Aksara jawa a i u e o

aksara jawa a i u e o

Aksara Jawa – Halo sobat dosenpintar.com apa kabar hari ini ? semoga selalu sehat ya. Nah tentu penulis kembali untuk memagikan sebuah artikel. Dan kali ini penulis akan membagikan sebuah artikel yaitu mengenai Aksara Jawa. Sobat penasaran bukan apa itu aksara jawa ?

aksara jawa a i u e o

Dan jawabannya ada pada artikel ini. Langsung saja mari simak artikel berikut ini untuk sobat dapat mempelajari apa itu aksara jawa. Daftar isi • Aksara Jawa Lengkap • Aksara Carakan • Pasangan Aksara Jawa • Aksara Swara • Sandangan Aksara Swara • Aksara Rekan • Aksara Murda • Aksara Murda dan Pasangannya • Aksara Wilangan • Tanda Baca Aksara Jawa • Belajar Membaca Aksara Jawa • Sejarah Asal Usul Aksara Jawa Pada aksara Jawa atau Hanacaraka ada beberapa tata cara dalam penulisan.

Serta terdapat beberapa unsur dan aturan yang lain. Dengan dapat menjelaskan berbagai huruf serta adanya aturan itu, diharapkan nanti dapat memudahkan berbagai pembelajaran serta proses untuk memahami tata cara penulisan Aksara Jawa sebelum kemudian mendapat praktik menulis. Untuk belajar aksara jawa maka dibutuhkan catatan khusus seperti : • Ha merupakan wakil untuk fonem /a/dan/ha/. Jika berada di depan kata maka akan dibaca dengan /a/. • Da digunakan untuk bagian /d/ dental serta meletup ketika posisi lidah ada di bagian belakang serta pangkal gigi seri atas dan diletupkan.

Untuk /d/ ini dari bahasa Melayu Indonesia. • Dha dari bentuk penulisan Jawa latin yang digunakan untuk jenis d-retofleks pada posisi lidah dengan /d/ dalam bahasa Melayu atau Indonesia tetapi dengan bunyi yang sengaja diletupkan. • Tha pada penulisan Jawa latin digunakan dalam t-retofleks dimana posisi dengan lidahnya sama dengan /d/ tetapi untuk pengucapannya tidak lagi diberatkan.

Untuk bunyi yang satu ini akan sangat mirip dengan orang yang mempunyai aksen Bali di dalam mereka menyuarakan huruf “t”. Adapun arti serta dari aksara Jawa yaitu sebagai berikut: Ha adalah hana yang merupakan hurup wening suci yang jika artikan dalam bahasa Indonesia adalah adanya hidup yang merupakan kehendak dari Tuhan yang benar Maha Suci.

Da merupakan dumadining Dzat kang tidak ada winangenan yang artinya adalah menerima suatu kehidupan ini dengan lapang dada (apa adanya). Tha merupakan bentuk tukul saka niat aksara jawa a i u e o maknanya adalah segala sesuatu yang harus tumbuh serta diawali dengan niat.

Aksara Carakan Aksara Carakan Aksara Carakan merupakan salah satu jenis aksara yang sangat mendasar untuk mempelajari aksara Jawa. Apabila disaksikan dari namanya telah dapat dipahami jika jenis aksara ini merupakan untuk menuliskan suatu kata-kata. Akasara Carakan ini mempunyai bentuk dan juga pasangannya.

Aksara pasangan yang tersebut digunakan untuk dapat mematikan atau menghilangkan rupa bentuk vokal dari aksara yang ada sebelumnya.

aksara jawa a i u e o

Baca Juga : Contoh Surat Penunjukan Pasangan Aksara Jawa Pasangan Aksara Jawa Pasangan Aksara Jawa Pasangan sendiri adalah bentuk khusus yang ada pada aksara Jawa untuk dapat menghilangkan serta mematikan suatu vokal dari berbagai bentuk aksara yang ada sebelumnya. Aksara dari pasangan ini akan kemudian digunakan untuk dapat menulis bentuk serta suku kata yang ada di dalamnya tidak ada serta merta vokal.

Aksara Swara Aksara Swara Aksara Swara adalah salah satu jenis dari aksara yang digunakan untuk menuliskan dari jenis huruf vokal yang berasal dari suatu bentuk kata serapan bahasa asing supaya pelafalannya akan kemudian menjadi lebih tegas. Sandangan Aksara Swara Sandangan Aksara Swara Sandangan adalah salah satu bentuk huruf vokal yang tidak akan mandiri serta digunakan pada saat berada di bagian tengah tengah kata. Sedangkan jika di dalam sandangan akan mudah dibedakan berdasar dari cara membacanya.

Aksara Rekan Aksara Rekan Aksara Rekan merupakan jenis dari aksara yang digunakan untuk penulisan huruf serapan yang kemudian asalnya adalah dari bahasa Arab. Seperti contohnya aksara jawa a i u e o huruf f, kh, dz dan lain sebagainya. Aksara jenis ini kemudian digunakan untuk menuliskan berbagai konsonan yang terdapat dalam kata-kata asing yang masih sesuai akan bentuk aslinya. Aksara Rekan yang ini juga terdapat di dalam Hanacaraka dari lima bentuk. Dan semua itu mempunyai pasangan masing-masing.

Adapun aturan dari penulisan juga berbeda dengan aturan yang lain. Berikut merupakan rinciannya, • Tidak semua aksara Rekan yang ada mempunyai pasangan. • Aksara Rekan ini sejatinya dalam praktik dapat diberikan pasangan.

• Aksara Rekan dapat diberikan sandhangan seperti pada aksara-aksara lain yang ada di dalam Hanacaraka. Aksara Murda Aksara Murda Aksara Murda dan Pasangannya Aksara Murda merupakan sejenis BENTUK huruf kapital YANG di dalam jenis aksara Jawa.

Aksara Murda khusus diGUNAKAN untuk menulis jenis huruf depan dari suatu nama orang, bahkan nama tempat, atau dengan kata-kata lain yang awalnya menggunakan huruf kapital.

Di samping itu, jenis dari aksara ini dipakai pada awal sebuah kalimat dan pada awal suatu paragraf. Dapat digunakan pada penulisan nama gelar, nama orang, nama geografi, nama lembaga suatu pemerintahan, serta apat digunakan pada nama lembaga yang berbadan.

Aksara Wilangan Aksara Wilangan Aksara wilangan atau bilangan adalah suatu aksara yang digunakan untuk menulis tulisan jenis angka. Angka digunakan saat menyatakan suatu lambang atau bilangan dengan penomoran. Angka dapat berjenis ukuran, panjang, nilai uang, luas, berat, satuan waktu dan lainnya. Untuk penulisan dari satuan dalam sebuah bilangan, satuan dapat ditulis di dalam suatu bentuk kata yang lengkapnya.

Contohnya kilometer, meter, kilogram dan lain lain. Baca Juga : Contoh Surat Penawaran Barang Tanda Baca Aksara Jawa Tanda Baca Aksara Jawa Misalnya a dapat dibaca a jika dalam jenis kata papat dan dapat dibaca a pada kata lara.

Aturan ini diberlakukan pada bunyi e yang mempunyai beberapa varian bunyi saat diucapkan. Pada hanacaraka, ada berbagai tanda baca pada penulisan aksara. Di dalam suatu perangkat lunak, ada empat buah jenis tanda baca yaitu. • Pada adeg-adeg Yang akan digunakan pada adeg-adeg adalah pada bagian depan kalimat setiap paragraf.

• Pada adeg Untuk pada adeg digunakan sebagai penanda bagian yang sebuah teks untuk diperhatikan, dalam hal ini hampir jenis tanda baca berbentuk kurung. • Pada lingsa lingsa sendiri akan digunakan pada akhir bagian kalimat untuk tanda intonasi setengah selesai. Sama dengan tanda koma.

• Pada lungsi lungsi yang digunakan pada akhir salah satu kalimat. Maka dari itu tanda baca ini sama fungsinya dengan tanda titik. Belajar Membaca Aksara Jawa Sangat penting di ingat Aksara Jawa ini memliki banyak bunyi. Membaca aksara Jawa lebih sulit jika dibandingkan dengan belajar membaca dalam bahasa Inggris.

Sehingga sobat harus sangat jeli serta bersabar selama proses dalam berlatih dan belajar membaca aksara Jawa ini. Dan untuk dapat lancar membaca aksara Jawa, sobat harus selalu berlatih membaca setiap hari dan sesering mungkin. Kebiasaan dalam membaca akan membantu sobat untuk mengingat berbagai komponen yang ada di dalamnya, termasuk ketika ada tanda baca. Akan lebih baik jika proses belajar membaca dalam aksara Jawa kemudian diimbangi dengan menulis sehingga akan mempermudah sebuah proses belajar yang akan menjadi lebih lancar.

Sejarah Asal Usul Aksara Jawa Ada seorang ksatria yang hebat asalnya dari tanah Jawa. Bernama Aji Saka. Ia memiliki seorang abdi yang setia. Yang bernama Sembada dan Dora. Suatu ketika, Aji Saka melakukan perjalanan menuju kerajaan bernama Medang Kamulan yang terkenal saat itu diperintah oleh raja yang suka makan daging manusia. Raja tersebut bernama Prabu Dewata Cengkar. Karena setiap hari Prabu meminta pelayan menyajikan makanan pokok daging manusia membuat masyarakat resah dan Aji Saka bersama kedua abdinya berinisiatif melawan Raja Prabu.

Ketika sampai di wilayah kerajaan Prabu Dewata Cengka, Aji berpesan kepada salah satu abdinya supaya keris miliknya dijaga dengan sepenuh hati dan jangan berikan kepada selain Aji Saka.

Aji Saka menghadap Raja Prabu dan membuat kesepakatan di mana Aji bersedia untuk dimakan oleh raja Prabu dengan sebuah syarat Sang Prabu menyerahkan daerah kekuasaan seukuran sorban yang tengah dikenakan Aji Saka. Prabu mengiyakan serta menerima syarat dari Aji Saka. Lalu Aji Saka meminta Prabu Dewata Cengkar untuk segera mengukur tanah yang telah dijanjikan dengan memegang salah satu bagian dari ujung surban.

Kemudian ujung surban bagian lain dipegang Aji Saka. Baca Juga : Contoh Greeting Card Prabu Dewata Cengkar menarik aksara jawa a i u e o tersebut dan surban mulai terbentang. Sang Prabu memanjangkannya surban Ia mulai membuka bagian surban supaya terbentang.

aksara jawa a i u e o

Dengan kesaktian Aji Saka, surban tersebut tak habis saat dibuka. Prabu masih terus berjalan untuk dapat membentangkan surban. Kemudian sampailah prabu di aksara jawa a i u e o laut jurang dengan batu yang cukup terjal serta dalam. Dengan cepat, Aji Saka menggoyangkan surban miliknya dan akhirnya sang Prabu jatuh ke laut. Dan Prabu meninggal. Semua rakyat menyambut kabar ini dengan bersuka cita dan Aji Saka dijadikan sebagai raja mereka. Aji Saka setelah menjadi seorang raja lupa pada kerisnya yang ia titipkan kepada Sembada.

Setelah ingat ia meminta Dora agar mengambil keri. Dora bergegas menemui Sembada. Sampai disana mereka berbincang hingga Dora meminta keris yang diamanahkan Aji Saka. Namun, Sembada ingat pesan yang disampaikan Aji Saka bahwa tidak diperbolehkan menyerahkan keris itu selain kepada Aji Saka.

Akhirnya, Mereka saling bertengkar mempertahankan perintah rajanya. Mereka meninggal dan kabar ini sampai pada Aji Saka. Akibat kecerobohan Aji Saka, dua abdinya yang taat harus mati.

Karena menyesal Aji Saka menghormati kedua abdinya dengan Aji Saka membuat barisan huruf serta alphabet yang dikenal dengan aksara Jawa. Ha Na Ca Ra Ka (yang artinya terdapat 2 orang utusan dengan kata lain carakan) Da Ta Sa Wa La (maknanya saling berperang untuk dapat mempertahankan sebuah amanah) Pa Dha Ja Ya Nya (maknanya lantaran keduanya mereka sama-sama dalam tingkat kesaktian setara) Ma Dha Ba Tha Nga (artinya maka keduanya akan mati manjadi bangkai) Aksara Jawa memang mempunyai cakupan yang sangat luas dan cukup rumit untuk dapat dipelajari.

Tetapi harus terus untuk dipelajari agar aksara Jawa ini tidak akan punah serta senantiasa hidup di tengah kekayaan budaya Nusantara ini. Pengajaran atas aksara Jawa sendiri dilakukan secara intens supaya anak-anak usia sekolah mempunyai perhatian yang besar terhadap aksara. Sekian pembahasan artikel mengenai tentang Aksara Jawa.

Semoga pemahasan yang penulis berikan mudah aksara jawa a i u e o sobat pahami dan mudah untuk sobat mengerti. Baca Juga : • Rumah Adat Jawa Barat • Rumah Adat Jawa Tengah • Translate Bahasa Jawa Share this: • Facebook • Tweet • WhatsApp Posted in Bahasa Tagged aksara jawa a i u e o, aksara jawa angka, aksara jawa lengkap, Aksara Jawa Lengkap translate aksara murda, aksara jawa translate, aksara murda dan pasangannya, aksara murda gunane kanggo, aksara murda ing basa indonesia diarani, aksara murda kanggo nulis, aksara murda yaiku, aksara rekan yaiku, aksara rekan yaiku aksara, aksara swara, aksara swara cacahe ana, aksara swara yaiku, aksara wilangan, ciri ciri aksara murda, contoh aksara rekan, contoh aksara swara a i u e o, contoh kalimat aksara swara, fungsi aksara murda, fungsi aksara rekan, gunane aksara murda, gunane aksara murda yaiku, gunane aksara swara yaiku kanggo nulis, hanacaraka kapital, kanggone aksara murda yaiku, penggunaan aksara murda, salah siji paugerane aksara swara yaiku, sandhangan", tata aturane nulis nganggo aksara jawa, tata panulise aksara swara yaiku, translate aksara murda, tuladha aksara swara, wujude aksara murda Data Aksara jawa huruf a i u e o gambar ready di situs web ini.

Aksara jawa huruf a i u e o adalah topik yang sedang dicari dan disukai oleh netizen hari ini. Kamu bisa Menemukan dan Mengunduh the Aksara jawa huruf a i u e o files here.

Dapatkan semua geratis foto dan vektor di sini. Aksara Jawa Huruf A I U E O. Blok Unicode aksara Jawa terletak pada kode UA980UA9DF. A A bahasa Jawa. Seputar Aksara Jawa Yang Perlu Kamu Ketahui From news.detik.com Aksara ini hampir sama seperti aksara hanacaraka tapi hanya terdiri dari satu huruf saja. Aksara swara yaiku aksara Jawa kang digawe nulis swara vokal a i u e lan o. Atau dibaca U merupakan salah satu aksara swara dalam aksara Jawa hanacaraka yang melambangkan huruf vokal u serta untuk menuliskan kata serapan dari aksara lainnya.

Aksara swara jawa ini juga memiliki tata cara penulisannya sendiri yakni. Aksara Jawa A I U E O. A A bahasa Jawa.

aksara jawa a i u e o

Aksara Murda Aksara Murda dikenal juga sebagai Aksara Jawa Murda merupakan huruf khusus yang ada dalam huruf jawa untuk aksara murda hanya. Aksara Jawa Translate dan Pasangan Swara carakan sandangan murda angka adalah salah satu aset budaya Indonesiadikenal sebagai Hanacaraka Contoh aksara jawa a i u e o.

Source: id.pinterest.com Ejaan van Ophuijsen yang dipakai sebelum tahun 1947 itu mengadopsi ejaan bahasa Belanda. Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian. Thursday January 14 2021 January 14 2021 Thursday January 14 2021 Cukup ketikkan kata yang anda inginkan dan aksara jawanya akan langsung muncul. Source: hamparan.net Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian.

Untuk artikel saya kali ini akan membahas tentang Aksara Jawa A I U E O sebagaimana judul yang kami sajikan diatas untuk pokok. Aksara ini hampir sama seperti aksara hanacaraka tapi hanya terdiri dari satu huruf saja. Source: dosenpintar.com Huruf I dan E memiliki variasi bentuk antara mana yang suara pendek dan suara panjang. Dari kedua aksara ini merupakan huruf khusus didalam karakter Jawa yang man pada karakter Murda terdapat 8 karakter yang diantaranya seperti Na Ka Ta Sa Pa Nya Ga dan Ba.

Aksara Jawa Translate dan Pasangan Swara carakan sandangan murda angka adalah salah satu aset budaya Indonesiadikenal sebagai Hanacaraka Contoh aksara jawa a i u e o. Source: news.detik.com Thursday January 14 2021 January 14 2021 Thursday January 14 2021 Cukup ketikkan kata yang anda inginkan dan aksara jawanya akan langsung muncul.

Aksara Murda Aksara Murda dikenal juga sebagai Aksara Jawa Murda merupakan huruf khusus yang ada dalam huruf jawa untuk aksara murda hanya. Aksara jawa a i u e o TutorialBahasaInggrisCoId. Source: hidupsimpel.com Terdapat 91 kode yang mencakup 53 huruf 19 tanda baca 10 angka dan 9 vokal.

Dalam mode ini huruf Latin kapital TIDAK akan ditransliterasikan menjadi huruf murda misal B menjadi aksara ba biasa ꦧ. Dari kedua aksara ini merupakan huruf khusus didalam karakter Jawa yang man pada karakter Murda terdapat 8 karakter yang diantaranya seperti Na Ka Ta Sa Pa Nya Ga dan Ba. Source: id.pinterest.com Jenis aksara ini seperti aksara hanacaraka namun tidak terdiri dari dua huruf. Aksara Swara Aksara Swara memiliki fungsi untuk menuliskan aksara vokal yang menjadi suku kata terutama yang berasal dari bahasa asing untuk mempertegas pelafalannya.

U aksara Jawa Dari Wikipedia bahasa Indonesia ensiklopedia bebas. Source: sunudotcom.blogspot.com Aksara Swara Aksara Swara memiliki fungsi untuk menuliskan aksara vokal yang menjadi suku kata terutama yang berasal dari bahasa asing untuk mempertegas pelafalannya.

Dalam aksara Bali selain A semua huruf vokal yang diberi tedung ditulis terpisah. Ada 5 buah aksara swara yang harus kalian ketahui diantaranya aksara jawa A I U E O. Source: thegorbalsla.com Dari kedua aksara ini merupakan huruf khusus didalam karakter Jawa yang man pada karakter Murda terdapat 8 karakter yang diantaranya seperti Na Ka Ta Sa Pa Nya Ga dan Ba. Kanggo pengucapan tulisan aksara jawa aksara vokal.

Aksara swara jawa ini juga memiliki tata cara penulisannya sendiri yakni. Source: id.pinterest.com Blok Unicode aksara Jawa terletak pada kode UA980UA9DF. Aksara ini hampir sama seperti aksara hanacaraka tapi hanya terdiri dari satu huruf saja. Sedangkan dalam aksara Bali hampir seluruh huruf vokal diberi tedung agar dibaca lebih panjang kecuali E dan La lenga. Source: grid.id Aksara Jawa A I U E O.

Aksara swara yaiku aksara Jawa kang digawe nulis swara vokal a i u e lan o. Aksara swara 52 merupakan bentuk lain dari aksara vokal a i u e o ditambah aksara khusus untuk menuliskan rê dan lê.

Source: thegorbalsla.com U aksara Jawa Dari Wikipedia bahasa Indonesia ensiklopedia bebas. Blok Unicode aksara Jawa terletak pada kode UA980UA9DF. Kanggo pengucapan tulisan aksara jawa aksara vokal. Source: grid.id Jenis aksara ini seperti aksara hanacaraka namun tidak terdiri dari dua huruf. Aksara jawa a i u e o TutorialBahasaInggrisCoId. Kemudian pada Swara terdapat 5 karakter yakni seperti A I U E dan O. Source: id.pinterest.com A A bahasa Jawa.

Sedangkan dalam aksara Bali hampir seluruh huruf vokal diberi tedung agar dibaca lebih panjang kecuali E dan La lenga. Aksara Jawa swara yaiku aksara Jawa sing digawe nulis swara vokal a i u e lan o.

Source: pinterest.com Nah dalam bahasa Belanda ada huruf u dan oe. Biasanya ia digunakan untuk menuliskan kata-kata serapan dari bahasa asing dengan huruf. Terdapat 91 kode yang mencakup 53 huruf 19 tanda baca 10 angka dan 9 vokal. Source: grid.id Aksara ini hampir sama seperti aksara hanacaraka tapi hanya terdiri dari satu huruf saja. Dalam aksara Jawa huruf vokal yang diberi tarung adalah A U dan O.

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian. Source: senibudayaku.com Dalam aksara Bali selain A semua huruf vokal yang diberi tedung ditulis terpisah. Nah dalam bahasa Belanda ada huruf u dan oe.

Aksara Swara Aksara Swara memiliki fungsi untuk menuliskan aksara vokal yang menjadi suku kata terutama yang berasal dari bahasa asing untuk mempertegas pelafalannya.

Source: passinggrade.co.id Aksara Jawa A I U E O. Aksara jawa a i u e o TutorialBahasaInggrisCoId. Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian.

Source: moondoggiesmusic.com Aksara swara jawa ini juga memiliki tata cara penulisannya sendiri yakni. A A bahasa Jawa. Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian. Source: id.pinterest.com Atau dibaca U merupakan salah satu aksara swara dalam aksara Jawa hanacaraka yang melambangkan huruf vokal u serta untuk menuliskan kata serapan dari aksara lainnya.

Dalam aksara Jawa huruf vokal yang diberi tarung aksara jawa a i u e o A U dan O. Dalam mode ini huruf Latin kapital TIDAK akan ditransliterasikan menjadi huruf murda misal B menjadi aksara ba biasa ꦧ. Source: news.detik.com Nah dalam bahasa Belanda ada huruf u dan oe. Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian. A A bahasa Jawa. Buku tafsir mimpi togel lengkap 2016 Ck togel hongkong hari ini Buku tafsir mimpi togel lengkap 2018 Contoh aksara jawa a i u e o Buku togel seribu mimpi bergambar Buku tafsir mimpi togel 3d abjad
Aksara Jawa - Bagian-bagian pada aksara Jawa menurut penerapannya dibedakan menjadi 4 golongan, yaitu; 1.

Aksara Jawa yang berwujud wanda Legena. Artinya aksara jawa a i u e o legena yaitu suku kata berakhiran tetap yaitu a saja. Aksara legena yang sering disebut dengan aksara jawa carakan ini berjumlah 20 aksara dan pasangannya juga berjumlah 20 aksara. 2.

aksara jawa a i u e o

Aksara murda atau aksara gedhe jumlahnya ada 8 aksara. 3. Aksara suwara atau aksara vocal jumlahnya ada 5 aksara. 4. Aksara rekan atau aksara rekakan, wujudnya ada 2 golongan a. Aksara rekan untuk menulis tembung-tembung asal bahasa Arab. b. Aksara rekan untuk menulis tembung-tembung asal bahasa lnggris. Aksara Jawa Carakan lan Pasangane Aksara Jawa carakan merupakan aksara jawa dalam bentuk huruf Jawa secara dasar.

Aksara jawa carakan ini berwujud wanda legena atau bersuku kata tetap yaitu a (jika dibaca berakhiran a semua). Aksara jawa carakan ini berjumlah 20 aksara. Dari ke-20 aksara carakan ini masing-masing memiliki pasangan yang fungsinya adalah untuk mematikan atau menghilangkan vokal dari aksara sebelumnya. Jadi kegunaan aksara jawa pasangan ini yaitu untuk menuliskan suku kata yang tidak bervokal. Aksara jawa pasangan juga berjumlah 20 aksara.

Contoh aksara jawa carakan, pasangan, dan cara penulisannya dapat anda pelajari pada gambar berikut ini. Contoh Tulisan Aksara Jawa lan Pasangane Contoh cara menulis aksara jawa lan pasangane dapat anda lihat pada contoh gambar di atas. Seperti pada penulisan aksara jawa yang pertama di atas yaitu penulisan aksara ha/a, Tuladha; "aku lagi mangan apem".

Dengan memberi pasangan ha/a pada huruf na maka cara membacanya bukan lagi "aku lagi mangana pem" tetapi "aku lagi mangan apem". begitu pula pada contoh penulisan aksara jawa selanjutnya dapat anda perhatikan pada contoh penulisan aksara jawa lan pasangane pada gambar di atas.

Aksara Jawa Sandhangan Aksara jawa dalam bentuk wujud dasar (aksara carakan) aksara jawa a i u e o berwujud wanda legena artinya hanya bervokal a jika dibaca. Maka dari itu supaya dapat bersuara selain a saja, maka harus diberi sandhangan.

Sandhangan aksara jawa artinya adalah suatu tanda untuk mengubah suara suku kata pada aksara jawa carakan. Aksara jawa sandhangan dalam penulisan aksara jawa dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu; 1. Sandhangan Urip Sandhangan urip yaitu sandangan pada aksara jawa yang berbunyi vokal i, u, e', e, dan o. Sandhangan urip pada aksara jawa terdapat 5 macam yang masing-masing memiliki nama dan keterangan bunyi vokal yang berbeda-beda. Kelima sandhangan urip dalam aksara jawa beserta contoh penulisannya tersebut dapat anda pelajari pada gambar di bawah ini.

2. Sandhangan Panjingan Sandhangan panjingan artinya adalah sandhangan sisipan (sêsêlan) huruf lain pada suatu aksara jawa. Sandhangan panjingan ini dibaca menyatu dengan aksara yang disisipinya.

Terdapat 5 macam sandhangan panjingan, yaitu; 1. Cakra = manjing swara RA 2. Pèngkal = manjing swara Ya 3. Kêrêt = manjing swara RÊ 4. Panjingan WA= sêpêrti pasangan WA 5. Panjingan La = sêpêrti pasangan LA Sandhangan panjingan RA, YA dan RÊ ini memiliki nama sendiri karena bentuknya tidak sama dengan pasangan RA, YA dan RÊ sehingga ketiga panjingan ini masuk pada jenis-jenis sandhangan. Sedangkan WA dan LA memiliki bentuk sama dengan pasangan sehingga keduanya disebut dengan nama panjingan WA dan panjingan LA.

Berikut ini contoh sandhangan panjingan dalam aksara jawa beserta contoh penulisannya. 3. Sandhangan Panyigeg Sandhangan panyigeg artinya adalah sandhangan yang berfungsi untuk menutup suku kata dalam penulisan aksara jawa.

Terdapat 4 macam sandhangan panyigeg, yaitu; a. Pangkon Pangkon merupakan penanda aksara jawa yang berfungsi untuk mematikan aksara yang dipangku sehingga hanya menyisakan aksara konsonan penutup suku kata. b. Wignyan Wignyan yaitu sebagai tanda sigegan aksara ha. Jadi sandhangan wignyan ini dipakai untuk melambangkan konsonan h penutup suku kata.

c. Layar Layar yaitu sebagai tanda sigegan aksara ra. Jadi sandhangan layar ini dipakai untuk melambangkan konsonan r penutup suku kata. d. Cecak Cecak yaitu sebagai tanda sigegan nga.

Jadi sandhangan cecak ini dipakai untuk melambangkan konsonan ng penutup suku kata. Berikut ini contoh sandhangan panyigeg dalam aksara jawa beserta contoh penulisannya. Aksara Jawa Murda Aksara murda adalah aksara jawa berupa huruf kapital yang digunakan dalam penulisan aksara jawa.

Aksara murda ini khusus digunakan dalam menulis istilah-istilah kehormatan serta menulis huruf depan pada nama orang, nama tempat, atau kata-kata yang penulisan huruf depannya menggunakan huruf kapital. Dalam penulisannya aksara murda ini tidak boleh dipangku. Menurut sejarah aksara murda terdiri dari 8 aksara. Berikut ini wujud aksara jawa murda dan contoh penulisannya. Aksara Jawa Swara Aksara swara yaitu jenis aksara jawa yang digunakan untuk menulis aksara vokal a, i, u, e, o.

Aksara swara ini digunakan untuk menulis kata-kata yang diserap dari bahasa asing (contoh penulisan 1). Aksara swara tidak boleh jadi pasangan. Aksara swara yang terdapat di belakang suku kata yang dimatikan/ wanda sigeg, aksara yang bersuku kata mati tersebut aksara jawa a i u e o dipangku (contoh penulisan 2).

Aksara swara tidak boleh diberi sandangan swara a, i, u, e, dan o (contoh penulisan 3). Aksara Jawa Angka Aksara Jawa angka merupakan aksara jawa yang digunakan untuk menulis angka nol sampai dengan sembilan dalam bahasa Jawa.

Sebagaimana penulisan angka dalam bahasan Indonesia, aksara jawa juga memiliki aksara untuk menulis angka. Nama angka dalam bahasan jawa dilafazkan dengan nama (basa ngoko) nol/das, siji, loro, telu, papat, lima, enem, pitu, wolu, sanga yaitu angka satu sampai sembilan. Berikut ini wujud aksara angka dalam penulisan aksara jawa. Aksara Jawa Rekan Aksara rekan dibedakan menjadi 2 golongan, yaitu aksara rekan untuk menulis kata yang berasal dari bahasa Arab dan aksara rekan untuk menulis kata yang berasal dari serapan bahasa Inggris.

a. Aksara rekan untuk menulis kata yang berasal dari serapan bahasa Arab. Aksara rekan untuk menulis kata yang berasal dari bahasa Arab terdiri dari lima macam aksara, antara lain; b. Aksara rekan untuk menulis kata yang berasal dari serapan bahasa Inggris. Aksara rekan untuk menulis kata yang berasal dari serapan bahasa Inggris sampai sekarang belum ada aturan bakunya.

Maka dari itu kata serapan bahasa Inggris dapat ditulis menggunakan aksara jawa. Penulis menggunakan rekan sesuai penulisan aksara jawa agar kata yang berasal dari serapan bahasa Inggris tersebut dapat ditulis menggunakan aksara jawa hingga terbaca sesuai dengan kata yang diucapkan. Asal Usul Aksara Jawa Menurut penelitian para ahli, asal usul aksara Jawa berasal dari aksara Kawi. Dimana aksara kawi merupakan karya orang Jawa pada jaman dahulu dengan berdasar pada aksara Pallawa dan aksara Dewanagari dari India.

Jadi pada jaman dahulu asal usul aksara Jawa dipercaya sama dengan aksara Dewanagari. Akasara Pallawa dan aksara Dewanagari dapat dikatakan merupakan asal usul dari aksara Kawi berdasarkan pada prasasti-prasasti yang berhasil ditemukan, seperti berikut ini; 1. Prasasti tertulis menggunakan aksara Pallawa yang ditemukan di daerah Palembang. 2. Prasasti tertulis menggunakan aksara Nagari atau Dewanagari yang ditemukan di Candi Kalasan, Sleman, Yogyakarta. 3.

Prasasti yang ditulis pada batu-batu bersejarah atau barang-barang logam menggunakan aksara Kawi, yang ditemukan di sekitar Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Dimana perwujudan aksara Jawa pada zaman dahulu dengan jaman sekarang sudah sangat berbeda jauh dan banyak mengalami perubahan.

Aksara Jawa pada jaman sekarang banyak memiliki kemiripan dengan aksara yang tertulis di daun lontar yang ditemukan di Bali. Dentawyanjana Dentawyanjana yaitu urut-urutan aksara Jawa Hanacaraka. Aksara Jawa yang baku berjumlah 20 aksara berwujud wanda Legena(suku kata berakhiran a).

Maka dari itu jika akan menulis wanda sigeg, harus dipasangi atau dipangku. Aksara Jawa yang berjumlah 20 tersebut tersusun menjadi empat kalimat Hanacaraka yang memiliki makna sesuai dengan dongeng "Dora Sambodo" ketika Jaman Ajisaka.

Setiap kalimat-kalimat tersebut memiliki makna, sebagai berikut; 1) Hana Caraka, artinya ana utusan. 2) Data Sawala, artinya padha suwala utawa padha kerengan. 3) Padha Jayanya, artinya padha degdayane utawa padha sektine.

4) Maga Bathanga, artinya padha dadi bathang utawa padha mati sampyuh (kalah mati bareng) Dimana urut-urutan aksara Jawa tersebut dinamakan carakan atau Dentawyanjana, atau dalam bahasa Indonesia dinamakan aksara jawa a i u e o abjad.

Baca juga: Unggah-Ungguh Basa Jawa (Basa Ngoko, Basa Madya, lan Basa Krama) Tembung Entar Lan Tegese dalam Bahasa Jawa Tembung Garba Dalam Bahasa Jawa dan Contohnya Demikian ulasan tentang " Aksara Jawa dan Contohnya Secara Lengkap - Pasangan, Sandhangan, dan Contoh Tulisan" yang dapat kami sajikan. Baca juga artikel bahasa daerah Jawa menarik lainnya hanya di situs SeniBudayaku.com. Data Contoh aksara jawa a i u e o gambar tersedia di situs ini. Contoh aksara jawa a i u e o adalah topik yang sedang dicari dan disukai oleh netizen hari ini.

Kamu bisa Unduh the Contoh aksara jawa a i u e o files here. Unduh semua bebas foto dan vektor di sini.

aksara jawa a i u e o

Contoh Aksara Jawa A I U E O. A i u é o eo eud. E menghasilkan taling x. Akasara Jawa Lengkap Pasangan Angka Kuno Artinya Contoh From passinggrade.co.id Aksara jawa sandhangan dalam penulisan aksara jawa dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu. Sandhangan urip yaitu sandangan pada aksara jawa yang berbunyi vokal i u e e dan o. Oleh admin Diposting pada 13 Juli 2021 14 Juli 2021.

A i u é oe e euc. PANJENENGAN KLIK ANA KENE. Contoh profosal 1 Contoh Surat 3 Contoh Wangsalan Bahasa Jawa 1. E menghasilkan taling x. A i u é o eo eud. Source: id.pinterest.com Contoh profosal 1 Contoh Surat 3 Contoh Wangsalan Bahasa Jawa 1.

Nulisa aksara jawa adalah sebuah alat sederhana untuk mengetik aksara jawa dengan keyboard biasa qwerty. U é o e eu2prianganrahmat m. Source: utakatikotak.com Nulisa aksara jawa adalah sebuah alat sederhana untuk mengetik aksara jawa dengan keyboard biasa qwerty.

Fungsi dari kedua Aksara hanya digunakan untuk penulisan nama karakter tokoh penting atau tempat wilayah yang. Aksara swara iku ana ing panulisan nganggo aksara jawa gunane kanggo aksara jawa a i u e o. Source: kompasiana.com Ada 5 buah aksara swara yang harus kalian ketahui diantaranya aksara jawa a i u e o. U é o e eu2prianganrahmat m. Sandhangan urip yaitu sandangan pada aksara jawa yang berbunyi vokal i u e e dan o. Source: senibudayaku.com Nulisa aksara jawa adalah sebuah alat sederhana untuk mengetik aksara jawa dengan keyboard biasa qwerty.

Pada masa periode Hindu-Buddha aksara tersebut. Sandhangan urip yaitu sandangan pada aksara jawa yang berbunyi vokal i u e e dan o. Source: passinggrade.co.id Tol Pertanyaan baru di B. Cukup ketikkan kata yang Anda inginkan dan aksara Jawanya akan langsung muncul.

1ieu di handap mangrupa aksara vokal dina basa sunda nyaéta5 poina. Source: dosenpintar.com Aksara swara iku ana ing panulisan nganggo aksara jawa gunane kanggo 1.

Aksara swara digunakan terutama untuk menuliskan kata kata yang berasal dari bahasa asing atau untuk menuliskan nama orang nama bulan nama hari dan lain s. Pada masa periode Hindu-Buddha aksara tersebut. Source: pinterest.com Sas karanamojang lenjang nu hideung santen diaping srangéngé tiénjing dugi kasonten upami wengi dipépéndé bulan ngempurjungjunanupami dugi. Sebutkeun judul pangarang jeung taun medal novel munggaran dina sastra sunda. Salahhhhh ರ ರ report.

Source: thegorbalsla.com Aksara swara iku ana ing panulisan nganggo aksara jawa gunane kanggo 1. Sedangkan untuk Aksara Swara ada lima karakter diantaranya A I U E dan O.

Aksara swara digunakan terutama untuk menuliskan kata kata yang berasal dari bahasa asing atau untuk menuliskan nama orang nama bulan nama hari dan lain s. Source: dosenpintar.com Contoh Tulisan Aksara Murda Jadi misalkan kita di sini akan menuliskan nama negara. Contoh profosal 1 Contoh Surat 3 Contoh Wangsalan Bahasa Jawa 1. Aksara jawa sandhangan dalam penulisan aksara jawa dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu. Source: dosenpintar.com Aksara Murda dan Swara adalah huruf khusus dalam karakter Jawa untuk karakter Murda hanya ada 8 karakter yaitu Na Ka Ta Sa Pa Nya Ga dan Ba.

Tumrap ing wanda menga kabeh sandhangan wulu aswara jejeg. Sandhangan urip yaitu sandangan pada aksara jawa yang berbunyi vokal i u e e dan o.

Source: dosenpintar.com Sedangkan untuk Aksara Swara ada lima karakter diantaranya A I U E dan O. Fungsi dari kedua Aksara hanya digunakan untuk penulisan nama karakter tokoh penting atau tempat wilayah yang. Ada 5 buah aksara swara yang harus kalian ketahui diantaranya aksara jawa a i u e o. Source: passinggrade.co.id Tumrap ing wanda menga kabeh sandhangan wulu aswara jejeg kayata. Nulisa Aksara Jawa ꦤꦭꦱꦱ ꦲꦏꦱꦫ ꦗꦮ adalah sebuah alat sederhana untuk mengetik aksara Jawa dengan keyboard biasa QWERTY.

A i u é o e ueb. Source: passinggrade.co.id Nulisa aksara jawa adalah sebuah alat sederhana untuk mengetik aksara jawa dengan keyboard biasa qwerty. Aksara swara digunakan terutama untuk menuliskan kata kata yang berasal dari bahasa asing atau untuk menuliskan nama orang nama bulan nama hari dan lain s.

Aksara jawa a i u e o. Source: grid.id Aksara Jawa Translate dan Pasangan Swara carakan sandangan murda angka adalah salah satu aset budaya Indonesiadikenal sebagai Hanacaraka Contoh aksara jawa a i u e o. UNINE SANDHANGAN SWARA I U E O E 4. Contoh aksara swara a i u e o. Source: m.brilio.net A i u e o. Contoh profosal 1 Contoh Surat 3 Contoh Wangsalan Bahasa Jawa 1.

Aksara jawa sandhangan dalam penulisan aksara jawa dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu. Source: news.detik.com Aksara jawa sandhangan dalam penulisan aksara jawa dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu. A i u é aksara jawa a i u e o e ueb.

UNINE SANDHANGAN SWARA I U E O E 4 UNINE SANDHANGAN WULU. Source: hamparan.net Contoh profosal 1 Contoh Surat 3 Contoh Wangsalan Bahasa Jawa 1. Tumrap ing wanda menga kabeh sandhangan wulu aswara jejeg.

Aksara jawa sandhangan dalam penulisan aksara jawa dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu. Source: hidupsimpel.com Ada 5 buah aksara swara yang harus kalian ketahui diantaranya aksara jawa a i u e o.

Sedangkan untuk Aksara Swara ada lima karakter diantaranya A I U E dan O. Nulisa aksara jawa adalah sebuah alat sederhana untuk mengetik aksara jawa dengan keyboard biasa qwerty.

Source: id.pinterest.com Oleh admin Diposting pada 13 Juli 2021 14 Juli 2021. Aksara Murda dan Swara adalah huruf khusus dalam karakter Jawa untuk karakter Murda hanya ada 8 karakter yaitu Na Ka Ta Sa Pa Nya Ga dan Ba.

Contoh profosal 1 Aksara jawa a i u e o Surat 3 Contoh Wangsalan Bahasa Jawa 1. Source: id.pinterest.com Cukup ketikkan kata yang Anda inginkan dan aksara Jawanya akan langsung muncul. Tol Pertanyaan baru di B. Sandhangan urip pada aksara jawa terdapat 5 macam yang masing-masing memiliki nama dan keterangan bunyi vokal yang berbeda-beda.

Mimpi koper besar di togel Mimpi liat tai orang togel Mimpi kotoran sendiri togel Mimpi liat orang di kasih uang togel Mimpi lihat ikan lele togel Mimpi lebah togel
Rentang Unicode U+A980– U+A9DF Artikel ini memuat simbol fonetik IPA. Tanpa dukungan multibahasa, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode. Untuk panduan pengantar tentang simbol IPA, lihat Bantuan:IPA. Artikel ini mengandung aksara Jawa.

Tanpa dukungan perenderan yang baik, Anda mungkin akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan aksara Jawa.

Aksara Jawa, juga dikenal sebagai Hanacaraka, Carakan, [1] atau Dentawyanjana, [2] adalah salah satu aksara tradisional Indonesia yang berkembang di pulau Jawa. Aksara ini terutama digunakan untuk menulis bahasa Jawa, tetapi dalam perkembangannya juga digunakan untuk menulis beberapa bahasa daerah lainnya seperti bahasa Sunda, Madura, Sasak, dan Melayu, serta bahasa historis seperti Sanskerta dan Kawi. Aksara Jawa merupakan turunan dari aksara Brahmi India melalui perantara aksara Kawi dan berkerabat dekat dengan aksara Bali.

Aksara Jawa aktif digunakan dalam sastra maupun tulisan sehari-hari masyarakat Jawa sejak pertengahan abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-20 sebelum fungsinya berangsur-angsur tergantikan dengan huruf Latin. Aksara ini masih diajarkan di DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, [3] [4] dan sebagian kecil Jawa Barat [5] sebagai bagian dari muatan lokal, tetapi dengan penerapan yang terbatas dalam kehidupan sehari-hari.

Aksara Jawa adalah sistem tulisan abugida yang terdiri dari sekitar 20 hingga 33 aksara dasar, tergantung dari penggunaan bahasa yang bersangkutan. Seperti aksara Brahmi lainnya, setiap konsonan merepresentasikan satu suku kata dengan vokal inheren /a/ atau /ɔ/ yang dapat diubah dengan pemberian diakritik tertentu. Arah penulisan aksara Jawa adalah kiri ke kanan.

Secara tradisional aksara ini ditulis tanpa spasi antarkata ( scriptio continua) [6] namun umum diselingi dengan sekelompok tanda baca yang bersifat dekoratif. Daftar isi • 1 Sejarah • 2 Media • 3 Penggunaan • 3.1 Kemunduran • 3.2 Penggunaan kontemporer • 4 Bentuk • 4.1 Aksara • 4.1.1 Wyanjana • 4.1.2 Swara • 4.1.3 Rékan • 4.2 Diakritik • 4.2.1 Swara • 4.2.2 Panyigeging wanda • 4.2.3 Wyanjana • 4.3 Pasangan • 4.4 Angka • 4.5 Tanda baca • 4.5.1 Pepadan • 5 Pengurutan • 6 Contoh teks • 7 Perbandingan dengan aksara Bali • 8 Penggunaan dalam bahasa Madura • 9 Blok Unicode • 10 Galeri • 11 Lihat pula • 12 Catatan • 13 Rujukan • 13.1 Daftar pustaka • 13.1.1 Pedoman penulisan • 14 Pranala luar • 14.1 Koleksi digital • 14.2 Naskah digital • 14.3 Lainnya Sejarah Aksara Jawa merupakan salah satu aksara turunan Brahmi di Indonesia yang sejarahnya dapat ditelusuri dengan runut karena banyaknya peninggalan-peninggalan yang memungkinkan penelitian epigrafis secara mendetail.

Akar paling tua dari aksara Jawa adalah aksara Brahmi di India yang berkembang menjadi aksara Pallawa di Asia Selatan dan Tenggara antara abad ke-6 hingga 8.

Aksara Pallawa kemudian berkembang menjadi aksara Kawi yang digunakan sepanjang periode Hindu-Buddha Indonesia antara abad ke-8 hingga 15. Di berbagai daerah Nusantara, aksara Kawi kemudian berkembang menjadi aksara-aksara tradisional Indonesia yang salah satunya adalah aksara Jawa. [7] Aksara Jawa modern sebagaimana yang kini dikenal berangsur-angsur muncul dari aksara Kawi pada peralihan abad ke-14 hingga 15 ketika ranah Jawa mulai menerima pengaruh Islam yang signifikan.

[8] [9] Selama kurang lebih 500 tahun antara abad ke-15 hingga awal abad ke-20, aksara Jawa aktif digunakan sebagai tulisan sehari-hari maupun sastra Jawa dengan cakupan yang luas dan beragam. Pada silang waktu tersebut, banyak daerah Jawa yang saling terpencil dan sulit berkomunikasi antara satu sama lainnya, sehingga aksara Jawa berkembang dengan berbagai macam variasi dan gaya penulisan yang digunakan silih-bergantian sepanjang sejarah penggunaannya.

[10] [a] Tradisi tulis aksara Jawa terutama terpupuk di lingkungan keraton pada pusat-pusat budaya Jawa seperti Yogyakarta dan Surakarta, tetapi naskah beraksara Jawa dibuat dan dipakai dalam berbagai lapisan masyarakat dengan intensitas penggunaan yang bervariasi antardaerah. Di daerah Jawa Barat, semisal, aksara Jawa terutama digunakan oleh kaum ningrat Sunda ( ménak) akibat pengaruh politik dinasti Mataram.

[11] Namun begitu, kebanyakan masyarakat Sunda pada periode waktu yang sama lebih umum menggunakan abjad Pegon yang diadaptasi dari abjad Arab. [12] Sebagian besar tulisan sastra Jawa tradisional dirancang untuk dilantunkan dalam bentuk tembang, sehingga teks sastra tidak hanya dinilai dari isi dan susunannya, tetapi juga dari pelantunan dan pembawaan sang pembaca.

[13] Tradisi tulis Jawa juga mengandalkan penyalinan dan penyusunan ulang secara berkala karena media tulis yang rentan terhadap iklim tropis; akibatnya, kebanyakan naskah fisik yang kini tersisa merupakan salinan abad ke-18 atau 19 meski isinya sering kali dapat ditelusuri hingga purwarupa yang beberapa abad lebih tua.

[9] Media Serat Yusuf dalam naskah kertas, koleksi Museum Sonobudoyo Sepanjang sejarahnya, aksara Jawa ditulis dengan sejumlah media yang berganti-ganti seiring waktu. Aksara Kawi yang menjadi nenek moyang aksara Jawa umum ditemukan dalam bentuk prasasti batu dan lempeng logam.

Tulisan Kawi sehari-hari dituliskan menggunakan media lontar, yakni daun palem tal ( Borassus flabellifer, disebut juga palem siwalan) yang telah diolah sedemikian rupa hingga dapat ditulisi. Lembar lontar memiliki bentuk persegi panjang dengan lebar sekitar 2,8 aksara jawa a i u e o 4 cm dan panjang yang bervariasi antara 20 hingga 80 cm.

Tiap lembar lontar hanya dapat memuat beberapa baris tulisan, umumnya sekitar empat baris, yang digurat dalam posisi horizontal dengan pisau kecil kemudian dihitamkan dengan jelaga untuk meningkatkan keterbacaan. Media ini memiliki rekam jejak penggunaan yang panjang di seantero Asia Selatan dan Asia Tenggara.

[14] Pada abad ke-13, kertas mulai diperkenalkan di Nusantara, hal ini berkaitan dengan penyebaran agama Islam yang tradisi tulisnya didukung oleh penggunaan kertas dan format buku kodeks. Ketika Jawa mulai menerima pengaruh Islam yang signifikan pada abad ke-15, bersamaan ketika aksara Kawi mulai bertransisi menjadi aksara Jawa modern, kertas menjadi lebih lumrah digunakan di Jawa dan penggunaan lontar hanya bertahan di beberapa tempat.

[15] Terdapat dua jenis kertas yang umum ditemukan dalam naskah beraksara Jawa: kertas produksi lokal yang disebut daluang, dan kertas impor.

Daluang (bahasa Jawa: dluwang) adalah kertas yang terbuat dari tumbukan kulit pohon saéh ( Broussonetia papyrifera, disebut juga pohon glugu). Secara tampak, daluang cukup mudah dibedakan dengan kertas biasa dari warna cokelatnya yang khas dan tampilannya yang berserat-serat. Daluang yang dibuat dengan telaten akan memiliki permukaan yang mulus dan tahan lama dari macam-macam bentuk degradasi (terutama serangga), sementara daluang yang tidak bagus memiliki permukaan yang tidak rata dan mudah rusak.

Daluang umum digunakan dalam naskah yang ditulis di keraton dan pesantren Jawa antara abad ke-16 dan 17. [15] [16] Sebagian besar kertas impor yang digunakan di naskah-naskah Nusantara didatangkan dari Eropa.

Pada awalnya, kertas Eropa hanya digunakan oleh sebagian kecil juru tulis Jawa karena harganya yang mahal – kertas yang dibuat dengan teknik Eropa pada masa itu hanya bisa diimpor dalam jumlah terbatas.

[b] Dalam administrasi kolonial sehari-hari, penggunaan kertas Eropa perlu disuplementasikan dengan kertas daluang Jawa serta kertas impor Tiongkok setidaknya hingga abad ke-19.

[16] Seiring meningkatnya jumlah kertas impor dan pengiriman yang lebih berkala, juru tulis di keraton dan permukiman urban makin memilih kertas Eropa sebagai media tulis utama sementara daluang aksara jawa a i u e o diasosiasikan dengan naskah yang dibuat di pesantren dan desa.

[15] Bersamaan dengan meningkatnya impor kertas Eropa, teknologi cetak aksara Jawa juga mulai dirintis oleh sejumlah tokoh Eropa dan mulai digunakan secara luas pada tahun 1825. Dengan adanya teknologi cetak, materi beraksara Jawa dapat diperbanyak secara massal dan menjadi lumrah digunakan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa pra-kemerdekaan, seperti surat-surat, buku, koran, majalah, hingga pamflet, iklan, dan uang kertas.

[17] Penggunaan Penggunaan Aksara Jawa • Detail salah satu halaman dalam Serat Selarasa yang disalin pada tahun 1804 di Surabaya. Dua figur di paling kiri terlihat sedang melantunkan bacaan beraksara Jawa. Selama kurang lebih 500 tahun antara abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-20, aksara Jawa aktif digunakan dalam berbagai lapisan masyarakat Jawa sebagai tulisan sehari-hari maupun sastra dengan cakupan yang luas dan beragam.

Karena pengaruh tradisi lisan yang kuat, teks sastra tradisional Jawa hampir selalu disusun dalam bentuk tembang yang dirancang untuk dilantukan, sehingga teks Jawa tidak hanya dinilai dari isi dan susunannya, tetapi juga dari irama dan nada pelantunan.

[13] Pujangga sastra Jawa umumnya tidak dituntut untuk menciptakan cerita dan karakter baru, peran pujangga adalah untuk menulis dan menyusun ulang cerita-cerita yang telah ada ke dalam gubahan yang sesuai dengan selera lokal dan perkembangan zaman. Akibatnya, karya sastra Jawa seperti Cerita Panji bukanlah sebuah teks dengan edisi otoriter yang menjadi rujukan teks lainnya, melainkan kumpulan variasi cerita dengan benang merah tokoh Panji.

[18] Genre sastra dengan akar paling kuno adalah wiracarita atau epos Sanskerta seperti Ramayana dan Mahabharata yang telah disadur sejak periode Hindu-Buddha dan memperkenalkan tokoh-tokoh pewayangan seperti Arjuna, Srikandi, Gatotkaca, dan puluhan karakter lainnya yang kini akrab dalam masyarakat Jawa.

Sejak masuknya Islam di Jawa, tokoh-tokoh dari sumber Timur Tengah seperti Amir Hamzah dan Nabi Yusuf juga menjadi salah satu subjek yang sering dituliskan. Terdapat pula tokoh-tokoh lokal yang sering kali mengambil latar semi legendaris di Jawa masa lampau, misal Pangeran Panji, Damar Wulan, dan Calon Arang.

[19] Ketika kajian mendalam mengenai bahasa dan sastra Jawa mulai menarik perhatian kalangan Eropa pada abad ke-19, timbullah keinginan untuk menciptakan aksara Jawa cetak agar materi sastra Jawa dapat mudah diperbanyak dan disebarluaskan. Upaya paling awal untuk menghasilkan aksara Jawa cetak dirintis oleh Paul van Vlissingen yang aksara Jawa cetaknya pertama kali digunakan dalam surat kabar Bataviasch Courant edisi bulan Oktober 1825.

aksara jawa a i u e o

{INSERTKEYS} [20] Meski diakui sebagai suatu pencapaian teknis yang patut dipuji pada masa itu, aksara Jawa cetak Vlissingen dinilai memiliki gubahan bentuk yang canggung, sehingga upaya awal ini kemudian diteruskan oleh berbagai pihak seiring dengan berkembanganya kajian sastra Jawa. [21] Pada tahun 1838, Taco Roorda menyelesaikan fon cetak untuk aksara Jawa yang ia gubah berdasarkan langgam penulisan Surakarta [c] dengan sedikit campuran elemen tipografi Eropa.

Rancangan Roorda disambut dengan baik dan dengan cepat menjadi pilihan utama untuk mencetak segala tulisan yang beraksara Jawa. Sejak itu, bacaan beraksara Jawa, dengan fon Jawa yang digubah Roorda, menjadi lumrah beredar di khalayak umum dan diterapkan pula dalam berbagai materi selain sastra. Hadirnya teknologi cetak menumbuhkan industri percetakan yang selama seabad ke depan menghasilkan berbagai macam bacaan sehari-hari dalam aksara Jawa, dari surat administratif, buku pelajaran, hingga media massa populer seperti majalah Kajawèn yang seluruh kolom dan artikelnya dicetak dengan aksara Jawa.

[17] [23] Pada tingkat pemerintahan, salah satu bentuk penerapan aksara Jawa adalah penggunaannya sebagai salah satu teks legal multi-bahasa dalam uang kertas Gulden yang disirkulasikan De Javasche Bank.

[24] Kemunduran Mesin tik beraksara Jawa yang pernah dipakai oleh Keraton Surakarta dari tahun 1917–1960 untuk surat-menyurat, membuat surat keputusan, dan pengumuman.

[25] Seiring dengan meningkatnya permintaan bacaan masyarakat pada awal abad ke-20, penerbit Jawa mengurangi produksi materi beraksara Jawa karena alasan ekonomis: mencetak materi apa pun dengan aksara Jawa pada waktu itu memerlukan hingga dua kali lebih banyak bidang kertas dibanding mencetak materi yang sama dengan alih aksara Latin, sehingga produksi bacaan beraksara Jawa memakan lebih banyak waktu dan biaya.

[d] Dalam rangka menekan biaya dan menjaga agar harga buku tetap terjangkau bagi masyarakat, berbagai penerbit seperti Balai Pustaka kian mengutamakan penerbitan materi berhuruf Latin. [27] Meskipun begitu, masyarakat Jawa di awal abad ke-20 cenderung tetap menggunakan aksara Jawa dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam kegiatan surat-menyurat, misal, penggunaan aksara Jawa dianggap lebih halus dan sopan daripada penggunaan huruf Latin, terutama dalam surat untuk orang yang lebih tua.

Berbagai penerbit, termasuk Balai Pustaka sendiri, tetap mencetak buku, koran, dan majalah dalam aksara Jawa karena adanya minat pembaca yang memadai meski perlahan-lahan menurun.

Penggunaan aksara Jawa baru mengalami kemunduran yang signifikan ketika Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942. [28] Beberapa penulis melaporkan adanya aturan Jepang yang melarang penggunaan aksara Jawa dalam ranah publik, meski hingga kini belum ditemukan dokumentasi atau catatan resmi dari larangan tersebut. [e] Namun tidak dipungkiri bahwa penggunaan aksara Jawa memang mengalami kemunduran yang signifikan pada zaman pendudukan Jepang.

Program-program pendidikan pemerintahan yang baru didirikan setelah Indonesia merdeka berfokus pada pendidikan Bahasa Indonesia dan pemberantasan buta huruf Latin, sehingga penggunaan aksara tidak kembali sebagaimana semula pada periode pasca-kemerdekaan.

[30] [31] Gagrag Yogyakarta. Huruf Latin diletakkan di atas aksara Jawa (Pergub DIY No. 70/2019). Dalam ranah kontemporer, aksara Jawa hingga kini masih menjadi bagian dari pengajaran muatan lokal di DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian kecil Jawa Barat. Beberapa surat kabar dan majalah lokal memiliki kolom yang menggunakan aksara Jawa, dan aksara Jawa dapat ditemukan pada papan nama tempat-tempat umum tertentu.

Akan tetapi, banyak upaya kontemporer untuk menerapkan aksara Jawa hanya bersifat simbolik dan tidak fungsional; tidak ada lagi, sebagai contoh, publikasi berkala seperti majalah Kajawèn yang isi substansialnya menggunakan aksara Jawa. Kebanyakan masyarakat Jawa hanya sadar akan keberadaan aksara Jawa dan mengenal beberapa huruf, tetapi jarang ada yang mampu membaca atau menulisnya secara substansial, [32] [33] sehingga sampai tahun 2019 tidak jarang ditemukan papan nama di tempat umum yang penulisan aksara Jawa-nya memiliki banyak kesalahan dasar.

[34] [35] Beberapa kendala dalam upaya revitalisasi penggunaan aksara Jawa termasuk perangkat elektronik yang sering kali mengalami kendala teknis untuk menampilkan aksara Jawa tanpa galat, sedikitnya instansi dengan kompetensi memadai yang dapat dikonsultasikan, dan kurangnya eksplorasi tipografi yang menarik bagi masyarakat.

[32] [36] Meskipun begitu, upaya revitalisasi terus digeluti oleh sejumlah komunitas dan tokoh masyarakat yang aktif memperkenalkan kembali aksara Jawa dalam penggunaan sehari-hari, terutama dalam sarana digital.

[36] Bentuk Aksara Aksara merupakan huruf dasar yang merepresentasikan satu suku kata. Aksara Jawa memiliki sekitar 45 aksara dasar, tetapi tidak semuanya digunakan dengan setara.

Dalam perkembangannya, terdapat aksara yang tidak lagi digunakan sementara beberapa lainnya hanya digunakan pada konteks tertentu sehingga huruf-huruf dalam aksara Jawa dikelompokkan ke dalam beberapa jenis berdasarkan fungsi dan penggunaannya.

Wyanjana Aksara wyanjana (ꦲꦏ꧀ꦱꦫꦮꦾꦚ꧀ꦗꦤ) adalah aksara konsonan dengan vokal inheren /a/ atau /ɔ/. Sebagai salah satu aksara turunan Brahmi, aksara Jawa pada awalnya memiliki 33 aksara wyanjana untuk menuliskan 33 bunyi konsonan yang digunakan dalam bahasa Sanskerta dan Kawi. Bentuknya dapat dilihat sebagaimana berikut: [37] [38] Aksara Wyanjana (deret kuno) Tempat pelafalan Semivokal Sibilan Celah Nirsuara Bersuara Sengau Tidak Teraspirasi Teraspirasi Tidak Teraspirasi Teraspirasi Velar ꦏ ka ꦑ kha ꦒ ga ꦓ gha ꦔ ṅa [1] ꦲ ha/a [5] Palatal ꦕ ca ꦖ cha ꦗ ja ꦙ jha ꦚ ña 2 ꦪ ya ꦯ śa [6] Retrofleks ꦛ ṭa [3] ꦜ ṭha ꦝ ḍa [4] ꦞ ḍha ꦟ ṇa ꦫ ra ꦰ ṣa Dental ꦠ ta ꦡ tha ꦢ da ꦣ dha ꦤ na ꦭ la ꦱ sa Labial ꦥ pa ꦦ pha ꦧ ba ꦨ bha ꦩ ma ꦮ wa Catatan ^1 /ŋa/ sebagaimana nga dalam kata "mengalah" ^2 /ɲa/ sebagaimana nya dalam kata "menyanyi" ^3 /ʈa/ sebagaimana tha dalam kata bahasa Jawa "kathah" ^4 /ɖa/ sebagaimana dha dalam kata bahasa Jawa "padha" ^5 berperan ganda sebagai fonem /ha/ dan /a/ dalam bahasa Kawi Pelafalan berikut tidak digunakan dalam bahasa Jawa modern: ^6 /ɕa/ mendekati pengucapan sya dalam kata "syarat" Dalam perkembangannya, bahasa Jawa modern tidak lagi menggunakan keseluruhan aksara wyanjana dalam deret Sanskerta-Kawi.

Aksara Jawa modern hanya menggunakan 20 bunyi konsonan dan 20 aksara dasar yang kemudian disebut sebagai aksara nglegena (ꦲꦏ꧀ꦱꦫꦔ꧀ꦭꦼꦒꦼꦤ). Sebagian aksara yang tersisa kemudian dialihfungsikan sebagai aksara murda (ꦲꦏ꧀ꦱꦫꦩꦸꦂꦢ) untuk menuliskan gelar dan nama yang dihormati, baik nama tokoh legenda (misal Bima ditulis ꦨꦶꦩ) maupun nyata (misal Pakubuwana ditulis ꦦꦑꦸꦨꦸꦮꦟ).

[39] Dari 20 aksara nglegena, hanya 9 aksara yang mempunyai bentuk murda, oleh karena itu penggunaan murda tidak identik dengan penggunaan huruf kapital di dalam ejaan Latin; [39] apabila suku kata pertama suatu nama tidak memiliki bentuk murda, maka suku kata kedua yang menggunakan murda.

Apabila suku kata kedua juga tidak memiliki bentuk murda, maka suku kata ketiga yang menggunakan murda, begitu seterusnya. Nama yang sangat dihormati dapat ditulis seluruhnya dengan murda apabila memungkinkan. Dalam penulisan tradisional, penerapan murda tidaklah selalu konsisten dan pada dasarnya bersifat pilihan, sehingga nama seperti Gani dapat dieja ꦒꦤꦶ (tanpa murda), ꦓꦤꦶ (dengan murda di awal), atau ꦓꦟꦶ (seluruhnya menggunakan murda) tergantung dari latar belakang dan konteks penulisan yang bersangkutan.

Sisa aksara yang tidak termasuk nglegena maupun murda adalah aksara mahaprana. Aksara mahaprana tidak memiliki fungsi dalam penulisan Jawa modern dan hanya digunakan dalam penulisan bahasa Sanskerta-Kawi. [37] [f] Aksara Wyanjana (deret modern) ha/a [1] na ca ra ka da ta sa wa la pa dha ja ya nya ma ga ba tha nga Nglegena ꦲ ꦤ ꦕ ꦫ ꦏ ꦢ ꦠ ꦱ ꦮ ꦭ ꦥ ꦝ ꦗ ꦪ ꦚ ꦩ ꦒ ꦧ ꦛ ꦔ Murda ꦟ ꦖ [2] ꦬ [3] ꦑ ꦡ ꦯ ꦦ ꦘ ꦓ ꦨ Mahaprana ꦣ ꦰ ꦞ ꦙ ꦜ Catatan ^1 berperan ganda sebagai fonem /ha/ dan /a/ tergantung kata yang bersangkutan ^2 ca murda hanya teratestasi dalam bentuk pasangan, [4] bentuk aksara dasarnya merupakan rekonstruksi kontemporer ^3 ra agung, memiliki fungsi yang serupa dengan aksara murda lainnya namun tidak dikenal secara luas karena penggunaannya yang terbatas di lingkungan kraton [37] Swara Aksara swara (ꦲꦏ꧀ꦱꦫꦱ꧀ꦮꦫ) adalah aksara yang digunakan untuk menulis suku kata yang tidak memiliki konsonan di awal, atau dalam kata lain suku kata yang hanya terdiri vokal.

Pada awalnya, aksara Jawa memiliki 14 aksara vokal yang diwarisi dari tradisi tulis Sanskerta. Bentuknya dapat dilihat sebagaimana berikut: [38] Aksara Swara Tempat pelafalan Velar Palatal Labial Retrofleks Dental Velar-Palatal Velar-Labial Pendek ꦄ a ꦆ i ꦈ u ꦉ ṛ/re [1] ꦊ ḷ/le [2] ꦌ é [3] ꦎ o Panjang ꦄꦴ ā ꦇ ī ꦈꦴ ū ꦉꦴ ṝ/reu [4a] [4b] ꦋ ḹ/leu [5a] [5b] ꦍ ai 6 ꦎꦴ au 7 Catatan ^1 pa cerek, /rə/ sebagaimana re dalam kata "remah" ^2 nga lelet, /lə/ sebagaimana le dalam kata "lemah" ^3 /e/ sebagaimana e dalam kata "enak" Pelafalan berikut tidak digunakan dalam bahasa Jawa modern: ^4a pa cerek dirgha, dalam bahasa Sanskerta sebenarnya hanya digunakan sebagai pelengkap sistem fonologi Pāṇini [42] ^4b dalam penulisan Sunda digunakan untuk /rɨ/ sebagaimana reu dalam kata bahasa Sunda "pireu" [43] ^5a nga lelet raswadi, dalam bahasa Sanskerta sebenarnya hanya digunakan sebagai pelengkap sistem fonologi Pāṇini [42] ^5b dalam penulisan Sunda digunakan untuk /lɨ/ sebagaimana leu dalam kata bahasa Sunda "deuleu" [43] ^6 diftong /aj/ sebagaimana ai dalam kata "sungai" ^7 diftong /aw/ sebagaimana au kata "pantau" Sebagaimana aksara wyanjana, bahasa Jawa modern tidak lagi menggunakan keseluruhan aksara swara dalam deret Sanskerta-Kawi, dan kini hanya aksara untuk vokal pendek yang umumnya diajarkan.

Dalam penulisan modern, aksara swara digunakan untuk menggantikan aksara wyanjana ha ꦲ (yang pelafalannya bisa jadi ambigu karena berperan ganda sebagai fonem /ha/ dan /a/) pada nama atau istilah asing yang pelafalannya perlu diperjelas. [44] Pa cerek ꦉ, pa cerek dirgha ꦉꦴ, nga lelet ꦊ, dan nga lelet raswadi ꦋ adalah konsonan silabis yang dalam bahasa Sanskerta-Kawi dianggap sebagai huruf vokal.

[42] [45] Ketika digunakan untuk bahasa selain Sanskerta, pelafalan keempat aksara ini sering kali bervariasi. Dalam perkembangan bahasa Jawa modern, hanya pa cerek dan nga lelet yang digunakan; pa cerek dilafalkan /rə/ (sebagaimana re dalam kata "remah") sementara nga lelet dilafalkan /lə/ (sebagaimana le dalam kata "lemah").

Dalam pengajaran modern, aksara ini sering kali dipisahkan dari aksara swara menjadi kategori sendiri yang disebut aksara gantèn. Kedua aksara ini wajib digunakan untuk mengganti tiap kombinasi ra+ pepet (ꦫꦼ → ꦉ) serta la+ pepet (ꦭꦼ → ꦊ) tanpa terkecuali. [46] Rékan Aksara rékan (ꦲꦏ꧀ꦱꦫꦫꦺꦏꦤ꧀) adalah aksara tambahan yang digunakan untuk menulis bunyi asing.

[47] Aksara ini pada awalnya dikembangkan untuk menuliskan kata serapan dari bahasa Arab, kemudian diadaptasi untuk kata serapan dari bahasa Belanda, dan dalam penggunaan kontemporer juga digunakan untuk menulis kata-kata bahasa Indonesia dan Inggris. Sebagian besar aksara rékan dibentuk dengan menambahkan diakritik cecak telu pada aksara yang bunyinya dianggap paling mendekati dengan bunyi asing yang bersangkutan.

Sebagai contoh, aksara rékan fa ꦥ꦳ dibentuk dengan menambahkan cecak telu pada aksara wyanjana pa ꦥ. Kombinasi wyanjana dan ekuivalen bunyi asing tiap rékan bisa jadi berbeda antarpenulis karena ketiadaan persetujuan bersama dan lembaga bahasa yang mengatur. Terdapat lima aksara rekan menurut Padmasusastra [48] dan Dwijasewaya: [49] kha, dza, fa, za, dan gha, tetapi menurut Hollander, terdapat sembilan: [50] Aksara Rékan ḥa kha qa dza sya fa/va za gha 'a Aksara Jawa ꦲ꦳ ꦏ꦳ ꦐ [1] ꦢ꦳ ꦱ꦳ ꦥ꦳ ꦗ꦳ ꦒ꦳ ꦔ꦳ Abjad Arab ح خ ق ذ ش ف ز غ ع Catatan ^1 aksara "ka Sasak", aslinya hanya digunakan dalam penulisan bahasa Sasak Diakritik Diakritik ( sandhangan ꦱꦤ꧀ꦝꦔꦤ꧀) adalah tanda yang melekat pada aksara untuk mengubah vokal inheren aksara yang bersangkutan.

Sebagaimana aksara, diakritik Jawa juga dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok tergantung dari fungsi dan penggunaannya. Swara Sandhangan swara (ꦱꦤ꧀ꦝꦁꦔꦤ꧀ꦱ꧀ꦮꦫ) adalah sandhangan yang digunakan untuk mengubah vokal inheren /a/ menjadi vokal lainnya, sebagaimana berikut: [51] Sandhangan Swara Pendek Panjang -a -i -u -é [1] -o -e [2] -ā -ī -ū -ai [3] -au [4] -eu [5a] [5b] - ꦶ ꦸ ꦺ ꦺꦴ ꦼ ꦴ ꦷ ꦹ ꦻ ꦻꦴ ꦼꦴ - wulu suku taling taling-tarung pepet tarung wulu melik suku mendut dirga muré dirga muré-tarung pepet-tarung ka ki ku ké ko ke kā kī kū kai kau keu ꦏ ꦏꦶ ꦏꦸ ꦏꦺ ꦏꦺꦴ ꦏꦼ ꦏꦴ ꦏꦷ ꦏꦹ ꦏꦻ ꦭꦻꦴ ꦏꦼꦴ Catatan ^1 /e/ sebagaimana e dalam kata "enak" ^2 /ə/ sebagaimana e dalam kata "empat", bunyi bahasa Kawi yang tidak berasal dari Sanskerta Pelafalan berikut tidak digunakan dalam bahasa Jawa modern: ^3 diftong /aj/ sebagaimana ai dalam kata "sungai" ^4 diftong /aw/ sebagaimana au dalam kata "pantau" ^5a bunyi bahasa Kawi yang tidak berasal dari Sanskerta, dalam kajian Kawi umum diromanisasi menjadi ö ^5b dalam penulisan Sunda digunakan untuk /ɨ/ sebagaimana eu dalam kata bahasa Sunda "peuyeum" Sebagaimana aksara swara, hanya sandhangan vokal pendek yang umumnya diajarkan dan digunakan dalam bahasa Jawa kontemporer, sementara sandhangan vokal panjang digunakan dalam penulisan bahasa Sanskerta dan Kawi.

Panyigeging wanda Sandhangan panyigeging wanda (ꦱꦤ꧀ꦝꦁꦔꦤ꧀ꦥꦚꦶꦒꦼꦒꦶꦁꦮꦤ꧀ꦢ) digunakan untuk menutup suatu suku kata dengan konsonan, sebagaimana berikut: [52] Sandhangan Panyigeging Wanda nasal [1] -ng -r -h pemati [2] ꦀ ꦁ ꦂ ꦃ ꧀ panyangga cecak layar wignyan pangkon kam kang kar kah k ꦏꦀ ꦏꦁ ꦏꦂ ꦏꦃ ꦏ꧀ Catatan ^1 umumnya hanya ditemukan dalam salinan lontar Bali untuk menuliskan kata keramat seperti ong ꦎꦀ ^2 tidak digunakan untuk suku kata tertutup yang terjadi di tengah kata atau kalimat (lihat pasangan) Wyanjana Sandhangan wyanjana (ꦱꦤ꧀ꦝꦁꦔꦤ꧀ꦮꦾꦚ꧀ꦗꦤ) digunakan untuk menuliskan gugus konsonan dengan semivokal dalam satu suku kata, sebagaimana berikut: [53] Sandhangan Wyanjana -re -y- -r- -l- -w- ꦽ ꦾ ꦿ ꧀ꦭ ꧀ꦮ keret pengkal cakra panjingan la gembung kre kya kra kla kwa ꦏꦽ ꦏꦾ ꦏꦿ ꦏ꧀ꦭ ꦏ꧀ꦮ Pasangan Vokal inheren dari tiap aksara dasar dapat dimatikan dengan penggunaan diaktrik pangkon.

Akan tetapi, pangkon normalnya tidak digunakan di tengah kata atau kalimat, sehingga untuk menuliskan suku kata tertutup di tengah kata dan kalimat, digunakanlah bentuk pasangan (ꦥꦱꦔꦤ꧀). Berbeda dengan pangkon, pasangan tidak hanya mematikan konsonan yang diiringinya tetapi juga menunjukkan konsonan selanjutnya.

Sebagai contoh, aksara ma (ꦩ) yang diiringi bentuk pasangan dari pa ( ꧀ꦥ) menjadi mpa (ꦩ꧀ꦥ). Bentuk pasangan setiap aksara ada di tabel berikut: [54] Aksara dan Pasangan ha/a na ca ra ka da ta sa wa la pa dha ja ya nya ma ga ba tha nga Nglegena Aksara ꦲ ꦤ ꦕ ꦫ ꦏ ꦢ ꦠ ꦱ ꦮ ꦭ ꦥ ꦝ ꦗ ꦪ ꦚ ꦩ ꦒ ꦧ ꦛ ꦔ Pasangan ꧀ꦲ ꧀ꦤ ꧀ꦕ ꧀ꦫ ꧀ꦏ ꧀ꦢ ꧀ꦠ ꧀ꦱ ꧀ꦮ ꧀ꦭ ꧀ꦥ ꧀ꦝ ꧀ꦗ ꧀ꦪ ꧀ꦚ ꧀ꦩ ꧀ꦒ ꧀ꦧ ꧀ꦛ ꧀ꦔ Murda Aksara ꦟ ꦖ ꦬ ꦑ ꦡ ꦯ ꦦ ꦘ ꦒ ꦨ Pasangan ꦟ ꧀ꦖ [1] ꧀ꦬ ꧀ꦑ ꧀ꦡ ꧀ꦯ ꧀ꦦ ꧀ꦘ ꧀ꦓ ꧀ꦨ Mahaprana Aksara ꦣ ꦰ ꦞ ꦙ ꦜ Pasangan ꧀ꦣ ꧀ꦰ ꧀ꦞ ꧀ꦙ ꧀ꦜ Catatan tanda bulat (◌) pada karakter bukanlah bagian dari pasangan, tetapi mengindikasikan posisi aksara yang diiringinya ^1 kerap digunakan sebagai bagian dari pepadan yang tidak memiliki fungsi fonetis ^2 pasangan dalam tabel ini merupakan bentuk yang digunakan dalam penulisan Jawa modern.

Beberapa aksara memiliki bentuk pasangan yang berbeda dalam penulisan Sanskerta-Kawi Contoh pemakaian pasangan dapat dilihat sebagaimana berikut: komponen penulisan keterangan + + + + = a + (ka + (pangkon + sa)) + ra → a + (ka + (pasangan sa)) + ra = a(ksa)ra + + + + = ka + (na + (pangkon + tha) + -i) → ka + (na + (pasangan tha) + -i) = ka(nthi) Angka Aksara Jawa memiliki lambang bilangannya sendiri yang berlaku selayaknya angka Arab, tetapi sebagian bentuknya memiliki rupa yang persis sama dengan beberapa aksara Jawa, semisal angka 1 ꧑ dengan aksara wyanjana ga ꦒ, atau angka 8 ꧘ dengan aksara murda pa ꦦ.

Karena persamaan bentuk ini, angka yang digunakan di tengah kalimat perlu diapit dengan tanda baca pada pangkat atau pada lingsa untuk memperjelas fungsinya sebagai lambang bilangan. Semisal, "tanggal 17 Juni" ditulis ꦠꦁꦒꦭ꧀꧇꧑꧗꧇ꦗꦸꦤꦶ atau ꦠꦁꦒꦭ꧀꧈꧑꧗꧈ꦗꦸꦤꦶ. Pengapit ini dapat diabaikan apabila fungsi lambang bilangan sudah jelas dari konteks, misal nomor halaman di pojok kertas. Bentuknya dapat dilihat sebagaimana berikut: [55] [56] Angka 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 ꧐ ꧑ ꧒ ꧓ ꧔ ꧕ ꧖ ꧗ ꧘ ꧙ Tanda baca Teks tradisional Jawa ditulis tanpa spasi antarkata ( scriptio continua) dan memiliki sejumlah tanda baca yang disebut pada (ꦥꦢ).

Bentuknya sebagaimana berikut: Pada lingsa lungsi adeg adeg-adeg pisèlèh rerenggan pangkat rangkap surat koreksi andhap madya luhur guru pancak tirta tumètès isèn-isèn ꧈ ꧉ ꧊ ꧋ ꧌...꧍ ꧁...꧂ ꧇ ꧏ ꧃ ꧄ ꧅ ꧋꧆꧋ ꧉꧆꧉ ꧞꧞꧞ ꧟꧟꧟ Dalam pengajaran modern, tanda baca yang paling sering digunakan adalah pada adeg-adeg, pada lingsa, dan pada lungsi, yang masing-masing berfungsi untuk membuka paragraf (sebagaimana pillcrow), memisahkan kalimat (sebagaimana koma), dan mengakhiri kalimat (sebagaimana titik).

Pada adeg dan pada pisèlèh umumnya digunakan untuk mengapit sisipan di tengah teks seperti kurung atau petik, sementara pada pangkat berfungsi seperti titik dua. Pada rangkap kadang digunakan sebagai tanda pengulangan kata yang dalam bahasa Indonesia informal setara dengan penggunaan angka 2 untuk kata berulang (misal kata-kata ꦏꦠꦏꦠ → kata2 ꦏꦠꧏ). [57] Beberapa tanda baca tidak memiliki ekivalen dalam ejaan latin dan sering kali bersifat dekoratif, karena itu bentuk dan penggunaannya cenderung bervariasi antarpenulis, semisal rerenggan yang kadang digunakan untuk mengapit judul.

Dalam surat-menyurat, seperangkat tanda baca digunakan di awal surat sebagai tanda pembuka dan kadang digunakan pula sebagai penanda status sosial dari sang pengirim surat; dari pada andhap yang rendah, pada madya yang menengah, hingga pada luhur yang tinggi.

Pada guru kadang digunakan sebagai pilihan netral yang tidak memiliki konotasi sosial, sementara pada pancak digunakan untuk mengakhiri surat. Namun perlu diperhatikan bahwa bentuk dan fungsi ini merupakan kaidah yang digeneralisasi. Sebagaimana rerenggan, tanda baca pemulai dan pengakhir surat dalam prakteknya bersifat dekoratif dan opsional, dengan beragam susunan bentuk yang bervariasi antara daerah dan juru tulis. [57] Ketika terjadi kesalahan dalam penulisan naskah, beberapa juru tulis keraton menggunakan tanda koreksi khusus alih-alih mencoret bagian yang salah: tirta tumétès yang ditemukan di naskah-naskah Yogyakarta, dan isèn-isèn yang ditemukan di naskah Surakarta.

Tanda koreksi ini langsung dibubuhkan mengikuti bagian yang salah sebelum penulis melanjutkan dengan penulisan yang benar. Semisal seorang juru tulis ingin menulis pada luhur ꦥꦢꦭꦸꦲꦸꦂ namun terlanjur menulis pada hu ꦥꦢꦲꦸ sebelum ia sadar kesalahannya, maka kata ini dapat dikoreksi menjadi pada hu···luhur ꦥꦢꦲꦸ꧞꧞꧞ꦭꦸꦲꦸꦂ atau ꦥꦢꦲꦸ꧟꧟꧟ꦭꦸꦲꦸꦂ.

[58] Pepadan Selain tanda baca biasa, salah satu ciri khas penulis aksara Jawa adalah pepadan (ꦥꦼꦥꦢꦤ꧀), yakni seperangkat tanda baca penanda sajak yang bentuk dan pengerjaannya sering kali memiliki nilai artisik tinggi. Beberapa bentuknya dapat dilihat sebagaimana berikut: Pepadan pada kecil pada besar ꧅ ꧅ ꦧ꧀ꦖ ꧅ Perangkat tanda baca pepadan dapat dikenal dengan berbagai nama dalam teks-teks tradisional.

Behrend (1996) membagi pepadan ke dalam dua kelompok umum: pada kecil yang merupakan tanda baca tunggal, serta pada besar yang sering kali disusun berderet dari beberapa tanda baca. Pada kecil digunakan untuk menandakan pergantian bait yang biasanya muncul setiap 32 hingga 48 suku kata tergantung metrum yang digunakan.

Pada besar digunakan untuk menandakan pergantian tembang (diikuti pula oleh metrum, irama, dan citra pelantunan) yang biasanya muncul tiap 5 hingga 10 halaman, meski hal ini sangat tergantung dari susunan naskah yang bersangkutan. [59] Pedoman penulisan aksara Jawa sering kali membagi pada besar menjadi tiga jenis pada, purwa pada ꧅ ꦧ꧀ꦖ ꧅ yang digunakan di awal tembang pertama, madya pada ꧅ ꦟ꧀ꦢꦿ ꧅ yang digunakan di pergantian tembang, dan wasana pada ꧅ ꦆ ꧅ yang digunakan di penutup tembang terakhir.

[57] Namun karena bentuknya yang sangat bervariasi antarnaskah, tiga tanda baca ini sering kali melebur dan dianggap satu dalam praktek penulisan sebagian besar naskah Jawa. [60] Pepadan merupakan elemen aksara yang paling menonjol dalam naskah Jawa dan hampir selalu ditulis dengan kemampuan artisik tinggi yang meliputi kaligrafi, pewarnaan, hingga penyepuhan dengan kertas emas. [61] Dalam sejumlah naskah mewah, bentuk pepadan bahkan bisa menjadi petunjuk untuk tembang yang digunakan; pepadan dengan elemen sayap atau figur burung yang menyerupai gagak ( dhandhang dalam bahasa Jawa) merujuk pada tembang dhandhanggula, sementara pepadan dengan elemen ikan mas merujuk pada tembang maskumambang (secara harfiah berarti "emas mengambang di air").

Salah satu pusat penulisan naskah dengan gubahan pepadan yang paling indah adalah skriptorium Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta. [60] [62] Pengurutan Aksara Jawa modern umum diurutkan menggunakan deret Hanacaraka yang dinamakan berdasarkan lima aksara pertama dalam deret tersebut.

[g] Dalam urutan tersebut, ke-20 aksara dasar yang digunakan dalam bahasa Jawa modern membentuk sebuah pangram yang sering kali dikaitkan dengan legenda Aji Saka. [63] [64] Asal-usul deret ini tidak diketahui dengan pasti, tetapi deret Hanacaraka diperkirakan telah digunakan oleh masyarakat Jawa setidaknya sejak abad ke-15 ketika ranah Jawa mulai menerima pengaruh Islam yang signifikan.

[65] [66] Terdapat berbagai macam tafsiran mengenai makna filosofis dan esoteris yang konon terkandung dalam urutan hanacaraka. [67] [68] Deret Hanacaraka ꦲꦤꦕꦫꦏ ꦢꦠꦱꦮꦭ ꦥꦝꦗꦪꦚ ꦩꦒꦧꦛꦔ (h)ana caraka ada dua utusan data sawala yang berselisih pendapat padha jayanya sama kuatnya maga bathanga inilah mayat mereka Deret hanacaraka bukanlah satu-satunya cara untuk mengurutkan aksara Jawa.

Untuk penulisan bahasa Sanskerta dan Kawi yang memerlukan 33 aksara dasar, aksara Jawa dapat diurutkan berdasarkan tempat pelafalannya ( warga) menurut prinsip fonologi Sanskerta yang pertama kali dijabarkan oleh Pāṇini. [38] [65] Deret ini, yang kadang disebut deret Kaganga berdasarkan tiga aksara pertamanya, merupakan deret standar dalam aksara-aksara turunan Brahmi yang masih bisa digunakan untuk menulis bahasa Sanskerta, seperti aksara Dewanagari, Tamil, dan Khmer. Deret Sanskerta (Kaganga) Pancawalimukha Ardhasuara Ūṣma Wisarga Kaṇṭya Tālawya Mūrdhanya Dantya Oṣṭya ꦏꦑꦒꦓꦔ ꦕꦖꦗꦙꦚ ꦛꦜꦝꦞꦟ ꦠꦡꦢꦣꦤ ꦥꦦꦧꦨꦩ ꦪꦫꦭꦮ ꦯꦰꦱ ꦲ ka kha ga gha nga ca cha ja jha nya ṭa ṭha ḍa ḍha ṇa ta tha da dha na pa pha ba bha ma ya ra la wa śa ṣa sa ha Contoh teks Berikut adalah cuplikan Serat Katuranggan Kucing yang dicetak pada tahun 1871 dengan bahasa dan ejaan Jawa modern.

[69] Pada Bahasa Jawa Bahasa Indonesia Aksara Jawa Latin 7 ꧅ꦭꦩꦸꦤ꧀ꦱꦶꦫꦔꦶꦔꦸꦏꦸꦕꦶꦁ꧈ ꦲꦮꦏ꧀ꦏꦺꦲꦶꦉꦁꦱꦢꦪ꧈ ꦭꦩ꧀ꦧꦸꦁꦏꦶꦮꦠꦺꦩ꧀ꦧꦺꦴꦁꦥꦸꦠꦶꦃ꧈ ꦊꦏ꧀ꦱꦤꦤ꧀ꦤꦶꦫꦥꦿꦪꦺꦴꦒ꧈ ꦲꦫꦤ꧀ꦮꦸꦭꦤ꧀ꦏꦿꦲꦶꦤꦤ꧀‍꧈ ꦠꦶꦤꦼꦏꦤꦤ꧀ꦱꦱꦼꦢꦾꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀‍꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦧꦸꦟ꧀ꦝꦼꦭ꧀ꦭꦁꦏꦸꦁꦲꦸꦠꦩ꧈ Lamun sira ngingu kucing, awaké ireng sadaya, lambung kiwa tèmbong putih, leksanira prayoga, aran wulan krahinan, tinekanan sasedyanira ipun, yèn bundhel langkung utama Kucing yang berwarna hitam semua tetapi perut sebelah kirinya terdapat tèmbong (bercak) putih disebut wulan krahinan.

Kucing ini membawa kebaikan berupa tercapainya semua keinginan. Lebih baik jika ekornya buṇḍel (membulat). 8 ꧅ꦲꦗꦱꦶꦫꦔꦶꦔꦸꦏꦸꦕꦶꦁ꧈ ꦭꦸꦫꦶꦏ꧀ꦲꦶꦉꦁꦧꦸꦤ꧀ꦠꦸꦠ꧀ꦥꦚ꧀ꦗꦁ꧈ ꦥꦸꦤꦶꦏꦲꦮꦺꦴꦤ꧀ꦭꦩꦠ꧀ꦠꦺ꧈ ꦱꦼꦏꦼꦭꦤ꧀ꦱꦿꦶꦁꦠꦸꦏꦂꦫꦤ꧀‍꧈ ꦲꦫꦤ꧀ꦝꦣꦁꦱꦸꦁꦏꦮ꧈ ꦥꦤ꧀ꦲꦢꦺꦴꦃꦫꦶꦗꦼꦏꦶꦤꦶꦥꦸꦤ꧀‍꧈ ꦪꦺꦤ꧀ꦧꦸꦟ꧀ꦝꦼꦭ꧀ꦤꦺꦴꦫꦔꦥꦲ꧈ Aja sira ngingu kucing, lurik ireng buntut panjang, punika awon lamaté, sekelan sring tukaran, aran dhadhang sungkawa, pan adoh rijeki nipun, yèn bundhel nora ngapa Kucing dengan bulu lurik hitam berekor panjang jangan dipelihara.

Kucing itu disebut dhadhang sungkawa. Kehidupanmu akan sering bertengkar dan jauh dari rizki. Apabila ekornya buṇḍel, maka tidak masalah. Berikut adalah cuplikan dari Kakawin Rāmāyaṇa yang dicetak pada tahun 1900 dengan bahasa dan ejaan Kawi.

[70] [71] Pada Bahasa Jawa Bahasa Indonesia Aksara Jawa Latin XVI 31 ꧅ꦗꦲ꧀ꦤꦷꦪꦴꦲ꧀ꦤꦶꦁꦠꦭꦒꦏꦢꦶꦭꦔꦶꦠ꧀꧈ ꦩꦩ꧀ꦧꦁꦠꦁꦥꦴꦱ꧀ꦮꦸꦭꦤꦸꦥꦩꦤꦶꦏꦴ꧈ ꦮꦶꦤ꧀ꦠꦁꦠꦸꦭꦾꦁꦏꦸꦱꦸꦩꦪꦱꦸꦩꦮꦸꦫ꧀꧈ ꦭꦸꦩꦿꦴꦥ꧀ꦮꦺꦏꦁꦱꦫꦶꦏꦢꦶꦗꦭꦢ꧉ Jahnī yāhning talaga kadi langit, mambang tang pās wulan upamanikā, wintang tulya ng kusuma ya sumawur, lumrā pwekang sari kadi jalada. Air jernih telaga bagaikan langit, seekor kura-kura mengambang di dalamnya bagai bulan, bintangnya adalah bunga-bunga yang bertebaran, menyebarkan sarinya bagaikan awan.

Perbandingan dengan aksara Bali Kerabat paling dekat dari aksara Jawa adalah aksara Bali. Sebagai keturunan langsung aksara Kawi, aksara Jawa dan Bali masih memiliki banyak kesamaan dari segi struktur dasar masing-masing huruf. Salah satu perbedaan mencolok antara aksara Jawa dan Bali adalah sistem tata tulis; Tata tulis Bali cenderung bersifat konservatif dan mempertahankan banyak aspek dari ejaan Kawi yang tidak lagi digunakan dalam aksara Jawa.

Sebagai contoh, kata desa dalam aksara Jawa kini ditulis ꦢꦺꦱ. Dalam tata tulis Bali kontemporer, ejaan ini dianggap sebagai ejaan kasar atau kurang tepat, karena desa merupakan kosakata serapan Sanskerta yang seharusnya dieja sesuai pengucapan Sanskerta aslinya: deśa ꦢꦺꦯ, menggunakan aksara sa murda alih-alih aksara sa nglegena.

Seperti bahasa Jawa, bahasa Bali juga tidak lagi membedakan pelafalan seluruh aksara dalam deret Sanskerta-Kawi, termasuk antara sa nglegena dan sa murda, tetapi ejaan asli selalu dipertahankan kapan pun memungkinkan.

Salah satu alasannya agar sejumlah kata serapan dari bahasa Sanskerta-Kawi yang bunyinya sama dalam bahasa Bali dapat tetap dibedakan dalam tulisan, misal antara kata pada (ꦥꦢ, tanah/bumi), pāda (ꦥꦴꦢ, kaki), dan padha (ꦥꦣ, sama), serta antara kata asta (ꦲꦱ꧀ꦠ, adalah), astha (ꦲꦱ꧀ꦡ, tulang), dan aṣṭa (ꦄꦰ꧀ꦛ, delapan). [72] [73] [74] Perbandingan bentuk kedua aksara tersebut dapat dilihat sebagaimana berikut: Aksara Dasar (konsonan) ka kha ga gha nga ca cha ja jha nya ṭa ṭha ḍa ḍha ṇa ta tha da dha na pa pha ba bha ma ya ra la wa śa ṣa sa ha/a Jawa ꦏ ꦑ ꦒ ꦓ ꦔ ꦕ ꦖ ꦗ ꦙ ꦚ ꦛ ꦜ ꦝ ꦞ ꦟ ꦠ ꦡ ꦢ ꦣ ꦤ ꦥ ꦦ ꦧ ꦨ ꦩ ꦪ ꦫ ꦭ ꦮ ꦯ ꦰ ꦱ ꦲ Bali ᬓ ᬔ ᬕ ᬖ ᬗ ᬘ ᬙ ᬚ ᬛ ᬜ ᬝ ᬞ ᬟ ᬠ ᬡ ᬢ ᬣ ᬤ ᬥ ᬦ ᬧ ᬨ ᬩ ᬪ ᬫ ᬬ ᬭ ᬮ ᬯ ᬰ ᬱ ᬲ ᬳ Aksara Dasar (vokal) a ā i ī u ū ṛ ṝ ḷ ḹ é [1] ai [2] o au [3] Jawa ꦄ ꦄꦴ ꦆ ꦇ ꦈ ꦈꦴ ꦉ ꦉꦴ ꦊ ꦋ ꦌ ꦍ ꦎ ꦎꦴ Bali ᬅ ᬆ ᬇ ᬈ ᬉ ᬊ ᬋ ᬌ ᬍ ᬎ ᬏ ᬐ ᬑ ᬒ Catatan ^1/e/ sebagaimana e dalam kata "enak" ^2 diftong /aj/ sebagaimana ai dalam kata "sungai" ^3 diftong /aw/ sebagaimana au dalam kata "pantau" Diakritik -a -ā -i -ī -u -ū -ṛ -ṝ -é [1] -ai [2] -o -au [3] -e [4] -eu [5] -m -ng -r -h pemati Jawa - ꦴ ꦶ ꦷ ꦸ ꦹ ꦽ ꦽꦴ ꦺ ꦻ ꦺꦴ ꦻꦴ ꦼ ꦼꦴ ꦀ ꦁ ꦂ ꦃ ꧀ Bali - ᬵ ᬶ ᬷ ᬸ ᬹ ᬺ ᬻ ᬾ ᬿ ᭀ ᭁ ᭂ ᭃ ᬁ ᬂ ᬃ ᬄ ᭄ ka kā ki kī ku kū kṛ kṝ ké kai ko kau ke keu kam kang kar kah k Jawa ꦏ ꦏꦴ ꦏꦶ ꦏꦷ ꦏꦸ ꦏꦹ ꦏꦽ ꦏꦽꦴ ꦏꦺ ꦏꦻ ꦏꦺꦴ ꦭꦻꦴ ꦏꦼ ꦏꦼꦴ ꦏꦀ ꦏꦁ ꦏꦂ ꦏꦃ ꦏ꧀ Bali ᬓ ᬓᬵ ᬓᬶ ᬓᬷ ᬓᬸ ᬓᬹ ᬓᬺ ᬓᬻ ᬓᬾ ᬓᬿ ᬓᭀ ᬓᭁ ᬓᭂ ᬓᭃ ᬓᬁ ᬓᬂ ᬓᬃ ᬓᬄ ᬓ᭄ Catatan ^1 /e/ sebagaimana e dalam kata "enak" ^2 diftong /aj/ sebagaimana ai dalam kata "sungai" ^3 diftong /aw/ sebagaimana au dalam kata "pantau" ^4 /ə/ sebagaimana e dalam kata "empat" ^5 /ɨ/ sebagaimana eu dalam kata bahasa Sunda "peyeum".

Dalam alih aksara bahasa Kawi, diromanisasi menjadi ö [38] Angka 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jawa ꧐ ꧑ ꧒ ꧓ ꧔ ꧕ ꧖ ꧗ ꧘ ꧙ Bali ᭐ ᭑ ᭒ ᭓ ᭔ ᭕ ᭖ ᭗ ᭘ ᭙ Tanda Baca Jawa pada lingsa pada lungsi pada pangkat pada adeg-adeg pada luhur ꧈ ꧉ ꧇ ꧋ ꧅ Bali carik siki carik parérén carik pamungkah panti pamada ᭞ ᭟ ᭝ ᭚ ᭛ Contoh Kalimat (bahasa Kawi) Jawa ꧅ꦗꦲ꧀ꦤꦷꦪꦴꦲ꧀ꦤꦶꦁꦠꦭꦒꦏꦢꦶꦭꦔꦶꦠ꧀꧈ ꦩꦩ꧀ꦧꦁꦠꦁꦥꦴꦱ꧀ꦮꦸꦭꦤꦸꦥꦩꦤꦶꦏꦴ꧈ ꦮꦶꦤ꧀ꦠꦁꦠꦸꦭꦾꦁꦏꦸꦱꦸꦩꦪꦱꦸꦩꦮꦸꦫ꧀꧈ ꦭꦸꦩꦿꦴꦥ꧀ꦮꦺꦏꦁꦱꦫꦶꦏꦢꦶꦗꦭꦢ꧉ Bali ᭛ᬚᬳ᭄ᬦᬷᬬᬵᬳ᭄ᬦᬶᬂᬢᬮᬕᬓᬤᬶᬮᬗᬶᬢ᭄᭞ ᬫᬫ᭄ᬩᬂᬢᬂᬧᬵᬲ᭄ᬯᬸᬮᬦᬸᬧᬫᬦᬶᬓᬵ᭞ ᬯᬶᬦ᭄ᬢᬂᬢᬸᬮ᭄ᬬᬂᬓᬸᬲᬸᬫᬬᬲᬸᬫᬯᬳᬸᬭ᭄᭞ ᬮᬸᬫ᭄ᬭᬧ᭄ᬯᬾᬓᬂᬲᬭᬶᬓᬤᬶᬚᬮᬤ᭟ Jahnī yāhning talaga kadi langit, mambang tang pās wulan upamanikā, wintang tulya ng kusuma ya sumawur, lumrā pwékang sari kadi jalada.

(Kakawin Rāmāyaṇa XVI.31) Penggunaan dalam bahasa Madura Aksara Jawa di dalam bahasa Madura disebut Carakan Madhurâ atau Carakan Jhâbân (aksara yang berasal dari Jawa). Apabila dalam penggunaan bahasa Jawa tiap aksara dapat merepresentasikan suara /a/ atau /ɔ/, maka dalam bahasa Madura mewakili suara /a/ atau /ɤ/. Bentuk carakan Madhurâ sendiri terdiri dari aksara ghâjâng ( aksara nglegena), aksara rajâ atau murdâ ( aksara murda), aksara sowara atau swara ( aksara swara), dan aksara rèka'an ( aksara rékan).

Terdapat pula pangangghuy ( sandhangan) yang terdiri dari pangangguy aksara ( sandhangan swara), pangangghuy panyèghek ( sandhangan panyigeging wanda), dan pangangghuy panambâ ( sandhangan wyanjana). [75] [76] [77] [78] [79] Perbandingan dengan bahasa Jawa Secara garis besar, tidak terdapat perbedaan yang signifikan dengan bahasa Jawa.

Meski demikian, dalam bahasa Madura tidak terdapat perbedaan penggunaan konsonan aspirat dan tanaspirat. [80] Aksara Ghâjâng ( Aksara Nglegena) ha na ca ra ka da dha ta sa wa la pa ḍa ḍha ja jha ya nya ma ga gha ba bha tha nga Jawa ꦲ ꦤ ꦕ ꦫ ꦏ ꦢ ꦣ ꦠ ꦱ ꦮ ꦭ ꦥ ꦝ ꦞ ꦗ ꦙ ꦪ ꦚ ꦩ ꦒ ꦓ ꦧ ꦨ ꦛ ꦔ ha na ca ra ka da/dha ta sa wa la pa ḍa/ḍha ja/jha ya nya ma ga/gha ba/bha tha nga Madura ꦲ ꦤ ꦕ ꦫ ꦏ ꦢ ꦠ ꦱ ꦮ ꦛ ꦥ ꦝ ꦗ ꦪ ꦚ ꦩ ꦒ ꦧ ꦛ ꦔ Aksara rèka'an dalam bahasa Madura yang diajarkan di sekolah-sekolah hanya ada lima buah, sedangkan dalam Madoereesche Spraakkunst dan Sorat tjarakan Madurah berturut-turut terdapat tujuh dan sembilan buah: [81] [82] Aksara Rèka'an ( Aksara Rékan) ha kha dza fa/va za gha 'a ta sya la Aksara Jawa ꦲ꦳ ꦏ꦳ ꦢ꦳ ꦥ꦳ ꦗ꦳ ꦒ꦳ ꦔ꦳ ꦠ꦳ ꦯ꦳ ꦭ꦳ Abjad Arab ح خ ذ ف ز ع غ ط ش ل Bahasa Belanda h ch f/v g Contoh ꦲ꦳ꦺꦴꦏꦺꦴꦩ꧀ ꦲꦏ꦳ꦺꦫꦠ꧀ ꦢ꦳ꦶꦏ꧀ꦏꦺꦂ ꦭꦥ꦳ꦭ꧀ ꦗ꦳ꦏꦠ꧀ ꦒ꦳ꦲꦶꦧ꧀ ꦔ꦳ꦏꦺꦫꦠ꧀ ꦠ꦳ꦫꦺꦏ꧀ ꦯ꦳ꦫꦠ꧀ ꦭ꦳ꦲꦶꦧ꧀ Transliterasi hokom akhèrat dzikkèr lafal zâkat ghaib 'akèrat tarèk syarat laib Perbedaan lainnya yaitu penggunaan wignyan yang dalam bahasa Jawa berfungsi sebagai akhiran -h, sedangkan dalam bahasa Madura menjadi akhiran - ' seperti pada tabel berikut: [75] [83] Pangangghuy ( Sandhangan) Pangangghuy aksara Pangangghuy panyèghek Pangangghuy panambâ i è o u e -ng -r -' pemati -r- -re -y- -l- -w- ꦶ ꦺ ꦺꦴ ꦸ ꦼ ꦁ ꦂ ꦃ ꧀ ꦿ ꦽ ꦾ ꧀ꦭ ꧀ꦮ cèthak lèngè lèngè-longo soko petpet cekcek lajâr bisat papatèn pèḍer perper sokomaljâ la rangkep wa rangkep pi pè po pu pe pang par pa' p pra pre pya pla pwa ꦥꦶ ꦥꦺ ꦥꦺꦴ ꦥꦸ ꦥꦼ ꦥꦁ ꦥꦂ ꦥꦃ ꦥ꧀ ꦥꦿ ꦥꦿ ꦥꦾ ꦥ꧀ꦭ ꦥ꧀ꦮ Contoh penggunaan Berikut penggunaan carakan dalam Bab oreng megha djhoeko e'tana Djhaba sareng Madhoera (Bab orang menangkap ikan di Tanah Jawa dan Madura) disertai dengan ejaan bahasa Madura modern.

[84] Bahasa Madura Bahasa Indonesia Aksara Jawa Latin ꦥꦫꦲꦺꦴꦥꦩꦺꦒꦃꦲꦤ꧀ꦤꦺꦥꦺꦴꦤ꧀ꦗꦸꦏꦺꦴꦃꦏꦺꦔꦺꦁꦧꦶꦢꦃꦲꦒꦶꦢꦢ꧀ꦢꦶꦝꦸꦧꦂꦤ꧇ Parao pamèghâ'ânnèpon jhuko' kèngèng bhidhâ'aghi dhâddhi ḍu bârna: Perahu penangkap ikan dapat dibedakan menjadi dua macam: ꧑꧇ ꦥꦫꦲꦺꦴ꧈ ꦱꦺꦲꦺꦧꦝꦶꦝꦫꦶꦏꦗꦸꦧꦸꦁꦏꦺꦴꦭ꧀ꦱꦺꦲꦺꦭꦺꦴꦧꦔꦺ꧉ ꦧꦝꦱꦺꦲꦺꦱꦺꦩ꧀ꦧꦸꦏꦗꦸꦥꦺꦴꦭꦺꦲꦺꦥꦺꦁꦒꦶꦂ꧈ ꦧꦝꦱꦺꦧꦸꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀꧈ 1. Parao, sè èbhâḍhi ḍâri kaju bungkol sè èlobângè. Bâḍâ sè èsèmbu polè è pèngghir, bâḍâ sè bhunten 1.

Perahu, yang dibuat dari kayu bulat yang dilubangi. Ada yang ditambah lagi di pinggir, ada yang tidak ꧒꧇ ꦥꦫꦲꦺꦴꦱꦺꦲꦺꦧꦝꦶꦝꦫꦶꦥꦥꦤ꧀ꦫꦧ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦧꦤ꧀ꦱꦢꦗ꧉ 2. Parao sè èbhâḍhi papan rabten bân sadhâjâ. 2. Perahu yang dibuat dari papan dan seluruhnya. Blok Unicode Artikel utama: Javanese (blok Unicode) Aksara Jawa resmi dimasukkan ke dalam Unicode sejak Oktober 2009 dengan dirilisnya Unicode versi 5.2.

Blok Unicode aksara Jawa terletak pada kode U+A980–U+A9DF. Terdapat 91 kode yang mencakup 53 huruf, 19 tanda baca, 10 angka, dan 9 vokal. Sel abu-abu menunjukkan titik kode yang belum terpakai. Javanese [1] [2] Bagan kode resmi Unicode Consortium (PDF) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 A B C D E F U+A98x ꦀ ꦁ ꦂ ꦃ ꦄ ꦅ ꦆ ꦇ ꦈ ꦉ ꦊ ꦋ ꦌ ꦍ ꦎ ꦏ U+A99x ꦐ ꦑ ꦒ ꦓ ꦔ ꦕ ꦖ ꦗ ꦘ ꦙ ꦚ ꦛ ꦜ ꦝ ꦞ ꦟ U+A9Ax ꦠ ꦡ ꦢ ꦣ ꦤ ꦥ ꦦ ꦧ ꦨ ꦩ ꦪ ꦫ ꦬ ꦭ ꦮ ꦯ U+A9Bx ꦰ ꦱ ꦲ ꦳ ꦴ ꦵ ꦶ ꦷ ꦸ ꦹ ꦺ ꦻ ꦼ ꦽ ꦾ ꦿ U+A9Cx ꧀ ꧁ ꧂ ꧃ ꧄ ꧅ ꧆ ꧇ ꧈ ꧉ ꧊ ꧋ ꧌ ꧍ ꧏ U+A9Dx ꧐ ꧑ ꧒ ꧓ ꧔ ꧕ ꧖ ꧗ ꧘ ꧙ ꧞ ꧟ Catatan 1.

^Per Unicode versi 14.0 2. ^Abu-abu berarti titik kode kosong Lihat pula Tabel alternatif Unicode aksara Jawa yang diurutkan berdasarkan hanacaraka Galeri • Javanese script was used over the entire period of Modern Javanese literature, and throughout the island, at a time when there was no easy means of communication between remote areas and no impulse towards standardization.

As a result, there is a huge variety in historical and local styles of Javanese writing throughout the ages. The ability of a person to read a bark-paper manuscript from the town of Demak, say, written around 1700, is no guarantee that that person would also be able to make sense of a palm-leaf manuscript written at the same time only 50 miles away on the slopes of mount Merapi.

The great differences between regional styles almost makes it seem that "Javanese script" is in fact a family of script, and not just one. [10] Aksara Jawa digunakan sepanjang periode sastra Jawa modern, dan digunakan di seantero pulau Jawa, di masa ketika komunikasi antarwilayah sering kali sulit dan tidak terdapat dorongan untuk menstandarisasi aksara Jawa.

Akibatnya, aksara Jawa memiliki berbagai langgam historis dan kedaerahan yang digunakan silih-berganti seiring waktu. Kemampuan seseorang untuk membaca naskah dluwang dari Demak yang ditulis pada tahun 1700-an, semisal, tidak menjadi jaminan orang yang sama dapat memahami aksara pada naskah lontar dari kaki gunung Merapi (sekitar 80 km dari Demak) yang ditulis pada periode waktu yang sama.

Perbedaan yang sangat besar antara langgam-langgam daerah memberikan kesan bahwa "aksara Jawa" adalah sekumpulan aksara, alih-alih sebuah aksara tunggal.

—Behrend (1996:162) • ^ VOC berupaya untuk mendirikan pabrik kertasnya sendiri di Jawa yang beroperasi antara tahun 1665–1681. Namun pabrik tersebut tidak mampu memenuhi semua permintaan kertas di Jawa, sehingga suplai kertas terus mengandalkan pengiriman dari Eropa. [16] • ^ Bagi kalangan Eropa abad ke-19, tulisan tangan Surakarta disetujui sebagai langgam aksara Jawa yang paling indah sehingga tokoh seperti J.F.C. Gericke menyarankan agar langgam Surakarta dijadikan panutan untuk membuat rancangan aksara Jawa yang layak.

[22] • ^ Sebagaimana dituturkan oleh direktur Balai Poestaka D.A. Rinkes pada tahun 1920 dalam kata sambutan katalog buku-buku Jawa koleksi Bataviaasch Genootschap: Bovendien is voor den druk het Latijnsche lettertype gekozen, hetgeen de zaak voor Europeesche gebruikers aanzienlijk vergemakkelijkt, voor Inlandsche belangstellended geenszins een bezwaar oplevert, aangezien de Javaansche taal, evenals bereids voor het Maleisch en het Soendaneesch gebleken is, zeker niet minder duidelijk in Latijnsch type dan in het Javaansche schrift is weer te geven.

Daarbij zijn de kosten daarmede ongeveer ⅓ van druk in Javaansch karakter, aangezien drukwerk in dat type, dat bovendien niet ruim voorhanden is, 1½ à 2 x kostbaarder (en tijdroovender) uitkomt dan in Latijnsch type, mede doordat het niet op de zetmachine kan worden gezet, en een pagina Javaansch type sleechts ongeveer de helft aan woorden bevat van een pagina van denzelfden tekst in Latijnsch karakter.

[26] Selain itu, huruf Latin dipilih untuk pencetakan [buku berbahasa Jawa], hal ini tidak hanya memudahkan bagi pembaca Eropa, tetapi juga tidak dikeluhkan oleh pembaca Pribumi, karena bahasa Jawa, sebagaimana bahasa Melayu dan bahasa Sunda, terbukti tetap dapat dipahami dengan baik ketika ditulis menggunakan huruf Latin dan tidak kalah jelas dibanding penulisan yang menggunakan aksara Jawa.

Dengan begitu, biaya dapat ditekan hingga ⅓ dari biaya cetak aksara Jawa, mengingat bahwa mencetak dengan aksara Jawa, yang peralatannya tidak selalu tersedia, bisa jadi 1½ hingga 2 kali lipat memakan lebih banyak biaya (dan waktu) dibanding mencetak dengan huruf Latin, dan mengingat pula aksara Jawa tidak dapat dicetak menggunakan mesin setting, dan selembar teks beraksara Jawa hanya dapat memuat sekitar setengah jumlah kata dibanding lembar teks sama yang telah dialihaksarakan menjadi huruf Latin.

—Poerwa Soewignja dan Wirawangsa (1920:4), disadur oleh Molen (1993:83) • ^ Sebagai perbandingan, pemerintahan Jepang yang menduduki Kamboja pada periode waktu yang sama justru menghapus upaya penggunaan huruf Latin yang dimulai pemerintahan kolonial Kamboja Prancis dan mengembalikan penggunaan aksara Khmer sebagai aksara resmi Kamboja.

[29] • ^ Contoh kata dengan aksara mahaprana yang digunakan dalam penulisan Kawi misal aṣṭa (ꦄꦰ꧀ꦛ, delapan) [40] dan nirjhara (ꦤꦶꦂꦙꦫ, air terjun). [41] • ^ Setara dengan kata "alfabet" yang berasal dari nama dua huruf pertama dalam alfabet Yunani (A-B, alfa-beta) serta kata "abjad" yang berasal dari empat huruf pertama dalam abjad Arab (ا-ب-ج-د, alif-ba-jim-dal).

Rujukan • ^ Poerwadarminta 1939, hlm. 627. • ^ Poerwadarminta 1939, hlm. 68. • ^ Behrend 1996, hlm. 161. • ^ a b Everson 2008, hlm. 1.

• ^ Tarmid, Muhammad. "Silabus bahasa Indramayu Sekolah Dasar". Indramayu: UPTD Pendidikan Kecamatan Kroya. • ^ Widiarti, Anastasia Rita; Pulungan, Reza (28 April 2020). "A method for solving scriptio continua in Javanese manuscript transliteration".

Heliyon (dalam bahasa Inggris). 6 (4): e03827. doi: 10.1016/j.heliyon.2020.e03827. ISSN 2405-8440. • ^ Holle, K F (1882). "Tabel van oud-en nieuw-Indische alphabetten" (PDF). Bijdrage tot de palaeographie van Nederlandsch-Indie. Batavia: W. Bruining: xi, 9-35. OCLC 220137657. • ^ Casparis, J G de (1975). Indonesian Palaeography: A History of Writing in Indonesia from the Beginnings to C. A.D. 1500. 4. Brill. ISBN 9004041729. • ^ a b Behrend 1996, hlm.

161-162. • ^ a b Behrend 1996, hlm. 162. • ^ Moriyama 1996, hlm. 166. • ^ Moriyama 1996, hlm. 167. • ^ a b Behrend 1996, hlm. 167-169. • ^ Hinzler, H I R (1993). "Balinese palm-leaf manuscripts". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 149 (3). doi: 10.1163/22134379-90003116. • ^ a b c Behrend 1996, hlm. 165-167. • ^ a b c Teygeler, R (2002). {/INSERTKEYS}

aksara jawa a i u e o

"The Myth of Javanese Paper". Dalam R Seitzinger. Timeless Paper (dalam bahasa Inggris). Rijswijk: Gentenaar & Torley Publishers. ISBN 9073803039. • ^ a b Molen 2000, hlm. 154-158. • ^ Behrend 1996, hlm. 172. • ^ Behrend 1996, hlm. 172-175. • ^ Molen 2000, hlm. 137. • ^ Molen 2000, hlm. 136-140. • ^ Molen 2000, hlm. 149-154. • ^ Astuti, Kabul (Oktober 2013). Perkembangan Majalah Berbahasa Jawa dalam Pelestarian Sastra Jawa. International Seminar On Austronesian - Non Austronesian Languages and Literature.

Bali. • ^ Pick, Albert (1994). Standard Catalog of World Paper Money: General Issues. Colin R. Bruce II and Neil Shafer (editors) (edisi ke-7th). Krause Publications. ISBN 0-87341-207-9. • ^ "Mesin Ketik Huruf Jawa".

Museum Penerangan. Diakses tanggal 8 November 2021. • ^ Molen 1993, hlm. 83. • ^ Robson 2011, hlm. 25. • ^ Hadiwidjana, R. D. S.

(1967). Tata-sastra: ngewrat rembag 4 bab: titi-wara tuwin aksara, titi-tembung, titi-ukara, titi-basa. U.P. Indonesia. hlm. 9. • ^ Chandler, David P (1993).

A History of Cambodia. Silkworm books. ISBN 9747047098. • ^ Lowenberg, Peter (2000). "Writing and Literacy in Indonesia". Studies in the Linguistic Sciences. 30 (1): 135–148. • ^ Robson 2011, hlm. 27-28. • ^ a b Wahab, Abdul (Oktober 2003). Masa Depan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah (PDF). Kongres Bahasa Indonesia Aksara jawa a i u e o.

Kelompok B, Ruang Rote. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Indonesia. hlm. 8-9. • ^ Florida, Nancy K (1995). Writing the Past, Inscribing the Future: History as Prophesy in Colonial Java.

Duke University Press. hlm. 37. ISBN 9780822316220. • ^ Mustika, I Ketut Sawitra (12 Oktober 2017). Atmasari, Nina, ed. "Alumni Sastra Jawa UGM Bantu Koreksi Tulisan Jawa pada Papan Nama Jalan di Jogja". Yogyakarta: Solo Pos. Diakses tanggal 8 Mei 2020. • ^ Eswe, Hana (13 Oktober 2019). "Penunjuk Jalan Beraksara Jawa Salah Tulis Dikritik Penggiat Budaya". Grobogan: Suara Baru. Diakses tanggal 8 Mei 2020. • ^ a b Siti Fatimah (27 Februari 2020).

"Bangkitkan Kongres Bahasa Jawa Setelah Mati Suri". Bantul: Radar Jogja. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-06-19. Diakses tanggal 25 Mei 2020. • ^ a b c Everson 2008, hlm. 1-2. • ^ a b c d Poerwadarminta, W J S (1930). Serat Mardi Kawi (PDF). 1. Solo: De Bliksem. hlm. 9-12. • ^ a b Darusuprapta 2002, hlm. 11-13. • ^ Zoetmulder, Petrus Josephus (1982). Robson, Stuart Owen, ed. Old Javanese-English Dictionary.

Nijhoff. hlm. 143, entri 4. ISBN 9024761786. • ^ Zoetmulder, Petrus Josephus (1982). Robson, Stuart Owen, ed. Old Javanese-English Dictionary. Nijhoff. hlm. 1191, entri 11. ISBN 9024761786. • ^ a b c Woodard, Roger D (2008). The Ancient Languages of Asia and the Americas. Cambridge University Press. hlm. 9. ISBN 0521684943. • ^ a b Everson 2008, hlm. 18. • ^ Darusuprapta 2002, hlm. 13-15. • ^ Poerwadarminta 1930, hlm.

11. • ^ Darusuprapta 2002, hlm. 20. • ^ Darusuprapta 2002, hlm. 16-17. • ^ Padmasusastra (1917). Layang Carakan. hlm. 16. • ^ Dwijasewaya (1910). Paramasastra Jawa. hlm. 21. • ^ Hollander, J J de (1886). Handleiding bij de beoefening der Javaansche Taal en Letterkunde. Leiden: Brill. hlm. 3. • ^ Darusuprapta 2002, hlm. 19-24. • ^ Darusuprapta 2002, hlm. 24-28.

• ^ Darusuprapta 2002, hlm. 29-32. • ^ Everson 2008, hlm. 2. • ^ Everson 2008, hlm. 4. • ^ Darusuprapta 2002, hlm. 44-45. • ^ a b c Everson 2008, hlm. 4-5. • ^ Everson 2008, hlm. 5. • ^ Behrend 1996, hlm. 188. • ^ a b Behrend 1996, hlm.

aksara jawa a i u e o

190. • ^ Behrend 1996, hlm. 189-190. • ^ Saktimulya, Sri Ratna (2016). Naskah-naskah Skriptorium Pakualaman. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 602424228X. • ^ Robson 2011, hlm. 13-14. • ^ Rochkyatmo 1996, hlm.

8-11. • ^ a b Everson 2008, hlm. 5-6. • ^ Ricci, Ronit (Desember 2015). "Reading a History of Writing: heritage, religion and script change in Java". Itinerario. Leiden. 39 (03): 424. doi: 10.1017/S0165115315000868. • ^ Rochkyatmo 1996, hlm. 35-41. • ^ Rochkyatmo 1996, hlm. 51-58. • ^ Serat Katoerangganing ning Koetjing ( ꦱꦼꦫꦠ꧀ꦏꦠꦸꦫꦁꦒꦤ꧀ꦤꦶꦁꦏꦸꦠ꧀ꦕꦶꦁ), diterbitkan oleh Percetakan GCT Van Dorp & Co di Semarang, tahun 1871.

Pindaian Google Books dari koleksi Perpustakaan Nasional Belanda, No 859 B33. • ^ Kern, Hendrik (1900). Rāmāyaṇa Kakawin. Oudjavaansch heldendicht. ’s Gravenhage: Martinus Nijhoff.

• ^ Santoso, Soewito (1980). Rāmāyaṇa Kakawin. II. New Delhi: International Academy of Indian Culture. hlm. 398. • ^ Tinggen, I Nengah (1993). Pedoman Perubahan Ejaan Bahasa Bali dengan Huruf Latin dan Huruf Bali. Singaraja: UD. Rikha. hlm. 7. • ^ Medra, I Nengah (1998). Pedoman Pasang Aksara Bali. Denpasar: Dinas Kebudayaan Pemerintah Daerah Tingkat I Bali. hlm. 44. • ^ Sutjaja, I Gusti Made (2006).

Kamus Inggris, Bali, Indonesia. Lotus Widya Suari bekerjasama dengan Penerbit Univ. Udayana. ISBN 9798286855. • ^ a b Hamzah, Bambang Hartono; Sayunani, Isya; Gani, Abdul; Dradjid, H.M. (2014). Ghazali, A. Syukur; Poerno, Heru Asri, ed.

Sekkar Anom I (dalam bahasa Madura). Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. hlm. 148. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan); Parameter -first4= tanpa -last4= di Authors list ( bantuan); Parameter -first6= tanpa -last6= di Authors list ( bantuan) • ^ Sukardi, A. (2005).

Kasustraan Madura Kembang Sataman (dalam bahasa Madura) (edisi ke-2). Jember: Dinas Pendidikan Kabupaten Jember. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Kiliaan 1897, hlm. 89. • ^ Wedhawati (2001). Tata Bahasa Jawa Mutakhir. Jakarta: Pusat Bahasa. hlm. 39–40. ISBN 9796851415. • ^ Davies, William D. (2010). A Grammar of Madurese (dalam bahasa Inggris).

Berlin: Walter de Gruyter. hlm. 53. ISBN 9783110224443. • ^ Kiliaan 1897. • ^ Hamzah, Bambang Hartono; Sayunani, Isya; Gani, Abdul; Dradjid, H.M. (2015). Sekkar Anom 2 (dalam bahasa Madura). Surabaya: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. hlm. 155. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan); Parameter -first4= tanpa -last4= di Authors list ( bantuan); Parameter -first5= tanpa -last5= di Authors list ( bantuan) • ^ Kiliaan 1897, hlm.

97. • ^ Ashadi, Moh. Makhfud; al Farouk, Ghazi (1992). Kosa Kata Basa Madura (dalam bahasa Madura). Surabaya: Sarana Ilmu. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Koesoemo, R.

Sosro Danoe; M. Partosoegondo (1922). Bab oreng megha djhoeko e'tana Djhaba sareng Madhoera (dalam bahasa Madura).

Balai Poestaka. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Daftar pustaka • Poerwadarminta, W.J.S (1939). Baoesastra Djawa (dalam bahasa Jawa).

Batavia: J.B. Wolters. ISBN 0834803496. • Arps, B (1999). "How a Javanese Gentleman put his Library in Order". Bijdragen tot de Taal- Land- en Volkenkunde. 155 (3): 416-469. • Behrend, T E (1993). "Manuscript Production in Nineteenth Century Java. Codicology and the Writing of Javanese Literary History". Bijdragen tot de Taal- Land- en Volkenkunde. 149 (3): 407–437. doi: 10.1163/22134379-90003115.

• Behrend, T E (1996). "Textual Gateways: the Javanese Manuscript Tradition". Dalam Ann Kumar; John H. McGlynn. Illuminations: The Writing Traditions of Indonesia (dalam bahasa Inggris). Jakarta: Lontar Foundation. ISBN 0834803496. • Everson, Michael (6 Maret 2008). "Proposal for encoding the Javanese script in the UCS" (PDF). ISO/IEC JTC1/SC2/WG2. Unicode (N3319R3). • Molen, Willem van der (1993). Javaans Schrift. Vakgroep Talen en Culturen van Zuidoost-Azië en Oceanië, Rijksuniversiteit te Leiden (dalam bahasa Belanda).

Semaian 8. Leiden: Rijksuniversiteit te Leiden. ISBN 90 73084 09 1. • Molen, Willem van der (2000). "Hoe Heft Zulks Kunnen Geschieden? Het Begin van de Javaanse Typografie". Dalam Willem van der Molen. Woord en Schrift in de Oost. De betekenis van zending en missie voor de studie van taal en literatuur in Zuidoost-Azie (dalam bahasa Belanda). Semaian 19. Leiden: Vakgroep Talen en Culturen van Zuidoost-Azië en Oceanië, Rijksuniversiteit te Leiden. hlm. 132-162. ISBN 9074956238. • Moriyama, Mikihiro (Juni 1996).

aksara jawa a i u e o the 'Language' and the 'Literature' of West Java: An Introduction to the Formation of Sundanese Writing in 19th Century West Java" (PDF). Southeast Asian Studies. 34 (1): 151–183. • Robson, Stuart Owen (2011). "Javanese script as cultural artifact: Historical background".

RIMA: Review of Indonesian and Malaysian Affairs. 45 (1-2): 9-36. • Rochkyatmo, Amir (1 Januari 1996). Pelestarian dan Modernisasi Aksara Daerah: Perkembangan Metode dan Teknis Menulis Aksara Jawa (PDF). Direktorat Jenderal Kebudayaan. Pedoman penulisan • Koemisi Kasoesastran ing Sriwedari, Soerakarta (1926).

Wawaton Panjeratipoen Temboeng Djawi mawi Sastra Djawi dalasan Angka. Kongres Sriwedari. Weltevreden: Landsdrukkerij. Dikenal juga sebagai Wewaton Sriwedari atau Paugeran Sriwedari. Terjemahan bahasa Indonesia dapat dibaca di sini • Darusuprapta (2002).

Pedoman Penulisan Aksara Jawa. Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusantara bekerja sama dengan Pemerintahan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Daerah Tingkat I Jawa Tengah, dan Daerah Tingkat I Jawa Timur. ISBN 979-8628-00-4. Bahasa Sanskerta dan Kawi • Poerwadarminta, W J S (1930).

Serat Mardi Kawi. 1. Solo: De Bliksem. • Poerwadarminta, W J S (1931). Aksara jawa a i u e o Mardi Kawi. 2. Solo: De Bliksem. • Poerwadarminta, W J S (1931).

Serat Mardi Kawi. 3. Solo: De Bliksem. Bahasa Sunda • Holle, K F (1862). Soendasch spel- en lees boek, met Soendasche letter. Batavia: Landsdrukkerij. Bahasa Madura • Kiliaan, Hendrik Nicolaas (1897). Madoereesche spraakkunst. Batavia: Landsdrukkerij. • Sorat tjarakan Madurah. Batavia. 1866. Pranala luar Wikimedia Commons memiliki media mengenai Javanese script. Wikimedia Commons memiliki media mengenai Naskah Aksara Jawa. Wikimedia Commons memiliki media mengenai Publikasi Cetak Aksara jawa a i u e o Jawa.

Koleksi digital • Koleksi naskah British Library • Koleksi naskah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia • Koleksi naskah Yayasan Sastra Lestari • Koleksi acuan Widyapustaka • Southeast Asia Digital Library kompilasi Northern Illinois University Naskah digital • Babad Tanah Jawi (1862) koleksi Perpustakaan Kongres AS no.

DS646.27 • Catatan utang pada selempir lontar (1708) koleksi British Library no. Sloane MS 1403E • Kamus bahasa Melayu-Jawa-Madura dari awal abad ke-19, koleksi British Library no. MSS Malay A 3 • Kumpulan dokumen Keraton Yogyakarta (1786–1812) koleksi British Library no. Add Ms 12341 • Papakem Pawukon dari Bupati Sepuh Demak di Bogor (1814) koleksi British Library no. Or 15932 • Wejangan Hamengkubuwana I (1812) koleksi British Library no.

Add MS 12337 • Raffles Paper - vol III (1816) kumpulan surat-surat yang diterima Raffles dari penguasa-penguasa Nusantara, koleksi British Library no. Add MS 45273 • Serat Jaya Lengkara Wulang (1803) koleksi British Library no. MSS Jav 24 • Serat Selarasa (1804) koleksi British Library no. MSS Jav 28 • Usana Bali Diarsipkan 2020-06-19 di Wayback Machine. (1870) salinan Jawa dari sebuah lontar Bali berjudul sama, koleksi Perpustakaan Nasional Indonesia no. CS 152 • Dongèng-dongèng Pieuntengen (1867) kumpulan dongeng berbahasa Sunda dan beraksara Jawa yang dikompilasikan oleh Muhammad Musa Lainnya • Proposal Unicode untuk aksara Jawa • Dokumentasi Unicode mengenai diakritik KERET • Dokumentasi Unicode mengenai diakritik CAKRA • Dokumentasi Unicode mengenai diakritik PENGKAL • Dokumentasi Unicode mengenai diakritik TOLONG • Blog Studi Asia-Afrika British Library, topik Jawa • Artikel aksara Jawa di omniglot.com • Character Picker aksara Jawa oleh Richard Ishida • Laman transliterasi aksara Jawa oleh Benny Lin • Unduh fon aksara Jawa di situs web Tuladha Jejeg, Aksara di Nusantara, atau repositori Google Noto • Bhaiksuki • Bhujimol • Brāhmī • Dewanagari • Dogra • Gujarat • Gupta • Gurmukhī • Kaithī • Aksara jawa a i u e o • Khudabad • Kotak Zanabazar • Laṇḍā • Lepcha • Limbu • Mahajani • Manipur • Marchen • Drusha • Marchung • Pungs-chen • Pungs-chung • Modi • Multan • Nāgarī • Nagari Selatan • Nagari Sylhet • Nagari Timur • Assam • Bengali • Nandinagari • Pracalit (Newah) • Oriya • Karani • ʼPhags-pa • Ranjana • Sarada • Siddhaṃ • Soyombo • Takri • Tibet • Uchen • Umê • Tirhuta • Tokharia Selatan • A-Chik Tok'birim • Abkhaz • Adlam • Albania Kaukasus • Armenia • Avesta • Avoiuli • Bassa Vah • Borama • Buryat • Caria • Coelbren • Coorgi–Cox • Deseret • Elbasan • Etruria • Evenki • Fox II • Georgia • Asomtavruli • Mkhedruli • Nuskhuri • Glagol • Gotik • Greko-Iberia • Hangeul • Hongaria Kuno • IPA • Italia Kuno • Jenticha • Kaddare • Kayah Li • Kiril • Kiril Awal • Klingon • Komi • Koptik • Latin • Lisu Tua • Luo • Lyd • Lyk • Manchu • Manda • Medefaidrin • Mongolia • Mru • Neo-Tifinagh • N'Ko • Ogham • Ol Chiki • Osage • Osmanya • Pau Cin Hau • Perm Kuno • Rohingya Hanif • Rune • Side • Somalia • Sorang Sompeng • Steno Cross • Steno Duployé • Steno Gabelsberger • Steno Gregg • Syaw • Tifinagh • Todo • Tolong Siki • Orkhon • Uighur Kuno • Vietnam • Visible Speech • Vithkuqi • Wancho • Warang Citi • Yunani • Zaghawa Non-linear • Albanian • Azerbaijani • Cantonese • Catalan • Tiongoha daratan • Czech • Belanda • English ( Unified English) • Esperanto • French • German • Ghanaian • Guarani • Hawaiian • Hungarian • Iñupiaq • IPA • Irish • Italia • Latvian • Lithuanian • Luxembourgish (extended to 8-dots) • Maltese • Māori • Navajo • Nigerian • Filipino • Polish • Portuguese • Romanian • Samoa • Slowakia • South African • Spanish • Taiwanese Mandarin (largely reassigned) • Turki • Vietnamese • Welsh • Yugoslav • Zambian Nordic family Kategori tersembunyi: • CS1 sumber berbahasa Inggris (en) • Artikel mengandung aksara Jawa • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • Galat CS1: tidak memiliki penulis atau penyunting • CS1 sumber berbahasa (ISO 639-2) • Halaman Wikipedia yang dilindungi sebagian tanpa batas waktu • Aksara dengan kode empat huruf ISO 15924 • Artikel mengandung aksara Arab • CS1 sumber berbahasa Jawa (jv) • CS1 sumber berbahasa Belanda (nl) • Pranala kategori Commons dari Wikidata • Pranala kategori Commons ditentukan secara lokal • Templat webarchive tautan wayback • Artikel bagus • Artikel bagus biasa • Semua artikel bagus • AC dengan 0 elemen • Halaman ini terakhir diubah pada 1 April 2022, pukul 06.34.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Aksara jawa a i u e o privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
Aksara Jawa atau lebih dikenal dengan Hanacaraka (dalam aksara Jawa: ꦲꦤꦕꦫꦏ) atau Carakan (dalam aksara Jawa: ꦕꦫꦏꦤ꧀) merupakan aksara jenis Abugida turunan dari aksara Brahmi.

Aksara Brahmi sendiri pernah digunakan dalam penulisan naskah-naskah berbahasa Jawa, Makasar, Sunda, dan Sasak. Bentuk aksara Jawa digunakan sejak Kesultanan Mataram pada abad ke-17 tetapi bentuk cetak baru muncul di abad ke-19.

Aksara Jawa Lengkap ꦲ ꦤ ꦕ ꦫ ꦏ Ha Na Ca Ra Ka ꦢ ꦠ ꦱ ꦮ ꦭ Da Ta Sa Wa La ꦥ ꦝ ꦗ ꦪ ꦚ Pa Dha Ja Ya Nya ꦩ ꦒ ꦧ ꦛ ꦔ Ma Ga Ba Tha Nga Angka dalam Aksara Jawa ꧐ ꧑ ꧓ ꧔ ꧕ 0 1 2 3 4 ꧕ ꧖ ꧗ ꧘ ꧙ 5 6 7 8 9 Translator Aksara Jawa merupakan aplikasi untuk translasi dari Latin ke Aksara Jawa / Aksara Jawa ke Latin secara online. INFORMASI!

Aplikasi ini sudah kami aksara jawa a i u e o ke versi tebaru. Jika pengguna memiliki saran, silahkan tuliskan pada kolom komentar. Atau dapat mengirimkan email ke kami : kompiwincom@gmail.com Beberapa tahapan dalam menggunakan aplikasi Translator Aksara Jawa dari Kompiwin… • Pilih Bahasa Awal (Latin / Aksara Jawa) • Masukkan teks atau kalimat yang ingin dilakukan transliterasi.

• Klik tombol “ Transliterasi Sekarang“. • Tunggu proses transliterasi selesai. • Tinggal Klik Tombol Copy dan Paste pada aplikasi dokumen seperti Word atau yang lainnya. • Selesai.Jakarta - Aksara Jawa merupakan aksara yang digunakan sebagai sarana penulisan pada zaman dahulu. Aksara ini disebut juga dengan Hanacaraka, Carakan, dan Dentawyanjana. Tidak diketahui secara pasti kapan aksara Jawa mulai dikenal dan digunakan untuk menyebarkan informasi.

Sebelum berkembang menjadi ha-na-ca-ra-ka, aksara ini lebih dikenal sebagai aksara Jawa Kuno, menurut sejumlah penelitian paleografi di Indonesia. Baca juga: Minim Penggunaan Aksara Jawa, Disbud DIY Gelar Kongres Aksara Jawa I Sejarah Aksara Jawa Tokoh Aji Saka disebut-sebut sebagai pencipta aksara Jawa, menurut catatan sejarah populer.

Dikutip dari buku Makna Simbolik Legenda Aji Saka yang ditulis oleh Slamet Riyadi, Aji Saka bukanlah pencipta Aksara Jawa melainkan pembangun dan penyempurnaan aksara tersebut. Menurut Serat Aji Saka dalam kumpulan teks Suluk Plenceung koleksi Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, setelah mendapatkan wejangan ilmu kesempurnaan dari Begawan Antaboga, Raden Aji pergi ke Mekah untuk berguru kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalam perjumpaan itu, Aji Saka diminta untuk menciptakan aksara sebagai perimbangan aksara Arab. Ia kemudian menciptakan aksara ha-na-ca-ra-ka yang berjumlah 20. Diperkirakan aksara diciptakan pada abad ke-7. Sementara itu, pendapat lain sebagaimana diutarakan oleh Hadisoetrisno, pencipta aksara ha-na-ca-ra-ka adalah Prabu Nur Cahya atau Sang Hyang Nur Cahya di negeri Dewani yang memiliki tanah jajahan sampai negeri Arab dan Jawa.

Prabu Nur Cahya merupakan putra Sang Hyang Sita atau Nabi Sis. Selain aksara Jawa, dia diketahui menciptakan aksara Latin, Arab, China, dan lainnya. Aksara tersebut disebut Sastra Hendra Prawata. Dalam hal ini, Aji Saka berperan sebagai pembangun dan penyempurna bentuk aksara Jawa.

Baca juga: Seputar Aksara Jawa yang Perlu Kamu Ketahui Aksara Jawa sebagaimana disempurnakan oleh Aji Saka terdiri dari 20 aksara. Dikutip dari buku Pelestarian dan Modernisasi Aksara Daerah yang disusun oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, terdapat arti kata yang menjadi hafalan sebagaimana tertulis dalam Layang Ha-na-ca-ra-ka, sebagai berikut: ha na ca ra ka : ada utusan da ta sa wa la : (mereka) saling tidak cocok pa dha ja ya nya : sama-sama unggul ma ga ba tha nga : sama-sama menjadi mayat Jenis-jenis Aksara Jawa Lengkap Dikutip dari buku Pepak Bahasa Jawa oleh Febyardini Dian dkk, berikut aksara Jawa lengkap dengan pasangan dan juga sandhangannya.

1. Aksara Jawa dan Pasangannya Aksara Jawa terdiri dari 20 aksara. Untuk menekan vokal konsonan di depannya, dibutuhkan pasangan dari masing-masing aksara.

Aksara Swara a, i, u, e, o




2022 www.videocon.com