Bahasa baku bahasa indonesia adalah

bahasa baku bahasa indonesia adalah

Fungsi Kata Baku dalam Bahasa Indonesia – Kata baku merupakan kata yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Adapun kaidah yang menjadi tolok ukur kata baku adalah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) serta Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Kata ini sering dipakai pada kalimat maupun percakapan resmi seperti pidato, ceramah, ataupun saat melakukan percakapan dengan orang yang lebih dihormati. Kata baku juga biasa digunakan untuk hal-hal berikut ini, yaitu: • Penulisan karya ilmiah. • Penulisan surat dinas, lamaran kerja, dan surat resmi lainnya. • Rapat, diskusi, ataupun musyawarah.

bahasa baku bahasa indonesia adalah

• Kegiatan surat menyurat antar organisasi atau lembaga. Dalam artikel ciri-ciri kata baku dan tidak baku, kata baku dikatakan mempunyai sejumlah ciri, yaitu: • Tidak dapat berubah setiap saat. • Tidak terpengaruh bahasa daerah dan bahasa asing. • Bukan bahasa yang digunakan untuk percakapan sehari-hari. • Penggunaannya sesuai dengan konteks kalimat.

• Tidak bermakna rancu. • Tidak adanya pleonasme atau penambahan keterangan pada kata baku, serta tidak mengandung unsur hiperkorek (membetulkan suatu kata secara berlebihan, sehingga kata tersebut justru salah dan menjadi tidak baku). • Adanya penggunaan macam-macam imbuhan di dalamnya. Baca: sebutkan ciri-ciri kata baku dan kata tidak baku beserta contohnya – jenis-jenis kata – kata dasar dan kata berimbuhan – konjungsi – jenis-jenis konjungsi – kata benda konkret dan kata benda abstrak Menurut Waridah (2014:60), fungsi kata baku dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut: 1.

Pemersatu Bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu. Hal ini telah termaktub dalam salah satu bunyi Sumpah Pemua, yaitu: “Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Adapun bahasa Indonesia yang mesti digunakan adalah bahasa baku yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Kekhasan dialek setiap daerah di Indonesia dapat dipersatukan lewat bahasa Indonesia yang baku, sehingga setiap daerah tersebut menyatu menjadi kesatuan bangsa Indonesia. 2.

Pemberi Kekhasan Penggunaan bahasa baku dapat menjadi ciri khas bagi setiap penggunanya, baik itu individu maupun kelompok. Dengan digunakannya bahasa baku dalam keseharian, maka individu ataupun kelompok tersebut akan menjadi pembeda diantara individu atau kelompok lainnya.

3. Pembawa Kewibawaan Selain menjadi ciri khas, bahasa baku ternyata bisa menjadi pembawa kewibawaan bagi penggunanya. Orang atau kelompok yang menggunakan kata baku dalam kesehariannya akan diangggap sebagai orang yang berwibawa dan patut dihormati.

Hal ini dikarenakan bahasa baku identik dengan formalitas dan kesantunan. Selain itu, orang atau kelompok yang menggunakan bahasa baku juga identik sebagai orang yang memahami dan menjunjung tinggi bahasa Indonesia yang baik juga benar.

Oleh karenanya, bahasa Indonesia yang baku dapat membawa kewibawaan bagi siapapun yang menggunakannya, baik individu maupun kelompok. 4. Kerangka Acuan Bahasa baku dapat menjadi acuan seseorang dalam berbahasa. Hal ini karena bahasa baku merupakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, sehingga layak untuk menjadi acuan berbahasa seseorang.

Bila seseorang mampu menggunakan bahasa baku dengan baik, maka orang tersebut dianggap sudah menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Begitu pun sebaliknya, orang yang belum bisa menggunakan bahasa baku dengan baik, akan dianggap belum menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Baca: fungsi dan makna kata depan – contoh kata partikel dalam kalimat bahasa Indonesia – sebutkan macam-macam kata – contoh kata seru dalam kalimat – contoh kata sandang dalam bahasa Indonesia – contoh kata dasar – jenis-jenis kata sandang – jenis-jenis kata benda – bahasa baku bahasa indonesia adalah kata serapan – jenis-jenis kata ganti Dari penjelasan-penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa kata baku mempunyai 4 fungsi, bahasa baku bahasa indonesia adalah sebagai pemersatu, pemberi kekhasan, pembawa kewibawaan, dan kerangka acuan.

Fungsi-fungsi tersebut dapat terwujud jika kata baku dapat digunakan secara baik dan benar di dalam keseharian, terutama dalam kondisi-kondisi tertentu yang sudah disebutkan di paragraf awal.

Demikianlah artikel tentang fungsi kata baku dalam bahasa Indonesia kali ini. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan pembaca sekalian.

Terima kasih. tirto.id - Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI), kata baku diartikan sebagai kata yang menjadi tolak ukur dan berlaku untuk kuantitas atau kualitas yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan. Dilansir dari Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi (2016), selain dari bahasa Indonesia, kata baku dapat berasal dari bahasa dearah dan bahasa asing. Ragam asal kata baku tersebut, telah disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia yang resmi. Sebaliknya, kata-kata tidak baku adalah kata-kata yang tidak mengikuti kaidah dalam bahasa Indonesia.

Kaidah ini sudah diakui oleh masyarakat untuk menjadi pedoman. Kata baku digunakan dalam penulisan ilmiah ataupun formal. Penulisan formal itu seperti, pengadilan, rapat organisasi, presentasi ilmiah, dan lain sebagainya. Kata baku dalam ragam ilmiah maupun formal bertujuan untuk memanfaatkan bahasa baku bahasa indonesia adalah bahasa Indonesia seperti, memaparkan fakta, konsep, prinsip, teori, atau gabungan dari keempat hal tersebut.

Sehingga, maksud dari pemaparan bahasa Indonesia dapat dijelaskan dengan konkret, baik secara lisan maupun tulisan kepada orang lain. Contoh Kata Baku dan Tidak Baku 1. Kata baku perbaiki beri tahu 2. Kata tidak baku bikin baik kasih tahu Sementara itu, bahasa Indonesia baku ialah bahasa Indonesia yang digunakan orang-orang terdidik dan yang dipakai sebagai tolak bandingan penggunaan bahasa yang dianggap benar. Menurut materi kuliah, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, fungsi pembakuan bahasa yaitu: • Fungsi pemersatu bagi seluruh bangsa Indonesia, yakni sebagai bahasa nasional, bahasa negara, dan bahasa resmi.

• Fungsi penanda kepribadian yang dijalankan oleh suatu bahasa baku dan bangsa yang beradab akan terlihat jika dipergunakan dalam pergaulan dengan bangsa asing. • Fungsi penambahan kewibawaan, yakni jika masyarakat mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam pergaulan internasional, maka kewibawaan bahasa Indonesia juga akan meningkat. • Fungsi sebagai kerangka acuan (frame of reference), yakni ukuran yang disepakati secara umum tentang tepat tidaknya pemakaian bahasa di dalam situasi tertentu.

Bahasa baku ialah bahasa yang terpelihara dalam pemakaian kaidahnya dan bersih dari pengaruh langsung berbagai unsur bahasa daerah serta bahasa asing lainnya. Untuk itu, Ahli Bahasa, Anton Moeliono mengatakan bahwa bahasa baku memiliki ciri sifat dinamis yang cukup terbuka untuk menampung.

Ciri-ciri tersebut ialah: • Perubahan yang bersistem di bidang kosa kata dan peristilahan, dan; • Perkembangan berjenis ragam dan gaya bahasa di bidang kalimat dan makna. Adapun sifat-sifat bahasa Indonesia, yaitu: • Yang diterangkan terletak di depan yang menerangkan (Hukum DM) – rumah makan – sekolah tinggi.

• Bila kata majemuk terdiri dari dua kata yang sama-sama menunjukkan waktu boleh dipertukarkan tempatnya menurut kepentingannya (Jika diletakkan di depan berarti itu lebih penting dari kata yang di belakangnya). • Bahasa Indonesia tidak mempunyai kata penghubung untuk menyatakan kepunyaan.

Jadi ‘rumah guru” bukan “rumah dari guru”. • Bahasa Indonesia tidak mengenal perubahan bentuk pada pokok kata atau kata dasar. • Bahasa Indonesia tidak mengenal perbedaan jenis kelamin kata. • Imbuhan (awalan, akhiran, sisipan) memainkan peranan yang penting dalam bahasa Indonesia, sebab imbuhan dapat mengubah jenis kata menjadi jenis lain.

Misalnya kata: tunjuk (kata benda), menunjuk (kata kerja aktif), ditunjuk (kata kerja pasif), petunjuk, penunjuk, telunjuk, pertunjukan, dan lain-lain.
• Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga • Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Bahasa baku bahasa indonesia adalah • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel • Pulih Bersama • Pulih Bersama • Indonesia Hi-Tech • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT Bahasa Indonesia yang baik dan benar sering sekali dibahas dalam pelajaran di sekolah, dalam seminar atau workshop, dan pelatihan-pelatihan tentang bahasa Indonesia.

Namun, tentang bahasa Indonesia baku banyak yang bahasa baku bahasa indonesia adalah bertanya tanya, sebenarnya apakah bahasa Indonesia baku itu ? Bahasa Indonesia baku hanya disebut saat mendefinisikan bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah baku bahasa Indonesia. Bahasa baku memiliki tiga ciri, yakni : 1. Kemantapan dinamis, yakni kaidah-kaidah yang mantap, tidak dapat berubah setiap saat, dan kaidahnya harus konsisten. 2. Kecendekiaan, yakni perwujudan dalam kalimat, paragrap, dan satuan bahasa lain yang lebih besar mengungkapkan penalaran atau pemikiran yang teratur, logis, dan masuk akal.

3. Keseragaman, bahasa baku berpraanggapan adanya keseragaman kaidah, tetapi bukan keseragaman bahasa. Bahasa bakumemiliki tiga fungsi, yakni : 1. Fungsi pemersatu, sebagai sarana yang dapat mempersatukan semua penutur dari berbagai dialek bahasa menjadi satu masyarakat bahasa dan meningkatkan identifikasi penutur orang seorang dengan seluruh masyarakat itu ; 2. Fungsi pemberi kekhasan, dapat membedakan bahasa itu dengan bahasa lain, memperkuat perasaan kepribadian masyarakat yang bersangkutan; 3.

Fungsi pembawa kewibawaan, berkaitan dengan usaha orang mencapai kederajatan dengan peradapan lain yang dikagumi melalui bahasa baku sendiri; 4.

Fungsi kerangka acuan, denganadanya norma dan kaidah yang jelas menjadi tolak ukur bagi benar tidaknya pemakaian bahasa orang atau golongan sehingga bila terjadi penyimpangan dapat dinilai. Fungsi bahasa baku satu sampai tiga memiliki sifat atau bersifat simbolik, memiliki makna dan rasa tersendiri dalam diri tiap penutur bahasa, tetapi pada fungsi yang keempat bersifat objektif, Bahasa Indonesia memiliki kaidah atau norma yang pasti dapat dijadikan pedoman. Fungsi yang keempat inilah yang sering dijadikan acuan jawaban untuk Bahasa Indonesia yang benar.

Bahasa Indonesia baku memiliki bidang pemakaian tersendiri, tidak setiap saat atau waktu dapat dipakai. Bahasa Indonesia baku dapat dipakai dalam situasi berbahasa sebagai berikut : 1. Untuk komunikasi resmi, seperti upacara-upacara kenegaraan, rapat-rapat dinas, pengumuman resmi dan sebagainya. 2. Untuk wacana teknis, misalnya laporan kegiatan, makalah ilmiah (skripsi, tesis, disertasi) dan sebagainya. 3. Pembicaraan di depan umum, seperti pidato, ceramah, seminar, dan sebagainya.

4. Berbicara dengan orang yang patut dihormati, misalnya pejabat pemerintahan, atasan, guru, dan sebagainya. Baku dalam bahasa baku di dalam 3 Kamus di atas bermakna sama dengan baku I. Oleh karena itu, bahasa baku ialah bahasa yang menjadi pokok, yang menjadi dasar ukuran, atau yang menjadi standar.

Penjelasan makna kata itu tentu saja belum cukup untuk memahami konsep yang sesungguhnya. Oleh karena itu, istilah bahasa baku itu akan dijelaskan lagi secara luas di bawah ini. Istilah bahasa baku dalam bahasa Indonesia atau standard language dalam bahasa Inggris dalam dunia ilmu bahasa atau linguistik pertama sekali diperkenalkan oleh Vilem Mathesius pada 1926.

bahasa baku bahasa indonesia adalah

Ia termasuk pencetus Aliran Praha atau The Prague School. Pada 1930, B. Havranek dan Vilem Mathesius merumuskan pengertian bahasa baku itu. Mereka berpengertian bahwa bahasa baku sebagai bentuk bahasa yang telah dikodifikasi, diterima dan difungsikan sebagai model atau acuan oleh masyarakat secara luas (A Standard language can tentatively be definite as a codified form of language accepted by and serving as a model for a large speech community) (Garvin, 1967 dalam Purba, 1996 : 52).

Pengertian bahasa baku di atas diikuti dan diacu oleh pakar bahasa dan pengajaran bahasa baik di barat maupun di Indonesia. Di dalam Dictionary Language and Linguistics, Hartman dan Strok berpengertian bahasa baku adalah ragam bahasa yang secara sosial lebih digandrungi dan yang sering didasarkan bahasa orang-orang yang berpendidikan di dalam atau di sekitar pusat kebudayaan atau suatu masyarakat bahasa ( Standard language is the socially favourite variaty of a langauage, often based on the speech of educated population in and a round the cultural and or political cntre of the speech community) (1972 : 218).

Di dalam Sociolinguistics A Critical Survey of Theory and Application, Dittmar berpengertian bahwa bahasa baku adalah ragam bahasa dari suatu masyarakat bahasa yang disahkan sebagai norma keharusan bagi pergaulan sosial atas dasar kepentingan dari pihak-pihak dominan di dalam masyarakat itu. Tindakan pengesahan itu dilakukan melalui pertimbangan-pertimbangan nilai yang bermotivasi sosial politik (The standard is that speech variety of a language community which is legitimized as a the obligatory norm form social intercourse on the strength of the interest of dominant forces in that social.

The act of legitimized a norm is effected by means of value judgement bahasa baku bahasa indonesia adalah have sociopolitical motivation) (1976 : 8). Di dalam Logman Dictionary of Applied Linguistics, Richard, Jhon dan Heidi berpengertian bahwa bahasa baku adalah ragam bahasa yang berstatus tinggi di dalam suatu masyarakat atau bangsa dan biasa didasarkan penutur asli yang berpendidikan di dalam berbicara dan menulis (Standard variaty; standard variaty; standard dialect; standard language is the variaty of a language which has on the speech and writing of educated native speakers of the language) (1985 : 271).

Masalah kodifikasi berkait dengan masalah ketentuan atau ketetapan norma kebahasaan. Norma-norma kebahasaan itu berupa pedoman tata bahasa, ejaan, kamus, lafal, dan istilah. Kode kebahasaan sebagai norma itu dikaitkan juga dengan praanggapan bahwa bahasa baku itu berkeseragaman. Keseragaman kode kebahasaan diperlukan bahasa baku agar efisien, karena kaidah atau norma jangan berubah setiap saat.

Kodifikasi yang demikian diistilahkan oleh Moeliono sebagai kodifikasi bahasa menurut struktur bahasa sebagai sebuah sistem komunikasi (1975 : 2). Kodifikasi kebahasaan juga dikaitkan dengan masalah bahasa menurut situasi pemakai dan pemakaian bahasa. Kodifikasi ini akan menghasilkan ragam bahasa. Perbedaan ragam bahasa itu akan tampak dalam pemakaian bahasa lisan dan tulis. Dengan demikian kodifikasi kebahasaan bahasa baku akan tampak dalam pemakaian bahasa baku.

Bahasa baku atau bahasa standar itu harus diterima atau berterima bagi masyarakat bahasa. Penerimaan ini bahasa baku bahasa indonesia adalah kelanjutan kodifikasi bahasa baku. Dengan penerimaan ini bahasa baku mempunyai kekuatan untuk mempersatukan dan menyimbolkan masyarakat bahasa baku. Bahasa baku itu difungsikan atau dipakai sebagai model atau acuan oleh masyarakat secara luas. Acuan itu dijadikan ukuran yang disepakati secara umum tentang kode bahasa dan kode pemakaian bahasa di dalam situasi tertentu atau pemakaian bahasa tertentu.

bahasa baku bahasa indonesia adalah

Ketiga aspek yang terdapat di dalam konsep bahasa baku itu kodifikasi, keberterimaan, difungsikan atau dipakai sebagai model, berkesatuan utuh dan saling berkait, baik dalam menentukan kode bahasa maupun kode pemakaian bahasa baku.

Hal ini akan dirinci pada pembahasan ciri-ciri dan fungsi bahasa baku dan pemakaian bahasa baku.
ERROR: The request could not be satisfied 403 ERROR The request could not be satisfied. The Amazon CloudFront distribution is configured to block access from your country. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error.

Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront (CloudFront) Request ID: 3-Kvgql-rUVbpXrZdAhx325NOp0VtckEF2Gku56POWzehBaGBUPLKw==
Bobo.id – Sebagai warga negara Indonesia yang baik, kita harus mencintai bahasa Indonesia.

Nah, bagaimana cara kita menunjukan rasa cinta terhadap Bahasa Indonesia? Teman-teman bisa menunjukan rasa cinta tersebut dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan kondisi. Sedangkan bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

bahasa baku bahasa indonesia adalah

Berbahasa Indonesia yang baik dan benar dapat ditandai dengan pemilihan kata. Ketika menggunakan Bahasa Indonesia teman-teman perlu memperhatikan kata baku dan tidak baku. Baca Juga: Contoh Keragaman Budaya di Indonesia: Bahasa Daerah, Rumah Adat, Pakaian, Kesenian, dan Upacara Adat Untuk mengetahui apakah kata yang teman-teman tulis atau ucapkan sudah baku bisa dilihat melalui KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Teman-teman bisa melihatnya secara daring atau melalui KBBI yang berbentuk buku. Jika kata yang ditulis atau diucapkan terdapat dalam KBBI maka sudah dipastikan bahwa kata tersebut adalah kata baku. Sedangkan kata tidak baku, tidak terdapat dalam KBBI. Hal ini karena kata tidak baku biasanya dipengaruhi oleh bahasa daerah atau bahasa asing.

Meski sering digunakan saat mengirim pesan kepada sahabat, kata tidak baku tidak boleh digunakan dalam penulisan pesan yang bersifat resmi atau formal.

Kali ini, kita akan mencari tahu tentang pengertian serta contoh kata baku dan tidak baku dalam penggunaan bahasa Indonesia. ARTIKEL TERKAIT • Sering Salah, Inilah Penulisan 5 Kata Bahasa Indonesia yang Tepat • Inilah Gagasan Pokok dan Gagasan Pendukungnya dari Tayangan 'Mengapa Masakan Indonesia Enak-Enak?' • Mencari Informasi Penting dari Teks: Contoh Peta Pemikiran dari Teks yang Membahas Pandemi COVID-19 • Cara Menulis Huruf Kapital dalam Judul, Masih Banyak yang Sering SalahBahasa baku merupakan ragam bahasa resmi yang biasa digunakan untuk menyampaikan informasi dalam situasi formal atau resmi.

Bahasa baku adalah ragam bahasa yang sesuai dengan kaedah bahasa Indonesia yang berpedoman pada kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), pedoman pembentukan istilah, dan ejaan yang disempurnakan (EYD). Bahasa resmi biasanya digunakan secara lisan ataupun tulisan dalam beberapa situasi formal seperti rapat dinas, pidato kenegaraan, komunikasi dengan guru atau atasan, komunikasi resmi, wacana teknis, dan sebagainya.

Bahasa yang tidak mengikuti pedoman bahasa baku dan kaedah bahasa Indonesia disebut bahasa tidak baku. Bahasa tak baku merupakan ragam bahasa yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari. Bahasa tidak baku disebut juga bahasa informal. Ragam bahasa tak baku cenderung lebih akrab dibanding dengan bahasa baku. Ciri Bahasa Baku Dalam percakapan sehari-hari, biasanya kita akan cenderung menggunakan ragam bahasa yang bersesuaian bahasa baku bahasa indonesia adalah kebiasaan di daerah kita.

Bahasa baku tidak dipengaruhi oleh bahasa daerah seperti penambahan akhiran pada suatu kata, istilah atau sebutan tertentu, ataupun perubahan awalan kata. Baku Tidak baku Saya Gue Saya menemukan tas itu di dekat sekolah. Gue menemukan tas itu di dekat sekolah. Ayah Bokap Ayah bekerja sebagai bahasa baku bahasa indonesia adalah di desa.

Bokap bekerja sebagai petani di desa. Bertemu Ketemu Saya bertemu ayah di rumah sakit. Gue ketemu ayah di rumah sakit. Merasa Ngerasa Ibu merasa sedih karena ayah sakit.

bahasa baku bahasa indonesia adalah

Nyokap ngerasa sedih karena bokap sakit. Menemukan Nemuin Dea menemukan sebuah pensil di laci. Dea nemuin sebuah pensil di laci. Ragam bahasa baku tidak dipengaruhi oleh bahasa asing.

Jika terdapat pengaruh bahasa asing seperti penambahan kata bantu, pertukaran posisi, perbedaan makna dan sebagainya, maka bahasa tersebut merupakan bahasa tidak baku. Baku Tidak baku Itu salah Itu adalah salah Pak guru mengatakan bahwa jawaban itu salah.

Pak guru mengatakan bahwa jawaban itu adalah salah. Kesempatan lain Lain kesempatan Kita akan bertemu pada kesempatan lain. Kita akan bertemu pada lain kesempatan.

bahasa baku bahasa indonesia adalah

Tempat Di mana Saya pergi ke kantor tempat Ibu bekerja. Saya pergi ke kantor di mana ibu bekerja. Hemoglobin Haemoglobin Zat itu meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah. Zat itu meningkatkan haemoglobin dalam darah. Ragam bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari umumnya merupakan bahasa yang tidak baku atau bahasa pasaran. Bahasa yang baku bukan merupakan bahasa percakapan dan terdengar lebih formal atau resmi. Baku Tidak baku Tetapi Tapi Adik sudah minta maaf tetapi kakak masih marah.

Adik sudah minta maaf tapi kakak masih marah. Tidak Gak Ayah tidak pergi ke kantor karena sakit. Ayah nggak pergi ke kantor karena sakit. Bagaimana Gimana Bagaimana keadaan ayah sekarang? Gimana keadaan ayah sekarang? Memberi Ngasih Nenek memberi obat herbal untuk ayah. Nenek ngasih obat herbal untuk ayah. Begitu Gitu Kata ibu tidak boleh begitu! Kata ibu tidak boleh gitu! Ragam bahasa baku menggunakan imbuhan (awalan, sisipan, dan akhiran) secara gamblang sehingga jelas makna dan artinya.

Penggunaan imbuhan secara eksplisit menampilkan makna yang sebenarnya sehingga kalimat bahasa baku bahasa indonesia adalah mudah dimengerti. Baku Tidak baku Bernyanyi Nyanyi Adik dan kakak bernyanyi bersama.

Adik dan kakak nyanyi bersama. Bermain Main Pemuda itu sangat pintar bermain catur. Pemuda itu sangat pintar main catur. Pemakaian ragam bahasa baku sesuai dengan konteks kalimat sehingga dihasilkan kalimat yang lebih sesuai. Jika menggunakan bahasa tidak baku, maka kalimat akan terasa kurang tepat. Baku Tidak baku Daripada Dari Rumah paman lebih besar daripada rumah nenek.

Rumah paman lebih besar dari rumah nenek. Disebabkan oleh Disebabkan karena Kecelakaan tersebut disebabkan oleh jalan yang licin. Kecelakaan tersebut disebabkan karena jalan yang licin.

Poin ini merupakan salah satu ciri bahasa baku yang cenderung sulit dipahami karena kerancuan bersifat relatif dan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan. Bahasa baku tidak mengandung makna ganda sehingga lebih efektif. Baku Tidak baku Menghemat waktu Mempersingkat waktu Mengesampingkan Mengenyampingkan Memeroleh Memperoleh Berkali-kali Berulang kali Mengatasi ketertinggalan Mengejar ketinggalan Pleonasme merupakan majas yang menggunakan suatu kata atau keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan lagi karena arti kata tersebut sama dengan kata yang diterangkannya.

Dengan kata lain, adanya penambahan kata keterangan pada pernyataan yang sudah jelas maknanya. Baku Tidak baku Maju Maju ke depan Naik Naik ke atas Hadirin Para hadirin Zaman dahulu Zaman dahulu kala Para juri Para juri-juri Hiperkorek merupakan kesalahan berbahasa akibat koreksi yang berlebihan pada bentuk yang sudah benar sehingga menyebabkan kesalahan. Hiperkorek bersifat menghendaki kerapian dan kesempurnaan yang sangat berlebihan sehingga hasilnya justru menjadi kurang tepat.

Baku Tidak baku Kristal Krystal Insaf Insyaf Syukur Sukur Sah Syah Karisma Kharisma
• Alemannisch • العربية • الدارجة • Asturianu • Azərbaycanca • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • বাংলা • Bosanski • Català • Cymraeg • Deutsch • Zazaki • English • Esperanto • Español • Euskara • فارسی • Suomi • Français • Frysk • Galego • Gaelg • עברית • हिन्दी • Hrvatski • Magyar • Հայերեն • Italiano • 日本語 • Jawa • Қазақша • 한국어 • Кыргызча • Latina • Limburgs • Lietuvių • Latviešu • Македонски • Bahasa Melayu • Nederlands • Norsk bokmål • ਪੰਜਾਬੀ • Polski • پښتو • Português • Română • Русский • Sicilianu • سنڌي • Srpskohrvatski / српскохрватски • සිංහල • Slovenčina • Slovenščina • Shqip • Српски / srpski • Svenska • Kiswahili • தமிழ் • Türkçe • Татарча/tatarça • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Tiếng Việt • 吴语 • 中文 • Bân-lâm-gú Bahasa baku, bahasa standar atau standar kebahasaan ( bahasa Inggris: standard language, linguistic standard) adalah varietas bahasa yang berkontras dengan bentuk-bentuk vernakular (termasuk dialek geografis dan sosiolek).

Bahasa baku diterima di masyarakat sebagai peranti komunikasi publik dan formal, seperti dalam perundang-undangan, surat-menyurat, dan rapat resmi. [1] Varietas tersebut dianggap isolek netral yang digunakan oleh keseluruhan masyarakat yang bersangkutan, terlepas dari asal geografis atau sosial mereka.

[2] [3] Dalam pengertian lain, bahasa baku adalah bentuk bahasa yang telah mengalami proses standardisasi, yaitu tahap menegakkan tata bahasa dan kamus normatif. [2] Penetapan bahasa baku biasanya melibatkan kodifikasi norma kebahasaan dan sistem ejaan, serta penerimaan konvensi ini oleh khalayak umum. [4] Selain dua tersebut ada juga pengertian bahwa bahasa baku adalah bahasa yang mempunyai setidaknya satu varietas standar.

Menurut definisi ini, istilah bahasa baku merujuk kepada keseluruhan bahasa itu, bukan kepada bentuk bakunya sendiri. [5] Di Indonesia, varietas baku tidak cocok digunakan untuk segala keperluan, tetapi hanya untuk komunikasi resmi, wacana teknis, pembicaraan di depan umum, dan pembicaraan dengan orang yang dihormati. Di luar keempat penggunaan itu, umumnya dipakai bahasa tak baku. [1] Daftar isi • 1 Fungsi bahasa baku • 2 Proses pembakuan • 3 Lihat pula • 4 Referensi • 5 Kepustakaan Fungsi bahasa baku [ sunting - sunting sumber ] Paul L.

Garvin, yang mencerminkan tradisi Aliran Praha, membedakan lima fungsi bahasa baku: [6] • penyatu – memungkinkan komunikasi mudah di dalam suatu komunitas bahasa dan bahasa baku bahasa indonesia adalah identitas kultural-politik komunitas tersebut; • pemisah bahasa baku bahasa indonesia adalah mengontraskan suatu komunitas bahasa dengan yang lain, sambil membangun ikatan antara bahasawan yang menggunakan varietas bahasa yang berbeda-beda; • pemberi prestise – bertindak sebagai pembawa gengsi sosial dan kultural, baik untuk seluruh komunitas maupun bagi seorang individu yang menuturkannya; • partisipatif – memungkinkan para penutur bahasa untuk mendapatkan manfaat dari penguasaan bahasa baku (mobilitas sosial, kemungkinan berpartisipasi dalam wacana publik, dll.); • kerangka acuan – berfungsi sebagai patokan untuk penilaian praktik kebahasaan.

Proses pembakuan [ sunting - sunting sumber ] Standardisasi bahasa dikaitkan dengan terbentuknya negara kebangsaan dan dilatarbelakangi kebutuhan mendefinisikan norma komunikasi supraregional. [7] Sebuah bahasa baku dibentuk di atas fondasi varietas bahasa yang berkerabat – bentuknya dapat ditentukan dengan dipromosikannya satu dialek, misalnya isolek yang digunakan oleh pemerintah atau pusat kebudayaan; alternatifnya, bisa ditentukan sebuah varietas baru yang menghimpunkan ciri-ciri dialek yang berbeda.

[8] Terwujudnya bahasa baku umumnya disertai dengan pembuatan sistem ejaan yang selaras, yang bisa dikodifikasikan dalam terbitan preskriptif jenis formal ( kamus dan tata bahasa normatif) atau diterapkan dalam serangkaian teks acuan yang disepakati. [8] Terlepas dari apakah sumber tersebut dikembangkan oleh individu swasta atau oleh lembaga negara, terbitan tersebut mulai berfungsi sebagai standar bahasa jika diperlakukan oleh masyarakat sebagai tolok ukur untuk penilaian dan pembetulan praktik kebahasaan.

[9] Bentuk tulis yang dibakukan dan kodifikasi selanjutnya membuat varietas baku menjadi lebih stabil dan memberikan fondasi untuk pengembangan lebih lengkap ( Ausbau). [8] Bahasa standar berfungsi sebagai norma bahasa tulis, bertindak sebagai perangkat komunikasi resmi, digunakan oleh penyiar, dan umumnya diajarkan kepada orang asing. [10] Selama proses ini, standar bahasa mendapatkan gengsi kebudayaan lebih tinggi dan menjadi lebih maknawi secara fungsional daripada dialek-dialek vernakular.

[10] Dialek-dialek tersebut dianggap dependen (heteronom) terhadap bahasa standar karena penuturnya memperlakukan bahasa baku sebagai norma bahasa tulis, menganggapnya sebagai otoritas, menggunakan terminologi ahli yang dibentuk di dalamnya, dan segala kecenderungan standardisasi yang terwujud dalam dialek tersebut membuat bentuknya semakin mendekati bahasa baku.

[11] Dalam kasus beberapa bahasa, seperti bahasa Inggris, proses ini dapat berlangsung selama waktu yang panjang tanpa intervensi eksternal; sedangkan dalam kasus lain, proses tersebut diawasi dan diarahkan oleh badan otoritatif seperti Académie française dan tindakannya mempercepat penerapan tahap tersebut. [10] Karena pembentukan standar terutama dipengaruhi bukan oleh faktor-faktor linguistik, tetapi oleh kondisi politik dan historis yang berlaku, bahasa baku tidak seharusnya diperlakukan sebagai bentuk yang lebih utama atau lebih "benar" dibandingkan varietas lain.

[12] [13] Para ahli linguistik mengakui bahwa bahasa standar bersifat arbitrer dan konvensional, serta menekankan bahwa berfungsinya bahasa baku dimungkinkan karena kesepakatan sosial umum.

[14] [15] Dalam literatur linguistik, sebutan "dialek baku" kadang digunakan sebagai pengganti istilah "bahasa bahasa baku bahasa indonesia adalah yang lebih netral. [16] [17] Kumpulan pandangan dan sikap sosial yang khas menyertai terwujudnya bahasa baku, termasuk penyamaan "baku" dengan "benar", disebut dengan ideologi bahasa standar.

[18] [19] Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • diskriminasi bahasa • preskriptivisme Referensi [ sunting - sunting sumber bahasa baku bahasa indonesia adalah • ^ a b Pendahuluan KBBI edisi ketiga. • ^ a b Finegan (2007), hlm. 14 • ^ Kapović (2010), hlm. 55–74 • ^ Escandell Vidal & Marrero Aguiar (2014), hlm. 277–279 • ^ Словарь социолингвистических терминов (dalam bahasa Rusia).

Moskow: Российская академия наук. Институт языкознания. Российская академия лингвистических наук. 2006. hlm. 217. • ^ Garvin (1993), hlm. 37–54 • ^ Kapović, Mate (2013). "Jezik i konzervativizam".

Dalam Vuković, Tvrtko; Kolanović, Maša. Komparativni postsocijalizam: slavenska iskustva (dalam bahasa Serbo-Kroasia).

bahasa baku bahasa indonesia adalah

Zagrebačka slavistička škola. hlm. 391–400. Diakses tanggal 2018-11-17. • ^ a b c Ammon (2004), hlm. 275 • ^ Ammon (2004), hlm. 276 • ^ a b c Trudgill (2006), hlm.

119 • ^ Chambers & Trudgill (1998), hlm. 9 • ^ Mesthrie, Rajend (1994). Standardisation and variation in South African English (dalam bahasa Inggris). hlm. 181–201. Diakses tanggal 2018-10-06. • ^ Schilling-Estes, Natalie (2006). "Dialect variation". Dalam Fasold, Ralph; Connor-Linton, Jeffrey. An Introduction to Language and Linguistics (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 312–319. ISBN 9780521847681.

• ^ Megarry, Jacquetta; Nisbet, Stanley; Hoyle, Eric (2005). World Yearbook of Education: Education of Minorities (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. hlm.

bahasa baku bahasa indonesia adalah

42–45. ISBN 0415392977. • ^ Fasold, Ralph (2006). "The politics of language". Dalam Fasold, Ralph; Connor-Linton, Jeffrey. An Introduction to Language and Linguistics (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm.

371–400. ISBN 9780521847681. • ^ Trudgill, Peter. Bex, T.; Watts, R.J., ed. Standard English: The Widening Debate (PDF) (dalam bahasa Inggris). London: Routledge.

hlm. 117–128. Parameter -data= yang tidak diketahui mengabaikan ( -date= yang disarankan) ( bantuan); Parameter -rozdział= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ McGregor, William (2009). Linguistics: An Introduction (dalam bahasa Inggris). A&C Black. hlm.

bahasa baku bahasa indonesia adalah

160. ISBN 9781847063670. • ^ Mooney, Annabelle; Evans, Betsy (2018). Language, Society and Power: An Introduction (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 9780429823398. • ^ Wei, Wi (2010). "The nature of linguistic norms". Dalam Cruz-Ferreira, Madalena; Evans, Betsy.

Multilingual Norms (dalam bahasa Inggris). Peter Lang. hlm. 397–399. ISBN 9783631596371. Kepustakaan [ sunting - sunting sumber ] • Dovalil, Vít (2017). "JAZYKOVÝ STANDARD". Dalam Karlík, Petr; Nekula, Marek; Pleskalová, Jana. Nový encyklopedický slovník češtiny (dalam bahasa Cheska). • B.

Suhardi; B. Cornelius Sembiring (2007). "Aspek sosial bahasa". Dalam Untung Yuwono; Kushartanti; Multamia R. M. T. Lauder.

bahasa baku bahasa indonesia adalah

Pesona bahasa: langkah awal memahami linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. ISBN 9792216812. OCLC 156874430. • Finegan, Edward (2007). Language: Its Structure and Use (dalam bahasa Inggris). Boston: Cengage Learning.

ISBN 1413030556.

bahasa baku bahasa indonesia adalah

• Garvin, Paul L. (1993). "A Conceptual Framework for the Study of Language Standardization". International Journal of the Sociology of Language (dalam bahasa Inggris). 100. • Kapović, Mate (2010). Čiji je jezik (PDF) (dalam bahasa Serbo-Kroasia) (edisi ke-1).

Zagreb: Algoritam. ISBN 9789533162829. • Escandell Vidal, Victoria; Marrero Aguiar; et al. (2014). Claves del Lenguaje Humano (dalam bahasa Spanyol). Editorial Universitaria Ramon Areces. ISBN 9788499611594. Pemeliharaan CS1: Penggunaan et al. yang eksplisit ( link) • Ammon, Ulrich (2004). "Standard variety". Sociolinguistics (dalam bahasa Inggris). 1. Walter de Gruyter. hlm. 273–283.

ISBN 978-3-11-014189-4. • Inoue, M. (2006). "Standardization". Encyclopedia of Language and Linguistics (dalam bahasa Inggris).

12 (edisi ke-2). Elsevier. hlm. 121–127. ISBN 978-0-08-044299-0. • Chambers, J.K.; Trudgill, Peter (1998). Dialectology (dalam bahasa Inggris) (edisi ke-2). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-59646-6. • Trudgill, Peter (1992). Ausbau sociolinguistics and the perception of language status in contemporary Europe (dalam bahasa Inggris). 2. hlm. 167–177. doi: 10.1111/j.1473-4192.1992.tb00031.x.

• Trudgill, Peter (2006). "Standard and Dialect Vocabulary". Encyclopedia bahasa baku bahasa indonesia adalah Language and Linguistics (dalam bahasa Inggris). 12 (edisi ke-2). Elsevier. hlm. 119–121. ISBN 978-0-08-044299-0. Kategori tersembunyi: • CS1 sumber berbahasa Rusia (ru) • CS1 sumber berbahasa Serbo-Kroasia (sh) • CS1 sumber berbahasa Inggris (en) • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • Halaman dengan argumen ganda di pemanggilan templat • CS1 sumber berbahasa Cheska (cs) • Pemeliharaan CS1: Penggunaan et al.

yang eksplisit • CS1 sumber berbahasa Spanyol (es) • Halaman ini terakhir diubah pada 6 Mei 2022, pukul 11.25. • Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •

MKU BAHASA INDONESIA (MATERI 9)




2022 www.videocon.com