Fungsi birokrasi menurut max weber

fungsi birokrasi menurut max weber

A. Pengenalan Teori Birokrasi Organisasi didefinisikan sebagai satu unit sosial yang sengaja dibentuk (atau pengelompokan manusia) dan dibentuk kembali untuk mencapai matlamat-matlamat tertentu (Etzioni, 1964). Apabila bercakap mengenai organisasi, kita tidak boleh lari daripada membicarakan mengenai teori-teori organisasi yang ada.

Salah satu teori yang paling berpengaruh dalam bidang organisasi dan pentadbiran ialah teori birokrasi. Teori ini diasaskan oleh Max weber, seorang ahli sosiologi dan ekonomi berpengaruh Jerman. Hasil kerja yang dilakukan olehnya adalah sezaman dengan Frederick W. Taylor dan Henri Fayol, namun beliau bekerja mengikut jalannya yang tersendiri. Dari segi pengertiannya, birokrasi boleh didefinisikan sebagai satu konsep dalam bidang sosiologi dan sains politik yang merujuk kepada satu cara perlaksanaan pentadbiran dan penguatkuasaan undang-undang sah yang telah dibuat dalam sesebuah organisasi.

Lazimnya kita menganggap birokrasi sebagai kewujudan pelbagai posisi atau aktiviti dimana fungsinya memberikan khidmat dan mengekalkan organisasi. Sebahagian orang menganggap birokrasi adalah merupakan satu prosedur yang berbelit-belit, menyulitkan dan menjengkelkan. Bagi sebahagian orang pula, mereka menganggap birokrasi dari sudut positif, iaitu sebagai satu usaha untuk mengatur dan mengendalikan perilaku masyarakat supaya sesuatu proses dapat dijalankan secara teratur.

Sebenarnya definisi awal birokrasi menurut Max Weber adalah berbeza dengan pandangan mengenai birokrasi yang ada pada hari ini. Dari segi konsep, Weber merujuk birokrasi sebagai satu jenis struktur pentadbiran yang dibangunkan dalam satu pertubuhan dimana adanya autoriti “rasional-sah” (Scott, 2003).

Weber menerangkan jenis birokrasi yang ideal dari sudut yang positif, beliau menganggap organisasi birokrasi adalah organisasi yang lebih rasional dan lebih cekap.

Jenis birokrasi yang ideal termasuklah tidak ada jenis autoriti atau perhubungan yang lain, tidak mempunyai persahabatan dan permusuhan, tidak mempunyai komplot, dan tidak mempunyai badan jawatankuasa. Sesuatu birokrasi yang dikatakan ideal hanya wujud dimana individu memberi dan menerima arahan sebagai satu peraturan dalam sistem rasional.

Weber juga berhujah bahawa jenis birokrasi yang ideal memerlukan alat pentadbiran yang sukar, sifat-sifat alat pentadbiran ini termasuklah ketepatan, kepantasan, tidak ada kekaburan, mempunyai pertimbangan, mengetepikan kepentingan, tidak ada perselisihan, langkah penjimatan, berkesinambungan dan kesepakatan.

Beliau juga mengatakan bahawa organisasi tidak dapat dielakkan dari berubah ke arah jenis ideal yang dikatakan olehnya dalam pencarian proses kecekapan yang sangat berkesan (Sims et al., 1995). Max Weber melihat teori birokrasi dari pelbagai dimensi. Kertas kerja individu ini akan menghuraikan mengenai teori birokrasi ini, huraian ini meliputi idea-idea yang dikemukakan oleh Max Weber mengenai teori birokrasi seperti tipologi autoriti dan karekteristik organisasi jenis birokrasi.

Seterusnya huraian kertas kerja individu ini menyentuh mengenai objektif, kekuatan dan kekurangan teori ini. Birokrasi ialah alat kekuasaan bagi yang menguasainya, dimana para pejabatnya secara bersama-sama berkepentingan dalam kontinuitasnya. Weber memandang birokrasi sebagai arti umum, luas, serta merupakan tipe birokrasi yang rasional.

Weber berpendapat bahwa tidak mungkin kita memahami setiap gejala kehidupan yang ada secara keseluruhan, sebab yang mampu kita lakukan hanyalah memahami sebagian dari gejala tersebut. Satu hal yang penting ialah memahami mengapa birokrasi itu bisa diterapkan dalam kondisi organisasi negara tertentu. Dengan demikian tipe ideal memberikan penjelasan kepada kita bahwa kita mengabstraksikan aspek-aspek yang amat penting yang membedakan antara kondisi organisasi tertentu dengan lainnya.

Menurut weber, proses semacam ini bukan menunjukkan objektivitas dari esensi birokrasi, dan bukan pula mampu menghasilkan suatu deskripsi yang benar dari konsep birokrasi secara keseluruhan, tetapi hanya sebagai suatu konstruksi yang bisa menjawab suatu masalah tertentu pada kondisi waktu dan tempat tertentu. Menurut weber tpe ideal birokrasi yang rasional itu dilakukan dalam cara-cara sebagai berikut : 1. Pejabat secara rasional bebas, tetapi dibatasi oleh jabatannya 2.

Jabatan disusun oleh tingkat hierarki dari atas ke bawah dan kesamping dengan konsekuensinya berupa perbedaan kekuasaan. 3. Tugas dan fungsi masing-masing jabatan dalam hierarki itu secara spesifik berbeda satu sama lain 4. Setiap pejabat mempunyai kontrak jabatan yang harus dijalankan. 5. Setiap pejabat diseleksi atas dasar kualifikasi profesionalitasnya 6.

Setiap pejabat mempunyai gaji termasuk hak untuk menerima pensiun. 7. Terdapat struktur pengembangan karieryang jelas 8. Setiap pejabat sama sekali tidak dibenarkan menjalankan jabatannya untuk kepentingan pribadi 9. Setiap pejabat berada di bawah pengendalian dan pengawasan suatu sistem yang dijalankan secara disiplin. (Weber, 1978 dan Albrow, 1970) Dalam pemerintahan, kekuasaan publik dijalankan oleh pejabat pemerintah/para birokrat yang melaksanakan tugasnya sesuai dengan peranan dan fungsinya dalam sistem birokrasi negara dan harus mampu mengendalikan orang-orang yang dipimpin.

Birokrasi dalam ha ini mempunyai tiga arti, yaitu : 1. Sebagai Tipe organisasi yang khas. 2. Sebagai suatu sistem (struktur). 3. Sebagai suau tatanan jiwa fungsi birokrasi menurut max weber dan alat kerja pada organ negara untuk mencapai tujuannya.

Dalam negara administratif, pemerintah dan seluruh jajarannya dikenal sebagai abdi masyarakat dalam pemberian berbagai jenis pelayanan yang diperlukan oleh seluruh warga masyarakat. Keseluruhan jajaran pemerintahan negara merupakan satuan birokrasi pemerintahan yang juga dikenal dengan istilah civil service. Pemerintah beserta seluruh jajaran aparatur birokrasi bukanlah satu-satunya fungsi birokrasi menurut max weber yang bertanggung jawab untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan pembangunan nasional, tetapi merupakan kenyataan bahwa peranan pemerintah dan jajarannya bersifat dominan.

Diantaranya berbagai satuan kerja yang terdapat dalam lingkungan pemerintahan, terdapat pembagian tugas yang pada umumnya didasarkan pada prinsip fungsionalisasi. Fungsionalisasi berarti bahwa setiap instansi pemerintah berperan selaku penanggung jawab utama atas terselenggaranya fungsi tertentu, dan perlu bekerja secara terkoordinasi dengan instansi lain. Setiap instansi pemerintah mempunyai “kelompok pelanggan” dimana kepuasan kelompok ini harus dijamin oleh birokrasi pemerintahan, antara lain kelompok masyarakat yang memerlukan pelayanan di bidang pendidikan dan pengajaran dilayani oleh instansi yang secara funsional menangani bidan pendidikan dan pengajaran, dan sebagainya.

Fungsi pengaturan terselenggara dengan efektif karena kepada suatu pemerintahan negara diberi wewenang untuk melaksanakan berbagai peraturan perundang-undangan yang ditentukan oleh lembaga legislatif melalui berbagai ketentuan pelaksanaan dan kebijaksanaan. Pada dasarnya seringkali aparatur pemerintah bekerja berdasarkan pendekatan legalistik.

Pendekatan tersebut antara lain bahwa dalam menghadapi permasalahan, pemecahan yang dilakukan dengan mengeluarkan ketentuan normatif dan formal, misalnya peraturan dan berbagaiperaturan pelaksanaannya. Menurut Peter Al Blau dan Charles H.Page dalam Bintoro, birokrasi dimaksudkan untuk mengorganisir secara teratur suatu pekerjaan yang harus dilakukan oleh banyak orang. Birokrasi adalah tipe organisasi yang bertujuan mencapai tugas-tugas administratif yang besar dengan cara mengoordinasikan secara sistematis (teratur) pekerjaan dari banyak orang.

B. Tipologi Autoriti Menurut Weber Berbagai perkiraan mengenai masa depan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara memberikan petunjuk bahwa tantangan yang akan dihadapi oleh Birokrasi Pemerintah di masa depan akan semakin besar, baik dalam bentuk dan jenisnya, maupun intensitasnya. Mengenai penanganan patologi birokrasi dan terapinya, berarti agar seluruh birokrasi pemerintahan negara mampu menghadapi berbagai tantangan yang mungkin timbul, baik yang sifatnya politis, ekonomis, sosio-kultural, dan teknologikal.

Berbagai penyimpangan yang dilakukan para birokratperlu diidentifikasikan untuk dicari terapi yang paling efektif, sehingga patologi demokrasi dapat dikategorikan dalam kelompok-kelompok tertentu. Tipologi autoriti adalah merujuk kepada tiga jenis autoriti yang pertama sekali dikenalpasti oleh Weber. Menurut beliau terdapat tiga jenis autoriti iaitu yang pertama ialah autoriti tradisional, kedua ialah autoriti “rasional-sah” dan ketiga pula ialah autoriti karismatik.

Weber juga ada membuat perbezaan antara ketiga-tiga jenis autoriti tersebut di antara satu sama lain (Scott, 2003). Autoriti tradisional (Traditional authority) adalah merujuk kepada pemantapan kepercayaan dalam tradisi yang telah diamalkan sejak berzaman-zaman lamanya, perlaksanaan autoriti adalah dibawah seseorang individu untuk membuat legitimasi.

Menurut Sims dan rakan-rakannya (1995), autoriti tradisional melibatkan persetujuaan daripada satu budaya fungsi birokrasi menurut max weber praktis yang diamalkan, seseorang pemimpin dilihat sebagai waris yang benar daripada barisan autoriti yang terdahulu. Oleh itu, dapat disimpulkan bahawa autoriti tradisional ini adalah berlandaskan perwarisan daripada autoriti terdahulu, kemudian orang yang memegang autoriti tersebut mempunyai kuasa membuat legitimasi, subjek yang bersangkutan iaitu orang bawahan pula akan menerima sahaja perintah atasan iaitu orang yang mempunyai autoriti dengan alasan bahawa perkara yang diperintahkan oleh orang atasan itu merupakan cara untuk menyelesaikan semua masalah.

Autoriti rasional-sah (Rational-legal authority) merujuk kepada kepercayaan dalam “legaliti” sebagai corak dalam peraturan normatif dan mengangkat kebenaran dalam autoriti seperti isu-isu berkenaan arahan. Autoriti “rasional-sah” adalah berdasarkan sistem peraturan yang menghormati arahan, oleh sebab itulah sistem ini disebutkan mempunyai kerasionalan.

Perintah atau arahan harus dipatuhi selagi mana mereka konsisten dengan peraturan tersebut. ciri-ciri autoriti “rasional-sah” mempunyai pengaruh yang besar dalam hubungannya dengan organisasi kontemporari, autoriti ini meliputi kepercayaan tentang fungsi birokrasi menurut max weber (right) yang ada pada pejabat tertinggi untuk melaksanakan kuasa terhadap subordinat ataupun orang bawahan.

Cara untuk memahami autoriti “rasional-sah” dengan lebih tepat ialah dengan memikirkan bahawa sesebuah pejabat atau posisi mempunyai autoriti terhadap sebuah pejabat atau posisi yang lain (Hall, 1999). Bagi autoriti karismatik (charismatic authority) pula, autoriti ini merujuk kepatuhan kepada sifat-sifat yang ada pada seseorang individu yang boleh dicontohi. Individu yang memegang autoriti seperti ini akan menunjukkan ciri-ciri pemerintahan dalam corak normatif ataupun peraturan.

Autoriti ini juga melibatkan kualiti luar biasa yang ada pada pemimpin dimana arahan tidak terikat kepada penghormatan dan kesetiaan. Ketiga-tiga jenis autoriti tersebut mempunyai perbezaan yang jelas antara satu sama lain.

Tidak seperti autoriti tradisional dan autoriti karismatik, autoriti “rasional-sah” dilihat lebih cenderung kepada “calculation” iaitu satu perancangan yang direkabentuk secara teliti untuk mencapai sesuatu yang diharapkan berbanding pengunaan emosi atau tidak dipengaruhi oleh perasaan (impersonal), hal ini tidak berpunca daripada individu itu sendiri tetapi sebenarnya berpunca daripada posisi yang dijawat oleh individu tersebut.

Bagi autoriti karismatik, Weber pada dasarnya melihat kepemimpinan karismatik sebagai tidak boleh diramalkan dan tidak terkawal. Beliau mendakwa bahawa jenis autoriti karismatik akan secara perlahan-lahan beralih ke arah jenis autoriti “rasional-sah”.

Proses peralihan ini menurutnya disebut sebagai “rasionalisasi” dan dikenalpasti sebagai instituisi prinsipal iaitu birokrasi (Sims et al., 1995). C. Struktur Birokasi Struktur birokrasi seringkali juga disebut sebagai karekteristik atau ciri-ciri birokasi.

Struktur birokrasi dicipta oleh Weber sebagai cara untuk menjelaskan apa sebenarnya yang disebut sebagai sistem birokrasi bagi membezakannya dengan pentadbiran tradisional. Menurut Amitai Etzioni (1985) dalam bukunya yang bertajuk “modern organization” terdapat tujuh ciri struktur birokrasi kesemuanya yang telah dijelaskan oleh Weber secara terperinci.

Weber mengatakan bahawa semua ciri tersebut mewujudkan suatu struktur yang sangat rasional. Ciri birokrasi yang pertama ialah suatu susunan fungsi pejabat yang tetap dan terikat dengan peraturan. Sistem peraturan adalah merupakan prinsip utama dalam sebuah sistem birokrasi. Fungsi utama peraturan yang ditetapkan dalam sesebuah organisasi ialah untuk mempermudahkan standardisasi, dengan adanya proses ini banyak perkara dan kes boleh diselesaikan secara seragam.

Sebagai contohnya jika seseorang pekerja dikenakan potongan gaji sebagai hukuman kerana bercuti tanpa makluman pihak atasan, maka hukuman tersebut mestilah sama dengan pekerja lain yang melakukan kesalahan yang sama. Sistem peraturan yang distandardkan ini juga dirancang untuk menjamin adanya keseragaman dalam menjalankan setiap tugas, dimana peraturan tersebut menentukan tanggungjawab, peranan dan bidang tugas bagi setiap anggota dan hubungan diantara mereka.

Ciri birokrasi yang kedua ialah adanya bidang kecekapan khusus. Hal ini berkaitan dengan bidang kewajipan tugas yang ada pada seorang pekerja mahupun satu bahagian, tujuannya adalah untuk menjalankan pelbagai fungsi yang merupakan satu bahagian daripada proses pembahagian atau pengkhususan kerja yang sistematik. Dalam menjalankan tugas yang pelbagai, organisasi birokrasi membahagikan kegiatan-kegiatan pentadbiran menjadi bahagian-bahagian yang masing-masing mempunyai fungsi khusus dan fungsi birokrasi menurut max weber dengan fungsi bahagian lain.

Sebagai contohnya dalam sesebuah organisasi, bahagian kewangan secara khususnya berfungsi untuk membuat ramalan keperluan dana, mendapatkan dana untuk organisasi, menguruskan dana tersebut dan memastikan dana digunakan dengan cara terbaik, manakala bagi bahagian sumber manusia pula fungsi khususnya ialah fungsi birokrasi menurut max weber melakukan pengambilan tenaga kerja, melaksanakan latihan dan pembangunan, membuat penilaian prestasi dan sebagainya lagi yang berkaitan dengan sumber manusia.

Ciri birokrasi ketiga ialah susunan jabatan adalah berdasarkan prinsip hierarki. Setiap jabatan yang tingkatnya lebih rendah dalam hierarki adalah di bawah pengendalian dan pengawasan jabatan yang lebih tinggi.

Tujuan diwujudkan hierarki ini adalah untuk memastikan setiap jabatan dikendalikan secara sistematik oleh jabatan tertentu yang lain. Dalam hierarki itu setiap jabatan harus bertanggungjawab kepada atasannya berkenaan keputusan dan tindakannya sendiri ataupun apa yang dilakukan oleh anak buahnya.

Posisi ditubuhkan dalam hierarki dengan rantaian arahan yang jelas (Robbins & Coulter, 2009). Pada setiap tingkat hierarki, setiap jabatan memiliki hak memberi perintah dan arahan pada orang bawahannya, dan orang bawahan pula berkewajipan untuk mematuhinya. Setiap keputusan dan tindakan yang dibuat oleh jabatan bawahan perlu meminta persetujuaan daripada pihak atasan.

Ciri birokrasi keempat ialah peraturan yang mengatur tingkah laku sesuatu jabatan dapat berbentuk peraturan atau norma teknik. Secara umumnya mengikut ciri ini, hanya mereka yang memiliki latar belakang pendidikan teknikal yang memadai sahaja dilihat cukup cekap untuk menduduki jabatan staf pentadbiran. Menurut Weber asas kepada kuasa birokrasi ialah pengetahuan dan latihan yang pernah diterima.

Robbins dan Coulter (2009) merujuk ciri ini sebagai pemilihan formal, dimana pemilihan pekerja dijalankan berdasarkan kelayakan teknikal yang ada pada seseorang individu.

Situasi ini dapat menguntungkan organisasi kerana mempunyai pekerja berkemahiran yang dapat membantu kelicinan dan kecekapan proses organisasi. Selain itu, keadaan ini juga dapat membawa manfaat kepada individu tersebut kerana diberi kesempatan menunjukkan kemahirannya di dalam organisasi.

Ciri birokrasi kelima ialah menekankan prinsip bahawa anggota staf pentadbiran tidak dapat memiliki saranan produksi dan pentadbiran. Scott (2003) memberikan contoh apakah benda yang tidak boleh dimiliki tersebut, contoh yang dinyatakan olehnya adalah seperti peralatan dan kelengkapan yang ada dalam organisasi serta hak kuasa dan hak istimewa yang ada dalam pentadbiran organisasi.

Kesemua item tersebut adalah hak milik jabatan dan bukannya hak milik kakitangan jabatan. Sebagai contoh disini, seorang pekerja tidak boleh mengambil komputer yang disediakan dalam pejabat untuk dibawa ke rumahnya bagi tujuan peribadi. Mengikut prinsip ini terdapat pemisahan antara harta milik organisasi yang digunakan secara rasmi dengan harta milik peribadi seorang kakitangan jabatan.

Ciri birokrasi yang keenam ialah organisasi perlulah bebas daripada setiap pengendalian luaran. Apa yang dimaksudkan dengan pengendalian luaran ini ialah organisasi tidak dimonopoli oleh mana-mana jabatan yang ada dalam organisasi tersebut.

Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kebebasan organisasi tersebut. sumber-sumber yang ada harus bebas untuk ditempatkan dan ditempatkan semula ke dalam jabatan-jabatan sesuai dengan keperluan organisasi. Dalam hal ini dapatlah disimpulkan bahawa jabatan tidak boleh memiliki organisasi secara rasmi.

Ciri birokrasi yang ketujuh ialah segala tindakan, keputusan dan peraturan dalam hal pentadbiran harus dirumus dan dicatatkan secara bertulis. Ramai yang berpendapat bahawa prosedur ini dirasakan tidak penting dan tidak sesuai dipraktikkan dalam sebuah organisasi yang rasional.

Sebaliknya sistem pencatatan yang berlebih-lebihan ini dianggap tidak rasioal, hal inilah yang menyebabkan kepada istilah “red tape”. Istilah ini merujuk kepada urusan dokumentasi yang sering menyebabkan kelewatan proses. Walaubagaimanapun Weber ada menekankan bahawa semua kegiatan organisasi yang penting dan perlaksanaan peraturan harus ditafsirkan secara sistematik, iaitu dengan menggunakan sistem pencatatan.

Semua hal tersebut tidak dapat dilakukan melalui komunikasi lisan kerana sistem itu dianggap tidak sistematik. D. Objektif Teori Birokrasi Berdasarkan buku-buku pembacaan yang berkaitan dengan teori birokrasi, tidak terdapat satupun buku yang menyatakan secara spesifik mengenai objektif teori birokrasi.

Walaubagaimanapun objektif teori ini dapat dikesan daripada beberapa huraian buku-buku yang dijadikan sebagai bahan rujukan. Sebenarnya birokrasi direka agar pekerjaan dapat dijalankan dengan baik (Hall, 1999). Menurut J. Hage (1980) pula, birokrasi dibentuk untuk mewujudkan kecekapan dan kebolehpercayaan. Daripada kedua-dua sumber tersebut dapat dikatakan bahawa objektif utama teori birokrasi ialah untuk menjadikan sesebuah organisasi menjadi lebih cekap dan segala urusan pekerjaan di dalam organisasi dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Ciri-ciri atau struktur birokrasi yang dianjurkan oleh Weber sebenarnya mencapai ke arah organisasi yang lebih efisien dan sistematik. Kewujudan sistem kawalan iaitu peraturan yang ditetapkan adalah bertujuan untuk mengawal seluruh struktur dan proses organisasi, pengawalan ini juga memerlukan pengetahuan teknikal ke arah mencapai kecekapan yang maksimum (Mouzelis, 1967).

Tujuan diwujudkan sistem hierarki dalam organisasi birokrasi adalah untuk mebina sistem rantaian arahan yang tersusun. Dengan adanya hierarki ini, segala rancangan dapat disatukan dan pemusatan pembuatan keputusan dapat dijalankan. Begitu juga dengan halnya bagi pengkhususan fungsi, dengan adanya pengkhususan setiap jabatan dalam organisasi dapat menjalankan fungsi mereka masing-masing.

Kedua-dua langkah bertujuan mengelak adanya bidang kuasa yang bertindih di antara satu sama lain. Dari segi layanan ke atas pekerja-pekerja pula, teori birokrasi mengambil pendekatan tidak dipengaruhi perasaan dan bersifat pribadi (impersonal), objektifnya ialah untuk mengurangkan pekerja menghabiskan masanya dengan berborak sahaja serta mengurangkan pekerjaan yang dijalankan dengan sewenang-wenangnya dan tidak konsisten.

Pendekatan ini adalah untuk memastikan setiap pekerja dilayan dan diperlakukan secara sama rata (Sims et al., 1995). E. Kekuatan Teori Birokrasi Teori birokrasi ini mempunyai kekuatannya yang tersendiri, walaupun teori ini sering dikaitkan dengan pelbagai streotaip negatif, namun teori birokrasi ini juga banyak memberikan sumbangan kepada teori dalam pengurusan sumber manusia.

Menurut Kettner (2002), terdapat tiga pertimbangan yang diambil kira dalam teori birokrasi iaitu pertama ialah kebertanggungjawapan (accountability), kedua ialah hierarki dan definisi fungsi birokrasi menurut max weber, manakala yang ketiga pula ialah penyediaan untuk kerja. Kesemua instrumen tersebut adalah kekuatan kepada teori ini dan inilah yang membezakannnya dengan teori organisasi yang lain. Kebertanggungjawaban adalah merupakan satu identiti dalam birokrasi. Salah satu faktor yang menyebabkan sesebuah fungsi birokrasi menurut max weber memilih struktur birokrasi ini ialah untuk mengenalpasti dengan lebih tepat tanggungjawab dalam proses pembuatan keputusan.

Hal inilah yang menyebabkan selalunya organisasi kerajaan memerlukan struktur birokrasi ini kerana tanggungjawab proses pembuatan keputusan sangat dipentingkan. Jika ditinjau dalam model teori-teori organisasi yang fungsi birokrasi menurut max weber, model teori-teori tersebut mungkin juga lebih banyak mengemukakan syarat-syarat penyusunan kerja dan produktiviti yang fleksibel, namun dalam sesebuah organisasi yang memerlukan kebertanggungjawapan yang tinggi dalam pembuatan keputusan, birokrasi adalah merupakan satu pilihan yang lebih praktikal.

Instrumen kedua iaitu hierarki dan definisi tanggungjawab adalah merupakan ciri penting birokrasi dalam membantu pengurusan tempat kerja yang tersusun. Lakaran prinsipal terhadap semua tugas haruslah jelas dan harus disusun dalam bentuk hierarki.

Dengan adanya hierarki dan spesifikasi tugas ini, ianya dapat memberi kekuatan terhadap organisasi birokrasi kerana ia dapat memantapkan lingkungan kuasa yang ada pada jabatan, program, unit kecil dan bagi setiap pekerja itu sendiri. Salah satu lagi kelebihannya disini ialah setiap pekerja amat jelas serta tahu kerja dan tugas harian yang patut dilakukan oleh mereka, tanpa perlu bergantung kepada arahan untuk melakukan sesuatu tugas daripada pihak lain.

Sebagai contohnya disini seorang pekerja yang telah tahu tugas yang harus dilakukannya boleh terus melakukan kerja rutinnya tanpa perlu disuruh atau bertanya berkali-kali kepada orang atasannya tentang apa kerja yang harus dilakukannya lagi. Bagi instrumen ketiga iaitu penyediaan untuk kerja, Weber menyokong idea yang dikemukakan oleh Frederick W. Taylor bahawa untuk memastikan kecekapan organisasi, penyediaan untuk kerja mestilah berdasarkan kelayakan untuk penempatan pekerjaan di dalam organisasi.

Dalam hal ini, sudah menjadi kebiasaan dalam bidang perkhidmatan sosial seseorang pekerja akan diberikan posisi dalam organisasi berdasarkan pendidikan profesional yang diterima oleh mereka, disamping pengalaman yang pernah mereka lalui dalam jangka masa tempoh tertentu.

Hal inilah yang mejadi kekuatan kepada teori birokrasi ini kerana organisasi birokrasi mengamalkan kaedah pemilihan pekerja yang benar-benar layak untuk bekerja di organisasinya dan tujuan utamanya ialah untuk mencapai kecekapan dalam melaksanakan tugas. Kejayaan sesebuah organisasi atau agensi pada hari ini adalah dibantu oleh kesedaran mengenai proses pembuatan analisis kerja secara teliti dan berhati-hati yang dapat menyediakan rangka kerja untuk memutuskan penempatan kerja seseorang pekerja.

Keputusan penempatan kerja itu juga seharusnya adalah penyediaan kerja yang dapat dibuktikan dan bukannya data yang hanya berdasarkan gambaran umum semata-mata tanpa perincian. F. Kelemahan Teori Birokrasi Salah satu kelemahan yang sering dikaitkan dengan birokrasi ialah “red tape”. Istilah ini merujuk kepada satu peraturan birokrasi yang sangat berlebihan sehingga menyebabkan kelewatan kepada sesuatu urusan ataupun proses. Menurut struktur birokrasi Weber yang diberikan oleh Etzioni dalam bukunya, sistem pencatatan perlu dilakukan untuk merekod segala tindakan, keputusan dan peraturan dalam pentadbiran.

Peraturan inilah yang sebenarnya menyebabkan “red tape” kerana ia menyebabkan proses perjalanan urusan dokumentasi menjadi lambat. Peraturan seperti ini dilihat mendatangkan tujuan yang tidak berguna dan sering diberi sindiran dengan istilah “red tape’’ (Sims et al., 1995).

Contoh bagi menggambarkan masalah “red tape’’ disini ialah seseorang individu ingin mendapatkan khidmat bantuan kebajikan daripada sebuah agensi, bagi mendapatkan bantuan tersebut, individu itu perlulah mendapat pengesahan daripada beberapa pihak tertentu dari pihak bawahan sehinggalah ke pihak atasan bagi membuktikan bahawa individu tersebut benar-benar layak menerima bantuan. Individu tersebut terpaksa menyediakan dokumen, membuat temu janji dengan pihak-pihak tersebut, membuat perjalanan ke hulu dan ke hilir dan akhirnya dalam jangka masa yang panjang barulah permohonan individu tersebut diluluskan dan memperolehi bantuan kebajikan tersebut.

kelemahan kedua teori birokrasi ialah organisasi yang mengamalkan sistem ini cenderung kepada amalan pengurusan berbentuk pemusatan kuasa atau oligarki, iaitu autoriti atau kuasa dalam sesebuah organisasi terletak didalam tangan satu golongan kecil.

Pendapat ini disuarakan oleh Robert Michels (1966), dalam memberikan kritikan terhadap teori Birokrasi yang diutarakan oleh Weber, menurut beliau sesiapa saja yang membicarakan mengenai birokrasi, bermaksud membicarakan juga mengenai oligarki. Hal ini disebabkan pemusatan kuasa di tangan sebahagian kecil individu akan menyebabkan mereka menggunakan kedudukan mereka di dalam bahagian atau pejabat yang mereka ketuai untuk meningkatkan keuntungan dan kepentingan diri mereka sendiri.

Beliau juga mendakwa bahawa organisasi bukannya instrumen yang rasional bagi mencapai matlamat pentadbiran seperti yang disarankan oleh Weber (Sims et al., 1995). Kelemahan teori birokrasi yang ketiga ialah timbulnya ketidakcekapan. Walaupun pada dasarnya matlamat utama teori birokrasi adalah untuk mencapai kecekapan dalam organisasi, namun terdapat juga kesan-kesan negatif yang timbul secara tidak langsung dalam prinsip birokrasi ini.

Pendapat ini ditimbulkan oleh Robert Merton (1957) yang memberi kritikan terhadap teori birokrasi Weber. Merton memperkenalkan konsep trained incompetence atau “ketidakcekapan terlatih”, konsep ini merujuk kepada pekerja yang hanya berfokus kepada apa yang mereka minat sahaja dalam menjalankan pekerjaan mereka, pekerja juga kerap hilang keupayaan untuk mendengar serta memahami masalah dan keperluan pengguna atau orang yang menggunakan perkhidmatan organisasi tersebut.

Birokrasi dilihat tidak mempunyai kejayaan yang besar dalam menyesuaikan pengaplikasian pengetahuan dan kemahiran yang menjadi bahagian penting dalam praktis profesional (Kettner, 2002). Merton selanjutnya menghuraikan bahawa birokrasi pada hakikatnya memberi pengaruh tertentu bagi keperibadiaan para anggota organisasinya, dimana ia mendorong timbulnya kecenderungan untuk mentaati kaedah dan peraturan organisasi secara kaku demi kepentingan dan keuntungannya sendiri (Etzioni, 1964).

Kelemahan teori birokrasi yang keempat ialah birokrasi dilihat sebagai bentuk organisasi yang “mengembung”, istilah mengembung ini diberikan oleh Parkinson (1957) terhadap birokrasi.

Menurut Parkinson individu-individu yang mempunyai autoriti dalam birokrasi cenderung mengembangkan jumlah pekerja yang dirasakan tidak sesuai dengan keadaan keperluan sebenar organisasi (Scott, 2003).

Tanggapan Weber yang mennyatakan bahawa birokrasi merupakan satu mekanisme untuk mencapai kecekapan ditolak keras oleh Parkinson, beliau telah memperkenalkan satu konsep yang dikenali sebagai “hukum Parkinson”. Dalam hukum ini terdapat dua ciri yang nyata untuk menerangkan pengembungan birokrasi, pertama ialah orang atasan akan berusaha sekuat tenaga untuk meningkatkan jumlah orang bawahannya, kedua ialah orang atasan akan selalu mencipta tugas baru bagi dirinya sendiri yang mana tugas tersebut sering diragukan maksud dan kepentingannya.

Hal ini akan mengakibatkan jumlah pekerja meningkat secara automatik dan berlakunya lebihan pekerja untuk melakukan bebanan kerja daripada apa sepatutnya yang ingin dicapai oleh organisasi. Birokrasi menurut Parkinson cenderung meluas bukanlah kerana meningkatnya beban kerja dalam organisasi tetapi adalah disebabkan oleh orang atasan tersebut yang ingin memperbanyakkan orang bawahan di bawah hierarki mereka.

fungsi birokrasi menurut max weber

Kelemahan teori birokrasi yang seterusnya ialah teori ini kurang mengambil kira faktor Manusia. Masalah ini timbul kerana organisasi birokrasi terlalu menekankan prinsip orientasi melakukan tugasan tanpa dipengaruhi oleh perasaan.

fungsi birokrasi menurut max weber

Dalam prinsip ini orang atasan harus menghindarkan pertimbangan peribadi dalam hubungannya dengan orang bawahan ataupun orang awam yang dilayaninya. walaupun pada dasarnya prinsip ini bertujuan untuk memberikan perlakuan yang adil terhadap semua orang, namun jika terlalu ditekankan atau tidak disesuaikan mengikut keadaan akan menyebabkan penurunan produktiviti sehingga menyebabkan timbulnya ketidakcekapan.

Sebagai contohnya disini katakan terdapat dua jenis orang bawahan yang mempunyai daya produktiviti yang berbeza, golongan orang bawahan yang pertama mempunyai prestasi kerja yang baik manakala golongan orang bawahan yang kedua pula mempunyai prestasi kerja yang buruk, namun layanan yang diberikan oleh pihak atasan kepada kedua-dua golongan orang bawahan tersebut tetap sama.

Keadaan ini akan menyebabkan timbulnya ketidakpuasan hati kepada orang bawahan yang mempunyai prestasi kerja yang baik itu tadi dan ini boleh mempengaruhi prestasi mereka kerana mereka kurang diberi penghargaan.

Dalam kata lain, fungsi birokrasi menurut max weber birokrasi tidak mengambilkira perasaan dan emosi para pekerja, dan inilah apa yang disebutkan sebagai kurang mengambil perhatian terhadap faktor manusia. Weber menyingkirkan perkara ini sehingga menimbulkan kritikan berkaitan kegagalan menghargai kepentingan birokrasi yang tidak mengambilkira soal perasaan dan penambahan kepentingan faktor manusia (Sims et al., 1995). G. Birokrasi pemerintahan dan Perilaku Birokrasi di Indonesia a.

Masa Lalu Kondisi birokrasi pemerintahan Indonesia di fungsi birokrasi menurut max weber orde baru merupakan perpaduan antara karakteristik birokrasi modern yang legal-rasional dengan karakteristik birokrasi yang berakar dalam sejarah seperti terdapatnya posisi seseorang yang tidak sesuai dengan keahliannya.

Birokrasi Indonesia yang tidak bisa dipisahkan dari faktor historis tersebut disebut sebagai “Birokrasi Patrimonial” sebagai warisan budaya masa lampau. Priyo Budi Santoso menyebut model teoritis untuk memahami karakteristik politik dan birokrasi Indonesia khususnya pada masa Orde Baru guna melengkapi konsep birokrasi patrimonial tersebut yang disebut dengan model bureaucratic-polity (politik birokrasi). Karl D Jackson menjelaskan sebagai berikut: Politik birokrasi adalah suatu sistem politik di mana kekuasaan dan partisipasi politik dalam pengambilan keputusan terbatas sepenuhnya pada para penguasa negara, terutama para perwira militer dan pejabat tinggi birokrasi, termasuk khususnya para ahli berpendidikan tinggi yag terkenal sebagai teknokrat, dalam hal ini militer dan birokrasi tidak bertanggung jawab kepada kekuatan-kekuatan politik lain seperti partai-partai politik, kelompok-kelpompok kepentingan, atau organisasi kemasyarakatan.

Berbagai tindakan didesain untuk mempengaruhi keputusan-keputusan pemerintah yang berasal dari dalam elit itu sendiri tanpa banyak memerlukan partisipasi atau mobilisasi massa. Kekuasaan tidak dilibatkan oleh artikulasi kepentingan sosial dan geografi di sekitar masyarakat.

Secara lebih sempit, Harold Crouch mencatat bahwa bureaucratic-polity di Indonesia mengandung tiga ciri utama, yaitu lembaga politik yang dominan adalah birokrasi, lembaga-lembaga politik lainnya fungsi birokrasi menurut max weber parlemen, partai politik, dan kelompok-kelompok kepentingan berada dalam keadaan lemah sehingga tidak mampu mengimbangi atau mengontrol kekuatan birokrasi, serta massa di luar birokrasi secara politik dan ekonomis adalah pasif, yang sebagian adalah merupakan kelemahan parpol dan secara timbal balik menguatkan birokrasi.

b. Masa Kini Seymour Martin Lipset dalam Miftah Thoha, mengatakan bahwa komponen pembangunan ekonomi salah satunya adalah industrialisasi. Semula masyarakatnya bersifat agraris serta serba manual dan kemudian pelan-pelan atau cepat akan mengarah ke tatanan masyarakat yang industrialis. Salah satu ciri yang menonjol adalah gerak yang dinamis yang mempengaruhi struktur dan mekanisme kerja birokrasi di Indonesia yang disertai oleh sikap kritis masyarakat sebagai akibat meningkatnya tingkat pendidikan.

Menurut Miftah Thoha, gerak dinamis dan sikap kritis tersebut mempengaruhi kualitas hidup suatu bangsa. Masyarakat akan menuntut demokratisasi di segala bidang termasuk pelayanan dan sistem birokrasi pemerintah dimana kejahatan konvensional yang sangat mengganggu ekonomi nasional adalah korupsi. Menurut Afan Gafar, kebijakan publik di Indonesia mewajibkan rakyat untuk ikut terlibat didalamnya, sehingga masyarakat dapat mengeluh hingga berbuat anarkis, minimal dengan cara demonstrasi di fungsi birokrasi menurut max weber.

c. Masa Depan Model birokrasi yang ideal bukan bertumpu pada kultur semata, tetapi juga bertumpu pada profesionalisme birokrasi terutama aparat birokrasinya. Profesionalisme birokrasi ini terfokus pada adanya perjenjangan struktur secara tertib dengan pendelegasian wewenangposisi jabatan dengan tugas-tugas, dan aturan-aturan yang jelas, serta tersedianya personel yang memiliki kecakapan dan kredibilitas yang memadai dalam bidang tugasnya.

Menurut Akhmad Setiawan, birokrasi di Indonesia tergolong birokrasi yang tidak bebas berpolitik. Hal ini tercermin dalam birokrasi yang sulit untuk tidak terlibat politik sementara ciri patrimonial masih melekat. Hal inilah yang menjadikan keikutsertaan masyarakat dalam pengambilan keputusan menjadi lebih terlihat.

Birokrasi pemerintahan yang ideal tercipta ketika karakter birokrasi ideal terpenuhi, yaitu birokrasi yang terstruktur baik, tidak adanya jabatan yang inefisien, aturan yang jelas, personel yang cakap, birokrasi yang apolitis, dan berorientasi pada pelayanan masyarakat.

H. Masalah Birokrasi Pemerintahan sebagai pilar utama penyelenggara negara semakin dihadapkan pada kompleksitas global, sehingga perannya harus mampu dan cermat serta proaktif mengakomodasi segala bentuk perubahan. Kondisi tersebut sangat memungkinkan karena aparatur berada pada posisi sebagai perumus dan penentu daya kebijakan, serta sebagai pelaksana dari segala peraturan.

Sementara itu, kondisi objektif dari iklim kerja aparatur selama ini masih dipengaruhi oleh teori atau model birokrasi klasik yang diperkenalkan oleh Taylor, Wilson, Weber, Gullick, dan Urwick, yaitu: a. struktur, b. hierarki, c. otoritas, d. dikotomi kebijakan administrasi rantai pemerintah, dan e. sentralisasi. Meskipun model tersebut memaksimumkan nilai efisiensi dan efektifitas ekonomi, namun pada kenyataannya teori tersebut tidak dapat memberikan jawaban secara faktual sesuai dengan banyak temuan penelitian di berbagai tempat.

Teori birokrasi tersebut telah menimbulkan berbagai implikasi negatif yang sangat terkait dengan gejala sebagai berikut: 1. Smith, menyebutkan Inmobilism-inability to function, adalah kenyataan yang terkait dengan adanya hambatan dan ketidakmampuan menjalankan fungsi secara efektif. 2. E. bardock, mengemukakan gejala kelemahan adalah tekonisme, yaitu kecenderungan sikap administratoryang menyatakan mendukung suatu kebijaksanaan dari atas secara terbuka tetapi sebenarnya hanya melakukan sedikit sekali partisipasi dalam pelaksanaannya.

Partisipasi yang sangat kecil tersebut dapat pula berbentuk procrastination, yaitu bentuk partisipasi dengan penurunan mutu atau kualitas pelayanan. 3. Kelemahan lain adalah koordinasi yang dapat menimbulkan kelebihan (surpluses) maupun kekurangan (shortages) 4. Kelemahan lain adalah kebocoran dalam kewenangan (linkage of authority), yaitu kebijaksanaan pimpinan ditafsirkan dan diteruskan oleh pembantu pimpinan secara berlainan dalam arus perintah pada bawahan sesuai dengan pertimbangannya sendiri.

5. Selain itu terdapat juga gejala resistance,baik secara terang-terangan maupun tersembunyi oleh aparat dalam menjalankan tugas-tugas kedinasan Birokrasi harus dihindarkan dari rancangan pihak-pihak yang tidak menghiraukan kepentingan publik untuk menjadikannya sebagai power center karena dapat mengancam potensi masyarakat.

Dalam hal patologi demokrasi dapat dikategorikan dalam lima kelompok, yaitu : 1. Patologi yang timbul karena persepsi dan gaya manajerial para pejabat di lingkungan birokrasi, contohnya : a. Penyalahgunaan wewenang dan jabatan b. Penguburan masalah c. Menerima sogok atau suap e. Pertentangan kepentingan f. kecenderungan mempertahankan status quo / ketakutan pada perubahan g. Arogansi dan intimidasi h.

Kredibilitas relatif rendah / nepotisme i. Paranoia dan otoriter astigmatisme j. Patologi yang disebabkan karna kurang / rendahnya pengetahuan dan keterampilan para petugas pelaksana berbagai kegiatan operasional. Artinya, rendahnya produktivitas kerja dan mutu pelayanan tidak semata-mata disebabkan oleh tindakan dan perilakuyang disfungsional, tetapi juga karena tingkat pengetahuan dan keteramplan yang tidak sesuai dengan tuntutan tugas yang diemban.

k. Patologi yang timbul karena tindakan para anggota birokrasi yang melanggar norma-norma hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Yang digolongkan dalam melanggar tindakan hukum, antara lain : 1.

Menerima sogok / suap 2. Korupsi, dan 3. Tata buku yang tidak benar 4. Patologi yang dimanifestasikan dalam perilaku para birokrasi yang bersifat disfungsional / negative, yaitu bertindak sewenang-wenang dan melalaikan tugas.

5. Patologi yang merupakan akibat situasi internal dalam berbagai analisis dalam lingkungan pemerintahan. Pemahaman patologi birokrasi secara tepat memerlukan analisis mendalam mengenai konfigurasi birokrasi tersebut yang akan terlihat dalam berbagai situasi internal yang dapat berakibat negatif terhadap birokrasi yang bersangkutan, antara lain : 1.

penempatan tujuan dan sasaran yang tidak tepat 2. eksploitasi 3. tidak tanggap 4. motivasi yang tidak tepat 5. kekuasaan fungsi birokrasi menurut max weber 6. beban kerja yang terlalu berat 7. perubahan sikap yang mendadak. I. Upaya Penanggulangan Patologi Demokrasi a.

Paradigma Birokrasi yang Ideal. 1. Kelembagaan Birokrasi pemerintahan merupakan organisasi yang paling besar di setiap negara yang ditentukan oleh berbagai faktor, seperti komplekksitas fungsi yang harus diselenggarakan, besarnya tenaga kerja yang digunakan, besarnya anggaran yang dikelola, beraneka ragamnya sarana dan prasarana yang dikasai serta dimanfaatkan, serta luasnya wilayah kerja yang meliputi seluruh wilayah kekuasaan negara yang bersangkutan, sehingga birokrasi pemerintahan perlu selalu berusahaagar seluruh organisasi birokrasi itu dikelola berdasarkan prinsip-prinsip organisasi.

2. Manajemen Sumber Daya Manusia Adapun langkah-langkah yang dapat diambil, terdiri dari perencanaan, rekruitmen, fungsi birokrasi menurut max weber, penembapatan sementara, penempatan tetap, penentuan sistem imbalan, perencanaan dan pembinaan karier, peningkatan pengetahuan dan keterampilan, pemutusan hubungan kerja, pensiunan, dan audit kepegawaian.

3. Pengembangan Sistem Kerja Pengembangan sistem kerja harus diarahkan pada hilangnya persepsi negatif mengenai birokrasi. Pengembangan sistem kerja harus didsarkanpada pendekatan kesisteman yang berarti bahwa struktur apapun yang digunakan, semuanya harus tetap terwujud dalam kesatuan gerak dan langkah.

Artinya, seluruh birokrasi bergerak sebagai satu kesatuan yang dapat diwujudkan apabila pengembangan sistem kerja birokrasi dapat ditujukan pada seluruh langkah yang ditempuh dalam proses administrasi negara.

4. Pengembangan citra birokrasi yang positif. Citra birokrasi umumnya bersifat negatif, sehingga nilai-nilai loyalitas, kejujuran, semangat pengabdian, disiplin kerja, mendahulukan kepentingan bangsa diatas fungsi birokrasi menurut max weber sendiri, tidak memperhitungkan untung rugi dalam pelaksanaan tugas, kesediaan berkorban, dan dedikasi, harus selalu ditekankan untuk dijunjung tinggi.

Beberapa cara yang dapat menghilangkan citra negatif, yaitu : 1. Mendorong proses demokrasi dalam masyarakat, antara lain dalam bentuk peningkatan pengawasan sosial agar penyimpangan oleh para anggota birokrasi semakin berkurang. 2. Mengurangi campur tangan birokrasi dalam berbagai kegiatan-kegiatan dalam masyarakat yang semakin maju, merupakan porsi masyarakat untuk menyelenggarakannya.

3. Menggunakan setiap kesempatan untuk menumbuhkan persepsi mengenai pentingnya orientasi pelayanan, bukan orientasi kekuasaan, dalam berpikir dan bertindak. 4. Mengharuskan para pejabat tinggi membuat pernyataan mengenai kekayaan pada waktu mulai menjabat. b. Reformasi Birokrasi Menuju Pemerintahan yang Bersih, Kuat, dan Berwibawa Selama kedudukan dominan berada di tangan birokrat, maka tidak menutup kemungkinan terjadinya kolusi atau penyalahgunaan wewenang untuk setiap urusan / keperluan.

Birokrasi pemerintahan yang semakin kuat dan menentukan cenderung melakukan penyalahgunaan jabatan, wewenang, dan kekuasaan. Selama kekuasaan legislatif dan judikatif berada dibawah penguasa sebab peran kepela eksekutif sangat mempengaruhi kedudukan, jabatan, dan posisi di kedua lembaga tersebut. Lembaga legislatif tidak dapat melakukan fungsi pengawasan secara efektif karena eksekutif lebih kuat daripada legislatif sedangkan lembaga judikatif tidak kuat dan tidak independen karena adanya campur tangan dari kepala eksekutif.

Dengan demikian, pelaksanaan pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen menjadi terabaikan sebab lemahnya fungsi kontrol legislatif. Berdasarkan hal tersebut, sistem ketatanegaraan yang perlu direformasi adalah mencakup bidang politik, ekonomi, dan hukum pada tataran sistem, serta reformasi bidang moral intelektual dan sosial budaya pada tataran karakter.

Di bidang politik, perubahan itu berkenaan dengan penyempurnaan undang-undang pemilihan umum partai politik, susunan dan kedudukan anggota DPR, MPR,dan DPRD, serta kebebasan mengeluarkan pendapat. Di bidang ekonomi, diperlukan undang-undang anti monopoli, perlindungan konsumen, serta perbaikan terhadap undang-undang ketenagakerjaan.

Bidang hukum, diperlukan undang-undang tentang HAM dan bela negara. Sedangkan dalam tatanan karakter, perlu dibuat undang-undang etika pemerintahan dan menegakkan law enforcement. Selain itu, peran birokrasi juga harus dikembangkan kepada prinsip pelayanan yang cepat dan tepat, efisien, dan efektif. Pemerintah juga dituntut untut untuk memprioritaskan pembenahan sistem yang menyangkut kelembagaan dan sistem pendukung lainnya.

Fungsi fungsi birokrasi menurut max weber termasuk aparatur negara hendaknya bisa sebagai penyelesai masalah (a world of solution) serta menghindarkan diri dari sumber masalah (source of problem). Teori birokrasi yang diperkenalkan oleh Max Weber ini telah memberi kesan yang besar dalam bidang organisasi dan pentadbiran.

Seperti juga teori-teori organisasi yang lain, objektif utamanya adalah untuk mencapai kecekapan atau efisien dalam kerja. Daripada huraian diatas juga dapat dinilai bahawa teori ini mempunyai kekuatan dan kelemahannya yang tersendiri apabila diaplikasikan ke dalam sesebuah organisasi. Teori birokrasi yang dihuraikan oleh Weber banyak berhubungkait dengan pengurusan saintifik dimana teori ini menekankan kepada rasionaliti, kebolehan untuk diramal, tidak dipengaruhi oleh perasaan, kecekapan teknikal dan autoritarianisme (Robbins & Coulter, 2009).

Walaupun teori birokrasi ini lebih sinonim dikaitkan dengan kelemahan-kelemahan tertentu, namun dalam bidang pengurusan khidmat manusia, masih terdapat pelajaran dan pengetahuan yang kita dapat pelajari daripada teori birokrasi dan seterusnya dapat memberi sumbangan kepada teori pengurusan khidmat manusia.

Menurut Kettner (2002), ramai pekerja kerja sosial profesional dan pengamal perkhidmatan manusia yang lain, termasuk ramai pengurus dapat melaksanakan tugas bahagian mereka dengan baik dan profesional apabila bekerja di dalam sebuah organisasi birokrasi.

Pada hari ini kita dapat melihat bahawa birokrasi banyak dipraktikkan di dalam agensi kerajaan, hospital, instituisi pertahanan, pertubuhan badan bukan kerajaan (NGO), syarikat korporat, kelab-kelab sosial, institusi akademik dan sebagainya lagi. Hal ini membuktikan bahawa teori birokrasi bukanlah sekadar ideologi semata-mata namun sebenarnya dapat diaplikasikan ke dalam mana-mana jenis organisasi yang ada.

• ► 2016 (6) • ► Februari (2) • ► Januari (4) • ▼ 2015 (65) • ► Desember (13) • ► November (1) • ▼ Oktober (11) • Ruang Terbuka Hijau (RTH) Dalam Telaah Undang-Unda. • Komunikasi Antar Budaya Sebagai Kajian Keilmuan • Faktor Pemicu Komunikasi Antar Budaya • Komunikasi Antar Budaya Sebagai Fenomena Sosial • Teori Ketergantungan (Dependency Theory) • Teori Modernisasi • Ekonomi Marxis • Teori Materialisme Historis • Filsafat Marxisme: Materialisme Dialektis • Teori Birokrasi Max Weber • Peristiwa G30S/PKI: Lelaki Lima Alias di Operasi P.

• ► September (40) Daftar isi • Pengertian Birokrasi Adalah • Pengertian Birokrasi Menurut Para Ahli • 1. Max Weber • 2. Fritz Morstein Marx • 3. Peter A. Blau dan Fungsi birokrasi menurut max weber H. Page • 4. Riant Nugroho Dwijowijoto • 5.

Farel Heady • Ciri-Ciri Birokrasi • Fungsi Birokrasi • 1. Administrasi • 2. Pelayanan • 3. Regulasi • 4. Pengumpul Informasi • Peran Birokrasi Pengertian Birokrasi Adalah Apa yang dimaksud dengan birokrasi (bureaucracy)? Secara umum, pengertian birokrasi adalah rantai komando berbentuk piramida dalam suatu organisasi dimana posisi di tingkat bawah lebih banyak daripada tingkat atas.

Ada juga yang menjelaskan arti birokrasi adalah suatu struktur organisasi yang memiliki tata prosedur, pembagian kerja, adanya hirarki, dan adanya hubungan yang bersifat impersonal. Organisasi yang menjalankan sistem birokrasi biasanya memiliki prosedur dan aturan yang ketat sehingga dalam proses operasionalnya cenderung kurang fleksibel dan kurang efisien. Birokrasi banyak ditemukan dalam organisasi pemerintahan, rumah sakit, perusahaan, sekolah, dan militer.

Meskipun ada anggapan bahwa birokrasi identik dengan inefisiensi, pemborosan, dan kemalasan, faktanya sistem birokrasi diperlukan agar proses operasional berjalan sesuai dengan aturan yang telah ditentukan.

Baca juga: Pengertian Organisasi Pengertian Birokrasi Menurut Para Ahli Agar lebih memahami apa arti birokrasi, maka kita perlu merujuk pada pendapat para ahli berikut ini: 1. Max Weber Menurut Max Weber, pengertian birokrasi adalah suatu bentuk organisasi yang penerapannya berhubungan dengan tujuan yang hendak dicapai. Birokrasi ini dimaksudkan sebagai suatu sistem otoritas yang ditetapkan secara rasional oleh berbagai macam peraturan untuk mengorganisir pekerjaan yang dilakukan oleh banyak orang.

2. Fritz Morstein Marx Menurut Fritz Morstein Marx (1984), pengertian birokrasi adalah suatu tipe organisasi yang digunakan oleh pemerintah modern untuk melaksanakan tugas-tugasnya yang bersifat spesialis, dilaksanakan dalam sistem administrasi dan khususnya oleh aparatur pemerintah.

3. Peter A. Blau dan Charles H. Page Menurut Peter A. Blau dan Charles H. Page (1956), arti birokrasi adalah suatu tipe organisasi yang dimaksudkan untuk mencapai tugas-tugas administratif yang besar, yaitu dengan cara mengkoordinir secara sistematik pekerjaan yang dilakukan oleh banyak orang.

4. Riant Nugroho Dwijowijoto Menurut Riant Nugroho Dwijowijoto (2004), pengertian birokrasi adalah suatu lembaga yang sangat kuat dengan kemampuan untuk meningkatkan kapasitas-kapasitas potensial terhadap hal-hal yang baik maupun buruk dalam keberadaannya sebagai instrumen administrasi rasional yang netral pada skala yang besar.

5. Farel Heady Menurut Farel Heady (1989), pengertian birokrasi adalah suatu struktur organisasi yang memiliki karakteristik tertentu; hierarki, diferensiasi, dan kualifikasi atau kompetensi. Hierarkhi berkaitan dengan struktur jabatan yang mengakibatkan perbedaan tugas dan wewenang antar anggota organisasi. Baca juga: Pengertian Komunikasi Ciri-Ciri Birokrasi Sistem birokrasi memiliki ciri tersendiri sehingga mudah dikenali. Menurut Max Weber, adapun ciri-ciri birokrasi adalah sebagai berikut: • Jabatan administrasi tersusun secara hirarkis (Administratice offices are organized hierarchically).

• Setipa jabatan diisi oleh orang yang memiliki kompetensi tertentu (Each office has its own area of competence). • Pegawai negeri ditentukan berdasarkan kualifikasi teknik yang ditunjukan dengan ijazah atau ujian (Civil servants are appointed, not electe, on the basis of technical qualifications as determined by diplomas or examination).

• Pegawai negeri menerima gaji tetap sesuai dengan pangkat atau kedudukannya (Civil servants receive fixed salaries according to rank). • Pekerjaan merupakan karier yang terbatas, atau setidaknya, pekerjaannya sebagai pegawai negeri (The job is a career and the sole, or at least primary, employment of the civil servant). • Para pejabat tidak memiliki kantor sendiri (The official does not own his or her office).

• Para pejabat sebagai subjek untuk mengontrol dan mendisiplinkan (the official is subject to control and discipline). • Promosi didasarkan pada pertimbangan kemampuan yang melebihi rata-rata (Promotion is based on superiors judgement). Baca juga: Pengertian Sistem Fungsi Birokrasi Menurut Michael G. Roskin, et al, setidaknya ada empat fungsi birokrasi di dalam suatu pemerintahan.

Mengacu pada pengertian birokrasi, adapun beberapa fungsi birokrasi adalah sebagai berikut: fungsi birokrasi menurut max weber.

Administrasi Fungsi administrasi bertujuan untuk mengimplementasikan undang-undang yang telah disusun dan ditetapkan oleh legislatif serta penafsiran atas undang-undang tersebut oleh eksekutif. Artinya, fungsi administrasi adalah menjalankan kebijakan umum suatu negara yang telah dirancang dan ditetapkan untuk mencapai tujuan negara secara keseluruhan.

2. Pelayanan Pada dasarnya birokrasi bertujuan untuk melayani masyarakat atau kelompok-kelompok tertentu. Salah satu contohnya adalah birokrasi di korporasi negara seperti PJKA yang bertujuan untuk menjalankan fungsi pelayanan publik. 3. Regulasi Fungsi regulasi suatu pemerintahan umumnya dirancang dan ditetapkan untuk mengamankan kesejahteraan masyarakat umum.

Pada pelaksanaannya, badan birokrasi akan dihadapkan pada dua pilihan; kepentingan individu versu kepentingan masyarakat umum. 4. Pengumpul Informasi Badan birokrasi sebagai pelaksana kebijakan negara tentu memiliki informasi dan data mengenai efisiensi/ efektivitas pelaksanaan berbagai kebijakan pemerintah di masyarakat.

Misalnya terdapat pungli saat pembuatan SIM dan STNK, maka pemerintah akan merancang prosedur baru dalam pembuatan SIM dan STNK untuk menghindari pungli. Baca juga: Definisi Manajemen Peran Birokrasi Dalam pelaksanaannya, peran birokrasi sangat diperlukan dalam menjalankan aturan dan pelayanan di masyarakat. Adapun beberapa peran birokrasi adalah sebagai berikut: • Menjalankan fungsinya sesuai dengan fungsi birokrasi menurut max weber pemerintah.

• Melaksanakan program dan kegiatan dalam rangka mencapai visi dan misi pemerintah dan negara. • Memberikan pelayanan kepada masyarakat serta melaksanakan pembangunan yang profesional dan merata. • Melaksanakan manajemen pemerintah, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasa, koordinasi, evaluasi, sinkronisasi, dan lainnya.

fungsi birokrasi menurut max weber

• Berperan sebagai penghubung antara pemerintah/ negara dengan masyarakat umum. Baca juga: Pengertian Efektivitas Demikianlah penjelasan ringkas mengenai pengertian birokrasi, fungsi, peran, dan beberapa jenis birokrasi secara umum. Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan kamu.
Prinsip birokrasi memegang peranan penting dalam sebuah organisasi. Birokrasi sendiri adalah organisasi masyarakat yang telah tersusun secara ideal. Tika, Konsep Organisasi – organisasi.co.id Cara mencapai birokrasi adalah melalui aturan, formalisasi, proses dalam organisasi, serta struktur.

Adapun beberapa ahli yang bertahun-tahun mendukung model birokrasi antara lain Fayol, Taylor, dan Weber. Bacaan Lainnya • Teori Administrasi: 3 Pengertian, Hingga Perkembangan • Pahatan Mesolitikum: 5 Daftar Hingga Benda Sakralnya • Zaman Prasejarah Ditandai: 3 Evolusi Tubuh Mereka mendukung beberapa model birokrasi untuk meningkatkan efektivitas administrasi pada sebuah organisasi.

Di sisi lain, Max Weber merupakan sosok bapak birokrasi. Birokrasi sendiri berasal dari kata bureaucracy (inggris). Dengan pengertian adalah suatu organisasi dengan struktur piramida berupa komando.

Fungsi birokrasi menurut max weber orang berada di tingkat bawah daripada atas dan umumnya terjadi pada bidang administrasi maupun militer. Kebanyakan organisasi yang menjalankan sistem birokrasi memiliki aturan yang ketat namun proses operasionalnya cenderung tidak efisien. Daftar Isi • Pengertian Birokrasi Oleh Beberapa Pakar • Max Weber • Frits Morstein Marx • Peter M.

Blau dan Charles H. Page • Riant Nugroho Dwijowijoto • Dennis Wrong • Hegel dan Karl Marx • Konsep Dan Prinsip Birokrasi Menurut Max Weber • Birokrasi beroperasi dalam sistem hierarki • Merancang sistem birokrasi supaya memiliki pembagian kerja • Birokrasi dengan alur kekuasaan yang terpusat • Sistem tertutup • Peraturan adalah hal penting dalam birokrasi fungsi birokrasi menurut max weber Functioning or authority (fungsi kekuasaan) • Kelebihan Sistem Birokrasi Max Weber • Menurut Weber, birokrasi adalah sistem kekuasaan.

• Jenis-Jenis Birokrasi Negara Pengertian Birokrasi Oleh Beberapa Pakar Sebelum memahami prinsip birokrasi, ada baiknya mengetahui pemahaman mengenai birokrasi oleh beberapa pakar.

Organisatoris lain baca ini: Teori Komunikasi Dasar Organisasi: 3 Pendekatan Max Weber Menurut seorang sosiolog asal Jerman bernama Max Weber, birokrasi merupakan bentuk organisasi yang secara penerapan berhubungan dengan tujuan yang akan dicapai. Maksudnya adalah sistem otoritas secara rasional oleh berbagai aturan. Tujuannya untuk mengorganisir pekerjaan yang menjadi tanggung jawab banyak orang. Frits Morstein Marx Salah satu ilmuwan asal Jerman-Amerika menyebutkan bahwa birokrasi merupakan tipe organisasi oleh pemerintah modern untuk menjalankan tugas-tugas mereka yang bersifat khusus.

Peter M. Blau dan Charles H. Page Keduanya adalah sosiolog asal Amerika. Menurut keduanya, birokrasi merupakan tipe organisasi untuk mencapai tugas-tugas administratif yang besar.

Caranya adalah dengan mengkoordinir secara sistematik pekerjaan yang banyak orang lakukan. Riant Nugroho Dwijowijoto Beliau merupakan seorang penulis buku yang berjudul ‘Anatomi Daerah’. Menurutnya, birokrasi merupakan lembaga yang kuat yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan kapasitas potensi. Hal ini berlaku pada hal-hal yang baik dan buruk. Keberadaaannya adalah sebagai instrumen administrasi yang bersifat rasional dan netral dalam skala besar. Dennis Wrong Sebagai seorang profesor di Universitas New York, beliau berpendapat bahwa birokrasi merupakan organisasi yang dapat mencapai satu tujuan tertentu melalui bermacam tujuan.

Birokrasi dalam sebuah organisasi menduduki komando yang tegas bersifat bagaikan piramida. Oleh sebab itu adanya birokrasi mampu membuat pembagian kerja yang jelas. Setiap orang secara spesifik dan sesuai peraturan serta ketentuan umum akan menuntun usaha dan sikap mereka dalam mencapai tujuan. Para karyawan terpilih berdasarkan keterlatihannya dan kompetensi mereka sehingga pekerjaan tersebut cenderung akan mereka lakukan seumur hidup. Hegel dan Karl Marx Sebagai fungsi birokrasi menurut max weber asal Jerman, keduanya memberikan pengertian jika birokrasi adalah alat untuk melakukan perubahan sosial dan pembebasan.

Mereka juga berpendapat jika birokrasi adalah media untuk mengkomunikasikan kepentingan partikular dengan kepentingan umum. Namun dari sisi Karl Marx, ia menganggap jika birokrasi adalah alat dari kelas yang berpengaruh untuk mendominasi kekuasaan di atas kelas-kelas sosial lainnya.

Birokrasi memihak pada kelas partikular. Konsep Dan Prinsip Birokrasi Menurut Max Weber contoh birokrasi (dkampus.com) Max Weber adalah orang yang paling berpengaruh di dunia karena ajarannya terhadap ilmu pengetahuan sosial.

Beliau terkenal karena ilmunya mengenai pembirokrasian masyarakat. Beliau juga menaungi banyak aspek dari administrasi publik modern hingga pendekatan klasik.

Selanjutnya hal-hal itu memiliki sebutan “Weberian civil service”. Jauh sebelum Weber mengenalkan konsepnya, masyarakat telah mengenal istilah “bureaucracy” yang berasal dari Inggris. Dalam Kamus Bahasa Inggris dari Oxford, kata ini telah ada dalam beberapa edisi yang berbeda.

Yakni pada tahun 1818 dan 1860. Teori yang ideal oleh Weber merupakan sebuah teori birokrasi yang ideal.

fungsi birokrasi menurut max weber

Beliau mencoba merumuskan sesuatu walaupun masih abstrak mengenai seharusnya organisasi yang ideal. Ia menggambarkan tipe birokrasi ideal dalam artian yang positif mambuat apapun lebih rasional dan efisien. Dominasi karismatik dan tradisional menjadi salah satu karakternya. Birokrasi bagi beliau akan menjadi tidak efisien ketika keputusan merupakan hasil individu.

Dalam atribut birokrasi modern, hal-hal yang harus tercakup adalah efek daya peningkatan terhadap perbedaan ekonomi dan sosial, kepribadian, hingga imp-lementasi sistem kewenangan yang praktis. Adapun prinsip birokrasi menurut Weber antara lain: Birokrasi beroperasi dalam sistem hierarki Menurutnya, sistem hierarki pada birokrasi adalah vertikal yang ketat serta komunikasi antar pekerja yang perlu memiliki batasan sesuai dengan jabatannya. Merancang sistem fungsi birokrasi menurut max weber supaya memiliki pembagian kerja Dengan pembagian kerja, aliran klasik yang menganggap manusia sebagai mesin akan tercipta yang mana dalam mesin mengandung beberapa spare part dengan spesifikasi yang berbeda-beda dalam kinerja.

Birokrasi dengan alur kekuasaan yang terpusat Organisasi akan menjadi paling efektif dengan manajemen pusat yang terkontrol terhadap proses pengambilan keputusan serta kegiatan pekerja. Sistem tertutup Birokrasi memiliki sistem tertutup dan seharusnya memang menutup diri dari lingkungan. Tujuannya agar tidak mengganggu kinerja organisasi. Peraturan adalah hal penting dalam birokrasi Segala hal di organisasi harus memiliki peraturan tertulis supaya segala hal berjalan dengan formal dan teratur.

Functioning or authority (fungsi kekuasaan) Dalam hal ini terbagi menjadi fungsi birokrasi menurut max weber yaitu: 1. Traditionally authority adalah kekuasaan yang berasal dari kepercayaan tradisional. Contohnya adalah Ratu Elizabeth sebagai ratu Inggris dan ini merupakan kepercayaan lama.

2. Charismatic Authority yaitu kekuasaan yang berdasarkan kemampuan seseorang untuk menarik hati dan berinteraksi dengan orang lain. Tipe kekuasaan ini sangat tidak stabil. 3. Rational – legal authority merupakan kekuasaan yang diperoleh atas kemampuan individu.

Ini merupakan dasar dari functioning of authority. Kelebihan Sistem Birokrasi Max Weber Apa saja yang menjadi kelebihan dari prinsip birokrasi Weber? Antara lain adalah adanya prosedur untuk mengatur organisasi dan pentingnya peraturan serta norma. Beliau percaya jika peraturan harus ada secara rasional dan seharusnya memang ada untuk segala hal yang berlaku di dalam organisasi.

tentu saja peraturan tersebut haruslah tertulis. Dalam teori Weber, sebuah birokrasi memiliki spesialisasi pekerjaan dan deskripsi kerja. Dengan pembagian tugas yang spesifik maka pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik dan cepat.

Oleh sebab itu tidak ada benturan kepentingan karena tumpang tindih pekerjaan. Prinsip Weber pun menekankan pada hierarki otoritas yang formal. Dengan demikian akan terjadi pemudahan pengkoordinasian. Para pekerja akan mengetahui posisi mereka dan akan mengikuti perintah.

Kelebihan lainnya adalah mampu menukar personil yang bertanggung jawab. Inilah pentingnya tugas organisasi yang relatif dan apabila hendak membandingkannya dengan anggota organisasi tertentu pun akan menjadi mudah. Selanjutnya, profesionalisme dan impersonality dalam hubungan antar personal di dalam sebuah organisasi akan mengarahkan individu ke arah tugas organisasi.

Anggota organisasi tentu harus berkonsentrasi pada tujuan organisasi. Prioritas yang tinggi dari tugas-tugas organisasi menjadi penting. Setiap uraian tugas akan diberikan kepada seluruh anggota organisasi. Hal ini adalah garis besar terkait tugas formal hingga tanggung jawab kerja.

fungsi birokrasi menurut max weber

Para pekerja wajib memiliki pemahaman mengenai keinginan perusahaan dari kinerja yang mereka kerjakan. Bahkan rasionalitas dan prediksi dalam mencapai tujuan organisasi akan meningkatkan stabilitas organisasi. Organisasi menurut Weber harus dijalankan sesuai kaidah untuk pemangkasan logis dan hal itu mampu untuk diprediksikan. Menurut Weber, birokrasi adalah sistem kekuasaan. Pemimpin harus mempraktekkan kontrol atas bawahan dan menekankan aspek disiplin.

Oleh sebab itu beliau memasukkan birokrasi ke dalam sistem legal rasional. Legal karena tunduk pada aturan-aturan yang tertulis dan dapat dilihat siapapun. Rasional artinya adalah dapat dipahami serta jelas sebab dan akibatnya. Jika tidak ada kontrol di dalamnya maka akan terjadi kekuasaan absolut. Organisasi pun tidak akan berjalan secara rasional lagi. Oleh sebab itu penting adanya pembatasan pada setiap kekuasaan. Hal-hal yang perlu dibatasi adalah kolegialitas.

Yaitu keterlibatan orang lain dalam pengambilan keputusan. Namun di sisi lain, prinsip ini dapat diterapkan untuk mencegah korupsi kekuasaan. Tidak hanya hal-hal itu, Weber juga menerapkan pemisahan kekuasaan. Namun hal ini tidak fungsi birokrasi menurut max weber stabil kecuali adanya pembatasan akumulasi kekuasaan.

Pemerintah juga membutuhkan administrasi amatir jika mereka tidak mampu membayar orang-orang yang dapat mengerjakan tugas birokrasi. Ketika suatu organisasi memiliki dasar-dasar prinsip, maka organisasi tersebut dapat mengatasi ketidakefisienan dan ketidakpraktisan yang ada.

Birokrasi adalah bentuk paling efisien dalam sebuah organisasi. ini merupakan alat yang paling efisien dari kegiatan administratif yang memiliki skala besar. Organisatoris lain baca ini: Teori Birokrasi dan Birokrat: Jenis, Budaya di Indonesia Jenis-Jenis Birokrasi Negara birokrasi (kemenkopmk.com) Birokrasi dalam setiap negara berbeda-beda. Sebagai contoh, di Amerika Serikat terdapat empat jenis birokrasi: Di Amerika Serikat, terdapat 4 jenis birokrasi yaitu: 1.

The Cabinet Departments yaitu departemen-departemen di fungsi birokrasi menurut max weber kabinet 2. Federal Agencies atau agen-agen federal 3. Federal Corporation yaitu perusahaan-perusahaan federal milik federal, dan 4. Independent Regulatory Agencies atau agen-agen pengaturan independen Di dalam sebuah kabinet, departemen-departemen terdiri dari beberapa lembaga birokrasi.

Mereka berbeda sesuai tugasnya. Antara lain departemen pendidikan, departemen tenaga kerja, hingga departemen pertahanan. Masing-masing mereka memiliki tugas utama untuk melaksanakan kebijaksanaan umum.

Hal itu tentunya telah digariskan oleh lembaga eksekutif maupun lembaga Yudikatif. Contohnya di Indonesia, agen-agen federal antara lain Batan (Badan Tenaga Atom Nasional), Fungsi birokrasi menurut max weber Nasional, dan Lembaga Penerbangan. Korporasi-korporasi federal di Indonesia adalah birokrasi yang dapat memadukan posisinya sebagai agen pemerintah sekaligus sebagai lembaga bisnis. Contohnya adalah BUMN (Badan Usaha Milik negara). Negara memang terkadang adalah pihak yang menentukan pengangkatan jabatan dan para pejabatnya.

Organisatoris lain baca ini: Teori Kontingensi dalam Organisasi: Pengertian, 4 Aliran Namun dalam kasus ini, ia adalah lembaga bisnis yang mempunyai pengaruh untuk memutuskan apakah akana da pengembangan organisasi atau justru pemangkasan termasuk juga jenis modalnya. Contoh perusahaan jawatan milik negara adalah Garuda Indonesia, Bank Mandiri, Hingga PJKA. Selain itu, ada pula agen-agen pengaturan independen yang merupakan jenis birokrasi yang terakhir.

Ia terbentuk dari kebutuhan untuk menyelenggarakan regulasi ekonomi akan dunia bisnis. Pelaksanaannya berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat. Di Indonesia, saat ini ada Badan Penyehatan Perbabnkan Nasional (BPPN).

Fungsinya untuk restrukturisasi kalangan bisnis di Indonesia yang di masa lalu banyak merugikan keuangan negara. Kesejahteraan masyarakat karena kredit-kredit macet mereka menjadi terancam. Ada pula organisasi lain seperti KPK, KPU, dan KPPU yang menaungi birokrasi Indonesia terhadap hal-hal tertentu.

Max Weber, seorang sosiolog terkenal Jerman, adalah orang pertama yang menggunakan istilah "birokrasi" menjelang akhir abad ke-19. Weber tidak hanya menggunakan kata itu; dia juga percaya bahwa sistem manajemen birokrasi adalah sistem yang paling efektif untuk membentuk dan menjalankan suatu organisasi. Karenanya, sistem manajemen birokrasi dirumuskan untuk membantu mencapai tujuan organisasi dan menjalankan bisnis secara efisien.

Dalam posting ini, kita akan membahas teori manajemen birokrasi Weber secara terperinci untuk pemahaman konsep yang lebih baik. Max Weber mampu membahas manajemen birokrasi dari dua sudut pandang yang berbeda yaitu perilaku dan struktural. Dan memiliki pengetahuan yang baik tentang kedua poin akan membantu manajer, pembaca atau siswa manajemen lebih memahami konsep.

fungsi birokrasi menurut max weber

Dari sudut pandang perilaku, Weber berusaha memastikan bahwa ada hierarki pembagian wewenang dan tenaga kerja dalam suatu organisasi. Tetapi kemudian, hal yang perlu dipahami adalah bahwa sistem seperti itu berfungsi berdasarkan aturan yang ditetapkan.

Sudut pandang struktural Weber tentang manajemen adalah sudut lain yang dengannya seseorang dapat memahami sistem manajemen birokrasi. Dia menetapkan bahwa sistem manajemen birokrasi adalah struktur terorganisir dari hubungan manusia. Namun, ada sesuatu yang unik tentang manajer birokrasi. Mereka beroperasi dengan seperangkat aturan yang dibuat untuk memandu karyawan.

Dalam sistem birokrasi, hal-hal biasanya dilakukan secara terorganisir. Aturan dan peraturan juga dibuat, dan orang-orang terikat untuk mengikutinya. Dengan kata lain, perintah apa pun yang dikeluarkan oleh otoritas yang lebih tinggi harus dipatuhi oleh bawahan untuk kelancaran organisasi tersebut.

Jadi, singkatnya, ada keteraturan dalam sistem birokrasi, dan hal-hal dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip yang ditetapkan organisasi. Max Weber memiliki mencurahkan banyak perhatian dalam sistem birokrasi dan percaya bahwa itu adalah satu-satunya cara manajemen dapat melakukan kontrol total terhadap pekerja dalam suatu organisasi.

Dan dia merasa sistem dapat membuat pencapaian sasaran atau hasil yang ditargetkan, serta meningkatkan efisiensi dimungkinkan. Teori Weber menempatkan lebih banyak prioritas pada efisiensi. Dan dibandingkan dengan beberapa pemimpin yang kita miliki saat ini, Weber sama sekali berbeda.

Gaya manajemen-nya didasarkan pada aturan ketat di tempat kerja dan pemisahan kekuasaan. Dan jika Weber ada di sini hari ini, ia akan sangat mengkritik banyak pemimpin dan manajer karena terbuka fungsi birokrasi menurut max weber ide-ide baru dari bawahan dan menyetujui pengaturan kerja yang fleksibel yang bertentangan dengan sistem birokrasi.

Dia lebih mementingkan kecepatan, ketepatan, pengetahuan tentang file, persatuan, pengurangan biaya pribadi dan total subordinasi karyawan. Gaya manajemen Max Weber juga dianggap sebagai manajemen birokrasi membuat kolaborasi dan kreativitas tidak mungkin berkembang di lingkungan kerja.

Dia menginginkan sistem yang kosong dari pengambilan risiko atau fleksibilitas. Di bawah ini adalah beberapa fokus dari teori manajemen birokrasi Max Weber. Penyimpanan Catatan yang Akurat Teori manajemen birokrasi Max Weber didasarkan pada pencatatan yang ketat. Pada catatan ini, manajer diharapkan untuk mencatat secara akurat hal-hal yang terjadi dalam organisasi tersebut. Ide-nya adalah sebagian untuk mengatasi atau mencegah kemungkinan terjadinya kembali isu-isu spesifik.

Menyimpan catatan terperinci tentang tanggung jawab dalam suatu organisasi, menurut teori Weber akan membantu menghindari segala bentuk kesalahpahaman di antara karyawan. Dan ketika seorang karyawan menelepon sakit atau datang terlambat untuk suatu perubahan untuk satu alasan atau yang lain, manajer juga diharapkan untuk memantau situasi sehingga tidak berakhir menjadi kebiasaan.

Manajer juga dapat meminta untuk mengetahui bagaimana bawahan menghabiskan waktu yang dimaksudkan untuk bekerja. Jadi, pekerja, di sisi lain, juga perlu menyimpan catatan yang tepat tentang jam mereka serta kemajuan pekerjaan. Delegasi Peran Pekerjaan Teori manajemen birokrasi Max Weber berfokus pada adalah pelimpahan tanggung jawab kepada bawahan atau karyawan fungsi birokrasi menurut max weber suatu organisasi.

Weber percaya bahwa tugas harus diberikan kepada pekerja berdasarkan tingkat keterampilan mereka dan kemampuan untuk efisiensi. Ditambah lagi, tidak ada yang seperti peran fleksibel. Dengan kata lain, setiap karyawan harus menyadari tanggung jawab dan fungsinya dalam departemen dan organisasi masing-masing pada umumnya dan juga berpegang teguh pada mereka.

Weber percaya bahwa melakukan tugas-tugas lain di luar peran yang ditentukan karyawan akan menyebabkan gangguan pada hierarki otoritas. Dan akibatnya, kolaborasi dalam bentuk apa pun, serta pemikiran kreatif dilarang dalam sistem manajemen birokrasi. Dan distribusi daya juga merupakan urutan hari ini. Dengan kata lain, bawahan diberi mandat untuk melapor kepada mereka yang berada di atas mereka.

Mempekerjakan Berdasarkan Kualifikasi Saja Gaya manajemen Max Weber juga termasuk merekrut kandidat ideal untuk suatu pekerjaan. Dia percaya bahwa memperbaiki karyawan di posisi pekerjaan yang memenuhi syarat akan memungkinkan mereka menjadi lebih efisien dan memberikan hasil yang diharapkan. Teori Weber juga mengabaikan nepotisme atau penyimpangan dari standar manajemen ini dan percaya bahwa jika seseorang tidak memenuhi syarat untuk suatu pekerjaan, maka individu yang dimaksud bukanlah pasangan yang cocok untuk posisi itu.

Seorang kandidat mungkin bersikap santai atau memiliki kemampuan untuk menampilkan kinerja yang baik bahkan dalam pengaturan tim. Tetapi itu tidak berarti bahwa orang tersebut adalah pasangan yang cocok untuk pekerjaan itu. Gaya kepemimpinan manajemen birokrasi Weber lebih menekankan pada fakta bahwa merekrut keputusan harus lebih pada pengalaman dan keahlian kandidat.

Hubungan Dalam Lingkungan Pekerjaan Sistem manajemen birokrasi Weber menghambat hubungan pribadi antara pekerja, terutama selama jam kerja. Dia percaya bahwa jam kerja harus digunakan hanya untuk bekerja dan tidak untuk membahas masalah pribadi. Juga, hubungan kerja harus dipandu oleh peraturan dan ketentuan yang sesuai. Teori manajemen-nya juga mencegah berbagi ide atau kolaborasi selama jam kerja. Dia percaya bahwa lingkungan kerja bukanlah pertemuan sosial. Dan agar pekerja menjadi lebih efisien dan produktif, mereka harus menginvestasikan setiap menit waktu kerja mereka pada pekerjaan yang harus mereka lakukan.
Birokrasi Weberian selama ini diartikan sebagai fungsi suatu biro.

Suatu biro biro merupakan jawaban yang rasional terhadap serangkaian tujuan yang telah di tetapkan. Birokrasi merupakan sarana untuk merealisasikan tujuan-tujuan tersebut. Seorang pejabat birokrasi tidak seyogyanya menetapkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai tersebut. Penetapan tujuan merupakan fungsi politik dan menjadi wewenang dari pejabat politik yang menjadi masternya.

Model birokrasi weberian yang selama ini dipahami merupakan sebuah mesin yang disiapkan untuk menjalankan dan mewujudkan tujuan-tujuan tersebut. Dengan demikian setiap pekerja atau pejabat dalam birokrasi pemerintah merupakan pemicu dan penggerak dari sebuah mesin yang tidak mempunyai kepentingan pribadi. Dalam kaitan ini maka setiap pejabat pemerintah tidak mempunyai tanggung jawab publik kecuali pada bidang tugas dan tanggung jawab sebagai mesin itu dijalankan sesuai dengan proses dan prosedur yang telah di tetapkan, maka akuntabilitas pejabat birokrasi pemerintah telah diwujudkan.

Pemikiran seperti ini fungsi birokrasi menurut max weber birokrasi pemerintah bertindak sebagai kekuatan yang netral dari pengaruh kepentingan klas atau kelompok tertentu. Negara bisa mewujudkan tujuan-tujuannya melalui mesin birokrasi yang dijalankan oleh pejabat-pejabat pemerintah. Aspek netralitas dari fungsi birokrasi pemerintah dalam pemikiran weber dikenal sebagai konsep konservatif dari para pemikir di zamannya.

Weber hanya ingin lebih meletakkan birokrasi itu sebagai sebuah mesin dari pada dilihat sebagai suatu organisme yang mempunyai kontribusi terhadap kebulatan organik sebuah negara.

Pandangan para ilmuan Jerman semasa hidupnya Max Weber bahwa birokrasi itu dibentuk independent dari kekuatan politik. Ia berada diluar atau diatas aktor-aktor politik yang saling berkompetisi satu sama lain. Birokrasi pemerintahan diposisikan sebagai kekuatan yang netral.

Netralitas birokarasi diartikan bukan dalam hal lebih condong menjalankan kebijakan atau perintah dari kekuatan politik yang sedang memerintah sebagai masternya pada saat tertentu.

fungsi birokrasi menurut max weber

Akan tetapi lebih diutamakan kepada kepentingan negara dan rakyat secara keseluruhan. Sehingga siapapun kekuatan politik yang memerintah birokrat dan birokrasinya memberikan pelayanan terbaik kepadanya. Ciri birokrasi modern yang digagas oleh Max Weber tentang rasionalisme birokrasi sulit untuk diwujudkan karena birokrasi telah berubah menjadi alat untuk legitimasi birokrat dan penguasa.

Pada gilirannya birokrasi pemerintah diartikan sebagai officialdom atau kerajaan pejabat, yang rajanya adalah pejabat. Dalam perkembangan organisasi klasik, model Max Weber dengan teori birokrasinya telah mampu bertahan dan mendominasi sampai zaman kontemporer.

Sampai saat ini, teori Max Weber masih sangat berpengaruh hampir disemua organisasi, terutama dalam organisasi birokrasi dan bisnis. Pada organisasi birokrasi dan bisnis, birokrat selalu melekat dalam struktur organisasi yang merupakan ukuran pada setiap organisasi. Weber memberikan beberapa ciri birokrasi, yaitu: 1.

hirarki otoritas 2. impersonal 3. peraturan tertulis 4. promosi berdasarkan prestasi 5. pembagian kerja, dan 6. efisiensi Selanjutnya, Max Weber (Thoha, 1996) menyebutkan tiga bentuk otoritas yang dilakukan birokrat dalam organisasi birokrasi. Ketiga otoritas dalam sebuah organisasi tersebut sebagai berikut. 1. Otoritas yang rasional dan sah, hal ini didasarkan pada posisi yang dipegang seorang pejabat dalam suatu hierarki. 2. Otoritas tradisional, hal ini diciptakan oleh kelas-kelas dalam masyarakat dan juga adat istiadat.

3. Otoritas kharismatik, hal ini timbul dari potensi kepribadian seorang pejabat
Analisa Weber mengenai birokrasi hanyalah suatu aspek kecil dari perhatiannya yang besar mengenai fenomena yang khas dari peradaban Eropa Barat.

Dalam pandangannya, tumbuhnya rasionalitas merupakan kunci penting untuk memahami perkembangan berbagai fenomena yang terjadi di dalam masyarakat Eropa pada masa itu. Ini sesuai dengan kenyataan bahwa salah satu ciri khas dari ide-ide teoritis yang dikemukakan Weber sangat luas terjalin dengan analisis historis. Salah satu analisis yang penting dari Max Weber adalah mengenai sistem administrasi, yang menjadi sangat terkenal sejak Weber menampilkan suatu karakteristik struktural dari birokrasi yang dipergunakannya untuk melihat perbedaan bentuk organisasi yang ada, terutama dari segi rasionalitasnya.

Untuk menjelaskan hal ini, Weber mengembangkan penjelasannya tentang otoritas, yang dibedakan menjadi tiga tipe, yaitu otoritas tradisional, kharismatik dan legal rasional. Tipe-tipe otoritas ini memiliki kaitan dengan struktur administrasi tertentu.

Tipe otoritas legar rasional menjadi dasar bagi bentuk sistem administrasi yang dalam perkembangnya dikenal sebagai birokrasi. Karakteristik dari suatu sistem birokrasi ditampilkan Weber melalui tipe ideal birokrasi.

Bentuk tipe ideal birokrasi, sebagaimana dikemukakan Weber (Johnson, 1986:232-233) memiliki sifat sebagai berikut: 1. suatu pengaturan fungsi resmi yang terus menerus diatur menurut peraturan.

2. Suatu bidang keahlian tertentu, yang meliputi (a) bidang kewajiban melaksanakan fungsi yang sudah ditandai sebagai bagian dari pembagian pekerjaan yang sistematis, (b) ketetapan mengenai otoritas yang perlu dimiliki seseorang fungsi birokrasi menurut max weber menduduki suatu jabatan untuk melaksanakan fungsi-fungsi ini, (c) bahwa alat paksaan yang perlu secara jelas dibatasi serta penggunaannya tunduk pada kondisi-kondisi terbatas itu.

3. Organisasi kepegawaian mengikuti prinsip hirarkhi, artinya pegawai rendahan berada dibawah pengawasan dan mendapat supervisi dari seseorang yang lebih tinggi. 4. Peraturan-peraturan yang mengatur perilaku seorang pegawai dapat merupakan peraturan atau norma yang bersifat teknis. Dalam kedua hal itu, kalau penerapannya seluruhnya bersifat rasional, maka spesialisasi diharuskan. 5. Dalam tipe rasional hal itu merupakan masalah prinsip bahwa para anggota staf administrasi harus sepenuhnya terpisah dari kepemilikan alat-alat produksi atau administrasi.

6. Dalam tipe rasional itu, juga terjadi bahwa sama sekali tidak ada pemberian posisi kepegawaian oleh seseorang yang sedang menduduki suatu jabatan. 7. Tindakan-tindakan, keputusan-keputusan dan peraturan-peraturan administratif dirumuskan dan dicatat secara tertulis. Secara lebih rinci, apa yang dikemukakan Weber sebagai tipe ideal tersebut diatas meliputi: (a). Terdapat pembagian Tugas Semua tugas yang ada dalam organisasi dibagi-bagi kedalam beberapa kelompok tugas, yang kemudian dibagi-bagi pada kelompok tugas yang lebih kecil.

Proses pembangian tugas ini akan membawa akibat dimana pekerjaan yang dilakukan setiap orang menjadi spesifik sifatnya. Selain itu, bidang tugas tiap orang juga menjadi makin terbatas luas cakupannya.

Munculnya pembagian tugas jugamembawa kearah terciptanya efisiensi, karena tiap bagian menjadi makin memiliki spesialisasi dalam, bidangnya masing masing. Pola pembangian dan pelaksanaan tugas makin jelas sehingga tingkah laku setiap orang dalam suatu situasi tertentu dapat diperkirakan sebelumnya. (b). Hirarki Otoritas Setiap organisasi selalu memiliki sistem hirarkhi. Setiap tingkat dalam hirarkhi itu berada dalam pengawasan tingkat yang lebih atas, kecuali tingkat yang paing atas dari hirarkhi itu.

Secara teoritik, tingkat paling tinggi ini berada dalam pengawasanb pembentuk organisasi, atau jika organisasi itu merupakan organisasi yang dibentuk oleh para anggota, maka pengawasan dilakukan oleh setiap anggota. Setiap bagian hanya melaporkan tugasnya pada satu atasan. Kesatuan dalam perintah menjadi sangat penting dan harus dilakukan. Setiap atasan memerintahkan apa yang harus dikerjakan oleh bawahan. Karena setiap orang memiliki batas bidang tugas yang jelas dan memiliki spesialisasi dalam tugasnya, maka atasan tidak perlu ikut mencampuri tugas bawahan, sebaliknya bawahan menjadi tidak harus tergantung pada instruksi dari atasan.

(c). Sistem Pemeliharaan Dokumen Tertulis dan Formal Suatu sistem birokrasi mengembangkan sistem penyimpanan arsip yang baik. Sejauh mungkin, semua keputusan fungsi birokrasi menurut max weber yang dibuat harus diarsipkan.

Perintah dan instruksi dibuat dalam bentuk tertulis. Ini menunjukkan bahwa dalam birokrasi dokumen formal dan tertulis dilakukan. Ini menunjukkan karakter organisasi yang makin tidak tergantung pada individu.

Individu dalam suatu posisi dapat berganti-ganti, sehingga dengan adanya sistem kearsipan organisasi tidak mengalami kesulitan serta dapat menjelaskan apa yang terjadi di masa lalu dan apa yang terjadi sekarang. Formalisasi juga membantu bawahan untuk merumuskan apa yang diharapkan harus dilakukan olehnya, merumuskan bidang tanggung jawabnya, batas otoritas yang dijalankan, hak-hak individual yang dimiliki dan sebagainya.

Formalisasi juga membantu atasan dalam melakukan hal-hal yang sama. (d). Pengaturan, Tatacara dan Aturan Suatu organisasi birokrasi juga memiliki kejelasan dalam proses pelaksanaan tugas atau kegiatannya melalui pengembangan taracara atau prosedur, aruran dan pengaturan.

Interaksi antar bagian dalam organisasi terjadi ke atas, ke bawah maupun menyamping. Untuk mengatur semua itu diperlukan suatu sistem tatacara atau prosedur, aturan dan pengaturan sebagai petunjuk bagi anggota dalam berperilaku dalam organisasi tersebut.

Rasionalitas, stabilitas dan kontinyuitas dapat dicapai oleh organisasi sehingga semuanya dapat diperkirakan sebelumnya. Organisasi makin rasional karena dengan adanya peraturan, dimana peraturan itu dibuat atas dasar suatu logika tertentu, individu dalam organisasi akan melakukan tindakan yang terbaik. Karena aturan itu pula, maka organisasi makin terbebas dari tingkah, khayalan dan perubahan pikiran tiba-tiba dari individu-individu dalam organisasi. Dengan adanya aturan ini pula maka organisasi memiliki kestabilan yang lebih baik dan tidak mudah mengalami kerusakan.

Jadi fungsi dari tatacara, aturan dan poengaturan meliputi: – organisasi makin tidak dipengaruhi oleh tingkah laku individu dan tidak menciptakan siatuasi dimana bawahan tergantung atasan dan sebaliknya, karena adanya aturan, pengaturan dana tatacara yang jelas.

– pada hal yang tertentu, terdapat kesatu paduan tindakan antar berbagai bagian dari organisasi dalam suatu situasi tertentu. (e) Tenaga Ahli Terlatih Dalam organisasi modern yang komplek, sangat dibutuhkan kemampuan dari setiap individu untuk menghadapi berbagai masalah sehingga untuk fungsi birokrasi menurut max weber kemampuan itu setiap individu memerlukan leahlian, Jadi dalam organisasi yang demikian terdapat banyak ahli dalam berbagai bidang sesuai dengan bidang tugas dalam organisasi.

Tanpa keahlian itu, akan timbul kesulitan bagi individu untuk menyelesaikan masalah dalam organisasi. Keahlian ini juga mendukung individu dapat membuat keputusan dengan cepat dan baik. Ini merupakan cara bagaimana tujuan organisasi dapat dicapai, dengan ini pula organisasi birokrasi makin menunjukkan karakternya sebagai organisasi yang efisien. (f). Hubungan yang impersonal Emosi dan sentimen dapat mengganggu rasionalitas dan obyektifitas serta dapat mendoriong terjadinya nepotisme dan penghargaan pada seseorang secara berlebihan.

fungsi birokrasi menurut max weber

Dalam birokrasi, hubungan-hubungan antar orang menjadi formal, tidak berdasar pada subyektifitas tertentu dan meniadakan pengaruh emosi dan sentimen. Keputusan dibuat atas dasar hal yang pernah diputuskan atau pada peraturan dan tidak berdasarkan selain pada rasionalitas dan efisiensi. Suatu organisasi birokrasi tumbuh dan berkembang dalam suatu kondisi tertentu. dalam pengamatan Weber, tumbuhnya organisasi birokrasi ini dilatar belakangi perubahan sosial, khususnya revolusi industri yang terjadi fungsi birokrasi menurut max weber Eropa.

Menurut Blau (Luthans, 1985:530) melihat ada empat faktor yang melatar belakang tumbuhnya birokrasi di Eropa pada waktu itu.

Keempat faktor itu adalah: (a) Bekembangnya ekonomi uang (b) Munculnya sistem kapitalisme (c) Kuatnya Etika Protestan (d) Besarnya ukuran organisasi Blau memberikan penjelasan dengan cukup cermat mengenai fenomena birokrasi dalam masyarakat Eropa waktu itu dengan melihat apa yang menjadi faktor-faktor yang melatar belakangi tumbuhnya birokrasi itu hadir secara bersama-sama. Namun untuk menjelaskan munculnya birokrasi di lain tempat, tidak semua faktor itu harus ada bersama-sama.

Blau mengambil contoh tentang organisasi birokrasi yang tumbuh di Eropa pada masa sebelumnya, ternyata bukan akibat dari faktor-faktor yang disebutkannya.

Demikian juga Blau melihat perkembangan organisasi birokrasi dinegara yang bukan kapitalis dan bukan penganut Protestan, seperti di Rusia, maka faktor munculnya kapitalisme dan kuatnya etika Protestan bukan menjadi faktor yang melatar belakai perkembangan organisasi birokrasi di ternpat itu.

Faktor perkembangan ekonomi uang dan faktor besarnya ukuran organisasi dipandang sebagai dua faktor yang berlaku umum bagi perkembangan organisasi birokratis. Namun, dua faktor yang lain yang dikemukakan oleh Blau, yaitu munculnya sistem kapitalisme dan kuatnya etika Protestan dapat menjadi iklim yang mendukung atau kondusif bagi berkembangnya organisasi birokratis. Faktor yang paling penting dalam pandangan Blau adalah faktor berkembangnya ukuran dari dari organisasi.

Faktor ini tidak memerlukan tiga faktor yang lain, artinya jika tiga faktor yang lain tidak ada, maka makin besarnya ukuran organisasi cukup untuk menumbuhkan organisasi yang birokratis. Blau memberi contoh, bagaimana hal itu dapat terjadi. Di Mesir kuno telah berkembang organisasi cukup besar untuk mendukung pengelolaan air dan bangunan pendukung irigasi di Mesir.

Gereja Katolik Roma mampu melakukan kontrol terhadap jutaan pengikutnya di seluruh dunia. Ini semua menunjukkan ukuran organisasi yang besar, yang tanpa suatu organisasi yang birokratis nampaknya sangat sukar dapat melaksanakan kegiatannya.

Hal ini menjadi bukti bahwa faktor ukuran besarnya organisasi menjadi sangat penting, tanpa adanya tiga faktor lain yang dikemukakan Fungsi birokrasi menurut max weber. Apa yang dikemukakan Blau mengenai faktor yang mendukung perkembangan organisasi biroktasi sebagaimana dikemukakan terbukti tidak harus semuanya ada.

Selain ada faktor terpenting, ada pula faktor penunjang. Jadi secara lebih jelas terlihat bahwa berkembangnya organisasi birokrasi disebabkan oleh faktor dari dalam dan dari luar organisasi. Faktor dari dalam, antara lain makin besar ukuran organisasi, kompleksnya tugas dalam organisasi dan sebagainya. Faktor dari luar misalnya perubahan ekonomi, sosial, politik dan sebagainya. Keunggulan organisasi birokrasi menurut Weber ditunjukkan dari kenyatan bahwa pengalaman secara universal cenderung memperlihatkan bahwa tipe organisasi administrasi yang murni birokrasi, dari titik pandang yang murni teknis, mampu mencapai tingkat efisiensi yang paling tinggi, dan dalam pengertian ini secara resmi merupakan alat yang dikenal sebagai yang paling rasional untuk melaksanakan keharusan pengawasan terhadap manusia.

Organisasi birokratis unggul terhadap bentuk lainnya dalam ketepatan, stabilitas, dalam disiplin dan dalam keampuhannya. Salah satu alasan pokok mengapa bentuk organisasi birokratis itu memiliki efisiensi adalah karena organisasi ini memiliki cara yang secara sistematis menghubungkan kepentingan individu dan tenaga pendorong dengan pelaksanaan fungsi-fungsi organisasi. Hal ini dijamin oleh kenyataan bahwa pelaksanaan fungsi organisasi yang sudah diatur secara khusus menjadi kegiatan utama bagi pekerjaan pegawai birokrasi, sebagai imbalan dari pelaksanaan fungsi yang dipercayakan itu, pegawai menerima gaji dan kesempatan untuk kenaikan pangkat dalam kariernya itu (Johnson, 1986:233).

Meskipun apa yang dikemukakan Weber merupakan tipe ideal suatu organisasi birokrasi, tetapi tipe ideal ini sangat berguna untuk memahami realitas organisasi yang pada umumnya cenderung memiliki karakteristik sebagai organisasi birokrasi. Akan tetapi, terhadap pandangan Weber ini telah berkembang pula berbagai kritik yang dikemukakan oleh banyak ahli.

Walaupun demikian, konsep Weber ini merupakan konsep yang dipergunakan oleh banyak ahli untuk memahami fenomena organisasi birokrasi yang berkembang dewasa ini. Beberapa kelemahan sistem organisasi birokrasi yang menjadi sasaran kritik dari para ahli ilmu sosial itu dapat ditampilkan dengan melihat sisi yang berlawanan dari apa yang dikemukakan Weber. Sebagai contoh, Weber mengemukakan bahwa dalam organisasi birokrasi terdapat spesialisasi yang menghasilkan efisiensi.

Para pengritik Weber menyatakan bahwa hasil penelitian empiris membuktikan bahwa spesialisasi selain meningkatkan produktifitas dan efisiensi, juga memiliki akibat samping berupa munculnya konflik diantara berbagai unit yang memiliki spesialisasi itu, yang dapat merugikan tujuan organisasi itu secara keseluruhan. Ini berarti bahwa spesialisasi meliliki fungsi sekaligus disfungsi bagi organisasi.

Contoh yang lain, adanya jenjang hirarkhis dalam birokrasi sangat berguna untuk memelihara kesatuan dalam perintah, kesatuan dalam koordinasi berbagai aktifitas dan orang dalam organisasi, memperkuat otoritas dan berguna dalam menyelenggarakan sistem komunikasi formal.

Dalam teori, hirarki dalam organisasi birokrasi meliputi orientasi ke atas dan orientasi ke bawah, tetapi pada kenyataannya secara praktis. orientasi yang dominan adalah yang ke bawah. Ini berarti bahwa inisiatif dari individu dan partisipasi bawahan seringkali mengalami hambatan dan komunikasi ke atas tidak dapat dilaksanakan. Kelemahan lain dapat dilihat dari segi aturan dalam birokrasi.

Aturan dalam birokrasi menurut Weber, memainkan peran penting dalam pencapaian tujuan organisasi birokrasi. Namun dalam pandangan para pengritik, aturan selain terdapat fungsi juga mengandung disfungsi.

Aturan kemudian menjadi ciri yang negatip dari birokrasi, terlalu banyak aturan yang harus dipenuhi. Selain itu, aturan kadang-kadang bergeser bukan sebagai instrumen untuk mencapai tujuan, tetapi menjadi tujuan itu sendiri. Hal ini berkaitan dengan misalnya, berkembangnya kepercayaan yang salah dalam organisasi, yang menggunakan aturan sebagai indikator bagaimana sesuatu dilakukan dengan baik, aturan bukan sebagai indikator apakah sesuatu itu benar atau salah.

Birokrasi yang bersifat impersonal, yang tidak menempatkan hubungan persobal sebagai dasar dari hubungan sosial dalam organisasi, dalam pandangan para pengritik birokrasi juga memiliki fungsi dan disfungsi. Robert K Merton misalnya melihat bahwa konsekuensi dari hubungan yang impersonal dalam organisasi birokratis dapat menjadi gangguan bagi pencapaian tujuan organisasi secara umum.

Ketaatan atau kepatuahan yang berlebih-lebihan terhadap aturan yang ada dalam organisasi birokrasi dan berkembangnya disiplin yang kaku akan membawa akibat bahwa aturan dan disipil itu menjadi tujuan penting dari organisasi birokrasi.

Masih banyak kritik yang dikemukakan oleh para ahli terhadap konsep birokrasi sebagaimana dikemukakan Weber, Selain kritik yang sangat teoritik, terdapat pula kritik yang memiliki orientasi berbeda. Misalnya kalangan pengikut Marx mengkritik birokrasi hanya sebagai alat dari kelas kapitalis yang dominan dalam mengontrol pihak lain. Harus dipahami bahwa kritik yang dikemukakan ini menggambarkan suatu situasi dimana dalam masyarakat terdapat kelas kapitalis yang eksploitatif terhadap kelas lain dalam proses produksi dibawah sistem ekonomi yang kapitalistik.

Dalam konteks yang lain, kritik semacam ini relevansi teoritik dan praktisnya perlu diuji kembali.Pengertian Birokrasi, Fungsi, Peran dan Jenis Birokrasi – Apa yang dimaksud birokrasi dalam sebuah sistem? Materi birokrasi tersebut telah diajarkan saat dibangku sekolah dengan mencakup pembahasan mengenai definisi birokrasi, fungsi birokrasi, peran birokrasi dan jenis jenis birokrasi. Menurut bahasa Inggris, kata birokrasi terdiri dari kata bureau dan cracy fungsi birokrasi menurut max weber maknanya sebuah organisasi yang bentuknya piramida karena mempunyai rantai komando sehingga dalam tingkat bawah terdapat lebih banyak orang dibandingkan tingkat atas.

Kita dapat menemukan birokrasi tersebut dalam organisasi yang bersifat militer maupun administratif.

fungsi birokrasi menurut max weber

Untuk itulah birokrasi dapat kita temukan dalam berbagai bidang. Ilustrasi birokrasi negara Kata birokrasi berdasarkan etimologis berasal dari kata “Biro” yang maknanya meja dan “Kratein” yang maknanya pemerintahan. Dengan kata lain istilah birokrasi tersebut memiliki arti singkat yaitu meja pemerintahan. Secara umum pengertian birokrasi ialah komando yang berantai dengan bentuk piramida di sebuah organisasi, dimana lebih banyak posisi di tingkat bawah dibandingkan tingkat atas.

Dari penjelasan ini tentunya anda telah mengetahui gambaran sedikit mengenai definisi birokrasi, fungsi birokrasi, peran birokrasi dan jenis jenis birokrasi.

Birokrasi tersebut berhubungan dengan struktur di sebuah organisasi yang sifatnya impersonal dan mempunyai hubungan, tata prosedur, hirarki serta pembagian kerja di dalamnya. Birokrasi tersebut memang dirancang dalam sebuah sistem rasional menjadi struktur yang terorganisir sehingga bentuknya menjadi sedemikin rupa.

Maka dari itu kebijakan publik dapat dilaksanakan dengan lebih efisien dan efektif. Pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan tentang pengertian birokrasi, fungsi birokrasi, peran birokrasi dan jenis jenis birokrasi. Untuk lebih jelasnya dapat anda simak di bawah ini. • 1 Pengertian Birokrasi, Fungsi, Peran dan Jenis Birokrasi • 1.1 Pengertian birokrasi • 1.1.1 Bintoro Tjokroamidjojo • 1.1.2 Karl Marx dan Hegel • 1.1.3 Max Weber • 1.2 Fungsi birokrasi • 1.3 Peran birokrasi • 1.4 Jenis jenis birokrasi negara • 1.4.1 The Cabinet Departments • 1.4.2 Federal Agencies • 1.4.3 Federal Corporation • 1.4.4 Independent Regulatory Agencies Pengertian Birokrasi, Fungsi, Peran dan Jenis Birokrasi Pelaksanaan birokrasi secara tetap terjadi menggunakan aturan atau serangkaian prosedur.

Rantai komando birokrasi mengalir atau berjalan dari atas menuju bawah karena terdiri dari hirarki kewenangan. Birokrasi dapat diartikan sebagai sebuah badan penyelenggaran civil service atau pelayanan public. Birokrasi sendiri dapat berupa eksekutif yang dijabat oleh seorang individu serta mereka tahu bahwa posisi tersebut selalu datang ataupun pergi. Dengan kata lain di dalam birokrasi terdapat kedudukan individu, dimana mereka akan dikeluarkan jika kurang baik prestasi kerjanya dan mereka akan dipertahankan jika bagus prestasi kerjanya.

Baca juga: Sejarah Proses Terbentuknya Koloni Inggris di Amerika Pada umumnya sistem birokrasi dijalankan dalam organisasi dengan ketat karena mempunyai aturan dan prosedur sehingga cenderung kurang efisien dan kurang fleksibel proses operasionalnya.

Biasanya penemuan birorasi banyak terdapat daam organisasi rumah sakit, militer, perusahaan, pemerintahan dan sekolah.

Meski begitu birokrasi dianggap identik dengan kemalasan, inefisiensi dan pemborosan. Tetapi sistem birokrasi pada kenyataannya memang diperlukan karena untuk membuat berjalannya proses operasional sesuai dengan ketentuan aturan sebelumnya. Pengertian birokrasi Definisi merupakan topik bahasan yang mengakar pada sebuah materi. Untuk mengetahui fungsi dan jenis birokrasi maka terlebih dulu kita harus memahami apa itu birokrasi. Padahal jika kita browsing di internet terdapat banyak sekali pengertian yang dicetuskan oleh para ahli terkemuka.

Tentunya setiap ahli memiliki pandangan yang berbeda tentang birokrasi baik itu secara umum maupun khusus. Mari kita sepakat untuk menggunakan pengertian birokrasi yang dicetuskan oleh ahli terkemuka saja.

Dari definisi khusus tersebut selanjutnya bisa kita tarik kesimpulan menjadi definisi umum. Di bawah ini terdapat penjelasan mengenai pengertian birokrasi menurut para ahli yaitu sebagai berikut. Bintoro Tjokroamidjojo Definisi birokrasi menurut Bintoro Tjokroamidjojo ialah sebuah aturan yang perlu dilaksanakan banyak orang sehingga kegiatan dapat diorganisir secara teratur. Maka dari itu birokrasi hadir dengan tujuan sebenarnya yaitu menyelesaikan kegiatan dengan terorganisir dan cepat.

Seperti yang telah kita ketahui bahwa penyelesaian sebuah pekerjaan yang jumlahnya banyak dapat dilakukan banyak orang dengan sistem birokrasi ini sehingga nantinya tidak akan terjadi tumpang tindih di dalamnya. Karl Marx dan Hegel Pengertian birokrasi menurut Karl Marx dan Hegel ialah sebuah pelaksanaan perubahan dan pembebasan sosial yang menyerupai instrumen.

Arti birokrasi menurut pendapat Hegel merupakan sebuah penggunaan medium demi kepentingan partikular dalam berkomunikasi secara umum/general.

Selain itu adapula pendapat Karl Marx sebagai teman seperjuangannya yang menyebut birokrasi sebagai instrumen kelas untuk melaksanakan kekuasaan dominasi yang berpengaruh terhadap kelas sosial lainnya.

Untuk itulah dominasi dalam kelas partikular didukung oleh adanya birokrasi tersebut. Max Weber Max weber merupakan sosok filosof asal luar negeri yang ilmu pengetahuannya tidak diragunakan lagi. Banyak sekali teori yang fungsi birokrasi menurut max weber oleh pakar yang satu ini dan salah satunya adalah birokrasi. Definisi birokrasi menurut Max Weber ialah sebuah kedudukan dalam masyarakat modern yang berupa pejabat sehingga terdapat peran penting dalam unsur peranan sosial.

Fungsi birokrasi Sebuah sistem tentunya dibuat dengan alasan tertentu. Begitu pula birokrasi pada dasarnya memiliki beberapa fungsi didalamnya.

Materi ini pun telah dibahas di berbagai media baik buku cetak maupun buku digital yang diterbitkan sekolah. Adapun fungsi fungsi dari birokrasi itu sendiri yaitu meliputi: • Melakukan pelayanan publik. • Secara profesional melakukan pembangunan. • Mengawasi, merencanakan dan melaksanakan kebijakan. • Alat pemerintah yang netral (tidak termasuk dalam bagian kekuatan politik) dan untuk melayani kepentingan dalam masyarakat. Peran birokrasi Misalnya saja diterapkan dalam lingkup luas, lantas apa peran birokrasi fungsi birokrasi menurut max weber sebuah negara?

tentu saja birokrasi memberikan dampak besar. Kita semua setuju bahwa untuk menjalankan pemerintahan diperlukan regulasi rumit untuk mencegah terjadinya kekacauan sistem. Selain pengertian birokrasi dan fungsi birokrasi di atas, adapula beberapa peran dalam birokrasi itu sendiri.

Adapun peran peran birokrasi yaitu meliputi: • Sama dengan tujuan dalam pemerintahan. • Melakukan program dan kegiatan untuk menggapai misi dan visi dalam negara atau pemerintahan. • Melakukan pembangunan dan melayani masyarakat dengan profesional serta netral. • Melakukan manajemen pemerintahan seperti pengawasan, koordinasi, represif, antisipatif, perencanaan, evaluasi, resolusi, sinkronsisasi, prefentif dan sebagainya.

Pada umumnya pandangan tentang birokrasi memang mengarah pada hal hal negatif saja. Hal ini dikarenakan mereka memiliki kinerja yang cenderung membuat masyarakat susah. Selain itu masyarakat juga menilai birokrasi sebagai sebuah organisasi yang tidak efektif, boros dan tidak efisien. Birokrasi menurut pendapat masyarakat merupakan sebuah alat yang hanya membela kepentingan dari orang kaya saja dan selalu menindas masyarakat masyarakat miskin.

Tetapi sebenarnya masyarakat tetap membutuhkan birokrasi karena dapat menghubungkan masyakarat dengan negaranya. Kewajiban birokrasi ialah untuk membuat masyarakat menjadi prioritas utama dan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Jenis jenis birokrasi negara Setelah membahas tentang pengertian birokrasi, fungsi birokrasi dan peran birokrasi.

Selanjutnya saya akan menjelaskan tentang jenis jenis birokrasi negara. Macam macam birokrasi negara dapat diketahui dengan memisahkannya sesuai dengan ideal typhus dari Amerika Serikat. Kemudian apa yang terdapat di Indonesia dikomparasikan dengan ideal typhus tersebut. Di bawah ini terdapat jenis jenis birokrasi di Amerika Serikat yaitu fungsi birokrasi menurut max weber • Departemen di dalam kabinet atau The Cabinet Departments.

• Agen federal atau Federal Agencies. • Perusahaan federal milik federal atau Federal Corporation. • Agen pengaturan Independen atau Independent Regulatory Agencies. Jenis jenis birokrasi di atas pada dasarnya memiliki beberapa bagian lain di dalamnya. Adapun penjelasan mengenai macam macam birokrasi tersebut meliputi: The Cabinet Departments The Cabinet Departments merupakan salah satu jenis dalam birokrasi yang berupa beberapa lembaga. Fungsi birokrasi menurut max weber lembaga birokrasi tersebut dibedakan berdasarnya tugas tugasnya.

Adapun jenis jenis departemen dalam kabinet yaitu seperti departemen pendidikan, departemen tenaga kerja, maupun departemen pertahanan. Departemen departemen tersebut memiliki tugas utama yaitu melakukan kebijaksanaan umum sesuai dengan ketentuan dari lembaga yudikatif dan eksekutif.

Federal Agencies Jenis birokrasi selanjutnya ialah Federal Agencies atau agen federal. Pengertian agen federal ialah sebuah lembaga kepresidenan. Presiden yang sedang memerintah pada dasarnya akan memilih orang orang untuk dijadikan sebagai agen federal.

Untuk itulah agen federal lebih bersifat politis dibandingkan administratif. Disana terdapat organisasi NASA yang merupakan contoh agen federal. Kemudian birokrasi juga memiliki contoh yang letaknya ada di Federal Bureau Investigation (FBI). Agen agen di Indonesia seperti ini dapat berupa Batan (Badan Tenaga Atom Nasional) serta Lapan (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional).

Jika kita mengulas sedikit tentang pengertian birokrasi di atas, maka kita tahu birokrasi memang cukup dibutuhkan. Federal Corporation Federal Corporation merupakan salah satu macam birokrasi yang menggabungkan posisi antara agen pemerintah dengan lembaga bisnis. Contohnya saja di Indonesia seperti Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Independent Regulatory Agencies Independent Regulatory Agencies merupakan pembentukan birokrasi yang didasarkan pada kebutuhan dalam dunia bisnis untuk melaksanakan regulasi ekonomi. Dalam hal ini pelaksanaannya berhubungan dengan kesejahteraan masyarakat secara langsung.

Sekarang ini terdapat pembentukan BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) di Indonesia yang berguna untuk melaksanakan rekstrukturisasi dimasa lalu oleh kalangan bisnis tanah air yang secara lebih jauh diduga merugikan keuangan negara fungsi birokrasi menurut max weber banyak.

Sekian penjelasan mengenai pengertian birokrasi, fungsi birokrasi, peran birokrasi dan jenis jenis birokrasi. Birokrasi dapat diartikan sebagai komando yang berantai dengan bentuk piramida di sebuah organisasi, dimana lebih banyak posisi di tingkat bawah dibandingkan tingkat atas.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan terima kasih telah membaca materi birokrasi di atas.

pengertian birokrasi menurut HEGEL DAN MAX WEBER




2022 www.videocon.com