Buku braille

buku braille

• HOME • NEWS • Politik dan Hukum • Ekonomi • Humaniora • Megapolitan • Nusantara • Internasional • Olahraga • VIEWS • Editorial • Podium • Opini • Kolom Pakar • Sketsa buku braille FOTO • VIDEO • INFOGRAFIS • WEEKEND • SEPAK BOLA • SAJAK KOFE • OTOMOTIF • TEKNOLOGI • RAMADAN • LAINNYA • Live Streaming • Media Guru buku braille Telecommunication Update KEHADIRAN buku braille buku braille menunjang kebutuhan para tunanetra dalam mengakses bacaan.

Di Indonesia, upaya menyediakan wadah bagi buku braille sudah ada sejak 1952. Kala itu, Ketua Perkumpulan Peduli Tuna Netra Heymans bersama HA Malik Uddin--kemudian menjabat Kepala Kantor Braille mendirikan pengelolaan perpustakaan braille dalam bahasa Indonesia.

Itulah cikal bakal berdirinya Balai Literasi Braille Indonesia (BLBI) Abiyoso pada 1961 yang saat itu diberi nama Lembaga Penerbitan dan Perpustakaan Braille Indonesia (LPPBI).

BLBI Abiyoso yang berlokasi di Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, itu menjadi lembaga penerbit buku braille satu-satunya milik pemerintah di bawah Kementerian Sosial RI. Menurut Kepala Seksi Pemetaan dan Metode Literasi Braille, Marsono, BLBI Abiyoso memilki sejumlah program, di antaranya mence tak dan menerbitkan buku braille serta buku bicara ( digital talking book). “BLBI juga melakukan program standardisasi produksi hasil buku braille, penahsihan Alquran braille dengan Kementerian Agama, pameran, dan publikasi,” katanya.

Jenis buku yang tersedia di BLBI Abiyoso beragam. Di antaranya literatur agama, fiksi, buku sekolah, pengembangan diri, dan pengetahuan umum. BLBI juga menginisiasi pembentukan braille corner di Perpustakaan Nasional, provinsi, dan kabupaten/kota.

Kegiatan lain di antaranya perpustakaan keliling, story telling, bedah buku, dan bioskop berbisik. “Tak ketinggalan workshop membangun dan menjalankan internet marketing serta pengoperasian radio streaming, juga dilakukan BLBI untuk mengikuti teknologi informatika yangada,” jelas Marsono.

Sementara itu, proses produksi buku braille langsung ditangani para ahli yang merupakan pegawai dan staf menurut bidang keahlian masing-masing. Kepala Seksi Penyedia Pemanfaatan Literasi Braille Odjak Reynald Simatupang menambahkan, BLBI buku braille sasaran pelayanan, antara lain panti sosial bina netra unit pelaksana teknis (UPT) baik pusat maupun daerah.

Mereka juga menyasar yayasan atau organisasi disabilitas netra, sekolah luar biasa A negeri atau swasta, perorangan bagi penyandang disabilitas netra, dan perpustakaan daerah. (Ifa/H-1) wikiHow adalah suatu "wiki", yang berarti ada banyak artikel kami yang disusun oleh lebih dari satu orang. Untuk membuat artikel ini, 23 penyusun, beberapa di antaranya anonim, menyunting dan memperbaiki dari waktu ke waktu.

Ada 7 referensi yang dikutip dalam artikel ini dan dapat ditemukan di akhir halaman. Artikel ini telah dilihat 5.588 kali. {"smallUrl":"https:\/\/www.wikihow.com\/images_en\/thumb\/f\/f4\/Write-in-Braille-Step-1.jpg\/v4-460px-Write-in-Braille-Step-1.jpg","bigUrl":"https:\/\/www.wikihow.com\/images\/thumb\/f\/f4\/Write-in-Braille-Step-1.jpg\/v4-728px-Write-in-Braille-Step-1.jpg","smallWidth":460,"smallHeight":345,"bigWidth":728,"bigHeight":546,"licensing":"

<\/div>"} Pelajari alfabet braille.

Semua huruf braille merupakan kombinasi enam titik per sel. Titik ini disusun berupa dua baris vertikal tiga titik (atau tergantung sudut pandangnya, tiga baris horizontal dua titik).

Satu huruf dapat diwakilkan satu sampai lima titik. Ada pola dalam abjad braille yang berhubungan dengan urutan huruf di abjad. • Sepuluh huruf pertama abjad (A-J) tersusun khusus atas beberapa kombinasi empat titik atas. • Sepuluh huruf berikutnya (K-T) disusun dengan menambahkan titik kiri bawah ke sepuluh huruf sebelumnya.

Jadi, jika titik kiri atas (huruf A) ditambahi titik kiri bawah, hurufnya menjadi “K”. Berikutnya tentunya adalah huruf “L” yang dibuat dengan menambahkan titik yang sama ke huruf “B”. Pola ini berlanjut sampai huruf “T.” • Lima huruf berikutnya kecuali "W", disusun dengan menambahkan dua titik di bawah sepuluh huruf awal.

buku braille

Huruf "W" dikecualikan karena abjad ini tidak ada dalam bahasa Prancis, yang merupakan bahasa asli braille. [1] X Teliti sumber {"smallUrl":"https:\/\/www.wikihow.com\/images_en\/thumb\/f\/fb\/Write-in-Braille-Step-2.jpg\/v4-460px-Write-in-Braille-Step-2.jpg","bigUrl":"https:\/\/www.wikihow.com\/images\/thumb\/f\/fb\/Write-in-Braille-Step-2.jpg\/v4-728px-Write-in-Braille-Step-2.jpg","smallWidth":460,"smallHeight":345,"bigWidth":728,"bigHeight":546,"licensing":"

<\/div>"} Pelajari tanda baca.

Tanda baca juga tersusun atas kombinasi enam titik dalam satu sel. Sel yang berisi satu titik di kanan bawah berarti dikapitalkan (huruf besar). Tanda titik ditulis dengan membuat titik di kanan bawah dan dua titik di baris kedua.

Buku braille sama dengan huruf “D”, hanya saja turun satu baris. Tanda seru ditulis dengan menurunkan huruf “F” sebanyak satu baris. • Untuk menandakan bahwa seluruh huruf dalam kata terdiri dari huruf besar (bukan hanya huruf pertama), kata terkait didahului oleh dua simbol kapitalisasi sehingga kata diawali dua sel yang hanya berisi titik kanan bawah. • Gunakan simbol angka untuk menuliskan nomor.

Simbol ini berupa tiga titik di kolom kanan bersama titik bawah di kolom kiri (membentuk huruf “L” terbalik). Simbol angka buku braille diikuti simbol yang lazimnya menyatakan huruf “A” sampai “J.” Huruf “A” diikuti simbol angka menjadi nomor “1”, dan “B” menjadi “2”, terus sampai ke huruf “J” yang mewakili nomor “0.” [2] X Teliti sumber {"smallUrl":"https:\/\/www.wikihow.com\/images_en\/thumb\/d\/da\/Write-in-Braille-Step-3.jpg\/v4-460px-Write-in-Braille-Step-3.jpg","bigUrl":"https:\/\/www.wikihow.com\/images\/thumb\/d\/da\/Write-in-Braille-Step-3.jpg\/v4-728px-Write-in-Braille-Step-3.jpg","smallWidth":460,"smallHeight":345,"bigWidth":728,"bigHeight":546,"licensing":"

<\/div>"} Pelajari kontraksi.

Oleh karena braille mengambil lebih banyak ruang dibandingkan abjad bahasa Inggris, penulisannya diperpendek menggunakan kontraksi. Ada 189 kombinasi tambahan untuk kata-kata umum seperti “untuk” “dan”, atau “yang” yang diperpendek menjadi satu sel. Akhiran juga memiliki simbolnya sendiri. Selain itu, singkatan jjuga lazim digunakan, misalnya huruf “tm” adalah kependekan dari kata “ tomorrow” (besok). [3] X Teliti sumber {"smallUrl":"https:\/\/www.wikihow.com\/images_en\/thumb\/e\/e1\/Write-in-Braille-Step-4.jpg\/v4-460px-Write-in-Braille-Step-4.jpg","bigUrl":"https:\/\/www.wikihow.com\/images\/thumb\/e\/e1\/Write-in-Braille-Step-4.jpg\/v4-728px-Write-in-Braille-Step-4.jpg","smallWidth":460,"smallHeight":345,"bigWidth":728,"bigHeight":546,"licensing":"

<\/div>"} Siapkan semua perlengkapan.

Buku braille menuliskan braille dengan tangan, Anda membutuhkan alat slate (semacam papan berlubang), stylus, dan kertas card-stock. Anda bisa memperoleh semuanya dengan mudah melalui internet. • Stylus adalah batang kecil yang biasanya sepanjang beberapa sentimeter. Separuh ujungnya adalah gagang, dan lainnya berupa logam tumpul.

Logam ini ditekan pada kertas untuk membuat lubang titik yang sesuai dengan abjad braille. • Slate digunakan untuk menjaga titik-titik yang dibuat berjarak sama sehingga huruf braille tertulis rapi.

Slate terbuat dari dua logam, biasanya sepanjang halaman kertas dan terpasang pada engsel. Biasanya alat ini cukup tinggi untuk menampung 4-6 baris braille. • Kertas Card-stock adalah salah satu kertas berjenis tebal. Ketika ditekan stylus, kertas ini akan melekuk alih-alih sobek. [4] X Teliti buku braille {"smallUrl":"https:\/\/www.wikihow.com\/images_en\/thumb\/8\/8f\/Write-in-Braille-Step-5.jpg\/v4-460px-Write-in-Braille-Step-5.jpg","bigUrl":"https:\/\/www.wikihow.com\/images\/thumb\/8\/8f\/Write-in-Braille-Step-5.jpg\/v4-728px-Write-in-Braille-Step-5.jpg","smallWidth":460,"smallHeight":345,"bigWidth":728,"bigHeight":546,"licensing":"

<\/div>"} {"smallUrl":"https:\/\/www.wikihow.com\/images_en\/thumb\/d\/df\/Write-in-Braille-Step-6.jpg\/v4-460px-Write-in-Braille-Step-6.jpg","bigUrl":"https:\/\/www.wikihow.com\/images\/thumb\/d\/df\/Write-in-Braille-Step-6.jpg\/v4-728px-Write-in-Braille-Step-6.jpg","smallWidth":460,"smallHeight":345,"bigWidth":728,"bigHeight":546,"licensing":"
<\/div>"} {"smallUrl":"https:\/\/www.wikihow.com\/images_en\/thumb\/6\/6a\/Write-in-Braille-Step-7.jpg\/v4-460px-Write-in-Braille-Step-7.jpg","bigUrl":"https:\/\/www.wikihow.com\/images\/thumb\/6\/6a\/Write-in-Braille-Step-7.jpg\/v4-728px-Write-in-Braille-Step-7.jpg","smallWidth":460,"smallHeight":345,"bigWidth":728,"bigHeight":546,"licensing":"
<\/div>"} Siapkan braillewriter.

Perkins braillewriter adalah perangkat yang mirip mesin tik biasa, hanya saja tombolnya cuma enam. Belilah kertas berat untuk dimasukkan ke atas mesin ini. [6] X Teliti sumber • Harga Braillewriter berkisar mulai dari Rp10.000.000 dan tersedia dalam beragam bentuk dan ukuran.

buku braille

Sebagian dirancang untuk digunakan hanya dengan satu tangan atau sentuhan ringan. Ada pula jenis braillewriter yang lebih canggih, yang akan dibahas nanti.

[7] X Teliti sumber {"smallUrl":"https:\/\/www.wikihow.com\/images_en\/thumb\/9\/9f\/Write-in-Braille-Step-8.jpg\/v4-460px-Write-in-Braille-Step-8.jpg","bigUrl":"https:\/\/www.wikihow.com\/images\/thumb\/9\/9f\/Write-in-Braille-Step-8.jpg\/v4-728px-Write-in-Braille-Step-8.jpg","smallWidth":460,"smallHeight":345,"bigWidth":728,"bigHeight":546,"licensing":"

<\/div>"} Pelajari tombolnya. Tombol besar di tengah braillewriter adalah bilah spasi. Tiga tombol di setiap sisi tombol spasi mewakili susunan enam titik dalam braille.

Untuk mengetik sel, Anda perlu menekan semua tombol titik yang diperlukan secara bersamaan. Tombol yang agak naik di ujung kiri adalah tombol turun baris, dan tombol yang sejajar dengannya di ujung kanan adalah backspace (kembali satu karakter). • Ada pula bagian plastik besar yang melengkung di atas mesin dan berfungsi sebagai penampung kertas serta kepala abu-abu yang dipakai untuk menggulir kertas ke mesin. [8] X Teliti sumber • Dalam braille, buku braille titik ditandai dengan angka; titik kiri atas adalah 1, titik tengah kiri adalah 2, dan titik kiri bawah adalah 3.

Serupa dengan itu, titik kolom kanan juga menurun dari angka 4 ke 6. Dengan demikian, papan tik braillewriter tersusun seperti berikut: 321 (spasi) 456. [9] X Teliti sumber {"smallUrl":"https:\/\/www.wikihow.com\/images_en\/thumb\/6\/61\/Write-in-Braille-Step-9.jpg\/v4-460px-Write-in-Braille-Step-9.jpg","bigUrl":"https:\/\/www.wikihow.com\/images\/thumb\/6\/61\/Write-in-Braille-Step-9.jpg\/v4-728px-Write-in-Braille-Step-9.jpg","smallWidth":460,"smallHeight":345,"bigWidth":728,"bigHeight":546,"licensing":"

<\/div>"} Gunakan teknologi canggih.

Tentunya typewriter sudah dianggap kuno dalam standar modern. Untungnya, sekarang ada braillewriter elektronik dengan fungsi serupa. Perangkat seperti Mountbatten Brailler dan Perkins Smart Brailler memungkinkan Anda menyimpan dokumen secara elektronik.

Mesin ini juga memiliki pendukung audio dan modus latihan. [10] X Teliti sumber • Komputer Macintosh terbaru juga memungkinkan penggunanya memprogram papan tik atau papan sentuh di iPad sebagai typewriter braille. Dalam kasus ini papan tik QWERTY dapat diprogram ulang buku braille bisa menuliskan braille.

[11] X Teliti sumber
• Afrikaans • العربية • অসমীয়া • Azərbaycanca • Български • भोजपुरी • বাংলা • Català • Čeština • Чӑвашла • Cymraeg • Dansk • Deutsch • Buku braille • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • فارسی • Suomi • Føroyskt • Français • Arpetan • Frysk • Gaeilge • Gàidhlig • Galego • עברית • हिन्दी • Hrvatski • Magyar • Հայերեն • Արեւմտահայերէն • Interlingua • Ido • Íslenska • Italiano • 日本語 • ქართული • Taqbaylit • 한국어 • Latina • Lietuvių • Latviešu • Македонски • മലയാളം • मराठी • Bahasa Melayu • မြန်မာဘာသာ • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Occitan • buku braille • Polski • پنجابی • Português • Runa Simi • Română • Русский • Scots • Srpskohrvatski / српскохрватски • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • Shqip • Српски / srpski • Svenska • தமிழ் • తెలుగు • ไทย • Tagalog • Türkçe • Татарча/tatarça • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Tiếng Việt • Winaray • 吴语 • მარგალური • 中文 • 文言 • Bân-lâm-gú • 粵語 Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan.

Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.

Cari sumber: "Braille" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR ( Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini) Braille Jenis aksara Rentang Unicode U+2800–U+28FF Artikel ini mengandung karakter Unicode Braille. Tanpa dukungan perenderan yang baik, Anda mungkin akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan huruf Braille.

buku braille

Huruf Braille adalah sejenis sistem tulisan sentuh yang digunakan oleh tunanetra. Sistem ini diciptakan oleh seorang Prancis yang bernama Louis Braille yang buta disebabkan kebutaan waktu kecil. Ketika berusia 15 tahun, Braille membuat suatu tulisan tentara untuk memudahkan tentara untuk membaca ketika gelap. Tulisan ini dinamakan huruf Braille. Namun, ketika buku braille Braille tidak mempunyai huruf W. Daftar isi • 1 Sejarah Huruf Braille • 2 Sistem Huruf Braille • 3 Abjad Braille • 3.1 Huruf dan Nomor • 4 Mesin Ketik dan Cetak Huruf Braille • 4.1 Perkins Brailler • 4.2 Mesin Cetak Huruf Braille • 5 Rancangan Ponsel Berhuruf Braille • 6 Teknologi Berbasis Braille • 6.1 Nokia 770 • 6.2 MLM • 6.3 JAWS • 6.4 OOSH • 6.5 Touch and Go • 6.6 Interface Squibble Portable Braille • 6.7 B-Touch Braille Mobile Phone • 6.8 Kamera Touch Sight • 6.9 Samsung Touch Messenger • 6.10 Special Teatime Braille Thermos • 7 Jenis-Jenis Huruf Braille • 7.1 Braille Jepang • 7.2 Braille Korea • buku braille Braille ASCII • 8 Buku braille Sejarah Huruf Braille [ sunting - sunting sumber ] Munculnya inspirasi untuk menciptakan huruf-huruf yang dapat dibaca oleh orang buta berawal dari seorang bekas perwira artileri Napoleon, Kapten Charles Barbier.

Barbier menggunakan sandi berupa garis-garis dan titik-titik timbul untuk memberikan pesan ataupun perintah kepada serdadunya dalam kondisi gelap malam. Pesan tersebut dibaca dengan cara meraba rangkaian kombinasi garis dan titik yang tersusun menjadi sebuah kalimat. Sistem demikian kemudian dikenal dengan sebutan night writing buku braille tulisan malam.

Demi menyesuaikan kebutuhan para tunanetra, Louis Braille mengadakan uji coba garis dan titik timbul Barbier kepada beberapa kawan tunanetra. Pada kenyataannya, jari-jari tangan mereka lebih peka terhadap titik dibandingkan garis sehingga pada akhirnya huruf-huruf Braille hanya menggunakan kombinasi antara titik dan ruang kosong atau spasi.

Sistem tulisan Braille pertama kali digunakan di L’Institution Nationale des Jeunes Aveugles, Paris, dalam rangka mengajar siswa-siswa tunanetra. Kontroversi mengenai kegunaan huruf Braille di Prancis sempat muncul hingga berujung pada pemecatan Dr. Pignier sebagai kepala lembaga dan larangan penggunaan tulisan Braille di tempat Louis mengajar.

Karena sistem baca dan penulisan yang tidak lazim, sulit untuk meyakinkan masyarakat mengenai kegunaan dari huruf Braille bagi kaum tunanetra. Salah satu penentang tulisan Braille adalah Dr. Dufau, asisten direktur L’Institution Nationale des Jeunes Aveugles. Dufau kemudian diangkat menjadi kepala lembaga yang baru. Untuk memperkuat gerakan anti-Braille, semua buku dan salinan yang ditulis dalam huruf Braille dibakar dan disita.

Namun disebabkan perkembangan murid-murid tunanetra yang begitu cepat sebagai buku braille dari kegunaan huruf Braille, menjelang tahun 1847 sistem tulisan tersebut diperbolehkan kembali.

Pada tahun 1851, buku braille Braille diajukan pada pemerintah negara Prancis agar diakui secara sah oleh pemerintah. Sejak saat itu, penggunaan huruf Braille mulai berkembang luas hingga mencapai negara-negara lain. Pada akhir abad ke-19, sistem tulisan ini diakui secara universal dan diberi nama ‘tulisan Braille’. Pada tahun 1956, Dewan Dunia untuk Kesejahteraan Tunanetra ( The World Council for the Welfare of the Blind) menjadikan bekas rumah Louis Braille sebagai museum.

Kediaman tersebut terletak di Coupvray, 40 km sebelah timur Paris. Sistem Huruf Braille [ sunting - sunting sumber ] (GAR 0606094320) Sistem tulisan Braille buku braille taraf kesempurnaan pada tahun 1834. Huruf-huruf Braille menggunakan kerangka penulisan seperti kartu domino. Satuan dasar dari sistem tulisan ini disebut sel Braille, di mana tiap sel terdiri dari enam titik timbul; tiga baris dengan buku braille titik. Keenam titik tersebut dapat disusun sedemikian rupa hingga menciptakan 64 macam kombinasi.

Huruf Braille dibaca dari kiri ke kanan dan dapat melambangkan abjad, tanda baca, angka, tanda musik, simbol matematika dan lainnya. Ukuran huruf Braille yang umum digunakan adalah dengan tinggi sepanjang 0.5 mm, serta spasi horizontal dan vertikal antar titik dalam sel sebesar 2.5 mm.

Abjad Braille [ sunting - sunting sumber ] Braille terdiri dari sel yang mempunyai 6 titik timbul yang dinomorkan seperti berikut: dan kehadiran atau ketiadaan titik itu akan memberi kode untuk simbol tersebut. Huruf Braille Bahasa Melayu adalah hampir sama dengan kode buku braille Braille Inggris. Perkataan, simbol (seperti tanda seru dan tanda tanya), beberapa perkataan dan suku kata bisa didapat secara terus. Contohnya, perkataan orang disingkat menjadi org.

Ini memungkinkan buku Braille yang lebih tipis dicetak. Huruf Braille juga telah diperkaya sehingga dapat digunakan untuk membaca not musik dan matematika. Kini Braille telah diubah suai dengan menambah dua lagi titik menjadikan Braille menjadi kode 8 titik. Ini memudahkan pembaca Braille mengetahui huruf tersebut adalah huruf besar atau kecil. Selain itu, penukaran ini memungkinkan huruf huruf ASCII dipertunjukkan dan kombinasi 8 titik ini dienkodekan dalam standar Unicode.

Braille dapat dihasilkan menggunakan riglet dan stylus di mana titik ditulis di bawah permukaan kertas, menulis dengan gambar cermin, menggunakan tangan, atau menggunakan mesin tik Braille yang dikenali sebagai Perkins Buku braille. Braille juga dapat dihasilkan menggunakan mesin cetak Braille yang dihubungkan kepada komputer. Huruf dan Nomor [ sunting - sunting sumber ] a/1 b/2 c/3 d/4 e/5 f/6 g/7 h/8 i/9 j/0 k l m n o p q r s t u v x y z w Mesin Ketik dan Cetak Huruf Braille [ sunting - sunting sumber ] Perkins Brailler [ sunting - sunting sumber ] (GAR 0606094320) Perkins Brailler adalah sebuah mesin rancangan David Abraham pada tahun 1952 yang digunakan untuk mengetik huruf Braille.

Sistem pemakaiannya sangat mirip dengan mesin tik biasa. Setiap abjad direpresentasikan oleh keenam titik-titik timbul Braille sehingga jika dirangkai dapat membentuk kata-kata. Selain kombinasi titik timbul huruf Braille, Perkins Brailler juga memiliki tombol spasi, tombol backspace untuk menghapus dan tombol spasi per baris. Layaknya mesin tik manual, Perkins Brailler memiliki dua sisi alat putar untuk memasukkan dan mengeluarkan kertas. Mesin Cetak Huruf Braille [ sunting - sunting sumber ] Untuk mencetak buku maupun bahan bacaan dengan huruf Braille, dapat menggunakan seperangkat komputer dan mesin pencetak relief huruf Braille yang dihubungkan melalui paralel porta yakni LPTI.

Cara kerja komputer ini adalah mengetikkan abjad biasa ke dalam suatu program yang kelak akan mengubahnya menjadi huruf Braille. Hasil pengubahan kemudian tampil di layar dan siap untuk dicetak melalui sebuah mesin pencetak khusus relief Braille yang dilengkapi dengan mikrokontroler MCS 51. Kecepatan mencetak menggunakan mesin tersebut kira-kira 30 menit per halaman buku braille 552 karakter. Rancangan Ponsel Berhuruf Braille [ sunting - sunting sumber ] Samsung membuat gebrakan besar dalam bidang komunikasi kaum tunanetra pada era pengomputeran dengan ide cemerlangnya yang mengaplikasikan touch pad berhuruf Braille pada telepon genggam.

Produk yang dikembangkan oleh salah satu Pusat Penelitian dan Pengembangan Samsung Global di Shanghai, Tiongkok ini diberi nama Touch Messenger. Atas gagasan tersebut, Samsung berhasil meraih penghargaan tertinggi Gold Award pada forum IDEA: Industrial Design Excellence Award di bulan Agustus 2006.

Ukuran purwarupa Touch Messenger Samsung sebesar genggaman tangan orang dewasa dan sekilas tampak seperti perangkat pager. Para pengguna dapat mengetikkan rangkaian kata dengan jempol kanan dan kirinya. Pada sisi bawah, terdapat LCD layar display huruf Braille sejumlah empat belas karakter dalam sebaris, dan pada sisi atas, disediakan touch pad berupa sepasang penginput huruf Braille. Keenam titik timbul huruf Braille berada di atas pola kisi standar.

Kelebihan lain yang disediakan Samsung adalah kemampuan Touch Messenger untuk mengubah huruf Braille menjadi huruf biasa sehingga tidak hanya memungkinkan komunikasi bagi sesama kaum tunanetra, tetapi juga dengan khalayak luas pada umumnya.

Gagasan touch pad yang digunakan dalam Touch Messenger dapat menjadi titik awal dari perkembangan papan ketik bagi pengguna komputer dengan keterbatasan penglihatan. Tidaklah aneh jika Samsung menyebut telepon genggam ini sebagai produk berteknologi tinggi yang berorientasi pada manusia ( human-oriented high-tech product).

Teknologi Berbasis Braille [ sunting - sunting sumber ] Nokia 770 [ sunting - sunting sumber ] Nokia N770 Internet Tablet merupakan teknologi yang menerapkan aplikasi touchscreen huruf braille. Perangkat layar sentuh ini ditemukan oleh Jussi Rantala, Buku braille Tampere, Finlandia. Di dalam alat ini telah ditanamkan material piezoelectric yang bisa memancarkan sinar elektrik.

Selain itu, terdapat perangkat lunak untuk menampilkan titik vibrasi single pulse. Dalam penggunaannya, perangkat ini bisa digunakan dalam dua cara, pertama dengan membaca matriks dari sisi kiri lalu jari bergerak horizontal untuk membaca lima titik lainnya. Kedua, pengguna menempatkan jari di layar dan menahannya lalu perangkat akan menampilkan karakter dan enam titik akan digetarkan secara berulang selama 360 milidetik per titik.

[1] MLM [ sunting - sunting sumber ] MLM for the blind adalah alat baca untuk penyandang cacat mata, memiliki kemampuan untuk mengkonversi huruf latin ke huruf Braille serta didukung dengan referensi ratusan e-book. Mesin menggunakan sumber energi baterai 6 x 1,5 Volt. dengan dimensi berat kurang buku braille 3 kilogram ini merupakan hasil pengembangan Universitas Bina Nusantara.

Pengembangannya didasari ide bahwa pencetakan teks dengan huruf braille menghabiskan banyak kertas. MLM for The Blind memiliki titik-titik yang lebih menonjol jadi mudah diraba dan panel berisi 20 sel Buku braille.

Selain itu dilengkapi kartu MMC atau MicroSD sebagai tempat penyimpanan ebook, maksimal 2 gigabite. [2] JAWS [ sunting - sunting sumber ] JAWS buku braille Job Access With Speech) adalah perangkat lunak untuk membantu tunanetra dan low vision dalam menggunakan komputer terutama Microsoft Windows.

Diproduksi oleh sebuah perusahaan di Florida, Amerika Serikat bernama The Blind and Low Vision Group. Pertama kali dirilis 1989 oleh Ted Hunter. Ia bersama rekannya, Rex Skipper mengodekan kode asli JAWS. Versi aslinya dibuat untuk sistem operasi MS-DOS yang memudahkan tunanetra dalam menggunakan program berbasis teks. Ketika sistem operasi MS-DOS mulai ditinggalkan karena berganti Microsoft Windows maka dibuatlah JFW ( Jaws For Windows). Aplikasi ini dilengkapi juga dengan kemampuan untuk melafalkan teks dan braille display.

Papan tombol memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan layar monitor. Jumlah dan tipe informasi bisa diubah kedalam banyak aplikasi dengan menggunakan JAWS Scripting Language. Cara kerjanya, semua tulisan yang muncul pada layar akan dibaca kata per kata dengan logat Inggris. Program ini mendukung bahasa HTML, dialogue box, JAWS Tendem untuk mengakses komputer lain, serta telah didukung iTunes dan iTunes Store.Saat ini bahkan telah mendukung kemampuan antarmuka pengguna.

Kelemahannya adalah tidak mampu membaca grafik, gambar dan program flash. Selain itu pelafalan dalam logat bahasa Inggris masih menyulitkan pengguna Indonesia. Oleh karena itu, saat ini peneliti ITB mencoba untuk memodifikasi JAWS versi 7.10 sehingga bisa dikonversikan oleh openbook.

[3] OOSH [ sunting - sunting sumber ] OOSH adalah jam tangan yang dikhususkan bagi penderita tunanetra, karena selama belum banyak perusahaan yang secara khusus memproduksi jam tangan untuk orang buta.

Jam tangan dengan 64 lubang yang bisa membentuk angka Braille dalam menyampaikan informasi waktu. Selain itu, jam ini dilengkapi dengan alarm yang bisa diset sesuai dengan keinginan pemakai.

Produk ini adalah buah karya desainer Wing Li. Selain canggih, juga mempunyai motif yang halus dan mudah dalam pemakaiannya. Touch and Go [ sunting - sunting sumber ] Touch buku braille Go adalah alat navigasi bagi orang buta yang memiliki buku braille ke perangkat bluetooth dan gadget high tech lainnya sehingga dapat memberikan gambaran lingkungan sekitar melalui visual taktil dan pendengaran. Hampir sama dengan OOSH. Interface Squibble Portable Braille [ sunting - sunting sumber ] Interface Squibble Portable Braille merupakan gawai terbaru yang memungkinkan orang dengan penglihatan yang buruk agar dapat mengoperasikan keyboard interaktif yang menerapkan sistem Braille di mana terdapat kontras tinggi dalam hal pewarnaan.

Bright F adalah alat pengonversi informasi ke dalam suara. Maka, tidak heran jika nantinya seorang tunanetra dapat menentukan warna baju yang akan dipakainya. B-Touch Braille Mobile Phone [ sunting - sunting sumber ] B-Touch Braille Mobile Phone adalah mobile phone yang dirancang dengan menggunakan tombol Braille di mana terdapat kombinasi unik layar sentuh Braille plus sistem pengenalan suara sehingga memudahkan bagi penyandang tunanetra dalam berkomunikasi.

[4] Kamera Touch Sight [ sunting - sunting sumber ] Kamera Touch Sight merupakan kamera tanpa sebuah LCD yang diciptakan bagi penyandang tunanetra di mana gambar 3 dimensi direpresentasikan kedalam layar braille. Ketika pengguna akan mengambil gambar maka perangkat akan menentukan lokasi yang akan di foto dan merekamnya selama 3 detik. Cara menggunakannya buku braille unik yaitu dengan menempelkan kamera ke dahi pengguna.

Ini merupakan cara menstabilkan dan mengarahkan kamera. gambar yang diambil akan digabungkan dengan file suara menjadi foto yang dapat disentuh buku braille hasil ini bisa disimpan atau dishare ke sesama pengguna Touch Sight. Kamera ini dirancang oleh Chueh di Beit Ha’vie, Israel. Namun, gawai ini masih berupa konsep yang belum diproduksi menjadi hal yang nyata.

[5] Buku braille Touch Messenger [ sunting buku braille sunting sumber ] Samsung Touch Messenger adalah gawai keluaran perusahaan gawai terkemuka dengan konsep Braille touchpad di mana terdapat enam karakter yang bisa saling dikombinasikan untuk mengetik pesan. Dengan desain yang menawan, Samsung Touch Messenger berhasil menyabet penghargaan Gold Award pada Industrial Design Excellence Awards.

[6] Special Teatime Braille Thermos [ sunting - sunting sumber buku braille Special Teatime Braille Thermos adalah termos yang dirancang oleh Halim Lee. Kebutaan membuat aktivitas seseorang terhambat, untuk berjalan saja susah apalagi untuk membuat teh. Dengan adanya termos braille, tuna netra dimudahkan untuk membuat teh sendiri. Pada termos terdapat huruf braille yang terukir di badan termos, juga dilengkapi dengan water level button untuk mengetahui batas jumlah air.

Selain itu, alat ini juga dilengkapi dengan Infuser dan timer. Infuser adalah bagian di mana pengguna dapat menaruh bubuk teh sesuai dengan keinginannya, sedangkan timer adalah fasilitas untuk menghitung waktu yang diinginkan dalam menghangatkan teh sesuai dengan keinginan.

[7] Jenis-Jenis Huruf Braille [ sunting - sunting sumber ] Huruf Braille diciptakan dalam kultur budaya barat, terutama Prancis sehingga dalam penggunaannya merepresentasikan alfabet latin. Maka dalam perkembangan selanjutnya, huruf Braille mengalami buku braille modifikasi dalam penerapannya kedalam berbagai bahasa, terutama bahasa-bahasa yang mempunyai aksara-aksara tertentu. Saat ini tidak heran jika terdapat berbagai versi huruf Braille, di antaranya: Braille Jepang [ sunting - sunting sumber ] Braille Jepang adalah kode Braille untuk menulis dalam bahasa Jepang dan tetap berdasarkan sistem Braille yang asli.

Sistem ini disebut tenji yang secara bahasa berarti dot karakter. Braille Jepang adalah vokal yang berbasis abiguda.

buku braille

Vokal ditulis disudut kiri atas (poin 1,2,4) dan bisa digunakan sendiri. Sedangkan konsonan ditulis dipojok kanan bawah (poin 3,5,6) dan tidak dapat berdiri sendiri. Huruf semivokal ditandai dengan 4 titik, yaitu titik vokal dan simbol vokal yang terdapat di bawah blok.

Pada huruf kana, penulisannya dengan menambahkan diakritik yang disebut dakuten seperti dalam gi ぎ. Demikian pula dengan p yang berasal dari huruf h yang ditambahi lingkaran kecil, handakuten. Dua kana bergabung menjadi satu buku braille kata tunggal dengan tulisan kedua yang lebih kecil seperti dalam きゃkya, ini disebut Yoon. Untuk tanda baca sama dengan sistem Braille yang asli meskipun terdapat beberapa tambahan dalam penerapannya di dalam bahasa Jepang.

[8] Braille Korea [ sunting - sunting sumber ] Sistem ini dikembangkan oleh Dr. Rosetta Sherwood Hall tahun 1894 menggunakan 4 titik. Namun karena tidak mudah digunakan maka dibuatlah sistem dengan 6 titik oleh Park Du-Seong tahun 1926, sedangkan bentuk yang berlaku di Korea saat ini adalah hasil revisi tahun1994. Braille Korea tidak berhubungan dengan sistem grafis lainnya di dunia karena khusus mencerminkan pola huruf Hangeul.

Sistem ini merupakan kombinasi dari konnsonan awal, vokal, dan konsonan akhir. Konsonan memiliki varian yang berbeda baik di awal maupun di akhir suku kata dan tidak menempati lebih dari dua baris. Jika di awal konsonan menempati ruang di sebelah kanan maka untuk konsonan buku braille menempati ruang dikiri, sedangkan untuk huruf vokal semuanya memiliki rentang yang lebar selnya tinggi. Untuk karakter angka dan tanda baca sama dengan sistem Braille yang asli.

[9] Braille ASCII [ sunting - sunting sumber ] Braille ASCII menggunakan 64 karakter ASCII untuk mewakili semua kemungkinan kombinasi titik dari enam dot-Braille.

Penggunaan sistem ini meskipun dulunya dipakai di Amerika Utara sekarang sudah digunakan secara internasional. Semua huruf buku braille ASCII sesuai dengan Braille Inggris. Namun, hanya ada satu Braille simbol untuk setiap huruf abjad.

Simbol lainnya berbeda dalam sistem Braille yang asli, misalnya titik ⠌ 3-4 merupakan / (garis miring) di Braille ASCII dan ini sama dengan garis miring Braille, tetapi untuk titik ⠿ titik 1-2-3-4-5-6 mewakili = dalam Braille ASCII dan buku braille tidak sama dalam sistem Braille.

Pada dasarnya, sistem Braille ASCII lebih dekat dengan Nemeth Braille yaitu kode matematik karena jika dilihat lebih jauh akan terlihat seperti campuran dari huruf, angka dan tanda baca. Braille ASCII dirancang untuk menjadi sarana penyimpanan dan pengiriman data dalam format digital karena menggunakan karakter standar maka dapat dengan mudah diolah dengan pengolah kata buku braille. Dan hampir semua perangkat lunak terjemahan Braille dapat mengimpor dan mengekspor format ini.

• [10] Rujukan [ sunting - sunting sumber ] • GAR 0606094320 • Koswanto H., Thiang, Ricardo J. (2003) Buku braille Printer Huruf Braille Menggunakan Mikrokontroler MCS-51.

Jurnal Teknik Elektro Vol. 3 No. 1. • Jones, Zzah & Ravcho, Zraya (1947). Introduction to Communications Buku braille A Guide for Non-Engineers. Boca Raton, FL: CRC Press. • Mirabito, M.A.M., & Morgenstern, B.L (1931).

New Communication Technology: Applications, Policy, and Impact, Fifth Edition, UK: Focal Press. • Mitra Netra: Pendidikan dan Pengembangan Tunanetra [ pranala nonaktif permanen] diakses pada tanggal 12 Oktober 2008 • PERTUNI.

(2008) Sejarah Tulisan Braille Diarsipkan 2008-09-27 di Wayback Machine. diakses pada tanggal 1 Oktober 2008 • How Braille Began Diarsipkan 2016-08-02 di Wayback Machine. diakses pada tanggal 1 Oktober 2008 • [1] diakses tanggal 15 Maret 2011 • [2] [ pranala nonaktif permanen] diakses tanggal 15 Maret 2011 • [3] [ pranala nonaktif permanen] diakses tanggal 15 Maret 2011 • ^ "Ponsel Touchscreen Huruf Braille".

Diakses tanggal 2011-03-15. • ^ / "Software Pengubah Huruf Latin Menjadi Braille Ditemukan Peneliti Universitas Bina Nusantara" Periksa nilai -url= ( bantuan).

Diakses tanggal 2011-03-15. • ^ "Teknologi Screen Reader bagi Tuna Netra". Diakses tanggal 2011-03-15. [ pranala nonaktif permanen] • ^ "Gadget untuk Para Tuna Netra".

Diakses tanggal 2011-03-15. • ^ "Kamera Braille Untuk mereka yang buta". Diakses tanggal 2011-03-15. • ^ "Samsung Braille Buku braille Phone". Diakses tanggal 2011-03-15. • ^ "Meet Special Teatime Braille Thermos [Tea Making Gadget]" buku braille.

Diakses tanggal 2011-03-15. • ^ "Kanji Braille". Diakses tanggal 2011-03-15. [ pranala nonaktif permanen] • ^ "Korea Braille". Diakses tanggal 2011-03-15. • ^ "ASCII Braille". Diakses tanggal 2011-03-15. • Bhaiksuki • Bhujimol • Brāhmī • Dewanagari • Dogra • Gujarat • Gupta • Gurmukhī • Kaithī • Khojki • Khudabad • Kotak Zanabazar • Laṇḍā • Lepcha • Limbu • Mahajani • Manipur • Marchen • Drusha • Marchung • Pungs-chen • Pungs-chung • Modi • Multan • Nāgarī • Nagari Selatan • Nagari Sylhet • Nagari Timur • Assam • Bengali • Nandinagari • Pracalit (Newah) • Oriya • Karani • ʼPhags-pa • Ranjana • Sarada • Siddhaṃ • Soyombo • Takri • Tibet • Uchen • Umê • Tirhuta • Tokharia Selatan • A-Chik Tok'birim • Abkhaz • Adlam • Albania Kaukasus • Armenia • Avesta • Avoiuli • Bassa Vah • Borama • Buryat • Caria • Coelbren • Coorgi–Cox • Deseret • Elbasan • Etruria buku braille Evenki • Fox II • Georgia • Asomtavruli • Buku braille • Nuskhuri • Glagol • Gotik • Greko-Iberia • Hangeul • Hongaria Kuno • IPA • Italia Kuno • Jenticha • Kaddare • Kayah Li • Kiril • Kiril Awal • Klingon • Komi • Koptik • Latin • Lisu Tua • Luo • Lyd • Lyk • Manchu • Manda • Medefaidrin • Mongolia • Mru • Neo-Tifinagh • N'Ko • Ogham • Ol Chiki • Osage • Osmanya • Pau Cin Hau • Perm Kuno • Rohingya Hanif • Rune • Side • Somalia • Sorang Sompeng • Steno Cross • Steno Duployé • Steno Gabelsberger • Steno Gregg • Syaw • Tifinagh • Todo • Tolong Siki • Orkhon • Uighur Kuno • Vietnam • Visible Speech • Vithkuqi • Wancho • Warang Citi • Yunani • Zaghawa Non-linear • Albanian • Azerbaijani • Cantonese • Catalan • Tiongoha daratan • Czech • Belanda • English ( Unified English) • Esperanto • French • German • Ghanaian • Guarani • Hawaiian • Hungarian • Iñupiaq • IPA • Irish • Italia • Latvian • Lithuanian • Luxembourgish (extended to 8-dots) • Maltese • Māori • Navajo • Nigerian • Filipino • Polish • Portuguese • Romanian • Samoa • Slowakia • South African • Spanish • Taiwanese Mandarin (largely reassigned) • Turki • Vietnamese • Welsh • Yugoslav • Zambian Nordic family Kategori tersembunyi: • Halaman dengan galat URL • Artikel dengan pranala luar nonaktif • Artikel dengan pranala luar nonaktif permanen • Artikel yang membutuhkan referensi tambahan Maret 2022 • Semua artikel yang membutuhkan referensi tambahan • Aksara dengan kode empat huruf ISO 15924 • Templat webarchive tautan wayback • Halaman ini terakhir diubah pada 12 Maret 2022, pukul 10.47.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • • Sebagai lembaga yang secara innovative terus mengambangkan layanan untuk tunanetra, menemukan dan menciptakan alat Bantu serta metode-metode baru, termasuk di dalamnya metode pembelajaran untuk bidang/subjek tertentu merupakan salah satu pusat perhatian Mitra Netra.

Itu sebabnya, kegiatan penelitian dan Pengembangan merupakan salah satu program penting di Mitra Netra. Dalam melakukan upaya untuk melahirkan karya-karya innovative ini, Mitra Netra tidak melakukannya sendirian; bermitra dengan berbagai pihak sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan adalah strategi yang ditempuh.

Sebagai hasilnya, Mitra Netra senantiasa mempersembahkan karya-karya kreatif itu kepada Negara, dengan menghibahkannya ke seluruh lembaga yang bekerja di bidang pemberdayaan tunanetra. MBC adalah perangkat lunak yang digunakan untuk memproduksi buku Braille. Perangkat lunak ini memiliki kemampuan untuk: • Mengubah dokumen teks dalam huruf latin menjadi file dalam huruf Braille secara otomatis (forward translation). Conversi ini dapat dilakukan dalam dua bentuk.

Conversi grade 1, untuk tulisan penuh (full writing), dan conversi grade 2 untuk tulisan singkat (tusing) atau yang juga disebut contraction. • Mengubah kembali file berformat huruf Braille menjadi dokumen teks dalam buku braille latin (backward translation) • Mengetik symbol Braille secara langsung dengan menggunakan fasilitas enam tombol bagian tengah pada keyboard computer, yaitu tombol A S D F J K ; fasilitas ini disebut “six-key-mode”, dan biasa digunakan untuk mengetik symbol matematika, kimia, fisika, notasi Braille, serta arab Braille.

• Mencetak, baik single copy maupun multi copy Dengan diciptakannya MBC: • Pembuatan buku Braille dapat dilakukan lebih cepat • Mereka yang tidak memahami huruf Braille juga dapat membantu – mengambil bagian dalam proses pembuatan buku Braille, yaitu pada tahapan pengetikan ulang buku-buku yang akan dicetak menjadi buku Braille.

• Distribusi buku Braille dapat dilakukan dalam bentuk file secara on line, sehingga memangkas biaya pengiriman yang begitu besar. Untuk diketahui, bentuk buku Braille pada umumnya besar dan tebal, karena membutuhkan kertas lebih tebal (minimal 120 gram) dan membutuhkan space lebih banyak, karena ukuran huruf Braille yang lebih besar dan harus standar (tidak dapat diubah-ubah).

• Tidak lagi perlu mengimpor software serupa, sehingga dapat menghemat anggaran negara. Pengembangan MBC oleh Mitra Netra telah menempuh perjalanan yang panjang. Berawal dari penelitian awal di tahun 1996; penelitian ini dilakukan sendiri oleh Mitra Netra, dan menghasilkan MBC versi 1 — software berbasis DOS (Disk Operating System).

Setelah diluncurkan pada tahun 1997, MBC Versi 1 kemudian disempurnakan menjadi MBC Versi 2 di tahun 1999. Pada versi 2 software ini, MBC mampu melakukan conversi grade 2 sesuai tahap pembelajaran tulisan singkat yang dilakukan di sekolah-sekolah luar biasa (SLB) untuk tunanetra.

Di tahun 2000, melalui kerja sama dengan Microsoft Indonesia, MBC versi II kembali disempurnakan sehingga dapat bekerja “under Windows” – menjadi MBC Versi 3. Dan, pada tahun 2004, MBC versi 3 disempurnakan dengan fasilitas pengetikan enam tombol (six-key-mode) serta backward translation. Buku braille ini dilakukan melalui kerja sama dengan Universitas Bina Nusantara Jakarta, yang kala itu memenangkan dana hibah penelitian dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.

Sejak awal peluncurannya, Mitra Netra terus mendapatkan masukan dari para buku braille MBC – yaitu para produser buku Braille. Hingga saat ini, penyempurnaan masih terus dilakukan, sebagai tindak lanjut dari buku braille masukan yang diterima. Usaha Mitra Netra untuk membuat agar MBC digunakan oleh seluruh produser buku Braille di Indonesia tidak selamanya berjalan mulus.

buku braille

Meski sejak versi pertama software ini diluncurkan, Mitra Netra telah “menghibahkannya” ke seluruh produser buku Braille – termasuk yang berada di bawah koordinasi pemerintah, tetap saja, ketika Pemerintah Indonesia melalui Departemen Pendidikan Nasional di tahun 1998 melakukan kerja sama dalam bentuk “pinjaman lunak (soft loan)” dengan Pemerintah Norwegia, Departemen tersebut membeli software serupa dari Jerman dan didistribusikan ke 200 SLB untuk tunanetra di Indonesia.

Sudah tentu, impor software ini dilakukan dengan harga yang tidak murah. Software buatan Jerman ini hanya dapat bekerja di bawah system operasi Windows 98 – karena diciptakan kala itu, dan habis masa berlakunya setelah sepuluh tahun.

Dengan demikian, saat ini, software tersebut tidak dapat lagi digunakan. Situaasi ini menjadi kesempatan emas bagi Mitra Netra untuk terus mempromosikan MBC – yang merupakan produk dalam negeri sendiri dan tidak dikomersiilkan.

Urgensi pengunan MBC ini menjadi lebih nyata, saat Mitra Netra mulai merintisn layanan perpustakan Braille on line www.kebi.or.id (KEBI singkatan dari Komunitas E-Braille Indonesia) di tahun 2004.

KEBI merupakan sistem produksi dan distribusi buku Braille yang Mitra Netra bangun, sebagai solusi untuk mengatasi tingginya biaya yang dibutuhkan selama ini untuk memproduksi dan mendistribusikan buku Braille di Indonesia.

Penjelasan lebih detail tentang KEBI dapat dibaca pada bagian “Program” dari situs ini.
PPPPTK TK DAN PLB BANDUNG © 2016 98 KP 4 Usaha untuk menciptakan tulisan bagi orang tunanetra telah dimulai sekurang-kurangnya 16 abad melalui berbagai cara seperti membuat tulisan dengan memahat kayu, menggunakan tali, dan lain sebagainya, yang pada intinya mereka mencoba membantu tunanetra untuk membaca melalui perabaanya.

Hingga awal abad ke-19, orang masih memusatkan usaha membantu tunanetra belajar membaca dan menulis itu dengan memperbesar huruf Latin atau Romawi dengan menggunakan berbagai macam cara dan bahan seperti tali-temali, potongan-potongan logam, kayu, kulit, lilin atau kertas, tetapi hasilnya masih jauh dari memuaskan. Buku braille cara ini memiliki ciri yang sama, yaitu memerlukan bahan yang sulit dibuat atau sukar dimanipulasi sehingga tidak cocok sebagai media komunikasi.

Salah satu upaya yang paling terkonsentrasi untuk menciptakan sistem tulisan bagi tunanetra terjadi di Paris pada tahun 1780-an. Valentin Hauy (1745-1822), pendiri dan direktur sekolah pertama bagi tunanetra di dunia, menghasilkan huruf-huruf timbul pada kertas tebal yang dapat diraba dan dibaca dengan ujung-ujung jari.

Untuk menghasilkan huruf timbul tersebut, pertama-tama dia membuat cetakan huruf dari logam. Huruf-huruf pada cetakan tersebut dibentuk terbalik. Sistem tulisan timbul yang digagas oleh Hauy itu mengalami sejumlah modifikasi, sebagian oleh Hauy sendiri dan sebagian lainnya oleh orang lain. Kurun waktu dari tahun 1825 hingga 1835 tampaknya merupakan masa di mana terdapat kegiatan yang universal untuk menciptakan dan mencetak tulisan timbul.

di Inggris ada Gall, Alston, Moon, Fry, Frere, dan Lucas, yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri dan mempunyai pendukungnya masing-masing, dan di Amerika ada Friedlander, Howe dan lain-lain ( Shodorsmall, 2000). Tampaknya yang paling menonjol di antara mereka adalah Dr. William Moon, seorang tunanetra Inggris. Pada tahun 1845 dia menciptakan sebuah sistem huruf timbul yang menggunakan abjad Romawi, dengan beberapa PPPPTK TK DAN PLB BANDUNG © 2015 99 adalah bahwa sedapat mungkin huruf timbul itu sama dengan bentuk aslinya (abjad Romawi) tetapi harus mudah dikenali dengan perabaan.

Pada dasarnya sistem Hauy dan sistem Moon ini adalah tulisan awas (tulisan biasa) yang diperbesar dan dibuat timbul pada kertas. Keuntungan utama menggunakan abjad ini adalah bahwa tulisan ini dapat dibaca oleh orang tunanetra maupun orang awas. Kelemahannya adalah orang tunanetra tidak dapat membacanya dengan cepat sehingga sangat tidak efisien sebagai media penyerap informasi. Gambar 4. 1 Abjad Moon (dikutip dari http://www.brl.org/) Yang mendasari sistem tulisan Braille yang kita kenal sekarang ini adalah sistem titik-titik timbul yang diciptakan oleh Charles Barbier, seorang perwira artileri Napoleon.

Pada tahun 1815, dalam buku braille Napoleon, Barbier menciptakan tulisan sandi yang terdiri dari titik-titik dan garis-garis timbul yang dinamakannya "tulisan malam". Dia menggunakan tulisan ini untuk memungkinkan pasukannya membaca perintah-perintah militer dalam kegelapan malam dengan merabanya melalui ujung-ujung jari. Sistem ini didasarkan atas metodologi fonetik (atau sonografi). Setiap kata diuraikan menjadi bunyi, dan setiap bunyi dilambangkan dengan konfigurasi titik-titik dan garis-garis tertentu ( Davidson, 2005; Shodorsmall, 2000).

Barbier menggunakan pola 12 titik yang terdiri dari dua deretan vertical yang masing-masing terdiri dari enam titik. PPPPTK TK DAN PLB BANDUNG © 2016 100 KP 4 Titik-titik tersebut dibuat dengan menusukkan sebuah buku braille tajam pada kertas tebal yang buku braille pada sebuah cetakan dari logam. Alat yang inovatif ini masih bertahan hingga kini sebagai alat tulis Braille yang paling banyak dipergunakan.

Di Indonesia, alat ini disebut “pen” dan “reglet”. (Penjelasan lebih lanjut tentang reglet dan pen ini akan anda jumpai pada Kegiatan Belajar 1.4). Sistem Barbier tidak dimaksudkan sebagai alat pendidikan bagi anak tunanetra ataupun untuk memungkinkan orang tunanetra berkomunikasi secara tertulis. Barbier adalah seorang insinyur di angkatan darat Perancis. Motivasinya adalah menciptakan metode untuk mengirim pesan rahasia yang dapat dibaca dalam kegelapan malam (dengan perabaan); dan oleh karena itu sistem Barbier ini disebut “tulisan malam”.

Namun demikian, Barbier tertarik untuk memperkenalkannya kepada orang tunanetra; maka pada tahun 1820 dia mempresentasikan metodenya itu di lembaga pendidikan tunanetra di Paris. Pada awalnya anak-anak tunanetra di lembaga itu sangat senang dengan tulisan ini: buku braille mudah dikenali dengan ujung-ujung jari.

buku braille

Tetapi kemudian mereka buku braille bahwa sistem tulisan malam ini memiliki banyak kekurangan. Sistem ini tidak membedakan huruf kapital dan huruf kecil, tidak ada tanda-tanda untuk angka ataupun tanda-tanda baca; membutuhkan banyak ruang, dan sulit dipelajari.

Tulisan malam mungkin efektif untuk menuliskan pesan-pesan singkat seperti “maju” atau “musuh ada di belakang kita”, tetapi tidak bagus dipergunakan untuk membuat buku bagi tunanetra ( Davidson, 2005). Sistem tulisan bagi tunanetra yang kita kenal sekarang ini diberi nama penciptanya, yaitu Braille. Louis Braille lahir pada tanggal 4 Januari 1809 di Coupvray, sebuah kota kecil sekitar 40 kilometer di sebelah timur Paris.

Dia menjadi buta pada usia tiga tahun sebagai akibat kecelakaan dengan pisau milik ayahnya yang seorang pembuat pelana kuda.

Ayahnya menyekolahkannya di sekolah biasa di daerah tempat tinggalnya, dan dia membantunya dengan membuat tulisan yang dapat dibacanya, yaitu dengan membentuknya dari paku-paku yang PPPPTK TK DAN PLB BANDUNG © 2015 101 dimasukkan ke sekolah khusus bagi tunanetra di paris, di buku braille dia bertemu dengan Kapten Charles Barbier dan diperkenalkan dengan sistem tulisan Barbier. Louis Braille menyadari bahwa sistem Barbier kurang baik sebagai media baca/tulis, tetapi dia sangat menyukai gagasan penggunaan titik-titik untuk tulisan bagi tunanetra; maka setelah pertemuannya dengan Charles Barbier, Louis Braille selalu memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk membuat buku braille dan garis-garis pada kartu-kartu untuk berusaha menciptakan tulisan yang cocok bagi tunanetra.

Dia selalu mencobakan setiap perkembangan tulisannya itu kepada kawan-kawannya yang tunanetra. Menyadari bahwa jari jari kawan-kawannya lebih peka terhadap titik daripada terhadap garis, maka dia memutuskan untuk hanya menggunakan titik-titik saja dan mengesampingkan garis-garis bagi tulisannya itu. Di samping itu, dia mengurangi jumlah titiknya dari dua belas hanya menjadi enam saja. Akan tetapi modifikasi yang paling penting adalah bahwa sistem tulisannya itu tidak didasarkan atas metodologi sonografi melainkan didasarkan atas sistem abjad Latin dalam bentuk yang berbeda – menggunakan titik-titik timbul dengan konfigurasi yang unik.

Akhirnya, pada tahun 1834, ketika Louis Braille berusia awal 20-an, setelah bereksperimen dengan inovasinya itu selama lebih dari sepuluh tahun, sempurnalah sistem tulisan yang terdiri dari titik-titik timbul itu. Louis Braille hanya menggunakan enam titik “domino” sebagai kerangka sistem tulisannya itu – tiga titik ke bawah dan dua titik ke kanan (lihat gambar 1.2). Untuk memudahkan pendeskripsian, tiga titik di sebelah kiri diberi nomor 1, 2 dan 3 (dari atas ke bawah), dan tiga titik di sebelah kanan diberi nomor 4, 5 dan 6.

Satu atau beberapa dari enam titik itu divariasikan letaknya sehingga dapat membentuk sebanyak 63 macam kombinasi yang cukup untuk menggambarkan abjad, angka, tanda-tanda baca, matematika, musik, dan lain-lain.

buku braille

PPPPTK TK DAN PLB BANDUNG © 2016 102 KP 4 Gambar 4. 2 Kerangka Abjad Braille Ketika Louis Braille masih sedang menyederhanakan sistem tulisannya itu, dia diangkat sebagai guru di L'Institute Nationale des Jeunes Aveugles (Lembaga Nasional untuk Anak-anak Tunanetra) buku braille Paris yang didirikan oleh Valentin Hauy pada tahun 1783.

Dia segera menjadi guru yang sangat disukai. Dia dipercaya untuk mengajar sejarah, geografi, matematika, tata bahasa Perancis, dan musik. Ketika sistem tulisannya sudah cukup sempurna, dia mulai mencobakannya kepada murid-muridnya. Mereka menyambutnya dengan gembira dan sangat merasakan manfaatnya. Meskipun Dr. Pignier, kepala lembaga itu, mengizinkan sistem tulisan itu dipergunakan dalam pengajaran buku braille sekolah itu, namun tak seorang pun di luar lembaga itu mau menerima keberadaannya.

Karena mereka belum pernah melihat betapa baiknya sistem tulisan ini, mengajarkan tulisan yang berbeda dari tulisan umum dianggapnya sebagai sesuatu yang amat ganjil dan tidak masuk akal.

Karena badan pembina lembaga itu pun tidak menyukai sistem tulisan ini, maka mereka memecat Dr. Pignier ketika ia merencanakan menyalin buku sejarah ke dalam braille. Kepala yang baru, Dr. Dufau tidak menyetujui sistem Braile itu dan melarang keras penggunaannya.

Karena murid-muridnya telah mengetahui kebaikan tulisan Braille itu, mereka tidak kurang kecewanya daripada Braille sendiri. Maka mereka meminta Braille mengajarnya secara diam-diam. Demi murid-muridnya itu, dia setuju mengajar mereka di luar jam sekolah.Karena guru dan semua murid di dalam kelas itu tunanetra, maka tidaklah mustahil bagi guru guru lain untuk mengintip kelas rahasia itu dan memperhatikannya tanpa mereka ketahui.

Kepala staf pengajar, Dr. Guadet, sering mengamati PPPPTK TK DAN PLB BANDUNG © 2015 103 betapa buku braille murid-murid itu memahami pengajaran yang disampaikan oleh Braille itu, maka Dr. Guadet mengimbau kepada Dr. Dufau agar mengubah pendiriannya dan mengizinkan penggunaan sistem tulisan itu.

buku braille

Akhirnya Dr. Dufau sejuju, dan menjelang tahun 1847 Louis Braille kembali dapat mengajarkan ciptaannya itu secara leluasa. Pada tahun 1851 Dr. Dufau mengajukan ciptaan Braille itu kepada Pemerintah Perancis dengan permohonan agar ciptaan tersebut mendapat pengakuan pemerintah, dan agar Louis Braille diberi tanda jasa. Tetapi, hingga dia meninggal pada tanggal 6 Januari 1852, tanda jasa ataupun pengakuan resmi terhadap ciptaannya itu buku braille pernah diterimanya.

Baru beberapa bulan setelah wafatnya, ciptaan Louis Braille itu diakui secara resmi di L'Institute Nationale des Jeunes Aveugles, dan beberapa tahun kemudian dipergunakan di beberapa sekolah tunanetra di negara-negara lain. Baru menjelang akhir abad ke-19 sistem tulisan ini diterima secara universal dengan nama tulisan "Braille". Kini, sudah lebih dari satu setengah abad sejak tulisan braille itu tercipta dengan sempurna, namun kemajuan teknologi masih belum dapat menyaingi kehebatannya.

Bahkan akhir-akhir ini tulisan braille sekali lagi telah membuktikan kesempurnaannya karena dengan mudah dapat diadaptasikan untuk keperluan transmisi informasi dari alat-alat pengolah data seperti komputer dan bahkan juga telepon seluler. Untuk mengenang jasanya yang tak terhingga itu, pada tahun 1956 The World Council for the Welfare of the Blind (Dewan Dunia untuk Kesejahteraan Tunanetra) menjadikan bekas rumah kediaman Louis Braille yang terletak di Coupvray, 40 km sebelah timur Paris, buku braille museum Louis Braille.

Karena buku braille tahun 1984 WCWB melebur diri dengan International Federation of the Blind (Federasi Tunanetra Internasional) menjadi World Blind Union (Perhimpunan Tunanetra PPPPTK TK DAN PLB BANDUNG © 2016 104 KP 4 Dunia), maka sejak tahun itu pemeliharaan dan penngembangan museum ini menjadi tanggung jawab WBU. Sejak diciptakan, disadari bahwa salah satu kekurangan utama sistem Braille adalah ukuran hurufnya yang besar.

Ukuran standar sebuah karakter Braille adalah sekitar 4 mm lebar dan 6 mm tinggi dengan ketebalan sekitar 0,4 mm. Ukuran ini ideal untuk diidentifikasi dengan ujung jari, tetapi mengakibatkan buku Braille menjadi sangat besar, makan tempat untuk penyimpanannya, dan tidak nyaman untuk dibawa-bawa.

Di samping itu, pembaca Braille yang berpengalaman pun tidak dapat membaca Braille secepat rekan-rekanya yang awas. Hal ini terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa ujung-ujung jari tidak dapat secara fisik mengamati tulisan Braille secepat orang awas menggunakan matanya untuk mengamati tulisan awas.

Solusinya adalah pengembangan sistem tulisan singkat Braille, di mana satu symbol dipergunakan untuk mewakili satu kata atau bagian kata atau keduanya. Sesudah melalui diskusi Selama beberapa tahun, dengan memadukan versi Inggris dan buku braille amerika, pada tahun 1932 ditetapkan Standard English Braille, yang mengcakup kesepakatan tentang system singkatan yang seragam untuk bahasa Inggris.

Sistem tulisan singkat Braille dalam bahasa Inggris itu disebut “ grade two Braille” atau “contraction”. Penggunaan system singkatan ini dapat mengurangi ketebalan dan beratnya buku Braille dan dapat mengurangi jumlah karakter yang harus diraba dalam membaca, sehingga kecepatan membaca pun menjadi lebih tinggi.

Sistem tulisan singkat Braille Indonesia (yang dikenal dengan istilah “tusing”) dikembangkan sejak tahun 1960-an, dan versi terakhir dibakukan dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 053/U/2000. Salah seorang penggagas utama tusing itu adalah Suharto, seorang tunanetra di Bandung (Tarsidi, 1998). Pengembangan symbol-simbol lainnya yang berlaku secara universal dilakukan di bawah koordinasi World Braille Council (Dewan Braille PPPPTK TK DAN PLB BANDUNG © 2015 105 (Persatuan Tunanetra Dunia).

Gambar 4. 3 Louis Braille Sumber: http://www.historytoday.com/richard-cavendish/death-louis-braille b. Perkembangan Tulisan Braille di Indonesia Seperti diuraikan diatas symbol Braille merupakan salah satu alat belajar dan berkomunikasi tunanetra yang sangat penting.

Simbol Braille di Indonesia mulai dipergunakan sejak tahun 1901 oleh Dr. Westoff pendiri Blinden Institut Bandung. Perkembangan symbol Braille di Indonesia dimulai seiring dengan berdirinya SGPLB Negeri di Bandung pada tahun 1952.

Para lulusan SGPLB menyebar di berbagai daerah dan melopori pendirian-pendirian sekolah tunanetra di daerah masing-masing. Berdasarkan buku braille diatas dimana di beberapa daerah sudah berdiri SLB untuk tunentra, namun dalam penulisan Braille sebagai media baca tulis bagi anak tunanetra belum ada keseragaman penulisannya, maka para tokoh Pendidikan Luar Biasa bekerja sama dengan Kepala Urusan Pendidikan Luar Biasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan membentuk tim untuk menyusun konsep keseragaman symbol Braille untuk semua mata pelajaran.

PPPPTK TK DAN PLB BANDUNG © 2016 106 KP 4 Dimulai tahun 1974 tim telah berhasil menyusun Buku Pedoman Menulis Braille Menurut Ejaan Baru Yang Disempurnakan di sekolah Luar Biasa dan diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Pembinaan Sekolah Luar Biasa di Jakarta. Pada buku Pedoman Menulis Braille Menurut EYD untuk SLB pada BAB I, membahas tentang: 1) Bahasa Indonesi 2) Bahasa Daerah (Jawa dan Sunda) 3) Bahasa Asing (Arab) 4) Huruf-huruf Yunani Selanjutnya menurut Keputusan Mendiknas Nomor: 053/u/2000 dalam rangka pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan Luar Biasa, khususnya bagi peserta didik penyandang tunanetra perlu didukung simbol Braille baku yang berlaku secara nasional.

Memutuskan dan menetapkan: Keputusan Menteri Pendidikan Nasional tentang Simbol-simbol Braille Indonesia Bidang Bahasa Indonesia. Pasal 1 1) Simbol Braille dipergunakan secara nasional dalam proses belajar mengajar di sekolah terpadu sekolah luar biasa tunanetra dan pendidikan luar sekolah bagi peserta didik tunanetra. 2) Simbol Braille sebagai disebut pada ayat 1 tercantum dalam lampiran keputusan ini Pasal 2 Pada saat mulai berlakunya keputusan ini, penilaian belajar peserta didik masih dapat menggunakan simbol Braille yang telah ada untuk paling lama tiga tahun terhitung mulai berlakunya keputusan ini.

Pasal 3 Keputusan ini berlaku pada tanggal ditetapkan Dengan keluarnya Keputusan Mendiknas tentang symbol Braille diharapkan adanya keseragaman dalam penulisan Braille, sehingga PPPPTK TK DAN PLB BANDUNG © 2015 107 di wilayah indonesia.

c. Ejaan Braille Bahasa Indonesia menurut EYD Pembentukan huruf-huruf Braille Huruf Braille disusun berdasarkan pola enam titik timbul dengan posisi titik vertikal dan dia titik horizontal. Titik-titik tersebut diberi nomor tetap 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 pada posisi sebagai berikut : Posisi titik-titik di atas adalah posisi huruf Braille yang dibaca dari kiri ke kanan.

Untuk keperluan menulis dengan reglet dipergunakan citra cermin. Dari bentuk di atas dari kanan ke kiri dengan urutan nomor yang sama sebagai berikut: Tanda Huruf A B C D E F G H I J a b c d e f g h i buku braille K L M N O P Q R S T k l m n o p q r s t U V W X Y Z u v w x y z Tanda baca 4 5 6 1 2 3 PPPPTK TK DAN PLB BANDUNG © 2016 108 KP 4 4 1 2 3 8 6 8 0 7 7 - / ' 59 99 ''' .; : ?

! “ “ ( ) - / ‘ ± * … Tanda angka d.

buku braille

Alat Tulis Braille Braille dapat diproduksi menggunakan beberapa macam alat, yaitu reglet dan pen, mesin tik Braille, dan printer Braille. • Pengembangan Instrumen Asesmen • Pengembangan Sensori Motor a. Konsep sensori motor • Peran sensorimotor (pengindraan) dalam perkembangan tunanetra • Bentuk latihan Sensori motor • Tulisan Braille (Kamu di sini) • Kertas Braille • Sikap Tubuh dalam Membaca dan Menulis Braille • Pilihlah jawaban yang benar dengan cara memberi tanda silang (X) pada huruf a, b, c, atau d!
KUALA LUMPUR: S.

Umashangari mula belajar ‘membaca’ ketika usia 7 tahun, dan lantas jatuh cinta dengan perkataan serta penulisan, namun, pada usia 8 tahun, beliau kehabisan bahan bacaan.

Ini kerana beliau dilahirkan cacat penglihatan dan bahan bacaan yang diterbitkan dalam tulisan Braille amat terhad sekali. Umashangari, 34, belajar mengenali kombinasi titik Braille yang membentuk simbol dan huruf ketika memulakan Darjah 1 di Sekolah Rendah Pendidikan Khas St. Nicholas Home di Pulau Pinang. Advertisement “Menjelang Darjah 2, saya sudah menguasai tulisan Braille tetapi sukar untuk mendapatkan bahan bacaan.

Ia sangat mengecewakan kerana saya tidak dapat menikmati pelbagai karya fiksyen seperti rakan-rakan yang lain. “Ketika itulah saya berjanji kepada diri sendiri akan menterjemahkan buku ke dalam tulisan Braille apabila dewasa nanti supaya tidak ada orang lain yang merasa hampa dan ketinggalan seperti saya,” ujar Umashangari kepada Bernama.

Beliau percaya memberikan akses bahan bacaan yang lebih baik kepada orang kurang upaya (OKU) penglihatan adalah elemen penting dalam pemerkasaan dan kejayaan mereka. “Saya percaya dengan menguasai dan memperbanyakkan bahan bacaan Braille akan membantu komuniti kami keluar dari buku braille persepsi yang kononnya orang buta hanya mampu menjual tisu di jalanan dan tidak boleh membaca apatah lagi berjaya,” jelas Umashangari. Hari ini, wanita lulusan Ijazah Sarjana Muda Antropologi dan Sosiologi, Universiti Malaya ini sudah menterjemah lebih 10 buah buku untuk komuniti OKU penglihatan.

Antaranya buku teks Sains Pertanian, Asas Sains Komputer, Pendidikan Seni Visual, Bahasa Melayu, Pendidikan Moral serta Sains. Braille dipandang sepi Bagaimanapun, semangat yang dilontarkan Umashangari bagaikan tidak bersahut.

Statistik menunjukkan hanya kira-kira 30 peratus daripada sejumlah 51,540 golongan OKU penglihatan berdaftar dengan Jabatan Buku braille Masyarakat boleh membaca tulisan Braille. Ketua Pegawai Eksekutif Persatuan Bagi Orang Buta Malaysia (MAB), George Thomas berkata kebanyakan golongan OKU penglihatan yang tidak mahir membaca.

Malah mereka menurutnya, tidak mengenali tulisan Braille adalah mereka yang hilang penglihatan ketika sudah dewasa akibat penyakit atau kemalangan. “Golongan ini bergantung kepada penggunaan aplikasi serta teknologi sepenuhnya, tidak seperti individu yang mengalami kecacatan penglihatan sejak lahir yang lazimnya dihantar mempelajari tulisan Braille di sekolah pendidikan khas,” katanya. Buku braille George lagi, tahun 2020 menyaksikan seramai 2,562 pelajar OKU penglihatan mempelajari tulisan Braille melibatkan 38 kanak-kanak prasekolah, 1,147 murid sekolah rendah dan 1,377 pelajar sekolah menengah.

Namun, pandemik COVID-19 yang melanda dunia merencatkan proses pembelajaran kerana keterbatasan fizikal tidak membolehkan sesi pembelajaran diadakan secara dalam talian.

Kekangan penghasilan buku terjemahan Braille Mengulas lanjut mengenai tulisan Braille, George berkata meskipun Malaysia dilihat mendahului negara Asean dalam aspek pendidikan tulisan Braille, namun komuniti ini tidak terlepas daripada dihantui isu hakcipta dan kos penghasilan bahan bacaan Buku braille. “Kita tidak boleh sewenang-wenangnya menterjemah sebarang bahan untuk dijadikan bacaan Braille dan tidak semua pihak bersetuju karya mereka diterjemahkan malah banyak pula kerenah birokrasi terpaksa dilalui.

“Penghasilan bahan bacaan Braille lebih rumit. Penterjemah perlu menyalin semula semua perkataan dan gambar rajah dari sumber buku braille secara manual, jadi bayangkan berapa lama tempoh diperlukan untuk menterjemah sebuah buku jika ketebalannya 30 hingga 40 muka surat,” jelas George. Katanya lagi, kos penghasilan buku Braille juga lebih tinggi kerana memerlukan mesin cetak khas, menggunakan helaian kertas lebih tebal 120gsm (gram setiap meter persegi) berbanding buku biasa (60-80gsm).

Malah, jumlah helaian muka surat akan menjadi lebih banyak kerana faktor saiz tulisan Braille yang besar dan serta jarak lebih luas antara baris perkataan. Memartabatkan tulisan Braille Sementara itu, Ketua Pegawai Eksekutif Yayasan Orang Buta Malaysia, Silatul Rahim Dahman pula berpendapat, penggunaan tulisan Braille seharusnya diletakkan sebagai salah satu medium komunikasi penting bagi komuniti OKU penglihatan.

“Braille terbukti membantu kejayaan baik dari aspek sosio-ekonomi, pekerjaan, pendidikan dan juga politik. Kita tidak mahu ia pupus ditelan arus teknologi,” katanya. Jelasnya lagi, dari aspek isu semasa pula pihaknya melihat terdapat kelompongan yang gagal diisi pihak berwajib serta agensi berkaitan dalam menyalurkan maklumat kepada komuniti OKU penglihatan terutama melibatkan pandemik COVID-19. Tidak ada langsung penggunaan tulisan Braille di dalam pengedaran bahan maklumat berkaitan COVID-19 sehingga memaksa golongan OKU penglihatan bergantung kepada orang sekeliling untuk membacakan berita dan informasi berkaitan pandemik itu kepada buku braille, jelas beliau.

“Kita ini seolah-olah dianggap kebal pula dari COVID-19. Hal ini cukup membimbangkan malah sehingga hari ini saya fikir SOP (prosedur operasi standard) bagi orang buta pun tiada, walhal kami juga berisiko dijangkiti apatah lagi bergantung deria bau dan sentuhan untuk mengesan sesuatu rintangan di sepanjang laluan,” katanya. Wajibkan pendaftaran golongan OKU Buku braille Rahim turut menyuarakan kebimbangannya terhadap sikap buku braille kepada golongan warga OKU yang acuh tidak acuh mengenai proses mendaftarkan jagaan mereka kepada JKM.

Beliau menggesa kerajaan menyemak semula Akta Orang Kurang Upaya 2008 sekaligus mewajibkan pendaftaran anak-anak kurang upaya bagi tujuan menambah baik rekod dan statistik kerajaan agar lebih tepat sekaligus memudahkan urusan saluran bantuan dan faedah kepada komuniti terbabit.

“Saya lihat tiga faktor utama menyumbang kepada perkara ini ialah isu peribadi, faktor geografi yang menyukarkan mereka melakukan proses pendaftaran serta dasar kerajaan tidak mewajibkan pendaftaran ini,” ujarnya.

buku braille

– BERNAMAJakarta: Ramadan tahun ini menjadi ajang bagi sekelompok mahasiswa untuk membuat gerakan sosial. Mahasiswa yang tergabung dalam komunitas Suar Disabilitas mengadakan “Gerakan Patungan Buku Braille” bagi anak-anak tunanetra selama Ramadan. Gerakan ini bertujuan untuk meningkatkan kembali literasi braille di Indonesia yang semakin menurun. Keadaan ini tidak terlepas dari kurang tersedianya alat-alat braille untuk anak-anak tunanetra.

"Memang belum ada data pasti terkait angka literasi braille di Indonesia. Tetapi, kalau berkaca pada angka literasi umum Indonesia, kita sudah ada di urutan 10 terbawah.

Apalagi literasi braille yang bukunya saja bahkan sulit kita temukan?" Ucap Co-Founder Suar Disabilitas, Mentari Puspadini, akhir pekan lalu. Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

• Happy • Inspire • Confuse • Sad Braille merupakan sarana literasi bagi para penyandang tunanetra untuk mendapat informasi dan berkomunikasi dengan menggunakan indra peraba. Dalam hal ini, kepekaan indra anak-anak buku braille dituntut untuk memiliki kecakapan membaca dan menulis braille.

Padahal, kepekaan indra peraba tidak otomatis dimiliki penyandang tunanetra. Perlu ada latihan dan atau pembelajaran untuk memperoleh kecakapan tersebut. Maka dari itu, literasi braille harus ditumbuhkan dari anak-anak tunanetra. Ezra, salah satu murid Yayasan Elsafan mengaku masih kesulitan mengakses buku braille selain buku pelajaran. Hal itu ia sampaikan kepada Suar Disabilitas saat berkunjung ke Panti Asuhan Tuna Netra Elsafan.

"Hobi saya bernyanyi dan membaca. Saya suka baca novel, karya sastra lainnya, dan buku braille biografi. Saya sekarang bacanya novel online yang ada di aplikasi. Kalau di sini (Panti Asuhan Elsafan) banyaknya buku pelajaran, ada cerita tetapi bukan novel,” ujar Ezra kepada Suar Disabilitas.

Suar Disabilitas berinisiatif mengajak masyarakat untuk menumbuhkan kembali minat baca anak tunanetra. Masyarakat dapat mengambil peran dengan berdonasi dalam gerakan patungan buku braille bagi 39 anak Yatim penyandang tunanetra di Elsafan.

"Kami (Suar Disabilitas) menginisiasi gerakan patungan buku braille ini, supaya bisa menciptakan akses inklusif buku braille literasi anak tunanetra,” kata Mentari. Perolehan hasil Gerakan Patungan Buku Braille akan dimanfaatkan tidak hanya untuk membeli buku braille, tapi juga alat-alat pendukung literasi braille untuk tunanetra. Masih banyak alat pendukung literasi braille yang dibutuhkan oleh anak-anak penyandang disabilitas.

Beberapa di antaranya yaitu buku tulis braille, kertas ujian braille, alat hitung braille, penggaris braille, hingga riglet dan stilus. “(Alat pendukung braille) itu tidak semua sekolah punya, kalau buku pelajaran dapat dari dinas, namun tetapi alat pendukung lainnya tidak disediakan dinas,” kata Kepala Bagian Produksi Yayasan Mitra Netra, Indah Lutfiah.

Baca: Buku Braille dan Audio Masih Minim Co-Founder Suar Disabilitas, Zefanya Aprilia, buku braille Gerakan Patungan Buku Braille ini dapat menciptakan kemandirian bagi anak-anak tunanetra. Terlebih di tengah era digital ini, teknologi semakin marak digunakan dan menjadi salah satu penyebab menurunnya tingkat literasi braille. Lebih lanjut, Zefanya berharap agar gerakan ini juga dapat menjadi ajang sedekah masyarakat di Bulan Ramadhan.

Bagi masyarakat yang ingin turut serta berpartisipasi meningkatkan literasi braille anak-anak penyandang tunanetra, dapat berbagi melalui link Kitabisa di https://bit.ly/donasisuar atau rekening Mandiri 1330015314206 a.n. Mentari Puspadini. Penggalangan dana dilakukan hingga 22 Mei 2022. (Alifiah Nurul Rahmania)

KELAS INKLUSI DENGAN BUKU BRAILLE STATISTIK LANJUT




2022 www.videocon.com