun dapat menjadi rukhsah untuk orang yang sakit atau dalam perjalanan dengan menggantinya di hari lain. Memakan bangkai bisa menjadi rukhsah jika tidak ada makanan selain itu dan dikhawatirkan akan mengancam nyawanya ketika ia tidak menemukan makanan lain.

Jika kebutuhan sudah terpenuhi, hukumnya memakan bangkai kembali ke keadaan semula yaitu haram. Pertama : Jika ada keterpaksaan (ad-darurat) atau kebutuhan (al-hajat). Misalnya, diperbolehkan seorang Mukmin mengucapkan kalimat "Saya kafir" karena dipaksa, dan kita tidak akan mampu menolaknya, namun di dalam hatinya tetap beriman. Boleh berbuka puasa siang hari, saat bulan Ramadhan karena sakit atau sedang safar. Kedua : Karena adanya uzur (halangan). Misalnya musafir boleh mengqasar shalanya. Ketiga : Untuk kepentingan dan memenuhi kebutuhan orang banyak.

Kedua rukhsah yang menggugurkan hukum azimah. Sesuatu yang hukum awalnya haram dapat menjadi halal karena rukhsah.

Misalnya minum khamar karena tidak ada minuman lain dan membahayakan tubuhnya jika tidak minum. Hukum asal khamr adalah haram, namun karena keterpaksaan dapat menjadi halal atau diperbolehkan. • ► 2022 (35) • ► May (5) • ► April (6) • ► March (8) • ► February (9) • ► January (7) • ► 2021 (106) • ► December (9) • ► November (8) • ► October (9) • ► September (11) • ► August (14) • ► July (15) • ► June (9) • ► May (6) • ► April (5) • ► March (8) • ► February (5) • ► January (7) • ► 2020 (115) • ► December (9) • ► November (4) • ► October (10) • ► September (11) • ► August (13) • ► July (11) • ► June (7) • ► May (11) • ► April (5) • ► March (10) • ► February (9) • ► January (15) • ► 2019 (125) • ► December (11) • ► November (5) • ► October (4) • ► September (6) • ► August (14) • ► July (17) • ► June (11) • ► May (8) • ► April (16) • ► March (16) • ► February (10) • ► January (7) • ▼ 2018 (215) • ► December (9) • ► November (12) • ► October (15) • ► September (22) • ► August (14) • ► July (10) • ► June (11) • ► May (27) • ► April (22) • ▼ March (26) • Ilmu dan Amal Seumpama Dua Kata yang Saling Mel.

• Inilah Makna Shalawat dan Salam Untuk Nabi SAW Dal. • Hadits Shahih Tentang Fadhilah 16 Surat Yang Ada D. • Sejarah/Kronologi Keberadaan Mimbar di Masjid.

• Rusaknya Hati Seseorang Tanda Musibah Besar Bagi D. • Menyegerakan Tidur Malam, Adalah Perilaku Menghidu. • Hal-Hal Yang Dapat Mempermudah Datangnya Rizeki da. • Makna Puasa Nadzar dan Sebab Puasa Kifarat Serta C.

• Siapakah Pemberi Tanda Baca dan Tajwid Pada Al-Qur. • Muhrim Dalam Islam ada 14 Jenis Berdasarkan Kajiaa. • Keistimewaan Wali Seorang Ayah, Dari Wali-Wali Yan. • 5 Jenis Hukum Nikah Dalam Ketetapan Fiqih Islam.

keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut

• Pengelompokkan Surat Dalam Al-Qur'an Dan Pengertia. • Kisah Penghafal Al-Qur'an, Anak Usia 9 Tahun Yang . • Rukhsah Dalam Agama Adalah Keringanan Yang Diberik. • ASBABUN NUZUL SURAT ALI IMRAN SERI KE-2 (Kisah keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut. • Akan Sia-sia Shalat Kita Jika Asal-asalan Dalam Be. • Mari Kita Jaga Adab Ketika Berada Di Dalam Masjid. • Khutbah Jum'at ; Fenomena Ummat di Akhir Zaman • 4 Cara Memacu Diri Agar Istiqomah Dalam Beribadah • Bersahabat Dengan Orang-Orang Shaleh • Beginilah Asal Usul Rasulullah Diberi Nama Muhammad.

• Kisah Perjanjian Hudaibiyah Membuat Kecewa Para Sa. • ASBABUN NUZUL SURAT AL-FATH (KEMENANGAN) Surat Ke-48 • 6 Rukun Khutbah Jum'at Yang Harus Dipenuhi Oleh Kh. • Tuntunan Do'a Rasulullah SAW. Ketika Terjadi Hujan. • ► February (20) • ► January (27) • ► 2017 (191) • ► December (32) • ► November (38) • ► October (32) • ► September (27) • ► August (11) • ► July (9) • ► June (4) • ► May (5) • ► April (8) • ► March (8) • ► February (10) • ► January (7) • ► 2016 (192) • ► December (6) • ► November (3) • ► October (10) • ► September (14) • ► August (21) • ► July (18) • ► June (27) • ► May (21) • ► April (37) • ► March (26) • ► February (9)“… Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu …” (QS Al Baqarah: 185) ALLAH SWT menyayangi semua hamba-Nya.

Tidak ada kesulitan dalam Islam untuk menjalankan perintah-Nya. Termasuk di saat-saat tertentu ketika hamba-Nya itu mengalami kondisi yang menyulitkannya untuk beribadah. Kondisi semacam itu bukan alasan untuk meninggalkan perintah ibadah. Apalagi, Allah memberikan kemudahan bagi mereka yang berada dalam kondisi sulit tersebut.

keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut

Salah satunya dalam ibadah shalat. Allah memberikan 2 keringanan dalam melaksanakan ibadah wajib ini, yakni keringanan bagi orang yang sedang dalam perjalanan dan keringanan bagi orang yang sedang sakit.

Berikut ini penjelasannya: Jelas, bagi mereka yang sedang melaksanakan perjalanan jauh, Allah keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut shalatnya dengan perintah meng-qashar atau meringkas rakaat shalat.

Demikian pula, dibolehkan untuk menjamak, yakni menggabungkan 2 shalat dalam satu waktu, baik itu di awal (jamak takdim) ataupun diakhir (jamak takhir). Tentu saja shalat jamak-qashar ini memiliki aturan tertentu dalam pelaksanaannya, termasuk ketentuan soal jarak perjalanan yang ditempuh.

BACA JUGA: Ini Keringanan Shalat bagi Musafir Sementara bagi mereka yang tidak dapat melakukan jamak qashar karena ketentuan khusus terkait itu, maka diberikan keringanan untuk melakukan shalat dalam kendaraan.

Shalat dalam kendaraan dilakukan tanpa perlu berdiri. Arahnya pun mengikuti arah laju kendaraan, tidak harus searah kiblat seperti yang diwajibkan pada shalat yang lazim dilakukan. Bersuci pun dimudahkan, yakni dengan tayamum sebagai pengganti wudhu. Caranya, dengan mengambil debu pada kursi atau dinding dalam kendaraan. 2 Keringanan shalat bagi yang sakit Shalat merupakan ibadah wajib.

Bahkan shalat disebut sebagai tiang agama. Dalam kondisi apapun shalat tidak boleh ditinggalkan, termasuk ketika sakit. Selama masih dalam kondisi sadar, orang sakit pun tetap harus shalat.

Namun, Allah Yang Maha Baik memberikan keringanan untuk melaksanakan shalat, khusus bagi orang yang sakit. BACA JUGA: Begini Shalat dan Puasanya Astronot di Antariksa Hal ini dijelaskan dalam hadis Nabi. Dari Imam bin Hushain, ia berkata, “Saya pernah sakit bawasir, dan saya tanyakan kepada Nabi tentang shalat. Beliau bersabda: ‘Shalatlah sambil berdiri, dan apabila engkau tidak kuat maka sambil duduk lah, dan apabila engkau masih tidak kuat maka sambil berbaring lah.” (HR Bukhari) Adapun keringanan terkait posisi atau gerakan shalat bagi orang sakit, akan dijelaskan di artikel selanjutnya.

[] Referensi: Buku Pintar Muslim dan Muslimah/ Karya: Rina Ulfatul Hasanah/ Penerbit: Mutiara Media/ Tahun: 2013
BincangSyariah.Com – Sebagai seorang hamba, tentunya kita tidak pernah lepas dari beribadah kepada Allah.

Dari sini kemudian kita akan menjumpai pelbagai hukum yang bisa berbeda-beda. Hal ini dikarenakan hukum yang diberikan Allah tidak semuanya berlaku permanen. Allah memberikan keringan-keringan kepada orang tertentu dalam kondisi tertentu. Mengingat keadaan hamba tidak semuanya berjalan sesuai rencana, terkadang ada beberapa hal yang membuat ia terhalang atau tidak bisa melakukan kewajiban sesuai ketentuan. Nah, keringanan-keringanan tersebut dalam hukum Islam disebut rukhsah, yang oleh Abdul Wahhab Khalaf (w.1375 H) dalam kitab Ilm Ushul Fiqh didefinisikan sebagai keringan hukum yang disyariatkan oleh Allah kepada orang mukalaf pada kondisi-kondisi tertentu yang menghendaki keringanan.

الرخصة هي ما شرعه الله من الأحكام تخفيفا على المكلف في حالات خاصة تقتضي هذا keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut “Rukhsah adalah sesuatu yang disyariatkan oleh Allah berupa ketentuan hukum yang ringan untuk orang mukalaf pada kondisi tertentu yang menghendaki keringanan” (Abdul Wahhab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh, hal 121) Berikut ini adalah ulasan mengenai pembagian rukhsah yang terdapat dalam kitab Ushūl al-Fiqh al-Islāmī karya Syekh Wahbah Zuhaili (w.

1437 H). Rukhsah terbagi menjadi empat bagian : Pertama, rukhsah wajibah. Rukhsah ini merupakan rukhsah yang wajib dilakukan. Contoh : kebolehan makan bangkai bagi orang yang hampir mati kelaparan. Hukum asalnya adalah tidak boleh (haram) memakan bangkai, namun apabila seseorang hampir mati karena lapar, maka dia wajib hukumnya memakan bangkai jika tidak ada makanan lain lagi selain bangkai.

Hal ini dikarenakan menjaga jiwa yang telah diamanahkan oleh Allah hukumnya adalah wajib, berdasarkan penggalan firman Allah surah al-Baqarah ayat 195 : وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ Artinya : “Dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri” Kedua, rukhsah mandubah.

Rukhsah ini merupakan rukhsah yang sunah dikerjakan. Contoh : kebolehan meringkas (qashar) salat bagi musafir yang beperjalanan lebih dari dua marhalah (81 km atau lebih). Nah, rukhsah semacam ini membolehkan musafir meringkas salat yang awalnya empat rakaat menjadi dua rakaat. Hukum asalnya adalah tidak boleh meringkas salat dalam keadaan normal (tidak sedang perjalanan), namun karena ia sedang dalam perjalanan (musafir) maka diperbolehkan bahkan hukumnya sunah dilakukan supaya tidak mengalami kesulitan ( masyaqqah) dalam perjalanannya.

Hal ini didasarkan atas sabda Rasulullah Saw. kepada Umar Ra. : صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللَّهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوا صَدَقَتَهُ Artinya : “ Itu adalah sedekah yang Allah bersedekah dengannya atas kalian. Maka terimalah sedekah-Nya”. (Ahmad bin Husain al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, jus 3 hal 141) Ketiga, rukhsah mubahah. Rukhsah ini merupakan rukhsah yang boleh dilakukan atau ditinggalkan. Contoh : kebolehan melakukan akad salam (pesanan). Hukumnya asalnya tidak diperbolehkan dikarenakan itu adalah melakukan akad terhadap sesuatu (barang) yang belum ada ( bay’ al-ma’dum), namun akad salam (pesanan) diperbolehkan dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia yang semakin berkembang.

Keempat, rukhsah khilaf al-aulā. Rukhsah ini merupakan rukhsah yang lebih utama ditinggalkan. Contoh : kebolehan membatalkan puasa bagi musafir dimana ia masih mampu untuk berpuasa (tidak berbahaya bagi dirinya). Hal ini didasarkan atas penggalan firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 184 : وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ Artinya : “Dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Nah, itulah sekelumit penjelasan mengenai macam-macam rukhsah (keringanan) yang ditawarkan oleh syariat kepada kita.

Alangkah baiknya kita dapat mengamalkannya sesuai porsi yang dibutuhkan. Wallahu a’lam
• Tafsir • Alquran & Aqidah Akhlak • Alquran & Budaya • Alquran & Filsafat • Alquran & Gender • Alquran & Ibadah • Alquran & Politik • Alquran & Tasawuf • Alquran, Sains & Keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut • Tafsir Tahlili • Ulumul Quran • Bahasa Arab • Balaghah • Nahwu • Qaidah Tafsir • Wawasan • Doa • Esai • Feature • Khutbah • Indept • Inspiring • Interview • Orientalisme • Review • Tarikh • Video • Podcast • Talkshow Dalam fiqh ada qaidah: اَلْمَشَقَّةُ تَجْلِبُ التَّيْسِيْرَ bahwa unsur kesulitan akan mendatangkan kemudahan.

Dari sini nampak jelas bahwa islam itu adalah agama yang mudah yang sejalan dengan fitrah manusia. Keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut SWT dalam banyak ayat al-Qur’an menjelaskan tentang adanya kemudahan dan tidak ada pemaksaan untuk mengerjakan suatu kewajiban.

Puasa wajib, tapi jika bepergian atau sakit maka boleh tidak berpuasa. Bangkai haram dimakan, tapi dalam keadaan terpaksa bangkai boleh dimakan. Kehidupan manusia tidak akan lepas dari keadaan yang mengharuskannya melakukan pilihan-pilihan yang serba sulit dan dilematis. Hal ini pasti akan terjadi dalam dinamika kehidupan sehari-hari. Hukum Islam bukanlah hukum yang ekstrim, hukum Islam memiliki elastisitas hukum yang disesuaikan dengan konteks permasalahan yang terjadi. Kemudahan ( At-Takhfif) dalam Islam yang diberikan oleh Allah secara garis besar dimaksudkan dalam dua hal, yaitu : • اَلْأَصْلُ ( Al-Ashl): Agama Islam pada asalnya adalah agama yang mudah.

Maksudnya bahwa Islam itu mimang agama yang mudah. contoh, shalat wajib yang dibebankan kepada umat Islam hanyalah 5 waktu dalam sehari yang awalnya 50 waktu. Bersamaan dengan itu, 5 waktu tersebut tetap bisa senilai pahala 50 waktu.

• اَلطَّارِئُ ( at-Thari’): Keringanan yang datang karena suatu sebab. Selain keringanan yang secara asal telah melekat pada Islam, Allah juga memberikan keringanan-keringanan tambahan pada syariat-syariat tertentu karena adanya sebab-sebab tertentu. Diantara bentuk keringanan tersebut adalah: Yaitu keringanan dalam bentuk menggugurkan suatu kewajiban seperti, Orang sakit, Orang yang bepergian (musafir), dan budak, digugurkan dari mereka kewajiban shalat jumat.

Orang miskin atau tidak mampu, tidak diwajibkan bagi mereka menunaikan ibadah haji. Rukhsah yang Diberikan Karena Terpaksa Dalam perspektif fiqh sering ditegaskan bahwa setiap ada masaqqah akan mendapat rukhshah, tetapi tidak semua orang bisa mendapatkan rukhshah.

Ada banyak kategori yang bisa mendapat rukhshah, salah satunya adalah ikrah ( pemaksaan). Artinya Terpaksa yang dimaksud di sini adalah menghendaki orang lain melakukan tindakan yang bertentangan dengan keinginannya, atau dalam defenisi lain menyuruh orang lain untuk melakukan perbuatan tertentu, sekaligus memberikan ancaman yang sangat mungkin untuk dijatuhkan sehingga orang dipaksa mengalami ketakutan.

Baca Juga Puasa Ramadhan: Bukti Cinta Hamba Kepada Allah Karna itu, ulama ushul memberikan beberapa syarat tentang suatu pekerjaan yang dapat dikategorikan terpaksa. Diantaranya adalah: • Pemaksa mampu merealisasikan ancamannya, baik melalui sarana kekuasaan atau intimidasi. • Orang yang dipaksa tidak mampu menolak dengan cara apapun.

• Orang yang dipaksa menduga kuat jika dia menolak maka ia akan melaksanakan ancamannya. • Objek paksaan adalah sesuatu yang diharamkan dan mengakibatkan kerusakan.

Sementara, kalangan ulama hanafiyah secara kualitatif membagi jenis paksaan dalam dua bentuk yaitu ikrah mulja· Adalah suatu paksaan yang tidak mungkin melepaskan diri dari ancaman. Jenis ancamannya berupa pembunuhan dan pemotongan tubuh. Kedua: ikrah ghairu mulja’.

Adalah suatu paksaan yang seseorang dapat menghindarkan diri dari paksaan tersebut, dalam artian bukan paksaan dengan ancaman pembunuhan atau pemotongan anggota tubuh. Barangkali hanya dalam bentuk pemukulan, pemenjaraan, perampasan harta benda.

keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut

Kalangan ulama syafi’iyah lebih sederhana membagi ikrah kepada dua jenis yang mempunyai konseuensi hukum yang berbeda. Pertama: ikrah bi al-haq (paksaan yang dibenarkan). Kedua: ikrah bi ghair al-haq (paksaan tanpa alasan yang benar) dalam hal ini terbagi kepada dua yaitu: ikrah yang haram seperti membunuh dan berzina, kemudian ikrah yang mubah memaksa seorang merusak harta orang lain.

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa obyek paksaan dalam bentuk membunuh dan berzina tetap diharamkan apapun kondisinya. Karena ini sangat terkait dengan memelihara jiwa dan keturunan. Berbeda keringanan ibadah yang diberikan allah kepada hambanya disebut paksaan seperti merusak harta orang lain, meminum khamar dan memakan bangkai dalam hal ini keterpaksaan masih mendapat Rukhshah. Tentunya, Pelaksanaan rukhshah dalam kondisi tertentu memiliki batasan-batasan yang tidak boleh dilampaui.

Ibaratkan kebolehan memakan bangkai dalam kondisi darurat maka kebolehan itu hanya sekedarnya bukan sepuasnya, kadarnya hanya sampai bisa menanggulangi sedikit rasa lapar untuk bisa bertahan mencari makanan yang halal.

Demikian juga dengan kasus-kasus yang lainnya. Ini senada dengan kaidah fiqh: اَلضَّرُوْرَاتُ تُقَدَّرُ بِقَدَرِهَا Baca Juga Televisi dan Gegap Gempita Menyambut Bulan Suci Ramadhan “(Keadaan darurat harus dimbil seperlunya saja)”. Dalam QS. Al Baqaroh 185 Allah berfirman: يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ “ Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghen daki kesukaran bagimu.” (QS Al-Baqarah : 185).

Contoh lain misalnya, adalah bepergian atau melakukan perjalanan sudah merupakan suatu kebutuhan bagi manusia. Dalam keadaan tertentu terkadang perjalanan tersebut mengakibatkan kesulitan untuk melaksanakan kewajiban agama. Pada dasarnya kesulitan dalam perjalanan tidak menghilangkan kecakapan untuk berbuat hukum. Tetapi syariat yang mulia ini memberikan kemudahan (rukhshah) dalam perjalanan. Di antara kemudahan (rukhshah) dalam perjalanan adalah: bolehnya menqasar shalat yang empat rakaat, boleh berbuka puasa Ramadhan, bolehnya meninggalkan shalat jumat dan mengganti dengan salat zuhur, bolehnya memakan bangkai dan sesuatu yang diharamkan, dan lain sebagainya.

Tujuan Rukhsah Pada dasarnya rukhshah (keringanan) adalah pembebasan seorang mukallaf dari melakukan tuntutan hukum dalam keadaan darurat. Dengan sendiri hukumnya boleh. Baik mengerjakan yang dilarang maupun meninggalkan yang disuruh. Namun dalam hal menggunakan Rukhshah ulama berbeda pendapat. Menurut jumhur ulama hukum rukhshah tergantung kepada bentuk uzur yang menyebabkan adanya rukhshah.

Dengan demikian adakalanya rukhshah itu wajib, sunat, makruh dan mubah sesuai dengan kondisi seseorang pada saat mengalami kesulitan. Jika dicermati adanya azimahdan rukhshah dalam hukum Islam sesungguhya adalah untuk memberikan kemaslahatan dan menghindarkan manusia dari kemudharatan yang merupakan tujuan pembentukan hukum Islam.

Pada kondisi normal bagi setiap mukallaf berlaku hukum azimah tetapi pada kondisi kondisi tertentu hukum azimah tidak menyampaikan manusia kepada tujuan hukum sehingga mukallaf harus menggunakan rukhshah sesuai dengan tingkat kesulitan yang dhadapinya. Dalam artian rukhshah terhadap satu orang tidak bisa diberlakukan sama terhadap orang yang lain.

Pada prinsipnya adanya rukhshah dalam setiap uzur yang ditemui bertujuan untuk mewujudkan maqasid al-syariah, dimana bertujuan untuk memelihara lima aspek pokok dalam kehidupan manusia yaitu agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Baca Juga Integrasi Pendekatan Islam dan Barat: Hermeneutika Fazlur Rahman Jadi azimah dan rukhshah memberikan kesimpulan bahwa Islam adalah agama yang rahmahtan lil alamin. Karena Allah sebagai syari’ selalu memberikan kemudahan kemudahan bagi hambanya dalam melaksanakan perintahnya dalam setiap kesulitan yang ditemui.

Semua ini bermuara untuk mewujudkan maqasid al-Syariah. Adanya rukhshah bagi yang kesulitan melaksanakan hukum dalam bentuk azimah merupakan wujud dari fleksibelnya hukum Islam, sehingga hukum Islam bukanlah hukum yang statis tetapi dinamis, sesuai dengan kondisi dan keadaan seseorang. Sehingga sesuai kaidah bahwa hukum dapat berobah dengan berubahnya waktu, tempat, keadaan dan niat. Editor: An-Najmi Fikri R Kicau Tanwir • Tanaman tamarisk adalah sebuah tanaman yang tumbuh dengan bentuk morfologi seperti cemara.

Bahkan dapat dikatakan b… https://t.co/1GWrMsbxg1 Apr 29, 2022 • Menyangkut akhlak yang perlu ditanamkan kedua orang tua kepada anaknya. Salah satunya akhlak memasuki kamar pribadi… https://t.co/KT6lwHmeEu Apr 29, 2022 • Kitab al-Muqtathafat li Ahl al-Bidayat muncul pada saat pergolakan pemikiran takfiri yang semakin semrawut, dan bu… https://t.co/YrylcZKb9T Apr 29, 2022 • Dalam surat ini Allah Swt mengawalinya dengan bersumpah wal ashr (demi masa), untuk membantah anggapan sebagian ora… https://t.co/PK15JoFcIl Apr 29, 2022

CERAMAH BA'DA DZUHUR




2022 www.videocon.com