Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah

berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah

Kapanlagi Plus - Surat Al Kafirun adalah salah satu surat yang ada di dalam Alquran dan termasuk dalam golongan surat Makkiyah karena diturunkan saat Nabi Muhammad SAW sedang berada di Mekah.

Surat ini menjadi salah satu surat pendek, karena hanya berisi 6 ayat, dan sering menjadi salah satu surat yang dibaca dalam ibadah sholat. Bagi kalian yang ingin mengetahui lebih mengenai surat Al Kafirun, ada beberapa penjelasan tentang sejarah surat tersebut. Bagaimana surat Al Kafirun turun dan keutamaan yang kita dapat bila sering membaca surat Al Kafirun secara rutin.

Tentu saja penjelasan ini akan memberikan kita ilmu untuk lebih dekat pada Allah SWT. 1. Sejarah Surat Al Kafirun Ilustrasi (credit: Freepik) Surat Al Kafirun menjadi salah satu surat pendek yang sering dibaca oleh umat muslim di saat melakukan sholat.

Karena menjadi sebuah surat yang sering dibaca, tentu kalian juga harus mengetahui bagaimana surat ini bisa turun ke bumi. Surat Al Kafirun termasuk dalam golongan surat Makkiyah karena diturunkan saat Nabi Muhammad sedang berada di Mekkah dan diturunkan setelah surat Al Maun. Al Kafirun merupakan surat ke-109 yang terdiri dari 6 ayat.

Surat ini berisi tentang toleransi dalam keimanan dan peribadahan. Surat Al Kafirun turun pada saat kaum kafir Quraisy berusaha memengaruhi Nabi Muhammad SAW. Kaum tersebut menawarkan kekayaan kepada Nabi Muhammad agar beliau menjadi seseorang yang paling kaya di kota Makkah, dan akan menikah dengan perempuan yang beliau inginkan. Namun para kaum kafir memiliki syarat, yaitu Rasulullah harus menyembah berhala yang telah menjadi Tuhan mereka dalam waktu satu tahun.

Secara umum, surat Al Kafirun mengandung pernyataan bahwa Nabi Muhammad tidak akan menyembah Tuhan selain dari Allah dan tidak akan mengikuti apa yang diserukan oleh orang-orang kafir. Hal ini menjadi penegas dan pembeda antara agama Islam dan agama yang dianut oleh orang-orang kafir. Itulah mengapa surat ini akhirnya turun, dan menjadi salah satu surat yang sering dibaca hingga saat ini.

2. Surat Al Kafirun Beserta Artinya Ilustrasi (credit: Freepik) Dan berikut ini bacaan dari surat Al Kafirun beserta dengan artinya: 1. Qul yaa ayyuhal-kaafirun Artinya: "Katakanlah: "Hai orang-orang kafir" 2. Laa a'budu maa ta'budun Artinya: "Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah." 3.

Wa laa antum 'aabiduna maa a'bud Artinya: "Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah." 4. Wa laa ana 'aabidum maa 'abattum Artinya: "Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah." 5.

Wa laa antum 'aabiduna maa a'bud Artinya: "Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah." 6. Lakum diinukum wa liya diin Artinya: "Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." 3. Tafsir Surat Alkafirun Artinya Ayat 1-6 Ilustrasi (credit: Freepik) Seperti sudah disinggung pada ulasan sebelumnya, surat Alkafirun artinya adalah Orang-orang Kafir. Di mana pada surat Alkafirun artinya tersebut menjelaskan tentang persoalan aqidah, keimanan dan peribadahan.

Surat Alkafirun artinya orang-orang kafir diturunkan oleh Allah SWT sebagai bentuk ketegasan Rasulullah SAW kepada orang kafir bahwa beliau tidak akan meninggalkan agama Islam untuk menyembah berhala seperti halnya mereka.

Surat Alkafirun artinya pada ayat 1 sampai 6 memiliki tafsir tersendiri. Di mana terdapat pula penafsiran mengenai surat Alkafirun artinya ayat 1-6 adalah tentang toleransi umat beragama dengan batasan tertentu. Adapun penjelasan mengenai tasfir surat Alkafirun artinya ayat 1-6. 1. Tafsir Surat Alkafirun Artinya Ayat 1-2 Penjelasan tafsir surat Alkafirun ayat 1-2 yang memiliki arti "Katakanlah: "Hai orang-orang kafir" dan "Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.", bermakna bahwa Rasulullah SAW menyatakan jika Tuhan yang disembah bukan Tuhan yang mereka sembah.

Pasalnya Tuhan yang mereka sembah memiliki rupa, bentuk, anak, pembantu dan lainnya. Sementara itu Tuhan yang disembah Rasulullah SAW memiliki sifat yang Esa, kekal, Maha Sempurna, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak memiliki rupa, tidak terikat dengan apapun, tidak memiliki anak atau istri, tidak bisa dibandingkan dengan apapun.

Sehingga inilah perbedaan sifat Tuhan yang disembah oleh orang-orang kafir dan Rasulullah SAW. Selain itu Rasulullah Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah tidak akan terpengaruh dengan apa yang mereka (orang-orang kafir) sembah. 2. Tafsir Surat Alkafirun Artinya Ayat 3 Tafsir surat Alkafirun artinya ayat 3 yakni Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah." makna dari ayat surat Alkafirun tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah SAW semata-mata hanya menyembah Allah SWT.

Begitu juga dengan ornag-orang kafir yang percaya dengan Tuhan yang mereka sembah. Sebab sifat-sifat Tuhan yang mereka sembah berbeda dengan sifat-sifat Tuhan yang Rasulullah sembah. Sehingga tidak ada persamaan antara Tuhan orang-orang kafir dan Tuhan yang disembah Rasulullah SAW. 3. Tafsir Surat Alkafirun Artinya Ayat 4-5 Surat Alkafirun artinya ayat 4 adalah "Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah." sedangkan surat Alkafirun artinya ayat ke-5 adalah "Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah." tafsir surat Alkafirun berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah ayat 4-5 adalah bahwa Tuhan yang orang-orang kafir sembah tidaklah kekal, bisa saja berubah, berbeda di masa akan datang.

Sementara Tuhan yang disembah Rasulullah SAW adalah kekal, mutlak, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada tandingan ataupun berubah dalam hal ibadah dan ketaatan orang-orang muslim. Selain itu tafsiran pada ayat 4-5 juga menjelaskan mengenai perbedaan beribadah antara orang-orang kafir dan orang muslim.

4. Tafsir Surat Alkafirun Artinya Ayat 6 Sedangkan pada ayat 6, terdapat tafsir yang menjelaskan tentang balasan mengenai apa yang mereka sembah dalam hal ini orang-orang kafir.

Selain itu, menjelaskan pula bahwa agama yang disembah tidak dapat dicampuradukan. Menurut Ibnu Katsir berdasarkan Imam Bukhari pada bunyi ayat Lakum diinukum merujuk pada orang-orang kafir, dan wa liya diin adalah umat muslim. Itulah penjelasan mengenai tafsir surat Alkafirun artinya ayat 1-6. Sehingga memudahkan kalian tahu makna dan apa arti surat Alkafirun sebenarnya.

4. Keutamaan Surat Al Kafirun (credit: freepik.com) Berikut beberapa keutamaan dari membaca surat Al Kafirun tersebut: 1. Memperkuat keimanan Karena surat Al Kafirun berisikan tentang ketundukan dan kepatuhan umat muslim kepada Allah, maka dengan membaca dan mengamalkannya setiap hari dapat memperkuat fondasi keimanan seorang muslim.

Di dalam ayat-ayat Al Kafirun menunjukkan bahwa seorang itu adalah orang yang berikrar dan bersaksi hanya kepada Allah SWT. 2. Ditakuti iblis Surat Al Kafirun adalah surat yang ditakuti oleh iblis. Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, menurutnya tiada surat yang sangat ditakuti iblis kecuali surat Al Kafirun. "Tidak ada dalam Al Quran yang lebih menakutkan bagi iblis daripada Qul Ya Ayyuhal-Kafirun, sebab ia adalah tauhid dan pembebas dari kemusyrikan." 3.

Mendapat pahala seperti seperempat Alquran Menurut Syeikh Ibnu 'Abbaz membaca empat kali surat Al Kafirun sama dengan mengkhatam Al Quran. Hanya saja, bukan berarti tidak perlu lagi membaca Al Quran, sebab seorang muslim hendaknya membaca Alquran setiap hari.

4. Terbebas dari kemusyrikan Jika seorang muslim rutin membaca surat Al Kafirun terutama saat sebelum tidur maka dirinya akan terbebas dari kemusyrikan. Seperti dalam suatu hadis, Rasulullah bersabda: "Bacalah Qul ya Ayyuhal-kafirun kemudian tidurlah di akhirnya, sesungguhnya ayat tersebut membebaskan dari kemusyrikan." (HR Abu Dawud dari Farwah bin Naufal). 5. Mengajarkan toleransi Dalam kehidupan pasti terdapat perbedaan dalam keyakinan pasti akan terjadi di antara masyarakat.

berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah

Namun, surat Al Kafirun ayat ke-6 menjelaskan bahwa 'Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku", artinya dengan keyakinan terhadap Allah, umat Islam harus menjalankan kehidupan toleransi yang sesuai dengan tujuan penciptaan manusia yaitu hanya menyembah kepada Allah. 6. Membangun keberanian menghadapi orang kafir Di dalam surat Al Kafirun terdapat makna bahwa umat muslim harus siap melawan dan menentang orang-orang kafir, bahwa agama Islam tidak bisa disamakan dengan agama mereka.

Orang-orang Islam dan orang-orang kafir tentunya berbeda dan hal ini ditunjukkan dalam surat Al Kafirun. 7. Pembela antara Islam dan kafir Surat Al Kafirun menjadi pembeda antara Islam dan kafir. Hal ini ditunjukkan oleh ayat tersebut bahwa apa yang disembah, diikuti dan apapun yang menjadi aturan Islam tidak sama dengan apa yang mereka (orang kafir) yakini. Mereka tidak dapat menjadi seorang muslim dan muslim tidak bisa menjadi mereka. Inilah keutamaan ayat ini sehingga menjadi identitas dan pembeda antara muslim dan bukan.

8. Membangun keoptimisan Islam Surat Al Kafirun dalam sejarah dulu juga menjadi suatu penyemangat dan pembangun optimisme agar umat Islam tidak takut dan gentar dalam melawan kekafiran.

Semuanya dilakukan agar Islam menang dan dapat memberikan rahmatan lil alamin bagi semesta alam. 5. Hikmah Mengamalkan Surat Al Kafirun Artinya Ayat 1-6 (credit: freepik.com) Sementara itu terdapat sejumlah hikmah mengamalkan surat Al Kafirun artinya ayat 1-6. Di antara hikmah mengamalkan surat Al Kafirun tersebut dapat kalian simak di bawah ini.

Yuk cek apa saja hikmah mengamalkan surat Al Kafirun artinya ayat 1-6. 1. Ajakan untuk bertoleransi antar umat beragama. Hal ini terdapat dalam surat Al Kafirun ayat 6. 2. Bagi yang mengamalkannya akan diampuni segala dosa yang telah lalu. Begitu juga dosa kedua orang tuanya. 3. Bisa diamalkan pada saat akan tidur dan terhindar dari kemusyrikan. 4. Menjadikan kita menghargai keyakinan orang lain untuk memeluk agama yang mereka yakini tanpa ada pemaksaan.

5. Menghindari kita dari sifat yang kurang baik, menghina orang lain, serta berbuat tidak adil terhadap sesama pemeluk agama. 6. Terhindar dari perilaku yang mendekatkan pada perbuatan syirik.

Itulah isi surat Al Kafirun beserta dengan arti dan juga keutamaannya. Semoga semua hal tentang pembahasan surat Al Kafirun di atas dapat bermanfaat untuk kalian semua. Yuk, simak juga • Bacaan Niat Puasa Daud dan Tata Caranya, Ketahui Juga Keutamaannya • 6 Ide Hampers Lebaran Cantik dan Unik, Tidak Melulu Makanan Minuman • 8 Resep Ceker Mercon yang Super Pedas, Menggugah Selera - Bikin Ketagihan • 8 Resep Keripik Bawang Praktis Banget, Bisa Jadi Camilan - Pendamping Makan • 4 Amalan Setelah Sholat Subuh yang Baik Dilakukan, Berikan Ketenangan Jiwa - Berlimpahnya Rezeki 13.

Teori ini memandang belajar sebagai hasil dari pembentukan hubungan antara rangsangan dari luar (stimulus) dan balasan dari siswa (response) yang dapat diamati. Semakin sering hubungan (bond) antara rangsangan dan balasan terjadi, maka akan semakin kuatlah hubungan keduanya (law of exercise).

Teori belajar yang dimaksud adalah… 14. Di dalam proses pembelajaran, para siswa dihadapkan dengan situasi di mana ia bebas untuk mengumpulkan data, membuat dugaan (hipotesis), mencoba-coba (trial and error), mencari dan menemukan keteraturan (pola), menggeneralisasi atau menyusun rumus beserta bentuk umum, membuktikan benar tidaknya dugaannya itu.

Hal ini merupakan penerapan teori belajar…. 15. Menurut teori ini, peranan guru dalam pembelajaran adalah sebagai fasilitator, motivator, dan memberikan kesadaran mengenai makna kehidupan pada siswa.

Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya bukan dari sudut pandang pengamatnya. Teori belajar ini adalah …. 21. Teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran memiliki tiga fungsi utama yang di gunakan dalam kegiatan pembelajaran kecuali A. Teknologi sebagai alat bantu bagi siswa dalam pembelajaran B. Teknologi sebagai ilmu pengetahuan (science) C. Teknologi sebagai bahan dann alat bantu pembelajaran (literacy) D.

Teknologi sebagai alat pengembangan produk 22. Bu Ani mengajak siswa kelas V ke ladang jagung milik petani untuk mengamati tanaman jagung yang siap di panen muda. Selanjutnya ibu Ani memeriksa laporan hasil observasi siswa.

Dari hasil klasifikasi kecenderungan gaya belajar siswa di peroleh peringkat hasil belajar peringkat terbaik dari pembelajaran berupa observasi di luar kelas menunjukkan siswa memeiliki kecenderungan gaya belajar berhasil baik melalui.

A. Visual (pandangan mata)- Auditif (pendengaran) B. Visual (pandangan mata ) - Kinestik (gerak ) C. Auditif (pendengaran )- Kinestetik (gerak) D. Auditif Visual dan kinestetik 23. Upaya membimbing siswa untuk mengembang keterampilan pengetahuan terlihat dalam upaya guru: A. memberi contoh penting toleransi B. mendiskusikan bagaimana mengubah permasalahan disekitar siswa C.

melatih bagaimana mempersiapkan kesehatan diri dan lingkungan sekitar D. melatih siswa membuat keputusan yang diambil berdasarkan informasi 24. Upaya guru menggunakan hasil analisis untuk menentukan ketuntasan belajar antara lain sebagai berikut ……… A. menentukan kreteria keberhasilan belajar B. mengklasifikasi siswa berdasarkan hasil capaian belajarnya C.

mencari letak kelemahan secara umum dilihat dari kreteria keberhasilan yang diharapkan D. merencanakan pengajaran remidi 25. Kegemaran anak akan dongeng /cerita yang bersifat kritis seperti kisah perjalanan riwayat para pahlawan dan sebagainya merupakan ciri-ciri anak berusia……. A. 3-5tahun B. 6-8 tahun C. 10-12 tahun D. 15-18 tahun 26. Beberapa siswa memiliki kecenderungan belajar berupa mengerjakan soal atau tugas dengan cepat tetapi hasilnya banyak kesalahan .Gaya belajar para siswa tersebut adalah…….

A. implusive B. reflektif C. gaya berfikir terikat D. gaya berfikir bebas 27. Hal yang mengandung makna Pancasila sebagai kaidah dasar Negara bersifat……. A. jujur dan adil B. mengikat dan memaksa C.

sementara dan selamanya D. sebenarnya dan sejujunya 28. Penilaian yang didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur ,hal tersebut merupakan prinsip penilaian yang …… A. Adil B.

Obyektif C. Valid D. Sistematis 29. Jika roda pertama berputar 3 kali, dan roda kedua berputar 9 kali, berapakalikah roda kedua akan berputar jika roda pertama berputar 10 kali A. 30 B. 21 C. 27 D. 18 30. Serangkaian kegiatan yang sistematik untuk dapat menentukan manfaat atau kegunaan suatu obyek atau program adalah …. A.

Pengukuran B. Evaluasi C. Penilaian D. Penilaian 31. Proses mendengarkan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh disebut…. A. Membaca intensif B. Membaca langsung C. Membaca deduktif D. Membaca sekilas 32. Etika Pancasila adalah …. A. Ketuhanan, kemanusiaan dan keadilan B. Keagamaan, social dan kerakyatan C. Kebangsaankedaerahan dan kebudayaan D.

Ketuhanan, kerakyatan dan kebangsaan 33. Dalam kaitannya dengan upaya untuk memotivasi belajar siswa dan agar proses pembelajaran berlangsung efektif, maka guru perlu mengacu pada.

A. Metode pembelajaran B. Pendekatan pembelajaran C. Strategi pembelajaran D. Gaya pembelajaran 34. Manfaat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah (1) meningkatkan proses belajar mengajar, (2) menggunakan rancangan yang bersifat siklus di mana setiap siklus memperhatikan perubahan langkah demi langkah, dan (3) mencakup proses refleksi dan partisipatif, kecuali.

A. Meningkatkan proses belajar mengajar B. Menggunakan rancangan yang bersifat siklus C. Mencakup proses refleksi D. Menggunakan metodelogi terbaru 35. Pada suatu hari dalam perjalanan menumpangi mobil angkot. Dua penumpang yang masih muda belia tertawa, tetapi tidak terdengar mereka melakukan interaksi. Karena penasaran, saya mencoba memperhatiakan apa yang mereka lakukan. Ternyata mereka adalah siswa-siswa tuna rungu sedang asyik berkomunikasi, akan tetapi komunikasi yang dilakukan tidak menggunakan bahasa.

Mereka menggunakan jari-jari tangan untuk berkomunikasi. Dengan demikian mereka menggunkan bahasa isyarat. Dari ilustrasi di atas, bahasa termasuk komunikasi. A. Verbal B. Nonverbal C. Inverbal D. Sistimatik 36.

Seorang bayi mulai berinteraksi dengan mengeluarkan bunyi-bunyi yang tidak beraturan ketika diperlihatkan sebuah maianan dan diajak bicara. Seorang ibu seringkali memberi kesempatan kepada bayi untuk ikut dalam komunikasi sosial dengannya.

Bayi mengangkat-angkat badannya seolah-olah memberi tanda untuk minta digendong. Ketika itulah bayi pertama kali mengenal sosialisasi dan merasakan bahwa dunia ini tempat orang saling berbagi rasa. Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal disebut dengan. A. Pemerolehan bahasa B. Pemerolehan isyarat anak C. Pemecahan bahasa anak D. Karakteristik anak 37. Penggunaan huruf kapital di bawah ini yang benar adalah.

A. “kapan bapak berangkat?” tanya dirman B. Presiden jokowi berkunjung ke blora. C. Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma D. teluk bone sungguh indah dan mengagumkan. 38. Bahasa Indonesia Baku adalah bahasa Indonesia yang mengikuti kaidah atau pola bahasa Indonesia yang sedang berlaku.

Penggunaan huruf miring pada kalimat di atas digunakan untuk. A. Menulis judul buku B. Menjelaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata C.

Menuliskan kata nama-nama ilmiah D. Menuliskan nama majalah 39. Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai suku dengan bahasa yang berbeda-beda, maka akan sulit berkomunikai kecuali ada satu bahasa pokok yang digunakan. Maka dari itu digunakanlah Bahasa Indonesia. Hal ini Bahasa Indonesia memiliki kedudukan dan fungsi. A. Sebagai lambang kebanggaan kebangsaan B. Sebagai alat pemersatu bangsa C. Sebagai alat perhubungan D.

Sebagai lambang identitas nasional 40. Untuk menunjang kegiatan pembelajaran dan segala hal dalam konteks pendidikan digunakanlah Bahasa Indonesia. Hal tersebut merupakan fungsi Bahasa Indonesia sebagai.

A. Alat perhubungan tingkat nasional B. Alat pengembangan kebudayaan dan IPTEK nasional C. Bahasa yang digunakan dalam peristiwa kenegaraan D. Bahasa pengantar di lembaga pendidikan 41. Model pembelajaran yang cocok dengan mata pelajaran matematika adalah. A. Model Inquiry Learning B. Model Discovery Learning C. Model Problem Based Learning D. Model Project Based Learning 42. Teman-teman, pernah punya pengalaman seperti Fikri, nggak?

Sewaktu dia bermain di sungai bersama teman-temannya, dia mnginjak batu sungai yang licin. Akibatnya dia terpeleset dan byuurrr. jatuh deh ke sungai. Waah.

asyik, ya, bermain di sungai. Eh, teman-teman tahu nggak, mengapa batu di sungai halus dan licin sedangkan batu-batu di darat banyak yang kasar? Begini penjelasannya, simak ya. Dalam bacaan di atas menggunakan ragam bahasa. A. Resmi B. Baku C. Tidak baku D. Daerah 43. Peggunaan tanda baca yamg benar dibawah ini adalah . A. Kita sekarang memerlukan meja. kursi. dan lemari. B. Kita, sekarang memerlukan meja, kursi, dan lemari ! C. Kita sekarang memerlukan meja, kursi dan lemari.

D. Kita sekarang memerlukan meja kursi dan lemari ? 44. Menyimak sebagai sebuah keterampilan berbahasaKarena . A. Menyimak sambil melakukan aktivitas lain tidak mampu menanggapi secara tepat B. Menyimak sambil melakukan aktifitas lain mampu menanggapi secara tepat C. Membaca sambil menyimak mampu menangkap pembicaraan secara benar D. Menyimak sambil menyanyiternyata dapat menanggapi secara tepat 45.

Dalam pembelajaran membaca permulaan, ada beberapa metode yang dapat digunakan kecuali . A. Metode Kupas rangkai suku kata B. Metode kata lembaga C. Metode SAS D.

Metode Cerita 46. Berikut diberikan studi kasus : Mula – mula diberikan kalimat secara keseluruhan. Kalimat itu diuraikan atas kata – kata yang mendukungnya. Dari kata – kata itu kita ceraikan atas suku – suku katanya dan akhirnya atas huruf – hurufnya.Kemudian huruf – huruf itu kita sintetiskan kembali menjadi suku kata, suku kata menjadi kata dan kata menjadi kalimat.

Berdasarkan studi kasus metode membaca permulaan yang tepat digunakan adalah . A. Metode Alfabet B. Metode Suku Kata C. Metode SAS D. Metode Cerita 47. Memilihberbagai metode menulis permulaan 1). Menulis permulaan 2). Merangkaikan huruf lepas menjadi suku kata 3). Merangkaikan suku kata menjadi kata 4). Menyusun kata menjadi kalimat Tahapan diatas adalah teknik menulis permulaan dengan metode . A. Metode Eja B. Metode Kata Lembaga C. Metode SAS D. Metode Global 48. Merancang berbagai kegiatan menulis di kelas tinggi Berikut adaah kegiatan menulis lanjutan di kelas tinggi,kecuali.

A. Menulis tentang berbagai topik B. Menulis pengumuman C. Menulis pantun D. Menulis memo 49. Kegiatan mementaskan lakon atau cerita biasanya guru dan siswa mempersiapka naskah dan skenario,perilaku dan perlengkapan.kegiatan tersbut mengekpesikan perasaan dan pikiran siswa dalam bentuk bahasa lisan.hal tersebut termasuk hakekat berbicara jenis. A. Bercerita B. Cerita berantai C. Bermain peran D. Dramatisasi 50. 1) Warna batunya merah menyala seperti api, bila terkena sinar matahari akan menyilaukan mata.

2. Ayah memiliki batu akik yang sangat-sangat ia sukai. 3. Batu akik ini sungguh ajaib karena seakan menyala saat lampu mati. 4. Tidak salah jika Ayah sangat suka dengan batu akiknya ini.

Urutan kalimat-kalimat di atas agar menjadi paragraf yang padu adalah . A. 1 – 4 – 2 – 3 B. 1 – 3 – 2 – 4 C. 2 – 1 – 3 – 4 D. 2 – 3 – 4 – 1 51. Hakekat karya sastra apapun bentuknya tetap sama yakni . A. Pengalaman kemanusiaan dalam segala wujud dan dimensinya.

B. Pengalaman kemanusiaan dalam segala wujud dan waktunya. C. Pengalaman kemanusiaan dalam segala hal. D. Pengalaman kemanusiaan dalam segala aspek kehidupan. 52.

Sastra Indonesia terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu . A. Puisi, prosa, sajak B. Puisi, pantun, drama C. Puisi, prosa, drama D. Puisi, drama, sajak 53. Pagiku hilang sudah melayang Hari mudaku sudah pergi Sekarang petang datang membayang ( . ) Larik bermajas yang tepat untuk melengkapi puisi diatas yaitu . A. Batang usiaku sudah tinggi B. Aku telah menjelang ajal C. Aku lalai di hari pagi D. Akhh, untuk apa ku sesalkan 54. Pada suatu pagi, beberapa anak burung berkumpul di tengah hutan sambil bergurau.

Mereka adalah burung Merak, Burung Beo, Burung Murai Batu, Burung Elang, dan Burung Gereja. Burung Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah, Burung Beo, Burung Murai Batu, dan Burung Elang memamekan diri kepada Burung Gereja.

Burung Merak memamerkan bulunya yang indah. Burung Beo memarkan suaranya yang indah. Burung Murai Batu memamerkan kicauannya yang merdu. Burung Elang memamerkan kegagahannya. Burung Gereja sedih. Tak ada dalam dirinya yang bisa dibanggakan. Bulunya tidak indah. Suaranya juga tidak merdu. Badannya pun tidak gagah. Lalu, burung Gereja pulang ke rumah dan bertemu dengan ibunya. Ia menceritakan kesedihannya. Ibu burung Gereja menghibur anaknya. Suatu hari, burung Gereja berjalan-jalan ke hutan.

Ia ingin sekali menemui teman- temannya. Tetapi tidak satupun temannya yang terlihat. Ia lalu berjalan ke tepi hutan. Di tempat Pak Tani, Burung Gereja melihat Burung Merak, Burung Beo, Burung Murai Batu, dan Burung Elang dalam perangkap Pak Tani. Mereka bercerita hendak dijual ke kota. Burung Merak, Burung Beo, Burung Murai Batu, dan Burung Elang sedih. Mereka menyesali kesombongannya. Amanat yang dapat kita petik dari cerita tersebut adalah .

A. Kita tidak boleh menyombongkan kelebihan yang kita miliki. B. Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah tidak boleh memamerkan kekurangan kita. C. Kesabaran dan ketabahan hati akan mendatangkan kebaikan. D. Kita harus membanggakan diri sendiri supaya percaya diri. 55. Perhatikan cuplikan dialog berikut ! Bu guru : “ Ibu mint kalian berdua jujur ! Kenapa isi tugas kalian bisa sama persis, bahkan titik dan komanya sekalipun “ Aline : “ Saya mengerjakan karya tulis itu sendiri bu.” Chelsea : “ Saya juga mengerjakan karya tulus saya sendiri.” Bu guru : ” Lalu, bagaimana dengan ulangan tadi.

Mengapa isi dari jawaban ulangan kalian tidak sama dengan isi karya tulis kalian? Bisa menjelaskan ke ibu? ( lama Aline dan Chelsea terdiam ) Bu guru : “ Baiklah kalau kalian tidak mau mengaku, ibu anggap kalian tidak mengerjakan tugas karya tulis dan tidak mengikuti ulangan tadi.” Karakter Bu Guru dalam drama di atas adalah . A. Galak B.

Tegas C. Pemaaf D. Bijaksana 56. Berapakah FPB dan KPK dari 126 dan 198 . A. 9 dan 1386 B. 18 dan 1386 C. 18 dan 1368 D.

9 dan 1368 57. Diketahui fungsi f : dan fungsi f ditentukan dengan rumus f (x) = x2 + 1, jika f (a) = 10, hitunglah nilai a yang mungkin. A. a = 3 atau a =-3 B. a =-3 atau a = 3 C. a =-3 atau a =-3 D. a = 3 atau a = 3 58. C 59. Harga 2 koper dan 5 tas adalah Rp 600.000,00, sedangkan harga 3 koper dan 2 tas adalah Rp 570.000,00. Harga sebuah koper dan tas adalah . A. Rp 240.000,00 B. Rp 270.000,00 C. Rp 330.000,00 D. Rp 390.000,00 60.

Jumlah dua buah bilangan sama dengan 20. Jika hasil kali kedua bilangan itu sama dengan 75, maka bilangan-bilangan tersebut adalah . A. 4 dan 16 B. 5 dan 15 C. 6 dan 14 D. 8 dan 12 JIka besar sudut a adalah 70 derajat maka besar sudut e adalah … derajat A. 90 B. 100 C. 110 D. 120 63. Perhatikan sifat-sifat bangun datar berikut !

1. mempunyai dua pasang sisi yang sama panjang 2. mempunyai diagonal yang saling tegak lurus 3. mempunyai sudut siku-siku 4. mempunyai 2 pasang sisi sejajar 5. mempunyai sepasang sudut sama besar Dari sifat-sifat di atas yang merupakan sifat laying-layang adalah …. A. 1), 2), 3) B.

1), 3), 4) C. 1), 3), 5) D. 1), 2), 5) 64. Hasil pencerminan terhadap garis x dari bangun di bawah ini adalah …. B 65. Novi mengendarai mobil dari Kota Semarang menuju Blora dengan kecepatan 40 km/jam, sedangkan Ima mengendarai mobil dari Blora menuju Semarang dengan kecepatan 60 km/jam.

Jika jarak Kota Semarang dengan Blora adalah 125 km dan mereka berangkat pada pukul 07.00 maka pada pukul berapa mereka akan berpapasan? A. 08.00 B.

08.15 C. 08.25 D. 08.30 66. Data nilai siswa kelas VI berturut turut adalah 8, 7, 6, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 7. Dari data tersebut berapakah mediannya? A. 8 B. 7,5 C. 7 D. 6,5 67. Bus Trans Jakarta berisi penumpang berangkat dari terminal ke pasar, di halte pertama turun 4 orang, di halte kedua naik 2 orang sampai di pasar ternyata ada 15 orang. Berapa banyak penumpang yang naik pada terminal?

A.17 B.15 C.13 D.11 68. Suatu lapangan berbentuk persegi panjang dengan luas 120 m2. Panjang lapangan tersebut adalag 12 m. Berapakah kelilingnya? A. 22 m B. 24 m C. 42 m D. 44 m 69. Suku ke-4 dan suku ke-9 suatu barisan aritmatika berturut-turut adalah 110 dan 150. Suku ke 30 barisan tersebut adalah …. A.308 B.318 C.326 D.344 70. Bonus, jawabannya A 71. Menerapkan pengetahuan, konseptual, prosedural, dan keterkaitan keduanya dalam konteks materi Geometri.

Dari barisan geometri diketahui bahwa U3 = 4 dan U9 = 256, maka tentukan U12! A. 2048 C. 2047 B. 2049 D. 2046 72. Menerapkan pengetahuan konseptual, prosedural, dan keterkaitan keduanya dalam konteks materi pengukuran. Sebuah bak mandi diisi air mulai pukul 07.20 sampai dengan pukul 07.50 dengan debit air 10 liter/menit.

Berapa liter volume air dalam bak mandi tersebut? A. 3000 liter B. 300 liter C. 30 liter D. 30000 liter 73. Menggunakan pengetahuan konseptual, prosedural, dan keterkaitan keduanya dalam konteks materi Statistika.

Nilai rata-rata ulangan matematika dari 7 siswa adalah 6,50. Ketika nilai satu orang siswa ditambahkan, maka rata-ratanya menjadi 6,70. Nilai siswa yang ditambahkan adalah …. A. 9,10 B. 8,10 C. 7,10 D. 6,10 74. Menggunakan pengetahuan konseptual, prosedural, dan keterkaitan keduanya dalam konteks materi Logika/Penalaran Matematika. Dari pernyataan berikut ini, manakah yang merupakan ingkaran dari pernyataan Jakarta Ibukota RI. A. Jakarta bukan ibukota RI B. Jakarta adalah ibukota RI C.

Benar bahwa Jakarta Ibukota Jakarta D. Benar bahwa Jakarta bukan Ibu kota dari RI 75. Menentukan alat peraga dalam pembelajaran bilangan. Bu Ani ingin mengajarkan kepada anak – anak kelas 1 tentang nilai tempat suatu bilangan (satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan), Media yang tepat digunakan Bu Ani dalam Pembelajaran tersebut adalah… A.

Kartu bilangan B. Blok dienes C. Loncat katak D. Papan berpaku 76. Mengklasifikasikan alat peraga dalam pembelajaran Geometri dan pengukuran Pak Arief ingin mengajarkan cara mengukur luas halaman sekolah dengan satuan meter. Alat peraga yang sebaiknya digunakan supaya pembelajaran menarik adalah… A. Pita garis bilangan, mistar, tangga garis B. Blok dienes, mistar, pita garis bilangan C. Mistar, uang logam, blok dienes D. Tangga garis, blok dienes, tangga garis 77.

Menentukan alat ukur dalam pembelajaran geometri dan pengukuran Ketidakpastian yang ada pada pengukuran tunggal ditetapkan sama dengan setengah skala terkecil dari alat ukur yang digunakan.Jika kita menggunakan mistar atau penggaris, maka ketidakpastiannya adalah sama dengan…. A. 0,05 cm C. 0,1 cm B. 0,01 cm D. 1 cm 78. Memecahkan Pembelajaran IPS SD (diberikan kasus dalam pembelajaran, peserta dapat menyimpulkan pembelajaran dalam kasus tersebut.

Bu,fitri adalah guru SD Negeri 2 Sukamakmur,mengajar dikelas Beliau memberikan pelajaran IPS,dengan materi “ Menceritakan Pengalaman Diri. Sebelum memulai pelajaran, anak – anakberbaris didepankelas,kemudian diperiksa kebersihannya, terutama kuku tangandantelinga.Sambil diperiksa anak masuk kedalam kelas satu persatu.

Anak- anakdiajak berdoadan kemudian mengucapkan salam. Sebelum memberikan materi, memberi motivasi kepada anak, saya bertanya “siapa tadi yangtidak mandi” anak – anak terdiam. Mari kita nyanyikan lagu bangun tidur kuterus mandi,tidak lupa menggosokgigi, habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku.

Kesimpulan dari pembelajaran IPS yang dilakukan bu Fitri adalah A. Guru kurang memotivasi anak dalam pembelajaran B. Guru mengajak siswa bernyanyi untuk memotivasi anak C. Anak – anak hanya diam saja saat diberi pertanyaan dalam pembelajaran karena guru kurang memotivasi anak D.

Guru memberikan motivasi kepada siswa dalam pembelajaran 79. Menegaskan Fokus utama kajian pembelajaran IPS diSD (diberikan kasus contoh Hari selasa, saat pelajaran IPS pak Sunarto akan memberikan materi pada anak- anak tentang silsilah keluarga. Waktu berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah adalah 2 x 35 menit.

Setelah mengutarakan tujuan yang akan dibahas hari ini, pak Sunarto mengajukan pertanyaan pada para siswa untuk mengawali pelajaran. “ Anak- anak tentunya kalian mempunyai keluaga di rumahkan,?” “ iya pak, punya.” Jawab semua siswa serentak. “ Coba kalian sebutkan siapa saja yang dirumah kalian yang masuk dalam anggota keluarga !” “ Ada ayah, ibu, adik, kakak, kakek, nenek” Jawab para siswa bersahut- sahutan.

Kemudian pak Sunarto menempelkan bagan dan foto silsilah keluarga. Anak- anak mengamati sambil menyimak penjelasam dari pak sunarto. Sesekali pak sunarto melemparkan pertanyaan kepada siswa dan pertanyaan dijawab dengan benar. Pak Sunarto mengakhiri penjelasan dengan memberikan pertanyaan pada siswa “ apakah kalian sudah mengerti semua tentang silsilah keluarga yang sudah bapak jelaskan,?” Tanya pak Sunarto.

“ Sudah pak”, jawab anak- anak serentak. “ kalau masih ada yang kurang jelas atau bingung, anak- anak boleh bertanya ” “ tiadak ada pak”, jawab anak- anak lagi secara serentak. Pak sunarto memberikan tugas kepada siswa agar dikerjakan sendiri- sendiri. Pak sunarto yakin, pasti nialai anak- anak memuaskan karena anak- anak berhasil menjawab pertanyaan yang tadi di lemparkan.

Tugas yang diberikan juga sama dengan tugas yang di jelaskan pak sunarto, hanya saja diganti nama- nama pada bagan silsilah keluarrga. Setelah semuanya selesai, pekerjaaan di kumpulkan dan setelah di koreksi ternyata hasilnya mengecewakan, hampir 60% siswa mendapatkan nilai hasil evaluasinya di bawah rata- rata.

Apa kelemahan pembelajaran yang dilakukan pak sunarto, kecuali…. A. Pemakaina metode pembelajaran terkesan masih bersifat Konvesional (ceramah dan penugasan B. Alat peraga kurang lengkap sehingga membingngungkan siswa C. Penyampaian materi kurang jelas D. Guru sudah menyampaikan tujuan pembelajaran 80. Membedakan pengertian IPS dan Ilmu social Apa perbedaan antara Ilmu-Ilmu Sosial (IIS) dengan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dilihat dari tujuannya (purposes) ? A. Ilmu-Ilmu sosial menetapkan kebenaran Ilmiah sebagai focus tujuanya, sedangkan pada Ilmu Pengetahuan Sosial mengarah pada penanaman BASK (Behavior, attitude, Skill, dan Knowledge).

B. Ilmu Pengetahuan Sosial menetapkan kebenaran Ilmiah sebagai focus tujuanya, sedangkan pada Ilmu-Ilmu sosial mengarah pada penanaman BASK (Behavior, attitude, Skill, dan Knowledge). C. Ilmu-Ilmu Sosial adalah bersifat disipliner sesuai dengan kehidupan yang menjadi obyek studi berdasrkan bidang Ilmu masing-masing, sedangkan pada pendekatan Ilmu Pengetahuan Sosial bersifat intensdisipliner D.

Ilmu-Ilmu Sosial (IIS) diberikan di tingkat perguruan tinggi/universitas, sedang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) diberikan di tingkat sekolah. 81. Mengurutkan ruang lingkup pembelajaran IPS SD Ruang lingkup pembelajaran IPS SD yaitu.

. A. Masyarakat, Norma, Budaya, Waktu B. Manusia, Waktu, Sistem Sosial dan Budaya, Perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan C.

Manusia, Kerja, Nilai dan Norma, Peningkatan Kesejahteraan D. Masyarakat, Kerja, Perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan, Waktu 82. Mengklasifikasikan tujuan IPS dalam pembelajaran di SD Apa tujuan IPS dalam pembelajaran di SD?

A. Menolongsiswauntukmengembangkanbakatnya B. Membantu siswa dalam menentukan cita-cita yang ingin diraihnya di masa mendatang C. Menyediakankesempatankepadasiswauntukberekspresi lingkungan masyarakat D. Memberikan kepada Siswa pengetahuan tentang pengalaman manusia dalam kehidupan ber masyarakat pada masa lalu, sekarang dan masa akan datang 83.

Menganalisis nilai kegunaan mempelajari sejarah bagi siswa. Bagi siswa mempelajari sejarah memiliki beberapa manfaat. Berikut yang bukan merupakan manfaat mempelajari sejarah bagi siswa yaitu.

. A. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yang merupakan proses dari masa lampau, masa kini, dan masa depan B. Menumbuhkan pemahaman peserta didik terhadap berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah sikap yang akan ditempuhnya C.

Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah dan metodologi keilmuan D. Menumbuhkan apresisasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah sebagai bukti peradaban bangsa Indonesia di masa lampau 84. Mengurutkan perkembangaran sejarah di Indonesia. Bagaimana keadaan Indonesia setelah adanya perjanjian KMB? A. Indonesia terbagi menjadi 8 provinsi B.

Ibukota negara Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta C. Indonesia menjadi negara serikat (RIS) D. Irian Barat berintegrasi dengan Indonesia 85. Menjelaskan hubungan pembelajaran sejarah dengan antropologi. (diberikan soal kasus) Antropologi sebagai salah satu dari ilmu sosial memiliki kaitan dan sumbangan kepada ilmu sejarah begitu juga sebaliknya.

Dalam penulisan sejarah, sejarawan tidak jarang menggunakan teori dan konsep antropologi. Berikut konsep antropologi yang sering digunakan sejarawan, kecuali. . A. enkulturasi B. primitif C. folklore D. prasasti 86. Menemukan makna Bhineka Tunggal Ikka dalam kehidupan sehari-hari.

Eko adalah siswa kelas V SD Bumi Pertiwi. Pada suatu hari Pak Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok. Eko mendapat kelompok dengan Togar, Lusi, Intan dan Rully. Bagaiman sebaiknya sikap Eko?

A. Eko bersedia satu kelompok dengan Togar karena Togar orang Batak sedangkan di orang Jawa B. Eko tidak bersedia satu kelompok dengan Rully karena Rully bukan teman dekatnya C. Eko bersedia berkelompok dengan mereka karena mereka semua pandai D. Eko bersedia berkelompok dengan siapun karena semua adalah teman 87.

Menggali pengalaman butir-butir Pancasila. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan, merupakan pengalaman Pancasila sila ke-.

. A. Satu B. Dua C. Tiga D. Lima 88. Mengemukakan suku bangsa yang ada di Indonesia.(diberikan kasus salah satu suku bangsa di Indonesia). Bangsa Indonesia memiliki ratusan suku bangsa beserta adat dan budayanya.

Masing- masing suku mempunyai keunikan tersendiri yang merupakan kekayaan budaya nasional. Berikutciri-ciri salah satu suku yang ada di pulauJawa : - Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi - Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki - Larangan menggunakan alat elektronik - Pintu rumah harus menghadap utara/selatan Suku tersebutadalah. . A. Suku Asmat B. Suku Bugis C. Buku Badui D. Suku Dayak 89.

Membuktikan potensi sumber daya alam di Indonesia. (diberikan soal kasus) Negara Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, salah satunya yaitu timah. Daerah yang menghasilkan lebih dari 20% produksi timah putih dunia adalah. . A. Pulau Bangka, Belitung, dan Singkep B. Kepulauan Natuna C. Pulau Bali, Lombok, Nusa Penida D.

Pulau Kalimantan 90. Merencanakan penggunaan ICT dalam pembelajaran IPS SD Pada pemebelajaran IPS kelas V dengan materi Perjuangan Bangas Indonesia Melawan Penjajah, Pak Ridwan ingin menyajikan pemebelajaran yang menyenangkan dan mudah diingat serta dimengerti oleh anak didiknya.

Media apa yang harus digunakan pak Ridwan? A. Video B. Slide C. Corel draw D. Radio 91. Mempelajari sejarah setiap masyarakat menjadi lebih baik. Pernyataan tersebut adalah manfaat mempelajari sejarah dalam hal . A. Sejarah dapat memberikan kesenangan dan kegembiraan B.

Sejarah dapat digunakan sebagai pedoman bagi suatu bangsa C. Sejarah dapat dijadikan sebagai profesi D. Sejarah dapat mengetahui kejadian masa lampau 92. Apakah persamaan hubungan antara sejarah dengan antropologi. A. Menempatkan manusia sebagai subyek dan obyek dalam kajiannya B. Keduanya menunjukkan proses yang mencakup keterlibatan para pelaku C. Terlibat dalam faktor-faktor eksternal yang bersifat sosiologis D.

Berorientasi terhadap pandangan hidup para pelakunya 93. Negara Kesatuan Republik Indonesia terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa, ras, agama, dan kepercayaan. Yang semuanya diikat dalam satu pedoman Bhinneka Tunggal Ikan dengan lambang negara Garuda Pancasila. Kedua hal tersebut diatur dalam Undang- Undang Negara nomor. A. UU no 15 tahun 2006 B. UU no 17 tahun 2006 C. UU no 24 tahun 2009 D. UU no 38 tahun 2009 94.

Kekayaan sumber daya alam Indonesia telah dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan bangsa Indonesia. Sebagian lainnya masih berupa potensi yang belum dimanfaatkan karena berbagai keterbatasan. Sesuai perkembangan jaman langkah yang tepat bagi kita untuk mengolah potensi sumber daya yang ada yaitu.

A. Mengolah sumber daya yang ada dengan mendatangkan tenaga kerja asing B. Mengekspor sumber daya yang masih berupa bahan mentah C.

Mengirim tenaga kerja Indonesia ke luar negeri untuk mendapatkan pembelajaran dan pelatihan D. Mengelola sumber daya yang ada dengan teknologi canggih 95. Lingkungan di sekitar kita terbagi atas 2 macam yaitu lingkungan alam dan lingkungan buatan. Dimana keduanya memiliki manfaat dan tujuan yang sama yaitu.

A. Untuk memenuhi kebutuhan manusia B. Melestarikan lingkungan masyarakat C. Sebagai sumber pengetahuan dan teknologi D. Sebagai sumber kekayaan alam 96. Dibawah ini yang bukan termasuk gejala alam biotik yaitu. A. Metamorfosis B.

Fotosintesis C. Penyerbukan D. Erosi 97. Metamorfosis adalah suatu proses perkembangan biologi pada hewan yang melibatkan perubahan penampilan fisik setelah kelahiran atau penetasan. Dibawah ini adalah contoh serangga yang tidak mengalami metamorfosis yaitu. A. Belalang B. Nyamuk C. Lalat D. Semut 98. Katak mengalami metamorfosis sempurna. Dalam perkembangannya pada fase berudu, bernapas menggunakan.

A. Trakhea B. Paru-paru C. Insang D. Kulit 99. Untuk menjaga kelestarian lingkungan salah satunya adalah dengan melakukan reboisasi atau penghijauan dengan tujuan. A. Memperindah susunan kota B. Menjaga tanah dan mencegah erosi C. Memperoleh kayu yang berlimpah D. Meningkatkan pendapatan 100. Limbah atau sampah terpisah menjadi sampah basah dan sampah kering. Hal yang paling tepat untuk mengatasi limbah sampah kering adalah. A. Dibakar habis B. Di daur ulang C.

Dikubur didalam tanah D. Dibiarkan ditempat terbuka Lanjut ke halaman berikutnya. Soal dan Jawaban Pretest PPG 1 Soal dan Jawaban Pretest PPG 3 Soal dan Jawaban Pretest PPG 4 Soal dan Jawaban Pretest PPG 5 Demikianlah informasi tentang Soal dan Jawaban Pretest PPG 2 dan silahkan berkunjung di blog ini untuk mendapatkan informasi yang bermanfaat lainnya.

Jangan lupa klik share yang ada di bawah postingan ini. Terima kasih salam sukses PPG 2022.
none 4 menit Karya sastra, termasuk karya sastra Indonesia, senantiasa ditulis dengan aneka ragam gaya bahasa alias majas. Bahkan, tak jarang majas juga digunakan pada percakapan sehari-hari. Nah, kira-kira apa saja macam macam majas pada penggunaan bahasa Indonesia? Majas adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyampaikan sebuah pesan secara imajinatif dan kias.

Tujuan penggunaannya ialah untuk membuat pembaca mendapat efek tertentu dari gaya bahasa tersebut, karena akan memberi kesan yang lebih emosional. Tak dipungkiri, penggunaan majas memang bisa membuat karya sastra lebih hidup dan menarik. Dengan begitu, penyampaian setiap kalimat akan jadi lebih beragam. Nah ternyata, gaya bahasa memiliki berbagai macam jenis.

Masing-masing jenisnya pun memiliki tujuan penggunaan yang beragam, mulai dari pertentangan hingga perbandingan. Berikut merupakan pengertian, macam macam majas dan contohnya yang harus kamu ketahui, terutama bagi kamu yang sedang berkecimpung di dunia sastra dan kepenulisan artikel.

Dilansir dari berbagai sumber, yuk simak penjelasannya di bawah ini! Pengertian Majas Menurut Tarigan, majas adalah cara mengungkapkan pikiran melalui gaya bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian seorang penulis. Namun pada artikel ini, 99.co Indonesia hanya akan membahas jenis-jenis majas yang sering muncul di pelajaran sekolah.

Adapun jenis-jenis majas antara lain sebagai berikut. 1. Majas Pertentangan Macam macam majas yang pertama adalah majas pertentangan. Majas ini biasa digunakan untuk menunjukkan maksud tertentu melalui kata-kata kiasan yang berlawanan arti. 2. Majas Perbandingan Jenis majas ini merupakan gaya bahasa yang digunakan untuk membandingkan suatu objek satu dengan objek lain melalui proses penyamaan, pelebihan, atau penggantian. 3. Majas Sindiran Majas sindiran adalah kata-kata kiasan yang bertujuan untuk menyindir seseorang atau perilaku dan kondisi.

4. Majas Penegasan Majas penegasan merupakan jenis gaya bahasa yang bertujuan meningkatkan pengaruh kepada pembacanya agar menyetujui sebuah ujaran ataupun kejadian. Contoh Macam Macam Majas Setelah mengetahui jenis-jenis majas, kali ini 99.co Indonesia akan menghadirkan uraian mengenai macam-macam turunannya. Berikut rinciannya. 1. Majas Litotes Litotes merupakan majas pertentangan yang biasanya digunakan untuk ungkapan merendahkan diri, padahal fakta kenyataan yang terjadi justru sebaliknya.

Contoh: “Kamu mau main ke gubuk sederhanaku?” Nah, kata gubuk di sini mewakili arti dari rumah. 2. Majas Paradoks Paradoks merupakan majas pertentangan yang digunakan untuk membandingkan situasi sebenarnya dengan situasi sebaliknya yang saling bertentangan. Contoh: Katanya, dia merasa sedih. Ia bercerita padaku bahwa ia selalu merasa kesepian, sekalipun saat dia berada di keramaian. 3. Majas Antitesis Antitesis juga termasuk salah satu majas pertentangan.

Majas ini biasanya memadukan pasangan kata yang memiliki arti bertentangan. Contoh: Lowongan pekerjaan itu tak peduli tua-muda atau kaya-miskin. Tua-muda dan kaya-miskin adalah 2 paduan kata yang mempunyai arti berlawanan. 4. Majas Kontradiksi Interminus Majas pertentangan selanjutnya adalah majas kontradiksi interminus. Majas ini digunakan untuk menyangkal pernyataan yang disebutkan sebelumnya. Biasanya penggunaan majas ini disertai dengan konjungsi, seperti hanya saja atau kecuali.

Contoh: Semua murid boleh bermain, kecuali murid yang tidak mengerjakan tugas. 5. Majas Personifikasi Gaya bahasa ini bisa menggantikan fungsi benda mati yang dapat bersikap layaknya manusia.

Contoh: Rumput di sana seakan melambai kepadaku dan mengajakku untuk segera bermain bola. 6. Majas Metafora Metafora dapat meletakkan sebuah objek yang bersifat sama dengan pesan yang ingin disampaikan dalam bentuk ungkapan.

Contoh: Ajudan itu merupakan tangan kanan dari Presiden. Tangan kanan pada kalimat tersebut merupakan ungkapan bagi orang yang setia dan dipercaya. 7. Majas Asosiasi Majas asosiasi dapat membandingkan dua objek yang berbeda, tetapi dianggap sama dengan pemberian kata sambung bagaikan, bak, atau seperti. Contoh: Ibu dan anak itu bagaikan pinang dibelah dua. Artinya, keduanya memiliki wajah yang sangat mirip. 8. Majas Hiperbola Majas hiperbola dapat mengungkapkan sesuatu dengan kesan berlebihan, bahkan hampir tidak masuk akal.

Contoh: Orang tuanya memeras keringat agar anak tersebut dapat terus bersekolah. Memeras keringat pada kalimat tersebut berarti bekerja dengan keras. 9. Majas Eufemisme Gaya bahasa eufemisme dapat mengganti kata-kata yang dianggap kurang baik dengan padanan yang lebih halus.

Contoh: Tiap universitas dan perusahaan sekarang diwajibkan menerima difabel. Kata difabel dapat menggantikan frasa “orang cacat”. 10. Majas Metonimia Metonimia merupakan majas yang menyandingkan merek atau istilah sesuatu untuk merujuk pada benda yang bersifat umum. Contoh: Jangan lupa gunakan Softex saat haid melanda, ya! Nah, Softex di sini merujuk pada pembalut. 11. Majas Simile Gaya bahasa simile hampir sama dengan asosiasi yang menggunakan kata hubungan bak, bagaikan, ataupun seperti.

Hanya saja simile bukan membandingkan dua objek yang berbeda, tetapi menyandingkan sebuah kegiatan dengan ungkapan. Contoh: Kelakuannya bagaikan anak ayam kehilangan induknya.

12. Majas Alegori Alegori dapat membandingkan suatu objek dengan kata-kata kiasan. Contoh: Suami adalah nakhoda dalam mengarungi kehidupan berumah tangga. Kata nakhoda sendiri memiliki arti berupa pemimpin keluarga. 13. Majas Sinekdok Gaya bahasa terbagi menjadi dua bagian, yaitu sinekdok pars pro toto dan sinekdok totem pro parte.

Sinekdok pars pro toto adalah gaya bahasa yang menyebutkan sebagian unsur untuk menampilkan keseluruhan sebuah benda. Sementara sinekdok totem pro parte adalah kebalikannya, yaitu gaya bahasa yang menampilkan keseluruhan untuk merujuk pada sebagian benda atau situasi. Contoh: Pars pro Toto: Tadi aku lihat di lapangan, batang hidung Dimas belum juga kelihatan.

Totem pro Parte: Indonesia berhasil menjuarai All England hingga delapan kali berturut-turut. 14. Majas Simbolik Simbolik merupakan gaya bahasa yang membandingkan manusia dengan sikap makhluk hidup lainnya dalam ungkapan.

Contoh: Jadilah berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah seperti Sultan Hasanuddin yang menjadi ayam jantan dari timur. 15. Majas Ironi Majas ironi biasanya menggunakan kata-kata yang bertentangan dengan fakta yang ada. Contoh: Rapi sekali bajumu sampai mataku sakit melihatnya. 16. Majas Sinisme Penggunaan sinisme dapat menyampaikan sindiran secara langsung.

Contoh: Suaramu keras sekali sampai telingaku berdenging dan sakit. 17. Majas Sarkasme Majas ini bisa menyampaikan sindiran secara kasar. Contoh: Jangan berlagak hebat, deh! Kamu hanya sampah masyarakat tahu! 18. Majas Pleonasme Majas ini bisa menggunakan kata-kata yang bermakna sama sehingga terkesan tidak efektif, tetapi memang sengaja untuk menegaskan suatu hal.

Contoh: Dori masuk ke dalam ruangan tersebut dengan wajah ceria. 19. Majas Repetisi Gaya bahasa ini mengulang kata-kata dalam sebuah kalimat.

Contoh: Dia pelakunya, dia pencurinya, dia yang mengambil kalungku. 20. Majas Retorika Retorika dapat memberikan penegasan dalam bentuk kalimat tanya berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah tidak perlu dijawab.

Contoh: Kapan pernah terjadi harga barang kebutuhan pokok turun pada saat menjelang hari raya? 21. Majas Klimaks Klimaks merupakan majas yang dapat mengurutkan sesuatu dari tingkatan rendah hingga ke tinggi. Contoh: Bayi, anak kecil, remaja, orang dewasa, hingga orang tua seharusnya memiliki asuransi kesehatan. 22. Majas Antiklimaks Berbeda dengan klimaks, antiklimaks dapat menegaskan sesuatu dengan mengurutkan tingkatan dari tinggi ke rendah.

Contoh: Masyarakat perkotaan, perdesaan, hingga yang tinggal di dusun seharusnya sadar akan kearifan lokalnya masing-masing. 23. Majas Pararelisme Gaya bahasa ini dapat ditemukan dalam puisi, yakni mengulang-ulang sebuah kata dalam berbagai definisi yang berbeda. Jika pengulangannya ada di awal, disebut sebagai anafora. Namun, jika kata yang diulang ada di bagian akhir kalimat, disebut sebagai epifora. Contoh: Kasih itu sabar. Kasih itu lemah lembut.

Kasih itu memaafkan. 24. Majas Tautologi Majas ini menggunakan kata-kata bersinonim untuk menegaskan sebuah kondisi atau ujaran. Contoh: Hidup akan terasa tenteram, damai, dan bahagia jika semua anggota keluarga saling menyayangi. *** Semoga artikel ini bermanfaat untuk Sahabat 99 ya! Jangan lewatkan informasi menarik lainnya di situs Berita 99.co Indonesia. Kamu sedang mencari apartemen di Bogor?

Bisa jadi Grand Central Bogor adalah jawabannya! Cek saja di 99.co/id untuk menemukan apartemen idamanmu!
MENU • Home • SMP • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Kewarganegaraan • IPS • IPA • Penjas • SMA • Matematika • Agama • Bahasa Indonesia • Pancasila • Biologi • Akuntansi • Matematika • Kewarganegaraan • IPA • Fisika • Biologi • Kimia • IPS • Sejarah • Geografi • Ekonomi • Sosiologi • Penjas • SMK • Penjas • S1 • Agama • IMK • Pengantar Teknologi Informasi • Uji Kualitas Perangkat Lunak • Sistem Operasi • E-Bisnis • Database • Pancasila • Kewarganegaraan • Akuntansi • Bahasa Indonesia • S2 • Umum • About Me Contoh 1: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Alhamdulilah hirabil alamin berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah wasalamu alla asrafil anbiya iwal mursalin waala alii wasahbihi azmain ama badu.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji serta syukur kehadirat Allah subhana watala. salawat serta salam kita curahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW,kepada keluargaNya, sahabat serta kepada kita selaku penganut sunahNya. Teman-teman dan para guru semua yang saya hormati. Pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan pidato yang bertemakan tentang kenakalan dikalangan remaja dewasa ini. Teman-teman yang saya cintai dan ibu guru yang saya hormati.

Kenakalan remaja di era modern ini sudah melebihi ambang batas yang kewajar. Banyak anak dibawah umur yang sudah mengenal Rokok, Narkoba, Freesex, dan terlibat banyak tindakan kriminal lainnya. Fakta ini sudah tidak dapat dipungkuri lagi, kita dapat melihat brutalnya remaja jaman sekarang melalui media elektronik atau kita melihatnyalangsung di lingkungan sekitar kita.

Teman-teman yang saya cintai dan ibu guru yang saya hormati. Hal tersebut bisa terjadi karena adanya faktor-faktor menunjang akan perubahan prilaku dikalangan remaja, sebagai contoh : • kurangnya kasih sayang orang • kurangnya pengawasan dari orang • pergaulan dengan teman yang tidak • peran dari perkembangan iptek yang berdampak • tidak adanya bimbingan kepribadian dari • dasar-dasar agama yang kurang • tidak adanya media penyalur bakat dan hobinya • kebebasan yang berlebihan • masalah yang dipendam Teman-teman yang saya cintai dan ibu guru yang saya hormati.

Ada beberapa cara yang mungkin bisa jadikan usaha untuk mengatasi dan mencegah kenakalan dikalangan remaja, Khususnya buat diri kita sendiri agar tidak ikut terjerumus kedalamnya, diantaranya: • Perlunya pendidikan agama sejak dini yang rutin yang berguna untuk mempertebal keimanan diri kita • Mentaati nasehat – nasehat yang telah kita terima khususnya dari orang tua kita atau dari orang lain (guru, orang yang lebih berpengalaman atau teman-teman kita).

• Jangan terpancing untuk mencoba hal-hal yang menurut agama dan dan hukum dianggap • Mempunyai konsep hidup yang • Menyusun rencana masa depan dengan untuk kehidupan dan masa depan yang Teman-teman yang saya cintai dan ibu guru yang saya hormati. Tidak ada hal yang terindah dalam hidup ini selain kita mengisi dan menjalani hidup ini dengan ha-hal yang baik. Teman-teman yang saya cintai dan ibu guru yang saya hormati. Akhir kata dari saya, terima kasih atas semua perhatiannya.

Wss. Wr. Wb Contoh 2: Assalamualaikum wr wb, Bapak/ibu … yang saya hormati, juga tak lupa buat teman-teman yang saya cintai. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur Kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua sehingga kita dapat berkumpul ditempat ini, saya ucapkan banyak terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya untuk menyampaikan sebuah pidato yang bertemakan “Tentang Pentingnya Pendidikan Moral”.

Bapa/ibu guru beserta teman-temanku semuanya, Pastilah Kita semua tahu bahwa pendidikan adalah bagian terpenting dalam kehidupan kita. Tanpa pendidikan, mustahil kita akan seperti sekarang ini, perkembangan teknologi dan sarana prasarana yang ada disekitar kita, mustahil akan ada bila semua itu tidak didukung atau didasari oleh pendidikan.

Sebuah bangsa dapat dikatakan maju apabila pendidikan di negara tersebut maju dan dapat mengelola SDM dan SDA dengan baik untuk kesejahteraan warganya. Untuk itu, berbagai upaya telah dilakukan bersama oleh berbagai pihak demi memajukan pendidikan Indonesia. Namun demikian, membekali generasi masa depan dengan pendidikan sekolah yang tinggi saja tidaklah memadai guna melanjutkan bahkan memajukan kehidupan bangsa.

Mereka perlu mendapatkan pendidikan moral yang akan membentuk generasi penerus bangsa ini menjadi pribadi yang berakhlak mulia, jujur dan bertanggung jawab tinggi. Pendidikan moral merupakan salah satu modal bagi kita untuk memperbaiki kondisi bangsa ini. Kesadaran dan rasa tanggung jawab yang tinggi akan menjadi tiang dan pondasi keutuhan bangsa ini Bapa ibu guru beserta teman-temanku semua Kita tentu menyadari bahwa keterpurukan suatu bangsa dapat disebabkan oleh rusaknya moral segelintir warganya.

Bisa jadi rusaknya moral disebabkan oleh warga itu sendiri yang tidak dapat mengontrol dirinya sendiri dengan keimanan dan ketakwaan kepada Sang Pencipta. Fakta menunjukkan bahwa generasi penerus bangsa membutuhkan pembinaan moral terutama dari keluarga dan pihak sekolah.

Hal ini tercermin dari berita yang mengungkap bahwa warung internet di kota-kota besar sebagian besar dikunjungi oleh para pelajar dan mahasiswa, termasuk anak-anak sekolah dasar dan menengah pertama. Akan tetapi, ternyata mereka tidak menggunakannya untuk mencari informasi atau mempelajari hal-hal yang positif, tetapi menggunakannya untuk mendapatkan hal-hal yang negatif, seperti p**nografi.

Tentu fakta ini sangat meresahkan banyak pihak, terutama bagi para orang tua dan guru. Sedangkan fakta tentang runtuhnya etika kejujuran yang dikhawatirkan akan terus berlanjut, sudah menjadi berita yang tak asing lagi didengar, seperti : korupsi, penyuapan, hilangnya supremasi hukum, dsb.

Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi kita, terutama para orang tua dan pendidik, untuk memperhatikan pendidikan generasi masa depan bangsa.

Tidak hanya pendidikan umum saja, tetapi yang lebih penting pendidikan moral dan pembinaan keimanan dan ketakwaan kepada Sang Pencipta agar generasi penerus bangsa berkepribadian luhur dan memiliki idealisme tinggi.

Dengan demikian, kemajuan dan kesejahteraan bangsa diharapkan dapat segera terwujud. Bapa ibu guru beserta teman-temanku semua Demikianlah yang dapat saya sampaikan, mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam penyampaiannya. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih. Akhirul kata, wassalamualaikum wr wb. Contoh 3: Assalamualaikum WR.WB Bapak Kepala Sekolah, Bapak dan Ibu Guru yang saya hormati serta teman-teman yang saya cintai.

Marilah dalam kesempatan ini kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat serta karunianya kepada kita, sehingga dapat berkumpul pada kesempatan ini. Terimakasih pada Bapak Guru yang telah memberikan kesempatan pada saya untuk menyampaikan pidato ini.

Betapa ingin rasanya hidup di tengah masyarakat yang maju. Bayangkan saja jika orang-orang di sekelilikng kita memiliki cara berpikir moderen, artinya berpendidikan, lingkungan sehat, ekonomi memadai dsb.

Gambaran seperti itulah yang menjadi dambaan setiap orangsekaligus merupakan ciri dari masyarakat yang berkualitas. Apakah kehidupan tersebut dapat terwujud ? Tentu saja bisa! Mengapa tidak? Asalkan bangsa ini tidak menjadi negara bedebah yang di dalamnya berisi kebohongan-kebohongan besar, kita dapat menjadi maju, tapi kenyataannya kebohongan sudah merasuk hidup bangsa kita.

Berbohong adalah perilaku tidak baik dan dapat langsung memunculkan rasa khawatirtakut, kepada mereka yang berbohong. Karena takut akan terungkapnya kebohongan tersebutmunculah beberapa lapis kebohongan yang tebal. Semua orang pasti pernah berbohong untuk melindungi diri dari perbuatan curang yang telah ia lakukan, entah untuk menjaga martabat, maupun gengsi.

Apalagi sifat pembohong sudah merusak moral penerus bangsa masa kini. Misalnya saja di awal tahun ini kita diperlihatkan oleh kekacauan penegakan hukum yang timbul akibat rangkaian kebohonganyang seolah sudah menjadi hobi, kebiasaan ataupun cara hidup.

Hal ini sangat menjatuhkan penegak hukum bangsa ini. Bukan hanya di masalah hukum, dunia pendidikan pun diguncang oleh kebohongan. Misalnya saja kebohongan yang sudah dianggap biasa yaitu mencontek.

Semua siswa pasti sudah kenal dengan mencontek bukan ? Perbuatan berbohong pasti ada sebabnya, antara lain karena takut dihukum atas kesalahannya, ingin merasa paling benar atas hal yang salah, menjaga imej baik berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah hadapan orang dsb. Yang ngeri adalah akibatnya manusia mematikan rasa kepedulian, hati nurani, tanggung jawab, dan martabat diri, apalagi kemampuan berbohong itu akan terus ada bahkan bertambah. Solusinya adalah berani untuk hal yang benar, jangan pernah menganggap diri sendiri yang terbaik, berhentilah mengeluh dan kerjakan sesuatu sepenuh hati, hindarkan diri dari hal-hal, tidak berguna dan memancing kebohongan.

Bersyukurlah kita yang berhenti pada suatu kebohongan, tidak menindak lanjuti dengan pernyataan palsu lainnya. Bersyukurlah kita yang tidak seperti banyak tokoh yang ramai dimuat media akibat kebohongannya. Mereka yang berbohong sungguh telah membunuh martabtnya karena takut jujur daripada bohong. Jauhkanlah sifat kebohongan. Biarlah keajaiban kebenaran menuntun kita semua untuk membawa diri, keluarga, lembaga, masyarakat, dan bangsa menjadi lebih baik di tahun ini.

Bapak Kepala Sekolah, Bapak dan Ibu guru, serta kawan-kawanku, demikianlah pidato singkat saya. Karena pepatah mengatakan tiada gading yang tak retak oleh karena itu saya mohon maaf bila ada kesalahan dan kata-kata yang kurang berkenan di hati.

Terimakasih atas perhatiannya, mudah-mudahan pidato ini bisa menjadi satu motivasi bagi kita semua untuk meningkatkan kreasi dan karya kita tanpa harus membodohi diri sendi dengan kata lain “berbohong” Wassalamualaikum WR.WB Assalamualaikum WR.WB Yang terhormat ibu guru dan yang saya hormati teman-teman. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kepada kehadirat tuhan Yang Maha Esa karena kita dapat berkumpul di tempat ini dalam keadaans ehat.

Hadirin yang berbahagia pada kesempatan ini saya akan berpidato tentang pergaulan remaja. Masa remaja adalah masa pertumbuhan tetapi pad amasa ini remaja masih labil dan ingin di kenal orang. Biasanya cara yang digunakan adalah dengan membentuk kelompok tertentu, salah satunya adalah geng motor.

Remaja sekarang ini lebih menuruti ego nya dari pada keselamatan dirinya, sekarang ini banyak dijumpai anak muda sekolah dari SMP sampai SMA melakukan kegiatan balapan liar sepeda motor, kegiatan ini bisa dibilang sebagai hobby oleh mereka, penuh tantangan dan sportifitas yang mereka rasakan. Tidak jarang dari kegiatan yang mereka lakukan ini berawal dari rasa iseng atau persaingan untuk memperoleh sesuatu hal, mengadu kecepatan motor yang dimilikinya, berubut pacar atau uang yang dipertaruhkan sebagai tujuan dari kegiatan lomba liar ini.

Usia muda yang belum sampai berpikir dua kali akan sebab dan akibatnya jika terjadi pada diri mereka. Peranan orang tua sangat diperlukan agar anaknya tidak mengikuti balapan liar adalah dengan mengarahkan sianak agar bisa lebih menghormati dan menghargai dirinya sendiri Hadirin yang berbahagia saya berharap kita sebagai remaja tidak usah ikut gang motor, kita harusnya mengisi berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah dengan hal-hal yang bersifat positif.

dari pidato saya diatas dapat disimpulkan bahwa geng motor merupakan kelompok yang membuat onar dan kita tidak usah ikut gang motor Sekian pidato dari saya, apabila ada kata yang salah mohon dimaafkan. Wassalamualaikum WR.WB. Contoh 5: Assalamu’alaikum Wr Wb Yang berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah Bapak kepala sekolah. Yang saya hormati Bapak/Ibu Guru serta staf Tata Usaha Juga teman-temanku semuanya… Terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya.

Perkenalkan, Nama saya … perwakilan dari . Yang terhormat. Bapa/Ibu …. Dan semua teman-teman yang hadir di sini. Hadirin sekalian, Narkoba adalah istilah bahasa Indonesia untuk zat narkotika, psikotropika dan adiktif.

zat psikotropika populer disebut Ecstasy dan Shabu-shabu dianggap favorit di kalangan pengguna kelas menengah dan atas. Namun, untuk peningkatan jumlah orang muda, obat pilihan adalah heroin kelas rendah, yang dikenal sebagai putaw, yang murah, banyak, tetapi berpotensi mematikan.

Obat ini sudah tersedia di semua kota-kota besar, termasuk sekolah, lounge karaoke, bar, kafe, diskotik, klub malam, dan mereka bahkan menyebar ke desa-desa terpencil. Karena itu, tidak mengherankan bahwa pengguna narkoba terus meningkat dari tahun ke tahun. Hadirin Sekalian… Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah pemuda telah menyia-nyiakan hidup mereka karena obat terlarang di negeri kita, Indonesia.

Mereka kebanyakan korban dari lingkungan yang ‘kejam’, keluarga broken home, dari kebodohan, dari rasa keingin tahuan atau juga dari korban para mafia narkoba. Diperkirakan bahwa sekitar 4 juta orang di Indonesia adalah sebagai pengguna narkoba, atau sekitar satu dari setiap 50 orang Indonesia adalah atau pernah mencicipi barang terlarang tersebut.

Di ibukota Jakarta, diperkirakan 3 dari sepuluh orang anak muda adalah pengguna narkoba. Sebuah studi yang dilakukan oleh kantor (ILO) Organisasi Buruh Internasional di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar empat persen pengguna narkoba di negeri ini adalah anak-anak di bawah 17 tahun.

Dua dari sepuluh pengguna terlibat dalam perdagangan gelap. Beberapa remaja mulai terlibat dalam memproduksi obat-obatan dan yang memperdagangankannya antara usia 13 dan 15 tahun.

berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah

Ketua Badan Koordinasi Narkotika Nasional mengatakan bahwa pengguna narkoba dan obat-obatan terlarang di negara ii berjumlah sekitar 7.000 siswa SMP, lebih dari 10.000 siswa SMU dan sekitar 800 siswa SD.

Data yang begitu sangat memprihatinkan dan membuat kita cemas akan masa depan nanti, entah akan bagaimana kelak bila pengguna barang haram tersebut terus meningkat. Hadirin sekalian Orang biasanya menggunakan obat-obatan terlarang untuk bersenang-senang atau melarikan diri dari tekanan hidup.

Pengguna narkoba di kalangan siswa sangat mengkhawatirkan. Dilaporkan bahwa sejumlah pedagang beroperasi di sekitar sekolah dengan menipu, memaksa atau memberi obat-obatan terlarang tersebut secara gratis kepada para siswa disekitar sekolah tersebut.

Setelah siswa yang kecanduan, mereka kemudian pergi ke para pedagang untuk membeli obat-obatan terlarang. Jika mereka tidak punya uang, mereka mencurinya dari anggota keluarga mereka atau orang lain. Hadirin sekalian Fakta-fakta di atas menunjukkan kepada kita bagaimana akrab “Narkoba” dikalangan generasi muda kita.

Hal yang harus kita ketahui sebagai pegangan kita agar terhindar dari bujuk rayu para mafia narkoba. Pertama kita harus tahu apa arti dari kecanduan obat? kecanduan obat adalah penyakit otak yang kompleks. Hal ini ditandai dengan kompulsif, kadang-kadang tak terkendali, keinginan obat, mencari, dan menggunakan bertahan berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah dalam menghadapi konsekuensi sangat negatif.

Obat mencari menjadi kompulsif, sebagian besar sebagai akibat dari efek dari penggunaan narkoba yang berkepanjangan pada fungsi otak dan, dengan demikian, pada perilaku. Bagi banyak orang, kecanduan obat menjadi kronis, dengan kemungkinan kambuh bahkan setelah jangka waktu yang lama.

Dengan mengetahui bagaimana seriusnya konsekuensi dari menggunakan Narkoba. Mudah-mudahan bisa menghindarkan kita dari jerat tersebut. Hadirin sekalian… Marilah kita berlomba untuk menghindarkan diri kita dari jeratan barang haram tersebut dengan cara menjauhkan diri kita, keluarga dan lingkungan dari hal-hal yang akan memberi ruang dan jalan untuk masuknya barang haram tersebut.

Hadirin Sekalian… Terima kasih atas perhatian dan waktu yang telah diberikan kepada saya untuk menyampaikan pidato singkat ini. Wasalam… Demikianlah pembahasan mengenai 5 Contoh Pidato Tentang Kenakalan Remaja dan Penyelesaiannya semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan anda semua, terima kasih banyak atas kunjungannya.

🙂 🙂 🙂 Baca Juga Artikel Lainnya: • 14 Contoh Karangan Narasi • Teks Cerita Inspirasi • 22 Contoh Paragraf Narasi • Contoh Teks Deskripsi • Presentasi Adalah • Pengertian Wacana • Contoh Pidato Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Bahasa Indonesia Ditag biantara sunda tentang kenakalan remaja, ceramah tentang kenakalan remaja beserta dalilnya, ceramah tentang kenakalan remaja narkoba, ceramah tentang moral remaja, contoh kerangka dan naskah pidato tentang kenakalan remaja, contoh pidato 5w 1h, contoh tema pidato yang menarik, dalil tentang kenakalan remaja, materi ceramah binmas, naskah tentang kenakalan remaja, pidato bahasa bugis tentang kenakalan remaja, pidato kenakalan remaja dan solusinya, pidato kenakalan remaja pdf, pidato panjang 5 lembar, pidato panjang bahasa indonesia, pidato singkat tentang geng motor, pidato singkat tentang pergaulan bebas, pidato singkat tentang remaja, pidato tentang keimanan remaja, pidato tentang kenakalan remaja dan penyelesaiannya, pidato tentang kenakalan remaja jaman now, pidato tentang kenakalan remaja pdf, pidato tentang kenakalan remaja untuk ujian berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah, pidato tentang kenakalan remaja yang panjang, pidato tentang moral akhlak etika pergaulan, pidato tentang tindakan kriminal, pidato yang menarik untuk remaja, sesorah babagan kenakalan remaja, speech kenakalan remaja, syarhil tentang kenakalan remaja, teks ceramah tentang anak sekolah, teks ceramah tentang kehidupan Navigasi pos Pos-pos Terbaru • Pengertian Interaksi Manusia Dan Komputer (IMK) • Logam adalah • Asam Asetat – Pengertian, Rumus, Reaksi, Bahaya, Sifat Dan Penggunaannya • Linux adalah • Teks Cerita Fiksi • Catatan Kaki adalah • Karbit – Pengertian, Manfaat, Rumus, Proses Produksi, Reaksi Dan Gambarnya • Dropship Adalah • Pengertian Dialektologi (Dialek) • Asam Oksalat : Pengertian, Msds, Rumus, Sifat, Bahaya & Kegunaannya • Contoh Teks Editorial • Contoh Teks Laporan Hasil Observasi • Teks Negosiasi • Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah Deskripsi • Contoh Kata Pengantar • Kinemaster Pro • WhatsApp GB • Contoh Diksi • Contoh Teks Eksplanasi • Contoh Teks Berita • Contoh Teks Negosiasi • Contoh Teks Ulasan • Contoh Teks Eksposisi • Alight Motion Pro • Contoh Alat Musik Ritmis • Contoh Alat Musik Melodis • Contoh Teks Cerita Ulang • Contoh Teks Prosedur Sederhana, Kompleks dan Protokol • Contoh Karangan Eksposisi • Contoh Pamflet • Pameran Seni Rupa • Contoh Seni Rupa Murni • Contoh Paragraf Campuran • Contoh Seni Rupa Terapan • Contoh Karangan Deskripsi • Contoh Paragraf Persuasi • Contoh Paragraf Eksposisi • Contoh Paragraf Narasi • Contoh Karangan Narasi • Teks Prosedur • Contoh Karangan Persuasi • Contoh Karangan Argumentasi • Proposal • Contoh Cerpen • Pantun Nasehat • Cerita Fantasi • Memphisthemusical.Com
MENU • Home • SMP • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • IPS • IPA • SMA • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • IPA • Biologi • Fisika • Kimia • IPS • Ekonomi • Sejarah • Geografi • Sosiologi • SMK • S1 • PSIT • PPB • PTI • E-Bisnis • UKPL • Basis Data • Manajemen • Riset Operasi • Sistem Operasi • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • Agama • Bahasa Indonesia • Matematika • S2 • Umum • (About Me) Bunyi hukum pascal adalah: Tekanan yang diberikan pada suatu zat cair didalam suatu wadah, akan diteruskan ke segala arah dan sama besar Hukum pascal ditemukan oleh Blaise Pascal, seorang ilmuwan Prancis yang hidup pada 1623-1662).

Pada dasarnya Blaise pascal adalah seorang ahli filsawat dan teologi, namun hobinya pada ilmu matematika dan fisika, terutama geometri proyektif, mengantarkan menjadi ilmuwan dunia yang terkenal sepanjang masa berkat penemuannya dalam bidang fisika mekanika fluida yang berhubungan dengan tekanan dan gaya yang dikenal dengan Hukum Pascal.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Pengertian dan Definisi Fisika Terlengkap Rumus Hukum Pascal Hukum Pascal di rumuskan dengan istila Pa (Pascal) yaitu sebuah satuan turunan untuk tekanan.

Sesuai dengan bunyinya, maka Hukum Pascal di rumuskan sebagai berikut: Keterangan : • F1 /F2 = Gaya pada permukaan A atau B (N) • A1/A2 = Luas permukaan A atau B (m2) • D1/D2 = Diameter permukaan A atau B (m) Aplikasi hukum pascal yang sangat terkenal adalah yang terdapat pada alat pengangkatan Hidrolik atau yang banyak dikenal dengan istilah Dongkrak Hidrolik. Setiap benda yang menggunakan istilah Hidrolik biasanya merupakan aplikasi dari hukum pascal. Contahnya Dongkrak hidrolik.

Dongkrak hidrolik sering digunakan untuk mengangkat berat seperti saat harus mengganti ban mobil Sejarah Konsep Fisika Ditemukan Blaise Pascal (1623-1662) terlahir di Clermont Ferrand pada 19 Juni 1623. Pada tahun 1631 keluarganya pindah ke Paris. Blaise Pascal adalah anak Etienne Pascal, seorang ilmuwan dan matematikawan lahir di Clermont.

Etienne Pascal, juga merupakan penasehat kerajaan yang kemudian diangkat sebagai presiden organisasi the Court of Aids di kota Clermont. Ibu Pascal, Antoinette Bigure, meninggal saat umur Pascal berumur empat tahun tidak lama setelah memberinya seorang adik perempuan, Jacqueline. Ia mempunyai kakak perempuan yang bernama, Gilberte.

Pascal juga pernah melakukan studi hidrodinamik dan hidrostatik, prinsip-prinsip cairan hidraulik (hydraulic Fluida). Penemuannya meliputi hidraulik tekan (press Hydraulic) dan tentang jarum suntik (syringe). Umur 18 tahun, tubuhnya lemah dan mengalami kelumpuhan tungkai atas membuat Pascal harus tinggal di tempat tidur. Harus menelan cukup makanan agar tetap hidup, meskipun selalu merasa sakit kepala.

Umur 24 tahun, dia dan Jacqueline pergi ke Paris untuk pemeriksaan medis dengan peralatan yang lebih canggih.

Ternyata dia diharuskan tinggal di rumah sakit. Saat ini banyak ilmuwan datang menyambangi yang tertarik dengan eksperimen kehampaan (vakum) yang sedang dikerjakannya. Descartes datang untuk berdiskusi. Akhir tahun, kesehatan tubuhnya memungkinkan dia meneruskan pekerjaan, menguji teori kehampaan. Ia memiliki sebuah replika percobaan yang berupa tabung sepanjang 31 inci (78,7 cm) yang diisi air raksa yang diposisikan terbalik dalam sebuah mangkok mercuri. Pascal ingin mengetahui kekuatan apa yang menjaga mercuri dalam tabung, dan apa yang mengisi ruang kosong dibagian atas dalam tabung mercuri tersebut.

Apakah berisi: udara? uap air raksa? kehampaan? Pada waktu itu, kebanyakan ilmuwan berpendapat bahwa ruang kosong ditabung atas mercuri tersebut adalah tak lebih daripada vacuum ( kosong ), dan beberapa kejadian yang dianggap tak mungkin oleh ilmuwan sebelumnya, telah terlihat saat percobaan itu dilakukan.

Hal ini berdasarkan pemikiran Ariestoteles, bahwa “ penciptaan “ sesuatu yang bersifat “ subtansi “, apakah terlihat atau tidak terlihat, dan “zat / subtansi “ selamanya bergerak. Hukum Ariestoteles adalah sebagai berikut : “ Segala sesuatu yang bergerak, harus digerakan oleh sesuatu ( Everything that is in motion must be moved by something) “. Oleh karena itu para ilmuwan penganut Ariestoteles menyatakan, bahwa vacuum ( tenaga isap ) itu adalah hal yang mustahil.

Bagaimana bisa begitu ? Maka bukti itu ditunjukan : • Cahaya yang melewati itu di sebut “ vacuum ( kosong ) ” dalam tabung kaca. • Ariestoteles menulis, segala sesuatu bergerak, harus digerakan oleh sesuatu yang lain. Oleh karenanya, disana harus ada “sesuatu” yang tak terlihat untuk memindahkan cahaya melalui tabung kaca, maka dari itu tidak ada vacuum ( tenaga isap atau tekan ) di tabung itu. Tidak di tabung kaca maupun, dimanapun. Vacuum itu tidak ada dan sesuatu yang mustahil.

Setelah melakukan percobaan mendalam di vena ini, di tahun 1647 Pascal mengeluarkan risalah Experiences nouvelles touchant le vide (“New Experiments with the Vacuum – Percobaan baru dengan Vacuum”), dia berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah dengan rinci aturan dasar, bahwa derajat variasi cairan ( liquid ) bisa didukung oleh tekanan udara. Hal ini memberikan alasan atau bukti, bahwa memang ada vacuum pada kolom diatas cairan tabung barometer.

Dan, pernyataan Ariestoteles dipatahkan oleh Pascal. Vacuum itu ada ! Bukan sesuatu yang mustahil. Pembuktian – pembuktian ini membuat Pascal konflik dengan para ilmuwan lainnya, terutama para ilmuwan terkemuka sebelum dia, apalagi para penganut Ariestoteles, termasuk berkonflik dengan Descartes. Kecerdasan otak Pascal tidak perlu diragukan lagi, tapi sejak lahir fisiknya sangat lemah dan mudah terserang sakit. Tahun 1661, adiknya, Jacqueline meninggal. Pascal menunjukkan bela sungkawa kepada kakaknya, Gilberte dan kepada biarawati-biarawati teman Jacqueline.

Satu tahun kemudian, kondisi kesehatan Pascal makin parah dan menolak semua bantuan yang datang atau hal apapun dapat meringankan sakitnya. Dia ingin meninggal di rumah sakit – seperti halnya orang miskin (orang kaya selalu meninggal di rumah), tapi maksudnya itu tidaklah kesampaian. Tanggal 19 Agustus 1662, dini hari, Pascal meninggal setelah lama tidak sadarkan diri.

Penyebab kematian Pascal tidak diketahui dengan jelas. Beberapa orang menyebut karena TBC; lainnya menyebut karena keracunan logam atau terkena dyspepsia yang melemahkan fungsi otak.

Pascal meninggalkan karya yang berjudul Pensees dan Provincial Letters yang sama sekali tidak berhubungan dengan matematika. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : “Materi Fisika” Definisi intensitas & ( Rumus – Taraf Intensitas Bunyi – Penerapan Gelombang Bunyi ) Persamaan Hukum Pascal Pascal juga menulis tentang hidrostatik, yang menjelaskan eksperimennya menggunakan barometer untuk menjelaskan teorinya tentang Persamaan Benda Cair (Equilibrium of Fluids), yang tak sempat dipublikasikan sampai satu tahun setelah kematiannya.

Makalahnya tentang Persamaan Benda Cair mendorong Simion Stevin melakukan analisis tentang paradoks hidrostatik dan dan meluruskan apa yang disebut sebagai hukum terakhir hidrostatik: “Bahwa benda cair menyalurkan daya tekan secara sama-rata ke semua arah” yang kemudian dikenal sebagai Hukum Pascal.

Hukum Pascal dianggap penting karena keterkaitan antara Teori Benda Cair dan Teori Benda Gas, dan tentang Perubahan Bentuk tentang keduanya yang kemudian dikenal dengan Teori Hidrodinamik.

Hukum Pascal (1658) “Jika suatu zat cair dikenakan tekanan, maka tekanan itu akan merambat ke segala arah dengan tidak bertambah atau berkurang kekuatannya”. Hukum Pascal menyatakan bahwa Tekanan yang diberikan zat cair dalam ruang tertutup diteruskan ke segala arah dengan sama besar. Setiap titik pada kedalaman yang sama memiliki besar tekanan yang sama. Hal ini berlaku untuk semua zat cair dalam wadah apapun dan tidak bergantung pada bentuk wadah tersebut.

Apabila ditambahkan tekanan luar misalnya dengan menekan permukaan zat cair tersebut, pertambahan tekanan dalam zat cair adalah sama di segala arah. Jadi, jika diberikan tekanan luar, setiap bagian zat cair mendapatjatah tekanan yang sama (Lohat, 2008). Sesuai dengan hukum Pascal bahwa tekanan yang diberikan pada zat cair dalam ruang tertutup akan diteruskan sama besar ke segala arah, maka tekanan yang masuk pada penghisap pertama sama dengan tekanan pada penghisap kedua (Kanginan, 2007).

Tekanan dalam fluida dapat dirumuskan dengan persamaan di bawah ini. P = F : A sehingga persamaan hukum Pascal bisa ditulis sebagai berikut. P 1 = P 2 F 1 : A 1 = F 2 : A 2 Dimana: P = tekanan (pascal), F = gaya (newton), A = luas permukaan penampang (m 2).

Dari hukum Pascal diketahui bahwa dengan memberikan gaya yang kecil pada penghisap dengan luas penampang kecil dapat menghasilkan gaya yang besar pada penghisap dengan luas penampang yang besar (Kanginan, 2007). Prinsi inilah yang dimanfaatkan pada peralatan teknik yang banyak dimanfaatkan manusia dalam kehidupan misalnya dongkrak hidraulik, pompa hidraulik, dan rem hidraulik (Azizah & Rokhim, 2007).

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Gelombang Bunyi : Karakteristik, Sifat, Sumber, Contoh, Teori, Frekuensi Prinsip Penerapan Hukum Pascal • Prinsip Kerja Dongkrak Hidraulik Prinsip kerja dongkrak hidraulik adalah dengan memanfaatkan hukum Pascal. Dongkrak hidraulik terdiri dari dua tabung yang berhubungan yang memiliki diameter yang berbeda ukurannya. Masing- masig ditutup dan diisi air. Mobil diletakkan di atas tutup tabung yang berdiameter besar. Jika kita memberikan gaya yang kecil pada tabung yang berdiameter kecil, tekanan akan disebarkan secara merata ke segala arah termasuk ke tabung besar tempat diletakkan mobil (Anonim,2009a).

Jika gaya F 1 diberikan pada penghisap yang kecil, tekanan dalam cairan akan bertambah dengan F 1/A 1. Gaya ke atas yang diberikan oleh cairan pada penghisap yang lebih besar adalah penambahan tekanan ini kali luas A 2. Jika gaya ini disebut F 2, didapatkan F 2 = (F : A 1) x A 2 Jika A 2 jauh lebih besar dari A 1, sebuah gaya yang lebih kecil (F 1) dapat digunakan untuk menghasilkan gaya yang jauh lebih besar (F 2) untuk mengangkat sebuah beban yang ditempatkan di penghisap yang lebih besar (Tipler, 1998).

Berikut ini contoh perhitungan tekanan pada sebuah dongkrak hidraulik. Misalnya, sebuah dongkrak hidraulik mempunyai dua buah penghisap dengan luas penampang melintang A 1 = 5,0 cm 2 dan luas penampang melintang A 2 = 200 cm 2.

Bila diberikan suatu gaya F 1 sebesar 200 newton, pada penghisap dengan luas penampang A 2 akan dihasilkan gaya F 2 = (F 1 : A 1) x A 2 = (200 : 5) x 200 = 8000 newton. • Prinsip Kerja Rem Hidraulik Dasar kerja pengereman adalah pemanfaatan gaya gesek dan hukum Pascal. Tenaga gerak kendaraan akan dilawan oleh tenaga gesek ini sehingga kendaraan dapat berhenti (Triyanto, 2009). Rem hidraulik paling banyak digunakan pada mobil-mobil penumpang dan truk ringan.

Rem hidraulik memakai prinsip hukum P ascal dengan tekanan pada piston kecil akan diteruskan pada piston besar yang menahan gerak cakram. Cairan dalam piston bisa diganti apa saja. Pada rem hidraulik biasa dipakai minyak rem karena dengan minyak bisa sekaligus berfungsi melumasi piston sehingga tidak macet (segera kembali ke posisi semula jika rem dilepaskan). Bila dipakai air, dikhawatirkan akan terjadi perkaratan (Anonim, 2009). • Prinsip Kerja Pompa Hidraulik Dalam menjalankan suatu sistem tertentu atau untuk membantu operasional dari sebuah sistem, tidak jarang kita menggunakan rangkaian hidraulik.

Sebagai contoh, untuk mengangkat satu rangkaian kontainer yang memiliki beban beribu–ribu ton, untuk memermudah itu digunakanlah sistem hidraulik. Sistem hidraulik adalah teknologi yang memanfaatkan zat cair, biasanya oli, untuk melakukan suatu gerakan segaris atau putaran. Sistem ini bekerja berdasarkan prinsip Pascal, yaitu jika suatu zat cair dikenakan tekanan, tekanan itu akan merambat ke segala arah dengan tidak bertambah atau berkurang kekuatannya.

berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah

Prinsip dalam rangkaian hidraulik adalah menggunakan fluida kerja berupa zat cair yang dipindahkan dengan pompa hidraulik untuk menjalankan suatu sistem tertentu (Anonim, 2009). Pompa hidraulik menggunakan kinetik energi dari cairan yang dipompakan pada suatu kolom dan energi tersebut diberikan pukulan yang tiba-tiba menjadi energi yang berbentuk lain (energi tekan).

Pompa ini berfungsi untuk mentransfer energi mekanik menjadi energi hidraulik. Pompa hidraulik bekerja dengan cara menghisap oli dari tangki hidraulik dan mendorongnya kedalam sistem hidraulik dalam bentuk aliran ( flow). Aliran ini yang dimanfaatkan dengan cara merubahnya menjadi tekanan. Tekanan dihasilkan dengan cara menghambat aliran oli dalam sistem hidraulik. Hambatan ini dapat disebabkan oleh orifice, silinder, motor hidraulik, dan aktuator. Pompa hidraulik yang biasa digunakan ada dua macam yaitu positive dan nonpositive displacement pump (Aziz, 2009).

Ada dua macam peralatan yang biasanya digunakan dalam merubah energi hidraulik menjadi energi mekanik yaitu motor hidraulik dan aktuator. Motor hidraulik mentransfer energi hidraulik menjadi energi mekanik dengan cara memanfaatkan aliran oli dalam sistem merubahnya menjadi energi putaran yang dimanfaatkan untuk menggerakan roda, transmisi, pompa dan lain-lain (Sanjaya, 2008).

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Belajar Tipe Alat Ukur Besaran Panjang, Dalam Fisika Manfaat dan Contoh Hukum Pascal Di Kehidupan Sehari Hari Hukum Pascal dimanfaatkan dalam peralatan teknik yang banyak membantu pekerjaan manusia, antara lain dongkrak hidrolik, pompa hidrolik, mesin hidrolik pengangkat mobil, mesin pres hidrolik, dan rem hidrolik.

Berikut pembahasan mengenai cara kerja beberapa alat yang menggunakan prinsip Hukum Pascal. • Hukum Pascal pada Dongkrak Hidrolik Dongkrak hidrolik merupakan salah satu aplikasi sederhana dari Hukum Pascal. Berikut ini prinsip kerja dongkrak hidrolik berdasarkan hukum pascal. Saat pengisap kecil diberi gaya tekan, gaya tersebut akan diteruskan oleh fluida (minyak) yang terdapat di dalam pompa. Akibatnya Berdasarkan Hukum Pascal, minyak dalam dongkrak akan menghasilkan gaya angkat pada pengisap besar dan dapat mengangkat beban di atasnya.

• Hukum Pascal pada Mesin Hidrolik Pengangkat Mobil Aplikasi hukum pascal berikutnya adalah mesin hidrolik pengangkat mobil ini memiliki prinsip yang sama dengan dongkrak hidrolik. Perbedaannya terletak pada perbandingan luas penampang pengisap yang digunakan. Pada mesin pengangkat mobil, perbandingan antara luas penampang kedua pengisap sangat besar sehingga gaya angkat yang dihasilkan pada pipa berpenampang besar dan dapat digunakan untuk mengangkat mobil. • Hukum Pascal pada Rem Hidrolik Aplikasi hukum pascal berikutnya adalah Rem hidrolik digunakan pada mobil.

Ketika Anda menekan pedal rem, gaya yang Anda berikan pada pedal akan diteruskan ke silinder utama yang berisi minyak rem. Selanjutnya, minyak rem tersebut akan menekan bantalan rem yang dihubungkan pada sebuah piringan logam sehingga timbul gesekan antara bantalan rem dengan piringan logam. Gaya gesek ini akhirnya akan menghentikan putaran roda. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Rumus Gaya Fisika Contoh Soal Hukum Pascal Dan Jawabannya Ada dua buah tabung yang berbeda luas penampangnya saling berhubungan satu sama lain.

Tabung ini diisi dengan air dan masing-masing permukaan tabung ditutup dengan pengisap. Luas pengisap A 1 = 50 cm 2 sedangakan luas pengisap A 2 adalah 250 cm 2. Apabila pada pngisap A 1 diberi beban seberat 100 N. Berpakah besar gaya minimal yang harus bekerja pada pada A 2 agar beban tersebut dapat berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah Diketahui • A 1 = 50 cm 2 • A 2 = 250 cm 2 • F 1 = 100 N • Ditanya F 2 = … ?

Jawab • F 1/A 1 = F 2/A 2 • 100/50 = F 2/100 • F2 = 100. 100 /50 = 200 N Tekanan (p) adalah satuan fisika untuk menyatakan gaya (F) per satuan luas (A). P : Tekanan dengan satuan pascal ( Pressure ) F : Gaya dengan satuan newton ( Force ) A : Luas permukaan dengan satuan m2 ( Area ) Satuan tekanan sering digunakan untuk mengukur kekuatan dari suatu cairan atau gas.

Satuan tekanan dapat dihubungkan dengan satuan volume (isi) dan suhu. Semakin tinggi tekanan di dalam suatu tempat dengan isi yang sama, maka suhu akan semakin tinggi.

Hal ini dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa suhu di pegunungan lebih rendah dari pada di dataran rendah, karena di dataran rendah tekanan lebih tinggi. Akan tetapi pernyataan ini tidak selamanya benar atau terkecuali untuk uap air, uap air jika tekanan ditingkatkan maka akan terjadi perubahan dari gas kembali menjadi cair. (dikutip dari wikipedia : kondensasi). Rumus dari tekanan dapat juga digunakan untuk menerangkan mengapa pisau yang diasah dan permukaannya menipis menjadi tajam.

Semakin kecil luas permukaan, dengan gaya yang sama akan dapatkan tekanan yang lebih tinggi. Tekanan udara dapat diukur dengan menggunakan barometer. Saat ini atau sebelumnya unit tekanan rakyat adalah sebagai berikut: • atmosfer(atm) • manometric unit: • sentimeter, inci, dan berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah merkuri (torr) • Templat:JangkarTinggi kolom air yang setara, termasuk milimeter (mm H 2O), sentimeter (cm H 2O), meter, inci, dan kaki dari air • adat unit: • tidur, ton-force (pendek), ton-force (lama), pound-force, ons-force, dan poundalinci per persegi • ton-force (pendek), dan ton-force (lama) per inci persegi • non-SI unit metrik: • bar, decibar, milibar • kilogram-force, atau kilopond, per sentimeter persegi (tekanan atmosfer) • gram-force dan ton-force (ton-force metrik) per sentimeter persegi • Barye(dyne per sentimeter persegi) • kilogram-force dan ton-gaya per meter persegi • stheneper meter persegi (pieze) Contoh soal hukum pascal 1.

Alat pengangkat mobil yang memiliki luas pengisap masing-masing sebesar 0,10 m 2 dan 4 × 10 –4 m 2 digunakan untuk mengangkat mobil seberat 2 × 104 N. Berapakah besar gaya yang harus diberikan pada pengisap yang kecil?

Jawab : 2. Sebuah pompa hidrolik berbentuk silinder memiliki jari-jari 4 cm dan 20 cm. Jika pengisap kecil ditekan dengan gaya 200 N, berapakah gaya yang dihasilkan pada pengisap besar? Jawab : 3. Sebuah mobil hendak diangkat dengan menggunakan dongkrak hidrolik.

Bila pipa besar memiliki jari-jari 25 cm dan pipa kecil memilki jari-jari 2 cm. Berapa gaya yang harus diberikan pada pipa kecil bila berat mobil adalah 15.000 N? Jawab : Berdasarkan Hukum Pascal DAFTAR PUSTAKA • Azizah, S.

N. & Nur Rokhim. 2007. Acuan Pengayaan Fisika. Surakarta: PT.Nyata Grafik Media. • Aziz, Kharimul, 2008. Pompa Hidrolik. (http://kharimulaziz.blogspot.com/2009/04/pompa-hidrolik.html,21Mei2017). • Anonim, 2009. Prinsip Kerja Dongkrak Hidrolis. (http://www.fisikaasyik.com/home02/content/view/201/44/.html,diakses 21 Mei 2017). • Kanginan, Marthen. 2007. Fisika untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga. • Lohat, A.S.

2008. Prinsip Pascal. (http://www.gurumuda.com/prinsip-pascal.html, diakses 21 Mei 2017). • Resnick, Haliday. 1985. Fisika Jilid 1 Edisi Ketiga. Terjemahan. Jakarta: Erlangga. • Sanjaya. 2008. Berita Iptek. (http://berita-iptek.blogspot.com/2008/06/pompa-hidrolik.html, diakses 21 Mei 2017).

• Tipler, P. A. 1998. Fisika untuk Sains dan Teknik. Jakarta: Erlangga • Petrus, Ongga, Dkk. 2009. Konsepsi Mahasiswa Tentang Tekanan Hidrostatis.

Universitas Negeri Yogyakarta (Online) Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Fisika, IPA, SMP Ditag #penerapan Hukum Archimedes, 10 penerapan hukum pascal, bunyi hukum archimedes, bunyi hukum archimedes dan rumusnya, bunyi hukum hidrostatis, bunyi hukum pascal, contoh hukum archimedes, contoh hukum pascal, contoh soal hukum archimedes, contoh soal hukum pascal, contoh soal hukum pascal brainly, contoh soal hukum pascal smp, gambar hukum pascal, hukum archimedes, hukum hidrostatis, hukum pascal brainly, hukum pascal dan hukum boyle, hukum pascal dan penerapannya, hukum pascal ditemukan oleh, hukum pascal fluida, hukum pascal ruang guru, jelaskan prinsip hukum boyle, jelaskan tentang hukum stokes, kalor dapat berpindah dengan cara, kesimpulan hukum pascal, makalah hukum pascal, manfaat hukum archimedes, manfaat hukum pascal brainly, menjelaskan konsep dasar hukum archimedes, penemu hukum pascal, pengertian bunyi hukum hooke, pengertian dan contoh hukum pascal, pengertian hukum archimedes dan rumusnya, pengertian hukum hidrostatis, pengertian hukum pascal brainly, penurunan rumus hukum berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah, persamaan hukum pascal, praktek hukum pascal, prinsip archimedes, prinsip hukum pascal, rumus hukum archimedes, rumus hukum hidrostatis, rumus hukum pascal, rumus hukum pascal brainly, salah satu penerapan hukum archimedes adalah, sebutkan bunyi hukum bejana berhubungan, sejarah hukum pascal, sifat hukum pascal, sifat sifat kalor, soal hukum berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah, soal un hukum pascal sma, teori dasar hukum pascal, tuliskan bunyi hukum bernoulli dan rumusnya Navigasi pos Pos-pos Terbaru • Pengertian Kata Berimbuhan • Pengertian Coelentarata – Ciri, Habitat, Reproduksi, Klasifikasi, Cara Hidup, Peranan • Pengertian Gerakan Antagonistic – Macam, Sinergis, Tingkat, Anatomi, Struktur, Contoh • Pengertian Dinoflagellata – Ciri, Klasifikasi, Toksisitas, Macam, Fenomena, Contoh, Para Ahli • Pengertian Myxomycota – Ciri, Siklus, Klasifikasi, Susunan Tubuh, Daur Hidup, Contoh • “Panjang Usus” Definisi & ( Jenis – Fungsi – Menjaga ) • Pengertian Mahasiswa Menurut Para Ahli Beserta Peran Dan Fungsinya • “Masa Demokrasi Terpimpin” Sejarah Dan ( Latar Belakang – Pelaksanaan ) • Pengertian Sistem Regulasi Pada Manusia Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah Macam-Macamnya • Rangkuman Materi Jamur ( Fungi ) Beserta Penjelasannya • Contoh Soal Psikotes • Contoh CV Lamaran Kerja • Rukun Shalat • Kunci Jawaban Brain Out • Teks Eksplanasi • Teks Eksposisi • Teks Deskripsi • Teks Prosedur • Contoh Gurindam • Contoh Kata Pengantar • Contoh Teks Negosiasi • Alat Musik Ritmis • Tabel Periodik • Niat Mandi Wajib • Teks Laporan Hasil Observasi • Contoh Makalah • Alight Motion Pro • Alat Musik Melodis • 21 Contoh Paragraf Deduktif, Induktif, Campuran • 69 Contoh Teks Anekdot • Proposal • Gb WhatsApp • Contoh Daftar Riwayat Hidup • Naskah Drama • Memphisthemusical.Com• Afrikaans • Alemannisch • አማርኛ • Aragonés • العربية • مصرى • অসমীয়া • Asturianu • Aymar aru • Azərbaycanca • تۆرکجه • Башҡортса • Boarisch • Žemaitėška • Bikol Central • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • भोजपुरी • Bamanankan • বাংলা • བོད་ཡིག • Brezhoneg • Bosanski • Буряад • Català • Cebuano • ᏣᎳᎩ • کوردی • Čeština • Kaszëbsczi • Чӑвашла • Cymraeg • Dansk • Deutsch • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • Estremeñu • فارسی • Suomi • Võro • Føroyskt • Français • Arpetan • Nordfriisk • Furlan • Frysk • Gaeilge • Gagauz • Kriyòl gwiyannen • Gàidhlig • Galego • Avañe'ẽ • Gaelg • Hausa • 客家語/Hak-kâ-ngî • עברית • हिन्दी • Hrvatski • Kreyòl ayisyen • Magyar • Հայերեն • Interlingua • Interlingue • Igbo • Ilokano • Ido • Íslenska • ᐃᓄᒃᑎᑐᑦ/inuktitut • 日本語 • Patois • Jawa • ქართული • Kabɩyɛ • Қазақша • Kalaallisut • ភាសាខ្មែរ • ಕನ್ನಡ • 한국어 • कॉशुर / کٲشُر • Kurdî • Kernowek • Кыргызча • Latina • Ladino • Лезги • Lingua Franca Nova • Luganda • Limburgs • Ligure • Lombard • ລາວ • Lietuvių • Latgaļu • Latviešu • मैथिली • Basa Banyumasan • Malagasy • Македонски • മലയാളം • Монгол • ဘာသာ မန် • मराठी • Bahasa Melayu • Mirandés • မြန်မာဘာသာ • مازِرونی • Nāhuatl • Plattdüütsch • Nedersaksies • नेपाली • नेपाल भाषा • Li Niha • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Novial • Nouormand • Occitan • Ирон • ਪੰਜਾਬੀ • Pälzisch • Polski • پنجابی • پښتو • Português • Runa Simi • Rumantsch • Română • Armãneashti • Русский • Русиньскый • Ikinyarwanda • संस्कृतम् • Саха тыла • ᱥᱟᱱᱛᱟᱲᱤ • Sardu • Sicilianu • Scots • سنڌي • Srpskohrvatski / српскохрватски • සිංහල • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • ChiShona • Soomaaliga • Shqip • Српски / srpski • Seeltersk • Sunda • Svenska • Kiswahili • Ślůnski • Sakizaya • தமிழ் • తెలుగు • Tetun • Тоҷикӣ • ไทย • ትግርኛ • Türkmençe • Tagalog • Tok Pisin • Türkçe • Xitsonga • Татарча/tatarça • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Vèneto • Vepsän kel’ • Tiếng Việt • Walon • Winaray • 吴语 • IsiXhosa • მარგალური • ייִדיש • 中文 • 文言 • Bân-lâm-gú • 粵語 Pertanian Umum • Agribisnis • Agroindustri • Agronomi • Ilmu pertanian • Jelajah bebas • Kebijakan pertanian • Lahan usaha tani • Mekanisasi pertanian • Menteri Pertanian • Perguruan tinggi pertanian • Perguruan tinggi pertanian di Indonesia • Permakultur • Pertanian bebas ternak • Pertanian berkelanjutan • Pertanian ekstensif • Pertanian intensif • Pertanian organik • Pertanian urban • Peternakan • Peternakan pabrik • Wanatani Sejarah • Sejarah pertanian • Sejarah pertanian organik • Revolusi pertanian Arab • Revolusi pertanian Inggris • Revolusi hijau • Revolusi neolitik Tipe • Akuakultur • Akuaponik • Hewan ternak • Hidroponik • Penggembalaan hewan • Perkebunan • Peternakan babi • Peternakan domba • Peternakan susu • Peternakan unggas • Peladangan • Portal:Pertanian Gambaran klasik pertanian di Indonesia Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya.

[1] Kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa dipahami orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam serta pembesaran hewan ternak, meskipun cakupannya dapat pula berupa pemanfaatan mikroorganisme dan bio enzim dalam pengolahan produk lanjutan, seperti pembuatan keju dan tempe, atau sekadar ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi hutan. Bagian terbesar penduduk dunia bermata pencaharian dalam bidang-bidang di lingkup pertanian, namun pertanian hanya menyumbang 4% dari PDB dunia.

[2] Kelompok ilmu- ilmu pertanian mengkaji pertanian dengan dukungan ilmu-ilmu pendukungnya. Karena pertanian selalu terikat dengan ruang dan waktu, ilmu-ilmu pendukung, seperti ilmu tanah, meteorologi, teknik pertanian, biokimia, dan statistika juga dipelajari dalam pertanian.

Usaha tani adalah bagian inti dari pertanian karena menyangkut sekumpulan kegiatan yang dilakukan dalam budidaya. "Petani" adalah sebutan bagi mereka yang menyelenggarakan usaha tani, sebagai contoh "petani tembakau" atau "petani ikan". Pelaku budidaya hewan ternak secara khusus disebut sebagai peternak. Daftar isi • 1 Cakupan pertanian • 2 Sejarah singkat pertanian dunia • 3 Pertanian kontemporer • 4 Tenaga kerja • 4.1 Keamanan • 5 Sistem pembudidayaan tanaman • 6 Sistem produksi hewan • 7 Masalah lingkungan • 7.1 Masalah pada hewan ternak • 7.2 Masalah penggunaan lahan dan air • 7.3 Pestisida • 7.4 Perubahan iklim • 8 Energi dan pertanian • 8.1 Mitigasi kelangkaan bahan bakar fosil • 9 Ekonomi pertanian • 10 Lihat pula • 11 Referensi • 12 Pranala luar Cakupan pertanian [ sunting - sunting sumber ] Pertanian dalam pengertian yang luas mencakup semua kegiatan yang melibatkan pemanfaatan makhluk hidup (termasuk tanaman, hewan, dan mikrobia) untuk kepentingan manusia.

[3] Dalam arti sempit, pertanian diartikan sebagai kegiatan pembudidayaan tanaman. Usaha pertanian diberi nama khusus untuk subjek usaha tani tertentu. Kehutanan adalah usaha tani dengan subjek tumbuhan (biasanya pohon) dan diusahakan pada lahan yang setengah liar atau liar ( hutan).

Peternakan menggunakan subjek hewan darat kering (khususnya semua vertebrata kecuali ikan dan amfibia) atau serangga (misalnya lebah). Perikanan memiliki subjek hewan perairan (termasuk amfibia dan semua non-vertebrata air). Suatu usaha pertanian dapat melibatkan berbagai subjek ini bersama-sama dengan alasan efisiensi dan peningkatan keuntungan.

Pertimbangan akan kelestarian lingkungan mengakibatkan aspek-aspek konservasi sumber daya alam juga menjadi bagian dalam usaha pertanian. Semua usaha pertanian pada dasarnya adalah kegiatan ekonomi sehingga memerlukan dasar-dasar pengetahuan yang sama akan pengelolaan tempat usaha, pemilihan benih/ bibit, metode budidaya, pengumpulan hasil, distribusi produk, pengolahan dan pengemasan produk, dan pemasaran. Apabila seorang petani memandang semua aspek ini dengan pertimbangan efisiensi untuk mencapai keuntungan maksimal maka ia melakukan pertanian intensif ( intensive farming).

Usaha pertanian yang dipandang dengan cara ini dikenal sebagai agribisnis. Program dan kebijakan yang mengarahkan usaha pertanian ke cara pandang demikian dikenal sebagai intensifikasi. Karena pertanian industri selalu menerapkan pertanian intensif, keduanya sering kali disamakan. Sisi pertanian industrial yang memperhatikan lingkungannya adalah pertanian berkelanjutan ( sustainable agriculture).

Pertanian berkelanjutan, dikenal juga dengan variasinya seperti pertanian organik atau permakultur, memasukkan aspek kelestarian daya dukung lahan maupun lingkungan dan pengetahuan lokal sebagai faktor penting dalam perhitungan efisiensinya. Akibatnya, pertanian berkelanjutan biasanya memberikan hasil yang lebih rendah daripada pertanian industrial.

Pertanian modern masa kini biasanya menerapkan sebagian komponen dari kedua kutub "ideologi" pertanian yang disebutkan di atas. Selain keduanya, dikenal pula bentuk pertanian ekstensif (pertanian masukan rendah) yang dalam bentuk paling ekstrem dan tradisional akan berbentuk pertanian subsisten, yaitu hanya dilakukan tanpa motif bisnis dan semata hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri atau komunitasnya.

Sebagai suatu usaha, pertanian memiliki dua ciri penting: selalu melibatkan barang dalam volume besar dan proses produksi memiliki risiko yang relatif tinggi.

berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah

Dua ciri khas ini muncul karena pertanian melibatkan makhluk hidup dalam satu atau beberapa tahapnya dan memerlukan ruang untuk kegiatan itu serta jangka waktu tertentu dalam proses produksi.

Beberapa bentuk pertanian modern (misalnya budidaya alga, hidroponik) telah dapat mengurangi ciri-ciri ini tetapi sebagian besar usaha pertanian dunia masih tetap demikian. Sejarah singkat pertanian dunia [ sunting - sunting sumber ] Daerah " bulan sabit yang subur" di Timur Tengah.

Di tempat ini ditemukan bukti-bukti awal pertanian, seperti biji-bijian dan alat-alat pengolahnya. Domestikasi anjing diduga telah dilakukan bahkan pada saat manusia belum mengenal budidaya (masyarakat berburu dan peramu) dan merupakan kegiatan pemeliharaan dan pembudidayaan hewan yang pertama kali. Selain itu, praktik pemanfaatan hutan sebagai sumber bahan pangan diketahui sebagai agroekosistem yang tertua.

[4] Pemanfaatan hutan sebagai kebun diawali dengan kebudayaan berbasis hutan di sekitar sungai. Secara bertahap manusia mengidentifikasi pepohonan dan semak yang bermanfaat. Hingga akhirnya seleksi buatan oleh manusia terjadi dengan menyingkirkan spesies dan varietas yang buruk dan memilih yang baik.

berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah

{INSERTKEYS} [5] Kegiatan pertanian (budidaya tanaman dan ternak) merupakan salah satu kegiatan yang paling awal dikenal peradaban manusia dan mengubah total bentuk kebudayaan. Para ahli prasejarah umumnya bersepakat bahwa pertanian pertama kali berkembang sekitar 12.000 tahun yang lalu dari kebudayaan di daerah "bulan sabit yang subur" di Timur Tengah, yang meliputi daerah lembah Sungai Tigris dan Eufrat terus memanjang ke barat hingga daerah Suriah dan Yordania sekarang.

Bukti-bukti yang pertama kali dijumpai menunjukkan adanya budidaya tanaman biji-bijian ( serealia, terutama gandum kuno seperti emmer) dan polong-polongan di daerah tersebut. Pada saat itu, 2000 tahun setelah berakhirnya Zaman Es terakhir pada era Pleistosen, di dearah ini banyak dijumpai hutan dan padang yang sangat cocok bagi mulainya pertanian.

Pertanian telah dikenal oleh masyarakat yang telah mencapai kebudayaan batu muda ( neolitikum), perunggu dan megalitikum. Pertanian mengubah bentuk-bentuk kepercayaan, dari pemujaan terhadap dewa-dewa perburuan menjadi pemujaan terhadap dewa-dewa perlambang kesuburan dan ketersediaan pangan.

Pada 5300 tahun yang lalu di China, kucing didomestikasi untuk menangkap hewan pengerat yang menjadi hama di ladang. [6] Teknik budidaya tanaman lalu meluas ke barat ( Eropa dan Afrika Utara, pada saat itu Sahara belum sepenuhnya menjadi gurun) dan ke timur (hingga Asia Timur dan Asia Tenggara). Bukti-bukti di Tiongkok menunjukkan adanya budidaya jewawut ( millet) dan padi sejak 6000 tahun sebelum Masehi.

Masyarakat Asia Tenggara telah mengenal budidaya padi sawah paling tidak pada saat 3000 tahun SM dan Jepang serta Korea sejak 1000 tahun SM. Sementara itu, masyarakat benua Amerika mengembangkan tanaman dan hewan budidaya yang sejak awal sama sekali berbeda.

Hewan ternak yang pertama kali di domestikasi adalah kambing/ domba (7000 tahun SM) serta babi (6000 tahun SM), bersama-sama dengan domestikasi kucing. Sapi, kuda, kerbau, yak mulai dikembangkan antara 6000 hingga 3000 tahun SM. Unggas mulai dibudidayakan lebih kemudian. Ulat sutera diketahui telah diternakkan 2000 tahun SM. Budidaya ikan air tawar baru dikenal semenjak 2000 tahun yang lalu di daerah Tiongkok dan Jepang. Budidaya ikan laut bahkan baru dikenal manusia pada abad ke-20 ini.

Budidaya sayur-sayuran dan buah-buahan juga dikenal manusia telah lama. Masyarakat Mesir Kuno (4000 tahun SM) dan Yunani Kuno (3000 tahun SM) telah mengenal baik budidaya anggur dan zaitun. Tanaman serat didomestikasikan di saat yang kurang lebih bersamaan dengan domestikasi tanaman pangan. China mendomestikasikan ganja sebagai penghasil serat untuk membuat papan, tekstil, dan sebagainya; kapas didomestikasikan di dua tempat yang berbeda yaitu Afrika dan Amerika Selatan; di Timur Tengah dibudidayakan flax.

[7] Penggunaan nutrisi untuk mengkondisikan tanah seperti pupuk kandang, kompos, dan abu telah dikembangkan secara independen di berbagai tempat di dunia, termasuk Mesopotamia, Lembah Nil, dan Asia Timur. [8] Pertanian kontemporer [ sunting - sunting sumber ] Citra inframerah pertanian di Minnesota. Tanaman sehat berwarna merah, genangan air berwarna hitam, dan lahan penuh pestisida berwarna coklat Pertanian pada abad ke 20 dicirikan dengan peningkatan hasil, penggunaan pupuk dan pestisida sintetik, pembiakan selektif, mekanisasi, pencemaran air, dan subsidi pertanian.

Pendukung pertanian organik seperti Sir Albert Howard berpendapat bahwa di awal abad ke 20, penggunaan pestisida dan pupuk sintetik yang berlebihan dan secara jangka panjang dapat merusak kesuburan tanah. Pendapat ini drman selama puluhan tahun, hingga kesadaran lingkungan meningkat di awal abad ke 21 menyebabkan gerakan pertanian berkelanjutan meluas dan mulai dikembangkan oleh petani, konsumen, dan pembuat kebijakan.

Sejak tahun 1990-an, terdapat perlawanan terhadap efek lingkungan dari pertanian konvensional, terutama mengenai pencemaran air, [9] menyebabkan tumbuhnya gerakan organik. Salah satu penggerak utama dari gerakan ini adalah sertifikasi bahan pangan organik pertama di dunia, yang dilakukan oleh Uni Eropa pada tahun 1991, dan mulai mereformasi Kebijakan Pertanian Bersama Uni Eropa pada tahun 2005.

[10] Pertumbuhan pertanian organik telah memperbarui penelitian dalam teknologi alternatif seperti manajemen hama terpadu dan pembiakan selektif. Perkembangan teknologi terkini yang dipergunakan secara luas yaitu bahan pangan termodifikasi secara genetik. Di akhir tahun 2007, beberapa faktor mendorong peningkatan harga biji-bijian yang dikonsumsi manusia dan hewan ternak, menyebabkan peningkatan harga gandum (hingga 58%), kedelai (hingga 32%), dan jagung (hingga 11%) dalam satu tahun.

Kontribusi terbesar ada pada peningkatan permintaan biji-bijian sebagai bahan pakan ternak di Cina dan India, dan konversi biji-bijian bahan pangan menjadi produk biofuel. [11] [12] Hal ini menyebabkan kerusuhan dan demonstrasi yang menuntut turunnya harga pangan. [13] [14] [15] International Fund for Agricultural Development mengusulkan peningkatan pertanian skala kecil dapat menjadi solusi untuk meningkatkan suplai bahan pangan dan juga ketahanan pangan.

Visi mereka didasarkan pada perkembangan Vietnam yang bergerak dari importir makanan ke eksportir makanan, dan mengalami penurunan angka kemiskinan secara signifikan dikarenakan peningkatan jumlah dan volume usaha kecil di bidang pertanian di negara mereka.

[16] Sebuah epidemi yang disebabkan oleh fungi Puccinia graminis pada tanaman gandum menyebar di Afrika hingga ke Asia. [17] [18] [19] Diperkirakan 40% lahan pertanian terdegradasi secara serius. [20] Di Afrika, kecenderungan degradasi tanah yang terus berlanjut dapat menyebabkan lahan tersebut hanya mampu memberi makan 25% populasinya. [21] Pada tahun 2009, China merupakan produsen hasil pertanian terbesar di dunia, diikuti oleh Uni Eropa, India, dan Amerika Serikat, berdasarkan IMF.Pakar ekonomi mengukur total faktor produktivitas pertanian dan menemukan bahwa Amerika Serikat saat ini 1.7 kali lebih produktif dibandingkan dengan tahun 1948.

[22] Enam negara di dunia, yaitu Amerika Serikat, Kanada, Prancis, Australia, Argentina, dan Thailand mensuplai 90% biji-bijian bahan pangan yang diperdagangkan di dunia. [23] Defisit air yang terjadi telah meningkatkan impor biji-bijian di berbagai negara berkembang, [24] dan kemungkinan juga akan terjadi di negara yang lebih besar seperti China dan India.

[25] Tenaga kerja [ sunting - sunting sumber ] Pada tahun 2011, International Labour Organization (ILO) menyatakan bahwa setidaknya terdapat 1 miliar lebih penduduk yang bekerja di bidang sektor pertanian. Pertanian menyumbang setidaknya 70% jumlah pekerja anak-anak, dan di berbagai negara sejumlah besar wanita juga bekerja di sektor ini lebih banyak dibandingkan dengan sektor lainnya. [26] Hanya sektor jasa yang mampu mengungguli jumlah pekerja pertanian, yaitu pada tahun 2007.

Antara tahun 1997 dan 2007, jumlah tenaga kerja di bidang pertanian turun dan merupakan sebuah kecenderungan yang akan berlanjut. [27] Jumlah pekerja yang dipekerjakan di bidang pertanian bervariasi di berbagai negara, mulai dari 2% di negara maju seperti Amerika Serikat dan Kanada, hingga 80% di berbagai negara di Afrika.

[28] Di negara maju, angka ini secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan abad sebelumnya. Pada abad ke 16, antara 55 hingga 75 persen penduduk Eropa bekerja di bidang pertanian.

Pada abad ke 19, angka ini turun menjadi antara 35 hingga 65 persen. [29] Angka ini sekarang turun menjadi kurang dari 10%. [28] Keamanan [ sunting - sunting sumber ] Batang pelindung risiko tergulingnya traktor dipasang di belakang kursi pengemudi Pertanian merupakan industri yang berbahaya. Petani di seluruh dunia bekerja pada risiko tinggi terluka, penyakit paru-paru, hilangnya pendengaran, penyakit kulit, juga kanker tertentu karena penggunaan bahan kimia dan paparan cahaya matahari dalam jangka panjang.

Pada pertanian industri, luka secara berkala terjadi pada penggunaan alat dan mesin pertanian, dan penyebab utama luka serius. [30] Pestisida dan bahan kimia lainnya juga membahayakan kesehatan. Pekerja yang terpapar pestisida secara jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan fertilitas. [31] Di negara industri dengan keluarga yang semuanya bekerja pada lahan usaha tani yang dikembangkannya sendiri, seluruh keluarga tersebut berada pada risiko.

[32] Penyebab utama kecelakaan fatal pada pekerja pertanian yaitu tenggelam dan luka akibat permesinan. [32] ILO menyatakan bahwa pertanian sebagai salah satu sektor ekonomi yang membahayakan tenaga kerja. [26] Diperkirakan bahwa kematian pekerja di sektor ini setidaknya 170 ribu jiwa per tahun. Berbagai kasus kematian, luka, dan sakit karena aktivitas pertanian sering kali tidak dilaporkan sebagai kejadian akibat aktivitas pertanian.

[33] ILO telah mengembangkan Konvensi Kesehatan dan Keselamatan di bidang Pertanian, 2001, yang mencakup risiko pada pekerjaan di bidang pertanian, pencegahan risiko ini, dan peran dari individu dan organisasi terkait pertanian. [26] Sistem pembudidayaan tanaman [ sunting - sunting sumber ] Budi daya padi di Bihar, India Sistem pertanaman dapat bervariasi pada setiap lahan usaha tani, tergantung pada ketersediaan sumber daya dan pembatas; geografi dan iklim; kebijakan pemerintah; tekanan ekonomi, sosial, dan politik; dan filosofi dan budaya petani.

[34] [35] Pertanian berpindah ( tebang dan bakar) adalah sistem di mana hutan dibakar. Nutrisi yang tertinggal di tanah setelah pembakaran dapat mendukung pembudidayaan tumbuhan semusim dan menahun untuk beberapa tahun.

[36] Lalu petak tersebut ditinggalkan agar hutan tumbuh kembali dan petani berpindah ke petak hutan berikutnya yang akan dijadikan lahan pertanian. Waktu tunggu akan semakin pendek ketika populasi petani meningkat, sehingga membutuhkan input nutrisi dari pupuk dan kotoran hewan, dan pengendalian hama.

Pembudidayaan semusim berkembang dari budaya ini. Petani tidak berpindah, namun membutuhkan intensitas input pupuk dan pengendalian hama yang lebih tinggi. Industrialisasi membawa pertanian monokultur di mana satu kultivar dibudidayakan pada lahan yang sangat luas. Karena tingkat keanekaragaman hayati yang rendah, penggunaan nutrisi cenderung seragam dan hama dapat terakumulasi pada halah tersebut, sehingga penggunaan pupuk dan pestisida meningkat.

[35] Di sisi lain, sistem tanaman rotasi menumbuhkan tanaman berbeda secara berurutan dalam satu tahun. Tumpang sari adalah ketika tanaman yang berbeda ditanam pada waktu yang sama dan lahan yang sama, yang disebut juga dengan polikultur. [36] Di lingkungan subtropis dan gersang, preiode penanaman terbatas pada keberadaan musim hujan sehingga tidak dimungkinkan menanam banyak tanaman semusim bergiliran dalam setahun, atau dibutuhkan irigasi.

Di semua jenis lingkungan ini, tanaman menahun seperti kopi dan kakao dan praktik wanatani dapat tumbuh. Di lingkungan beriklim sedang di mana padang rumput dan sabana banyak tumbuh, praktik budidaya tanaman semusim dan penggembalaan hewan dominan.

[36] Sistem produksi hewan [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Peternakan, Budi daya perikanan, dan Hewan ternak Sistem produksi hewan ternak dapat didefinisikan berdasarkan sumber pakan yang digunakan, yang terdiri dari peternakan berbasis penggembalaan, sistem kandang penuh, dan campuran.

[37] Pada tahun 2010, 30 persen lahan di dunia digunakan untuk memproduksi hewan ternak dengan mempekerjakan lebih 1.3 miliar orang. Antara tahun 1960-an sampai 2000-an terjadi peningkatan produksi hewan ternak secara signifikan, dihitung dari jumlah maupun massa karkas, terutama pada produksi daging sapi, daging babi, dan daging ayam. Produksi daging ayam pada periode tersebut meningkat hingga 10 kali lipat. Hasil hewan non-daging seperti susu sapi dan telur ayam juga menunjukan peningkatan yang signifikan.

Populasi sapi, domba, dan kambing diperkirakan akan terus meningkat hingga tahun 2050. [38] Budi daya perikanan adalah produksi ikan dan hewan air lainnya di dalam lingkungan yang terkendali untuk konsumsi manusia. Sektor ini juga termasuk yang mengalami peningkatan hasil rata-rata 9 persen per tahun antara tahun 1975 hingga tahun 2007.

[39] Selama abad ke-20, produsen hewan ternak dan ikan menggunakan pembiakan selektif untuk menciptakan ras hewan dan hibrida yang mampu meningkatkan hasil produksi, tanpa memperdulikan keinginan untuk mempertahankan keanekaragaman genetika.

Kecenderungan ini memicu penurunan signifikan dalam keanekaragaman genetika dan sumber daya pada ras hewan ternak, yang menyebabkan berkurangnya resistansi hewan ternak terhadap penyakit. Adaptasi lokal yang sebelumnya banyak terdapat pada hewan ternak ras setempat juga mulai menghilang. [40] Produksi hewan ternak berbasis penggembalaan amat bergantung pada bentang alam seperti padang rumput dan sabana untuk memberi makan hewan ruminansia.

Kotoran hewan menjadi input nutrisi utama bagi vegetasi tersebut, namun input lain di luar kotoran hewan dapat diberikan tergantung kebutuhan. Sistem ini penting di daerah di mana produksi tanaman pertanian tidak memungkinkan karena kondisi iklim dan tanah. [36] Sistem campuran menggunakan lahan penggembalaan sekaligus pakan buatan yang merupakan hasil pertanian yang diolah menjadi pakan ternak. [37] Sistem kandang memelihara hewan ternak di dalam kandang secara penuh dengan input pakan yang harus diberikan setiap hari.

Pengolahan kotoran ternak dapat menjadi masalah pencemaran udara karena dapat menumpuk dan melepaskan gas metan dalam jumlah besar. [37] Negara industri menggunakan sistem kandang penuh untuk mensuplai sebagian besar daging dan produk peternakan di dalam negerinya. Diperkirakan 75% dari seluruh peningkatan produksi hewan ternak dari tahun 2003 hingga 2030 akan bergantung pada sistem produksi peternakan pabrik. Sebagian besar pertumbuhan ini akan terjadi di negara yang saat ini merupakan negara berkembang di Asia, dan sebagian kecil di Afrika.

[38] Beberapa praktik digunakan dalam produksi hewan ternak komersial seperti penggunaan hormon pertumbuhan menjadi kontroversi di berbagai tempat di dunia. [41] Masalah lingkungan [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Dampak lingkungan dari pertanian Pertanian mampu menyebabkan masalah melalui pestisida, arus nutrisi, penggunaan air berlebih, hilangnya lingkungan alam, dan masalah lainnya. Sebuah penilaian yang dilakukan pada tahun 2000 di Inggris menyebutkan total biaya eksternal untuk mengatasi permasalahan lingkungan terkait pertanian adalah 2343 juta Poundsterling, atau 208 Poundsterling per hektare.

[42] Sedangkan di Amerika Serikat, biaya eksternal untuk produksi tanaman pertaniannya mencapai 5 hingga 16 miliar US Dollar atau 30-96 US Dollar per hektare, dan biaya eksternal produksi peternakan mencapai 714 juta US Dollar. [43] Kedua studi fokus pada dampak fiskal, yang menghasilkan kesimpulan bahwa begitu banyak hal yang harus dilakukan untuk memasukkan biaya eksternal ke dalam usaha pertanian.

Keduanya tidak memasukkan subsidi di dalam analisisnya, namun memberikan catatan bahwa subsidi pertanian juga membawa dampak bagi masyarakat.

[42] [43] Pada tahun 2010, International Resource Panel dari UNEP mempublikasikan laporan penilaian dampak lingkungan dari konsumsi dan produksi. Studi tersebut menemukan bahwa pertanian dan konsumsi bahan pangan adalah dua hal yang memberikan tekanan pada lingkungan, terutama degradasi habitat, perubahan iklim, penggunaan air, dan emisi zat beracun. [44] Masalah pada hewan ternak [ sunting - sunting sumber ] PBB melaporkan bahwa "hewan ternak merupakan salah satu penyumbang utama masalah lingkungan".

[45] 70% lahan pertanian dunia digunakan untuk produksi hewan ternak, secara langsung maupun tidak langsung, sebagai lahan penggembalaan maupun lahan untuk memproduksi pakan ternak. Jumlah ini setara dengan 30% total lahan di dunia. Hewan ternak juga merupakan salah satu penyumbang gas rumah kaca berupa gas metana dan nitro oksida yang, meski jumlahnya sedikit, namun dampaknya setara dengan emisi total CO 2.

Hal ini dikarenakan gas metana dan nitro oksida merupakan gas rumah kaca yang lebih kuat dibandingkan CO 2. Peternakan juga didakwa sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya deforestasi. 70% basin Amazon yang sebelumnya merupakan hutan kini menjadi lahan penggembalaan hewan, dan sisanya menjadi lahan produksi pakan. [46] Selain deforestasi dan degradasi lahan, budi daya hewan ternak yang sebagian besar berkonsep ras tunggal juga menjadi pemicu hilangnya keanekaragaman hayati.

Masalah penggunaan lahan dan air [ sunting - sunting sumber ] Lihat pula: Dampak lingkungan dari irigasi Transformasi lahan menuju penggunaannya untuk menghasilkan barang dan jasa adalah cara yang paling substansial bagi manusia dalam mengubah ekosistem bumi, dan dikategrikan sebagai penggerak utama hilangnya keanekaragaman hayati.

Diperkirakan jumlah lahan yang diubah oleh manusia antara 39%-50%. [47] Degradasi lahan, penurunan fungsi dan produktivitas ekosistem jangka panjang, diperkirakan terjadi pada 24% lahan di dunia. [48] Laporan FAO menyatakan bahwa manajemen lahan sebagai penggerak utama degradasi dan 1.5 miliar orang bergantung pada lahan yang terdegradasi. Deforestasi, desertifikasi, erosi tanah, kehilangan kadar mineral, dan salinisasi adalah contoh bentuk degradasi tanah.

[36] Eutrofikasi adalah peningkatan populasi alga dan tumbuhan air di ekosistem perairan akibat aliran nutrisi dari lahan pertanian. Hal ini mampu menyebabkan hilangnya kadar oksigen di air ketika jumlah alga dan tumbuhan air yang mati dan membusuk di perairan bertambah dan dekomposisi terjadi.

Hal ini mampu menyebabkan kebinasaan ikan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan menjadikan air tidak bisa digunakan sebagai air minum dan kebutuhan masyarakat dan industri. Penggunaan pupuk berlebihan di lahan pertanian yang diikuti dengan aliran air permukaan mampu menyebabkan nutrisi di lahan pertanian terkikis dan mengalir terbawa menuju ke perairan terdekat. Nutrisi inilah yang menyebabkan eutrofikasi. [49] Pertanian memanfaatkan 70% air tawar yang diambil dari berbagai sumber di seluruh dunia.

[50] Pertanian memanfaatkan sebagian besar air di akuifer, bahkan mengambilnya dari lapisan air tanah dalam laju yang tidak dapat dikembalikan ( unsustainable). Telah diketahui bahwa berbagai akuifer di berbagai tempat padat penduduk di seluruh dunia, seperti China bagian utara, sekitar Sungai Ganga, dan wilayah barat Amerika Serikat, telah berkurang jauh, dan penelitian mengenai ini sedang dilakukan di akuifer di Iran, Meksiko, dan Arab Saudi.

[51] Tekanan terhadap konservasi air terus terjadi dari sektor industri dan kawasan urban yang terus mengambil air secara tidak lestari, sehingga kompetisi penggunaan air bagi pertanian meningkat dan tantangan dalam memproduksi bahan pangan juga demikian, terutama di kawasan yang langka air.

[52] Penggunaan air di pertanian juga dapat menjadi penyebab masalah lingkungan, termasuk hilangnya rawa, penyebaran penyakit melalui air, dan degradasi lahan seperti salinisasi tanah ketika irigasi tidak dilakukan dengan baik. [53] Pestisida [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Dampak lingkungan dari pestisida Penggunaan pestisida telah meningkat sejak tahun 1950-an, menjadi 2.5 juta ton per tahun di seluruh dunia. Namun tingkat kehilangan produksi pertanian tetap terjadi dalam jumlah yang relatif konstan.

[54] WHO memperkirakan pada tahun 1992 bahwa 3 juta manusia keracunan pestisida setiap tahun dan menyebabkan kematian 200 ribu jiwa.

[55] Pestisida dapat menyebabkan resistansi pestisida pada populasi hama sehingga pengembangan pestisida baru terus berlanjut. [56] Argumen alernatif dari masalah ini adalah pestisida merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produksi pangan pada lahan yang terbatas, sehingga dapat menumbuhkan lebih banyak tanaman pertanian pada lahan yang lebih sempit dan memberikan ruang lebih banyak bagi alam liar dengan mencegah perluasan lahan pertanian lebih ekstensif. [57] [58] Namun berbagai kritik berkembang bahwa perluasan lahan yang mengorbankan lingkungan karena peningkatan kebutuhan pangan tidak dapat dihindari, [59] dan pestisida hanya menggantikan praktik pertanian yang baik yang ada seperti rotasi tanaman.

[56] Rotasi tanaman mencegah penumpukan hama yang sama pada satu lahan sehingga hama diharapkan menghilang setelah panen dan tidak datang kembali karena tanaman yang ditanam tidak sama dengan yang sebelumnya. Perubahan iklim [ sunting - sunting sumber ] Lihat pula: Perubahan iklim dan pertanian Pertanian adalah salah satu yang mempengaruhi perubahan iklim, dan perubahan iklim memiliki dampak bagi pertanian. Perubahan iklim memiliki pengaruh bagi pertanian melalui perubahan temperatur, hujan (perubahan periode dan kuantitas), kadar karbon dioksida di udara, radiasi matahari, dan interaksi dari semua elemen tersebut.

[36] Kejadian ekstrem seperti kekeringan dan banjir diperkirakan meningkat akibat perubahan iklim. [60] Pertanian merupakan sektor yang paling rentan terhadap perubahan iklim.

Suplai air akan menjadi hal yang kritis untuk menjaga produksi pertanian dan menyediakan bahan pangan. Fluktuasi debit sungai akan terus terjadi akibat perubahan iklim. Negara di sekitar sungai Nil sudah mengalami dampak fluktuasi debit sungai yang mempengaruhi hasil pertanian musiman yang mampu mengurangi hasil pertanian hingga 50%.

[61] Pendekatan yang bersifat mengubah diperlukan untuk mengelola sumber daya alam pada masa depan, seperti perubahan kebijakan, metode praktik, dan alat untuk mempromosikan pertanian berbasis iklim dan lebih banyak menggunakan informasi ilmiah dalam menganalisis risiko dan kerentanan akibat perubahan iklim. [62] [63] Pertanian dapat memitigasi sekaligus memperburuk pemanasan global. Beberapa dari peningkatan kadar karbon dioksida di atmosfer bumi dikarenakan dekomposisi materi organik yang berada di tanah, dan sebagian besar gas metanan yang dilepaskan ke atmosfer berasal dari aktivitas pertanian, termasuk dekomposisi pada lahan basah pertanian seperti sawah, [64] dan aktivitas digesti hewan ternak.

Tanah yang basah dan anaerobik mampu menyebabkan denitrifikasi dan hilangnya nitrogen dari tanah, menyebabkan lepasnya gas nitrat oksida dan nitro oksida ke udara yang merupakan gas rumah kaca. [65] Perubahan metode pengelolaan pertanian mampu mengurangi pelepasan gas rumah kaca ini, dan tanah dapat difungsikan kembali sebagai fasilitas sekuestrasi karbon. [64] Energi dan pertanian [ sunting - sunting sumber ] Sejak tahun 1940, produktivitas pertanian meningkat secara signifikan dikarenakan penggunaan energi yang intensif dari aktivitas mekanisasi pertanian, pupuk, dan pestisida.

Input energi ini sebagian besar berasal dari bahan bakar fosil. [66] Revolusi Hijau mengubah pertanian di seluruh dunia dengan peningkatan produksi biji-bijian secara signifikan, [67] dan kini pertanian modern membutuhkan input minyak bumi dan gas alam untuk sumber energi dan produksi pupuk.

Telah terjadi kekhawatiran bahwa kelangkaan energi fosil akan menyebabkan tingginya biaya produksi pertanian sehingga mengurangi hasil pertanian dan kelangkaan pangan. [68] Rasio konsumsi energi pada pertanian dan sistem pangan (%) pada tiga negara maju Negara Tahun Pertanian (secara langsung & tidak langsung) Sistem pangan Britania Raya [69] 2005 1.9 11 Amerika Serikat [70] 1996 2.1 10 Amerika Serikat [71] 2002 2.0 14 Swedia [72] 2000 2.5 13 Negara industri bergantung pada bahan bakar fosil secara dua hal, yaitu secara langsung dikonsumsi sebagai sumber energi di pertanian, dan secara tidak langsung sebagai input untuk manufaktur pupuk dan pestisida.

Konsumsi langsung dapat mencakup penggunaan pelumas dalam perawatan permesinan, dan fluida penukar panas pada mesin pemanas dan pendingin. Pertanian di Amerika Serikat mengkonsumsi sektar 1.2 eksajoule pada tahun 2002, yang merupakan 1% dari total energi yang dikonsumsi di negara tersebut.

[68] Konsumsi tidak langsung yaitu sebagai manufaktur pupuk dan pestisida yang mengkonsumsi bahan bakar fosil setara 0.6 eksajoule pada tahun 2002. [68] Gas alam dan batu bara yang dikonsumsi melalui produksi pupuk nitrogen besarnya setara dengan setengah kebutuhan energi di pertanian. China mengkonsumsi batu bara untuk produksi pupuk nitrogennya, sedangkan sebagian besar negara di Eropa menggunakan gas alam dan hanya sebagian kecil batu bara. Berdasarkan laporan pada tahun 2010 yang dipublikasikan oleh The Royal Society, ketergantungan pertanian terhadap bahan bakar fosil terjadi secara langsung maupun tidak langsung.

Bahan bakar yang digunakan di pertanian dapat bervariasi tergantung pada beberapa faktor seperti jenis tanaman, sistem produksi, dan lokasi.

[73] Energi yang digunakan untuk produksi alat dan mesin pertanian juga merupakan salah satu bentuk penggunaan energi di pertanian secara tidak pangsung. Sistem pangan mencakup tidak hanya pada produksi pertanian, namun juga pemrosesan setelah hasil pertanian keluar dari lahan usaha tani, pengepakan, transportasi, pemasaran, konsumsi, dan pembuangan dan pengolahan sampah makanan. Energi yang digunakan pada sistem pangan ini lebih tinggi dibandingkan penggunaan energi pada produksi hasil pertanian, dapat mencapai lima kali lipat.

[70] [71] Pada tahun 2007, insentif yang lebih tinggi bagi petani penanam tanaman non-pangan penghasil biofuel [74] ditambah dengan faktor lain seperti pemanfaatan kembali lahan tidur yang kurang subur, peningkatan biaya transportasi, perubahan iklim, peningkatan jumlah konsumen, dan peningkatan penduduk dunia, [75] menyebabkan kerentanan pangan dan peningkatan harga pangan di berbagai tempat di dunia. [76] [77] Pada Desember 2007, 37 negara di dunia menghadapi krisis pangan, dan 20 negara telah menghadapi peningkatan harga pangan di luar kendali, yang dikenal dengan kasus krisis harga pangan dunia 2007-2008.

Kerusuhan akibat menuntut turunnya harga pangan terjadi di berbagai tempat hingga menyebabkan korban jiwa. [13] [14] [15] Mitigasi kelangkaan bahan bakar fosil [ sunting - sunting sumber ] Prediksi M. King Hubbert mengenai laju produksi minyak bumi dunia. Pertanian modern sangat bergantung pada energi fosil ini. [78] Pada kelangkaan bahan bakar fosil, pertanian organik akan lebih diprioritaskan dibandingkan dengan pertanian konvensional yang menggunakan begitu banyak input berbasis minyak bumi seperti pupuk dan pestisida.

Berbagai studi mengenai pertanian organik modern menunjukan bahwa hasil pertanian organik sama besarnya dengan pertanian konvensional. [79] Kuba pasca runtuhnya Uni Soviet mengalami kelangkaan input pupuk dan pestisida kimia sehingga usaha pertanian di negeri tersebut menggunakan praktik organik dan mampu memberi makan populasi penduduknya. [80] Namun pertanian organik akan membutuhkan lebih banyak tenaga kerja dan jam kerja.

[81] Perpindahan dari praktik monokultur ke pertanian organik juga membutuhkan waktu, terutama pengkondisian tanah [79] untuk membersihkan bahan kimia berbahaya yang tidak sesuai dengan standar bahan pangan organik.

Komunitas pedesaan bisa memanfaatkan biochar dan synfuel yang menggunakan limbah pertanian untuk diolah menjadi pupuk dan energi, sehingga bisa mendapatkan bahan bakar dan bahan pangan sekaligus, dibandingkan dengan persaingan bahan pangan vs bahan bakar yang masih terjadi hingga saat ini.

Synfuel dapat digunakan di tempat; prosesnya akan lebih efisien dan mampu menghasilkan bahan bakar yang cukup untuk seluruh aktivitas pertanian organik. [82] [83] Ketika bahan pangan termodifikasi genetik (GMO) masih dikritik karena benih yang dihasilkan bersifat steril sehingga tidak mampu direproduksi oleh petani [84] [85] dan hasilnya dianggap berbahaya bagi manusia, telah diusulkan agar tanaman jenis ini dikembangkan lebih lanjut dan digunakan sebagai penghasil bahan bakar, karena tanaman ini mampu dimodifikasi untuk menghasilkan lebih banyak dengan input energi yang lebih sedikit.

[86] Namun perusahaan utama penghasil GMO sendiri, Monsanto, tidak mampu melaksanakan proses produksi pertanian berkelanjutan dengan tanaman GMO lebih dari satu tahun.

Di saat yang bersamaan, praktik pertanian dengan memanfaatkan ras tradisional menghasilkan lebih banyak pada jenis tanaman yang sama dan dilakukan secara berkelanjutan. [87] Ekonomi pertanian [ sunting - sunting sumber ] Lihat pula: Subsidi pertanian dan Ekonomi pedesaan Ekonomi pertanian adalah aktivitas ekonomi yang terkait dengan produksi, distribusi, dan konsumsi produk dan jasa pertanian.

[88] Mengkombinasikan produksi pertanian dengan teori umum mengenai pemasaran dan bisnis adalah sebuah disiplin ilmu yang dimulai sejak akhir abad ke 19, dan terus bertumbuh sepanjang abad ke-20.

[89] Meski studi mengenai pertanian terbilang baru, berbagai kecenderungan utama di bidang pertanian seperti sistem bagi hasil pasca Perang Saudara Amerika Serikat hingga sistem feodal yang pernah terjadi di Eropa, telah secara signifikan mempengaruhi aktivitas ekonomi suatu negara dan juga dunia. [90] [91] Di berbagai tempat, harga pangan yang dipengaruhi oleh pemrosesan pangan, distribusi, dan pemasaran pertanian telah tumbuh dan biaya harga pangan yang dipengaruhi oleh aktivitas pertanian di atas lahan telah jauh berkurang efeknya.

Hal ini terkait dengan efisiensi yang begitu tinggi dalam bidang pertanian dan dikombinasikan dengan peningkatan nilai tambah melalui pemrosesan bahan pangan dan strategi pemasaran. Konsentrasi pasar juga telah meningkat di sektor ini yang dapat meningkatkan efisiensi. Namun perubahan ini mampu mengakibatkan perpindahan surplus ekonomi dari produsen (petani) ke konsumen, dan memiliki dampak yang negatif bagi komunitas pedesaan.

[92] Digitalisasi perlu untuk merespon keterbatasan tenaga kerja dan juga meningkatkan efisiensi yang mampu meningkatkan produktivitas bisnis, value, produk dan konsumen baru men-distruptive teknologi budidaya konvensional. Baik selama proses bahkan hingga memasarkan produk pertanian, digitalisasi begitu efisien.

Perlahan, para petani tidak gagap teknologi digital, dan bahkan bisa meningkatkan produkvitas sektor pertanian, hal ini tentu masih banyak tugas untuk mewujudkan petani menjadi petani digital. [93] Kebijakan pemerintah suatu negara dapat mempengaruhi secara signifikan pasar produk pertanian, dalam bentuk pemberian pajak, subsidi, tarif, dan bea lainnya. [94] Sejak tahun 1960-an, kombinasi pembatasan ekspor impor, kebijakan nilai tukar, dan subsidi mempengaruhi pertanian di negara berkembang dan negara maju.

Pada tahun 1980-an, para petani di negara berkembang yang tidak mendapatkan subsidi akan kalah bersaing dikarenakan kebijakan di berbagai negara yang menyebabkan rendahnya harga bahan pangan. Di antara tahun 1980-an dan 2000-an, beberapa negara di dunia membuat kesepakatan untuk membatasi tarif, subsidi, dan batasan perdagangan lainnya yang diberlakukan di dunia pertanian. [95] Namun pada tahun 2009, masih terdapat sejumlah distorsi kebijakan pertanian yang mempengaruhi harga bahan pangan.

Tiga komoditas yang sangat terpengaruh adalah gula, susu, dan beras, yang terutama karena pemberlakuan pajak. Wijen merupakan biji-bijian penghasil minyak yang terkena pajak paling tinggi meski masih lebih rendah dibandingkan pajak produk peternakan. [96] Namun subsidi kapas masih terjadi di negara maju yang telah menyebabkan rendahnya harga di tingkat dunia dan menekan petani kapas di negara berkembang yang tidak disubsidi.

[97] Komoditas mentah seperti jagung dan daging sapi umumnya diharga berdasarkan kualitasnya, dan kualitas menentukan harga. Komoditas yang dihasilkan di suatu wilayah dilaporkan dalam bentuk volume produksi atau berat. [98] Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • ^ Safety and health in agriculture. International Labour Organization. 1999. ISBN 978-92-2-111517-5 . Diakses tanggal 13 September 2010. • ^ Harahap, Fitra Syawal (2021). Dasar-dasar Agronomi Pertanian. Mitra Cendekia Media.

hlm. 2. ISBN 9786236957851. • ^ Lamangida, Saiman (2021). "DEKAN HADIRI PENANDA TANGANAN IMPLEMENTASI KERJASAMA JURUSAN PETERNAKAN DENGAN DINAS PERTANIAN PROVINSI GORONTALO". ung.ac.id . Diakses tanggal 2022-01-04. • ^ Douglas John McConnell (2003). The Forest Farms of Kandy: And Other Gardens of Complete Design. hlm. 1. ISBN 978-0-7546-0958-2. • ^ Douglas John McConnell (1992). The forest-garden farms of Kandy, Sri Lanka. hlm. 1. ISBN 978-92-5-102898-8. • ^ "Kucing Piaraan Tertua di Dunia Ditemukan".

Kompas. 17 Desember 2013. • ^ Hancock, James F. (2012). Plant evolution and the origin of crop species (edisi ke-3rd). CABI. hlm. 119. ISBN 1845938011. • ^ UN Industrial Development Organization, International Fertilizer Development Center (1998).

The Fertilizer Manual (edisi ke-3rd). Springer. hlm. 46. ISBN 0792350324. • ^ Scheierling, Susanne M. (1995). "Overcoming agricultural pollution of water : the challenge of integrating agricultural and environmental policies in the European Union, Volume 1". The World Bank. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-06-05 . Diakses tanggal 2013-04-15. • ^ "CAP Reform". European Commission. 2003 .

Diakses tanggal 2013-04-15. • ^ "At Tyson and Kraft, Grain Costs Limit Profit". The New York Times. Bloomberg. 6 September 2007. • ^ McMullen, Alia (7 January 2008). "Forget oil, the new global crisis is food". Financial Post. Toronto. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-11-13 . Diakses tanggal 2013-11-13. • ^ a b Watts, Jonathan (4 December 2007).

"Riots and hunger feared as demand for grain sends food costs soaring", The Guardian (London). • ^ a b Mortished, Carl (7 March 2008). "Already we have riots, hoarding, panic: the sign of things to come?", The Times (London). • ^ a b Borger, Julian (26 February 2008). "Feed the world? We are fighting a losing battle, UN admits", The Guardian (London).

• ^ "Food prices: smallholder farmers can be part of the solution". International Fund for Agricultural Development. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-05-05 .

Diakses tanggal 2013-04-24. • ^ McKie, Robin; Rice, Xan (22 April 2007). {/INSERTKEYS}

berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah

"Millions face famine as crop disease rages", The Observer' (London). • ^ Mackenzie, Debora (3 April 2007). "Billions at risk from wheat super-blight".

New Scientist. London (2598): 6–7. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-05-09. Diakses tanggal 19 April 2007. • ^ Leonard, K.J. (February 2001). "Black stem rust biology and threat to wheat growers". USDA Agricultural Research Service. Diakses tanggal 2013-04-22. • ^ Sample, Ian (31 August 2007). "Global food crisis looms as climate change and population growth strip fertile land", The Guardian (London).

• ^ "Africa may be able to feed only 25% of berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah population by 2025", mongabay.com, 14 December 2006. • ^ "Agricultural Productivity in the United States". Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah Economic Research Service.

5 July 2012. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-02-01. Diakses tanggal 2013-04-22. • ^ " The Food Bubble Economy". The Institute of Science in Society. • ^ Brown, Lester R. "Global Water Shortages May Lead to Food Shortages-Aquifer Depletion". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-07-24. Diakses tanggal 2013-11-13. • ^ "India grows a grain crisis". Asia Times (Hong Kong). 21 July 2006. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-02-21. Diakses tanggal 2013-11-13. • ^ a b c "Safety and health in agriculture".

International Labour Organization. 21 March 2011. Diakses tanggal 2013-04-24. • ^ AP (26 January 2007). "Services sector overtakes farming as world's biggest employer: ILO". The Financial Express. Diakses tanggal 2013-04-24. • ^ a b "Labor Force – By Occupation". The World Factbook. Central Intelligence Agency.

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-05-22. Diakses tanggal 2013-05-04. • ^ Allen, Robert C. "Economic structure and agricultural productivity in Europe, 1300–1800" (PDF).

European Review of Economic History. 3: 1–25. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2014-10-27. Diakses tanggal 2013-11-13. • ^ "NIOSH Workplace Safety & Health Topic: Agricultural Injuries". Centers for Disease Control and Prevention. Diakses tanggal 2013-04-16. • ^ "NIOSH Pesticide Poisoning Monitoring Program Protects Farmworkers". Centers for Disease Control and Prevention. Diakses tanggal 2013-04-15. • ^ a b "NIOSH Workplace Safety & Health Topic: Agriculture". Centers for Disease Control and Prevention.

Diakses tanggal 2013-04-16. • ^ "Agriculture: A hazardous work". International Labour Organization. 15 June 2009. Diakses tanggal 2013-04-24. • ^ "Analysis of farming systems". Food and Agriculture Organization. Diakses tanggal 2013-05-22. • ^ a b Acquaah, G. 2002. Agricultural Production Systems. pp.

283–317 in "Principles of Crop Production, Theories, Techniques and Technology". Prentice Hall, Upper Saddle River, NJ. • ^ a b c d e f Chrispeels, M.J.; Sadava, D.E. 1994. "Farming Systems: Development, Productivity, and Sustainability". pp. 25–57 in Plants, Genes, and Agriculture. Jones and Bartlett, Boston, MA. • ^ a b c Sere, C.; Steinfeld, H.; Groeneweld, J. (1995).

"Description of Systems in World Livestock Systems – Current status issues and trends". U.N. Food and Agriculture Organization. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-10-26. Diakses tanggal 2013-09-08. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ a b Thornton, Philip K. (27 September 2010). "Livestock production: recent trends, future prospects". Philosophical Transactions of the Royal Society B. 365 (1554). doi: 10.1098/rstb.2010.0134.

• ^ Stier, Ken (September 19, 2007). "Fish Farming's Growing Dangers". Time. • ^ P. Ajmone-Marsan (May 2010). "A global view of livestock biodiversity and conservation – GLOBALDIV".

Animal Genetics. 41 (supplement S1): 1–5. doi: 10.1111/j.1365-2052.2010.02036.x. • ^ "Growth Promoting Hormones Pose Health Risk to Consumers, Confirms EU Scientific Committee" (PDF). European Union. 23 April 2002.

Diakses tanggal 2013-04-06. • ^ a b Pretty, J; et al. (2000). "An assessment of the total external costs of UK agriculture". Agricultural Systems. 65 (2): 113–136. doi: 10.1016/S0308-521X(00)00031-7. • ^ a b Tegtmeier, E.M.; Duffy, M. (2005). "External Costs of Agricultural Production in the United States" (PDF). The Earthscan Reader in Sustainable Agriculture.

• ^ International Resource Panel (2010). "Priority products and materials: assessing the environmental impacts of consumption and production". United Nations Environment Programme. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-12-24.

Diakses tanggal 2013-05-07. • ^ "Livestock a major threat to environment". UN Food and Agriculture Organization. 29 November 2006.

berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-03-28. Diakses tanggal 2013-04-24. • ^ Steinfeld, H.; Gerber, P.; Wassenaar, T.; Castel, V.; Rosales, M.; de Haan, C. (2006). "Livestock's Long Shadow – Environmental issues and options" (PDF). Rome: U.N. Food and Agriculture Organization.

Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2008-06-25. Diakses tanggal 5 December 2008. • ^ Vitousek, P.M.; Mooney, H.A.; Lubchenco, J.; Melillo, J.M. (1997). "Human Domination of Earth's Ecosystems".

Science. 277: 494–499. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Bai, Z.G., D.L. Dent, L. Olsson, and M.E. Schaepman (November 2008). "Global assessment of land degradation and improvement 1:identification by remote sensing" (PDF). FAO/ISRIC. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2013-12-13.

Diakses tanggal 2013-05-24. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Carpenter, S.R., N.F. Caraco, D.L. Correll, R.W. Howarth, A.N.

Sharpley, and V.H. Smith (1998). "Nonpoint Pollution of Surface Waters with Phosphorus and Nitrogen". Ecological Applications. 8 (3): 559–568. doi: 10.1890/1051-0761(1998)008[0559:NPOSWW]2.0.CO;2. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Molden, D. (ed.). "Findings of the Comprehensive Assessment of Water Management in Agriculture". Annual Report 2006/2007. International Water Management Institute.

Diakses tanggal 2013-05-07. • ^ Li, Sophia (13 August 2012). "Stressed Aquifers Around the Globe". New York Times. Diakses tanggal 2013-05-07. • ^ "Water Use in Agriculture".

FAO. November 2005. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-06-15. Diakses tanggal 2013-05-07. • ^ "Water Management: Towards 2030". FAO. March 2003. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-05-10. Diakses tanggal 2013-05-07. • ^ Pimentel, D. T.W. Culliney, and T. Bashore (1996.). "Public health risks associated with pesticides and natural toxins in foods".

Radcliffe's IPM World Textbook. Diarsipkan dari versi asli tanggal 1999-02-18. Diakses tanggal 2013-05-07. Periksa nilai tanggal di: -year= ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ WHO. 1992. Our planet, our health: Report of the WHU commission on health and environment.

Geneva: World Health Organization. • ^ a b Chrispeels, M.J. and D.E. Sadava. 1994. "Strategies for Pest Control" pp.355–383 in Plants, Genes, and Agriculture. Jones and Bartlett, Boston, MA. • ^ Avery, D.T. (2000). Saving the Planet with Pesticides and Plastic: The Environmental Triumph of High-Yield Farming. Indianapolis, IN: Hudson Institute. • ^ "Home". Center for Global Food Issues.

Diakses tanggal 2013-05-24. • ^ Lappe, F.M., J. Collins, and P. Rosset. 1998. "Myth 4: Food vs. Our Environment" pp. 42–57 in World Hunger, Twelve Myths, Grove Press, New York. • ^ Harvey, Fiona (18 November 2011). "Extreme weather will strike as climate change takes hold, IPCC warns".

The Guardian. • ^ "Report: Blue Peace for the Nile" (PDF). Strategic Foresight Group. Diakses tanggal 2013-08-20. • ^ "World: Pessimism about future grows in agribusiness". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-11-10. Diakses tanggal 2013-11-17. • ^ "SREX: Lessons for the agricultural sector". Climate & Development Knowledge Network.

Diakses tanggal 2013-05-24. • ^ a b Brady, N.C. and R.R. Weil. 2002. "Soil Organic Matter" pp. 353–385 in Elements of the Nature and Properties of Soils. Pearson Prentice Hall, Upper Saddle River, NJ.

• ^ Brady, N.C. and R.R. Weil. 2002. "Nitrogen and Sulfur Economy of Soils" pp. 386–421 in Elements of the Nature and Properties of Soils. Pearson Prentice Hall, Upper Saddle River, NJ. • ^ " World oil supplies are set to run out faster than expected, warn scientists". The Independent. 14 June 2007.

• ^ Robert W. Herdt (30 May 1997). "The Future of the Green Revolution: Implications for International Grain Markets" (PDF). The Rockefeller Foundation. hlm. 2. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2012-10-19. Diakses tanggal 2013-04-16. • ^ a b c Schnepf, Randy (19 November 2004). "Energy use in Agriculture: Background and Issues" (PDF).

CRS Report for Congress. Congressional Research Service. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2013-09-27. Diakses tanggal 2013-09-26.

• ^ Rebecca White (2007). "Carbon governance from a systems perspective: an investigation of food production and consumption in the UK" (PDF). Oxford University Center for the Environment. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2011-07-19. Diakses tanggal 2013-11-17. • ^ a b Martin Heller and Gregory Keoleian (2000).

"Life Cycle-Based Sustainability Indicators for Assessment of the U.S. Food System" (PDF). University of Michigan Center for Sustainable Food Systems. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2016-03-14. Diakses tanggal 2013-11-17. • ^ a b Patrick Canning, Ainsley Charles, Sonya Huang, Karen R. Polenske, and Arnold Waters (2010). "Energy Use in the U.S. Food System". USDA Economic Research Service Report No. ERR-94. United States Department of Agriculture.

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-09-18. Diakses tanggal 2013-11-17. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Wallgren, Christine; Höjer, Mattias (2009).

"Eating energy—Identifying possibilities for reduced energy use in the future food supply system". Energy Policy. 37 (12): 5803–5813. doi: 10.1016/j.enpol.2009.08.046. ISSN 0301-4215. • ^ Jeremy Woods, Adrian Williams, John K. Hughes, Mairi Black and Richard Murphy (August 2010).

"Energy and the food system". Philosophical Transactions of the Royal Society. 365 (1554): 2991–3006. doi: 10.1098/rstb.2010.0172.

Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Smith, Kate; Edwards, Rob (8 March 2008). "2008: The year of global food crisis". The Herald. Glasgow. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ "The global grain bubble". The Christian Science Monitor. 18 January 2008. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-11-30. Diakses tanggal 2013-09-26. • ^ "The cost of food: Facts and figures". BBC News Online. 16 October 2008.

Diakses tanggal 2013-09-26. • ^ Walt, Vivienne (27 February 2008). "The World's Growing Food-Price Crisis". Time. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-11-29. Diakses tanggal 2013-11-17. • ^ "World oil supplies are set to run out faster than expected, warn scientists". The Independent. 14 June 2007. • ^ a b "Can Sustainable Agriculture Really Feed the World?". University of Minnesota. August 2010.

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2016-04-25. Diakses tanggal 2013-04-15. • ^ "Cuban Organic Farming Experiment". Harvard School of Public Health. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-05-01. Diakses tanggal 2013-04-15. • ^ Strochlic, R.; Sierra, L. (2007). "Conventional, Mixed, and "Deregistered" Organic Farmers: Entry Barriers and Reasons for Exiting Organic Production in California" (PDF). California Institute for Rural Studies.

Diakses tanggal 2013-04-15. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ P. Read (2005). "Carbon cycle management with increased photo-synthesis and long-term sinks" (PDF). Geophysical Research Abstracts. 7: 11082. • ^ Greene, Nathanael (December 2004). "How biofuels can help end America's energy dependence". Biotechnology Industry Organization. • ^ R. Pillarisetti and Kylie Radel (2004). "Economic and Environmental Issues in International Trade and Production of Genetically Modified Foods and Crops and the WTO".

19 (2). Journal of Economic Integration: 332–352. Parameter -month= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Conway, G.

(2000). "Genetically modified crops: risks and promise". 4(1): 2. Conservation Ecology. • ^ Srinivas (2008). "Reviewing The Methodologies For Sustainable Living".

7. The Electronic Journal of Environmental, Agricultural and Food Chemistry. Parameter -month= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Monsanto failure". New Scientist. 181 (2433). London. 7 February 2004. Diakses tanggal 18 April 2008.

• ^ "Agricultural Economics". University of Idaho. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-04-01. Diakses tanggal 2013-04-16. • ^ Runge, C. Ford (June 2006). "Agricultural Economics: A Brief Intellectual History" (PDF). Center for International Food and Agriculture Policy. hlm. 4. Diakses tanggal 2013-09-16. • ^ Conrad, David E. "Tenant Farming and Sharecropping".

Encyclopedia of Oklahoma History and Culture. Oklahoma Historical Society. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-05-27. Diakses tanggal 2013-09-16.

• ^ Stokstad, Marilyn (2005). Medieval Castles. Greenwood Publishing Group. ISBN 0313325251. • ^ Sexton, R.J. (2000). "Industrialization and Consolidation in the US Food Sector: Implications for Competition and Welfare".

American Journal of Agricultural Economics. 82 (5): 1087–1104. doi: 10.1111/0002-9092.00106. • ^ Novalius, Feby (8 Januari 2019).

"Digitalisasi Pertanian Mampu Tingkatkan Produksi hingga Tekan Biaya Pemasaran". Okezone. Diakses tanggal 12 Oktober 2020. • ^ Peter J. Lloyd, Johanna L. Croser, Kym Anderson (March 2009). "How Do Agricultural Policy Restrictions to Global Trade and Welfare Differ Across Commodities" (PDF).

Policy Research Working Paper #4864. The World Bank. hlm. 2–3. Diakses tanggal 2013-04-16. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Kym Anderson and Ernesto Valenzuela (April 2006). "Do Global Trade Distortions Still Harm Developing Country Farmers?" (PDF).

World Bank Policy Research Working Paper 3901. World Bank. hlm. 1–2. Diakses tanggal 2013-04-16. • ^ Peter J. Lloyd, Johanna L. Croser, Kym Anderson (March 2009). "How Do Agricultural Policy Restrictions to Global Trade and Welfare Differ Across Commodities" (PDF). Policy Research Working Paper #4864. The World Bank. hlm. 21. Diakses tanggal 2013-04-16. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Glenys Kinnock (24 May 2011).

"America's $24bn subsidy damages developing world cotton farmers". The Guardian. Diakses tanggal 2013-04-16. • ^ "Agriculture's Bounty" (PDF).

May 2013. Diakses tanggal 2013-08-19. Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] Wikimedia Commons memiliki media mengenai Agriculture. • (Indonesia) Departemen Pertanian Republik Indonesia Diarsipkan 2007-02-03 di Wayback Machine.

• (Inggris) Organisasi Pangan dan Pertanian PBB • (Inggris) Departemen Pertanian AS Diarsipkan 2008-07-08 di Wayback Machine. • Halaman ini terakhir diubah pada 28 Februari 2022, pukul 01.27. • Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.

• Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
MENU • Home • SMP • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • IPS • IPA • SMA • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • IPA • Biologi • Fisika • Kimia • IPS • Ekonomi • Sejarah • Geografi • Sosiologi • SMK • S1 • PSIT • PPB • PTI • E-Bisnis • UKPL • Basis Data • Manajemen • Riset Operasi • Sistem Operasi • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • Agama • Bahasa Indonesia • Matematika • S2 • Umum • (About Me) 8.3.

Sebarkan ini: Budaya merupakan cara hidup yang berkembang, serta dimiliki bersama oleh kelompok orang, serta diwariskan dari generasi ke generasi.

Budaya ini terbentuk dari berbagai unsur yang rumit, termasuk sitem agama dan politik, adat istiadat, perkakas, bahasa, bangunan, pakaian, serta karya seni. Bahasa sebagaimana juga sebuah budaya, adalah suatu bagian yang tidak terpisahkan dari manusia sehingga kebanyakan manusia lebih cenderung menganggap sebagai sebuah warisan secara genetis. Saat orang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya, serta lebih menyesuaikan perbedaannya, dan membbuktikan bahwa budaya itu dapat dipelajari.

Budaya merupakan pola hidup yang menyeluruh. budaya memiliki sifat yang kompleks, abstrak, serta luas. Bebagai budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur sosial-budaya ini tersebar, serta meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Baca Juga : Sosial Budaya Pengertian Budaya Menurut Para Ahli • Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski, mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.

Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. • Herskovits, memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah, yang kemudian disebut sebagai superorganic.

• Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual, dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat. • Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

• Menurut Selo Soemardjan, dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Bermacam definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa kebudayaan merupakan sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan, serta meliputi sistem ide atau sebuah gagasan yang ada dalam pikiran seorang manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.

Sedangkan suatu perwujudan kebudayaan merupakan benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, yang berupa prilaku, serta benda-benda yang bersifat nyata, sebagai contoh pola perilaku, peralatan hidup, bahasa, organisasi sosial, seni, religi, dsb, yang semuanya yang keseluruhannya ditujukan untuk membantu manusiad dalam melangsungkan kehidupan dalam bermasyarakat. Unsur-Unsur Budaya b. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi: • Sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya • Organisasi ekonomi • Alat-alat, dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama) • Organisasi kekuatan (politik) Baca Juga ; Pengertian Sistem Sosial Budaya Indonesia Menurut Para Ahli Budaya c.

C. Kluckhohn mengemukakan ada 7 unsur kebudayaan secara universal (universal categories of culture) yaitu: • Bahasa • Sistem pengetahuan • Sistem tekhnologi, dan peralatan • Sistem kesenian • Sistem mata pencarian hidup • Sistem religi • Sistem kekerabatan, dan organisasi kemasyarakatan Macam Macam Kebudayaan Di Indonesia Budaya Indonesia dalah seluruh kebudayaan nasional, kebudayaan local, maupun kebudayaan asing yang telah ada di Indonesia sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945.

• Kebudayaan Nasional Definisi kebudayaan nasionalmenurut TAP MPR No.11 tahun 1998 yakni: “Kebudayaan nasional yang berdasarkan pancasila adalah perwujudan cipta,karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap kehidupan bangsa.

Dengan demikian pembangunan yang berbudaya.” Disebut juga pada pasal selanjutnya bahwa kebudayaan nasional juga mencerminkan nilai- nilai luhur bangsa. Tampaklah bahwa kebudayaan nasional yang dirumuskan oleh pemerintah berorientasi pada pembangunan nasional yang dilandasi oleh semangat pancasila. • Kebudayaan Lokal Budaya local sering disebut juga sebagai kebudayaan daerah. Menurut parsudi suparlan ada 3 macam kebudayaan dalam Indonesia yang majemuk, yaitu : • Kebudayaan nasional Indonesia yang berlandasan pancasila dan UUD 1945.

• Kebudayaan suku bangsa, terwujud pada kebudayaan suku bangsa dan menjadi unsur pendukung bagi lestarinya kebudayaan suku bangsa tesebut. • Kebudayaan umum likal yang berfungsi dalam pergaulan umum( ekonomi, politik, social, dan emosional ) yang berlaku dalam local local di daerah. Jenis Budaya • Budaya kebendaan Budaya yang bersifat fizikal atau material yang boleh dilihat dengan jelas seperti bentuk rumah, jenis makanan, dan bentuk bangunan.

• Budaya bukan kebendaan Budaya jenis ini ialah idea, pandangan, kepercayaan, adat resam dan sebagainya. Budaya seperti ini tidak boleh dilihat dengan mata kasar. Ianya akan hanya difahami apabila berada di dalam masyarakat tersebut dalam satu jangka waktu yang panjang.

Baca Juga : Pengertian Interaksi Sosial Dan Budaya Komponen Budaya • Melibatkan idea manusia yang lebih empirikal. • Segala jenis maklumat dan idea tentang persekitaran semulajadi dan persekitaran ciptaan manusia termasuk di bawah pengetahuan.

• Masyarakat memburu dan mengumpul misalnya memiliki segala jenis pengetahuan tentang alam semulajadi kerana ianya perlu untuk hidup. • Masyarakat pertanian pula memiliki segala jenis pengetahuan tentang pertanian kerana mereka hidup dengan pertanian.

Pengaruh Faktor Budaya Dalam Berkomunikasi Komunikasi pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial budaya masyarakat penuturnya karena selain merupakan fenomena sosial, komunikasi juga merupakan fenomena budaya.

Sebagai fenomena sosial, bahasa merupakan suatu bentuk perilaku sosial yang digunakan sebagai sarana komunikasi dengan melibatkan sekurang-kurangnya dua orang peserta. Oleh karena itu, berbagai faktor sosial yang berlaku dalam komunikasi, seperti hubungan peran di antara peserta komunikasi, tempat komunikasi berlangsung, tujuan komunikasi, situasi komunikasi, status sosial, pendidikan, usia, dan jenis kelamin peserta komunikasi, juga berpengaruh dalam penggunaan bahasa.

Sementara itu, sebagai fenomena budaya, komunikasi selain merupakan salah satu unsur budaya, juga merupakan sarana untuk mengekspresikan nilai-nilai budaya masyarakat penuturnya. Atas dasar itu, pemahaman terhadap unsur-unsur budaya suatu masyarakat–di samping terhadap berbagai unsur sosial yang telah disebutkan di atas–merupakan hal yang sangat penting dalam mempelajari suatu komunikasi. Hal yang sama berlaku pula bagi komunikasin di Indonesia. Oleh karena itu, mempelajari bahasa Indonesia–lebih-lebih lagi bagi para penutur asing–berarti pula mempelajari dan menghayati perilaku dan tata nilai sosial budaya yang berlaku dalam masyarakat Indonesia.

Kenyataan tersebut mengisyaratkan bahwa dalam pengajaran komunikasi, sudah semestinya pengajar tidak terjebak pada pengutamaan materi yang berkenaan dengan aspek-aspek kebahasaan semata, tanpa melibatkan berbagai aspek sosial budaya yang melatari penggunaan bahasa. Dalam hal ini, jika pengajaran bahasa itu hanya dititikberatkan pada penguasaan aspek-aspek kebahasaan semata, hasilnya tentu hanya akan melahirkan siswa yang mampu menguasai materi, tetapi tidak mampu berkomunikasi dalam situasi yang sebenarnya.

Pengajaran bahasa yang demikian tentu tidak dapat dikatakan berhasil, lebih-lebih jika diukur dengan pendekatan komunikatif. Dengan perkataan lain, kemampuan berkomunikasi secara baik dan benar itu mensyaratkan adanya penguasaan terhadap aspek-aspek kebahasaan dan juga pengetahuan terhadap aspek-aspek sosial budaya yang menjadi konteks penggunaan komunikasi.

Baca Juga : Keanekaragaman Dan Perubahan Sosial Budaya Fungsi Faktor Budaya Dalam Berkomunikasi • Fungsi pribadi Fungsi pribadi adalah fungsi-fungsi komunikasi yang ditunjukkan melalui komunikasi yang bersumber dari seorang individu, antara lain untuk : 1. Menyatakan identitas sosial Dalam komunikasi,budaya dapat menunjukkan beberapa perilaku komunikan yang digunakan untuk menyatakan identitas diri maupun identitas sosial.

2. Menyatakan integrasi sosial Inti konsep integrasi sosial adalah menerima kesatuan dan persatuan antar pribadi dan, antar kelompok namun tetap menghargai perbedaanperbedaan yang dimiliki oleh setiap unsur.

perlu dipahami bahwa salah satu tujuan komunikasi adalah memberikan makna yang sama atas pesan berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah dibagi antara komunikator dan komunikan. 3. Menambah pengetahuan Sering kali komunikasia antar bribadi maupun antar budaya dapat menambah pengetahuan bersama ,dan adanya saling mempelajari berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah masing masing antara komunikator dan komunikan.

4. Melepaskan diri / jalan keluar Hal yang sering kita lakukan dalam berkomunikasi dengan orang lain adalah untuk melepaskan diri atau mencari jalan keluar atas masalah yang sedang kita hadapi. • Fungsi sosial Fungsi sosial adalah fungsi-fungsi komunikasi yang bersumber dari faktor budaya yang ditunjukkan melalui prilaku komunikasi yang bersumber dari interaksi sosial,diantaranya berfunsi sebagai berikut : 1.

Pengawasan Praktek komunikasi antar budaya di antara komunikator dan komunikan yang berbeda kebudayaan berfungsi saling mengawasi. Dalam setiap proses komunikasi antar budaya fungsi ini bermanfaat untuk menginformasikan “ perkembangan “ tentang lingkungan. Fungsi ini lebih banyak dilakukan oleh media massa yang menyebarluaskan secara rutin perkembangan peristiwa yang terjadi di sekitar kita meskipun peristiwa itu terjadi dalam sebuah konteks kebudayaan berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah berbeda.

Akibatnya adalah kita turut mengawasi perkembangan sebuah peristiwa dan berusaha mawas diri seandainya peristiwa itu terjadi pula dalam lingkungan kita. Baca juga : 2. Menjembatani Dalam proses komunikasi antar pribadi, termasuk komunikasi antar budaya ,maka fungsi komunikasi yang dilakukan antar dua orang yang berbeda budaya itu merupakan jembatan atas perbedaan diantara mereka.

Fungsi menjembatani itu dapat terkontrol melalui pesan-pesan yang mereka pertukarkan.,keduanya saling menjelaskan perbedaan tafsir atas sebuah pesan sehingga menghasilkan makna yang sama. 3. Sosialisasi nilai Fungsi sosialisasi merupkan fungsi untuk mengajarkan dan memperkenalkan nilai nilai kebudayaan suatu masyarakat ke masyarakat lain.

Dalam komunikasi antar budaya seringkali tampil perilaku non verbal yang kurang dipahami namun yang lebih penting daripadanya adalah bagaimana kita menangkap nilai yang terkandung dalam gerakan tubuh ,gerakan imaginer dari tarian tarian tersebut.

4. Menghibur Fungsi menghibur juga sering tampil dalam proses komunikasi antar budaya. American fun yang sering ditampilkan TVRI memberikan gambaran tentang bagaimana orang orang sibuk memanfaatkan waktu luang untuk mengunjungi teater dan menikmati suatu pertunjukan humor.

Demikianlah artikel dari gurupendidikan.co.id mengenai Pengertian Budaya : Definisi, Unsur, Macam, Jenis, Komponen, Pengaruh Beserta Fungsinya, semoga artikel ini bermanfaat bagi anda semuanya. Sebarkan ini: • • • • • Posting pada IPS, Kewarganegaraan, S1, Sejarah, SMA Ditag 10 contoh kebudayaan, 10 fungsi budaya, 10 Pengertian Dan Tujuan Penelitian, 3 wujud kebudayaan dan contohnya, 7 unsur kebudayaan papua, apa itu seni budaya, aspek kebudayaan, berikut merupakan hakikat kebudayaan, budaya kbbi, budaya lokal umumnya bersifat, budaya meletakkan dirinya lewat simbol adalah, ciri ciri budaya, ciri khusus kebudayaan fisik adalah, ciri-ciri budaya indonesia, contoh budaya bahasa, contoh budaya dari segi difusi, contoh dari culture, contoh kebudayaan, contoh persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan, Definisi Budaya, definisi budaya menurut beberapa ahli, ekspresi seni dalam budaya masyarakat, ekspresi seni dalam kehidupan masyarakat, faktor budaya, fungsi budaya, fungsi budaya brainly, fungsi kebudayaan secara umum adalah, hakikat kebudayaan, jelaskan 7 ciri-ciri budaya, jelaskan fungsi kebudayaan dalam masyarakat, jelaskan maksud aktivitas dalam wujud budaya, jelaskan pengertian budaya menurut sansekerta, jelaskan perbedaan seni dengan budaya, jelaskan unsur budaya sistem bahasa, jelaskan wujud budaya, jenis jenis budaya, jurnal pengertian kebudayaan pdf, jurnal unsur-unsur kebudayaan, karakteristik kebudayaan, kebudayaan adl, ketiga wujud kebudayaan adalah, Keyword, konsep budaya, konsep budaya pdf, macam macam budaya, macam macam wujud dari budaya, macam-macam konsep budaya, makalah konsep kebudayaan, manfaat budaya, nilai budaya memiliki sifat yang, pengaruh budaya menurut para ahli, pengertian budaya, pengertian budaya brainly, pengertian budaya menurut cicero brainly, pengertian budaya menurut edward s casey, pengertian budaya menurut kbbi, pengertian budaya menurut ki hajar dewantara, Pengertian Budaya Menurut Para Ahli, pengertian budaya menurut para ahli brainly, pengertian budaya secara umum, pengertian kebudayaan brainly, pengertian berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah menurut para ahli, pengertian seni budaya, pengertian unsur budaya, perbedaan budaya dan kebudayaan, pertanyaan tentang unsur kebudayaan, ragam budaya daerah, sebutkan 4 bidang seni yang ada di indonesia, sebutkan 4 contoh kebudayaan materi, sebutkan 4 unsur pokok kebudayaan, sebutkan 7 kebudayaan indonesia, sebutkan ciri-ciri kebudayaan daerah, sebutkan komponen-komponen kebudayaan, sebutkan teori kebudayaan, seni budaya adalah, sifat budaya adalah, sifat kebudayaan, sistem religi dikenal juga sebagai, soal tentang unsur-unsur kebudayaan, terangkan pengertian akulturasi, terjadinya budaya, tuliskan ciri pasar persaingan sempurna, tuliskan macam kebudayaan, tuliskan pengertian seni budaya, unsur budaya nama keterangan, unsur budaya nama keterangan tema 7 kelas 5, unsur kebudayaan menurut kluckhohn, unsur unsur budaya brainly, unsur unsur kebudayaan, Unsur-Unsur Budaya, unsur-unsur kebudayaan melayu, unsur-unsur kebudayaan menurut para ahli, unsur-unsur konsep seni, upacara adalah, wujud kebudayaan, wujud kebudayaan ada 3 sebutkan dan jelaskan, wujud kebudayaan terbagi Navigasi pos Pos-pos Terbaru • Pengertian Sistem Regulasi Pada Manusia Beserta Macam-Macamnya • Rangkuman Materi Jamur ( Fungi ) Beserta Penjelasannya • Pengertian Saraf Parasimpatik – Fungsi, Simpatik, Perbedaan, Persamaan, Jalur, Cara Kerja, Contoh • Higgs domino apk versi 1.80 Terbaru 2022 • Pengertian Gizi – Sejarah, Perkembangan, Pengelompokan, Makro, Mikro, Ruang Lingkup, Cabang Ilmu, Para Ahli • Proses Pembentukan Urine – Faktor, Filtrasi, Reabsorbsi, Augmentasi, Nefron, zat Sisa • Peranan Tumbuhan – Pengertian, Manfaat, Obat, Membersihkan, Melindungi, Bahan Baku, Pemanasan Global • Diksi ( Pilihan Kata ) Pengertian Dan ( Fungsi – Syarat – Contoh ) • Penjelasan Sistem Ekskresi Pada Manusia Secara Lengkap • Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan • Contoh Soal Psikotes • Contoh CV Lamaran Kerja • Rukun Shalat • Kunci Jawaban Brain Out • Teks Eksplanasi • Teks Eksposisi • Teks Deskripsi • Teks Prosedur • Contoh Gurindam • Contoh Kata Pengantar • Contoh Teks Negosiasi • Alat Musik Ritmis • Tabel Periodik • Niat Mandi Wajib • Teks Laporan Hasil Observasi • Contoh Makalah • Alight Motion Pro • Alat Musik Melodis • 21 Contoh Paragraf Deduktif, Induktif, Campuran • 69 Contoh Teks Anekdot • Proposal • Gb WhatsApp • Contoh Daftar Riwayat Hidup • Naskah Drama • Memphisthemusical.Com
• Afrikaans • Alemannisch • አማርኛ • Aragonés • Ænglisc • العربية • الدارجة • مصرى • অসমীয়া • Asturianu • Kotava • अवधी • Azərbaycanca • تۆرکجه • Башҡортса • Basa Bali • Boarisch • Žemaitėška • Bikol Central • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • भोजपुरी • Banjar • বাংলা • བོད་ཡིག • বিষ্ণুপ্রিয়া মণিপুরী • Brezhoneg • Bosanski • Буряад • Català • Нохчийн • Cebuano • کوردی • Corsu • Qırımtatarca • Čeština • Чӑвашла • Cymraeg • Dansk • Deutsch • Zazaki • डोटेली • ދިވެހިބަސް • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • Estremeñu • فارسی • Fulfulde • Suomi • Võro • Føroyskt • Français • Arpetan • Furlan • Frysk • Gaeilge • 贛語 • Kriyòl gwiyannen • Gàidhlig • Galego • Avañe'ẽ • गोंयची कोंकणी / Gõychi Konknni • Bahasa Hulontalo • 𐌲𐌿𐍄𐌹𐍃𐌺 • ગુજરાતી • עברית • हिन्दी • Fiji Hindi • Hrvatski • Kreyòl ayisyen • Magyar • Հայերեն • Արեւմտահայերէն • Interlingua • Interlingue • Igbo • Ilokano • ГӀалгӀай • Ido • Íslenska • Italiano • 日本語 • Patois • La .lojban.

• Jawa • ქართული • Qaraqalpaqsha • Kabɩyɛ • Қазақша • ភាសាខ្មែរ • ಕನ್ನಡ • 한국어 • कॉशुर / کٲشُر • Kurdî • Kernowek • Кыргызча • Latina • Ladino • Lëtzebuergesch • Лезги • Lingua Franca Nova • Limburgs • Ligure • Lombard • ລາວ • Lietuvių • Latviešu • मैथिली • Basa Banyumasan • Malagasy • Олык марий • Minangkabau • Македонски • മലയാളം • Монгол • ꯃꯤꯇꯩ ꯂꯣꯟ • ဘာသာ မန် • मराठी • Bahasa Melayu • Malti • Mirandés • မြန်မာဘာသာ • Plattdüütsch • Nedersaksies • नेपाली • नेपाल भाषा • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Nouormand • Occitan • Livvinkarjala • ଓଡ଼ିଆ • Ирон • ਪੰਜਾਬੀ • Kapampangan • Papiamentu • Picard • पालि • Norfuk / Pitkern • Polski • Piemontèis • پنجابی • پښتو • Português • Runa Simi • Rumantsch • Română • Русский • Русиньскый • Ikinyarwanda • संस्कृतम् • Саха тыла • ᱥᱟᱱᱛᱟᱲᱤ • Sicilianu • Scots • سنڌي • Davvisámegiella • Srpskohrvatski / српскохрватски • ၽႃႇသႃႇတႆး • සිංහල • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • Gagana Samoa • Soomaaliga • Shqip • Српски / srpski • Sunda • Svenska • Kiswahili • தமிழ் • ತುಳು • తెలుగు • Тоҷикӣ • ไทย • Türkmençe • Tagalog • Tok Pisin • Türkçe • Xitsonga • Татарча/tatarça • Тыва дыл • ئۇيغۇرچە / Uyghurche • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Vèneto • Vepsän kel’ • Tiếng Việt • Walon • Winaray • 吴语 • მარგალური • ייִדיש • Yorùbá • 中文 • Bân-lâm-gú • 粵語 • IsiZulu Artikel ini bukan mengenai Hindi.

Artikel ini adalah bagian dari seri Agama Hindu Topik Sejarah • Mitologi • Kosmologi • Dewa-Dewi Keyakinan Brahman • Atman • Karmaphala • Samsara • Moksa • Ahimsa • Purushartha • Maya Filsafat Samkhya • Yoga • Mimamsa • Nyaya • Waisesika • Wedanta ( Dwaita • Adwaita • Wisistadwaita) Pustaka Weda ( Samhita • Brāhmana • Aranyaka • Upanishad) • Wedangga • Purana • Itihasa • Bhagawadgita • Manusmerti • Arthasastra • Yogasutra • Tantra Ritual Puja • Meditasi • Yoga • Bhajan • Upacara • Mantra • Murti Perayaan Dipawali • Nawaratri • Siwaratri • Holi • Janmashtami • Durgapuja • Nyepi Portal agama Hindu Sungai Sindhu (atau Indus) di negara Pakistan.

Kata Hindu berasal dari nama sungai tersebut. Agama Hindu (disebut pula Hinduisme) merupakan agama dominan di Asia Selatan—terutama di India dan Nepal—yang mengandung aneka ragam tradisi. Agama ini meliputi berbagai aliran—di antaranya Saiwa, Waisnawa, dan Sakta—serta suatu pandangan luas akan hukum dan aturan tentang "moralitas sehari-hari" yang berdasar pada karma, darma, dan norma kemasyarakatan. Agama Hindu cenderung seperti himpunan berbagai pandangan filosofis atau intelektual, daripada seperangkat keyakinan yang baku dan seragam.

[1] Agama Hindu diklaim sebagian orang sebagai "agama tertua" di dunia yang masih bertahan hingga kini, [a] dan umat Hindu menyebut agamanya sendiri sebagai Sanātana-dharma ( Dewanagari: सनातन धर्म), [b] artinya " darma abadi" atau "jalan abadi" [11] yang melampaui asal mula manusia. [12] Agama ini menyediakan kewajiban "kekal" untuk diikuti oleh seluruh umatnya—tanpa memandang strata, kasta, atau sekte—seperti kejujuran, kesucian, dan pengendalian diri.

Para ahli dari Barat memandang Hinduisme sebagai peleburan atau sintesis dari berbagai tradisi dan kebudayaan di India, dengan pangkal yang beragam dan tanpa tokoh pendiri. Pangkal-pangkalnya meliputi Brahmanisme (agama Weda Kuno), agama-agama masa peradaban lembah Sungai Indus, dan tradisi lokal yang populer. Sintesis tersebut muncul sekitar 500–200 SM, dan tumbuh berdampingan dengan agama Buddha hingga abad ke-8.

Dari India Utara, "Sintesis Hindu" tersebar ke selatan, hingga sebagian Asia Tenggara. Hal itu didukung oleh Sanskritisasi. Sejak abad ke-19, di bawah dominansi kolonialisme Barat serta Indologi (saat istilah "Hinduisme" mulai dipakai secara luas [13]), agama Hindu ditegaskan kembali sebagai tempat berhimpunnya aneka tradisi yang koheren dan independen.

Pemahaman populer tentang agama Hindu digiatkan oleh gerakan "modernisme Hindu", yang menekankan mistisisme dan persatuan tradisi Hindu. Ideologi Hindutva dan politik Hindu muncul pada abad ke-20 sebagai kekuatan politis dan jati diri bangsa India. Praktik keagamaan Hindu meliputi ritus sehari-hari (contohnya puja [sembahyang] dan pembacaan doa), perayaan suci pada hari-hari tertentu, dan penziarahan.

Kaum petapa yang disebut sadu (orang suci) memilih untuk melakukan tindakan yang lebih ekstrem daripada umat Hindu pada umumnya, yaitu melepaskan diri dari kesibukan duniawi dan melaksanakan tapa brata selama sisa hidupnya demi mencapai moksa. Susastra Hindu diklasifikasikan ke dalam dua kelompok: Sruti (apa yang "terdengar") dan Smerti (apa yang "diingat").

Susastra tersebut memuat teologi, filsafat, mitologi, yadnya ( kurban), prosesi ritual, dan bahkan kaidah arsitektur Hindu. berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah Kitab-kitab utama di antaranya adalah Weda, Upanishad (keduanya tergolong Sruti), Mahabharata, Ramayana, Bhagawadgita, Purana, Manusmerti, dan Agama (semuanya tergolong Smerti). [14] Dengan penganut sekitar 1 miliar jiwa, [15] agama Hindu merupakan agama terbesar ketiga di dunia, setelah Kristen dan Islam.

Daftar isi • 1 Etimologi • 2 Definisi • 2.1 Pengaruh kolonial • 2.2 Pendapat orang Hindu • 2.3 Pendapat orang Barat • 3 Karakteristik • 3.1 Akar Hinduisme • 3.2 Keanekaragaman • 3.3 Persamaan • 3.4 Penggolongan • 3.4.1 Enam tipe umum • 3.4.2 Religi dan religiositas Hindu • 3.5 Toleransi • 4 Mazhab, aliran, dan gerakan • 4.1 Enam mazhab filsafat • 4.2 Empat aliran utama • 4.3 Sekte dan aliran lainnya • 4.4 Gerakan keagamaan • 5 Keyakinan • 5.1 Konsep ketuhanan • 5.2 Atman dan jiwa • 5.3 Para dewa dan awatara • 5.4 Karma dan reinkarnasi • 5.5 Tujuan hidup manusia • 5.6 Jalan menuju Tuhan • 6 Pustaka suci • 6.1 Sruti • 6.2 Smerti • 7 Sejarah • 7.1 Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah • 7.2 Agama-Agama Pra-Weda • 7.3 Periode Weda • 7.4 Reformisme Asketis • 7.5 Hinduisme Klasik • 7.5.1 Hinduisme Praklasik • 7.5.2 "Zaman Kejayaan" • 7.5.3 Hinduisme Klasik Akhir • 7.6 Kehadiran Islam dan sekte Hindu • 7.7 Hinduisme masa berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah • 8 Pranata • 8.1 Caturwarna • 8.2 Jenjang kehidupan • 9 Praktik keagamaan • 9.1 Persembahyangan • 9.2 Upacara • 9.3 Ahimsa • 9.3.1 Vegetarianisme • 9.4 Pertapaan • 10 Tempat suci • 11 Simbolisme • 12 Keterangan • 13 Lihat pula • 13.1 Catatan kaki • 13.2 Daftar pustaka • 14 Pranala luar • 14.1 Riset tentang Hinduisme Etimologi [ sunting - sunting sumber ] Dalam teks ber bahasa Arab, al-Hind adalah istilah yang digunakan untuk menyebut suku bangsa di suatu daerah yang kini disebut India, sedangkan 'Hindu' atau 'Hindoo' digunakan sejak akhir abad ke-18 dan seterusnya oleh orang Inggris untuk menyebut penduduk ' Hindustan', yaitu bangsa di sebelah barat daya India.

Akhirnya, 'Hindu' menjadi istilah padanan bagi 'orang India' yang bukan Muslim, Sikh, Jaina, atau Kristen, sehingga mencakup berbagai penganut dan pelaksana kepercayaan tradisional yang berbeda-beda.

Akhiran '-isme' ditambahkan pada kata Hindu sekitar tahun 1830-an untuk merujuk pada kebudayaan dan agama kasta brahmana yang berlainan dengan agama lainnya, dan kemudian istilah tersebut diterima oleh orang India sendiri dalam hal membangun jati diri bangsa untuk menentang kolonialisme, meski istilah 'Hindu' pernah dicantumkan dalam babad berbahasa Sanskerta dan Bengali sebagai antonim bagi 'Yawana' atau Muslim, sekitar awal abad ke-16. — Gavin Flood, An Introduction to Hinduism.

[16] Kiri: Peta kawasan peradaban Lembah Indus (ditandai dengan warna hijau) beserta kota-kota kuno di sekitar aliran sungai Sindhu. Kanan: Peta aliran sungai Sindhu di negara Pakistan, yang terletak di antara negara Afghanistan dan India.

Kata Hindu (melalui bahasa Persia) berasal dari kata Sindhu dalam bahasa Sanskerta, yaitu nama sebuah sungai di sebelah barat daya Subbenua India—sebagian besar alirannya terletak di wilayah negara Pakistan—yang dalam bahasa Inggris disebut Indus. [16] [c] Menurut Gavin Flood, pada mulanya istilah 'hindu' muncul sebagai istilah geografis bangsa Persia untuk menyebut suku bangsa yang tinggal di seberang sungai Sindhu.

[16] Para sejarawan pun menyebut peradaban suku tersebut sebagai Peradaban Lembah Indus. Maka dari itu, awalnya istilah 'Hindu' merupakan istilah geografis dan tidak mengacu pada suatu agama. Kata Hindu diserap oleh bahasa-bahasa Eropa dari istilah Arab al-Hind, dan mengacu kepada negeri bagi bangsa yang mendiami daerah sekitar Sungai Sindhu.

[19] Istilah Arab tersebut berasal istilah Persia Hindū, yang mengacu kepada seluruh suku di India. Pada abad ke-13, Hindustan muncul sebagai nama alternatif India yang acap disebutkan, yang memiliki arti "Negeri para Hindu".

[20] Istilah agama Hindu kemudian sering digunakan dalam beberapa teks ber bahasa Sanskerta seperti Rajatarangini dari Kashmir (Hinduka, ca. 1450) dan beberapa teks mazhab Gaudiya Waisnawa dari abad ke-16 hingga ke-18 yang ber bahasa Bengali, seperti Caitanyacaritamerta dan Caitanyabhagawata. Istilah itu digunakan untuk membedakan Hindu dengan Yawana atau Mleccha. [21] Sejak abad ke-18 dan seterusnya, istilah Hindu digunakan oleh para kolonis dan pedagang dari Eropa untuk menyebut para penganut agama tradisional India secara umum.

Istilah Hinduism diserap ke dalam bahasa Inggris pada abad ke-19 untuk menyebut tradisi keagamaan, filasat, dan kebudayaan asli India. Definisi [ sunting - sunting sumber ] Studi tentang India beserta kebudayaan dan agamanya—demikian pula definisi "Hinduisme"—telah dibentuk oleh minat kolonialisme, serta gagasan orang Barat tentang agama tersebut. [22] [23] Sejak 1990-an, pengaruh-pengaruh beserta dampaknya telah menjadi topik perdebatan di kalangan ahli Hindu, [22] dan turut dicampuri oleh kritik-kritik terhadap India menurut pandangan Barat.

[24] Karena istilah tersebut melingkupi berbagai tradisi dan gagasan yang luas, maka sulit untuk memperoleh definisi yang komprehensif. [16] Tanpa keseragaman, Hinduisme didefinisikan sebagai agama, tradisi keagamaan, dan seperangkat kepercayaan religius. [25] Pengaruh kolonial [ sunting - sunting sumber ] Gagasan untuk sebuah sebutan umum bagi beberapa aliran kepercayaan dan tradisi di India sudah mendapat perhatian sejak abad ke-12.

[26] [27] Gagasan "Hinduisme" sebagai "tradisi keagamaan dunia yang tunggal" dipopulerkan pada abad ke-19 oleh Indolog Eropa yang mengacu kepada "kasta-kasta brahmana" sebagai informasi mereka tentang agama-agama di India.

[28] Hal ini mengacu pada suatu kecenderungan untuk menegaskan sastra dan keyakinan terhadap Weda sebagai "esensi" bagi praktik keagamaan Hindu pada umumnya, serta bagi hubungan 'doktrin Hindu' masa kini dengan berbagai perguruan Wedanta (khususnya Adwaita Wedanta).

[23] Kolonialisme telah menjadi faktor signifikan dalam pengaruh kasta brahmana dan "brahmanisasi" dalam masyarakat Hindu. Adat kaum brahmana juga memengaruhi pengertian Hinduisme di mata orang Eropa. Kaum brahmana melestarikan kitab-kitab Hindu yang kemudian berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah oleh orang-orang Eropa. Kewenangan kitab-kitab tersebut telah menjadi sasaran penelitian orang Eropa.

Penetapan basis-basis tekstual agama Hindu oleh kaum orientalis Eropa didasari oleh kecenderungan untuk mengacu kepada otoritas tertulis daripada otoritas lisan. Kaum Brahmana dan ilmuwan Eropa memiliki persepsi yang sama tentang "suatu deklinasi umum dari sebuah agama yang mulanya murni".

[22] Pendapat orang Hindu [ sunting - sunting sumber ] Menurut Sarvepalli Radhakrishnan, "Hinduisme tidak sekadar keyakinan. Ia adalah gabungan antara penalaran dan intuisi yang tak dapat didefinisikan, tapi hanya bisa dirasakan." [29] Bagi orang Hindu, Hinduisme adalah jalan hidup tradisional. [30] Banyak penganutnya yang menyebut Hinduisme sebagai Sanātana-dharma, artinya " darma yang abadi" atau "jalan yang abadi".

[11] Istilah ini mengacu kepada kewajiban "abadi" yang harus dijalankan oleh seluruh umat Hindu—tanpa memandang derajat, kasta, atau sekte/aliran—seperti kejujuran, tidak menyakiti makhluk hidup, menjaga kesucian, berniat baik, pemaaf, bersabar, mengendalikan nafsu, mengendalikan diri sendiri, murah berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah, dan bertafakur. Ini berbeda dengan swadarma, artinya "darma seseorang", yaitu kewajiban yang harus dijalankan sesuai aliran yang diikuti dan tingkatan kehidupan.

[31] Menurut Kim Knott, perihal darma ini mengacu pada gagasan bahwa sumbernya melampaui sejarah umat manusia, dan kebenarannya disampaikan oleh Tuhan ( Sruti) serta diwariskan dari zaman ke zaman, hingga masa kini, dalam suatu kumpulan kitab tertua di dunia, yaitu Weda.

[12] Menurut Encyclopædia Britannica: Pada masa kini, istilah [ Sanatana-dharma] itu pun digunakan oleh para pemuka, reformis, dan nasionalis Hindu untuk menyebut Hinduisme sebagai suatu agama dunia yang bersatu. Maka dari itu, Sanatana-dharma menjadi sinonim bagi kebenaran dan ajaran Hindu yang "abadi", yang kemudian dipahami bahwa tidak hanya transenden bagi sejarah dan tak berubah-ubah, tapi juga tak terbagi-bagi dan pada pokoknya bukanlah sektarian.

[d] [31] Sebagai tanggapan atas kolonialisme dan orientalisme Barat, para pemuka dan ahli Hindu menginterpretasikan agamanya dalam suatu upaya yang disebut "modernisme Hindu" oleh orang Barat. Tokoh terkemuka dalam upaya tersebut adalah Swami Vivekananda, Sarvepalli Radhakrishnan, dan Mahatma Gandhi. [32] Menurut Gavin Flood, Vivekanda (1863–1902) adalah tokoh penting dalam pengembangan pemahaman diri umat Hindu masa kini dan telah merumuskan pandangan terhadap Hinduisme bagi orang Barat.

[33] Intisari dalam filsafatnya adalah gagasan bahwa " percikan dari Tuhan" berada dalam setiap makhluk hidup, sehingga seluruh umat manusia dapat mencapai persatuan dengan "sifat ilahi bawaan" tersebut, dan dengan memandang bahwa sifat ilahi ini juga terkandung pada setiap orang maka berkembanglah kasih sayang dan harmoni sosial. [34] Menurut Flood, pandangan Vivekananda terhadap Hinduisme adalah yang paling umum diterima oleh kebanyakan umat Hindu golongan menengah berbahasa Inggris ( English-speaking middle-class Hindus) pada masa kini.

[35] Sarvepalli Radhakrishnan adalah salah satu cendekiawan terpelajar dari India yang bergelut dengan filsafat Barat dan India. [36] Ia mencari keselarasan antara berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah barat dengan Hinduisme, dan memperkenalkan Hinduisme sebagai pengalaman religius yang pada hakikatnya rasional dan humanistis. [37] [e] Wawasan Radhakrishnan disebut sangat relevan dan penting dalam membentuk jati diri Hindu kontemporer.

[37] Pendapat orang Barat [ sunting - sunting sumber ] Monier-Williams (1819–1899), Profesor Sastra Sanskerta dan Indolog terawal, berpendapat bahwa "berawal dari Weda, Hinduisme telah merangkul berbagai bentuk kepercayaan, dan menyajikan fase yang cocok bagi berbagai pikiran.

Paham tersebut begitu toleran, rendah hati, komprehensif, dan menerima [berbagai bentuk tradisi]." [f] Toleransi agama Hindu terhadap aneka ragam aliran kepercayaan dan tradisi yang berbeda-beda membuatnya sulit untuk didefinisikan sebagai suatu agama menurut pemahaman tradisional orang Barat.

[41] Dalam sejumlah kajian didapati bahwa agama Hindu dapat dipandang sebagai suatu kategori dengan "batas-batas yang kabur", daripada suatu lembaga yang tegar dan terdefinisikan dengan baik. Beberapa aktivitas keagamaan Hindu dapat dipandang sebagai hal yang lazim dalam agama tersebut, sementara yang tak lazim pun masih dapat dimasukkan ke dalam kategori agama Hindu. Berdasarkan pemikiran-pemikiran tersebut, Ferro-Luzzi menulis suatu 'pendekatan Teori Prototipe' untuk mendefinisikan Hinduisme.

berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah Menurut Flood, globalisasi kebudayaan Hindu diprakarsai oleh Swami Vivekananda dengan mendirikan Misi Ramakrishna, dan diikuti oleh para pemuka Hindu lainnya, yang membawa ajaran yang menjadi kekuatan kultural penting dalam masyarakat Barat, dan sebagai akibatnya menjadi kekuatan kultural penting di India, tempat ajaran itu bermula.

[43] Hinduisme Global tersebut menarik minat di seluruh dunia, melampaui batas-batas nasional, dan telah menjadikannya suatu agama dunia yang berdampingan dengan Kekristenan, Islam, dan Buddhisme, bagi komunitas Hindu seluruh dunia maupun orang-orang Barat yang tertarik dengan kebudayaan dan kepercayaan non-Barat. [44] Agama ini menekankan nilai-nilai spiritual universal seperti keadilan sosial, kedamaian, serta "transformasi spiritual umat manusia." [44] Sebagian perkembangannya disebabkan oleh "re-enkulturasi" atau efek Pizza, yaitu suatu kondisi ketika unsur-unsur kebudayaan Hindu diperkenalkan ke Dunia Barat, lalu mendapatkan popularitas di sana, dan sebagai akibatnya juga mendapatkan popularitas yang lebih besar di India.

[45] Karakteristik [ sunting - sunting sumber ] Keberadaan agama Hindu sebagai agama tersendiri yang berbeda dengan agama Buddha dan Jainisme diperkuat oleh penegasan para penganutnya bahwa agama mereka memang demikian berbeda. [46] Berbeda dengan dua agama tersebut, Hinduisme bersifat lebih teistik. Sebagian besar sekte dan aliran Hinduisme meyakini suatu pengatur alam semesta—dasar bagi segala fenomena di dunia yang memanifestasikan diri dalam berbagai wujud—yang disebut dengan berbagai nama, seperti Iswara, Dewa, Batara, Hyang, dan lain-lain.

Sebagian aliran meyakini bahwa berbagai kemajemukan di dunia merupakan bagian dari Brahman. Dalam agama Hindu, seorang umat boleh berkontemplasi tentang misteri Brahman (dalam konteks tertentu, Brahman dapat didefinisikan sebagai Tuhan personal ataupun impersonal) dan mengungkapkannya melalui mitos yang jumlahnya tidak habis-habisnya, serta melalui penyelidikan filosofis.

Mereka mencari kemerdekaan atas penderitaan melalui praktik-praktik brata atau meditasi yang mendalam, atau dengan mendekatkan diri kepada Tuhan melalui cinta kasih ( bhakti) dan percaya ( sradha). Akar Hinduisme [ sunting - sunting sumber ] Seorang wanita melakukan puja saat matahari terbenam di Rishikesh, Haridwar. Sejak minat akan Indologi dan studi Hindu bertumbuh, sejarah dan pangkal agama Hindu telah menjadi perdebatan para cendekiawan di Dunia Barat.

Sebelumnya, tidak ada istilah 'Hinduisme' atau 'agama Hindu', tetapi keberadaan tradisi Hindu seperti sekarang telah berpangkal sejak purbakala. [47] Selain itu, para ahli sulit mendefinisikan Hinduisme karena ketiadaan seorang tokoh pendiri agama tersebut. Para cendekiawan memandang Hinduisme sebagai gabungan dari berbagai kebudayaan atau tradisi yang ada di India.

[48] [49] [50] Salah satu akarnya adalah Brahmanisme atau agama Weda Kuno dari India pada Zaman Besi, [51] [49] yang merupakan hasil peleburan antara bangsa Indo-Arya dengan kebudayaan dan peradaban Harrapa.

[52] Selain itu, tradisi yang mendukung perkembangan agama Hindu meliputi Sramana atau "tradisi penolakan" dari India Utara, serta kebudayaan mesolitik dan neolitik di India, seperti agama-agama peradaban lembah sungai Indus, [53] [54] [55] tradisi bangsa Dravida, [56] serta tradisi dan agama lokal dari suku bangsa di India.

[57] Setelah periode Weda (antara 500–200 SM dan ca. 300 M, [48] pada permulaan periode "Wiracarita dan Purana" atau "periode Praklasik"), "sintesis Hindu" mulai timbul [48] (masa ketika dimasukkannya pengaruh Sramana dan Buddhisme), diiringi dengan kemunculan tradisi bhakti ke dalam balutan Brahmanisme melalui kitab-kitab Smerti. Sintesis ini muncul di bawah tekanan perkembangan Buddhisme dan Jainisme.

[58] Selama pemerintahan Dinasti Gupta, kitab-kitab Purana disusun, digunakan untuk menyebarkan ideologi keagamaan umum di tengah-tengah akulturasi yang dijalani masyarakat tribal dan buta huruf.

Hasilnya adalah kemunculan Hinduisme-Puranis ( Puranic-Hinduism) yang memiliki perbedaan mencolok jika dibandingkan dengan Brahmanisme sebelumnya (yang berpegang pada Dharmasastra dan Smerti). Selama beberapa abad, Hinduisme dan Buddhisme tumbuh berdampingan, [59] sampai akhirnya memperoleh keunggulan pada abad ke-8 M. [60] [61] Dari India Utara, "sintesis Hindu" beserta konsep pembagian masyarakat menyebar ke India Selatan dan sebagian Asia Tenggara.

[62] Hal tersebut didukung oleh sejumlah kegiatan: pengadaan permukiman bagi kaum brahmana di kawasan yang diizinkan oleh penguasa lokal; [63] [64] dimasukkannya atau di asimilasikannya dewa-dewi non-Weda (tidak disebut dalam Weda) yang populer; [65] [66] dan proses Sanskritisasi, yaitu kondisi ketika "orang-orang dari berbagai strata masyarakat India cenderung menyesuaikan kehidupan religius dan sosial mereka dengan norma-norma Brahmanis".

[65] [67] Proses asimilasi tersebut menjelaskan bahwa keanekaragaman budaya lokal di India diselimuti oleh selubung persamaan konseptual. [68] Keanekaragaman [ sunting - sunting sumber ] Prosesi pembubuhan tika saat perayaan Tihar di Nepal. Agama Hindu dapat dideskripsikan sebagai sebuah wadah tradisi yang memiliki "sifat kompleks, bertumbuh, berhierarki, dan kadangkala inkonsisten secara internal." [69] Agama Hindu tidak mengenal "satu sistem kepercayaan yang disusun demi menyeragamkan keyakinan atau iman", [16] namun menjadi istilah awam yang meliputi kemajemukan tradisi keagamaan di India.

[70] [71] Menurut Mahkamah Agung India: Tidak seperti agama lainnya di dunia, agama Hindu tidak mengklaim satu nabi saja, tidak memuja satu dewa saja, tidak menganut satu konsep filosofis saja, tidak mengikuti atau mengadakan satu ritus keagamaan saja; faktanya, ciri-ciri [agama Hindu] itu tidak seperti agama atau kepercayaan lain pada umumnya. Tak lain dan tak bukan, agama [Hindu] itu merupakan suatu jalan hidup. [g] [72] [73] Salah satu masalah dalam merumuskan satu definisi tentang istilah "agama Hindu" adalah adanya fakta bahwa agama Hindu tidak didirikan oleh seorang tokoh.

[16] [74] Agama ini merupakan sintesis dari berbagai tradisi, atau himpunan tradisi keagamaan yang berbeda tetapi memiliki persamaan. [48] [50] Konsep ketuhanan dalam tubuh agama Hindu pun tidak seragam.

Beberapa aliran bersifat monoteisme—mengagungkan Wisnu, Kresna, atau Siwa—sementara aliran lainnya bersifat monisme, yang memandang bahwa para dewa atau sembahan apa pun merupakan manifestasi beragam dari Yang Maha Esa. [75] Beberapa aliran Hindu bersifat panenteisme—sebagaimana disebutkan dalam kitab Bhagawadgita—yang meyakini bahwa Tuhan meresap ke seluruh alam semesta, tapi alam semesta bukanlah Tuhan.

[76] Beberapa filsafat Hindu membuat postulat ontologi teistis (dalil ketuhanan) tentang penciptaan dan peleburan alam semesta, meskipun beberapa umat Hindu merupakan ateis yang memandang Hinduisme tak lebih dari sebuah filsafat, bukan agama. Di samping itu, agama Hindu tidak mengenal satu sistem saja untuk mencari "keselamatan" ( salvation), [16] namun mengandung sejumlah aliran dan berbagai bentuk tradisi keagamaan. [77] Beberapa tradisi Hindu mengandalkan ritus tertentu sebagai hal penting demi keselamatan, tapi berbagai pandangan mengenai hal tersebut juga hadir secara berdampingan.

Agama Hindu juga dicirikan dengan adanya kepercayaan akan reinkarnasi ( samsara, atau siklus lahir-mati) yang ditentukan oleh hukum karma, dan gagasan tentang "keselamatan" adalah kondisi saat individu terbebas dari siklus lahir-mati yang terus berputar. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, agama Hindu dipandang sebagai agama yang paling kompleks dari seluruh agama yang masih bertahan hingga saat ini.

[78] Persamaan [ sunting - sunting sumber ] Di samping berbagai perbedaan yang teramati, ada pula rasa persamaan dalam Hinduisme. [79] Menurut tokoh spiritual Hindu Swami Vivekananda, ada kesatuan fundamental dalam tubuh Hinduisme, yang mendasari berbagai perbedaan dalam bentuk-bentuk pelaksanaannya. [34] Pada umumnya, umat Hindu mengenal berbagai nama dan gelar seperti Wisnu, Siwa, Sakti, Hyang, Dewata, dan Batara.

Beberapa aliran memandang nama dan gelar tersebut sebagai aneka manifestasi dari Yang Maha Esa atau Yang Mahakuasa, sehingga agama Hindu dapat dikatakan bersifat monisme. Agama Hindu juga dicirikan dengan adanya kepercayaan akan makhluk ilahi/ makhluk surgawi, yang dipandang tidak setara dengan Yang Mahakuasa, sedangkan beberapa aliran juga memandangnya sebagai manifestasi dari Yang Mahakuasa.

[75] Karakteristik lainnya—yang kerap dijumpai dalam tubuh Hinduisme—adalah iman tentang reinkarnasi dan karma, serta keyakinan akan kewajiban yang harus dipenuhi secara mutlak ( darma). Selain itu, banyak aliran Hinduisme mentakzimkan suatu kumpulan kitab suci yang disebut Weda, meskipun ada beberapa aliran yang mengabaikannya. [80] Sekte Hindu seperti Linggayata bahkan tidak mengikuti Weda, tapi masih memiliki kepercayaan akan Siwa. [81] Sebaliknya, sekte Ayyavazhi memiliki kitab suci tersendiri yang disebut Akilattirattu Ammanai, [82] namun masih mengimani Tuhan yang sama dengan Hinduisme—contohnya Narayana dan Laksmi—serta memiliki sejumlah mitos yang mirip dengan mitologi Hindu pada umumnya.

Dalam perkembangannya, tradisi Hindu yang cenderung mengagungkan Wisnu—atau Narayana dan Kresna—disebut Waisnawa, sementara yang memuja Siwa disebut Saiwa (Saiwisme). Dilihat dari luar, aliran Saiwa dan Waisnawa memiliki konsep tersendiri tentang Tuhan yang diagungkan. Menurut Halbfass, meskipun aliran Saiwa dan Waisnawa dapat dipandang sebagai berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah keagamaan yang mandiri, ada kadar interaksi dan saling acu antara para teoretikus dan pujangga dari masing-masing tradisi yang mengindikasikan adanya rasa jati diri yang lebih luas, rasa koherensi dalam konteks yang sama, serta inklusi dalam kerangka dan garis besar [kepercayaan] secara umum.

[79] Menurut Nicholson, pada masa antara abad ke-12 dan ke-16, para cendekiawan tertentu mulai memandang " benang merah" terhadap kekayaan ajaran filsafat yang berasal dari Upanishad, wiracarita, Purana, dan beberapa mazhab yang dikenal sebagai "enam sistem" ( berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah dari filsafat Hindu yang umum." [26] Tendensi dari kekaburan distingsi filosofis juga digarisbawahi oleh Burley.

[83] Hacker menyebut perihal tersebut sebagai "inklusivisme", [84] dan Michaels berpendapat tentang "sifat identifikasi diri".

[85] Menurut Lorenzen, rasa identitas ke-Hindu-an bermula dari masa interaksi antara kaum Muslim dan Hindu, [86] dan dari sebuah proses penentuan jati diri untuk membedakan kaum Hindu dengan kaum Muslim, yang sudah dimulai sebelum 1800-an.

[87] Menurut Michaels: Sebagai pencegahan terhadap supremasi Islam, dan sebagai bagian dari proses regionalisasi yang berkelanjutan, dua inovasi keagamaan berkembang dalam tubuh agama Hindu: pembentukan sekte-sekte serta historisasi yang mendahului nasionalisme pada masa berikutnya … Para orang suci, dan kadangkala pemuka sekte yang militan, seperti pujangga Maratha [bernama] Tukaram (1609–1649) dan Ramdas (1608–1681), menyuarakan gagasan-gagasan yang mengagungkan kejayaan agama Hindu pada masa lampau.

Para brahmana juga menyusun tulisan-tulisan bersejarah yang kian bertambah, terutama eulogi dan riwayat tempat-tempat suci ( mahatmya), atau mengobarkan semangat reflektif untuk menghimpun dan menggubah suatu koleksi kutipan yang ekstensif tentang berbagai subjek. [h] [88] Inklusivisme ini dikembangkan lebih jauh lagi pada abad ke-19 dan ke-20 oleh gerakan reformasi Hindu dan Neo-Vedanta, serta telah menjadi karakteristik agama Hindu modern.

Penggolongan [ sunting - sunting sumber ] Agama Hindu sebagaimana biasanya dapat digolongkan ke dalam beberapa mazhab atau aliran besar. Dalam suatu kelompok mazhab pada masa lalu—yang digolongkan sebagai "enam darsana"—hanya dua mazhab yang popularitasnya masih bertahan: Wedanta dan Yoga. Golongan-golongan utama Hinduisme pada masa kini disesuaikan dengan aliran-aliran besar yang ada: Waisnawa (Waisnawisme), Saiwa (Saiwisme), Sakta (Saktisme), dan Smarta (Smartisme).

[89] Enam tipe umum [ sunting - sunting sumber ] Prosesi ganga aarti di Dashashwamedh Ghat, Benares. Menurut J. McDaniel, ada enam tipe umum dalam tubuh agama Hindu, yang disusun dengan maksud menampung berbagai pandangan terhadap suatu subjek yang kompleks. Adapun enam tipe tersebut sebagai berikut: [90] • Agama Hindu rakyat, yaitu agama Hindu yang berdasarkan pada tradisi masyarakat setempat serta pemujaan dewa-dewi lokal, seperti Hindu Tamil, Hindu Newa, Hindu Bali, Hindu Manipuri, Hindu Kaharingan, dan lain-lain.

Berpangkal dari masa prasejarah atau setidaknya mendahului penulisan Weda. [90] • Srauta atau Agama Hindu Weda, dilaksanakan oleh kaum brahmana- tradisional yang disebut srautin. • Agama Hindu Wedanta, yaitu agama Hindu yang mengacu pada filsafat Wedanta, meliputi Adwaita Wedanta ( Smarta), dan menekankan pendekatan filosofis pada kitab-kitab Upanishad. • Agama Hindu Yoga, yaitu sekte yang menitikberatkan pelaksanaan yoga menurut Yogasutra Patanjali.

• Agama Hindu Dharma atau agama "moralitas sehari-hari", yaitu Hinduisme yang berdasarkan pada realisasi karma dan pelaksanaan norma kemasyarakatan seperti wiwaha (adat pernikahan Hindu).

• Bhakti, yaitu agama Hindu yang menekankan pelaksanaan kebaktian bagi entitas tertentu, seperti Kresna, Siwa, Ganesa. Religi dan religiositas Hindu [ sunting - sunting sumber ] Menurut Axel Michaels, ada tiga bentuk religi (agama) Hindu dan empat macam religiositas (pengabdian) umat Hindu. [77] Pembagian agama Hindu menjadi tiga bentuk bersuaian dengan metode pembagian dari India yang mengelompokkannya sebagai berikut: praktik ritual menurut Weda ( vaidika), agama rakyat dan lokal ( gramya), dan sekte keagamaan ( agama atau tantra).

[91] Menurut Michaels, tiga bentuk agama Hindu yakni: • Hinduisme Brahmanis-Sanskritis ( Brahmanic-Sanskritic Hinduism): suatu agama politeistis, ritualistis, dan kependetaan yang berpusat pada suatu keluarga besar serta upacara pengorbanan, dan merujuk kepada kitab-kitab Weda sebagai keabsahannya. [77] Agama ini mendapat sorotan utama dalam banyak risalah tentang agama Hindu karena memenuhi banyak kriteria untuk disebut sebagai agama, serta karena agama ini merupakan yang dominan di berbagai wilayah India, sebab masyarakat non- brahmana pun mencoba untuk mengasimilasinya.

[77] • Agama rakyat dan agama suku: suatu agama lokal yang politeistis, kadang kala animistis, dengan tradisi lisan yang luas. Kadang kala bertentangan dengan Hinduisme Brahmanis-Sanskritis. [92] • Agama bentukan: tradisi dengan komunitas monastis yang dibentuk untuk mencari keselamatan ( salvation), biasanya menjauhkan diri dari belenggu duniawi, dan sering kali anti-Brahmanis.

[77] Agama ini dapat dikelompokkan lagi menjadi tiga bagian: • Agama sektarian: aliran keagamaan yang menggarisbawahi suatu konsep filosofis dari Hinduisme dan menekankan praktik religius menurut konsep tersebut, contohnya Waisnawa dan Saiwa.

[92] • Agama-bentukan sinkretis: agama tersendiri yang terbentuk dari sinkretisme antara Hinduisme dengan agama lain, contohnya Hindu- Islam ( Sikhisme), Hindu- Buddha ( Buddhisme Newara), atau Hindu- Kristen ( Neohinduisme). [92] • Agama proselitisis ( proselytizing religions), atau "Guru-isme": kelompok keagamaan yang berawal dari seorang guru dan biasanya menekankan isu universalisme, contohnya Maharishi Mahesh Yogi dengan gerakan Meditasi Transendental, Sathya Sai Baba dengan Federasi Satya Sai, Bhaktivedanta Swami Prabhupada dengan gerakan ISKCON, Maharaj Ji dengan Divine Light Mission, dan Osho.

[92] Menurut Michaels, empat macam religiositas Hindu yakni: • Ritualisme: terutama mengacu pada ritualisme Weda-Brahmanistis ( Vedic-Brahmanistic ritualism) yang domestik dan butuh kurban, tapi dapat juga meliputi beberapa bentuk Tantrisme Tantrisme. [91] Ini merupakan karma-marga klasik. [93] • Spiritualisme: kesalehan intelektual, bertujuan untuk mencari kebebasan ( moksa) bagi individu, biasanya dengan bimbingan seorang guru.

Ini merupakan karakteristik Adwaita Wedanta, Saiwa Kashmir, Saiwa Siddhanta, Neo-Wedanta, Guruisme esoterik masa kini, dan beberapa macam Tantrisme. [91] Ini merupakan jnana-marga klasik. [93] • Devosionalisme: pemujaan kepada Tuhan, seperti yang ditekankan dalam tradisi bhakti dan Kresnaisme.

[91] Ini merupakan bhakti-marga klasik. [93] • Heroisme: bentuk religiositas politeistis yang berpangkal dari tradisi militeristis, seperti Ramaisme dan sebagian dari Hinduisme politis.

[91] Ini juga disebut wirya-marga. [93] Toleransi [ sunting - sunting sumber ] Pendeta Hindu diberi kesempatan melantunkan doa dalam suatu upacara yang diselenggarakan umat agama Romuva di Lituania. Agama Hindu memiliki ciri khas sebagai salah satu agama yang paling toleran karena tiadanya skisma meskipun ada kemajemukan tradisi yang bernaung di bawah simbol-simbol agama Hindu.

[94] [95] Pada awal perkembangannya, saat tiadanya perselisihan antaragama, umat Hindu menganggap setiap orang yang mereka temui sebagai umat Hindu pula. [96] [97] Tetapi pada masa kini, umat Hindu menerima pengaruh dari Barat tentang pengadaan konversi agama. [98] Maka, banyak umat Hindu berpendapat bahwa identitas kehinduan diperoleh semenjak lahir, [99] sementara yang lainnya berpendapat bahwa siapa pun yang mengikuti kepercayaan dan praktik agama Hindu merupakan seorang Hindu.

[100] Gandhi menyatakan bahwa Hinduisme bebas dari dogma-dogma yang memaksa, serta dapat menampung berbagai bentuk ekspresi diri dalam ruang lingkup yang besar. [101] Dalam tubuh agama Hindu, perbedaan pada setiap tradisi—bahkan pada agama lain—tidak untuk diperkarakan, karena ada keyakinan bahwa setiap orang memuja Tuhan yang sama dengan nama yang berbeda, entah disadari atau tidak oleh umat bersangkutan. [102] Dalam kitab Regweda terdapat suatu bait yang sering dikutip oleh umat Hindu untuk menegaskan hal tersebut, sebagai berikut: एकम् berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah विप्रा: बहुधा वदन्ति ( Ekam Sat Viprāh Bahudhā Vadanti) Arti: "Hanya ada satu kebenaran, tetapi para cendekiawan menyebut-Nya dengan banyak nama." ( I:CLXIV:46) Dalam Parlemen Agama-Agama Dunia (1893) di Chicago, Swami Vivekananda sebagai perwakilan India mengawali pidatonya dengan salam " Sisters and brothers of America!" dan mendapatkan sambutan yang hangat.

[103] Ia memperkenalkan Hinduisme sebagai agama yang mengajarkan toleransi dan bersikap sangat terbuka. [104] Agama Hindu memandang seluruh dunia sebagai suatu keluarga besar yang mengagungkan satu kebenaran yang sama, sehingga agama tersebut menghargai segala bentuk keyakinan dan tidak mempersoalkan perbedaan agama.

[105] Maka dari itu, agama Hindu tidak mengakui konsep murtad, bidah, dan penghujatan. [94] [106] [107] Agama Hindu bersifat mendukung pluralisme agama dan lebih menekankan harmoni dalam kehidupan antar-umat beragama, dengan tetap mengindahkan bahwa tiap agama memiliki perbedaan mutlak yang tak patut diperselisihkan.

[108] Menurut tokoh spiritual Hindu Swami Vivekananda, setiap orang tidak hanya patut menghargai agama lain, tapi juga merangkulnya dengan pikiran yang baik, berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah kebenaran itulah yang merupakan dasar bagi setiap agama. [109] Dalam agama Hindu, toleransi beragama tidak hanya ditujukan pada umat agama lain, tapi juga pada umat Hindu sendiri. Hal ini terkait dengan keberadaan beragam tradisi dalam tubuh Hinduisme.

Agama Hindu memberikan jaminan kebebasan bagi para penganutnya untuk memilih suatu pemahaman dan melakukan tata cara persembahyangan tertentu. [95] [110] [111] Sebuah sloka dalam Bhagawadgita sering dikutip untuk mendukung pernyataan tersebut: ये यथा मां प्रपद्यन्ते तांस्तथैव भजाम्यहम् मम वर्त्मानुवर्तन्ते मनुष्या: पार्थ सर्वश: ( Ye yathā mām prapadyante tāms tathaiva bhajāmy aham mama vartmānuvartante manusyāh pārtha sarvaśah.) Arti: "Jalan mana pun yang ditempuh seseorang kepada-Ku, Aku memberinya anugerah setimpal.

Semua orang mencari-Ku dengan berbagai jalan, wahai Arjuna." ( Bhagawadgita, IV:11) Dalam Parlemen Agama-Agama Dunia (1893) di Chicago, Vivekananda juga mengutip suatu ayat yang menyatakan bahwa setiap orang menempuh jalan yang berbeda-beda dalam memuja Tuhan, sebagaimana berbagai aliran sungai pada akhirnya menyatu di lautan.

[104] Mazhab, aliran, dan gerakan [ sunting - sunting sumber ] Partisipasi umat Waisnawa dalam acara Festival Woodstock berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah Polandia. Hinduisme tidak mengandalkan otoritas berdasarkan doktrin sentral seperti kredo, pengakuan iman, berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah iman, atau syahadat.

[112] Meskipun tradisi Hindu tidak seragam, banyak umat Hindu yang tidak mau mengakui dirinya sebagai penganut aliran atau sekte Hindu tertentu. [112] Pada umumnya, aliran dibedakan berdasarkan pada dewa yang dipuja sebagai manifestasi Yang Mahakuasa, serta pada tradisi mengenai cara pemujaan dewa tersebut.

Ada empat aliran utama yang sering teramati: Waisnawa, Saiwa, Sakta, dan Smarta. [113] Umat Waisnawa memuja Wisnu sebagai manifestasi Yang Mahakuasa; umat Saiwa memuja Siwa sebagai manifestasi Yang Mahakuasa; umat Sakta memuja Sakti (kekuatan) atau Dewi yang dipersonifikasikan sebagai wanita ilahi; sedangkan Smarta meyakini kesatuan mendasar dari lima ( Pancadewa) atau enam ( Shanmata) dewa sebagai personifikasi dari Yang Mahakuasa.

Aliran lainnya seperti Ganapatya (pemujaan terhadap Ganesa) dan Saura (pemujaan terhadap Surya) kurang menyebar secara luas. Sejumlah gerakan keagamaan terkategorikan ke dalam salah satu aliran besar Hinduisme, contohnya Gerakan Hare Krishna terkategorikan ke dalam golongan Waisnawa. Ada pula gerakan keagamaan Hindu yang sukar ditentukan untuk dimasukkan ke dalam golongan yang disebutkan di atas, contohnya Arya Samaj yang diprakarsai Swami Dayananda Saraswati.

Gerakan keagamaan ini berbeda dengan tradisi Hindu pada umumnya, yaitu tidak memuja Tuhan dengan sarana arca atau lukisan. Gerakan ini berfokus kepada Weda dan yadnya ( yajña; ritus keagamaan berdasarkan Weda).

Di samping empat aliran besar dalam agama Hindu, sekte-sekte keagamaan yang ada meliputi Ayyavazhi, Swaminarayana, Ravidassia, Linggayata, dan lain-lain. Beberapa sekte memiliki konsep, mitologi, serta pustaka suci tersendiri yang berbeda dengan tradisi Hindu pada umumnya. Sekte-sekte tertentu pun memiliki aliran di dalamnya, misalnya tradisi Tantra. [114] Enam mazhab filsafat [ sunting - sunting sumber ] Lukisan Kapila, dari abad ke-19.

Menurut sistem astika dan nastika, ada sembilan filsafat India klasik. Enam di antaranya merupakan filsafat Hindu klasik ( astika) yang mengakui otoritas Weda sebagai kitab suci. Tiga filsafat lainnya merupakan aliran heterodoks ( nastika) yang tidak mengakui otoritas Weda, tapi menekankan tradisi perguruan yang berbeda. Adapun enam filsafat Hindu tersebut sebagai berikut: • Samkhya: mazhab filsafat yang—dipercaya secara tradisional—digagas oleh Resi Kapila.

Mazhab ini dianggap sebagai salah satu mazhab filsafat tertua di India. [115] Mazhab ini bersifat dualisme. [116] [117] [118] Menurut Samkhya, alam semesta terdiri dari dua realitas: purusa (kesadaran) dan prakerti (materi). Jiwa adalah kondisi saat purusa terikat pada prakriti karena suatu "perekat" yang disebut kehendak, dan akhir dari ikatan itu disebut moksa. Samkhya menolak bahwa sumber segalanya adalah Iswara (Tuhan).

[119] Samkhya tidak mendeskripsikan apa berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah terjadi setelah moksa, dan tidak menyinggung apa pun yang berkaitan dengan Iswara atau Tuhan, karena filsafat ini menyatakan berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah tidak ada perbedaan esensial antara purusa individu dengan alam semesta setelah mencapai moksa.

• Yoga: mazhab yang menekankan pada pengendalian diri dan pikiran. Mazhab Yoga menerima psikologi dan metafisika yang diajarkan Samkhya, tapi bersifat lebih teistis daripada Samkhya, karena ditambahkannya entitas ketuhanan pada 25 elemen realitas menurut Samkhya. [120] Mazhab ini digagas oleh Resi Patanjali. Yoga menurut Patanjali dikenal sebagai Rajayoga, yaitu suatu sistem untuk mengontrol pikiran.

[121] Berbagai tradisi Yoga didapati dalam agama Hindu, Buddha, dan Jaina. [122] Para guru dari India memperkenalkan Yoga ke Dunia Barat, [123] mengikuti keberhasilan Vivekananda pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. [123] Pada tahun 1980-an, salah satu jenis Yoga menjadi populer sebagai suatu sistem latihan jasmani di Dunia Barat.

Bentuk Yoga semacam itu disebut Hathayoga. • Nyaya: mazhab logika dalam Hinduisme. Mazhab spekulasi filosofis ini berdasarkan kitab-kitab yang disebut Nyayasutra, ditulis oleh Aksapada Gautama pada abad ke-2 Masehi. [124] Kontribusi signifikan dari mazhab Nyaya adalah metodologi untuk membuktikan keberadaan Tuhan, menurut kitab Weda.

Menurut mazhab Nyaya, ada empat sumber untuk memperoleh pengetahuan ( pramana): persepsi, inferensi, perbandingan, dan testimoni. Pengetahuan yang diperoleh melalui masing-masing sumber tersebut bisa saja sahih atau tidak. Sebagai dampaknya, para filsuf Nyaya berusaha keras untuk mencari cara membuktikan kesahihan pengetahuan melalui sejumlah bagan penjelasan. • Waisesika: mazhab atomisme dalam Hinduisme yang menyatakan suatu postulat bahwa segala benda di alam semesta dapat dibagi-bagi menjadi sejumlah atom.

Mazhab ini mulanya digagas oleh Resi Kanada sekitar abad ke-2 Masehi. [125] Secara historis, mazhab ini dikaitkan erat dengan Nyaya. Meskipun sistem Waisesika dan Nyaya berkembang secara mandiri, keduanya bergabung karena teori-teori metafisis yang memiliki keterkaitan. Akan tetapi, dalam bentuknya yang klasik, ajaran Waisesika berbeda dengan Nyaya, karena Nyaya mengakui empat sumber pengetahuan, sementara Waisesika hanya mengakui persepsi dan inferensi. • Mimamsa: mazhab yang kajian utamanya adalah sifat-sifat darma berdasarkan hermeneutika pada kitab-kitab Weda.

Sifat-sifat darma tidak dapat diakses untuk penalaran atau pengamatan, sehingga harus dikaji melalui otoritas wahyu-wahyu yang dikandung dalam Weda, yang diyakini kekal, tanpa pengarang ( apauruṣeyatva), dan sempurna. [126] Mazhab Mimamsa mengandung doktrin yang ateistis maupun teistis dan tidak terlalu tertarik pada keberadaan Tuhan, tapi pada karakteristik darma.

[127] [128] Mimamsa sangat memerhatikan penafsiran tekstual, sehingga memberi rintisan pada kajian filologi dan filsafat bahasa. Gagasannya tentang "tuturan" ( śabda) sebagai kesatuan suara dan makna (penanda dan petanda) yang tak dapat dibagi lagi dipengaruhi oleh Bhartṛhari ( ca. abad ke-5). [129] Patung Adi Shankara, filsuf mazhab Adwaita yang tertemuka, terletak di Mysore, India.

• Wedanta: mazhab yang berfokus pada kajian tentang tiga sastra dasar dalam filsafat Hindu, yaitu Upanishad, Brahmasutra, dan Bhagawadgita. [130] Sekurang-kurangnya, ada sepuluh aliran dalam mazhab Wedanta, [131] namun tiga di antaranya— Adwaita, Wisistadwaita, dan Dwaita—lebih termasyhur. [132] Wedanta terdiri dari berbagai macam aliran, tiga di antaranya ialah: • Adwaita: perguruan Wedanta yang dirintis oleh Adi Shankara (awal abad ke-8) dan guru besarnya, Gaudapada, yang menjabarkan Ajatiwada.

Menurut perguruan ini, Brahman adalah satu-satunya kenyataan, sedangkan dunia yang teramati hanyalah ilusi belaka. Karena Brahman adalah kenyataan sejati, Ia tidak dapat dikatakan memiliki atribut.

Kekuatan ilusif dari Brahman yang disebut maya ( māyā) membuat dunia ini tampak ada. Ketidaktahuan akan kenyataan tersebut merupakan penyebab adanya penderitaan di dunia, sehingga kebebasan (dari penderitaan) hanya bisa diperoleh melalui kesadaran akan Brahman. Ketika seseorang mencoba memahami Brahman melalui pikirannya, maka—karena pengaruh maya—Brahman hadir sebagai Tuhan berkepribadian ( Iswara), yang berbeda dengan dunia dan juga individu. Pada kenyataannya, tiada perbedaan antara esensi individu yang sejati ( jiwatman) dengan Brahman.

Kebebasan dapat diperoleh dengan merasakan bahwa tiada perbedaan antara keduanya. Maka dari itu, jalan kebebasan ditempuh dengan pengetahuan ( jñāna). [133] • Wisistadwaita: perguruan Wedanta yang dirintis oleh Ramanuja (1017–1137). Menurut perguruan ini, jiwatman adalah bagian dari Brahman, sehingga mereka mirip, tetapi tidak sama.

Menurut Wisistadwaita, Brahman dinyatakan memiliki atribut ( Saguna-brahman), termasuk materi dan jiwa kesadaran individu. Brahman, materi, dan jiwa individu tidaklah sama tetapi merupakan entitas yang tidak terpisahkan. Perguruan ini menegaskan Bhakti atau pengabdian kepada Tuhan—yang dibayangkan sebagai Wisnu—sebagai jalan untuk mencapai kebebasan ( moksa).

Dalam perguruan ini, maya dipandang sebagai daya cipta dari Tuhan. [133] • Dwaita: perguruan Wedanta yang dirintis oleh Madhwacarya (1199–1278). Perguruan ini juga disebut sebagai tatvavādā – "Filsafat Kenyataan". Perguruan ini menyamakan Tuhan dengan Brahman, sehingga tiada berbeda dengan Wisnu ataupun berbagai perwujudan-Nya seperti Kresna, Narasinga, Wenkateswara, dan lain-lain.

Perguruan ini memandang Brahman, jiwa individu, dan materi sebagai entitas yang berbeda. Perguruan ini menekankan Bhakti sebagai jalan yang benar untuk mencapai kebebasan, dan pengabaian akan Tuhan akan berujung pada neraka serta ikatan duniawi.

Menurut Dwaita, segala tindakan diberdayakan oleh jiwa yang diberi kekuatan oleh Tuhan, dan hasil tindakan tersebut dilimpahkan kepada jiwa, tapi Tuhan tidak ikut terpengaruh oleh hasil tindakan tersebut. [133] Dalam sejarah agama Hindu, keberadaan enam mazhab tersebut di atas mencapai masa gemilang pada masa Dinasti Gupta. Dengan bubarnya Waisesika dan Mimamsa, perguruan filsafat tersebut kehilangan pamornya pada masa-masa berikutnya, sedangkan berbagai aliran-aliran Wedanta mulai naik pamor sebagai cabang-cabang utama dalam filsafat keagamaan.

Nyaya bertahan sampai abad ke-17 dan berganti nama menjadi Nawya-nyaya ("Nyaya Baru"), sedangkan Samkhya lenyap perlahan-lahan, tapi ajarannya diserap oleh Yoga dan Wedanta. Empat aliran utama [ sunting - sunting sumber ] Umat Saiwa di kuil Pashupatinatha, Nepal. Empat aliran utama yang sering didapati adalah Waisnawa, Saiwa, Sakta, dan Smarta.

Dalam masing-masing aliran, ada beberapa perguruan atau aliran lain yang menempuh caranya sendiri. • Waisnawa: aliran dalam tubuh Hinduisme yang memuja Wisnu—dewa pemelihara menurut konsep Trimurti (Tritunggal)—beserta sepuluh perwujudannya ( awatara). Aliran ini menekankan pada kebaktian, dan para pengikutnya turut memuja berbagai dewa, termasuk Rama dan Kresna yang diyakini sebagai perwujudan Wisnu.

Pengikut aliran ini biasanya non-asketis, monastis (mengikuti cara hidup biarawan), dan menekuni praktik meditasi serta melantunkan lagu-lagu pemujaan.

[134] [135] [136] Biasanya umat Waisnawa bersifat dualisme. Aliran ini memiliki banyak tokoh suci, kuil, dan kitab suci. [137] Aliran ini terbagi dalam beberapa golongan, yaitu: Sri Sampradaya (Waisnawa yang memuja Laksmi sebagai pasangan Wisnu), Brahma Sampradaya (Waisnawa yang memuja Wisnu secara eksklusif), Rudra Sampradaya (Waisnawa yang memuja Wisnu atau para awatara, seperti Kresna, Rama, Balarama, dan lain-lain), Kumara Sampradaya (Waisnawa yang memuja Caturkumara).

• Saiwa: aliran dalam tubuh Hinduisme yang memuja Siwa. Kadang kala Siwa digambarkan sebagai Bhairawa yang menyeramkan. Umat Saiwa lebih tertarik pada tapa brata daripada umat Hindu aliran lainnya, dan biasa ditemui berkeliaran di India dengan wajah yang dilumuri abu dan melakukan ritual penyucian diri.

[134] [135] [136] Mereka bersembahyang di kuil dan melakukan yoga, berjuang untuk dapat menyatukan diri dengan Siwa. [137] Aliran ini terbagi dalam beberapa golongan, yaitu: Pasupata (Saiwa yang menekankan tapa brata, terutama tersebar di Gujarat, Kashmir, dan Nepal), Saiwa Siddhanta (Saiwa yang mendapat pengaruh Tantra), Kashmira Saiwadarshana (Saiwa yang monistis dan idealistis), Natha Siddha Siddhanta (Saiwa yang monistis), Linggayata (Saiwa yang monoteistis), Saiwa Adwaita (Saiwa yang monistis dan teistis).

Umat Hindu Nepal mengoleskan tika dan jamara pada puncak hari raya Dashain, yaitu hari pemujaan terhadap 9 manifestasi Dewi Durga selama 9 hari berturut-turut. • Sakta: aliran Hinduisme yang memuja Sakti atau Dewi. Pengikut Saktisme meyakini Sakti sebagai kekuatan yang mendasari prinsip-prinsip maskulinitas, yang dipersonifikasikan sebagai pasangan dewa. Sakti diyakini memiliki berbagai wujud.

Beberapa di antaranya tampak ramah, seperti Parwati (pasangan Siwa) atau Laksmi (pasangan Wisnu). Yang lainnya tampak menakutkan, seperti Kali atau Durga. Sakta memiliki kaitan dekat dengan Hinduisme Tantra, yang mengajarkan ritual dan praktik untuk penyucian pikiran dan tubuh.

[134] [135] [136] Umat Sakta menggunakan mantra-mantra, sihir, gambar sakral, yoga, dan upacara untuk memanggil kekuatan kosmis. [137] Aliran ini mengandung dua golongan utama, yaitu: Srikula (pemujaan kepada dewi-dewi yang bergelar Sri) dan Kalikula (pemujaan kepada dewi-dewi perwujudan Kali). • Smarta: aliran Hindu-monistis yang memuja lebih dari satu dewa—meliputi Siwa, Wisnu, Sakti, Ganesa, dan Surya di antara dewa dan dewi lainnya—tetapi menganggap bahwa dewa-dewi tersebut merupakan manifestasi dari zat yang Maha Esa.

Dibandingkan tiga aliran Hinduisme yang disebutkan di atas, Smarta berusia relatif muda. Berbeda dengan Waisnawa atau Saiwa, aliran ini tidak bersifat sektarian secara gamblang, dan berdasarkan pada iman bahwa Brahman adalah asas tertinggi di alam semesta dan meresap ke dalam segala sesuatu yang ada. [134] [135] [136] Pada umumnya, umat Smarta memuja Yang Mahakuasa dalam enam personifikasi: Ganesa, Siwa, Sakti, Wisnu, Surya, dan Skanda.

Karena umat Smarta menerima keberadaan dewa-dewi Hindu yang utama, mereka dikenal sebagai umat liberal atau non-sektarian. Mereka mengikuti praktik-praktik filosofis dan meditasi, serta menekankan persatuan antara individu dengan Tuhan melalui kesadaran.

[137] Sekte dan aliran lainnya [ sunting - sunting sumber ] Pengikut Gerakan Hare Krishna di Rusia menyelenggarakan prosesi Rathayatra pada musim dingin 2011. • Agama Hindu Newa: agama Hindu yang dianut oleh sebagian besar suku Newa di Nepal. Agama Hindu ini mengenal beberapa tradisi unik seperti tarian sakral dengan topeng yang disebut Chachaa Pyakhan.

Agama Hindu ini juga mengenal sejumlah hari raya, dan adakalanya bertepatan dengan perayaan Buddhis di sana. • Agama Hindu Nusantara: tradisi serta kepercayaan masyarakat Indonesia yang telah mengalami akulturasi/berasimilasi dengan konsep-konsep Hindu dari India, sehingga membentuk suatu tradisi Hindu yang unik, contohnya Hindu Jawa dan Hindu Bali.

Karena sikap lembaga Hindu yang terbuka, beberapa kepercayaan asli Nusantara pun diakui sebagai bagian dari agama Hindu Nusantara sehingga mendapatkan label Hindu, contohnya Hindu Kaharingan dan Hindu Tollotang. • Agama Hindu Swaminarayana: agama yang dianut oleh sebagian besar orang Hindu Gujarat. [138] Pengikut Hindu Swaminarayana memuja Wisnu atau Kresna sebagai Tuhan sehingga sering dianggap sebagai salah satu aliran dalam Waisnawa. Tetapi—tidak seperti aliran Waisnawa pada umumnya—Hindu Swaminarayana tidak membedakan Wisnu dan Siwa.

Aliran ini menggunakan pemahaman sebagaimana aliran Smarta bahwa para dewa adalah manifestasi dari Brahman.

[139] [140] • Ayyavazhi: sistem kepercayaan monistis berdasarkan darma yang berasal dari India Selatan. Aliran ini dikatakan sebagai agama tersendiri oleh media massa dan beberapa penganutnya, tetapi banyak penganutnya yang mengaku sebagai umat Hindu, sehingga Ayyavazhi juga dianggap sebagai sekte Hindu.

[141] [142] Ayyavazhi berpusat pada ajaran dan khotbah Ayya Vaikundar; gagasan dan filosofi mereka berdasarkan kitab Akilattirattu Ammanai dan Arul Nool. Ayyavazhi memiliki banyak kesamaan dengan Hinduisme dalam hal mitologi dan praktik, tapi memiliki perbedaan dalam konsep baik dan buruk, serta perbedaan pandangan tentang darma. • Balmiki: sekte yang memuja Begawan Walmiki sebagai leluhur dan dewa mereka. Pengikutnya meyakini bahwa Walmiki adalah awatara Tuhan, dan menghormati karya-karya gubahannya, seperti Ramayana dan Yoga Vasistha, sebagai kitab suci.

• Ekasarana Dharma: aliran Hindu-panenteistis yang dirintis oleh Srimanta Sankardeva pada abad ke-15. Kini, banyak penganutnya yang tinggal di negara bagian Assam. Aliran kepercayaan ini menolak upacara dan ritus berbasis Weda, menentang pelaksanaan kurban hewan, dan hanya melakukan pemujaan dengan menyebut nama Tuhan berulang-ulang.

Kitab pegangan bagi aliran ini adalah Sankardewa Bhagawata. Aliran kepercayaan ini terbagi menjadi empat golongan: Brahma-sanghati, Purusha-sanghati, Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah, dan Kala-sanghati. • Ganapatya: sekte Hinduisme yang berfokus pada pemujaan Ganesa sebagai Tuhan Yang Mahakuasa. Ganesa dipuja sebagai bagian dari Saiwa sejak sekitar abad ke-5. Sekte Ganapatya mulai muncul sekitar abad ke-6 dan ke-9.

Kemudian, sekte ini dipopulerkan oleh Sri Morya Gosavi. Sekte Ganapatya mulai masyhur antara abad ke-17 dan ke-19 di Maharashtra. • Kapadi Sampradaya: aliran dan tradisi Hinduisme yang dianut sebagian masyarakat kesatria di Gujarat, terutama di Kutch.

Pengikut tradisi ini memuja Rama sebagai Tuhan Yang Mahakuasa. Kepercayaan ini terbagi menjadi empat golongan: Ramsnehi, Ashapuri, Sravani, dan Makadbantha. • Kaumaram: sekte Hinduisme yang berfokus pada pemujaan Murugan atau Skanda di kawasan India Selatan, terutama yang didominasi oleh suku Tamil.

Tradisi tersebut juga dapat ditemui di luar India, khususnya di kawasan permukiman imigran Tamil. • Mahima Dharma: sekte Hinduisme yang penganutnya banyak terdapat di Orissa, India. Sekte ini diprakarsai oleh seorang guru spiritual yang dikenal dengan nama Mahima Swami atau Mahima Gosain. [143] Sekte ini memusatkan kebaktian pada Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Alekha, serta menolak pemujaan Tuhan dengan sarana arca, gambar, ataupun pratima. [143] • Pranami Sampradaya: disebut pula Nijananda Sampradaya, adalah suatu aliran monoteistis yang memuja Tuhan dengan sebutan Raj Ji atau Prannath Ji.

Pengikut kepercayaan ini tidak diperkenankan makan daging, mengonsumsi alkohol, atau me rokok. Mereka juga memiliki kitab tersendiri yang disebut Kuljam Swarup atau Tartam Sagar. Pengikut kepercayaan ini banyak terdapat di Najarpur, Nepal. • Saura: sekte Hinduisme yang memuja Surya sebagai Saguna-brahman.

Aliran ini berpangkal dari tradisi Weda kuno. Kini, hanya ada sedikit penganut aliran ini di India. • Srauta: golongan brahmana ortodoks yang mengikuti Purwamimamsa, berbeda dengan Wedanta yang diikuti oleh kaum brahmana lainnya. Mereka merupakan penganut tradisi ritual konservatif dan membentuk golongan minoritas di antara umat Hindu di India.

Penganut aliran ini biasanya terdapat di negara bagian Kerala (kaum Nambudiri) dan Karnataka ( Mattur, Holenarsipur, Sringeri). Gerakan keagamaan [ sunting - sunting sumber ] Beberapa gerakan Hindu modern muncul di India pada periode antara abad ke-18 dan ke-20, antara lain sebagai berikut: • Brahmoisme: gerakan keagamaan yang berasal dari Benggala pada awal abad ke-19.

Gerakan ini didirikan oleh Ram Mohan Roy. Dia menggagas pentingnya pemanfaatan nalar untuk mereformasi praktik sosial dan religius agama Hindu, dengan pengaruh dari agama monoteistis dan ilmu pengetahuan modern.

[144] Brahmoisme menolak dogma, takhayul, otoritas kitab suci, dan penggambaran Tuhan. [145] • Prarthana Samaj: gerakan reformasi sosial dan keagamaan yang dimulai di Bombay, didirikan oleh Dr. Atmaram Pandurang pada tahun 1867 dengan tujuan agar masyarakat meyakini satu Tuhan dan hanya menyembah satu Tuhan.

Gerakan ini dimulai sebagai reformasi sosial dan keagamaan sebagaimana Brahmo Samaj. Perintis Prarthana Samaj di Mumbai adalah Paramahamsa Sabha, perkumpulan rahasia untuk memajukan gagasan-gagasan liberal yang didirikan oleh Ram Balkrishna Jaykar.

[146] • Arya Samaj: gerakan reformasi Hindu yang diprakarsai oleh Swami Dayananda, dan didirikan pada tanggal 7 April 1875. [147] Gerakan ini bermaksud mengamalkan Weda sebagaimana mestinya, dan mengesampingkan kitab-kitab yang ditulis setelah Weda. Gerakan ini bersifat monoteistis karena tidak mengakui dewa-dewi tertentu, [148] serta menolak pemujaan Tuhan dengan sarana patung atau lukisan. [149] [150] • Misi Ramakrishna: gerakan filantropis dan sukarela yang diprakarsai oleh murid Ramakrishna, Swami Vivekananda, pada tanggal 1 Mei 1897.

Gerakan ini berfokus pada masalah kemanusiaan seperti pemeliharaan kesehatan, bencana alam, kesejahteraan masyarakat desa, pendidikan, dan lain-lain.

Misi gerakan ini berdasarkan konsep Karmayoga. [151] Dalil-dalil yang digunakan adalah filsafat Wedanta. [152] • Masyarakat Internasional Kesadaran Krishna ( The International Society for Krishna Consciousness – ISKCON): gerakan keagamaan berdasarkan tradisi Gaudiya Waisnawa. Gerakan ini juga dikenal dengan nama "Gerakan Hare Krishna", didirikan pada tahun 1966 di New York City oleh A. C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada. Ajarannya berpegang pada Bhagawadgita dan Srimad Bhagawatam.

Gerakan ini didirikan untuk menyebarkan Bhaktiyoga dan memuja Tuhan dengan wujud Kresna. Di luar Asia Selatan dan Asia Tenggara, aliran Hindu yang cukup populer adalah tradisi Waisnawa yang dibawa oleh misionaris Gerakan Hare Krishna. Tradisi Hindu juga dilaksanakan di beberapa negara dengan jumlah imigran India yang signifikan, seperti Mauritius (Afrika bagian selatan) dan Trinidad dan Tobago (Amerika Tengah).

Keyakinan [ sunting - sunting sumber ] Agama Hindu tidak memiliki seorang pendiri dan tidak berpedoman pada satu kitab suci. [47] Meskipun demikian, ada keyakinan yang kerap dijumpai dalam berbagai tradisi Hindu.

Perihal yang umum dijumpai dalam berbagai keyakinan masyarakat Hindu—namun tidak untuk terbatas pada beberapa hal tersebut—meliputi kepercayaan akan zat Yang Mahakuasa (dapat disebut sebagai Iswara, Awatara, Dewata, Batara, dan lain-lain), darma (etika/kewajiban), samsara (siklus kelahiran, kehidupan, kematian, dan kelahiran kembali yang berulang-ulang), karma (sebab dan akibat), moksa (kebebasan dari samsara), dan berbagai yoga (jalan atau praktik spiritual).

[153] Konsep ketuhanan [ sunting - sunting sumber ] Agama Hindu memiliki konsep Nirguna-brahman (esensi alam semesta; realitas sejati; atau Tuhan impersonal), sementara sebagian mazhab menganut konsep Saguna-brahman (zat ilahi yang berkepribadian; Tuhan personal yang memiliki kasih sayang), yang menyebut Tuhan dengan nama Wisnu, Siwa, atau bahkan Sakti (kualitas feminin dari Tuhan), contohnya Saraswati ( gambar).

Agama Hindu merupakan sistem kepercayaan yang kaya, mencakup keyakinan yang bersifat monoteisme, politeisme, panenteisme, panteisme, monisme, dan ateisme. [154] [155] [156] [157] Konsep ketuhanannya bersifat kompleks dan bergantung pada nurani setiap umatnya atau pada tradisi dan filsafat yang diikuti. Kadang kala agama Hindu dikatakan bersifat henoteisme (melakukan pemujaan terhadap satu Tuhan, sekaligus mengakui keberadaan para dewa), tapi istilah-istilah demikian hanyalah suatu generalisasi berlebihan.

[158] Mazhab Wedanta dan Nyaya menyatakan bahwa karma itu sendiri telah membuktikan keberadaan Tuhan. [159] Nyaya merupakan suatu perguruan logika, sehingga menarik kesimpulan "logis" bahwa [keberadaan] alam semesta hanyalah suatu "akibat", maka pasti ada suatu "penyebab" di balik semuanya. [160] Agama Hindu mengandung suatu konsep filosofis yang disebut Brahman, yang sering didefinisikan sebagai kenyataan sejati, esensi bagi segala hal, atau sukma alam semesta yang menjadi asal usul serta sandaran bagi segala sesuatu dan fenomena.

[161] Tetapi, umat Hindu tidak menyembah Brahman secara harfiah. Pada zaman Brahmanisme, Brahman adalah istilah yang disematkan bagi suatu kekuatan yang membuat yadnya (upacara) menjadi efektif, yaitu kekuatan spiritual dari ucapan-ucapan suci yang dirapalkan para ahli Weda, sehingga mereka disebut brahmana.

[162] Kadang kala, Brahman dipandang sebagai Yang Mahamutlak atau Mahakuasa, atau asas ilahi bagi segala materi, energi, waktu, ruang, benda, dan sesuatu di dalam atau di luar alam semesta. Sebagai hasil dari berbagai kontemplasi tentang Brahman, maka Ia dapat dipandang sebagai Tuhan dengan atribut ( Saguna-brahman), Tuhan tanpa atribut ( Nirguna-brahman), dan/atau Tuhan Mahakuasa ( Parabrahman), tergantung mazhab dan aliran.

Mazhab dan aliran Hindu-dualistis—seperti Dwaita dan tradisi Bhakti—menyembah Tuhan yang berkepribadian (memiliki guna atau "atribut ketuhanan", yaitu supremasi dari sifat-sifat baik manusia seperti Maha-penyayang, Maha-pemurah, Maha-pelindung, dan sebagainya), sehingga mereka memujanya dengan nama Wisnu, Siwa, Dewi, Dewata, Batara, dan lain-lain, tergantung aliran masing-masing. Dalam tradisi Hindu pada umumnya, Tuhan yang dipandang sebagai zat mahakuasa dengan supremasi dari sifat baik manusia—daripada dianggap sebagai asas semesta yang tak terbatas—disebut Iswara, Bhagawan, atau Parameswara.

[163] Meski demikian, ada beragam penafsiran tentang Iswara, mulai dari keyakinan bahwa Iswara sesungguhnya tiada—sebagaimana ajaran Mimamsa—sampai pengertian bahwa Brahman dan Iswara sesungguhnya tunggal, sebagaimana yang diajarkan mazhab Adwaita. [164] Dalam banyak tradisi Waisnawa, Ia disebut Wisnu, sedangkan kitab Waisnawa menyebutnya sebagai Kresna, dan kadang kala menyebutnya Swayam Bhagawan. Sementara itu, dalam aliran Sakta, Ia disebut Dewi atau Adiparasakti, sedangkan dalam aliran Saiwa, Ia disebut Siwa.

Ajaran Smarta yang monistis memandang bahwa seluruh nama-nama ilahi seperti Wisnu, Siwa, Ganesa, Sakti, Surya, dan Skanda sesungguhnya manifestasi dari Brahman yang Maha Esa. Mazhab Adwaita Wedanta menolak teisme dan dualisme dengan menegaskan bahwa pada hakikatnya Brahman tidak memiliki bagian atau atribut.

[165] Menurut mazhab ini, Tuhan yang berkepribadian atau menyandang atribut tertentu adalah salah satu fenomena maya, atau kekuatan ilusif Brahman. Pada hakikatnya, Brahman tidak dapat dikatakan memiliki sifat-sifat kemanusiaan seperti pelindung, penyayang, perawat, pengasih, dan sebagainya. [166] Menurut mazhab ini, pikiran manusia yang terperangkap maya menyebabkan Brahman terbayangkan sebagai Tuhan dengan sifat atau atribut tertentu, yang dapat disebut sebagai Iswara, Bhagawan, Wisnu, dan nama-nama lainnya.

[166] Mazhab ini menegaskan bahwa tiada larangan untuk membayangkan Tuhan dengan sifat-sifat tertentu, tapi tujuan hidup sejati adalah untuk merasakan bahwa "sesuatu yang nyata" dalam tiap makhluk sesungguhnya tiada berbeda dengan Brahman.

[167] Mazhab Adwaita dapat dikatakan sebagai monisme atau panteisme karena meyakini bahwa alam semesta tidak sekadar berasal dari Brahman, tapi pada "hakikatnya" sama dengan Brahman. [168] Doktrin ateistis mendominasi aliran Hindu seperti Samkhya dan Mimamsa. [169] Dalam kitab Samkhyapravachana Sutra dari aliran Samkhya dinyatakan bahwa keberadaan Tuhan ( Iswara) tidak dapat dibuktikan sehingga (keberadaan Tuhan) tidak dapat diakui.

[170] Samkhya berpendapat bahwa Tuhan yang abadi tidak mungkin menjadi sumber bagi dunia yang senantiasa berubah. Dikatakan bahwa Tuhan merupakan gagasan metafisik yang dibuat untuk suatu keadaan. [171] Pendukung dari aliran Mimamsa—yang berdasarkan pada ritual dan ortopraksi—menyatakan bahwa tidak ada cukup bukti untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Aliran ini berpendapat bahwa kita tidak perlu membuat postulat tentang suatu "pencipta dunia", sebagaimana kita tidak perlu memikirkan siapa penulis Weda atau Tuhan apa yang dibuatkan upacara.

[127] Mimamsa menganggap bahwa nama-nama Tuhan yang tertulis dalam Weda sebenarnya tidak mengacu pada wujud apa pun di dunia nyata, dan hanya untuk keperluan mantra belaka.

Atas pemahaman tersebut, mantra itulah yang sebenarnya merupakan "kekuatan Tuhan", sehingga Tuhan tiada lain hanyalah kekuatan mantra belaka.

[172] Atman dan jiwa [ sunting - sunting sumber ] Diagram yang menunjukkan lapisan penyelubung atman: • annamayakosa (lapisan badan kasar yang mengandung daging dan kulit) • pranamayakosa (lapisan tenaga kehidupan) • manomayakosa (lapisan pikiran atau indra yang menerima rangsangan) • wijanamayakosa (lapisan nalar, akal budi, atau kecerdasan) • anandamayakosa (lapisan kebahagiaan atau berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah kausal) Dalam agama Hindu terdapat keyakinan bahwa ada "sesuatu yang sejati" dalam tiap individu yang disebut atman, sifatnya abadi atau tidak terhancurkan.

[173] Taittiriya-upanishad mendeskripsikan bahwa atman individu diselimuti oleh lima lapisan: annamayakosa, pranamayakosa, manomayakosa, wijanamayakosa, dan anandamayakosa. [174] Istilah atman dan jiwa kadang kala dipakai untuk konteks yang sama. Dalam suatu pengertian, atman adalah percikan dari Brahman, sedangkan jiwa adalah penggerak segala makhluk hidup. [175] Menurut teologi Hindu yang monistis/ panteistis (seperti mazhab Adwaita Wedanta), sukma individu sama sekali tiada berbeda dari Brahman.

Sukma individu disebut jiwatman, sedangkan Brahman disebut paramatman. Maka dari itu, ajaran ini disebut aliran non-dualis. [164] Ketika tubuh individu hancur, jiwa tidak turut hancur. Sebaliknya, ia berpindah ke tubuh baru melalui reinkarnasi ( samsara). Jiwa mengalaminya karena diselubungi oleh awidya atau "ketidaksadaran" berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah dirinya sesungguhnya sama dengan Paramatman.

Tujuan kehidupan menurut mazhab Adwaita adalah untuk mencapai kesadaran bahwa atman sesungguhnya sama dengan Brahman. [176] Kitab Upanishad menyatakan bahwa siapa pun yang merasakan bahwa atman merupakan esensi dari tiap individu, maka ia akan menyadari kesetaraan dengan Brahman, sehingga mencapai moksa (kebebasan atau kemerdekaan dari proses reinkarnasi/samsara). [177] Yoga dari Resi Patanjali—sebagaimana yang diuraikan dalam Yogasutra—berbeda dengan monisme yang diuraikan dalam filsafat Adwaita.

[178] Menurut yoga, pencapaian spiritual tertinggi bukanlah untuk menyadari bahwa segala kemajemukan di alam semesta merupakan maya. Jati diri yang diperoleh saat mencapai pengalaman religius tertinggi bukanlah atman belaka. Itu hanyalah salah satu jati diri yang ditemukan oleh individu. Meruntuhkan "tembok alam sadar manusia" untuk membangun "persatuan" jati diri individu ( jiwatman) dengan sukma alam semesta ( paramatman), merupakan tujuan praktik yoga.

[179] Menurut pemahaman dualistis seperti mazhab Dwaita, jiwa merupakan entitas yang berbeda dengan Tuhan, tapi memiliki kesamaan. Jiwa bergantung kepada Tuhan, sedangkan pencapaian moksa (lepas dari samsara) bergantung kepada cinta pada Tuhan serta kasih sayang Tuhan. [180] Para dewa dan awatara [ sunting - sunting sumber ] Umat dari berbagai sekte agama Hindu memuja dewa-dewi tertentu yang tak terhitung banyaknya dan mengikuti aneka upacara untuk memuja dewa-dewi tersebut.

Karena merupakan agama Hindu, maka para penganutnya memandang kekayaan tradisi tersebut sebagai ungkapan dari suatu realitas yang kekal. Dewa-dewi yang memanggul senjata dipahami oleh umatnya sebagai simbol-simbol dari suatu realitas sejati yang tunggal.

— Brandon Toropov & Luke Buckles, The Complete Idiot's Guide to World Religions. [181] Susastra Hindu menyebutkan suatu kelompok entitas ilahi yang disebut dewa (atau dewi dalam bentuk feminin, sedangkan dewata bersinonim dengan dewa), bermakna "yang bersinar", atau dapat diterjemahkan berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah "makhluk surgawi".

[182] [183] Para dewa merupakan bagian integral dalam kebudayaan Hindu dan ditampilkan dalam kesenian ( lukisan, patung, relief), arsitektur, dan ikon.

Cerita mitologis mengenai keberadaan mereka terkandung dalam sejumlah sastra Hindu, terutama wiracarita Hindu dan Purana. Keberadaan banyak dewa diyakini sebagai manifestasi dari Brahman. [i] Pustaka Weda dan Upanishad tidak mengajarkan panteisme ataupun politeisme, melainkan monoteisme dan monisme. [185] Ada banyak dewa, tapi mereka merupakan manifestasi berbagai aspek dari suatu "kenyataan sejati".

[185] Keberadaan konsep monisme dan monoteisme berjalin-jalin. Dalam banyak sloka, kenyataan sejati dikatakan imanen, sedangkan dalam sloka lainnya dikatakan transenden. [186] Secara monisme, kenyataan sejati tersebut adalah Brahman, sedangkan pandangan monoteisme lebih berfokus pada wujud-wujud beratribut ( Saguna) dari Brahman.

[186] Biasanya pengertian dewa dibedakan dengan Iswara (Tuhan Yang Maha Esa), meskipun banyak umat Hindu menyembah Iswara dalam suatu perwujudan tertentu (seolah-olah ada Tuhan yang berbeda) sebagai istadewata ( iṣṭa devatā), yaitu sosok ideal (dewa-dewi tertentu) dari Tuhan berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah cenderung dipuja. [187] [188] Pilihan tersebut bergantung pada preferensi seseorang atau menurut tradisi regional dan keluarga. [189] Dalam kitab suci Regweda disebutkan adanya 33 dewa atau dewata, dan Purana menjelaskan bahwa sebagian di antaranya merupakan para putra Dewi Aditi dan Bagawan Kasyapa, dan merupakan murid dari Wrehaspati.

Menurut mitologi Hindu dalam Purana, sebelum memperoleh keabadian melalui tirta amerta (minuman keabadian), dewata adalah golongan makhluk yang berseteru dengan para asura atau raksasa dan dapat gugur dalam pertempuran. Kekuatan dewata berbeda dengan tiga dewa utama yang abadi— Brahma, Wisnu, Siwa. Siwa dan Wisnu dimuliakan sebagai Mahadewa karena kemasyhuran mereka dalam kitab suci dan pemujaan. [190] Mereka berdua, beserta Brahma, dipandang sebagai Trimurti—tiga aspek dari Yang Mahakuasa. Ketiga aspek tersebut melambangkan seluruh siklus samsara menurut agama Hindu: Brahma sebagai pencipta, Wisnu sebagai pelindung atau pemelihara, dan Siwa sebagai pelebur.

Dua di antara tiga dewa tersebut, yaitu Wisnu dan Siwa memiliki pengikut dengan jumlah banyak sehingga membentuk dua aliran utama ( Waisnawa dan Saiwa) dalam tubuh agama Hindu. Dalam kajian tentang Trimurti, Sir William Jones menyatakan bahwa umat Hindu "menyembah Tuhan dalam tiga wujud: Wisnu, Siwa, Brahma … Gagasan fundamental agama Hindu, bahwa metamorfosis, atau transformasi, dicontohkan melalui [konsep] awatara." [191] Tridewi ("Tiga Dewi") dalam agama Hindu memiliki peran penting sebagaimana Trimurti dan berfungsi sebagai pasangan bagi Trimurti.

Brahma adalah Sang Pencipta, sehingga ia membutuhkan pengetahuan atau Dewi Saraswati. Wisnu adalah Sang Pelindung, sehingga ia membutuhkan kemakmuran, yang dimanifestasikan sebagai Dewi Laksmi (Sri). Sedangkan Siwa adalah Sang Pelebur, sehingga ia membutuhkan Dewi Parwati, Durga, atau Kali sebagai kekuatannya.

Para dewi tersebut adalah manifestasi dari satu entitas, yaitu Sakti. Wiracarita Hindu dan Purana menceritakan beberapa kisah tentang turunnya Tuhan ke dunia (inkarnasi) dalam wujud fana demi menegakkan di masyarakat dan menuntun manusia mencapai moksa. Inkarnasi itu disebut pula awatara. Beberapa awatara terkenal merupakan perwujudan Wisnu, meliputi Rama (tokoh utama Ramayana) dan Kresna (tokoh penting dalam Mahabharata).

Karma dan reinkarnasi [ sunting - sunting sumber ] Dua sadu di Kuil Pahupatinatha, Nepal. Sadu adalah istilah bagi kaum yogi yang sedang menempuh Rajayoga, yaitu jalan pengendalian pikiran, demi melepaskan diri dari belenggu duniawi sehingga dapat mencapai kesadaran spiritual tingkat tinggi atau bahkan moksa. Karma diterjemahkan secara harfiah sebagai tindakan, kerja, perbuatan, [192] dan dapat dideskripsikan sebagai "hukum moral sebab–akibat".

[193] Menurut hukum karma, nasib baik berasal dari tindakan baik terdahulu, dan nasib buruk berasal dari tindakan buruk terdahulu, yang merupakan suatu sistem aksi-reaksi dan membentuk suatu siklus reinkarnasi. [194] Fenomena sebab-akibat tersebut tidak hanya berlaku bagi dunia material, tapi juga terhadap pikiran, perkataan, tindakan, dan tindakan yang dilakukan berdasarkan perintah seseorang.

[195] Menurut kitab Upanishad, suatu jiwa membentuk sanskara (kesan) dari tindakan, baik secara fisik atau mental. Linga-sarira (tubuh yang lebih halus daripada tubuh fisik namun lebih kasar daripada jiwa) dilekati kesan-kesan tersebut, dan membawanya ke kehidupan selanjutnya, sehingga menciptakan jalan kehidupan tersendiri bagi setiap orang.

[196] Maka dari itu, konsep karma—yang universal, netral, dan tak pernah meleset—berkaitan dengan reinkarnasi, demikian pula kepribadian, watak, dan keluarga seseorang. Karma menyatukan konsep kehendak bebas dan nasib. Karena agama Hindu meyakini bahwa jiwa tidak dapat dihancurkan, [197] maka kematian tidak dipandang sebagai momok bagi kehidupan karena merupakan fenomena alami.

[198] Maka dari itu, seseorang yang sudah meninggalkan ambisi dan keinginannya, tidak memiliki tanggung jawab lagi di dunia, atau terjangkiti penyakit mematikan dapat mengusahakan kematian dengan cara Prayopavesa. [199] Siklus aksi, reaksi, kelahiran, kematian, dan kelahiran adalah proses berkesinambungan yang disebut samsara (reinkarnasi).

Pemahaman akan reinkarnasi dan karma merupakan premis kuat dalam filsafat Hindu. Dalam kitab Bhagawadgita ( II:22) tertulis: Seperti halnya seseorang memakai baju baru dan menanggalkan baju yang lama, demikian pula jiwa memasuki tubuh yang baru, meninggalkan tubuh yang lama.

Dalam kepercayaan Hindu, samsara memberikan kesempatan bagi manusia untuk menikmati kesenangan sesaat pada setiap kelahiran. Selama manusia terlena untuk terus menikmati kesenangan tersebut, maka mereka akan dilahirkan kembali. Akan tetapi, pelepasan diri dari belenggu samsara (melalui moksa) diyakini dapat memberikan kebahagiaan dan kedamaian abadi.

[200] Menurut kepercayaan ini, setelah mengalami reinkarnasi berkali-kali, pada akhirnya suatu atman akan mencari persatuan dengan sukma alam semesta (Brahman/Paramatman). Dalam agama Hindu, tujuan hidup sejati—yang disebut sebagai moksa, nirwana, atau semadi—dipahami dalam berbagai arti: realisasi penyatuan jiwa dengan Tuhan; realisasi hubungan kekal dengan Tuhan; realisasi dari penyatuan seluruh hal yang ada; wawas diri sempurna serta pengetahuan akan diri yang sejati; pencapaian atas kedamaian batin yang sempurna; dan pelepasan dari segala keinginan duniawi.

Realisasi semacam itu membebaskan seseorang dari samsara dan mengakhiri siklus lahir kembali. [201] [202] Konseptualisasi moksa berbeda-beda tergantung mazhab atau aliran Hinduisme. Sebagai contoh, mazhab Adwaita Wedanta berpedoman bahwa setelah mencapai moksa, atman tidak lagi mengenali dirinya sebagai individu, melainkan menyadari bahwa Brahman identik dalam segala hal, termasuk kesamaannya dengan atman. Pengikut mazhab Dwaita (dualistis) memandang individu sebagai bagian dari Brahman, dan setelah mencapai moksa, mereka yakin akan memperoleh kekekalan di loka bersama dengan manifestasi Iswara yang dipilihnya.

Maka dari itu, dianalogikan bahwa pengikut dwaita berharap untuk "menikmati gula", sementara pengikut Adwaita berharap untuk "menjadi gula". [203] Tujuan hidup manusia [ sunting - sunting sumber ] Filsafat Hindu klasik mengakui empat hal yang harus dipenuhi sebagai tujuan hidup manusia—sebagaimana dijabarkan di bawah ini—yang disebut purusarta: • Darma: Darma adalah prinsip yang tak boleh diabaikan oleh umat Hindu. Darma dapat dipandang sebagai kewajiban (dalam hal kegiatan duniawi ataupun rohani), hukum, keadilan, tindakan benar, dan berbagai kualitas yang mendukung harmoni segala sesuatu.

Brihadaranyaka-upanishad memandang darma sebagai prinsip universal—tentang aturan, kewajiban, dan harmoni—yang berasal dari Brahman. Darma berlaku sebagai prinsip moral bagi alam semesta. Darma merupakan sat (kebenaran), ajaran pokok dalam agama Hindu. Hal ini berpangkal pada pernyataan dalam Regweda bahwa "Ekam Sat," (Kebenaran Hanya Satu), dari keyakinan bahwa Brahman itu sendiri merupakan " Satcitananda" (Kebenaran-Kesadaran-Keberkatan).

Darma tidak hanya sekadar aturan atau harmoni, tapi kebenaran murni. Dalam Mahabharata, Kresna mendefinisikan darma sebagai penegak perkara di dunia manusia dan dunia lain (Mbh 12.110.11). Kata Sanātana berarti 'kekal', 'tak mati', atau 'selamanya'; maka, agama Hindu sebagai Sanātana-dharma bermakna suatu darma yang tidak berawal atau berakhir. [204] • Arta: Arta adalah upaya mencari harta demi penghidupan dan kemakmuran. Hal ini juga mencakup usaha mencari pekerjaan, berpolitik, memelihara kesehatan, dan mencari kesejahteraan material.

[205] Arta dibutuhkan demi mencapai kehidupan yang makmur sentosa, terutama bagi umat yang sudah berumah tangga. Ajaran tentang arta disebut Arthashastra, dan yang termasyhur di antaranya adalah Arthashastra karya Kautilya.

[206] • Kama: Kama berarti hasrat, keinginan, gairah, kemauan, dan kenikmatan panca indra. Kama dapat pula berarti kesenangan estetis dalam menikmati kehidupan ( seni, hiburan, kegembiraan), kasih sayang, ataupun asmara.

[207] [208] Akan tetapi, kama dalam hubungan asmara atau percintaan hanya dapat dipenuhi melalui hubungan pernikahan. Kama dibutuhkan dalam membangun kehidupan rumah tangga, atau grehasta. • Moksa: Moksa atau mukti adalah tujuan hidup yang utama bagi umat Hindu. Moksa adalah keadaan yang sama sekali berbeda dengan pencapaian surga. Moksa adalah suatu kondisi saat individu menyadari esensi dan realitas sejati dari alam semesta, sehingga individu mengalami kemerdekaan dari kesan-kesan duniawi, tanpa suka ataupun duka, lepas belenggu samsara, serta lepas dari hasil perbuatan ( karma) yang melekati individu selama mengalami proses reinkarnasi.

[209] Jalan menuju Tuhan [ sunting - sunting sumber ] Empat jalan spiritualitas ( caturmarga) dalam agama Hindu. Setiap jalan menyediakan cara yang berbeda untuk mencapai moksa. Umat Hindu memenuhi tujuan hidupnya dengan menempuh jalan yang berbeda-beda.

Jalan tersebut merupakan yoga. Yoga di sini dapat diartikan sebagai disiplin fisik, mental, dan spiritual demi memperoleh kedamaian dan ketenangan pikiran. [210] Dalam konteks dan tradisi lain, yoga dapat pula didefinisikan sebagai "upaya mengendalikan pikiran agar [pikiran] tidak liar", atau "[usaha] mempersatukan diri dengan Tuhan".

[210] Ajaran tentang pelaksanaan yoga dihimpun dan diuraikan oleh para resi atau orang bijak. Kitab yang memuat ajaran yoga meliputi Bhagawadgita, Yogasutra, Hathayoga-pradipika, dan Upanishad sebagai basis filosofis dan historisnya.

Yoga mengarahkan umat Hindu untuk mencapai tujuan hidup yang spiritual (moksa, samadhi, atau nirwana), baik secara langsung maupun tidak langsung. Empat macam jalan (yoga) utama yang sering disinggung yakni: [211] • Karmayoga (melaksanakan kewajiban sebaik-baiknya dengan ikhlas) • Bhaktiyoga (mencintai Tuhan dan menyayangi segala makhluk) • Jnanayoga (mencari pengetahuan dan berkontemplasi tentang Tuhan) • Rajayoga (mengendalikan pikiran dengan meditasi, sikap tubuh, atau semacamnya) Seseorang dapat memilih salah satu atau beberapa yoga sekaligus, sesuai dengan kecenderungan dan pemahamannya.

Beberapa aliran Hinduisme yang menekankan pengabdian mengajarkan bahwa bhakti adalah satu-satunya jalan praktis untuk mencapai kesempurnaan spiritual bagi masyarakat awam, berdasarkan kepercayaan bahwa dunia sedang berada pada masa Kaliyuga (salah satu jangka waktu dalam siklus Yuga yang kini sedang berlangsung). [212] Melaksanakan salah satu yoga tidak berarti mengabaikan yang lainnya. Banyak mazhab Hinduisme mengajarkan bahwa berbagai yoga secara alami berbaur dan mendukung pelaksanaan yoga lainnya.

Contohnya praktik jnanayoga, berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah dianggap pasti mengarahkan seseorang untuk memberikan kasih sayang murni (tujuan utama bhaktiyoga), dan demikian sebaliknya. [213] Seseorang yang mendalami meditasi tingkat tinggi (seperti yang ditekankan raja yoga) harus mewujudkan prinsip pokok dari karmayoga, jnanayoga, dan bhaktiyoga, baik secara langsung maupun tak langsung.

[211] [214] Pustaka suci [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Susastra Hindu Menurut tokoh spiritual Hindu Swami Vivekananda, agama Hindu berdasarkan kepada himpunan pedoman spiritual yang ditemukan oleh orang yang berbeda-beda pada zaman yang berbeda-beda. [215] [216] Selama berabad-abad, pedoman itu diwariskan secara lisan dalam bentuk syair agar dapat dihafalkan, sampai akhirnya dituliskan. [217] Selama berabad-abad, para resi menyaring ajaran tersebut dan memperluas dalil-dalilnya.

Pada masa setelah Periode Weda dan menurut keyakinan Hindu masa kini, banyak pustaka Hindu tidak untuk ditafsirkan secara harfiah. Yang diutamakan adalah etika dan makna metaforis yang terkandung di dalamnya. [218] Di antara pustaka suci tersebut, Weda merupakan yang paling tua, yang diikuti dengan Upanishad sebagai susastra dasar yang sangat penting dalam mempelajari filsafat Hindu. Sastra lainnya yang menjadi landasan penting dalam ajaran Hindu adalah Tantra, Agama, Purana, serta dua wiracarita, yaitu Ramayana dan Mahabharata.

Bhagawadgita adalah ajaran yang dimuat dalam Mahabharata, merupakan susastra yang dipelajari secara luas, yang sering disebut sebagai intisari Weda. Banyak pustaka Hindu yang ditulis dalam bahasa Sanskerta. Pustaka-pustaka tersebut digolongkan menjadi dua kelas: Sruti dan Smerti.

Sruti [ sunting - sunting sumber ] Regweda berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah salah satu kitab suci tertua di dunia. Naskah Regweda dalam foto ini ditulis dengan aksara Dewanagari. Sruti (artinya "apa yang didengar") [219] terutama mengacu kepada kumpulan Weda, yang merupakan bentuk pustaka Hindu tertua.

Banyak umat Hindu mengagungkan Weda sebagai kebenaran abadi yang diwahyukan kepada para resi purbakala, [216] [220] sementara umat yang lain tidak menyangkutpautkan penyusunan Weda dengan Tuhan atau seseorang. Umat Hindu meyakini kumpulan Weda sebagai pedoman bagi dunia spiritual, yang akan ada selama-lamanya, bahkan tetap ada jika seandainya tidak pernah diwahyukan kepada para resi. [215] [221] Umat Hindu memiliki kepercayaan demikian karena mengimani bahwa kebenaran spiritual dalam Weda bersifat kekal, yang dapat terus diungkapkan dengan cara-cara yang baru.

[222] Ada empat kitab Weda, yaitu Regweda ( Ṛgveda), Samaweda ( Sāmaveda), Yajurweda ( Yajurveda), dan Atharwaweda ( Atharvaveda). Kitab Regweda adalah kitab Weda yang pertama dan terpenting. Setiap Weda dibagi menjadi empat bagian: yang utama— Weda yang baku—adalah Samhita ( Saṃhitā), yang menghimpun mantra-mantra. Tiga bagian lainnya membentuk seperangkat golongan suplemen bagi Samhita, biasanya dalam bentuk prosa dan dipercaya berusia lebih muda daripada Saṃhitā.

Adapun tiga bagian tersebut adalah Brahmana ( Brāhmaṇa), Aranyaka ( Āraṇyaka), dan Upanishad. Dua bagian pertama disebut Karmakanda ( Karmakāṇḍa; porsi ritual), sedangkan yang terakhir disebut Jnanakanda ( Jñānakāṇḍa; porsi pengetahuan).

[223] Kumpulan Weda berfokus kepada pelaksanaan upacara, sementara kumpulan Upanishad berfokus kepada pandangan spiritual dan ajaran filosofis, serta memperbincangkan Brahman dan reinkarnasi. [218] [224] [225] Smerti [ sunting - sunting sumber ] Kitab-kitab Hindu yang tak termasuk Sruti digolongkan ke dalam Smerti (ingatan). Kitab Smerti yang terkenal yaitu wiracarita India ( Itihasa), terdiri dari Mahabharata ( Mahābhārata) dan Ramayana ( Rāmāyaṇa).

Itihasa adalah suatu bagian dari kesusastraan Hindu yang menceritakan kisah kepahlawanan para raja dan kesatria Hindu pada masa lampau dan dikombinasikan dengan filsafat keagamaan, mitologi, dan cerita tentang makhluk supernatural. Kitab Bhagawadgita ( Bhagavadgītā) merupakan suatu bagian integral dalam Mahabharata, dan merupakan salah satu kitab suci Hindu yang masyhur.

Kitab tersebut mengandung ajaran filosofis yang dinarasikan oleh Kresna—sebagai awatara Wisnu—kepada Arjuna, menjelang perang di Kurukshetra. Bhagawadgita terdiri dari delapan belas bab dan berisi ± 650 sloka. Setiap bab menguraikan jawaban-jawaban yang diajukan oleh Arjuna kepada Kresna. Jawaban-jawaban tersebut merupakan wejangan suci sekaligus pokok-pokok ajaran Weda. [226] Akan tetapi, kitab yang termasuk Gita—kadang kala disebut Gitopanishad—sering kali digolongkan ke dalam Sruti, karena konteksnya bersifat Upanishad.

[227] Kitab-kitab Purana ( Purāṇa)—yang menguraikan ajaran-ajaran Hindu melalui kisah-kisah yang gamblang—tergolong ke dalam Smerti. Purana memuat mitologi, legenda, dan kisah-kisah zaman purba berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah diyakini kebenarannya oleh umat Hindu. Kata Purana berarti "sejarah kuno" atau "cerita kuno".

Penulisan kitab-kitab Purana diperkirakan dimulai sekitar tahun 500 SM. Terdapat delapan belas kitab Purana yang disebut Mahapurana.

Kitab lain yang tergolong ke dalam Smerti meliputi Dewimahatmya ( Devīmahātmya), Tantra, Yogasutra, Tirumantiram, Siwasutra, dan Agama ( Āgama). Selain itu, ada kitab Manusmerti, yang merupakan kitab hukum preskriptif yang mendasari aturan kemasyarakatan dan stratifikasi sosial yang kemudian menuntun masyarakat membentuk sistem kasta di India.

Kitab Tantra memuat tentang cara pemujaan masing-masing aliran dalam agama Hindu. Kitab Tantra juga mengatur tentang pembangunan tempat suci Hindu dan peletakkan arca. Kitab Nitisastra memuat ajaran kepemimpinan dan pedoman untuk menjadi seorang pemimpin yang baik. Kitab Jyotisha merupakan kitab yang memuat ajaran sistem astronomi tradisional Hindu.

Kitab Jyotisha berisi pedoman tentang benda langit dan peredarannya. Kitab Jyotisha digunakan untuk meramal dan memperkirakan datangnya suatu musim.

Sejarah [ sunting - sunting sumber ] Periodisasi [ sunting - sunting sumber ] James Mill (1773–1836), dalam bukunya The History of British India (1817), membagi sejarah India menjadi tiga tahap, yaitu peradaban Hindu, Muslim, dan Britania. [228] [229] Periodisasi ini menuai kritik karena kesalahpahaman yang ditimbulkannya. [230] Periodisasi lainnya memilah-milah menjadi periode kuno, klasik, pertengahan, dan modern.

[231] Smart [232] dan Michaels [233] tampaknya mengikuti periodisasi menurut Mill, [j] sedangkan Flood [234] dan Muesse [236] [237] mengikuti periodisasi yang terbagi menjadi periode kuno, klasik, pertengahan, dan modern. [238] Periode-periode yang berbeda ditentukan sebagai masa Hinduisme Klasik: • Smart menyatakan rentang waktu antara 1000 SM dan 100 M sebagai "praklasik".

Itu merupakan periode formatif bagi Upanishad dan Brahmanisme, [k] Jainisme, dan Buddhisme. Menurut Smart, "periode klasik" berlangsung dari 100 M hingga 1000 M, dan bertepatan dengan suburnya "Hinduisme Klasik", serta pertumbuhan dan kemunduran Buddha Mahayana di India. [240] • Menurut Michaels, rentang waktu antara 500 SM dan 200 SM adalah masa "Reformisme Asketis", [241] sedangkan rentang waktu antara 200 SM dan 1100 M adalah masa "Hinduisme Klasik", karena adanya titik balik antara agama Weda dan agama Hindu.

[242] • Muesse menyatakan perbedaan rentang waktu yang lebih jauh, yaitu antara 800 SM dan 200 SM, yang ia sebut sebagai "Periode Klasik". Menurut Muesse, beberapa konsep dasar agama Hindu, yaitu karma, reinkarnasi, serta pencerahan dan transformasi seseorang—yang tidak ditemui dalam agama Weda—berkembang pada periode tersebut. [243] Smart [232] Michaels [14] Muesse [237] Flood [244] Umum Detail Peradaban Lembah Sungai Indus dan Periode Weda ( ca.

3000 – 1000 SM) Agama-Agama Pra-Weda (prasejarah – ca. 1750 SM) Peradaban Lembah Sungai Indus (3300 – 1400 SM) Peradaban Lembah Sungai Indus ( ca. 2500 – 1500 SM) Agama Weda Kuno ( ca. 1750 – 500 SM) Periode Weda Awal ( ca. 1750 – 1200 SM) Periode Weda (1600 – 800 SM) Periode Weda ( ca. 1500 – 500 SM) Periode Weda Pertengahan (dari 1200 SM) Periode Praklasik ( ca.

1000 SM – 100 M) Periode Weda Akhir (dari 850 SM) Periode Klasik (800 – 200 SM) Reformisme Asketis ( ca. 500 – 200 SM) Periode Epos dan Purana ( ca. 500 SM – 500 M) Hinduisme Klasik ( ca. 200 SM – 1100 M) Hinduisme Praklasik ( ca. 200 SM – 300 M) Periode Epos dan Purana (200 SM – 500 M) Periode Klasik ( ca. 100 M – 1000 M) "Zaman Kejayaan" ( Kemaharajaan Gupta) ( ca. 320 – 650 M) Hinduisme-Klasik Akhir ( ca.

650 – 1100 M) Periode-Purana Pertengahan dan Akhir (500 – 1500 M) Periode-Purana Pertengahan dan Akhir (500 – 1500 M) Peradaban Hindu-Islam ( ca. 1000 – 1750 M) Penaklukan Muslim dan Kemunculan Sekte-Sekte Hinduisme ( ca. 1100 – 1850 M) Abad Modern (1500 – kini) Abad Modern ( ca. 1500 – kini) Periode Modern ( ca. 1750 – kini) Hinduisme Modern (sejak ca. 1850) Agama-Agama Pra-Weda [ sunting - sunting sumber ] Artefak yang disebut cap Shiva- pashupati (Siwa sang penguasa satwa), berasal dari masa Peradaban Lembah Sungai Indus.

Ras manusia pertama yang menduduki India ( ca. 40.000–60.000 tahun yang lalu, saat periode Paleolitik) adalah Australoid yang mungkin memiliki hubungan dengan penduduk asli Australia. [245] Ada dugaan bahwa ras tersebut hampir punah atau terdesak oleh gelombang migrasi pada masa berikutnya. [246] Setelah pendudukan oleh Australoid, maka ras Kaukasoid (meliputi bangsa Elamo-Dravida [ ca. 4000 [247] hingga 6000 SM] [248] dan Indo-Arya [ ca. 2000 [249] hingga 1500 SM] [250]) dan Mongoloid ( Sino-Tibet) bermigrasi ke India.

Bangsa Elamo-Dravida [l] ada kemungkinan berasal dari Elam, kini merupakan wilayah Iran. [247] [248] [251] [252] Agama prasejarah tertua di India—yang mungkin meninggalkan jejaknya pada agama Hindu [m]—berasal dari zaman mesolitik [254] dan neolitik.

[253] Beberapa agama suku di India masih bertahan, mendahului dominansi agama Hindu, tapi tidak harus dianggap bahwa ada banyak kemiripan antara masyarakat suku pada zaman prasejarah dengan masa kini. [255] Menurut antropolog Gregory Possehl, peradaban lembah sungai Indus (2600–1900 SM) mengandung titik pangkal yang logis, atau mungkin arbitrer, bagi beberapa aspek pada tradisi Hindu di kemudian hari.

[256] Agama pada masa tersebut mengandung pemujaan kepada Dewa Yang Mahakuasa, yang dibandingkan oleh beberapa ahli (terutama John Marshall) sebagai proto- Siwa, dan mungkin sesosok Ibu Dewi, yang mendasari figur Sakti. Praktik-praktik lain dari zaman peradaban lembah sungai Indus yang berlanjut ke periode Weda meliputi pemujaan kepada air dan api.

Akan tetapi, hubungan antara dewa-dewi dan praktik agama lembah sungai Indus dengan agama Hindu masa kini telah menjadi subjek perselisihan politis serta perdebatan para ahli. [257] Periode Weda [ sunting - sunting sumber ] Peta dataran subur India Utara. Periode Weda—yang berlangsung dari ca. 1750 sampai 500 SM [233] [n]—disebut demikian karena berdasarkan agama berbasis Weda yang dianut oleh bangsa Indo-Arya, [259] [o] yang bermigrasi ke India barat daya setelah mundurnya peradaban lembah sungai Indus [260] [261] [262] (ada kemungkinan dari stepa Asia Tengah).

[251] [263] Bangsa ini membawa serta bahasa [264] dan agama mereka. [250] [265] Agama mereka berkembang lebih jauh ketika bermigrasi ke dataran India Utara setelah ca. 1100 SM dan menjadi pastoralis. [266] [267] [268] Meskipun kepercayaan dan praktik pada masa Hinduisme Praklasik boleh jadi berasal dari bahan-bahan agama Proto-Indo-Eropa (yang masih hipotesis), [269] sastra yang mendasari tradisi pada masa itu adalah Weda Samhita, sehingga periode tersebut dinamai demikian.

Kitab tertua di antara sastra Weda tersebut adalah Regweda, yang diperkirakan telah disusun pada periode 1700–1100 SM. [p] Sastra Weda memusatkan pemujaan kepada para dewa seperti Indra, Baruna, dan Agni, serta melangsungkan upacara Soma.

Kurban dengan api, yang disebut yadnya ( yajña) dilaksanakan dengan merapalkan mantra-mantra Weda. [271] [272] Sastra Weda dikodifikasi ketika bangsa Indo-Arya mulai menduduki dataran India Utara yang subur, kemudian melakukan transisi dari masyarakat penggembala menuju masyarakat agraris, sehingga kebutuhan akan organisasi yang lebih terstruktur mulai timbul. Masyarakat baru tersebut melibatkan penduduk yang lebih dahulu bermukim di dataran subur tersebut.

Mereka dimasukkan ke dalam sistem warna menurut bangsa Arya, dengan otoritas politik dan keagamaan berada di tangan kaum brahmana dan kesatria. [273] Selama Periode Weda Awal ( ca. 1500–1100 SM), suku-suku penganut Weda merupakan suku penggembala, berkelana di sekitar India sebelah barat laut. [274] Setelah 1100 SM, seiring ditemukannya besi, suku-suku penganut Weda berpindah ke dataran India Utara sebelah barat, dan mengadaptasi gaya hidup agraris.

[275] [276] Bentuk-bentuk wilayah berdaulat yang belum sempurna mulai muncul, dan yang paling menonjol atau berpengaruh adalah kerajaan suku Kuru.

[266] [277] Kerajaan tersebut merupakan ikatan kesukuan, yang kemudian berkembang menjadi masyarakat setingkat negara—yang pertama kali tercatat dalam sejarah Asia Selatan—sekitar 1000 M. [266] Secara terang-terangan, mereka mengubah warisan budaya dari Periode Weda sebelumnya, mengumpulkan himne-himne Weda menjadi suatu himpunan, dan mengembangkan upacara-upacara baru yang menonjol dalam peradaban India sebagai upacara-upacara srauta, [266] yang berkontribusi bagi "sintesis klasik" atau "sintesis Hindu".

[273] [48] Pada abad ke-9 dan ke-8 SM terjadi penyusunan kitab-kitab Upanishad tertua. [278] Upanishad membentuk suatu dasar teoretis bagi Hinduisme Klasik dan dikenal sebagai Wedanta (kesimpulan dari Weda). [279] Kitab-kitab Upanishad kuno menangkal intensitas upacara-upacara yang kian bertambah. [280] Spekulasi monistis yang beragam dari ajaran Upanishad disintesiskan menjadi suatu kerangka teistis dalam kitab suci Hindu Bhagawadgita. [281] Etika dalam kitab-kitab Weda berdasarkan konsep satya dan reta.

Satya adalah prinsip integrasi yang berakar pada kemutlakan. Reta adalah ungkapan dari satya, yang meregulasi dan mengkoordinasi jalannya alam semesta beserta segala sesuatu di dalamnya. [282] Kesesuaian dengan reta akan memungkinkan sesuatu berjalan sebagaimana mestinya, sedangkan penyimpangan akan mengakibatkan hal yang tidak diinginkan. [283] Istilah dharma sudah digunakan dalam filsafat-filsafat Brahmanis, yang dipandang sebagai aspek dari reta.

[284] Istilah reta juga dikenal dalam agama Proto-Indo-Iran, yaitu agama orang-orang Indo-Iran sebelum kehadiran kitab-kitab Weda (Indo-Aryan) dan Zoroastrianisme (Iran). Asha ( aša) adalah istilah dalam bahasa Avesta yang mirip dengan ṛta dalam Weda. [285] Kitab-kitab Weda merupakan pustaka bagi golongan atas, dan tidak semata-mata mengungkapkan gagasan atau praktik yang populer. [286] Agama berbasis Weda pada periode selanjutnya hadir berdampingan dengan agama-agama lokal—seperti pemujaan Yaksa [273] [287] [288]—dan ia sendiri merupakan hasil dari campuran antara kebudayaan Indo-Arya dengan Harrapa.

[52] Reformisme Asketis [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Sramana Peningkatan urbanisasi di India pada abad ke-7 dan ke-6 SM telah mendukung terjadinya gerakan asketis atau Sramana yang menentang fanatisme terhadap berbagai upacara.

[289] Mahavira ( ca. 549–477 SM, pemuka Jainisme) dan Buddha Gautama ( ca. 563–483 SM, penggagas tradisi Buddhisme) adalah tokoh-tokoh terkemuka dalam gerakan tersebut.

[290] Menurut Heinrich Zimmer, Jainisme dan Buddhisme adalah bagian dari warisan kebudayaan pra-Weda, yang juga meliputi Samkhya dan Yoga: Jainisme tidak berasal dari sumber-sumber [budaya] Brahman- Arya, [q] tetapi mencerminkan kosmologi dan antropologi masyarakat kuno pra-Arya golongan atas [yang tinggal] di India bagian timur laut – dengan berpangkal pada dasar-dasar yang sama tentang spekulasi metafisis kuno seperti Yoga, Sankhya, dan Buddhisme, yaitu ajaran-ajaran India lainnya yang tidak berbasis Weda.

[r] [291] [292] Dalam suatu bagian, tradisi Sramana mengajarkan konsep siklus kelahiran dan kematian (siklus reinkarnasi), konsep samsara, dan konsep pencarian kebebasan (dari reinkarnasi tersebut), yang menjadi karakteristik Hinduisme. [293] James B. Pratt dalam bukunya The Pilgrimage of Buddhism and a Buddhist Pilgrimage menulis bahwa Oldenberg (1854–1920), Neumann (1865–1915), dan Radhakrishnan (1888–1975) percaya bahwa Tripitaka Buddhis mendapat pengaruh dari kitab-kitab Upanishad, sedangkan la Vallee Poussin menyatakan ketiadaan pengaruh apa pun, dan ahli lainnya menegaskan bahwa pada bagian-bagian tertentu, Sang Buddha menyatakan antitesis secara langsung kepada Upanishad.

[294] Hinduisme Klasik [ sunting - sunting sumber ] Periode Hinduisme Klasik diawali dengan periode Hinduisme Praklasik, dilanjutkan dengan zaman kejayaan Hindu pada masa Dinasti Gupta, lalu ditutup dengan periode Hinduisme Klasik Akhir.

Periode Hinduisme Klasik ini disusul dengan kedatangan agama Islam ke Asia Selatan, lalu diikuti dengan pendirian aliran atau sekte dalam agama Hindu.

Hinduisme Praklasik [ sunting - sunting sumber ] Pada periode dari 500 [48] hingga 200 SM, [295] dan ca. 300 M, terjadi "sintesis Hindu", [48] yang menyerap pengaruh-pengaruh Sramana dan Buddha, [295] [296] serta kemunculan tradisi bhakti dalam balutan Brahmanisme melalui pustaka Smerti.

[297] Sintesis ini timbul di bawah tekanan perkembangan agama Buddha dan Jainisme. [58] Menurut Embree, beberapa tradisi keagamaan lainnya hadir berdampingan dengan agama berbasis Weda. Agama-agama pribumi tersebut akhirnya menemukan tempat di bawah naungan agama Weda. [298] Ketika Brahmanisme mulai kehilangan pamornya [242] dan harus bersaing dengan Buddhisme dan Jainisme, [297] agama-agama yang populer mendapat kesempatan untuk menonjolkan ajarannya. [298] Menurut Embree: Para Brahmanis tampaknya bergiat untuk memperluas perkembangan [agamanya] sebagai maksud untuk menghadapi gempuran aliran-aliran yang lebih heterodoks.

Pada saat yang sama, di kalangan agama-agama pribumi yang ada, kesetiaan terhadap kewenangan sastra Weda telah memberikan suatu tali persatuan yang tipis—namun begitu signifikan—di antara kemajemukan dewa-dewi dan praktik keagamaan [yang ada]. [s] [298] Menurut Larson, para brahmana menanggapinya dengan asimilasi dan konsolidasi. Hal tersebut tercerminkan dalam pustaka Smerti yang mulai disusun pada periode itu. [299] Kitab-kitab Smerti dari periode 200 SM–100 M mempermaklumkan kewenangan Weda, sehingga pengakuan terhadap kewenangan Weda menjadi kriteria utama untuk membedakan Hinduisme dengan aliran heterodoks yang menolak Weda.

[300] Sebagian besar gagasan dasar dan praktik Hinduisme Klasik berasal dari pustaka Smerti, yang kemudian menjadi inspirasi dasar bagi kebanyakan umat Hindu. [299] Dua wiracarita India terkemuka— Ramayana dan Mahabharata—yang tergolong ke dalam Smerti, disusun dalam periode panjang selama akhir zaman Sebelum Masehi dan awal zaman Masehi. [301] Pustaka tersebut mengandung cerita mitologis tentang para pemimpin dan peperangan pada zaman India Kuno, dan diselingi dengan filsafat dan ajaran agama.

Sastra Purana yang disusun pada masa berikutnya mengandung cerita tentang para dewa-dewi, interaksi mereka dengan manusia, dan pertempuran mereka melawan para rakshasa. Kitab Bhagawadgita memperkuat keberhasilan [302] konsolidasi agama Hindu, [302] dengan memadupadankan gagasan-gagasan Brahmanis dan Sramana menjadi suatu kebaktian yang teistis. [302] [303] [304] Pada awal zaman Masehi, beberapa mazhab filsafat Hindu dikodifikasikan secara formal, meliputi Samkhya, Yoga, Nyaya, Waisesika, Purwamimamsa, dan Wedanta.

[305] "Zaman Kejayaan" [ sunting - sunting sumber ] Candi Dashavatara di Deogarh, negara bagian Uttar Pradesh, India. Candi ini dibangun pada abad ke-6, era Dinasti Gupta. Selama periode ini, kekuasaan atas India disentralisasi, seiring dengan berkembangnya perdagangan ke negeri yang jauh, standardisasi prosedur legal, dan pemberantasan buta huruf.

[306] Buddhisme aliran Mahayana menyebar, sedangkan kebudayaan Brahmana ortodoks mulai disegarkan kembali di bawah perlindungan Dinasti Gupta, [307] yang dipimpin para raja penganut Waisnawa. [308] Kedudukan para brahmana diperkuat kembali dan kuil-kuil Hindu mulai didirikan sebagai dedikasi untuk dewa-dewi Hindu. [306] Selama pemerintahan Dinasti Gupta, sastra Purana mulai ditulis, digunakan untuk menyebarkan ideologi keagamaan umum di kalangan masyarakat pribumi dan buta huruf yang menjalani akulturasi.

[309] Para raja Gupta melindungi tradisi Purana yang mulai berkembang demi perbawa wangsa mereka. [308] Hal ini menyebabkan timbulnya Hinduisme-Puranis ( Puranic Hinduism), yang berbeda dengan Brahmanisme sebelumnya yang mengacu pada Dharmasastra dan Smerti. [309] Gerakan Bhakti muncul pada periode ini. Gerakan Bhakti merupakan perkembangan tradisi bhakti yang tumbuh sangat cepat, bermula di Tamil Nadu ( India Selatan).

Para Nayanar dari aliran Saiwa (abad ke-4 – ke-10) [310] serta para Alwar dari aliran Waisnawa (abad ke-3 – ke-9) menyebarkan puisi dan tradisi bhakti ke berbagai penjuru India dari abad ke-12 hingga ke-18. [311] [310] Menurut P.S. Sharma, periode Gupta dan Harsha membentuk—dari segi intelektual—kurun waktu paling gemilang dalam perkembangan filsafat India, ketika filsafat Hindu dan Buddha tumbuh subur secara berdampingan.

[312] Carwaka, mazhab materialisme ateistis, tampil di India Utara sebelum abad ke-8. [313] Hinduisme Klasik Akhir [ sunting - sunting sumber ] Setelah runtuhnya kemaharajaan Gupta dan Harsha, kekuasaan di India mengalami desentralisasi. Beberapa kerajaan besar mulai berdiri, dengan negeri taklukan yang sangat banyak. Kerajaan-kerajaan tersebut dipimpin dengan sistem feodal.

Kerajaan yang lebih kecil bergantung pada kerajaan yang lebih besar. Maharaja sulit dijangkau, sangat diagungkan dan didewakan, [314] sebagaimana yang digambarkan dalam mandala Tantra, dan kadang kala raja digambarkan sebagai pusat mandala. [315] Perpecahan kekuasaan pusat juga mengarah kepada regionalisasi religiositas, serta persaingan religius.

[316] Kultus dan bahasa lokal lebih diutamakan, dan pengaruh Hinduisme-Brahmanis ritualistis ( ritualistic Brahmanic Hinduism) berkurang. [316] Gerakan rakyat dan kebaktian mulai bermunculan, seiring dengan [tumbuhnya] aliran Saiwa, Waisnawa, Bhakti, dan Tantra, meskipun pengelompokan menurut sekte hanya terjadi saat permulaan perkembangan aliran-aliran tersebut.

[316] Gerakan keagamaan berkompetisi untuk memperoleh pengakuan dari penguasa lokal. Agama Buddha kehilangan pamornya setelah abad ke-8, lalu mulai memudar di India. [316] Hal tersebut tersirat dari penghentian ritus puja Buddhis di lingkungan istana-istana India pada abad ke-8, ketika dewa-dewa Hindu menggantikan peran Buddha sebagai pelindung kerajaan. [317] Sastra Purana kuno disusun untuk menyebarkan ideologi keagamaan yang awam di kalangan masyarakat pribumi yang mengalami akulturasi.

Seiring dengan dadal yang dialami Dinasti Gupta, tanah-tanah perawan dikumpulkan oleh para brahmana, yang tidak hanya menjamin keuntungan agraris dari eksploitasi tanah yang dimiliki para raja, tetapi juga memberikan status bagi kelas penguasa yang baru. [318] Para brahmana menyebar ke berbagai penjuru India, berinteraksi dengan warga lokal yang menganut kepercayaan dan ideologi berbeda. Para brahmana menggunakan Purana untuk mengajak berbagai klan menjadi masyarakat agraris, serta mengikuti agama dan ideologi para brahmana.

[64] Menurut Flood, para brahmana yang mengikuti agama berbasis Purana kemudian dikenal sebagai Smarta, artinya orang yang bersembahyang berdasarkan Smerti, atau Pauranika, yaitu penganut Purana. [319] Kepala suku dan warga lokal diserap ke dalam sistem warna, demi mengendalikan tindak tanduk kaum " kesatria dan sudra baru" tersebut. [320] Kelompok-kelompok brahmana semakin besar dengan mengikutsertakan orang lokal, seperti pendeta dan rohaniwan lokal.

Hal ini mengarah ke stratifikasi bagi kaum brahmana, sehingga ada golongan brahmana yang memiliki derajat lebih tinggi dibandingkan brahmana lainnya. [64] Penarapan sistem kasta lebih sesuai bagi Hinduisme Puranis daripada aliran-aliran Sramana (Buddha atau Jaina). Pustaka Purana mencantumkan suatu riwayat silsilah yang luas sehingga dapat memberikan status kesatria baru bagi suatu golongan. Sementara itu, ajaran Buddha menggambarkan pemerintah sebagai suatu kontrak antara orang yang terpilih dengan rakyat, dan chakkavatti Buddhis adalah konsep yang berbeda dengan model penaklukkan yang dilakukan para kesatria dan kaum Rajput Hindu.

[320] Lukisan Kresna sebagai Gowinda atau "pelindung para sapi", dari abad ke-19. Brahmanisme berdasarkan pustaka Dharmasastra dan Smerti mengalami transformasi radikal di tangan para penyusun Purana, mengakibatkan munculnya Hinduisme Puranis ( Puranic Hinduism), [309] bagaikan "raksasa" yang melangkahi "cakrawala keagamaan", yang kemudian melintangi segala agama-agama yang ada.

[321] Hinduisme Puranis merupakan sistem kepercayaan yang terdiri dari banyak bagian yang tumbuh dan meluas dengan menyerap dan memadukan gagasan-gagasan bertentangan dan berbagai tradisi pemujaan. [321] Agama ini berbeda dengan Smarta yang menjadi pangkalnya. Perbedaan itu terletak pada ketenaran, pluralisme teologis, pluralisme sekte, pengaruh Tantra, dan pengutamaan bhakti.

[321] Banyak kepercayaan dan tradisi lokal yang diasimilasi ke dalam Hinduisme Puranis. Wisnu dan Siwa tampil sebagai dewa yang utama, berdampingan dengan Sakti/ Dewi. Pemujaan kepada Wisnu akhirnya menimbulkan kultus Narayana, Jagatnata, Wenkateswara, dan lain-lain. Menurut Nath: Beberapa inkarnasi Wisnu seperti Matsya, Kurma, Waraha, dan bahkan Narasinga membantu pemaduan simbol-simbol totem populer dan mitos penciptaan, khususnya yang berkaitan dengan babi hutan, yang umumnya meresapi mitologi [masyarakat] prapustaka, sedangkan [inkarnasi] lainnya seperti Kresna dan Balarama menjadi alat untuk mengasimilasi kultus dan mitos lokal yang berpusat pada dewa-dewa pedesaan dan pertanian.

[t] [322] Rama dan Kresna menjadi pujaan utama dalam tradisi bhakti, yang terutama diungkapkan dalam Bhagawatapurana. Tradisi pemujaan Kresna melibatkan beberapa kultus berbasis naga, yaksa, bukit, dan pepohonan. [323] Siwa menyerap kultus-kultus lokal dengan menambahkan kata Isa atau Iswara pada nama dewa-dewa lokal, contohnya Buteswara, Hatakeswara, Candeswara.

[324] Dalam lingkungan keluarga raja pada abad ke-8, puja terhadap Buddha mulai tergantikan oleh puja terhadap dewa-dewi Hindu. Pada periode itu pula, Buddha dimasukkan sebagai salah satu awatara Wisnu. [325] Mazhab Adwaita Wedanta yang non-dualistis—yang mendapat pengaruh agama Buddha [326]—dirumuskan kembali oleh Adi Shankara dengan membuat sistematisasi karya-karya para filsuf pendahulunya.

[327] Pada masa kini, karena pengaruh Orientalisme Barat dan Perenialisme terhadap Neo-Wedanta India dan nasionalisme Hindu, [328] Adwaita Wedanta mendapatkan sambutan yang luas dalam kebudayaan India dan di luar India sebagai contoh paradigmatis dari spiritualitas Hindu. [328] Kehadiran Islam dan sekte Hindu [ sunting - sunting sumber ] Reruntuhan Candi Somnath pada tahun 1869. Candi ini pernah didirikan dan dihancurkan berkali-kali selama periode penaklukan India oleh Muslim, sampai akhirnya dipugar pada tahun 1951.

Meskipun Islam sudah datang ke India sejak awal abad ke-7 (seiring dengan kedatangan para pedagang Arab dan penaklukan Sindhu), agama tersebut menjadi agama utama selama periode penaklukan Islam di Asia Selatan pada masa selanjutnya.

[329] Pada periode tersebut, agama Buddha memudar secara drastis, dan banyak umat Hindu pindah agama ke Islam. [330] [331] Banyak penguasa muslim beserta panglimanya, seperti Aurangzeb dan Malik Kafur yang menghancurkan tempat ibadah umat Hindu dan menindas kaum non-muslim; [332] [333] akan tetapi, beberapa penguasa muslim seperti Akbar bersikap lebih toleran.

Agama Hindu mengalami reformasi besar-besaran karena pengaruh Guru Ramanuja yang terkemuka, serta Guru Madhwa, dan Sri Caitanya. [329] Pengikut gerakan Bhakti beralih dari konsep Brahman yang abstrak—yang dianjurkan oleh filsuf Adi Shankara berabad-abad sebelumnya—dengan tradisi kebaktian yang lebih bersemangat terhadap pemujaan para awatara yang lebih mudah dibayangkan, terutama Kresna dan Rama.

[334] Menurut Nicholson, antara abad ke-17 dan ke-16, beberapa cendekiawan tertentu mulai menarik benang merah pada kanekaragaman ajaran filosofis dalam Upanishad, wiracarita, Purana, dan mazhab filsafat yang dikenal sebagai "enam sistem" ( saddarsana) dari filsafat Hindu yang umum.

[335] Lorenzen menentukan bahwa asal mula identitas ke-Hindu-an yang khas berawal dari interaksi antara muslim dan umat Hindu, [86] dan dari suatu proses pencarian jati diri yang membedakan diri dengan muslim, [336] yang sudah dimulai sebelum 1800-an. [87] Baik cendekiawan India ataupun Eropa—yang mempopulerkan istilah "Hinduisme" pada abad ke-19—telah mendapat pengaruh dari filsafat tersebut. [26] Michaels menggarisbawahi bahwa historisasi muncul sebelum nasionalisme di kemudian hari, yang menyuarakan gagasan kejayaan agama Hindu dan masa lampau.

[88] Hinduisme masa kini [ sunting - sunting sumber ] Di tengah kekuasaan British Raj (penjajahan Inggris atas India), Renaisans Hindu mulai bangkit pada abad ke-19, yang memberi perubahan besar bagi pemahaman akan agama Hindu, baik di India ataupun di Barat.

[13] Indologi (disiplin ilmiah tentang kajian kebudayaan India dari sudut pandang Eropa) didirikan pada abad ke-19, dipimpin oleh para ahli seperti Max Müller dan John Woodroffe. Mereka memboyong filsafat dan pustaka Weda, Purana, dan Tantra ke Eropa. Para orientalis mencari-cari "hakikat" agama-agama di India, dan menemukannya pada pustaka Weda, [337] sambil membuat gagasan bahwa "Hinduisme" adalah suatu kesatuan dari berbagai adat keagamaan dan gambaran populer mengenai ‘India yang mistis’.

[338] [13] Gagasan berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah diambil alih oleh beberapa gerakan reformasi Hindu seperti Brahmo Samaj, yang didukung untuk sesaat oleh Gereja Unitarian, [339] bersama dengan gagasan Universalisme dan Perenialisme, yaitu gagasan bahwa seluruh agama memiliki dasar mistisisme yang sama.

[340] "Modernisme Hindu", dengan tokoh terkemuka seperti Vivekananda, Aurobindo, serta Radhakrishnan menjadi panutan dalam pemahaman populer mengenai agama Hindu.

[341] [342] [343] [344] Tokoh Hindu yang berpengaruh pada abad ke-20 adalah Ramana Maharshi, B.K.S. Iyengar, Paramahansa Yogananda, Swami Prabhupada (pendiri ISKCON), Sri Chinmoy, dan Swami Rama, yang menerjemahkan, merumuskan ulang, dan memperkenalkan pustaka dasar agama Hindu bagi khalayak awam masa kini dengan imla yang baru, mengangkat pandangan tentang Yoga dan Wedanta di Dunia Barat, serta menarik pengikut baru dan perhatian masyarakat di India dan negara lainnya.

Pada abad ke-20, agama Hindu juga mendapatkan keunggulan sebagai kekuatan politis dan acuan bagi jati diri bangsa India. Sejak pendirian Hindu Mahasabha pada 1910-an, banyak gerakan bertumbuh dengan perumusan dan perkembangan ideologi Hindutva pada dekade-dekade berikutnya; pendirian Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS) pada tahun 1925; dan percabangan RSS—yang kemudian berhasil—yaitu Jana Sangha dan Bharatiya Janata Party (BJP) dalam politik pemilu pada masa pascakemerdekaan India.

[345] Religiositas Hindu juga memainkan peran penting dalam gerakan nasionalis. [346] Pranata [ sunting - sunting sumber ] Caturwarna [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Warna dalam agama Hindu Masyarakat Hindu dikategorikan menjadi empat kelas, disebut warna, yaitu sebagai berikut: • Brahmana: pendeta dan guru kerohanian • Kesatria: bangsawan, pejabat, dan tentara • Waisya: petani, pedagang, dan wiraswasta • Sudra: pelayan dan buruh Kitab Bhagawadgita menghubungkan warna dengan kewajiban seseorang ( swadharma), pembawaan ( swabhāwa), dan kecenderungan alamiah ( guṇa).

[84] Berdasarkan pengertian warna menurut Bhagawadgita, tokoh spiritual Hindu Sri Aurobindo membuat doktrin bahwa pekerjaan seseorang semestinya ditentukan oleh bakat dan kapasitas alaminya. [347] [348] Dalam kitab Manusmerti terdapat pengelompokan kasta-kasta yang berbeda. [349] Mobilitas dan fleksibitas dalam warna menampik dugaan diskriminasi sosial dalam sistem kasta, sebagaimana yang dikemukakan oleh beberapa sosiolog, [350] [351] meskipun beberapa ahli tidak sependapat.

[352] Para ahli memperdebatkan apakah sistem kasta merupakan bagian dari Hinduisme yang diatur oleh kitab suci, ataukah sekadar adat masyarakat. [353] [354] [u] Berbagai ahli berpendapat bahwa sistem kasta dibangun oleh rezim kolonial Britania. [356] Menurut guru rohani Hindu Sri Ramakrishna (1836–1886): Para pencinta Tuhan tidak tergolong dalam kasta tertentu … Seorang brahmana tanpa cinta pada Tuhan bukanlah brahmana lagi. Dan seorang paria tanpa cinta pada Tuhan bukanlah paria lagi.

Melalui bhakti (pengabdian kepada Tuhan), seorang hina dina dapat menjadi suci dan derajatnya pun meningkat. [357] Menurut sastra Wedanta, orang yang berada di luar warna disebut " warnatita". Para ahli seperti Adi Sankara menegaskan bahwa tidak hanya Brahman yang melampaui seluruh warna, tapi seseorang yang dapat bersatu dengan-Nya juga dapat melampaui seluruh perbedaan dan pembatasan kasta-kasta.

Jenjang kehidupan [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Caturasrama Secara tradisional, kehidupan umat Hindu terbagi menjadi empat āśrama atau caturasrama (empat fase atau empat tahapan). Bagian pertama dalam kehidupan seseorang adalah Brahmacari, yaitu masa menuntut ilmu. Tahap ini dilaksanakan sebelum masa kawin, untuk dapat berkontemplasi secara murni dan bijaksana di bawah bimbingan Guru, demi membangun pikiran dan fondasi spiritual.

Tahap berikutnya adalah Grehasta, yaitu tahap membangun kehidupan rumah tangga, dilaksanakan dengan cara menikah dan memenuhi kāma (kenikmatan indria) dan arta (kemakmuran). Setelah berumah tangga, kewajiban moral yang dilaksanakan meliputi: mengasuh anak, merawat orang tua, menghormati tamu dan orang suci.

Setelah berumah tangga dalam jangka waktu tertentu, umat Hindu kemudian menempuh tahap Wanaprasta, yaitu masa pensiun atau masa melepaskan diri dari kesibukan duniawi. Tahap ini dapat dilaksanakan dengan cara menyerahkan tanggung jawab kepada keturunan, agar pensiunan mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk melakukan aktivitas keagamaan dan mengunjungi tempat-tempat suci.

Tahap yang terakhir adalah Sannyasa, yaitu masa menghabiskan sisa hidup dengan melakukan tapa brata, atau berusaha melepaskan diri dari ikatan duniawi.

Pelepasan tersebut dilakukan dalam rangka menemukan Tuhan, serta untuk mencari cara meninggalkan tubuh fana secara damai, agar mencapai suatu kondisi yang disebut moksa. [358] Praktik keagamaan [ sunting - sunting sumber ] Praktik keagamaan Hindu biasanya bertujuan untuk mencari kesadaran akan Tuhan, dan kadang kala mencari anugerah dari para dewa.

Maka dari itu, ada beragam praktik keagamaan dalam tubuh Hinduisme yang dimaksudkan untuk membantu seseorang dalam upaya memahami Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Persembahyangan [ sunting - sunting sumber ] Seorang praktisi Bhaktiyoga sedang bermeditasi. Dalam banyak praktik keagamaan dan ritual, umat Hindu biasanya mengucapkan mantra.

Mantra adalah seruan, panggilan, atau doa yang membantu umat Hindu agar dapat memusatkan pikiran kepada Tuhan atau dewa tertentu, melalui kata-kata, suara, dan cara pelantunan. Pada pagi hari, di tepi sungai yang dikeramatkan, banyak umat Hindu yang melaksanakan upacara pembersihan sambil melantunkan Gayatri Mantra atau mantra-mantra Mahamrityunjaya.

[359] Wiracarita Mahabharata mengagungkan japa (lagu-lagu pujaan) sebagai kewajiban terbesar pada masa Kaliyuga (zaman sekarang, 3102 SM–kini). [360] Banyak aliran yang mengadopsi japa sebagai praktik spiritual yang utama. [360] Praktik spiritual Hindu yang cukup populer adalah Yoga. Yoga merupakan ajaran Hindu yang gunanya melatih kesadaran demi kedamaian, kesehatan, dan pandangan spiritual. Hal ini dilakukan melalui seperangkat latihan dan pembentukan posisi tubuh untuk mengendalikan raga dan pikiran.

[361] Bhajan merupakan praktik pelantunan lagu-lagu pujian. Praktik ini memiliki bentuk beragam: dapat berupa mantra semata atau kirtan, atau berupa dhrupad atau kriti dengan musik berdasarkan raga dan tala menurut musik klasik India.

[362] Biasanya, bhajan mengandung syair untuk mengungkapkan cinta kepada Tuhan. Istilah tersebut sepadan dengan bhakti yang artinya "pengabdian religius", menyiratkan pentingnya bhajan bagi gerakan bhakti yang menyebar dari India bagian selatan ke seluruh subkontinen India pada masa Moghul. Penggalan cerita dari kitab suci, ajaran para orang suci, serta deskripsi para dewa telah menjadi subjek bagi pelaksanaan bhajan. Tradisi dhrupad, qawwali Sufi, [363] dan kirtan atau lagu dalam tradisi Haridasi berkaitan dengan bhajan.

Nanak, Kabir, Meera, Narottama Dasa, Surdas, dan Tulsidas adalah para pujangga bhajan terkemuka. Tradisi dalam bhajan seperti Nirguni, Gorakhanathi, Vallabhapanthi, Ashtachhap, Madhura-bhakti, dan Sampradya Bhajan dari India Selatan memiliki repertoar dan cara pelantunan masing-masing.

Upacara [ sunting - sunting sumber ] Upacara choroonu (nama lain dari annaprashan) di Kerala.

berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah

Banyak umat Hindu dari berbagai aliran yang melaksanakan ritual keagamaan sehari-hari. [364] [365] Banyak umat Hindu yang melaksanakannya di rumah, [366] tetapi pelaksanaannya berbeda-beda tergantung daerah, desa, dan kecenderungan umat itu sendiri. Umat Hindu yang saleh melaksanakan ritual sehari-hari seperti sembahyang subuh sehabis mandi (biasanya di kamar suci/tempat suci keluarga, dan biasanya juga diiringi dengan menyalakan pelita serta menghaturkan sesajen ke hadapan arca dewa-dewi), membaca kitab suci berulang-ulang, menyanyikan lagu-lagu pemujaan, meditasi, merapalkan mantra-mantra, dan lain-lain.

[366] Ciri menonjol dalam ritual keagamaan Hindu adalah pembedaan antara yang murni dan sudah tercemar. Ada aturan yang mengisyaratkan bagaimana kondisi-kondisi yang dikatakan tercemar atau tak murni lagi, sehingga pelaksana upacara harus melakukan pembersihan atau pemurnian kembali sebelum upacara dimulai.

Maka dari itu, penyucian—biasanya dengan air—menjadi ciri umum dalam kebanyakan berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah keagamaan Hindu. [366] Ciri lainnya meliputi kepercayaan akan kemujaraban upacara dan konsep pahala yang diperoleh melalui kemurahan hati atau keikhlasan, yang akan bertumpuk-tumpuk dari waktu ke waktu sehingga mengurangi penderitaan di kehidupan selanjutnya.

[366] Ritus dengan sarana api ( yadnya) kini tidak dilakukan sesering mungkin, meskipun pelaksanaannya sangat diagungkan dalam teori. Akan tetapi, dalam upacara pernikahan dan pemakaman adat Hindu, pelaksanaan yadnya dan perapalan mantra-mantra Weda masih disesuaikan dengan norma. [367] Beberapa upacara juga berubah seiring berjalannya waktu. Sebagai contoh, pada masa beberapa abad yang lalu, persembahan tarian dan musik sakral menurut kaidah Sodasa Upachara yang standar—sebagaimana tercantum dalam Agamashastra—tergantikan oleh persembahan dari nasi dan gula-gula.

Peristiwa seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian melibatkan seperangkat tradisi Hindu yang terperinci. Dalam agama Hindu, upacara bagi "siklus kehidupan" meliputi Annaprashan (ketika bayi dapat memakan makanan yang keras untuk pertama kalinya), Upanayanam (pelantikan anak-anak kasta menengah ke atas saat mulai menempuh pendidikan formal), dan Śrāddha (upacara menjamu orang-orang dengan makanan karena berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah melantunkan doa-doa kepada "Tuhan" agar jiwa mendiang mendapatkan kedamaian).

[368] [369] Untuk perihal pernikahan, bagi sebagian besar masyarakat India, masa pertunangan pasangan muda-mudi serta tanggal dan waktu pernikahan ditentukan oleh para orang tua dengan konsultasi ahli perbintangan. [368] Untuk perihal kematian, kremasi merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh kerabat mendiang, kecuali bila mendiang adalah sanyasin, hijra, atau anak di bawah lima tahun.

Biasanya, kremasi dilakukan dengan membungkus jenazah dengan pakaian terlebih dahulu, lalu membakarnya dengan api unggun. Ahimsa [ sunting - sunting sumber ] Mahatma Gandhi adalah tokoh Hindu dari India yang memilih untuk menerapkan praktik ahimsa dalam upaya menentang pemerintah kolonial Inggris pada masa Gerakan Kemerdekaan India. Umat Hindu menganjurkan praktik ahimsa ( ahiṃsā; artinya "tanpa kekerasan") dan penghormatan kepada seluruh bentuk kehidupan karena mereka meyakini bahwa " percikan dari Tuhan" juga meresap ke dalam setiap makhluk hidup, termasuk tumbuhan dan hewan.

[370] Istilah ahimsa disebutkan dalam kitab-kitab Upanishad [371] dan wiracarita Mahabharata. Ahimsa adalah yang pertama di antara lima yama ( pancayamabrata; lima prinsip pengendalian diri) dalam Yogasutra Patanjali, [372] dan menjadi prinsip pertama bagi seluruh anggota Warnasramadarma (brahmana, kesatria, waisya, dan sudra) menurut Manusmerti.

[373] Konsep ahimsa dalam Hinduisme tidak seketat agama Buddha dan Jainisme, karena jejak keberadaan praktik-praktik pengorbanan dapat ditelusuri dalam kitab-kitab Weda, contohnya mantra-mantra untuk kurban kambing (dalam Regweda), [374] kurban kuda ( Aswameda, dalam Yajurweda), dan kurban manusia ( Purusameda, dalam Yajurweda), [375] sedangkan dalam ritus Jyotistoma ada tiga hewan yang dikurbankan melalui upacara yang masing-masing disebut Agnisomiya, Sawaniya, dan Anubandya.

Yajurweda dianggap sebagai Weda pengorbanan dan ritual, [376] [377] serta menyebutkan beberapa ritus pengurbanan hewan, contohnya mantra dan prosedur pengurbanan kambing putih kepada Bayu, [378] seekor anak lembu kepada Saraswati, seekor sapi bertutul kepada Sawitr, seekor banteng kepada Indra, seekor sapi yang dikebiri kepada Baruna, dan lain-lain.

[379] Tanggapan yang menentang pelaksanaan kurban datang dari aliran Carwaka yang menuliskan kritik mereka dalam Barhaspatyasutra (abad ke-3 SM) sebagai berikut: "Jika hewan yang dikurbankan dalam ritus Jyotistoma akan segera mencapai surga, mengapa si pelaksana tidak segera mengurbankan ayahnya saja?" [380] Pada masa perkembangan Hinduisme dan Buddhisme di India, para raja Buddhis seperti Ashoka memengaruhi rakyatnya dengan larangan pelaksanaan kurban.

[375] Pada masa pemerintahan Ashoka, sebuah titah diberlakukan dan dituliskan pada sebuah batu, dengan kata-kata sebagai berikut: "Ini adalah titah dari orang yang disayangi para dewa, Raja Piyadasi. Tindak pembunuhan kepada hewan tidak boleh dilakukan untuk seterusnya." [375] Dari sini, reaksi sosial berkenaan dengan kitab tata cara pengorbanan ( Brahmana) dapat ditelusuri.

[375] Menurut Panini, ada dua macam Brahmana, yaitu Brahmana Lama dan Brahmana Baru. [375] Dalam Brahmana Lama—seperti Aitareya Brahmana untuk Regweda—pengorbanan benar-benar dilakukan, tapi dalam Brahmana Baru seperti Shatapatha Brahmana, hewan kurban dilepaskan setelah terikat pada tiang pengorbanan.

[375] Hal ini merupakan reaksi dari kebangkitan agama-agama Sramana—seperti agama Buddha dan Jainisme—yang berakibat pada peletakan konsep ahimsa di kalangan praktisi kitab Brahmana.

Vegetarianisme [ sunting - sunting sumber ] Masakan vegetarian khas India Utara yang disajikan di suatu restoran di Tokyo, Jepang. Sesuai dengan konsep ahimsa, maka banyak umat Hindu yang mengikuti vegetarianisme (tidak makan daging) demi menghormati bentuk kehidupan yang tingkatannya tinggi. Sejumlah umat justru pantang makan daging hanya pada hari-hari tertentu.

Budaya makan juga bervariasi sesuai komunitas dan kawasan. Sebagai contoh, beberapa kasta memiliki sedikit penganut vegetarianisme, sedangkan masyarakat pesisir cenderung bergantung kepada masakan laut. [381] [382] Perkiraan jumlah lakto-vegetarian di India (mencakup umat seluruh agama di sana) bervariasi antara 20% dan 42%. [v] Dalam agama Hindu, kemurnian makanan bersifat sangat penting karena ada keyakinan bahwa makanan mencerminkan tiga kualitas sifat ( triguna) yang umum, yaitu: kesucian ( satwam), semangat ( rajas), dan kelambanan ( tamas).

Maka dari itu, aturan makan yang sehat akan menjadi sesuatu yang turut membersihkan hati seseorang. [383] Berdasarkan alasan tersebut, umat Hindu dianjurkan untuk menghindari atau meminimalkan konsumsi makanan yang tidak meningkatkan kebersihan hati.

berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah

Beberapa contoh makanan yang dimaksud adalah bawang merah dan bawang putih, yang diyakini mengandung sifat rajas (keadaan yang dicirikan oleh sifat suka menentang dan egois), serta daging (daging dari hewan apa pun), yang diyakini mengandung sifat tamas (keadaan yang dicirikan oleh kemarahan, kerakusan, dan iri hati).

[384] Vegetarianisme dianjurkan oleh sejumlah aliran Hinduisme—meliputi Waisnawa dan Saiwa—yang melarang pengorbanan hewan, [385] tetapi tidak dianjurkan oleh aliran Hinduisme yang mengizinkan pengorbanan hewan. [386] Pada umumnya, pengorbanan hewan dilakukan oleh umat Hindu dari aliran Sakta, [387] (beberapa) komunitas Hindu dari golongan sudra dan kesatria, [388] [389] penganut aliran Hinduisme di India Timur, [386] serta penganut aliran Hinduisme di Asia Tenggara.

[390] Pada umumnya, umat Hindu yang mengonsumsi daging tidak akan mau memakan daging sapi. Dalam masyarakat Hindu, sapi dipercaya sebagai pengasuh manusia serta merupakan figur keibuan, [391] dan mereka menghormatinya sebagai lambang kasih tak bersyarat. [392] Maka dari itu, praktik penyembelihan sapi dilarang secara resmi di hampir seluruh negara bagian di India. [393] Pada masa kini, ada banyak kelompok keagamaan Hindu yang menekankan praktik vegetarianisme yang ketat.

Salah satu contoh yang terkenal adalah gerakan ISKCON ( International Society for Krishna Consciousness), yang mewajibkan pengikutnya untuk tidak hanya pantang makan daging (termasuk ikan dan unggas), tetapi juga menghindari sayuran/tumbuhan tertentu yang dianggap dapat memberikan pengaruh negatif, seperti bawang merah, bawang putih, [383] dan jamur.

[394] Contoh yang kedua adalah gerakan Swaminarayan. Pengikut gerakan ini juga sangat setia untuk tidak mengkonsumsi daging, telur, dan ikan. [395] Pertapaan [ sunting - sunting sumber ] Tiga petapa Hindu di Lapangan Durbar, Kathmandu. Sejumlah umat Hindu memilih untuk hidup sebagai petapa ( Sanyāsa) dalam upaya mencapai " moksa" ataupun bentuk kesempurnaan spiritual lainnya.

Para petapa berkomitmen untuk hidup sederhana, tidak berhubungan seksual, tidak mencari harta duniawi, serta berkontemplasi tentang Tuhan.

[396] Petapa Hindu disebut sanyasin, sadu, atau swāmi, sedangkan yang wanita disebut sanyāsini. Orang yang melepaskan diri dari ikatan duniawi memperoleh respek yang tinggi dalam masyarakat Hindu karena egoisme dan ikatan duniawi yang mereka lepaskan menjadi inspirasi bagi umat yang masih berkeluarga untuk berjuang dalam pengendalian pikiran.

Beberapa petapa tinggal di tempat suci atau asrama, sedangkan yang lainnya berkelana dari satu tempat ke tempat lain dengan keyakinan bahwa hanya Tuhan yang dapat memenuhi keinginan mereka. [397] Bagi umat Hindu awam, menyediakan makanan dan kebutuhan untuk para petapa atau sadu merupakan jasa yang sangat besar.

Sebaliknya, para sadu menerimanya dengan rasa hormat dan simpati—tanpa memedulikan orang miskin atau kaya, baik atau jahat—tanpa perlu memuji, mencela, menunjukkan rasa senang, ataupun sedih. [396] Tempat suci [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Tempat suci Hindu Tempat suci atau tempat peribadatan umat Hindu pada umumnya disebut kuil.

Beberapa istilah lokal untuk menyebut tempat suci Hindu meliputi candi, pura, mandir, devasthana, berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah, dharmakshetram, koil, deula, wat, dan bale keramat. Pembangunan kuil dan tata cara persembahyangan diatur dalam beberapa kitab berbahasa Sanskerta yang disebut Agama, yang berhubungan dengan dewa-dewi individual. Ada perbedaan substansial dalam arsitektur, adat, ritual, dan tradisi mengenai kuil di berbagai wilayah India.

[398] Umat Hindu dapat menyelenggarakan puja (persembahyangan atau kebaktian) di rumah atau kuil. Untuk peribadatan di rumah, biasanya umat Hindu membuat kamar suci atau kuil kecil dengan ikon atau altar yang didedikasikan bagi dewa atau dewi tertentu ( istadewata), misalnya Kresna, Ganesa, Durga, dewa-dewi lokal, atau entitas lainnya yang dihormati (misalnya leluhur atau roh pelindung).

Umat Hindu melakukan persembahyangan melalui suatu murti atau pratima, dapat berupa arca, lingga, atau sesuatu lainnya—sebagai lambang dari dewa yang dipuja—yang disakralkan/disucikan terlebih dahulu melalui suatu upacara. Biasanya, bangunan kuil didedikasikan sebagai tempat pemujaan kepada suatu dewa utama beserta dewa-dewi sekunder yang terkait. Adapula bangunan kuil yang didedikasikan untuk beberapa dewa sekaligus. Bagi sebagian besar umat Hindu di India, mengunjungi kuil bukanlah suatu kewajiban, [399] dan banyak umat yang mengunjungi kuil hanya pada saat ada perayaan/hari raya.

Murti atau pratima dalam kuil berperan sebagai medium antara umat dan Tuhan. [400] Pencitraan murti dianggap sebagai perwakilan atau manifestasi dari Tuhan, sebab umat Hindu meyakini bahwa Tuhan ada di mana-mana. Meskipun demikian, ada golongan umat Hindu yang tidak melakukan persembahyangan dengan murti dalam bentuk apa pun; contoh yang terkemuka adalah aliran Arya Samaj. • Kuil Sri Kamadachi Ampal di Hamm, Jerman.

Simbolisme [ sunting - sunting sumber ] Dalam agama Hindu ada aturan tentang simbolisme dan ikonografi untuk ditampilkan dalam karya seni, arsitektur, dan pustaka yang disakralkan. Makna simbol-simbol tersebut dicantumkan dalam kitab suci, mitologi, serta tradisi masyarakat.

Suku kata om (yang melambangkan Parabrahman) dan swastika (yang melambangkan keberuntungan) telah berkembang (dalam sejarahnya) sebagai lambang bagi agama Hindu, sedangkan petanda lainnya seperti tilaka memberi ciri mengenai aliran atau kepercayaan yang dianut. [402] [403] Umat Hindu juga menyangkutpautkan beberapa simbol—meliputi bunga teratai ( padma), cakra, dan veena—dengan dewa-dewi tertentu. [404] [405] • • ^ Ada sejumlah pakar yang menilai "ketuaan" agama Hindu di dunia.

Agama Hindu sebagai "agama tertua" dinyatakan oleh: • Fowler: " probably the oldest religion in the world (mungkin merupakan agama tertua di dunia)" [2] • Gellman & Hartman: " Hinduism, the world's oldest religion (Hinduisme, agama tertua di dunia)" [3] • Stevens: " Hinduism, the oldest religion in the world (Hinduisme, agama tertua di dunia)" [4] • Sarma: " The ‘oldest living religion’ (agama tertua yang masih bertahan)" [5] • Meriam-Webster & Klostermaier: "The ‘oldest living major religion’ in the world (salah satu agama besar yang paling tua dan masih bertahan di dunia)" [6] [7] • Laderman: " World's oldest living civilisation and religion (agama dan peradaban tertua di dunia yang masih bertahan)" [8] • Turner: " It is also recognized as the oldest major religion in the world (Ia [Hindu] juga dipahami sebagai salah satu agama besar dunia yang tertua)" [9] Di sisi lain, Smart menyebut agama Hindu sebagai salah satu agama termuda: " Hinduism could be seen to be much more recent, though with various ancient roots: in a sense it was formed in the late 19th Century and early 20th Century (Hinduisme terlihat lebih segar seperti sekarang, kendati berasal dari sumber-sumber kuno: dalam pengertian bahwa ia dikukuhkan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20)" [10] Bandingkan pula dengan: • Ureligion, syamanisme, animisme, dan pemujaan leluhur sebagai bentuk-bentuk tradisi keagaaman tertua di dunia • Sarnaisme dan Sanamahisme, agama tribal India yang berkaitan dengan migrasi manusia terawal ke India • Mitologi Aborigin, salah satu agama tertua yang masih bertahan hingga kini.

• ^ Hindu juga dikenal dengan Hindū-dharma atau Vaidika-dharma dalam beberapa bahasa India modern, seperti bahasa Hindi, Bahasa Bengali, dan beberapa turunan Bahasa Indo-Arya, juga beberapa dialek Bahasa Dravida seperti Bahasa Tamil dan Bahasa Kannada.

• ^ Kata Sindhu pertama kali disebutkan dalam Regweda. [17] [18] • ^ Teks asli dalam Encyclopaedia Britannica: The term has also more recently been used by Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah leaders, reformers, and nationalists to refer to Hinduism as a unified world religion.

Sanatana dharma has thus become a synonym for the “eternal” truth and teachings of Hinduism, the latter conceived of as not only transcendent of history and unchanging but also as indivisible and ultimately nonsectarian. • ^ Menurut King (2001), menekankan pengalaman sebagai pembenaran bagi pandangan global religius merupakan suatu gagasan yang dikembangkan pada masa modern, yang dimulai sejak abad ke-19, dan diperkenalkan kepada bangsa India oleh misionaris Unitarianisme dari barat. [38] Istilah pengalaman religius juga ditulis oleh James (seperti dikutip Hori, 1999), dalam bukunya, The Varieties of Religious Experience.

[39] • ^ Teks asli: Starting from the Vedas, Hinduism has ended in embracing something from all religions, and in presenting phases suited to all minds. It is all tolerant, all-compliant, all-comprehensive, all-absorbing. [40] • ^ Teks asli: Unlike other religions in the World, the Hindu religion does not claim any one Prophet, it does not worship any one God, it does not believe in any one philosophic concept, it does not follow any one act of religious rites or performances; in fact, it does not satisfy the traditional features of a religion or creed.

It is a way of life and nothing more. • ^ Teks asli: As a counteraction to Islamic supremacy and as part of the continuing process of regionalization, two religious innovations developed in the Hindu religions: the formation of sects and a historicization which preceded later nationalism [.] [S]aints and sometimes and sometimes militant sect leaders, such as the Marathi poet Tukaram (1609-1649) and Ramdas (1608-1681), articulated ideas in which they glorified Hinduism and the past.

The Brahmans also produced increasingly historicizing texts, especially eulogies and chronicles of sacred sites (Mahatmyas), or developed a reflexive passion for collecting and compiling extensive collections of quotations on various subjects. • ^ Di samping konsep Brahman, agama Hindu mengenal ratusan dewa dan dewi secara harfiah.

Maka dari itu, agama Hindu [dapat disebut] politeistis. Akan tetapi, umat Hindu menganggap bahwa seluruh dewa-dewi tersebut merupakan awatara, atau perwujudan dari Brahman.

[184] • ^ Michaels menyebut Flood 1996 [234] sebagai acuan bagi periodisasi "Agama-agama Praweda". [235] • ^ Smart membedakan "Brahmanisme" dengan agama Weda, karena "Brahmanisme" dihubungkan dengan Upanishad.

[239] • ^ Bangsa Elamo-Dravida disebut dengan nama ini untuk membedakannya dengan bangsa Dravida masa kini yang menduduki India, yang didominasi oleh keturunan ras Australoid • ^ Menurut Jones & Ryan: "Beberapa praktik Hinduisme pastilah berasal dari zaman neolitik ( ca. 4000 SM). Sebagai contoh, pemujaan tumbuhan dan hewan tertentu karena dianggap suci, kemungkinan besar sudah ada sejak zaman kuno. Demikian pula pemujaan dewi-dewi, suatu bagian agama Hindu masa kini, mungkin merupakan fitur yang sudah ada sejak zaman neolitik." [253] • ^ Tidak ada tahun pasti yang memungkinkan sebagai awal periode Weda.

Witzel menyebutkan jangka waktu antara 1900 dan 1400 SM. [258] Flood menyebutkan 1500 SM. [231] • berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah Menurut Michaels: "Mereka menyebut diri sebagai arya (secara harfiah berarti "ramah," dari kata arya dalam Weda, artinya "nyaman, murah hati") tetapi dalam Regweda, arya juga berarti batas budaya dan bahasa dan tidak hanya terbatas bagi ras." [260] • ^ Menurut T.

Oberlies, [270] jangka waktu 1700–1100 SM ditentukan berdasarkan bukti-bukti kumulatif. • ^ Brahman-Arya di sini adalah Brahmanisme dan kebudayaan bangsa Arya. • ^ Teks asli: Jainism does not derive from Brahman-Aryan sources, but reflects the cosmology and anthropology of a much older pre-Aryan upper class of northeastern India - being rooted in the same subsoil of archaic metaphysical speculation as Yoga, Sankhya, and Buddhism, the other non-Vedic Indian systems.

• ^ Teks asli: The Brahmanists themselves seem to have encouraged this development to some extent as a means of meeting the challenge of the more heterodox movements. At the same time, among the indigenous religions, a common allegiance to the authority of the Veda provided a thin, but nonetheless significant, thread of unity amid their variety of gods and religiou practices.

• ^ Teks asli: Some incarnations of Vishnu such as Matsya, Kurma, Varaha and perhaps even Nrsimha helped to incorporate certain popular totem symbols and creation myths, specially those related to wild boar, which commonly permeate preliterate mythology, others such as Krsna and Balarama became instrumental in assimilating local cults and myths centering around two popular pastoral and agricultural gods.

• ^ Menurut Venkataraman dan Deshpande: "Diskriminasi berdasarkan kasta masih ada di benyak wilayah India masa kini … Diskriminasi berdasarkan kasta pada dasarnya bertentangan dengan ajaran esensial kitab suci Hindu bahwa sifat-sifat ketuhanan terdapat dalam setiap makhluk." [355] • ^ Survei mengenai kebiasaan makan di India berdasarkan: "pertumbuhan sektor peternakan dan unggas di India", "pola konsumsi masyarakat India", dan "reformasi pertanian di India".

Hasil mengindikasikan bahwa orang India jarang memakan daging, dengan persentase kurang dari 30% penduduk mengonsumsi makanan non-vegetarian sesering mungkin, meskipun alasan di balik itu mungkin mengarah ke sikap ekonomis. Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • ^ Georgis 2010, hlm. 62. • ^ Fowler 1997, hlm. 1. • ^ Gellman 2011. • ^ Stevens 2001, hlm. 191. • ^ Sarma 1953. • ^ Merriam-Webster 2000, hlm. 751. • ^ Klostermaier 2007, hlm. 1. • ^ Laderman 2003, hlm.

119. • ^ Turner 1996-B, hlm. 359. • ^ Smart 1993, hlm. 1. • ^ a berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah Harvey 2001, hlm. xiii • ^ a b Knott 1998, hlm. 5. • ^ a b c King 2002. • ^ a b c Michaels 2004. • ^ "The Global Religious Landscape - Hinduism". Laporan Jumlah dan Persebaran Agama-Agama Besar di Dunia pada 2010.

The Pew foundation. Diakses tanggal 31 Maret 2013. • ^ a b c d e f g Flood 1996, hlm. 6. • ^ "India", Oxford English Dictionary, edisi kedua, 2100a.d. Oxford University Press. • ^ "Rigveda". Sacred-Texts.com. • ^ Thapar 1993, hlm. 77. • ^ Platts 1884. • ^ O'Conell 1973, hlm. 340-344. • ^ a b c Sweetman 2004, hlm. 13. • ^ a b King 1999, hlm. 169. • ^ Nussbaum 2009. • ^ Flood 2003, hlm. 1-17. • ^ a b c Nicholson 2010, hlm. 2. • ^ Lorenzen 2006, hlm. 1-36. • ^ King 1999, hlm. 171. • ^ Radhakrishnan 1995.

• ^ Insoll 2001. • ^ a b Editor Encyclopædia Britannica. "Encyclopedia Britannica". Britannica.com. Parameter -chapter= akan diabaikan ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: authors list ( link) • ^ Flood 1996, hlm. 256-261. • ^ Flood 1996, hlm. 257. • ^ a b Flood 1996, hlm. 258. • ^ Flood 1996, hlm. 259. • ^ Flood 1996, hlm. 248. • ^ a b Flood 1996, hlm. 249. • ^ King 2001. • ^ Hori 1999, hlm. 47. • ^ Anonim 1922, hlm.

153–157. • ^ Turner 1996-A, hlm. 275. • ^ Luzzi 1991, hlm. 187–95. • ^ Flood 1996, hlm. 267-268. • ^ a b Flood 1996, hlm. 265. • ^ Flood 1996, hlm. 267. • ^ Weightman 1998, hlm. 262–264 • ^ a b Flood 2009. • ^ a b c d e f g Hiltebeitel 2007, hlm. 12. • ^ a b Flood 1996, hlm. 16. • ^ a b Lockard 2007, hlm. 50. • ^ Samuel 2010, hlm. 41-42. • ^ a b White 2006, hlm. 28. • ^ Narayanan 2009, hlm. 11. • ^ Hiltebeitel 2007, hlm. 3. • ^ Jones 2006, hlm.

xviii. • ^ Lockard 2007, hlm. 52. • ^ Tiwari 2002, hlm. v. • ^ a b Nath 2001, hlm. 21. • ^ Samuel 2010, hlm. 193-228. • ^ Raju 1992, hlm. 31. • ^ "Mahadana". "The Mauryan Empire" (PDF). University of Oslo. • ^ Samuel 2010, hlm. 193-228, 339-353, terutama hlm.76-79 dan 199. • ^ Samuel 2010, hlm. 77. • ^ a b c Nath 2001. • ^ a b Doniger, Wendy, "Other Sources: The Process of 'Sanskritization '", Encyclopædia Britannica • ^ Nath 2001, hlm.

31-34. • ^ Flood 1996, hlm. 128, 129, 148. • ^ Gombrich 2006, hlm. 36. • ^ Doniger 1999, hlm. 434. • ^ Smith 1962, berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah.

65. • ^ Halbfass 1991, hlm. 1-22. • ^ Klostermaier 1994, hlm. 1. • ^ Koller 1984. • ^ Osborne 2005, hlm. 9. • ^ a b Flood 1996, hlm. 14. • ^ Southgate 2005, hlm. 246 • ^ a b c d e Michaels 2004, hlm. 21. • ^ Beversluis 2000, hlm. 50. • ^ a b Halbfass 1991, hlm. 15. • ^ Flood 1996, hlm. 35. • ^ "Encyclopædia Britannica".

Encyclopædia Britannica Online. 9 Juli 2010. Parameter -chapter= akan diabaikan ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun ( link) • ^ "www.worldcatlibraries.org" (Akilam: vacan̲a kāviyam). Publisher: K Patchaimal, Cāmitōppu. Diakses tanggal 23 Januari 2008. • ^ Burley 2007, hlm.

34. • ^ a b Hacker 1995, hlm. 264 • ^ Michaels 2004, hlm. 44. • ^ a b Lorenzen 2006, hlm. 24-33. • ^ a b Lorenzen 2006, hlm.

26-27. • ^ a b Micaels 2004, hlm. 44. • ^ "Statistik penganut agama dan aliran kepercayaan di dunia". Adherents.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-01-28. Diakses tanggal 2014-03-03.dihimpun dari berbagai sumber; The World Almanac and Book of Facts 1998 adalah yang relevan. • ^ a b McDaniel 2007, hlm. 52–53. • ^ a b c d e Michaels 2004, hlm. 23. • ^ a b c d Michaels 2004, hlm. 22. • ^ a b c d Michaels 2004, hlm.

24. • ^ a b de Lingen 1937, hlm. 2 • ^ a b Dogra 2003, hlm. 5. • ^ Geoffray 2005, hlm. 106. • ^ Ketkar 1909, hlm. 87–89. • ^ Growse 1996, hlm. 191. • ^ "Italy's Hindu Controversy". Hinduism Today. September 1997. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2006-11-09. Diakses tanggal 2014-09-08. • ^ Vasu 1919, hlm.

1. • ^ Gandhi 1970, hlm. 112-261. • ^ Bhaskarananda 1994. • ^ Bhide 2008, hlm. 9. • ^ a b McRae 1991, hlm. 7–36 • ^ Badlani & 2008 303.

• ^ Lane 2005, hlm. 149. • ^ "India and Hinduism". Religion of World. ThinkQuest Library. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-08-10. Diakses tanggal 17 Juli 2007. • ^ Murthy 2003, hlm. 7. • ^ "The Complete Works of Swami Vivekananda/Volume 5/Epistles - First Series/XXII Alasinga". Wikisource. Diakses tanggal 30 Maret 2012. • ^ Oslon 2007, hlm. 9. • ^ Andrews & 2008 386. • ^ a b Werner 1994, hlm. 73.

• ^ "iskcon.org, The Heart of Hinduism: The Four Main Denominations". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-11-15. Diakses tanggal 2014-03-07. • ^ Banerji 1992, hlm. 2 • ^ Sharma 1997, hlm. 149. • ^ Michaels 2004, hlm. 264. • ^ Sen Gupta 1986, hlm. 6. • ^ Radhakrishnan & Moore 1957, hlm. 89. • ^ Dasgupta 1922, hlm. 258. • ^ Radhakrishnan 1967, hlm.

453. • ^ Flood 1996, hlm. 96–98. • ^ Carmody 1996, hlm. 68. • ^ a b White 2011, hlm. 2. • ^ Matilal 1986, hlm. xiv. • ^ Leaman 1999, hlm. 269. • ^ Encyclopædia Britannica (2007) • ^ a b Neville 2001, hlm. 51. • ^ Worthington 1982, hlm. 66. • ^ Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah, Peter M. (1996). "Bab 3.2". The Denotation of Generic Terms in Ancient Indian Philosophy.

• ^ Raju 1992, hlm. 176-177. • ^ Raju 1992, hlm. 177. • ^ Sivananda 1993, hlm. 217. • ^ a b c Vedanta on Hindupedia, the Hindu Encyclopedia • ^ a b c d "ISKCON". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-11-15. Diakses tanggal 7 Februari 2014. • ^ a b c d "Hindus in SA".

Diakses tanggal 7 Februari 2014. • ^ a b c d Dubois 2007, hlm. 111 • ^ a b c d "Himalayanacademy". Diakses tanggal 7 February 2014. • ^ Werbner & 2003 395–399 • ^ Williams 2001, hlm. 25–30. • ^ Krishnamurti 1997, hlm. 67–68 • ^ "Gold Ornaments Stolen from Temple".

Tamil Nadu – Nagercoil: Hindu on Net. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-10-11. Diakses tanggal 15 April 2009. • ^ "Fr. Maria Jeyaraj arranged an inter-faith dialogue at Samithoppu, Kanyakumari" (PDF). Kanyakumari: Madurai News Letter. Diarsipkan dari versi asli ( PDF) tanggal 2007-11-29. Diakses tanggal 23 Januari 2008. • ^ a b "Mahima Dharma, Bhima Bhoi dan Biswanathbaba" ( PDF). Mei 2005. • ^ Chambers Dictionary Of World History.

Editor BP Lenman. Chambers. 2000. • ^ brahmosamaj.org - BRAHMO SAMAJ • ^ "Prarthana Samaj". St. Martin's College: PHILTAR. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-01-25. Diakses tanggal 2014-03-09. • ^ Hastings 2003, hlm. 57. • ^ "Principles of Arya Samaj". Arya Samaj.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-01-01.

Diakses tanggal 2014-03-11. • ^ Naidoo 1982, hlm. 158. • ^ Lata 1990, hlm. x. • ^ Agarwal 1998, hlm. 243. • ^ "Belur Math (situs resmi)". • ^ Brodd 2003. • ^ Rogers 2009, hlm. 109. • ^ Chakravarti 1991, hlm. 71. • ^ Pattanaik 2002, hlm. 38. • ^ Ninian Smart (2007). "Polytheism". Encyclopædia Britannica. Encyclopædia Britannica Online. Diakses tanggal 5 Juli 2007. • ^ Gill, N.S. "Henotheism". About, Inc. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-03-17. Diakses tanggal 5 Juli 2007.

• ^ Reichenbach 1989, hlm. 135–149, 145. • ^ Neville 2001, hlm. 47. • ^ The Oxford Dictionary of World Religions, ed. John Bowker, OUP, 1997 • ^ Rodrigues 2006, hlm. 59. • ^ Monier-Williams 2001 • ^ a b & Bhaskarananda 1994 • ^ Wainwright, William, "Concepts of God", The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Winter 2010 Edition), Edward N. Zalta (ed.) • ^ a b Sinha 1993 • ^ Bhaskarananda 1994 • ^ Rambachan 1994, hlm.

124, 125. • ^ Sen Gupta 1986, hlm. viii • ^ "Sāṁkhyapravacana Sūtra". Parameter -chapter= akan diabaikan ( bantuan) • ^ Rajadhyaksha 1959, hlm. 95. • ^ Coward 2008, hlm. 114. • ^ Monier-Williams 1974, hlm. 20–37 • ^ Shankaracharya, Adi; Swami Chinmayananda (penerjemah). "Atma-bodha". Mumbai: Chinmaya Mission. • ^ McClean 1994, hlm.

32. • ^ Vivekananda 1987 • ^ Werner 1994, hlm. p37 • ^ 1882, hlm. 271 • ^ Phillips 1995, hlm. 12–13. • ^ Werner 1994, hlm. 7 • ^ Toropov 2011. • ^ Monier-Williams 2001, hlm. 492 • ^ Monier-Williams 2001, hlm. 495 • ^ McCannon, John (1 Januari 2006). World History Examination. Barron's Educational Series. • ^ a b Sehgal 1999, hlm.

berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah

1372. • ^ a b Sehgal 1999, hlm. 1373. • ^ Werner 1994, hlm. 80 • ^ Renou 1961, hlm. 55 • ^ Harman 2004, hlm. 104–106 • ^ Fuller 2004, hlm. 32. • ^ The Popular Encyclopædia. Blackie & Son. 1841. hlm. 61. • ^ Apte 1997. • ^ Smith 1991, hlm. 64 • ^ Brodd, Jefferey (2003). World Religions. Winona, MN: Saint Mary's Press. ISBN 978-0-88489-725-5.

• ^ Paramhans Swami Maheshwarananda, The hidden power in humans, Ibera Verlag, page 23., ISBN 3-85052-197-4 • ^ Radhakrishnan 1996, hlm. 254 • ^ Europa Publications Staff 2003, hlm. 39. • ^ Hindu spirituality - Volume 25 of Documenta Missionalia, Editrice Pontificia Università Gregoriana, 1999, hlm. 1, ISBN 978-88-7652-818-7 • ^ "Hinduism - Euthanasia and Suicide". BBC. 25 Agustus 2009. • ^ Bhagawadgita, ( XVI:8-20) • ^ Rinehart 2004, hlm.

19–21 • ^ Bhaskarananda 1994, hlm. 79–86 • ^ Nikhilananda 1992 • ^ Swami Prabhupada 1986, hlm. 16. • ^ Koller & 1968 315–319 • ^ Radhakrishnan & 1973 92. • ^ Macy & 1975 145–60.

• ^ Roche, Lorin. "Love-Kama". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-04-20. Diakses tanggal 15 Juli 2011. • ^ Kishore 2001, hlm. 152. • ^ a b Bryant 2009, hlm. 10–457 • ^ a b Bhaskarananda 1994 • ^ Bhaktivedanta 1997, ch. 11.54 • ^ Bhaktivedanta 1997, ch. 5.5) • ^ Monier-Williams 1974, hlm. 116 • ^ a b Vivekananda 1987, hlm. 6–7 Vol I • ^ a b Vivekananda 1987, hlm.

118–120 Vol III • ^ Sargeant & Chapple 1984, hlm. 3 • ^ a b Nikhilananda 1990, hlm. 3–8 • ^ Rinehart 2004, hlm. 68. • ^ Flood 2008, hlm. 4. • ^ Harshananda 1989. • ^ Vivekananda 1987, hlm. 374 Vol II • ^ "Swami Shivananda's Mission". Diakses tanggal 25 Juni 2007. • ^ Werner 1994, hlm. 166 • ^ Monier-Williams 1974, hlm. 25–41 • ^ Sarvopaniṣado gāvo, etc. ( Gītā Māhātmya 6).

Gītā Dhyānam, dikutip dari Kata Pengantar Bhagavad-gītā Menurut Aslinya Diarsipkan 2014-03-01 di Wayback Machine. • ^ Coburn 1984, hlm. 435-459. • ^ Khanna 2007, hlm. xvii. • ^ Misra 2004, hlm.

194. • ^ Kulke 2004, hlm. 7. • ^ a b Flood 1996, hlm. 21. • berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah a b Smart 2003, hlm. 52-53. • ^ a b Michaels 2004, hlm.

berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah. • ^ a b Flood 1996. • ^ Michaels 2004, hlm. 31, 348. • ^ Muesse 2003. • ^ a b Muesse 2011. • ^ Muesse 2011, hlm. 16. • ^ Smart 2003, hlm. 52, 83-86. • ^ Smart 2003, hlm. 52. • ^ Michaels 2004, hlm. 36. • ^ a b Michaels 2004, hlm. 38. • ^ Muesse 2003, hlm. 14. • ^ Flood & 1996 21-22. • ^ Phillips, Nicky (24 Juli 2009). "DNA Confirms Coastal Trek to Australia".

ABC Science. Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun ( link) • ^ Cavalli-Sforza 1994, hlm. 241.

berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah

• ^ a b Thani Nayagam 1963. • ^ a b Kumar 2004. • ^ Flood 1996, hlm. 34. • ^ a b Flood 1996, hlm. 30. • ^ a b Mukherjee 2001. • ^ Cordaux 2004. • berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah a b Jones 2006, hlm.

xvii. • ^ Doniger 2010, hlm. 66. • ^ "PHILTAR: Division of Religion and Philosophy". University of Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah. Parameter -chapter= akan diabaikan ( bantuan) • ^ Possehl 2002, hlm. 154. • ^ Possehl 2002, hlm. 141–156. • ^ Witzel 1995, hlm. 3-4. • ^ Singh 2008, hlm. 185. • ^ a b Michaels 2004, hlm. 33. • ^ Flood 1996, hlm. 30-35. • ^ Hiltebeitel 2007, hlm. 5. • ^ Allchin 1995. • ^ Samuel 2010, hlm.

53-56. • ^ Hiltebeitel 2007, hlm. 5-7. • ^ a b c d Witzel 1995. • ^ Samuel 2010, hlm. 48-51, 61-93. • ^ Hiltebeitel 2007, hlm. 8-10. • ^ Woodard 2006, hlm. 242 • ^ Oberlies 1998, hlm. 158. • ^ Singh 2008, hlm. 195. • ^ Brockington 1984, hlm. 7. • ^ a b c Samuel 2010. • ^ Samuel 2010, hlm. 41-48. • ^ Samuel 2010, hlm. 41-93. • ^ Stein 2010, hlm. 48-49. • ^ Samuel 2010, hlm.

61-93. • ^ Neusner 2009, hlm. 183 • ^ Melton 2010, hlm. 1324. • ^ Mahadevan 1956, hlm. 57. • ^ Fowler 2012, hlm. xxii–xxiii. • ^ Holdrege 2004, hlm. 215. • ^ Panikkar 2001, hlm. 350-351. • ^ Day & 1982 42–45. • ^ Duchesne-Guillemin 1963, hlm. 46. • ^ Singh 2008, hlm. 184. • ^ Basham 1989, hlm. 74-75. • ^ "Encyclopedia Britannica". Britannica.com. Parameter -chapter= akan diabaikan ( bantuan) • ^ Flood 1996, hlm. 82. • ^ Neusner 2009, hlm. 184. • ^ Zimmer 1989, hlm.

217. • ^ Crangle 1994, hlm. 7. • ^ Flood 2003, hlm. 273-4 • ^ Pratt & 1996 90. • ^ a b Larson 2009. • ^ Cousins 2010.

• ^ a b Hiltebeitel 2007, hlm. 13. • ^ a b c Embree 1988, hlm. 277. • ^ a b Larson 2009, hlm. 185. • ^ Hiltebeitel 2007, hlm. 14. • ^ "Itihasa". Religion Facts. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-03-25. Diakses tanggal 1 Oktober 2011. • ^ a b c Hiltebeitel 2007, hlm.

20. • ^ Raju 1992, hlm. 211. • ^ Basham, Arthur Llewellyn. "Encyclopædia Britannica". Britannica.com. Parameter -chapter= akan diabaikan ( bantuan) • ^ Radhakrishnan & Moore 1967, hlm. xviii–xxi • ^ a b Michaels 2004, hlm. 40. • ^ Nakamura 2004, hlm. 687.

• ^ a b Thapar 2003, hlm. 325. • ^ a b c Nath 2001, hlm. 19. • ^ a b Embree 1988, hlm. 342 • ^ Flood 1996, hlm. 131. • ^ Sharma 1980, hlm. 5. • ^ Bhattacharya 2011, hlm. 65. • ^ michaels 2004, hlm. 41. • ^ White 2000, hlm. 25-28. • ^ a b c d Michaels 2004, hlm. 42. • ^ Inden 1998, hlm. 67. • ^ Thapar 2003, hlm. 325, 487. • ^ Flood 1996, hlm. 113. • ^ a b Thapar 2003, hlm. 487. • ^ a b c Nath 2001, hlm. 20. • ^ Nath 2001, hlm. 31-32. • ^ Nath 2001, hlm. 32. • ^ Nath 2001, hlm. 31. • ^ Holt 2004, hlm.

12, 15. • ^ Raju 1992, hlm. 177-178. • ^ Nakamura 2004, hlm. 680. • ^ a b King 1999. • ^ a b Basham 1999 • ^ Goel 1993, hlm. 38. • ^ Sharma 1991, hlm. 112. • ^ "Aurangzeb: Religious Policies". Manas Group, UCLA. Diakses tanggal 26 Juni 2011. • ^ "Halebidu - Temples of Karnataka". TempleNet.com. Diakses tanggal 17 Agustus 2006. • ^ J.T.F. Jordens, "Medieval Hindu Devotionalism" dalam Basham 1999 • ^ Ncholson 2010, hlm. 2.

• ^ Lorenzen 2006, hlm. 27. • ^ King & 2002 118. • ^ King 1999-B. • ^ Jones 2006, hlm. 114. • ^ King 2002, hlm. 119-120. • ^ King 2002, hlm.

123. • ^ Muesse 2011, hlm. 3-4. • ^ Doniger 2010, hlm. 18. • ^ Jouhki 2006, hlm. 10-11. • ^ Ram-Prasad 2003, hlm. 526–550 • ^ Rinehart 2004, hlm. 196-197. • ^ Sri Aurobindo 2000, hlm. 517. • ^ Cornelissen 2011, hlm. 116. • ^ Manu Smriti Laws of Manu Diarsipkan 2010-05-28 di Wayback Machine. 1.87-1.91 • ^ Silverberg 1969, hlm.

berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah

442–443 • ^ Smelser & Lipset 2005. • ^ Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah 1994. • ^ Michaels 2004, hlm. 188–197 • ^ V, Jayaram. "The Hindu Caste System". Hinduwebsite. Diakses tanggal 28 November 2012. • ^ Venkataraman, Swaminathan; Deshpande, Pawan. "Hinduism: Not Cast In Caste". Hindu American Foundation. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-12-02. Diakses tanggal 28 November 2012. • ^ de Zwart 2000, hlm. 235–249. • ^ Nikhilananda 1992, hlm.

155 • ^ Rinehart 2004, hlm. 165–168 • ^ Albertson 2009, hlm. 71. • ^ a b Narendranand (Swami) 2008, hlm. 51 • ^ Chandra 1998, hlm.

178. • ^ Courtney, David. "Bhajan". Chandrakantha.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-03-15. Diakses tanggal 2014-03-08. • ^ King 2005, hlm. 359. • ^ Muesse 2011, hlm. 216. • ^ "Religious Life". Religions of India. Global Peace Works.

Diarsipkan dari versi asli tanggal 2005-03-01. Diakses tanggal 19 April 2007. • ^ a b c d "Domestic Worship". Country Studies. The Library of Congress. September 1995. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-12-13. Diakses tanggal 19 April 2007.

• ^ "Hindu Marriage Act, 1955". Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-06-05. Diakses tanggal 25 Juni 2007. • ^ a b "Life-Cycle Rituals". Country Studies: India. The Library of Congress. September 1995. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-12-13. Diakses tanggal 19 April 2007. • ^ Banerjee, Suresh Chandra.

"Shraddha". Banglapedia. Asiatic Society of Bangladesh. Diakses tanggal 20 April 2007. • ^ Monier-Williams, Religious Thought and Life in India (New Delhi, edisi 1974) • ^ Radhakrishnan 1929, hlm. 148 • ^ Taimi 1961, hlm.

206. • ^ "The Laws of Manu". Sacred-Texts.com. Parameter -chapter= akan diabaikan ( bantuan) • ^ "Rigveda". Intratext.com. Parameter -chapter= akan diabaikan ( bantuan) • ^ a b c d e f Griffith 2003, hlm. 56–66 • ^ Ramanuj Prasad. Vedas A Way Of Life, p.32 • ^ Arthur Berriedale Keith and Ralph T.H. Griffith. The Yajur Veda, iii.2.2 - iii.2.3 [1] • ^ van Bekkum 1997, hlm. 77. • ^ "The Texts of the White Yajurveda". hlm. 212–223. • ^ McGowan (ed.) 2012, hlm.

10. • ^ Fox, Michael Allen (1999), Deep Vegetarianism, Temple University Press, ISBN 1-56639-705-7 • ^ Yadav, Y. (14 Agustus 2006). "The Food Habits of a Nation". The Hindu. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2006-10-29. Diakses tanggal 17 November 2006. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan) • ^ a b Narayanan 2007 • ^ Rosen 2006, hlm.

188 • ^ "Religious or Secular: Animal Slaughter a Shame". The Hindu American foundation. 2009. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-12-03. Diakses tanggal 30 Juli 2010. • ^ a b Fuller 2004, hlm. 83. • ^ Harold 2007. • ^ Smith 2007, hlm. 12. • ^ Kamphorst 2008, hlm. 287. • ^ Gouyon 2005, hlm. 51. • ^ Walker 1968, hlm. 257. • ^ Richman 1988, hlm. 272. • ^ Krishnakumar, R. (30 Agustus–12 September 2003).

"Beef without borders". Frontline. Narasimhan Ram. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-06-01. Diakses tanggal 7 Oktober 2006. Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ "Culture: Food". ISKCON. • ^ Williams & 2001 159. • ^ a b Bhaskarananda 1994, hlm. 112 • ^ Michaels 2004, hlm. 316 • ^ Kramrisch, Stella (1946). The Hindu Temple. Calcutta: University of Calcutta. • ^ Bhaskarananda 1994, hlm. 157. • ^ Bhaskarananda 1994, hlm. 137. • ^ Jha 2007. • ^ Doniger 1999, hlm.

1041. • ^ A David Napier (1987), Masks, Transformation, and Paradox, University of California Press, ISBN 978-0520045330, hlm. 186-187 • ^ TA Gopinath Rao (1998), Elements of Hindu iconography, Motilal Banarsidass, ISBN 978-8120808782, hlm.

1–8 • ^ JN Banerjea, The Development Of Hindu Iconography, Kessinger, ISBN 978-1417950089, hlm. 247–248, 472–508 Daftar pustaka [ sunting - sunting sumber ] • Agarwal, Satya P. (1998), The Social Role of the Gītā: How and Why, New Delhi: Motilal Banarsidass, ISBN 978-81-208-1524-7, OCLC 68037824 • Albertson, Todd (2009), The Gods of Business: The Intersection of Faith and the Marketplace, ISBN 978-0-615-13800-8 • Allchin, Frank Raymond; Erdosy, George (1995), The Archaeology of Early Historic South Asia: The Emergence of Cities and States, Cambridge University Pressdiakses tanggal 25 November 2008 • Andrews, Margaret; Boyle, Joyceen (2008), Transcultural concepts in nursing care, Lippincott Williams & Wilkins, ISBN 978-0-7817-9037-6 • Anonim (1922), Eminent Orientalists: Indian, European, American (AES reprint) (edisi ke-cetak ulang), New Delhi: Asian Educational Services, ISBN 8120606973 • Apte, Vaman S.

(1997), The Student's English-Sanskrit Dictionary (edisi ke-baru), Delhi: Motilal Banarsidas, ISBN 81-208-0300-0 • Badlani, Hiro (2008), Hinduism: Path of the Ancient Wisdom, iUniverse, ISBN 978-0-595-70183-4 • Banerji, S. C. (1992), Tantra in Bengal (edisi ke-Second Revised and Enlarged), Delhi: Manohar, ISBN 81-85425-63-9 • Basham, Arthur Llewellyn (1989), The Origins and Development of Classical Hinduism, Oxford University Press • Basham, Arthur Llewellyn (1999), A Cultural History of India, Oxford University Press, ISBN 0-19-563921-9 • Beversluis, Joel (2000), Sourcebook of the World's Religions: An Interfaith Guide to Religion and Spirituality (Sourcebook of the World's Religions, 3rd ed), Novato, Calif: New World Library, ISBN 1-57731-121-3 • Bhaktivedanta, A.

C. (1997), Bhagavad-Gita As It Is, Bhaktivedanta Book Trust, ISBN 0-89213-285-X, diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-09-13diakses tanggal 14 Juli 2007 • Bhaskarananda, Swami (1994), The Essentials of Hinduism: a comprehensive overview of the world's oldest religion, Seattle, WA: Viveka Press, ISBN 1-884852-02-5 • Bhattacharya, Vidhushekhara (1943), Gauḍapādakārikā, Delhi: Motilal Banarsidass • Bhattacharyya, N.N (1999), History of the Tantric Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah (edisi ke-Second Revised), Delhi: Manohar publications, ISBN 81-7304-025-7 • Bhattacharya, Ramkrishna (15 Desember 2011), Studies on the Carvaka/Lokayata, Anthem Press, ISBN 978-0-85728-433-4 Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun ( link) • Bhide, Nivedita Raghunath (2008), Swami Vivekananda in America, ISBN 978-81-89248-22-2 • Brockington, J.L.

(1984), The Sacred Thread: Hinduism in its Continuity and Diversity, Edinburgh University Press • Brodd, Jefferey berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah, World Religions, Winona, Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah Saint Mary's Press, ISBN 978-0-88489-725-5 • Bryant, Edwin (2009), The Yoga Sutras of Patañjali: A New Edition, Translation, and Commentary, New York, USA: North Point Press, ISBN 978-0865477360 • Burley, Mikel (2007), Classical Samkhya and Yoga: An Indian Metaphysics of Experience, Taylor & Francis • Carmody, Denise Lardner; Carmody, John (1996), Serene Compassion, Oxford University Press • Cavalli-Sforza, Luigi Luca; Menozzi, Paolo; Piazza, Alberto (1994), The History and Geography of Human Genes, Princeton University Press • Chakravarti, Sitansu (1991), Hinduism: A Way of Life, Motilal Banarsidass Publ., ISBN 978-81-208-0899-7 • Chandra, Suresh (1998), Encyclopaedia of Hindu Gods and Goddesses • Chidbhavananda, Swami (1997), The Bhagavad Gita, Sri Ramakrishna Tapovanam • Clarke, Peter Bernard (2006), New Religions in Global Perspective, Routledge, hlm.

209, ISBN 0-7007-1185-6 • Coburn, Thomas B. (September, 1984), Journal of the American Academy of Religion, 52 (3) Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan); Tidak memiliki atau tanpa -title= ( bantuan); Parameter -chapter= akan diabaikan ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun ( link) • Comans, Michael (2000), The Method of Early Advaita Vedānta: A Study of Gauḍapāda, Śaṅkara, Sureśvara, and Padmapāda, Delhi: Motilal Banarsidass • Cordaux, Richard; Weiss, Gunter; Saha, Nilmani; Stoneking, Mark (2004), "The Northeast Indian Passageway: A Barrier or Corridor for Human Migrations?", Molecular Biology and Evolution, Society for Molecular Biology and Evolution, doi: 10.1093/molbev/msh151, PMID 15128876diakses tanggal 25 November 2008 • Cornelissen, R.

M. Matthijs; Misra, Girishwar; Varma, Suneet (2011), Foundations of Indian Psychology Volume 2: Practical Applications, Pearson Education India, ISBN 978-81-317-3085-0 • Cousins, L.S. (2010), Buddhism. In: "The Penguin Handbook of the World's Living Religions", Penguin • Coward, Harold (Februari 2008), The Perfectibility of Human Nature in Eastern and Western Thought, ISBN 978-0-7914-7336-8 • Cowell, E.B.; Gough, A.E.

(1882), Sarva-Darsana Sangraha of Madhava Acharya: Review of Different Systems of Hindu Philosophy, New Delhi: Indian Books Centre/Sri Satguru Publications, ISBN 978-81-7030-875-1 • Crangle, Edward Fitzpatrick (1994), The Origin and Development of Early Indian Contemplative Practices, Otto Harrassowitz Verlag • Day, Terence P (1982), The Conception of Punishment in Early Indian Literature, Ontario: Wilfrid Laurier University Press, ISBN 0-919812-15-5 • de Lingen, John; Ramsurrun, Pahlad (1937), An Introduction to The Hindu Faith, Sterling Publishers Pvt.

Ltd, ISBN 978-81-207-4086-0 • de Zwart, Frank (Juli 2000), "The Logic of Affirmative Action: Caste, Class and Quotas in India", Acta Sociologica, 43 (3), doi: 10.1177/000169930004300304, JSTOR 4201209 Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun ( link) • Dogra, R.C; Dogra, Urmila (2003), Let's Know Hinduism: The Oldest Religion of Infinite Adaptability and Diversity, Star Publications, ISBN 978-81-7650-056-2 • Doniger, Wendy (1999), Merriam-Webster's Encyclopedia of World Religions, Merriam-Webster • Doniger, Wendy (2010), The Hindus: An Alternative History, Oxford University Press • Dubois, Abbe J.A.

(2007), Hindu Manners, Customs and Ceremonies, Cosimo • Duchesne-Guillemin, Jacques (1963), "Heraclitus and Iran", History of Religions, 3 (1): 34–49, doi: 10.1086/462470 • Eliot, Sir Charles (2003), Hinduism and Buddhism: An Historical Sketch, I (edisi ke-Reprint), Munshiram Manoharlal, ISBN 81-215-1093-7 • Embree, Ainslie Thomas (1988), Sources of Indian Tradition: From the Beginning to 1800, I (edisi ke-2), Columbia University Press, ISBN 978-0-231-06651-8 Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan ( -author= yang disarankan) ( bantuan) • Europa Publications Staff (2003), The Far East and Australasia, 2003 - Regional Surveys of the World, Routledge, ISBN 978-1-85743-133-9 • Flood, Gavin D.

(1996), An Introduction to Hinduism, Cambridge University Press • Flood, Gavin D. (2008), The Blackwell Companion to Hinduism, John Wiley & Sons • Flood, Gavin D. (24 Agustus 2009), History of Hinduism, BBC Religions Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun ( link) • Fowler, Jeaneane Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah. (1997), Hinduism: Beliefs and Practices, Sussex Academic Press • Fowler, Jeaneane D. (1 Februari 2012), The Bhagavad Gita: A Text and Commentary for Students, Sussex Academic Press, ISBN 978-1-84519-346-1 Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun ( link) • Fuller, C.

J. (26 Juli 2004), "IV. Sacrifice", The Camphor Flame: Popular Hinduism and Society in India [Paperback] (edisi ke-revisi), Princeton University Press, ISBN 978-0-691-12048-5 Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun ( link) • Gandhi, Mahatma (1970), The Collected Works of Mahatma Gandhi, 34, New Delhi, ISBN 1443740209 • Georg, Feuerstein (2002), The Yoga Tradition, Motilal Banarsidass, ISBN 3-935001-06-1 • Georgis, Faris (2010), Alone in Unity: Torments of an Iraqi God-Seeker in North America, Dorrance Publishing, hlm.

62, ISBN 1-4349-0951-4 • Garces-Foley, Katherine (2005), Death and religion in a changing world, M. E. Sharpe • Garg, Gaṅgā Rām (1992), Encyclopaedia of the Hindu World, Volume 1, Concept Publishing Company • Gellman, Marc; Hartman, Thomas (2011), Religion For Dummies, John Wiley & Sons • Geoffray, Davis; Peter Marsden; Benedicte Ledent; Marc Delrez (2005), Towards a Transcultural Future: Literature and society in a post-colonial world, Rodopi, ISBN 90-420-1736-8 • Ghurye, Govind Sadashiv (1980), The Scheduled Tribes of India, Transaction Publishers • Goel, Sita (1993), Tipu Sultan: Villain or Hero?

– An Anthology, Voice of India, ISBN 978-81-85990-08-8 • Gombrich, Richard F. (1996), Theravada Buddhism. A Social History from Ancient Benares to Modern Colombo, London and New York: Routledge • Gomez, Luis O. (2013), Buddhism in India. In: Joseph Kitagawa, "The Religious Traditions of Asia: Religion, History, and Culture", Routledge • Gouyon, Anne; Yayasan Bumi Kita (30 September 2005), "The Hiden Life of Bali", The Natural Guide to Bali: Enjoy Nature, Meet the People, Make a Difference, Equinox Publishing (Asia) Pte.

Ltd., ISBN 979-3780-00-2diakses tanggal 12 Agustus 2010 • Griffith, Ralph Thomas Hotchkin (2003), The Vedas: With Illustrative Extracts, Book Tree, ISBN 1585092231 • Growse, Frederic Salmon (1996), Mathura - A District Memoir (edisi ke-Reprint), Asian Educational Services • Hacker, Paul; Halbfass, Wilhelm (1995), Philology and Confrontation: Paul Hacker on Traditional and Modern Vedānta, SUNY Press, ISBN 978-0-7914-2581-7 • Halbfass, Wilhelm (1991), Tradition and Reflection, SUNY Press • Halbfass, Wilhelm (2007), Research and reflection: Responses to my respondents / iii.

Issues of comparative philosophy (pp. 297-314). In: Karin Eli Franco (ed.), "Beyond Orientalism: the work of Wilhelm Halbfass and its impact on Indian and cross-cultural studies" (edisi ke-1st Indian ed.), Delhi: Motilal Banarsidass Publishers, ISBN 8120831101 Pemeliharaan CS1: Teks tambahan ( link) • Harold, Smith (1 Januari 2007), Outline of Hinduism, Read Books, ISBN 1-4067-8944-5 Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun ( link) • Harshananda, Swami (1989), "A Bird's Eye View of the Vedas", Holy Scriptures: A Symposium on the Great Scriptures of the World (edisi ke-ke-2), Mylapore: Sri Ramakrishna Math, ISBN 81-7120-121-0 • Harvey, Andrew (2001), Teachings of the Hindu Mystics, Boulder: Shambhala, ISBN 1-57062-449-6 • Hastings, James; John A.

Selbie (Ed.) (2003), Encyclopedia of Religion and Ethics, Part 3, Kessinger Publishing, ISBN 0-7661-3671-X Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: authors list ( link) [ pranala nonaktif permanen] • Hiltebeitel, Alf (2002), Hinduism. In: Joseph Kitagawa, "The Religious Traditions of Asia: Religion, History, and Culture", Routledge • Hiltebeitel, Alf (2007), Hinduism. In: Joseph Kitagawa, "The Religious Traditions of Asia: Religion, History, and Culture".

Digital printing 2007, Routledge • Hoiberg, Dale (2001), Students' Britannica India, Popular Prakashan, ISBN 0-85229-760-2 • Holt, John (2004), The Buddhist Visnu, Columbia University Press • Hopfe, Lewis M.; Woodward, Mark R. (2008), Religions of the World, Pearson Education • Hori, Victor Sogen (1994), Teaching and Learning in the Zen Rinzai Monastery.

In: Journal of Japanese Studies, Vol.20, No. 1, (Winter, 1994), 5-35 (PDF), diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2019-10-25diakses tanggal 2014-03-07 • Insoll, Timothy (2001), Archaeology and World Religion, Routledge, ISBN 978-0-415-22155-9 • Inden, Ronald (1998), Ritual, Authority, And Cycle Time in Hindu Kingship. In: JF Richards, ed., "Kingship and Authority in South Asia", New Delhi: Oxford University Press • Inden, Ronald B. (2000), Imagining India, C.

Hurst & Co. Publishers • Jha, Preeti (26 Desember 2007), Guinness Comes to East Delhi: Akshardham World’s Largest Hindu Temple, ExpressIndia.com, diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-12-28diakses tanggal 2 Januari 2008 Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun ( link) • Johnson, W.J.

(2009), A Dictionary of Hinduism, Oxford University Press, ISBN 978-0-19-861025-0 • Jones, Constance; Ryan, James D. (2006), Encyclopedia of Hinduism, Infobase Publishing • Jouhki, Jukka (2006), "Orientalism and India" (PDF), J@RGONIA 8/2006, diarsipkan dari versi asli ( PDF) tanggal 2017-05-25diakses tanggal 2014-03-07 • Kamphorst, Janet (5 Juni 2008), "9", In Praise of Death: History and Poetry in Medieval Marwar (South Asia), Leiden University Press, ISBN 90-8728-044-0 • Ketkar, Shridhar (1909), The History of Caste in India, Taylor & Carpenter • Khanna, Meenakshi (2007), Cultural History Of Medieval India, Berghahn Books • King, Anna; Brockington, John (2005), The Intimate Other: Love Divine in Indic Religions, Orient Longman • King, Richard (1999), Orientalism and Religion: Post-Colonial Theory, India and "The Mystic East", Routledge • King, Richard (1999-B), "Orientalism and the Modern Myth of "Hinduism "", NUMEN, Vol.

46, pp 146-185, BRILL Periksa nilai tanggal di: -year= ( bantuan) • King, Richard (2002), Orientalism and Religion: Post-Colonial Theory, India and "The Mystic East", Routledge • Kishore, B.

R. (2001), Hinduism, Diamond Pocket Books Ltd., ISBN 9788128800825 • Klostermaier, Klaus K. (1994), A Survey of Hinduism: Second Edition, SUNY Press • Klostermaier, Klaus K. (2007), A Survey of Hinduism: Third Edition, SUNY Press • Knott, Kim (1998), Hinduism: A Very Short Introduction, Oxford University Press • Koller, John M.

(Oktober 1968), "JSTOR: Philosophy East and West", Philosophy East and West, 18 (4) Parameter -chapter= akan diabaikan ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun ( link) • Koller, John M. (April, 1984), "JSTOR: Philosophy East and West", Philosophy East and West, www.jstor.org, 34 (2), JSTOR 1398925 Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun ( link) • Kramer, Kenneth (1986), World scriptures: an introduction to comparative religions, ISBN 978-0-8091-2781-8 • Krishnamurti, B.N.

(1997), Encyclopedia of Hinduism, Centre for International Religious Studies, ISBN 8174881689 • Kulke, Hermann; Rothermund, Dietmar (1998), High-resolution analysis of Y-chromosomal polymorphisms reveals signatures of population movements from central Asia and West Asia into India, Routledge, ISBN 0-415-15482-0diakses tanggal 25 November 2008 • Kulke, Hermann; Rothermund, Dietmar (2004), A History of India, Routledge • Kumar, Dhavendra (2004), Genetic Disorders of the Indian Subcontinent, Springer, ISBN 1-4020-1215-2diakses tanggal 25 November 2008 • Kuruvachira, Jose (2006), Hindu nationalists of modern India, Rawat publications, ISBN 81-7033-995-2 • Laderman, Gary (2003), Religion and American Cultures: An Encyclopedia of Traditions, Diversity, and Popular Expressions, ABC-CLIO, ISBN 1-57607-238-X • Lane, Jan-Erik; Ersson, Svante (2005), Culture and Politics: A Comparative Approach (edisi ke-2), Ashgate Publishing, Ltd, ISBN 978-0-7546-4578-8 • Larson, Gerald (1995), India's Agony Over Religion, SUNY Press • Larson, Gerald (2009), Hinduism.

In: "World Religions in America: An Introduction", pp. 179-198, Westminster John Knox Press • Lata, Prem (1990), Swami Dayānanda Sarasvatī, Sumit Publications, ISBN 81-7000-114-5 • Leaman, Oliver (1999), Key Concepts in Eastern Philosophy, Routledge • Lockard, Craig A. (2007), Societies, Networks, and Transitions.

Volume I: to 1500, Cengage Learning • Lorenzen, David N. (2006), Who Invented Hinduism: Essays on Religion in History, Yoda Press • Luzzi, Ferro (1991), "The Polythetic-Prototype Approach to Hinduism", dalam G.D. Sontheimer dan H. Kulke (ed.), Hinduism Reconsidered, Delhi: Manohar Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah list ( link) • Macy, Joanna (1975), "The Dialectics of Desire", Numen, BRILL, 22 (2), JSTOR 3269765 • Mahadevan, T.

M. P (1956), Sarvepalli Radhakrishnan, ed., History of Philosophy Eastern and Western, George Allen & Unwin Ltd • Matilal, B. K. (1986), Perception. An Essay on Classical Indian Theories of Knowledge, Oxford University Press • McDaniel, J. (2007), "Hinduism", dalam Corrigan, John, The Oxford Handbook of Religion and Emotion, Oxford University Press, ISBN 0-19-517021-0 • McGowan (ed.), Dale (2012), Voices of Unbelief: Documents from Atheists and Agnostics, ISBN 1598849786 Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: authors list ( link) • McMahan, David L.

(2008), The Making of Buddhist Modernism, Oxford University Press, ISBN 9780195183276 • McRae, John (1991), "Oriental Verities on the American Frontier: The 1893 World's Parliament of Religions and the Thought of Masao Abe", Buddhist-Christian Studies, University of Hawai'i Press, 11, doi: 10.2307/1390252, JSTOR 1390252. • McRae, John (2003), Seeing Through Zen. Encounter, Transformation, and Genealogy in Chinese Chan Buddhism, The University Press Group Ltd, ISBN 9780520237988 • Melton, J.

Gordon; Baumann, Martin (2010), Religions of the World, Second Edition: A Comprehensive Encyclopedia of Beliefs and Practices, ABC-CLIO, ISBN 978-1-59884-204-3 • Merriam-Webster (2000), Merriam-Webster's Collegiate Encyclopedia, Merriam-Webster • Michaels, Axel (2004), Hinduism.

Past and present, Princeton, New Jersey: Princeton University Press • Michell, George (1977), The Hindu Temple: An Introduction to Its Meaning and Forms, University of Chicago Press • Misra, Amalendu (2004), Identity and Religion: Foundations of Anti-Islamism in India, SAGE • Monier-Williams, Monier (2001), English Sanskrit dictionary, Delhi: Motilal Banarsidass, ISBN 81-206-1509-3diakses tanggal 24 Juli 2007 • Morgan, Kenneth W.; Sarma, D.

S. (1953), The Religion of the Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah, Ronald Press • Muesse, Mark William (2003), Great World Religions: Hinduism • Muesse, Mark Willaim (2011), The Hindu Traditions: A Concise Introduction, Fortress Press, ISBN 9780800697907 • Mukherjee, Namita; Nebel, Almut; Oppenheim, Ariella; Majumder, Partha P.

(December 2001, Vol. 80, No. 3), "High-resolution analysis of Y-chromosomal polymorphisms reveals signatures of population movements from central Asia and West Asia into India" ( PDF), Journal of Genetics, Springer Indiadiakses tanggal 25 November 2008 Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun ( link) [ pranala nonaktif permanen] • Murthy, B.S.

(2003), Puppets of Faith: theory of communal strife, Bulusu Satyanarayana Murthy, ISBN 978-81-901911-1-1 • Naidoo, Thillayvel (1982), The Arya Samaj Movement in South Africa, Motilal Banarsidass, ISBN 81-208-0769-3 • Nakamura, Hajime (2004), A History of Early Vedanta Philosophy. Part Two, Delhi: Motilal Banarsidass Publishers Private Limited • Narayanan, Vasudha (2007), "The Hindu Tradition", dalam Willard G. Oxtoby dan Alan F. Segal, A Concise Introduction to World Religions, New York: Oxford University Press • Narayanan, Vasudha (2009), Hinduism, The Rosen Publishing Group • Narendranand (Swami) (2008), Hindu spirituality: a help to conduct prayer meetings for Hindus, Jyoti Ashram • Nath, Vijay (2001), "From 'Brahmanism' to 'Hinduism': Negotiating the Myth of the Great Tradition", Social Scientist 2001 • Neusner, Jacob (2009), World Religions in America: An Introduction, Westminster John Knox Press, ISBN 978-0-664-23320-4 • Neville, Robert (2001), Religious Truth, Suny Press, ISBN 978-0-7914-4778-9 • Nicholson, Andrew J.

(2010), Unifying Hinduism: Philosophy and Identity in Indian Intellectual History, Columbia University Press • Nikhilananda, Swami (1990), The Upanishads: Katha, Iśa, Kena, and Mundaka, I (edisi ke-5th), New York: Ramakrishna-Vivekananda Centre, ISBN 0-911206-15-9 • Nikhilananda, Swami (trans.) (1992), The Gospel of Sri Ramakrishna (edisi ke-8th), New York: Ramakrishna-Vivekananda Centre, ISBN 0-911206-01-9 • O'Conell, Joseph T.

(1973), "The Word 'Hindu' in Gauḍīya Vaiṣṇava Texts", Journal of the American Oriental Society, 93 (3) • Oberlies, T. (1998), Die Religion des Rgveda, Vienna: Institut für Indologie der Universität Wien, ISBN 3-900271-32-1 • Olson, Carl (2007), The Many Colours of Hinduism: A Thematic-historical Introduction, Rutgers University Press, hlm. 9, ISBN 978-0-8135-4068-9 • Osborne, E (2005), Accessing R.E.

Founders & Leaders, Buddhism, Hinduism and Sikhism Teacher's Book Mainstream, Folens Limited • Pattanaik, Devdutt (2002), The man who was a woman and other queer tales of Hindu lore, Routledge, ISBN 978-1-56023-181-3 • Phillips, Stephen H. (1995), Classical Indian Metaphysics: Refutations of Realism and the Emergence of "New Logic", Open Court Publishing • Platts, John Thompson (1884), A Dictionary of Urdu, Classical Hindī, and English, W.H.

Allen & Co., Oxford University • Possehl, Gregory L. (11 November 2002), "Indus religion", The Indus Civilization: A Contemporary Perspective, Rowman Altamira, ISBN 978-0-7591-1642-9 • Pratt, James Bissett (1996), The Pilgrimage of Buddhism and a Buddhist Pilgrimage, Asian Educational Services, ISBN 978-81-206-1196-2 • Radhakrishnan, Sarvepalli (1929), Indian Philosophy, Muirhead library of philosophy, 1 (edisi ke-2), London: George Allen and Unwin Ltd.

• Radhakrishnan, Sarvepalli; Moore, CA (1967), A sourcebook in Indian Philosophy, Princeton University Press, ISBN 0-691-01958-4 • Radhakrishnan, Sarvepalli (1973), The Hindu View of Life, Pennsylvania State University: Macmillan • Radhakrishnan, Sarvepalli (Trans.) (1995), Bhagavad Gita, Harper Collins, ISBN 1-85538-457-4 • Radhakrishnan, Sarvepalli (1996), Indian Philosophy, 1, Oxford University Press, ISBN 0-19-563820-4 • Rajadhyaksha (1959), The six systems of Indian philosophy • Raju, P.T.

(1992), The Philosophical Traditions of India, Delhi: Motilal Banarsidass Publishers Private Limited • Ram-Prasad, C (2003), "Contemporary political Hinduism", dalam Flood, Gavin, The Blackwell Companion to Hinduism, Blackwell Publishing, ISBN 0-631-21535-2 • Ramaswamy, Sumathi (1997), Passions of the Tongue: Language Devotion in Tamil India, 1891-1970, University of California Press • Rambachan, Anantanand (1994), The Limits of Scripture: Vivekananda's Reinterpretation of the Vedas, University of Hawaii Press • Ramstedt, Martin (2004), Hinduism in Modern Indonesia: A Minority Religion Between Local, National, and Global Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah, New York: Routledge • Rawat, Ajay S.

(1993), StudentMan and Forests: The Khatta and Gujjar Settlements of Sub-Himalayan Tarai, Indus Publishing • Reichenbach, Bruce R. (April 1989), "Karma, causation, and divine intervention", Philosophy East and West, Hawaii: University of Hawaii Press, 39 (2), doi: 10.2307/1399374diakses tanggal 29 Desember 2009. • Renard, Philip (2010), Non-Dualisme. De directe bevrijdingsweg, Cothen: Uitgeverij Juwelenschip • Richman, Paula (1988), Women, branch stories, and religious rhetoric in a Tamil Buddhist text, Buffalo, NY: Maxwell School of Citizenship and Public Affairs, Syracuse University, ISBN 0-915984-90-3 • Rinehart, Robin (2004), Contemporary Hinduism: Ritual, Culture, and Practice, ABC-CLIO • Rodrigues, Hillary (2006), Hinduism: the Ebook, JBE Online Books • Rogers, Peter (2009), Ultimate Truth, Book 1, AuthorHouse, ISBN 978-1-4389-7968-7 • Rosen, Steven (2006), Essential Hinduism (edisi ke-ke-1), Westport: Praeger Publishers • Samuel, Geoffrey (2010), The Origins of Yoga and Tantra.

Indic Religions to the Thirteenth Century, Cambridge University Press • Sarma, D. S.; Morgan, Kenneth W. (1953), The Religion of the Hindus • Sargeant, Winthrop; Chapple, Christopher (1984), The Bhagavad Gita, New York: State University of New York Press, ISBN 0-87395-831-4 • Sehgal, Sunil (1999), Encyclopaedia of Hinduism: T-Z, Volume 5, Sarup & Sons • Sen Gupta, Anima (1986), The Evolution of the Sāṃkhya School of Thought, South Asia Books, ISBN 81-215-0019-2 • Silverberg, James (1969), "Social Mobility in the Caste System in India: An Interdisciplinary Symposium", The American Journal of Sociology, 75 (3), doi: 10.1086/224812 • Sinha, H.P.

(1993), Bhāratīya Darshan kī rūprekhā, Motilal Banarasidas Publishing, ISBN 81-208-2144-0 Parameter -trans_title= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Sharf, Robert H. (1993), "The Zen of Japanese Nationalism", History of Religions, Vol. 33, No. 1. (Aug., 1993), pp. 1-43. • Sharf, Robert H. (1995a), Whose Zen? Zen Nationalism Revisited (PDF) • Sharf, Robert H. (2000), The Rhetoric of Experience and the Study of Religion. In: Journal of Consciousness Studies, 7, No.

11-12, 2000, pp. 267-87 (PDF), diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2013-05-13diakses tanggal 2014-03-07 • Sharma, Peri Sarveswara (1980), Anthology of Kumārilabhaṭṭa's Works, Delhi: Motilal Banarsidass • Sharma, Hari (1991), The Real Tipu: A Brief History of Tipu Sultan, Rishi publications • Singh, Upinder (2008), A History of Ancient and Early Medieval India: From the Stone Age to the 12th Century, Pearson Education India, ISBN 978-81-317-1120-0 • Sivaraman, Krishna (1997), Hindu Spirituality: An Encyclopedic History of the Religious Quest.

Postclassical and Modern, 2, The Crossroad Publishing Co., ISBN 9780824507558 • Sjoberg, Andree F. (1990), "The Dravidian Contribution To The Development Of Indian Civilization: A Call For A Reassesment", Comparative Civilizations Review.

23:40-74 • Smart, Ninian (1993), "THE FORMATION RATHER THAN THE ORIGIN OF A TRADITION", DISKUS Vol 1 No.1 (1993) p.1, diarsipkan dari versi asli tanggal 2013-12-02diakses tanggal 2014-03-07 • Smart, Ninian (2003), Godsdiensten van de wereld (The World's religions), Kampen: Uitgeverij Kok • Smelser, N.; Lipset, S., ed. (2005), Social Structure and Mobility in Economic Development, Aldine Transaction, ISBN 0-202-30799-9 • Smith, W.C. (1962), The Meaning and End of Religion, San Francisco: Harper and Row • Smith, Huston (1991), The World's Religions: Our Great Wisdom Traditions, San Francisco: HarperSanFrancisco, ISBN 0-06-250799-0 • Smith, Huston (1994), "Hinduism: The Stations of Life", The Illustrated World's Religions, New York, USA: HarperCollins, ISBN 0-06-067440-7 • Smith, David Whitten; Burr, Elizabeth Geraldine (28 Desember 2007), "One", Understanding World Religions: A Road Map for Justice and Peace, Rowman & Littlefield, ISBN 0-7425-5055-9 Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun ( link) • Southgate, Christopher (2005), God, Humanity, and the Cosmos, Bloomsburry Academic, ISBN 0567030164 • Sri Aurobindo (2000), Essays On The Gita, Sri Aurobindo Ashram Publishing, ISBN 978-81-7058-613-5 • Stein, Burton (2010), A History of India, Second Edition (PDF), Wiley-Blackwell, diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2014-01-14diakses tanggal 2014-03-07 • Stevens, Anthony (2001), Ariadne's Clue: A Guide to the Symbols of Humankind, Princeton University Press • Sweetman, Will (2004), "The prehistory of Orientalism: Colonialism and the Textual Basis for Bartholomaus Ziegenbalg's Account of Hinduism" (PDF), New Zealand Journal of Asian Studies 6, 2 (December, 2004): 12-38, diarsipkan dari versi asli ( PDF) tanggal 2013-02-07diakses tanggal 2014-03-07 • Taimni, I.

K. (1961), The Science of Yoga, Adyar, India: The Theosophical Publishing House, ISBN 81-7059-212-7 • Thani Nayagam, Xavier S. (1963, Vol. 10), Tamil Culture, Academy of Tamil Culturediakses tanggal 25 November 2008 Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun ( link) • Thapar, Romula (1993), Interpreting Early India, Delhi: Oxford University Press • Thapar, Romula (2003), The Penguin History of Early India: From the Origins to AD 1300, Penguin Books India • Tichner, Jozef; McClean, George (1994), The Philosophy of Person: Solidarity and Cultural Creativity • Tiwari, Shiv Kumar (2002), Tribal Roots Of Hinduism, Sarup & Sons • Toropov, Brandon; Buckles, Luke (2011), The Complete Idiot's Guide to World Religions, Penguin • Turner, Bryan S.

(1996a), For Weber: Essays on the Sociology of Fate • Turner, Jeffrey S. (1996b), Encyclopedia of relationships across berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah lifespan, Greenwood Press • van Bekkum, Wout Jac.; Houben, Jan; Sluiter, Ineke; Versteegh, Kees (1997), The Emergence of Semantics in Four Linguistic Traditions: Hebrew, Sanskrit, Greek, Arabic • Vasu, Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah Chandra (1919), The Catechism Of Hindu Dharma, New York: Kessinger Publishing, LLC • Vivekananda, Swami (1987), Complete Works of Swami Vivekananda, Calcutta: Advaita Ashrama, ISBN 81-85301-75-1 • Walker, Benjamin (1968), The Hindu world: an encyclopedic survey of Hinduism • Werbner, P.; Nye, Malory (2003), "Multiculturalism and Minority Religions in Britain: Krishna Consciousness, Religious Freedom and the Politics of Location", Social Anthropology, Richmond: Curzon Press, 10 (03), doi: 10.1017/S0964028202210253, ISBN 0-7007-1392-1 • White, David Gordon (2000), Introduction.

In: David Gordon White (ed.), "Tantra in Practice", Princeton University Press • White, David Gordon (2006), Kiss of the Yogini: "Tantric Sex" in its South Asian Contexts, University of Chicago Press • Williams, Raymond Brady (2001), An Introduction to Swaminarayan Hinduism, Cambridge University Press, ISBN 052165422X • Witzel, Michael (1995), "Early Sanskritization: Origin and Development of the Kuru state" (PDF), EJVS vol.

1 no. 4 (1995), Praeger, diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2007-06-11diakses tanggal 2014-03-07 • Woodard, Roger D. (18 Agustus 2006), Indo-European Sacred Space: Vedic and Roman Cult, University of Illinois Press, ISBN 978-0-252-09295-4 Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun ( link) • Worthington, Vivian (1982), A History of Yoga, Routledge • Zimmer, Heinrich (1951), Philosophies of India, Princeton University Press Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] Wikimedia Commons memiliki media mengenai Agama Hindu.

Wikibuku memiliki buku berjudul Hinduism Wikiquote memiliki koleksi kutipan yang berkaitan dengan: Agama Hindu. • (Indonesia) Weda, Kitab Suci Hindu • (Indonesia) Parisadha Hindu Dharma Indonesia • (Inggris) "Hinduism". Encyclopædia Britannica Online. • (Inggris) Hindu Philosophy and Hinduism, IEP, Shyam Ranganathan, York University. • (Inggris) All About Hinduism by Swami Sivananda (pdf) Diarsipkan 2019-12-22 di Wayback Machine., The Divine Life Society.

• (Inggris) What is Hinduism? Diarsipkan 2021-04-18 di Wayback Machine., editor majalah Hinduism Today. • (Inggris) Hinduism outside India Diarsipkan 2015-04-20 di Wayback Machine., A Bibliography, Harvard University (The Pluralism Project). • (Inggris) What's in a Name? Agama Hindu Bali in the Making Michel Picard, Le CNRS (Paris, France) Riset tentang Hinduisme [ sunting - sunting sumber ] • (Inggris) The Oxford Center for Hindu Studies, University of Oxford • (Inggris) Latest issue of The Journal of Hindu Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah, Oxford University Press • (Inggris) Latest issue of the International Journal of Hindu Studies, Springer • (Inggris) Latest issue of The Journal of Hindu-Christian Studies, Butler University • (Inggris) Latest issue of The Journal of Indo-Judaic Studies, Florida International University • (Inggris) Latest issue of the International Journal of Dharma Studies, Springer (Topical publications on Hinduism, other Indic religions) • Adat Lawas • Adat Musi • Agama Buhun • Agama Helu • Aji Dipa • Aliran Kebatinan Tak Bernama • Aluk Todolo • Ameok • Anak Cucu Bandha Yudha • Angesthi Sampurnaning Kautaman • Anggayuh Panglereming Nafsu • Arat Sabulungan • Babolin • Babukung • Baha'i • Basorah • Buddha • Buddhayana • Maitreya • Tridharma • Budi Daya • Budi Rahayu • Budi Sejati • Bumi Hantoro • Cakramanggilingan • Dharma Murti • Empung Loken Esa • Era Wulan Watu Tana • Galih Berikut pernyataan yang bukan mengenai metamorfosis sempurna adalah Rahayu • Gautami • Golongan Si Raja Batak • Guna Lera Wulan Dewa Tanah Ekan • Gunung Jati • Hajatan • Habonaron Do Bona • Hak Sejati • Hangudi Bawono Tata Lahir Satin • Hangudi Lakuning Urip • Hardo Pusoro • Hidup Betul • Hindu • Bali • Jawa • Kaharingan • Towani Tolotang • Siwa-Buddha • Ilmu Goib • Ilmu Goib Kodrat Alam • Imbal Wacono • Islam • Abangan • modern • Ahmadiyyah • Islam Nusantara • LDII • Modernis • Al-Qiyadah Al-Islamiyah • Syiah • Tradisionalis • Wahidiyah • Wetu Telu • IWKU • Jainisme • Jawa Domas • Jingi Tiu • Kapitayan • Kejawen • Khonghucu • Koda Kirin • Kristen • Katolik • Mormonisme • Ortodoks • Protestan • Saksi-Saksi Yehuwa • Lera Wulan Dewa Tanah Ekan • Malesung • Marapu • Masade • Naurus • Parmalim • Pelebegu • Pemena • Pepandyo • Perjalanan • Purwoduksino • Rila • Salamullah • Sedulur Sikep • Sikh • Sirnagalih • Subud • Sumarah • Sunda Wiwitan • Djawa Sunda • Taoisme • Tonaas Walian • Wor • Yahudi Ireligiusitas • Adi Dharm / Brahmoisme • Brahmo Samaj • Sadharan Brahmo Samaj • Ananda Marga • Arya Samaj • Ashram Sri Aurobindo • Ayyavazhi • Brahma Kumaris • Hindutva • Institut Himalaya Ilmu Yoga dan Filsafat • Masyarakat Internasional Kesadaran Kresna • Matua Mahasangha • Meditasi Transcendental • Misi Chinmaya • Mahima Dharma • Misi Ramakrishna • Misi Shri Ram Chandra • Organisasi Sathya Sai • Self-Realization Fellowship / Yogoda Satsanga • Perhimpunan Kehidupan Ilahi • Prarthana Samaj • Sahaja Yoga • Asrama Sri Aurobindo • Swadhyay Parivar • Swaminarayan Sampraday • BAPS • ISSM • ISSO • NNDYM • Yayasan Hanuman • Yayasan Isya • Topik Kategori tersembunyi: • Galat CS1: bab diabaikan • Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: authors list • Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun • Templat webarchive tautan wayback • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • Galat CS1: tanggal • Halaman yang menggunakan pranala magis ISBN • Halaman dengan argumen ganda di pemanggilan templat • Artikel mengandung aksara Sanskerta • Halaman yang menggunakan multiple image dengan pengubahan ukuran gambar manual • Halaman dengan berkas rusak • Pages using reflist with unknown parameters • Halaman dengan rujukan yang tidak memiliki judul • Pemeliharaan CS1: Teks tambahan • Artikel dengan pranala luar nonaktif • Artikel dengan pranala luar nonaktif permanen • Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: editors list • Pranala kategori Commons ada di Wikidata • Artikel Wikipedia dengan penanda GND • Artikel Wikipedia dengan penanda BNF • Artikel Wikipedia dengan penanda EMU • Artikel Wikipedia dengan penanda LCCN • Artikel Wikipedia dengan penanda LNB • Artikel Wikipedia dengan penanda NDL • Artikel Wikipedia dengan penanda NKC • Artikel Wikipedia dengan penanda NLI • Artikel Wikipedia dengan penanda HDS • Artikel Wikipedia dengan penanda MA • Artikel Wikipedia dengan penanda NARA • Artikel Wikipedia dengan penanda TDVİA • Halaman ini terakhir diubah pada 2 Mei 2022, pukul 21.21.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •

Video Pembelajaran Kelas 4 Metamorfosis 🔥 Metamorfosis sempurna dan tidak sempurna




2022 www.videocon.com