Cara memasang infus dengan benar

cara memasang infus dengan benar

Sebelum kita mempersiapkan alat, sebaiknya kita lakukan persiapan pasien. Yang cara memasang infus dengan benar harus dilakukan terhadap pasien adalah informed consent. Informed consent merupakan suatu hal yang penting yang harus dilakukan oleh seluruh tenaga medis atau kesehatan ketika ingin melakukan suatu tindakan ke pasien. • Lakukan cuci tangan terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan • Pakai sarung tangan atau handscoon • Buka infus set dan klem infus set dengan mengatur klem pengatyur infus set didekatkan ke tabung penampung cairan agar selang infus set tertutup.

• Siapkan cairan infus dan hubungkan dengan dengan infus set dengan cara menusuk bagian ujung infus atau outlet cairan yang sudah ditentukan dengan infus set. • Isi tabung di bagian infus set hingga berisi setengah, selanjutnya alirkan cairan infus dengan membuka klemnya secara perlahan sampai seluruh selang infus terisi cairan dan tidak ada udara di dalamnya.

• Jika sudah siap infus set dan cairannya, selanjutnya gantung cairan tersebut ke standar infus atau tiang infus. • Siapkan plester untuk memfiksasi infus set agar tidak mudah lepas • Tentukan vena yang akan dilakukan penusukan (baca lokasi penusukan vena yang benar) • Pasang perlak atau pengalas tepat dibawah vena yang akan dilakukan penusukan atau insisi • Pasang tornikuet sekitar 5 hingga 10 centimeter diatas area insisi yang sudah ditentukan • Ambil alcohol swab dan siapkan IV cateter sesuai dengan ukuran yang sudah ditentukan dan disesuaikan dengan besar kecilnya vena • Desinfeksi area insisi yang sudah ditentukan dengan alcohol swab atau kapas alcohol • Tusuk vena yang telah ditentukan tadi dengan posisi mata jarum mengarah keatas dengan posisi kurang lebih 15 derajat • Tusuk vena hingga tampak keluar darah mengalir ke pangkal IV cateter.

Jika sudah pasti masuk kedalam vena, dorong IV kateter dan cabut atau tarik jarum IV kateter keluar dari IV kateter sambil deep atau tekan kira-kira tepat di ujung IV kateter yang masuk ke dalam vena. • Sambungkan IV cateter dengan infuse set yang sudah siapkan tadi dan alirkan cairan infus serta atur tetesan infus sesuai dengan terapi yang diberikan. • Fiksasi dengan plester transparan dan dapat juga menggunakan plester biasa (gunakan teknik melintang dan kupu-kupu). Tambahkan fiksasinya hingga kuat dan tidak mudah goyang atau tercabut.

• Perhatikan reaksi pasien dan kenyamanan pasien • Jika pasien tampak nyaman dan tidak menunjukkan reaksi alergi atau ketidaknyamanan, bereskan alat-alat dan rapikan pasien kembali.

• Lepaskan sarung tangan dan perawat cuci tangan • Dokumentasikan waktu pemasangan infus (jam, hari dan tanggal), jenis cairan dan jumlah tetesan. • Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga • Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel • Pulih Bersama • Pulih Bersama • Indonesia Hi-Tech cara memasang infus dengan benar Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT Cara pemasangan infus sesuai dengan SPO ( standar prosedur operasional ditulis oleh tiara febriani Seperti yang kita tahu dan kita lihat dirumah sakit banyak sekali pasien yang dirawat menggunakan infus pada tangan merekanah, Sekarang disini saya memberitahu bagaimana cara memasangkan infus yang benar.

Tindakan ini sering merupakan tindakan life saving seperti pada kehilangan cairan yang banyak, dehidrasi dan syok, karena itu keberhasilan terapi dan cara pemberian yang aman diperlukan pengetahuan dasar tentang keseimbangan cairan.

Agar lebih jelas sebelumnya saya akan menjelaskan apa itu infus dan apa tujuan pemasangan infus sendiri. v Pemberian cairan intravena (infus) Memasukkan cairan atau obat langsung melalui pembuluh darah vena dalam jumlah dan waktu tertentu dengan menggunakan infus set .seperti ini gambar infus set v Tujuan 1. Mengembalikan dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh 2. Memberikan obat 3. Transfuse darah dan produk darah 4. Memberikan nutrisi parenteral dan suplemen nutrisi Disini juga saya akan memberi tahu persiapan untuk memasang infus sebagai berikut : v Persiapan 1.

Persiapan pasien Ø Pasien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan v Persiapan alat Ø Standar infus Ø Cairan infus dan infus set sesuai kebutuhan Ø Jarum / wings needle/abocath sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan Ø Perlak dan tourniquet Ø Plester dan gunting Ø Bengkok Ø Sarung tangan bersih Ø Kassa seteril Ø Kapas alkohol dalam tempatnya Bethadine dalam tempatnya v Penatalaksanaannya 1.

Mencuci tangan 2. Memberitahu tindakan yang akan dilakukan 3. Mengisi selang infus 4. Membuka plastic infus set dengan benar 5.

cara memasang infus dengan benar

Tetap melindungi ujung selang steril 6. Menggantungkan infus set cara memasang infus dengan benar cairan infus dengan posisi cairan infus mengarah keatas 7. Menggantung cairan infus di standar cairan infus 8. Mengisi cairan infus set dengan cara menekan (tapi jangan sampai terendam) 9.

Mengisi selang infus dengan cairan yang benar 10. Menutup ujung selang dan tutup dengan mempertahankan kesterilan 11. Cek adanya udara dalam selang 12. Pakai sarung tangan bila perlu 13. Memilih posisi yang tepat untuk memasang infus 14.

Meletakkan perlak dan pengalas 15. Memilih vena yang tepat dan benar 16. Memasang tourniquet 17. Deninfeksi vena dengan alcohol dari atas kebawah dengan sekali hapus 18. Buka abocath apakah ada kerusakan atau tidak 19. Menusukan abocath pada vena yang telah dipilih 20.

Memperhatikan adanya darah dalam kompartemen darah dalam abocath 21. Tourniquet di cabut 22. Menyambungkan dengan ujung selang yang telah terlebih dahulu dikeluarkan cairannya sedikit, dan sambil dibiarkan menetes sedikit 23.

Memberikan plester pada ujung abocath tapi tidak menyentuh area penusukan untuk fiksasi 24. Membalut dengan kassa betadinsteril dan menutupnya dengan kassa steril kering 25. Memberi plester dengar benar dan mempertahankan keamanan abocath agar tidak tercabut 26. Mengatur cairan tetesan infus sesuai kebutuhan pasien 27.

cara memasang infus dengan benar

Alat-alat di bereskan dan perhatikan bagaimana respon pasien 28. Perawat kembali cuci tangan 29. Catat tindakan yang dilakukan v Evaluasi Perhatikan kelancaran infus, dan perhatikan juga respon klien terhadap pemberian tindakan. v Dokumentasi Mencatat tindakan yang telah dilakukan (waktu pelaksanaan, hasil tindakan, reaksi  respon klien terhadap pemasangan infus, cairan dan tetesan yang diberikan, nomor abocath, vena yang dipasang, dan perawat yang melakukan ) pada catatan dokumentasi Nah itu cara memasang infus sesuai spo ( standar prosedur operasional ) yang dapat saya tulis dalam artikel ini semoga dapat bermanfaat.
Untuk pasien yang sedang menjalani perawatan rawat jalan, berikut ini adalah cara pemasangan infus sesuai SOP di rumah.

Pemberian infus bertujuan untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, mencegah dehidrasi, memulihkan volume darah, serta menyalurkan obat-obatan melalui pembuluh darah. Pemasangan infus yang tidak sesuai dengan SOP dapat menyebabkan nyeri, bengkak pada pembuluh darah, serta kulit kemerahan. Untuk mempercepat proses pemulihan dan menghindari kesalahan perawatan pemasangan infus sesuai SOP harus dilakukan oleh perawat home care.

Layanan perawat home care Medi-Call dapat dipesan melalui aplikasiatau Call-Center 24 jam. Medi-Call: Layanan Perawat Home Care dan Perawat Luka di Rumah Anda Pemasangan Infus Cara memasang infus dengan benar SOP Memasang infus adalah tindakan medis yang penting dan tidak boleh salah karena berpengaruh besar terhadap proses kesembuhan pasien.

Setiap Rumah Sakit dan Puskesmas memiliki SOP yang sama secara garis besar. Berikut ini adalah pemasangan infus sesuai SOP yang perlu Anda ketahui: • Alat Pemasangan infus sesuai SOP yang pertama adalah alat yang tepat. Berikut ini alat untuk pemasangan infus sesuai SOP: • Set infus yang steril • Cairan infus sesuai kebutuhan • IV Catheter / Wings Needle/ Abocath sesuai yang dibutuhkan • Perlak • Pleseter • Tourniquet cara memasang infus dengan benar Gunting • Bengkok • Sarung tangan steril • Kassa steril • Kapas alkohol / alkohol swab • Betadine Medi-Call: Layanan Swab Antigen di Lokasi Anda 2.

Pemasangan infus Berikut ini adalah cara pemasangan infus sesuai SOP: • Sebelum menyentuh tubuh pasien, perawat atau dokter mencuci tangan terlebih dahulu agar steril dari kuman dan bakteri • Pasien mendapatkan penjelasan tentang kandungan infus yang akan diberikan serta efek samping dan sensasi yang akan dirasakan.

• Pemasangan infus sesuai SOP adalah pasien dalam keadaan berbaring • Menyambungkan botol cairan infus dengan selang kemudian digantungkan pada standar infus. • Menentukan area vena yang akan ditusuk kemudian memasang alas dibawahnya • Area vena yang akan ditusuk dipasangkan tourniquet kurang lebih 15 cm diatas area. • Memakai sarung tangan • Area yang akan ditusuk dibersihkan dengan kapas alkohol atau alcohol swab.

• Tusukan jarum ke dalam vena menghadap ke jantung. • Pastikan jarum IV masuk ke vena kemudian dan lepaskan tourniquet. • Sambungkan jarum dengan selang infus.

cara memasang infus dengan benar

• Tutup area yang ditusuk dengan kassa dan berikan plester untuk mempertahankan letak jarum. • Aturan kecepatan tetesan infus sesuai kebutuhan • Memasang label tindakan yang berisi nama, tanggal serta jam pelaksanaan.

• Cara memasang infus dengan benar alat dan memberitahukan kepada pasien bahwa prosedur sudah selesai. • Cuci tangan serta terus melakukan observasi dan evaluasi akan respon pasien. Selain infus, selama masa pemulihan konsumsi cairan hangat seperti teh, sop, dan makanan berkuah lainnya untuk mengembalikan cairan tubuh yang hilang.

Serta rutin minum air putih minimal 8 gelas per hari agar tidak dehidrasi. Sebaiknya mengkonsumsi buah dan sayur-sayuran agar menjaga daya tahan tubuh. Medi-Call: Layanan Infus dan Vitamin di Rumah Anda Layanan Infus Medi-Call Layanan infus diperlukan bagi pasien yang kekurangan cairan agar tidak dehidrasi atau untuk memasukkan obat ke dalam tubuh.

Saat ini Anda bisa mendapatkan layanan infus dengan dokter ke rumah Anda 24 Jam melalui aplikasi Medi-Callatau Call-Center. Sehingga Anda tidak perlu ke Rumah Sakit atau puskesmas. Medi-Call adalah layanan fasilitas untuk mendatangkan pelayanan kesehatan seperti dokter, perawat atau fisioterapi ke rumah Anda. Salah satu layanan Medi-Call adalah pemasangan infus atau IV Therapy oleh dokter yang telah lulus sekolah tinggi kedokteran atau keperawatan dan mempunyai Surat Tanda Registrasi (STR) serta Surat Izin Praktek (SIP).

Artikel Paling Banyak Dibaca • Berikut ini Prosedur Perawatan Luka Bernanah di Rumah • 9 Langkah Menghilangkan Bentol Merah dan Gatal pada Kulit • Kenali Ciri-Ciri Luka Infeksi dan Cara Mengobatinya • Ketahui Macam-Macam Fungsi Cairan Infus untuk Tubuh • Langkah-Langkah Mengobati Luka Bernanah Supaya Cepat Kering Artikel Terbaru • Cara Merawat Penyakit Stroke untuk Bantu Tingkatkan Kemampuan Pasien • Layanan Home Care di Surabaya Panggilan ke Rumah • Bisakah Gula Darah Kembali Normal dengan Makanan dan Pola Hidup Sehat?

• Simak Apa Saja Fungsi dan Tugas Jasa Perawat Lansia Harian • Mau Cari Perawat Lansia Tangerang? Berikut Informasi Lengkapnya! Daftar Isi • Cara Memasang Infus Sesuai SOP di Rumah • 1. Alat atau Perlengkapan Dalam Prosedur Pemasangan Infus • 2. Prosedur Pemasangan Infus • Pesan Perawat Home Care Profesional Tersedia 24 Jam/7 Hari Pemasangan infus diperlukan ketika pasien tidak dapat mengonsumsi obat-obatan secara oral, sementara obat harus segera masuk ke cara memasang infus dengan benar tubuh.

Kondisi ini paling umum terjadi pada pasien yang mengalami keracunan, stroke, serangan jantung, dehidrasi, dan kondisi darurat lainnya. Cairan infus dapat menggantikan cairan tubuh yang hilang pada pasien dehidrasi secara cepat, pun begitu pula cairan infus juga dapat dengan cepat mengantarkan obat ke dalam tubuh melalui saluran vena yang mana hal ini tidak bisa terjadi ketika mengonsumsi obat secara oral.

Pemasangan infus dilakukan dengan cara menyuntikkan jarum ke intravena atau aliran darah yang ada di lengan. Infus tidak hanya diberikan pada pasien di rumah sakit saja melainkan juga dapat diberikan pada pasien yang menjalani rawat jalan di rumah. Ketika di rumah sakit, pemasangan infus sepenuhnya dilakukan oleh perawat atau tenaga kesehatan lainnya seperti dokter. Namun bagaimana jika pasien di rumah?

Berikut cara memasang infus di rumah sesuai SOP. Hati-hati dan pastikan Anda mengetahui prosedur pemasangan infus yang baik dan benar sesuai SOP agar tidak terjadi risiko seperti bengkak, nyeri, kulit memerah, atau peradangan pembuluh darah maupun efek samping berupa pusing, mual, gatal pada bagian yang disuntik, sakit kepala, atau kekakuan otot hingga risiko infeksi.

Kami rekomendasikan Anda untuk menggunakan lyanan jasa perawat home care medis di MHomecare yang berlisensi untuk melakukan pemasangan, penggantian, atau pelepasan infus di rumah. Seluruh perawat atau tenaga kesehatan di MHomecare adalah profesional dan telah berpengalaman dalam melakukan tindakan medis termasuk memasang, melepas serta mengganti infus di rumah.

Prosedur pemasangan infus yang baik dan benar sesuai SOP di rumah. (Img: Boy_Anupong/Getty Images) Cara Memasang Infus Sesuai SOP di Rumah Sebelum melakukan pemasangan infus pada pasien, perhatikan terlebih dahulu kelayakan, keamanan, dan kebersihan kantong cairan infus dan peralatannya. Apabila ada benda asing di dalam katong atau tas infus dan cairan berwarna keruh, segera ganti dengan yang baru.

Baca label yang ada pada kantong infus untuk mengetahui informasi seperti jenis cairan infus, tanggal kadaluarsa cairan infus, port untuk injeksi infus, dan port untuk penyisipan spike infus.

Lakukan pencatatan pada cairan infus berupa volume cairan dan waktu dipenggunaan. Tanyakan pada pasien mengenai adanya alergi atau tidak, jelaskan prosedur, dan mintalah persetujuan pasien untuk melakukan pemasangan infus. 1. Alat atau Perlengkapan Dalam Prosedur Pemasangan Infus Dalam prosedur pemasangan infus wajib menyediakan alat-alat yang dibutuhkan, seperti: • Set infus baru dan steril.

• Cairan infus yang dibutuhkan. • IV catheter, abocath, wings needle, atau distal bevel, sesuaikan dengan kebutuhan. • Cairan antiseptik seperti obat merah. • Nierbeken atau bak bengkok. • Tourniquet atau alat untuk menghentikan aliran darah. • Gunting steril. • Sarung tangan latek steril.

• Kain kasa steril. • Kapas alkohol. • Plester. • Perlak atau alas anti rembes. 2. Prosedur Pemasangan Infus Beritahu pasien mengenai kandungan cairan infus beserta prosedur pemasangan infus.

• Sambungkan selang ke kantong atau botol infus dan gantungkan ke tiang infus. • Mintalah pasien untuk berbaring. • Letakkan tangan di atas perlak. • Pakai sarung tangan latek steril. • Lap atau bersihkan area yang akan ditusuk menggunakan kapas alkohol. • Pasang tourniquet untuk menstabilkan vena sekalian untuk mendapatkan vena di area 15 cm di atas vena yang akan ditusuk. • Pegang dan posisikan bevel distal jarum ke atas menggunakan tangan yang dominan dan tusukkan cannula ke dalam vena dengan sudut sekitar 30 derajat.

Bersihkan darah dan rekatkan jarum menggunakan plester untuk mempertahankan posisi jarum. (Img: brooksidepress.org) • Buka klem untuk pengatur tetesan cairan infus. Biarkan cairan infus menetes tanpa perlu di atur dalam beberapa detik.

• Sesuaikan intensitas tetesan cairan infus dengan yang dibutuhkan. • Bereskan semuanya dan letakkan peralatan di bak bengkok. Pasang label tindakan seperti nama, jam dan tanggal pemasangan infus. Lakukan evaluasi pemasangan infus dengan menanyakan apa yang dirasakan pasien saat ini. Jika tidak ada masalah, artinya pemasangan infus sudah baik dan benar sesuai SOP.

Meski pasien mendapatkan infus, perintahkan pasien untuk tetap memenuhi kebutuhan cairan seperti minum air putih, teh hangat, atau mengnsumsi buah-buahan maupun makanan berkuah. MHomecare adalah perusahaan layanan kesehatan home care satu-satu di Indonesia yang menjamin 100% seluruh tenaga kesehatan adalah perawat. Tersedia cara memasang infus dengan benar home care utama seperti Perawat Lulusan S1 + STR, Perawat Pendamping Lansia serta Bidan atau Perawat Bayi.

Dapatkan penawaran menarik khusus pembaca artikel ini, pesan sekarang! Baca juga: • Home Care Jasa Perawatan Luka di Rumah, Biaya dan Cara Memesannya • Penjelasan Fungsi dari Berbagai Macam Jenis Cairan Infus • Manfaat Infused Water yang Baik Untuk Tubuh WHATSAPP TELEPON DOWNLOAD Referensi: https://www.brooksidepress.org/iv_infusion/lessons/lesson-1-initiate-an-intravenous-infusion-and-manage-a-patient-with-an-intravenous-infusion/1-6-procedure-for-initiating-an-intravenous-infusion (Diakses 15 November 2021) https://www.medonegroup.com/aboutus/blog/how-to-set-up-an-iv-infusion-pump-things-to-remember (Diakses 15 November 2021) https://teachmesurgery.com/skills/clinical/intravenous-infusion (Diakses 15 November 2021) https://infusionassociates.com/infusion-therapy-guide (Diakses 15 November 2021) https://www.fda.gov/medical-devices/general-hospital-devices-and-supplies/infusion-pumps (Diakses 15 November 2021)
Pemasangan infus merupakan salah satu tindakan dasar dan pertama yang dilakukan oleh tenaga kesehatan – khususnya perawat – sebagai awal dari rangkaian kegiatan pengobatan dan perawatan terhadap hampir semua jenis kasus baik itu gawat, darurat, kritis, ataupun sebagai tindakan profilaksis.

Karenanya, sebagai tenaga kesehatan – khususnya perawat cara memasang infus dengan benar adalah sebuah keharusan untuk bisa melakukan tindakan pemasangan infus yang baik dan benar sesuai standar operasional prosedur yang berlaku agar hal-hal yang tidak diinginkan dapat dihindari. Untuk SOP pemasangan infus, setiap instansi pelayanan kesehatan pasti mempunyai SOP yang berbeda-beda, tergantung referensi mana yang digunakan. Namun secara garis besar, terapi intravena semuanya sama. Berikut adalah SOP pemasangan infus yang umum digunakan di berbagai fasilitas kesehatan yang ada di Indonesia baik itu Rumah Sakit, Puskesmas ataupun Klinik.

Pengertian Pemasangan Infus Pemasangan infus adalah salah satu cara atau bagian dari pengobatan untuk memasukkan obat atau vitamin ke dalam tubuh pasien (Darmawan, 2008). Sementara itu menurut Lukman (2007), terapi intravena adalah memasukkan jarum atau kanula ke dalam vena (pembuluh balik) untuk dilewati cairan infus / pengobatan, dengan tujuan agar sejumlah cairan atau obat dapat masuk ke dalam tubuh melalui vena dalam jangka waktu tertentu.

Rekomendasi artikel : • 50 Tips Pemasangan Infus dalam 1 Kali Tusukan • 12 Tips Sukses Pemasangan Infus pada Bayi dan Anak-anak • SOP Pemasangan Kateter Urine Lengkap Tindakan ini sering merupakan tindakan life saving seperti pada kehilangan cairan yang banyak, dehidrasi dan syok, karena itu keberhasilan terapi dan cara pemberian yang aman diperlukan pengetahuan dasar tentang keseimbangan cairan dan elektrolit serta asam basa.

Tujuan Pemasangan Infus Menurut Hidayat (2008), tujuan utama terapi intravena adalah mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang mengandung air, elektrolit, vitamin, protein, lemak dan kalori yang tidak dapat dipertahankan melalui oral, mengoreksi dan mencegah gangguan cairan dan elektrolit, memperbaiki keseimbangan asam basa, memberikan tranfusi darah, menyediakan medium untuk pemberian obat intravena, dan membantu pemberian nutrisi parenteral.

cara memasang infus dengan benar

Indikasi Pemasangan Infus Secara garis besar, indikasi pemasangan infus terdiri dari 4 situasi yaitu ; Kebutuhan pemberian obat intravena, hidrasi intravena, transfusi darah atau komponen darah dan situasi lain di mana akses langsung ke aliran darah diperlukan. Sebagai contoh : • Kondisi emergency (misalnya ketika tindakan RJP), yg memungkinkan untuk pemberian obat secara langsung ke dalam pembuluh darah Intra Vena • Untuk dapat memberikan respon yg cepat terhadap pemberian obat (seperti furosemid, digoxin) • Pasien yg mendapat terapi obat dalam jumlah dosis besar secara terus-menerus melalui pembuluh darah Intra vena • Pasien yg membutuhkan pencegahan gangguan cairan & elektrolit • Untuk menurunkan ketidaknyamanan pasien dengan mengurangi kepentingan dgn injeksi intramuskuler.

• Pasien yg mendapatkan tranfusi darah • Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum prosedur (contohnya pada operasi besar dengan risiko perdarahan, dipasang jalur infus intravena untuk persiapan seandainya berlangsung syok, juga untuk memudahkan pemberian obat) • Upaya profilaksis pada pasien-pasien yg tidak stabil, contohnya syok (meneror nyawa) & risiko dehidrasi (kekurangan cairan)sebelum pembuluh darah kolaps (tak teraba), maka tak mampu dipasang pemasangan infus.

Kontraindikasi Pemasangan Infus Kontraindikasi relatif pada pemasangan infus, karena ada berbagai situasi dan keadaan yang mempengaruhinya. Namun secara umum, pemasangan infus tidak boleh dilakukan jika ; • Terdapat inflamasi (bengkak, nyeri, demam), flebitis, sklerosis vena, luka bakar dan infeksi di area yang hendak di pasang infus. • Pemasangan infus di daaerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, terutama pada pasien-pasien yang mempunyai penyakit ginjal karena lokasi ini dapat digunakan untuk pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt) pada tindakan hemodialisis (cuci darah).

• Obat-obatan yg berpotensi iritan pada pembuluh cara memasang infus dengan benar kecil yg aliran darahnya lambat (contohnya pembuluh vena di tungkai & kaki). Keuntungan dan Kerugian Pemasangan Infus Menurut Perry dan Potter (2005), keuntungan dan kerugian terapi intravena adalah : • Keuntungan Pemasangan Infus – Keuntungan terapi intravena antara lain : Efek terapeutik segera dapat tercapai karena penghantaran obat ke tempat target berlangsung cepat, absorbsi total memungkinkan dosis obat lebih tepat dan terapi lebih dapat diandalkan, kecepatan pemberian dapat dikontrol sehingga efek terapeutik dapat dipertahankan maupun dimodifikasi, rasa sakit dan iritasi obat-obat tertentu jika diberikan intramuskular atau subkutan dapat dihindari, sesuai untuk obat yang tidak dapat diabsorbsi dengan rute lain karena molekul yang besar, iritasi atau ketidakstabilan dalam traktus gastrointestinalis.

• Kerugian Pemasangan Infus – Kerugian terapi intravena adalah : tidak bisa dilakukan “drug recall” dan mengubah aksi obat tersebut sehingga resiko toksisitas dan sensitivitas tinggi, kontrol pemberian yang tidak baik bisa menyebabkan “speed shock” dan komplikasi tambahan dapat timbul, yaitu : kontaminasi mikroba melalui titik akses ke sirkulasi dalam periode tertentu, iritasi vascular, misalnya flebitis kimia, dan inkompabilitas obat dan interaksi dari berbagai obat tambahan.

Lokasi Pemasangan Infus Menurut Perry cara memasang infus dengan benar Potter (2005), tempat atau lokasi vena perifer yang sering digunakan pada pemasangan infus adalah vena supervisial atau perifer kutan terletak di dalam fasia subcutan dan merupakan akses paling mudah untuk terapi intravena.

Daerah tempat infus yang memungkinkan adalah permukaan dorsal tangan (vena supervisial dorsalis, vena basalika, vena sefalika), lengan bagian dalam (vena basalika, vena sefalika, vena kubital median, vena median lengan bawah, dan vena radialis), permukaan dorsal (vena safena magna, ramus dorsalis).

Dougherty, dkk (2010) Menurut Dougherty, dkk, (2010), Pemilihan lokasi pemasangan terapi intravana mempertimbangkan beberapa cara memasang infus dengan benar yaitu: • Umur pasien : misalnya pada anak kecil, pemilihan sisi adalah sangat penting dan mempengaruhi berapa lama intravena terakhir • Prosedur yang diantisipasi : misalnya jika pasien harus menerima jenis terapi tertentu atau mengalami beberapa prosedur seperti pembedahan, pilih sisi yang tidak terpengaruh oleh apapun • Aktivitas pasien : misalnya gelisah, bergerak, tak bergerak, perubahan tingkat kesadaran • Jenis intravena: cara memasang infus dengan benar larutan dan obat-obatan yang akan diberikan sering memaksa tempat-tempat yang optimum (misalnya hiperalimentasi adalah sangat mengiritasi vena-vena perifer) • Durasi terapi intravena: terapi jangka panjang memerlukan pengukuran untuk memelihara vena; pilih vena yang akurat dan baik, rotasi sisi dengan hati-hati, rotasi sisi pungsi dari distal ke proksimal (misalnya mulai di tangan dan pindah ke lengan) • Ketersediaan vena perifer bila sangat sedikit vena yang ada, pemilihan sisi dan rotasi yang berhati-hati menjadi sangat penting ; jika sedikit vena pengganti • Terapi intravena sebelumnya : flebitis sebelumnya membuat vena menjadi tidak baik untuk di gunakan, kemoterapi sering membuat vena menjadi buruk (misalnya mudah pecah atau sklerosis) • Pembedahan sebelumnya : jangan gunakan ekstremitas yang terkena pada pasien dengan kelenjar limfe yang telah di angkat (misalnya pasien mastektomi) tanpa izin dari dokter • Sakit sebelumnya : jangan gunakan ekstremitas yang sakit pada pasien dengan stroke • Kesukaan pasien : jika mungkin, pertimbangkan kesukaan alami pasien untuk sebelah kiri atau kanan dan juga sisi Jenis Cairan Pemasangan Infus Berdasarkan osmolalitasnya, menurut Perry dan Potter, (2005) cairan intravena (infus) dibagi menjadi 3, yaitu : • Cairan bersifat isotonis : osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah.

Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL), dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%). • Cairan bersifat hipotonis : osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan osmolaritas serum.

Maka cairan ditarik dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi), sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel mengalami dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetik. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak) pada beberapa orang.

Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%. • Cairan bersifat hipertonis : osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak).

Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, Cara memasang infus dengan benar 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate. Alat dan Bahan Pemasangan Infus Sebelum melaksanakan pemasangan infus, berikut adalah alat dan bahan yang harus dipersiapkan ketika hendak melakukan tindakan pemasangan infus. Pastikan bahwa ke 12 alat dan bahan ini sudah tersedia. • Standar infus • Cairan infus sesuai kebutuhan • IV Catheter / Wings Needle/ Abocath sesuai kebutuhan • Perlak • Tourniquet • Plester • Guntung • Bengkok • Sarung tangan bersih • Kassa steril • Kapal alkohol / Alkohol swab • Betadine SOP Pemasangan Infus Standar Operasional Prosedur (SOP) memasang selang infus yang digunakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia adalah sebagai berikut : • Cuci tangan • Dekatkan alat • Jelaskan kepada klien tentang prosedur dan sensasi yang akan dirasakan selama pemasangan infus • Atur posisi pasien / berbaring • Siapkan cairan dengan menyambung botol cairan dengan selang infus dan gantungkan pada standar infus • Menentukan area vena yang akan ditusuk • Pasang alas • Pasang tourniket pembendung ± 15 cm diatas vena yang akan ditusuk • Pakai sarung tangan • Desinfeksi area yang akan ditusuk dengan diameter 5-10 cm • Tusukan IV catheter ke vena dengan jarum menghadap ke jantung • Pastikan jarum IV masuk ke vena • Sambungkan jarum IV dengan selang infus • Lakukan fiksasi ujung jarum IV ditempat insersi • Tutup area insersi dengan kasa kering kemudian plester • Atur tetesan infus sesuai program medis • Lepas sarung tangan • Pasang label pelaksanaan tindakan yang berisi : nama pelaksana, tanggal dan jam pelaksanaan • Bereskan alat • Cuci tangan • Observasi dan evaluasi respon pasien, catat pada dokumentasi keperawatan Komplikasi Pemasangan Infus Terapi intravena diberikan secara terus-menerus dan dalam jangka waktu yang lama tentunya akan meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi.

Komplikasi dari pemasangan infus yaitu flebitis, hematoma, infiltrasi, tromboflebitis, emboli udara (Hinlay, 2006). 1. Phlebitis Inflamasi vena yang disebabkan oleh iritasi kimia maupun mekanik. Kondisi ini dikarakteristikkan dengan adanya daerah yang memerah dan hangat di sekitar daerah insersi/penusukan atau sepanjang vena, nyeri atau rasa lunak pada area insersi atau sepanjang vena, dan pembengkakan.

2. Infiltrasi Infiltrasi terjadi ketika cairan IV memasuki ruang subkutan di sekeliling tempat pungsi vena. Infiltrasi ditunjukkan dengan adanya pembengkakan (akibat peningkatan cairan di jaringan), palor (disebabkan oleh sirkulasi yang menurun) di sekitar area insersi, ketidaknyamanan dan penurunan kecepatan aliran secara nyata.

Infiltrasi mudah dikenali jika tempat penusukan lebih besar daripada tempat yang sama di ekstremitas yang berlawanan. Suatu cara yang lebih dipercaya cara memasang infus dengan benar memastikan infiltrasi adalah dengan memasang torniket di atas atau di daerah proksimal dari tempat pemasangan infus dan mengencangkan torniket tersebut secukupnya untuk menghentikan aliran vena.

Jika infus tetap menetes meskipun ada obstruksi vena, berarti terjadi infiltrasi. 3. Iritasi vena Kondisi ini ditandai dengan nyeri selama diinfus, kemerahan pada kulit di atas cara memasang infus dengan benar insersi. Iritasi vena bisa terjadi karena cairan dengan pH tinggi, pH rendah atau osmolaritas yang tinggi (misal: phenytoin, vancomycin, eritromycin, dan nafcillin).

4. Hematoma Hematoma terjadi sebagai akibat kebocoran darah ke jaringan di sekitar area insersi. Hal ini disebabkan oleh pecahnya dinding vena yang berlawanan selama penusukan vena, jarum keluar vena, dan tekanan yang tidak sesuai yang diberikan ke tempat penusukan setelah jarum atau kateter dilepaskan.

Tanda dan gejala hematoma yaitu ekimosis, pembengkakan segera pada tempat penusukan, dan kebocoran darah pada tempat penusukan. 5. Trombophlebitis Trombophlebitis menggambarkan adanya bekuan ditambah peradangan dalam vena. Karakteristik tromboflebitis adalah adanya nyeri yang terlokalisasi, kemerahan, rasa hangat, dan pembengkakan di sekitar area insersi atau sepanjang vena, imobilisasi ekstremitas karena adanya rasa tidak nyaman dan pembengkakan, kecepatan aliran yang tersendat, demam, malaise, dan leukositosis.

6. Trombosis Trombosis ditandai dengan nyeri, kemerahan, bengkak pada vena, dan aliran infus berhenti. Trombosis disebabkan oleh injuri sel endotel dinding vena, pelekatan platelet. 7. Occlusion Occlusion ditandai dengan tidak adanya penambahan aliran ketika botol dinaikkan, aliran balik darah di selang infus, dan tidak nyaman pada area pemasangan/insersi. Occlusion disebabkan oleh gangguan aliran IV, aliran balik darah ketika pasien berjalan, dan selang diklem terlalu lama.

8. Spasme vena Kondisi ini ditandai dengan nyeri sepanjang vena, kulit pucat di sekitar vena, aliran berhenti meskipun klem sudah dibuka maksimal. Spasme vena bisa disebabkan oleh pemberian darah atau cairan yang dingin, iritasi vena oleh obat atau cairan yang mudah mengiritasi vena dan aliran yang terlalu cepat. 9.

cara memasang infus dengan benar

Reaksi vasovagal Digambarkan dengan klien tiba-tiba terjadi kollaps pada vena, dingin, berkeringat, pingsan, pusing, mual dan penurunan tekanan darah. Reaksi vasovagal bisa disebabkan oleh nyeri atau kecemasan. 10. Kerusakan syaraf, tendon dan ligament Kondisi ini ditandai oleh nyeri ekstrem, kebas/mati rasa, dan kontraksi otot. Efek lambat yang bisa muncul adalah paralysis, mati rasa dan deformitas.

Kondisi ini disebabkan oleh tehnik pemasangan yang tidak tepat sehingga menimbulkan injuri di sekitar syaraf, tendon dan ligament. Pencegahan pada Komplikasi Pemasangan Infus Menurut Hidayat (2008), selama proses pemasangan infus perlu memperhatikan hal-hal untuk mencegah komplikasi yaitu : • Ganti lokasi tusukan setiap 48-72 jam dan gunakan set infus baru • Ganti kasa steril penutup luka setiap 24-48 jam dan evaluasi tanda infeksi • Observasi tanda / reaksi alergi terhadap infus atau komplikasi lain • Jika infus tidak diperlukan lagi, buka fiksasi pada lokasi penusukan • Kencangkan klem infus sehingga tidak mengalir • Tekan lokasi penusukan menggunakan kasa steril, lalu cabut jarum infus perlahan, periksa ujung kateter terhadap adanya embolus • Bersihkan lokasi penusukan dengan anti septik.

Bekas-bekas plester dibersihkan memakai kapas alkohol atau bensin (jika perlu) • Gunakan alat-alat yang steril saat pemasangan, dan gunakan tehnik sterilisasi dalam pemasangan infus • Hindarkan memasang infus pada daerah-daerah yang infeksi, vena yang telah rusak, vena pada daerah fleksi dan vena yang tidak stabil • Mengatur ketepatan aliran cara memasang infus dengan benar regulasi infus dengan tepat.

• Penghitungan cairan yang sering digunakan adalah penghitungan millimeter perjam (ml/h) dan penghitungan tetes permenit. SOP Pemasangan Infus cara memasang infus dengan benar Untuk Anda yang membutuhkan SOP pemasangan infus versi pdf, silahkan download dibawah ini. SOP Pemasangan Infus.pdf Nah itulah SOP pemasangan infus yang biasa digunakan di berbagai fasilitas kesehatan di Indonesia.

Jika Anda membutuhkan SOP keperawatan lainnya, silahkan bergabung di Channel Telegram Nugi Nursing dibawah ini : Channel Telegram Nugi Nursing Semoga bermanfaat ya!
Kebanyakan keluhan yang diterima perawat dari pasien dan keluarga ketika dirawat di rumah sakit adalah tidak jalannya infusan atau bengkaknya lokasi pemasangan infus. Pun dengan keluhan “sakit ketika sedang di infus” karena dilakukan beberapa kali tusukan.

Pernahkah mendapatkan keluhan seperti itu? Jika pernah, maka artikel ini sangat cocok untuk kamu! Disini kamu akan mengetahui bagaimana cara pemasangan infus atau insersi IV Cath yang baik dan benar, yang dapat mengurangi rasa sakit pasien, dan dalam satu tusukan. Dari A sampai Z, dari tahap persiapan sampai akhir, semuanya akan dibahas. So, here we go! Tahap 1 : Persiapan Pemasangan infus merupakan salah satu perawatan yang paling dasar yang diberikan hampir kepada setiap pasien yang dirawat di rumah sakit.

Dan tentunya, keterampilan pemasangan infus atau insersi IV Cath ini haruslah dikuasai oleh setiap perawat. Untuk menghindari keluhan ini, dan menghindari rasa sakit yang tidak semestinya dirasakan oleh pasien, lihatlah beberapa tips pemasangan infus dibawah ini tentang bagaimana menjadi seorang Sniper dalam hal pemasangan infus atau insersi IV Cath. 50 Tips Cara Pemasangan Infus (Insersi IV Kateter) dalam 1 Kali Tusukan 1. Tetap tenang dan siapkan segala sesuatunya Pemasangan infus atau Insersi IV Cath dalam satu tusukan akan tergantung dari persiapan, keterampilan dan pengalaman yang dimiliki.

Umumnya, karena belum memiliki pengalaman yang banyak, para perawat fresh graduate gagal melakukan insersi ini. Baca Juga : Cara Menghitung Tetesan Infus Lengkap Namun faktanya, persiapan dan ketenanganlah yang menjadi kunci keberhasilan insersi IV Cath.

Sehingga, hilangkan kecemasan, jangan terburu-buru dan jelaskan prosedur kepada pasien. Pastikan pasien merasa nyaman dan cukup hangat untuk mencegah vasokontriksi. (Jika memungkinkan, hindari insersi di subuh hari). 2. Bangun kepercayaan diri Sebelum melakukan pemasangan infus, percayalah pada diri sendiri dan yakinkan pasien bahwa kamu tahu apa yang kamu lakukan.

Pasien akan terdorong oleh rasa percaya diri kamu (hilangnya kecemasan, maka hilangnya vasokontriksi), dan kamu akan terdorong oleh kepercayaan pasien. 3. Kaji adanya fobia jarum Fobia jarum adalah respon dari pemasangan infus sebelumnya. Gejalanya termasuk takikardia dan hipertensi sebelum cara memasang infus dengan benar. Ketika insersi, bradikardi dan penurunan tekanan darah akan terjadi dengan tanda gelaja pucat, diaforesis, dan sinkop.

Yakinkan pasien dengan nada menghibur dan mendidik. Jaga jarum agar terhindar dari pandangan pasien sampai detik terakhir sebelum insersi. Gunakan anestesi topikal untuk membantu mengelola nyeri dan fobia jarum berulang. 4. Observasi tindakan pengendalian infeksi Gunakan sarung tangan ketika hendak melakukan pemasangan infus pada pasien. Insersi IV Cath merupakan prosedur invasif dan membutuhkan teknik aseptik serta langkah-langkah pengendalian infeksi yang tepat.

Gunakan alcohol swab di area insersi untuk meminimalkan mikroorganisme dan memvisualisasikan vena agar lebih jelas. 5. Kaji vena yang akan di insersi Sebelum memasukan jarum ke pembuluh darah, kamu harus mengkaji terlebih dahulu kondisinya. Pasien dengan hidrasi yang baik akan memiliki vena yang tegas, jelas, lentur dan “mudah ditemukan”. Namun adakalanya pasien yang harus di terapi intravena adalah pasien-pasien dengan dehidrasi, sehingga ini merupakan tantangan tersendiri.

Tips nomor 6 akan membantu kamu menemukan vena yang tepat. 6. Jangan dilihat, tapi rasakan Jika kamu tidak dapat melihat vena yang tepat, percayalah pada jari-jari tangan kamu adalah hal terakhir yang dapat kamu lakukan.

Sebuah tendon mungkin akan terlihat seperti pembuluh darah, namun jari dan perasaan kamu dapat membedakannya. 7. Tanya pasien Kesulitan mencari vena yang cocok untuk dilakukan pemasangan infus? Jangan malu, tanya pasien! Pasien mungkin akan tahu lebih banyak lokasi-lokasi vena yang tepat berdasarkan riwayat insersi sebelumnya.

cara memasang infus dengan benar

8. Gunakan ukuran IV Cath yang sesuai Pada pasien dewasa, umumnya ukuran IV Cath yang dipakai adalah 20 G (warna pink).

Namun jangan pernah mengasumsikan bahwa semua pasien adalah sama. Sehingga lihat dan kaji vena yang akan di insersi sebelum menentukan ukuran IV Cath yang hendak dipakai. Hal ini dapat menghindarkan pasien dari rasa sakit akibat ruptur dan tekanan jarum.

9. Pertimbangan penggunaan Apa jenis cairan infusan yang diperlukan pasien? RL kah? NaCl kah? Transfusi kah? Atau kemo kah? Lantas berapa cc cairan yang dibutuhkan dalam 24 jam? Berapa tetesan infus yang harus diberikan? Ketahui hal-hal tersebut sebelum melakukan pemasangan infus atau insersi IV Cath.

10. Lakukan insersi di tangan yang tidak dominan (Jika dan hanya jika memungkinkan) Jika memungkinkan, lakukan pemasangan infus dengan prioritas pertama tangan yang tidak dominan.

Hal ini dilakukan agar pasien masih dapat melakukan fungsi sederhana dengan menggunakan tangan yang dominan. Namun jika kamu tidak dapat menemukan vena yang tepat pada tangan yang tidak dominan, carilah di tangan yang dominan. Tahap 2 : Mencari Vena Terbaik untuk Insersi 11. Mulailah dengan urutan area distal – proksimal Agar kamu tidak kehilangan area-area lainnya yang mungkin mempunyai vena yang baik, maka mulailah mencari vena untuk pemasangan infus dari area distal terlebih dahulu semisal di punggung tangan.

Jika tidak ada vena yang baik untuk dilakukan penusukan, maka naiklah secara proksimal semisal di atas sendi pergelangan tangan. Jika kamu melakukannya di area proksimal terlebih dahulu (misal di vena cephalic pergelangan tangan), mungkin kamu tidak akan bisa melakukan penusukan di area distal (vena cephalic di punggung tangan) karena vena atasnya sudah rusak akibat tusukan yang pertama.

(Lihat gambar dibawah ini). 12. Gunakan Cuff Tensi Darah Jika pasien mempunyai tekanan darah rendah (bisa diakibatkan oleh fobia jarum – lihat bagian pertama dari artikel ini), maka agar dilatasi vena merata lebih baik menggunakan cuff tensi darah sebagai tourniquet.

Cuff tensi darah akan memberikan tekanan yang merata dan dapat disesuaikan ketimbang tourniquet. Teknik ini juga berguna untuk pasien-pasien lansia dengan vena yang sulit di akses. Caranya? Lihat no 13! 13. Cara menggunakan Cuff Tensi Darah sebagai Tourniquet Ketika hendak menggunakan cuff tensi darah sebagai tourniquet, balikan posisinya sehingga tubing (2 selang karet cuff) berada di posisi atas.

Dengan cara ini, kamu akan mendapatkan visual yang jelas tanpa adanya halangan cara memasang infus dengan benar menghindari kontaminasi dari tubing cara memasang infus dengan benar area insersi. Mulailah dengan tekanan yang kecil, lihat apakah vena muncul atau tidak.

Jika tidak, tingkatkan tekanannya. Teknik ini selain memudahkan kamu menemukan vena yang baik, juga meningkatkan kenyamanan pasien karena tekanan yang lebih lebar yang dihasilkan oleh cuff. 14. Lakukan tusukan tanpa tourniquet Jika pasien kamu memiliki vena yang jelas namun rapuh, lakukan insersi pemasangan infus tanpa menggunakan tourniquet.

Tekanan yang dihasilkan oleh tourniquet mungkin akan menyebabkan tekanan berlebih pada vena yang rapuh sehingga ketika dilakukan tusukan dengan tourniquet, vena mungkin akan ruptur.

Tahap 3 : Memperjelas Visual Vena 15. Manfaatkan gravitasi Biarkan lengan pasien menjuntai kebawah di sisi tempat tidur jika tidak ada pembuluh darah yang terlihat. Gravitasi akan memperlambat aliran balik vena dan akan menyebabkan distensi vena yang akan membuatnya terlihat dan lebih mudah diraba.

16. Gunakan teknik kompres hangat Terapkan teknik kompres hangat dengan kasa atau handuk selama beberapa menit sebelum insersi. Suhu yang hangat akan memungkinkan terjadinya dilatasi vena yang membuatnya akan lebih terlihat.

17. Jangan pernah “menampar vena” Jika kamu pernah melakukannya, maka saya akan mengatakan bahwa hal tersebut adalah suatu kebiasaan buruk.

Teknik ini mungkin akan sedikit membantu, namun menampar-nampar vena untuk membuatnya lebih terlihat akan membuat vena berkontraksi karena adanya rangsangan yang menyakitkan yang diterimanya. So please, jangan membuat prosedur yang sakit menjadi lebih menyakitkan. Setuju? Jikalau mau, lebih baik gunakan teknik nomor 18 cara memasang infus dengan benar ini! 18. Berikan tekanan pada vena dengan ibu jari atau jari telunjuk Daripada menampar-nampar vena, lebih baik gunakan kedua ibu jari untuk menekan-nekan vena yang “masih belum terlihat”.

Hal ini akan melepaskan histamin dibawah kulit sehingga menyebabkan pembuluh darah berdilatasi. Tidak percaya? Silahkan coba sendiri. 19. Rasakan goyangan “khas” dari vena Gunakanlah touniquet atau cuff tensi darah sekitar 4 jari diatas area yang akan di insersi.

Raba lembut vena dengan melakukan tekanan lembut dari atas ke bawah. Rasakan jalurnya, rasakan goyangannya ketika di tekan-tekan lembut. Goyangan tendon dan vena ketika diberi tekanan sama sekali berbeda lho! 20. Instruksikan pasien untuk mengepalkan tangannya Sebelum melakukan insersi pemasangan infus, instruksikan pasien untuk melakukan gerakan kepal dan buka jari-jari tangan.

Kepalkan 1 detik, buka di detik ke 2 dan begitu seterusnya. Hal ini berguna untuk mempercepat pengisian darah di pembuluh darah vena. Vena dengan aliran lancar dan adequat akan lebih terlihat dan lebih mudah dilakukan penusukan lho!

21.

cara memasang infus dengan benar

Masih susah? Coba teknik 2 tourniquet berikut ini Pasangkan tourniquet pertama di bagian atas lengan dan biarkan selama 2 menit. Lalu pasangkan tourniquet kedua di pertengahan lengan dibawah fossa antecubital. Maka dalam 15 detik vena yang diharapkan akan muncul. 22. Jangan memaksakan diri, gunakan nitrogliserin! Untuk melebarkan pembuluh darah yang kecil dan rapuh, cara memasang infus dengan benar nitrogliserin salep selama 1-2 menit.

Jika vena sudah terlihat dan berdilatasi, hapus salep dengan menggunakan disinfeksi terakhir pada area insersi dengan alcohol swab.

23. Ikuti arus aliran darah Ketika melakukan disinfeksi area insersi, ikuti arus aliran darah vena. Hal ini membantu mempercepat dan memperlancar aliran darah vena. 24. Perlebar disinfeksi area insersi Pastikan untuk melakukan insersi pada vena yang tepat. Oleh karenanya, memperlebar area disinfeksi memungkinkan munculnya beberapa vena yang mungkin dapat dilakukan insersi sehingga kamu mempunyai beberapa pilihan.

25. Masih belum terlihat? Gunakan Vein Locator Vena bisa sangat sulit untuk diakses, terutama pada bayi atau anak-anak kecil. Peralatan seperti lampu transilluminator atau mesin ultrasound saku dapat menerangi jalur vena sehingga kamu dapat melihat jalur vena dimana kamu harus melakukan insersi. Namun, berhati-hatilah, jangan terlalu lama karena dapat menyebabkan skin burn terutama pada bayi dan anak-anak. Tahap 4 : Teknik Pemasangan Infus 26. Stabilkan posisi vena Sebelum pemasangan infus atau insersi, pastikan vena dalam keadaan stabil supaya dapat dengan mudah dilakukan tusukan.

Tarik kulit dengan kencang kearah bawah area yang hendak di insersi. Hal ini selain akan memudahkan ketika insersi, juga akan mengurangi rasa sakit yang akan dirasakan oleh pasien. Pastikan bahwa alcohol swab telah mengering sebelum melakukan insersi karena jika insersi dilakukan ketika alcohol masih basah, hal tersebut akan lebih menyakitkan bagi pasien.

Bagaimana rasanya ketika ada luka kita beri alcohol? Itulah yang akan dirasakan pasien. Ingat, fungsi alcohol disini hanyalah untuk mensterilkan area insersi, bukan untuk mensterilkan luka insersi. 27. Masukan IV Cath dari atas vena Jangan pernah melakukan tusukan dari samping vena, karena dapat mendorong jarum ke samping dan mungkin dapat melukai tangan kamu. Selalu lakukan insersi dari atas vena, hal tersebut membuat jarum dapat dengan mudah mengikuti lajur pembuluh darah.

28. Cegah terjadinya kinking Terkadang, jika vena mengeras atau adanya bekas luka, IV Cath jadi terlipat atau tertekuk (kinking). Kinking biasanya terjadi pada pasien-pasien dengan kemoterapi karena pengerasan vena, pada pasien-pasien dengan varises karena vena yang jadi berkelok-kelok, pada pasien-pasien dengan gangguan jantung karena adanya pengendapan kolesterol dan lain sebagainya.

Gunakan teknik nomor 29 untuk mencegah hal ini. 29. Gunakan teknik Catheter Hub Twirling Teknik ini dilakukan dengan cara : setelah melakukan tusukan dan darah terlihat di flashback chamber, masukan IV Cath dengan gerakan memutar searah jarum jam dengan perlahan. Hal ini membantu jarum plastik IV Cath meluncur memutar di dalam pembuluh darah mencari lubang kosong untuk masuk tanpa menerobos dinding vena atau endapan (jika ada).

30. Bevel up. Pastikan bevel jarum menghadap keatas sebelum insersi Karena dengan begitu, bagian paling tajam dari jarum akan mengenai kulit dan mengurangi rasa sakit.

Selain itu, dengan memposisikan bevel jarum kearah atas, akan lebih memudahkan jarum untuk meluncur menembus kulit dan pembuluh darah vena. 31. Tusukan jarum pada sudut 15-30 derajat terhadap kulit Posisikan ibu jari diatas IV Cath, cara memasang infus dengan benar jari telunjuk berada dibawah tepat diantara kulit dan IV Cath.

Posisi tersebut setara dengan 15-30 derajat. Informasikan pada pasien bahwa kamu akan memulai penusukan dan instruksikan pasien untuk menarik nafas dan tidak menggerakan tangannya. 32. Rasakan adanya resistensi Ketika kamu hendak memasukan jarum, rasakan adanya resistensi (perlawan) dari tangan pasien sebagai akibat dari rasa sakit yang diterimanya. Jika tidak ada resistensi yang dirasakan, masukan jarum dengan perlahan dan hati-hati. Jika ada resistensi, hentikan penyisipan jarum karena jika kamu meneruskannya, hal tersebut mungkin akan menerobos dinding vena dan melukainya.

33. Perhatikan Flashback Chamber Sesaat setelah kamu melihat ada aliran darah balik di flashback chamber, lepaskan tourniquet, tarik sedikit flashback chamber dari kateter hub dan mulai masukan kateter secara perlahan.

Rasakan poin 28 dan poin 32. Jika tidak ada yang terasa, lanjutkan insersi sampai keseluruhan jarum plastik masuk. Hubungkan kateter hub dengan intrafix primeline. 34. Rasakan kapan kamu harus berhenti Rasakan dan amati kapan kamu harus berhenti memasukan kateter. Latih feeling kamu untuk merasakan poin nomor 28 dan poin 32, ketika kamu melihat darah di flashback chamber, berhenti sejenak, dan turunkan sudut insersi, tarik sedikit flashback chamber dari kateter hub agar jarum tidak menerobos dinding bawah vena.

35. Jangan biarkan cairan IV terlalu cepat menetes Setelah melakukan fiksasi kateter, sesegera mungkin atur tetesan infus. Jangan biarkan cairan menetes terlalu cepat karena vena mungkin akan shock dengan adanya aliran yang terlalu cepat dari kateter. 36. Teknik pelepasan tourniquet Segera setelah kamu dapat memastikan bahwa kateter telah masuk kedalam vena (ditandai dengan adanya aliran darah balik dari flashback chamber), lepakan tourniquet terlebih dahulu sebelum mulai memasukan kateter lebih jauh.

Hal ini untuk mencegah adanya tekanan berlebih didalam vena (Pertama tekanan dari tourniquet, kedua tekanan dari insersi). Jika dibiarkan, vena mungkin akan rusak (bengkak lalu kemudian ruptur).

Tahap 5 : Seni Fiksasi Area Insersi 37. Hindari fiksasi yang kurang tepat Jangan pernah membuat fiksasi dengan cara mendekatkan selang intrafix (selang infus) dengan catheter hub. Sebaiknya, berikan jarak sekitar 2 jari antara selang intrafix yang dilekukan dengan catheter hub.

Hal ini untuk mengurangi ketegangan pada IV Cath sehingga pasien akan merasa lebih nyaman. Pasien mengeluh nyeri area pemasangan infus cara memasang infus dengan benar cairan infus diberikan?

Mungkin ini penyebabnya. 38. Pasien ambulasi Untuk mengamankan pasien ketika dilakukan ambulasi (membawa pasien dengan ambulance), kunci lengan pasien dalam keadaan ekstensi dan cegah terjadinya fleksi sendi sikut.

Gunakan bantalan untuk mencegah fleksi sikut (jika memungkinkan). 39. Jangan biarkan selang infusan menjunatai terlalu panjang Lakukan fiksasi selang intrafix (selang infus) searah dengan arah insersi. Jangan pernah membiarkan selang menjuntai panjang tanpa di fiksasi.

Jika terkait sesuatu, mungkin saja IV Cath tertarik kembali keluar. 40. Fiksasi ujung jarum plastik yang masuk di vena Terutama jika kamu melakukan insersi di punggung tangan. Tipisnya kulit dipunggung tangan mungkin akan menyebabkan rasa sakit bagi pasien karena ujung jarum plastik (terutama jika pasien sering menggerak-gerakan jari-jarinya). 41. Gunakan IV Dressing yang transparan Jika ada, gunakan IV Dressing yang transparan karena dengan begitu, kamu akan tahu jika suatu waktu area insersi terkena infeksi.

Jika tidak ada yang transparan, maka kamu harus mengganti IV Dressing tersebut minimal 3 hari sekali untuk meminimalisir terjadinya infeksi. Atau, pelajari teknik Chevron Method dibawah ini! 42. Teknik fiksasi Lihat gambar dibawah ini ; Chevron Method Omega Loop Modified Tri-State Multi Lumen Fixation Tape and Gauze Fixation Sebenarnya masih banyak lagi teknik-teknik fiksasi seperti teknik H, teknik U dan lain sebagainya.

Namun ketiga teknik diatas adalah teknik yang sering digunakan. Punya teknik lainnya? Yuk sharing di kolom komentar dibawah. Hal-hal yang Harus Diketahui INGAT : Tidak semua pembuluh darah sama, setiap orang yang berbeda dengan kondisi yang berbeda pasti memiliki vena yang berbeda, jadi di sinilah cara memasang infus dengan benar harus mengetahui beberapa pertimbangan khusus mengenai terapi intravena yang perlu dan harus kamu perhatikan.

43. Pasien geriatrik dan pasien pediatrik Kedua pasien tersebut mempunyai pembuluh darah yang lebih kecil dan rapuh daripada pasien dewasa normal. Sehingga pertimbangkan untuk menggunakan ukuran IV Cath yang kecil (semakin besar nomor IV Cath, semakin kecil ukurannya) disesuaikan dengan kondisi vena dan cairan yang hendak diberikan. Biasanya menggunakan IV Cath ukuran 22 atau 24. Lihat kembali bagian Pengantar dan Ikhtisar dari artikel ini. 44. Pasien dengan kulit gelap Kamu dapat menggunakan manset (cuff) tekanan darah sebagai tourniquet ketika hendak melakukan pemasangan infus atau insersi IV Cath pada pasien dengan kulit gelap.

Tekanan merata yang dihasilkan manset akan membuat distensi vena yang merata sehingga vena akan lebih jelas terlihat. Masih kurang jelas? Tenang, kan ada alcohol swab. 45. Vena dengan katup, gunakan teknik ini Pernah lihat benjolan-benjolan kecil pada vena? Walaupun kecil, benjolan (katup) ini akan menghalangi dan mempersulit insersi. Jika masih ada vena yang bersih tanpa benjolan, gunakan vena tersebut. Namun jika semua vena mempunyai benjolan? Caranya : Segera setelah darah terlihat di flashback chamber, lepas tourniquet untuk meminimalisir tekanan vena, masukan intrafix ke catheter hub, dan masukan catheter dengan loading cairan normal saline untuk mengembangkan katup vena.

Selain menggunakan inrafix, kamu juga dapat menggunakan spuit 3 cc untuk memasukan cara memasang infus dengan benar saline agar katup mengembang. Hanya gunakan teknik nomor 45 JIKA DAN HANYA JIKA tidak ada lagi vena yang bisa di insersi selain vena dengan katup.

46. Pelajari seni distraksi Meniup balon, bernyanyi atau menghitung bisa menjadi pengalihan perhatian yang baik ketika melakukan insersi pada pasien-pasien dengan pediatrik. Jangan lupa pula, libatkan keluarga sebagai support system distraction technique. 47. Panggil bantuan Jangan memaksakan diri.

Setelah gagal beberapa kali memasukan Cara memasang infus dengan benar Cath, akan lebih baik untuk meminta bantuan kepada rekan sejawat lain yang lebih berpengalaman. Jangan pernah “menghabiskan” semua area insersi, panggil rekan sejawat jika telah 2 kali gagal. 48. Pasien dengan edema Biasanya pasien-pasien dengan hipoalbumin, CHF, sirosis dan lain sebagainya akan memiliki edema.

Bagaimana jadinya jika edema terjadi di kedua tangan dan kamu kesulitan untuk pemasangan infus atau insersi IV Cath? Jika ada, gunakan ACE Wrap (pembalut tangan elastis) atau jika tidak ada bisa menggunakan kasa panjang. Balut tangan pasien yang hendak di insersi dan tinggikan selama 15-30 menit sampai bengkak berkurang. Perhatikan ini : Ketika insersi, jangan memasukan kanula seluruhnya, hanya masukan 8/10 bagian kanula.

Ini untuk menjaga agar ketika edema terjadi lagi, jaringan mempunyai sedikit ruang (2 bagian kanula) untuk bisa mengembang dan kanula tidak terdorong oleh edema. 49. Jika infusan macet dan tangan pasien bengkak Jangan pernah memasukan cairan apapun ketika tangan pasien bengkak dan infusan macet. Karena mungkin bengkak terjadi karena adanya blood clot atau sumbatan darah. Jika kamu mendorongnya dengan cairan, sumbatan darah tersebut mungkin akan hancur atau justru mengalir lebih dalam dan menyumbat di vena yang lebih kecil.

Ini yang berbahaya. Sehingga, lakukan pijatan lembut disepanjang vena, lalu lakukan kompres hangat. Jika tangan tidak membaik, cabut kanula dan pindahkan insersi di tangan yang lain. 50. Jika ke 49 tips telah dilakukan dan kamu masih gagal?

Mungkin kamu kurang percaya diri. Jangan pernah melakukan insersi jika kamu tidak yakin bahwa kamu dapat melakukannya. Walaupun untuk kali yang pertama, bangun dulu kepercayaan diri kamu. Yakinkan bahwa kamu pasti bisa.

Ya, kamu pasti bisa! Nah itulah 50 Tips Cara Pemasangan Infus (Insersi IV Kateter) dalam 1 Tusukan. Jika ada hal yang kurang dimengerti, ada hal yang harus dikoreksi, silahkan sampaikan melalui kolom komentar dibawah ini.

• Abolfotouh, M. A., Salam, M., Bani-Mustafa, A., White, D., & Balkhy, H. H. (2014). Prospective study of incidence and predictors of peripheral intravenous catheter-induced complications. Therapeutics and clinical risk management, (10) 993-1001. • Ben Abdelaziz, R., Hafsi, H., Hajji, H., Boudabous, H., Ben Chehida, A., Mrabet, A. Tebib, N. (2017).

Full title: peripheral venous catheter complications in children: predisposing factors in a multicenter cara memasang infus dengan benar cohort study. BMC Pediatrics, 17(1), 208-208. doi: 10.1186/s12887-017-0965-y • Callaghan, S., Copnell, B., & Johnston, L.

(2002). Comparison of two methods of peripheral intravenous cannula securement in the pediatric setting. Journal Of Infusion Nursing, 25(4), 256-264. • Fidler, H. (2010). To splint or not to splint: securing the peripheral intravenous cannula. Advances In Neonatal Care (Elsevier Science), 10(4), 204-205 • Gabriel, J. (2010). Vascular access devices: securement and dressings.

Nursing Standard (Royal College Of Nursing (Great Britain): 1987), 24(52), 41-46. • Gunes, Aynur and Bramhagen, Ann-Cathrine (2018). Heparin or Sodium Chloride for Prolonging Peripheral Intravenous Catheter Use in Children – A Systematic Review. Journal of pediatric nursing • Hadaway, L. C. (2009). I.V.

rounds. Preventing and managing peripheral extravasation. Nursing, 39(10), 26-27 • Hugill, K. (2016). Is there an optimal way of securing peripheral IV catheters in children? British Journal of Nursing, 25(19), S20-S21. doi: 10.12968/bjon.2016.25.19.S20 • Inge J. J, A., Johanna A, H., Henriette T.

M, W., Gert-Jan, v. d. W., Johannes M. M, G., & Kian D, L. (2011). Cara memasang infus dengan benar of heparin solution versus normal saline in maintaining patency of intravenous locks in neonates: a double blind randomized controlled study. Journal of Advanced Nursing(12), 2677. doi: 10.1111/j.1365-2648.2011.05718.x • Keogh, S., Flynn, J., Marsh, N., Mihala, G., Davies, K., & Rickard, C.

(2016). Varied flushing frequency and volume to prevent peripheral intravenous catheter failure: a pilot, factorial randomised controlled trial in adult medical-surgical hospital patients (Vol.

17). • Laudenbach, N., Carie A, B., Klaverkamp, L., & Hedman-Dennis, S. (2014). Peripheral IV Stabilization and the Rate of Complications in Children: An Exploratory Study. Journal of Pediatric Nursing, 29, 348-353. doi: 10.1016/j.pedn.2014.02.002 • Lim, E.

Y. P., Wong, C. Y. W., Kek, L. K., Suhairi, S. S. B. M., & Yip, W. K. (2018). Improving the Cara memasang infus dengan benar of Intravenous (IV) Site in Pediatric Patients to Reduce IV Site Related Complications – An Evidence-based Utilization Project (Vol. 41, pp. E39-E45). • Lucchini, A., Angelini, S., Losurdo, L., Giuffrida, A., Vanini, S., Elli, S. . .

cara memasang infus dengan benar

Fumagalli, R. (2015). [The impact of closed system and 7 days intravascular administration set replacement on catheter related infections in a general intensive care unit: a before-after study]. Assistenza Infermieristica E Ricerca: AIR, 34(3), 125-133. doi: 10.1702/2038.22138 • Malyon, Lorelle & Ullman, et al. (2014). Peripheral intravenous catheter duration and cara memasang infus dengan benar in paediatric acute care: A prospective cohort study.

Emergency Medicine Australasia. 26. 10.1111/1742-6723.12305.Marsh, N., Webster, J., Mihala, G., & Rickard, C. • M. (2015). Devices and dressings to secure peripheral venous catheters to prevent complications.

• Marsh, N., Webster, J., Mihala, G., & Rickard, C. M. (2015). Devices and dressings to secure peripheral venous catheters to prevent complications. • Morris, W., & Tay, M. (2008). Strategies for preventing peripheral intravenous cannula infection.

British Journal Of Nursing, 17(19), S14-21. • O’Grady N, Alexander M, Burns L, Dellinger E, Garland J, et al. (2011) The Healthcare Infection Control Practices Advisory Committee (HICPAC). Guidelines for the prevention of intravascular catheter-related infections. Clinical Journal of Infectious Diseases 2011 May;52(9): 1087–99.

• Phulara, U. (2018). Effectiveness of Normal Saline Flush versus Heparin Saline Flush in Maintaining the Patency of Peripheral Intravenous Cannula and on Occurrence of Intravenous Local Vascular Complications in Patients Receiving Intermittent Intravenous Medications, 51.

• Rickard, C. M., Marsh, N., Webster, J., Runnegar, N., Larsen, E., McGrail, M. R. Playford, E. G. (2018). Dressings and securements for the prevention of peripheral intravenous catheter failure in adults (SAVE): a pragmatic, randomised controlled, superiority trial (Vol. 392, pp. 419-430). • Rickard, C. M., Webster, J., Wallis, M. C., Marsh, N., McGrail, M. Cara memasang infus dengan benar, French, V.

Whitby, M. (2012). Routine versus clinically indicated replacement of peripheral intravenous catheters: a randomised controlled equivalence trial. Lancet, 380(9847), 1066-1074. • Rickard, C. M., McCann, D., Munnings, J., & McGrail, M. R. (2010). Routine resite of peripheral intravenous devices every 3 days did not reduce complications compared with clinically indicated resite: a randomised controlled trial.

BMC Medicine. • Rickard, C. (2004). Prolonged use of intravenous administration sets: a randomised controlled trial. • Rita, A., Hindra Irawan, S., & Pustika, A. (2013). Duration of peripheral intravenous catheter use and cara memasang infus dengan benar of phlebitis. Paediatrica Indonesiana, Vol 53, Iss 2, Pp 117-20 (2013)(2), 117. doi: 10.14238/pi53.2.2013.117-20 • Smith, B., & Royer, T. I. (2007). New standards for improving peripheral i.v. catheter securement. Nursing, 37(3), 72-74.

• Tripathi, S., Kaushik, V., & Singh, V. (2008). Peripheral IVs: Factors Affecting Complications and Patency-A Randomized Controlled Trial, 182. • Ullman, A., Marsh, N., & Rickard, C. (2017). Securement for vascular access devices: looking to the future. British Journal of Nursing, 26(8), S24-S26. doi: 10.12968/bjon.2017.26.8.S24 • Ullman AJ, Cooke ML, Gillies D, Marsh NM, Daud A, McGrail MR, O’Riordan E, Rickard CM.

Optimal timing for intravascular administration set replacement. Cochrane Database of Systematic Reviews 2013, Issue 9. • Webster, J. (2015). Clinically-indicated replacement versus routine replacement of peripheral venous catheters. Cochrane Database of Systematic Reviews(8). • https://www.rch.org.au/rchcpg/hospital_clinical_guideline_index/Peripheral_Intravenous_IV_Device_Management/ Tags Featured Post navigation• ▼ 2016 (20) • ► October (1) • ▼ August (19) • BAGAIMANA SIH CARA MENENTUKAN SUBYEK PADA SUATU PE.

• ASPEK HUKUM PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL • OBAT – OBAT EMERGENCY (DRUG OF EMERGENCY) • RJP (RESUSITASI JANTUNG PARU) FOR BLS (BASIC LIFE . • PROTAP (LANGKAH-LANGKAH) PEMASANGAN INFUS YANG BENAR • APA SIH EFEK LANGSUNG HORMON LAKI-LAKI(testosteron. • PENGARUH STIMULUS KUTANEUS DI PUNGGUNG (SLOW-STROK. • TIPS MUDAH DALAM PERHITUNGAN STATISTIK SAAT PENELI. • GAMBARAN PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG IMUNISASI . • TIPS PENANGAN PADA PENDERITA GAWAT DARURAT (PPGD) . • TIPS MUDAH MENGHITUNG CAIRAN PADA ANAK • ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KERATITIS • ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PEILONEFRITIS • ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN FARINGITIS • SURAT LAMARAN PEKERJAAN YANG BAIK DAN BENAR • CURRICULUM VITAE (DAFTAR RIWAYAT HIDUP) • APA SIH ITU LEUKIMIA??

cara memasang infus dengan benar

• AWASI DIARE PADA ANAK !!! • PANDUAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI DI INT. • ► 2015 (1) • ► May (1)
• IV Catheter (Abocath) sesuai dengan ukuran yang • dibutuhkan • Infus set sesuai ukuran • Cairan infus sesuai kebutuhan klien • Standard infus (kolf) • Tali pembendung (Torniquet) • Kapas cara memasang infus dengan benar 70 % dalam tempatnya • Betadine dalam tempatnya (kom kecil) • Kassa steril • Sarung tangan bersih • Plester • Bengkok (nierbekken) • Gunting verband • Pengalas • Spalk bila perlu (untuk anak-anak) • ▼ 2013 (17) • ► 02/03 - 02/10 (2) • ▼ 01/13 - 01/20 (12) • Inilah 5 Langkah, Cara Untuk Membersihkan Paru – P.

• HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus) • Cara Alami Buang Racun Dalam Tubuh • Inilah 14 Fakta dan Tips Donor Darah Yang Perlu An. • 10 Tips Sehat yang Harus Diterapkan Kepada Anak-Anak • Pertolongan Pertama pada Kecelakaan • Peran Perawat dalam Pembangunan Kesehatan • Cara Memasang Infus Dengan Benar Kepada Pasien • Cara Mengatasi Penyakit Diabetes Melitus • Asuhan Keperawatan • Kegunaan CT Scan • Sejarah Keperawatan di Indonesia • ► 01/06 - 01/13 (3)
none

cara memasang infus dengan benar

Teknik Pemasangan Infus




2022 www.videocon.com