Enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi

enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi

Cara kerja enzim dapat dijelaskan dengan dua teori, yaitu teori gembok dan anak kunci, dan teori kecocokan yang terinduksi. a. Teori gembok dan anak kunci ( Lock and key theory ) Enzim dan substrat bergabung bersama membentuk kompleks, seperti kunci yang masuk dalam gembok. Di dalam kompleks, substrat dapat bereaksi dengan energi aktivasi yang rendah. Setelah bereaksi, kompleks lepas dan melepaskan produk serta membebaskan enzim.

b. Teori kecocokan yang terinduksi ( Induced fit theory ) Menurut teori kecocokan yang terinduksi, sisi aktif enzim merupakan bentuk yang fleksibel. Ketika substrat memasuki sisi aktif enzim, bentuk sisi aktif termodifikasi melingkupi substrat membentuk kompleks. Ketika produk sudah terlepas dari kompleks, enzim tidak aktif menjadi bentuk yang lepas. Sehingga, substrat yang lain kembali bereaksi dengan enzim tersebut.

Enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi. Enzim meningkatkan laju reaksi dengan cara menurunkan energi aktivasi (energi yang diperlukan untuk reaksi). Penurunan energi aktivasi dilakukan dengan membentuk kompleks dengan substrat. Setelah produk dihasilkan, kemudian enzim dilepaskan.

enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi

Enzim bebas untuk membentuk kompleks baru dengan substrat yang lain. Enzim memiliki sisi aktif, yaitu bagian enzim yang berfungsi sebagai katalis. Pada sisi ini, terdapat gugus prostetik yang diduga berfungsi sebaga zat elektrofilik sehingga dapat mengkatalis reaksi yang diinginkan. Bentuk sisi aktif sangat spesifik sehingga diperlukan enzim yang spesifik pula. Hanya molekul dengan bentuk tertentu yang dapat menjadi substrat bagi enzim.

Agar dapat bereaksi, enzim dan substrat harus saling komplementer. B. Faktor yang Memengaruhi Kerja Enzim Seperti halnya protein yang lain, sifat enzim sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya.

Kondisi yang tidak sesuai dapat menyebabkan kerja enzim terganggu. Berikut adalah beberapa faktor yang memengaruhi kerja enzim. 1) Temperatur Enzim memiliki rentang temperatur tertentu agar dapat enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi dengan optimal.

Pada temperatur yang tinggi, enzim akan rusak (terdenaturasi) sebagai sifat umum dari protein. Pada kondisi ini, struktur enzim sudah berubah dan rusak sehingga tidak dapat digunakan lagi. Adapun pada temperatur yang rendah, enzim berada pada kondisi inaktif (tidak aktif). Enzim akan bekerja kembali dengan adanya kenaikan temperatur yang sesuai.

Semua enzim memiliki kondisi temperatur yang spesifik untuk bekerja optimal. Enzim memiliki kecenderungan semakin meningkat seiring dengan kenaikan temperatur hingga pada batas tertentu. Setelah itu, enzim kembali mengalami penurunan kinerja.

Pada saat kerja enzim optimal maka dapat dikatakan bahwa pada temperatur tersebut temperatur optimum.

2) pH Seperti halnya temperatur, pH dapat memengaruhi optimasi kerja enzim. Setiap enzim bekerja pada kondisi pH yang sangat spesifik. Hal ini berkaitan erat dengan lokasi enzim yang bekerja terhadap suatu substrat. Pada umumnya, enzim akan bekerja optimum pada pH 6-8. Perubahan pH lingkungan akan mengakibatkan terganggunya ikatan hidrogen yang ada pada struktur enzim. Jika enzim berada pada kondisi pH yang tidak sesuai, enzim dapat berada pada keadaan inaktif.

Dengan adanya kondisi pH yang spesifik ini, enzim tidak akan merusak sel lain yang berada di sekitarnya. Contohnya, enzim pepsin yang diproduksi pankreas untuk mencerna protein dalam lambung, tidak akan mencerna protein yang ada di dinding pankreas karena enzim pepsin bekerja pada pH 2-4. Konsentrasi enzim membatasi laju reaksi. Enzim akan “jenuh” jika sisi aktif semua molekul enzim terpakai setiap waktu. Pada titik jenuh, laju reaksi tidak akan meningkat meskipun substrat ditambahkan.

Jika konsentrasi enzim ditambahkan, laju reaksi akan meningkat hingga titik jenuh berikutnya. 4) Kofaktor Kofaktor dapat membantu enzim untuk memperkuat ikatan dengan substrat atau kebutuhan unsur anorganik, seperti karbon.

Selain itu, kofaktor juga membantu proses transfer elektron. 5) Inhibitor Enzim Inhibitor mengganggu kerja enzim. Berdasarkan pengertian dari kata dasarnya ( inhibit artinya menghalangi), inhibitor merupakan senyawa yang dapat menghambat kerja enzim.

enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi

Inhibitor secara alami dapat berupa bisa (racun) yang dikeluarkan oleh hewan, seperti ular atau laba-laba. Inhibitor akan mencegah sisi aktif untuk tidak bekerja. Beberapa obat-obatan juga berfungsi sebagai inhibitor, seperti penisilin yang berguna menghambat kerja enzim pada mikroorganisme.

Inhibitor terbagi atas dua macam, yakni inhibitor kompetitif dan inhibitor nonkompetitif. Pada inhibitor kompetitif, inhibitor ini akan bersaing dengan substrat untuk bergabung dengan enzim sehingga kerja enzim akan terganggu. Sementara itu, inhibitor nonkompetitif tidak akan bersaing dengan substrat untuk bergabung dengan enzim karena memiliki sisi ikatan yang berbeda (Keeton and Enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi, 1986: 81).

6) Kadar Air Kerja enzim sangat dipengaruhi oleh air. Rendahnya kadar air dapat menyebabkan enzim tidak aktif. Sebagai contoh, biji tanaman yang dalam keadaan kering tidak akan berkecambah. Hal ini disebabkan oleh tidak aktifnya enzim sebagai akibat dari rendahnya kadar air dalam biji. Biji akan berkecambah jika direndam. Kadar air yang cukup dapat mengaktifkan kembali enzim. Table of Contents • Apa itu Enzim • Sifat-sifat Enzim • Struktur Enzim • 1.

Komponen Utama Protein • 2. Gugus Prostetik • 3. Situs Aktif Enzim (active site) • Cara Kerja Enzim • Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kerja Enzim • Enzim-enzim Pencernaan • Amilase • Renin • Pepsin • Tripsin • Protease • Karbohidrase • Lipase • Maltase • Laktase • Entrokinase • Sukrase • Ringkasan • Akibat Kekurangan Enzim • Penyakit Fabry • Maple syrup urine disease • Fenilketonuria • Penyakit Nimann-Pick • Sindrom Hurler • Penyakit Tay-Sachs • Mengatasi Penyakit Akibat Kekurangan Enzim Apa itu Enzim Enzim adalah biokatalisator organik yang dihasilkan organisme hidup di dalam protoplasma, yang terdiri atas protein atau suatu senyawa yang berikatan dengan protein.

Enzim mempunyai dua fungsi pokok sebagai berikut. • Mempercepat atau memperlambat reaksi kimia. • Mengatur sejumlah reaksi yang berbeda-beda dalam waktu yang sama Enzim disintesis dalam bentuk calon enzim yang tidak aktif, kemudian diaktifkan dalam lingkungan pada kondisi yang tepat.

Misalnya, tripsinogen yang disintesis dalam pankreas, diaktifkan dengan memecah salah satu peptidanya untuk membentuk enzim tripsin yang aktif. Bentuk enzim yang tidak aktif ini disebut zimogen.

Enzim tersusun atas dua bagian. Apabila enzim dipisahkan satu sama lainnya menyebabkan enzim tidak aktif. Namun keduanya dapat digabungkan menjadi satu, yang disebut holoenzim. Kedua bagian enzim tersebut yaitu apoenzim dan koenzim. • Apoenzim Apoenzim adalah bagian protein dari enzim, bersifat tidak tahan panas, dan berfungsi menentukan kekhususan dari enzim.

Contoh, dari substrat yang sama dapat menjadi senyawa yang berlainan, tergantung dari enzimnya. • Koenzim Koenzim disebut gugus prostetik apabila terikat sangat erat pada apoenzim. Akan tetapi, koenzim tidak begitu erat dan mudah dipisahkan dari apoenzim. Koenzim bersifat termostabil (tahan panas), mengandung ribose dan fosfat.

Fungsinya menentukan sifat dari reaksinya. Misalnya, Apabila koenzim NADP ( Nicotiamida Adenin Denukleotid Phosfat) maka reaksi yang terjadi adalah dehidrogenase. Disini NADP berfungsi sebagai akseptor hidrogen.

Koenzim dapat bertindak sebagai penerima/akseptor hidrogen, seperti NAD atau donor dari gugus kimia, seperti ATP ( Adenosin Tri Phosfat). Sifat-sifat Enzim • Biokatalisator Enzim hanya mengubah kecepatan reaksi, artinya enzim tidak mengubah produk akhir yang dibentuk atau mempengaruhi keseimbangan reaksi, hanya meningkatkan laju suatu reaksi.

Senyawa yang mempercepat sebuah reaksi kimia tanpa ikut bereaksi disebut katalis. Karena enzim berasal dari organisme, maka disebut juga sebagai biokatalisator. Sebagai katalisator, enzim hanya diperlukan dalam jumlah yang sedikit.

• Termolabil Enzim sangat dipengaruhi oleh suhu. Enzim memiliki suhu optimum untuk dapat menjalankan fungsinya, umumnya pada suhu 37ºC. Suhu ekstrim bisa merusak kerja enzim. Enzim inaktif pada suhu dibawah 10 ºC, sementara akan terjadi denaturasi pada suhu lebih 60 ºC. Terdapat beberapa pengecualian, seperti pada kelompok bakteri purba di daerah – daerah yang sangat enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi, seperti kelompok methanogen, mereka memiliki enzim yang bekerja pada suhu di 80 ºC.

• Spesifik Enzim bekerja secara spesifik, artinya enzim hanya mempengaruhi substrat tertentu saja. Enzim akan mengikat substrat yang mampu untuk berikatan dengan sisi aktif enzim. Sifat spesifik enzim tersebut dijadikan sebagai dasar penamaan, yaitu biasanya diambil dari jenis substrat yang diikat atau jenis reaksi yang berlangsung.

Contoh: amylase yakni enzim yang berperan dalam memecah amilum yang merupakan polisakarida (gula kompleks) menjadi gula yang lebih sederhana.

• Berupa protein Oleh karena itu, enzim memiliki sifat seperti protein. Antara lain bekerja pada suhu optimum, umumnya pada suhu kamar. Enzim akan kehilangan aktivitasnya karena pH yang terlalu asam atau basa kuat, dan pelarut organik.

Selain itu, panas yang terlalu tinggi akan membuat enzim terdenaturasi sehingga tidak dapat berfungsi sebagai mana mestinya. Karena enzim tersusun atas komponen protein, maka sifat-sifat enzim tergolong koloid. Enzim memiliki permukaan antar partikel yang sangat besar sehingga bidang aktivitasnya juga besar.

• Diperlukan dalam jumlah sedikit Sesuai dengan fungsinya sebagai katalisator, enzim diperlukan dalam jumlah yang sedikit.

Satu molekul enzim dapat bekerja berkali-kali, selama molekul tersebut tidak rusak. • Bekerja secara bolak-balik Reaksi-reaksi yang dikendalikan enzim dapat berbalik, artinya enzim tidak menentukan arah reaksi tetapi hanya mempercepat laju reaksi sehingga tercapai keseimbangan. Enzim dapat menguraikan suatu senyawa menjadi senyawa-senyawa lain.

Atau sebaliknya, menyusun senyawa-senyawa menjadi senyawa tertentu. • Dipengaruhi lingkungan Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim adalah suhu, pH, aktivator (pengaktif), dan inhibitor (penghambat) serta konsentrasi substrat. Struktur Enzim Enzim berbentuk 3 Dimensi yang kompleks. Enzim memiliki bentuk enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi dalam untuk mengikat substrat. Bentuk enzim lengkap disebut dengan haloenzim. Enzim tersusun oleh 3 komponen utama 1.

Komponen Utama Protein Bagian enzim yang berupa protein disebut apoenzim. Apoenzim atau istilah lain apoprotein. 2. Gugus Prostetik Komponen enzim ini bukan protein yang terdiri dari 2 macam yaitu Koenzim dan kofaktor. Koenzim atau kofaktor yang terikat sangat kuat bahkan terikat dengan ikatan kovalen dengan enzim. Koenzim Koenzim sering juga disebut Kosubstrat atau substrat kedua. Koenzim memiliki berat molekul rendah. Koenzim stabil terhadap pemanasan. Koenzim terikat enzim secara non kovalen.

Koenzim berfungsi untuk mengangkut molekul-molekul kecil atau ion-ion (terutama H+) dari satu enzim ke enzim yang lain, misalnya : NAD. Enzim-enzim tertentu aktivitasnya perlu koenzim bahkan harus ada. Koenzim biasanya berupa vitamin B kompleks yang telah mengalami perubahan struktur. Beberapa contoh koenzim: tiamin pirophosfat, flavin adenine dinokleat, Nicotinamide adenine dinucleotode, Pyridoxal phosphate, dan koenzim A.

Kofaktor Kofaktor berfungsi merubah struktur daerah aktif dan/atau dibutuhkan oleh substrat untuk berikatan dengan daerah aktif Contoh ko-faktor: yang dapat berupa molekul-molekul kecil atau ion-ion: Fe ++, Cu ++, Zn ++, Mg ++, Mn, K, Ni, Mo, dan Se. 3. Situs Aktif Enzim (active site) Sisi ini merupakan bagian enzim yang berikatan dengan substrat, daerah ini sangat spesifik karena hanya substrak yang cocok saja yang bisa melekat atau berikatan pada sisi ini.

Enzim merupakan protein yang memiliki struktur globular. Struktur enzim yang berlekuk-lekuk menyebabkan terdapatnya area yang dikenal sebagai daerah aktif. Cara Kerja Enzim Enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi. Enzim meningkatkan laju reaksi dengan cara menurunkan energi aktivasi (energi yang diperlukan untuk reaksi) dari EA1 menjadi EA2.

Penurunan energi aktivasi dilakukan dengan membentuk kompleks dengan substrat. Setelah produk dihasilkan, kemudian enzim dilepaskan. Enzim bebas untuk membentuk kompleks baru dengan substrat yang lain.

Enzim memiliki sisi aktif, yaitu bagian enzim yang berfungsi sebagai katalis. Pada sisi ini, terdapat gugus prostetik yang diduga berfungsi sebagai zat elektrofilik sehingga dapat mengkatalis reaksi yang diinginkan.

Bentuk sisi aktif sangat spesifik sehingga diperlukan enzim yang spesifik pula. Hanya molekul dengan bentuk tertentu yang dapat menjadi substrat bagi enzim. Agar dapat bereaksi, enzim dan substrat harus saling komplementer.

enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi

Enzim memiliki sisi aktif, yaitu bagian enzim yang berfungsi sebagai katalis. Pada sisi ini, terdapat gugus prostetik yang diduga berfungsi sebagai zat elektrofilik sehingga dapat mengkatalis reaksi yang diinginkan. Bentuk sisi aktif sangat spesifik sehingga diperlukan enzim yang spesifik pula.

Hanya molekul dengan bentuk tertentu yang dapat menjadi substrat bagi enzim. Agar dapat bereaksi, enzim dan substrat harus saling komplementer.

Cara kerja enzim dapat dijelaskan dengan dua teori, yaitu teori gembok dan anak kunci, dan teori kecocokan yang terinduksi. • Teori gembok dan anak kunci (Lock and key theory) Enzim dan substrat bergabung bersama membentuk kompleks, seperti kunci yang masuk dalam gembok. Di dalam kompleks, substrat dapat bereaksi dengan energi aktivasi yang rendah.

Setelah bereaksi, kompleks lepas dan melepaskan produk serta membebaskan enzim. • Teori kecocokan yang terinduksi (Induced fit theory) Menurut teori kecocokan yang terinduksi, sisi aktif enzim merupakan bentuk yang fleksibel.

Ketika substrat memasuki sisi aktif enzim, bentuk sisi aktif termodifikasi melingkupi substrat membentuk kompleks. Ketika produk sudah terlepas dari kompleks, enzim tidak aktif menjadi bentuk yang lepas. Sehingga, substrat yang lain kembali bereaksi dengan enzim tersebut. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kerja Enzim Karena enzim tidak dikonsumsi dalam reaksi yang dikatalisasi dan dapat digunakan berulang-ulang, hanya diperlukan sedikit sekali enzim sebagai katalis suatu reaksi.

Molekul enzim khas dapat mengkonversi 1.000 molekul substrat per detik.

enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi

Laju reaksi enzimatik meningkat dengan meningkatnya konsentrasi substrat, mencapai kecepatan maksimum ketika semua lokasi aktif molekul enzim terlibat. Enzim kemudian dikatakan jenuh, laju reaksi ditentukan oleh kecepatan di mana situs aktif dapat mengubah substrat menjadi produk. Penghambat/Inhibitor Aktivitas enzim dapat dihambat dengan berbagai cara: Penghambatan kompetitif terjadi ketika molekul yang sangat mirip dengan molekul substrat berikatan dengan situs aktif dan mencegah pengikatan substrat yang sebenarnya.

Penisilin, misalnya, adalah penghambat kompetitif yang menghambat situs aktif enzim dari bakteri yang digunakan untuk membangun dinding sel mereka.

Penghambatan nonkompetitif terjadi ketika penghambat berikatan dengan enzim di lokasi selain situs aktif. Dalam beberapa kasus penghambatan nonkompetitif, penghambat dianggap mengikat enzim sedemikian rupa sehingga secara fisik memblokir situs aktif normal.

Dalam kasus lain, penghambat pengikatan diyakini mengubah bentuk molekul enzim, sehingga merusak situs aktifnya dan mencegahnya bereaksi dengan substratnya. Jenis penghambatan nonkompetitif ini disebut penghambatan alosterik; tempat di mana penghambat berikatan dengan enzim disebut situs alosterik.

Seringkali, produk akhir dari jalur metabolisme berfungsi sebagai penghambat alosterik pada enzim jalur sebelumnya. Penghambatan enzim oleh produk dari jalurnya adalah bentuk umpan balik negatif.

Kontrol alosterik dapat melibatkan stimulasi aksi enzim serta penghambatan. Molekul aktivator dapat terikat ke situs alosterik dan menginduksi reaksi di situs aktif dengan mengubah bentuknya agar sesuai dengan substrat yang tidak dapat menginduksi perubahan dengan sendirinya. Aktivator umum termasuk hormon dan produk dari reaksi enzimatik sebelumnya.

Stimulasi dan penghambatan alosterik memungkinkan produksi energi dan bahan oleh sel ketika mereka dibutuhkan dan menghambat produksi ketika pasokan sudah memadai. Enzim-enzim Pencernaan Enzim pencernaan diproduksi secara alami oleh sistem pencernaan di dalam tubuh. Mereka bertugas memecah komponen makanan seperti lemak, karbohidrat, dan protein. Tujuannya adalah agar nutrisi yang berasal dari makanan dapat diserap ke dalam aliran darah untuk menunjang fungsi sel-sel tubuh.

Tubuh memproduksi berbagai macam enzim pencernaan untuk memecah nutrisi di dalam makanan yang Anda konsumsi agar dapat diserap. Berbeda jenis nutrisi, berbeda juga enzim pencernaannya.

Berikut beberapa macam enzim pencernaan yang ada di tubuh: Amilase Enzim amilase diproduksi di kelenjar liur, pankreas, dan usus halus. Enzim ini bertugas memecah zat pati atau karbohidrat menjadi gula ( glukosa).

Saat makanan yang mengandung karbohidrat dikunyah, kelenjar liur di dalam mulut akan enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi amilase. Setelah tertelan, makanan tersebut akan dicerna lebih lanjut di usus halus oleh enzim amilase yang dihasilkan oleh pankreas. Di dalam usus, amilase terus memecah molekul zat pati hingga menjadi glukosa, yang nantinya akan diserap ke dalam sirkulasi darah melalui dinding usus halus.

Renin Fungsi enzim renin adalah untuk mengentalkan atau menggumpalkan susu dan memisahkannya menjadi gumpalan semi padat dan whey (laksoterum) cair. Gumpalan susu diperlukan karena susu yang telah masuk ke lambung harus disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal ini bertujuan agar protein susu nantinya dapat dicerna dengan baik.

Jika susu yang masuk ke dalam lambung tidak melewati pencernaan yang sempurna atau terlalu cepat, maka manfaat dari protein susu tidak akan didapatkan. Pembekuan susu oleh renin inilah yang memungkinkannya bertahan lebih lama di lambung.

Susu mengandung protein kaseinogen. Kaseinogen memiliki empat jenis molekul utama.

enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi

Tiga diantaranya yaitu, kasein alfa-s1, kasein alfa-s2 dan kasein beta yang dapat diendapkan dengan adanya kalsium dalam susu. Kappa kasein (K-kasein), yang merupakan molekul keempat dalam enzim kaseinogen, tidak dapat diendapkan oleh kalsium. Hal ini karena kappa kasein dapat mencegah pengendapan pada kasein alfa dan beta, dan dengan demikian mencegah koagulasi susu dalam keadaan normal.

Hal ini membuat enzim rennin bereaksi dengan menginaktivasi (menon-aktifkan) kappa kasein. Pada tahap inilah maka susu dapat dikentalkan atau digumpalkan, untuk kemudian dicerna dengan baik, dan semua manfaatnya pun akan didapat. Jika lambung tidak menghasilkan cukup renin, susu tidak dapat dicerna dengan baik dan kalsiumnya pun tidak akan diserap oleh tulang dan tubuh secara keseluruhan.

Pepsin Enzim yang berfungsi untuk memecah struktur protein menjadi pepton, proteosa, polipeptida dan asam amino. Tubuh melakukan proses ini guna mempermudah penyerapan nutrisi di dalam usus.

Proses pemecahan protein ini baru terjadi jika kadar asam atau pH di lambung berada di kisaran 1,5 hingga 2. Enzim pepsin tidak akan bekerja jika pH lambung berada di atas 4. Pemecahan protein: Proteina ⇒ proteosa ⇒ pepton ⇒ polipeptida ⇒ dipeptida ⇒ asam amino.

enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi

Kekurangan enzim pepsin tentu akan mengganggu proses tersebut dan akhirnya menghambat penyerapan nutrisi dari makanan yang mengandung protein. Lama kelamaan hal ini dapat menimbulkan malnutrisi. Gejala malnutrisi bisa berupa diare kronis, berat badan yang terus menurun, rambut rontok, bengkak-bengkak di tubuh, sering terkena infeksi, mudah berdarah, dan luka yang sulit sembuh. Tripsin Di dalam tubuh, enzim tripsin diproduksi oleh pankreas dalam bentuk tidak aktif yang disebut tripsinogen.

Zat tripsinogen ini kemudian akan dibawa ke usus kecil melalui saluran empedu. Di usus inilah tripsinogen berubah menjadi enzim tripsin untuk mencerna makanan bersamaan dengan enzim pencernaan lainnya, seperti pepsin dan chymotrypsin. Fungsi utama enzim-enzim ini adalah untuk memecah protein pada makanan menjadi asam amino yang lebih mudah diserap tubuh. Di dalam tubuh, asam amino digunakan untuk memperbaiki jaringan tubuh, menunjang proses pertumbuhan, membantu mencerna makanan, dan diolah sebagai sumber energi.

Protease Enzim protease, yang juga dikenal dengan nama peptidase, proteinase, ataupun proteolitik adalah enzim pencernaan yang bertugas untuk memecah protein dalam makanan menjadi asam amino. Enzim ini diproduksi di lambung, pankreas, dan usus halus.

Terdapat beberapa jenis enzim protease, yaitu pepsin (enzim pencernaan utama di lambung), tripsin, dan kimotripsin. Enzim protease diproduksi di dalam pankreas dan lambung. Terkadang, enzim protease juga ditemukan di dalam buah seperti pepaya dan nanas. Selain memecah protein menjadi asam amino, enzim protease juga bertanggung jawab dalam pembelahan sel tubuh, pembekuan darah, menjaga sistem imun tubuh, hingga daur ulang protein.

enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi

Karbohidrase Golongan Enzim Karbohidrase adalah golongan enzim yang berperan untuk menguraikan karbohidrat. Golongan enzim ini terdiri atas beberapa jenis enzim antara lain amilase, pektinase, maltase, sukrase dan laktase.

Lipase Lipase adalah enzim yang memiliki tugas memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol (zat gula yang mengandung alkohol). Organ tubuh yang berperan dalam menghasilkan enzim ini adalah pankreas dan lambung. Enzim lipase juga ditemukan di dalam ASI, fungsinya untuk membantu bayi mencerna molekul lemak saat menyusu.

Maltase Enzim ini diproduksi oleh usus halus dan memiliki fungsi untuk menghancurkan maltosa. Zat gula maltosa ini banyak ditemukan pada tumbuhan, seperti biji-bijian, gandum dan ubi. Laktase Laktase adalah jenis enzim pencernaan yang memecah gula laktosa. Gula ini ditemukan dalam susu dan makanan atau minuman yang enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi dari susu. Orang dengan intoleransi laktosa sering kali disarankan untuk mengonsumsi enzim laktase tambahan saat mengonsumsi susu.

Entrokinase Enzim yang memiliki fungsi untuk mengaktifkan peptidase, yaitu tripsinogen yang dihasilkan pankreas menjadi tripsin, dan mengaktifkan erepsinogen menjadi erepsin Sukrase Sukrase adalah enzim yang diproduksi oleh usus halus. Fungsi enzim ini adalah memecah sukrosa menjadi gula sederhana, seperti fruktosa dan glukosa. Gula sukrosa banyak ditemukan pada tanaman, seperti tebu, sorgum, dan bit gula. Sukrosa juga ditemukan pada madu, namun dalam jumlah sedikit.

Ringkasan Organ Enzim Fungsi Mulut amilase Mencerna amilum menjadi maltose Lambung pepsin Mengubah protein menjadi pepton renin Mengubah kseinogen menjadi kasein Pankreas tripsin Mengubah protein menjadi polipeptida lipase Mengemulsikan lemak menjadi asam lemak dan gliserol amilase Mengubah amilum menjadi disakarida Usus Halus maltase Mengubah maltose menjadi glukosa laktase Mengubah laktosa menjadi galaktosa dan glukosa entrokinase Mengubah tripsinogen menjadi tripsin lipase Mengemulsikan lemak menjadi asam lemak dan gliserol peptidase Mengubah polipeptida menjadi asam amino sukrase Mengubah fruktosa menjadi sukrosa dan glukosa Akibat Kekurangan Enzim Enzim berperan penting dalam proses metabolisme.

Metabolisme meliputi reaksi-reaksi kimia yang terjadi dalam tubuh untuk menghasilkan energi, termasuk di antaranya pemecahan lemak, karbohidrat, dan protein. Ketika produksi atau fungsi enzim terganggu, maka proses metabolisme di dalam tubuh pun terganggu.

Gangguan metabolisme akibat kekurangan enzim jenisnya beragam, salah satunya adalah gangguan metabolisme yang bersifat keturunan. Penderita gangguan ini umumnya mengalami gejala berupa penurunan nafsu makan, muntah, sakit kuning (jaundice), berat badan berkurang, sakit perut, kelelahan, pertumbuhan terlambat, kejang, hingga koma. Gejala-gejala gangguan metabolisme akibat kekurangan enzim, dapat enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi secara bertahap ataupun tiba-tiba, yang dipicu oleh berbagai faktor.

Misalnya, karena pengaruh obat dan makanan. Berikut ini beberapa jenis penyakit metabolik karena kekurangan enzim yang bersifat keturunan (genetik), beserta dengan gangguan dan penyakit yang mungkin terjadi: Penyakit Fabry Kondisi ini disebabkan oleh kurangnya enzim ceramide trihexosidase atau alpha-galactosidase-A. Efeknya bias menyebabkan gangguan jantung dan ginjal. Maple syrup urine disease Kekurangan enzim jenis ini memicu terjadinya penumpukan asam amino dan menyebabkan kerusakan saraf dan air urine yang menyerupai aroma sirop.

Fenilketonuria Kondisi ini terjadi akibat kekurangan enzim PAH, yang menyebabkan tingginya kadar fenilalanin dalam darah. Fenilketonuria dapat mengakibatkan penderitanya mengalami keterbelakangan mental. Penyakit Nimann-Pick Penyakit ini disebabkan oleh gangguan penyimpanan lisosom (sebuah ruangan di dalam enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi yang berfungsi membuang sisa metabolisme).

Efeknya berupa kerusakan saraf, susah makan dan pembesaran organ hati pada bayi. Sindrom Hurler Sama seperti penyakit Nimann-Pick, sindrom Hurler juga disebabkan oleh kekurangan enzim di dalam lisosom. Kondisi ini bisa menyebabkan keterlambatan pertumbuhan dan struktur tulang yang tidak normal. Penyakit Tay-Sachs Serupa dengan dua penyakit sebelumnya, kondisi ini dipicu oleh kekurangan enzim dalam lisosom. Penyakit Tay-Sachs menyebabkan kerusakan saraf pada bayi, dan biasanya hanya dapat bertahan hidup hingga usia 4-5 tahun.

Mengatasi Penyakit Akibat Kekurangan Enzim Pada dasarnya penyakit akibat kekurangan enzim yang bersifat keturunan tidak dapat disembuhkan.

Upaya penanganan yang dilakukan lebih bertujuan untuk mengatasi gangguan metabolisme yang terjadi, yaitu dengan: • Mengganti enzim yang tidak aktif atau hilang untuk membantu menormalkan metabolisme. • Mengurangi konsumsi makanan dan obat-obatan yang tidak dapat dicerna dengan baik. • Detoksifikasi darah untuk menghilangkan penumpukan bahan beracun akibat gangguan metabolisme.

Mengingat pentingnya enzim bagi tubuh manusia, maka penerapan Konsep Karnus akan mengembalikan tubuh ke keadaan sehat dan menjaga tetap sehat dengan menjaga kestabilan produk hormon dan enzim yang diperlukan oleh tubuh. Dipublikasikan tanggal 19 Mar 2020 08:00, dilihat: 2.162 kali https://alga-rosan.com/p173
Enzim menstabilkan ikatan antar substrat dalam suatu reaksi, menyebabkan substrat saling berikatan pada orientasi yang tepat atau atau menekan suatu ikatan kimia tertentu dalam substrat sehingga menurunkan energi aktivasi.

Reaksi kimia yang katalis oleh enzim disebut dengan reaksi enzimatis. Enzim pada suatu rekasi enzimatis akan meningkatkan laju reaksi tetapi struktur enzim tidak akan berubah. Reaksi tersebut dapat berjalan di dalam sel namun karena membutuhkan energi aktivasi reaksi tersebut berjalan lambat dan hanya dihasilkan 200 molekul asam karbonat ( H 2CO 3 ) namun dengan adanya enzim carbonic anhydrase dalam sel, energy aktivasi reaksi tersebut menjadi rendah dan berlangsung lebih cepat terbukti dapat dihasilkan 600,000 molekul asam karbonat ( H 2CO 3 ).

Enzim yang merupakan protein globular mempunyai sebuah sisi aktif. Sisi aktif dari enzim sangat spesifik dan hanya fit untuk substrat tertentu saja. Sisi aktif tersebut akan berikatan dengan substrat membentuk kompleks enzim-substrat untuk mengakatalisis reaksi kimia.

Sisi aktif dari enzim sangat spesifik dan hanya fit untuk substrat tertentu saja. Setelah reaksi enzimatis terjadi, hasil produk dari reaksi akan memutuskan ikatan dengan enzim kemudian enzim kembali berikatan dengan substrat lain untuk dikatalisis. Berikut contoh dari reaksi katalisis sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa : Biokimia (21) Biologi Umum (16) Genetika (15) Parasitologi (15) Bakteri (14) DNA (12) Biologi Molekuler (10) Materi Genetik (8) Mikrobiologi (7) Virus (7) biologi (7) biologi sel (7) mikologi (7) Sel (6) Pertanian (5) Membran Sel (4) komunikasi atau interaksi sel (4) Anatomi dan Fisiologi (3) Bioteknologi (3) Botani (3) Pertumbuhan dan perkembangan (3) Protein (3) Tip dan Trik (2) struktur Membran Sel (2) Reaksi Kimia (1) enzim (1) fosfolipid (1) fosfolipid bilayer (1) protein membran (1) protein transmembran (1) peningkatan laju reaksi dilakukan enzim dengan cara menurunkan energi aktivitas atau menurunkan energi yang diperlukan untuk reaksi.

Penurunan dilakukan dengan membentuk komplek dengan substrat. Pembahasan Enzim merupakan biokatalisator organic yang memiliki fungsi untuk mempercepat atau memperlambat reaksi. Enzim memiliki sisi aktif, yaitu bagian enzim yang berfungsi sebagai katalis. Dikatakan aktif karenan terdapat gugus prostetik yang diduga berfungsi sebagai zat elektrofilik sehingga dapat mengkatalis reaksi yang diinginkan. Agar dapat bereaksi, enzim dan substrat harus saling komplementer.

Beberapa faktor yang mempengaruhi kerja enzim antara lain: Suhu suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan rusaknya enzim yang disebut denaturasi, sedangkan suhu yang terlalu rendah dapat menghambat kerja enzim.

enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi

Enzim memiliki suhu yang spesifik, artinya setiap enzim memiliki suhu tertentu agar reaksinya baik pH Perubahan pH dapat mempengaruhi perubahan asam amino pada sisi aktif enzim, sehingga menghalangi sisi aktif bergabung dengan substratnya. Setiap enzim dapat bekerja baik pada pH optimum, masing-masing enzim memiliki pH optimum yang berbeda konsentrasi substrat Peningkatan konsentransi substrat dapat meningkatkan kecepatan enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi bila jumlah enzim tetap.

Saat sisi aktif enzim berikatan dan kemudian ditambahkan substrat maa tidak akan terjadi peningkatan kecepatan reaksi. konsentrasi enzim Kecepatan reaksi dipengaruhi oleh konsentrasi enzim, makin besar konsentrasi enzim makin tinggi pula kecepatan reaksi, dengan kata lain konsentrasi enzim berbanding lurus dengan kecepatan reaksi. Pelajari lebih lanjut 1. Materi tentang penjelasan struktur enzim brainly.co.id/tugas/7414283 ----------------------------------------- Detil jawaban Kelas: 11 Mapel: Biologi Bab: sel Kode: 11.4.1 Kata kunci: enzim, faktor yang mempengaruhi enzim, laju reaksi.

Jerry sedang duduk santai di teras rumahnya malam hari itu. Tiba-tiba, datang sebuah mobil dengan sorot lampu yang menyilaukan. Jerry langsung menyemp … itkan matanya untuk mengurangi efek menyilaukan yang ditimbulkan oleh sorotan lampu mobil tersebut. Bagian mata yang menyempit akibat rangsangan sinar yang sangat terang itu adalah… a. iris b. retina c. kornea d. pupil UIUuuu13, Hubungan manusia dengan Allah antaralain diwujudkan terutama dalam ibadah yang dilakukanmanusia.

Relasi ini tampak dalam setiap praktik keag … amaan baik yang sederhana maupun yang lebihkompleks. Hal ini merupakan pendapat dari.a.Frankl b. Victor Emildc. Yewangoe(1983) d. ThomasGroome14 Cara hid​
Enzim mengatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi. Peningkatan laju reaksi dilakukan enzim melalui. a. penurunan energi aktivasi b. kerja enzim tidak ada hubungannya dengan energi aktivasi c.

energi aktivasi meningkatkan kerja enzim d. energi aktivasi tidak memengaruhi kerja enzim e. peningkatan energi aktivasi Jawaban a 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20 Enzim dapat meningkatkan laju reaksi dengan cara menurunkan energi aktivasi.

Energi aktivasi adalah jumlah energi yang diperlukan untuk berlangsungnya suatu reaksi. Energi aktivasi adalah energi yang dibutuhkan oleh zat-zat pereaksi untuk membentuk keadaan transisi.

Dalam kata lain, energi aktivasi adalah energi yang dibutuhkan zat-zat pereaksi untuk bereaksi dan membentuk produk - Geograpik Di dalam ilmu kimia, energi aktivasi merupakan sebuah istilah yang diperkenalkan oleh Svante Arrhenius, yang didefinisikan sebagai energi yang harus dilampaui agar reaksi kimia dapat terjadi.

Energi aktivasi bisa juga diartikan sebagai energi minimum yang dibutuhkan agar reaksi kimia tertentu dapat terjadi. Energi aktivasi merupakan energi minimum yang diperlukan untuk bereaksi pada saat molekul bertumbukan. Fungsi energi aktivasi adalah memutuskan ikatan-ikatan pada reaktan sehingga akan terbentuk ikatan baru pada hasil reaksi. - Geograpik
Enzim merupakan senyawa protein yang berperan sebagai biokatalisator, yaitu mempercepat reaksi tanpa ikut bereaksi.

Enzim tersusun atas komponen protein dan nonprotein. Komponen protein disebut apoenzim yang bersifat labil terhadap suhu. Bagian nonprotein disebut gugus prostetik. Gugus prostetik dapat berupa ion anorganik atau senyawa organik kompleks. Gugus prostetik dari ion anorganik disebut kofaktor, sedangkan dari senyawa organik disebut koenzim. Kofaktor berfungsi sebagai katalis yang dapat enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi fungsi enzim dalam mempercepat reaksi.

Misalnya, enzim ptialin dalam air ludah akan bekerja lebih baik jika terdapat ion ion klorida dan kalsium. Dengan demikian, pilihan jawaban yang tepat yaitu A.Enzim adalah biokatalisator organik yang dihasilkan organisme hidup di dalam protoplasma, yang terdiri atas protein atau suatu senyawa yang berikatan dengan protein.

enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi

Enzim mempunyai dua fungsi pokok sebagai berikut: 1. Mempercepat atau memperlambat reaksi kimia. 2. Mengatur sejumlah reaksi yang berbeda-beda dalam waktu yang sama. Enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi. Enzim meningkatkan laju reaksi dengan cara menurunkan energi aktivasi (energi yang diperlukan untuk reaksi).

Penurunan energi aktivasi dilakukan dengan membentuk kompleks dengan substrat. Setelah produk dihasilkan, kemudian enzim dilepaskan. Enzim bebas untuk membentuk kompleks baru dengan substrat yang lain. Enzim memiliki sisi aktif, yaitu bagian enzim yang berfungsi sebagai katalis. Pada sisi ini, terdapat gugus prostetik yang diduga berfungsi sebagai zat elektrofilik sehingga dapat mengkatalis reaksi yang diinginkan. Bentuk sisi aktif sangat spesifik sehingga diperlukan enzim yang spesifik pula.

Hanya molekul dengan bentuk tertentu yang dapat menjadi substrat bagi enzim. Agar dapat bereaksi, enzim dan substrat harus saling komplementer. Ada beberapa faktor yang memepengaruhi kerja enzim, di antaranya: • Suhu Peningkatan suhu menyebabkan energi kinetik pada molekul substrat dan enzim meningkat, sehingga kecepatan reaksi juga meningkat. Namun suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan rusaknya enzim yang disebut denaturasi, sedangkan suhu yang terlalu rendah dapat menghambat kerja enzim.

Pada umumnya enzim akan bekerja baik pada suhu optimum, yaitu antara 30 0 – 40 0C. • pH Perubahan pH dapat mempengaruhi perubahan asam amino kunci pada sisi aktif enzim, sehingga menghalangi sisi aktif bergabung dengan substratnya.

Setiap enzim dapat bekerja baik pada pH optimum, masing-masing enzim memiliki pH optimum yang berbeda. • Konsentrasi Substrat Peningkatan konsentransi substrat dapat meningkatkan kecepatan reaksi bila jumlah enzim tetap.

enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi

Namun pada saat sisi aktif semua enzim berikatan dengan substrat, penambahan substrat tidak dapat meningkatkan kecepatan reaksi enzim selanjutnya. • Konsentrasi Enzim Kecepatan reaksi dipengaruhi oleh konsentrasi enzim, makin besar konsentrasi enzim makin tinggi pula kecepatan reaksi, dengan kata lain konsentrasi enzim berbanding lurus dengan kecepatan reaksi.

Enzim tripsin dihasilkan oleh kelenjar pancreas dan dialirkan ke dalam usus dua belas jari ( duodenum ). Enzim tripsin berfungsi mengubah pepton menjadi asam amino yang kemudian diangkut darah dan dibawa ke seluruh sel yang membutuhkan.
Enzim merupakan senyawa organik atau katalis protein yang dihasilkan oleh sel dan berperan sebagai katalisator yang dinamakan biokatalisator.

Jadi, enzim dapat mengatur kecepatan dan kekhususan ribuan reaksi kimia yang berlangsung di dalam sel. Perlu Kamu ingat, walaupun enzim dibuat di dalam sel, tetapi untuk bertindak sebagai katalis tidak harus berada di dalam sel. Enzim yang bekerja di dalam sel disebut enzim intraseluler. Contoh enzim intraseluler adalah katalase yang memecah senyawa-senyawa berbahaya, seperti hidrogen peroksida pada sel-sel hati.

Sedangkan, enzim yang dibuat di dalam sel dan melakukan fungsinya di luar sel disebut enzim ekstraseluler. Contoh enzim ekstraseluler adalah enzim-enzim pencernaan, seperti amilase yang memecah amilum menjadi maltosa.

a) Gugus prostetik merupakan tipe kofaktor yang biasanya terikat kuat pada enzim, berperan memberi kekuatan tambahan terhadap kerja enzim. Contohnya adalah hemeyaitu molekul berbentuk cincin pipih yang mengandung besi. Heme merupakan gugus prostetik sejumlah enzim, antara lain katalase, peroksidase, dan sitokrom oksidase.

Enzim bukanlah penambah energi awal dalam bereaksinya substrat, tetapi hanya sebagai pengikat sementara sehingga reaksi dapat berlangsung pada keadaan di bawah energi aktivasinya. Hal ini menyebabkan reaksi akan berjalan lebih cepat.

Enzim merupakan protein yang dapat terdenaturasi (struktur dan sifatnya berubah) oleh suhu, pH, atau logam berat. Enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi.

Enzim meningkatkan laju reaksi dengan cara menurunkan energi aktivasi (energi yang diperlukan untuk reaksi). Penurunan energi aktivasi dilakukan dengan membentuk kompleks dengan substrat.

Setelah produk dihasilkan, kemudian enzim dilepaskan. Enzim bebas untuk membentuk kompleks baru dengan substrat yang lain. Enzim memiliki sisi aktif, yaitu bagian enzim yang berfungsi sebagai katalis. Pada sisi ini, terdapat gugus prostetik yang diduga berfungsi sebagai zat elektrofilik sehingga dapat mengkatalis reaksi yang diinginkan.

Enzim memiliki rentang temperatur tertentu agar dapat bereaksi dengan optimal. Pada temperatur yang tinggi, enzim akan rusak (terdenaturasi) sebagai sifat umum dari protein. Pada kondisi ini, struktur enzim sudah berubah dan rusak sehingga tidak dapat digunakan lagi. Adapun pada temperatur yang rendah, enzim berada pada kondisi inaktif (tidak aktif). Enzim akan bekerja kembali dengan adanya kenaikan temperatur yang sesuai. Semua enzim memiliki kondisi temperatur yang spesifik untuk bekerja optimal.

Enzim memiliki kecenderungan semakin meningkat seiring dengan kenaikan temperatur hingga pada batas tertentu. Setelah itu, enzim kembali mengalami penurunan kinerja. Pada saat kerja enzim optimal maka dapat dikatakan bahwa pada temperatur tersebut temperatur optimum. *contoh grafik pengaruh temperatur terhadap enzim Seperti halnya temperatur, pH dapat memengaruhi optimasi kerja enzim.

Setiap enzim bekerja pada kondisi pH yang sangat spesifik. Hal ini berkaitan erat dengan lokasi enzim yang bekerja terhadap suatu substrat. Pada umumnya, enzim akan bekerja optimum pada pH 6-8. Perubahan pH lingkungan enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi mengakibatkan terganggunya ikatan hidrogen yang ada pada struktur enzim.

Jika enzim berada pada kondisi pH yang tidak sesuai, enzim dapat berada pada keadaan inaktif. Dengan adanya kondisi pH yang spesifik ini, enzim tidak akan merusak sel lain yang berada di sekitarnya. Contohnya, enzim pepsin yang diproduksi pankreas untuk mencerna protein dalam lambung, tidak akan mencerna protein yang ada di dinding pankreas karena enzim pepsin bekerja pada pH 2-4.

Perhatikan gambar dibawah ini! Inhibitor mengganggu kerja enzim. Berdasarkan pengertian dari kata dasarnya ( inhibit artinya menghalangi), inhibitor merupakan senyawa yang dapat menghambat kerja enzim. Inhibitor secara alami dapat berupa bisa (racun) yang dikeluarkan oleh hewan, seperti ular atau laba-laba.

Inhibitor akan mencegah sisi aktif untuk tidak bekerja. Beberapa obat-obatan juga berfungsi sebagai inhibitor, seperti penisilin yang berguna menghambat kerja enzim pada mikroorganisme. Inhibitor terbagi atas dua macam, yakni inhibitor kompetitif dan inhibitor nonkompetitif. Pada inhibitor kompetitif, inhibitor ini akan bersaing dengan substrat untuk bergabung dengan enzim sehingga kerja enzim akan terganggu. Sementara enzim mengkatalis reaksi dengan cara meningkatkan laju reaksi, inhibitor nonkompetitif tidak akan bersaing dengan substrat untuk bergabung dengan enzim karena memiliki sisi ikatan yang berbeda (Keeton and Gould, 1986: 81).

Kerja enzim sangat dipengaruhi oleh air. Rendahnya kadar air dapat menyebabkan enzim tidak aktif. Sebagai contoh, biji tanaman yang dalam keadaan kering tidak akan berkecambah. Hal ini disebabkan oleh tidak aktifnya enzim sebagai akibat dari rendahnya kadar air dalam biji.

Biji akan berkecambah jika direndam. Kadar air yang cukup dapat mengaktifkan kembali enzim.

Kimia Pangan - Enzim - Part 3 - Kinetika Enzim




2022 www.videocon.com