Bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang

bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang

Bhinneka Tunggal Ika – Kalian orang Indonesia pasti pernah mendengar semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”, tapi apakah kalian tau pengertian, sejarah, arti, makna, prinsip, fungsi, tujuan dan dampak Bhinneka Tunggal Ika bagi Indonesia. Agar lebih memahaminya kita akan membahas bhinneka tunggal ika secara lengkap. Baca Juga : Arti dan Makna Lambang Simbol Negara Republik Indonesia 10 Penerapan Bhinneka Tunggal Ika Pengertian Bhinneka Tunggal Ika Bhinneka Tunggal Ika adalah moto atau semboyan bangsa Indonesia yang tertulis pada lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila.

Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Secara etimologis, kata bhinneka berarti “beraneka ragam”. Kata neka dalam bahasa Sanskerta berarti “macam” dan menjadi pembentuk kata “aneka” dalam Bahasa Indonesia.

Kata tunggal berarti “satu”. Kata ika berarti “itu”. Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan “Beraneka Satu Itu”, yang bermakna meskipun beranekaragam tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan.

Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Kalimat Bhinneka Tunggal Ika merupakan kutipan dari sebuah kakawin Jawa Kuno yaitu kakawin atau kitab Sutasoma, karangan Mpu Tantular semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14. Kakawin ini istimewa karena mengajarkan toleransi antara umat Hindu Siwa dengan umat Buddha.

Hal ini menunjukkan persatuan dan kesatuan yang terjadi di wilayah Indonesia, dengan keberagaman penduduk Indonesia yang terdiri dari beragam suku, bahasa daerah, ras, agama, dan kepercayaan, lantas tidak membuat Indonesia menjadi terpecah belah. Melalui semboyan ini, Indonesia bisa dipersatukan dan semua keberagaman tersebut menjadi satu bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejarah Bhinneka Tunggal Ika Sebelumnya semboyan yang dijadikan semboyan resmi Negara Indonesia sangat panjang yaitu Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa.

Bhineka Tunggal Ika dikenalkan untuk pertama kalinya di masa pemerintahan Majapahit saat kepemimpinan Wisnuwardhana. Perumusan semboyan Bhineka Tunggl Ika ini dilakukan oleh Mpu Tantular dalam kitab Sutasoma. Pada dasarnya, perumusan semboyan ini merupakan pernyataan kreatif dalam usaha mengatasi keanekaragaman kepercayaan dan keagamaan. Hal ini tentunya dilakukan karena berhubungan dengan usaha membina Negara pada masa kerajaan Majapahit saat itu. Baca Juga : Proses Perumusan UUD Negara RI Tahun 1945 Semboyan Bhineka Tunggal Ika juga telah menumbuhkan semangat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada masa kemerdekaan.

Di dalam kitab Sutosoma, Bhinneka Tunggal Ika lebih didefinisikan pada perbedaan dalam hal kepercayaan dan keanekaragaman agama yang ada di kalangan masyarakat pada jaman pemerintahan Majapahit. Akan tetapi, sebagai semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia, konsep Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya perbedaan agama dan kepercayaan menjadi fokus, tapi pengertiannya lebih luas.

Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan Negara memiliki cakupan lebih luas seperti perbedaan suku, bangsa, budaya (adat-istiadat), beda pulau, dan tentunya agama dan kepercayaan yang menuju persatuan dan kesatuan Negara. Seluruh perbedaan yang ada di Indonesia memiliki tujuan yang satu atau sama yakni bangsa dan Negara Indonesia. Berbicara mengenai Lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia, lambang Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika ditetapkan secara resmi menjadi bagian dari Negara Indonesia melalui Peraturan Pemerintahan Nomor 66 Tahun 1951 pada 17 Oktober 1951 dan di undang-undangkan pada 28 Oktober 1951 sebagai Lambang Negara.

Usaha pada masa Majapahit maupun pada masa pemerintahan Indonesia berlandaskan pada pandangan yang sama, yaitu pandangan mengenai semangat rasa persatuan, kesatuan dan kebersamaan sebagai modal dasar untuk menegakkan Negara. Sementara itu, semboyan “Tan Hana Darma Mangrwa” digunakan sebagai motto lambang Lembaga Pertahanan Nasional. Makna dari semboyan itu adalah “tidak ada kebenaran yang bermuka dua”. Akan tetapi, Lemhanas kemudian mengubah semboyan tersebut menjadi yang lebih praktis dan ringkas yaitu “bertahan karena benar”.

Makna “tidak ada kebenaran yang bermuka dua” sebenarnya memiliki pengertian agar hendaknya manusia senantiasa berpegang dan berlandaskan pada kebenaran yang satu. Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Darma Mangrwa” adalah ungkapan yang memaknai kebenaran aneka unsur kepercayaan pada Majapahit.

Tidak hanya Siwa dan Budha, tapi sejumlah aliran yang sejak awal sudah dikenal terlebih dulu sebagian besar anggota masyarakat Majapahit yang memiliki sifat majemuk. Sehubungan dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, cikal bakal dari Singasari, yaitu pada masa Wisnuwardhana sang dhinarmeng ring Jajaghu (Candi Jago), semboyan tersebut dan candi Jago disempurnakan pada masa Kerajaan Majapahit. Karena itu, kedua simbol tersebut lebih dikenal sebagai hasil peradaban masa Kerajaan Majapahit.

Dari segi agama dan kepercayaan, masyarakat Majapahit merupakan masyarakat yang majemuk. Selain adanya beberapa aliran agama dan kepercayaan yang berdiri sendiri, muncul juga gejala sinkretisme yang sangat menonjol antara Siwa dan Budha serta pemujaan terhadap roh leluhur. Akan tetapi, kepercayaan pribumi tetap bertahan. Bahkan, kepercayaan pribumi memiliki peranan tertinggi dan terbanyak di kalangan mayoritas masyarakat. Pada saat itu, masyarakat Majapahit terbagi menjadi beberapa golongan.

Pertama, golongan orang-orang islam yang datang dari barat dan menetap di Majapahit. Kedua, golongan orang-orang China yang mayoritas berasal dari Canton, Chang-chou, dan Fukien yang kemudian bermukim di daerah Majapahit. Akan tetapi, banyak dari mereka masuk agama Islam dan ikut menyiarkan agama Islam. Baca Juga : Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Pembentuk Jati Diri Bangsa Sejak Negara Republik Indonesia ini merdeka, para pendiri bangsa mencantumkan kalimat Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan pada lambang negara Garuda Pancasila.

Kalimat itu sendiri diambil dari falsafah Nusantara yang sejak jaman Kerajaan Majapahit yang juga sudah dipakai sebagai motto pemersatu Nusantara, yang diikrarkan oleh Patih Gajah Mada dalam Kakawin Sutasoma, karya Mpu Tantular: Rwāneka dhātu winuwus wara Buddha Wiśwa, bhinnêki rakwa ring apan kěna parwanosěn, mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal, bhinnêka tunggal ika tan hana dharmma mangrwa Terjemahan: Konon dikatakan bahwa Wujud Buddha dan Siwa itu berbeda.

Mereka memang berbeda. Namun, bagaimana kita bisa mengenali perbedaannya dalam selintas pandang? Karena kebenaran yang diajarkan Buddha dan Siwa itu sesungguhnya satu jua. Mereka memang berbeda-beda, namun hakikatnya sama. Karena tidak ada kebenaran yang mendua. (Bhineka Tunggal ika tan Hana Dharma Mangrwa). Frasa tersebut berasal dari bahasa Jawa Kuna dan diterjemahkan dengan kalimat berbeda-beda tetapi tetap satu. Kemudian terbentuklah Bhineka Tunggal Ika menjadi jati diri bangsa Indonesia. Ini artinya, bahwa sudah sejak dulu hingga saat ini kesadaran akan hidup bersama di dalam keberagaman sudah tumbuh dan menjadi jiwa serta semangat bangsa di negeri ini.

Munandar (2004:24) dalam Tjahjopurnomo S.J. mengungkapkan bahwa sumpah palapa secara esensial, isinya mengandung makna tentang upaya untuk mempersatukan nusantara.

Sumpah Palapa Gajah Mada hingga bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang tetap menjadi acuan, sebab Sumpah Palapa itu bukan hanya berkenaan dengan diri seseorang, namun berkenaan dengan kejayaan eksistensi suatu kerajaan. Oleh karena itu, sumpah palapa merupakan aspek penting dalam pembentukan Jati Diri Bangsa Indonesia. Baca Juga : Pengertian Ideologi Pancasila Menurut Pradipta (2009), pentingnya Sumpah Palapa karena di dalamnya terdapat pernyataan suci yang diucapkan oleh Gajah Mada yang berisi ungkapan “lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa” (kalau telah menguasai Nusantara, saya melepaskan puasa/tirakatnya).

Naskah Nusantara yang mendukung cita-cita tersebut di atas adalah Serat Pararaton. Kitab tersebut mempunyai peran yang strategis, karena di dalamnya terdapat teks Sumpah Palapa. Kata sumpah itu sendiri tidak terdapat di dalam kitab Pararaton, hanya secara tradisional dan konvensional para ahli Jawa Kuno menyebutnya sebagai Sumpah Palapa.

Berikut bunyi teks Sumpah Palapa menurut Pararaton edisi Brandes (1897 : 36): Sira Gajah Mada Patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.

Terjemahan: Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa (nya). Beliau Gajah Mada: Jika telah mengalahkan nusantara, saya (baru) melepaskan puasa, jika (berhasil) mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru) melepaskan puasa (saya) Kemudian dilanjutkan dengan adanya Sumpah Pemuda yang tidak kalah penting dalam sejarah perkembangan pembentukan Jati Diri Bangsa ini.

Tjahjopurnomo (2004) menyatakan bahwa Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 secara historis merupakan rangkaian kesinambungan dari Sumpah Palapa yang terkenal itu, karena pada intinya berkenaan dengan persatuan, dan hal ini disadari oleh para pemuda yang mengucapkan ikrar tersebut, yaitu adanya kata sejarah dalam isi putusan Kongres Pemuda Kedua.

Sumpah Pemuda merupakan peristiwa yang maha penting bagi bangsa Indonesia, setelah Sumpah Palapa. Para pemuda pada waktu itu dengan tidak memperhatikan latar kesukuannya dan budaya sukunya berkemauan dan berkesungguhan hati merasa memiliki bangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Ini menandakan bukti tentang kearifan para pemuda pada waktu itu. Dengan dibacakan Sumpah Pemuda, maka sudah tidak ada lagi ide kesukuan atau ide kepulauan, atau ide propinsialisme atau ide federaslisme.

Daerah-daerah adalah bagian yang tidak bisa dipisah-pisahkan dari satu tubuh, yaitu tanah Air Indonesia, bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia. Sumpah Pemuda adalah ide kebangsaan Indonesia yang bulat dan bersatu, serta bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang mengantarkan kita ke alam kemerdekaan, yang pada intinya didorong oleh kekuatan persatuan Indonesia yang bulat dan bersatu itu.

Baca Juga : Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Pada saat kemerdekaan diproklamirkan, 17 Agustus 1945 yang dibacakan oleh Soekarno-Hatta, kebutuhan akan kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia tampil mengemukan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang sebagai dasar Negara RI. Sejak saat itu, Sumpah Palapa dirasakan eksistensi dan perannya untuk menjaga kesinambungan sejarah bangsa Indonesia yang utuh dan menyeluruh.

Jika tidak ada Sumpah Palapa, NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) akan dikoyak oleh suku bangsa Nusantara yang merasa dirinya bisa memisahkan diri dengan pemahaman federalisme dan otonomi daerah yang berlebihan. Gagasan memisahkan diri sungguh merupakan gagasan dari orang-orang yang tidak tahu diri dan tidak mengerti sejarah bangsanya, bahkan tidak tahu tentang “jantraning alam” (putaran zaman) Indonesia, yang harus kita lakukan adalah dengan kesadaran baru yang ada pada tingkat kecerdasan, keintelektualan, serta kemajuan kita sekarang ini, bahwa bangsa ini dibangun dengan pilar bernama Bhinneka Tunggal Ika yang sudah mengantarkan kita menjadi sebuah bangsa yang terus semakin besar di antara bangsa-bangsa lain di atas bumi hingga hari ini, yaitu bangsa Indonesia, meski berbeda-beda (suku bangsa) tetapi satu (bangsa Indonesia).

Dikuatkan dengan pilar Sumpah Palapa diikuti oleh Sumpah Pemuda yang mengikrarkan persatuan dan kesatuan Nusantara/ bangsa Indonesia, serta proklamasi kemerdekaan dalam kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia yang utuh dan menyeluruh. Hal itu tidak terlepas dari pembentukan jati diri daerah sebagai dasar pembentuk jati diri bangsa.

Arti Bhinneka Tunggal Ika Secara harfiah Bhinneka tunggal ika memiliki arti “Beraneka satu itu”, tapi secara universal Bhinneka tunggal ika juga bisa diartikan sebagai “Berbeda tetapi tetap satu jua”. Di masa kemerdekaan Indonesia semboyan ini memiliki arti yang lebih besar lagi, dimana ia menjadi salah satu tonggak berdirinya NKRI. Baca Juga : Pancasila Sebagai Sumber Nilai Bangsa Republik Indonesia Kini semboyan ini digunakan untuk mempersatukan perbedaan agama, suku, bahasa, dan kebudayaan yang dimiliki oleh Negara Indonesia.

Meskipun merupakan kata yang sederhana tapi Bhinneka tunggak ika sudah sangat erat dengan nusantara itu sendiri, sehingga dengan mudah mempersatukan bangsa yang memiliki wilayah luas tersebut. Makna Bhinneka Tunggal Ika Bhinneka tunggal ika memiliki makna yang sangat besar bagi bangsa Indonesia, dimana semboyan ini sebagai pemersatu bangsa. Hal tersebut karena Indonesia memiliki sebanyak 17.000 lebih pulau, 60% wilayah laut yang memisahkan bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang pulau, dan ada suku daerah atau ras yang berbeda-beda.

Dengan perbedaan yang sangat besar antar tiap daerah di Indonesia ini, membuat Indonesia harus bisa disatukan dengan sebuah cara. Dimana semboyan ini adalah cara Indonesia dalam menyatukan wilayah yang memiliki latar belakang dan sejarah yang berbeda tiap daerahnya.

Bukan hanya itu, semboyan bhinneka tunggal ika ini sangat penting sebagai tonggak tercapainya tujuan bangsa, hal itulah yang membuat semboyan ini dibawa oleh burung garuda yang memiliki lambang tujuan bangsa berupa Pancasila.

Disini semboyan Bhinneka tunggal ika dituliskan pada sebuah pita, lalu dibawa oleh burung garuda dengan cara mencengkramnya menggunakan kaki. Prinsip Bhinneka Tunggal Ika Berikut ini prinsip dasar bhinneka tunggal ika diantaranya yaitu: Baca Juga : Proses Terbentuknya Pancasila Dan Rumusan Pancasila Sebagai Dasar Negara Common Denominator Pada dasarnya, bhinneka tunggal ika memiliki prinsip yang melatar belakanginya, salah satunya yaitu prinsip Common denominator atau persamaan secara umum.

bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang

Prinsip ini bisa diartikan sebagai modal masyarakat Indonesia bahwa setiap perbedaan pasti terdapat sebuah persamaan, sehingga tidak perlu diperdebatkan secara serius hingga menimbulkan konflik. Misalnya perbedaan antara agama yang ada di Indonesia, meski berbeda agama tapi ada persamaan yaitu memiliki tuhan yang tunggal.

Bukan hanya agama saja tapi perbedaan lain seperti bahasa, suku, hingga kebudayaan tiap daerah di Indonesia memiliki persamaan.

Dengan adanya persamaan tersebut diharapkan masyarakat Indonesia paham mengenai keragaman yang ada di Indonesia, dimana setiap warga negara berhak memiliki kepercayaan akan agama, suku, bahasa, atau kebudayaan mereka. Tidak Memiliki Sifat Formalistis Prinsip tidak bersifat formalistik dalam Bhinneka tunggal ika tidak mengajarkan formalistik antara sesama warga negaranya. Tapi disini masyarakat harus memberi rasa hormat serta rukun kepada masyarakat lainnya. Karena itu akan muncul yang namanya kehidupan bermasyarakat.

Bhinneka tunggal ika tidak memiliki sifat formalistik juga mengandung arti bahwa negara Indonesia memperbolehkan masyarakatnya berkehidupan secara universal atau menyeluruh, tidak ada diskriminasi terhadap satu pihak tertentu. Melainkan semuanya bergabung menjadi satu hingga mewujudkan masyarakat yang rukun dan damai. Tidak Bersifat Enklusif Bhinneka tunggal ika memiliki prinsip tidak bersifat enklusif, dimana setiap kelompok, suku, ataupun organisasi di Indonesia diperlakukan secara sama.

Disini kelompok yang besar atau kelompok mayoritas juga tidak diperbolehkan memaksa kehendak atas kelompok minoritas, hal tersebut bertujuan agar masyarakat Indonesia tidak mengalami perpecahan karena adanya sebuah kelompok atau organisasi. Namun dengan adanya prinsip ini bukan berarti tidak memperbolehkan adanya kelompok, melainkan kelompok bisa berdiri tetapi tetap harus menghormati kelompok yang memiliki pemahaman berbeda dengan mereka.

Baca Juga : Kedudukan Pancasila Bagi Bangsa Bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang Prinsip yang satu ini memang sangat cocok untuk diterapkan di Indonesia, mengingat Indonesia memiliki beragam kelompok yang memiliki pemahaman berbeda-beda.

Adanya prinsip Bhinneka tunggal ika tersebut diharapkan setiap masyarakat sadar bahwa hidup berdampingan dengan kelompok lain memiliki hikmah yang sangat banyak dari pada memusuhinya. Memiliki Sifat Konvergen Sifat konvergen merupakan sifat dewasa dalam menghadapi perbedaan pendapat atau perbedaan budaya, dimana jika ada pertikaian atau konflik sebaiknya diselesaikan dengan cara mencari titik temu antara kedua belah pihak.

Disini semuanya harus terbuka dan sebisa mungkin tidak mementingkan satu belah pihak saja. Dalam Bhinneka tunggal ika sendiri menjadikan sifat konvergen sebagai salah satu prinsip utama, disini masyarakat Indonesia tidak boleh secara sepihak mementingkan satu belah pihak. Tapo disini kedua belah pihak bisa bermusyawarah dengan baik agar memiliki titik temu antara keduanya, hal ini bertujuan untuk mengurangi pertikaian atau konflik yang bisa saja terjadi di Indonesia.

Tujuan Bhinneka Tunggal Ika Adapun tujuan Bhinneka tunggal ika diantaranya yaitu: Mempersatukan Bangsa Indonesia Bhinneka tunggal ika digunakan sebagai pondasi negara Indonesia bukan tanpa alasan, tapi semboyan ini memiliki tujuan yang sangat baik bagi seluruh rakyat Indonesia. Tujuan yang pertama yaitu sebagai pemersatu bangsa, ini tentu tidak asing lagi mengingat Bhinneka memang memiliki tujuan utama untuk menyatukan bangsa Indonesia sejak kemerdekaan. Semboyan Indonesia tentang persatuan dalam keragaman ini sendiri merujuk pada persatuan beragam jenis perbedaan yang ada di Indonesia, hal inilah yang membuat semboyan ini sangat kuat sebagai pondasi bangsa Indonesia.

Terlebih semboyan ini bisa diterima oleh seluruh masyarakat yang ada di Indonesia. Baca Juga : Pengertian Fundamental Meminimalisir Konflik Atas Kepentingan Pribadi atau Kelompok Adanya toleransi yang sangat besar merupakan ciri khas dari bhinneka tunggal ika, sehingga semboyan ini juga memiliki tujuan untuk meredam konflik atas kepentingan pribadi ataupun kelompok.

Tak heran apabila terjadi masalah atau konflik, masyarakat Indonesia cenderung menyelesaikannya secara bermusyawarah. Dengan melakukan bermusyawarah Indonesia akan terhindar dari konflik, disini musyawarah digelar tidak memandang atau memihak pada satu kelompok.

Tapi harus digelar secara adil dan tidak mendesak kelompok manapun. Dengan begini konflik bisa diredam dengan aman dan damai antara kedua belah pihak. Mempertahankan Kesatuan Bangsa Indonesia memang memiliki wilayah yang sangat luas dengan beragam budaya dan pemikiran masing-masing, namun sebuah wilayah atau daerah pastinya banyak yang tidak suka dengan daerah lainnya. Hal ini mengakibatkan Indonesia sangat rawan akan terpecah belah, disini peran Bhinneka tunggal ika sangatlah penting dalam mempertahankan kesatuan bangsa.

Dengan memegang teguh moto sebagai negara “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”, Negara Indonesia diharapkan tetap utuh dan tidak ada perpecahan dimanapun. Jika ada perpecahan daerah lainnya akan berusaha untuk mempertahankan wilayah yang akan pecah tersebut, kerja sama inilah yang membuat Indonesia hingga kini masih tetap utuh secara keseluruhan. Mencapai Cita-cita Negara Indonesia Bhinneka tunggal ika biasa ditulis dalam pita yang ada dipegang oleh garuda, di garuda tersebut terdapat lambang tujuan negara yaitu Pancasila.

Semboyan yang berasal dari bahasa kuno ini yang bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang peranan penting terhadap tercapainya tujuan negara berupa Pancasila tersebut. Hal ini membuat motto Bhinneka tunggal ika harus kuat dan diterapkan oleh seluruh masyarakat Indonesia, agar bangsa bisa mencapai cita-cita yang telah diharapkan sejak dahulu yaitu tercantum dalam Pancasila.

Baca Juga : Sistem Pemerintahan Menurut Undang-Undang Dasar 1945 Menciptakan Perdamaian Seseorang yang memiliki pendapat berbeda dengan lainnya pasti sering kali terjadi konflik, bukan hanya perseorangan saja tapi juga kelompok, organisasi bahkan sebuah wilayah bisa saja terjadi konflik.

Disini Bhinneka tunggal ika sangat berguna untuk menyadarkan masyarakat bahwa pendapat tidak boleh dipaksakan. Selain itu, dengan memegang arti dan makna dari semboyan Bhinneka tunggal ika ini akan membuat Indonesia bisa tetap damai, tidak ada konflik, pertikaian, ataupun perkelahian di antara sesama penduduk Indonesia. Tapi sayangnya hal ini belum bisa diterapkan secara penuh di Indonesia, mengingat masih banyak konflik yang terjadi hanya karena masalah perbedaan pendapat saja.

Seharusnya masyarakat Indonesia harus mulai sadar akan indahnya hidup berdampingan dengan budaya lain di Indonesia, dimana bermasyarakat akan lebih berwarna dan juga bisa mengenal kebudayaan lain serta memahami sifat positif dari kebudayaan tersebut. Mewujudkan Masyarakat Madani Masyarakat madani merupakan masyarakat yang memiliki adab terhadap sesamanya, bersosial dan bermasyarakat damai adalah ciri khas masyarakat madani.

Menjadi masyarakat madani ini juga menjadi salah satu tujuan yang sangat penting dari Bhinneka tunggal ika, dimana masyarakat Indonesia bisa bersosial tanpa memandang suku, ras, ataupun perbedaan lainnya. Semua masyarakat berhak menjalin hubungan dengan siapa saja tanpa terkecuali, sehingga dengan ini masyarakat madani bisa diterapkan di Indonesia.

Pentingnya menegakkan masyarakat madani di Indonesia tidak lepas dari beragamnya kebudayaan yang dimiliki oleh Indonesia itu sendiri. Akan tetapi dalam kenyataannya di Indonesia saat ini belum bisa menerapkan hal ini, masih banyak faktor yang menjadi penghalang seperti golongan, kelompok, ataupun kelas sosial yang berbeda membuat masyarakat Indonesia enggan bersosial dengan sesama masyarakat Indonesia lainnya. Baca Juga : Kedudukan Pembukaan UUD 1945 Fungsi Bhinneka Tunggal Ika Bangsa Indonesia memang sudah hidup dalam berbagai keragaman di dalamnya, tapi perseturuan tentang keberagaman antar rakyat tidak pernah terjadi.

Hal tersebut tentu saja tak luput dari jasa para pahlawan yang telah membawa bangsa Indonesia hingga seperti yang sekarang. Sejarah mencatat bahwasanya seluruh anak bangsa yang tergabung dalam paduan berbagai macam suku ikutserta memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dengan mengambil perannya masing-masing.

Tentunya hal ini disadari oleh para pahlawan tentang kemajemukan yang ada dalam negeri. Realitas hidup di dalam keberagaman memang tak bisa dihindarkan. Kebhinnekaan merupakan suatu hakikat realitas yang sudah ada dalam bangsa Indonesia, sedangkan keTunggal Ikaan merupakan sebuah cita-cita kebangsaan. Semboyan inilah yang terus menjadi jembatan emas penghubung menuju pembentukan jati diri negara berdaulat serta menunjukkan kebesarannya di mata dunia.

Konsep Bhinneka Tunggal Ika ini kemudian dijadikan semboyan dasar NKRI. Oleh karena itu, semboyan tersebut layak untuk dijadikan sebagai landasan untuk mewujudkan kesatuan dan persatuan di dalam diri bangsa Indonesia.

Sebagai generasi penerus bangsa yang telah menikmati kemerdekaan negara dengan mudah, harusnya mampu bersungguh-sungguh untuk menerapkan konsep semboyan negara Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Hidup dalam lingkungan yang menghargai satu sama lain tanpa memikirkan percampuran suku bangsa, ras, agama, bahasa juga keanekaragaman lainnya. Dampak Bhinneka Tunggal Ika Dampak Positif Bhinneka Tunggal Ika Dampak positif adanya semboyan Bhinneka tunggal ika bagi bangsa Indonesia diantaranya yaitu: • Untuk membawa Indonesia menjadi negara yang lebih maju, makmur, damai juga bersosial budaya.

• Sebagai persatuan bangsa Indonesia. • Dapat menumbuhkan sikap toleransi di tengah masyarakat Indonesia, sikap toleransi ini bisa sangat bermanfaat dalam kehidupan sosial di Indonesia. Dimana tidak bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang pertikaian karena suatu perbedaan tertentu. Baca Juga : Amandemen UUD 1945 • Memunculkan sikap solidaritas, hal ini terjadi karena semboyan bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang menekankan pada kehidupan sosial bersama meski berbeda suku atau ras.

Dengan berkumpulnya masyarakat dengan golongan berbeda akan membuat sikap tolong menolong dan solidaritas bisa semakin berkembang di tengah masyarakat Indonesia.

Dampak Negatif Bhinneka Tunggal Ika Dampak negatif Bhinneka tunggal ika bagi bangsa Indonesia diantaranya yaitu: Banyaknya salah penafsiran yang dilakukan oleh beberapa golongan. Dengan banyak yang salah penafsiran ini bukannya membuat damai, namun semboyan yang memiliki makna baik ini dijadikan sebagai alasan konflik yang sering terjadi. Banyak masyarakat yang menyuarakan hak-hak yang bertentangan dengan norma di Indonesia, hal ini tidak bisa dihindari mengingat semboyan Indonesia ini memperbolehkan masyarakat untuk menganut bahasa, suku, ras, ataupun kepercayaan.

Semboyan ini sering kali di salah gunakan oleh kelompok radikal yang mengancam negara, mereka beralasan bahwa kehidupan sosial seperti apapun diperbolehkan di Indonesia. Salahnya penafsiran Bhinneka tunggal ika ini sangat sering terjadi, terutama di wilayah yang kurang akan pengetahuan seputar Negara Indonesia itu sendiri. Penerapan Bhinneka Tunggal Ika Berikut ini beberapa contoh penerapan Bhinneka tunggal ika: Mementingkan Kepentingan Bersama Dengan mengutamakan kepentingan bersama sebelum kepentingan pribadi, kurangi sikap egois dan memaksa kehendak pribadi kepada orang lain, berusaha mencari tahu tentang pendapat orang ataupun kepentingan orang tersebut.

Disini bisa memikirkan kebaikan bersama, carilah jalan keluar yang tidak menguntungkan satu pihak saja. Tapi usahakan kedua belah pihak memiliki hak dan kewajibannya masing-masing, sehingga dengan menerapkan sikap tersebut kita telah menegakkan Bhinneka tunggal ika.

Baca Juga : Proses Perumusan UUD Negara RI Tahun 1945 Toleransi Terhadap Beragam Kepercayaan Menegakkan sikap toleransi merupakan sikap yang bisa diterapkan dalam menerapkan sikap toleransi beragama. Di Indonesia sendiri banyak agama yang diperbolehkan, disini bisa toleransi terhadap kepercayaan masyarakat lainnya.

Maksud toleransi kepercayaan bukan berarti anda ikut merayakan hari raya mereka, tapi memberikan sikap sama sekali tidak ikut campur dalam urusan keagamaan yang mereka lakukan. Baik berupa ancaman, teguran, nasihat, ataupun mengganggu peribadatan yang mereka lakukan. Musyawarah Untuk Mufakat Musyawarah untuk mufakat tentu saja sudah sangat sering didengar oleh masyarakat Indonesia, mengingat hal ini sering digunakan di Negara Indonesia.

Bahkan negara demokrasi merupakan salah bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang bentuk dari sikap musyawarah untuk mufakat. Sikap yang satu ini ternyata merupakan bentuk penerapan semboyan Indonesia, dimana di dalamnya ada unsur menghargai orang lain dan tidak membedakan golongan tertentu. Selain itu musyawarah untuk mufakat juga mengajarkan sikap kebersamaan dan sosial yang sangat erat. Menegakkan Sikap Pluralisme Dengan menegakkan sikap pluralisme, dimana pluralisme sendiri merupakan sikap tahu, percaya, paham, ataupun mengerti bahwa perbedaan dan keragaman merupakan hal yang wajar.

Di Indonesia sendiri sikap ini sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan keutuhan wilayah yang ada di Negara Indonesia. Karena itu penerapan bhinneka tunggal ika berupa penegakan sikap pluralisme harus diperhatikan, masyarakat harus dibekali mengenai sikap ini bahwa perbedaan tersebut adalah hal biasa dan wajar.

Jangan sampai akibat perbedaan yang ada di Indonesia membuat negara menjadi kacau. Sebagai masyarakat Indonesia yang baik tentunya mempelajari semboyan ini merupakan hal yang wajib dilakukan, terlebih semboyan ini sudah melekat dengan Negara Indonesia bahkan semboyan bhinneka tunggal ika menjadi pondasi berdirinya Negara Indonesia itu sendiri.

bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang

Baca Juga : Sistem Pemerintahan Yang Berlaku Di Indonesia Demikian pembahasan bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang Bhinneka Tunggal Ika, mulai dari pengertian, sejarah, arti, makna, prinsip, fungsi, tujuan dan dampak Bhinneka Tunggal Ika bagi Indonesia.

Semoga bermanfaat dan jangan lupa ikuti postingan lainnya. Posted in kewarganegaraan Tagged apa arti semboyan bhinneka tunggal ika, arti bhineka tunggal ika yang sebenarnya, bhinneka tunggal ika artinya, bhinneka tunggal ika dari kitab, bhinneka tunggal ika diambil dari kitab, bhinneka tunggal ika memiliki arti, bhinneka tunggal ika secara resmi dijadikan semboyan nkri pada, bhinneka tunggal ika tercantum dalam kitab, fungsi bhinneka tunggal ika, gambar bhineka tunggal ika, jelaskan fungsi membantu mewujudkan cita-cita luhur bangsa indonesia dalam bhinneka tunggal ika, konsep dasar bhinneka tunggal ika, pengertian bhineka tunggal ika dalam lambang negara garuda pancasila, perumusan semboyan bhinneka tunggal ika dilakukan oleh, tujuan bhineka tunggal ika Post navigation Recent Posts • Pengertian Galaksi Bima Sakti, Sejarah, Teori, Ciri dan Pergerakan Galaksi Bima Sakti Lengkap • Pengertian Black Hole, Sejarah, Teori, Sifat, Karakteristik dan Jenis Black Hole (Lubang Hitam) Lengkap • Pengertian Uterus, Struktur Bagian dan Fungsi Uterus (Rahim) Lengkap • Pengertian Diafragma, Fungsi, Struktur dan Cara Kerja Diafragma Pada Pernapasan Lengkap • Pengertian, Macam-Macam Jenis dan Contoh Alat Pemuas Kebutuhan Manusia Lengkap • Pengertian Politik Etis, Latar Belakang, Tujuan, Isi, Penyimpangan dan Dampak Politik Etis Lengkap • Pengertian Realitas Sosial, Macam, Bentuk, Konsep dan Contoh Realitas Sosial Menurut Para Ahli Lengkap • Pengertian Kebudayaan Nasional, Karakteristik, Fungsi, Tujuan dan Contoh Kebudayaan Nasional Indonesia Lengkap • Pengertian AFNEI, Sejarah, Tugas dan Tujuan AFNEI di Indonesia Lengkap • Pengertian Waran, Ciri-Ciri, Manfaat dan Risiko Investasi Waran (Warrant) Lengkap • Pengertian Modal Kerja, Konsep, Jenis, Manfaat, Penggunaan, Manajemen dan Perputaran Modal Kerja Lengkap • Pengertian Audit Internal, Tujuan, Fungsi dan Ruang Lingkup Audit Internal Menurut Para Ahli Lengkap • Pengertian Riset Pasar, Macam Jenis, Metode dan Contoh Riset Pasar Lengkap • Pengertian, Tujuan, Manfaat dan Proses Penilaian Kinerja Karyawan Menurut Para Ahli Lengkap Daftar isi • Arti Bhinneka Tunggal Ika Adalah • Sejarah Bhinneka Tunggal Ika • 1.

Secara Resmi Digunakan Pada 17 Oktober 1951 • 2. Telah Melalui Proses Panjang • Makna Bhinneka Tunggal Ika • Pembentuk Jati Diri Bangsa • 1. Kebhinekaan Mata Pencaharian • 2. Kebhinekaan Ras • 3. Kebhinekaan Suku Bangsa • 4. Kebhinekaan Agama • 5. Kebhinekaan Budaya • 6. Gender/Jenis Kelamin • Fungsi Bhinneka Tunggal Ika • Tujuan Bhinneka Tunggal Ika • 1. Mempersatukan Bangsa Indonesia • 2. Meminimalisir Konflik • 3.

Mempertahankan Kesatuan Bangsa • 4. Mencapai Cita-cita Negara • 5. Menciptakan Perdamaian • 6. Mewujudkan Masyarakat Madani • Prinsip Bhinneka Tunggal Ika • 1. Common Denominator • 2. Tidak Memiliki Sifat Formalistis • 3.

Tidak Bersifat Enklusif • 4. Memiliki Sifat Konvergen • Penerapan/Implementasi Bhinneka Tunggal Ika • 1. Perilaku Inklusif • 2. Mengakomodasi Sifat Prulalistik • 3. Tidak Mencari Menangnya Sendiri • 4.

bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang

Musyawarah untuk Mufakat • 5. Dilandasi Rasa Kasih Sayang dan Rela Berkorban • Dampak Positif dan Negatif Bhinneka Tunggal Ika • 1. Dampak Positif • 2. Dampak Negatif • Contoh Penerapan Bhinneka Tunggal Ika pada Kehidupan Sehari-hari Arti Bhinneka Tunggal Ika Adalah Secara singkat, Bhinneka Tunggal Ika bisa diartikan sebagai moto atau semboyan yang diambil dari frasa bahasa Jawa kuno.

Jika diartikan secara luas, semboyan tersebut memiliki cakupan kepada seluruh bangsa Indonesia. Walaupun terpisah satu tempat dengan yang lain, namun semuanya harus tetap bersatu. Bhinneka Tunggal Ika secara harafiah berarti “Beraneka satu itu”. Namun jika dilihat secara universal, Bhinneka Tunggal Ika dapat diartikan sebagai “Berbeda tetapi tetap satu jua”. Pada masa kemerdekaan, semboyan tersebut memiliki arti yang lebih besar lagi karena menjadi salah satu tonggak berdirinya NKRI.

Semboyan yang diambil dari kitab Sutasoma tersebut digunakan untuk menyatukan perbedaan agama, suku, bahasa, dan kebudayaan yang dimiliki Indonesia.

Meskipun secara kata terbilang sederhana, namun semboyan tersebut telah sangat erat dengan nusantara. Dengan kekuatanya semboyan tersebut dapat mempersatukan bangsa dengan wilayah yang luas. Alasan mengapa semboyan tersebut diambil sebagai salah satu pilar negara adalah kondisi nusantara terpisah-pisah secara pulau. Belum lagi dari segi budaya dan suku juga memiliki perbedaan yang sangat beragam.

Maka semboyan tersebut sangat tepat diterapkan di bumi pertiwi. Semboyan negara ini juga memiliki yang menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mencintai, mengakui, serta menghargai adanya keanekaragaman jauh sebelum nama Indonesia digagas.

bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang

Keanekaragaman bukanlah pemicu kehancuran, ketegangan, dan keretakan. Melainkan menjadi alat pemersatu bangsa dimana semuanya dapat bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang jika kita melakoni apa yang tersirat dan tersurat dalam semboyan bangsa ini.

Sejarah Bhinneka Tunggal Ika Bhinneka Tunggal Ika termuat dalam kakawin Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular. Karya sastra tersebut sudah ada sejak abad ke-14 pada masa Kerjaan Majapahit. Karya sastra tersebut memiliki beberapa bait yang berisikan toleransi beragama di kala itu. Memang di era Majapahit terdapat perbedaan antara agama Budhha dan Siwa. Hebatnya, karya sastra buatan Mpu Tantular ini juga digunakan kerajaan besar tersebut untuk menyatukan nusantara. Istilah Bhinneka Tunggal Ika dikenal pertama kalinya pada era kepemimpinan Wisnuwardhana.

Sebagai semboyan NKRI, konsep Bhinneka Tunggal Ika tak hanya fokus pada perbedaan agama. Namun artiannya lebih luas. Seperti perbedaan suku, bangsa, adat, budaya, pulau untuk menuju persatuan dan kesatuan Negara. Usaha penyatuan pada masa Majapahit dan di era pemerintahan Indonesia dilandaskan pada kepentingan dan pandangan yang sama.

Yakni pandangan mengenai semangat persatuan, kesatuan, dan kebersamaan sebagai modal untuk menegakkan negara. 1. Secara Resmi Digunakan Pada 17 Oktober 1951 Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang tertera pada cakar burung garuda, lambang negara Indonesia ditetapkan secara resmi menjadi salah satu bagian NKRI. Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 pada 17 Oktober 1951. Selain itu tanggal 28 Oktober 1951 juga telah diundang-undangkan sebagai Lambang Negara.

Tulisan Bhinneka Tunggal Ika tertera dalam sehelai pita yang dicengkram lambang Garuda rancangan Sultan Hamid II (1913-1978). Pertama kali rancangan tersebut digunakan pada sidang kabinet Republik Indonesia Serikat 11 Februari 1950.

Usulan penggunaan semboyan tersebut datang dari Moh.Yamin. Beliau meyakini karya Mpu Tantular tersebut relevan untuk diterapkan dalam kehidupan saat itu. Bukan hanya perihal perbedaan kepercayaan, namun juga mencakup perbedaan sudut pandang, ideologi, ras, etnik, suku, hingga golongan.

Moh.Yamin beberapa kali menyebutkan kalimat “Bhinneka Tunggal Ika ” pada sidang BPUPKI yang berlangsung dari Mei sampai Juni 1945. Menurut I Made Prabaswara, Moh.Yamin merupakan tokoh bahasa dan kebudayaan yang memiliki ketertarikan khusus dengan segala hal yang berhubungan tentang Majapahit. Ketika menyebutkan kalimat yang saat ini menjadi semboyan negara ini, I Gusti Bagus Sugriwa tiba-tiba menyambung “Bhinneka Tunggal Ika ” dengan kalimat “Tan Hana Dharma Mangrwa”.

Artinya adalah tidak ada kerancuan dalam kebenaran. Dan saat ini pun kalimat Tan Hana Dharma dijadikan sebagai moto Lembaga Pertahanan Nasional. 2. Telah Melalui Proses Panjang Sebenarnya sebelum diusulkan menjadi semboyan negara, Bhinneka Tunggal Ika sudah diteliti lebih dulu oleh Prof.

Kerf di tahun 1888. Hasil penelitiannya kemudian disimpan di Perpustakaan Leiden, Belanda. Semboyan negara memang telah melalui perjalanan panjang. Hal ini juga berkaitan dengan diikrarkannya Sumpah Pemuda pada 1928 silam. Sumpah Pemuda menjadi salah satu bukti perilaku yang mendukung persatuan dan kesatuan bangsa serta rasa bangga memiliki tanah air Indonesia.

Disaat bangsa Indonesia tengah dipersiapkan dan memerlukan identitas, sejak berabad-abad yang lalu, Bhinneka Tunggal Ika terlahir dari pemikiran cendikiawan yang masyur nan hebat. Hal ini tentu bukan kebetulan semata, namun menjadi salah satu takdir yang sangat berharga.

Makna Bhinneka Tunggal Ika Semboyan Bhinneka Tunggal Ika memiliki andil besar dalam mempersatukan bangsa Indonesia.

Sebagaimana diketahui bahwa Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan suku dan ras yang berbeda-beda. Perbedaan besar dan wilayah yang sangat luas membuat penyatuan Indonesia harus dilakukan dengan sebuah cara. Semboyan tersebut pun mampu menyatukan wilayah dengan latar belakang berbeda dari tiap daerah. Bahkan perannya sangat penting sebagai tonggak tercapainya tujuan bangsa. Semboyan tersebut mengandung makna bahwa walaupun bangsa Indonesia terdiri dari memiliki suku dan budaya beragam, namun keseluruhannya merupakan satu kesatuan.

Persatuan dan kesatuan tersebut ditetapkan dalam PP No. 66 Tahun 1951 mengenai lambang Negara Indonesia pada tanggal 8 November 1951. Meskipun bangsa dan negara Indonesia memiliki banyak keragaman, namun bukanlah menjadi sebuah perbedaan yang bertentangan.

Justru keanekaragaman tersebut dapat memperkaya khasanah bangsa dan mampu memperkokoh kekuatan bangsa. Pembentuk Jati Diri Bangsa Para pendiri bangsa sudah mencantumkan kata Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan pada lambang negara Bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang Pancasila.

Hal ini sudah dirumuskan sejak NKRI merdeka. Semboyan tersebut diambil dari falsafah yang diikrarkan oleh Patih Gadjah Mada di kitab Sutasoma yang berarti: Konon dikatakan Wujud Buddha dan Siwa itu berbeda.

Namun bagaimana kita mengenali perbedaan dalam selintas pandang? Karena kebenaran yang diajarkan Siwa dan Buddha sesungguhnya satu jua. Mereka memang berbeda, namun hakikatnya sama. Sebab tidak ada kebenaran yang mendua. (Bhinneka Tunggal Ika tan Hana Dharma Mangrwa). Frasa tersebut berasal dari bahasa Jawa Kuna yang kemudian diartikan menjadi berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Dari terjemahan itulah kalimat Bhinneka Tunggal Ika menjelma menjadi jati diri bangsa Indonesia. Bisa kita tarik kesimpulan sejak zaman dahulu, kesadaran tentang hidup bersama dalam keragaman memang sudah tumbuh dan menjadi semangat bangsa nusantara. Sumpah palapa berisi arti mengenai upaya untuk mempersatukan nusantara (Munandar (2004:24). Hingga kini sumpah legendaris tersebut menjadi acuan karena tak hanya berkenan dengan jati diri seseorang, melainkan dengan kejayaan suatu kerajaan.

Oleh sebab itu, sumpah palapa menjadi salah satu aspek penting dalam pembentukan Jati Diri Bangsa Indonesia. Sumpah palapa dianggap penting karena terdapat kalimat yang berbunyi “lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa”.

Arti dari potongan sumpah tersebut adalah, “jika Nusantara telah dikuasai, maka saya melepaskan tirakatnya.” (Pradipta, 2009). Serat Pararaton yang mengusung isi sumpah palapa tersebut, tersebut memiliki peran yang amat selaras, sebab terdapat isi dari teks Sumpah Palapa.

Sebenarnya dalam kitab Pararaton tidak ada kata sumpah, hanya saja para ahli Jawa Kuno menyebutnya sebagai Sumpah Palapa secara tradisional dan konvensional. Tjahjopurnomo pada tahun 2004 menyebutkan bahwa Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 secara historis merupakan rangkaian kesinambungan dari Sumpah Palapa.

Sebab pada intinya menyangkaut dengan persatuan. Hal tersebut jua didasari oleh para pemuda yang berikrar pada saat itu. Setelah sumpah palapa, pemuda Indonesia pada waktu itu tidak lagi memperhatikan latar budaya dan sukunya.

Sebab, mereka berkemauan dan dengan sungguh-sungguh merasa mempunyai bangsa satu, yakni bangsa Indonesia. Dengan dikumandangkannya sumpah pemuda, maka maka di nusantara sudah tak berlaku lagi ide kesukuan, kepulauan, propinsialisme, hingga federalisme.

Sumpah pemuda merupakan ide kebangsaan Indonesia yang bersatu dan bulat. Selain itu, sumpah pemuda juga telah mengantarkan rakyatnya ke alam kemerdekaan. Pada tanggal 17 Agustus 1045, kebutuhan akan persatuan dan kesatuan bangsa tampil dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila sebagai dasar negara. Sejak itulah, eksistensi sumpah palapa memiliki peran kuat untuk menjaga kesinambungan sejarah bangsa yang utuh serta menyeluruh.

Bisa saja jika tidak ada sumpah tersebut, Indonesia dengan ribuan sukunya akan saling memisahkan diri dengan paham federalisme dan otonomi daerah yang berlebihan. Gagasan memisahkan diri sebenarnya pemikiran dari orang yang tak paham bagaimana perjuangan para pahlawan dalam melawan para penjajah. Sebagai pembentuk jati diri bangsa, semboyan tersebut membentuk Kebhinekaan bangsa Indonesia.

Adapun sejumlah kebhinekaan bangsa Indonesia meliputi: 1. Kebhinekaan Mata Pencaharian Kondisi alam Indonesia yang beragam membuat masyarakatnya harus menyesuaikan cara hidupnya dengan alam sekitar. Hal ini menyebabkan adanya perbedaan mata pencaharian. Ada yang menjadi petani, pedagang, pegawai, nelayan, peternak, dan lain sebagainya.

Kebhinekaan mata pencaharian ini dapat menjalin persatuan dan kesatuan. Sebab satu sama lain saling membutuhkan. 2. Kebhinekaan Ras Indonesia terletak di posisi yang strategis dimana menjadi area persilangan jalur perdagangan.

Banyaknya kaum pendatang menyebabkan adanya akulturasi ras, agama, hingga budaya. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika juga mencakup makna tentang menghormati antar ras dan suku serta tidak menganggap ras sendiri yang paling unggul. 3. Kebhinekaan Suku Bangsa Kondisi nusantara yang dipisahkan oleh perairan menyebabkan sejumlah pulau terisolasi dan tidak saling berhubungan.

Efeknya, tiap wilayah akan memiliki keunikan tersendiri. Baik dari segi adat, budaya, bahasa, hingga kesenian. Hal ini tidak semata sebagai penyebab perpecahan, justru menjadi salah satu alat pemersatu bangsa. 4. Kebhinekaan Agama Masuknya kaum pendatang sejak tempo dulu juga membawa misi menyebarkan agama yang dibawanya.

Tentu saja hal ini akan menyebabkan ragamnya agama yang saat ini dianut warga negara Indonesia. Kebhinekaan agama begitu rentan konflik.

Namun tetap bisa menjadi semangat persatuan karena adanya toleransi beragama. 5. Kebhinekaan Budaya Perbedaan budaya selain disebabkan lantaran area Indonesia yang saling terpisahkan oleh lautan, para pendatang pun memberikan peranan bagi kebhinekaan budaya. Budaya tradisional dan modern pun saat ini saling berdampingan. Perbedaan budaya inilah yang juga membentuk jati diri bangsa Indonesia.

6. Gender/Jenis Kelamin Perbedaan jenis kelamin merupakan sesuatu yang begitu alami dan tentunya tidak menunjukkan adanya tingkatan. Masing-masing gender memiliki peranannya serta saling melengkapi satu sama lain.

Mengingat zaman dahulu perempuan tidak diberi hak untuk mengembangkan potensinya, sekarang kesempatan yang sama sudah bisa diraih kaum perempuan.

Fungsi Bhinneka Tunggal Ika Bangsa Indonesia telah lama hidup dalam keragaman namun perseteruan berlatar perbedaan antar rakyat tak pernah terjadi. Tentu saja hal ini tak luput dari jasa para pahlawan yang membawa Indonesia sampai seperti sekarang.

Sejarah telah mencatat gemilangnya perjuangan merebut kemerdekaan. Bahwa seluruh anak bangsa yang tergabung berlatar keragaman suku dan budaya, turut memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dengan mengambil perannya masing-masing. Hal ini sudah disadari oleh para pahlawan mengenai kemajemukan yang ada di dalam negeri. Kenyataan hidup di dalam keberagaman memang tak bisa dihindari. Keragaman dalam bingkai ke-bhineka-an merupakan kenyataan yang telah ada dalam bangsa Indonesia.

Sedangkan ke-Tunggal-Ika-an merupakan cita-cita kebangsaan. Semboyan inilah yang hingga saat ini digunakan sebagai jembatan emas untuk menuju pembentukan jati diri. Konsep Bhinneka Tunggal Ika ini kemudian menjadi semboyan dasar NKRI. Sebagai konsep, tentu saja semboyan tersebut layak dijadikan sebagai landasan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan di dalam bangsa Indonesia. Sebagai generasi bangsa, tentunya mesti menerapkan konsep semboyan negara Indonesia dalam kehidupan sehari-hari secara sungguh-sungguh.

Terlebih saat ini kita tinggal menikmati kemerdekaan negara dengan mudah, tanpa harus mengangkat senjata atau bergerilya di hutan-hutan. Tujuan Bhinneka Tunggal Ika 1. Mempersatukan Bangsa Indonesia Penetapan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pondasi negara bertujuan sebagai pemersatu bangsa. Tentu hal ini tidak asing lagi mengingat tujuan utama tersebut sudah digagas sejak masa kemerdekaan. Semboyan mengenai persatuan dalam keragaman merujuk pada persatuan beragam jenis perbedaan yang ada di Indonesia.

2. Meminimalisir Konflik Bhinneka Tunggal Ika memiliki ciri khas toleransi yang begitu besar. Semboyan ini pun bertujuan meredam konflik atas kepentingan pribadi maupun bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang. Tak ayal jika terjadi masalah atau konflik, masyarakat cenderung menyelesaikannya dengan bermusyawarah. Adanya permusyawarahan bermanfaat untuk menghindari konflik. Musyawarah pun digelar tidak memandang atau memihak pada satu kelompok atau kepentingan saja.

Melainkan mesti digelar seadil-adilnya dan tidak mendesak kelompok manapun. Konflik pun dapat diredam secara aman diantara pihak yang berseteru. 3. Mempertahankan Kesatuan Bangsa Indonesia sangat rawan terpecah belah sehingga peran Bhinneka Tunggal Ika sangatlah penting untuk mempertahankan kesatuan bangsa. Wilayah nusantara sangat luas. Belum lagi budaya dan pemikirannya tentu berbeda satu sama lain sehingga bisa mengakibatkan rawan perpecahan.

Dengan berpegang pada semboyan “Berbeda-beda tetapi tetap satu jua”, NKRI diharapkan tetap utuh dan tanpa perpecahan dimanapun. Bila terjadi perpecahan, daerah lainnya akan berusaha untuk mempertahankan wilayah yang akan pecah tersebut. Kerjasama inilah yang membuat Indonesia tetap utuh hingga kini. 4. Mencapai Cita-cita Negara Semboyan karya Mpu Tantular ini ditulis di pita yang kemudian dicengkram pada cakar burung garuda.

Di garuda tersebut terdapat lambang tujuan negara, pancasila. Semboyan yang berasal dari bahasa kuno ini memegang peranan penting terhadap tercapainya tujuan negara. Motto tersebut harus kuat dan ditetapkan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Tujuannya agar bangsa bisa mencapai cita-cita pancasila yang sudah dicantumkan sejak dulu. 5. Menciptakan Perdamaian Konflik akan terus terjadi jika seseorang memiliki pendapat berbeda dengan lainnya. Bukan hanya perorangan, hal ini bisa terjadi pada kelompok, organisasi, bahkan wilayah.

Disinilah Bhinneka Tunggal Ika berperan penting untuk menyadarkan masyarakat bahwa pendapat tidak boleh dipaksakan. Namun sayangnya hal ini belum bisa diterapkan secara menyeluruh di wilayah NKRI. Sebab masih banyak konflik yang terjadi hanya karena masalah perbedaan pendapat. Seharusnya masyarakat Indonesia harus mulai sadar akan indahnya hidup berdampingan satu sama lain. 6. Mewujudkan Masyarakat Madani Masyarakat madani merupakan masyarakat yang memiliki adab terhadap sesama, mampu bersosial dan berdamai.

Tujuan mewujudkan masyarakat madani juga menjadi salah satu bagian penting dari Bhinneka Tunggal Ika. Masyarakat Indonesia bisa bersosialisasi tanpa memandang ras, suku, dan perbedaan lainnya. Semua masyarakat berhak menjalin hubungan dengan siapapun tanpa terkecuali.

Tentu pentingnya mewujudkan masyarakat madani tidak lepas dari beragamnya budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Namun dalam kenyataannya, masih banyak faktor penghalang seperti golongan, kelompok, maupun kelas sosial yang membuat masyarakat enggan bersosial dengan sesama lainnya.

Prinsip Bhinneka Tunggal Ika 1. Common Denominator Common denominator bisa diartikan sebagai persamaan secara umum. Prinsip ini juga berarti sebagai modal masyarakat Indonesia dalam menyikapi perbedaan.

Bahkan tiap perbedaan pasti terdapat persamaan. Tentu saja hal ini membuat perbedaan tidak perlu diperdebatkan secara serius hingga menimbulkan konflik. Misalnya saja dalam perbedaan antar agama di Indonesia.

Meskipun berbeda agama namun persamaannya memiliki Tuhan yang tunggal. Hal ini juga berlaku pada perbedaan lainnya. Seperti bahasa, suku, hingga kebudayaan tiap daerah. Adanya persamaan diharapkan masyarakat Indonesia paham tentang keragaman yang ada di Indonesia.

Tiap warga negara berhak memiliki kepercayaan akan agama, bahasa, suku, maupun kebudayaan mereka. 2. Tidak Memiliki Sifat Formalistis Tidak formalistik berarti Bhinneka Tunggal Ika tidak mengajarkan formalistik antar sesama warga negaranya.

Namun masyarakat harus memberi rasa hormat serta rukun kepada sesamanya. Dari sinilah akan muncul yang namanya kehidupan bermasyarakat. Artian tidak formalistik juga termasuk memperbolehkan masyarakatnya berkehidupan secara universal, tanpa diskrimininasi. Semuanya bisa bergabung menjadi satu hingga dapat mewujudkan masyarakat yang rukun dan damai.

3. Tidak Bersifat Enklusif Tidak bersifat enklusif berarti memandang dan memperlakukan sama tiap kelompok, suku, maupun organisasi yang ada di Indonesia.

Kelompok yang besar/mayoritas tidak diperbolehkan memaksakan kehendak atas kelompok minoritas. Tujuannya agar masyarakat Indonesia tidak mengalami perpecahan karena kelompok atau organisasi. Adanya prinsip ini bukan berarti tidak memperbolehkan terciptanya kelompok. Kelompok tetap bisa berdiri namun harus menghormati pihak lain yang pemahamanannya berbeda. Prinsip satu ini tentu cocok diterapkan di Indonesia.

Hikmahnya, setiap masyarakat sadar bahwa hidup berdampingan memiliki manfaat yang sangat besar. 4. Memiliki Sifat Konvergen Sifat konvergen bearti dewasa dalam menghadapi perbedaan pendapat atau budaya. Jika terdapat pertikaian sebaiknya diselesaikan dengan mencari titik temu antara kedua belah pihak. Disini semuanya harus terbuka dan sebisa mungkin tidak mementingkan satu belah pihak. Menjadikan sifat konvergen merupakan salah satu prinsip utama dalam Bhinneka Tunggal Ika.

Masyarakat Indonesia tidak boleh secara sepihak mementingkan satu belah pihak. Namun kedua belah pihak dapat bermusyawarah dengan baik sampai mendapati titik temu antara keduanya. Penerapan/Implementasi Bhinneka Tunggal Ika 1. Perilaku Inklusif Seseorang mesti menganggap dirinya masuk ke dalam suatu populasi yang luas.

Tujuannya agar sifat sombong dan melihat dirinya melebihi dari yang lain tidak muncul. Hal ini berlaku juga di suatu kelompok. Kepentingan bersama mesti diutamakan dibanding keuntungan/kepentingan pribadi. Dengan adanya mufakast, semua elemen di dalam sebuah perkumpulan akan merasa puas dan senang. Sebab tiap kelompok yang berbeda memiliki peranannya masing-masing dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 2. Mengakomodasi Sifat Prulalistik Indonesia merupakan negara bangsa paling prulalistik di dunia jika dilihat dari keragaman yang ada di dalamnya.

Hal ini menjadikan nusantara disegani oleh bangsa lain. Namun kondisi ini juga mesti dikelola dengan baik, sebab tidak menutup kemungkinan akan ada disintegrasi di dalamnya. Sikap toleran, saling menghormati, dan kasih sayang menjadi kebutuhan wajib untuk segenap rakyat Indonesia.

Sebab bumi pertiwi kaya akan suku bangsa, bahasa, agama, adat, hingga ras dan budaya. Dengan adanya saling toleran, terciptanya masyarakat yang tentram dan damai bukanlah impian semata.

3. Tidak Mencari Menangnya Sendiri Di kehidupan sehari-hari, perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah. Terlebih di sistem demokrasi yang dianut Indonesia menuntut rakyatnya untuk mengungkapkan pendapatnya masing-masing. Oleh karena itu, sikap saling hormat antar sesama menjadi hal yang amat penting. Bhinneka Tunggal Ika yang sifatnya konvergen harus benar-benar nyata bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang di kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sifat divergen mesti dijauhkan bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang akan merusak tatanan berkehidupan dan bertoleransi. 4. Musyawarah untuk Mufakat Mencapai mufakat dalam musyawarah memang penting karena menjadi salah satu kunci kerukunan hidup di Indonesia.

Segala perbedaan haruslah dicari solusi tengahnya agar bisa mendapat inti kesamaan. Hal ini bertujuan agar segala macam gagasan yang muncul akan diakomodasikan dalam kesepakatan. 5. Dilandasi Rasa Kasih Sayang dan Rela Berkorban Rasa rela berkorban dan berkasih sayang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga sesuai dengan pedoman yang menyebutkan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling beranfaat untuk lainnya.

Tak hanya di dalam kehidupan bernegara, bahkan dalam agama pun diajarkan hal demikian. Dampak Positif dan Negatif Bhinneka Tunggal Ika 1. Dampak Positif Bhinneka Tunggal Ika hadir membawa Indonesia menjadi negara yang makmur, maju, damai, dan bersosial budaya.

Oleh sebab itu, semboyan bangsa ini memiliki banyak dampak positif. Salah satunya dapat menjaga persatuan bangsa Indonesia.

Sikap toleransi pun dapat ditumbuhkan di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Sikap tersebut sangat bermanfaat dalam kehidupan sosial sebab pertikaian dapat diredam secara cepat. Selain toleransi, dampak positif masyarakat pun memiliki sikap solidaritas. Sebab semboyan ini menekankan pada kehidupan sosial bersama meskipun berbeda suku/ras. Dengan berkumpulnya masyarakat dengan golongan berbeda, maka akan membuat sikap tolong-menolong dan solidaritas makin berkembang di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

2. Dampak Negatif Tak hanya dampak positif, namun ada juga dampak negatif yang ditimbulkan. Dampak-dampak ini secara tidak langsung memengaruhi perilaku masyarakat Indonesia.

Yakni banyaknya salah penafsiran yang dilakukan oleh sejumlah golongan. Salah penafsiran ini bukannya membuat damai, namun dijadikan sebagai alasan konflik. Banyak yang menyuarakan hak-hak yang bertentangan dengan norma di Indonesia.

Hal tersebut tidak bisa dihindarkan mengingat semboyan Indonesia memperbolehkan masyarakat untuk menganut kepercayaan, ras, suku, dan bahasa. Bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang tersebut seringkali disalahgunakan oleh kelompok radikal. Mereka beralasan bahwa kehidupan sosial seperti apapun diperbolehkan di Indonesia. Salah tafsir ini biasanya terjadi di wilayah-wilayah yang kurang pengetahuan seputar Negara Indonesia.

Maka sudah selayaknya pemerintah dan masyarakat lainnya turut berperan mengenalkan arti semboyan negara ini kepada yang belum paham sepenuhnya.

bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang

Contoh Penerapan Bhinneka Tunggal Ika pada Kehidupan Sehari-hari Tak hanya sebagai semboyan saja, contoh penerapan Bhinneka Tunggal Ika pada kehidupan sehari-hari ternyata sangat banyak, antaralain: • Mau berteman dengan siapa saja.

• Bersikap merendah dan tidak memandang remeh oranglain. • Memberikan kebebasan beragama kepada sesama. • Tidak memaksa oranglain mengikuti ajaran agamanya. • Adil terhadap sesama. • Bertindak, berperilaku sesuai norma/aturan yang berlaku di masyarakat. • Menumbuhkan sikap tenggang rasa antar sesama warga. • Memiliki toleransi tinggi dan mudah memaafkan oranglain. • Menjaga suasana masyarakat agar selalu tentram sehingga tidak menimbulkan perpecahan.

• Menjunjung tinggi kepentingan bersama diatas kepentingan golongan hingga individu. • Rela berkorban dan berjuang demi keutuhan negara. • Menghindari perilaku membeda-bedakan berdasarkan latar belakang kehidupannya. • Menghargai dan menghormati tiap perbedaan pendapat. • Menjalankan kewajiban yang dimiliki sebagai warga negara.

• Menerima hak sewajarnya dan tidak mengambil hak oranglain. • Gemar gotong royong dalam menyelesaikan berbagai hambatan atau masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. • Aktif dan mau bergelut dalam kegiatan positif. • Mempererat silaturahmi dengan keluarga, saudara, tetangga, dan oranglain.

Ternyata tak hanya sebatas semboyan, makna Bhinneka Tunggal Ika begitu dalam dan peranannya dalam mempersatukan bangsa Indonesia sangat kuat. Semoga artikel diatas bermanfaat. ARTIKEL LAINNYA • 10 Game Mirip GTA Terbaik Untuk Android, Nggak Kalah Serunya • 23 Game Balap Motor Android Terbaik Gratis Untuk HP Kamu • Kosakata Bahasa Inggris Beserta Arti dan Cara Bacanya Yang Sering Digunakan Dalam Percakapan • Deklarasi Bangkok - Hasil, tujuan, Isi, Sejarah, Tokoh dan Penandatanganan • Pengertian Driver, Fungsi, Jenis dan Contoh Softwarenya • Cara Melakukan Roll Depan dan Roll Belakang Senam Lantai • Cara Logout Gmail Dari Playstore (Cuma 3 Menit) • Pengertian Virtualisasi, Fungsi Beserta Jenis-jenis Virtualisasi
Jakarta - Bhinneka Tunggal Ika adalah artinya berbeda-beda tetap satu jua.

Ini menjadi semboyan bangsa Indonesia dan menjadi lambang negara Garuda Pancasila. Bangsa Indonesia adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan bangsa serta Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kata "Bhinneka" artinya beragam, "tunggal" artinya satu dan "ika" artinya itu. Tujuan dalam semboyan ini adalah mempersatukan bangsa Indonesia, mempertahankan kesatuan bangsa, meminimalisir konflik atas kepentingan pribadi atau kelompok serta mencapai cita-cita negara Indonesia.

Baca juga: Belajar Toleransi dan Cinta Indonesia Lewat Wisata Bhinneka Bhinneka Tunggal Ika juga menjadi inspirasi untuk bangsa Indonesia.

Mohammad Yamin menjadi orang pertama yang mengusulkan kutipan Bhinneka Tunggal Ika kepada Ir Soekarno untuk dijadikan semboyan Indonesia. Makna Bhinneka Tunggal Ika menjadi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang terdiri dari beraneka ragam suku, budaya, ras, agama dan bahasa.

Indonesia memiliki banyak keragaman, Bhinneka Tunggal Ika dapat menjadi prinsip persatuan dan kesatuan bangsa. Sesuai dengan artinya makna Bhinneka Tunggal Ika mampu menjaga Indonesia dalam persatuan dan menjadi inspirasi bagi negara-negara lain di dunia dalam menjaga persatuan.

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika menggambarkan tentang keadaan Nusantara yang memiliki keberagaman, mulai dari ras, suku, agama dan budaya. Semboyan ini tentu mengingatkan kita bahwa semua negara Indonesia itu adalah satu kesatuan. Jakarta - Bhinneka Tunggal Bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang merupakan semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa.

Istilah tersebut diadaptasi dari sebuah kakawin peninggalan Kerajaan Majapahit. Seperti apa sejarahnya? Semboyan Bhinneka Tunggal Ika pertama kali diungkapkan oleh Mpu Tantular dalam kitabnya, kakawin Sutasoma. Dalam bahasa Jawa Kuno kakawin artinya syair. Kakawin Sutasoma ditulis pada tahun 1851 dengan menggunakan aksara Bali, namun berbahasa Jawa Kuno. Bahan naskah yang digunakan untuk menulis kakawin Sutasoma terbuat dari daun lontar.

Kitab tersebut berukuran 40,5 x 3,5 cm. Sutasoma menjadi sebuah karya sastra peninggalan Kerajaan Majapahit. Baca juga: Bhinneka Tunggal Ika bagi Bangsa Indonesia, Ini Artinya Dilansir laman Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), kakawin Sutasoma merupakan kitab yang dikutip oleh para pendiri bangsa Indonesia dalam merumuskan semboyan NKRI. Kutipan frasa 'Bhinneka Tunggal Ika' terdapat pada pupuh 139 bait 5. Berikut bunyi petikan pupuh tersebut: "Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa".

Kalimat di atas artinya bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Terpecahbelahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Mpu Tantular mengajarkan makna toleransi antar umat beragama dan dianut oleh pemeluk agama Hindu dan Buddha. Semboyan "Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa" sendiri digunakan untuk menciptakan kerukunan di antara rakyat Majapahit dalam kehidupan beragama. Dikutip dari situs resmi Portal Informasi Indonesia, frasa Jawa Kuno tersebut secara harfiah mengandung arti berbeda-beda namun tetap satu jua.

Bhinneka artinya beragam, tunggal artinya satu, ika artinya itu, yakni beragam satu itu. Konon, pendiri bangsa yang pertama kali menyebut frasa Bhinneka Tunggal Ika adalah Moh Yamin. Dia mengucapkannya di sela-sela sidang BPUPKI.

Sontak, I Gusti Bagus Sugriwa, tokoh yang berasal dari Bali, menyahut dengan ucapan "tan hana dharma mangrwa". Dalam pendapat lain, Bung Hatta mengatakan bahwa frasa Bhinneka Tunggal Ika adalah usulan Bung Karno. Gagasan tersebut secara historis diusulkan setelah Indonesia merdeka, saat momen munculnya kebutuhan untuk merancang lambang negara dalam bentuk Garuda Pancasila. Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 1951 tentang Lambang Negara, Bhinneka Tunggal Ika ditulis dengan huruf latin dalam bahasa Jawa Kuno tepat di bawah lambang negara.

Sebagaimana bunyi Pasal 5 sebagai berikut: "Di bawah lambang tertulis dengan huruf latin sebuah semboyan dalam bahasa Jawa-Kuno, yang berbunyi: BHINNEKA TUNGGAL IKA." Jadi, semboyan Bhinneka Tunggal Ika pertama kali diungkapkan oleh Mpu Tantular dalam sebuah buku berjudul kakawin Sutasoma.
Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika di pita.

Bhinneka Tunggal Ika adalah moto atau semboyan bangsa Indonesia yang tertulis pada lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya adalah “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Diterjemahkan per kata, kata bhinnêka berarti "beraneka ragam" dan terdiri dari kata bhinna dan ika, yang digabung.

Kata tunggal berarti "satu". Kata ika berarti "itu". Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun beranekaragam tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan.

Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Kalimat ini merupakan kutipan dari sebuah kakawin Jawa Kuno yaitu kakawin Sutasoma, karangan Mpu Tantular semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14, di bawah pemerintahan Raja Rājasanagara, yang juga dikenal sebagai Hayam Wuruk. Kakawin ini istimewa karena mengajarkan toleransi antara umat Hindu Siwa dengan umat Buddha.

[1] Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran. Terjemahan ini didasarkan, dengan adaptasi kecil, pada edisi teks kritis oleh Dr. Soewito Santoso. [2] Galeri [ sunting - sunting sumber ] • • Seni • Film • Tari • Sastra • Musik • Lagu • Masakan • Mitologi • Pendidikan • Olahraga • Permainan tradisional • Busana daerah • Daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia • Arsitektur • Bandar udara • Pelabuhan • Stasiun kereta api • Terminal • Pembangkit listrik • Warisan budaya • Wayang • Batik • Keris • Angklung • Tari Saman • Noken Simbol • Halaman ini terakhir diubah pada 16 Februari 2022, pukul bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.

• Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
Soal & Kunci Jawaban PTS/UTS Kelas 4 Tema 6 Semester Genap Tahun 2022 – PTS/UTS berfungsi untuk mengukur capaian kompetensi Peserta Didik setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran selama setengah semester, baik semester gasal maupun genap dengan lamanya pembelajaran sekitar 8 minggu. Dalam rangka menyambut PTS/UTS SD Semester Genap dan sebagai media berbagi informasi pendidikan pada seluruh jenjang pendidikan, Ruang Kelas akan membagikan Soal, Jawaban, Kisi-Kisi dan Pembahasan PTS Kelas iv SD Tema half dozen Semester 2 Tahun Pelajaran 2021/2022.

c. Fabricated dan Eko bekerja sama untuk meraih cita-cita masing-masing. d. Tengil menganggap cita-cita Ale terlalu besar karena asal suku Ale. 2. Sikap yang bisa kita contoh dari Patih Gajah Mada adalah… a. mudah menyerah b. kerja keras c. malas menempa diri d. bertekad kecil 3. Gajah Mada memiliki cita-cita hebat yang harus kita teladani. Gajah Mada merupakan patih di kerajaan… a. Sriwijaya b.

Majapahit c. Samudra pasai d. Pajajaran 4. Sikap … membuat kita sulit meraih cita-cita. a. rajin b. gigih c. malas d. tangguh v. Jika suatu agama melarang umat agama lain masuk ke tempat ibadahnya, maka sikap kita adalah… a. menghargai aturan tersebut b. memaksa masuk tempat ibadah c. mencela agama tersebut d. menjauhi orang yang beragama tersebut six. Setelah meraih cita-cita, kita tidak boleh bersifat… a. rendah hati b. dermawan c. sombong d.

rajin seven. Perhatikan puisi berikut! Pagi tlah menjemputku Aku terbangun dari tidurku Lalu aku berangkat ke sekolah Belajar untuk meraih cita-citaku Rima pada allurement puisi tersebut adalah… a. rima silang b. rima patah c. rima terus d. rima peluk Puisi berikut digunakan untuk menjawab 2 soal di bawahnya.

Perhatikan puisi berikut! Anggunnya gerak tubuhmu Lentiknya jemari-jemari berpadu indah Derap langkah gemulai Hentakan irama mengalun syahdu Lirikan mata yang tajam Berubah sekejap menjadi indah Kibasan selendang emas bergoyang perlahan Liukan leher mengundang kekaguman Menari dan terus menari Dengan senyum dan ketulusan Gerakanmu sungguh indah Karena engkau menari dengan hatimu viii.

Profesi yang diceritakan pada puisi tersebut adalah… a. guru b. penari c. pelukis d. penyanyi 9. Sikap penari yang tidak terdapat pada puisi tersebut adalah… a. lirikan mata yang tajam b. liukan leher yang mengundang kekaguman c. lentiknya jemari yang berpadu indah d. percaya diri di atas panggung 10. Perhatikan puisi berikut!

Anakku Sayang Jadilah anak budiman Tingkah laku baik dan sopan Agar senantiasa disayang teman Puisi tersebut menceritakan tentang… a. nasihat kakak kepada adiknya b. nasihat guru kepada muridnya c. nasihat ibu kepada anaknya d. nasihat ibu kepada temannya 11. Perhatikan puisi berikut! Wahai Guruku Kau ku kenang selama hidupku Dari tak tahu kau jadikan aku tahu Walau kadang kami membuatmu kesal Namun dengan sabar kau didik kami Nasihatmu akan selalu kami ingat Kau tumpahkan ilmumu Bagai hujan yang membasahi bumi Jasamu kan abadi Ilmu yang berguna selalu ku impikan Engkau pahlawan tanpa tanda jasa Terima kasih guru Judul puisi tersebut yang tepat adalah… a.

Terima Kasih Guru b. Ilmu yang Berguna c. Guruku d. Pahlawanku 12. Perhatikan puisi berikut! Guruku Dengan sabar kau didik aku Dengan tekun kau bimbing aku Hingga kutahu segala ilmu Isi puisi tersebut adalah… a.

guru selalu mengajarkan keterampilan b. guru hanya mengajarkan ilmu pengetahuan c. guru sabar dalam mendidik murid d. tugas guru adalah mengajar murid xiii. Salah satu usaha agar hewan peliharaan tidak terserang penyakit yaitu… bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang. vaksinasi b. mutasi c. intensifikasi d. sosialisasi 14. Tahapan metamorfosis dari kupu-kupu yang sangat merugikan petani adalah… a.

telur b. ulat c. kepompong d. nimfa xv. Tumbuhan yang dapat diolah menjadi kain adalah… bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang.

kapas b. kubis c. kelapa d. jagung 16. Salah satu contoh hewan yang dapat dimanfaatkan tenaganya untuk membantu manusia yaitu… a. kambing b. bebek c. sapi d. anjing 17. Hewan berikut yang mengalami daur hidup tanpa metamorfosis adalah… a. ayam, kucing, dan bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang b. kambing, katak, dan kucing c. ayam, anjing, dan kucing d.

kupu-kupu, belalang, dan nyamuk 18. Kecoa berkembang biak dengan cara… a. melahirkan b. beranak c. bertelur d.

beranak dan bertelur 19. Perhatikan data berikut! 1) Brokoli 2) Wortel 3) Mangga iv) Kelapa five) Jagung vi) Bakau Berdasarkan data di atas, tanaman yang cocok tumbuh di daerah dataran tinggi adalah… a.

1 dan 2 b. 1 dan iii c. one dan iv d. 1 dan five xx. Salah satu cara memulihkan hutan gundul adalah dengan… a. pengeringan b. pengerukan c. penghijauan d. pemupukan 21. Anoa merupakan hewan asli dari Pulau… a. Sumatra b. Jawa c. Sulawesi d. Papua 22. Provinsi yang terkenal sebagai penghasil gas alam yaitu… a.

Maluku b. Jawa Tengah c. Aceh d. Jawa Timur 23. Tanaman bakau cocok tumbuh di daerah… a. pantai b. dataran rendah c. dataran tinggi d. pegunungan 24. Orang memelihara ayam untuk diambil… a. daging dan susunya b. telur dan dagingnya c.

bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang

bulu tan tanduknya d. gading dan susunya 25. Tempo lagu largo artinya… a. lambat sekali b. agak cepat c. cepat sekali d. sedang agak cepat 26.

Lagu berjudul “Paman Datang” memiliki tempo… a. garis lurus b. garis lengkung c. lingkaran d. angka delapan 29. Serat sintetis termasuk… a. bahan alam b. bahan olahan c. bahan bekas d. bahan tiruan 30. Salah satu alat yang harus ada saat membuat karya kolase adalah… a. pensil b. lem c. penggaris d. penghapus B. Soal Isian 1.

Hari raya yang dirayakan oleh umat Hindu disebut… 2. Pembangunan Masjid Istiqlal yang dirancang oleh seorang arsitek beragama Kristen Protestan menunjukkan adanya … antarumat beragama. iii. Menghargai keragaman tempat ibadah dan kegiatan keagamaan akan memperkuat … dan … bangsa Republic of indonesia. iv. Pelafalan yang tidak tepat akan menyebabkan perbedaan… v. Perhatikan puisi berikut! Profesi membuatnya selalu siap sedia Lewat ilmu ditunaikan tugas mulia Membantu mengobati orang kesakitan Dengan memberi obat maupun suntikan Profesi yang dibahas dalam puisi tersebut adalah… vi.

Sebuah bait puisi bersajak a a a a atau disebut juga berima… 7. Perhatikan gambar berikut! Hewan di atas mengalami metamorfosis… 8. Berudu bernapas menggunakan… 9. Telur belalang yang sudah menetas akan menjadi… ten. Fosfat adalah contoh sumber daya alam yang… 11. Salah satu daerah penghasil bijih besi adalah Pulau Sebuku. Pulau Sebuku terdapat di Provinsi… 12. Salah satu provinsi di Pulau Sumatra yang menghasilkan pasir kwarsa adalah Provinsi… 13.

Lagu berjudul “Cik-Cik Periok” berasal dari Provinsi… 14. Garis-garis imajiner di lantai yang dilalui oleh seorang penari pada saat menari disebut… 15.

Karya kolase dan mozaik sama-sama dibuat dengan teknik… C. Soal Uraian/Essay ane. Tuliskan semboyan yang menyatukan bangsa Indonesia beserta artinya! 2. Jelaskan perjalanan karier Gajah Mada hingga ia diangkat menjadi patih! 3. Tandai allurement puisi berikut dengan jeda dan penekanan yang tepat! Laskar pelangi takkan terikat waktu Bebaskan mimpimu di angkasa Warnai bintang di jiwa 4. Perhatikan puisi berikut!

Ingin Menjadi Polisi Polisi Aku ingin sepertimu Kau bagaikan malaikat Yang senantiasa sedia membantu Kau memecahkan semua masalah Kau membantu semua orang Tanpa rasa lelah Dengan tanggung jawab yang besar Aku ingin menjadi sepertimu Menjadi pahlawan untuk semua Yang selalu siap sedia Saat banyak orang membutuhkan Jelaskan isi atau makna puisi tersebut! v. Sebutkan urutan tahapan metamorfosis belalang! 6. Apa dampak penebangan hutan bagi hewan? vii. Mengapa kita harus menghemat sumber daya alam yang ada di bumi ini?

8. Sebutkan usaha-usaha pelestarian sumber daya alam! ix. Jelaskan yang dimaksud dengan tangga nada pentatonis! x. Sebutkan dua fungsi iringan musik dalam seni tari! Jawaban PTS Semester Genap Kelas 4 Tema six Tahun bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang A.

Pilihan Ganda i. d 2. b 3. b iv. c 5. a 6. c 7. b eight. b 9. d 10. c eleven. c 12. c 13. a 14. b 15. a sixteen. c 17. c eighteen. c 19. a 20. c 21. c 22. c 23. a 24. b 25. a 26. c 27. d 28. d 29. b 30. b B. Soal Isian one. Nyepi 2. Toleransi / kerukunan iii. Persatuan, kesatuan 4. Makna 5. Dokter half-dozen. TErus 7. Tidak sempurna 8. Insang nine. Nimfa 10. Tidak dapat diperbarui 11. Kalimantan Selatan 12. Lampung xiii. Bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang Barat xiv.

Pola lantai 15. Tempel C. Soal Uraian/Essay 1. Semboyan bangsa Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika. Arti dari semboyan tersebut adalah berbeda-beda tetapi tetap satu. ii. Gajah Mada memulai kariernya sebagai anggota prajurit Bhayangkara. Ia kemudian diangkat sebagai kepala prajurit Bhayangkara. Pada masa pemerintahan Jayanegara ia diangkat menjadi Patih. Ia menjadi Mahapatih (Menteri Besar) pada masa Ratu Tribhuwanatunggadewi. Kemudian, ia diangkat bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang Amangkubhumi (Perdana Menteri).

three. Laskar VV pelangi /Five takkan Five terikat 5 waktu //Five Bebaskan V mimpimu VV di angkasa //VV Warnai V bintang V di jiwa ///VV iv. Puisi Ingin Menjadi Polisi menceritakan tentang cita-cita menjadi seorang polisi.

Polisi bagaikan malaikat yang selalu siap membantu tanpa rasa lelah. Polisi mampu memecahkan masalah dan memiliki tanggung jawab yang besar. Polisi adalah pahlawan bagi semua orang. 5. Tahapan metamorfosis belalang adalah telur – nimfa (belalang muda) – imago (belalang dewasa). 6. Dampak penebangan hutan bagi hewan adalah sebagai berikut. • Hewan kehilangan tempat tinggal. • Hewan kehilangan sumber makanannya. • Hewan mengalami kepunahan. 7. Jumlah sumber daya alam yang ada di bumi terbatas.

Karena itu kita harus menghemat penggunaannya. 8. Sumber daya alam merupakan karunia Tuhan yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Usaha pelestarian sumber daya alam antara lain dengan berhemat, banyak menanam pohon, mendaur ulang sampah, dan tidak merusak lingkungan ix.

Tangga nada pentatonis adalah tangga nothing yang hanya memakai lima nil pokok, dengan jarak yang berbeda-beda. Nada-nothing dalam tangga nada pentatonis tidak dilihat berdasarkan jarak nothing, tetapi berdasarkan urutannya dalam tangga zip. 10. Berikut ini fungsi iringan musik dalam seni tari. Menciptakan keharmonisan setiap gerakan. Mengatur tempo dan hitungan gerakan.

Bagi Bapak/Ibu dan Adik-Adik yang memerlukan Jawaban & Soal PTS Kelas 4 Semester ii Tema six silahkan klik tautan berikut : • Unduh Soal & Jawaban PTS/UTS Kelas 4 SD/MI Tema 6 Semester ii Tahun 2022 Semoga informasi Jawaban & Soal PTS Tema 6 Kelas 4 Semester 2 Tahun 2022 diatas bermanfaat bagi Bapak / Ibu dan Adik-Adik Kelas iv SD.

Jangan lupa Follow agar dapat notifikasi informasi terbaru lainnya dari Ruang Kelas. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika Mengajarkan Kita Untuk Source: https://www.ruang-kelas.com/2022/03/jawaban-soal-pts-tema-6-kelas-4.html Terbaru • Cara Membedakan Body Spa Hanasui Asli Dan Palsu • Aplikasi Perkembangan Embrio Di Bidang Peternakan bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang Cara Mengganti Foto Profil Fb Tanpa Like • Penanganan Limbah Produksi Pakan Ternak Unggas Pdf • Cara Memasang Lampu Tumblr Di Dinding Kamar Tanpa Paku • Menurunkan Tegangan 24 Volt Ke 12 Volt Dengan Resistor • Contoh Gambar Klipping Budi Daya Ternak Hias • Cara Mengatasi Kartu Sim Ditolak Di Hp Nokia • Lima Cara Mengungkapkan Terima Kasih Kepada Orang Tua Kategori • Aplikasi • Berkebun • Bisnis • Budidaya • Cara • News • Pelajaran • Serba-serbi • SIM Keliling • Soal • Ternak • UncategorizedAdapun arti dari Bhinneka Tunggal Ika ini adalah meski berbeda-beda namun tetap satu jua.

Bhinneka Tunggal Ika ini merupakan pengakuan atas masyarakat Indonesia yang majemuk namun pada hakekatnya adalah satu sebagai bagian dari negara Bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang. Kalimat Bhinneka Tunggal Ika ini sendiri berasal dari bahasa Sanskerta dan diambil langsung dari salah satu kitab terkenal di zaman Kerajaan Majapahit yakni Kitab Sutasoma. Jika sejarah ditelusuri maka keberagaman yang ada di Indonesia bukan hal baru sebab bahkan pada masa Majapahit sekalipun keberagaman tersebut sudah ada dan diterima dengan baik oleh masyarakat sehingga mereka hidup penuh dengan harmoni dan ketentraman.

Pelajari lebih lanjut mengenai apa itu Bhinneka Tunggal Ika brainly.co.id/tugas/2409656. Bab : Pembelajaran Keregaman Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika. PENTINGNYA SEMBOYAN BHINNEKA TUNGGAL IKA Kata-kata Bhinneka Tunggal Ika juga terdapat pada lambang negara Republik Indonesia yaitu Burung Garuda Pancasila.

Ini untuk pertama kali secara tegas para pejuang kemerdekaan meng-klaim wilyah yang akan dijadikan wilayah Indonesia merdeka. Ini adalah awal mula dari rasa nasionalisme sebagai kesatuan bangsa yang berada di wilayah sabang sampai Merauke. Perjuangan kemerdekaan antara partai politik/ organisasi masyarakat pada waktu itu dangan segala strategi dan aksinya baik yang kooperatif maupun non kooperatif terhadap pemerintahan Hindia Belanda mengalami pasang naik federasi maupun fusi dalam gabungan politik Indonesia (1939) dan fusi terakhir Majelis Rakyat Indonesia.

Indonesia di jajah BELANDA selama 350 tahun atau 3,5 Abad, maka untuk itu Indonesia memilih semboyan BHINNEKA TUNGGAL IKA, yang bertujuan untuk mempersatukan bangsa Indonesia agar dapat mengusir penjajah dari bumi ibu pertiwi ini.Tetapi semboyan Bhinneka Tunggal Ika pada zaman sekarang sudah tidak berguna lagi di masyarakat Indonesia, karena banyaknya tawuran antar Desa, Antara pelajar, dan lain-lain sudah menjamur di seluruh pelosok Indonesia.Jadi Pengorbanan masyarakat dulu sudah tidak berarti lagi di zaman sekarang, pada zaman dahulu banya peristiwa heroik terjadi setelah ataupun sebelum kemerdekaan, contoh saja peristiwa besar yang terjadi di kota SURABAYA pertempuran antara arek-arek SURABAYA dan sekitarnya melawan para tentara Sekutu yang ingin menjajah kembali Indonesia, tetapi dengan gagahnya pemuda-pemuda itu bersatu dan mengusir tentara sekutu.Semua itu di lakukan agar para anak cucunya di masa depan agar bisa merasakan kehidupan yang lebih baik dari mereka, maka untuk itu kita harus membangkitkan rasa NASIONALISME kita terhadap bangsa ini, jangan cuma pada saat Malaysia mengklaim sesuatu milik kita menjadi kepunyaan mereka, maka kita harus menghargai jasa para pahlawan zaman dulu, karena tanpa jasanya kita tidak bisa hidup nyaman seperti sekarang ini.

Bhinneka Tunggal Ika bagi Bangsa Indonesia, Ini Artinya Bhinneka Tunggal Ika bagi bangsa Indonesia bukan hanya semboyan dan simbol belaka. Bhinneka Tunggal Ika merupakan pedoman hidup yang sudah mendarah daging dalam keberagaman di Indonesia. Sebagai pedoman hidup, Bhinneka Tunggal Ika akan menguatkan toleransi dan rasa mencintai atas perbedaan agama, ras, suku bangsa, bahasa, adat, dan budaya yang ada di Indonesia.

Lantas apa arti dan makna Bhinneka Tunggal Ika bagi bangsa Indonesia? Bhinneka Tunggal Ika berasal dari bahasa Jawa Kuno yang diambil dari kitab atau kakawin Sutasoma karangan Empu Tantular di masa Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14 masehi. Semboyan ini digunakan sebagai ilustrasi identitas alami Indonesia dan dibangun secara sosial budaya berdasarkan keragaman.

Mohammad Yamin menjadi orang pertama yang mengusulkan kutipan Bhinneka Tunggal Ika kepada Ir Soekarno untuk dijadikan semboyan Indonesia.

Sekjen Pemuda Pancasila Ngaku Salah Ada Anggotanya Bawa Sajam di Demo DPR. Arti Penting Bhinneka Tunggal Ika bagi Bangsa Indonesia Bola.com, Jakarta - Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan bangsa Indonesia yang tertulis di lambang negara, Garuda. Dalam semboyan itu juga bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat Indonesia untuk selalu menghormati perbedaan yang ada. Perbedaan tersebut antara lain ragam budaya, bahasa, ras, suku bangsa, agama, dan kepercayaan.

Namun, perbedaan tersebut justru menjadikan Indonesia sebagai negara yang begitu indah. Keragamaan yang terjalin bisa membuat tali persaudaraan di antara sesama makin erat. Di sisi lain, keberadaan semboyan Bhinneka Tunggal Ika memiliki arti yang sangat penting bagi bangsa Indonesia.

Makna, Fungsi, dan Contoh Bhinneka Tunggal Ika Peran semboyan negara untuk membentuk dan menamkan pada masyarakat tentang keberagaman sehingga tidak memicu konflik. Toleran menjadi pandangan untuk menumbuhkan rasa saling menghormati, menyebarkan kerukunan, dan menyuburkan toleransi pada individu. Menurut Koentjaraningrat, suku bangsa merupakan sekelompok manusia yang memiliki kesatuan budaya dan terikat kesadaran akan identitas.

Di Indonesia ada 6 agama resmi yang diakui Pemerintah yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Meski terjadi keberagaman antar golongan, adanya semboyan negara dapat menorong kerukunan, persatuan dan kesatuan bangsa. Jelaskan Makna Bhinneka Tunggal Ika bagi Persatuan Indonesia! Melansir dari laman sumberbelajar.belajar.kemdikbud.go.idnama Bhinneka Tunggal Ika berasal dari Bahasa Jawa Kuno dan terdiri atas tiga kata, yakni bhinneka, tunggal, dan ika. Bhinneka memiliki arti “beraneka ragam”, tunggal berarti “satu”, dan ika memiliki arti “itu”.

Oleh karena itu secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika berarti “beraneka ragam itu satu”, atau dapat diartikan juga sebagai “berbeda-beda tetapi satu juga”. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika Memiliki Arti Apa? Pahami Maknanya! Dikutip dari buku 'Sejarah Hukum Indonesia' karya Prof Dr Sutan Remy Sjahdeini, Bhinneka Tunggal Ika tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 tentang Lambang Negara.

Peraturan tersebut juga ditetapkan di Jakarta, 17 Oktober 1951 oleh Presiden Bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang dan Perdana Menteri Sukiman Wirjosandjojo. Melansir buku 'Get Smart Pendidikan Kewarganegaraan' terbitan Grafindo, Bhinneka Tunggal Ika bagi bangsa Indonesia sebagai pemersatu. Sehingga secara harfiah, semboyan Bhinneka Tunggal Ika memiliki arti beraneka ragam berhimpun menjadi satu.

Beberapa tahun kemudian, semboyan Bhinneka Tunggal Ika memiliki arti berbeda-beda tetapi tetap satu jua disisipkan ke dalam lambang burung Garuda Pancasila. Menjaga Keutuhan Bhineka Tunggal Ika – Fakultas Syari'ah UIN Raden Intan Lampung Perbedaan bukan justru kita jadikan sumber konflik melainkan sebisa mungkin kita jadikan tolak kekuatan untuk membangun kehidupan yang harmonis, damai dan penuh toleransi.

Indonesia adalah salah satu negara yang banyak memiliki keberagaman, Perbedaan yang beragam seperti suku, ras, etnik, agama, budaya ,bahasa ,dan adat istiadat di dalamnya. Salah satu cara menjaga dan merawat perbedaan yang beragam tersebut adalah dengan Bhinneka Tunggal Ika, Bhineka Tunggal Ika (berbeda beda tetapi tetap satu jua) merupakan semboyan negara indonesia yang dijadikan sebagai dasar unuk mewujudkan persatuan dan kesatuan negara indonesia dimana kita harus menerapkannya dalam kehidupan sehari hari, yakni dengan cara hidup saling menghargai satu samalain.

Maka dari itu kita sebagai rakyat Indonesia harus tetap menjaga keutuhan dalam kebersamaan membangun Negara kesatuan yang majemuk. Kemudian salahsatu usaha yang harus di tempuh yakni meningkatkan kesadaran pola fikir masyarakat Indonesia untuk menggunakan hak konstitusi dalam berkumpul maupun berserikat, dan juga mendorong masyarakat untuk lebih menggunakan dasar agama sebagai landasan kehidupan dalam bersosialisasi yang juga menegaskan bahwa tuhanlah tujuan hidup mereka seperti yang tertera dalam agama yang di anut setiap individu masyarakat.

Bhinneka Tunggal Ika tidak cukup hanya sebatas semboyan atau konsep pengembangan suatu Negara saja, Perlu ada suatu cara baru yang lebih menyesuaikan dengan kehidupan di jaman sekarang.

bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang

Perayaan tersebut bertujuan untuk membangun keakraban dan kebersamaan di tengah-tengah perbedaan antar masyarakat. Maka dari itu Bhinneka Tunggal Ika harus di jaga keutuhannya karena telah disadari begitu pentingnya Bhinneka Tunggal Ika bagi Indonesia, maka sudah menjadi kewajiban kita sebagai rakyat Indonesia untuk memeliharanya. Keutuhan suatu wilayah lah yang menjadi kekuatan utama dalam bernegara, disusul dengan saling menghormati perbedaan satu samalain karna memang benar adanya bahwa Negara Indonesia ini bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang beragam perbedaan didalamnya maka dari itu saling menghormatilah yang menjadi pondasi Bhinneka Tunggal Ika.

Dengan demikian menjaga, memaknai, menyebarkan dan mengamalkan Bhineka Tunggal Ika adalah kewajiban kita semua agar kedamaian dan kerukunan bisa betul-betul terwujud di bumi Indonesia. Apa makna bhineka tunggal ika bagi bangsa Indonesi. Bhinneka Tunggal Ika berasal dari bahasa Jawa Kuno dan terdapat di dalam Kitab Sutasoma karya Empu Tantular, yang artinya adalah “meski beranekaragam, tetapi tetap satu jua”. Sebagai semboyan negara, bhineka tunggal ika bagi bangsa Indonesia memiliki makna sebagai pemersatu dan menguatkan ikatan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai ragam suku, budaya, ras, bahasa, dan agama.
Sejarah Bhinneka Tunggal Ika – Bangsa Indonesia dan Keragamannya baik dari segi agama, warna kulit, suku bangsa, bahasa, yang kemudian menjadikannya sebagai bangsa bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang dan berdaulat.

Hal ini dapat dilihat dari menuju detik-detik kemerdekaan hampir seluruh anak bangsa yang tergabung dari berbagai suku turut memperjuangkan kemerdekaan. Para tokoh bangsa sendiri kemudian menyadari tantangan yang harus mereka hadapi karena kemajemukan tersebut. Keberagaman ini kemudian menjadi realitas yang tak dapat dihindari adanya. KeBhinnekaan sebagai sebuah hakikat realitas yang sudah ada dalam bangsa, sedangkan ke-Tunggal-Ika-an merupakan cita-cita kebangsaan. Semboyan inilah yang kemudian menjadi jembatan penghubung menuju terbentuknya Negara berdaulat.

Simak penjelasan lebih lengkapnya mengenai Bhinneka Tunggal Ika Berikut ini: Daftar Isi • A. Arti dan Makna Bhinneka Tunggal Ika • Anda Mungkin Juga Menyukai • B. Sejarah Singkat Bhinneka Tunggal Ika • C. Bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang Bhinneka Tunggal Ika • 1.

Common Denominator • 2. Tidak Sektarian dan Enklusif • 3. Tidak Formalistis • 4. Bersifat Konvergen • 5. Prinsip Pluralistik dan Multikultural • 6. Semangat Gotong-Royong • D.

Fakta-Fakta Menarik Bhinneka Tunggal Ika • 1. Bersumber dari Lontar Sutasoma • 2. Bukan Ciptaan Bung Karno • 3. Tersimpan di Perpustakaan Leiden • 4. Bukan Hanya tentang Persatuan Suku • E. Bhinneka Tunggal Ika dan Nasionalisme • 1. Kesatuan Sejarah • 2. Kesatuan Nasib • 3. Kesatuan Wilayah • 4. Kesatuan Kebudayaan • E. Penerapan Bhinneka Tunggal Ika dalam Kehidupan Sehari-hari • 1. Perilaku Inklusif • 2.

Mengakomodasi Sifat Pluralistik • 3. Tidak Menang Sendiri • 4. Musyawarah untuk Mufakat A. Arti dan Makna Bhinneka Tunggal Ika Secara harfiah Kata Bhinneka Tunggal Ika berasal dari bahasa Jawa Kuno. Bhinneka Tunggal Ika memiliki arti berbeda-beda tetap satu jua.

Bhinneka Tunggal Ika menjadi semboyan bangsa Indonesia dan tertulis di dalam lambang Garuda Pancasila. Konsep Bhinneka Tunggal Ika sendiri diambil dari kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular, yang hidup pada masa Kerajaan majapahit di sekitar abad ke-14 M. Secara etimologi kata-kata Bhinneka Tunggal Ika berasal dari bahasa Jawa Kuno yang jika dipisah menjadi Bhinneka memiliki makna ragam atau beraneka, Tunggal adalah satu, dan Ika adalah itu.

Sehingga arti Bhinneka Tunggal Ika adalah berbeda-beda tetap satu jua. Maknanya, dengan jiwa dan semangat bangsa Indonesia mengakui realitas bangsa yang majemuk (suku, bahasa, agama, ras, golongan dll) namun tetap menjunjung tinggi persatuan. I Nyoman Pursika (2009) dalam jurnal Kajian Analitik Terhadap Semboyan “ Bhinneka Tunggal Ika” menyatakan bahwa Bhinneka Tunggal Ika merupakan cerminan keseimbangan antara cerminan keseimbangan antara unsur perbedaan yang menjadi ciri keanekaan dengan unsur kesamaan yang menjadi ciri kesatuan.

Bhinneka Tunggal Ika merumuskan dengan tegas adanya harmoni antara kebhinnekaan dan ketunggalikaan, antara keanekaan dan keekaan, antara kepelbagaian dan kesatuan, antara hal banyak dan hal satu, atau antara pluralisme dan monisme. Jika pada mulanya Bhinneka Tunggal Ika dipakai untuk menyatakan semangat toleransi keagaaman antara agama Hindu dan Budha. Setelah dijadikan semboyan bangsa Indonesia, konteks “Bhinneka” atau perbedaannya menjadi lebih luas, tidak hanya berbeda agama saja tapi juga suku, bahasa, ras, golongan, budaya, adat istiadat bahkan bisa ditarik kedalam perbedaan dalam lingkup yang lebih kecil seperti perbedaan pendapat, pikiran/ide, kesukaan, hobi.

Rp 75.000 Bhineka Tunggal Ika sebagai salah satu dari empat pilar kebangsaan, selain Pancasila. UUD 1945, NKRI merupakan sebuah nilai yang harus ditanam dalam setiap warga negara Indonesia yang dibahas pada buku Pancasila. Jadi, semisal beda dukungan klub sepak bola jangan bertengkar ya? B. Sejarah Singkat Bhinneka Tunggal Ika Pada awalnya, Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan yang menunjukan semangat toleransi keagamaan, khususnya antara agama Hindu dan Buddha.

Istilah “Bhinneka Tunggal Ika” dipetik dari Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14. Istilah tersebut ter- cantum dalam bait 5 pupuh 139. Bait ini secara lengkap seperti di bawah ini: Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. Terjemahan: Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.

Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal Menurut jurnal dari Letkol Czi Dr. Syafril Hidayat, psc, M.Sc tentang Bhinneka Tunggal Ika, dalam buku Bung Hatta Menjawab (1979), Mohammad Hatta menuliskan bahwa usai merdeka, semboyan ini dicantumkan dengan lambang yang dibuat oleh Sultan Abdul Hamid (di Pontianak) dan diresmikan pemakaiannya oleh Kabinet RIS pada tanggal 11 Februari 1950 sebagai semboyan lambang negara.

Melalui semboyan ini, Indonesia kemudian menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bhinneka Tunggal Ika sendiri diteliti pertama kali oleh Prof. H. Kern (1888). Semboyan ini sendiri pada mulanya tertera dalam lontar yang tersimpan di Perpustakaan Kota Leiden (Purusadasanta atau Sutasoma).

Semboyan ini kemudian diteliti kembali oleh Muhammad Yamin di tahun-tahun berikutnya dan kemudian ia tuliskan di dalam bukunya 6000 tahun Sang Merah Putih pada tahun 1954. Sejarah bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang Bhinneka Tunggal Ika menempuh proses evolusi dan kristalisasi mulai sebelum kemerdekaan, pergerakan nasional 1928 sampai berdirinya negara Republik Indonesia pada tahun 1945.

Setelah dijadikan sebagai semboyan Bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika menjadi pernyataan bangsa Indonesia yang mengakui realitas bangsa yang majemuk namun tetap menjunjung tinggi persatuan.

Berikut ini prinsip-prinsip Bhinneka Tunggal Ika yang perlu kamu ketahui: 1. Common Denominator Terdapat 5 agama di Indonesia, namun sesuai dengan prinsip pertama Bhinneka Tunggal Ika perbedaan dalam hal keagamaan haruslah dicari common denominatornya, atau dengan kata lain menemukan persamaan dalam perbedaan sehingga semua rakyat Indonesia dapat hidup rukun berdampingan.

Demikian juga dengan berbagai aspek lain dengan segala perbedaannya di Indonesia, seperti adat dan kebudayaan di setiap daerah. Semua keberagaman adat dan budaya tersebut tetap diakui keabsahannya dengan segala perbedaan yang ada tetap Bersatu dalam Negara kesatuan republik Indonesia. 2. Tidak Sektarian dan Enklusif Tidak Sektarian dan Eksklusif maksudnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara setiap rakyat Indonesia tidak dibenarkan untuk menganggap bahwa diri atau kelompoknya sebagai yang paling benar bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang orang atau kelompok lain.

Pandangan-pandangan sektarian dan eksklusif harus dihilangkan, karena ketika sifat sektarian dan eksklusif sudah terbentuk, maka akan ada banyak konflik yang terjadi dikarenakan kecemburuan, kecurigaan, sikap yang berlebih-lebihan serta kurang memperhitungkan keberadaan kelompok atau pribadi lain. 3. Tidak Formalistis Bhinneka Tunggal Ika sifatnya universal dan menyeluruh.

Hal ini dilandasi oleh adanya rasa cinta mencintai, rasa hormat menghormati, saling percaya mempercayai, dan saling rukun antar sesama. Dengan cara tersebutlah keanekaragaman kemudian dapat disatukan dalam bingkai ke-Indonesiaan.

4. Bersifat Konvergen Bersifat Konvergen maksudnya segala keanekaragaman bukan untuk dibesar-besarkan, tetapi harus dicari titik temu yang dapat membuat segala kepentingan bertemu di tengah. Hal ini dapat dicapai jika terdapat sikap toleran, saling percaya, rukun, non sektarian, dan inklusif di antara masyarakat. 5.

Prinsip Pluralistik dan Multikultural Bhinneka Tunggal Ika mengandung nilai antara lain: toleransi, inklusif, damai dan kebersamaan, serta setara. Nilai-nilai tersebut tidak menghendaki sifat yang tertutup atau eksklusif sehingga memungkinkan untuk mengakomodasi keanekaragaman budaya bangsa dan menghadapi arus globalisasi.

Saling menghormati antar agama, suku bangsa, menghargai hasil karya orang lain, bergotong royong membangun bangsa tanpa memandang perbedaan suku, budaya dan agama, tidak saling membedakan bahkan mencaci karena hal ini dapat menimbulkan konflik serta menjadi sumber awal pemecah persatuan dan kesatuan bangsa.

6. Semangat Gotong-Royong Semangat gotong-royong tidak melulu tentang bahu-membahu membersihkan lingkungan, atau menjaga keamanan lingkungan sekitar rumahmu. Tapi juga pada semangat gotong-royong dalam melawan hoax atau berita bohong yang kini tersebar dimana-mana atas nama clickbait. Biasakan untuk memverifikasi data atau berita yang diterima dan ingin disebarkan.

Karena jejak digital sangat sulit untuk dihilangkan, pasalanya, setiap harinya, ada ribuah hoax yang menyebar dan siap merusak generasi dan keBhinnekaan negara ini. Dalam menguatkan sifat gotong royong yang kita miliki dan jiwa kebangsaan, demokrasi, huku, serta multikultural dalam mendukung terwujudnya warga negara yang sadar akan hak dan kewajibannya, buku Meneguhkan Jiwa Dan Semangat Nasionalisme merupakan referensi yang tepat untuk Grameds.

D. Fakta-Fakta Menarik Bhinneka Tunggal Ika Dalam kehidupan bersama, di mana berbagai kepentingan akan bertemu, dan tidak semua kepentingan sejalan, tentu akan mengakibatkan terjadinya gesekan bahkan konflik-konflik sosial. Dalam situasi semacam ini, batas-batas antara hak dan wewenang setiap pihak harus ditetapkan secara jelas, tegas dan proporsional.

Setiap warga Negara kemudian bebas menuntut haknya, namun pada saat yang sama juga wajib menghormati hak yang dimiliki oleh orang lain. Adil sendiri memiliki makna yang tidak memihak, tidak tertutup, dan berkelompok. Sebaliknya berlaku adil atau menghendaki sikap terbuka yang senantiasa menyediakan “ruang” bagi kehadiran orang lain.

Kebiasaan menyapa orang lain adalah bentuk nyata dari mewujudkan sikap adil. Menyapa orang lain (siapa pun) pada hakikatnya adalah tindakan awal membangun jaringan sosial yang akan menjadi kekuatan agar tidak mudah dipecah belah dan diadu domba. Berikut ini beberapa Fakta Mengenai Bhinneka Tunggal Ika yang perlu kamu ketahui: 1. Bersumber dari Lontar Sutasoma Istilah Bhinneka Tunggal Ika diambil dari Lontar Sutasoma karya Mpu Tantular seorang pujangga yang hidup pada abad ke-14 di Majapahit dan masih kerabat kerajaan pada masa pemerintahan Raja Rajasanegara.

Istilah Bhinneka Tunggal ika sendiri diambil dari salah satu penggalan kakimpoi alias Syair Sutasoma. Berikut bunyinya dalam Bahasa Sansekerta, dan diterjemahkan ke Bahasa Indonesia: Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Artinya: Buddha dan Siwa sebagai dua zat yang berbeda namun bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa yang tunggal Berpecah belah lah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran. 2. Bukan Ciptaan Bung Karno Dalam buku karangan Mohammad Hatta yang berjudul Bung Hatta Menjawab, dituliskan bahwa Bung Karno Lah yang menciptakan istilah “Bhinneka Tunggal Ika”, maksudnya bukan Bung Karno yang menciptakan, namun ialah yang mengusulkan ditambahkannya frasa tersebut ke dalam pita yang dicengkeram oleh Burung Garuda.

Burung garuda sendiri tadinya didesain mencengkeram bendera merah putih namun kemudian diganti dengan pita bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika yang digunakan sebagai semboyan negara maknanya mempersatukan keberagaman. Burung garuda sendiri menggunakan perisai, sebagai bentuk tenaga pembangun pada peradaban Indonesia. Burung garuda dari mitologi ini bersanding erat dengan burung elang rajawali.

Burung yang terlukis pada beberapa candi, termasuk Dieng, Prambanan dan Penataran. 3. Tersimpan di Perpustakaan Leiden Dengan eratnya kaitan antara Nusantara dan Belanda. Transkrip Sutasoma kemudian menjadi salah satu arsip yang tersimpan di Perpustakaan Leiden, dengan bait yang mengandung istilah Bhinneka Tunggal Ika tersebut berada pada lembar ke 120 lontar Sutasoma.

4. Bukan Hanya tentang Persatuan Suku Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya tentang bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang suku budaya yang harus disatukan, tetapi juga perbedaan pemikiran.

Menurut Bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang Hamid, Soekarno menggambarkan Bhinneka Tunggal Ika sebagai persatuan pemikiran federalis dan kesatuan di Republik Indonesia Serikat (nama Indonesia pada saat itu).

E. Bhinneka Tunggal Ika dan Nasionalisme Teknologi komunikasi kini telah mengubah perang konvensional menjadi perang modern yang menggunakan media massa, internet ataupun teknologi sebagai media peperangan tersebut. Sasarannya tentu saja ada pada ketahanan ekonomi, pertahanan dan keamanan, budaya, ideologi, lingkungan, dan politik.

Dalam rangka membentengi diri dari kehancuran akibat pesatnya perkembangan teknologi serta beragam upaya yang dilakukan untuk memecah bangsa, maka masyarakat Indonesia harus kembali kepada nilai-nilai Pancasila. Pancasila sebagai falsafah bangsa Indonesia, telah berkembang secara alamiah dari perjalanan panjang sejarah, berisi pandangan hidup, karakter, dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, termasuk Bhinneka Tunggal Ika.

Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila adalah semangat bersatu, menghormati perbedaan, rela berkorban, pantang menyerah, gotong royong, patriotisme, nasionalisme, optimisme, harga diri, kebersamaan, dan percaya pada diri sendiri. Dalam mempelajari lebih dalam mengenai nasionalisme secara singkat, padat dan gamblang, Grameds dapat membaca buku Nasionalisme oleh Steven Gr yang ada dibawah ini.

Bhinneka Tunggal Ika secara tidak langsung merupakan gambaran nasionalisme bangsa Indonesia. Makna Bhinneka Tunggal Ika menjadi prinsip warga negara Indonesia untuk membangun nasionalisme. Berikut ini beberapa diantaranya unsur-unsur yang membentuk nasionalisme: 1. Kesatuan Sejarah Bangsa Indonesia tumbuh dan berkembang dari suatu proses sejarah, yaitu sejak zaman prasejarah, zaman Sriwijaya, Majapahit kemudian datang penjajah, tercetus Sumpah Pemuda 1928 dan akhirnya memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

2. Kesatuan Nasib Bangsa Indonesia terbentuk karena kesamaan nasibnya bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang merasakan penderitaan penjajahan selama tiga setengah abad lamanya hingga kemudian memperjuangkan kemerdekaaan secara bersama dan akhirnya mendapatkan kegembiraan dalam bentuk kemerdekaan. 3. Kesatuan Wilayah Bangsa Indonesia hidup di wilayah Indonesia, tersebar masyarakatnya dari sabang sampai ke merauke.

Kesatuan asas kerohanian bangsa sendiri sebagai salah satu cita-cita, filsafat dan pandangan hidup yang berakar pada pandangan hidup Pancasila. 4. Kesatuan Kebudayaan Walau bangsa Indonesia memiliki keanekaragaman kebudayaan mulai dari rumah adat pakaian adat, acara adat, Bahasa dan keanekaragaman lainnya namun keseluruhannya merupakan satu kebudayaan yaitu kebudayaan nasional kesatuan republik Indonesia.

E. Penerapan Bhinneka Tunggal Ika dalam Kehidupan Sehari-hari Bhinneka Tunggal Ika terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66/1951. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 17 Oktober 1951 oleh Presiden Soekarno dan Perdana Menteri, Sukiman Wirjosandjojo. Bhinneka Tunggal Ika Tertuang dalam Pasal 5 yang berbunyi, “Di bawah lambang tertulis dengan huruf latin sebuah semboyan dalam bahasa Jawa-Kuno berbunyi: Bhinneka Tunggal Ika.

Penjelasan dari Pasal 5 tersebut adalah perkataan Bhinneka sebagai gabungan dua perkataan: bhinna dan ika. Kalimat seluruhnya tersebut kemudian dapat disalin menjadi ‘berbeda-beda tetapi tetap satu jua’.

Berikut ini penerapan Bhinneka Tungga Ika dalam Kehidupan berbangsa dan bernegara kita: 1. Perilaku Inklusif Implementasi pertama adalah bahwa seseorang diharuskan tidak melihat dirinya lebih diutamakan dari kepentingan yang lain.

Sama halnya dengan kelompok, dimana kepentingan bersama lebih diutamakan dari kepentingan pribadi atau golongan. 2. Mengakomodasi Sifat Pluralistik Ditinjau dari pada keanekaragamannya, maka sudah sepatutnya jika Indonesia menjadi bangsa dengan tingkat pluralistik terbesar di dunia. Hal ini pulalah yang menjadikan bangsa Indonesia disegani oleh bangsa lain. Namun jika tidak dipergunakan secara bijak besar kemungkinan terjadinya disintegrasi dalam bangsa.

Ras, Budaya, Suku Bahasa, Agama, dan adat, bangsa Indonesia.

bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang

Dengan lebih memahami mengenai keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia melalui buku Guys, Indonesia Tuh Bineka, Loh! Grameds akan lebih memahami perkembangan masyarakat yang sangat dinamis dan terhindar dari kesalahpahaman serta konflik yang terjadi karena perbedaan. 3. Tidak Menang Sendiri Perbedaan pendapat sesungguhnya merupakan hal yang lumrah, apalagi pada sistem demokrasi. Sistem tersebut kemudian menuntut rakyat bebas mengungkapkan pendapat masing-masing.

Dengan begitu implementasi dari prinsip Bhinneka Tunggal Ika maka seseorang diharuskan untuk saling menghormati satu pendapat dan pendapat lainnya. Perbedaan pendapat tidak perlu dibesar-besarkan, namun harus dicari titik temu yang mengedepankan kepentingan bersama. Jauhkan sifat divergen dan terapkan sifat yang konvergen ke dalam hidup berbangsa dan bernegara. Seperti halnya yang terjadi di Indonesia dimana adanya konflik antara Aceh dan Papur yang berhasil diselesaikan dengan adanya nilai kebersamaan yang disampaikan Gus Dur sebagai strategi penyelesaian konflik yang bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang kamu baca pada buku Gus Dur: Islam Nusantara & Kewarganegaraan Bineka.

4. Musyawarah untuk Mufakat Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya dengan adanya semboyan Bhinneka Tunggal Ika, maka jika terdapat perbedaan yang ada pada antar kelompok maupun pribadi wajib dicari solusinya secara bersama-sama dengan musyawarah.

Seperti halnya dengan prinsip common denominator atau yang dikenal dengan mencari inti kesamaan. Hal ini kemudian juga sebaiknya diterapkan dalam melakukan musyawarah untuk mufakat. Dengan adanya beragam gagasan yang semuanya kemudian dirangkum menjadi satu kesepakatan.

Dengan begitu kesepakatan disini bertujuan untuk mencapai mufakat pada pribadi maupun kelompok. Masyarakat Indonesia pada dasarnya adalah masyarakat adat yang secara sosiologis memiliki ikatan dalam kelompok (suku atau etnik) yang sangat kuat. Meski demikian dalam konteks ke-Indonesian, ikatan yang berupa sentimen- sentimen suku (daerah asal) atau agama ternyata dapat direduksi demi terbangunnya rasa kebangsaan.

Arus globalisasi yang kian deras telah membawa serta nilai-nilai baru yang tidak sepenuhnya dapat diakomodasi atau dipahami oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Nilai-nilai baru cenderung melonggarkan ikatan kebangsaan, dan mengkhawatirkan bagi masa depan persatuan dan kesatuan bangsa serta keutuhan wilayah nasional Indonesia. Karenanya sangat dibutuhkan upaya menyegarkan kembali pemahaman akan nilai-nilai kebangsaan yang merupakan ciri kepribadian masyarakat Indonesia.

Pemantapan nilai-nilai kebangsaan yang terkandung dalam sesanti Bhinneka Tunggal Ika, sebagai ajaran moral tentang sikap toleran, adil dan bergotong royong merupakan strategi yang tepat untuk mengatasi nilai-nilai baru yang cenderung bergesekan. Contoh perilaku yang mencerminkan “Bhinneka Tunggal Ika” : • Tidak diskriminasi terhadap siapapun • Berlaku adil terhadap terhadap siapapun (di sekolah, rumah, masyarakat) • Menghindari perkelahian/pertikaian yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain • Saling menghormati walaupun berbeda agama, suku, ras dan budaya • Tidak menghina atau merendahkan orang lain • Hidup rukun di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat • dll Demikian informasi seputar Bhinneka Tunggal Ika, Semoga Bermanfaat!

Baca juga artikel terkait dengan “Arti & Makna Bhineka Tunggal Ika” : • Dimensi Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka • Sejarah Pancasila • Memaknai Pancasila Sebagai Sumber Nilai • Arti dan Makna Pancasila Sebagai Ideologi Negara • Pengertian Demokrasi Pancasila • Sejarah Lambang Garuda Pancasila • Pengertian Wawasan Nusantara • Makna Pancasila Sebagai Sumber dari Segala Sumber Hukum • Makna Sumpah Pemuda • Pengamalan Nilai Pancasila Jika Anda ingin menggali lebih tentang Pancasila secara lebih komprehensif, miliki segera buku di www.gramedia.com.

1. Pendidikan Pancasila Beli Sekarang 2. Falsafah Pancasila Epistemologi Keislaman Kebangsaan Beli Sekarang 3. Pancasila Rumah Bersama Beli Sekarang Sumber: • https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JPP/article/viewFile/1726/1512 • dll Kategori • Administrasi 5 • Agama Islam 127 • Akuntansi 37 • Bahasa Indonesia 95 • Bahasa Inggris 59 • Bahasa Jawa 1 • Biografi bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang • Biologi 101 • Blog 23 • Business 22 • CPNS 8 • Desain 14 • Design / Branding 2 • Ekonomi 152 • Environment 10 • Event 15 • Feature 12 • Fisika 30 • Food 3 • Geografi 62 • Hubungan Internasional 9 • Hukum 20 • IPA 82 • Kesehatan 18 • Kesenian 10 • Kewirausahaan 9 • Kimia 19 • Komunikasi 5 • Kuliah 21 • Lifestyle 10 • Manajemen 29 • Marketing 19 • Matematika 20 • Music 9 • Opini 3 • Pendidikan 35 • Pendidikan Jasmani 32 • Penelitian 5 • Pkn 69 • Politik Ekonomi 15 • Profesi 12 • Psikologi 31 • Sains dan Teknologi 30 • Sastra 32 • SBMPTN 1 • Sejarah 84 • Sosial Budaya 98 • Sosiologi 53 • Statistik 6 • Technology 26 • Teori 6 • Bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang dan Trik 57 • Tokoh 59 • Uncategorized 31 • UTBK 1
MENU • Home • SMP • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • IPS • IPA • SMA • Agama • Bahasa Indonesia • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • IPA • Biologi • Fisika • Kimia • IPS • Ekonomi • Sejarah • Geografi • Sosiologi • SMK • S1 • PSIT • PPB • PTI • E-Bisnis • UKPL • Basis Data • Manajemen • Riset Operasi • Sistem Operasi • Kewarganegaraan • Pancasila • Akuntansi • Agama • Bahasa Indonesia • Matematika • S2 • Umum • (About Me) Jika kamu orang indonesia pasti anda tahu semboyan dari Bhinneka Tunggal Ika ??

bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang

Semboyan dari Bhinneka Tunggal Ika yaitu “berbeda-beda tapi tetap satu jua”. tetapi Jika anda belum mengetahuinya anda tepat sekali karena disini akan mengulas secara lengkap pembahasan materinya hanya di guru pendidikan.

6.6. Sebarkan ini: Secara etimologi atau asal-usul bahasa, kata-kata Bhinneka Tunggal Ika berasal dari bahasa Jawa Kuno yang bila dipisahkan menjadi Bhinneka = beragam atau beraneka, Tunggal = satu, dan Ika = itu. Artinya, secara harfiah, jika diartikan menjadi beraneka satu itu. Maknanya, bisa dikatakan bahwa beraneka ragam tetapi masih satu jua. Semoboyan ini diambil dari kitab atau kakawin Sutasoma karangan Empu Tantular, yang hidup pada masa Kerajaan majapahit sekitar abad ke-14 M.

Hal ini menunjukkan persatuan dan kesatuan yang terjadi diwilayah Indonesia, dengan keberagaman penduduk Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam suku, bahasa daerah, ras, agama, dan kepercayaan, lantas tidak membuat Indonesia menjadi terpecah-belah. Melalui semboyan ini, Indonesia bisa dipersatukan dan semua keberagaman tersebut menjadi satu bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sejarah Bhineka Tunggal Ika Sebelumnya semboyan yang dijadikan semboyan resmi Negara Indonesia sangat panjang yaitu Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. Semboyan Bhineka Tunggal Ika dikenal untuk pertama kalinya pada masa Majapahit era kepemimpinan Wisnuwardhana. Perumusan semboyan Bhineka Tunggl Ika ini dilakukan oleh Mpu Tantular dalam kitab Sutasoma.

Perumuan semboyan ini pada dasarnya merupakan pernyataan kreatif dalam usaha mengatasi keanekaragaman kepercayaan dan keagamaan. Hal itu dilakukan sehubungan usaha bina Negara kerajaan Majapahit saat itu.

Semboyan Negara Indonesia ini telah memberikan nilai-nilai inspiratif terhadap system pemerintahan pada masa kemerdekaan. Bhineka Tunggal Ika pun telah menumbuhkan semangat persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indoesia. Dalam kitab Sutosoma, definisi Bhineka Tunggal Ika lebih ditekankan pada perbedaan dalam hal kepercayaan dan keaneragaman agama yang ada di kalangan masyarakat Majapahit. Namun, sebagai semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia, konsep Bhineka Tunggal Ika bukan hanya perbedaan agama dan kepercayaan menjadi fokus, tetapi pengertiannya lebih luas.

Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan Negara memiliki cakupan lebih luas, seperti perbedaan suku, bangsa, budaya (adat-istiadat), beda pulau, dan tentunya agama dan kepercayaan yang menuju persatuan dan kesatuan Negara. Seluruh perbedaan yang ada di Indonesia menuju tujuan yang satu atau sama, yaitu bangsa dan Negara Indonesia.

Berbicara mengenai Lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia, lambang Garuda Pancasila dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika ditetapkan secara resmi menjadi bagian dari Negara Indonesia melalui Peraturan Pemerintahan Nomor 66 Tahun 1951 pada 17 Oktober 1951 dan di undang – undangkan pada 28 Bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang 1951 sebagai Lambang Negara.

Usaha pada masa Majapahit maupun pada masa pemerintahan Indonesia berlandaskan pada pandangan yang sama, yaitu pandangan mengenai semangat rasa persatuan, kesatuan, dan kebersamaan sebagai modal dasar untuk menegakkan Negara. Sementara itu, semboyan “Tan Hana Darma Mangrwa” dipakai sebagai motto lambang Lembaga Pertahanan Nasional.

Makna dari semboyan itu adalah “tidak ada kebenaran yang bermuka dua”. Namun, Lemhanas kemudian mengubah semboyan tersebut menjadi yang lebih praktis dan ringkas yaitu “bertahan karena benar”.

Makna “tidak ada kebenaran yang bermuka dua” sebenarnya memiliki pengertian agar hendaknya manusia senantiasa berpegang dan berlandaskan pada kebenaran yang satu. Semboyan “Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Darma Mangrwa” adalah ungkapan yang memaknai kebenaran aneka unsur kepercayaan pada Majapahit.

Tdak hanya Siwa dan Budha, tetapi sejumlah aliran yang sejak awal telah dikenal terlebih dulu sebagian besar anggota masyarakat Majapahit yang memiliki sifat majemuk.

Sehubungan dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, cikal bakal dari Singasari, yakni pada masa Wisnuwardhana sang dhinarmeng ring Jajaghu (Candi Jago), semboyan tersebut dan candi Jago disempurnakan pada masa Kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, kedua simbol tersebut lebih dikenal sebagai hasil perdaban masa Kerajaan Majapahit. Dari segi agama dan kepercayaan, masyarakat Majapahit merupakan masyarakat yang majemuk.

Selain adanya beberapa aliran agama dan kepercayaan yang berdiri sendiri, muncul juga gejala sinkretisme yang sangat menonjol antara Siwa dan Budha serta pemujaan terhadap roh leluhur. Namun, kepercayaan pribumi tetap bertahan. Bahkan, kepercayaan pribumi memiliki peranan tertinggi dan terbanyak di kalangan mayoritas masyarakat.

Pada saat itu, masyarakat Majapahit terbagi menjadi beberapa golongan. Pertama, golongan orang-orang islam yang datang dari barat dan menetap di Majapahit.

Kedua, golongan orang-orang China yang mayoritas berasal dari Canton, Chang-chou, dan Fukien yang kemudian bermukim di daerah Majapahit. Namun, banyak dari mereka masuk agama Islam dan ikut menyiarkan agama Islam.\\ • Pembentuk jati diri bangsa Sejak Negara Republik Indonesia ini merdeka, para pendiri bangsa mencantumkan kalimat Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan pada lambang negara Garuda Pancasila. Kalimat itu sendiri diambil dari falsafah Nusantara yang sejak jaman Kerajaan Majapahit yang juga sudah dipakai sebagai motto pemersatu Nusantara, yang diikrarkan oleh Patih Gajah Mada dalam Kakawin Sutasoma, karya Mpu Tantular: Rwāneka dhātu winuwus wara Buddha Wiśwa, bhinnêki rakwa ring apan kěna parwanosěn, mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal, bhinnêka tunggal ika tan hana dharmma mangrwa (Pupuh 139: 5).

Terjemahan: Konon dikatakan bahwa Wujud Buddha dan Siwa itu berbeda. Mereka memang berbeda. Namun, bagaimana kita bisa mengenali perbedaannya dalam selintas pandang? Karena kebenaran yang diajarkan Buddha dan Siwa itu sesungguhnya satu jua. Mereka memang berbeda-beda, namun hakikatnya sama. Karena tidak ada kebenaran yang mendua. (Bhineka Tunggal ika tan Hana Dharma Mangrwa).

Frasa tersebut berasal dari bahasa Jawa Kuna dan diterjemahkan dengan kalimat berbeda-beda tetapi tetap satu. Kemudian terbentuklah Bhineka Tunggal Ika menjadi jati diri bangsa Indonesia. Ini artinya, bahwa sudah sejak dulu hingga saat ini kesadaran akan hidup bersama di dalam keberagaman sudah tumbuh dan menjadi jiwa serta semangat bangsa di negeri ini.

Munandar bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang dalam Tjahjopurnomo S.J. mengungkapkan bahwa sumpah palapa secara esensial, isinya mengandung makna tentang upaya untuk mempersatukan nusantara.

Sumpah Palapa Gajah Mada hingga kini tetap menjadi acuan, sebab Sumpah Palapa itu bukan hanya berkenaan dengan diri seseorang, namun berkenaan dengan kejayaan eksistensi suatu kerajaan.

Oleh karena itu, sumpah palapa merupakan aspek penting dalam pembentukan Jati Diri Bangsa Indonesia. Menurut Pradipta (2009), pentingnya Sumpah Palapa karena di dalamnya terdapat pernyataan suci yang diucapkan oleh Gajah Mada yang berisi ungkapan “lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa” (kalau telah menguasai Nusantara, saya melepaskan puasa/tirakatnya).

Naskah Nusantara yang mendukung cita-cita tersebut bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang atas adalah Serat Pararaton. Kitab tersebut mempunyai peran yang strategis, karena di dalamnya terdapat teks Sumpah Palapa. Kata sumpah itu sendiri tidak terdapat di dalam kitab Pararaton, hanya secara tradisional dan konvensional para ahli Jawa Kuno menyebutnya sebagai Sumpah Palapa.

Bunyi selengkapnya teks Sumpah Palapa menurut Pararaton edisi Brandes (1897 : 36) adalah sebagai berikut: Sira Gajah Mada Patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang, samana isun amukti palapa”. Terjemahan: Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa (nya).

Beliau Gajah Mada: Jika telah mengalahkan nusantara, saya (baru) melepaskan puasa, jika (berhasil) mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru) melepaskan puasa (saya) Kemudian dilanjutkan dengan adanya Sumpah Pemuda yang tidak kalah penting dalam sejarah perkembangan pembentukan Jati Diri Bangsa ini. Tjahjopurnomo (2004) menyatakan bahwa Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 secara historis merupakan rangkaian kesinambungan dari Sumpah Palapa yang terkenal itu, karena pada intinya berkenaan dengan persatuan, dan hal ini disadari oleh para pemuda yang mengucapkan ikrar tersebut, yakni terdapatnya kata sejarah dalam isi putusan Kongres Pemuda Kedua.

Sumpah Pemuda merupakan peristiwa yang maha penting bagi bangsa Indonesia, setelah Sumpah Palapa. Para pemuda pada waktu itu dengan tidak memperhatikan latar kesukuannya dan budaya sukunya berkemauan dan berkesungguhan hati merasa memiliki bangsa yang satu, bangsa Indonesia. Ini menandakan bukti tentang kearifan para pemuda pada waktu itu. Dengan dikumandangkannya Sumpah Pemuda, maka sudah tidak ada lagi ide kesukuan atau ide kepulauan, atau ide propinsialisme atau ide federaslisme.

Daerah-daerah adalah bagian yang tidak bisa dipisah-pisahkan dari satu tubuh, yaitu tanah Air Indonesia, bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia. Sumpah Pemuda adalah ide kebangsaan Indonesia yang bulat dan bersatu, serta telah mengantarkan kita ke alam kemerdekaan, yang pada intinya didorong oleh kekuatan persatuan Indonesia yang bulat dan bersatu itu.

Pada saat kemerdekaan diproklamirkan, 17 Agustus 1945 yang didengungkan oleh Soekarno-Hatta, kebutuhan akan kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia tampil mengemuka dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar Negara RI. Sejak waktu itu, Sumpah Palapa dirasakan eksistensi dan perannya untuk menjaga kesinambungan sejarah bangsa Indonesia yang utuh dan menyeluruh.

Seandainya tidak ada Sumpah Palapa, NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) akan dikoyak-koyak sendiri oleh suku-suku bangsa Nusantara yang merasa dirinya bisa memisahkan diri dengan pemahaman federalisme dan otonomi daerah yang berlebihan.

Gagasan-gagasan memisahkan diri sungguh merupakan gagasan dari orang-orang yang tidak tahu diri dan tidak mengerti sejarah bangsanya, bahkan tidak tahu tentang “jantraning alam” (putaran zaman) Indonesia, yang harus kita lakukan adalah, dengan kesadaran baru yang ada pada tingkat kecerdasan, keintelektualan, serta kemajuan kita sekarang ini, bahwa bangsa ini dibangun dengan pilar bernama Bhinneka Tunggal Ika yang telah mengantarkan kita sampai hari ini menjadi sebuah bangsa yang terus semakin besar di antara bangsa-bangsa lain di atas bumi ini, yaitu bangsa Indonesia, meskipun berbeda-beda (suku bangsa) tetapi satu (bangsa Indonesia).

Dan dikuatkan dengan pilar Sumpah Palapa diikuti oleh Sumpah Pemuda yang mengikrarkan persatuan dan kesatuan Nusantara / bangsa Indonesia, serta proklamasi kemerdekaan dalam kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia yang utuh dan menyeluruh. Hal itu tidak terlepas dari pembentukan jati diri daerah sebagai dasar pembentuk jati diri bangsa. Fungsi Bhinneka Tunggal Ika Bangsa Indonesai sudah lama hidup di dalam keaneka ragaman, tetapi hal ini tidak pernah menampilkan perseteruan antar rakyat Indonesia.

Keberagaman yang ada dipakai untuk membentuk suatu Negara yang besar. Keberagaman yang terjadi baik itu di dalam segi kepercayaan, warna kulit, suku bangsa, agama, bahasa, menjadikan Bangsa Indonesia merupakan suatu bangsa yang besar dan berdaulat. Sejarah mencatat bahwasanya semua anak bangsa yang tergabung dalam berbagai macam suku turut serta memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dengan mengambil peran masing-masing. Para tokoh bangsa yang bergerak dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sudah menyadari tantangan yang harus dihadapi oleh karena kemajemukan yang ada di dalam bangsa ini.

Keberagaman menjadi sebuah realitas yang tidak bisa dihindari di dalam negeri ini. Pemikiran dan tindakan yang diperbuat tidak lain dan tidak bukan hanya untuk menunjukkan pada dunia bahwa cita-cita bangsa akan terwujud dengan keanekaragaman itu.

Ke-bhinneka-an adalah sebuah hakikat realitas yang sudah ada dalam bangsa Indonesia, sedangkan ke-Tunggal-Ika-an adalah sebuah cita-cita kebangsaan. Semboyan inilah yang menjadi jembatan emas penghubung menuju pembentukan Negara berdaulat serta menunjukkan kebesarannya di mata dunia. Konsep Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah semboyan yang dijadikan dasar Negara Indonesia.

Oleh sebab itu, Bhinneka Tunggal Ika patut dijadikan sebagai landasan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan di dalam bangsa Indonesia.

Kita sebagai generasi selanjutnya yang bisa menikmati kemerdekaan dengan mudah, haruslah bersungguh-sungguh dalam menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita dapat saling menghargai dengan masyarakat tanpa saling memikirkan percampuran suku bangsa, ras, agama, bahasa, dan keaneka ragaman lainnya. Tanpa adanya kesadaran di dalam diri rakyat Indonesia, maka pantaslah Indonesia akan hancur dan terpecah belah. Prinsip Bhinneka Tunggal Ika • 1.

Common Denominator Di Indonesia, berbagai macam keaneka ragaman yang ada tidaklah membuat bangsa ini menjadi pecah. Terdapat 5 agama yang ada di Indonesia, dan hal tersebut tidak membuat agama-agama tersebut untuk saling mencela. Maka sesuai dengan prinsip pertama dari Bhinneka Tunggal Ika, maka perbedaan-perbedaan di dalam agama tersebut haruslah dicari common denominatornya, atau dengan kata lain kita haruslah mencari sebuah persamaan dalam perbedaan itu, sehingga semua rakyat yang hidup di Indonesia dapat hidup di dalam keanekaragaman dan kedamaian dengan adanya kesamaan di dalam perbedaan tersebut.

Begitu juga halnya dengan dengan aspek lain yang mempunyai perbedaan di Indonesia, seperti adat dan kebudayaan yang terdapat di setiap daerah.

Semua macam adat dan budaya itu tetap diakui konsistensinya sebagai adat dan budaya yang sah di Indonesia, tapi segala macam perbedaan tersebut tetap bersatu di dalam bingkai Negara kesatuan republik Indonesia.

• 2. Tidak Bersifat Sektarian dan Enklusif Makna yang terkandung di dalam prinsip ini yakni semua rakyat Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak dibenarkan menganggap bahwa dirinya atau kelompoknya adalah yang paling benar, paling hebat, atau paling diakui bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang yang lain.

Pandangan-pandangan sectarian dan enklusif haruslah dihilangkan pada segenap tumpah darah Indonesia, karena ketika sifat sectarian dan enklusif sudah terbentuk, maka akan banyak suatu konflik yang terjadi dikarenakan kecemburuan, kecurigaan, sikap yang berlebihan, dan kurang memperhitungkan keberadaan kelompok atau pribadi lain. Bhinneka Tunggal Ika sifatnya inklusif, dengan kata lain segala kelompok yang ada haruslah saling memupuk rasa persaudaraan, kelompok mayoritas tidak memperlakukan sebuah kelompok minoritas ke dalam posisi terbawah, tetapi haruslah hidup berdampingan satu sama lain.

Kelompok mayoritas juga tidak harus memaksakan kehendaknya kepada kelompok lain. bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang 3. Tidak Bersifat Formalistis Bhinneka Tunggal Ika tidak bersifat formalistis, yang hanya menunjukkan sebuah perilaku semu dan kaku.

Tetapi, Bhinneka Tunggal Ika sifatnya universal dan menyeluruh.

bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang

Hal ini dliandasi oleh adanya rasa cinta mencintai, rasa hormat menghormati, saling percaya mempercayai, dan saling rukun antar sesame. Karena dengan cara inilah, keanekaragaman bisa disatukan dalam bingkai ke-Indonesiaan. • 4. Bersifat Konvergen Bhinneka Tunggal Ika sifatnya konvergen bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang tidak divergen.

Segala macam keaneka ragaman yang ada bila terjadi masalah, bukan untuk dibesar-besarkan, tetapi haruslah dicari satu titik temu yang bisa membuat segala macam kepentingan menjadi satu.

Hal ini bisa dicapai bila terdapatnya sikap toleran, saling percaya, rukun, non sectarian, dan inklusif. Implementasi Bhinneka Tunggal Ika Implementasi terhadap Bhinneka Tunggal Ika bisa tercapai bila rakyat dan seluruh komponen mematuhi prinsip-prinsip yang sudah disebutkankan di atas.

Yakni : • 1. Perilaku Inklusif Seseorang haruslah menganggap bahwa dirinya sedang berada di dalam suatu populasi yang luas, sehingga dia tidak melihat dirinya melebihi dari yang lain. Begitu juga dengan kelompok. Kepentingan bersama lebih diutamakan daripada sebuah keuntungan pribadi atau kelompoknya.

Bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang bersama bisa membuat segala komponen merasa puas dan senang. Masing-masing kelompok mempunyai peranan masing-masing di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

• 2. Mengakomodasi Sifat Prulalistik Ditinjau dari keanekaragaman yang ada di dalam negeri ini, maka sepantasnyalah bila Indonesia adalah bangsa dengan tinglat prulalistik terbesar di dunia. Hal inilah yang membuat bangsa kita disegani oleh bangsa lain.

Tapi, bila hal ini tidak bisa dipergunakan dengan baik, maka sangat mungkin akan terjadi disintegrasi di dalam bangsa. Agama, ras, suku bangsa, bahasa, adat dan budaya yang ada di Indonesia mempunyai jumlah yang tidak sedikit.

Sikap saling toleran, saling menghormati, saling mencintai, dan saling menyayangi menjadi hal mutlak yang dibutuhkan oleh segenap rakyat Indonesia, supaya terciptanya masyarakat yang bhinneka tunggal ika mengajarkan kita tentang dan damai. • 3. Tidak Mencari Menangnya Sendiri Perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah terjadi pada zaman sekarang.

Apalagi ditambah dengan diberlakukannya sistem demokrasi yang menuntut segenap rakyat bebas untuk mengungkapkan pendapatnya masing-masing. Oleh sebab itu, untuk mencapai prinsip ke-Bhinneka-an, maka seseorang haruslah saling menghormati antar satu pendapat dengan pendapat yang lain. Perbedaan ini tidak untuk dibesar-besarkan, tetapi untuk dicari suatu titik temu dengan mementingkan suatu kepentingan bersama. Sifatnya konvergen haruslah benar-benar dinyatakan di dalam hidup berbangsa dan bernegara, jauhkan sifat divergen.

• 4. Musyawarah untuk Mufakat Perbedaan pendapat antar kelompok dan pribadi haruslah dicari solusi bersama dengan diberlakukannya musyawarah. Segala macam perbedaan direntangkan untuk mencapai satu kepentingan.

Prinsip common denominator atau mencari inti kesamaan haruslah diterapkan di dalam musyawarah. Dalam musyawarah, segala macam gagasan yang timbul akan diakomodasikan dalam kesepakatan.

Sehingga kesepakatan itu yang mencapai mufakat antar pribadi atau kelompok. • 5. Dilandasi Rasa Kasih Sayang dan Rela Berkorban Sesuai dengan pedoman sebaik-baik manusia yaitu yang bermanfaat bagi manusia lainnya, rasa rela berkorban haruslah diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari. Rasa rela berkorban ini akan terbentuk dengan dilandasi oleh rasa salin kasih mangasihi, dan sayang menyayangi. Jauhilah rasa benci karena hanya akan menimbulkan konflik di dalam kehidupan.

Itulah ulasan tentang Bhinneka Tunggal Ika : Pengertian, Fungsi, Dan Makna Beserta Sejarahnya Secara LengkapSemoga apa yang diulas diatas bermanfaat bagi embaca. Sekian dan terimakasih. Baca juga refrensi artikel terkait lainnya disini : • Sejarah Lahirnya Pancasila Sebagai Ideologi Dan Dasar Negara • Karakteristik Ideologi Pancasila Secara Lengkap • √ Pengertian Pancasila Sebagai Dasar Negara Terlengkap • √ Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka [ Arti, Syarat, Ciri, Dimensi, Sejarah ] Sebarkan ini: • • • • • Posting pada Kewarganegaraan, Pancasila, S1, SMA, SMK, SMP Ditag #fungsi Bhinneka Tunggal Ika, #implementasi Bhinneka Tunggal Ika, #makna Bhinneka Tunggal Ika, #pengertian Bhinneka Tunggal Ika, #prinsip Bhinneka Tunggal Ika, #sejarah Bhinneka Tunggal Ika, #semboyan Bhinneka Tunggal Ika, alat alat pemersatu bangsa, apakah pengertian nkri dan bhineka tunggal ika, arti bhineka tunggal ika pada lambang garuda pancasila, arti bhineka tunggal ika yang sebenarnya, arti dari kata tunggal adalah, arti semboyan bhinneka tunggal ika adalah, artikel singkat bhineka tunggal ika, bagaimana menjaga komitmen persatuan, bhineka tunggal ika berasal dari kitab apa dan siapa pengarangnya, bhineka tunggal ika mengandung pengertian bahwa, contoh bhinneka tunggal ika, hubungan persatuan dan keberagaman, jelaskan isi kitab sutasoma, makalah materi bhineka tunggal ika, makna semboyan bhinneka tunggal ika brainly, materi bhineka tunggal ika lengkap pdf, nkri, pengertian bhineka tunggal ika dalam lambang negara garuda pancasila, pertanyaan tentang persatuan dan keberagaman, sebutkan manfaat menghargai keragaman, sejarah bhineka tunggal ika, sejarah dan makna bhinneka tunggal ika, semboyan tersebut dapat kita lihat di, tujuan bhineka tunggal ika, tuliskan simbol yang terdapat pada perisai, ulasan tentang bhineka tunggal ika Navigasi pos Pos-pos Terbaru • Penjelasan Ciri-Ciri Clostridium Tetani Dalam Biologi • Penjelasan Ciri-Ciri Bacillus Anthracis Dalam Biologi • Penjelasan Ciri-Ciri Helicobacter Pylori Dalam Biologi • Pengertian Kata Berimbuhan • Pengertian Coelentarata – Ciri, Habitat, Reproduksi, Klasifikasi, Cara Hidup, Peranan • Pengertian Gerakan Antagonistic – Macam, Sinergis, Tingkat, Anatomi, Struktur, Contoh • Pengertian Dinoflagellata – Ciri, Klasifikasi, Toksisitas, Macam, Fenomena, Contoh, Para Ahli • Pengertian Myxomycota – Ciri, Siklus, Klasifikasi, Susunan Tubuh, Daur Hidup, Contoh • “Panjang Usus” Definisi & ( Jenis – Fungsi – Menjaga ) • Pengertian Mahasiswa Menurut Para Ahli Beserta Peran Dan Fungsinya • Contoh Soal Psikotes • Contoh CV Lamaran Kerja • Rukun Shalat • Kunci Jawaban Brain Out • Teks Eksplanasi • Teks Eksposisi • Teks Deskripsi • Teks Prosedur • Contoh Gurindam • Contoh Kata Pengantar • Contoh Teks Negosiasi • Alat Musik Ritmis • Tabel Periodik • Niat Mandi Wajib • Teks Laporan Hasil Observasi • Contoh Makalah • Alight Motion Pro • Alat Musik Melodis • 21 Contoh Paragraf Deduktif, Induktif, Campuran • 69 Contoh Teks Anekdot • Proposal • Gb WhatsApp • Contoh Daftar Riwayat Hidup • Naskah Drama • Memphisthemusical.Com

GUS MUWAFIQ : SEJARAH BHINNEKA TUNGGAL IKA




2022 www.videocon.com